Begitu Membaca Surat Al Fatiha, Pamela Kara Tahu, Inilah yang Ia Cari Bertahun-tahun 

outube Begitu Membaca Surat Al Fatiha, Pamela Kara Tahu, Inilah yang Ia 
Cari Bertahun-tahun

Pamela Kara

Begitu Membaca Surat Al Fatiha, Pamela Kara Tahu, Inilah yang Ia Cari Bertahun-tahun

Selasa, 22 November 2011 07:43 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Awalnya semua demi anak adopsi. Bagaimana bila menjadi ibu seorang anak adopsi Muslim ia tahu apa yang harus diajarkan. Namun takdir menginginkan lebih.

Wanita ini berasal dari luar Cleveland, Ohio, di bagian utara AS dekat Great Lakes. Di sanalah ia tumbuh besar. Ia telah menjadi Muslim selama 12 tahun. Sebelumnya ia dibesarkan di keluarga Protestan.

Apa yang membawanya menuju Islam? Pamela merasa kecenderungannya untuk selalu mencari kebenaran selama hidupnya telah menuntunnya ke jalan tersebut. “Saya selalu mencari sesuatu,” tuturnya meski ia mengaku pula tak benar-benar tahu apa yang ia cari saat itu.

Namun ketika beranjak dewasa, menikah dan bersiap mengadopsi anak berasal dari luar AS, dari negara Muslim, segalanya mulai berbeda. “Saya telah menikah selama 16 tahun dan saya benar-benar Kristen yang taat,” ungkapnya mengisahkan dirinya dulu.

Saat itu ia rupanya telah menikahi pria Muslim. “Tapi saya tetap Kristen. Saya bahkan tidak tertarik menemukan apa pun tentang Islam hingga akhirnya kami bersiap mengadopsi anak di rumah kami,” ungkapnya.

Saat itulah ia mulai mengambil kelas di masjid lokal. Namun niat awal Pamela hanyalah kebutuhan seorang ibu demi mendidik anaknya. “Saya akan menjadi ibu adopsi, jadi saya harus tahu seperti apa mengajari anak saya nanti. Inilah awal saya pertama kali tertarik dengan Islam.”

Setelah membaca Surat Al-Fatiha, Pamela tahu bahwa inilah yang ia cari selama ini. “Sebenarnya ketika pertama kali belajar di kelas sebuah masjid lokal, saya sempat berargumen dengan imam masjidnya dan berkata bahwa ia tidak benar-benar tahu apa yang diucapkan. Saya saat itu masih berjarak dengan apa pun, dan saya tidak bisa percaya dengan apa yang ia jelaskan,” tutur Pamela.

Salah satu pria dalam kelas itu pun bertanya padanya apakah ia memiliki Al Qur’an. Pamela menjawab,”Saya tidak punya,”. Pria tadi pun memberinya satu salinan. Saat membuka Al Qur’an pertama kali itulah ia membaca Surat Al Fatihah dan baginya itu lebih dari cukup.

Hanya membaca surat itu, Pamela merasa ada sebuah suara kecil dari dalam hatinya berkata,”Inilah yang kamu cari. Inilah kebenaran.” Saat itu pula Pamela tersadar. “Saya tahu inilah yang saya cari,” ungkapnya.

Begitu memutuskan mengucapkan syahadat, Pamela pun kian giat mempelajari Islam. Ia juga belajar berdoa dan shalat. “Saya tahu begitu mengambil keputusan ini tak bisa lagi menoleh kebelakang, yang ada hanya berjalan terus ke depan. Jadi inilah hal terbaik dalam hidup saya,” ujarnya.

Ia merasa memiliki kehidupan yang berbeda dengan diri yang berbeda. “Saya tak bisa membayangkan tidak menjadi Muslim, tak memiliki Islam, tak memiliki Al Qur’an dan Sunnah,” ungkapnya.

Bagi Pamela setelah berislam ia seperti mendapat kaca mata baru yang membantunya melihat dunia lebih benar. “Karena hidup saya sebelumnya seperti dalam kebingungan. Dibesarkan sebagai orang Amerika, benar-benar tanpa kebenaran dalam landasan kebudayaan, seperti orang bingung dan anda mencari dari satu situasi ke yang lain tanpa rencana apa pun,” ungkapnya.

Sama sekali tak ada perasaan menyesal dalam dirinya setelah memeluk Islam. “Jika dalam hidup orang hanya bisa melakukan satu hal, maka ini tetap menjadi pilihan saya, yang akan saya lakukan dalam hidup saya,” ujarnya.

Memang begitu menjadi Muslim, tak semua orang dekatnya, teman, keluarga dan kerabat mendukung. “Mereka tidak suka tapi tak lantas bersikap konfrontatif,” ungkapnya. Tapi ia mengaku ada pula anggota keluarga yang akhirnya tak mau berbicara sama sekali dengannya, namun ia menganggap itu bukanlah kehilangan.

Tapi pilihan mengenakan kerudung adalah masalah lain. “Itu sempat menjadi perkara besar di keluarga saya,” tutur Pamela. “Namun subhanallah, semua berjalan dengan baik. Sungguh bila kita bersabar dengan orang, mereka pun akhirnya, paling tidak membiarkan kita menjadi diri sendiri dan menjalankan ibadah sesuai keyakinan. Setelah beberapa saat, semua lancar. Saya bersyukur pula memiliki orang tua baik.”

Kini sebagai Muslim, Pamela juga menyadari tak bisa lepas dari tanggung jawab dakwah. Tapi ia melihat aktivitas dakwah mulai dari hal sederhana. “Ketika anda keluar itu adalah dakwah, bagaimana kita membawa diri, bagaimana berbicara dengan orang, menghormati orang, itu pun semua dakwah,” ujarnya.

Sebelumnya ia mengaku bahkan sulit memiliki rasa hormat terhadap diri sendiri hingga ia menjadi Muslim dan mengenakan jilbab. “Kini saya bebas, saya bebas dari opini dunia dan orang lain yang menentukan apa yang saya butuhkan.” ujarnya.

Dalam pesannya ia bahkan berkata, “Saya akan meminta pada dunia, siapa pun, belilah satu mushaf Al Qur’an dan bacalah kitab tersebut, belajarlah dna carilah dalam dirimu. Dengan melakukan itu, bisa jadi, Allah akan membukakan hatimu.”

Ia menyerukan itu karena meyakini Allah selalu berhubungan dengan setiap ciptaannya lewat hati mereka. “Ia lah yang akan membuat anda melihat kebenaran dan Insya Allah memimpin anda ke kehidupan yang baik,” ujarnya.

Pamela juga meyakini kehidupan di dunia hanya sementara. “Insya Allah dem kehidupan berikutnya itulah yang kita upayakan saat ini.”

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: onislam
Advertisements