Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 10:45 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat)   

    HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat)

    Posted by Srikandi Mujahidah at 3:59 PM

    Hafsah adalah janda Khunais bin Huzafah, sahabat RasuluLlah SAW yang meninggal ketika perang Uhud.
    RasuluLlah SAW menikahi Hafsah, kerena kasihan kepada Umar bin Khattab –ayah Hafsah. Hafsah sedih ditinggal suaminya, apalagi usianya baru 18 tahun. Melihat kesedihan itu, Umar berniat mencarikan suami lagi.
    Pilihannya jatuh kepada sahabatnya yang juga orang kepercayaan RasuluLlah SAW, yakni Abu Bakar. Tapi ternyata Abu Bakar hanya diam saja. Dengan perasaan kecewa atas sikap Abu Bakar itu, Umar menemui Usman bin Affan, dengan maksud yang sama. Ternyata Usman juga menolak, karena dukanya atas kematian isterinya, belum hilang. Isteri Usman adalah putri RasuluLlah SAW sendiri, Ruqayyah.
    Lalu Umar mengadu kepada RasuluLlah SAW. Melihat sahabatnya yang marah dan sedih itu, RasuluLlah SAW ingin menyenangkannya, lantas berkata “Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Usman, dan Usman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafsah.” Tak lama kemudian, Hafsah dinikahi RasuluLlah SAW, sedang Usman dengan Ummu Kalsum, putri RasuluLlah SAW juga.
    Suatu malam di kamar Hafsah, RasuluLlah SAW sedang berdua dengan isterinya yang lain, Maria. Hafsah cemburu berat, lantas menceritakan kepada Aisyah. Aisyah kemudian memimpin isteri-isteri yang lain, protes kepada RasuluLlah SAW.
    RasuluLlah SAW sangat marah dengan ulah isteri-isterinya itu. Saking marahnya, beliau tinggalkan mereka selama satu bulan. Terhadap kasus ini, kemudian Allah menurunkan wahyu surat at-Tahrim ayat 1-5.
    Sejarah mencatat, Hafsahlah yang dipilih di antara isteri-isteri RasuluLlah SAW untuk menyimpan naskah pertama al-Qur’an. Hafsah wafat pada awal pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dimakamkan di Ummahat al-Mu’minin di Baqi.

    http://srikandimujahidah.blogspot.com/2008/10/hafsah-binti-umar-ummul-mukminin.html

    ===============

    Hafshah binti Umar

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Hafshah binti Umar (Arab:حفصة بنت عمر) adalah salah seorang istri Muhammad. Ia seorang janda dari seorang pria bernama Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar.

    Daftar isi

    Genealogi

    Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zaynab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un.

    Biografi

    Masa Petumbuhannya

    Hafshah dilahirkan pada tahun yang sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy, yaitu ketika Rasullullah memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula setelah Ka’bah dibangun kembali setelah roboh karena banjir. Pada tahun itu juga dilahirkan Fathimah az-Zahra, putri bungsu Rasulullah dari empat putri, dan kelahirannya disambut gembira oleh beliau. Beberapa hari setelah Fathimah lahir, lahirlah Hafshah binti Umar bin Khaththab. Mendengar bahwa yang lahir adalah bayi wanita, Umar sangat berang dan resah, sebagaimana kebiasaan bapak-bapak Arab Quraisy ketika mendengar berita kelahiran anak perempuannya. Waktu itu mereka menganggap bahwa kelahiran anak perempuan telah membawa aib bagi keluarga. Padahal jika saja ketika itu Umar tahu bahwa kelahiran anak perempuannya akan membawa keberuntungan, tentu Umar akan menjadi orang yang paling bahagia, karena anak yang dinamai Hafshah itu kelak menjadi istri Rasulullah. Di dalam Thabaqat, Ibnu Saad berkata, “Muhammad bin Umar berkata bahwa Muhammad bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, Umar mengatakan, ‘Hafshah dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun sebe1um Nabi diutus menjadi Rasul.”

    Sayyidah Hafshah r.a. dibesarkan dengan mewarisi sifat ayahnya, Urnar bin Khaththab. Dalarn soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sarna dengan ayahnya. Kelebihan lain yang dirniliki Hafshah adalah kepandaiannva dalarn rnernbaca dan menulis, padahal ketika itu kernampuan tersebut belum lazirn dirniliki oleh kaurn perempuan.

    Memeluk Islam

    Hafshah tidak termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam, karena ketika awal-awal penyebaran Islam, ayahnya, Urnar bin Khaththab, masih menjadi musuh utama umat Islam hingga suatu hari Umar tertarik untuk masuk Islam. Ketika suatu waktu Umar mcngetahui keislarnan saudara perernpuannya, Fathimah dan suarninya Said bin Zaid, dia sangat marah dan berniat menyiksa mereka. Sesampainya di rumah saudara perempuannya, Umar mendengar bacaan Al-Qur’an yang mengalun dan dalam rumah, dan memuncaklah amarahnya ketika dia memasuki rumah tersebut. Tanpa ampun dia menampar mereka hingga darah mengucur dari kening keduanya. Akan tetapi, hal yang tidak terduga terjadi, hati Umar tersentuh ketika meihat darah mengucur dari dahi adiknya, kernudian diarnbilnyalah Al Qur’an yang ada pada mereka. Ketika selintas dia membaca awal surat Thaha, terjadilah keajaiban. Hati Umar mulai diterangi cahaya kebenaran dan keimanan. Allah telah mengabulkan doa Nabi . yang mengharapkan agar Allah membuka hati salah seorang dari dua Umar kepada Islam. Yang dimaksud Rasulullah dengan dua Umar adalah Amr bin Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahl dan Umar bin Khaththab.

    Setelah kejadian itu, dari rumah adiknya dia segera menuju Rasulullah dan menyatakan keislaman di hadapan beliau, Umar bin Khaththab bagaikan bintang yang mulai menerangi dunia Islam serta mulai mengibarkan bendera jihad dan dakwah hingga beberapa tahun setelah Rasulullah wafat. Setelah menyatakan keislaman, Umar bin Khaththab segera menemui sanak keluarganya untuk mengajak mereka memeluk Islam. Seluruh anggota keluarga menerima ajakan Umar, termasuk di dalamnya Hafshah yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun.

    Menikah dan Hijrah ke Madinah

    Keislaman Umar membawa keberuntungan yang sangat besar bagi kaum muslimin dalam menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Kabar keislaman Umar ini mernotivasi para muhajirin yang berada di Habasyah untuk kembali ke tanah asal rnereka setelah sekian larna ditinggalkan. Di antara mereka yang kembali itu terdapat seorang pemuda bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahami. Pemuda itu sangat mencintai Rasulullah sebagaimana dia pun mencintai keluarga dan kampung halamannya. Dia hijrah ke Habasyah untuk rnenyelamatkan diri dan agamanya. Setibanya di Mekah, dia segera mengunjungi Umar bin Khaththab, dan di sana dia melihat Hafshah. Dia meminta Umar untuk menikahkan dirinya dengan Hafshah, dan Umar pun merestuinya. Pernikahan antara mujahid dan mukminah mulia pun berlangsung. Rumah tangga mereka sangat berbahagia karena dilandasi keirnanan dan ketakwaan.

    Ketika Allah menerangi penduduk Yatsrib sehingga memeluk Islam, Rasulullah . menernukan sandaran baru yang dapat membantu kaum muslimin. Karena itulah beliau mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib untuk menjaga akidah mereka sekaligus menjaga mereka dan penyiksaan dan kezaliman kaum Quraisy. Dalam hijrah ini, Hafshah dan suaminya ikut serta ke Yatsrib.

    Cobaan dan Ganjaran

    Setelah kaum muslirnin berada di Madinah dan Rasulullah . berhasil menyatukan mereka dalam satu barisan yang kuat, tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi orang musyrik yang telah memusuhi dan mengambil hak mereka. Selain itu, perintah Allah untuk berperang menghadapi orang musyrik sudah tiba.

    Peperangan pertarna antara umat Islam dan kaum musyrik Quraisy adalah Perang Badar. Dalam peperangan ini, Allah telah menunjukkan kemenangan bagi harnba- hamba-Nya yang ikhlas sekalipun jumlah mereka masih sedikit. Khunais termasuk salah seorang anggota pasukan muslimin, dan dia mengalami luka yang cukup parah sekembalinya dari peperangan tersebut. Hafshah senantiasa berada di sisinya dan mengobati luka yang dideritanya, namun Allah berkehendak memanggil Khunais sebagai syahid dalam peperangan pertama melawan kebatilan dan kezaliman, sehingga Hafshah menjadi janda. Ketika itu usia Hafshah baru delapan belas tahun, namun Hafshah telah memiliki kesabaran atas cobaan yang menimpanya.

    Umar sangat sedih karena anaknya telah menjadi janda pada usia yang sangat muda, sehingga dalam hatinya terbetik niat untuk menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang saleh agar hatinya kembali tenang. Untuk itu dia pergi ke rumah Abu Bakar dan merninta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikit pun. Kemudian Umar menemui Utsman bin Affan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, pada saat itu Utsman masih berada dalam kesedihan karena istrinya, Ruqayah binti Muhammad, baru meninggal. Utsman pun menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap dua sahabatnya, Uman sangat kecewa, dan dia bertambah sedih karena memikirkan nasib putrinya. Kemudian dia menemui Rasulullah dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah . bersabda, “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.” Semula Umar tidak memahami maksud ucapan Rasulullah, tetapi karena kecerdasan akalnya, dia kemudian memahami bahwa Rasulullah yang akan meminang putrinya.

    Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah untuk menikahi putrinya, dan kegernbiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menernui Abu Bakar untuk mengutarakan maksud Rasulullah. Abu Bakar berkata, “Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah telah rnenyebut-nyebut nama Hafshah, namun aku tidak mungkin membuka rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah membiarkannya, tentu akulah yang akan menikahi Hafshah.” Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak menikahi putrinya. Sedangkan sikap Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia bermaksud menyunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya dapat terus bersambung dengan Rasulullah. Setelah Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki dzunnuraini (pemilik dua cahaya). Pernikahan Rasulullah . dengan Hafshah lebih dianggap sebagai penghargaan beliau terhadap Umar, di samping juga karena Hafshah adalah seorang janda seorang mujahid dan muhajir, Khunais bin Hudzafah as-Sahami.

    Berada di Rumah Rasulullah

    Di rumah Rasulullah, Hafshah menempati kamar khusus, sama dengan Saudah binti Zum’ah dan Aisyah binti Abu Bakar. Secara manusiawi, Aisyah sangat mencemburui Hafshah karena mereka sebaya, lain halnya Saudah binti Zum’ah yang menganggap Hafshah sebagai wanita mulia putri Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah yang terhormat.

    Umar memahami bagaimana tingginya kedudukan Aisyah di hati Rasulullah. Dia pun rnengetahui bahwa orang yang rnenyebabkan kemarahan Aisyah sama halnya dengan menyebabkan kemarahan Rasulullah, dan yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap Rasulullah. Karena itu Umar berpesan kepada putrinya agar berusaha dekat dengan Aisyah dan mcncintainya. Selain itu, Umar meminta agar Hafshah rnenjaga tindak-tanduknya sehingga di antara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. Akan tetapi, mcmang sangat manusiawi jika di antara mereka rnasih saja terjadi kesalahpahaman yang bersumber dari rasa cemburu. Dengan lapang dada Rasulullab . mendamaikan mereka tanpa menimbulkan kesedihan di antara istri – istrinya. Salah satu contoh adalah kejadian ketika Hafshah melihat Mariyah al-Qibtiyah datang rnenemui Nabi dalam suatu urusan. Mariyah berada jauh dari masjid, dan Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalarn rumah Hafshah yang ketika itu sedang pergi ke rumah ayahnya, dia melihat tabir karnar tidurnya tertutup, sementara Rasulullah dan Mariyah berada di dalamnya. Melihat kejadian itu, amarah Hafshah meledak. Hafshah menangis penuh amarah. Rasulullah berusaha membujuk dan meredakan amarah Hafshah, bahkan beliau bersumpah rnengharamkan Mariyah baginya kalau Mariyah tidak merninta maaf pada Hafshah, dan Nabi meminta agar Hafshah rnerahasiakan kejadian tersebut.

    Merupakan hal yang wajar jika istri-istri Rasulullah merasa cemburu terhadap Mariyah, karena dialah satu-satunya wanita yang melahirkan putra Rasulullah setelah Siti Khadijah r.a.. Kejadian itu segera menyebar, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk menutupi rahasia tersebut. Berita itu akhirnya diketahui oleh Rasulullah sehingga beliau sangat marah. Sebagian riwayat mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut, Rasulullah . menceraikan Hafshah, namun beberapa saat kemudian beliau merujuknya kembali karena melihat ayah Hafshah, Umar, sangat resah. Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah bermaksud menceraikan Hafshah, tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan beliau untuk mempertahankan Hafshah sebagai istrinya karena dia adalah wanita yang berpendirian teguh. Rasulullah pun mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terlebih karena tersebut Hafshah sangat menyesali perbuatannya dengan membuka rahasia dan memurkakan Rasulullah .

    Umar bin Khaththab mengingatkan putrinya agar tidak lagi membangkitkan amarah Rasulullah dan senantiasa menaati serta mencari keridhaan beliau. Umar bin Khaththab meletakkan keridhaan Rasulullah . pada tempat terpenting yang harus dilakukan oleh Hafshah. Pada dasarnya, Rasulullah menikahi Hafshah karena memandang keberadaan Umar dan merasa kasihan terhadap Hafshah yang ditinggalkan suaminya. Allah menurunkan ayat berikut ini sebagai antisipasi atas isu-isu yang tersebar.

    “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah menghalalkannya bagimu,- kamu mencari kesenangan hati istri -istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dan sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dan istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberiitakan Allah kepadanya) dan rnenyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukrnin yang haik; dan selain dan itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan.” (Qs. At-Tahrim:1-5)

    Cobaan Besar

    Hafshah senantiasa bertanya kepada Rasulullah dalam berbagai rnasalah, dan hal itu menyebabkan marahnya Umar kepada Hafshah, sedangkan Rasulullah . senantiasa memperlakukan Hafshah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau bersabda, “Berwasiatlah engkau kepada kaum wanita dengan baik.” Rasulullah . pernah marah besar kepada istri-istrinya ketika mereka meminta tambahan nafkah sehingga secepatnya Umar mendatangi rumah Rasulullah. Umar melihat istri-istri Rasulullah murung dan sedih, sepertinya telah terjadi perselisihan antara mereka dengan Rasulullah. Secara khusus Umar memanggil putrinya, Hafshah, dan mengingatkannya untuk menjauhi perilaku yang dapat membangkitkan amarah beliau dan menyadari bahwa beliau tidak memiliki banyak harta untuk diberikan kepada mereka. Karena marahnya, Rasulullah bersumpah untuk tidak berkumpul dengan istri-istri beliau selama sebulan hingga mereka menyadari kesalahannya, atau menceraikan mereka jika mereka tidak menyadari kesalahan. Kaitannya dengan hal ini, Allah berfirman,

    “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di antara kalian pahala yang besar. “ (QS. Al-Ahzab)

    Rasulullah . menjauhi istri-istrinya selama sebulan di dalam sebuah kamar yang disebut khazanah, dan seorang budak bernama Rabah duduk di depan pintu kamar.

    Setelah kejadian itu tersebarlah kabar yang meresahkan bahwa Rasulullah . telah menceraikan istri-jstri beliau. Yang paling merasakan keresahan adalah Urnar bin Khaththab, sehingga dia segera rnenemui putrinya yang sedang menangis. Urnar berkata, “Sepertinya Rasulullah telah menceraikanmu.” Dengan terisak Hafshah menjawab, “Aku tidak tahu.” Umar berkata, “Beliau telah menceraikanmu sekali dan merujukmu lagi karena aku. Jika beliau menceraikanmu sekali lagi, aku tidak akan berbicara dengan mu selama-lamanya.” Hafshah menangis dan menyesali kelalaiannya terhadap suami dan ayahnya. Setelah beberapa hari Rasulullah . menyendiri, belum ada seorang pun yang dapat memastikan apakah beliau menceraikan istri-istri beliau atau tidak. Karena tidak sabar, Umar mendatangi khazanah untuk menemui Rasulullah yang sedang rnenyendiri. Sekarang ini Umar menemui Rasulullah bukan karena anaknya, melainkan karena cintanya kepada beliau dan merasa sangat sedih melihat keadaan beliau, di samping memang ingin memastikan isu yang tersebar. Dia merasa putrinyalah yang menjadi penyebab kesedihan beliau. Umar pun meminta penjelasan dari beliau walaupun di sisi lain dia sangat yakin bahwa beliau tidak akan menceraikan istri – istri beliau. Dan memang benar, Rasulullah . tidak akan menceraikan istri-istri beliau sehingga Umar meminta izin untuk mengumumkan kabar gembira itu kepada kaum muslimin. Umar pergi ke masjid dan mengabarkan bahwa Rasulullah . tidak menceraikan istri-istri beliau. Kaum muslimin menyambut gembira kabar tersebut, dan tentu yang lebih gembira lagi adalah istri-istri beliau.

    Setelah genap sebulan Rasulullah menjauhi istri-istrinya, beliau kembali kepada mereka. Beliau melihat penyesalan tergambar dari wajah mereka. Mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk lebih meyakinkan lagi, beliau rnengurnumkan penyesalan mereka kepada kaurn muslimin. Hafshah dapat dikatakan sebagai istri Rasul yang paling menyesal sehingga dia mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai tebusan bagi Rasulullah. Hafshah memperbanyak ibadah, terutama puasa dan salat malam. Kebiasaan itu berlanjut hingga setelah Rasulullah wafat. Bahkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Urnar, dia mengikuti perkembangan penaklukan-penaklukan besar, baik di bagian timur maupun barat.

    Hafshah merasa sangat kehilangan ketika ayahnya meninggal di tangan Abu Lu’luah. Dia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman, yang ketika itu terjadi fitnah besar antar muslirnin yang menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman hingga masa pembai’atan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ketika itu, Hafshah berada pada kubu Aisyah sebagaimana yang diungkapkannya, “Pendapatku adalah sebagaimana pendapat Aisyah.” Akan tetapi, dia tidak termasuk ke dalam golongan orang yang menyatakan diri berba’iat kepada Ali bin Abi Thalib karena saudaranya, Abdullah bin Umar, memintanya agar berdiam di rumah dan tidak keluar untuk menyatakan ba’iat.

    Tentang wafatnya Hafshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke empat puluh tujuh pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Dia dikuburkan di Baqi’, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Nabi yang lain.

    Pemilik Mushaf yang Pertama

    Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya A1-Qur’an di tangannya setelah mengalami penghapusan karena dialah satu-satunya istrii Nabi . yang pandai membaca dan menulis. Pada masa Rasul, A1-Qur’an terjaga di dalam dada dan dihafal oleh para sahabat untuk kemudian dituliskan pada pelepah kurma atau lembaran-lembaran yang tidak terkumpul dalam satu kitab khusus.

    Pada masa khalifah Abu Bakar, para penghafal A1-Qur’an banyak yang gugur dalam peperangan Riddah (peperangan rnelawan kaum murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar bin Khaththab untuk mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur’an yang tercecer. Awalnya Abu Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang mengada-ada karena pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, atas desakan Umar, Abu bakar akhirnya memerintah Hafshah untuk mengumpulkan Al-Qur’an, sekaligus menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Qur’an itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal.

    Lihat pula

    Referensi

     
    • wikki 2:56 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      Hafsah adalah putri dari Umar. Sebelum menikah dengan Muhammad, Hafsah telah menikah dengan Khunais yang gugur saat perang Uhud. Pernikahan dengan Muhammad dilakukan sekitar 7 bulan setelah Hafsah menjanda. Sebelum itu Hafsha adalah isteri Khunais – termasuk orang yang mula-mula dalam Islam – yang sudah meninggal tujuh bulan lebih dulu sebelum perkawinannya dengan Muhammad.
      Usia Hafsah sendiri saat Khunais gugur baru 18 tahun, yang berarti dia dinikahi Muhammad saat berusia sekitar 19 tahun. Sumber :

      Abbas Jamal, halaman 38
      Khunais gugur sebagai pahlawan syuhada dalam perang Uhud, maka tinggallah Hafsah sebagai janda mujahidin dalam usia 18 tahun.
      Hafsa dinikahi Muhammad di tahun 625, 3 bulan setelah migrasi ke Medinah. Dia berumur 19 tahun dan Muhammad berumur 55 tahun ketika menikah. Dia hidup bersama Muhammad selama 8 th. Meninggal ditahun 669 pada umur 63. Yah, usia 18/19 tahun jelas belum tua rentalah. Masih kaya Tamara Blezinsky. Masih seger-segernya tuh. Masalah timbul dirumah Hafsa istri Muhammad yang lain, dimana Maria ditempatkan sebagai pembantu Hafsa. Ingat Maria adalah budak atau pembantu, bukan istri Muhammad.

      Di suatu malam Muhammad mengunjungi istrinya Hafsa, malam itu adalah “jatah” Hafsa untuk tidur dengan Muhammad. Ketika masuk rumah, ia melihat Maria, gadis remaja yang cantik jelita, merangsang sukma. Dia membangkitkan nafsu birahi pria manapun yang melihatnya. Namun rupanya Hafsa juga ada dirumah. Muhammad yang sudah tak tahan untuk berduaan dengan Maria, akhirnya mencari cara untuk mengusir Hafsa. Dia suruh Hafsa pergi dengan alasan dipanggil ayahnya. Segera setelah istrinya pergi, dia menikmati Maria diranjang Hafsa.

      Tahu ayahnya ternyata tidak memanggil, Hafsa bergegas kembali kerumah. Ia begitu kaget ketika melihat Muhammad dan Maria yang sedang bermesraan diatas ranjangnya. Hafsa pun marah, dan mulai berteriak sekencang2nya, “Kau lakukan ini dirumahku? Disaat giliranku? Muhammad panik, lalu ia menenangkan Hafsa, ia berjanji untuk tidak menyentuh Maria lagi jika Hafsa diam dan tidak menceritakan peristiwa malam itu kepada siapapun. Hafsa masih tak percaya dengan ucapan Muhammad, lalu ia pun meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Allah. Muhammad menuruti permintaan Hafsa, kemudian ia berkata, “Demi Allah aku tak akan menyentuh Maria” [Tabaqat v. 8 p. 223]

      Beberapa hari kemudian Muhammad secara tak sengaja mendengar pembicaraan Hafsa yang sedang curhat dengan Aisha. Muhammad kaget ketika ia tau ternyata Hafsa menceritakan kejadian semalam kepada Aisha. Merasa permintaan untuk merahasiakan affairnya tidak dituruti Hafsa, akhirnya ia mengeluarkan ayatnya;

      QS 66: 3 – 4

      Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula

      Muhammad yang merasa sakit hati atas perbuatan Hafsa membocorkan rahasianya akhirnya kembali lagi ketempat Maria, sudah kepalang tanggung pikirnya. Disaat mereka sedang berduaan, masuklah Hafsa kerumah, dan lagi2 ia mendapati Muhammad bersama Maria. Hafsa pun mulai mengomel; “Bagaimana janjimu? Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyentuh Maria lagi. Haram itu..” Lalu Muhammad berkata bahwa barusan ia dikirimi Jibril ayat2 dari surga;

      QS 66:1-2

      Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

      Hafsa masih menggerutu dengan ucapan Muhammad tersebut, lalu nabi berkata lagi;

      QS 66: 5

      Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

      Karena diancam cerai, Hafsa langsung terdiam. Dia sadar bahwa ia bisa kesepian jika dicerai oleh Muhammad. Karena Allah sudah mengatakan bahwa siapapun tidak boleh menikahi istri2 rasul.

      QS 33: 53

      Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.

      Karena peristiwa itu pula, Muhammad mengambil kesempatan sebulan penuh untuk bercumbu dengan Maria. Sekaligus memberi pelajaran kepada Hafsa dan Aisha yang sering bergosip mengenai dirinya.

      Sahih Bukhari 43, Nomer 648:

      Sang Nabi tidak mengunjungi istri2nya karena Hafsa membocorkan rahasia kepada Aisha, dan sang Nabi berkata bahwa dia tidak akan mengunjungi para istrinya selama sebulan karena dia marah pada mereka ketika Allah membatalkan sumpahnya untuk tidak menyentuh Maria lagi.”

      Setahun kemudian setelah peristiwa itu Maria melahirkan seorang bayi yang diberi nama Ibrahim oleh Muhammad. Peristiwa Maria mempunyai anak ini begitu menggemparkan dikalangan istri2 Muhammad, karena diantara 15 an wanita yang ditiduri Muhammad tidak ada yang bisa mendapatkan anak dari Muhammad. Mereka berpikir bagaimana mungkin Maria bisa mengandung anak dari Muhammad sedangkan Aisha yang dinikahi Muhammad selama kurang lebih 9 tahun saja tidak bisa memiliki anak.

      Namun bagaimanapun juga Muhammad begitu gembira atas kelahiran anak Maria tersebut. Muhammad kemudian membawa Ibrahim kepada Aisha dan berkata, “Lihat betapa dia mirip denganku.” Aisya menjawab, “Tak kulihat kemiripannya denganmu.” Muhammad bilang, tidakkah kau lihat pipinya yang tembam dan putih? Aisya lalu menjawab, “Semua bayi yang baru lahir yang minum susu punya pipi tembam.” [Tabaqat Volume I, page 125]

      Hayo! Anak siapakah sebenarnya Ibrahim ini?

      Kemalangan rupanya menimpa Ibrahim, tanpa sebab yang jelas bayi 2 bulan ini akhirnya meninggal. Sekali lagi kisah ini mempertanyakan moral nabi kita Muhammad, seseorang yang dianggap sebagai suri teladan yang baik.
      Mungkinkah Allah mengirim Jibril hanya untuk membatalkan sumpah Muhammad kepada Hafsa?
      Bermoralkah seorang kakek berumur 60 tahun menghamili pembantunya yang berumur 20 tahun tanpa menikahinya?
      Inikah yang dikatakan suri teladan terbaik?

      • lim bho tak 7:12 am on 12/02/2013 Permalink | Reply

        KISAH SEBENARNYA TENTANG ISTRI NABI MUHAMMAD. SAW

        JAWABAN ATAS FITNAH YAHUDI ANGGUR ASAM YANG DENGKI SAMA NABI MUHAMMAD BANGSA ARAB KETURUNAN NABI ISMAIL ANAK NABI IBRAHIM.
        KISAH ISTRI NABI MUHAMMAD JUWAIRIAH RA.

        (8) Hadhrat Juwairiah bintul Harith (Radhiyallaho anha):

        She was one of the large number of captives who fell ! into Muslim hands after the battle of Muraisee’, and she
        was given to Hadhrat Thabit bin Qais (Radhiyallaho anho).
        He offered to release her for 360 Dirhams. She came to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0,Pr ophet of Allah! I am the daughter of Harith who
        is the chief of the tribe, and you know my story. The
        ransom demanded by Hadhrat Thabit (Radhiyallaho
        anho) is too much for me. I have come to seek your
        help in the matter.”
        The Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) agreed to pay her
        ransom, set her free, and offered to take her as his wife. She
        was very glad to accept this offer. She was married to the
        Prophet in 5 A. H. and as a consequence of this marriage,
        the prisoners of Banu Mustaliq (Juwairiah’s tribe), about a
        hundred families, were all set free by the Muslims. “The
        tribe which was so honoured by the Prophet’s relationship,”
        they said, “should not remain in slavery.”
        Such were the noble expediences in all the marriages
        of the Prophet. Hadhrat Juwairiah (Radhiyallaho anha) was
        very pretty, her face was very attractive. Three days before
        her falling captive in the battle, she had seen in her dream
        the moon coming out from Madinah and falling into her
        lap. She says:
        “When I was captured, I began to hope that my dream
        would come true.”
        She was 20 at the time of her marriage with the Prophet
        (Sallallaho alaihe wasallam). She died in Rabi-ul-Awwal,
        50 A. H., in Madinah at the age of 65. ,

        ALLAH TELAH MEMULIAKAN NABI MUHAMMAD DI QURAN
        MAKANYA ORANG PINTER SEKALIBER PROFFESOR DOKTOR YAHYA WALONI DAN DOKTOR IRENE HANDONO KEMBALI KE ISLAMITULAH KEBENARAN KISAHNYA.
        Reply

        LIM BHO TAK Says:

        February 11, 2013 at 4:43 am

        KISAH SEBENARNYA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW . SAFIYYAH RA

        (10) Hadhrat Safiyyah (Kadhiyallaho anha):
        She was the daughter of Hayi, who was a descendant
        of Hadhrat Harun (Alaihis salaam) the brother of Hadhrat
        Moosa (Alaihis salaam). She was first married to Salam bin
        Mishkam and then to Kinanah bin Abi Huqaiq at the time
        of Kheybar. Kinanah was killed in the battle and she was
        captured by the Muslims. Hadhrat Dahya Kalbi (Radhiyallaho
        anho) requested for a maid, and the Prophet made her
        over to him. At this, the other Sahabah approached the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0, Prophet of Allah! Banu Nazir and Banu Quraizah
        (the Jewish tribes of Madinah) will feel offended to see
        the daughter of a Jewish chief working as a maid. We
        therefore suggest that she may be taken as your own
        wife.” I
        The Prophet paid a reasonable sum of money to Hadhrat
        Dahya (Radhiyallaho anho) as ransom, and said to Safiyyah:
        “You are now free: if you like you can go back to your
        tribe or can be my wife.”
        She said: “I longed to be with you while I was a Jew. How
        can I leave you now, when I am a Muslim?”
        This is probably a reference to the fact that she once saw in
        -her dream a portion of the moon falling into her lap. When
        she mentioned her dream to Kinanah, he smote her face. so
        severely that she developed a mark on her eye He said:
        “You seem to be desiring to become the wife of the
        King of Madinah.”
        Her father is also reported to have treated her similarly
        when she related the same or similar dream to him. She
        again saw (in her dream) the sun lying on her breast. When
        she mentioned this to her husband, he remarked:
        “You seem to be wishing to become the Queen of Madinah.”
        She says: “I was seventeen when I was married to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam).
        She came to live with the Prophet (Sallallaho alaihe
        wasallam) when he was camping at the first stage from
        Khaiber. Next morning, he said to the Sahabah:
        “Let everybody bring whatever he has got to eat.”
        They brought their own dates, cheese, butter, etc. A long
        leather sheet was spread and all sat round it to share the
        food among themselves. This was the Walimah for the marriage.
        She died in Ramadhan, 50 A. H., when she was about
        60.
        PENDETA2 YAHUDI PERUSAK AGAMA ALLAH, PEMBUNUH PARA NABI ALLAH.ANGGUR ASAM ITU AKAN BINASA DI NERAKA

  • SERBUIFF 1:49 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi   

    Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi
    Rubrik: Jejak – Dibaca: 2781 kali

    Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

    Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

    Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

    Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
    Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
    “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

    memberikan mahar berupa kebebasannya.

    Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

    Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

    Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

    Aini Firdaus

    http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

    =================================

     
     

    Shafiyah binti Huyay

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Shafiyah binti Huyay (Bahasa Arab صفية بنت حيي‎, Shafiya/ Shafya/ Safiyya/ Sofiya) (sekitar 610 M – 670 M) adalah salah satu istri ke-11 Muhammad yang berasal dari suku Bani Nadhir. Ketika menikah, ia masih berumur 17 tahun.[1] Ia mendapatkan julukan “Ummul mu’minin“.[2] Bapaknya adalah ketua suku Bani Nadhir, salah satu Bani Israel yang bermukim disekitar Madinah.

    Daftar isi

    Genealogi

    Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin Nadhir bin al-Kham bin Yakhurn, termasuk keturunan Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Israel bin Ishaq bin Ibrahim. Ibunya bernama Barrah binti Samaual darin Bani Quraizhah. Shafiyyah dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah, atau dua tahun setelah masa kenabian Muhammad.

    Biografi

    Shafiyah telah menjanda sebanyak dua kali, karena dia pernah kawin dengan dua orang keturunan Yahudi yaitu Salam bin Abi Al-Haqiq (dalam kisah lain dikatakan bernama Salam bin Musykam), salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah, namun rumah tangga mereka tidak berlangsung lama.

    Kemudian suami keduanya bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abil Hafiq, ia juga salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah yang diusir Rasulullah. Dalam Perang Khaibar, Shafiyah dan suaminya Kinanah bin Rabi’ telah tertawan, karena kalah dalam pertempuran tersebut. Dalam satu perundingan Shafiyah diberikan dua pilihan yaitu dibebaskan kemudian diserahkan kembali kepada kaumny atau dibebaskan kemudian menjadi isteri Muhammad, kemudian Safiyah memilih untuk menjadi isteri Muhammad.

    Shafiyah memiliki kulit yang sangat putih dan memiliki paras cantik, menurut Ummu Sinan Al-Aslamiyah, kecantikannya itu sehingga membuat cemburu istri-istri Muhammad yang lain. Bahkan ada seorang istri Muhammad dengan nada mengejek, mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy bangsa Arab, sedangkan dirinya adalah wanita asing (Yahudi). Bahkan suatu ketika Hafshah sampai mengeluarkan lisan kata-kata, ”Anak seorang Yahudi” hingga menyebabkan Shafiyah menangis. Muhammad kemudian bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah seorang putri seorang nabi dan pamanmu adalah seorang nabi, suamimu pun juga seorang nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?” Kemudian Muhammad bersabda kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!” Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri-istri nabi yang lain maka diapun berkata, “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku (leluhur) adalah Harun dan pamanku adalah Musa?”[3] Shafiyah wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu’awiyah.

    Sejak kecil dia menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci Taurat dia membaca bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi penutup semua nabi. Pikirannya tercurah pada masalah kenabian tersebut, terutama setelah Muhammad muncul di Mekkah. Dia sangat heran ketika kaumnya tidak mempercayai berita besar tersebut, padahal sudah jelas tertulis di dalam kitab mereka sendiri. Demikian juga ayahnya, Huyay bin Akhtab, yang sangat gigih menyulut permusuhan terhadap kaum Muslim.

    Sifat dusta, tipu muslihat, dan pengecut ayahnya sudah tampak di mata Shafiyyah dalam banyak peristiwa. Di antara yang menjadi perhatian Shafiyyah adalah sikap Huyay terhadap kaumnya sendiri, Yahudi Bani Qurayzhah. Ketika itu, Huyay berjanji untuk mendukung dan memberikan pertolongan kepada mereka jika mereka melepaskan perjanjian tidak mengkhianati kaum Muslim (Perjanjian Hudaibiyah). Akan tetapi, ketika kaum Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut, Huyay melepaskan tanggung jawab dan tidak menghiraukan mereka lagi. Hal lain adalah sikapnya terhadap orang-orang Quraisy Mekah. Huyay pergi ke Mekah untuk menghasut kaum Quraisy agar memerangi kaum Muslim dan mereka menyuruhnya mengakui bahwa agama mereka (Quraisy) lebih mulia daripada agama Muhammad, dan Tuhan mereka lebih baik daripada Tuhan Muhammad.

    Penaklukan Khaibar dan Penawanannya

    Perang Khandaq telah membuka tabir pengkhianatan kaum Yahudi terhadap perjanjian yang telah mereka sepakati dengan kaum muslimin. Muhammad segera menyadari ancaman yang akan menimpa kaum muslimin dengan berpindahnya kaum Yahudi ke Khaibar kernudian membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum muslimin.

    Setelah perjanjian Hudaibiyah disepakati untuk menghentikan permusuhan selama sepuluh tahun, Muhammad merencanakan penyerangan terhadap kaum Yahudi, tepatnya pada bulan Muharam tahun ketujuh hijriah. Muhammad memimpin tentara Islam untuk menaklukkan Khaibar, benteng terkuat dan terakhir kaum Yahudi. Perang berlangsung dahsyat hingga beberapa hari lamanya, dan akhirnya kemenangan ada di tangan umat Islam. Benteng-benteng mereka berhasil dihancurkan, harta benda mereka menjadi harta rampasan perang, dan kaum wanitanya pun menjadi tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat Shafiyyah, putri pemimpin Yahudi yang ditinggal mati suaminya.

    Bilal membawa Shafiyyah dan putri pamannya menghadap Muhammad. Di sepanjang jalan yang dilaluinya terlihat mayat-mayat tentara kaumnya yang dibunuh. Hati Shafiyyah sangat sedih melihat keadaan itu, apalagi jika mengingat bahwa dirinya menjadi tawanan kaum muslimin. Muhammad memahami kesedihan yang dialaminva, kemudian ia bersabda kepada Bilal, “Sudah hilangkah rasa kasih sayang dihatimu, wahai Bilal, sehingga engkau tega membawa dua orang wanita ini melewati mayat-mayat suami mereka?” Muhammad memilih Shafiyyah sebagai istri setelah terlebih dahulu menawarkan untuk memeluk agama Islam kepadanya dan kemudian Shafiyyah menerima tawaran tersebut.

    Seperti telah dikaji di atas, Shafiyyah telah banyak memikirkan Muhammad sejak dia belum mengetahui kerasulan beliau. Keyakinannya bertambah besar setelah dia mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Anas berkata, “Rasulullah ketika hendak menikahi Shafiyyah binti Huyay bertanya kepadanya, ‘Adakah sesuatu yang engkau ketahui tentang diriku?’ Dia menjawab, ‘Ya Rasulullah, aku sudah rnengharapkanrnu sejak aku masih musyrik, dan memikirkan seandainya Allah mengabulkan keinginanku itu ketika aku sudah memeluk Islam.” Ungkapan Shafiyyah tersebut menunjukkan rasa percayanya kepada Muhammad dan rindunya terhadap Islam.

    Bukti-bukti yang jelas tentang keimanan Shafiyyah dapat terlihat ketika dia memimpikan sesuatu dalam tidurnya kemudian dia ceritakan mimpi itu kepada suaminya. Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya marah dan menampar wajah Shafiyyah sehingga berbekas di wajahnya. Muhammad melihat bekas di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

    Masa Pernikahannya (Menjadi Ummu al-Mukminin)

    Muhammad menikahi Shafiyyah dan kebebasannya menjadi mahar perkawinan dengannya. Pernikahan Muhammad dengan Shafiyyah didasari beberapa landasan. Shafiyyah telah mernilih Islam serta menikah dengan Muhammad ketika ia memberinya pilihan antara memeluk Islam dan menikah dengan beliau atau tetap dengan agamanya dan dibebaskan sepenuhnya. Ternyata Shafiyyah memilih untuk tetap bersama Muhammad, Selain itu, Shafiyyah adalah putri pemimpin Yahudi yang sangat membahayakan kaum muslim, di samping itu, juga karena kecintaannya kepada Islam dan Muhammad.

    Muhammad menghormati Shafiyyah sebagaimana hormatnya ia terhadap istri-istri yang lain. Akan tetapi, istri-istri Muhammad menyambut kedatangan Shafiyyah dengan wajah sinis karena dia adalah orang Yahudi, di samping juga karena kecantikannya yang menawan. Akibat sikap mereka, Muhammad pernah tidak tidur dengan Zainab binti Jahsy karena kata-kata yang dia lontarkan tentang Shafiyyah. Aisyah bertutur tentang peristiwa tersebut, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba unta Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih. Rasulullah berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau memberikan salah satu dan untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi kepada seorang perempuan Yahudi?’ Akhirnya, beliau meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah dan Muharam. Artinya, beliau tidak mendatangi Zainab selama tiga bulan. Zainab berkata, ‘Sehingga aku putus asa dan aku mengalihkan tempat tidurku.” Aisyah mengatakan lagi, “Suatu siang aku melihat bayangan Rasulullah datang. Ketika itu Shafiyyah mendengar obrolan Hafshah dan Aisyah tentang dirinya dan mengungkit-ungkit asal-usul dirinya. Betapa sedih perasannya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis. Rasulullah menghiburnya, ‘Mengapa tidak engkau katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa.” Di dalam hadits riwayat Tirmidzi juga disebutkan, “Ketika Shafiyyah mendengar Hafshah berkata, ‘Perempuan Yahudi!’ dia menangis, kemudian Muhammad menghampirinya dan berkata, ‘Mengapa engkau menangis?’ Dia menjawab, ‘Hafshah binti Umar mengejekku bahwa aku wanita Yahudiah.’ Kemudian Muhammad bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu adalah nabi, dan kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang dia banggakan kepadamu?’ Muhammad kemudian berkata kepada Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, Hafshah!”

    Salah satu bukti cinta Hafshah kepada Muhammad terdapat pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalarn Thabaqta-nya tentang istri-istri Nabi yang berkumpul menjelang beliau wafat. Shafiyyah berkata, “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, beliau berkata, “Berkumurlah!” Dengan terkejut mereka bertanya, “Dari apa?” Beliau menjawab, “Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”

    Setelah Muhammad wafat, Shafiyyah merasa sangat terasing di tengah kaum muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dan Yahudi, tetapi dia tetap komitmen terhadap Islam dan mendukung perjuangan Muhammad. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, dia berada di barisan Utsman. Selain itu, dia pun banyak meriwayatkan hadits Nabi. Dia wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian menguburkannya di Baqi’.

    Catatan kaki

    1. ^ Safiyya bint Huyay, Fatima az-Zahra by Ahmad Thompson
    2. ^ a b c d Stowasser, Barbara. The Mothers of the Believers in the Hadith. The Muslim World, Volume 82, Issue 1-2: 1-36.
    3. ^ Al-Shati’, 1971, 178-181

    Referensi

     
    • wikki 2:41 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

      Safiyah adalah gadis cantik yang berusia 17 tahun, ia adalah putri dari kepala suku Yahudi yang dikenal sebagai Bani Nadir. Nama ayahnya adalah Huyah ibn Akhtab. Bani Nadir dirampok oleh Muhammad dan diusir paksa oleh sang Nabi untuk meninggalkan tanah Arab. Sisa Bani Nadir dan keluarga Huyah ibn Akhtab, termasuk Safiyah melarikan diri ke tempat Bani Qurayza di Khaibar. Di Khaibar inilah Safiyah menikah dengan seorang pemuda Yahudi bernama Kinana al-Rabi, bendahara Bani Nadir.

      Beberapa bulan kemudian Muhammad dan pasukannya bersiap2 untuk merampok Bani Qurayza juga. Untuk meyakinkan dan menyenangkan pengikutnya atas perampokan ini, Muhammad menurunkan Sura al-Fath (Sura 48 ayat 20). Di sura ini ALLAH MENJANJIKAN BARANG2 HASIL PERAMPOKAN BAGI PARA MUSLIM YANG BERGABUNG DALAM JIHAD.

      Kemudian Muhammad memimpin tentaranya dan menyerang masyarakat Yahudi Khaybar. Akhirnya masyarakat Khaybar menyerah, Muhammad memerintahkan para lelaki agar diikat tangan mereka, sementara para wanita dan anak2 disekap secara terpisah. Melihat ini, suku Al-Aus memohon agar nabi memperlakukan mereka dengan ringan. Muhammad mengusulkan agar Sa‘d bin Mu‘adh, diberi tugas untuk menentukan hukuman dan mereka setuju.

      Sad bin Mu‘adh kemudian berkata; “Saya putuskan bahwa para laki2 mereka harus dibunuh dan anak2 serta kaum wanitanya harus diambil jadi tawanan”. Sahut Muhammad, “Hebat Sad! Engkau telah menjatuhkan putusan untuk mereka dengan putusan (menyerupai) keputusan Allah”. (Sahih Bukhari 52:280)

      Ahhirnya Sekitar 600-800 lelaki Yahudi dibantai disana termasuk ayah Safiyah juga. Rupanya Muhammad belum puas terhadap banyaknya harta yang ia dapatkan dari perampokan ini. Ia mencari Kinana al-Rabi, suami Safiyah yang mengelola keuangan Bani Nadir.

      “Ketika dia (nabi) menanyakannya (Kinana) tentang harta lainnya, Kinana menolak mengungkapkannya, maka nabi memberi perintah kepada al-Zubayr Al-Awwam, “Siksa dia hingga kamu dapat apa yang dia punya.” Lalu dia menyalakan api dengan batu keras dan baja di dadanya hingga dia hampir mati. Lalu sang nabi menyerahkannya kepada Maslama dan dia penggal kepalanya, sebagai balas dendam bagi saudara lelakinya Mahmud.” (Ibn Ishaq “Sirat Rasulallah”, p 515)

      Setelah para pria dibunuh, para wanitanya dikumpulkan untuk dibagi2kan kepada para Jihadis.

      Sahih Bukhari 8 no 367

      Dikisahkan oleh ‘Abdul ‘Aziz: Anas berkata, ‘Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar, kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih gelap. Sang Nabi berjalan menunggang kuda dan Abu Talha berjalan menunggang kuda pula dan aku menunggang kuda di belakang Abu Talha. Sang Nabi melewati jalan ke Khaibar dengan cepat dan lututku menyentuh paha sang Nabi. Dia lalu menyingkapkan pahanya dan kulihat warna putih di pahanya. Ketika dia memasuki kota, dia berkata, “Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.” Dia mengulangi kalimat ini tiga kali. Orang2 ke luar untuk bekerja dan beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami berkata, “Dengan tentaranya.”)

      Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para tawanan, dan harta benda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’ Sang Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik dari suku2 Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’ Maka sang Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’ Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.”

      Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi.

      Oo begitu ya kelakuan seorang nabi, tak tahan melihat gadis cantik lalu merebutnya dari tangan Dihya?

      Karena tak tahan dengan kecantikannya maka Muhammad pun mengambil Safiyah untuk ditidurinya. Malam itu juga Muhammad menggauli Safiyah, setelah siang tadi ia puas membantai anggota suku, keluarga, ayah, serta suami Safiyah.

      Bagaimana anda membayangkan perasaan Safiyah saat itu?

      Di Tabaqat dikisahkan bahwa Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman selama Muhammad menggauli Safiyah. Ketika fajar tiba, nabi melihat Abu Ayyub terus berjaga2. Nabi bertanya alasannya dan ia menjawab, ”Saya khawatir tentang perbuatan wanita ini terhadapmu. Anda telah membunuh suami, ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat menghawatirkan pembalasan darinya.”

      Keesokan harinya baru dilaksanakan pernikahan Muhammad dan Safiah, nah di pesta pekawinan ini Muhammad di racun oleh wanita Yahudi dan tewas 3 tahun kemudian.

      Bagaimana Islam Arab membumbui kisah nabinya ini agar nampak mulia?

      Kisah dibawah ini diambil dari Tabaqat nya Ibn Sa”ad;

      “Nabi kemudian memberikannya pilihan: bergabung dengan sukunya setelah bebas ATAU menerima Islam dan mengadakan hubungan perkawinan dengan nabi.”

      “Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, berumur 17 tahun, dan sangat cantik. Bukan hanya ia sangat mencintai Muhammad (???) iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhammad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, ”Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?”, jawabnya, ”Ia adalah benar seorang nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita” (???) , lalu yang lain berkata, ”Lalu apa yang harus dilakukan?” jawabannya adalah “Kita harus menentangnya sekuat tenaga.”

      “Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai cara. Hal ini jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.”

      “Kamu tahu setelah pernikahan rasul dengan Syafiah, beliau melihat tanda bekas Tamparan di pipi Syafiah dan beliau bertanya :”Apa ini?” Syafiah menceritakan bahwa dia bermimpi bahwa rembulan telah jatuh di kamarnya, (mengisyaratkan mimpi bahwa ia akan menikah dengan beliau), dan kemudian suaminya menampar pipinya… “

      Betapa lucunya pembelaan orang Arab satu ini !

      Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin dua orang Yahudi menganggap Muhammad telah diramalkan di kitab mereka? Sedangkan Isa saja tidak mereka anggap sebagai nabi? Bagaimana mungkin dua orang Yahudi berhasil mengetahui ramalan tentang Muhammad dari kitab mereka, sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim saja tak mampu menemukannya!

      Andaipun benar mereka menganggap Muhammad adalah nabi, logiskah jika kemudian mereka justru menentang Muhammad ? Bukannya mereka seharusnya berbondong2 masuk Islam…

      Benarkah Syafiah secara suka rela menyerahkan dirinya kepada Muhammad? Bukankah itu bertentangan dengan kisah yang diceritakan pada Sahih Bukhari? Bukankah Safiyah adalah tawanan, yang ingin diperkosa Dihya, kemudian Muhammad merebutnya karena Syafiah sangat2 cantik. Dimana sukarelanya?

      Mungkinkah Syafiah bemimpi bertemu Dewa Bulan ( Muhammad maksudnya), kemudian ia jatuh hati pada Muhammad karena mimpinya itu? Mungkinkah Syafiah begitu gembira tidur bersama Muhammad seorang kakek 59 tahun, saat sebelumya 600 orang saudaranya termasuk ayah dan suaminya dibantai oleh Muhammad?

      Jika anda memuji perbuatan Muhammad tersebut maka para muslim seharusnya menyerang rumah2 non-muslim, membunuh mereka dan memperkosa istri2 mereka. Jika anda berkata TIDAK dan tindakan Muhammad pada jaman tersebut tidak dapat diterapkan pada peradaban sekarang, maka semua ayat yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti contoh Muhammad menjadi tidak berarti.

      Muhammad bukan hanya figur sejarah.. Sebelum menjadi presiden Amerika, Washington mungkin meniduri budaknya. Pada jaman tersebut mungkin tindakan itu dianggap biasa, namun tidak ada orang yang mengatakan bahwa tindakan Washington ataupun Muhammad yang meniduri budak merupakan contoh yang harus diikuti UNTUK SEGALA JAMAN DAN UNTUK SEMUA BANGSA !

      • SERBUIFF 11:07 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

        Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi

        Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

        Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

        Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

        Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
        Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
        “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

        memberikan mahar berupa kebebasannya.

        Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

        Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

        Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

        Aini Firdaus

        http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

    • wikki 2:46 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

      Berikut ini adalah sejarah Safiyah Binti
      Huyai Ibn Akhtab, wanita Yahudi yang
      ditangkap ketika pasukan Muhammad
      menyerang Khaibar dan membawanya
      kepada Nabi sebagai bagian dari
      rampasan perang. Muhammad memberi
      perintah agar Kinana, suami yang masih
      muda dari Safiyah, dianiaya hingga mati
      supaya ia (Kinana) mengaku dimana
      harta karun kota tersebut disimpan. Pada
      malam yang sama itu juga, Muhammad
      mengambil Safiyah dan dibawa ke
      ranjangnya dan menjadikan dia istrinya…
      Kisah ini dilaporkan secara detil oleh
      Tabari. Kisah ini juga dapat ditemui dalam
      Sirat Ibn Ishaq. Yang berikut ini dilaporkan
      dalam buku dari Tabaqat yang disusun
      oleh Ibn Sa’d.
      Dua tahun sebelumnya Muhammad telah memancung kepala Huyai, ayahnya
      Safiyah, beserta 900 pria dari Bani Quraiza.
      Huyai Ibn Akhtab, ayah Safiyah, adalah pemimpin Bani Nadir, salah satu suku
      Yahudi dari Medina. Para pengikut Muhammad telah membunuh sepasang suami
      istri Arab yang sebelumnya telah menandatangani traktat perdamaian dengan
      Muhammad. Nabi memutuskan untuk membayar uang darah kepada keluarga
      korban yang salah dibunuh. Ia lalu pergi ke Bani Nadir untuk meminta kepada
      mereka agar membayarkan uang darah ini. Permintaan itu sangat aneh, sebab
      orang-orang Yahudi tak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan tersebut.
      Namun orang-orang Yahudi ini takut kepada Muhammad, karena Muhammad
      sebelumnya telah menghancurkan suku Yahudi yang lain, yaitu Bani Qainuqah
      dan oleh karena itu mereka takut hal ini akan terjadi juga kepada mereka.
      Orang-orang Yahudi selalu bersikap pengecut hingga hari ini dan mereka telah
      membayar harga atas sikap pengecut mereka. Kapankah mereka cukup belajar
      bahwa seseorang tak mungkin senang dengan gangster??? Kapankah mereka
      akan belajar bahwa mereka harus berperang melawan kelompok orang seperti
      itu?
      1
      Para tua-tua bani Nadir akhirnya mengumpulkan uang yang diminta. Muhammad
      dan para sahabatnya duduk dibawah sebuah dinding-perteduhan dikawasan
      Yahudi sambil menanti. Namun, maksud Muhammad sebenarnya adalah untuk
      menghancurkan Yahudi dan mengambil semua harta yang mereka miliki, dan
      bukan sekedar uang darah untuk kejahatan dari pengikut-pengikutnya.
      Muhammad berharap orang Yahudi akan memprotes sehinggga ia justru dapat
      memakai ini sebagai alasan untuk menyerang mereka.
      Setelah duduk-duduk dan menantikan, ia tiba-tiba bangkit dan pergi tanpa
      mengatakan apa-apa kepada siapapun. Para pengikutnya melihat bahwa ia
      berjalan terus, maka mereka pun pergi juga. Akhirnya Muhammad mengatakan
      kepada mereka, bahwa ada malaikat Jibril yang memberitahukan kepadanya,
      bahwa orang-orang Yahudi sedang merencanakan untuk melemparinya dengan
      sebuah batu dari atas dinding-perteduhan dan ingin membunuhnya. [Kalau ada
      peringatan Jibril tentang rencana pembunuhan, mengapa para pengikutnya
      ditinggalkan diam-diam?]. Ini tentu saja sebuah kebohongan. Kalau Bani Nadir
      betul-betul ingin membunuhnya, mereka tidak perlu melemparkan batu padanya.
      Muhammad ada dalam tangan mereka ketika itu. Mereka itu justru takut, dan
      inilah yang harus mereka bayar dengan nyawa mereka kelak.
      Muhammad kemudian menyerang
      Bani Nadir dan memutuskan aliran
      air mereka. Ketika mereka
      menyerah, Muhammad
      berketetapan untuk membunuh
      mereka semua. Namun Abdullah
      Ibn Obay, seorang pemimpin tua
      Arab Median mengintervensi.
      Muhammad khawatir hal ini akan
      menyebabkan perpecahan diantara
      pengikutnya sehingga ia akhirnya
      memutuskan tidak membunuh Bani
      Nadir. Sebagai gantinya ia mengambil semua harta kekayaan dan properti milik
      bani Nadir serta mengusir mereka.
      Maka Bani Nadir pun mengungsi ke Khaibar, yang merupakan benteng orangorang
      Yahudi di sebelah Utara Medina. Inilah yang membuat Safiyah tinggal di
      Khaibar dan menikahi Kinana, pemimpin muda dari kota tersebut. Akan tetapi,
      ayah Safiyah, Huyai, dipancung lehernya ketika Muhammad menyerang suku
      Yahudi yang terakhir di Medina, yaitu Bani Quraiza.
      2
      Safiyah berumur 17 tahun dan sangat cantik. Ketika Muhammad menyerang
      Khaibar ia membunuh semua lelaki disana. Orang-orang tidak siap untuk
      berperang. Mereka diserang secara mendadak. Muhammad bukanlah seorang
      pahlawan perang terbuka, melainkan seorang teroris yang melakukan
      penyergapan. Peperangannya disebut gazwah, yaitu sergapan/penyerangan
      dadakan.
      Maka Muhammad pun menangkap
      Kinana dan menyiksa dia karena
      Muhammad ingin tahu dimana harta
      kekayaan kota tersebut
      disembunyikan. Ia menusukkan
      batangan besi yang panas pada
      mata Kinana dan membutakannya.
      Kinana adalah pemuda ksatria, ia
      tidak buka mulut.
      Seorang Yahudi lain (mungkin nenek moyang-nya Noam Chomsky dan
      George Soros) telah mengabarkan kepada Muhammad dimana ia
      dapat menemukan harta kekayaan tersebut. Orang-orang Yahudi selalu
      memberikan saham kepada para pengkhianat.
      Kinana mati dibawah penyiksaan Muhammad. Kemudian Muhammad
      menanyakan kepada orang-orangnya untuk membawakan kepadanya gadis yang
      paling cantik. Safiyah adalah yang tercantik berumur 17 tahun, istri dari Kinana.
      Bilal membawa Kinana dan sepupu perempuan Kinana menghadap Muhammad.
      Namun ketika sepupu perempuan Kinana ini melihat jenazah saudaranya
      3
      terpotong-potong, ia pun menjadi histeris. Muhammad kemudian marah besar dan
      memerintahkan, “Bawa setan perempuan ini pergi dari saya”.
      Kemudian ia berkata kepada Bilal, “Tidakkah engkau mempunyai perasaan
      manusiawi sehingga menjejerkan wanita-wanita di depan jenazah orang yang
      mereka cintai?” Wah! Betapa hebatnya sang Nabi yang penuh dengan belas-asih
      dan perasaan manusiawi!?
      Selanjutnya ia membawa Safiyah ke tendanya, sebab ia telah menjadi seorang
      janda. Muhammad mengasihaninya dan memutuskan untuk mengambil ia
      sebagai istrinya. Tentu saja [Muslim berkilah], fakta ia muda dan cantik tidak ada
      hubungannya dengan keputusan Nabi. Masih ada beratus-ratus wanita lain yang
      juga telah menjadi janda pada hari tersebut.
      Berikut ini adalah periwayatan Tabaqat.
      “Safiyah dilahirkan di Medina. Ia berasal dari suku Yahudi Banu I-Nadir.
      Ketika suku ini diusir dari Medina tahun 4 AH, Huyai adalah salah satu
      dari orang-orang yang menetap di wilayah subur Khaibar bersama
      Kinana Ibn al-Rabi’ yang menikahi Safiyah sesaat sebelum Muslim
      menyerang Khaibar. Ia berumur 17 tahun. Sebelumnya ia adalah istri
      dari Sallam Ibn Mishkam yang menceraikannya. Disinilah, satu mil dari
      Khaibar, Nabi menikahi Safiyah. Dia dipelihara dan dirawat untuk Nabi
      oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas Ibn Malik. Mereka menginap disana.
      Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda Nabi sepanjang malam. Pada saat
      subuh, Nabi yang melihat Abu Ayyub berjalan hilir mudik itupun
      bertanya kepadanya apa maksudnya, dan ia menjawab: “Saya khawatir
      akan engkau karena perempuan muda itu. Engkau telah membunuh
      ayahnya, suaminya, dan banyak dari keluarganya, dan dia juga masih
      seorang kafir. Saya sungguh khawatir terjadi apa-apa karena dia.
      Nabipun mendoakan Abu Ayyub al-Ansari (Ibn Hisham, p.766). Safiyah
      telah meminta kepada Nabi untuk menunggu hingga ia telah lebih
      menjauh dari Khaibar. “Kenapa?” tanya Nabi. “Saya mengkhawatirkan
      engkau karena orang-orang Yahudi yang masih dekat dengan
      Khaibar!”
      Alasan Safiyah menolak pendekatan seksual Muhammad tentu saja jelas bagi
      setiap orang yang berpikir. Saya percaya, praktis semua wanita memilih untuk
      berkabung ketimbang melompat ke dalam ranjang – bercengkerama dengan si
      pembunuh dari ayahnya, dan pembunuh suami dan banyak anggota keluarganya,
      pada hari yang sama.
      Tetapi kenyataannya Nabi Allah ini tak dapat menahan desakan nafsu seksualnya
      untuk satu hari saja dengan membiarkan perempuan muda ini untuk berkabung.
      Ini semua menggambarkan karakter moral Muhammad. Ia adalah seorang
      psikopat tanpa hati nurani dan empati.
      Untuk kelanjutan kisah ini kita tidak tahu persis apakah benar atau telah
      direkayasa oleh ahli sejarah Muslim yang ingin mengosongkan adanya kesan
      pemaksaan perkosaan. Tetapi ini adalah semua yang kita punyai, dan untuk
      menemukan kebenaran kita hanya bisa bergantung pada dokumen-dokumen
      4
      yang terlihat bias (ter-plintir) ini, yang dilaporkan dan ditulis sepihak oleh orangorang
      Muslim.
      Kisah selanjutnya menggambarkan Abu Ayyub yang mengkhawatirkan
      keselamatan Nabi, karena Nabi telah membunuh ayah, suami dan sejumlah
      anggota keluarga Safiyah. Hal ini logis. Tentu saja bodoh untuk tidur dengan
      seorang wanita dimana orang-orang yang dicintai oleh wanita tersebut baru
      dibunuhnya. Namun tampak bias alasan penolakan Safiyah terhadap pendekatan
      seksual Muhammad, tampak sekali kurang masuk akal. Ketika Muhammad
      membawa wanita muda ini ke dalam tendanya, ia telah membunuh banyak orang
      Yahudi, dan memperbudak orang-orang Yahudi lainnya.
      Jikalau masih ada orang Yahudi yang tertinggal, maka mereka mungkin lebih
      mengkhawatirkan hidup mereka sendiri ketimbang masalah Safiyah apakah ia
      diperkosa atau tidak. Lagipula wanita ini telah ada di dalam tenda sendirian
      dengan Muhammad, jadi bagaimana orang-orang Yahudi akan mengetahui kalaukalau
      mereka melakukan hubungan seks? Alasan ini kedengarannya bodoh dan
      tampaknya dipaksakan oleh Muslim untuk mengklaim bahwa Safiyah-lah yang
      menginginkan hubungan seks dengan Muhammad, dan bila tidak, itu hanya
      karena Safiyah mengkhawatirkan keselamatan Nabi (jadi bukan karena ada unsur
      pemaksaan/perkosaan).
      Muslim adalah sekelompok orang bodoh tertentu yang mempercayai omong
      kosong yang paling konyol tanpa berpikir, namun saya percaya ada kelompok lain
      yang wajar menyadarinya sebagai sebuah kebohongan.
      Dikatakan lebih lanjut,
      “Hari berikutnya Walima (pesta pernikahan) diselenggarakan atas nama
      Nabi…”
      Harap dicatat bahwa penulis sejarah ini berkata, bahwa pernikahan terjadi satu
      hari setelah Muhammad sendirian dengan Safiyah dan melakukan hubungan seks
      dengan dia. Ini tidak mendatangkan persoalan kepada Nabi, karena ia telah
      mendapatkan wahyu Allah yang mengatakan bahwa tidur dengan wanita yang
      ditangkap dari peperangan adalah baik-baik saja tanpa usah menikahi mereka,
      sekalipun mereka telah bersuami tadinya.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali
      budak-budak yang kamu miliki… “ (Surat 4:24)
      Ayat di atas menunjukkan bahwa Muhammad tidak berpendapat bahwa para
      budak mempunyai hak-hak apapun. Ketika Muslim berkuasa, ini akan menjadi
      nasib bagi semua wanita non-Muslim. Muslim tidak dapat mengubah sedikitpun
      apa yang telah dikatakan atau dikerjakan oleh Muhammad. Dan ini telah
      dikonfirmasikan di tempat-tempat lainnya:
      1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
      2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,
      3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
      yang tiada berguna,
      4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
      5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
      5
      6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki;
      maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
      7. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang
      yang melampaui batas. (Surat 23:1-7).
      Marilah kita meneruskan kisah Safiyah. Dikatakan,
      “Para istri Nabi lainnya menunjukkan cemburunya dengan melakukan
      pelecehan terhadap keyahudiannya. Namun Nabi selalu membelanya.
      Suatu kali Safiyah dilukai dengan olok-olokan dari istri-istri Nabi yang
      Arab itu secara melampaui batas. Maka iapun (Safiyah) mengeluhkan
      hal tersebut kepada Nabi yang merasa sangat mengasihinya. Ia
      menghiburnya. Ia membesarkan hatinya. Ia memberi pikiran logis
      kepadanya. Ia berkata: “Safiyah, bersikap teguh dan beranilah. Mereka
      tidak memiliki apapun yang melebihi engkau. Katakan kepada mereka:
      “Aku adalah anak putri Nabi Harun, keponakan Nabi Musa, dan istri
      dari Nabi Muhammad…”
      Ketika ia dibawa bersama dengan para tahanan perang lainnya, Nabi
      berkata kepadanya,
      “Safiyah, ayahmu selalu membenci aku hingga Allah menetapkan
      keputusan terakhir.”
      Ia menjawab, “Tetapi Allah tidak menghukum seseorang atas dosa
      orang lain.”
      Hal ini (apa yang dikatakan Nabi) jelas berlawanan dengan perilaku Muhammad
      sendiri yang sudah menghancurkan seluruh Bani Qainuqa dengan alasan bahwa
      beberapa diantara mereka telah membunuh seorang Muslim ketika mereka
      membela dengan membalaskan kematian seorang Yahudi. Muhammad
      membinasakan seluruh anggota suku itu, ketika membalas kematian satu orang
      Muslim! Padahal Muslim tersebut telah terlebih dahulu membunuh seorang
      Yahudi, namun itu tidak dianggap/diperhitungkan oleh Muhammad. Ia
      membutuhkan sebuah alasan demi mendapatkan harta-kekayaan mereka.
      Ini sungguh mengabaikan ayat yang berkata: “bahwasanya seorang yang berdosa
      tidak akan memikul dosa orang lain” (Surat 53:38). Jadi jelas bukan Allah yang
      membuat keputusan akhirnya. Maka tampak betapa orang yang satu ini mencuci
      tangannya terhadap kejahatannya sendiri. Ayah Safiyah dibunuh oleh
      Muhammad, bukan Allah [tetapi Muhammad memplintirkannya seolah Allah-lah
      yang memutuskan]. Jikalau Allah mengingini membunuh seluruh orang-orang
      tersebut, Ia tentu telah melakukannya dengan cara-Nnya sendiri. Allah tidak
      memerlukan pembunuh bayaran (yang merampas harta) untuk melaksanakan
      kehendakNya.
      Dikatakan lebih lanjut,
      “Kemudian Nabi memberinya kebebasan untuk memilih apakah Safiyah
      mau tetap bergabung dengan kaumnya, ataukah menerima Islam dan
      masuk dalam hubungan pernikahan dengan dia”.
      6
      Memberinya kebebasan? Kebebasan macam apakah itu?
      Muhammad telah membunuh suaminya dan semua anggota keluarganya.
      Kemanakah ia harus pergi sekarang? Melebur dengan orang-orang dari
      kaumnya? Orang-orang manakah itu? Orangnya praktis telah terbunuh dan
      wanita-wanitanya telah ditawan dan jadi budak.
      “Dia sangat pintar dan lembut hati dan berkata: “ O Rasul Allah, aku
      telah berharap akan Islam, dan aku telah menegaskan sebelum
      undanganmu. Kini ketika aku mendapat kehormatan berada
      dihadapanmu, dan diberi kebebasan untuk memilih diantara kafir dan
      Islam, maka aku bersumpah demi Allah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
      adalah lebih berharga kepadaku ketimbang kebebasan diriku dan
      bagaimana aku sebelumnya bergabung dengan kaumku.”
      Apakah ini sebuah pengakuan, yaitu pengakuan yang jujur? Apakah ia bebas dan
      aman mengutarakan pikirannya? Ia ditawan oleh seorang lelaki yang telah
      menghabisi keluarganya. Sesungguhnya ini menunjukkan dengan jelas betapa ia
      tidak bebas berulah. Ia mungkin saja sangat pintar menyiasati sebuah dusta demi
      menyelamatkan dirinya, tetapi lebih mungkin lagi kisah ini telah dikarang untuk
      menceritakan sebuah dusta tersendiri!
      Ketika Safiyah menikah, ia masih sangat muda, dan menurut sebuah
      laporan ia hampir berumur 17 tahun dan berperawakan amat sangat
      cantik. Ada satu kali Aisyah berkata tentang kekurangannya (mencela),
      untuk mana Nabi berkata, “Engkau telah mengatakan sesuatu yang
      apabila itu dimasukkan ke dalam laut, maka hal itu akan melebur
      bersama air laut itu (dan mengeruhkan airnya).” (Abu Dawud)
      Ia tidak hanya sangat dalam mencintai Nabi, tetapi juga sangat besar
      rasa hormatnya kepadanya sebagai Rasul Allah. Sebab ia telah
      mendengar apa yang dikatakan oleh ayah dan pamannya ketika
      mereka pergi ke Medinah. Ketika hijrah ke Medinah mereka datang
      bertemu dengan dia untuk mengetahui apakah dia betul Rasul Allah
      yang sejati seperti yang disampaikan oleh Alkitab. Ketika mereka
      pulang dan berbicara bersama malam itu, Safiyah ada ditempat
      tidurnya dan mendengar pembicaraan mereka. Salah satunya berkata,
      “Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Ia menjawab, “Ia adalah Nabi
      yang sama yang dinubuatkan oleh Alkitab kita.” Lalu berkata yang lain,
      “Apa yang harus dilakukan?” Dan jawabannya adalah bahwa mereka
      harus melawannya dengan segala kekuatan.”
      Kisah ini, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, apakah dapat dipercayai?
      Bagaimanakah caranya kedua orang Yahudi biasa itu mengenal Muhammad
      sebagai nabi yang dinubuatkan oleh Kitab Suci, lalu (kok malah) memutuskan
      untuk melawannya dengan segala kekuatan mereka? (Semestinya bila mereka
      tahu itu nabi yang dikisahkan Musa, mereka justru akan mendukungnya!). Jadi
      semuanya adalah kontra logika. Hanya orang Muslim yang “tekor-intelektuil” yang
      akan percaya akan kisah nonsense ini.
      7
      Dikatakan, dia sangat mencintai Muhammad yang adalah pembunuh ayah dan
      suaminya? Betapa naifnya Muslim dapat mempercayai periwayatan ini?
      Bagaimana seorang gadis muda cantik berumur 17 tahun dapat segera mencintai
      seorang tua bangka yang giginya ompong dan badannya berbau? Bacalah buku
      saya ”Understanding Muhammad” untuk mengetahui betapa postur Muhammad
      cacat dan berbau. Kita curiga bahwa kata-kata tersebut berasal dari Safiyah, dan
      andaikata itu benar, orang akan mencium hal itu sebagai kebohongan Safiyah
      dalam usahanya untuk mencari keselamatan diri. Kita hanya memerlukan otak
      yang aktif untuk mendapati kebohongan Muslim.
      Kenapa seseorang sampai perlu mati-matian melawan seseorang lainnya yang
      diketahuinya sebagai nabi yang dijanjikan dalam Alkitab? Dan dimana
      Muhammad dijanjikan dalam Alkitab? Adakah Muhammad disebut dalam Alkitab?
      (Is Muhammad mentioned in the Bible?) Baca artikel ini untuk melihat dusta yang
      menyedihkan seperti itu. Muhammad tidak disebut di dalam Alkitab maupun di
      dalam kitab sakral manapun.
      “Maka Safiyah pun yakin akan kebenaran sang Nabi. Ia tak lelahlelahnya
      mengurus dan merawat dia (Muhammad), serta memberikan
      semua kenyamanan yang dapat diupayakannya. Ini terlihat sejak ia
      menjadi bagian dalam kehidupannya (Muhammad) setelah jatuhnya
      Khaibar.”
      Lihat betapa penulis menyangkal dirinya sendiri dalam satu halaman yang sama?
      Hanya beberapa baris sebelumnya kita membaca bahwa Safiyah ditawan dan
      dibawa kepada Muhammad sebagai tawanan, bukan atas kemauannya sendiri. Ia
      dibawa kepada Muhammad sebab ia muda dan cantik.
      “Nabi sedikit kecewa kepadanya karena ia pada awalnya (dalam
      perjalanan) telah menolak Nabi ketika ingin menggaulinya (hubungan
      seks). Pada perhentian perjalanan berikutnya, Nabi menggaulinya
      hingga sepanjang malam. Ketika ia (Safiyah) ditanyai oleh Umm
      Sulaim, “Apa yang engkau lihat pada diri Rasul Allah?” Ia berkata
      bahwa dia (Muhammad) sangat senang terhadapnya dan tidak tidur
      melainkan bercakap-cakap sepanjang nalam. Dia (Muhammad)
      bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menolak ketika aku mau
      menggaulimu pertama kalinya?” Ia menjawab, ‘Aku mengkhawatirkan
      engkau sebab tempatnya dekat dengan Yahudi’. “Hal ini meningkatkan
      nilaiku lebih lanjut dimatanya.” (Tabaqat)
      Bukhari juga telah mencatatkan beberapa Hadits yang menceritakan tentang
      invasi Khaibar dan bagaimana kisah Muhammad bertemu dengan Safiyah.
      Diriwayatkan ‘Abdul’ Aziz:
      Anas berkata, “Ketika Rasul Allah menginvasi Khaibar, kami melakukan
      shalat Subuh disana ketika hari masih gelap… Ketika ia memasuki
      kota, ia berseru, “Allahu Akbar! Khaibar diruntuhkan… Kami
      menaklukkan Khaibar, menawan tawanan, dan barang jarahan
      dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Rasul Allah! Berilah aku
      seorang budak perempuan diantara tawanan’. Nabi berkata, ‘Pergi dan
      8
      ambillah budak perempuan yang mana saja’. Iapun mengambil Safiya
      binti Huyai. (Tetapi) Seseorang datang kepada Nabi dan berkata, ‘O
      Rasul Allah! Engkau memberikan Safiya binti Huyai kepada Dihya,
      padahal ia (Safiya) adalah perempuan paling terkemuka dari suku
      Quraiza dan An-Nadir dan ia hanya pantas untuk engkau saja’. Maka
      Nabi berkata, ‘Bawa ia (Dihya) bersama dia (Safiya)’. Maka keduanya
      menghadap dan ketika Nabi melihat Safiya, iapun berkata kepada
      Dihya, ‘Ambillah gadis budak mana saja dari para tawanan selain dia’.
      Anas menambahkan: Nabi membebaskan perbudakannya dan
      mengawininya.” [Nabi menelan janji pertama, dan menggantikannya
      dengan janji kedua, ketika tersilau dan bernafsu dengan kecantikan
      Safiyah. Contoh moral surgawi!].
      Thabit bertanya kepada Anas, “O Abu Hamza! Apa yang Nabi bayarkan
      kepadanya (Safiya) (sebagai mahar)? Ia menjawab, “Dirinya sendiri
      adalah maharnya sebab dia (Muhammad) telah membebaskannya dari
      perbudakan dan kemudian mengawininya.” Anas menambahkan,
      “Ketika dalam perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk upacara
      perkawinan dan pada malamnya dia mengirimnya sebagai pengantin
      perempuan untuk Nabi”. (Sahih Bukhari 1.367)
      Mahar adalah “emas kawin” yang diperoleh pengantin perempuan dari pihak
      suaminya tatkala ia mengawininya. Muhammad tidak membayar mahar kepada
      Safiyah, sebab ia (Muhammad) harus membayarkan kepada dirinya sendiri untuk
      memerdekakan Safiyah. Kisah ini adalah luar biasa, sebab ini memberi
      pencerahan kepada kita tentang nilai-nilai moral dan etika dari Muhammad dan
      para pengikutnya yang keblinger. Muhammad adalah seorang psikopat. Namun
      Muslim tidak mempunyai rasa malu. Muslim meng-idola-kan seorang psikopat dan
      menginginkan kita juga untuk menghormati mereka. Apakah ke-tolol-an ini layak
      atas sebuah penghormatan? Dengan mengikuti orang yang tidak waras semua
      orang akan bertindak tidak waras.
      Setiap orang yang terhormat atau orang normal jijik mendengar kisah semacam
      ini, namun Muhammad mengajarkan bahwa ia akan memperoleh 2 pahala
      dengan mengawini Safiyah. Satu adalah untuk memerdekakan seseorang yang
      sesungguhnya ia tawani sendiri, dan kedua adalah mengambilnya untuk
      menikahinya.
      “Abu Musa melaporkan bahwa Rasul Allah berkata tentang seseorang
      yang memerdekakan seorang wanita budak, dan kemudian
      menikahinya, bahwa baginya tersedia 2 pahala.” (Sahih Muslim Book
      008, Number 3327)
      [Sayangnya tidak disebutkan bahwa yang mengawininya adalah
      pembunuh ayah, suami, dan famili dari si wanita budak yang dikawini.
      Dan wanita budak tersebut adalah budak yang terjadi karena ulah dari
      yang akan mengawininya!]
      9
      Tidakkah ini menjijikkan? Buanglah ke-tolol-an “yang terhormat” dan berkelit-kelit
      ini dan namakanlah hitam adalah hitam. Muslim adalah sekelompok moron.
      Bagaimana mungkin bisa demikian konyol?
      Diriwayatkan oleh Anas:
      Nabi melakukan sholat subuh dekat Khaibar tatkala hari masih gelap
      dan ia berkata, “Allahu Akbar” Khaibar dihancurkan, sebab ketika kami
      menghadapi bangsa (lawan yang diperangi), maka kejahatan akan
      menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingati.”
      Maka penduduk Khaibar lari keluar ke jalan-jalan. Sang Nabi telah
      membunuh pahlawan-pahlawan mereka, keturunan mereka, dan
      wanita yang ditawan sebagai tawanan. Safiyah adalah salah satu
      diantara tawanan. Dia pertama-tama diambil untuk menjadi milik Dahya
      Alkali, namun kemudian ia menjadi milik Nabi. Nabi memerdekakan dia
      sebagai maharnya. (Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512)
      Sumber: http://alisina.org/safiyah-the-jewish-wife-of-muhammad/

      • SERBUIFF 11:03 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

        Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi
        Rubrik: Jejak – Dibaca: 2781 kali

        Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

        Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

        Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

        Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
        Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
        “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

        memberikan mahar berupa kebebasannya.

        Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

        Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

        Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

        Aini Firdaus

        http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

      • lim bho tak 7:09 am on 12/02/2013 Permalink | Reply

        KISAH SEBENARNYA TENTANG ISTRI NABI MUHAMMAD. SAW

        JAWABAN ATAS FITNAH YAHUDI ANGGUR ASAM YANG DENGKI SAMA NABI MUHAMMAD BANGSA ARAB KETURUNAN NABI ISMAIL ANAK NABI IBRAHIM.
        KISAH ISTRI NABI MUHAMMAD JUWAIRIAH RA.

        (8) Hadhrat Juwairiah bintul Harith (Radhiyallaho anha):

        She was one of the large number of captives who fell ! into Muslim hands after the battle of Muraisee’, and she
        was given to Hadhrat Thabit bin Qais (Radhiyallaho anho).
        He offered to release her for 360 Dirhams. She came to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0,Pr ophet of Allah! I am the daughter of Harith who
        is the chief of the tribe, and you know my story. The
        ransom demanded by Hadhrat Thabit (Radhiyallaho
        anho) is too much for me. I have come to seek your
        help in the matter.”
        The Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) agreed to pay her
        ransom, set her free, and offered to take her as his wife. She
        was very glad to accept this offer. She was married to the
        Prophet in 5 A. H. and as a consequence of this marriage,
        the prisoners of Banu Mustaliq (Juwairiah’s tribe), about a
        hundred families, were all set free by the Muslims. “The
        tribe which was so honoured by the Prophet’s relationship,”
        they said, “should not remain in slavery.”
        Such were the noble expediences in all the marriages
        of the Prophet. Hadhrat Juwairiah (Radhiyallaho anha) was
        very pretty, her face was very attractive. Three days before
        her falling captive in the battle, she had seen in her dream
        the moon coming out from Madinah and falling into her
        lap. She says:
        “When I was captured, I began to hope that my dream
        would come true.”
        She was 20 at the time of her marriage with the Prophet
        (Sallallaho alaihe wasallam). She died in Rabi-ul-Awwal,
        50 A. H., in Madinah at the age of 65. ,

        ALLAH TELAH MEMULIAKAN NABI MUHAMMAD DI QURAN
        MAKANYA ORANG PINTER SEKALIBER PROFFESOR DOKTOR YAHYA WALONI DAN DOKTOR IRENE HANDONO KEMBALI KE ISLAMITULAH KEBENARAN KISAHNYA.
        Reply

        LIM BHO TAK Says:

        February 11, 2013 at 4:43 am

        KISAH SEBENARNYA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW . SAFIYYAH RA

        (10) Hadhrat Safiyyah (Kadhiyallaho anha):
        She was the daughter of Hayi, who was a descendant
        of Hadhrat Harun (Alaihis salaam) the brother of Hadhrat
        Moosa (Alaihis salaam). She was first married to Salam bin
        Mishkam and then to Kinanah bin Abi Huqaiq at the time
        of Kheybar. Kinanah was killed in the battle and she was
        captured by the Muslims. Hadhrat Dahya Kalbi (Radhiyallaho
        anho) requested for a maid, and the Prophet made her
        over to him. At this, the other Sahabah approached the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0, Prophet of Allah! Banu Nazir and Banu Quraizah
        (the Jewish tribes of Madinah) will feel offended to see
        the daughter of a Jewish chief working as a maid. We
        therefore suggest that she may be taken as your own
        wife.” I
        The Prophet paid a reasonable sum of money to Hadhrat
        Dahya (Radhiyallaho anho) as ransom, and said to Safiyyah:
        “You are now free: if you like you can go back to your
        tribe or can be my wife.”
        She said: “I longed to be with you while I was a Jew. How
        can I leave you now, when I am a Muslim?”
        This is probably a reference to the fact that she once saw in
        -her dream a portion of the moon falling into her lap. When
        she mentioned her dream to Kinanah, he smote her face. so
        severely that she developed a mark on her eye He said:
        “You seem to be desiring to become the wife of the
        King of Madinah.”
        Her father is also reported to have treated her similarly
        when she related the same or similar dream to him. She
        again saw (in her dream) the sun lying on her breast. When
        she mentioned this to her husband, he remarked:
        “You seem to be wishing to become the Queen of Madinah.”
        She says: “I was seventeen when I was married to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam).
        She came to live with the Prophet (Sallallaho alaihe
        wasallam) when he was camping at the first stage from
        Khaiber. Next morning, he said to the Sahabah:
        “Let everybody bring whatever he has got to eat.”
        They brought their own dates, cheese, butter, etc. A long
        leather sheet was spread and all sat round it to share the
        food among themselves. This was the Walimah for the marriage.
        She died in Ramadhan, 50 A. H., when she was about
        60.
        PENDETA2 YAHUDI PERUSAK AGAMA ALLAH, PEMBUNUH PARA NABI ALLAH.ANGGUR ASAM ITU AKAN BINASA DI NERAKA

    • wikki 2:18 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      masuk akal kah seorang wanita muda yang baru menikah .. padahari dimana keluarganya dibunuh termasuk suaminya yang disiksa dulu didepan matanya karena harta ..mau menikahi bangkotan tuaa/?? apakah saudara tidak berpikir wanita itu dibawah tekanan ketakutan ???terus terang membaca ini saya hampir muntah ..padahal mulanya muhammad mengatakan ambil bagimu masing masing tawanan perempuan yang mana saja …tapi ketika dia tahu safifah tercantik ..kemudian dia mengubah pikiranya…jelas wanita ini dibawah tekanan dan ketakutan..

    • SERBUIFF 3:50 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

    • wikki 4:59 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      bukti mengatakan syafifah adalah seorang yang setia pada keluarganya ..satu satunya kesalahan dia .hanya karena dia cantik dan muda..dan lemah ..bukti dari tulisan tulisan para sahabat muhammad tidak bisa menutupi kebiadaban muhammad.

  • SERBUIFF 12:18 am on 19/04/2012 Permalink | Reply
    Tags: Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M) salah seorang istri nabi Muhammad saw   

    Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M) salah seorang istri nabi Muhammad saw Nov 12, ’08 8:29 AM
    for everyone

    Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M)

    Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.

    Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.

    Dari Mesir ke Yastrib

    Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.

    Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.

    Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah rnasjid.

    Ibrahim bin Muhammad .

    Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.

    Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Lalu beliau memerdekakan Mariyah sepenuhnya. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah . dengan gembira.

    Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu sernakin tampak bersamaan dengan terbongkarnya rahasia pertemuan Rasulullah . dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Mariyah atas diri beliau. Kaitannya dengan hal itu, Allah telah menegur lewat firman-Nya:

    “Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)

    Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”

    Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali ra. menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.

    Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malarn, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi . bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah . bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”

    Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,

    “Wahai Ibrahim, seandainya mi bukan penintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”

    Demikianlah keadaan Nabi ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah . mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.

    Saat Wafatnya

    Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’. Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.

    Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh
     
  • SERBUIFF 4:19 am on 17/04/2010 Permalink | Reply  

    Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba-sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu, anak-anak perempuan dari sudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 33:50) 

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 50
    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (50)
    Pada ayat ini Allah SWT secara jelas telah menghalalkan bagi Nabi Muhammad saw mencampuri wanita-wanita yang dinikahi dan berikan kepada mereka mas kawin, dan hamba sahaya (jariyah-jariyah) yang diperoleh dalam peperangan, seperti Siti Sofiyah binti Huyaiy bin Akhtab yang diperoleh waktu perang Khaibar yang oleh Nabi saw dimerdekakan dan kemerdekaannya itu dijadikan mas kawin., dan Siti Juwariyah binti Al Haris dari Bani Mustalaq yang dimerdekakan dan dinikahi Nabi saw. Adapun hamba sahaya (jariyah) yang dihadiahkan kepada Nabi adalah Siti Raihanah binti Syam’un dan Mariah Qibtiyah yang melahirkan putra Nabi yang bernama Ibrahim. Demikian pula Allah menghalalkan kepada Nabi untuk mengawini anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapaknya dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapaknya, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya, anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibunya yang turut hijrah bersama Rasulullah dan perempuan makmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi saw kalau Nabi mau mengawininya.
    Kelonggaran-kelonggaran ini hanya khusus bagi Nabi dan tidak untuk semua mukmin dengan pengertian bahwa jika ada seorang wanita menyerahkan dirinya untuk dinikahi oleh seorang muslim, walaupun dengan menyerah sukarela, tetap wajib dibayar mas kawinnya. Berlainan dengan jika perempuan itu menyerahkan dirinya untuk dinikahi oleh Nabi saw, maka ia boleh dinikahi tanpa mas kawin. Mas kawin itu jika tidak disebutkan bentuk (nilainya) ketika melangsungkan akad nikah, maka bentuknya itu dapat ditetapkan dengan mahar misil, yaitu mahar yang nilainya sama dengan nilai mahar yang biasa diberikan keluarganya. Ketetapan untuk membayar mahar misil itu setelah terjadi percampuran di antara keduanya atau setelah suaminya meninggal dunia tetapi belum sempat bercampur. Jika terjadi perceraian antara suami istri sebelum bercampur maka yang wajib dibayar adalah separoh dari mas kawinnya, yang telah ditentukan dan dapat dibebaskan dan membayar mas kawin itu bila istrinya merelakannya. Allah mengetahui apa yang telah diwajibkan kepada kaum mukminin terhadap istrinya dan terhadap hamba sahaya yang mereka miliki seperti syarat-syarat akad nikah dan lainnya, dan tidak boleh mengawini seorang wanita dengan cara hibah atau tanpa saksi-saksi. Mengenai soal hamba sahaya yang dibeli atau yang bukan dibeli haruslah hamba sahaya yang halal dicampuri oleh pemiliknya, seperti hamba sahaya ahli kitab. bukan hamba sahaya yang musyrik atau beragama majusi. Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap hamba-Nya yang beriman, jika mereka bertobat dari dosa-dosa mereka sebelum mereka mendapat petunjuk.

    http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=3&SuratKe=33#50

     
    • wikki 11:42 am on 25/07/2012 Permalink | Reply

      memang dalam hal kebutuhan biologis muhammad allah cepet cepat mengeluarkan wahyu..semua halal..mau bibi.mau menantu…pokoknya dalam hal.yang satu ini insya allah wahyunya langsung turun.bahkan lagi diatas ranjang sekalipun…

    • Stain Remover 6:34 pm on 25/07/2012 Permalink | Reply

      @wikki

      Sudah baca tentang budak dalam bibel belum ? lebih parah yah…

      • wikki 7:16 am on 26/07/2012 Permalink | Reply

        jangan bawa bawa kitab orang lain .bukan berati akan membenarkan kitabmu.

        • SERBUIFF 11:32 pm on 26/07/2012 Permalink | Reply

          KITAB YG LAIN ITU KAN AJARANNYA BANYAK YG SESAT DAN MENYESATKAN, HANYA AL QURAN YG AJARANNYA PALING BENAR MEMBAWA MANUSIA PADA KESELAMATAN DI DUNIA DAN AKHIRAT

          • camar 6:42 am on 28/07/2012 Permalink | Reply

            bagai mana dengan hadis berati hadis juga tidak benar begitu……

          • Stain Remover 4:02 pm on 28/07/2012 Permalink | Reply

            @camar

            Hadist itu ditulis jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat, karena Rasulullah sempat melarang penulisan-nya dengan maksud agar tidak bercampur dengan Al Qur’an :

            “Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- Quran. Dan barang siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain Al- Quran, hendaklah dihapuskan. ” (HR. Muslim)

            PENGHIMPUNAN HADIS

            Pada abad pertama hijrah, yakni masa Rasulullah SAW. Masa khulafaur Rasyidin dan sebagian besar masa bani umayyah, hingga akhir abad pertama hijrah, hadis-hadis itu berpindah-pindah dan disampaikan dari mulut ke mulut Masing-masing perawi pada waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hapalannya.

            Memang hapalan mereka terkenal kuat sehingga mampu mengeluarkan kembali hadis-hadis yang pernah direkam dalam ingatannya.

            Ide penghimpunan hadis Nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan oleh khalifah Umar bin Khattab (23 H atau 644 M). Namun ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena beliau khawatir bila umat Islam terganggu perhatiannya dalam mempelajari Al-Quran.

            Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dinobatkan akhir abad pertama hijrah, yakni tahun 99 hijrah datanglah angin segar yang mendukung kelestarian hadis. Umar bin Abdul Azis seorang khalifah dari Bani Umayyah terkenal adil dan wara’, sehingga beliau dipandang sebagai khalifah Rasyidin yang kelima.

            Beliau sangat waspada dan sadar, bahwa para perawi yang mengumpulkan hadis dalam ingatannya semakin sedikit jumlahnya, karena meninggal dunia. Beliau khawatir apabila tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam buku-buku hadis dari para perawinya, mungkin hadis-hadis itu akan lenyap bersama lenyapnya para penghapalnya. Maka tergeraklah dalam hatinya untuk mengumpulkan hadis-hadis Nabi dari para penghapal yang masih hidup.

            Pada tahun 100 H Khalifah Umar bin Abdul Azis memerintahkah kepada gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadis-hadis Nabi yang terdapat pada para penghafal.

            Umar bin Abdul Azis menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm yang berbunyi:

            Artinya: “Perhatikanlah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul lalu tulislah. karena aku takut akan lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan diterima selain hadis Rasul SAW dan hendaklah disebarluaskan ilmu dan diadakan majelis-majelis ilmu supaya orang yang tidak mengetahuinya dapat mengetahuinya, maka sesungguhnya ilmu itu dirahasiakan. “

            Selain kepada Gubernur Madinah, khalifah juga menulis surat kepada Gubernur lain agar mengusahakan pembukuan hadis. Khalifah juga secara khusus menulis surat kepada Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri. Kemudian Syihab Az-Zuhri mulai melaksanakan perinea khalifah tersebut. Dan Az-Zuhri itulah yang merupakan salah satu ulama yang pertama kali membukukan hadis.

            Dari Syihab Az-Zuhri ini (15-124 H) kemudian dikembangkan oleh ulama-ulama berikutnya, yang di samping pembukuan hadis sekaligus dilakukan usaha menyeleksi hadis-hadis yang maqbul dan mardud dengan menggunakan metode sanad dan isnad.

            Metode sanad dan isnad ialah metode yang digunakan untuk menguji sumber-sumber pembawa berita hadis (perawi) dengan mengetahui keadaan para perawi, riwayat hidupnya, kapan dan di mana ia hidup, kawan semasa, bagaimana daya tangkap dan ingatannya dan sebagainya. Ilmu tersebut dibahas dalam ilmu yang dinamakan ilmu hadis Dirayah, yang kemudian terkenal dengan ilmu Mustalahul hadis.

            Setelah generasi Az-Zuhri, kemudian pembukuan hadis dilanjutkan oleh Ibn Juraij (150 H), Ar-Rabi’ bin Shabih (160 H) dan masih banyak lagi ulama-ulama lainnya.

            Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa pembukuan hadis dimulai sejak akhir masa pemerintahan Bani Umayyah, tetapi belum begitu sempuma. Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, yaitu pada pertengahan abad II H.

            dilakukan upaya penyempunaan. Mulai. waktu itu kelihatan gerakan secara aktif untuk membukukan ilmu pengetahuan, termasuk pembukuan dan penulisan hadis-hadis Rasul SAW. Kitab-kitab yang terkenal pada waktu itu yang ada hingga sekarang sampai kepada kita, antara lain AI-Muwatha ‘ oleh imam Malik(179 H), AI Musnad oleh Imam Asy-Syafi’l (204 H).

            Pembukuan hadis itu kemudian dilanjutkan secara lebih teliti oleh Imam-lmam ahli hadis, seperti Bukhari, Muslim, Turmuzi, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, dan lain-lain

            Dari mereka itu, kita kenal Kutubus Sittah (kitab-kitab) enam yaitu:

            Sahih AI-Bukhari (256 H)
            Sahih Muslim (261 H)
            Abu Dawud (275 H)
            At-Turmuzi (267 H)
            Sunan An-Nasai (303 H)
            Ibnu Majah (273H)

            Tidak sedikit pada “masa berikutnya dari para ulama yang menaruh perhatian besar kepada Kutubus sittah tersebut beserta kitab Muwatta dengan cara mensyarahinya dan memberi catatan kaki, meringkas atau meneliti sanad dan matan-matannya.

        • Stain Remover 4:25 pm on 27/07/2012 Permalink | Reply

          @wikki

          Lalu kenapa kamu membawa-bawa Al Qur’an dan Hadist ?

          dalam bibel bahkan wanita tidak mempunyai hak sama sekali, korban perkosaan harus mengawini pelaku pemerkosaan :

          Apabila seseorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengan dia, dan keduanya kedapatan, maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi isterinya, sebab laki-laki itu telah memperkosa dia; selama hidupnya tidak boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi. (Ulangan 22:28-29)

          • camar 6:53 am on 28/07/2012 Permalink | Reply

            nah itu lebih manusia lagi..itu merupakan hukuman kepada sipemerkosa sehingga dia terikat karena perbuatanya ..tapi bagaimana dengan islam sudah diperkosa malah dihukum karena tidak mampu menghadirkan empat saksi.logika anda bagaima coba …seorang pemerkosa tentunya tidak akan melakukan perbuatan itu apabila ada orang lain yang menyakskan ..bagaimana menghadirkan sakasi empat orang….baru baru ini dinegara islam.seorang gadis diperkosa oleh pamanya sendiri .teapi apa yang terjadi malah sigais yang sudah jadi korban yang mendapat hukuman rajam karena dianggap fitah karena dia tidak dapat menghadirkan empat saksi .demikian juga dengan kejadian yang dilakukan kiyai kondang ki h zainudin mz baru pada saat kematianya baru lah dia minta maaf.

            • Stain Remover 4:12 pm on 28/07/2012 Permalink | Reply

              @camar

              Silahkan kamu tanyakan kepada wanita yang diperkosa oleh seorang preman pasar…hehehe…manusiawi ?

              Justru saksi adalah penting karena setiap orang bisa saja mengaku dirinya telah diperkosa oleh si A, B. atau c.

              Dan menghadirkan saksi ada terdapat dalam bibel sendiri yang kamu jadikan ganjalan pintu (tidak pernah membaca) :

              Ulangan 17:5-7

              5. maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kaulempari dengan batu sampai mati.

              6. Atas keterangan dua atau tiga orang saksi haruslah mati dibunuh orang yang dihukum mati; atas keterangan satu orang saksi saja janganlah ia dihukum mati.

              7. Saksi-saksi itulah yang pertama-tama menggerakkan tangan mereka untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.”

              Setiap orang yang telah membunuh seseorang haruslah dibunuh sebagai pembunuh menurut keterangan saksi-saksi, tetapi kalau hanya satu orang saksi saja tidak cukup untuk memberi keterangan terhadap seseorang dalam perkara hukuman mati. (Bilangan 35:30)

  • SERBUIFF 7:36 am on 16/09/2009 Permalink | Reply
    Tags: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 66:1)   

    Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 66:1) 

    Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 66:1)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Tahriim 1
    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (1)
    Pada ayat ini Allah SWT menegur Nabi SAW. karena dia bersumpah tidak akan meminum lagi madu, padahal madu itu adalah minuman halal. Sebabnya hanyalah karena menghendaki kesenangan hati istri-istrinya.
    Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari `Aisyah. Ia berkata: “Rasulullah SAW. itu suka yang manis-manis dan senang madu. Di kala ia kembali pada waktu Asar, ia pergi ke rumah istrinya. Waktu itu ia tinggal pada Zainab binti Jahasy dan minum madu di sana. Maka bersepakatlah `Aisyah dengan Hafsah bahwa siapa saja di antara mereka berdua didatangi Nabi SAW. hendaklah ia berkata kepadanya: Saya mencium dari engkau ya Rasulullah bau magafis (yaitu buah karet yang rasanya manis tetapi baunya busuk). Apakah engkau memakan magafis? “Nabi menjawab: “Tidak, tetapi saya hanya meminum madu di rumah Zaenab binti Jahasy. Kalau begitu, saya tidak akan mengulangi lagi dan saya telah bersumpah. Hal ini, ditegaskan di muka Hafsah karena kebetulan Hafsahlah yang didatangi. Maka Hafsah memberitahukan kepada Aisyah kejadian itu. Padahal Nabi SAW. Sangat merahasiakannya.
    Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah SWT, Maha Pengampun atas dosa hamba-Nya yang bertobat, dan Dia telah mengampuni kesalahan Nabi SAW. yang telah bersumpah tidak mau lagi meminum madu. Padahal madu itu adalah minuman yang halal.
     
    • wikki 12:26 pm on 26/07/2012 Permalink | Reply

      Al-Tahrim 66.1-5
      [66.1]Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya
      bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
      [66.2] Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
      [66.3] Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah)
      menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
      [66.4] Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.
      [66.5] Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

      Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu. Enak sekaleee!!

      Ibnu Sa’d menulis: “Abu Bkr menceritakan bahwa rasul (PBUH) melakukan persetubuhan dg Mariyah dirumah Hafsa. Ketika rasul keluar rumah, Hafsa duduk digerbang (dibelakang pintu yg terkunci). Dia bilang pada nabi, O rasul, apa anda melakukan ini di rumahku dan ketika giliranku? Nabi berkata, kendalikan dirimu dan biarkan aku pergi karena aku telah membuatnya (Mariyah) haram bagiku. Hafsa berkata, Aku tidak terima kecuali kamu bersumpah bagiku. Hazrat (yg mulia) itu berkata, Demi Allah aku tidak akan menyentuhnya lagi.” (Tabaqat volume 8, halaman 223).

      Seperti biasa, para muslim membenarkan Muhammad karena melanggar sumpahnya. Tidak jadi masalah apa yg Muhammad lakukan. Para muslim akan selalu membenarkan tindakannya. Mereka telah menyerahkan intelegensia mereka padanya dan telah berhenti berpikir. Ibn Sa’d melanjutkan: Qasim ibn Muhammad berkata bahwa janji nabi ini yg melarang Mariyah baginya adalah tidak sah, jadi tidak menjadi sebuah pelanggaran. (Tabaqat volume 8, halaman 223).

      Pertanyaannya adalah jika sumpah ini tidak sah, kenapa dia melakukan sumpah itu dan jika sumpah itu sah kenapa dia langgar? Terdapat banyak sekali contoh2 bahwa Muhammad melanggar sumpahnya sendiri. Disini, dia bersumpah pada tuhannya dan bahkan itupun tidak jadi halangan baginya. Tuhannya adalah hasil isapan jempoknya, imajinasinya dan dia tidaklah begitu bodoh utk membiarkan sumpah demi hasil imajinasinya menghentikannya menyetubuhi Mariyah yg cantik. Ide utamanya adalah menciptakan tuhan yg menyetujui apapun yg dia inginkan dan bukan utk membuat halangan2 untuknya.

      Quran membatasi empat istri bagi muslim. Tapi, Muhammad pikir dia tidak terikat oleh aturan itu dan dengan demikian dia buat Allahnya menurunkan ayat2 Qur’an 33:49-50 yang mengatakan padanya dia adalah sebuah pengecualian dan boleh punya sebanyak mungkin wanita, sebagai istri, selir atau budak, sebanyak dia mau. Lalu dia tambahkan “ini hanya khusus bagimu, bukan untuk semua orang mukmin, supaya tidak menjadi kesulitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

      Kesulitan apa seeh yang dimaksud ayat di atas?
      Kesulitan mengontrol birahinya, menjadi manusia normal yang santun, setia pada satu istri!

      Apa kita harus percaya pada orang yang sulit mengontrol insting kebinatangannya padahal katanya dia adalah “makhluk ciptaan yang terbaik?” Bukankah tindakan berbicara jauh lebih kencang daripada perkataan? Disatu pihak, dia hidup seperti binatang buas, dan dilain pihak dia berbicara tentang dirinya sendiri dengan begitu mulia, menaruh perkataan2 pujian dimulut Allahnya utk dia. Ingat ketika masih di Mekah, hidup dari harta istrinya, Muhammad tidak berani membawa wanita lain kerumah. Semua kelakuan birahinya dimulai ketika dia berkuasa. Apa kita harus percaya bahwa ketika dia masih muda dan kuat dia tidak punya kesulitan ini dan hanya tidur dengan wanita yang lebih tua tapi kesulitannya muncul di 10 tahun terakhir kehidupannya ketika dia sudah tua dan ditimpa segala macam penyakit? Atau kita harus artikan ini sebagai pertanda lain dari orang yang beranjak tua dan bertingkah liar dengan kebebasan yang dia temukan, seperti anak kecil yang dibiarkan bebas ditoko permen, tidak mampu membatasi dirinya sendiri?

      Mariyah adalah perempuan muda Koptic yang sangat cantik yang dikirim sebagai hadiah dari Pejabat di Mesir kepada Muhammad. Dia suruh Hafsa pergi dengan alasan dipanggil ayahnya. Segera setelah istrinya pergi, dia gagahi Mariyah diranjangnya Hafsa. Tahu ayahnya ternyata tidak memanggil, Hafsa kembali dan menemukan apa yang terjadi serta sadar kenapa Muhammad menipunya. Dia marah dan mulai berteriak2 (Ah, wanita akan selalu wanita!) Utk menenangkannya, Muhammad bersumpah utk melarang Mariyah dipakai olehnya. (Dari sinilah nama Surat Tahrim (Larangan) dalam Quran didapatkan). Tapi, dia masih birahi terhadap budak cantik itu. Bagaimana caranya membatalkan sumpah? Well, gampang saja kalau anda punya Allah dikantung. Pencipta Jagat Raya ini lalu menurunkan Surat Tahrim dan bilang tidak apa-apa melanggar sumpah dan melakukan seks dengan budak cantik itu karena dia adalah “harta milik tangan kanannya.” Malah Allah Maha Kuasa, yang sekarang jadi muncikari bagi nabi favoritnya ini, bahkan marah pada Muhammad dan menegur dia karena menghalangi kenikmatan jasmani bagi dirinya dan karena telah bersumpah utk berlaku santun hanya demi menyenangkan istrinya.

      Q 66:1,2
      Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

      Ibn Sa’d menulis:
      Abu Bakar menceritakan bahwa sang Rasul (PBUH) telah melakukan hubungan seks dengan Mariyah dirumahnya Hafsa. Ketika rasul keluar rumah, Hafsa duduk di pintu depan (dibelakang pintu yang terkunci). Dia berkata pada rasul, O Rasul Allah, kau lakukan ini dirumahku dan ketika giliranku? Rasul berkata, kontrol dirimu dan biarkan aku pergi karena aku telah mengharamkannya utkku. Hafsa berkata, aku tidak terima, kecuali kau bersumpah untuk itu bagiku. Rasul berkata, Demi Allah aku tidak akan menyentuhnya (Mariyah) lagi.
      Referensi: Ibn Sa’d, Tabaqat, Vol 8, hal. 195

      Seperti biasa, para muslim membenarkan Muhammad akan pelanggaran sumpahnya ini. Tidak jadi masalah apapun yang dilakukan Muhammad, para muslim akan selalu membenarkan tindakan2nya. Mereka telah menyerahkan kecerdasan mereka padanya dan berhenti berpikir secara rasional. Ibn Sa’d melanjutkan:
      Qasim ibn Muhammad bilang bahwa sumpah yang melarang Mariyah untuknya sendiri itu cacat V jadi tidak menjadi suatu pelanggaran (hormat).
      Referensi: Ibn Sa’d, Tabaqat, Vol 8, hal. 195.

      Qur’an milik saya berisi tafsir berikut, berdampingan dengan Surat Tahrim:
      Juga dilaporkan bahwa nabi telah membagi hari2nya diantara istri2nya. Dan ketika tiba giliran Hafsa, disuruhnya Hafsa pergi kerumah ayahnya Omar Khattab, dengan alasan ayahnya memanggilnya. Ketika Hafsa pergi, nabi memanggil budak wanita Mariyah, orang Coptik yang (belakangan) melahirkan anaknya Ibrahim dan Mariyah adalah hadiah dari Najashi, lalu melakukan hubungan seks dengannya. Ketika Hafsa kembali, dia dapatkan pintu terkunci dari dalam. Dia duduk didepan pintu tsb sampai sang nabi selesai dengan ‘bisnis’nya dan kelura rumah dengan keringat bercucuran diwajahnya. Ketika Hafsa melihat dia dalam kondisi demikian dia menegurnya dan berkata kau tidak menghargai kehormatanku, kau kirim aku keluar rumah dengan alasan agar kau bisa meniduri budak wanita itu. Dan pada hari giliranku ini kau berhubungan seks dengan orang lain. Lalu nabi berkata, diamlah meski dia itu budakku dan oleh karenanya halal bagiku, utk menyenangkanmu, Aku, saat ini, membuatnya jadi haram bagiku. Tapi Hafsa tidak menerima ini dan meminta nabi bersumpah demi Allah, nabi melakukannya. Ketika nabi keluar rumah dia ketuk dinding yang memisahkan kamarnya dengan Aisha dan menceritakan semuanya. [42]
      Referensi: Diterbitkan oleh Entesharat-e Elmiyyeh Eslami Tehran 1377 lunar H. Tafseer dan terjemahan kedalam bahasa Farsi oleh Mohammad Kazem Mo’refi

      Bagi orang muslim sumpah tidak ada artinya. Mereka menjanjikan sesuatu dan melanggarnya jika mereka mau. Bukhari melaporkan sebuah hadits dimana Muhammad berkata: “Demi Allah, dan jika Allah menghendaki, jika aku mengambil sumpah dan belakangan kudapatkan sesuatu yang lebih baik dari itu, maka aku lakukan yang lebih baik itu dan kuabaikan sumpahku.”
      [Ref.: Sahih Bukhari Vol.7 Book 67, No.424]
      Dan dia sarankan para pengikutnya utk melakukan hal sama: “Jika kau pernah mengambil sumpah utk melakukan sesuatu dan belakangan kau dapatkan sesuatu yang lebih baik, maka kau harus mengabaikan sumpahmu dan melakukan hal baik itu.”
      [Ref.: Sahih Bukhari Vol.9 Book 89, No.260] ……………..enaksekali jadi nabi

      • Stain Remover 5:04 pm on 26/07/2012 Permalink | Reply

        @wikki

        silahkan kau ikuti Yesus yang dikatan orang ‘kristen’ tidak kawin, bakal punah nggak manusia atau pelacuran makin tambah banyak nggak ? Itu tandanya tidak sesuai dengan fitrah penciptaan manusia

        Yesus itu keturunan dari Nabi Daud yang mempunyai banyak isteri dan gundik yang sangat banyak, dan dalam bibel bersetubuh dengan budak adalah suatu keharusan yang diwajibkan kepada pemilik budak sebab kalau tidak mereka (pemilik budak) akan menerima hukuman.

        @wikki

        Keluaran 21:10-11

        10. Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia.

        11. Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa.”

        Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? (Roma 6:16)

        • noname 11:27 pm on 15/12/2012 Permalink | Reply

          Wahai para Muslim, sdr seiman dgn kami, hati-hati dgn ulah para atheis or komunis. Mereka menyimpan kebencian teramat sangat kepada umat Muslim krn ideologi sesat bapak dan kakek mereka telah dikubur sementara waktu oleh para Muslim.

          Mereka terobsesi kuat utk bangkit kembali dan berusaha menyusup ke kalangan umat beragama utk hancurkan Islam. Menurut kami, wiki, adalah bgn dari mereka. Dia bukan dari golongan umat Paulus akan tetapi yg benar adalah Dia tdk mempunyai agama.

    • ungke 9:07 am on 16/12/2012 Permalink | Reply

      Memang bener kok si mr.moh ini sukanya minum “MADU” tapi madu dari selangkangan. masa peristiwa seterang itu coba dikaburkan dengan “perihal meminum madu ” logikanya
      1. Masa karena urusan madu ini si hafsa sampe marah nda karuan, kelihatan sekali bohongnya
      2. Kenapa hanya karena urusan sepeleh minum madu ini kok sampe perlu bersumpah
      3. Kalo karena urusan madu ini kenapa si nabi cabul ini sampe mengeluarkan ayat mengancam untuk menceraikan Istri istrinya ???kan sangat tidak sepadan dengan kasusnnya kalo cuma karena “madu”

      Kesimpulanya ada banyak kisa kisa HOAX dalam quran yang mengurusi hal hal yang sepele, padahal untuk hal hal yang Utama (Soko Guru) malah si mamad ..eh si aulloh lupa menuliskan di quran misalnya
      1. Bagaimana aturan dan tata cara solat yang benar,berapa jumlah rakaat , harus menghadap kemana, harus pake bahasa apa, ujung jari telunjuk kanan harus diapain Dll
      2. Bagaimana Tatacara ibadah Haji, harus mengelilingi berapa kali,apa yang harus diucapkan,haruska menunjuk ke “BATU VAGINA” dan mengucapkan “Kami penuhi panggilanmu ya Aulloh ” dan hal hal lain yang lebih penting dari pada mengurusi urusan “MADU”

    • ungke 3:26 pm on 23/12/2012 Permalink | Reply

      Hoi slimers -slimers pada kemana ??? ayo di tuntaskan urusan madu ini ,,, jangan kaya si ngaceng fikri, sudah nikmati daun muda 4 hari kemudian di tinggal lari….cobala belajar untuk selesaikan satu masalah baru urus masalah yang lain.

    • ALI BABA 1:40 pm on 27/12/2012 Permalink | Reply

      PROFFESOR 2, PENDETA, INTELEKTUAL KRISTEN RAME2 MASUK ISLAM

    • stefanus lim 11:30 am on 01/01/2013 Permalink | Reply

      baru2 ini paus pemimpin kristen kathoklik dunia nyembah tuhan yahudi di tembok ratapan.demkian juga pemimpin kristen lainnya seperti bush, romney, obama

      http://hamaslovers.files.wordpress.com/2009/05/puas-di-tembok-ratapan.jpg%3Fw%3D300%26h%3D195

      ha ha ha paus titip surat pengampunan untuk tuhan yahudi.berarti dia tak yakin dengan yesus penebus dosa.tak beriman alias murtad alias kafir sama yesus.
      ha ha ha bubar dah agama kristen punya pimpinan yang murtad.

      • luk sosial 8:05 am on 02/01/2013 Permalink | Reply

        Kok OOT ke urusan si Paus….selesaikan dulu urusan madunya si Mr.Moh yang kamu cintai itu, ba

    • STEFANUS LIM 1:05 pm on 06/01/2013 Permalink | Reply

      PAUS NYEMBAH TUHAN YAHUDI DI TEMBOK RATAPAN.

      http://www.google.com/search?q=PAUS+DI+DEPAN+TEMBOK+RATAPAN&sugexp=chrome,mod%3D14&um=1&ie=UTF-8&hl=en&tbm=isch&source=og&sa=N&tab=wi&ei=gGrpUL2XLMyakgWnpYGYDA&biw=1366&bih=668&sei=hWrpUOGAKsPRkQXtvIGYAw

      PAUS DITANYA YESUS KETIKA DIA NYEMBAH YAHWEH TUHAN YAHUDI DI TEMBOK RATAPAN.

      YESUS:” HAI PAUS NGAPAIN NYEMBAH YAHWEH TUHAN YAHUDI APA SUDAH BOSAN NYEMBAH AKU DITIANG SALIB?”

      PAUS:”MAAF TUAN YESUS, ANDA KAN ANAK JADI AKU PIKIR SEBAIKNYA AKU NYEMBAH BAPAK SAJA.”

      YESUS:’LHO KAGAK BISA BEGITU’.

      PAUS:”MEMANGNYA KENAPA”

      YESUS”HEI AKU KAN MATI UNTUK KAMU, UNTUK NEBUS DOSA KAMU TAHU NGGA, JADI KAMU HARUS NYEMBAH AKU?’

      PAUS:TUAN YESUS.KALO AKU NYEMBAH BAPAK KAMU ITUKAN PERINTAH KAMU SENDIRI.YANG SURUH HANYA NYEMBAH DIA., KALO AKU NYEMBAH KAMU ITUKAN BUKAN KATA KAMU ITUKAN KATA ORANG2 YANG BUNUH KAMU.BETUL NGGA??

      YESUS:’BETUL, PINTER JUGA KAMU YAH., HANYA ORANG TOLOL NYEMBAH AKU

      HEI PAUS BIAR KAMU NYEMBAH BAPAK AKU,KAMU TETAP KAFIR SAMA BAPAK AKU, KARENA PERUTMU PENUH BABI.SESUATU NYANG DILARANG BAPAKKU.

      PENDETA2 MUALAF YANG MASUK ISLAM BILANG.HAI PAUS, BIAR KAMU NYEMBAH BAPAK, ATAUPUN ANAK KEDUANYA TUHAN2 PALSU TAK LAYAK DISEMBAH YANG DISEMBAH HANYA ALLAH.

    • luk sosial 4:54 pm on 06/01/2013 Permalink | Reply

      Jadi gimana ni urusan madunya??? …mana yang benar
      versi Madu Atau Versi Maria koptik

    • lim bho tak 7:02 am on 08/01/2013 Permalink | Reply

      yesus ngga makan babi umatnya makan babi, artinya mereka kafir sama sabda yesusnya.buah sabda malah dihina lagi setelah jadi kotoran mereka kencingi lagi,padahal pajoh babi dilarang , makanya pendeta2 pinter seperti yahya waloni masuk islam.jadi makan babi ajaran siapa?setan?ha ha ha

    • luk sosial 12:47 pm on 08/01/2013 Permalink | Reply

      Ayo… jangan OOT Terus mas .
      Yang dibahas disini kan Masalah “MADU” coba biasakan selesaikan satu masalah baru bicara masalah yang lain.

    • STEFANUS LIM 1:23 pm on 08/01/2013 Permalink | Reply

      @munafik
      yang jago makan babi kafir sama yesusnya.karena yesus tak makan babi
      yang kulop terus karena yesus sunat katenye.jadi ia kafir sama yesusnya yang sunat.
      kau ngga sunat dan makan babi itu ikut ajaran siapa bung?
      xixixixi

      ngga ada gunanya kamu menghina nabi Muhammad.karena nabi Muhammad sudah dimuliakan Allah di Quran.Orang2 kafir sebelum islam arab mengakui nabi Muhammad sebagai al amiin.
      beliau diusir dan diperangi karena nabi Muhammad mengajak kaumnya menyembah Allah.
      yahudi juga begitu mereka membunuh nabi2 karena nabi2 utusan Allah mengajak hanya menyembah Allah.

      kmu menghina nabi hanya merndahkan dirimu sendiri. sedangkan nabi Muhammad tetap mulia.
      makanya orng2 barat sekrang bnyk kembali ke islam.
      bukti kebenaran Quran telah terbukti.salah satu contoh adalah seorang DOKTOR yahudi msuk islam karena masalah iddah ajaran islam.dan ia menelitinya.terbukti kebenaran Nabi Muhammad

      Penelitian tentang Masa Iddah Perempuan, Membuat Pakar Genetika Yahudi ini Masuk Islam

      http://moeflich.wordpress.com/2012/08/28/penelitian-tentang-masa-iddah-perempuan-dalam-islam-membuat-pakar-genetika-yahudi-ini-masuk-islam/

      Seorang pakar genetika Robert Guilhem mendeklarasikan keislamannya setelah terperangah kagum oleh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang iddah (masa tunggu) wanita Musl

      imah yang dicerai suaminya seperti yang diatur Islam.Guilhem, pakar yang mendedikasikan usianya dalam penelitian sidik pasangan laki-laki baru-baru ini membuktikan dalam penelitiannya bahwa jejak rekam seorang laki-laki akan hilang setelah tiga bulan.
      Guru besar anatomi medis di Pusat Nasional Mesir dan konsultan medis, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa pakar Robert Gelhem, pemimpin yahudi di Albert Einstain College dan pakar genetika ini mendeklarasikan dirinya masuk Islam ketika ia mengetahui hakikat empiris ilmiah dan kemukjizatan Al-Quran tentang penyebab penentuan iddah (masa tunggu) perempuan yang dicerai suaminya dengan masa 3 bulan.

      Ia menambahkan, pakar Guilhem ini yakin dengan bukti-bukti ilmiah. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan. Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen. Setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan. Sehingga perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik laki-laki lainnya.

      Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Afrika Muslim di Amerika. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa setiap wanita di sana hanya mengandung dari jejak sidik pasangan mereka saja. Sementara penelitian ilmiah di sebuah perkampungan lain di Amerika membuktikan bahwa wanitanya yang hamil memiliki jejak sidik beberapa laki-laki dua hingga tiga. Artinya, wanita-wanita non Muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahan yang sah.

      Yang mengagetkan sang pakar ini adalah ketika dia melakukan penelitian ilmiah terhadap istrinya sendiri. Sebab ia menemukan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya. Setelah penelitian-penelitian yang dilakukan ini akhirnya meyakinkan sang pakar Guilhem ini memeluk Islam. Ia meyakini bahwa hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan social. Ia yakin bahwa wanita Muslimah adalah wanita paling bersih di muka bumi ini. (islammemo/atb)

      jadi orang bolh pinter tapi jangan kepala btu.
      batu dibakar di neraka .he he he tolol kau mun nyesel orang tuamu melahirkanmu.xixixixi

    • luk sosial 3:23 pm on 08/01/2013 Permalink | Reply

      Sori ikutan OOT kaya Slimers .
      Suda tau masa iddah itu 3 bulan Tapi Anehnya Si Saffiyah kok bisa bisanya di kawinin sama si nabi cabul mohhamad pada hari itu juga dimana si nabi selesai membantai orang tua, suami dan kerabat si Saffiyah.
      artinya si nabi cabul ini tidak menghormati hukum yang di buat aullohnya sendiri karena tidak dapat mengontrol Nafsunya.

    • Stefanus Lim 12:38 pm on 09/01/2013 Permalink | Reply

      luk, ente dan domba2 bego dari dulu tolol, telan aja cerita bualan yahudi, ha ha ha .tuh ikuti Prof DR yahya Waloni Orang pinter yang masuk islam mantan pendeta, juga DR irene handono.

    • Salahuddin 1:35 pm on 17/01/2013 Permalink | Reply

      AL Qur’an adalah kitab yang sangat shahih dan sudah banyak bukti otentik yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan (ilmiah), bahkan sebenarnya ilmu pengetahuan lah yang mengikuti Al Qur’an, dan membenarkan apa-apa yang Al Qur’an ajarkan. Seringkali ilmu pengetahuan ‘tampak’ menyalahkan apa yang Al Qur’an terangkan, namun ilmu pengetahuan yang lebih modern malah berbalik membuktikan apa yang dijelaskan oleh Al Qur’an. Jadi, masalah Tafsir Surat At-Tahrim tersebut, seperti apa adanya yang tercantum dalam Al Qur’an. Karena itulah cerita sebenarnya yang mutlak. Kalau ada versi lain terkait dengan tafsir tersebut, itu berarti fitnah dan perlu diuji kebenarannya. Tapi sekali lagi, tidak ada yang mampu membantah kebenaran Al Qur’an. So, abaikan cerita-cerita fitnah orang-orang non muslim. Tidak penting untuk ditanggapi. Sesungguhnya kata Allah : hati, penglihatan dan pendengaran orang-orang kafir itu buta, padahal dia melihat, merasakan, dan mendengar kebenaran Al Qur’an. Tapi itulah kaum kafir, lebih mengikuti hawa nafsunya daripada kebenaran. Untuk menjawab tuduhan keji tersebut sesuai tulisan di atas blog ini kiranya sudah cukup untuk membuktikan kebencian dan kedengkian seorang kristen terhadap ajaran Islam.
      http://muslims-says.blogspot.com/2012/01/menjawab-kristen-menuduh-nabi-muhammad.html

    • luk sosial 10:37 am on 19/01/2013 Permalink | Reply

      Kalau menurut orang muslim memang sahih, karena cuma diteropong dari satu sudut pandang yaitu quran itu sendiri, padahal suatu kitab bisa disebut suci jika dia bisa bertahan dan eksis walaupun di pandang dari sisi lain , sekarang berani tidak quran di teropong dari kaca mata Humanisme, atau golden rule???
      bisaka anda jelaskan cerita isrami’raj sesuai sejarah?, siapa saksi sejarah yang menyaksikan peristiwa itu? kenapa terjadi kesalahan sejarah dan tempat yang fatal pada peristiwa tersebut??
      kalo untuk orang muslim yang tidak bisa berpikir kritis dan logis, maka peristiwa itu akan diterima sebagai suatu kebenaran, tapi bagi kami hal itu suatu peristiwa yang janggal dan perlu dipetanyakan. belum lagi kisah pembunuhan dan pembantaian karavan yahudi oleh muhmmad cs, belum lagi kisa muhammad menggauli shiffa, atau maria koptik , dan masih banyak kisah aneh dan kejam yang dilakukan oleh seorang yang mengaku sebagai nabi Tuhan semesta alam.

    • STEFANUS LIM 4:17 am on 20/01/2013 Permalink | Reply

      @LUK.
      KAPAN BISA PINTER.KALAU KAU TETAP BODOH.
      KARENA PAULUS MENGAJAK ORANG2:

      SUKA MAKAN DOGMA
      KAFIR SAMA YESUSNYA .
      CONTOH MAKAN BABI BUAKN AJARAN BAPA , ANAK JUGA NGGA MAKAN.
      NAHA ANDA PAJOH BABI MENUNUKKAN KEKAFIRAN ANDA
      KEBODOHAN ANDA
      MAKAN DOGMA BUTA.

      NIH AJARAN PAULUS.
      Aku adalah manusia yang membikin Injil bukan dari Firman Tuhan melainkan suka2 aku saja (cara bodoh) (2Korintus 11:17)
      Aku memberitakan Injil dengan mengarungi lautan dan menjelajah daratan (KPR 21 : 2 , KPR 14 : 3 , 24 )
      Aku Adalah Yahudi Faris ( KPR 26 : 5 )
      Aku adalah manusia munafik ( KPR 9 : 1 , KPR 22 : 4) (Galatia 2:20) ( KPR 19 : 6 . 7)
      Aku membuat Injil tandingan . Bukan dari Firman Tuhan tetapi dari pemikiran aku yang bodoh (2 Korintus 11:17)
      Dan AKU MENGAJAR dengan tipu daya aku yang licik (2 Korintus 12:16)

      INI PENGAKUAN BENGIS DAN SANGAT IBLIS

      Paulus mengaku membunuh manusia (KPR 26 : 15 KPR 9 : 5 KPR 22 :7, KPR9 : 1, KPR 22:4, GALATIA 1 : 13)

    • luk sosial 1:40 pm on 20/01/2013 Permalink | Reply

      Pantas saja muslim itu tidak bisa sehati, karena mereka menafsirkan firman Tuhan seenak perutnya saja dan pemahaman mereka akan tulisan sangat rendah, mas Lim Alkitab itu Kitab yang sangat jelas dan terang ,tidak perlu anda tafsir seperti quran anda, kalo pemahaman kamu cuma sengini, saya jadi yakin pantas saja negara kita terbelakang dan miskin , mudah mudahan anda ini cuma lulusan SMP atau Pesantren saja , soalnya kalo sarjana !!! …seperti kata bang roma Sungguh Terlalu…. ..andah ini

    • stefanus lim 1:09 pm on 22/01/2013 Permalink | Reply

      yah sedih juga banyak orang2 miskin di philipina, di brazil dan amirika latin lainnya bahkan banyak jadi pecandu obat karena miskinnya.

    • BHO TAK LIM 12:00 pm on 31/01/2013 Permalink | Reply

      @munafik.
      permintaan nabi dikumpulkan sama Teman/saudara di akhirat nanti
      itu artinya saudara, para nabi Allah yang jumlahnya 124.000 orang, sahabat2 nabi, orang2 sholeh, orang2 yang mati sahid, orang2 yang sodikin.
      permintaan nabi wajar.
      sahabat nabi juga minta pada Allah agar dikumpulkan kembali sama Nabi Muhammad.di surga yang luas 100 tingkat.seluas langit dan bumi.

      sedangpan paus minta apa sama yahweh di tembok ratapan??
      yahweh yang doyan lemak busuk dibakar pake kemenya.inikan setan.
      kok mau ngumpul sama setan.
      xixixixi inilah agama sesat
      pemimpin sesat
      umat sesat.karena berkawan sama setan.
      mau selamat hanya kembali ke islam.
      selamat dunia akhirat

    • luk sosial 2:38 pm on 01/02/2013 Permalink | Reply

      Awas lulusan pesantren ngamuk….!! ntar lagi bakal daftar jadi “Penganten” bom bunuh diri, biar mati sahid dan ketemu 72 bidadari berdada montok.

    • LIM BHO TAK 3:17 am on 05/02/2013 Permalink | Reply

      @DAVID! dan lik sos
      KEBENAran apa???
      PAULUS PENIPU(ROMA 3)

      PAUS NYEMBAH SETANYANG DOYAN MENYAN DI TEMBOK RATAPAN(IMAMAT)

      SEKARANG KAU NONTON TV
      HA HA HA BODOH BENER ENTE DIMANA OTAK DIUMPETIN???
      XIXIXIXI
      @all kristen
      hanya orang bodoh percaya sama paulus pembual

      KITAB SUUCII ROMA KEPERCAYAAN PARA KRISTENER
      PAULUS MENGAKU SEBAGAI PENDUSTA
      PENDUSTA ULUNG
      HE HE HE GURUNYA SI DAVIT PENDETA DI BLOG MURTAD XIXIXI

      (7) Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?

      (7) Tetapi kalau karena perbuatan yang tidak benar, apa yang benar tentang Allah semakin menonjol sehingga Ia dipuji, mengapa orang yang berbuat jahat itu masih disalahkan sebagai orang berdosa?

      PENDUSTA PAULUS MENGANGKAT DIRINYA SEBAGAI RISOL

      PAULUS JUGA BERDUSTA DIA SEBAGAI RASUL EH RISOL

      1) Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. (1) Saudara-saudara sekalian di Roma yang dikasihi Allah dan yang sudah dipanggil oleh Allah untuk menjadi umat-Nya. Allah sudah memilih dan mengangkat saya khusus untuk memberitakan Kabar Baik dari Allah.
      ha ha ah

  • SERBUIFF 8:04 am on 12/09/2009 Permalink | Reply
    Tags: , ISTRI-ISTRI NABI MUHAMMAD, , PERNIKAHAN MUHAMMAD   

    ISTRI-ISTRI NABI MUHAMMAD 

    Pernikahan Muhammad

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Langsung ke: navigasi, cari

    Bagian dari artikel tentang
    Nabi Islam Muhammad



    Ibu-ibu dari orang-orang yang beriman (Arab: أمهات المؤمنين) adalah istilah Islam yang merupakan penyebutan kehormatan bagi istri-istri dari Nabi Muhammad. Muslim menggunakan istilah tersebut sebelum atau sesudah nama istri beliau. Istilah ini diambil dari ayat Quran, Surah Al-Ahzab ayat 6.

    Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka…

    Nabi Muhammad seringkali disebutkan menikah dengan 11 orang perempuan. Terdapat anggapan bahwa ia menikah dengan dua orang perempuan lainnya, tetapi diceraikannya sebelum mereka sempat bersama-sama.[rujukan?]

    Daftar isi

    [sembunyikan]

    // <![CDATA[//

    [sunting] Khadijah binti Khuwailid

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Khadijah binti Khuwailid

    Ia merupakan isteri Nabi Muhammad yang pertama. Sebelum menikah dengan Nabi, ia pernah menjadi isteri dari Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik dan telah melahirkan empat orang anak, dua dengan suaminya yang bernama Atiq, yaitu Abdullah dan Jariyah, dan dua dengan suaminya Abu Halah yaitu Hindun dan Zainab.

    Berbagai riwayat memaparkan bahwa saat Muhammad s.a.w. menikah dengan Khadijah, umur Khadijah berusia 40 tahun sedangkan Nabi hanya berumur 25 tahun. Tetapi menurut Ibnu Katsir, seorang tokoh dalam bidang tafsir, hadis dan sejarah, mereka menikah dalam usia yang sebaya. Nabi Muhammad s.a.w. bersama dengannya sebagai suami isteri selama 25 tahun yaitu 15 tahun sebelum menerima wahyu pertama dan 10 tahun setelahnya hingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Khadijah wafat saat ia berusia 50 tahun.

    Ia merupakan isteri nabi Muhammad s.a.w. yang tidak pernah dimadu, karena semua isterinya yang dimadu dinikahi setelah wafatnya Khadijah. Di samping itu, semua anak Nabi kecuali Ibrahim adalah anak kandung Khadijah.

    Maskawin dari nabi Muhammad s.a.w. sebanyak 20 bakrah dan upacara perkawinan diadakan oleh ayahnya Khuwailid. Riwayat lain menyatakan, upacara itu dilakukan oleh saudaranya Amr bin Khuwailid.

    Pernikahannya dengan Khadijah menghasilkan keturunan hanya enam orang, yaitu: Al Qosim, Zainab, Rukayah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Abdullah.

    Al Qosim mendapat julukan Abul Qosim, sedangkan Abdullah mempunyai julukan at Thoyib at Thohir yang berarti “Yang Bagus dan Lagi Suci”.

    [sunting] Saudah binti Zam’ah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Saudah binti Zam’ah

    Nabi menikah dengan Saudah setelah wafatnya Khadijah dalam bulan itu juga.

    Saudah adalah seorang janda tua. Suami pertamanya ialah al-Sakran bin Amr. Saudah dan suaminya al-Sakran adalah di antara mereka yang pernah berhijrah ke Habsyah. Saat suaminya meninggal dunia setelah pulang dari Habsyah, maka Rasulullah telah mengambilnya menjadi isteri untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penghargaan yang tinggi kepada suaminya.

    Acara pernikahan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Maskawinnya ialah 400 dirham. ???

    [sunting] Aisyah binti Abu Bakar

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Aisyah binti Abu Bakar

    Akad nikah diadakan di Mekkah sebelum Hijrah, tetapi setelah wafatnya Khadijah dan setelah nabi Muhammad menikah dengan Saudah. Ketika itu Aisyah berumur 6 tahun. Rasulullah tidak bersama dengannya sebagai suami isteri melainkan setelah berhijrah ke Madinah. Ketika itu, Aisyah berumur 9 tahun sementara nabi Muhammad berumur 53 tahun.

    Aisyah adalah satu-satunya isteri rasulullah yang masih gadis pada saat dinikahi. Saat itu Aisyah berumur 9. Upacara dilakukan oleh ayahnya Abu Bakar dengan maskawin 400 dirham.

    lebih jauh dapat dibaca di: https://erzal.wordpress.com/category/pernikahan-nabi-muhammad-dengan-siti-aisyah/

    [sunting] Hafshah binti Umar bin al-Khattab

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Hafshah binti Umar

    Hafsah seorang janda. Suami pertamanya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar. Ayahnya Umar meminta Abu Bakar menikah dengan Hafsah, tetapi Abu Bakar tidak menyatakan persetujuan apapun dan Umar mengadu kepada nabi Muhammad.

    Kemudia rasulullah mengambil Hafsah sebagai isteri.

    [sunting] Ummu Salamah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ummu Salamah

    Salamah seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya syahid dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut syahid pula dalam perang itu lalu nabi Muhammad melamarnya. Mulanya lamaran ditolak karena menyadari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.

    Lamaran kali kedua nabi Muhammad diterimanya dengan maskawin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.

    [sunting] Ummu Habibah binti Abu Sufyan

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ummu Habibah

    Ummu Habibah seorang janda. Suami pertamanya Ubaidillah bin Jahsyin al-Asadiy. Ummu Habibah dan suaminya Ubaidullah pernah berhijrah ke Habsyah. Ubaidullah meninggal dunia ketika di rantau dan Ummu Habibah yang berada di Habsyah kehilangan tempat bergantung.

    Melalui al Najashi, nabi Muhammad melamar Ummu Habibah dan upacara pernikahan dilakukan oleh Khalid bin Said al-As dengan maskawin 400 dirham, dibayar oleh al Najashi bagi pihak nabi.

    [sunting] Juwairiyah (Barrah) binti Harits

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Juwairiyah binti Harits

    Ayah Juwairiyah ialah ketua kelompok Bani Mustaliq yang telah mengumpulkan bala tentaranya untuk memerangi nabi Muhammad dalam Perang al-Muraisi’.

    Setelah Bani al-Mustaliq tewas dan Barrah ditawan oleh Tsabit bin Qais bin al-Syammas al-Ansariy. Tsabit hendak dimukatabah dengan 9 tahil emas, dan Barrah pun mengadu kepada nabi.

    Rasulullah bersedia membayar mukatabah tersebut, kemudian menikahinya.

    [sunting] Shafiyah binti Huyay

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Shafiyah binti Huyay

    Shafiyah anak dari Huyay, ketua suku Bani Nadhir, yaitu salah satu Bani Israel yang berdiam di sekitar Madinah. Dalam Perang Khaibar, Shafiyah dan suaminya Kinanah bin al-Rabi telah tertawan. Dalam satu perundingan setelah dibebaskan, Safiyah memilih untuk menjadi isteri nabi Muhammad.

    [sunting] Zainab binti Jahsy

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Zainab binti Jahsy

    Zainab merupakan isteri Zaid bin Haritsah, yang pernah menjadi budak dan kemudian menjadi anak angkat nabi Muhammad s.a.w. setelah dia dimerdekakan.

    Hubungan suami isteri antara Zainah dan Zaid tidak bahagia karena Zainab dari keturunan mulia, tidak mudah patuh dan tidak setaraf dengan Zaid. Zaid telah menceraikannya walaupun telah dinasihati oleh nabi Muhammad s.a.w. .

    Upacara pernikahan dilakukan oleh Abbas bin Abdul-Muththalib dengan maskawin 400 dirham, dibayar bagi pihak nabi Muhammad s.a.w.

    [sunting] Zainab binti Khuzaimah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Zainab binti Khuzaimah

    Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia sewaktu nabi Muhammad s.a.w. masih hidup.

    [sunting] Maria al-Qibtiyyah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Maria al-Qibtiyyah

    Mariah al-Qibthiyah ialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dari Mesir. Ia seorang mantan budak Nabi yang telah dinikahi dan satu-satunya pula yang dengannya Nabi memperoleh anak selain Khadijah yakni Ibrahim namun sayangnya meninggal dalam usia 4 tahun.

    [sunting] Referensi

    • Profesor Madya Dr. Ishak Mohd. Rejab, Rasulullah Sebagai Ketua Keluarga, Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia, 1988.

    ====================================================

    Isteri-isteri Nabi Muhammad s.a.w.

    Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.

    Lompat ke: pandu arah, gelintar

    Nabi Muhammad s.a.w. pernah berkahwin dengan 13 orang perempuan. Sebelas daripadanya pernah bersama dengan Baginda sebagai suami isteri, manakala dua daripadanya diceraikan sebelum mereka bersama.

    1. Khadijah bt. Khuwailid al-Asadiyah r.a
    2. Saudah bt. Zam’ah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a
    3. Aisyah bt Abi Bakr r.a
    4. Hafsah bt. Umar bin al-Khattab r.a
    5. Ummu Salamah Hindun bt. Abi Umaiyah r.a
    6. Ummu Habibah Ramlah bt. Abi sufian r.a
    7. Juwairiyah ( Barrah ) bt. Harith
    8. Safiyah bt. Huyay
    9. Zainab bt. Jansyin
    10. Asma’ bt. al-Nu’man al-Kindiyah
    11. Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah
    12. Zainab bin Khuzaimah
    13. Maria al-Qibtiyyah (Maria The Copt)

    Isi kandungan

    [sorok]

    // <![CDATA[//

    [sunting] Khadijah bt. Khuwailid al-Asadiyah r.a

    Beliau adalah merupakan isteri nabi Muhammad s.a.w. yang pertama. Sebelum berkahwin dengan baginda, beliau pernah menjadi isteri kepada Atiq bin Abid dan Abi Halah bin Malik dan telah mempunyai empat anak, dua dengan suaminya yang bernama Atiq, iaitu Abdullah dan Jariyah, dan dua dengan suaminya Abu Halah iaitu Hindun dan Zainab.

    Banyak kisah memaparkan bahawa sewaktu nabi Muhammad s.a.w. bernikah dengan Khadijah, umur Khadijah berusia 40 tahun sedangkan nabi Muhammad s.a.w. hanya berumur 25 tahun. Tetapi menurut Ibnu Kathir, seorang tokoh dalam bidang tafsir, hadis dan sejarah, mereka berkahwin dalam usia yang sebaya. Nabi Muhammad s.a.w. bersama dengannya sebagai suami isteri selama 25 tahun iaitu 15 tahun sebelum bithah dan 10 tahun selepasnya iaitu sehingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah. Khadijah wafat semasa beliau berusia 50 tahun.

    Beliau merupakan isteri nabi Muhammad s.a.w. yang tidak pernah dimadukan kerana kesemua isterinya yang dimadukan adalah berlaku selepas daripada wafatnya Khadijah. Di samping itu, kesemua anak baginda kecuali Ibrahim adalah kandungannya.

    Mas kahwin daripada nabi Muhammad s.a.w. sebanyak 20 bakrah dan upacara perkahwinan diadakan oleh ayahnya Khuwailid. Riwayat lain menyatakan, upacara itu dilakukan oleh saudaranya Amr bin Khuwailid.

    [sunting] Anak-anak Rasulullah bersama Khadijah

    Diriwayatkan bahawa anak perempuan Nabi Muhammad SAW iaitu Fatimah Az-Zaharah telah berkahwin dengan Khalifah Saidina Ali bin Abi Talib.

    Kesemua ketiga – tiga anak lelaki Rasullullah telah meninggal dunia sejak kecil lagi.Tujuan Allah SWT mencabut semua nyawa anak lelaki Nabi adalah bagi mengelakkan supaya tiada lagi wujud Nabi dan Rasul yang baru sesudah Nabi Muhammad,hal ini kerana Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir diutuskan Allah sesudah Nabi Isa diatas muka bumi ini.Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul bagi seluruh umat alam buana dan semesta sehinggalah ke Hari kiamat.

    [sunting] Saudah bt. Zam’ah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a

    Nabi Muhammad s.a.w. berkahwin dengan Saudah setelah wafatnya Khadijah 3 tahun. Saudah adalah seorang janda tua. Suami pertamanya ialah al-Sakran bin Amr. Saudah dan suaminya al-Sakran adalah di antara mereka yang pernah berhijrah ke Habsyah. Apabila suaminya meninggal dunia setelah pulang dari Habsyah, maka nabi Muhammad s.a.w. telah mengambilnya menjadi isteri untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penilaian yang tinggi kepada suaminya.

    Acara perkahwinan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Mas kahwinnya ialah 400 dirham.

    [sunting] Aishah bt Abu Bakar

    Akad nikah diadakan di Mekah sebelum Hijrah, tetapi setelah wafatnya Khadijah dan setelah nabi Muhammad s.a.w. berkahwin dengan Saudah. Ketika itu Aisyah berumur 16 tahun. Rasulullah tidak bersama dengannya sebagai suami isteri melainkan setelah berhijrah ke Madinah. Ketika itu, Aisyah berumur 19 tahun sementara nabi Muhammad s.a.w. berumur 53 tahun.Umur Aisyah dan kekeliruan akibat dari perpecahan dalam Islam akibat fitnah syi’ah yang membenci Ummmul Mukminin

    Aisyah adalah isteri nabi Muhammad s.a.w. yang tunggal yang dikahwininya semasa gadis. Upacara dilakukan oleh ayahnya Abu Bakar dengan mas kahwin 400 dirham.

    [sunting] Hafsah bt. Umar bin al-Khattab r.a

    Hafsah seorang janda. Suami pertamanya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia selepas Perang Badar. Bapanya Umar mempelawa Abu Bakar berkahwin dengan Hafsah, tetapi Abu Bakar tidak menyatakan sebarang persetujuan dan Umar mengadu kepada nabi Muhammad s.a.w.. Lalu baginda mengambil Hafsah sebagai isteri.

    [sunting] Ummu Salamah Hindun bt. Abi Umaiyah r.a

    Salamah seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya terkorban dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut terkorban dalam perang itu lalu nabi Muhammad s.a.w. melamarnya. Mulanya lamaran ditolak kerana menyedari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.

    Lamaran kali kedua nabi Muhammad s.a.w. diterimanya dengan mas kahwin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.

    [sunting] Ummu Habibah Ramlah bt. Abi sufian r.a

    Ummu Habibah seorang janda. Suami pertamanya Ubaidullah bin Jahsyin al-Asadiy. Ummu Habibah dan suaminya Ubaidullah pernah berhijrah ke Habsyah. Ubaidullah meninggal dunia ketika di rantau dan Ummu Habibah yang berada di Habsyah kehilangan tempat bergantung.

    Melalui al Najashi, nabi Muhammad s.a.w. melamar Ummu Habibah dan upacara perkahwinan dilakukan oleh Khalid bin Said al-As dengan mas kahwin 400 dirham, dibayar oleh al Najashi bagi pihak nabi.

    [sunting] Juwairiyah ( Barrah ) bt. Harith

    Ayah Juwairiyah ialah ketua puak Bani al-Mustaliq yang telah mengumpulkan bala tenteranya untuk memerangi nabi Muhammad s.a.w. dalam Perang al-Muraisi’. Bani al-Mustaliq telah tewas dan Barrah telah ditawan oleh Thabit bin Qais bin al-Syammas al-Ansariy. Thabit mahu dia dimukatabah dengan 9 tahil emas Barrah mengadu kepada nabi. Baginda sedia membayar mukatabah tersebut dan seterusnya mengahwininya.

    [sunting] Safiyah bt. Huyay

    Safiyah anak kepada Huyay, ketua puak Bani Quraizah iaitu dari keturunan Nabi Harun a.s. Dalam Perang Khaibar, suaminya seorang Yahudi telah ditawan dan Safiyah telah ditawan. Dalam satu rundingan setelah dibebaskan, Safiyah telah memilih untuk menjadi isteri nabi Muhammad s.a.w.. Safiyyah meriwayatkan 10 hadis dan meninggal dunia dalam bulan Ramadhan tahun ke-50H (ada yang mengatakan 52H). Dia dikebumikan di al Baqi’.

    [sunting] Zainab bt. Jahsyin

    Zainab merupakan isteri kepada Zaid ibn Harithah, yang pernah menjadi hamba dan kemudian menjadi anak angkat nabi Muhammad s.a.w. setelah dia dimerdekakan.

    Hubungan suami isteri antara Zainab dan Zaid tidak bahagia kerana Zainab dari keturunan mulia, tidak mudah patuh dan tidak setaraf dengan Zaid. Zaid telah menceraikannya walaupun telah dinasihati oleh nabi Muhammad s.a.w. .

    Upacara perkahwinan dilakukan oleh al-Abbas bin Abd al-Muttalib dengan mas kahwin 400 dirham, dibayar bagi pihak nabi Muhammad s.a.w.

    [sunting] Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah

    Nabi Muhammad s.a.w. berkahwin dengan Umrah ketika Umrah baru sahaja memeluk agama Islam. Umrah telah diceraikan dan dipulangkan kepada keluarganya.

    [sunting] Zainab bt Khuzaimah

    Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia sewaktu nabi Muhammad s.a.w. masih hidup.

    [sunting] Maria al-Qibtiyyah

    Maria al-Qibtiyyah, English;(Maria The Copt) merupakan salah seorang isteri kepada Muhammad Rasulullah.

    [sunting] Rujukan

    • Profesor Madya Dr. Ishak Mohd. Rejab, ‘Rasulullah Sebagai Ketua Keluarga’, Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia, 1988.
    • Dipetik dari buku soal jawab berkaitan Rasullulah oleh Hj Ahmad bin Haji Awang.

    [sunting] Pautan luar

    =========================================

    Muhammad’s wives

    From Wikipedia, the free encyclopedia

    Jump to: navigation, search

    Part of a series on Islam

    Umm-al-Momineen
    Wives of Muhammad
    Khadijah bint Khuwaylid

    Sawda bint Zama

    Aisha bint Abi Bakr

    Hafsa bint Umar

    Zaynab bint Khuzayma

    Hind bint Abi Umayya

    Zaynab bint Jahsh

    Juwayriya bint al-Harith

    Ramlah bint Abi-Sufyan

    Rayhana bint Amr

    Safiyya bint Huyayy

    Maymuna bint al-Harith

    Maria al-Qibtiyya

    Muhammad’s wives were the eleven women married to the Islamic prophet Muhammad. Muslims refer to them as Mothers of the Believers (Arabic: Ummu l-Mu’minīn). Muslims use the term prominently before or after referring to them as a sign of respect. The term is derived from the Qur’anic verse [Qur'an 33:6]

    The Prophet is closer to the believers than their selves, and his wives are (as) their mothers.[1]

    Muhammad’s life is traditionally delineated as two epochs: pre-hijra (emigration) in Mecca, a city in northern Arabia, from the year 570 to 622, and post-hijra in Medina, from 622 until his death in 632. All but two of his marriages were contracted after the Hijra (migration to Medina). The verse’s interpretation mandated that Muslims were forbidden to marry Muhammad’s widows and should regard them as they would their own mothers.

    Contents

    [hide]

    // <![CDATA[//

    [edit] History

    A series of articles on


    Prophet of Islam
    Muhammad


    Life
    Companions · wives · Family tree · In Mecca · In Medina · Conquest of Mecca · The Farewell Sermon · Succession


    Career
    Diplomacy · Family · Wives · Military leadership


    Succession
    Farewell Pilgrimage · Ghadir Khumm · Pen and paper · Saqifah · General bay’ah


    Interactions with
    Slaves · Jews · Christians


    Perspectives
    Muslim (Poetic and Mawlid) · Medieval Christian · Historicity · Criticism · Depictions

    v d e

    During his life Muhammad married eleven or thirteen women depending upon the differing accounts of who were his wives.

    In Arabian culture, marriage was generally contracted in accordance with the larger needs of the tribe and was based on the need to form alliances within the tribe and with other tribes. Virginity at the time of marriage was emphasized as a tribal honor.[2] Watt states that all of Muhammad’s marriages had the political aspect of strengthening friendly relationships and were based on the Arabian custom.[3] Esposito points out that some of Muhammad’s marriages were aimed at providing a livelihood for widows.[4] Francis Edwards Peters says that it is hard to make generalizations about Muhammad’s marriages: many of them were political, some compassionate, and some perhaps affairs of the heart.[5]

    [edit] Khadijah bint Khuwaylid

    At age 25, Muhammad wed his employer, the 40 year old merchant Khadijah. The marriage, his first, would be both happy and monogamous; Muhammad would rely on Khadijah in many ways, until her death 25 years later.[6][7][8] They had two sons, Qasim and Abd-Allah (nicknamed al Tahir and al Tayyib), and four daughters -Zainab, Ruqaiya, Umm Kulthum and Fatimah. There is a dispute over the paternity of Khadijah’s daughters, as Shia scholars view them as the product of previous marriages.[9] During their marriage, Khadija purchased the slave Zayd ibn Harithah at Muhammad’s request -who then adopted the young man as his son.[10]

    [edit] Al-Hijrah

    The death of Khadija left Muhammad lonely, and, before he left for Medina, it was suggested to him that he marry Sawda bint Zama, who had suffered many hardships after she became a Muslim. Muhammad married her in Shawwal, when she was about 55 years old, in the tenth year of Prophethood, after the death of Khadijah. Prior to that, she was married to a paternal cousin of hers called As-Sakran bin ‘Amr. At about the same period, Aisha (daughter of his close friend Abu Bakr) was betrothed to Muhammad.[11] Aisha was initially betrothed to Jubayr ibn Mut’im, a Muslim whose father, though pagan, was friendly to the Muslims. When Khawla bint Hakim suggested that Muhammad marry Aisha after the death of Muhammad’s first wife (Khadijah bint Khuwaylid), the previous agreement regarding marriage of Aisha with ibn Mut’im was put aside by common consent.[11]

    As life became unbearable for him, Muhammad migrated to Medina. Because of Meccan attempts at his life Muhammad traveled only with Abu Bakr and the rest of his family traveled in stages. His wife Sawda and his daughters Fatimah and Umm Kulthum traveled with Zayd ibn Harithah, while his other wife Aisha travelled with her brother ‘Abd ar-Rahman ibn Abi Bakr. Regarding his other daughters: Zainab’s husband prevented her from migrating, and Ruqayyah was with her husband Uthman Ibn Affan in Abyssinia and migrated much later.[12]

    Aisha was six or seven years old when betrothed to Muhammad. She stayed in her parents’ home until the age of nine, when the marriage was consummated in Medina.[13][11][14][15] Both Aisha and Sawda, his two wives, were given apartments adjoined to the Al-Masjid al-Nabawi mosque.[12] Muhammad wished to divorce Sawda, who offered to give her turn of Muhammad’s conjugal visit to Aisha to prevent this, and the incident is referred to in the Qur’an 4:127.[16]

    [edit] War with Mecca

    During the Muslim war with Mecca, many men were killed leaving behind widows and orphans. Hafsa bint Umar, daughter of Umar (‘Umar bin Al-Khattab), was widowed at battle of Badr when her husband Khunais ibn Hudhaifa was killed in action. Muhammad married her in 3 A.H./625 C.E.[17] Zaynab bint Khuzayma was also widowed at the battle of Badr. She was the wife of ‘Ubaydah b. al-Hārith,[18] a faithful Muslim and from the tribe of al-Muttalib, for which Muhammad had special responsibility.[19] When her husband died, Muhammad aiming to provide for her, married her 4 A.H. She was nicknamed Umm Al-Masakeen (roughly translates as the mother of the poor), because of her kindness and charity.[20]

    Close to Aisha’s age, both Hafsa and Zaynab were welcomed into the household. Sawda, who was much older, extended her motherly benevolence to the younger women. Aisha and Hafsa had a lasting relationship. As for Zaynab, however, she fell ill and passed away eight months after her marriage.[21][22][23]

    The death of Zaynab coincided with the that of Abu Salamah, a devoted Muslim, as a result of his wounds from the Battle of Uhud.[22] Abu Salamah’s widow, Umm Salama Hind bint Abi Umayya also a devoted Muslim, had none but her young children. Her plight reportedly saddened the Muslims, and after her iddah some Muslims proposed marriage to her; but she declined. When Muhammad proposed her marriage, she was reluctant for three reasons: she claimed to suffer from jealousy and pointed out the prospect of an unsuccessful marriage, her old age, and her young family that needed support. But Muhammad replied that he would pray to God to free her from jealousy, that he too was of old age, and that her family was like his family[citation needed]. She married Muhammad.[24] In 626, Raihanah bint Zaid, entered Muhammad’s household as a widow, as her husband had been executed along with the men of Banu Qurayza. The sources regarding his status differ, but she eventually converted to Islam and was married by Muhammad.[25]

    [edit] Internal dissension

    After Muhammad’s final battle against his Meccan enemies, he diverted his attention to stopping the Banu Mustaliq‘s raid on Medina. During this skirmish, Medinan dissidents, begrudging Muhammad’s influence, attempted to attack him in the more sensitive areas of his life, including his marriage to Zaynab bint Jahsh,[26] and an incident in which Aisha left her camp to search her lost necklace, and returned with a Companion of Muhammad.[27]

    [edit] Zaynab bint Jahsh

    Zaynab bint Jahsh was Muhammad’s cousin, being the daughter of one of his father’s sisters.[11] In Medina, Muhammad arranged Zaynab’s marriage, a widow, to Zayd ibn Harithah. Zaynab disapproved of the marriage and her brothers rejected it, because according to Ibn Sa’d, she was of aristocratic lineage and Zayd was a former slave.[28][29] Muhammad, however, was determined to establish the legitimacy and right to equal treatment of the adopted, Caesar E. Farah states.[30] Watt however states that it is not clear why Zaynab was unwilling to marry Zayd as Zayd was held in a high place in Muhammad’s esteem. Watt discusses the following two possibilities: being an ambitious woman, she was already hoping to marry Muhammad; and the other she may have been wanting to marry someone of whom Muhammad disapproved for political reason. In any case, Watt says, it is almost certain that she was working for marriage with Muhammad before the end of 626.[31] According to Maududi, the Qur’anic verse 33:36 was revealed,[32] thus Zaynab acquiesced and married Zayd. Zaynab’s marriage was unharmonious, and eventually became unbearable.[28]

    According to Ibn Sa’d and Tabari, after the marriage, Muhammad went to pay Zayd a visit, but instead found Zaynab, scantily clad, and fell in love with her.[28][33] Zaynab told Zayd about this, and Zayd offered to divorce her, but Muhammad told him to keep her.[11] The story laid much stress on Zaynab’s perceived beauty and Muhammad’s supposedly disturbed set of mind.[34] William Montgomery Watt doubts the accuracy of this portion of the narrative, since it does not occur in the earliest source, and that it is unlikely that Muhammad was attracted since Zaynab (after Khadija) was the most elderly woman Muhammad married. He thinks that even if there is a basis of fact underlying the narrative, it is suspect to exaggeration in the course of transmission as the later Muslims liked to maintain that there was no celibacy and monkery in Islam.[29] Nomani considers this story to be a rumor.[35] Rodinson disagrees with Watt arguing that the story is stressed in the traditional texts and that it would not have aroused any adverse comment or criticism.[36]

    The marriage seemed incestuous to Muhammad’s contemporaries because Muhammad was marrying the former wife of his adopted son, and the adopted sons were counted the same as a biological son.[11] According to Watt, this “conception of incest was bound up with old practices belonging to a lower, communalistic level of familial institutions where a child’s paternity was not definitely known; and this lower level was in process being eliminated by Islam.”[37] Muhammad’s decision to marry Zaynab was an attempt to break the hold of pre-Islamic ideas over men’s conduct in society.[citation needed] Initially, however, he was reluctant to marry Zaynab, fearing public opinion. The Qur’an, however, indicated that this marriage was a duty imposed upon him by God. Thus Muhammad, confident that he was strong enough to face public opinion, proceeded to reject these taboos.[38] When Zaynab’s waiting period was complete, Muhammad married her.[39] A prominent faction who held influence in the civic atmosphere in Medina, called “Hypocrites” in the Islamic tradition,[40] criticized the marriage as incestuous.[11] They spread rumors in an attempt to divide the Muslim community, as part of a strategy of attacking Muhammad through his wives.[40] However, the marriage was justified by verse 33:37 of the Qur’an,[11] which implied that treating adopted sons as real sons was objectionable, and that there should now be a complete break with the past.[11] According to Ibn Kathir, the verses were a “divine rejection” of the Hypocrites’ objections.[40] According to Rodinson, doubters argued the verses were in exact conflict with social taboos and favored Muhammad too much. The delivery of these verses, thus, did not end the dissent.[34]

    [edit] Necklace incident

    Aisha had accompanied Muhammad on his skirmish with the Banu Mustaliq. On the way back, Aisha lost her wedding necklace (a treasured possession), and Muhammad required the army to stop so that it could be found. Many in the army were indignant over the requirement, and the incident proved to be an embarrassment. The necklace was found, but during the same journey, Aisha lost it again. This time, she quietly slipped out in search for it, but by the time she recovered it, the caravan had moved on. She was eventually taken home by Safw’an bin Mu’attal.[41]

    Rumors spread that something untoward had occurred although there were no witnesses to this.[27] Disputes arose, and the community was split into factions. Meanwhile, Aisha had been ill, and unaware of the stories. At first Muhammad himself was unsure of what to believe, but eventually trusted Aisha’s protestations of innocence.[41] Eventually verses were revealed, establishing her innocence, and condemning the slanders and the libel. Although the episode was uneasy for both Muhammad and Aisha, in the end it reinforced their mutual love and trust.[42]

    [edit] Reconciliation

    One of the captives from the skirmish with the Banu Mustaliq was Juwayriya bint al-Harith, who was the daughter of the tribe’s chieftain. When made captive, Juwayriya went to Muhammad requesting that she, as the daughter of the lord of the Mustaliq, be released. Meanwhile her father approached Muhammad with ransom to secure her release, but her captor refused to ransom her. Muhammad then offered to marry her, and she accepted.[43] When it became known that tribes persons of Mustaliq were kinsmen of the prophet of Islam through marriage, the Muslims began releasing their captives.[44] Thus, Muhammad’s marriage resulted in the freedom of nearly one hundred families from captivity.[45]

    In the same year, Muhammad signed a peace treaty with his Meccan enemies, the Quraysh, effectively ending the state of war between the two parties. He soon married the daughter of the Quraysh leader, Abu Sufyan ibn Harb, aimed at further reconciling his opponent.[46] He sent a proposal for marriage to Ramlah bint Abi-Sufyan who was in Abyssinia at the time, when he learned her husband had died. She had previously converted to Islam (in Mecca) against her father’s will. After her migration to Abyssinia her husband had apostated to Christianity, and although she remained a steadfast Muslim, perhaps Muhammad feared that she too may apostate.[47] Muhammad dispatched ‘Amr bin Omaiyah Ad-Damri with a letter to the Negus (king), asking him for Umm Habibah’s hand — that was in Muharram, in the seventh year of Al-Hijra.

    In 629, after the Battle of Khaybar, Muhammad freed Safiyya bint Huyayy a noblewoman[48] of the defeated Jewish tribe Banu Nadir, from her captor Dihya and proposed marriage. Safiyya accepted. Scholars believe that Muhammad married Safiyya as part of reconciliation with the Jewish tribe and as a gesture of goodwill.[49][50] Safiyyah had been previously married to Kinana ibn al-Rabi, a commander who was executed, and before that to the poet Salaam ibn Mas̲h̲kam, who had divorced her.[48] [51] He then convinced Safiyya to convert to Islam and marry him.[52] Upon entering Muhammad’s household, Safiyya became friends with Aisha and Hafsa, and also offered gifts to Fatima. But when Muhammad’s other wives spoke ill of Safiyya’s Jewish descent, Muhammad intervened, pointing out to everyone that Safiyya’s “husband is Muhammad, father is Aaron, and uncle is Moses”, a reference to revered Islamic prophets.[53]

    As part of the agreement of Hudaybiyah, Muhammad visited Mecca for the lesser pilgrimage. There Barra bint al-Harith proposed marriage to him.[54] Muhammad accepted, and thus married Barra, the sister-in-law of Abbas, a long time ally of his. By marrying her Muhammad also established kinship ties with the Makhzum, his previously fierce opponents.[55] As the Meccans didn’t allow him to stay any longer, Muhammad left the city, taking Barra with him. He called her “Maymuna” meaning blessed, as his marriage to her had also marked the first time in seven years when he could enter his hometown Mecca.[54]

    Maria al-Qibtiyya was an Egyptian Coptic Christian slave, sent as a gift to Muhammad from Muqawqis, a Byzantine official.[56] She then served as Muhammad’s concubine, and some historians further state that he married her. Regardless, she bore him a son, Ibrahim ibn Muhammad, who died in infancy. She is thus regarded as a Mother of Believers.

    [edit] Muhammad’s widows

    The extent of Muhammad’s property at the time of his death is unclear. Although Quran [2.180] clearly addresses issues of inheritance, Abu Bakr, the new leader of the Muslim ummah, refused to divide Muhammad’s property among his widows and heirs, saying that he had heard Muhammad say:

    We (Prophets) do not have any heirs; what we leave behind is (to be given in) charity.[57]

    Muhammad’s widow Hafsa played a role in the collection of the first Qur’anic manuscript. After Abu Bakr had collected the copy, he gave it to Hafsa, who preserved it until Uthman took it, copied it and distributed it in Muslim lands.[58]

    Some of Muhammad’s widows were active politically in the Islamic state after Muhammad’s death. Safiyya, for example, aided the caliph Uthman during his siege.[53] During the first fitna, some wives also took sides. Umm Salama, for example, sided with Ali, and sent her son Umar for help.[59] The last of Muhammad’s wives, Umm Salama lived to hear about the tragedy of Karabala in 680, dying the same year.[59]

    [edit] Family life

    Muhammad and his family lived in small apartments adjacent the mosque at Medina. Each of these were six to seven spans wide and ten spans long. The height of the ceiling was that of an average man standing. The blankets were used as curtains to screen the doors.[60]

    Muhammad helped out with the housework, such sewing clothes, and repairing shoes. He would usually do this for long periods of time, stopping only for prayers. Muhammad had accustomed his wives to dialogue; he listened to their advice, and the wives debated and even argued with him. Muhammad’s wives distinguished his role as a prophet from his role as a husband. He did not allow his wives to use his status as a prophet to obtain special treatment in public.[61]

    [edit] See also

    [edit] Notes

    1. ^ Aleem, Shamim (2007). “12. Mothers of Believers”. Prophet Muhammad(s) and His Family. AuthorHouse. p. 85. ISBN 9781434323576.
    2. ^ Amira Sonbol, Rise of Islam: 6th to 9th century, Encyclopedia of Women and Islamic Cultures
    3. ^ Watt (1956), p.287
    4. ^ Esposito (1998), pp. 16–8.
    5. ^ F. E. Peters (2003), p.84
    6. ^ Esposito (1998), p.18
    7. ^ Bullough (1998), p. 119
    8. ^ Reeves (2003), p. 46
    9. ^ Muhammad al-Tijani in his The Shi’a: The Real Followers of the Sunnah on Al-Islam.org note 274
    10. ^ Muhammad Husayn Haykal. The Life of Muhammad: “From Marriage to Prophethood.” Translated by Isma’il Razi A. al-Faruqi
    11. ^ a b c d e f g h i Watt, “Aisha bint Abu Bakr”, Encyclopaedia of Islam Online
    12. ^ a b Nomani (1970), pg. 257-9
    13. ^ Barlas (2002), p.125-126
    14. ^ Sahih al-Bukhari 5:58:234, 5:58:236, 7:62:64 7:62:65,7:62:88, Sahih Muslim 8:3309, 8:3310,8:3311,Sunnan Abu Dawud 41:4915, 41:4917
    15. ^ Tabari, Volume 9, Page 131; Tabari, Volume 7, Page 7
    16. ^ Vacca, “Sawda bint Zama ibn Qayyis ibn Abd Shams”, Encyclopaedia of Islam
    17. ^ Nomani (1970), pg. 360
    18. ^ Watt(1956), pg.393
    19. ^ Watt(1956), pg.287
    20. ^ Lings (1983), p. 201
    21. ^ Lings (1983), p. 165
    22. ^ a b Lings (1983), p. 206
    23. ^ Nomani (1970), pg. 345
    24. ^ Umm Salamah. Courtesy of ISL Software. University of Southern California.
    25. ^ al-Baghdadi, Ibn Sa’d. Tabaqat. vol VIII, pg. 92–3.
    26. ^ Watt (1956), 330-1
    27. ^ a b Denise A. Spellberg, Aisha bint Abī Bakr, Encyclopedia of the Qur’an
    28. ^ a b c Freyer Stowasser (1996), p. 88, Oxford University Press
    29. ^ a b Watt (1974), page 158.
    30. ^ Caesar E. Farah, Islam: Beliefs and Observances, p.69
    31. ^ Watt (1974), page 157-158.
    32. ^ Maududi (1967), vol. 4, p. 108
    33. ^ Fishbein, Michael (February 1997). The History Al-Tabari: The Victory of Islam. State University of New York Press. pp. 2–3. ISBN 978-0791431504. “Zaynab had dressed in haste when she was told “the Messenger of God is at the door.” She jumped up in haste and excited the admiration of the Messenger of God, so that he turned away murmuring something that could scarcely be understood. However, he did say overtly: “Glory be to God the Almighty! Glory be to God, who causes the hearts to turn!””
    34. ^ a b Rodinson, page 207.
    35. ^ Nomani (1970). Sirat al-Nabi.
    36. ^ Rodinson, page 207.
    37. ^ William Montgomery Watt (1974), p.233
    38. ^ Watt(1956), p.330-1
    39. ^ Watt, page 156.
    40. ^ a b c Freyer Stowasser (1996), p. 89
    41. ^ a b Peterson (2007), page 169-71
    42. ^ Ramadan (2007), p. 121
    43. ^ Rodinson, page 196.
    44. ^ Lings (1983), pg. 241-2
    45. ^ Nomani, pg. 365-6
    46. ^ Watt (1961), p. 195
    47. ^ Umm Habibah: Ramlah Bin Abi Sufyan. IslamOnline.
    48. ^ a b Al-Shati’, 1971, 171
    49. ^ Nomani(1970) p. 424.
    50. ^ Watt (1964) p. 195
    51. ^ V. Vacca, Safiyya bt. Huyayy b. Ak̲htab, Encyclopedia of Islam
    52. ^ Rodinson (1971), p. 254.
    53. ^ a b Al-Shati’, 1971, 178-181
    54. ^ a b Al-Shati’, 1971, 222-224
    55. ^ Ramadan (2007), p. 1701
    56. ^ A. Guillaume (1955), p. 653
    57. ^ The Book of Jihad and Expedition (Kitab Al-Jihad wa’l-Siyar)“. USC-MSA Compendium of Muslim Texts,. University of Southern California. pp. Chapter 16, Book 019, Number 4351. http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/019.smt.html#019.4351. Retrieved 2007-10-05.
    58. ^ Al-Shati’, 1971, p. 110
    59. ^ a b Al-Shati’, 1971, p. 135
    60. ^ Numani, p. 259-60
    61. ^ Ramadan (2007), p. 168-9

    [edit] References

    [edit] Encyclopedias

    [edit] External links

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel