Hukum Penuduh Zina

Hukum Penuduh Zina

Posted by on 1 Juni 2012 in Konsultasi | 0 Comment

surat cinta Hukum Penuduh ZinaSYARIAH.INFO, Jakarta – TANYA:Assalamu’alaikum Wr.Wb. Bu ustazah, kalau suami menuduh istri berzina dan minta disumpah, namanya li’an. Kalau istri menuduh suami berzina/selingkuh dan minta bersumpah, namanya apa?

          Siti, Depok

JAWAB:Hukuman bagi pelaku zina sangatlah berat: Dicambuk 100 kali atau dirajam. Untuk mengimbanginya, maka bagi penuduh zina juga diancam hukuman tak kalah berat, guna menghindari tuduhan bohong kepada orang lain dan lemahnya pembuktian. Bagi siapapun yang menuduh berzina terhadap laki-laki muhshan (sudah beristri) atau perempuan muhshanat, maka ia harus mengajukan bukti dengan persaksian empat orang laki-laki yang dapat memastikan “masuknya timba ke dalam sumur” (berhubungan suami-istri). Tentu saja hal itu sukar.

Jika tidak mampu mengajukan bukti, maka hukuman qadzafbisa dijatuhkan kepada si penuduh zina, sebagaimana QS. al-Nur (24) ayat 4: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Khusus bagi suami, yang menuduh istrinya berbuat zina maka istrinya menganggap bahwa tuduhan itu bohong. Suami bisa dijatuhi hukuman dera, kecuali dia mempunyai bukti kuat atau melakukan sumpahli’an.

QS. al-Nur: 6-9: ”Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima: Bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.”

Hal ini dikarenakan suami tidak mungkin berdiam diri kala melihat istrinya melakukan zina dengan Pria Idaman Lain (PIL). Sebagaimana kalau ada orang lain yang melihatnya bersama wanita yang bukan istrinya. Sebagai kepala keluarga, hal itu merupakan aib bagi suami, pelanggaran terhadap kehormatannya, perusak ranjangnya, dan penghancur rumah tangga. Jadi, li’an hanya berlaku antara suami-istri, dan sumpah yang dilakukan oleh suami adalah bahwa istrinya berbuat zina, baik ia sendiri mendapatkan istrinya tengah berbuat zina atau meyakini bayi yang dikandung istrinya bukanlah anaknya. Jika istri menyanggahnya dan suami tidak dapat mengandalkan bukti-bukti lain selain pengakuan istrinya, maka suami harus bersumpah secara li’an. Sebaliknya, istri juga berhak melakukan sumpah balik (sumpah nukul) sebanyak 4 kali dan pada sumpah kelima ia menyatakan siap menerima laknat Allah jika tuduhan suaminya itu benar.

Bagi pasangan suami-istri yang melakukan mula’anah atau saling sumpah li’an. Maka konsekuensi hukum terhadap suami-istri tersebut adalah: Masing-masing suami dan istri terhindar dari hukuman cambuk, keduanya harus diceraikan, keduanya haram ruju’ untuk selamanya, wanita yang bermula’anah berhak memiliki mahar, anak yang lahir dari istri yang bermula’anah diserahkan/dinasabkan kepada sang istri (ibunya), dan istri yang bermula’anah berhak menjadi ahli waris anaknya dan begitu juga sebaliknya.

Sedangkan istri yang menuduh suaminya berzina hanya berlaku ketentuan hukum qadzaf. Istri terancam had (hukuman) qadzaf, kecuali ia dapat mengajukan empat orang saksi, bahwa suaminya benar-benar berbuat zina. Syarat saksinya adalah laki-laki, adil, memberikan kesaksian yang sama tentang tempat berzina, waktu dan cara melakukannya. Selain itu, had qadzaf bisa gugur kalau orang yang dituduh memaafkan orang yang menuduh, atau jika yang dituduh membenarkan tuduhan penuduh (pengakuan si pelaku).

http://www.syariah.info/hukum-penuduh-zina/