Updates from January, 2011 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 4:27 am on 30/01/2011 Permalink | Reply
    Tags: , , , SARA, SARAH, SITI HAJAR   

    Sara 

    Sara

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    (Dialihkan dari Sarah)

     

    Sara (שָׂרָה “Putri”, bahasa Ibrani Standar Sara, bahasa Ibrani Tiberias Śārāh, bahasa Arab: سارة) aadlah istri Abraham sebagaimana digambarkan dalam Alkitab Ibrani. Kisah Sara diceritakan dalam Kitab Kejadian.

    Sara mulanya dinamai Sarai (שָׂרַי / שָׂרָי “Putriku”, bahasa Ibrani standar Saray, bahasa Ibrani Tiberias Śāray / Śārāy) dan hidup bersama suaminya, yang saat itu bernama Abram (אברם) di kota Haran. Ketika Allah memerintahkan Abram meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi menuju suatu negeri yang tidak diketahui (belakangan diidentifikasikan sebagai Kanaan), Sarai menyertainya. Namun, ketika mereka tiba di sana, mereka mengalami bala kelaparan, dan memutuskan untuk menyelamatkan diri di Mesir. Karena merasa kuatir bahwa kecantikan Sarai akan membahayakan hidupnya bila hubungan mereka diketahui, Abram mengusulkan agar Sarai berpura-pura menjadi saudara perempuannya.

    Seperti yang dikuatirkan Abram, Sarai diambil oleh Firaun, yang mengganjar Abram dengan harta kekayaan. Namun, Allah menghukum Firaun beserta seluruh isi rumahnya dengan wabah penyakit yang parah. Hal ini menyebabkan Firaun mencurigai Abram. Ia mempersalahkan Abram, dan menyuruhnya mengambil istrinya kembali dan pergi. Menurut tafsiran-tafsiran klasik Yahudi, Firaun tetap terkesan oleh sikap Abram yang benar, dan karena itu ia mengirim anak perempuannya sendiri, Hagar untuk menjadi pembantu Sara.

    Meskipun Allah telah berjanji kepada Abram bahwa ia akan menjadi bapak segala bangsa, Sarai tetap mandul. Untuk menolong suaminya memenuhi takdir yang telah ditetapkan, ia menawarkan pembantunya orang Mesir, Hagar, untuk menjadi gundik Abram.

    Hubungan Hagar dengan Sarai tidak berlangsung baik. Sarai mengecam suaminya dengan pahit, dan Abram menjawab bahwa Sarai harus melakukan apa yang dipandangnya baik. Perlakuan Sarai yang kejam terhadap Hagar membuatnya melarikan diri ke padang gurun. Di sana Hagar bertemu dengan malaikat Allah yang memberitakan kepadanya bahwa keturunannya akan menjadi banyak, dan menganjurkan agar ia kembali kepada nyonyanya. Setelah Hagar kembali, ia melahirkan seorang anak bagi Abraham, yang dinamainya Ismael.

    Setelah itu Allah mengganti nama keduanya menjadi Abraham dan Sara dan menjadikan mereka leluhur dari suatu bangsa di masa depan, yaitu bangsa Israel. Dalam bahasa Ibrani, nama Abram berarti “bapak dari Aram,” negeri tempat kelahiran Abraham, dan Sarai berarti “putriku”, yang merujuk kpada hubungannya dengan suaminya. Sekarang nama mereka berubah menjadi Abraham, yang berarti “banyak banyak (bangsa),” sementara Sara, berarti “putri [dari semua bangsa].” Lalu Allah mengutus tiga orang malaikat yang menyamar sebagai manusia untuk memberitahukan kepada pasangan ini tentang Ishak yang akan segera dilahirkan. Abraham tertawa dengan sukacita ketika mendenar berita itu, karena usianya akan mencapai 100 tahun pada kelahiran anaknya itu, namun Sara tertawa karena ragu-ragu, karena usianya akan mencapai 90 tahun dan masa melahirkan sudah lama lewat baginya.

    Abraham kemudian pindah ke Gerar, dan di sana kembali istrinya diambil oleh raja Gerar untuk dijadikan istrinya, setelah Sara mengaku sebagai saudara perempuan Abraham. Namun, Abimelekh diperingatkan oleh Allah dalam sebuah mimpi agar tidak menyentuh Sara. Ketika Abimelekh mengecam Abraham karena penipuan ini, Abraham membenarkan dirinya dengan menjelaskan bahwa Sara adalah anak perempuan dari ayahnya, namun bukan dari ibunya (Kejadian 20:1-12).

    Segera setelah kejadian ini, Sara melahirkan seorang anak, Ishak. Allah menyuruh Abraham menamainya sesuai dengan tertawa Abraham ketika ia mendengar nubuat malaikat tentang kelahiran anaknya itu. Menurut Rashi, orang mempertanyakan apakah Abraham yang berusia 100 tahun itu benar-benar merupakan bapak anak itu, karena ia dan ara telah hdiup bersama-sama selama puluhan tahun namun tidak juga mendapatkan anak. Sebaliknya, oarng menyebarkan gosip bahwa Abimlekehlah ayahnya yang sejati. Karena alasan ini, menurut Rashi, Allah menjadikan ciri-ciri Ishak persis seperti Abraham, sehingga tak seorangpun dapat mengklaim bahwa ia adalah ayah Ishak.

    Sementara Ishak bertumbuh, kakak tirinya, Ismael mulai mengejeknya, dan Sara meminta agar Abraham mengusir baik Hagar maupun Ismael untuk melindungi Ishak. Berathun-tahun kemudian, setelah Abraham meninggal, Ishak dan Ismael kembali berkumpul untuk menguburkan ayah mereka di Gua para Leluhur di Hebron (Kejadian 25:9).

    Sara meninggal di Kiryat-arba (קרית ארבע), atau Hebron, pada usia 127 tahun. Kematiannya mendorong Abraham membeli sebidang tanah penguburan kelaurga, dan ia mendekati Efron, orang Het untuk menjual kepadanya Gua Makhpela (Gua para Leluhur). Efron menuntut harga yang sangat tinggi, yaitu 400 mata uang perak, yang dibayar Abraham sengan tunai. Gua Kahpela kelak terbukti menjadi kuburan dari ketika leluhur Yahudi dan empat ibu mereka —Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka, dan Yakub dan Lea. Rahel dikuburkan di jalan menuju ke Bethlehem.

    Sara tidak disebut-sebut lagi dalam kanon Ibrani, kecuali dalam Yesaya 51:2, di mana nabi mengimbau kepada para pendengarnya agar “memandang kepada Abraham, bapa leluhurmu, dan kepada Sara yang telah melahirkanmu.”

    Daftar isi

    [sembunyikan]

    [sunting] Dalam sastra rabinik

    Dalam sastra Rabinik, Sara adalah keponakan Abraham, karena ia adalah anak perempuan Haran, saudara Abraham. Ia juga disebut dengan nama “Iskah” (Kejadian 21:29), karena kecantikannya menarik perhatian dan kekaguman umum (Meg. 14a). Ia begitu cantiknya sehingga orang-orang lain kelihatan seperti kera bila dibandingkan dengannya (Talmud, Bava Batra 58a). Bahkan kesulitan yang dialami dalam perjalanannya bersama Abraham tidak mempengaruhi kecantikannya (Midrash Gen. Rabbah xi. 4). Menurut penjelasan lain, ia disebut Iskah karena ia mempunyai visi kenabian (Meg. l.c.). Ia adalah “mahkota” suaminya; dan Abraham menaati kata-katanya karena ia mengakui keunggulan Sara dalam hal ini (Gen. R. xlvii. 1). Sara adalah satu-satunya perempuan yang dianggap Allah layak disapa-Nya secara langsung; semua nabiah lainnya menerima penyataan mereka melalui para malaikat (ib. xlv. 14). Dalam perjalanan mereka, Abraham mentobatkan kaum laki-laki, dan Sara kaum perempuan (ib. xxxix. 21). Semula ia dinamai “Sarai” yang berarti “putriku,” karena ia adalah putrid di keluarganya dan di sukunya; belakangan ia dinamai “Sara” = “putri” karena ia diakui secara umum sebagi putri (Talmud Berachot 13a; Genesis Rabbah xlvii. 1).

    [sunting] Pengulangan dalam cerita

    Kisah kehidupan Sara, meskipun singkat dan tidak lengkap, memberikan pengulangan-pengulangan yang mengusik perhatian, mis. kejadian dengan Firaun dan kejadian serupa dengan Abimelekh (Kejadian 12:10 dyb. dan 20:1 dyb.). Pernikahan dengan saudara tiri, dalam suatu masyarakat matriarkhi primitif, tidak dianggap sumbang. Dari sudut pandangan sejarah kebudayaan cerita-cerita ini penuh dengan pengajaran. Namun sebagian orang menganggap agaknya tidak mungkin bahwa Abraham mengalami risiko ini dua kali. Lebih dari itu, sebuah kejadian serupa juga dilaporkan sehubungan dengan Ishak dan Ribka (Kejadian 26:6-11). Pengulangan ini menyebabkan sebagian orang berpendapat bahwa tak satupun dari laporan-laporan itu yang harus diterima sebagai laporan historis. Mereka berpendapat bahwa ketiganya adalah variasi dari suatu tema yang sama bagi sejarah lisan populer tentang para Leluhur. Bahwa perempuan menikah dengan cara ini tidak perlu diragukan. Maksud cerita ini adalah menonjolkan para tokoh pahlawan perempuannya sebagai orang-orang yang paling cantik dan memperlihatkan bahwa para Leluhur berada dalam perlindungan yang khusus dari Allah. Janji Ishak dan penjelasan tentang nama diberikan dua kali. Pertama, Abraham adalah penerima janji itu, dan ia tertawa (Kejadian 27:15-21). Dalam kisah kedua (Kejadian 28), Abraham kembali diberikan janji itu, namun Sara tertawa. Akhirnya nama itu mendapatkan pembenaran yang ketiga dalam seruan kegembiraan Sara pada saat kelahirannya. (Kejadian 21:6).

    [sunting] Sarah dalam Perjanjian Baru

    Dalam Perjanjian Baru, Sarah dan Yerusalem surgawi disebut sebagai “perempuan yang merdeka” (Galatia 4:22-5:1)

    [sunting] Lihat pula

    Advertisements
     
  • SERBUIFF 4:05 am on 30/01/2011 Permalink | Reply
    Tags: BINTANG, BULAN, , MATAHARI,   

    6.76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ 6.77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ 6.78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ 6.79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An’aam 76
    فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76)
    Sesudah itu Allah swt. menjelaskan proses pengenalan Ibrahim a.s. secara terperinci. Mula pertama pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap bintang bintang yaitu pada saat bintang nampak bercahaya dan pada saat bintang itu tidak bercahaya, dilihatnya sebuah bintang yang bercahaya paling terang. 117)
    Maka timbullah pertanyaan dalam hatinya. Inikah Tuhanku? Pertanyaan ini adalah merupakan pengingkaran terhadap anggapan kaumnya, agar mereka tersentak untuk memperhatikan alasan-alasan pengingkaran yang akan dikemukakan.
    Akan tetapi setelah bintang itu tenggelam dan sirna dari pandangannya timbul keyakinan bahwa ia tidak senang kepada yang tenggelam dan menghilang apalagi dianggap sebagai Tuhan, ini sebagai alasan Nabi Ibrahim a.s. untuk mematahkan iktikad kaumnya bahwa semua yang mengalami perubahan itu tidak pantas dianggap sebagai Tuhan. Kesimpulan Ibrahim a.s. itu merupakan kesimpulan dari jalan pikiran yang benar dan sesuai dengan fitrah. Dan siapa s4a yang melakukan pengamatan serupa itu, niscaya akan berkesimpulan yang sama.

     

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An’aam 77
    فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)
    Seirama dengan ayat yang lalu Allah swt. menjelaskan pula pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap benda langit yang lebih terang cahayanya dan lebih besar kelihatannya yaitu bulan.
    Setelah Ibrahim a.s. melihat bulan tersembul di balik cakrawala dengan cahaya yang terang benderang itu yang terlihat ketika terbit, timbullah kesan dalam hatinya untuk mengatakan, “Inikah gerangan Tuhanku?” Perkataan Ibrahim a.s. serupa itu adalah pernyataan yang timbul secara naluri seperti juga kesan yang didapat oleh kaumnya yang sebenarnya adalah pernyataan untuk mengingkari kesan pertama yang menipu pandangan mata itu dan untuk membantah keyakinan kaumnya seperti pernyataannya dalam ayat yang lalu. Pengulangan berita dengan memberikan kenyataan yang lebih tandas adalah untuk menguatkan pernyataan yang telah lalu. Kemudian setelah bulan itu terbenam dari ufuk dan lenyap dari pengamatan, diapun memberikan pertanyaan agar diketahui oleh orang-orang musyrikin yang berada di sekitarnya.
    Ibrahim berkata, “Sebenarnyalah jika Tuhan tidak memberikan daku petunjuk kepada jalan yang benar untuk mengetahui dan meyakini keesaan-Nya, niscaya aku termasuk dalam golongan yang tersesat, yaitu orang-orang yang
    117) Yaitu planet Yupiter (Musytari) dan ada pula yang mengatakan planet Venus (Zuhrah) yang dianggap sebagai dewa oleh pemuja bintang yang bisa dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi kuno sedang kaum Ibrahim juga termasuk pemujanya.
    menyimpang dari kebenaran dan tidak mengikuti petunjuk Tuhan, serta menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Mereka itu lebih memperturutkan hawa nafsunya dari pada melakukan perbuatan yang diridai Allah. Sindiran ini adalah merupakan sindiran yang tandas bagi kaumnya yang tersesat dan sekaligus merupakan petunjuk bagi orang yang berpegang kepada agama dan wahyu. Sindiran yang bertahap ini adalah sebagai sindiran yang menentukan untuk mematahkan pendapat-pendapat kaumnya. Sindiran yang pertama lunak, kemudian diikuti dengan sindiran yang kedua yang tandas, adalah untuk menyanggah pikiran kaumnya secara halus agar mereka terbuka belenggu hatinya untuk memahami kebenaran yang sebenar-benarnya.

     

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An’aam 78
    فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78)
    Kemudian dari pada itu Allah swt. mengisahkan sindiran-Nya yang lebih tajam yaitu pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap matahari, benda langit yang paling cerah cahayanya menurut pandangan mata, yang merupakan rentetan ketiga dari pengamatan-pengamatan Ibrahim yang telah lalu, yaitu setelah Ibrahim a.s. melihat matahari tersebut terbit di ufuk diapun berkata, “Yang terlihat sekarang inilah Tuhanku” Ini lebih besar dari pada bintang-bintang dan bulan. Akan tetapi setelah matahari itu tenggelam dan sirna dari pandangan, beliaupun mengeluarkan peringatan, “Wahai kaumku! Sebenarnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”.
    Sindiran ini adalah sindiran yang paling tajam untuk membungkamkan kaumnya agar mereka tidak mengajukan alasan lagi buat mengingkari kebenaran yang dibawakan oleh Ibrahim a.s.

    Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An’aam 78
    فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78)
    (Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata, “Inilah) dhamir dalam Lafal ra-aa dimudzakarkan mengingat khabarnya mudzakkar (Tuhanku ini yang lebih besar.”) daripada bintang dan bulan (maka tatkala matahari itu tenggelam) hujah yang ia sampaikan kepada kaumnya itu cukup kuat dan tidak dapat dibantah lagi oleh mereka (dia berkata, “Hai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”) dari mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala dan benda-benda hawadits/baru yang masih membutuhkan kepada yang menciptakannya. Akhirnya kaumnya itu berkata kepadanya, “Lalu apakah yang engkau sembah?” Nabi Ibrahim menjawab:

     

    Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An’aam 79
    إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
    (“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku) aku menghadapkan diri dengan beribadah (kepada Tuhan yang telah menciptakan) yang telah mewujudkan (langit dan bumi) yaitu Allah swt. (dengan cenderung) meninggalkan semua agama untuk memeluk agama yang benar (dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan.”) Allah.

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An’aam 79
    إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
    Setelah Allah swt. mengisahkan kelepasan diri Nabi Ibrahim a.s. dari kemusyrikan kaumnya, Allah swt. mengisahkan pula kelanjutan dari pada kelepasan diri itu dengan menggambarkan sikap Ibrahim a.s dan akidah tauhidnya yang murni, yaitu Ibrahim a.s. menghadapkan dirinya dalam ibadah ibadahnya kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi.
    Dia pula yang menciptakan benda-benda langit yang terang benderang di angkasa raya dan yang menciptakan manusia seluruhnya, termasuk pemahat patung-patung yang beraneka ragam bentuknya.
    Ibrahim a.s. cenderung kepada agama tauhid dan menyatakan bahwa agama agama lainnya adalah batal dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang yang musyrik. Dia seorang yang berserah diri kepada Allah swt. semata.
    Firman Allah:

    وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
    Artinya:
    Dan siapakah yang lebih baik agamanya dan pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus.
    (Q.S An Nisa’: 125)
    Dan firman-Nya:

    وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
    Artinya:
    Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.
    (Q.S Luqman: 22)

     

    http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=6#76

     
    • wikki 11:30 am on 25/08/2012 Permalink | Reply

      apa ya nama kitabnya/??? apakah ia juga mengucapakan kalimat syahdath.darimana pula ibrahim kenal kata kata allah..apakah memang ..allah yang di sembah ibrahim??? atau ..ups ibrahim beda memang dengan Abraham..kirain tadi ganti nama

  • SERBUIFF 3:10 am on 19/12/2010 Permalink | Reply
    Tags: iSMAIL APA iSHAQ, penambahan, pengurangan penukaran tempat) AL KITAB TENTANG SIAPA YG DI KORBANKAN IBRAHIM, Tahrif (pengubahan   

    Tahrif (pengubahan, penambahan, pengurangan penukaran tempat) AL KITAB TENTANG SIAPA YG DI KORBANKAN IBRAHIM,iSMAIL APA iSHAQ 

    Di dalam Bible peristiwa akan dikorbankannya anak Ibrahim ini disebutkan
    dalam
    kitab Kejadian 16:16 yang berbunyi:
    “Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael
    baginya”
    Jelas, berdasarkan ayat ini umur Ibrahim as ketika Hajar memperanakkan
    Ismail adalah 86 tahun.
    Sekarang perhatikan ayat berikutnya dalam Kejadian 21:5, silakan
    dibacakan.

    [Anak]:
    “Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir
    baginya.”
    Disini, umur Ibrahim as adalah 100 tahun ketika Ishak lahir.

    [Ayah]:
    Dari dua ayat ini saja kita semua paham bahwa yang lahir terlebih dahulu
    adalah Ismail, lalu Ishak. Beda usia di antara keduanya adalah 14 tahun.
    Suatu perbedaan usia yang cukup jauh, bukan ? Selanjutnya perhatikan
    Kejadian 22:2, silakan dibacakan…

    [Anak]:
    “Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi,
    yakni
    Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai
    korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu”

    Disini yang akan dikorbankan adalah Ishak as dan disebutkan bahwa beliau
    adalah anak yang tunggal, padahal anak Ibrahim as yang pertama adalah
    Ismail
    as. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan ayat ini, ayah ?

    [Ayah]:
    Seperti yang Ayah nyatakan sebelumnya tentang rekayasa itu dan inilah
    salah
    satu bukti bahwa Bible telah mengalami penyisipan kata demi tujuan
    politik
    tertentu. Perlu kamu ketahui bahwa menurut mereka Bangsa Yahudi adalah
    bangsa pilihan Tuhan yang berasal dari anak yang akan dikorbankan
    Ibrahim as
    sesuai dengan perjanjian antara Tuhan dengan Ibrahim as. Mereka kuatir
    kalau
    tidak ada kata “Ishak” maka bangsa Arab yang keturunan Ismail-lah yang
    berhak mendapat gelar tersebut. Sehingga apa boleh buat, terpaksa mereka
    harus me-modifikasi ayat tersebut, dengan menambahkan kata “Ishak” di
    sana
    demi tercapainya kepentingan politik mereka atas propaganda “Israel
    adalah
    bangsa pilihan Tuhan”.

    Jadi sangat jelas, JIKA Kejadian 22:2 menerangkan bahwa firman Tuhan
    kepada
    Ibrahim as untuk mengorbankan “anak tunggal”, MAKA pada waktu itu anak
    Ibrahim as baru satu orang, yaitu Ismail as, sedangkan Ishak as belum
    lahir.

    Seharusnya ayat yang menerangkan kelahiran Ishak as itu letaknya sesudah
    ayat pengorbanan, sehingga setelah ayat pengorbanan ini kemudian diikuti
    oleh ayat kelahiran Ishak. Modifikasi seperti ini dinamakan “tahrif”
    oleh
    Al-Qur’an, yaitu mengubah letak ayat dari tempatnya yang asli ketempat
    lain
    sebagaimana telah disinggung oleh Al-Qur’an dalam QS An-Nisa’:46 yang
    artinya:
    “Diantara orang-orang Yahudi itu, mereka mengubah perkataan dari
    tempatnya
    …”
    Dengan demikian semakin jelas bahwa Bible mengandung tahrif (pengubahan,
    penambahan, pengurangan penukaran tempat), dan semakin jelas pula bahwa
    kitab yang sudah dimodifikasi itu tidak bisa lagi dikatakan autentik
    dari
    Tuhan melainkan merupakan kitab yang mengalami distorsi.

    http://groups.yahoo.com/group/surau/message/9751

     
    • pedro 6:08 pm on 25/01/2011 Permalink | Reply

      Hahahahahaha…
      Sepertinya udah pernah dijelasin dech…

      kenapa yach kalau takut nama Ismail akan menggantikan nama Ishak sebagai anak yang dikorbankan gak sekalian dihilangkan saja dari ceritanya, gampang toh…hehehe

      anak perjanjian Tuhan dengan Abraham melalui Sara, anak hasil mukjizat dari Tuhan, yaitu Ishak.
      Ismael bukan anak perjanjian karena lahir dari rencana/usaha/pikiran manusia.

      Kejadian 17:19 Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

      Perkataan perjanjiqn dari Tuhan ini disebutkan saat Ismael sudah lahir dan diusir oleh Sara. Buktinya di ayat sebelumnya.
      Kejadian 17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”

      Sederhana.

      • SERBUIFF 3:32 am on 31/01/2011 Permalink | Reply

        Pedro
        Submitted on 2011/01/25 at 6:08 pm

        Hahahahahaha…
        Sepertinya udah pernah dijelasin dech…###### KAPAN BUNG ? NGGAK ADA KOK…, KALAU PUN ADA TAPI SETAHU SAYA ANDA NGGAK BISA MENYANGKAL PENGUBAHAN AYAT ALKITAB TSB
        kenapa yach kalau takut nama Ismail akan menggantikan nama Ishak sebagai anak yang dikorbankan gak sekalian dihilangkan saja dari ceritanya, gampang toh…hehehe
        anak perjanjian Tuhan dengan Abraham melalui Sara, anak hasil mukjizat dari Tuhan, yaitu Ishak.
        Ismael bukan anak perjanjian karena lahir dari rencana/usaha/pikiran manusia.######INI ARGUMEN NGAWUR BUNG, LAGI TELER APA ?
        Kejadian 17:19 Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
        Perkataan perjanjiqn dari Tuhan ini disebutkan saat Ismael sudah lahir dan diusir oleh Sara. Buktinya di ayat sebelumnya.
        Kejadian 17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”
        Sederhana.
        PENJELASAN ANDA INI NGAWUR,

        LIHAT : BAHWA YG DI AKAN DI KURBANKAN ITU ADALAH ISMAIL.

        DI AYAT TSB BERBUNYI :
        Kejadian 22:2, “Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi,
        yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai
        korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu”

        DISITU TERTULIS ANAK MU YG TUNGGAL BERARTI IBRAHIM BARU PUNYA SATU ANAK / TUNGGAL YAITU ANAK PERTAMA ISMAIL… JIKA ALLAH BERKATA AMBILLAH ANAKMU YG KEDUA BERARTI LEBIH DARI SATU / TIDAK TUNGGAL , MAKA ANAK YG KEDUA ITU ADALAH ISHAQ. JADI AYAT YANG ASLI DAN SEBENARNYAS BERBUNYI :

        Kejadian 22:2 “Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi,
        yakni iSMAIL, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai
        korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu”

        LIHAT JUGA : BUKTI BAHWA ISMAIL ANAK PERTAMA /TUNGGAL DAN ISHAQ ADALAH ANAK KEDUA :

        Sara (שָׂרָה “Putri”, bahasa Ibrani Standar Sara, bahasa Ibrani Tiberias Śārāh, bahasa Arab: سارة) aadlah istri Abraham sebagaimana digambarkan dalam Alkitab Ibrani. Kisah Sara diceritakan dalam Kitab Kejadian.
        Sara mulanya dinamai Sarai (שָׂרַי / שָׂרָי “Putriku”, bahasa Ibrani standar Saray, bahasa Ibrani Tiberias Śāray / Śārāy) dan hidup bersama suaminya, yang saat itu bernama Abram (אברם) di kota Haran. Ketika Allah memerintahkan Abram meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi menuju suatu negeri yang tidak diketahui (belakangan diidentifikasikan sebagai Kanaan), Sarai menyertainya. Namun, ketika mereka tiba di sana, mereka mengalami bala kelaparan, dan memutuskan untuk menyelamatkan diri di Mesir. Karena merasa kuatir bahwa kecantikan Sarai akan membahayakan hidupnya bila hubungan mereka diketahui, Abram mengusulkan agar Sarai berpura-pura menjadi saudara perempuannya.
        Seperti yang dikuatirkan Abram, Sarai diambil oleh Firaun, yang mengganjar Abram dengan harta kekayaan. Namun, Allah menghukum Firaun beserta seluruh isi rumahnya dengan wabah penyakit yang parah. Hal ini menyebabkan Firaun mencurigai Abram. Ia mempersalahkan Abram, dan menyuruhnya mengambil istrinya kembali dan pergi. Menurut tafsiran-tafsiran klasik Yahudi, Firaun tetap terkesan oleh sikap Abram yang benar, dan karena itu ia mengirim anak perempuannya sendiri, Hagar untuk menjadi pembantu Sara.
        Meskipun Allah telah berjanji kepada Abram bahwa ia akan menjadi bapak segala bangsa, Sarai tetap mandul. Untuk menolong suaminya memenuhi takdir yang telah ditetapkan, ia menawarkan pembantunya orang Mesir, Hagar, untuk menjadi gundik Abram.
        Hubungan Hagar dengan Sarai tidak berlangsung baik. Sarai mengecam suaminya dengan pahit, dan Abram menjawab bahwa Sarai harus melakukan apa yang dipandangnya baik. Perlakuan Sarai yang kejam terhadap Hagar membuatnya melarikan diri ke padang gurun. Di sana Hagar bertemu dengan malaikat Allah yang memberitakan kepadanya bahwa keturunannya akan menjadi banyak, dan menganjurkan agar ia kembali kepada nyonyanya. Setelah Hagar kembali, ia melahirkan seorang anak bagi Abraham, yang dinamainya Ismael.
        Setelah itu Allah mengganti nama keduanya menjadi Abraham dan Sara dan menjadikan mereka leluhur dari suatu bangsa di masa depan, yaitu bangsa Israel. Dalam bahasa Ibrani, nama Abram berarti “bapak dari Aram,” negeri tempat kelahiran Abraham, dan Sarai berarti “putriku”, yang merujuk kpada hubungannya dengan suaminya. Sekarang nama mereka berubah menjadi Abraham, yang berarti “banyak banyak (bangsa),” sementara Sara, berarti “putri [dari semua bangsa].” Lalu Allah mengutus tiga orang malaikat yang menyamar sebagai manusia untuk memberitahukan kepada pasangan ini tentang Ishak yang akan segera dilahirkan. Abraham tertawa dengan sukacita ketika mendenar berita itu, karena usianya akan mencapai 100 tahun pada kelahiran anaknya itu, namun Sara tertawa karena ragu-ragu, karena usianya akan mencapai 90 tahun dan masa melahirkan sudah lama lewat baginya.
        Abraham kemudian pindah ke Gerar, dan di sana kembali istrinya diambil oleh raja Gerar untuk dijadikan istrinya, setelah Sara mengaku sebagai saudara perempuan Abraham. Namun, Abimelekh diperingatkan oleh Allah dalam sebuah mimpi agar tidak menyentuh Sara. Ketika Abimelekh mengecam Abraham karena penipuan ini, Abraham membenarkan dirinya dengan menjelaskan bahwa Sara adalah anak perempuan dari ayahnya, namun bukan dari ibunya (Kejadian 20:1-12).
        Segera setelah kejadian ini, Sara melahirkan seorang anak, Ishak. Allah menyuruh Abraham menamainya sesuai dengan tertawa Abraham ketika ia mendengar nubuat malaikat tentang kelahiran anaknya itu. Menurut Rashi, orang mempertanyakan apakah Abraham yang berusia 100 tahun itu benar-benar merupakan bapak anak itu, karena ia dan ara telah hdiup bersama-sama selama puluhan tahun namun tidak juga mendapatkan anak. Sebaliknya, oarng menyebarkan gosip bahwa Abimlekehlah ayahnya yang sejati. Karena alasan ini, menurut Rashi, Allah menjadikan ciri-ciri Ishak persis seperti Abraham, sehingga tak seorangpun dapat mengklaim bahwa ia adalah ayah Ishak.
        Sementara Ishak bertumbuh, kakak tirinya, Ismael mulai mengejeknya, dan Sara meminta agar Abraham mengusir baik Hagar maupun Ismael untuk melindungi Ishak. Berathun-tahun kemudian, setelah Abraham meninggal, Ishak dan Ismael kembali berkumpul untuk menguburkan ayah mereka di Gua para Leluhur di Hebron (Kejadian 25:9).
        http://id.wikipedia.org/wiki/Sarah

    • rahmanhadiq 8:47 am on 20/07/2011 Permalink | Reply

      Banyak sekali kontradksi cerita Ibrahim-ishaq dan Ismail di dalam BIble. Yang saya ungkapkan dibawah ini hanya sekitar 20% saja dari jumlah kontradiksi-2 tersebu t;

      Ketika Ishaq sudah selesai disapih ( tidak netek lagi), maka Abraham mengadakan perjamuan dan mengundang tetangga dan orang-orang terpandang di daerah tersebut. Tentu saja acara seperti ini tidak akan pernah dinikmati oleh ismael sewaktu dia masih bayi dulu.
      Namun sayang sekali, ismael bukannya menjauh dari acara agung tersebut , tetapi ismael justru mendekati ishaq dan bermain-main dengannya. Ismael dan ibunya Hagar tentu saja tidak pantas ikut bersama-sama dengan Ishaq di dalam pesta kebesaran keluarga terhormat itu. Akibat tindakan Ismael yang tidak menyadari kedudukannya, maka Sara merasa dipermalukan di depan tamu-tamunya ;
      “8Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 9Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.” (kej 21:8)
      Tentu saja Sara naik pitam menyaksikan anaknya Ishaq bermain-main di depan orang ramai bersama Ismael yang tidak berharga itu, lalu Sara menyuruh Abraham mengusir Hagar bersama anaknya yang dianggap sudah mempermalukan dia sebagai nyonya besar dirumahnya;
      “10Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (kej 21:10)
      Apabila ditanyakan kebenaran cerita itu kepada Pendeta Kriten, maka akan keluar sebuah jawaban dimulutnya bahwa “ itu adalah ketentuan yang sudah digariskan” sesuai dengan ramala-ramalan yang sudah di Firmankan Allah pada ayat-ayat sebelumnya. Ini adalah ramalan yang tepat dari kitab perjanjian Lama. Dan ramalan itu terbukti. Para ahli kitab Nasrani dan Yahudi serta para Pendeta Kristen sudah membungkam pertanyaan umatnya dengan jawaban “ramalan” dan “ketentuan Firman Allah”. Tidak seorangpun umat Kristen yang sanggup mempermasaalahkan ketentuan perbedaan kasta itu di dalam kitab PL.
      Bagaimana mungkin kisah ketidakadilan itu lebih ditonjolkan di dalam sebuah kitab Suci. Jelas ini adalah sebuah propaganda untuk kemuliaan umat Yahudi dan Nasrani lalu mendiskriditkan keturunan Ismael. Tidak mungkin ayat itu berasal dari Allah yang maha pemurah , maha adil dan Maha bijaksana kepada umat manusia. Allah tentu tidak akan membeda-bedakan manusia berdasarkan kedudukannya dalam masyarakat atau berdasarkan kekayaannya , tentu Allah hanya memandang nilai-nilai kebaikan seseorang.
      Seharusnya PL harus menceritakan dan menulis apa kesalahan ibu dan anak itu sehingga mereka terusir, apa yang sudah diperbuat oleh ibu dan anak ini sehingga Sara dan Abraham tega memperlakukan keluarga sendiri sedemikian buruknya. Kalau tidak dijelaskan apa yang terjadi , maka ini sama dengan berbuat zalim kepada orang yang tertindas atau mengabarkan sebuah fitnah. Apakah Abraham dan Sarah mempunyai sifat begitu? Jawabannya tentu saja tidak! Jadi kenapa cerita mengharukan itu tertulis di dalam kitab suci? Jawabannya adalah karena ada tangan jahil yang mengerjakannya.
      Bukan hanya Sara saja yang kesal dengan kelancangan Ismael, Abraham pun sebal ;
      “11Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.(kej 21:11)
      Bukan hanya Abraham dan Sara saja merasa malu akibat perbuatan anaknya, bahkan Allah setuju dengan keinginan Sara mengusir Hagar dan Ismael dari rumah mereka ;
      “And God said unto Abraham, Let it not be grievous in thy sight because of the lad, and because of thy bondwoman; in all that Sarah hath said unto thee, hearken unto her voice; for in Isaac shall thy seed be called (Genesis 21:12)”.
      “12Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. (kej 21:12)”.
      Ayat ini menunjukan bahwa Allah merestui kehendak Sara untuk membuang Ismael dan ibunya Hagar. Bahkan sekali lagi disampaikan oleh Allah bahwa anak Abraham yang sebenarnya adalah Ishaq, bukan Ismael. Kontek ayat tersebut adalah firman Allah yang menggunakan kata-kata “budakmu itu”; yang menunjukan bahwa status Hagar masih seorang budak walaupun sudah menjadi istri Abraham. Memang menyedihkan dan memprihatinkan sekali nasib ibu dan anak bekas budak itu. Mereka sudah ditakdirkan sebagai pembantu dari keluarga orang terhormat Abraham dan Sara. Benar-benar keji sekali keterangan ayat-ayat PL ini yang menempatkan cerita yang tidak dapat dicontoh untuk kebenaran dan budipekerti yang baik.
      Apabila kisah ini diceritakan kepada anak-anak yang masih polos tentu mereka mengira bahwa Hagar dan Ismael adalah keluarga yang terbuang dan tidak berharga di depan Allah. Dan sampai dewasapun anak yang membaca kisah itu akan mencap keturunan Ismael sebagai keturunan orang-orang yang tidak berguna
      Keesokan harinya Hagar terpaksa berangkat dari tempat terhormat itu ;
      “14Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. (Kej 21:14)”
      Ternyata Abraham benar-benar mengusir istri beserta anaknya sendiri. Betapa teganya Abraham melepas kepergian Hagar dan anaknya dengan harga yang sebegitu murah? , Bahkan kemudian mereka terdampar hingga ketengah gurun pasir. Apakah pantas Abraham dinobatkan sebagai bapak bangsa-bangsa? Tentu saja Allah terlibat dalam perlakuan yang tidak adil ini. Benar-benar sebuah cerita yang tidak dapat diterima oleh bangsa yang beradab.
      Kemudian , menurut yang tertulis pada ayat diatas, Abraham melepas kepergian keturunannya hanya dengan sekantong roti dan sebotol air. Padahal Abraham adalah orang kaya raya yang terhormat. Jangankan dengan bekal semurah itu, bahkan dengan sepasukan kuda dan sejumlah kafilahpun dapat dibiayai oleh Bapak bangsa-bangsa ini. Padahal ketika mendengar keponakannya “Lot” ditahan oleh perampok dan dirampas hartanya, Abraham langsung menyerang penjahat itu dengan mengerahkan 318 orang pasukannya untuk membebaskan Lot ;
      14Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. 16Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya (Kej 14: 14,16)”.
      Tetapi kenapa kepada anak dan istri sendiri diusirnya, tanpa pengawalan sama sekali, apalagi ketempat yang tandus dan gersang?
      Setelah mencium anaknya, lalu Abraham meletakkan anak dan bekal itu diatas bahu Hagar. Ada tertulis “Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar “ ; Mungkin Abraham mengira anaknya masih kecil sehingga meletakkan anaknya di bahu Hagar.
      Benar-benar tega Abraham melepas keluarganya pergi hanya dengan sebotol air dan sekantong roti. Tentu saja persediaan air dan bekal itu tidak cukup sehingga terpaksa Hagar membuang bayinya kedalam semak-semak;
      “15Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, 16dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. (kej 21:15-16)”
      Ayat ini menunjukan bahwa Hagar benar-benar berangkat hanya berdua dengan anaknya. Lalu perhatikanlah kalimat “dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak “ dan “menangislah ia dengan suara nyaring “ pada ayat diatas. Ini menunjukan bahwa Ismael masih balita atau mungkin juga masih bayi.
      Tetapi malaikat melarang Hagar membuang anaknya ;
      “17Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. (kej 21:17) “
      Perhatikan juga , ada tertulis “dari tempat ia terbaring “. Bahkan malaikat sendiri tahu anak itu masih balita. Lalu malaikat Tuhan menyuruh Hagar mengangat anaknya tersebut dari semak-semak itu ;
      “18Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”(kej 21:18)
      Perhatikan kalimat “angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia”. Ini berarti Ismael memang masih balita sehingga Hagar harus mengangkat dan membimbing anaknya untuk bisa berjalan lagi.
      Menurut keterangan yang tertulis di dalam PL , seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, pada saat Ishaq lahir, umur Ismael ketika itu sudah 14 tahun. Apabila umur Ishaq pada saat disapih adalah 2 tahun, maka pada saat diusir Bapaknya, Ismael sudah berumur 16 tahun. Apakah anak yang berumur 16 harus digendong oleh Hagar ketika dilepas oleh Abraham ? apakah anak yang berusia 16 tahun harus dibuang ke semak-semak ? apakah Hagar harus mengangkat anak yang sudah dia buangnya tadi dari semak-semak? Apakah anak berisia 16 tahun harus dibimbing oleh ibunya untuk dapat berjalan lagi?.
      Apa bukan sebaliknya, justru ismael yang masih kuat dan muda , membimbing ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan akibat perasaannya tertekan lahir dan bathin?
      Jadi terbuktilah bahwa keterangan PL ini tidak dapat diterima dengan akal sehat, ceritanya ngawur, cerita PL tentang kisah Abraham hanya dapat disampaikan kepada anak kecil sebelum tidur, cerita PL tentang Abraham merupakan kisah dongeng yang tidak bermutu tetapi cerita jahat.
      Penulis Bible hanya mengarang-ngarang cerita yang tidak jelas sumbernya lalu dimasukkan secara sembarangan, sehingga manimbulkan banyak masaalah.
      Sekarang kita kembali pada kisah tentang Ishaq yang sudah mulai besar , namun tiba-tiba Abraham mendapatkan perintah Allah agar dia mengobankan anaknya sebagai korban bakaran ;
      “2Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.(kej 22:2)”
      Kalau kita perhatikan ayat tersebut diatas, maka konteks ayat tersebut merupakan Firman Allah yang tidak dapat lagi digugat oleh umat nasrani dan Yahudi. Namun sebuah kalimat “anakmu yang tunggal”; tentu tidak dapat diterima dengan akal sehat. Apakah Allah lupa bahwa Abraham mempunyai 2 orang anak? Kalau manusia yang mengatakan Abraham hanya punya seorang anak saja, tentu hal ini dapat dimaklumi, namun kalau Allah yang berFirman , maka ayat ini sangat janggal sekali. Kalau Allah yang mengatakan bahwa Ishaq adalah anak Abraham yang tunggal , maka dugaan ayat (kej 18:32) tentang daya pikir Allah yang sudah pikun, tentu saja cocok dengan keterangan ayat ini. Artinya ayat ini mengira bahwa Allah itu seperti seorang kakek yang sudah sangat tua dan pikun sehingga dia lupa kalau Abraham sudah mempunyai anak sebelumnya. Artinya ayat ini tidak menghargai Allah yang maha kuasa, dan maha mengetahui segala sesuatu. Ayat ini benar-beanr menghina Allah sebagai sosok yang tidak tertandingi di seluruh jagat raya.
      Kemudian terdapat pula kalimat “ yang engkau kasihi, yakni Ishak,”; sekali lagi hal ini membuktikan bahwa hanya Ishaq yang disayangi oleh Abraham , hanya Ishaq yang dianggap sebagai anak oleh Abraham dan Allah. Ismael benar-benar tidak berharga dimata Abraham dan Allah. Benar-benar ngawaur cerita PL tentang kisah Abraham ini. Ini bukan cerita fakta tetapi sebuah karangan untuk maksud membanggakan satu keturuan suatu kaum sedangkan yang lainnya dihina dan dilecehkan. Keterangan ini jelas bukan dari Allah SWT.
      Kemudian berangkatlah Abraham bersama anaknya ishak kesebuah bukit/gunung bersama 2 orang pembantunya ;
      “3Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. (kej 22:3)”
      Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari sampailah mereka dikaki sebuah bukit yang bernama Moria, disanalah mereka menambatkan kudanya. Abraham memerintahkan kepada pembantunya untuk menunggu di bawah bukit dengan alasan mau beribadah di atas bukit tersebut ?
      “5Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”( kej22:5)
      Pertanyaannya kenapa Abraham tidak berkata jujur kepada pembantunya bahwa dia akan mengobankan anaknya? Apakah Abraham takut kalau pembantunya itu akan mengatakan kepada istrinya Sara bahwa Abraham akan membunuh anaknya sendiri? kalau Abraham itu seorang nabi kenapa Abraham tidak mengajak pembantunya beribadah bersama-sama? Sepertinya Abraham tidak membawa agama apapun kepada umat Yahudi dan umat Kristen. Lalu kenapa Pendeta Kristen ini mengaku-ngaku sebagai umat nabi Abraham , apa tidak memalukan?
      Suatu keanehan tambahan yang sangat menggelitik adalah, bahwa semua Pendeta Kristen yang menyatakan dirinya mengerti , menyimpulkan bahwa ketika Ishaq hendak dikorbankan itu umurnya sekitar 14 tahun. Perkiraan ini cocok sekali dengan penggambaran dialog antara Bapak dan anak di dalam keterangan ayat kej 22: ayat 6 sampai ayat 9 diatas. Dari dialog ini menunjukan bahwa Ishaq berusia masih remaja, sebagaimana dia sanggup membantu bapaknya mengangkat kayu bakaran, seperti anak yang polos menanyakan maksud pengorbanan itu, serta pertanyaan yang diajukan oleh Ishaq kepada Bapaknya yang menggambarkan bahwa dia masih tidak mengerti dan menunjukan bahwa Ishaq adalah anak yang baik danpolos.
      Peryataan yang menggelitik adalah, ketika Ishaq berumur 14 tahun, ternyata dia sanggup berjalan jauh selama 3 hari dan 3 malam bersama bapaknya mengendarai keledai kemudian dia juga sanggup menolong bapaknya mengangkut kayu bakaran ke tempat pengorbanan ke atas gunung Moria seperti bunyi ayat berikut;
      “.” 6Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.(Kej 12:6)”
      Artinya bahwa jelas sekali kalau ayat ini sangat kontradiktif dengan ayat sebelumnya, yaitu ketika Ibrahim mengusir anaknya yaitu Ismail beserta ibunya . Ketika itu Ismail juga sudah berumur sekitar 14-16 tahun. Tetapi pada saat keberangkatan Ismaill bersama ibunya, keadaan Ismail ketika itu masih seperti anak balita karena dia dibawa di atas pangkuan bahu Ibunya, serta dibuang di semak-semak lalu dia menangis dengan suara nyaring. Cerita Ismeil dan Ishaq pada usia mereka yang hampir bersamaan di dalam PL, sangat bertolak belakang dan aneh sekali. Kalau Ishaq berumur 14 tahun, maka dia sanggup membawa kayu keatas Gunung dan berjalan selama 3 hari 3 malam, tetapi sebaliknya ketika Ismail berusia 16 tahun dia tidak mampu berbuat apa-apa bahkan diceritakan kalau Ismail masih anak balita. Jangankan untuk berjalan dan mengangkut kayu mendaki gunung, untuk berjalan dari rumah saja Ismail harus dipangku diatas bahu ibunya, bahkan harus dibuang ke semak-semak. Benar-benar tidak adil dan tidak logis.
      Bahkan ketika peristiwa pengorbanan yang diceritakan PL itu, usia Ibrahim sudah mencapai 114 tahun, yang sudah sangat tua bagaikan kakek-kakek. Namun di dalam cerita itu, kelihatan bahwa Ibrahim lebih kuat dan perkasa dibandingkan anak remaja remaja berusia 14 tahun. Ini terbukti dari kekuatan Ibrahim untuk mengikat Ishaq ketika hendak disembelih.
      Cerita tentang perlakuan Ibrahim kepada Ismail dan kepada Ishaq sangat kontradiktif, tidak dapat diterima dengan logika yang benar, dan ceritanya benar-benar ngawur. Ini Cerita yang paling tidak masuk akal yang pernah saya baca, bahkan cerita detektif dari pengarang Sherlock-homes jauh lebih bermutu dari pada cerita fiktif murahan kitab Bible yang menjadi kitab pedoman untuk mereka yang menyatakan dirinya terhormat.
      Sekarang kita lanjutkan kisah pengorbanan Ishaq di dalam PL Apa yang ada di dalam pikiran Ishaq setelah itu? Apakah Abraham akan memberitahu anaknya, kalau dia akan menyembelih dan membakar anaknya ?
      Ikuti dan perhatikanlah dialog dibawah ini ;
      “Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. 7Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu (kej 22:6-7)
      Menurut keterangan ayat diatas, ternyata Ishaq belum mengetahui juga kalau Bapaknya akan mengorbankannya.
      Kenapa Abraham tidak berterus terang saja kepada anaknya ?, padahal mereka sudah berjalan beriringan selama 3 hari dan 1 hari untuk menaiki gunung itu. Jadi masih ada kesempatan Abraham untuk mendikusikan dengan anaknya. Sekiranya Abraham tidak tega mengatakan itu pada anaknya, lalu apa yang terjadi ketika Abraham akan menyembelih anaknya?
      Saat-saat menjelang akan disembelih, Apakah ishaq dipaksa oleh Abraham? apakah ishaq tidak memberontak ketika Abraham akan mengikatnya? Bukankah ketika itu Ishaq bukan balita lagi, karena dia sanggup membawa kayu bakar keatas bukit dan sanggup mengendarai keledai selama 3 hari, sedangkan Bapaknya sudah berusia kekek-kekek?. Bisa saja Ishaq melakukan perlawanan kepada Bapaknya yang sudah tua dan lemah itu, karena dia tidak mengerti dan tidak mengetahui sebelumnya bahwa Abraham hendak menyembelihnya. Banyak sekali pertanyaan yang dapat diajukan apabila tidak terdapat kompromi sebelum pengorbanan itu terlaksana. Apakah pelaksanaan perintah Allah itu harus dilakukan dengan paksaan dan kekerasan?
      Apakah jawaban Abraham ketika ditanya oleh anaknya ?
      “8Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.”(kej 22:8)”
      Kembali Abraham berkelit untuk tidak bererus terang, bahkan menyampaikan informasi yang salah. Pada ayat diatas Abraham mengatakan kepada Ishaq bahwa korban yang akan disembelih itu sudah disediakan oleh Allah. Tentu saja Ishaq senang mendengar jawaban Bapaknya.
      Tetapi didalam kontek ayat ini, Abraham telah melakukan sebuah penipuan lagi. Abraham bukan tipe seorang Bapak yang dapat berterus terang dan berkata jujur kepada anaknya sendiri. Kalau sekiranya jawaban Abraham kepada ishaq bukan sebuah penipuan tetapi dia menyampaikan “apa adanya” kepada anaknya (korban itu sudah disediakan), maka itupun tidak dapat diterima dengan akal sehat. Artinya Abraham sudah mengetahui bahwa Allah hanya mencoba Abraham, Allah hanya ingin melihat kesetiaan dan kepatuhan Albraham kepada Allah. Tetapi Abraham sudah mengetahui maksud Allah itu. Abraham tidak perlu serius menghadapinya. Tidak mungkin Allah tega membunuh anak yang dijanjikanNYA sendiri. Sebaliknya Allah tidak mengetahui jalan pikiran Abraham.
      Maka Abraham mengatakan kepada anaknya bahwa Allah yang akan menyediakan korban bakaran untukNYA. Hal ini berarti bahwa uji kesetiaan itu tidak berpengaruh terhadap pemikiran Abraham karena dia sudah menebak hasil akhirnya. Akibatnya Abraham akan melakukannya dengan kepura-puraan. Tetapi sebaliknya Allah tidak tahu kepura-puraan Abraham tersebut karena memang Abraham lebih pintar dari Allah. Atau setidaknya Allah tidak tahu pemikiran Abraham yang mampu menebak hasilnya.
      Jadi terbuktilah bahwa kisah Abraham tentang mengorbankan anaknya Ishak, seperti sebuah cerita detektif karya Nick carter. Satu kebohongan ditutup oleh kebohongan yang lainnya. Seperti ; ketika Abraham tidak mau berterus terang kepada anaknya, maka dia terpaksa membohongi Allah dengan mengatakan bahwa Allah yang akan menyediakan domba itu untukNYA.
      Artinya Abraham sudah melakukan kejahatan dosa sebanyak 6 kali berturut-turut ;
      pertama membohongi anaknya,
      kedua membohongi Allah,
      ketiga membohongi diri sendiri,
      keempat membohongi dua orang pembantunya,
      kelima menganggap ujian itu seperti main-main,
      keenam menganggap rendah kemampuan Allah.

      Maka janganlah berbuat bohong karena kebohongan itu akan menambah kebohongan-2 yang lainnya.
      Selanjutnya bagaimana keadaan saat-saat penyeblihan itu? Perhatikan dialog Al Kitab Bible berikut ini ;

      9Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.(kej 22:9)”

      Kalau kita analisa ayat diatas, maka banyak sekali muncul pertanyaan yang menggelitik.
      Pada saat Abraham dan Ishaq membuat tempat bakaran dan Mesbah, tentu masih ada waktu beberapa jam, jadi masih ada kesempatan bagi mereka untuk berdialog. Tetapi tahu-tahu Ishaq sudah diikat oleh Abraham.
      Apa yang terjadi antara Abraham dengan Ishaq sebelumnya?. Apakah Abraham memaksa anaknya? Dengan cara apa Abraham mengikat anaknya? Apakah dipukul hingga pingsan sehingga mudah mengikatnya?
      Kalau anaknya pasrah begitu saja , tentunya tidak mungkin, karena dia akan bertanya “ Bapak mau apa?” , dan tidak mungkin pula Abraham menjawabnya “ aku akan mengikat dan menyembelihmu” kerena Abraham sudah menjelaskan bahwa akan ada dombaNYA nanti.
      Kalau sekiranya Abraham membohongi Ishaq dengan menyuruhnya berpura-pura diikat dan berkata “ kamu saya ikat dulu ya nak.. nanti Allah akan memberikan dombaNYA” ; maka Abraham kembali membohongi anaknya dan membohongi Allah. Pasti ketahuan Abraham dan anaknya main sandiwara dihadapan Allah.
      Atau mungkin juga sebaliknya dimana Bapak dan anak ini Cuma berpura-pura hendak melakukan pengorbanan itu kepada Allah. Tentu akan bertambah kejahatan dosa Abraham, minimal 12 dosa lagi.
      Kalau ini dilakukannya maka memang benar, bahwa Abraham adalah seorang penipu dan pembohong sehingga wajar PL menulisnya begitu.
      Kemudian Abraham menyembelih anaknya dengan pisau dalam keadaan terikat. Kenyataan ini menimbulkan permasalahan baru lagi. Kalau Ishaq tidak pingsan tetapi pura-pura pingsan, maka tentu Allah akan mengetahuinya.
      Atau mungkin juga Allah dapat dibohongi oleh kepura-puraan Ishaq dan Abraham.
      Sebaliknya jika Ishaq tidak tahu kalau dia akan disembelih dengan pisau, maka artinya Ishaq dalam keadaan pingsan dimana hal ini menunjukan bahwa Abraham telah melakukan kekerasan sebelumnya pada Ishaq.
      Apa yang terjadi setelah itu ? bacalah ayat berikutnya ;
      11Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”(Kej 22:11)”
      Ternyata Abraham lulus juga dari test uji kesetiaan itu. Allah tidak mengetahui apa terjadi pada pemikiran Abraham sebelumnya. Allah juga tidak menerangkan kenapa Abraham dinyatakan lulus. Apa yang menjadi penilaian bagi Allah sehingga Abraham dan anaknya dinyatakan lulus ujian besar.
      Jadi jelaslah bahwa cerita PL tentang kisah Abraham bukanlah kisah nyata, tetapi cerita fiksi. Sepertinya cerita ini dibuat-buat untuk maksud yang terselubung. Tentu saja para Pendeta Kristen akan memberikan opini dan kesimpulan bahwa yang simaksud dengan “ DombaNYA” bukanlah domba yang sebenarnya tetapi “Anak ALLAH yang dikorbankanNYA” . Anak Allah itu adalah Yesus yang nantinya akan mati ditiang salib sebagai pengorbanan Allah sebagai anakNYA.
      Perbedaanya peristiwa pengorbanan antara DombaNYA dangan pengorbanan anakNYA hanya terletak pada perbedan waktu dan perbedaan cara pengorbannya saja . Kalau DombaNYA dikobankan untuk Abraham, sedangkan anakNYA dikorbankan untuk orang-orang fasik yang hendak membunuhnya.
      Begitulah Pemikiran Pendeta Kristen ini beropini dan berkesimpulan. Logiskah kesimpulan itu? Tentu saja tidak. Ini kesimpulan yang dibuat-buat dan dipaksakan, sehingga tidak mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan hatinurani.
      Setelah kita membaca kitab Taurat versi Perjanjian lama, maka terbukalah kebohongan-kebohongan yang selama ini ditutup-tutupi oleh Pendeta Kristen selama ini. Jadi benar bawa kepalsuan itu hanya bisa ditegakkan dengan kepalsuan juga.
      Baru sebuah kisah yang kitab baca, sesuai dengan apa yang disarankan oleh Pendeta ini, tetapi kita sudah dapat menyaksikan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan, pelecehan terhadap Umat manusia, pelecehan terhadap Nabi Besar Ibrahim, merendahkan Allah, melecehkan Allah, kisah Abraham seperti dongeng saja, cerita yang dibuat-buat untuk tujuan kebesaran suatu kaum tetapi menghina kaum yang lainnya.
      Kita tidak perlu mempersoalkan kejanggalan itu, biarlah umat Kristen yang memikirkan dan menyimpulkannya sendiri.
      Jadi kesimpulannya adalah kitab Perjanjian Lama bukanlah kitab Taurat seperti yang pernah diturunkan Allah kepada ustusanNYA yang Mulia Nabi Musa AS, tetapi sebaliknya Kitab Perjanjian Lama adalah kitab yang justru melecehkan Allah, RasulNYA dan tidak mengandung pelajaran yang baik.

    • welll 3:54 pm on 24/07/2011 Permalink | Reply

      NETRAL ;;;Sudahlah kita mengakui saja… bahwa semua nabinya bibble lahir dari israel atau juga keturunan ibrahim, iskha, yakub, musa, daud, yusuf, dst… .mereka juga tidak ada yang mengaku-ngaku sebagai nabi

    • Xulkarnain Alex 12:19 am on 24/08/2011 Permalink | Reply

      jadi kesimpulannya;
      Ibrahim di dalam Al Qur’an dengan Abraham yang di dalam Bible adalah orang yang berbeda.
      Jadi kita tidak perlu memperdebadkannya lagi

  • SERBUIFF 11:25 am on 16/10/2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah,   

    Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah 

    Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah

     

    Minggu, 4 Oktober 2009 16:56:38 – oleh : fatimahzahra

     

    Ditulis oleh Abu Afif   Minggu, 12 Juli 2009 16:47

     

    • Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang paling utama, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    (عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ الله : أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: (إِيْمَانٌ بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ)، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: (الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ)، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: (حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

     

    “Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ditanya: ‘Amal ibadah apakah yang paling utama?’ Beliau bersabda: ‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Jihad dijalan Allah’. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Haji yang mabrur.’”( HR. Al-Bukhari dan Muslim, lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib oleh al-Albani 3/3 hadits No. 1093. )

     

    • Ibadah haji sebagai penghapus dosa, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

     

    “Barangsiapa yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima’ dan tidak pula melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya.” ( HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi )

     

    • Balasan bagi haji mabrur adalah Surga, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    الْعُمْرَِةُ إِلَى الْعُمْرِةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَ الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ  لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

     

    “Umrah (yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat (peng-hapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan Surga.” ( HR. Malik, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah). Lihat Shahih at-Targhiib No. 1096. )

     

     

    Dan dari Jabir bin ‘Abdillah dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:الْحَجَّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ ، قِيْلَ : وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ طِيْبُ الْكَلاَمِ

     

     

    “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga. Dikatakan (kepada beliau): ‘Apakah bentuk bakti dalam haji itu?’ Beliau ber-kata: ‘Memberi makanan dan berbicara yang baik.’”( HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Albani berkata: “Shahih lighairihi, lihat Shahih at-Targhiib” No. 1104) )

     

    • Haji adalah jihad bagi para wanita dan setiap orang yang lemah, berdasarkan hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    عَنْ عَائِشَةَ d قَالَتْ ، قُلْتُ: يَارَسُوْلَ الله نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ اْلأَعْمَالِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ ؟ فَقَالَ: لَكُنَّ أَفْضَلُ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

     

     

    “Dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha,, ia berkata, aku bertutur: ‘Ya Rasulullah kami melihat bahwasanya berjihad adalah amal ibadah yang paling utama, apakah kami (para wanita, -pent) tidak berjihad? Maka beliau bersabda: ‘Bagi kalian (kaum wanita,-Pent), jihad yang paling utama adalah haji mabrur'” .Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, ‘Aisyah d berkata:قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ عَلَى النِّسَاءِ مِنْ جِهَادٍ؟ قَالَ: (عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ)

     

     

    “Aku bertutur: ‘Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban berjihad bagi kaum wanita?’ Beliau berkata: ‘Bagi wanita adalah jihad yang tidak ada peperangan padanya (yaitu) haji dan umrah.'” (Dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahih at-Targhiib No. 1099).Dan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:جِهَادُ الْكَبِيْرِ وَالضَّعِيْفِ وَالْمَرْأَةِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

     

    “Jihad orang yang tua, orang yang lemah dan wanita adalah haji dan umrah.”

     

    • Orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah, dan permohonan mereka dikabulkan, berdasarkan hadits ‘Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

     

    الْغَازِي فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللهِ ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ وَسَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُمْ

     

    “Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan me-reka.”

     

    • Keutamaan perjalanan haji, keutamaan orang yang mati dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji, dan keutamaan orang yang mati dalam keadaan berihram (ditengah pelaksanaan ibadah haji dan/atau umrah.) Semuanya termaktub dalam hadits-hadits dibawah ini:

     

    a. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallaahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:مَاتَرْفَعُ إِبِلُ الْحَجِّ رِجْلاً ، وَلاَ يَدًا إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ رَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

     

    “Tidaklah unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau meng-angkatnya datu derajat.”

     

    b.Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:مَنْ خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْحاَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ غَازِيًا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْغَازِى إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

     

     

    “Barangsiapa keluar dalam melaksana-kan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari Kiamat.”

     

    c. Dari ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas Radhiallaahu anhu, ia berkata:بَيْنَمَا رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ; بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَأَقْعَصَتْهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ; ( اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ بِثَوْبَيْهِ وَلاَ تُخَمِّرُوْا رَأْسَهُ وَلاَ تُحَنِّطُوْهُ فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَلَبِّيًا )

     

    “Tatkala seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dipadang ‘Arafah, tiba-tiba ia dijatuhkan oleh binatang (unta) yang dikendarainya dan mematahkan lehernya, maka Rasu-lullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: ‘Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya, karena sesungguh-nya dia akan dibangkitkan dihari Kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah.'”

     

    • Dan lain-lain.

     

    Itulah sejumlah keutamaan ibadah haji dan umrah yang kami rangkum dari beberapa hadits yang shahih dan hasan. Jika kita telah mengetahuinya, maka sepatutnya bagi orang yang mampu untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah haji, serta menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, manakala ia memilikinya.

     

    Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi berkata: “Disunnahkan melaksanakan haji setiap tahun bagi orang yang mampu selama tidak membahayakan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya” , berdasar-kan hadits ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu , Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبِ كَمَا يَنْفِى الْكِيْرُ حَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ وَمَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَظَلُّ يَوْمَهُ مُحْرِمًا إِلاَّ غَابَتِ الشَّمْسُ بِذُنُوْبِهِ

     

    “Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan pahala bagi haji yang mabrur kecuali Surga, tidaklah seorang mukmin dalam kesehariannya berada dalam keada-an ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosanya.”

     

    Sunnah tersebut semakin ditekankan lagi jika telah melewati empat atau lima tahun dari haji yang dilakukan sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    إِنَّ اللهَ يَقُوْلُ: إِنَّ عَبْدًا صَحَّحْتُ لَهُ جِسْمَهُ وَ وَسَّعْتُ عَلَيْهِ فِيْ الْمَعِيْشَهِ يَمْضِى عَلِيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لاَ يَفِدُ إِلَيَّ لَمَحْرُوْمٌ

     

    “Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Sesung-guhnya seorang hamba yang telah Kusehat-kan jasadnya dan Kulapangkan penghi-dupannya, telah berlalu lima tahun atasnya, dia tidak datang kepada-Ku, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan-Pent). (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya, Abu Ya’la dan al-Bai-haqi).

     

    Sedangkan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dengan redaksi:إنَّ اللهَ يَقُوْلُ: إِنَّ عَبْدًا صَحَّحْتُ لَهُ بَدَنَهُ وَ أَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِي الرِّزْقِ لَمْ يَفِدْ إِلَيَّ فِيْ أَرْبَعَةِ أَعْوَامٍ لَمَحْرُوْمٌ

     

     

    “Bahwasanya Allah berfirman: ‘Sesungguh-nya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan tubuhnya, Ku-lapangkan rizkinya, (namun) dia tidak datang kepada-Ku pada setiap empat tahun, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan,-Pent) (Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa-id perawi hadits ini semuanya perawi kitab ash-Shahih.)

    http://fatimahzahra.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=28%EF%BB%BF

     

     
  • SERBUIFF 11:13 am on 16/10/2010 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,(QS. 22:27) supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.(QS. 22:28) 

    27 Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,(QS. 22:27)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Hajj 27
    وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27)
    Pada ayat ini Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi Ibrahim a.s. agar menyeru manusia mengerjakan ibadah haji ke Baitullah dan menyampaikan kepada mereka bahwa ibadat haji itu termasuk ibadat yang diwajibkan bagi kaum Muslimin.
    Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa perintah Allah SWT. dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Ibrahim a.s. yang baru saja selesai membangun Kakbah. Pendapat ini sesuai dengan ayat ini, terutama jika diperhatikan hubungannya dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Pada ayat-ayat yang sebelum ayat ini disebutkan perintah Allah SWT. kepada Nabi Muhammad saw. agar mengingatkan kepada orang-orang musyrik Mekah akan peristiwa waktu Allah memerintahkan Ibrahim supaya membangun Kakbah, sedang ayat-ayat ini menyuruh orang-orang musyrik itu mengingat peristiwa ketika Allah SWT. memerintahkan Ibrahim menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji.
    Pendapat ini sesuai pula dengan riwayat Ibnu Abbas dari Jubair yang menerangkan, bahwa tatkala Ibrahim as. selesai membangun Kakbah, Allah SWT. memerintahkan kepadanya, “Serulah manusia untuk mengerjakan ibadah haji”.
    Ibrahim as. menjawab, “Wahai Tuhan, apakah suaraku akan sampai kepada mereka?”, Allah berkata, “Serulah mereka, Aku akan menyampaikannya”. Maka Ibrahim naik ke atas bukit Abi Qubaisy, lalu mengucapkan dengan suara yang keras: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah benar-benar telah memerintahkan kepadamu sekalian mengunjungi rumah ini, supaya Dia memberikan kepadamu surga dan melindungi kamu dari azab neraka, karena itu tunaikanlah olehmu ibadat haji itu. Maka suara itu diperkenankan oleh orang-orang yang berada dalam tulang sulbi laki-laki dan orang-orang yang telah berada dalam rahim wanita, dengan jawaban, “Labbaika, Allahumma labbaika” (Maha Suci Engkau Wahai Tuhan, Maha Suci Engkau”). Maka berlakulah “talbiyah” dengan cara yang demikian itu. (Talbiyah ialah doa yang diucapkan orang yang sedang mengerjakan ibadah haji atau umrah, doa itu ialah, “Labbaika Allahuma Labbaika”)
    Hasan berpendapat bahwa perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. Alasan beliau ialah: Semua perkataan dan pembicaraan dalam ayat-ayat Alquran itu ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, termasuk di dalamnya perintah melaksanakan ibadah haji ini. Perintah ini telah dilaksanakan oleh Rasulullah bersama para sahabat dengan mengerjakan haji wada’ (haji yang penghabisan), sebagaimana tersebut dalam hadis: 

    وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا أيها الناس, إن الله قد فرض عليكم الحج فحجوا
    Artinya:
    Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah telah berkhutbah di hadapan kami; beliau berkata, “Wahai sekalian manusia Allah telah mewajibkan atasmu ibadah haji, maka laksanakanlah olehmu”. (H.R. Ahmad dari Ishaq)
    Jika diperhatikan, maka sebenarnya kedua pendapat ini tidaklah berlawanan. Karena perintah menunaikan ibadah haji itu ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan umatnya di waktu beliau selesai membangun Kakbah. Kemudian setelah Nabi Muhammad saw. diutus, maka perintah itu diberikan pula kepadanya, sehingga Nabi Muhammad saw. dan umatnya diwajibkan pula menunaikan ibadah haji itu, bahkan ditetapkan sebagai rukun Islam yang kelima.
    Dalam ayat ini terdapat perkataan, “..niscaya mereka akan datang kepadamu..”. Dari perkataan ini dipahamkan: Seakan-akan Tuhan mengatakan kepada Ibrahim a.s. bahwa jika kamu hai Ibrahim menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya manusia akan memenuhi panggilanmu itu, mereka akan berdatangan dari segenap penjuru dunia walaupun dengan menempuh perjalanan yang sulit dan sukar. Barang siapa yang memenuhi panggilan itu, baik waktu ini maupun kemudian hari, maka berarti ia telah datang memenuhi panggilan-Ku seperti kamu dahulu telah memenuhinya pula. Kamu dahulu pernah Aku perintah datang ke Mekah yang masih sepi, kamu memenuhinya walaupun perjalanannya sukar, melalui terik panas padang pasir yang terbentang antara Mekah dan Suriah. Perintah itu telah kamu laksanakan dengan baik, bahkan kamu bersedia menyembelih anak kandungmu Ismail, semata-mata untuk melaksanakan perintah-Ku, karena itu Aku akan menyediakan pahala yang besar untukmu, dan pahala yang seperti itu akan Aku berikan pula kepada siapa yang berkunjung ke Baitullah ini, terutama bagi orang yang sengaja datang ke Mekah ini untuk melaksanakan ibadah haji. Perkataan ini merupakan penghormatan bagi Ibrahim dan menunjukkan betapa besarnya pahala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang menunaikan ibadah haji semata-mata karena Allah.
    Para ulama sependapat bahwa datang ke Baitullah mengerjakan ibadah haji dibolehkan mempergunakan kendaraan dan cara-cara apa saja yang dihalalkan, seperti dengan berjalan kaki, dengan kapal melalui laut atau dengan pesawat udara atau dengan kendaraan melalui darat dan sebagainya. Tetapi Imam Malik dan Imam Asy Syafii berpendapat bahwa: pergi menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kendaraan melalui perjalanan darat itu lebih baik dan lebih besar pahalanya, karena cara yang demikian itu mengikuti perbuatan Rasulullah. Dengan cara yang demikian diperlukan perbelanjaan yang banyak, menempuh perjalanan yang sukar serta menambah syiar ibadah haji, terutama di waktu melalui negara-negara yang ditempuh selama dalam perjalanan. Sebagian ulama berpendapat bahwa berjalan kaki lebih utama dari berkendaraan, karena berjalan dengan kaki lebih banyak ditemui kesulitan-kesulitan daripada dengan berkendaraan.
    Sebenarnya dengan cara dan kendaraan apapun seseorang menunaikan ibadah haji, pasti akan memperoleh pahala yang besar dari Allah, jika ibadah itu semata-mata dilaksanakan karena Allah. Yang dinilai adalah niat dan keikhlasan seseorang serta cara cara melaksanakannya. Sekalipun sulit perjalanan yang ditempuh, tetapi niat mengerjakan haji itu bukan karena Allah maka ia tidak akan memperoleh sesuatupun dari Allah, bahkan sebaliknya ia akan diazab dengan azab yang sangat pedih karena niatnya itu.
    Jika seseorang telah sampai di Mekah dan melihat Baitullah, disunahkan mengangkat tangan, sebagaimana tersebut dalam hadis:

    روى ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال ترفع الأيدي في سبع مواطن افتتاح الصلاة واستقبال البيت والصفا والمروة والموقفين والجمرتين.
    Artinya:
    Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra dari Nabi saw, beliau bersabda: Diangkat kedua tangan pada tujuh tempat, yaitu pada pembukaan salat, waktu menghadap Baitullah, waktu menghadap bukit Safa dan bukit Marwah, waktu wukuf dan melempar kedua jumrah” (H.R. Ahmad dari Ishaq)
    Hadis ini diamalkan oleh Ibnu Umar ra.

    Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Hajj 27
    وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27)
    (Dan berserulah) serukanlah (kepada manusia untuk mengerjakan haji) kemudian Nabi Ibrahim naik ke puncak bukit Abu Qubais, lalu ia berseru, “Hai manusia! Sesungguhnya Rabb kalian telah membangun Baitullah dan Dia telah mewajibkan kalian untuk melakukan haji, maka sambutlah seruan Rabb kalian ini”. Lalu Nabi Ibrahim menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri serta ke arah Timur dan ke arah Barat. Maka menjawablah semua orang yang telah ditentukan baginya dapat berhaji dari tulang-tulang sulbi kaum lelaki dan rahim-rahim kaum wanita, seraya mengatakan, “Labbaik allaahumma Labbaika”, artinya: Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu, Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu. Sedangkan Jawab dari Amar yang di muka tadi ialah (niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki) lafal Rijaalan adalah bentuk jamak dari lafal Raajilun, wazannya sama dengan lafal Qaaimun yang bentuk jamaknya adalah Qiyaamun; artinya berjalan kaki (dan) dengan berkendaraan (dengan menaiki unta yang kurus) karena lamanya perjalanan; lafal Dhamirin dapat ditujukan kepada jenis jantan dan betina (mereka datang) yakni unta-unta kurus itu yang dimaksud adalah orang-orang yang mengendarainya (dari segenap penjuru yang jauh) dari daerah yang perjalanannya sangat jauh.

    28
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Hajj 28
    لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28)
    Ayat ini menerangkan tujuan disyariatkan ibadah haji, yaitu untuk memperoleh kemanfaatan. Tidak disebutkan dalam ayat ini bentuk bentuk manfaat itu hanya disebut secara umum saja. Penyebutan Secara umum kemanfaatan-kemanfaatan yang akan diperoleh orang mengerjakan ibadah haji dalam ayat ini, menunjukkan banyaknya macam dan jenis kemanfaatan yang akan diperoleh itu. Kemanfaatan-kemanfaatan itu sukar menerangkannya secara terperinci, hanya yang dapat menerangkan dan merasakannya ialah orang yang pernah mengerjakan ibadah haji dan melaksanakannya dengan niat ikhlas.
    Kemanfaatan itu ada yang berhubungan dengan rohani dan ada pula dengan jasmani, dan yang langsung dirasakan oleh individu yang melaksanakannya dan ada pula yang dirasakan oleh masyarakat, ada yang berhubungan dengan dunia dan ada pula yang berhubungan dengan akhirat.
    Para ulama banyak yang mencoba melukiskan bentuk-bentuk manfaat yang mungkin diperoleh oleh para haji, setelah mereka mengalami dan mempelajarinya kebanyakan mereka itu menyatakan bahwa mereka belum sanggup melukiskan semua manfaat itu. Di antara manfaat yang dilukiskan itu ialah.
    1. Melatih diri dengan mempergunakan seluruh kemampuan mengingat Allah dengan khusyuk pada hari-hari yang telah ditentukan dengan memurnikan kepatuhan dan ketundukan hanya kepada-Nya saja. Pada waktu seseorang berusaha mengendalikan hawa nafsunya dengan mengikuti perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya walau apapun yang menghalangi dan merintanginya. Latihan-latihan yang dikerjakan selama mengerjakan ibadah haji itu diharapkan berbekas di dalam sanubari kemudian dapat diulangi lagi mengerjakannya setelah kembali dari tanah suci nanti, sehingga menjadi kebiasaan yang baik dalam penghidupan dan kehidupan.
    2. Menimbulkan rasa perdamaian dan rasa persaudaraan di antara sesama kaum Muslimin. Sejak seseorang calon haji mengenakan pakaian ihram, pakaian yang putih yang tidak berjahit, sebagai tanda telah mengerjakan ibadah haji, maka sejak itu ia telah menanggalkan pakaian duniawi, pakaian kesukaannya, pakaian kebesaran, pakaian kemewahan dan sebagainya. Semua manusia kelihatan sama dalam pakaian ihram itu; tidak dapat dibedakan antara si kaya dengan si miskin, antara penguasa dengan rakyat jelata, antara yang pandai dengan yang bodoh, antara tuan dengan budak, semuanya sama tunduk dan menghambakan diri kepada Tuhan semesta alam, sama tawaf, sama-sama berlari antara bukit Safa dan bukit Marwa, sama-sama berdesakan melempar Jumrah, sama-sama tunduk dan tafakkur di tengah tengah padang Arafah. Dalam keadaan demikian terasalah bahwa diri itu sama saja dengan orang yang lain. Yang membedakan derajat antara seorang dengan yang lain hanyalah tingkat ketakwaan dan ketaatan kepada Allah. Karena itu timbullah rasa ingin tolong menolong, rasa seagama, rasa senasib dan sepenanggungan, rasa hormat menghormati sesama manusia.
    3. Mencoba mengalami dan membayangkan kehidupan di akhirat nanti, yang pada waktu itu tidak seorangpun yang dapat memberikan pertolongan kecuali Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Wukuf di Arafah di tempat berkumpulnya manusia yang hanyak merupakan gambaran kehidupan di Mahsyar nanti demikian pula melempar Jumrah di panas terik di tengah padang pasir dalam keadaan haus dan dahaga. Semua itu menggambarkan saat-saat ketika manusia berdiri di hadapan Mahkamah Allah di akhirat nanti.
    4. Menghilangkan rasa harga diri yang berlebih-lebihan. Seseorang waktu berada di negerinya, biasanya terikat oleh adat istiadat yang biasa mereka lakukan sehari-hari dalam pergaulan mereka. Sedikit saja terasalah dapat menimbulkan kesalah pahaman perselisihan dan pertentangan. Pada waktu melaksanakan ibadah haji, bertemulah kaum Muslimin yang datang dari segala penjuru dunia, dari negeri yang berbeda-beda, masing-masing mempunyai adat istiadat dan kebiasaan hidup dan tata cara yang berbeda-beda pula maka terjadilah persinggungan antara adat istiadat dan kebiasaan hidup itu. Seperti cara berbicara. cara makan, cara berpakaian, cara menghormati tamu dan sebagainya. Di waktu menunaikan ibadah haji terjadi persinggungan dan perbenturan badan antara jama’ ah dari suatu negeri, dengan jemaah dari negara yang lain, seperti waktu tawaf, waktu sai, waktu wukuf di Arafah. Waktu melempar jumrah dan sebagainya. Waktu salat di Masjidilharam, tubuh seorang yang duduk dilangkahi oleh temannya yang lain karena ingin mendapatkan saf yang paling di depan, demikian pula persoalan bahasa dan isyarat, semua itu muduh menimbulkan kesalah pahaman dan perselisihan. Bagi seorang yang sedang melakukan ibadah haji, semuanya itu harus dihadapi dengan sabar, dengan dada yang lapang, harus dihadapi dengan berpangkal kepada dugaan: bahwa semua jemaah haji itu melakukan yang demikian itu bukanlah untuk menyakiti temannya dan bukan untuk menyinggung perasaan orang lain, tetapi semata-mata untuk mencapai tujuan maksimal dari ibadah haji. Semua mereka ingin memperoleh haji mabrur, apakah ia seorang kaya atau seorang miskin dan sebagainya.
    5. Menghayati kehidupan dan perjuangan Nabi Ibrahim beserta putranya Nabi Ismail dan Nabi Muhammad beserta para sahabatnya. Waktu Ibrahim pertama kali datang di Mekah bersama istrinya Hajar dan putranya Ismail yang masih kecil, kota Mekah masih merupakan padang pasir yang belum didiami oleh seorang manusiapun. Dalam keadaan demikianlah Ibrahim meninggalkan istri dan putranya di sana, sedang ia kembali ke Syria. Dapat dirasakan Hajar dan putranya yang masih kecil, tidak ada manusia tempat mengadu dan minta tolong kecuali hanya kepada Tuhan saja. Sesayup-sayup mata memandang, terbentang padang pasir yang luas, tanpa tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan tempat berlindung. Dapat dirasakan kesusahan Hajar berlari antara Safa dan Marwa mencari setetes air untuk diminum anaknya. Dapat direnungkan dan dijadikan teladan tentang ketaatan dan kepatuhan Ibrahim kepada Allah. Beliau bersedia menyembelih putranya tercinta, Ismail a.s. semata-mata untuk memenuhi dan melaksanakan perintah Allah. Kaum Muslimin selama mengerjakan ibadah haji dapat melihat bekas-bekas dan tempat-tempat yang ada hubungannya dengan perjuangan Nabi Muhammad saw. beserta sahabatnya dalam menegakkan agama Allah. Sejak dari Mekah disaatsaat beliau mendapat halangan, rintangan bahkan siksaan dari orang-orang musyrik Mekah, kemudian beliau hijrah ke Madinah, berjalan kaki, dalam keadaan dikejar-kejar orang-orang kafir. Demikian pula usaha-usaha yang beliau lakukan di Madinah, berperang dengan orang kafir, menghadapi kelicikan dan fitnah orang Yahudi. Semuanya itu dapat diingat dan dihayati selama menunaikan ibadah haji dan diharapkan dapat menambah iman ketakwaan kepada Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
    6. Sebagai Muktamar Islam seluruh dunia. Pada musim haji berdatanganlah kaum Muslimin dari seluruh dunia. Secara tidak langsung terjadilah pertemuan antara seorang dengan seorang, antara suku bangsa dengan suku bangsa dan antara bangsa dengan bangsa yang beraneka ragam coraknya itu. Antara mereka itu dapat berbincang dan bertukar pengalaman dengan yang lain, sehingga pengalaman dan pikiran seseorang dapat diambil dan dimanfaatkan oleh yang lain, terutama setelah masing-masing mereka sampai di negeri mereka nanti. Jika pertemuan yang seperti ini diorganisir dengan baik, tentulah akan besar manfaatnya, akan dapat memecahkan masalah-masalah yang sulit yang dihadapi oleh umat Islam di negara mereka masing-masing. Semuanya itu akan berfaedah pula bagi individu, masyarakat dan agama. Alangkah baiknya jika pada waktu itu diadakan pertemuan antara kepala negara yang menunaikan ibadah haji, pertemuan para ahli, para ulama, para pemuka masyarakat, para usahawan dan sebagainya.
    Amatlah banyak manfaat yang lain lagi yang akan diperoleh oleh orang yang mengerjakan ibadah haji, tetapi hanyalah Allah, SWT. yang dapat mengetahui dengan pasti semua manfaat itu, Dalam pada itu, dari orang-orang yang pernah mengerjakan haji didapat keterangan bahwa keinginan mereka menunaikan ibadah haji bertambah setelah mereka selesai menunaikan ibadah haji yang pertama, makin sering seseorang menunaikan ibadah haji, makin bertambah pula keinginan tersebut. Rahasia dan manfaat dari ibadah haji itu dapat dipahamkan pula dari doa Nabi Ibrahim kepada Allah, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya: 

    فاجعل أفئدة من الناس تهوى إليهم
    Artinya:
    Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka. (Q.S. Ibrahim: 37)
    Selanjutnya disebutkan pula manfaat yang lain dari ibadah haji, yaitu agar manusia menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan dan melaksanakan kurban dengan menyebut nama Allah untuk menyembelih binatang kurban itu.
    Yang dimaksud dengan hari-hari yang ditentukan ialah hari raya haji dan hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11,12, dan 13 Zulhijjah. Pada hari-hari ini dilakukan penyembelihan binatang kurban.
    Waktu menyembelih bintang kurban ialah setelah masuk waktu mengerjakan salat Idul Adha sampai dengan waktu terbenam matahari tanggal 13 Zulhijah. Rasulullah saw. bersabda:

    من ذبح قبل الصلاة فإنما ذبح لنفسه ومن ذبح بعد الصلاة فقد أتم نسكه وأصاب سنة المسلمين.
    Artinya:
    Barangsiapa yang menyembelih kurban sebelum salat Idul Adha maka sesungguhnya ia hanyalah menyembelih untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang menyembelih sesudah salat Idul Adha dan setelah membaca dua Khutbah maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadatnya dan telah melaksanakan sunah kaum Muslimin. (H.R. Bukhari)
    Yang dimaksud dengan salat hari raya dalam hadis ini, ialah waktu salat hari raya, bukanlah salatnya, karena salat hari raya itu bukanlah menjadi syarat penyembelihan kurban.
    Dan sabda Rasulullah saw:

    أيام التشريق كلها ذبح
    Artinya:
    Semua hari-hari tasyriq adalah waktu dilakukannya penyembelihan kurban (H.R. Ahmad dari Juber bin Muthni)
    Setelah binatang kurban itu disembelih, maka dagingya boleh dimakan oleh yang berkurban dan sebagiannya disedekahkan kepada orang-orang fakir dan miskin. Menurut jumhur ulama, sebaiknya orang-orang yang berkurban memakan daging kurban sebagian kecil saja, sedang sebagian besarnya disedekahkan kepada fakir miskin. Dalam pada itu tidak mengapa jika orang yang berkurban menyedekahkan seluruh daging kurbannya itu kepada fakir miskin.

    Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Hajj 28
    لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28)
    (Supaya mereka mempersaksikan) yakni mendatangi (berbagai manfaat untuk mereka) dalam urusan dunia mereka melalui berdagang, atau urusan akhirat atau untuk keduanya. Sehubungan dengan masalah ini ada berbagai pendapat mengenainya (dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan) yakni tanggal sepuluh Zulhijah, atau hari Arafah, atau hari berkurban hingga akhir hari-hari Tasyriq; mengenai masalah ini pun ada beberapa pendapat (atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak) unta, sapi dan kambing yang disembelih pada hari raya kurban dan ternak-ternak yang disembelih sesudahnya sebagai kurban. (Maka makanlah sebagian daripadanya) jika kalian menyukainya (dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir) yakni sangat miskin.

     

    http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=22#Top

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel