Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 10:45 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat)   

    HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat) 

    HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat)

    Posted by Srikandi Mujahidah at 3:59 PM

    Hafsah adalah janda Khunais bin Huzafah, sahabat RasuluLlah SAW yang meninggal ketika perang Uhud.
    RasuluLlah SAW menikahi Hafsah, kerena kasihan kepada Umar bin Khattab –ayah Hafsah. Hafsah sedih ditinggal suaminya, apalagi usianya baru 18 tahun. Melihat kesedihan itu, Umar berniat mencarikan suami lagi.
    Pilihannya jatuh kepada sahabatnya yang juga orang kepercayaan RasuluLlah SAW, yakni Abu Bakar. Tapi ternyata Abu Bakar hanya diam saja. Dengan perasaan kecewa atas sikap Abu Bakar itu, Umar menemui Usman bin Affan, dengan maksud yang sama. Ternyata Usman juga menolak, karena dukanya atas kematian isterinya, belum hilang. Isteri Usman adalah putri RasuluLlah SAW sendiri, Ruqayyah.
    Lalu Umar mengadu kepada RasuluLlah SAW. Melihat sahabatnya yang marah dan sedih itu, RasuluLlah SAW ingin menyenangkannya, lantas berkata “Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Usman, dan Usman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafsah.” Tak lama kemudian, Hafsah dinikahi RasuluLlah SAW, sedang Usman dengan Ummu Kalsum, putri RasuluLlah SAW juga.
    Suatu malam di kamar Hafsah, RasuluLlah SAW sedang berdua dengan isterinya yang lain, Maria. Hafsah cemburu berat, lantas menceritakan kepada Aisyah. Aisyah kemudian memimpin isteri-isteri yang lain, protes kepada RasuluLlah SAW.
    RasuluLlah SAW sangat marah dengan ulah isteri-isterinya itu. Saking marahnya, beliau tinggalkan mereka selama satu bulan. Terhadap kasus ini, kemudian Allah menurunkan wahyu surat at-Tahrim ayat 1-5.
    Sejarah mencatat, Hafsahlah yang dipilih di antara isteri-isteri RasuluLlah SAW untuk menyimpan naskah pertama al-Qur’an. Hafsah wafat pada awal pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dimakamkan di Ummahat al-Mu’minin di Baqi.

    http://srikandimujahidah.blogspot.com/2008/10/hafsah-binti-umar-ummul-mukminin.html

    ===============

    Hafshah binti Umar

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Hafshah binti Umar (Arab:حفصة بنت عمر) adalah salah seorang istri Muhammad. Ia seorang janda dari seorang pria bernama Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar.

    Daftar isi

    Genealogi

    Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zaynab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un.

    Biografi

    Masa Petumbuhannya

    Hafshah dilahirkan pada tahun yang sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy, yaitu ketika Rasullullah memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula setelah Ka’bah dibangun kembali setelah roboh karena banjir. Pada tahun itu juga dilahirkan Fathimah az-Zahra, putri bungsu Rasulullah dari empat putri, dan kelahirannya disambut gembira oleh beliau. Beberapa hari setelah Fathimah lahir, lahirlah Hafshah binti Umar bin Khaththab. Mendengar bahwa yang lahir adalah bayi wanita, Umar sangat berang dan resah, sebagaimana kebiasaan bapak-bapak Arab Quraisy ketika mendengar berita kelahiran anak perempuannya. Waktu itu mereka menganggap bahwa kelahiran anak perempuan telah membawa aib bagi keluarga. Padahal jika saja ketika itu Umar tahu bahwa kelahiran anak perempuannya akan membawa keberuntungan, tentu Umar akan menjadi orang yang paling bahagia, karena anak yang dinamai Hafshah itu kelak menjadi istri Rasulullah. Di dalam Thabaqat, Ibnu Saad berkata, “Muhammad bin Umar berkata bahwa Muhammad bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, Umar mengatakan, ‘Hafshah dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun sebe1um Nabi diutus menjadi Rasul.”

    Sayyidah Hafshah r.a. dibesarkan dengan mewarisi sifat ayahnya, Urnar bin Khaththab. Dalarn soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sarna dengan ayahnya. Kelebihan lain yang dirniliki Hafshah adalah kepandaiannva dalarn rnernbaca dan menulis, padahal ketika itu kernampuan tersebut belum lazirn dirniliki oleh kaurn perempuan.

    Memeluk Islam

    Hafshah tidak termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam, karena ketika awal-awal penyebaran Islam, ayahnya, Urnar bin Khaththab, masih menjadi musuh utama umat Islam hingga suatu hari Umar tertarik untuk masuk Islam. Ketika suatu waktu Umar mcngetahui keislarnan saudara perernpuannya, Fathimah dan suarninya Said bin Zaid, dia sangat marah dan berniat menyiksa mereka. Sesampainya di rumah saudara perempuannya, Umar mendengar bacaan Al-Qur’an yang mengalun dan dalam rumah, dan memuncaklah amarahnya ketika dia memasuki rumah tersebut. Tanpa ampun dia menampar mereka hingga darah mengucur dari kening keduanya. Akan tetapi, hal yang tidak terduga terjadi, hati Umar tersentuh ketika meihat darah mengucur dari dahi adiknya, kernudian diarnbilnyalah Al Qur’an yang ada pada mereka. Ketika selintas dia membaca awal surat Thaha, terjadilah keajaiban. Hati Umar mulai diterangi cahaya kebenaran dan keimanan. Allah telah mengabulkan doa Nabi . yang mengharapkan agar Allah membuka hati salah seorang dari dua Umar kepada Islam. Yang dimaksud Rasulullah dengan dua Umar adalah Amr bin Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahl dan Umar bin Khaththab.

    Setelah kejadian itu, dari rumah adiknya dia segera menuju Rasulullah dan menyatakan keislaman di hadapan beliau, Umar bin Khaththab bagaikan bintang yang mulai menerangi dunia Islam serta mulai mengibarkan bendera jihad dan dakwah hingga beberapa tahun setelah Rasulullah wafat. Setelah menyatakan keislaman, Umar bin Khaththab segera menemui sanak keluarganya untuk mengajak mereka memeluk Islam. Seluruh anggota keluarga menerima ajakan Umar, termasuk di dalamnya Hafshah yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun.

    Menikah dan Hijrah ke Madinah

    Keislaman Umar membawa keberuntungan yang sangat besar bagi kaum muslimin dalam menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Kabar keislaman Umar ini mernotivasi para muhajirin yang berada di Habasyah untuk kembali ke tanah asal rnereka setelah sekian larna ditinggalkan. Di antara mereka yang kembali itu terdapat seorang pemuda bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahami. Pemuda itu sangat mencintai Rasulullah sebagaimana dia pun mencintai keluarga dan kampung halamannya. Dia hijrah ke Habasyah untuk rnenyelamatkan diri dan agamanya. Setibanya di Mekah, dia segera mengunjungi Umar bin Khaththab, dan di sana dia melihat Hafshah. Dia meminta Umar untuk menikahkan dirinya dengan Hafshah, dan Umar pun merestuinya. Pernikahan antara mujahid dan mukminah mulia pun berlangsung. Rumah tangga mereka sangat berbahagia karena dilandasi keirnanan dan ketakwaan.

    Ketika Allah menerangi penduduk Yatsrib sehingga memeluk Islam, Rasulullah . menernukan sandaran baru yang dapat membantu kaum muslimin. Karena itulah beliau mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib untuk menjaga akidah mereka sekaligus menjaga mereka dan penyiksaan dan kezaliman kaum Quraisy. Dalam hijrah ini, Hafshah dan suaminya ikut serta ke Yatsrib.

    Cobaan dan Ganjaran

    Setelah kaum muslirnin berada di Madinah dan Rasulullah . berhasil menyatukan mereka dalam satu barisan yang kuat, tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi orang musyrik yang telah memusuhi dan mengambil hak mereka. Selain itu, perintah Allah untuk berperang menghadapi orang musyrik sudah tiba.

    Peperangan pertarna antara umat Islam dan kaum musyrik Quraisy adalah Perang Badar. Dalam peperangan ini, Allah telah menunjukkan kemenangan bagi harnba- hamba-Nya yang ikhlas sekalipun jumlah mereka masih sedikit. Khunais termasuk salah seorang anggota pasukan muslimin, dan dia mengalami luka yang cukup parah sekembalinya dari peperangan tersebut. Hafshah senantiasa berada di sisinya dan mengobati luka yang dideritanya, namun Allah berkehendak memanggil Khunais sebagai syahid dalam peperangan pertama melawan kebatilan dan kezaliman, sehingga Hafshah menjadi janda. Ketika itu usia Hafshah baru delapan belas tahun, namun Hafshah telah memiliki kesabaran atas cobaan yang menimpanya.

    Umar sangat sedih karena anaknya telah menjadi janda pada usia yang sangat muda, sehingga dalam hatinya terbetik niat untuk menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang saleh agar hatinya kembali tenang. Untuk itu dia pergi ke rumah Abu Bakar dan merninta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikit pun. Kemudian Umar menemui Utsman bin Affan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, pada saat itu Utsman masih berada dalam kesedihan karena istrinya, Ruqayah binti Muhammad, baru meninggal. Utsman pun menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap dua sahabatnya, Uman sangat kecewa, dan dia bertambah sedih karena memikirkan nasib putrinya. Kemudian dia menemui Rasulullah dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah . bersabda, “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.” Semula Umar tidak memahami maksud ucapan Rasulullah, tetapi karena kecerdasan akalnya, dia kemudian memahami bahwa Rasulullah yang akan meminang putrinya.

    Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah untuk menikahi putrinya, dan kegernbiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menernui Abu Bakar untuk mengutarakan maksud Rasulullah. Abu Bakar berkata, “Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah telah rnenyebut-nyebut nama Hafshah, namun aku tidak mungkin membuka rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah membiarkannya, tentu akulah yang akan menikahi Hafshah.” Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak menikahi putrinya. Sedangkan sikap Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia bermaksud menyunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya dapat terus bersambung dengan Rasulullah. Setelah Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki dzunnuraini (pemilik dua cahaya). Pernikahan Rasulullah . dengan Hafshah lebih dianggap sebagai penghargaan beliau terhadap Umar, di samping juga karena Hafshah adalah seorang janda seorang mujahid dan muhajir, Khunais bin Hudzafah as-Sahami.

    Berada di Rumah Rasulullah

    Di rumah Rasulullah, Hafshah menempati kamar khusus, sama dengan Saudah binti Zum’ah dan Aisyah binti Abu Bakar. Secara manusiawi, Aisyah sangat mencemburui Hafshah karena mereka sebaya, lain halnya Saudah binti Zum’ah yang menganggap Hafshah sebagai wanita mulia putri Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah yang terhormat.

    Umar memahami bagaimana tingginya kedudukan Aisyah di hati Rasulullah. Dia pun rnengetahui bahwa orang yang rnenyebabkan kemarahan Aisyah sama halnya dengan menyebabkan kemarahan Rasulullah, dan yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap Rasulullah. Karena itu Umar berpesan kepada putrinya agar berusaha dekat dengan Aisyah dan mcncintainya. Selain itu, Umar meminta agar Hafshah rnenjaga tindak-tanduknya sehingga di antara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. Akan tetapi, mcmang sangat manusiawi jika di antara mereka rnasih saja terjadi kesalahpahaman yang bersumber dari rasa cemburu. Dengan lapang dada Rasulullab . mendamaikan mereka tanpa menimbulkan kesedihan di antara istri – istrinya. Salah satu contoh adalah kejadian ketika Hafshah melihat Mariyah al-Qibtiyah datang rnenemui Nabi dalam suatu urusan. Mariyah berada jauh dari masjid, dan Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalarn rumah Hafshah yang ketika itu sedang pergi ke rumah ayahnya, dia melihat tabir karnar tidurnya tertutup, sementara Rasulullah dan Mariyah berada di dalamnya. Melihat kejadian itu, amarah Hafshah meledak. Hafshah menangis penuh amarah. Rasulullah berusaha membujuk dan meredakan amarah Hafshah, bahkan beliau bersumpah rnengharamkan Mariyah baginya kalau Mariyah tidak merninta maaf pada Hafshah, dan Nabi meminta agar Hafshah rnerahasiakan kejadian tersebut.

    Merupakan hal yang wajar jika istri-istri Rasulullah merasa cemburu terhadap Mariyah, karena dialah satu-satunya wanita yang melahirkan putra Rasulullah setelah Siti Khadijah r.a.. Kejadian itu segera menyebar, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk menutupi rahasia tersebut. Berita itu akhirnya diketahui oleh Rasulullah sehingga beliau sangat marah. Sebagian riwayat mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut, Rasulullah . menceraikan Hafshah, namun beberapa saat kemudian beliau merujuknya kembali karena melihat ayah Hafshah, Umar, sangat resah. Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah bermaksud menceraikan Hafshah, tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan beliau untuk mempertahankan Hafshah sebagai istrinya karena dia adalah wanita yang berpendirian teguh. Rasulullah pun mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terlebih karena tersebut Hafshah sangat menyesali perbuatannya dengan membuka rahasia dan memurkakan Rasulullah .

    Umar bin Khaththab mengingatkan putrinya agar tidak lagi membangkitkan amarah Rasulullah dan senantiasa menaati serta mencari keridhaan beliau. Umar bin Khaththab meletakkan keridhaan Rasulullah . pada tempat terpenting yang harus dilakukan oleh Hafshah. Pada dasarnya, Rasulullah menikahi Hafshah karena memandang keberadaan Umar dan merasa kasihan terhadap Hafshah yang ditinggalkan suaminya. Allah menurunkan ayat berikut ini sebagai antisipasi atas isu-isu yang tersebar.

    “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah menghalalkannya bagimu,- kamu mencari kesenangan hati istri -istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dan sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dan istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberiitakan Allah kepadanya) dan rnenyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukrnin yang haik; dan selain dan itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan.” (Qs. At-Tahrim:1-5)

    Cobaan Besar

    Hafshah senantiasa bertanya kepada Rasulullah dalam berbagai rnasalah, dan hal itu menyebabkan marahnya Umar kepada Hafshah, sedangkan Rasulullah . senantiasa memperlakukan Hafshah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau bersabda, “Berwasiatlah engkau kepada kaum wanita dengan baik.” Rasulullah . pernah marah besar kepada istri-istrinya ketika mereka meminta tambahan nafkah sehingga secepatnya Umar mendatangi rumah Rasulullah. Umar melihat istri-istri Rasulullah murung dan sedih, sepertinya telah terjadi perselisihan antara mereka dengan Rasulullah. Secara khusus Umar memanggil putrinya, Hafshah, dan mengingatkannya untuk menjauhi perilaku yang dapat membangkitkan amarah beliau dan menyadari bahwa beliau tidak memiliki banyak harta untuk diberikan kepada mereka. Karena marahnya, Rasulullah bersumpah untuk tidak berkumpul dengan istri-istri beliau selama sebulan hingga mereka menyadari kesalahannya, atau menceraikan mereka jika mereka tidak menyadari kesalahan. Kaitannya dengan hal ini, Allah berfirman,

    “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di antara kalian pahala yang besar. “ (QS. Al-Ahzab)

    Rasulullah . menjauhi istri-istrinya selama sebulan di dalam sebuah kamar yang disebut khazanah, dan seorang budak bernama Rabah duduk di depan pintu kamar.

    Setelah kejadian itu tersebarlah kabar yang meresahkan bahwa Rasulullah . telah menceraikan istri-jstri beliau. Yang paling merasakan keresahan adalah Urnar bin Khaththab, sehingga dia segera rnenemui putrinya yang sedang menangis. Urnar berkata, “Sepertinya Rasulullah telah menceraikanmu.” Dengan terisak Hafshah menjawab, “Aku tidak tahu.” Umar berkata, “Beliau telah menceraikanmu sekali dan merujukmu lagi karena aku. Jika beliau menceraikanmu sekali lagi, aku tidak akan berbicara dengan mu selama-lamanya.” Hafshah menangis dan menyesali kelalaiannya terhadap suami dan ayahnya. Setelah beberapa hari Rasulullah . menyendiri, belum ada seorang pun yang dapat memastikan apakah beliau menceraikan istri-istri beliau atau tidak. Karena tidak sabar, Umar mendatangi khazanah untuk menemui Rasulullah yang sedang rnenyendiri. Sekarang ini Umar menemui Rasulullah bukan karena anaknya, melainkan karena cintanya kepada beliau dan merasa sangat sedih melihat keadaan beliau, di samping memang ingin memastikan isu yang tersebar. Dia merasa putrinyalah yang menjadi penyebab kesedihan beliau. Umar pun meminta penjelasan dari beliau walaupun di sisi lain dia sangat yakin bahwa beliau tidak akan menceraikan istri – istri beliau. Dan memang benar, Rasulullah . tidak akan menceraikan istri-istri beliau sehingga Umar meminta izin untuk mengumumkan kabar gembira itu kepada kaum muslimin. Umar pergi ke masjid dan mengabarkan bahwa Rasulullah . tidak menceraikan istri-istri beliau. Kaum muslimin menyambut gembira kabar tersebut, dan tentu yang lebih gembira lagi adalah istri-istri beliau.

    Setelah genap sebulan Rasulullah menjauhi istri-istrinya, beliau kembali kepada mereka. Beliau melihat penyesalan tergambar dari wajah mereka. Mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk lebih meyakinkan lagi, beliau rnengurnumkan penyesalan mereka kepada kaurn muslimin. Hafshah dapat dikatakan sebagai istri Rasul yang paling menyesal sehingga dia mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai tebusan bagi Rasulullah. Hafshah memperbanyak ibadah, terutama puasa dan salat malam. Kebiasaan itu berlanjut hingga setelah Rasulullah wafat. Bahkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Urnar, dia mengikuti perkembangan penaklukan-penaklukan besar, baik di bagian timur maupun barat.

    Hafshah merasa sangat kehilangan ketika ayahnya meninggal di tangan Abu Lu’luah. Dia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman, yang ketika itu terjadi fitnah besar antar muslirnin yang menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman hingga masa pembai’atan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ketika itu, Hafshah berada pada kubu Aisyah sebagaimana yang diungkapkannya, “Pendapatku adalah sebagaimana pendapat Aisyah.” Akan tetapi, dia tidak termasuk ke dalam golongan orang yang menyatakan diri berba’iat kepada Ali bin Abi Thalib karena saudaranya, Abdullah bin Umar, memintanya agar berdiam di rumah dan tidak keluar untuk menyatakan ba’iat.

    Tentang wafatnya Hafshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke empat puluh tujuh pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Dia dikuburkan di Baqi’, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Nabi yang lain.

    Pemilik Mushaf yang Pertama

    Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya A1-Qur’an di tangannya setelah mengalami penghapusan karena dialah satu-satunya istrii Nabi . yang pandai membaca dan menulis. Pada masa Rasul, A1-Qur’an terjaga di dalam dada dan dihafal oleh para sahabat untuk kemudian dituliskan pada pelepah kurma atau lembaran-lembaran yang tidak terkumpul dalam satu kitab khusus.

    Pada masa khalifah Abu Bakar, para penghafal A1-Qur’an banyak yang gugur dalam peperangan Riddah (peperangan rnelawan kaum murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar bin Khaththab untuk mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur’an yang tercecer. Awalnya Abu Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang mengada-ada karena pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, atas desakan Umar, Abu bakar akhirnya memerintah Hafshah untuk mengumpulkan Al-Qur’an, sekaligus menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Qur’an itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal.

    Lihat pula

    Referensi

    Advertisements
     
    • wikki 2:56 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      Hafsah adalah putri dari Umar. Sebelum menikah dengan Muhammad, Hafsah telah menikah dengan Khunais yang gugur saat perang Uhud. Pernikahan dengan Muhammad dilakukan sekitar 7 bulan setelah Hafsah menjanda. Sebelum itu Hafsha adalah isteri Khunais – termasuk orang yang mula-mula dalam Islam – yang sudah meninggal tujuh bulan lebih dulu sebelum perkawinannya dengan Muhammad.
      Usia Hafsah sendiri saat Khunais gugur baru 18 tahun, yang berarti dia dinikahi Muhammad saat berusia sekitar 19 tahun. Sumber :

      Abbas Jamal, halaman 38
      Khunais gugur sebagai pahlawan syuhada dalam perang Uhud, maka tinggallah Hafsah sebagai janda mujahidin dalam usia 18 tahun.
      Hafsa dinikahi Muhammad di tahun 625, 3 bulan setelah migrasi ke Medinah. Dia berumur 19 tahun dan Muhammad berumur 55 tahun ketika menikah. Dia hidup bersama Muhammad selama 8 th. Meninggal ditahun 669 pada umur 63. Yah, usia 18/19 tahun jelas belum tua rentalah. Masih kaya Tamara Blezinsky. Masih seger-segernya tuh. Masalah timbul dirumah Hafsa istri Muhammad yang lain, dimana Maria ditempatkan sebagai pembantu Hafsa. Ingat Maria adalah budak atau pembantu, bukan istri Muhammad.

      Di suatu malam Muhammad mengunjungi istrinya Hafsa, malam itu adalah “jatah” Hafsa untuk tidur dengan Muhammad. Ketika masuk rumah, ia melihat Maria, gadis remaja yang cantik jelita, merangsang sukma. Dia membangkitkan nafsu birahi pria manapun yang melihatnya. Namun rupanya Hafsa juga ada dirumah. Muhammad yang sudah tak tahan untuk berduaan dengan Maria, akhirnya mencari cara untuk mengusir Hafsa. Dia suruh Hafsa pergi dengan alasan dipanggil ayahnya. Segera setelah istrinya pergi, dia menikmati Maria diranjang Hafsa.

      Tahu ayahnya ternyata tidak memanggil, Hafsa bergegas kembali kerumah. Ia begitu kaget ketika melihat Muhammad dan Maria yang sedang bermesraan diatas ranjangnya. Hafsa pun marah, dan mulai berteriak sekencang2nya, “Kau lakukan ini dirumahku? Disaat giliranku? Muhammad panik, lalu ia menenangkan Hafsa, ia berjanji untuk tidak menyentuh Maria lagi jika Hafsa diam dan tidak menceritakan peristiwa malam itu kepada siapapun. Hafsa masih tak percaya dengan ucapan Muhammad, lalu ia pun meminta Muhammad untuk bersumpah atas nama Allah. Muhammad menuruti permintaan Hafsa, kemudian ia berkata, “Demi Allah aku tak akan menyentuh Maria” [Tabaqat v. 8 p. 223]

      Beberapa hari kemudian Muhammad secara tak sengaja mendengar pembicaraan Hafsa yang sedang curhat dengan Aisha. Muhammad kaget ketika ia tau ternyata Hafsa menceritakan kejadian semalam kepada Aisha. Merasa permintaan untuk merahasiakan affairnya tidak dituruti Hafsa, akhirnya ia mengeluarkan ayatnya;

      QS 66: 3 – 4

      Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula

      Muhammad yang merasa sakit hati atas perbuatan Hafsa membocorkan rahasianya akhirnya kembali lagi ketempat Maria, sudah kepalang tanggung pikirnya. Disaat mereka sedang berduaan, masuklah Hafsa kerumah, dan lagi2 ia mendapati Muhammad bersama Maria. Hafsa pun mulai mengomel; “Bagaimana janjimu? Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyentuh Maria lagi. Haram itu..” Lalu Muhammad berkata bahwa barusan ia dikirimi Jibril ayat2 dari surga;

      QS 66:1-2

      Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

      Hafsa masih menggerutu dengan ucapan Muhammad tersebut, lalu nabi berkata lagi;

      QS 66: 5

      Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.

      Karena diancam cerai, Hafsa langsung terdiam. Dia sadar bahwa ia bisa kesepian jika dicerai oleh Muhammad. Karena Allah sudah mengatakan bahwa siapapun tidak boleh menikahi istri2 rasul.

      QS 33: 53

      Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.

      Karena peristiwa itu pula, Muhammad mengambil kesempatan sebulan penuh untuk bercumbu dengan Maria. Sekaligus memberi pelajaran kepada Hafsa dan Aisha yang sering bergosip mengenai dirinya.

      Sahih Bukhari 43, Nomer 648:

      Sang Nabi tidak mengunjungi istri2nya karena Hafsa membocorkan rahasia kepada Aisha, dan sang Nabi berkata bahwa dia tidak akan mengunjungi para istrinya selama sebulan karena dia marah pada mereka ketika Allah membatalkan sumpahnya untuk tidak menyentuh Maria lagi.”

      Setahun kemudian setelah peristiwa itu Maria melahirkan seorang bayi yang diberi nama Ibrahim oleh Muhammad. Peristiwa Maria mempunyai anak ini begitu menggemparkan dikalangan istri2 Muhammad, karena diantara 15 an wanita yang ditiduri Muhammad tidak ada yang bisa mendapatkan anak dari Muhammad. Mereka berpikir bagaimana mungkin Maria bisa mengandung anak dari Muhammad sedangkan Aisha yang dinikahi Muhammad selama kurang lebih 9 tahun saja tidak bisa memiliki anak.

      Namun bagaimanapun juga Muhammad begitu gembira atas kelahiran anak Maria tersebut. Muhammad kemudian membawa Ibrahim kepada Aisha dan berkata, “Lihat betapa dia mirip denganku.” Aisya menjawab, “Tak kulihat kemiripannya denganmu.” Muhammad bilang, tidakkah kau lihat pipinya yang tembam dan putih? Aisya lalu menjawab, “Semua bayi yang baru lahir yang minum susu punya pipi tembam.” [Tabaqat Volume I, page 125]

      Hayo! Anak siapakah sebenarnya Ibrahim ini?

      Kemalangan rupanya menimpa Ibrahim, tanpa sebab yang jelas bayi 2 bulan ini akhirnya meninggal. Sekali lagi kisah ini mempertanyakan moral nabi kita Muhammad, seseorang yang dianggap sebagai suri teladan yang baik.
      Mungkinkah Allah mengirim Jibril hanya untuk membatalkan sumpah Muhammad kepada Hafsa?
      Bermoralkah seorang kakek berumur 60 tahun menghamili pembantunya yang berumur 20 tahun tanpa menikahinya?
      Inikah yang dikatakan suri teladan terbaik?

      • lim bho tak 7:12 am on 12/02/2013 Permalink | Reply

        KISAH SEBENARNYA TENTANG ISTRI NABI MUHAMMAD. SAW

        JAWABAN ATAS FITNAH YAHUDI ANGGUR ASAM YANG DENGKI SAMA NABI MUHAMMAD BANGSA ARAB KETURUNAN NABI ISMAIL ANAK NABI IBRAHIM.
        KISAH ISTRI NABI MUHAMMAD JUWAIRIAH RA.

        (8) Hadhrat Juwairiah bintul Harith (Radhiyallaho anha):

        She was one of the large number of captives who fell ! into Muslim hands after the battle of Muraisee’, and she
        was given to Hadhrat Thabit bin Qais (Radhiyallaho anho).
        He offered to release her for 360 Dirhams. She came to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0,Pr ophet of Allah! I am the daughter of Harith who
        is the chief of the tribe, and you know my story. The
        ransom demanded by Hadhrat Thabit (Radhiyallaho
        anho) is too much for me. I have come to seek your
        help in the matter.”
        The Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) agreed to pay her
        ransom, set her free, and offered to take her as his wife. She
        was very glad to accept this offer. She was married to the
        Prophet in 5 A. H. and as a consequence of this marriage,
        the prisoners of Banu Mustaliq (Juwairiah’s tribe), about a
        hundred families, were all set free by the Muslims. “The
        tribe which was so honoured by the Prophet’s relationship,”
        they said, “should not remain in slavery.”
        Such were the noble expediences in all the marriages
        of the Prophet. Hadhrat Juwairiah (Radhiyallaho anha) was
        very pretty, her face was very attractive. Three days before
        her falling captive in the battle, she had seen in her dream
        the moon coming out from Madinah and falling into her
        lap. She says:
        “When I was captured, I began to hope that my dream
        would come true.”
        She was 20 at the time of her marriage with the Prophet
        (Sallallaho alaihe wasallam). She died in Rabi-ul-Awwal,
        50 A. H., in Madinah at the age of 65. ,

        ALLAH TELAH MEMULIAKAN NABI MUHAMMAD DI QURAN
        MAKANYA ORANG PINTER SEKALIBER PROFFESOR DOKTOR YAHYA WALONI DAN DOKTOR IRENE HANDONO KEMBALI KE ISLAMITULAH KEBENARAN KISAHNYA.
        Reply

        LIM BHO TAK Says:

        February 11, 2013 at 4:43 am

        KISAH SEBENARNYA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW . SAFIYYAH RA

        (10) Hadhrat Safiyyah (Kadhiyallaho anha):
        She was the daughter of Hayi, who was a descendant
        of Hadhrat Harun (Alaihis salaam) the brother of Hadhrat
        Moosa (Alaihis salaam). She was first married to Salam bin
        Mishkam and then to Kinanah bin Abi Huqaiq at the time
        of Kheybar. Kinanah was killed in the battle and she was
        captured by the Muslims. Hadhrat Dahya Kalbi (Radhiyallaho
        anho) requested for a maid, and the Prophet made her
        over to him. At this, the other Sahabah approached the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0, Prophet of Allah! Banu Nazir and Banu Quraizah
        (the Jewish tribes of Madinah) will feel offended to see
        the daughter of a Jewish chief working as a maid. We
        therefore suggest that she may be taken as your own
        wife.” I
        The Prophet paid a reasonable sum of money to Hadhrat
        Dahya (Radhiyallaho anho) as ransom, and said to Safiyyah:
        “You are now free: if you like you can go back to your
        tribe or can be my wife.”
        She said: “I longed to be with you while I was a Jew. How
        can I leave you now, when I am a Muslim?”
        This is probably a reference to the fact that she once saw in
        -her dream a portion of the moon falling into her lap. When
        she mentioned her dream to Kinanah, he smote her face. so
        severely that she developed a mark on her eye He said:
        “You seem to be desiring to become the wife of the
        King of Madinah.”
        Her father is also reported to have treated her similarly
        when she related the same or similar dream to him. She
        again saw (in her dream) the sun lying on her breast. When
        she mentioned this to her husband, he remarked:
        “You seem to be wishing to become the Queen of Madinah.”
        She says: “I was seventeen when I was married to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam).
        She came to live with the Prophet (Sallallaho alaihe
        wasallam) when he was camping at the first stage from
        Khaiber. Next morning, he said to the Sahabah:
        “Let everybody bring whatever he has got to eat.”
        They brought their own dates, cheese, butter, etc. A long
        leather sheet was spread and all sat round it to share the
        food among themselves. This was the Walimah for the marriage.
        She died in Ramadhan, 50 A. H., when she was about
        60.
        PENDETA2 YAHUDI PERUSAK AGAMA ALLAH, PEMBUNUH PARA NABI ALLAH.ANGGUR ASAM ITU AKAN BINASA DI NERAKA

  • SERBUIFF 1:49 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi   

    Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi 

    Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi
    Rubrik: Jejak – Dibaca: 2781 kali

    Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

    Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

    Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

    Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
    Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
    “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

    memberikan mahar berupa kebebasannya.

    Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

    Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

    Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

    Aini Firdaus

    http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

    =================================

     
     

    Shafiyah binti Huyay

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Shafiyah binti Huyay (Bahasa Arab صفية بنت حيي‎, Shafiya/ Shafya/ Safiyya/ Sofiya) (sekitar 610 M – 670 M) adalah salah satu istri ke-11 Muhammad yang berasal dari suku Bani Nadhir. Ketika menikah, ia masih berumur 17 tahun.[1] Ia mendapatkan julukan “Ummul mu’minin“.[2] Bapaknya adalah ketua suku Bani Nadhir, salah satu Bani Israel yang bermukim disekitar Madinah.

    Daftar isi

    Genealogi

    Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin Nadhir bin al-Kham bin Yakhurn, termasuk keturunan Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Israel bin Ishaq bin Ibrahim. Ibunya bernama Barrah binti Samaual darin Bani Quraizhah. Shafiyyah dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah, atau dua tahun setelah masa kenabian Muhammad.

    Biografi

    Shafiyah telah menjanda sebanyak dua kali, karena dia pernah kawin dengan dua orang keturunan Yahudi yaitu Salam bin Abi Al-Haqiq (dalam kisah lain dikatakan bernama Salam bin Musykam), salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah, namun rumah tangga mereka tidak berlangsung lama.

    Kemudian suami keduanya bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abil Hafiq, ia juga salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah yang diusir Rasulullah. Dalam Perang Khaibar, Shafiyah dan suaminya Kinanah bin Rabi’ telah tertawan, karena kalah dalam pertempuran tersebut. Dalam satu perundingan Shafiyah diberikan dua pilihan yaitu dibebaskan kemudian diserahkan kembali kepada kaumny atau dibebaskan kemudian menjadi isteri Muhammad, kemudian Safiyah memilih untuk menjadi isteri Muhammad.

    Shafiyah memiliki kulit yang sangat putih dan memiliki paras cantik, menurut Ummu Sinan Al-Aslamiyah, kecantikannya itu sehingga membuat cemburu istri-istri Muhammad yang lain. Bahkan ada seorang istri Muhammad dengan nada mengejek, mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy bangsa Arab, sedangkan dirinya adalah wanita asing (Yahudi). Bahkan suatu ketika Hafshah sampai mengeluarkan lisan kata-kata, ”Anak seorang Yahudi” hingga menyebabkan Shafiyah menangis. Muhammad kemudian bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah seorang putri seorang nabi dan pamanmu adalah seorang nabi, suamimu pun juga seorang nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?” Kemudian Muhammad bersabda kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!” Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri-istri nabi yang lain maka diapun berkata, “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku (leluhur) adalah Harun dan pamanku adalah Musa?”[3] Shafiyah wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu’awiyah.

    Sejak kecil dia menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci Taurat dia membaca bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi penutup semua nabi. Pikirannya tercurah pada masalah kenabian tersebut, terutama setelah Muhammad muncul di Mekkah. Dia sangat heran ketika kaumnya tidak mempercayai berita besar tersebut, padahal sudah jelas tertulis di dalam kitab mereka sendiri. Demikian juga ayahnya, Huyay bin Akhtab, yang sangat gigih menyulut permusuhan terhadap kaum Muslim.

    Sifat dusta, tipu muslihat, dan pengecut ayahnya sudah tampak di mata Shafiyyah dalam banyak peristiwa. Di antara yang menjadi perhatian Shafiyyah adalah sikap Huyay terhadap kaumnya sendiri, Yahudi Bani Qurayzhah. Ketika itu, Huyay berjanji untuk mendukung dan memberikan pertolongan kepada mereka jika mereka melepaskan perjanjian tidak mengkhianati kaum Muslim (Perjanjian Hudaibiyah). Akan tetapi, ketika kaum Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut, Huyay melepaskan tanggung jawab dan tidak menghiraukan mereka lagi. Hal lain adalah sikapnya terhadap orang-orang Quraisy Mekah. Huyay pergi ke Mekah untuk menghasut kaum Quraisy agar memerangi kaum Muslim dan mereka menyuruhnya mengakui bahwa agama mereka (Quraisy) lebih mulia daripada agama Muhammad, dan Tuhan mereka lebih baik daripada Tuhan Muhammad.

    Penaklukan Khaibar dan Penawanannya

    Perang Khandaq telah membuka tabir pengkhianatan kaum Yahudi terhadap perjanjian yang telah mereka sepakati dengan kaum muslimin. Muhammad segera menyadari ancaman yang akan menimpa kaum muslimin dengan berpindahnya kaum Yahudi ke Khaibar kernudian membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum muslimin.

    Setelah perjanjian Hudaibiyah disepakati untuk menghentikan permusuhan selama sepuluh tahun, Muhammad merencanakan penyerangan terhadap kaum Yahudi, tepatnya pada bulan Muharam tahun ketujuh hijriah. Muhammad memimpin tentara Islam untuk menaklukkan Khaibar, benteng terkuat dan terakhir kaum Yahudi. Perang berlangsung dahsyat hingga beberapa hari lamanya, dan akhirnya kemenangan ada di tangan umat Islam. Benteng-benteng mereka berhasil dihancurkan, harta benda mereka menjadi harta rampasan perang, dan kaum wanitanya pun menjadi tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat Shafiyyah, putri pemimpin Yahudi yang ditinggal mati suaminya.

    Bilal membawa Shafiyyah dan putri pamannya menghadap Muhammad. Di sepanjang jalan yang dilaluinya terlihat mayat-mayat tentara kaumnya yang dibunuh. Hati Shafiyyah sangat sedih melihat keadaan itu, apalagi jika mengingat bahwa dirinya menjadi tawanan kaum muslimin. Muhammad memahami kesedihan yang dialaminva, kemudian ia bersabda kepada Bilal, “Sudah hilangkah rasa kasih sayang dihatimu, wahai Bilal, sehingga engkau tega membawa dua orang wanita ini melewati mayat-mayat suami mereka?” Muhammad memilih Shafiyyah sebagai istri setelah terlebih dahulu menawarkan untuk memeluk agama Islam kepadanya dan kemudian Shafiyyah menerima tawaran tersebut.

    Seperti telah dikaji di atas, Shafiyyah telah banyak memikirkan Muhammad sejak dia belum mengetahui kerasulan beliau. Keyakinannya bertambah besar setelah dia mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Anas berkata, “Rasulullah ketika hendak menikahi Shafiyyah binti Huyay bertanya kepadanya, ‘Adakah sesuatu yang engkau ketahui tentang diriku?’ Dia menjawab, ‘Ya Rasulullah, aku sudah rnengharapkanrnu sejak aku masih musyrik, dan memikirkan seandainya Allah mengabulkan keinginanku itu ketika aku sudah memeluk Islam.” Ungkapan Shafiyyah tersebut menunjukkan rasa percayanya kepada Muhammad dan rindunya terhadap Islam.

    Bukti-bukti yang jelas tentang keimanan Shafiyyah dapat terlihat ketika dia memimpikan sesuatu dalam tidurnya kemudian dia ceritakan mimpi itu kepada suaminya. Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya marah dan menampar wajah Shafiyyah sehingga berbekas di wajahnya. Muhammad melihat bekas di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

    Masa Pernikahannya (Menjadi Ummu al-Mukminin)

    Muhammad menikahi Shafiyyah dan kebebasannya menjadi mahar perkawinan dengannya. Pernikahan Muhammad dengan Shafiyyah didasari beberapa landasan. Shafiyyah telah mernilih Islam serta menikah dengan Muhammad ketika ia memberinya pilihan antara memeluk Islam dan menikah dengan beliau atau tetap dengan agamanya dan dibebaskan sepenuhnya. Ternyata Shafiyyah memilih untuk tetap bersama Muhammad, Selain itu, Shafiyyah adalah putri pemimpin Yahudi yang sangat membahayakan kaum muslim, di samping itu, juga karena kecintaannya kepada Islam dan Muhammad.

    Muhammad menghormati Shafiyyah sebagaimana hormatnya ia terhadap istri-istri yang lain. Akan tetapi, istri-istri Muhammad menyambut kedatangan Shafiyyah dengan wajah sinis karena dia adalah orang Yahudi, di samping juga karena kecantikannya yang menawan. Akibat sikap mereka, Muhammad pernah tidak tidur dengan Zainab binti Jahsy karena kata-kata yang dia lontarkan tentang Shafiyyah. Aisyah bertutur tentang peristiwa tersebut, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba unta Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih. Rasulullah berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau memberikan salah satu dan untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi kepada seorang perempuan Yahudi?’ Akhirnya, beliau meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah dan Muharam. Artinya, beliau tidak mendatangi Zainab selama tiga bulan. Zainab berkata, ‘Sehingga aku putus asa dan aku mengalihkan tempat tidurku.” Aisyah mengatakan lagi, “Suatu siang aku melihat bayangan Rasulullah datang. Ketika itu Shafiyyah mendengar obrolan Hafshah dan Aisyah tentang dirinya dan mengungkit-ungkit asal-usul dirinya. Betapa sedih perasannya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis. Rasulullah menghiburnya, ‘Mengapa tidak engkau katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa.” Di dalam hadits riwayat Tirmidzi juga disebutkan, “Ketika Shafiyyah mendengar Hafshah berkata, ‘Perempuan Yahudi!’ dia menangis, kemudian Muhammad menghampirinya dan berkata, ‘Mengapa engkau menangis?’ Dia menjawab, ‘Hafshah binti Umar mengejekku bahwa aku wanita Yahudiah.’ Kemudian Muhammad bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu adalah nabi, dan kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang dia banggakan kepadamu?’ Muhammad kemudian berkata kepada Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, Hafshah!”

    Salah satu bukti cinta Hafshah kepada Muhammad terdapat pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalarn Thabaqta-nya tentang istri-istri Nabi yang berkumpul menjelang beliau wafat. Shafiyyah berkata, “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, beliau berkata, “Berkumurlah!” Dengan terkejut mereka bertanya, “Dari apa?” Beliau menjawab, “Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”

    Setelah Muhammad wafat, Shafiyyah merasa sangat terasing di tengah kaum muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dan Yahudi, tetapi dia tetap komitmen terhadap Islam dan mendukung perjuangan Muhammad. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, dia berada di barisan Utsman. Selain itu, dia pun banyak meriwayatkan hadits Nabi. Dia wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian menguburkannya di Baqi’.

    Catatan kaki

    1. ^ Safiyya bint Huyay, Fatima az-Zahra by Ahmad Thompson
    2. ^ a b c d Stowasser, Barbara. The Mothers of the Believers in the Hadith. The Muslim World, Volume 82, Issue 1-2: 1-36.
    3. ^ Al-Shati’, 1971, 178-181

    Referensi

     
    • wikki 2:41 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

      Safiyah adalah gadis cantik yang berusia 17 tahun, ia adalah putri dari kepala suku Yahudi yang dikenal sebagai Bani Nadir. Nama ayahnya adalah Huyah ibn Akhtab. Bani Nadir dirampok oleh Muhammad dan diusir paksa oleh sang Nabi untuk meninggalkan tanah Arab. Sisa Bani Nadir dan keluarga Huyah ibn Akhtab, termasuk Safiyah melarikan diri ke tempat Bani Qurayza di Khaibar. Di Khaibar inilah Safiyah menikah dengan seorang pemuda Yahudi bernama Kinana al-Rabi, bendahara Bani Nadir.

      Beberapa bulan kemudian Muhammad dan pasukannya bersiap2 untuk merampok Bani Qurayza juga. Untuk meyakinkan dan menyenangkan pengikutnya atas perampokan ini, Muhammad menurunkan Sura al-Fath (Sura 48 ayat 20). Di sura ini ALLAH MENJANJIKAN BARANG2 HASIL PERAMPOKAN BAGI PARA MUSLIM YANG BERGABUNG DALAM JIHAD.

      Kemudian Muhammad memimpin tentaranya dan menyerang masyarakat Yahudi Khaybar. Akhirnya masyarakat Khaybar menyerah, Muhammad memerintahkan para lelaki agar diikat tangan mereka, sementara para wanita dan anak2 disekap secara terpisah. Melihat ini, suku Al-Aus memohon agar nabi memperlakukan mereka dengan ringan. Muhammad mengusulkan agar Sa‘d bin Mu‘adh, diberi tugas untuk menentukan hukuman dan mereka setuju.

      Sad bin Mu‘adh kemudian berkata; “Saya putuskan bahwa para laki2 mereka harus dibunuh dan anak2 serta kaum wanitanya harus diambil jadi tawanan”. Sahut Muhammad, “Hebat Sad! Engkau telah menjatuhkan putusan untuk mereka dengan putusan (menyerupai) keputusan Allah”. (Sahih Bukhari 52:280)

      Ahhirnya Sekitar 600-800 lelaki Yahudi dibantai disana termasuk ayah Safiyah juga. Rupanya Muhammad belum puas terhadap banyaknya harta yang ia dapatkan dari perampokan ini. Ia mencari Kinana al-Rabi, suami Safiyah yang mengelola keuangan Bani Nadir.

      “Ketika dia (nabi) menanyakannya (Kinana) tentang harta lainnya, Kinana menolak mengungkapkannya, maka nabi memberi perintah kepada al-Zubayr Al-Awwam, “Siksa dia hingga kamu dapat apa yang dia punya.” Lalu dia menyalakan api dengan batu keras dan baja di dadanya hingga dia hampir mati. Lalu sang nabi menyerahkannya kepada Maslama dan dia penggal kepalanya, sebagai balas dendam bagi saudara lelakinya Mahmud.” (Ibn Ishaq “Sirat Rasulallah”, p 515)

      Setelah para pria dibunuh, para wanitanya dikumpulkan untuk dibagi2kan kepada para Jihadis.

      Sahih Bukhari 8 no 367

      Dikisahkan oleh ‘Abdul ‘Aziz: Anas berkata, ‘Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar, kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih gelap. Sang Nabi berjalan menunggang kuda dan Abu Talha berjalan menunggang kuda pula dan aku menunggang kuda di belakang Abu Talha. Sang Nabi melewati jalan ke Khaibar dengan cepat dan lututku menyentuh paha sang Nabi. Dia lalu menyingkapkan pahanya dan kulihat warna putih di pahanya. Ketika dia memasuki kota, dia berkata, “Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.” Dia mengulangi kalimat ini tiga kali. Orang2 ke luar untuk bekerja dan beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami berkata, “Dengan tentaranya.”)

      Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para tawanan, dan harta benda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’ Sang Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik dari suku2 Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’ Maka sang Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’ Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.”

      Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi.

      Oo begitu ya kelakuan seorang nabi, tak tahan melihat gadis cantik lalu merebutnya dari tangan Dihya?

      Karena tak tahan dengan kecantikannya maka Muhammad pun mengambil Safiyah untuk ditidurinya. Malam itu juga Muhammad menggauli Safiyah, setelah siang tadi ia puas membantai anggota suku, keluarga, ayah, serta suami Safiyah.

      Bagaimana anda membayangkan perasaan Safiyah saat itu?

      Di Tabaqat dikisahkan bahwa Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman selama Muhammad menggauli Safiyah. Ketika fajar tiba, nabi melihat Abu Ayyub terus berjaga2. Nabi bertanya alasannya dan ia menjawab, ”Saya khawatir tentang perbuatan wanita ini terhadapmu. Anda telah membunuh suami, ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat menghawatirkan pembalasan darinya.”

      Keesokan harinya baru dilaksanakan pernikahan Muhammad dan Safiah, nah di pesta pekawinan ini Muhammad di racun oleh wanita Yahudi dan tewas 3 tahun kemudian.

      Bagaimana Islam Arab membumbui kisah nabinya ini agar nampak mulia?

      Kisah dibawah ini diambil dari Tabaqat nya Ibn Sa”ad;

      “Nabi kemudian memberikannya pilihan: bergabung dengan sukunya setelah bebas ATAU menerima Islam dan mengadakan hubungan perkawinan dengan nabi.”

      “Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, berumur 17 tahun, dan sangat cantik. Bukan hanya ia sangat mencintai Muhammad (???) iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhammad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, ”Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?”, jawabnya, ”Ia adalah benar seorang nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita” (???) , lalu yang lain berkata, ”Lalu apa yang harus dilakukan?” jawabannya adalah “Kita harus menentangnya sekuat tenaga.”

      “Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai cara. Hal ini jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.”

      “Kamu tahu setelah pernikahan rasul dengan Syafiah, beliau melihat tanda bekas Tamparan di pipi Syafiah dan beliau bertanya :”Apa ini?” Syafiah menceritakan bahwa dia bermimpi bahwa rembulan telah jatuh di kamarnya, (mengisyaratkan mimpi bahwa ia akan menikah dengan beliau), dan kemudian suaminya menampar pipinya… “

      Betapa lucunya pembelaan orang Arab satu ini !

      Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin dua orang Yahudi menganggap Muhammad telah diramalkan di kitab mereka? Sedangkan Isa saja tidak mereka anggap sebagai nabi? Bagaimana mungkin dua orang Yahudi berhasil mengetahui ramalan tentang Muhammad dari kitab mereka, sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim saja tak mampu menemukannya!

      Andaipun benar mereka menganggap Muhammad adalah nabi, logiskah jika kemudian mereka justru menentang Muhammad ? Bukannya mereka seharusnya berbondong2 masuk Islam…

      Benarkah Syafiah secara suka rela menyerahkan dirinya kepada Muhammad? Bukankah itu bertentangan dengan kisah yang diceritakan pada Sahih Bukhari? Bukankah Safiyah adalah tawanan, yang ingin diperkosa Dihya, kemudian Muhammad merebutnya karena Syafiah sangat2 cantik. Dimana sukarelanya?

      Mungkinkah Syafiah bemimpi bertemu Dewa Bulan ( Muhammad maksudnya), kemudian ia jatuh hati pada Muhammad karena mimpinya itu? Mungkinkah Syafiah begitu gembira tidur bersama Muhammad seorang kakek 59 tahun, saat sebelumya 600 orang saudaranya termasuk ayah dan suaminya dibantai oleh Muhammad?

      Jika anda memuji perbuatan Muhammad tersebut maka para muslim seharusnya menyerang rumah2 non-muslim, membunuh mereka dan memperkosa istri2 mereka. Jika anda berkata TIDAK dan tindakan Muhammad pada jaman tersebut tidak dapat diterapkan pada peradaban sekarang, maka semua ayat yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti contoh Muhammad menjadi tidak berarti.

      Muhammad bukan hanya figur sejarah.. Sebelum menjadi presiden Amerika, Washington mungkin meniduri budaknya. Pada jaman tersebut mungkin tindakan itu dianggap biasa, namun tidak ada orang yang mengatakan bahwa tindakan Washington ataupun Muhammad yang meniduri budak merupakan contoh yang harus diikuti UNTUK SEGALA JAMAN DAN UNTUK SEMUA BANGSA !

      • SERBUIFF 11:07 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

        Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi

        Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

        Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

        Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

        Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
        Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
        “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

        memberikan mahar berupa kebebasannya.

        Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

        Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

        Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

        Aini Firdaus

        http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

    • wikki 2:46 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

      Berikut ini adalah sejarah Safiyah Binti
      Huyai Ibn Akhtab, wanita Yahudi yang
      ditangkap ketika pasukan Muhammad
      menyerang Khaibar dan membawanya
      kepada Nabi sebagai bagian dari
      rampasan perang. Muhammad memberi
      perintah agar Kinana, suami yang masih
      muda dari Safiyah, dianiaya hingga mati
      supaya ia (Kinana) mengaku dimana
      harta karun kota tersebut disimpan. Pada
      malam yang sama itu juga, Muhammad
      mengambil Safiyah dan dibawa ke
      ranjangnya dan menjadikan dia istrinya…
      Kisah ini dilaporkan secara detil oleh
      Tabari. Kisah ini juga dapat ditemui dalam
      Sirat Ibn Ishaq. Yang berikut ini dilaporkan
      dalam buku dari Tabaqat yang disusun
      oleh Ibn Sa’d.
      Dua tahun sebelumnya Muhammad telah memancung kepala Huyai, ayahnya
      Safiyah, beserta 900 pria dari Bani Quraiza.
      Huyai Ibn Akhtab, ayah Safiyah, adalah pemimpin Bani Nadir, salah satu suku
      Yahudi dari Medina. Para pengikut Muhammad telah membunuh sepasang suami
      istri Arab yang sebelumnya telah menandatangani traktat perdamaian dengan
      Muhammad. Nabi memutuskan untuk membayar uang darah kepada keluarga
      korban yang salah dibunuh. Ia lalu pergi ke Bani Nadir untuk meminta kepada
      mereka agar membayarkan uang darah ini. Permintaan itu sangat aneh, sebab
      orang-orang Yahudi tak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan tersebut.
      Namun orang-orang Yahudi ini takut kepada Muhammad, karena Muhammad
      sebelumnya telah menghancurkan suku Yahudi yang lain, yaitu Bani Qainuqah
      dan oleh karena itu mereka takut hal ini akan terjadi juga kepada mereka.
      Orang-orang Yahudi selalu bersikap pengecut hingga hari ini dan mereka telah
      membayar harga atas sikap pengecut mereka. Kapankah mereka cukup belajar
      bahwa seseorang tak mungkin senang dengan gangster??? Kapankah mereka
      akan belajar bahwa mereka harus berperang melawan kelompok orang seperti
      itu?
      1
      Para tua-tua bani Nadir akhirnya mengumpulkan uang yang diminta. Muhammad
      dan para sahabatnya duduk dibawah sebuah dinding-perteduhan dikawasan
      Yahudi sambil menanti. Namun, maksud Muhammad sebenarnya adalah untuk
      menghancurkan Yahudi dan mengambil semua harta yang mereka miliki, dan
      bukan sekedar uang darah untuk kejahatan dari pengikut-pengikutnya.
      Muhammad berharap orang Yahudi akan memprotes sehinggga ia justru dapat
      memakai ini sebagai alasan untuk menyerang mereka.
      Setelah duduk-duduk dan menantikan, ia tiba-tiba bangkit dan pergi tanpa
      mengatakan apa-apa kepada siapapun. Para pengikutnya melihat bahwa ia
      berjalan terus, maka mereka pun pergi juga. Akhirnya Muhammad mengatakan
      kepada mereka, bahwa ada malaikat Jibril yang memberitahukan kepadanya,
      bahwa orang-orang Yahudi sedang merencanakan untuk melemparinya dengan
      sebuah batu dari atas dinding-perteduhan dan ingin membunuhnya. [Kalau ada
      peringatan Jibril tentang rencana pembunuhan, mengapa para pengikutnya
      ditinggalkan diam-diam?]. Ini tentu saja sebuah kebohongan. Kalau Bani Nadir
      betul-betul ingin membunuhnya, mereka tidak perlu melemparkan batu padanya.
      Muhammad ada dalam tangan mereka ketika itu. Mereka itu justru takut, dan
      inilah yang harus mereka bayar dengan nyawa mereka kelak.
      Muhammad kemudian menyerang
      Bani Nadir dan memutuskan aliran
      air mereka. Ketika mereka
      menyerah, Muhammad
      berketetapan untuk membunuh
      mereka semua. Namun Abdullah
      Ibn Obay, seorang pemimpin tua
      Arab Median mengintervensi.
      Muhammad khawatir hal ini akan
      menyebabkan perpecahan diantara
      pengikutnya sehingga ia akhirnya
      memutuskan tidak membunuh Bani
      Nadir. Sebagai gantinya ia mengambil semua harta kekayaan dan properti milik
      bani Nadir serta mengusir mereka.
      Maka Bani Nadir pun mengungsi ke Khaibar, yang merupakan benteng orangorang
      Yahudi di sebelah Utara Medina. Inilah yang membuat Safiyah tinggal di
      Khaibar dan menikahi Kinana, pemimpin muda dari kota tersebut. Akan tetapi,
      ayah Safiyah, Huyai, dipancung lehernya ketika Muhammad menyerang suku
      Yahudi yang terakhir di Medina, yaitu Bani Quraiza.
      2
      Safiyah berumur 17 tahun dan sangat cantik. Ketika Muhammad menyerang
      Khaibar ia membunuh semua lelaki disana. Orang-orang tidak siap untuk
      berperang. Mereka diserang secara mendadak. Muhammad bukanlah seorang
      pahlawan perang terbuka, melainkan seorang teroris yang melakukan
      penyergapan. Peperangannya disebut gazwah, yaitu sergapan/penyerangan
      dadakan.
      Maka Muhammad pun menangkap
      Kinana dan menyiksa dia karena
      Muhammad ingin tahu dimana harta
      kekayaan kota tersebut
      disembunyikan. Ia menusukkan
      batangan besi yang panas pada
      mata Kinana dan membutakannya.
      Kinana adalah pemuda ksatria, ia
      tidak buka mulut.
      Seorang Yahudi lain (mungkin nenek moyang-nya Noam Chomsky dan
      George Soros) telah mengabarkan kepada Muhammad dimana ia
      dapat menemukan harta kekayaan tersebut. Orang-orang Yahudi selalu
      memberikan saham kepada para pengkhianat.
      Kinana mati dibawah penyiksaan Muhammad. Kemudian Muhammad
      menanyakan kepada orang-orangnya untuk membawakan kepadanya gadis yang
      paling cantik. Safiyah adalah yang tercantik berumur 17 tahun, istri dari Kinana.
      Bilal membawa Kinana dan sepupu perempuan Kinana menghadap Muhammad.
      Namun ketika sepupu perempuan Kinana ini melihat jenazah saudaranya
      3
      terpotong-potong, ia pun menjadi histeris. Muhammad kemudian marah besar dan
      memerintahkan, “Bawa setan perempuan ini pergi dari saya”.
      Kemudian ia berkata kepada Bilal, “Tidakkah engkau mempunyai perasaan
      manusiawi sehingga menjejerkan wanita-wanita di depan jenazah orang yang
      mereka cintai?” Wah! Betapa hebatnya sang Nabi yang penuh dengan belas-asih
      dan perasaan manusiawi!?
      Selanjutnya ia membawa Safiyah ke tendanya, sebab ia telah menjadi seorang
      janda. Muhammad mengasihaninya dan memutuskan untuk mengambil ia
      sebagai istrinya. Tentu saja [Muslim berkilah], fakta ia muda dan cantik tidak ada
      hubungannya dengan keputusan Nabi. Masih ada beratus-ratus wanita lain yang
      juga telah menjadi janda pada hari tersebut.
      Berikut ini adalah periwayatan Tabaqat.
      “Safiyah dilahirkan di Medina. Ia berasal dari suku Yahudi Banu I-Nadir.
      Ketika suku ini diusir dari Medina tahun 4 AH, Huyai adalah salah satu
      dari orang-orang yang menetap di wilayah subur Khaibar bersama
      Kinana Ibn al-Rabi’ yang menikahi Safiyah sesaat sebelum Muslim
      menyerang Khaibar. Ia berumur 17 tahun. Sebelumnya ia adalah istri
      dari Sallam Ibn Mishkam yang menceraikannya. Disinilah, satu mil dari
      Khaibar, Nabi menikahi Safiyah. Dia dipelihara dan dirawat untuk Nabi
      oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas Ibn Malik. Mereka menginap disana.
      Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda Nabi sepanjang malam. Pada saat
      subuh, Nabi yang melihat Abu Ayyub berjalan hilir mudik itupun
      bertanya kepadanya apa maksudnya, dan ia menjawab: “Saya khawatir
      akan engkau karena perempuan muda itu. Engkau telah membunuh
      ayahnya, suaminya, dan banyak dari keluarganya, dan dia juga masih
      seorang kafir. Saya sungguh khawatir terjadi apa-apa karena dia.
      Nabipun mendoakan Abu Ayyub al-Ansari (Ibn Hisham, p.766). Safiyah
      telah meminta kepada Nabi untuk menunggu hingga ia telah lebih
      menjauh dari Khaibar. “Kenapa?” tanya Nabi. “Saya mengkhawatirkan
      engkau karena orang-orang Yahudi yang masih dekat dengan
      Khaibar!”
      Alasan Safiyah menolak pendekatan seksual Muhammad tentu saja jelas bagi
      setiap orang yang berpikir. Saya percaya, praktis semua wanita memilih untuk
      berkabung ketimbang melompat ke dalam ranjang – bercengkerama dengan si
      pembunuh dari ayahnya, dan pembunuh suami dan banyak anggota keluarganya,
      pada hari yang sama.
      Tetapi kenyataannya Nabi Allah ini tak dapat menahan desakan nafsu seksualnya
      untuk satu hari saja dengan membiarkan perempuan muda ini untuk berkabung.
      Ini semua menggambarkan karakter moral Muhammad. Ia adalah seorang
      psikopat tanpa hati nurani dan empati.
      Untuk kelanjutan kisah ini kita tidak tahu persis apakah benar atau telah
      direkayasa oleh ahli sejarah Muslim yang ingin mengosongkan adanya kesan
      pemaksaan perkosaan. Tetapi ini adalah semua yang kita punyai, dan untuk
      menemukan kebenaran kita hanya bisa bergantung pada dokumen-dokumen
      4
      yang terlihat bias (ter-plintir) ini, yang dilaporkan dan ditulis sepihak oleh orangorang
      Muslim.
      Kisah selanjutnya menggambarkan Abu Ayyub yang mengkhawatirkan
      keselamatan Nabi, karena Nabi telah membunuh ayah, suami dan sejumlah
      anggota keluarga Safiyah. Hal ini logis. Tentu saja bodoh untuk tidur dengan
      seorang wanita dimana orang-orang yang dicintai oleh wanita tersebut baru
      dibunuhnya. Namun tampak bias alasan penolakan Safiyah terhadap pendekatan
      seksual Muhammad, tampak sekali kurang masuk akal. Ketika Muhammad
      membawa wanita muda ini ke dalam tendanya, ia telah membunuh banyak orang
      Yahudi, dan memperbudak orang-orang Yahudi lainnya.
      Jikalau masih ada orang Yahudi yang tertinggal, maka mereka mungkin lebih
      mengkhawatirkan hidup mereka sendiri ketimbang masalah Safiyah apakah ia
      diperkosa atau tidak. Lagipula wanita ini telah ada di dalam tenda sendirian
      dengan Muhammad, jadi bagaimana orang-orang Yahudi akan mengetahui kalaukalau
      mereka melakukan hubungan seks? Alasan ini kedengarannya bodoh dan
      tampaknya dipaksakan oleh Muslim untuk mengklaim bahwa Safiyah-lah yang
      menginginkan hubungan seks dengan Muhammad, dan bila tidak, itu hanya
      karena Safiyah mengkhawatirkan keselamatan Nabi (jadi bukan karena ada unsur
      pemaksaan/perkosaan).
      Muslim adalah sekelompok orang bodoh tertentu yang mempercayai omong
      kosong yang paling konyol tanpa berpikir, namun saya percaya ada kelompok lain
      yang wajar menyadarinya sebagai sebuah kebohongan.
      Dikatakan lebih lanjut,
      “Hari berikutnya Walima (pesta pernikahan) diselenggarakan atas nama
      Nabi…”
      Harap dicatat bahwa penulis sejarah ini berkata, bahwa pernikahan terjadi satu
      hari setelah Muhammad sendirian dengan Safiyah dan melakukan hubungan seks
      dengan dia. Ini tidak mendatangkan persoalan kepada Nabi, karena ia telah
      mendapatkan wahyu Allah yang mengatakan bahwa tidur dengan wanita yang
      ditangkap dari peperangan adalah baik-baik saja tanpa usah menikahi mereka,
      sekalipun mereka telah bersuami tadinya.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali
      budak-budak yang kamu miliki… “ (Surat 4:24)
      Ayat di atas menunjukkan bahwa Muhammad tidak berpendapat bahwa para
      budak mempunyai hak-hak apapun. Ketika Muslim berkuasa, ini akan menjadi
      nasib bagi semua wanita non-Muslim. Muslim tidak dapat mengubah sedikitpun
      apa yang telah dikatakan atau dikerjakan oleh Muhammad. Dan ini telah
      dikonfirmasikan di tempat-tempat lainnya:
      1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
      2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,
      3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
      yang tiada berguna,
      4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
      5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
      5
      6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki;
      maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
      7. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang
      yang melampaui batas. (Surat 23:1-7).
      Marilah kita meneruskan kisah Safiyah. Dikatakan,
      “Para istri Nabi lainnya menunjukkan cemburunya dengan melakukan
      pelecehan terhadap keyahudiannya. Namun Nabi selalu membelanya.
      Suatu kali Safiyah dilukai dengan olok-olokan dari istri-istri Nabi yang
      Arab itu secara melampaui batas. Maka iapun (Safiyah) mengeluhkan
      hal tersebut kepada Nabi yang merasa sangat mengasihinya. Ia
      menghiburnya. Ia membesarkan hatinya. Ia memberi pikiran logis
      kepadanya. Ia berkata: “Safiyah, bersikap teguh dan beranilah. Mereka
      tidak memiliki apapun yang melebihi engkau. Katakan kepada mereka:
      “Aku adalah anak putri Nabi Harun, keponakan Nabi Musa, dan istri
      dari Nabi Muhammad…”
      Ketika ia dibawa bersama dengan para tahanan perang lainnya, Nabi
      berkata kepadanya,
      “Safiyah, ayahmu selalu membenci aku hingga Allah menetapkan
      keputusan terakhir.”
      Ia menjawab, “Tetapi Allah tidak menghukum seseorang atas dosa
      orang lain.”
      Hal ini (apa yang dikatakan Nabi) jelas berlawanan dengan perilaku Muhammad
      sendiri yang sudah menghancurkan seluruh Bani Qainuqa dengan alasan bahwa
      beberapa diantara mereka telah membunuh seorang Muslim ketika mereka
      membela dengan membalaskan kematian seorang Yahudi. Muhammad
      membinasakan seluruh anggota suku itu, ketika membalas kematian satu orang
      Muslim! Padahal Muslim tersebut telah terlebih dahulu membunuh seorang
      Yahudi, namun itu tidak dianggap/diperhitungkan oleh Muhammad. Ia
      membutuhkan sebuah alasan demi mendapatkan harta-kekayaan mereka.
      Ini sungguh mengabaikan ayat yang berkata: “bahwasanya seorang yang berdosa
      tidak akan memikul dosa orang lain” (Surat 53:38). Jadi jelas bukan Allah yang
      membuat keputusan akhirnya. Maka tampak betapa orang yang satu ini mencuci
      tangannya terhadap kejahatannya sendiri. Ayah Safiyah dibunuh oleh
      Muhammad, bukan Allah [tetapi Muhammad memplintirkannya seolah Allah-lah
      yang memutuskan]. Jikalau Allah mengingini membunuh seluruh orang-orang
      tersebut, Ia tentu telah melakukannya dengan cara-Nnya sendiri. Allah tidak
      memerlukan pembunuh bayaran (yang merampas harta) untuk melaksanakan
      kehendakNya.
      Dikatakan lebih lanjut,
      “Kemudian Nabi memberinya kebebasan untuk memilih apakah Safiyah
      mau tetap bergabung dengan kaumnya, ataukah menerima Islam dan
      masuk dalam hubungan pernikahan dengan dia”.
      6
      Memberinya kebebasan? Kebebasan macam apakah itu?
      Muhammad telah membunuh suaminya dan semua anggota keluarganya.
      Kemanakah ia harus pergi sekarang? Melebur dengan orang-orang dari
      kaumnya? Orang-orang manakah itu? Orangnya praktis telah terbunuh dan
      wanita-wanitanya telah ditawan dan jadi budak.
      “Dia sangat pintar dan lembut hati dan berkata: “ O Rasul Allah, aku
      telah berharap akan Islam, dan aku telah menegaskan sebelum
      undanganmu. Kini ketika aku mendapat kehormatan berada
      dihadapanmu, dan diberi kebebasan untuk memilih diantara kafir dan
      Islam, maka aku bersumpah demi Allah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
      adalah lebih berharga kepadaku ketimbang kebebasan diriku dan
      bagaimana aku sebelumnya bergabung dengan kaumku.”
      Apakah ini sebuah pengakuan, yaitu pengakuan yang jujur? Apakah ia bebas dan
      aman mengutarakan pikirannya? Ia ditawan oleh seorang lelaki yang telah
      menghabisi keluarganya. Sesungguhnya ini menunjukkan dengan jelas betapa ia
      tidak bebas berulah. Ia mungkin saja sangat pintar menyiasati sebuah dusta demi
      menyelamatkan dirinya, tetapi lebih mungkin lagi kisah ini telah dikarang untuk
      menceritakan sebuah dusta tersendiri!
      Ketika Safiyah menikah, ia masih sangat muda, dan menurut sebuah
      laporan ia hampir berumur 17 tahun dan berperawakan amat sangat
      cantik. Ada satu kali Aisyah berkata tentang kekurangannya (mencela),
      untuk mana Nabi berkata, “Engkau telah mengatakan sesuatu yang
      apabila itu dimasukkan ke dalam laut, maka hal itu akan melebur
      bersama air laut itu (dan mengeruhkan airnya).” (Abu Dawud)
      Ia tidak hanya sangat dalam mencintai Nabi, tetapi juga sangat besar
      rasa hormatnya kepadanya sebagai Rasul Allah. Sebab ia telah
      mendengar apa yang dikatakan oleh ayah dan pamannya ketika
      mereka pergi ke Medinah. Ketika hijrah ke Medinah mereka datang
      bertemu dengan dia untuk mengetahui apakah dia betul Rasul Allah
      yang sejati seperti yang disampaikan oleh Alkitab. Ketika mereka
      pulang dan berbicara bersama malam itu, Safiyah ada ditempat
      tidurnya dan mendengar pembicaraan mereka. Salah satunya berkata,
      “Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Ia menjawab, “Ia adalah Nabi
      yang sama yang dinubuatkan oleh Alkitab kita.” Lalu berkata yang lain,
      “Apa yang harus dilakukan?” Dan jawabannya adalah bahwa mereka
      harus melawannya dengan segala kekuatan.”
      Kisah ini, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, apakah dapat dipercayai?
      Bagaimanakah caranya kedua orang Yahudi biasa itu mengenal Muhammad
      sebagai nabi yang dinubuatkan oleh Kitab Suci, lalu (kok malah) memutuskan
      untuk melawannya dengan segala kekuatan mereka? (Semestinya bila mereka
      tahu itu nabi yang dikisahkan Musa, mereka justru akan mendukungnya!). Jadi
      semuanya adalah kontra logika. Hanya orang Muslim yang “tekor-intelektuil” yang
      akan percaya akan kisah nonsense ini.
      7
      Dikatakan, dia sangat mencintai Muhammad yang adalah pembunuh ayah dan
      suaminya? Betapa naifnya Muslim dapat mempercayai periwayatan ini?
      Bagaimana seorang gadis muda cantik berumur 17 tahun dapat segera mencintai
      seorang tua bangka yang giginya ompong dan badannya berbau? Bacalah buku
      saya ”Understanding Muhammad” untuk mengetahui betapa postur Muhammad
      cacat dan berbau. Kita curiga bahwa kata-kata tersebut berasal dari Safiyah, dan
      andaikata itu benar, orang akan mencium hal itu sebagai kebohongan Safiyah
      dalam usahanya untuk mencari keselamatan diri. Kita hanya memerlukan otak
      yang aktif untuk mendapati kebohongan Muslim.
      Kenapa seseorang sampai perlu mati-matian melawan seseorang lainnya yang
      diketahuinya sebagai nabi yang dijanjikan dalam Alkitab? Dan dimana
      Muhammad dijanjikan dalam Alkitab? Adakah Muhammad disebut dalam Alkitab?
      (Is Muhammad mentioned in the Bible?) Baca artikel ini untuk melihat dusta yang
      menyedihkan seperti itu. Muhammad tidak disebut di dalam Alkitab maupun di
      dalam kitab sakral manapun.
      “Maka Safiyah pun yakin akan kebenaran sang Nabi. Ia tak lelahlelahnya
      mengurus dan merawat dia (Muhammad), serta memberikan
      semua kenyamanan yang dapat diupayakannya. Ini terlihat sejak ia
      menjadi bagian dalam kehidupannya (Muhammad) setelah jatuhnya
      Khaibar.”
      Lihat betapa penulis menyangkal dirinya sendiri dalam satu halaman yang sama?
      Hanya beberapa baris sebelumnya kita membaca bahwa Safiyah ditawan dan
      dibawa kepada Muhammad sebagai tawanan, bukan atas kemauannya sendiri. Ia
      dibawa kepada Muhammad sebab ia muda dan cantik.
      “Nabi sedikit kecewa kepadanya karena ia pada awalnya (dalam
      perjalanan) telah menolak Nabi ketika ingin menggaulinya (hubungan
      seks). Pada perhentian perjalanan berikutnya, Nabi menggaulinya
      hingga sepanjang malam. Ketika ia (Safiyah) ditanyai oleh Umm
      Sulaim, “Apa yang engkau lihat pada diri Rasul Allah?” Ia berkata
      bahwa dia (Muhammad) sangat senang terhadapnya dan tidak tidur
      melainkan bercakap-cakap sepanjang nalam. Dia (Muhammad)
      bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menolak ketika aku mau
      menggaulimu pertama kalinya?” Ia menjawab, ‘Aku mengkhawatirkan
      engkau sebab tempatnya dekat dengan Yahudi’. “Hal ini meningkatkan
      nilaiku lebih lanjut dimatanya.” (Tabaqat)
      Bukhari juga telah mencatatkan beberapa Hadits yang menceritakan tentang
      invasi Khaibar dan bagaimana kisah Muhammad bertemu dengan Safiyah.
      Diriwayatkan ‘Abdul’ Aziz:
      Anas berkata, “Ketika Rasul Allah menginvasi Khaibar, kami melakukan
      shalat Subuh disana ketika hari masih gelap… Ketika ia memasuki
      kota, ia berseru, “Allahu Akbar! Khaibar diruntuhkan… Kami
      menaklukkan Khaibar, menawan tawanan, dan barang jarahan
      dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Rasul Allah! Berilah aku
      seorang budak perempuan diantara tawanan’. Nabi berkata, ‘Pergi dan
      8
      ambillah budak perempuan yang mana saja’. Iapun mengambil Safiya
      binti Huyai. (Tetapi) Seseorang datang kepada Nabi dan berkata, ‘O
      Rasul Allah! Engkau memberikan Safiya binti Huyai kepada Dihya,
      padahal ia (Safiya) adalah perempuan paling terkemuka dari suku
      Quraiza dan An-Nadir dan ia hanya pantas untuk engkau saja’. Maka
      Nabi berkata, ‘Bawa ia (Dihya) bersama dia (Safiya)’. Maka keduanya
      menghadap dan ketika Nabi melihat Safiya, iapun berkata kepada
      Dihya, ‘Ambillah gadis budak mana saja dari para tawanan selain dia’.
      Anas menambahkan: Nabi membebaskan perbudakannya dan
      mengawininya.” [Nabi menelan janji pertama, dan menggantikannya
      dengan janji kedua, ketika tersilau dan bernafsu dengan kecantikan
      Safiyah. Contoh moral surgawi!].
      Thabit bertanya kepada Anas, “O Abu Hamza! Apa yang Nabi bayarkan
      kepadanya (Safiya) (sebagai mahar)? Ia menjawab, “Dirinya sendiri
      adalah maharnya sebab dia (Muhammad) telah membebaskannya dari
      perbudakan dan kemudian mengawininya.” Anas menambahkan,
      “Ketika dalam perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk upacara
      perkawinan dan pada malamnya dia mengirimnya sebagai pengantin
      perempuan untuk Nabi”. (Sahih Bukhari 1.367)
      Mahar adalah “emas kawin” yang diperoleh pengantin perempuan dari pihak
      suaminya tatkala ia mengawininya. Muhammad tidak membayar mahar kepada
      Safiyah, sebab ia (Muhammad) harus membayarkan kepada dirinya sendiri untuk
      memerdekakan Safiyah. Kisah ini adalah luar biasa, sebab ini memberi
      pencerahan kepada kita tentang nilai-nilai moral dan etika dari Muhammad dan
      para pengikutnya yang keblinger. Muhammad adalah seorang psikopat. Namun
      Muslim tidak mempunyai rasa malu. Muslim meng-idola-kan seorang psikopat dan
      menginginkan kita juga untuk menghormati mereka. Apakah ke-tolol-an ini layak
      atas sebuah penghormatan? Dengan mengikuti orang yang tidak waras semua
      orang akan bertindak tidak waras.
      Setiap orang yang terhormat atau orang normal jijik mendengar kisah semacam
      ini, namun Muhammad mengajarkan bahwa ia akan memperoleh 2 pahala
      dengan mengawini Safiyah. Satu adalah untuk memerdekakan seseorang yang
      sesungguhnya ia tawani sendiri, dan kedua adalah mengambilnya untuk
      menikahinya.
      “Abu Musa melaporkan bahwa Rasul Allah berkata tentang seseorang
      yang memerdekakan seorang wanita budak, dan kemudian
      menikahinya, bahwa baginya tersedia 2 pahala.” (Sahih Muslim Book
      008, Number 3327)
      [Sayangnya tidak disebutkan bahwa yang mengawininya adalah
      pembunuh ayah, suami, dan famili dari si wanita budak yang dikawini.
      Dan wanita budak tersebut adalah budak yang terjadi karena ulah dari
      yang akan mengawininya!]
      9
      Tidakkah ini menjijikkan? Buanglah ke-tolol-an “yang terhormat” dan berkelit-kelit
      ini dan namakanlah hitam adalah hitam. Muslim adalah sekelompok moron.
      Bagaimana mungkin bisa demikian konyol?
      Diriwayatkan oleh Anas:
      Nabi melakukan sholat subuh dekat Khaibar tatkala hari masih gelap
      dan ia berkata, “Allahu Akbar” Khaibar dihancurkan, sebab ketika kami
      menghadapi bangsa (lawan yang diperangi), maka kejahatan akan
      menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingati.”
      Maka penduduk Khaibar lari keluar ke jalan-jalan. Sang Nabi telah
      membunuh pahlawan-pahlawan mereka, keturunan mereka, dan
      wanita yang ditawan sebagai tawanan. Safiyah adalah salah satu
      diantara tawanan. Dia pertama-tama diambil untuk menjadi milik Dahya
      Alkali, namun kemudian ia menjadi milik Nabi. Nabi memerdekakan dia
      sebagai maharnya. (Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512)
      Sumber: http://alisina.org/safiyah-the-jewish-wife-of-muhammad/

      • SERBUIFF 11:03 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

        Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi
        Rubrik: Jejak – Dibaca: 2781 kali

        Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

        Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

        Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

        Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
        Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
        “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

        memberikan mahar berupa kebebasannya.

        Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

        Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

        Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

        Aini Firdaus

        http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

      • lim bho tak 7:09 am on 12/02/2013 Permalink | Reply

        KISAH SEBENARNYA TENTANG ISTRI NABI MUHAMMAD. SAW

        JAWABAN ATAS FITNAH YAHUDI ANGGUR ASAM YANG DENGKI SAMA NABI MUHAMMAD BANGSA ARAB KETURUNAN NABI ISMAIL ANAK NABI IBRAHIM.
        KISAH ISTRI NABI MUHAMMAD JUWAIRIAH RA.

        (8) Hadhrat Juwairiah bintul Harith (Radhiyallaho anha):

        She was one of the large number of captives who fell ! into Muslim hands after the battle of Muraisee’, and she
        was given to Hadhrat Thabit bin Qais (Radhiyallaho anho).
        He offered to release her for 360 Dirhams. She came to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0,Pr ophet of Allah! I am the daughter of Harith who
        is the chief of the tribe, and you know my story. The
        ransom demanded by Hadhrat Thabit (Radhiyallaho
        anho) is too much for me. I have come to seek your
        help in the matter.”
        The Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) agreed to pay her
        ransom, set her free, and offered to take her as his wife. She
        was very glad to accept this offer. She was married to the
        Prophet in 5 A. H. and as a consequence of this marriage,
        the prisoners of Banu Mustaliq (Juwairiah’s tribe), about a
        hundred families, were all set free by the Muslims. “The
        tribe which was so honoured by the Prophet’s relationship,”
        they said, “should not remain in slavery.”
        Such were the noble expediences in all the marriages
        of the Prophet. Hadhrat Juwairiah (Radhiyallaho anha) was
        very pretty, her face was very attractive. Three days before
        her falling captive in the battle, she had seen in her dream
        the moon coming out from Madinah and falling into her
        lap. She says:
        “When I was captured, I began to hope that my dream
        would come true.”
        She was 20 at the time of her marriage with the Prophet
        (Sallallaho alaihe wasallam). She died in Rabi-ul-Awwal,
        50 A. H., in Madinah at the age of 65. ,

        ALLAH TELAH MEMULIAKAN NABI MUHAMMAD DI QURAN
        MAKANYA ORANG PINTER SEKALIBER PROFFESOR DOKTOR YAHYA WALONI DAN DOKTOR IRENE HANDONO KEMBALI KE ISLAMITULAH KEBENARAN KISAHNYA.
        Reply

        LIM BHO TAK Says:

        February 11, 2013 at 4:43 am

        KISAH SEBENARNYA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW . SAFIYYAH RA

        (10) Hadhrat Safiyyah (Kadhiyallaho anha):
        She was the daughter of Hayi, who was a descendant
        of Hadhrat Harun (Alaihis salaam) the brother of Hadhrat
        Moosa (Alaihis salaam). She was first married to Salam bin
        Mishkam and then to Kinanah bin Abi Huqaiq at the time
        of Kheybar. Kinanah was killed in the battle and she was
        captured by the Muslims. Hadhrat Dahya Kalbi (Radhiyallaho
        anho) requested for a maid, and the Prophet made her
        over to him. At this, the other Sahabah approached the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0, Prophet of Allah! Banu Nazir and Banu Quraizah
        (the Jewish tribes of Madinah) will feel offended to see
        the daughter of a Jewish chief working as a maid. We
        therefore suggest that she may be taken as your own
        wife.” I
        The Prophet paid a reasonable sum of money to Hadhrat
        Dahya (Radhiyallaho anho) as ransom, and said to Safiyyah:
        “You are now free: if you like you can go back to your
        tribe or can be my wife.”
        She said: “I longed to be with you while I was a Jew. How
        can I leave you now, when I am a Muslim?”
        This is probably a reference to the fact that she once saw in
        -her dream a portion of the moon falling into her lap. When
        she mentioned her dream to Kinanah, he smote her face. so
        severely that she developed a mark on her eye He said:
        “You seem to be desiring to become the wife of the
        King of Madinah.”
        Her father is also reported to have treated her similarly
        when she related the same or similar dream to him. She
        again saw (in her dream) the sun lying on her breast. When
        she mentioned this to her husband, he remarked:
        “You seem to be wishing to become the Queen of Madinah.”
        She says: “I was seventeen when I was married to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam).
        She came to live with the Prophet (Sallallaho alaihe
        wasallam) when he was camping at the first stage from
        Khaiber. Next morning, he said to the Sahabah:
        “Let everybody bring whatever he has got to eat.”
        They brought their own dates, cheese, butter, etc. A long
        leather sheet was spread and all sat round it to share the
        food among themselves. This was the Walimah for the marriage.
        She died in Ramadhan, 50 A. H., when she was about
        60.
        PENDETA2 YAHUDI PERUSAK AGAMA ALLAH, PEMBUNUH PARA NABI ALLAH.ANGGUR ASAM ITU AKAN BINASA DI NERAKA

    • wikki 2:18 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      masuk akal kah seorang wanita muda yang baru menikah .. padahari dimana keluarganya dibunuh termasuk suaminya yang disiksa dulu didepan matanya karena harta ..mau menikahi bangkotan tuaa/?? apakah saudara tidak berpikir wanita itu dibawah tekanan ketakutan ???terus terang membaca ini saya hampir muntah ..padahal mulanya muhammad mengatakan ambil bagimu masing masing tawanan perempuan yang mana saja …tapi ketika dia tahu safifah tercantik ..kemudian dia mengubah pikiranya…jelas wanita ini dibawah tekanan dan ketakutan..

    • SERBUIFF 3:50 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

    • wikki 4:59 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      bukti mengatakan syafifah adalah seorang yang setia pada keluarganya ..satu satunya kesalahan dia .hanya karena dia cantik dan muda..dan lemah ..bukti dari tulisan tulisan para sahabat muhammad tidak bisa menutupi kebiadaban muhammad.

  • SERBUIFF 12:18 am on 19/04/2012 Permalink | Reply
    Tags: Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M) salah seorang istri nabi Muhammad saw   

    Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M) salah seorang istri nabi Muhammad saw 

    Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M) salah seorang istri nabi Muhammad saw Nov 12, ’08 8:29 AM
    for everyone

    Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M)

    Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.

    Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.

    Dari Mesir ke Yastrib

    Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.

    Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.

    Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah rnasjid.

    Ibrahim bin Muhammad .

    Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.

    Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Lalu beliau memerdekakan Mariyah sepenuhnya. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah . dengan gembira.

    Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu sernakin tampak bersamaan dengan terbongkarnya rahasia pertemuan Rasulullah . dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Mariyah atas diri beliau. Kaitannya dengan hal itu, Allah telah menegur lewat firman-Nya:

    “Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)

    Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”

    Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali ra. menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.

    Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malarn, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi . bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah . bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”

    Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,

    “Wahai Ibrahim, seandainya mi bukan penintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”

    Demikianlah keadaan Nabi ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah . mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.

    Saat Wafatnya

    Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’. Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.

    Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh
     
  • SERBUIFF 4:01 am on 29/07/2010 Permalink | Reply
    Tags: Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha   

    Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha salah seorang istri Nabi Muhammad 

    Zainab binti Jahsy radhiallaahu ‘anha

    Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab.

    Nasab dan Masa Pertumbuhannya

    Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau. Ibu dari Zainab bernama Umaimah binti Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai. Zainab dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab. Dia tergolong pernimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak heran jika orang-orang Quraisy rnenyebutnya dengan perempuan Quraisy yang cantik.

    Zainab termasuk wanita pertarna yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Ketika itu dia masih gadis walaupun usianya sudah layak menikah.

    Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah

    Terdapat beberapa ayat A1-Qur’an yang mernerintahkan Zainab dan Zaid melangsungkan pernikahan. Zainab berasal dan golongan terhormat, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak Rasulullah yang sangat beliau sayangi, sehingga kaum muslimin menyebutnya sebagai orang kesayangan Rasulullah. Zaid berasal dari keluarga Arab yang kedua orang tuanya beragama Nasrani. Ketika masih kecil, dia berpisah dengan kedua orang tuanya karena diculik, kemudian dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid r.a., lalu dihadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

    Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil, senantiasa mencarinya hingga dia mendengar bahwa Zaid berada di rumah Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid memilih antara tetap bersama beliau atau kembali pada orang tua dan pamannya, Zaid berkata, “Aku tidak menginginkan mereka berdua, juga tidak menginginkan orang lain yang engkau pilihkan untukku. Engkau bagiku adalah ayah sekaligus paman.” Setelah itu, Rasulullah mengumumkan pembebasan Zaid dan pengangkatannya sebagai anak. Ketika Islam datang, Zaid adalah orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak. Dia senantiasa berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan Mekah, sehingga beliau sangat mencintainya, bahkan beliau pernah bersabda tentang Zaid,

    “Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)

    Allah telah memberikan nikmat kepada Zaid dengan keislamannya dan Nabi telah memberinya nikmat dengan kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Zaid dengan Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam banyak peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan tidak jarang pula dia ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang Zaid, Aisyah pernah berkata, “Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan perang kecuali selalu menjadikannya sebagai komandan pasukan, Seandainya dia tetap hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti beliau.”

    Masih banyak riwayat yang menerangkan kedudukan Zaid di sisi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.. Sesampainya di Madinah beliau meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah. Semula Zainab membenci Zaid dan menentang menikah dengannya, begitu juga dengan saudara laki-lakinya. Menurut mereka, bagaimana mungkin seorang gadis cantik dan terhormat menikah dengan seorang budak? Rasulullah menasihati mereka berdua dan menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau, sehingga turunlah ayat kepada mereka:

    “Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S. Al-Ahzab: 36)

    Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik. Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliah yang senang membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab selalu membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk mengadukan perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruhnya untuk bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.

    Mendengar itu, beliau bersabda, “Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah kepada Allah.” Kemudian beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu merupakan perintah Allah. Beberapa saat kemudian turunlah ayat, “Pertahankan terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha menenangkan din dan bersabar, namun tingkah laku Zainab sudah tidak dapat dikendalikan, akhirnya terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab dinikahi Rasulullah.

    Prinsip dasar yang melatarbelakangi pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah. Artinya, Rasulullah ingin menjelaskan bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah yang sebelum turun ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

    “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,’ itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab:5)

    Karena itu, seseorang tidak berhak mengakui hubungan darah dan meminta hak waris dan orang tua angkat (bukan kandung). Karena itulah Rasulullah menikahi Zainab setelah bercerai dengan Zaid yang sudah dianggap oleh orang banyak sebagai anak Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar Zaid menceraikan istrinya kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada mulanya Rasulullab tidak memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta Zaid mempertahankan istrinya. Allah memberikan peringatan sekali lagi dalam ayat:

    “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, ‘sedang kamu menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak- anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)

    Ayat di atas merupakan perintah Allah agar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Zainab dengan tujuan meluruskan pemahaman keliru tentang kedudukan anak angkat.

    Menjadi Ummul-Mukminin

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengutus seseorang untuk mengabari Zainab tentang perintah Allah tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar berita tersebut, dan pesta pernikahan pun segera dilaksanakan serta dihadiri warga Madinah.

    Zainab mulai memasuki rurnah tangga Rasulullah dengan dasar wahyu Allah. Dialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dan kerabat dekatnya. Rasulullah tidak perlu meminta izin jika memasuki rumah Zainab sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau selalu meminta izin. Kebiasaan seperti itu ternyata menimbulkan kecemburuan di hati istri Rasul lainnya.

    Orang-orang munafik yang tidak senang dengan perkembangan Islam membesar-besarkan fitnah bahwa Rasulullah telah menikahi istri anaknya sendiri. Karena itu, turunlah ayat yang berbunyi,

    “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…. “ (Qs. Al-Ahzab: 40)

    Zainab berkata kepada Nabi, “Aku adalah istrimu yang terbesar haknya atasmu, aku utusan yang terbaik di antara mereka, dan aku pula kerabat paling dekat di antara mereka. Allah menikahkanku denganmu atas perintah dan langit, dan Jibril yang membawa perintah tersebut. Aku adalah anak bibimu. Engkau tidak memiliki hubungan kerabat dengan mereka seperti halnya denganku.” Zainab sangat mencintai Rasulullah dan merasakan hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi, dia sangat pencemburu terhadap istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah pernah tidak tidur bersamanya selama dua atau tiga bulan sebagai hukuman atas perkataannya yang menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.

    Zainab bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan hasilnya diinfakkan di jalan Allah.

    Wafatnya

    Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada tahun kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dalarn usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi. Dalarn sebuah riwayat dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku telah rnenyiapkan kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain kafan, maka bersedekahlah dengan salah satunya. Jika kalian dapat bersedekah dengan sernua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi yang lain.” Sernasa hidupnya, Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.

    Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamaiku dalarn kedudukannya di hati Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya daripada Zainab. Dia sangat bertakwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka menyambung tali silaturahmi, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dia yang memiliki tabiat yang keras.”

    Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya (Sayyidah Zainab Binti Jahsy) di akhirat dan ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.
    radhiallaahu ‘anha

    Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab.

    Nasab dan Masa Pertumbuhannya

    Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau. Ibu dari Zainab bernama Umaimah binti Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai. Zainab dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab. Dia tergolong pernimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak heran jika orang-orang Quraisy rnenyebutnya dengan perempuan Quraisy yang cantik.

    Zainab termasuk wanita pertarna yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Ketika itu dia masih gadis walaupun usianya sudah layak menikah.

    Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah

    Terdapat beberapa ayat A1-Qur’an yang mernerintahkan Zainab dan Zaid melangsungkan pernikahan. Zainab berasal dan golongan terhormat, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak Rasulullah yang sangat beliau sayangi, sehingga kaum muslimin menyebutnya sebagai orang kesayangan Rasulullah. Zaid berasal dari keluarga Arab yang kedua orang tuanya beragama Nasrani. Ketika masih kecil, dia berpisah dengan kedua orang tuanya karena diculik, kemudian dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid r.a., lalu dihadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

    Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil, senantiasa mencarinya hingga dia mendengar bahwa Zaid berada di rumah Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid memilih antara tetap bersama beliau atau kembali pada orang tua dan pamannya, Zaid berkata, “Aku tidak menginginkan mereka berdua, juga tidak menginginkan orang lain yang engkau pilihkan untukku. Engkau bagiku adalah ayah sekaligus paman.” Setelah itu, Rasulullah mengumumkan pembebasan Zaid dan pengangkatannya sebagai anak. Ketika Islam datang, Zaid adalah orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak. Dia senantiasa berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan Mekah, sehingga beliau sangat mencintainya, bahkan beliau pernah bersabda tentang Zaid,

    “Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)

    Allah telah memberikan nikmat kepada Zaid dengan keislamannya dan Nabi telah memberinya nikmat dengan kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Zaid dengan Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam banyak peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan tidak jarang pula dia ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang Zaid, Aisyah pernah berkata, “Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan perang kecuali selalu menjadikannya sebagai komandan pasukan, Seandainya dia tetap hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti beliau.”

    Masih banyak riwayat yang menerangkan kedudukan Zaid di sisi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.. Sesampainya di Madinah beliau meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah. Semula Zainab membenci Zaid dan menentang menikah dengannya, begitu juga dengan saudara laki-lakinya. Menurut mereka, bagaimana mungkin seorang gadis cantik dan terhormat menikah dengan seorang budak? Rasulullah menasihati mereka berdua dan menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau, sehingga turunlah ayat kepada mereka:

    “Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S. Al-Ahzab: 36)

    Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik. Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliah yang senang membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab selalu membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk mengadukan perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruhnya untuk bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.

    Mendengar itu, beliau bersabda, “Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah kepada Allah.” Kemudian beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu merupakan perintah Allah. Beberapa saat kemudian turunlah ayat, “Pertahankan terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha menenangkan din dan bersabar, namun tingkah laku Zainab sudah tidak dapat dikendalikan, akhirnya terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab dinikahi Rasulullah.

    Prinsip dasar yang melatarbelakangi pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah. Artinya, Rasulullah ingin menjelaskan bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah yang sebelum turun ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

    “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,’ itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab:5)

    Karena itu, seseorang tidak berhak mengakui hubungan darah dan meminta hak waris dan orang tua angkat (bukan kandung). Karena itulah Rasulullah menikahi Zainab setelah bercerai dengan Zaid yang sudah dianggap oleh orang banyak sebagai anak Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar Zaid menceraikan istrinya kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada mulanya Rasulullab tidak memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta Zaid mempertahankan istrinya. Allah memberikan peringatan sekali lagi dalam ayat:

    “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, ‘sedang kamu menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak- anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)

    Ayat di atas merupakan perintah Allah agar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Zainab dengan tujuan meluruskan pemahaman keliru tentang kedudukan anak angkat.

    Menjadi Ummul-Mukminin

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengutus seseorang untuk mengabari Zainab tentang perintah Allah tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar berita tersebut, dan pesta pernikahan pun segera dilaksanakan serta dihadiri warga Madinah.

    Zainab mulai memasuki rurnah tangga Rasulullah dengan dasar wahyu Allah. Dialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dan kerabat dekatnya. Rasulullah tidak perlu meminta izin jika memasuki rumah Zainab sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau selalu meminta izin. Kebiasaan seperti itu ternyata menimbulkan kecemburuan di hati istri Rasul lainnya.

    Orang-orang munafik yang tidak senang dengan perkembangan Islam membesar-besarkan fitnah bahwa Rasulullah telah menikahi istri anaknya sendiri. Karena itu, turunlah ayat yang berbunyi,

    “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…. “ (Qs. Al-Ahzab: 40)

    Zainab berkata kepada Nabi, “Aku adalah istrimu yang terbesar haknya atasmu, aku utusan yang terbaik di antara mereka, dan aku pula kerabat paling dekat di antara mereka. Allah menikahkanku denganmu atas perintah dan langit, dan Jibril yang membawa perintah tersebut. Aku adalah anak bibimu. Engkau tidak memiliki hubungan kerabat dengan mereka seperti halnya denganku.” Zainab sangat mencintai Rasulullah dan merasakan hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi, dia sangat pencemburu terhadap istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah pernah tidak tidur bersamanya selama dua atau tiga bulan sebagai hukuman atas perkataannya yang menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.

    Zainab bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan hasilnya diinfakkan di jalan Allah.

    Wafatnya

    Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada tahun kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dalarn usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi. Dalarn sebuah riwayat dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku telah rnenyiapkan kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain kafan, maka bersedekahlah dengan salah satunya. Jika kalian dapat bersedekah dengan sernua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi yang lain.” Sernasa hidupnya, Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.

    Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamaiku dalarn kedudukannya di hati Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya daripada Zainab. Dia sangat bertakwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka menyambung tali silaturahmi, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dia yang memiliki tabiat yang keras.”

    Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya (Sayyidah Zainab Binti Jahsy) di akhirat dan ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.
    http://sabdaislam.wordpress.com/2009/11/27/zainab-binti-jahsy/

     
  • SERBUIFF 7:06 am on 12/09/2009 Permalink | Reply
    Tags: istri muhamad, , Perkawinan Rasulullah   

    Perkawinan Rasulullah 

    Perkawinan Rasulullah

    Pembunuhan karakter melalui isu seksual, adalah hal yang biasa dilakukan baik Yahudi maupun Kristen, kita bisa melihatnya dalam Bibel yang berisi Taurat dan Injil. Para nabi seringkali digambarkan melakukan hal-hal yang tidak pantas, seperti incest, mengambil istri orang lain, bahkan Yesus sendiri mereka gambarkan dekat dengan pelacur, bahkan sebagian mereka menuduh Yesus melacur -satu tuduhan yang membuat umat Muslim ikut merasa sakit-. Maka tidak heran jika mereka berusaha membunuh karakter nabi Muhammad seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian mereka terhadap nabi dari mereka sendiri.

    Masalah istri-istri Nabi seringkali dijadikan sasaran hujatan, dengan meninggalkan fakta-fakta dibalik perkawinan tersebut. Oleh sebab itu dalam tulisan ini kami mencoba menelusuri sejarah Rasulullah yang berkenaan dengan latar belakang perkawinannya, maka kita mendapatkan hikmah dibalik perkawinan beliau.

    Perkawinan pertama Rasulullah dengan seorang janda berumur 40 tahun, yaitu Siti Khadijah, yang berlangsung hingga tahun sepuluh kenabian atau tiga tahun menjelang hijrah. 44 Pernikahan tersebut berlangsung selama 25 th. sebab beliau menikah usia 25 th, dan menjadi utusan Allah ketika berusia 40 th..

    Sepeninggal Khadijah Rasulullah ditawari oleh Khaulah binti Hakim untuk menikahi salah satu dari dua orang wanita, satu perawan (Aisyah), dan satu lagi janda (Saudah), dan Rasulullah menikahi Saudah,45 seorang janda berbadan gemuk. 46 -tanpa bermaksud mengecilkan penampilan fisik istri seorang Nabi ini- kedua perkawinan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah bukan type pengumbar hawa nafsu sebagaimana yang dituduhkan oleh Robert Morey. Lebih dari itu, bahwa Saudah memiliki anak banyak yang membutuhkan pelindung,47 menurut hemat kami, alasan ini merupakan hikmah mendasar dibalik perkawinan beliau dengan Saudah.

    Perkawinan ketiga, dengan Aisyah binti Abu Bakar. Pinangan Rasulullah atas Aisyah telah menyelamatkan Abu Bakar dari dilema antara menikahkan putrinya dengan seorang kafir atau mengingkari janjinya kepada Muth’im bin Ady orang tua dari pemuda kafir tersebut yang telah dijanjikan untuk menikahi putrinya. Sungguh beruntung bahwa yang terjadi justru istri Muth’im bin `Ady tidak menghendaki anaknya menikahi Aisyah karena tidak menginginkan anaknya masuk agama baru yang dibawa Nabi, maka pinangan Rasulullah pun diterima.48 Hal itu terjadi pada tahun yang sama -sepuluh kenabian-, namun baru berkumpul pada saat di Madinah -tiga tahun kemudian-. Kebanyakan hadits menyebutkan bahwa pertemuan Aisyah dengan Rasulullah di Madinah saat usia Aisyah 9 th, walaupun ada yang mengatakan berusia 11 th, Zainal Arifin Abbas -penulis “Peri hidup Muhammad Rasulullah Saw”- menyebut usia Aisyah waktu itu antara 12-14 th. Perhitungan usia yang ditulis oleh H. Zainal Arifin Abbas, berdasarkan analisa atas hadits tentang penawaran Khaulah binti Hakim, bahwa penawaran itu terjadl pada th. 10 kenabian, dan Abu Bakar tidak bisa langsung menerima pinangan karena telah menunangkan putrinya dengan putra Muthim bin Ady. Logikanya saat itu usia Aisyah adalah minimal 10 th, karena tidak mungkin Abu Bakar menunangkan putrinya dengan Djubeir bin Muth’im yang berada di front terdepan dari para penentang Rasul sementara beliau menjadi tangan kanan Rasulullah, maka kemungkinan pertunangan tersebut terjadi sebelum Islam (sebelum kenabian), sebab adat seperti itu sudah ada. Hal ini dikuatkan dengan pandangan Arab saat itu yang memandang usia gadis yang pantas untuk menikah adalah antara 11-12 th.49 Menurut perhitungan ini, maka saat pertemuan di Madinah, usia Aisyah antara 14-15 th. Tentang umur Aisyah banyak penulis yang berbeda pendapat, dari usia 9 hingga 15 th.

    Sensitifitas modern kadang merasa risih dengan hal ini, tapi hal ini terjadi pada satu komunitas yang memandang usia 9-15 th, adalah usia terendah bagi seorang anak perempuan untuk dikawini, itupun 14 abad yang lalu. Hingga akhir-akhir inipun beberapa komunitas masih memberlakukan adat pernikahan dini. Namun demikian pernikahan anak usia dini adalah lebih baik ketimbang merebaknya pergaulan bebas yang membuat anak usia tersebut sudah tidak ada yang perawan, walaupun secara resmi mereka menikah pada usia 28 ke atas. Toh kenyataannya usia 28 sebagai patokan perkawinan di beberapa negara maju hanya berdasarkan faktor psikologis dan masalah karir serta emansipasi, namun diluar formalitas itu kebejatan seksual merebak dimana-mana pada tingkat yang paling fulgar. Perbandingannya jika ada komunitas (manapun) yang mengawinkan putrinya pada usia dini di Amerika anak usia yang sama sudah tidak perawan lagi. Perbedaan dalam agama, yang satu formal, yang satu lagi zina. Perzinaan sejak dini akan dibawa hingga masa perkawinan, maka akibatnya penyelewengan suami atau istri adalah hal biasa, dan ajaran Yesus yang tidak mengizinkan perceraian menjadi lelucon belaka.

    Kembali kepada sejarah Rasul, pada tahun ketiga Hijriah, Putri Umar bin Khattab, Hafshah binti Umar ditinggal mati suaminya Khunais bin Khudzafah setelah perang Badar. Seperti layaknya seorang ayah Umar berusaha mencarikan suami bagi putrinya yang masih berumur 18 th. agar terbebas dari kemurungan yang dideritanya. Upaya selama 6 bulan atau lebih belum menghasilkan apa-apa, hingga pada masanya, ia menawarkan anaknya kepada sahabat Abu Bakar, namun Abu Bakar hanya menjawab dengan diam. Umar lantas menemui `Utsman, namun sahabat ini hanya menjawab: “belum berhasrat menikah saat itu”. Kejengkelan Umar terhadap dua orang sahabat terdekatnya disampaikan kepada Rasulullah, dan beliau menjawab: “Hafshah akan menikah dengan yang lebih baik dari Utsman, dan Utsman akan menikah dengan yang lebih baik dari Hafshah”. Umar tidak pernah menyangka bahwa Rasulullah akan menikahi putrinya, hingga ia bersorak kegirangan mengumumkan kepada para sahabatnya, yang kemudian disambut oleh Abu Bakar juga Utsman. Dan seperti dikatakan oleh Nabi, maka Utsman akhirnya menikah dengan putri beliau; Umi Kultsum.50

    Jika kita kembali lagi, pada tahun 1 H. Rasulullah menikahi Aisyah, pada tahun 2 H. Rasulullah menikahkan putrinya Fathimah dengan sahabat Ali bin Abi Thalib, dan pada tahun 3 H. Rasul menikahi Hafshah binti Umar dan menikahkan putrinya Umi Kultsum dengan `Utsman bin Affan. Tidak cukup sampai disini, anak angkatnya Zaid bin Haritsah dinikahkan dengan sepupunya sendiri yaitu Zainab binti Jahsy, serta perkawinan antara warga imigran (muhajirin) dan penduduk Madinah (Anshor). Dari sini kita dapat melihat bahwa perkawinan-perkawinan tersebut nampaknya dilatar belakangi upaya memperkuat barisan dikalangan para sahabat, apalagi bahwa tahun-tahun tersebut adalah awal pembinaan sebuah komunitas baru berdasar Tauhid, maka sangat wajar jika perkawinan menjadi salah satu jalan demi terwujudnya harapan tersebut.

    Perkawinan kelima juga dengan seorang janda yaitu Zainab binti Khuzaimah al-Hilaliyah. Sebelumnya telah menikah dengan At-Thufail bin al-Harits bin Abdil Muththolib yang kemudian menceraikannya, lantas dinikahi oleh saudaranya `Ubaidah bin al-Harits yang kemudian meninggal pada perang Badar. Sepeninggalnya Rasulullah menikahi Zainab pada tahun 4 H. Ia dikenal dengan sebutan Ummul Masakin (Ibu orang­orang miskin), karena kedekatan dan kasih sayangnya terhadap orang-orang miskin. Pernikahannya tidak berlangsung lama sebab dua atau tiga bulan setelah perkawinannya ia meninggal.51

    Pada tahun yang sama, Rasulullah mengawini seorang  janda lain yaitu Ummi Salmah yang nama aslinya Hindun binti Umayyah bin al-Mughirah, sebelumnya dipinang oleh Abu Bakar dan Umar, namun ia tidak berkenan. Bahkan ketika Rasulullah meminangnya, ia menjawab bahwa ia minder karena sudah berumur dan memiliki banyak anak. Hal ini dapat dimaklumi sebab dikalangan istri-istri Rasulullah terdapat Aishah yang masih muda dan cantik. Mendengar jawaban ini Rasulullah menjawab: `Jika engkau berumur, maka aku lebih tua darimu, soal minder biarlah Allah yang menghilangkannya dari dirimu, adapun masalah tanggungan keluarga (anak-anak) serahkan kepada Allah dan Rasulnya”.52

    Dalam pembentukan komunitas baru yang menjadikan keluarga dan perkawinan sebagai salah satu instrumennya, maka perhatian terhadap janda dan anak-anak yang ditinggal ayah mereka yang syahid akibat peperangan adalah suatu yang sudah semestinya, apalagi kesempatan mendapatkan kebutuhan sehari­hari ditanah yang gersang tidaklah semudah yang dibayangkan, tidak heran jika ada yang menjual manusia dipasar budak demi mencukupi kehidupan sehari-hari. Langkah Rasulullah yang juga diikuti para sahabatnya untuk memperhatikan para janda dan anak-anaknya, tampak dalam beberapa perkawinan yang kita sebutkan di atas, begitu juga dengan apa yang akan kami bahas berikut ini.

    Pada th. 5 H. (th. 18 masa kenabian) Rasulullah menikahi, Zainab binti Jakhsy, setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah. Seperti yang telah kita bahas pada kajian tentang perbudakan, bahwa Zaid yang diangkat anak oleh Rasulullah pada masa sebelum kenabian, dinikahkan dengan kerabat Rasulullah Zainab yang tentu saja memiliki nasab tinggi dikalangan Quraisy-dari pihak ibu Zainab adalah sepupuh nabi atau cucu Abdul Mutholib-. Pada masa itu masalah nasab (keturunan) sangatlah diperhatikan oleh masyarakat Arab. Pencapaian ketinggian derajat nasab seringkali diupayakan melalui perkawinan, maka tidak heran jika satu orang bisa memiliki istri banyak, bukan sekedar karena mereka suka, tapi para istri memiliki kepentingan sendiri dengan pernikahan tersebut, termasuk untuk masalah nasab, apalagi bahwa penghormatan kepada wanita pada masa itu amatlah rendah. Fenomena tersebut tldaklah aneh saat itu, karena bangsa lain juga memiliki adat yang tidak jauh berbeda. Bahkan hingga saat ini masalah keturunan sangat diperhatikan, terlepas dari pandangan yang melatar-belakangnya: apakah karena status sosial, kekayaan, atau kebangsawanan; dikalangan muslim sebagian memandang nasab berdasarkan kesalehan beragama. Kembali pada masalah perkawinan Zainab, Rasulullah yang ingin merombak adat tersebut, demi tujuan pokok menyamakan umat manusia dihadapan Allah (tauhid), mencoba mempertemukan antara bangsawan dan budak (walaupun sudah diangkat anak), rupanya hal itu belum mampu meruntuhkan rasa kebangsawanan Zainab hingga perkawinan tersebut gagal. Namun demikian tanggungjawab Rasulullah menghendaki beliau untuk menikahinya. Lain dari pada itu bahwa pernikahan tersebut atas perintah langsung dari Allah, sebab sebelumnya setiap kali Zaid mengadu kepada Rasulullah atas sikap Zainab, Rasulullah menasehatinya agar mempertahankan perkawinannya serta takut kepada Allah.53 Dengan begitu, tidak hanya masalah tanggung jawab Rasulullah mengembalikan Zainab yang merasa martabatnya telah terendahkan, namun menjadi panutan hukum bahwa anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung, maka istri yang telah diceraikannya boleh dinikahi bapak angkatnya. Namun sebaliknya wanita yang diceraikan oleh seseorang tidak boleh dikawini anaknya. Tentang hukum perkawinan bukan tempatnya untuk kita bahas di sini.

    Menurut Ibnu Ishaq, seorang dari sejarawan awal Muslim, Pada tahun ke 6 H. terjadi peperangan antara kaum Muslim dengan kaun Yahudi Bani Mushthaliq. Akibat peperangan ini, sebagaimana hukum peperangan yang berlaku saat itu, mereka yang kalah menjadi tawanan dan budak bagi pemenang. Diantara mereka yang tertawan adalah Juwairiyah binti al-Harits, seorang putri dari al-Harits bin Abi Dlorror pemimpin Bani Mushtholiq. Sebagai putri seorang terpandang Juwairiyah tidak rela dirinya dijadikan budak, maka ia berniat menebus kepada Tsabit bin Qois yang kebetulan saat pembagian harta rampasan mendapat dirinya. Karena tidak memiliki harta lagi, maka ia pergi menghadap Rasulullah agar dibantu melunasi tebusan tersebut.54 Rasulullah yang telah mengajarkan kepada para sahabatnya agar mendidik budak dan kalau bisa memerdekakan dan menikahinya (lihat bahasan tentang perbudakan), memberikan contoh dengan memerdekakan Juwairiyah dan menawarkan pinangannya, ternyata Juwairiyah mengiyakan. Dengan persetujuan Juwairiyah ini maka Rasulullah menikahinya, dan dengan pernikahan tersebut para sahabat mengembalikan harta rampasan perang, sekaligus memerdekakan ± 100 keluarga. Ibnu Ishaq mengomentari: “Saya tidak pernah melihat keberkahan seseorang atas kaumnya melebihi Juwairiyah”.55

    Pada tahun ketujuh H, terjadi perang Khaibar. Pada saat penyerbuan ke benteng al-Qomush milik bani Nadlir, pemimpin benteng ini yaitu Kinanah bin Rabi’ suami Shofiyah binti Hay terbunuh. Dan istrinya juga istri-istri bani Nadlir yang lain menjadi tawanan. Dan seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah terhadap bani Mushtholiq, maka Rasulullah menikahi Shofiyah. Menurut keterangan Shofiyah sendiri, yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq bahwa sebelum kejadian ini ia telah bermimpi melihat bulan jatuh di kamarnya. Ketika mimpi tersebut diceritakan kepada suaminya, ia malah mendapat tamparan dan dampratan, “Itu berarti engkau menginginkan raja Hijaz Muhammad”, kata suaminya.56 Tentang apakah harta dikembalikan dan tawanan dibebaskan dengan perkawinan ini, tidak kami dapatkan keterangan yang jelas, namun diceritakan bahwa mahar perkawinan tersebut adalah pembebasan Shofiyyah. 57 Walaupun masih muda, usia 17 th, tapi sebelumnya Shofiyah telah menikah dua kali, dengan Salam bin Misykarn kemudian dengan Kinanah bin Rabi’. 58

    Dari dua perkawinan di atas, dapat kita lihat bahwa upaya pembebasan perbudakan -akibat peperangan- lebih menonjol ketimbang masalah lainnya. Disisi lain dua pernikahan ini semakin mengokohkan kedudukan Muslim dalam rangka pembentukan komunitas bersama yang tidak saling bermusuhan. Selanjutnya, bahwa melihat usia Shofiyah yang masih 17 th. dan sudah menikah dua kali, setidaknya menunjukkan bahwa selain masyarakat Arab, komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar juga memiliki adat mengawinkan seorang wanita sejak masih dini.

    Pada saat kedudukan kaum Muslimin di Madinah mulai menguat di jazirah Arab, Rasulullah mengirimkan utusan ke Habasyah (Etiopia) memanggil para emigran Muslim yang hijrah ke Habasyah pada masa awal kenabian (periode Makkah). Diantara para emigran tersebut terdapat Ummu Habibah yang menjadi janda karena tidak ingin berkumpul dengan suaminya yang murtad, yaitu Abdullah bin Jahsy. Ummu Habibah yang tidak memiliki tempat kembali, tidak mungkin ke keluarganya di Makkah sebab ia hijrah ke Habasyah karena masuk Islam dan lari dari keluarganya, sedang di Madinah ia tidak tahu harus ke mana. Beruntung bahwa surat Rasulullah yang memanggil mereka melalui Raja Najasyi, disertai pinangan terhadap Ummu Habibah. Pinangan tersebut bahkan diwakili oleh Najasyi sediri dan memberikan mahar sebesar 400 dirham. Adapun yang menikahkan adalah Kholid bin Sa’id bin ‘Ash. Rombongan yang dipimpin Oleh Ja’far bin Abi Thalib ini datang bersamaan dengan kepulangan Rasulullah dari perang Khaibar.59

    Pada tahun ketujuh Hijriah ini juga, utusan Rasulullah ke Iskandariah-Mesir telah datang dengan membawa hadiah dua orang budak dari Mesir, yang pertama bernama Maria binti Syam’un dan Sirin. Yang pertama dinikahi oleh Rasulullah dan yang kedua diberikan kepada Hassan bin Tsabit.60 Seperti yang telah kita bahas sebelum ini, bahwa Rasulullah yang mengajarkan agar para budak dididik kemudian dibebaskan dan dinikahi, dicontohkan sekali lagi oleh Rasulullah. Maria al­Qibthiah yang menjadi budak di Iskandariah, kini menjadi istri seorang pemimpin besar di tanah Hijaz. Ia bahkan telah memberikan keturunan yang diberi nama Rasulullah seperti nama kakeknya “Ibrahim”, walaupun tidak berusia panjang. Rasulullah menyatakan : “Ia telah dimerdekakan oleh anaknya”. 61

    Para istri nabi -termasuk yang sebelumnya menjadi budak-, mendapat penghormatan yang tinggi dikalangan para sahabat dan umat Muslim, maka tidak mengherankan jika banyak wanita yang ingin dinikahi oleh nabi. Salah satu dari mereka adalah Maimunah yang dalam al-Qur’an disebut “Seorang wanita mu’min yang menyerahkan dirinya kepada nabi”.62 Penawaran itu dilakukan oleh Maimunah melalui saudaranya Ummul Fadl, kemudian Ummul Fadl menyerahkan masalah ini kepada suaminya yaitu Abbas bin Abdil Muththolib (paman nabi). Maka `Abbas menikahkan Maimunah kepada Rasulullah dan memberikan mahar kepada Maimunah atas nama Nabi sebesar 400 dirham. Pernikahan ini terjadi pada akhir tahun ke 7 H. tepatnya pada bulan Dzul-Qo’dah.63 Selain Maimunah masih banyak wanita lain yang ingin dinikahi oleh Nabi, tapi beliau menolak. Jika dilihat dari seluruh pernikahan nabi seperti yang telah kita bahas, maka penolakan nabi tersebut agaknya lebih dilandaskan pada sisi kemanfaatan dan kemaslahatan, baik bagi umat maupun bagi wanita itu sendiri. Hal ini sekaligus menampik tuduhan bahwa perkawinan Rasulullah dilandaskan pada kepentingan pemuasan seksual.

    Dalam tuduhannya Robert Morey menyatakan :

    Para wanita pemuja Muhammad juga menawarkan diri mereka sebagai penghuni harem Muhammad.64

    Ia kemudian menyitir sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari sebagai berikut:

    Seorang wanita menghadap pada nabi Allah sambil berkata, “Wahai Rasul Allah! Saya ingin menyerahkan diri saya untukmu” (Hadits III/505A).65

    Hadits yang disitir oleh Robert Morey ini sebenarnya belum selesai, artinya dipotong. Padahal hadits ini selengkapnya berbunyi seperti berikut ini :

    …dari Sahal bin Sa’ad, ia rnengatakan : seorang wanita menghadap kepada Rasulullah sambil berkata : “Wahai Rasulullah saya menyerahkan diri saya kepadamu”. Kemudian seseorang berkata: “Nikahkan aku dengannya”. Berkata (Rasulullah): “Kami telah meniikahkanmu dengan hafalan al-Qur’an yang engkau miliki “. (HR. Bukhari).66

    Hadits ini ditulis Imam Bukhari untuk masalah hukum perwakilan dalam masalah pernikahan. Hadits yang sama dari Sahal bin Sa’ad tentang kasus yang sama ditulis Imam Bukhari sebanyak 12 kali dalam kitabnya. Kecuali hadits di atas, hadits­hadits lain tersebut ditulis selengkapnya oleh Imam Bukhari, maksudnya percakapan lebih lengkap dalam kejadian tersebut, yang intinya bahwa Nabi tidak berkepentingan untuk menikahi wanita tersebut, dan salah satu sahabat meminta Nabi untuk menikahkan wanita tersebut dengan dirinya, karena si lelaki tersebut tidak memiliki mahar berupa harta maka ia ditanya apa memiliki hafalan surat-surat al-Qur’an, dan surat yang ia hafal itu ia dinikahkan oleh nabi.

    Semua hadits yang menerangkan kejadian adanya seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada nabi, maksudnya menawarkan untuk dinikahi. Salah seorang dari mereka yang diterima oleh Nabi adalah Maimunah, adik dari istri paman nabi sendiri. Robert Morey tampaknya sengaja memaknai hadits-hadits dengan kata-kata fulgar layaknya sebuah harem yang digambarkannya seperti rumah pelacuran. Kesengajaan ini tampak jelas ketika memotong hadits yang disitirnya. Maha benar Allah yang mengabarkan kepada kita melalui al-Qur’an, bahwa para ahli kitab seperti Robert Morey selalu menutupi kebenaran yang ia ketahui.

    Tentang jumlah istri, di mana sebagian menyebut 9, sebagian menyebut 11, tidak bisa di artikan bahwa sisa hitungan dari sembilan adalah partner seksual, seperti yang dituduhkan oleh Robert Morey67 Perhitungan sembilan karena tidak memasukkan Shofiyah dan Juwairiyah -keduanya adalah rampasan perang sebelum dinikahi-, serta Maria yang sebelumnya adalah budak. Sedang hitungan 11 tidak memasukkan Maria al-Qibthiyah yang memang sebelumnya adalah budak dari Iskandaria, itulah sebabnya banyak penulis klasik yang menyebutnya ummul walad (ibu dari anak), walaupun Rasulullah sendiri menyatakan “ia dlmerdekakan oleh anaknya” artinya Maria yang telah memberikan keturunan bagi Rasulullah telah dimerdekakan oleh beliau. Jumlah seluruhnya yang pernah ditulis dalam kitab-kitab sejarah menurut hitungan kami sebanyak 12 orang.

    Pandangan seseorang terhadap sesuatu seringkali dipengaruhi oleh latar belakang budayanya. Pandangan negatif masyarakat barat terhadap Nabi, terlepas dari apa yang dihembuskan oleh Gereja sejak berabat-abat lalu, juga dipengaruhi oleh latar belakang budayanya. Dengan latar belakang kehidupan yang sangat bebas dalam pergaulan antar jenis yang bahkan kebablasan antar sejenis, akan mudah menuduh nabi-nabi mereka sendiri melakukan incest dan melacur, dan tentunya akan lebih mudah berpandangan miring terhadap seseorang yang beristri hingga sembilan lebih Namun tidak demikian bagi masyarakat yang masih menjaga kesucian hubungan antar lawan jenis. Apalagi jika ternyata kebanyakan dari para Istri tersebut adalah janda dan cuma satu yang gadis. Akal sehat pasti mengatakan ada sesuatu niat mulia dibalik perkawinan itu, tapi akal bejat akan menyayangkan kenapa tidak memilih seluruhnya perawan. Maka tidak heran jika hujatan terhadap nabi jarang keluar dari masyarakat timur. Hal ini dapat dimaklumi sebab ditimur memang gudangnya etika dan pemikiran religius yang dapat membentengi kerusakan moral. Maka jika Gereja timur ikut-ikutan menghujat para nabi-nabi, pastilah akibat pengaruh dari kiblat modern mereka.

    NOTES

    37. Zainal Arifin Abas, Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw., Firma Rahmat, Medan, th. 1952, II A hal. 482-492.

    38. Ibid, 497

    39. Openhani, jilid II: 302, dalam Zainal Arifin Abas, Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw , Firma Rahmat, Medan, th. 1952, II A hal. 520.

    40. Ibid, 520. Lihat juga Abqariyyatu Muhammad -terjemah Indonesia “Kejeniusan Muhammad”…..

    41.  Tarekh al Yahudi fi bilad al-Arab, hal. “j”, dalam Zainal Arifin Abas, Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw., Firma Rahmat, Medan, th. 1952, II A hal. 501.

    42. Lihat QS. Al-Qoshosh: 14-15; bandingkan (Taurat/Perj. lama) Keluaran 2: 11-12.

    43. Majalah Modus, Edisi 2, hal. 26.

    44. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Daar al-Manar, Kairo, 1999, Jilid I, hal. 378.

    45. Imam Ahmad.

    46. Imam Muslim, I/592.

    47. Tarikh Thobari, III/175, dalam Bint asy-Syathi’, Tarajum Sayyidat Bait an-Nubuwwah, Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cet. III, th. 1982, hal.

    48. Imam Ahmad, Ibid.

    49. Zainal Arifin Abbas, Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw, Penerbit Fa. Rahmat, Medan, Cet. IV, th. 1966. Jilid II, hal. 99-103.
    50. Bint asy-Syati’, 301-303. Al-Bukhari, VI/158-159. Masnad Imam Ahmad, masnad Abu Bakar. Sunan an-Nasa’i al-Kubra, kitab an­nikah, bab `ardlu ar-rajuli ibnatahu.

    51. Sirah Ibnu Ishak, dalam Bint asy-Syathi’, hal. 309-310. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah IV/ 92.

    52. As-Samthu ats-tsmin 89, al-Mukhbir 85, al-Isti’ab, al-Ishobah, `Uyun al-Atsar 2/304, dalam Aishah Bint asy-Syathi’, hal. 325.

    53. QS. Al-Ahzab, 38-40.

    54. Ibnu Katsir, A1 Bidayah wa-an Nihayah, Daar al-Kutub al­Ilmiyah, Beirut, Cet. I, th. 1985, vol. IV, hal. 161. Ibnu Hisyam, as­Sirah an-Nabawiyah, vol. III, hal. 190. Bint asy-Syathi’, 357-358.

    55. Ibid.

    56. Ibnu Katsir, Ibid, IV/198, Ibnu Hisyam III/227.
    57. Al-Bukhari, VI/148.

    58. Bint asy-Syathi’ 364.

    59. Ibnu Hisyam, III/498. Bint asy-Syathi’,…
    60. Ibnu Katsir, IV/271-272.

    61. Sunan Ibnu Majah, Kitab al-`Itqi.

    62. QS. AI-Ahzab: 50.

    63. Ibnu Katsir, IV/233.

    64. Robert Morey, op. cit., ha1213.

    65. Ibid.

    66. Al-Bukhari, III/87.

    67. Robert Morey, op. cit., ha1212

    sumber :

    Buku
    Islam Dihujat

    Menjawab buku The Islamic Invasion karya Robert Morey
    Oleh Hj Irena Handono, muallaf mantan biarawati.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel