Tafsir Ibnu Katsir juz 6 tentang penangkapan Isa Al Masih 

Firman  Allah  Swt.:

 

20  Juz 6-An-Nisa

 

Sesungguhnya  kami  telah  membunuh  Al­Masih,  Isa  putra

 

maryam,  utusan  Allah.  (An­Nisa:  157)

 

Maksudnya, orang yang dirinya mengakui berkedudukan  demikian te­

 

lah kami bunuh. Ucapan  tersebut dikatakan  mereka  sebagai  cemoohan

 

dan  ejekan.  Perihalnya  sama  dengan  pengertian  yang  terkandung di

 

dalam  ayat  lain  yang  mengisahkan  perkataan  orang­orang  musyrik,

 

yaitu melalui  firman­Nya:

 

Hai  orang  yang  diturunkan  Ai­Qur’an  kepadanya,  sesungguhnya

 

kamu  benar­benar  orang  yang  gila.  (Al­Hijr: 6)

 

Tersebutlah  bahwa di  antara  kisah  mengenai  orang­orang  Yahudi

 

—semoga  laknat Allah, murka,  kemarahan,  dan  siksa­Nya  selalu  me­

 

nimpa mereka—  yaitu:  Ketika  Allah  mengutus  Isa  anak Maryam  a.s.

 

dengan membawa  bukti­bukti yang  nyata dan petunjuk,  mereka  deng­

 

ki kepadanya karena ia telah dianugerahi Allah kenabian dan  berbagai

 

macam  mukjizat  yang  cemerlang. Di  antara  mukjizatnya  ialah  dapat

 

menyembuhkan  orang  yang  buta,  orang  yang  terkena  penyakit  supak,

 

dan  menghidupkan  kembali  orang  yang  telah  mati  dengan  seizin

 

Allah.  Mukjizat  lainnya  ialah  dia  membuat  patung  dari  tanah  liat  ber­

 

bentuk  seekor burung, lalu ia meniupnya, maka jadilah  patung itu  bu­

 

rung  sungguhan  dengan  seizin  Allah  Swt.,  lalu  dapat  terbang  dengan

 

disaksikan  oleh  mata  kepala  orang­orang  yang  melihatnya.  Banyak

 

pula mukjizat  lainnya sebagai  kehormatan  baginya dari Allah; hal  ter­

 

sebut dilakukan  oleh  Allah melalui  kedua tangan Isa  a.s.

 

Akan  tetapi,  sekalipun  demikian  mereka  mendustakannya,  me­

 

nentangnya,  serta  berupaya  untuk  mengganggunya  dengan  segala  ke­

 

mampuan  yang  mereka  miliki.  Hingga  hal  tersebut  membuat  Nabi

 

Allah  Isa  a.s. tidak  dapat tinggal  satu negeri  bersama mereka,  melain­

 

kan banyak  mengembara,  dan  ibunya  pun ikut mengembara  bersama­

 

nya.

 

Mereka masih  belum  puas dengan hal  tersebut. Akhirnya  mereka

 

datang  kepada  Raja  Diinasyq  (Damascus) di masa  itu. Raja  Dimasyq

 

adalah  seorang  musyrik  penyembah  bintang, para  pemeluk  agamanya

 

Tafsir Ibnu Kasir  21

 

dikenal  dengan  sebutan  pemeluk  agama  Yunani.  Akhirnya  mereka

 

(orang­orang)  Yahudi  itu  sampai  kepada  raja  tersebut,  lalu  melapor­

 

kan  laporan  palsu  kepadanya  bahwa di  Baitul  Maqdis  terdapat  se­

 

orang  lelaki  yang  menghasut  khalayak  ramai,  menyesatkan  mereka,

 

dan menganjurkan  mereka  agar memberontak  kepada  raja.

 

Mendengar  laporan  tersebut si  raja  murka,  lalu  ia  mengirimkan

 

instruksi  kepada  gubernurnya  yang  ada di  Baitul  Maqdis,  memerin­

 

tahkannya  agar  menangkap  lelaki  yang  dimaksud,  lalu  menyalibnya

 

dan kepalanya diikat dengan  duri agar tidak  mengganggu  orang­orang

 

lagi.

 

Ketika  surat raja  itu  sampai  kepada si gubernur, ia  segera  melak­

 

sanakan  perintah  itu,  lalu ia  berangkat  bersama  segolongan  orang­

 

orang  Yahudi  menuju ke  sebuah  rumah  yang di  dalamnya  terdapat

 

Nabi Isa a.s. bersama  sejumlah  sahabatnya; jumlah  mereka  kurang le­

 

bih  ada  dua  belas  atau  tiga  belas  orang.  Menurut  pendapat  yang  lain

 

adalah tujuh  belas  orang.

 

Hal  tersebut  terjadi  pada  hari  Jumat,  sesudah  waktu  Asar,  yaitu

 

petang  hari  Sabtu.  Mereka  mengepung  rumah  tersebut.  Ketika  Nabi

 

Isa merasakan  bahwa  mereka  pasti  dapat memasuki  rumah  itu  atau ia

 

terpaksa  keluar  rumah  dan  akhirnya  bersua  dengan  mereka,  maka ia

 

berkata  kepada  sahabat­sahabatnya,  “Siapakah di  antara  kalian  yang

 

mau  diserupakan  seperti  diriku?  Kelak  dia  akan  menjadi  temanku di

 

surga.”

 

Maka  majulah  seorang  pemuda  yang  rela  berperan  sebagai  Nabi

 

Isa. Tetapi Nabi Isa memandang  pemuda  itu masih terlalu hijau  untuk

 

melakukannya.  Maka ia mengulangi  permintaannya sebanyak dua kali

 

atau tiga kali.

 

Tetapi  setiap kali  ia mengulangi  perkataannya,  tiada  seorang  pun

 

yang  berani  maju  kecuali  pemuda  itu.  Akhirnya  Nabi  Isa  berkata,

 

“Kalau  memang  demikian, jadilah  kamu  seperti  diriku.” Maka  Allah

 

menjadikannya  mirip  seperti  Nabi  Isa a.s. hingga seakan­akan dia me­

 

mang  Nabi Isa  sendiri.

 

Lalu  terbukalah  salah  satu  bagian  dari  atap  rumah  itu,  dan  Nabi

 

Isa  tertimpa  rasa kantuk  yang  sangat  hingga  tertidur,  lalu ia  diangkat

 

ke  langit dalam  keadaan  demikian.  Seperti  yang  disebutkan di  dalam

 

firman­Nya:

 

22  Juz 6-An-Nisa

 

(Ingatlah)  ketika  Allah  berfirman,  “Hai  Isa,  sesungguhnya  Aku

 

akan  menidurkanmu  dan  mengangkatmu  kepada­Ku.”  (Ali  Im­

 

ran:  55), hingga  akhir  ayat.

 

Setelah  Nabi  Isa  diangkat ke  langit,  para  sahabatnya  keluar.  Ketika

 

mereka  (pasukan  yang  hendak  menangkap  Nabi  Isa)  melihat  pemuda

 

itu,  mereka  menyangkanya­  sebagai  Nabi  Isa,  sedangkan  hari  telah

 

malam;  lalu  mereka  menangkapnya  dan  langsung  menyalibnya  serta

 

mengalungkan duri­duri pada  kepalanya.

 

Orang­orang  Yahudi menonjolkan  dirinya  bahwa merekalah  yang

 

telah  berupaya  menyalib  Nabi  Isa  dan  mereka  merasa  bangga  dengan

 

hal  tersebut,  lalu  beberapa  golongan  dari  kalangan  orang­orang  Nas­

 

rani  —karena  kebodohan  dan  akalnya  yang  kurang—  mempercayai

 

saja  hal tersebut.  Kecuali  mereka  yang  ada  bersama  Nabi  Isa;  mereka

 

tidak  mempercayainya  karena  menyaksikan  dengan mata  kepala  sen­

 

diri  bahwa  Nabi  Isa  a.s.  diangkat ke  langit.  Selain  dari  mereka  yang

 

bersama  Nabi  Isa,  semuanya  mempunyai  dugaan  yang  sama  dengan

 

orang­orang  Yahudi,  bahwa  orang  yang  disalib  itu  adalah  Al­Masih

 

putra  Maryam.  Sehingga  mereka  menyebutkan  suatu  mitos  yang  me­

 

ngatakan  bahwa  Siti  Maryam  duduk di  bawah  orang  yang  disalib  itu

 

dan  menangisinya.  Menurut  kisah  mereka,  AI­Masih  dapat  berbicara

 

dengannya.

 

Hal  tersebut  merupakan  ujian  Allah  kepada  hamba­hamba­Nya

 

karena  suatu hikmah  yang  hanya Dia  sendirilah  yang  mengetahuinya.

 

Allah  telah  menjelaskannya  dan  menerangkannya  dengan  gamblang

 

di  dalam  Al­Qur’an  yang  Dia  turunkan  kepada  Rasul­Nya  yang  mu­

 

lia,  didukung  dengan  berbagai  macam  mukjizat  dan  keterangan­kete­

 

rangan  serta  bukti­bukti  yang  jelas.  Untuk  itu  Allah  Swt.  berfirman

 

bahwa  Dia  Mahabenar  dalam  firman­Nya,  Dia  Tuhan  semesta  alam

 

yang  mengetahui  semua  rahasia  dan  apa  yang  terkandung di  dalam

 

hati, Dia  Maha  Mengetahui  semua  rahasia di langit  dan di  bumi,  Dia

 

Maha Mengetahui  apa  yang  telah  lalu dan  apa  yang akan terjadi  serta

 

apa  yang  tidak  terjadi  berikut  dengan  akibatnya  bilamana  hal  itu  ter­

 

jadi:

 

Tafsir Ibnu Kasir  23

 

padahal  mereka  tidak  membunuhnya  dan  tidak  (pula)  menyalib­

 

nya,  tetapi  (yang  mereka  bunuh  ialah)  orang  yang  diserupakan

 

dengan  Isa  bagi  mereka.  (An­Nisa:  157)

 

Dengan  kata  lain,  mereka  hanya  melihat  yang  diserupakan  dengan

 

Isa,  lalu  mereka  menduganya  sebagai  Isa  a.s.  Karena  itulah  disebut­

 

kan di dalam  firman­Nya:

 

Sesungguhnya  orang­orang  yang  berselisih  paham  tentang  (pem­

 

bunuhan) Isa  benar­benar  dalam  keragu­raguan  tentang  yang  di­

 

bunuh  itu.  Mereka  tidak  mempunyai  keyakinan  tentang  siapa

 

yang  dibunuh  itu.  kecuali  mengikuti  persangkaan  belaka.  (An­

 

Nisa:  157)

 

Maksudnya,  orang  Yahudi  yang  menduga  bahwa  dia  telah  membu­

 

nuhnya  dan  orang  Nasrani  yang  percaya  dengan  hal  itu dari  kalangan

 

mereka  yang bodoh,  semua  berada  dalam keraguan  akan kejadian  itu;

 

mereka  bingung dan panik  serta  sesat. Karena  itulah dalam firman  se­

 

lanjutnya  disebutkan:

 

mereka  tidak  (pula)  yakin  bahwa  yang  mereka  bunuh  itu  adalah

 

Isa.  (An­Nisa:  157)

 

Dengan  kata  lain,  mereka  tidak  yakin  bahwa  yang  mereka  bunuh  itu

 

adalah Isa,  melainkan  mereka  ragu dan menduga­duga  saja.

 

tetapi  (yang  sebenarnya)  Allah  telah  mengangkat  Isa  kepada­

 

nya.  Dan  adalah  Allah  Mahaperkasa.  (An­Nisa:  158)

 

Yaitu Zat­Nya  Mahaperkasa  dengan  keperkasaan  yang  tak  terjangkau

 

oleh  siapa  pun,  dan  orang  yang  dilindungi­Nya  tiada  yang  dapat  me­

 

nyentuhnya.

 

24  Juz 6 –  An-Nisa

 

lagi Mahabijaksana.  (An­Nisa:  158)

 

Allah  Mahabijaksana  dalam  semua  takdir­Nya  dan  semua  perkara

 

yang  diputuskan­Nya.  Semuanya  adalah  makhluk­Nya,  dan  hanya

 

Dialah  yang  memiliki  hikmah  yang  tak  terbatas,  hujah  yang  mema­

 

tahkan, kekuasaan  Yang Mahabesar,  serta  semua  perencanaan.

 

Ibnu  Abu  Hatim  mengatakan,  telah  menceritakan  kepada  kami

 

Ahmad  ibnu Sjnan, telah  menceritakan  kepada  kami  Abu  Mu’awiyah,

 

dari  Al­A’masy,  dari  Al­Minhal  ibnu  Amr,  dari  Sa’id  ibnu  Jubair,

 

dari  Ibnu  Abbas  yang  mengatakan  bahwa  ketika Allah hendak  meng­

 

angkat Isa ke langit, maka  Isa  keluar untuk  menemui  para  sahabatnya

 

dari kalangan  Hawariyyin  yang jumlahnya  ada dua belas  orang.  Yang

 

dimaksud  ialah  Isa  keluar  dari  mata  air yang  ada  dalam  rumah  terse­

 

but,  sedangkan  kepalanya  masih  meneteskan  air,  lalu ia  berkata,  “Se­

 

sungguhnya di antara  kalian  adu orang  yang  kafir  kepadaku  sebanyak

 

dua belas kali  sesudah ia beriman  kepadaku.”

 

Ibnu  Abbas  melanjutkan  kisahnya,  bahwa  Isa  berkata  pula,  “Si­

 

apakah di  antara  kalian  yang  mau  dijadikan  sebagai  orang  yang  se­

 

rupa denganku,  lalu ia  akan dibunuh  sebagai  gantiku,  maka  kelak  dia

 

akan bersamaku  dalam  satu tingkatan  (di  surga nanti)?”

 

Maka  berdirilah  seorang  pemuda  yang  paling  muda  usianya di

 

antara  yang  ada,  lalu  Isa  berkata  kepadanya,  “Duduklah  kamu.”  Ke­

 

mudian ia  mengulangi  lagi  kata­katanya  kepada  mereka.  Pemuda  itu

 

berdiri  lagi mengajukan  dirinya, maka  Isa berkata, “Duduklah  kamu.”

 

Lalu ia mengulangi  lagi kata­katanya itu, maka  pemuda  itu juga  yang

 

berdiri  seraya  berkata,  “Aku  bersedia.” Akhirnya  Isa  berkata,  “Kalau

 

memang  demikian,  kamulah  orangnya.”  Maka  Allah  menjadikannya

 

serupa  dengan  Nabi  Isa,  sedangkan  Nabi  Isa  sendiri  diangkat ke  la­

 

ngit dari  salah  satu bagian atap  rumah  tersebut

 

Ibnu Abbas  melanjutkan  kisahnya,  bahwa  setelah itu  orang­orang

 

Yahudi  yang  memburunya  datang  dan  langsung  menangkap  orang

 

yang  serupa dengan  Isa  itu,  lalu  mereka membunuh  dan  menyalibnya.

 

Maka  sebagian  dari  mereka  kafir  kepada  Isa  sebanyak  dua  belas

 

kali  sesudah ia  beriman  kepadanya,  dan  mereka  berpecah­belah  men­

 

jadi tiga  golongan.

 

Tafsir Ibnu Kasir  25

 

Suatu  golongan  dari  mereka  mengatakan,  “Dahulu  Allah  berada

 

di  antara  kita,  kemudian  naik ke  langit.”Mereka  yang  berkeyakinan

 

demikian adalah sekte  Ya  ‘qubiyah

 

Segolongan  lainnya  mengatakan,  “Dahulu  anak  Allah  ada  bersa­

 

ma  kami  selama  yang  dikehendaki­Nya,  kemudian  Allah  mengang­

 

katnya  kepada­Nya.”  Mereka  yang  berkeyakinan  demikian  dari  sekte

 

Nasturiyah.

 

Segolongan  lain  mengatakan,  “Dahulu  hamba  dan  utusan  Allah

 

ada  bersama  kami  selama  masa  yang  dikehendaki  oleh  Allah,  kemu­

 

dian  Allah  mengangkat  dia  kepada­Nya.”  Mereka  yang  berkeyakinan

 

demikian  adalah orang­orang  muslim.

 

Kemudian  dua  golongan  yang  kafir  itu  memerangi  golongan

 

yang muslim  dan  membunuhnya,  maka  Islam  dalam  keadaan  terpen­

 

dam  hingga Allah  mengutus  Nabi Muhammad  Saw.

 

Sanad  asar  ini  sahih  sampai  kepada  Ibnu  Abbas.  Imam  Nasai

 

meriwayatkannya  melalui  Abu  Kuraib,  dari  Abu  Mu’awiyah  dengan

 

lafaz  yang  semisal.  Hal  yang  sama  disebutkan  oleh  ulama  Salaf  lain­

 

nya  yang  bukan  hanya oleh  seorang  saja,  bahwa  Nabi  Isa  berkata  ke­

 

pada para  sahabatnya,  “Siapakah di  antara  kalian  yang  mau  dijadikan

 

orang  yang  serupa  dengan  diriku,  lalu ia  akan  dibunuh  sebagai  ganti

 

diriku?  Maka  kelak  dia  akan menjadi  temanku di dalam  surga.”

 

Ibnu Jarir mengatakan, telah  menceritakan  kepada kami  Ibnu Hu­

 

maid, telah menceritakan  kepada kami  Ya’gub Al­Qummi, dari Harun

 

ibnu Antaran, dari Wahb  ibnu Munabbih  yang mengatakan  bahwa  Isa

 

datang ke  sebuah  rumah  bersama  tujuh  belas  orang  dari  kalangan

 

kaum Hawariyyin, lalu mereka  mengepungnya.  Ketika mereka  masuk

 

ke  dalam  rumah  itu,  Allah  membuat  rupa  mereka  sama  dengan  Isa

 

a.s. Lalu mereka  yang hendak  menangkap Isa berkata,  “Kalian  benar­

 

benar  telah  menyihir  kami.  Kalian  harus  menyerahkan  Isa  yang  se­

 

benarnya  kepada  kami  atau kami  terpaksa  membunuh  kalian  semua.”

 

Maka  Isa  berkata  kepada  para  sahabatnya,  “Siapakah di  antara

 

kalian  yang  mau  menukar  dirinya  dengan  surga  pada  hari  ini?” Lalu

 

ada  seorang  lelaki  dari  kalangan  mereka  menjawab,  “Aku!”  Lalu ia

 

keluar kepada mereka dan berkata, “Akulah  Isa.” Sedangkan  Allah te­

 

lah menjadikan  rupanya  mirip seperti Nabi Isa. Lalu mereka  langsung

 

menangkap dan membunuh  serta  menyalibnya.

 

26  Juz6-An Nisa

 

karena  itulah maka  terjadi  ke­syubhat­an  (keraguan) di  kalangan

 

mereka,  dan  mereka  menduga  bahwa  mereka  telah  membunuh  Isa.

 

Orang­orang  Nasrani  mempunyai  dugaan  yang  semisal,  bahwa  yang

 

disalib itu adalah  Isa.

 

Pada  hari  itu  juga  Allah  mengangkat  Isa.  Akan  tetapi,  konteks

 

kisah ini aneh  sekali  (garib jiddan).

 

Ibnu  Jarir  mengatakan,  telah  diriwayatkan  dari  Wahb  hal  yang

 

semisal dengan pendapat di  atas, yaitu kisah yang  diceritakan  kepada­

 

ku  oleh  Al­Musanna.  Disebutkan  bahwa  telah  menceritakan  kepada

 

kami  Ishaq,  telah  menceritakan  kepada  kami  Ismail  ibnu  Abdul  Ka­

 

rim, telah menceritakan  kepadaku  Abdus  Samad  ibnu  Ma’qal;  ia  per­

 

nah mendengar  Wahb  menceritakan  hal  berikut.  Isa  ibnu Maryam  ke­

 

tika diberi tahu oleh Allah akan diangkat dari dunia ini. maka  gelisahlah

 

hatinya  karena  akan  menghadapi  kematian  dan  berita  itu  terasa  berat

 

baginya.

 

Maka ia  mengundang  semua  Hawariyyin  dan membuat  makanan

 

untuk  mereka.  Dia  berkata,  “Datanglah  kepadaku  malam  ini,  karena

 

sesungguhnya  aku  mempunyai  suatu  keperluan  kepada  kalian.”  Sete­

 

lah  mereka  berkumpul  pada  malam  harinya,  maka  Nabi  Isa  menjamu

 

makan  malam  dan  melayani  mereka  sendirian.  Sesudah  selesai  dari

 

jamuan  itu,  Nabi  Isa  mencucikan  tangan  mereka  dan  membersihkan­

 

nya  serta mengusap tangan  mereka  dengan  kain bajunya.  Hal  tersebut

 

terasa  amat  berat  bagi  mereka  dan  mereka  tidak  menyukai  pelayanan

 

itu. Nabi Isa  berkata, “Ingatlah,  barang  siapa yang malam ini menolak

 

apa yang telah aku lakukan kepada kalian, dia bukan termasuk golongan­

 

ku dan  aku pun  bukan termasuk  golongannya.” Akhirnya  mereka  me­

 

nerimanya.

 

Seusai  melaksanakan  semuanya,  Nabi  Isa  berkata,  “Adapun  me­

 

ngenai apa yang telah aku buat untuk kalian malam ini, yaitu  pelayan­

 

anku  dalam  menjamu  kalian  dan  mencucikan  tangan  kalian  dengan

 

kedua tanganku  ini, hendaklah  hal tersebut dijadikan  sebagai  suri  tela­

 

dan  bagi  kalian  dariku.  Karena  sesungguhnya  kalian  telah  melihat

 

bahwa  diriku  adalah  orang  yang  paling  baik di  antara  kalian,  jangan­

 

lah sebagian dari  kalian merasa  besar diri atas sebagian yang  lain,  dan

 

hendaklah  sebagian dari  kalian mengabdikan  dirinya untuk  kepenting­

 

an  sebagian  yang  lain,  sebagaimana  aku  mengabdikan  diriku  untuk

 

Tafsir Ibnu Kasir  27

 

kalian.  Adapun  keperluanku  malam  ini  ialah  meminta  tolong  kepada

 

kalian  agar  kalian  mendoakan  kepada  Allah  buat  diriku  dengan  doa

 

yang  sungguh­sungguh  memohon  kepada  Allah  agar Dia  menangguh­

 

kan  ajalku.”

 

Ketika  mereka membenahi  dirinya untuk  berdoa  dan  hendak  me­

 

lakukannya  secara maksimal, tiba­tiba  mereka  ditimpa  oleh  rasa  kan­

 

tuk  yang  sangat  hingga  mereka  tidak  mampu  berdoa.  Lalu  Nabi  Isa

 

a.s. membangunkan  mereka seraya berkata, “Mahasuci Allah,  menga­

 

pa  kalian  tidak  dapat  bertahan  untukku  malam  ini  saja  untuk

 

membantuku  dalam  berdoa?” Mereka  menjawab,  “Demi  Allah,  kami

 

tidak  mengetahui  apa  yang  telah  menimpa  diri  kami.  Sesungguhnya

 

kami banyak begadang dan malam ini kami tidak mampu lagi begadang.

 

Tidak  sekali­kali  kami  hendak  berdoa,  melainkan  kami  selalu  diha­

 

lang­halangi  oleh  rasa  kantuk  itu yang  menghambat  kami  untuk  me­

 

lakukan  doa.”

 

Nabi  Isa  berkata,  “Penggembala  pergi  dan  ternak  kambing  pun

 

berccrai­berai,” lalu  ia mengucapkan  kalimat­kalimat  yang  semisal  se­

 

bagai ungkapan  belasungkawa terhadap  dirinya.

 

Kemudian  Isa  a.s.  berkata,  “Sesungguhnya  kelak  ada­ seseorang

 

di  antara  kalian  yang  benar­benar  kafir  kepadaku  sebelum  ayam  jago

 

berkokok  tiga  kali,  dan  sesungguhnya  akan  ada  seseorang di  antara

 

kalian yang  rela menjual  diriku dengan  beberapa  dirham, dan  sesung­

 

guhnya dia  benar­benar  memakan  hasil jualannya  itu.”

 

Lalu  mereka  keluar  dan  berpencar,  saat  itu  orang­orang  Yahudi

 

sedang mencari­carinya.  Lalu  mereka  menangkap  Syam’un  (salah  se­

 

orang Hawariyyin)  dan  mereka  mengatakan,  “Orang  ini termasuk  sa­

 

habatnya.” Tetapi Syam’un  mengingkari  tuduhan itu dan  mengatakan,

 

“Aku  bukanlah  sahabatnya.”  Akhirnya  mereka  melepaskannya.  Ke­

 

mudian  mereka  menangkap  yang  lainnya,  orang  yang  kedua  itu  pun

 

mengingkarinya.

 

Kemudian  Nabi  Isa  mendengar  kokok  ayam  jago,  maka ia  me­

 

nangis  dan bersedih  hati. Pada pagi  harinya salah seorang  Hawariyyin

 

datang  kepada  orang­orang  Yahudi,  lalu  berkata,  “Imbalan  apakah

 

yang  akan  kalian  berikan  kepadaku jika  aku tunjukkan  kalian  kepada

 

Al­Masih?”  Mereka  memberinya  uang  sebanyak  tiga  puluh  dirham,

 

lalu ia  menerimanya  dan  menunjukkan  mereka ke  tempat  Al­Masih

 

28  Juz  6-An-Nisa

 

berada.  Sebelum  itu  telah  diserupakan  kepada  mereka  Nabi  Isa  yang

 

palsu. Maka mereka menangkapnya dan mengikatnya dengan tali, lalu

 

mereka  giring  seraya  mengatakan  kepadanya,  “Katanya  kamu  dapat

 

menghidupkan  orang  yang  telah  mati, dapat mengusir  setan, dan  me­

 

nyembuhkan  orang  gila.  Sekarang  apakah  kamu  dapat  menyelamat­

 

kan  dirimu  dari  tambang  ini?” Mereka  meludahinya  dan  melempari­

 

nya  dengan  tangkai­tangkai  berduri,  hingga  sampai di  tempat  kayu

 

yang mereka  maksudkan untuk  menyalibnya.

 

Allah telah mengangkat  Nabi  Isa  yang  asli dan  mereka  menyalib

 

orang yang diserupakan  dengannya.

 

Tujuh  hari  setelah  peristiwa  itu ibu  Nabi  Isa  dan  seorang  wanita

 

yang telah  diobati  oleh  Isa  a.s. hingga  wanita  itu  sembuh  dari  penya­

 

kit gilanya  menangisi  orang  yang  disalib  itu.  Lalu  Isa  a.s. datang  ke­

 

pada mereka  berdua  dan  berkata, “Apakah  yang  membuat  kamu  ber­

 

dua menangis?” Keduanya  menjawab,  “Kami  menangisimu.”  Isa  ber­

 

kata, “Sesungguhnya  Allah telah  mengangkat  diriku  kepada­Nya,  dan

 

tiada  yang  aku  peroleh  kecuali  kebaikan  belaka,  dan  sesungguhnya

 

orang  yang  disalib  ini  adalah  orang  yang  diserupakan  denganku di

 

mata  mereka.  Maka  perintahkanlah  kepada  kaum  Hawariyyin  agar

 

mereka menjumpaiku di tempat anu  dan  anu.”

 

Kemudian di  tempat  yang  dimaksud  Nabi  Isa  dijumpai  oleh  se­

 

belas  orang,  dan ia  merasa  kehilangan  seseorang  dari  mereka,  yaitu

 

orang yang telah  ‘menjualnya’  dan menunjukkan  kepada  orang­orang

 

Yahudi tempat  ia  berada.  Kemudian  Isa menanyakan kepada  sahabat­

 

sahabatnya  tentang  orang  tersebut.  Maka  seseorang  dari  mereka  men­

 

jawab bahwa  dia  telah menyesali  perbuatannya,  lalu ia  bunuh  diri  de­

 

ngan  cara  gantung  diri.  Isa  berkata,  “Seandainya ia  bertobat,  niscaya

 

Allah menerima  tobatnya.”

 

Kemudian  Isa  menanyakan  kepada  mereka  tentang  seorang  pela­

 

yan yang ikut bersama mereka. Mereka menjawab  bahwa  pelayan  ter­

 

sebut  bernama  Yahya.  Maka  Isa  berkata,  “Dia  ikut  bersama  kalian,

 

dan  sekarang  berangkatlah  kalian,  sesungguhnya  setiap  orang  itu  ke­

 

lak  akan  berbicara  dengan  bahasa  kaumnya,  maka  berilah  mereka

 

peringatan dan serulah mereka.” Konteks riwayat ini berpredikat  garib

 

jiddan  (aneh  sekali).

 

Tafsir Ibnu Kasir  29

 

Kemudian  Ibnu Jarir mengatakan,  telah  menceritakan kepada  ka­

 

mi Ibnu Humaid,  telah menceritakan  kepada  kami  Salamah,  dari  Ibnu

 

Ishaq  yang  menceritakan  bahwa  nama  raja  Bani  Israil  yang  mengi­

 

rimkan  sejumlah  pasukan  untuk  membunuh  Isa  a.s.  adalah  Daud,  se­

 

seorang  dari kalangan  Bani  Israil  pula.  Setelah mereka  sepakat  untuk

 

membunuh  Isa  a.s.,  menurut  berita  yang  sampai  kepadaku,  tiada  se­

 

orang hamba  pun dari kalangan hamba­hamba  Allah yang takut  kepa­

 

da mati  seperti  takut  yang  dialaminya,  dan  tiada orang  yang lebih ge­

 

lisah  darinya  dalam  menghadapi  hal  itu, tiada  seorang  pun  yang  ber­

 

doa  agar dijauhkan  dari mati  seperti doa  yang dilakukannya.  Sehingga

 

menurut  apa  yang  mereka  duga,  Isa  a.s. berkata  dalam  doanya,  “Ya

 

Allah, jika Engkau menghindarkan  kematian  ini dari seseorang  makh­

 

luk­Mu, maka hindarkanlah ia dariku.” Disebutkan bahwa  sesungguh­

 

nya  kulit Nabi  Isa  (setelah mendengar  berita  itu) benar­benar  mengu­

 

curkan  darah.

 

Lalu  Isa  dan  semua  sahabatnya  memasuki  tempat  persembunyian

 

yang  telah mereka  sepakati,  dan di  tempat  itulah  akhirnya  terjadi  pe­

 

ristiwa  pembunuhan;  jumlah  mereka  seluruhnya  ada  tiga  belas  orang,

 

termasuk  Nabi  Isa  a.s.  sendiri.  Setelah  Nabi  Isa  merasa  yakin  bahwa

 

semua  sahabatnya  telah  masuk ke dalam  tempat  tersebut  bersamanya,

 

lalu  Nabi  Isa  mengumpulkan  semua  sahabatnya  yang  terdiri  atas  ka­

 

langan  Hawariyyin.  Mereka  ada  dua  belas  orang,  yaitu  Firtaas,

 

Ya’gobus,  WeOa  dan  Nakhas  saudara  Ya’gobas,  Andreas,  Philips,

 

Ibnu  Yalma,  Mateus,  Tomas,  Ya’gub  ibnu  Halgiya,  Nadawasis,

 

Qntabiya,  Yudas Raknya  Yuta.

 

Ibnu  Humaid  mengatakan  bahwa  Salamah  mengatakan  dari

 

Ishaq, “Menurut  kisah  yang  sampat kepadaku, ada  seorang  lelaki ber­

 

nama Sarjis  hingga jumlah mereka tiga belas  orang  selain  Isa. Orang­

 

orang  Nasrani  mengingkarinya  karena  Sarjislah  yang  diserupakan

 

dengan Isa di mata orang­orang  Yahudi.*’

 

Ibnu  Ishaq  mengatakan,  “Aku  tidak  mengetahui  apakah  Sarjis

 

termasuk  mereka  yang  dua  belas  orang  itu,  ataukah  dia  termasuk  sa­

 

lah  seorang  dari  mereka  yang  tiga  belas.  Karena  itulah  mereka  me­

 

ragukannya di  saat  mereka  mengiyakan  kepada  orang­orang  Yahudi

 

30  Juz 6-An-Nisa

 

tentang  tersalibnya  Isa.  Mereka  (orang­orang  Nasrani)  tidak  memper­

 

cayai  berita  mengenai  hal  tersebut  yang  disampaikan  oleh  Nabi

 

Muhammad  Saw.”

 

Jika  jumlah  mereka  seluruhnya  ada  tiga  belas  orang  ketika  me­

 

masuki  rumah  persembunyian  itu,  berarti  semuanya  ada  empat  belas

 

orang  bersama  Isa  a.s. Jika jumlah  mereka  (Hawariyyin)  ada  dua  be­

 

las orang  ketika memasuki  rumah  persembunyian  itu, berarti  seluruh­

 

nya  ada tiga  belas  orang  (bersama  Isa  as.).

 

Ibnu Ishaq  mengatakan,  telah  menceritakan  kepadaku  seorang  le­

 

laki  yang  dahulunya  beragama  Nasrani,  kemudian  masuk  Islam;  bah­

 

wa  Isa  ketika  mendapat  wahyu  dari  Allah  Swt.  yang  mengatakan,

 

“Sesungguhnya  Aku  akan  mengangkatmu  kepada­Ku.”  Maka  Isa  ber­

 

kata,  “Hai  golongan  Hawariyyin,  siapakah di  antara  kalian  yang  rela

 

menjadi  temanku di  surga?  Syaratnya  adalah  dia  mau  menjadi  orang

 

yang  diserupakan  dengan  diriku di  mata  kaum,  lalu  mereka  membu­

 

nuhnya  sebagai  ganti dariku.” Maka  Sarjis  menjawab,  “Aku  bersedia,

 

wahai Ruhullah.” Isa  a.s. berkata,  “Duduklah  kamu di  tempatku!”

 

Maka  Sarjis  duduk di  tempatnya,  sedangkan ia  sendiri  diangkat

 

ke  langit  Lalu  mereka  memasuki  rumah  itu  dan  langsung  menang­

 

kapnya  serta  menyalibnya.  Sarjislah  orang  yang  disalib  dan  diserupa­

 

kan dengan Isa di mata  mereka.

 

Jumlah  mereka di  saat memasuki  rumah  itu bersama  Isa telah  di­

 

maklumi,  karena  mereka  mengintipnya  dan  menghitung  jumlahnya.

 

Ketika mereka  memasuki  rumah  itu untuk  menangkap  Isa, maka  me­

 

nurut  penglihatan  mereka,  “mereka  melihat  adanya  Isa  dan  para  sa­

 

habatnya,  tetapi  mereka kehilangan  seorang  lelaki dari jumlah  keselu­

 

ruhannya.  Hal  itulah  yang  membuat  mereka  berselisih  pendapat  me­

 

ngenainya.

 

Sejak  semula  mereka  tidak  mengenal  Isa,  yaitu di  saat  mereka

 

memberikan  hadiah tiga puluh dirham  kepada  Yudas  sebagai  imbalan

 

untuk  menunjukkan  dan mengenalkan  Isa kepada mereka. Yudas  ber­

 

kata  kepada  mereka,  “Jika  kalian  memasukinya,  aku  akan  mencium­

 

nya, maka  Isa  adalah  orang yang  aku cium itu  nantinya.”

 

Ketika  mereka  memasuki  rumah  tersebut,  Isa  telah  diangkat ke

 

langit;  dan  mereka  melihat  Sarjis  yang  diserupakan  menjadi  Isa  a.s.,

 

sedang  Yudas  sendiri  tidak  meragukan  bahwa  Sarjis  adalah  Isa.

 

Tafsir Ibnu Kasir  31

 

Karena itu, ia langsung menciumnya,  dan mereka menangkapnya,  lalu

 

menyalibnya.

 

Setelah  peristiwa  itu  Yudas  menyesali  perbuatannya,  lalu ia

 

menggantung  dirinya  dengan  tali  tambang  hingga  mati.  Dia  adalah

 

orang  yang  terkutuk di  kalangan  orang­orang  Nasrani,  padahal  se­

 

belumnya  dia termasuk  salah  seorang  sahabat  Isa.

 

Sebagian  orang Nasrani  menduga  bahwa orang yang  diserupakan

 

dengan  Isa  itu  adalah  Yudas  sendiri,  lalu  disalib  oleh  orang­orang

 

Yahudi. Di  saat disalib  itu la  mengatakan,  “Sesungguhnya  aku  bukan

 

orang  yang  kalian  cari,  akulah  orang  yang  menunjuki  kalian  kepada­

 

nya.”

 

Ibnu  Jarir  meriwayatkan  dari  Mujahid,  bahwa  mereka  menyalib

 

seorang  lelaki  yang  diserupakan  dengan  Isa,  sedangkan  Isa  sendiri

 

telah diangkat  oleh Allah Swt. ke langit dalam keadaan  hidup.

 

Tetapi  Ibnu  Jarir  sendiri  memilih  pendapat  yang  mengatakan

 

bahwa  yang  diserupakan  dengan  Isa  adalah  semua  sahabatnya  yang

 

ada  bersamanya.

 

Advertisements