Updates from October, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 11:25 am on 16/10/2010 Permalink | Reply
    Tags: , , , Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah,   

    Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah 

    Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah

     

    Minggu, 4 Oktober 2009 16:56:38 – oleh : fatimahzahra

     

    Ditulis oleh Abu Afif   Minggu, 12 Juli 2009 16:47

     

    • Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang paling utama, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    (عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ الله : أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: (إِيْمَانٌ بِاللهِ وَ رَسُوْلِهِ)، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: (الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ)، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: (حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

     

    “Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ditanya: ‘Amal ibadah apakah yang paling utama?’ Beliau bersabda: ‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Jihad dijalan Allah’. Dikatakan (kepadanya): ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Haji yang mabrur.’”( HR. Al-Bukhari dan Muslim, lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib oleh al-Albani 3/3 hadits No. 1093. )

     

    • Ibadah haji sebagai penghapus dosa, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

     

    “Barangsiapa yang mengerjakan ibadah haji dan dia tidak melakukan jima’ dan tidak pula melakukan perbuatan dosa, dia akan kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan ibunya.” ( HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa-i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi )

     

    • Balasan bagi haji mabrur adalah Surga, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    الْعُمْرَِةُ إِلَى الْعُمْرِةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَ الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ  لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

     

    “Umrah (yang pertama) kepada umrah yang berikutnya sebagai kaffarat (peng-hapus) bagi (dosa) yang dilakukan di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya, melainkan Surga.” ( HR. Malik, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah). Lihat Shahih at-Targhiib No. 1096. )

     

     

    Dan dari Jabir bin ‘Abdillah dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:الْحَجَّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ ، قِيْلَ : وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ طِيْبُ الْكَلاَمِ

     

     

    “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga. Dikatakan (kepada beliau): ‘Apakah bentuk bakti dalam haji itu?’ Beliau ber-kata: ‘Memberi makanan dan berbicara yang baik.’”( HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Albani berkata: “Shahih lighairihi, lihat Shahih at-Targhiib” No. 1104) )

     

    • Haji adalah jihad bagi para wanita dan setiap orang yang lemah, berdasarkan hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    عَنْ عَائِشَةَ d قَالَتْ ، قُلْتُ: يَارَسُوْلَ الله نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ اْلأَعْمَالِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ ؟ فَقَالَ: لَكُنَّ أَفْضَلُ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

     

     

    “Dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha,, ia berkata, aku bertutur: ‘Ya Rasulullah kami melihat bahwasanya berjihad adalah amal ibadah yang paling utama, apakah kami (para wanita, -pent) tidak berjihad? Maka beliau bersabda: ‘Bagi kalian (kaum wanita,-Pent), jihad yang paling utama adalah haji mabrur'” .Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, ‘Aisyah d berkata:قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ عَلَى النِّسَاءِ مِنْ جِهَادٍ؟ قَالَ: (عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيْهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ)

     

     

    “Aku bertutur: ‘Ya Rasulullah, apakah ada kewajiban berjihad bagi kaum wanita?’ Beliau berkata: ‘Bagi wanita adalah jihad yang tidak ada peperangan padanya (yaitu) haji dan umrah.'” (Dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahih at-Targhiib No. 1099).Dan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:جِهَادُ الْكَبِيْرِ وَالضَّعِيْفِ وَالْمَرْأَةِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

     

    “Jihad orang yang tua, orang yang lemah dan wanita adalah haji dan umrah.”

     

    • Orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah, dan permohonan mereka dikabulkan, berdasarkan hadits ‘Abdullah Ibnu ‘Umar Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

     

    الْغَازِي فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللهِ ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ وَسَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُمْ

     

    “Orang yang berperang dijalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya dan mereka memohon kepada-Nya. Dia-pun memberikan permohonan me-reka.”

     

    • Keutamaan perjalanan haji, keutamaan orang yang mati dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji, dan keutamaan orang yang mati dalam keadaan berihram (ditengah pelaksanaan ibadah haji dan/atau umrah.) Semuanya termaktub dalam hadits-hadits dibawah ini:

     

    a. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallaahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:مَاتَرْفَعُ إِبِلُ الْحَجِّ رِجْلاً ، وَلاَ يَدًا إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ رَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

     

    “Tidaklah unta (yang dikendarai) seseorang yang melaksanakan haji mengangkat kaki(nya) dan tidak pula meletakkan tangan(nya) melainkan Allah mencatat bagi orang itu satu kebaikan atau menghapus darinya satu kejelekan atau meng-angkatnya datu derajat.”

     

    b.Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:مَنْ خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْحاَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ خَرَجَ غَازِيًا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْغَازِى إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

     

     

    “Barangsiapa keluar dalam melaksana-kan haji lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang haji hingga hari Kiamat. Barangsiapa keluar dalam melaksanakan umrah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang melaksanakan umrah sampai hari Kiamat, dan barangsiapa keluar dalam berperang dijalan Allah lalu ia mati, niscaya dicatat baginya pahala seorang yang berperang dijalan Allah sampai hari Kiamat.”

     

    c. Dari ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas Radhiallaahu anhu, ia berkata:بَيْنَمَا رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ; بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَأَقْعَصَتْهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ; ( اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ بِثَوْبَيْهِ وَلاَ تُخَمِّرُوْا رَأْسَهُ وَلاَ تُحَنِّطُوْهُ فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَلَبِّيًا )

     

    “Tatkala seseorang sedang wukuf bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dipadang ‘Arafah, tiba-tiba ia dijatuhkan oleh binatang (unta) yang dikendarainya dan mematahkan lehernya, maka Rasu-lullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: ‘Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, kafanilah dia dengan dua helai (kain) ihramnya dan jangan kalian menutup kepalanya serta jangan pula kalian beri wangi-wangian padanya, karena sesungguh-nya dia akan dibangkitkan dihari Kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah.'”

     

    • Dan lain-lain.

     

    Itulah sejumlah keutamaan ibadah haji dan umrah yang kami rangkum dari beberapa hadits yang shahih dan hasan. Jika kita telah mengetahuinya, maka sepatutnya bagi orang yang mampu untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah haji, serta menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, manakala ia memilikinya.

     

    Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi berkata: “Disunnahkan melaksanakan haji setiap tahun bagi orang yang mampu selama tidak membahayakan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya” , berdasar-kan hadits ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu , Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبِ كَمَا يَنْفِى الْكِيْرُ حَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ وَمَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَظَلُّ يَوْمَهُ مُحْرِمًا إِلاَّ غَابَتِ الشَّمْسُ بِذُنُوْبِهِ

     

    “Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan pahala bagi haji yang mabrur kecuali Surga, tidaklah seorang mukmin dalam kesehariannya berada dalam keada-an ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosanya.”

     

    Sunnah tersebut semakin ditekankan lagi jika telah melewati empat atau lima tahun dari haji yang dilakukan sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

     

    إِنَّ اللهَ يَقُوْلُ: إِنَّ عَبْدًا صَحَّحْتُ لَهُ جِسْمَهُ وَ وَسَّعْتُ عَلَيْهِ فِيْ الْمَعِيْشَهِ يَمْضِى عَلِيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لاَ يَفِدُ إِلَيَّ لَمَحْرُوْمٌ

     

    “Sesungguhnya Allah berfirman: ‘Sesung-guhnya seorang hamba yang telah Kusehat-kan jasadnya dan Kulapangkan penghi-dupannya, telah berlalu lima tahun atasnya, dia tidak datang kepada-Ku, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan-Pent). (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya, Abu Ya’la dan al-Bai-haqi).

     

    Sedangkan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dengan redaksi:إنَّ اللهَ يَقُوْلُ: إِنَّ عَبْدًا صَحَّحْتُ لَهُ بَدَنَهُ وَ أَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِي الرِّزْقِ لَمْ يَفِدْ إِلَيَّ فِيْ أَرْبَعَةِ أَعْوَامٍ لَمَحْرُوْمٌ

     

     

    “Bahwasanya Allah berfirman: ‘Sesungguh-nya seorang hamba yang telah Ku-sehatkan tubuhnya, Ku-lapangkan rizkinya, (namun) dia tidak datang kepada-Ku pada setiap empat tahun, benar-benar dia seorang yang diharamkan (dihalangi dari kebaikan,-Pent) (Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz Zawaa-id perawi hadits ini semuanya perawi kitab ash-Shahih.)

    http://fatimahzahra.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=28%EF%BB%BF

     

    Advertisements
     
  • SERBUIFF 6:21 am on 30/06/2009 Permalink | Reply
    Tags: Kiblat   

    Kiblat 

    Kiblat

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Langsung ke: navigasi, cari

    Kiblat adalah kata Arab yang merujuk arah yang dituju saat seorang Muslim mendirikan sholat.

    Daftar isi

    [sembunyikan]

    //

    [sunting] Sejarah

    Pada mulanya, kiblat mengarah ke Yerusalem. Menurut Ibnu Katsir,[1] Rasulullah SAW dan para sahabat shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka shalat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim, yaitu Ka’bah. Oleh karena itu beliau sering shalat di antara dua sudut Ka’bah sehingga Ka’bah berada di antara diri beliau dan Baitul Maqdis. Dengan demikian beliau shalat sekaligus menghadap Ka’bah dan Baitul Maqdis.

    Setelah hijrah ke Madinah, hal tersebut tidak mungkin lagi. Ia shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Ia sering menengadahkan kepalanya ke langit menanti wahyu turun agar Ka’bah dijadikan kiblat shalat. Allah pun mengabulkan keinginan beliau dengan menurunkan ayat 144 dari Surat al-Baqarah:

    Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (Maksudnya ialah Nabi Muhammad SAW sering melihat ke langit mendoa dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah).[2]

    Juga diceritakan dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari:[3]

    Dari al-Bara bin Azib, bahwasanya Nabi SAW pertama tiba di Madinah beliau turun di rumah kakek-kakek atau paman-paman dari Anshar. Dan bahwasanya beliau shalat menghadap Baitul Maqdis enam belas atau tujuh belas bulan. Dan beliau senang kiblatnya dijadikan menghadap Baitullah. Dan shalat pertama beliau dengan menghadap Baitullah adalah shalat Ashar dimana orang-orang turut shalat (bermakmum) bersama beliau. Seusai shalat, seorang lelaki yang ikut shalat bersama beliau pergi kemudian melewati orang-orang di suatu masjid sedang ruku. Lantas dia berkata: “Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku telah shalat bersama Rasulullah SAW dengan menghadap Makkah.” Merekapun dalam keadaan demikian (ruku) merubah kiblat menghadap Baitullah. Dan orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab senang beliau shalat menghadap Baitul Maqdis. Setelah beliau memalingkan wajahnya ke Baitullah, mereka mengingkari hal itu. Sesungguhnya sementara orang meninggal dan terbunuh sebelum berpindahnya kiblat, sehingga kami tidak tahu apa yang akan kami katakan tentang mereka. Kemudian Allah yang Maha Tinggi menurunkan ayat “dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu” (al-Baqarah, 2:143).[2]

    Hal itu terjadi pada tahun 624. Dengan turunnya ayat tersebut, kiblat diganti menjadi mengarah ke Ka’bah di Mekkah. Selain arah shalat, kiblat juga merupakan arah kepala hewan yang disembelih, juga arah kepala jenazah yang dimakamkan.

    [sunting] Penentuan arah kiblat

    Perhitungan geometris arah kiblat

    Dalam 1000 tahun terakhir, sejumlah matematikawan dan astronom Muslim seperti Biruni telah melakukan perhitungan yang tepat untuk menentukan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia. Seluruhnya setuju bahwa setiap tahun ada dua hari dimana matahari berada tepat di atas Ka’bah, dan arah bayangan matahari dimanapun di dunia pasti mengarah ke Kiblat. Peristiwa tersebut terjadi setiap tanggal 28 Mei pukul 9.18 GMT (16.18 WIB) dan 16 Juli jam 9.27 GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa. Sedang kalau tahun kabisat, tanggal tersebut dimajukan satu hari, dengan jam yang sama.

    Tentu saja pada waktu tersebut hanya separuh dari bumi yang mendapat sinar matahari. Selain itu terdapat 2 hari lain dimana matahari tepat di “balik” Ka’bah (antipoda), dimana bayangan matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka’bah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 November 21.09 GMT (4.09 WIB) dan 16 Januari jam 21.29 GMT (4.29 WIB)

    [sunting] Pranala luar

    [sunting] Catatan

    1. ^ (ar)Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat al-Baqarah.
    2. ^ a b (ar)Al-Qur’an Al-Karim.
    3. ^ (ar)Al-Bukhari. Shahih al-Bukhari, hadits no. 41 dalam Fath al-Bari.
    ===========================

    Kiblat

    Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.

    Lompat ke: pandu arah, gelintar

    Sebahagian daripada siri
    Fiqh Islam

    (suatu disiplin kajian Islam)
    Bidang-bidang
    Kotak ini: papar bincang sunting

    Kiblat atau juga dieja qiblat, merujuk kepada arah Kaabah yang menjadi titik arah sembahyang bagi orang Islam. Pada mulanya, kiblat mengarah ke Baitulmuqaddis atau kini Jerusalem, namun pada tahun 624M diganti menjadi mengarah ke Kaabah di Mekah.

    Sembahyang di masjid di Damsyik

    Kiblat merupakan perkataan Arab yang merujuk arah apabila seseorang Muslim solat. Asalnya, mengarah ke Baitulmuqaddis atau kini Jerusalem (dan dengan itu dikenali sebagai Pertama dari Dua Kiblat). Pada tahun 624M, semasa penghijrahan Nabi Muhammad SAW di Madinah, arah Kiblat ditukar ke arah Kaabah, dan kekal sehingga kini. Sesetengah pakar berpendapat, pertukaran tersebut berlaku akibat perselisihan antara Muhammad dengan puak Yahudi di Madinah.

    Apabila mengerjakan solat dalam Kaabah itu sendiri, seseorang Muslim menghadap ke arah dinding keluar semasa solat, manakala bagi berada di luar Kaabah pula, mereka boleh menghadap mana-mana arah kerana pusingan Kaabah itu 360 darjah.

    Kiblat, merupakan titik rujukan di Bumi, ke arah Kaabah. Dalam amalan agama Islam, solat mesti menghadap ke arah Kaabah. Perlu diingatkan bahawa seseorang Muslim tidak menyembah Kaabah atau kandungannya, sama seperti pengikut Kristian tidak menyembah gereja atau salib; Kaabah hanya merupakan titik rujukan untuk solat.

    Kiblat menunjukkan arah terpendek ke Kaabah. Disebabkan Bumi hampir bulat, laluan ini membentuk bulatan besar seperti laluan kapal terbang. Lokasi Kaabah (di 21° 25′ 24″ N, 39° 49′ 24″ E) boleh ditentukan secara geometri (sfera) untuk menentukan arah Kiblat di mana-mana sahaja di muka Bumi ini.

    Hanya satu kes khas wujud: apabila bersolat dalam Kaabah sendiri, seseorang Muslim menghadap ke arah dinding keluar semasa solat.

    Pada masa silam, Muslim yang mengembara menggunakan astrolob untuk menentukan arah Kiblat. Pada tarikh tertentu dalam tahun apabila Matahari berada tepat di atas Kaabah, arah bayang di semua tempat akan menunjukkan dengan tepat arah Kiblat.

    Kiblat penting bukan semata-mata sebagai arah solat, tetapi juga dalam upacara harian/keagamaan. Kepala haiwan yang disembelih (untuk korban mengikut kepercayaan Islam) diselaraskan dengan kiblat. Selepas meninggal dunia, seseorang Muslim dikebumikan dengan muka menghadap kearah Kiblat.

    Beliau berkata, semua empat mazhab iaitu Hanafi, Maliki, Syafie dan Hambali bersepakat bahawa menghadap kiblat adalah syarat sah solat. Mazhab Syafie menetapkan tiga syarat yang boleh diguna pakai bagi memenuhi syarat menghadap kiblat.

    Isi kandungan

    [sorok]

    //

    [sunting] Kaedah tradisional tentu kiblat

    Waktu solat dan posisi info(Berita Minggu)

    [sunting] Matahari istiwa atas Kaabah

    Kejadian matahari istiwa (rembang) di atas kaabah berlaku dua kali setahun iaitu pada 28 Mei kira-kira jam 5.16 petang dan pada 16 Julai, kira-kira jam 5.28 petang (waktu Malaysia). Ketika matahari istiwa di atas Kaabah, bayang objek tegak di seluruh dunia akan memperbetulkan arah kiblat.

    • Panduan menentukan arah kiblat dari satu tempat pada tarikh dan masa yang ditentukan di atas:
      • Pacakkan satu tiang pada kawasan yang hendak disemak arah kiblatnya.
      • Pastikan tiang berkenaan tegak dan lurus. Bagi menyemak ketegakannya boleh diletak sebarang pemberat yang diikat pada hujung tiang itu.
      • Tempat yang dipilih untuk tujuan ini tidak terlindung daripada sinaran matahari. Oleh kerana matahari berada di langit barat, bayang-bayang akan jatuh ke arah timur, arah kiblat ialah bayang-bayang yang menghadap ke barat.

    [sunting] Kaedah buruj bintang

    • Buruj bintang ialah sekumpulan bintang yang berada di suatu kawasan langit serta mempunyai bentuk hampir sama dan kelihatan berdekatan antara satu sama lain.
    • Langit dibahagikan kepada 88 kawasan buruj bintang. Bintang yang berada pada satu kawasan sama adalah dalam satu buruj.
    • Sesuatu buruj bintang mengikut bentuk yang mudah dikenal pasti seperti bentuk haiwan dan geometri.
    • Dengan mengetahui bentuk buruj bintang tertentu, arah utara dan arah kiblat dari sesuatu tempat boleh ditentukan.
    • Menggunakan kedudukan buruj Orion atau buruj Al-Babadour. Pada buruj itu ada tiga bintang berderet iaitu Mintaka, An Nilam[ dan An Nitak. Arah kiblat boleh diketahui dengan mengunjurkan arah tiga bintang berderet berkenaan ke arah barat.

    [sunting] Kaedah matahari terbenam

    • Secara umum, jika kita merujuk kepada kedudukan matahari terbenam untuk tujuan penentuan arah kiblat adalah tidak tepat. Ini disebabkan arah matahari terbenam di Malaysia akan berubah dari azimut 235 darjah hingga 295 darjah.
    • Ia boleh digunakan sebagai satu daripada langkah berijtihad, arah matahari terbenam boleh digunakan jika mengetahui perbezaan sudut antara arah matahari dengan arah kiblat.

    [sunting] Kaedah moden tentu kiblat

    Cara kiblat ditentukan(Berita Minggu)

    [sunting] Pengiraan arah kiblat

    • Hitungan adalah berdasarkan kepada konsep arah di sepanjang bulatan gedang bumi (great circle).
    • Membabitkan model matematik sfera yang mengandungi koordinat geografi tempatan dan koordinat geografi rujukan (Kaabah).

    [sunting] Kompas Prismatik

    • Penandaan arah kiblat dengan kompas banyak diamalkan di kalangan masyarakat Islam masa kini. Arah yang ditunjukkan oleh sesuatu kompas adalah arah merujuk ke arah utara.
    • Arah utara magnet pula tidak semestinya bersamaan dengan arah utara benar. Perbezaan arah utara ini dipanggil sebagai sudut serong magnet.
    • Antara masalah yang boleh timbul menggunakan kompas ialah tarikan graviti tempatan yang mana ia terkesan dari kewujudan bahan logam atau arus elektrik di sekeliling kompas yang digunakan.
    • Boleh digunakan sebagai alat alternatif jika alat yang lebih sesuai tidak ada.

    [sunting] Penggunaan Teodolit

    • Teodolit adalah antara alat termoden yang diguna pakai oleh kebanyakan juru ukur dan pihak yang melakukan kerja menentukan arah kiblat.
    • Alat itu digunakan untuk mengukur bacaan sudut secara mendatar dan menegak. Ia memberi kejituan bacaan tinggi dan tepat.

    [sunting] Lihat juga

    [sunting] Pautan luar

    [sunting] Kiblat

    [sunting] Arah kiblat Negeri Selangor Darul Ehsan

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel