Updates from March, 2011 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 1:12 pm on 31/03/2011 Permalink | Reply
    Tags: Ismail: Prosedur Pengampunan Dalam Islam Sungguh Masuk Akal   

    Ismail: Prosedur Pengampunan Dalam Islam Sungguh Masuk Akal 

    Ismail: Prosedur Pengampunan Dalam Islam Sungguh Masuk Akal

    Kamis, 31 Maret 2011 17:25 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, “Saya menjadi Muslim sebab ada banyak alasan baik, namun yang terpenting, saya ingin dekat dengan Tuhan dan menerima pengampunan dan penyelamatan abadi,” tulis Ismail Abu Adam di akun YouTube miliknya. Padahal jauh sebelum menyatakan itu, Ismail yang awalnya penganut Kristen taat, ingin melakukan misi penginjilan ke komunitas Muslim yang selama ini ia pikir harus diselamatkan.

    “Saya lahir besar sebagai Kristen. Tetapi dasar saya adalah Katholik Roma,” kata Ismail. “Saya selalu meyakini Yesus adalah Tuhan dan saya berikan hidup saya kepadanya,” tuturnya.

    Ismail meyakini Yesus adalah penyelamat dan ia juga mempercayai peristiwa kematian, penyaliban hingga kebangkitan Yesus. “Juga konsep dosa asal,  seratus persen semua itu saya yakini sebagai kata-kata tuhan,” ungkap Ismail.

    Sebagai penganut taat, ia pergi ke gereja setiap minggu dan aktif dalam kegiatan peribadatan. Bahkan ia kerap mengkotbahi teman-temanya dan mengajak mereka yang beberbeda keyakinan untuk mempercayai agama yang ia anut.

    Pada awal usia 20-an, Ismail mulai tertarik melebarkan kotbah ke umat Muslim. “Saya besar, tinggal di Amerika Utara. Di sana saya sangat jarang bertemu Muslim, yang ada hanyalah kaukasia dan kristen, jadi saya ingin menyakskan Kristen bisa disebarkan ke komunitas Muslim,” ujarnya.

    Sebelum benar-benar turun ke lapangan dan bersentuhan langsung dengan Muslim, Ismail memutuskan mengawali dari dunia maya. Ia mencoba mencari celah bagaimana Kristen bisa disebarkan lewat media tersebut.

    Ketika menelusuri internet itulah ia menemukan dan menyaksikan video yang ia anggap menarik; debat antara seorang Muslim dan penginjil. Muslim itu dari Afrika Selatan bernama Ahmad Deedat. Lewat debat, Ismael menyadari bila ia sangat paham injil. “Ia selalu menang dan mampu mematahkan serta membuat sanggahan jitu terhadap penginjil dari setiap aspek,” tutur Ismael.

    “Ia mematahkan argumen bahwa dosa asal itu tidak ada, bahwa Kristen bukan kata-kata Tuhan, serta menunjukkan bahwa Kristen adalah doktrin yang salah karena dibuat oleh intepretasi selip, sudah mengalami fabrikasi, modifikasi ditambah dan juga dikurangi oleh penulisnya,” kata Ismail lagi.

    Dedat, menurut Ismail, juga menyinggung doktrin trinitas, kebangkitan, penyaliban. “Terasa betul argumen lawan (penginjil-red) sangat lemah dan mudah dipatahkan. Harus saya akui, jujur saya tidak suka Ahmad Deedat saat itu,” ungkap Ismail.

    Ia bahkan frustasi dengan pembicara dari kubu Kristen. “Ia memegang gelar PhD di bidang teologi Kristen, tapi ia tak bisa mematahkan balik argumen Ahmad Deedat yang hanya bicara sendiri dan hanya didukung oleh Al Qur’an.”

    Saat itu Ismael berpikir Deedat tentu menggunakan Injil untuk membantah doktrin Kristen. Ia pun tergugah untuk mempelajari Kristen lebih lanjut dengan semangat kelak ia akan membantah argumen-argumen Ahmad Deedat.

    Ismael mengaku tipe orang dengan pemikiran skeptis. “Saya sulit percaya dan meyakini sesuatu jadi saya perlu memelajari dan menyelediki sendiri untuk memahami dan meyakini sesuatu,” ujarnya.

    Saat memutuskan  untuk lebih mendalami Kristen ia memilih dari prespektif Islam. “Sebelumnya saya tak pernah melakukan itu, memelajari Kristen dari prespektif selain Kristen dan Deedat benar-benar mengonfrontasi pemahaman saya,” ungkap Ismail.

    Ismail pun mengkaji Injil dan doktrin Kristen dari Islam.  Ia memelajari keabadian, konsep trinitas, penyaliban Yesus, konsep juru selamat hingga kebangkitan, dosa asal. “Apakah benar injil adalah kata-kata tuhan,” tuturnya.

    Ketika mendalami Al Qur’an Ismail menyadari bahwa argumen Deedat ternyata benar. “Saya tiba-tiba merasa berada di jalan yang salah. Kristen bukanlah kata-kata Tuhan. Ini benar-benar sebuah tamparan keras bagi saya” kata Ismail.

    “Saya telah menganut Kristen bertahun-tahun, saya lahir sebagai Kristen dan menjadi seorang Katholik selama 20 tahun, tiba-tiba semua yang saya yakini berbalik dari atas ke bawah. Tentu ini merupakan guncangan besar,” tuturnya.

    Saat itu belum timbul keinginan Ismail untuk menjadi Muslim. “Yang saya inginkan saat itu mengetahui secara mendasar kebenaran sesungguhnya,” ungkapnya.

    Islam pun mulai ia pejalari. Dari sana ia memahami Muslim hanya mempercayai satu tuhan dalam konsep bernama tauhid. Monoteisme, itulah kesimpulan yang ia peroleh dari agama Islam. “Mereka memanggil tuhan dengan Allah, mereka percaya Yesus adalah nabi, seorang messiah yang mengabarkan kebenaran saat dibangkitkan lagi, itu juga keyakinan besar yang saya anut,” kata Ismail.

    Lebih dalam mengkaji, Ismael menemukan konsep pengampunan dan penyelamatan Tuhan. Ia memahami pengampunan dalam Islam diperoleh dengan cara beriman kepada Tuhan, melakukan ajaran-Nya dan berbuat kebaikan sebagai wujud iman.

    Ismail juga mengetahui bahwa Muslim mempercayai ada nabi setelah Isa yakni Muhammad. “Mereka meyakini itu sebagai kata-kata Tuhan dan semua ada dalam kitab yakni Al Qur’an,” ujarnya. “Ini sesuatu yang baru bagi saya. Saya pernah tahu Islam, tapi tidak mendetail.”

    Saat itu Ismail mengaku mulai muncul rasa suka terhadap Islam. “Muslim mempercayai keberadaan Yesus. Bagi saya itu adalah sebuah tautan antara Islam dan Kristen dan itu membuat saya merasa nyaman. Saya seperti menemukan batu pijakan,” tutur Ismael.

    Begitu mengetahui bagaimana Muslim meyakini Tuhannnya, bagaimana Nabi diutus membawa pesan, Ismail merasa dilahirkan untuk mempercayai itu. Ia pun memutuskan pergi ke masjid. “Saat itu saya pindah ke kota kecil dan di kota itu ada sebuah masjid. Saya ketuk pintunya dan berkata saya ingin berbicara dengan seseorang tentang Islam,” tutur Ismail.

    Setelah itu Ismail rutin meyambangi masjid tersebut saban minggu untuk berdiskusi dengan seorang imam di sana. Sang imam memberinya buku-buku bacaan tentang Islam dan juga biografi Rasul Muhammad. saw. “Ia meladeni dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya,” kata Ismail.

    Hingga suatu hari, sang Imam berkata kepadanya “Saya tidak ingin kamu menjadi Muslim kecuali kamu benar-benar yakin dengan agama ini.” Mendengar itu Ismael lagi-lagi mengaku terkejut. “Selama saya menjadi Kristen saya selalu bertemu kotbah dan juga berkotbah untuk mengajak seseorang menjadi Kristen. Setiap Kristen selalu mencoba mempengaruhi seseorang menjadi Kristen,” tuturnya. “Hampir tidak mungkin Kristen berkata, ‘Saya tidak ingin kamu menjadi Kristen kecual kamu yakin dan kembalilah kepada saya jika kamu sudah yakin’.”

    Ismail justru tertantang dengan ucapan sang imam. Apakah ini memang jalan sesungguhnya? “Ini justru menggelitik saya untuk mengetahui apakah Islam itu memang yang benar, yang harus diyakini? Sungguh tak ada yang memaksa saya untuk menjadi Muslim,” tuturnya. “Saya melihat dalam Islam terdapat kebenaran dan itu tampak jelas sebagai cara hidup yang diinginkan Tuhan bagi saya,” ujarnya.

    Ketika Ismail mengingat Injil kembali, justru ia menemukan fakta Yesus yang diyakini sebagai tuhan tak pernah mengklaim dirinya adalah tuhan dan menyeru pengikutnya untuk menyembahnya. Membandingkan lebih jauh lagi, dalam Al Qur’an, Ismail menemukan janji pengampunan Allah akan diberikan bagi orang yang beriman, namun di Injil, kata ‘janji’ itu tak ada.

    “Pengampunan dan penyelamatan diberikan Allah karena Ia mencintaimu, karena engkau bertobat, beriman kepadanya dan melakukan apa yang ia kehendaki. Itu sungguh jelas dan sederhana,” kata  Ismail. Sementara di Kristen, menurut Ismail, penyelamatan cukup sulit bagi pemeluknya.

    “Pertama anda harus meyakini dahulu peristiwa pembunuhan kejam dan penyaliban seseorang yang tak berdosa, di mana darah ditumpahkan demi menyelamatkan dosa anda. Anda diciptakan dengan dosa asal. Tuhan menempatkan diri anda di dunia bersama dosa dalam hati atau jiwa anda. Semua itu justru tidak mencerminkan keadilan Tuhan,” paparnya.

    Ismail menilai pengampunan dan penyelamatan di Islam lebih masuk akal. “Pengampunan adalah milik Tuhan, pemberian Tuhan karena cinta, karena kita meminta kepada-Nya, karena kita meyakini-Nya,” ujarnya. “Memang di Injil juga ada kata-kata yang mengandung kebenaran. Tetapi Islam lebih superior dan secara logika benar. Bagi saya itu sangat mengagumkan,” imbuhnya.

    Padahal selama ini Ismail selalu membayangkan Islam sebagai agama kekerasan, seperti menganjurkan pembunuhan. “Tapi ketika saya membaca Al Qur’an saya menemukan banyak ketenangan, kalimat mengandung kedamaian, kesunyian dan pencerahan. Karena itulah saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

    Kini Ismael meyakini Allah adalah tuhannya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya. “Ia adalah raja sekaligus penyelamat saya di dunia dan akhirat. Dengan ini saya pun meyakini Yesus membenarkan ajaran Yesus sebagai seorang Muslim,” ujarnya.

    Saat ini Ismael mengambil disiplin Kajian Islam di perguruan tinggi. Dalam sepuluh tahun terakhir ia telah bepergian ke enam negara bermayoritas Muslim dan membaca puluhan buku-buku tentang Islam dan Perbandingan Agama. Ia bahkan sudah cukup fasih untuk berbincang dalam Bahasa Arab. Dalam akun YouTube-nya Ismail menulis, “Saya mencintai Allah karena Ia yang pertama kali mencintai saya.”

    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/03/31/lix3m6-bagi-ismail-hanya-prosedur-pengampunan-dalam-islam-yang-masuk-akal

    Advertisements
     
    • dj 1:27 pm on 15/07/2011 Permalink | Reply

      mungkin si ismail lg ngantuk. . .

    • Dion 1:07 am on 21/09/2011 Permalink | Reply

      @dj.
      Kamu kale yang lagi ngantuk sehingga sebuah kebenaran hanya lewat didepanmu dan kamu sendiri menolak dihampiri kebenaran.
      Ingat Immanual Kant ” Keyakinan adalah musuh kebenaran yang lebih berbahaya daripada kebodohan” kalo kamu masih meyakini yesus sebagai tuhan berarti kamu itu sangat bodoh.

  • SERBUIFF 6:57 am on 19/10/2010 Permalink | Reply
    Tags: "Loon" Penyanyi Rap Terkenal AS yang Masuk Islam   

    “Loon” Penyanyi Rap Terkenal AS yang Masuk Islam 

    “Loon” Penyanyi Rap Terkenal AS yang Masuk Islam

    Selasa, 23/02/2010 12:55 WIB | email | print | share

    Grup music rap Bad Boy amatlah kesohor di Amerika. Loon adalah penyanyi yang terkenal bersama grup tersebut yang memiliki nama asli Chauncey L. Hawkins. Setelah masuk Islam, Loon merubah namanya menjadi Amir Junaid Muhaddith. Bukan hanya Loon yang masuk Islam, isteri dan anak-anaknya juga ikut langkah baik pemimpin keluarga mereka.

    Tidak nerapa lama setelah masuk Islam, Amir berangkat ke tanah suci Makkah, bertemu dengan para Imam Masjidil Haram.

    Di depan Ka’bah itulah Amir menemukan jati dirinya sebagai seorang hamba Allah yang memiliki misi ibadah kepada-Nya. Amir masuk Islam setelah kumpulan lagu terakhirnya terjual 7 juta copy. Coba bayangkan, kalau per copy saja keuntungannya $ 1.00, maka maka sekitar $ 7 juta masuk kekantong Loon, atau sekitar 70 miliyar rupiah.

    Sungguh uang yang sangat banyak bukan ?

    Loon/Amir sewaktu melakukan thawaf sunnah di Makkah

    Uang yang melimpah yang ia hasilkan dari musik itu ternyata tidak membuat Amir semakin menikmati hidup ini. Bukan uang yang melimpah dan ketenaran sejagat yang membuat Amir menikmati kebahagiaan hidup. Soal uang, ketenaran dan berbagai penghormatan manusia sudah ia dapatkan, baik di Amerika sendiri maupun dari kawasan dunia lainnya. Lalu, Islamlah yang ia pilih untuk menggapai kebahagiaan hakiki itu. Ternyata semua bentuk kesuksesan dunia yang ia dapatkan, tak menghalanginya untuk masuk Islam dan memilih Islam sebagai the way of life-nya.

    Tak heran jika setiap Muslim yang melihat atau mendengar kisah Loon ini, spontan terucap di lidah mereka : Alhamdulillah, selamat datang saudaraku seiman. Salut luar biasa. Harta yang melimpah dan ketenaran sejagat ditinggalkan demi hidup sebagai seorang Muslim yang taat. Sementara di negeri kami yang terkenal sebagai negeri Muslim, malah orang berlomba-lomba mengejar fatamorgana dunia dan ketenaran itu.

    Bandingkan wajah dan senyum Amir dengan sebelum masuk Islam. Sangat jelas perbedaannya

    Sungguh besar pengorbananmu. Uang, harta dan ketenaran itu mungkin tidak akan Anda dapatkan lagi seperti saat sebelum memilih agama yang benar ini sebagai jalan hidup. Pasti Amir sudah memperkirakan itu semua dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang mendalam. Itulah resiko menjadi Muslim taat, khususnya di Amerika yang terkenal pemerintahnya anti Muslim taat seperti Amir.

    Amir menemukan cahaya Islam belum genap satu tahun, atau sekitar 10 bulan lalu. Musim Haji yang lalu, ia datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan berkunjung ke Madinah, kota Rasul Saw. Amir juga berkunjung ke Riyadh, ibu kota Kerajaan Arab Saudi dan bahkan ke beberapa kota di negara-negara Arab teluk, seperti United Arab Emirates. Dalam kunjungannya itu, Amir mendapatkan sambutan yang luar biasa. Beberapa media pun antri untuk mewawancarainya, termasuk Aljazeera, stasiun tv terkemuka di Qatar yang mampu melawan kebohongan dan hegemoni CNN milik raja media Yahudi bernama Murdoch.

    Amir saat shalat sunnah di salah satu Masjid di Arab

    Amir yang saat ini berusia 34 tahun menceritakan isi hatinya yang paling dalam tentang keislamannya sambil berkata : Saya meraih ketenaran yang luar biasa di kalangan masyarakat Amerika karena musik. Saya sukses luar biasa dalam dunia musik sehingga saya menjadi 10 penyanyi top Amerika berdasarkan rating media Amerika sendiri. Ketenaran saya meningkat tajam saat berduet bersama penyanyi kelas dunia Bop Diddy sehingga penjualan kaset rekaman lagunya lebih dari 7 juta copy. Saya telah menulis 52 lagu.

    Amir menambahkan; Anda boleh percaya atau tidak. Kendati memiliki harta yang melimpah dan ketenaran, saya tidak pernah merasakan kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Sampai ketika saya berkunjung ke Abu Dhabi 7 bulan yang lalu, saya terkaget-kaget dengan budaya kaum Muslimin Arab. Saat itu saya mendengar lantunan suara azan dan saya melihat orang-orang bergerak menuju Masjid-Masjid yang terdekat untuk menunaikan shalat. Mereka terlihat berakhlak mulia dan berinteraksi dengan baik dengan siapa saja. Saat itu timbul pertanyaan dalam benak saya tentang hakikat agama mereka (Islam). Apakah Islam itu hanya khusus untuk bangsa Arab, atau untuk semua manusia? Sampai akhirnya saya mendapat jawaban yang konprehensif bahwa Islam itu adalah agama untuk semua manusia, tanpa membedakan keturunan, suku dan bangsa.

    Amir sedang membaca Al-Qur’an dan bertekad menjadi Da’i, mengajak teman-temannya kembali ke jalan yang benar

    Setelah berfikir mendalam, saya putuskan masuk Islam dan saya shalat pertama kali saat kembali ke tempat tinggal saya di New York. Sejak itulah saya berubah total. Saya tinggalkan musik secara total. Saya keluar total dari komunitas di mana saya habiskan hidup saya sebelumnya selama 17 tahun. Sekarang saya merasakan ketenangan batin yang sejak lama saya rindukan. Saya merasa bertambah tenang lagi setelah isteri dan anak saya juga masuk Islam.

    Semangat saya untuk belajar dan mengenal Islam semakin bertambah, karena tertanam niat dan tekad untuk mengajak orang lain kembali kepada Islam. Saya juga telah bergabung dengan lembaga dakwah Islam Kanada, bidang penyebaran Islam. Saya memiliki program khusus terkait masalah tersebut, yakni mengajak para penyanyi dan seniman top dunia untuk mengenal Islam dan prinsip-prinsipnya.

    Amir (sebelah kiri) shalat bersama saudara-saudaranya yang telah masuk Islam sebelumnya

    Terakhir Amir menyampaikan nasehatnya kepada generasi muda Muslim di mana saja berada : Ini adalah ucapan saya yang keluar dari lubuk hati yang dalam. Kepada setiap pemuda dan generasi Muda Muslim. Jangan sekali-kali terpengaruh oleh peradaban Barat, demikian juga dengan tradisi mereka.

    Jangan sekali-kali meniru lagu-lagu Barat dan prilaku mereka serta apa saja yang dilakukan oleh penyanyi Amerika atau Barat lainnya. Berbanggalah dengan Islam dan agama ini yang sekarang sedang dicari-cari oleh orang-orang kaya dan orang-orang terkenal di dunia. Setelah mereka mengenal Islam, mereka akan tahu bahwa apa yang mereka kerjakan bertahun-tahun sebelumnya tidaklah bermutu dan berguna.

    Banggalah Anda sebagai Muslim. Kenalilah Allah sebagai Tuhan Pencipta dan kenalilah Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul yang membawa misi keselamatan. Shadaqta ya Amir. Anda benar saudaraku… (FJ/ berbagai sumber).

    Bagi yang ingin mengenal dan berkomunikasi dengan Amir, silahkan klik loon2amir.com. (fj)

    http://www.eramuslim.com/berita/dunia/penyanyi-rap-as-masuk-islam-setelah-mendengar-lantunan-adzan.htm

     
    • Mr.Nunusaku 9:48 am on 26/03/2012 Permalink | Reply

      Dia masuk islam agar bisa dapat kenikmatan syahwat bisa kawin empat dan bisa poligami kan ada pelacuran dalam islam dirondhoi oleh Allah SWT islam jika berada dalam pelukan islam pemuas syahwat dapat dilakukan dan bisa mengikuti teladan nabi cabul Muhammad sunnah nabi yang harus diutamakan untuk mendaptkan kepuasan seksuel dalam islam semuanya terpenuhi.

      • MJ Rasjad 6:33 am on 26/08/2015 Permalink | Reply

        Tajamkanlah kebencian anda kepada Islam. Karena kebanyakan mualaf itu awalnya benci Islam.

  • SERBUIFF 12:55 am on 03/09/2010 Permalink | Reply  

    Julius Germanus : Orientalis Hungaria Masuk Islam 

    Julius Germanus : Orientalis Hungaria Masuk Islam

    Sabtu, 02 Mei 2009 08:51 publisher

    InpasOnline,9/05/09

    Dr. Abdul Karim Germanus (1884-1979) adalah seorang orientalis terkemuka asal Hungaria dan juga seorang akademisi yang telah mendunia. Perjalanan spiritual Abdul Karim Germanus (dulu bernama Julius Germanus) mencari Islam menyita hampir separuh perjalanan hidupnya. Dia menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mempertahankan Islam dan bahasa Arab. Selepas melewati masa-masa sulit semasa remaja dan lepas dari belenggu tradisi, dia kemudian tertarik untuk mempelajari Islam.

    InpasOnline,9/05/09

    Dr. Abdul Karim Germanus (1884-1979) adalah seorang orientalis terkemuka asal Hungaria dan juga seorang akademisi yang telah mendunia. Perjalanan spiritual Abdul Karim Germanus (dulu bernama Julius Germanus) mencari Islam menyita hampir separuh perjalanan hidupnya. Dia menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mempertahankan Islam dan bahasa Arab. Selepas melewati masa-masa sulit semasa remaja dan lepas dari belenggu tradisi, dia kemudian tertarik untuk mempelajari Islam.

    Germanus menggambarkan kisah keislamannya itu sebagai “bangunnya sebuah kehidupan baru.” Disebutkan, awal perkenalannya dengan Islam adalah di Turki pada saat menjadi mahasiswa di sana.

    Kemudian, dia pergi ke India untuk mengajar di sana, pada masa Perang Dunia I. Dan di negeri Bollywood itulah dia mengucapkan dua kalimah syahadah. Selepas bertugas di India Germanus kembali ke Hungaria dan diangkat sebagai profesor di sana. Dia sering beradu argumentasi dengan para profesor dan orientalis Hungaria, terutama tentang kebenaran Islam. Berikut kisah perjalanan hidup salah satu legenda Muslim di Hungaria ini yang diambil dari beberapa sumber.

    Awal perjalanan

    Germanus lahir di Budapes, ibukota Hungaria pada tahun 1884 dan dibesarkan dalam nuansa Kristen taat. Segera setelah lulus dari Universitas Budapes, dia memutuskan untuk mengambil spesialisasi bahasa Turki. Selanjutnya pada tahun 1903 dia pergi ke Istanbul. Dia diterima di Universitas Istanbul dan mengambil program studi bahasa Turki. Selama bertahun-tahun tinggal di sana akhirnya dia menjadi fasih baik dalam hal percakapan, membaca maupun menulis.

    Selama di Istanbul, Germanus juga belajar Al-Quran berikut terjemahan dalam bahasa Turki. Itulah perkenalan awalnya dengan Islam. Dengan kemampuannya yang tinggi dalam membaca terjemahan Al-Quran berbahasa Turki, membuatnya mudah memahami Islam langsung dari sumber aslinya. Tak hanya itu, dia juga membandingkan terjemahan dalam beberapa bahasa lainnya. Sebuah upaya yang lazim dilakukan oleh misionaris Kristen untuk mengkaji kelemahan Islam.

    Namun Germanus justru tertarik dengan Islam. Termotivasi dengan kebenaran agama Islam, dia memutuskan untuk melakukan penelitian yakni menelusuri apa saja yang telah ditulis oleh orang-orang Kristen tentang Islam dan membandingkannya dengan sumber aslinya yaitu Al-Quran dan Sunnah Nabi. Dia melakukan berbagai upaya. Misalnya dengan membaca terjemahan kitab-kitab hadis dalam rangka mempelajari perkataan-perkataan Nabi Muhammad SAW.

    Bertengkar  dengan profesor

    Germanus kembali ke Hungaria dan berjumpa dengan beberapa eks profesornya di Universitas Budapes. Mereka punya reputasi hebat sebagai orientalis. Namun sering menyampaikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang tentang Islam. Germanus berdebat dengan para profesor itu. Dia menceritakan karakter sesungguhnya dari sosok Nabi Muhammad SAW. Uraiannya didasarkan pada berbagai hadis yang dia ketahui. Setelah puas “bertengkar” dengan para profesornya, Germanus memutuskan belajar bahasa Arab lebih mendalam lagi. Germanus memang punya bakat besar di bidang bahasa. Buktinya, dalam jangka waktu singkat dia sudah mahir berbahasa Arab. Belum puas, dia juga belajar bahasa Persia.

    Tahun 1912, Germanus diangkat sebagai profesor bahasa Arab, Persia dan Turki di Hungarian Royal Academy di Budapes. Dia juga mengasuh mata kuliah Sejarah Islam. Selanjutnya dia memimpin Department of Oriental studies pada Budapest University of Economics.

    Bersyahadah di India

    Pada tahun 1928, setelah bekerja beberapa lama di University of Budapest, sastrawan dan penerima Nobel terkemuka asal Bangladesh (dulu masih bernama India -red) Rabindranath Tagore (1861-1941) mengundang Germanus untuk mengajar sekaligus memimpin program Islamic Studies di Visva-Bharati University. Germanus bermukim di India selama beberapa tahun dan disana pula dia menemukan cahaya Islam. Prosesi syahadahnya berlangsung di Mesjid Agung Delhi dan dia berganti nama menjadi Abdul Karim. Universitas tempat dia bekerja tak mendiskriminasikannya gara-gara masuk Islam. Bahkan dia mendapat kelonggaran, misalnya untuk menunaikan shalat Jumat ke mesjid.

    Keinginan Germanus yang kuat untuk mendalami Islam dan menyelami sifat-sifat khas Muslim telah mempertemukannya dengan salah satu pujangga Islam tersohor asal Pakistan yakni Muhammad Iqbal. Rasa ingin tahu Germanus yang begitu tinggi hingga dia sering terlibat pembicaraan hingga berjam-jam lamanya. Tak hanya itu, mereka juga sering berdiskusi tentang aktifitas para orientalis dan misionaris Kristen.

    Germanus dan Iqbal punya pandangan berbeda tentang aktifitas misionaris Kristen. Menurut Germanus, propaganda yang disebarkan oleh para misionaris Kristen di Eropa sebagai sebuah masalah pelik yang mengkhawatirkan. Sementara Iqbal justru melihat masalah sesungguhnya ada pada orang Islam sendiri. Iqbal menyebut kesatuan Muslim yang lemah yang membuat Islam mudah diombang-ambing.

    Belajar bahasa Arab klasik

    Kecintaan Germanus pada bahasa Arab telah membawanya ke Kairo, tempat dimana dia kemudian belajar bahasa Arab klasik. Satu ketika, pada saat pertama kali menjejakkan kakinya di pelabuhan Alexandria, dia mengaku sangat terkejut dengan respon yang diberikan oleh penduduk setempat. Mereka pada tertawa mendengar bahasa Arab Germanus. Bukan apa-apa, karena dia berbicara dengan menggunakan bahasa Arab klasik atau kuno!

    Mereka, warga Alexandria, berbincang dengan memakai dialek setempat hingga Germanus tak mampu mencerna apa yang mereka ucapkan. Kontan dia merasa marah dan berteriak lantang, “Saya kemari untuk belajar bahasa Al-Quran dari Anda! Kenapa kalian justru menertawakan dan mengejek saya?”

    Selama di Mesir, Germanus menjalin hubungan erat dengan penulis terkenal negeri kuda nil itu yakni Mahmoud Timour. Mahmoud bahkan menulis tentang perjalanan Germanus mencari Islam dalam bukunya Behind the Veil (Dibalik Hijab) yang berisi kumpulan kisah-kisah pendek. Dia menyebut Germanus seorang teman yang baik, yang memiliki kecakapan bahasa Arab demikian mengagumkan. Menurut Mahmoud, Germanus memainkan peranan yang penting dalam menjaga dan melestarikan bahasa Arab klasik.

    Begitulah, akhirnya Germanus benar-benar mencapai tingkat kemahiran yang tinggi dalam tata bahasa Arab (baca: Al-Quran). Dia selanjutnya kembali ke kampung halaman dan menjadi profesor di Universitas Budapes bidang sejarah dan kebudayaan selama hampir 40 tahun lamanya. Dia banyak mempublikasikan hasil-hasil pemikirannya, terutama tentang kebangkitan bahasa Arab klasik di dunia Arab. Obsesinya adalah membangkitkan kembali kejayaan bahasa Arab klasik yang mati suri selama sekian lama. Impiannya, satu saat nanti semua negara-negara Arab bisa bercakap dengan format bahasa Arab yang seragam hingga akan mengikat kesatuan di antara mereka serta tumbuh kecintaan akan warisan budaya dan sejarah Arab yang begitu tinggi.

    Menentang sikap orientalis

    Sepanjang perjalanan karir akademisnya, Germanus berperang melawan orientalis di Eropa. Dalam berbagai penjelasan, dia selalu menyampaikan argumentasinya berdasarkan data dan fakta serta rasional. Begitupun dia selalu mendapat tentangan, bahkan menjurus permusuhan. Akibatnya sering berselisih pendapat dengan para orientalis lain. Bahkan dia dipecat oleh pihak universitas dengan alasan kelakuan yang tidak pantas. Sebaliknya dengan para mahasiswa bimbingannya, meskipun Germanus dicap berseberangan pemikiran dengan para orientalis, mereka tetap mendukung ide-ide yang dibawanya. Mereka menghargai pekerjaannya dan melihat buah karyanya punya pengaruh yang besar secara akademis, di Barat dan dunia Islam. Karena dukungan para mahasiswa itu pula dia masih masih bisa tetap menjadi staf pengajar di universitas.

    Naik Haji

    Di Hungaria, Germanus berusaha keras memberikan pencerahan kepada Muslim di negerinya, yang kala itu berjumlah antara 1000 hingga 2000 jiwa. Dia mendirikan sebuah organisasi guna menjembatani hubungan antara Islam dengan pemerintah. Misinya kala itu adalah membawa Islam agar diterima sebagai salah satu agama resmi di Hungaria.

    Tahun 1935 Germanus menunaikan rukum Islam kelima dan menjadi satu dari sedikit Muslim Eropa yang berangkat ke Mekkah pada masa itu. Tahun 1939 dia menunaikan ibadah haji untuk kali kedua. Bahkan kisah perjalanan rohaninya ke Mekkah dirangkumnya dalam sebuah buku berbahasa Hungaria yang cukup terkenal berjudul Allahu Akbar! Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

    Germanus menikah dengan seorang perempuan Eropa yang dulunya beragama Kristen. Setelah beberapa lama, sang istri akhirnya memeluk Islam dengan disaksikan oleh Syekh Ahmed Abdul Ghafur Attar, seorang penulis dan akademisi Islam terkenal.

    Publikasi Islam di Eropa

    Germanus aktif berdakwah melalui tulisan. Dia menulis tentang Islam di pelbagai media di Eropa. Dalam sebuah artikelnya dia pernah menulis bahwa Islam satu saat nanti akan memperlihatkan keajaibannya pada saat dunia mulai diliputi oleh kegelapan.

    Germanus bisa disebut sebagai jenius bahasa. Buktinya dia menulis banyak buku, diantaranya The Greek, Arabic Literature in Hungarian, Lights of the East, Uncovering the Arabian Peninsula, Between Intellectuals, The History of Arabic Literature, The History of the Arabs, Modern Movements in Islam, Studies in the Grammatical Structure of the Arabic Language, Journeys of Arabs, Pre-Islamic Poetry, Great Arabic Literature, Guidance From the Light of the Crescent (a personal memoir), An Adventure in the Desert, Arab Nationalism, Allahu Akbar, Mahmoud Timour and Modern Arabic Literature, The Great Arab Poets, dan The Rise of Arab Culture.

    Germanus yang meninggal pada 7 Nopember 1979 mengabdikan dirinya untuk Islam sepanjang lebih kurang 50 tahun. Begitulah, kisah sang legenda yang tak lekang oleh zaman. Dia dikenang hingga kini sebagai salah satu legenda Muslim di Hungaria.

    ** Yasser Hejazi adalah Peneliti dan wartawan  Mesir

    Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Rose Aslan.

    http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=94:orientalis-hungariah-masuk-islam&catid=51:internasional&Itemid=112

    ==================================================

    Julius Germanus: Hungarian Orientalist Islam Sign
    September 3, 2010 – erzal | Edit
    Julius Germanus: Hungarian Orientalist Islam Sign

    Saturday, May 2, 2009 8:51 publishers

    InpasOnline, 9/05/09

    Dr. Abdul Karim Germanus (1884-1979) was a prominent Hungarian Orientalist and also an academician who has worldwide. Spiritual journey Abdul Karim Germanus (formerly known as Julius Germanus) to find Islam seized nearly half his life journey. He spent all his life to defend Islam and Arabic. After passing the tough times during adolescence and loose from the shackles of tradition, he was interested to learn about Islam.

    InpasOnline, 9/05/09

    Dr. Abdul Karim Germanus (1884-1979) was a prominent Hungarian Orientalist and also an academician who has worldwide. Spiritual journey Abdul Karim Germanus (formerly known as Julius Germanus) to find Islam seized nearly half his life journey. He spent all his life to defend Islam and Arabic. After passing the tough times during adolescence and loose from the shackles of tradition, he was interested to learn about Islam.

    Germanus Islamic describes the story as “the awakening of a new life.” Otherwise, the early introduction to Islam was in Turkey at the time was a student there.

    Then, he went to India to teach there, during World War I. And in the land of Bollywood’s two-sentence he uttered syahadah. After serving in India Germanus returned to Hungary and was appointed professor there. He would often argue with professors and Hungarian Orientalist, especially about the truth of Islam. The following story of one Muslim legend in Hungary was taken from several sources.

    Beginning the journey

    Germanus was born in Budapest, the capital of Hungary in 1884 and raised in a devout Christian nuance. Immediately after graduating from the University of Budapest, he decided to specialize in Turkish. Subsequently in 1903 he went to Istanbul. He received the University of Istanbul and took language courses in Turkey. For years he lived there eventually be fluent both in terms of conversation, reading and writing.

    While in Istanbul, Germanus also learn the following translation of the Quran in Turkish. That initial introduction to Islam. With its high ability to read a translation of the Turkish-speaking al-Quran, Islam makes it easy to understand directly from the original source. Not only that, he also compared the translation in several other languages. A common effort undertaken by Christian missionaries to study the weaknesses of Islam.

    But Germanus precisely interested in Islam. Motivated by the truth of Islam, he decided to do research that is tracing what has been written by Christians about Islam and compare it with the original source ie the Quran and the Sunnah of the Prophet. He made various efforts. For example, by reading the translation of the books of Hadith in order to study the sayings of Prophet Muhammad.

    Quarrel with the professor

    Germanus returned to Hungary and met with several former professor at the University of Budapest. They have a great reputation as an orientalist. But often convey distorted thoughts about Islam. Germanus arguing with the professors. He tells the real character of the figure of the Prophet Muhammad. Description is based on the various traditions that he learned. Once satisfied “quarrel” with his professors, Germanus decided to learn Arabic more depth again. Germanus’s got great talent in the field of language. The proof, in the short time he was fluent in Arabic. Not satisfied, he also learned the Persian language.

    In 1912, Germanus was appointed professor of Arabic, Persian and Turkish at the Hungarian Royal Academy in Budapest. He is also nurturing the course of Islamic history. Subsequently he led the Department of Oriental studies at the Budapest University of Economics.

    Bersyahadah in India

    In 1928, after working some time at the University of Budapest, a leading poet and a Nobel laureate from Bangladesh (then still called Indian-ed) Rabindranath Tagore (1861-1941) Germanus invited to teach at the same time directing the program of Islamic Studies at Visva-Bharati University. Germanus lived in India for several years and there too he found the light of Islam. Syahadahnya procession took place in the Great Mosque of Delhi and he changed the name to Abdul Karim. University where she worked mendiskriminasikannya not because of Islam. Even he gets clearance, such as for Friday prayer to the mosque.

    Germanus a strong desire to deepen their understanding of Islam and explore the unique properties of Muslims have been bringing in one famous Muslim poet Muhammad Iqbal from Pakistan ie. Curiosity Germanus who was so high that he was often involved in talks to for hours. Not only that, they also often discuss the activities of the orientalists and Christian missionaries.

    Germanus and Iqbal had a different view on Christian missionary activity. According to Germanus, the propaganda spread by Christian missionaries in Europe as a thorny issue that worried. While Iqbal actually see the real problems exist in people of Islam itself. Iqbal said the weak Muslim unity that makes Islam easy diombang-udder.

    Learning classical Arabic

    Lovely Germanus in Arabic have been brought to Cairo, where he later studied classical Arabic. At one point, the first time you set foot in the port of Alexandria, he admitted to was very surprised with the response given by local residents. They laughed at his Arabic on Germanus. It’s nothing, because he spoke with classical Arabic, or ancient!

    They, the citizens of Alexandria, chatted with local dialects to Germanus was unable to digest what they were saying. Kontan she felt angry and shouted loudly, “I am here to learn the language of Al-Quran from you! Why do not you just laugh and mock me? ”

    During his stay in Egypt, Germanus has established close relations with the author’s famous hippopotamus country namely Mahmoud Timour. Mahmoud even writing about travel search Germanus of Islam in his book Behind the Veil (Behind the Hijab) which contains a collection of short stories. He called Germanus a good friend, who have proficiency in Arabic so amazing. According to Mahmoud, Germanus play an important role in maintaining and preserving the classical Arabic.

    So, finally Germanus to actually achieve a high level of proficiency in Arabic grammar (read: Al-Quran). He then returned to my hometown and became a professor at the University of Budapest in history and culture for nearly 40 years. She has published the results of his thinking, especially about the resurrection of classical Arabic in the Arab world. His obsession is to bring back the glory of classical Arabic dormant for so long. His dream, one day all the Arab countries could speak Arabic with a uniform format to be binding on the unity between them and the growing love of the Arab cultural heritage and history that is so high.

    Opposed the Orientalist attitude

    Throughout his academic career, Germanus war against Orientalist in Europe. In many explanations, he always delivered his argument based on data and facts and rational. So is he always had opposition, and even lead to hostility. As a result often disagree with other Orientalists. Even he was fired by the university by reason of misconduct. In contrast with the students guidance, although the opposite Germanus stamped with the orientalist thinking, they still support the ideas he brought. They appreciate his work and see the fruits of his work had great influence in academia, in the West and the Islamic world. Because the support of the students too he still can still remain a faculty member at the university.

    Palmer

    In Hungary, Germanus trying hard to give enlightenment to the Muslim in his country, which at that time numbered between 1000 to 2000 inhabitants. He founded an organization to bridge the relationship between Islam and the government. Its mission at that time was to bring Islam to be accepted as one of the official religion in Hungary.

    Germanus 1935 Islamic rukum perform the fifth and became one of the few European Muslims who went to Mecca at that time. In 1939 he perform the pilgrimage for the second time. Even the story of his spiritual journey to Mecca dirangkumnya in a Hungarian-language book is very well known titled Allahu Akbar! The book has been translated into several languages.

    Germanus was married to a European woman who had once been a Christian. After a while, his wife eventually converted to Islam, attended by Sheikh Ahmed Abdul Ghafur Attar, a writer and renowned Islamic scholar.

    Publication of Islam in Europe

    Germanus actively preaching through writing. He writes about Islam in various European media. In an article he once wrote that one day Islam will show its magic when the world began overwhelmed by darkness.

    Germanus could be called a genius of language. The proof he wrote many books, including The Greek, Arabic Literature in Hungarian, Lights of the East, uncovering the Arabian Peninsula, Between intellectuals, The History of Arabic Literature, The History of the Arabs, Modern Movements in Islam, Studies in the grammatical Structure of the Arabic Language, Journeys of Arabs, the Pre-Islamic Poetry, Great Arabic Literature, Guidance From the Light of the Crescent (a personal memoir), An Adventure in the Desert, Arab Nationalism, Allahu Akbar, Mahmoud Timour and Modern Arabic Literature, The Great Arab Poets, and The Rise of Arab Culture.

    Germanus, who died on 7 November 1979 to devote himself to Islam along more or less 50 years. Anyway, the story of the timeless legend that era. He is remembered to this day as one Muslim legend in Hungary.

    ** Yasser Hejazi is Egyptian researcher and journalist

    This article was translated from Arabic by Rose Aslan.

    http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=94:orientalis-hungariah-masuk-islam&catid=51:internasional&Itemid=112

     
  • SERBUIFF 8:56 am on 19/08/2010 Permalink | Reply  

    Profesor Amerika Masuk Islam di Saudi 

    Profesor Amerika Masuk Islam di Saudi

    Selasa, 23/02/2010 16:03 WIB | email | print | share

    Sumber dari media Timur Tengah mengatakan bahwa seorang profesor dari Universitas Amerika menyatakan dirinya masuk Islam di sebuah masjid di sekretariat majelis pemuda muslim dunia di ibukota Saudi Riyadh hari Senin kemarin (22/2).

    Surat kabar Al-Jazeera melaporkan bahwa profesor Amerika tersebut merupakan dosen bahasa Inggris untuk mahasiswa pada tahun persiapan di universitas King Saud University, dan setelah dirinya menyatakan masuk Islam, ia diberi nama Islam dengan nama Shalahuddin (Saladin).

    Surat kabar Al-Jazeera menyatakan bahwa profesor Amerika itu telah berada di Riyadh sejak empat bulan yang lalu, dan ia mengatakan bahwa ia sangat menikmati hubungan persahabatan dan sosial yang ada di universitas dan dunia akademis.

    Dikutip oleh Al-Jazeera, profesor universitas dari Amerika ini menegaskan bahwa keinginan dirinya untuk masuk Islam datang dari keyakinannya yang totalitas terhadap Islam, ketika ia menemukan kepuasan spriritual dalam jiwanya dan ketenangan hatinya dalam Islam.

    Profesor Amerika tersebut menjelaskan bahwa temannya yang seorang muslim Inggris asal India yang telah banyak membantu dirinya mengenal Islam melalui beberapa buku dan publikasi tentang dasar-dasar Islam yang memberikan ia pemahaman terkait prinsip-prinsip Islam serta membantu dirinya memahami agama baru bagi dirinya itu lebih baik lagi. (fq/imo)

    http://www.eramuslim.com/berita/dunia/profesor-amerika-masuk-islam-di-saudi.htm

     
  • SERBUIFF 12:23 pm on 02/08/2010 Permalink | Reply  

    Alkitab Mengantarkan Rosalyn Rushbrook pada Islam 

    Alkitab Mengantarkan Rosalyn Rushbrook pada Islam

    Kamis, 29 Juli 2010, 11:48 WIB

    Smaller Reset Larger
    Alkitab Mengantarkan Rosalyn Rushbrook pada Islam

    Ruqaiyyah Waris Maqsood

    REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Rosalyn Rushbrook. Dia seorang yang cerdas dengan ijazah di bidang Teologi Kristen dari Universitas Hull, Inggris, tahun 1963 dan gelar master untuk bidang pendidikan dari perguruan tinggi yang sama. Sebagai seorang teolog dan penganut Kristen Protestan, pengetahuan agamanya sangat mumpuni.

    Bahkan, pengelola selama 32 tahun program studi ilmu-ilmu keagamaan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Inggris ini juga menulis beberapa buku tentang agamanya. Dia juga pernah menjabat sebaai kepala Studi Agama di William Gee High School, Hull, Inggris. Setiap hari, dia berkutat dan mendalami alkitab sebagai pegangan agamanya.

    Namun, siapa yang menduga, semakin dia memperdalam alkitab yang muncul justru keraguan dalam dirinya tentang agamanya. Awalnya, dia mempertanyakan ajaran agamanya yang dinilainya telah mengalami banyak penyimpangan. Semakin dia membaca alkitab, keraguan itu kian membuncah. Dia merasa ada sesuatu yang telah menyimpang dari konsep ketuhanan Kristen yang dinilainya tak lagi murni saat pertama kali diturunkan Tuhan. Dia mempertanyakan konsep teologi trinitas dalam agamanya.

    Sebagai seorang cendekiawan, dia lantas mencoba mencari jawabannya. Dia teliti kajian-kajian ilmiah dari berbagai penulis atau literatur termasuk alkitab. Dia bandingkan ajaran agama yang dipeluknya sejak lahir itu dengan agama lain termasuk Islam. Berawal dari keraguan atas Alkitab, dia kemudian mulai mengenal Islam. Tak sebatas membandingkan, dia pun perlahan mulai mendalami konsep ketuhanan dan pemikiran-pemikiran tentang agama yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW ini.

    Rupanya, jalan pikirannya sependapat dengan konsep ketuhanan yang diajarkan Islam. Wanita kelahiran 1942 ini melihat teologi ketuhanan yang dibawa Alquran lebih rasional dan mengena. Hingga akhirnya di tahun 1986, di saat usianya menginjak 44 tahun, dia mantap memilih Islam sebagai agamanya yang sejati. Dia menyebut dirinya telah ‘kembali’ dengan menjadi Muslim. Tanpa ragu, dia pun mengganti namanya menjadi Ruqaiyyah.

    Pilihannya menjadi muallaf menimbulkan konsekuensi bagi keluarganya. Rosalyn yang telah berganti menjadi Ruqaiyyah memutuskan untuk mengakhiri perkawinannya dengan penyair Inggris, George Moris Kendrick yang telah dijalani sejak 1964. Sebelumnya, dia telah memiliki dua anak, Daniel George lahir 1968 dan Frances Elisabeth Eva lahir 1969. Kemudian di tahun 1990, dia menikah lagi dengan pria keturunan Pakistan, Waris Ali Maqsood.

    ”Di negara-negara Barat, ada ajaran ilmu etika berintikan pada cinta dan kasih Tuhan dan tolong-menolong sesama manusia. Itu semua diajarkan juga oleh semua nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW. Kami orang Islam juga meyakini Nabi Isa sebagai salah satu nabi yang diutus Allah,” kata Ruqaiyyah suatu ketika.

    Meski telah menjadi Muslim, tak membuatnya berhenti berkarya. Dia melanjutkan hobinya menulis. Namun, dia tak lagi menulis tentang Kristen, tapi berganti dengan menulis tema-tema tentang Islam. Tak sekadar menulis buku, dia juga rajin menulis artikel untuk majalah atau pun koran di negaranya.

    ”Saat ini Islam dicap sebagai agama bermasalah. Sangat tidak adil. Karena itu, saya berupaya menulis untuk memperbanyak literatur-literatur Islam. Harapan saya, agar melalui tulisan-tulisan itu, dapat membantu memperbaiki atmosfer yang kurang berpihak ke Islam,” tuturnya.

    Buku-buku mengenai Islam yang ditulisnya cukup beragam. Tidak hanya buku-buku kategori ‘berat’, seperti buku mengenai sejarah Islam dan isu seputar Muslimah, tetapi juga buku-buku tentang bimbingan konseling bagi remaja Islam. Juga ada beberapa buku saku, antara lain ‘A Guide for Visitors to Mosques’, ‘A Marriage Guidance Booklet’, dan ‘Muslim Women’s Helpline’. ”Saya sangat tertarik menggeluti sejarah Islam, terutama tentang kehidupan wanita-wanita di sekitar Nabi Muhammad. Saya acapkali meng-counter kampanye anti-Islam yang mendiskreditkan wanita Muslim,” jelasnya.

    Oleh komunitas Muslim di Inggris, dia juga diminta untuk menyusun buku teks mengenai Islam. Buku-buku teks hasil karyanya ini dipakai secara luas di Inggris selama hampir 20 tahun. Buku-buku itu dipakai oleh kalangan pribadi, mualaf, dan pelajar-pelajar sekolah umum dan madrasah di Inggris dan beberapa negara lainnya. Ia juga membantu mengembangkan silabus bagi pelajar sekolah agama, bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat.

    Aktivitas mengajarnya juga padat. Banyak negara telah disambanginya, di antaranya AS, Kanada, Denmark, Swedia, Finlandia, Irlandia, dan Singapura. Ruqaiyyah juga mengajar di beberapa universitas yang ada di Inggris, seperti Oxford, Cambridge, Glasgow, dan Manchester. Juga, mengajar di School of Oriental and Arabic Studies di London.

    Berkat segudang kreativitasnya, Ruqaiyyah menerima Muhammad Iqbal Award pada tahun 2001. Dialah Muslim pertama Inggris yang pernah menerima anugerah bergengsi tersebut. Pada Maret 2004, dia juga terpilih sebagai salah satu dari 100 wanita berprestasi di dunia. Dalam ajang pemilihan Daily Mails Real Women of Achievement, Ruqaiyyah Waris Maqsood termasuk satu dari tujuh orang wanita berprestasi dalam kategori keagamaan.

    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/07/29/127319-alkitab-mengantarkan-rosalyn-rushbrook-pada-islam

    ==================================================================================

    Delivering Bible Rosalyn Rushbrook on Islam

    Thursday, July 29, 2010, 11:48 AM
    Larger Smaller Reset
    Delivering Bible Rosalyn Rushbrook on Islam
    Ruqaiyyah Waris Maqsood

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Rosalyn Rushbrook. He is intelligent with a diploma in Christian Theology from the University of Hull, England, in 1963 and a master’s degree for education from the same university. As a theologian and Protestant Christians, his religious knowledge is very qualified.

    In fact, the program manager during the 32-year study of religious sciences at the various schools and colleges in England also wrote several books about his religion. He also served sebaai head of Religious Studies at William Gee High School, Hull, England. Every day, he struggled and studied scripture as the handle of his religion.

    But who could guess, the more he appeared to deepen bible instead of doubt in him about his religion. Initially, she questioned the religious teachings that have been judged a lot of irregularities. The more he read the bible, doubt was becoming upset. He felt there was something that had strayed from the Christian concept of divinity was no longer judged pure when first revealed God. He questioned the concept of the trinity in theology or religion.

    As a scholar, he then tried to find the answer. He was careful scientific studies of various authors or literature including scripture. He compared that embraced the religious teachings since it was born with other religions, including Islam. Starting from doubts about the Bible, he then began to know Islam. Not limited to compare, he slowly began to explore the concept of divinity and thoughts about religion which is revealed through the Prophet Muhammad this.

    Apparently, the way his mind to agree with the concept of the deity who taught Islam. Women born in 1942 this view of divinity theology that brought the Koran and wearing more rational. Until finally in 1986, at the age of 44 years, he confidently choose Islam as their religion is true. He calls himself had been ‘returned’ to be Muslim. Without hesitation, he also changed his name to Ruqaiyyah.

    The options become converts have consequences for his family. Rosalyn who have replaced their Ruqaiyyah decided to end her marriage to British poet, George Morris Kendrick, who has lived since 1964. Previously, he already has two children, Daniel, George born 1968 and Frances Elisabeth Eva born in 1969. Later in the year 1990, she married a man of Pakistani descent, Ali Waris Maqsood.

    “In Western countries, there are cored ethics of science teaching on love and God’s love and mutual help fellow human beings. That’s all well taught by all prophets, including Prophet Muhammad. We Muslims also believe in Prophet Jesus as a prophet sent from God, “said Ruqaiyyah one time.

    Despite having become a Muslim, did not make it stop working. He continued his hobby of writing. However, he no longer writes about Christianity, but switched to writing about Islamic themes. Not just write a book, he also diligently writes articles for magazines or newspapers in his country.

    “We condemned Islam as a religion problem. Very unfair. Therefore, I attempt to write to propagate the Islamic literature. I hope that through those writings, may help improve the atmosphere that is less aligned to Islam, “he said.

    Books on Islam that he wrote quite diverse. Not only the books category of ‘heavy’, such as books on Islamic history and issues surrounding Muslim women, but also books on Islamic guidance and counseling for adolescents. There were also several booklets, among other ‘A Guide for Visitors to Mosques’, ‘A Marriage Guidance Booklet’ and ‘Muslim Women’s Helpline’. “I am very interested wrestle Islamic history, especially about the lives of women around the Prophet Muhammad. I often to counter anti-Islamic campaign to discredit the Muslim woman, “he explained.

    By the Muslim community in England, she was also asked to compile textbooks on Islam. Textbooks of her work is currently widely used in England for nearly 20 years. The books are used by private circles, converts, and students of public schools and madrasas in the UK and other countries. He also helped develop a syllabus for students of religious schools, in cooperation with the local education office.

    Teaching activities are also solid. Many countries have disambanginya, including U.S., Canadian, Danish, Swedish, Finnish, Ireland, and Singapore. Ruqaiyyah also taught at several universities in the UK, such as Oxford, Cambridge, Glasgow and Manchester. Also, teaches at the School of Oriental and Arabic Studies in London.

    Thanks to a myriad of creativity, Ruqaiyyah accept Muhammad Iqbal Award in 2001. He was the first British Muslim who never received such a prestigious gift. In March 2004, he was also selected as one of 100 women achievers in the world. In the event the election mails Daily Real Women of Achievement, Ruqaiyyah Waris Maqsood, including one of seven women achievers in the religious category.

    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/07/29/127319-alkitab-mengantarkan-rosalyn-rushbrook-pada-islam

     
  • SERBUIFF 4:45 am on 09/11/2009 Permalink | Reply
    Tags: , Jerald F Dirks Temui Kenikmatan dan Disiplin dalam Islam   

    Jerald F Dirks Temui Kenikmatan dan Disiplin dalam Islam 

    Jerald F Dirks Temui Kenikmatan dan Disiplin dalam Islam

    21/7/2009 | 29 Rajab 1430 H | Hits: 2.098

    Oleh: Tim dakwatuna.com


    Kirim Print

    Jerald F Dirks (msaku.com)Jerald F Dirks (msaku.com)

    dakwatuna.com – Jerald F Dirks, sebelumnya ialah seorang pendeta yang dinobatkan sebagai Ketua Dewan Gereja Metodis Kini peraih gelar Bachelor of Arts (BA) dan Master of Divinity (M Div) dari Universitas Harvard, serta pemegang gelar Master of Arts (MA) dan Doctor of Psychology (Psy D) dari Universtas Denver, Amerika Serikat, menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.

    Dibesarkan di tengah lingkungan masyarakat penganut kepercayaan Kristen Metodis, membuat Jerald kecil terbiasa dengan suara dentingan lonceng yang kerap mengalun dari sebuah bangunan tua Gereja Kristen Metodis yang berjarak hanya dua blok dari rumahnya. Bunyi lonceng yang bergema setiap Minggu pagi ini menjadi tanda bagi seluruh anggota keluarganya agar segera menghadiri kebaktian yang diadakan di gereja.

    Tidak hanya dalam urusan kebaktian saja, tetapi juga dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Gereja Kristen Metodis, seluruh anggota keluarga ini turut terlibat secara aktif. Karenanya tak mengherankan jika sejak usia kanak-kanak Jerald sudah diikutsertakan dalam kegiatan yang diadakan oleh pihak gereja. Salah satunya adalah mengikuti sekolah khusus selama dua pekan yang diadakan oleh pihak gereja setiap bulan Juni. Selama mengikuti sekolah khusus ini, para peserta mendapat pengajaran mengenai Bibel.

    ”Secara rutin saya mengikuti sekolah khusus ini hingga memasuki tahun kedelapan, selain kebaktian Minggu pagi dan sekolah Minggu yang diadakan setiap akhir pekan,” ungkap muallaf kelahiran Kansas tahun 1950 ini. Diantara para peserta sekolah khusus ini, Jerald termasuk yang paling menonjol. Tidak pernah sekalipun ia absen dari kelas. Dan dalam hal menghafal ayat-ayat dalam Bibel, ia kerap mendapatkan penghargaan.

    Keikutsertaan Jerald dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas Gereja Metodis terus berlanjut hingga ia memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Diantaranya ia terlibat secara aktif dalam organisasi kepemudaan Kristen Metodis. Dia juga kerap mengisi khotbah dalam acara kebaktian Minggu yang khusus diadakan bagi kalangan anak muda seusianya.

    Dalam perjalanannya, khotbah yang ia sampaikan ternyata menarik minat komunitas Kristen Metodis di tempat lain. Ia pun kemudian diminta untuk memberikan khotbah di gereja lain, panti jompo, dan dihadapan organisasi-organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan Gereja Metodis. Sejak saat itu Jerald bercita-cita ingin menjadi seorang pendeta kelak.

    Ketika diterima di Universitas Harvard, Jerald tidak mensia-siakan kesempatan demi mewujudkan cita-citanya itu. Ia mendaftar pada kelas perbandingan agama yang diajar oleh Wilfred Cantwell Smith untuk dua semester. Di kelas perbandingan agama ini Jerald mengambil bidang keahlian khusus agama Islam.

    Namun, selama mengikuti kelas ini Jerald justru lebih tertarik untuk mempelajari agama Budha dan Hindu. Dibandingkan dengan Islam, menurut dia, kedua ajaran agama ini tidak ada kemiripan sama sekali dengan keyakinan yang ia anut selama ini.

    Akan tetapi untuk memenuhi tuntutan standar kelulusan akademik, Jerald diharuskan untuk membuat makalah mengenai konsep wahyu dalam Alquran. Ia mulai membaca berbagai literatur buku mengenai Islam, yang sebagian besar justru ditulis oleh para penulis non-muslim. Ia juga membaca dua Alquran terjemahan bahasa Inggris dalam versi yang berbeda.

    Diluar dugaannya buku-buku tersebutlah yang di kemudian hari justru membimbingnya ke kondisi seperti saat ini. Makalah tersebut membuat pihak Harvard memberikan penghargaan Hollis Scholar kepada Jerald. Sebuah penghargaan tertinggi bagi para mahasiswa jurusan Teologi Universitas Harvard yang dinilai berprestasi.

    Untuk mewujudkan cita-citanya, bahkan Jerald rela mengisi liburan musim panasnya dengan bekerja sebagai seorang pendeta cilik di sebuah Gereja Metodis terbesar di negeri Paman Sam tersebut. Pada musim panas itu pula ia mendapatkan sertifikat untuk menjadi seorang pengkhotbah dari pihak Gereja Metodis Amerika.

    Setelah lulus dari Harvard College di tahun 1971, Jerald langsung mendaftar di Harvard Divinity School atau sejenis sekolah tinggi teologi atas beasiswa dari Gereja Metodis Amerika. Selama menempuh pendidikan di bidang teologi, Jerald juga mengikuti program magang sebagai di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston.

    Ia lulus dari sekolah tinggi ini tahun 1974 dan mendapatkan gelar Master di bidang teologi. Selepas meraih gelar master teologi, ia sempat menghabiskan liburan musim panasnya dengan menjadi pendeta pada dua Gereja Metodis Amerika yang berada di pinggiran Kansas.

    Aktivitasnya sebagai seorang pendeta tidak hanya terbatas di lingkungan gereja saja. Ia mulai merambah ke cakupan yang lebih luas, mulai dari lingkungan sekolah, perkantoran, hingga pesan-pesan ajaran Kristen Metodis ia juga gencar sampaikan kepada para pasien yang datang ke tempat praktiknya sebagai seorang dokter ahli kejiwaan.

    Meninggalkan aktivitas gereja

    Namun, berbagai upaya dakwah ini dinilainya tidak memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat di sekitar ia tinggal. Ia justru menyaksikan terjadinya penurunan moralitas di tengah-tengah kehidupann beragama masyarakat Amerika. Bahkan kondisi serupa juga terjadi di lingkungan gereja.

    ”Dua dari tiga pasangan di Amerika selalu berakhir dengan perceraian, aksi kekerasan meningkat di lingkungan sekolah dan di jalanan, tidak ada lagi rasa tanggung jawab dan disiplin di kalangan anak muda. Bahkan yang lebih mencengangkan diantara para pemuka Kristen ada yang terlibat dalam skandal seks dan keuangan. Masyarakat Amerika seakan-akan sedang menuju kepada kehancuran moral,” paparnya.

    Melihat kenyataan seperti ini, Jerald mengambil keputusan untuk menyendiri dan tidak lagi menjalani aktivitasnya memberikan pelayanan dan khotbah kepada para jemaat. Sebagai gantinya ia memutuskan untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan penelitian yang dilakukan oleh sang istri. Penelitian mengenai sejarah kuda Arab ini membuat ia dan istrinya melakukan banyak kontak dengan warga Amerika keturunan Muslim Arab . Salah satunya adalah dengan Jamal.

    Babak pergaulan dengan Arab Muslim

    Pertemuan Jerald dengan pria Arab-Amerika ini pertama kali terjadi pada musim panas tahun 1991. Dari awalnya sekedar berhubungan melalui sambungan telepon, kemudian berlanjut pada saat Jamal berkunjung ke rumah Jerald. Pada kunjungan kali pertama ini, Jamal menawarkan jasa untuk menterjemahkan berbagai literatur dari bahasa Arab ke Inggris yang disambut baik oleh Jerald dan istrinya.

    Ketika waktu shalat ashar tiba, sang tamu kemudian meminta izin agar diperbolehkan menggunakan kamar mandi dan meminjam selembar koran untuk digunakan sebagai alas shalat. Apa yang diminta oleh tamunya itu diambilkan oleh Jerald, kendati dalam hati kecilnya ia berharap bisa meminjamkan sesuatu yang lebih baik dari sekedar lembaran surat kabar sebagai alas shalat. Untuk kali pertama ia melihat gerakan shalat dalam agama Islam.

    Aktivitas shalat ashar itu terus ia lihat manakala Jamal dan istrinya berkunjung ke rumah mereka seminggu sekali. Dan, hal itu membuat Jerald terkesima. ”Selama berada di rumah kami, tidak pernah sekalipun ia memberikan komentar mengenai agama yang kami anut. Begitu juga ia tidak pernah menyampaikan ajaran agama yang diyakininya kepada kami. Yang dia lakukan hanya memberikan contoh nyata yang amat sederhana, seperti berbicara dengan suara serendah mungkin jika ada diantara kami yang bertanya mengenai agamanya. Ini yang membuat kami kagum,” ungkapnya.

    Dari perkenalannya dengan Jamal dan keluarganya, justru Jerald mendapat banyak pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Sang tamu telah menunjukkan kepadanya sebuah pelajaran disiplin melalui shalat yang dilaksanakannya. Selain pelajaran moral dan etika yang diperlihatkan Jamal dalam urusan bisnis dan sosialnya serta cara Jamal berkomunikasi dengan kedua anaknya. ”Begitu juga yang dilakukan oleh istrinya menjadi contoh bagi istriku.”

    Tidak hanya itu, dari kunjungan tersebut Jerald juga mendapatkan pengetahuan seputar dunia Arab dan Islam. Dari Jamal, ia bisa mengetahui tentang sejarah Arab dan peradaban Islam, sosok Nabi Muhammad, serta ayat-ayat Alquran berikut makna yang terkandung di dalamnya. Setidaknya Jerald meminta waktu kurang lebih 30 menit kepada tamunya untuk berbicara mengenai segala aspek seputar Islam. Dari situ, diakui Jerald, dirinya mulai mengenal apa dan bagaimana itu Islam.

    Kemudian oleh Jamal, Jerald sekeluarga diperkenalkan kepada keluarga Arab lainnya di masyarakat Muslim setempat. Diantaranya keluarga Wa el dan keluarga Khalid. Dan secara kontinyu, ia melakukan interaksi sehari-hari dengan komunitas keluarga Arab Amerika ini. Dari interaksi tersebut, Jerald mendapatkan sesuatu ajaran dalam Islam yang selama ini tidak ia temui manakalan berinteraksi dengan komunitas masyarakat Kristen, yakni rasa persaudaraan dan toleransi.

    Baru di awal Desember 1992, sebuah pertanyaan mengganjal timbul dalam pikirannya, ”Dirinya adalah seorang pemeluk Kristen Metodis, tapi kenapa dalam keseharian justru bergaul dan berinteraksi dengan komunitas masyarakat Muslim Arab?.” Sebuah komunitas masyarakat yang menurutnya menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, serta mengedepankan sikap saling menghargai baik terhadap pasangan masing-masing, anggota keluarga maupun sesama. Sebuah kondisi yang pada masa sekarang hampir tidak ia temukan dalam masyarakat Amerika.

    Serangkaian Kejadian Tak Terduga

    Untuk menjawab keraguannya itu, Jerald memutuskan untuk mempelajari lebih dalam ajaran Islam melalui kitab suci Alquran. Dalam perjalanannya mempelajari Aquran, sang pendeta ini justru menemukan nilai-nilai yang sesuai dengan hati kecilnya yang selama ini tidak ia temukan dalam doktrin ajaran Kristen yang dianutnya.

    Kendati demikian, hal tersebut tidak lantas membuatnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia merasa belum siap untuk melepaskan identitas yang dikenakan selama hampir 43 tahun lamanya dan berganti identitas baru sebagai seorang muslim.

    Begitu pun ketika ia bersama sang istri memutuskan untuk mengunjungi kawasan Timur Tengah di awal tahun 1993. Ketika itu, ia seorang diri makan di sebuah restoran yang hanya menyajikan makanan Arab setempat. Sang pemilik restoran, Mahmoud, kala itu memergoki dirinya tengah membaca sebuah Alquran terjemahan bahasa Inggris. Tanpa berkata sepatah kata pun, Mahmoud melontarkan senyum ke arah Jerald.

    Kejadian tak terduga lagi-lagi menghampirinya. Istri Mahmoud, Iman, yang merupakan seorang Muslim Amerika, mendatangi mejanya sambil membawakan menu yang ia pesan. Kepadanya Iman berkomentar bahwa buku yang ia baca adalah sebuah Alquran. Tidak hanya itu, Iman juga bertanya apakah Jerald seorang muslim sama seperti dirinya. Pertanyaan tersebut lantas ia jawab dengan satu kata: Tidak.

    Namun ketika Imam menghampiri mejanya untuk menyerahkan bukti tagihan, tanpa disadari Jerald melontarkan kalimat permintaan maaf atas sikapnya, seraya berkata: ”Saya takut untuk menjawab pertanyaan Anda tadi. Namun jika Anda bertanya kepada saya apakah saya percaya bahwa Tuhan itu hanya satu, maka jawaban saya adalah ya. Jika Anda bertanya apakah saya percaya bahwa Muhammad adalah salah satu utusan Tuhan, maka jawaban saya akan sama, iya.” Mendengar jawaban tersebut, Iman hanya berkata: ”Tidak masalah, mungkin bagi sebagian orang butuh waktu lama dibandingkan yang lain.”

    Ikut berpuasa dan shalat

    Ketika memasuki minggu kelima masa liburannya di Timur Tengah atau bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Maret tahun 1993, untuk kali pertama Jerald dan istrinya menikmati suasana lain dari ibadah orang Muslim. Demi menghormati masyarakat sekitar, ia dan istri ikut serta berpuasa. Bahkan pada saat itu, Jerald juga mulai ikut-ikutan melaksanakan shalat lima waktu bersama-sama para temannya yang Muslim dan kenalan barunya yang berasal dari Timur Tengah.

    Bersamaan dengan akan berakhirnya masa liburannya menjelajah kawasan Timur Tengah, hidayah tersebut akhirnya datang. Peristiwa penting dalam hidup Jerald ini terjadi manakala ia diajak seorang teman untuk mengunjungi Amman, ibukota Yordania.

    Pada saat ia melintas di sebuah jalan di pusat ibukota, tiba-tiba seseorag lelaki tua datang menghampirinya seraya mengucapkan, Salam Alaikum dan mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, serta melontarkan pertanyaan apakah iaseorang Muslim?. Sapaan salam dalam ajaran Islam itu membuatnya kaget. Di sisi lain, karena kendala bahasa, ia bingung harus menjelaskan dengan cara apa ke orang tua tersebut bahwa ia bukan seorang Muslim. Terlebih lagi teman yang bersamanya juga tidak mengerti bahasa Arab.

    Mengikrarkan Keislaman

    Saat itu Jerald merasa dirinya tengah terjebak dalam situasi yang sulit diungkapkan. Pilihan yang ada dihadapannya saat itu hanya dua, yakni berkata N’am yang artinya iya atau berkata La yang berarti tidak. Hanya ia yang bisa menentukan pilihan tersebut, sekarang atau tidak sama sekali.

    Setelah berpikir agak lama dan memohon petunjuk dari Allah, Jerald pun menjawabnya dengan perkataan N’am. Sejak peristiwa tersebut, ia resmi menyatakan diri masuk Islam. Beruntung hidayah tersebut juga datang lepada istrinya di saat bersamaan. Sang istri yang kala itu berusia 33 tahun juga menyatakan diri sebagai seorang Muslimah.

    Bahkan tidak lama berselang setelah kepulangannya ke Amerika, salah seorang tetangganya yang juga merupakan seorang pendeta mendatangi kediamannya dan menyatakan ketertarikannya tehadap ajaran Islam. Dihadapannya, tetangganya yang telah berhenti menjadi pendeta Metodis ini pun berikrar masuk Islam.

    Kini hari-hari Jerald dihabiskan untuk kegiatan menulis dan memberikan ceramah tentang Islam dan hubungan antara Islam dan Kristen. Bahkan ia juga kerap diundang sebagai bintang tamu dalam program Islam di televisi di banyak negara.

    Salah satu hasil karyanya yang menjadi best seller adalah “The Cross and the Crescent: An Interfaith Dialogue between Christianity and Islam”. Selain itu ia juga menulis lebih dari 60 artikel tentang ilmu perilaku, dan lebih dari 150 artikel tentang kuda Arab dan sejarahnya.  (RoL/dia/berbagai sumber)

     

    ==================================================

     

    Jerald F. Dirks

    From Wikipedia, the free encyclopedia

    Jump to: navigation, search

    Jerald F. Dirks
    Islamic Author
    Full name Jerald F. Dirks

    Dr. Jerald F. Dirks (born 1950, Kansas) is a former ordained Methodist minister, Muslim convert and popular author of several books on Islam and Christianity.

    Contents

    [hide]

    //

    [edit] Education

    Dr. Dirks enrolled at Harvard College as a philosophy major in 1967. He was named a Hollis Scholar, signifying that he was a top pre-theology students in the college. He worked as a youth minister at a fairly large United Methodist Church during his freshman and sophomore years. He graduated in 1971 and was admitted to the Harvard Divinity School thereafter, from where he graduated with a Master’s degree in Divinity. During his seminary education, he also completed a two-year externship program as a hospital chaplain at Peter Bent Brigham Hospital in Boston.[1] He also holds a Doctorate in Psychology from the University of Denver.

    [edit] His Works

    He has published several works on Islam and Christianity in recent years. These include:

    [edit] External links

    [edit] See also

    [edit] Notes

     
  • SERBUIFF 2:51 am on 27/10/2009 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , , nama   

    Prof Dr Maurice Bucaille dari Perancis Masuk Islam Gara-gara Mumi Firaun 

    Prof Dr Maurice Bucaille dari Perancis Masuk Islam Gara-gara Mumi Firaun

    Menampilkan satu-satunya kiriman.
    Kiriman 1
    Asep Awalluddin menulispada 22 Juli 2009 jam 16:01
    Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran

    Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran.

    Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

    Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

    Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

    Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

    Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

    Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

    Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

    Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

    Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

    Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.

    Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

    Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

    Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

    Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

    Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

    Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”

    Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.

    Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

    Berikrar Islam
    Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

    Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

    Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

    Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.

    Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

    Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

    Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan. Sumber: Republika

     
    • umar deden 11:34 pm on 07/11/2009 Permalink | Reply

      ini ayat yang tidak masuk akal. tidak ada hubungan sama sekali dengan mumi. badan tidak bisa menjadi pelajaran. cara hidup seseorang yang menjadi teladan. gaja mati meninggalkan ……. dan singa mati meninggalkan madu……

      • erzal 10:32 am on 08/11/2009 Permalink | Reply

        waduh guoblok amat nih orang, firaun itu simbol kemunkara , kedurhakaan dan penantang Allah yg luar biasa sudah sepantasnya kita tidak mengikuti jejak kesesatannya , untuk membuktikan bahwa firaun itu benar2 ada maka allah selamatkan jasadnya…

    • akulana 7:57 am on 02/07/2010 Permalink | Reply

      Kasian benar sang Profesor.., ternyata otaknya miring, mumi malah jadi teladan iman..

      • erzal 2:34 am on 06/07/2010 Permalink | Reply

        otak lu yg miring bung…isi ayat alquran yg terbukti sesuai dg penemuan jasad firaun itulah penyebab dia masuk islam…

      • AA 8:37 am on 04/03/2011 Permalink | Reply

        yg dkasi hidayah itu hanya orang2 yg berakal bukan keyakinan karena nenek moyang.
        GALILEO dihukum gara2 penelitian’y terbukti benar tp bertentangan dgn Alkitab….
        “BUMI ITU BULAT SAUDARA” yg mengatakan “TIDAK BULAT” itu buku sesat…

    • Ahmed 3:46 am on 28/07/2012 Permalink | Reply

      jgn salahkan umar deden, kasian dia. dia hanya korban dari keserakahan orang2 yg ingin dimuliakan di depan podium sebuah gereja. sejak zaman galileo hingga sekarang, gereja tidak mengalami perubahan yg berarti, masalah ketuhanan trinitas contohnya, masih merupakan pokok bahasan yg diharamkan yang akan selamanya dijadikan gang buntu oleh para pembesar di gereja utk menutupi ketidaksanggupannya menjawab pertanyaan umat kristen yg cerdas dan ingin tahu agama yg dianutnya yg akan dia wariskan kepada anak cucunya.

      Sbg tambahan, saya yakin kedua orang tsb (umar deden dan akulana) bukan merupakan representasi dari umat kristen di indonesia, gak mungkin orang kristen indonesia sebodoh mereka itu sehingga tidak mampu membaca makna tersirat dalam kata “pelajaran” yg dimaksudkan Al-quran. atau mereka itu hanyalah orang2 kristen tradisional yg ketakutan akan kebenaran. wallahualam bissawab.

    • Andre Biscahall 8:17 pm on 08/02/2017 Permalink | Reply

      Hello to every body, it’s my first pay a quick visit of this website; this website carries awesome and truly excellent data for visitors.|

    • tech speaker 7:33 pm on 31/08/2017 Permalink | Reply

      I bet you do crossword puzzles in ink. Your writing style reminds me of my professor. Your writing style reminds me of my boyfriend back in Iowa. I was riding my bike on Monday when I discovered this.

    • Jesse Grillo 7:18 pm on 01/09/2017 Permalink | Reply

      awesome post, thanks a lot. I think the admin of this web page is really working hard in support of his web site, since here every material is quality based information.

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel