Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 6:03 am on 22/08/2012 Permalink | Reply
    Tags:   

    Islam Menghapus Perbudakan 

    Telaah Kitab

    Islam Menghapus Perbudakan

    Pengantar:

    Telaah kitab kali ini akan mengupas pandangan Islam terhadap budak dan sistem perbudakan yang terdapat dalam Kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah juz 2, karya ‘Allamah Syaikh Taqiyuddinan-Nabhani.

    Pada dasarnya, syariah Islam yang mengatur mengenai budak dan sistem perbudakan diturunkan ketika budak memang ada dan setiap bangsa memiliki sistem perbudakan masing-masing. Di antara sistem perbudakan yang ada pada saat itu adalah budak boleh diperjualbelikan bahkan dibunuh oleh tuannya sendiri. Ada pula sistem perbudakan yang membolehkan tuan memperistri budak-budaknya dan memperlakukannya seperti binatang. Ada pula aturan yang menyatakan; jika seseorang tidak mampu membayar utang kepada seseorang maka ia boleh dijadikan budak. Ada pula ketetapan, jika suatu negeri dikalahkan maka penduduknya absah diperbudak seluruhnya. Berdasarkan fakta inilah, Islam datang dengan seperangkat hukum yang ditujukan untuk memecahkan persoalan perbudakan, serta menggariskan aturan-aturan tertentu (sistem) yang berhubungan dengan budak.

    Jika kita mengkaji secara jernih dalam mendalam, kita pasti akan berkesimpulan bahwa syariah Islam datang untuk “membebaskan budak dan melenyapkan sistem perbudakan” yang ada di seluruh dunia.

    Dalam hal ini, ada dua hal penting yang perlu dimengerti. Pertama: sikap dan perlakuan Islam terhadap budak faktual (seseorang yang telah dijadikan budak), orang yang derajatnya turun atau tidak sebanding dengan orang-orang merdeka sehingga berhak untuk diperjualbelikan layaknya barang dagangan. Untuk sisi pertama ini, Islam telah menggariskan sejumlah aturan yang ditujukan untuk membebaskan para budak dan orang-orang yang diperlakukan seperti budak, serta menjadikan mereka sebagai orang yang merdeka. Kedua: pandangan Islam mengenai sistem perbudakan. Dalam hal ini, Islam telah memecahkan persoalan ini dengan cara menetapkan aturan-aturan tertentu yang pada intinya ditujukan untuk menghapuskan sistem perbudakan yang ada di seluruh dunia.
    Sikap dan Perlakuan Islam Terhadap Budak

    Para fukaha telah merinci sejumlah hukum yang berhubungan dengan budak, di antaranya:Pertama, Islam telah menetapkan sejumlah aturan bagi orang Islam yang memiliki budak sehingga budak memiliki hak sebagaimana tuannya. Selain itu, Islam juga menetapkan sejumlah aturan sehingga fitrah dan sifatnya sebagai manusia (manusia bebas) bisa dijaga dan setara dengan manusia yang bebas. Misalnya, Islam memerintahkan kaum Muslim untuk berbuat baik kepada budaknya (QS an-Nisa’ [4]: 36). Dalam hadis riwayat Muslim dituturkan bahwa Nabi saw. juga pernah bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan berhati-hatilah kalian terhadap budak-budak yang kalian miliki. Sesungguhnya, mereka adalah saudaramu yang dijadikan Allah Swt. berada di bawah kekuasaanmu. Karena itu, berilah mereka makan, seperti yang engkau makan, dan berilah mereka pakaian seperti pakaian yang engkau kenakan. Janganlah memberi beban tugas yang memberatkan mereka. Jika engkau membebani mereka dengan tugas maka berlakulah baik (tidak memberatkan) kepada mereka.” (HR Muslim).

    Nas-nas di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Islam telah memerintahkan kaum Muslim untuk berbuat baik kepada budaknya, dan menyetarakan kedudukan mereka, secara fitrah dan kemanusiaan, dengan manusia merdeka. Dengan kata lain, Islam telah menyetarakan budak dan orang merdeka dalam hal darah dan kehormatan. Dalam fikih juga dinyatakan, jika tuan “menikmati budaknya” maka statusnya dipandang sebagaimana tatkala ia menikmati istrinya yang merdeka. Untuk itu, jika seorang budak hamil atau melahirkan anak dari tuannya, dengan segera ia harus dibebaskan secara paksa setelah kematian tuannya.

    Kedua, pada saat itu, Islam telah mendorong manusia untuk membebaskan budak-budak yang mereka miliki. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas bahwa pembebasan budak akan membantu dirinya untuk bersyukur atas nikmat Allah Swt., dan memudahkan dirinya untuk mendaki jalan yang sukar (QS al-Balad []: 11-13).

    Ketiga, Islam telah mensyariatkan sejumlah hukum yang memaksa seseorang untuk membebaskan budaknya, atau dibebaskan oleh penguasa. Jika seseorang memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan waris dengan budaknya maka ia wajib membebaskan budak tersebut, baik rela maupun tidak rela. Jika ia tidak rela maka penguasa yang akan membebaskan budak tersebut. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Nabi saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang memiliki budak yang memiliki hubungan kekerabatan (keluarga dan waris), maka ia adalah orang bebas.” (HR Abu Dawud).

    Budak yang disiksa oleh tuannya dengan cara dibakar, dipotong salah satu anggota tubuhnya, atau siapa saja yang memukul atau mendera budak dengan deraan yang berlebihan, maka budak itu wajib dibebaskan. Jika tuannya tidak mau membebaskan maka penguasa berhak memaksanya untuk membebaskan budaknya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Siapa saja yang memukul budaknya atau menderanya maka dendanya adalah membebaskannya.” (HR Muslim).

    Islam juga telah menjadikan pembebasan budak sebagai denda (kifarah) atas dosa-dosa yang dilakukan seorang Muslim. Allah telah menjadikan pembebasan budak sebagai kifarah atas pembunuhan tidak sengaja (QS an-Nisa’ [4]: 92). Pembebasan budak juga ditetapkan sebagai kifârah atas pelanggaran sumpah (QS al-Maidah [5]: 89). Pembebasan budak juga dijadikan kifarat pada kasus zhihâr dan kasus suami yang menyetubuhi istrinya pada siang hari bulan Ramadlan.

    Hukum-hukum di atas telah dikaitkan dengan pembebasan budak. Ini menunjukkan bahwa Islam telah mendorong umatnya untuk berlaku baik, mendudukkan mereka pada tempat yang setara dengan orang merdeka, baik dalam hal harta dan darah, serta mendorong kaum Muslim untuk membebaskan budak.

    Islam tidak mencukupkan diri hanya dengan menetapkan hukum-hukum yang memaksa seseorang untuk membebaskan budak, tetapi juga telah menetapkan hukum bagi budak untuk membebaskan dirinya sendiri, sebagaimana Islam telah menetapkan mekanisme bagi tuan untuk membebaskan budaknya (Lihat: QS an-Nur []: 33). Ayat ini berbicara tentang budak yang ingin membebaskan dirinya (mukatab).

    Keempat, dalam Baitul Mal, terdapat pos khusus untuk membantu para budak membebaskan dirinya (Lihat: QS at-Taubah [9]: 60). Pos untuk pembebasan budak tidak ditentukan besar-kecilnya. Khalifah boleh saja memberikan prosentase di atas 50% untuk pembebasan budak. Bahkan ia boleh mengalokasikan semua perolehan zakat untuk pembebasan budak.
    Islam dan Sistem Perbudakan

    Pada dasarnya Islam telah menghapuskan perbudakan. Dengan kata lain, Islam telah mengharamkan perbudakan atas orang-orang merdeka dengan pengharaman yang pasti. Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga orang yang akan aku tuntut kelak pada Hari Kiamat. Seorang laki-laki meminta kepadaku, kemudian ia berkhianat, dan seorang laki-laki yang menjual seorang laki-laki merdeka, kemudian ia memakan hasil penjualannya itu, dan seorang laki-laki yang mempekerjakan seseorang dan tidak pernah diberi upahnya.” (HR Bukhari).

    Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Swt. melarang memperjualbelikan (memperbudak) orang-orang yang merdeka.

    Adapun dalam kondisi perang, Islam telah mengharamkan secara mutlak memperbudak tawanan perang. Pada tahun ke 2 Hijrah, Allah Swt. telah menjelaskan ketentuan hukum mengenai tawanan perang, yaitu: (1) dibebaskan; (2) ditebus dengan sejumlah harta, ditukar dengan tawanan kaum Muslim atau kafir dzimmi. Hukum ini telah melarang memperbudak tawanan perang (Lihat: QS Muhammad [47]: 4).

    Ada sebagian fukaha menyatakan bahwa Rasulullah saw. telah memperbudak tawanan perang saat Perang Hunain. Padahal ayat di atas turun pada tahun ke 2 Hijriyah jauh sebelum peristiwa Perang Hunain. Untuk itu, mereka berpendapat bahwa dalam kondisi perang, kaum Muslim masih diperbolehkan memperbudak tawanan perang.

    Sesungguhnya perbuatan dan perkataan Rasulullah hanya berfungsi untuk men-taqyîd, mengkhususkan, atau men-tafshîl (merinci) kemutlakan, keumuman, dan ke-mujmal-an (keglobalan) al-Quran, namun tidak bisa digunakan untuk menghapus al-Quran (naskh). Ayat di atas sama sekali tidak berbentuk muthlaq sehingga layak untuk di-taqyîd. Ayat di atas redaksinya juga tidak berbentuk umum sehingga absah untuk di-takhshîsh. Ayat di atas juga tidak berbentuk mujmal sehingga layak dirinci oleh sunnah. Adapun hadis yang menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah memperbudak tawanan perang di Hunain adalah hadis ahad. Khabar ahad tidak boleh me-naskh (menghapus) al-Quran yang mutawâtir. Karena itu, jika riwayat yang menuturkan perbudakan tawanan perang dalam Perang Hunain memang benar-benar sahih maka ia harus ditolak matan-nya karena bertentangan dengan khabar mutawâtir.

    Fakta saat Perang Hunain menunjukkan bahwa para wanita dan anak-anak telah terlibat dalam perang, baik untuk memperkuat pasukan atau memberi semangat pasukan. Tatkala pasukan Hunain dikalahkan, wanita dan anak-anak itu dihukumi sebagai sabaya. Sabaya adalah kaum wanita dan anak-anak yang turut serta dan melibatkan diri dalam kancah peperangan. Menurut orang Arab, istilah sabaya hanya ditujukan untuk kaum perempuan dan anak-anak yang terlibat dalam peperangan, dan tidak mencakup kaum laki-laki. Rasulullah saw. membagi-bagikan mereka (sabaya) kepada kaum Muslim yang turut berperang. Sebagian Sahabat ada yang mengembalikan sabaya ini kepada keluarganya. Namun demikian, tatkala Rasulullah saw. memerangi Khaibar, Beliau tidak menawan penduduknya, baik laki-laki, wanita dan anak-anak. Beliau saw. membiarkan mereka menjadi orang-orang yang bebas (merdeka). Ini menunjukkan bahwa perlakuan terhadap sabaya bergantung kepada Khalifah. Khalifah boleh saja memperbudak mereka atau membebaskan mereka. Namun, hukum semacam ini hanya berlaku kepada sabaya, yakni wanita dan anak-anak yang terlibat dalam perang. Adapun laki-laki yang turut perang dan orang-orang yang berada di dalam rumahnya dan tidak ikut berperang tidak boleh diperbudak sama sekali. Dengan kata lain, tawanan perang (al-usri) tidak boleh diperbudak, sedangkan sabaya (wanita-wanita dan anak-anak yang turut perang) boleh diperbudak atau dibebaskan. Hanya saja, sabaya tidak boleh ditebus dengan harta. Tindakan semacam ini pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. pada saat Perang Hunain dan Khaibar. Pada saat Perang Hunain, Rasulullah saw. memperbudak sabaya, kemudian membebaskan mereka. Adapun pada saat Perang Khaibar, Beliau membebaskan para sabaya, dan tidak memperbudak mereka.

    Hanya saja, tindakan Khalifah (Imam) untuk “memperbudak” sabaya tidak boleh diartikan bahwa sabaya itu hendak diperbudak secara langsung, atau bahwa Islam masih mentoleransi dan melanggengkan perbudakan. Tindakan semacam ini diberlakukan hanya dalam kondisi peperangan dan berada di bawah koridor hukum darurat perang. Dengan demikian, tindakan Khalifah tersebut semata-mata demi kepentingan politik perang (siyâsah al-harb) dan bukan ditujukan untuk memperbudak mereka secara langsung.

    Dari seluruh keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa Islam telah memecahkan masalah perbudakan, sekaligus juga menetapkan aturan-aturan komprehensif yang bisa mencegah terjadinya perbudakan kembali. Selain itu, Islam juga memberikan kewenangan kepada Khalifah untuk memperlakukan sabaya sesuai dengan politik dan kepentingan perang. Tidak hanya itu, Islam juga telah menghapuskan perbudakan ketika Islam melarang melibatkan anak-anak dan wanita dalam medan peperangan, seperti yang diterapkan pada hukum perang modern. Ini semua menunjukkan bahwa Islam melarang dan menghapuskan perbudakan yang terjadi di tengah-tengah manusia untuk selama-lamanya. [Syamsuddin Ramadlan An-Nawiy]

    http://hizbut-tahrir.or.id/2008/03/20/islam-menghapus-perbudakan/

     
    • wikki 6:00 pm on 22/08/2012 Permalink | Reply

      sepertinya kata kata diatas sepertinya tidak ada yang salah tetapi apakah kata kata tersebut diatas adalah yang sesungguhnya ..coba kita melirik kebelakang …sekedar melihat…
      Sura 23 diwahyukan semasa hidup Muhammad di Mekkah sebelum Hijrahnya dari tanah kelahirannya ke Medina pada tahun 622 M. Dalam masa-masa awal pelayanannya, ia tidak pernah mengobarkan perang terhadap siapapun, sehingga ini adalah masa-masa damai, walaupun ia menderita banyak penganiayaan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai konteks historis dan topik literal dari Sura 23, ketik di sini (here)

      Dalam Quran, Sura 23:5-6 mengatakan:

      [Terutama orang-orang beriman] . . . dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada bercela (Bandingkan: Sayyid Abul A’La Maududi, The Meaning of the Quran, vol. 3, h.237).

      Kata-kata kuncinya adalah “budak-budak yang mereka milik” (terjemahan lain: “those who are legally in their possession”). Maududi (1979) adalah komentator Quran yang sangat disegani, dan ia menafsirkan makna asli dari klausa tersebut, ia mengatakan bahwa berhubungan seks dengan para budak perempuan adalah sah.

      Maududi menulis:

      Dua kategori wanita telah dikesampingkan dari perintah umum untuk menjaga bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi (kemaluan) yaitu: (a) para istri, (b) para wanita yang secara sah dimiliki oleh seseorang, yaitu para budak perempuan. Oleh karena itu ayat tersebut dengan jelas menetapkan hukum bahwa orang diijinkan untuk melakukan hubungan seks dengan budak perempuannya seperti halnya dengan istrinya, atas dasar kepemilikan dan bukan pernikahan. Jika pernikahan adalah persyaratannya, maka si budak perempuan akan dimasukkan ke dalam status sebagai istri, dan tidak perlu menyebutkan mereka secara terpisah. (Ibid. p.241, note 7).

      Pokok utama dari bagian ini, yang terlewatkan oleh Maududi atau yang enggan dikritik, adalah bahwa Muhammad sendiri menganjurkan bukan hanya keseluruhan institusi perbudakan, tapi juga seks antara majikan pria dengan para budak perempuan mereka di dalam institusi ini. Tapi bagaimana bisa ia dan juga orang-orang Muslim yang tawakal mengkritik nabi mereka tanpa merusak Islam secara serius? Namun orang-orang Muslim harus melakukannya, jika mereka berpikir secara jelas dan kritis, dan demi kemanusiaan.

      Harus diperhatikan bahwa Sura 70:29-30, yang juga diwahyukan di Medina, menggunakan kata-kata yang hampir identik dengan Sura 23:5-6. Para pria harus menjaga kemaluan mereka dari semua orang kecuali para istri dan para budak perempuan mereka; yang berarti bahwa pria boleh berhubungan seks dengan para wanita dari kedua “kategori” tersebut (perkataan Maududi).

      Jika para pembaca ingin melihat ayat-ayat ini dalam berbagai terjemahan, mereka harus melihatnya di: This website. Yang satu ini (This one) mempunyai 3 terjemahan, dan yang ini (This one) didanai oleh keluarga bangsawan Saudi.

      Seks dengan budak-budak perempuan dalam masa perang

      Kini Muhammad telah hijrah dari Mekkah ke Medina. Pada saat Sura 4 diwahyukan, dan berikut ini kita akan membahas ayat yang ada di dalamnya, ia telah melakukan banyak perang dan kejahatan. Sebagai contoh, ia memerangi orang-orang Mekkah dalam Perang Badr pada 624 M dan sekali lagi terhadap orang-orang Mekkah di Perang Uhud pada 625 M. Ia juga membuang suku-suku Yahudi Qaynuqa pada tahun 624 M dan Nadir pada 625 M. Ia melanjutkan kebijakan seksnya antara para majikan pria dengan budak-budak perempuan mereka di Medina, kotanya yang baru, dengan menambahkan perbudakan para wanita tawanan perang dan mengijinkan para prajuritnya untuk berhubungan seks dengan mereka. Untuk informasi lebih lanjut mengenai konteks historis dan topik literal dari Sura berikut ini, silahkan ketik di sini (here)

      Dalam Quran, Sura 4:24 berkata:

      Dan diharamkan bagi kamu istri-istri yang masih menikah dengan orang lain kecuali mereka yang telah jatuh ke tanganmu (sebagai tawanan perang)… (Maududi, vol. 1, h. 319). Lihat juga Sura 4:3 dan 33:50.

      Oleh karena itu, para tawanan wanita kadangkala dipaksa untuk menikah dengan para majikan Muslim mereka, tanpa mempedulikan status pernikahan wanita tersebut. Tepatnya, para majikan diijinkan untuk berhubungan seks dengan budak yang adalah properti mereka.

      Maududi mengatakan dalam komentarnya terhadap ayat tersebut bahwa adalah sah bagi para pejuang Perang Suci Muslim untuk menikahi para tawanan perang wanita, sekalipun para suami mereka masih hidup. Tapi apa yang terjadi jika para suami ditangkap dengan istri-istri mereka? Maududi mengutip satu mazhab hukum yang mengatakan bahwa orang-orang Muslim tidak boleh menikahi mereka, tetapi dua mazhab lainnya mengatakan bahwa pernikahan antara suami dan istri yang adalah tawanan perang dibatalkan (catatan 44).

      Namun mengapa timbul perdebatan mengenai kekejaman ini? Jawabannya sangat jelas bagi orang-orang yang memahami keadilan sederhana. Tidak boleh ada hubungan seks antara para tawanan perang wanita yang telah menikah dengan orang-orang yang telah menangkap mereka. Pada kenyataannya, tidak boleh ada hubungan seks antara para tawanan wanita dengan para majikan Muslim mereka dalam keadaan apapun.

      Ketidakadilan seksual ini tidak dapat diterima, namun kehendak Allah tidak terbantahkan – demikianlah yang dikatakan Quran.

      Dapat diramalkan, Hadith mendukung Quran – menginspirasi imoralitas.

      Hadith adalah laporan-laporan mengenai tindakan-tindakan dan perkataan-perkataan Muhammad di luar Quran. Kolektor dan editor Hadith yang paling dapat dipercayai adalah Bukhari (870).

      Hadith menunjukkan bahwa para jihadis Muslim sesungguhnya berhubungan seks dengan para tawanan wanita, tak peduli apakah mereka menikah atau tidak. Dalam kutipan berikut ini, Khumus adalah seperlima dari rampasan perang.

      Ali, keponakan Muhammad dan juga menantunya, baru saja selesai mandi relaksasi. Mengapa?

      Nabi mengutus Ali ke Khalid untuk membawa Khumus (dari rampasan perang) dan…Ali mandi (setelah berhubungan seksual dengan seorang budak perempuan dari Khumus itu).

      Apakah tanggapan Muhammad terhadap orang yang membenci Ali oleh karena tindakan seksual ini?

      Apakah kamu membenci Ali oleh karena hal ini?… Janganlah membencinya, karena ia pantas mendapatkan lebih dari itu [dari] Khumus itu. (Bukhari)

      Dengan demikian, Muhammad meyakini bahwa para budak wanita adalah bagian dari seperlima rampasan perang yang dapat diperlakukan sebagai properti seksual. Ali adalah seorang pahlawan Muslim. Ia adalah suami Fatima, putri Muhammad dari Khadija istri pertamanya. Jadi akankah nabi teladan bagi dunia mengolok menantunya sendiri karena telah behubungan seks dengan seorang budak perempuan? Lagipula, para budak adalah permainan seksual yang adil. Quran berkata demikian.

      Tambahan lagi, para jihadis suci tidak boleh mempraktekkan persenggamaan terputus dengan para wanita yang mereka tangkap, tapi bukan karena alasan yang dapat diterima orang: keadilan sederhana.

      Dalam suatu penyerangan militer dan jauh dari istri mereka, para jihadis Muslim “menerima tawanan dari antara orang-orang Arab dan kami menginginkan perempuan dan selibat adalah hal yang sulit bagi kami dan kami suka melakukan persenggamaan terputus”. Mereka bertanya pada nabi suci mengenai hal ini, dan penting kita perhatikan apa yang tidak dikatakannya.

      Ia tidak mengolok mereka atau melarang mereka melakukan hubungan seks apapun, menyatakannya haram. Namun, ia tersesat dalam teologi dan doktrin yang membingungkan mengenai takdir:

      Lebih baik bagimu untuk tidak melakukannya [praktek persenggamaan terputus]. Tidak ada orang yang telah ditakdirkan untuk eksis, tetapi akan mempunyai eksistensinya, hingga Hari Kebangkitan. (Bukhari; untuk Hadith-hadith paralel lihat di sini (here) dan di sini (here)

      Itu berarti, orang Muslim wajib berhenti melakukan persenggamaan terputus, dan tetap melanjutkan hubungan seks dengan budak-budak perempuan yang menjadi obyek seks. Takdir mengontrol siapa yang akan dilahirkan. Muhammad tidak melarang praktek yang sangat tidak bermoral ini padahal waktunya sangat tepat untuk melarangnya.

      Lain perkara jika ada tentara dalam pasukan manapun yang menyerang dan memperkosa karena kemauannya sendiri. Semua pasukan mempunyai prajurit-prajurit kriminal yang melakukan perbuatan bejat seperti itu. Namun apa yang dilakukan Muhammad adalah menetapkan perkosaan dalam suatu teks sakral.

      Islam menetapkan dan mengesahkan perkosaan.

      Sangatlah mengecewakan melihat Quran tidak menghapuskan kejahatan seksual ini dengan pernyataan yang sejelas-jelasnya: Kamu tidak boleh berhubungan seks dengan para budak perempuan dalam keadaan apapun!
      Kesimpulan
      Quran menetapkan dan melegalkan kejahatan seksual itu, dan menegaskan bahwa kitab ini turun dari Allah melalui Jibril kepada Muhammad. Orang yang berpikiran waras dapat melihat bahwa berhubungan seksual dengan dengan wanita dalam kondisi mereka yang sangat memprihatinkan (perbudakan) adalah salah.

      Pertanyaan berikut harus ditanyakan dan dijawab: Apakah Muhammad, Quran, dan Islam adalah nabi, kitab dan agama yang terbaik untuk membawa umat manusia memasuki milenium yang baru?

      Bagi kita yang berada di luar Islam, yang menguji bukti yang ada dengan obyektifitas yang besar dengan semampu kita dan yang tidak dibutakan dengan pengabdian seumur hidup pada Islam, jawaban terhadap pertanyaan retoris ini sangatlah jelas: tidak, ketiganya bukanlah yang terbaik untuk membawa umat manusia memasuki milenium yang baru.

      Oleh karena itu, semua orang Muslim yang berpikiran jernih, yang hidup di bawah para penindas yang kelewat religius, harus menyingkirkan mereka dan mengobarkan revolusi sekuler seperti yang terjadi di Turki setelah Perang Dunia I. Mungkin hal ini akan terjadi di Iran, dan mungkin Irak akan bersih dari Syariah (hukum Islam), ketika orang-orang Irak mengambil langkah-langkah kecil pertama mereka menuju demokrasi. Mereka harus melepaskan diri dari Quran dan teladan Muhammad.

      Hingga revolusi-revolusi ini terjadi dan hingga para pemimpin relgius menolak banyak ayat dalam Quran dan Hadith, kita yang berada di luar agama ini diijinkan untuk tidak mempercayai agama Muhammad.

      Dan para wanita yang digoda untuk memeluk agama Islam, harus berhenti dan berpikir dua kali sebelum melakukannya.

  • SERBUIFF 5:54 am on 22/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: itulah orang-orang yang telah melang­gar garis. وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik te, maka tidaklah mereka tercela. فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 - 11 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ (1) Sesungguhnya menanglah orang-ora   

    Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 – 11 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ (1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman. ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ (2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang. وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ (3) Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras. وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ (4) Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT. وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ (5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka. إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ (6) Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela. فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis. وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya. وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ (9) Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya. أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ (10) Mereka itulah yang akan me­warisi. ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ (11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya. 

    Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 – 11
     

                                                             بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم  

     قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ

    (1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman.


     ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ 

    (2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.


    وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ

    (3)Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ

    (4) Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ

    (5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.


    إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ

    (6)  Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.


     فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ

    (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ

    (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.


     وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ

    (9) Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya.


     أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ

    (10) Mereka itulah yang akan me­warisi.


     ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ

    (11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya.


                                            Perjuangan Dan Kemenangan

     قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ
    “Sesungguhnya menanglah orang-orong yang beriman.° (ayat 1).

    Kalimat “menang” adalah bukti bahwasanya perjuangan telah dilalui menghadapi musuh atau berbagai kesulitan.
    Orang tidaklah sampai kepada menang, kalau dia belum melalui dan mengatasi rintangan yang bertemu di tengah jalan. Memang sungguh banyak yang harus diatasi, dikalahkan dan ditundukkan dalam melangkah ke muka mencapai kemenangan. Kalau sekira­nya suatu bangsa mempunyai banyak musuh atau rintangan di dalam per­jalanannya untuk mencapai martabat yang lebih tinggi.

    Rintangan dari kebodohan, rintangan dari nafsu-nafsu jahat yang ada dalam diri sendiri, yang mungkin membawa derajat kemanusiaan jadi jatuh, sehingga kembali ke tempat kebimbangan rintangan dari syaitan yang selalu merayu dan memperdayakan, semuanya pasti bertemu dalam hidup. Hati nurani manusia ingin kejayaan,. kemuliaan dan kedudukan yang lebih tinggi. Tetapi hawanafsunya mengajaknya atau menariknya supaya jatuh ke bawah. Kalau kiranya “pegangan hidup” tidak ada, diri itu pasti kalah dan tidak tercapai apa yang dimaksud, yaitu kemenangan hidup.

    Maka di dalam ayat ini diberikan keterangan bahwasanya kemenangan pastilah didapat oleh orang yang beriman, orang yang percaya. Kalimat “qod” yang terletak di pangkal fill madhi (Aflaha) menurut undang-undang bahasa Arab adalah menunjuk kan kepastian. Sebab itu maka ia (Qad) diartikan “sesungguhnya”.

    Hanyalah adanya kepercayaan adanya Tuhan jalan satu-satunya buat membebaskan diri dari perhambaan hawa nafsu dunia dan syaitan. Penga­laman-pengalaman di dalam hidup kita kerapkali menunjukkan bahwasanya di atas kekuasaan kita yang terbatas ini ada kekuasaan Ilahi. Kekuasaan Ilahi itu­lah yang menentukan, bukan kekuasaan kita. Tetapi kepercayaan dalam hati saja, belumlah cukup kalau belum diisi dengan perbuatan. Iman mendorong sanubari buat tidak mencukupkan dengan hanya semata pengakuan lidah.

    Dia hendaklah diikuti dengan buktt dan bakti. Kemudian bukti-bukti itu memperkuat Iman pula kembali. Di antara Iman dan perbuatan adalah isi­mengisi, kuat-menguatkan. Bertambah banyak ibadat, bertambah kuatlah lman. Bertambah kuat Iman, bertambah pula kelezatan dalam jiwa lantaran beribadat dan beramal.

    Maka ditunjukkanlah 6 (enam) syarat yang wajib dipenuhi sebagai bukti Iman. Kalau 6 syarat ini telah terisi, pastilah menang. Menang mengatasi ke­sulitan diri sendiri, menang dalam bernegara, dan lanjutan dari kemenangan semuanya itu ialah syurga jannatul firdaus. Syarat kemenangan Peribadi Mu’min yang pertama ialah:

    Sembahyang Yang Khusyu`

    ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ
    “Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.” (ayat 2).

    Tuhan tidaklah semata-mata untuk dipercayai. Kalau semata hanya dipercayai, tidaklah akan terasa betapa eratnya hubungan dengan DIA. Kita harus mengendalikan diri sendiri supaya bebas lain di dalam alam ini. Sebagai manusia kita mempunyai naluri, yang kalau din ini tidak mempunyai tujuan terakhir dalam hidup, niscaya akan sangsai dibawa larat oleh naluri sendiri.

    Kita mempunyai instink rasa takut. Kita dipengaruhi oleh rasa takut kepada kemiskinan, takut kepada kematian, takut akan tekanan-tekanan sesama kita manusia, kezaliman orang-orang yang berkuasa atas kita. Bahkan kadang kadang manusia yang berani pun ada juga naluri takutnya. Roosevelt Presiden Amerika Syarikat dalam Perang Dunia Kedua, menambahkan lagi salah satu tujuan “Declaration of Human Right” ialah bebas dari rasa takut (freedom from fear). Padahal tidaklah manusia dapat membebaskan diri dari rasa takut itu, sebab naluri rasa takut adalah sebagian dari naluri rasa takut mati. Takut mati ialah karena keinginan hendak terus hidup.

    Dengan mengerjakan sembahyang, yaitu bahasa nenek-moyang kita yang telah kita pakai untuk arti “shalat”, maka seluruh rasa takut telah terpusat kepada Tuhan, maka tidaklah ada lagi yang kita takuti dalam hidup ini. Kita tidak takut mati, karena dengan mati kita akan segera berjumpa dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan amal kita selama hidup. Kita tidak takut kepada zalim aniaya sesama manusia, karena sesama manusia itu hanyalah makhluk sebagai kita juga. Kita tidak takut kepada lapar lalu tak makan, karena rezeki kita telah dijamin Tuhan, asal kita mau berusaha. Kita tidak takut meng­hadang bahaya, karena tidak ada yang bergerak dalam alam ini kalau tidak ditentukan Tuhan. Dengan sembahyang yang khusyu` rasa takut menjadi hilang, lalu timbul perasaan-perasaan yang lain. Timbullah pengharapan (desire) dan pengharapan adalah kehendak asasi manusia. Hidup manusia tidak ada artinya samasekali kalau dia tidak mempunyai pengharapan.

    Sembahyang 5 waktu adalah laksana setasiun-setasiun perhentian istirahat jiwa di dalam perjuangan yang tidak henti-hentinya ini. Sembahyang adalah saat untuk mengambil kekuatan baru melanjutkan perjuangan lagi. Sembah­yang dimulai dengan Allahu Akbar” itu adalah saat membulatkan lagi jiwa kita supaya lebih kuat, karena hanya Allah Yang Maha Besar, sedang segala perkara yang lain adalah urusan kecil belaka. Tak ada kesulitan yang tak dapat diatasi.

    Khusyu` artinya ialah hati yang patuh dengan sikap badan yang tunduk. Sembahyang yang khusyu`, setelah menghilangkan rasa takut adalah pula menyebabkan berganti dengan berani, dan jiwa jadi bebas. Jiwa tegak terus naik ke atas, lepas dari ikatan alam, langsung menuju Tuhan. Dengan sembah­yang barulah kita merasai nilai kepercayaan (Iman) yang tadinya telah tumbuh dalam hati. Orang yang beriman pasti sembahyang, tetapi sembahyang tidak ada artinya kalau hanya semata gerak badan berdiri, duduk, ruku` dan sujud. Sembahyang mesti berisi dengan khusyu`. Sembahyang dengan khusyu` ada­lah laksana tubuh dengan nyawa. Tuhan memberi ukuran waktu paling sedikit (minimum) untuk mengerjakan sembahyang itu 5 waktu. Tetapi sembahyang lima waktu yang khusyu` menyebabkan Mu’min ingin lagi membuat hubungan lebih baik dengan Tuhan, lalu si Mu’min mengerjakan shalat yang nawafil dalam waktu-waktu yang tertentu. Dengan itu semua jiwanya menjadi lebih kuat berjuang dalam hidup. Sebab……

      

    “Dialah yang menjadikan untuk kamu apa yang ada di bumi semaunya.” (al-Baqarah 29)

    Membenteng Peribadi

    وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ

    “Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia menampik dengan keras.” (ayat 3).

    Saat hidup kita dalam dunia ini amatlah singkatnya, daerah yang kita jalani amatlah terbatas. Sedang mencoba-coba mempergunakan umur, meresek meraba ke kiri-kanan, tiba-tiba umur telah habis. Mana yang telah pergi.tidak dapat diulangi lagi. Sebab itu maka segala tingkah laku, baik perbuatan atau ucapan hendaklah ditakar sebaik-baiknya.
    “AI-Laghwi” dari kata “Laghoo”, artinya perbuatan atau kata-kata yang tidak ada faedahnya, tidak ada nilainya. Baik senda-gurau atau main-main yang tak ada ujung pangkalnya.

    Kalau perbuatan atau tingkah laku atau perkataan sudah banyak yang percuma dan sia-sia, peribadi tidak jadi naik, melainkan turun kembali. Maka kekuatan peribadi yang telah didapat dengan sembahyang khusyu` haruslah di pelihara dengan mengurangi garah, senda-gurau, berjudi walaupun tak ber­taruh. Di dalam satu majlis besar, peribadi dapat diukur menurut nilai tingkah faku dan ucapan. Sebagaimana pepatah orang Arab :

    “Barangsiapa yang banyak main-main, dipandang orang ringanlah nilai dirinya. “

    Diserahkanlah kepada setiap peribadi menimbang sendiri mana yang logha, perbuatan atau kata-kata yang sia-sia dan mana yang berfaedah. Ke­kuatan ibadat kepada Ilahi, kekhusyu’an dalam sembahyang yang akan meng ansur pembersihan jiwa kita. Apabila jiwa telah mulai bersih, dia berkilat ber­cahaya, dia akan menerima cahaya pula.

    Agama tidak melarang suatu perbuatan kalau perbuatan itu tidak merusak jiwa. Agama tidak menyuruh, kalau suruhan itu tidak akan membawa selamat dan bahagia jiwa. Segala yang dinamai dosa, atau lagha. Segala perbuatan yang di luar dari kebenaran, artinya yang salah, tidaklah ada hakikatnya.

    Gangguan terlalu lebih banyak dari kiri-kanan kita, kita harus membentengi diri dan tidak menoleh ke kiri-kanan. Kita harus jalan terus, sebab berhenti sejenak saja pun artinya ialah kerugian. Sebab itu jika dengan menampik segala sikap sia-sia dan percuma, adalah menjaga peribadi itu dari keruntuhan. Renungkanlah dan fikirkan betapa singkatnya kesempatan dalam dunia ini akan melukiskan nilai dari kehidupan itu. Laksana putik kita telah tumbuh, di waktu masih putik rasa belum ada. Dari putik menuju jadi buah yang muda, kalau masih buah muda rasanya masih masam. Kalau sudah tua dan masak, itu­lah alamat bahwa tempoh buat tanggal dari tampuk sudah amat dekat.

    Kalau sudah demikian tempoh sudah amat sedikit itu akan dibuang-buang dengan perbuatan sia-sia. Padahal kalau tempoh yang sedikit itu dapat dipergunakan dengan perhitungan yang baik dan tepat, umur diperpanjang dengan jasa dan buah tangan. Sehingga walaupun telah hancur tulang dalam kubur namun sebutan masih ada. “Sebutan adalah usia manusia yang kedua kali.” Dengan kedua ayat itu, ayat khusyu` dalam sembahyang dan ayat me­nampik segala perbuatan sia-sia, diri peribadi telah dapat dibangunkan dan dapat pula diberi benteng untuk menjaga jangan rusak. Karena satu bangunan yang dibangun kedua kali lebih payah dari pembangunan semula, padahal umur berjalan juga.
    Pembersihan Jiwa

    وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ

    “Dan orang-orang yang mengerjakan zakat.” (ayat 4).

    Kalau peribadi telah terbangun dan diberi benteng jangan runtuh kembali, sudahlah masanya kita menceburkan diri ke tengah pergaulan ramai. Kekuatan peribadi bukanlah maksudnya untuk menyisihkan diri dari orang banyak. Timbulnya peribadi adalah setelah dibawa ke tengah. Barang yang telah di­bawa ke tengah ialah barang yang sudah dibangun, dan dia selalu wajib di­bersihkan, digosok terus dan diberi cahaya terus. Laksana lampu listrik stroom­nya mesti selalu dialirkan, jangan dia padam di tengah gelanggang.

    Lihatlah suatu majlis yang bermandi cahaya terang. Alangkah indah campuran warna. Sebabnya ialah karena segala cahaya yang timbul dari setiap lampu telah berkumpul menjadi satu mentipta cahaya besar.
    Bersihkanlah hati itu dari sekalian penyakitnya yang akan meredupkan cahaya.
    Dengki adalah debu yang mengotori jiwa. Bakhil adalah debu yang mengotori jiwa. Dusta adalah debu yang mengotori jiwa. Benci adalah debu yang mengototi jiwa.

    Segala perangai jahat, kebusukan hati menghadapi masyarakat, semuanya adalah sebab-sebab yang menjadikan jiwa tidak dapat dibawa ke tengah. Cahaya jiwa tertutup oleh karena kesalahan pilih. Kemurnian Tauhid kepada Ilahi clan hati bersih terhadap sesama manusia adalah pengkalan dari kesucian: zakat.
    Lizzakati faa’ilun : Selalu bekerja, aktif membersihkan jiwa dan raga agar tercapai kemenangan.

    “Menanglah barangsiapa yang selalu membersihkan diri.” (al-A’la: 14)

    Yang dibersihkan bukan jiwa saja, bahkan tubuh lahir pun. Sebab yang lahir adalah cermin clan yang batin. Sebab itu sebelum mengaji r/a (rubu`) ilmu Fiqh, dibicarakan dahulu dari hal kebersihan (thoharoh) panjang lebar.

    Sebab itu maka pengeluaran Zakat harta yang telah cukup bilangannya (Nishab) clan cukup tahunnya (Haul), hanyalah sebagian saja clan usaha mem­bersihkan jiwa itu. Orang yang tidak cukup hartanya satu nishab clan belurn sampai bilangan setahun masih ada yang memberikan derma atau wakaf untuk kebaikan. Karena berasal clan kebersihan jiwanya.

    Orang yang membayar Zakat Fithrah, ukuran Zakat Fithrah hanya 3.5 liter buat satu orang. Tetapi ada orang yang mengeluarkannya Fithrah satu pikul beras, karena didorong oleh kesucian hati yang bersih daripada pengaruh bakhil, dia menjadi seorang yang dermawan.

    Marilah perhatikan dengan seksama kalimat “Fa’iluun” yang berarti mengerjakan. Mengerjakan Zakat. Sebagai tadi diketahui Surat al-Mu’minun diturunkan di Makkah dan di Makkah belum ada lagi syariat Zakat yang berarti membayarkan bilangan harta tertentu kepada yang mustahak menerirnanya. Peraturan berzakat demikian, sebagai salah satu tiang (rukun) Islam baru turun di Madinah clan perintah mengeluarkan zakat harta itu dimulai dengan kalimat: Aatu, iyi memberikan atau mengeluarkan zakat. Sedang dalam ayat ini disebut Lizzakati Faa’ilun, mengerjakan zakat. Lantaran itu jelaslah bahwa dalam ayat ini belum ada perintah mengeluarkan harta dengan bilangan ter­tentu (nishab), melainkan barulah perintah yang umum untuk bekerja keras membersihkan perangai, akhlak dan budi. Berlatih diri, sehingga kelaknya bukan harta saja yang ringan memberikannya untuk kepentingan Agama Allah, bahkan nyawa pun dikurbankan ap.abila datang waktunya.
    Kelamin Dan Rumahtangga

    وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ

    “Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereko.” (ayat 5). ”

    إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ

    Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela. ” (ayat 6).

    فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ

    “Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melanggar garis. ” (ayat 7).

    Hubungan dengan Ilahi telah diperteguh dengan sembahyang yang khusyu`.
    Dengan demikian peribadi yang kuat telah dibangunkan. Segala ting­kah laku, perbuatan dan perkataan yang sia-sia telah ditolak dan ditampak.
    Dengan demikian peribadi telah diberi benteng. Setiap waktu bekerja dan bekerja untuk menegakkan kesucian jiwa clan raga, sehingga layak masuk dalam masyarakat, memadukan cahaya terang-benderang untuk menyinari lebih luas. Tetapi semuanya itu belumlah terjamin, kalau belum tegak rumah­tangga yang kokoh. Hubungan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan yang diliputi kasih mesra. Suami-isteri yang diliputi kasih mesra dan kesetiaan dua belah pihak menimbulkan suasana suci murni, menurunkan keturunan anak-pinak yang menyambung tugas takwa kepada Ilahi.

    Hubungan suami-isteri dalam rumahtangga tegak atas “Mawaddah dan Rahimah”. Di waktu badan masih sama-sama kuat dan muda, mawaddah (kasih cinta)lah yang tertonjol. Dan kalau sudah sama-sama berumur, rahmah lah (belas kasihan) yang terkemuka. Orang tua dikhidmati oleh anak-anak. Anak percaya dan sayang kepada ibu bapaknya, karena ibu bapak tidak pernah kecurian budi oleh anak-anaknya.

    Kalau faraj (kelamin) tidak terjaga, si suami masih melantur malam mencari perempuan lain untuk menumpahkan hawanafsu di samping isterinya yang sah, kerusakanlah yang akan timbul. Jiwanya akan rusak, kesucian akan hancur sirna dan rumahtangga pecah berderai, bahkan menjadi neraka. Berapa pun uang disediakan tidaklah akan cukup. Dan apabila hawanafsu kelamin diper­turutkan, tidaklah akan berhenti di tengah jalan. Air pelembahan yang kotor itu akan diminum sampai habis, dan susah melepaskan diri clan dalamnya. Hari depan jadi gelap.

    Ada perempuan yang sabar menanggungkan perangai jahat suaminya, tetapi ada pula yang tak tahan hati. Kalau lakinya nakal, “mengapa daku tidak nakal pula”, katanya. Rumahtangga bertambah hancur, anak-anak kehilangan pegangan, penyakit jiwa, kehilangan kepercayaan di antara satu sama lain. Dan kalau sudah demikian, bangsalah yang hancur.

    Nafsu kelamin menggelora di waktu muda. Hanya kekuatan Iman ber­agama yang dapat menahannya. Sedangkan pada yang halal kalau diperturut­kan saja, orang akan cepat kehabisan kalori dan hormon, apalagi kalau berzina. Karena zina tidak dapat dilakukan satu kali. Belum sampai separuh umur, kekuatan sudah habis, belum pula kalau ditimpa penyakit kelamin.

    Islam mengizinkan beristeri lebih dari satu buat orang yang nafsu kelamin­nya amat keras. Tetapi apabila diperhatikan ayat yang mengizinkan beristeri sampai 4 itu dengan seksama, jelas bahwa bagi orang yang masih “normal” lebih baiklah beristeri satu saja. Karena beristeri banyak itu pun menyusahkan untuk mendirikan rumahtangga bahagia, hanya menimbulkan permusuhan dendam kesumat di antara orang-orang yang bermadu clan di antara anak-anak yang berlain ibu.

    Di dalam ayat ini diberi pula kekecualian yang kedua, yaitu terhadap hambasahaya yang dijadikan gundik. Ayat ini berlaku semasa perbudakan masih diizinkan. Di zaman Nabi hidup, perbudakan masih ada di dalam masya rakat durtia dan menjadi tradisi umum bangsa-bangsa zaman itu. Perbudakan telah ada sejak zaman Yunani dan Romawi, bahkan telah ada sejak jauh se­belum itu. Maka jika Nabimasih mengakui kenyataan itu, adalah hal yang wajar. Kalau terjadi perang, sedang Nabi tidak lagi memandang orang tawanan yang tidak ditebus sebagai hambasahaya, padahal negara lain yang berperang dengan dia masih berpegang kepada aturan itu, alangkah timpangnya. Orang lain ditawan oleh tentara Islam tidak diperlakukan sebagai budak dan dibebas­kan, sedangkan tawanan Muslimin masih diperlakukan demikian oleh musuh. Betapakan jadinya?

    Di akhir abad kesembilanbelas, barulah dunia sopan menghabiskar perbudakan. Di Amerika penghapusan perbudakan menimbulkan perang saudara clan penganjurnya sendiri Abraham Lincoln menjadi kurban dari cita citanya. Namun demikian peperangan yang terjadi kemudiannya sampai perang dunia kedua, tawanan perang oleh setengah negeri masih diperlakukan sebagai budak, dipekerjakan di Siberia dan lain-lain dengan amat kejam. Dan terkenallah betapa kac.au-balaunya wanita-wanita Jerman ketika tentara sekutu masuk ke negeri itu. Perbudakan tidak diadakan lagi, tetapi wanita-wanita dari bangsa yang kalah diperkosa oleh tentara pendudukan dengan tidak ada garis aturan tertentu.

    Tentara pendudukan Amerika di Jepang meninggalkan beratus ribu anak­anak di luar nikah. Adapun dalam Islam, kalau suatu negeri ditaklukkan, dan perempuan-perempuan kehilangan suami, kehilangan hartabenda, menjadi tawanan, kalau tidak dapat menebus dirinya lagi, bolehlah dia diambil menjadi budak. Dan boleh menjadi tambahan isteri dengan nikah, dan anak-anak dari hubungan perkawinan dengan budak itu rnenjadi anak Bani Abbas, termasuk Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun sendiri adalah anak dari budak yang dijadikan isteri itu .

    Sungguhpun demikian, narnun cita-cita tertinggi berakhir rumahtangga bahagia ialah isteri satu, dan habisnya perbudakan.
    Rumahtangga bahagia adalah sendi pertama dari Negara yang adil dan makmur.
    Kalau ini dilanggar, hubungan kelamin tidak lagi menurut garis kemanusiaan, dan orang telah kembali hidup seperti binatang, sehingga persetubuhan tidak mengenal lagi batas zina dan nikah, hancurlah semuanya dan orang turun ke dalam kebinatangan.

    Tugas Dan Janji

    وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ

    “Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.” (ayat 8).

    Peribadi telah dibangun dan diberi benteng, jiwa clan raga telah dibersih­kan ketika masuk dalam gelanggang masyarakat, dan rumahtangga bahagia yang terlepas clan bahaya kecabulan clan pelacuran telah ditegakkan pula, niscaya tujuan terakhir akan tercapai, yaitu negara yang adil clan makrnur.
    Dalam negara yang adil dan makmur setiap orang memikul amanatnya dengan baik.

    Amanat terbagi dua, yaitu amanat raya clan amanat peribadi. Amanat raya ialah tugas yang dipikulkan Tuhan atas perikemanusiaan seluruhnya, menjadi Khalifatullah fil-Ardhi. Amanat tidak terpikul oleh langit dan bumi dan oleh bukit dan gunung pun. Hanya hati yang Mu’min yang sanggup memikul amanat itu, karena hati Mu’min itu lebih luas daripada langit dan bumi dan lebih tinggi daripada bukit clan gunung.

    Adapun amanat peribadi ialah tugas kita masing-masing menurut kesanggupan diri, bakat dan nasib. Diingatkan oleh Tuhan bahwa tugas hidup hanyalah pembagian pekerjaan, bukanlah ke­muliaan dan kehinaan. Yang mulia di sisi Allah ialah barangsiapa yang lebih takwa kepadaNya.

    Derajat kita dihadapkan Allah sama dan kejadian kita sama, tetapi tugas terbagi. Ada pemegang pemerintahan dengan pangkat tinggi dan ada petani pemegang cangkul. Ada Bapak menteri, tetapi Bapak menteri tidak akan sampai ke kantor departer7nennya kalau tidak ada Bung Sopir.

    Ada pengusaha swasta membuka kantor besar dan ada abang tukang men­jual buah. Ada laki-laki dan ada perempuan, ada mahasiswa dan ada guru besar. Asal samasekali setia memikul tugas, adil dan makmur mesti tercapai.
    “Dan bagi tiap-tiap orang ada jurusan yang dihadapi. Sebab itu maka ber­lomba-lombalah berbuat baik. Karena di mona saja pun kamu ada, namun Allah akan mengumpulkan kamu sekalian jua.” (al-Baqarah: 148)
    Peganglah tugas amanat masing-masing dan pulanglah ke tempat itu kalau tadinya salah pilih.

    Di samping tugas sebagai amanat ada lagi janji-janji. Negara terdiri atas janji. Janji rakyat hendak tunduk clan setia, janji pemerintah hendak menegak­kan keadilan. Janji tentara dengan disiplinnya yang keras, janji bangsa dengan bangsa, janji negara dengan negara. Janji atau sumpah di parlemen, janji dan sumpah menteri ketika dilantik. Janji polisi memelihara keamanan dan berbagai lagi janji. Inilah yang akhirnya berpadu satu menjadi janji maysarakat atau kontrak sosial.
    Dari peneguhan peribadi ketuhanan, kemasyarakatan, ke rumahtangga dan akhirnya ke negara, dengan memelihara amanat clan janji. Kembali Ke Sembahyang

    وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ

    “Dan orang-orang yang memelihara dan menjaga semua waktu sembah­yangnya.” (ayat 9).

    Ya, Insya Allah tercapailah negara adil dan makmur, dengan khusyu` kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi negara bukanlah tujuan terakhir, per­kembangan selanjutnya setelah negara berdiri, masih banyak soal, problem akan diiringi oleh problem. Berhenti timbul persoalan, artinya ialah mati. Sebab itu jiwa senantiasa mesti kuat menghadapi segala soal. Maka jika dalam menuju keadilan dan kemakmuran dimulai dengan khusyu’ sembahyang, di­tutup pun oleh memelihara sembahyang.

    Dapatlah keadaan itu dirumuskan dengan inti pati kata: “Dan sernbahyang kita mulai melangkah dengan khusyu`, kita jalan terus ke muka menghadapi masyarakat, menegakkan rumahtangga clan menegakkan negara. Dan setelah negara berdiri kita bertekun lagi memelihara hubungan dengan Ilahi, dengan sembahyang, moga-moga kita selalu diberi kekuatan untuk menghadapi soal­soal yang ada di hadapan kita. Atau dari Mesjid kita melangkah kekuatan baru ke mesjid.
    Dengan itu kita sebagai Mu’min diberi janji pasti oleh Tuhan bahwa kita akan menang.
    Itulah sebabnya maka setiap memanggil sembahyang lima waktu diseru­kan “Hayya `alal Falaah” (Mari berebut kemenangan).
    Kemenangan sebagai UMMAT yang berarti dalam dunia, ummaton wasathon, tegak di persimpangan jalan hidup memberikan panduan atas seluruh isi alam. Dan kemenangan lagi di akhirat.

    أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ

    “Mereka itulah yang akan mewarisi. ” (ayat 10).

    ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ

    “Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya.” (ayat 11).

    Syurga Firdaus, Jannatun Na’im, itulah tujuan di balik hidup sekarang ini. Hidupnya seorang Mu’min adalah mengenangkan juga kebahagiaan “Hari Esok”. Kita menyelesaikan dunia untuk menentukan nasib di akhirat. Bagi Mu’min, negara itu bukanlah semata negara duniawi, atau sculer. Bagi Mu’min amal usaha, derma dan bakti di dalam hidup adalah bekal untuk akhirat. Kadang-kadang tidaklah tercapai seluruhnya cita yang besar. Hidup kalau tidak ada pengharapan lanjut, adalah kebuntuan belaka. Kadang-kadang kita telah berjuang dengan ikhlas, untuk masyarakat, untuk rumahtangga dan untuk negara.

    Tetapi tidaklah selalu berjumpa apa yang kita harapkan. Rencana Ilahi yang lebih tinggi berbeda dengan rencana kita sendin. Tuhan yang tahu, dan kita tak tahu. Kadang-kadang khittah pertama gagal aiau kita terbentur. Tetapi tidaklah kita mengenal putusasa, sebab kita mempunyai kepercayaan akan “hari esok”.

    Alam fikiran yang bersendi atas kebenaran dan kepercayaan tidaklah mengenal umur dan tidaklah mengenal jangka waktu. Lantaran kepercayaan akan hari esok itu, seorang Mu’min tidaklah cemas kalau dia menutup mata sebelum cita-cita tercapai. Karena dia mempunyai keyakinan bahwa akan ada yang meneruskan usahanya. Dan dia pun matt dengan bibir tc:rsenyum simpul karena yakin akan kebenarannya dan yakin pula bahwa dia akan mewarisi Jannatul Firdaus, dan akan kekal selamanya di dalarnnya.
    Alangkah sempitnya hidup kalau tidak lapang cita-cita

    Akhlak Nabi

    Diriwayatkan orang bahwa beberapa orang sahabat pemah bertanya kepada Ibu orang yang beriman, Siti Aisyah r a. isteri beliau tentang hagaimana Akhlak Nabi kita. Aisyah telah menjawab: “Akhlak beliau adalah al-Quran, kemudian itu beliau baca ayat-ayat Surat al-Mu’minun ini, sejak ayat pertama Qad Aflahal Mu’minun, sampai ayat “dan orang-orang yang rnerneliliara akan sembahyang nya” itu.
    Dan beliau (Siti Aisyah) berkata lagi: “Segitulah Akhlak Rasulullah s.a.w.”


    Dan begitu pulalah akhlak kita hendaknya.


    01   02   03    04    05   06   07   08   09  10   11  12  13  14  15   16  17  18  19  20  21

    BACK MAIN PAGE .   >>>>

     
    • wikki 4:04 pm on 23/08/2012 Permalink | Reply

      yang pasti apapun usaha muslim bagaimanapun ….perjuanganya…. berapapun amal ibadahnya ,…baik suci maupun najis ..tetap sudah ditetapkan berahir dineraka..sudah merupakan ketetapan..yang tak bisa dirubah rubah Q.19;71-72

      • SERBUIFF 6:25 am on 24/08/2012 Permalink | Reply

        lu baca harus adari awal dan akhir, satu kesatuan jangan main penggal ayat aja, ….maklum sih para gembong iif memang doyan mainnya begitu….

        Baca ini

        19. Maryam

        67. Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?
        19. Maryam

        68. Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut

        19. Maryam

        69. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
        19. Maryam

        70. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.

        19. Maryam

        71. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

        19. Maryam

        72. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.

        Keterangan :

        di ayat 67 jelas dikatakan manusia bukan kaum muslim saja, …semua manusia….
        kemudian di ayat 69 dari manusia tsb di seleksi lagi mereka2 yg sangat durhaka, yg nggak durhaka tidak akan dipilih…..

        diayat 71 ada tertulis mendatangi, memang benar semua manusia akan mendatangi neraka, mendatangi bukan berarti semua masuk kedalam neraka, karena nanti ada yg masuk kedalam neraka, ada yg tidak masuk kedalam neraka yaitu mereka yg selamat menjalani jembatan shirath…

        lalu diayat 72 Allah menegaskan bahwa orang2 bertaqwa akan diselamatkan dan dilindungi dari api neraka sedang orang zalim masuk dalam neraka ……..

  • SERBUIFF 4:18 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Teks Asli Piagam Madinah beserta Terjemah Per Pasal   

    Teks Asli Piagam Madinah beserta Terjemah Per Pasal 

    Teks Asli Piagam Madinah beserta Terjemah Per Pasal (صحيفة المدينة)

    Piagam Madinah (Bahasa Arab: صحیفة المدینه, shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) pada tahun 622. Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah. (http://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Madinah)

     

    صحيفة المدينة
    (Piagam Madinah)
    بسم الله الرحمن الرحيم
    هذا كتاب من محمد النبي صلىالله عليه وسلم بين المؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب ومن تبعهم فلحق بهم وجاهد معهم.
    Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
    Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah SAW, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal dari) Quraisy  dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.
    ١. انهم امة واحدة من دون الناس.
    Pasal 1
    Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komuitas) manusia lain.
    ٢. المهاجرون من قر يش على ربعتهم يتعاقلون بينهم اخذالدية واعطائها وهم يفدون عانيهم بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 2
    Kaum muhajirin dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.
    ٣. وبنوعوف على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 3
    Banu Auf sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.
    ٤. وبنوساعدة علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 4
    Banu Sa’idah sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.
    ٥. وبنو الحرث على ربعتهم يتعاقلون الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 5
    Banu Al-Hars sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.
    ٦. وبنوجشم علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 6
    Banu Jusyam sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.
    ٧. وبنو النجار علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 7
    Banu An-Najjar sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.
    ٨. وبنو عمرو بن عوف علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 8
    Banu ‘Amr bin ‘Awf sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.
    ٩. وبنو النبيت علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 9
    Banu Al-Nabit sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.
    ١٠. وبنو الاوس علىربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدى عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين
    Pasal 10
    Banu Al-‘Aws sesuai dengan keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.
    ١١. وان المؤمنين لايتركون مفرجا بينهم ان يعطوه بالمعروف فى فداء اوعقل.
    Pasal 11
    Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang yang berat menanggung utang diantara mereka tetapi membantunya dengan baik dalam poembayaran tebusan atau diat.
    ١٢. ولا يحالـف مؤمن مولى مؤمن دونه.
    Pasal 12
    Seorang mukmin tidak diperbolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya tanpa persetujuan dari padanya.
    ١٣. وان المؤمنين المتقين على من بغى منهم او ابتغى د سيعة ظلم اة اثم اوعدوان او فساد بين المؤمنين وان ايديهم عليه جميعا ولو كان ولد احدهم.
    Pasal 13
    Orang-orang mukmin yang taqwa harus menentang orangyang diantara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara zalim , jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.
    ١٤. ولا يقتل مؤمن مؤمنا فى كافر ولا ينصر كافرا على مؤمن.
    Pasal 14
    Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran membunuh orang kafir. Tidak boleh pula orang beriman membantu orang kafir untuk (membunuh)  orang beriman.
    ١٥. وان ذمة الله واحدة يحيد عليهم اد ناهم وان المؤمنين يعضهم موالي بعض دون الناس.
    Pasal 15
    Jaminan Allah satu. Jaminan (perlindungan) diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu, tidak bergantung kepada golongan lain.
    ١٦. وانه من تبعنا من يهود فان له النصر والاسوة غير مظلومين ولا متناصر عليهم.
    Pasal 16
    Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang olehnya.
    ١٧. وان سلم المؤمنين واحدة لا يسالم مؤمن دون مؤمن في قتال في سبيل الله الا على سواء وعدل بينهم.
    Pasal 17
    Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.
    ١٨. وان كل غازية غزت معنا يعقب بعضها بعضا.
    Pasal 18
    Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu membahu satu sama lain.
    ١٩. وان المؤمنين يبئ بعضهم على بعض بـمانال دماءهم فىسبيل الله وان المؤمنين والمتقين على احسن هدى واقومه.
    Pasal 19
    Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertakwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.
    ٢٠. وانه لايجير مشرك مالا لقر يش ولانفسا ولايحول دونه على مؤمن.
    Pasal 20
    Orang musyrik (Yatsrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh bercampur tangan melawan orang beriman.
    ٢١. وانه من اعتبط مؤمنا قتلا عن بينة فانه قودبه الا ان يرضى ولي المقتول وان المؤمنين عليه كافة ولايحل لهم الاقيام عليه.
    Pasal 21
    Barang siapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.
    ٢٢. وانه لا يحل لمؤمن أقر بما فى هذه الصحيفة وآمن بالله واليوم الآخر ان ينصر محدثا ولا يـؤوية وانه من نصره او آواه فان عليه لعنة الله وغضبه يوم القيامة ولايـؤخذ منه صرف ولاعدل.
    Pasal 22
    Tidak dibenarkan orang mukmin yang mengakui piagam ini, percaya pada Allah dan Hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan dan menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dari Allah pada hari kiamat, dan tidak diterima dari padanya penyesalan dan tebusan.
    ٢٣. وانكم مهما اختلفتم فيه من شيئ فان مرده الى الله عزوجل والى محمد صلى الله عليه وسلم
    Pasal 23
    Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah Azza Wa Jalla dan (keputusan) Muhammad SAW.
    ٢٤. وان اليهود ينفقون مع المؤمنين ماد اموا محاربين
    Pasal 24
    Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.
    ٢٥. وان يهود بني عوف امة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وانفسهم الا من ظلم واثم فانه لا يـوتخ الا نفسه واهل بيته.
    Pasal 25
    Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga.
    ٢٦. وان ليهود بنى النجار مثل ماليهود بنى عوف
    Pasal 26
    Kaum Yahudi Banu Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
    ٢٧. وان ليهود بنى الحرث مثل ماليهود بنى عوف
    Pasal 27
    Kaum Yahudi Banu Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
    ٢٨. وان ليهود بنى ساعدة مثل ماليهود بنى عوف
    Pasal 28
    Kaum Yahudi Banu Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
    ٢٩. وان ليهود بنى جشم مثل ماليهود بنى عوف
    Pasal 29
    Kaum Yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
    ٣٠. وان ليهود بنى الاوس مثل ماليهود بنى عوف
    Pasal 30
    Kaum Yahudi Banu Al-‘Aws diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
    ٣١. وان ليهود بنى ثعلبة مثل ماليهود بنى عوف الامن ظلم واثم فانه لا يوتخ الانفسه واهل بيته.
    Pasal 31
    Kaum Yahudi Banu Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
    ٣٢. وان جفنه بطن ثعلبه كأ نفسهم
    Pasal 32
    Kaum Yahudi Banu Jafnah dari Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
    ٣٣. وان لبنى الشطيبة مثل ماليهود بنى عوف وان البر دون الاثم
    Pasal 33
    Kaum Yahudi Banu Syutaibah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Awf.
    ٣٤. وان موالي ثعلبه كأنفسهم
    Pasal 34
    Sekutu-sekutu Sa’labah diperlakukan sama seperti mereka (Banu Sa’labah).
    ٣٥. وان بطانة يهود كأنفسهم
    Pasal 35
    Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi).
    ٣٦. وانه لا يخرج احدمنهم الا باذن محمد صلىالله عليه وسلم وانه لا ينحجرعلى ثار جرح وانه من فتك فبنفسه فتك واهل بيته الا من ظلم وان الله على ابرهذا.
    Pasal 36
    Tidak seorang pun dibenarkan (untuk berperang), kecuali seizin Muhammad SAW. Ia tidak boleh dihalangi  (menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesunggunya Allah sangat membenarkan ketentuan ini.
    ٣٧. وان على اليهود نفقتهم وعلى المسلمين نفقتهم وان بينهم النصرعلى من حارب اهل هذه الصحيفة وان بينهم النصح والنصيحة والبر دون الاثم وانه لم يأثم امرؤ بـحليفه وان النصر للمظلوم.
    Pasal 37
    Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya dan bagi mauk muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan muslimin) bantu membantu dalam menghadapi musuh piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasehat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.
    ٣٨. وان اليهود ينفقون مع المؤمنين مادا موا محاربين.
    Pasal 38
    Kaum Yahudi memikul bersama mukiminin selama dalam peperangan.
    ٣٩. وان يثرب حرام جوفهالاهل هذه الصحيفة.
    Pasal 39
    Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya haram (suci) bagi warga piagam ini.
    ٤٠. وان الجار كالنفس غير مضار ولااثم.
    Pasal 40
    Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.
    ٤١. وانه لا تجارحرمة الا باذن اهلها
    Pasal 41
    Tidak boleh jaminan diberikan kecuali seizin ahlinya.
    ٤٢. وانه ما كان بين اهل هذه الصحيفة من حدث واشتجار يخاف فساده فان مرده الى الله عزوجل والى محمد صلىالله عليه وسلم وان الله على اتقى ما فى هذه الصحيفة وابره.
    Pasal 42
    Bila terjadi suatu persitiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah Azza Wa Jalla, dan (keputusan) Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi piagam ini.
    ٤٣. وانه لاتجار قريش ولا من نصرها
    Pasal 43
    Sungguh tidak ada perlindungan bagi Quraisy (Mekkah) dan juga bagi pendukung mereka.
    ٤٤. وان بينهم النصر على من دهم يثرب.
    Pasal 44
    Mereka (pendukung piagam) bahu membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib.
    ٤٥. واذا دعوا الى صلح يصالحونه (ويلبسونه) فانهم يصالحونه ويلبسونه وانهم اذا دعوا الى مثل ذلك فانه لهم علىالمؤمنين الا من حارب فى الدين على كل اناس حصتهم من جابنهم الذى قبلهم.
    Pasal 45
    Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksankan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.
    ٤٦. وان يهود الاوس مواليهم وانفسهم على مثل مالاهل هذه الصحيفة مع البر الحسن من اهل هذه الصحيفة وان البر دون الاثم.
    Pasal 46
    Kaum Yahudi Al-‘Aws, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (pengkhianatan). Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi piagam ini.
    ٤٧. ولا يكسب كاسب الاعلى نفسه وان الله على اصدق فى هذه الصحيفة وابره وانه لا يحول هذا الكتاب دون ظالم وآثم. وانه من خرج آمن ومن قعد آمن بالمدينة الا من ظلم واثم وان الله جار لمن بر واتقى ومحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم
    Pasal 47
    Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan takwa. Dan Muhammad Rasulullah SAW
    مقتطف من كتاب سيرة النبي ص.م. الجزء الـثانى ص 119-133 لابن هشام (أبى محمد عبد المـلك) المتوفى سنة 214 هـ.
    Dikutip dari kitab Siratun-Nabiy saw., juz II, halaman 119-133, karya Ibnu Hisyam (Abu Muhammad Abdul malik) wafat tahun 214 H.

     


    [1] “Muhammad”, Encyclopedia of Islam Online

    [2] Watt. Muhammad at Medina and R. B. Serjeant “The Constitution of Medina.” Islamic Quarterly 8 (1964) p.4.

    http://menjadihebat.blogspot.com/2012/05/teks-asli-piagam-madinah-beserta.html

     
    • wikki 5:03 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

      dan untuk membatalkan ini muhammad membuat jurus fitnah.

      • SERBUIFF 12:05 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        Yang membatalkan itu kaum yahudi ….mereka yg pertama kali penctusnya…

  • SERBUIFF 1:24 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: TEKS PERJANJIAN DENGAN ORANG ORANG YAHUDI   

    TEKS PERJANJIAN DENGAN ORANG ORANG YAHUDI 

    TEKS PERJANJIAN DENGAN ORANG ORANG YAHUDI

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat perjanjian antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Dalam perjanjian tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerangi orang orang Yahudi, membuat perjanjian dengan mereka, mengakui agama dan harta mereka dan membuat persyaratan bagi mereka. Teks perjanjian adalah sebagai berikut:

    B i s m i I I a h i r r a h m a a n i r r a h i m

    ini adalah tulisan dari Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam untuk kaum Mukminin dan kaum Muslimin dari Quraisy dan Yatsrib, orang orang yang bergabung dengan mereka dan berjuang bersama mereka. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu dan berbeda dengan manusia yang lain. Kaum Muhajitin dari Quraisy tetap dalam tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, mereka membayar diyat (ganti rugi pembunuhan, atau pencideraan) kepada sebagian yanq lain, menebus tawanan mereka dengan cara yang baik dan adil kepada kaum Mukminin. Bani Auf tetap dalam tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain seperti dulu dan setiap kelompok menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil kepada kaum Mukminin. Bani Saidah tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat seperti sebelumnya, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil kepada manusia.  Bani Al Harts tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil kepada manusia. Bani An Najjar tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain, setiap kelompok dari mereka menebus tawanan dengan cara yang baik dan adil kepada manusia. Bani Amr bin Auf tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain seperti sebelumnya, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik, adil kepada manusia. Bani Al Aus tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain seperti sebelumnya, setiap kelompok dari mereka menebus tawanamya dengan cara yang baik dan adil kepada manusia. Kaum Mukminin tidak boleh menelantarkan mufrah (orang yang mempunyai hutang banyak dan mempunyai tanggungan keluarga yang banyak) dan mereka, harus memberinya uang untuk penebusan tawanan atau pernbayaran diyat dengan cara yang baik. Orang Mukmiin tidak boleh bersekutu dengan mantan budak orang Mukmin tanpa melibatkan rnantan pemilik budak tersebut. Sesungguhnya kaum Mukminin yang bertakwa itu bersatu dalam menghadapi orang yang berbuat aniaya terhadap mereka atau orang yang menginginkan kedzaliman besar, atau dosa, atau permusuhan, atau kerusakan terhadap kaum Mukminin. Orang Mukmin tidak boleh membunuh orang Mukmin yang membunuh orang kafir dan orang Mukmin tidak boleh membantu orang kafir dalam menghadapi orang Mukmin. Sesmgguhnya tapggungan Allah itu satu. Orang yang terlemah di antara mereka diberi perlindungan dan sesungguhnya orang orang Mukminin adalah pendukung bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara orang Yahudi mengikuti kami, ia berhak mendapatkan pertolongan, kebersamaan, mereka, tidak didzalimi dan mereka tidak boleh dikalahkan. Sesungguhnya perdamaian kaum Mukminin itu satu; orang Mukmin tidak boleh berdamai dengan selain orang Mukrnin dalam perang di jalan Allah kecuali atas dasar persamaan dan keadilan di antara mereka. Semua pasukan yang berperang bersama kami itu dating secara bergantian. Sesungguhnya sebagian kaum Mukminin dibunuh karena mereka membunuh sebagian kaum Mukminin yang lain. Sesungguhnya kaum Mukminin yang bertakwa berada pada petunjuk yang paling baik dan paling lurus. Sesungguhnya orang musyrik tidak boleh melindungi harta orang Quraisy atau jiwa mereka dan tidak boleh pindah kepadanya untuk menghadapi orang Mukmin. Barangsiapa membunuh orang Mukrnin tanpa dosa dan bukti, ia dibunuh karenanya terkecuali jika keluarga korban memaafkannya. Sesungguhnya kaum Mukminin bersatu dalam menghadapinya dan mereka harus menegakkan hukum terhadap orang tersebut. Sesungguhnya orang Mukmin yang beriman kepada isi perjanjian ini, beriman kepada Allah dan beriman kepada Hari Akhir haram membela. pelaku bid’ah dan melindunginya. Barangsiapa membela pelaku bid’ah atau melindunginya, ia mendapatkan kutukan Allah dan murka Nya pada Hari Kiamat. Tebusan tidak boleh diambil daripadanya. Jika kalian berselisih dalam salah satu persoalan, tempat kembalinya ialah Allah Azza wa Jalla dan Muhammad Shallahu Alahi wa Sallam. Sesungguhnya orang orang Yahudi juga terkena kewajiban pendanaan jika mereka sama sama diperangi musuh. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Auf satu urnat bersama kaum Mukminin. Bagi orang orang Yahudi agama mereka dan bagi kaum Mukminin agama mereka. Budak budak mereka dan jiwa mereka (terlindungi), kecuali orang yang berbuat dzalim dan berbuat dosa, ia tidak menghancurkan siapa siapa selain dirinya sendiri dan keluarganya. Sesungguhnya orang orang Yahudi Bani An Najjar merniliki hak yang sama dengan orang orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang orang Yahudi  Bani Al Harits mempunyai hak yang sama derigan orang orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang orang Yahudi Bani Saidah mempunyai hak yang sama derigan hak orang orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Jusyam memiliki hak yang sama dengan orang orang Bani Auf. Sesungguhnya orang orang    Yahudi Bani Al Aus memiliki hak yang sarna demgan hak orang orang    Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang orang Yahudi Bani Tsalabah memiliki hak yang sama demgan hak orang orang Yahudi Bani Auf, kecuali orang yang berbuat dzahm dan berbuat dosa, ia tidak menghancurkan siapa  siapa selain dirinya sendiri dan keluarganya. Sesungguhnya Jafnah, salah satu kabilah darl Tsa’labah sama seperti mereka. Sesungguhnya orang orang Yahudi Bani As Suthaibah mempunyai hak yang sama dengan hak orang orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya kebalkan itu seyogyanya menghalangi seseorang dari keburukan. Sesungguhnya budak orang orang Tsalabah sama seperti mereka. Sesungguhnya keluarga, orang orang Yahudi sama seperti mereka. Seorang pun dari orang orang Yahudi tidak boleh keluar dari Madinah kecuali atas izin Muhammad Shallallahu Alahi wa Saffam. Barangsiapa membunuh, ia membunuh dirinya sendiri dan keluarganya, kecuali orang yang didzalimi, sesungguhnya Allah hendak menolak kedzaliman dan dirinya. Sesungguhnya orang orang Yahudi terkena kewajiban pembiayaan (infak) dan kaum Muslimin juga terkena kewajiban pembiayaan (infak), serta mereka semua berkewajiban memberikan pembelaan terhadap siapa saja yang memerangi orang orang yang terikat demgan perjanjian ini. Nasihat dan kebaikan harus dijalankan di tengah tengah mereka. Seseorang tidak boleh berbuat Jahat terhadap sekutunya dan pembelaan (pertolongan) harus dibenkan kepada orang gang dicizalimi. Sesungguhnya orang  orang Yahudi wajib bennfak bersama kaum Mukminin jika mereka diperangi musuh. Sesungguhnya Yatsrib haram bagi orang yang berada dalam pedanjian ini. Sesungguhnya tetangga itu seperti jiwa; !a tidak boleh diganggu dan tidak boleh disakiti. Sesungguhnya kehormatan itu tidak boleh dilanggar kecuali atas izin pemiliknya. Jika pada orang orang yang berada dalam perjanjian ini terhadap kasus atau konflik yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan, maka tempat kembalinya ialah kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya Allah sangat mampu menjaga perjanjian ini. Sesungguhnya orang orang Quraisy tidak boleh dilindungi begitu juga orang-orang yang menolong mereka. Sesungguhnya orang orang yang terikat demgan perjanjian ini berkewajiban memberikan pertolongan (pembelaan) melawan siapa saia yang bermaksud menyerang Yatsrib. Jika mereka diajak berdamai dan bersahabat, mereka harus berdamai dan bersahabat. Jika mereka diajak kepada hal tersebut, mereka mempunyai hak atas kaum Mukminin kecuah terhadap orang orang yang memerangi agama. Setiap manusia mempunyai bagian terhadap mereka sendiri seperti sebelumnya. Sesungguhnya orangorang Yahudi Al Aus; budak budak mereka dan jiwa mereka mempunyai hak yang sama dengan orang orang yang berada dalam perjanjian ini, termasuk berbuat baik kepada orang orang yang berada. dalam perjanjian ini. Sesungguhnya kebaikan itu berbeda dengan keburukan. Jika seseorang mengeerjakan sesuatu, itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah membenarkan isi perjanjian ini dan meridhainya. Barangsiapa keluar dari Madinah, ia aman. Barangsiapa menetap di Madinah, ia aman, kecuali orang yang berbuat dzalim dan berbuat dosa. Sesungguhnya Allah melindungi orang berbuat baik dan orang yang bertakwa, serta Muhammad adalah Rasullah (utusan Allah) Shallallahu Alaihi wa Sallam

     

    Ref : Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam al Muafiri (Ibnu Hisyam)

    http://rumahislam.com/nabi-dan-rasul/116-muhammad-saw/354-teks-perjanjian-nabi-saw-dengan-yahudi.html

    =======================

    Sunday, June 20th, 2010 | Posted by mufias

    PERJANJIAN DENGAN YAHUDI

    Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah, dan Baginda yakin dengan kekemasan struktur masyarakat baru Islam, dengan tertegaknya kesatuan akidah, politik dan sistem di kalangan umat Islam, Baginda mengalih pandangan untuk menyusun hubungannya dengan golongan “bukan Islam”, tujuan Baginda ialah untuk mewujudkan keamanan, kesejahteraan, kemuliaan dan kebaikan kepada manusia sejagat, di samping menyusun semula daerah al-Madinah dalam satu keharmonian hidup yang tulin, ke arahnya Baginda menggariskan peraturan-peraturan yang bersifat anjal dan toleransi yang belum pernah dinikmati oleh dunia, yang penuh dengan sikap kefanatikan dan ego.

    Golongan bukan Islam yang mendampingi Madinah diketika itu ialah golongan Yahudi, sepertimana yang telah kita perkatakan terlebih dahulu, mereka meskipun memendam perseteruan terhadap Islam, namun setakat ini mereka belum lagi memperlihatkan sebarang penentangan atau permusuhan, justeru itu Rasulullah memeteraikan perjanjian dengan mereka dengan memberi kemerdekaan penuh dalam soal agama dan kewangan. Rasulullah langsung tidak mengambil tindakan politik untuk berseteru, menghalau atau merampas harta-harta mereka. Perjanjian yang dimeteraikan itu adalah di antara kandungan perjanjian kaum muslimin sesama mereka, yang telah pun kita perkatakan.

    BUTIRAN PERJANJIAN

    1. Bahawa kaum Yahudi dari banu Auf adalah satu umat bersama orang-orang mukmin, mereka bebas dengan agama mereka sendiri, dan orang-orang Islam dengan agama mereka, begitu juga orang-orang yang bersekutu dengan mereka, termasuk juga diri mereka sendiri, perkara ini juga untuk bukan Yahudi Banu Auf sahaja.

    2. Bahawa orang-orang Yahudi hendaklah membiayai negara seperti mana orang-orang Islam juga hendaklah membiayai negara.

    3. Maka hendaklah mereka sama-sama tolong menolong menentang sesiapa jua yang memerangi orang-orang yang menganggotai piagam ini.

    4. Maka hendaklah mereka saling nasihat menasihati, saling membuat kebajikan dan bukan dosa.

    5. Mana-mana orang tidaklah boleh dianggap bersalah kerana kesalahan yang dilakukan oleh sekutunya.

    6. Dan pertolongan hendaklah diberi kepada orang yang kena zalim.

    7. Bahawa orang-orang Yahudi hendaklah bersepakat dengan orang-orang mukmin selama mana mereka tidak berada dalam keadaan perang.

    8. Bahawa Kota Yathrib adalah terpelihara sepenuhnya tidak boleh dicerobohi oleh mana-mana pihak yang menganggotai piagam ini.

    9. Bahawa apa juga kemungkaran (bunuh) atau apa juga pertelingkahan di antara sesama peserta piagam ini sekiranya di khuatiri membawa kepada bencana maka hendaklah dirujuk kepada hukum Allah dan kepada penyelesaian oleh Muhammad Rasulullah (s.a.w).

    10. Bahawa tidaklah boleh di beri perlindungan kepada Quraisy (musuh) begitu juga tidak boleh di beri perlindungan kepada orang-orang yang membantunya.

    11. Bahawa hendaklah ada janji bantu-membantu mempertahankan kota Yathrib daripada mana-mana pihak yang mencerobohinya. Setiap pihak adalah berkewajipan mengambil bahagian masing-masing tentang satu-satu perdamaian.

    12. Bahawa piagam ini tidak boleh di pakai bagi melindungi orang-orang zalim dan yang bersalah.

    Dengan termeterainya perjanjian ini maka Madinah dan persekitarannya menjadi sebuah negara yang aman dan damai. Ibu negerinya adalah al-Madinah, pemimpinnya adalah Rasulullah (s.a.w.), kata-kata pemutus dan kekuasaan yang tertinggi adalah kaum muslimin. Dengan itu maka al-Madinah menjadi sebuah ibu negara Islam dengan erti kata yang sebenarnya. Dan untuk memperluaskan daerah keamanan dan kesejahteraan ini di masa hadapan, maka Rasulullah mengadakan perjanjian dengan qabilah-qabilah yang lain berdasarkan keadaan dan suasana, sepertimana yang diperkatakan nanti.

    http://dakwah.info/seerah-nabawiyah/perjanjian-dengan-yahudi/

     
    • wikki 11:01 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

      masalahnya perjanjian ini dibuat oleh sepihak.

    • SERBUIFF 11:50 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

      sepihak bagaimana wong semua terlibat dan setuju kok …….. tujuan utama piagam madinah untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah.

      Piagam Madinah (Bahasa Arab: صحیفة المدینه, shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) pada tahun 622.[1][2] Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah.

      http://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Madinah

    • wikki 4:33 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

      Sejarahwan Muslim Pakistan dan ahli tafsir Qur’an dan pencetus ide kebangkitan Islam, Maududi, mengisahkan sebagai berikut: “Beberapa lama setelah penjatuhan hukuman (pengusiran suku Qainuqa’ dan pembunuhan sejumlah penyair Yahudi), orang-orang Yahudi terus dicekam rasa ketakutan dan mereka tidak berani lagi bertindak. Namun kemudian di bulan Shawaal, tahun ketiga Hijrah, kaum Quraish dengan persiapan yang matang membalas dendam atas kekalahan mereka di Badr terhadap Medinah, dan orang-orang Yahudi melihat hanya ada beberapa ribu orang yang berperang dengan Nabi Suci (saw) melawan tiga ribu orang Quraish, dan malah 300 orang munafik melarikan diri kembali ke Medinah. Pengikut Abdullah ibn Ubayy, kepala suku Khazraj adalah yang pertama-tama melanggar persetujuan perdamaian dengan menolak bergabung dengan Nabi Suci membela kota tersebut walaupun mereka terikat perjanjian untuk melakukannya.”

      Sangatlah menakjubkan bahwa kaum Muslim berpikir bahwa orang-orang Yahudi terikat perjanjian untuk membantu Muhammad bertarung dalam perang agama melawan orang-orang Mekah, walaupun dia teah mengusir salah satu suku mereka (Yahudi) dan telah membunuh kepala suku mereka dan dua penyair mereka. Perang antara Muhammad dan orang-orang Quraish tidak ada hubungannya dengan orang Yahudi, dan dengan membunuh orang-orang Yahudi dan mengusir Banu Qainuqa’, Muhammd telah melanggar perjanjian perdamaian dengan mereka. Dan masih juga, untuk membenarkan kelakukan bejadnya, pembela Islam menyalahkan orang Yahudi dengan menuduh mereka melanggar perjanjian.

      Muhammad sekarang sedang mencari alasan untuk mengusir Banu Nadir. Mereka memiliki tanah pertanian terbaik di Yathrib dan taman-taman penuh pohon kurma dan mempekerjakan banyak orang Arab. Karena itu beberapa Muslim, yang berkat jasa Muhammad telah menjadi bandit ulung, membunuh dua orang dari Banu Kalb. Suku ini telah menandatangani perjanjian damai dengan Muhammad, di mana pengikut-pengikut Muhammad tidak boleh merampok atau membunuh mereka dan sebagai gantinya akan mendapat dukungan dari mereka. Para pembunuh itu mengira korban mereka adalah dari suku lain. Seperti yang digariskan tradisi, Muhammad harus membayar ganti rugi uang darah atas pertumpahan darah ini. Walaupun telah diperkaya dengan harta rampokan dari Banu Qainuqa’, sang Nabi pergi menghadap Banu Nadir dan meminta mereka turut membantu membayar uang darah itu sebagai bagian dari perjanjian damai. Ini adalah permintaan yang keterlaluan dan Muhammad mengharap Banu Nadir akan menolak, dan itu akan memberi dia alasan untuk memperlakukan mereka sebagaimana dia telah memperlakukan Banu Qainuqa’. Namun Banu Nadir terlalu takut untuk menolak permintaan tidak adil itu. Mereka setuju untuk membantu dan bubar untuk mengumpulkan uang. Muhammad dan teman-temannya duduk di bawah dinding, menunggu. Ini bukanlah apa yang direncanakan Muhammad. Dia telah datang membawa permintaan yang sangat tidak adil dengan harapan akan menerima reaksi negatif dan karenanya dapat melaksanakan rencana busuknya. Sekarang dia harus membuat strategi baru.

      Tiba-tiba dia mendapat “inspirasi” baru. Dia berdiri dan tanpa mengucap sepatah katapun kepada para pengikutnya, dia meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah. Ketika para pengikutnya menanyainya kemudian, dia berkata bahwa malaikat Jibril memberitahu dia bahwa orang-orang Yahudi bersekongkol untuk menjatuhkan batu ke kepalanya dari atas dinding di mana mereka sedang duduk. Dengan alasan ini dia mulai menyiapkan serangannya atas Banu Nadir.

      Tidak ada satupun pengikut Muhammad yang melihat orang memanjat dinding itu atau mendengar rencana pengancaman jiwa mereka. Namun orang-orang ini yang telah banyak mendapat keuntungan keuangan dengan mengikuti dia, percaya apa saja yang dikatakannya, tidak punya alasan ataupun kehendak untuk meragukan apa yang dikatakannya.

      Orang berakal yang mana saja bisa melihat kemustahilan cerita Muhammad. Jika Banu Nadir benar-benar mau dan berani membunuhnya, mereka tidak perlu memanjat dinding untuk menjatuhkan batu. Muhammad hanyalah didampingi segelintir pengikutnya, Abu Bakr, Omar, Ali dan mungkin satu atau dua lainnya lagi. Sangatlah mudah untuk membunuh mereka semua, jika memang ini yang mereka kehendaki. Tuduhan ini jelas-jelas palsu.

      Nabi yang percaya bahwa Allah itu khairul maakereen (penipu paling ulung), (Q.3:54) sendirinya adalah orang yang licik. Cerita tentang Jibril memberitahu dia tentang rencana orang Yahudi untuk mencabut nyawanya sama kredibelnya seperti cerita tentang kunjungannya ke neraka dan surga. Namun para pengikutnya yang gampang dibodohi itu percaya padanya dan sangat marah mendengar dongeng karangannya itu. Bersamanya merekapun maju menumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa.

      Maududi menutup ceritanya dengan berkata: “Sekarang tidak ada alasan untuk memberi mereka kemurahan hati lagi. Nabi suci segera memberi mereka ultimatum bahwa pengkhianatan terencana mereka terhadapnya telah diketahuinya; dan karena itu mereka harus meninggalkan Medinah dalam sepuluh hari. Jika mereka terdapati masih tinggal di tempat tinggal mereka, mereka akan dibunuh dengan pedang.” Maududi memberi contoh yang sempurna akan logika Muslim dengan menceritakan dongeng pengkhianatan Muhammad seakan-akan itu hal yang alami dan semestinya orang bertindak.

      Abdullah bin Ubayy berusaha keras membantu Banu Nadir, tetapi saat itu pengaruhnya terlalu lemah dan pengikut-pengikut Muhammad telah terbutakan oleh iman mereka. Mereka tidak mengizinkan bin Ubayy memasuki tenda Muhammad dan malahan menyerangnya dan melukai wajahnya dengan pedang.

      Setelah beberapa hari, Banu Nadir berunding untuk meninggalkan semua harta benda mereka bagi Muhammad dan meninggalkan kota. Beberapa di antara mereka pergi ke Suriah dan yang lainnya pergi ke Khaibar dan beberapa tahun kemudian dibunuh ketika Muhammad mengincar kekayaan kaum Yahudi di sana.

      Walaupun Muhammad membiarkan orang-orang ini pergi, rencananya yang pertama adalah untuk membantai mereka. Berikut ini adalah kutipan dari Sirat (Sejarah hidup Muhammad) yang membuat hal ini sangat jelas:

      Mengenai Banu al-Nadir, Surat al Mujadila diturunkan di mana dikisahkan bagaimana Allah membalas dendam pada mereka dan memberi Rasulnya kekuasaan atas mereka dan bagaimana Dia memperlakukan mereka. Allah berkata: “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pad saat pengusiran kali yang pertama. ….Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka,” yang merupakan balas dendam dari Allah. “Benar-benar Allah mengazab mereka di duniaini, yaitu dengan pedang, dan di akhirat neraka jahanam.”[1]

      Dalam pengepungan ini Muhammad memerintahkan penebangan dan pembakaran pohon-pohon milik Banu Nadir. Kekejian ini tidak pernah dilakukan bahkan oleh orang-orang primitif Arab. Yang perlu dilakukannya untuk membenarkan kekejiannya ini hanyalah membuat teman khayalannya menyetujui apa yang telah dia lakukan. Ini sangat mudah dilakukan jika Allah tunduk pada kehendakmu

      Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (Q. 59: 5)

      Sangat mudah membayangkan mengapa di lingkungan kering kerontang padang pasir, para penghuni padang pasir menganggap penebangan pohon dan peracunan sumur sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan juga melanggar perjanjian perdamaian dan adat lokal.

      Seorang cendekiawan Muslim, Al-Mubarkpouri, berkata: “Rasul Allah (saw) menyita senjata mereka, tanah, rumah dan harta kekayaan mereka. Di antara rampasan itu dia berhasil menyita 50 baju pelindung, 50 helmet dan 340 pedang. Rampasan ini semuanya milik Nabi semata, karena tidak ada perang yang terlibat dalam penyitaannya. Dia membagikan rampasan itu sesuai kehendaknya di antara para Muhajirin dan dua orang miskin Ansar, Abu Dujana dan Suhail bin Haneef. Rasul Allah menghabiskan sebagian dari harta ini untuk keluarganya untuk kehidupan mereka sepanjang tahun. Sisanya digunakan untuk melengkapi tentara Muslim dengan senjata bagi perang-perang berikutnya dalam jalan Allah. Hampir semua ayat dalam surat al Hashr mengambarkan pengusiran kaum Yahudi dan menyingkapkan kelakuan memalukan kaum munafik. Ayat-ayat itu mewujudkan peraturan berkenaan dengan harta rampasan. Dalam surat ini, Allah yang maha kuasa memuji para Muhajirin dan Ansar. Surat ini juga menunjukkan kehalalan menebang dan membakar lahan musuh dan pohon-pohon untuk tujuan militer. Tindakan ini tidak bisa dianggap sebagai perusakan asalkan dilakukan dalam jalan Allah.”

      Seperti halnya Maududi, Mubarakpouri juga menunjukkan ketidak adanya hati nurani dan etika yang menjadi ciri khas ummah. Muslim melakukan apa yang nabi mereka lakukan. Mereka menganggap membakar dan merajah harta orang-orang non Muslim sebagai tindakan halal dalam perang, karena itu disetujui dan dilakukan sendiri oleh Muhammad. Berdasarkan tindakan Muhammad, dapat disimpulkan bahwa kekejaman dalam Islam, dengan sangat disayangkan, bukanlah penyimpangan dari Islam yang sejati. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan adalah praktek Islam. Tidak ada yang melampaui batas dalam memajukan agama Allah.

      Anehnya, surat al-Hashrs diakhiri dengan menyuruh muslim bertakwa kepada Tuhan, yang membuatnya jelas bahwa ketakwaan bagi Muslim mempunyai arti yang sangat lain. Pembela Islam berkata bahwa moralitas jaman sekarang tidak boleh dipakai untuk menilai Muhammad yang hidup 1400 tahun yang lalu. Ironisnya, mereka menggunakan moralitas itu sebagai standar dan mencoba memaksakannya pada semua manusia setiap waktu.

      Seorang muslim menulis padaku, “Semua tulisan ini menjadi problematik bagi banyak orang karena pandangan mereka tentang apa yang benar secara moral dan apa yang salah secara moral. Sumber penyakit ini adalah mentalitas orang Kristen yang “memberi pipi lainnya” dan “penebusan penderitaan oleh Kristus” yang kedua-duanya telah menjadi penyakit dalam akal orang Eropa selama berabad-abad.”

      Aku tidak percaya moralitas dan etika adalah penyakit. Keduanya berasal dari hati nurani manusia dan merupakan prinsip2 Hukum Emas (Golden Rule). Kita tahu bedanya yang benar dan yang salah ketika kita mempertimbangkan bagaimana kita mau diperlakukan orang lain.

      ——————————————————————————–

      [1] Ibn Ishaq irat, p. 438

      • SERBUIFF 12:38 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        mereka melanggar perjanjian, ya mereka harus terima konsekwensinya….

    • wikki 3:05 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      Mereka melanggar perjanjian yang tidak diketahui orang jahudi …dan sengaja dicari kesalahan dengan fitnah ..oh muhammad ….malas banget ente gawe masakan.gawe ngewe terus sapoe poean.

      • SERBUIFF 3:51 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        kelihatan lu nggak tahu pokok masalah……lihat :

        Sebelum Rasulullah n berhijrah ke Madinah, sudah ada tiga kabilah besar bangsa Yahudi yang menetap di negeri tersebut. Mereka adalah Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.

        Masing-masing kabilah ini mempunyai sekutu dari kalangan penduduk asli Madinah yaitu Aus dan Khazraj.

        Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir bersekutu dengan Khazraj,

        sedang-kan Bani Quraizhah menjadi sekutu Aus.

        http://asysyariah.com/perang-bani-nadhir.html

    • wikki 4:00 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      coba sdr lihat siapa yang hadir dai pihak banu qanuiqa …banu nadr ..banu quraiza pada saat dibuat perjanjian yang katanya disepakati… lalu apa konsekwensi yang harus dilaksanakan bila terjadi pelanggaran poin demi poin..adakah peringatan sewaktu terjadi pelanggaran …??????

    • STEFANUS LIM 5:13 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      YAHUIDI PEMBERONTAK ISTILAH AL KITAB “PEMBUNUH”NABI ISA AS, MEREKA JELAS2 PENGKHIANAT.
      KETIGANYA(BANI QINUQA, BANI NADIR, QURAIZA) PATUT DIHUKUM SERTA DIUSIR. PADA PERANG KHNDAQ JELAS MEREKA BERKHIANAT MENYERANG DARI BELKANG SEHINGGA HARUS DIHUKUM PENGGAL., SERTA DIRAMPAS HARTA

      @ATAR BINTI APRILIA.
      HA HA HA SI JANGKIR NGUTIP 2 AYAT.

      MATIUS DAN KISAH PARA RASUL AJA SALAH2 BEDA SEPERTI LANGIT DAN BUMI KARENA BUKAN DARI TUHAN TAPI DARI HANTU, HAHAHA.
      KISAH YUDAS MATI GANTUNG DIRI DI MATIUS SEDANGKAN DIKISAH PAR RASUL BUATAN PAULUS YUDAS JATUH PERUT TERBELAH USUS KELUAR,APA MUNGKIN????
      PERTANYAANNYA MANA YANG BENAR???
      NGGA MUNGKIN DUA2NYA BENAR.
      ATAU SALAH SATU BOONG.
      ATAU DUA2NYA BOONG,
      NGGA MUNGKIN DUA2NYA BENAR.
      NAH PENULIS KAYAK MATIUS DAN PAULUS GINI MASIH ANDA SEMBAH HA HA AH SUNGGUH BODOH SEKALI.

      BAHAYA BUNG BERACUN HA HAHA MEMBAWA ANDA KE NERAKA KEKAL ABADI.
      MAU LU DIBAKAR DIJADIKAN KAYU BAKAR???MIKIR BUNG MIKIR.SETAN PEMBUAT AYAT PALSU ADA DKAT ANDA. HA HA HA.

      @ONANY BINTI JANGKRIK ALIAS TEDIHOK
      ANDA BODOH DIBANDING PENDETA ANDA DR YAHYA WALONI.HA HA HA.

      BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
      IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
      AGAMA ANDA SUDAH KADALUARSA IBARAT SK LAMA DIGANTI DENGAN SK BARU.
      SK LAMA NGGA LAKU DIHADAPAN ALLAH. ALLAH MAU YANG BARU.YAITU AGAMA ISLAM.

      BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
      IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
      IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

      BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
      IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
      IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

      BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
      IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
      IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

      ANDA AKAN DIMASUKKAN KE NERAKA.
      ALLAH HANYA MENGAKUI AGAMA ISLAM YANG DIREDHOI ALLAH.
      YAITU MENYEMBAH ALLAH SERTA MENGAKUI NABI MUHAMAD UTUSAN ALLAH.

      BAHKAN NABI ISA AS AKAN MENGENYAHKAN ANDA, HUH TAK TAHU MALU.DIA UNTUK AGAMA MASA LALU UNTUK BANI ISRAIL.
      BUKAN UNTUK ANDA YANG INDON, HA HA HA
      CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN,
      KASIHAN NAK ISTRI DIBAWA KE NERAKA.
      DASAR BOODOH, BIN GOBLOK ALIAS TOLOL HA HA AHA.

    • wikki 5:47 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      pertanyaanku diatas belum satupun muslim menjawab….

      • ungke 7:21 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        Biasa mereka lagi cari bahan untuk taqiya lagi, kebohongan satu di tutupi dengan kebohongan yang lain, kan kalo sering kan akan kelihatan seperti kebenaran

        • SERBUIFF 8:47 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

          tidak ada kebohongan dalam ajaran islam……..pertanyaan apa ? pertanyaan tkw yg di hongkong dan tuhan dalam kandungan aja sampai sekarang lu nggak bisa jawab …

      • SERBUIFF 7:21 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        pertanyaan apa ? pertanyaan tkw yg di hongkong dan tuhan dalam kandungan aja sampai sekarang lu nggak bisa jawab …

    • wikki 9:45 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      ngibul………………….

    • wikki 12:01 pm on 21/08/2012 Permalink | Reply

      Jika Muhammad memang adalah Nabi yang dijanjikan sejak dia masih kecil, mengapa
      dia lalu menyembah, bersholat, dan mengorbankan hewan kurban pada patung Al-Uzza,
      dewi pagan yang juga adalah putri dari Allâh? Mari baca tulisan Ibn Ishaq di Sirat Rasul
      Allâh: [11]
      [11] Ibn Ishaq, Sirat Rasul Allâh, hal.165
      Muhammad berkata ‘Aku baru datang dari kota Al-Taf dan bertemu Zaid bin Amro,
      seorang Hanif senior, di bukit yang tak jauh dari Mekah. Aku membawa bekal makan
      siangku, yang termasuk potongan² daging domba yang telah dikorbankan di
      hadapan patung² kami; aku tawarkan sebagian daging itu pada Zaid sambil berkata:
      ‘Makanlah sebagian dari makanan ini, paman.’ Zaid bertanya pada Muhammad, ‘Apakah
      ini daging yang dikorbankan pada patung²mu?’ Muhammad menjawab: ‘YA!’ Zaid
      menjawab: ‘Aku tidak mau makan daging itu. Aku tidak membutuhkannya.’ Zaid lalu
      mulai mengritik patung² dan para pemujanya, termasuk Muhammad, yang berkata
      patung² itu tidak bermanfaat atau mencelakai siapapun.Pengulangan kisah² para Nabi Yahudi, yang terkadang bertentangan isinya satu sama
      lain, dilakukan agar Qur’an tampak semakin rumit dan pembaca jadi semakin bingung.
      Muhammad juga menyusun pernyataan yang dapat berarti banyak; dan pernyataan itu
      tidak lazim dalam bahasa Arab. Contohnya:
      ‘Mereka yang dia sebut sebagai istri²nya!’ – kalimat ini digunakannya untuk menutupi
      jumlah istri Muhammad yang sebenarnya.
      ‘Bagi mereka yang hatinya (baru² ini) berdamai (dengan kebenaran)’ – kalimat ini (Q
      9:60) digunakan Muhammad untuk memberi uang bagi suku bangsanya yakni Quraish.
      ‘Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar’ – kalimat ini (Q
      24:11) sebenarnya ditujukan bagi Abdullah bin Abi Salul, yang adalah salah satu ketua
      suku yang berwibawa. Dia mempermasalahkan perserongan yang dilakukan Aisyah dan
      memberitakan ke mana² dan membesar-besarkannya. Muhammad menghukum orang²
      yang lemah, tapi dia takut pada pemimpin suku seperti Abdullah dan karenanya dia
      menggunakan kalimat yang mengaburkan siapa yang sebenarnya dia bicarakan, agar tak
      tampak langsung menyerang AbdullahDalam Qur’annya, Muhammad menyatakan ‘lafalkan Qur’an secara perlahan, dan alunan
      yang teratur.’ [14] Muhammad memerintahkan pelafalan ini untuk membangkitkan rasa
      khidmat saat mendengarkan Qur’an. Itulah sebabnya terdapat kesamaan yang besar
      antara cara Muslim membaca Qur’an dengan cara umat Hindu membaca kitab suci Veda.
      [14] Qur’an, Sura 73, Al-Muzzammil, Yang Terselubung, ayat ke 4.Perbedaan versi² Qur’an diantara para juru tulis Muhammad akhirnya mengakibatkan
      pertikaian antara mereka semasa hidup Muhammad. Begini kisahnya. Umar bin Khattab,
      sang kalifah kedua, berkata:
      ‘Semasa hidup Muhammad, aku mendengar Hisham bin Hakim membaca Sura Forkkan
      dan aku bertanya padanya ‘siapa yang mengajarmu ayat² ini?’ Jawab Hisham,
      ‘Muhammad.’[15] ‘Kau pendusta,’ aku berkata padanya karena Muhammad mengajarkan
      padaku ayat² lain. Maka aku bawa dia menghadap Muhammad dan aku baca Sura
      tersebut sebagaimana yang kuketahui. Muhammad menjawab, ‘Kau benar.’ Lalu Hisham
      membacakan Sura versi miliknya, dan Muhammad berkata, ‘Kau benar.’
      [15] Sahih Al Bukhari, Al Bukhari, bab Tobatnya para Pemberontak, nomer 6936.
      Salah satu juru tulis Qur’an Muhammad yang bernama Ibn Masud berkata:
      ‘Aku mendengar orang membaca sebuah ayat ketika Muhammad membaca ayat yang
      sama dengan cara yang berbeda. Maka aku menghadap Muhammad untuk memberitahu
      dia tentang hal ini dan dia mengatakan padaku – baik kau maupun dia melafalkan dengan
      benar dan tidak usah bertikai.’[16]
      [16] Sahih Al Bukhari, Al Bukhari, bab Perkataan Nabi, nomer 3476.
      Sudah jelas bahwa Muhammad telah siap dengan berbagai alasan bagi kontradiksi
      tersebut. Para ulama Muslim biasa mengatakan pertikaian terutama terjadi karena
      perbedaan dialek sebab Qur’an diajarkan dalam 7 dialek Baduy yang berbeda. Jika kau
      membaca kedua hadis di atas dengan seksama, telah jelas dinyatakan bahwa Muhammad
      sendiri membaca Qur’an di hadapan para jurutulisnya, dan mereka mendengar kata² yang
      diucapkannya, dan lalu membaca dengan aksen milik Muhammad. Jadi kata² Qur’an
      tidak ditulis dengan menggunakan aksen yang dimiliki sang jurutulis. Perbedaan aksen
      akan mengakibatkan pengucapan yang sedikit berbeda. Perbedaan kecil seperti ini tidak
      akan membuat Umar sedemikian marah sehingga menuduh Hisham sebagai pendusta dan
      membawanya menghadap Muhammad.
      Keterangan hadis selanjutnya menyatakan bahwa Ibn Masud merasa Muhammad tidak
      suka dengan pertanyaan seperti itu. Kata Ibn Masud,
      ‘Aku melihat wajahnya menyiratkan agar aku tidak mengajukan pertanyaan itu lagi, tulis
      saja apa yang kukatakan dalam Qur’an milikmu dan jangan peduli dengan apa yang
      ditulis atau dikatakan dalam Qur’an mereka, kalian semua benar.’
      Hal ini menjelaskan mengapa Muhammad tidak mau mengumpulkan Qur’an ke dalam
      satu buku.Semua agama boleh dikritik, kecuali Islam. Dalam Islam, tidak ada tempat bagi
      toleransi. Mengapa sih kok Islam itu takut sekali dikritik? Semua agama telah
      mengalami kritik dan agama² tersebut ternyata tidak jadi lenyap tuh.
      Muhammad dan para Muslim sejati tahu sekali akan penjelasan rinci di buku ini, dan
      bahwa Islam dibangun melalui penipuan dan dusta. Muhammad berkata:
      ‘Satu²nya hal yang kutakuti akan negaraku adalah para ahli, jika saja mereka nantinya
      menyeleweng.’
      Kata ‘negara’ adalah dunia Arab dan tidak semua Muslim, karena Muhammad tidak
      merasa takut akan Muslim non-Arab. Muhammad hanya takut akan para ahli Islam
      Arab, tapi tidak khawatir akan para Muslim Arab kriminal, pencuri, atau
      pemabuk. Hal ini karena para ahli Islam Arab sangat mengerti mentalitas Arab
      Baduy dan sangat menguasai bahasa Arab. Muhammad tahu bahwa orang² seperti
      ini bisa mempelajari perkataannya dan tindakannya dan akhirnya mengerti bahwa
      aturan dan nilai² Islam berdasarkan kekerasan dan pembunuhan, seperti cara yang
      dilakukan Muhammad untuk menguasai masyarakat Baduy. Inilah sebabnya
      mengapa Muhammad tidak mengijinkan siapapun mengritik dirinya. Dia tahu
      bahwa fondasi Islam sangat lemah, sehingga satu orang Arab kritis saja bisa
      mengakibatkan berakhirnya Islam.

  • SERBUIFF 9:20 am on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Banu Nadhir   

    Banu Nadhir 

    Banu Nadhir

    Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

    Banu Nadhir @ Bani Nadir (Bahasa Arab: بنو النظير‎) merupakan segolongan puak daripada kaum Yahudi yang menetap di kawasan Lembah Hijaz berdekatan kota Madinah sehingga abad ke-7. Kawasan perkampungan mereka adalah terletak di Wadi Mudzaineb (terletak di tenggara kota suci Madinah Al Munawwarah. Jarak perkampungan itu terletak kira-kira 3.5 km dari Masjid Nabawi dan kira-kira 1 km dari Masjid Quba. Kini bekas tapak perkampungan itu sahaja masih tinggal tetapi masyarakat Yahudi Banu Nadhir sudah tiada.

    Sejarah

    Puak Banu Nadhir ini, pada awalnya terikat dengan perjanjian dengan kaum Muslimin Madinah, namun atas sikap mereka (Banu Nadhir) yang suka kepada permusuhan dan selalu mengingkari tali perjanjian mereka sudah beberapa kali cuba dan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW, tetapi kerja jahat mereka itu tidak berhasil dan menemui kegagalan.

    Akhirnya, atas perintah Allah, Nabi Muhammad SAW telah menghalau dan mengusir mereka dari bumi Madinah, dengan sabda Rasulullah SAW:

    “Keluarlah dari negeriku ini,dan janganlah engkau tinggal di dalamnya bersamaku, aku beri waktu sehingga sepuluh hari, jika masih ada yang terlihat di sini, maka ia akan dibunuh”. Tetapi kata-kata Rasulullah itu tidak diperendahkan sama sekali oleh puak Yahudi itu, selepas sepuluh hari mereka masih berdegil untuk keluar dari kota Madinah kerana percaya lasan pendudukan mereka di Kota Suci itu dipelihara oleh kaum Munafik.

    Maka, Allah SWT telah menurunkan ayat kesebelas dari Surah Al-Hasyr yang memerintahkan untuk puak Banu Nadhir itu diusir serta merta dan pengharaman Khamr (arak). Dengan demikian, Nabi dan para tentera Muslimin telah keluar dan sekaligus mengarahkan semua pihak Banu Nadhir yang ingkar untuk diusir keluar ke Khaibar dan Syam. Tanah Banu Nadhir kemudian dibahagi-bahagikan kepada pihak Muhajirin yang belum mempunyai tanah.

    Rujukan

    1. Buku Sejarah Madinah Munawwarah Bergambar, Penyunting Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Cetakan pertama 2005.
    2. Perihal Terkini Kota Suci Madinah Al Munawwarah.
     
    • wikki 9:57 am on 19/08/2012 Permalink | Reply

      Berikut ini adalah sejarah Safiyah Binti Huyai Ibn Akhtab, wanita Yahudi yang ditangkap ketika pasukan Muhammad menyerang Khaibar dan membawanya kepada Nabi sebagai bagian dari rampasan perang. Muhammad memberi perintah agar Kinana, suami yang masih muda dari Safiyah, dianiaya sampai mati agar ia (Kinana) mengaku dimana harta karun kota tersebut disimpan. Pada malam yang sama itu juga, Muhammad mengambil Safiyah dan dibawa ke ranjangnya dan menjadikan dia istrinya …

      Kisah ini dilaporkan secara detil oleh Tabari. Kisah ini juga dapat ditemukan dalam Sirat Ibn Ishaq . Yang berikut ini dilaporkan dalam buku dari Tabaqat yang disusun oleh Ibn Sa’d .

      Dua tahun sebelumnya Muhammad telah menebas kepala Huyai, ayahnya Safiyah, beserta 900 pria dari Bani Quraiza.

      Huyai Ibn Akhtab, ayah Safiyah, adalah pemimpin Bani Nadir , salah satu suku Yahudi dari Madinah. Para pengikut Muhammad telah membunuh sepasang suami istri Arab yang sebelumnya telah menandatangani traktat perdamaian dengan Muhammad. Nabi memutuskan untuk membayar uang darah pada keluarga korban yang salah dibunuh . Ia lalu pergi ke Bani Nadir untuk meminta kepada mereka agar membayarkan uang darah ini. Permintaan itu sangat aneh, sebab orang-orang Yahudi tak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan tersebut. Namun orang-orang Yahudi ini takut kepada Muhammad, karena Muhammad sebelumnya telah menghancurkan suku Yahudi yang lain, yaitu Bani Qainuqah dan oleh karena itu mereka takut hal ini akan terjadi juga kepada mereka.

      Orang-orang Yahudi selalu bersikap pengecut sampai hari ini dan mereka telah membayar harga atas sikap pengecut mereka. Kapankah mereka cukup belajar bahwa seseorang tak mungkin senang dengan gangster??? Kapankah mereka akan belajar bahwa mereka harus berperang melawan kelompok orang seperti itu?

      Para tua-tua bani Nadir akhirnya mengumpulkan uang yang diminta. Muhammad dan para sahabatnya duduk dibawah sebuah dinding-perteduhan dikawasan Yahudi sambil menanti. Namun, maksud Muhammad sebenarnya adalah untuk menghancurkan Yahudi dan mengambil semua harta yang mereka miliki, dan bukan sekedar uang darah untuk kejahatan dari pengikut-pengikutnya. Muhammad berharap Yahudi akan memprotes sehinggga ia justru dapat memakai ini sebagai alasan untuk menyerang mereka.

      Setelah duduk-duduk dan menantikan, ia tiba-tiba bangkit dan pergi tanpa mengatakan apa-apa kepada siapapun. Para pengikutnya melihat bahwa ia berjalan terus, maka mereka pun pergi juga. Akhirnya Muhammad mengatakan kepada mereka, bahwa ada malaikat Jibril yang memberitahukan kepadanya, bahwa orang-orang Yahudi sedang merencanakan untuk melemparinya dengan sebuah batu dari pada dinding-perteduhan dan ingin membunuhnya. [Kalau ada peringatan Jibril tentang rencana pembunuhan, mengapa para pengikutnya ditinggalkan diam-diam?]. Ini tentu saja sebuah kebohongan. Kalau Bani Nadir benar-benar ingin membunuhnya, mereka tidak perlu melemparkan batu padanya. Muhammad ada dalam tangan mereka ketika itu. Mereka itu justru takut, dan inilah yang harus mereka bayar dengan nyawa mereka kelak.

      Peperangan Muhammad

      Muhammad kemudian menyerang Bani Nadir dan memutuskan aliran air mereka. Ketika mereka menyerah, Muhammad berketetapan untuk membunuh mereka semua. Namun Abdullah Ibn Obay, seorang pemimpin tua Arab Median mengintervensi. Muhammad khawatir hal ini akan menyebabkan perpecahan diantara pengikutnya sehingga ia akhirnya memutuskan tidak membunuh Bani Nadir. Sebagai gantinya ia mengambil semua harta kekayaan dan propert i milik bani Nadir dan mengusir mereka.

      Maka Bani Nadir pun mengungsi ke Khaibar, yang merupakan benteng orang-orang Yahudi di sebelah Utara Madinah. Inilah yang membuat Safiyah tinggal di Khaibar dan menikahi Kinana, pemimpin muda dari kota tersebut. Akan tetapi, ayah Safiyah, Huyai, dipancung lehernya ketika Muhammad menyerang suku Yahudi yang terakhir di Madinah, yaitu Bani Quraiza.

      Khaibar

      Safiyah berumur 17 tahun dan sangat cantik. Ketika Muhammad menyerang Khaibar ia membunuh semua pria disana . Orang-orang tidak siap untuk berperang. Mereka diserang secara mendadak. Muhammad bukanlah seorang pahlawan perang terbuka, melainkan seorang teroris yang melakukan penyergapan . peperangannya disebut gazwah , yaitu Sergapan / penyerangan dadakan.

      Kinana

      Maka Muhammad pun menangkap Kinana dan menyiksa dia karena Muhammad ingin tahu dimana harta kekayaan kota tersebut disembunyikan. Ia menusukkan batangan besi yang panas pada mata Kinana dan membutakannya. Kinana adalah pemuda ksatria, ia tidak buka mulut.

      Seorang Yahudi lain (mungkin nenek moyang-nya Noam Chomsky dan George Soros) telah mengabarkan kepada Muhammad dimana ia dapat menemukan harta kekayaan tersebut. Orang-orang Yahudi selalu memberikan saham kepada para pengkhianat.

      Kinana mati dibawah penyiksaan Muhammad. Kemudian Muhammad menanyakan kepada orang-orangnya untuk membawakan kepadanya gadis yang paling cantik. Safiyah adalah yang tercantik berumur 17 tahun, istri dari Kinana. Bilal membawa Kinana dan sepupu perempuan Kinana menghadap Muhammad. Namun ketika sepupu perempuan Kinana ini melihat jenazah saudaranya terpotong-potong, ia pun menjadi histeris. Muhammad kemudian marah besar dan memerintahkan, “Bawa setan perempuan ini pergi dari saya”.

      Kemudian ia berkata kepada Bilal, “Apakah kamu memiliki perasaan manusiawi sehingga menjejerkan wanita-wanita di depan jenazah orang yang mereka cintai?” Wah! Betapa hebatnya sang Nabi yang penuh dengan belas-asih dan perasaan manusiawi!?

      Selanjutnya ia membawa Safiyah ke tendanya, sebab ia telah menjadi seorang janda. Muhammad mengasihaninya dan memutuskan untuk mengambil ia sebagai istrinya. Tentu saja [Muslim berkilah], fakta ia muda dan cantik tidak ada hubungannya dengan keputusan Nabi. Masih ada ratusan wanita lain yang juga telah menjadi janda pada hari tersebut.

      Berikut ini adalah periwayatan Tabaqat.

      “Safiyah dilahirkan di Medina. Ia berasal dari suku Yahudi Banu I-Nadir. Ketika suku ini diusir dari Madinah tahun 4 AH, Huyai adalah salah satu dari orang-orang yang menetap di wilayah subur Khaibar bersama Kinana Ibn al-Rabi ‘yang menikahi Safiyah sesaat sebelum Muslim menyerang Kh a ibar. Ia berumur 17 tahun. Sebelumnya ia adalah istri dari Sallam Ibn Mishkam yang menceraikannya. D isini lah, s atu mil dari Kh a ibar , Nabi menikahi Safiyah. Dia dipelihara dan dirawat untuk Nabi oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas Ibn Malik. Mereka menginap disana. Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda Nabi sepanjang malam. Pada saat subuh, Nabi yang melihat Abu Ayyub berjalan hilir mudik itupun bertanya apa maksudnya, dan ia menjawab: “Saya khawatir akan engkau karena perempuan muda itu. Engkau telah membunuh ayahnya, suaminya, dan banyak dari keluarganya, dan dia juga masih seorang kafir. Saya sungguh khawatir terjadi apa-apa karena dia. Nabipun mendoakan Abu Ayyub al-Anshari (Ibn Hisham, p.766). Safiyah telah meminta kepada Nabi untuk menunggu sampai ia telah lebih menjauh dari Khaibar. “Kenapa?” Tanya Nabi. “Saya mengkhawatirkan engkau karena orang-orang Yahudi yang masih dekat dengan Khaibar!”

      Alasan Safiyah menolak pendekatan seksual Muhammad tentu saja jelas bagi setiap orang yang berpikir. Saya percaya, praktis semua wanita memilih untuk berkabung ketimbang melompat ke dalam ranjang – bercengkerama dengan si pembunuh dari ayahnya, dan pembunuh suami dan banyak anggota keluarganya, pada hari yang sama.

      Tetapi kenyataannya Nabi Allah ini tak dapat menahan desakan nafsu seksualnya untuk satu hari saja dengan membiarkan perempuan muda ini untuk berkabung. Ini semua menggambarkan karakter moral Muhammad. Ia adalah seorang psikopat tanpa hati nurani dan empati.

      Untuk kelanjutan kisah ini kita tidak tahu persis apakah benar atau telah direkayasa oleh ahli sejarah Muslim yang ingin menghapus adanya kesan pemaksaan perkosaan. Tetapi ini adalah semua yang kita punyai, dan untuk menemukan kebenaran kita hanya bisa bergantung pada dokumen-dokumen yang terlihat bias (ter-plintir) ini, yang dilaporkan dan ditulis sepihak oleh orang-orang Muslim.

      Kisah selanjutnya menggambarkan Abu Ayyub yang mengkhawatirkan keselamatan Nabi, karena Nabi telah membunuh ayah, suami dan sejumlah anggota keluarga Safiyah. Hal ini logis. Tentu saja bodoh untuk tidur dengan seorang wanita dimana orang-orang yang dicintai oleh wanita tersebut baru dibunuhnya. Namun tampak bias alasan penolakan Safiyah terhadap pendekatan seksual Muhammad, tampak sekali kurang masuk akal. Ketika Muhammad membawa wanita muda ini ke dalam tendanya, ia telah membunuh banyak orang Yahudi, dan memperbudak orang-orang Yahudi lainnya.

      Jikalau masih ada orang Yahudi yang tertinggal, maka mereka mungkin lebih mengkhawatirkan hidup mereka sendiri ketimbang masalah Safiyah apakah ia diperkosa atau tidak. Lagipula wanita ini telah ada di dalam tenda sendirian dengan Muhammad, jadi bagaimana orang-orang Yahudi akan mengetahui kalau-kalau mereka melakukan hubungan seks? Alasan ini kedengarannya bodoh dan tampaknya dipaksakan oleh Muslim untuk mengklaim bahwa Safiyah-lah yang menginginkan hubungan seks dengan Muhammad, dan bila tidak, itu hanya karena Safiyah mengkhawatirkan keselamatan Nabi (jadi bukan karena ada unsur pemaksaan / perkosaan).

      Muslim adalah sekelompok orang bodoh tertentu yang mempercayai omong kosong yang paling konyol tanpa berpikir, namun saya percaya ada kelompok lain yang wajar menyadarinya sebagai sebuah kebohongan.

      Dikatakan lebih lanjut,

      “Hari berikutnya Walima (pesta pernikahan) diselenggarakan pada nama Nabi .. . ”

      Mohon dicatat bahwa penulis sejarah ini mengatakan, bahwa pernikahan terjadi satu hari setelah Muhammad sendirian dengan Safiyah dan melakukan hubungan seks dengan dia. Ini tidak mendatangkan persoalan kepada Nabi, karena ia telah mendapatkan wahyu Allah yang mengatakan bahwa tidur dengan wanita yang ditangkap dari peperangan adalah baik-baik saja tanpa usah menikahi mereka, sekalipun mereka telah bersuami tadinya.

      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki …” (Surat 4:24)Ayat di atas menunjukkan bahwa Muhammad tidak berpendapat bahwa para budak memiliki hak-hak apapun. Ketika Muslim berkuasa, ini akan menjadi nasib bagi semua wanita non-Muslim. Muslim tidak dapat mengubah sedikitpun apa yang telah dikatakan atau dikerjakan oleh Muhammad. Dan ini telah dikonfirmasikan di tempat-tempat lainnya:

      1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

      2. (Yaitu) orang-orang yang khusyu ‘dalam sembahyangnya,

      3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,

      4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,

      5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

      6. kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak terceIa.

      7. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Surat 23:1-7).

      Marilah kita melanjutkan kisah Safiyah. Dikatakan,

      “Para istri Nabi lainnya menunjukkan cemburunya dengan melakukan pelecehan terhadap keyahudiannya. Namun Nabi selalu membelanya. Suatu kali Safiyah dilukai dengan olok-olokan dari istri-istri Nabi yang Arab itu secara melampaui batas. Maka iapun (Safiyah) mengeluhkan hal tersebut kepada Nabi yang merasa sangat mengasihinya. Ia menghiburnya. Ia membesarkan hatinya. Ia memberi pikiran logis kepadanya. Ia berkata: “Safiyah, bersikap teguh dan beranilah. Mereka tidak memiliki apapun yang melebihi engkau. Katakan kepada mereka: “Aku adalah anak putri Harun, keponakan Musa, dan istri dari Nabi Muhammad … ”

      Ketika ia dibawa bersama dengan para tahanan perang lainnya, Nabi berkata kepadanya,

      “Safiyah, ayahmu selalu membenci aku sampai Allah menetapkan keputusan terakhir.”

      Ia menjawab, “Tetapi Allah tidak menghukum seseorang atas dosa orang lain.”

      Hal ini (apa yang dikatakan Nabi) jelas berlawanan dengan perilaku Muhammad sendiri yang sudah menghancurkan seluruh Bani Qainuqa dengan alasan bahwa beberapa diantara mereka telah membunuh seorang Muslim ketika mereka membela dengan membalaskan kematian seorang Yahudi . Muhammad membinasakan seluruh anggota suku itu , ketika membalas kematian satu orang Muslim ! Padahal Muslim tersebut telah terlebih dahulu membunuh seorang Yahudi, namun itu tidak dianggap / diperhitungkan oleh Muhammad. Ia membutuhkan sebuah alasan demi mendapatkan harta-kekayaan mereka.

      Ini sungguh mengabaikan ayat yang mengatakan: ” bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain ” (Surat 53:38). Jadi jelas bukan Allah yang membuat hasil akhirnya. Maka tampak betapa orang yang satu ini mencuci tangannya terhadap kejahatannya sendiri. Ayah Safiyah dibunuh oleh Muhammad, bukan Allah [tetapi Muhammad memplintirkannya seolah Allah-lah yang memutuskan]. Jika Allah menginginkan membunuh seluruh orang-orang tersebut, Ia tentu telah melakukannya dengan cara-nnya sendiri. Allah tidak membutuhkan pembunuh bayaran (yang merampas harta) untuk melaksanakan kehendakNya.

      Dikatakan lebih lanjut,

      “Kemudian Nabi memberinya kebebasan untuk memilih apakah Safiyah mau tetap bergabung dengan kaumnya, ataukah menerima Islam dan masuk dalam hubungan pernikahan dengan dia”.

      Memberinya kebebasan? Kebebasan macam apakah itu?
      Muhammad telah membunuh suaminya dan semua anggota keluarganya. Kemanakah ia harus pergi sekarang? Melebur dengan orang-orang dari kaumnya? Orang-orang manakah itu? Orangnya praktis telah terbunuh dan wanita-wanitanya telah ditawan dan jadi budak.

      “Dia sangat pintar dan lembut hati dan berkata:” O Rasul Allah, aku telah harap akan Islam, dan aku telah menegaskan sebelum undanganmu. Kini ketika aku mendapat kehormatan berada dihadapanmu, dan diberi kebebasan untuk memilih antara kafir dan Islam, maka aku bersumpah demi Allah, bahwa Allah dan Rasul-Nya adalah lebih berharga kepadaku ketimbang kebebasan diriku dan bagaimana aku sebelumnya bergabung dengan kaumku. ”

      Apakah ini sebuah pengakuan, yaitu pengakuan yang jujur? Apakah ia bebas dan aman mengutarakan pikirannya? Ia ditawan oleh seorang pria yang telah menghabisi keluarganya. Sesungguhnya ini menunjukkan dengan jelas betapa ia tidak bebas berulah. Ia mungkin saja sangat pintar menyiasati sebuah dusta demi menyelamatkan dirinya, tetapi lebih mungkin lagi kisah ini telah dikarang untuk menceritakan sebuah dusta tersendiri!

      Ketika Safiyah menikah, ia masih sangat muda, dan menurut sebuah laporan ia hampir berumur 17 tahun dan berperawakan amat sangat cantik. Ada satu kali Aisyah berkata tentang kekurangannya (mencela), untuk mana Nabi berkata, “Engkau telah mengatakan sesuatu yang saat itu dimasukkan ke dalam laut, maka hal itu akan melebur bersama air laut itu (dan mengeruhkan airnya). “(Abu Dawud)

      Ia tidak hanya sangat dalam mencintai Nabi, tetapi juga sangat besar rasa hormatnya kepadanya sebagai Rasul Allah. Sebab ia telah mendengar apa yang dikatakan oleh ayah dan pamannya ketika mereka pergi ke Medinah. Ketika hijrah ke Medinah mereka datang bertemu dengan dia untuk mengetahui apakah dia benar Rasul Allah yang sejati seperti yang disampaikan oleh Alkitab. Ketika mereka pulang dan berbicara bersama malam itu, Safiyah ada ditempat tidurnya dan mendengar pembicaraan mereka. Salah satunya berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Ia menjawab, “Ia adalah Nabi yang sama yang dinubuatkan oleh Alkitab kita.” Lalu berkata yang lain, “Apa yang harus dilakukan?” Dan jawabannya adalah bahwa mereka harus melawannya dengan segala kekuatan. ”

      Kisah ini, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, apakah dapat dipercaya? Bagaimana kedua orang Yahudi biasa itu mengenal Muhammad sebagai nabi yang dinubuatkan oleh Kitab Suci, lalu (kok malah) memutuskan untuk melawannya dengan segala kekuatan mereka? (Semestinya bila mereka tahu itu nabi yang dikisahkan Musa, mereka justru akan mendukungnya!). Jadi semuanya adalah kontra logika. Hanya orang Muslim yang “tekor-intelektuil” yang akan percaya akan kisah nonsense ini.

      Dikatakan, dia sangat mencintai Muhammad yang adalah pembunuh ayah dan suaminya? Betapa naifnya Muslim dapat mempercayai periwayatan ini? Bagaimana seorang gadis muda cantik berumur 17 tahun dapat segera mencintai seorang tua bangka yang giginya ompong dan badannya berbau? Bacalah buku saya “Understanding Muhammad” untuk mengetahui betapa postur Muhammad cacat dan berbau. Kita curiga bahwa kata-kata tersebut berasal dari Safiyah, dan andaikata itu benar, orang akan mencium hal itu sebagai kebohongan Safiyah dalam usahanya untuk mencari keamanan diri. Kita hanya membutuhkan otak yang aktif untuk menemukan kebohongan Muslim.

      Mengapa seseorang sampai harus mati-matian melawan seseorang lainnya yang diketahuinya sebagai nabi yang dijanjikan dalam Alkitab? Dan dimana Muhammad dijanjikan dalam Alkitab? Apakah Muhammad disebut dalam Alkitab ? ( Is Muhammad mentioned in the Bible? ) Baca artikel ini untuk melihat dusta yang menyedihkan seperti itu. Muhammad tidak disebut di dalam Alkitab maupun di dalam kitab sakral manapun.

      “Maka Safiyah pun yakin akan kebenaran sang Nabi. Ia tak lelah-lelahnya mengurus dan merawat dia (Muhammad), serta memberikan semua kenyamanan yang dapat diupayakannya. Ini terlihat sejak ia menjadi bagian dalam kehidupannya (Muhammad) setelah jatuhnya Khaibar. ”

      Lihat betapa penulis menyangkal dirinya sendiri dalam satu halaman yang sama? Hanya beberapa baris sebelumnya kita membaca bahwa Safiyah ditawan dan dibawa kepada Muhammad sebagai tawanan, bukan atas kemauannya sendiri. Ia dibawa kepada Muhammad sebab ia muda dan cantik.

      “Nabi sedikit kecewa kepadanya karena ia pada awalnya (dalam perjalanan) telah menolak Nabi ketika ingin menggaulinya (hubungan se ks ). Pada perhentian perjalanan berikutnya, Nabi menggaulinya sampai sepanjang malam. Ketika ia (Safiyah) ditanyai oleh Umm Sulaim, “Apa yang engkau lihat pada diri Rasul Allah?” Ia berkata bahwa dia (Muhammad) sangat senang terhadapnya dan tidak tidur melainkan berbicara sepanjang nalam. Dia (Muhammad) bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menolak ketika aku mau menggaulimu pertama kalinya?” Ia menjawab, ‘Aku mengkhawatirkan engkau sebab tempatnya dekat dengan Yahudi’. “Hal ini meningkatkan nilaiku lebih lanjut dimatanya.” (Tabaqat)

      Bukhari juga telah mencatat beberapa Hadits yang menceritakan tentang invasi Khaibar dan bagaimana kisah Muhammad bertemu dengan Safiyah.

      Hadits ‘Abdul’ Aziz:

      Anas berkata, “Ketika Rasul Allah menginvasi Khaibar, kami melakukan shalat Subuh disana ketika hari masih gelap .. . Ketika ia memasuki kota, ia berseru, “Allahu Akbar! Khaibar diruntuhkan … Kami menaklukkan Khaibar, menawan tawanan, dan barang jarahan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Rasul Allah! Berilah aku seorang budak perempuan diantara tawanan ‘. Nabi berkata, ‘Pergi dan ambillah budak perempuan yang mana saja’. Iapun mengambil Safiya binti Huyai. (Tetapi) Seseorang datang kepada Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Engkau memberikan Safiya binti Huyai pada Dihya, padahal ia (Safiya) adalah perempuan paling terkemuka dari suku Quraiza dan An-Nadir dan ia hanya pantas untuk engkau saja ‘. Maka Nabi berkata, ‘Bawa ia (Dihya) bersama dia (Safiya)’. Maka keduanya menghadap dan ketika Nabi melihat Safiya, iapun berkata kepada Dihya, ‘Ambillah gadis budak mana saja dari para tawanan selain dia’. Anas menambahkan: Nabi membebaskan perbudakannya dan mengawininya. ” [Nabi menelan janji pertama, dan menggantikannya dengan janji kedua, ketika tersilau dan bernafsu dengan kecantikan Safiyah. Contoh moral surgawi!].

      Tsabit bertanya kepada Anas, “O Abu Hamza! Apa yang Nabi bayarkan kepadanya (Safiya) (sebagai mahar)? Ia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia (Muhammad) telah membebaskannya dari perbudakan dan kemudian mengawininya.” Anas menambahkan, “Ketika dalam perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk upacara perkawinan dan pada malamnya dia mengirimnya sebagai pengantin perempuan untuk Nabi”. ( Shahih Bukhari 1.367 )

      Mahar adalah “emas kawin” yang diperoleh pengantin perempuan dari pihak suaminya tatkala ia mengawininya. Muhammad tidak membayar mahar kepada Safiyah, sebab ia (Muhammad) harus membayarkan kepada dirinya sendiri untuk memerdekakan Safiyah. Kisah ini adalah luar biasa, sebab ini memberi pencerahan kepada kita tentang nilai-nilai moral dan etika dari Muhammad dan para pengikutnya yang keblinger. Muhammad adalah seorang psikopat. Namun Muslim tidak memiliki rasa malu. Muslim meng-idola-kan seorang psikopat dan menginginkan kita juga untuk menghormati mereka. Apakah ke-tolol-an ini layak atas sebuah kehormatan? Dengan mengikuti orang yang tidak waras semua orang akan bertindak tidak waras.

      Setiap orang yang terhormat atau orang normal jijik mendengar kisah semacam ini, namun Muhammad mengajarkan bahwa ia akan memperoleh 2 pahala dengan mengawini Safiyah. Satu adalah untuk memerdekakan seseorang yang sesungguhnya ia tawani sendiri , dan kedua adalah mengambilnya untuk menikahinya .

      “Abu Musa melaporkan bahwa Rasul Allah berkata pada seseorang yang memerdekakan seorang wanita budak, dan kemudian menikahinya, bahwa baginya tersedia 2 pahala.” ( Sahih Muslim Book 008, Number 3327 )

      [Sayangnya tidak disebutkan bahwa yang mengawininya adalah pembunuh ayah, suami, dan famili dari si wanita budak yang dikawini. Dan wanita budak tersebut adalah budak yang terjadi karena ulah dari yang akan mengawininya!]

      Tidakkah ini menjijikkan? Buanglah ke-tolol-an “yang terhormat” dan berkelit-kelit ini dan Sebutkanlah sifat-sifat hitam adalah hitam. Muslim adalah sekelompok moron. Bagaimana mungkin bisa demikian konyol?

      Diriwayatkan oleh Anas:

      Nabi melakukan sholat subuh dekat Khaibar tatkala hari masih gelap dan ia berkata, “Allahu Akbar” Khaibar dihancurkan, sebab ketika kami menghadapi bangsa (lawan yang diperangi), maka kejahatan akan menjadi pagi hari untuk mereka yang telah diperingati. ”

      Maka penduduk Khaibar lari keluar ke jalan-jalan. Sang Nabi telah membunuh pahlawan-pahlawan mereka, keturunan mereka, dan wanita yang ditawan sebagai tawanan. Safiyah adalah salah satu diantara tawanan. Dia pertama-tama diambil untuk menjadi milik Dahya Alkali, namun kemudian ia menjadi milik Nabi. Nabi memerdekakan dia sebagai maharnya. ( Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512 )

      Sumber: http://alisina.org/safiyah-the-jewish-wife-of-muhammad/

  • SERBUIFF 11:26 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Perlakuan Rasulullah SAW Terhadap Tawanan Perang   

    Perlakuan Rasulullah SAW Terhadap Tawanan Perang 

    Perlakuan Rasulullah SAW Terhadap Tawanan Perang .

    REP | 17 June 2011 | 01:39 Dibaca: 443   Komentar: 3   1 dari 3 Kompasianer menilai menarik

    Pada zaman perang modern sekarangpun masih sangat sulit untuk mendapatkan perlakukan yang manusiawi terhadap tawanan perang,yang banyak justeru sebaliknya sebagaimana dilakukan terhadap tawanan perang  Iraq.Afghanistan oleh AS negara yang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai penggagas hak asasi manusia dan demokrasi.Tetapi dalam kenyataannya ,mereka justeru memperlakukan tawanan -tawanan dengan kejam diluar batas-batas peri kemanusiaan.

    Tetapi  Nabi Muhammad SAW  telah memperkenalkan suatu tata cara yang beradab dalam memperlakukan tawanan tawanan perang dengan manusiawi dan beradab,sebagaimana tercatat  dalam sejarah peradaban muslim .Berbagai penjahat perang dibebaskan dari segala kesalahannya,sebagai contoh salah satunya adalah Sofwan bin Umayyah , salah satu musuh Nabi yang paling kejam  terhadap diri Rasul dan juga umat islam waktu itu.

    Sofwan bin Umayyah ini sangat banyak melakukan rongrongan,fitnahan,penganiayaan ,serta penyiksaan terhadap Rasulullah SAW dan kaum muslimin.Karenanya ia termasuk dalam daftar orang-orang yang harus dihukum mati ,yang dia sendiri mengetahuinya ,sehingga  ketika kaum muslimin menguasai kota Mekkah,sebagai pusat kekuasaan musyrikin Quraisy yang ia sendiri salah seorang pemimpinnya.Sofwan bin Umayyah bersama Ikrimah binAbu Jahal melarikan diri dan hendak menyeberang ke benua hitam,Afrika.

    Namun setelah mendengar berita,bahwa Ikraimah mengurungkan niatnya dan bertemu Rasul kemudian dia dibebaskan .maka Sofwan mulai kebingungan dan jika bisa akan mengikuti jejak  kawannya,Ikrimah itu.Oleh sebab  itu Sofwan bin Umayyah bertemu anak pamannya ,Umair bin Wahab yang segera pula ia bertemu dengan Nabi Muhammad SAW .Lalu Umair bin Wahab berkata:”Ya Nabiyullah ,Sofwan itu adalah kepala suku yang sangat di hormati  dikalangan Quraisy .Ia telah melarikan diri dari padamu,karena ketakutan dan akanberlayar . Aku minta kepadamuagar engkau memberikan ampunan  baginya  ,sebagaimana engkau memberi ampunan kepada orang lain dengan tidak memandang bulu dan warna kulit”. Mendengar permintaan Umair bin Wahab,maka Rasulullah SAW berkata:” Cegatlah anak pamanmu itu ia telah mendapat pengampunan dariku”.

    Namun Umair  bin Wahab masih kurang yakin,sehingga ia meminta jaminan keamanan dari Rasulullah SAW  sebagai tanda aman dan ampunannya.Rasulullah SAW segera memberi tanda aman dan ampunan tersebut berupa kopiahnya yang dipakai pada waktu masuk ke kota Mekkah.Kemudian ia bergegas menemui Sofwan bin Umayyah di tempat persembunyiannya lalu memperlihatkan tanda itu kepadanya sambil berkata:” Aku ini  datang dari seorang manusia yang paling baik di muka bumi ini,dari seorang yang suka berbuat baik,yang mulia hati dan tinggi budi bahasanya,yaitu anak pamanmu yang telah memberikan keistimewaan kepadamu  supaya kamu kembali”.

    Mulanya Sofwan bin Umayyah agak takut juga,enggak percaya terhadap apa yang dilihat dan dikatakan oleh Umair bin Wahab,tetapi ketika Sofwan mendengar tentang  kepribadian Nabi lebih mulia dari pada apa yang di perhitungkan Sofwan bin Umayyah sebelumnya,maka ketakutannya pun sirna lenyap,dan keduanya kemudian datang menghadapNabi Muhammad SAW.Lalu Sofwan bin Umayyah berkata kepada Nabi:” Umair menyampaikan kepadaku bahwa engkau telah menjamin  keamananku”.Rasululullah SAW berkata:” Apa yang dikatakannya itu benar”. Kemudian Sofwan bin Umayyah berkata lagi kepada Nabi Muhammad SAW:” Apakah engkau mau memberikan waktu bagiku dua bulan untuk berfikir,apakah aku akan memeluk Islam atau akan tinggal di luar Islam?” .Rasulullah Muhammad SAW  menjawab:” Kepadamu kuberikan waktu empat bulan untuk berfikir”.

    Ketika Nabi Muhammad SAW keluar dari Mekkah untuk pergi ke peperangan Hunain ,Nabi meminjam empat puluh ribu dirham dari pada Sofwan binUmayyah,juga meminta meminjam banyak alat perlengkapan perang  dari pemimpin suku Quraisy yang masih musyrik tersebut.Tatkala Sofwan bimbang,apakah pengambilan ini merupakan rampasan perang,yang harus ditunaikannya,Nabi Muhammad SAW berkata:”   Tidak,  bukan rampasan,ini hanya pinjaman ,terjamin dan akan di kembalikan”. Meskipun dia masih musyrik ,tetapi dia telah bekerjasama dengan Nabi Muhammad SAW,dalam suatu kerja sama yang baik dan akrab.Dan Rasulullah SAW  tidak memaksakan keyakinhannya,karena Islam tidak memperbolehkan pemaksaan dalam agama.Karenanya Rasulullah SAW memberi kesempatan empat bulan untuk  berfikir,padahal Sofwan bin Umayyah memintanya hanya dua bulan waktunya untuk berfikir apa masuk Islam atau tidak.

    Selanjutnya Rasulullah SAW pergi berperang untuk membebaskan wilayah dari pendudukan Hawazin di Hunain bersama-sama Sofwan bin Umayyah yang masih musyrik  itu.Setelah perang usai,Rasulullah SAW tidak hanya  mengembalikan semua pinjamannya dan membayar segala utang piutangnya ,tetapi juga melimpahkan kemurahannya dengan kurnia yang luar biasa,baik kepada Sofwan bin Umayyah maupun kepada kaum muslimin yang ikut dalampeperangan tersebut. Ia memberikan kepada Abu Sufyan bin Harb empat puluh kati perak dan seratur ekor unta,ia juga memberikan sebanyak itu pula kepada Yazid dan Mua’wiyah.Kemudian Rasulullah SAW memberikan kepada Hakim bin Hizam dua ratus ekor unta,dan kepada   Nazar bin Harist  seratus ekor unta seperti halnya kepada Usaid bin Jariyah,Haris binHisyam,Sofwan bin Umayyah,Qais bin Adi,Suhail bin Amr dan lain-lain.  Para penerima hadiah-hadiah tersebut merupakan para penjahat perang yang diampuni oleh Rasulullah SAW  ketika menguasai Mekkah,tetapi sekarang menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang setia dan berjasa.

    Melihat hal itu,Sofwan bin Umayyah heran memnghadapi kenyataan itu,heran ia melihat kemurahan Rasululah SAW yang ia dengar sebelumnya sebagai orang yang tamak kepada harta-benda.Setelah Rasulullah SAW memberi kepada Sofwan bin Umayyah tiga ratus ekor unta ,dengan tambahan  berbagai barang berharga lainnya.Nabi  Muhammad SAW melihat wajah Sofwan bin Umayyah yang menunjukkan keheranannya dan berkata:” Apakah engkau merasa aneh ?” Sofwan menjawab:”Sesungguhnya ya Rasulullah”.Setelah Nabi Nabi Muhammad SAW berkata,bahwa semua barang yang bertimbun-timbun itu adalah untuknya,Sofwan berkata:” Raja-rajapun tak ada yang sekaya dan semurah ini,dan jika ada yang demikian ,maka orang itu ialah hanya Nabi yang kuhadapi sekarang ini”. Kemudian Sofwan bin Umayyah tegak dengan keyakinan  dihadapan Rasulullah SAW dan dengan muka yang berseri-seri lalu diucapkannya dengan bibir dan lidah yaang tidak ragu-ragu:”Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku mengaku pula bahwa Muhammad itu adalah pesuruh-Nya!”.

    Begitulah akhirnya Sofwan bin Umayyah tidak sempat memamfaatkan waktu empat bulan yang diberikan Nabi kepadanya,untuk menentukan sikapnya apakah ia masuk Islam atau sebaliknya.Tetapi kemudian setelah mengamati akhlaqul karimah Rasulullah SAWyang demikian tinggi,sehingga ia segera pula memeluk  Islam  dengan ksuka rela,kkarena Al Qur’an menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam agama.

    http://hukum.kompasiana.com/2011/06/17/perlakuan-rasulullah-saw-terhadap-tawanan-perang/

     
    • wikki 2:36 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      Sahih Bukhari 59 no 369

      Dikisahkan oleh Jabir Abdullah : RASULULLAH BERSABDA, “SIAPA YANG BERSEDIA MEMBUNUH KA`B BIN AL-ASHRAF YANG TELAH MENYAKITI ALLAH DAN RASULNYA?” Dari situ Maslama berdiri dan berkata, “Oh, Rasulullah! Apakah kamu suka kalo saya membunuhnya? ” Nabi bersabda, “Ya”. Maslama berkata, “Kalo begitu BIARKAN SAYA MEMFITNAH (dengan kata lain menipu Ka`. NABI BERSABA, “ANDA BOLEH MENGATAKAN DEMIKIAN.”

      Maslama pergi ke Ka`b dan berkata, “Orang itu (i.e Muhammad) meminta Sadakah (i.e Zakat, pajak) dari kita, dan dia menyebabkan masalah pada kita, dan saya dating untuk meminjam sesuatu dari mu.” Untuk itu, Ka`b berkata, “Oleh Allah, kamu akan cape (bosan) menghadapi dia (Muhammad)!” Maslama berkata, “Sekarang sejak kami sudah mengikutinya, kami tidak mau meninggalkan dia dan sampai kami melihat bagaimana dia akhirnya. Sekarang kami mau kamu meminjamkan kepada kami satu atau dua truk onta penuh dengan makanan.” Ka`b berkata, “Ya, tapi kamu mesti memberikan jamiman pada saya.” Maslama dan temannya berkata, “Apa yang kamu mau?” Ka`b menjawab, “Jaminkan perempuan anda pada saya”. Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami menjaminkan perempuan kami pada anda dan anda adalah yang terganteng daripada semua orang Arab?” Ka`b berkata, “Kalau begitu jaminkan anak anda kepada saya.” Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami menjaminkan anak-anak kami kepada mu? Di waktu yang akan datang, mereka akan dihina oleh orang-orang bahwa si anu telah dijaminkan untuk satu truk onta penuh makanan. Hal itu akan membuat kami malu, tapi kami akan menjaminkan senjata kami kepadamu.”

      Maslama dan temannya menjanjikan pada Ka`b bahwa Maslama akan kembali padanya. Dia datang ke Ka`b pada malam harinya bersama dengan saudara lelaki angkat Ka`b, Abu Na`ila. Ka`b mengundang mereak untuk masuk kedalam rumahnya dan pergi bersama dengan mereka. Isterinya menanyakan padanya, “Kemana engkau akan pergi di waktu malam demikian?” Ka`b menjawab, “Tidak lain tetepai Maslama dan saudara angakat saya abu Na`ila yang datang.” Isterinya berkata, “Saya mendengar suara seakan-akan darah bercucuran darinya.” Ka`b berkata, “Mereka tidak lain tetapi saudara saya Maslama dan saudara angkat saya Abu Na`la. Seorang yang murah hati selayaknya memenuhi undangan untuk melewatakan malam hari walaupun jika diundang untuk dibunuh.”

      Maslama pergi dengan kedua lelaki tersebut. Jadi Maslama masuk bersama dengan dua orang, dan berkata kepada mereka, “Ketika Ka`b datang, saya akan menyentuh rambutnya dan menciumnya, dan ketika kamu melihat bahwa saya telah memegang kepalanya, pukulah dia. Saya akan membiarkan anda mencium kepalanya.”

      Ka`b bin al-Ashraf turun dan menghampiri mereka dalam pakaiannya, dan menyebarkan bau parfum. Maslama berkata, “Saya belum pernah mencium wangi yang lebih baik dari pada ini.” Ka`b menjawab, “Saya mempunyai wanita Arab terbaik yang mengetahui cara penggunaan parfum kelas tinggi.” Maslaam meminta Ka`b, “Bolehkan saya mencium kepala anda?” Ka`b berkata, “Boleh.” Maslama menciumnya dan membuat temanya menciumnya juga. Kemudian dia meminta Ka`b lagi, “Apakah saya boleh (mencium kepala anda)?” Ka`b berkata, “Boleh.” Ketika Maslama berhasil memegangnya erat, dai berkata (kepada teman-temannya) , “Tangkap dia!” KEMUDIAN MEREKA MEMBUNUHNYA dan pergi kepada nabi untuk memberitahukan kepadanya.

      Atau sumber kuno lainnya :

      Dari Ibn Sa’d,

      Kitab Al Tabaqat Al Kabir, volume 1, halaman 37 :

      Mereka (Maslama dan teman-temannya) memotong kepalanya (Ka` dan membawanya …. MEREKA MENYUGUHKAN KEPALA KA`B DIHADAPAN MUHAMMAD. DIA (NABI) MEMUJI ALLAH ATAS KEMATIANNYA (KA`B)

      Jadi seseorang bisa dengan mudah dibunuh hanya karena tulisannya. Padahal apa yang ditulis oleh Kaab hanyalah lirik yang menyesalkan banyaknya orang Quraish yang meninggal. Tuduhan bahwa Kaab menulis lirik yang menghina muslimah tidak pernah dibuktikan terbukti dengan tidak adanya dalam kutipan Ibn Ishaq diatas.

      Jadi karena Muhammad SAW tidak senang dengan tulisan Kaab bin Al Ashraf, MAKA DIBUNUHNYALAH ORANG TERSEBUT DENGAN CARA YANG LICIK, DIMALAM HARI DAN DENGAN PENIPUAN.

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      Tampaknya Muhammad SAW memang adalah orang yang tidak bisa memaafkan orang lain. Dan ironis sekali karena Muhammad SAW sendiri ternyata melanggar apa yang sudah diperintahkan oleh Allah SWT.

      QS 5 : 13 : ………… dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka MAAFKANLAH MEREKA DAN BIARKAN MEREKA, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik

      Jadi bagi Muhammad SAW adalah LEBIH BAIK MEMUASKAN DENDAMNYA DARIPADA MENGIKUTI PERINTAH ALLAH SWT untuk memaafkan dan membiarkan dan menjadi orang baik-baik.

      4. IBN SUNAYNA (KEBENCIAN RAS)

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 2, halaman 194

      Rasulullah berkata, “BUNUH SETIAP YAHUDI yang jatuh kedalam kekuasaanmu” . Setelah itu Muhayyisa bin Mas’ud menyergap dan menyerang Ibnu Sunayna seorang pedagang Yahudi yang sebenarnya mempunyai hubungan sosial dan bisnis dengan mereka dan dia membunuhnya.

      SUNNAH NABI YANG SANGAT KEJI. Membunuh setiap Yahudi hanya karena dia terlahir sebagai Yahudi. Tidak perduli apakah si Yahudi benar atau salah. Sungguh ironis, muslim senantiasa menuduh Yahudi membenci Islam, namun sunah nabi diatas jelas menunjukkan sebaliknya, Muhammad SAWlah yang sangat membenci Yahudi.

      Pembunuhan ini dikecam oleh saudara Muhayyisa yang bernama Huwayissa yang menyatakan, “Kamu membunuhnya sedangkan banyak lemak diperutmu berasal dari kekayaannya” (halaman 194)

      Cerita kemudian berkembang dimana Huwayyisa tertarik dengan Islam karena kepatuhan Muhayyisa untuk mentaati Muhammad SAW.

      Sumber :

      Ibid, halaman 194

      “Demi Allah, jika Muhammad memerintahkanmu untuk membunuhku, apakah engkau akan melakukannya” . Dia (Muhayyisa) berkata, “Ya, demi Allah, seandainya dia memerintahkan aku untuk membunuhmu aku akan melakukannya” . Dia (Huwayyisa) berkata, “Sungguh menakjubkan agama yang dapat membuatmu menjadi seperti ini!”. Dan mulai saat itu dia (Huwayyisa) masuk Islam.

      Kisah yang sangat ironis. Huwayyisa tertarik dengan Islam karena kepatuhan saudaranya terhadap apa yang diperintahkan Muhammad SAW. TERMASUK KEPATUHAN UNTUK MEMBUNUH SAUDARANYA SENDIRI.

      5. SALLAM IBN ABUL-HUQAIQ (PEMBUNUHAN UNTUK KEPUASAN)

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 2, halaman 324 – 325

      …., muncullah masalah Sallam ibn Abdul Huqaiq yang dikenal sebagai Abu Rafi berkaitan dengan mereka yang telah mengumpulkan orang-orang dari berbagai suku untuk bersama-sama melawan Rasulullah ……. Maka Khazraj meminta kepada Rasulullah dan DIIJINKAN OLEH BELIAU UNTUK MEMBUNUH SALLAM yang saat itu sedang berada di Khaibar. …….. Ketika Aus telah membunuh Kaab karena sikap permusuhannya terhadap Rasulullah, segera Khazraj mengucapkan kata-kata itu dan bertanya kepada kaumnya sendiri siapakah yang begitu memusuhi rasulullah sebagaimana Kaab?. Merekapun segera ingat kepada Sallam yang berada di Khaibar dan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya dan merekapun diijinkan. ……….. Saat mereka telah sampai di Khaibar segera mereka mendatangi rumah Sallam di malam hari …. ISTRI SALLAM KELUAR DAN MENANYAKAN SIAPAKAH MEREKA DAN DIJAWABLAH BAHWA MEREKA ADALAH ORANG-ORANG ARAB YANG MENCARI MAKANAN. MAKA MEREKAPUN DIPERBOLEHKAN MASUK. Ketika kami masuk kami segera mengunci pintu kamarnya karena kami khawatir akan ada yang menghalangi kami. ……… Setelah kami menebaskan pedang padanya, ABDULLAH BIN UNAIS MENUSUK PERUTNYA SAMPAI TEMBUS …….

      MUHAMMAD SAW MEMBUNUH SALLAM HANYA UNTUK MEMUASKAN KEINGINAN BANI KHAZRAJ yang ingin berjasa seperti bani Aus yang telah membunuh Kaab bin Al Ashraf.

      Pembunuhan diatas ditambah lagi dengan KEBOHONGAN DENGAN MEMANFAATKAN KEBAIKAN HATI KELUARGA SALLAM yang mau menerima mereka untuk memberi makan.

      Sungguh ironis sekali.

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      Lagi-lagi Muhammad SAW melanggar perintah Allah SWT yang lain lagi.

      QS 15 : 85 :

      Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, MAKA MAAFKANLAH (MEREKA) DENGAN CARA YANG BAIK.

      Bagi Muhammad adalah lebih baik menuntaskan dendamnya daripada mengikuti perintah Allah SWT untuk memaafkan dengan cara yang baik.

      6. UMAIYA BIN KHALAF ABI SAFWAN (BENCI KARENA GAGAL MERAMPOK)

      Sumber :

      Bukhari Volume 4, buku 56, Nomor 826:

      Dikisahkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud:

      Sad bin Muadh datang ke Madinah dengan tujuan untuk melakukan umrah dan dia tinggal di rumah Umaiya bin Khalaf Abi Safwan ……… Umaiya berkata kepada Sa’d, “Tunggulah hingga siang hari saat orang-orang berada dirumah mereka, baru kamu pergi melakukan tawaf mengelilingi Kabah”. Saat Sad sedang mengelilingi Kabah, Abu Jahl mendatanginya dan berkata, “Siapa itu yang sedang bertawaf?” Sad menjawab, “Aku Sad”. Abu Jahl berkata, “Apakah kamu aman sekalipun kamu pernah memberikan perlindungan kepada Muhammad dan sahabat-sahabatnya. ?” Sad berkata, “Ya”, dan mereka mulai bertengkar. Umaiya berkata kepada Sad, “Jangan bertengkar dengan Abu Jahl karena dia adalah pemimpin Mekkah”. Sad kemudian berkata kepada Abu Jahl, “Demi Allah, jika kamu menghalangi aku bertawaf, Aku akan menghancurkan perdaganganmu dengan Syam”. Umaiya terus berusaha menenangkan Sad. Sad menjadi marah dan BERKATA KEPADA UMAIYA, “PERGILAH DARIKU KARENA AKU MENDENGAR MUHAMMAD AKAN MEMBUNUHMU”. Umaiya bertanya, “Apakah Muhammad benar akan membunuhku?” . Sad berkata, “Ya!”. Umaiya berkata, “Demi Allah, jika Muhammad berkata sesuatu, dia tidak akan berbohong”. ………. Maka ketika kaum Quraish menuju ke Badar dan menyatakan perang, …..istri Umaiya berkata, Tidaklah kamu mengingat apa yang dikatakan saudaramu yaitu Sad”. (cat : bahwa Muhammad akan membunuh Umaiya) Umaiya memutuskan tidak berperang tetapi Abu Jahl berkata kepadanya, “Kamu aalah dari keluarga bangsawan di Mekah, maka kamu harus ikut kami untuk satu atau dua hari.” UMAIYA PERGI BERSAMA MEREKA DAN ALLAH KEMUDIAN MEMBUNUHNYA.

      Kebencian Muhammad SAW tampaknya dipicu karena KEGAGALANNYA UNTUK MERAMPOK BARANG DAGANGAN UMAYYA BIN KHALAF. Namun siapa sih orang yang mau barang dagangannya dirampok, sekalipun yang merampok mengaku sebagai utusan Allah SWT dan mungkin kegiatannya merampok atas wahyu Allah SWT.

      Sumber :

      Sejarah Hidup Muhammad SAW

      Muhammad Husain Haekal

      BAGIAN KEDUABELAS: SATUAN-SATUAN DAN BENTROKAN-BENTROKAN PERTAMA

      Lalu ia mengadakan persekutuan dengan pihak Banu Dzamra; bahwa sebulan sesudah itu ia pergi lagi mengepalai 200 orang dari Muhajirin dan Anshar – menuju Buwat dengan SASARAN SEBUAH KAFILAH YANG DIPIMPIN O]EH UMAYYA B. KHALAF yang terdiri dari 2.500 ekor unta dikawal oleh 100 orang pasukan perang. Tapi juga sudah tidak bertemu lagi, sebab mereka sudah MENGAMBIL HALUAN LAIN, bukan jalan kafilah

      Jadi setelah berada di Medinah, Muhamamd SAW sering malakukan penyerangan terhadap kafilah-kafilah Quraish untuk merampok mereka.

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 2, halaman 97, 121

      Ekspedisi Besar ke Lembah Badar

      Kemudian Rasulullah mendengar bahwa Abu Sufyan bin Harb datang dari Syria dengan sebuah kereta besar kaum Quraish yang membawa uang dan barang dagangan …… beliau memanggil orang-orang Islam dan berkata, “INI ADALAH KERETA QURAISH YANG BERISIKAN HARTA KEKAYAAN MEREKA. BERANGKATLAH UNTUK MELAKUKAN PENYERANGAN, semoga Allah memberikan keberhasilan kepada kita.”… Kemudian Rasulullah memerintahkan agar semua BARANG RAMPASAN PERANG yang telah dikumpulkan didalam tenda dibawa bersama-sama ……

      Akibat perampokan inilah yang kemudian memicu terjadinya perang Badar yang merenggut sangat banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Umayya sendiri akhirnya mati karena dibunuh oleh Bilal yang mendendam karena pernah disiksa oleh Umayya. Tampaknya agama Islam yang dipeluknya tidak dijalankannya dengan benar.

      Sumber :

      Sejarah Hidup Muhammad SAW

      Muhammad Husain Haekal

      BAGIAN KETIGABELAS : PERANG BADR

      Bilal melihat Umayya b. Khalaf dan anaknya, begitu juga beberapa orang Islam melihat mereka yang dikenalnya di Mekah dulu. Umayya ini adalah orang yang pernah menyiksa Bilal dulu, ketika ia dibawanya ketengah-tengah padang pasir yang paling panas di Mekah. Ditelentangkannya ia di tempat itu lalu ditindihkannya batu besar di dadanya, dengan maksud supaya ia meninggalkan Islam. Tetapi Bilal hanya berkata: “Ahad, Ahad. (Yang Satu, Yang Satu.)” Ketika dilihatnya Umayya, Bilal berkata : “Umayya, moyang kafir. Takkan selamat aku, kalau kau lolos!” Beberapa orang dari kalangan Muslimin mengelilingi Umayya dengan tujuan jangan sampai ia terbunuh dan akan dibawanya sebagai tawanan. Tetapi Bilal di tengah-tengah orang banyak itu berteriak sekeras-kerasnya: “Sekalian tentara Tuhan! Ini Umayya b. Khalaf kepala kafir. Takkan selamat aku kalau ia lolos.” Orang banyak berkumpul. Tetapi Bilal tak dapat diredakan lagi, DAN UMAYYA DIBUNUHNYA.

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      MUHAMMAD SAW SENDIRI MENCURI dan ironisnya dalam salah satu perintahnya Allah SWT memberikan syarat untuk bisa diampuni Allah SWT adalah TIDAK MENCURI.

      QS 60 : 12 :

      Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, TIDAK AKAN MENCURI, tidak akan berzina, ……. maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

      Kegiatan mencuri memang DIKECAM OLEH ALLAH SWT. NAMUN TOH TETAP DILAKUKAN OLEH MUHAMMAD SAW dengan merampok.

      QS 29 : 67 :

      Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, SEDANG MANUSIA SEKITARNYA RAMPOK-MERAMPOK. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?

      Kegiatan merampok dan mencuri bahkan diancam hukuman potong tangan. Namun hukuman potong tangan ini tampaknya tidak berlaku bagi Muhammad SAW dan pengikut-pengikutny a. Jadi perintah ini dilanggar sendiri oleh Muhammad SAW.

      QS 5 : 38 :

      Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang MENCURI, POTONGLAH TANGAN KEDUANYA (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

      Sangat jelas bahwa Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya telah mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an sendiri, dan Al-Qur’an memang sudah memperingatkan hal ini.

      QS 6 : 49 :

      Dan orang-orang yang MENDUSTAKAN AYAT-AYAT KAMI, mereka akan ditimpa SIKSA disebabkan mereka selalu BERBUAT FASIK.

      7. AMIR BIN JIHASY BIN KAAB (PEMBUNUHAN KARENA CURIGA – 1)

      Dikisahkan bahwa sat Muhammad SAW mengunjungi bani Nadhir, Muhammad memang sedang mencari2 alasan agar bisa merampok bani Yahudi ini, karenanya ia menuduh seorang dari mereka yaitu Amir bin Jihasy bin Kaab BERMAKSUD menjatuhkan batu keatas Muhammad SAW saat sedang duduk.

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 2, halaman 270

      Rasulullah duduk disebelah dinding rumah salah seorang diantara mereka pada saat itu. Amir bin Jihasy bin Kaab mengajukan diri untuk melakukannya dan NAIK KE ATAS UNTUK MENJATUHKAN BATUNYA. Ketika rasulullah sedang berada bersama sejumlah pengikutnya yang diantaranya adalah Abu Bakar, Umar dan Ali, DATANGLAH KABAR UNTUKNYA DARI SURGA mengenai orang-orang yang dimaksud dan kemudian beliau berdiri dan berkata kepada rombongannya, “Jangan kemana-mana sampai aku kembali kesini lagi”. Dan beliau kembali ke Madinah.

      Jadi Muhammad SAW mendapatkan pemberitahuan dari langit bahwa Amir bin Jihasy akan membunuhnya. TUDUHAN YANG TIDAK PERNAH DIBUKTIKAN. Bahkan sahabat-sahabat Muhammad sendiri tidak mengetahui alasan Muhammad SAW meninggalkan mereka di bani Nadhir.

      Sumber :

      Ibid, halman 270 – 271

      Ketika para sahabat itu merasa telah lama menunggu Rasulullah, maka BANGKITLAH MEREKA UNTUK MENCARINYA dan menjumpai seseorang yang baru tiba dari Medinah dan menanyakan kepadanya mengenai beliau. Dikatakannya bahwa dia telah melihat beliau masuk Madinah, dan berangkatlah mereka, dan ketika mereka menemukan beliau, oleh Rasulullah MEREKA DIBERITAHU tentang penghianatan orang-orang Yahudi (cat : bani Nadhir) yang ditujukan pada beliau. Rasulullah memerintahkan mereka untuk menyiapkan diri untuk berperang …. Untuk mendatangi mereka.

      Bani Nadhir yang memang tidak memiliki kekuatan bersenjata, akhirnya menyerah dan harus merelakan hartanya dirampok oleh Muhammad SAW.

      Sumber :

      Ibid, halaman 271

      Mereka meninggalkan harta bendanya kepada Rasulullah yang dapat digunakan menurut kehendak dan kebijakan beliau.

      Namun Muhammad tidak dapat melupakan dendam pribadinya karena pernah MERASA AKAN dilempar batu oleh Amir bin Jihasy, dan hukuman matilah yang dijatuhkan.

      Sumber :

      Ibid, halaman 272

      Salah seorang keluarga Yamin mengatakan kepada saya bahwa Rasulullah mengatakan kepada Yamin, “Pernahkan kamu melihat bagaimana sepupumu menerimaku dan apakah yang ingin dia lakukan ?”. Maka kemudian Yamin memberi uang kepada seseorang dan menyuruhnya membunuh Amir bin Jihasy dan diapun membunuhnya.

      Luar biasa, nyawa seseorang harus melayang KARENA KECURIGAAN MUHAMMAD SAW yang MERASA akan ditimpa batu. Kecurigaan yang tidak pernah diklarifikasi dan dibuktikan.

      Melihat dari kisah diatas sangat mungkin bahwa Muhammad SAW memang MENYEBAR FITNAH bahwa dia akan ditimpa batu oleh Amir bin Jihasy agar mendapatkan legitimasi untuk menyerang dan merampok kekayaan bani Nadhir.

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      Apa yang dikatakan tentang fitnah.

      QS 68 : 10 – 11 :

      Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang BANYAK BERSUMPAH lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari MENGHAMBUR FITNAH

      Ayat diatas tampaknya mengena bagi Muhammad SAW karena beliau sendiri gemar bersumpah.

      Sumber :

      Sejarah Hidup Muhammad SAW

      Muhammad Husain Haekal

      Bagian keenambelas : Pengaruh Uhud

      Tetapi Muhammad jadi marah karena sikap lemah dan mau surut itu. IA BERSUMPAH mengatakan kepada mereka, bahwa ia akan pergi juga ke Badr walaupun seorang diri.

      Begitupula saat Muhamamad SAW bersumpah kepada istri-istrinya dan kemudian harus dibatalkan dengan bantuan ayat Al-Qur’an.

      Sumber :

      Ibid

      Bagian keduapuluh enam : Ibrahim dan Istri-Istri Nabi

      Muhammad segera menyadari bahwa rasa cemburulah yang telah mendorong Hafsha menyatakan apa yang telah disaksikannya itu serta membicarakannya kembali dengan Aisyah atau isteri-isterinya yang lain. Dengan maksud hendak menyenangkan perasaan Hafsha, ia bermaksud HENDAK BERSUMPAH MENGHARAMKAN MARIA BUAT DIRINYA kalau Hafsha tidak akan menceritakan apa yang telah disaksikannya itu. ……. Ia pergi ke mesjid, dan dengan suara keras ia berkata kepada mereka: “Rasulullah – s.a.w. – tidak menceraikan isterinya.” Sehubungan dengan peristiwa inilah ayat-ayat suci ini turun: “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang oleh Tuhan dihalalkan untukmu; hanya karena engkau ingin memenuhi segala yang disenangi para isterimu? Dan Allah jua Maha Pengampun dan Penyayang. Tuhan telah MEWAJIBKAN KAMU MELEPASKAN SUMPAH KAMU ITU. Dan Tuhan jua Pelindungmu, Dia mengetahui dan Bijaksana.”

      8. SEORANG YANG TIDAK DIKENAL (PEMBUNUHAN KARENA CURIGA – 2)

      Tampaknya Muhammad SAW memang memiliki tingkat kecurigaan yang sangat tinggi. Kisah berikut ini membuktikan dimana nyawa seseorang sungguh tidak berarti dimata Muhammad SAW.

      Sumber :

      Bukhari Volume 4, Buku 52, Nomor 286:

      Dikisahkan oleh Salama bin Al-Akwa :

      Seorang mata-mata kafir datang kepada Rasulullah saat dalam satu perjalanannya. Mata-mata tersebut duduk bersama sahabat-sahabat nabi dan bercakap-cakap kemudian pergi. Rasulullah berkata kepada sahabat-sahabatnya, “KEJAR ORANG TADI DAN BUNUH DIA”. Maka aku membunuhnya.

      Bahkan siapa nama orang yang dituduh mata-mata itupun tidak diketahui. Tidak juga ada usaha klarifikasi atas tuduhan Muhammad SAW. Betapa tidak berharganya nyawa orang tersebut. Tidakkah terpikir bagaimana nasib istri dan anak-anaknya?

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      Lagi-lagi Muhammad SAW melanggar perintah berikut yaitu agar tidak kebanyakan purba sangka.

      QS 49 : 12 :

      Hai orang-orang yang beriman, JAUHILAH KEBANYAKAN PURBA-SANGKA (kecurigaan) , karena sebagian dari purba-sangka itu DOSA

      9. ABU AFAK (PEMBUNUHAN KARENA SYAIR)

      Salah satu pembunuhan yang paling tidak pandang bulu adalah pembunuhan seorang KAKEK TUA RENTA YANG TELAH BERUMUR 120 TAHUN yaitu Abu Afak hanya karena Abu Afak menuliskan syair mengecam Muhammad SAW.

      Sumber

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 2, halaman 233 – 234

      Abu Afak adalah salah seorang dari bani Amr bin Auf dari kelompok bani Ubaidah. Dia menunjukkan kemunafikannya ketika Rasulullah membunuh Harits bin Suwaid bin Samit dan berkata :

      Aku telah hidup lama tetapi aku tidak pernah menemui

      Sebuah kelompok atau perkumpulan orang

      Yang lebih setia kepada tanggungjawab mereka

      Dan sekutu-sekutu mereka ketika memanggil mereka

      Daripada keturunan Qaila ketika mereka sedang berkumpul

      Orang-orang yang melempar gunung dan tidak pernah menyerah

      Penunggang kuda yang datang kepada mereka memecah mereka menjadi dua (mengtakan)

      “Izinkan”, “Jangan izinkan” segala amalan dan tindakan

      Jika engkau percaya akan kejayaan atau kerajaan

      Engkau akan mengikuti Tuba

      Rasulullah berkata, “SIAPA YANG BERSEDIA MEMBUAT PERHITUNGAN DENGAN BAJINGAN INI UNTUKKU?” Kemudian Salim bin Umair dari bani Amr bin Auf salah satu dari para penangis berangkat dan membunuh dia………

      Atau menurut sumber kuno berikut :

      Kitab Al Tabaqat Al Kabir Volume 2,

      Ibn Sa`d, halaman 32 :

      Kemudian terjadi serangan (“sariyyah”) oleh Salim Ibn Umayr al-Amri terhadap Abu Adak, orang Yahudi pada (bulan) Shawwal dipermulaan dari bulan ke duapuluh dari hijrah Rasulullah. Abu Afak adalah dari Bani Amr Ibn Awf dan seorang yang sudah tua yang telah mencapai umur 120 tahun. Dia seorang Yahudi, dan dulunya pernah menghasut orang-orang untuk menentang Rasulullah, dan menyusun bait-bait puisi yang bersifat menyindir (Muhammad). Salim Ibn Umayr yang adalah salah seorang yang paling berduka yang berpartisipasi dalam perang Badr berkata, “Saya bersumpah bahwa saya harus membunuh abu Afak atau mati dihadapannya. ” Dia menunggu kesempatannya sampai suata malam yang panas datang, dan Abu Afak tidur di ruang terbuka. Salim Ibn Umayr mengetahui hal ini, sehingga dia MENUSUKKAN PEDANGNYA PADA HATI ABU AFAK DAN MENEKANNYA SAMPAI TEMBUS KE KASURNYA. Musuh Allah berteriak dan orang-orang yang menjadi pengikutnya segera datang kepadanya, membawa dia ke rumahnya dan menguburkannya.

      Abu Afak menuliskan syair-syairnya di Medinah yang mengkritisi Muhammad SAW. Abu Afak menilai bahwa pengajaran Muhammad SAW sering diubah-ubah, tercermin dari kritikannya “Izinkan” dan “Jangan izinkan”. Selain itu Abu Afak menyerukan untuk mengikuti Tuba yang adalah seorang raja dari Yaman yang beragama Yahudi.

      Namun tidak ada satu catatanpun dimana Abu Afak membujuk kaumnya untuk melakukan kekerasan fisik terhadap Muhammad SAW. Seorang yang berumur 120 tahun, sudah barang tentu bukanlah ancaman bagi Muhammad SAW secara fisik.

      Namun karena Abu Afak telah berani mengkritik Muhammad SAW dan karena dia adalah keturunan Yahudi, maka nasib sudah ditentukan yaitu Abu Afak harus mati apapun penyebabnya.

      Tidakakah Anda melihat bahwa pembunuhan terhadap Abu Afak seorang tua renta oleh Salim seorang pejuang Muslim dengan cara mencuri-curi pada saat Abu Afak tertidur lelap sebagai perbutaan yang sangat pegecut?

      Apakah ada yang berani mempertanyakan kediktatoran Muhmmad dan para sahabat? Adakah yang berani vokal pada jaman Orba? Adakah rakyat Irak yang berani menentang Saddam Hussein sebelum jatuh? Apakah yang akan terjadi pada mereka yang berani menentang para diktator? Jawabnya, jelas akan dibunuh dengan keji.

      Apakah hanya karena sindrian dari puisi dan kata-kata Abu Afak yang tidak berkenan dihati Muhammad, nyawanya bisa diambil oleh Muhammad begitu saja? Apakah ini standard moral Muhammad sebagai seorang utusan Allah?

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      Tampaknya bagi Muhammad SAW membunuh seorang kakek tua renta yang sudah ompong hanyalah hal kecil saja dan tidak ada artinya. Kekejian ini bisa jadi adalah inspirasi dari syaitan sesuai peringatan ayat berikut :

      QS 2 : 169 :

      Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

      10. ASMA BINTI MARWAN (NASIB MUNIR WANITA)

      Begitulah yang terjadi sesudah pembunuhan Abu Afak yang tua renta yang sudah tidak bergigi itu. Asma bint Marwan menyuarakan ketidakpuasan atas kekejaman dan ketidakadilan Muhammad dalam memerintahkan pembunuhan Abu Afak. Karena berani mempertanyakan perbuatan keji Muhammad, nyawa Asma bint Marwan pun melayang sia-sia tanpa bekas. Kambing pun tidak akan peduli, begitulah kira-kira pernyataan Muhammad setelah Asma dibunuh.

      Sumber

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 2, halaman 233 – 234

      Asma adalah dari bani Umayyah bin Zaid. Ketika Abu Afak terbunuh dia menunjukkan kemunafikannya. Abdullah bin Harits bin Fudail dari ayahnya mengatakan bahwa di dinikahi seseorang dari bani Khatma yang bernama Yazid bin Zaid. Dia mencaci-maki Islam dan para pengikutnya dengan mengatakan :

      Aku memangdang rendah Bani Malik dan Al Nabit

      Dan auf dan bani Khazeaj

      Engkau mematuhi orang asing yang bukan golonganmu

      Dia bukan Murad atau Madhhij

      Apakah yang engkau harapkan darinya setelah kematian pemimpinmu

      Seperti orang yang kelaparan yang menantikan kaldu

      Tidak adakah orang yang berani menyerang dia dengan kejutan

      Dan mematahkan harapan mereka yang menantikan sesuatu darinya

      ……….

      Ketika Rasulullah mendengar apa yang dia katakan, beliau berkata, “SIAPA YANG AKAN BERANGKAT UNTUK MEMBEBASKAN AKU DARI PUTRI MARWAN ITU?” Umair bin Adiy al Khatami yang saat bersama beliau mendengarnya dan pada tengah malam dia pergi kerumah Asma dan membunuhnya. Dia menemui Rasulullah esok harinya dan menceritakan kepada beliau apa yang telah terjadi dan beliau berkata, “Wahai Umair, engkau telah menolong Allah dan Rasulullah”. Ketika dia berkata bagaimana jika dia mendapat ancamanatau akibat buruk, beliau menjawab, “dua ekor kambing tidak akan menandukkan kepala mereka karena kematiannya” .

      Atau sumber kuno berikut :

      Kitab al-Tabaqat al-Kabir, terjemahan S. Moinul Haq, Vol. 2, hal. 31

      Ibn Sa’d

      SERANGAN (SARIYYAH) UMAYR IBN ADI

      Kemudian terjadilah serangan (sariyyah) Umayr ibn Adi Ibn Kharashah al-Khatmi terhadap Asma Bint Marwan dari Bani Umayyah Ibn Zayd, ketika lima malam sebelum bulan suci Ramadhan, dipermulaan bulan keduapuluh sejak hijrah Rasulullah. Asma adalah isteri Yazid Ibn Zayd Ibn Hisn al-Khatmi. Dia sebelumnya pernah mencerca Islam, menyakiti hati nabi (Muhammad) dan mempengaruhi orang-orang menentang dia. Dia membuat bait-bait puisi. UMAYR IBN ADI MENDATANGINYA PADA MALAM HARI DAN MASUK KE RUMAHNYA. ANAK-ANAKNYA SEDANG TIDUR DI SEKITARNYA. ADA SATU YANG SEDANG DIA SUSUI. DIA (UMAYR) MENCARINYA DENGAN TANGANYA KARENA DIA BUTA, DAN MEMISAHKAN ANAK ITU DARINYA. DIA MENGHUJAMKAN PEDANGNYA DI DADANYA HINGGA TEMBUS KE PUNGGUNGNYA. Kemudian dia melakukan sholat pagi bersama dengan nabi (Muhammad) di al-Madina. Rasulullah bersabda padanya: “Apakah kamu sudah membantai anak perempuan Marwan?” Dia berkata: “Sudah. Apakah adalah hal lain yang perlu saya lakukan?” Dia (Muhammad) bersabda: “Tidak ada. DUA KAMBING TIDAK AKAN MENGADU KEPALA MENGENAI DIA (Asma).” Inilah adalah kata-kata yang pertama kali didengar dari Rasulullah. Rasulullah memberi julukan kepadanya Umayr, “basir” (yang melihat).

      Lagi-lagi suatu pembunuhan keji dan pengecut yang dilakukan oleh pengikut setia Muhammad. Pembunuhan terhadap Abu Afak dan Asma bint Marwan dilakukan dengan sangat pengecut secara diam-diam pada malam hari saat korban sedang tidur lelap. Pembunuhan Asma seorang WANITA YANG SEDANG MENYUSUI ANAKNYA YANG MASIH BALITA adalah sangat kejam. Hanya karena puisinya dan pembelaannya atas kematian Abu Afak yang tua renta, Asma dihabisi oleh Muhammad secara kejam dan keji. Begitu teganya Muhammad menghabisi nyawa seorang perempuan tak berdaya yang mempunyai lima anak dan satu diantaranya masih menyusui. Bisa dibayangkan penderitaan keluarga Asma.

      Yang lebih parah lagi, Muhammad mengatakan bahwa kambingpun tidak akan beradu kepala mengenai hal ini. Yang artinya tidak akan ada yang peduli. Memang Muhammad dan pengiktunya tidaklah akan peduli, tapi lima anak Asma yang masih kecil dan keluraganya tentunya sangat peduli

      Asma yang memprotes pembunuhan adalah gambaran seorang pembela HAM seperti MUNIR. Dan karena memprotes pembunuhan makanya Asma harus disingkirkan. Betapa miripnya dengan nasib Munir yang memprotes penghilangan aktivis, hidupnya harus berakhir tewas dibunuh dengan diracun

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN :

      Lagi-lagi Muhammad SAW melanggar perintah Al-Qur’an yang menyuruh untuk memberikan harta bagi anak-anak yatim. Bukannya mengasihi anak yatim, Muhammad SAW justru membuat anak-anak menjadi yatim. Ironis sekali.

      QS 2 : 177 :

      Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya KEBAJIKAN ITU IALAH beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, ANAK-ANAK YATIM,

      11. ABDULLAH BIN KHATAL (NASIB ORANG YANG BERPALING DARI ISLAM – 1)

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 3, halaman 54 – 55

      Seorang lagi yang harus dibunuh adalah Abdullah bin Khatal dari bani Taim bin Ghalib. Dia pernah menjadi muslim dan diutus Rasulullah untuk mengumpulkan zakat bersama seorang Anshar dengan dibantu seorang bekas budak yang telah merdeka. Ketika mereka beristirahat, Abdullah memerintahkan si bekas budak itu untuk menyembelih kambing dan memasaknya lalu dia menunggunya sambil tidur. Ketika bangun perintahnya ternyata belum dilaksanakan, maka bekas budak itu dibunuhnya dan lalu DIA MENJADI KAFIR……… Abdullah bin Khatal dibunuh oleh Said bin Huraits al Makhzumi dan Abu Barzah al Aslami

      Atau menurut sumber hadis berikut :

      Sahih Bukhari, volume 5 nomor 582 :

      Dikisahkan oleh Anas bin Malik : Pada hari penaklukan, Rasulullah memasuki Mekah, menggunakan penutup kepala. Ketika Rasulullah melepas penutup kepalanya, seseorang datang dan berkata, “Ibn Khatal sedang memanjat dinding Kabah”. RASULULLAH BERKATA, “BUNUH DIA!”

      Ibn Khatal akhirnya dibunuh di Kabah.

      Sumber :

      Kitab al Tabaqat al Kabir, volume 2, halaman 174 :

      Ibn Sa’d

      Sungguh, Rasullah memerintahkan pengikutnya pada hari kemenangan untuk membunuh Ibn Abi Sarh, Fartana Ibn al-Zibr’ra and Ibn Khatal. Abu Barzah datang dan melihat [B]Ibn Khatal memegang erat dinding Kabah. ABU BARZAH KEMUDIAN MEROBEK PERUT IBN KHATAL.

      Ibn Khatal dibunuh tampaknya karena dia berpaling dari Islam. Itulah hukuman bagi orang yang pindah agama dari Islam, bunuh!!

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      Ibn Khatal telah berusaha untuk berlindung di Kabah, namun tetap dibunuh oleh pengikut Muhammad SAW, padahal katanya Kabah adalah tempat yang diberkahi dan siapapun yang memasukinya akan menjadi aman.

      QS 3 : 96 – 97 :

      Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang DIBERKAHI dan menjadi petunjuk bagi semua manusia [214]. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim [215]; BARANGSIAPA MEMASUKINYA (BAITULLAH ITU) MENJADI AMANLAH DIA

      Dengan perintah pembunuhan ini maka Muhammad SAW TELAH MENGINGKARI AL-QUR’ANNYA SENDIRI dan menjadikan apa yang ditulis oleh ALQUR’AN SALAH.

      12. MIQYAS BIN HUBABAH (NASIB ORANG YANG BERPALING DARI ISLAM – 2)

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 3, halaman 54, 55

      Rasulullah telah memerintahkan semua komandan pasukannya untuk hanya menyerang mereka yang melawan, kecuali beberapa orang yang beliau perintahkan untuk dibunuh ……. Kemudian juga Miqyas bin Hubabah yang pernah membunuh seorang Anshar yang membunuh saudaranya secara tidak sengaja, dan setelah itu KEMBALI KEPADA QURAISH SEBAGAI KAFIR ……… sedangkan Miqyas dibunuh oleh Numailah bin Abdullah, seorang pengikutnya sendiri. Saudara perempuan Miqyas berturur :

      Demi hidupku, Numaila telah membuat malu kaumnya

      Dan mengejutkan orang-orang dikala dia membunuh Miqyas

      Siapapun pasti pernah menemui seorang seperti Miqyas

      YANG MENYEDIAKAN MAKANAN BAGI PARA IBU MUDA DISAAT-SAAT SULIT.

      Miqyas adalah seorang yang murah hati, dia menyediakan makanan bagi para ibu muda dikala sulit. Namun karena DIA TELAH BERPALING DARI ISLAM MAKA NASIBNYA SUDAH JELAS, HARUS DIBUNUH.

      13. FARTANAH (KISAH SEDIH SEORANG BIDUANITA)

      Bahkan seorang budak wanita yang hanya bisa menyanyipun tidak luput dari perintah pembunuhan.

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 3, halaman 55

      Beliau juga memerintahkan untuk MEMBUNUH DUA PENYANYI WANITA MILIK ABDULLAH, salah satunya bernama Fartanah, karena mereka biasa menyanyikan lagu sindiran terhadap Rasulullah…… Sedangkan dua orang penyanyi Ibn Khatal, SEORANG TELAH DIBUNUH dan seorang lagi melarikan diri sampai kemudian dia meminta ampunan kepada Rasulullah dan dikabulkan.

      Luar biasa, apa yang dimiliki oleh budak wanita yang bernama Fartana itu?.

      Kekayaan?? Tidak!

      Kekuatan?? Tidak!

      Pasukan??? Tidak!

      Apakah Fartana merupakan ancaman bagi Muhammad SAW???? Tidak!

      Seorang budak wanita yang miskin harus dibunuh karena pernah menyanyi lagu yang membuat Muhammad SAW tersinggung.

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      Terlihat bagaimana lagi-lagi Muhammad SAW melanggar perintah untuk memperlakukan kaum miskin.

      QS 4 : 8 :

      Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat [270], anak yatim dan ORANG MISKIN, MAKA BERILAH MEREKA DARI HARTA ITU [271] (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka PERKATAAN YANG BAIK.

      Jadi bukannya santunan dan perkataan baik yang diterima Fartana, melainkan perkataan “BUNUH” yang dia terima. Dimana rasa memaafkan orang tidak berdaya itu??

      Sementara Muhammad SAW sendiri mengajarkan dalam ayat Al-Qur’an untuk memaafkan :

      QS 4 : 149 :

      Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau MEMAAFKAN SESUATU KESALAHAN (ORANG LAIN), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.

      14. HUWAIRITS BIN NUQAITS (ANAK JATUH, NYAWA MELAYANG)

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 3, halaman 55

      Juga ada Huwairits bin Nuqaits bin Wahab binAbdul bin Qusayi YANG DIBUNUH karena sering menghina Rasulullah di Mekah.

      Apa penghinaan yang dilakukan Huwairits?.

      Ibid, halaman 357

      Menurut catatan Ibn Hisham no. 804 :

      Pada suatu hari Abbas menaikkan Fatimah dan Ummi Khultum dua putrid Rasulullah pada seekor unta untuk membawa mereka dari Mekah menuju Madinah dan tiba-tiba al-Huwairits menghalau unta itu sehingga Fatimah dan Umi Kulhum terlempar dan jatuh dari atas unta itu.

      Jadi hanya karena kedua putrid Muhammad SAW terjatuh dari unta maka Huwairits harus dibunuh. Padahal bisa saja Huwairits tidak sengaja menghalau unta tersebut, atau bahkan mungkin kedua putri Muhammad SAW tidak berpegangan dengan kencang sehingga terjatuh. Jadi karena anak terjatuh, orang lain harus dibunuh.

      15. SARAH (PENGANTAR SURAT YANG MALANG)

      SARAH JUGA SEORANG BEKAS BUDAK YANG TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN. Dia pernah membawa surat yang memperingatkan Quraish bahwa Muhammad hendak menyerbu Mekah.

      Sumber :

      Sirah Ibnu Ishaq – Kitab Sejarah Nabi Tertua

      Muhammad bin Yasar bin Ishaq

      Muhamadiyah University Press, 2003, jilid 3, halaman 46 – 47

      ….. ketika Rasulullah memutuskan untuk menyerbu Mekah, Hatib bin abu Balta’ah menulis sebuah surat kepada Quraish mengatakan kepada mereka bahwa Rasulullah bermaksud mendatangi mereka. Dia memberikan surat tersebut kepada seorang wanita ….. adalah Sarah, seorang bekas budak……. Wanita tersebut menyembunyikan surat tersebut diatas kepalanya. Rasulullah mendapatkan kabar dari langit tentang apa yang telah dilakukan Hatib dan saat itu juga mengutus Ali dan Zubair bin Awwam untuk mengejar wanita itu…… Merasa terdesak akhirnya wanita itu mengeluarkan surat tersebut dan memberikannya kepada Ali dan kemudian memberikannya kepada Rasulullah ….

      Sarah tampaknya berhasil menyelamatkan dirinya. Namun vonis mati tampaknya memang sudah diberikan dan akhirnya dilaksanakan pada saat Umar berkuasa.

      Sumber :

      Ibid,halaman 56 :

      Sementara itu Sarah yang hidup hingga masa kepemimpinan UMAR, DIA DIBUNUH oleh seorang prajurit di satu lembah di Mekah.

      Bahkan hingga Muhammad SAW meninggalpun tampaknya hukuman mati kepada Sarah tidak dicabut. Bayangkan Sarah yang miskin, seorang diri dan terlunta-lunta bersembunyi pada akhirnya harus juga menerima kematiannya.

      KOMENTAR DARI AL-QUR’AN

      Tampaknya ayat berikut ini berlalu bagitu saja :

      QS 2 : 177 :

      Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya KEBAJIKAN ITU IALAH beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, ORANG-ORANG MISKIN, MUSAFIR (YANG MEMERLUKAN PERTOLONGAN) dan orang-orang yang meminta-minta

      Jadi dari penuturan sumber-sumber Islam sendiri terlihat bagaimana sikap Muhammad SAW terhadap mereka yang pernah “mengkritisi” dirinya. Ironi paling besar adalah bagaimana SIKAP MUNAFIK yang diperlihatkan :

      Perintah-perintah Al-qur’an yang jelas dan gamblang yang DIKLAIM DIHAFAL LUAR KEPALA OLEH RIBUAN MUSLIM sahabat-sahabat Muhammad SAW ternyata dilanggar begitu saja.

      Perintah datang kepada Muhamamad SAW, dan Muhammad SAW sendirilah yang mendustakan perintah tersebut. Dan menyedihkannya karena menurut Al-Qur’an, sikap seperti ini diganjar menjadi PENGHUNI NERAKA JAHANAM.

      QS 29 : 68 :

      Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau MENDUSTAKAN YANG HAK [1160] TATKALA YANG HAK ITU DATANG KEPADANYA? BUKANKAH DALAM NERAKA JAHANNAM itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?

      Atau jangan-jangan ayat-ayat tentang memaafkan itu dikarang kemudian setelah Muhammad SAW meninggal?? Mungkin saja

      • SERBUIFF 4:17 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

        yang pasti orang2 kafir maupun munafik, penghianat, mata2, penyiksa, pembunuh kaum muslim, melawan, memerangi Allah dan rasulnya maka akan mendapatkan pembalasan yang setimpal, ….masalah maaf memafakan itu haknya nabi. Kalau berat ya pasti tidal bisa dimaafkan…bukankan mereka yg pertama kali memerangi nabi ? .yah itulah pembalasannya….

    • wikki 4:55 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      dari cerita dan bukti diatas suku yang dibantai oleh muhammad tidak lagi menyerang dan tidak lagi mengancam muhammad ..satu satunya kesalaham mereka adalah karena mereka makmur dan kaya .dan tidak mengakui muhammad sebagai rasul . menurut anda apakah ini pantas jadi alasan untuk pemusnahan ras ini/??

    • SERBUIFF 4:17 am on 19/08/2012 Permalink | Reply

      setiap penghianat pasti akan mendapat hukuman yg berat, tidak hanya dulu, sekarangpun masih berlaku, faktor kekayaan buhan hal yg utama dan penting bagi muhammad …tujuan dia yg paling utama dan penting adalah mendakwahkan islam ke pada umat manusia…..tidak ada pemusnahan etnis, yg ada pengenaan hukuman atas kesalahan dan kejahatan mereka mereka…

    • wikki 8:59 am on 19/08/2012 Permalink | Reply

      mengapa kinana disiksa matanya di tusuk pakai besi panas meaksa memberitahukan dimana harta mereka disebunyakan itu apa namanya ???? baca dong hadis bukari .tabari.

  • SERBUIFF 1:49 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi   

    Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi 

    Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi
    Rubrik: Jejak – Dibaca: 2781 kali

    Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

    Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

    Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

    Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
    Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
    “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

    memberikan mahar berupa kebebasannya.

    Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

    Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

    Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

    Aini Firdaus

    http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

    =================================

     
     

    Shafiyah binti Huyay

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Shafiyah binti Huyay (Bahasa Arab صفية بنت حيي‎, Shafiya/ Shafya/ Safiyya/ Sofiya) (sekitar 610 M – 670 M) adalah salah satu istri ke-11 Muhammad yang berasal dari suku Bani Nadhir. Ketika menikah, ia masih berumur 17 tahun.[1] Ia mendapatkan julukan “Ummul mu’minin“.[2] Bapaknya adalah ketua suku Bani Nadhir, salah satu Bani Israel yang bermukim disekitar Madinah.

    Daftar isi

    Genealogi

    Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa’yah bin Amir bin Ubaid bin Kaab bin al-Khazraj bin Habib bin Nadhir bin al-Kham bin Yakhurn, termasuk keturunan Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Israel bin Ishaq bin Ibrahim. Ibunya bernama Barrah binti Samaual darin Bani Quraizhah. Shafiyyah dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah, atau dua tahun setelah masa kenabian Muhammad.

    Biografi

    Shafiyah telah menjanda sebanyak dua kali, karena dia pernah kawin dengan dua orang keturunan Yahudi yaitu Salam bin Abi Al-Haqiq (dalam kisah lain dikatakan bernama Salam bin Musykam), salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah, namun rumah tangga mereka tidak berlangsung lama.

    Kemudian suami keduanya bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abil Hafiq, ia juga salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah yang diusir Rasulullah. Dalam Perang Khaibar, Shafiyah dan suaminya Kinanah bin Rabi’ telah tertawan, karena kalah dalam pertempuran tersebut. Dalam satu perundingan Shafiyah diberikan dua pilihan yaitu dibebaskan kemudian diserahkan kembali kepada kaumny atau dibebaskan kemudian menjadi isteri Muhammad, kemudian Safiyah memilih untuk menjadi isteri Muhammad.

    Shafiyah memiliki kulit yang sangat putih dan memiliki paras cantik, menurut Ummu Sinan Al-Aslamiyah, kecantikannya itu sehingga membuat cemburu istri-istri Muhammad yang lain. Bahkan ada seorang istri Muhammad dengan nada mengejek, mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy bangsa Arab, sedangkan dirinya adalah wanita asing (Yahudi). Bahkan suatu ketika Hafshah sampai mengeluarkan lisan kata-kata, ”Anak seorang Yahudi” hingga menyebabkan Shafiyah menangis. Muhammad kemudian bersabda, “Sesungguhnya engkau adalah seorang putri seorang nabi dan pamanmu adalah seorang nabi, suamimu pun juga seorang nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?” Kemudian Muhammad bersabda kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!” Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri-istri nabi yang lain maka diapun berkata, “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku (leluhur) adalah Harun dan pamanku adalah Musa?”[3] Shafiyah wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu’awiyah.

    Sejak kecil dia menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci Taurat dia membaca bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi penutup semua nabi. Pikirannya tercurah pada masalah kenabian tersebut, terutama setelah Muhammad muncul di Mekkah. Dia sangat heran ketika kaumnya tidak mempercayai berita besar tersebut, padahal sudah jelas tertulis di dalam kitab mereka sendiri. Demikian juga ayahnya, Huyay bin Akhtab, yang sangat gigih menyulut permusuhan terhadap kaum Muslim.

    Sifat dusta, tipu muslihat, dan pengecut ayahnya sudah tampak di mata Shafiyyah dalam banyak peristiwa. Di antara yang menjadi perhatian Shafiyyah adalah sikap Huyay terhadap kaumnya sendiri, Yahudi Bani Qurayzhah. Ketika itu, Huyay berjanji untuk mendukung dan memberikan pertolongan kepada mereka jika mereka melepaskan perjanjian tidak mengkhianati kaum Muslim (Perjanjian Hudaibiyah). Akan tetapi, ketika kaum Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut, Huyay melepaskan tanggung jawab dan tidak menghiraukan mereka lagi. Hal lain adalah sikapnya terhadap orang-orang Quraisy Mekah. Huyay pergi ke Mekah untuk menghasut kaum Quraisy agar memerangi kaum Muslim dan mereka menyuruhnya mengakui bahwa agama mereka (Quraisy) lebih mulia daripada agama Muhammad, dan Tuhan mereka lebih baik daripada Tuhan Muhammad.

    Penaklukan Khaibar dan Penawanannya

    Perang Khandaq telah membuka tabir pengkhianatan kaum Yahudi terhadap perjanjian yang telah mereka sepakati dengan kaum muslimin. Muhammad segera menyadari ancaman yang akan menimpa kaum muslimin dengan berpindahnya kaum Yahudi ke Khaibar kernudian membentuk pertahanan yang kuat untuk persiapan menyerang kaum muslimin.

    Setelah perjanjian Hudaibiyah disepakati untuk menghentikan permusuhan selama sepuluh tahun, Muhammad merencanakan penyerangan terhadap kaum Yahudi, tepatnya pada bulan Muharam tahun ketujuh hijriah. Muhammad memimpin tentara Islam untuk menaklukkan Khaibar, benteng terkuat dan terakhir kaum Yahudi. Perang berlangsung dahsyat hingga beberapa hari lamanya, dan akhirnya kemenangan ada di tangan umat Islam. Benteng-benteng mereka berhasil dihancurkan, harta benda mereka menjadi harta rampasan perang, dan kaum wanitanya pun menjadi tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat Shafiyyah, putri pemimpin Yahudi yang ditinggal mati suaminya.

    Bilal membawa Shafiyyah dan putri pamannya menghadap Muhammad. Di sepanjang jalan yang dilaluinya terlihat mayat-mayat tentara kaumnya yang dibunuh. Hati Shafiyyah sangat sedih melihat keadaan itu, apalagi jika mengingat bahwa dirinya menjadi tawanan kaum muslimin. Muhammad memahami kesedihan yang dialaminva, kemudian ia bersabda kepada Bilal, “Sudah hilangkah rasa kasih sayang dihatimu, wahai Bilal, sehingga engkau tega membawa dua orang wanita ini melewati mayat-mayat suami mereka?” Muhammad memilih Shafiyyah sebagai istri setelah terlebih dahulu menawarkan untuk memeluk agama Islam kepadanya dan kemudian Shafiyyah menerima tawaran tersebut.

    Seperti telah dikaji di atas, Shafiyyah telah banyak memikirkan Muhammad sejak dia belum mengetahui kerasulan beliau. Keyakinannya bertambah besar setelah dia mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Anas berkata, “Rasulullah ketika hendak menikahi Shafiyyah binti Huyay bertanya kepadanya, ‘Adakah sesuatu yang engkau ketahui tentang diriku?’ Dia menjawab, ‘Ya Rasulullah, aku sudah rnengharapkanrnu sejak aku masih musyrik, dan memikirkan seandainya Allah mengabulkan keinginanku itu ketika aku sudah memeluk Islam.” Ungkapan Shafiyyah tersebut menunjukkan rasa percayanya kepada Muhammad dan rindunya terhadap Islam.

    Bukti-bukti yang jelas tentang keimanan Shafiyyah dapat terlihat ketika dia memimpikan sesuatu dalam tidurnya kemudian dia ceritakan mimpi itu kepada suaminya. Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya marah dan menampar wajah Shafiyyah sehingga berbekas di wajahnya. Muhammad melihat bekas di wajah Shafiyyah dan bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

    Masa Pernikahannya (Menjadi Ummu al-Mukminin)

    Muhammad menikahi Shafiyyah dan kebebasannya menjadi mahar perkawinan dengannya. Pernikahan Muhammad dengan Shafiyyah didasari beberapa landasan. Shafiyyah telah mernilih Islam serta menikah dengan Muhammad ketika ia memberinya pilihan antara memeluk Islam dan menikah dengan beliau atau tetap dengan agamanya dan dibebaskan sepenuhnya. Ternyata Shafiyyah memilih untuk tetap bersama Muhammad, Selain itu, Shafiyyah adalah putri pemimpin Yahudi yang sangat membahayakan kaum muslim, di samping itu, juga karena kecintaannya kepada Islam dan Muhammad.

    Muhammad menghormati Shafiyyah sebagaimana hormatnya ia terhadap istri-istri yang lain. Akan tetapi, istri-istri Muhammad menyambut kedatangan Shafiyyah dengan wajah sinis karena dia adalah orang Yahudi, di samping juga karena kecantikannya yang menawan. Akibat sikap mereka, Muhammad pernah tidak tidur dengan Zainab binti Jahsy karena kata-kata yang dia lontarkan tentang Shafiyyah. Aisyah bertutur tentang peristiwa tersebut, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba unta Shafiyyah sakit, sementara unta Zainab berlebih. Rasulullah berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau memberikan salah satu dan untamu?’ Zainab menjawab, ‘Akankah aku memberi kepada seorang perempuan Yahudi?’ Akhirnya, beliau meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah dan Muharam. Artinya, beliau tidak mendatangi Zainab selama tiga bulan. Zainab berkata, ‘Sehingga aku putus asa dan aku mengalihkan tempat tidurku.” Aisyah mengatakan lagi, “Suatu siang aku melihat bayangan Rasulullah datang. Ketika itu Shafiyyah mendengar obrolan Hafshah dan Aisyah tentang dirinya dan mengungkit-ungkit asal-usul dirinya. Betapa sedih perasannya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis. Rasulullah menghiburnya, ‘Mengapa tidak engkau katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa.” Di dalam hadits riwayat Tirmidzi juga disebutkan, “Ketika Shafiyyah mendengar Hafshah berkata, ‘Perempuan Yahudi!’ dia menangis, kemudian Muhammad menghampirinya dan berkata, ‘Mengapa engkau menangis?’ Dia menjawab, ‘Hafshah binti Umar mengejekku bahwa aku wanita Yahudiah.’ Kemudian Muhammad bersabda, ‘Engkau adalah anak nabi, pamanmu adalah nabi, dan kini engkau berada di bawah perlindungan nabi. Apa lagi yang dia banggakan kepadamu?’ Muhammad kemudian berkata kepada Hafshah, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, Hafshah!”

    Salah satu bukti cinta Hafshah kepada Muhammad terdapat pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalarn Thabaqta-nya tentang istri-istri Nabi yang berkumpul menjelang beliau wafat. Shafiyyah berkata, “Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.” Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain. Melihat hal yang demikian, beliau berkata, “Berkumurlah!” Dengan terkejut mereka bertanya, “Dari apa?” Beliau menjawab, “Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.”

    Setelah Muhammad wafat, Shafiyyah merasa sangat terasing di tengah kaum muslimin karena mereka selalu menganggapnya berasal dan Yahudi, tetapi dia tetap komitmen terhadap Islam dan mendukung perjuangan Muhammad. Ketika terjadi fitnah besar atas kematian Utsman bin Affan, dia berada di barisan Utsman. Selain itu, dia pun banyak meriwayatkan hadits Nabi. Dia wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian menguburkannya di Baqi’.

    Catatan kaki

    1. ^ Safiyya bint Huyay, Fatima az-Zahra by Ahmad Thompson
    2. ^ a b c d Stowasser, Barbara. The Mothers of the Believers in the Hadith. The Muslim World, Volume 82, Issue 1-2: 1-36.
    3. ^ Al-Shati’, 1971, 178-181

    Referensi

     
    • wikki 2:41 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

      Safiyah adalah gadis cantik yang berusia 17 tahun, ia adalah putri dari kepala suku Yahudi yang dikenal sebagai Bani Nadir. Nama ayahnya adalah Huyah ibn Akhtab. Bani Nadir dirampok oleh Muhammad dan diusir paksa oleh sang Nabi untuk meninggalkan tanah Arab. Sisa Bani Nadir dan keluarga Huyah ibn Akhtab, termasuk Safiyah melarikan diri ke tempat Bani Qurayza di Khaibar. Di Khaibar inilah Safiyah menikah dengan seorang pemuda Yahudi bernama Kinana al-Rabi, bendahara Bani Nadir.

      Beberapa bulan kemudian Muhammad dan pasukannya bersiap2 untuk merampok Bani Qurayza juga. Untuk meyakinkan dan menyenangkan pengikutnya atas perampokan ini, Muhammad menurunkan Sura al-Fath (Sura 48 ayat 20). Di sura ini ALLAH MENJANJIKAN BARANG2 HASIL PERAMPOKAN BAGI PARA MUSLIM YANG BERGABUNG DALAM JIHAD.

      Kemudian Muhammad memimpin tentaranya dan menyerang masyarakat Yahudi Khaybar. Akhirnya masyarakat Khaybar menyerah, Muhammad memerintahkan para lelaki agar diikat tangan mereka, sementara para wanita dan anak2 disekap secara terpisah. Melihat ini, suku Al-Aus memohon agar nabi memperlakukan mereka dengan ringan. Muhammad mengusulkan agar Sa‘d bin Mu‘adh, diberi tugas untuk menentukan hukuman dan mereka setuju.

      Sad bin Mu‘adh kemudian berkata; “Saya putuskan bahwa para laki2 mereka harus dibunuh dan anak2 serta kaum wanitanya harus diambil jadi tawanan”. Sahut Muhammad, “Hebat Sad! Engkau telah menjatuhkan putusan untuk mereka dengan putusan (menyerupai) keputusan Allah”. (Sahih Bukhari 52:280)

      Ahhirnya Sekitar 600-800 lelaki Yahudi dibantai disana termasuk ayah Safiyah juga. Rupanya Muhammad belum puas terhadap banyaknya harta yang ia dapatkan dari perampokan ini. Ia mencari Kinana al-Rabi, suami Safiyah yang mengelola keuangan Bani Nadir.

      “Ketika dia (nabi) menanyakannya (Kinana) tentang harta lainnya, Kinana menolak mengungkapkannya, maka nabi memberi perintah kepada al-Zubayr Al-Awwam, “Siksa dia hingga kamu dapat apa yang dia punya.” Lalu dia menyalakan api dengan batu keras dan baja di dadanya hingga dia hampir mati. Lalu sang nabi menyerahkannya kepada Maslama dan dia penggal kepalanya, sebagai balas dendam bagi saudara lelakinya Mahmud.” (Ibn Ishaq “Sirat Rasulallah”, p 515)

      Setelah para pria dibunuh, para wanitanya dikumpulkan untuk dibagi2kan kepada para Jihadis.

      Sahih Bukhari 8 no 367

      Dikisahkan oleh ‘Abdul ‘Aziz: Anas berkata, ‘Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar, kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih gelap. Sang Nabi berjalan menunggang kuda dan Abu Talha berjalan menunggang kuda pula dan aku menunggang kuda di belakang Abu Talha. Sang Nabi melewati jalan ke Khaibar dengan cepat dan lututku menyentuh paha sang Nabi. Dia lalu menyingkapkan pahanya dan kulihat warna putih di pahanya. Ketika dia memasuki kota, dia berkata, “Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.” Dia mengulangi kalimat ini tiga kali. Orang2 ke luar untuk bekerja dan beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami berkata, “Dengan tentaranya.”)

      Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para tawanan, dan harta benda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’ Sang Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik dari suku2 Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’ Maka sang Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’ Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.”

      Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi.

      Oo begitu ya kelakuan seorang nabi, tak tahan melihat gadis cantik lalu merebutnya dari tangan Dihya?

      Karena tak tahan dengan kecantikannya maka Muhammad pun mengambil Safiyah untuk ditidurinya. Malam itu juga Muhammad menggauli Safiyah, setelah siang tadi ia puas membantai anggota suku, keluarga, ayah, serta suami Safiyah.

      Bagaimana anda membayangkan perasaan Safiyah saat itu?

      Di Tabaqat dikisahkan bahwa Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman selama Muhammad menggauli Safiyah. Ketika fajar tiba, nabi melihat Abu Ayyub terus berjaga2. Nabi bertanya alasannya dan ia menjawab, ”Saya khawatir tentang perbuatan wanita ini terhadapmu. Anda telah membunuh suami, ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat menghawatirkan pembalasan darinya.”

      Keesokan harinya baru dilaksanakan pernikahan Muhammad dan Safiah, nah di pesta pekawinan ini Muhammad di racun oleh wanita Yahudi dan tewas 3 tahun kemudian.

      Bagaimana Islam Arab membumbui kisah nabinya ini agar nampak mulia?

      Kisah dibawah ini diambil dari Tabaqat nya Ibn Sa”ad;

      “Nabi kemudian memberikannya pilihan: bergabung dengan sukunya setelah bebas ATAU menerima Islam dan mengadakan hubungan perkawinan dengan nabi.”

      “Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, berumur 17 tahun, dan sangat cantik. Bukan hanya ia sangat mencintai Muhammad (???) iapun sangat menghormati kenabiannya karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya tentang Muhammad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang berkata, ”Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?”, jawabnya, ”Ia adalah benar seorang nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita” (???) , lalu yang lain berkata, ”Lalu apa yang harus dilakukan?” jawabannya adalah “Kita harus menentangnya sekuat tenaga.”

      “Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat, menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai cara. Hal ini jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.”

      “Kamu tahu setelah pernikahan rasul dengan Syafiah, beliau melihat tanda bekas Tamparan di pipi Syafiah dan beliau bertanya :”Apa ini?” Syafiah menceritakan bahwa dia bermimpi bahwa rembulan telah jatuh di kamarnya, (mengisyaratkan mimpi bahwa ia akan menikah dengan beliau), dan kemudian suaminya menampar pipinya… “

      Betapa lucunya pembelaan orang Arab satu ini !

      Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin dua orang Yahudi menganggap Muhammad telah diramalkan di kitab mereka? Sedangkan Isa saja tidak mereka anggap sebagai nabi? Bagaimana mungkin dua orang Yahudi berhasil mengetahui ramalan tentang Muhammad dari kitab mereka, sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim saja tak mampu menemukannya!

      Andaipun benar mereka menganggap Muhammad adalah nabi, logiskah jika kemudian mereka justru menentang Muhammad ? Bukannya mereka seharusnya berbondong2 masuk Islam…

      Benarkah Syafiah secara suka rela menyerahkan dirinya kepada Muhammad? Bukankah itu bertentangan dengan kisah yang diceritakan pada Sahih Bukhari? Bukankah Safiyah adalah tawanan, yang ingin diperkosa Dihya, kemudian Muhammad merebutnya karena Syafiah sangat2 cantik. Dimana sukarelanya?

      Mungkinkah Syafiah bemimpi bertemu Dewa Bulan ( Muhammad maksudnya), kemudian ia jatuh hati pada Muhammad karena mimpinya itu? Mungkinkah Syafiah begitu gembira tidur bersama Muhammad seorang kakek 59 tahun, saat sebelumya 600 orang saudaranya termasuk ayah dan suaminya dibantai oleh Muhammad?

      Jika anda memuji perbuatan Muhammad tersebut maka para muslim seharusnya menyerang rumah2 non-muslim, membunuh mereka dan memperkosa istri2 mereka. Jika anda berkata TIDAK dan tindakan Muhammad pada jaman tersebut tidak dapat diterapkan pada peradaban sekarang, maka semua ayat yang mengatakan bahwa kita harus mengikuti contoh Muhammad menjadi tidak berarti.

      Muhammad bukan hanya figur sejarah.. Sebelum menjadi presiden Amerika, Washington mungkin meniduri budaknya. Pada jaman tersebut mungkin tindakan itu dianggap biasa, namun tidak ada orang yang mengatakan bahwa tindakan Washington ataupun Muhammad yang meniduri budak merupakan contoh yang harus diikuti UNTUK SEGALA JAMAN DAN UNTUK SEMUA BANGSA !

      • SERBUIFF 11:07 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

        Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi

        Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

        Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

        Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

        Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
        Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
        “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

        memberikan mahar berupa kebebasannya.

        Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

        Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

        Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

        Aini Firdaus

        http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

    • wikki 2:46 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

      Berikut ini adalah sejarah Safiyah Binti
      Huyai Ibn Akhtab, wanita Yahudi yang
      ditangkap ketika pasukan Muhammad
      menyerang Khaibar dan membawanya
      kepada Nabi sebagai bagian dari
      rampasan perang. Muhammad memberi
      perintah agar Kinana, suami yang masih
      muda dari Safiyah, dianiaya hingga mati
      supaya ia (Kinana) mengaku dimana
      harta karun kota tersebut disimpan. Pada
      malam yang sama itu juga, Muhammad
      mengambil Safiyah dan dibawa ke
      ranjangnya dan menjadikan dia istrinya…
      Kisah ini dilaporkan secara detil oleh
      Tabari. Kisah ini juga dapat ditemui dalam
      Sirat Ibn Ishaq. Yang berikut ini dilaporkan
      dalam buku dari Tabaqat yang disusun
      oleh Ibn Sa’d.
      Dua tahun sebelumnya Muhammad telah memancung kepala Huyai, ayahnya
      Safiyah, beserta 900 pria dari Bani Quraiza.
      Huyai Ibn Akhtab, ayah Safiyah, adalah pemimpin Bani Nadir, salah satu suku
      Yahudi dari Medina. Para pengikut Muhammad telah membunuh sepasang suami
      istri Arab yang sebelumnya telah menandatangani traktat perdamaian dengan
      Muhammad. Nabi memutuskan untuk membayar uang darah kepada keluarga
      korban yang salah dibunuh. Ia lalu pergi ke Bani Nadir untuk meminta kepada
      mereka agar membayarkan uang darah ini. Permintaan itu sangat aneh, sebab
      orang-orang Yahudi tak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan tersebut.
      Namun orang-orang Yahudi ini takut kepada Muhammad, karena Muhammad
      sebelumnya telah menghancurkan suku Yahudi yang lain, yaitu Bani Qainuqah
      dan oleh karena itu mereka takut hal ini akan terjadi juga kepada mereka.
      Orang-orang Yahudi selalu bersikap pengecut hingga hari ini dan mereka telah
      membayar harga atas sikap pengecut mereka. Kapankah mereka cukup belajar
      bahwa seseorang tak mungkin senang dengan gangster??? Kapankah mereka
      akan belajar bahwa mereka harus berperang melawan kelompok orang seperti
      itu?
      1
      Para tua-tua bani Nadir akhirnya mengumpulkan uang yang diminta. Muhammad
      dan para sahabatnya duduk dibawah sebuah dinding-perteduhan dikawasan
      Yahudi sambil menanti. Namun, maksud Muhammad sebenarnya adalah untuk
      menghancurkan Yahudi dan mengambil semua harta yang mereka miliki, dan
      bukan sekedar uang darah untuk kejahatan dari pengikut-pengikutnya.
      Muhammad berharap orang Yahudi akan memprotes sehinggga ia justru dapat
      memakai ini sebagai alasan untuk menyerang mereka.
      Setelah duduk-duduk dan menantikan, ia tiba-tiba bangkit dan pergi tanpa
      mengatakan apa-apa kepada siapapun. Para pengikutnya melihat bahwa ia
      berjalan terus, maka mereka pun pergi juga. Akhirnya Muhammad mengatakan
      kepada mereka, bahwa ada malaikat Jibril yang memberitahukan kepadanya,
      bahwa orang-orang Yahudi sedang merencanakan untuk melemparinya dengan
      sebuah batu dari atas dinding-perteduhan dan ingin membunuhnya. [Kalau ada
      peringatan Jibril tentang rencana pembunuhan, mengapa para pengikutnya
      ditinggalkan diam-diam?]. Ini tentu saja sebuah kebohongan. Kalau Bani Nadir
      betul-betul ingin membunuhnya, mereka tidak perlu melemparkan batu padanya.
      Muhammad ada dalam tangan mereka ketika itu. Mereka itu justru takut, dan
      inilah yang harus mereka bayar dengan nyawa mereka kelak.
      Muhammad kemudian menyerang
      Bani Nadir dan memutuskan aliran
      air mereka. Ketika mereka
      menyerah, Muhammad
      berketetapan untuk membunuh
      mereka semua. Namun Abdullah
      Ibn Obay, seorang pemimpin tua
      Arab Median mengintervensi.
      Muhammad khawatir hal ini akan
      menyebabkan perpecahan diantara
      pengikutnya sehingga ia akhirnya
      memutuskan tidak membunuh Bani
      Nadir. Sebagai gantinya ia mengambil semua harta kekayaan dan properti milik
      bani Nadir serta mengusir mereka.
      Maka Bani Nadir pun mengungsi ke Khaibar, yang merupakan benteng orangorang
      Yahudi di sebelah Utara Medina. Inilah yang membuat Safiyah tinggal di
      Khaibar dan menikahi Kinana, pemimpin muda dari kota tersebut. Akan tetapi,
      ayah Safiyah, Huyai, dipancung lehernya ketika Muhammad menyerang suku
      Yahudi yang terakhir di Medina, yaitu Bani Quraiza.
      2
      Safiyah berumur 17 tahun dan sangat cantik. Ketika Muhammad menyerang
      Khaibar ia membunuh semua lelaki disana. Orang-orang tidak siap untuk
      berperang. Mereka diserang secara mendadak. Muhammad bukanlah seorang
      pahlawan perang terbuka, melainkan seorang teroris yang melakukan
      penyergapan. Peperangannya disebut gazwah, yaitu sergapan/penyerangan
      dadakan.
      Maka Muhammad pun menangkap
      Kinana dan menyiksa dia karena
      Muhammad ingin tahu dimana harta
      kekayaan kota tersebut
      disembunyikan. Ia menusukkan
      batangan besi yang panas pada
      mata Kinana dan membutakannya.
      Kinana adalah pemuda ksatria, ia
      tidak buka mulut.
      Seorang Yahudi lain (mungkin nenek moyang-nya Noam Chomsky dan
      George Soros) telah mengabarkan kepada Muhammad dimana ia
      dapat menemukan harta kekayaan tersebut. Orang-orang Yahudi selalu
      memberikan saham kepada para pengkhianat.
      Kinana mati dibawah penyiksaan Muhammad. Kemudian Muhammad
      menanyakan kepada orang-orangnya untuk membawakan kepadanya gadis yang
      paling cantik. Safiyah adalah yang tercantik berumur 17 tahun, istri dari Kinana.
      Bilal membawa Kinana dan sepupu perempuan Kinana menghadap Muhammad.
      Namun ketika sepupu perempuan Kinana ini melihat jenazah saudaranya
      3
      terpotong-potong, ia pun menjadi histeris. Muhammad kemudian marah besar dan
      memerintahkan, “Bawa setan perempuan ini pergi dari saya”.
      Kemudian ia berkata kepada Bilal, “Tidakkah engkau mempunyai perasaan
      manusiawi sehingga menjejerkan wanita-wanita di depan jenazah orang yang
      mereka cintai?” Wah! Betapa hebatnya sang Nabi yang penuh dengan belas-asih
      dan perasaan manusiawi!?
      Selanjutnya ia membawa Safiyah ke tendanya, sebab ia telah menjadi seorang
      janda. Muhammad mengasihaninya dan memutuskan untuk mengambil ia
      sebagai istrinya. Tentu saja [Muslim berkilah], fakta ia muda dan cantik tidak ada
      hubungannya dengan keputusan Nabi. Masih ada beratus-ratus wanita lain yang
      juga telah menjadi janda pada hari tersebut.
      Berikut ini adalah periwayatan Tabaqat.
      “Safiyah dilahirkan di Medina. Ia berasal dari suku Yahudi Banu I-Nadir.
      Ketika suku ini diusir dari Medina tahun 4 AH, Huyai adalah salah satu
      dari orang-orang yang menetap di wilayah subur Khaibar bersama
      Kinana Ibn al-Rabi’ yang menikahi Safiyah sesaat sebelum Muslim
      menyerang Khaibar. Ia berumur 17 tahun. Sebelumnya ia adalah istri
      dari Sallam Ibn Mishkam yang menceraikannya. Disinilah, satu mil dari
      Khaibar, Nabi menikahi Safiyah. Dia dipelihara dan dirawat untuk Nabi
      oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas Ibn Malik. Mereka menginap disana.
      Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda Nabi sepanjang malam. Pada saat
      subuh, Nabi yang melihat Abu Ayyub berjalan hilir mudik itupun
      bertanya kepadanya apa maksudnya, dan ia menjawab: “Saya khawatir
      akan engkau karena perempuan muda itu. Engkau telah membunuh
      ayahnya, suaminya, dan banyak dari keluarganya, dan dia juga masih
      seorang kafir. Saya sungguh khawatir terjadi apa-apa karena dia.
      Nabipun mendoakan Abu Ayyub al-Ansari (Ibn Hisham, p.766). Safiyah
      telah meminta kepada Nabi untuk menunggu hingga ia telah lebih
      menjauh dari Khaibar. “Kenapa?” tanya Nabi. “Saya mengkhawatirkan
      engkau karena orang-orang Yahudi yang masih dekat dengan
      Khaibar!”
      Alasan Safiyah menolak pendekatan seksual Muhammad tentu saja jelas bagi
      setiap orang yang berpikir. Saya percaya, praktis semua wanita memilih untuk
      berkabung ketimbang melompat ke dalam ranjang – bercengkerama dengan si
      pembunuh dari ayahnya, dan pembunuh suami dan banyak anggota keluarganya,
      pada hari yang sama.
      Tetapi kenyataannya Nabi Allah ini tak dapat menahan desakan nafsu seksualnya
      untuk satu hari saja dengan membiarkan perempuan muda ini untuk berkabung.
      Ini semua menggambarkan karakter moral Muhammad. Ia adalah seorang
      psikopat tanpa hati nurani dan empati.
      Untuk kelanjutan kisah ini kita tidak tahu persis apakah benar atau telah
      direkayasa oleh ahli sejarah Muslim yang ingin mengosongkan adanya kesan
      pemaksaan perkosaan. Tetapi ini adalah semua yang kita punyai, dan untuk
      menemukan kebenaran kita hanya bisa bergantung pada dokumen-dokumen
      4
      yang terlihat bias (ter-plintir) ini, yang dilaporkan dan ditulis sepihak oleh orangorang
      Muslim.
      Kisah selanjutnya menggambarkan Abu Ayyub yang mengkhawatirkan
      keselamatan Nabi, karena Nabi telah membunuh ayah, suami dan sejumlah
      anggota keluarga Safiyah. Hal ini logis. Tentu saja bodoh untuk tidur dengan
      seorang wanita dimana orang-orang yang dicintai oleh wanita tersebut baru
      dibunuhnya. Namun tampak bias alasan penolakan Safiyah terhadap pendekatan
      seksual Muhammad, tampak sekali kurang masuk akal. Ketika Muhammad
      membawa wanita muda ini ke dalam tendanya, ia telah membunuh banyak orang
      Yahudi, dan memperbudak orang-orang Yahudi lainnya.
      Jikalau masih ada orang Yahudi yang tertinggal, maka mereka mungkin lebih
      mengkhawatirkan hidup mereka sendiri ketimbang masalah Safiyah apakah ia
      diperkosa atau tidak. Lagipula wanita ini telah ada di dalam tenda sendirian
      dengan Muhammad, jadi bagaimana orang-orang Yahudi akan mengetahui kalaukalau
      mereka melakukan hubungan seks? Alasan ini kedengarannya bodoh dan
      tampaknya dipaksakan oleh Muslim untuk mengklaim bahwa Safiyah-lah yang
      menginginkan hubungan seks dengan Muhammad, dan bila tidak, itu hanya
      karena Safiyah mengkhawatirkan keselamatan Nabi (jadi bukan karena ada unsur
      pemaksaan/perkosaan).
      Muslim adalah sekelompok orang bodoh tertentu yang mempercayai omong
      kosong yang paling konyol tanpa berpikir, namun saya percaya ada kelompok lain
      yang wajar menyadarinya sebagai sebuah kebohongan.
      Dikatakan lebih lanjut,
      “Hari berikutnya Walima (pesta pernikahan) diselenggarakan atas nama
      Nabi…”
      Harap dicatat bahwa penulis sejarah ini berkata, bahwa pernikahan terjadi satu
      hari setelah Muhammad sendirian dengan Safiyah dan melakukan hubungan seks
      dengan dia. Ini tidak mendatangkan persoalan kepada Nabi, karena ia telah
      mendapatkan wahyu Allah yang mengatakan bahwa tidur dengan wanita yang
      ditangkap dari peperangan adalah baik-baik saja tanpa usah menikahi mereka,
      sekalipun mereka telah bersuami tadinya.
      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali
      budak-budak yang kamu miliki… “ (Surat 4:24)
      Ayat di atas menunjukkan bahwa Muhammad tidak berpendapat bahwa para
      budak mempunyai hak-hak apapun. Ketika Muslim berkuasa, ini akan menjadi
      nasib bagi semua wanita non-Muslim. Muslim tidak dapat mengubah sedikitpun
      apa yang telah dikatakan atau dikerjakan oleh Muhammad. Dan ini telah
      dikonfirmasikan di tempat-tempat lainnya:
      1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
      2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,
      3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)
      yang tiada berguna,
      4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
      5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
      5
      6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki;
      maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
      7. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang
      yang melampaui batas. (Surat 23:1-7).
      Marilah kita meneruskan kisah Safiyah. Dikatakan,
      “Para istri Nabi lainnya menunjukkan cemburunya dengan melakukan
      pelecehan terhadap keyahudiannya. Namun Nabi selalu membelanya.
      Suatu kali Safiyah dilukai dengan olok-olokan dari istri-istri Nabi yang
      Arab itu secara melampaui batas. Maka iapun (Safiyah) mengeluhkan
      hal tersebut kepada Nabi yang merasa sangat mengasihinya. Ia
      menghiburnya. Ia membesarkan hatinya. Ia memberi pikiran logis
      kepadanya. Ia berkata: “Safiyah, bersikap teguh dan beranilah. Mereka
      tidak memiliki apapun yang melebihi engkau. Katakan kepada mereka:
      “Aku adalah anak putri Nabi Harun, keponakan Nabi Musa, dan istri
      dari Nabi Muhammad…”
      Ketika ia dibawa bersama dengan para tahanan perang lainnya, Nabi
      berkata kepadanya,
      “Safiyah, ayahmu selalu membenci aku hingga Allah menetapkan
      keputusan terakhir.”
      Ia menjawab, “Tetapi Allah tidak menghukum seseorang atas dosa
      orang lain.”
      Hal ini (apa yang dikatakan Nabi) jelas berlawanan dengan perilaku Muhammad
      sendiri yang sudah menghancurkan seluruh Bani Qainuqa dengan alasan bahwa
      beberapa diantara mereka telah membunuh seorang Muslim ketika mereka
      membela dengan membalaskan kematian seorang Yahudi. Muhammad
      membinasakan seluruh anggota suku itu, ketika membalas kematian satu orang
      Muslim! Padahal Muslim tersebut telah terlebih dahulu membunuh seorang
      Yahudi, namun itu tidak dianggap/diperhitungkan oleh Muhammad. Ia
      membutuhkan sebuah alasan demi mendapatkan harta-kekayaan mereka.
      Ini sungguh mengabaikan ayat yang berkata: “bahwasanya seorang yang berdosa
      tidak akan memikul dosa orang lain” (Surat 53:38). Jadi jelas bukan Allah yang
      membuat keputusan akhirnya. Maka tampak betapa orang yang satu ini mencuci
      tangannya terhadap kejahatannya sendiri. Ayah Safiyah dibunuh oleh
      Muhammad, bukan Allah [tetapi Muhammad memplintirkannya seolah Allah-lah
      yang memutuskan]. Jikalau Allah mengingini membunuh seluruh orang-orang
      tersebut, Ia tentu telah melakukannya dengan cara-Nnya sendiri. Allah tidak
      memerlukan pembunuh bayaran (yang merampas harta) untuk melaksanakan
      kehendakNya.
      Dikatakan lebih lanjut,
      “Kemudian Nabi memberinya kebebasan untuk memilih apakah Safiyah
      mau tetap bergabung dengan kaumnya, ataukah menerima Islam dan
      masuk dalam hubungan pernikahan dengan dia”.
      6
      Memberinya kebebasan? Kebebasan macam apakah itu?
      Muhammad telah membunuh suaminya dan semua anggota keluarganya.
      Kemanakah ia harus pergi sekarang? Melebur dengan orang-orang dari
      kaumnya? Orang-orang manakah itu? Orangnya praktis telah terbunuh dan
      wanita-wanitanya telah ditawan dan jadi budak.
      “Dia sangat pintar dan lembut hati dan berkata: “ O Rasul Allah, aku
      telah berharap akan Islam, dan aku telah menegaskan sebelum
      undanganmu. Kini ketika aku mendapat kehormatan berada
      dihadapanmu, dan diberi kebebasan untuk memilih diantara kafir dan
      Islam, maka aku bersumpah demi Allah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
      adalah lebih berharga kepadaku ketimbang kebebasan diriku dan
      bagaimana aku sebelumnya bergabung dengan kaumku.”
      Apakah ini sebuah pengakuan, yaitu pengakuan yang jujur? Apakah ia bebas dan
      aman mengutarakan pikirannya? Ia ditawan oleh seorang lelaki yang telah
      menghabisi keluarganya. Sesungguhnya ini menunjukkan dengan jelas betapa ia
      tidak bebas berulah. Ia mungkin saja sangat pintar menyiasati sebuah dusta demi
      menyelamatkan dirinya, tetapi lebih mungkin lagi kisah ini telah dikarang untuk
      menceritakan sebuah dusta tersendiri!
      Ketika Safiyah menikah, ia masih sangat muda, dan menurut sebuah
      laporan ia hampir berumur 17 tahun dan berperawakan amat sangat
      cantik. Ada satu kali Aisyah berkata tentang kekurangannya (mencela),
      untuk mana Nabi berkata, “Engkau telah mengatakan sesuatu yang
      apabila itu dimasukkan ke dalam laut, maka hal itu akan melebur
      bersama air laut itu (dan mengeruhkan airnya).” (Abu Dawud)
      Ia tidak hanya sangat dalam mencintai Nabi, tetapi juga sangat besar
      rasa hormatnya kepadanya sebagai Rasul Allah. Sebab ia telah
      mendengar apa yang dikatakan oleh ayah dan pamannya ketika
      mereka pergi ke Medinah. Ketika hijrah ke Medinah mereka datang
      bertemu dengan dia untuk mengetahui apakah dia betul Rasul Allah
      yang sejati seperti yang disampaikan oleh Alkitab. Ketika mereka
      pulang dan berbicara bersama malam itu, Safiyah ada ditempat
      tidurnya dan mendengar pembicaraan mereka. Salah satunya berkata,
      “Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Ia menjawab, “Ia adalah Nabi
      yang sama yang dinubuatkan oleh Alkitab kita.” Lalu berkata yang lain,
      “Apa yang harus dilakukan?” Dan jawabannya adalah bahwa mereka
      harus melawannya dengan segala kekuatan.”
      Kisah ini, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, apakah dapat dipercayai?
      Bagaimanakah caranya kedua orang Yahudi biasa itu mengenal Muhammad
      sebagai nabi yang dinubuatkan oleh Kitab Suci, lalu (kok malah) memutuskan
      untuk melawannya dengan segala kekuatan mereka? (Semestinya bila mereka
      tahu itu nabi yang dikisahkan Musa, mereka justru akan mendukungnya!). Jadi
      semuanya adalah kontra logika. Hanya orang Muslim yang “tekor-intelektuil” yang
      akan percaya akan kisah nonsense ini.
      7
      Dikatakan, dia sangat mencintai Muhammad yang adalah pembunuh ayah dan
      suaminya? Betapa naifnya Muslim dapat mempercayai periwayatan ini?
      Bagaimana seorang gadis muda cantik berumur 17 tahun dapat segera mencintai
      seorang tua bangka yang giginya ompong dan badannya berbau? Bacalah buku
      saya ”Understanding Muhammad” untuk mengetahui betapa postur Muhammad
      cacat dan berbau. Kita curiga bahwa kata-kata tersebut berasal dari Safiyah, dan
      andaikata itu benar, orang akan mencium hal itu sebagai kebohongan Safiyah
      dalam usahanya untuk mencari keselamatan diri. Kita hanya memerlukan otak
      yang aktif untuk mendapati kebohongan Muslim.
      Kenapa seseorang sampai perlu mati-matian melawan seseorang lainnya yang
      diketahuinya sebagai nabi yang dijanjikan dalam Alkitab? Dan dimana
      Muhammad dijanjikan dalam Alkitab? Adakah Muhammad disebut dalam Alkitab?
      (Is Muhammad mentioned in the Bible?) Baca artikel ini untuk melihat dusta yang
      menyedihkan seperti itu. Muhammad tidak disebut di dalam Alkitab maupun di
      dalam kitab sakral manapun.
      “Maka Safiyah pun yakin akan kebenaran sang Nabi. Ia tak lelahlelahnya
      mengurus dan merawat dia (Muhammad), serta memberikan
      semua kenyamanan yang dapat diupayakannya. Ini terlihat sejak ia
      menjadi bagian dalam kehidupannya (Muhammad) setelah jatuhnya
      Khaibar.”
      Lihat betapa penulis menyangkal dirinya sendiri dalam satu halaman yang sama?
      Hanya beberapa baris sebelumnya kita membaca bahwa Safiyah ditawan dan
      dibawa kepada Muhammad sebagai tawanan, bukan atas kemauannya sendiri. Ia
      dibawa kepada Muhammad sebab ia muda dan cantik.
      “Nabi sedikit kecewa kepadanya karena ia pada awalnya (dalam
      perjalanan) telah menolak Nabi ketika ingin menggaulinya (hubungan
      seks). Pada perhentian perjalanan berikutnya, Nabi menggaulinya
      hingga sepanjang malam. Ketika ia (Safiyah) ditanyai oleh Umm
      Sulaim, “Apa yang engkau lihat pada diri Rasul Allah?” Ia berkata
      bahwa dia (Muhammad) sangat senang terhadapnya dan tidak tidur
      melainkan bercakap-cakap sepanjang nalam. Dia (Muhammad)
      bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menolak ketika aku mau
      menggaulimu pertama kalinya?” Ia menjawab, ‘Aku mengkhawatirkan
      engkau sebab tempatnya dekat dengan Yahudi’. “Hal ini meningkatkan
      nilaiku lebih lanjut dimatanya.” (Tabaqat)
      Bukhari juga telah mencatatkan beberapa Hadits yang menceritakan tentang
      invasi Khaibar dan bagaimana kisah Muhammad bertemu dengan Safiyah.
      Diriwayatkan ‘Abdul’ Aziz:
      Anas berkata, “Ketika Rasul Allah menginvasi Khaibar, kami melakukan
      shalat Subuh disana ketika hari masih gelap… Ketika ia memasuki
      kota, ia berseru, “Allahu Akbar! Khaibar diruntuhkan… Kami
      menaklukkan Khaibar, menawan tawanan, dan barang jarahan
      dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Rasul Allah! Berilah aku
      seorang budak perempuan diantara tawanan’. Nabi berkata, ‘Pergi dan
      8
      ambillah budak perempuan yang mana saja’. Iapun mengambil Safiya
      binti Huyai. (Tetapi) Seseorang datang kepada Nabi dan berkata, ‘O
      Rasul Allah! Engkau memberikan Safiya binti Huyai kepada Dihya,
      padahal ia (Safiya) adalah perempuan paling terkemuka dari suku
      Quraiza dan An-Nadir dan ia hanya pantas untuk engkau saja’. Maka
      Nabi berkata, ‘Bawa ia (Dihya) bersama dia (Safiya)’. Maka keduanya
      menghadap dan ketika Nabi melihat Safiya, iapun berkata kepada
      Dihya, ‘Ambillah gadis budak mana saja dari para tawanan selain dia’.
      Anas menambahkan: Nabi membebaskan perbudakannya dan
      mengawininya.” [Nabi menelan janji pertama, dan menggantikannya
      dengan janji kedua, ketika tersilau dan bernafsu dengan kecantikan
      Safiyah. Contoh moral surgawi!].
      Thabit bertanya kepada Anas, “O Abu Hamza! Apa yang Nabi bayarkan
      kepadanya (Safiya) (sebagai mahar)? Ia menjawab, “Dirinya sendiri
      adalah maharnya sebab dia (Muhammad) telah membebaskannya dari
      perbudakan dan kemudian mengawininya.” Anas menambahkan,
      “Ketika dalam perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk upacara
      perkawinan dan pada malamnya dia mengirimnya sebagai pengantin
      perempuan untuk Nabi”. (Sahih Bukhari 1.367)
      Mahar adalah “emas kawin” yang diperoleh pengantin perempuan dari pihak
      suaminya tatkala ia mengawininya. Muhammad tidak membayar mahar kepada
      Safiyah, sebab ia (Muhammad) harus membayarkan kepada dirinya sendiri untuk
      memerdekakan Safiyah. Kisah ini adalah luar biasa, sebab ini memberi
      pencerahan kepada kita tentang nilai-nilai moral dan etika dari Muhammad dan
      para pengikutnya yang keblinger. Muhammad adalah seorang psikopat. Namun
      Muslim tidak mempunyai rasa malu. Muslim meng-idola-kan seorang psikopat dan
      menginginkan kita juga untuk menghormati mereka. Apakah ke-tolol-an ini layak
      atas sebuah penghormatan? Dengan mengikuti orang yang tidak waras semua
      orang akan bertindak tidak waras.
      Setiap orang yang terhormat atau orang normal jijik mendengar kisah semacam
      ini, namun Muhammad mengajarkan bahwa ia akan memperoleh 2 pahala
      dengan mengawini Safiyah. Satu adalah untuk memerdekakan seseorang yang
      sesungguhnya ia tawani sendiri, dan kedua adalah mengambilnya untuk
      menikahinya.
      “Abu Musa melaporkan bahwa Rasul Allah berkata tentang seseorang
      yang memerdekakan seorang wanita budak, dan kemudian
      menikahinya, bahwa baginya tersedia 2 pahala.” (Sahih Muslim Book
      008, Number 3327)
      [Sayangnya tidak disebutkan bahwa yang mengawininya adalah
      pembunuh ayah, suami, dan famili dari si wanita budak yang dikawini.
      Dan wanita budak tersebut adalah budak yang terjadi karena ulah dari
      yang akan mengawininya!]
      9
      Tidakkah ini menjijikkan? Buanglah ke-tolol-an “yang terhormat” dan berkelit-kelit
      ini dan namakanlah hitam adalah hitam. Muslim adalah sekelompok moron.
      Bagaimana mungkin bisa demikian konyol?
      Diriwayatkan oleh Anas:
      Nabi melakukan sholat subuh dekat Khaibar tatkala hari masih gelap
      dan ia berkata, “Allahu Akbar” Khaibar dihancurkan, sebab ketika kami
      menghadapi bangsa (lawan yang diperangi), maka kejahatan akan
      menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingati.”
      Maka penduduk Khaibar lari keluar ke jalan-jalan. Sang Nabi telah
      membunuh pahlawan-pahlawan mereka, keturunan mereka, dan
      wanita yang ditawan sebagai tawanan. Safiyah adalah salah satu
      diantara tawanan. Dia pertama-tama diambil untuk menjadi milik Dahya
      Alkali, namun kemudian ia menjadi milik Nabi. Nabi memerdekakan dia
      sebagai maharnya. (Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512)
      Sumber: http://alisina.org/safiyah-the-jewish-wife-of-muhammad/

      • SERBUIFF 11:03 pm on 17/08/2012 Permalink | Reply

        Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, Ummul Mukminin dari Kalangan Yahudi
        Rubrik: Jejak – Dibaca: 2781 kali

        Tak banyak yang tahu bahwa di kalangan Ummul Mukminin ada yang berasal dari kaum Yahudi. Dialah Shafiyah binti Huyai. Dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah atau dua tahun setelah kenabian Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Samaual dari Bani Quraizhah. Sedang ayahnya adalah Huyai bin Akhtab, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari kalangan Bani Nadhir. Jika dirunut silsilah keluarganya, Shafiyah masih tergolong keturunan Nabi Harun as.

        Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

        Karena kaum Yahudi, khususnya Bani Quraizhah dan Bani Nadhir mengingkari perjanjian Hudaibiyah, terlebih lagi Huyai menghasut kaum Quraiys untuk menyerang kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Dengan izin Allah peperangan yang terjadi di lembah Khaibar itu dimenangkan oleh kaum Muslimin. Benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi berhasil dihancurkan kaum Muslimin. Banyak laki-laki Yahudi yang mati terbunuh, sedang yang masih hidup, bersama wanita dan anak-anak di jadikan tawanan. Shafiyah menjadi salah satu tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin.

        Suami Shafiyah, Kinanah bin Rabi, beserta ayah dan pamannya mati terbunuh. Shafiyah pun hidup sebatang kara dan menjadi tawanan pasukan musuh. Lalu, Bilal menggiring Shafiyah, melewati banyak mayat keluarga dan kaumnya untuk menghadap Rasulullah. Melihat kedatangan Shafiyah, Rasulullah bangkit dan menaruh jubah di kepala Shafiyah. Beliau mendekati Bilal dan berkata, “Apakah kau sudah tidak punya perasaan kasih sayang hingga membiarkan wanita-wanita itu melewati mayat orang-orang yang mereka cintai?”
        Kemudian Rasulullah mengambil keputusan mengenai rampasan perang, termasuk para tawanan. Rasulullah saw berkata pada Shafiyyah, “Pilihlah! Jika engkau memilih Islam, aku akan menikahimu. Dan jika engkau memilih agama Yahudi, Insya Allah aku akan membebaskanmu supaya engkau bisa bergabung dengan kaummu,” tawar Rasulullah bijaksana.
        “Ya Rasulullah, Aku telah menyukai Islam dan membenarkanmu sebelum engkau mendakwahiku. Aku tidak meyakini agama Yahudi. Orangtua dan saudara-saudaraku pun telah tiada. Allah dan Rasul-Nya lebih aku sukai dari pada dibebaskan untuk kembali ke pada kaumku,” jawab Shafiyah tegas. Rasulullah pun kemudian menikahi Shafiyah dengan

        memberikan mahar berupa kebebasannya.

        Walaupun sudah menjadi Ummul Mukminin, banyak sahabat yang kurang menyukai Shafiyah karena latar belakangnya sebagai seorang Yahudi. Bahkan Shafiyah pernah menangis karena Aisyah dan Hafsah –isteri lain Rasulullah- pernah menyindirnya sebagai wanita Yahudi. Lalu Rasulullah menghiburnya: “Mengapa tidak kau katakan, bahwa aku lebih baik dari kamu. Ayahku Harun, pamanku Musa, dan suamiku Muhammad saw?”

        Maka sejak itu, setiap ada yang mengganggunya Shafiyah pun menjawab sesuai dengan jawaban yang diajarkan Rasulullah.

        Setelah Rasulullah wafat, semakin sering terdengar ada yang mempermasalahkan latar belakang Shafiyah sebagai Yahudi. Namun beliau tetap tegar dan membuktikan kesetiaannya pada Islam dengan membantu Khalifah Umar dan Utsman. Shafiyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Sufyan sekitar tahun 50 H. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, berdampingan dengan makam istri Rasulullah saw yang lain.

        Aini Firdaus

        http://www.ummi-online.com/berita-18-shafiyah-binti-huyai-bin-akhtab–ummul-mukminin-dari-kalangan-yahudi.html

      • lim bho tak 7:09 am on 12/02/2013 Permalink | Reply

        KISAH SEBENARNYA TENTANG ISTRI NABI MUHAMMAD. SAW

        JAWABAN ATAS FITNAH YAHUDI ANGGUR ASAM YANG DENGKI SAMA NABI MUHAMMAD BANGSA ARAB KETURUNAN NABI ISMAIL ANAK NABI IBRAHIM.
        KISAH ISTRI NABI MUHAMMAD JUWAIRIAH RA.

        (8) Hadhrat Juwairiah bintul Harith (Radhiyallaho anha):

        She was one of the large number of captives who fell ! into Muslim hands after the battle of Muraisee’, and she
        was given to Hadhrat Thabit bin Qais (Radhiyallaho anho).
        He offered to release her for 360 Dirhams. She came to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0,Pr ophet of Allah! I am the daughter of Harith who
        is the chief of the tribe, and you know my story. The
        ransom demanded by Hadhrat Thabit (Radhiyallaho
        anho) is too much for me. I have come to seek your
        help in the matter.”
        The Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) agreed to pay her
        ransom, set her free, and offered to take her as his wife. She
        was very glad to accept this offer. She was married to the
        Prophet in 5 A. H. and as a consequence of this marriage,
        the prisoners of Banu Mustaliq (Juwairiah’s tribe), about a
        hundred families, were all set free by the Muslims. “The
        tribe which was so honoured by the Prophet’s relationship,”
        they said, “should not remain in slavery.”
        Such were the noble expediences in all the marriages
        of the Prophet. Hadhrat Juwairiah (Radhiyallaho anha) was
        very pretty, her face was very attractive. Three days before
        her falling captive in the battle, she had seen in her dream
        the moon coming out from Madinah and falling into her
        lap. She says:
        “When I was captured, I began to hope that my dream
        would come true.”
        She was 20 at the time of her marriage with the Prophet
        (Sallallaho alaihe wasallam). She died in Rabi-ul-Awwal,
        50 A. H., in Madinah at the age of 65. ,

        ALLAH TELAH MEMULIAKAN NABI MUHAMMAD DI QURAN
        MAKANYA ORANG PINTER SEKALIBER PROFFESOR DOKTOR YAHYA WALONI DAN DOKTOR IRENE HANDONO KEMBALI KE ISLAMITULAH KEBENARAN KISAHNYA.
        Reply

        LIM BHO TAK Says:

        February 11, 2013 at 4:43 am

        KISAH SEBENARNYA ISTRI NABI MUHAMMAD SAW . SAFIYYAH RA

        (10) Hadhrat Safiyyah (Kadhiyallaho anha):
        She was the daughter of Hayi, who was a descendant
        of Hadhrat Harun (Alaihis salaam) the brother of Hadhrat
        Moosa (Alaihis salaam). She was first married to Salam bin
        Mishkam and then to Kinanah bin Abi Huqaiq at the time
        of Kheybar. Kinanah was killed in the battle and she was
        captured by the Muslims. Hadhrat Dahya Kalbi (Radhiyallaho
        anho) requested for a maid, and the Prophet made her
        over to him. At this, the other Sahabah approached the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam) and said:
        “0, Prophet of Allah! Banu Nazir and Banu Quraizah
        (the Jewish tribes of Madinah) will feel offended to see
        the daughter of a Jewish chief working as a maid. We
        therefore suggest that she may be taken as your own
        wife.” I
        The Prophet paid a reasonable sum of money to Hadhrat
        Dahya (Radhiyallaho anho) as ransom, and said to Safiyyah:
        “You are now free: if you like you can go back to your
        tribe or can be my wife.”
        She said: “I longed to be with you while I was a Jew. How
        can I leave you now, when I am a Muslim?”
        This is probably a reference to the fact that she once saw in
        -her dream a portion of the moon falling into her lap. When
        she mentioned her dream to Kinanah, he smote her face. so
        severely that she developed a mark on her eye He said:
        “You seem to be desiring to become the wife of the
        King of Madinah.”
        Her father is also reported to have treated her similarly
        when she related the same or similar dream to him. She
        again saw (in her dream) the sun lying on her breast. When
        she mentioned this to her husband, he remarked:
        “You seem to be wishing to become the Queen of Madinah.”
        She says: “I was seventeen when I was married to the
        Prophet (Sallallaho alaihe wasallam).
        She came to live with the Prophet (Sallallaho alaihe
        wasallam) when he was camping at the first stage from
        Khaiber. Next morning, he said to the Sahabah:
        “Let everybody bring whatever he has got to eat.”
        They brought their own dates, cheese, butter, etc. A long
        leather sheet was spread and all sat round it to share the
        food among themselves. This was the Walimah for the marriage.
        She died in Ramadhan, 50 A. H., when she was about
        60.
        PENDETA2 YAHUDI PERUSAK AGAMA ALLAH, PEMBUNUH PARA NABI ALLAH.ANGGUR ASAM ITU AKAN BINASA DI NERAKA

    • wikki 2:18 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      masuk akal kah seorang wanita muda yang baru menikah .. padahari dimana keluarganya dibunuh termasuk suaminya yang disiksa dulu didepan matanya karena harta ..mau menikahi bangkotan tuaa/?? apakah saudara tidak berpikir wanita itu dibawah tekanan ketakutan ???terus terang membaca ini saya hampir muntah ..padahal mulanya muhammad mengatakan ambil bagimu masing masing tawanan perempuan yang mana saja …tapi ketika dia tahu safifah tercantik ..kemudian dia mengubah pikiranya…jelas wanita ini dibawah tekanan dan ketakutan..

    • SERBUIFF 3:50 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      Sejak masih muda, Shafiyah sudah menggemari ilmu pengetahuan dan sejarah tentang Yahudi. Dari kitab suci Taurat dia mengetahui bahwa kelak akan datang seorang nabi penyempurna agama samawi yang berasal dari jazirah Arab. Fitrahnya yang hanif membuatnya merasa heran ketika ayah dan saudara-saudarnya mendustakan kenabian Muhammad dan risalah Islam yang dibawanya.

    • wikki 4:59 am on 18/08/2012 Permalink | Reply

      bukti mengatakan syafifah adalah seorang yang setia pada keluarganya ..satu satunya kesalahan dia .hanya karena dia cantik dan muda..dan lemah ..bukti dari tulisan tulisan para sahabat muhammad tidak bisa menutupi kebiadaban muhammad.

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel