Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 10:39 pm on 08/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Tafsir Suroh Ali Imran (28) Janganlah mengambil orang-orang yang mukminin orang­orang yang kafir jadi pemimpin lebih daripada orang-orang yang beriman. Dan barang siapa, yang berbuat demikian itu maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun. Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas. Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya. Dan kepada   

    Tafsir Suroh Ali Imran (28) Janganlah mengambil orang-orang yang mukminin orang-­orang yang kafir jadi pemimpin lebih daripada orang-orang yang beriman. Dan barang siapa, yang berbuat demikian itu maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun. Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas. Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya. Dan kepada Allahlah tujuan kamu. 

    Iman kepada Allah telah dipadu dengan ayat yang terlebih dahulu, yaitu bahwasanya seluruh kekuasaan adalah pada Allah. Kalau ada manusia berkuasa, maka itu adalah anugerah belaka dari Allah, dan Allah pun bersedia pula mencabut kekuasaan itu kembali. Orang tidak akan mulia kalau bukan Allah yang memuliakan dan orang tidak hina kalau bukan Allah yang menghinakan. Sehingga walaupun seluruh isi dunia untuk menghinakan engkau, kalau tidak hina kata Tuhan, tidaklah engkau akan hina. Walaupun sepakat isi dunia hendak memuliakan engkau, kalau Tuhan akan menetapkan hina, dunia tidaklah dapat menolong. Kecil kita dan kecil dunia, di hadapan Tuhan.

    Sekarang setelah mendapat pendirian yang demikian, datanglah tuntunan yang maha penting:

    لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكافِرينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنينَ

    “Janganlah mengambil orang-orang yang mu’iminin akan orang-orang kafir jadi pemimpin , lebih daripada orang-orang yang beriman.” (pangkal ayat 28).

    Di sini terdapat perkataan aulia’. Dahulupun pernah kita uraikan arti kata wali, yang berarti pemimpin atau pengurus atau teman karib, ataupun sahabat ataupun pelindung.

    Di surat al-Baqarah ayat 256 kita telah diberikan pegangan, bahwasanya wali yang sejati, artinya pemimpin, pelindung dan pengurus orang yang beriman hanya Allah. Di ayat itu Tuhan memberikan jaminannya sebagai wali, bahwa orang yang beriman akan dikeluarkan dari gelap kepada terang. Dan di dalam ayat itu juga diterangkan bahwa wali orang yang kafir adalah Thaghut dan Thaghut itu akan mengeluarkan mereka dari terang kepada gelap.

    Kemudian di dalam ayat yang lain kita telah bertemu pula keterangan bahwasanya orang beriman sesama beriman yang sebahagian menjadi wali dari yang lain, sokong-menyokong, bantu­ membantu, sehingga arti wali di sini ialah persahabatan. Maka di dalam ayat yang tengah kita bicarakan ini, diberikanlah peringatan kepada orang yang beriman, agar mereka jangan mengambil or­ang kafir menjadi wali.

    Jangan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dijadikan wali sebagai pemimpin, atau wali sebagai sahabat. Karena akibatnya kelak akan terasa, karena akan dibawanya ke dalam suasana thaghut Kalau dia pemimpin atau pengurus, sebab dia kufur, kamu akan dibawanya menyembah thaghut. Kalau mereka kamu jadikan sahabat, kamu akan diajaknya kepada jalan sesat, menyuruh berbuat jahat, mencegah berbuat baik.

    Menurut riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Al-Hajjaj bin ‘Amr mengikat janji setia kawan dengan Ka’ab bin al-Asyraf (pemuka Yahudi yang terkenal sebagai penafsir) dan Ibnu Abi Haqiq dan Qais bin Zaid. Ketiga orang ini telah bermaksud jahat hendak mengganggu kaum Anshar itu lalu ditegur oleh Rifa’ah bin al-Mundzir dan Abdullah bin Jubair dan Sa’ad bin Khatamah, supaya mereka menjauhi orang-orang Yahudi yang tersebut itu. Hendaklah mereka berawas diri dalam perhubungan dengan mereka, supaya agama mereka jangan difitnah oleh orang-­orang Yahudi itu.

    Tetapi orang-orang yang diberi peringatan itu tidak memperdulikannya.” Inilah kata Ibnu Abbas yang menjadi sebab turunnya ayat ini.Ada lagi suatu riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari beberapa jalan riwayat, bahwasanya tafsir ayat ini ialah bahwa Allah melarang orang-or­ang yang beriman bersikap lemah-lembut terhadap orang kafir dan mengambil mereka jadi teman akrab melebihi sesama beriman, kecuali kalau orang-orang kafir itu lebih kuat daripada mereka. Kalau demikian tidaklah mengapa memperlihatkan sikap lunak, tetapi hendaklah tetap diperlihatkan perbedaan di antara agama orang yang beriman dengan agama mereka.

    Untuk mendekatkan kepada faham kita, bacalah pula tafsir surat al-Mumtahanah (Surat 60 ayat 1). Seorang sahabat Nabi yang terkemuka, pernah turut dalam peperangan Badar, bernama Hathib bin Abi Balta’ah, seketika Rasulullah saw menyusun kekuatan buat menaklukkan Makkah, dengan secara diam-diam dan rahasia telah mengutus seorang perempuan ke Makkah, membawa suratnya kepada beberapa orang musyrikin di Makkah, menyuruh mereka bersiap-siap, sebab Makkah akan diserang.

    Maksudnya ialah untuk menjaga dirinya sendiri. Sebab kalau serangan itu gagal, dia sendiri tidak akan ada yang memperlindunginya di Makkah. Dia tidak mempunyai keluarga besar di Makkah, seperti sahabat­sahabat rasulullah s.a.w, yang lain. Dengan mengirim surat itu dia hendak mencari perlindungan. Syukurlah Tuhan memberi isyarat kepada Rasulullah tentang kesalahan Hathib itu, sehingga beliau suruh kejar perempuan itu, sampai digeledah surat itu di dalam sanggulnya. ‘Umar bin Khattab telah meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh Hathib karena perbuatannya yang dipandang berkhianat itu. Untuk kepentingan diri sendiri dia telah membuat hubungan dengan orang kafir. Perbuatannya itu salah. Sebab dia telah membocorkan rahasia peperangan, syukurlah suratnya itu dapat ditangkap. Kalau bukanlah karena jasanya selama ini, terutama karena dia telah turut dalam peperangan Badar, niscaya akan berlakulah atas dirinya hukuman berat.

    Hathib bin Abi Balta’ah termasuk sahabat besar, namun demikian sekali-sekali orang besarpun bisa terperosok kepada satu langkah yang merugikan negara dengan tidak disadari, karena lebih mengutamakan memandang kepentingan diri sendiri. Maka dalam surat al-Mumtahanah ayat 1 diperingatkan supaya orang-orang beriman jangan mengambil orang kafir menjadi wali, karena menumpahkan kasih-sayang.

    Padahal kalau telah terjadi pertentangan (konfrontasi) dengan musuh, dalam hal ini di antara kaum Muslimin di Madinah dan kaum Musyrikin di Makkah, hubungan pribadi tidak boleh dikemukakan lagi. Mungkin pribadi­-pribadi orang di Madinah dengan dengan pribadi orang di Makkah tidak ada selisih, tidak bermusuh, malah berkawan, bersahabat karib, tetapi dalam saat yang demikian hubungan pribadi tidak boleh ditonjolkan, sebab akan mengganggu jalannya penentuan kalah – menang diantara golongan yang berhadapan.

    وَ مَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ في‏ شَيْ‏ءٍ

    “Dan barangsiapa yang berbuat demikian itu , maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun.”

    Tegasnya, dengan sebab mengambil wali kepada kafir, baik pimpinan atau persahabatan, niscaya lepaslah dari perwalian Allah, putus dari pimpinan Tuhan, maka celakalah yang akan mengancam.

    إِلاَّ أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً

    “Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas.”

    Beratus-ratus tahun lamanya negeri-negeri Islam banyak yang dijajah oleh pemerintahan yang bukan Islam, karena terpaksa. Karena tergagah, karena senjata untuk melawan dan kekuatan untuk bertahan tidak ada lagi. Maka tetaplah larangan pertama, yaitu tidak menukar wali dari Allah kepada mereka. Kalau ini tidak dapat dinyatakan keluar, hendaklah disimpan terus di dalam hati dan hendaklah selalu awas sebenar-benar awas, supaya dengan segala daya-upaya bahaya mereka itu untuk membelokkan dari Allah kepada Thaghut dapat ditangkis. Pendeknya , sampai kepada saat yang terakhir wajib melawan , walaupun dalam hati.

    Taqiyah

    Bersikap lunak-lembut kepada musuh, yang merupakan satu ketundukan dan menyerah, karena musuh itu lebih kuat, itulah yang dinamai sikap taqiyah. Kepala selalu terangguk-angguk merupakan setuju, padahal hati bukan setuju. Mulut senantiasa tersenyum, musuh yang kafir itu menyangka bahwa si Mu’min telah tunduk, padahal bukan tunduk.

    Orang yang tidak memahami ajaran Islam menyamakan saja sikap begini dengan munafik. Padahal munafik ialah bermulut manis, bersikap lembut dan tersenyum-senyuin di dalam menyembunyikan pendirian yang salah, yang kufur. Seperti orang munafik mengakui di hadapan Rasulullah s.a.w. bahwa mereka telah percaya bahwa beliau memang utusan Allah, padahal hati mereka tidak mengaku. Walaupun yang mereka katakan benar, kalau kata yang benar itu tidak dari hati, mereka tetap berdusta. Itulah orang yang munafik.

    Tetapi kalau kita yakin bahwa kita di pihak yang benar, dalam lindungan hukum-hukum Allah dan Rasul, sedang musuh kuat, sehingga kita tidak kuat bertindak menentang musuh Tuhan itu, kalau kita menunjukkan muka manis dan mengangguk-angguk, bukanlah munafik namanya, melainkan taqiyah.

    Dalam satu seminar di Jakarta dalam bulan September 1966 seorang sahabat menyatakan pendapat bahwa sikap taqiyah yang menjadi pegangan sangat teguh dari kaum Syi’ah adalah menunjukkan sikap yang lemah.

    Lalu penafsir ini membantah: “Memang kaum Syi’ah mempunyai ajaran taqiyah, tetapi ini bukanlah alamat kelemahan!” Terlepas dari pendirian penafsir sendiri yang bukan Syi’ah, tetapi penganut Mazhab Sunni, penafsir kagum akan ajaran taqiyah kaum Syi’ah itu. Sebab bagi mereka taqiyah bukan kelemahan, melainkan satu siasat yang berencana. Oleh sebab itu maka Mazhab Syi’ahlah satu mazhab politik yang banyak sekali mempunyai rencana-rencana rahasia, yang baru diketahui oleh musuh-musuhnya setelah musuh itu menghadapi kenyataan.

    Kerajaan-kerajaan Syi’ah yang berdiri di mana-mana, baik di Asia atau Afrika di zaman-zaman Khalifah-khalifah Baghdad, kebanyakan pada mulanya adalah gerakan yang dirahasiakan. Berdirinya gerakan Bani Abbas menentang Bani Umayyah, mulanya ialah gerakan rahasia yang timbul di Khurasan. Kerajaan Bani Idris di Afrika, Kerajaan Fathimiyah di Mesir yang dahulu bernama Ubaidiyah di Qairouan mulanya adalah gerakan rahasia.

    Gerakan Hasan Shabah yang terkenal dengan nama “Hasysyasyin (Assasin) adalah mulanya gerakan sangat rahasia. Oleh sebab itu kalau kaum Syi’ah memakai pendirian taqiyah, bukanlah kelemahan, melainkan siasat yang berencana. Oleh sebab itu kalau ada orang Islam yang menyerah kepada kekuasaan kafir, sampai kerja sama atau membantu kafir, padahal tidak ada rencana hendak terus menumbangkan kerajaan kafir itu, bukanlah itu taqiyah, tetapi menggadaikan diri sendiri kepada musuh.

    وَ يُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ

    “Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya.”

    Di sambungan ayat ini Allah Ta’ala memberi peringatan dengan keras, bahwa di dalam urusan ini, khusus dalam taqiyah, janganlah dipandang enteng. Jangan sampai sikap taqiyah itu dijadikan tempat lari untuk melepaskan diri dari tanggung-jawab menghadapi lawan. Hendaklah awas dan jangan sekali-kali lupa bahwa diri Allah Ta’ala senantiasa ada, senantiasa mengawasi, dan menilik sepak terjang yang kamu lakukan. Karena kalau taqiyah itu akan membawa agama Allah jadi lemah, bukanlah dia taqiyah lagi tetapi beralih menjadi sikap pengecut. Itu sebabnya maka ujung ayat lebih menjelaskan pula, bahwa baik di waktu kamu sedang kuat, lalu menolak kerjasama dengan musuh yang akan melemahkan agamamu, atau sedang lemah sehingga terpaksa kamu mengambil sikap taqiyah, namun ingatlah:

    وَ إِلَى اللهِ الْمَصيرُ

    “Dan kepada Allahlah tujuan kamu.” (ujung ayat 28).

    Akhir ayat ini mengingatkan kita akan perumpamaan hidup kita yang tengah berlayar di tengah lautan besar, menaiki sebuah bahtera. Sejak dari permulaan berlayar kita telah menentukan tujuan dan arah di mana bahtera itu akan berlabuh. Lalu pelayaran kita teruskan. Tetapi oleh karena laut itu tidak senantiasa tenang, bahkan ada gelombang, ada taufan, ada badai dahsyat, sudahlah dalam perhitungan bahwa kadang-kadang bahtera itu akan dihalau oleh angin entah ke mana. Tetapi betapa pun hebatnya pukulan gelombang, namun nakhoda kapal wajib tetap menjaga pedoman, tidak boleh berkisar dari tujuan semula. Tujuan bahtera hidup beragama ialah Allah.

    Untuk kelengkapan penafsiran ini hendaklah kita tilik lagi ayat 8 dan ayat 9 dari surat 60 (al-Mumtahanah). Surat ini pun diturunkan di Madinah. Di ayat 8 ditegaskan bahwa terhadap kafir yang tidak memerangi kamu dan tidak mengusirmu dari kampung halaman kamu, tidaklah mengapajika hidup berdampingan dengan damai ( an-tabarru-hum ) dan berhubungan secara adil watuq-sithu ilaihim ) ; memberi dan menerima, duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Lalu di ayat 9 ditegaskan lagi, bahwa jika musuh itu memerangi kamu dalam hal agama dan mengusir kamu dari kampung halaman kamu dan dengan terang-terang pula pengusiran itu, tidaklah kamu boleh bersahabat atau berhubungan dengan mereka.

    Niscaya kita dapat berpikir lebih lanjut tentang isi sekalian ayat ini. Baik ayat-ayat yang tegas melarang dan memerintahkan supaya selalu awas, atau ayat yang membolehkan berhubungan dengan mereka, karena taqiyah atau karena kuat. Kalau kita kuat tentu tidak berhalangan kalau kita berhubungan dan berdamai dengan kafir, membuat perjanjian-perjanjian dagang, utang piutang dan lain-lain sebagainya, terutama hidup bernegara di zaman modern, tidaklah ada satu negeri yang dapat memencilkan diri dari negeri lain. Sudahlah selayaknya jika wakil-wakil dari negeri dan negara Islam duduk bersama bermusyawarat memperkatakan soal­-soal internasional dengan wakil-wakil negara-negara lain.

    http://kongaji.tripod.com/myfile/Ali_Imran_ayat_28_30.htm

    Advertisements
     
    • camar 5:38 pm on 12/08/2012 Permalink | Reply

      Tafsir Suroh Ali Imran (28) Janganlah mengambil orang-orang yang mukminin orang-­orang yang kafir jadi pemimpin lebih daripada orang-orang yang beriman. Dan barang siapa, yang berbuat demikian itu maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun. Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas. Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya. Dan kepada Allahlah tujuan kamu.###artinya walaupun ada seorang yang bukan muslim yang pintar maka tidak ada harapan bagi dia menjadi seorang peminpin di wilayah mayoritas muslim ..makanya banyak korupsi. bagaimana negara ini maju bila ayat ini diterapkan dan diamalkan …karena tidak memberi kesempatan pada seorang yang bukan muslim untuk jadi peminpin apakah ayat ini mencerminkan demokrasi???? lihat negara negara yang dipinpin oleh non muslim selalu maju ..ayat ini pula yang dipakai oleh rhoma irama untuk menghasut salah satu pasangan kandidat cagub DKI…selamat anda sudah dibodoh bodohi.

  • SERBUIFF 1:11 am on 08/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Tafsir Suroh Maryam ayat 64 Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau; kepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara ya   

    Tafsir Suroh Maryam ayat 64 Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau; kepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara yang demikian; dan tidaklah ada Tuhan engkau itu kelupaan. 

    Tafsir Suroh Maryam ayat 64 


    وَما نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ ما بَيْنَ أَيْدينا وَما خَلْفَنا وَما بَيْنَ ذلِكَ وَما كانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

    (64) Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau; kepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara yang demikian; dan tidaklah ada Tuhan engkau itu kelupaan.


    رَبُّ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَما بَيْنَهُما فَاعْبُدْهُ وَ اصْطَبِرْ لِعِبادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا َ

    (65) Tuhan bagi semua langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; maka sembahlah Dia nya dan berteguh hatilah di dalam beribadat kepadaNya. Apakah engkau mengetahui bahwa bagiNya ada yangmenyamai?


    Kegelisahan

    Menurut suatu riwayat dari Mujahid, ada pada satu ketika Jibril itu lambat baru datang menemui Nabi kita, kononnya sampai 12 malam, (ada juga riwayat mengatakan kurang dari itu), maka pada satu waktu datanglah Jibril sebagai biasa. Lalu berkatalah Nabi s.a.w. kepadanya: “Hai Jibril, sangat gelisah aku karena engkau lambat benar baru datang, sehingga kaum musyrikin itu telah menyangka yang bukan-bukan.” Kata Mujahid: “Maka turunlah ayat ini:

    وَما نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ

    “Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau,”

    dan seterus­nya. Dan menurut sebuah riwayat lagi yang dibawakan oleh al-Hakam bin Aban, yang dia terima dari Ikrimah bahwa dia berkata: “Terlambat Jibril turun kepada Nabi sampai 40 hari.” Kemudian itu dia pun turun. Maka berkatalah Rasulullah s.a.w. kepada Jibril: “Lama engkau tidak turun sehingga sangat rinduku kepada engkau.” Lalu Jibril menjawab: “Bahkan aku pun lebih lagi rinduku hendak bertemu dengan engkau, tetapi aku ini hanyalah seorang petugas yang menjalankan perintah.” Lalu Allah mewahyukan kepada Jibril supaya dia katakan pula kepada Muhammad:

    وَما نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ

    “Dan tidaklah kami turun melain­kan dengan perintah Tuhan engkau.” Hadits ini dirawikan oleh Ibnu Abi Hatim.

    Maka dapatlah kita fahamkan bahwa Jibril berkata: “Aku ini hanya seorang petugas yang menjalankan perintah,” bahwa datangnya atau turunnya ke dunia hanyalah kalau ada perintah Tuhan menyuruh turun, dan kalau belum ada perintah tidaklah dia akan turun, walaupun dia sendiri pun lebih rindu lagi hendak bertemu dengan Nabi s.a.w. Inilah dua tafsir yang kita salin di antara beberapa tafsiran yang lain.

    Ada juga riwayat dari Imam Ahmad bahwasanya Nabi s.a.w. pada suatu hari menyuruhkan isterinya Ummi Salamah memperhiasi rumah, karena se­orang malaikat yang istimewa akan turun menemui beliau.

     لَهُ ما بَيْنَ أَيْدينا وَما خَلْفَنا وَما بَيْنَ ذلِكَ

    “KepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara yang demikian.”

    Ini masih sam­bungan ayat yang diwahyukan T’uhan kepada Jibril dan disuruhNya sampaikan kepada Muhammad s.a.w. Menurut tafsir dari Ibnu Katsir:

    أَيْدينا ما

    “Apa yang ada di hadapan kita”

    ialah yang kita hadapi hidup di dunia sekarang ini. Dan menurut tafsiran pula dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair:

    وَما خَلْفَنا

    “Dan apa-apa yang di belakang kita”

    ialah masa-masa hidup yang-telah kita belakangi, atau yang telah kita jalani dan lalui.

     وَما بَيْنَ ذلِكَ

    “Dan apa-apa yang di antara yang demikian,”

    menurut Ibnu Abbas dan Said bin Jubair dan tafsir yang dipilih oleh Ibnu Jarir ialah keadaan di antara hidup dunia dengan hidup akhirat.

     وَما كانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

    “Dan tidaklah ada Tuhan engkau itu kelupaan.” (ujung ayat 64).

    Sama dengan apa yang diwahyu­kan Tuhan di Surat adh-Dhuha: “Tidaklah Tuhan engkau pernah meninggalkan engkau dan tidaklah Dia pernah mengecewakan.” (Surat 93, adh-Dhuha, ayat 3).

    Tersebut dalam sebuah Hadits yang dirawikan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya dari Abu Darda’:

    “Apa yang dihalalkan oleh Allah di dalam kitabNya, itulah yang halal, dan apa yang diharamkanNya, itulah yang haram, dan apa yang didiamkanNya maka itu adalah kumia. Sebab itu terimalah kurniaNya itu. Karena Allah tidaklah pernah dia melupakan sesuatu. Kemudian dibacanya ayat:

    “Dan tidaklah ada Tuhan engkau itu pemah kelupaan.”

     
    • camar 11:45 am on 13/08/2012 Permalink | Reply

      (64) Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau; kepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara yang demikian; dan tidaklah ada Tuhan engkau itu kelupaan….###yang jadi peratanyan dari ayat ayat diatas yang konon katanya semua ayat ayat dalam quran adalah final kata kata allah ..coba anda teliti dan periksa menurut anda para muslimer sejati siapakah yang berbicara disini ???padahal biasanya dalam quran biasa diawali dengan kata kata ‘”katakanlah” tetapi disini tidak terdapat kata kata itu .apakah ini berati bahwa kata kata diatas adalah kata kata jibril/???masih bersitegangkah sdr muslimer mengatakan quran itu final kata kata allah???.aku tahu jawabanmu adalah wahyu ini adalah wahyu yang di wahyukan ia,,kan??? lalu kalau kamu tidak sanggup menjawab lalu pasti kamu bilang aku goblok..atau..kafir ..setan….dll..itu sudah biasa..atau jurus terakhir wallahu alam.

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel