Updates from April, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 3:13 am on 19/04/2012 Permalink | Reply
    Tags: Sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad   

    Sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad 

    NABI MUHAMMAD SAW
     
    Title Filter     Display # 
    1 Tangisan-Tangisan Nabi Muhammad Saw
    2 Tiga Moral Kepemimpinan Rasulullah SAW
    3 Sejarah Hidup Muhammad Saw: Berbondong-Bondong Memeluk Islam
    4 Sejarah Hidup Muhammad Saw: Haji Wada’, Haji Perpisahan
    5 Toleransi Nabi Saw Kepada Yahudi dalam Piagam Madinah (Shahifah Al-Madinah)
    6 Sejarah Hidup Muhammad Saw: Ekspedisi Militer yang Tertunda
    7 Ensiklopedi Akhlak Nabi Saw: Akhlak Nabi adalah Al-Quran
    8 Ensiklopedi Akhlak Nabi Saw: Klasifikasi Akhlak Mulia
    9 Rasulullah Saw Tidak Pernah Pensiun
    10 Ensiklopedi Akhlak Nabi Saw: Pilar-Pilar Akhlak Mulia
    11 Muhammad Saw: Negarawan Teragung Sepanjang Masa
    12 Muhammad Saw: Pemimpin Militer Teragung
    13 Muhammad Saw: Hakim Teradil
    14 Muhammad Saw: Meneladani Saudagar Terjujur
    15 Ensiklopedi Akhlak Nabi Saw: Ciri-Ciri Akhlak Mulia
    16 Sejarah Hidup Muhammad Saw: Perkembangan Islam
    17 Sejarah Hidup Muhammad Saw: Ibadah Haji
    18 Sejarah Hidup Muhammad Saw: Tahun Perutusan
    19 3 Fase Kehidupan Rasulullah Saw
    20 Romantisnya Rasulullah Saw dengan Istri
    21 Keistimewaan Sejarah Nabi Muhammad Saw
    22 Pentingnya Sunnah Nabi Muhammad Saw
    23 Siapakah Nenek Nabi Muhammad Saw
    24 Seratus Enam Puluh Kebiasaan Nabi Muhammad Saw
    25 Nabi Muhammad Saw Bercita-cita Mati Syahid
    26 Muhammad Saw Pembebas Kaum Wanita
    27 Nabi Muhammad Saw Dalam Lintasan Sejarah Islam
    28 Nabi Muhammad Saw Yang Ummy
    29 Sejarah Hidup Muhammad Saw (12): Kecemburuan Ummahatul Mukminin
    30 Rasulullah Saw Adalah Pendengar Yang Baik
    31 Sejarah Hidup Muhammad Saw (11): Perang Hunain
    32 Air Mata untuk Rasulullah Saw
    33 Sejarah Hidup Muhammad Saw (10): Islamnya Abu Sufyan
    34 Kecerdasan Emosi Rasulullah Saw
    35 Sejarah Hidup Muhammad Saw (9): Menjelang Penaklukan Makkah
    36 Syafa’at Nabi Muhammad Saw
    37 Mimpi-Mimpi Rasulullah Saw Yang Menakjubkan
    38 Kesempurnaan Jiwa Pemaaf Rasulullah Saw
    39 Pakaian Rasulullah Saw
    40 Ibadah Rasulullah Saw
    41 Sejarah Hidup Muhammad Saw (8): Hikmah Perjanjian Hudaibiyah
    42 Kemuliaan yang Diberikan Rasulullah Saw. Kepada Wanita
    43 Pernyataan Heraklius, Kaisar Roma tentang Rasulullah dan Islam
    44 Khutbah Rasulullah Saw Tentang Dajjal
    45 Saat-saat Rasulullah Tertawa dan Menangis
    46 Sejarah Hidup Muhammad Saw (7): Hasutan Sang Munafik
    47 Tidur-nya Rasulullah Saw
    48 14 Cara Nabi Saw Mendidik Anak
    49 8 Keteladan Kepemimpinan Rasulullah Saw
    50 Sejarah Hidup Muhammad Saw (6): Konspirasi Yahudi dan Quraisy
    51 Sejarah Hidup Muhammad Saw (5): Kecamuk Perang Uhud
    52 Bukti Kerasulan Muhammad Saw
    53 Kisah Cinta Khadijah r.a dan Rasulullah Saw
    54 Kehadiran Nabi Muhammad Saw Dalam Injil dan Taurat
    55 Manajemen Marah Rasulullah Saw
    56 Sikap Agung Rasulullah Menghadapi Pembenci Islam
    57 Sejarah Hidup Muhammad Saw (4): Membentuk Masyarakat Madani
    58 Seruan Rasulullah Kepada Kabilah-kabilah Arab
    59 Kebebasan Beragama Ketika Rasulullah Kecewa
    60 Sejarah Hidup Muhammad Saw (3): Isra’ dan Mi’raj
    61 Rahasia Senyum Nabi Muhammad Saw
    62 Rasulullah SAW Selalu Tepat Waktu
    63 Hingga Jin pun Beriman Kepada Rasulullah
    64 Sejarah Hidup Muhammad Saw (1)
    65 Sejarah Hidup Muhammad Saw (2): Pendamai Kaum Quraisy
    66 Mengenang Akhlak Nabi Muhammad Saw
    67 Pengakuan Raja Heraclius Terhadap Nabi Muhammad
    68 Wasiat Rasulullah SAW
    69 Strategi Intelijen Nabi dan Para Shahabat
    70 Kesederhanaan Rasulullah di Tengah “Gelimangan Harta”
    71 17 Dalil Tak Akan Ada Nabi Setelah Nabi Muhammad Saw
    72 Makan dan Berguraulah Sebagaimana Muhammmad Saw
    73 Syariat Nabi Muhammad Menghapus Syariat Sebelumnya
    74 Keteladanan Dari Ahlul Bait Nabi SAW
    75 Putri-putri Rasulullah SAW
    76 Keberkahan Seuntai Kalung Putri Rasul Yang Mulia
    77 Beriman kepada Risalah Muhammad SAW
    78 Amalan Rasulullah & Fakta Ilmiahnya
    79 Keistimewaan Al-Qur’anul Karim Dan Nabi Muhammad saw
    80 Pola Hidup Sehat dalam Sunnah Rasulullah SAW
    81 Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Realitas Umat
    82 Gambaran Akhlaq Rosulullah saw
    83 Peristiwa Seputar Hijrah Rasulullah SAW
    84 Sepuluh Wasiat Rasulullah SAW
    85 Khutbah Rasulullah Saat Pertama Kali Sholat Jumat
    86 Cinta pada Rasulullah
    87 Muhammad SAW dimata Napoleon dan Gandhi
    88 Wafatnya Rasulullah SAW Adalah Musibah Terbesar
    89 Mengagumi Rasulullah SAW
    90 Meluruskan Riwayat Pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah r.a
    91 Telaga Kemuliaan Rasulullah pada Hari Kiamat
    92 Ruqoyyah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma Kisah Perjalanan Dua Cahaya
    93 Rahasia Sukses Bisnis Rasulullah SAW
    94 Mengapa Rasulullah SAW Selalu Sehat Selama Hidupnya?
    95 Ummul Mu’minin Aisyah r.a
    96 Cerita Menjelang Wafatnya Nabi SAW
    97 Keturunan Fatimah Az Zahra
    98 Juwairiyah binti Al Harits, Perempuan Pembawa Berkah
    99 Mengapa Muhammad bin Abdullah Menang?
    100 Kisah Kearifan dan Kebijaksanaan Mertua Ali Bin Abi Thalib
    101 Warna-Warna Kesukaan Rasulullah Saw
    102 Muhammad, Pemimpin Agung Yang Dipilih Oleh Semua Orang
    103 Rasulullah Saw Menjelang Ajal
    104 Rasulullah Saw yang Zuhud
    105 Rasulullah Saw yang Tawadhu
    106 Dakwah Secara Diam-Diam
    107 Upaya Pembunuhan Terhadap Rasulullah SAW
    108 Surat-Surat Rasulullah Saw
    109 Saidatina Aisyah, Sang Istri Rasulullah
    110 9 Pedang Milik Nabi Muhammad SAW
    111 Ikhtisar Sirah Nabi dan Khilafah Rasyidah
    112 Ikhtisar Sejarah Islam Pasca Khilafah Rasyidah
    113 Mengapa Islam Turun di Arab?
    114 Sekilas Arab Pra-Kerasulan
    115 Cahaya Muhammad SAW
    116 Bagaimana Penampilan Fisik Rasulullah?
    117 Mana Bukti Cintamu pada Nabi?
    118 Akhlak Kepada Rasul SAW
    119 Wahyu Pertama Hingga Isra’ Mi’raj
    120 Perjalanan Pertama Ke Syam Dan Usaha Mencari Rezki
    121 Hijrah dan Pembangunan Masyarakat Islam
    122 Ciri Keumuman Risalah Nabi Muhammad saw
    123 Karakteristik Risalah Nabi Muhammad SAW
    124 Tidak Ada Waktu Istirahat untuk Tubuh Letih Rasulullah
    125 Kewajiban Kita Terhadap Rasulullah SAW
    126 Peperangan Di Masa Rasulullah (bagian 1)
    127 Peperangan di Masa Rasulullah (bagian 2)
    128 Peperangan di Masa Rasulullah (bagian 3)
    129 Peperangan di Masa Rasulullah (bagian 4)
    130 Peperangan di Masa Rasulullah (bagian 5)
    131 Peperangan di Masa Rasulullah (bagian 6)
    132 Peperangan di Masa Rasulullah (bagian 7)
    133 Akhir Wasiat Nabi Muhammad saw Kepada Umatnya
    134 Kemuliaan Para Sahabat Rasulullah SAW
    135 Kabar Gembira Untuk Nabi Sallallahu’alaihi wasallam di Dalam Kitab-kitab terdahulu
    136 Urgensi Mengkaji Sirah Nabawiyah
    137 Muhammad Dari Kelahiran Sampai Perkawinannya (3)
    138 Muhammad Dari Kelahiran Sampai Perkawinannya (2)
    139 Muhammad Dari Kelahiran Sampai Perkawinannya (1)
    140 Kehalusan, Kelembutan, dan Kesabaran Rasulullah
    141 Rasulullah Dalam Menunaikan Hak
    142 Detik-Detik Wafatnya Rasulullah Saw
    143 Perang Badar Kubra (1)
    144 Perang Badar Kubra (2)
    145 Perang Badar Kubra (3)
    146 Perang Badar Kubra (4)
    147 Cerita Nabi, Rasul, dan Sahabat
    148 Muhammad dalam Perspektif Al-Quran (1)
    149 Muhammad dalam Perspektif Al-Quran (2)
    150 Muhammad dalam Perspektif Al-Quran (3)
    151 Kehidupan Rasulullah Sebelum Diutus
    152 Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw
    153 Kebenaran Rasulullah Bisa Mengawini Semua Wanita
    154 Istri-Istri Rasulullah Saw
    155 Makna Nabi Muhammad saw. Sebagai Penutup Para Nabi
    156 Muhammad, Pemimpin Ikut Turun Bekerja
    157 Muhammad Sebagai Seorang Suami
    158 Muhammad “Guru” Dunia
    159 Muhammad, Pribadi Yang Sungguh Menawan
    160 Riwayat Hidup Muhammad Sebelum Dibangkitkan Menjadi Nabi dan Rasul
    161 Kesederhanaan Keluarga Rasulullah
    162 Kesederhanaan Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW
    163 Nabi Muhammad Dalam Pandangan Cendekiawan Barat
    164 Mengenal Rasulullah Muhammad SAW
    165 Khadijah bintu Khuwailid : Penopang Duka Khairul Anam
    166 Khadijah Binti Khuwailid -Rodhiallâhu ‘anha
    167 ‘Aisyah Binti Abu Bakar -Rodhiallahu ‘anha
     

    http://www.fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=category&id=41:nabi-muhammad-saw&Itemid=74

    Advertisements
     
  • SERBUIFF 12:18 am on 19/04/2012 Permalink | Reply
    Tags: Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M) salah seorang istri nabi Muhammad saw   

    Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M) salah seorang istri nabi Muhammad saw 

    Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M) salah seorang istri nabi Muhammad saw Nov 12, ’08 8:29 AM
    for everyone

    Mariyah al-Qibtiyah (Wafat-16H/637 M)

    Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.

    Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.

    Dari Mesir ke Yastrib

    Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.

    Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.

    Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah rnasjid.

    Ibrahim bin Muhammad .

    Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.

    Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Lalu beliau memerdekakan Mariyah sepenuhnya. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah . dengan gembira.

    Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu sernakin tampak bersamaan dengan terbongkarnya rahasia pertemuan Rasulullah . dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Mariyah atas diri beliau. Kaitannya dengan hal itu, Allah telah menegur lewat firman-Nya:

    “Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)

    Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”

    Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali ra. menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.

    Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malarn, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi . bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah . bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”

    Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,

    “Wahai Ibrahim, seandainya mi bukan penintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”

    Demikianlah keadaan Nabi ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah . mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.

    Saat Wafatnya

    Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’. Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah. Amin.

    Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh
     
  • SERBUIFF 6:38 am on 31/12/2010 Permalink | Reply
    Tags: Tujuan Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam   

    Tujuan Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam 

    Tujuan Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

    17 Agustus 2009 pukul 21:28 · Disimpan dalam . LIHAT SELURUH ARTIKEL, 1. Mengenal Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, 2. Mengenal Dasar-dasar Islam

    Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putera Nabi Ibrahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.

    Beliau berumur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi dan rasul.

    Beliau diangkat sebagai nabi dengan “Iqra” yakni surah Al-’Alaq : 1-5, dan diangkat sebagai rasul dengan surah Al-Mudatstsir.

    Tempat asal beliau adalah Makkah.

    Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid. Dalilnya, firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Wahai orang yang berselimut ! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu. Sucikalah pakaianmu. Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu menginginkan balasan yang lebih banyak. Serta bersabarlah untuk memenuhi perintah Tuhanmu”. [Al-Mudatstsir : 1-7]

    Pengertian :

    [1] “Sampaikanlah peringatan”, ialah menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.

    [2] “Agungkanlah Tuhanmu”. Agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata-mata.

    [3] “Sucikanlah pakaianmu”, maksudnya ; Sucikanlah segala amalmu dari perbuatan syirik.

    [4] “Tinggalkanlah berhala-berhala itu”, artinya : Jauhkan dan bebaskan dirimu darinya serta orang-orang yang memujanya.

    Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu beliau di mi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.

    Hijrah, pengertiannya, ialah : Pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami.

    Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat. Dalil yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta’ala.

    “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri [1], kepada mereka malaikat bertanya :’Dalam keadaan bagaimana kamu ini .? ‘Mereka menjawab : Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini ?. Maka mereka itulah tempat tinggalnya neraka Jahannam dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Akan tetapi orang-orang yang tertindas di antara mereka, seperti kaum lelaki dan wanita serta anak-anak yang mereka itu dalam keadaan tidak mampu menyelamatkan diri dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), maka mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah adalah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun”. [An-Nisaa : 97-99]

    Dan firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman ! Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka hanya kepada-Ku saja supaya kamu beribadah”. [Al-Ankabuut : 56]

    Al-Baghawi [2], Rahimahullah, berkata :”Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman”.

    Adapun dalil dari Sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat”. [Hadits Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 4, hal. 99. Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Al-Jihad, bab 2, dan Ad-Darimi dalam Sunan-nya, kitab As-Sam, bab 70]

    Setelah Nabi Muhammad menetap di Madinah, disyariatkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat Islam lainnya.

    Beliau-pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari.

    Inilah agama yang beliau bawa : Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan kepada umatnya supaya di jauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah, sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah.

    Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Katakanlah. ‘Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua”. [Al-Araaf : 158]

    Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya untuk kita, firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : ..Pada hari ini [3], telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu ni’mat-Ku serta Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu”. [Al-Maaidah : 3]

    Adapun dalil yang menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah Ta’ala.

    “Artinya :Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka-pun akan mati (pula). Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari kiamat berbantah- bantahan di hadapan Tuhanmu”. [Az-Zumar : 30-31]

    Manusia sesudah mati, mereka nanti akan dibangkitkan kembali. Dalilnya firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Berasal dari tanahlah kamu telah Kami jadikan dan kepadanya kamu Kami kembalikan serta darinya kamu akan Kami bangkitkan sekali lagi” [Thaa-haa : 55]

    Dan firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya (lagi) dan (pada hari Kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya”. [Nuh : 17-18]

    Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan di hisab dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka, firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik (surga)”.[An-Najm : 31]

    Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia adalah kafir, firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : (Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan, supaya tiada lagi suatu alasan bagi menusia membantah Allah sebelum (diutusnya), serta beliulah penutup para nabi”. [An-Nisaa : 165]

    “Artinya : Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan : ‘Tidaklah demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah”. [At-Taghaabun : 7]

    Allah telah mengutus semua rasul sebagai penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : (Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan supaya tiada lagi suatu alasan bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu ..” [An-Nisaa : 165]

    Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam [4], Dan rasul terkahir adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para nabi.

    Dalil yang menunjukkan bahwa rasul pertama adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, firman Allah Ta’ala.

    “Artinya : Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya ..” [An-Nisaa : 163]

    Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan mereka untuk beribadat kepada Allah semata-mata dan melarang mereka beribadah kepada thagut. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan) :’Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thagut itu ..”. [An-Nahl : 36]

    Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir terhadap thagut dan hanya beriman kepada-Nya.

    Ibnu Al-Qayyim [5], Rahimahullah Ta’ala, telah menjelaskan pengertian thagut tersebut dengan mengatakan.

    “Artinya : Thagut, ialah setiap yang diperlakukan manusia secara melampui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti atau dipatuhi”.

    Dan thagut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima :

    [1] Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah.
    [2] Orang yang disembah, sedang dia sendiri rela.
    [3] Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.
    [4] Orang yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib, dan
    [5] Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.

    Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Al-Baqarah : 256]

    Ingkar kepada semua thagut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat “Laa Ilaaha Ilallah”.

    Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Pokok agama ini adalah Islam [6], dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah”. [Hadits Shahih riwayat Ath-Thabarani dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami Ash-Shahih, kitab Al-Imaan, bab 8]

    Hanya Allah-lah Yang Maha Tahu. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad kepada keluarga dan para sahabatnya.

    [Disalin dengan sedikit edit dari buku sumber yang bersumber dari buku Tiga Landasan Utama, Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal 27-36, Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Da’wah dan Penyuluhan Urusan Penerbitan dan Penyebaran Kerajaan Arab Saudi]
    _________

    Foote Note.
    [1] Yang dimaksud dengan orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri dalam ayat ini, ialah orang-orang penduduk Makkah yang sudah masuk Islam tetapi mereka tidak mau hijrah bersama Nabi, padahal mereka mampu dan sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir supaya ikut bersama mereka pergi ke perang Badar, akhirnya ada diantara mereka yang terbunuh.
    [2] Abu Muhammad Al-Husein bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’ atau Ibnu Al-Farra’. Al Baghawi (436-510H – 1044-1117M). Seorang ahli dalam bidang fiqh, hadits dan tafsir. Di antara karyanya : At-Tahdziib (fiqh), Syarh As-Sunnah (hadits), Lubaab At-Ta’wiil fi Ma’aalim At-Tanziil (tafsir).
    [3] Maksudnya, adalah hari Jum’at ketika wukuf di Arafah, pada waktu Haji Wada.
    [4] Selain dalil dari Al-Qur’an yang disebutkan Penulis, yang menunjukkan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama, di sana juga ada hadits shahih yang menyatakan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama yang di utus kepada penduduk bumi ini, seperti hadits riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al-Anbiya, bab 3 dan riwayat Muslim dalam Shahih-nya kitab Al-Iman, bab. 84. Adapun Nabi Adam Alaihissalam, menurut sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, Radhiyallahu anhu. Beliau adalah nabi pertama. Dan disebutkan dalam hadits ini bahwa jumlah para nabi ada 124 ribu orang, dari jumlah tersebut sebagai rasul 315 orang, dan dalam riwayat lain disebutkan 310 orang lebih. Lihat : Imam Ahmad, Al-Musnad, jilid 5, hal. 178, 179 dan 265.
    [5] Abu Abdillah : Muhammad bin Abu Bakar, bin Ayyub, bin Said, Az-Zur’i,Ad-Dimasqi, terkenal dengan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah (691-751H – 1292 – 1350M). Seorang ulama yang giat dan gigih dalam mengajak umat Islam pada zamannya untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti jejak para Salaf Shalih. Mempunyai banyak karya tulsi, antara lain : Madaarij As-Salikin, Zaad Al-Ma’aad, Thariiq Al-Hijratain wa Baab As-Sa’aadatain, At-Tibyaan fi Aqwaam Al-Qur’aan, Miftah Daar As-Sa’aadah.
    [6] Silahkan melihat kembali pengertian Islam yang disebutkan oleh Penulis, dalam Tiga Landasan Utama bagian 3/4

    http://kebunhidayah.wordpress.com/2009/08/17/tujuan-diutusnya-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam/

     
  • SERBUIFF 3:16 am on 26/09/2010 Permalink | Reply
    Tags: KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN oleh Muhammad Husain Haekal   

    KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR’AN oleh Muhammad Husain Haekal 

    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (1/6)
       Muhammad Husain Haekal
    
       MUHAMMAD telah meninggalkan warisan rohani yang agung,
       yang telah menaungi dunia dan memberi arah kepada
       kebudayaan dunia selama dalam beberapa abad yang lalu.
       Ia akan terus demikian sampai Tuhan menyempurnakan
       cahayaNya ke seluruh dunia. Warisan yang telah memberi
       pengaruh besar pada masa lampau itu, dan akan demikian,
       bahkan lebih lagi pada masa yang akan datang, ialah
       karena ia telah membawa agama yang benar dan meletakkan
       dasar kebudayaan satu-satunya yang akan menjamin
       kebahagiaan dunia ini. Agama dan kebudayaan yang telah
       dibawa Muhammad kepada umat manusia melalui wahyu Tuhan
       itu, sudah begitu berpadu sehingga tidak dapat lagi
       terpisahkan.
    
    Kalau pun kebudayaan Islam ini didasarkan kepada metoda-metoda
    ilmu pengetahuan dan kemampuan rasio, - dan dalam hal ini sama
    seperti yang  menjadi  pegangan  kebudayaan  Barat  masa  kita
    sekarang,  dan  kalau  pun  sebagai agama Islam berpegang pada
    pemikiran yang subyektif dan pada pemikiran  metafisika  namun
    hubungan   antara   ketentuan-ketentuan   agama  dengan  dasar
    kebudayaan  itu  erat  sekali.  Soalnya  ialah   karena   cara
    pemikiran  yang  metafisik dan perasaan yang subyektif di satu
    pihak,  dengan  kaidah-kaidah  logika   dan   kemampuan   ilmu
    pengetahuan  di pihak lain oleh Islam dipersatukan dengan satu
    ikatan, yang mau tidak mau memang perlu  dicari  sampai  dapat
    ditemukan,  untuk  kemudian  tetap  menjadi orang Islam dengan
    iman yang kuat pula. Dari segi ini  kebudayaan  Islam  berbeda
    sekali  dengan kebudayaan Barat yang sekarang menguasai dunia,
    juga dalam melukiskan hidup dan dasar yang menjadi landasannya
    berbeda.  Perbedaan  kedua  kebudayaan  ini,  antara yang satu
    dengan  yang  lain  sebenarnya  prinsip  sekali,  yang  sampai
    menyebabkan  dasar keduanya itu satu sama lain saling bertolak
    belakang.
    
    Timbulnya pertentangan ini ialah karena alasan-alasan sejarah,
    seperti  sudah  kita singgung dalam prakata dan kata pengantar
    cetakan kedua buku ini. Pertentangan di Barat antara kekuasaan
    agama  dan  kekuasaan  temporal1  sebagai bangsa yang menganut
    agama Kristen   atau dengan bahasa sekarang     antara  gereja
    dengan negara     menyebabkan keduanya itu harus berpisah, dan
    kekuasaan  negara  harus  ditegakkan  untuk   tidak   mengakui
    kekuasaan  gereja.  Adanya  konflik  kekuasaan  itu  ada  juga
    pengaruhnya dalam pemikiran Barat secara  keseluruhan.  Akibat
    pertama  dari  pengaruh  itu  ialah  adanya  permisahan antara
    perasaan manusia  dengar  pikiran  manusia,  antara  pemikiran
    metafisik  dengan  ketentuan-ketentuan ilmu positif (knowledge
    of   reality)   yang   berlandaskan   tinjauan   materialisma.
    Kemenangan  pikiran  materialisma ini besar sekali pengaruhnya
    terhadap lahirnya suatu  sistem  ekonomi  yang  telah  menjadi
    dasar utama kebudayaan Barat.
    
    Sebagai  akibatnya,  di  Barat telah timbul pula aliran-aliran
    yang hendak membuat segala yang ada di muka  bumi  ini  tunduk
    kepada  kehidupan  dunia  ekonomi.  Begitu  juga tidak sedikit
    orang rang ingin menempatkan sejarah umat  manusia  dari  segi
    agamanya,  seni,  f1lsafat, cara berpikir dan pengetahuannya -
    dalam segala pasang surutnya pada  berbagai  bangsa  -  dengan
    ukuran  ekonomi. Pikiran ini tidak terbatas hanya pada sejarah
    dan penulisannya, bahkan beberapa aliran filsafat Barat  telah
    pula  membuat pola-pola etik atas dasar kemanfaatan materi ini
    semata-mata. Sungguh  pun  aliran-aliran  demikian  ini  dalam
    pemikirannya  sudah  begitu  tinggi  dengan daya ciptanya yang
    besar sekali, namun perkembangan pikiran di  Barat  itu  telah
    membatasinya  pada  batas-batas  keuntungan materi yang secara
    kolektif dibuat oleh pola-pola etik  itu  secara  keseluruhan.
    Dan  dari segi pembahasan ilmiah hal ini sudah merupakan suatu
    keharusan yang sangat mendesak.
    
    Sebaiiknya mengenai masalah rohani, masalah  spiritual,  dalam
    pandangan  kebudayaan Barat ini adalah masalah pribadi semata,
    orang tidak perlu memberikan perhatian bersama untuk itu. Oleh
    karenanya  membiarkan  masalah kepercayaan ini secara bebas di
    Barat merupakan suatu hal  yang  diagungkan  sekali,  melebihi
    kebebasan   dalam   soal   etik.   Sudah  begitu  rupa  mereka
    mengagungkan masalah kebebasan etik itu demi kebebasan ekonomi
    yang   sudah   sama   sekali   terikat   oleh   undang-undang.
    Undang-undang ini akan dilaksanakan  oleh  tentara  atau  oleh
    negara dengan segala kekuatan yang ada.
    
    Kebudayaan  yang  hendak  menjadikan kehidupan ekonomi sebagai
    dasarnya, dan pola-pola etik didasarkan  pula  pada  kehidupan
    ekonomi  itu  dengan tidak menganggap penting arti kepercayaan
    dalam kehidupan umum, dalam merambah jalan untuk umat  manusia
    mencapai   kebahagiaan  seperti  yang  dicita-citakannya  itu,
    menurut  hemat  saya  tidak  akan  mencapai   tujuan.   Bahkan
    tanggapan  terhadap  hidup  demikian ini sudah sepatutnya bila
    akan menjerumuskan umat manusia  ke  dalam  penderitaan  berat
    seperti  yang  dialami  dalam  abad-abad belakangan ini. Sudah
    seharusnya pula apabila segala pikiran  dalam  usaha  mencegah
    perang  dan mengusahakan perdamaian dunia tidak banyak membawa
    arti dan hasilnya pun tidak  seberapa.  Selama  hubungan  saya
    dengan  saudara  dasarnya  adalah sekerat roti yang saya makan
    atau yang saudara makan, kita berebut, bersaing dan bertengkar
    untuk  itu,  masing-masing  berpendirian  atas  dasar kekuatan
    hewaninya,  maka  akan  selalu  kita  masing-masing   menunggu
    kesempatan  baik  untuk  secara  licik memperoleh sekerat roti
    yang di tangan temannya itu. Masing-masing kita satu sama lain
    akan  selalu  melihat  teman  itu sebagai lawan, bukan sebagai
    saudara. Dasar etik yang tersembunyi dalam diri kita ini  akan
    selalu  bersifat  hewani,  sekali  pun masih tetap tersembunyi
    sampai pada waktunya nanti ia akan timbul.  Yang  selalu  akan
    menjadi pegangan dasar etik ini satu-satunya ialah keuntungan.
    Sementara arti perikemanusiaan  yang  tinggi,  prinsip-prinsip
    akhlak  yang  terpuji, altruisma, cinta kasih dan persaudaraan
    akan jatuh tergelincir, dan  hampir-hampir  sudah  tak  dapat
    dipegang lagi.
    
    Apa  yang  terjadi  dalam  dunia  dewasa  ini ialah bukti yang
    paling nyata atas apa yang saya sebutkan itu.  Persaingan  dan
    pertentangan  ialah  gejala  pertama dalam sistem ekonomi, dan
    itu pula gejala pertamanya dalam kebudayaan Barat, baik  dalam
    paham  yang  individualistis,  maupun  sosialistis  sama  saja
    adanya. Dalam  paham  individualisma,  buruh  bersaing  dengan
    buruh,  pemilik  modal  dengan  pemilik  modal.  Buruh  dengan
    pemilik  modal  ialah  dua   lawan   yang   saling   bersaing.
    Pendukung-pendukung paham ini berpendapat bahwa persaingan dan
    pertentangan ini akan membawa  kebaikan  dan  kemajuan  kepada
    umat  manusia.  Menurut mereka ini merupakan perangsang supaya
    bekerja lebih tekun dan perangsang untuk pembagian kerja,  dan
    akan menjadi neraca yang adil dalam membagi kekayaan.
    
    Sebaliknya  paham sosialisma yang berpendapat bahwa perjuangan
    kelas yang harus disudahi dengan kekuasaan  berada  di  tangan
    kaum  buruh,  merupakan  salah  satu  keharusan  alam.  Selama
    persaingan dan perjuangan mengenai harta itu  dijadikan  pokok
    kehidupan,  selama  pertentangan  antar-kelas  itu wajar, maka
    pertentangan antar-bangsa juga wajar, dengan tujuan yang  sama
    seperti   pada   perjuangan   kelas.   Dari  sinilah  konsepsi
    nasionalisma itu, dengan  sendirinya,  memberi  pengaruh  yang
    menentukan   terhadap   sistem   ekonomi.  Apabila  perjuangan
    bangsa-bangsa untuk menguasai harta itu wajar, apabila  adanya
    penjajahan  untuk  itu  wajar  pula,  bagaimana mungkin perang
    dapat dicegah dan perdamaian  di  dunia  dapat  dijamin?  Pada
    menjelang  akhir abad ke-20 ini kita telah dapat menyaksikan -
    dan masih dapat kita  saksikan  -  adanya  bukti-bukti,  bahwa
    perdamaian  di  muka bumi dengan dasar kebudayaan yang semacam
    ini hanya dalam impian saja dapat  dilaksanakan,  hanya  dalam
    cita-cita  yang manis bermadu, tetapi dalam kenyataannya tiada
    lebih dari suatu fatamorgana yang kosong belaka.
    
    Kebudayaan Islam  lahir  atas  dasar  yang  bertolak  belakang
    dengan dasar kebudayaan Barat. Ia lahir atas dasar rohani yang
    mengajak  manusia  supaya  pertama  sekali   dapat   menyadari
    hubungannya  dengan  alam  dan tempatnya dalam alam ini dengan
    sebaik-baiknya. Kalau kesadaran demikian ini sudah  sampai  ke
    batas  iman,  maka  imannya  itu  mengajaknya  supaya ia tetap
    terus-menerus mendidik dan melatih diri, membersihkan  hatinya
    selalu,  mengisi jantung dan pikirannya dengan prinsip-prinsip
    yang lebih luhur - prinsip-prinsip harga  diri,  persaudaraan,
    cinta kasih, kebaikan dan berbakti. Atas dasar prinsip-prinsip
    inilah manusia hendaknya menyusun kehidupan  ekonominya.  Cara
    bertahap  demikian ini adalah dasar kebudayaan Islam, seperti
    wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad,  yakni  mula-mula
    kebudayaan  rohani,  dan  sistem kerohanian disini ialah dasar
    sistem pendidikan serta dasar  pola-pola  etik  (akhlak).  Dan
    prinsip-prinsip  etik ini ialah dasar sistem ekonominya. Tidak
    dapat dibenarkan tentunya dengan  cara  apa  pun  mengorbankan
    prinsip-prinsip  etik  ini  untuk  kepentingan  sistem ekonomi
    tadi.
    
    Tanggapan Islam tentang kebudayaan demikian ini menurut  hemat
    saya  ialah  tanggapan yang sesuai dengan kodrat manusia, yang
    akan menjamin kebahagiaan baginya. Kalau ini  yang  ditanamkan
    dalam  jiwa  kita dan kehidupan seperti dalam kebudayaan Barat
    itu kesana pula jalannya, niscaya corak umat manusia itu  akan
    berubah,  prinsip-prinsip  yang  selama  ini  menjadi pegangan
    orang  akan  runtuh,  dan   sebagai   gantinya   akan   timbul
    prinsip-prinsip  yang  lebih  luhur, yang akan dapat mengobati
    krisis dunia kita sekarang ini sesuai dengan tuntunannya  yang
    lebih cemerlang.
    
    Sekarang orang di Barat dan di Timur berusaha hendak mengatasi
    krisis ini, tanpa mereka sadari - dan  kaum  Muslimin  sendiri
    pun   tidak  pula  menyadari  -  bahwa  Islam  dapat  menjamin
    mengatasinya. Orang-orang di Barat dewasa ini  sedang  mencari
    suatu  pegangan  rohani  yang  baru, yang akan dapat menanting
    mereka dari paganisma yang sedang  menjerumuskan  mereka;  dan
    sebab   timbulnya   penderitaan   mereka  itu,  penyakit  yang
    menancapkan mereka ke dalam kancah  peperangan  antara  sesama
    mereka,   ialah   mammonisma   -   penyembahan  kepada  harta.
    Orang-orang Barat mencari pegangan baru itu  didalam  beberapa
    ajaran  di  India  dan  di  Timur Jauh; padahal itu akan dapat
    mereka peroleh tidak jauh dari mereka, akan mereka dapati  itu
    sudah ada ketentuannya didalam Qu'ran, sudah dilukiskan dengan
    indah sekali dengan teladan yang sangat  baik  diberikan  oleh
    Nabi kepada manusia selama masa hidupnya.
    
    Bukan  maksud  saya  hendak melukiskan kebudayaan Islam dengan
    segala ketentuannya itu disini. Lukisan  demikian  menghendaki
    suatu  pembahasan  yang  mendalam,  yang  akan  meminta tempat
    sebesar buku ini atau lebih besar lagi. Akan tetapi -  setelah
    dasar  rohani  yang  menjadi  landasannya  itu  saya  singgung
    seperlunya  -  lukisan  kebudayaan  itu  disini   ingin   saya
    simpulkan,  kalau-kalau  dengan  demikian  ajaran  Islam dalam
    keseluruhannya  dapat   pula   saya   gambarkan   dan   dengan
    penggambaran  itu  saya akan merambah jalan ke arah pembahasan
    yang lebih dalam lagi.  Dan  sebelum  melangkah  ke  arah  itu
    kiranya  akan  ada  baiknya juga saya memberi sekadar isyarat,
    bahwa  sebenarnya  dalam  sejarah   Islam   memang   tak   ada
    pertentangan   antara   kekuasaan   agama  (theokrasi)  dengan
    kekuasaan temporal, yakni antara gereja dengan negara. Hal ini
    dapat   menyelamatkan   Islam  dari  pertentangan  yang  telah
    ditinggalkan Barat dalam pikiran dan dalam haluan sejarahnya.
    
    Islam  dapat  diselamatkan  dari  pertentangan  serta   segala
    pengaruhnya  itu,  sebabnya ialah karena Islam tidak kenal apa
    yang namanya gereja itu  atau  kekuasaan  agama  seperti  yang
    dikenal  oleh  agama  Kristen.  Belum  ada  orang  di kalangan
    Muslimin  -  sekalipun  ia  seorang  khalifah  -   yang   akan
    mengharuskan  sesuatu  perintah kepada orang, atas nama agama,
    dan akan mendakwakan dirinya mampu  memberi  pengampunan  dosa
    kepada  siapa saja yang melanggar perintah itu. Juga belum ada
    di kalangan Muslimin - sekalipun ia seorang  khalifah  -  yang
    akan  mengharuskan  sesuatu  kepada  orang  selain  yang sudah
    ditentukan Tuhan di dalam Qur'an.  Bahkan  semua  orarg  Islam
    sama  di  hadapan  Tuhan.  Yang seorang tidak lebih mulia dari
    yang  lain,  kecuali  tergantung  kepada  takwanya  -   kepada
    baktinya.  Seorang  penguasa  tidak  dapat  menuntut kesetiaan
    seorang Muslim apabila dia sendiri  melakukan  perbuatan  dosa
    dan  melanggar  penntah  Tuhan.  Atau  seperti  kata  Abu Bakr
    ash-Shiddiq kepada kaum Muslimin  dalam  pidato  pelantikannya
    sebagai  Khalifah  "Taatilah  saya  selama  saya  taat  kepada
    (perintah) Allah dan RasulNya. Tetapi apabila  saya  melanggar
    (perintah) Allah dan Rasul maka gugurkanlah kesetiaanmu kepada
    saya."
    
    Kendatipun  pemerintahan  dalam  Islam  sesudah  itu  kemudian
    dipegang  oleh  seorang  raja  tirani,  kendatipun di kalangan
    Muslimin pernah timbul perang  saudara,  namun  kaum  Muslimin
    tetap  berpegang kepada kebebasan pribadi yang besar itu, yang
    sudah ditentukan oleh agama, kebebasan yang sampai menempatkan
    akal  sebagai  patokan  dalam  segala  hal,  bahkan  dijadikan
    patokan didalam agama dan iman sekalipun. Kebebasan ini  tetap
    mereka   pegang   sekalipun   sampai   pada   waktu  datangnya
    penguasa-penguasa  orang-orang  Islam  yang  mendakwakan  diri
    sebagai  pengganti Tuhan di muka bumi ini - bukan lagi sebagai
    pengganti Rasulullah. Padahal segala persoalan Muslimin  sudah
    mereka kuasai belaka, sampai-sampai ke soal hidup dan matinya.
    
    Sebagai  bukti  misalnya  apa  yang  sudah  terjadi  pada masa
    Ma'mun, tatkala orang berselisih mengenai Qur'an: makhluk atau
    bukan  makhluk - yang diciptakan atau bukan diciptakan! Banyak
    sekali orang  yang  menentang  pendapat  Khalifah  waktu  itu,
    padahal  mereka  mengetahui akibat apa yang akan mereka terima
    jika berani menentangnya.
    
    Dalam segala hal  akal  pikiran  oleh  Islam  telah  dijadikan
    patokan.  Juga  dalam hal agama dan iman ia dijadikan patokan.
    Dalam firman Tuhan:
    
    "Perumpamaan orang-orang  yang  tidak  beriman  ialah  seperti
    (gembala)  yang  meneriakkan  (ternaknya) yang tidak mendengar
    selain suara panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu  dan
    buta,  sebab  mereka tidak menggunakan akal pikiran." (Qur'an,
    2: 171)
    
    Oleh Syaikh Muhammad  Abduh  ditafsirkan,  dengan  mengatakan:
    "Ayat  ini  jelas  sekali  menyebutkan, bahwa taklid (menerima
    begitu  saja)  tanpa  pertimbangan  akal  pikiran  atau  suatu
    pedoman  ialah  bawaan  orang-orang tidak beriman. Orang tidak
    bisa beriman kalau agamanya  tidak  disadari  dengan  akalnya,
    tidak  diketahuinya sendiri sampai dapat ia yakin. Kalau orang
    dibesarkan dengan biasa menerima begitu  saja  tanpa  disadari
    dengan  akal pikirannya, maka dalam melakukan suatu perbuatan,
    meskipun perbuatan yang baik, tanpa  diketahuinya  benar,  dia
    bukan  orang  beriman. Dengan beriman bukan dimaksudkan supaya
    orang  merendah-rendahkan  diri  melakukan  kebaikan   seperti
    binatang  yang  hina, tapi yang dimaksudkan supaya orang dapat
    meningkatkan daya akal  pikirannya,  dapat  meningkatkan  diri
    dengan  ilmu  pengetahuan, sehingga dalam berbuat kebaikan itu
    benar-benar ia sadar, bahwa kebaikannya  itu  memang  berguna,
    dapat  diterima  Tuhan.  Dalam meninggalkan kejahatan pun juga
    dia mengerti benar bahaya dan  berapa  jauhnya  kejahatan  itu
    akan membawa akibat."
    
    Inilah  yang dikatakan Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan
    ayat ini, yang di dalam Qur'an,  selain  ayat  tersebut  sudah
    banyak  pula  ayat-ayat  lain  yang  disebutkan  secara  jelas
    sekali. Qur'an menghendaki  manusia  supaya  merenungkan  alam
    semesta ini, supaya mengetahui berita-berita sekitar itu, yang
    kelak  renungan  demikian  itu  akan  mengantarkannya   kepada
    kesadaran  tentang  wujud  Tuhan,  tentang keesaanNya, seperti
    dalam firman Allah:
                                        (bersambung ke bagian 2/6)
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (2/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    "Bahwasanya dalam penciptaan langit dan bumi, dalam pergantian
    malam  dan  siang,  bahtera yang mengarungi lautan membawa apa
    yang berguna buat umat manusia, dan apa yang diturunkan  Allah
    dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkanNya bumi
    yang sudah mati kering, kemudian  disebarkanNya  di  bumi  itu
    segala jenis hewan, pengisaran angin dan awan yang dikemudikan
    dari antara langit dan bumi - adalah tanda-tanda (akan keesaan
    dan   kebesaran  Tuhan)  buat  mereka  yang  menggunakan  akal
    pikiran." (Qur'an, 2: 164)
    
    "Dan sebagai suatu tanda buat mereka,  ialah  bumi  yang  mati
    kering.  Kami  hidupkan  kembali  dan Kami keluarkan dari sana
    benih  yang  sebagian  dapat  dimakan.  Disana   Kami   adakan
    kebun-kebun  kurma  dan  palm  dan anggur dan disana pula Kami
    pancarkan mata air - supaya dapat mereka makan buahnya.  Semua
    itu  bukan  usaha tangan mereka. Kenapa mereka tidak berterima
    kasih. Maha Suci Yang telah menciptakan semua yang ditumbuhkan
    bumi  berpasang-pasangan,  dan dalam diri mereka sendiri serta
    segala apa yang tiada mereka ketahui. Juga sebagai suatu tanda
    buat  mereka  -  ialah malam. Kami lepaskan siang, maka mereka
    pun berada  dalam  kegelapan.  Matahari  pun  beredar  menurut
    ketetapan  yang sudah ditentukan. Itulah ukuran dari Yang Maha
    Kuasa  dan  Maha  Tahu.  Juga  bulan,  sudah   Kami   tentukan
    tempat-tempatnya  sampai  ia  kembali lagi seperti mayang yang
    sudah tua. Matahari tiada sepatutnya akan mengejar  bulan  dan
    malam  pun tiada akan mendahului siang. Masing-masing berjalan
    dalam peredarannya. Juga sebagai suatu  tanda  buat  mereka  -
    ialah  turunan  mereka yang Kami angkut dalam kapal yang penuh
    muatan. Dan buat mereka Kami ciptakan pula yang  serupa,  yang
    dapat  mereka  kendarai.  Kalau  Kami kehendaki, Kami karamkan
    mereka. Tiada penolong lagi buat mereka, juga mereka tak dapat
    diselamatkan.  Kecuali  dengan  rahmat  dari  Kami  dan  untuk
    memberikan kesenangan hidup sampai  pada  waktunya."  (Qur'an,
    36: 33-44.)
    
    Anjuran   supaya   memperhatikan  alam  ini,  menggali  segala
    ketentuan  dan  hukum  yang  ada  di  dalam  alam  ini   serta
    menjadikannya  sebagai  pedoman  yang  akan  mengantarkan kita
    beriman kepada  Penciptanya,  sudah  beratus  kali  disebutkan
    dalam  pelbagai  Surah dalam Qur'an. Semuanya ditujukan kepada
    tenaga akal  pikiran  manusia,  menyuruh  manusia  menilainya,
    merenungkannya,  supaya  imannya  itu  didasarkan  kepada akal
    pikiran, dan keyakinan yang jelas. Qur'an mengingatkan  supaya
    jangan menerima begitu saja apa yang ada pada nenek moyangnya,
    tanpa memperhatikan, tanpa meneliti lebih  jauh  serta  dengan
    keyakinan pribadi akan kebenaran yang dapat dicapainya itu.
    
    Iman demikian inilah yang dianjurkan oleh Islam. Dan ini bukan
    iman yang biasa disebut  "iman  nenek-nenek,"  melainkan  iman
    intelektual  yang  sudah  meyakinkan,  yang  sudah direnungkan
    lagi, kemudian dipikirkan matang-matang, sesudah  itu,  dengan
    renungan  dan pemikirannya itu ia akan sampai kepada keyakinan
    tentang Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya rasa tak  ada  orang  yang
    sudah   dapat  merenungkan  dengan  akal  pikiran  dan  dengan
    hatinya,  yang  tidak  akan  sampai  kepada  iman.  Setiap  ia
    merenungkan  lebih  dalam,  berpikir  lebih  lama dan berusaha
    menguasai ruang dan waktu ini serta kesatuan  yang  terkandung
    di  dalamnya,  yang tiada berkesudahan, dengan anggota-anggota
    alam semesta  tiada  terbatas,  yang  selalu  berputar  ini  -
    sekelumit  akan  terasa  dalam dirinya tentang anggota-anggota
    alam itu, yang semuanya  berjalan  menurut  hukum  yang  sudah
    ditentukan   dan  dengan  tujuan  yang  hanya  diketahui  oleh
    penciptanya. Ia pun akan merasa yakin akan kelemahan  dirinya,
    akan  pengetahuannya  yang  belum  cukup,  jika  saja ia tidak
    segera dibantu dengan kesadarannya tentang alam  ini,  dibantu
    dengan   suatu   kekuatan  diatas  kemampuan  pancaindera  dan
    otaknya, yang akan  menghubungkannya  dengan  seluruh  anggota
    alam,  dan  yang akan membuat dia menyadari tempatnya sendiri.
    Dan kekuatan itu ialah iman.
    
    Jadi iman itu  ialah  perasaan  rohani,  yang  dirasakan  oleh
    manusia  meliputi  dirinya  setiap  ia  mengadakan  komunikasi
    dengan alam dan  hanyut  kedalam  ketak-terbatasan  ruang  dan
    waktu.  Semua  makhluk  alam  ini akan terjelma dalam dirinya.
    Maka dilihatnya semua itu berjalan menurut  hukum  yang  sudah
    ditentukan,  dan  dilihatnya  pula  sedang  memuja  Tuhan Maha
    Pencipta. Ada pun Ia menjelma dalam alam,  berhubungan  dengan
    alam, atau berdiri sendiri dan terpisah, masih merupakan suatu
    perdebatan spekulatif  yang  kosong  saja.  Mungkin  berhasil,
    mungkin  juga  jadi  sesat,  mungkin menguntungkan dan mungkin
    juga merugikan. Disamping itu  hal  ini  tidak  pula  menambah
    pengetahuan   kita.  Sudah  berapa  lama  penulis-penulis  dan
    failasuf-failasuf  itu  satu   sama   lain   berusaha   hendak
    mengetahui  zat  Maha Pencipta ini, namun usaha dan daya upaya
    mereka itu sia-sia. Dan ada  pula  yang  mengakui,  bahwa  itu
    memang berada di luar jangkauan persepsinya. Kalau memang akal
    yang sudah tak mampu mencapai  pengertian  ini,  maka  ketidak
    mampuannya  itu  lebih-lebih  lagi  memperkuat  keimanan kita.
    Perasaan  kita  yang  meyakinkan  tentang  adanya  Wujud  Maha
    Tinggi,  Yang  Maha Mengetahui akan segalanya dan bahwa Dialah
    Maha  Pencipta,  Maha  Perencana,   segalanya   akan   kembali
    kepadaNya,  maka  keadaan  semacam  itu  akan sudah meyakinkan
    kita, bahwa kita takkan mampu  menjangkau  zatNya  betapa  pun
    besarnya iman kita kepadaNya itu
    
    Demikian  juga, kalau sampai sekarang kita tak dapat menangkap
    apa sebenarnya listrik itu meskipun dengan mata  kita  sendiri
    kita  melihat  bekasnya,  begitu  juga  eter  yang  tidak kita
    ketahui meskipun sudah dapat  ditentukan,  bahwa  gelombangnya
    itu dapat inemindahkan suara dan gambar, pengaruh dan bekasnya
    itu buat kita sudah cukup untuk mempercayai adanya listrik dan
    adanya   eter.  Alangkah  angkuhnya  kita,  setiap  hari  kita
    menyaksikan keindahan dan  kebesaran  yang  diciptakan  Tuhan,
    kalau  kita  masih  tidak  mau percaya sebelum kita mengetahui
    zatNya. Tuhan Yang Maha Transenden jauh di luar jangkauan yang
    dapat  mereka  lukiskan.  Kenyataan  dalam  hidup  ialah bahwa
    mereka yang mencoba menggambarkan zat Tuhan Yang Maha Suci itu
    ialah   mereka  yang  dengan  persepsinya  sudah  tak  berdaya
    mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi dalam  melukiskan  apa
    yang  diatas  kehidupan  insan. Mereka ingin mengukur alam ini
    serta  Pencipta  alam  menurut  ukuran  kita  yang  nisbi  dan
    terbatas sekali dalam batas-batas ilmu kita yang hanya sedikit
    itu. Sebaliknya mereka yang sudah benar-benar  mencapai  ilmu,
    akan teringat oleh mereka firman Tuhan ini:
    
    "Mereka  bertanya  kepadamu  tentang  ruh.  Jawablah:  Ruh itu
    termasuk urusan Tuhan. Pengetahuan yang diberikan kepada  kamu
    itu hanya sedikit sekali." (Qur'an, 17: 85)
    
    Kalbu  mereka  sudah penuh dengan iman kepada Pencipta Ruh dan
    Pencipta semesta Alam ini,  sesudah  itu  tidak  perlu  mereka
    menjerumuskan diri ke dalam perdebatan spekulatif yang kosong,
    yang takkan memberi hasil, takkan mencapai suatu kesimpulan.
    
    Islam yang dicapai dengan iman dan Islam yang tanpa iman  oleh
    Qur'an dibedakan:
    
    "Orang-orang  Arab  badwi  itu  berkata: 'Kami sudah beriman.'
    Katakanlah 'Kamu belum beriman, tapi katakan saja: kami  sudah
    islam.'  Iman  itu  belum  lagi  masuk  ke  dalam  hati kamu."
    (Qur'an, 49: 14)
    
    Contoh Islam yang demikian ini ialah yang tunduk kepada ajakan
    orang  karena kehendaknya atau karena takut, karena kagum atau
    karena mengkultuskan diluar hati yang mau menurut dan memahami
    benar-benar akan ajaran itu sampai ke batas iman.
    
    Yang  demikian ini belum mendapat petunjuk Tuhan sampai kepada
    iman yang seharusnya dicapai, dengan  jalan  merenungkan  alam
    dan  mengetahui  hukum  alam,  dan  yang  dengan  renungan dan
    pengetahuannya  itu  ia  akan  sampai  kepada  Penciptanya   -
    melainkan  jadi  Islam  karena  suatu  keinginan  atau  karena
    nenek-moyangnya memang sudah Islam. Oleh  karenanya  iman  itu
    belum merasuk lagi kedalam hatinya, sekalipun dia sudah Islam.
    Manusia-manusia Muslim semacam  ini  ada  yang  hendak  menipu
    Tuhan dan menipu orang-orang beriman, tetapi sebenarnya mereka
    sudah menipu diri sendiri dengan tiada  mereka  sadari.  Dalam
    hati  mereka sudah ada penyakit. Maka oleh Tuhan ditambah lagi
    penyakit mereka itu. Mereka itulah orang-orang beragama  tanpa
    iman; islamnya hanya karena didorong oleh suatu keinginan atau
    karena takut, sedang jiwanya tetap kerdil, keyakinannya  tetap
    lemah  dan  hatinya  pun  bersedia  menyerah  kepada  kehendak
    manusia, menyerah kepada perintahnya. Sebaliknya mereka,  yang
    keimanannya kepada Allah itu dengan imam yang sungguh-sungguh,
    diantarkan oleh akal pikiran  dan  oleh  jantung  yang  hidup,
    dengan  jalan  merenungkan  alam ini, mereka itulah orang yang
    beriman.  Mereka  yang  akan  menyerahkan  persoalannya  hanya
    kepada Tuhan, mereka itulah orang yang tidak mengenal menyerah
    selain kepada Allah. Dengan Islamnya itu mereka tidak  memberi
    jasa apa-apa kepada orang.
    
    "Tetapi  sebenarnya  Tuhanlah yang berjasa kepada kamu, karena
    kamu telah dibimbingNya kepada  keimanan,  kalau  kamu  memang
    orang-orang yang benar." (Qur'an, 49: 17)
    
    Jadi barangsiapa menyerahkan diri patuh kepada Allah dan dalam
    pada itu melakukan perbuatan baik, mereka tidak  perlu  merasa
    takut,  tidak  usah  bersedih  hati.  Mereka  tidak takut akan
    menghadapi hidup miskin  atau  hina,  sebab  dengan  iman  itu
    mereka   sudah   sangat   kaya,  sangat  mendapat  kehormatan.
    Kehormatan yang ada pada Tuhan dan pada orang-orang beriman.
    
    Jiwa yang rela dan tenteram dengan imannya ini, ia merasa lega
    bila  selalu ia berusaha hendak mengetahui rahasia-rahasia dan
    hukum-hukum  alam,  yang  berarti  akan  menambah  hubungannya
    dengan  Tuhan. Dan langkah kearah pengetahuan ini ialah dengan
    jalan membahas dan merenungkan segala ciptaan Tuhan  yang  ada
    dalam  alam  ini  dengan  cara  ilmiah seperti dianjurkan oleh
    Qur'an  dan  dipraktekkan  pula  sungguh-sungguh   oleh   kaum
    Muslimin  dahulu,  yaitu  seperti  cara  ilmiah yang modern di
    Barat sekarang. Hanya saja tujuannya  dalam  Islam  dan  dalam
    kebudayaan  Barat  itu  berbeda.  Dalam Islam tujuannya supaya
    manusia membuat hukum Tuhan dalam alam  ini  menjadi  hukumnya
    dan  peraturannya  sendiri, sementara di Barat tujuannya ialah
    mencari keuntungan materi dan apa yang  ada  dalam  alam  ini.
    Dalam Islam tujuan yang pertama sekali ialah 'irfan - mengenal
    Tuhan  dengan  baik,  makin   dalam   'irfan   atau   persepsi
    (pengenalan)  kita  makin  dalam  pula iman kita kepada Tuhan.
    Tujuan ini ialah hendak mencapai 'irfan yang  baik  dari  segi
    seluruh  masyarakat,  bukan  dari  segi  pribadi saja. Masalah
    integritas rohani bukan suatu masalah pribadi semata. Tak  ada
    tempat  buat  orang  mengurung  diri  sebagai suatu masyarakat
    tersendiri. Bahkan  ia  seharusnya  menjadi  dasar  kebudayaan
    untuk  masyarakat  manusia sedunia - dari ujung ke ujung. Oleh
    karena  itu  seharusnya  umat  manusia  berusaha  terus   demi
    integritas (kesempurnaan) rohani itu, yang berarti lebih besar
    daripada pengamatannya mengenai hakekat indera (sensibilia).
    
    Persepsi2 mengenai rahasia benda-benda  dan  hukum-hukum  alam
    yang  hendak  mencapai  integritas  itu  lebih  besar daripada
    persepsi sebagai alat  guna  mencapai  kekuasaan  materi  atas
    benda-benda itu.
    
    Untuk   mencapai   integritas  rohani  ini  tidak  cukup  kita
    bersandar hanya kepada logika kita saja, malah  dengan  logika
    itu  kita  harus  membukakan  jalan buat hati kita dan pikiran
    kita untuk sampai ke tingkat tertinggi. Hal ini  bisa  terjadi
    hanya   jika   manusia   mencari   pertolongan   dari   Tuhan,
    menghadapkan diri kepadaNya  dengan  sepenuh  hati  dan  jiwa.
    Hanya  kepadaNya  kita  menyembah  dan  hanya  kepadaNya  kita
    meminta pertolongan, untuk mencapai rahasia-rahasia  alam  dan
    undang-undang  kehidupan  ini.  Inilah  yang  disebut hubungan
    dengan Tuhan, mensyukuri nikmat Tuhan, supaya  bertambah  kita
    mendapat  petunjuk  akan  apa  yang  belum kita capai, seperti
    dalam firman Tuhan:
    
    "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka
    (katakan)  Aku  dekat.  Aku  mengabulkan permohonan orang yang
    bermohon -  apabila  dia  bermohon  kepadaKu.  Maka  sambutlah
    seruanKu   dan   berimanlah   kepadaKu,   kalau-kalau   mereka
    terbimbing ke jalan yang lurus." (Qur'an 2: 186)
    
    "Dan  carilah  pertolongan  Tuhan  dengan  tabah,  dan  dengan
    menjalankan  sembahyang,  dan  sembahyang  itu  memang  berat,
    kecuali  bagi  orang-orang  yang  rendah  hati-kepada   Tuhan.
    Orang-orang  yang  menyadari  bahwa mereka akan bertemu dengan
    Tuhan dan kepadaNya mereka kembali." (Qur'an 2: 45-46)
    
    Salat  ialah  suatu  bentuk  komunikasi  dengan  Tuhan  secara
    beriman  serta  meminta pertolongan kepadaNya. Dengan demikian
    yang dimaksudkan dengan salat bukanlah sekadar ruku' dan sujud
    saja,  membaca  ayat-ayat  Qu'ran  atau mengucapkan takbir dan
    ta'zim demi  kebesaran  Tuhan  tanpa  mengisi  jiwa  dan  hati
    sanubari  dengan  iman,  dengan kekudusan dan keagungan Tuhan.
    Tetapi yang dimaksudkan dengan  salat  atau  sembahyang  ialah
    arti  yang  terkandung di dalam takbir, dalam pembacaan, dalam
    ruku', sujud serta segala keagungan, kekudusan dan  iman  itu.
    Jadi  beribadat  demikian kepada Tuhan ialah suatu ibadat yang
    ikhlas - demi Tuhan Cahaya langit dan bumi.
    
    "Kebaikan itu bukanlah karena kamu menghadapkan muka  ke  arah
    timur  dan  barat,  tetapi kebaikan itu ialah orang yang sudah
    beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian, malaikat-malaikat,
    Kitab, dan para nabi serta mengeluarkan harta yang dicintainya
    itu untuk kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin
    dan   orang   terlantar  dalam  perjalanan,  orang-orang  yang
    meminta, untuk melepaskan perbudakan,  mengerjakan  sembahyang
    dan   mengeluarkan   zakat,  kemudian  orang-orang  yang  suka
    memenuhi janji bila  berjanji,  orang-orang  yang  tabah  hati
    dalam  menghadapi  penderitaan  dan  kesulitan  dan  di  waktu
    perang. Mereka itulah orang-orang yang benar  dan  mereka  itu
    orang-orang yang dapat memelihara diri." (Qur'an, 2: 177)
    
    Orang  mukmin yang benar-benar beriman ialah yang menghadapkan
    seluruh kalbunya kepada Allah  ketika  ia  sedang  sembahyang,
    disaksikan   oleh   rasa   takwa   kepadaNya,   serta  mencari
    pertolongan Tuhan  dalam  menunaikan  kewajiban  hidupnya.  Ia
    mencari  petunjuk,  memohonkan  taufik  Allah  dalam  memahami
    rahasia dan hukum alam ini.
    
    Orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah  tengah  ia
    sembahyang  akan  merasakannya  sendiri,  selalu  akan merasa,
    dirinya adalah sesuatu yang kecil berhadapan dengan  kebesaran
    Allah  Yang  Maha  Agung.  Apabila  kita dalam pesawat terbang
    diatas  ketinggian  seribu  atau  beberapa  ribu  meter,  kita
    melihat    gunung-gunung,   sungai   dan   kota-kota   sebagai
    gejala-gejala kecil di atas bumi. Kita  melihatnya  terpampang
    di  depan  mata kita seperti jalur-jalur yang tergaris di atas
    sebuah peta dan seolah permukaannya sudah  rata  mendatar  tak
    ada  gunung  atau  bangunan yang lebih tinggi, tak ada ngarai,
    sumur   atau   sungai   yang   lebih    rendah,    warna-warna
    sambung-menyambung,  saling  berkait,  tercampur, makin tinggi
    kita terbang warna-warna itu  makin  tercampur.  Seluruh  bumi
    kita ini tidak lebih dari sebuah planet kecil saja. Dalam alam
    ini terdapat ribuan tata surya dan  planet-planet.  Semua  itu
    tidak  lebih  dari  sejumlah  kecil saja dalam ketakterbatasan
    seluruh  eksistensi  ini.  Alangkah  kecilnya  kita,  alangkah
    lemahnya  kcadaan kita berhadapan dengan Pencipta dan Pengurus
    wujud ini. KebesaranNya diatas jangkauan pengertian kita!
    
    Dalam kita menghadapkan seluruh kalbu kita dengan penuh ikhlas
    kepada  Kebesaran  Tuhan  Yang  Maha  Suci,  kita mengharapkan
    pertolongan kepadaNya untuk memberikan kekuatan atas kelemahan
    diri  kita  ini,  memberi  petunjuk  dalam mencari kebenaran -
    alangkah wajarnya bila  kita  dapat  melihat  persamaan  semua
    manusia  dalam  kelemahannya itu, yang dalam berhadapan dengan
    Tuhan tak dapat ia memperkuat diri dengan harta dan  kekayaan,
    selain  dengan  imannya  yang  teguh  dan  tunduk hanya kepada
    Allah, berbuat kebaikan dan menjaga diri.
    
    Persamaan yang sesungguhnya dan sempurna ini di hadapan  Tuhan
    tidak  sama  dengan  persamaan  yang biasa disebut-sebut dalam
    kebudayaan Barat waktu-waktu belakangan ini,  yaitu  persamaan
    di  hadapan  hukum. Sudah begitu jauh kebudayaan itu memandang
    persamaan, sehingga hampir-hampir pula tidak  lagi  diakui  di
    depan  hukum.  Buat  orang-orang  tertentu sudah tidak berlaku
    lagi  untuk  menghormatinya.  Persamaan  di   hadapan   Tuhan,
    persamaan   yang   kenyataannya   dapat  kita  rasakan  dikala
    sembahyang, yang dapat kita capai dengan pandangan  kita  yang
    bebas  -  tidak  sama  dengan persamaan dalam persaingan untuk
    mencari kekayaan, persaingan yang membolehkan orang  melakukan
    segala  tipu-daya  dan bermuka-muka, kemudian orang yang lebih
    pandai mengelak dan bisa main, ia akan selamat dari  kekuasaan
    hukum.
    
    Persamaan  dihadapan Allah ini menuju kepada persaudaraan yang
    sebenarnya, sebab semua orang  dapat  merasakan  bahwa  mereka
    sebenarnya  bersaudara  dalam berihadat kepada Allah dan hanya
    kepadaNya  mereka   beribadat.   Persaudaraan   demikian   ini
    didasarkan  kepada  saling  penghargaan  yang  sehat, renungan
    serta pandangan yang bebas  seperti  dianjurkan  oleh  Qur'an.
    Adakah  kebebasan, persaudaraan dan persamaan yang lebih besar
    daripada umat ini di hadapan Allah, semua  menundukkan  kepala
    kepadaNya,  bertakbir,  ruku'  dan  bersujud.  Tiada perbedaan
    antara satu dengan yang lain - semua mengharapkan pengampunan,
    bertaubat,  mengharapkan pertolongan. Tak ada perantara antara
    mereka itu dengan Tuhan kecuali amalnya yang saleh  (perbuatan
    baik) serta perbuatan baik yang dapat dilakukannya dan menjaga
    diri dari kejahatan.  Persaudaraan  yang  demikian  ini  dapat
    membersihkan   hati  dari  segala  noda  materi  dan  menjamin
    kebahagiaan  manusia,  juga  akan  mengantarkan  mereka  dalam
    memahami  hukum Tuhan dalam kosmos ini, sesuai dengan petunjuk
    dalam cahaya Tuhan yang telah diberikan kepada mereka.
    
    Tidak semua orang sama kemampuannya dalam  melakukan  baktinya
    sebagaimana   diperintahkan   Allah.   Adakalanya  tubuh  kita
    membebani jiwa kita, sifat  materialisma  kita  dapat  menekan
    sifat  kemanusiaan  kita,  kalau  kita tidak melakukan latihan
    rohani secara tetap,  tidak  menghadapkan  kalbu  kita  kepada
    Allah  selama  dalam  salat kita; dan sudah cukup hanya dengan
    tatatertib sembahyang, seperti ruku', sujud dan bacaan-bacaan.
    Oleh  karena  itu  harus diusahakan sekuat tenaga menghentikan
    daya tubuh yang terlampau memberatkan jiwa, sifat materialisma
    yang  sangat  menekan sifat kemanusiaan. Untuk itu Islam telah
    mewajibkan  puasa  sebagai  suatu  langkah  mencapai  martabat
    kebaktian (takwa) itu seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Orang-orang  beriman!  Kepadamu  telah  diwajibkan  berpuasa,
    seperti yang sudah diwajibkan juga kepada mereka yang  sebelum
    kamu,  supaya kamu bertakwa - memelihara diri dari kejahatan."
    (Qur'an, 2: 183)
    
    Bertakwa dan berbuat baik (birr) itu sama. Yang  berbuat  baik
    orang  yang  bertakwa  dan  yang berbuat baik ialah orang yang
    beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab  dan
    para nabi dan diteruskan dengan ayat yang sudah kita sebutkan.
    
                                        (bersambung ke bagian 3/6
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (3/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Kalau   tujuan   puasa   itu   supaya  tubuh  tidak  terlampau
    memberatkan  jiwa,  sifat  materialisma  kita  jangan  terlalu
    menekan  sifat  kemanusiaan kita, orang yang menahan diri dari
    waktu fajar sampai malam, kemudian sesudah  itu  hanyut  dalam
    berpuas-puas  dalam  kesenangan,  berarti ia sudah mengalihkan
    tujuan tersebut. Tanpa puasa pun hanyut dalam  memuaskan  diri
    itu  sudah  sangat  merusak,  apalagi  kalau  orang  berpuasa,
    sepanjang hari ia menahan diri dari  segala  makanan,  minuman
    dan  segala  kesenangan,  dan bilamana sudah lewat waktunya ia
    lalu menyerahkan diri kepada apa saja yang dikiranya di  waktu
    siang  ia  tak  dapat menikmatinya! Kalau begitu Tuhan jugalah
    yang menyaksikan,  bahwa  puasanya  bukan  untuk  membersihkan
    diri,  mempertinggi  sifat  kemanusiaannya,  juga  ia berpuasa
    bukan atas kehendak sendiri karena percaya,  bahwa  puasa  itu
    memberi   faedah  kedalam  rohaninya,  tapi  ia  puasa  karena
    menunaikan suatu kewajiban,  tidak  disadari  oleh  pikirannya
    sendiri  perlunya  puasa  itu.  Ia  melihatnya  sebagai  suatu
    kekangan atas kebebasannya, begitu kebebasan itu berakhir pada
    malam  harinya,  begitu  hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai
    ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan
    ini  sama  seperti  orang yang tidak mau mencuri, hanya karena
    undang-undang melarang pencurian, bukan karena  jiwanya  sudah
    cukup   tinggi   untuk   tidak  melakukan  perbuatan  itu  dan
    mencegahnya atas kemauan sendiri pula.
    
    Sebenarnya  tanggapan  orang  mengenai  puasa  sebagai   suatu
    tekanan  atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia
    adalah suatu tanggapan yang salah  samasekali,  yang  akhirnya
    akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya
    tempat lagi. Puasa yang sebenarnya  ialah  membersihkan  jiwa.
    Orang  berpuasa  diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas
    kehendak  sendiri,  supaya  kebebasan  kemauan  dan  kebebasan
    berpikirnya  dapat  diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan
    ini  sudah  diperolehnya  kembali,  ia  dapat  mengangkat   ke
    martabat   yang  lebih  tinggi,  setingkat  dengan  iman  yang
    sebenarnya kepada Allah. Inilah yang  dimaksud  dengan  firman
    Tuhan  -  setelah  menyebutkan  bahwa  puasa  telah diwajibkan
    kepada  orang-orang  beriman  seperti  sudah  diwajibkan  juga
    kepada orang-orang yang sebelum mereka:
    
    "Beberapa  hari  sudah ditentukan. Tetapi barangsiapa diantara
    kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan,  maka  dapat
    diperhitungkan  pada kesempatan lain. Dan buat orangorang yang
    sangat berat menjalankannya,  hendaknya  ia  membayar  fid-yah
    dengan memberi makan kepada orang rniskin, dan barangsiapa mau
    mengerjakan kebaikan atas kemauan sendiri, itu lebih baik buat
    dia;  dan  bila kamu berpuasa, itu lebih baik buat kamu, kalau
    kamu mengerti." (Qur'an, 2: 184)
    
    Seolah tampak aneh apa yang saya  katakan  itu,  bahwa  dengan
    puasa  kita  dapat  memperoleh  kembali  kebebasan kemauan dan
    kebebasan berpikir kalau  yang  kita  maksudkan  dengan  puasa
    dengan  segala  apa yang baik itu untuk kehidupan rohani kita.
    Ini memang tampak aneh,  karena  dalam  bayangan  kita  bentuk
    kebebasan  ini  telah  dirusak  oleh  pikiran modern, bilamana
    batas-batas  rohani  dan  mental  itu  dihancurkan,   kemudian
    batas-batas  kebendaannya  dipertahankan,  yang  oleh  seorang
    prajurit  dapat  dilaksanakan  dengan  pedang   undang-undang.
    Menurut  pikiran  modern,  manusia  tidak  bebas  dalam hal ia
    melanda harta atau pribadi orang lain. Akan  tetapi  ia  bebas
    terhadap  dirinya  sendiri  sekalipun  hal ini sudah melampaui
    batas-batas segala yang dapat diterima  akal  atau  dibenarkan
    oleh  kaidah-kaidah  moral. Sedang kenyataan dalam hidup bukan
    yang demikian. Kenyataannya ialah manusia budak  kebiasaannya.
    Ia  sudah  biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu
    sore. Kalau dikatakan kepadanya: makan pagi dan sore  sajalah,
    maka ini akan dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya.
    Padahal itu adalah pelanggaran atas  perbudakan  kebiasaannya,
    kalau  benar  ungkapan  demikian  ini.  Orang yang sudah biasa
    merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya
    itu, lalu dikatakan kepadanya: sehari ini kamu jangan merokok,
    maka ini  dianggapnya  suatu  pelanggaran  atas  kebebasannya.
    Padahal  sebenarnya  itu  tidak  lebih adalah pelanggaran atas
    perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum
    kopi  atau  teh  atau  minuman lain apa saja dalam waktu-waktu
    tertentu lalu dikatakan kepadanya:  gantilah  waktu-waktu  itu
    dengan  waktu  yang  lain,  maka  pelanggaran  atas perbudakan
    kebiasaannya  itu   dianggapnya   sebagai   pelanggaran   atas
    kebebasannya.  Budak  kebiasaan  serupa  ini  merusak kemauan,
    merusak arti yang sebenarnya dari  kebebasan  dalam  bentuknya
    yang sesungguhnya.
    
    Disamping  itu,  ini  juga  merusak cara berpikir sehat, sebab
    dengan demikian berarti ia  telah  ditunjukkan  oleh  pengaruh
    hajat jasmani dari segi kebendaannya, yang sudah dibentuk oleh
    kebiasaan  itu.  Oleh  karena  itu  banyak  orang  yang  telah
    melakukan  puasa  dengan cara yang bermacam-macam, yang secara
    tekun dilakukannya dalam waktu-waktu  tertentu  setiap  minggu
    atau  setiap  bulan. Tetapi Tuhan menghendaki yang lebih mudah
    buat manusia dengan diwajibkan kepada mereka  berpuasa  selama
    beberapa  hari  yang  sudah  ditentukan, supaya dalam pada itu
    semua sama, dengan diberikan pula kesempatan  fid-yah.  Mereka
    masing-masing yang telah dibebaskan karena dalam keadaan sakit
    atau sedang dalam perjalanan dapat mengganti puasanya itu pada
    kesempatan lain.
    
    Kewajiban  berpuasa  selama  hari-hari  yang  sudah ditentukan
    untuk memperkuat arti persaudaraan dan  persamaan  di  hadapan
    Tuhan,  sungguh  suatu  latihan  rohani  yang luarbiasa. Semua
    orang, selama menahan  diri  sejak  fajar  hingga  malam  hari
    mereka  telah melaksanakan persamaan itu antara sesama mereka,
    sama  halnya   seperti   dalam   sembahyang   jamaah.   Dengan
    persaudaraan demikian selama itu mereka merasakan adanya suatu
    perasaan yang mengurangi rasa kelebihan mereka dalam  mengecap
    kenikmatan  rejeki  yang  diberikan  Tuhan  kepadanya.  Dengan
    demikian puasa berarti memperkuat arti kebebasan, persaudaraan
    dan   persamaan  dalam  jiwa  manusia  seperti  halnya  dengan
    sembahyang.
    
    Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh
    kesadaran bahwa perintah Tuhan tak mungkin bertentangan dengan
    cara-cara berpikir  yang  sehat,  yang  telah  dapat  memahami
    tujuan  hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita
    arti puasa yang dapat membebaskan kita  dari  budak  kebiasaan
    itu,  yang  juga  sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan
    arti kebebasan kita sendiri.  Disamping  itu  kita  pun  sudah
    diingatkan,  bahwa  apa yang telah ditentukan manusia terhadap
    dirinya sendiri - dengan kehendak Tuhan - mengenai batas-batas
    rohani   dan   mentalnya   sehubungan  dengan  kebebasan  yang
    dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan  dan
    nafsunya,  ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat
    iman yang paling tinggi itu. Apabila taklid dalam  iman  belum
    dapat disebut iman, melainkan baru Islam yang tanpa iman, maka
    taklid dalam puasa juga belum dapat disebut puasa. Oleh karena
    itu  orang  yang  bertaklid menganggap puasanya suatu kekangan
    dan  membatasi  kebebasannya  -  sebaliknya   daripada   dapat
    memahami   arti   pembebasan  dari  belenggu  kebiasaan  serta
    konsumsi rohani dan mental yang sangat besar itu.
    
    Apabila dengan jalan latihan rohani ini manusia  telah  sampai
    kepada arti hukum dan rahasia-rahasia alam dan mengetahui pula
    dimana tempatnya dan tempat anak manusia ini, cintanya  kepada
    sesama  anak  manusia  akan  lebih  besar lagi, dan semua anak
    manusia  saling  cinta  dalam  Tuhan.   Mereka   akan   saling
    tolong-menolong  untuk  kebaikan dan rasa takwa - menjaga diri
    dari kejahatan. Yang kuat  mengasihi  yang  lemah,  yang  kaya
    mengulurkan  tangan kepada yang tidak punya. Ini adalah zakat,
    dan selebihnya sedekah. Dalam sekian banyak ayat Qur'an selalu
    mengaitkan  zakat  dengan  salat.  Kita  sudah  membaca firman
    Tuhan:
    
    "Tetapi kebaikan itu ialah orang  yang  sudah  beriman  kepada
    Allah,  kepada  hari  kemudian, malaikat, Kitab dan para nabi;
    mengeluarkan    harta    yang    dicintainya    itu     kepada
    kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang
    yang melepaskan perbudakan, mengerjakan salat dan mengeluarkan
    zakat." (Qur'an, 2: 177)
    
    "Kamu  kerjakanlah  sembahyang  dan keluarkan pula zakat serta
    tundukkan kepala (ruku') bersama orang-orang yang  menundukkan
    kepala." (Qur'an, 2: 43)
    
    "Beruntunglah  orang-orang  yang  sudah  beriman.  Mereka yang
    dengan khusyu' mengerjakan sembahyang. Mereka yang  menjauhkan
    diri  dan  percakapan  yang  tiada  berguna.  Dan  mereka yang
    mengeluarkan zakat." (Qur'an, 23: 1-4)
    
    Ayat-ayat  yang  mengaitkan  zakat  dengan  salat  itu  banyak
    sekali.
    
    Apa  yang  disebutkan  dalam  Qur'an tentang zakat dan sedekah
    cukup menyeluruh dan kuat sekali.  Dalam  melakukan  perbuatan
    baik,  sedekah  itu  terletak  pada tempat pertama, orang yang
    melakukannya akan mendapat pahala yang amat  sempurna.  Bahkan
    ia  terletak disamping iman kepada Allah, sehingga kita merasa
    seolah itu sudah hampir sebanding. Tuhan berfirman:
    
    "Tangkaplah orang itu dan belenggukanlah.  Kemudian  campakkan
    kedalam  api  menyala. Sesudah itu belitkan dengan rantai yang
    panjangnya tujuhpuluh hasta. Dahulu ia sungguh  tidak  beriman
    kepada  Allah  Yang  Maha  Besar.  Juga  tidak mendorong orang
    memberi makan orang miskin." (Qur'an, 69: 30-34)
    
    "... Dan sampaikan berita gembira kepada mereka  yang    taat.
    Yaitu  mereka,  yang  apabila  disebutkan  nama  Tuhan hatinya
    merasa takut  karena  taatnya,  dan  mereka  yang  tabah  hati
    terhadap apa yang menimpa mereka serta mereka yang mengerjakan
    salat dan menafkahkan sebagian  rejeki  yang  diberikan  Tuhan
    kepada mereka."' (Qur'an, 22: 34-35)
    
    "Mereka  yang  menafkahkan hartanya - baik di waktu malam atau
    di waktu siang, dengan sembunyi atau  terang-terangan,  mereka
    akan mendapat pahala dari Tuhan. Tidak usah mereka takut, juga
    jangan bersedih hati" (Qur'an, 2: 274)
    
    Qur'an tidak hanya menyebutkan masalah-masalah  sedekah  serta
    pahalanya  yang  akan diberikan Tuhan yang sama seperti pahala
    orang beriman dan mengerjakan sembahyang, bahkan adab  sedekah
    itu telah dilembagakan pula dengan suatu tatacara yang sungguh
    baik sekali.
    
    "Bilamana kamu memperlihatkan sedekah  itu,  itu  memang  baik
    sekali. Tetapi kalau pun kamu sembunyikan memberikannya kepada
    orang fakir, maka itu pun lebih baik lagi buat kamu." (Qur'an,
    2: 271)
    
    "Perkataan  yang  baik  dan pemberian maaf lebih baik daripada
    sedekah yang disertai hal-hal  yang  tidak  menyenangkan  hati
    Allah  Maha  Kaya  dan  Maha  Penyantun.  Orang-orang beriman,
    janganlah   kamu   hapuskan   nilai   sedekahmu   itu   dengan
    menyebut-nyebutnya  dan  menyakiti  hati  orang."  (Qur'an, 2:
    263-264)
    
    Firman Tuhan  itu  memberikan  pula  penjelasan  kepada  siapa
    sedekah itu harus diberikan:
    
    Sedekah  itu  hanyalah  untuk  orang-orang  fakir, orang-orang
    miskin, pengurus  zakat,  orang-orang  yang  perlu  dilunakkan
    hatinya,   untuk   melepaskan   perbudakan,  orang-orang  yang
    dibebani utang, untuk jalan Allah dan mereka yang sedang dalam
    perjalanan. Inilah yang telah diwajibkan oleh Allah, dan Allah
    Maha Mengetahui dan Bijaksana." (Qur'an, 9: 60)
    
    Zakat dan  sedekah  itu  salah  satu  kewajiban  dalam  Islam,
    termasuk  salah  satu rukun Islam. Tetapi apakah kewajiban ini
    termasuk  ibadat,  ataukah  masuk  bagian  akhlak?  Tentu  ini
    termasuk  ibadat.  Semua  orang  beriman  bersaudara, dan iman
    seseorang belum lagi sempurna sebelum ia mencintai  saudaranya
    seperti  mencintai  dirinya sendiri. Dengan berpegang pada Nur
    Ilahi  antara  sesama  mereka,  orang-orang   beriman   saling
    cinta-mencintai.  Kewajiban  zakat  dan  sedekah  terikat oleh
    persaudaraan ini, bukan oleh akhlak dan disiplinnya serta oleh
    hubungan  antar-manusia  dengan  segala tata-tertibnya. Segala
    yang terikat oleh persaudaraan, terikat juga oleh iman  kepada
    Allah,  dan  segala  yang terikat oleh iman kepada Allah ialah
    ibadah. Itu sebabnya maka zakat menjadi salah satu rukun Islam
    yang  lima,  dan  karena  itu pula setelah Nabi wafat Abu Bakr
    menuntut  supaya   Muslimin   menunaikan   zakatnya.   Setelah
    dilihatnya  ada sebagian orang yang mau membangkang, Pengganti
    Muhammad itu melihat pembangkangan ini sebagai suatu kelemahan
    dalam  iman  mereka;  mereka lebih mengutamakan harta daripada
    iman, mereka hendak meninggalkan disiplin  rohani  yang  telah
    ditentukan   Qur'an   itu.   Dengan   demikian  ini  merupakan
    kemurtadan dari Islam. Karena 'perang ridda' itu  jugalah  Abu
    Bakr   berhasil   mengukuhkan   kembali   sejarah   Islam  itu
    selengkapnya, dan  yang  tetap  menjadi  kebanggaan  sepanjang
    sejarah.
    
    Dengan   fungsi  zakat  dan  sedekah  sebagai  kewajiban  yang
    bertalian  dengan  iman  dalam  disiplin  rohanl  ia  dianggap
    sebagai  salah  satu  unsur  yang  harus  membentuk kebudayaan
    dunia. Inilah hikmah yang paling tinggi yang akan mengantarkan
    manusia  mencapai kebahagiaannya. Harta dan segala keserakahan
    orang   memupuk-mupuk   harta   merupakan   sebab    timbulnya
    superioritas  (rasa  keunggulan)  seorang  kepada  yang  lain.
    Sampai sekarang ia masih merupakan sebab timbulnya penderitaan
    dunia  ini  dan  sumber  pemberontakan  dan peperangan selalu.
    Sampai sekarang mammonisma - penyembahan harta -  masih  tetap
    merupakan  sebab timbulnya dekadensi moral yang selalu menimpa
    dunia  dan  dunia  tetap  bergelimang  dibawah  bencana   itu.
    Memupuk-mupuk  harta  dan  keserakahan  akan harta itulah yang
    telah  menghilangkan  rasa  persaudaraan  umat  manusia,   dan
    membuat  manusia  satu  sama lain saling bermusuhan. Sekiranya
    pandangan mereka itu lebih sehat  dengan  pikiran  yang  lebih
    luhur,  tentu  akan  mereka lihat bahwa persaudaraan itu lebih
    kuat  menanamkan  kebahagiaan  daripada  harta,  mereka   akan
    melihat  juga  bahwa  memberikan harta kepada yang membutuhkan
    akan lebih terhormat pada  Tuhan  dan  pada  manusia  daripada
    orang  harus tunduk kepada harta itu. Kalau benar-benar mereka
    beriman kepada Allah tentu mereka akan saling bersaudara,  dan
    manifestasi  persaudaraan  ini  ialah pertolongan kepada orang
    yang   sedang   dalam   penderitaan,   membantu   orang   yang
    membutuhkannya  dan  dapat  pula  menghapuskan kemiskinan yang
    akan menjerumuskan manusia kedalam penderitaan itu.
    
                                        (bersambung ke bagian 4/6)
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (4/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Apabila negara-negara yang  sudah  tinggi  kebudayaannya  pada
    zaman   kita   sekarang   ini  mendirikan  rumah-rumah  sakit,
    lembaga-lembaga sosial dan amal untuk  menolong  fakir-miskin,
    atas  nama  kasih  sayang  dan  kemanusiaan, maka didirikannya
    lembaga-lembaga itu karena  didorong  oleh  rasa  persaudaraan
    serta  rasa  cinta  dan  syukur  kepada Allah atas nikmat yang
    diterimanya, sungguh ini suatu pikiran yang lebih  tinggi  dan
    lebih   tepat   memberikan  kebahagiaan  kepada  seluruh  umat
    manusia, seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Dengan  kenikmatan  yang  telah  diberikan  Allah   kepadamu,
    carilah  kebahagiaan  akhirat,  tapi jangan kaulupakan nasibmu
    dalam dunia  ini.  Berbuatlah  kebaikan  (kepada  orang  lain)
    seperti  Tuhan  telah  berbuat  kebaikan  kepadamu, dan jangan
    engkau berbuat bencana di muka bumi ini. Allah  sungguh  tidak
    mencintai orang-orang yang berbuat bencana." (Qur'an, 28: 77)
    
    Persaudaraan  insani ini akan menambah rasa cinta manusia satu
    sama  lain.  Dalam  Islam,  rasa  cinta  demikian  ini   tidak
    seharusnya  akan terhenti pada batas-batas tanah air tertentu,
    atau hanya terbatas pada salah  satu  benua.  Yang  seharusnya
    bahkan tidak boleh mengenal batas samasekali.
    
    Oleh  karena  itu,  dari  seluruh  pelosok  bumi manusia harus
    saling mengenal, supaya satu sama  lain  dapat  menambah  rasa
    cinta  kepada  Allah,  dan  rasa cinta ini akan menambah tebal
    iman mereka kepada Allah.  Untuk  mencapai  itu  manusia  dari
    segenap  penjuru  bumi  harus  berkumpul dalam satu irama yang
    sama, tanpa diskriminasi, dan tempat  berkumpul  yang  terbaik
    untuk  itu  ialah  di tempat memancarnya cinta ini. Dan tempat
    itu ialah Baitullah di Mekah, dan inilah yang  disebut  ibadah
    haji.  Orang-orang  beriman  tatkala berkumpul disana, tatkala
    mereka melaksanakan segala upacara, mereka menempuh cara hidup
    yang luhur sebagai teladan iman kepada Allah, dengan niat yang
    ikhlas menghadapkan diri kepadaNya.
    
    "Musim  haji  itu  ialah  dalam  beberapa  bulan  yang   sudah
    ditentukan.   Barangsiapa   sudah   membulatkan   niat  selama
    bulan-bulan itu hendak  menunaikan  ibadah  haji,  maka  tidak
    boleh   ada   suatu  percakapan  kotor,  perbuatan  jahat  dan
    berbantah-bantahan  selama  dalam  mengerjakan  haji.   Segala
    perbuatan baik yang kamu lakukan, Tuhan mengetahuinya. Bawalah
    perbekalanmu, dan perbekalan yang paling  baik  ialah  menjaga
    diri  dari  perbuatan  hina.  Patuhilah Aku, wahai orang-orang
    yang berpikiran sehat." (Qur'an. 2: 197)
    
    Di  dataran  tinggi  ini,  di   tempat   orang-orang   beriman
    menunaikan  ibadah  haji untuk saling berkenalan, untuk saling
    mempererat tali persaudaraan, dan tali persaudaraan  ini  akan
    lebih  memperkuat  iman  di  tempat ini - segala perbedaan dan
    diskriminasi yang bagaimanapun di kalangan orang-orang beriman
    itu  harus  hilang. Mereka harus merasa, bahwa dihadapan Tuhan
    mereka itu sama. Mereka menghadapkan seluruh hati  sanubarinya
    untuk  mernenuhi  panggilan  Tuhan,  benar-benar  beriman akan
    keesaanNya, bersyukur akan nikrnat  yang  telah  diberikanNya.
    Rasanya  tak  ada  kenikmatan yang lebih besar daripada nikmat
    iman  akan  keagungan  Tuhan,   sumber   segala   kebahagiaan.
    Dihadapan  cahaya  iman  serupa ini, segala angan-angan kosong
    tentang hidup akan sirna, segala  kebanggaan  dan  kecongkakan
    karena  harta,  karena turunan, karena kedudukan dan kekuasaan
    akan lenyap. Dan karena cahaya iman  itu  juga,  maka  manusia
    akan  dapat  menyadari  arti kebenaran, kebaikan dan keindahan
    yang ada dalam dunia ini, akan  dapat  memahami  undang-undang
    Tuhan  yang  abadi, dalam semesta alam ini, yang takkan pernah
    berubah dan berganti. Suatu pertemuan umum yang luas ini telah
    dapat melaksanakan arti persaudaraan dan persamaan semua orang
    beriman dalam bentuknya yang paling luas, luhur dan bersih.
    
    Inilah ketentuan-ketentuan dan  kaidah-kaidah  Islam  seperti
    yang  diwahyukan  kepada Muhammad 'alaihissalam. Ini terrnasuk
    prinsip-prinsip iman seperti sudah kita lihat dalam  ayat-ayat
    yang  kita  kutip  tadi, dan sebagai prinsip-prinsip kehidupan
    rohani Islam. Sesudah semua kita lihat, akan mudah sekal  kita
    menilai,  norrna-norma etika apa yang harus kita terapkan atas
    dasar itu. Norma-norma ini memang sungguh luhur  sekali,  yang
    memang  belum  ada tandingannya dalam kebudayaan mana pun atau
    dalam zaman apa pun.  Apa  yang  akan  membawa  manusia  untuk
    mencapai  kesempurnaannya  bila  saja  ia  dapat  melatih diri
    sebagaimana mestinya,  oleh  Qur'an  sudah  dirumuskan,  bukan
    hanya  dalam  satu  surah  saja  hal  ini  disebutkan,  bahkan
    disana-sini juga disebut. Begitu salah satu surah  kita  baca,
    kita  sudah  dibawa  ke  puncak  yang lebih tinggi, yang belum
    dicapai oleh suatu kebudayaan sebelum itu, juga tidak  mungkin
    akan   dicapai   oleh   kebudayaan  yang  sesudah  itu.  Untuk
    mengetahui betapa agungnya  klimaks  yang  telah  dicapai  itu
    cukup  kita lihat misalnya adat sopan santun atas dasar rohani
    ini yang bersumberkan  keimanan  kepada  Allah  serta  latihan
    mental  dan hati kita atas dasar tersebut, tanpa orang melihat
    akan mencari keuntungan materi di balik sernua itu.
    
    Dalam berbagai zaman dan bangsa, penulis-penulis sudah  sering
    sekali  melukiskan  gambar  Manusia  Sempurna - atau Superman.
    Penyair-penyair,    para    pengarang,    filsuf-filsuf    dan
    penulis-penulis  drama, sejak zaman dahulu mereka sudah pernah
    melukiskan gambaran  ini,  dan  sampai  sekarang  masih  terus
    melukiskan.  Tetapi sungguhpun demikian, tidak akan ada sebuah
    gambaran manusia sempurna yang dilukiskan begitu cemerlang dan
    unik  seperti  disebutkan dalam rangkaian Surah al-Isra' (17).
    Ini baru sebagian saja hikmah  yang  diwahyukan  Allah  kepada
    Rasul,  bukan  dimaksudkan  untuk  melukiskan Manusia Sempurna
    melainkan  untuk   mengingatkan   manusia   tentang   beberapa
    kewajiban. Dalam hal ini firman Allah:
    
    "Dan  Tuhanmu sudah memerintahkan, jangan ada yang kamu sembah
    selain Dia dan supaya berbuat baik kepada ibu-bapa. Jika salah
    seorang  dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
    dalam pemeliharaanmu, janganlah  kamu  mengucapkan  kata  "ah"
    kepada  mereka  dan  jangan  pula  kamu membentak mereka, tapi
    ucapkanlah dengan kata-kata yang mulia kepada mereka (93). Dan
    rendahkanlah harimu dengan penuh kesayangan kepada mereka, dan
    doakan:  'Ya  Allah,  beri  rahmatlah  kepada  mereka  berdua,
    seperti kasih-sayang mereka mendidikku sewaktu aku kecil' (24)
    Tuhan kamu lebih mengetahui apa yang ada dalam  hatimu.  Kalau
    kamu  orang-orang  yang  berguna.  Dia  Maha  Pengampun kepada
    mereka yang mau bertaubat  (25).  Berikanlah  kepada  keluarga
    yang  dekat  itu  bagiannya,  begitu  juga  kepada orang-orang
    miskin  dan  orang  dalam  perjalanan.  Tetapi   jangan   kamu
    hambur-hamburkan  secara  boros  (26).  Pemboros-pemboros  itu
    sungguh golongan setan, sedang  setan  sungguh  ingkar  kepada
    Tuhan  (27). Dan jika kamu berpaling dari mereka karena hendak
    mencari  kurnia  Tuhan  yang  kauharapkan,  katakanlah  kepada
    mereka   dengan  kata-kata  yang  lemah  lembut  (28).  Jangan
    kaujadikan tanganmu terbelenggu  ke  kuduk,  dan  jangan  pula
    engkau   terlalu  mengulurkannya,  supaya  engkau  tidak  jadi
    tercela dan  menyesal  (29).  Sesungguhnya  Tuhan  melimpahkan
    rejeki  kepada  siapa  saja dan menentukan ukurannya. Dia Maha
    mengetahui akan hamba-hambaNya (30). Dan jangan kamu membunuhi
    anak-anakmu  karena takut kemiskinan. Kami yang memberi rejeki
    mereka,  juga  rejeki  kamu:  sebab  membunuh   mereka   suatu
    kesalahan  besar  (31).  Janganlah  kamu mendekati perjinahan,
    sebab perbuatan itu sungguh keji, dan cara yang  sangat  buruk
    (32).  Janganlah  kamu  menghilangkan  nyawa  orang yang sudah
    dilarang Tuhan, kecuali atas dasar yang benar. Dan barangsiapa
    dibunuh  tidak  pada tempatnya, maka kepada penggantinya telah
    kami berikan kekuasaan; tetapi janganlah dia  membunuh  dengan
    melanggar   batas  karena  dia  pun  (yang  dibunuh)  mendapat
    pertolongan (33). Harta anak yatim jangan kamu dekati, kecuali
    dengan  cara  yang  baik  sekali  -  sampai  dia  dewasa.  Dan
    penuhilah  janji   itu,   sebab   setiap   janji   menghendaki
    tanggungjawab  (34).  Jagalah  sukatanmu  bila  kamu  menakar,
    penuhilah dan timbanglah dengan timbangan yang  jujur.  Itulah
    cara  yang  baik dan akan lebih baik sekali kesudahannya (35).
    Dan  janganlah  engkau   mencampuri   persoalan   yang   tidak
    kauketahui; sebab segala pendengaran, penglihatan dan isi hati
    orang, semua itu akan dimintai pertanggunganjawaban (36). Juga
    janganlah  engkau  berjalan di muka bumi dengan congkak, sebab
    engkau tidak akan dapat menembus bumi  ini,  juga  tidak  akan
    sampai  setinggi  gunung  (37). Semua itu suatu kejahatan yang
    dalam pandangan Tuhan sangat buruk sekali." (38) (Qur'an,  17:
    23 - 38)
    
    Sungguh  ini  suatu  budi pekerti yang luhur, suatu integritas
    moral yang sempurna sekali! Setiap ayat yang tersebut ini akan
    membuat    pembaca   jadi   tertegun   membacanya,   ia   akan
    mengagungkannya  melihat  susunan  yang  begitu  kuat,  begitu
    indah,  dengan  daya  tarik  kata-katanya, artinya yang sangat
    luhur serta cara  melukiskannya  yang  sudah  merupakan  suatu
    mujizat.3  Sayang  sekali  disini  tempatnya tidak mengijinkan
    kita  menyatakan  rasa  kekaguman  itu!  Ya,  bagaimana   akan
    mungkin,  sedang untuk membicarakan keenam belas ayat itu saja
    seharusnya diperlukan sebuah buku tersendiri yang cukup besar!
    
    Kalau kita mau membawakan satu segi saja dari budi-pekerti dan
    pendidikan   akhlak   yang  terdapat  dalam  Qur'an,  tentunya
    bidangnya akan luas sekali, yang tidak mungkin dapat ditampung
    dalam  penutup  buku  ini.  Cukup kiranya kalau kita sebutkan,
    bahwa  tidak  ada  sebuah  buku  pun  yang  pernah  memberikan
    dorongan  begitu besar kepada orang supaya melakukan kebaikan,
    seperti yang diberikan oleh Qur'an itu. Tidak  ada  buku  yang
    begitu   agung   mengangkat   martabat  manusia  seperti  yang
    diperlihatkan Qur'an. Juga yang bicara tentang perbuatan  baik
    dan   kasih-sayang,   tentang  persaudaraan  dan  cinta-kasih,
    tentang tolong-menolong dan keserasian,  tentang  kedermawanan
    dan  kemurahan  hati, tentang kesetiaan dan menunaikan amanat,
    tentang kehersihan dan  ketulusan  hati,  keadilan  dan  sifat
    pemaat,  kesabaran,  ketabahan,  kerendahan  hati dan dorongan
    melakukan  perbuatan   terhormat,   berbakti   dan   mencegah
    melakukan  perbuatan  jahat,  dengan i'jaz4 (mujizat) yang tak
    ada taranya dalam menyajikan   seperti yang  dikemukakan  oleh
    Qur'an  itu.  Tak  ada buku melarang sikap lemah dan pengecut,
    sifat egoisma dan dengki, kebencian  dan  kezaliman,  berdusta
    dan   mengumpat,  pemborosan,  kekikiran,  tuduhan  palsu  dan
    perkataan   buruk,   permusuhan,   perusakan,   tipu-muslihat,
    pengkhianatan  dan segala sifat dan perbuatan hina dan mungkar
    - seperti yang  dilarang  oleh  Qur'an,  dengan  begitu  kuat,
    meyakinkan,  dengan  i'jaz  (mujizat),  yang  diturunkan dalam
    wahyu kepada Nabi berbangsa Arab itu. Tiada sebuah  surah  pun
    yang kita baca, yang tidak akan memberi anjuran yang mendorong
    kita melakukan perbuatan baik, menganjurkan kita berbakti  dan
    mencegah  kita  melakukan perbuatan jahat. Dianjurkannya orang
    mencapai kesempurnaan yang akan membawa kepada kehidupan harga
    diri   dan  budipekerti  yang  luhur.  Kita  dengarkan  Qur'an
    mengenai toleransi:
    
    "Tangkislah kejahatan itu  dengan  cara  yang  sebaik-baiknya.
    Kami mengetahui apa yang mereka sebutkan." (Qur'an, 23: 96)
    
    "Kebaikan dan kejahatan itu tidak sama. Tangkislah (kejahatan)
    itu dengan  cara  yang  sebaik-baiknya,  sehingga  orang  yang
    tadinya  bermusuhan  dengan  engkau, akan menjadi sahabat yang
    akrab sekali." (Qur'an, 41: 34)
    
    Tetapi toleransi yang dianjurkan Qur'an  ini  tidak  mendorong
    orang bersikap lemah, melainkan menyuruh orang supaya berwatak
    terhormat  (nobility  of  character),  selalu  berlumba  untuk
    kebaikan dan menjauhkan diri dari segala kehinaan:
    
    "Apabila   ada  orang  memberi  salam  penghormatan  kepadamu,
    balaslah dengan cara yang lebih baik, atau  (setidak-tidaknya)
    dengan yang serupa." (Qur'an, 4: 86)
    
    "Dan  kalau  kamu  mengadakan  (pukulan)  pembalasan, balaslah
    seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi  kalau  kamu
    tabah  hati,  itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati
    tabah (sabar)." (Qur'an, 16: 126)
    
    Dan ini jelas sekali,  bahwa  toleransi  yang  dianjurkan  itu
    ialah   dalam   arti  yang  terhormat,  tanpa  bersikap  lemah
    samasekali, melainkan sepenuhnya  sikap  yang  disertai  harga
    diri.
    
    Toleransi   yang  dianjurkan  oleh  Qur'an  dengan  cara  yang
    terhormat ini dasarnya ialah  persaudaraan,  yang  oleh  Islam
    dijadikan  tiang  kebudayaan,  dan  yang dimaksud pula menjadi
    persaudaraan   antar-manusia   di   seluruh    jagat.    Corak
    persaudaraan  Islam ini ialah yang terjalin dalam keadilan dan
    kasih-sayang   tanpa   suatu   sikap   lemah   dan   menyerah.
    Persaudaraan  atas  dasar  persamaan dalam hak, dalam kebaikan
    dan kebenaran tanpa  terpengaruh  oleh  untung-rugi  kehidupan
    duniawi,  sekalipun  mereka dalam kekurangan. Mereka ini lebih
    takut kepada Allah  daripada  kepada  yang  lain.  Mereka  ini
    orang-orang  yang  punya  harga diri. Sungguhpun begitu mereka
    sangat rendah hati. Mereka orang-orang yang  dapat  dipercaya,
    yang  menepati  janji  bila  mereka berjanji, orang-orang yang
    sabar dan  tabah  dalam  menghadapi  kesulitan,  yang  apabila
    mendapat  musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi
    rajiun  -  'Kami  kepunyaan  Allah  dan  kepadaNya  juga  kami
    kembali.' Tak ada yang membuang muka dan berjalan di muka bumi
    dengan sikap  congkak.  Tuhan  menjauhkan  mereka  dari  sifat
    serakah  dan  kikir,  tiada  berkata dusta, terhadap Tuhan dan
    kepada sesamanya. Mereka tidak mau menyebarkan perbuatan  keji
    di  kalangan  orang-orang beriman, mereka menjauhkan diri dari
    segala dosa besar dan perbuatan-perbuatan  keji,  dan  apabila
    mereka marah, mereka segera meminta maaf. Mereka dapat menahan
    amarah dan dapat pula memaafkan orang  lain.  Sedapat  mungkin
    mereka   menghindarkan  prasangka,  mereka  tidak  mau  saling
    memata-matai atau saling  menggunjing  dari  belakang.  Mereka
    tidak  boleh  memakan  harta  sesamanya dengan cara yang tidak
    sah, lalu akan membawa perkara itu kepada hakim, supaya mereka
    dapat  memakan  harta  orang  lain  dengan cara dosa itu. Jiwa
    mereka dibersihkan  dari  segala  sifat  dengki,  tipu-menipu,
    cakap kosong dan segala perbuatan yang rendah.
    
    Ciri-ciri   khas   watak   dan  etika  yang  menjadi  landasan
    budi-pekerti dan pendidikan akhlak  yang  murni  itu  dasarnya
    ialah  -  seperti  yang  sudah kita sebutkan - disiplin rohani
    seperti yang ditentukan oleh Qur'an dan  yang  bertalian  pula
    dengan  iman  kepada  Allah. Inilah soal yang pokok sekali dan
    ini pula yang akan menjamin adanya  sistem  moral  dalam  jiwa
    orang  dengan  tetap bersih dari segala noda, jauh dari segala
    penyusupan yang mungkin  akan  merusak.  Moral  yang  dasarnya
    memperhitungkan  untung-rugi  segera akan diperbesar selama ia
    yakin  bahwa  kelemahan  demikian  itu  tidak  akan  menggangu
    keuntungannya.   Orang  yang  dasar  moralnya  memperhitungkan
    untung-rugi demikian ini sikap luarnya akan berbeda dengan isi
    hati.  Keadaannya  yang disembunyikan akan berbeda dengan yang
    diperlihatkan kepada orang. Ia berpura-pura jujur, tapi  tidak
    akan  segan-segan ia menjadikan itu hanya sebagai tameng untuk
    memancing keuntungan. Ia berpura-pura benar, tapi  tidak  akan
    segan-segan  ia  meninggalkannya kalau dengan meninggalkan itu
    ia akan mendapat keuntungan. Orang yang pertimbangan  moralnya
    demikian  ini dalam menghadapi godaan mudah sekali jadi lemah,
    mudah sekali terbawa arus nafsu dan tujuan-tujuan tertentu!
    
    Kelemahan ini ialah gejala yang  jelas  terlihat  dalam  dunia
    kita  sekarang.  Sudah  sering  sekali  orang mendengar adanya
    perbuatan-perbuatan  skandal  dan  korupsi  dimana-mana  dalam
    dunia yang sudah beradab ini. Sebabnya ialah karena kelemahan,
    orang lebih  mencintai  harta  dan  kedudukan  atau  kekuasaan
    daripada  nilai  moral  yang  tinggi dan iman yang sebenarnya.
    Tidak sedikit mereka terjerumus masuk ke dalam jurang  tragedi
    moral  dan  melakukan  kejahatan  yang paling keji, kita lihat
    pada  mulanya  mereka  pun  berakhlak   baik,   tetapi   masih
    untung-rugi  itu  juga  yang  menjadi  dasar moralnya. Tadinya
    mereka menganggap bahwa sukses dalam hidup ini bergantung pada
    kejujuran.  Lalu  mereka  bersikap  jujur karena ingin sukses,
    bukan bersikap  jujur  karena  terikat  oleh  akidahnya  -oleh
    keyakinan  batinnya.  Mereka  berhenti  hanya  sampai  disitu,
    meskipun  ini  sangat  membahayakan  dirinya.  Tetapi  setelah
    mereka   lihat   bahwa  mengabaikan  masalah  kejujuran  dalam
    peradaban  abad  kini  merupakan  salah  satu  jalan  mencapai
    sukses,  maka  kejujuran itu pun mereka abaikan. Yang demikian
    ini ada yang tetap tertutup dari mata orang, rahasianya  tidak
    sampai  terbongkar  dan akan tetap dipandang terhormat, tetapi
    ada juga yang rahasianya  terbongkar  dan  ia  tercemar,  yang
    kadang berakhir dengan bunuh diri.
    
                                        (bersambung ke bagian 5/6)
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (5/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Jadi  pembinaan  sistem watak dan moral atas dasar untung-rugi
    ini  sewaktu-waktu  akan  menjerumuskannya   kedalam   bahaya.
    Sebaliknya,  apabila  pembinaannya  itu didasarkan atas sistem
    rohani seperti dirumuskan oleh Qur'an, ini akan menjamin tetap
    bertahan, takkan terpengaruh oleh sesuatu kelemahan. Niat yang
    menjadi pangkal bertolaknya perbuatan  ialah  dasar  perbuatan
    itu  dan sekaligus harus menjadi kriteriumnya pula. Orang yang
    membeli undian untuk Pembanguman sebuah rumahsakit,  ia  tidak
    membelinya   dengan  niat  hendak  beramal,  melainkan  karena
    mengharapkan keuntungan. Orang yang memberi karena  ada  orang
    yang  datang  meminta  secara  mendesak  dan ia memberi karena
    ingin melepaskan diri, tidak sama dengan  orang  yang  memberi
    karena kemauan sendiri, yaitu memberi kepada mereka yang tidak
    meminta secara mendesak, mereka yang  oleh  orang  yang  tidak
    mengetahui  dikira orang-orang yang berkecukupan karena mereka
    memang  tidak  mau  meminta-minta  itu.  Orang  yang   berkata
    sebenarnya   kepada  hakim  karena  takut  akan  sanksi  hukum
    terhadap seorang saksi palsu, tidak  sama  dengan  orang  yang
    berkata  sebenarnya karena ia memang yakin akan arti kebenaran
    itu. Juga  moral  yang  landasannya  perhitungan  untung  rugi
    kekuatannya  tidak  akan sama dengan moral yang sudah diyakini
    benar bahwa itu bertalian dengan  kehormatan  dirinya  sebagai
    manusia,  bertalian  dengan  keimanannya  kepada  Allah. Dalam
    hatinya sudah tertanam landasan rohani yang dasarnya  keimanan
    kepada Allah itu.
    
    Qur'an  tetap  menekankan,  bahwa  pikiran yang rasionil harus
    tetap  bersih,  jangan  dimasuki  oleh   sesuatu   yang   akan
    mempengaruhi  lukisan  iman  dan  watak  yang  indah itu. Oleh
    karenanya minuman keras dan judi itu dipandang  kotor  sebagai
    perbuatan  setan.  Kalaupun  ada  manfaatnya buat orang, namun
    dosanya lebih besar dari  manfaatnya.  Dengan  demikian  harus
    dijauhi.  Perjudian akan mengalihkan perhatian si penjudi dari
    persoalan lain, waktunya  akan  habis  dan  hiburan  ini  akan
    membuatnya  lupa dari segala kewajiban moral yang baik. Sedang
    minuman keras akan menghilangkan pikiran  dan  harta  -  untuk
    meminjam katakata Umar bin'l-Khattab, ketika ia berharap Tuhan
    akan memberikan  penjelasan  mengenai  hal  ini.  Sudah  wajar
    sekali  pikiran  yang  rasionil  itu  akan jadi sesat kalau ia
    hilang atau  berubah,  dan  kesesatan  itu  akan  lebih  mudah
    mendorong   orang   melakukan   perbuatan  rendah,  sebaliknya
    daripada akan menjauhkan diri dari kejahatan.
    
    Sistem moral yang dibawa Qur'an untuk 'negara utama' itu bukan
    dengan   tujuan  supaya  jiwa  manusia  samasekali  jauh  dari
    kenikmatan hidup yang diberikan Tuhan, sehingga  karenanya  ia
    akan  hanyut  ke dalam hidup pertapaan dalam merenungkan alam,
    dan menyiksa diri dalam menuntut ilmu untuk itu. Sistem  moral
    ini  tidak  rela  membiarkan  manusia  menyerahkan diri kepada
    kesenangan supaya jangan ia tenggelam kedalam jurang kemewahan
    dan  karenanya  ia  akan melupakan segalanya. Bahkan moral ini
    hendak membuat manusia menjadi umat  pertengahan,  mengarahkan
    mereka  kepada  lembaga  budi  yang  lebih murni, lembaga yang
    mengenal alam dan segala isinya ini.
    
    Qur'an bicara tentang ciptaan Tuhan yang ada  dalam  alam  ini
    dengan  suatu  pengarahan yang hendak mengantarkan kita sejauh
    mungkin dapat kita  ketahui.  Ia  bicara  tentang  bulan  hari
    Pertama,  tentang matahari dan bulan, tentang siang dan malam,
    tentang bumi dan apa yang dihasilkan bumi, tentang langit  dan
    bintang-bintang  yang  menghiasinya,  tentang samudera, dengan
    kapal yang berlayar supaya kita dapat menikmati karunia Tuhan,
    tentang  binatang  untuk  beban  dan  ternak, tentang ilmu dan
    segala cabangnya yang terdapat dalam alam ini.  Qur'an  bicara
    tentang   semua   ini,   dan  menyuruh  kita  merenungkan  dan
    mempelajarinya, supaya kita menikmati segala  peninggalan  dan
    hasilnya  itu  sebagai  tanda  kita  bersyukur  kepada  Allah.
    Apabila Qur'an telah mengajarkan etika Qur'an kepada  manusia,
    menganjurkan  mereka  supaya  berusaha  terus untuk mengetahui
    segala yang ada dalam alam ini,  sudah  sepatutnya  pula  bila
    dari  pengamatan  mereka dengan jalan akal pikiran itu, mereka
    akan sampai ke tujuan sejauh yang dapat  ditangkap  oleh  akal
    pikirannya  itu. Sudah sepatutnya pula mereka membangun sistem
    ekonominya itu atas dasar yang sempurna.
    
    Sistem ekonomi yang  dibangun  atas  dasar  moral  dan  rohani
    seperti  yang  sudah  kita sebutkan itu, sudah seharusnya akan
    mengantarkan manusia ke dalam  hidup  bahagia,  dan  menghapus
    segala  penderitaan  dari muka bumi ini. Prinsip-prinsip agung
    yang oleh Qur'an ditekankan sekali supaya  ditanamkan  kedalam
    jiwa seperti di tempat akidah dan iman itu, akan membuat orang
    tidak sudi melihat masih adanya penderitaan di muka bumi  ini,
    atau  masih adanya kekurangan yang dapat diberantas tapi tidak
    dilakukan. Bagi orang yang  sudah  mendapat  ajaran  ini  yang
    pertama  sekali  akan ditolaknya ialah riba yang menjadi dasar
    kehidupan  ekonomi  dewasa  ini,  dan  yang   menjadi   sumber
    pendieritaan  seluruh  umat  manusia.  Oleh  karena itu Qur'an
    secara tegas sekali mengharamkan, seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Mereka yang memakan riba tidak akan dapat berdiri, kalau  pun
    berdiri  hanya  akan  seperti orang yang sudah kemasukan setan
    karena penyakit gila." (Qur'an 2: 275)
    
    "Setiap riba yang kamu lakukan untuk menambah harta orang lain
    dalam pandangan Allah tidak akan dapat bertambah. Tetapi zakat
    yang kamu lakukan demi keridaan Allah, mereka  itu  yang  akan
    mendapat balasan berlipat ganda." (Qur'an 30: 39)
    
    Diharamkannya  riba  adalah  norma dasar untuk kebudayaan yang
    akan dapat  menjamin  kebahagiaan  dunia.  Bahaya  riba  dalam
    bentuknya  yang  paling  kecil  ialah ikut sertanya orang yang
    tidak bekerja dalam suatu hasil usaha orang lain hanya  karena
    ia  sudah meminjamkan uang kepadanya, dengan alasan lagi bahwa
    dengan meminjamkan itu ia sudah membantu orang lain memperoleh
    hasil  keuntungan itu. Sebaliknya kalau ini tidak dilakukan si
    peminjam tidak  akan  dapat  berusaha  dan  dengan  sendirinya
    takkan   dapat  memungut  keuntungan.  Kalau  hanya  ini  saja
    satu-satunya bentuk riba itu, ini pun takkan  dapat  dijadikan
    alasan.   Kalau   orang   yang   meminjamkan  uang  itu  mampu
    menjalankan sendiri, ia tidak akan meminjamkannya kepada orang
    lain,  dan  kalau  uang  itu  tetap  ditangannya sendiri tidak
    dijalankan  dalam  usaha,  maka  uang  itu  pun   tidak   akan
    mendatangkan  keuntungan.  Sebaliknya,  sedikit  demi  sedikit
    uangnya itu akan habis dimakan  pemiliknya  sendiri.  Jika  ia
    akan  meminta  bantuan  orang  lain menjalankan uangnya dengan
    bagi hasil  menurut  keuntungan  yang  akan  diperoleh,  tentu
    caranya  bukan  dengan  jalan dipinjamkan sebagai modal dengan
    laba tertentu, melainkan dengan cara si pemilik uang itu  ikut
    serta  dengan  orang  yang menjalankan uangnya atas dasar bagi
    untung. Kalau si pengusaha beruntung, maka  si  pemilik  modal
    itu  pun  akan mendapat bagian keuntungan; kalau rugi, dia pun
    akan  turut  memikul  kerugiannya.  Sebaliknya  kalau   kepada
    pemilik  modal  itu  akan ditentukan suatu laba, meskipun yang
    mengusahakan  tidak  mendapat  keuntungan  apa-apa,  maka  itu
    adalah  suatu  eksploitasi illegal, suatu pemerasan yang tidak
    sah.
    
    Dan  tidak  akan  dapat  terjadi   bahwa   harta   itu   dapat
    diperlakukan   seperti   yang  lain-lain,  dapat  dipersewakan
    seperti menyewakan tanah atau menyewakan hewan, dan bahwa laba
    uang  tunai  harus sesuai dengan hasil sewa barang-barang yang
    lain itu. Uang yang dapat dipakai untuk pengeluaran dan  dapat
    juga  dipakai  untuk  produksi,  yang  bisa dimanfaatkan untuk
    kebaikan dan juga dapat menimbulkan kejahatan  (dosa),  dengan
    harta  bergerak  dan  tidak  bergerak  lainnya,  besar  sekali
    perbedaannya. Orang yang  menyewa  tanah,  rumah,  hewan  atau
    barang  apa pun, tentu karena ingin dimanfaatkan, yang berarti
    akan sangat berguna buat dia, kecuali jika  dia  memang  orang
    bodoh  atau orang edan, yang segala gerak-geriknya sudah tidak
    lagi diperhitungkan orang.
    
    Sebaliknya yang mengenai uang modal,  yang  biasanya  dipinjam
    untuk    tujuan-tujuan    perdagangan   yang   sebaik-baiknya.
    Perdagangan itu senantiasa dihadapkan kepada soal untung  atau
    rugi.  Sedang mengenai sewa-menyewa barang-barang bergerak dan
    tidak bergerak untuk dijalankan dalam  usaha,  sedikit  sekali
    yang  mengalami kerugian, kecuali dalam keadaan yang abnormal,
    yang tidak masuk dalam keadaan biasa. Apabila keadaan abnormal
    ini  yang  terjadi,  maka  kekuasaan  hukum segera pula campur
    tangan antara si pemilik dengan  si  penyewa  -  seperti  yang
    sering   terjadi   dalam   semua   negara  di  dunia  -  untuk
    menghilangkan  ketidak  adilan  terhadap  si   penyewa   serta
    menolongnya  dari tindakan si pemilik yang hanya akan memungut
    laba dari usahanya itu. Sebaliknya,  dengan  menentukan  bunga
    uang  tunai,  dengan  lebih-kurang  7% atau 9%, maka ini tidak
    akan mengubah, bahwa si peminjam dapat terancam oleh  kerugian
    modal,  disamping kerugian usahanya sendiri. Apabila disamping
    itu dia masih juga lagi dituntut  dengan  bunga,  maka  inilah
    yang  disebut  kejahatan  (dosa).  Akibat ini akan menimbulkan
    permusuhan, sebaliknya daripada persaudaraan; akan menimbulkan
    kebencian,  bukan  cinta kasih. Inilah sumber kesengsaraan dan
    segala krisis yang diderita umat manusia dewasa ini.
    
    Kalau memang inilah bahaya riba dalam  bentuknya  yang  paling
    kecil,  dan  begitu  pula  akibat-akibat  yang timbul, apalagi
    dengan bentuk lain tatkala si pemberi pinjaman itu sudah lebih
    mendekati  binatang buas daripada manusia, atau sipeminjam itu
    sudah sangat membutuhkan  uang  di  luar  keperluan  penanaman
    modal  atau  produksi.  Adakalanya  ia sangat membutuhkan uang
    untuk  keperluan  nafkah  yang  konsumtif,   untuk   keperluan
    makannya  atau  makan  keluarganya. Ketika itulah perhatiannya
    hanya pada yang  lebih  mudah  saja  dulu,  sebelum  ia  dapat
    memegang  sesuatu  pekerjaan  yang  dapat  menjamin  keperluan
    hidupnya dan kemudian dapat  membayar  kembali  utangnya.  Ini
    sudah  merupakan  satu  tugas  perikemanusiaan sebagai langkah
    pertama. Dan ini pula yang dirumuskan  oleh  Qur'an.  Bukankah
    dalam  keadaan serupa ini pemberian pinjaman dengan riba sudah
    merupakan suatu kejahatan yang sama  dengan  pembunuhan?  Yang
    lebih  parah lagi dari kejahatan ini ialah adanya segala macam
    tipu-muslihat dengan  jalan  riba  itu  untuk  merampas  harta
    orang-orang  yang lemah, orang-orang yang tidak pandai menjaga
    hartanya. Tipu muslihat ini tidak kurang  pula  jahatnya  dari
    pencurian  yang  rendah.  Dan  setiap pelaku ke arah ini harus
    dihukum seperti pencuri atau lebih keras lagi.
    
    Riba adalah salah satu faktor yang turut  menjerumuskan  dunia
    ke  dalam  bencana penjajahan, dengan segala macam penderitaan
    yang ditimbulkan oleh penjajahan itu. Sebagian  besar  masalah
    penjaJahan  itu  dimulai  oleh sekelompok tukang-tukang riba -
    secara perseorangan atau dalam bentuk badan-badan usaha - yang
    mendatangi  beberapa  negara dengan memberikan pinjaman kepada
    penduduk. Kemudian mereka  menyusup  masuk  lebih  dalam  lagi
    sampai mereka dapat menguasai sumber-sumber kekayaan. Bilamana
    kelak  anak  negeri  sudah  menyadari   kembali   dan   hendak
    mempertahankan  diri  dan  harta mereka, orang-orang asing itu
    cepat-cepat meminta bantuan negaranya. Negara ini pun kemudian
    masuk  atas  nama  hendak  melindungi  rakyatmya.  Kemudian ia
    menyusup juga masuk lebih dalam lagi,  lalu  berkuasa  sebagai
    penjajah.  Sekarang mereka sebagai yang dipertuan. Kemerdekaan
    orang lain dirampas.  Sebagian  besar  sumber-sumber  kskayaan
    negeri itu mereka kuasai. Dengan demikian kekayaan mereka jadi
    hilang, penderitaan mulai mencekam  seluruh  kawasan  itu  dan
    bayangan  kesengsaraan  sudah  pula merayap-rayap kedalam hati
    mereka. Pikiran mereka jadi  kacau,  moral  jadi  lemah,  iman
    mereka  pun mulai goyah. Martabat mereka jadi turun dari taraf
    manusia yang sebenarnya ke taraf yang lebih  hina,  yang  bagi
    orang   yang  beriman  kepada  Allah  tidak  akan  sudi  hidup
    demikian, sebab, hanya kepada Allah semata  orang  merendahkan
    diri dan harus mengabdi.
    
    Juga  penjajahan  itu  sumber  peperangan,  sumber penderitaan
    besar yang  sangat  menekan  kehidupan  seluruh  umat  manusia
    dewasa  ini.  Selama  ada  riba, selama ada penjajahan, jangan
    diharap manusia akan dapat kembali ke  masa  persaudaraan  dan
    saling  cinta  antara  sesamanya. Harapan akan kembali ke masa
    serupa itu tidak akan ada, kecuali jika kebudayaan atas  dasar
    yang  dibawa  oleh Islam dan diwahyukan dalam Qur'an itu dapat
    dibangun kembali.
    
    Didalam Qur'an ada konsepsi sosialisma yang belum lagi dibahas
    orang. Sosialisma ini tidak didasarkan kepada perang modal dan
    perjuangan  kelas,  seperti  yang  terdapat   sekarang   dalam
    sosialisma  Barat, melainkan dasarnya ialah karakter dan moral
    yang tinggi yang  akan  menjamin  adanya  persaudaraan  kelas,
    adanya  kerja-sama  dan  saling  bantu atas dasar kebaikan dan
    kebaktian, bukan kejahatan dan saling permusuhan. Tidak  sulit
    orang akan melihat landasan sosialisma atas dasar persaudaraan
    ini, seperti yang sudah ditentukan oleh Qur'an mengenai  zakat
    dan sedekah misalnya. Orang  dapat menilai, bahwa ini bukanlah
    sosialisma dengan dominasi suatu kelas atas kelas  yang  lain,
    atau   kekuasaan  suatu  golongan  atas  golongan  yang  lain.
    Kebudayaan yang dilukiskan oleh Qur'an tidak  mengenal  adanya
    dominasi   atau   sikap   berkuasa,   melainkan   atas   dasar
    persaudaraan yang sungguh-sungguh yang didorong oleh keyakinan
    yang  kuat akan persaudaraan itu; suatu keyakinan yang membuat
    orang dengan mengingat karunia Tuhan itu mau memberi untuk  si
    miskin,  orang melarat, orany yang membutuhkan dan segala yang
    diperlukannya  akan  makanan,  tempat  tinggal,   obat-obatan,
    pengajaran  dan  pendidikan.  Mereka memberikan itu atas dasar
    keikhlasan dan kejujuran. Dengan  demikian  penderitaan  dapat
    dihilangkan, karunia Tuhan dan kebahagiaan dapat merata kepada
    umat manusia.
    
    Sosialisma Islam  ini  tidak  sampai  menghapuskan  hak  milik
    secara   mutlak,   seperti  halnya  dengan  sosialisma  Barat.
    Kenyataan  sudah  membuktikan  -  bolsyevisma  di  Rusia   dan
    negara-negara  sosialis lainnya - bahwa menghapuskan hak milik
    itu suatu hal yang tidak  mungkin.  Sungguhpun  begitu,  namun
    perusahaan-perusahaan negara harus tetap menjadi milik bersama
    untuk   kepentingan   semua    orang.    Mengenai    ketentuan
    perusahaan-perusahaan  negara itu terserah kepada negara. Oleh
    karena itu mengenai ketentuan ini  sejak  abad-abad  permulaan
    dalam  sejarah  Islam  sudah terdapat perbedaan pendapat. Dari
    kalangan sahabat-sahabat Nabi sendiri ada yang terlampau keras
    menjalankan  ketentuan  sosialisma  ini,  sehingga segala yang
    diciptakan Tuhan dijadikan milik bersama dan untuk kepentingan
    umum.  Mereka memandang tanah dan segala yang terkandung, sama
    dengan air dan udara, tidak boleh menjadi milik pribadi.  Yang
    boleh  dimiliki  hanya hasilnya, yang disesuaikan dengan usaha
    dan perjuangan masing-masing. Ada juga yang tidak  berpendapat
    demikian.  Mereka  menyatakan  bahwa  tanah boleh dimiliki dan
    dianggap sebagai barang-barang yang boleh dipertukarkan.
    
    Akan tetapi persetujuan yang sudah dicapai di kalangan  mereka
    ialah  sama  dengan  yang  berlaku  di  Eropa  sekarang, yaitu
    menentukan  bahwa  setiap  orang  harus   mencurahkan   segala
    kemampuannya  untuk  kepentingan  masyarakat,  dan  masyarakat
    harus pula berusaha, untuk kepentingan pribadi dalam mengatasi
    segala    keperluannya.    Setiap   Muslim   berhak   menerima
    kebutuhannya serta kebutuhan orang yang menjadi  tanggungannya
    dari  baitulmal  (perbendaharaan  negara)  Muslimin, selama ia
    belum  mendapat  pekerjaan  yang   akan   menjamin   keperluan
    hidupnya,  atau  selama  pekerjaan  yang dipegangnya itu tidak
    mencukupi keperluannya dan keperluan keluarganya.
    
    Selama norma-norma etik di dalam Qur'an  seperti  yang  sudah
    kita  sebutkan  itu dijalankan, maka tidak akan ada orang yang
    mau berdusta; tidak akan ada orang yang mau mengatakan,  bahwa
    ia  penganggur, padahal yang sebenarnya dia tidak mau bekerja,
    tidak akan ada orang yang mau  menyatakan,  bahwa  penghasilan
    dari  pekerjaannya  tidak  mencukupi, padahal sebenarnya sudah
    lebih dari cukup. Khalifah-khalifah pada masa permulaan  Islam
    dahulu  sudah mewajibkan diri menyelidiki sendiri keadaan umat
    Islam untuk kemudian dapat mengatasi  segala  keperluan  orang
    yang memang berada dalam kebutuhan.
    
                                        (bersambung ke bagian 6/6)
    
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
    
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1

    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Budaya5.html

    ===========================================================================================

    1. ISLAMIC CULTURE as described QUR’AN (sixth)
    Muhammad Husain Haekal

    MUHAMMAD has left a great spiritual legacy,
    that has overshadowed the world and give direction to
    world culture during the several centuries ago.
    He will continue to do so until God perfected
    light to the world. Heritage that has given
    major influence on the past, and will thus,
    even more so in the future, is
    because he has brought the true religion and put
    cultural basis only thing that will guarantee
    happiness of this world. Religion and culture had
    brought Muhammad to mankind through the revelation of God
    , it has been so cohesive that can no longer
    integral.

    If any Islamic culture is based on methods
    knowledge and capability ratio, – and in this same
    such that the grip of Western culture of our time
    now, and if Islam was a religion of holding on
    subjective thinking and the thinking of metaphysics but
    relationship between the provisions on the basis of religion
    culture intimately. Because is because of the way
    thinking that metaphysical and subjective feelings in one
    parties, with the rules of logic and science capability
    knowledge on the other by Muslims are united by one
    ties, who would not want it to look up to
    found, to then remain a Muslim with
    strong faith as well. From this aspect of Islamic culture is different
    once with Western culture now rules the world,
    also in describing the life and become the basic foundation
    different. The second difference is culture, among which one
    with others is actually very principle, which until
    basic cause of both is mutually exclusive of each other
    rear.

    The emergence of this conflict is due to historical reasons,
    as we have seen in the foreword and preface
    second printing of this book. Conflicts in the West between the power
    religion and power as a nation that embraces temporal1
    Christian religion or the language is now among church
    with state causes the two will have to part, and
    state power must be enforced to not recognize
    power of the church. The existence of that power there is also conflict
    its influence in Western thought as a whole. Result
    It is the first of the influence of stratification between
    human feeling to hear people’s minds, between thoughts
    metaphysical with the provisions of positive knowledge (knowledge
    of reality) that are based on a review materialisma.
    Victory materialisma mind this enormous influence
    to the birth of an economic system that has become
    The main basis of Western culture.

    As a result, in the West has also arise streams
    who want to make everything on this earth is subject
    to the life of the world economy. So is not small
    people now want to put the history of mankind in terms of
    religion, art, f1lsafat, ways of thinking and knowledge –
    in all its highs and lows of the various nations – with
    economic size. The mind is not confined to history
    and writing, even some strands of Western philosophy has
    also create patterns of conduct on the basis of expediency this material
    solely. It was such flows in
    his thinking is so high with a creative,
    immense, but the developments in Western thought that has
    limit on the boundaries of the material benefits that
    collectively created by the patterns of conduct as a whole.
    And in terms of scientific discussion of this case already a
    a very urgent necessity.

    Sebaiiknya about spiritual issues, spiritual issues, in
    view of Western culture is merely a personal matter,
    people do not need to pay attention to it together. By
    therefore let the matter this belief freely
    West was a thing once exalted, exceeding
    freedom in the matter of ethics. It’s so much they
    magnify the problem of freedom of ethics for the sake of economic freedom
    which has been completely bound by the law.
    This law will be carried out by soldiers or by
    state with all its existing strengths.

    Culture is about to make economic life as
    Basically, and patterns of conduct are based also on life
    economic importance on it with no sense of trust
    in public life, in exploring the way for mankind
    pursuit of happiness as it ideally citakannya,
    in my opinion will not reach the destination. Even
    responses to life so it is fitting when
    will plunge humanity into a severe pain
    as experienced in recent centuries. Already
    should also where all the thoughts in an attempt to prevent
    war and seeking world peace does not bring much
    meaning and the results are not much. During my relationship
    with brother basically is a piece of bread that I eat
    or that you eat, we fight, compete and fight
    to it, each contention on the basis of strength
    animal, it will always be waiting for each of us
    good opportunity to get a slice of bread sly
    in whose hands his friend. Each of us from one another
    Friends will always see it as an opponent, not as
    brother. Basis of conduct that is hidden in us this will
    always be animal, even if still remains hidden
    until in time he will arise. The always will
    to handle this ethical foundation is the only advantage.
    While a high sense of humanity, the principles
    an admirable character, altruisma, love and brotherhood
    will fall slip, and almost gone to
    held again.

    What happens in the world today is evidence
    The most obvious of what I mentioned it. Competition and
    The first symptom is a contradiction in the economic system, and
    It is also the first symptom in Western culture, both in
    individualistic understanding, as well as socialistic same
    existence. In understand individualisma, workers compete with
    workers, owners of capital by capital owners. Workers with
    owners of capital are two competing opponents.
    The proponents of this understanding of the opinion that competition and
    This conflict will bring goodness and progress to
    mankind. According to them it is a stimulant that
    work more diligently and stimulants for the division of labor, and
    would be a fair balance in sharing the wealth.

    Conversely understand sosialisma who believes that the struggle
    class that must be quits with the power in the hands of
    the workers, is one of natural necessity. During
    competition and struggle of the property was used as the principal
    life, during the inter-class opposition is reasonable, then
    inter-nation conflict is also reasonable, with the same purpose
    as on class struggle. From this conception
    nationalism is, by itself, giving effect
    determine the economic system. If the struggle
    nations to master the natural treasure, if there
    occupation for the fair also, how could war
    can be prevented and peace in the world can be guaranteed? In
    towards the end of the 20th century we have been able to watch –
    and still we can see – the existence of evidence, that
    peace on earth with a sort of cultural basis
    only in dreams alone can be exercised, only in
    sweet ideals have a co-wife, but in reality no
    more than a mirage that nonsense.

    Islamic culture was born on the basis of contrasting
    on the basis of Western culture. He was born on a spiritual basis
    invite people to realize that once the first
    relationship with nature and its place in this natural
    best. If this realization is already down to
    boundaries of faith, the faith it took her so that she remains
    continually educate and train yourself, clean heart
    always, fills the heart and mind with the principles
    more noble – the principles of dignity, brotherhood,
    love, kindness and devotion. On the basis of the principles
    This man should formulate its economic life. How to
    gradually so this is the basis of Islamic culture, such as
    revelation which was revealed to Muhammad, which first
    spiritual culture, and spirituality here is the basic system
    education system and the basic patterns of conduct (morals). And
    These ethical principles are the basis of its economic system. No
    certainly be justified in any way compromising
    These ethical principles for the sake of economic systems
    earlier.

    Feedback about the culture of Islam so this opinion
    My response is consistent with human nature, which
    will guarantee happiness for him. If this is embedded
    in our spirit and life like in Western culture
    there was also the course, shades of humanity that undoubtedly will
    changed, the principles that have been the holder
    people will collapse, and instead will arise
    the principles of a more noble, which will be able to treat
    Our current world crisis in accordance with the guidance of
    more brilliant.

    Now people in the West and East tried going to cope with
    this crisis, without them knowing it – and the Muslims themselves
    nor even aware of – that Islam can guarantee
    overcome them. People in the West today are looking for
    a new spiritual grip, which will be able menanting
    paganisma them from being plunged them; and
    because the emergence of their suffering, the disease
    plugging them into the cauldron of war between fellow
    them, is mammonisma – worship of wealth.
    Western people looking for a new grip that within a few
    teachings in India and the Far East, though it will be able to
    they do not get away from them, will they find it
    existing provisions in the Qu’ran, is depicted with
    very beautiful with a very good example given by
    Prophets to mankind during his lifetime.

    I do not mean going to portray Islamic culture with
    all of its provisions it here. Painting thus requires
    an in-depth discussion, which will require the
    registration book or even greater. However – after
    spiritual foundation that became the foundation that I alluded
    as needed – painting the culture here I want to
    conclude, therefore in case of Islamic teachings in
    I can also describe the whole and with
    depiction that I will explore the way to a discussion
    deeper. And before moving in that direction
    it would be a good idea also I give just a hint,
    that in fact in the history of Islam does not exist
    conflict between religious power (theokrasi) with
    temporal power, ie, between church and state. This
    to save Islam from the opposition that has been
    West left in the mind and in the course of its history.

    Islam can be saved from the opposition and all
    influence it, why is because Islam does not know what
    whose name the church or religious authority as
    known by the Christian religion. Yet there are people among
    Muslims – even though he was a caliph – who will
    command requires something to someone, the name of religion,
    and will accuse himself able to give remission of sins
    to anyone who violates the order. Also there has been no
    among Muslims – even though he is a caliphate – which
    would require something to people other than those already
    determined by God in the Quran. Even all of Islam orarg
    equal before God. Which one is more noble than
    others, except depending on the takwanya – to
    terms of office. A ruler can not demand loyalty
    a Muslim if he himself committed sin
    and violate penntah God. Or in the words of Abu Bakr
    as-Siddiq to the Muslims in his inaugural address
    as Caliph “Obey me as long as I obey
    (Command) of Allah and His Messenger. But if I violate
    (Command) of Allah and the Messenger then gugurkanlah loyalty to
    I am. ”

    Despite the government in Islam after that then
    held by a tyrannical king, even among
    Muslim civil war ever arise, but the Muslims
    still hold on to great personal freedom, which
    is determined by religion, freedom to put
    reason as the benchmark in everything, even made
    benchmark within the religion and faith though. Freedom is still
    they hold even until the time of arrival
    rulers of the Islamic people claiming self
    in place of God on this earth – no longer as
    Messenger replacement. Yet all the Muslim issues already
    they control only, to the extent that the question of life and death.

    As evidence such as what has happened in the
    Ma’mun, when people disagree about the Qur’an: a creature or
    not a creature – which was created or not created! Many
    people who oppose the opinion of the Caliph at that time,
    when they know the result of what they will receive
    if you dare to oppose it.

    In any case by the Islamic mind had been made
    benchmark. Also in terms of religion and faith he used as a benchmark.
    In the word of God:

    “The parable of those who do not believe is like
    (Shepherds) who chanted (flocks) that are not heard
    in addition to voice calls and calls only. They are deaf, dumb and
    blind, because they do not use common mind. “(Qur’an,
    2: 171)

    By Shaykh Muhammad Abduh interpreted, by saying:
    “This verse clearly states, that imitation (receiving
    just like that) without consideration or a reasonable mind
    guidance is innate people do not believe. People do not
    could believe that his religion is not realized in their minds,
    can not know himself until he was sure. If people
    grew up with the ordinary takes for granted without realizing it
    with common thoughts, and while doing an act,
    despite good deeds, without knowing it is true, he
    not a believer. With the believer is not intended to be
    lowered self-humble people to do good as
    despicable animals, but that is intended so that people can
    increase the sense of his mind, to enhance self-
    with science, so that doing the good that
    he really knew, that kindness is indeed useful,
    acceptable to God. In leaving the crime was also
    he understood the dangers and how far away the crime
    will take effect. ”

    This is what Shaykh Muhammad Abduh in interpreting
    This paragraph, which in the Quran, in addition to the verse already
    there are many other verses mentioned clearly
    once. Qur’an wants mankind to ponder nature
    this universe, in order to learn the news about it, which
    Such reflections will be delivered to
    awareness about the existence of God, the oneness, such as
    in the word of God:
    (Continued on part 2 / 6)
    1. ISLAMIC CULTURE as described QUR’AN (2 / 6)
    Muhammad Husain Haekal

    “Behold in the creation of the heavens and the earth, in turn
    night and day, the Ark sailed the seas to bring what
    which is useful for mankind, and what Allah revealed
    from the sky in the form of water, then with water dihidupkanNya earth
    a dead dry, then disebarkanNya on earth
    all kinds of animals, wind and cloud pengisaran driven
    from between heaven and earth – are the signs (to be unity
    and greatness of God) for those who use common
    the mind. “(Qur’an, 2: 164)

    “And as a sign for them, is the dead earth
    dry. We turn it on again and we remove it from there
    seeds which can be partially eaten. There we held
    palm gardens and palm and grapes and there is also Us
    exude water – so can they eat the fruit. All
    it is not the business of their hands. Why are they not grateful
    love. Glorified be He who created all that is grown
    earth in pairs, and in themselves as well as
    all that they know nothing. Also as a sign
    for them – is the night. We remove the day, then they
    even in darkness. The sun was circulated by
    provisions that have been determined. That’s the size of the Most
    The Power and omniscient. Also the moon, already we define
    place-place until he returned again as Mayang yang
    old. The sun should not be chasing the moon and
    Nor do the night will precede the afternoon. Each run
    in circulation. Also as a sign for them –
    is derivative of those who We carried in a ship full of
    charge. And for those We created too similar, which
    can they drive. If We willed, We karamkan
    them. There is no helper for them again, they also can not
    saved. Unless by mercy from Us and for
    give pleasure to live up to in time. “(Qur’an,
    36: 33-44.)

    Recommendation to pay attention to the physical universe, exploring all
    provisions and existing law in this natural and
    make it as a guideline that will take us
    believe in the Creator, has hundreds of times mentioned
    in various Surah in the Qur’an. Everything is addressed to
    power the human mind, telling people to judge,
    meditate on it, so that his faith was based on reason
    mind, and clear conviction. The Qur’an reminds order
    Do not blindly accept what is on his ancestors,
    without notice, without further research and with
    personal conviction of the truth that can accomplish that.

    Thus faith is what is recommended by Islam. And it is not
    faith in the so-called “faith granny,” but faith
    intellectuals who are convinced, that has been contemplated
    again, then think carefully, after that, with
    reflections and thoughts that he would come to faith
    about God the Almighty. I think nobody
    been able to contemplate with the mind and the intellect
    his heart, which will not come to faith. Any he
    reflect deeper, think longer and try to
    control of space and time as well as unity contained
    in it, the never-ending, with members
    not limited universe, which is always spinning this –
    bit will be felt within himself about the members
    nature, which all goes according to existing law
    determined and with a purpose known only to
    creator. He also will feel confident of her weakness,
    would knowledge that has not been enough, if only she had not
    immediately assisted by an awareness of the physical universe, aided
    with a force beyond the capacity of faculty and
    brain, which would connect it with all members
    nature, and that will make him realize his own place.
    And that power is faith.

    So that faith is a spiritual feeling, which is felt by
    man he held over her every communication
    with nature and wander into the skinfold-and space limitations
    time. All creatures of this nature will incarnate in him.
    Then he saw it all go according to existing law
    determined, and saw also is worship of God Almighty
    Creator. There was He incarnated in nature, dealing with
    nature, or stand alone and separate, still represents a
    speculative debate an empty course. Maybe successful,
    may also be misguided, might be beneficial and may
    also harmful. Besides, this is not also add
    our knowledge. How long have the writers and
    failasuf-failasuf that one another try going
    know the substance of this Creator, but the effort and effort
    they were in vain. And some are admitted, that it
    indeed beyond the reach of perception. If it is reasonable
    that is not able to achieve this understanding, the lack
    ability is even more strengthen our faith.
    The feeling we are convinced about the existence of Supreme Being
    High, the All-Knowing would be everything and that he
    The Supreme Creator, Supreme Planner, everything will be back
    Him, then such a state would have to convince
    us, that we would not be able to reach no matter how much substance
    size of our faith in Him that

    Likewise, if until now we can not capture
    what electricity actually was even with our own eyes
    we see the scar, as well as the ether that we do not
    to know even though it can be determined, that the waves
    It can inemindahkan sound and images, and traces the influence
    It is enough to make us believe in electricity and
    the ether. How proud we are, every day we
    see the beauty and greatness that God made,
    if we still do not want to believe before we know
    his substance. God the Supreme Transcendent far beyond reach
    can they describe. The reality in life is that
    those who try to describe the substance of God the Most Holy
    are those with a perception already helpless
    achieve a higher level again in describing what
    the above human life. They want to measure this nature
    and Creator of nature according to our measure of the relative and
    once confined within the limits of our knowledge which is only slightly
    it. Conversely those who have really reached a science,
    will be remembered by their word of God this:

    “They ask thee concerning the spirit. Answer: The Spirit
    including God’s business. Knowledge given to you
    it’s just very little. “(Qur’an, 17: 85)

    Their hearts are filled with faith in the Creator Spirit and
    Creator of the universe of this nature, after it did not need them
    plunges himself into the debate an empty speculative,
    who would not give results, would not reach a conclusion.

    Islam reached with the Islamic faith and without faith by
    Qur’an distinguished:

    “The Arabs badwi said: ‘We have faith.”
    Say ‘You’re not believers, but let us say: we have
    of Islam. ” Faith had not yet entered into your hearts. ”
    (Qur’an, 49: 14)

    Such examples of this is Islam, which is subject to the invitation
    people because of their will or because of fear, because of awe or
    because the cult outside the heart that would think and understand
    really going to offer it up to the limits of faith.

    That is yet to receive God’s guidance until the
    faith that should be achieved, by way of contemplating nature
    and know the laws of nature, and that the reflection and
    knowledge that he will be up to the Creator –
    but so Islam because of a desire or because
    his ancestors had been Islamic. Therefore faith
    has not penetrated into his heart again, even though he was Muslim.
    Muslim men of this kind have anything to deceive
    God and deceive the believers, but they actually
    are cheating yourself by not they realize. In
    they already have heart disease. And by God plus
    their disease. They are religious people without
    faith, the Islamic only driven by a desire or
    because of fear, while his soul remains stunted, his conviction still
    weak and his heart was willing to surrender to the will of
    man, surrendered to his orders. Instead they, who
    his faith in God that the earnest priest,
    delivered by the sense of mind and the heart of the living,
    by way of contemplating nature, they are the people who
    believers. Those who will submit the matter only
    to God, they are the people who do not know surrender
    in addition to God. With Islam they do not give
    any services to the people.

    “But in fact God is worthy to you, because
    dibimbingNya to the faith you have, if you really
    the right people. “(Qur’an, 49: 17)

    So whoever gave himself obedient to God and in
    on it to do good deeds, they do not need to feel
    be afraid, do not grieve. They do not fear
    facing life or abject poverty, because by faith
    they’re very rich, very honored.
    Honor is in God and the believers.

    Souls who are willing and comforted by his faith, he was relieved
    when he tried always wanted to know the secrets and
    laws of nature, which means it will add to its relationship
    with God. And step towards this knowledge is by
    way to discuss and reflect on all God’s creation is
    in this natural scientific manner as recommended by
    Qur’an and practiced really well by the
    Muslims first, as a modern scientific way in
    West now. It’s just that purpose in Islam and in
    Western culture is different. In Islam the aim to
    man makes the law of God in this natural law
    and its own rules, while in the West aim is
    looking for material gains and what is in nature.
    In Islam once the first goal is to ‘irfan – know
    God well, more and more in ‘irfan or perception
    (Introduction), we also increasingly in our faith in God.
    This goal is about to reach ‘irfan good in terms of
    whole community, not just in terms of personal. Problem
    Spiritual integrity is not a purely private matter. No
    a place for people confine ourselves as a society
    own. In fact he should be the basis of culture
    for human society worldwide – from end to end. By
    therefore human beings should strive for
    integrity (perfection) that spiritual, which means greater
    rather than observations about the nature of the senses (sensibilia).

    Persepsi2 about secret things and natural laws
    who want to achieve that integrity is greater than
    perception as a tool to achieve power over matter
    objects.

    To achieve this spiritual integrity of our inadequate
    we rely only on logic alone, even with the logic
    that we have paved the way for our hearts and minds
    us to get to the highest level. This can happen
    only if people seek help from God,
    expose yourself to Him with heart and soul.
    Only we worship Him and only Him we
    ask for help, to achieve the secrets of nature and
    the law of life. This is called relationship
    with God, grateful for favors of your Lord, so that we increase
    get a clue of what we have achieved, such as
    in the word of God:

    “And when My servants ask thee concerning Me, then
    (Say) I’m close. I granted the request of the person
    plead – if she plead to me. So welcome
    cry and believe me, just in case they
    guided to the straight path. “(Qur’an 2: 186)

    “But seek God’s help with the brave, and with
    start praying, and praying it was heavy,
    except for those of humble-to the Lord.
    People who realize that they will meet with
    God and to Him they return. “(Qur’an 2: 45-46)

    Prayer is a form of communication with God
    believe and ask Him for help. Thus
    intended to prayer is not just bowing and prostration
    course, reading the Qu’ran verses or pronounce Takbir and
    ta’zim for the greatness of God without filling the soul and heart
    hearts with faith, with holiness and majesty of God.
    But what is meant by prayer or worship is
    meaning contained in the Takbir, in reading, in
    bowing, prostration and all the majesty, holiness and faith.
    So this worship to God is a worship
    sincere – for the sake of God Light of the heavens and the earth.

    “Goodness is not since you expose the face in the direction
    east and west, but goodness it is the person who has
    believe in Allah, the Hereafter, angels,
    The Book and the prophets and issued his beloved treasure
    it to relatives, orphans, poor people
    and displaced persons in transit, the people who
    request, to let go of slavery, doing prayer
    and issued a charity, then the people who love
    fulfill the promise when the promise, the people who brave hearts
    in the face of suffering and hardship and in time
    war. They are the people who are right and they were
    people who can maintain themselves. “(Qur’an, 2: 177)

    Believers who really believe it was he who confronts
    all his heart to God when he was praying,
    witnessed by a sense of piety to Him, and seek
    God’s help in fulfilling his obligations. He
    search for clues, asking for God in understanding taufik
    secret and the law of this nature.

    Believer who truly believes in Allah he middle
    Prayer will feel it yourself, always be felt,
    he is dealing with something small greatness
    Allah the Most Great. If we are in an aircraft
    above the height of a thousand or several thousand meters, we
    see the mountains, rivers and cities as
    minor symptoms on the earth. We see it posted
    in front of our eyes like pathways above tergaris
    a map and as a horizontal flat surface is not
    there is a mountain or building a higher, no canyons,
    wells or the river is lower, the colors
    -to-back, linked to each other, mixed, the higher the
    we fly the colors are more mixed. The whole earth
    we are nothing more than a small planet. In nature

     
  • SERBUIFF 6:29 am on 21/09/2010 Permalink | Reply
    Tags: Perbedaan khalwat dan ikhtilat   

    Perbedaan khalwat dan ikhtilat 

    Perbebaan khalwat dan ikhtilat” ketegori Muslim. Ass,

    Ustadz, saya mau tanya kalau perbedaan khalwat sama ikhtilat apa? Masalahnya saya kan insya Alloh termasuk aktivis juga, jadi kalau ada kegiatan apa-apa pasti butuh koordinasi antara ikhwan dan akhwatnya, selain itu butuh juga semacam ukhuwah supaya ada kesamaan visi agar organisasi itu dapat berjalan. Jazakumullah

    Wass

    Andi Lasa

    Jawaban

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala rsulillah, wa ba’du

    Khalwat dan ikhtilat memang ada kemiripan meski sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda.

    1. Khalwat

    Khalwat itu berasal dari kata yang maknanya menyepi, menyendiri, mengasingkan diri bersama dengan seseorang tanpa kersertaan orang lain. Secara istilah, khalwat sering digunakan untuk hubungan antara dua orang dimana mereka menyepi dari pengetahuan atau campur tangan pihak lain, kecuali hanya mereka berdua.

    Orang yang berdoa pada malam hari menitikkan air mata sambil mengadu kepada Allah di saat orang-orang sedang asyik tidur, juga disebut berkhalwat. Yaitu merasakan kebersamaan dengan Allah SWT tanpa kesertaan orang lain. Seolah di dunia ini hanya ada dirinya saja dengan Allah SWT.

    Dalam hubungan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, ketika mereka asyik dengan urusan mereka berdua saja, atau berbicara hanya empat mata berdua, tanpa menghendaki ada keikut-sertaan orang lain disebut berkhalwat.

    Berkhalwatnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram adalah hal yang diaramkan di dalam syariat Islam. Dan Rasulullah SAW telah bersabda untuk memastikan keharamannya

    Jangan sekali-kali seorang lak-laki menyendiri dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya. .

    Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.

    Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.

    Secara tegas Islam mengharamkan terjadinya khalwat, yaitu menyepinya dua orang yang berlainan jenis dan bukan mahram dari penglihatan, pendengaran dan kesertaan orang lain. Rasulullah SAW telah menyebutkan bahwa bila hal itu terjadi, maka yang ketiga adalah syetan.

    2. Ikhtilat

    Sedangkan makna ikhtilat secara bahasa berasal dari kata ikhtalatha-yakhtalithu-ikhtilathan, maknanya bercampur dan berbaur. Maksudnya bercampurnya laki-laki dan wanita dalam suatu aktifitas bersama, tanpa ada batas yang memisahkan antara keduanya.

    Berbeda dengan khlawat yang bersifat menyendiri, ikhtilat terjadi secara kolektif dan bersama. Di mana orang-orang laki-laki dan wanita dalam jumlah yang lebih dari dua orang berbaur dalam suatu keadaan tanpa dipisahkan dengan jarak.

    Yang dijadikan titik perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah masalah pemisahan antara kedua jenis kelamin ini. Sebagian ulama memandang bahwa pemisahan itu harus dengan dinding, baik yang terbuat dari tembok ataupun dari kain tabir penghalang yang tidak tembus pandang. Namun sebagian ulama lain mengatakan bahwa pemisahan cukup dengan posisi dan jarak saja, tanpa harus dengan tabir penutup.

    Mereka yang mewajibkan harus dipasangnya kain tabir penutup ruangan berangkat dari dalil baik Al-Quran maupun As-Sunah

    a. Dalil Al-Quran :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu , dan Allah tidak malu yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka MINTALAH DARI BELAKANG TABIR. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah

    Ayat tersebut menyatakan bahwa memasang kain tabir penutup meski perintahnya hanya untuk para isteri nabi, tapi berlaku juga hukumnya untuk semua wanita. Karena pada dasarnya para wanita harus menjadikan para istri nabi itu menjadi teladan dalam amaliyah sehari-hari. Sehingga kihtab ini tidak hanya berlaku bagi istri-istri nabi saja tetapi juga semua wanita mukminat.

    b. Dalil As-Sunnah

    Selain itu juga ada dalil dari sunnah nabawiyah yang intinya juga mewajibkan wanita dan laki-laki dipisahkan dengan kain tabir penutup.

    Diriwayatkan oleh Nabhan bekas hamba Ummu Salamah, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke rumahnya. Nabi bersabda: pakailah tabir . Kemudian kedua isteri Nabi itu berkata, Dia itu buta! Maka jawab Nabi, Apakah kalau dia buta, kamu juga buta? Bukankah kamu berdua melihatnya?

    Sebagian dari masyarakat kita ada yang menerapkan kewajiban pemakaian kain tabir pemisah antara ruangan laki-laki dan perempuan. Ada yang berusaha menerapkannya dalam semua aktifitas, namun ada juga yang sepotong-sepotong. Misalnya, banyak yang bersikeras untuk menerapkannya dalam pesta walimah , namun di luar itu tidak menerapkan.

    Ada juga kalangan aktifis yang sangat menekankan pemakaian tabir pemisah antara sesama aktifis, tetapi ketika beinteraksi dengan yang bukan aktifis, mereka tidak menerapkannya lagi. Seolah memasang tabir pemisah itu hanya wajib di kalangan aktifis dakwah saja, sedangkan kepada yang bukan aktifis, hukumnya tidak wajib lagi.

    Di sisi lain, ada sebagian ulama yang berkesimpulan bahwa ikhtilat itu bisa dihindari cukup dengan memberi jarak antara tampat laki-laki dan perempuan, namun tidak wajib untuk memasang tabir penutup.

    Wallahu a’lam bish-shawabWassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

    Ahmad Sarwat, Lc.

    Sumber Perbebaan khalwat dan ikhtilat : http://assunnah.or.id

    http://blog.re.or.id/perbebaan-khalwat-dan-ikhtilat.htm

     
  • SERBUIFF 4:41 pm on 09/09/2010 Permalink | Reply
    Tags: Sejarah Hidup Muhammad : PEMBEBASAN MEKAH oleh Muhammad Husain Haekal   

    Sejarah Hidup Muhammad : PEMBEBASAN MEKAH oleh Muhammad Husain Haekal 

    Sejarah Hidup Muhammad

    oleh Muhammad Husain Haekal BAGIAN KEDUAPULUH EMPAT: PEMBEBASAN MEKAH (3/3) Muhammad Husain Haekal   Tetapi Muhammad, tetapi Nabi, tetapi Rasulullah, bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia! Dia bukan seorang tiran, bukan mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Tuhan telah memberi keringanan kepadanya dalam menghadapi musuh, dan dalam kemampuannya itu ia memberi pengampunan. Dengan itu, kepada seluruh dunia dan semua generasi ia telah memberi teladan tentang kebaikan dan keteguhan menepati janji, tentang kebebasan jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapa pun! Apabila Muhammad kemudian memasuki Ka'bah, dilihatnya dinding-dinding Ka'bah sudah penuh dilukis dengan gambar-gambar malaikat dan para nabi. Dilihatnya lbrahim yang dilukiskan sedang memegang azlam6 yang diperundikan, dilihatnya sebuah patung burung dara dari kayu. Dihancurkannya patung itu dengan tangannya sendiri dan dicampakkannya ke tanah. Ketika melihat gambar Ibrahim agak lama Muhammad memandangnya, lalu katanya: Mudah-mudahan Tuhan membinasakan mereka! Orang tua kita digambarkan mengundi dengan azlam! Apa hubungannya Ibrahim dengan azlam'? Ibrahim bukan orang Yahudi, juga bukan orang Nasrani. Tetapi ia adalah seorang hanif (yang murni imannya), yang menyerahkan diri kepada Allah dan bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Sedang malaikat-malaikat yang dilukiskan sebagai wanita-wanita cantik, gambar-gambar itu oleh Muhammad disangkal samasekali, sebab malaikat-malaikat itu bukan laki-laki dan bukan perempuan. Lalu diperintahkannya supaya gambar-gambar itu dihancurkan. Berhala-berhala sekeliling Ka'bah yang disembah oleh Quraisy selain Allah, telah dilekatkan dengan timah di sekeliling Ka'bah. Demikian juga berhala Hubal yang berada didalamnya. Dengan tongkat di tangan Muhammad menunjuk kepada berhala-berhala itu semua seraya berkata: "Dan katakanlah : yang benar itu sudah datang, dan yang palsu segera menghilang; sebab kepalsuan itu pasti akan lenyap." (Qur'an, 17: 81)   Berhala-berhala itu kemudian disungkurkan dan dengan demikian Rumah Suci itu dapat dibersihkan. Pada hari pertama dibebaskannya mereka itu, Muhammad telah dapat menyelesaikan apa yang dianjurkannya sejak duapuluh tahun itu, dan yang telah ditentang oleh Mekah dengan mati-matian. Dihancurkannya berhala-berhala dan dihapuskannya paganisma dalam Rumah Suci itu disaksikan oleh Quraisy sendiri. Mereka melihat berhala-berhala yang mereka sembah dan disembah oleh nenek-moyang mereka itu samasekali tidak dapat memberi kebaikan atau bahaya buat mereka sendiri. Pihak Anshar dari Medinah telah menyaksikan semua kejadian itu. Mereka melihat Muhammad yang berdoa di atas gunung Shafa. Terbayang oleh mereka sekarang bahwa ia pasti akan meninggalkan Medinah dan kembali ke tempat tumpah darahnya semula yang kini telah dibukakan Tuhan. Mereka berkata satu sama lain: "Menurut pendapat kamu, adakah Rasulullah s.a.w. akan menetap di negerinya sendiri?" Mungkin kekuatiran mereka itu beralasan sekali. Ini adalah Rasulullah, dan di Mekah ini Rumah Suci Baitullah dan di Mekah ini pula Mesjid Suci.   Tetapi setelah selesai berdoa Muhammad bertanya kepada mereka: Apa yang mereka katakan itu. Setelah diketahuinya akan kekuatiran mereka yang mereka sampaikan dengan agak maju mundur itu, ia berkata: "Berlindunglah kita kepada Allah! Hidup dan matiku akan bersama kamu." Dengan itu ia telah memberikan teladan kepada orang tentang keteguhannya memegang janji pada Ikrar 'Aqaba serta kesetiannya kepada sahabat-sahabatnya yang seiring sepenanggungan di kala menderita, teladan yang takkan dapat dilupakan, baik oleh tanah air, oleh penduduk atau pun oleh Mekah sebagai Tanah Suci.   ***   Setelah berhala-berhala itu dibersihkan dari Ka'bah, Nabi menyuruh Bilal menyerukan azan dari atas Ka'bah. Sesudah itu orang melakukan sembahyang bersama dan Muhammad sebagai imam. Sejak saat itu, sampai masa kita sekarang ini, selama empatbelas abad, tiada pernah terputus Bilal dan pengganti-pengganti Bilal terus menyerukan azan, lima kali setiap hari, dari atas mesjid Mekah. Sejak saat itu, selama empatbelas abad sudah, kaum Muslimin menunaikan kewajiban salat kepada Allah dan selawat kepada Rasul, dengan menghadapkan wajah, kalbu dan seluruh pikiran kepada Allah semata, dengan menghadap Rumah Suci ini, yang pada hari pembebasannya itu oleh Muhammad telah dibersihkan dari patung-patung dan berhala-berhala.   Atas apa yang telah terjadi itu baru sekarang Quraisy mau menerima, dan mereka pun sudah yakin pula akan pengampunan yang telah diberikan Muhammad kepada mereka. Mereka melihat Muhammad dan Muslimin yang ada di sekitarnya sekarang dengan mata penuh takjub bercampur cemas dan hati-hati sekali. Namun sungguhpun begitu ada sekelompok manusia terdiri dari tujuhbelas orang, oleh Muhammad telah dikecualikan dari pengampunannya itu. Sejak ia memasuki Mekah, sudah dikeluarkan perintah supaya mereka itu, golongan laki-lakinya dibunuh, meskipun mereka sudah berlindung ke tirai Ka'bah. Diantara mereka itu ada yang bersembunyi dan ada pula yang sudah lari. Keputusan Muhammad supaya mereka dibunuh bukan didorong oleh rasa dengki atau karena marah kepada mereka, melainkan karena kejahatan-kejahatan besar yang mereka lakukan. Ia tidak pernah mengenal rasa dengki. Diantara mereka itu terdapat Abdullah b. Abi's-Sarh, orang yang dulu sudah masuk Islam dan menuliskan wahyu, kemudian berbalik murtad menjadi musyrik di pihak Quraisy dengan menggembor-gemborkan bahwa dia telah memalsukan wahyu itu waktu ia menuliskannya. Juga Abdullah b. Khatal, yang dulu sudah masuk Islam kemudian sesudah ia membunuh salah seorang bekas budak ia berbalik menjadi musyrik dan menyuruh kedua budaknya yang perempuan - Fartana dan temannya - menyanyi-nyanyi mengejek Muhammad. Dia dan kedua orang itu juga dijatuhi hukuman mati. Di samping itu 'Ikrimah b. Abi Jahl, orang yang paling keras memusuhi Muhammad dan kaum Muslimin dan sampai waktu Khalid bin'l-Walid datang memasuki Mekah dari jurusan bawah itu pun tiada henti-hentinya ia mengadakan permusuhan.   Sesudah memasuki Mekah pun Muhammad sudah mengeluarkan perintah jangan sampai ada pertumpahan darah dan jangan ada seorang pun yang dibunuh, kecuali kelompok itu saja. Oleh karena itu, mereka suami isteri lalu menyembunyikan diri, ada pula yang lari. Tetapi setelah keadaan kembali aman dan tenteram, dan orang melihat betapa Rasulullah berlapang dada dan memberikan pengampunan yang begitu besar kepada mereka, ada beberapa orang sahabat yang minta supaya mereka yang sudah dijatuhi hukuman mati itu juga diberi pengampunan. Usman bin 'Affan - yang masih saudara susuan dengan Abdullah b. Abi's-Sarh - juga datang kepada Nabi, memintakan jaminan pengampunan. Seketika lamanya Nabi diam. Kemudian katanya: "Ya" Dan dia pun diampuni. Sedang Umm Hakim (bint'l-Harith b. Hisyam) telah pula memintakan kepada Muhammad jaminan pengampuhan buat suaminya, 'Ikrima b. Abi Jahl yang telah lari ke Yaman. Dia ini pun diampuni. Wanita itu kemudian pergi menyusul suaminya dan dibawanya kembali menghadap Nabi. Demikian juga Muhammad telah memaafkan Shafwan b. Umayya, orang yang telah menemani 'Ikrima lari ke jurusan laut dengan tujuan hendak ke Yaman. Kedua orang itu dibawa kembali tatkala perahu yang hendak membawa mereka sudah siap akan berangkat. Juga Hindun, isteri Abu Sufyan, yang telah mengunyah hati Hamzah - paman Rasul sesudah gugur dalam perang Uhud - telah dimaafkan, disamping orang-orang lain yang tadinya sudah dihukum mati, semuanya dimaafkan. Yang dibunuh hanya empat, yaitu Huwairith yang telah menggangu Zainab puteri Nabi sepulangnya dari Mekah ke Medinah, serta dua orang yang sudah masuk Islam lalu melakukan kejahatan dengan mengadakan pembunuhan di Medinah dan kemudian melarikan diri ke Mekah berbalik meninggalkan agamanya menjadi musyrik dan dua orang budak perempuan Ibn Khatal, yang selalu mengganggu Nabi dengan nyanyian-nyanyiannya. Yang seorang dari mereka ini lari, dan yang seorang lagi diberi pengampunan. Keesokan harinya setelah hari pembebasan itu ada seseorang dari pihak Hudhail yang masih musyrik oleh Khuza'a dibunuh. Nabi marah sekali karena perbuatan itu, dan dalam khotbahnya di hadapan orang banyak ia berkata:   "Wahai manusia sekalian! Allah telah menjadikan Mekah ini tanah suci sejak Ia menciptakan langit dan bumi. Ia suci sejak pertama, kedua dan ketiga, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, orang yang beriman kepada Allah dan kepada Hari Kemudian tidak dibenarkan mengadakan pertumpahan darah atau menebang pohon di tempat ini. Tidak dibenarkan kepada siapa pun sebelum aku, dan tidak dibenarkan kepada siapa pun sesudah aku ini. Juga aku pun tidak dibenarkan marah kepada penghuni daerah ini hanya untuk saat ini saja, kemudian ia kembali dihormati seperti sebelum itu. Hendaklah kamu yang hadir ini memberitahukan kepada yang tidak hadir. Kalau ada orang yang mengatakan kepadamu bahwa Rasulullah telah berperang di tempat ini, katakanlah bahwa Allah telah membolehkan hal itu kepada RasulNya, tapi tidak kepada kamu sekalian, wahai orang-orang Khuza'a! Lepaskanlah tangan kamu dari pembunuhan, sebab sudah terlalu banyak; itu pun kalau ada gunanya. Kalau kamu sudah membunuh orang, tentu aku juga yang akan menebusnya. Barangsiapa ada yang dibunuh sesudah ucapanku ini; maka keluarganya dapat memilih satu dari dua pertimbangan ini: kalau mereka mau, dapat menuntut darah pembunuhnya; atau dengan jalan diat."   Sesudah itu kemudian ia mendiat (memampas) keluarga orang yang dibunuh oleh Khuza'a itu. Dengan khotbah itu serta sikapnya yang begitu lapang dada dan suka memaafkan, hati penduduk telah begitu tertarik kepada Muhammad yang tadinya di luar dugaan mereka. Dengan demikian pula orang telah beramai-ramai masuk Islam.   "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kemudian setiap berhala dalam rumahnya hendaknya dihancurkan," demikian kemudian suara orang menyerukan.   Kemudian dikirimnya serombongan orang dari Khuza'a untuk memperbaiki tiang-tiang sekitar Tanah Suci itu, suatu hal yang menunjukkan betapa besar penduduk Mekah itu menghormati tempat ini, dan yang menambah pula kecintaan mereka kepadanya. Setelah diberitahukan bahwa mereka adalah masyarakat yang patut dicintai dan bahwa ia tidak akan membiarkan atau meninggalkan mereka, kalau tidak karena mereka yang mengusirnya, kecintaan mereka terasa makin besar kepadanya.   Ketika itu Abu Bakr datang membawa ayahnya - yang dulu pernah mendaki gunung Abu Qubais waktu ada pasukan berkuda - ke hadapan Nabi. Melihat orang itu Muhammad berkata:   "Kenapa orang tua ini tidak tinggal saja di rumah; biar saya yang datang kesana."   "Rasulullah," kata Abu Bakr, "sudah pada tempatnya dia yang datang kepadamu daripada engkau yang mendatanginya."   Orang tua itu oleh Nabi dipersilakan duduk dan dielus-elusnya dadanya; kemudian katanya:   "Sudilah menerima Islam."   Kemudian ia pun menyatakan diri masuk Islam dan menjadi orang Islam yang baik. Akhlak Nabi yang tinggi dan cemerlang inilah yang banyak menawan hati bangsa itu. Bangsa yang tadinya begitu keras melawan Muhammad, sekarang mereka sangat mencintai dan menghormatinya. Kini orang-orang Quraisy itu, laki-laki dan perempuan, sudah menerima Islam dan sudah pula memberikan ikrarnya.   Limabelas hari Muhammad tinggal di Mekah. Selama itu pula keadaan Mekah dibangunnya dan penduduk diajarnya mendalami hukum agama. Dan selama itu pula regu-regu dakwah dikirimkan untuk mengajarkan Islam, bukan untuk berperang, dan untuk menghancurkan berhala-berhala tanpa pertumpahan darah. Khalid bin'l-Walid waktu itu sudah berangkat ke Nakhla untuk menghancurkan 'Uzza - berhala Banu Syaiban. Tetapi setelah berhala itu dihancurkan dan Khalid berada di Jadhima, begitu mereka melihatnya, mereka pun segera mengangkat senjata. Oleh Khalid mereka diminta supaya meletakkan senjata, orang semua sudah masuk Islam. Salah seorang dari Banu Jadhima berkata kepada golongannya: "Hai Banu Jadhima! Celaka kamu! Itu Khalid. Sesudah perletakan senjata tentu kita ditawan dan sesudah penawanan potong leher."   Tetapi golongannya itu menjawab:   "Maksudmu kita akan menumpahkan darah kita? Orang semua sudah masuk Islam, perang sudah tidak ada, orang sudah aman."   Sesudah itu terjadi perletakan senjata. Ketika itulah dengan perintah Khalid mereka dibelenggu, kemudian dibawai pedang dan sebagian mereka ada yang dibunuh.   Apabila kemudian berita itu sampai kepada Nabi ia mengangkat tangan ke langit seraya berdoa:   "Allahumma ya Allah! Aku bermohon kepadaMu lepas tangan dari apa yang telah diperbuat oleh Khalid bin'l-Walid itu."   Sesudah itu Ali b. Abi Talib yang diutus dengan pesan:   "Pergilah kepada mereka dan lihat bagaimana keadaan mereka. Cara-cara jahiliah harus kauletakkan di bawah telapak kakimu."   Ali segera berangkat dengan membawa harta yang oleh Nabi diserahkan kepadanya. Sesampainya di tempat itu diat dan pampasan sebagai tebusan darah dan harta-benda yang telah dirusak, diserahkan kepada mereka, sehingga semua tebusan darah dan pampasan harta-benda itu selesai dilaksanakan. Sedang uang selebihnya yang diserahkan Rasulullah kepadanya itu, semua diserahkan juga kepada mereka, untuk menjaga maksud Rasulullah, kalau-kalau ada yang belum diketahuinya.   Dalam waktu dua minggu selama Muhammad tinggal di Mekah semua jejak paganisma sudah dapat dibersihkan. Jabatan dalam Rumah Suci yang sudah pindah kepada Islam sampai pada waktu itu ialah kunci Ka'bah, yang oleh Nabi diserahkan kepada Uthman b. Talha dan sesudah dia kepada anak-anaknya, yang tidak boleh berpindah tangan, dan barangsiapa mengambilnya orang itu aniaya adanya. Sedang pengurusan Air Zamzam pada musim haji di tangan pamannya Abbas.   Dengan demikian seluruh Mekah sudah beriman, panji dan menara tauhid sudah menjulang tinggi dan selama berabad-abad dunia sudah pula disinari cahayanya yang berkilauan.   Catatan kaki:   1 Sejauh empat farsakh dan Mekah. 2 Beberapa penulis sejarah Nabi berpendapat, bahwa Abbas menemui pasukan itu di Rabiqh. Yang lain mengatakan, bahwa ia pergi ke Medinah sebelum ada keputusan membebaskan Mekah. kemudian ia berangkat bersama-sama pasukan pembebas itu. Tetapi banyak orang membantah sumber ini dan diduga itu dibuat untuk menyenangkan hati dinasti Abbasiya, yang penulisannya pertama dilakukan pada masa mereka. Alasan ini mereka perkuat bahwa Abbas - yang membela saudara sepupunya selama di Mekah itu - tidak juga menganut agamanya, sebab Abbas adalah seorang pedagang dan juga menjalankan riba, dikuatirkan Islam akan mengganggu perdagangannya. Ditambah lagi, bahwa dialah orang pertama yang akan dijumpai oleh Abu Sufyan untuk diajak bicara mengenai perpanjangan perjanjian Hudaibiya, mengingat ia belum seberapa lama meninggalkan Mekah. 3 Sebangsa keledai, turunan kuda dengan keledai. Di sini baghla, bagal betina (A). 4 Lihat halaman 326. 5 Asalnya: mihjan sebatang tongkat yang hulunya berkeluk. 6 Al-azlam (jamak zalam dan zulam) yaitu qid-h (atau anak panah tanpa kepala dan bulu) suatu kebiasaan yang berlaku pada zaman jahiliah. Pada anak panah itu tertulis kata perintah dan larangan: "kerjakan!" dan "Jangan dikerjakan!" Benda itu dimasukkan orang ke dalam sebuah tabung. Apabila orang hendak melakukan perjalanan, perkawinan atau sesuatu yang penting lainnya, ia memasukkan tangannya kedalam tabung itu setelah diperkenankan dan dikocok, dan sebuah zalam dicabutnya. Kalau yang keluar berisi "perintah" ia boleh terus melaksanakan; kalau yang keluar berisi "larangan" ia harus membatalkan maksudnya. Mengundi dengan anak panah ini ialah guna mengetahui baik buruknya nasib seseorang.   --------------------------------------------- S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D   oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah   Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980   Seri PUSTAKA ISLAM No.1 http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Bebas3.html#512 ======================================= Life History of Muhammad: EXEMPTION Mecca by Muhammad Husayn Haykal September 9, 2010 - erzal | Edit Life History of Muhammad by Muhammad Husayn Haykal Twentieth PART FOUR: EXEMPTION Mecca (3 / 3) Muhammad Husayn Haykal But Muhammad, but the Prophet, but the Messenger of Allah, not the man who knows the feud, or which would generate enmity among mankind! He's not a tyrant, not want to show the people in power. God has give relief to him in the face of the enemy, and in ability that he gave forgiveness. With that, the the whole world and all the generations he has given exemplary about kindness and firmness to keep promises, about freedom of the soul that has never achieved by anyone! When Muhammad later entered the Kaaba, he saw walls painted with the Kaaba is full pictures of angels and the prophets. Abraham saw that is depicted holding the allotted azlam6, he saw a pigeon sculpture made from wood. Destruction the statue with his own hands and cast into soil. When she saw the picture a little old Mohammed Ibrahim look at him, then he said: Hopefully you destroy them! Our parents were portrayed with azlam raffle! What Ibrahim relationship with azlam '? Abraham was not Jewish, nor Christians. But he is an upright (which pure faith), who gave himself up to God and not including those who ascribe to God. Medium the angels are depicted as women beautiful drawings by Muhammad denied altogether, because it is not angels and not men women. Then he ordered that the drawings destroyed. Idols of worship around the Kaaba by Quraysh other than God, has been attached with tin around the Kaaba. Similarly situated idol Hubal therein. With a stick in his hand pointing to Muhammad that all the idols, saying: "And say: it has come true, and false soon disappear because their falsity must be dissolved. " (Qur'an, 17: 81) Idols were then disungkurkan and thus Holy house can be cleaned. On the first day release them, Muhammad has been able to complete what dianjurkannya since twenty years, and that has been challenged by Mecca with death. Destruction idols and the abolition of the Houses of the Holy paganisma It was witnessed by the Quraish themselves. They see the idols they worship and worshiped by their ancestors were utterly unable to give goodness or create their own hazards. Ansar of Medina Party has witnessed all the events it. They saw Muhammad who prayed on Mount Safa. Imagined by those present that he would have left Medina and returned to where his blood spilled which has now opened the original God. They said to one another: "According to your opinion, is there the Holy Prophet will be settled in his own country? "Perhaps they fear it was very reasonable. This is the Messenger of Allah, and in this Mecca Houses of the Holy House in Mecca and is also the Holy Mosque. But after praying Muhammad asked them: What did they say it. Once they understood they convey their concerns with a little forward retreat, he said: "shelter us to God! Life and my death will be with you. "With that he has give an example to the people of steadfastness holding appointment on Pledge 'Aqaba as well as loyalty to companions are in line at a time when sepenanggungan suffering, a model that will not be forgotten, either by ground water, by the resident or even by the Mecca as the Land Holy. *** After it cleared the idols from the Kaaba, the Prophet Bilal made the call to prayer from the Kaaba. Thereafter people do pray together and Muhammad as a priest. Since then, until our own time, during fourteenth century, and nothing ever interrupted Bilal Bilal continues to substitute-substitute called Adhan, five times every day, from the mosques of Mecca. Since then, during fourteenth century already, the Muslims fulfill obligations invocation prayers to Allah and the Messenger, with exposes the face, heart and whole mind to God only, with facing this Holy House, which on the day by Muhammad's release had been cleared of statues and idols. For what has happened is only now willing Quraishi receive, and they were already convinced also of the forgiveness Muhammad has been given to them. They see Muhammad and the Muslims around him now with eyes full of astonishment mingled with anxiety and caution. Yet though so there is a group consisting of human seventeen people, by Muhammad have been excluded from pardon that. Since he entered Mecca, has been issued the order that they might, the group assassinated brother, although they have shelter to curtain the Kaaba. Among they had nothing to hide and some are already running. Muhammad's decision that they should be killed rather than driven by a sense of envy or anger to them, but because major crimes that they did. He never familiar sense of envy. Among them there was' Abdullah b. Abi's-Sarh, who had already converted to Islam and to write revelation, then turned into idolatrous apostasy on the part of Quraysh with menggembor rant that he had falsified revelation that when he wrote it. Also Abdullah b. Khatal, who had already embraced Islam and then after he kills one he was a former slave turned into idolatrous and ordered two slaves are women - Fartana and her friend - singing mocking Muhammad. He and two men also was sentenced to death. In addition, 'Ikrimah b. Abi Jahl, the people most hostile to Muhammad and the hard Muslims and until the time-Walid Khalid bin'l come into Under the direction of Mecca from nothing stopping him conduct of hostilities. After entering Mecca, Muhammad had already issued a orders not to get the bloodshed and do not exist one was killed, except that group only. By Hence, they are husband and wife, and hid themselves, there also ran. But after the situation returned safe and peaceful, and people see how the Messenger of charitable chest and giving forgiveness is so great to them, there are some people who asked that their friends already sentenced to death were also given a pardon. Usman bin 'Affan - which is still with the milk brother' Abdullah b. Abi's-Sarh - also came to the Prophet, asked for assurance remission. Instantaneous length of the Prophet was silent. Then he said: "Yes" And he was forgiven. Medium Umm Hakim (bint'l-Harith b. Hisham) has also requested to Muhammad guarantee pengampuhan for her husband, 'Ikrima b. Abi Jahl who have fled to Yemen. He was also pardoned. She then went followed her husband and brought back to face the Prophet. Similarly, Muhammad had forgiven Shafwan b. Umayya, people who have accompanied the 'Ikrima run to the sea with majors purpose of going to Yemen. Both men were taken back when wishing to bring their boats were ready to leave. Hindun Also, the wife of Abu Sufyan, who had been munching hearts Hamza - uncle of the Messenger after the fall in the battle of Uhud - has been forgiven, in addition to others that had already sentenced to death, all is forgiven. Which killed only four, ie who has been disrupting Huwairith Prophet's daughter Zainab returning from Mecca to Medina, and two people who were converted to Islam and then committing crimes by conducting murder in Medina and later fled to Mecca turned to leave his religion become idolatrous and two Ibn Khatal female slave, who always disrupt the Prophet with hymn-singing. Which one of them is running, and the other one was given a pardon. The next day after the day of liberation that there is someone Hudhail party that still polytheists by Khuza'a murdered. The Prophet was very angry because of what it was, and in his sermon in front of the crowd he said: "O people all! God has made this Mecca holy land since He created the heavens and the earth. He is holy since The first, second and third, until the Day of Judgement. Because of , people who believe in Allah and the Hereafter unjustifiable bloodshed entered into or cut down trees in this place. Not justified to anyone before I was, and is not allowed to anyone after me this. I also was not justified anger to the residents of this area only for the moment only, then he returned respected like before that. You shall be in attendance this notify the absent. If anyone tell you that the Prophet had fought in places This, say that God has enabled it to Apostles, but not to you, O people Khuza'a! Deliver your hands from the murder, because it was too much, that is, if no good. If you already kill people, surely I will redeem it. Anyone there who were killed after these words; then families can choose one of these two considerations: if they wish, can demand the blood of the murderer; or with the way blood money. " After that then he mendiat (memampas) families who Khuza'a killed by it. With the sermon and the attitude who was so gracefully and like to forgive, liver resident have been so attracted to Muhammad who was outside the their expectations. With so people have been abuzz converted to Islam. "Whoever believes in Allah and the Hereafter every idols in his house should be destroyed, "thus then the sound of people calling. Then sent to a group of people from Khuza'a fix the poles around the Holy Land, a thing shows how big the population of Mecca was respected place This, and also adding to their love for him. Once notified that they are the people who should be loved and that he will not allow or leave them, if not because of their away, they feel greater love for him. When it was Abu Bakr came with his father - who once Abu Qubais time hiking there cavalry - to the presence of the Prophet. Saw the man Muhammad said: "Why do these parents do not live alone at home, let me who come there. " "Prophet," Abu Bakr said, "is in place he is come to you instead of you who came to him. " The old man seated by the Prophet-stroked and caressed chest; then he said: "Please accept Islam." Then he declared himself converted to Islam and became a man A good Muslim. Prophet of high morals and this bright that captivates many people. Nations that had been so hard against Muhammad, now they are very loved and respected him. Now the people of Quraysh, the male and female, had accepted Islam and was also gives pledge. Fifteen days of Muhammad lived in Mecca. During that period Mecca and the construction of a state population induced deepens religious law. And during the same mission teams sent to teach Islam, not for war, and for destroy the idols without bloodshed. Khalid bin'l-Walid was time to go to Nakhla destroy 'Uzza - Banu Syaiban idols. But after idols were destroyed and Khalid was in Jadhima, so they see it, they were immediately picked up the weapon. By Khalid demanded that they lay down their arms, people all already converted to Islam. One of the Banu Jadhima said to the faction: "O Banu Jadhima! Alas ye! It Khalid. After placement of weapons captured, and we certainly captivity after cutting his neck. " But the faction's answer: "You mean we will shed our blood? People all have converted to Islam, the war is gone, people were safe. " After that happened placement of weapons. When that's the Khalid ordered them put in chains, swords and then dibawai some of them were killed. If later the news reached the Prophet he raised hands to heaven as he prayed: "O God o God, I beg of Thee a hands-off what has been done by Khalid Walid bin'l-it. " After that Ali b. Abi Talib who was sent with the message: "Go to them and see how they do. The ways of ignorance must kauletakkan under your feet. " Ali immediately set out to bring the treasures of the Prophet submitted to him. Arriving at the place and the blood money reparations as a ransom of blood and property that have been destroyed, handed over to them, so all the ransom blood and booty that property is completed. Remaining money was handed over to the Prophet , all submitted also to them, to maintain mean Messenger of Allah, in case anyone did not already know. Within two weeks during Muhammad lived in Mecca all paganisma traces can already cleaned. Position in the House Saint who had moved to Islam until the time is the key to the Kaaba, which the Prophet delivered to Uthman b. Talha and after he told his children, that should not be changed hands, and whoever took that person mayhem there. Zamzam Water management was at the annual hajj pilgrimage in the hands of his uncle Abbas. Thus the whole of Mecca has been faithful, banners and tower tawhid already soaring world for centuries has also illuminated the sparkling light. Notes: 1 So far four farsakh and Mecca. 2 Some authors argue the Prophet's history, that Abbas to meet troops in Rabiqh. Other said that he went to Medina before there liberate decision Mecca. then he left together forces were liberators. But many people sources denied this and alleged it was made for Abbasiya pleasing dynasty, which looks They first performed at the time. This reason they reinforces that Abbas - who defends his cousin while in Mecca was - not embracing his religion, because Abbas is a merchant, and also run usury, Islamic feared would disrupt trade. Plus, that he was the person The first will be found by Abu Sufyan to invited Hudaibiya talk about the extension agreement, considering how long he had to leave Mecca. 3 countryman donkeys, horses with donkeys derivatives. In baghla here, a female mule (A). 4 See page 326. 5 Originally: mihjan the upstream rod curves. 6 Al-azlam (plural zalam and zulam) ie qid-h (or arrows without heads and feathers), a habit which prevailing at the time of ignorance. At the arrow written orders and prohibitions said: "do!" and "Do not do!" It was inserted into the in a tube. If people want to do travel, marriage, or something important others, he put his hand in the tube after the permitted and whipped, and a zalam revocation. If the exit contains the "command" he should continue to implement, if the exit containing "Ban" meant he had to cancel. Raffle with arrows is that it is good to know bad luck man. --------------------------------------------- S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D by Muhammad Husayn Haykal translated from Arabic by Ali Audah Publisher JAYA CITED Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Fifth printing, 1980 ISLAMIC REFERENCES Series No.1 http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Bebas3.html # 512
     
    • wikki 7:50 am on 16/08/2012 Permalink | Reply

      banyak kalipun taqiyanya ……..kurangi sikit kenapasih…..

  • SERBUIFF 4:59 am on 29/01/2009 Permalink | Reply
    Tags: , , INJIL DICACHE Injil Perspektif Baru yang Terungkap di Yerusalem, INJIL DICACHE Injil Perspektif Baru yang Terungkap di Yerusalem Memuat 20 Butir Kabar Gembira Tentang Nabi Muhammad saw., , Memuat 20 Butir Kabar Gembira Tentang Nabi Muhammad saw., ,   

    INJIL DICACHE Injil Perspektif Baru yang Terungkap di Yerusalem, Memuat 20 Butir Kabar Gembira Tentang Nabi Muhammad saw. 

    INJIL DICACHE Injil Perspektif Baru yang Terungkap di Yerusalem, Memuat 20 Butir Kabar Gembira Tentang Nabi Muhammad saw. PENGANTAR PENERBIT NABI Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penyempurna akhlak (etika), rahmat bagi alam semesta serta penutup para Nabi dan Rasul. Hal ini tentu mempunyai indikasi yang kuat; baik tentang kabar gembira mengenai kedatangannya yang telah disampaikan oleh Nabi-nabi terdahulu, maupun bukti-bukti kebenarannya. Bumi berputar, waktu bergulir dan zaman telah berubah, namun bukti-bukti yang sangat menakjubkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah surut, bahkan semakin kuat. Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihissalam selalu menekankan tentang akan datangnya Nabi yang diimpi­impikan untuk membebaskan dunia dan bangsa-bangsa dari penindasan dan kezhaliman. Di dalam lima Kitab Taurat yang menyebutkan tentang nubuat-nubuat, semuanya menunjuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi, Nabi yang dinanti-nanti itu bukan Nabi Isa Alaihissalam, melainkan beliau adalah Nabi yang agung yang diutus oleh Tuhan pada waktunya untuk menyampaikan kabar gembira tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia dan Yahya-yang terkenal di kalangan Kristen dengan nama Yohanes Pembaptis – Alaihissallam, bukan Al-Masih Pemimpin. Keduanya adalah AI-Masih biasa. Berangkat dari sinilah DR. Ahmad Hijazi As-Saqa terpanggil untuk mengangkat dan membahas tentang Injil Didache. fa menjelaskan keshahihan Injil Didache seperti sebelumnya, menjelaskan keshahihan Injil Barnabas. Pertanyaannya kemudian, kenapa harus INJIL DIDACHE? Apa urgensinya membahas Injil ini dan di mana letak relevansinya dengan bukti kebenaran Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam? Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dimuat dalam majalah “Al-Muqtathaf” ini, memuat tentang “Dua Puluh Butir Kabar Gembira” tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Baik penulis INJIL DIDACHE maupun pengkaji Injil tersebut mempunyai keyakinan seperti itu bukannya tanpa bukti, karena mereka mempunyai beberapa data yang valid tentang kabar gembira itu. Mulai dari pembahasan kabar gembira pertama tentang kerajaan surga sampai kabar gembira kedua puluh tentang permohonan kepada Tuhan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya, semuanya menguatkan eksistensi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Selain itu penuLis juga memaparkan bukti-bukti kongkrit tentang validitas kabar gembira itu, di antaranya: Pertama, semua kitab samawi (baik Taurat maupun Injil) menyebutkan bahwa Al-Masih Pemimpin adalah sosok yang mampu meruntuhkan Kekaisaran Romawi. Sedangkan tidak ada di antara Nabi Musa dan Isa Alaihissalam yang mengalahkan Kekaisaran Romawi, melainkan keruntuhannya pada zaman Nabi Muhammad. Kedua, Injil Didache tidak menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah Nabi yang akan diutus di akhir zaman. la justru menyebutkan bahwa penganut Kristen yang tidak mengimani Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam akan dikutuk, sedangkan penganut Kristen yang mengimaninya akan menjadi orang kudus (suci). Ketiga, Sebutan orang Kristen (AI-Masihi) baru diberikan kepada murid-murid Yesus (An-Nashara) setelah AI-Kitab diubah pada Konsili Niqiyyah tahun 325 M. Sebab, berdasarkan bahasa mereka, Al-Masih adalah julukan bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta di dalam Injil Matius: 23 dan seterusnya, Isa Alaihissalam juga mengabarkannya dengan julukan AI-Masih. Pada waktu itu, para pengikut Yesus disebut orang-orang Nasrani (Nashraniyyun), bukan orang-orang Kristen (Masihiyyun). Setelah AI-Kitab diubah, barulah mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Kristen. Dengan demikian, tidak disebutkannya kata `orang Kristen’ di dalam DIDACHE menunjukkan bahwa ia ditulis sebelum terjadi pengubahan terhadap AI-Kitab. Keempat, orang-orang Yahudi memberikan sebutan `Mesias’ atau `AI­Masih Pemimpin’ kepada Nabi yang ditunggu-tunggu yang akan datang seperti Musa. Mereka mengatakan bahwa julukan “Anak Tuhan” dan julukan `Tuhan’ di dalam Mazmur adalah julukan-julukan Nabi itu. Julukan “Anak Manusia” di dalam Kitab Daniel pun merupakan julukannya. Ingatah akan hal ini, dan ingatlah bahwa murid-murid Yesus sepakat akan hal ini. Kemudian, ingatlah bahwa Isa Alaihissalam di dalam Injil-injil Kanonik menolak julukan AI-Masih Pemimpin bagi dirinya, bahkan ia menafikan kedatangan AI-Masih Pemimpin dari kalangan orang-orang Yahudi. Dia menjelaskan bahwa Al-Masih Pemimpin itu akan datang dari Bani Ismail. Masih banyakbukti-bukti dan fenomena yang menunjukkan bahwa Nabi terakhir yang ditunggu-tunggu dan pemimpin para rasul adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang dieksplorasi dalam buku ini. Pembaca budiman, buku ini sangat bermanfaat bagi kita umat manusia untuk melacak otentisitas ajaran dan kebenaran tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Semoga kehadiran buku ini semakin menambah khasanah intelektual kita. Amin. Pustaka Al-Kautsar Prof. DR. Abdul Qadir Sayyid Ahmad Penulis Buku “Afalaa Yatadabbaruuna Al-Qur’an” dan Mantan Dekan FakuItas Farmasi Universitas Kairo SEGALA puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan di dalam diri mereka sendiri.” (Fushahilat: 53) Allah juga berfirman, “Katakanlah, Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah yang mengetahui rahasia di langit & di bumi.” (Al-Furqan: 6) Shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan orang-orang yang mengambil petunjuk dari ajarannya sampai Hari Kebangkitan. Risalah AI-Masih Alaihissalam adalah kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang disebarkannya kepada orang-orang Yahudi. Dia memilih Rasul-rasul di antara para pengikutnya untuk menyampaikan kabar itu ke pefbagai kota di Kerajaan Romawi dan sekitarnya.1] Pada saat itu, masyarakat­masyarakatYahudi di kota-kota Kerajaan Romawi dan sekitarnya memiliki rumah-rumah ibadah khusus. Di sanalah para orang-orang tua2] Yahudi mengajarkan Perjanjian Lama — yang mereka anggap Taurat — dan melaksanakan ritual-ritual doa mereka. Di kota-kota itu juga ada para penyembah berhala.3] Karena itulah, AI-Masih melarang keras para utusannya memakan daging binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Tuhan. Ketika memasuki suatu desa, para utusan itu segera menanyakan rumah-rumah ibadah orang-orang Yahudi, mencari ahli-ahli agamanya untuk berdiskusi tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan mendebat dengan sengit orang-orang yang menentang mereka. Penguasa dan penduduk setempat pun mengetahui perdebatan dan pertentangan di antara mereka itu, lalu meminta mereka semua datang untuk menjelaskan duduk perkaranya. Perdebatan itu dapat berlangsung selama berhari-hari, sampai semua orang mengetahui dakwah mereka. Jika para orang tua Yahudi setempat menerima dakwah mereka, maka mereka mendirikan perkumpulan gereja (majma’: synod) di sana. Sedangkan jika para orang tua itu menolak, mereka keluar dari kota tersebut dengan keyakinan telah menyampaikan risalah AI-Masih seperti yang mereka ketahui. Saya bertanya, apakah kitab-kitab Injil yang dipegang orang-orang Kristen ditulis pada masa hidupnya Al-Masih? Menurut mereka, Injil-injil itu ditulis setelah perang antara Titus dari Romawi dengan bangsa Yahudi pada tahun 70 Masehi. INJIL DIDACHE, yaitu ajaran AI-Masih Isa Alaihissalam kepada bangsa-bangsa4] tentang dakwahnya melalui para utusan, juga ditulis pada periode itu. Seperti yang mereka katakan, dan saya sepakat dengan mereka, Injil Matius yang asli telah hilang. Tetapi, INJIL DIDACHE yang asli tidak hilang, sehingga dari perspektif ini, ia dapat dianggap sebagai naskah yang sangat penting dan belum mengalami perubahan. Ahli-ahli agama Kristen di pelbagai negara telah mengkaji INJIL DIDACHE, namun belum ada seorang pun penulis muslim yang mengkajinya. Apabila kami membandingkan seorang penganut Kristen yang telah menulis kajian terhadap Injil ini dengan DR. Asy-Syaikh Ahmad Hijazi As­Saqa, catatan pertama yang dapat kami berikan adalah: kedua-duanya meyakini bahwa naskah ini membuktikan kebenaran pendapat mereka masing-masing, dan untuk itu keduanya telah memperlihatkan pengetahuan yang sangat luas. Di manakah posisi kaum muslimin saat Injil Bamabas dulu ditemukan? Zaman jelas telah berubah, dan zaman pun akan memperlihatkan bukti-bukti yang sangat menakjubkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. INJIL DIDACHE tidak menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah tuhan, selain Allah. Ia juga tidak menyatakan bahwa Isa Alaihissalam adalah Nabi yang akan diutus di akhir zaman. Doktrin inti ajaran Kristen, yaitu penebusan dosa manusia dengan darah AI-Masih, juga tidak disebutkan di dalam Injil ini. Ia justru menyebutkan kebalikannya, yaitu penganut Kristen yang tidak mengimani Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam akan dikutuk, sedangkan penganut Kristen yang mengimaninya akan menjadi orang kudus (suci). INJIL DIDACHE tidak terhindar dari pemotongan. Di dalam bagian yang berisi nubuat tentang akhir masa berlakunya syariat Yahudi, AI-Masih Alaihissalam menyebutkan nubuat-nubuat dari Perjanjian Lama tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun, naskah tersebut telah dipotong. Orang yang cerdas tentu paham, pemotongan keterangan tentang nubuat-nubuat itu demi tujuan-tujuan keagamaan tertentu. Injil ini membuktikan bahwa Injil Al-Masih yang dikutip oleh para penulis Injil telah hilang. la merujuk Injil AI-Masih dengan frase “Berdasarkan Injil.” Tapi, orang-orang Kristen menafsirkan frase tersebut – yang membuktikan AI-Kitab yang mereka yakini sebagai referensi agama itu telah hilang – sebagai perujukan kepada Injil Matius. Jika benar demikian, siapa sih sebenamya yang ada terlebih dahulu dan siapa yang belakangan? Apa mungkin Matius menjadi bukti bagi kebenaran AI-Masih? Seharusnya, Matiuslah yang meminta bukti kebenaran dirinya kepada AI­Masih. Penafsiran mereka tersebut membuat murid menjadi guru dan guru menjadi murid. Itu tidak berguna di dalam debat, sehingga dakwaan – Injil AI-Masih telah hilang – tetap tak terbantah. INJIL DIDACHE menjelaskan bahwa gereja-gereja didirikan untuk mengingatkan tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan perang yang akan dia lakukan dalam membinasakan orang-orang Yahudi yang mengingkarinya, dan para pendeta muncul untuk menyerukan keimanan kepadanya. Klaim orang-orang Kristen bahwa misi para pendeta itu adalah menyerukan kedatangan kembali Al-Masih, tidak dapat dibenarkan orang yang berakal. Sebab, kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam terjadi pada waktu runtuhnya kekuasaan Romawi di Palestina. Al­Masih tidak muncul pada saat kekaisaran Romawi itu runtuh, dan bukan dia yang meruntuhkannya, sementara di dalam kitab-kitab suci mereka disebutkan, berdirinya kerajaan Yahudi di Palestina tidak sah kecuali setelah Al-Masih muncul, dan hal itu terjadi setelah kekaisaran Romawi runtuh. INJIL DIDACHE sesuai dengan Keempat Injil – di samping dalam nubuat-nubuatnya tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ­ juga dalam seruan terhadap akhlakyang mulia, dan Al-Masih Alaihissalam adalah pembenar kitab suci yang telah ada. INJIL DIDACHE juga mempunyai kesesuaian dengan Injil Bamabas dalam hal-hal tersebut. Yang menarik, Barnabas meriwayatkan dari AI-Masih pengharaman makanan-makanan yang dipersembahkan bagi berhala. INJIL DIDACHE pun meriwayatkan demikian. Kedua Injil itu ditulis sebelum Paulus menghalalkan para pengikutnya untuk memakan daging persembahan bagi berhala. Hal ini membuktikan kebenaran dan ketuaan keduanya. Orang-orang Nasrani harus menerima kebenaran Injil Didache ini, lalu menyerahkan diri mereka kepada Tuhan semesta alam. Kita, kaum muslimin, menyeru mereka kepada agama Islam, agar kita mendapatkan pahala dua kali. Sekiranya kita tidak suka jika mereka mendapatkan kebaikan, maka klta akan membiarkan mereka dan tidak akan berdakwah kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Demikianlah kamu, menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab suci semuanya. Apabila mereka menjumpaimu, mereka berkata: Kami beriman, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadapmu.” (Ali Imran: 119 118) DR. Ahmad Hijazi As-Saqa tidak menyimpan-nyimpan tenaga dalam menetapkan kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dari dalam kitab-kitab suci para Ahlul Kitab. Beliau menjelaskan keshahihan INJIL DIDACHE seperti sebelumnya, menjelaskan keshahihan Injil Bamabas. Kami berdoa semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas upaya beliau tersebut. INJIL DIDACHE diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dimuat dalam majalah “AI-Muqtathaf,” dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengilhami beliau untuk mengetahui Injil ini dikarenakan hikmah yang diketahui oleh-Nya saja. Akhirnya, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat iman dan Islam. Semoga Allah membimbing dan meluruskan kita dan kaum muslimin semuanya. “Saya hanya menginginkan usaha perbaikan selama saya masih berkesanggupan. Tidak ada bimbingan bagi saya melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah saya bertawakkal dan kepada­Nyalah saya kembali.” (Hud:88) Prof. DR. Abdul Qadir Sayyid Ahmad Mantan Dekan Fakultas Farmasi Universitas Kairo 1.Murid-murid Yesus adalah Simon yang juga diberinya nama Petrus, Andreas saudara Simon, Yakobus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Simon yang disebut orang sebagai Zealot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iscariot. Lihat Lukas, 6: 13-16. – Penj. 2.Para orang tua, atau para tetua, adalah tesjemahan dari kata’ulama, mereka adalah para pemimpin agama Yahudi.-Penj. 3.Terkadang penerjemah menggunakan ungkapan orang-orang yang fidak mengenal Tuhan untuk kata watsaniyyun (para penyembah berhala).-Penj. 4.Yang, dimaksud dengan bangsa-bangsa, atau gentile, adalah orang-orang non-Yahudi. Penj PENDAHULUAN Bismillahirrohmanirrahim Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan alam semesta. Shalawat dan salam kepada “Sang Penutup” para Nabi, keluarganya, dan semua sahabatnya. Injil-injil Muqaddas menurut orang-orang Kristen ada empat, yaitu Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Pernah muncul sebuah Injil yang mereka tolak, yaitu Injil Bamabas, karena di dalamnya disebutkan bahwa “Nabi Muhammad adalah Rasulullah (utusan Tuhan).” Sekarang muncul Injil baru, serupa dan setua Injil Bamabas, yaitu INJIL DIDACHE. Kami memandang perlu memunculkannya di perpustakaan­perpustakaan Islam, karena orang-orang Kristen telah memunculkannya di perpustakaan-perpustakaan mereka. Mereka mengatakan, di akhir Injil ini terdapat kekurangan -dan kekurangan itu disengaja- tepatnya pada pembicaraan Al-Masih Alaihissalam tentang “Nabi yang akan datang setelah dirinya” untuk mendirikan Kerajaan Surga. Mereka menafsirkan bahwa Nabi yang akan datang itu adalah AI-Masih Isa bin Maryam pada kedatangannya di akhir zaman. Siapa yang akan percaya bahwa Isa akan turun di akhir zaman, sementara ia membaca di dalam Injil Yohanes, “Saya tidak akan kekal di dunia, sedangkan mereka akan tetap ada di dunia. Saya akan datang kepada Bapa, dan kalian tidak akan melihat saya.” Di dalam terjemahan­nya yang lain, “Saya tidak ada lagi di dalam dunia, sedangkan mereka masih ada di dalam dunia.” (Yohanes 17: 11) “Saya pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat saya lagi.” (Yohanes 16:10) Di dalam Taurat, Kerajaan Surga berdiri setelah kekuasaan Kekaisaran Romawi di Tanah Palestina runtuh. Ia runtuh pada Yaum Ar­Rabb (Hari Tuhan) di tangan kaum muslimin pada zaman Umar bin Al­Khathab Radhiyallahu Anhu pada Perang Armagedon yang dikenal juga dengan Perang Yarmuk. Nabi Isa Alaihissalam berpesan kepada orang-orang yang hendak berdoa untuk membaca, “Bapa kami yang ada di surga. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu…” Demikian di dalam INJIL DIDACHE. “Wahai Bapa, Tuhan kami. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu pada kami…” Demikian di dalam Injil Barnabas. “Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan­Mu ….” Demikian di dalam Injil Lukas. “Bapa kami di surga. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan­Mu ….” Demikian di dalam Injil Matius. Jadi, INJIL DIDACHE, Bamabas, Lukas, dan Matius sepakat bahwa Kerajaan Surga datang setelah Nabi Isa Alaihissalam. Waktu kedatang­annya pun ditentukan, yaitu di akhir masa Kekaisaran Romawi. Kaum muslimin telah meruntuhkan kekaisaran itu. Jadi, mengapa orang-orang Yahudi dan Kristen beromong kosong dengan mengatakan bahwa Kerajaan Surga belum datang?! Hari Tuhan Di dalam Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi dijelaskan bahwa Nabi yang ummi (tidak bisa baca-tulis), yang datang setelah Musa, akan melancarkan perang terhadap orang-orang Yahudi yang mengingkarinya, dan membinasakan mereka pada hari-hari pertama kemunculannya. AI­Masih Isa Alaihissalam memerintahkan para pengikutnya untuk berjaga­jaga dan bersiap-siap demi hari tersebut, supaya mereka tidak binasa. la pun membuat peringatan agar mereka tidak melupakan hari itu, yaitu dengan mengadakan perkumpulan secara teratur, sambil membawa roti dan mengucapkan doa-doa bagi Tuhan, lalu memotong-motong dan membagi-bagikannya, membawa anggur serta mengucapkan doa-doa bagi Tuhan, lalu membagi-bagikannya, sebagaimana dilakukan para sufi muslim pada saat berkumpul untuk berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa-doa tersebut menunjukkan bahwa AI-Masih adalah perantara untuk mengenalkan Kerajaan Tuhan, bukan pemilik kerajaan itu. Perhatikan perkataannya, “Ketika kalian berkumpul pada Hari Tuhan,” atau demi Hari Tuhan. (Hari Tuhan adalah kebinasaan orang­orang Yahudi yang mengingkari Nabi Muhammad ShaIlallahu Alaihi wa Sallam, bukan hari Sabtu ataupun hari Minggu – Penj.) Itu dikarenakan hari Sabat adalah hari untuk berdoa, sehingga pada hari itu mereka akan berkumpul, baik diperintahkan atau tidak, karena hari itu adalah hari pertemuan kudus, hari doa bersama, dan Nabi Isa diutus tidak untuk membatalkan hukum tersebut. Tapi, orang-orang Kristen beromong kosong dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Hari Tuhan adalah hari Minggu. Bukti bahwa maksud AI-Masih adalah berjaga-jaga dan bersiap-siap demi Hari Tuhan adalah ia berdalil dengan nubuat Malakhi, yaitu nubuat tentang Hari Tuhan di dalam Taurat. Di antara penjelasan IsaAlaihissalam tentang Hari Tuhan adalah, “Berjaga-jagalah demi hidup kamu. Janganlah kamu memadamkan pelita­pelita dan janganlah kamu melonggarkan ikat pinggang. Tetapi bersiap-­siaplah, karena kamu tidak mengetahui waktu tuhan kita datang.” Ia menasehati orang-orang Yahudi agar menerima Nabi selain dirinya. Alasannya, ia mengatakan, “Karena kamu tidak tahu saat tuhan kita datang.” Yang ia maksud dengan tuhan kita (rabbuna) adalah tuan kita (sayyiduna), yaitu Nabi yang akan datang. Jika yang ia maksud adalah dirinya sendiri, ia tentu akan mengatakan, “Waktu saya datang.” Penjelasan AI-Masih yang lain, “Iman kamu pada setiap zaman tidak akan berguna, jika pada waktu terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempurna.” Waktu terakhir adalah penghujung kenabian dan kerajaan Bani Israel, dan permulaan kenabian dan kerajaan Bani Ismail, karena kedua hal itu; yaitu kenabian dan kerajaan, adalah `berkat’ bagi Nabi Ibrahim Alaihissalam, pertama bagi Ishaq, lalu bagi Ismail. Penjelasan Al-Masih yang lain, “Orang-orang yang sabar dalam keimanan, akan terbebas dari kutukan ini.” Kutukan adalah sifat khusus bagi Yahudi, sebagaimana terdapat dalam Mazmur:119. Penjelasan AI-Masih yang lain, “Fada saat itu muncullah tanda-tanda kebenaran.” Kebenaran adalah salah satu gelar Nabi yang ummi yang akan datang ke dunia, yang disebut di dalam Manuskrip Gua Qumran (Dead Sea Scrolls). Manuskrip ini menyebutkan tiga nubuat tentang kebinasaan orang­orang Yahudi yang mengingkari Nabi yang ummi itu pada Hari Tuhan, pada hari-hari pertama kemunculannya, yaitu: 1. Nubuat terbukanya langit. 2. Nubuat suara sangkakala. 3. Nubuat bangkitnya orang-orang mati. Orang-orang Kristen mengatakan, mereka tidak mengerti makna nubuat terbukanya langit. Mereka berdusta saat mengatakan hal itu, karena nubuat-nubuat tersebut terdapat di dalam Kitab Yesaya untuk menunjukkan binasanya orang-orang Yahudi yang mengingkari Nabi Muhammad pada Hari Tuhan. Mereka juga bingung dalam menafsirkan kebebasan dari kutukan. Mereka mengatakan, yang terkutuk di atas salib adalah AI-Masih. Perkataan itu salah, karena orang yang beriman kepada Nabi yang akan datang itu tidak akan terkutuk, sedangkan orang yang tidak beriman kepadanya akan terkutuk. Di dalam Zabur (Mazmur-Penj.) disebutkan, “Engkau menghardik orang-orang yang sombong, yang terkutuk, yang menyimpang dari wasiat-wasiat-Mu.” (Mazmur, 119: 21) Hardikan itu hanya bagi orang yang tidak beriman dan yang terkutuk. Kemudian, AI­Masih Isa Alaihissalam mengatakan bahwa kebanyakan orang Yahudi tidak bebas dari kutukan, karena kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Nabi tersebut. Tetapi, sebagian akan beriman, dan mereka inilah orang­orang terpilih, sebagaimana dikatakan Zakaria, “Tuhanku akan datang, dan semua orang kudus bersama-Mu.” Maksudnya Nabi Tuhan akan datang, diiringi orang-orang yang terpilih. Al-Masih mengatakan, “Pada saat itu, alam memandang Tuhan datang di atas awan-awan di langit,” sebagaimana dikatakan Nabi Daniel di dalam ayat: 7. Kami akan menjelaskan nubuat-nubuat tersebut di dalam komentar­komentar terhadap teks INJIL DIDACHE, dan merujukkan masing-masing nubuat kepada asalnya di dalam Taurat. Pendeta Koptik yang telah menyunting INJIL DIDACHE, yang namanya tidak disebutkan, namun karyanya menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan yang luas, mengatakan sebagai berikut, “Baris-baris terakhir DIDACHE di dalam Manuskrip Yerusalem tidak lengkap.” Apa penyebab tidak lengkapnya pasal nubuat Nabi yang ditunggu-tunggu, padahal tujuan dakwah AI-Masih adalah memunculkan dan menerangkan nubuat-nubuat itu, dan untuk menunjukkan orang yang dimaksudkannya?! Mengapa ketidak sempurnaan itu justru ada pada bagian tersebut?! Pendeta ini menjawab, “Kitab Al-Marasim Ar-Rasuliyah (Apostolic Constitutions) menyatakan bahwa bagian yang hilang adalah: Pada saat itu, tuhan datang dan orang-orang kudus bersama-nya, disertai gempa, di atas awan, dengan kekuatan malaikat-malaikatnya, di atas singgasana kerajaannya …” juga bagian-bagian lain yang senada dengan hal itu. Yang dimaksud dengan tuhan (ar-rabb) adalah tuan (as-sayyid), yaitu Nabi yang ditunggu-tunggu, sedangkan orang-orang kudus adalah peng­ikutnya yang terpilih. Gempa adalah kiasan bagi sengifiya peperangan pada Hari Tuhan. Di atas awan adalah kiasan bagi keluhuran dan keagungan Nabi itu, dan malaikat adalah kiasan bagi sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya. Hal ini akan saya jelaskan lebih lanjut. Dari pembahasan kami tersebut jelas bahwa DIDACHE menunjukkan kedatangan Nabi Muhammad ShaIlallahu Alaihi wa Sallam dengan beberapa alasan: Pertama, Taurat berbicara tentang Nabi yang akan muncul setelah Nabi Musa Alaihissalam di dalam Kitab Ulangan: 18, yaitu: “Tuhan, Tuhanmu, akan membangkitkan seorang Nabi dari kalanganmu, dari saudara-saudaramu, seperti saya. Oleh karena itu kamu harus mendengarkannya.” Kedua, Injil Yohanes ayat pertama menjelaskan bahwa Nabi itu belum muncul pada masa Yahya Al-Ma’madan (John the Baptist: Yohanes Pembaptis) dan Isa Alaihissalam, sebab mereka (orang-orang Lewi­penj. ) bertanya kepada Yohanes Pembaptis, “Apakah engkau Nabi yang akan datang?” lalu ia menjawab, “Bukan.” Ketiga, Yohanes Pembaptis dan Nabi Isa Alaihissalam, seperti yang disebutkan oleh semua Injil, menyerukan dekatnya Kerajaan Surga, yang oleh Taurat dikatakan akan berdiri setelah Kerajaan Romawi. Keempat, Nabi Isa Alaihissalam berkata kepada para pengikutnya, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan!” la tidak memerangi Kekaisaran Romawi, tidak menaklukkan satu pun negeri yang dikuasai Romawi, tidak merebut sejengkal pun tanah Romawi, dan Kekaisaran Romawi tetap berdiri setelah kematiannya sampai diperangi oleh kaum muslimin. Di dalam Taurat disebutkan, Nabi yang akan datang akan melancarkan perang yang sengit kepada orang-orang yang menentangnya untuk membinasakan mereka dan membersihkan bumi dari mereka, sebagai­mana bumi telah dibersihkan dengan banjir Nabi Nuh Alaihissalam. Yang membersihkan bumi pada Hari Tuhan adalah kaum muslimin. Kelima, tanda-tanda Hari Tuhan telah disebutkan oleh pengarang DIDACHE, seperti disebutkan oleh Injil-Injil lain. Demikian. Tuhan-lah Pemberi bimbingan. DR. Ahmad Hijazi As-Saqa Mayt Tharif, Daqhaliyah 26-8-1423 H/1-11-2002 M INJIL DIDACHE ATAU AJARAN RASUL RASUL hal. 7-8-9-10-11 NASKAH Injil Didache, atau Ajaran AI-Masih kepada bangsa bangsa melalui Dua Belas Rasul, ditemukan di dalam manuskrip berbahasa Yunani satu-satunya pada tahun 1871 M. Waktu penulisannya berkisar pada akhir abad pertama atau awal abad kedua Masehi, dan ia diperkirakan lebih tua daripada Injil Yohanes. Isi Injil Didache Injil Didache berisi 16 pasal, yaitu: 1. Pasal 1-6: perilaku orang Kristen (dua jalan). 2. Pasa 7-10: bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran tentang pembaptisan (pasal 7), puasa dan shalat (pasal 8), perjamuan Ekaristi dan memotong­motong roti (pasal9 dan 10). 3. Pasal 10 dan 11: hirarki gereja. 4. Pasa 16: menunggu kedatangan Tuhan. Kami akan memaparkan teks Injil Didache5] selengkapnya terlebih dulu, agar pembaca rnemiliki pijakan untuk melanjutkan kajian terhadap naskah ini. Teks Injil Didache: (Ajaran AI-Masih kepada Bangsa-bangsa Melalui Dua Belas Rasul) pasal: 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16 Didache pasal 1: 1.1 Ada dua jalan, yaitu jalan kehidupan dan jalan kematian. Perbedaan antara kedua jalan itu sangat besar. 1.2 Jalan kehidupan adalah berikut ini: Pertoma, kasihilah Tuhan, Pt?nciptamu. Kedua, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri, dan segala sesuatu yang kamu tidak inginkan dilakukan terhadap kamu, janganlah kamu melakukannya terhadap sesamamu. 1.3 Pengajaran dari kata-kata itu adalah berikut ini: berkatilah orang-orang yang mengutukmu, berdoalah demi musuh-musuhmu, berpuasalah demi orang-orang yang menindasmu. Karena apa upahnya apabila kamu mengasihi orang yang mengasihimu? Bukankah bangsa­bangsa melakukan seperti itu? Tetapi kamu, kasihilah orang-orang yang membencimu, maka kamu tidak mempunyai musuh. 1.4 Hindarilah nafsu-nafsu jasadi dan ragawi. Siapa yang menampar pipi kananmu, berikanlah kepadanya pipi kirimu. Maka, kamu menjadi orang yang sempuma. Siapa yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh dua mil. Apabila seseorang mengambiljubahmu, berikanlah juga mantelmu kepadanya. Apabila dia mengambil apa yang kamu punyai, janganlah kamu menuntutnya, karena kamu tidak mampu. 1.5 Kepada setiap orang yang meminta kepadamu, berikanlah. Janganlah kamu menuntutnya, karena Tuhan Bapa berkehendak memberi nikmat-nikmatNya kepada semua orang. Beruntunglah orang yang memberi sesuai perintah ini, karena dia akan menjadi orang yang tidak tercela. Celakalah orang yang mengambil, karena bila dia memiliki kebutuhan, maka dia tidak bersalah. Tetapi, orang yang tidak memiliki kebutuhan, dia akan diberi dengan penghitungan, apakah sebabnya dia mengambil dan apakah tujuannya, sehingga dia berada dalam kesempitan dan terluka disebabkan perbuatannya, dan dia tidak akan keluar dari keadaan itu sampai dia membayar peser terakhir. 1.6 Berkenaan dengan hal ini, dikatakan juga: Biarlah shadaqahmu berkeringat di tanganmu, sampai kamu mengetahui kepada siapa kamu memberikannya. Didache pasal 2: 2.1 Berikut perintah kedua dalam pengajaran ini. 2.2 Janganlah kamu membunuh, je.nganlah kamu berzina, janganlah kamu merusak anak-anak, janganlah kamu melacur, janganlah kamu mencuri, janganlah kamu melakukan sihir, janganlah kamu meracun orang, janganlah kamu membunuh janin di dalam perut dan janganlah juga membunuh anak yang sudah lahir, serta janganlah kamu menginginkan apa yang dipunyai sesamamu. 2.3 Janganlah kamu mengucapkan sumpah palsu, janganlah kamu mengucapkan kesaksian dusta, janganlah kamu menggunjing, dan janganlah kamu mengingat-ingat hinaan yang kamu terima. 2.4 Janganlah kamu menjadi orang yang bercabang pikiran dan bercabang lidah, karena lidah yang bercabang adalah perangkap kematian. 2.5 Jangan sampai kata-katamu menjadi omong kosong dan kepalsuan, tetapi harus dipenuhi perbuatan. 2.6 Janganlah kamu tamak terhadap harta, jangan merampok, jangan munafik, jangan membanggakan diri, dan jangan sombong. Di samping itu, janganlah kamu bemiat jahat terhadap sesamamu. 2.7 Janganlah kamu membenci seseorang, tetapi insafkanlah sebagian orang, dan berdoalah untuk sebagian yang lain, dan kasihilah sebagian yang lain itu melebihi dirimu sendiri. Didache pasal 3: 3.1 Anakku, menjauhlah dari semua kejahatan dan dari semua yang menyerupainya. 3.2 Janganlah kamu menjadi pemarah, karena kemarahan membawa kepada pembunuhan. Janganfah kamu menjadi pencemburu, gemar permusuhan, dan lekas marah, karena semua itu menyebabkan pembunuhan. 3.3 Anakku, janganlah kamu mengikuti nafsu, karena nafsu membawa kepada perzinaan, dan janganlah kamu berkata-kata cabul dan bermata jalang, karena dari semua itulah terlahir rupa-rupa perzinaan. 3.4 Anakku, janganlah kamu mengambil pertanda baik dari burung, karena hal itu membawa kepada penyembahan berhala. Janganlah kamu menjadi peramal dan tukang tenung, janganlah kamu melakukan kebiasaan bersuci para penyembah berhala, dan janganlah kamu ingin melihat atau mendengarnya, karena dari semua itulah muncul penyembahan terhadap berhala. 3.5 Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian, dan janganlah kamu menjadi pencinta harta dan kehormatan yang semu, karena dari semua itulah muncul banyak pencurian. 3.6 Anakku, janganlah kamu berkeluh kesah, karena keluh kesah membawa kepada sumpah serapah, dan janganlah kamu lancang dan berburuk sangka, karena dari semua itulah muncul banyak sumpah serapah. 3.7 Jadilah kamu orang yang lembut hati, karena orang-orang yang lembut hati akan mewarisi bumi. 3.8 Jadilah kamu orang yang sangat penyabar, penuh kasih sayang, suka berdamai, tenang, saleh, dan selalu gemetar karena kata-kata yang kamu dengar. 3.9 Janganlah kamu mengagungkan dan membanggakan diri sendiri, dan janganlah kamubergauldengan orang orang yang sombong, melainkan bergaullah dengan orang-orang yang baik dan rendah hati. 3.10 Kamu harus menerima apapun yang terjadi pada dirimu sebagai kebaikan, karena mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi bukan karena Tuhan. Didache pasal 4: 4.1 Anakku, kamu harus mengingat orang yang menyampaikan firman Tuhan pada siang dan malam hari, muliakan dia sebagai tuhan, karena di mana saja diucapkan kata-kata Tuhan, di sana ada Tuhan. 4.2 Kamu harus berusaha setiap hari untuk bertemu dengan orang­orang kudus, supaya kamu terhibur oleh kata-kata mereka. 4.3 Janganlah kamu menyebabkan perpecahan, tetapi kamu harus menanamkan perdamaian di antara orang-orang yang bermusuhan. Kamu harus memutuskan dengan adil dan janganlah kamu menahan diri dari beberapa orang dalam menginsafkan kesalahan. 4.4 Janganlah kamu menjadi orang yang bimbang, apakah sesuatu akan terjadi atau tidak? 4.5 Janganlah kamu membuka lebar-lebar tanganmu pada saat mengambil dan merapatkan genggaman tanganm u pada saat memberi. 4.6 Kamu harus memberikan sebagian harta yang kamu miliki dari usaha tanganmu sebagai penebus kesalahan-kesalahanmu. 4.7 Janganlah kamu ragu-ragu untuk memberi. Jika kamu memberi, janganlah kamu berkeluh kesah, karena kamu akan mengetahui siapakah Dia Sang Pemberi balasan yang baik. 4.8 Janganlah kamu menolak orang yang membutuhkan, ajaklah saudaramu dalam segala sesuatu yang kamu miliki, dan janganlah kamu mengatakan bahwa suatu barang adalah milikmu sendiri, karena jika kamu bersekutu pada apa yang abadi, maka lebih pantas jika kamu bersekutu pada apa yang fana. 4.9 Janganlah kamu mengangkat tangan untuk memukul anakmu; laki-laki ataupun perempuan, tetapi kamu harus mengajarkan mereka sejak dini rasa takut kepada Tuhan. 4.10 Janganlah kamu menghardik dengan keras budak laki-laki ataupun budak perempuanmu yang berharap-harap kepada Tuhan yang sama, agar mereka tidak kehilangan rasa takut kepada Tuhan, karena Dia datang bukan untuk disembah orang-orang terhormat saja, tapi oleh siapa saja yang disiapkan oleh Roh. 4.11 Adapun kamu, para budak sahaya, kamu harus tunduk kepada tuan-tuanmu seperti kepada Tuhan, yaitu dengan penuh penghormatan dan rasa takut. 4.12 Kamu harus membenci semua kemunafikan dan segala sesuatu yang tidak disukai Tuhan. 4.13 Janganlah kamu melalaikan perintah-perintah Tuhan, tetapi kamu harus menjaga apa yang kamu terima tanpa penambahan dan Pengurangan. 4.14 Kamu harus mengakui kesalahan-kesalahanmu di hadapan gereja, janganlah kamu membaca doa-doa dengan hati yang jahat. Demikianlah jalan kehidupan. Didache pasal 5: 5.1 Inilah jalan kematian. Pertama-tama; la sangat jahat, penuh kutukan, bermacam-macam pembunuhan, perzinaan, nafsu, per­selingkuhan, pencurian, penyembahan berhala, sihir, meracun orang, perampokan, kesaksian palsu, kepura-puraan, kemunafikan, kecurangan, kebencian, pengkhianatan, sikap keras kepala, ketamakan, kata-kata yang salah, kecemburuan, kelancangan, mengagungkan diri sendiri, membang­gakan diri sendiri, dan membual. 5.2 Orang-orang yang menindas orang-orang yang saleh: membenci kebenaran, mencintai kebohongan, tidak mengetahui cara membalas kebaikan, tidak mendekati kebaikan dan keputusan yang adil, begadang bukan untuk kebaikan tapi untuk kejahatan, menjauhi kerendahhatian dan kesabaran, mencintai kebatilan, menindas tindakan membalas budi, tidak mengasihi orang-orang miskin, yang tidak merasa terluka bersama orang­orang yang terluka, tidak mengetahui pencipta mereka, membunuh anak­anak, merusak ciptaan Tuhan, berpaling dari orang-orang yang membutuh­kan, membuat cemas orang-orang yang dalam kesusahan, membela orang-orang kaya, memutuskan kezaliman bagi orang-orang sengsara, melakukan pelbagai kesalahan; semoga kamu dan anak-anakku selamat dari sifat-sifat itu semuanya. Didache pasal 6: 6.1 Waspadalah kamu, jangan sampai ada orang yang menyesatkan­mu dari pengajaran ini, karena dengan begitu ia mengajarkan apa yang tidakberhubungan dengan Tuhan. 6.2 Jika kamu sanggup membawa semua beban Tuhan, maka kamu akan menjadi orang yang sempuma. Sedangkan jika kamu tidak sanggup, maka lakukanlah apa yang kamu mampu. 6.3 Berkenaan dengan makanan, tanggunglah puasa semampumu, hindarilah dengan sungguh-sungguh daging persembahan untukberhala, karena itu merupakan persembahan terhadap tuhan-tuhan yang mati. Didache pasal 7: 7.1 Berkenaan dengan pembaptisan, baptislah dengan cara seperti ini: setelah apa-apa yang kami katakan terdahulu, baptislah dengan nama Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus, dengan air yang mengalir. 7.2 Apabila kamu tidak mendapatkan air yang mengalir, baptislah dengan air yang lain. Bila memungkinkan, dengan air dingin, jika tidak, dengan air panas. 7.3 Jika keduanya tidak kamu dapati, maka kucurkanlah air ke kepala tiga kali dengan menyebut nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. 7.4 Sebelum pembaptisan, orang yang akan membaptis hendaknya berpuasa, juga orang yang akan dibaptis, dan orang-orang lain yang mampu melakukannya, dan saya memerintahkan kepada orang yang akan membaptis, hendaknya dia berpuasa selama satu atau dua hari sebelum pembaptisan. Didache pasal 8: 8.1 Jangan kamu berpuasa bersama orang-orang yang munafik, karena mereka berpuasa pada hari kedua dan kelima setiap minggu. Adapun kamu, berpuasalah pada hari keempat dan hari persiapan.6] 8.2 Janganlah kamu membaca doa-doa seperti orang-orang munafik, tapi seperti yang diperintahkan tuan di dalam Injilnya. Maka, berdoalah demikian: “Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, terjadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kepada kam i makanan kami pada hari ini untuk persiapan esok hari. Ampunilah kesalahan kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan janganlah Engkau membawa kami ke dalam percobaan, tapi bebaskanlah kami dari orang yang jahat, karena Engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama­lamanya.” 8.3 Seperti itulah kamu berdoa tiga kali sehari. Didache pasal 9: 9.1 Berkenaan dengan makanan pada Jamuan Ekaristi, berkatilah seperti demikian (9.2): 9.2 Pertama, sebagai pujian saat memegang cawan, “Kami bersyukur kepada-Mu, wahai Tuhan Bapa kami, demi pohon anggur Dawud, putra-Mu yang kudus, yang Engkau perkenalkan kepada kami melalui Yesus, putra-Mu. Engkaulah yang memiliki kemuliaan sampai selama-lamanya.” 9.3 Sebagai pujian saat memotong-motong roti, “Kami bersyukur kepada-Mu, Tuhan Bapa kami, demi kehidupan dan pengetahuan yang Engkau beritakan kepada kami melalui Yesus, putra-Mu. Engkaulah yang memiliki kemuliaan sampai selama-lamanya. 9.4 Sebagaimana roti yang dipotong-potong disebar di atas gunung, kemudian dikumpulkan sehingga menjadi satu, demikianlah disatukan gereja-Mu dari ujung bumi sampai kerajaan-Mu, karena Engkaufah yang memiliki kemuliaan dan kekuasaan melalui Yesus Kristus sampai selama­lamanya.” 9.5 Tidak seorang pun di antara kamu boleh memakan atau meminum Jamuan Ekaristi, kecuali orang-orang yang telah dibaptis dengan nama Tuhan, karena tentang hal ini Tuhan telah berkata, “Janganlah kamu memberikan makanan yang suci kepada anjing.” Didache pasal 10: 10.1 Setelah kenyang, ucapkanlah syukur demikian: 10.2 Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa Yang Kudus, demi nama­Mu Yang Kudus, yang Engkau tempatkan di dalam hati kami, dan demi pengetahuan, keimanan, dan keabadian yang Engkau perkenalkan kepada kami melalui putra-Mu, Yesus. Engkaulah pemilik kemuliaan sampai selama-lamanya. 10.3 Wahai Tuhan yang sangat berkuasa, segala sesuatu Engkau ciptakan demi nama-Mu. Engkau memberikan makanan dan minuman kepada manusia, agar mereka nikmati, dan agar mereka bersyukur kepada-Mu. Sedangkan kepada kami, Kau berikan makanan dan minuman rohani, dan kehidupan abadi melalui putra-Mu. 10.4 Kami bersyukur kepada-Mu, pertama-tama, karena Engkau berkuasa. Engkaulah pemilik kemuliaan sampai selama-lamanya. 10. 5 Ingatlah gerejamu wahai Tuhan, agar engkau menyelamatkan­nya dari segala keburukan dan menyempumakannya dalam kasih kepada­Mu. Kumpulkan tempat yang kudus itu dari empat mata angin hingga kerajaanmu yang engkau persiapkan. Karena Engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama-lamanya. 10.6 Datanglah nikmat, pergilah dunia ini, Hosanna demi tuhan Dawud: siapa yang suci, hendaklah maju, dan siapa yang tidak demikian, hendaklah bertaubat. Maranatha. Amin.” 10. 7 Adapun Nabi-nabi, biarkanlah mereka mengucapkan doa pujian sebagaimana mereka kehendaki. Didache pasal 11: 11.1 Karena itu, siapapun yang datang dan mengajarkan kalian ajaran-ajaran tersebut, katakanlah, “Terimalah ia.” 11.2 Apabila guru mengubah pengajaran ini dengan pengajaran lain untuk merusak, makajanganlah kamu mendengarkannya. Sedangkan bila ia mengajar agar kebaikan dan pengetahuanmu tentang Tuhan bertambah, maka terimalah ia sebagai Tuhan. 11.3 Adapun berkenaan dengan Rasul-rasul dan Nabi-nabi, maka ketahuilah bahwa berdasarkan pengajaran Injil, maka perintah Tuhan adalah demikian: 11.4 Semua Rasul yang datang kepadamu, terimalah sebagai tuhan. 11. 5 Dia tidak tinggal di rumahmu lebih dari satu hari, atau dua hari jika terpaksa. Apabila dia tinggal selama tiga hari, dia adalah Nabi palsu. 11.6 Jika Rasul Ifu pergi, maka dia hanya mengambil roti sebagai bekal sampai dia menemukan tempat menginap yang lain. Sedangkan jika dia meminta uang, maka dia adalah Nabi palsu. 11.7 Janganlah kamu membawa setiap Nabi yang berbicara atas nama Roh ke dalam percobaan dan janganlah kamu mengutuknya. Dosa­dosa itu tidak terampuni. 11.8 Tidak semua Nabi yang berbicara atas nama Roh adalah Nabi, tetapi Nabi adalah orang yang memiliki perilaku Tuhan. Dari perilakulah diketahui Nabi yang palsu dan Nabi yang benar. 11.9 Nabi-nabi yang memerintahkan atas nama Roh untuk disiapkan makanan, dia tidak memakan makanan itu. Jika dia makan, dia adalah Nabi palsu. 11.10 Setiap Nabi mengajarkan kebenaran. Jika dia mengajarkan, tapi tidak melaksanakan, dia adalah Nabi palsu. 11.11 Setiap Nabi yang benar telah diuji dan melaksanakan rahasia gereja di dunia. Dia tidak mengajarkan agar semua orang berbuat seperti dirinya. Maka,janganlah kamu menghakiminya. Karena penghakimannya hanya dilakukan oleh Tuhan, karena Nabi-nabi terdahulu berbuat seperti itu juga. 11.12 Setiap orang yang berkata atas nama Roh: berilah saya perak atau benda-benda lain, janganlah kamu mendengarkannya. Tetapi jika dia berkata berikan kepada sesamamu yang membutuhkan, makajanganlah kamu menghakiminya. Didache pasal 12: 12.1 Setiap orang yang datang dengan nama tuhan, terimalah ia. , Setelah mengujinya, kamu akan mengenalnya, karena kamu akan memiliki pembeda antara yang kanan dengan yang kiri. 12.2 Tetapi jika yang datang adalah pengembara, tolonglah se­mampu kamu, dan hendaknye dia tidak menginap di rumahmu kecuali dua hari atau tiga hari jika terpaksa. 12.3 Jika dia ingin menetap di rumahmu, dan dia memiliki keahlian, maka hendaknya diabekerja untuk mendapatkan makanan. 12.4 Jika dia tidak memiliki keahlian, maka latihlah dia dengan ke­ahlianmu, karena bagaimana seorang Masehi hidup di antara kamu tanpa pekerjaan? 12.5 Jika dia tidak ingin bekerja, dia adalah orang yang memper­dagangkan Kristus. Waspadailah orang-orang seperti itu. Didache pasal 13: 13.1 Setiap Nabi yang benar, yang ingin menetap di tengah-tengah kamu, berhak mendapatkan makanannya. 13.2 Begitu juga guru yang benar. Dia juga berha:: mendapatkan makanan seperti orang yang bekerja. 13.3 Untuk itu, kamu mengambil hasil pertama dari panen buah­buahan dan tanaman, juga hasil pertama dari perasan susu sapi dan susu kambing, dan kamu berikan hasil pertama itu kepada Nabi-nabi, karena mereka adalah pimpinan pendetamu. 13.4 Jika di antara kamu tidak ada Nabi, berikanlah kepada kaum miskin. 13.5 Jika kamu membuat roti, ambillah hasil pertamanya dan beri­kanlah kepadanya sesuai perintah. 13.6 Begitu juga jika kamu membuka tempayan anggur atau zaitun, ambillah sendokan pertamanya dan berikanlah kepada Nabi-nabi. 13.7 Ambillah hasil pertama dari perak dan baju, dan apapun yang kamu miliki, sesuai kemampuanmu, dan berikanlah sesuai perintah. Didache pasal 14: 14.1 Ketika kamu berkumpul pada Hari Tuhan, potong-potonglah roti dan ucapkanlah syukur setelah kamu mengakui kesalahan-kesalahan­mu, agar daging sembelihanmu menjadi suci. 14.2 Jangan orang yang bersengketa dengan saudaranya berkumpul bersamamu sampai mereka berdamai, agar daging sembelihan kamu tidak terkena najis. 14.3 Karena Tuhan berkata: di setiap tempat dan zaman diberikan kepada-Ku daging sembelihan yang suci, karena saya adalah Raja yang agung, kata Tuhan, dan nama-Ku dihormati semua manusia. Didache pasal 15: 15.1 Karena itu, angkatlah di tengah-tengah kamu uskup-uskup dan diakon-diakon yang pantas bagi Tuhan, orang-orang yang lembut hati, bukan para pencinta harta, orang-orang yang jujur, yang telah diuji, karena mereka mengabdi kepadamu seperti pengabdian Nabi-nabi dan guru-guru. 15.2 Janganlah kamu mengejek mereka, karena mereka adalah orang-orang yang mulia di antara kamu bersama Nabi-nabi dan guru-guru 15.3 Insafkanlah antara sesamamu, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kasih sayang, berdasarkan Injil. Jika seorang menghina sesamanya, janganlah kamu berbicara dengannya, atau mendengarkan­nya, sampai dia bertaubat. 15.4 Ucapkanlah doa-doamu dan keluarkanlah shadaqah­shadaqahmu serta lakukanlah semua perbuatanmu sesuai Injil Tuhan kita. Didache pasal 16: 16.1 Berjaga-jagalah untuk hidupmu, jangan kamu memadamkan lampu-lampu dan janganlah kalian melonggarkan ikatpinggang. Melainkan bersiap-siaplah, karena kamu tidak mengetahui waktu Tuhan kita datang. 16.2 Berkumpullah kamu secara teratur untuk mempelajari hal-hal yang pantas bagi jiwa-jiwamu, karena imanmu pada setiap zaman tidak ekan berguna, jika pada saat yang terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempuma. 16.3 Karena pada hari-hari terakhir akan banyak Nabi pendusta dan perusak. Domba-domba akan berubah menjadi serigala-serigala dan rasa kasih akan berubah menjadi kebencian. 16.4 Jika dosa bertambah, mereka akan membenci, menindas, dan menyerahkan sesamanya. Pada saat itulah muncul seorang penyesat seakan-akan ia Anak Tuhan. Dia membuat ayat-ayat dan keajaiban­keajaiban, bumi diserahlcan ke tangannya, dan dia melakukan penyimpang­an-penyimpangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. 16.5 Pada saat itu, manusia dibawa kepada fitnah percobaan. Banyak orang akan ragu-ragu dan binasa, tetapi orang-orang yang sabar dalam keimanan, akan terbebas dari kutukan ini. 16.6 Pada saat itu, muncul tanda-tanda kebenaran. Pertama; Tanda terbukanya langit. Kemudian; Tanda suara sangkakala. Dan ketiga; Bangkit­nya orang-orang mati. 16.7 Akan tetapi tidak semua orang, sebagaimana dikatakan: Tuhan datang diiringi orang-orang suci. 16.8 Pada saat itu, manusia melihat Tuhan yang datang di atas awan­awan di langit. Demikianlah isi Injil Didache yang memuat beberapa pasal tentang seruan kepada umat manusia. 5 Penulis menerjemahkan teks ini dari Bahasa Yunani, dan saya menerjemahkannya dari teks berbahasa Arab itu sambil membandingkannya dengan terjemahan dalam Bahasa Inggris. Penj. 6. Hari persiapan adalah hari sebelum hari Sabat, jadi Jumat.-Penj. RAHASIA PENEMUAN MANUSKRIP INJIL DIDACHE OLEH: PENDETA KOPTIK DIDACHE, atau Ajaran Rasul-rasul, adalah peraturan gereja (church polity) pertama yang sampai kepada kita,96] dan merupakan salah satu naskah yang terpenting dan tertua tentang ajaran agama dan hukum gereja, karena ia memuat teks-teks liturgis yang tertua setelah Perjanjian Lama. Posisinya ada di tengah-tengah antara Perjanjian Baru dengan tulisan-tulisan bapa-bapa apostolik (apostolic fathers). Penemuan naskah ini pada akhir abad 19 menimbulkan gema yang hebat di kalangan ilmiah gereja, sebab sarjana-sarjana patristik telah mengetahui keberadaan apa yang disebut “Ajaran Rasul-rasul”, namun mereka tidak pernah menemukan satu pun petunjuk tentangnya sampai penemuan tersebut. Penemuan Naskah yang Memuat Didache Pada tahun 1873, Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel, yang kemudian menjadi Metropolit kota Nikomedia, menemukan sebuah manuskrip di perpustakaan DiyorAl-Qabr AI-Muqaddas (Monasteryof theMostHolySepulchre) di Konstantinopel (Istambul), yang berada dalam pengawasan Patriarkhal Yerusalem Bizantium Ortodoks, yang berisi beberapa naskah klasik yang sangat penting. Manuskrip itu lalu dipindahkan dari Yerusalem ke Istambul pada tahun 1680, lalu dipindahkan lagi ke Perpustakaan Patriarkhal Romawi Ortodoks, dan diberi nomor 54. Karena itu, di kalangan ilmiah, manuskrip, tersebut populer dengan nama “ManuskripYerusalem” (Jerusalem Codex) dan dalam bahasa Latin disebut Hierosolymitanus: 54. Manuskrip yang baru ditemukan itu mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kalangan ilmiah. Ia menjelaskan banyak segi yang samar samar tentang sejarah awal kehidupan gereja, sehingga ia pantas di perhatikan sedemikian rupa oleh para ahli liturgis dan para bapa Manuskrip ini disalin satu orang penyalin saja, yang bernama Leon An­Nasikh AI-Khati’ (the notary and sinner: si penyalin yang banyak dosa), tertanggal dengan kalenderYunani tahun 6564, sama dengan 1056 Masehi, atau kurang lebih pertengahan abad 11. Isi Manuskrip Yerusalem Manuskrip ini terdiri dari 120 lembar (240 halaman), terbagi-bagi sebagai berikut: 1. Lembar 1-32: Sinopsis Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru oleh St. Yohanes Dzahabi AI-Famm (Synopsis of the Old and New Testaments, by St. Chrysostom). Bagian ini memberikan kita bagian­bagian Sinopsis yang belum pernah dipublikasikan dan materi kesusastraan untuk kajian kritis terhadap teks-teks perkataan-perkataan para bapa. 2. Lembar 33-51a: Surat Bamabas (The Epistle of Bamabas). Bagian ini memberikan kita teks Yunani Surat Barnabas, dan memungkinkan kita mengkaji kembali teks Surat tersebut secara lebih teliti. 3. Lembar 51 a-76a: Dua Surat St. Clement dari Romawi kepada Jemaat di Korintus (The two Epistles of Clement to the Corinthians). Kedua surat ini sangat penting, karena ia menggenapi teks kedua surat tersebut, karena seperlima surat kedua sebelumnya tidak diketahui, selain ia juga dapat menguatkan nilai kajian kritis terhadap teks tersebut. 4. Lembar 766-80: Ajaran 12 Rasul (The Teaching of the Twelve Apostles). Inilah bagian yang telah kami paparkan. 5. Lembar 81-82a: Surat Maryam Cassoboli kepada Ignatius (The Epistle of Mary of Cassoboli to Ignatius). 6. Lembar 826-120a: Dua belas risalah karya St. Ignatius Sang Martir (Twelve Epistles of Ignatius). Dua bagian terakhir (bagian 5 dan 6) berkaitan dengan Literatur Ignatius, yang memungkinkan kita untuk membaca kembali sebuah karya yang telah dihasilkan oleh peneliti Jerman, Funk,97] pada tahun 1881, dan oleh peneliti Inggris, Father Lightfoot, di London, pada tahun 1885.98] Publikasi Manuskrip yang Ditemukan Pada tahun 1876, atau dua tahun setelah ditemukannya Manuskrip Yerusalem, yang disebut oleh Bryennios dengan “Jerosalem Codex”, Metropolit Philotheos Bryennios mempublikasikan Dua Surat Clement dengan disertai pengantar dan catatan-catatan, di Jerman, ketika ia berada di Institut Katolik yang lama di kota Bonn. Para sarjana patristik menyambut baik karya tersebut, yang menunjukkan ketelitian dan keahliannya yang tinggi dalam penyuntingan teks, berkat studinya pada para tetua ahli di Madrasah Jerman. Metropolit Bryennios menyebutkan bagian-bagian lain dari manuskrip itu di dalam karyanya tersebut, dan apa yang disinggungnya tentang Ajaran Dua Belas Rasul segera memicu perhatian para peneliti, di antaranya Lightfoot dan lain-lain. halaman : 325-326-327 96 Cf. P. ]. Quasten, lnitiation auz Peres de I’Eglise, Trad. De I’anglais par J. Laporte, I,1955, hlm. 37. 97 Opera, II, Tubingen,1881. 98 Epistles of St. Ignatius, London and Cambridge, 1885. hal. 328-329-330-331-332 Bryennios juga menerbitkan bagian-bagian lain dari manuskrip yang ditemukan itu bagi para peneliti Jerman Pada akhir tahun 1883, para archbishop (uskup besar) telah mempublikasikan di Konstantinopel leks “Ajaran Dua Belas Rasul” (Didache), disertai dengan pendahuluan dan catatan-catatan kaki. Pada pendahuluan buku baru itu Bryennios menyebutkan bahwa Ajaran Dua Belas Rasul itu baru pertama kalinya diterbitkan, bersama dengan beberapa pendahuluan dan analisa terhadap Ringkasan Perjanjian Lama karya St. Yohanes Si Mulut Emas, di samping bagian lain manuskrip itu yang belum pemah diterbitkan. Tak lama setelah publikasi Manuskrip tersebut, pada bulan Januan 1884, satu buah naskah Didache yang dipublikasikan oleh Bryennios sampai ke Jerman, lalu segera diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan dipublikasikan pada tanggal3 Februari pada tahun yang sama. Setelah itu, naskah itu segera diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Inggris, dan dipublikasikan di Amerika pada tangga128 Februari 1884, atau pada bulan dan tahun yang sama dengan munculnya terjemahan dalam bahasaJerman. Pada bulan Mei 1884, sebelum berakhimya tahun tersebut, dipublikasikan teks Didache dalam bahasa [nggris terjemahan langsung dari bahasa Yunani oleh pimpinan para diakon (archdiacon) yang bernama Farrar. Sepanjang tahun itu, Didache telah menjadi buah bibir dan dibahas dalam pelbagai artikel. Tak kurang dari lima puluh judul di dalam pelbagai koran dan majalah di Eropa Barat dan Amerika membahas kejadian terpenting tahun itu, yaitu ditemukannya “Ajaran Dua Belas Rasul”. Shaff menyebutkan judul-judul artikel tersebut dalam karyanya Tarikh AI-Kanisah AI-Mosihiyyah (Sejarah Gereja Masehi). Judul Manuskrip Manuskrip Yerusalem memiliki beberapa judul. Judul pertama ringkas, dan judul kedua lebih panjang. Judul pertama adalah “Ajaran Dua Belas Rasul”, sedangkan judul yang lebih panjang yang terletak segera setelahnya adalah “Ajaran Tuhan Kepada Bangsa-bangsa melalui Dua Belas Rasul.” Bryennios dan Harnak, dua orang yano pertama kali mempublikasikan teks Didache, berpendapat bahwa judul pertama yang ringkas tak lain dari ringkasan judul kedua yang panjang. Tapi mereka berbeda pendapat dalam masalah substansi judul yang panjang. Bryennios, diikuti oleh Schaff, berpendapat bahwa judul itu hanya berlaku pada lima bagian pertama Didache, yaitu bagian-bagian yang dikirimkan kepada bangsa­bangsa yang menerima Risalah Injil. Sedangkan Hamack berpendapat, judul yang panjang99] adalah judul yang berlaku pada seluruh kitab Didache, karena seluruh teks buku ini merupakan ajaran bagi orang-orang yang menerima Tuhan.100] Meskipun mereka tidak sepakat tentang kandungan makna judul yang panjang tersebut, tetapi Jean-Paul Audet101] berpendapat bahwa judul “Ajaran-ajaran Para Rasul” adalahjudul asli teks Didache, yaitu teks yang sampai kepada kita dari Manuskrip Yerusalem. Dalam hal ini, mungkin Audet bersandar kepada judul yang sama yang disebutkan oleh Eusebius dari Caesarea dalam karyanya TorikhAl-Konisah. Tetapi, kita tidak boleh mengabaikan analisa lain, bahwa judul ringkas Didache muncul dalam terjemahan Latin dalam bentuk tunggal, yaitu “Ajaran Para Rasul” (Doctrina Apostolorum), bukan dalam bentuk jamak, sebagaimana yang dikatakan oleh Audet. Judul yang panjang itu tampaknya muncul sebagai pengagungan dan penjelasan tambahan bagi judul yang ringkas. Tapi perlu diperhatikan bahwa keberadaan kata “Tuhan” di dalam judul yang panjang itu mem­buktikan bahwa ia merupakan penambahan terhadapjudul tersebut yang masuk belakangan, dan pada waktu yang sama sesuai dengan bagian Evangelis yang terdapat dalam bagian pertama teks Didache, yaitu bagian yang menjelaskan tentang “DuaJalan”, (1:3-2:1) di samping isyarattentang “Injil Tuhan” (lihat 8:2,15:4, 9:3,11:3,15:3), yaitu pada bagian liturgis dan pengajaran di dalam Didache. tampaknya tambahan itu muncul pada periode belakangan dalam penulisan karya sastra tersebut, sehingga jelaslah bahwa judul yang panjang mengiringi penambahan-penambahan terhadap teks asli yang terjadi belakangan. Dari sisi yang lain, judul yang penjang tak ubahnye resonerui derl ajaran AI-Masih kepada para Rasul yang kudus pada akhir Injil St. Matius (28: 19), “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid saya.” Analisa ini menjelaskan mengapa judul tersebut muncul belakangan daripada teks Didache dalam bentuk asli, yang boleh jadi belum mengetahui keberadaan St. Matius. Sementara itu, Riddle102] berpendapat bahwa judul yang panjang adalah judul asli Didache, sedangkan judul yang pendek merupakan ringkasan yang sering digunakan untuk menyebut Didache, dan tidak memiliki kaitan dengan apa yang ada dalam Kisah Para Rasul (2:42) dalam istilah “Pengajaran para rasul”, yaitu, “Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul, dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Sedangkan kata “bangsa-bangsa” yang terdapat di dalam judul yang panjang, menurut banyak peneliti, seperti Bryennios, menunjukkan bahwa pengarang Didache adalah seorang Masehi keturunan Yahudi. Akan tetapl, penelifi-peneliti lain, seperti Brown, menolak hal itu. Karakter Bahasa Didache Bahasa Didache menunjukkan pada periode peralihan dari safar safar Perjanjian Baru kepada bahasa gereja Yunani yang langsung mengikuti safar-safar kanonik. Kutipan-kutipan dari safar-safar tersebut menyerupai kutipan-kutipan yang ada di dalam surat-surat para rasul, Didache mengutip kebanyakan materinya dari Injil St. Matius daripada Injil lain, khususnya pada pasal-pasal 5-8, yaitu khutbah AI-Masih di bukit. Meskipun demikian, materi khutbah AI-Masih di bukit yang terdapat dl dalam lnjil tetap lebih banyak daripada yang terdapat didalam Didache. Beberapa bagian Didache menunjukkan bahwa pengarang cukup mengetahui Injil St. Lukas. Selain itu, di dalam Didache terdapat beberapa istilah dan konsep yang memiliki bandingannya di dalam Injil Yohanes. Bahkan, di dalam Didache terdapat beberapa hal yang mendorong kami unluk menylmpulkan bahwa pengarangnya mengetahui sejumlah surat Rasul Paulus, terutama Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dan kepada Jemaat di Korintus, juga Dua Surat St. Petrus. 103] Kecuali pada bagian tersebut, pengarang Didache jarang mengisyaratkan kepada safar-safar yang lain di dalam Perjanjian Baru. Dan jelas sekali, pengarang Didache tidak mengetahui kitab-kitab hukum kita. Otentisitas Teks Didache Yang kami maksud dengan otentisitas adalah kajian tentang kesesuaian substansial (substantial identity) antara Manuskrip Yerusalem yang ditemukan baru-baru ini dengan karya yang dikenal dan disebut oleh para penulis Kristen awal sebagai “Ajaran Rasul-rasul” (De Doctrino Apostolorum: Teachings of the Apostles), atau judul lain yang serupa. Tak dapat diragukan, teks itu berasal dari zaman Apostolik. Bukti­bukti internal teks tersebut menegaskan hal itu. Pada sisi lain, tidak ada alasan untuk meragukan umur naskah itu, atau kesesuaiannya dengan edisi yang diterbitkan oleh Bryennios. Clement dari Aleksandaria (M. 216 M. ) menegaskan keberadaan naskah tersebut, bukan saja karena dia banyak mengutipnya, tetapi juga karena dia menyebutkan di dalam bukunya Stromata teks yang terdapat di dalam Didache, 3: 5 secara harfiah, yaitu, “Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian,” dan menisbahkan teks tersebut kepada Al-Kitab Al-Muqaddas. Eusebius dari Caesarea (M. 340 M. ), pada paragrafnya yang terkenal di dalam bukunya Tarikh Al-Kanisah, yang mengkaji kitab-kitab Perjanjian Baru yang kanonik, menyebut Ajaran-ajaran Rasul-rasul sebagai salah satu karya yang tidak legal (spurious works). Bentuk jamak (Ajaran-ajaran) yang dipakai oleh Eusebius dalam menyebut judul karya ini, tidak mengalihkan perujukannya dari naskah yang sedang kita bicarakan, karena Athanasius (M. 373 M.) dengan jelas mengisyaratkan kepada naskah ini dengan menggunakan bentuk tunggal (Ajaran), dalam perkataannya, “Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul.” Setelah menyebutkan kitab-kltab suci yang diakui oleh gereja sebagel kitab-kitab kanonik, Athanasius mengatakan, “Selain kitab-kitab tersebut, ada kitab-kitab lain yang tidak diakui sebagai kitab kanonik (tidak diakui sebagai kitab-kitab suci). Para bapa berpendapat bahwa kitab-kitab itu dapat dibaca oleh orang-orang yang ingin mencari pengetahuan dan ketakwaan. Kitab-kitab itu adalah, Hikmah Sulaiman, Hikmah Ibn Sirach, Ester, Yehodit, Thopia, dan Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul dan Gembala.” Sebab, hingga zaman Paus Athanasius Apostolis, gereja belum mengakui kekanonan kitab-kitab tersebut, dan baru diakui belakangan, serta disebut sebagai kitab-kitab kanonik kedua. Rufinus (M. 410 M. ), di dalam karyanya, Tarikh Al-Kanisah, mengulas sebuah karya yang ringkas, yang disebut `Dua Jalan’. Uraiannya memberikan kita data yang sangat penting untuk kajian kritis terhadap Didache. Peneliti lain yang telah mengulas Didache adalah Nicephorus (M. 828 M.), atau dua ratus tahun setelah Leon the Notary and Sinner menulis naskah yang diketemukan itu. St. Irenaeus (M. 202 M. ) dan St. Clement dari Aleksandria (M. 216 M.) melontarkan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan mereka berdua mengetahui Didache. Dengan demikian, kami menyimpulkan manuskrip yang ditemukan ini sebenarnya merupakan karya yang diulas baik oleh Eusebius dari Caesarea maupun Athanasius Apostolis. 96 Cf. P. ]. Quasten, lnitiation auz Peres de I’Eglise, Trad. De I’anglais par J. Laporte, I,1955, hlm. 37. 97 Opera, II, Tubingen,1881. 98 Epistles of St. Ignatius, London and Cambridge, 1885. 99. Cf.A.N.F.,vo1.7,h.337. 100. S.C. vol. 245, h, 13,14. 101. Penulis buku La Didarhe: Instructions des apotres (Paris: J. Gabalda, 7958). 102 A.N.F., Vo1. 7, h. 377. 103.Lihat bagian-bagian; 1: 2-5, 2: 2 dan 3, 5: 1 dan 2, 7: 1 dan 3, 8: 7,10: 5 dan 6,11: 7,12: 1, 13: 1,16:1,5,6,dan8. hal. 332-333-334-335 Waktu dan Tempat Penulisan Didache Melalui kajian yang mendalam terhadap teks-teks Didache untuk mengetahui waktu penulisannya, peneliti-peneliti modem memastikan bahwa Didache ditulis pada abad pertama Masehi.104] Berdasarkan apa yang telah kami paparkan pada bagian otentisitas teks Didache, menurut kami, waktu penulisannya tidak mungkin melewati seperempat pertama abad k¢dua Masehi, dan apabila telah terbukti bahwa Didache lebih tua daripada Surat Bamabas, maka ia tidak mungkin ditulis setelah tahun 120 M. Teks-teks Didache secara intemal menunjukkan waktu penulisannya. 1. Struktur bahasanya yang sederhana menunjukkan waktu penulisannya, yaitu periode yang langsung mengikuti masa Rasul-rasul, atau yang sekarang disebut sebagai periode apostolis. Sesungguhnya, kesederhanaan struktur bahasa juga merupakan fakta yang sangat penting dalam mengkaji legalitas kitab-kitab Perjanjian Baru. 2. Belum berkembangnya konsep agama Kristen di dalam teks Didache merupakan akibat yang wajar dari belum berkembangnya heretisme pada masa itu. Itulah yang ditegaskan oleh gaya bahasa naskah Didache. Agama Kristen pada awalnya adalah pandangan hidup yang menjadi dasar bagi ajaran-ajaran para rasul, dan semakin luas agama Kristen itu berkembang, semakin besar pula perjuangan orang-orang Kristen melawan heretisme yang mereka hadapi. 3. Aturan gereja yang dikemukakan oleh Didache belum serumit yang dikemukakan oleh Surat-surat St. Ignatius, karena di dalam Didache disebutkan guru-guru yang berkeliling, yang disebut Didache sebagai Rasul-rasul dan Nabi-nabi (pasal 10), dan keberadaan mereka tidak diakui lagi oleh gereja setelah pertengahan kedua abad kedua Masehi, atau bahkan setelah seperempat pertama kedua Masehi. Dengan demikian jelas bahwa sejarah Didache lebih tua daripada sejarah Surat-surat Ignatius. Didache ditulis untuk jemaat Kristen yang tumbuh di beberapa perkumpulan lokal yang sekarang tidak dapat kita ketahui lagi. Belum berkembangnya format ajaran-ajaran yang ada di dalam naskah ini membuat kami yakin bahwa karya sastra ini, dalam bentuknya yang terakhir, telah ditulis pada akhir-akhir abad pertama Masehi. Naskah ini tidak mungkin ditulis pada masa hidup Rasul-rasul yang kudus. Selain itu, di dalam pasa116 naskah ini tidak ada petunjuk apa pun tentang peristiwa hancurnya Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Karena itu, jika ia ditulis seorang Kristen Yahudi, seperti dikatakan FX. Funk, sebagai kemungkinan yang paling mendekati kenyataan, maka tidak disebutkannya peristiwa tersebut berimplikasi adanya interval satu generasi, sehingga kita dapat membatasi periode penulisannya antara tahun 80-100 Masehi. Posisi naskah ini di dalam Manuskrip Yerusalem adalah setelah Surat­surat Clementdari Romawi (The two Epistles of Clement to the Corinthians) dan sebelum Surat-surat Ignatius (Twelue Epistles of Ignatius). Itu boleh jadi menandai urutan kronologis karya-karya tersebut. Selain itu, gaya bahasanya yang sangat sederhana nyaris memastikan pendapat bahwa masa hidup penulisnya sangatberdekatan dengan masa hidup Rasul-rasul. Bryennios dan Harnack menentukan waktu penulisan Didache antara tahun 120 sampai 160 Masehi. Mereka mengatakan bahwa Surat Barnabas dan “Kitab Ar-Ra’i” karya Hermas ( “Shepherd of Hermas” ) lebih dulu ditulis daripada Didache. Tetapi Funk, Schaff, Light foot, dan Don Capoli menyatakan bahwa yang ditulis lebih dahulu adalah Didache, yaitu pada akhir-akhir abad pertama Masehi, atau antara tahun 70-90 Masehi. Mereka membuktikan pendapat itu dengan kandungan pasal 7, 8, 10:1, dan 11: 3. Sedangkan Hilgenfeld menyatakan, waktu penulisan Didache adalah antara tahun 160-190 Masehi. Para peneliti Inggris dan Amerika pada umumnya menyatakan waktu penulisan Didache antara tahun 80­120 Masehi. Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa Didache ditulis pada akhir abad pertama Masehi atau awal abad kedua Masehi. Para peneliti berbeda pendapat tentang tempat penulisan Didache. Kecenderungan untuk menyatakan bahwa penulisnya adalah seorang Kristen Yahudi tidak cukup untuk menunjukkan tempat penulisannya, apakah di Aleksandria, Antiokhia, Yerusalem, atau tempat-tempat lain. Kesesuaiannya dengan Surat Bamabas menguatkan pendapat bahwa ia ditulis di Mesir. Sebab doa penutup jamuan Ekaristi yang disebut Didache, “Karena engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama­lamanya,” hanya menyebut kata `kekuatan’ dan `kemuliaan’, dan doa yang seperti itu lebih populer di Mesir daripada di tempat-tempat lain.105] Harnack, R. Glover, R.A. Kraft, dan Voobus dengan jelas menyata­kan bahwa Didache ditulis di Mesir.106] Kajian-kajian mereka menyatakan, berbeda dengan teks-teks Didache yang berbahasa Latin (“Doctrina Apostolorum”), Jerussalem Codex, Apostolic Constitutions, banyak bukti­bukti klasik di dalam kitab Didache memiliki akar Koptik atau Etiopia. Tentang hal tersebut, kami menambahkan, doa penutup jamuan (Didache, 8: 2) sesuai dengan doa penutup jamuan yang terdapat di dalam terjemahan-terjemahan Koptik yang sangat klasik terhadap Injil Matius. Dari sisi lain, St. Clement dari Aleksandria107] menganggap Didache sebagai salah satu teks kanon. Hal ini menunjukkan bahwa karya ini telah beredar di Mesir di gereja-gereja klasiknya (Lihat juga Ar-Risalah AI-Fashihah: 29 karya Paus Athanasius Apostolis), selain Eusebius dari Caesarea menukil berita-berita Didache dengan bersandar kepada ajaran bapa-bapa gereja Aleksandria. Akan tetapi, dari sisi lain, para peneliti seperti Adam, J.P Audet, Diet, Knopf, daa lain-lain menyatakan bahwa tempat penulisan Didache adalah Siria, dengan alasan kesesuaiannya dengan “Apostolic Constitutions”. Selain itu, kata `masehi’ yang terdapatpada pasal 4: 2 digunakan pertama kali di Antiokhia. Mereka mengatakan, pasal 11-13 juga menegaskan bahwa Didache ditulis di Siria, lebih khusus lagi di Siria Barat, di mana bahasa Yunani, yaitu bahasa yang digunakan untuk menulis Didache, dominan. Alasannya, perbuatan-perbuatan buruk yang disebutkan dalam bagian `dua jalan’ (Didache, 2: 2 dan 3: 4) dengan jelas menunjuk kepada masyarakat yang bercorak Hellenistik atau Yunani (Didache, 4:1). Dengan demikian, pertama-tama, Didache ditujukan kepada masyarakat pedesaan dari kalangan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan yang masuk ke dalam ajaran Kristen. Pasal 13 Didache juga menegaskan hal ini. Tetapi, kita tidak dapat memastikan bahwa Didache berasal dari Antiokhia, atau ditulis di kota Antiokhia. Sebab, adat istiadat yang berasal dari St. Paulus dan St. Lukas – yang populer di Antiokhia – adalah adat istiadat yang berbeda dengan Didache. Hal ini menegaskan bahwa ia tidak berasal dari Antiokhia. Selain itu, St. lgnatius dari Antiokhia tidak mengenal Didache, karena ia tidak mengutip Didache sedikit pun di dalam surat­suratnya, yaitu surat-surat yang memperlihatkan aturan-aturan yang sangat berbeda dengan Didache. 104.S.C. Vo1.248, hlm. 96. 105.Dr. Asad Rustum,” Abaa’ AI-Kanisnh 1 AI-Abaa’ Ar-Rasuliyun raa AI-Manndlulan”, 1962, hlm. 55. 106. S.C. Vol. 248, hlm. 97. 107 Strom. 1, 20: 100: 4. hal. 336-337-338 Adam, pada saat membuktikan bahwa Didache berasal dad Suria, mengatakan bahwa terjemahan Didache yang berbahasa Koptik berasal dari naskah berbahasa Suryani yang sudah hilang. Dia menambahkan, Didache beredar dan populer dengan cepat di Mesir seperti halnya banyak karya sastra lain di gereja Kristen pertama, seperti Injil St. Lukas, setelah teks Didache dalam bentuknya yang terakhir diubah agar sesuai dengan terjemahan Koptik dan Etiopia. Pengubahan itu dapat kita lihat dengan jelas pada pasal 9: 4, “Sebagaimana roti yang dipecah-pecah disebarkan di atas gunung, kemudian dikumpulkan sehingga menjadi satu, demikianlah disatukan gereja-Mu dari ujung bumi hingga Kerajaan-Mu.” Lafal ‘di atas gunung’ adalah pengubahan dan penambahan terhadap teks asli Didache. Demikianlah, Didache menjadi objek pertentangan para peneliti, sebagian menyatakan ia ditulis di Mesir, sebagian lain menyatakan ia ditulis di Siria. Di atas tumpukan kajian yang sangat banyak tersebut, yang dapat kita lakukan hanyalah membaca teks Didache secara cermat, untuk menangkap keindahan gereja pertama sebagai kelompok yang sederhana yang diikat oleh rasa kasih, sayang, dan harmoni, baik di Mesir maupun di Siria. Gereja pertama itu adalah sebuah gereja kudus apostolis, disatukan oleh satu ekaristi, tubuh AI-Masih bagi kehidupan abadi. Sedangkan pendapat bahwa Didache ditulis di Palestina, ditolak oleh orang-orang menggarisbawahi tiadanya ajaran-ajaran St. Paulus di dalam Didache. Tetapi, jika benar Didache merupakan karya yang ditujukan kepada orang-orang yang belum dibaptis, maka itu cukup untuk menjelaskan tiadanya ajaran-ajaran St. Paulus di dalamnya. Identitas Penulis Semua usaha untuk menemukan identitas penulis Didache tidak berhasil, terutama karena kurangnya data tentang hal ini yang kita milikl sekarang. Asumsi yang paling mendekati kenyataan adalah ia ditulis oleh seorang Kristen Yahudi (Jewish Christian), atau paling tidak oleh orang Kristen yang berasal dari penganut agama Yahudi, karena ia menyebutkan makanan yang diharamkan Perjanjian Lama, yang tidak berubah sampai sekarang kecuali tentang keharaman makanan persembahan bagi berhala; Dan, karena ia mencela kemunafikan orang-orang Farisi, seolah-olah ia bergaul dan mengenal mereka. Penulis mengarahkan bukunya kepada orang yang dia sebut anaknya, karena ia sering mengulang kata ‘Wahai anakku.’ Dia juga menerangkan beberapa aktifitas gereja pertama yang didirikan orang­orang Kristen yang hidup pada awal abad kedua Masehi, terutama tata cara ibadah mereka. Karena itu, kita tidak dapat memandang naskah ini sebagai bukti yang pasti tentang iman gereja secara umum pada masa itu, apalagi Didache segera menghilang dari peredaran. J.P Audet berpendapat bahwa penulis ini mungkin sama dengan penulis L.e Vademacum bagi salah seorang Rasul yang berkeliling di gereja pertama.108] Bagaimanapun keadaannya, Rasul yang berkeliling ini telah melakukan dengan cermat ajaran tentang Rasul-rasul yang berkeliling yang terdapat di dalam Didache pasal l l : 3-6. Akan tetapi, kajian-kajian modem tidak menyetujui pendapat Audet. Bahwa penulis Didache adalah lebih dari satu orang, atau lebih dari satu penulis yang menulis buku itu dalam dua periode: Pertama, menulis pasal 1: 1 sampai pasal 11: 2; Kedua, menulis pasal 11: 3 sampai 16: 8. Alasannya, Didache pasal l 1-13 tidak mungkin ditulis orang yang menulis pasal 1415. Dengan demikian, kita tidak dapat menisbahkan semua pasal Didache pada satu orang penulis. Penerima Didache Bagian pertama teks Didache – yaitu bagian tentang akhlak – mengisyaratkan pada seorang guruyang memberikan nasehat kepada anak atau muridnya. Sementara bab 4: 2 yang menyatakan, “Berusahalah setiap hari untuk bertemu dengan orang-orang kudus supaya kamu terhibur oleh kata-kata mereka,” menunjukkan adanya jemaat Kristen yang di dalamnya terdapat orang-orang kudus yang ketakwaannya populer di kalangan mereka. Selain membedakan antara guru yang memberi nasehat dengan murid yang mendengarkannya, bagian ini juga menunjukkan adanya jemaat Kristen yang berdomisili pada satu tempat dalam waktu yang cukup lama yang memungkinkan munculnya generasi orang tua dan generasi anak-anak. Tetapi, awal pasal 7 memperlihatkan bahwa kitab Didache adalah Surat yang ditujukan kepada sekelompok jemaat yang pada awalnya belum memiliki aturan gereja tertentu. Fungsi-fungsi liturgis jemaat itu belum dilakukan oleh abdi-abdi gereja yang tetap. Itulah yang kita lihat pada pasal 15, di mana untuk pertama kali muncul tingkatan uskup dan diakon, yang secara perlahan-lahan menempati posisi Rasul-rasul, pengabar-pengabar gembira, dan Nabi-nabi yang berpindah-pindah dan tidak menetap di satu tempat; untuk memikui tugas-tugas tersebut pada periode awal sejarah gereja. Jika bagian pertama Didache sangat terpengaruh oleh ajaran Yahudi, maka istilah `uskup’ dan `diakon’ (pasal 15:1) menegaskan bahwa jemaat yang dikirimi karya sastra ini adalah orang-orang mukmin yang sebelumnya tidak mengenal Tuhan, sebab jika kita menemukan istilah uskup dan diakon pada masa apostolis – tanpa menyebut istilah tetua – maka itu menunjukkan kita sedang berhadapan dengan jemaat Masehi yang terbentuk dari bangsa-bangsa non-Yahudi atau bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Dengan demikian, jelas bahwa Didache dikirimkan kepada jemaat Kristen yang berasal dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Hal ini tidak menghalangi kemungkinan pasal 7-16 mengisyaratkan kepada penulis Kristen Yahudi, sebab terlalu berlebihan bila kita mengatakan bahwa awal pasal 8:1 dan 2 memperlihatkan karakter yang tidak dimiliki oleh penulis Kristen Yahudi. Selain itu, kami nyatakan di sini bahwa pasa116 yang menjelaskan penantian terhadap kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya di kalangan jemaat yang dikirimi Didache itu, mengungkapkan adat istiadat Yahudi yang telah baku dan tertanam di dalam gereja Kristen pertama. Ringkasnya, menurut kami, Didache adalah teks yang menghimpun adat istiadat yang saling bertentangan yang diberikan formula baru pada masa tertentu oleh penulis yang tidak kita ketahui yang sulit kita tentukan, tetapi memiliki kekuasaan yang kuat terhadap sekelompok jemaat Kristen yang mungkin berasal dari kalangan bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Karena itu, judul panjang Didache, yaitu “Ajaran Tuhan kepada Bangsa­bangsa.”, dengan tegas menjelaskan asumsi tersebut. Andresen, seorang sarjana Jerman,109] membandingkan teks Didache 14: 3, “Karena Aku adalah raja yang agung, kata Tuhan, dan nama-Ku dihormati semua manusia,” dengan nubuat Malakhi 1: 11, “Sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman Tuhan semesta alam,” untuk menjelaskan judul panjang Didache seperti ini, “Ajaran Tuhan Melalui Dua Belas Rasul kepada Gereja Bangsa-bangsa.” 108 S.C. Vol. 248, hlm. 19. 109 S.C. Vol. 248, hlm. 19. hal. 340-337-338 Tema-tema Utama Teks Didache Didache tetap bukan merupakan teks karya sastra yang utuh dan lengkap sampai dia muncul di dalam Manuskrip Yerusalem. Sebagaimana telah kami sebutkan, teks ini memiliki beberapa bagian yang tidak sama panjangnya. 1. Bagian pengajaran dan akhlak yang menjadi pendahuluan buku, pada intinya adalah ajaran-ajaran tentang ‘dua jalan’, jalan kehidupan dan jalan kematian. Bagian ini dimuat dalam 6 pasal pertama, dimulai tanpa pendahuluan, dengan ungkapan berikut, “Terdapatduajalan, yaitu Jalan Kehidupan dan Jalan Kematian.” Jalan kehidupan dimuat dalam 4 pasal pertama di dalam karya sastra ini dalam bentuk terakhimya, sedangkan pasal 5 memuat pembicaraan tentang jalan kematian, dan pasal 6 kesimpulan ajaran tentang dua jalan itu, disertai peringatan, “Hati­hatilah kamu, jangan sampai ada orang yang menyesatkanmu dari ajaran ini, karena dengan begitu ia mengajarkan apa yang tidak berhubungan dengan Tuhan.” `Dua jalari ini menunjukkan kesatuan enam pasal pertama Didache. Akan tetapi, sebenarnya, keenam pasal itu memuat unsur-unsur yang sangat bertentangan satu sama lain. Meskipun demikian, kita dapat mengatakan bahwa ajaran ini pada umumnya berkarakter sangat serupa, bahkan mungkin sangat sesuai, dengan ajaran sastra dan akhlak gereja pada periode-periode awalnya. 2. Bagian liturgis; Dimuat pada empat pasal berikutnya, dari pasal 7 sampai pasal 10. Bagian ini, dengan bahasa yang lebih pasti, berbicara tentang pembaptisan, puasa, doa harian, dan jamuan ekaristi. Dari kandungan bagian ini, jelas bahwa keutuhan penulisannya tidak dapat dipastikan. 3. Setelah peralihan yang tampak sebagai sinopsis awal bagi apa yang telah disebutkan (pasal l l : 1 dan 2), bagian aturan dimuat dalam lima pasal, dari pasal 11 sampai pasal 15. Di dalam pasal-pasal itu teks Didache menetapkan jenis penerimaan terhadap Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan pengganti-pengganti mereka, juga terhadap orang-orang Kristen yang datang dari luar kalangan jemaat. Bagian ini secara umum terlihat sebagai karya sastra yang struktur asasinya tidak utuh. 4. Di bagian terakhir, bagian eskatologi (tentang Akhirat), yang menutup buku dan dimuat pada pasal 16, terdapat bagian yang hilang dari Manuskrip Yerusalem, yang menyulitkan kita untuk memberikan konsep yang teliti tentang teks asli. *** Didache 16: 2 menyatakan, “Sering-seringlah kamu berkumpul untuk mempelajari hal-hal yang pantas bagi jiwa-jiwa kamu, karena iman kamu pada setiap zaman tidak akan berguna, jika pada saat yang terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempuma.” sesuai dengan Surat Bamabas 4: 9 dan 10, yaitu, “Waspadalah kamu pada hari-hari terakhir. Semua hari hidup kita dan iman kita tidak berguna sedikit pun, jika kita tidak melawan sebagai anak-anakTuhan, dengan perlawanan yang aktif, melawan zaman dosa dan rintangan yang menghadang ini, karena takut kegelapan merasuk ke dalam diri kita. Hendaknya kita menjauhi kebatilan-kebatilan, dan membenci secara total perbuatan-perbuatan jalan yang jahat. Janganlah kamu memakai pakaian kesatuan, dan janganlah kamu menganggap diri­dirimu terbebas, tetapi berkumpullah bersama-sama untuk mempelajari yang berguna bagi orang banyak.” St. Ignatius dari Antiokhia berkata, “Jika kamu memiliki iman yang sempuma dan kasih yang sempuma, maka kamu tidak akan tertipu oleh siapapun. Kedua kebajikan itu adalah awal dan akhir kehidupan. Iman adalah awal, dan kasih adalah akhir. Kesatuan dari keduanya adalah Tuhan. Semua kebajikan lain mengiringi manusia untuk mengantarkannya kepada Tuhan.” (Suratnya kepada jemaat di Efesos 14: 1) Gambaran eskatologis tentang akhir dunia seperti terdapat dalam Didache 16: 3-8 pada umumnya memiliki corak materi tersendiri, yang lebih dalam daripada ajaran-ajaran terdahulu. Ajaran tentang akhir dunia, yang muncul sebagai pasal terakhir dalam Didache itu, sebagaimana di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, sangat menarik perhatian kita, kaitannya dengan penulis Didache yang ingin menutup bukunya dengan bagian eskatologis yang dasar-dasamya berasal dari unsur-unsur yang bercorak Perjanjian baru. Prigent, B.C. Butler, dan Giet menetapkan bahwa pasa116 Didache ini secara langsung bersandar kepada pasal 24 Injil Matius. Sebaliknya, setelah kajian yang luas yang tidak meyakinkan kami, Willy Rordrop dan Andre Tuilier –penulis kajian tentang Didache di dalam Sources Chretiennes, 248 mengatakan, “Kami sepakatdengan G. Gloverbahwa Didache tidak mengambil teks apa pun dari Perjanjian Baru.110] Demikian juga halnya teks doa (resension) yang terdapat di dalam Didache 8: 2, yang oleh kedua sarjana tersebut dikatakan sangat mirip dengan teks Injil Matius 6: 9-13. Teks doa di dalam Didache berbeda dengan teks doa yang terdapat di dalam Injil. Sampai di sini selesailah tulisan Pendeta Koptik. Kami telah menjelaskan di dalam bagian komentar bahwa Didache mirip dengan Injil Bamabas. Sampai di sini selesailah buku ini. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat, salam, dan berkat bagi tuan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, bagi keluarganya dan semua sahabatnya. Buku ini selesai ditulis pada tanggal 15 Ramadhan 1423 di Kairo. Dan, buku ini selesai diterjemahkan pada malam Rabu tanggal 31 Juni 2004 M. bertepatan dengan 12 Jumadil Ula 1425 H. di Ciracas Serang Banten.[*] ‘110. S.C. Vol, 248, hlm. 83-91. Semoga dapat bermanfaat, insyaAllah. Wassalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh CJ Dewi ICJPRMarketing http://islammenjawab.multiply.com/journal/item/857/INJIL_DIDACHE

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel