KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR’AN oleh Muhammad Husain Haekal

1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (1/6)
   Muhammad Husain Haekal

   MUHAMMAD telah meninggalkan warisan rohani yang agung,
   yang telah menaungi dunia dan memberi arah kepada
   kebudayaan dunia selama dalam beberapa abad yang lalu.
   Ia akan terus demikian sampai Tuhan menyempurnakan
   cahayaNya ke seluruh dunia. Warisan yang telah memberi
   pengaruh besar pada masa lampau itu, dan akan demikian,
   bahkan lebih lagi pada masa yang akan datang, ialah
   karena ia telah membawa agama yang benar dan meletakkan
   dasar kebudayaan satu-satunya yang akan menjamin
   kebahagiaan dunia ini. Agama dan kebudayaan yang telah
   dibawa Muhammad kepada umat manusia melalui wahyu Tuhan
   itu, sudah begitu berpadu sehingga tidak dapat lagi
   terpisahkan.

Kalau pun kebudayaan Islam ini didasarkan kepada metoda-metoda
ilmu pengetahuan dan kemampuan rasio, - dan dalam hal ini sama
seperti yang  menjadi  pegangan  kebudayaan  Barat  masa  kita
sekarang,  dan  kalau  pun  sebagai agama Islam berpegang pada
pemikiran yang subyektif dan pada pemikiran  metafisika  namun
hubungan   antara   ketentuan-ketentuan   agama  dengan  dasar
kebudayaan  itu  erat  sekali.  Soalnya  ialah   karena   cara
pemikiran  yang  metafisik dan perasaan yang subyektif di satu
pihak,  dengan  kaidah-kaidah  logika   dan   kemampuan   ilmu
pengetahuan  di pihak lain oleh Islam dipersatukan dengan satu
ikatan, yang mau tidak mau memang perlu  dicari  sampai  dapat
ditemukan,  untuk  kemudian  tetap  menjadi orang Islam dengan
iman yang kuat pula. Dari segi ini  kebudayaan  Islam  berbeda
sekali  dengan kebudayaan Barat yang sekarang menguasai dunia,
juga dalam melukiskan hidup dan dasar yang menjadi landasannya
berbeda.  Perbedaan  kedua  kebudayaan  ini,  antara yang satu
dengan  yang  lain  sebenarnya  prinsip  sekali,  yang  sampai
menyebabkan  dasar keduanya itu satu sama lain saling bertolak
belakang.

Timbulnya pertentangan ini ialah karena alasan-alasan sejarah,
seperti  sudah  kita singgung dalam prakata dan kata pengantar
cetakan kedua buku ini. Pertentangan di Barat antara kekuasaan
agama  dan  kekuasaan  temporal1  sebagai bangsa yang menganut
agama Kristen   atau dengan bahasa sekarang     antara  gereja
dengan negara     menyebabkan keduanya itu harus berpisah, dan
kekuasaan  negara  harus  ditegakkan  untuk   tidak   mengakui
kekuasaan  gereja.  Adanya  konflik  kekuasaan  itu  ada  juga
pengaruhnya dalam pemikiran Barat secara  keseluruhan.  Akibat
pertama  dari  pengaruh  itu  ialah  adanya  permisahan antara
perasaan manusia  dengar  pikiran  manusia,  antara  pemikiran
metafisik  dengan  ketentuan-ketentuan ilmu positif (knowledge
of   reality)   yang   berlandaskan   tinjauan   materialisma.
Kemenangan  pikiran  materialisma ini besar sekali pengaruhnya
terhadap lahirnya suatu  sistem  ekonomi  yang  telah  menjadi
dasar utama kebudayaan Barat.

Sebagai  akibatnya,  di  Barat telah timbul pula aliran-aliran
yang hendak membuat segala yang ada di muka  bumi  ini  tunduk
kepada  kehidupan  dunia  ekonomi.  Begitu  juga tidak sedikit
orang rang ingin menempatkan sejarah umat  manusia  dari  segi
agamanya,  seni,  f1lsafat, cara berpikir dan pengetahuannya -
dalam segala pasang surutnya pada  berbagai  bangsa  -  dengan
ukuran  ekonomi. Pikiran ini tidak terbatas hanya pada sejarah
dan penulisannya, bahkan beberapa aliran filsafat Barat  telah
pula  membuat pola-pola etik atas dasar kemanfaatan materi ini
semata-mata. Sungguh  pun  aliran-aliran  demikian  ini  dalam
pemikirannya  sudah  begitu  tinggi  dengan daya ciptanya yang
besar sekali, namun perkembangan pikiran di  Barat  itu  telah
membatasinya  pada  batas-batas  keuntungan materi yang secara
kolektif dibuat oleh pola-pola etik  itu  secara  keseluruhan.
Dan  dari segi pembahasan ilmiah hal ini sudah merupakan suatu
keharusan yang sangat mendesak.

Sebaiiknya mengenai masalah rohani, masalah  spiritual,  dalam
pandangan  kebudayaan Barat ini adalah masalah pribadi semata,
orang tidak perlu memberikan perhatian bersama untuk itu. Oleh
karenanya  membiarkan  masalah kepercayaan ini secara bebas di
Barat merupakan suatu hal  yang  diagungkan  sekali,  melebihi
kebebasan   dalam   soal   etik.   Sudah  begitu  rupa  mereka
mengagungkan masalah kebebasan etik itu demi kebebasan ekonomi
yang   sudah   sama   sekali   terikat   oleh   undang-undang.
Undang-undang ini akan dilaksanakan  oleh  tentara  atau  oleh
negara dengan segala kekuatan yang ada.

Kebudayaan  yang  hendak  menjadikan kehidupan ekonomi sebagai
dasarnya, dan pola-pola etik didasarkan  pula  pada  kehidupan
ekonomi  itu  dengan tidak menganggap penting arti kepercayaan
dalam kehidupan umum, dalam merambah jalan untuk umat  manusia
mencapai   kebahagiaan  seperti  yang  dicita-citakannya  itu,
menurut  hemat  saya  tidak  akan  mencapai   tujuan.   Bahkan
tanggapan  terhadap  hidup  demikian ini sudah sepatutnya bila
akan menjerumuskan umat manusia  ke  dalam  penderitaan  berat
seperti  yang  dialami  dalam  abad-abad belakangan ini. Sudah
seharusnya pula apabila segala pikiran  dalam  usaha  mencegah
perang  dan mengusahakan perdamaian dunia tidak banyak membawa
arti dan hasilnya pun tidak  seberapa.  Selama  hubungan  saya
dengan  saudara  dasarnya  adalah sekerat roti yang saya makan
atau yang saudara makan, kita berebut, bersaing dan bertengkar
untuk  itu,  masing-masing  berpendirian  atas  dasar kekuatan
hewaninya,  maka  akan  selalu  kita  masing-masing   menunggu
kesempatan  baik  untuk  secara  licik memperoleh sekerat roti
yang di tangan temannya itu. Masing-masing kita satu sama lain
akan  selalu  melihat  teman  itu sebagai lawan, bukan sebagai
saudara. Dasar etik yang tersembunyi dalam diri kita ini  akan
selalu  bersifat  hewani,  sekali  pun masih tetap tersembunyi
sampai pada waktunya nanti ia akan timbul.  Yang  selalu  akan
menjadi pegangan dasar etik ini satu-satunya ialah keuntungan.
Sementara arti perikemanusiaan  yang  tinggi,  prinsip-prinsip
akhlak  yang  terpuji, altruisma, cinta kasih dan persaudaraan
akan jatuh tergelincir, dan  hampir-hampir  sudah  tak  dapat
dipegang lagi.

Apa  yang  terjadi  dalam  dunia  dewasa  ini ialah bukti yang
paling nyata atas apa yang saya sebutkan itu.  Persaingan  dan
pertentangan  ialah  gejala  pertama dalam sistem ekonomi, dan
itu pula gejala pertamanya dalam kebudayaan Barat, baik  dalam
paham  yang  individualistis,  maupun  sosialistis  sama  saja
adanya. Dalam  paham  individualisma,  buruh  bersaing  dengan
buruh,  pemilik  modal  dengan  pemilik  modal.  Buruh  dengan
pemilik  modal  ialah  dua   lawan   yang   saling   bersaing.
Pendukung-pendukung paham ini berpendapat bahwa persaingan dan
pertentangan ini akan membawa  kebaikan  dan  kemajuan  kepada
umat  manusia.  Menurut mereka ini merupakan perangsang supaya
bekerja lebih tekun dan perangsang untuk pembagian kerja,  dan
akan menjadi neraca yang adil dalam membagi kekayaan.

Sebaliknya  paham sosialisma yang berpendapat bahwa perjuangan
kelas yang harus disudahi dengan kekuasaan  berada  di  tangan
kaum  buruh,  merupakan  salah  satu  keharusan  alam.  Selama
persaingan dan perjuangan mengenai harta itu  dijadikan  pokok
kehidupan,  selama  pertentangan  antar-kelas  itu wajar, maka
pertentangan antar-bangsa juga wajar, dengan tujuan yang  sama
seperti   pada   perjuangan   kelas.   Dari  sinilah  konsepsi
nasionalisma itu, dengan  sendirinya,  memberi  pengaruh  yang
menentukan   terhadap   sistem   ekonomi.  Apabila  perjuangan
bangsa-bangsa untuk menguasai harta itu wajar, apabila  adanya
penjajahan  untuk  itu  wajar  pula,  bagaimana mungkin perang
dapat dicegah dan perdamaian  di  dunia  dapat  dijamin?  Pada
menjelang  akhir abad ke-20 ini kita telah dapat menyaksikan -
dan masih dapat kita  saksikan  -  adanya  bukti-bukti,  bahwa
perdamaian  di  muka bumi dengan dasar kebudayaan yang semacam
ini hanya dalam impian saja dapat  dilaksanakan,  hanya  dalam
cita-cita  yang manis bermadu, tetapi dalam kenyataannya tiada
lebih dari suatu fatamorgana yang kosong belaka.

Kebudayaan Islam  lahir  atas  dasar  yang  bertolak  belakang
dengan dasar kebudayaan Barat. Ia lahir atas dasar rohani yang
mengajak  manusia  supaya  pertama  sekali   dapat   menyadari
hubungannya  dengan  alam  dan tempatnya dalam alam ini dengan
sebaik-baiknya. Kalau kesadaran demikian ini sudah  sampai  ke
batas  iman,  maka  imannya  itu  mengajaknya  supaya ia tetap
terus-menerus mendidik dan melatih diri, membersihkan  hatinya
selalu,  mengisi jantung dan pikirannya dengan prinsip-prinsip
yang lebih luhur - prinsip-prinsip harga  diri,  persaudaraan,
cinta kasih, kebaikan dan berbakti. Atas dasar prinsip-prinsip
inilah manusia hendaknya menyusun kehidupan  ekonominya.  Cara
bertahap  demikian ini adalah dasar kebudayaan Islam, seperti
wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad,  yakni  mula-mula
kebudayaan  rohani,  dan  sistem kerohanian disini ialah dasar
sistem pendidikan serta dasar  pola-pola  etik  (akhlak).  Dan
prinsip-prinsip  etik ini ialah dasar sistem ekonominya. Tidak
dapat dibenarkan tentunya dengan  cara  apa  pun  mengorbankan
prinsip-prinsip  etik  ini  untuk  kepentingan  sistem ekonomi
tadi.

Tanggapan Islam tentang kebudayaan demikian ini menurut  hemat
saya  ialah  tanggapan yang sesuai dengan kodrat manusia, yang
akan menjamin kebahagiaan baginya. Kalau ini  yang  ditanamkan
dalam  jiwa  kita dan kehidupan seperti dalam kebudayaan Barat
itu kesana pula jalannya, niscaya corak umat manusia itu  akan
berubah,  prinsip-prinsip  yang  selama  ini  menjadi pegangan
orang  akan  runtuh,  dan   sebagai   gantinya   akan   timbul
prinsip-prinsip  yang  lebih  luhur, yang akan dapat mengobati
krisis dunia kita sekarang ini sesuai dengan tuntunannya  yang
lebih cemerlang.

Sekarang orang di Barat dan di Timur berusaha hendak mengatasi
krisis ini, tanpa mereka sadari - dan  kaum  Muslimin  sendiri
pun   tidak  pula  menyadari  -  bahwa  Islam  dapat  menjamin
mengatasinya. Orang-orang di Barat dewasa ini  sedang  mencari
suatu  pegangan  rohani  yang  baru, yang akan dapat menanting
mereka dari paganisma yang sedang  menjerumuskan  mereka;  dan
sebab   timbulnya   penderitaan   mereka  itu,  penyakit  yang
menancapkan mereka ke dalam kancah  peperangan  antara  sesama
mereka,   ialah   mammonisma   -   penyembahan  kepada  harta.
Orang-orang Barat mencari pegangan baru itu  didalam  beberapa
ajaran  di  India  dan  di  Timur Jauh; padahal itu akan dapat
mereka peroleh tidak jauh dari mereka, akan mereka dapati  itu
sudah ada ketentuannya didalam Qu'ran, sudah dilukiskan dengan
indah sekali dengan teladan yang sangat  baik  diberikan  oleh
Nabi kepada manusia selama masa hidupnya.

Bukan  maksud  saya  hendak melukiskan kebudayaan Islam dengan
segala ketentuannya itu disini. Lukisan  demikian  menghendaki
suatu  pembahasan  yang  mendalam,  yang  akan  meminta tempat
sebesar buku ini atau lebih besar lagi. Akan tetapi -  setelah
dasar  rohani  yang  menjadi  landasannya  itu  saya  singgung
seperlunya  -  lukisan  kebudayaan  itu  disini   ingin   saya
simpulkan,  kalau-kalau  dengan  demikian  ajaran  Islam dalam
keseluruhannya  dapat   pula   saya   gambarkan   dan   dengan
penggambaran  itu  saya akan merambah jalan ke arah pembahasan
yang lebih dalam lagi.  Dan  sebelum  melangkah  ke  arah  itu
kiranya  akan  ada  baiknya juga saya memberi sekadar isyarat,
bahwa  sebenarnya  dalam  sejarah   Islam   memang   tak   ada
pertentangan   antara   kekuasaan   agama  (theokrasi)  dengan
kekuasaan temporal, yakni antara gereja dengan negara. Hal ini
dapat   menyelamatkan   Islam  dari  pertentangan  yang  telah
ditinggalkan Barat dalam pikiran dan dalam haluan sejarahnya.

Islam  dapat  diselamatkan  dari  pertentangan  serta   segala
pengaruhnya  itu,  sebabnya ialah karena Islam tidak kenal apa
yang namanya gereja itu  atau  kekuasaan  agama  seperti  yang
dikenal  oleh  agama  Kristen.  Belum  ada  orang  di kalangan
Muslimin  -  sekalipun  ia  seorang  khalifah  -   yang   akan
mengharuskan  sesuatu  perintah kepada orang, atas nama agama,
dan akan mendakwakan dirinya mampu  memberi  pengampunan  dosa
kepada  siapa saja yang melanggar perintah itu. Juga belum ada
di kalangan Muslimin - sekalipun ia seorang  khalifah  -  yang
akan  mengharuskan  sesuatu  kepada  orang  selain  yang sudah
ditentukan Tuhan di dalam Qur'an.  Bahkan  semua  orarg  Islam
sama  di  hadapan  Tuhan.  Yang seorang tidak lebih mulia dari
yang  lain,  kecuali  tergantung  kepada  takwanya  -   kepada
baktinya.  Seorang  penguasa  tidak  dapat  menuntut kesetiaan
seorang Muslim apabila dia sendiri  melakukan  perbuatan  dosa
dan  melanggar  penntah  Tuhan.  Atau  seperti  kata  Abu Bakr
ash-Shiddiq kepada kaum Muslimin  dalam  pidato  pelantikannya
sebagai  Khalifah  "Taatilah  saya  selama  saya  taat  kepada
(perintah) Allah dan RasulNya. Tetapi apabila  saya  melanggar
(perintah) Allah dan Rasul maka gugurkanlah kesetiaanmu kepada
saya."

Kendatipun  pemerintahan  dalam  Islam  sesudah  itu  kemudian
dipegang  oleh  seorang  raja  tirani,  kendatipun di kalangan
Muslimin pernah timbul perang  saudara,  namun  kaum  Muslimin
tetap  berpegang kepada kebebasan pribadi yang besar itu, yang
sudah ditentukan oleh agama, kebebasan yang sampai menempatkan
akal  sebagai  patokan  dalam  segala  hal,  bahkan  dijadikan
patokan didalam agama dan iman sekalipun. Kebebasan ini  tetap
mereka   pegang   sekalipun   sampai   pada   waktu  datangnya
penguasa-penguasa  orang-orang  Islam  yang  mendakwakan  diri
sebagai  pengganti Tuhan di muka bumi ini - bukan lagi sebagai
pengganti Rasulullah. Padahal segala persoalan Muslimin  sudah
mereka kuasai belaka, sampai-sampai ke soal hidup dan matinya.

Sebagai  bukti  misalnya  apa  yang  sudah  terjadi  pada masa
Ma'mun, tatkala orang berselisih mengenai Qur'an: makhluk atau
bukan  makhluk - yang diciptakan atau bukan diciptakan! Banyak
sekali orang  yang  menentang  pendapat  Khalifah  waktu  itu,
padahal  mereka  mengetahui akibat apa yang akan mereka terima
jika berani menentangnya.

Dalam segala hal  akal  pikiran  oleh  Islam  telah  dijadikan
patokan.  Juga  dalam hal agama dan iman ia dijadikan patokan.
Dalam firman Tuhan:

"Perumpamaan orang-orang  yang  tidak  beriman  ialah  seperti
(gembala)  yang  meneriakkan  (ternaknya) yang tidak mendengar
selain suara panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu  dan
buta,  sebab  mereka tidak menggunakan akal pikiran." (Qur'an,
2: 171)

Oleh Syaikh Muhammad  Abduh  ditafsirkan,  dengan  mengatakan:
"Ayat  ini  jelas  sekali  menyebutkan, bahwa taklid (menerima
begitu  saja)  tanpa  pertimbangan  akal  pikiran  atau  suatu
pedoman  ialah  bawaan  orang-orang tidak beriman. Orang tidak
bisa beriman kalau agamanya  tidak  disadari  dengan  akalnya,
tidak  diketahuinya sendiri sampai dapat ia yakin. Kalau orang
dibesarkan dengan biasa menerima begitu  saja  tanpa  disadari
dengan  akal pikirannya, maka dalam melakukan suatu perbuatan,
meskipun perbuatan yang baik, tanpa  diketahuinya  benar,  dia
bukan  orang  beriman. Dengan beriman bukan dimaksudkan supaya
orang  merendah-rendahkan  diri  melakukan  kebaikan   seperti
binatang  yang  hina, tapi yang dimaksudkan supaya orang dapat
meningkatkan daya akal  pikirannya,  dapat  meningkatkan  diri
dengan  ilmu  pengetahuan, sehingga dalam berbuat kebaikan itu
benar-benar ia sadar, bahwa kebaikannya  itu  memang  berguna,
dapat  diterima  Tuhan.  Dalam meninggalkan kejahatan pun juga
dia mengerti benar bahaya dan  berapa  jauhnya  kejahatan  itu
akan membawa akibat."

Inilah  yang dikatakan Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan
ayat ini, yang di dalam Qur'an,  selain  ayat  tersebut  sudah
banyak  pula  ayat-ayat  lain  yang  disebutkan  secara  jelas
sekali. Qur'an menghendaki  manusia  supaya  merenungkan  alam
semesta ini, supaya mengetahui berita-berita sekitar itu, yang
kelak  renungan  demikian  itu  akan  mengantarkannya   kepada
kesadaran  tentang  wujud  Tuhan,  tentang keesaanNya, seperti
dalam firman Allah:
                                    (bersambung ke bagian 2/6)
1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (2/6)
Muhammad Husain Haekal

"Bahwasanya dalam penciptaan langit dan bumi, dalam pergantian
malam  dan  siang,  bahtera yang mengarungi lautan membawa apa
yang berguna buat umat manusia, dan apa yang diturunkan  Allah
dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkanNya bumi
yang sudah mati kering, kemudian  disebarkanNya  di  bumi  itu
segala jenis hewan, pengisaran angin dan awan yang dikemudikan
dari antara langit dan bumi - adalah tanda-tanda (akan keesaan
dan   kebesaran  Tuhan)  buat  mereka  yang  menggunakan  akal
pikiran." (Qur'an, 2: 164)

"Dan sebagai suatu tanda buat mereka,  ialah  bumi  yang  mati
kering.  Kami  hidupkan  kembali  dan Kami keluarkan dari sana
benih  yang  sebagian  dapat  dimakan.  Disana   Kami   adakan
kebun-kebun  kurma  dan  palm  dan anggur dan disana pula Kami
pancarkan mata air - supaya dapat mereka makan buahnya.  Semua
itu  bukan  usaha tangan mereka. Kenapa mereka tidak berterima
kasih. Maha Suci Yang telah menciptakan semua yang ditumbuhkan
bumi  berpasang-pasangan,  dan dalam diri mereka sendiri serta
segala apa yang tiada mereka ketahui. Juga sebagai suatu tanda
buat  mereka  -  ialah malam. Kami lepaskan siang, maka mereka
pun berada  dalam  kegelapan.  Matahari  pun  beredar  menurut
ketetapan  yang sudah ditentukan. Itulah ukuran dari Yang Maha
Kuasa  dan  Maha  Tahu.  Juga  bulan,  sudah   Kami   tentukan
tempat-tempatnya  sampai  ia  kembali lagi seperti mayang yang
sudah tua. Matahari tiada sepatutnya akan mengejar  bulan  dan
malam  pun tiada akan mendahului siang. Masing-masing berjalan
dalam peredarannya. Juga sebagai suatu  tanda  buat  mereka  -
ialah  turunan  mereka yang Kami angkut dalam kapal yang penuh
muatan. Dan buat mereka Kami ciptakan pula yang  serupa,  yang
dapat  mereka  kendarai.  Kalau  Kami kehendaki, Kami karamkan
mereka. Tiada penolong lagi buat mereka, juga mereka tak dapat
diselamatkan.  Kecuali  dengan  rahmat  dari  Kami  dan  untuk
memberikan kesenangan hidup sampai  pada  waktunya."  (Qur'an,
36: 33-44.)

Anjuran   supaya   memperhatikan  alam  ini,  menggali  segala
ketentuan  dan  hukum  yang  ada  di  dalam  alam  ini   serta
menjadikannya  sebagai  pedoman  yang  akan  mengantarkan kita
beriman kepada  Penciptanya,  sudah  beratus  kali  disebutkan
dalam  pelbagai  Surah dalam Qur'an. Semuanya ditujukan kepada
tenaga akal  pikiran  manusia,  menyuruh  manusia  menilainya,
merenungkannya,  supaya  imannya  itu  didasarkan  kepada akal
pikiran, dan keyakinan yang jelas. Qur'an mengingatkan  supaya
jangan menerima begitu saja apa yang ada pada nenek moyangnya,
tanpa memperhatikan, tanpa meneliti lebih  jauh  serta  dengan
keyakinan pribadi akan kebenaran yang dapat dicapainya itu.

Iman demikian inilah yang dianjurkan oleh Islam. Dan ini bukan
iman yang biasa disebut  "iman  nenek-nenek,"  melainkan  iman
intelektual  yang  sudah  meyakinkan,  yang  sudah direnungkan
lagi, kemudian dipikirkan matang-matang, sesudah  itu,  dengan
renungan  dan pemikirannya itu ia akan sampai kepada keyakinan
tentang Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya rasa tak  ada  orang  yang
sudah   dapat  merenungkan  dengan  akal  pikiran  dan  dengan
hatinya,  yang  tidak  akan  sampai  kepada  iman.  Setiap  ia
merenungkan  lebih  dalam,  berpikir  lebih  lama dan berusaha
menguasai ruang dan waktu ini serta kesatuan  yang  terkandung
di  dalamnya,  yang tiada berkesudahan, dengan anggota-anggota
alam semesta  tiada  terbatas,  yang  selalu  berputar  ini  -
sekelumit  akan  terasa  dalam dirinya tentang anggota-anggota
alam itu, yang semuanya  berjalan  menurut  hukum  yang  sudah
ditentukan   dan  dengan  tujuan  yang  hanya  diketahui  oleh
penciptanya. Ia pun akan merasa yakin akan kelemahan  dirinya,
akan  pengetahuannya  yang  belum  cukup,  jika  saja ia tidak
segera dibantu dengan kesadarannya tentang alam  ini,  dibantu
dengan   suatu   kekuatan  diatas  kemampuan  pancaindera  dan
otaknya, yang akan  menghubungkannya  dengan  seluruh  anggota
alam,  dan  yang akan membuat dia menyadari tempatnya sendiri.
Dan kekuatan itu ialah iman.

Jadi iman itu  ialah  perasaan  rohani,  yang  dirasakan  oleh
manusia  meliputi  dirinya  setiap  ia  mengadakan  komunikasi
dengan alam dan  hanyut  kedalam  ketak-terbatasan  ruang  dan
waktu.  Semua  makhluk  alam  ini akan terjelma dalam dirinya.
Maka dilihatnya semua itu berjalan menurut  hukum  yang  sudah
ditentukan,  dan  dilihatnya  pula  sedang  memuja  Tuhan Maha
Pencipta. Ada pun Ia menjelma dalam alam,  berhubungan  dengan
alam, atau berdiri sendiri dan terpisah, masih merupakan suatu
perdebatan spekulatif  yang  kosong  saja.  Mungkin  berhasil,
mungkin  juga  jadi  sesat,  mungkin menguntungkan dan mungkin
juga merugikan. Disamping itu  hal  ini  tidak  pula  menambah
pengetahuan   kita.  Sudah  berapa  lama  penulis-penulis  dan
failasuf-failasuf  itu  satu   sama   lain   berusaha   hendak
mengetahui  zat  Maha Pencipta ini, namun usaha dan daya upaya
mereka itu sia-sia. Dan ada  pula  yang  mengakui,  bahwa  itu
memang berada di luar jangkauan persepsinya. Kalau memang akal
yang sudah tak mampu mencapai  pengertian  ini,  maka  ketidak
mampuannya  itu  lebih-lebih  lagi  memperkuat  keimanan kita.
Perasaan  kita  yang  meyakinkan  tentang  adanya  Wujud  Maha
Tinggi,  Yang  Maha Mengetahui akan segalanya dan bahwa Dialah
Maha  Pencipta,  Maha  Perencana,   segalanya   akan   kembali
kepadaNya,  maka  keadaan  semacam  itu  akan sudah meyakinkan
kita, bahwa kita takkan mampu  menjangkau  zatNya  betapa  pun
besarnya iman kita kepadaNya itu

Demikian  juga, kalau sampai sekarang kita tak dapat menangkap
apa sebenarnya listrik itu meskipun dengan mata  kita  sendiri
kita  melihat  bekasnya,  begitu  juga  eter  yang  tidak kita
ketahui meskipun sudah dapat  ditentukan,  bahwa  gelombangnya
itu dapat inemindahkan suara dan gambar, pengaruh dan bekasnya
itu buat kita sudah cukup untuk mempercayai adanya listrik dan
adanya   eter.  Alangkah  angkuhnya  kita,  setiap  hari  kita
menyaksikan keindahan dan  kebesaran  yang  diciptakan  Tuhan,
kalau  kita  masih  tidak  mau percaya sebelum kita mengetahui
zatNya. Tuhan Yang Maha Transenden jauh di luar jangkauan yang
dapat  mereka  lukiskan.  Kenyataan  dalam  hidup  ialah bahwa
mereka yang mencoba menggambarkan zat Tuhan Yang Maha Suci itu
ialah   mereka  yang  dengan  persepsinya  sudah  tak  berdaya
mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi dalam  melukiskan  apa
yang  diatas  kehidupan  insan. Mereka ingin mengukur alam ini
serta  Pencipta  alam  menurut  ukuran  kita  yang  nisbi  dan
terbatas sekali dalam batas-batas ilmu kita yang hanya sedikit
itu. Sebaliknya mereka yang sudah benar-benar  mencapai  ilmu,
akan teringat oleh mereka firman Tuhan ini:

"Mereka  bertanya  kepadamu  tentang  ruh.  Jawablah:  Ruh itu
termasuk urusan Tuhan. Pengetahuan yang diberikan kepada  kamu
itu hanya sedikit sekali." (Qur'an, 17: 85)

Kalbu  mereka  sudah penuh dengan iman kepada Pencipta Ruh dan
Pencipta semesta Alam ini,  sesudah  itu  tidak  perlu  mereka
menjerumuskan diri ke dalam perdebatan spekulatif yang kosong,
yang takkan memberi hasil, takkan mencapai suatu kesimpulan.

Islam yang dicapai dengan iman dan Islam yang tanpa iman  oleh
Qur'an dibedakan:

"Orang-orang  Arab  badwi  itu  berkata: 'Kami sudah beriman.'
Katakanlah 'Kamu belum beriman, tapi katakan saja: kami  sudah
islam.'  Iman  itu  belum  lagi  masuk  ke  dalam  hati kamu."
(Qur'an, 49: 14)

Contoh Islam yang demikian ini ialah yang tunduk kepada ajakan
orang  karena kehendaknya atau karena takut, karena kagum atau
karena mengkultuskan diluar hati yang mau menurut dan memahami
benar-benar akan ajaran itu sampai ke batas iman.

Yang  demikian ini belum mendapat petunjuk Tuhan sampai kepada
iman yang seharusnya dicapai, dengan  jalan  merenungkan  alam
dan  mengetahui  hukum  alam,  dan  yang  dengan  renungan dan
pengetahuannya  itu  ia  akan  sampai  kepada  Penciptanya   -
melainkan  jadi  Islam  karena  suatu  keinginan  atau  karena
nenek-moyangnya memang sudah Islam. Oleh  karenanya  iman  itu
belum merasuk lagi kedalam hatinya, sekalipun dia sudah Islam.
Manusia-manusia Muslim semacam  ini  ada  yang  hendak  menipu
Tuhan dan menipu orang-orang beriman, tetapi sebenarnya mereka
sudah menipu diri sendiri dengan tiada  mereka  sadari.  Dalam
hati  mereka sudah ada penyakit. Maka oleh Tuhan ditambah lagi
penyakit mereka itu. Mereka itulah orang-orang beragama  tanpa
iman; islamnya hanya karena didorong oleh suatu keinginan atau
karena takut, sedang jiwanya tetap kerdil, keyakinannya  tetap
lemah  dan  hatinya  pun  bersedia  menyerah  kepada  kehendak
manusia, menyerah kepada perintahnya. Sebaliknya mereka,  yang
keimanannya kepada Allah itu dengan imam yang sungguh-sungguh,
diantarkan oleh akal pikiran  dan  oleh  jantung  yang  hidup,
dengan  jalan  merenungkan  alam ini, mereka itulah orang yang
beriman.  Mereka  yang  akan  menyerahkan  persoalannya  hanya
kepada Tuhan, mereka itulah orang yang tidak mengenal menyerah
selain kepada Allah. Dengan Islamnya itu mereka tidak  memberi
jasa apa-apa kepada orang.

"Tetapi  sebenarnya  Tuhanlah yang berjasa kepada kamu, karena
kamu telah dibimbingNya kepada  keimanan,  kalau  kamu  memang
orang-orang yang benar." (Qur'an, 49: 17)

Jadi barangsiapa menyerahkan diri patuh kepada Allah dan dalam
pada itu melakukan perbuatan baik, mereka tidak  perlu  merasa
takut,  tidak  usah  bersedih  hati.  Mereka  tidak takut akan
menghadapi hidup miskin  atau  hina,  sebab  dengan  iman  itu
mereka   sudah   sangat   kaya,  sangat  mendapat  kehormatan.
Kehormatan yang ada pada Tuhan dan pada orang-orang beriman.

Jiwa yang rela dan tenteram dengan imannya ini, ia merasa lega
bila  selalu ia berusaha hendak mengetahui rahasia-rahasia dan
hukum-hukum  alam,  yang  berarti  akan  menambah  hubungannya
dengan  Tuhan. Dan langkah kearah pengetahuan ini ialah dengan
jalan membahas dan merenungkan segala ciptaan Tuhan  yang  ada
dalam  alam  ini  dengan  cara  ilmiah seperti dianjurkan oleh
Qur'an  dan  dipraktekkan  pula  sungguh-sungguh   oleh   kaum
Muslimin  dahulu,  yaitu  seperti  cara  ilmiah yang modern di
Barat sekarang. Hanya saja tujuannya  dalam  Islam  dan  dalam
kebudayaan  Barat  itu  berbeda.  Dalam Islam tujuannya supaya
manusia membuat hukum Tuhan dalam alam  ini  menjadi  hukumnya
dan  peraturannya  sendiri, sementara di Barat tujuannya ialah
mencari keuntungan materi dan apa yang  ada  dalam  alam  ini.
Dalam Islam tujuan yang pertama sekali ialah 'irfan - mengenal
Tuhan  dengan  baik,  makin   dalam   'irfan   atau   persepsi
(pengenalan)  kita  makin  dalam  pula iman kita kepada Tuhan.
Tujuan ini ialah hendak mencapai 'irfan yang  baik  dari  segi
seluruh  masyarakat,  bukan  dari  segi  pribadi saja. Masalah
integritas rohani bukan suatu masalah pribadi semata. Tak  ada
tempat  buat  orang  mengurung  diri  sebagai suatu masyarakat
tersendiri. Bahkan  ia  seharusnya  menjadi  dasar  kebudayaan
untuk  masyarakat  manusia sedunia - dari ujung ke ujung. Oleh
karena  itu  seharusnya  umat  manusia  berusaha  terus   demi
integritas (kesempurnaan) rohani itu, yang berarti lebih besar
daripada pengamatannya mengenai hakekat indera (sensibilia).

Persepsi2 mengenai rahasia benda-benda  dan  hukum-hukum  alam
yang  hendak  mencapai  integritas  itu  lebih  besar daripada
persepsi sebagai alat  guna  mencapai  kekuasaan  materi  atas
benda-benda itu.

Untuk   mencapai   integritas  rohani  ini  tidak  cukup  kita
bersandar hanya kepada logika kita saja, malah  dengan  logika
itu  kita  harus  membukakan  jalan buat hati kita dan pikiran
kita untuk sampai ke tingkat tertinggi. Hal ini  bisa  terjadi
hanya   jika   manusia   mencari   pertolongan   dari   Tuhan,
menghadapkan diri kepadaNya  dengan  sepenuh  hati  dan  jiwa.
Hanya  kepadaNya  kita  menyembah  dan  hanya  kepadaNya  kita
meminta pertolongan, untuk mencapai rahasia-rahasia  alam  dan
undang-undang  kehidupan  ini.  Inilah  yang  disebut hubungan
dengan Tuhan, mensyukuri nikmat Tuhan, supaya  bertambah  kita
mendapat  petunjuk  akan  apa  yang  belum kita capai, seperti
dalam firman Tuhan:

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(katakan)  Aku  dekat.  Aku  mengabulkan permohonan orang yang
bermohon -  apabila  dia  bermohon  kepadaKu.  Maka  sambutlah
seruanKu   dan   berimanlah   kepadaKu,   kalau-kalau   mereka
terbimbing ke jalan yang lurus." (Qur'an 2: 186)

"Dan  carilah  pertolongan  Tuhan  dengan  tabah,  dan  dengan
menjalankan  sembahyang,  dan  sembahyang  itu  memang  berat,
kecuali  bagi  orang-orang  yang  rendah  hati-kepada   Tuhan.
Orang-orang  yang  menyadari  bahwa mereka akan bertemu dengan
Tuhan dan kepadaNya mereka kembali." (Qur'an 2: 45-46)

Salat  ialah  suatu  bentuk  komunikasi  dengan  Tuhan  secara
beriman  serta  meminta pertolongan kepadaNya. Dengan demikian
yang dimaksudkan dengan salat bukanlah sekadar ruku' dan sujud
saja,  membaca  ayat-ayat  Qu'ran  atau mengucapkan takbir dan
ta'zim demi  kebesaran  Tuhan  tanpa  mengisi  jiwa  dan  hati
sanubari  dengan  iman,  dengan kekudusan dan keagungan Tuhan.
Tetapi yang dimaksudkan dengan  salat  atau  sembahyang  ialah
arti  yang  terkandung di dalam takbir, dalam pembacaan, dalam
ruku', sujud serta segala keagungan, kekudusan dan  iman  itu.
Jadi  beribadat  demikian kepada Tuhan ialah suatu ibadat yang
ikhlas - demi Tuhan Cahaya langit dan bumi.

"Kebaikan itu bukanlah karena kamu menghadapkan muka  ke  arah
timur  dan  barat,  tetapi kebaikan itu ialah orang yang sudah
beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian, malaikat-malaikat,
Kitab, dan para nabi serta mengeluarkan harta yang dicintainya
itu untuk kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin
dan   orang   terlantar  dalam  perjalanan,  orang-orang  yang
meminta, untuk melepaskan perbudakan,  mengerjakan  sembahyang
dan   mengeluarkan   zakat,  kemudian  orang-orang  yang  suka
memenuhi janji bila  berjanji,  orang-orang  yang  tabah  hati
dalam  menghadapi  penderitaan  dan  kesulitan  dan  di  waktu
perang. Mereka itulah orang-orang yang benar  dan  mereka  itu
orang-orang yang dapat memelihara diri." (Qur'an, 2: 177)

Orang  mukmin yang benar-benar beriman ialah yang menghadapkan
seluruh kalbunya kepada Allah  ketika  ia  sedang  sembahyang,
disaksikan   oleh   rasa   takwa   kepadaNya,   serta  mencari
pertolongan Tuhan  dalam  menunaikan  kewajiban  hidupnya.  Ia
mencari  petunjuk,  memohonkan  taufik  Allah  dalam  memahami
rahasia dan hukum alam ini.

Orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah  tengah  ia
sembahyang  akan  merasakannya  sendiri,  selalu  akan merasa,
dirinya adalah sesuatu yang kecil berhadapan dengan  kebesaran
Allah  Yang  Maha  Agung.  Apabila  kita dalam pesawat terbang
diatas  ketinggian  seribu  atau  beberapa  ribu  meter,  kita
melihat    gunung-gunung,   sungai   dan   kota-kota   sebagai
gejala-gejala kecil di atas bumi. Kita  melihatnya  terpampang
di  depan  mata kita seperti jalur-jalur yang tergaris di atas
sebuah peta dan seolah permukaannya sudah  rata  mendatar  tak
ada  gunung  atau  bangunan yang lebih tinggi, tak ada ngarai,
sumur   atau   sungai   yang   lebih    rendah,    warna-warna
sambung-menyambung,  saling  berkait,  tercampur, makin tinggi
kita terbang warna-warna itu  makin  tercampur.  Seluruh  bumi
kita ini tidak lebih dari sebuah planet kecil saja. Dalam alam
ini terdapat ribuan tata surya dan  planet-planet.  Semua  itu
tidak  lebih  dari  sejumlah  kecil saja dalam ketakterbatasan
seluruh  eksistensi  ini.  Alangkah  kecilnya  kita,  alangkah
lemahnya  kcadaan kita berhadapan dengan Pencipta dan Pengurus
wujud ini. KebesaranNya diatas jangkauan pengertian kita!

Dalam kita menghadapkan seluruh kalbu kita dengan penuh ikhlas
kepada  Kebesaran  Tuhan  Yang  Maha  Suci,  kita mengharapkan
pertolongan kepadaNya untuk memberikan kekuatan atas kelemahan
diri  kita  ini,  memberi  petunjuk  dalam mencari kebenaran -
alangkah wajarnya bila  kita  dapat  melihat  persamaan  semua
manusia  dalam  kelemahannya itu, yang dalam berhadapan dengan
Tuhan tak dapat ia memperkuat diri dengan harta dan  kekayaan,
selain  dengan  imannya  yang  teguh  dan  tunduk hanya kepada
Allah, berbuat kebaikan dan menjaga diri.

Persamaan yang sesungguhnya dan sempurna ini di hadapan  Tuhan
tidak  sama  dengan  persamaan  yang biasa disebut-sebut dalam
kebudayaan Barat waktu-waktu belakangan ini,  yaitu  persamaan
di  hadapan  hukum. Sudah begitu jauh kebudayaan itu memandang
persamaan, sehingga hampir-hampir pula tidak  lagi  diakui  di
depan  hukum.  Buat  orang-orang  tertentu sudah tidak berlaku
lagi  untuk  menghormatinya.  Persamaan  di   hadapan   Tuhan,
persamaan   yang   kenyataannya   dapat  kita  rasakan  dikala
sembahyang, yang dapat kita capai dengan pandangan  kita  yang
bebas  -  tidak  sama  dengan persamaan dalam persaingan untuk
mencari kekayaan, persaingan yang membolehkan orang  melakukan
segala  tipu-daya  dan bermuka-muka, kemudian orang yang lebih
pandai mengelak dan bisa main, ia akan selamat dari  kekuasaan
hukum.

Persamaan  dihadapan Allah ini menuju kepada persaudaraan yang
sebenarnya, sebab semua orang  dapat  merasakan  bahwa  mereka
sebenarnya  bersaudara  dalam berihadat kepada Allah dan hanya
kepadaNya  mereka   beribadat.   Persaudaraan   demikian   ini
didasarkan  kepada  saling  penghargaan  yang  sehat, renungan
serta pandangan yang bebas  seperti  dianjurkan  oleh  Qur'an.
Adakah  kebebasan, persaudaraan dan persamaan yang lebih besar
daripada umat ini di hadapan Allah, semua  menundukkan  kepala
kepadaNya,  bertakbir,  ruku'  dan  bersujud.  Tiada perbedaan
antara satu dengan yang lain - semua mengharapkan pengampunan,
bertaubat,  mengharapkan pertolongan. Tak ada perantara antara
mereka itu dengan Tuhan kecuali amalnya yang saleh  (perbuatan
baik) serta perbuatan baik yang dapat dilakukannya dan menjaga
diri dari kejahatan.  Persaudaraan  yang  demikian  ini  dapat
membersihkan   hati  dari  segala  noda  materi  dan  menjamin
kebahagiaan  manusia,  juga  akan  mengantarkan  mereka  dalam
memahami  hukum Tuhan dalam kosmos ini, sesuai dengan petunjuk
dalam cahaya Tuhan yang telah diberikan kepada mereka.

Tidak semua orang sama kemampuannya dalam  melakukan  baktinya
sebagaimana   diperintahkan   Allah.   Adakalanya  tubuh  kita
membebani jiwa kita, sifat  materialisma  kita  dapat  menekan
sifat  kemanusiaan  kita,  kalau  kita tidak melakukan latihan
rohani secara tetap,  tidak  menghadapkan  kalbu  kita  kepada
Allah  selama  dalam  salat kita; dan sudah cukup hanya dengan
tatatertib sembahyang, seperti ruku', sujud dan bacaan-bacaan.
Oleh  karena  itu  harus diusahakan sekuat tenaga menghentikan
daya tubuh yang terlampau memberatkan jiwa, sifat materialisma
yang  sangat  menekan sifat kemanusiaan. Untuk itu Islam telah
mewajibkan  puasa  sebagai  suatu  langkah  mencapai  martabat
kebaktian (takwa) itu seperti dalam firman Tuhan:

"Orang-orang  beriman!  Kepadamu  telah  diwajibkan  berpuasa,
seperti yang sudah diwajibkan juga kepada mereka yang  sebelum
kamu,  supaya kamu bertakwa - memelihara diri dari kejahatan."
(Qur'an, 2: 183)

Bertakwa dan berbuat baik (birr) itu sama. Yang  berbuat  baik
orang  yang  bertakwa  dan  yang berbuat baik ialah orang yang
beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab  dan
para nabi dan diteruskan dengan ayat yang sudah kita sebutkan.

                                    (bersambung ke bagian 3/6
1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (3/6)
Muhammad Husain Haekal

Kalau   tujuan   puasa   itu   supaya  tubuh  tidak  terlampau
memberatkan  jiwa,  sifat  materialisma  kita  jangan  terlalu
menekan  sifat  kemanusiaan kita, orang yang menahan diri dari
waktu fajar sampai malam, kemudian sesudah  itu  hanyut  dalam
berpuas-puas  dalam  kesenangan,  berarti ia sudah mengalihkan
tujuan tersebut. Tanpa puasa pun hanyut dalam  memuaskan  diri
itu  sudah  sangat  merusak,  apalagi  kalau  orang  berpuasa,
sepanjang hari ia menahan diri dari  segala  makanan,  minuman
dan  segala  kesenangan,  dan bilamana sudah lewat waktunya ia
lalu menyerahkan diri kepada apa saja yang dikiranya di  waktu
siang  ia  tak  dapat menikmatinya! Kalau begitu Tuhan jugalah
yang menyaksikan,  bahwa  puasanya  bukan  untuk  membersihkan
diri,  mempertinggi  sifat  kemanusiaannya,  juga  ia berpuasa
bukan atas kehendak sendiri karena percaya,  bahwa  puasa  itu
memberi   faedah  kedalam  rohaninya,  tapi  ia  puasa  karena
menunaikan suatu kewajiban,  tidak  disadari  oleh  pikirannya
sendiri  perlunya  puasa  itu.  Ia  melihatnya  sebagai  suatu
kekangan atas kebebasannya, begitu kebebasan itu berakhir pada
malam  harinya,  begitu  hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai
ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan
ini  sama  seperti  orang yang tidak mau mencuri, hanya karena
undang-undang melarang pencurian, bukan karena  jiwanya  sudah
cukup   tinggi   untuk   tidak  melakukan  perbuatan  itu  dan
mencegahnya atas kemauan sendiri pula.

Sebenarnya  tanggapan  orang  mengenai  puasa  sebagai   suatu
tekanan  atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia
adalah suatu tanggapan yang salah  samasekali,  yang  akhirnya
akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya
tempat lagi. Puasa yang sebenarnya  ialah  membersihkan  jiwa.
Orang  berpuasa  diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas
kehendak  sendiri,  supaya  kebebasan  kemauan  dan  kebebasan
berpikirnya  dapat  diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan
ini  sudah  diperolehnya  kembali,  ia  dapat  mengangkat   ke
martabat   yang  lebih  tinggi,  setingkat  dengan  iman  yang
sebenarnya kepada Allah. Inilah yang  dimaksud  dengan  firman
Tuhan  -  setelah  menyebutkan  bahwa  puasa  telah diwajibkan
kepada  orang-orang  beriman  seperti  sudah  diwajibkan  juga
kepada orang-orang yang sebelum mereka:

"Beberapa  hari  sudah ditentukan. Tetapi barangsiapa diantara
kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan,  maka  dapat
diperhitungkan  pada kesempatan lain. Dan buat orangorang yang
sangat berat menjalankannya,  hendaknya  ia  membayar  fid-yah
dengan memberi makan kepada orang rniskin, dan barangsiapa mau
mengerjakan kebaikan atas kemauan sendiri, itu lebih baik buat
dia;  dan  bila kamu berpuasa, itu lebih baik buat kamu, kalau
kamu mengerti." (Qur'an, 2: 184)

Seolah tampak aneh apa yang saya  katakan  itu,  bahwa  dengan
puasa  kita  dapat  memperoleh  kembali  kebebasan kemauan dan
kebebasan berpikir kalau  yang  kita  maksudkan  dengan  puasa
dengan  segala  apa yang baik itu untuk kehidupan rohani kita.
Ini memang tampak aneh,  karena  dalam  bayangan  kita  bentuk
kebebasan  ini  telah  dirusak  oleh  pikiran modern, bilamana
batas-batas  rohani  dan  mental  itu  dihancurkan,   kemudian
batas-batas  kebendaannya  dipertahankan,  yang  oleh  seorang
prajurit  dapat  dilaksanakan  dengan  pedang   undang-undang.
Menurut  pikiran  modern,  manusia  tidak  bebas  dalam hal ia
melanda harta atau pribadi orang lain. Akan  tetapi  ia  bebas
terhadap  dirinya  sendiri  sekalipun  hal ini sudah melampaui
batas-batas segala yang dapat diterima  akal  atau  dibenarkan
oleh  kaidah-kaidah  moral. Sedang kenyataan dalam hidup bukan
yang demikian. Kenyataannya ialah manusia budak  kebiasaannya.
Ia  sudah  biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu
sore. Kalau dikatakan kepadanya: makan pagi dan sore  sajalah,
maka ini akan dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya.
Padahal itu adalah pelanggaran atas  perbudakan  kebiasaannya,
kalau  benar  ungkapan  demikian  ini.  Orang yang sudah biasa
merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya
itu, lalu dikatakan kepadanya: sehari ini kamu jangan merokok,
maka ini  dianggapnya  suatu  pelanggaran  atas  kebebasannya.
Padahal  sebenarnya  itu  tidak  lebih adalah pelanggaran atas
perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum
kopi  atau  teh  atau  minuman lain apa saja dalam waktu-waktu
tertentu lalu dikatakan kepadanya:  gantilah  waktu-waktu  itu
dengan  waktu  yang  lain,  maka  pelanggaran  atas perbudakan
kebiasaannya  itu   dianggapnya   sebagai   pelanggaran   atas
kebebasannya.  Budak  kebiasaan  serupa  ini  merusak kemauan,
merusak arti yang sebenarnya dari  kebebasan  dalam  bentuknya
yang sesungguhnya.

Disamping  itu,  ini  juga  merusak cara berpikir sehat, sebab
dengan demikian berarti ia  telah  ditunjukkan  oleh  pengaruh
hajat jasmani dari segi kebendaannya, yang sudah dibentuk oleh
kebiasaan  itu.  Oleh  karena  itu  banyak  orang  yang  telah
melakukan  puasa  dengan cara yang bermacam-macam, yang secara
tekun dilakukannya dalam waktu-waktu  tertentu  setiap  minggu
atau  setiap  bulan. Tetapi Tuhan menghendaki yang lebih mudah
buat manusia dengan diwajibkan kepada mereka  berpuasa  selama
beberapa  hari  yang  sudah  ditentukan, supaya dalam pada itu
semua sama, dengan diberikan pula kesempatan  fid-yah.  Mereka
masing-masing yang telah dibebaskan karena dalam keadaan sakit
atau sedang dalam perjalanan dapat mengganti puasanya itu pada
kesempatan lain.

Kewajiban  berpuasa  selama  hari-hari  yang  sudah ditentukan
untuk memperkuat arti persaudaraan dan  persamaan  di  hadapan
Tuhan,  sungguh  suatu  latihan  rohani  yang luarbiasa. Semua
orang, selama menahan  diri  sejak  fajar  hingga  malam  hari
mereka  telah melaksanakan persamaan itu antara sesama mereka,
sama  halnya   seperti   dalam   sembahyang   jamaah.   Dengan
persaudaraan demikian selama itu mereka merasakan adanya suatu
perasaan yang mengurangi rasa kelebihan mereka dalam  mengecap
kenikmatan  rejeki  yang  diberikan  Tuhan  kepadanya.  Dengan
demikian puasa berarti memperkuat arti kebebasan, persaudaraan
dan   persamaan  dalam  jiwa  manusia  seperti  halnya  dengan
sembahyang.

Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh
kesadaran bahwa perintah Tuhan tak mungkin bertentangan dengan
cara-cara berpikir  yang  sehat,  yang  telah  dapat  memahami
tujuan  hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita
arti puasa yang dapat membebaskan kita  dari  budak  kebiasaan
itu,  yang  juga  sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan
arti kebebasan kita sendiri.  Disamping  itu  kita  pun  sudah
diingatkan,  bahwa  apa yang telah ditentukan manusia terhadap
dirinya sendiri - dengan kehendak Tuhan - mengenai batas-batas
rohani   dan   mentalnya   sehubungan  dengan  kebebasan  yang
dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan  dan
nafsunya,  ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat
iman yang paling tinggi itu. Apabila taklid dalam  iman  belum
dapat disebut iman, melainkan baru Islam yang tanpa iman, maka
taklid dalam puasa juga belum dapat disebut puasa. Oleh karena
itu  orang  yang  bertaklid menganggap puasanya suatu kekangan
dan  membatasi  kebebasannya  -  sebaliknya   daripada   dapat
memahami   arti   pembebasan  dari  belenggu  kebiasaan  serta
konsumsi rohani dan mental yang sangat besar itu.

Apabila dengan jalan latihan rohani ini manusia  telah  sampai
kepada arti hukum dan rahasia-rahasia alam dan mengetahui pula
dimana tempatnya dan tempat anak manusia ini, cintanya  kepada
sesama  anak  manusia  akan  lebih  besar lagi, dan semua anak
manusia  saling  cinta  dalam  Tuhan.   Mereka   akan   saling
tolong-menolong  untuk  kebaikan dan rasa takwa - menjaga diri
dari kejahatan. Yang kuat  mengasihi  yang  lemah,  yang  kaya
mengulurkan  tangan kepada yang tidak punya. Ini adalah zakat,
dan selebihnya sedekah. Dalam sekian banyak ayat Qur'an selalu
mengaitkan  zakat  dengan  salat.  Kita  sudah  membaca firman
Tuhan:

"Tetapi kebaikan itu ialah orang  yang  sudah  beriman  kepada
Allah,  kepada  hari  kemudian, malaikat, Kitab dan para nabi;
mengeluarkan    harta    yang    dicintainya    itu     kepada
kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang
yang melepaskan perbudakan, mengerjakan salat dan mengeluarkan
zakat." (Qur'an, 2: 177)

"Kamu  kerjakanlah  sembahyang  dan keluarkan pula zakat serta
tundukkan kepala (ruku') bersama orang-orang yang  menundukkan
kepala." (Qur'an, 2: 43)

"Beruntunglah  orang-orang  yang  sudah  beriman.  Mereka yang
dengan khusyu' mengerjakan sembahyang. Mereka yang  menjauhkan
diri  dan  percakapan  yang  tiada  berguna.  Dan  mereka yang
mengeluarkan zakat." (Qur'an, 23: 1-4)

Ayat-ayat  yang  mengaitkan  zakat  dengan  salat  itu  banyak
sekali.

Apa  yang  disebutkan  dalam  Qur'an tentang zakat dan sedekah
cukup menyeluruh dan kuat sekali.  Dalam  melakukan  perbuatan
baik,  sedekah  itu  terletak  pada tempat pertama, orang yang
melakukannya akan mendapat pahala yang amat  sempurna.  Bahkan
ia  terletak disamping iman kepada Allah, sehingga kita merasa
seolah itu sudah hampir sebanding. Tuhan berfirman:

"Tangkaplah orang itu dan belenggukanlah.  Kemudian  campakkan
kedalam  api  menyala. Sesudah itu belitkan dengan rantai yang
panjangnya tujuhpuluh hasta. Dahulu ia sungguh  tidak  beriman
kepada  Allah  Yang  Maha  Besar.  Juga  tidak mendorong orang
memberi makan orang miskin." (Qur'an, 69: 30-34)

"... Dan sampaikan berita gembira kepada mereka  yang    taat.
Yaitu  mereka,  yang  apabila  disebutkan  nama  Tuhan hatinya
merasa takut  karena  taatnya,  dan  mereka  yang  tabah  hati
terhadap apa yang menimpa mereka serta mereka yang mengerjakan
salat dan menafkahkan sebagian  rejeki  yang  diberikan  Tuhan
kepada mereka."' (Qur'an, 22: 34-35)

"Mereka  yang  menafkahkan hartanya - baik di waktu malam atau
di waktu siang, dengan sembunyi atau  terang-terangan,  mereka
akan mendapat pahala dari Tuhan. Tidak usah mereka takut, juga
jangan bersedih hati" (Qur'an, 2: 274)

Qur'an tidak hanya menyebutkan masalah-masalah  sedekah  serta
pahalanya  yang  akan diberikan Tuhan yang sama seperti pahala
orang beriman dan mengerjakan sembahyang, bahkan adab  sedekah
itu telah dilembagakan pula dengan suatu tatacara yang sungguh
baik sekali.

"Bilamana kamu memperlihatkan sedekah  itu,  itu  memang  baik
sekali. Tetapi kalau pun kamu sembunyikan memberikannya kepada
orang fakir, maka itu pun lebih baik lagi buat kamu." (Qur'an,
2: 271)

"Perkataan  yang  baik  dan pemberian maaf lebih baik daripada
sedekah yang disertai hal-hal  yang  tidak  menyenangkan  hati
Allah  Maha  Kaya  dan  Maha  Penyantun.  Orang-orang beriman,
janganlah   kamu   hapuskan   nilai   sedekahmu   itu   dengan
menyebut-nyebutnya  dan  menyakiti  hati  orang."  (Qur'an, 2:
263-264)

Firman Tuhan  itu  memberikan  pula  penjelasan  kepada  siapa
sedekah itu harus diberikan:

Sedekah  itu  hanyalah  untuk  orang-orang  fakir, orang-orang
miskin, pengurus  zakat,  orang-orang  yang  perlu  dilunakkan
hatinya,   untuk   melepaskan   perbudakan,  orang-orang  yang
dibebani utang, untuk jalan Allah dan mereka yang sedang dalam
perjalanan. Inilah yang telah diwajibkan oleh Allah, dan Allah
Maha Mengetahui dan Bijaksana." (Qur'an, 9: 60)

Zakat dan  sedekah  itu  salah  satu  kewajiban  dalam  Islam,
termasuk  salah  satu rukun Islam. Tetapi apakah kewajiban ini
termasuk  ibadat,  ataukah  masuk  bagian  akhlak?  Tentu  ini
termasuk  ibadat.  Semua  orang  beriman  bersaudara, dan iman
seseorang belum lagi sempurna sebelum ia mencintai  saudaranya
seperti  mencintai  dirinya sendiri. Dengan berpegang pada Nur
Ilahi  antara  sesama  mereka,  orang-orang   beriman   saling
cinta-mencintai.  Kewajiban  zakat  dan  sedekah  terikat oleh
persaudaraan ini, bukan oleh akhlak dan disiplinnya serta oleh
hubungan  antar-manusia  dengan  segala tata-tertibnya. Segala
yang terikat oleh persaudaraan, terikat juga oleh iman  kepada
Allah,  dan  segala  yang terikat oleh iman kepada Allah ialah
ibadah. Itu sebabnya maka zakat menjadi salah satu rukun Islam
yang  lima,  dan  karena  itu pula setelah Nabi wafat Abu Bakr
menuntut  supaya   Muslimin   menunaikan   zakatnya.   Setelah
dilihatnya  ada sebagian orang yang mau membangkang, Pengganti
Muhammad itu melihat pembangkangan ini sebagai suatu kelemahan
dalam  iman  mereka;  mereka lebih mengutamakan harta daripada
iman, mereka hendak meninggalkan disiplin  rohani  yang  telah
ditentukan   Qur'an   itu.   Dengan   demikian  ini  merupakan
kemurtadan dari Islam. Karena 'perang ridda' itu  jugalah  Abu
Bakr   berhasil   mengukuhkan   kembali   sejarah   Islam  itu
selengkapnya, dan  yang  tetap  menjadi  kebanggaan  sepanjang
sejarah.

Dengan   fungsi  zakat  dan  sedekah  sebagai  kewajiban  yang
bertalian  dengan  iman  dalam  disiplin  rohanl  ia  dianggap
sebagai  salah  satu  unsur  yang  harus  membentuk kebudayaan
dunia. Inilah hikmah yang paling tinggi yang akan mengantarkan
manusia  mencapai kebahagiaannya. Harta dan segala keserakahan
orang   memupuk-mupuk   harta   merupakan   sebab    timbulnya
superioritas  (rasa  keunggulan)  seorang  kepada  yang  lain.
Sampai sekarang ia masih merupakan sebab timbulnya penderitaan
dunia  ini  dan  sumber  pemberontakan  dan peperangan selalu.
Sampai sekarang mammonisma - penyembahan harta -  masih  tetap
merupakan  sebab timbulnya dekadensi moral yang selalu menimpa
dunia  dan  dunia  tetap  bergelimang  dibawah  bencana   itu.
Memupuk-mupuk  harta  dan  keserakahan  akan harta itulah yang
telah  menghilangkan  rasa  persaudaraan  umat  manusia,   dan
membuat  manusia  satu  sama lain saling bermusuhan. Sekiranya
pandangan mereka itu lebih sehat  dengan  pikiran  yang  lebih
luhur,  tentu  akan  mereka lihat bahwa persaudaraan itu lebih
kuat  menanamkan  kebahagiaan  daripada  harta,  mereka   akan
melihat  juga  bahwa  memberikan harta kepada yang membutuhkan
akan lebih terhormat pada  Tuhan  dan  pada  manusia  daripada
orang  harus tunduk kepada harta itu. Kalau benar-benar mereka
beriman kepada Allah tentu mereka akan saling bersaudara,  dan
manifestasi  persaudaraan  ini  ialah pertolongan kepada orang
yang   sedang   dalam   penderitaan,   membantu   orang   yang
membutuhkannya  dan  dapat  pula  menghapuskan kemiskinan yang
akan menjerumuskan manusia kedalam penderitaan itu.

                                    (bersambung ke bagian 4/6)
1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (4/6)
Muhammad Husain Haekal

Apabila negara-negara yang  sudah  tinggi  kebudayaannya  pada
zaman   kita   sekarang   ini  mendirikan  rumah-rumah  sakit,
lembaga-lembaga sosial dan amal untuk  menolong  fakir-miskin,
atas  nama  kasih  sayang  dan  kemanusiaan, maka didirikannya
lembaga-lembaga itu karena  didorong  oleh  rasa  persaudaraan
serta  rasa  cinta  dan  syukur  kepada Allah atas nikmat yang
diterimanya, sungguh ini suatu pikiran yang lebih  tinggi  dan
lebih   tepat   memberikan  kebahagiaan  kepada  seluruh  umat
manusia, seperti dalam firman Tuhan:

"Dengan  kenikmatan  yang  telah  diberikan  Allah   kepadamu,
carilah  kebahagiaan  akhirat,  tapi jangan kaulupakan nasibmu
dalam dunia  ini.  Berbuatlah  kebaikan  (kepada  orang  lain)
seperti  Tuhan  telah  berbuat  kebaikan  kepadamu, dan jangan
engkau berbuat bencana di muka bumi ini. Allah  sungguh  tidak
mencintai orang-orang yang berbuat bencana." (Qur'an, 28: 77)

Persaudaraan  insani ini akan menambah rasa cinta manusia satu
sama  lain.  Dalam  Islam,  rasa  cinta  demikian  ini   tidak
seharusnya  akan terhenti pada batas-batas tanah air tertentu,
atau hanya terbatas pada salah  satu  benua.  Yang  seharusnya
bahkan tidak boleh mengenal batas samasekali.

Oleh  karena  itu,  dari  seluruh  pelosok  bumi manusia harus
saling mengenal, supaya satu sama  lain  dapat  menambah  rasa
cinta  kepada  Allah,  dan  rasa cinta ini akan menambah tebal
iman mereka kepada Allah.  Untuk  mencapai  itu  manusia  dari
segenap  penjuru  bumi  harus  berkumpul dalam satu irama yang
sama, tanpa diskriminasi, dan tempat  berkumpul  yang  terbaik
untuk  itu  ialah  di tempat memancarnya cinta ini. Dan tempat
itu ialah Baitullah di Mekah, dan inilah yang  disebut  ibadah
haji.  Orang-orang  beriman  tatkala berkumpul disana, tatkala
mereka melaksanakan segala upacara, mereka menempuh cara hidup
yang luhur sebagai teladan iman kepada Allah, dengan niat yang
ikhlas menghadapkan diri kepadaNya.

"Musim  haji  itu  ialah  dalam  beberapa  bulan  yang   sudah
ditentukan.   Barangsiapa   sudah   membulatkan   niat  selama
bulan-bulan itu hendak  menunaikan  ibadah  haji,  maka  tidak
boleh   ada   suatu  percakapan  kotor,  perbuatan  jahat  dan
berbantah-bantahan  selama  dalam  mengerjakan  haji.   Segala
perbuatan baik yang kamu lakukan, Tuhan mengetahuinya. Bawalah
perbekalanmu, dan perbekalan yang paling  baik  ialah  menjaga
diri  dari  perbuatan  hina.  Patuhilah Aku, wahai orang-orang
yang berpikiran sehat." (Qur'an. 2: 197)

Di  dataran  tinggi  ini,  di   tempat   orang-orang   beriman
menunaikan  ibadah  haji untuk saling berkenalan, untuk saling
mempererat tali persaudaraan, dan tali persaudaraan  ini  akan
lebih  memperkuat  iman  di  tempat ini - segala perbedaan dan
diskriminasi yang bagaimanapun di kalangan orang-orang beriman
itu  harus  hilang. Mereka harus merasa, bahwa dihadapan Tuhan
mereka itu sama. Mereka menghadapkan seluruh hati  sanubarinya
untuk  mernenuhi  panggilan  Tuhan,  benar-benar  beriman akan
keesaanNya, bersyukur akan nikrnat  yang  telah  diberikanNya.
Rasanya  tak  ada  kenikmatan yang lebih besar daripada nikmat
iman  akan  keagungan  Tuhan,   sumber   segala   kebahagiaan.
Dihadapan  cahaya  iman  serupa ini, segala angan-angan kosong
tentang hidup akan sirna, segala  kebanggaan  dan  kecongkakan
karena  harta,  karena turunan, karena kedudukan dan kekuasaan
akan lenyap. Dan karena cahaya iman  itu  juga,  maka  manusia
akan  dapat  menyadari  arti kebenaran, kebaikan dan keindahan
yang ada dalam dunia ini, akan  dapat  memahami  undang-undang
Tuhan  yang  abadi, dalam semesta alam ini, yang takkan pernah
berubah dan berganti. Suatu pertemuan umum yang luas ini telah
dapat melaksanakan arti persaudaraan dan persamaan semua orang
beriman dalam bentuknya yang paling luas, luhur dan bersih.

Inilah ketentuan-ketentuan dan  kaidah-kaidah  Islam  seperti
yang  diwahyukan  kepada Muhammad 'alaihissalam. Ini terrnasuk
prinsip-prinsip iman seperti sudah kita lihat dalam  ayat-ayat
yang  kita  kutip  tadi, dan sebagai prinsip-prinsip kehidupan
rohani Islam. Sesudah semua kita lihat, akan mudah sekal  kita
menilai,  norrna-norma etika apa yang harus kita terapkan atas
dasar itu. Norma-norma ini memang sungguh luhur  sekali,  yang
memang  belum  ada tandingannya dalam kebudayaan mana pun atau
dalam zaman apa pun.  Apa  yang  akan  membawa  manusia  untuk
mencapai  kesempurnaannya  bila  saja  ia  dapat  melatih diri
sebagaimana mestinya,  oleh  Qur'an  sudah  dirumuskan,  bukan
hanya  dalam  satu  surah  saja  hal  ini  disebutkan,  bahkan
disana-sini juga disebut. Begitu salah satu surah  kita  baca,
kita  sudah  dibawa  ke  puncak  yang lebih tinggi, yang belum
dicapai oleh suatu kebudayaan sebelum itu, juga tidak  mungkin
akan   dicapai   oleh   kebudayaan  yang  sesudah  itu.  Untuk
mengetahui betapa agungnya  klimaks  yang  telah  dicapai  itu
cukup  kita lihat misalnya adat sopan santun atas dasar rohani
ini yang bersumberkan  keimanan  kepada  Allah  serta  latihan
mental  dan hati kita atas dasar tersebut, tanpa orang melihat
akan mencari keuntungan materi di balik sernua itu.

Dalam berbagai zaman dan bangsa, penulis-penulis sudah  sering
sekali  melukiskan  gambar  Manusia  Sempurna - atau Superman.
Penyair-penyair,    para    pengarang,    filsuf-filsuf    dan
penulis-penulis  drama, sejak zaman dahulu mereka sudah pernah
melukiskan gambaran  ini,  dan  sampai  sekarang  masih  terus
melukiskan.  Tetapi sungguhpun demikian, tidak akan ada sebuah
gambaran manusia sempurna yang dilukiskan begitu cemerlang dan
unik  seperti  disebutkan dalam rangkaian Surah al-Isra' (17).
Ini baru sebagian saja hikmah  yang  diwahyukan  Allah  kepada
Rasul,  bukan  dimaksudkan  untuk  melukiskan Manusia Sempurna
melainkan  untuk   mengingatkan   manusia   tentang   beberapa
kewajiban. Dalam hal ini firman Allah:

"Dan  Tuhanmu sudah memerintahkan, jangan ada yang kamu sembah
selain Dia dan supaya berbuat baik kepada ibu-bapa. Jika salah
seorang  dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
dalam pemeliharaanmu, janganlah  kamu  mengucapkan  kata  "ah"
kepada  mereka  dan  jangan  pula  kamu membentak mereka, tapi
ucapkanlah dengan kata-kata yang mulia kepada mereka (93). Dan
rendahkanlah harimu dengan penuh kesayangan kepada mereka, dan
doakan:  'Ya  Allah,  beri  rahmatlah  kepada  mereka  berdua,
seperti kasih-sayang mereka mendidikku sewaktu aku kecil' (24)
Tuhan kamu lebih mengetahui apa yang ada dalam  hatimu.  Kalau
kamu  orang-orang  yang  berguna.  Dia  Maha  Pengampun kepada
mereka yang mau bertaubat  (25).  Berikanlah  kepada  keluarga
yang  dekat  itu  bagiannya,  begitu  juga  kepada orang-orang
miskin  dan  orang  dalam  perjalanan.  Tetapi   jangan   kamu
hambur-hamburkan  secara  boros  (26).  Pemboros-pemboros  itu
sungguh golongan setan, sedang  setan  sungguh  ingkar  kepada
Tuhan  (27). Dan jika kamu berpaling dari mereka karena hendak
mencari  kurnia  Tuhan  yang  kauharapkan,  katakanlah  kepada
mereka   dengan  kata-kata  yang  lemah  lembut  (28).  Jangan
kaujadikan tanganmu terbelenggu  ke  kuduk,  dan  jangan  pula
engkau   terlalu  mengulurkannya,  supaya  engkau  tidak  jadi
tercela dan  menyesal  (29).  Sesungguhnya  Tuhan  melimpahkan
rejeki  kepada  siapa  saja dan menentukan ukurannya. Dia Maha
mengetahui akan hamba-hambaNya (30). Dan jangan kamu membunuhi
anak-anakmu  karena takut kemiskinan. Kami yang memberi rejeki
mereka,  juga  rejeki  kamu:  sebab  membunuh   mereka   suatu
kesalahan  besar  (31).  Janganlah  kamu mendekati perjinahan,
sebab perbuatan itu sungguh keji, dan cara yang  sangat  buruk
(32).  Janganlah  kamu  menghilangkan  nyawa  orang yang sudah
dilarang Tuhan, kecuali atas dasar yang benar. Dan barangsiapa
dibunuh  tidak  pada tempatnya, maka kepada penggantinya telah
kami berikan kekuasaan; tetapi janganlah dia  membunuh  dengan
melanggar   batas  karena  dia  pun  (yang  dibunuh)  mendapat
pertolongan (33). Harta anak yatim jangan kamu dekati, kecuali
dengan  cara  yang  baik  sekali  -  sampai  dia  dewasa.  Dan
penuhilah  janji   itu,   sebab   setiap   janji   menghendaki
tanggungjawab  (34).  Jagalah  sukatanmu  bila  kamu  menakar,
penuhilah dan timbanglah dengan timbangan yang  jujur.  Itulah
cara  yang  baik dan akan lebih baik sekali kesudahannya (35).
Dan  janganlah  engkau   mencampuri   persoalan   yang   tidak
kauketahui; sebab segala pendengaran, penglihatan dan isi hati
orang, semua itu akan dimintai pertanggunganjawaban (36). Juga
janganlah  engkau  berjalan di muka bumi dengan congkak, sebab
engkau tidak akan dapat menembus bumi  ini,  juga  tidak  akan
sampai  setinggi  gunung  (37). Semua itu suatu kejahatan yang
dalam pandangan Tuhan sangat buruk sekali." (38) (Qur'an,  17:
23 - 38)

Sungguh  ini  suatu  budi pekerti yang luhur, suatu integritas
moral yang sempurna sekali! Setiap ayat yang tersebut ini akan
membuat    pembaca   jadi   tertegun   membacanya,   ia   akan
mengagungkannya  melihat  susunan  yang  begitu  kuat,  begitu
indah,  dengan  daya  tarik  kata-katanya, artinya yang sangat
luhur serta cara  melukiskannya  yang  sudah  merupakan  suatu
mujizat.3  Sayang  sekali  disini  tempatnya tidak mengijinkan
kita  menyatakan  rasa  kekaguman  itu!  Ya,  bagaimana   akan
mungkin,  sedang untuk membicarakan keenam belas ayat itu saja
seharusnya diperlukan sebuah buku tersendiri yang cukup besar!

Kalau kita mau membawakan satu segi saja dari budi-pekerti dan
pendidikan   akhlak   yang  terdapat  dalam  Qur'an,  tentunya
bidangnya akan luas sekali, yang tidak mungkin dapat ditampung
dalam  penutup  buku  ini.  Cukup kiranya kalau kita sebutkan,
bahwa  tidak  ada  sebuah  buku  pun  yang  pernah  memberikan
dorongan  begitu besar kepada orang supaya melakukan kebaikan,
seperti yang diberikan oleh Qur'an itu. Tidak  ada  buku  yang
begitu   agung   mengangkat   martabat  manusia  seperti  yang
diperlihatkan Qur'an. Juga yang bicara tentang perbuatan  baik
dan   kasih-sayang,   tentang  persaudaraan  dan  cinta-kasih,
tentang tolong-menolong dan keserasian,  tentang  kedermawanan
dan  kemurahan  hati, tentang kesetiaan dan menunaikan amanat,
tentang kehersihan dan  ketulusan  hati,  keadilan  dan  sifat
pemaat,  kesabaran,  ketabahan,  kerendahan  hati dan dorongan
melakukan  perbuatan   terhormat,   berbakti   dan   mencegah
melakukan  perbuatan  jahat,  dengan i'jaz4 (mujizat) yang tak
ada taranya dalam menyajikan   seperti yang  dikemukakan  oleh
Qur'an  itu.  Tak  ada buku melarang sikap lemah dan pengecut,
sifat egoisma dan dengki, kebencian  dan  kezaliman,  berdusta
dan   mengumpat,  pemborosan,  kekikiran,  tuduhan  palsu  dan
perkataan   buruk,   permusuhan,   perusakan,   tipu-muslihat,
pengkhianatan  dan segala sifat dan perbuatan hina dan mungkar
- seperti yang  dilarang  oleh  Qur'an,  dengan  begitu  kuat,
meyakinkan,  dengan  i'jaz  (mujizat),  yang  diturunkan dalam
wahyu kepada Nabi berbangsa Arab itu. Tiada sebuah  surah  pun
yang kita baca, yang tidak akan memberi anjuran yang mendorong
kita melakukan perbuatan baik, menganjurkan kita berbakti  dan
mencegah  kita  melakukan perbuatan jahat. Dianjurkannya orang
mencapai kesempurnaan yang akan membawa kepada kehidupan harga
diri   dan  budipekerti  yang  luhur.  Kita  dengarkan  Qur'an
mengenai toleransi:

"Tangkislah kejahatan itu  dengan  cara  yang  sebaik-baiknya.
Kami mengetahui apa yang mereka sebutkan." (Qur'an, 23: 96)

"Kebaikan dan kejahatan itu tidak sama. Tangkislah (kejahatan)
itu dengan  cara  yang  sebaik-baiknya,  sehingga  orang  yang
tadinya  bermusuhan  dengan  engkau, akan menjadi sahabat yang
akrab sekali." (Qur'an, 41: 34)

Tetapi toleransi yang dianjurkan Qur'an  ini  tidak  mendorong
orang bersikap lemah, melainkan menyuruh orang supaya berwatak
terhormat  (nobility  of  character),  selalu  berlumba  untuk
kebaikan dan menjauhkan diri dari segala kehinaan:

"Apabila   ada  orang  memberi  salam  penghormatan  kepadamu,
balaslah dengan cara yang lebih baik, atau  (setidak-tidaknya)
dengan yang serupa." (Qur'an, 4: 86)

"Dan  kalau  kamu  mengadakan  (pukulan)  pembalasan, balaslah
seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi  kalau  kamu
tabah  hati,  itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati
tabah (sabar)." (Qur'an, 16: 126)

Dan ini jelas sekali,  bahwa  toleransi  yang  dianjurkan  itu
ialah   dalam   arti  yang  terhormat,  tanpa  bersikap  lemah
samasekali, melainkan sepenuhnya  sikap  yang  disertai  harga
diri.

Toleransi   yang  dianjurkan  oleh  Qur'an  dengan  cara  yang
terhormat ini dasarnya ialah  persaudaraan,  yang  oleh  Islam
dijadikan  tiang  kebudayaan,  dan  yang dimaksud pula menjadi
persaudaraan   antar-manusia   di   seluruh    jagat.    Corak
persaudaraan  Islam ini ialah yang terjalin dalam keadilan dan
kasih-sayang   tanpa   suatu   sikap   lemah   dan   menyerah.
Persaudaraan  atas  dasar  persamaan dalam hak, dalam kebaikan
dan kebenaran tanpa  terpengaruh  oleh  untung-rugi  kehidupan
duniawi,  sekalipun  mereka dalam kekurangan. Mereka ini lebih
takut kepada Allah  daripada  kepada  yang  lain.  Mereka  ini
orang-orang  yang  punya  harga diri. Sungguhpun begitu mereka
sangat rendah hati. Mereka orang-orang yang  dapat  dipercaya,
yang  menepati  janji  bila  mereka berjanji, orang-orang yang
sabar dan  tabah  dalam  menghadapi  kesulitan,  yang  apabila
mendapat  musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi
rajiun  -  'Kami  kepunyaan  Allah  dan  kepadaNya  juga  kami
kembali.' Tak ada yang membuang muka dan berjalan di muka bumi
dengan sikap  congkak.  Tuhan  menjauhkan  mereka  dari  sifat
serakah  dan  kikir,  tiada  berkata dusta, terhadap Tuhan dan
kepada sesamanya. Mereka tidak mau menyebarkan perbuatan  keji
di  kalangan  orang-orang beriman, mereka menjauhkan diri dari
segala dosa besar dan perbuatan-perbuatan  keji,  dan  apabila
mereka marah, mereka segera meminta maaf. Mereka dapat menahan
amarah dan dapat pula memaafkan orang  lain.  Sedapat  mungkin
mereka   menghindarkan  prasangka,  mereka  tidak  mau  saling
memata-matai atau saling  menggunjing  dari  belakang.  Mereka
tidak  boleh  memakan  harta  sesamanya dengan cara yang tidak
sah, lalu akan membawa perkara itu kepada hakim, supaya mereka
dapat  memakan  harta  orang  lain  dengan cara dosa itu. Jiwa
mereka dibersihkan  dari  segala  sifat  dengki,  tipu-menipu,
cakap kosong dan segala perbuatan yang rendah.

Ciri-ciri   khas   watak   dan  etika  yang  menjadi  landasan
budi-pekerti dan pendidikan akhlak  yang  murni  itu  dasarnya
ialah  -  seperti  yang  sudah kita sebutkan - disiplin rohani
seperti yang ditentukan oleh Qur'an dan  yang  bertalian  pula
dengan  iman  kepada  Allah. Inilah soal yang pokok sekali dan
ini pula yang akan menjamin adanya  sistem  moral  dalam  jiwa
orang  dengan  tetap bersih dari segala noda, jauh dari segala
penyusupan yang mungkin  akan  merusak.  Moral  yang  dasarnya
memperhitungkan  untung-rugi  segera akan diperbesar selama ia
yakin  bahwa  kelemahan  demikian  itu  tidak  akan  menggangu
keuntungannya.   Orang  yang  dasar  moralnya  memperhitungkan
untung-rugi demikian ini sikap luarnya akan berbeda dengan isi
hati.  Keadaannya  yang disembunyikan akan berbeda dengan yang
diperlihatkan kepada orang. Ia berpura-pura jujur, tapi  tidak
akan  segan-segan ia menjadikan itu hanya sebagai tameng untuk
memancing keuntungan. Ia berpura-pura benar, tapi  tidak  akan
segan-segan  ia  meninggalkannya kalau dengan meninggalkan itu
ia akan mendapat keuntungan. Orang yang pertimbangan  moralnya
demikian  ini dalam menghadapi godaan mudah sekali jadi lemah,
mudah sekali terbawa arus nafsu dan tujuan-tujuan tertentu!

Kelemahan ini ialah gejala yang  jelas  terlihat  dalam  dunia
kita  sekarang.  Sudah  sering  sekali  orang mendengar adanya
perbuatan-perbuatan  skandal  dan  korupsi  dimana-mana  dalam
dunia yang sudah beradab ini. Sebabnya ialah karena kelemahan,
orang lebih  mencintai  harta  dan  kedudukan  atau  kekuasaan
daripada  nilai  moral  yang  tinggi dan iman yang sebenarnya.
Tidak sedikit mereka terjerumus masuk ke dalam jurang  tragedi
moral  dan  melakukan  kejahatan  yang paling keji, kita lihat
pada  mulanya  mereka  pun  berakhlak   baik,   tetapi   masih
untung-rugi  itu  juga  yang  menjadi  dasar moralnya. Tadinya
mereka menganggap bahwa sukses dalam hidup ini bergantung pada
kejujuran.  Lalu  mereka  bersikap  jujur karena ingin sukses,
bukan bersikap  jujur  karena  terikat  oleh  akidahnya  -oleh
keyakinan  batinnya.  Mereka  berhenti  hanya  sampai  disitu,
meskipun  ini  sangat  membahayakan  dirinya.  Tetapi  setelah
mereka   lihat   bahwa  mengabaikan  masalah  kejujuran  dalam
peradaban  abad  kini  merupakan  salah  satu  jalan  mencapai
sukses,  maka  kejujuran itu pun mereka abaikan. Yang demikian
ini ada yang tetap tertutup dari mata orang, rahasianya  tidak
sampai  terbongkar  dan akan tetap dipandang terhormat, tetapi
ada juga yang rahasianya  terbongkar  dan  ia  tercemar,  yang
kadang berakhir dengan bunuh diri.

                                    (bersambung ke bagian 5/6)
1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (5/6)
Muhammad Husain Haekal

Jadi  pembinaan  sistem watak dan moral atas dasar untung-rugi
ini  sewaktu-waktu  akan  menjerumuskannya   kedalam   bahaya.
Sebaliknya,  apabila  pembinaannya  itu didasarkan atas sistem
rohani seperti dirumuskan oleh Qur'an, ini akan menjamin tetap
bertahan, takkan terpengaruh oleh sesuatu kelemahan. Niat yang
menjadi pangkal bertolaknya perbuatan  ialah  dasar  perbuatan
itu  dan sekaligus harus menjadi kriteriumnya pula. Orang yang
membeli undian untuk Pembanguman sebuah rumahsakit,  ia  tidak
membelinya   dengan  niat  hendak  beramal,  melainkan  karena
mengharapkan keuntungan. Orang yang memberi karena  ada  orang
yang  datang  meminta  secara  mendesak  dan ia memberi karena
ingin melepaskan diri, tidak sama dengan  orang  yang  memberi
karena kemauan sendiri, yaitu memberi kepada mereka yang tidak
meminta secara mendesak, mereka yang  oleh  orang  yang  tidak
mengetahui  dikira orang-orang yang berkecukupan karena mereka
memang  tidak  mau  meminta-minta  itu.  Orang  yang   berkata
sebenarnya   kepada  hakim  karena  takut  akan  sanksi  hukum
terhadap seorang saksi palsu, tidak  sama  dengan  orang  yang
berkata  sebenarnya karena ia memang yakin akan arti kebenaran
itu. Juga  moral  yang  landasannya  perhitungan  untung  rugi
kekuatannya  tidak  akan sama dengan moral yang sudah diyakini
benar bahwa itu bertalian dengan  kehormatan  dirinya  sebagai
manusia,  bertalian  dengan  keimanannya  kepada  Allah. Dalam
hatinya sudah tertanam landasan rohani yang dasarnya  keimanan
kepada Allah itu.

Qur'an  tetap  menekankan,  bahwa  pikiran yang rasionil harus
tetap  bersih,  jangan  dimasuki  oleh   sesuatu   yang   akan
mempengaruhi  lukisan  iman  dan  watak  yang  indah itu. Oleh
karenanya minuman keras dan judi itu dipandang  kotor  sebagai
perbuatan  setan.  Kalaupun  ada  manfaatnya buat orang, namun
dosanya lebih besar dari  manfaatnya.  Dengan  demikian  harus
dijauhi.  Perjudian akan mengalihkan perhatian si penjudi dari
persoalan lain, waktunya  akan  habis  dan  hiburan  ini  akan
membuatnya  lupa dari segala kewajiban moral yang baik. Sedang
minuman keras akan menghilangkan pikiran  dan  harta  -  untuk
meminjam katakata Umar bin'l-Khattab, ketika ia berharap Tuhan
akan memberikan  penjelasan  mengenai  hal  ini.  Sudah  wajar
sekali  pikiran  yang  rasionil  itu  akan jadi sesat kalau ia
hilang atau  berubah,  dan  kesesatan  itu  akan  lebih  mudah
mendorong   orang   melakukan   perbuatan  rendah,  sebaliknya
daripada akan menjauhkan diri dari kejahatan.

Sistem moral yang dibawa Qur'an untuk 'negara utama' itu bukan
dengan   tujuan  supaya  jiwa  manusia  samasekali  jauh  dari
kenikmatan hidup yang diberikan Tuhan, sehingga  karenanya  ia
akan  hanyut  ke dalam hidup pertapaan dalam merenungkan alam,
dan menyiksa diri dalam menuntut ilmu untuk itu. Sistem  moral
ini  tidak  rela  membiarkan  manusia  menyerahkan diri kepada
kesenangan supaya jangan ia tenggelam kedalam jurang kemewahan
dan  karenanya  ia  akan melupakan segalanya. Bahkan moral ini
hendak membuat manusia menjadi umat  pertengahan,  mengarahkan
mereka  kepada  lembaga  budi  yang  lebih murni, lembaga yang
mengenal alam dan segala isinya ini.

Qur'an bicara tentang ciptaan Tuhan yang ada  dalam  alam  ini
dengan  suatu  pengarahan yang hendak mengantarkan kita sejauh
mungkin dapat kita  ketahui.  Ia  bicara  tentang  bulan  hari
Pertama,  tentang matahari dan bulan, tentang siang dan malam,
tentang bumi dan apa yang dihasilkan bumi, tentang langit  dan
bintang-bintang  yang  menghiasinya,  tentang samudera, dengan
kapal yang berlayar supaya kita dapat menikmati karunia Tuhan,
tentang  binatang  untuk  beban  dan  ternak, tentang ilmu dan
segala cabangnya yang terdapat dalam alam ini.  Qur'an  bicara
tentang   semua   ini,   dan  menyuruh  kita  merenungkan  dan
mempelajarinya, supaya kita menikmati segala  peninggalan  dan
hasilnya  itu  sebagai  tanda  kita  bersyukur  kepada  Allah.
Apabila Qur'an telah mengajarkan etika Qur'an kepada  manusia,
menganjurkan  mereka  supaya  berusaha  terus untuk mengetahui
segala yang ada dalam alam ini,  sudah  sepatutnya  pula  bila
dari  pengamatan  mereka dengan jalan akal pikiran itu, mereka
akan sampai ke tujuan sejauh yang dapat  ditangkap  oleh  akal
pikirannya  itu. Sudah sepatutnya pula mereka membangun sistem
ekonominya itu atas dasar yang sempurna.

Sistem ekonomi yang  dibangun  atas  dasar  moral  dan  rohani
seperti  yang  sudah  kita sebutkan itu, sudah seharusnya akan
mengantarkan manusia ke dalam  hidup  bahagia,  dan  menghapus
segala  penderitaan  dari muka bumi ini. Prinsip-prinsip agung
yang oleh Qur'an ditekankan sekali supaya  ditanamkan  kedalam
jiwa seperti di tempat akidah dan iman itu, akan membuat orang
tidak sudi melihat masih adanya penderitaan di muka bumi  ini,
atau  masih adanya kekurangan yang dapat diberantas tapi tidak
dilakukan. Bagi orang yang  sudah  mendapat  ajaran  ini  yang
pertama  sekali  akan ditolaknya ialah riba yang menjadi dasar
kehidupan  ekonomi  dewasa  ini,  dan  yang   menjadi   sumber
pendieritaan  seluruh  umat  manusia.  Oleh  karena itu Qur'an
secara tegas sekali mengharamkan, seperti dalam firman Tuhan:

"Mereka yang memakan riba tidak akan dapat berdiri, kalau  pun
berdiri  hanya  akan  seperti orang yang sudah kemasukan setan
karena penyakit gila." (Qur'an 2: 275)

"Setiap riba yang kamu lakukan untuk menambah harta orang lain
dalam pandangan Allah tidak akan dapat bertambah. Tetapi zakat
yang kamu lakukan demi keridaan Allah, mereka  itu  yang  akan
mendapat balasan berlipat ganda." (Qur'an 30: 39)

Diharamkannya  riba  adalah  norma dasar untuk kebudayaan yang
akan dapat  menjamin  kebahagiaan  dunia.  Bahaya  riba  dalam
bentuknya  yang  paling  kecil  ialah ikut sertanya orang yang
tidak bekerja dalam suatu hasil usaha orang lain hanya  karena
ia  sudah meminjamkan uang kepadanya, dengan alasan lagi bahwa
dengan meminjamkan itu ia sudah membantu orang lain memperoleh
hasil  keuntungan itu. Sebaliknya kalau ini tidak dilakukan si
peminjam tidak  akan  dapat  berusaha  dan  dengan  sendirinya
takkan   dapat  memungut  keuntungan.  Kalau  hanya  ini  saja
satu-satunya bentuk riba itu, ini pun takkan  dapat  dijadikan
alasan.   Kalau   orang   yang   meminjamkan  uang  itu  mampu
menjalankan sendiri, ia tidak akan meminjamkannya kepada orang
lain,  dan  kalau  uang  itu  tetap  ditangannya sendiri tidak
dijalankan  dalam  usaha,  maka  uang  itu  pun   tidak   akan
mendatangkan  keuntungan.  Sebaliknya,  sedikit  demi  sedikit
uangnya itu akan habis dimakan  pemiliknya  sendiri.  Jika  ia
akan  meminta  bantuan  orang  lain menjalankan uangnya dengan
bagi hasil  menurut  keuntungan  yang  akan  diperoleh,  tentu
caranya  bukan  dengan  jalan dipinjamkan sebagai modal dengan
laba tertentu, melainkan dengan cara si pemilik uang itu  ikut
serta  dengan  orang  yang menjalankan uangnya atas dasar bagi
untung. Kalau si pengusaha beruntung, maka  si  pemilik  modal
itu  pun  akan mendapat bagian keuntungan; kalau rugi, dia pun
akan  turut  memikul  kerugiannya.  Sebaliknya  kalau   kepada
pemilik  modal  itu  akan ditentukan suatu laba, meskipun yang
mengusahakan  tidak  mendapat  keuntungan  apa-apa,  maka  itu
adalah  suatu  eksploitasi illegal, suatu pemerasan yang tidak
sah.

Dan  tidak  akan  dapat  terjadi   bahwa   harta   itu   dapat
diperlakukan   seperti   yang  lain-lain,  dapat  dipersewakan
seperti menyewakan tanah atau menyewakan hewan, dan bahwa laba
uang  tunai  harus sesuai dengan hasil sewa barang-barang yang
lain itu. Uang yang dapat dipakai untuk pengeluaran dan  dapat
juga  dipakai  untuk  produksi,  yang  bisa dimanfaatkan untuk
kebaikan dan juga dapat menimbulkan kejahatan  (dosa),  dengan
harta  bergerak  dan  tidak  bergerak  lainnya,  besar  sekali
perbedaannya. Orang yang  menyewa  tanah,  rumah,  hewan  atau
barang  apa pun, tentu karena ingin dimanfaatkan, yang berarti
akan sangat berguna buat dia, kecuali jika  dia  memang  orang
bodoh  atau orang edan, yang segala gerak-geriknya sudah tidak
lagi diperhitungkan orang.

Sebaliknya yang mengenai uang modal,  yang  biasanya  dipinjam
untuk    tujuan-tujuan    perdagangan   yang   sebaik-baiknya.
Perdagangan itu senantiasa dihadapkan kepada soal untung  atau
rugi.  Sedang mengenai sewa-menyewa barang-barang bergerak dan
tidak bergerak untuk dijalankan dalam  usaha,  sedikit  sekali
yang  mengalami kerugian, kecuali dalam keadaan yang abnormal,
yang tidak masuk dalam keadaan biasa. Apabila keadaan abnormal
ini  yang  terjadi,  maka  kekuasaan  hukum segera pula campur
tangan antara si pemilik dengan  si  penyewa  -  seperti  yang
sering   terjadi   dalam   semua   negara  di  dunia  -  untuk
menghilangkan  ketidak  adilan  terhadap  si   penyewa   serta
menolongnya  dari tindakan si pemilik yang hanya akan memungut
laba dari usahanya itu. Sebaliknya,  dengan  menentukan  bunga
uang  tunai,  dengan  lebih-kurang  7% atau 9%, maka ini tidak
akan mengubah, bahwa si peminjam dapat terancam oleh  kerugian
modal,  disamping kerugian usahanya sendiri. Apabila disamping
itu dia masih juga lagi dituntut  dengan  bunga,  maka  inilah
yang  disebut  kejahatan  (dosa).  Akibat ini akan menimbulkan
permusuhan, sebaliknya daripada persaudaraan; akan menimbulkan
kebencian,  bukan  cinta kasih. Inilah sumber kesengsaraan dan
segala krisis yang diderita umat manusia dewasa ini.

Kalau memang inilah bahaya riba dalam  bentuknya  yang  paling
kecil,  dan  begitu  pula  akibat-akibat  yang timbul, apalagi
dengan bentuk lain tatkala si pemberi pinjaman itu sudah lebih
mendekati  binatang buas daripada manusia, atau sipeminjam itu
sudah sangat membutuhkan  uang  di  luar  keperluan  penanaman
modal  atau  produksi.  Adakalanya  ia sangat membutuhkan uang
untuk  keperluan  nafkah  yang  konsumtif,   untuk   keperluan
makannya  atau  makan  keluarganya. Ketika itulah perhatiannya
hanya pada yang  lebih  mudah  saja  dulu,  sebelum  ia  dapat
memegang  sesuatu  pekerjaan  yang  dapat  menjamin  keperluan
hidupnya dan kemudian dapat  membayar  kembali  utangnya.  Ini
sudah  merupakan  satu  tugas  perikemanusiaan sebagai langkah
pertama. Dan ini pula yang dirumuskan  oleh  Qur'an.  Bukankah
dalam  keadaan serupa ini pemberian pinjaman dengan riba sudah
merupakan suatu kejahatan yang sama  dengan  pembunuhan?  Yang
lebih  parah lagi dari kejahatan ini ialah adanya segala macam
tipu-muslihat dengan  jalan  riba  itu  untuk  merampas  harta
orang-orang  yang lemah, orang-orang yang tidak pandai menjaga
hartanya. Tipu muslihat ini tidak kurang  pula  jahatnya  dari
pencurian  yang  rendah.  Dan  setiap pelaku ke arah ini harus
dihukum seperti pencuri atau lebih keras lagi.

Riba adalah salah satu faktor yang turut  menjerumuskan  dunia
ke  dalam  bencana penjajahan, dengan segala macam penderitaan
yang ditimbulkan oleh penjajahan itu. Sebagian  besar  masalah
penjaJahan  itu  dimulai  oleh sekelompok tukang-tukang riba -
secara perseorangan atau dalam bentuk badan-badan usaha - yang
mendatangi  beberapa  negara dengan memberikan pinjaman kepada
penduduk. Kemudian mereka  menyusup  masuk  lebih  dalam  lagi
sampai mereka dapat menguasai sumber-sumber kekayaan. Bilamana
kelak  anak  negeri  sudah  menyadari   kembali   dan   hendak
mempertahankan  diri  dan  harta mereka, orang-orang asing itu
cepat-cepat meminta bantuan negaranya. Negara ini pun kemudian
masuk  atas  nama  hendak  melindungi  rakyatmya.  Kemudian ia
menyusup juga masuk lebih dalam lagi,  lalu  berkuasa  sebagai
penjajah.  Sekarang mereka sebagai yang dipertuan. Kemerdekaan
orang lain dirampas.  Sebagian  besar  sumber-sumber  kskayaan
negeri itu mereka kuasai. Dengan demikian kekayaan mereka jadi
hilang, penderitaan mulai mencekam  seluruh  kawasan  itu  dan
bayangan  kesengsaraan  sudah  pula merayap-rayap kedalam hati
mereka. Pikiran mereka jadi  kacau,  moral  jadi  lemah,  iman
mereka  pun mulai goyah. Martabat mereka jadi turun dari taraf
manusia yang sebenarnya ke taraf yang lebih  hina,  yang  bagi
orang   yang  beriman  kepada  Allah  tidak  akan  sudi  hidup
demikian, sebab, hanya kepada Allah semata  orang  merendahkan
diri dan harus mengabdi.

Juga  penjajahan  itu  sumber  peperangan,  sumber penderitaan
besar yang  sangat  menekan  kehidupan  seluruh  umat  manusia
dewasa  ini.  Selama  ada  riba, selama ada penjajahan, jangan
diharap manusia akan dapat kembali ke  masa  persaudaraan  dan
saling  cinta  antara  sesamanya. Harapan akan kembali ke masa
serupa itu tidak akan ada, kecuali jika kebudayaan atas  dasar
yang  dibawa  oleh Islam dan diwahyukan dalam Qur'an itu dapat
dibangun kembali.

Didalam Qur'an ada konsepsi sosialisma yang belum lagi dibahas
orang. Sosialisma ini tidak didasarkan kepada perang modal dan
perjuangan  kelas,  seperti  yang  terdapat   sekarang   dalam
sosialisma  Barat, melainkan dasarnya ialah karakter dan moral
yang tinggi yang  akan  menjamin  adanya  persaudaraan  kelas,
adanya  kerja-sama  dan  saling  bantu atas dasar kebaikan dan
kebaktian, bukan kejahatan dan saling permusuhan. Tidak  sulit
orang akan melihat landasan sosialisma atas dasar persaudaraan
ini, seperti yang sudah ditentukan oleh Qur'an mengenai  zakat
dan sedekah misalnya. Orang  dapat menilai, bahwa ini bukanlah
sosialisma dengan dominasi suatu kelas atas kelas  yang  lain,
atau   kekuasaan  suatu  golongan  atas  golongan  yang  lain.
Kebudayaan yang dilukiskan oleh Qur'an tidak  mengenal  adanya
dominasi   atau   sikap   berkuasa,   melainkan   atas   dasar
persaudaraan yang sungguh-sungguh yang didorong oleh keyakinan
yang  kuat akan persaudaraan itu; suatu keyakinan yang membuat
orang dengan mengingat karunia Tuhan itu mau memberi untuk  si
miskin,  orang melarat, orany yang membutuhkan dan segala yang
diperlukannya  akan  makanan,  tempat  tinggal,   obat-obatan,
pengajaran  dan  pendidikan.  Mereka memberikan itu atas dasar
keikhlasan dan kejujuran. Dengan  demikian  penderitaan  dapat
dihilangkan, karunia Tuhan dan kebahagiaan dapat merata kepada
umat manusia.

Sosialisma Islam  ini  tidak  sampai  menghapuskan  hak  milik
secara   mutlak,   seperti  halnya  dengan  sosialisma  Barat.
Kenyataan  sudah  membuktikan  -  bolsyevisma  di  Rusia   dan
negara-negara  sosialis lainnya - bahwa menghapuskan hak milik
itu suatu hal yang tidak  mungkin.  Sungguhpun  begitu,  namun
perusahaan-perusahaan negara harus tetap menjadi milik bersama
untuk   kepentingan   semua    orang.    Mengenai    ketentuan
perusahaan-perusahaan  negara itu terserah kepada negara. Oleh
karena itu mengenai ketentuan ini  sejak  abad-abad  permulaan
dalam  sejarah  Islam  sudah terdapat perbedaan pendapat. Dari
kalangan sahabat-sahabat Nabi sendiri ada yang terlampau keras
menjalankan  ketentuan  sosialisma  ini,  sehingga segala yang
diciptakan Tuhan dijadikan milik bersama dan untuk kepentingan
umum.  Mereka memandang tanah dan segala yang terkandung, sama
dengan air dan udara, tidak boleh menjadi milik pribadi.  Yang
boleh  dimiliki  hanya hasilnya, yang disesuaikan dengan usaha
dan perjuangan masing-masing. Ada juga yang tidak  berpendapat
demikian.  Mereka  menyatakan  bahwa  tanah boleh dimiliki dan
dianggap sebagai barang-barang yang boleh dipertukarkan.

Akan tetapi persetujuan yang sudah dicapai di kalangan  mereka
ialah  sama  dengan  yang  berlaku  di  Eropa  sekarang, yaitu
menentukan  bahwa  setiap  orang  harus   mencurahkan   segala
kemampuannya  untuk  kepentingan  masyarakat,  dan  masyarakat
harus pula berusaha, untuk kepentingan pribadi dalam mengatasi
segala    keperluannya.    Setiap   Muslim   berhak   menerima
kebutuhannya serta kebutuhan orang yang menjadi  tanggungannya
dari  baitulmal  (perbendaharaan  negara)  Muslimin, selama ia
belum  mendapat  pekerjaan  yang   akan   menjamin   keperluan
hidupnya,  atau  selama  pekerjaan  yang dipegangnya itu tidak
mencukupi keperluannya dan keperluan keluarganya.

Selama norma-norma etik di dalam Qur'an  seperti  yang  sudah
kita  sebutkan  itu dijalankan, maka tidak akan ada orang yang
mau berdusta; tidak akan ada orang yang mau mengatakan,  bahwa
ia  penganggur, padahal yang sebenarnya dia tidak mau bekerja,
tidak akan ada orang yang mau  menyatakan,  bahwa  penghasilan
dari  pekerjaannya  tidak  mencukupi, padahal sebenarnya sudah
lebih dari cukup. Khalifah-khalifah pada masa permulaan  Islam
dahulu  sudah mewajibkan diri menyelidiki sendiri keadaan umat
Islam untuk kemudian dapat mengatasi  segala  keperluan  orang
yang memang berada dalam kebutuhan.

                                    (bersambung ke bagian 6/6)

---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Budaya5.html

===========================================================================================

1. ISLAMIC CULTURE as described QUR’AN (sixth)
Muhammad Husain Haekal

MUHAMMAD has left a great spiritual legacy,
that has overshadowed the world and give direction to
world culture during the several centuries ago.
He will continue to do so until God perfected
light to the world. Heritage that has given
major influence on the past, and will thus,
even more so in the future, is
because he has brought the true religion and put
cultural basis only thing that will guarantee
happiness of this world. Religion and culture had
brought Muhammad to mankind through the revelation of God
, it has been so cohesive that can no longer
integral.

If any Islamic culture is based on methods
knowledge and capability ratio, – and in this same
such that the grip of Western culture of our time
now, and if Islam was a religion of holding on
subjective thinking and the thinking of metaphysics but
relationship between the provisions on the basis of religion
culture intimately. Because is because of the way
thinking that metaphysical and subjective feelings in one
parties, with the rules of logic and science capability
knowledge on the other by Muslims are united by one
ties, who would not want it to look up to
found, to then remain a Muslim with
strong faith as well. From this aspect of Islamic culture is different
once with Western culture now rules the world,
also in describing the life and become the basic foundation
different. The second difference is culture, among which one
with others is actually very principle, which until
basic cause of both is mutually exclusive of each other
rear.

The emergence of this conflict is due to historical reasons,
as we have seen in the foreword and preface
second printing of this book. Conflicts in the West between the power
religion and power as a nation that embraces temporal1
Christian religion or the language is now among church
with state causes the two will have to part, and
state power must be enforced to not recognize
power of the church. The existence of that power there is also conflict
its influence in Western thought as a whole. Result
It is the first of the influence of stratification between
human feeling to hear people’s minds, between thoughts
metaphysical with the provisions of positive knowledge (knowledge
of reality) that are based on a review materialisma.
Victory materialisma mind this enormous influence
to the birth of an economic system that has become
The main basis of Western culture.

As a result, in the West has also arise streams
who want to make everything on this earth is subject
to the life of the world economy. So is not small
people now want to put the history of mankind in terms of
religion, art, f1lsafat, ways of thinking and knowledge –
in all its highs and lows of the various nations – with
economic size. The mind is not confined to history
and writing, even some strands of Western philosophy has
also create patterns of conduct on the basis of expediency this material
solely. It was such flows in
his thinking is so high with a creative,
immense, but the developments in Western thought that has
limit on the boundaries of the material benefits that
collectively created by the patterns of conduct as a whole.
And in terms of scientific discussion of this case already a
a very urgent necessity.

Sebaiiknya about spiritual issues, spiritual issues, in
view of Western culture is merely a personal matter,
people do not need to pay attention to it together. By
therefore let the matter this belief freely
West was a thing once exalted, exceeding
freedom in the matter of ethics. It’s so much they
magnify the problem of freedom of ethics for the sake of economic freedom
which has been completely bound by the law.
This law will be carried out by soldiers or by
state with all its existing strengths.

Culture is about to make economic life as
Basically, and patterns of conduct are based also on life
economic importance on it with no sense of trust
in public life, in exploring the way for mankind
pursuit of happiness as it ideally citakannya,
in my opinion will not reach the destination. Even
responses to life so it is fitting when
will plunge humanity into a severe pain
as experienced in recent centuries. Already
should also where all the thoughts in an attempt to prevent
war and seeking world peace does not bring much
meaning and the results are not much. During my relationship
with brother basically is a piece of bread that I eat
or that you eat, we fight, compete and fight
to it, each contention on the basis of strength
animal, it will always be waiting for each of us
good opportunity to get a slice of bread sly
in whose hands his friend. Each of us from one another
Friends will always see it as an opponent, not as
brother. Basis of conduct that is hidden in us this will
always be animal, even if still remains hidden
until in time he will arise. The always will
to handle this ethical foundation is the only advantage.
While a high sense of humanity, the principles
an admirable character, altruisma, love and brotherhood
will fall slip, and almost gone to
held again.

What happens in the world today is evidence
The most obvious of what I mentioned it. Competition and
The first symptom is a contradiction in the economic system, and
It is also the first symptom in Western culture, both in
individualistic understanding, as well as socialistic same
existence. In understand individualisma, workers compete with
workers, owners of capital by capital owners. Workers with
owners of capital are two competing opponents.
The proponents of this understanding of the opinion that competition and
This conflict will bring goodness and progress to
mankind. According to them it is a stimulant that
work more diligently and stimulants for the division of labor, and
would be a fair balance in sharing the wealth.

Conversely understand sosialisma who believes that the struggle
class that must be quits with the power in the hands of
the workers, is one of natural necessity. During
competition and struggle of the property was used as the principal
life, during the inter-class opposition is reasonable, then
inter-nation conflict is also reasonable, with the same purpose
as on class struggle. From this conception
nationalism is, by itself, giving effect
determine the economic system. If the struggle
nations to master the natural treasure, if there
occupation for the fair also, how could war
can be prevented and peace in the world can be guaranteed? In
towards the end of the 20th century we have been able to watch –
and still we can see – the existence of evidence, that
peace on earth with a sort of cultural basis
only in dreams alone can be exercised, only in
sweet ideals have a co-wife, but in reality no
more than a mirage that nonsense.

Islamic culture was born on the basis of contrasting
on the basis of Western culture. He was born on a spiritual basis
invite people to realize that once the first
relationship with nature and its place in this natural
best. If this realization is already down to
boundaries of faith, the faith it took her so that she remains
continually educate and train yourself, clean heart
always, fills the heart and mind with the principles
more noble – the principles of dignity, brotherhood,
love, kindness and devotion. On the basis of the principles
This man should formulate its economic life. How to
gradually so this is the basis of Islamic culture, such as
revelation which was revealed to Muhammad, which first
spiritual culture, and spirituality here is the basic system
education system and the basic patterns of conduct (morals). And
These ethical principles are the basis of its economic system. No
certainly be justified in any way compromising
These ethical principles for the sake of economic systems
earlier.

Feedback about the culture of Islam so this opinion
My response is consistent with human nature, which
will guarantee happiness for him. If this is embedded
in our spirit and life like in Western culture
there was also the course, shades of humanity that undoubtedly will
changed, the principles that have been the holder
people will collapse, and instead will arise
the principles of a more noble, which will be able to treat
Our current world crisis in accordance with the guidance of
more brilliant.

Now people in the West and East tried going to cope with
this crisis, without them knowing it – and the Muslims themselves
nor even aware of – that Islam can guarantee
overcome them. People in the West today are looking for
a new spiritual grip, which will be able menanting
paganisma them from being plunged them; and
because the emergence of their suffering, the disease
plugging them into the cauldron of war between fellow
them, is mammonisma – worship of wealth.
Western people looking for a new grip that within a few
teachings in India and the Far East, though it will be able to
they do not get away from them, will they find it
existing provisions in the Qu’ran, is depicted with
very beautiful with a very good example given by
Prophets to mankind during his lifetime.

I do not mean going to portray Islamic culture with
all of its provisions it here. Painting thus requires
an in-depth discussion, which will require the
registration book or even greater. However – after
spiritual foundation that became the foundation that I alluded
as needed – painting the culture here I want to
conclude, therefore in case of Islamic teachings in
I can also describe the whole and with
depiction that I will explore the way to a discussion
deeper. And before moving in that direction
it would be a good idea also I give just a hint,
that in fact in the history of Islam does not exist
conflict between religious power (theokrasi) with
temporal power, ie, between church and state. This
to save Islam from the opposition that has been
West left in the mind and in the course of its history.

Islam can be saved from the opposition and all
influence it, why is because Islam does not know what
whose name the church or religious authority as
known by the Christian religion. Yet there are people among
Muslims – even though he was a caliph – who will
command requires something to someone, the name of religion,
and will accuse himself able to give remission of sins
to anyone who violates the order. Also there has been no
among Muslims – even though he is a caliphate – which
would require something to people other than those already
determined by God in the Quran. Even all of Islam orarg
equal before God. Which one is more noble than
others, except depending on the takwanya – to
terms of office. A ruler can not demand loyalty
a Muslim if he himself committed sin
and violate penntah God. Or in the words of Abu Bakr
as-Siddiq to the Muslims in his inaugural address
as Caliph “Obey me as long as I obey
(Command) of Allah and His Messenger. But if I violate
(Command) of Allah and the Messenger then gugurkanlah loyalty to
I am. ”

Despite the government in Islam after that then
held by a tyrannical king, even among
Muslim civil war ever arise, but the Muslims
still hold on to great personal freedom, which
is determined by religion, freedom to put
reason as the benchmark in everything, even made
benchmark within the religion and faith though. Freedom is still
they hold even until the time of arrival
rulers of the Islamic people claiming self
in place of God on this earth – no longer as
Messenger replacement. Yet all the Muslim issues already
they control only, to the extent that the question of life and death.

As evidence such as what has happened in the
Ma’mun, when people disagree about the Qur’an: a creature or
not a creature – which was created or not created! Many
people who oppose the opinion of the Caliph at that time,
when they know the result of what they will receive
if you dare to oppose it.

In any case by the Islamic mind had been made
benchmark. Also in terms of religion and faith he used as a benchmark.
In the word of God:

“The parable of those who do not believe is like
(Shepherds) who chanted (flocks) that are not heard
in addition to voice calls and calls only. They are deaf, dumb and
blind, because they do not use common mind. “(Qur’an,
2: 171)

By Shaykh Muhammad Abduh interpreted, by saying:
“This verse clearly states, that imitation (receiving
just like that) without consideration or a reasonable mind
guidance is innate people do not believe. People do not
could believe that his religion is not realized in their minds,
can not know himself until he was sure. If people
grew up with the ordinary takes for granted without realizing it
with common thoughts, and while doing an act,
despite good deeds, without knowing it is true, he
not a believer. With the believer is not intended to be
lowered self-humble people to do good as
despicable animals, but that is intended so that people can
increase the sense of his mind, to enhance self-
with science, so that doing the good that
he really knew, that kindness is indeed useful,
acceptable to God. In leaving the crime was also
he understood the dangers and how far away the crime
will take effect. ”

This is what Shaykh Muhammad Abduh in interpreting
This paragraph, which in the Quran, in addition to the verse already
there are many other verses mentioned clearly
once. Qur’an wants mankind to ponder nature
this universe, in order to learn the news about it, which
Such reflections will be delivered to
awareness about the existence of God, the oneness, such as
in the word of God:
(Continued on part 2 / 6)
1. ISLAMIC CULTURE as described QUR’AN (2 / 6)
Muhammad Husain Haekal

“Behold in the creation of the heavens and the earth, in turn
night and day, the Ark sailed the seas to bring what
which is useful for mankind, and what Allah revealed
from the sky in the form of water, then with water dihidupkanNya earth
a dead dry, then disebarkanNya on earth
all kinds of animals, wind and cloud pengisaran driven
from between heaven and earth – are the signs (to be unity
and greatness of God) for those who use common
the mind. “(Qur’an, 2: 164)

“And as a sign for them, is the dead earth
dry. We turn it on again and we remove it from there
seeds which can be partially eaten. There we held
palm gardens and palm and grapes and there is also Us
exude water – so can they eat the fruit. All
it is not the business of their hands. Why are they not grateful
love. Glorified be He who created all that is grown
earth in pairs, and in themselves as well as
all that they know nothing. Also as a sign
for them – is the night. We remove the day, then they
even in darkness. The sun was circulated by
provisions that have been determined. That’s the size of the Most
The Power and omniscient. Also the moon, already we define
place-place until he returned again as Mayang yang
old. The sun should not be chasing the moon and
Nor do the night will precede the afternoon. Each run
in circulation. Also as a sign for them –
is derivative of those who We carried in a ship full of
charge. And for those We created too similar, which
can they drive. If We willed, We karamkan
them. There is no helper for them again, they also can not
saved. Unless by mercy from Us and for
give pleasure to live up to in time. “(Qur’an,
36: 33-44.)

Recommendation to pay attention to the physical universe, exploring all
provisions and existing law in this natural and
make it as a guideline that will take us
believe in the Creator, has hundreds of times mentioned
in various Surah in the Qur’an. Everything is addressed to
power the human mind, telling people to judge,
meditate on it, so that his faith was based on reason
mind, and clear conviction. The Qur’an reminds order
Do not blindly accept what is on his ancestors,
without notice, without further research and with
personal conviction of the truth that can accomplish that.

Thus faith is what is recommended by Islam. And it is not
faith in the so-called “faith granny,” but faith
intellectuals who are convinced, that has been contemplated
again, then think carefully, after that, with
reflections and thoughts that he would come to faith
about God the Almighty. I think nobody
been able to contemplate with the mind and the intellect
his heart, which will not come to faith. Any he
reflect deeper, think longer and try to
control of space and time as well as unity contained
in it, the never-ending, with members
not limited universe, which is always spinning this –
bit will be felt within himself about the members
nature, which all goes according to existing law
determined and with a purpose known only to
creator. He also will feel confident of her weakness,
would knowledge that has not been enough, if only she had not
immediately assisted by an awareness of the physical universe, aided
with a force beyond the capacity of faculty and
brain, which would connect it with all members
nature, and that will make him realize his own place.
And that power is faith.

So that faith is a spiritual feeling, which is felt by
man he held over her every communication
with nature and wander into the skinfold-and space limitations
time. All creatures of this nature will incarnate in him.
Then he saw it all go according to existing law
determined, and saw also is worship of God Almighty
Creator. There was He incarnated in nature, dealing with
nature, or stand alone and separate, still represents a
speculative debate an empty course. Maybe successful,
may also be misguided, might be beneficial and may
also harmful. Besides, this is not also add
our knowledge. How long have the writers and
failasuf-failasuf that one another try going
know the substance of this Creator, but the effort and effort
they were in vain. And some are admitted, that it
indeed beyond the reach of perception. If it is reasonable
that is not able to achieve this understanding, the lack
ability is even more strengthen our faith.
The feeling we are convinced about the existence of Supreme Being
High, the All-Knowing would be everything and that he
The Supreme Creator, Supreme Planner, everything will be back
Him, then such a state would have to convince
us, that we would not be able to reach no matter how much substance
size of our faith in Him that

Likewise, if until now we can not capture
what electricity actually was even with our own eyes
we see the scar, as well as the ether that we do not
to know even though it can be determined, that the waves
It can inemindahkan sound and images, and traces the influence
It is enough to make us believe in electricity and
the ether. How proud we are, every day we
see the beauty and greatness that God made,
if we still do not want to believe before we know
his substance. God the Supreme Transcendent far beyond reach
can they describe. The reality in life is that
those who try to describe the substance of God the Most Holy
are those with a perception already helpless
achieve a higher level again in describing what
the above human life. They want to measure this nature
and Creator of nature according to our measure of the relative and
once confined within the limits of our knowledge which is only slightly
it. Conversely those who have really reached a science,
will be remembered by their word of God this:

“They ask thee concerning the spirit. Answer: The Spirit
including God’s business. Knowledge given to you
it’s just very little. “(Qur’an, 17: 85)

Their hearts are filled with faith in the Creator Spirit and
Creator of the universe of this nature, after it did not need them
plunges himself into the debate an empty speculative,
who would not give results, would not reach a conclusion.

Islam reached with the Islamic faith and without faith by
Qur’an distinguished:

“The Arabs badwi said: ‘We have faith.”
Say ‘You’re not believers, but let us say: we have
of Islam. ” Faith had not yet entered into your hearts. ”
(Qur’an, 49: 14)

Such examples of this is Islam, which is subject to the invitation
people because of their will or because of fear, because of awe or
because the cult outside the heart that would think and understand
really going to offer it up to the limits of faith.

That is yet to receive God’s guidance until the
faith that should be achieved, by way of contemplating nature
and know the laws of nature, and that the reflection and
knowledge that he will be up to the Creator –
but so Islam because of a desire or because
his ancestors had been Islamic. Therefore faith
has not penetrated into his heart again, even though he was Muslim.
Muslim men of this kind have anything to deceive
God and deceive the believers, but they actually
are cheating yourself by not they realize. In
they already have heart disease. And by God plus
their disease. They are religious people without
faith, the Islamic only driven by a desire or
because of fear, while his soul remains stunted, his conviction still
weak and his heart was willing to surrender to the will of
man, surrendered to his orders. Instead they, who
his faith in God that the earnest priest,
delivered by the sense of mind and the heart of the living,
by way of contemplating nature, they are the people who
believers. Those who will submit the matter only
to God, they are the people who do not know surrender
in addition to God. With Islam they do not give
any services to the people.

“But in fact God is worthy to you, because
dibimbingNya to the faith you have, if you really
the right people. “(Qur’an, 49: 17)

So whoever gave himself obedient to God and in
on it to do good deeds, they do not need to feel
be afraid, do not grieve. They do not fear
facing life or abject poverty, because by faith
they’re very rich, very honored.
Honor is in God and the believers.

Souls who are willing and comforted by his faith, he was relieved
when he tried always wanted to know the secrets and
laws of nature, which means it will add to its relationship
with God. And step towards this knowledge is by
way to discuss and reflect on all God’s creation is
in this natural scientific manner as recommended by
Qur’an and practiced really well by the
Muslims first, as a modern scientific way in
West now. It’s just that purpose in Islam and in
Western culture is different. In Islam the aim to
man makes the law of God in this natural law
and its own rules, while in the West aim is
looking for material gains and what is in nature.
In Islam once the first goal is to ‘irfan – know
God well, more and more in ‘irfan or perception
(Introduction), we also increasingly in our faith in God.
This goal is about to reach ‘irfan good in terms of
whole community, not just in terms of personal. Problem
Spiritual integrity is not a purely private matter. No
a place for people confine ourselves as a society
own. In fact he should be the basis of culture
for human society worldwide – from end to end. By
therefore human beings should strive for
integrity (perfection) that spiritual, which means greater
rather than observations about the nature of the senses (sensibilia).

Persepsi2 about secret things and natural laws
who want to achieve that integrity is greater than
perception as a tool to achieve power over matter
objects.

To achieve this spiritual integrity of our inadequate
we rely only on logic alone, even with the logic
that we have paved the way for our hearts and minds
us to get to the highest level. This can happen
only if people seek help from God,
expose yourself to Him with heart and soul.
Only we worship Him and only Him we
ask for help, to achieve the secrets of nature and
the law of life. This is called relationship
with God, grateful for favors of your Lord, so that we increase
get a clue of what we have achieved, such as
in the word of God:

“And when My servants ask thee concerning Me, then
(Say) I’m close. I granted the request of the person
plead – if she plead to me. So welcome
cry and believe me, just in case they
guided to the straight path. “(Qur’an 2: 186)

“But seek God’s help with the brave, and with
start praying, and praying it was heavy,
except for those of humble-to the Lord.
People who realize that they will meet with
God and to Him they return. “(Qur’an 2: 45-46)

Prayer is a form of communication with God
believe and ask Him for help. Thus
intended to prayer is not just bowing and prostration
course, reading the Qu’ran verses or pronounce Takbir and
ta’zim for the greatness of God without filling the soul and heart
hearts with faith, with holiness and majesty of God.
But what is meant by prayer or worship is
meaning contained in the Takbir, in reading, in
bowing, prostration and all the majesty, holiness and faith.
So this worship to God is a worship
sincere – for the sake of God Light of the heavens and the earth.

“Goodness is not since you expose the face in the direction
east and west, but goodness it is the person who has
believe in Allah, the Hereafter, angels,
The Book and the prophets and issued his beloved treasure
it to relatives, orphans, poor people
and displaced persons in transit, the people who
request, to let go of slavery, doing prayer
and issued a charity, then the people who love
fulfill the promise when the promise, the people who brave hearts
in the face of suffering and hardship and in time
war. They are the people who are right and they were
people who can maintain themselves. “(Qur’an, 2: 177)

Believers who really believe it was he who confronts
all his heart to God when he was praying,
witnessed by a sense of piety to Him, and seek
God’s help in fulfilling his obligations. He
search for clues, asking for God in understanding taufik
secret and the law of this nature.

Believer who truly believes in Allah he middle
Prayer will feel it yourself, always be felt,
he is dealing with something small greatness
Allah the Most Great. If we are in an aircraft
above the height of a thousand or several thousand meters, we
see the mountains, rivers and cities as
minor symptoms on the earth. We see it posted
in front of our eyes like pathways above tergaris
a map and as a horizontal flat surface is not
there is a mountain or building a higher, no canyons,
wells or the river is lower, the colors
-to-back, linked to each other, mixed, the higher the
we fly the colors are more mixed. The whole earth
we are nothing more than a small planet. In nature