Updates from September, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 3:16 am on 26/09/2010 Permalink | Reply
    Tags: KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN oleh Muhammad Husain Haekal   

    KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR’AN oleh Muhammad Husain Haekal 

    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (1/6)
       Muhammad Husain Haekal
    
       MUHAMMAD telah meninggalkan warisan rohani yang agung,
       yang telah menaungi dunia dan memberi arah kepada
       kebudayaan dunia selama dalam beberapa abad yang lalu.
       Ia akan terus demikian sampai Tuhan menyempurnakan
       cahayaNya ke seluruh dunia. Warisan yang telah memberi
       pengaruh besar pada masa lampau itu, dan akan demikian,
       bahkan lebih lagi pada masa yang akan datang, ialah
       karena ia telah membawa agama yang benar dan meletakkan
       dasar kebudayaan satu-satunya yang akan menjamin
       kebahagiaan dunia ini. Agama dan kebudayaan yang telah
       dibawa Muhammad kepada umat manusia melalui wahyu Tuhan
       itu, sudah begitu berpadu sehingga tidak dapat lagi
       terpisahkan.
    
    Kalau pun kebudayaan Islam ini didasarkan kepada metoda-metoda
    ilmu pengetahuan dan kemampuan rasio, - dan dalam hal ini sama
    seperti yang  menjadi  pegangan  kebudayaan  Barat  masa  kita
    sekarang,  dan  kalau  pun  sebagai agama Islam berpegang pada
    pemikiran yang subyektif dan pada pemikiran  metafisika  namun
    hubungan   antara   ketentuan-ketentuan   agama  dengan  dasar
    kebudayaan  itu  erat  sekali.  Soalnya  ialah   karena   cara
    pemikiran  yang  metafisik dan perasaan yang subyektif di satu
    pihak,  dengan  kaidah-kaidah  logika   dan   kemampuan   ilmu
    pengetahuan  di pihak lain oleh Islam dipersatukan dengan satu
    ikatan, yang mau tidak mau memang perlu  dicari  sampai  dapat
    ditemukan,  untuk  kemudian  tetap  menjadi orang Islam dengan
    iman yang kuat pula. Dari segi ini  kebudayaan  Islam  berbeda
    sekali  dengan kebudayaan Barat yang sekarang menguasai dunia,
    juga dalam melukiskan hidup dan dasar yang menjadi landasannya
    berbeda.  Perbedaan  kedua  kebudayaan  ini,  antara yang satu
    dengan  yang  lain  sebenarnya  prinsip  sekali,  yang  sampai
    menyebabkan  dasar keduanya itu satu sama lain saling bertolak
    belakang.
    
    Timbulnya pertentangan ini ialah karena alasan-alasan sejarah,
    seperti  sudah  kita singgung dalam prakata dan kata pengantar
    cetakan kedua buku ini. Pertentangan di Barat antara kekuasaan
    agama  dan  kekuasaan  temporal1  sebagai bangsa yang menganut
    agama Kristen   atau dengan bahasa sekarang     antara  gereja
    dengan negara     menyebabkan keduanya itu harus berpisah, dan
    kekuasaan  negara  harus  ditegakkan  untuk   tidak   mengakui
    kekuasaan  gereja.  Adanya  konflik  kekuasaan  itu  ada  juga
    pengaruhnya dalam pemikiran Barat secara  keseluruhan.  Akibat
    pertama  dari  pengaruh  itu  ialah  adanya  permisahan antara
    perasaan manusia  dengar  pikiran  manusia,  antara  pemikiran
    metafisik  dengan  ketentuan-ketentuan ilmu positif (knowledge
    of   reality)   yang   berlandaskan   tinjauan   materialisma.
    Kemenangan  pikiran  materialisma ini besar sekali pengaruhnya
    terhadap lahirnya suatu  sistem  ekonomi  yang  telah  menjadi
    dasar utama kebudayaan Barat.
    
    Sebagai  akibatnya,  di  Barat telah timbul pula aliran-aliran
    yang hendak membuat segala yang ada di muka  bumi  ini  tunduk
    kepada  kehidupan  dunia  ekonomi.  Begitu  juga tidak sedikit
    orang rang ingin menempatkan sejarah umat  manusia  dari  segi
    agamanya,  seni,  f1lsafat, cara berpikir dan pengetahuannya -
    dalam segala pasang surutnya pada  berbagai  bangsa  -  dengan
    ukuran  ekonomi. Pikiran ini tidak terbatas hanya pada sejarah
    dan penulisannya, bahkan beberapa aliran filsafat Barat  telah
    pula  membuat pola-pola etik atas dasar kemanfaatan materi ini
    semata-mata. Sungguh  pun  aliran-aliran  demikian  ini  dalam
    pemikirannya  sudah  begitu  tinggi  dengan daya ciptanya yang
    besar sekali, namun perkembangan pikiran di  Barat  itu  telah
    membatasinya  pada  batas-batas  keuntungan materi yang secara
    kolektif dibuat oleh pola-pola etik  itu  secara  keseluruhan.
    Dan  dari segi pembahasan ilmiah hal ini sudah merupakan suatu
    keharusan yang sangat mendesak.
    
    Sebaiiknya mengenai masalah rohani, masalah  spiritual,  dalam
    pandangan  kebudayaan Barat ini adalah masalah pribadi semata,
    orang tidak perlu memberikan perhatian bersama untuk itu. Oleh
    karenanya  membiarkan  masalah kepercayaan ini secara bebas di
    Barat merupakan suatu hal  yang  diagungkan  sekali,  melebihi
    kebebasan   dalam   soal   etik.   Sudah  begitu  rupa  mereka
    mengagungkan masalah kebebasan etik itu demi kebebasan ekonomi
    yang   sudah   sama   sekali   terikat   oleh   undang-undang.
    Undang-undang ini akan dilaksanakan  oleh  tentara  atau  oleh
    negara dengan segala kekuatan yang ada.
    
    Kebudayaan  yang  hendak  menjadikan kehidupan ekonomi sebagai
    dasarnya, dan pola-pola etik didasarkan  pula  pada  kehidupan
    ekonomi  itu  dengan tidak menganggap penting arti kepercayaan
    dalam kehidupan umum, dalam merambah jalan untuk umat  manusia
    mencapai   kebahagiaan  seperti  yang  dicita-citakannya  itu,
    menurut  hemat  saya  tidak  akan  mencapai   tujuan.   Bahkan
    tanggapan  terhadap  hidup  demikian ini sudah sepatutnya bila
    akan menjerumuskan umat manusia  ke  dalam  penderitaan  berat
    seperti  yang  dialami  dalam  abad-abad belakangan ini. Sudah
    seharusnya pula apabila segala pikiran  dalam  usaha  mencegah
    perang  dan mengusahakan perdamaian dunia tidak banyak membawa
    arti dan hasilnya pun tidak  seberapa.  Selama  hubungan  saya
    dengan  saudara  dasarnya  adalah sekerat roti yang saya makan
    atau yang saudara makan, kita berebut, bersaing dan bertengkar
    untuk  itu,  masing-masing  berpendirian  atas  dasar kekuatan
    hewaninya,  maka  akan  selalu  kita  masing-masing   menunggu
    kesempatan  baik  untuk  secara  licik memperoleh sekerat roti
    yang di tangan temannya itu. Masing-masing kita satu sama lain
    akan  selalu  melihat  teman  itu sebagai lawan, bukan sebagai
    saudara. Dasar etik yang tersembunyi dalam diri kita ini  akan
    selalu  bersifat  hewani,  sekali  pun masih tetap tersembunyi
    sampai pada waktunya nanti ia akan timbul.  Yang  selalu  akan
    menjadi pegangan dasar etik ini satu-satunya ialah keuntungan.
    Sementara arti perikemanusiaan  yang  tinggi,  prinsip-prinsip
    akhlak  yang  terpuji, altruisma, cinta kasih dan persaudaraan
    akan jatuh tergelincir, dan  hampir-hampir  sudah  tak  dapat
    dipegang lagi.
    
    Apa  yang  terjadi  dalam  dunia  dewasa  ini ialah bukti yang
    paling nyata atas apa yang saya sebutkan itu.  Persaingan  dan
    pertentangan  ialah  gejala  pertama dalam sistem ekonomi, dan
    itu pula gejala pertamanya dalam kebudayaan Barat, baik  dalam
    paham  yang  individualistis,  maupun  sosialistis  sama  saja
    adanya. Dalam  paham  individualisma,  buruh  bersaing  dengan
    buruh,  pemilik  modal  dengan  pemilik  modal.  Buruh  dengan
    pemilik  modal  ialah  dua   lawan   yang   saling   bersaing.
    Pendukung-pendukung paham ini berpendapat bahwa persaingan dan
    pertentangan ini akan membawa  kebaikan  dan  kemajuan  kepada
    umat  manusia.  Menurut mereka ini merupakan perangsang supaya
    bekerja lebih tekun dan perangsang untuk pembagian kerja,  dan
    akan menjadi neraca yang adil dalam membagi kekayaan.
    
    Sebaliknya  paham sosialisma yang berpendapat bahwa perjuangan
    kelas yang harus disudahi dengan kekuasaan  berada  di  tangan
    kaum  buruh,  merupakan  salah  satu  keharusan  alam.  Selama
    persaingan dan perjuangan mengenai harta itu  dijadikan  pokok
    kehidupan,  selama  pertentangan  antar-kelas  itu wajar, maka
    pertentangan antar-bangsa juga wajar, dengan tujuan yang  sama
    seperti   pada   perjuangan   kelas.   Dari  sinilah  konsepsi
    nasionalisma itu, dengan  sendirinya,  memberi  pengaruh  yang
    menentukan   terhadap   sistem   ekonomi.  Apabila  perjuangan
    bangsa-bangsa untuk menguasai harta itu wajar, apabila  adanya
    penjajahan  untuk  itu  wajar  pula,  bagaimana mungkin perang
    dapat dicegah dan perdamaian  di  dunia  dapat  dijamin?  Pada
    menjelang  akhir abad ke-20 ini kita telah dapat menyaksikan -
    dan masih dapat kita  saksikan  -  adanya  bukti-bukti,  bahwa
    perdamaian  di  muka bumi dengan dasar kebudayaan yang semacam
    ini hanya dalam impian saja dapat  dilaksanakan,  hanya  dalam
    cita-cita  yang manis bermadu, tetapi dalam kenyataannya tiada
    lebih dari suatu fatamorgana yang kosong belaka.
    
    Kebudayaan Islam  lahir  atas  dasar  yang  bertolak  belakang
    dengan dasar kebudayaan Barat. Ia lahir atas dasar rohani yang
    mengajak  manusia  supaya  pertama  sekali   dapat   menyadari
    hubungannya  dengan  alam  dan tempatnya dalam alam ini dengan
    sebaik-baiknya. Kalau kesadaran demikian ini sudah  sampai  ke
    batas  iman,  maka  imannya  itu  mengajaknya  supaya ia tetap
    terus-menerus mendidik dan melatih diri, membersihkan  hatinya
    selalu,  mengisi jantung dan pikirannya dengan prinsip-prinsip
    yang lebih luhur - prinsip-prinsip harga  diri,  persaudaraan,
    cinta kasih, kebaikan dan berbakti. Atas dasar prinsip-prinsip
    inilah manusia hendaknya menyusun kehidupan  ekonominya.  Cara
    bertahap  demikian ini adalah dasar kebudayaan Islam, seperti
    wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad,  yakni  mula-mula
    kebudayaan  rohani,  dan  sistem kerohanian disini ialah dasar
    sistem pendidikan serta dasar  pola-pola  etik  (akhlak).  Dan
    prinsip-prinsip  etik ini ialah dasar sistem ekonominya. Tidak
    dapat dibenarkan tentunya dengan  cara  apa  pun  mengorbankan
    prinsip-prinsip  etik  ini  untuk  kepentingan  sistem ekonomi
    tadi.
    
    Tanggapan Islam tentang kebudayaan demikian ini menurut  hemat
    saya  ialah  tanggapan yang sesuai dengan kodrat manusia, yang
    akan menjamin kebahagiaan baginya. Kalau ini  yang  ditanamkan
    dalam  jiwa  kita dan kehidupan seperti dalam kebudayaan Barat
    itu kesana pula jalannya, niscaya corak umat manusia itu  akan
    berubah,  prinsip-prinsip  yang  selama  ini  menjadi pegangan
    orang  akan  runtuh,  dan   sebagai   gantinya   akan   timbul
    prinsip-prinsip  yang  lebih  luhur, yang akan dapat mengobati
    krisis dunia kita sekarang ini sesuai dengan tuntunannya  yang
    lebih cemerlang.
    
    Sekarang orang di Barat dan di Timur berusaha hendak mengatasi
    krisis ini, tanpa mereka sadari - dan  kaum  Muslimin  sendiri
    pun   tidak  pula  menyadari  -  bahwa  Islam  dapat  menjamin
    mengatasinya. Orang-orang di Barat dewasa ini  sedang  mencari
    suatu  pegangan  rohani  yang  baru, yang akan dapat menanting
    mereka dari paganisma yang sedang  menjerumuskan  mereka;  dan
    sebab   timbulnya   penderitaan   mereka  itu,  penyakit  yang
    menancapkan mereka ke dalam kancah  peperangan  antara  sesama
    mereka,   ialah   mammonisma   -   penyembahan  kepada  harta.
    Orang-orang Barat mencari pegangan baru itu  didalam  beberapa
    ajaran  di  India  dan  di  Timur Jauh; padahal itu akan dapat
    mereka peroleh tidak jauh dari mereka, akan mereka dapati  itu
    sudah ada ketentuannya didalam Qu'ran, sudah dilukiskan dengan
    indah sekali dengan teladan yang sangat  baik  diberikan  oleh
    Nabi kepada manusia selama masa hidupnya.
    
    Bukan  maksud  saya  hendak melukiskan kebudayaan Islam dengan
    segala ketentuannya itu disini. Lukisan  demikian  menghendaki
    suatu  pembahasan  yang  mendalam,  yang  akan  meminta tempat
    sebesar buku ini atau lebih besar lagi. Akan tetapi -  setelah
    dasar  rohani  yang  menjadi  landasannya  itu  saya  singgung
    seperlunya  -  lukisan  kebudayaan  itu  disini   ingin   saya
    simpulkan,  kalau-kalau  dengan  demikian  ajaran  Islam dalam
    keseluruhannya  dapat   pula   saya   gambarkan   dan   dengan
    penggambaran  itu  saya akan merambah jalan ke arah pembahasan
    yang lebih dalam lagi.  Dan  sebelum  melangkah  ke  arah  itu
    kiranya  akan  ada  baiknya juga saya memberi sekadar isyarat,
    bahwa  sebenarnya  dalam  sejarah   Islam   memang   tak   ada
    pertentangan   antara   kekuasaan   agama  (theokrasi)  dengan
    kekuasaan temporal, yakni antara gereja dengan negara. Hal ini
    dapat   menyelamatkan   Islam  dari  pertentangan  yang  telah
    ditinggalkan Barat dalam pikiran dan dalam haluan sejarahnya.
    
    Islam  dapat  diselamatkan  dari  pertentangan  serta   segala
    pengaruhnya  itu,  sebabnya ialah karena Islam tidak kenal apa
    yang namanya gereja itu  atau  kekuasaan  agama  seperti  yang
    dikenal  oleh  agama  Kristen.  Belum  ada  orang  di kalangan
    Muslimin  -  sekalipun  ia  seorang  khalifah  -   yang   akan
    mengharuskan  sesuatu  perintah kepada orang, atas nama agama,
    dan akan mendakwakan dirinya mampu  memberi  pengampunan  dosa
    kepada  siapa saja yang melanggar perintah itu. Juga belum ada
    di kalangan Muslimin - sekalipun ia seorang  khalifah  -  yang
    akan  mengharuskan  sesuatu  kepada  orang  selain  yang sudah
    ditentukan Tuhan di dalam Qur'an.  Bahkan  semua  orarg  Islam
    sama  di  hadapan  Tuhan.  Yang seorang tidak lebih mulia dari
    yang  lain,  kecuali  tergantung  kepada  takwanya  -   kepada
    baktinya.  Seorang  penguasa  tidak  dapat  menuntut kesetiaan
    seorang Muslim apabila dia sendiri  melakukan  perbuatan  dosa
    dan  melanggar  penntah  Tuhan.  Atau  seperti  kata  Abu Bakr
    ash-Shiddiq kepada kaum Muslimin  dalam  pidato  pelantikannya
    sebagai  Khalifah  "Taatilah  saya  selama  saya  taat  kepada
    (perintah) Allah dan RasulNya. Tetapi apabila  saya  melanggar
    (perintah) Allah dan Rasul maka gugurkanlah kesetiaanmu kepada
    saya."
    
    Kendatipun  pemerintahan  dalam  Islam  sesudah  itu  kemudian
    dipegang  oleh  seorang  raja  tirani,  kendatipun di kalangan
    Muslimin pernah timbul perang  saudara,  namun  kaum  Muslimin
    tetap  berpegang kepada kebebasan pribadi yang besar itu, yang
    sudah ditentukan oleh agama, kebebasan yang sampai menempatkan
    akal  sebagai  patokan  dalam  segala  hal,  bahkan  dijadikan
    patokan didalam agama dan iman sekalipun. Kebebasan ini  tetap
    mereka   pegang   sekalipun   sampai   pada   waktu  datangnya
    penguasa-penguasa  orang-orang  Islam  yang  mendakwakan  diri
    sebagai  pengganti Tuhan di muka bumi ini - bukan lagi sebagai
    pengganti Rasulullah. Padahal segala persoalan Muslimin  sudah
    mereka kuasai belaka, sampai-sampai ke soal hidup dan matinya.
    
    Sebagai  bukti  misalnya  apa  yang  sudah  terjadi  pada masa
    Ma'mun, tatkala orang berselisih mengenai Qur'an: makhluk atau
    bukan  makhluk - yang diciptakan atau bukan diciptakan! Banyak
    sekali orang  yang  menentang  pendapat  Khalifah  waktu  itu,
    padahal  mereka  mengetahui akibat apa yang akan mereka terima
    jika berani menentangnya.
    
    Dalam segala hal  akal  pikiran  oleh  Islam  telah  dijadikan
    patokan.  Juga  dalam hal agama dan iman ia dijadikan patokan.
    Dalam firman Tuhan:
    
    "Perumpamaan orang-orang  yang  tidak  beriman  ialah  seperti
    (gembala)  yang  meneriakkan  (ternaknya) yang tidak mendengar
    selain suara panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu  dan
    buta,  sebab  mereka tidak menggunakan akal pikiran." (Qur'an,
    2: 171)
    
    Oleh Syaikh Muhammad  Abduh  ditafsirkan,  dengan  mengatakan:
    "Ayat  ini  jelas  sekali  menyebutkan, bahwa taklid (menerima
    begitu  saja)  tanpa  pertimbangan  akal  pikiran  atau  suatu
    pedoman  ialah  bawaan  orang-orang tidak beriman. Orang tidak
    bisa beriman kalau agamanya  tidak  disadari  dengan  akalnya,
    tidak  diketahuinya sendiri sampai dapat ia yakin. Kalau orang
    dibesarkan dengan biasa menerima begitu  saja  tanpa  disadari
    dengan  akal pikirannya, maka dalam melakukan suatu perbuatan,
    meskipun perbuatan yang baik, tanpa  diketahuinya  benar,  dia
    bukan  orang  beriman. Dengan beriman bukan dimaksudkan supaya
    orang  merendah-rendahkan  diri  melakukan  kebaikan   seperti
    binatang  yang  hina, tapi yang dimaksudkan supaya orang dapat
    meningkatkan daya akal  pikirannya,  dapat  meningkatkan  diri
    dengan  ilmu  pengetahuan, sehingga dalam berbuat kebaikan itu
    benar-benar ia sadar, bahwa kebaikannya  itu  memang  berguna,
    dapat  diterima  Tuhan.  Dalam meninggalkan kejahatan pun juga
    dia mengerti benar bahaya dan  berapa  jauhnya  kejahatan  itu
    akan membawa akibat."
    
    Inilah  yang dikatakan Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan
    ayat ini, yang di dalam Qur'an,  selain  ayat  tersebut  sudah
    banyak  pula  ayat-ayat  lain  yang  disebutkan  secara  jelas
    sekali. Qur'an menghendaki  manusia  supaya  merenungkan  alam
    semesta ini, supaya mengetahui berita-berita sekitar itu, yang
    kelak  renungan  demikian  itu  akan  mengantarkannya   kepada
    kesadaran  tentang  wujud  Tuhan,  tentang keesaanNya, seperti
    dalam firman Allah:
                                        (bersambung ke bagian 2/6)
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (2/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    "Bahwasanya dalam penciptaan langit dan bumi, dalam pergantian
    malam  dan  siang,  bahtera yang mengarungi lautan membawa apa
    yang berguna buat umat manusia, dan apa yang diturunkan  Allah
    dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkanNya bumi
    yang sudah mati kering, kemudian  disebarkanNya  di  bumi  itu
    segala jenis hewan, pengisaran angin dan awan yang dikemudikan
    dari antara langit dan bumi - adalah tanda-tanda (akan keesaan
    dan   kebesaran  Tuhan)  buat  mereka  yang  menggunakan  akal
    pikiran." (Qur'an, 2: 164)
    
    "Dan sebagai suatu tanda buat mereka,  ialah  bumi  yang  mati
    kering.  Kami  hidupkan  kembali  dan Kami keluarkan dari sana
    benih  yang  sebagian  dapat  dimakan.  Disana   Kami   adakan
    kebun-kebun  kurma  dan  palm  dan anggur dan disana pula Kami
    pancarkan mata air - supaya dapat mereka makan buahnya.  Semua
    itu  bukan  usaha tangan mereka. Kenapa mereka tidak berterima
    kasih. Maha Suci Yang telah menciptakan semua yang ditumbuhkan
    bumi  berpasang-pasangan,  dan dalam diri mereka sendiri serta
    segala apa yang tiada mereka ketahui. Juga sebagai suatu tanda
    buat  mereka  -  ialah malam. Kami lepaskan siang, maka mereka
    pun berada  dalam  kegelapan.  Matahari  pun  beredar  menurut
    ketetapan  yang sudah ditentukan. Itulah ukuran dari Yang Maha
    Kuasa  dan  Maha  Tahu.  Juga  bulan,  sudah   Kami   tentukan
    tempat-tempatnya  sampai  ia  kembali lagi seperti mayang yang
    sudah tua. Matahari tiada sepatutnya akan mengejar  bulan  dan
    malam  pun tiada akan mendahului siang. Masing-masing berjalan
    dalam peredarannya. Juga sebagai suatu  tanda  buat  mereka  -
    ialah  turunan  mereka yang Kami angkut dalam kapal yang penuh
    muatan. Dan buat mereka Kami ciptakan pula yang  serupa,  yang
    dapat  mereka  kendarai.  Kalau  Kami kehendaki, Kami karamkan
    mereka. Tiada penolong lagi buat mereka, juga mereka tak dapat
    diselamatkan.  Kecuali  dengan  rahmat  dari  Kami  dan  untuk
    memberikan kesenangan hidup sampai  pada  waktunya."  (Qur'an,
    36: 33-44.)
    
    Anjuran   supaya   memperhatikan  alam  ini,  menggali  segala
    ketentuan  dan  hukum  yang  ada  di  dalam  alam  ini   serta
    menjadikannya  sebagai  pedoman  yang  akan  mengantarkan kita
    beriman kepada  Penciptanya,  sudah  beratus  kali  disebutkan
    dalam  pelbagai  Surah dalam Qur'an. Semuanya ditujukan kepada
    tenaga akal  pikiran  manusia,  menyuruh  manusia  menilainya,
    merenungkannya,  supaya  imannya  itu  didasarkan  kepada akal
    pikiran, dan keyakinan yang jelas. Qur'an mengingatkan  supaya
    jangan menerima begitu saja apa yang ada pada nenek moyangnya,
    tanpa memperhatikan, tanpa meneliti lebih  jauh  serta  dengan
    keyakinan pribadi akan kebenaran yang dapat dicapainya itu.
    
    Iman demikian inilah yang dianjurkan oleh Islam. Dan ini bukan
    iman yang biasa disebut  "iman  nenek-nenek,"  melainkan  iman
    intelektual  yang  sudah  meyakinkan,  yang  sudah direnungkan
    lagi, kemudian dipikirkan matang-matang, sesudah  itu,  dengan
    renungan  dan pemikirannya itu ia akan sampai kepada keyakinan
    tentang Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya rasa tak  ada  orang  yang
    sudah   dapat  merenungkan  dengan  akal  pikiran  dan  dengan
    hatinya,  yang  tidak  akan  sampai  kepada  iman.  Setiap  ia
    merenungkan  lebih  dalam,  berpikir  lebih  lama dan berusaha
    menguasai ruang dan waktu ini serta kesatuan  yang  terkandung
    di  dalamnya,  yang tiada berkesudahan, dengan anggota-anggota
    alam semesta  tiada  terbatas,  yang  selalu  berputar  ini  -
    sekelumit  akan  terasa  dalam dirinya tentang anggota-anggota
    alam itu, yang semuanya  berjalan  menurut  hukum  yang  sudah
    ditentukan   dan  dengan  tujuan  yang  hanya  diketahui  oleh
    penciptanya. Ia pun akan merasa yakin akan kelemahan  dirinya,
    akan  pengetahuannya  yang  belum  cukup,  jika  saja ia tidak
    segera dibantu dengan kesadarannya tentang alam  ini,  dibantu
    dengan   suatu   kekuatan  diatas  kemampuan  pancaindera  dan
    otaknya, yang akan  menghubungkannya  dengan  seluruh  anggota
    alam,  dan  yang akan membuat dia menyadari tempatnya sendiri.
    Dan kekuatan itu ialah iman.
    
    Jadi iman itu  ialah  perasaan  rohani,  yang  dirasakan  oleh
    manusia  meliputi  dirinya  setiap  ia  mengadakan  komunikasi
    dengan alam dan  hanyut  kedalam  ketak-terbatasan  ruang  dan
    waktu.  Semua  makhluk  alam  ini akan terjelma dalam dirinya.
    Maka dilihatnya semua itu berjalan menurut  hukum  yang  sudah
    ditentukan,  dan  dilihatnya  pula  sedang  memuja  Tuhan Maha
    Pencipta. Ada pun Ia menjelma dalam alam,  berhubungan  dengan
    alam, atau berdiri sendiri dan terpisah, masih merupakan suatu
    perdebatan spekulatif  yang  kosong  saja.  Mungkin  berhasil,
    mungkin  juga  jadi  sesat,  mungkin menguntungkan dan mungkin
    juga merugikan. Disamping itu  hal  ini  tidak  pula  menambah
    pengetahuan   kita.  Sudah  berapa  lama  penulis-penulis  dan
    failasuf-failasuf  itu  satu   sama   lain   berusaha   hendak
    mengetahui  zat  Maha Pencipta ini, namun usaha dan daya upaya
    mereka itu sia-sia. Dan ada  pula  yang  mengakui,  bahwa  itu
    memang berada di luar jangkauan persepsinya. Kalau memang akal
    yang sudah tak mampu mencapai  pengertian  ini,  maka  ketidak
    mampuannya  itu  lebih-lebih  lagi  memperkuat  keimanan kita.
    Perasaan  kita  yang  meyakinkan  tentang  adanya  Wujud  Maha
    Tinggi,  Yang  Maha Mengetahui akan segalanya dan bahwa Dialah
    Maha  Pencipta,  Maha  Perencana,   segalanya   akan   kembali
    kepadaNya,  maka  keadaan  semacam  itu  akan sudah meyakinkan
    kita, bahwa kita takkan mampu  menjangkau  zatNya  betapa  pun
    besarnya iman kita kepadaNya itu
    
    Demikian  juga, kalau sampai sekarang kita tak dapat menangkap
    apa sebenarnya listrik itu meskipun dengan mata  kita  sendiri
    kita  melihat  bekasnya,  begitu  juga  eter  yang  tidak kita
    ketahui meskipun sudah dapat  ditentukan,  bahwa  gelombangnya
    itu dapat inemindahkan suara dan gambar, pengaruh dan bekasnya
    itu buat kita sudah cukup untuk mempercayai adanya listrik dan
    adanya   eter.  Alangkah  angkuhnya  kita,  setiap  hari  kita
    menyaksikan keindahan dan  kebesaran  yang  diciptakan  Tuhan,
    kalau  kita  masih  tidak  mau percaya sebelum kita mengetahui
    zatNya. Tuhan Yang Maha Transenden jauh di luar jangkauan yang
    dapat  mereka  lukiskan.  Kenyataan  dalam  hidup  ialah bahwa
    mereka yang mencoba menggambarkan zat Tuhan Yang Maha Suci itu
    ialah   mereka  yang  dengan  persepsinya  sudah  tak  berdaya
    mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi dalam  melukiskan  apa
    yang  diatas  kehidupan  insan. Mereka ingin mengukur alam ini
    serta  Pencipta  alam  menurut  ukuran  kita  yang  nisbi  dan
    terbatas sekali dalam batas-batas ilmu kita yang hanya sedikit
    itu. Sebaliknya mereka yang sudah benar-benar  mencapai  ilmu,
    akan teringat oleh mereka firman Tuhan ini:
    
    "Mereka  bertanya  kepadamu  tentang  ruh.  Jawablah:  Ruh itu
    termasuk urusan Tuhan. Pengetahuan yang diberikan kepada  kamu
    itu hanya sedikit sekali." (Qur'an, 17: 85)
    
    Kalbu  mereka  sudah penuh dengan iman kepada Pencipta Ruh dan
    Pencipta semesta Alam ini,  sesudah  itu  tidak  perlu  mereka
    menjerumuskan diri ke dalam perdebatan spekulatif yang kosong,
    yang takkan memberi hasil, takkan mencapai suatu kesimpulan.
    
    Islam yang dicapai dengan iman dan Islam yang tanpa iman  oleh
    Qur'an dibedakan:
    
    "Orang-orang  Arab  badwi  itu  berkata: 'Kami sudah beriman.'
    Katakanlah 'Kamu belum beriman, tapi katakan saja: kami  sudah
    islam.'  Iman  itu  belum  lagi  masuk  ke  dalam  hati kamu."
    (Qur'an, 49: 14)
    
    Contoh Islam yang demikian ini ialah yang tunduk kepada ajakan
    orang  karena kehendaknya atau karena takut, karena kagum atau
    karena mengkultuskan diluar hati yang mau menurut dan memahami
    benar-benar akan ajaran itu sampai ke batas iman.
    
    Yang  demikian ini belum mendapat petunjuk Tuhan sampai kepada
    iman yang seharusnya dicapai, dengan  jalan  merenungkan  alam
    dan  mengetahui  hukum  alam,  dan  yang  dengan  renungan dan
    pengetahuannya  itu  ia  akan  sampai  kepada  Penciptanya   -
    melainkan  jadi  Islam  karena  suatu  keinginan  atau  karena
    nenek-moyangnya memang sudah Islam. Oleh  karenanya  iman  itu
    belum merasuk lagi kedalam hatinya, sekalipun dia sudah Islam.
    Manusia-manusia Muslim semacam  ini  ada  yang  hendak  menipu
    Tuhan dan menipu orang-orang beriman, tetapi sebenarnya mereka
    sudah menipu diri sendiri dengan tiada  mereka  sadari.  Dalam
    hati  mereka sudah ada penyakit. Maka oleh Tuhan ditambah lagi
    penyakit mereka itu. Mereka itulah orang-orang beragama  tanpa
    iman; islamnya hanya karena didorong oleh suatu keinginan atau
    karena takut, sedang jiwanya tetap kerdil, keyakinannya  tetap
    lemah  dan  hatinya  pun  bersedia  menyerah  kepada  kehendak
    manusia, menyerah kepada perintahnya. Sebaliknya mereka,  yang
    keimanannya kepada Allah itu dengan imam yang sungguh-sungguh,
    diantarkan oleh akal pikiran  dan  oleh  jantung  yang  hidup,
    dengan  jalan  merenungkan  alam ini, mereka itulah orang yang
    beriman.  Mereka  yang  akan  menyerahkan  persoalannya  hanya
    kepada Tuhan, mereka itulah orang yang tidak mengenal menyerah
    selain kepada Allah. Dengan Islamnya itu mereka tidak  memberi
    jasa apa-apa kepada orang.
    
    "Tetapi  sebenarnya  Tuhanlah yang berjasa kepada kamu, karena
    kamu telah dibimbingNya kepada  keimanan,  kalau  kamu  memang
    orang-orang yang benar." (Qur'an, 49: 17)
    
    Jadi barangsiapa menyerahkan diri patuh kepada Allah dan dalam
    pada itu melakukan perbuatan baik, mereka tidak  perlu  merasa
    takut,  tidak  usah  bersedih  hati.  Mereka  tidak takut akan
    menghadapi hidup miskin  atau  hina,  sebab  dengan  iman  itu
    mereka   sudah   sangat   kaya,  sangat  mendapat  kehormatan.
    Kehormatan yang ada pada Tuhan dan pada orang-orang beriman.
    
    Jiwa yang rela dan tenteram dengan imannya ini, ia merasa lega
    bila  selalu ia berusaha hendak mengetahui rahasia-rahasia dan
    hukum-hukum  alam,  yang  berarti  akan  menambah  hubungannya
    dengan  Tuhan. Dan langkah kearah pengetahuan ini ialah dengan
    jalan membahas dan merenungkan segala ciptaan Tuhan  yang  ada
    dalam  alam  ini  dengan  cara  ilmiah seperti dianjurkan oleh
    Qur'an  dan  dipraktekkan  pula  sungguh-sungguh   oleh   kaum
    Muslimin  dahulu,  yaitu  seperti  cara  ilmiah yang modern di
    Barat sekarang. Hanya saja tujuannya  dalam  Islam  dan  dalam
    kebudayaan  Barat  itu  berbeda.  Dalam Islam tujuannya supaya
    manusia membuat hukum Tuhan dalam alam  ini  menjadi  hukumnya
    dan  peraturannya  sendiri, sementara di Barat tujuannya ialah
    mencari keuntungan materi dan apa yang  ada  dalam  alam  ini.
    Dalam Islam tujuan yang pertama sekali ialah 'irfan - mengenal
    Tuhan  dengan  baik,  makin   dalam   'irfan   atau   persepsi
    (pengenalan)  kita  makin  dalam  pula iman kita kepada Tuhan.
    Tujuan ini ialah hendak mencapai 'irfan yang  baik  dari  segi
    seluruh  masyarakat,  bukan  dari  segi  pribadi saja. Masalah
    integritas rohani bukan suatu masalah pribadi semata. Tak  ada
    tempat  buat  orang  mengurung  diri  sebagai suatu masyarakat
    tersendiri. Bahkan  ia  seharusnya  menjadi  dasar  kebudayaan
    untuk  masyarakat  manusia sedunia - dari ujung ke ujung. Oleh
    karena  itu  seharusnya  umat  manusia  berusaha  terus   demi
    integritas (kesempurnaan) rohani itu, yang berarti lebih besar
    daripada pengamatannya mengenai hakekat indera (sensibilia).
    
    Persepsi2 mengenai rahasia benda-benda  dan  hukum-hukum  alam
    yang  hendak  mencapai  integritas  itu  lebih  besar daripada
    persepsi sebagai alat  guna  mencapai  kekuasaan  materi  atas
    benda-benda itu.
    
    Untuk   mencapai   integritas  rohani  ini  tidak  cukup  kita
    bersandar hanya kepada logika kita saja, malah  dengan  logika
    itu  kita  harus  membukakan  jalan buat hati kita dan pikiran
    kita untuk sampai ke tingkat tertinggi. Hal ini  bisa  terjadi
    hanya   jika   manusia   mencari   pertolongan   dari   Tuhan,
    menghadapkan diri kepadaNya  dengan  sepenuh  hati  dan  jiwa.
    Hanya  kepadaNya  kita  menyembah  dan  hanya  kepadaNya  kita
    meminta pertolongan, untuk mencapai rahasia-rahasia  alam  dan
    undang-undang  kehidupan  ini.  Inilah  yang  disebut hubungan
    dengan Tuhan, mensyukuri nikmat Tuhan, supaya  bertambah  kita
    mendapat  petunjuk  akan  apa  yang  belum kita capai, seperti
    dalam firman Tuhan:
    
    "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka
    (katakan)  Aku  dekat.  Aku  mengabulkan permohonan orang yang
    bermohon -  apabila  dia  bermohon  kepadaKu.  Maka  sambutlah
    seruanKu   dan   berimanlah   kepadaKu,   kalau-kalau   mereka
    terbimbing ke jalan yang lurus." (Qur'an 2: 186)
    
    "Dan  carilah  pertolongan  Tuhan  dengan  tabah,  dan  dengan
    menjalankan  sembahyang,  dan  sembahyang  itu  memang  berat,
    kecuali  bagi  orang-orang  yang  rendah  hati-kepada   Tuhan.
    Orang-orang  yang  menyadari  bahwa mereka akan bertemu dengan
    Tuhan dan kepadaNya mereka kembali." (Qur'an 2: 45-46)
    
    Salat  ialah  suatu  bentuk  komunikasi  dengan  Tuhan  secara
    beriman  serta  meminta pertolongan kepadaNya. Dengan demikian
    yang dimaksudkan dengan salat bukanlah sekadar ruku' dan sujud
    saja,  membaca  ayat-ayat  Qu'ran  atau mengucapkan takbir dan
    ta'zim demi  kebesaran  Tuhan  tanpa  mengisi  jiwa  dan  hati
    sanubari  dengan  iman,  dengan kekudusan dan keagungan Tuhan.
    Tetapi yang dimaksudkan dengan  salat  atau  sembahyang  ialah
    arti  yang  terkandung di dalam takbir, dalam pembacaan, dalam
    ruku', sujud serta segala keagungan, kekudusan dan  iman  itu.
    Jadi  beribadat  demikian kepada Tuhan ialah suatu ibadat yang
    ikhlas - demi Tuhan Cahaya langit dan bumi.
    
    "Kebaikan itu bukanlah karena kamu menghadapkan muka  ke  arah
    timur  dan  barat,  tetapi kebaikan itu ialah orang yang sudah
    beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian, malaikat-malaikat,
    Kitab, dan para nabi serta mengeluarkan harta yang dicintainya
    itu untuk kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin
    dan   orang   terlantar  dalam  perjalanan,  orang-orang  yang
    meminta, untuk melepaskan perbudakan,  mengerjakan  sembahyang
    dan   mengeluarkan   zakat,  kemudian  orang-orang  yang  suka
    memenuhi janji bila  berjanji,  orang-orang  yang  tabah  hati
    dalam  menghadapi  penderitaan  dan  kesulitan  dan  di  waktu
    perang. Mereka itulah orang-orang yang benar  dan  mereka  itu
    orang-orang yang dapat memelihara diri." (Qur'an, 2: 177)
    
    Orang  mukmin yang benar-benar beriman ialah yang menghadapkan
    seluruh kalbunya kepada Allah  ketika  ia  sedang  sembahyang,
    disaksikan   oleh   rasa   takwa   kepadaNya,   serta  mencari
    pertolongan Tuhan  dalam  menunaikan  kewajiban  hidupnya.  Ia
    mencari  petunjuk,  memohonkan  taufik  Allah  dalam  memahami
    rahasia dan hukum alam ini.
    
    Orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah  tengah  ia
    sembahyang  akan  merasakannya  sendiri,  selalu  akan merasa,
    dirinya adalah sesuatu yang kecil berhadapan dengan  kebesaran
    Allah  Yang  Maha  Agung.  Apabila  kita dalam pesawat terbang
    diatas  ketinggian  seribu  atau  beberapa  ribu  meter,  kita
    melihat    gunung-gunung,   sungai   dan   kota-kota   sebagai
    gejala-gejala kecil di atas bumi. Kita  melihatnya  terpampang
    di  depan  mata kita seperti jalur-jalur yang tergaris di atas
    sebuah peta dan seolah permukaannya sudah  rata  mendatar  tak
    ada  gunung  atau  bangunan yang lebih tinggi, tak ada ngarai,
    sumur   atau   sungai   yang   lebih    rendah,    warna-warna
    sambung-menyambung,  saling  berkait,  tercampur, makin tinggi
    kita terbang warna-warna itu  makin  tercampur.  Seluruh  bumi
    kita ini tidak lebih dari sebuah planet kecil saja. Dalam alam
    ini terdapat ribuan tata surya dan  planet-planet.  Semua  itu
    tidak  lebih  dari  sejumlah  kecil saja dalam ketakterbatasan
    seluruh  eksistensi  ini.  Alangkah  kecilnya  kita,  alangkah
    lemahnya  kcadaan kita berhadapan dengan Pencipta dan Pengurus
    wujud ini. KebesaranNya diatas jangkauan pengertian kita!
    
    Dalam kita menghadapkan seluruh kalbu kita dengan penuh ikhlas
    kepada  Kebesaran  Tuhan  Yang  Maha  Suci,  kita mengharapkan
    pertolongan kepadaNya untuk memberikan kekuatan atas kelemahan
    diri  kita  ini,  memberi  petunjuk  dalam mencari kebenaran -
    alangkah wajarnya bila  kita  dapat  melihat  persamaan  semua
    manusia  dalam  kelemahannya itu, yang dalam berhadapan dengan
    Tuhan tak dapat ia memperkuat diri dengan harta dan  kekayaan,
    selain  dengan  imannya  yang  teguh  dan  tunduk hanya kepada
    Allah, berbuat kebaikan dan menjaga diri.
    
    Persamaan yang sesungguhnya dan sempurna ini di hadapan  Tuhan
    tidak  sama  dengan  persamaan  yang biasa disebut-sebut dalam
    kebudayaan Barat waktu-waktu belakangan ini,  yaitu  persamaan
    di  hadapan  hukum. Sudah begitu jauh kebudayaan itu memandang
    persamaan, sehingga hampir-hampir pula tidak  lagi  diakui  di
    depan  hukum.  Buat  orang-orang  tertentu sudah tidak berlaku
    lagi  untuk  menghormatinya.  Persamaan  di   hadapan   Tuhan,
    persamaan   yang   kenyataannya   dapat  kita  rasakan  dikala
    sembahyang, yang dapat kita capai dengan pandangan  kita  yang
    bebas  -  tidak  sama  dengan persamaan dalam persaingan untuk
    mencari kekayaan, persaingan yang membolehkan orang  melakukan
    segala  tipu-daya  dan bermuka-muka, kemudian orang yang lebih
    pandai mengelak dan bisa main, ia akan selamat dari  kekuasaan
    hukum.
    
    Persamaan  dihadapan Allah ini menuju kepada persaudaraan yang
    sebenarnya, sebab semua orang  dapat  merasakan  bahwa  mereka
    sebenarnya  bersaudara  dalam berihadat kepada Allah dan hanya
    kepadaNya  mereka   beribadat.   Persaudaraan   demikian   ini
    didasarkan  kepada  saling  penghargaan  yang  sehat, renungan
    serta pandangan yang bebas  seperti  dianjurkan  oleh  Qur'an.
    Adakah  kebebasan, persaudaraan dan persamaan yang lebih besar
    daripada umat ini di hadapan Allah, semua  menundukkan  kepala
    kepadaNya,  bertakbir,  ruku'  dan  bersujud.  Tiada perbedaan
    antara satu dengan yang lain - semua mengharapkan pengampunan,
    bertaubat,  mengharapkan pertolongan. Tak ada perantara antara
    mereka itu dengan Tuhan kecuali amalnya yang saleh  (perbuatan
    baik) serta perbuatan baik yang dapat dilakukannya dan menjaga
    diri dari kejahatan.  Persaudaraan  yang  demikian  ini  dapat
    membersihkan   hati  dari  segala  noda  materi  dan  menjamin
    kebahagiaan  manusia,  juga  akan  mengantarkan  mereka  dalam
    memahami  hukum Tuhan dalam kosmos ini, sesuai dengan petunjuk
    dalam cahaya Tuhan yang telah diberikan kepada mereka.
    
    Tidak semua orang sama kemampuannya dalam  melakukan  baktinya
    sebagaimana   diperintahkan   Allah.   Adakalanya  tubuh  kita
    membebani jiwa kita, sifat  materialisma  kita  dapat  menekan
    sifat  kemanusiaan  kita,  kalau  kita tidak melakukan latihan
    rohani secara tetap,  tidak  menghadapkan  kalbu  kita  kepada
    Allah  selama  dalam  salat kita; dan sudah cukup hanya dengan
    tatatertib sembahyang, seperti ruku', sujud dan bacaan-bacaan.
    Oleh  karena  itu  harus diusahakan sekuat tenaga menghentikan
    daya tubuh yang terlampau memberatkan jiwa, sifat materialisma
    yang  sangat  menekan sifat kemanusiaan. Untuk itu Islam telah
    mewajibkan  puasa  sebagai  suatu  langkah  mencapai  martabat
    kebaktian (takwa) itu seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Orang-orang  beriman!  Kepadamu  telah  diwajibkan  berpuasa,
    seperti yang sudah diwajibkan juga kepada mereka yang  sebelum
    kamu,  supaya kamu bertakwa - memelihara diri dari kejahatan."
    (Qur'an, 2: 183)
    
    Bertakwa dan berbuat baik (birr) itu sama. Yang  berbuat  baik
    orang  yang  bertakwa  dan  yang berbuat baik ialah orang yang
    beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab  dan
    para nabi dan diteruskan dengan ayat yang sudah kita sebutkan.
    
                                        (bersambung ke bagian 3/6
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (3/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Kalau   tujuan   puasa   itu   supaya  tubuh  tidak  terlampau
    memberatkan  jiwa,  sifat  materialisma  kita  jangan  terlalu
    menekan  sifat  kemanusiaan kita, orang yang menahan diri dari
    waktu fajar sampai malam, kemudian sesudah  itu  hanyut  dalam
    berpuas-puas  dalam  kesenangan,  berarti ia sudah mengalihkan
    tujuan tersebut. Tanpa puasa pun hanyut dalam  memuaskan  diri
    itu  sudah  sangat  merusak,  apalagi  kalau  orang  berpuasa,
    sepanjang hari ia menahan diri dari  segala  makanan,  minuman
    dan  segala  kesenangan,  dan bilamana sudah lewat waktunya ia
    lalu menyerahkan diri kepada apa saja yang dikiranya di  waktu
    siang  ia  tak  dapat menikmatinya! Kalau begitu Tuhan jugalah
    yang menyaksikan,  bahwa  puasanya  bukan  untuk  membersihkan
    diri,  mempertinggi  sifat  kemanusiaannya,  juga  ia berpuasa
    bukan atas kehendak sendiri karena percaya,  bahwa  puasa  itu
    memberi   faedah  kedalam  rohaninya,  tapi  ia  puasa  karena
    menunaikan suatu kewajiban,  tidak  disadari  oleh  pikirannya
    sendiri  perlunya  puasa  itu.  Ia  melihatnya  sebagai  suatu
    kekangan atas kebebasannya, begitu kebebasan itu berakhir pada
    malam  harinya,  begitu  hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai
    ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan
    ini  sama  seperti  orang yang tidak mau mencuri, hanya karena
    undang-undang melarang pencurian, bukan karena  jiwanya  sudah
    cukup   tinggi   untuk   tidak  melakukan  perbuatan  itu  dan
    mencegahnya atas kemauan sendiri pula.
    
    Sebenarnya  tanggapan  orang  mengenai  puasa  sebagai   suatu
    tekanan  atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia
    adalah suatu tanggapan yang salah  samasekali,  yang  akhirnya
    akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya
    tempat lagi. Puasa yang sebenarnya  ialah  membersihkan  jiwa.
    Orang  berpuasa  diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas
    kehendak  sendiri,  supaya  kebebasan  kemauan  dan  kebebasan
    berpikirnya  dapat  diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan
    ini  sudah  diperolehnya  kembali,  ia  dapat  mengangkat   ke
    martabat   yang  lebih  tinggi,  setingkat  dengan  iman  yang
    sebenarnya kepada Allah. Inilah yang  dimaksud  dengan  firman
    Tuhan  -  setelah  menyebutkan  bahwa  puasa  telah diwajibkan
    kepada  orang-orang  beriman  seperti  sudah  diwajibkan  juga
    kepada orang-orang yang sebelum mereka:
    
    "Beberapa  hari  sudah ditentukan. Tetapi barangsiapa diantara
    kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan,  maka  dapat
    diperhitungkan  pada kesempatan lain. Dan buat orangorang yang
    sangat berat menjalankannya,  hendaknya  ia  membayar  fid-yah
    dengan memberi makan kepada orang rniskin, dan barangsiapa mau
    mengerjakan kebaikan atas kemauan sendiri, itu lebih baik buat
    dia;  dan  bila kamu berpuasa, itu lebih baik buat kamu, kalau
    kamu mengerti." (Qur'an, 2: 184)
    
    Seolah tampak aneh apa yang saya  katakan  itu,  bahwa  dengan
    puasa  kita  dapat  memperoleh  kembali  kebebasan kemauan dan
    kebebasan berpikir kalau  yang  kita  maksudkan  dengan  puasa
    dengan  segala  apa yang baik itu untuk kehidupan rohani kita.
    Ini memang tampak aneh,  karena  dalam  bayangan  kita  bentuk
    kebebasan  ini  telah  dirusak  oleh  pikiran modern, bilamana
    batas-batas  rohani  dan  mental  itu  dihancurkan,   kemudian
    batas-batas  kebendaannya  dipertahankan,  yang  oleh  seorang
    prajurit  dapat  dilaksanakan  dengan  pedang   undang-undang.
    Menurut  pikiran  modern,  manusia  tidak  bebas  dalam hal ia
    melanda harta atau pribadi orang lain. Akan  tetapi  ia  bebas
    terhadap  dirinya  sendiri  sekalipun  hal ini sudah melampaui
    batas-batas segala yang dapat diterima  akal  atau  dibenarkan
    oleh  kaidah-kaidah  moral. Sedang kenyataan dalam hidup bukan
    yang demikian. Kenyataannya ialah manusia budak  kebiasaannya.
    Ia  sudah  biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu
    sore. Kalau dikatakan kepadanya: makan pagi dan sore  sajalah,
    maka ini akan dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya.
    Padahal itu adalah pelanggaran atas  perbudakan  kebiasaannya,
    kalau  benar  ungkapan  demikian  ini.  Orang yang sudah biasa
    merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya
    itu, lalu dikatakan kepadanya: sehari ini kamu jangan merokok,
    maka ini  dianggapnya  suatu  pelanggaran  atas  kebebasannya.
    Padahal  sebenarnya  itu  tidak  lebih adalah pelanggaran atas
    perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum
    kopi  atau  teh  atau  minuman lain apa saja dalam waktu-waktu
    tertentu lalu dikatakan kepadanya:  gantilah  waktu-waktu  itu
    dengan  waktu  yang  lain,  maka  pelanggaran  atas perbudakan
    kebiasaannya  itu   dianggapnya   sebagai   pelanggaran   atas
    kebebasannya.  Budak  kebiasaan  serupa  ini  merusak kemauan,
    merusak arti yang sebenarnya dari  kebebasan  dalam  bentuknya
    yang sesungguhnya.
    
    Disamping  itu,  ini  juga  merusak cara berpikir sehat, sebab
    dengan demikian berarti ia  telah  ditunjukkan  oleh  pengaruh
    hajat jasmani dari segi kebendaannya, yang sudah dibentuk oleh
    kebiasaan  itu.  Oleh  karena  itu  banyak  orang  yang  telah
    melakukan  puasa  dengan cara yang bermacam-macam, yang secara
    tekun dilakukannya dalam waktu-waktu  tertentu  setiap  minggu
    atau  setiap  bulan. Tetapi Tuhan menghendaki yang lebih mudah
    buat manusia dengan diwajibkan kepada mereka  berpuasa  selama
    beberapa  hari  yang  sudah  ditentukan, supaya dalam pada itu
    semua sama, dengan diberikan pula kesempatan  fid-yah.  Mereka
    masing-masing yang telah dibebaskan karena dalam keadaan sakit
    atau sedang dalam perjalanan dapat mengganti puasanya itu pada
    kesempatan lain.
    
    Kewajiban  berpuasa  selama  hari-hari  yang  sudah ditentukan
    untuk memperkuat arti persaudaraan dan  persamaan  di  hadapan
    Tuhan,  sungguh  suatu  latihan  rohani  yang luarbiasa. Semua
    orang, selama menahan  diri  sejak  fajar  hingga  malam  hari
    mereka  telah melaksanakan persamaan itu antara sesama mereka,
    sama  halnya   seperti   dalam   sembahyang   jamaah.   Dengan
    persaudaraan demikian selama itu mereka merasakan adanya suatu
    perasaan yang mengurangi rasa kelebihan mereka dalam  mengecap
    kenikmatan  rejeki  yang  diberikan  Tuhan  kepadanya.  Dengan
    demikian puasa berarti memperkuat arti kebebasan, persaudaraan
    dan   persamaan  dalam  jiwa  manusia  seperti  halnya  dengan
    sembahyang.
    
    Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh
    kesadaran bahwa perintah Tuhan tak mungkin bertentangan dengan
    cara-cara berpikir  yang  sehat,  yang  telah  dapat  memahami
    tujuan  hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita
    arti puasa yang dapat membebaskan kita  dari  budak  kebiasaan
    itu,  yang  juga  sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan
    arti kebebasan kita sendiri.  Disamping  itu  kita  pun  sudah
    diingatkan,  bahwa  apa yang telah ditentukan manusia terhadap
    dirinya sendiri - dengan kehendak Tuhan - mengenai batas-batas
    rohani   dan   mentalnya   sehubungan  dengan  kebebasan  yang
    dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan  dan
    nafsunya,  ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat
    iman yang paling tinggi itu. Apabila taklid dalam  iman  belum
    dapat disebut iman, melainkan baru Islam yang tanpa iman, maka
    taklid dalam puasa juga belum dapat disebut puasa. Oleh karena
    itu  orang  yang  bertaklid menganggap puasanya suatu kekangan
    dan  membatasi  kebebasannya  -  sebaliknya   daripada   dapat
    memahami   arti   pembebasan  dari  belenggu  kebiasaan  serta
    konsumsi rohani dan mental yang sangat besar itu.
    
    Apabila dengan jalan latihan rohani ini manusia  telah  sampai
    kepada arti hukum dan rahasia-rahasia alam dan mengetahui pula
    dimana tempatnya dan tempat anak manusia ini, cintanya  kepada
    sesama  anak  manusia  akan  lebih  besar lagi, dan semua anak
    manusia  saling  cinta  dalam  Tuhan.   Mereka   akan   saling
    tolong-menolong  untuk  kebaikan dan rasa takwa - menjaga diri
    dari kejahatan. Yang kuat  mengasihi  yang  lemah,  yang  kaya
    mengulurkan  tangan kepada yang tidak punya. Ini adalah zakat,
    dan selebihnya sedekah. Dalam sekian banyak ayat Qur'an selalu
    mengaitkan  zakat  dengan  salat.  Kita  sudah  membaca firman
    Tuhan:
    
    "Tetapi kebaikan itu ialah orang  yang  sudah  beriman  kepada
    Allah,  kepada  hari  kemudian, malaikat, Kitab dan para nabi;
    mengeluarkan    harta    yang    dicintainya    itu     kepada
    kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang
    yang melepaskan perbudakan, mengerjakan salat dan mengeluarkan
    zakat." (Qur'an, 2: 177)
    
    "Kamu  kerjakanlah  sembahyang  dan keluarkan pula zakat serta
    tundukkan kepala (ruku') bersama orang-orang yang  menundukkan
    kepala." (Qur'an, 2: 43)
    
    "Beruntunglah  orang-orang  yang  sudah  beriman.  Mereka yang
    dengan khusyu' mengerjakan sembahyang. Mereka yang  menjauhkan
    diri  dan  percakapan  yang  tiada  berguna.  Dan  mereka yang
    mengeluarkan zakat." (Qur'an, 23: 1-4)
    
    Ayat-ayat  yang  mengaitkan  zakat  dengan  salat  itu  banyak
    sekali.
    
    Apa  yang  disebutkan  dalam  Qur'an tentang zakat dan sedekah
    cukup menyeluruh dan kuat sekali.  Dalam  melakukan  perbuatan
    baik,  sedekah  itu  terletak  pada tempat pertama, orang yang
    melakukannya akan mendapat pahala yang amat  sempurna.  Bahkan
    ia  terletak disamping iman kepada Allah, sehingga kita merasa
    seolah itu sudah hampir sebanding. Tuhan berfirman:
    
    "Tangkaplah orang itu dan belenggukanlah.  Kemudian  campakkan
    kedalam  api  menyala. Sesudah itu belitkan dengan rantai yang
    panjangnya tujuhpuluh hasta. Dahulu ia sungguh  tidak  beriman
    kepada  Allah  Yang  Maha  Besar.  Juga  tidak mendorong orang
    memberi makan orang miskin." (Qur'an, 69: 30-34)
    
    "... Dan sampaikan berita gembira kepada mereka  yang    taat.
    Yaitu  mereka,  yang  apabila  disebutkan  nama  Tuhan hatinya
    merasa takut  karena  taatnya,  dan  mereka  yang  tabah  hati
    terhadap apa yang menimpa mereka serta mereka yang mengerjakan
    salat dan menafkahkan sebagian  rejeki  yang  diberikan  Tuhan
    kepada mereka."' (Qur'an, 22: 34-35)
    
    "Mereka  yang  menafkahkan hartanya - baik di waktu malam atau
    di waktu siang, dengan sembunyi atau  terang-terangan,  mereka
    akan mendapat pahala dari Tuhan. Tidak usah mereka takut, juga
    jangan bersedih hati" (Qur'an, 2: 274)
    
    Qur'an tidak hanya menyebutkan masalah-masalah  sedekah  serta
    pahalanya  yang  akan diberikan Tuhan yang sama seperti pahala
    orang beriman dan mengerjakan sembahyang, bahkan adab  sedekah
    itu telah dilembagakan pula dengan suatu tatacara yang sungguh
    baik sekali.
    
    "Bilamana kamu memperlihatkan sedekah  itu,  itu  memang  baik
    sekali. Tetapi kalau pun kamu sembunyikan memberikannya kepada
    orang fakir, maka itu pun lebih baik lagi buat kamu." (Qur'an,
    2: 271)
    
    "Perkataan  yang  baik  dan pemberian maaf lebih baik daripada
    sedekah yang disertai hal-hal  yang  tidak  menyenangkan  hati
    Allah  Maha  Kaya  dan  Maha  Penyantun.  Orang-orang beriman,
    janganlah   kamu   hapuskan   nilai   sedekahmu   itu   dengan
    menyebut-nyebutnya  dan  menyakiti  hati  orang."  (Qur'an, 2:
    263-264)
    
    Firman Tuhan  itu  memberikan  pula  penjelasan  kepada  siapa
    sedekah itu harus diberikan:
    
    Sedekah  itu  hanyalah  untuk  orang-orang  fakir, orang-orang
    miskin, pengurus  zakat,  orang-orang  yang  perlu  dilunakkan
    hatinya,   untuk   melepaskan   perbudakan,  orang-orang  yang
    dibebani utang, untuk jalan Allah dan mereka yang sedang dalam
    perjalanan. Inilah yang telah diwajibkan oleh Allah, dan Allah
    Maha Mengetahui dan Bijaksana." (Qur'an, 9: 60)
    
    Zakat dan  sedekah  itu  salah  satu  kewajiban  dalam  Islam,
    termasuk  salah  satu rukun Islam. Tetapi apakah kewajiban ini
    termasuk  ibadat,  ataukah  masuk  bagian  akhlak?  Tentu  ini
    termasuk  ibadat.  Semua  orang  beriman  bersaudara, dan iman
    seseorang belum lagi sempurna sebelum ia mencintai  saudaranya
    seperti  mencintai  dirinya sendiri. Dengan berpegang pada Nur
    Ilahi  antara  sesama  mereka,  orang-orang   beriman   saling
    cinta-mencintai.  Kewajiban  zakat  dan  sedekah  terikat oleh
    persaudaraan ini, bukan oleh akhlak dan disiplinnya serta oleh
    hubungan  antar-manusia  dengan  segala tata-tertibnya. Segala
    yang terikat oleh persaudaraan, terikat juga oleh iman  kepada
    Allah,  dan  segala  yang terikat oleh iman kepada Allah ialah
    ibadah. Itu sebabnya maka zakat menjadi salah satu rukun Islam
    yang  lima,  dan  karena  itu pula setelah Nabi wafat Abu Bakr
    menuntut  supaya   Muslimin   menunaikan   zakatnya.   Setelah
    dilihatnya  ada sebagian orang yang mau membangkang, Pengganti
    Muhammad itu melihat pembangkangan ini sebagai suatu kelemahan
    dalam  iman  mereka;  mereka lebih mengutamakan harta daripada
    iman, mereka hendak meninggalkan disiplin  rohani  yang  telah
    ditentukan   Qur'an   itu.   Dengan   demikian  ini  merupakan
    kemurtadan dari Islam. Karena 'perang ridda' itu  jugalah  Abu
    Bakr   berhasil   mengukuhkan   kembali   sejarah   Islam  itu
    selengkapnya, dan  yang  tetap  menjadi  kebanggaan  sepanjang
    sejarah.
    
    Dengan   fungsi  zakat  dan  sedekah  sebagai  kewajiban  yang
    bertalian  dengan  iman  dalam  disiplin  rohanl  ia  dianggap
    sebagai  salah  satu  unsur  yang  harus  membentuk kebudayaan
    dunia. Inilah hikmah yang paling tinggi yang akan mengantarkan
    manusia  mencapai kebahagiaannya. Harta dan segala keserakahan
    orang   memupuk-mupuk   harta   merupakan   sebab    timbulnya
    superioritas  (rasa  keunggulan)  seorang  kepada  yang  lain.
    Sampai sekarang ia masih merupakan sebab timbulnya penderitaan
    dunia  ini  dan  sumber  pemberontakan  dan peperangan selalu.
    Sampai sekarang mammonisma - penyembahan harta -  masih  tetap
    merupakan  sebab timbulnya dekadensi moral yang selalu menimpa
    dunia  dan  dunia  tetap  bergelimang  dibawah  bencana   itu.
    Memupuk-mupuk  harta  dan  keserakahan  akan harta itulah yang
    telah  menghilangkan  rasa  persaudaraan  umat  manusia,   dan
    membuat  manusia  satu  sama lain saling bermusuhan. Sekiranya
    pandangan mereka itu lebih sehat  dengan  pikiran  yang  lebih
    luhur,  tentu  akan  mereka lihat bahwa persaudaraan itu lebih
    kuat  menanamkan  kebahagiaan  daripada  harta,  mereka   akan
    melihat  juga  bahwa  memberikan harta kepada yang membutuhkan
    akan lebih terhormat pada  Tuhan  dan  pada  manusia  daripada
    orang  harus tunduk kepada harta itu. Kalau benar-benar mereka
    beriman kepada Allah tentu mereka akan saling bersaudara,  dan
    manifestasi  persaudaraan  ini  ialah pertolongan kepada orang
    yang   sedang   dalam   penderitaan,   membantu   orang   yang
    membutuhkannya  dan  dapat  pula  menghapuskan kemiskinan yang
    akan menjerumuskan manusia kedalam penderitaan itu.
    
                                        (bersambung ke bagian 4/6)
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (4/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Apabila negara-negara yang  sudah  tinggi  kebudayaannya  pada
    zaman   kita   sekarang   ini  mendirikan  rumah-rumah  sakit,
    lembaga-lembaga sosial dan amal untuk  menolong  fakir-miskin,
    atas  nama  kasih  sayang  dan  kemanusiaan, maka didirikannya
    lembaga-lembaga itu karena  didorong  oleh  rasa  persaudaraan
    serta  rasa  cinta  dan  syukur  kepada Allah atas nikmat yang
    diterimanya, sungguh ini suatu pikiran yang lebih  tinggi  dan
    lebih   tepat   memberikan  kebahagiaan  kepada  seluruh  umat
    manusia, seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Dengan  kenikmatan  yang  telah  diberikan  Allah   kepadamu,
    carilah  kebahagiaan  akhirat,  tapi jangan kaulupakan nasibmu
    dalam dunia  ini.  Berbuatlah  kebaikan  (kepada  orang  lain)
    seperti  Tuhan  telah  berbuat  kebaikan  kepadamu, dan jangan
    engkau berbuat bencana di muka bumi ini. Allah  sungguh  tidak
    mencintai orang-orang yang berbuat bencana." (Qur'an, 28: 77)
    
    Persaudaraan  insani ini akan menambah rasa cinta manusia satu
    sama  lain.  Dalam  Islam,  rasa  cinta  demikian  ini   tidak
    seharusnya  akan terhenti pada batas-batas tanah air tertentu,
    atau hanya terbatas pada salah  satu  benua.  Yang  seharusnya
    bahkan tidak boleh mengenal batas samasekali.
    
    Oleh  karena  itu,  dari  seluruh  pelosok  bumi manusia harus
    saling mengenal, supaya satu sama  lain  dapat  menambah  rasa
    cinta  kepada  Allah,  dan  rasa cinta ini akan menambah tebal
    iman mereka kepada Allah.  Untuk  mencapai  itu  manusia  dari
    segenap  penjuru  bumi  harus  berkumpul dalam satu irama yang
    sama, tanpa diskriminasi, dan tempat  berkumpul  yang  terbaik
    untuk  itu  ialah  di tempat memancarnya cinta ini. Dan tempat
    itu ialah Baitullah di Mekah, dan inilah yang  disebut  ibadah
    haji.  Orang-orang  beriman  tatkala berkumpul disana, tatkala
    mereka melaksanakan segala upacara, mereka menempuh cara hidup
    yang luhur sebagai teladan iman kepada Allah, dengan niat yang
    ikhlas menghadapkan diri kepadaNya.
    
    "Musim  haji  itu  ialah  dalam  beberapa  bulan  yang   sudah
    ditentukan.   Barangsiapa   sudah   membulatkan   niat  selama
    bulan-bulan itu hendak  menunaikan  ibadah  haji,  maka  tidak
    boleh   ada   suatu  percakapan  kotor,  perbuatan  jahat  dan
    berbantah-bantahan  selama  dalam  mengerjakan  haji.   Segala
    perbuatan baik yang kamu lakukan, Tuhan mengetahuinya. Bawalah
    perbekalanmu, dan perbekalan yang paling  baik  ialah  menjaga
    diri  dari  perbuatan  hina.  Patuhilah Aku, wahai orang-orang
    yang berpikiran sehat." (Qur'an. 2: 197)
    
    Di  dataran  tinggi  ini,  di   tempat   orang-orang   beriman
    menunaikan  ibadah  haji untuk saling berkenalan, untuk saling
    mempererat tali persaudaraan, dan tali persaudaraan  ini  akan
    lebih  memperkuat  iman  di  tempat ini - segala perbedaan dan
    diskriminasi yang bagaimanapun di kalangan orang-orang beriman
    itu  harus  hilang. Mereka harus merasa, bahwa dihadapan Tuhan
    mereka itu sama. Mereka menghadapkan seluruh hati  sanubarinya
    untuk  mernenuhi  panggilan  Tuhan,  benar-benar  beriman akan
    keesaanNya, bersyukur akan nikrnat  yang  telah  diberikanNya.
    Rasanya  tak  ada  kenikmatan yang lebih besar daripada nikmat
    iman  akan  keagungan  Tuhan,   sumber   segala   kebahagiaan.
    Dihadapan  cahaya  iman  serupa ini, segala angan-angan kosong
    tentang hidup akan sirna, segala  kebanggaan  dan  kecongkakan
    karena  harta,  karena turunan, karena kedudukan dan kekuasaan
    akan lenyap. Dan karena cahaya iman  itu  juga,  maka  manusia
    akan  dapat  menyadari  arti kebenaran, kebaikan dan keindahan
    yang ada dalam dunia ini, akan  dapat  memahami  undang-undang
    Tuhan  yang  abadi, dalam semesta alam ini, yang takkan pernah
    berubah dan berganti. Suatu pertemuan umum yang luas ini telah
    dapat melaksanakan arti persaudaraan dan persamaan semua orang
    beriman dalam bentuknya yang paling luas, luhur dan bersih.
    
    Inilah ketentuan-ketentuan dan  kaidah-kaidah  Islam  seperti
    yang  diwahyukan  kepada Muhammad 'alaihissalam. Ini terrnasuk
    prinsip-prinsip iman seperti sudah kita lihat dalam  ayat-ayat
    yang  kita  kutip  tadi, dan sebagai prinsip-prinsip kehidupan
    rohani Islam. Sesudah semua kita lihat, akan mudah sekal  kita
    menilai,  norrna-norma etika apa yang harus kita terapkan atas
    dasar itu. Norma-norma ini memang sungguh luhur  sekali,  yang
    memang  belum  ada tandingannya dalam kebudayaan mana pun atau
    dalam zaman apa pun.  Apa  yang  akan  membawa  manusia  untuk
    mencapai  kesempurnaannya  bila  saja  ia  dapat  melatih diri
    sebagaimana mestinya,  oleh  Qur'an  sudah  dirumuskan,  bukan
    hanya  dalam  satu  surah  saja  hal  ini  disebutkan,  bahkan
    disana-sini juga disebut. Begitu salah satu surah  kita  baca,
    kita  sudah  dibawa  ke  puncak  yang lebih tinggi, yang belum
    dicapai oleh suatu kebudayaan sebelum itu, juga tidak  mungkin
    akan   dicapai   oleh   kebudayaan  yang  sesudah  itu.  Untuk
    mengetahui betapa agungnya  klimaks  yang  telah  dicapai  itu
    cukup  kita lihat misalnya adat sopan santun atas dasar rohani
    ini yang bersumberkan  keimanan  kepada  Allah  serta  latihan
    mental  dan hati kita atas dasar tersebut, tanpa orang melihat
    akan mencari keuntungan materi di balik sernua itu.
    
    Dalam berbagai zaman dan bangsa, penulis-penulis sudah  sering
    sekali  melukiskan  gambar  Manusia  Sempurna - atau Superman.
    Penyair-penyair,    para    pengarang,    filsuf-filsuf    dan
    penulis-penulis  drama, sejak zaman dahulu mereka sudah pernah
    melukiskan gambaran  ini,  dan  sampai  sekarang  masih  terus
    melukiskan.  Tetapi sungguhpun demikian, tidak akan ada sebuah
    gambaran manusia sempurna yang dilukiskan begitu cemerlang dan
    unik  seperti  disebutkan dalam rangkaian Surah al-Isra' (17).
    Ini baru sebagian saja hikmah  yang  diwahyukan  Allah  kepada
    Rasul,  bukan  dimaksudkan  untuk  melukiskan Manusia Sempurna
    melainkan  untuk   mengingatkan   manusia   tentang   beberapa
    kewajiban. Dalam hal ini firman Allah:
    
    "Dan  Tuhanmu sudah memerintahkan, jangan ada yang kamu sembah
    selain Dia dan supaya berbuat baik kepada ibu-bapa. Jika salah
    seorang  dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
    dalam pemeliharaanmu, janganlah  kamu  mengucapkan  kata  "ah"
    kepada  mereka  dan  jangan  pula  kamu membentak mereka, tapi
    ucapkanlah dengan kata-kata yang mulia kepada mereka (93). Dan
    rendahkanlah harimu dengan penuh kesayangan kepada mereka, dan
    doakan:  'Ya  Allah,  beri  rahmatlah  kepada  mereka  berdua,
    seperti kasih-sayang mereka mendidikku sewaktu aku kecil' (24)
    Tuhan kamu lebih mengetahui apa yang ada dalam  hatimu.  Kalau
    kamu  orang-orang  yang  berguna.  Dia  Maha  Pengampun kepada
    mereka yang mau bertaubat  (25).  Berikanlah  kepada  keluarga
    yang  dekat  itu  bagiannya,  begitu  juga  kepada orang-orang
    miskin  dan  orang  dalam  perjalanan.  Tetapi   jangan   kamu
    hambur-hamburkan  secara  boros  (26).  Pemboros-pemboros  itu
    sungguh golongan setan, sedang  setan  sungguh  ingkar  kepada
    Tuhan  (27). Dan jika kamu berpaling dari mereka karena hendak
    mencari  kurnia  Tuhan  yang  kauharapkan,  katakanlah  kepada
    mereka   dengan  kata-kata  yang  lemah  lembut  (28).  Jangan
    kaujadikan tanganmu terbelenggu  ke  kuduk,  dan  jangan  pula
    engkau   terlalu  mengulurkannya,  supaya  engkau  tidak  jadi
    tercela dan  menyesal  (29).  Sesungguhnya  Tuhan  melimpahkan
    rejeki  kepada  siapa  saja dan menentukan ukurannya. Dia Maha
    mengetahui akan hamba-hambaNya (30). Dan jangan kamu membunuhi
    anak-anakmu  karena takut kemiskinan. Kami yang memberi rejeki
    mereka,  juga  rejeki  kamu:  sebab  membunuh   mereka   suatu
    kesalahan  besar  (31).  Janganlah  kamu mendekati perjinahan,
    sebab perbuatan itu sungguh keji, dan cara yang  sangat  buruk
    (32).  Janganlah  kamu  menghilangkan  nyawa  orang yang sudah
    dilarang Tuhan, kecuali atas dasar yang benar. Dan barangsiapa
    dibunuh  tidak  pada tempatnya, maka kepada penggantinya telah
    kami berikan kekuasaan; tetapi janganlah dia  membunuh  dengan
    melanggar   batas  karena  dia  pun  (yang  dibunuh)  mendapat
    pertolongan (33). Harta anak yatim jangan kamu dekati, kecuali
    dengan  cara  yang  baik  sekali  -  sampai  dia  dewasa.  Dan
    penuhilah  janji   itu,   sebab   setiap   janji   menghendaki
    tanggungjawab  (34).  Jagalah  sukatanmu  bila  kamu  menakar,
    penuhilah dan timbanglah dengan timbangan yang  jujur.  Itulah
    cara  yang  baik dan akan lebih baik sekali kesudahannya (35).
    Dan  janganlah  engkau   mencampuri   persoalan   yang   tidak
    kauketahui; sebab segala pendengaran, penglihatan dan isi hati
    orang, semua itu akan dimintai pertanggunganjawaban (36). Juga
    janganlah  engkau  berjalan di muka bumi dengan congkak, sebab
    engkau tidak akan dapat menembus bumi  ini,  juga  tidak  akan
    sampai  setinggi  gunung  (37). Semua itu suatu kejahatan yang
    dalam pandangan Tuhan sangat buruk sekali." (38) (Qur'an,  17:
    23 - 38)
    
    Sungguh  ini  suatu  budi pekerti yang luhur, suatu integritas
    moral yang sempurna sekali! Setiap ayat yang tersebut ini akan
    membuat    pembaca   jadi   tertegun   membacanya,   ia   akan
    mengagungkannya  melihat  susunan  yang  begitu  kuat,  begitu
    indah,  dengan  daya  tarik  kata-katanya, artinya yang sangat
    luhur serta cara  melukiskannya  yang  sudah  merupakan  suatu
    mujizat.3  Sayang  sekali  disini  tempatnya tidak mengijinkan
    kita  menyatakan  rasa  kekaguman  itu!  Ya,  bagaimana   akan
    mungkin,  sedang untuk membicarakan keenam belas ayat itu saja
    seharusnya diperlukan sebuah buku tersendiri yang cukup besar!
    
    Kalau kita mau membawakan satu segi saja dari budi-pekerti dan
    pendidikan   akhlak   yang  terdapat  dalam  Qur'an,  tentunya
    bidangnya akan luas sekali, yang tidak mungkin dapat ditampung
    dalam  penutup  buku  ini.  Cukup kiranya kalau kita sebutkan,
    bahwa  tidak  ada  sebuah  buku  pun  yang  pernah  memberikan
    dorongan  begitu besar kepada orang supaya melakukan kebaikan,
    seperti yang diberikan oleh Qur'an itu. Tidak  ada  buku  yang
    begitu   agung   mengangkat   martabat  manusia  seperti  yang
    diperlihatkan Qur'an. Juga yang bicara tentang perbuatan  baik
    dan   kasih-sayang,   tentang  persaudaraan  dan  cinta-kasih,
    tentang tolong-menolong dan keserasian,  tentang  kedermawanan
    dan  kemurahan  hati, tentang kesetiaan dan menunaikan amanat,
    tentang kehersihan dan  ketulusan  hati,  keadilan  dan  sifat
    pemaat,  kesabaran,  ketabahan,  kerendahan  hati dan dorongan
    melakukan  perbuatan   terhormat,   berbakti   dan   mencegah
    melakukan  perbuatan  jahat,  dengan i'jaz4 (mujizat) yang tak
    ada taranya dalam menyajikan   seperti yang  dikemukakan  oleh
    Qur'an  itu.  Tak  ada buku melarang sikap lemah dan pengecut,
    sifat egoisma dan dengki, kebencian  dan  kezaliman,  berdusta
    dan   mengumpat,  pemborosan,  kekikiran,  tuduhan  palsu  dan
    perkataan   buruk,   permusuhan,   perusakan,   tipu-muslihat,
    pengkhianatan  dan segala sifat dan perbuatan hina dan mungkar
    - seperti yang  dilarang  oleh  Qur'an,  dengan  begitu  kuat,
    meyakinkan,  dengan  i'jaz  (mujizat),  yang  diturunkan dalam
    wahyu kepada Nabi berbangsa Arab itu. Tiada sebuah  surah  pun
    yang kita baca, yang tidak akan memberi anjuran yang mendorong
    kita melakukan perbuatan baik, menganjurkan kita berbakti  dan
    mencegah  kita  melakukan perbuatan jahat. Dianjurkannya orang
    mencapai kesempurnaan yang akan membawa kepada kehidupan harga
    diri   dan  budipekerti  yang  luhur.  Kita  dengarkan  Qur'an
    mengenai toleransi:
    
    "Tangkislah kejahatan itu  dengan  cara  yang  sebaik-baiknya.
    Kami mengetahui apa yang mereka sebutkan." (Qur'an, 23: 96)
    
    "Kebaikan dan kejahatan itu tidak sama. Tangkislah (kejahatan)
    itu dengan  cara  yang  sebaik-baiknya,  sehingga  orang  yang
    tadinya  bermusuhan  dengan  engkau, akan menjadi sahabat yang
    akrab sekali." (Qur'an, 41: 34)
    
    Tetapi toleransi yang dianjurkan Qur'an  ini  tidak  mendorong
    orang bersikap lemah, melainkan menyuruh orang supaya berwatak
    terhormat  (nobility  of  character),  selalu  berlumba  untuk
    kebaikan dan menjauhkan diri dari segala kehinaan:
    
    "Apabila   ada  orang  memberi  salam  penghormatan  kepadamu,
    balaslah dengan cara yang lebih baik, atau  (setidak-tidaknya)
    dengan yang serupa." (Qur'an, 4: 86)
    
    "Dan  kalau  kamu  mengadakan  (pukulan)  pembalasan, balaslah
    seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi  kalau  kamu
    tabah  hati,  itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati
    tabah (sabar)." (Qur'an, 16: 126)
    
    Dan ini jelas sekali,  bahwa  toleransi  yang  dianjurkan  itu
    ialah   dalam   arti  yang  terhormat,  tanpa  bersikap  lemah
    samasekali, melainkan sepenuhnya  sikap  yang  disertai  harga
    diri.
    
    Toleransi   yang  dianjurkan  oleh  Qur'an  dengan  cara  yang
    terhormat ini dasarnya ialah  persaudaraan,  yang  oleh  Islam
    dijadikan  tiang  kebudayaan,  dan  yang dimaksud pula menjadi
    persaudaraan   antar-manusia   di   seluruh    jagat.    Corak
    persaudaraan  Islam ini ialah yang terjalin dalam keadilan dan
    kasih-sayang   tanpa   suatu   sikap   lemah   dan   menyerah.
    Persaudaraan  atas  dasar  persamaan dalam hak, dalam kebaikan
    dan kebenaran tanpa  terpengaruh  oleh  untung-rugi  kehidupan
    duniawi,  sekalipun  mereka dalam kekurangan. Mereka ini lebih
    takut kepada Allah  daripada  kepada  yang  lain.  Mereka  ini
    orang-orang  yang  punya  harga diri. Sungguhpun begitu mereka
    sangat rendah hati. Mereka orang-orang yang  dapat  dipercaya,
    yang  menepati  janji  bila  mereka berjanji, orang-orang yang
    sabar dan  tabah  dalam  menghadapi  kesulitan,  yang  apabila
    mendapat  musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi
    rajiun  -  'Kami  kepunyaan  Allah  dan  kepadaNya  juga  kami
    kembali.' Tak ada yang membuang muka dan berjalan di muka bumi
    dengan sikap  congkak.  Tuhan  menjauhkan  mereka  dari  sifat
    serakah  dan  kikir,  tiada  berkata dusta, terhadap Tuhan dan
    kepada sesamanya. Mereka tidak mau menyebarkan perbuatan  keji
    di  kalangan  orang-orang beriman, mereka menjauhkan diri dari
    segala dosa besar dan perbuatan-perbuatan  keji,  dan  apabila
    mereka marah, mereka segera meminta maaf. Mereka dapat menahan
    amarah dan dapat pula memaafkan orang  lain.  Sedapat  mungkin
    mereka   menghindarkan  prasangka,  mereka  tidak  mau  saling
    memata-matai atau saling  menggunjing  dari  belakang.  Mereka
    tidak  boleh  memakan  harta  sesamanya dengan cara yang tidak
    sah, lalu akan membawa perkara itu kepada hakim, supaya mereka
    dapat  memakan  harta  orang  lain  dengan cara dosa itu. Jiwa
    mereka dibersihkan  dari  segala  sifat  dengki,  tipu-menipu,
    cakap kosong dan segala perbuatan yang rendah.
    
    Ciri-ciri   khas   watak   dan  etika  yang  menjadi  landasan
    budi-pekerti dan pendidikan akhlak  yang  murni  itu  dasarnya
    ialah  -  seperti  yang  sudah kita sebutkan - disiplin rohani
    seperti yang ditentukan oleh Qur'an dan  yang  bertalian  pula
    dengan  iman  kepada  Allah. Inilah soal yang pokok sekali dan
    ini pula yang akan menjamin adanya  sistem  moral  dalam  jiwa
    orang  dengan  tetap bersih dari segala noda, jauh dari segala
    penyusupan yang mungkin  akan  merusak.  Moral  yang  dasarnya
    memperhitungkan  untung-rugi  segera akan diperbesar selama ia
    yakin  bahwa  kelemahan  demikian  itu  tidak  akan  menggangu
    keuntungannya.   Orang  yang  dasar  moralnya  memperhitungkan
    untung-rugi demikian ini sikap luarnya akan berbeda dengan isi
    hati.  Keadaannya  yang disembunyikan akan berbeda dengan yang
    diperlihatkan kepada orang. Ia berpura-pura jujur, tapi  tidak
    akan  segan-segan ia menjadikan itu hanya sebagai tameng untuk
    memancing keuntungan. Ia berpura-pura benar, tapi  tidak  akan
    segan-segan  ia  meninggalkannya kalau dengan meninggalkan itu
    ia akan mendapat keuntungan. Orang yang pertimbangan  moralnya
    demikian  ini dalam menghadapi godaan mudah sekali jadi lemah,
    mudah sekali terbawa arus nafsu dan tujuan-tujuan tertentu!
    
    Kelemahan ini ialah gejala yang  jelas  terlihat  dalam  dunia
    kita  sekarang.  Sudah  sering  sekali  orang mendengar adanya
    perbuatan-perbuatan  skandal  dan  korupsi  dimana-mana  dalam
    dunia yang sudah beradab ini. Sebabnya ialah karena kelemahan,
    orang lebih  mencintai  harta  dan  kedudukan  atau  kekuasaan
    daripada  nilai  moral  yang  tinggi dan iman yang sebenarnya.
    Tidak sedikit mereka terjerumus masuk ke dalam jurang  tragedi
    moral  dan  melakukan  kejahatan  yang paling keji, kita lihat
    pada  mulanya  mereka  pun  berakhlak   baik,   tetapi   masih
    untung-rugi  itu  juga  yang  menjadi  dasar moralnya. Tadinya
    mereka menganggap bahwa sukses dalam hidup ini bergantung pada
    kejujuran.  Lalu  mereka  bersikap  jujur karena ingin sukses,
    bukan bersikap  jujur  karena  terikat  oleh  akidahnya  -oleh
    keyakinan  batinnya.  Mereka  berhenti  hanya  sampai  disitu,
    meskipun  ini  sangat  membahayakan  dirinya.  Tetapi  setelah
    mereka   lihat   bahwa  mengabaikan  masalah  kejujuran  dalam
    peradaban  abad  kini  merupakan  salah  satu  jalan  mencapai
    sukses,  maka  kejujuran itu pun mereka abaikan. Yang demikian
    ini ada yang tetap tertutup dari mata orang, rahasianya  tidak
    sampai  terbongkar  dan akan tetap dipandang terhormat, tetapi
    ada juga yang rahasianya  terbongkar  dan  ia  tercemar,  yang
    kadang berakhir dengan bunuh diri.
    
                                        (bersambung ke bagian 5/6)
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (5/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Jadi  pembinaan  sistem watak dan moral atas dasar untung-rugi
    ini  sewaktu-waktu  akan  menjerumuskannya   kedalam   bahaya.
    Sebaliknya,  apabila  pembinaannya  itu didasarkan atas sistem
    rohani seperti dirumuskan oleh Qur'an, ini akan menjamin tetap
    bertahan, takkan terpengaruh oleh sesuatu kelemahan. Niat yang
    menjadi pangkal bertolaknya perbuatan  ialah  dasar  perbuatan
    itu  dan sekaligus harus menjadi kriteriumnya pula. Orang yang
    membeli undian untuk Pembanguman sebuah rumahsakit,  ia  tidak
    membelinya   dengan  niat  hendak  beramal,  melainkan  karena
    mengharapkan keuntungan. Orang yang memberi karena  ada  orang
    yang  datang  meminta  secara  mendesak  dan ia memberi karena
    ingin melepaskan diri, tidak sama dengan  orang  yang  memberi
    karena kemauan sendiri, yaitu memberi kepada mereka yang tidak
    meminta secara mendesak, mereka yang  oleh  orang  yang  tidak
    mengetahui  dikira orang-orang yang berkecukupan karena mereka
    memang  tidak  mau  meminta-minta  itu.  Orang  yang   berkata
    sebenarnya   kepada  hakim  karena  takut  akan  sanksi  hukum
    terhadap seorang saksi palsu, tidak  sama  dengan  orang  yang
    berkata  sebenarnya karena ia memang yakin akan arti kebenaran
    itu. Juga  moral  yang  landasannya  perhitungan  untung  rugi
    kekuatannya  tidak  akan sama dengan moral yang sudah diyakini
    benar bahwa itu bertalian dengan  kehormatan  dirinya  sebagai
    manusia,  bertalian  dengan  keimanannya  kepada  Allah. Dalam
    hatinya sudah tertanam landasan rohani yang dasarnya  keimanan
    kepada Allah itu.
    
    Qur'an  tetap  menekankan,  bahwa  pikiran yang rasionil harus
    tetap  bersih,  jangan  dimasuki  oleh   sesuatu   yang   akan
    mempengaruhi  lukisan  iman  dan  watak  yang  indah itu. Oleh
    karenanya minuman keras dan judi itu dipandang  kotor  sebagai
    perbuatan  setan.  Kalaupun  ada  manfaatnya buat orang, namun
    dosanya lebih besar dari  manfaatnya.  Dengan  demikian  harus
    dijauhi.  Perjudian akan mengalihkan perhatian si penjudi dari
    persoalan lain, waktunya  akan  habis  dan  hiburan  ini  akan
    membuatnya  lupa dari segala kewajiban moral yang baik. Sedang
    minuman keras akan menghilangkan pikiran  dan  harta  -  untuk
    meminjam katakata Umar bin'l-Khattab, ketika ia berharap Tuhan
    akan memberikan  penjelasan  mengenai  hal  ini.  Sudah  wajar
    sekali  pikiran  yang  rasionil  itu  akan jadi sesat kalau ia
    hilang atau  berubah,  dan  kesesatan  itu  akan  lebih  mudah
    mendorong   orang   melakukan   perbuatan  rendah,  sebaliknya
    daripada akan menjauhkan diri dari kejahatan.
    
    Sistem moral yang dibawa Qur'an untuk 'negara utama' itu bukan
    dengan   tujuan  supaya  jiwa  manusia  samasekali  jauh  dari
    kenikmatan hidup yang diberikan Tuhan, sehingga  karenanya  ia
    akan  hanyut  ke dalam hidup pertapaan dalam merenungkan alam,
    dan menyiksa diri dalam menuntut ilmu untuk itu. Sistem  moral
    ini  tidak  rela  membiarkan  manusia  menyerahkan diri kepada
    kesenangan supaya jangan ia tenggelam kedalam jurang kemewahan
    dan  karenanya  ia  akan melupakan segalanya. Bahkan moral ini
    hendak membuat manusia menjadi umat  pertengahan,  mengarahkan
    mereka  kepada  lembaga  budi  yang  lebih murni, lembaga yang
    mengenal alam dan segala isinya ini.
    
    Qur'an bicara tentang ciptaan Tuhan yang ada  dalam  alam  ini
    dengan  suatu  pengarahan yang hendak mengantarkan kita sejauh
    mungkin dapat kita  ketahui.  Ia  bicara  tentang  bulan  hari
    Pertama,  tentang matahari dan bulan, tentang siang dan malam,
    tentang bumi dan apa yang dihasilkan bumi, tentang langit  dan
    bintang-bintang  yang  menghiasinya,  tentang samudera, dengan
    kapal yang berlayar supaya kita dapat menikmati karunia Tuhan,
    tentang  binatang  untuk  beban  dan  ternak, tentang ilmu dan
    segala cabangnya yang terdapat dalam alam ini.  Qur'an  bicara
    tentang   semua   ini,   dan  menyuruh  kita  merenungkan  dan
    mempelajarinya, supaya kita menikmati segala  peninggalan  dan
    hasilnya  itu  sebagai  tanda  kita  bersyukur  kepada  Allah.
    Apabila Qur'an telah mengajarkan etika Qur'an kepada  manusia,
    menganjurkan  mereka  supaya  berusaha  terus untuk mengetahui
    segala yang ada dalam alam ini,  sudah  sepatutnya  pula  bila
    dari  pengamatan  mereka dengan jalan akal pikiran itu, mereka
    akan sampai ke tujuan sejauh yang dapat  ditangkap  oleh  akal
    pikirannya  itu. Sudah sepatutnya pula mereka membangun sistem
    ekonominya itu atas dasar yang sempurna.
    
    Sistem ekonomi yang  dibangun  atas  dasar  moral  dan  rohani
    seperti  yang  sudah  kita sebutkan itu, sudah seharusnya akan
    mengantarkan manusia ke dalam  hidup  bahagia,  dan  menghapus
    segala  penderitaan  dari muka bumi ini. Prinsip-prinsip agung
    yang oleh Qur'an ditekankan sekali supaya  ditanamkan  kedalam
    jiwa seperti di tempat akidah dan iman itu, akan membuat orang
    tidak sudi melihat masih adanya penderitaan di muka bumi  ini,
    atau  masih adanya kekurangan yang dapat diberantas tapi tidak
    dilakukan. Bagi orang yang  sudah  mendapat  ajaran  ini  yang
    pertama  sekali  akan ditolaknya ialah riba yang menjadi dasar
    kehidupan  ekonomi  dewasa  ini,  dan  yang   menjadi   sumber
    pendieritaan  seluruh  umat  manusia.  Oleh  karena itu Qur'an
    secara tegas sekali mengharamkan, seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Mereka yang memakan riba tidak akan dapat berdiri, kalau  pun
    berdiri  hanya  akan  seperti orang yang sudah kemasukan setan
    karena penyakit gila." (Qur'an 2: 275)
    
    "Setiap riba yang kamu lakukan untuk menambah harta orang lain
    dalam pandangan Allah tidak akan dapat bertambah. Tetapi zakat
    yang kamu lakukan demi keridaan Allah, mereka  itu  yang  akan
    mendapat balasan berlipat ganda." (Qur'an 30: 39)
    
    Diharamkannya  riba  adalah  norma dasar untuk kebudayaan yang
    akan dapat  menjamin  kebahagiaan  dunia.  Bahaya  riba  dalam
    bentuknya  yang  paling  kecil  ialah ikut sertanya orang yang
    tidak bekerja dalam suatu hasil usaha orang lain hanya  karena
    ia  sudah meminjamkan uang kepadanya, dengan alasan lagi bahwa
    dengan meminjamkan itu ia sudah membantu orang lain memperoleh
    hasil  keuntungan itu. Sebaliknya kalau ini tidak dilakukan si
    peminjam tidak  akan  dapat  berusaha  dan  dengan  sendirinya
    takkan   dapat  memungut  keuntungan.  Kalau  hanya  ini  saja
    satu-satunya bentuk riba itu, ini pun takkan  dapat  dijadikan
    alasan.   Kalau   orang   yang   meminjamkan  uang  itu  mampu
    menjalankan sendiri, ia tidak akan meminjamkannya kepada orang
    lain,  dan  kalau  uang  itu  tetap  ditangannya sendiri tidak
    dijalankan  dalam  usaha,  maka  uang  itu  pun   tidak   akan
    mendatangkan  keuntungan.  Sebaliknya,  sedikit  demi  sedikit
    uangnya itu akan habis dimakan  pemiliknya  sendiri.  Jika  ia
    akan  meminta  bantuan  orang  lain menjalankan uangnya dengan
    bagi hasil  menurut  keuntungan  yang  akan  diperoleh,  tentu
    caranya  bukan  dengan  jalan dipinjamkan sebagai modal dengan
    laba tertentu, melainkan dengan cara si pemilik uang itu  ikut
    serta  dengan  orang  yang menjalankan uangnya atas dasar bagi
    untung. Kalau si pengusaha beruntung, maka  si  pemilik  modal
    itu  pun  akan mendapat bagian keuntungan; kalau rugi, dia pun
    akan  turut  memikul  kerugiannya.  Sebaliknya  kalau   kepada
    pemilik  modal  itu  akan ditentukan suatu laba, meskipun yang
    mengusahakan  tidak  mendapat  keuntungan  apa-apa,  maka  itu
    adalah  suatu  eksploitasi illegal, suatu pemerasan yang tidak
    sah.
    
    Dan  tidak  akan  dapat  terjadi   bahwa   harta   itu   dapat
    diperlakukan   seperti   yang  lain-lain,  dapat  dipersewakan
    seperti menyewakan tanah atau menyewakan hewan, dan bahwa laba
    uang  tunai  harus sesuai dengan hasil sewa barang-barang yang
    lain itu. Uang yang dapat dipakai untuk pengeluaran dan  dapat
    juga  dipakai  untuk  produksi,  yang  bisa dimanfaatkan untuk
    kebaikan dan juga dapat menimbulkan kejahatan  (dosa),  dengan
    harta  bergerak  dan  tidak  bergerak  lainnya,  besar  sekali
    perbedaannya. Orang yang  menyewa  tanah,  rumah,  hewan  atau
    barang  apa pun, tentu karena ingin dimanfaatkan, yang berarti
    akan sangat berguna buat dia, kecuali jika  dia  memang  orang
    bodoh  atau orang edan, yang segala gerak-geriknya sudah tidak
    lagi diperhitungkan orang.
    
    Sebaliknya yang mengenai uang modal,  yang  biasanya  dipinjam
    untuk    tujuan-tujuan    perdagangan   yang   sebaik-baiknya.
    Perdagangan itu senantiasa dihadapkan kepada soal untung  atau
    rugi.  Sedang mengenai sewa-menyewa barang-barang bergerak dan
    tidak bergerak untuk dijalankan dalam  usaha,  sedikit  sekali
    yang  mengalami kerugian, kecuali dalam keadaan yang abnormal,
    yang tidak masuk dalam keadaan biasa. Apabila keadaan abnormal
    ini  yang  terjadi,  maka  kekuasaan  hukum segera pula campur
    tangan antara si pemilik dengan  si  penyewa  -  seperti  yang
    sering   terjadi   dalam   semua   negara  di  dunia  -  untuk
    menghilangkan  ketidak  adilan  terhadap  si   penyewa   serta
    menolongnya  dari tindakan si pemilik yang hanya akan memungut
    laba dari usahanya itu. Sebaliknya,  dengan  menentukan  bunga
    uang  tunai,  dengan  lebih-kurang  7% atau 9%, maka ini tidak
    akan mengubah, bahwa si peminjam dapat terancam oleh  kerugian
    modal,  disamping kerugian usahanya sendiri. Apabila disamping
    itu dia masih juga lagi dituntut  dengan  bunga,  maka  inilah
    yang  disebut  kejahatan  (dosa).  Akibat ini akan menimbulkan
    permusuhan, sebaliknya daripada persaudaraan; akan menimbulkan
    kebencian,  bukan  cinta kasih. Inilah sumber kesengsaraan dan
    segala krisis yang diderita umat manusia dewasa ini.
    
    Kalau memang inilah bahaya riba dalam  bentuknya  yang  paling
    kecil,  dan  begitu  pula  akibat-akibat  yang timbul, apalagi
    dengan bentuk lain tatkala si pemberi pinjaman itu sudah lebih
    mendekati  binatang buas daripada manusia, atau sipeminjam itu
    sudah sangat membutuhkan  uang  di  luar  keperluan  penanaman
    modal  atau  produksi.  Adakalanya  ia sangat membutuhkan uang
    untuk  keperluan  nafkah  yang  konsumtif,   untuk   keperluan
    makannya  atau  makan  keluarganya. Ketika itulah perhatiannya
    hanya pada yang  lebih  mudah  saja  dulu,  sebelum  ia  dapat
    memegang  sesuatu  pekerjaan  yang  dapat  menjamin  keperluan
    hidupnya dan kemudian dapat  membayar  kembali  utangnya.  Ini
    sudah  merupakan  satu  tugas  perikemanusiaan sebagai langkah
    pertama. Dan ini pula yang dirumuskan  oleh  Qur'an.  Bukankah
    dalam  keadaan serupa ini pemberian pinjaman dengan riba sudah
    merupakan suatu kejahatan yang sama  dengan  pembunuhan?  Yang
    lebih  parah lagi dari kejahatan ini ialah adanya segala macam
    tipu-muslihat dengan  jalan  riba  itu  untuk  merampas  harta
    orang-orang  yang lemah, orang-orang yang tidak pandai menjaga
    hartanya. Tipu muslihat ini tidak kurang  pula  jahatnya  dari
    pencurian  yang  rendah.  Dan  setiap pelaku ke arah ini harus
    dihukum seperti pencuri atau lebih keras lagi.
    
    Riba adalah salah satu faktor yang turut  menjerumuskan  dunia
    ke  dalam  bencana penjajahan, dengan segala macam penderitaan
    yang ditimbulkan oleh penjajahan itu. Sebagian  besar  masalah
    penjaJahan  itu  dimulai  oleh sekelompok tukang-tukang riba -
    secara perseorangan atau dalam bentuk badan-badan usaha - yang
    mendatangi  beberapa  negara dengan memberikan pinjaman kepada
    penduduk. Kemudian mereka  menyusup  masuk  lebih  dalam  lagi
    sampai mereka dapat menguasai sumber-sumber kekayaan. Bilamana
    kelak  anak  negeri  sudah  menyadari   kembali   dan   hendak
    mempertahankan  diri  dan  harta mereka, orang-orang asing itu
    cepat-cepat meminta bantuan negaranya. Negara ini pun kemudian
    masuk  atas  nama  hendak  melindungi  rakyatmya.  Kemudian ia
    menyusup juga masuk lebih dalam lagi,  lalu  berkuasa  sebagai
    penjajah.  Sekarang mereka sebagai yang dipertuan. Kemerdekaan
    orang lain dirampas.  Sebagian  besar  sumber-sumber  kskayaan
    negeri itu mereka kuasai. Dengan demikian kekayaan mereka jadi
    hilang, penderitaan mulai mencekam  seluruh  kawasan  itu  dan
    bayangan  kesengsaraan  sudah  pula merayap-rayap kedalam hati
    mereka. Pikiran mereka jadi  kacau,  moral  jadi  lemah,  iman
    mereka  pun mulai goyah. Martabat mereka jadi turun dari taraf
    manusia yang sebenarnya ke taraf yang lebih  hina,  yang  bagi
    orang   yang  beriman  kepada  Allah  tidak  akan  sudi  hidup
    demikian, sebab, hanya kepada Allah semata  orang  merendahkan
    diri dan harus mengabdi.
    
    Juga  penjajahan  itu  sumber  peperangan,  sumber penderitaan
    besar yang  sangat  menekan  kehidupan  seluruh  umat  manusia
    dewasa  ini.  Selama  ada  riba, selama ada penjajahan, jangan
    diharap manusia akan dapat kembali ke  masa  persaudaraan  dan
    saling  cinta  antara  sesamanya. Harapan akan kembali ke masa
    serupa itu tidak akan ada, kecuali jika kebudayaan atas  dasar
    yang  dibawa  oleh Islam dan diwahyukan dalam Qur'an itu dapat
    dibangun kembali.
    
    Didalam Qur'an ada konsepsi sosialisma yang belum lagi dibahas
    orang. Sosialisma ini tidak didasarkan kepada perang modal dan
    perjuangan  kelas,  seperti  yang  terdapat   sekarang   dalam
    sosialisma  Barat, melainkan dasarnya ialah karakter dan moral
    yang tinggi yang  akan  menjamin  adanya  persaudaraan  kelas,
    adanya  kerja-sama  dan  saling  bantu atas dasar kebaikan dan
    kebaktian, bukan kejahatan dan saling permusuhan. Tidak  sulit
    orang akan melihat landasan sosialisma atas dasar persaudaraan
    ini, seperti yang sudah ditentukan oleh Qur'an mengenai  zakat
    dan sedekah misalnya. Orang  dapat menilai, bahwa ini bukanlah
    sosialisma dengan dominasi suatu kelas atas kelas  yang  lain,
    atau   kekuasaan  suatu  golongan  atas  golongan  yang  lain.
    Kebudayaan yang dilukiskan oleh Qur'an tidak  mengenal  adanya
    dominasi   atau   sikap   berkuasa,   melainkan   atas   dasar
    persaudaraan yang sungguh-sungguh yang didorong oleh keyakinan
    yang  kuat akan persaudaraan itu; suatu keyakinan yang membuat
    orang dengan mengingat karunia Tuhan itu mau memberi untuk  si
    miskin,  orang melarat, orany yang membutuhkan dan segala yang
    diperlukannya  akan  makanan,  tempat  tinggal,   obat-obatan,
    pengajaran  dan  pendidikan.  Mereka memberikan itu atas dasar
    keikhlasan dan kejujuran. Dengan  demikian  penderitaan  dapat
    dihilangkan, karunia Tuhan dan kebahagiaan dapat merata kepada
    umat manusia.
    
    Sosialisma Islam  ini  tidak  sampai  menghapuskan  hak  milik
    secara   mutlak,   seperti  halnya  dengan  sosialisma  Barat.
    Kenyataan  sudah  membuktikan  -  bolsyevisma  di  Rusia   dan
    negara-negara  sosialis lainnya - bahwa menghapuskan hak milik
    itu suatu hal yang tidak  mungkin.  Sungguhpun  begitu,  namun
    perusahaan-perusahaan negara harus tetap menjadi milik bersama
    untuk   kepentingan   semua    orang.    Mengenai    ketentuan
    perusahaan-perusahaan  negara itu terserah kepada negara. Oleh
    karena itu mengenai ketentuan ini  sejak  abad-abad  permulaan
    dalam  sejarah  Islam  sudah terdapat perbedaan pendapat. Dari
    kalangan sahabat-sahabat Nabi sendiri ada yang terlampau keras
    menjalankan  ketentuan  sosialisma  ini,  sehingga segala yang
    diciptakan Tuhan dijadikan milik bersama dan untuk kepentingan
    umum.  Mereka memandang tanah dan segala yang terkandung, sama
    dengan air dan udara, tidak boleh menjadi milik pribadi.  Yang
    boleh  dimiliki  hanya hasilnya, yang disesuaikan dengan usaha
    dan perjuangan masing-masing. Ada juga yang tidak  berpendapat
    demikian.  Mereka  menyatakan  bahwa  tanah boleh dimiliki dan
    dianggap sebagai barang-barang yang boleh dipertukarkan.
    
    Akan tetapi persetujuan yang sudah dicapai di kalangan  mereka
    ialah  sama  dengan  yang  berlaku  di  Eropa  sekarang, yaitu
    menentukan  bahwa  setiap  orang  harus   mencurahkan   segala
    kemampuannya  untuk  kepentingan  masyarakat,  dan  masyarakat
    harus pula berusaha, untuk kepentingan pribadi dalam mengatasi
    segala    keperluannya.    Setiap   Muslim   berhak   menerima
    kebutuhannya serta kebutuhan orang yang menjadi  tanggungannya
    dari  baitulmal  (perbendaharaan  negara)  Muslimin, selama ia
    belum  mendapat  pekerjaan  yang   akan   menjamin   keperluan
    hidupnya,  atau  selama  pekerjaan  yang dipegangnya itu tidak
    mencukupi keperluannya dan keperluan keluarganya.
    
    Selama norma-norma etik di dalam Qur'an  seperti  yang  sudah
    kita  sebutkan  itu dijalankan, maka tidak akan ada orang yang
    mau berdusta; tidak akan ada orang yang mau mengatakan,  bahwa
    ia  penganggur, padahal yang sebenarnya dia tidak mau bekerja,
    tidak akan ada orang yang mau  menyatakan,  bahwa  penghasilan
    dari  pekerjaannya  tidak  mencukupi, padahal sebenarnya sudah
    lebih dari cukup. Khalifah-khalifah pada masa permulaan  Islam
    dahulu  sudah mewajibkan diri menyelidiki sendiri keadaan umat
    Islam untuk kemudian dapat mengatasi  segala  keperluan  orang
    yang memang berada dalam kebutuhan.
    
                                        (bersambung ke bagian 6/6)
    
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
    
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1

    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Budaya5.html

    ===========================================================================================

    1. ISLAMIC CULTURE as described QUR’AN (sixth)
    Muhammad Husain Haekal

    MUHAMMAD has left a great spiritual legacy,
    that has overshadowed the world and give direction to
    world culture during the several centuries ago.
    He will continue to do so until God perfected
    light to the world. Heritage that has given
    major influence on the past, and will thus,
    even more so in the future, is
    because he has brought the true religion and put
    cultural basis only thing that will guarantee
    happiness of this world. Religion and culture had
    brought Muhammad to mankind through the revelation of God
    , it has been so cohesive that can no longer
    integral.

    If any Islamic culture is based on methods
    knowledge and capability ratio, – and in this same
    such that the grip of Western culture of our time
    now, and if Islam was a religion of holding on
    subjective thinking and the thinking of metaphysics but
    relationship between the provisions on the basis of religion
    culture intimately. Because is because of the way
    thinking that metaphysical and subjective feelings in one
    parties, with the rules of logic and science capability
    knowledge on the other by Muslims are united by one
    ties, who would not want it to look up to
    found, to then remain a Muslim with
    strong faith as well. From this aspect of Islamic culture is different
    once with Western culture now rules the world,
    also in describing the life and become the basic foundation
    different. The second difference is culture, among which one
    with others is actually very principle, which until
    basic cause of both is mutually exclusive of each other
    rear.

    The emergence of this conflict is due to historical reasons,
    as we have seen in the foreword and preface
    second printing of this book. Conflicts in the West between the power
    religion and power as a nation that embraces temporal1
    Christian religion or the language is now among church
    with state causes the two will have to part, and
    state power must be enforced to not recognize
    power of the church. The existence of that power there is also conflict
    its influence in Western thought as a whole. Result
    It is the first of the influence of stratification between
    human feeling to hear people’s minds, between thoughts
    metaphysical with the provisions of positive knowledge (knowledge
    of reality) that are based on a review materialisma.
    Victory materialisma mind this enormous influence
    to the birth of an economic system that has become
    The main basis of Western culture.

    As a result, in the West has also arise streams
    who want to make everything on this earth is subject
    to the life of the world economy. So is not small
    people now want to put the history of mankind in terms of
    religion, art, f1lsafat, ways of thinking and knowledge –
    in all its highs and lows of the various nations – with
    economic size. The mind is not confined to history
    and writing, even some strands of Western philosophy has
    also create patterns of conduct on the basis of expediency this material
    solely. It was such flows in
    his thinking is so high with a creative,
    immense, but the developments in Western thought that has
    limit on the boundaries of the material benefits that
    collectively created by the patterns of conduct as a whole.
    And in terms of scientific discussion of this case already a
    a very urgent necessity.

    Sebaiiknya about spiritual issues, spiritual issues, in
    view of Western culture is merely a personal matter,
    people do not need to pay attention to it together. By
    therefore let the matter this belief freely
    West was a thing once exalted, exceeding
    freedom in the matter of ethics. It’s so much they
    magnify the problem of freedom of ethics for the sake of economic freedom
    which has been completely bound by the law.
    This law will be carried out by soldiers or by
    state with all its existing strengths.

    Culture is about to make economic life as
    Basically, and patterns of conduct are based also on life
    economic importance on it with no sense of trust
    in public life, in exploring the way for mankind
    pursuit of happiness as it ideally citakannya,
    in my opinion will not reach the destination. Even
    responses to life so it is fitting when
    will plunge humanity into a severe pain
    as experienced in recent centuries. Already
    should also where all the thoughts in an attempt to prevent
    war and seeking world peace does not bring much
    meaning and the results are not much. During my relationship
    with brother basically is a piece of bread that I eat
    or that you eat, we fight, compete and fight
    to it, each contention on the basis of strength
    animal, it will always be waiting for each of us
    good opportunity to get a slice of bread sly
    in whose hands his friend. Each of us from one another
    Friends will always see it as an opponent, not as
    brother. Basis of conduct that is hidden in us this will
    always be animal, even if still remains hidden
    until in time he will arise. The always will
    to handle this ethical foundation is the only advantage.
    While a high sense of humanity, the principles
    an admirable character, altruisma, love and brotherhood
    will fall slip, and almost gone to
    held again.

    What happens in the world today is evidence
    The most obvious of what I mentioned it. Competition and
    The first symptom is a contradiction in the economic system, and
    It is also the first symptom in Western culture, both in
    individualistic understanding, as well as socialistic same
    existence. In understand individualisma, workers compete with
    workers, owners of capital by capital owners. Workers with
    owners of capital are two competing opponents.
    The proponents of this understanding of the opinion that competition and
    This conflict will bring goodness and progress to
    mankind. According to them it is a stimulant that
    work more diligently and stimulants for the division of labor, and
    would be a fair balance in sharing the wealth.

    Conversely understand sosialisma who believes that the struggle
    class that must be quits with the power in the hands of
    the workers, is one of natural necessity. During
    competition and struggle of the property was used as the principal
    life, during the inter-class opposition is reasonable, then
    inter-nation conflict is also reasonable, with the same purpose
    as on class struggle. From this conception
    nationalism is, by itself, giving effect
    determine the economic system. If the struggle
    nations to master the natural treasure, if there
    occupation for the fair also, how could war
    can be prevented and peace in the world can be guaranteed? In
    towards the end of the 20th century we have been able to watch –
    and still we can see – the existence of evidence, that
    peace on earth with a sort of cultural basis
    only in dreams alone can be exercised, only in
    sweet ideals have a co-wife, but in reality no
    more than a mirage that nonsense.

    Islamic culture was born on the basis of contrasting
    on the basis of Western culture. He was born on a spiritual basis
    invite people to realize that once the first
    relationship with nature and its place in this natural
    best. If this realization is already down to
    boundaries of faith, the faith it took her so that she remains
    continually educate and train yourself, clean heart
    always, fills the heart and mind with the principles
    more noble – the principles of dignity, brotherhood,
    love, kindness and devotion. On the basis of the principles
    This man should formulate its economic life. How to
    gradually so this is the basis of Islamic culture, such as
    revelation which was revealed to Muhammad, which first
    spiritual culture, and spirituality here is the basic system
    education system and the basic patterns of conduct (morals). And
    These ethical principles are the basis of its economic system. No
    certainly be justified in any way compromising
    These ethical principles for the sake of economic systems
    earlier.

    Feedback about the culture of Islam so this opinion
    My response is consistent with human nature, which
    will guarantee happiness for him. If this is embedded
    in our spirit and life like in Western culture
    there was also the course, shades of humanity that undoubtedly will
    changed, the principles that have been the holder
    people will collapse, and instead will arise
    the principles of a more noble, which will be able to treat
    Our current world crisis in accordance with the guidance of
    more brilliant.

    Now people in the West and East tried going to cope with
    this crisis, without them knowing it – and the Muslims themselves
    nor even aware of – that Islam can guarantee
    overcome them. People in the West today are looking for
    a new spiritual grip, which will be able menanting
    paganisma them from being plunged them; and
    because the emergence of their suffering, the disease
    plugging them into the cauldron of war between fellow
    them, is mammonisma – worship of wealth.
    Western people looking for a new grip that within a few
    teachings in India and the Far East, though it will be able to
    they do not get away from them, will they find it
    existing provisions in the Qu’ran, is depicted with
    very beautiful with a very good example given by
    Prophets to mankind during his lifetime.

    I do not mean going to portray Islamic culture with
    all of its provisions it here. Painting thus requires
    an in-depth discussion, which will require the
    registration book or even greater. However – after
    spiritual foundation that became the foundation that I alluded
    as needed – painting the culture here I want to
    conclude, therefore in case of Islamic teachings in
    I can also describe the whole and with
    depiction that I will explore the way to a discussion
    deeper. And before moving in that direction
    it would be a good idea also I give just a hint,
    that in fact in the history of Islam does not exist
    conflict between religious power (theokrasi) with
    temporal power, ie, between church and state. This
    to save Islam from the opposition that has been
    West left in the mind and in the course of its history.

    Islam can be saved from the opposition and all
    influence it, why is because Islam does not know what
    whose name the church or religious authority as
    known by the Christian religion. Yet there are people among
    Muslims – even though he was a caliph – who will
    command requires something to someone, the name of religion,
    and will accuse himself able to give remission of sins
    to anyone who violates the order. Also there has been no
    among Muslims – even though he is a caliphate – which
    would require something to people other than those already
    determined by God in the Quran. Even all of Islam orarg
    equal before God. Which one is more noble than
    others, except depending on the takwanya – to
    terms of office. A ruler can not demand loyalty
    a Muslim if he himself committed sin
    and violate penntah God. Or in the words of Abu Bakr
    as-Siddiq to the Muslims in his inaugural address
    as Caliph “Obey me as long as I obey
    (Command) of Allah and His Messenger. But if I violate
    (Command) of Allah and the Messenger then gugurkanlah loyalty to
    I am. ”

    Despite the government in Islam after that then
    held by a tyrannical king, even among
    Muslim civil war ever arise, but the Muslims
    still hold on to great personal freedom, which
    is determined by religion, freedom to put
    reason as the benchmark in everything, even made
    benchmark within the religion and faith though. Freedom is still
    they hold even until the time of arrival
    rulers of the Islamic people claiming self
    in place of God on this earth – no longer as
    Messenger replacement. Yet all the Muslim issues already
    they control only, to the extent that the question of life and death.

    As evidence such as what has happened in the
    Ma’mun, when people disagree about the Qur’an: a creature or
    not a creature – which was created or not created! Many
    people who oppose the opinion of the Caliph at that time,
    when they know the result of what they will receive
    if you dare to oppose it.

    In any case by the Islamic mind had been made
    benchmark. Also in terms of religion and faith he used as a benchmark.
    In the word of God:

    “The parable of those who do not believe is like
    (Shepherds) who chanted (flocks) that are not heard
    in addition to voice calls and calls only. They are deaf, dumb and
    blind, because they do not use common mind. “(Qur’an,
    2: 171)

    By Shaykh Muhammad Abduh interpreted, by saying:
    “This verse clearly states, that imitation (receiving
    just like that) without consideration or a reasonable mind
    guidance is innate people do not believe. People do not
    could believe that his religion is not realized in their minds,
    can not know himself until he was sure. If people
    grew up with the ordinary takes for granted without realizing it
    with common thoughts, and while doing an act,
    despite good deeds, without knowing it is true, he
    not a believer. With the believer is not intended to be
    lowered self-humble people to do good as
    despicable animals, but that is intended so that people can
    increase the sense of his mind, to enhance self-
    with science, so that doing the good that
    he really knew, that kindness is indeed useful,
    acceptable to God. In leaving the crime was also
    he understood the dangers and how far away the crime
    will take effect. ”

    This is what Shaykh Muhammad Abduh in interpreting
    This paragraph, which in the Quran, in addition to the verse already
    there are many other verses mentioned clearly
    once. Qur’an wants mankind to ponder nature
    this universe, in order to learn the news about it, which
    Such reflections will be delivered to
    awareness about the existence of God, the oneness, such as
    in the word of God:
    (Continued on part 2 / 6)
    1. ISLAMIC CULTURE as described QUR’AN (2 / 6)
    Muhammad Husain Haekal

    “Behold in the creation of the heavens and the earth, in turn
    night and day, the Ark sailed the seas to bring what
    which is useful for mankind, and what Allah revealed
    from the sky in the form of water, then with water dihidupkanNya earth
    a dead dry, then disebarkanNya on earth
    all kinds of animals, wind and cloud pengisaran driven
    from between heaven and earth – are the signs (to be unity
    and greatness of God) for those who use common
    the mind. “(Qur’an, 2: 164)

    “And as a sign for them, is the dead earth
    dry. We turn it on again and we remove it from there
    seeds which can be partially eaten. There we held
    palm gardens and palm and grapes and there is also Us
    exude water – so can they eat the fruit. All
    it is not the business of their hands. Why are they not grateful
    love. Glorified be He who created all that is grown
    earth in pairs, and in themselves as well as
    all that they know nothing. Also as a sign
    for them – is the night. We remove the day, then they
    even in darkness. The sun was circulated by
    provisions that have been determined. That’s the size of the Most
    The Power and omniscient. Also the moon, already we define
    place-place until he returned again as Mayang yang
    old. The sun should not be chasing the moon and
    Nor do the night will precede the afternoon. Each run
    in circulation. Also as a sign for them –
    is derivative of those who We carried in a ship full of
    charge. And for those We created too similar, which
    can they drive. If We willed, We karamkan
    them. There is no helper for them again, they also can not
    saved. Unless by mercy from Us and for
    give pleasure to live up to in time. “(Qur’an,
    36: 33-44.)

    Recommendation to pay attention to the physical universe, exploring all
    provisions and existing law in this natural and
    make it as a guideline that will take us
    believe in the Creator, has hundreds of times mentioned
    in various Surah in the Qur’an. Everything is addressed to
    power the human mind, telling people to judge,
    meditate on it, so that his faith was based on reason
    mind, and clear conviction. The Qur’an reminds order
    Do not blindly accept what is on his ancestors,
    without notice, without further research and with
    personal conviction of the truth that can accomplish that.

    Thus faith is what is recommended by Islam. And it is not
    faith in the so-called “faith granny,” but faith
    intellectuals who are convinced, that has been contemplated
    again, then think carefully, after that, with
    reflections and thoughts that he would come to faith
    about God the Almighty. I think nobody
    been able to contemplate with the mind and the intellect
    his heart, which will not come to faith. Any he
    reflect deeper, think longer and try to
    control of space and time as well as unity contained
    in it, the never-ending, with members
    not limited universe, which is always spinning this –
    bit will be felt within himself about the members
    nature, which all goes according to existing law
    determined and with a purpose known only to
    creator. He also will feel confident of her weakness,
    would knowledge that has not been enough, if only she had not
    immediately assisted by an awareness of the physical universe, aided
    with a force beyond the capacity of faculty and
    brain, which would connect it with all members
    nature, and that will make him realize his own place.
    And that power is faith.

    So that faith is a spiritual feeling, which is felt by
    man he held over her every communication
    with nature and wander into the skinfold-and space limitations
    time. All creatures of this nature will incarnate in him.
    Then he saw it all go according to existing law
    determined, and saw also is worship of God Almighty
    Creator. There was He incarnated in nature, dealing with
    nature, or stand alone and separate, still represents a
    speculative debate an empty course. Maybe successful,
    may also be misguided, might be beneficial and may
    also harmful. Besides, this is not also add
    our knowledge. How long have the writers and
    failasuf-failasuf that one another try going
    know the substance of this Creator, but the effort and effort
    they were in vain. And some are admitted, that it
    indeed beyond the reach of perception. If it is reasonable
    that is not able to achieve this understanding, the lack
    ability is even more strengthen our faith.
    The feeling we are convinced about the existence of Supreme Being
    High, the All-Knowing would be everything and that he
    The Supreme Creator, Supreme Planner, everything will be back
    Him, then such a state would have to convince
    us, that we would not be able to reach no matter how much substance
    size of our faith in Him that

    Likewise, if until now we can not capture
    what electricity actually was even with our own eyes
    we see the scar, as well as the ether that we do not
    to know even though it can be determined, that the waves
    It can inemindahkan sound and images, and traces the influence
    It is enough to make us believe in electricity and
    the ether. How proud we are, every day we
    see the beauty and greatness that God made,
    if we still do not want to believe before we know
    his substance. God the Supreme Transcendent far beyond reach
    can they describe. The reality in life is that
    those who try to describe the substance of God the Most Holy
    are those with a perception already helpless
    achieve a higher level again in describing what
    the above human life. They want to measure this nature
    and Creator of nature according to our measure of the relative and
    once confined within the limits of our knowledge which is only slightly
    it. Conversely those who have really reached a science,
    will be remembered by their word of God this:

    “They ask thee concerning the spirit. Answer: The Spirit
    including God’s business. Knowledge given to you
    it’s just very little. “(Qur’an, 17: 85)

    Their hearts are filled with faith in the Creator Spirit and
    Creator of the universe of this nature, after it did not need them
    plunges himself into the debate an empty speculative,
    who would not give results, would not reach a conclusion.

    Islam reached with the Islamic faith and without faith by
    Qur’an distinguished:

    “The Arabs badwi said: ‘We have faith.”
    Say ‘You’re not believers, but let us say: we have
    of Islam. ” Faith had not yet entered into your hearts. ”
    (Qur’an, 49: 14)

    Such examples of this is Islam, which is subject to the invitation
    people because of their will or because of fear, because of awe or
    because the cult outside the heart that would think and understand
    really going to offer it up to the limits of faith.

    That is yet to receive God’s guidance until the
    faith that should be achieved, by way of contemplating nature
    and know the laws of nature, and that the reflection and
    knowledge that he will be up to the Creator –
    but so Islam because of a desire or because
    his ancestors had been Islamic. Therefore faith
    has not penetrated into his heart again, even though he was Muslim.
    Muslim men of this kind have anything to deceive
    God and deceive the believers, but they actually
    are cheating yourself by not they realize. In
    they already have heart disease. And by God plus
    their disease. They are religious people without
    faith, the Islamic only driven by a desire or
    because of fear, while his soul remains stunted, his conviction still
    weak and his heart was willing to surrender to the will of
    man, surrendered to his orders. Instead they, who
    his faith in God that the earnest priest,
    delivered by the sense of mind and the heart of the living,
    by way of contemplating nature, they are the people who
    believers. Those who will submit the matter only
    to God, they are the people who do not know surrender
    in addition to God. With Islam they do not give
    any services to the people.

    “But in fact God is worthy to you, because
    dibimbingNya to the faith you have, if you really
    the right people. “(Qur’an, 49: 17)

    So whoever gave himself obedient to God and in
    on it to do good deeds, they do not need to feel
    be afraid, do not grieve. They do not fear
    facing life or abject poverty, because by faith
    they’re very rich, very honored.
    Honor is in God and the believers.

    Souls who are willing and comforted by his faith, he was relieved
    when he tried always wanted to know the secrets and
    laws of nature, which means it will add to its relationship
    with God. And step towards this knowledge is by
    way to discuss and reflect on all God’s creation is
    in this natural scientific manner as recommended by
    Qur’an and practiced really well by the
    Muslims first, as a modern scientific way in
    West now. It’s just that purpose in Islam and in
    Western culture is different. In Islam the aim to
    man makes the law of God in this natural law
    and its own rules, while in the West aim is
    looking for material gains and what is in nature.
    In Islam once the first goal is to ‘irfan – know
    God well, more and more in ‘irfan or perception
    (Introduction), we also increasingly in our faith in God.
    This goal is about to reach ‘irfan good in terms of
    whole community, not just in terms of personal. Problem
    Spiritual integrity is not a purely private matter. No
    a place for people confine ourselves as a society
    own. In fact he should be the basis of culture
    for human society worldwide – from end to end. By
    therefore human beings should strive for
    integrity (perfection) that spiritual, which means greater
    rather than observations about the nature of the senses (sensibilia).

    Persepsi2 about secret things and natural laws
    who want to achieve that integrity is greater than
    perception as a tool to achieve power over matter
    objects.

    To achieve this spiritual integrity of our inadequate
    we rely only on logic alone, even with the logic
    that we have paved the way for our hearts and minds
    us to get to the highest level. This can happen
    only if people seek help from God,
    expose yourself to Him with heart and soul.
    Only we worship Him and only Him we
    ask for help, to achieve the secrets of nature and
    the law of life. This is called relationship
    with God, grateful for favors of your Lord, so that we increase
    get a clue of what we have achieved, such as
    in the word of God:

    “And when My servants ask thee concerning Me, then
    (Say) I’m close. I granted the request of the person
    plead – if she plead to me. So welcome
    cry and believe me, just in case they
    guided to the straight path. “(Qur’an 2: 186)

    “But seek God’s help with the brave, and with
    start praying, and praying it was heavy,
    except for those of humble-to the Lord.
    People who realize that they will meet with
    God and to Him they return. “(Qur’an 2: 45-46)

    Prayer is a form of communication with God
    believe and ask Him for help. Thus
    intended to prayer is not just bowing and prostration
    course, reading the Qu’ran verses or pronounce Takbir and
    ta’zim for the greatness of God without filling the soul and heart
    hearts with faith, with holiness and majesty of God.
    But what is meant by prayer or worship is
    meaning contained in the Takbir, in reading, in
    bowing, prostration and all the majesty, holiness and faith.
    So this worship to God is a worship
    sincere – for the sake of God Light of the heavens and the earth.

    “Goodness is not since you expose the face in the direction
    east and west, but goodness it is the person who has
    believe in Allah, the Hereafter, angels,
    The Book and the prophets and issued his beloved treasure
    it to relatives, orphans, poor people
    and displaced persons in transit, the people who
    request, to let go of slavery, doing prayer
    and issued a charity, then the people who love
    fulfill the promise when the promise, the people who brave hearts
    in the face of suffering and hardship and in time
    war. They are the people who are right and they were
    people who can maintain themselves. “(Qur’an, 2: 177)

    Believers who really believe it was he who confronts
    all his heart to God when he was praying,
    witnessed by a sense of piety to Him, and seek
    God’s help in fulfilling his obligations. He
    search for clues, asking for God in understanding taufik
    secret and the law of this nature.

    Believer who truly believes in Allah he middle
    Prayer will feel it yourself, always be felt,
    he is dealing with something small greatness
    Allah the Most Great. If we are in an aircraft
    above the height of a thousand or several thousand meters, we
    see the mountains, rivers and cities as
    minor symptoms on the earth. We see it posted
    in front of our eyes like pathways above tergaris
    a map and as a horizontal flat surface is not
    there is a mountain or building a higher, no canyons,
    wells or the river is lower, the colors
    -to-back, linked to each other, mixed, the higher the
    we fly the colors are more mixed. The whole earth
    we are nothing more than a small planet. In nature

    Advertisements
     
  • SERBUIFF 2:17 am on 13/11/2007 Permalink | Reply
    Tags: 1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN   

    KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR’AN (1/6) 

    Sejarah Hidup Muhammad

    oleh Muhammad Husain Haekal Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (1/6)
       Muhammad Husain Haekal
    
       MUHAMMAD telah meninggalkan warisan rohani yang agung,
       yang telah menaungi dunia dan memberi arah kepada
       kebudayaan dunia selama dalam beberapa abad yang lalu.
       Ia akan terus demikian sampai Tuhan menyempurnakan
       cahayaNya ke seluruh dunia. Warisan yang telah memberi
       pengaruh besar pada masa lampau itu, dan akan demikian,
       bahkan lebih lagi pada masa yang akan datang, ialah
       karena ia telah membawa agama yang benar dan meletakkan
       dasar kebudayaan satu-satunya yang akan menjamin
       kebahagiaan dunia ini. Agama dan kebudayaan yang telah
       dibawa Muhammad kepada umat manusia melalui wahyu Tuhan
       itu, sudah begitu berpadu sehingga tidak dapat lagi
       terpisahkan.
    
    Kalau pun kebudayaan Islam ini didasarkan kepada metoda-metoda
    ilmu pengetahuan dan kemampuan rasio, - dan dalam hal ini sama
    seperti yang  menjadi  pegangan  kebudayaan  Barat  masa  kita
    sekarang,  dan  kalau  pun  sebagai agama Islam berpegang pada
    pemikiran yang subyektif dan pada pemikiran  metafisika  namun
    hubungan   antara   ketentuan-ketentuan   agama  dengan  dasar
    kebudayaan  itu  erat  sekali.  Soalnya  ialah   karena   cara
    pemikiran  yang  metafisik dan perasaan yang subyektif di satu
    pihak,  dengan  kaidah-kaidah  logika   dan   kemampuan   ilmu
    pengetahuan  di pihak lain oleh Islam dipersatukan dengan satu
    ikatan, yang mau tidak mau memang perlu  dicari  sampai  dapat
    ditemukan,  untuk  kemudian  tetap  menjadi orang Islam dengan
    iman yang kuat pula. Dari segi ini  kebudayaan  Islam  berbeda
    sekali  dengan kebudayaan Barat yang sekarang menguasai dunia,
    juga dalam melukiskan hidup dan dasar yang menjadi landasannya
    berbeda.  Perbedaan  kedua  kebudayaan  ini,  antara yang satu
    dengan  yang  lain  sebenarnya  prinsip  sekali,  yang  sampai
    menyebabkan  dasar keduanya itu satu sama lain saling bertolak
    belakang.
    
    Timbulnya pertentangan ini ialah karena alasan-alasan sejarah,
    seperti  sudah  kita singgung dalam prakata dan kata pengantar
    cetakan kedua buku ini. Pertentangan di Barat antara kekuasaan
    agama  dan  kekuasaan  temporal1  sebagai bangsa yang menganut
    agama Kristen   atau dengan bahasa sekarang     antara  gereja
    dengan negara     menyebabkan keduanya itu harus berpisah, dan
    kekuasaan  negara  harus  ditegakkan  untuk   tidak   mengakui
    kekuasaan  gereja.  Adanya  konflik  kekuasaan  itu  ada  juga
    pengaruhnya dalam pemikiran Barat secara  keseluruhan.  Akibat
    pertama  dari  pengaruh  itu  ialah  adanya  permisahan antara
    perasaan manusia  dengar  pikiran  manusia,  antara  pemikiran
    metafisik  dengan  ketentuan-ketentuan ilmu positif (knowledge
    of   reality)   yang   berlandaskan   tinjauan   materialisma.
    Kemenangan  pikiran  materialisma ini besar sekali pengaruhnya
    terhadap lahirnya suatu  sistem  ekonomi  yang  telah  menjadi
    dasar utama kebudayaan Barat.
    
    Sebagai  akibatnya,  di  Barat telah timbul pula aliran-aliran
    yang hendak membuat segala yang ada di muka  bumi  ini  tunduk
    kepada  kehidupan  dunia  ekonomi.  Begitu  juga tidak sedikit
    orang rang ingin menempatkan sejarah umat  manusia  dari  segi
    agamanya,  seni,  f1lsafat, cara berpikir dan pengetahuannya -
    dalam segala pasang surutnya pada  berbagai  bangsa  -  dengan
    ukuran  ekonomi. Pikiran ini tidak terbatas hanya pada sejarah
    dan penulisannya, bahkan beberapa aliran filsafat Barat  telah
    pula  membuat pola-pola etik atas dasar kemanfaatan materi ini
    semata-mata. Sungguh  pun  aliran-aliran  demikian  ini  dalam
    pemikirannya  sudah  begitu  tinggi  dengan daya ciptanya yang
    besar sekali, namun perkembangan pikiran di  Barat  itu  telah
    membatasinya  pada  batas-batas  keuntungan materi yang secara
    kolektif dibuat oleh pola-pola etik  itu  secara  keseluruhan.
    Dan  dari segi pembahasan ilmiah hal ini sudah merupakan suatu
    keharusan yang sangat mendesak.
    
    Sebaiiknya mengenai masalah rohani, masalah  spiritual,  dalam
    pandangan  kebudayaan Barat ini adalah masalah pribadi semata,
    orang tidak perlu memberikan perhatian bersama untuk itu. Oleh
    karenanya  membiarkan  masalah kepercayaan ini secara bebas di
    Barat merupakan suatu hal  yang  diagungkan  sekali,  melebihi
    kebebasan   dalam   soal   etik.   Sudah  begitu  rupa  mereka
    mengagungkan masalah kebebasan etik itu demi kebebasan ekonomi
    yang   sudah   sama   sekali   terikat   oleh   undang-undang.
    Undang-undang ini akan dilaksanakan  oleh  tentara  atau  oleh
    negara dengan segala kekuatan yang ada.
    
    Kebudayaan  yang  hendak  menjadikan kehidupan ekonomi sebagai
    dasarnya, dan pola-pola etik didasarkan  pula  pada  kehidupan
    ekonomi  itu  dengan tidak menganggap penting arti kepercayaan
    dalam kehidupan umum, dalam merambah jalan untuk umat  manusia
    mencapai   kebahagiaan  seperti  yang  dicita-citakannya  itu,
    menurut  hemat  saya  tidak  akan  mencapai   tujuan.   Bahkan
    tanggapan  terhadap  hidup  demikian ini sudah sepatutnya bila
    akan menjerumuskan umat manusia  ke  dalam  penderitaan  berat
    seperti  yang  dialami  dalam  abad-abad belakangan ini. Sudah
    seharusnya pula apabila segala pikiran  dalam  usaha  mencegah
    perang  dan mengusahakan perdamaian dunia tidak banyak membawa
    arti dan hasilnya pun tidak  seberapa.  Selama  hubungan  saya
    dengan  saudara  dasarnya  adalah sekerat roti yang saya makan
    atau yang saudara makan, kita berebut, bersaing dan bertengkar
    untuk  itu,  masing-masing  berpendirian  atas  dasar kekuatan
    hewaninya,  maka  akan  selalu  kita  masing-masing   menunggu
    kesempatan  baik  untuk  secara  licik memperoleh sekerat roti
    yang di tangan temannya itu. Masing-masing kita satu sama lain
    akan  selalu  melihat  teman  itu sebagai lawan, bukan sebagai
    saudara. Dasar etik yang tersembunyi dalam diri kita ini  akan
    selalu  bersifat  hewani,  sekali  pun masih tetap tersembunyi
    sampai pada waktunya nanti ia akan timbul.  Yang  selalu  akan
    menjadi pegangan dasar etik ini satu-satunya ialah keuntungan.
    Sementara arti perikemanusiaan  yang  tinggi,  prinsip-prinsip
    akhlak  yang  terpuji, altruisma, cinta kasih dan persaudaraan
    akan jatuh tergelincir, dan  hampir-hampir  sudah  tak  dapat
    dipegang lagi.
    
    Apa  yang  terjadi  dalam  dunia  dewasa  ini ialah bukti yang
    paling nyata atas apa yang saya sebutkan itu.  Persaingan  dan
    pertentangan  ialah  gejala  pertama dalam sistem ekonomi, dan
    itu pula gejala pertamanya dalam kebudayaan Barat, baik  dalam
    paham  yang  individualistis,  maupun  sosialistis  sama  saja
    adanya. Dalam  paham  individualisma,  buruh  bersaing  dengan
    buruh,  pemilik  modal  dengan  pemilik  modal.  Buruh  dengan
    pemilik  modal  ialah  dua   lawan   yang   saling   bersaing.
    Pendukung-pendukung paham ini berpendapat bahwa persaingan dan
    pertentangan ini akan membawa  kebaikan  dan  kemajuan  kepada
    umat  manusia.  Menurut mereka ini merupakan perangsang supaya
    bekerja lebih tekun dan perangsang untuk pembagian kerja,  dan
    akan menjadi neraca yang adil dalam membagi kekayaan.
    
    Sebaliknya  paham sosialisma yang berpendapat bahwa perjuangan
    kelas yang harus disudahi dengan kekuasaan  berada  di  tangan
    kaum  buruh,  merupakan  salah  satu  keharusan  alam.  Selama
    persaingan dan perjuangan mengenai harta itu  dijadikan  pokok
    kehidupan,  selama  pertentangan  antar-kelas  itu wajar, maka
    pertentangan antar-bangsa juga wajar, dengan tujuan yang  sama
    seperti   pada   perjuangan   kelas.   Dari  sinilah  konsepsi
    nasionalisma itu, dengan  sendirinya,  memberi  pengaruh  yang
    menentukan   terhadap   sistem   ekonomi.  Apabila  perjuangan
    bangsa-bangsa untuk menguasai harta itu wajar, apabila  adanya
    penjajahan  untuk  itu  wajar  pula,  bagaimana mungkin perang
    dapat dicegah dan perdamaian  di  dunia  dapat  dijamin?  Pada
    menjelang  akhir abad ke-20 ini kita telah dapat menyaksikan -
    dan masih dapat kita  saksikan  -  adanya  bukti-bukti,  bahwa
    perdamaian  di  muka bumi dengan dasar kebudayaan yang semacam
    ini hanya dalam impian saja dapat  dilaksanakan,  hanya  dalam
    cita-cita  yang manis bermadu, tetapi dalam kenyataannya tiada
    lebih dari suatu fatamorgana yang kosong belaka.
    
    Kebudayaan Islam  lahir  atas  dasar  yang  bertolak  belakang
    dengan dasar kebudayaan Barat. Ia lahir atas dasar rohani yang
    mengajak  manusia  supaya  pertama  sekali   dapat   menyadari
    hubungannya  dengan  alam  dan tempatnya dalam alam ini dengan
    sebaik-baiknya. Kalau kesadaran demikian ini sudah  sampai  ke
    batas  iman,  maka  imannya  itu  mengajaknya  supaya ia tetap
    terus-menerus mendidik dan melatih diri, membersihkan  hatinya
    selalu,  mengisi jantung dan pikirannya dengan prinsip-prinsip
    yang lebih luhur - prinsip-prinsip harga  diri,  persaudaraan,
    cinta kasih, kebaikan dan berbakti. Atas dasar prinsip-prinsip
    inilah manusia hendaknya menyusun kehidupan  ekonominya.  Cara
    bertahap  demikian ini adalah dasar kebudayaan Islam, seperti
    wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad,  yakni  mula-mula
    kebudayaan  rohani,  dan  sistem kerohanian disini ialah dasar
    sistem pendidikan serta dasar  pola-pola  etik  (akhlak).  Dan
    prinsip-prinsip  etik ini ialah dasar sistem ekonominya. Tidak
    dapat dibenarkan tentunya dengan  cara  apa  pun  mengorbankan
    prinsip-prinsip  etik  ini  untuk  kepentingan  sistem ekonomi
    tadi.
    
    Tanggapan Islam tentang kebudayaan demikian ini menurut  hemat
    saya  ialah  tanggapan yang sesuai dengan kodrat manusia, yang
    akan menjamin kebahagiaan baginya. Kalau ini  yang  ditanamkan
    dalam  jiwa  kita dan kehidupan seperti dalam kebudayaan Barat
    itu kesana pula jalannya, niscaya corak umat manusia itu  akan
    berubah,  prinsip-prinsip  yang  selama  ini  menjadi pegangan
    orang  akan  runtuh,  dan   sebagai   gantinya   akan   timbul
    prinsip-prinsip  yang  lebih  luhur, yang akan dapat mengobati
    krisis dunia kita sekarang ini sesuai dengan tuntunannya  yang
    lebih cemerlang.
    
    Sekarang orang di Barat dan di Timur berusaha hendak mengatasi
    krisis ini, tanpa mereka sadari - dan  kaum  Muslimin  sendiri
    pun   tidak  pula  menyadari  -  bahwa  Islam  dapat  menjamin
    mengatasinya. Orang-orang di Barat dewasa ini  sedang  mencari
    suatu  pegangan  rohani  yang  baru, yang akan dapat menanting
    mereka dari paganisma yang sedang  menjerumuskan  mereka;  dan
    sebab   timbulnya   penderitaan   mereka  itu,  penyakit  yang
    menancapkan mereka ke dalam kancah  peperangan  antara  sesama
    mereka,   ialah   mammonisma   -   penyembahan  kepada  harta.
    Orang-orang Barat mencari pegangan baru itu  didalam  beberapa
    ajaran  di  India  dan  di  Timur Jauh; padahal itu akan dapat
    mereka peroleh tidak jauh dari mereka, akan mereka dapati  itu
    sudah ada ketentuannya didalam Qu'ran, sudah dilukiskan dengan
    indah sekali dengan teladan yang sangat  baik  diberikan  oleh
    Nabi kepada manusia selama masa hidupnya.
    
    Bukan  maksud  saya  hendak melukiskan kebudayaan Islam dengan
    segala ketentuannya itu disini. Lukisan  demikian  menghendaki
    suatu  pembahasan  yang  mendalam,  yang  akan  meminta tempat
    sebesar buku ini atau lebih besar lagi. Akan tetapi -  setelah
    dasar  rohani  yang  menjadi  landasannya  itu  saya  singgung
    seperlunya  -  lukisan  kebudayaan  itu  disini   ingin   saya
    simpulkan,  kalau-kalau  dengan  demikian  ajaran  Islam dalam
    keseluruhannya  dapat   pula   saya   gambarkan   dan   dengan
    penggambaran  itu  saya akan merambah jalan ke arah pembahasan
    yang lebih dalam lagi.  Dan  sebelum  melangkah  ke  arah  itu
    kiranya  akan  ada  baiknya juga saya memberi sekadar isyarat,
    bahwa  sebenarnya  dalam  sejarah   Islam   memang   tak   ada
    pertentangan   antara   kekuasaan   agama  (theokrasi)  dengan
    kekuasaan temporal, yakni antara gereja dengan negara. Hal ini
    dapat   menyelamatkan   Islam  dari  pertentangan  yang  telah
    ditinggalkan Barat dalam pikiran dan dalam haluan sejarahnya.
    
    Islam  dapat  diselamatkan  dari  pertentangan  serta   segala
    pengaruhnya  itu,  sebabnya ialah karena Islam tidak kenal apa
    yang namanya gereja itu  atau  kekuasaan  agama  seperti  yang
    dikenal  oleh  agama  Kristen.  Belum  ada  orang  di kalangan
    Muslimin  -  sekalipun  ia  seorang  khalifah  -   yang   akan
    mengharuskan  sesuatu  perintah kepada orang, atas nama agama,
    dan akan mendakwakan dirinya mampu  memberi  pengampunan  dosa
    kepada  siapa saja yang melanggar perintah itu. Juga belum ada
    di kalangan Muslimin - sekalipun ia seorang  khalifah  -  yang
    akan  mengharuskan  sesuatu  kepada  orang  selain  yang sudah
    ditentukan Tuhan di dalam Qur'an.  Bahkan  semua  orarg  Islam
    sama  di  hadapan  Tuhan.  Yang seorang tidak lebih mulia dari
    yang  lain,  kecuali  tergantung  kepada  takwanya  -   kepada
    baktinya.  Seorang  penguasa  tidak  dapat  menuntut kesetiaan
    seorang Muslim apabila dia sendiri  melakukan  perbuatan  dosa
    dan  melanggar  penntah  Tuhan.  Atau  seperti  kata  Abu Bakr
    ash-Shiddiq kepada kaum Muslimin  dalam  pidato  pelantikannya
    sebagai  Khalifah  "Taatilah  saya  selama  saya  taat  kepada
    (perintah) Allah dan RasulNya. Tetapi apabila  saya  melanggar
    (perintah) Allah dan Rasul maka gugurkanlah kesetiaanmu kepada
    saya."
    
    Kendatipun  pemerintahan  dalam  Islam  sesudah  itu  kemudian
    dipegang  oleh  seorang  raja  tirani,  kendatipun di kalangan
    Muslimin pernah timbul perang  saudara,  namun  kaum  Muslimin
    tetap  berpegang kepada kebebasan pribadi yang besar itu, yang
    sudah ditentukan oleh agama, kebebasan yang sampai menempatkan
    akal  sebagai  patokan  dalam  segala  hal,  bahkan  dijadikan
    patokan didalam agama dan iman sekalipun. Kebebasan ini  tetap
    mereka   pegang   sekalipun   sampai   pada   waktu  datangnya
    penguasa-penguasa  orang-orang  Islam  yang  mendakwakan  diri
    sebagai  pengganti Tuhan di muka bumi ini - bukan lagi sebagai
    pengganti Rasulullah. Padahal segala persoalan Muslimin  sudah
    mereka kuasai belaka, sampai-sampai ke soal hidup dan matinya.
    
    Sebagai  bukti  misalnya  apa  yang  sudah  terjadi  pada masa
    Ma'mun, tatkala orang berselisih mengenai Qur'an: makhluk atau
    bukan  makhluk - yang diciptakan atau bukan diciptakan! Banyak
    sekali orang  yang  menentang  pendapat  Khalifah  waktu  itu,
    padahal  mereka  mengetahui akibat apa yang akan mereka terima
    jika berani menentangnya.
    
    Dalam segala hal  akal  pikiran  oleh  Islam  telah  dijadikan
    patokan.  Juga  dalam hal agama dan iman ia dijadikan patokan.
    Dalam firman Tuhan:
    
    "Perumpamaan orang-orang  yang  tidak  beriman  ialah  seperti
    (gembala)  yang  meneriakkan  (ternaknya) yang tidak mendengar
    selain suara panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu  dan
    buta,  sebab  mereka tidak menggunakan akal pikiran." (Qur'an,
    2: 171)
    
    Oleh Syaikh Muhammad  Abduh  ditafsirkan,  dengan  mengatakan:
    "Ayat  ini  jelas  sekali  menyebutkan, bahwa taklid (menerima
    begitu  saja)  tanpa  pertimbangan  akal  pikiran  atau  suatu
    pedoman  ialah  bawaan  orang-orang tidak beriman. Orang tidak
    bisa beriman kalau agamanya  tidak  disadari  dengan  akalnya,
    tidak  diketahuinya sendiri sampai dapat ia yakin. Kalau orang
    dibesarkan dengan biasa menerima begitu  saja  tanpa  disadari
    dengan  akal pikirannya, maka dalam melakukan suatu perbuatan,
    meskipun perbuatan yang baik, tanpa  diketahuinya  benar,  dia
    bukan  orang  beriman. Dengan beriman bukan dimaksudkan supaya
    orang  merendah-rendahkan  diri  melakukan  kebaikan   seperti
    binatang  yang  hina, tapi yang dimaksudkan supaya orang dapat
    meningkatkan daya akal  pikirannya,  dapat  meningkatkan  diri
    dengan  ilmu  pengetahuan, sehingga dalam berbuat kebaikan itu
    benar-benar ia sadar, bahwa kebaikannya  itu  memang  berguna,
    dapat  diterima  Tuhan.  Dalam meninggalkan kejahatan pun juga
    dia mengerti benar bahaya dan  berapa  jauhnya  kejahatan  itu
    akan membawa akibat."
    
    Inilah  yang dikatakan Syaikh Muhammad Abduh dalam menafsirkan
    ayat ini, yang di dalam Qur'an,  selain  ayat  tersebut  sudah
    banyak  pula  ayat-ayat  lain  yang  disebutkan  secara  jelas
    sekali. Qur'an menghendaki  manusia  supaya  merenungkan  alam
    semesta ini, supaya mengetahui berita-berita sekitar itu, yang
    kelak  renungan  demikian  itu  akan  mengantarkannya   kepada
    kesadaran  tentang  wujud  Tuhan,  tentang keesaanNya, seperti
    dalam firman Allah:
                                        (bersambung ke bagian 2/6)
    
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
    
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1
    Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team

    Sejarah Hidup Muhammad

    oleh Muhammad Husain Haekal Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (2/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    "Bahwasanya dalam penciptaan langit dan bumi, dalam pergantian
    malam  dan  siang,  bahtera yang mengarungi lautan membawa apa
    yang berguna buat umat manusia, dan apa yang diturunkan  Allah
    dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkanNya bumi
    yang sudah mati kering, kemudian  disebarkanNya  di  bumi  itu
    segala jenis hewan, pengisaran angin dan awan yang dikemudikan
    dari antara langit dan bumi - adalah tanda-tanda (akan keesaan
    dan   kebesaran  Tuhan)  buat  mereka  yang  menggunakan  akal
    pikiran." (Qur'an, 2: 164)
    
    "Dan sebagai suatu tanda buat mereka,  ialah  bumi  yang  mati
    kering.  Kami  hidupkan  kembali  dan Kami keluarkan dari sana
    benih  yang  sebagian  dapat  dimakan.  Disana   Kami   adakan
    kebun-kebun  kurma  dan  palm  dan anggur dan disana pula Kami
    pancarkan mata air - supaya dapat mereka makan buahnya.  Semua
    itu  bukan  usaha tangan mereka. Kenapa mereka tidak berterima
    kasih. Maha Suci Yang telah menciptakan semua yang ditumbuhkan
    bumi  berpasang-pasangan,  dan dalam diri mereka sendiri serta
    segala apa yang tiada mereka ketahui. Juga sebagai suatu tanda
    buat  mereka  -  ialah malam. Kami lepaskan siang, maka mereka
    pun berada  dalam  kegelapan.  Matahari  pun  beredar  menurut
    ketetapan  yang sudah ditentukan. Itulah ukuran dari Yang Maha
    Kuasa  dan  Maha  Tahu.  Juga  bulan,  sudah   Kami   tentukan
    tempat-tempatnya  sampai  ia  kembali lagi seperti mayang yang
    sudah tua. Matahari tiada sepatutnya akan mengejar  bulan  dan
    malam  pun tiada akan mendahului siang. Masing-masing berjalan
    dalam peredarannya. Juga sebagai suatu  tanda  buat  mereka  -
    ialah  turunan  mereka yang Kami angkut dalam kapal yang penuh
    muatan. Dan buat mereka Kami ciptakan pula yang  serupa,  yang
    dapat  mereka  kendarai.  Kalau  Kami kehendaki, Kami karamkan
    mereka. Tiada penolong lagi buat mereka, juga mereka tak dapat
    diselamatkan.  Kecuali  dengan  rahmat  dari  Kami  dan  untuk
    memberikan kesenangan hidup sampai  pada  waktunya."  (Qur'an,
    36: 33-44.)
    
    Anjuran   supaya   memperhatikan  alam  ini,  menggali  segala
    ketentuan  dan  hukum  yang  ada  di  dalam  alam  ini   serta
    menjadikannya  sebagai  pedoman  yang  akan  mengantarkan kita
    beriman kepada  Penciptanya,  sudah  beratus  kali  disebutkan
    dalam  pelbagai  Surah dalam Qur'an. Semuanya ditujukan kepada
    tenaga akal  pikiran  manusia,  menyuruh  manusia  menilainya,
    merenungkannya,  supaya  imannya  itu  didasarkan  kepada akal
    pikiran, dan keyakinan yang jelas. Qur'an mengingatkan  supaya
    jangan menerima begitu saja apa yang ada pada nenek moyangnya,
    tanpa memperhatikan, tanpa meneliti lebih  jauh  serta  dengan
    keyakinan pribadi akan kebenaran yang dapat dicapainya itu.
    
    Iman demikian inilah yang dianjurkan oleh Islam. Dan ini bukan
    iman yang biasa disebut  "iman  nenek-nenek,"  melainkan  iman
    intelektual  yang  sudah  meyakinkan,  yang  sudah direnungkan
    lagi, kemudian dipikirkan matang-matang, sesudah  itu,  dengan
    renungan  dan pemikirannya itu ia akan sampai kepada keyakinan
    tentang Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya rasa tak  ada  orang  yang
    sudah   dapat  merenungkan  dengan  akal  pikiran  dan  dengan
    hatinya,  yang  tidak  akan  sampai  kepada  iman.  Setiap  ia
    merenungkan  lebih  dalam,  berpikir  lebih  lama dan berusaha
    menguasai ruang dan waktu ini serta kesatuan  yang  terkandung
    di  dalamnya,  yang tiada berkesudahan, dengan anggota-anggota
    alam semesta  tiada  terbatas,  yang  selalu  berputar  ini  -
    sekelumit  akan  terasa  dalam dirinya tentang anggota-anggota
    alam itu, yang semuanya  berjalan  menurut  hukum  yang  sudah
    ditentukan   dan  dengan  tujuan  yang  hanya  diketahui  oleh
    penciptanya. Ia pun akan merasa yakin akan kelemahan  dirinya,
    akan  pengetahuannya  yang  belum  cukup,  jika  saja ia tidak
    segera dibantu dengan kesadarannya tentang alam  ini,  dibantu
    dengan   suatu   kekuatan  diatas  kemampuan  pancaindera  dan
    otaknya, yang akan  menghubungkannya  dengan  seluruh  anggota
    alam,  dan  yang akan membuat dia menyadari tempatnya sendiri.
    Dan kekuatan itu ialah iman.
    
    Jadi iman itu  ialah  perasaan  rohani,  yang  dirasakan  oleh
    manusia  meliputi  dirinya  setiap  ia  mengadakan  komunikasi
    dengan alam dan  hanyut  kedalam  ketak-terbatasan  ruang  dan
    waktu.  Semua  makhluk  alam  ini akan terjelma dalam dirinya.
    Maka dilihatnya semua itu berjalan menurut  hukum  yang  sudah
    ditentukan,  dan  dilihatnya  pula  sedang  memuja  Tuhan Maha
    Pencipta. Ada pun Ia menjelma dalam alam,  berhubungan  dengan
    alam, atau berdiri sendiri dan terpisah, masih merupakan suatu
    perdebatan spekulatif  yang  kosong  saja.  Mungkin  berhasil,
    mungkin  juga  jadi  sesat,  mungkin menguntungkan dan mungkin
    juga merugikan. Disamping itu  hal  ini  tidak  pula  menambah
    pengetahuan   kita.  Sudah  berapa  lama  penulis-penulis  dan
    failasuf-failasuf  itu  satu   sama   lain   berusaha   hendak
    mengetahui  zat  Maha Pencipta ini, namun usaha dan daya upaya
    mereka itu sia-sia. Dan ada  pula  yang  mengakui,  bahwa  itu
    memang berada di luar jangkauan persepsinya. Kalau memang akal
    yang sudah tak mampu mencapai  pengertian  ini,  maka  ketidak
    mampuannya  itu  lebih-lebih  lagi  memperkuat  keimanan kita.
    Perasaan  kita  yang  meyakinkan  tentang  adanya  Wujud  Maha
    Tinggi,  Yang  Maha Mengetahui akan segalanya dan bahwa Dialah
    Maha  Pencipta,  Maha  Perencana,   segalanya   akan   kembali
    kepadaNya,  maka  keadaan  semacam  itu  akan sudah meyakinkan
    kita, bahwa kita takkan mampu  menjangkau  zatNya  betapa  pun
    besarnya iman kita kepadaNya itu
    
    Demikian  juga, kalau sampai sekarang kita tak dapat menangkap
    apa sebenarnya listrik itu meskipun dengan mata  kita  sendiri
    kita  melihat  bekasnya,  begitu  juga  eter  yang  tidak kita
    ketahui meskipun sudah dapat  ditentukan,  bahwa  gelombangnya
    itu dapat inemindahkan suara dan gambar, pengaruh dan bekasnya
    itu buat kita sudah cukup untuk mempercayai adanya listrik dan
    adanya   eter.  Alangkah  angkuhnya  kita,  setiap  hari  kita
    menyaksikan keindahan dan  kebesaran  yang  diciptakan  Tuhan,
    kalau  kita  masih  tidak  mau percaya sebelum kita mengetahui
    zatNya. Tuhan Yang Maha Transenden jauh di luar jangkauan yang
    dapat  mereka  lukiskan.  Kenyataan  dalam  hidup  ialah bahwa
    mereka yang mencoba menggambarkan zat Tuhan Yang Maha Suci itu
    ialah   mereka  yang  dengan  persepsinya  sudah  tak  berdaya
    mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi dalam  melukiskan  apa
    yang  diatas  kehidupan  insan. Mereka ingin mengukur alam ini
    serta  Pencipta  alam  menurut  ukuran  kita  yang  nisbi  dan
    terbatas sekali dalam batas-batas ilmu kita yang hanya sedikit
    itu. Sebaliknya mereka yang sudah benar-benar  mencapai  ilmu,
    akan teringat oleh mereka firman Tuhan ini:
    
    "Mereka  bertanya  kepadamu  tentang  ruh.  Jawablah:  Ruh itu
    termasuk urusan Tuhan. Pengetahuan yang diberikan kepada  kamu
    itu hanya sedikit sekali." (Qur'an, 17: 85)
    
    Kalbu  mereka  sudah penuh dengan iman kepada Pencipta Ruh dan
    Pencipta semesta Alam ini,  sesudah  itu  tidak  perlu  mereka
    menjerumuskan diri ke dalam perdebatan spekulatif yang kosong,
    yang takkan memberi hasil, takkan mencapai suatu kesimpulan.
    
    Islam yang dicapai dengan iman dan Islam yang tanpa iman  oleh
    Qur'an dibedakan:
    
    "Orang-orang  Arab  badwi  itu  berkata: 'Kami sudah beriman.'
    Katakanlah 'Kamu belum beriman, tapi katakan saja: kami  sudah
    islam.'  Iman  itu  belum  lagi  masuk  ke  dalam  hati kamu."
    (Qur'an, 49: 14)
    
    Contoh Islam yang demikian ini ialah yang tunduk kepada ajakan
    orang  karena kehendaknya atau karena takut, karena kagum atau
    karena mengkultuskan diluar hati yang mau menurut dan memahami
    benar-benar akan ajaran itu sampai ke batas iman.
    
    Yang  demikian ini belum mendapat petunjuk Tuhan sampai kepada
    iman yang seharusnya dicapai, dengan  jalan  merenungkan  alam
    dan  mengetahui  hukum  alam,  dan  yang  dengan  renungan dan
    pengetahuannya  itu  ia  akan  sampai  kepada  Penciptanya   -
    melainkan  jadi  Islam  karena  suatu  keinginan  atau  karena
    nenek-moyangnya memang sudah Islam. Oleh  karenanya  iman  itu
    belum merasuk lagi kedalam hatinya, sekalipun dia sudah Islam.
    Manusia-manusia Muslim semacam  ini  ada  yang  hendak  menipu
    Tuhan dan menipu orang-orang beriman, tetapi sebenarnya mereka
    sudah menipu diri sendiri dengan tiada  mereka  sadari.  Dalam
    hati  mereka sudah ada penyakit. Maka oleh Tuhan ditambah lagi
    penyakit mereka itu. Mereka itulah orang-orang beragama  tanpa
    iman; islamnya hanya karena didorong oleh suatu keinginan atau
    karena takut, sedang jiwanya tetap kerdil, keyakinannya  tetap
    lemah  dan  hatinya  pun  bersedia  menyerah  kepada  kehendak
    manusia, menyerah kepada perintahnya. Sebaliknya mereka,  yang
    keimanannya kepada Allah itu dengan imam yang sungguh-sungguh,
    diantarkan oleh akal pikiran  dan  oleh  jantung  yang  hidup,
    dengan  jalan  merenungkan  alam ini, mereka itulah orang yang
    beriman.  Mereka  yang  akan  menyerahkan  persoalannya  hanya
    kepada Tuhan, mereka itulah orang yang tidak mengenal menyerah
    selain kepada Allah. Dengan Islamnya itu mereka tidak  memberi
    jasa apa-apa kepada orang.
    
    "Tetapi  sebenarnya  Tuhanlah yang berjasa kepada kamu, karena
    kamu telah dibimbingNya kepada  keimanan,  kalau  kamu  memang
    orang-orang yang benar." (Qur'an, 49: 17)
    
    Jadi barangsiapa menyerahkan diri patuh kepada Allah dan dalam
    pada itu melakukan perbuatan baik, mereka tidak  perlu  merasa
    takut,  tidak  usah  bersedih  hati.  Mereka  tidak takut akan
    menghadapi hidup miskin  atau  hina,  sebab  dengan  iman  itu
    mereka   sudah   sangat   kaya,  sangat  mendapat  kehormatan.
    Kehormatan yang ada pada Tuhan dan pada orang-orang beriman.
    
    Jiwa yang rela dan tenteram dengan imannya ini, ia merasa lega
    bila  selalu ia berusaha hendak mengetahui rahasia-rahasia dan
    hukum-hukum  alam,  yang  berarti  akan  menambah  hubungannya
    dengan  Tuhan. Dan langkah kearah pengetahuan ini ialah dengan
    jalan membahas dan merenungkan segala ciptaan Tuhan  yang  ada
    dalam  alam  ini  dengan  cara  ilmiah seperti dianjurkan oleh
    Qur'an  dan  dipraktekkan  pula  sungguh-sungguh   oleh   kaum
    Muslimin  dahulu,  yaitu  seperti  cara  ilmiah yang modern di
    Barat sekarang. Hanya saja tujuannya  dalam  Islam  dan  dalam
    kebudayaan  Barat  itu  berbeda.  Dalam Islam tujuannya supaya
    manusia membuat hukum Tuhan dalam alam  ini  menjadi  hukumnya
    dan  peraturannya  sendiri, sementara di Barat tujuannya ialah
    mencari keuntungan materi dan apa yang  ada  dalam  alam  ini.
    Dalam Islam tujuan yang pertama sekali ialah 'irfan - mengenal
    Tuhan  dengan  baik,  makin   dalam   'irfan   atau   persepsi
    (pengenalan)  kita  makin  dalam  pula iman kita kepada Tuhan.
    Tujuan ini ialah hendak mencapai 'irfan yang  baik  dari  segi
    seluruh  masyarakat,  bukan  dari  segi  pribadi saja. Masalah
    integritas rohani bukan suatu masalah pribadi semata. Tak  ada
    tempat  buat  orang  mengurung  diri  sebagai suatu masyarakat
    tersendiri. Bahkan  ia  seharusnya  menjadi  dasar  kebudayaan
    untuk  masyarakat  manusia sedunia - dari ujung ke ujung. Oleh
    karena  itu  seharusnya  umat  manusia  berusaha  terus   demi
    integritas (kesempurnaan) rohani itu, yang berarti lebih besar
    daripada pengamatannya mengenai hakekat indera (sensibilia).
    
    Persepsi2 mengenai rahasia benda-benda  dan  hukum-hukum  alam
    yang  hendak  mencapai  integritas  itu  lebih  besar daripada
    persepsi sebagai alat  guna  mencapai  kekuasaan  materi  atas
    benda-benda itu.
    
    Untuk   mencapai   integritas  rohani  ini  tidak  cukup  kita
    bersandar hanya kepada logika kita saja, malah  dengan  logika
    itu  kita  harus  membukakan  jalan buat hati kita dan pikiran
    kita untuk sampai ke tingkat tertinggi. Hal ini  bisa  terjadi
    hanya   jika   manusia   mencari   pertolongan   dari   Tuhan,
    menghadapkan diri kepadaNya  dengan  sepenuh  hati  dan  jiwa.
    Hanya  kepadaNya  kita  menyembah  dan  hanya  kepadaNya  kita
    meminta pertolongan, untuk mencapai rahasia-rahasia  alam  dan
    undang-undang  kehidupan  ini.  Inilah  yang  disebut hubungan
    dengan Tuhan, mensyukuri nikmat Tuhan, supaya  bertambah  kita
    mendapat  petunjuk  akan  apa  yang  belum kita capai, seperti
    dalam firman Tuhan:
    
    "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka
    (katakan)  Aku  dekat.  Aku  mengabulkan permohonan orang yang
    bermohon -  apabila  dia  bermohon  kepadaKu.  Maka  sambutlah
    seruanKu   dan   berimanlah   kepadaKu,   kalau-kalau   mereka
    terbimbing ke jalan yang lurus." (Qur'an 2: 186)
    
    "Dan  carilah  pertolongan  Tuhan  dengan  tabah,  dan  dengan
    menjalankan  sembahyang,  dan  sembahyang  itu  memang  berat,
    kecuali  bagi  orang-orang  yang  rendah  hati-kepada   Tuhan.
    Orang-orang  yang  menyadari  bahwa mereka akan bertemu dengan
    Tuhan dan kepadaNya mereka kembali." (Qur'an 2: 45-46)
    
    Salat  ialah  suatu  bentuk  komunikasi  dengan  Tuhan  secara
    beriman  serta  meminta pertolongan kepadaNya. Dengan demikian
    yang dimaksudkan dengan salat bukanlah sekadar ruku' dan sujud
    saja,  membaca  ayat-ayat  Qu'ran  atau mengucapkan takbir dan
    ta'zim demi  kebesaran  Tuhan  tanpa  mengisi  jiwa  dan  hati
    sanubari  dengan  iman,  dengan kekudusan dan keagungan Tuhan.
    Tetapi yang dimaksudkan dengan  salat  atau  sembahyang  ialah
    arti  yang  terkandung di dalam takbir, dalam pembacaan, dalam
    ruku', sujud serta segala keagungan, kekudusan dan  iman  itu.
    Jadi  beribadat  demikian kepada Tuhan ialah suatu ibadat yang
    ikhlas - demi Tuhan Cahaya langit dan bumi.
    
    "Kebaikan itu bukanlah karena kamu menghadapkan muka  ke  arah
    timur  dan  barat,  tetapi kebaikan itu ialah orang yang sudah
    beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian, malaikat-malaikat,
    Kitab, dan para nabi serta mengeluarkan harta yang dicintainya
    itu untuk kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin
    dan   orang   terlantar  dalam  perjalanan,  orang-orang  yang
    meminta, untuk melepaskan perbudakan,  mengerjakan  sembahyang
    dan   mengeluarkan   zakat,  kemudian  orang-orang  yang  suka
    memenuhi janji bila  berjanji,  orang-orang  yang  tabah  hati
    dalam  menghadapi  penderitaan  dan  kesulitan  dan  di  waktu
    perang. Mereka itulah orang-orang yang benar  dan  mereka  itu
    orang-orang yang dapat memelihara diri." (Qur'an, 2: 177)
    
    Orang  mukmin yang benar-benar beriman ialah yang menghadapkan
    seluruh kalbunya kepada Allah  ketika  ia  sedang  sembahyang,
    disaksikan   oleh   rasa   takwa   kepadaNya,   serta  mencari
    pertolongan Tuhan  dalam  menunaikan  kewajiban  hidupnya.  Ia
    mencari  petunjuk,  memohonkan  taufik  Allah  dalam  memahami
    rahasia dan hukum alam ini.
    
    Orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah  tengah  ia
    sembahyang  akan  merasakannya  sendiri,  selalu  akan merasa,
    dirinya adalah sesuatu yang kecil berhadapan dengan  kebesaran
    Allah  Yang  Maha  Agung.  Apabila  kita dalam pesawat terbang
    diatas  ketinggian  seribu  atau  beberapa  ribu  meter,  kita
    melihat    gunung-gunung,   sungai   dan   kota-kota   sebagai
    gejala-gejala kecil di atas bumi. Kita  melihatnya  terpampang
    di  depan  mata kita seperti jalur-jalur yang tergaris di atas
    sebuah peta dan seolah permukaannya sudah  rata  mendatar  tak
    ada  gunung  atau  bangunan yang lebih tinggi, tak ada ngarai,
    sumur   atau   sungai   yang   lebih    rendah,    warna-warna
    sambung-menyambung,  saling  berkait,  tercampur, makin tinggi
    kita terbang warna-warna itu  makin  tercampur.  Seluruh  bumi
    kita ini tidak lebih dari sebuah planet kecil saja. Dalam alam
    ini terdapat ribuan tata surya dan  planet-planet.  Semua  itu
    tidak  lebih  dari  sejumlah  kecil saja dalam ketakterbatasan
    seluruh  eksistensi  ini.  Alangkah  kecilnya  kita,  alangkah
    lemahnya  kcadaan kita berhadapan dengan Pencipta dan Pengurus
    wujud ini. KebesaranNya diatas jangkauan pengertian kita!
    
    Dalam kita menghadapkan seluruh kalbu kita dengan penuh ikhlas
    kepada  Kebesaran  Tuhan  Yang  Maha  Suci,  kita mengharapkan
    pertolongan kepadaNya untuk memberikan kekuatan atas kelemahan
    diri  kita  ini,  memberi  petunjuk  dalam mencari kebenaran -
    alangkah wajarnya bila  kita  dapat  melihat  persamaan  semua
    manusia  dalam  kelemahannya itu, yang dalam berhadapan dengan
    Tuhan tak dapat ia memperkuat diri dengan harta dan  kekayaan,
    selain  dengan  imannya  yang  teguh  dan  tunduk hanya kepada
    Allah, berbuat kebaikan dan menjaga diri.
    
    Persamaan yang sesungguhnya dan sempurna ini di hadapan  Tuhan
    tidak  sama  dengan  persamaan  yang biasa disebut-sebut dalam
    kebudayaan Barat waktu-waktu belakangan ini,  yaitu  persamaan
    di  hadapan  hukum. Sudah begitu jauh kebudayaan itu memandang
    persamaan, sehingga hampir-hampir pula tidak  lagi  diakui  di
    depan  hukum.  Buat  orang-orang  tertentu sudah tidak berlaku
    lagi  untuk  menghormatinya.  Persamaan  di   hadapan   Tuhan,
    persamaan   yang   kenyataannya   dapat  kita  rasakan  dikala
    sembahyang, yang dapat kita capai dengan pandangan  kita  yang
    bebas  -  tidak  sama  dengan persamaan dalam persaingan untuk
    mencari kekayaan, persaingan yang membolehkan orang  melakukan
    segala  tipu-daya  dan bermuka-muka, kemudian orang yang lebih
    pandai mengelak dan bisa main, ia akan selamat dari  kekuasaan
    hukum.
    
    Persamaan  dihadapan Allah ini menuju kepada persaudaraan yang
    sebenarnya, sebab semua orang  dapat  merasakan  bahwa  mereka
    sebenarnya  bersaudara  dalam berihadat kepada Allah dan hanya
    kepadaNya  mereka   beribadat.   Persaudaraan   demikian   ini
    didasarkan  kepada  saling  penghargaan  yang  sehat, renungan
    serta pandangan yang bebas  seperti  dianjurkan  oleh  Qur'an.
    Adakah  kebebasan, persaudaraan dan persamaan yang lebih besar
    daripada umat ini di hadapan Allah, semua  menundukkan  kepala
    kepadaNya,  bertakbir,  ruku'  dan  bersujud.  Tiada perbedaan
    antara satu dengan yang lain - semua mengharapkan pengampunan,
    bertaubat,  mengharapkan pertolongan. Tak ada perantara antara
    mereka itu dengan Tuhan kecuali amalnya yang saleh  (perbuatan
    baik) serta perbuatan baik yang dapat dilakukannya dan menjaga
    diri dari kejahatan.  Persaudaraan  yang  demikian  ini  dapat
    membersihkan   hati  dari  segala  noda  materi  dan  menjamin
    kebahagiaan  manusia,  juga  akan  mengantarkan  mereka  dalam
    memahami  hukum Tuhan dalam kosmos ini, sesuai dengan petunjuk
    dalam cahaya Tuhan yang telah diberikan kepada mereka.
    
    Tidak semua orang sama kemampuannya dalam  melakukan  baktinya
    sebagaimana   diperintahkan   Allah.   Adakalanya  tubuh  kita
    membebani jiwa kita, sifat  materialisma  kita  dapat  menekan
    sifat  kemanusiaan  kita,  kalau  kita tidak melakukan latihan
    rohani secara tetap,  tidak  menghadapkan  kalbu  kita  kepada
    Allah  selama  dalam  salat kita; dan sudah cukup hanya dengan
    tatatertib sembahyang, seperti ruku', sujud dan bacaan-bacaan.
    Oleh  karena  itu  harus diusahakan sekuat tenaga menghentikan
    daya tubuh yang terlampau memberatkan jiwa, sifat materialisma
    yang  sangat  menekan sifat kemanusiaan. Untuk itu Islam telah
    mewajibkan  puasa  sebagai  suatu  langkah  mencapai  martabat
    kebaktian (takwa) itu seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Orang-orang  beriman!  Kepadamu  telah  diwajibkan  berpuasa,
    seperti yang sudah diwajibkan juga kepada mereka yang  sebelum
    kamu,  supaya kamu bertakwa - memelihara diri dari kejahatan."
    (Qur'an, 2: 183)
    
    Bertakwa dan berbuat baik (birr) itu sama. Yang  berbuat  baik
    orang  yang  bertakwa  dan  yang berbuat baik ialah orang yang
    beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, kitab  dan
    para nabi dan diteruskan dengan ayat yang sudah kita sebutkan.
    
                                        (bersambung ke bagian 3/6)
    
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
    
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1
    Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team

    Sejarah Hidup Muhammad

    oleh Muhammad Husain Haekal Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (3/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Kalau   tujuan   puasa   itu   supaya  tubuh  tidak  terlampau
    memberatkan  jiwa,  sifat  materialisma  kita  jangan  terlalu
    menekan  sifat  kemanusiaan kita, orang yang menahan diri dari
    waktu fajar sampai malam, kemudian sesudah  itu  hanyut  dalam
    berpuas-puas  dalam  kesenangan,  berarti ia sudah mengalihkan
    tujuan tersebut. Tanpa puasa pun hanyut dalam  memuaskan  diri
    itu  sudah  sangat  merusak,  apalagi  kalau  orang  berpuasa,
    sepanjang hari ia menahan diri dari  segala  makanan,  minuman
    dan  segala  kesenangan,  dan bilamana sudah lewat waktunya ia
    lalu menyerahkan diri kepada apa saja yang dikiranya di  waktu
    siang  ia  tak  dapat menikmatinya! Kalau begitu Tuhan jugalah
    yang menyaksikan,  bahwa  puasanya  bukan  untuk  membersihkan
    diri,  mempertinggi  sifat  kemanusiaannya,  juga  ia berpuasa
    bukan atas kehendak sendiri karena percaya,  bahwa  puasa  itu
    memberi   faedah  kedalam  rohaninya,  tapi  ia  puasa  karena
    menunaikan suatu kewajiban,  tidak  disadari  oleh  pikirannya
    sendiri  perlunya  puasa  itu.  Ia  melihatnya  sebagai  suatu
    kekangan atas kebebasannya, begitu kebebasan itu berakhir pada
    malam  harinya,  begitu  hanyut ia kedalam kesenangan, sebagai
    ganti puasa yang telah mengekangnya tadi. Orang yang melakukan
    ini  sama  seperti  orang yang tidak mau mencuri, hanya karena
    undang-undang melarang pencurian, bukan karena  jiwanya  sudah
    cukup   tinggi   untuk   tidak  melakukan  perbuatan  itu  dan
    mencegahnya atas kemauan sendiri pula.
    
    Sebenarnya  tanggapan  orang  mengenai  puasa  sebagai   suatu
    tekanan  atau pencegahan dan pembatasan atas kebebasan manusia
    adalah suatu tanggapan yang salah  samasekali,  yang  akhirnya
    akan menempatkan fungsi puasa tidak punya arti dan tidak punya
    tempat lagi. Puasa yang sebenarnya  ialah  membersihkan  jiwa.
    Orang  berpuasa  diharuskan oleh pikiran kita yang timbul atas
    kehendak  sendiri,  supaya  kebebasan  kemauan  dan  kebebasan
    berpikirnya  dapat  diperoleh kembali. Apabila kedua kebebasan
    ini  sudah  diperolehnya  kembali,  ia  dapat  mengangkat   ke
    martabat   yang  lebih  tinggi,  setingkat  dengan  iman  yang
    sebenarnya kepada Allah. Inilah yang  dimaksud  dengan  firman
    Tuhan  -  setelah  menyebutkan  bahwa  puasa  telah diwajibkan
    kepada  orang-orang  beriman  seperti  sudah  diwajibkan  juga
    kepada orang-orang yang sebelum mereka:
    
    "Beberapa  hari  sudah ditentukan. Tetapi barangsiapa diantara
    kamu ada yang sakit atau sedang dalam perjalanan,  maka  dapat
    diperhitungkan  pada kesempatan lain. Dan buat orangorang yang
    sangat berat menjalankannya,  hendaknya  ia  membayar  fid-yah
    dengan memberi makan kepada orang rniskin, dan barangsiapa mau
    mengerjakan kebaikan atas kemauan sendiri, itu lebih baik buat
    dia;  dan  bila kamu berpuasa, itu lebih baik buat kamu, kalau
    kamu mengerti." (Qur'an, 2: 184)
    
    Seolah tampak aneh apa yang saya  katakan  itu,  bahwa  dengan
    puasa  kita  dapat  memperoleh  kembali  kebebasan kemauan dan
    kebebasan berpikir kalau  yang  kita  maksudkan  dengan  puasa
    dengan  segala  apa yang baik itu untuk kehidupan rohani kita.
    Ini memang tampak aneh,  karena  dalam  bayangan  kita  bentuk
    kebebasan  ini  telah  dirusak  oleh  pikiran modern, bilamana
    batas-batas  rohani  dan  mental  itu  dihancurkan,   kemudian
    batas-batas  kebendaannya  dipertahankan,  yang  oleh  seorang
    prajurit  dapat  dilaksanakan  dengan  pedang   undang-undang.
    Menurut  pikiran  modern,  manusia  tidak  bebas  dalam hal ia
    melanda harta atau pribadi orang lain. Akan  tetapi  ia  bebas
    terhadap  dirinya  sendiri  sekalipun  hal ini sudah melampaui
    batas-batas segala yang dapat diterima  akal  atau  dibenarkan
    oleh  kaidah-kaidah  moral. Sedang kenyataan dalam hidup bukan
    yang demikian. Kenyataannya ialah manusia budak  kebiasaannya.
    Ia  sudah  biasa makan di waktu pagi; waktu tengah hari, waktu
    sore. Kalau dikatakan kepadanya: makan pagi dan sore  sajalah,
    maka ini akan dianggapnya suatu pelanggaran atas kebebasannya.
    Padahal itu adalah pelanggaran atas  perbudakan  kebiasaannya,
    kalau  benar  ungkapan  demikian  ini.  Orang yang sudah biasa
    merokok sampai kebatas ia diperbudak oleh kebiasaan merokoknya
    itu, lalu dikatakan kepadanya: sehari ini kamu jangan merokok,
    maka ini  dianggapnya  suatu  pelanggaran  atas  kebebasannya.
    Padahal  sebenarnya  itu  tidak  lebih adalah pelanggaran atas
    perbudakan kebiasaannya. Ada lagi orang yang sudah biasa minum
    kopi  atau  teh  atau  minuman lain apa saja dalam waktu-waktu
    tertentu lalu dikatakan kepadanya:  gantilah  waktu-waktu  itu
    dengan  waktu  yang  lain,  maka  pelanggaran  atas perbudakan
    kebiasaannya  itu   dianggapnya   sebagai   pelanggaran   atas
    kebebasannya.  Budak  kebiasaan  serupa  ini  merusak kemauan,
    merusak arti yang sebenarnya dari  kebebasan  dalam  bentuknya
    yang sesungguhnya.
    
    Disamping  itu,  ini  juga  merusak cara berpikir sehat, sebab
    dengan demikian berarti ia  telah  ditunjukkan  oleh  pengaruh
    hajat jasmani dari segi kebendaannya, yang sudah dibentuk oleh
    kebiasaan  itu.  Oleh  karena  itu  banyak  orang  yang  telah
    melakukan  puasa  dengan cara yang bermacam-macam, yang secara
    tekun dilakukannya dalam waktu-waktu  tertentu  setiap  minggu
    atau  setiap  bulan. Tetapi Tuhan menghendaki yang lebih mudah
    buat manusia dengan diwajibkan kepada mereka  berpuasa  selama
    beberapa  hari  yang  sudah  ditentukan, supaya dalam pada itu
    semua sama, dengan diberikan pula kesempatan  fid-yah.  Mereka
    masing-masing yang telah dibebaskan karena dalam keadaan sakit
    atau sedang dalam perjalanan dapat mengganti puasanya itu pada
    kesempatan lain.
    
    Kewajiban  berpuasa  selama  hari-hari  yang  sudah ditentukan
    untuk memperkuat arti persaudaraan dan  persamaan  di  hadapan
    Tuhan,  sungguh  suatu  latihan  rohani  yang luarbiasa. Semua
    orang, selama menahan  diri  sejak  fajar  hingga  malam  hari
    mereka  telah melaksanakan persamaan itu antara sesama mereka,
    sama  halnya   seperti   dalam   sembahyang   jamaah.   Dengan
    persaudaraan demikian selama itu mereka merasakan adanya suatu
    perasaan yang mengurangi rasa kelebihan mereka dalam  mengecap
    kenikmatan  rejeki  yang  diberikan  Tuhan  kepadanya.  Dengan
    demikian puasa berarti memperkuat arti kebebasan, persaudaraan
    dan   persamaan  dalam  jiwa  manusia  seperti  halnya  dengan
    sembahyang.
    
    Kalau kita menyambut puasa dengan kemauan sendiri dengan penuh
    kesadaran bahwa perintah Tuhan tak mungkin bertentangan dengan
    cara-cara berpikir  yang  sehat,  yang  telah  dapat  memahami
    tujuan  hidup dalam bentuknya yang paling tinggi, tahulah kita
    arti puasa yang dapat membebaskan kita  dari  budak  kebiasaan
    itu,  yang  juga  sebagai latihan dalam menghadapi kemauan dan
    arti kebebasan kita sendiri.  Disamping  itu  kita  pun  sudah
    diingatkan,  bahwa  apa yang telah ditentukan manusia terhadap
    dirinya sendiri - dengan kehendak Tuhan - mengenai batas-batas
    rohani   dan   mentalnya   sehubungan  dengan  kebebasan  yang
    dimilikinya untuk melepaskan diri dari beberapa kebiasaan  dan
    nafsunya,  ialah cara yang paling baik untuk mencapai martabat
    iman yang paling tinggi itu. Apabila taklid dalam  iman  belum
    dapat disebut iman, melainkan baru Islam yang tanpa iman, maka
    taklid dalam puasa juga belum dapat disebut puasa. Oleh karena
    itu  orang  yang  bertaklid menganggap puasanya suatu kekangan
    dan  membatasi  kebebasannya  -  sebaliknya   daripada   dapat
    memahami   arti   pembebasan  dari  belenggu  kebiasaan  serta
    konsumsi rohani dan mental yang sangat besar itu.
    
    Apabila dengan jalan latihan rohani ini manusia  telah  sampai
    kepada arti hukum dan rahasia-rahasia alam dan mengetahui pula
    dimana tempatnya dan tempat anak manusia ini, cintanya  kepada
    sesama  anak  manusia  akan  lebih  besar lagi, dan semua anak
    manusia  saling  cinta  dalam  Tuhan.   Mereka   akan   saling
    tolong-menolong  untuk  kebaikan dan rasa takwa - menjaga diri
    dari kejahatan. Yang kuat  mengasihi  yang  lemah,  yang  kaya
    mengulurkan  tangan kepada yang tidak punya. Ini adalah zakat,
    dan selebihnya sedekah. Dalam sekian banyak ayat Qur'an selalu
    mengaitkan  zakat  dengan  salat.  Kita  sudah  membaca firman
    Tuhan:
    
    "Tetapi kebaikan itu ialah orang  yang  sudah  beriman  kepada
    Allah,  kepada  hari  kemudian, malaikat, Kitab dan para nabi;
    mengeluarkan    harta    yang    dicintainya    itu     kepada
    kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang
    yang melepaskan perbudakan, mengerjakan salat dan mengeluarkan
    zakat." (Qur'an, 2: 177)
    
    "Kamu  kerjakanlah  sembahyang  dan keluarkan pula zakat serta
    tundukkan kepala (ruku') bersama orang-orang yang  menundukkan
    kepala." (Qur'an, 2: 43)
    
    "Beruntunglah  orang-orang  yang  sudah  beriman.  Mereka yang
    dengan khusyu' mengerjakan sembahyang. Mereka yang  menjauhkan
    diri  dan  percakapan  yang  tiada  berguna.  Dan  mereka yang
    mengeluarkan zakat." (Qur'an, 23: 1-4)
    
    Ayat-ayat  yang  mengaitkan  zakat  dengan  salat  itu  banyak
    sekali.
    
    Apa  yang  disebutkan  dalam  Qur'an tentang zakat dan sedekah
    cukup menyeluruh dan kuat sekali.  Dalam  melakukan  perbuatan
    baik,  sedekah  itu  terletak  pada tempat pertama, orang yang
    melakukannya akan mendapat pahala yang amat  sempurna.  Bahkan
    ia  terletak disamping iman kepada Allah, sehingga kita merasa
    seolah itu sudah hampir sebanding. Tuhan berfirman:
    
    "Tangkaplah orang itu dan belenggukanlah.  Kemudian  campakkan
    kedalam  api  menyala. Sesudah itu belitkan dengan rantai yang
    panjangnya tujuhpuluh hasta. Dahulu ia sungguh  tidak  beriman
    kepada  Allah  Yang  Maha  Besar.  Juga  tidak mendorong orang
    memberi makan orang miskin." (Qur'an, 69: 30-34)
    
    "... Dan sampaikan berita gembira kepada mereka  yang    taat.
    Yaitu  mereka,  yang  apabila  disebutkan  nama  Tuhan hatinya
    merasa takut  karena  taatnya,  dan  mereka  yang  tabah  hati
    terhadap apa yang menimpa mereka serta mereka yang mengerjakan
    salat dan menafkahkan sebagian  rejeki  yang  diberikan  Tuhan
    kepada mereka."' (Qur'an, 22: 34-35)
    
    "Mereka  yang  menafkahkan hartanya - baik di waktu malam atau
    di waktu siang, dengan sembunyi atau  terang-terangan,  mereka
    akan mendapat pahala dari Tuhan. Tidak usah mereka takut, juga
    jangan bersedih hati" (Qur'an, 2: 274)
    
    Qur'an tidak hanya menyebutkan masalah-masalah  sedekah  serta
    pahalanya  yang  akan diberikan Tuhan yang sama seperti pahala
    orang beriman dan mengerjakan sembahyang, bahkan adab  sedekah
    itu telah dilembagakan pula dengan suatu tatacara yang sungguh
    baik sekali.
    
    "Bilamana kamu memperlihatkan sedekah  itu,  itu  memang  baik
    sekali. Tetapi kalau pun kamu sembunyikan memberikannya kepada
    orang fakir, maka itu pun lebih baik lagi buat kamu." (Qur'an,
    2: 271)
    
    "Perkataan  yang  baik  dan pemberian maaf lebih baik daripada
    sedekah yang disertai hal-hal  yang  tidak  menyenangkan  hati
    Allah  Maha  Kaya  dan  Maha  Penyantun.  Orang-orang beriman,
    janganlah   kamu   hapuskan   nilai   sedekahmu   itu   dengan
    menyebut-nyebutnya  dan  menyakiti  hati  orang."  (Qur'an, 2:
    263-264)
    
    Firman Tuhan  itu  memberikan  pula  penjelasan  kepada  siapa
    sedekah itu harus diberikan:
    
    Sedekah  itu  hanyalah  untuk  orang-orang  fakir, orang-orang
    miskin, pengurus  zakat,  orang-orang  yang  perlu  dilunakkan
    hatinya,   untuk   melepaskan   perbudakan,  orang-orang  yang
    dibebani utang, untuk jalan Allah dan mereka yang sedang dalam
    perjalanan. Inilah yang telah diwajibkan oleh Allah, dan Allah
    Maha Mengetahui dan Bijaksana." (Qur'an, 9: 60)
    
    Zakat dan  sedekah  itu  salah  satu  kewajiban  dalam  Islam,
    termasuk  salah  satu rukun Islam. Tetapi apakah kewajiban ini
    termasuk  ibadat,  ataukah  masuk  bagian  akhlak?  Tentu  ini
    termasuk  ibadat.  Semua  orang  beriman  bersaudara, dan iman
    seseorang belum lagi sempurna sebelum ia mencintai  saudaranya
    seperti  mencintai  dirinya sendiri. Dengan berpegang pada Nur
    Ilahi  antara  sesama  mereka,  orang-orang   beriman   saling
    cinta-mencintai.  Kewajiban  zakat  dan  sedekah  terikat oleh
    persaudaraan ini, bukan oleh akhlak dan disiplinnya serta oleh
    hubungan  antar-manusia  dengan  segala tata-tertibnya. Segala
    yang terikat oleh persaudaraan, terikat juga oleh iman  kepada
    Allah,  dan  segala  yang terikat oleh iman kepada Allah ialah
    ibadah. Itu sebabnya maka zakat menjadi salah satu rukun Islam
    yang  lima,  dan  karena  itu pula setelah Nabi wafat Abu Bakr
    menuntut  supaya   Muslimin   menunaikan   zakatnya.   Setelah
    dilihatnya  ada sebagian orang yang mau membangkang, Pengganti
    Muhammad itu melihat pembangkangan ini sebagai suatu kelemahan
    dalam  iman  mereka;  mereka lebih mengutamakan harta daripada
    iman, mereka hendak meninggalkan disiplin  rohani  yang  telah
    ditentukan   Qur'an   itu.   Dengan   demikian  ini  merupakan
    kemurtadan dari Islam. Karena 'perang ridda' itu  jugalah  Abu
    Bakr   berhasil   mengukuhkan   kembali   sejarah   Islam  itu
    selengkapnya, dan  yang  tetap  menjadi  kebanggaan  sepanjang
    sejarah.
    
    Dengan   fungsi  zakat  dan  sedekah  sebagai  kewajiban  yang
    bertalian  dengan  iman  dalam  disiplin  rohanl  ia  dianggap
    sebagai  salah  satu  unsur  yang  harus  membentuk kebudayaan
    dunia. Inilah hikmah yang paling tinggi yang akan mengantarkan
    manusia  mencapai kebahagiaannya. Harta dan segala keserakahan
    orang   memupuk-mupuk   harta   merupakan   sebab    timbulnya
    superioritas  (rasa  keunggulan)  seorang  kepada  yang  lain.
    Sampai sekarang ia masih merupakan sebab timbulnya penderitaan
    dunia  ini  dan  sumber  pemberontakan  dan peperangan selalu.
    Sampai sekarang mammonisma - penyembahan harta -  masih  tetap
    merupakan  sebab timbulnya dekadensi moral yang selalu menimpa
    dunia  dan  dunia  tetap  bergelimang  dibawah  bencana   itu.
    Memupuk-mupuk  harta  dan  keserakahan  akan harta itulah yang
    telah  menghilangkan  rasa  persaudaraan  umat  manusia,   dan
    membuat  manusia  satu  sama lain saling bermusuhan. Sekiranya
    pandangan mereka itu lebih sehat  dengan  pikiran  yang  lebih
    luhur,  tentu  akan  mereka lihat bahwa persaudaraan itu lebih
    kuat  menanamkan  kebahagiaan  daripada  harta,  mereka   akan
    melihat  juga  bahwa  memberikan harta kepada yang membutuhkan
    akan lebih terhormat pada  Tuhan  dan  pada  manusia  daripada
    orang  harus tunduk kepada harta itu. Kalau benar-benar mereka
    beriman kepada Allah tentu mereka akan saling bersaudara,  dan
    manifestasi  persaudaraan  ini  ialah pertolongan kepada orang
    yang   sedang   dalam   penderitaan,   membantu   orang   yang
    membutuhkannya  dan  dapat  pula  menghapuskan kemiskinan yang
    akan menjerumuskan manusia kedalam penderitaan itu.
    
                                        (bersambung ke bagian 4/6)
    
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
    
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1
    Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | P

    Sejarah Hidup Muhammad

    oleh Muhammad Husain Haekal Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

    Sejarah Hidup Muhammad

    oleh Muhammad Husain Haekal Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (4/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Apabila negara-negara yang  sudah  tinggi  kebudayaannya  pada
    zaman   kita   sekarang   ini  mendirikan  rumah-rumah  sakit,
    lembaga-lembaga sosial dan amal untuk  menolong  fakir-miskin,
    atas  nama  kasih  sayang  dan  kemanusiaan, maka didirikannya
    lembaga-lembaga itu karena  didorong  oleh  rasa  persaudaraan
    serta  rasa  cinta  dan  syukur  kepada Allah atas nikmat yang
    diterimanya, sungguh ini suatu pikiran yang lebih  tinggi  dan
    lebih   tepat   memberikan  kebahagiaan  kepada  seluruh  umat
    manusia, seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Dengan  kenikmatan  yang  telah  diberikan  Allah   kepadamu,
    carilah  kebahagiaan  akhirat,  tapi jangan kaulupakan nasibmu
    dalam dunia  ini.  Berbuatlah  kebaikan  (kepada  orang  lain)
    seperti  Tuhan  telah  berbuat  kebaikan  kepadamu, dan jangan
    engkau berbuat bencana di muka bumi ini. Allah  sungguh  tidak
    mencintai orang-orang yang berbuat bencana." (Qur'an, 28: 77)
    
    Persaudaraan  insani ini akan menambah rasa cinta manusia satu
    sama  lain.  Dalam  Islam,  rasa  cinta  demikian  ini   tidak
    seharusnya  akan terhenti pada batas-batas tanah air tertentu,
    atau hanya terbatas pada salah  satu  benua.  Yang  seharusnya
    bahkan tidak boleh mengenal batas samasekali.
    
    Oleh  karena  itu,  dari  seluruh  pelosok  bumi manusia harus
    saling mengenal, supaya satu sama  lain  dapat  menambah  rasa
    cinta  kepada  Allah,  dan  rasa cinta ini akan menambah tebal
    iman mereka kepada Allah.  Untuk  mencapai  itu  manusia  dari
    segenap  penjuru  bumi  harus  berkumpul dalam satu irama yang
    sama, tanpa diskriminasi, dan tempat  berkumpul  yang  terbaik
    untuk  itu  ialah  di tempat memancarnya cinta ini. Dan tempat
    itu ialah Baitullah di Mekah, dan inilah yang  disebut  ibadah
    haji.  Orang-orang  beriman  tatkala berkumpul disana, tatkala
    mereka melaksanakan segala upacara, mereka menempuh cara hidup
    yang luhur sebagai teladan iman kepada Allah, dengan niat yang
    ikhlas menghadapkan diri kepadaNya.
    
    "Musim  haji  itu  ialah  dalam  beberapa  bulan  yang   sudah
    ditentukan.   Barangsiapa   sudah   membulatkan   niat  selama
    bulan-bulan itu hendak  menunaikan  ibadah  haji,  maka  tidak
    boleh   ada   suatu  percakapan  kotor,  perbuatan  jahat  dan
    berbantah-bantahan  selama  dalam  mengerjakan  haji.   Segala
    perbuatan baik yang kamu lakukan, Tuhan mengetahuinya. Bawalah
    perbekalanmu, dan perbekalan yang paling  baik  ialah  menjaga
    diri  dari  perbuatan  hina.  Patuhilah Aku, wahai orang-orang
    yang berpikiran sehat." (Qur'an. 2: 197)
    
    Di  dataran  tinggi  ini,  di   tempat   orang-orang   beriman
    menunaikan  ibadah  haji untuk saling berkenalan, untuk saling
    mempererat tali persaudaraan, dan tali persaudaraan  ini  akan
    lebih  memperkuat  iman  di  tempat ini - segala perbedaan dan
    diskriminasi yang bagaimanapun di kalangan orang-orang beriman
    itu  harus  hilang. Mereka harus merasa, bahwa dihadapan Tuhan
    mereka itu sama. Mereka menghadapkan seluruh hati  sanubarinya
    untuk  mernenuhi  panggilan  Tuhan,  benar-benar  beriman akan
    keesaanNya, bersyukur akan nikrnat  yang  telah  diberikanNya.
    Rasanya  tak  ada  kenikmatan yang lebih besar daripada nikmat
    iman  akan  keagungan  Tuhan,   sumber   segala   kebahagiaan.
    Dihadapan  cahaya  iman  serupa ini, segala angan-angan kosong
    tentang hidup akan sirna, segala  kebanggaan  dan  kecongkakan
    karena  harta,  karena turunan, karena kedudukan dan kekuasaan
    akan lenyap. Dan karena cahaya iman  itu  juga,  maka  manusia
    akan  dapat  menyadari  arti kebenaran, kebaikan dan keindahan
    yang ada dalam dunia ini, akan  dapat  memahami  undang-undang
    Tuhan  yang  abadi, dalam semesta alam ini, yang takkan pernah
    berubah dan berganti. Suatu pertemuan umum yang luas ini telah
    dapat melaksanakan arti persaudaraan dan persamaan semua orang
    beriman dalam bentuknya yang paling luas, luhur dan bersih.
    
    Inilah ketentuan-ketentuan dan  kaidah-kaidah  Islam  seperti
    yang  diwahyukan  kepada Muhammad 'alaihissalam. Ini terrnasuk
    prinsip-prinsip iman seperti sudah kita lihat dalam  ayat-ayat
    yang  kita  kutip  tadi, dan sebagai prinsip-prinsip kehidupan
    rohani Islam. Sesudah semua kita lihat, akan mudah sekal  kita
    menilai,  norrna-norma etika apa yang harus kita terapkan atas
    dasar itu. Norma-norma ini memang sungguh luhur  sekali,  yang
    memang  belum  ada tandingannya dalam kebudayaan mana pun atau
    dalam zaman apa pun.  Apa  yang  akan  membawa  manusia  untuk
    mencapai  kesempurnaannya  bila  saja  ia  dapat  melatih diri
    sebagaimana mestinya,  oleh  Qur'an  sudah  dirumuskan,  bukan
    hanya  dalam  satu  surah  saja  hal  ini  disebutkan,  bahkan
    disana-sini juga disebut. Begitu salah satu surah  kita  baca,
    kita  sudah  dibawa  ke  puncak  yang lebih tinggi, yang belum
    dicapai oleh suatu kebudayaan sebelum itu, juga tidak  mungkin
    akan   dicapai   oleh   kebudayaan  yang  sesudah  itu.  Untuk
    mengetahui betapa agungnya  klimaks  yang  telah  dicapai  itu
    cukup  kita lihat misalnya adat sopan santun atas dasar rohani
    ini yang bersumberkan  keimanan  kepada  Allah  serta  latihan
    mental  dan hati kita atas dasar tersebut, tanpa orang melihat
    akan mencari keuntungan materi di balik sernua itu.
    
    Dalam berbagai zaman dan bangsa, penulis-penulis sudah  sering
    sekali  melukiskan  gambar  Manusia  Sempurna - atau Superman.
    Penyair-penyair,    para    pengarang,    filsuf-filsuf    dan
    penulis-penulis  drama, sejak zaman dahulu mereka sudah pernah
    melukiskan gambaran  ini,  dan  sampai  sekarang  masih  terus
    melukiskan.  Tetapi sungguhpun demikian, tidak akan ada sebuah
    gambaran manusia sempurna yang dilukiskan begitu cemerlang dan
    unik  seperti  disebutkan dalam rangkaian Surah al-Isra' (17).
    Ini baru sebagian saja hikmah  yang  diwahyukan  Allah  kepada
    Rasul,  bukan  dimaksudkan  untuk  melukiskan Manusia Sempurna
    melainkan  untuk   mengingatkan   manusia   tentang   beberapa
    kewajiban. Dalam hal ini firman Allah:
    
    "Dan  Tuhanmu sudah memerintahkan, jangan ada yang kamu sembah
    selain Dia dan supaya berbuat baik kepada ibu-bapa. Jika salah
    seorang  dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
    dalam pemeliharaanmu, janganlah  kamu  mengucapkan  kata  "ah"
    kepada  mereka  dan  jangan  pula  kamu membentak mereka, tapi
    ucapkanlah dengan kata-kata yang mulia kepada mereka (93). Dan
    rendahkanlah harimu dengan penuh kesayangan kepada mereka, dan
    doakan:  'Ya  Allah,  beri  rahmatlah  kepada  mereka  berdua,
    seperti kasih-sayang mereka mendidikku sewaktu aku kecil' (24)
    Tuhan kamu lebih mengetahui apa yang ada dalam  hatimu.  Kalau
    kamu  orang-orang  yang  berguna.  Dia  Maha  Pengampun kepada
    mereka yang mau bertaubat  (25).  Berikanlah  kepada  keluarga
    yang  dekat  itu  bagiannya,  begitu  juga  kepada orang-orang
    miskin  dan  orang  dalam  perjalanan.  Tetapi   jangan   kamu
    hambur-hamburkan  secara  boros  (26).  Pemboros-pemboros  itu
    sungguh golongan setan, sedang  setan  sungguh  ingkar  kepada
    Tuhan  (27). Dan jika kamu berpaling dari mereka karena hendak
    mencari  kurnia  Tuhan  yang  kauharapkan,  katakanlah  kepada
    mereka   dengan  kata-kata  yang  lemah  lembut  (28).  Jangan
    kaujadikan tanganmu terbelenggu  ke  kuduk,  dan  jangan  pula
    engkau   terlalu  mengulurkannya,  supaya  engkau  tidak  jadi
    tercela dan  menyesal  (29).  Sesungguhnya  Tuhan  melimpahkan
    rejeki  kepada  siapa  saja dan menentukan ukurannya. Dia Maha
    mengetahui akan hamba-hambaNya (30). Dan jangan kamu membunuhi
    anak-anakmu  karena takut kemiskinan. Kami yang memberi rejeki
    mereka,  juga  rejeki  kamu:  sebab  membunuh   mereka   suatu
    kesalahan  besar  (31).  Janganlah  kamu mendekati perjinahan,
    sebab perbuatan itu sungguh keji, dan cara yang  sangat  buruk
    (32).  Janganlah  kamu  menghilangkan  nyawa  orang yang sudah
    dilarang Tuhan, kecuali atas dasar yang benar. Dan barangsiapa
    dibunuh  tidak  pada tempatnya, maka kepada penggantinya telah
    kami berikan kekuasaan; tetapi janganlah dia  membunuh  dengan
    melanggar   batas  karena  dia  pun  (yang  dibunuh)  mendapat
    pertolongan (33). Harta anak yatim jangan kamu dekati, kecuali
    dengan  cara  yang  baik  sekali  -  sampai  dia  dewasa.  Dan
    penuhilah  janji   itu,   sebab   setiap   janji   menghendaki
    tanggungjawab  (34).  Jagalah  sukatanmu  bila  kamu  menakar,
    penuhilah dan timbanglah dengan timbangan yang  jujur.  Itulah
    cara  yang  baik dan akan lebih baik sekali kesudahannya (35).
    Dan  janganlah  engkau   mencampuri   persoalan   yang   tidak
    kauketahui; sebab segala pendengaran, penglihatan dan isi hati
    orang, semua itu akan dimintai pertanggunganjawaban (36). Juga
    janganlah  engkau  berjalan di muka bumi dengan congkak, sebab
    engkau tidak akan dapat menembus bumi  ini,  juga  tidak  akan
    sampai  setinggi  gunung  (37). Semua itu suatu kejahatan yang
    dalam pandangan Tuhan sangat buruk sekali." (38) (Qur'an,  17:
    23 - 38)
    
    Sungguh  ini  suatu  budi pekerti yang luhur, suatu integritas
    moral yang sempurna sekali! Setiap ayat yang tersebut ini akan
    membuat    pembaca   jadi   tertegun   membacanya,   ia   akan
    mengagungkannya  melihat  susunan  yang  begitu  kuat,  begitu
    indah,  dengan  daya  tarik  kata-katanya, artinya yang sangat
    luhur serta cara  melukiskannya  yang  sudah  merupakan  suatu
    mujizat.3  Sayang  sekali  disini  tempatnya tidak mengijinkan
    kita  menyatakan  rasa  kekaguman  itu!  Ya,  bagaimana   akan
    mungkin,  sedang untuk membicarakan keenam belas ayat itu saja
    seharusnya diperlukan sebuah buku tersendiri yang cukup besar!
    
    Kalau kita mau membawakan satu segi saja dari budi-pekerti dan
    pendidikan   akhlak   yang  terdapat  dalam  Qur'an,  tentunya
    bidangnya akan luas sekali, yang tidak mungkin dapat ditampung
    dalam  penutup  buku  ini.  Cukup kiranya kalau kita sebutkan,
    bahwa  tidak  ada  sebuah  buku  pun  yang  pernah  memberikan
    dorongan  begitu besar kepada orang supaya melakukan kebaikan,
    seperti yang diberikan oleh Qur'an itu. Tidak  ada  buku  yang
    begitu   agung   mengangkat   martabat  manusia  seperti  yang
    diperlihatkan Qur'an. Juga yang bicara tentang perbuatan  baik
    dan   kasih-sayang,   tentang  persaudaraan  dan  cinta-kasih,
    tentang tolong-menolong dan keserasian,  tentang  kedermawanan
    dan  kemurahan  hati, tentang kesetiaan dan menunaikan amanat,
    tentang kehersihan dan  ketulusan  hati,  keadilan  dan  sifat
    pemaat,  kesabaran,  ketabahan,  kerendahan  hati dan dorongan
    melakukan  perbuatan   terhormat,   berbakti   dan   mencegah
    melakukan  perbuatan  jahat,  dengan i'jaz4 (mujizat) yang tak
    ada taranya dalam menyajikan   seperti yang  dikemukakan  oleh
    Qur'an  itu.  Tak  ada buku melarang sikap lemah dan pengecut,
    sifat egoisma dan dengki, kebencian  dan  kezaliman,  berdusta
    dan   mengumpat,  pemborosan,  kekikiran,  tuduhan  palsu  dan
    perkataan   buruk,   permusuhan,   perusakan,   tipu-muslihat,
    pengkhianatan  dan segala sifat dan perbuatan hina dan mungkar
    - seperti yang  dilarang  oleh  Qur'an,  dengan  begitu  kuat,
    meyakinkan,  dengan  i'jaz  (mujizat),  yang  diturunkan dalam
    wahyu kepada Nabi berbangsa Arab itu. Tiada sebuah  surah  pun
    yang kita baca, yang tidak akan memberi anjuran yang mendorong
    kita melakukan perbuatan baik, menganjurkan kita berbakti  dan
    mencegah  kita  melakukan perbuatan jahat. Dianjurkannya orang
    mencapai kesempurnaan yang akan membawa kepada kehidupan harga
    diri   dan  budipekerti  yang  luhur.  Kita  dengarkan  Qur'an
    mengenai toleransi:
    
    "Tangkislah kejahatan itu  dengan  cara  yang  sebaik-baiknya.
    Kami mengetahui apa yang mereka sebutkan." (Qur'an, 23: 96)
    
    "Kebaikan dan kejahatan itu tidak sama. Tangkislah (kejahatan)
    itu dengan  cara  yang  sebaik-baiknya,  sehingga  orang  yang
    tadinya  bermusuhan  dengan  engkau, akan menjadi sahabat yang
    akrab sekali." (Qur'an, 41: 34)
    
    Tetapi toleransi yang dianjurkan Qur'an  ini  tidak  mendorong
    orang bersikap lemah, melainkan menyuruh orang supaya berwatak
    terhormat  (nobility  of  character),  selalu  berlumba  untuk
    kebaikan dan menjauhkan diri dari segala kehinaan:
    
    "Apabila   ada  orang  memberi  salam  penghormatan  kepadamu,
    balaslah dengan cara yang lebih baik, atau  (setidak-tidaknya)
    dengan yang serupa." (Qur'an, 4: 86)
    
    "Dan  kalau  kamu  mengadakan  (pukulan)  pembalasan, balaslah
    seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi  kalau  kamu
    tabah  hati,  itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati
    tabah (sabar)." (Qur'an, 16: 126)
    
    Dan ini jelas sekali,  bahwa  toleransi  yang  dianjurkan  itu
    ialah   dalam   arti  yang  terhormat,  tanpa  bersikap  lemah
    samasekali, melainkan sepenuhnya  sikap  yang  disertai  harga
    diri.
    
    Toleransi   yang  dianjurkan  oleh  Qur'an  dengan  cara  yang
    terhormat ini dasarnya ialah  persaudaraan,  yang  oleh  Islam
    dijadikan  tiang  kebudayaan,  dan  yang dimaksud pula menjadi
    persaudaraan   antar-manusia   di   seluruh    jagat.    Corak
    persaudaraan  Islam ini ialah yang terjalin dalam keadilan dan
    kasih-sayang   tanpa   suatu   sikap   lemah   dan   menyerah.
    Persaudaraan  atas  dasar  persamaan dalam hak, dalam kebaikan
    dan kebenaran tanpa  terpengaruh  oleh  untung-rugi  kehidupan
    duniawi,  sekalipun  mereka dalam kekurangan. Mereka ini lebih
    takut kepada Allah  daripada  kepada  yang  lain.  Mereka  ini
    orang-orang  yang  punya  harga diri. Sungguhpun begitu mereka
    sangat rendah hati. Mereka orang-orang yang  dapat  dipercaya,
    yang  menepati  janji  bila  mereka berjanji, orang-orang yang
    sabar dan  tabah  dalam  menghadapi  kesulitan,  yang  apabila
    mendapat  musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi
    rajiun  -  'Kami  kepunyaan  Allah  dan  kepadaNya  juga  kami
    kembali.' Tak ada yang membuang muka dan berjalan di muka bumi
    dengan sikap  congkak.  Tuhan  menjauhkan  mereka  dari  sifat
    serakah  dan  kikir,  tiada  berkata dusta, terhadap Tuhan dan
    kepada sesamanya. Mereka tidak mau menyebarkan perbuatan  keji
    di  kalangan  orang-orang beriman, mereka menjauhkan diri dari
    segala dosa besar dan perbuatan-perbuatan  keji,  dan  apabila
    mereka marah, mereka segera meminta maaf. Mereka dapat menahan
    amarah dan dapat pula memaafkan orang  lain.  Sedapat  mungkin
    mereka   menghindarkan  prasangka,  mereka  tidak  mau  saling
    memata-matai atau saling  menggunjing  dari  belakang.  Mereka
    tidak  boleh  memakan  harta  sesamanya dengan cara yang tidak
    sah, lalu akan membawa perkara itu kepada hakim, supaya mereka
    dapat  memakan  harta  orang  lain  dengan cara dosa itu. Jiwa
    mereka dibersihkan  dari  segala  sifat  dengki,  tipu-menipu,
    cakap kosong dan segala perbuatan yang rendah.
    
    Ciri-ciri   khas   watak   dan  etika  yang  menjadi  landasan
    budi-pekerti dan pendidikan akhlak  yang  murni  itu  dasarnya
    ialah  -  seperti  yang  sudah kita sebutkan - disiplin rohani
    seperti yang ditentukan oleh Qur'an dan  yang  bertalian  pula
    dengan  iman  kepada  Allah. Inilah soal yang pokok sekali dan
    ini pula yang akan menjamin adanya  sistem  moral  dalam  jiwa
    orang  dengan  tetap bersih dari segala noda, jauh dari segala
    penyusupan yang mungkin  akan  merusak.  Moral  yang  dasarnya
    memperhitungkan  untung-rugi  segera akan diperbesar selama ia
    yakin  bahwa  kelemahan  demikian  itu  tidak  akan  menggangu
    keuntungannya.   Orang  yang  dasar  moralnya  memperhitungkan
    untung-rugi demikian ini sikap luarnya akan berbeda dengan isi
    hati.  Keadaannya  yang disembunyikan akan berbeda dengan yang
    diperlihatkan kepada orang. Ia berpura-pura jujur, tapi  tidak
    akan  segan-segan ia menjadikan itu hanya sebagai tameng untuk
    memancing keuntungan. Ia berpura-pura benar, tapi  tidak  akan
    segan-segan  ia  meninggalkannya kalau dengan meninggalkan itu
    ia akan mendapat keuntungan. Orang yang pertimbangan  moralnya
    demikian  ini dalam menghadapi godaan mudah sekali jadi lemah,
    mudah sekali terbawa arus nafsu dan tujuan-tujuan tertentu!
    
    Kelemahan ini ialah gejala yang  jelas  terlihat  dalam  dunia
    kita  sekarang.  Sudah  sering  sekali  orang mendengar adanya
    perbuatan-perbuatan  skandal  dan  korupsi  dimana-mana  dalam
    dunia yang sudah beradab ini. Sebabnya ialah karena kelemahan,
    orang lebih  mencintai  harta  dan  kedudukan  atau  kekuasaan
    daripada  nilai  moral  yang  tinggi dan iman yang sebenarnya.
    Tidak sedikit mereka terjerumus masuk ke dalam jurang  tragedi
    moral  dan  melakukan  kejahatan  yang paling keji, kita lihat
    pada  mulanya  mereka  pun  berakhlak   baik,   tetapi   masih
    untung-rugi  itu  juga  yang  menjadi  dasar moralnya. Tadinya
    mereka menganggap bahwa sukses dalam hidup ini bergantung pada
    kejujuran.  Lalu  mereka  bersikap  jujur karena ingin sukses,
    bukan bersikap  jujur  karena  terikat  oleh  akidahnya  -oleh
    keyakinan  batinnya.  Mereka  berhenti  hanya  sampai  disitu,
    meskipun  ini  sangat  membahayakan  dirinya.  Tetapi  setelah
    mereka   lihat   bahwa  mengabaikan  masalah  kejujuran  dalam
    peradaban  abad  kini  merupakan  salah  satu  jalan  mencapai
    sukses,  maka  kejujuran itu pun mereka abaikan. Yang demikian
    ini ada yang tetap tertutup dari mata orang, rahasianya  tidak
    sampai  terbongkar  dan akan tetap dipandang terhormat, tetapi
    ada juga yang rahasianya  terbongkar  dan  ia  tercemar,  yang
    kadang berakhir dengan bunuh diri.
    
                                        (bersambung ke bagian 5/6)
    
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
    
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1
    Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team

    Sejarah Hidup Muhammad

    oleh Muhammad Husain Haekal Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (5/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Jadi  pembinaan  sistem watak dan moral atas dasar untung-rugi
    ini  sewaktu-waktu  akan  menjerumuskannya   kedalam   bahaya.
    Sebaliknya,  apabila  pembinaannya  itu didasarkan atas sistem
    rohani seperti dirumuskan oleh Qur'an, ini akan menjamin tetap
    bertahan, takkan terpengaruh oleh sesuatu kelemahan. Niat yang
    menjadi pangkal bertolaknya perbuatan  ialah  dasar  perbuatan
    itu  dan sekaligus harus menjadi kriteriumnya pula. Orang yang
    membeli undian untuk Pembanguman sebuah rumahsakit,  ia  tidak
    membelinya   dengan  niat  hendak  beramal,  melainkan  karena
    mengharapkan keuntungan. Orang yang memberi karena  ada  orang
    yang  datang  meminta  secara  mendesak  dan ia memberi karena
    ingin melepaskan diri, tidak sama dengan  orang  yang  memberi
    karena kemauan sendiri, yaitu memberi kepada mereka yang tidak
    meminta secara mendesak, mereka yang  oleh  orang  yang  tidak
    mengetahui  dikira orang-orang yang berkecukupan karena mereka
    memang  tidak  mau  meminta-minta  itu.  Orang  yang   berkata
    sebenarnya   kepada  hakim  karena  takut  akan  sanksi  hukum
    terhadap seorang saksi palsu, tidak  sama  dengan  orang  yang
    berkata  sebenarnya karena ia memang yakin akan arti kebenaran
    itu. Juga  moral  yang  landasannya  perhitungan  untung  rugi
    kekuatannya  tidak  akan sama dengan moral yang sudah diyakini
    benar bahwa itu bertalian dengan  kehormatan  dirinya  sebagai
    manusia,  bertalian  dengan  keimanannya  kepada  Allah. Dalam
    hatinya sudah tertanam landasan rohani yang dasarnya  keimanan
    kepada Allah itu.
    
    Qur'an  tetap  menekankan,  bahwa  pikiran yang rasionil harus
    tetap  bersih,  jangan  dimasuki  oleh   sesuatu   yang   akan
    mempengaruhi  lukisan  iman  dan  watak  yang  indah itu. Oleh
    karenanya minuman keras dan judi itu dipandang  kotor  sebagai
    perbuatan  setan.  Kalaupun  ada  manfaatnya buat orang, namun
    dosanya lebih besar dari  manfaatnya.  Dengan  demikian  harus
    dijauhi.  Perjudian akan mengalihkan perhatian si penjudi dari
    persoalan lain, waktunya  akan  habis  dan  hiburan  ini  akan
    membuatnya  lupa dari segala kewajiban moral yang baik. Sedang
    minuman keras akan menghilangkan pikiran  dan  harta  -  untuk
    meminjam katakata Umar bin'l-Khattab, ketika ia berharap Tuhan
    akan memberikan  penjelasan  mengenai  hal  ini.  Sudah  wajar
    sekali  pikiran  yang  rasionil  itu  akan jadi sesat kalau ia
    hilang atau  berubah,  dan  kesesatan  itu  akan  lebih  mudah
    mendorong   orang   melakukan   perbuatan  rendah,  sebaliknya
    daripada akan menjauhkan diri dari kejahatan.
    
    Sistem moral yang dibawa Qur'an untuk 'negara utama' itu bukan
    dengan   tujuan  supaya  jiwa  manusia  samasekali  jauh  dari
    kenikmatan hidup yang diberikan Tuhan, sehingga  karenanya  ia
    akan  hanyut  ke dalam hidup pertapaan dalam merenungkan alam,
    dan menyiksa diri dalam menuntut ilmu untuk itu. Sistem  moral
    ini  tidak  rela  membiarkan  manusia  menyerahkan diri kepada
    kesenangan supaya jangan ia tenggelam kedalam jurang kemewahan
    dan  karenanya  ia  akan melupakan segalanya. Bahkan moral ini
    hendak membuat manusia menjadi umat  pertengahan,  mengarahkan
    mereka  kepada  lembaga  budi  yang  lebih murni, lembaga yang
    mengenal alam dan segala isinya ini.
    
    Qur'an bicara tentang ciptaan Tuhan yang ada  dalam  alam  ini
    dengan  suatu  pengarahan yang hendak mengantarkan kita sejauh
    mungkin dapat kita  ketahui.  Ia  bicara  tentang  bulan  hari
    Pertama,  tentang matahari dan bulan, tentang siang dan malam,
    tentang bumi dan apa yang dihasilkan bumi, tentang langit  dan
    bintang-bintang  yang  menghiasinya,  tentang samudera, dengan
    kapal yang berlayar supaya kita dapat menikmati karunia Tuhan,
    tentang  binatang  untuk  beban  dan  ternak, tentang ilmu dan
    segala cabangnya yang terdapat dalam alam ini.  Qur'an  bicara
    tentang   semua   ini,   dan  menyuruh  kita  merenungkan  dan
    mempelajarinya, supaya kita menikmati segala  peninggalan  dan
    hasilnya  itu  sebagai  tanda  kita  bersyukur  kepada  Allah.
    Apabila Qur'an telah mengajarkan etika Qur'an kepada  manusia,
    menganjurkan  mereka  supaya  berusaha  terus untuk mengetahui
    segala yang ada dalam alam ini,  sudah  sepatutnya  pula  bila
    dari  pengamatan  mereka dengan jalan akal pikiran itu, mereka
    akan sampai ke tujuan sejauh yang dapat  ditangkap  oleh  akal
    pikirannya  itu. Sudah sepatutnya pula mereka membangun sistem
    ekonominya itu atas dasar yang sempurna.
    
    Sistem ekonomi yang  dibangun  atas  dasar  moral  dan  rohani
    seperti  yang  sudah  kita sebutkan itu, sudah seharusnya akan
    mengantarkan manusia ke dalam  hidup  bahagia,  dan  menghapus
    segala  penderitaan  dari muka bumi ini. Prinsip-prinsip agung
    yang oleh Qur'an ditekankan sekali supaya  ditanamkan  kedalam
    jiwa seperti di tempat akidah dan iman itu, akan membuat orang
    tidak sudi melihat masih adanya penderitaan di muka bumi  ini,
    atau  masih adanya kekurangan yang dapat diberantas tapi tidak
    dilakukan. Bagi orang yang  sudah  mendapat  ajaran  ini  yang
    pertama  sekali  akan ditolaknya ialah riba yang menjadi dasar
    kehidupan  ekonomi  dewasa  ini,  dan  yang   menjadi   sumber
    pendieritaan  seluruh  umat  manusia.  Oleh  karena itu Qur'an
    secara tegas sekali mengharamkan, seperti dalam firman Tuhan:
    
    "Mereka yang memakan riba tidak akan dapat berdiri, kalau  pun
    berdiri  hanya  akan  seperti orang yang sudah kemasukan setan
    karena penyakit gila." (Qur'an 2: 275)
    
    "Setiap riba yang kamu lakukan untuk menambah harta orang lain
    dalam pandangan Allah tidak akan dapat bertambah. Tetapi zakat
    yang kamu lakukan demi keridaan Allah, mereka  itu  yang  akan
    mendapat balasan berlipat ganda." (Qur'an 30: 39)
    
    Diharamkannya  riba  adalah  norma dasar untuk kebudayaan yang
    akan dapat  menjamin  kebahagiaan  dunia.  Bahaya  riba  dalam
    bentuknya  yang  paling  kecil  ialah ikut sertanya orang yang
    tidak bekerja dalam suatu hasil usaha orang lain hanya  karena
    ia  sudah meminjamkan uang kepadanya, dengan alasan lagi bahwa
    dengan meminjamkan itu ia sudah membantu orang lain memperoleh
    hasil  keuntungan itu. Sebaliknya kalau ini tidak dilakukan si
    peminjam tidak  akan  dapat  berusaha  dan  dengan  sendirinya
    takkan   dapat  memungut  keuntungan.  Kalau  hanya  ini  saja
    satu-satunya bentuk riba itu, ini pun takkan  dapat  dijadikan
    alasan.   Kalau   orang   yang   meminjamkan  uang  itu  mampu
    menjalankan sendiri, ia tidak akan meminjamkannya kepada orang
    lain,  dan  kalau  uang  itu  tetap  ditangannya sendiri tidak
    dijalankan  dalam  usaha,  maka  uang  itu  pun   tidak   akan
    mendatangkan  keuntungan.  Sebaliknya,  sedikit  demi  sedikit
    uangnya itu akan habis dimakan  pemiliknya  sendiri.  Jika  ia
    akan  meminta  bantuan  orang  lain menjalankan uangnya dengan
    bagi hasil  menurut  keuntungan  yang  akan  diperoleh,  tentu
    caranya  bukan  dengan  jalan dipinjamkan sebagai modal dengan
    laba tertentu, melainkan dengan cara si pemilik uang itu  ikut
    serta  dengan  orang  yang menjalankan uangnya atas dasar bagi
    untung. Kalau si pengusaha beruntung, maka  si  pemilik  modal
    itu  pun  akan mendapat bagian keuntungan; kalau rugi, dia pun
    akan  turut  memikul  kerugiannya.  Sebaliknya  kalau   kepada
    pemilik  modal  itu  akan ditentukan suatu laba, meskipun yang
    mengusahakan  tidak  mendapat  keuntungan  apa-apa,  maka  itu
    adalah  suatu  eksploitasi illegal, suatu pemerasan yang tidak
    sah.
    
    Dan  tidak  akan  dapat  terjadi   bahwa   harta   itu   dapat
    diperlakukan   seperti   yang  lain-lain,  dapat  dipersewakan
    seperti menyewakan tanah atau menyewakan hewan, dan bahwa laba
    uang  tunai  harus sesuai dengan hasil sewa barang-barang yang
    lain itu. Uang yang dapat dipakai untuk pengeluaran dan  dapat
    juga  dipakai  untuk  produksi,  yang  bisa dimanfaatkan untuk
    kebaikan dan juga dapat menimbulkan kejahatan  (dosa),  dengan
    harta  bergerak  dan  tidak  bergerak  lainnya,  besar  sekali
    perbedaannya. Orang yang  menyewa  tanah,  rumah,  hewan  atau
    barang  apa pun, tentu karena ingin dimanfaatkan, yang berarti
    akan sangat berguna buat dia, kecuali jika  dia  memang  orang
    bodoh  atau orang edan, yang segala gerak-geriknya sudah tidak
    lagi diperhitungkan orang.
    
    Sebaliknya yang mengenai uang modal,  yang  biasanya  dipinjam
    untuk    tujuan-tujuan    perdagangan   yang   sebaik-baiknya.
    Perdagangan itu senantiasa dihadapkan kepada soal untung  atau
    rugi.  Sedang mengenai sewa-menyewa barang-barang bergerak dan
    tidak bergerak untuk dijalankan dalam  usaha,  sedikit  sekali
    yang  mengalami kerugian, kecuali dalam keadaan yang abnormal,
    yang tidak masuk dalam keadaan biasa. Apabila keadaan abnormal
    ini  yang  terjadi,  maka  kekuasaan  hukum segera pula campur
    tangan antara si pemilik dengan  si  penyewa  -  seperti  yang
    sering   terjadi   dalam   semua   negara  di  dunia  -  untuk
    menghilangkan  ketidak  adilan  terhadap  si   penyewa   serta
    menolongnya  dari tindakan si pemilik yang hanya akan memungut
    laba dari usahanya itu. Sebaliknya,  dengan  menentukan  bunga
    uang  tunai,  dengan  lebih-kurang  7% atau 9%, maka ini tidak
    akan mengubah, bahwa si peminjam dapat terancam oleh  kerugian
    modal,  disamping kerugian usahanya sendiri. Apabila disamping
    itu dia masih juga lagi dituntut  dengan  bunga,  maka  inilah
    yang  disebut  kejahatan  (dosa).  Akibat ini akan menimbulkan
    permusuhan, sebaliknya daripada persaudaraan; akan menimbulkan
    kebencian,  bukan  cinta kasih. Inilah sumber kesengsaraan dan
    segala krisis yang diderita umat manusia dewasa ini.
    
    Kalau memang inilah bahaya riba dalam  bentuknya  yang  paling
    kecil,  dan  begitu  pula  akibat-akibat  yang timbul, apalagi
    dengan bentuk lain tatkala si pemberi pinjaman itu sudah lebih
    mendekati  binatang buas daripada manusia, atau sipeminjam itu
    sudah sangat membutuhkan  uang  di  luar  keperluan  penanaman
    modal  atau  produksi.  Adakalanya  ia sangat membutuhkan uang
    untuk  keperluan  nafkah  yang  konsumtif,   untuk   keperluan
    makannya  atau  makan  keluarganya. Ketika itulah perhatiannya
    hanya pada yang  lebih  mudah  saja  dulu,  sebelum  ia  dapat
    memegang  sesuatu  pekerjaan  yang  dapat  menjamin  keperluan
    hidupnya dan kemudian dapat  membayar  kembali  utangnya.  Ini
    sudah  merupakan  satu  tugas  perikemanusiaan sebagai langkah
    pertama. Dan ini pula yang dirumuskan  oleh  Qur'an.  Bukankah
    dalam  keadaan serupa ini pemberian pinjaman dengan riba sudah
    merupakan suatu kejahatan yang sama  dengan  pembunuhan?  Yang
    lebih  parah lagi dari kejahatan ini ialah adanya segala macam
    tipu-muslihat dengan  jalan  riba  itu  untuk  merampas  harta
    orang-orang  yang lemah, orang-orang yang tidak pandai menjaga
    hartanya. Tipu muslihat ini tidak kurang  pula  jahatnya  dari
    pencurian  yang  rendah.  Dan  setiap pelaku ke arah ini harus
    dihukum seperti pencuri atau lebih keras lagi.
    
    Riba adalah salah satu faktor yang turut  menjerumuskan  dunia
    ke  dalam  bencana penjajahan, dengan segala macam penderitaan
    yang ditimbulkan oleh penjajahan itu. Sebagian  besar  masalah
    penjaJahan  itu  dimulai  oleh sekelompok tukang-tukang riba -
    secara perseorangan atau dalam bentuk badan-badan usaha - yang
    mendatangi  beberapa  negara dengan memberikan pinjaman kepada
    penduduk. Kemudian mereka  menyusup  masuk  lebih  dalam  lagi
    sampai mereka dapat menguasai sumber-sumber kekayaan. Bilamana
    kelak  anak  negeri  sudah  menyadari   kembali   dan   hendak
    mempertahankan  diri  dan  harta mereka, orang-orang asing itu
    cepat-cepat meminta bantuan negaranya. Negara ini pun kemudian
    masuk  atas  nama  hendak  melindungi  rakyatmya.  Kemudian ia
    menyusup juga masuk lebih dalam lagi,  lalu  berkuasa  sebagai
    penjajah.  Sekarang mereka sebagai yang dipertuan. Kemerdekaan
    orang lain dirampas.  Sebagian  besar  sumber-sumber  kskayaan
    negeri itu mereka kuasai. Dengan demikian kekayaan mereka jadi
    hilang, penderitaan mulai mencekam  seluruh  kawasan  itu  dan
    bayangan  kesengsaraan  sudah  pula merayap-rayap kedalam hati
    mereka. Pikiran mereka jadi  kacau,  moral  jadi  lemah,  iman
    mereka  pun mulai goyah. Martabat mereka jadi turun dari taraf
    manusia yang sebenarnya ke taraf yang lebih  hina,  yang  bagi
    orang   yang  beriman  kepada  Allah  tidak  akan  sudi  hidup
    demikian, sebab, hanya kepada Allah semata  orang  merendahkan
    diri dan harus mengabdi.
    
    Juga  penjajahan  itu  sumber  peperangan,  sumber penderitaan
    besar yang  sangat  menekan  kehidupan  seluruh  umat  manusia
    dewasa  ini.  Selama  ada  riba, selama ada penjajahan, jangan
    diharap manusia akan dapat kembali ke  masa  persaudaraan  dan
    saling  cinta  antara  sesamanya. Harapan akan kembali ke masa
    serupa itu tidak akan ada, kecuali jika kebudayaan atas  dasar
    yang  dibawa  oleh Islam dan diwahyukan dalam Qur'an itu dapat
    dibangun kembali.
    
    Didalam Qur'an ada konsepsi sosialisma yang belum lagi dibahas
    orang. Sosialisma ini tidak didasarkan kepada perang modal dan
    perjuangan  kelas,  seperti  yang  terdapat   sekarang   dalam
    sosialisma  Barat, melainkan dasarnya ialah karakter dan moral
    yang tinggi yang  akan  menjamin  adanya  persaudaraan  kelas,
    adanya  kerja-sama  dan  saling  bantu atas dasar kebaikan dan
    kebaktian, bukan kejahatan dan saling permusuhan. Tidak  sulit
    orang akan melihat landasan sosialisma atas dasar persaudaraan
    ini, seperti yang sudah ditentukan oleh Qur'an mengenai  zakat
    dan sedekah misalnya. Orang  dapat menilai, bahwa ini bukanlah
    sosialisma dengan dominasi suatu kelas atas kelas  yang  lain,
    atau   kekuasaan  suatu  golongan  atas  golongan  yang  lain.
    Kebudayaan yang dilukiskan oleh Qur'an tidak  mengenal  adanya
    dominasi   atau   sikap   berkuasa,   melainkan   atas   dasar
    persaudaraan yang sungguh-sungguh yang didorong oleh keyakinan
    yang  kuat akan persaudaraan itu; suatu keyakinan yang membuat
    orang dengan mengingat karunia Tuhan itu mau memberi untuk  si
    miskin,  orang melarat, orany yang membutuhkan dan segala yang
    diperlukannya  akan  makanan,  tempat  tinggal,   obat-obatan,
    pengajaran  dan  pendidikan.  Mereka memberikan itu atas dasar
    keikhlasan dan kejujuran. Dengan  demikian  penderitaan  dapat
    dihilangkan, karunia Tuhan dan kebahagiaan dapat merata kepada
    umat manusia.
    
    Sosialisma Islam  ini  tidak  sampai  menghapuskan  hak  milik
    secara   mutlak,   seperti  halnya  dengan  sosialisma  Barat.
    Kenyataan  sudah  membuktikan  -  bolsyevisma  di  Rusia   dan
    negara-negara  sosialis lainnya - bahwa menghapuskan hak milik
    itu suatu hal yang tidak  mungkin.  Sungguhpun  begitu,  namun
    perusahaan-perusahaan negara harus tetap menjadi milik bersama
    untuk   kepentingan   semua    orang.    Mengenai    ketentuan
    perusahaan-perusahaan  negara itu terserah kepada negara. Oleh
    karena itu mengenai ketentuan ini  sejak  abad-abad  permulaan
    dalam  sejarah  Islam  sudah terdapat perbedaan pendapat. Dari
    kalangan sahabat-sahabat Nabi sendiri ada yang terlampau keras
    menjalankan  ketentuan  sosialisma  ini,  sehingga segala yang
    diciptakan Tuhan dijadikan milik bersama dan untuk kepentingan
    umum.  Mereka memandang tanah dan segala yang terkandung, sama
    dengan air dan udara, tidak boleh menjadi milik pribadi.  Yang
    boleh  dimiliki  hanya hasilnya, yang disesuaikan dengan usaha
    dan perjuangan masing-masing. Ada juga yang tidak  berpendapat
    demikian.  Mereka  menyatakan  bahwa  tanah boleh dimiliki dan
    dianggap sebagai barang-barang yang boleh dipertukarkan.
    
    Akan tetapi persetujuan yang sudah dicapai di kalangan  mereka
    ialah  sama  dengan  yang  berlaku  di  Eropa  sekarang, yaitu
    menentukan  bahwa  setiap  orang  harus   mencurahkan   segala
    kemampuannya  untuk  kepentingan  masyarakat,  dan  masyarakat
    harus pula berusaha, untuk kepentingan pribadi dalam mengatasi
    segala    keperluannya.    Setiap   Muslim   berhak   menerima
    kebutuhannya serta kebutuhan orang yang menjadi  tanggungannya
    dari  baitulmal  (perbendaharaan  negara)  Muslimin, selama ia
    belum  mendapat  pekerjaan  yang   akan   menjamin   keperluan
    hidupnya,  atau  selama  pekerjaan  yang dipegangnya itu tidak
    mencukupi keperluannya dan keperluan keluarganya.
    
    Selama norma-norma etik di dalam Qur'an  seperti  yang  sudah
    kita  sebutkan  itu dijalankan, maka tidak akan ada orang yang
    mau berdusta; tidak akan ada orang yang mau mengatakan,  bahwa
    ia  penganggur, padahal yang sebenarnya dia tidak mau bekerja,
    tidak akan ada orang yang mau  menyatakan,  bahwa  penghasilan
    dari  pekerjaannya  tidak  mencukupi, padahal sebenarnya sudah
    lebih dari cukup. Khalifah-khalifah pada masa permulaan  Islam
    dahulu  sudah mewajibkan diri menyelidiki sendiri keadaan umat
    Islam untuk kemudian dapat mengatasi  segala  keperluan  orang
    yang memang berada dalam kebutuhan.
    
                                        (bersambung ke bagian 6/6)
    
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
    
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1
    Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team

    Sejarah Hidup Muhammad

    oleh Muhammad Husain Haekal Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
    1. KEBUDAYAAN ISLAM SEPERTI DILUKISKAN QUR'AN            (6/6)
    Muhammad Husain Haekal
    
    Dari  sini  dapat  kita  lihat  bahwa  sosialisma  dalam Islam
    bukanlah  sosialisma  harta  serta   pembagiannya,   melainkan
    sosialisma  yang  menyeluruh, yang dasarnya persaudaraan dalam
    kehidupan rohani dan  moral  serta  dalam  kehidupan  ekonomi.
    Kalau  seseorang  belum  sempurna imannya sebelum ia mencintai
    saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, maka imannya itu
    pun memang tidak sempurna kalau tidak dapat ia turut mendukung
    orang memberantas kemiskinan dan memberikan  derma  atau  dana
    untuk  kemakmuran bersama, membagikan kekayaan sebagai karunia
    Tuhan itu, baik dengan diketahui, atau tidak diketahui  orang.
    Makin  besar cintanya kepada orang lain, makin dekat ia kepada
    Tuhan. Dia sedikit pun merasa  lebih  gembira.  Apabila  Tuhan
    telah   membuat  manusia  itu  bertingkat-tingkat,  memberikan
    rejeki kepada siapa saja yang dikehendakiNya serta  menentukan
    pula,  maka manusia takkan lebih baik keadaannya kalau tak ada
    rasa saling hormat, yang kecil menghormati yang  lebih  besar,
    yang  besar  mencintai  yang  lebih kecil, si kaya mau memberi
    untuk si miskin demi Allah semata, karena rasa syukur.
    
    Rasanya tidak perlu  kita  menyebutkan  lagi  apa  yang  sudah
    disebutkan  Qur'an  tentang  sistem  ekonomi,  tentang  waris,
    tentang  wasiat  (testamen),  tentang   perjanjian-perjanjian,
    perdagangan  dan  sebagainya.  Dalam  memberikan  isyarat yang
    singkat  sekalipun   mengenai   masalah-masalah   hukum   atau
    soal-soal  kemasyarakatan, akan memerlukan ruangan sekian kali
    lebih banyak dari pasal ini. Cukup kalau kita  sebutkan  saja,
    bahwa apa yang sudah disebutkan dalam Qur'an sehubungan dengan
    masalah-masalah tersebut kiranya  sampai  sekarang  belum  ada
    suatu  undang-undang  yang  lebih  baik dari itu. Bahkan orang
    akan  terkejut  sekali  bila  ia   melihat   adanya   beberapa
    penjelasan  seperti perjanjian tertulis mengenai utang-piutang
    sampai pada waktu tertentu  kecuali  dalam  perdagangan,  atau
    seperti   dalam  mengirimkan  dua  orang  juru  pendamai  jika
    dikuatirkan akan terjadi perceraian antara suami isteri,  atau
    terhadap  dua  golongan  yang  sedang berperang dan pihak yang
    menyerang dengan sewenang-wenang dan tidak  mau  diajak  damai
    itu  harus  diperangi  sampai  ia  mau kembali kepada perintah
    Tuhan - sungguh orang akan kagum  sekali  melihat  semua  ini.
    Apalagi    akan   membandingkannya   dengan   berbagai   macam
    undang-undang yang pernah ada,  kalau  pun  perundang-undangan
    yang  sesuai  dengan ketentuan-ketentuan yang telah diletakkan
    Qur'an itu sudah memang cukup baik.
    
    Jadi tidak mengherankan  sekali  -  seperti  yang  sudah  kita
    sebutkan  tentang  riba  dan  tentang sosialisma Islam sebagai
    dasar sistem ekonomi, yang dilukiskan di dalam  Qur'an  dengan
    penjelasan  hukum  sebagai suatu penyusunan undang-undang yang
    terbaik yang pernah ada dalam sejarah - kalau kebudayaan Islam
    itu  juga yang menjadi kebudayaan yang layak buat umat manusia
    dan yang benar-benar akan memberikan hidup bahagia.
    
    Setelah melihat apa yang sudah kita kemukakan mengenai lukisan
    Qur'an  tentang  kebudayaan  serta  landasannya,  mungkin  ada
    beberapa penulis Barat yang berpendapat  bahwa  sifat  manusia
    tidak  sesuai  dengan sistem yang hendak memaksanya ke tingkat
    yang lebih tinggi  diatas  kemampuan  kodratnya  sendiri,  dan
    bahwa  sistem  demikian  ini  tidak akan mampu hidup atau akan
    bertahan lama. Manusia menurut  tanggapan  mereka,  digerakkan
    oleh  rasa  harap  dan  cemas,  oleh keinginan dan nafsu, sama
    halnya dengan makhluk hewan, hanya saja dia  makhluk  berpikir
    homo   sapiens.  Bahwa  manusia  akan  menganut  suatu  sistem
    kebudayaan seperti yang digambarkan  oleh  Islam  itu,  adalah
    suatu  hal yang tidak mungkin, sekurang-kurangnya tidak mudah.
    Paling jauh yang dapat kita lakukan dalam  menyusun  kehidupan
    masyarakat   manusia   ini   ialah   memperbaiki   nafsu  itu,
    mengarahkan pikiran tentang harap dan cemas itu sebaik-baiknya
    dari segi materialisma ekonomi semata. Sedang yang di luar itu
    masyarakat tidak  akan  mampu  melaksanakannya.  Mungkin  yang
    menjadi  alasan mereka ialah karena sistem Islam itu - seperti
    yang digambarkan Qur'an dan  sudah  saya  coba  menguraikannya
    disini   secara  ringkas  -  belum  dapat  diharapkan  didalam
    masyarakat Islam sendiri kecuali pada masa Nabi dan pada  masa
    permulaan sejarah Islam. Kalau sistem ini memang sesuai dengan
    struktur kehidupan,  tentu  didalam  lingkungan  Islam  dahulu
    sudah  dapat  dijalankan  dan dari sana akan sudah tersebar ke
    seluruh dunia. Akan tetapi bilamana  hal  ini  tidak  terjadi,
    bahkan sebaliknya yang terjadi, maka anggapan bahwa sistem ini
    sangat layak, dan dapat  menjamin  kebahagiaan  umat  manusia,
    adalah anggapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
    
    Atas  keberatan  ini  kiranya  pengakuan  mereka sendiri sudah
    cukup untuk menggugurkannya,  yaitu  bahwa  sistem  Islam  itu
    berjalan  dan  dipraktekkan  pada masa Nabi dan pada permulaan
    sejarah Islam. Dan Muhammad sendiri teladan yang  paling  baik
    dalam   pelaksanaan   itu.  Kemudian  teladan  yang  baik  itu
    diteruskan oleh para khalifah  yang  mula-mula.  Mereka  terus
    berjalan   dengan  sistem  itu  sampai  mencapai  tujuan  yang
    sempurna   sebagaimana   mestinya.   Akan    tetapi,    adanya
    intrik-intrik  dan  ambisi-ambisi  yang timbul kemudian kadang
    dengan jalan Israiliat, kadang pula dengan  jalan  rasialisma,
    itulah  yang  sedikit demi sedikit telah mengancam dasar-dasar
    Islam yang sebenarnya.
    
    Akibat  daripada  semua  itu  orang  berangsur-angsur  kembali
    mengganti  kehidupan  rohani  dengan materi, sifat kemanusiaan
    dengan kebinatangan. Dan  berhenti  hanya  sampai  pada  batas
    lingkaran  peradaban dewasa ini berada, yang hakekatnya hendak
    menjerumuskan umat manusia kedalam penderitaan.
    
    Muhammad sendiri teladan yang baik sekali  dalam  melaksanakan
    kebudayaan  seperti  dilukiskan  Qur'an  itu.  Dalam  buku ini
    contoh itu sudah kita lihat,  bagaimana  rasa  persaudaraannya
    terhadap  seluruh  umat manusia dengan cara yang sangat tinggi
    dan sungguh-sungguh itu  dilaksanakan.  Saudara-saudaranya  di
    Mekah  semua sama dengan dia sendiri dalam menanggung duka dan
    sengsara. Bahkan dia sendiri yang lebih banyak  menanggungnya.
    Sesudah  hijrah  ke  Medinah,  dipersaudarakannya  orang-orang
    Muhajirin dengan Anshar demikian rupa, sehingga mereka  berada
    dalam  status saudara sedarah. Persaudaraan sesama orang-orang
    beriman secara umum itu adalah persaudaraan kasih-sayang untuk
    membangun  suatu  sendi  kebudayaan yang masih muda waktu itu.
    Yang  memperkuat  persaudaraan   ini   ialah   keimanan   yang
    sungguh-sungguh  kepada Allah dengan demikian kuatnya sehingga
    dibawanya Muhammad kedalam komunikasi dengan Tuhan,  Zat  Yang
    Maha  Agung.  Sikapnya  dalam perang Badr, bagaimana ia berdoa
    kepada  Tuhan   mengharapkan   pertolongan   yang   dijanjikan
    kepadanya.  Ia  minta  pertolongan  itu  dilaksanakan,  dengan
    menyebutkan bahwa bilamana angkatan Badr ini hancur,  tak  ada
    lagi  ibadat.  Ini merupakan suatu manifestasi yang kuat dalam
    komunikasi.
    
    Begitu  juga  tindakan-tindakannya  yang  lain   diluar   Badr
    menunjukkan,  bahwa  dia selalu dalam komunikasi dengan Tuhan,
    diluar saat-saat tertentu sewaktu wahyu  turun.  Komunikasinya
    ini ialah melalui keimanannya dengan sungguh-sungguh, keimanan
    yang sampai membuat mati  itu  tiada  arti  lagi.  Maut  malah
    dihadapinya  dan  diharapkannya.  Orang  yang  sungguh-sungguh
    dalam imannya tidak pernah takut mati, bahkan  mengharapkannya
    selalu. Ajal sudah ditentukan. Dimana pun manusia berada, maut
    akan mencapainya selalu, sekalipun  di  dalam  benteng-benteng
    yang  kukuh.  Iman  inilah  yang  membuat Muhammad tetap tabah
    ketika  melihat  kaum  Muslimin  lari  tunggang-langgang  pada
    permulaan  pecah  perang  Hunain. Dipanggilnya orang-orang itu
    tanpa  menghiraukan  maut  yang  sedang  mengepungnya,  dengan
    sejuinlah  kecil  orang-orang yang masih bertahan bersama-sama
    dia. Iman inilah yang membuat dia memberikan apa saja yang ada
    padanya  tanpa  ia sendiri takut kekurangan. Ia telah mencapai
    puncak  nilai-nilai  kebaikan  seperti  yang  diserukan   oleh
    Kitabullah.
    
    Dengan  teladan  baik  yang  diberikannya  itu dalam permulaan
    sejarah Islam kaum Muslimin telah mengikuti jejaknya.
    
    Semua itu, dengan Muslimin pada permulaan sejarah Islam,  yang
    telah  mengikuti teladan baik yang diberikannya, telah membuat
    Islam begitu pesat berkembang  pada  dasawarsa  pertama,  yang
    kemudian  disusul  dengan  berpulangnya  Nabi  ke rahmatullah.
    Islam tersebar ke seluruh kawasan, panji-panji Islam  berkibar
    tinggi   sesuai   dengan   kebudayaan   yang   berlaku.   Dari
    bangsa-bangsa yang tadinya sangat lemah dan berantakan,  telah
    dapat  pula  dibangun  menjadi bangsa-bangsa dan negara-negara
    yang kuat, dan menjadi pelopor ilmu pengetahuan. Dengan  jalan
    ini  telah  banyak  sekali  rahasia-rahasia  alam  yang  dapat
    diketahuinya. Karena itu diciptakannya pula karya-karya  besar
    yang  menjadi  kebanggaan  zaman sekarang, yang sudah dianggap
    sebagai zaman keemasan dan ilmu, tanpa memperkosa  kebahagiaan
    umat  manusia  karena  pengabdiannya kepada materi dan imannya
    kepada Tuhan yang masih lemah itu.
    
    Seperti dalam kebudayaan lain, kebudayaan  Islam  juga  banyak
    dimasuki  oleh ambisi-ambisi rasialisma dan Israiliat. Soalnya
    ialah karena ada  segolongan  ulama  yang  seharusnya  menjadi
    pewaris  para  nabi  malah mereka ini lebih menyukai kekuasaan
    daripada kebenaran, daripada nilai moral. Ilmu yang  ada  pada
    mereka  dipakai  alat  untuk  menyesatkan orang-orang awam dan
    generasi mudanya, sama halnya  dengan  kebanyakan  ulama-ulama
    sekarang  yang  juga  mau menyesatkan orang-orang awam beserta
    angkatan  mudanya  itu.   Ulama-ulama   demikian   ini   ialah
    pembela-pembela   setan,   yang   akan   lebih  berat  memikul
    tanggungjõawab dihadapan Tuhan.
    
    Maka kewajiban pertama  buat  setiap  ulama  yang  benar-benar
    ikhlas  demi  ilmu  dan  demi  Tuhan, ialah harus siap melawan
    mereka dan memberantas semua bibit yang  merusak  itu.  Mereka
    hendak  membelokkan  orang  dari kebenaran, hendak menyesatkan
    orang   dari   jalan   yang   lurus.    Apabila    ulama-ulama
    (pendeta-pendeta)  yang  menyesatkan  di  Barat itu telah ikut
    memegang peranan dalam  melibatkan  gereja  dan  ilmu  kedalam
    kancah  saling berperang dalam merebut kekuasaan, maka peranan
    demikian tidak ada buat mereka di negeri-negeri  Islam,  sebab
    dalam  kebudayaan  Islam agama dan ilmu saling terjalin, sebab
    agama tanpa ilmu suatu  kekufuran,  ilmu  tanpa  agama  sesat.
    Sekiranya  dunia  ini sampai bernaung dibawah kebudayaan Islam
    seperti yang  dilukiskan  Qur'an,  dan  tidak  diperkosa  oleh
    adanya penaklukan-penaklukan Mongolia dan yang semacamnya yang
    telah masuk Islam tapi tidak menjalankan prinsip-prinsip Islam
    atau  berusaha  menyebarkannya, malah Islam dipakainya sebagai
    alat untuk menguasai orang-orang  awam  di  kalangan  Muslimin
    dengan   prinsip   yang   sama   sekali   bertentangan  dengan
    prinsip-prinsip persaudaraan Islam - tentu keadaan  dunia  ini
    tidak  akan  seperti  ini,  umat  manusia  akan  selamat  dari
    beberapa hal yang kini  menjerumuskan  mereka  kedalam  jurang
    penderitaan.
    
    Saya  yakin,  bahwa kebudayaan yang dilukiskan oleh Qur'an itu
    akan tersebar ke dunia luas kalau saja  korps  ulama  ini  mau
    tampil  ke depan dengan suatu ajakan yang ilmiah caranya, jauh
    dari segala cara berpikir yang beku  dan  fanatik.  Kebudayaan
    ini  akan  berdialog  dengan  hati, juga akan berdialog dengan
    pikiran, dan dapat dijamin manusia  dari  segala  bangsa  akan
    menerimanya  dengan  hati  terbuka  tanpa  dapat  dicegah oleh
    ambisi-ambisi  pribadi.  Untuk  ini   yang   diperlukan   oleh
    ulama-ulama  itu  tidak lebih dari hanya supaya mereka menjadi
    orang-orang yang benar-benar beriman,  mengajak  orang  kepada
    ajaran  Tuhan  yang  sebenarnya  dan  kepada  kebudayaan  yang
    demikian ini dengan hati yang ikhlas demi agama. Ketika itulah
    orang   merasa  bahagia  dengan  persaudaraannya  dalam  Tuhan
    seperti pada zaman Nabi, mereka merasa bahagia.
    
    Apa yang terjadi pada masa Nabi  dan  pada  permulaan  sejarah
    Islam  sudah tidak memerlukan pembuktian lagi; dengan apa yang
    sudah saya sebutkan dalam pengantar buku ini,  bahwa  revolusi
    rohani  yang  sinarnya  sudah  dipancarkan  oleh  Muhammad  ke
    seluruh dunia ini sudah seharusnya akan membukakan jalan  umat
    manusia  kepada kebudayaan baru yang selama ini dicarinya. Dan
    saya tidak pernah ragu sekejap pun mengenai hal ini.
    
    Akan  tetapi  ada  beberapa  sarjana  Barat  yang   menyatakan
    beberapa  keberatan  dengan  menghubungkannya  pada  jiwa yang
    menjadi sumber konsepsi kebudayaan Islam itu. Atas  dasar  itu
    mereka mengambil kesimpulan, bahwa Islamlah yang menjadi sebab
    mundurnya bangsa-bangsa yang menganut agama ini. Yang  penting
    diantaranya  ialah  apa  yang  mereka  katakan, bahwa jabariah
    Islam itulah yang membuat semangat  umat  Islam  jadi  kendor,
    membuat  mereka  malas  menghadapi  perjuangan hidup, sehingga
    mereka  menjadi  golongan  yang  hina-dina.  Dalam  menghadapi
    tantangan  ini  dan  apa  yang sejalan dengan itu, inilah yang
    akan menjadi pokok pembahasan kedua pada bagian  penutup  buku
    ini.
    
    Catatan kaki:
    
     1 Lihat halaman xlvii (A).
    
     2 Kata 'irfan dan ma'rifat yang kadang mempunyai arti
       yang sama, disini kata ma'rifat tidak saya pergunakan
       sebagai istilah ilmiah yang umum dalam tasauf dan ilmu
       kalam, juga tidak saya salin dengan gnosis atau
       connaissance, melainkan   mengingat persoalannya
       secara konotatif saya pergunakan kata persepsi, yakni
       pengamatan, pengenalan dan kesadaran batin (A).
    
     3 Sudah tentu terjemahan ayat-ayat Qur'an di atas
       begitu juga yang lain   tidak akan dapat mengungkapkan
       keagungan dan keindahan yang terkandung dalam bahasa
       aslinya, yang memang tidak mungkin dapat ditiru atau
       diterjemahkan dengan gaya yang sama (A).
    
     4 I'jaz, 'yang tak dapat ditiru,' ciri khas Qur'an yang
       luar biasa, yang juga dari akar kata yang sama dengan
       mujizat (A).
    
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
    
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
    
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1
    Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team
     
    • Geronimo 8:33 am on 29/11/2007 Permalink | Reply

      Makalah yang menarik. Apakah sumbernya? Untuk tukilan saya? Harap jawab secepat mungkin.

    • erzal 9:16 am on 29/11/2007 Permalink | Reply

      sumber : buku S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

      oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
      diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

      Penerbit PUSTAKA JAYA
      Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
      Cetakan Kelima, 1980

      Seri PUSTAKA ISLAM No.1….lihat di index haekal

    • erzal 9:17 am on 29/11/2007 Permalink | Reply

    • alo 3:02 pm on 19/05/2009 Permalink | Reply

      buku ini mahal tapi bagus juga ketika saya ke tokoh buku dan membaca tentang sejarah pra islam. tapi saya tidak beli karena mahal

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel