MENJAWAB SOAL KAMI, AKU DAN SUMPAH DALAM SURAT AL-MA’ARIJ AYAT 40

MENJAWAB SOAL KAMI, AKU DAN SUMPAH DALAM SURAT AL-MA’ARIJ AYAT 40

Allah berfirman:

فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ ﴿٤٠﴾

(40) Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari,

 

bulan dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.

 

ayat ini sering diartikan oleh orang-orang kristen dan misionaris untuk mengelabui umat

 

Islam. mereka menyatakan bahwa Tuhannya Islam memiliki pribadi-pribadi.

mereka menyatakan bahwa dalam ayat ini ada dua oknum Ilahi, yang pertama menggunakan kata

 

Aku, dan yang satunya lagi menggunakan kata Kami.

 

 

sebearnya tidak ada masalah dalam ayat ini. kata kami tidak menujukan akan adanya oknum

 

yang berbeda antara Aku dan Kami.

 

karena dalam Al-Qur’an Allah jelas-jelas menyatakan bahwa diri-Nya esa.

bisa dilihat di daftar ayat-ayat ini:

firman ALlah:

 

 

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَـٰهَكَ وَإِلَـٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ﴿١٣٣﴾

(133) Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata

 

kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan

 

menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang

 

Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Qs: al-Baqarah: 133

 

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾

(1) Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,

 

Qs. 112 al-Ikhlash : 1

 

 

وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَـٰنُ الرَّحِيمُ ﴿١٦٣﴾

(163) Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)

 

melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Qs. 2 al-Baqarah: 163

 

daftar ayat-ayat lain bisa diliat disini:

 

QS. 2:133; QS. 2:163; QS. 4:171; QS. 5:73; QS. 6:19; QS. 9:31; QS. 12:39; QS. 13:16; QS.

 

14:48; QS. 14:52; QS. 16:22; QS. 16:51; QS. 18:110; QS. 21:108; QS. 22:34; QS. 27:60-65;

 

QS. 37:4; QS. 38:65; QS. 39:4; QS. 40:16; QS. 41:6; QS. 112:1.

 

 

sementara kata “kami”, digunakan jika dalam suatu perbuatan oleh Allah yang melibatkan

 

Makhluk-Nya seperti melibatkan malaikat, manusia, dan lain sebagainya. artinya dalam

 

perbuatan disini Allah tidak sendiri melainkan ikut pula terlibat makhluk-Nya yagn lain.

contoh:

 

TUrunya Al-Qur’an, yang melibatkna Malaikat Jibril sebagai malaikat yang menyamaikan wahyi

FIrman Allah: “Katakanlah: ‘Barang siapa yang menjadi musuh JIBRIL, maka JIBRIL itu telah

 

menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-

 

kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang

 

beriman’.” (QS. 2:97)

 

Firman Allah menggukan kata “Kami” karena Jibril juga ikut terlibat di sini:

 

“Sesungguhnya KAMI telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya

 

(yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-

 

nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta

 

mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi

 

saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah

 

kepada AKU. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat AKU dengan harga yang sedikit.

 

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu

 

adalah orang-orang yang kafir.” (QS. 5:44)

 

pada ayat diatas ketika kata “Kami” juga di gunakan dalam hal menjaga al-Qur’an, karena

 

makhluk lain juga terlibat disini, yakni manusia, yang ikut terlibat, menjaga al-Qur’an,

 

dengan hafalan manusia didalam dada mereka.

 

hal yang berbeda ketika Allah menjadi tunggal, menggukan kata Aku, karena disitu Allah

 

benar-benar tunggal tidak melibatkan makhluk-Nya sama sekali,

 

contoh: Allah berfirman kepada manusia bahwa Dia-lah yang berhak disembah:

Allah berfirman:

 

“Dan tidak AKU ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah AKU.” (QS. 51

 

al-Mumtahanah :56)

 

Perhatikan pula ketika Allah berfiman kepada Musa. ketika Allah sendiri alias satu-satu-

 

Nya. tanpa melibatkan Makhluk-Nya.

 

Allah berfirman:

 

“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya AKU inilah

 

Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci,

 

Thuwa. Dan AKU telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

 

Sesungguhnya AKU ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain AKU, maka sembahlah

 

AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingat AKU. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang

 

AKU merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia

 

usahakan.” (QS. 20:11-15)

 

 

kemudian soal sumpah. siapakah TUhan yang menjadi objek sumpah tersebut??

 

“Maka Aku bersumpah dengan TUHAN Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari”

 

 

jika kata AKU itu Allah, terus mereka kembali akan berdalih siapakah TUhan disitu?

 

jawaban sederhana adalah, kata TUhan disitu adalah Allah sendiri, artinya Allah bersumpah

 

dengan diri-Nya sendiri.

bersumpahnya Allah terhadap diri-Nya sendiri adalah bentuk pengangungan terhadap diri

 

Allah sendiri, sama halnya Allah bersumpah dengan makhluk-Nya, bisa untuk mengagungkan

 

atau meninggikan, atau menunjukan betapa pentingnya. seperti Allah bersumpah dengan waktu,

 

Langit, Bumi, dan sebagainya, itu merupakan bentuk-bentuk sumpah Allah lain.

 

dalam alkitab sendiri disebutkan bahwa TUhan sendiri bersumpah dengan diri-Nya sendiri dan

 

terkadang bersumpah dengan Hamba-Nya.

 

 

Kejadian 22:16 kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri–demikianlah firman

 

TUHAN–:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk

 

menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,

 

 

Amos 8:7 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: “Bahwasanya Aku tidak akan melupakan

 

untuk seterusnya segala perbuatan mereka!

 

 

jadi tidak ada masalah dengan sumpah dan kata Kami, AKu dan TUhan dalam ayat ini.

wallahu a’lam.

http://muslims-says.blogspot.com/2012/01/menjawab-soal-kami-aku-dan-sumpah-dalam.html