Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 6:03 am on 22/08/2012 Permalink | Reply
    Tags:   

    Islam Menghapus Perbudakan 

    Telaah Kitab

    Islam Menghapus Perbudakan

    Pengantar:

    Telaah kitab kali ini akan mengupas pandangan Islam terhadap budak dan sistem perbudakan yang terdapat dalam Kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah juz 2, karya ‘Allamah Syaikh Taqiyuddinan-Nabhani.

    Pada dasarnya, syariah Islam yang mengatur mengenai budak dan sistem perbudakan diturunkan ketika budak memang ada dan setiap bangsa memiliki sistem perbudakan masing-masing. Di antara sistem perbudakan yang ada pada saat itu adalah budak boleh diperjualbelikan bahkan dibunuh oleh tuannya sendiri. Ada pula sistem perbudakan yang membolehkan tuan memperistri budak-budaknya dan memperlakukannya seperti binatang. Ada pula aturan yang menyatakan; jika seseorang tidak mampu membayar utang kepada seseorang maka ia boleh dijadikan budak. Ada pula ketetapan, jika suatu negeri dikalahkan maka penduduknya absah diperbudak seluruhnya. Berdasarkan fakta inilah, Islam datang dengan seperangkat hukum yang ditujukan untuk memecahkan persoalan perbudakan, serta menggariskan aturan-aturan tertentu (sistem) yang berhubungan dengan budak.

    Jika kita mengkaji secara jernih dalam mendalam, kita pasti akan berkesimpulan bahwa syariah Islam datang untuk “membebaskan budak dan melenyapkan sistem perbudakan” yang ada di seluruh dunia.

    Dalam hal ini, ada dua hal penting yang perlu dimengerti. Pertama: sikap dan perlakuan Islam terhadap budak faktual (seseorang yang telah dijadikan budak), orang yang derajatnya turun atau tidak sebanding dengan orang-orang merdeka sehingga berhak untuk diperjualbelikan layaknya barang dagangan. Untuk sisi pertama ini, Islam telah menggariskan sejumlah aturan yang ditujukan untuk membebaskan para budak dan orang-orang yang diperlakukan seperti budak, serta menjadikan mereka sebagai orang yang merdeka. Kedua: pandangan Islam mengenai sistem perbudakan. Dalam hal ini, Islam telah memecahkan persoalan ini dengan cara menetapkan aturan-aturan tertentu yang pada intinya ditujukan untuk menghapuskan sistem perbudakan yang ada di seluruh dunia.
    Sikap dan Perlakuan Islam Terhadap Budak

    Para fukaha telah merinci sejumlah hukum yang berhubungan dengan budak, di antaranya:Pertama, Islam telah menetapkan sejumlah aturan bagi orang Islam yang memiliki budak sehingga budak memiliki hak sebagaimana tuannya. Selain itu, Islam juga menetapkan sejumlah aturan sehingga fitrah dan sifatnya sebagai manusia (manusia bebas) bisa dijaga dan setara dengan manusia yang bebas. Misalnya, Islam memerintahkan kaum Muslim untuk berbuat baik kepada budaknya (QS an-Nisa’ [4]: 36). Dalam hadis riwayat Muslim dituturkan bahwa Nabi saw. juga pernah bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan berhati-hatilah kalian terhadap budak-budak yang kalian miliki. Sesungguhnya, mereka adalah saudaramu yang dijadikan Allah Swt. berada di bawah kekuasaanmu. Karena itu, berilah mereka makan, seperti yang engkau makan, dan berilah mereka pakaian seperti pakaian yang engkau kenakan. Janganlah memberi beban tugas yang memberatkan mereka. Jika engkau membebani mereka dengan tugas maka berlakulah baik (tidak memberatkan) kepada mereka.” (HR Muslim).

    Nas-nas di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Islam telah memerintahkan kaum Muslim untuk berbuat baik kepada budaknya, dan menyetarakan kedudukan mereka, secara fitrah dan kemanusiaan, dengan manusia merdeka. Dengan kata lain, Islam telah menyetarakan budak dan orang merdeka dalam hal darah dan kehormatan. Dalam fikih juga dinyatakan, jika tuan “menikmati budaknya” maka statusnya dipandang sebagaimana tatkala ia menikmati istrinya yang merdeka. Untuk itu, jika seorang budak hamil atau melahirkan anak dari tuannya, dengan segera ia harus dibebaskan secara paksa setelah kematian tuannya.

    Kedua, pada saat itu, Islam telah mendorong manusia untuk membebaskan budak-budak yang mereka miliki. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas bahwa pembebasan budak akan membantu dirinya untuk bersyukur atas nikmat Allah Swt., dan memudahkan dirinya untuk mendaki jalan yang sukar (QS al-Balad []: 11-13).

    Ketiga, Islam telah mensyariatkan sejumlah hukum yang memaksa seseorang untuk membebaskan budaknya, atau dibebaskan oleh penguasa. Jika seseorang memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan waris dengan budaknya maka ia wajib membebaskan budak tersebut, baik rela maupun tidak rela. Jika ia tidak rela maka penguasa yang akan membebaskan budak tersebut. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Nabi saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang memiliki budak yang memiliki hubungan kekerabatan (keluarga dan waris), maka ia adalah orang bebas.” (HR Abu Dawud).

    Budak yang disiksa oleh tuannya dengan cara dibakar, dipotong salah satu anggota tubuhnya, atau siapa saja yang memukul atau mendera budak dengan deraan yang berlebihan, maka budak itu wajib dibebaskan. Jika tuannya tidak mau membebaskan maka penguasa berhak memaksanya untuk membebaskan budaknya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Siapa saja yang memukul budaknya atau menderanya maka dendanya adalah membebaskannya.” (HR Muslim).

    Islam juga telah menjadikan pembebasan budak sebagai denda (kifarah) atas dosa-dosa yang dilakukan seorang Muslim. Allah telah menjadikan pembebasan budak sebagai kifarah atas pembunuhan tidak sengaja (QS an-Nisa’ [4]: 92). Pembebasan budak juga ditetapkan sebagai kifârah atas pelanggaran sumpah (QS al-Maidah [5]: 89). Pembebasan budak juga dijadikan kifarat pada kasus zhihâr dan kasus suami yang menyetubuhi istrinya pada siang hari bulan Ramadlan.

    Hukum-hukum di atas telah dikaitkan dengan pembebasan budak. Ini menunjukkan bahwa Islam telah mendorong umatnya untuk berlaku baik, mendudukkan mereka pada tempat yang setara dengan orang merdeka, baik dalam hal harta dan darah, serta mendorong kaum Muslim untuk membebaskan budak.

    Islam tidak mencukupkan diri hanya dengan menetapkan hukum-hukum yang memaksa seseorang untuk membebaskan budak, tetapi juga telah menetapkan hukum bagi budak untuk membebaskan dirinya sendiri, sebagaimana Islam telah menetapkan mekanisme bagi tuan untuk membebaskan budaknya (Lihat: QS an-Nur []: 33). Ayat ini berbicara tentang budak yang ingin membebaskan dirinya (mukatab).

    Keempat, dalam Baitul Mal, terdapat pos khusus untuk membantu para budak membebaskan dirinya (Lihat: QS at-Taubah [9]: 60). Pos untuk pembebasan budak tidak ditentukan besar-kecilnya. Khalifah boleh saja memberikan prosentase di atas 50% untuk pembebasan budak. Bahkan ia boleh mengalokasikan semua perolehan zakat untuk pembebasan budak.
    Islam dan Sistem Perbudakan

    Pada dasarnya Islam telah menghapuskan perbudakan. Dengan kata lain, Islam telah mengharamkan perbudakan atas orang-orang merdeka dengan pengharaman yang pasti. Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga orang yang akan aku tuntut kelak pada Hari Kiamat. Seorang laki-laki meminta kepadaku, kemudian ia berkhianat, dan seorang laki-laki yang menjual seorang laki-laki merdeka, kemudian ia memakan hasil penjualannya itu, dan seorang laki-laki yang mempekerjakan seseorang dan tidak pernah diberi upahnya.” (HR Bukhari).

    Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Swt. melarang memperjualbelikan (memperbudak) orang-orang yang merdeka.

    Adapun dalam kondisi perang, Islam telah mengharamkan secara mutlak memperbudak tawanan perang. Pada tahun ke 2 Hijrah, Allah Swt. telah menjelaskan ketentuan hukum mengenai tawanan perang, yaitu: (1) dibebaskan; (2) ditebus dengan sejumlah harta, ditukar dengan tawanan kaum Muslim atau kafir dzimmi. Hukum ini telah melarang memperbudak tawanan perang (Lihat: QS Muhammad [47]: 4).

    Ada sebagian fukaha menyatakan bahwa Rasulullah saw. telah memperbudak tawanan perang saat Perang Hunain. Padahal ayat di atas turun pada tahun ke 2 Hijriyah jauh sebelum peristiwa Perang Hunain. Untuk itu, mereka berpendapat bahwa dalam kondisi perang, kaum Muslim masih diperbolehkan memperbudak tawanan perang.

    Sesungguhnya perbuatan dan perkataan Rasulullah hanya berfungsi untuk men-taqyîd, mengkhususkan, atau men-tafshîl (merinci) kemutlakan, keumuman, dan ke-mujmal-an (keglobalan) al-Quran, namun tidak bisa digunakan untuk menghapus al-Quran (naskh). Ayat di atas sama sekali tidak berbentuk muthlaq sehingga layak untuk di-taqyîd. Ayat di atas redaksinya juga tidak berbentuk umum sehingga absah untuk di-takhshîsh. Ayat di atas juga tidak berbentuk mujmal sehingga layak dirinci oleh sunnah. Adapun hadis yang menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah memperbudak tawanan perang di Hunain adalah hadis ahad. Khabar ahad tidak boleh me-naskh (menghapus) al-Quran yang mutawâtir. Karena itu, jika riwayat yang menuturkan perbudakan tawanan perang dalam Perang Hunain memang benar-benar sahih maka ia harus ditolak matan-nya karena bertentangan dengan khabar mutawâtir.

    Fakta saat Perang Hunain menunjukkan bahwa para wanita dan anak-anak telah terlibat dalam perang, baik untuk memperkuat pasukan atau memberi semangat pasukan. Tatkala pasukan Hunain dikalahkan, wanita dan anak-anak itu dihukumi sebagai sabaya. Sabaya adalah kaum wanita dan anak-anak yang turut serta dan melibatkan diri dalam kancah peperangan. Menurut orang Arab, istilah sabaya hanya ditujukan untuk kaum perempuan dan anak-anak yang terlibat dalam peperangan, dan tidak mencakup kaum laki-laki. Rasulullah saw. membagi-bagikan mereka (sabaya) kepada kaum Muslim yang turut berperang. Sebagian Sahabat ada yang mengembalikan sabaya ini kepada keluarganya. Namun demikian, tatkala Rasulullah saw. memerangi Khaibar, Beliau tidak menawan penduduknya, baik laki-laki, wanita dan anak-anak. Beliau saw. membiarkan mereka menjadi orang-orang yang bebas (merdeka). Ini menunjukkan bahwa perlakuan terhadap sabaya bergantung kepada Khalifah. Khalifah boleh saja memperbudak mereka atau membebaskan mereka. Namun, hukum semacam ini hanya berlaku kepada sabaya, yakni wanita dan anak-anak yang terlibat dalam perang. Adapun laki-laki yang turut perang dan orang-orang yang berada di dalam rumahnya dan tidak ikut berperang tidak boleh diperbudak sama sekali. Dengan kata lain, tawanan perang (al-usri) tidak boleh diperbudak, sedangkan sabaya (wanita-wanita dan anak-anak yang turut perang) boleh diperbudak atau dibebaskan. Hanya saja, sabaya tidak boleh ditebus dengan harta. Tindakan semacam ini pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. pada saat Perang Hunain dan Khaibar. Pada saat Perang Hunain, Rasulullah saw. memperbudak sabaya, kemudian membebaskan mereka. Adapun pada saat Perang Khaibar, Beliau membebaskan para sabaya, dan tidak memperbudak mereka.

    Hanya saja, tindakan Khalifah (Imam) untuk “memperbudak” sabaya tidak boleh diartikan bahwa sabaya itu hendak diperbudak secara langsung, atau bahwa Islam masih mentoleransi dan melanggengkan perbudakan. Tindakan semacam ini diberlakukan hanya dalam kondisi peperangan dan berada di bawah koridor hukum darurat perang. Dengan demikian, tindakan Khalifah tersebut semata-mata demi kepentingan politik perang (siyâsah al-harb) dan bukan ditujukan untuk memperbudak mereka secara langsung.

    Dari seluruh keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa Islam telah memecahkan masalah perbudakan, sekaligus juga menetapkan aturan-aturan komprehensif yang bisa mencegah terjadinya perbudakan kembali. Selain itu, Islam juga memberikan kewenangan kepada Khalifah untuk memperlakukan sabaya sesuai dengan politik dan kepentingan perang. Tidak hanya itu, Islam juga telah menghapuskan perbudakan ketika Islam melarang melibatkan anak-anak dan wanita dalam medan peperangan, seperti yang diterapkan pada hukum perang modern. Ini semua menunjukkan bahwa Islam melarang dan menghapuskan perbudakan yang terjadi di tengah-tengah manusia untuk selama-lamanya. [Syamsuddin Ramadlan An-Nawiy]

    http://hizbut-tahrir.or.id/2008/03/20/islam-menghapus-perbudakan/

    Advertisements
     
    • wikki 6:00 pm on 22/08/2012 Permalink | Reply

      sepertinya kata kata diatas sepertinya tidak ada yang salah tetapi apakah kata kata tersebut diatas adalah yang sesungguhnya ..coba kita melirik kebelakang …sekedar melihat…
      Sura 23 diwahyukan semasa hidup Muhammad di Mekkah sebelum Hijrahnya dari tanah kelahirannya ke Medina pada tahun 622 M. Dalam masa-masa awal pelayanannya, ia tidak pernah mengobarkan perang terhadap siapapun, sehingga ini adalah masa-masa damai, walaupun ia menderita banyak penganiayaan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai konteks historis dan topik literal dari Sura 23, ketik di sini (here)

      Dalam Quran, Sura 23:5-6 mengatakan:

      [Terutama orang-orang beriman] . . . dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada bercela (Bandingkan: Sayyid Abul A’La Maududi, The Meaning of the Quran, vol. 3, h.237).

      Kata-kata kuncinya adalah “budak-budak yang mereka milik” (terjemahan lain: “those who are legally in their possession”). Maududi (1979) adalah komentator Quran yang sangat disegani, dan ia menafsirkan makna asli dari klausa tersebut, ia mengatakan bahwa berhubungan seks dengan para budak perempuan adalah sah.

      Maududi menulis:

      Dua kategori wanita telah dikesampingkan dari perintah umum untuk menjaga bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi (kemaluan) yaitu: (a) para istri, (b) para wanita yang secara sah dimiliki oleh seseorang, yaitu para budak perempuan. Oleh karena itu ayat tersebut dengan jelas menetapkan hukum bahwa orang diijinkan untuk melakukan hubungan seks dengan budak perempuannya seperti halnya dengan istrinya, atas dasar kepemilikan dan bukan pernikahan. Jika pernikahan adalah persyaratannya, maka si budak perempuan akan dimasukkan ke dalam status sebagai istri, dan tidak perlu menyebutkan mereka secara terpisah. (Ibid. p.241, note 7).

      Pokok utama dari bagian ini, yang terlewatkan oleh Maududi atau yang enggan dikritik, adalah bahwa Muhammad sendiri menganjurkan bukan hanya keseluruhan institusi perbudakan, tapi juga seks antara majikan pria dengan para budak perempuan mereka di dalam institusi ini. Tapi bagaimana bisa ia dan juga orang-orang Muslim yang tawakal mengkritik nabi mereka tanpa merusak Islam secara serius? Namun orang-orang Muslim harus melakukannya, jika mereka berpikir secara jelas dan kritis, dan demi kemanusiaan.

      Harus diperhatikan bahwa Sura 70:29-30, yang juga diwahyukan di Medina, menggunakan kata-kata yang hampir identik dengan Sura 23:5-6. Para pria harus menjaga kemaluan mereka dari semua orang kecuali para istri dan para budak perempuan mereka; yang berarti bahwa pria boleh berhubungan seks dengan para wanita dari kedua “kategori” tersebut (perkataan Maududi).

      Jika para pembaca ingin melihat ayat-ayat ini dalam berbagai terjemahan, mereka harus melihatnya di: This website. Yang satu ini (This one) mempunyai 3 terjemahan, dan yang ini (This one) didanai oleh keluarga bangsawan Saudi.

      Seks dengan budak-budak perempuan dalam masa perang

      Kini Muhammad telah hijrah dari Mekkah ke Medina. Pada saat Sura 4 diwahyukan, dan berikut ini kita akan membahas ayat yang ada di dalamnya, ia telah melakukan banyak perang dan kejahatan. Sebagai contoh, ia memerangi orang-orang Mekkah dalam Perang Badr pada 624 M dan sekali lagi terhadap orang-orang Mekkah di Perang Uhud pada 625 M. Ia juga membuang suku-suku Yahudi Qaynuqa pada tahun 624 M dan Nadir pada 625 M. Ia melanjutkan kebijakan seksnya antara para majikan pria dengan budak-budak perempuan mereka di Medina, kotanya yang baru, dengan menambahkan perbudakan para wanita tawanan perang dan mengijinkan para prajuritnya untuk berhubungan seks dengan mereka. Untuk informasi lebih lanjut mengenai konteks historis dan topik literal dari Sura berikut ini, silahkan ketik di sini (here)

      Dalam Quran, Sura 4:24 berkata:

      Dan diharamkan bagi kamu istri-istri yang masih menikah dengan orang lain kecuali mereka yang telah jatuh ke tanganmu (sebagai tawanan perang)… (Maududi, vol. 1, h. 319). Lihat juga Sura 4:3 dan 33:50.

      Oleh karena itu, para tawanan wanita kadangkala dipaksa untuk menikah dengan para majikan Muslim mereka, tanpa mempedulikan status pernikahan wanita tersebut. Tepatnya, para majikan diijinkan untuk berhubungan seks dengan budak yang adalah properti mereka.

      Maududi mengatakan dalam komentarnya terhadap ayat tersebut bahwa adalah sah bagi para pejuang Perang Suci Muslim untuk menikahi para tawanan perang wanita, sekalipun para suami mereka masih hidup. Tapi apa yang terjadi jika para suami ditangkap dengan istri-istri mereka? Maududi mengutip satu mazhab hukum yang mengatakan bahwa orang-orang Muslim tidak boleh menikahi mereka, tetapi dua mazhab lainnya mengatakan bahwa pernikahan antara suami dan istri yang adalah tawanan perang dibatalkan (catatan 44).

      Namun mengapa timbul perdebatan mengenai kekejaman ini? Jawabannya sangat jelas bagi orang-orang yang memahami keadilan sederhana. Tidak boleh ada hubungan seks antara para tawanan perang wanita yang telah menikah dengan orang-orang yang telah menangkap mereka. Pada kenyataannya, tidak boleh ada hubungan seks antara para tawanan wanita dengan para majikan Muslim mereka dalam keadaan apapun.

      Ketidakadilan seksual ini tidak dapat diterima, namun kehendak Allah tidak terbantahkan – demikianlah yang dikatakan Quran.

      Dapat diramalkan, Hadith mendukung Quran – menginspirasi imoralitas.

      Hadith adalah laporan-laporan mengenai tindakan-tindakan dan perkataan-perkataan Muhammad di luar Quran. Kolektor dan editor Hadith yang paling dapat dipercayai adalah Bukhari (870).

      Hadith menunjukkan bahwa para jihadis Muslim sesungguhnya berhubungan seks dengan para tawanan wanita, tak peduli apakah mereka menikah atau tidak. Dalam kutipan berikut ini, Khumus adalah seperlima dari rampasan perang.

      Ali, keponakan Muhammad dan juga menantunya, baru saja selesai mandi relaksasi. Mengapa?

      Nabi mengutus Ali ke Khalid untuk membawa Khumus (dari rampasan perang) dan…Ali mandi (setelah berhubungan seksual dengan seorang budak perempuan dari Khumus itu).

      Apakah tanggapan Muhammad terhadap orang yang membenci Ali oleh karena tindakan seksual ini?

      Apakah kamu membenci Ali oleh karena hal ini?… Janganlah membencinya, karena ia pantas mendapatkan lebih dari itu [dari] Khumus itu. (Bukhari)

      Dengan demikian, Muhammad meyakini bahwa para budak wanita adalah bagian dari seperlima rampasan perang yang dapat diperlakukan sebagai properti seksual. Ali adalah seorang pahlawan Muslim. Ia adalah suami Fatima, putri Muhammad dari Khadija istri pertamanya. Jadi akankah nabi teladan bagi dunia mengolok menantunya sendiri karena telah behubungan seks dengan seorang budak perempuan? Lagipula, para budak adalah permainan seksual yang adil. Quran berkata demikian.

      Tambahan lagi, para jihadis suci tidak boleh mempraktekkan persenggamaan terputus dengan para wanita yang mereka tangkap, tapi bukan karena alasan yang dapat diterima orang: keadilan sederhana.

      Dalam suatu penyerangan militer dan jauh dari istri mereka, para jihadis Muslim “menerima tawanan dari antara orang-orang Arab dan kami menginginkan perempuan dan selibat adalah hal yang sulit bagi kami dan kami suka melakukan persenggamaan terputus”. Mereka bertanya pada nabi suci mengenai hal ini, dan penting kita perhatikan apa yang tidak dikatakannya.

      Ia tidak mengolok mereka atau melarang mereka melakukan hubungan seks apapun, menyatakannya haram. Namun, ia tersesat dalam teologi dan doktrin yang membingungkan mengenai takdir:

      Lebih baik bagimu untuk tidak melakukannya [praktek persenggamaan terputus]. Tidak ada orang yang telah ditakdirkan untuk eksis, tetapi akan mempunyai eksistensinya, hingga Hari Kebangkitan. (Bukhari; untuk Hadith-hadith paralel lihat di sini (here) dan di sini (here)

      Itu berarti, orang Muslim wajib berhenti melakukan persenggamaan terputus, dan tetap melanjutkan hubungan seks dengan budak-budak perempuan yang menjadi obyek seks. Takdir mengontrol siapa yang akan dilahirkan. Muhammad tidak melarang praktek yang sangat tidak bermoral ini padahal waktunya sangat tepat untuk melarangnya.

      Lain perkara jika ada tentara dalam pasukan manapun yang menyerang dan memperkosa karena kemauannya sendiri. Semua pasukan mempunyai prajurit-prajurit kriminal yang melakukan perbuatan bejat seperti itu. Namun apa yang dilakukan Muhammad adalah menetapkan perkosaan dalam suatu teks sakral.

      Islam menetapkan dan mengesahkan perkosaan.

      Sangatlah mengecewakan melihat Quran tidak menghapuskan kejahatan seksual ini dengan pernyataan yang sejelas-jelasnya: Kamu tidak boleh berhubungan seks dengan para budak perempuan dalam keadaan apapun!
      Kesimpulan
      Quran menetapkan dan melegalkan kejahatan seksual itu, dan menegaskan bahwa kitab ini turun dari Allah melalui Jibril kepada Muhammad. Orang yang berpikiran waras dapat melihat bahwa berhubungan seksual dengan dengan wanita dalam kondisi mereka yang sangat memprihatinkan (perbudakan) adalah salah.

      Pertanyaan berikut harus ditanyakan dan dijawab: Apakah Muhammad, Quran, dan Islam adalah nabi, kitab dan agama yang terbaik untuk membawa umat manusia memasuki milenium yang baru?

      Bagi kita yang berada di luar Islam, yang menguji bukti yang ada dengan obyektifitas yang besar dengan semampu kita dan yang tidak dibutakan dengan pengabdian seumur hidup pada Islam, jawaban terhadap pertanyaan retoris ini sangatlah jelas: tidak, ketiganya bukanlah yang terbaik untuk membawa umat manusia memasuki milenium yang baru.

      Oleh karena itu, semua orang Muslim yang berpikiran jernih, yang hidup di bawah para penindas yang kelewat religius, harus menyingkirkan mereka dan mengobarkan revolusi sekuler seperti yang terjadi di Turki setelah Perang Dunia I. Mungkin hal ini akan terjadi di Iran, dan mungkin Irak akan bersih dari Syariah (hukum Islam), ketika orang-orang Irak mengambil langkah-langkah kecil pertama mereka menuju demokrasi. Mereka harus melepaskan diri dari Quran dan teladan Muhammad.

      Hingga revolusi-revolusi ini terjadi dan hingga para pemimpin relgius menolak banyak ayat dalam Quran dan Hadith, kita yang berada di luar agama ini diijinkan untuk tidak mempercayai agama Muhammad.

      Dan para wanita yang digoda untuk memeluk agama Islam, harus berhenti dan berpikir dua kali sebelum melakukannya.

  • SERBUIFF 5:59 am on 22/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Al-Quran Membolehkan Menyetubuhi Budak?   

    Al-Quran Membolehkan Menyetubuhi Budak? 

    Al-Quran Membolehkan Menyetubuhi Budak?

    Februari 21st, 2009 | Quran |  Tagged

    Assalamualaikum,

    Pak Ustadz yang saya hormati karena Allah, langsung saja, saya ingin menanyakan: pada Surat Al-Mu’minuun ayat 5 – 6:

    “Dan orang – orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isti – isteri mereka atau budak – budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

    Saya telah mengerti yang dimaksud dengan isteri, namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah yang dimaksud dengan budak dalam ayat tersebut?

    Mungkinkah Tenaga Kerja yang diperjualbelikan (maaf: seperti TKI, Pembantu yang melalui Penyalur) termasuk dalam kategori Budak?

    Apakah Ayat tersebut masih cocok untuk diamalkan pada zaman kita sekarang ini?

    Saya mohon penjelasan dari Pak Ustadz, dan atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.

    Wassalamu alaikum

    Gunawan

    Jawaban

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Budak yang dimaksud di dalam ayat tersebut bukan pembantu, bukan TKW dan bukan orang yang diperlakukan seperti budak. Budak yang dimaksud adalah budak betulan, lengkap dengan tatanan masyarakat, tatanan hukum dan tatanan ekonomi yang mengakui perbudakaan itu.

    Boleh dibilang, budak yang dimaksud di dalam ayat itu pada saat sekarang ini nyaris sudah tidak kita temukan lagi. Namun hukum yang terkandung pada ayat itu tetap berlaku, tidak pernah dinasakh (dihapus). Yang terhapus adalah fenomenanya. Maksudnya, perbudakaan itu di zaman sekarang ini dengan segala perangkat dan sistemnya, sudah tidak ada lagi. Tetapi ayat dan hukumnya tetap ada.

    Mungkin saja suatu saat nanti, manusia bisa sadar sepenuhnya sehingga memusnahkan semua jenis khamar. Sehingga tidak ada lagi khamar di muka bumi untuk kurun waktu berabad-abad. Maka dengan tidak adanya khamar dalam peradaban manusia, apakah ayat Al-Quran yang mengharamkan khamar lantas dihapus?

    Jawabnya tentu tidak.

    Ayat Al-Quran tidak akan pernah dihapus, baik hukumnya atau pun lafadznya. Sebab kalau kita mengatakan bahwa ada ayat yang dihapus, baik lafadznya atau hukumnya, maka kita telah mengingkari salah satu dari ayat Al-Quran. Dan hukumnya kufur.

    Yang terhapus bukan ayat dan hukumnya, tetapi kondisinya. Dan sebuah kondisi bersifat sementara. Akan ada suatu zaman di mana kondisi bisa berubah. Sehingga khamar yang sudah musnah kemudian akan beredar lagi. Demikian juga dengan sistem perbudakan, mungkin sekarang ini sudah tidak ada, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa perbudakan akan hilang selamanya?

    Tidak pernah ada yang bisa menjamin bahwa suatu saat umat manusia kembali lagi masuk ke zaman perbudakan. Di mana budak itu secara hukum negara diakui secara formal sebagai komoditi yang bisa diperjual-belikan. Budak tidak punya hak untuk memiliki suatu harta, tetapi sebaliknya, dia malah dimiliki sebagai sebuah harta.

    Di dalam sistem perbudakan, budak tidak dianggap sebagai manusia, secara de jure dan de facto. Dan seluruh manusia mengakuinya, termasuk para pakar hukum. Budak di mata hukum, hanyalah setengah manusia, sdangkan setengahnya lagi hanyalah hewan melata.Realita ini olehhukum positif yang berlaku diakui sebagai sesuatu yang legal.

    Dan seorang laki-laki yang punya budak, boleh menyetubuhi budak perempuannya. Ini pun legal dan dibenarkan di dalam sistem hukum di masa perbudakan berlaku. Bukan hanya di tanah arab, tetapi juga di berbagai kerajaan baik yang ada di benya Eropa, Afrikamaupun Asia. Dan keadaan ini berlangsung berabad-abad lamanya, hingga syariat Islam turun di jazirah arabia.

    Misi syariat Islam justu membebaskan manusia dari perbudakan. Bukan sekedar mengubah hukum yang berlaku untuk tiap budak. Sebab masalah budak terkait dengan konvensi dan hukum yang berlaku di tiap peradaban. Islam tidak bisa begitu saja tidak memberlakukan perbudakan. Yang dilakukan Islam adalah menutup semua pintu menuju perbudakan dan membuka lebar-lebar semua pintu untuk menuju ke arah bebasnya para budak.

    Menyetubuhi Budak: Sebuah Kerendahan

    Mungkin sebagian dari kita berpikir, wah enak juga ya punya budak, bisa menyetubuhi tanpa dinikahi’. Padahal sesungguhnya yang terjadi tidak demikian. Terutama untuk bangsa arab yang sangat menjunjung tinggi nilai seorang isteri.

    Sudah menjadi adat dan tradisi bagi bangsa itu untuk menikahi dengan wanita terhormat. Dan untuk itu, secara finansial mereka punya level bargaining yang tinggi. Laki-laki arab tidak segan-segan untuk menggelontorkan seluruh hartanya demi untuk membayar mahar (maskawin) yang sedemikian mahal. Semakin tinggi nilai dan derajat seorang wanita yang akan dinikahi, maka semakin malah nilai maharnya. Dan semakin naik gengsi si laki-laki yang menikahinya. Dan urusan gengsi ini menjadi ukuran status sosial yang punya kedudukan tersendiri.

    Mereka yang menikah dengan wanita bermahar murah, biasanya langsung mengalami penurunan ‘indeks harga diri’. Minimal sedikit terkucil dari pergaulan. Hanya karena menikah dengan wanita yang nilai maharnya agak rendah. Sebab kemurahan nilai mahar sedikit banyak menggambarkan status dan derajat keluarga si wanita. Dan buat bangsa arab saat itu, menikahi wanita yang maharnya murah akan sangat menjatuhkan gengsi dan wibawa.

    Apalagi kalau sampai menikahi budaknya sendiri, maka ‘indeks harga diri’ akan langsung melorot jatuh. Dia akan tidak punya ‘muka’ di hadapan teman-temannya, karena bersetubuh atau menikah dengan budak. Sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan, bahkan memalukan.

    Maka meski ayat ini menghalalkan hal itu, bukan berarti orang arab lantas senang. Sebab buat mereka, menikah dengan wanita yang berderajat tinggi adalah sebuah prestise tersendiri. Dan menikah dengan budak adalah sebuah ‘catatan tersendiri’ meski dihalalkan.

    Maka di akhir ayat, Allah SWT menegaskan bahwa hal itu tidak tercela. Sebab memang buat bangsa arab saat itu, menyetubuhi dan menikahi budak memang agak membuat mereka terhina.

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc (wi)

    http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:w0PiKIvePi8J:mediamuslim.blogdetik.com/pabochech/331/al-quran-membolehkan-menyetubuhi-budak/+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

     
    • wikki 5:37 pm on 22/08/2012 Permalink | Reply

      sejarah tidak bisa diubah karena sudah terekam dengan akurat ..walaupun banyak orang mencoba memelintirka .tapi kebenaran selalu terungkap..mengenai…alquran membolehkan menyetubuhi budak ,,sesuai dengan sejarah yang tertulis ..kita bisa melihat contoh yang dilakukan oleh muhammad…
      inilah kisah muhammad bersama mariya..(Surah No. 66, AT-TAHRIM)
      Latar belakang Sura ini:
      Saat itu adalah giliran Hafsa untuk disetubuhi oleh sang nabi. Budak Hafsa yang bernama Maria, orang Koptik Kristen pemberian dari Raja Alexandria, juga berada di kamarnya ketika sang Nabi masuk. Maria adalah gadis remaja yang cantik jelita, merangsang sukma. Dia membangkitkan nafsu birahi pria manapun yang melihatnya; apalagi pria seperti sang nabi yang diberi kekuatan seks sebanyak 30 pria oleh Allah. Kalau tidak percaya, lihat hadisnya:
      Hadis Sahih Bukhari Volume 1, Book 5, Number 268:
      Dikisahkan oleh Qatada: Sang Nabi diberi kekuatan seksual setara dengan 30 pria.
      Agar bisa berduaan saja dengan Maria, maka sang nabi mengarang alasan dan mengatakan pada Hafsa bahwa ayahnya, yakni Umar, ingin bertemu dengannya. Padahal Umar tidak memanggil Hafsa dan saat itu dia sedang melakukan sunnah nabi. Hafsa tidak menemukan ayahnya Umar ketika tiba di rumah ayahnya di ujung jalan.
      dan bla..bla..bla….Hafsa: “Wah, aku tidak bisa menunggu Bapak terlalu lama. Malam ini giliranku nge-seks dengan sang nabi. Dia tentunya sedang menungguku di ranjang saat ini.”

      SANG NABI MEMANG SEDANG BERADA DI RANJANG SAAT ITU, TAPI TIDAK SEDANG MENUNGGU HAFSA.

      Ketika Hafsa kembali, dia menemukan sang Nabi sedang sibuk menggumuli babunya si Mariah di atas ranjang Hafsa!! Hafsa ngamuk berat (dia pemarah sama seperti ayahnya Umar) dan mulai mencaci-maki sang Nabi.

      Hafsa: “Rasulullah, kau bohong dan menipuku agar bisa ngebor babuku?”

      Sang Nabi: “Hafsa, jaga kata-katamu. Qur’an 33:32 berkata kau harus berbicara sopan terhadap Rasul Allah.”

      Q 33:32
      Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik..

      Hafsa: “Aku akan berkata sopan pada Nabi jika Nabi berhenti melakukan perbuatan yang memalukan dirinya sendiri.”

      Sang Nabi: “Nge-seks dengan budak perempuan bukanlah perbuatan yang memalukan. Allah telah menghalalkan hal itu bagiku.”
      Q 33:50
      Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu,

      Hafsa: “Aku tidak peduli semua alasan ini itu halal… Silakan kau nge-seks dengan onta betina sekalipun, aku tidak peduli. Tapi aku tidak mau kau melakukan hal itu di atas ranjangku, di malam giliranku.”

      Sang Nabi: “Hafsa, tenang dong, say. Kuberitahu, yah. Jika kau tidak membocorkan hal ini dan tidak mengatakan pada siapapun, maka aku bersumpah tidak akan pernah lagi menyentuh Maria. Cobalah tenang, minum air putih dingin kek.”

      Hafsa: “Baiklah, aku juga ingin buang air kecil.”

      Q 66:1 dan 66:2 DIWAHYUKAN

      Hafsa kembali dari buang air kecil dan lagi-lagi menemukan suaminya di ranjangnya bersama Maria.
      Hafsa: “Rasulullah, kau ini sudah hilang ingatan, ya? Barusan kau bilang kau tidak akan menyentuh Maria lagi!”
      Sang Nabi: “Iya, memang begitu, tapi lalu Allah menurunkan Q66:1 sewaktu kau pergi pipis, dan isinya adalah, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?”
      Hafsa: “Bagaimana dengan sumpahmu tadi?”
      Sang Nabi: “Allah membatalkan sumpahku dengan Q 66:2 yang mengatakan bahwa Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

      jelas dalam kisah ini mariyam bukan tawanan perang….!!!!!

    • wikki 5:16 pm on 25/08/2012 Permalink | Reply

      sebaiknya omong kosong sepertidiatas segera disingkirkan. ayat ayat quran dengan senak perut ditafsirkan ..padahal kenyataan yang sesungguhnya sangat jauh dari kenyataan …seharusnya sudah waktunya para ustad berkaca dan meliahat contoh yang diperbuat oleh bangsa arab sana terhadap TKI bangsa indonesia kasus demi kasus kepala yang telepas satu demi satu ..yang dialami wanita TKI …sudah diperkosa tak dapat menghadirkan 4 saksi maka jaminanya adalah kepalanya lepas…inikah jawaban agama yang sangat meenghargai wanita itu???? adakah para ustad membuka mata dan telinga terhadap perlakuan bangsa arab terhadap bangsa yang sangat miskin yang hanya mengharapkan belas kasihan orag arab meninggalkan sanak keluarga ..hanya memperjuangkan perut ..dipertaruhkan segalanya ..tapi berahir di tangan algojo ..karena tidak mampu menghadirkan empat lakilaki sebagai saksi …pembaca sekalian …selama ini kita selalu menghujat amerika sebagai kafir .juga isrel ..tapi kenyataan selama ini adakah mereka melakukan seperti yang dilakukan bangsa arab terhadap indonesia???? seandainya amerika melakukan hukuman pancung terhadap bangsa indanesia ..apakah sesunyi ini juga yang kita rasakan???? malaisya ..juga memperlakukan hal serupa terhadap indonesia yang katanya kaya raya ini.. erhadap malaisiya sampai sejauh mana tindakan pemerintah terhadap pencurian pencurian kayu di kalimatan sana>>>padahal negara ini besar ..dimana kemampuanmu????

    • wikki 1:44 am on 26/08/2012 Permalink | Reply

      sebenarnya alquran itu tak perlu tafsir yang bisa memelintirkan makna …tafsir itu tak pernah dipraktekkan di arab sana yang sumbernya quran…bagaimanapun para ustad membuat tafsir quran dan hadis kalau arab saja tidak pernah mempraktekkan tafsir quran itu…sia sia ….kita lihat sajalah contoh yang dibuat bangsa arab sana ..bagaimana mereka memperlakukan para TKI yang nota bene adalah budak… mereka bebas diperkosa di tiduri sebab hal yang tidak mungkin bagi wanita untuk menghadirkan 4 orang saksi ketika ia diperkosa dan hasilnya bila dia mengadu ..????semua berahir dihukum rajam bagi orang yang diperkosa ….adakah para muslimer indonesia pernah melihat seorang yang wanita diperkosa bisa mendapat perlindungan hukum ???dan menghukum pemerkosa?????/perkosaan bukanlah suatu tontonan yang bisa disaksika 4orang..adalah hall yang mustahil

  • SERBUIFF 5:54 am on 22/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: itulah orang-orang yang telah melang­gar garis. وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik te, maka tidaklah mereka tercela. فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 - 11 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ (1) Sesungguhnya menanglah orang-ora   

    Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 – 11 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ (1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman. ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ (2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang. وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ (3) Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras. وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ (4) Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT. وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ (5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka. إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ (6) Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela. فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis. وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya. وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ (9) Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya. أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ (10) Mereka itulah yang akan me­warisi. ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ (11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya. 

    Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 – 11
     

                                                             بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم  

     قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ

    (1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman.


     ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ 

    (2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.


    وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ

    (3)Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ

    (4) Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ

    (5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.


    إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ

    (6)  Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.


     فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ

    (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ

    (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.


     وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ

    (9) Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya.


     أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ

    (10) Mereka itulah yang akan me­warisi.


     ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ

    (11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya.


                                            Perjuangan Dan Kemenangan

     قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ
    “Sesungguhnya menanglah orang-orong yang beriman.° (ayat 1).

    Kalimat “menang” adalah bukti bahwasanya perjuangan telah dilalui menghadapi musuh atau berbagai kesulitan.
    Orang tidaklah sampai kepada menang, kalau dia belum melalui dan mengatasi rintangan yang bertemu di tengah jalan. Memang sungguh banyak yang harus diatasi, dikalahkan dan ditundukkan dalam melangkah ke muka mencapai kemenangan. Kalau sekira­nya suatu bangsa mempunyai banyak musuh atau rintangan di dalam per­jalanannya untuk mencapai martabat yang lebih tinggi.

    Rintangan dari kebodohan, rintangan dari nafsu-nafsu jahat yang ada dalam diri sendiri, yang mungkin membawa derajat kemanusiaan jadi jatuh, sehingga kembali ke tempat kebimbangan rintangan dari syaitan yang selalu merayu dan memperdayakan, semuanya pasti bertemu dalam hidup. Hati nurani manusia ingin kejayaan,. kemuliaan dan kedudukan yang lebih tinggi. Tetapi hawanafsunya mengajaknya atau menariknya supaya jatuh ke bawah. Kalau kiranya “pegangan hidup” tidak ada, diri itu pasti kalah dan tidak tercapai apa yang dimaksud, yaitu kemenangan hidup.

    Maka di dalam ayat ini diberikan keterangan bahwasanya kemenangan pastilah didapat oleh orang yang beriman, orang yang percaya. Kalimat “qod” yang terletak di pangkal fill madhi (Aflaha) menurut undang-undang bahasa Arab adalah menunjuk kan kepastian. Sebab itu maka ia (Qad) diartikan “sesungguhnya”.

    Hanyalah adanya kepercayaan adanya Tuhan jalan satu-satunya buat membebaskan diri dari perhambaan hawa nafsu dunia dan syaitan. Penga­laman-pengalaman di dalam hidup kita kerapkali menunjukkan bahwasanya di atas kekuasaan kita yang terbatas ini ada kekuasaan Ilahi. Kekuasaan Ilahi itu­lah yang menentukan, bukan kekuasaan kita. Tetapi kepercayaan dalam hati saja, belumlah cukup kalau belum diisi dengan perbuatan. Iman mendorong sanubari buat tidak mencukupkan dengan hanya semata pengakuan lidah.

    Dia hendaklah diikuti dengan buktt dan bakti. Kemudian bukti-bukti itu memperkuat Iman pula kembali. Di antara Iman dan perbuatan adalah isi­mengisi, kuat-menguatkan. Bertambah banyak ibadat, bertambah kuatlah lman. Bertambah kuat Iman, bertambah pula kelezatan dalam jiwa lantaran beribadat dan beramal.

    Maka ditunjukkanlah 6 (enam) syarat yang wajib dipenuhi sebagai bukti Iman. Kalau 6 syarat ini telah terisi, pastilah menang. Menang mengatasi ke­sulitan diri sendiri, menang dalam bernegara, dan lanjutan dari kemenangan semuanya itu ialah syurga jannatul firdaus. Syarat kemenangan Peribadi Mu’min yang pertama ialah:

    Sembahyang Yang Khusyu`

    ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ
    “Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.” (ayat 2).

    Tuhan tidaklah semata-mata untuk dipercayai. Kalau semata hanya dipercayai, tidaklah akan terasa betapa eratnya hubungan dengan DIA. Kita harus mengendalikan diri sendiri supaya bebas lain di dalam alam ini. Sebagai manusia kita mempunyai naluri, yang kalau din ini tidak mempunyai tujuan terakhir dalam hidup, niscaya akan sangsai dibawa larat oleh naluri sendiri.

    Kita mempunyai instink rasa takut. Kita dipengaruhi oleh rasa takut kepada kemiskinan, takut kepada kematian, takut akan tekanan-tekanan sesama kita manusia, kezaliman orang-orang yang berkuasa atas kita. Bahkan kadang kadang manusia yang berani pun ada juga naluri takutnya. Roosevelt Presiden Amerika Syarikat dalam Perang Dunia Kedua, menambahkan lagi salah satu tujuan “Declaration of Human Right” ialah bebas dari rasa takut (freedom from fear). Padahal tidaklah manusia dapat membebaskan diri dari rasa takut itu, sebab naluri rasa takut adalah sebagian dari naluri rasa takut mati. Takut mati ialah karena keinginan hendak terus hidup.

    Dengan mengerjakan sembahyang, yaitu bahasa nenek-moyang kita yang telah kita pakai untuk arti “shalat”, maka seluruh rasa takut telah terpusat kepada Tuhan, maka tidaklah ada lagi yang kita takuti dalam hidup ini. Kita tidak takut mati, karena dengan mati kita akan segera berjumpa dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan amal kita selama hidup. Kita tidak takut kepada zalim aniaya sesama manusia, karena sesama manusia itu hanyalah makhluk sebagai kita juga. Kita tidak takut kepada lapar lalu tak makan, karena rezeki kita telah dijamin Tuhan, asal kita mau berusaha. Kita tidak takut meng­hadang bahaya, karena tidak ada yang bergerak dalam alam ini kalau tidak ditentukan Tuhan. Dengan sembahyang yang khusyu` rasa takut menjadi hilang, lalu timbul perasaan-perasaan yang lain. Timbullah pengharapan (desire) dan pengharapan adalah kehendak asasi manusia. Hidup manusia tidak ada artinya samasekali kalau dia tidak mempunyai pengharapan.

    Sembahyang 5 waktu adalah laksana setasiun-setasiun perhentian istirahat jiwa di dalam perjuangan yang tidak henti-hentinya ini. Sembahyang adalah saat untuk mengambil kekuatan baru melanjutkan perjuangan lagi. Sembah­yang dimulai dengan Allahu Akbar” itu adalah saat membulatkan lagi jiwa kita supaya lebih kuat, karena hanya Allah Yang Maha Besar, sedang segala perkara yang lain adalah urusan kecil belaka. Tak ada kesulitan yang tak dapat diatasi.

    Khusyu` artinya ialah hati yang patuh dengan sikap badan yang tunduk. Sembahyang yang khusyu`, setelah menghilangkan rasa takut adalah pula menyebabkan berganti dengan berani, dan jiwa jadi bebas. Jiwa tegak terus naik ke atas, lepas dari ikatan alam, langsung menuju Tuhan. Dengan sembah­yang barulah kita merasai nilai kepercayaan (Iman) yang tadinya telah tumbuh dalam hati. Orang yang beriman pasti sembahyang, tetapi sembahyang tidak ada artinya kalau hanya semata gerak badan berdiri, duduk, ruku` dan sujud. Sembahyang mesti berisi dengan khusyu`. Sembahyang dengan khusyu` ada­lah laksana tubuh dengan nyawa. Tuhan memberi ukuran waktu paling sedikit (minimum) untuk mengerjakan sembahyang itu 5 waktu. Tetapi sembahyang lima waktu yang khusyu` menyebabkan Mu’min ingin lagi membuat hubungan lebih baik dengan Tuhan, lalu si Mu’min mengerjakan shalat yang nawafil dalam waktu-waktu yang tertentu. Dengan itu semua jiwanya menjadi lebih kuat berjuang dalam hidup. Sebab……

      

    “Dialah yang menjadikan untuk kamu apa yang ada di bumi semaunya.” (al-Baqarah 29)

    Membenteng Peribadi

    وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ

    “Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia menampik dengan keras.” (ayat 3).

    Saat hidup kita dalam dunia ini amatlah singkatnya, daerah yang kita jalani amatlah terbatas. Sedang mencoba-coba mempergunakan umur, meresek meraba ke kiri-kanan, tiba-tiba umur telah habis. Mana yang telah pergi.tidak dapat diulangi lagi. Sebab itu maka segala tingkah laku, baik perbuatan atau ucapan hendaklah ditakar sebaik-baiknya.
    “AI-Laghwi” dari kata “Laghoo”, artinya perbuatan atau kata-kata yang tidak ada faedahnya, tidak ada nilainya. Baik senda-gurau atau main-main yang tak ada ujung pangkalnya.

    Kalau perbuatan atau tingkah laku atau perkataan sudah banyak yang percuma dan sia-sia, peribadi tidak jadi naik, melainkan turun kembali. Maka kekuatan peribadi yang telah didapat dengan sembahyang khusyu` haruslah di pelihara dengan mengurangi garah, senda-gurau, berjudi walaupun tak ber­taruh. Di dalam satu majlis besar, peribadi dapat diukur menurut nilai tingkah faku dan ucapan. Sebagaimana pepatah orang Arab :

    “Barangsiapa yang banyak main-main, dipandang orang ringanlah nilai dirinya. “

    Diserahkanlah kepada setiap peribadi menimbang sendiri mana yang logha, perbuatan atau kata-kata yang sia-sia dan mana yang berfaedah. Ke­kuatan ibadat kepada Ilahi, kekhusyu’an dalam sembahyang yang akan meng ansur pembersihan jiwa kita. Apabila jiwa telah mulai bersih, dia berkilat ber­cahaya, dia akan menerima cahaya pula.

    Agama tidak melarang suatu perbuatan kalau perbuatan itu tidak merusak jiwa. Agama tidak menyuruh, kalau suruhan itu tidak akan membawa selamat dan bahagia jiwa. Segala yang dinamai dosa, atau lagha. Segala perbuatan yang di luar dari kebenaran, artinya yang salah, tidaklah ada hakikatnya.

    Gangguan terlalu lebih banyak dari kiri-kanan kita, kita harus membentengi diri dan tidak menoleh ke kiri-kanan. Kita harus jalan terus, sebab berhenti sejenak saja pun artinya ialah kerugian. Sebab itu jika dengan menampik segala sikap sia-sia dan percuma, adalah menjaga peribadi itu dari keruntuhan. Renungkanlah dan fikirkan betapa singkatnya kesempatan dalam dunia ini akan melukiskan nilai dari kehidupan itu. Laksana putik kita telah tumbuh, di waktu masih putik rasa belum ada. Dari putik menuju jadi buah yang muda, kalau masih buah muda rasanya masih masam. Kalau sudah tua dan masak, itu­lah alamat bahwa tempoh buat tanggal dari tampuk sudah amat dekat.

    Kalau sudah demikian tempoh sudah amat sedikit itu akan dibuang-buang dengan perbuatan sia-sia. Padahal kalau tempoh yang sedikit itu dapat dipergunakan dengan perhitungan yang baik dan tepat, umur diperpanjang dengan jasa dan buah tangan. Sehingga walaupun telah hancur tulang dalam kubur namun sebutan masih ada. “Sebutan adalah usia manusia yang kedua kali.” Dengan kedua ayat itu, ayat khusyu` dalam sembahyang dan ayat me­nampik segala perbuatan sia-sia, diri peribadi telah dapat dibangunkan dan dapat pula diberi benteng untuk menjaga jangan rusak. Karena satu bangunan yang dibangun kedua kali lebih payah dari pembangunan semula, padahal umur berjalan juga.
    Pembersihan Jiwa

    وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ

    “Dan orang-orang yang mengerjakan zakat.” (ayat 4).

    Kalau peribadi telah terbangun dan diberi benteng jangan runtuh kembali, sudahlah masanya kita menceburkan diri ke tengah pergaulan ramai. Kekuatan peribadi bukanlah maksudnya untuk menyisihkan diri dari orang banyak. Timbulnya peribadi adalah setelah dibawa ke tengah. Barang yang telah di­bawa ke tengah ialah barang yang sudah dibangun, dan dia selalu wajib di­bersihkan, digosok terus dan diberi cahaya terus. Laksana lampu listrik stroom­nya mesti selalu dialirkan, jangan dia padam di tengah gelanggang.

    Lihatlah suatu majlis yang bermandi cahaya terang. Alangkah indah campuran warna. Sebabnya ialah karena segala cahaya yang timbul dari setiap lampu telah berkumpul menjadi satu mentipta cahaya besar.
    Bersihkanlah hati itu dari sekalian penyakitnya yang akan meredupkan cahaya.
    Dengki adalah debu yang mengotori jiwa. Bakhil adalah debu yang mengotori jiwa. Dusta adalah debu yang mengotori jiwa. Benci adalah debu yang mengototi jiwa.

    Segala perangai jahat, kebusukan hati menghadapi masyarakat, semuanya adalah sebab-sebab yang menjadikan jiwa tidak dapat dibawa ke tengah. Cahaya jiwa tertutup oleh karena kesalahan pilih. Kemurnian Tauhid kepada Ilahi clan hati bersih terhadap sesama manusia adalah pengkalan dari kesucian: zakat.
    Lizzakati faa’ilun : Selalu bekerja, aktif membersihkan jiwa dan raga agar tercapai kemenangan.

    “Menanglah barangsiapa yang selalu membersihkan diri.” (al-A’la: 14)

    Yang dibersihkan bukan jiwa saja, bahkan tubuh lahir pun. Sebab yang lahir adalah cermin clan yang batin. Sebab itu sebelum mengaji r/a (rubu`) ilmu Fiqh, dibicarakan dahulu dari hal kebersihan (thoharoh) panjang lebar.

    Sebab itu maka pengeluaran Zakat harta yang telah cukup bilangannya (Nishab) clan cukup tahunnya (Haul), hanyalah sebagian saja clan usaha mem­bersihkan jiwa itu. Orang yang tidak cukup hartanya satu nishab clan belurn sampai bilangan setahun masih ada yang memberikan derma atau wakaf untuk kebaikan. Karena berasal clan kebersihan jiwanya.

    Orang yang membayar Zakat Fithrah, ukuran Zakat Fithrah hanya 3.5 liter buat satu orang. Tetapi ada orang yang mengeluarkannya Fithrah satu pikul beras, karena didorong oleh kesucian hati yang bersih daripada pengaruh bakhil, dia menjadi seorang yang dermawan.

    Marilah perhatikan dengan seksama kalimat “Fa’iluun” yang berarti mengerjakan. Mengerjakan Zakat. Sebagai tadi diketahui Surat al-Mu’minun diturunkan di Makkah dan di Makkah belum ada lagi syariat Zakat yang berarti membayarkan bilangan harta tertentu kepada yang mustahak menerirnanya. Peraturan berzakat demikian, sebagai salah satu tiang (rukun) Islam baru turun di Madinah clan perintah mengeluarkan zakat harta itu dimulai dengan kalimat: Aatu, iyi memberikan atau mengeluarkan zakat. Sedang dalam ayat ini disebut Lizzakati Faa’ilun, mengerjakan zakat. Lantaran itu jelaslah bahwa dalam ayat ini belum ada perintah mengeluarkan harta dengan bilangan ter­tentu (nishab), melainkan barulah perintah yang umum untuk bekerja keras membersihkan perangai, akhlak dan budi. Berlatih diri, sehingga kelaknya bukan harta saja yang ringan memberikannya untuk kepentingan Agama Allah, bahkan nyawa pun dikurbankan ap.abila datang waktunya.
    Kelamin Dan Rumahtangga

    وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ

    “Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereko.” (ayat 5). ”

    إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ

    Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela. ” (ayat 6).

    فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ

    “Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melanggar garis. ” (ayat 7).

    Hubungan dengan Ilahi telah diperteguh dengan sembahyang yang khusyu`.
    Dengan demikian peribadi yang kuat telah dibangunkan. Segala ting­kah laku, perbuatan dan perkataan yang sia-sia telah ditolak dan ditampak.
    Dengan demikian peribadi telah diberi benteng. Setiap waktu bekerja dan bekerja untuk menegakkan kesucian jiwa clan raga, sehingga layak masuk dalam masyarakat, memadukan cahaya terang-benderang untuk menyinari lebih luas. Tetapi semuanya itu belumlah terjamin, kalau belum tegak rumah­tangga yang kokoh. Hubungan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan yang diliputi kasih mesra. Suami-isteri yang diliputi kasih mesra dan kesetiaan dua belah pihak menimbulkan suasana suci murni, menurunkan keturunan anak-pinak yang menyambung tugas takwa kepada Ilahi.

    Hubungan suami-isteri dalam rumahtangga tegak atas “Mawaddah dan Rahimah”. Di waktu badan masih sama-sama kuat dan muda, mawaddah (kasih cinta)lah yang tertonjol. Dan kalau sudah sama-sama berumur, rahmah lah (belas kasihan) yang terkemuka. Orang tua dikhidmati oleh anak-anak. Anak percaya dan sayang kepada ibu bapaknya, karena ibu bapak tidak pernah kecurian budi oleh anak-anaknya.

    Kalau faraj (kelamin) tidak terjaga, si suami masih melantur malam mencari perempuan lain untuk menumpahkan hawanafsu di samping isterinya yang sah, kerusakanlah yang akan timbul. Jiwanya akan rusak, kesucian akan hancur sirna dan rumahtangga pecah berderai, bahkan menjadi neraka. Berapa pun uang disediakan tidaklah akan cukup. Dan apabila hawanafsu kelamin diper­turutkan, tidaklah akan berhenti di tengah jalan. Air pelembahan yang kotor itu akan diminum sampai habis, dan susah melepaskan diri clan dalamnya. Hari depan jadi gelap.

    Ada perempuan yang sabar menanggungkan perangai jahat suaminya, tetapi ada pula yang tak tahan hati. Kalau lakinya nakal, “mengapa daku tidak nakal pula”, katanya. Rumahtangga bertambah hancur, anak-anak kehilangan pegangan, penyakit jiwa, kehilangan kepercayaan di antara satu sama lain. Dan kalau sudah demikian, bangsalah yang hancur.

    Nafsu kelamin menggelora di waktu muda. Hanya kekuatan Iman ber­agama yang dapat menahannya. Sedangkan pada yang halal kalau diperturut­kan saja, orang akan cepat kehabisan kalori dan hormon, apalagi kalau berzina. Karena zina tidak dapat dilakukan satu kali. Belum sampai separuh umur, kekuatan sudah habis, belum pula kalau ditimpa penyakit kelamin.

    Islam mengizinkan beristeri lebih dari satu buat orang yang nafsu kelamin­nya amat keras. Tetapi apabila diperhatikan ayat yang mengizinkan beristeri sampai 4 itu dengan seksama, jelas bahwa bagi orang yang masih “normal” lebih baiklah beristeri satu saja. Karena beristeri banyak itu pun menyusahkan untuk mendirikan rumahtangga bahagia, hanya menimbulkan permusuhan dendam kesumat di antara orang-orang yang bermadu clan di antara anak-anak yang berlain ibu.

    Di dalam ayat ini diberi pula kekecualian yang kedua, yaitu terhadap hambasahaya yang dijadikan gundik. Ayat ini berlaku semasa perbudakan masih diizinkan. Di zaman Nabi hidup, perbudakan masih ada di dalam masya rakat durtia dan menjadi tradisi umum bangsa-bangsa zaman itu. Perbudakan telah ada sejak zaman Yunani dan Romawi, bahkan telah ada sejak jauh se­belum itu. Maka jika Nabimasih mengakui kenyataan itu, adalah hal yang wajar. Kalau terjadi perang, sedang Nabi tidak lagi memandang orang tawanan yang tidak ditebus sebagai hambasahaya, padahal negara lain yang berperang dengan dia masih berpegang kepada aturan itu, alangkah timpangnya. Orang lain ditawan oleh tentara Islam tidak diperlakukan sebagai budak dan dibebas­kan, sedangkan tawanan Muslimin masih diperlakukan demikian oleh musuh. Betapakan jadinya?

    Di akhir abad kesembilanbelas, barulah dunia sopan menghabiskar perbudakan. Di Amerika penghapusan perbudakan menimbulkan perang saudara clan penganjurnya sendiri Abraham Lincoln menjadi kurban dari cita citanya. Namun demikian peperangan yang terjadi kemudiannya sampai perang dunia kedua, tawanan perang oleh setengah negeri masih diperlakukan sebagai budak, dipekerjakan di Siberia dan lain-lain dengan amat kejam. Dan terkenallah betapa kac.au-balaunya wanita-wanita Jerman ketika tentara sekutu masuk ke negeri itu. Perbudakan tidak diadakan lagi, tetapi wanita-wanita dari bangsa yang kalah diperkosa oleh tentara pendudukan dengan tidak ada garis aturan tertentu.

    Tentara pendudukan Amerika di Jepang meninggalkan beratus ribu anak­anak di luar nikah. Adapun dalam Islam, kalau suatu negeri ditaklukkan, dan perempuan-perempuan kehilangan suami, kehilangan hartabenda, menjadi tawanan, kalau tidak dapat menebus dirinya lagi, bolehlah dia diambil menjadi budak. Dan boleh menjadi tambahan isteri dengan nikah, dan anak-anak dari hubungan perkawinan dengan budak itu rnenjadi anak Bani Abbas, termasuk Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun sendiri adalah anak dari budak yang dijadikan isteri itu .

    Sungguhpun demikian, narnun cita-cita tertinggi berakhir rumahtangga bahagia ialah isteri satu, dan habisnya perbudakan.
    Rumahtangga bahagia adalah sendi pertama dari Negara yang adil dan makmur.
    Kalau ini dilanggar, hubungan kelamin tidak lagi menurut garis kemanusiaan, dan orang telah kembali hidup seperti binatang, sehingga persetubuhan tidak mengenal lagi batas zina dan nikah, hancurlah semuanya dan orang turun ke dalam kebinatangan.

    Tugas Dan Janji

    وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ

    “Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.” (ayat 8).

    Peribadi telah dibangun dan diberi benteng, jiwa clan raga telah dibersih­kan ketika masuk dalam gelanggang masyarakat, dan rumahtangga bahagia yang terlepas clan bahaya kecabulan clan pelacuran telah ditegakkan pula, niscaya tujuan terakhir akan tercapai, yaitu negara yang adil clan makrnur.
    Dalam negara yang adil dan makmur setiap orang memikul amanatnya dengan baik.

    Amanat terbagi dua, yaitu amanat raya clan amanat peribadi. Amanat raya ialah tugas yang dipikulkan Tuhan atas perikemanusiaan seluruhnya, menjadi Khalifatullah fil-Ardhi. Amanat tidak terpikul oleh langit dan bumi dan oleh bukit dan gunung pun. Hanya hati yang Mu’min yang sanggup memikul amanat itu, karena hati Mu’min itu lebih luas daripada langit dan bumi dan lebih tinggi daripada bukit clan gunung.

    Adapun amanat peribadi ialah tugas kita masing-masing menurut kesanggupan diri, bakat dan nasib. Diingatkan oleh Tuhan bahwa tugas hidup hanyalah pembagian pekerjaan, bukanlah ke­muliaan dan kehinaan. Yang mulia di sisi Allah ialah barangsiapa yang lebih takwa kepadaNya.

    Derajat kita dihadapkan Allah sama dan kejadian kita sama, tetapi tugas terbagi. Ada pemegang pemerintahan dengan pangkat tinggi dan ada petani pemegang cangkul. Ada Bapak menteri, tetapi Bapak menteri tidak akan sampai ke kantor departer7nennya kalau tidak ada Bung Sopir.

    Ada pengusaha swasta membuka kantor besar dan ada abang tukang men­jual buah. Ada laki-laki dan ada perempuan, ada mahasiswa dan ada guru besar. Asal samasekali setia memikul tugas, adil dan makmur mesti tercapai.
    “Dan bagi tiap-tiap orang ada jurusan yang dihadapi. Sebab itu maka ber­lomba-lombalah berbuat baik. Karena di mona saja pun kamu ada, namun Allah akan mengumpulkan kamu sekalian jua.” (al-Baqarah: 148)
    Peganglah tugas amanat masing-masing dan pulanglah ke tempat itu kalau tadinya salah pilih.

    Di samping tugas sebagai amanat ada lagi janji-janji. Negara terdiri atas janji. Janji rakyat hendak tunduk clan setia, janji pemerintah hendak menegak­kan keadilan. Janji tentara dengan disiplinnya yang keras, janji bangsa dengan bangsa, janji negara dengan negara. Janji atau sumpah di parlemen, janji dan sumpah menteri ketika dilantik. Janji polisi memelihara keamanan dan berbagai lagi janji. Inilah yang akhirnya berpadu satu menjadi janji maysarakat atau kontrak sosial.
    Dari peneguhan peribadi ketuhanan, kemasyarakatan, ke rumahtangga dan akhirnya ke negara, dengan memelihara amanat clan janji. Kembali Ke Sembahyang

    وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ

    “Dan orang-orang yang memelihara dan menjaga semua waktu sembah­yangnya.” (ayat 9).

    Ya, Insya Allah tercapailah negara adil dan makmur, dengan khusyu` kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi negara bukanlah tujuan terakhir, per­kembangan selanjutnya setelah negara berdiri, masih banyak soal, problem akan diiringi oleh problem. Berhenti timbul persoalan, artinya ialah mati. Sebab itu jiwa senantiasa mesti kuat menghadapi segala soal. Maka jika dalam menuju keadilan dan kemakmuran dimulai dengan khusyu’ sembahyang, di­tutup pun oleh memelihara sembahyang.

    Dapatlah keadaan itu dirumuskan dengan inti pati kata: “Dan sernbahyang kita mulai melangkah dengan khusyu`, kita jalan terus ke muka menghadapi masyarakat, menegakkan rumahtangga clan menegakkan negara. Dan setelah negara berdiri kita bertekun lagi memelihara hubungan dengan Ilahi, dengan sembahyang, moga-moga kita selalu diberi kekuatan untuk menghadapi soal­soal yang ada di hadapan kita. Atau dari Mesjid kita melangkah kekuatan baru ke mesjid.
    Dengan itu kita sebagai Mu’min diberi janji pasti oleh Tuhan bahwa kita akan menang.
    Itulah sebabnya maka setiap memanggil sembahyang lima waktu diseru­kan “Hayya `alal Falaah” (Mari berebut kemenangan).
    Kemenangan sebagai UMMAT yang berarti dalam dunia, ummaton wasathon, tegak di persimpangan jalan hidup memberikan panduan atas seluruh isi alam. Dan kemenangan lagi di akhirat.

    أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ

    “Mereka itulah yang akan mewarisi. ” (ayat 10).

    ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ

    “Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya.” (ayat 11).

    Syurga Firdaus, Jannatun Na’im, itulah tujuan di balik hidup sekarang ini. Hidupnya seorang Mu’min adalah mengenangkan juga kebahagiaan “Hari Esok”. Kita menyelesaikan dunia untuk menentukan nasib di akhirat. Bagi Mu’min, negara itu bukanlah semata negara duniawi, atau sculer. Bagi Mu’min amal usaha, derma dan bakti di dalam hidup adalah bekal untuk akhirat. Kadang-kadang tidaklah tercapai seluruhnya cita yang besar. Hidup kalau tidak ada pengharapan lanjut, adalah kebuntuan belaka. Kadang-kadang kita telah berjuang dengan ikhlas, untuk masyarakat, untuk rumahtangga dan untuk negara.

    Tetapi tidaklah selalu berjumpa apa yang kita harapkan. Rencana Ilahi yang lebih tinggi berbeda dengan rencana kita sendin. Tuhan yang tahu, dan kita tak tahu. Kadang-kadang khittah pertama gagal aiau kita terbentur. Tetapi tidaklah kita mengenal putusasa, sebab kita mempunyai kepercayaan akan “hari esok”.

    Alam fikiran yang bersendi atas kebenaran dan kepercayaan tidaklah mengenal umur dan tidaklah mengenal jangka waktu. Lantaran kepercayaan akan hari esok itu, seorang Mu’min tidaklah cemas kalau dia menutup mata sebelum cita-cita tercapai. Karena dia mempunyai keyakinan bahwa akan ada yang meneruskan usahanya. Dan dia pun matt dengan bibir tc:rsenyum simpul karena yakin akan kebenarannya dan yakin pula bahwa dia akan mewarisi Jannatul Firdaus, dan akan kekal selamanya di dalarnnya.
    Alangkah sempitnya hidup kalau tidak lapang cita-cita

    Akhlak Nabi

    Diriwayatkan orang bahwa beberapa orang sahabat pemah bertanya kepada Ibu orang yang beriman, Siti Aisyah r a. isteri beliau tentang hagaimana Akhlak Nabi kita. Aisyah telah menjawab: “Akhlak beliau adalah al-Quran, kemudian itu beliau baca ayat-ayat Surat al-Mu’minun ini, sejak ayat pertama Qad Aflahal Mu’minun, sampai ayat “dan orang-orang yang rnerneliliara akan sembahyang nya” itu.
    Dan beliau (Siti Aisyah) berkata lagi: “Segitulah Akhlak Rasulullah s.a.w.”


    Dan begitu pulalah akhlak kita hendaknya.


    01   02   03    04    05   06   07   08   09  10   11  12  13  14  15   16  17  18  19  20  21

    BACK MAIN PAGE .   >>>>

     
    • wikki 4:04 pm on 23/08/2012 Permalink | Reply

      yang pasti apapun usaha muslim bagaimanapun ….perjuanganya…. berapapun amal ibadahnya ,…baik suci maupun najis ..tetap sudah ditetapkan berahir dineraka..sudah merupakan ketetapan..yang tak bisa dirubah rubah Q.19;71-72

      • SERBUIFF 6:25 am on 24/08/2012 Permalink | Reply

        lu baca harus adari awal dan akhir, satu kesatuan jangan main penggal ayat aja, ….maklum sih para gembong iif memang doyan mainnya begitu….

        Baca ini

        19. Maryam

        67. Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?
        19. Maryam

        68. Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut

        19. Maryam

        69. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
        19. Maryam

        70. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.

        19. Maryam

        71. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

        19. Maryam

        72. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.

        Keterangan :

        di ayat 67 jelas dikatakan manusia bukan kaum muslim saja, …semua manusia….
        kemudian di ayat 69 dari manusia tsb di seleksi lagi mereka2 yg sangat durhaka, yg nggak durhaka tidak akan dipilih…..

        diayat 71 ada tertulis mendatangi, memang benar semua manusia akan mendatangi neraka, mendatangi bukan berarti semua masuk kedalam neraka, karena nanti ada yg masuk kedalam neraka, ada yg tidak masuk kedalam neraka yaitu mereka yg selamat menjalani jembatan shirath…

        lalu diayat 72 Allah menegaskan bahwa orang2 bertaqwa akan diselamatkan dan dilindungi dari api neraka sedang orang zalim masuk dalam neraka ……..

  • SERBUIFF 8:52 am on 28/07/2012 Permalink | Reply
    Tags: Pengertian Budak (Hamba Sahaya) Dalam Al Quran   

    Pengertian Budak (Hamba Sahaya) Dalam Al Quran 

    Pengertian Budak (Hamba Sahaya) Dalam Al Quran

    Tanya : Assalammu’alaikum wr.wb
    Ane mau tanya, ada pertanyaan dari seorang muallaf yang tidak bisa saya jawab. Dalam tafsir surat Al Mu’minuun (Ayat 1- 11) disebutkan bahwa tentang keberuntungan menjaga kemaluan kecuali terhadap istri-istrimu dan budak-budakmu. Yang saya tidak mengerti tentang maksud kata “budak” , apakah kita boleh tidak menjaga kemaluan terhadap budak, dan apakah pengertian budak dalam tafsir Al-Quran ini. Jazakumullah khairan katsiran. Wassalammu’alaikum wr.wb.

    Jawab (1) : Ayat mengenai budak (hamba sahaya) pada surah Al Mu’minuun tepatnya terdapat pada ayat 5-6, adapun terjemahannya adalah sbb :”Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (kehormatannya), kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. (http://quran.al-islam.com/Targama/)

    Sebelum Islam diturunkan perbudakan sangat merajalela dan tidak ada batasan yang membatasi, artinya siapa saja bisa dijadikan budak dengan cara apapun, seperti dirampas, diculik dan sebagainya. Namun ketika Islam datang perbudakan sangat dibatasi, yaitu hanya tawanan perang yang boleh dijadikan budak, sebab hal ini sudah menjadi konvensi internasional, dimana orang Islam pun yang ditawan oleh musuh akan dijadikan budak. Namun demikian, Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memerdekakan para budak, diantaranya dijadikan sebagai tebusan untuk membayar kafarat dalam beberapa pelanggaran syariat, seperti kafarat sumpah, mem bunuh dengan tidak sengaja dan sebagainya. Dalam Islam budak perempuan dihalalkan untuk digauli sebagaimana layaknya seorang isteri, namun budak tersebut hanya boleh digauli oleh tuannya saja. Artinya budak yang dimiliki oleh seorang bapak tidak boleh diguali oleh anaknya atau siapapun juga. Bahkan apabila dia telah melahirkan anak maka disebut ummul walad dimana tuannya tidak boleh menjualnya kepada yang lain, tetapi dia harus terus memeliharanya atau memerdekakannya. Diantara dalilnya adalah ayat di atas dan beberapa ayat berikut ini: “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An-Nisa’: 24) . Wallahu A’lam bishawwab. – (oleh : Ust. Iman Sulaiman)

    http://www.eramuslim.com/ks/um/3c/8617,2,v.html

    Jawab (2) – (untuk melengkapi jawaban no.1) :
    Maksudnya adalah budak belian yang didapat dalam peperangan dengan kaum kafir, bukan budak belian yang didapat diluar peperangan. Dalam peperangan dengan kaum kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan. Kebiasaan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. Namun Imam boleh melarang kebiasaan ini. (sumber : Al Qur’an Dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia Jakarta,Penerbit PT.Kumudasmoro Grafindo Semarang, Edisi Revisi tahun 1994).

    Jawab (3) – (untuk melengkapi jawaban no.1) :
    Maksudnya adalah hamba sahaya yang berasal dari tawanan perang. (sumber : Al Quran Terjemah Indonesia,Tim DISBINTALAD,PT.Sari Agung Jakarta,Cetakan ke : 8, Th.1995)

    Jawab (4) – (untuk melengkapi jawaban no.1) :
    Maksudnya adalah perempuan yang dapat kamu miliki sebagai tawanan dari medan perang, yaitu perang untuk mempertahankan agama, bukan perang untuk merebut kekayaan dunia dan keuntungan raja-raja, maka perempuan itu boleh kamu tawan dan kamu kawini. Boleh pula kamu lepas dan dikembalikan ke tanah airnya. Adapaun budak perempuan yang ada sekarang bukanlah budak yang sebenarnya. (sumber : Tafsir Quran karim, Prof.Dr.H.Mahmud Yunus,PT.Hidakarya Agung Jakarta,Cetakan ke : 29,Tahun 1991).

    Memerdekakan Budak

    “Bila seseorang memiliki budak yang masih mahram, maka dia merdeka”. – (Ahmad dan Empat, dari Samurah bin Jundub)

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa memerdekakan bagiannya dalam diri seorang budak, kemudian ia masih mempunyai kekayaan yang mencapai harga budak itu, maka budak itu ditaksir menurut harga sepatutnya, lalu ia membayarkan kepada masing-masing kawan berserikatnya yang lain bagian mereka sehingga merdekalah budak itu. Jika tidak, maka ia hanya memerdekakan bagiannya saja . (Sahih Muslim, hadits no : 2758)

    Hadis riwayat Abu Hurairah ra, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Mengenai seorang budak yang dimiliki dua orang tuan, lalu salah seorang dari keduanya memerdekakan budak tersebut. Beliau bersabda: Dia menanggung (pembayaran hak kawan serikatnya bila ia seorang yang kaya)”. (Sahih Muslim, hadits no : 2759)

    Hadis riwayat Aisyah ra, dari Ibnu Umar, dari Aisyah, bahwa ia ingin membeli seorang budak perempuan untuk dimerdekakan. Pemilik budak itu berkata: Kami akan menjualnya kepadamu, dengan syarat hak loyalitasnya untuk kami. Lalu Aisyah ra. menceritakan hal itu kepada Rasulullah saw. dan beliau bersabda: “Syarat itu tidak dapat menghalangimu, karena hak loyalitas itu hanya untuk yang memerdekakan” . (Sahih Muslim, hadits no : 2761)

    Hadis riwayat Abu Hurairah ra, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barang siapa memerdekakan seorang budak mukmin, maka Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari neraka dengan setiap anggota tubuh budak itu. (Sahih Muslim, hadits no : 2775)

    http://hadith.al-islam.com/

    “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. 51 : 55)

    “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. 47 : 7)

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. 3 : 104)

    note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.005/th.Jumada Al Thani 1425H/2004M

    http://labbaik.wordpress.com/2007/06/04/pengertian-budak-hamba-sahaya-dalam-al-quran-2/

     
    • camar 8:22 am on 07/08/2012 Permalink | Reply

      jadi halal lah meniduri pembantu seperti itu juga yang terjadi sama mariyam pembantu hapsah

    • Amin Jujur 9:58 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

      budak budak yang kau miliki…,,, artinya menikahi budak budakpun di dalam islam di perbolehkan…..

      didalam islam seorang perempuan yang sudah di nikahi jelas sudah menjadi saling memiliki.

      Diantara dalilnya adalah ayat di atas dan beberapa ayat berikut ini: “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An-Nisa’: 24) .

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel