Tentang Orang Kafir 

KAJIAN

Judul : Tentang Orang Kafir
Kategori : Sosial Politik
Nama Pengirim : M Iqbal
Tanggal Kirim : 2002-12-25 13:06:00
Tanggal Dijawab : 2003-05-22 10:39:51

Pertanyaan Bagaimana sikap kita pada orang kafir; apakah harus memusuhi selamanya dan semuanya?; apakah permusuhan itu atas dasar agama? Bagaimana kedudukan orang kafir dalam negara islam, apakah mereka punya hak dan kewajiban yang sama dengan orang islam? Atau mereka menjadi warga negara kelas dua yang kedudukannya lebih rendah daripada budak, oleh karenanya tidak punya hak dalam jabatan publik, dan hak untuk mendapatkan perlindungan untuk menjalankan agama mereka? Harap dijelaskan sejernih-jernihnya, jazakumullah

Jawaban Kafir dalam ajaran Islam terbagi menjadi dua golongan. Pertama, kafir zimmi dan kedua kafir harbi.

Kafir Zimmi adalah orang kafir yang tidak sedang dalam konflik dengan muslim. Mereka hidup di bawah naungan negara Islam. Kepada mereka, umat Islam wajib menghormati dan memberikan hak hidup mereka serta bergaul dengan baik. Dilarang memboikot, merusak nama baik, mencuri harta mereka dan diperlakukan sebagai warga negara dengan baik denga jaminan sepenuhnya.

Contoh kafir zimmi misalnya orang-orang non muslim yang tinggal di negeri Islam atau mereka yang tinggal bukan di negeri Islam tapi tidak ada permusuhan dan peperangan yang terjadi antara umat Islam dengan mereka.

Hak mereka untuk menjabat jabatan publik pada dasarnya tetap ada. Hanya saja harus dikembalikan kepada pendekatan suatu masyarakat dimana diantara pertimbangannya adalah asas keadilan dan juga profesionalitas. Bila suatu negeri 90 beraga A dan 10% beragama B, tentu wajar bila yang menjadi pemimpin atau jabatan publik itu di tangan orag yang beragama A. Meski dengan pertimbangan tertentu, bisa saja seseorang dengan agama B menjadi pejabat asal telah memenuhi rasa keadilan yang dirasakan oleh masyarakat setempat.

Sedangkan kafir harbi adalah orang kafir yang berada dalam status konflik dengan umat Islam. Dalam kata lain sedang terjadi perang terbuka. Tentu saja dala situasi perang, apapun boleh dilakukan termasuk membunuh, merampas harta benda, menjadikan tawanan dan bukan dan seterusnya. Namun maklumat perang itu harus ada terlebih dahulu dan bukan dilakukan secara sendiri-sendiri atas inisiatif individu.

Caontoh kafir harbi adalah orang yahudi yang �menjajah� palestina lalu mendirikan �negara� sendiri. Baik militer atau pun sipil, keduanya adalah kafir harbi karena mereka datang sebagai penjajah persis seperti Belanda datang ke Indonesia dahulu. Mereka yang sipil seharusnya tidak ikut datang kesana karean wilayah itu adalah wilayah konflik dan zone perang.

Wallahu a‘lam bis-shawab.

http://syariahonline.com/kajian.php?lihat=detil&kajian_id=793