Updates from December, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 3:06 am on 29/12/2010 Permalink | Reply
    Tags: dan jangan terpancing untuk mengaitkannya dengan wacana politik semata., Masalah penggunaan kata "Allah" seharusnya dikembalikan ke ranah teologis   

    Masalah penggunaan kata “Allah” seharusnya dikembalikan ke ranah teologis, dan jangan terpancing untuk mengaitkannya dengan wacana politik semata. 

    Oleh: Asmu’i*
    Masalah penggunaan kata “Allah” seharusnya dikembalikan ke ranah teologis, dan jangan terpancing untuk mengaitkannya dengan wacana politik semata.

    Miris, kontroversi penggunaan “kata Allah” di Malaysia digembar-gemborkan sebagai wacana politik semata. Sejumlah tulisan di beberapa media massa ambil bagian dalam upaya ini. Tak ayal, masalah teologis ini menjadi “seakan-akan” tidak memiliki akar yang jelas dalam ranah agama.

    Tentu, upaya ini bukan tanpa alasan. Agaknya, pendukung keputusan Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009 yang membenarkan penggunaan kata ”Allah” oleh surat kabar Katholik Herald-The Catholic Weekly terbitan Gereja Katolik Roma, Malaysia, berusaha menjegal upaya banding pemerintah Malaysia atas keputusan tersebut dengan mengait-ngaitkannya dengan isu politik. Yang mereka inginkan satu, semua orang melihat masalah tersebut hanya dilatarbelakangi oleh kepentingan politk belaka. Jika berhasil, tentu ini akan menjadi tekanan ke pemerintah, sebab wacana yang akan berkembang, bahwa keputusan pemerintah yang tidak mendasar itu telah memicu lahirnya kekerasan.

    Kita tahu, masalah penggunaan kata “Allah” menyita perhatian publik internasional, baik umat Islam secara khusus maupun non muslim. Karena itu, mengembalikan masalah tersebut ke akar masalahnya (ranah teologis) adalah satu keniscayaan. Sehingga, semua pihak dapat menilai dan bersikap secara proporsional dan tepat. Untuk itu, tulisan ini akan mengulas ‘mengapa mengatur penggunaan kata “Allah” itu penting. Di sini juga akan dijelaskan ‘posisi’ pemerintah sebagai pihak pengemban amanah.

    ‘Allah’ Nama Tuhan Agama Tauhid (Islam)

    Dalam al-Qur’an, disebutkan bahwa mulai dari Nabi Yunus (QS. Yunus: 72), Nabi Ibrahim (Ali Imran: 67), dan semua Nabi dari Bani Israil (QS. Yunus: 84, QS An-Naml: 44, dan Ali Imran: 52) adalah muslim. Ini menunjukkan bahwa agama mereka adalah Islam, bukan Yahudi atau Kristen misalnya. Sebab, yang dibawa para Nabi itu adalah ajaran Tauhid, menyembah Allah Yang Esa. Rasulullah juga menegaskan ini, sebagaimana sabda beliau, “Aku (Rasulullah SAW) orang paling dekat dengan Nabi Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Nabi-Nabi adalah bersaudara, agama mereka adalah satu meskipun ibu-ibu mereka berlainan.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Imam Ahmad). Semua ini dapat kita pahami dan yakini karena sumber kita (al-Qur’an dan al-Hadits) tidak bermasalah. Bagi kita, al-Qur’an dan al-Hadith itu sifatnya tetap dan final.

    Wahyu juga menjadi sumber final konsep Ketuhanan dalam Islam. Karena itu, tidak ada unsur-unsur praduga di dalamnya. Hatta, nama Allah telah termaktub secara jelas di dalamnya. Allah subhanawataala berfirman: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Taha: 14). Allah juga berfirman, “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri (QS. 35). Secara implisit, kalimat La Ilaha Illallah dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah itu merupakan nama diri, bukan gelar atau penisbatan tertentu. Yang demikian ini disebut sebagai isim jamid, atau kata benda yang tidak berasal usul dari kata lain sebagaimana isim musytaq (baca: Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim Juz I). Pendapat ini juga didukung oleh Imam Syafi’i dan Imam al-Ghazali.

    Demikian juga dengan cara mengucapkannya, juga berdasarkan sumber yang jelas, yakni ajaran Rasulullah saw. Karena itu, tidak ada perselisihan di kalangan umat Islam tentang hal itu. Selain itu, dalam firman-Nya QS. Al-Isra’: 110, Allah telah melarang kita untuk memanggil-Nya dengan panggilan yang tidak Ia sebutkan dalam kitab-Nya. Jadi, kita hanya boleh memanggil-Nya dengan nama-nama yang ada dalam wahyu-Nya, yang kita kenal sebagai al-asma’ al-husna. Di sini, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa nama-nama itu menunjukkan kepada satu Zat Yang Esa, Allah (baca: Tafsir Thabari dan Tafsir al-Qur’an al-Adzim).

    Yahudi dan Kristen bukan Agama Tauhid

    Hari ini, agama-agama sebelum Islam sulit dipastikan keotentikannya, sebab pemeluknya telah melakukan perubahan pada kitabnya (QS. 2: 59, 75, 79 & 4: 46). Sehingga, Yahudi dan Kristen yang sekarang bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Isa. Apalagi, secara tegas al-Qur’an telah menyatakan bahwa Nabi Ibrahim itu bukanlah Yahudi atau Nasrani, tapi Muslim (QS 3:67). Dan Nabi Isa telah mengajak kaumnya (bangsa Yahudi) untuk mengimani Nabi Muhammad saw, namun mereka menolaknya (QS ash-Shaf:6).

    Monoteisme yang ada dalam Yahudi tidak sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai Tuhan Maha Esa. Tauhid memiliki tiga karakteristik, pertama, menafikan Dzat yang banyak; kedua, menafikan ‘yang menyamakan’ (al-Nadzir) dalam dzat-Nya; dan ketiga, Keesaan-Nya dalam mengatur, menciptakan tanpa perantara dan bantuan dari apapun (baca: Hasyiyah al-Dasuki ‘ala Umm al-Barahin). Sementara Yahudi, sampai saat ini masih berselisih tentang ‘siapa Tuhan yang satu’ yang mereka maksud. Ada yang mengidentifikasinya sebagai ‘Yahweh’. Selain itu, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan (baca: Oxford Concise Dictionary of World Religions).

    Kontroversi dalam masalah Ketuhanan juga terjadi dalam Kristen. Konsep Yesus baru populer setelah konsili Nicea tahun 325 yang diadakan oleh Kaisar Constantine. Dalam masalah tersebut, peran Paulus sangat kental (baca: Kodiran Salim & M.I Ananias). Konon, sebelumnya Jemaat awal Kristen masih menyembah Allah Yang Esa dan menganggap Yesus sebagai seorang utusan Allah (baca: M.I Ananias). Tidak hanya itu, selanjutnya pembicaraan melebar kepada konsep bahwa Allah itu satu dalam tiga pribadi, yakni Allah Bapa, Allah Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus (baca: Frans Donald). Mengenai ini, seorang agamawan Kristen asal Belanda, C. Groenen Ofm mengatakan bahwa konsep Kristen tentang Ketuhanan Yesus adalah misterius dan tidak dapat dijangkau akal manusia.

    Tidak berhenti di situ, di tahun 1930 di Amerika Serikat, berdiri apa yang dikenal sebagai Gerakan Nama Suci untuk mengembalikan ajaran Kristen kepada akar Yudaik (Hebraic Roots Movement). Masalah penyebutan nama Tuhan termasuk yang mendapat perhatian serius gerakan ini. Mereka ini secara terang-terangan menolak penggunaan kata Allah, karena bukan dari tradisi Yudaik. Di Indonesia, dari gerakan tersebut lahir Bible versi khusus, namanya Kitab Suci Torat dan Injil. Di dalamnya, nama Allah diganti kata Elohim, kata TUHAN diganti Yahweh, dan kata Yesus diganti Yesyua Hamasyah (baca: Gerakan Nama Suci, Nama Allah yang Dipermasalahkan). Demikianlah, pelarangan penggunaan kata Allah dari dalam tubuh Kristen sendiri sudah ada. Kiranya, cukuplah ini menjadi bukti bahwa seperti halnya Yahudi, Kristen itu juga bukan agama tauhid.

    Kewajiban Pemerintah

    Di Malaysia, Islam adalah agama resmi negara (agama Persekutuan). Dimana melindungi ‘aqidah Islam’ merupakan salah satu tugas pemerintah. Sesuai tugas ini pula, kaum non-Muslim dilarang menyebarkan agama mereka kepada kaum Muslim. Realisasi ini bisa dilihat misalnya, di hampir seluruh Negara bagian di Malaysia, ada peraturan yang melarang kaum non-Muslim menggunakan sejumlah istilah khas dalam Islam, seperti kata ‘Allah’ ini.

    Pelarangan pemerintah itu juga sangat relevan dan penting, sebab disinyalir ada “misi Kristen” di balik penggunaan kata Allah. Ini bisa dilihat misalnya, dalam majalah Katolik Herald edisi bahasa Inggris, tidak ada penggunaan kata Allah. Namun, dalam edisi bahasa melayu, kata Allah mereka gunakan.

    Demikianlah, dalam Islam tanggung jawab seorang pemimpin (pemerintah) itu tidak hanya pada masalah-masalah keduniaan saja. Namun juga mencakup masalah-masalah akhirat (baca: al-Siyasah al-Syar’iyyah dan al-Tarbiyyah al-Islamiyyah).

    Sementara itu, pandangan yang melihat adanya keterpisahan antara urusan duniawi dan akhirat adalah cara pandang sekuler. Tentu saja cara pandang yang demikian bertolak belakang secara diametris dengan ajaran Islam. Sebab, pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia (rakyat) semata. Tapi juga bertanggung jawab kepada Allah. Demikianlah seharusnya pandangan hidup Islam (Islamic worldwiew) dipraktekkan. Dimana konsep tauhidillah menjadi karakteristik dan dasar utamanya (baca: al-Tasawwur al-Islami wa Muqawwimatuhu dan Muqawwimat at-Tasawwur al-Islami). Singkatnya, sangat tidak tepat manakala ada yang melihat satu kebijakan pemimpin/pemerintahan Islam-seperti masalah penggunaan kata ‘Allah’ di Malaysia-dari kaca mata politik belaka. Sebab pada hakikatnya, seluruh aktivitas kepemimpinan itu adalah implementasi keberimanannya kepada Allah.

    Akhirnya, mari kita lihat masalah kontroversi penggunaan kata “Allah” ini secara mendasar. Agar, keputusan yang kelak ada benar-benar mencerminkan keamanahan kita, khususnya pemimpin (pemerintah) dalam mengemban risalah-Nya. Wallahu a’lam bi as-shawab. (hidayatullah)

    Penulis adalah alumni ke-II Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor Ponorogo ’09. Sekarang sedang menyelesaikan Program Pasca Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Pemikiran Islam

    http://forum-swaramuslim.net/more.php?id=43754_0_25_0_M

    Advertisements
     
    • camar 2:29 pm on 13/08/2012 Permalink | Reply

      seperti apakah konsep Allah menurut Muhammad?
      Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” (QS 3:84)
      Konsep Allah menurut Muhammad sama dengan konsep YHWH menurut Yahudi, yaitu monotheisme mutlak (tauhid), dimana Tuhan tidak dapat diserupakan dalam wujud dan bentuk apapun. Konsep Allah dalam Islam didapat Muhammad dari para monotheis Arab seperti Zayd bin Amr dan Waraqah bin Nofal, saudara sepupu Khadijah, istri pertama Muhammad.

      Waraqah adalah pemeluk agama Musa (Yahudi) sebelum kemudian beralih ke Nosrania (Ibn Hisham, Sirah, Vol 1, hl 203). Ia mengikuti monotheisme Musa dan Yesus, yaitu didasarkan Taurat dan Injil. Quran berkali2 menyebut para pengikut monotheis Musa dan Yesus ini ‘Wahai Ahlul Kitab ! Kalian tidak memiliki dasar berdiri kecuali kalian berdiri tegak pada Taurat dan Injil.’ (QS 5:6)
      Nosrania / Nestorian adalah sebuah sekte yang berasal dari Kristen Ortodoks. Kepercayaan Waraqah yang menolak ke-ilahian Yesus ini adalah kepercayaan yang dianggap menyeleweng dari kepercayaan Kristen ortodoks. Yesus baginya hanyalah seorang nabi, yang menuntaskan hukum Musa. Ia juga membantah kematian Yesus di tiang salib dan kebangkitannya sepeti yang ditulis dalam ke empat Injil kaum ortodoks. Injil yang dipakai oleh kaum Nosrania adalah Injil Ibrani (Injil Matius) namun tidak lengkap pencatatannya. Kitab ini adalah injil yang ditujukan bagi orang2 Yahudi. Inilah salah satu sebab mengapa Muhammad menggap bahwa Yesus hanyalah nabi bagi orang Yahudi, persis seperti ajaran Kaum Nosrania.
      LIHAT TOPIK SELENGKAPNYA; BELAJAR AGAMA DARI WARAQAH
      Jika konsep Allah Muhammad sama dengan konsep YHWH Yahudi, mengapa sifat Allah begitu bertentangan dengan sifat YHWH? Tuhan, seperti yang diucapkan oleh Musa, Yesus, Zoroaster, dan Hinduisme adalah SUMMUM BONUM (kebaikan yang tertinggi), Allah dilain pihak adalah pribadi yang bengis, yang ditempa dalam khayalan penciptanya, Muhammad.
      Jika Allah benar2 Tuhan, mengapa Allah begitu kejam, dan tanpa belas kasihan memerintahkan muslim untuk membantai para non muslim?
      Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. [QS 8:12]
      Mengapa Allah mewajibkan umatnya untuk merampok dan menjanjikan harta rampasan bagi umatnya?
      Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2:216)
      Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu. (QS 48:20)
      Mengapa Allah berkolusi dengan setan untuk menyesatkan orang kafir?
      Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?,(QS 19:83)
      MENGAPA SIFAT ALLAH SAMA DENGAN SIFAT IBLIS
      Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku (iblis) akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka”. [QS 15:39-40]
      Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang2 yang bertobat kepada Nya”,[QS 13:27]
      (yang kamu sembah) selain Allah?” Mereka menjawab: “Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu”. Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. [QS 40:74]
      Benarkah Allah adalah Tuhan? Ataukah ia hanyalah iblis yang menyamar sebagai Tuhan? Renungkanlah dengan hati nurani anda!

  • SERBUIFF 4:54 am on 02/12/2009 Permalink | Reply
    Tags: Allah   

    Allah 

    Allah

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Langsung ke: navigasi, cari

    Perlindungan dari anon

    Nama Allāh yang ditulis dengan kaligrafi Arab, dibuat oleh seorang seniman bernama Hâfız Osman pada masa Kekalifahan Utsman abad ke-17 Masehi.

    Allāh (Arab: الله, Allaah) adalah kata dalam bahasa arab yang merujuk pada nama Tuhan. Kata Allah ini lebih banyak dikenal sebagai sebutan tuhan oleh penganut agama Islam. Kata ini sendiri dikalangan para penutur bahasa arab, adalah kata yang umum untuk menyebut tuhan, terlepas dari agama mereka, termasuk penganut Yahudi dan Kristen Arab. Konsekuensinya, kata ini digunakan dalam terjemahan kitab suci agama Kristen dan Yahudi yang berbahasa arab, sebagaimana pula terjemahan Alkitab dalah bahasa Indonesia dan Turki.

    Kata “Allah” disebutkan lebih dari 2679 kali dalam Al-Qur’an.[1] Sedangkan kata “Tuhan” dalam bahasa Arab adalah Ilah (إله) disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrod, ilahaini dalam bentuk tatsniyah 2 kali dan aalihah dalam bentuk jama’ disebut ulang sebanyak 34 kali.

    Daftar isi

    [sembunyikan]

    //

    Etimologi

    Beberapa teori mencoba menganalisa etimologi dari kata “Allah”. Salah satunya mengatakan bahwa kata Allāh (الله) berasal dari gabungan dari kata al- (sang) dan ʾilāh (tuhan) sehingga berarti “Sang Tuhan”. Namun teori ini menyalahi bahasa dan kaidah bahasa Arab. Bentuk ma’rifat (definitif) dari ilah adalah al-ilah, bukan Allah. Dengan demikian kata al-ilah dikenal dalam bahasa Arab. Penggunaan kata tersebut misalnya oleh Abul A’la al-Maududi dalam Mushthalahatul Arba’ah fil Qur’an (h. 13) dan Syaikh Abdul Qadir Syaibah Hamad dalam al-Adyan wal Furuq wal Dzahibul Mu’ashirah (h. 54).

    Kedua penulis tersebut bukannya menggunakan kata Allah, melainkan al-ilah sebagai bentuk ma’rifat dari ilah. Dalam bahasa Arab pun dikenal kaidah, setiap isim (kata benda atau kata sifat) nakiroh (umum) yang mempunyai bentuk mutsanna (dua) dan jamak, maka isim ma’rifat kata itupun mempunyai bentuk mutsanna dan jamak. Hal ini tidak berlaku untuk kata Allah, kata ini tidak mempunyai bentuk ma’rifat mutsanna dan jamak. Sedangkan kata ilah mempunyai bentuk ma’rifat baik mutsanna (yaitu al-ilahani atau al-ilahaini) maupun jamak (yaitu al-alihah). Dengan demikian kata al-ilah dan Allah adalah dua kata yang berlainan.[2]

    Teori lain mengatakan kata ini berasal dari kata bahasa Aram Alāhā.[3] Cendekiawan muslim terkadang menerjemahkan Allah menjadi “God” dalam bahasa Inggris. Namun demikian, sebagian yang lain mengatakan bahwa Allah tidak untuk diterjemahkan, dengan berargumen bahwa kata tersebut khusus dan agung sehingga mesti dijaga, tidak memiliki bentuk jamak dan gender (berbeda dengan God yang memiliki bentuk jamak Gods dan bentuk feminin Goddess dalam bahasa inggris). Isu ini menjadi penting dalam upaya penerjemahan Al Qur’an.

    Tipografi

    Kata Allāh selalu ditulis tanpa alif untuk mengucapkan vowel ā. Ini disebabkan karena ejaan Arab masa lalu berawalan tanpa alif untuk mengeja ā. Akan tetapi, untuk diucapkan secara vokal, alif kecil selalu ditambahkan di atas tanda saddah untuk menegaskan prononsiasi tersebut.

    Allah dalam Islam

    Bagian dari serial dalam keyakinan Islam:
    Aqidah

    Mosque02.svg
    Rukun Islam (Sunni)
    Syahādah – Pernyataan keyakinan
    Ṣhalāt – Sembahyang
    Zakāh – Membayar sedekah wajib
    Ṣaum – Berpuasa selama bulan Ramadan
    Haji – Melakukan serangkaian ibadah di Baitullah di Mekkah
    Rukun Iman (Sunni)
    AllāhTawhīd
    Malaikat – Keberadaan dan tugasnya
    Kitab Allāh – Shuhuf dan kitab
    Nabi dan Rasul – Syariat agama
    Hari Akhir – Hari Pembalasan
    Qada dan Qadar – Ketentuan dan takdir
    Lainnya
    Eskatologi Islam.

    Kotak ini: lihat • bicara • sunting
    Artikel ini adalah bagian dari seri
    Islam

    Allah-eser-green.png
    Rukun Islam
    Syahadat · Shalat · Puasa
    Zakat · Haji
    Rukun Iman
    Allah · Al-Qur’an · Malaikat
    Nabi · Hari Akhir
    Qada & Qadar
    Tokoh Islam
    Muhammad SAW
    Nabi & Rasul · Sahabat
    Ahlul Bait
    Kota Suci
    Mekkah ·Madinah · Yerusalem
    Najaf · Karbala · Kufah
    Kazimain · Mashhad ·Istanbul
    Hari Raya
    Hijrah · Idul Fitri · Idul Adha
    · Asyura · Ghadir Khum
    Arsitektur
    Masjid ·Menara ·Mihrab
    Ka’bah · Arsitektur Islam
    Jabatan Fungsional
    Khalifah ·Ulama ·Muadzin
    Imam·Mullah·Ayatullah · Mufti
    Teks & Hukum
    Al-Qur’an ·Hadist · Sunnah
    Fiqih · Fatwa · Syariat
    Manhaj
    Salafush Shalih
    Mazhab
    Sunni
    Hanafi ·Hambali
    Maliki ·Syafi’i
    Syi’ah
    Dua Belas Imam
    Ismailiyah·Zaidiyah
    Lain-lain
    Ibadi · Khawarij
    Murji’ah·Mu’taziliyah
    Lihat Pula
    Portal Islam
    Indeks mengenai Islam
    lihat • bicara • sunting

    Sebuah tulisan Allah dibagian luar dari kawasan Eski Cami (Mesjid tua) di Edirne, Turki.

    Dalam Islam, Allah adalah satu-satunya Tuhan (tanpa sekutu)[4], Sang Pencipta, Hakim dari seluruh makhluk, Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pemurah dan Tuhan dari Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub, Musa, Dawud, Sulaiman, Isa dan Muhammad.

    Menurut F.E. Peters, ” Al Qur’an menyatakan 29:46, Muslim mempercayai dan sejarawan menyetujui, bahwa Muhammad dan pengikutnya menyembah Tuhan yang sama dengan yang disembah Yahudi. Allah-nya Al Qur’an adalah Tuhan Sang Pencipta yang ada dalam kisah Ibrahim. Peters mengatakan bahwa Al Qur’an menggambarkan Allah lebih berkuasa dan jauh dibandingkan dengan Yahweh, dan juga merupakan Tuhan universal, tidak seperti Yahweh yang lebih dekat dengan bangsa Israel.[5]

    Nama-nama Allah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Asma’ul husna

    Berdasarkan keterangan : Allaahu ismun li dzaatil wajibul wujuud artinya : Allah itu adalah sebuah nama kepada yang pasti ada keberadaannya (eksistensi). Jadi jelaslah Allah itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang wajib untuk dilayani dengan sebenar-benarnya, karena berdasarkan keterangan: Allaahu ismun li dzaati ma’budi bi haqq artinya : Allaah itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang wajib dilayani (ma’budi) dengan sebenar-benarnya pelayanan (ibadah).

    Dalam tradisi Islam disebutkan ada 99 nama untuk Allah (Asmaaul Husna), diambil dari nama-nama yang digunakan Al Qur’an untuk merujuk kepada Allah. [6] Diantara nama-nama tersebut adalah :

    • Al Malikul Mulk (Raja diRaja, Maharaja)
    • Al Hayy (Maha Hidup)
    • Al Muhyii (Maha Memberi Kehidupan)

    Frase yang mengandung Allah

    Contoh kata-kata yang menggunakan kata Allah:

    • Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan selain Allah)
    • Allaahu Akbar (الله أكبر) (Allah Maha Besar)
    • Bismillaah (بسم الله ) (Dengan nama Allah)
    • In syaa Allaah (إن شاء الله) (Jika Allah menghendaki)
    • Maa syaa Allaah (ما شاء الله) (Kata yang biasanya diucapkan jika melihat sesuatu yang aneh (ganjil) terkadang diganti dengan kata “Subhan Allah”)
    • Subhanallaah (سبحان الله) (Maha Suci Allah)
    • Alhamdu li llaah (الحمد لله) (Segala Puji bagi Allah)
    • Allahu a’lam (الله أعلم) (Allah Maha Mengetahui)
    • Jazaa kallaahu khairan (جزاك الله خيراً; ucapan pernyataan terima kasih yang sebenarnya berarti “Semoga Allah memberikan balasan yang baik kepadamu”)

    Keberadaan Allah

    Para Imam yang empat telah sepakat bahwa Rahmat Allah Subhanahu wa ta’alla berada di atas ‘Arsy[1] tidak ada seorang pun dari makhluk yang serupa dengan-Nya. [7]

    Allah dalam Kristen

    Umat Nasrani lebih menyukai kata Tuhan dibanding kata Allah. Akan tetapi, terjemahan Bible dalam bahasa Indonesia yang dinamakan sendiri oleh para penterjemahnya sebagai “Al-Kitab”, menggunakan kata “Allah” untuk “Tuhan Bapa”. Jadi, Allah dalam Kristianitas/Nasrani sedikit berbeda dengan Allah dalam pengertian ajaran Islam. Secara pengucapan juga ada perbedaan dengan Allah dalam tradisi Islam. Allah dalam agama Kristen diucapkan dengan ‘alah’, bukan ‘awlloh’ seperti umat Islam ucapkan, Allah dalam tradisi Islam diucapkan dengan logat bahasa Arab.

     
    • websitedada 10:02 am on 24/11/2010 Permalink | Reply

      Allahu Akbar 99X!

      Hancurkanlah Kafir!

    • camar 2:32 pm on 13/08/2012 Permalink | Reply

      Menurut Quran, Tuhan Yang Maha Esa sendirilah yang menamai diri-Nya Allah.

      “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, Maka Sembahlah Aku” (QS 20 : 14).

      Dalam QS 19 : 65 Tuhan bertanya : “Hal Ta’lamu Lahu Samiyyan”.

      Ayat ini dipahami oleh ulama2 Islam dengan makna: Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang bernama seperti ini? Atau Apakah engkau mengetahui sesuatu yang berhak memperoleh keagungan dan kesempurnaan sebagaimana Pemilik nama itu (Allah)? Atau bermakna Apakah engkau mengetahui ada nama yang lebih agung dari nama ini? Juga dapat berarti Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

      Mungkin Muhammad sewaktu menulis ayat tersebut tidak mengetahui bahwa berabad2 sebelumnya kata Allah telah digunakan oleh orang Hindu India untuk menamai Tuhan mereka. Kata yang sama yang digunakan nenek moyang Muhammad untuk menyebut tuhan mereka.

      Kata “ALLAH” sebenarnya telah ada jauh sebelum munculnya Islam. Kata ini kemungkinan diambil dari sebutan sansekerta untuk Dewi Dhurga (dewi bulan-Allah).

      Dan nama “Allah” ini sebenarnya juga terdapat dalam Kitab Suci Hindu yaitu Rigveda Book 3 Hymn 30 V. 10 dan Rigveda Book 9 Hymn 67 V. 30.

      Kata Allah memang diyakini diambil dari bahasa sanskerta, namun “wujud” Allah yang ada pada jaman Muhammad bukanlah Dewi Durga. Hal ini dikarenakan percampuran kepercayaan Hindu India, dengan kepercayaan2 lain yang memang asli dari Jazirah Arab tersebut. Untuk jelasnya kita simak penjelasan berikut.

      Beberapa pengkritik islam mengatakan bahwa Allah dalam Islam adalah Dewa Bulan. Ini tidak Benar! Penulis yang lain mengatakan bahwa Allah dalam Quran berasal dari dewa bulan pada masa sebelum Islam. Ini mungkin benar! Kebenaran yang tak dapat disangkal adalah: konsep Allah dalam Quran berhubungan dengan penyembahan dewa bulan, dan secara tidak langsung terhadap dewa bulan itu sendiri sebagai objek penyembahan pada masa sebelum Islam. Lebih dari itu, pusat penyembahan dewa bulan pada masa sebelum Islam sama dengan tempat pusat ibadah haji pada masa kini yaitu Kabah di Mekah. Hampir semua ritual keagamaan Islam pada masa kini sama dengan semua ritual pada masa sebelum Muhammad, masa dimana Arab masih menyembah dewa bulan.

      Satu hal yang pasti, fakta yang tidak dapat dibantah adalah; bahwa penyembahan kepada dewa bulan tersebar luas di seluruh daerah Arab pada masa sebelum Muhammad.

      Yusuf Ali seorang Penulis Islam menyatakan dalam Al-qur’an terjemahan Inggrisnya di halaman 1621-1623:

      “Penyembahan dewa bulan sangat terkenal dalam bentuk penyembahan yang beragam…dewa bulan adalah dewa laki-laki pada masa India kuno. Dewa bulan juga merupakan dewa laki-laki dalam agama Semiric kuno, dan kata Arab untuk bulan “Qamar” dalam bentuk maskulin. Dengan kata lain, kata Arab untuk matahari “shams” dalam bentuk feminim. Penyembah berhala di Arab nampaknya memandang matahari sebagai seorang dewi dan bulan sebagai seorang dewa laki-laki.

      Di halaman 1644 footnote no 5798, dia menjelaskan mengapa “Allah” bersumpah atas nama Bulan dalam Sura 74:32, dalam footnote dia menjelaskan, “Bulan disembah sebagai dewa pada masa kegelapan”.

      Dalam bagian berikutnya, kami akan menjelaskan lebih rinci bagaimana berkembangnya, atau meluasnya kultus penyembahan berhala di Timur tengah pada masa Muhammad. Kita mulai dari Utara, kemudian ke Medina dan Mekah.

      • Mesopotamia

      Penyembahan dewa bulan sepertinya mulai di daerah Mesopotamia, dimana dewa bulan disebut dengan nama “Sin” atau kadang-kadang “Nanna”. Dikatakan bahwa “Sin adalah dewa pertama dari tiga dewa penting di agama Astrai (perbintangan): Sin, Dewa bulan, Shamash-dewa matahari, dan Ishtar-dewa planet Venus. Simbol utama dalam penyembahan dewa bulan adalah BULAN SABIT, symbol ini ditemukan diseluruh daerah Timur Tengah kuno, dimana ada penyembahan dewa berhala, dengan sebutan apapun juga. Ini ditemukan di daerah penemuan Arkeologi di Arab, Akkad, Kanaan, Mesir dan Siria. Biasanya ditemukan dengan simbol bintang di tengah lingkaran bulan sabit, meskipun tidak selalu, symbol bintang itu adalah bintang fajar, Venus. Orang Assyirian menyembah dewa bulan. Replica perunggu berbentuk bulan sabit (dibuat untuk ditaruh diatas tiang bendera), telah ditemukan sebagai contoh dari daerah Arkeologi di TelTerra. Stratum VI. Replica itu terkubur di benteng kuno Assyrian. (Keel, p297-29S)

      Arkeolog yang bekerja di daerah dekat Hazor dari tahun 1955-1958 menemukan kuil dewa bulan. Mereka menemukan dua patung laki-laki diatas tahta dengan ukiran bulan sabit di dadanya. Ini mungkin perwujudan dari dewa bulan itu sendiri, atau mungkin imam-imamnya. Mereka juga menemukan batu yang berukiran tangan terangkat menyembah bulan sabit yang ada diatasnya. Pada situs yang sama mereka juga menemukan bagian dari patung yang lainnya dengan tulisan yang mengidentifikasi mereka sebagai “Putri-putri dari tuhan (God)”

      Pada akhirnya Babilonia mengalahkan kekaisaran Assyirian dan membangun kekaisarannya sendiri, dalam puisi kepahlawanan Babilonia yang terkenal, “Enuma Elish”, dewa bulan Sin, mengambil peranan. Kota Ur sangat terobsesi dengan dewa bulan sehingga mereka menyebutnya dengan nama mereka di beberapa batu ukiran yang ditemukan, nama Ziggurat. Nanar ada juga disitu. Sir Léonard Wooley menemukan kuil untuk dewa bulan di Ur, dan menggali banyak sekali contoh-contoh penyembahan dewa bulan. Semua benda-benda itu sekarang dimuseumkan di museum Inggris, London. Batu ukiran Ur-Nammu mempunyai symbol bulan sabit yang ditempatkan diatas daftar namanama dewa, menunjukkan bahwa dewa bulan adalah yang dewa yang terutama.

      Kota lain yang menjadi pusat penyembahan dewa bulan adalah Harran. Sejarawan kuno, Herodotus, dalam IV 13, 7, membicarakan mengenai kota itu dan kuil dewa bulannya. Kuil tersebut dibangun dan dikembangkan berulangkali pada masa itu, oleh raja-raja terkenal seperti Shalmanezer, Assur-Bani-pal, dan Nabonidus. Reruntuhannya masih dapat dilihat sampai sekarang. Dari tahun 1900 SM sampai 900 SM, raja-raja yang berkuasa diharapkan untuk bersumpah atas namanya (dewa bulan) dalam segala bentuk perjanjian (fakta) penting yang mereka buat, mereka memperoleh kekuatan darinya. Namanya masih dapat ditemukan dalam tulisan kuno berbentuk baji dan dalam batu-batu tulis. Dikemudian waktu, kita membaca dalam sejarah Roma bahwa kaisar Caracala terbunuh setelah dia kembali dari mengunjungi kuil dewa bulan di Harran.

      Harran memiliki versi Allahnya sendiri yang sudah diketahui dengan baik oleh mereka yang belajar Taurat. Dilihat dari hasil penelitian, Harran memiliki BAAL-nya sendiri. Tetapi di Harran, kita mendapatkan informasi bahwa BAAL adalah perwujudan lain dari dewa bulan. Sebagai tambahan atas berbagai nama yang diberikan pada dewa bulan, suku yang berbeda terkadang memberikan gagasan yang berbeda tentang dewa bulan. Beberapa suku di Arab Utara percaya bahwa dewa bulan adalah seorang wanita, jadi mereka memiliki DEWI Bulan.

      • Bagian Utara Madinah (Arab)

      Orang Arab mungkin telah menyembah dewa bulan sejak ribuan tahun lalu. Ribuan benda-benda peninggalan telah ditemukan dalam tanah dan pasir di daerah Timur Tengah, termasuk Arab. Simbol bulan sabit telah ditemukan di materai, batu tulis, barang tembikar, jimat-jimat, benda dari tanah liat, timbangan, anting-anting, kalung, dan benda-benda yang lainnya. Kita tahu dari catatan bahwa raja Babilonia yang terakhir, Nabonidus, pergi ke Tayma, di hijaz, 1000 tahun sebelum Muhammad lahir. Dia tinggal disana untuk beberapa waktu, dan sementara ia disana, ia membuat Tayma menjadi pusat untuk penyembahan dewa bulan. Banyak sekali ditemukan naskah yang menyangkut penyembahan dewa bulan diarea itu, termasuk “Stele o/ nabonidus” Dalam ukiran pahat kuno itu raja sendiri terlihat bersamaan dengan simbol bulan sabit besar di sebelahnya.

      Tayma terletak 230 mil dari Medina. Tempat lain di daerah Utara juga telah digali. Ukiran-ukiran di batu dan mangkuk-mangkuk yang dipakai untuk ritual kegamaan pada “putri-putri allah” telah di temukan dan didokumentasikan. Tiga putri dari allah, Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat, seringkali terlihat dengan simbol bulan sabit diatasnya-dewa bulan, (bahkan Prof. Muhhamad Mohar Ali, pengajar sejarah Islam di Universitas Islam di Madinah, menyatakan dalam kuliah Pra-Islam di Arab, bahwa prasasti yang ditujukan untuk ‘allah’ pada masa sebelum Islam telah ditemukan di daerah Utara, daerah dimana dewa bulan di sembah). Dapat terlihat bahwa tiga putri ‘allah’ sangat penting di daerah Utara Arab.

      Jika anda mau, anda dapat membaca tentang penemuan arkeologinya dalam buku2 ini:

      1) Aramaic Inscripticns o/ the Sth Century, Jones, xyi956, pp 1-9 (Isaac Rabinoiuitz)

      2) Another Aramaic Record o/ the Noth Arabian Goddes Han’Laat, Jones, XVIII,1959,pp 154-155 (Rabinouiitz)

      3) The Goddess Atirat in Ancient Arabia, in Babylon and Ugarit: Her Relation to The Moon God and the Sun Goddess, Orientalia Louiensia Periodica, 3:101-109.

      4) Iconography and Character of the Arab Goddess Allât, found in Etudes Preliminaries Aux Religions Orientales Dans L Empire Roman, ed. Maarten J. Verseren, Leiden, Brill,1978, pp 331351 (HJ. Drivers)

      • Daerah Selatan Arab, Tepat di kota Mekah (dan sekitarnya)

      Kerajaan Saba terletak di daerah Selatan Arab. Orang dari Saba disebut Sabean. Ini adalah tempat asal “Ratu Seba” (Kejadian 1026, Ayub 1:15,6:19,1 Raja-Raja 10:15,). Kata, “Sheba” dalam bahasa Inggris mengacu pada asal katanya dari bahasa Ibrani – Saba. Kerajaan ini cukup dikenal dalam sejarah, dan dikenal baik bahwa orang Sabean menyembah dewa bulan, dan bintang, bahkan kata Saaba dalam bahasa Arab berarti “bintang”.

      Kerajaan Saba menguasai seluruh daerah Selatan Arab sampai pada perbatasan Yémen dengan Arab, dan ada kemungkinan lebih luas lagi. Pengaruhnya melebihi daerah kekuasaan mereka, bahkan sampai ke kota Mekah Al-qur’an menyebutkan juga mengenai Sabean (Sura 2:62, Sura 5:69, Sura 22:17, Sura 27:29). Lebih dari itu, Sabean adalah kaum pedagang, sehingga pengaruh mereka tersebar kemanapun karavan mereka pergi, bahkan sampai daerah barat Mekah dan Medinah, melewati laut Merah di Afrika. Kaum Sabean menyembah dewa bulan mereka di Sudan, dan Etiopia. Suku Saba dan penyembah berhala lainnya mempunyai banyak sebutan yang berbeda untuk dewa bulan mereka. Dia diberi nama seperti llumqah, atau Al-maqah, Wadd, Amm, Haiubas, Hubal, Ilah dan Sin.

      Sin adalah dewa yang sama yang disembah di Haran sampai ke Utara. Penyembah dewa bulan di Haran juga menyebut diri mereka sebagai kaum Sabean. Pada awal 1940, Gertrude Caton Thompson menemukan kuil dewa bulan di Hureidha, di tempat Kerajaan Saba dulu berada. Dia menemukan 21 prasasti dari nama dewa-Sin, di sekitar kuil itu. Ada kemungkinan bahwa itu adalah dewa bulan yang dia temukan. Kuil dewa bulan di temukan juga di Awan, masih di daerah kerajaan kaum Sabean. Pada tahun 1950, Wendell Philips, W.E Albright, Richard Bower, dan yang lainnya menemukan lebih banyak bukti penyembahan dewa bulan di kota2 Qataban, dan Timna, dan di ibukota kuno kerajaan Saba, Marib.

      Saudara dapat membaca lebih banyak lagi mengenai penemuan2 ini dalam buku2 berikut:

      1) G.C Thompson, ‘The Tombs and the Temple o/ Hureidha, 1944

      2) Carleton S. Coon, “Southern Arabias, a Problem /or the future” Smithsonia,1944

      3) G. Ryfemans, Less Religions Arabes Preislamiques”

      4) RichardLe baron Bower }r. dan Franfe P. Albright, Archaeologicai Discoueries in South Arabia, Baltimore, John Hopfeins Uniuersity Press, 1958, p78ff

      5) Ray Cleveland, An AncientSouth Arabian Necropolis, Baltimore, John Hopkins University Press, 1965

      6) Nelson Glueck, Deities andDolphins, New Yorfe, Farrar, Stratass danGiroux, 1955

      Penelitian arkeologis tidak mengatakan banyak hal mengenai kota Mekah, karena pihak yang berkuasa, kaum Islamis, takut akan apa yang dapat ditemukan di sana. Akses untuk beberapa daerah tidak diberikan, jika ada peninggalan yang dapat membuat kontradiksi dengan pandangan “sejarah” mereka, mereka mungkin akan merahasiakannya atau bahkan memusnahkannya. Akan tetapi ada kabar baik, yaitu, ada beberapa penulis Islam masa kini dan Sejarawan Islam pada abad pertengahan yang telah cukup jujur untuk menulis sesuatu tentang penyembahan dewa bulan di mekah.

      “Sekitar 400 tahun sebelum Muhammad lahir, Amir bin Harath…bin Saba, keturunan Qahtan dan raja Hijaz, telah meletakkan satu berhala diatas atap kabah. Ini adalah salah satu dewa tertinggi Quraish (suku Muhammad) sebelum Islam. Dikatakan bahwa ada 360 didalam dan sekitar Kabah…selain Hubal, ada juga berhala-berhala lain, Shams, ditempatkan di atas atap Kabah…selam berhala-berhala yang mereka sembah, mereka juga menyembah bintang, matahari, dan bulan” (Hafiz Ghlam Sarwar, “Muhammad the Holy Prophet” Pafeistanj, p. 18-19)

      Jadi, kita mengetahui bahwa ada berhala yang ditempatkan di atas kabah, berhala yang disebut “Hubal”. Selain ini, penulis muslim juga mengatakan bahwa ada 360 berhala di dalam dan sekitar Kabah-dan 360 adalah jumlah hari dalam Kalender Bulan. Dikatakan juga bahwa Hubal berbagi tempat diatas kabah dengan berhala lain “Shams” Yusuf Ali mengatakan pada kita bahwa Shams adalah dewa matahari. Di daerah Babilonia Sin dewa bulan berdampingan dewa matahari, Shamash. Karena itu Hubal adalah, dewa bulan.

      Sumber-sumber dari Musim, Sekuler dan Kristen setuju bahwa Hubal adalah perwujudan dari dewa bulan. Seorang penulis muslim memberikan pernyataan seperti ini:

      “Di antara banyak berhala-berhala yang disembah oleh orang Arab di dalam dan di luar Kabah, ada dewa Hubal dan tiga dewi, Al-lat,aI-Uzza, dan Manat. Hubal sebenarnya adalah perwujudan dari dewa bulan, dan mungkin juga dewa hujan, seperti makna kata Hubal ‘uapor’. (Mahmoud M. Ayoub, “Islam: Faith and History” (Ox/crd£ngland, One world Publications, 2004), p. 15)

      Pada tahun 2005, Reza Aslan menulis buku lain yang berjudul “NoGod but God: The Origins, Euolution, and Future qf Islam.” Di halaman 3 dalam buku itu, dia membawa para pembaca kembali ke zaman pra islam Kabah, dia menyatakan:

      “Disinilah…dewa-dewa pra Islam di Arab berdiam: Hubal, Dewa bulan dari Syria; Al-Uzza, dewa yang berkuasa di Mesir yang dikenal sebagai Isis dan di Yunani yang dikenal sebagai Aphrodite…”

      Azrarki, dalam bukunya menyebut Hubal sebagai dewa bulan. Ini berarti bahwa Hubal mempunyai hubungan dengan matahari, bulan. dan bintang. Dia tidak menyebutkan spesifik seperti Ayaoub atau Aslan, tetapi pada dasarnya mereka menyatakan point yang sama.

      “Di dalam kabah, Hubal harus menjaga karakter asli sebagai dewa bintang; tetapi katakter terbesarnya adalah sebagai dewa perantara. Bahkan, di depan dewa Hubal-lah mereka melemparkan panah undian, untuk mengetahui apa yang harus mereka lakukan.”( Al-Azrarki,31)

      Azrarki juga menyebut Hubal sebagai “dewa perantara” apa artinya? “perantara/bilah” artinya adalah seseorang (sesuatu) yang menyampaikan pesan kepada seseorang (sesuatu) yang lebih tinggi. Hubal, nampaknya melayani sebagai jembatan untuk dewa yang memiliki kekuasaan lebih tinggi. Orang berdoa, kepada dewa yang “tertinggi” melalui dewa yang lebih rendah ini” Dua sejarawan muslim pada abad permulaan Islam memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang Azrarki bicarakan.

      Ibnu Kathir dan Ibnu Ishaq menyatakan:

      Dinyatakan bahwa ketika ‘Abdul Muttalib (kakek Muhammad) menerima perlawanan dari suku Quraish dalam menggali zamzam, dia berjanji jika dia diberikan 10 anak, yang besar nanti dapat melindungi dia, dia akan mengorbankan satu anaknya kepada ‘allah’ di Kabah…(tahun-tahun berikutnya, dia memiliki 10 anak, dan…) sehingga mereka kembali ke Mekah dan… Abdul Muttalib berdiri di hadapan Hubal dan berdoa kepada ‘allah’. Kemudian dia mempersembahkan Abdullah (Ayah Muhammad) dan 10 unta sebagai kurban persembahan dan melemparkan panah undian.( Melemparkan panah undian adalah cara untuk mengetahui kehendak bilah, seperti dadu undian). Dia ingin tahu apakah dia harus tetap meneruskan mempersembahkan anaknya, hasilnya adalah dia tidak perlu mempersembahkan anaknya). Pada saat itu orang dari suku Qurais berkata kepada Abdul Muttalib yang berdiri di dekat Hubal dan sedang berdoa kepada bilah’, “Sudah Selesai! Allah-mu, berkenan kepada-mu. O’ Abdul muttalib…” (Sirat Rasul Allah. p.126)

      Dua kali disebutkan bahwa kakek Muhammad berdiri di hadapan Hubal, berdoa kepada ‘allah Ini mendukung apa yang di katakan oleh Azrarki. Nampaknya Hubal adalah dewa lokal, dimana orang Arab pergi kepadanya untuk sampai kepada dewa tertinggi, ‘allah’ Ada kemungkinan bahwa Hubal adalah dewa perantara ataupun bilah’ itu sendiri, tetapi hal ini tidak membuat satu perbedaan-pun. Catatan yang penting disini adalah baik pergi ke dewa bulan untuk sampai kepada bilah’ atau dewa bulan itu adalah bilah’, jelas bahwa ‘allah’, sebagaimana yang dikenal oleh para penyembah dewa di Arab, dalam cara tertentu, memiliki hubungan yang dekat dengan dewa bulan.

      Khairt-Al Saleh, di halaman 29 dalam bukunya “Fabled Cities,Pri?ices and Jin Trorn Arab Myths and legends” diterbitkan tahun 1985, mengatakan beberapa hal lain tentang Hubal:

      “Hubal tergabung dalam dewa-dewa Semitic, Baal dan Adonis dan Tammuz, dewa musim semi, kesuburan, pertanian dan panen.” Dia menghubungkan Hubal dengan Baal, dan banyak para ilmuwan lain setuju dengannya. Nama “Hubal” tidak dapat dijelaskan dari bahasa Arab.

      Dalam bukunya “Specimen Historicae Arabum” penulisnya berpendapat bahwa nama itu berasal dari kata Ha-BaaL Tulisan bahasa Ibrani dan Arab Kuno tidak mempunyai hurup vokal, kemungkinan ini adalah salah satu dari perubahan umum yang terjadi (mis: seseorang dapat membaca dengan kata Mohammed, Muhammad, Muhammed, Mahommet.dsb). Nama Hubal (dalam naskah Arab dan Ibrani hurup vokalnya tidak tercatat = H B L) ini menunjukan adanya suatu hubungan dekat dengan kata Ibrani HABAAL (= BAAL).

      Baal adalah berhala yang disebutkan dalam Alkitab (Bilangan 253, Hosea 9:10), Di daerah mana Baal disembah? Di Moab! Ini adalah “dewa kesuburan” (dari Gerhard Nehls). Amir Bin Luhaiy nampaknya memang membawa Hubal dari Moab.

      Ibnu Kathir mengatakan:

      Ibnu Hismah menyatakan bahwa orang terpelajar mengatakan padanya bahwa ‘Amir Bin Luhayy pergi dari Mekah ke Syiria untuk urusan bisnis dan mencapai Ma’ab (kemungkinan Moab) didaerah Balija. Amir kemudian meminta mereka untuk memberikan kepadanya berhala yang dapat di bawa ke tanah Arab dimana berhala itu dapat disembah, dan mereka memberikan kepadanya berhala bernama Hubal. Berhala ini dia bawa ke Mekah dan mempersiapkan acuan dan memerintahkan orang untuk menyembahnya dan memuliakannya. (The Life of The Prophet Muhammad (Al-Sira al-Nabauiiyya), Volume I, J, p42)

      Selain Hubal di Kabah juga terdapat Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat. Dikatakan bahwa Al-Lat telah dibawa Hijaz dari Palmyra, melalui Tayma (kota yang telah menjadi pusat penyembahan dewa bulan). Al-Lat mungkin bentuk dewa Arab dari dewi Astarte, Ishtar, dalam Alkitab ‘Asherah” atau yang dikenal sebagai dewa matahari. Di sisi lain, beberapa orang berpikir bahwa Al-Lat sebenarnya dewa bulan didaerah Arab Utara. Al-lat memiliki batu kubik, dan tegak berdiri di dalam kuil kecil kecilnya di Al-Taif. Nama Al-lat adalah bentuk feminis dari kata Al-lah!

      Al-Uzza adalah dewi cinta dan kecantikan, dia diidentifikasikan dengan planet Venus, bintang fajar {bintang yang biasanya dilihat bersamaan dengan bulan sabit jauh sebelum masa Muhammad). Patungnya berdiri tegak di Nakhlat. Pemujaan terhadapnya sangat kuat. Manat adalah dewi yang asli berasal dari Arab. Nama Manat muncul di kuil Baal, di Palmyra, di naskah yang berasal dari tahun 32 M. Manat memiliki batu hitam di jalan antara Mekah dan Medina. Patungnya berdiri tegak dekat Qudayd. Manat adalah dewi takdir. Ketiga dewi ini sangat terkenal. Ketiga dewi ini, dan juga Hubal, sangat senang dengan persembahan korban manusia.

      Menurut Khairt al-Saeh:

      “sebagaimana penyembahan berhala dan roh-roh, ditemukan di binatang2, tanaman2, bebatuan, dan air, Arab kuno percaya pada beberapa dewa-dewi besar yang mereka pikir memegang kekuasaan tertinggi atas semua hal, yang paling terkenal diantaranya adalah Al-Lat, Al-Uzza, Manat, dan Hubal. Ketiga dewa yang pertama dipercaya sebagai putri-putri al-lah (tuhan) dan karena itulah perantaraan mereka atas nama penyembah mereka menjadi sesuatu yang sangat penting.”

      Yusuf Ali mengatakan beberapa hal tentang putri-putri ‘allah’ di halaman 1445 dari terjemahannya, footnote 5096. Dia menjelaskan bahwa Lat, Uzza dan Manat dikenal sebagai “Putri-Putri al-lah! Al-Saeh dan Ali, keduanya menghubungkan ketiga “putri-putri” itu dengan ‘allah! Arkeolog menghubungkan “putri-putri al-lah’ yang sama dengan Hubal. Prasasti tertua dimana nama Hubal ditemukan di dalamnya di temukan di Nabatea, di daerah barat laut Arabia, di daerah Barat Laut perbatasan Hijaz. Prasasti itu menghubungkan Hubal dengan “Ma-Na-Wat” Kata itu, Ma-Na-Wat, berasal dari tiga kata yang dijadikan satu, mengacu kepada tiga dewi, Manat.Uzza, dan Lat. Ini sama dengan “Putri-Putri al-lah” yang dilambangkan di batu-batu yang digali oleh arkeolog di daerah Utara Arabia, ketiga putri yang sama terlihat bersamaan dengan bulan sabit, dewa bulan. Menaungi mereka semua. Mungkinkah bapak mereka, ‘allah; adalah dewa bulan? Hal ini sangat mungkin. Ketiga dewi ini mempunyai ikatan langsung dengan dewa bulan. Ketiga dewi ini disebut sebagai putri-putri ‘allah Ada beberapa pendapat yang berbeda tentang hal ini, tapi bukti-buktinya belum meyakinkan.

      Dari Baal kepada Allah

      Hak. 2:11

      Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.

      Baal, Dewa Sesembahan Bangsa Moab.

      Dalam perjalanannya ke Suriah, Khuza’ah dan Jurhum meminta penduduk Moab untuk memberikan salah satu patung dewa sesembahan mereka. Maka mereka memberikannya Hubal, dan ia diletakkan dalam Ka’abah (Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources [Inner Traditions International, LTD. One Park Street, Rochestor Vermont 05767, 1983], p. 5)

      Hubal, Nama Arab untuk Baal

      Ka’abah adalah tempat persemayaman Hubal, dewa Arab purba tertinggi, sesembahan utama suku Quraish (Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet [Harper San Francisco; ISBN: 0062508865; Reprint edition, October 1993], hal. 61-62)

      “… Menurut legenda, sekembalinya Qusayy dari perjalanan ke Syria ia membawa tiga dewi sesembahan ke Hejaz (note: jazirah Arab) yaitu al-Lat, al-Uzza dan Manat, juga memahkotai dewa Hubal di dalam Ka’abah …” (Armstrong, hal. 66;)

      Hubal adalah dewa sesembahan penduduk Mekkah yang ditempatkan di dalam Ka’abah (The Oxford Dictionary of Islam (Oxford University Press, 2003, hal. 117)

      Baal dalam dialek Arab disebut juga Hubal. Nama ini berasal dari Ha-Baal, yang dalam dialek Arab artikel berupa konsonal `ha/hu’ (S. Noja, “Hubal = Allah”, Reconditi: Instituto Lombardo Di Scienze E Lettere, Vol. 28 (1994), hal. 283-295)

      Dari Hubal Menjadi al-Ilah

      Hubal (dari bahasa Aram yang berarti `roh’) jelas merupakan dewa utama dalam Ka’abah dan dipresentasikan dalam bentuk tubuh manusia. Di sampingnya terdapat tujuh anak panah yang biasa digunakan oleh para kahin dalam ritual mereka. Menurut tradisi ibn Hisyam, Amr bin Luhayy mendapatkan sesembahan ini dari bangsa Moab (History of the Arabs from the Earliest Times to the Present, revisi edisi ke-10, new preface oleh Walid Khalidi [Palgrave Macmillan, 2002; ISBN: 0-333-63142- 0 paperback], p. 100

      KARENA HUBAL ADALAH DEWA SESEMBAHAN YANG UTAMA, MAKA IA DISEBUT `SANG TUHAN, SANG ILAH’ ATAU `AL-ILAH’.

      Di Bawah Muhammad: dari al-Ilah kepada Allah

      Muhammad menghancurkan pemujaan terhadap al-Lat, al-Uzza dan Manat, namun berhenti menyerang sekte pemuja Hubal. Dari sini Wellhausen (sejarawan-red) menduga bahwa Hubal adalah tidak lain selain Allah, “dewa” orang-orang Mekkah.

      Islam meminjam nama “Allah” dari suku-suku Arab purba. Nama ini bervariasi di kalangan berbagai suku Nabatean. Pada akhirnya ini diaplikasikan kepada satu sesembahan yang adalah `Satu-satunya’ dan `Yang Utama’ (Ibn Warraq, Why I Am Not A Muslim [Prometheus Books, Amherst NY, 1995], pp. 39-40, 42)

      Konsep `Allah’ sebagai terminologi Arab untuk Tuhan yang Mahatinggi sudah familiar bagi masyarakat Arab di masa Muhammad. Yang dilakukan Muhammad adalah memberikan makna baru untuk membersihkannya dari atribut politeisme (H.A.R. Gibb, Mohammedanism: An Historical Survey [Oxford University Press, London 1961], p. 54)

      Berikut ini adalah Hasil-hasil Penelitian mengenai Hubal:

      S. Noja (1994): ada metamorfosa semantik dari nama Ba’al (sesembahan Moab) menjadi Hu-Baal dan akhirnya Hubal, dewa bulan (Arab)

      Martin Lings (1983): Hubal adalah nama Arab untuk Baal, dewa Moab yang dibawa pulang ke Mekkah oleh Khuza dan Jumhur setelah kunjungan mereka ke Suriah.

      Karen Armstrong (1993): Hubal adalah dewa Arab purba tertinggi, takhtanya ditempatkan di dalam Ka’abah.

      Dr. Cesar Farrah (2000): Allah sudah ada sebelum Islam. Berasal dari `Il’ (Babilonia), `El’ (Kanaan purba), `al-Ilah’ (Bedouin Arab) dan akhirnya `Allah’ di bawah Muhammad.

      Mahmoud Ayyub (2004): Hubal adalah dewa bulan Arab. Sementara ada juga tiga dewi Ka’abah lain yaitu al-Lat, al-Uzza dan Manat. Al-Lat sangat mungkin adalah bentuk feminin dari Allah!

      Begitulah trasnsformasi kata Baal menjadi Allah adalah sebuah proses antropologis. Secara kronologis:

      Baal (berhala Moab) (Hak 6:31) –> Ha-Baal/Hu-Baal/ Hubal (Noja, 1994; Lings, 1983) –> al-Ilah (yang utama) (Hitti, 1937; Armstrong, 1993) –> Allah (Ibn Warraq, 1995; Farrah, 2000; Khalidi, 2002)

      Banyak penulis yang mempermasalahkan nama Allah tersebut, namun sebenarnya tidak ada nama yang cukup mewakili untuk menyatakan siapa Tuhan itu, Konsep dibalik nama Tuhanlah yang menentukan. TUHAN disebut dalam berbagai nama dalam suku2 bangsa, Tuhan disebut sebagai YHWH (Yahudi), Allah (Arab), Jubata (Kalimantan), Debata (Batak), God (bahasa Inggris).

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel