Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 5:54 am on 22/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: itulah orang-orang yang telah melang­gar garis. وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik te, maka tidaklah mereka tercela. فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 - 11 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ (1) Sesungguhnya menanglah orang-ora   

    Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 – 11 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ (1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman. ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ (2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang. وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ (3) Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras. وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ (4) Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT. وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ (5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka. إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ (6) Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela. فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis. وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya. وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ (9) Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya. أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ (10) Mereka itulah yang akan me­warisi. ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ (11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya. 

    Tafsir Suroh Al-Muminun ayat 1 – 11
     

                                                             بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم  

     قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ

    (1) Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman.


     ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ 

    (2) Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.


    وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ

    (3)Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ

    (4) Dan orang-orang yang mengerjakan ZAKAT.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ

    (5) Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.


    إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ

    (6)  Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela.


     فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ

    (7) Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melang­gar garis.


     وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ

    (8) Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.


     وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ

    (9) Dan orang-orang yang meme­lihara dan menjaga semua waktu sembahyangnya.


     أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ

    (10) Mereka itulah yang akan me­warisi.


     ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ

    (11) Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya.


                                            Perjuangan Dan Kemenangan

     قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ َ
    “Sesungguhnya menanglah orang-orong yang beriman.° (ayat 1).

    Kalimat “menang” adalah bukti bahwasanya perjuangan telah dilalui menghadapi musuh atau berbagai kesulitan.
    Orang tidaklah sampai kepada menang, kalau dia belum melalui dan mengatasi rintangan yang bertemu di tengah jalan. Memang sungguh banyak yang harus diatasi, dikalahkan dan ditundukkan dalam melangkah ke muka mencapai kemenangan. Kalau sekira­nya suatu bangsa mempunyai banyak musuh atau rintangan di dalam per­jalanannya untuk mencapai martabat yang lebih tinggi.

    Rintangan dari kebodohan, rintangan dari nafsu-nafsu jahat yang ada dalam diri sendiri, yang mungkin membawa derajat kemanusiaan jadi jatuh, sehingga kembali ke tempat kebimbangan rintangan dari syaitan yang selalu merayu dan memperdayakan, semuanya pasti bertemu dalam hidup. Hati nurani manusia ingin kejayaan,. kemuliaan dan kedudukan yang lebih tinggi. Tetapi hawanafsunya mengajaknya atau menariknya supaya jatuh ke bawah. Kalau kiranya “pegangan hidup” tidak ada, diri itu pasti kalah dan tidak tercapai apa yang dimaksud, yaitu kemenangan hidup.

    Maka di dalam ayat ini diberikan keterangan bahwasanya kemenangan pastilah didapat oleh orang yang beriman, orang yang percaya. Kalimat “qod” yang terletak di pangkal fill madhi (Aflaha) menurut undang-undang bahasa Arab adalah menunjuk kan kepastian. Sebab itu maka ia (Qad) diartikan “sesungguhnya”.

    Hanyalah adanya kepercayaan adanya Tuhan jalan satu-satunya buat membebaskan diri dari perhambaan hawa nafsu dunia dan syaitan. Penga­laman-pengalaman di dalam hidup kita kerapkali menunjukkan bahwasanya di atas kekuasaan kita yang terbatas ini ada kekuasaan Ilahi. Kekuasaan Ilahi itu­lah yang menentukan, bukan kekuasaan kita. Tetapi kepercayaan dalam hati saja, belumlah cukup kalau belum diisi dengan perbuatan. Iman mendorong sanubari buat tidak mencukupkan dengan hanya semata pengakuan lidah.

    Dia hendaklah diikuti dengan buktt dan bakti. Kemudian bukti-bukti itu memperkuat Iman pula kembali. Di antara Iman dan perbuatan adalah isi­mengisi, kuat-menguatkan. Bertambah banyak ibadat, bertambah kuatlah lman. Bertambah kuat Iman, bertambah pula kelezatan dalam jiwa lantaran beribadat dan beramal.

    Maka ditunjukkanlah 6 (enam) syarat yang wajib dipenuhi sebagai bukti Iman. Kalau 6 syarat ini telah terisi, pastilah menang. Menang mengatasi ke­sulitan diri sendiri, menang dalam bernegara, dan lanjutan dari kemenangan semuanya itu ialah syurga jannatul firdaus. Syarat kemenangan Peribadi Mu’min yang pertama ialah:

    Sembahyang Yang Khusyu`

    ٱلَّذينَ هُمْ في‏ صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ
    “Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang.” (ayat 2).

    Tuhan tidaklah semata-mata untuk dipercayai. Kalau semata hanya dipercayai, tidaklah akan terasa betapa eratnya hubungan dengan DIA. Kita harus mengendalikan diri sendiri supaya bebas lain di dalam alam ini. Sebagai manusia kita mempunyai naluri, yang kalau din ini tidak mempunyai tujuan terakhir dalam hidup, niscaya akan sangsai dibawa larat oleh naluri sendiri.

    Kita mempunyai instink rasa takut. Kita dipengaruhi oleh rasa takut kepada kemiskinan, takut kepada kematian, takut akan tekanan-tekanan sesama kita manusia, kezaliman orang-orang yang berkuasa atas kita. Bahkan kadang kadang manusia yang berani pun ada juga naluri takutnya. Roosevelt Presiden Amerika Syarikat dalam Perang Dunia Kedua, menambahkan lagi salah satu tujuan “Declaration of Human Right” ialah bebas dari rasa takut (freedom from fear). Padahal tidaklah manusia dapat membebaskan diri dari rasa takut itu, sebab naluri rasa takut adalah sebagian dari naluri rasa takut mati. Takut mati ialah karena keinginan hendak terus hidup.

    Dengan mengerjakan sembahyang, yaitu bahasa nenek-moyang kita yang telah kita pakai untuk arti “shalat”, maka seluruh rasa takut telah terpusat kepada Tuhan, maka tidaklah ada lagi yang kita takuti dalam hidup ini. Kita tidak takut mati, karena dengan mati kita akan segera berjumpa dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan amal kita selama hidup. Kita tidak takut kepada zalim aniaya sesama manusia, karena sesama manusia itu hanyalah makhluk sebagai kita juga. Kita tidak takut kepada lapar lalu tak makan, karena rezeki kita telah dijamin Tuhan, asal kita mau berusaha. Kita tidak takut meng­hadang bahaya, karena tidak ada yang bergerak dalam alam ini kalau tidak ditentukan Tuhan. Dengan sembahyang yang khusyu` rasa takut menjadi hilang, lalu timbul perasaan-perasaan yang lain. Timbullah pengharapan (desire) dan pengharapan adalah kehendak asasi manusia. Hidup manusia tidak ada artinya samasekali kalau dia tidak mempunyai pengharapan.

    Sembahyang 5 waktu adalah laksana setasiun-setasiun perhentian istirahat jiwa di dalam perjuangan yang tidak henti-hentinya ini. Sembahyang adalah saat untuk mengambil kekuatan baru melanjutkan perjuangan lagi. Sembah­yang dimulai dengan Allahu Akbar” itu adalah saat membulatkan lagi jiwa kita supaya lebih kuat, karena hanya Allah Yang Maha Besar, sedang segala perkara yang lain adalah urusan kecil belaka. Tak ada kesulitan yang tak dapat diatasi.

    Khusyu` artinya ialah hati yang patuh dengan sikap badan yang tunduk. Sembahyang yang khusyu`, setelah menghilangkan rasa takut adalah pula menyebabkan berganti dengan berani, dan jiwa jadi bebas. Jiwa tegak terus naik ke atas, lepas dari ikatan alam, langsung menuju Tuhan. Dengan sembah­yang barulah kita merasai nilai kepercayaan (Iman) yang tadinya telah tumbuh dalam hati. Orang yang beriman pasti sembahyang, tetapi sembahyang tidak ada artinya kalau hanya semata gerak badan berdiri, duduk, ruku` dan sujud. Sembahyang mesti berisi dengan khusyu`. Sembahyang dengan khusyu` ada­lah laksana tubuh dengan nyawa. Tuhan memberi ukuran waktu paling sedikit (minimum) untuk mengerjakan sembahyang itu 5 waktu. Tetapi sembahyang lima waktu yang khusyu` menyebabkan Mu’min ingin lagi membuat hubungan lebih baik dengan Tuhan, lalu si Mu’min mengerjakan shalat yang nawafil dalam waktu-waktu yang tertentu. Dengan itu semua jiwanya menjadi lebih kuat berjuang dalam hidup. Sebab……

      

    “Dialah yang menjadikan untuk kamu apa yang ada di bumi semaunya.” (al-Baqarah 29)

    Membenteng Peribadi

    وَ الَّذينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ َ

    “Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia menampik dengan keras.” (ayat 3).

    Saat hidup kita dalam dunia ini amatlah singkatnya, daerah yang kita jalani amatlah terbatas. Sedang mencoba-coba mempergunakan umur, meresek meraba ke kiri-kanan, tiba-tiba umur telah habis. Mana yang telah pergi.tidak dapat diulangi lagi. Sebab itu maka segala tingkah laku, baik perbuatan atau ucapan hendaklah ditakar sebaik-baiknya.
    “AI-Laghwi” dari kata “Laghoo”, artinya perbuatan atau kata-kata yang tidak ada faedahnya, tidak ada nilainya. Baik senda-gurau atau main-main yang tak ada ujung pangkalnya.

    Kalau perbuatan atau tingkah laku atau perkataan sudah banyak yang percuma dan sia-sia, peribadi tidak jadi naik, melainkan turun kembali. Maka kekuatan peribadi yang telah didapat dengan sembahyang khusyu` haruslah di pelihara dengan mengurangi garah, senda-gurau, berjudi walaupun tak ber­taruh. Di dalam satu majlis besar, peribadi dapat diukur menurut nilai tingkah faku dan ucapan. Sebagaimana pepatah orang Arab :

    “Barangsiapa yang banyak main-main, dipandang orang ringanlah nilai dirinya. “

    Diserahkanlah kepada setiap peribadi menimbang sendiri mana yang logha, perbuatan atau kata-kata yang sia-sia dan mana yang berfaedah. Ke­kuatan ibadat kepada Ilahi, kekhusyu’an dalam sembahyang yang akan meng ansur pembersihan jiwa kita. Apabila jiwa telah mulai bersih, dia berkilat ber­cahaya, dia akan menerima cahaya pula.

    Agama tidak melarang suatu perbuatan kalau perbuatan itu tidak merusak jiwa. Agama tidak menyuruh, kalau suruhan itu tidak akan membawa selamat dan bahagia jiwa. Segala yang dinamai dosa, atau lagha. Segala perbuatan yang di luar dari kebenaran, artinya yang salah, tidaklah ada hakikatnya.

    Gangguan terlalu lebih banyak dari kiri-kanan kita, kita harus membentengi diri dan tidak menoleh ke kiri-kanan. Kita harus jalan terus, sebab berhenti sejenak saja pun artinya ialah kerugian. Sebab itu jika dengan menampik segala sikap sia-sia dan percuma, adalah menjaga peribadi itu dari keruntuhan. Renungkanlah dan fikirkan betapa singkatnya kesempatan dalam dunia ini akan melukiskan nilai dari kehidupan itu. Laksana putik kita telah tumbuh, di waktu masih putik rasa belum ada. Dari putik menuju jadi buah yang muda, kalau masih buah muda rasanya masih masam. Kalau sudah tua dan masak, itu­lah alamat bahwa tempoh buat tanggal dari tampuk sudah amat dekat.

    Kalau sudah demikian tempoh sudah amat sedikit itu akan dibuang-buang dengan perbuatan sia-sia. Padahal kalau tempoh yang sedikit itu dapat dipergunakan dengan perhitungan yang baik dan tepat, umur diperpanjang dengan jasa dan buah tangan. Sehingga walaupun telah hancur tulang dalam kubur namun sebutan masih ada. “Sebutan adalah usia manusia yang kedua kali.” Dengan kedua ayat itu, ayat khusyu` dalam sembahyang dan ayat me­nampik segala perbuatan sia-sia, diri peribadi telah dapat dibangunkan dan dapat pula diberi benteng untuk menjaga jangan rusak. Karena satu bangunan yang dibangun kedua kali lebih payah dari pembangunan semula, padahal umur berjalan juga.
    Pembersihan Jiwa

    وَ الَّذينَ هُمْ لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ َ

    “Dan orang-orang yang mengerjakan zakat.” (ayat 4).

    Kalau peribadi telah terbangun dan diberi benteng jangan runtuh kembali, sudahlah masanya kita menceburkan diri ke tengah pergaulan ramai. Kekuatan peribadi bukanlah maksudnya untuk menyisihkan diri dari orang banyak. Timbulnya peribadi adalah setelah dibawa ke tengah. Barang yang telah di­bawa ke tengah ialah barang yang sudah dibangun, dan dia selalu wajib di­bersihkan, digosok terus dan diberi cahaya terus. Laksana lampu listrik stroom­nya mesti selalu dialirkan, jangan dia padam di tengah gelanggang.

    Lihatlah suatu majlis yang bermandi cahaya terang. Alangkah indah campuran warna. Sebabnya ialah karena segala cahaya yang timbul dari setiap lampu telah berkumpul menjadi satu mentipta cahaya besar.
    Bersihkanlah hati itu dari sekalian penyakitnya yang akan meredupkan cahaya.
    Dengki adalah debu yang mengotori jiwa. Bakhil adalah debu yang mengotori jiwa. Dusta adalah debu yang mengotori jiwa. Benci adalah debu yang mengototi jiwa.

    Segala perangai jahat, kebusukan hati menghadapi masyarakat, semuanya adalah sebab-sebab yang menjadikan jiwa tidak dapat dibawa ke tengah. Cahaya jiwa tertutup oleh karena kesalahan pilih. Kemurnian Tauhid kepada Ilahi clan hati bersih terhadap sesama manusia adalah pengkalan dari kesucian: zakat.
    Lizzakati faa’ilun : Selalu bekerja, aktif membersihkan jiwa dan raga agar tercapai kemenangan.

    “Menanglah barangsiapa yang selalu membersihkan diri.” (al-A’la: 14)

    Yang dibersihkan bukan jiwa saja, bahkan tubuh lahir pun. Sebab yang lahir adalah cermin clan yang batin. Sebab itu sebelum mengaji r/a (rubu`) ilmu Fiqh, dibicarakan dahulu dari hal kebersihan (thoharoh) panjang lebar.

    Sebab itu maka pengeluaran Zakat harta yang telah cukup bilangannya (Nishab) clan cukup tahunnya (Haul), hanyalah sebagian saja clan usaha mem­bersihkan jiwa itu. Orang yang tidak cukup hartanya satu nishab clan belurn sampai bilangan setahun masih ada yang memberikan derma atau wakaf untuk kebaikan. Karena berasal clan kebersihan jiwanya.

    Orang yang membayar Zakat Fithrah, ukuran Zakat Fithrah hanya 3.5 liter buat satu orang. Tetapi ada orang yang mengeluarkannya Fithrah satu pikul beras, karena didorong oleh kesucian hati yang bersih daripada pengaruh bakhil, dia menjadi seorang yang dermawan.

    Marilah perhatikan dengan seksama kalimat “Fa’iluun” yang berarti mengerjakan. Mengerjakan Zakat. Sebagai tadi diketahui Surat al-Mu’minun diturunkan di Makkah dan di Makkah belum ada lagi syariat Zakat yang berarti membayarkan bilangan harta tertentu kepada yang mustahak menerirnanya. Peraturan berzakat demikian, sebagai salah satu tiang (rukun) Islam baru turun di Madinah clan perintah mengeluarkan zakat harta itu dimulai dengan kalimat: Aatu, iyi memberikan atau mengeluarkan zakat. Sedang dalam ayat ini disebut Lizzakati Faa’ilun, mengerjakan zakat. Lantaran itu jelaslah bahwa dalam ayat ini belum ada perintah mengeluarkan harta dengan bilangan ter­tentu (nishab), melainkan barulah perintah yang umum untuk bekerja keras membersihkan perangai, akhlak dan budi. Berlatih diri, sehingga kelaknya bukan harta saja yang ringan memberikannya untuk kepentingan Agama Allah, bahkan nyawa pun dikurbankan ap.abila datang waktunya.
    Kelamin Dan Rumahtangga

    وَ الَّذينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ َ

    “Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereko.” (ayat 5). ”

    إِلاَّ عَلى‏ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومينَ َ

    Kecuali terhadap isterinya atau hambasahayanya, maka tidaklah mereka tercela. ” (ayat 6).

    فَمَنِ ابْتَغى‏ وَراءَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ العادُونَ َ

    “Tetapi barangsiapa yang masih memilih jalan di luar itu, itulah orang-orang yang telah melanggar garis. ” (ayat 7).

    Hubungan dengan Ilahi telah diperteguh dengan sembahyang yang khusyu`.
    Dengan demikian peribadi yang kuat telah dibangunkan. Segala ting­kah laku, perbuatan dan perkataan yang sia-sia telah ditolak dan ditampak.
    Dengan demikian peribadi telah diberi benteng. Setiap waktu bekerja dan bekerja untuk menegakkan kesucian jiwa clan raga, sehingga layak masuk dalam masyarakat, memadukan cahaya terang-benderang untuk menyinari lebih luas. Tetapi semuanya itu belumlah terjamin, kalau belum tegak rumah­tangga yang kokoh. Hubungan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan yang diliputi kasih mesra. Suami-isteri yang diliputi kasih mesra dan kesetiaan dua belah pihak menimbulkan suasana suci murni, menurunkan keturunan anak-pinak yang menyambung tugas takwa kepada Ilahi.

    Hubungan suami-isteri dalam rumahtangga tegak atas “Mawaddah dan Rahimah”. Di waktu badan masih sama-sama kuat dan muda, mawaddah (kasih cinta)lah yang tertonjol. Dan kalau sudah sama-sama berumur, rahmah lah (belas kasihan) yang terkemuka. Orang tua dikhidmati oleh anak-anak. Anak percaya dan sayang kepada ibu bapaknya, karena ibu bapak tidak pernah kecurian budi oleh anak-anaknya.

    Kalau faraj (kelamin) tidak terjaga, si suami masih melantur malam mencari perempuan lain untuk menumpahkan hawanafsu di samping isterinya yang sah, kerusakanlah yang akan timbul. Jiwanya akan rusak, kesucian akan hancur sirna dan rumahtangga pecah berderai, bahkan menjadi neraka. Berapa pun uang disediakan tidaklah akan cukup. Dan apabila hawanafsu kelamin diper­turutkan, tidaklah akan berhenti di tengah jalan. Air pelembahan yang kotor itu akan diminum sampai habis, dan susah melepaskan diri clan dalamnya. Hari depan jadi gelap.

    Ada perempuan yang sabar menanggungkan perangai jahat suaminya, tetapi ada pula yang tak tahan hati. Kalau lakinya nakal, “mengapa daku tidak nakal pula”, katanya. Rumahtangga bertambah hancur, anak-anak kehilangan pegangan, penyakit jiwa, kehilangan kepercayaan di antara satu sama lain. Dan kalau sudah demikian, bangsalah yang hancur.

    Nafsu kelamin menggelora di waktu muda. Hanya kekuatan Iman ber­agama yang dapat menahannya. Sedangkan pada yang halal kalau diperturut­kan saja, orang akan cepat kehabisan kalori dan hormon, apalagi kalau berzina. Karena zina tidak dapat dilakukan satu kali. Belum sampai separuh umur, kekuatan sudah habis, belum pula kalau ditimpa penyakit kelamin.

    Islam mengizinkan beristeri lebih dari satu buat orang yang nafsu kelamin­nya amat keras. Tetapi apabila diperhatikan ayat yang mengizinkan beristeri sampai 4 itu dengan seksama, jelas bahwa bagi orang yang masih “normal” lebih baiklah beristeri satu saja. Karena beristeri banyak itu pun menyusahkan untuk mendirikan rumahtangga bahagia, hanya menimbulkan permusuhan dendam kesumat di antara orang-orang yang bermadu clan di antara anak-anak yang berlain ibu.

    Di dalam ayat ini diberi pula kekecualian yang kedua, yaitu terhadap hambasahaya yang dijadikan gundik. Ayat ini berlaku semasa perbudakan masih diizinkan. Di zaman Nabi hidup, perbudakan masih ada di dalam masya rakat durtia dan menjadi tradisi umum bangsa-bangsa zaman itu. Perbudakan telah ada sejak zaman Yunani dan Romawi, bahkan telah ada sejak jauh se­belum itu. Maka jika Nabimasih mengakui kenyataan itu, adalah hal yang wajar. Kalau terjadi perang, sedang Nabi tidak lagi memandang orang tawanan yang tidak ditebus sebagai hambasahaya, padahal negara lain yang berperang dengan dia masih berpegang kepada aturan itu, alangkah timpangnya. Orang lain ditawan oleh tentara Islam tidak diperlakukan sebagai budak dan dibebas­kan, sedangkan tawanan Muslimin masih diperlakukan demikian oleh musuh. Betapakan jadinya?

    Di akhir abad kesembilanbelas, barulah dunia sopan menghabiskar perbudakan. Di Amerika penghapusan perbudakan menimbulkan perang saudara clan penganjurnya sendiri Abraham Lincoln menjadi kurban dari cita citanya. Namun demikian peperangan yang terjadi kemudiannya sampai perang dunia kedua, tawanan perang oleh setengah negeri masih diperlakukan sebagai budak, dipekerjakan di Siberia dan lain-lain dengan amat kejam. Dan terkenallah betapa kac.au-balaunya wanita-wanita Jerman ketika tentara sekutu masuk ke negeri itu. Perbudakan tidak diadakan lagi, tetapi wanita-wanita dari bangsa yang kalah diperkosa oleh tentara pendudukan dengan tidak ada garis aturan tertentu.

    Tentara pendudukan Amerika di Jepang meninggalkan beratus ribu anak­anak di luar nikah. Adapun dalam Islam, kalau suatu negeri ditaklukkan, dan perempuan-perempuan kehilangan suami, kehilangan hartabenda, menjadi tawanan, kalau tidak dapat menebus dirinya lagi, bolehlah dia diambil menjadi budak. Dan boleh menjadi tambahan isteri dengan nikah, dan anak-anak dari hubungan perkawinan dengan budak itu rnenjadi anak Bani Abbas, termasuk Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun sendiri adalah anak dari budak yang dijadikan isteri itu .

    Sungguhpun demikian, narnun cita-cita tertinggi berakhir rumahtangga bahagia ialah isteri satu, dan habisnya perbudakan.
    Rumahtangga bahagia adalah sendi pertama dari Negara yang adil dan makmur.
    Kalau ini dilanggar, hubungan kelamin tidak lagi menurut garis kemanusiaan, dan orang telah kembali hidup seperti binatang, sehingga persetubuhan tidak mengenal lagi batas zina dan nikah, hancurlah semuanya dan orang turun ke dalam kebinatangan.

    Tugas Dan Janji

    وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ راعُونَ َ

    “Dan orang-orang yang menjaga dengan baik terhadap amanat dan janjinya.” (ayat 8).

    Peribadi telah dibangun dan diberi benteng, jiwa clan raga telah dibersih­kan ketika masuk dalam gelanggang masyarakat, dan rumahtangga bahagia yang terlepas clan bahaya kecabulan clan pelacuran telah ditegakkan pula, niscaya tujuan terakhir akan tercapai, yaitu negara yang adil clan makrnur.
    Dalam negara yang adil dan makmur setiap orang memikul amanatnya dengan baik.

    Amanat terbagi dua, yaitu amanat raya clan amanat peribadi. Amanat raya ialah tugas yang dipikulkan Tuhan atas perikemanusiaan seluruhnya, menjadi Khalifatullah fil-Ardhi. Amanat tidak terpikul oleh langit dan bumi dan oleh bukit dan gunung pun. Hanya hati yang Mu’min yang sanggup memikul amanat itu, karena hati Mu’min itu lebih luas daripada langit dan bumi dan lebih tinggi daripada bukit clan gunung.

    Adapun amanat peribadi ialah tugas kita masing-masing menurut kesanggupan diri, bakat dan nasib. Diingatkan oleh Tuhan bahwa tugas hidup hanyalah pembagian pekerjaan, bukanlah ke­muliaan dan kehinaan. Yang mulia di sisi Allah ialah barangsiapa yang lebih takwa kepadaNya.

    Derajat kita dihadapkan Allah sama dan kejadian kita sama, tetapi tugas terbagi. Ada pemegang pemerintahan dengan pangkat tinggi dan ada petani pemegang cangkul. Ada Bapak menteri, tetapi Bapak menteri tidak akan sampai ke kantor departer7nennya kalau tidak ada Bung Sopir.

    Ada pengusaha swasta membuka kantor besar dan ada abang tukang men­jual buah. Ada laki-laki dan ada perempuan, ada mahasiswa dan ada guru besar. Asal samasekali setia memikul tugas, adil dan makmur mesti tercapai.
    “Dan bagi tiap-tiap orang ada jurusan yang dihadapi. Sebab itu maka ber­lomba-lombalah berbuat baik. Karena di mona saja pun kamu ada, namun Allah akan mengumpulkan kamu sekalian jua.” (al-Baqarah: 148)
    Peganglah tugas amanat masing-masing dan pulanglah ke tempat itu kalau tadinya salah pilih.

    Di samping tugas sebagai amanat ada lagi janji-janji. Negara terdiri atas janji. Janji rakyat hendak tunduk clan setia, janji pemerintah hendak menegak­kan keadilan. Janji tentara dengan disiplinnya yang keras, janji bangsa dengan bangsa, janji negara dengan negara. Janji atau sumpah di parlemen, janji dan sumpah menteri ketika dilantik. Janji polisi memelihara keamanan dan berbagai lagi janji. Inilah yang akhirnya berpadu satu menjadi janji maysarakat atau kontrak sosial.
    Dari peneguhan peribadi ketuhanan, kemasyarakatan, ke rumahtangga dan akhirnya ke negara, dengan memelihara amanat clan janji. Kembali Ke Sembahyang

    وَ الَّذينَ هُمْ عَلى‏ صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ َ

    “Dan orang-orang yang memelihara dan menjaga semua waktu sembah­yangnya.” (ayat 9).

    Ya, Insya Allah tercapailah negara adil dan makmur, dengan khusyu` kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi negara bukanlah tujuan terakhir, per­kembangan selanjutnya setelah negara berdiri, masih banyak soal, problem akan diiringi oleh problem. Berhenti timbul persoalan, artinya ialah mati. Sebab itu jiwa senantiasa mesti kuat menghadapi segala soal. Maka jika dalam menuju keadilan dan kemakmuran dimulai dengan khusyu’ sembahyang, di­tutup pun oleh memelihara sembahyang.

    Dapatlah keadaan itu dirumuskan dengan inti pati kata: “Dan sernbahyang kita mulai melangkah dengan khusyu`, kita jalan terus ke muka menghadapi masyarakat, menegakkan rumahtangga clan menegakkan negara. Dan setelah negara berdiri kita bertekun lagi memelihara hubungan dengan Ilahi, dengan sembahyang, moga-moga kita selalu diberi kekuatan untuk menghadapi soal­soal yang ada di hadapan kita. Atau dari Mesjid kita melangkah kekuatan baru ke mesjid.
    Dengan itu kita sebagai Mu’min diberi janji pasti oleh Tuhan bahwa kita akan menang.
    Itulah sebabnya maka setiap memanggil sembahyang lima waktu diseru­kan “Hayya `alal Falaah” (Mari berebut kemenangan).
    Kemenangan sebagai UMMAT yang berarti dalam dunia, ummaton wasathon, tegak di persimpangan jalan hidup memberikan panduan atas seluruh isi alam. Dan kemenangan lagi di akhirat.

    أُولئِكَ هُمُ الْوارِثُونَ َ

    “Mereka itulah yang akan mewarisi. ” (ayat 10).

    ٱلَّذينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فيها خالِدُونَ َ

    “Yang akan mewarisi syurga Firdaus dan di sanalah mereka mencapai khulud (kekal) selama­lamanya.” (ayat 11).

    Syurga Firdaus, Jannatun Na’im, itulah tujuan di balik hidup sekarang ini. Hidupnya seorang Mu’min adalah mengenangkan juga kebahagiaan “Hari Esok”. Kita menyelesaikan dunia untuk menentukan nasib di akhirat. Bagi Mu’min, negara itu bukanlah semata negara duniawi, atau sculer. Bagi Mu’min amal usaha, derma dan bakti di dalam hidup adalah bekal untuk akhirat. Kadang-kadang tidaklah tercapai seluruhnya cita yang besar. Hidup kalau tidak ada pengharapan lanjut, adalah kebuntuan belaka. Kadang-kadang kita telah berjuang dengan ikhlas, untuk masyarakat, untuk rumahtangga dan untuk negara.

    Tetapi tidaklah selalu berjumpa apa yang kita harapkan. Rencana Ilahi yang lebih tinggi berbeda dengan rencana kita sendin. Tuhan yang tahu, dan kita tak tahu. Kadang-kadang khittah pertama gagal aiau kita terbentur. Tetapi tidaklah kita mengenal putusasa, sebab kita mempunyai kepercayaan akan “hari esok”.

    Alam fikiran yang bersendi atas kebenaran dan kepercayaan tidaklah mengenal umur dan tidaklah mengenal jangka waktu. Lantaran kepercayaan akan hari esok itu, seorang Mu’min tidaklah cemas kalau dia menutup mata sebelum cita-cita tercapai. Karena dia mempunyai keyakinan bahwa akan ada yang meneruskan usahanya. Dan dia pun matt dengan bibir tc:rsenyum simpul karena yakin akan kebenarannya dan yakin pula bahwa dia akan mewarisi Jannatul Firdaus, dan akan kekal selamanya di dalarnnya.
    Alangkah sempitnya hidup kalau tidak lapang cita-cita

    Akhlak Nabi

    Diriwayatkan orang bahwa beberapa orang sahabat pemah bertanya kepada Ibu orang yang beriman, Siti Aisyah r a. isteri beliau tentang hagaimana Akhlak Nabi kita. Aisyah telah menjawab: “Akhlak beliau adalah al-Quran, kemudian itu beliau baca ayat-ayat Surat al-Mu’minun ini, sejak ayat pertama Qad Aflahal Mu’minun, sampai ayat “dan orang-orang yang rnerneliliara akan sembahyang nya” itu.
    Dan beliau (Siti Aisyah) berkata lagi: “Segitulah Akhlak Rasulullah s.a.w.”


    Dan begitu pulalah akhlak kita hendaknya.


    01   02   03    04    05   06   07   08   09  10   11  12  13  14  15   16  17  18  19  20  21

    BACK MAIN PAGE .   >>>>

    Advertisements
     
    • wikki 4:04 pm on 23/08/2012 Permalink | Reply

      yang pasti apapun usaha muslim bagaimanapun ….perjuanganya…. berapapun amal ibadahnya ,…baik suci maupun najis ..tetap sudah ditetapkan berahir dineraka..sudah merupakan ketetapan..yang tak bisa dirubah rubah Q.19;71-72

      • SERBUIFF 6:25 am on 24/08/2012 Permalink | Reply

        lu baca harus adari awal dan akhir, satu kesatuan jangan main penggal ayat aja, ….maklum sih para gembong iif memang doyan mainnya begitu….

        Baca ini

        19. Maryam

        67. Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?
        19. Maryam

        68. Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut

        19. Maryam

        69. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
        19. Maryam

        70. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.

        19. Maryam

        71. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

        19. Maryam

        72. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.

        Keterangan :

        di ayat 67 jelas dikatakan manusia bukan kaum muslim saja, …semua manusia….
        kemudian di ayat 69 dari manusia tsb di seleksi lagi mereka2 yg sangat durhaka, yg nggak durhaka tidak akan dipilih…..

        diayat 71 ada tertulis mendatangi, memang benar semua manusia akan mendatangi neraka, mendatangi bukan berarti semua masuk kedalam neraka, karena nanti ada yg masuk kedalam neraka, ada yg tidak masuk kedalam neraka yaitu mereka yg selamat menjalani jembatan shirath…

        lalu diayat 72 Allah menegaskan bahwa orang2 bertaqwa akan diselamatkan dan dilindungi dari api neraka sedang orang zalim masuk dalam neraka ……..

  • SERBUIFF 10:39 pm on 08/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Tafsir Suroh Ali Imran (28) Janganlah mengambil orang-orang yang mukminin orang­orang yang kafir jadi pemimpin lebih daripada orang-orang yang beriman. Dan barang siapa, yang berbuat demikian itu maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun. Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas. Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya. Dan kepada   

    Tafsir Suroh Ali Imran (28) Janganlah mengambil orang-orang yang mukminin orang-­orang yang kafir jadi pemimpin lebih daripada orang-orang yang beriman. Dan barang siapa, yang berbuat demikian itu maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun. Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas. Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya. Dan kepada Allahlah tujuan kamu. 

    Iman kepada Allah telah dipadu dengan ayat yang terlebih dahulu, yaitu bahwasanya seluruh kekuasaan adalah pada Allah. Kalau ada manusia berkuasa, maka itu adalah anugerah belaka dari Allah, dan Allah pun bersedia pula mencabut kekuasaan itu kembali. Orang tidak akan mulia kalau bukan Allah yang memuliakan dan orang tidak hina kalau bukan Allah yang menghinakan. Sehingga walaupun seluruh isi dunia untuk menghinakan engkau, kalau tidak hina kata Tuhan, tidaklah engkau akan hina. Walaupun sepakat isi dunia hendak memuliakan engkau, kalau Tuhan akan menetapkan hina, dunia tidaklah dapat menolong. Kecil kita dan kecil dunia, di hadapan Tuhan.

    Sekarang setelah mendapat pendirian yang demikian, datanglah tuntunan yang maha penting:

    لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكافِرينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنينَ

    “Janganlah mengambil orang-orang yang mu’iminin akan orang-orang kafir jadi pemimpin , lebih daripada orang-orang yang beriman.” (pangkal ayat 28).

    Di sini terdapat perkataan aulia’. Dahulupun pernah kita uraikan arti kata wali, yang berarti pemimpin atau pengurus atau teman karib, ataupun sahabat ataupun pelindung.

    Di surat al-Baqarah ayat 256 kita telah diberikan pegangan, bahwasanya wali yang sejati, artinya pemimpin, pelindung dan pengurus orang yang beriman hanya Allah. Di ayat itu Tuhan memberikan jaminannya sebagai wali, bahwa orang yang beriman akan dikeluarkan dari gelap kepada terang. Dan di dalam ayat itu juga diterangkan bahwa wali orang yang kafir adalah Thaghut dan Thaghut itu akan mengeluarkan mereka dari terang kepada gelap.

    Kemudian di dalam ayat yang lain kita telah bertemu pula keterangan bahwasanya orang beriman sesama beriman yang sebahagian menjadi wali dari yang lain, sokong-menyokong, bantu­ membantu, sehingga arti wali di sini ialah persahabatan. Maka di dalam ayat yang tengah kita bicarakan ini, diberikanlah peringatan kepada orang yang beriman, agar mereka jangan mengambil or­ang kafir menjadi wali.

    Jangan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dijadikan wali sebagai pemimpin, atau wali sebagai sahabat. Karena akibatnya kelak akan terasa, karena akan dibawanya ke dalam suasana thaghut Kalau dia pemimpin atau pengurus, sebab dia kufur, kamu akan dibawanya menyembah thaghut. Kalau mereka kamu jadikan sahabat, kamu akan diajaknya kepada jalan sesat, menyuruh berbuat jahat, mencegah berbuat baik.

    Menurut riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Al-Hajjaj bin ‘Amr mengikat janji setia kawan dengan Ka’ab bin al-Asyraf (pemuka Yahudi yang terkenal sebagai penafsir) dan Ibnu Abi Haqiq dan Qais bin Zaid. Ketiga orang ini telah bermaksud jahat hendak mengganggu kaum Anshar itu lalu ditegur oleh Rifa’ah bin al-Mundzir dan Abdullah bin Jubair dan Sa’ad bin Khatamah, supaya mereka menjauhi orang-orang Yahudi yang tersebut itu. Hendaklah mereka berawas diri dalam perhubungan dengan mereka, supaya agama mereka jangan difitnah oleh orang-­orang Yahudi itu.

    Tetapi orang-orang yang diberi peringatan itu tidak memperdulikannya.” Inilah kata Ibnu Abbas yang menjadi sebab turunnya ayat ini.Ada lagi suatu riwayat lain yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari beberapa jalan riwayat, bahwasanya tafsir ayat ini ialah bahwa Allah melarang orang-or­ang yang beriman bersikap lemah-lembut terhadap orang kafir dan mengambil mereka jadi teman akrab melebihi sesama beriman, kecuali kalau orang-orang kafir itu lebih kuat daripada mereka. Kalau demikian tidaklah mengapa memperlihatkan sikap lunak, tetapi hendaklah tetap diperlihatkan perbedaan di antara agama orang yang beriman dengan agama mereka.

    Untuk mendekatkan kepada faham kita, bacalah pula tafsir surat al-Mumtahanah (Surat 60 ayat 1). Seorang sahabat Nabi yang terkemuka, pernah turut dalam peperangan Badar, bernama Hathib bin Abi Balta’ah, seketika Rasulullah saw menyusun kekuatan buat menaklukkan Makkah, dengan secara diam-diam dan rahasia telah mengutus seorang perempuan ke Makkah, membawa suratnya kepada beberapa orang musyrikin di Makkah, menyuruh mereka bersiap-siap, sebab Makkah akan diserang.

    Maksudnya ialah untuk menjaga dirinya sendiri. Sebab kalau serangan itu gagal, dia sendiri tidak akan ada yang memperlindunginya di Makkah. Dia tidak mempunyai keluarga besar di Makkah, seperti sahabat­sahabat rasulullah s.a.w, yang lain. Dengan mengirim surat itu dia hendak mencari perlindungan. Syukurlah Tuhan memberi isyarat kepada Rasulullah tentang kesalahan Hathib itu, sehingga beliau suruh kejar perempuan itu, sampai digeledah surat itu di dalam sanggulnya. ‘Umar bin Khattab telah meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh Hathib karena perbuatannya yang dipandang berkhianat itu. Untuk kepentingan diri sendiri dia telah membuat hubungan dengan orang kafir. Perbuatannya itu salah. Sebab dia telah membocorkan rahasia peperangan, syukurlah suratnya itu dapat ditangkap. Kalau bukanlah karena jasanya selama ini, terutama karena dia telah turut dalam peperangan Badar, niscaya akan berlakulah atas dirinya hukuman berat.

    Hathib bin Abi Balta’ah termasuk sahabat besar, namun demikian sekali-sekali orang besarpun bisa terperosok kepada satu langkah yang merugikan negara dengan tidak disadari, karena lebih mengutamakan memandang kepentingan diri sendiri. Maka dalam surat al-Mumtahanah ayat 1 diperingatkan supaya orang-orang beriman jangan mengambil orang kafir menjadi wali, karena menumpahkan kasih-sayang.

    Padahal kalau telah terjadi pertentangan (konfrontasi) dengan musuh, dalam hal ini di antara kaum Muslimin di Madinah dan kaum Musyrikin di Makkah, hubungan pribadi tidak boleh dikemukakan lagi. Mungkin pribadi­-pribadi orang di Madinah dengan dengan pribadi orang di Makkah tidak ada selisih, tidak bermusuh, malah berkawan, bersahabat karib, tetapi dalam saat yang demikian hubungan pribadi tidak boleh ditonjolkan, sebab akan mengganggu jalannya penentuan kalah – menang diantara golongan yang berhadapan.

    وَ مَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ في‏ شَيْ‏ءٍ

    “Dan barangsiapa yang berbuat demikian itu , maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun.”

    Tegasnya, dengan sebab mengambil wali kepada kafir, baik pimpinan atau persahabatan, niscaya lepaslah dari perwalian Allah, putus dari pimpinan Tuhan, maka celakalah yang akan mengancam.

    إِلاَّ أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً

    “Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas.”

    Beratus-ratus tahun lamanya negeri-negeri Islam banyak yang dijajah oleh pemerintahan yang bukan Islam, karena terpaksa. Karena tergagah, karena senjata untuk melawan dan kekuatan untuk bertahan tidak ada lagi. Maka tetaplah larangan pertama, yaitu tidak menukar wali dari Allah kepada mereka. Kalau ini tidak dapat dinyatakan keluar, hendaklah disimpan terus di dalam hati dan hendaklah selalu awas sebenar-benar awas, supaya dengan segala daya-upaya bahaya mereka itu untuk membelokkan dari Allah kepada Thaghut dapat ditangkis. Pendeknya , sampai kepada saat yang terakhir wajib melawan , walaupun dalam hati.

    Taqiyah

    Bersikap lunak-lembut kepada musuh, yang merupakan satu ketundukan dan menyerah, karena musuh itu lebih kuat, itulah yang dinamai sikap taqiyah. Kepala selalu terangguk-angguk merupakan setuju, padahal hati bukan setuju. Mulut senantiasa tersenyum, musuh yang kafir itu menyangka bahwa si Mu’min telah tunduk, padahal bukan tunduk.

    Orang yang tidak memahami ajaran Islam menyamakan saja sikap begini dengan munafik. Padahal munafik ialah bermulut manis, bersikap lembut dan tersenyum-senyuin di dalam menyembunyikan pendirian yang salah, yang kufur. Seperti orang munafik mengakui di hadapan Rasulullah s.a.w. bahwa mereka telah percaya bahwa beliau memang utusan Allah, padahal hati mereka tidak mengaku. Walaupun yang mereka katakan benar, kalau kata yang benar itu tidak dari hati, mereka tetap berdusta. Itulah orang yang munafik.

    Tetapi kalau kita yakin bahwa kita di pihak yang benar, dalam lindungan hukum-hukum Allah dan Rasul, sedang musuh kuat, sehingga kita tidak kuat bertindak menentang musuh Tuhan itu, kalau kita menunjukkan muka manis dan mengangguk-angguk, bukanlah munafik namanya, melainkan taqiyah.

    Dalam satu seminar di Jakarta dalam bulan September 1966 seorang sahabat menyatakan pendapat bahwa sikap taqiyah yang menjadi pegangan sangat teguh dari kaum Syi’ah adalah menunjukkan sikap yang lemah.

    Lalu penafsir ini membantah: “Memang kaum Syi’ah mempunyai ajaran taqiyah, tetapi ini bukanlah alamat kelemahan!” Terlepas dari pendirian penafsir sendiri yang bukan Syi’ah, tetapi penganut Mazhab Sunni, penafsir kagum akan ajaran taqiyah kaum Syi’ah itu. Sebab bagi mereka taqiyah bukan kelemahan, melainkan satu siasat yang berencana. Oleh sebab itu maka Mazhab Syi’ahlah satu mazhab politik yang banyak sekali mempunyai rencana-rencana rahasia, yang baru diketahui oleh musuh-musuhnya setelah musuh itu menghadapi kenyataan.

    Kerajaan-kerajaan Syi’ah yang berdiri di mana-mana, baik di Asia atau Afrika di zaman-zaman Khalifah-khalifah Baghdad, kebanyakan pada mulanya adalah gerakan yang dirahasiakan. Berdirinya gerakan Bani Abbas menentang Bani Umayyah, mulanya ialah gerakan rahasia yang timbul di Khurasan. Kerajaan Bani Idris di Afrika, Kerajaan Fathimiyah di Mesir yang dahulu bernama Ubaidiyah di Qairouan mulanya adalah gerakan rahasia.

    Gerakan Hasan Shabah yang terkenal dengan nama “Hasysyasyin (Assasin) adalah mulanya gerakan sangat rahasia. Oleh sebab itu kalau kaum Syi’ah memakai pendirian taqiyah, bukanlah kelemahan, melainkan siasat yang berencana. Oleh sebab itu kalau ada orang Islam yang menyerah kepada kekuasaan kafir, sampai kerja sama atau membantu kafir, padahal tidak ada rencana hendak terus menumbangkan kerajaan kafir itu, bukanlah itu taqiyah, tetapi menggadaikan diri sendiri kepada musuh.

    وَ يُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ

    “Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya.”

    Di sambungan ayat ini Allah Ta’ala memberi peringatan dengan keras, bahwa di dalam urusan ini, khusus dalam taqiyah, janganlah dipandang enteng. Jangan sampai sikap taqiyah itu dijadikan tempat lari untuk melepaskan diri dari tanggung-jawab menghadapi lawan. Hendaklah awas dan jangan sekali-kali lupa bahwa diri Allah Ta’ala senantiasa ada, senantiasa mengawasi, dan menilik sepak terjang yang kamu lakukan. Karena kalau taqiyah itu akan membawa agama Allah jadi lemah, bukanlah dia taqiyah lagi tetapi beralih menjadi sikap pengecut. Itu sebabnya maka ujung ayat lebih menjelaskan pula, bahwa baik di waktu kamu sedang kuat, lalu menolak kerjasama dengan musuh yang akan melemahkan agamamu, atau sedang lemah sehingga terpaksa kamu mengambil sikap taqiyah, namun ingatlah:

    وَ إِلَى اللهِ الْمَصيرُ

    “Dan kepada Allahlah tujuan kamu.” (ujung ayat 28).

    Akhir ayat ini mengingatkan kita akan perumpamaan hidup kita yang tengah berlayar di tengah lautan besar, menaiki sebuah bahtera. Sejak dari permulaan berlayar kita telah menentukan tujuan dan arah di mana bahtera itu akan berlabuh. Lalu pelayaran kita teruskan. Tetapi oleh karena laut itu tidak senantiasa tenang, bahkan ada gelombang, ada taufan, ada badai dahsyat, sudahlah dalam perhitungan bahwa kadang-kadang bahtera itu akan dihalau oleh angin entah ke mana. Tetapi betapa pun hebatnya pukulan gelombang, namun nakhoda kapal wajib tetap menjaga pedoman, tidak boleh berkisar dari tujuan semula. Tujuan bahtera hidup beragama ialah Allah.

    Untuk kelengkapan penafsiran ini hendaklah kita tilik lagi ayat 8 dan ayat 9 dari surat 60 (al-Mumtahanah). Surat ini pun diturunkan di Madinah. Di ayat 8 ditegaskan bahwa terhadap kafir yang tidak memerangi kamu dan tidak mengusirmu dari kampung halaman kamu, tidaklah mengapajika hidup berdampingan dengan damai ( an-tabarru-hum ) dan berhubungan secara adil watuq-sithu ilaihim ) ; memberi dan menerima, duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Lalu di ayat 9 ditegaskan lagi, bahwa jika musuh itu memerangi kamu dalam hal agama dan mengusir kamu dari kampung halaman kamu dan dengan terang-terang pula pengusiran itu, tidaklah kamu boleh bersahabat atau berhubungan dengan mereka.

    Niscaya kita dapat berpikir lebih lanjut tentang isi sekalian ayat ini. Baik ayat-ayat yang tegas melarang dan memerintahkan supaya selalu awas, atau ayat yang membolehkan berhubungan dengan mereka, karena taqiyah atau karena kuat. Kalau kita kuat tentu tidak berhalangan kalau kita berhubungan dan berdamai dengan kafir, membuat perjanjian-perjanjian dagang, utang piutang dan lain-lain sebagainya, terutama hidup bernegara di zaman modern, tidaklah ada satu negeri yang dapat memencilkan diri dari negeri lain. Sudahlah selayaknya jika wakil-wakil dari negeri dan negara Islam duduk bersama bermusyawarat memperkatakan soal­-soal internasional dengan wakil-wakil negara-negara lain.

    http://kongaji.tripod.com/myfile/Ali_Imran_ayat_28_30.htm

     
    • camar 5:38 pm on 12/08/2012 Permalink | Reply

      Tafsir Suroh Ali Imran (28) Janganlah mengambil orang-orang yang mukminin orang-­orang yang kafir jadi pemimpin lebih daripada orang-orang yang beriman. Dan barang siapa, yang berbuat demikian itu maka tidaklah ada dari Allah sesuatu juapun. Kecuali bahwa kamu berawas diri dari mereka itu sebenar awas. Dan Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diriNya. Dan kepada Allahlah tujuan kamu.###artinya walaupun ada seorang yang bukan muslim yang pintar maka tidak ada harapan bagi dia menjadi seorang peminpin di wilayah mayoritas muslim ..makanya banyak korupsi. bagaimana negara ini maju bila ayat ini diterapkan dan diamalkan …karena tidak memberi kesempatan pada seorang yang bukan muslim untuk jadi peminpin apakah ayat ini mencerminkan demokrasi???? lihat negara negara yang dipinpin oleh non muslim selalu maju ..ayat ini pula yang dipakai oleh rhoma irama untuk menghasut salah satu pasangan kandidat cagub DKI…selamat anda sudah dibodoh bodohi.

  • SERBUIFF 1:11 am on 08/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Tafsir Suroh Maryam ayat 64 Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau; kepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara ya   

    Tafsir Suroh Maryam ayat 64 Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau; kepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara yang demikian; dan tidaklah ada Tuhan engkau itu kelupaan. 

    Tafsir Suroh Maryam ayat 64 


    وَما نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ ما بَيْنَ أَيْدينا وَما خَلْفَنا وَما بَيْنَ ذلِكَ وَما كانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

    (64) Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau; kepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara yang demikian; dan tidaklah ada Tuhan engkau itu kelupaan.


    رَبُّ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَما بَيْنَهُما فَاعْبُدْهُ وَ اصْطَبِرْ لِعِبادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا َ

    (65) Tuhan bagi semua langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; maka sembahlah Dia nya dan berteguh hatilah di dalam beribadat kepadaNya. Apakah engkau mengetahui bahwa bagiNya ada yangmenyamai?


    Kegelisahan

    Menurut suatu riwayat dari Mujahid, ada pada satu ketika Jibril itu lambat baru datang menemui Nabi kita, kononnya sampai 12 malam, (ada juga riwayat mengatakan kurang dari itu), maka pada satu waktu datanglah Jibril sebagai biasa. Lalu berkatalah Nabi s.a.w. kepadanya: “Hai Jibril, sangat gelisah aku karena engkau lambat benar baru datang, sehingga kaum musyrikin itu telah menyangka yang bukan-bukan.” Kata Mujahid: “Maka turunlah ayat ini:

    وَما نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ

    “Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau,”

    dan seterus­nya. Dan menurut sebuah riwayat lagi yang dibawakan oleh al-Hakam bin Aban, yang dia terima dari Ikrimah bahwa dia berkata: “Terlambat Jibril turun kepada Nabi sampai 40 hari.” Kemudian itu dia pun turun. Maka berkatalah Rasulullah s.a.w. kepada Jibril: “Lama engkau tidak turun sehingga sangat rinduku kepada engkau.” Lalu Jibril menjawab: “Bahkan aku pun lebih lagi rinduku hendak bertemu dengan engkau, tetapi aku ini hanyalah seorang petugas yang menjalankan perintah.” Lalu Allah mewahyukan kepada Jibril supaya dia katakan pula kepada Muhammad:

    وَما نَتَنَزَّلُ إِلاَّ بِأَمْرِ رَبِّكَ

    “Dan tidaklah kami turun melain­kan dengan perintah Tuhan engkau.” Hadits ini dirawikan oleh Ibnu Abi Hatim.

    Maka dapatlah kita fahamkan bahwa Jibril berkata: “Aku ini hanya seorang petugas yang menjalankan perintah,” bahwa datangnya atau turunnya ke dunia hanyalah kalau ada perintah Tuhan menyuruh turun, dan kalau belum ada perintah tidaklah dia akan turun, walaupun dia sendiri pun lebih rindu lagi hendak bertemu dengan Nabi s.a.w. Inilah dua tafsir yang kita salin di antara beberapa tafsiran yang lain.

    Ada juga riwayat dari Imam Ahmad bahwasanya Nabi s.a.w. pada suatu hari menyuruhkan isterinya Ummi Salamah memperhiasi rumah, karena se­orang malaikat yang istimewa akan turun menemui beliau.

     لَهُ ما بَيْنَ أَيْدينا وَما خَلْفَنا وَما بَيْنَ ذلِكَ

    “KepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara yang demikian.”

    Ini masih sam­bungan ayat yang diwahyukan T’uhan kepada Jibril dan disuruhNya sampaikan kepada Muhammad s.a.w. Menurut tafsir dari Ibnu Katsir:

    أَيْدينا ما

    “Apa yang ada di hadapan kita”

    ialah yang kita hadapi hidup di dunia sekarang ini. Dan menurut tafsiran pula dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair:

    وَما خَلْفَنا

    “Dan apa-apa yang di belakang kita”

    ialah masa-masa hidup yang-telah kita belakangi, atau yang telah kita jalani dan lalui.

     وَما بَيْنَ ذلِكَ

    “Dan apa-apa yang di antara yang demikian,”

    menurut Ibnu Abbas dan Said bin Jubair dan tafsir yang dipilih oleh Ibnu Jarir ialah keadaan di antara hidup dunia dengan hidup akhirat.

     وَما كانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

    “Dan tidaklah ada Tuhan engkau itu kelupaan.” (ujung ayat 64).

    Sama dengan apa yang diwahyu­kan Tuhan di Surat adh-Dhuha: “Tidaklah Tuhan engkau pernah meninggalkan engkau dan tidaklah Dia pernah mengecewakan.” (Surat 93, adh-Dhuha, ayat 3).

    Tersebut dalam sebuah Hadits yang dirawikan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya dari Abu Darda’:

    “Apa yang dihalalkan oleh Allah di dalam kitabNya, itulah yang halal, dan apa yang diharamkanNya, itulah yang haram, dan apa yang didiamkanNya maka itu adalah kumia. Sebab itu terimalah kurniaNya itu. Karena Allah tidaklah pernah dia melupakan sesuatu. Kemudian dibacanya ayat:

    “Dan tidaklah ada Tuhan engkau itu pemah kelupaan.”

     
    • camar 11:45 am on 13/08/2012 Permalink | Reply

      (64) Dan tidaklah kami turun melainkan dengan perintah Tuhan engkau; kepunyaanNyalah apa yang ada di hadapan kita dan apa-apa yang di belakang kita dan apa-apa yang di antara yang demikian; dan tidaklah ada Tuhan engkau itu kelupaan….###yang jadi peratanyan dari ayat ayat diatas yang konon katanya semua ayat ayat dalam quran adalah final kata kata allah ..coba anda teliti dan periksa menurut anda para muslimer sejati siapakah yang berbicara disini ???padahal biasanya dalam quran biasa diawali dengan kata kata ‘”katakanlah” tetapi disini tidak terdapat kata kata itu .apakah ini berati bahwa kata kata diatas adalah kata kata jibril/???masih bersitegangkah sdr muslimer mengatakan quran itu final kata kata allah???.aku tahu jawabanmu adalah wahyu ini adalah wahyu yang di wahyukan ia,,kan??? lalu kalau kamu tidak sanggup menjawab lalu pasti kamu bilang aku goblok..atau..kafir ..setan….dll..itu sudah biasa..atau jurus terakhir wallahu alam.

  • SERBUIFF 3:38 am on 13/07/2011 Permalink | Reply
    Tags: Tafsir Surah Al Faatihah   

    Tafsir Surah Al Faatihah 

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 1

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)

    Di dalam Alquran ada 114 surah, semuanya dimulai dengan “Basmalah”, kecuali surah At-Taubah. Surah At-Taubah ini tidak dimulai dengan “Basmalah” karena memang tidak serasi kalau dimulai dengan “Basmalah”. Di samping pada permulaannya “Basmalah” ada disebutkan satu kali di pertengahan surah An-Naml:30; dengan demikian “Basmalah” itu didapati di dalam Alquran 114 kali.
    Ada beberapa pendapat ulama berkenaan dengan “Basmalah” yang terdapat pada permulaan sesuatu surah. Di antara pendapat-pendapat itu yang termasyhur ialah:
    1.”Basmalah” itu adalah suatu ayat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing-masing surah, dan pembatas antara surah dengan surah yang lain. Jadi dia bukanlah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli qiraat dan fuqaha Madinah, Basrah dan Syam dan juga pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah “Basmalah” itu tidak dikeraskan membacanya dalam salat bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali.
    2.”Basmalah” adalah salah satu ayat dari Al-Fatihah, dan dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan “Basmalah”. Ini adalah pendapat Imam Syafii beserta ahli qiraat Mekah dan Kufah. Sebab itu menurut mereka “Basmalah” itu dibaca dengan suara keras dalam salat (Jahar).
    Kalau kita perhatikan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw. telah sependapat menuliskan “Basmalah” pada permulaan sesuatu surah dan surah-surah Alquranul Karim itu, kecuali surah At-Taubah (karena memang dari semula turunnya tidak dimulai dengan Basmalah) dan bahwa Rasulullah saw. melarang menuliskan sesuatu yang bukan Alquran supaya tidak bercampur aduk dengan Alquran. Sebab itu oleh mereka tidak dituliskan “amin” di akhir surah Al-Fatihah. Basmalah itu adalah salah satu ayat dari Alquran atau dengan perkataan lain bahwa “basmalah-basmalah” yang terdapat di dalam Alquran itu adalah ayat-ayat Alquran, lepas dari pendapat apakah satu ayat dari Al-Fatihah atau dari sesuatu surah yang lain, yang dimulai dengan Basmalah atau tidak.
    Sebagai disebutkan di atas surah Al-Fatihah itu terdiri dari tujuh ayat. Mereka yang berpendapat bahwa basmalah itu tidak termasuk satu ayat dari Al-Fatihah, memandang:

    غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

    adalah salah satu ayat, dengan demikian ayat-ayat Al-Fatihah itu tetap tujuh.

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)

    “Dengan menyebut nama Allah”, maksudnya “dengan menyebut nama Allah saya baca atau saya mulai”. Seakan-akan Nabi berkata: “Saya baca surah ini dengan menyebut nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab dia wahyu dari Tuhan, bukan dari saya sendiri. Maka basmalah di sini mengandung arti bahwa Alquranul Karim itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad saw. dan Muhammad itu hanyalah seorang pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Alquran kepada manusia.
    Pemakaian kata “Allah”
    “Allah” nama bagi Zat yang ada dengan sendiri-Nya (wajibul wujud). Kata “Allah” itu hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan-tuhan atau dewa-dewa mereka yang lain.
    Kata “Ar-Rahman” terambil dari “Ar-Rahmah” yang berarti “belas kasihan”, yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia.
    Jadi kata “Ar-Rahman” itu ialah: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak.
    Kata “Ar-Rahim” juga terambil dari “Ar-Rahmah”, dan arti “Rahim” ialah: Orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu “tetap” padanya selama-lamanya.
    Maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu maksudnya: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia adalah bersifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus-putusnya.
    Dengan demikian maka kata-kata “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” itu kedua-duanya adalah diperlukan dalam susunan ini, karena masing-masing mempunyai arti yang khusus.
    Tegasnya bila seseorang Arab mendengar orang mensifati Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Karena itu perlulah diikuti dengan Ar-Rahim, supaya orang mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya.
    Hikmah membaca basmalah
    Seorang muslim disuruh membaca basmalah di waktu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang baik. Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa pekerjaan yang dikerjakannya itu adalah suruhan Allah, atau karena telah diizinkan-Nya. Maka karena Allahlah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada-Nya dia meminta pertolongan supaya pekerjaan itu terlaksana dengan baik dan berhasil.
    Nabi saw. bersabda:

    كل أمر ذي بال لايبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر أي مقطوع الذنب ناقص
    Sesuatu pekerjaan yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah buntung, yakni tidak ada hasilnya.
    Orang Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu pekerjaan adalah dengan menyebut Al-Lata dan Al-`Uzza, yaitu nama-nama berhala mereka. Sebab itu Allah swt. mengajarkan kepada penganut-penganut agama Islam yang telah mengesakan-Nya supaya mereka mengerjakan dengan menyebut nama Allah.

    2 Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,(QS. 1:2) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 2

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2)

    Pada ayat di atas Allah swt. memulai firman-Nya dengan menyebut “Basmalah” untuk mengajarkan kepada hamba-Nya agar memulai sesuatu perbuatan yang baik dengan menyebut basmalah itu, sebagai pernyataan bahwa dia mengerjakan perbuatan itu karena Allah dan kepada-Nyalah dia memohonkan pertolongan dan berkat. Maka pada ayat ini Allah swt. mengajarkan hamba-Nya agar selalu memuji Allah.
    “Al-Hamdu”.
    الحمد
    Memuji oleh karena sesuatu nikmat yang diberikan oleh yang dipuji atau karena sesuatu sifat keutamaan yang dimiliki-Nya.
    Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari Allah, sebab Dialah yang jadi sumber bagi semua nikmat. Yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, hanyalah Allah semata. Karena itu Allah sajalah yang berhak dipuji.
    Ada manusia dipuji orang berhubung jasanya yang banyak atau akhlak dan budi pekertinya yang luhur, tetapi orang memujinya itu pada hakekatnya memuji Tuhan, dengan disengaja atau tidak karena Allahlah yang jadi pangkal bagi semua yang disebut itu.
    Berhubung nikmat Allah yang sangat banyak, dan berhubung sifat-sifat kesempurnaan yang dipunyai oleh Allah, maka sudah selayaknyalah manusia selalu memuji-Nya.
    Orang yang menyebut “Alhamdulillah” bukanlah hanya mengakui bahwa puji itu teruntuk bagi Allah semata, bahkan dengan ucapannya itu dia memuji Allah.
    Dapat juga seseorang memuji Allah dengan sebutan lain, yaitu: الحمد لله tetapi حمدا لله itulah yang dipakaikan Allah di sini, karena susunan semacam itu mengandung arti tetap, yakni dipahamkan di dalamnya bahwa Allah selamanya dipuji, bukan sewaktu-waktu saja.
    رب arti aslinya: “Yang Empunya” (pemilik) di dalamnya terkandung arti: mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu kepada keadaannya yang sempurna dengan berangsur-angsur.
    “Alamin” artinya “semesta alam”, yakni semua jenis alam. Alam itu berjenis-jenis macamnya, yaitu alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam manusia, alam benda, alam makhluk yang bertubuh halus umpamanya malaikat, jin dan alam yang lain. Ada ahli tafsir mengkhususkan “Alamin” di ayat ini kepada makhluk-makhluk Allah yang berakal yaitu manusia, malaikat dan jin. Tetapi ini berarti mempersempit arti kata yang sebenarnya amat luas.
    Dengan demikian Allah itu Pendidik semesta alam tak ada suatu juga dari makhluk Allah itu terjauh dari didikan-Nya.
    Tuhan mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.
    Siapa yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, menyelidiki kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang di laut dan di darat, mempelajari pertumbuhan manusia sejak dari rahim ibunya, sampai ke masa kanak-kanak lalu menjadi manusia yang sempurna, tahulah dia bahwa tidak ada sesuatu juga dari makhluk Tuhan yang terlepas dari penjagaan, pemeliharaan, asuhan dan inayah-Nya.

    3 Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(QS. 1:3) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 3

    الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3)

    Pada ayat dua di atas Allah swt. menerangkan bahwa Dia adalah Tuhan semesta alam. Maka untuk mengingatkan hamba kepada nikmat dan karunia yang berganda-ganda, yang telah dilimpahkan-Nya, serta sifat dan cinta kasih sayang yang abadi pada diri-Nya, diulang-Nya sekali lagi menyebut “Ar-Rahmanir Rahim”. Yang demikian itu supaya lenyap dari pikiran mereka gambaran keganasan dan kezaliman seperti raja-raja yang dipertuan, yang bersifat sewenang-wenang.
    Allah mengingatkan dalam ayat ini bahwa sifat ketuhanan Allah terhadap hambanya bukanlah sifat keganasan dan kezaliman, tetapi berdasarkan cinta dan kasih sayang.
    Dengan demikian manusia akan mencintai Tuhannya, dan menyembah Allah dengan hati yang aman dan tenteram bebas dari rasa takut dan gelisah. Malah dia akan mengambil pelajaran dari sifat-sifat Tuhan. Dia akan mendasarkan pergaulan dan tingkah lakunya terhadap manusia sesamanya, atau pun terhadap orang yang di bawah pimpinannya, malah terhadap binatang yang tak pandai berbicara sekalipun atas sifat cinta dan kasih sayang itu.
    Karena dengan jalan demikianlah manusia akan mendapat rahmat dan karunia dari Tuhannya.
    Rasulullah saw. Bersabda:

    إنما يرحم الله من عباده الرحماء
    Artinya:
    Sesungguhnya Allah kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang pengasih.(H.R Tabrani)

    الراحمون يرحمهم الرحمن تبارك و تعالي ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء
    Artinya:
    Orang-orang yang kasih sayang Tuhan yang Rahman Tabaraka wa Taala akan kasih sayang kepadanya. (Oleh karena itu) kasih sayanglah kamu semua kepada semua makhluk yang di bumi niscaya semua makhluk yang di langit akan kasih sayang kepada kamu semua. (H.R Ahmad, Abu Daud At Tarmizi dan Al Hakim)
    Dan sabda Rasulullah saw:

    من رحم ولو ذبيحة عصفور رحمه الله يوم القيامة
    Artinya:
    Barang siapa (orang) yang kasih sayang meskipun kepada seekor burung (pipit) yang disembelih, Allah kasih sayang kepadanya pada hari kiamat. (H.R Bukhari)
    Maksud hadis tersebut ialah pada waktu menyembelih burung itu dengan sopan santun umpamanya dengan pisau yang tajam.
    Dapat pula dipahami dari urutan kata “Ar-Rahman”, “Ar-Rahim” itu, bahwa penjagaan, pemeliharaan dan asuhan Tuhan terhadap semesta alam, bukanlah lantaran mengharapkan sesuatu dari alam itu, hanya semata-mata karena rahmat dan belas kasihan daripada-Nya.
    Boleh jadi ada yang terlintas pada pikiran orang, mengapa Tuhan mengadakan peraturan-peraturan dan hukum-hukum, dan menghukum orang-orang yang melanggar peraturan-peraturan itu?
    Keragu-raguan ini akan hilang bila diketahui bahwa Allah swt. mengadakan peraturan-peraturan dan hukum-hukum, begitu juga menyediakan azab di akhirat atau di dunia untuk hamba-Nya yang melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum itu, bukanlah berlawanan dengan sifat Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, karena peraturan dan hukum itu rahmat dari Tuhan; begitu pula azab dari Allah terhadap hamba-Nya yang melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum itu sesuai dengan keadilan.

    4 Yang menguasai hari pembalasan.(QS. 1:4) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 4

    مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)

    Sesudah Allah swt. menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu: Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu menguasai hari pembalasan.
    “Malik” berarti “Yang Menguasai”
    Ada dua macam bacaan berkenaan dengan “Malik”, pertama dengan memanjangkan “Maa”, kedua dengan memendekkannya. Menurut bacaan yang pertama, “Maalik” artinya: Yang memiliki (yang empunya). Sedang menurut bacaan yang kedua, artinya: Raja; kedua-dua bacaan itu dibolehkan.
    Baik menurut bacaan yang pertama, atau pun bacaan yang kedua, dapat dipahami dari kata itu arti “berkuasa” dan bertindak dengan sepenuhnya. Sebab itulah maka diterjemahkan dengan: “Yang menguasai”. “Yaum”, (hari) artinya, tetapi yang dimaksud di sini ialah waktu secara mutlak.
    “Ad-Din” itu banyak artinya, di antaranya:
    1.Perhitungan
    2.Ganjaran, pembalasan
    3.Patuh
    4.Menundukkan
    5.Syariat, agama
    Yang selaras di sini ialah dengan arti “pembalasan”. Jadi “Maaliki yaumiddin” maksudnya “Tuhan itulah yang berkuasa dan yang dapat bertindak dengan sepenuhnya terhadap semua makhluk-Nya pada hari pembalasan itu”.
    Sebetulnya pada hari kemudian itu banyak hal-hal yang terjadi, yaitu hari kiamat, hari berbangkit, hari berkumpul, hari perhitungan, hari pembalasan, tetapi pembalasan sajalah yang disebut oleh Tuhan di sini, karena itulah yang terpenting. Yang lain dari itu, umpamanya kiamat, berbangkit dan seterusnya, pendahuluan dari pembalasan itu, apalagi untuk targib dan tarhib (menarik dan menakuti) dengan menyebut “hari pembalasan” itulah yang lebih tepat.
    Hari akhirat menurut pendapat akal (filsafat)
    Kepercayaan tentang adanya hari akhirat, yang di hari itu akan diadakan perhitungan terhadap perbuatan manusia di masa hidupnya dan diadakan pembalasan yang setimpal, adalah suatu kepercayaan yang sesuai dengan akal.
    Sebab itu adanya hidup yang lain, sesudah hidup di dunia ini bukanlah saja ditetapkan oleh agama, malah juga ditunjukkan oleh akal.
    Seseorang yang mau berpikir tentu akan merasa bahwa hidup di dunia ini belumlah sempurna, perlu disambung dengan hidup yang lain. Alangkah banyaknya hidup di dunia ini orang yang teraniaya telah pulang ke rahmatullah sebelum mendapat keadilan. Alangkah banyaknya orang yang berjasa, biar kecil atau besar, belum mendapat penghargaan terhadap jasanya. Alangkah hanyaknya orang yang telah berusaha, memeras keringat dan peluh, membanting tulang tetapi belum sempat lagi merasa buah usahanya itu. Sebaliknya, alangkah banyaknya penjahat-penjahat, penganiaya, pembuat onar yang tak dapat dipegang oleh pengadilan di dunia ini. Lebih-lebih kalau yang melakukan kejahatan atau aniaya itu orang yang berkuasa sebagai raja, pembesar dan lain-lain. Maka biar pun kejahatan dan aniaya itu telah meratai bangsa seluruhnya tiadalah digugat orang, malah dia tetap dipuja dan dihormati. Victor Hugo (1802-1885) pernah menyindir keadaan ini dengan katanya, “Membunuh seorang manusia dalam rimba adalah satu dosa yang tak dapat diampuni, tetapi membunuh suatu bangsa seluruhnya adalah satu soal yang masih dapat dipertimbangkan.” Maka di manakah akan didapat gerangan keadilan itu, kalau tidak ada nanti mahkamah yang lebih tinggi, yaitu mahkamah Allah di hari kemudian.
    Sebab itu ahli-ahli pikir dari zaman dahulu telah ada yang sampai kepada kepercayaan tentang adanya hari akhirat itu, semata-mata dengan jalan berpikir. Antara lain Pythagoras; filosof ini berpendapat bahwa hidup di dunia ini persediaan hidup yang abadi di akhirat kelak. Sebab itu semenjak dari dunia hendaklah orang bersedia untuk hidup yang abadi ini. Socrates, Plato dan Aristoteles, “Jiwa yang baik akan merasai kenikmatan dan kelezatan di akhirat, tetapi bukan kelezatan kebendaan, karena kelezatan kebendaan itu terbatas dan mendatangkan bosan dan jemu. Hanya kelezatan rohani yang bagaimana pun banyak dan lamanya, tiadalah menyebabkan bosan dan jemu.”
    Kepercayaan Bangsa Arab Sebelum Islam tentang hari akhirat
    Di antara bangsa Arab sebelum datang agama Islam didapati beberapa ahli pikir dan pujangga-pujangga yang telah mempercayai adanya hari kemudian itu. Umpamanya Zuhair bin Abu Sulma yang meninggal dunia setahun sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Allah. Pujangga ini pernah berkata yang artinya:
    Sesuatu pekerti atau perbuatan seseorang yang menurut dugaannya tidak diketahui orang, pasti diketahui juga oleh Tuhan.
    Sebab itu janganlah disembunyikan kepada Allah sesuatu yang ada pada dirimu, karena bagaimanapun kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan mengetahuinya.
    Dilambatkan membalasnya, maka ditulislah dalam buku disimpan sampai “hari perhitungan”, atau disegerakan maka diberi balasan. \s
    Ada pula di antara mereka yang tidak mempercayai adanya hari kemudian itu. Dengarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair mereka:
    “Hidup, sudah itu mati, sudah itu dibangkit lagi, itulah cerita dongeng hai fulan”.
    Karena itu, datanglah agama Islam membawa kepastian tentang adanya hari kemudian. Di hari akan dihisab semua perbuatan yang telah dikerjakan manusia selama hidupnya biar pun besar atau kecil. Allah swt. berfirman:

    فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

    Artinya:
    Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya akan melihat (balasan)nya pula. (Q.S Az Zalzalah: 7-8)

    5 Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(QS. 1:5) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 5

    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)

    Di dalam ayat-ayat yang telah disebutkan empat macam dari sifat-sifat Tuhan, yaitu:
    Pendidik semesta alam
    Maha Pemurah
    Maha Penyayang
    Dan Yang menguasai hari pembalasan.
    Sifat-sifat yang disebutkan itu adalah sifat-sifat kesempurnaan yang hanya Allah sajalah yang mempunyainya. Sebab itu pada ayat ini Allah mengajarkan kepada hamba-Nya bahwa Allah sajalah yang patut disembah, dan kepada-Nya sajalah seharusnya manusia memohonkan pertolongan, dan bahwa hamba-Nya haruslah mengikrarkan yang demikian itu.
    “Iyyaka” (hanya kepada Engkaulah).
    Susunan ayat-ayat ini membawa pengertian “pengkhususan” yaitu pengkhususan “ibadah” kepada Allah.
    Jadi arti ayat ini: “Kepada Engkau sajalah kami tunduk dan berhina diri, dan kepada Engkau sajalah kami memohonkan suatu pertolongan”.
    Pertolongan yang khusus dimohonkan kepada Allah ialah tentang sesuatu yang di luar kemampuan dan kekuasaan manusia.
    “Iyyaka” dalam ayat ini diulang dua kali, gunanya untuk menegaskan bahwa ibadat dan isti`anah itu masing-masing khusus dihadapkan kepada Allah. Selain dari itu untuk dapat mencapai kelezatan munajat (berbicara) dengan Allah. Karena bagi seorang hamba Allah yang menyembah dengan segenap jiwa dan raganya tak ada yang lebih nikmat dan lezat pada perasaannya daripada bermunajat dengan Allah.
    Baik juga diketahui bahwa dengan memakai “Iyyaka” itu berarti menghadapkan pembicaraan kepada Allah, dengan maksud menghadirkan Allah swt. dalam ingatan, seakan-akan Dia berada di muka kita, dan kepada-Nya dihadapkan pembicaraan dengan khusyuk dan tawaduk. Seakan-akan kita berkata:
    “Ya Allah, Zat yang wajibul wujud. Yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan. Yang menjaga dan memelihara semesta alam. Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya dengan berlipat ganda. Yang berkuasa di hari pembalasan. Engkau sajalah yang kami sembah, dan kepada Engkau sajalah kami meminta pertolongan. Karena hanya Engkau yang berhak disembah dan hanya Engkau yang dapat menolong kami”.
    Dengan cara yang seperti itu orang akan lebih khusyuk di dalam menyembah Allah dan lebih tergambar kepadanya kebesaran Yang disembahnya itu.
    Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:

    أن تعبد الله كأنك تراه
    Artinya:
    Hendaklah engkau menyembah Allah itu seakan-akan engkau melihat-Nya. (H.R Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab)
    Karena surah Al-Fatihah mengandung ayat munajat (berbicara) dengan Allah menurut cara yang diterangkan merupakan rahasia diwajibkan membacanya tiap-tiap rakaat dalam salat, karena itu jiwanya ialah munajat dengan menghadapkan diri dan memusatkan ingatan kepada Allah.
    “Na’budu” pada ayat ini didahulukan menyebutkannya dari “nasta`iinu”, karena menyembah Allah itu adalah suatu kewajiban manusia terhadap Tuhannya. Tetapi pertolongan dari Tuhan kepada seseorang hamba-Nya adalah hak hamba itu. Maka seakan-akan Tuhan mengajar hamba-Nya supaya menunaikan kewajibannya lebih dahulu, sebelum ia menuntut haknya.
    Melihat kata-kata “na`budu” dan “nasta`iinu” (kami menyembah, kami minta tolong), bukan a`budu” dan “asta`iinu” (saya menyembah dan saya minta tolong) adalah untuk memperlihatkan kelemahan manusia itu, dan tidak selayaknya mengemukakan dirinya seorang saja dalam menyembah dan memohon pertolongan kepada Allah, seakan-akan penunaian kewajiban beribadat dan permohonan pertolongan kepada Allah itu belum lagi sempurna kecuali kalau dikerjakan dengan bersama-sama.
    Kedudukan tauhid di dalam ibadat dan sebaliknya
    Arti “ibadat” sebagai disebutkan di atas ialah tunduk dan berhina diri kepada Allah, yang disebabkan oleh kesadaran bahwa Allah yang menciptakan alam ini, Yang menumbuhkan, Yang mengembangkan, Yang menjaga dan memelihara serta Yang membawanya dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain hingga tercapai kesempurnaannya.
    Tegasnya ibadat itu timbulnya dari perasaan tauhid, maka orang yang suka memikirkan keadaan alam ini, yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, bahkan yang mau memperhatikan dirinya sendiri, yakinlah dia bahwa di balik alam yang zahir ada Zat yang gaib yang mengendalikan alam ini, yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, yakni Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Mengetahui dan sebagainya. Maka tumbuhlah dalam sanubarinya perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Zat Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui itu.
    Perasaan inilah yang menggerakkan bibirnya untuk menuturkan puji-pujian, dan yang mendorong jiwa dan raganya untuk menyembah dan berhina diri kepada Allah Yang Maha Kuasa itu sebagai pernyataan bersyukur dan membalas budi kepada-Nya.
    Tetapi ada juga manusia yang tidak mau berpikir, dan selanjutnya tidak sadar akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, sering melupakan-Nya, sebab itulah maka tiap-tiap agama disyariatkan bermacam-macam ibadat, gunanya untuk mengingatkan manusia kepada kebesaran dan kekuasaan Allah itu.
    Dengan keterangan ini kelihatanlah bahwa tauhid dan ibadat itu pengaruh-mempengaruhi dengan arti tauhid menumbuhkan ibadat dan ibadat memupuk tauhid.
    Pengaruh ibadat terhadap jiwa manusia
    Tiap-tiap ibadat yang dikerjakan karena didorong oleh perasaan yang disebutkan itu, niscaya ada kesannya kepada tabiat dan budi pekerti orang yang beribadat itu. Umpamanya orang yang mendirikan salat karena sadar akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada-Nya, akan terjauhlah dia dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, yang dilarang Allah. Dengan demikian salatnya itu akan mencegahnya dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu, sesuai dengan firman Allah swt.:

    إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ

    Artinya:
    Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (Q.S Al Ankabut: 45)
    Begitu juga ibadat puasa. Ibadat ini akan menimbulkan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap orang-orang yang melarat dan miskin pada diri orang yang berpuasa itu. Dan seterusnya dengan ibadat-ibadat yang lain. Tetapi ibadat yang bukan ditimbulkan oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah, dan bukan pula didorong oleh perasaan bersyukur dan berutang budi kepada Allah itu, hanya karena turut-turutan, atau karena memelihara tradisi yang sudah turun-temurun, bukanlah ibadat yang sebenarnya, dan kendatipun dia mempunyai rupa dan bentuk ibadat, tetapi tidak ada mempunyai jiwa ibadat itu, tak ubahnya dengan gambar atau patung, bagaimana pun juga miripnya dengan manusia, tidaklah dinamai manusia. Selanjutnya ibadat yang semacam itu tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadat itu.
    Berusaha berdoa dan bertawakal
    “Isti`anah” (memohon pertolongan) sebagai disebutkan di atas khusus dihadapkan kepada Allah, dengan arti bahwa tidak ada yang berhak dimohonkan pertolongannya kecuali Allah.
    Dalam pada itu, pada ayat yang lain Allah menyuruh manusia bertolong-tolongan dalam mengerjakan kebaikan. Allah berfirman:

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

    Artinya:
    Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. (Q.S Al Ma’idah: 2)
    Adakah pertentangan antara dua ayat itu? Tidak
    Tercapainya sesuatu maksud, atau terlaksananya suatu pekerjaan dengan baik adalah tergantung kepada cukupnya syarat-syarat yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan itu, dan tidak adanya rintangan-rintangan yang akan menghalanginya.
    Manusia telah diberi Allah tenaga, baik yang berupa pikiran maupun yang berupa kekuatan tubuh, untuk dipakai guna mencukupkan syarat-syarat, atau menolak rintangan-rintangan dalam menuju suatu maksud, atau mengerjakan sesuatu pekerjaan. Tetapi ada di antara syarat-syarat itu yang tidak kuasa manusia mencukupkannya, sebagaimana di antara rintangan itu ada yang di luar kekuasaan manusia menolaknya. Begitu pula ada di antara syarat-syarat itu atau di antara halangan-halangan itu yang tidak dapat diketahui. Maka kendatipun menurut pikirannya dia telah mencukupkan semua syarat-syarat yang diperlukan, dan telah menjauhkan semua rintangan-rintangan yang menghalangi, tetapi hasil pekerjaannya itu belum lagi sebagai yang dicita-citakannya. Jadi ada hal-hal yang tidak masuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia. Itulah yang dimintakan pertolongan khusus kepada Allah. Sebaiknya tentang sesuatu yang termasuk dalam batas kekuasaan dan kemampuan manusia, dia disuruh bertolong-tolongan, supaya tenaga menjadi kuat, dan agar ada pada masing-masing manusia sifat cinta-mencintai, harga-menghargai, dan gotong-royong.
    Dengan perkataan lain, manusia disuruh Allah berusaha dengan sekuat tenaga, dan disuruh tolong-menolong, bantu-membantu. Di samping menjalankan ikhtiar dan usahanya itu, dia harus pula berdoa, memohon taufik, hidayah dan ma`unah. Ini hendaknya dimohonkannya khusus kepada Allah, karena hanyalah Dia yang kuasa memberinya. Sesudah itu semua, barulah dia bertawakal kepada-Nya.
    Ibadat itu sendiri pun sesuatu pekerjaan yang berat, sebab itu haruslah dimintakan ma`unah dari Allah supaya semua ibadat terlaksana sebagai yang dimaksud oleh agama. Maka seseorang menuturkan bahwa hanya kepada Allahlah kita beribadat, diikuti lagi dengan pernyataan bahwa kepada-Nya saja minta pertolongan, terutama pertolongan agar amal ibadat terlaksana sebagaimana mestinya. Ayat di atas, sebagai telah disebutkan, mengandung tauhid, karena beribadat semata-mata kepada Allah dan meminta ma`unah khusus kepada-Nya, adalah intisari agama, dan kesempurnaan tauhid.

    6 Tunjukilah kami jalan yang lurus,(QS. 1:6) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 6

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

    “Ihdi”: Pimpinlah, tunjukilah, berilah hidayah
    Arti “hidayah” ialah: Menunjukkan sesuatu jalan atau cara menyampaikan orang kepada orang yang ditujunya dengan baik.
    Macam-macam hidayah petunjuk)
    Allah telah memberi manusia bermacam-macam hidayah, yaitu:
    1. Hidayah naluri (garizah)
    Manusia begitu juga binatang-binatang, dilengkapi oleh Allah dengan bermacam-macam sifat, yang timbulnya bukanlah dari pelajaran, bukan pula dari pengalaman, melainkan telah dibawanya dari kandungan ibunya. Sifat-sifat ini namanya “naluri”, dalam bahasa Arab disebut “garizah”.
    Umpamanya, naluri “ingin memelihara diri” (mempertahankan hidup). Kelihatan oleh kita seorang bayi bila merasa lapar dia menangis. Sesudah terasa di bibirnya mata susu ibunya, dihisapnyalah sampai hilang laparnya.
    Perbuatan ini dikerjakannya tak seorang juga yang mengajarkan kepadanya, bukan pula timbul dari pengalamannya, hanyalah semata-mata ilham dan petunjuk dari Allah kepadanya untuk mempertahankan hidupnya.
    Kelihatan pula oleh kita lebah membuat sarangnya, laba-laba membuat jaringnya, semut membuat lobangnya dan menimbun makanan dalam lubang itu. Semua itu dikerjakan oleh binatang-binatang tersebut ialah untuk mempertahankan hidupnya dan memelihara dirinya masing-masing dengan dorongan nalurinya semata-mata.
    Banyak lagi naluri yang lain, umpamanya garizah ingin tahu, ingin mempunyai, ingin berlomba-lomba, ingin bermain, ingin meniru, takut dan lain-lain.
    Sifat-sifat garizah
    Garizah-garizah itu sebagai disebutkan terdapat pada manusia dan binatang, hanya perbedaannya ialah garizah manusia bisa menerima pendidikan dan perbaikan, tetapi garizah binatang tidak, sebab itulah manusia bisa maju tetapi binatang tidak, hanya tetap seperti sediakala.
    Garizah-garizah itu adalah dasar bagi kebaikan sebagaimana dia pun juga dasar bagi kejahatan. Umpamanya karena garizah ingin memelihara diri, orang berusaha, berniaga, bertani, artinya mencari nafkah secara halal. Tetapi karena garizah “ingin memelihara diri” itu pulalah orang mencuri, menipu, merampok dan lain-lain. Karena garizah “ingin tahu” pulalah orang suka mencari-cari aib dan rahasia sesamanya, yang mengakibatkan permusuhan dan persengketaan. Demikianlah seterusnya dengan garizah-garizah yang lain.
    Garizah-garizah itu tidak dapat dihilangkan dan tidak ada faedahnya membunuhnya. Ada ahli pikir dan pendidik yang hendak memadamkan garizah karena melihat seginya yang tidak baik (jahat) itu, sebab itu diadakan oleh mereka macam-macam peraturan untuk mengikat kemerdekaan anak-anak supaya garizah itu jangan tumbuh, atau mana yang telah tumbuh menjadi mati. Tetapi perbuatan mereka itu besar bahayanya terhadap pertumbuhan akal, tubuh dan akhlak anak-anak. Dan bagaimanapun orang berusaha hendak membunuh garizah itu, namun ia tidak akan mati.
    Boleh jadi karena kerasnya tekanan dan kuatnya rintangan terhadap sesuatu garizah, maka kelihatan dia telah padam tetapi manakala ada yang membangkitkannya, timbullah dia kembali. Oleh karena itu kendatipun garizah itu dasar bagi kebaikan, sebagaimana dia juga dasar bagi kejahatan, tetapi kewajiban manusia bukanlah menghilangkannya, hanya mendidik dan melatihnya, supaya dapat dimanfaatkan dan disalurkan ke arah yang baik.
    Allah telah menganugerahkan kepada manusia bermacam-macam garizah untuk jadi hidayah (petunjuk) yang akan dipakai dengan cara bijaksana oleh manusia itu.
    2. Hidayah Pancaindra
    Karena garizah itu sifatnya belum pasti sebagai disebutkan di atas, maka ia belum cukup untuk jadi hidayah bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Sebab itu oleh Allah swt. manusia dilengkapi lagi dengan pancaindra. Pancaindra itu sangat besar harganya terhadap pertumbuhan akal dan pikiran manusia, sebab itu ahli-ahli pendidikan berkata:
    الحواس أبواب المعرفة
    Artinya:
    Pancaindra itu adalah pintu-pintu pengetahuan.
    Maksudnya ialah dengan jalan pancaindra itulah manusia dapat berhubungan dengan alam yang di luar, dengan arti bahwa sampainya sesuatu dari alam yang di luar ini ke dalam otak manusia adalah pintu-pintu pancaindra itu.
    Tetapi garizah ditambah dengan pancaindra, juga belum cukup lagi untuk jadi pokok-pokok kebahagiaan manusia. Banyak lagi benda-benda dalam alam ini yang tidak dapat dilihat oleh mata. Banyak macam suara yang tidak dapat didengar oleh telinga. Malah selain dari alam mahsusat (yang dapat ditangkap oleh pancaindra), ada lagi alam ma’qulat (yang hanya dapat ditangkap oleh akal).
    Selain dari pancaindra itu hanya dapat menangkap alam mahsusat, tangkapannya tentang yang mahsusat itupun tidak selamanya betul, kadang-kadang salah. Inilah yang dinamakan dalam ilmu jiwa “illusi optik” (tiupan pandangan), dalam bahasa Arab disebut, “khida’an nazar”. Sebab itu manusia membutuhkan lagi hidayah yang kedua itu. Maka dianugerahkan lagi oleh Allah hidayah yang ketiga, yaitu “hidayah akal”.
    3. Hidayah akal (pikiran)
    a. Akal dan kadar kesanggupannya
    Dengan adanya akal itu dapatlah manusia menyalurkan garizah ke arah yang baik agar garizah itu menjadi pokok bagi kebaikan, dan dapatlah manusia membetulkan kesalahan-kesalahan pancaindranya, membedakan buruk dengan baik. Malah sangguplah dia menyusun mukadimah untuk menyampaikannya kepada natijah, mempertalikan akibat dengan sebab, memakai yang mahsusat sebagai tangga kepada yang ma’qulat, mempergunakan yang dapat dilihat, diraba dan dirasai untuk menyampaikannya kepada yang abstrak, maknawi dan gaib, mengambil dalil dari adanya makhluk untuk adanya khalik, dan begitulah seterusnya.
    Tetapi akal manusia juga belum lagi memadai untuk membawanya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat di samping berbagai macam garizah dan pancaindra itu.
    Apalagi pendapat akal itu bermacam-macam, yang baik menurut pikiran si A belum tentu baik menurut pandangan si B, malah banyak manusia yang masih mempergunakan akalnya, atau akalnya dikalahkan oleh hawa nafsu dan sentimennya. Hingga yang buruk itu menjadi baik dalam pandangannya dan yang baik itu menjadi buruk.
    Dengan demikian nyatalah bahwa garizah ditambah dengan pancaindra ditambah pula dengan akal belum lagi cukup untuk menjadi hidayah yang akan menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup jasmani dan rohani, di dunia dan akhirat.
    Oleh karena itu manusia membutuhkan suatu hidayah lagi, di samping pancaindra dan akalnya itu, yaitu hidayah agama yang dibawa oleh para rasul `alaihimus shalatu wassalam.
    b. Bibit agama dan akidah tauhid pada jiwa manusia
    Dalam pada itu kalau diperhatikan agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan yang diciptakan oleh manusia (Al-Adyan Al-Wad’iyyah) kelihatan pada jiwa manusia telah ada bibit-bibit suka beragama. Yang demikian itu karena manusia itu mempunyai sifat merasa berhutang budi suka berterima kasih dan membalas budi kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Maka di kala diperhatikan dirinya dan alam yang di sekelilingnya, umpamanya roti yang dimakannya, tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya, binatang ternak yang digembalakannya, matahari yang memancarkan sinarnya, hujan yang turun dari langit yang menumbuhkan tanam-tanaman, akan merasa berutang budilah dia kepada “suatu Zat” yang gaib yang telah berbuat baik dan melimpahkan nikmat yang besar itu kepadanya.
    Didapatnyalah dengan akalnya bahwa Zat yang gaib itulah yang menciptakannya, yang menganugerahkan kepadanya dan kepada jenis manusia seluruhnya, segala sesuatu yang ada di alam ini, segala sesuatu yang dibutuhkannya untuk memelihara diri dan mempertahankan hidupnya.
    Karena dia merasa berutang budi kepada suatu Zat Yang Gaib itu, maka dipikirkannyalah bagaimana cara berterima kasih dan membalas budi itu, atau dengan perkataan lain bagaimana cara “menyembah Zat Yang Gaib itu”.
    Akan tetapi masalah bagaimana cara menyembah Zat Yang Gaib itu, adalah suatu masalah yang sukar, yang tidak dapat dicapai oleh akal manusia. Sebab itu di dalam sejarah kelihatan bahwa tidak pernah adanya keseragaman dalam hal ini. Bahkan akal pikirannya akan membawanya kepada kepercayaan membesarkan alam di samping membesarkan Zat Yang Gaib itu.
    Karena pikirannya masih bersahaja dan karena belum dapat dia menggambarkan di otaknya bagaimana menyembah “Zat Yang Gaib”, maka dipilihlah di antara alam ini sesuatu yang besar, atau yang indah, atau yang banyak manfaatnya, atau sesuatu yang ditakutinya untuk jadi pelambang bagi Zat Yang Gaib itu.
    Pernah dia mengagumi matahari, bulan dan bintang-bintang, atau sungai-sungai, binatang dan lain-lain, maka disembahnyalah benda-benda itu, sebagai lambang bagi menyembah Tuhan atau Zat Yang Gaib itu, dan diciptakannyalah cara-cara beribadah (menyembah) benda-benda itu.
    Dengan ini timbullah pula suatu macam kepercayaan, yang dinamakan “Kepercayaan menyembah kekuatan alam”, sebagai yang terdapat di Mesir, Kaldania, Babilonia, Assyiria dan di tempat-tempat lain di zaman purbakala.
    Dengan keterangan itu kelihatanlah bahwa manusia menurut fitrahnya suka beragama, suka memikirkan dari mana datangnya alam ini, dan ke manakah kembalinya.
    Bila dia memikirkan dari mana datangnya alam ini, akan sampailah dia pada keyakinan tentang adanya Tuhan, bahkan akan sampailah dia kepada keyakinan tentang keesaan Tuhan itu (tauhid), karena akidah (keyakinan) tentang keesaan inilah yang lebih mudah, dan lebih lekas dipahami oleh akal manusia. Karena itu dapatlah kita tegaskan bahwa manusia itu menurut nalurinya adalah beragama tauhid.
    Sejarah telah menerangkan bahwa bangsa Kaldania pada mulanya adalah beragama tauhid, barulah kemudian mereka menyembah matahari, planet- planet dan bintang-bintang yang mereka simbolkan dengan patung-patung. Sesudah Raja Namruz meninggal, mereka pun mendewakan dan menyembah Namruz itu. Bangsa Assyiria pun pada asalnya beragama tauhid, kemudian mereka telah lupa kepada akidah tauhid itu dan mereka persekutukanlah Tuhan dengan binatang-binatang, dan inilah yang dipusakai oleh orang-orang Babilonia.
    Adapun bangsa Mesir, maka bila diperhatikan nyanyian-nyanyian yang mereka nyanyikan dalam upacara-upacara peribadatan, jelaslah bahwa bukan seluruh bangsa Mesir purbakala itu orang-orang musyrik dan wasani, melainkan di antara mereka juga ada orang-orang muwahhidin, penganut akidah tauhid. Di dalam nyanyian-nyanyian itu terdapat ungkapan berikut:
    “Dialah Tuhan Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya”
    “Dia mencintai seluruh makhluk, sedang dia sendiri tak ada yang menciptakan-Nya”
    “Dialah Tuhan Yang Maha Agung, Pemilik langit dan bumi dan pencipta seluruh makhluk”
    Umat manusia yang dengan akalnya itu telah sampai kepada akidah tauhid. Akidah tauhid ini sering menjadi kabur, atau tidak murni lagi, dan jadilah mempersekutukan Tuhan yang menonjol di antara mereka. Biar pun pendeta-pendeta mereka masih tetap dalam ketauhidannya, akan tetapi pendeta-pendeta ini kadang-kadang takut atau segan untuk memberantas kepercayaan mempersekutukan Tuhan itu, bahkan ikut hanyut dalam arus masyarakat, yakni arus mempersekutukan Tuhan.
    Dapat ditegaskan bahwa akidah tauhid ini tidak pernah lenyap sama sekali, melainkan kepercayaan kepada adanya suatu Zat Yang Maha Esa itu tetap ada. Dialah Pencipta seluruh yang ada ini. Tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang lain itu mereka anggap hanyalah sebagai pembantu dan pelayan atau simbol Yang Maha Esa itu.
    c. Pendapat Bangsa Arab sebelum Islam tentang Khalik (Pencipta)
    Bangsa Arab sendiri pun sebelum datang agama Islam, kalau ditanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi ini?” Mereka menjawab, “Allah.” Dan kalau ditanyakan, “Adakah Al-Lata dan Al-Uzza itu menjadikan sesuatu yang ada alam ini”? Mereka menjawab, “Tidak.” Mereka sembah dewa-dewa itu hanya untuk mengharapkan perantaraan dan syafaat dari mereka terhadap Tuhan yang sebenarnya. Allah swt. berfirman menceritakan perkataan musyrikin Arab itu:

    مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

    Artinya:
    Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan (kedudukan) kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Q.S Az Zumar: 3)
    d. Kepercayaan tentang akhirat bisa dicapai oleh akal
    Manakala manusia itu memikirkan ke manakah kembalinya alam ini, akan sampailah dia pada keyakinan bahwa di balik hidup di dunia yang fana ini akan ada lagi hidup di hari kemudian yang kekal dan abadi. Tetapi dapatkah manusia dengan akal dan pikirannya semata-mata mengetahui apakah yang perlu dikerjakan atau dijauhinya sebagai persiapan untuk kebahagiaan di hari kemudian (hari akhirat) itu? Jawabnya tentu saja tidak, sejarah pun telah membuktikan hal ini.
    Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa manusia telah diberi Allah akal untuk jadi hidayah baginya, di samping garizah dan pancaindra. Tetapi hidayah akal itu belumlah mencukupi untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat.
    Begitu juga manusia mempunyai tabiat suka beragama, dan dengan akalnya dia kadang-kadang telah sampai kepada tauhid. Akan tetapi tauhid yang telah dicapainya dengan akalnya itu sering pula menjadi kabur dan tidak murni lagi.
    Dalam pada itu manusia dengan mempergunakan akalnya juga dapat sampai kepada kesimpulan tentang adanya akhirat, akan tetapi hidayah akal itu belumlah mencukupi untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat. Maka untuk menyampaikan manusia kepada akidah tauhid yang murni, yang tidak dicampuri sedikit juga oleh kepercayaan-kepercayaan menyembah dan membesarkan selain Allah, dan untuk membentangkan jalan yang benar yang akan ditempuhnya dalam perjalanan mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dan untuk jadi pedoman bagi hidupnya di dunia ini, dia membutuhkan hidayah yang lain di samping hidayah-hidayah yang telah disebutkan itu. Maka didatangkanlah oleh Allah hidayah yang keempat yaitu “agama” yang dibawa oleh para rasul.
    4. Hidayah agama
    a. Pokok-pokok agama ketuhanan
    Karena hal-hal yang disebutkan itu, maka diutuslah oleh Allah rasul-rasul untuk membawa agama yang akan menunjukkan kepada manusia jalan yang harus mereka tempuh untuk kebahagiaan mereka dunia dan akhirat.
    Adalah yang mula-mula ditanamkan oleh rasul-rasul itu kepercayaan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, guna membersihkan iktikad manusia dari kotoran syirik (mempersekutukan Tuhan).
    Rasul membawa manusia kepada kepercayaan tauhid itu dengan melalui akal dan logika, yaitu dengan mempergunakan dalil-dalil yang tepat dan logis. (Ingatlah kepada soal-jawab antara Nabi Ibrahim dengan Namruz, Nabi Musa dengan Firaun, dan seruan-seruan Alquran kepada kaum musyrikin Quraisy agar mereka mempergunakan akal).
    Di samping kepercayaan kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa, rasul-rasul juga membawa kepercayaan tentang akhirat dan malaikat-malaikat.
    Percaya kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, serta adanya malaikat dan hari kemudian itu, itulah yang dinamakan Al-Iman bil Gaib (percaya kepada yang gaib). Dan itulah yang jadi pokok bagi semua agama Ketuhanan, dengan arti bahwa semua agama yang datangnya dari Tuhan mempercayai keesaan Tuhan, serta malaikat dan hari akhirat.
    Di samping `aqaid (kepercayaan-kepercayaan) yang disebutkan itu, rasul-rasul juga membawa hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak dan pelajaran-pelajaran.
    Hukum-hukum dan peraturan-peraturan ini berlain-lainan, artinya apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim tidak sama dengan yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan apa yang dibawa oleh Nabi Isa tidak serupa dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
    Sebabnya ialah karena hukum-hukum dan peraturan-peraturan itu haruslah sesuai dengan keadaan tempat dan masa. Maka syariat yang dibawa oleh nabi-nabi itu adalah sesuai dengan masanya masing-masing. Jadi yang berlain-lainan itu ialah hukum-hukum furu` (cabang-cabang), sedangkan pokok-pokok hukum agama seperti akidah adalah sama.
    Berhubung Muhammad saw. adalah seorang nabi penutup maka syariat yang dibawanya, diberi oleh Tuhan sifat-sifat tertentu agar sesuai dengan segala masa dan keadaan.
    b. Hidayah yang dimohonkan kepada Tuhan
    Agama Islam sebagai hidayah dan senjata hidup yang penghabisan, atau jalan kebahagiaan yang terakhir, telah dianugerahkan Tuhan, tetapi adakah orang pandai mempergunakan senjata itu, dan adakah semua hamba Allah sukses dalam menempuh jalan yang dibentangkan oleh Tuhan.
    Tidak banyak manusia yang pandai menerapkan agama, beribadat (menyembah Allah) sebagai yang diridai oleh yang disembah, bahkan pelaksanaan syariat tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh Pembuat syariat itu.
    Karena itu kita diajari Allah memohonkan kepada-Nya agar diberi-Nya ma`unah, dibimbing dan dijaga-Nya selama-lamanya serta diberi-Nya taufik agar dapat memakai semua macam hidayah yang telah dianugerahkan-Nya itu menurut semestinya. Garizah-garizah supaya dapat disalurkan ke arah yang baik, pancaindra supaya berfungsi betul, akal supaya sesuai dengan yang benar, tuntunan-tuntunan agama agar dapat dilaksanakan menurut yang dimaksud oleh yang menurunkan agama itu dengan tidak ada cacat, janggal dan salah.
    Tegasnya manusia yang telah diberi Tuhan bermacam-macam hidayah yang disebutkan di atas (garizah-garizah, pancaindra, akal dan agama) belum dapat mencukupkan semata-mata hidayah-hidayah itu saja, tetapi dia masih membutuhkan ma`unah dan bimbingan dari Allah (yaitu taufik-Nya).
    Maka ma`unah dan bimbingan itulah yang kita mohonkan dan kepada Allah sajalah kita hadapkan permohonan itu.
    Dengan perkataan lain, Allah telah memberi kita hidayah-hidayah tersebut, tak ubahnya seakan-akan Dia telah membentangkan di muka kita jalan raya yang menyampaikan kepada kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi, maka yang dimohonkan kepada-Nya lagi ialah “membimbing kita dalam menjalani jalan yang telah terbentang itu”.
    Dengan ringkas hidayah dalam ayat “ihdinassiratal mustaqim” ini berarti “taufik” (bimbingan), dan taufik itulah yang dimohonkan di sini kepada Allah.
    Taufik ini dimohonkan kepada Allah sesudah kita berusaha dengan sepenuh tenaga, pikiran dan ikhtiar, karena berusaha dengan sepenuh tenaga adalah kewajiban kita, tetapi sampai berhasil sesuatu usaha adalah termasuk kekuasaan Allah. Dengan ini kelihatanlah pertalian ayat ini dengan ayat yang sebelumnya. Ayat yang sebelumnya Allah mengajari hamba-Nya supaya menyembah memohonkan pertolongan kepada-Nya, sedangkan pada ayat ini Allah menerangkan apa yang akan dimohonkan, dan bagaimana memohonkannya.
    Maka tak ada pertentangan antara kedua firman Allah tersebut dan firman Allah yang ditujukan kepada Nabi yang berbunyi:

    وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

    Artinya:
    Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Q.S Asy Syura: 52)
    Dan firman-Nya:

    إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

    Artinya:
    Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allahlah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Q.S Al Qasas: 56)
    Sebab yang dimaksud dengan hidayah pada ayat pertama, ialah menunjukkan jalan yang harus ditempuh, dan ini memang adalah tugas nabi. Tetapi yang dimaksud dengan hidayah pada ayat kedua ialah membimbing manusia dalam menempuh jalan itu dan memberikan taufik agar sukses dan berbahagia dalam perjalanannya, dan ini tidaklah masuk dalam kekuasaan Nabi, hanya adalah hak Allah semata-mata.

    الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

    Artinya:
    Jalan yang lurus (yang menyampaikan kepada yang dituju). (Q.S Al Fatihah: 6)
    Apakah yang dimaksud dengan jalan lurus itu?
    Di atas telah diterangkan bahwa rasul-rasul telah membawa `aqaid (kepercayaan-kepercayaan) hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak, dan pelajaran-pelajaran. Pendeknya telah membawa segala sesuatu yang perlu untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.
    Maka aqaid, hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak dan pelajaran-pelajaran itulah yang dimaksud dengan jalan lurus itu, karena dialah yang menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai disebutkan.
    Jadi dengan menyebut ayat ini seakan-akan kita memohon kepada Tuhan: “Bimbing dan beri taufiklah kami, ya Allah dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama kami. Betulkanlah kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan hukum, peraturan-peraturan, serta pelajaran-pelajaran agama kami. Jadikanlah kami mempunyai akhlak yang mulia, agar berbahagia hidup kami di dunia dan akhirat”.

    7 (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula

     

    jalan) mereka yang sesat.(QS. 1:7) ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Faatihah 7

    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

    Setelah Allah swt. mengajarkan kepada hamba-Nya untuk memohonkan kepada Allah agar selalu dibimbing-Nya menuju jalan yang lurus dan benar, maka pada ayat ini Tuhan menerangkan apa jalan yang lurus itu.
    Sebelum Alquranul Karim diturunkan, Tuhan telah menurunkan kitab-kitab suci-Nya yang lain, dan sebelum Nabi Muhammad diutus Allah telah mengutus rasul-rasul, karena sebelum umat yang sekarang ini telah banyak umat terdahulu.
    Di antara umat-umat yang terdahulu itu terdapat nabi-nabi, siddiqin yang membenarkan rasul-rasul dengan jujur dan patuh, syuhada yang telah mengorbankan jiwa dan harta untuk kemuliaan agama Allah, dan orang-orang saleh yang telah membuat kebajikan dan menjauhi larangan Allah.
    Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dan kita diajar Tuhan supaya memohonkan kepada-Nya, agar diberi-Nya taufik dan bimbingan sebagaimana Dia telah memberi taufik dan membimbing mereka. Artinya sebagaimana mereka telah berbahagia dalam aqaid, dan dalam menjalankan hukum-hukum serta peraturan-peraturan agama, mereka telah mempunyai akhlak dan budi pekerti yang mulia, maka demikian pulalah kita hendaknya. Dengan perkataan lain, Allah menyuruh kita supaya mengambil contoh dan tauladan kepada mereka yang telah terdahulu itu.
    Timbul pertanyaan kenapakah Tuhan menyuruh kita mengikuti jalan mereka yang telah terdahulu itu, padahal dalam agama kita ada pelajaran-pelajaran hukum, petunjuk-petunjuk yang tak ada pada mereka?
    Jawabnya: Sebetulnya agama Allah itu adalah satu, kendatipun ada perbedaannya, tetapi perbedaan itu ialah pada furu’-furu`nya, sedang pokok-pokoknya adalah serupa sebagai disebutkan di atas.
    Sebagaimana di dalam umat-umat yang telah terdahulu itu terdapat orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Tuhan, maka terdapat pula di antara mereka orang-orang yang dimurkai Allah dan orang-orang yang sesat.
    Orang yang dimurkai Allah itu ialah mereka yang tak mau menerima seruan Allah yang disampaikan oleh rasul-rasul, karena berlainan dengan apa yang mereka biasakan, atau karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, kendatipun telah jelas bahwa yang dibawa oleh rasul-rasul itulah yang benar. Masuk juga dalam golongan ini, mereka yang mulanya telah menerima apa yang disampaikan oleh rasul-rasul, tetapi kemudian lantaran sesuatu sebab mereka membelot, dan membelakangi pelajaran-pelajaran yang dibawa oleh rasul-rasul itu.
    Di dalam sejarah banyak ditemukan orang-orang yang dimurkai Tuhan itu, sejak di dunia ini mereka telah diazab, sebagai balasan yang setimpal bagi keingkaran dan sifat angkara murka mereka. Umpamanya kaum `Ad dan Samud yang telah dibinasakan oleh Allah, yang sampai sekarang masih ada bekas-bekas peninggalan mereka di Jazirah Arab. Begitu juga Firaun dan kaumnya yang telah dibinasakan Tuhan di Laut Merah. Mumi Firaun yaitu bangkainya telah dibalsem sampai sekarang masih ada disimpan dalam museum Mesir.
    Adapun orang-orang yang sesat, ialah mereka yang tidak betul kepercayaannya, atau tidak betul pekerjaan dan amal ibadahnya serta rusak budi pekertinya.
    Bila akidah seseorang tidak betul lagi, atau pekerjaan dan amal ibadahnya salah, dan akhlaknya telah rusak akan celakalah dia dan kalau sesuatu bangsa berkeadaan demikian akan jatuhlah bangsa itu.
    Maka dengan ayat ini Allah mengajari hamba-Nya supaya memohonkan kepada-Nya agar terjauh dari kemurkaan-Nya, dan terhindar dari kesesatan, dan di dalamnya juga tersimpul suruhan Allah supaya manusia mengambil pelajaran dari sejarah bangsa-bangsa yang telah terdahulu. Alangkah banyaknya dalam sejarah itu kejadian-kejadian yang dapat dijadikan iktibar dan pelajaran.
    Dalam pada itu di dalam Alquranul Karim sendiri banyak ayat-ayat yang berkenaan dengan umat dan bangsa-bangsa yang dahulu. Boleh dibilang 75% isi Alquran adalah kisah dan cerita. Memang tak ada suatu juga yang lebih besar pengaruhnya kepada jiwa manusia daripada contoh-contoh dan perbandingan-perbandingan yang terdapat dalam cerita-cerita, kisah-kisah dan sejarah.

     
    • camar 11:19 am on 29/07/2012 Permalink | Reply

      alfatiha ini wahyu atau doa. bila wahyu mengapa isinya minta ditunjuki jalan yang lurus ????
      bila doa mengapa dia dimasukkan surah pertama dalam quran..padahal konon katanya semua isi quran adalah wahyu allah .intinya ini surah dari bumi ke surga atau dari surga ke bumi…lalu kapan ini diturunkan,,mengapa ditempatkan jadi surah pembuka????
      wallahu alam.

    • Stain Remover 4:59 pm on 29/07/2012 Permalink | Reply

      @camar

      Shalat adalah doa dan Al Fatihah adalah doa yang diwahyukan, untuk agar manusia TETAP berada pada jalan yang lurus sewaktu menempuh kehidupan dalam kesaharian aktivitasnya. Sebab Islam memang sudah berada dalam jalan lurus.

      Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, Sesungguhnya kamu (Muhammad) salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (Yaa Siin : 2-4)

    • camar 3:25 am on 30/07/2012 Permalink | Reply

      Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, Sesungguhnya kamu (Muhammad) salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (Yaa Siin : 2-4….yang bersumpah ini siapa.?????sementara ayat lain mengatakan..Dan tidak ada seorangpun dari padamu,
      melainkan mendatangi neraka itu” (Sura 19:71).1
      Yusaf Ali dalam catatan kakinya no.2518
      memberikan 3 pilihan penafsiran untuk
      ayat di atas yang masing-masingnya
      mengingkari kenyataan bahwa menurut
      Allah, semua orang akan masuk neraka.
      Kata “mendatangi” (terjemahan lain
      menggunakan kata “menyeberangi”)
      telah membawa banyak teolog Islam
      menyimpulkan bahwa bisa jadi ada
      jembatan (Sirat) yang merentangi
      neraka.
      Jembatan itu bisa jadi sangatlah panjang.
      Mungkin jutaan kilometer. Bagaimana
      dengan lebarnya? Yakinlah, hanya selebar benang. Tentunya disertai dengan
      rintangan-rintangan berapi. Pada hari itu kita akan melihat bagaimana anda
      akan berjalan menyusuri sehelai benang seperti sebuah sirat.
      Sementara ayat 72 memberi petunjuk adanya operasi penyelamatan dari api
      neraka, sura-sura lainnya tidak memberi pengharapan apapun mengenai hal
      itu, seperti Sura 6:128,11:105-107, 14:16-17, 32:20, dan sebagainya.
      Jadi seberapa pastinya penyelamatan Islam jika sang Pencipta alam semesta –
      Tuhan dalam Alkitab – mengatakan bahwa barangsiapa yang masuk neraka
      akan tinggal di sana selamanya?
      Qur’an menyatakan bahwa neraka mempunyai 7 gerbang (Sura 15:44) yang
      dijagai 19 malaikat (Sura 74:30-31). Neraka dalam Islam lebih berupa tempat
      yang mengerikan daripada tempat yang berhantu. Ini adalah tempat yang
      merepresentasikan perpanjangan dan penambahan semua jenis kengerian
      terburuk yang dapat dibayangkan dalam kehidupan ini. Oleh karena sensualitas
      menjadi karakter Islam, semua penghuni neraka dijanjikan sebuah hidangan
      mengerikan yang terus-menerus:
      · Mereka akan makan hingga puas dari sebuah
      pohon yang disebut Zaqqum yang tumbuh dari
      dasar neraka (Sura 37:62-66).
      · Suatu sumber makanan pahit lainnya berasal dari
      tumbuhan Dhari yang tidak menyehatkan dan
      juga tidak memuaskan (Sura 88:6-7).
      · Para penghuni neraka Islam tidak akan menderita
      kehausan. Akan ada air mendidih yang
      berkelimpahan dan minuman-minuman lain yang juga tidak
      menyenangkan (Sura 37:67).
      Memberi makan para penghuni neraka tidak dapat dipandang sebagai tindakan
      belas-kasihan dari Allah. Hidangan itu dimaksudkan agar mereka mempunyai
      kekuatan untuk menahan kesengsaraan yang luar biasa yang akan mereka
      derita sebagai penghuni neraka, yaitu:
      1 Sura 19:70-72 dikutip secara penuh di h. 97
      · langsung diseret ke dalam api yang menyala-nyala (Sura 37:68)
      · kulit mereka terpanggang dan dibaharui lagi (Sura 4:56)
      · dipaksa mencicipi cairan mendidih, cairan gelap, pekat dan sangat dingin
      (Sura 38:57)
      · disajikan cairan yang sangat dingin maupun mendidih (Sura 78:21-25)
      · dimaksudkan untuk menanggung serangan api, air mendidih, bayangan asap
      gelap (Sura 56:4-44)
      · diberati dengan rantai membara dan dipukuli dengan tongkat besi (Sura
      14:49-50; 22:19-22)
      · dipakaikan pakaian dari api (Sura 22:19-22)
      · tidak mati dan juga tidak hidup (Sura 20:74; 87:13)
      · dimasukkan ke dalam api setiap kali mereka akan melarikan diri (Sura
      32:20)
      Penderitaan mental melebihi penderitaan fisik.
      Tidak ada damai disini, hanyalah pertikaian
      yang tidak berkesudahan dan saling tuduh
      menuduh (Sura 40:47-50). Kelepasan dalam
      kematian tidak tersedia bagi orang yang
      terkutuk, bahkan jika ada penyesalan
      mendalam (Sura 60:25-29). Surat Qaf
      Menggambarkan sebuah percakapan yang
      mengusik pikiran kita antara neraka dan Allah.
      Allah bertanya, “Neraka, apakah kamu sudah penuh?” Jawaban yang datang,
      “Apakah masih ada lagi?” (Sura 50:30).
      Kebencian Allah yang mendalam terhadap orang Yahudi dan Kristen muncul lagi
      di permukaan ketika para penghuni neraka dibagi ke dalam 7 kompartemen
      neraka. Alokasi-alokasi ini merupakan sesuatu yang menarik bagi orang Muslim
      karena kecenderungan mereka untuk menjahati para lawan mereka.
      · Jahannam (Gehenna) bagi para pendosa yang tidak bertobat sebelum
      ajal adalah yang paling sering disebut (sebanyak 77 kali dalam Qur’an).
      · Laza, tempat dimana orang Kristen akan merana (Sura 70:15).
      · Hutama, wilayah dimana orang Yahudi akan disiksa (Sura 104:5).
      · Sa’ir, kediaman roh-roh jahat
      · Jahim, tempat dimana penyembah berhala dibakar (Sura 40:7)
      · Saqar, ruangan yang disiapkan untuk penganut Zoroaster (Sura
      74:27)
      · Hawiya, tempat kediaman orang-orang munafik (Sura 101:9).
      Penghukuman dalam neraka Islam
      berada dibawah pengawasan malaikat,
      namun ada pengecualian besar –
      paman dari Muhammad, Abu Lahab,
      yang adalah seorang musuh besar
      mendapatkan perlakuan khusus. Dalam
      lima ayat dalam Sura yang berjudul
      “Lahab” (Sura 111), Muhammad (maaf,
      maksud saya Allah) membuat sebuah
      skenario yang penuh dendam: Abu
      Lahab harus dibakar terus-menerus.
      Istrinya yang buruk rupa (kali ini tidak ada bidadari) menyediakan kayu api
      agar api neraka dapat terus menyala. Qur’an gagal menciptakan sebuah
      kompartemen spesial bagi pria yang tidak beruntung ini. Tradisi Islam
      menggambarkan kengerian tambahan dalam neraka, kalau-kalau bayangan
      kengerian sebelumnya tidak terlalu mengerikan.
      Sebuah hadith menggambarkan suatu absurditas ilmiah: bahwa Allah
      memerintahkan api neraka untuk menyala selama 1000 tahun sampai menjadi
      merah, kemudian 1000 tahun lagi sampai menjadi putih, dan kemudian 1000
      tahun lagi sampai menjadi hitam, nampaknya itulah warnanya sekarang.
      Ketika api mengeluh karena sudah mulai habis (apinya), Allah memberikannya
      2 sifat – panas membara di musim panas, dan dingin membeku di musim salju.
      Tetapi Tuhan dalam Alkitab tidak mengajarkan neraka yang seperti itu. Ada
      banyak referensinya dalam Alkitab, namun saya hanya memberikan 2:
      Mat. 13:49-50 “Demikianlah juga pada
      akhir zaman: Malaikat-malaikat akan
      datang memisahkan orang jahat dari
      orang benar, lalu mencampakkan orang
      jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan
      terdapat ratapan dan kertakan gigi. “
      Wah. 14:10-11 “Maka ia akan
      minum dari anggur murka
      Tuhan, yang disediakan tanpa
      campuran dalam cawan murka-
      Nya; dan ia akan disiksa
      dengan api dan belerang di
      depan mata malaikat-malaikat
      kudus dan di depan mata Anak
      Domba. Maka asap api yang
      menyiksa mereka itu naik ke
      atas sampai selama-lamanya,
      dan siang malam mereka tidak
      henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta
      patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya

      • Stain Remover 3:54 pm on 30/07/2012 Permalink | Reply

        @camar

        Masih saja bertingkah sebagai hewan siap potong, kamu baca ayat selanjutnya :

        Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Qs. Maryam : 72)

        Jadi yang tetap tinggal di neraka adalah orang-orang yang zalim, siapakah oramg-orang zalim itu ?

        Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Qs. Al-Baqarah : 165)

        Termasuk kamu yang menyembah seorang manusia sebagai tandingan Allah :

        Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam“, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Qs. Al-Maidah : 72)

  • SERBUIFF 4:08 am on 28/12/2010 Permalink | Reply
    Tags: Tafsir Surah Al Kaafiruun   

    Tafsir Surah Al Kaafiruun 

    1 Katakanlah: `Hai orang-orang kafir,(QS. 109:1)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Kaafiruun 1 – 2
    قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2)
    Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, ‘As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW. menyatakan, “Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya”. Beliau menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya”. Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka.
    Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidilharam menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca surah Al Kafirun ini, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi SAW. Sejak itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka ke pada Nabi dengan menyakiti beliau dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke Madinah.
    Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa “Tuhan” yang kamu sembah bukanlah “Tuhan” yang saya sembah, karena kamu menyembah “tuhan” yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang kau dakwakan.
    Sedang saya menyembah Tuhan yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak mempunyai anak, tidak mempunyai teman wanita dan tidak menjelma dalam sesuatu tubuh. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan tidak terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.
    Maksudnya; perbedaan sangat besar antara “tuhan” yang kamu sembah dengan “Tuhan” yang saya sembah. Kamu menyakiti tuhanmu dengan sifat-sifat yang tidak layak sama sekali bagi Tuhan yang saya sembah.
    2 Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.(QS. 109:2)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Kaafiruun 1 – 2
    قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2)
    Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, ‘As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW. menyatakan, “Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya”. Beliau menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya”. Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka.
    Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidilharam menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca surah Al Kafirun ini, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi SAW. Sejak itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka ke pada Nabi dengan menyakiti beliau dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke Madinah.
    Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa “Tuhan” yang kamu sembah bukanlah “Tuhan” yang saya sembah, karena kamu menyembah “tuhan” yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang kau dakwakan.
    Sedang saya menyembah Tuhan yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak mempunyai anak, tidak mempunyai teman wanita dan tidak menjelma dalam sesuatu tubuh. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan tidak terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.
    Maksudnya; perbedaan sangat besar antara “tuhan” yang kamu sembah dengan “Tuhan” yang saya sembah. Kamu menyakiti tuhanmu dengan sifat-sifat yang tidak layak sama sekali bagi Tuhan yang saya sembah.
    3 Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.(QS. 109:3)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Kaafiruun 3
    وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3)
    Dalam ayat ini Allah menambahkan lagi pernyataan yang disuruh sampaikan kepada orang-orang kafir dengan menyatakan, “Kamu tidak menyembah Tuhanku yang aku panggil kamu untuk menyembah-Nya, karena berlainan sifat-sifat-Nya dari sifat-sifat “tuhan” yang kamu sembah dan tidak mungkin dipertemukan antara kedua macam sifat tersebut:
    4 Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,(QS. 109:4)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Kaafiruun 4 – 5
    وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5)
    Kemudian sesudah Allah menyatakan tentang tidak mungkin ada persamaan sifat antara Tuhan yang disembah oleh Nabi SAW. dengan yang disembah oleh mereka, maka dengan sendirinya tidak ada pula persamaan tentang ibadat. Mereka menganggap bahwa ibadat yang mereka lakukan di hadapan berhala-berhala atau di tempat-tempat beribadat lainnya, atau di tempat-tempat sepi, bahwa ibadat itu dilakukan secara ikhlas untuk Allah, sedangkan Nabi tidak melebihi mereka sedikitpun dalam hal itu, maka dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menjelaskan bahwa, “Saya tidak beribadat sebagai ibadatmu dan kamu tidak beribadat sebagai ibadatku”. Ini adalah pendapat Abu Muslim Al Asfahani.
    Maksud keterangan di atas menjelaskan bahwa hal tersebut menjadi jelas dengan adanya perbedaan apa yang disembah dan cara ibadat masing-masing. Oleh sebab itu tidak mungkin sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan cara beribadat kepada-Nya, karena Tuhan yang saya sembah maha suci dari sekutu dan tandingan, tidak menjelma pada seseorang atau memihak kepada suatu bangsa atau orang tertentu. Sedang “tuhan” yang kamu sembah itu berbeda dari Tuhan yang tersebut di atas. Lagi pula ibadat saya hanya untuk Allah saja, sedang ibadatmu bercampur dengan syirik dan dicampuri dengan kelalaian dari Allah, maka yang demikian itu tidak dinamakan ibadat.
    5 dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.(QS. 109:5)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Kaafiruun 4 – 5
    وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5)
    Kemudian sesudah Allah menyatakan tentang tidak mungkin ada persamaan sifat antara Tuhan yang disembah oleh Nabi SAW. dengan yang disembah oleh mereka, maka dengan sendirinya tidak ada pula persamaan tentang ibadat. Mereka menganggap bahwa ibadat yang mereka lakukan di hadapan berhala-berhala atau di tempat-tempat beribadat lainnya, atau di tempat-tempat sepi, bahwa ibadat itu dilakukan secara ikhlas untuk Allah, sedangkan Nabi tidak melebihi mereka sedikitpun dalam hal itu, maka dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menjelaskan bahwa, “Saya tidak beribadat sebagai ibadatmu dan kamu tidak beribadat sebagai ibadatku”. Ini adalah pendapat Abu Muslim Al Asfahani.
    Maksud keterangan di atas menjelaskan bahwa hal tersebut menjadi jelas dengan adanya perbedaan apa yang disembah dan cara ibadat masing-masing. Oleh sebab itu tidak mungkin sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan cara beribadat kepada-Nya, karena Tuhan yang saya sembah maha suci dari sekutu dan tandingan, tidak menjelma pada seseorang atau memihak kepada suatu bangsa atau orang tertentu. Sedang “tuhan” yang kamu sembah itu berbeda dari Tuhan yang tersebut di atas. Lagi pula ibadat saya hanya untuk Allah saja, sedang ibadatmu bercampur dengan syirik dan dicampuri dengan kelalaian dari Allah, maka yang demikian itu tidak dinamakan ibadat.
    6 Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku`.(QS. 109:6)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Kaafiruun 6
    لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)
    Kemudian dalam ayat ini Allah mengancam orang-orang kafir dengan firman-Nya yaitu, “Bagi kamu balasan atas amal perbuatanmu dan bagiku balasan atas amal perbuatanku”. Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:

    ولنا أعمالنا ولكم أعمالكم
    Artinya:
    “Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu”.
    Q.S.(Al Baqarah): 139.

     

    http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=109#1

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel