Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 4:05 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Bani Qaynuqa   

    Bani Qaynuqa 

    Bani Qaynuqa

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

     

    [sembunyikan]

    l • b • s
    Pertempuran Muhammad

    Ghazwah (Turun langsung dalam pertempuran)
    Penyergapan kafilah – Waddan – Safwan – Buwat – Dul Ashir – Badar – Pengusiran Bani Qaynuqa – Asyirah – Sawiq – Bani Sulaim – Bahran – Al-Kidr – Hamra’ al-Asad – Uhud – Dzi Amr – Dzatu al-Riqa` – Dumatul Jandal – Khandaq – Bani Quraizhah – Bani Mustaliq – Bani Lahyan – Al-Gabah – Fathu Makkah – Khaybar – Hunayn – Tha’if – Tabuk – Eid – Zakat – Thi Amr – Ghatfan – Bahran – Al-Asad – Badru Ukhra – Bani Nadhir – Thi Qerd – Hudaybiyyah – Awtas – Hawazan

    Sirya (Pertempuran atas perintahnya)
    Qirdah – Mu’tah – Dzatu as-Salasil – Yarmuk – Pengepungan Nakhla – Penyergapan Najd – Penyergapan Al-Is – Invasi al-Khabt – Ekspedisi Batn Edam – Ekspedisi Qatan

    Bani Qaynuqa (disebut juga sebagai Bani Kainuka, Bani Kaynuka, Bani Qainuqa (bahasa Arab: بنو قينقاع) adalah satu di antara tiga suku Yahudi yang tinggal di Yatsrib, sekarang Madinah. Pada tahun 624, mereka diusir oleh Nabi Islam, Muhammad, karena dituduh melanggar perjanjian yang dikenal sebagai Piagam Madinah.[1][2]

    Daftar isi

    Latar Belakang

    Pada abad ke-7, Banu Qaynuqa adalah sebuah suku yang tinggal di dua benteng di bagian baratdaya kota Yatsrib, yang sekarang disebut Madinah, telah menetap di sana sejak waktu yang tidak diketahui. Meskipun sebagian besar dari mereka menggunakan nama Arab, mereka secara etnis asli Yahudi dan beragama Yahudi. Mereka tidak menguasai lahan, mencari nafkah melalui perdagangan dan kerajinan tangan, termasuk menjadi tukang emas. [3] Pasar di Yatsrib terletak di tempat dimana bani Qaynuqa tinggal.[4] Bani Qaynuqa bersekutu dengan sebuah suku arab, bani Khazraj, dan mendukung mereka melawan Bani Aws. [3]

    Kedatangan Muhammad

    Bulan September 622, Muhammad tiba di Madinah bersama para pengikutnya, yang dilindungi oleh komunitas lokal yang dikenal sebagai Ansar. Melanjutkan penyusunan sebuah pakta yang dikenal sebagai Piagam Madinah, di antara Muslim, Ansar, dan berbagai suku Yahudi di Madinah untuk mengatur perihal politik dan pemerintahan kota, lebih jauh mencakup hubungan antar komunitas. Isi dari Pakta, menurut sumber-sumber tradisi dari Muslim, termasuk memboikot para Quraish, dipantangkan untuk membantu mereka, membantu satu sama lain bila diserang oleh pihak luar, mempertahankan Madinah dari “serangan asing”.[5][6][7]

    Isi dari pakta ini sebagaimana dicatat oleh Ibnu Ishaq dan di salin olehIbn Hisham menjadi perselisihan di antara para sejarahwan modern. Beberapa mempertahankan bahwa “perjanjian” kemungkinan sebagai kumpulan dari perjanjian-perjanjian, lisan daripada tertulis, berasal dari tanggal-tanggal yang berbeda, dan tidak jelas kapan dibuat dan merujuk kepada siapa.[8]

    Cepatnya kekuatan Muhammad menyebar di Madinah mengejutkan kekuatan sebelumnya yang sudah ada di sana, dan menimbulkan kemarahan di antara suku-suku Yahudi dan Non-Yahudi yang berusaha membangun kekuatan. Sehingga untuk melindungi diri dan mempertahankan kepentingan pribadi, mereka mungkin telah berinteraksi dengan Bani Quraish yang ingin mencegah Muslim mendapatkan kekuasaan. Dengan demikian kecurigaan ini telah memberikan alasan bagi Muslim untuk mengusir mereka, para pedagang Yahudi.

    Pengusiran

    Bulan Maret 624, Muslim yang dipimpin oleh Muhammad telah mengalahkan Bani Quraish pada Pertempuran Badar. Ibn Ishaq menulis bahwa perselisihan terjadi diatara Muslim dan bani Qaynuqa (sekutu Bani Khazraj) Ketika seorang Muslimah mengunjungi toko perhiasan di pasar Bani Qaynuqa, ia dikerjai seorang Yahudi, yang mengikat bajunya, sehingga ketika berdiri tanpa disangka bajunya terlepas. Seorang muslim muncul dari kerumunan dan membunuh pemilik toko untuk membalas. Orang-orang Yahudi membalas dengan membunuhnya. Hal ini berlanjut dengan terjadinya saling balas bunuh sebagai upaya balas dendam, dan permusuhan bertumbuh di antara Muslim dan bani Qaynuqa [1]

    Sumber dari Muslim memandang kejadian-kejadian tersebut sebagai pelanggaran terhadap Pakta Madinah.[1] Muhammad sediri menyatakan kondisi casus belli.[2] Namun Para sejarahwan barat tidak menemukan kejadian-kejadian tersebut sebagai sebab musabab dari serangan Muhammad kepada Bani Qaynuqa. Menurut F.E. Peters, keadaan yang menjadi sebab dari dugaan pelanggaran Konstitusi Madinah tidak dijelaskan dalam sumber-sumber.[9] Menurut Fred Donner, sumber-sumber yang ada tidak menjelaskan alasan pengusiran Bani Qaynuqa. Donner berpendapat bahwa Muhammad melawan Bani Qaynuqa karena para seniman dan pedaganga, yang kemudian berhubungan dengan pedagang-pedagang dari Mekkah.[10] Weinsinck memandang kejadian yang dikutip oleh sejarawan Muslim, seperti kisah tukang emas Yahudi, memiliki nilai tidak lebih dari sebuah anekdot. Dia menulis bahwa Yahudi bersifat memusuhi Muhammad, dan sebagai sebuah komunitas yang memiliki kekuatan sendiri, yang menimbulkan bahaya besar. Wensinck kemudian menyimpulkan bahwa Muhammad, setelah kemenangan di Badar, memutuskan untuk melenyapkan Yahudi.[3] Norman Stillman berpendapat bahwa Muhammad memutuskan untuk melawan orang-orang Yahudi Madinah setelah Perang Badar.[11]

    Muhammad lalu menghampiri Banu Qaynuqa, mengumpulkan mereka di sebuah pasar dan menyatakan beberapa hal. Shibli Nomani dan Safi al-Mubarakpuri melihat respon Muhammad tersebut sebagai sebuah deklarasi perang.[12] Menurut tulisan tradisi Muslim, ayat 10-13 surah ke 3 dari Al-Quran turun kepada Muhammad akibat hal ini.[1] Muhammad kemudian mengepung Bani Qaynuqa selama 14[3] atau 15 hari, menurut ibn Hisham,[13] Bani Qaynuqa kemudian menyerah tanpa syarat.[14] sangat mungkin, menurut Watt, ada terjadi negosiasi. Pada saat pengepungan, Qaynuqa memiliki kekuatan tempu sebanyaj 700 orang, 400 di antaranya berbaju zirah. Watt menyimpulkan, bahwa Muhammad dapat dengan sukses mengepung sebuah kekuatan yang besar karena Bani Qaynuqa tidak dibantu oleh sekutunya. Setelah Bani Qaynuqa menyerah, Abdullah bin Ubayy, kepala suku Khazraj, memohon belas kasihan atas Bani Qaynuqa.[15] According to Ibn Ishaq:[16]

    Menurut Michael Cook, Muhammad awalnya ingin membunuh seluruh Bani Qaynuqa tapi akhirnya, akibat mendengar desakan Abdullah, setuju untuk mengusir Bani Qaynuqa.[17] Menurut William Montgomery Watt, Abdullah bin Ubayy mencoba menghentikan pengusiran. Desakan Muhammad adalah bahwa Qaynuqa harus meninggalkan kota, tetapi Abdullah bin Ubay berpendapat bahwa dengan 700 kekuatan tempur, dapat membantu dalam menyerang Mekkah.[18] Rodinson manyatakan bahwa Muhammad ingin semua anggota Bani Qaynuqa dibunuh, tapi Abdullah bin Ubayy, yang merupakan sekutu lama dari Bani Qaynuqa, membujuknya untuk tidak melakukannya.[19] Akibat dari campurtangannya dan kejadian-kejadian lain antaranya dengan Muhammad, Abdullah bin Ubayy digelari sebagai pemimpin para munafik (munafiqun).[20]

    Kesimpulan

    Bani Qaynuqa kemudian menuju ke sebuah koloni Yahudi di Wadi al-Kura, sebelah utara Madinag, and dari sana menuju Der’a di Suriah,[3] sebelah baratSalkhad. Dengan berjalannya waktu, mereka berasimilasi dengan komunitas Yahudi lainnya, yang sudah ada disana sebelumnya, memperbanyak jumlah mereka.[21]

    Muhammad membagi-bagi barang-barang milik Bani Qaynuqa, termasuk senjata dan alat-alat mereka, kepada para pengikutnya, mengambil seperlima bagian, sebagai rampasan pertama, untuk negara Islam. Beberapa anggota suku Bani Qaynuqa memilih tinggal di Madinah dan menjadi muslim, mungkin lebih kepada prospek oportunis daripada keyakinan. Seorang laki-laki dari Bani Qaynuqa, Abdullah bin Sailam, menjadi seorang Muslim yang taat. Meskipun beberapa sumber Muslim menyatakan bahwa ia sudah menjadi muslim segera setelah kedatangan Muhammad ke Madinah, ulama modern lebih meyakini kepada sumber-sumber muslim lain, yang menujukkan bahwa tahun 630, 8 tahun setelah kedatangan Muhammad ke Madinah.[3]

    Catatan Kaki

    1. ^ a b c d Guillaume 363, Stillman 122, ibn Kathir 2
    2. ^ a b Watt (1956), p. 209.
    3. ^ a b c d e f Wensinck, A.J. “Kaynuka, banu”. Encyclopaedia of Islam
    4. ^ Peters 182
    5. ^ al-Mubarakpuri (1996), pg. 197-8
    6. ^ Ibn Hisham, as-Seerat an-Nabaweeyat, Vol. II, pp. 147-150
    7. ^ Ibn Ishaq, pp. 231-235
    8. ^ Firestone 118; Welch “Muhammad”, Encyclopaedia of Islam.. For opinions disputing the early date of the Constitution of Medina, see e.g., Peters 119.
    9. ^ Peters 218
    10. ^ Donner 231–232
    11. ^ Stillman 13
    12. ^ Nomani 90-91, al-Mubarakpuri 239
    13. ^ Stillman 123
    14. ^ Guillaume 363, Stillman 123
    15. ^ William Montgomery Watt. “Abd Allah b. Ubayy b. Salul.” Encyclopaedia of Islam
    16. ^ M. V. (Michael V.) McDonald, William Montgomery Watt, The history of al-Tabari, p.86
    17. ^ Michael Cook, Muhammad, p.21
    18. ^*Watt, Muhammad the prophet and statesman, p.131
      • William Montgomery Watt. “Abd Allah b. Ubayy b. Salul.” Encyclopaedia of Islam
    19. ^ Rodinson, Muhammad, page 173.
    20. ^ William Montgomery Watt. “Abd Allah b. Ubayy b. Salul.” Encyclopaedia of Islam, see also Stillman 13, 123
    21. ^ Ben-Zvi 147
    Advertisements
     
    • wikki 5:09 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

      Penyerangan terhadap Banu Qainuqa’

      Masyarakat Yahudi pertama yang menjadi korban kebuasan Muhammad adalah Banu Qainuqa’. Mereka hidup di sekitar Yathrib. Mata pencaharian mereka adalah berkarya seni, membuat kerajinan emas, peralatan besi, rumah tangga dan senjata2.Mereka tidak mahir dalam berperang dan mempercayakan masalah keamanan pada bangsa Arab. Hal ini terbukti menjadi kesalahan fatal bagi keberadaan mereka. Banu Qainuqa’ adalah sekutu suku Arab Khazraj dan mendukung mereka dalam pertikaian dengan suku Arab saingan Khazraj yakni Aws.

      Kesempatan menyerang suku Yahudi ini datang ketika pertikaian timbul diantara beberapa Yahudi dan Muslim. Seorang warga Banu Qainuqa’ bergurau dan menancapkan ke tanah gaun seorang Muslimah yang sedang jongkok di toko perhiasan di pasar Banu Qainuqa’. Ketika Muslimah itu berdiri, gaunnya sobek dan dia tampak telanjang. Seorang Muslim lewat dan orang ini sudah terlebih dahulu benci terhadap orang Yahudi karena ucapan2 nabinya. Muslim ini menyerang orang Yahudi itu dan membunuhnya. Anggota keluarga korban lalu membunuh Muslim ini sebagai balasnya.

      Ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu Muhammad. Bukannya menenangkan keadaan, tapi dia secara tidak adil menyalahkan seluruh kaum Yahudi, dan memerintahkan mereka menerima Islam, kalau tidak akan diperangi. Kaum Yahudi menolak dan berlindung di dalam benteng mereka. Muhammad mengepung mereka, menutup saluran air, dan berjanji membunuh mereka semua.

      Dalam Qur’an 3:12 dapat dibaca bagaimana Muhammad menyatakan ancamannya: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya” sambil membual bagaimana dia mengalahkan kaum pagan Quraish di Badr.

      Setelah dua minggu, suku Yahudi mencoba untuk merundingkan usaha menyerah, tapi Muhammad tidak mau. Dia ingin membunuh mereka semua. Abdullah ibn Ubayy, yang adalah ketua suku Arab Khazraj, memegang kerah baju Muhammad dan mengatakan padanya dia tidak akan membiarkan Muhammad membunuh sekutu dan rekan2nya tanpa alasan. Muhammad mengerti bahwa suku Khazraj menghormati ketuanya. Dia tahu jika suku Khazraj mengepungnya, dia bisa kalah. Dia mendorong ibn Ubayy dan mukanya kelam karena murka dan setuju untuk tidak membantai kaum Yahudi asalkan mereka meninggalkan kota mereka. Inilah kisah yang ditulis Ibn Ishaq.

      Banu Qainuqa’ adalah kaum Yahudi pertama yang melanggar perjanjian dengan sang Rasul dan berperang, di antara Badr dan Uhud, dan sang Rasul mengepung mereka sampai mereka menyerah tanpa syarat. `Abdullah b. Ubayy b. Salul pergi menemui sang Rasul ketika mereka semua sudah berada di bawah kekuasaan Muhammad dan berkata, ‘Wahai Muhammad, bersikaplah baik terhadap kawan2ku (Yahudi adalah sekutu suku Khazraj), tapi sang Rasul menolaknya. Dia (`Abdullah) mengulangi perkataannya sekali lagi, dan sang Rasul menolaknya, maka dia merenggut kerah jubah sang Rasul; sang Rasul sangat marah sehingga mukanya hampir tampak hitam. Dia berkata, ‘Terkutuk kau, lepaskan aku.’ Dia (`Abdullah) menjawab, ‘Tidak, demi Tuhan, aku tidak akan melepaskanmu sampai kau berlaku baik terhadap kawan2ku. Empat ratus orang tanpa surat dan tiga ratus orang yang menerima surta melindungiku dari seluruh musuh2ku; apakah kau akan membunuh mereka semua dalam waktu satu pagi? Demi Tuhan, aku takut keadaan akan berubah.’ Sang Rasul berkata,’Kau boleh memilikinya.’ [1]

      Penulis2 biografi juga menambahkan bahwa Muhammad dengan bersungut berkata, “Biarkan mereka pergi. Tuhan mengutuk mereka dan dia juga! Maka Muhammad mengampuni nyawa mereka asal mereka mengasingkan diri dari tanah mereka. ”[2]

      Dia menuntut Banu Qainuqa’ menyerahkan segala kekayaan dan peralatan perang mereka, mengambil seperlima jarahan bagi dirinya sendiri dan membagi-bagikan sisanya diantara pengikutnya. Suku Yahudi Banu Qainuqa’ diusir. Sejarawan Muslim menulis bahwa mereka melarikan diri ke Azru‘a di Syria di mana mereka tinggal sebentar dan setelah itu musnah.[3]

      ——————————————————————————–

      [1] Ibn Ishaq Sirat, p. 363

      [2] Ibid.

      [3] AR-Raheeq Al-Makhtum by Saifur Rahman al-Mubarakpuri http://islamweb.islam.gov.qa/english/sira/raheek/PAGE-26.HTM

    • SERBUIFF 11:34 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

      dalam perjanjian piagam madinah yahudi dan muslim adalah atu kesatuan, mengapa mereka melecehkan wanita tsb dan membuat syair yg melecehkan muhammad. inilah penyebab hancurnya persatuan kaum yahudi dan muslim. Mereka yg pertama pencetus kekacauan tsn , mereka melaggar piagam madinah. wjar mereka dihukum dg diusir.

  • SERBUIFF 3:35 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: ANTARA BADR DAN UHUD - Muhammad Husain Haekal Muslimin dan Yahudi - Qainuqa' dikepung - Yahudi keluar dari Medinah - Quraisy bergerak - Ekspedisi Sawiq - Kabilah-kabilah bergerak lalu melarikan diri -   

    ANTARA BADR DAN UHUD – Muhammad Husain Haekal Muslimin dan Yahudi – Qainuqa’ dikepung – Yahudi keluar dari Medinah – Quraisy bergerak – Ekspedisi Sawiq – Kabilah-kabilah bergerak lalu melarikan diri – Hancurnya Safwan b. Umayya. 

     

     ANTARA BADR DAN UHUD                (1/2)
    Muhammad Husain Haekal
    
       Muslimin dan Yahudi - Qainuqa' dikepung - Yahudi keluar
       dari Medinah - Quraisy bergerak - Ekspedisi Sawiq -
       Kabilah-kabilah bergerak lalu melarikan diri - Hancurnya
       Safwan b. Umayya.
    
    PERISTIWA Badr itu telah menimbulkan kesan yang  dalam  sekali
    di  Mekah,  sebagaimana  sudah  kita lihat. Bila saja terdapat
    kesempatan, hasrat hendak membaias  dendam  terhadap  Muhammad
    dan  Muslimin itu besar sekali. Tetapi pengaruh yang timbul di
    Medinah ternyata lebih jelas dan lebih erat berhubungan dengan
    kehidupan   Muhammad   dan   Muslimin   bersama-sama.  Sesudah
    peristiwa Badr, golongan Yahudi, orang-orang musyrik dan  kaum
    munafik  sudah  merasakan sekali adanya kekuatan kaum Muslimin
    yang bertambah. Mereka melihat  bahwa  orang  asing  ini  yang
    datang  ke tempat mereka kurang dari dua tahun yang lalu pergi
    hijrah dari Mekah, kini tambah besar kewibawaannya dan  tambah
    kuat  pula  kedudukannya,  bahkan  hampir  menjadi  orang yang
    menguasai seluruh penduduk Medinah,  bukan  hanya  golongannya
    sendiri saja.
    
    Seperti sudah kita lihat orang-orang Yahudi sejak sebelum Badr
    sudah  mulai  menggerutu  dan  mengadakan  bentrokan-bentrokan
    dengan  pihak  Muslimin,  sehingga  banyak peristiwa-peristiwa
    yang kalau tidak sampai meletus,  seolah  hanya  karena  masih
    adanya perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak itu. Itu
    pula sebabnya, begitu kaum Muslimin kembali dari Badr  membawa
    kemenangan,  beberapa kelompok di sekitar Medinah mulai saling
    bermain  mata  dan  berkomplot.  Mereka  mulai   dihasut   dan
    dibuatkan  sajak-sajak  yang  sifatnya  membangkitkan semangat
    mereka. Dengan demikian, gelanggang revolusi itu  kini  pindah
    dari  Mekah  ke  Medinah,  dan  dari  bidang  agama  ke bidang
    politik. Jadi  yang  diperangi  sekarang  bukan  hanya  dakwah
    Muhammad  dalam  bidang  agama  saja, melainkan kewibawaan dan
    pengaruhnya juga membuat hati mereka jadi  kecut.  Faktor  ini
    yang  menyebabkan mereka berkomplot dan membuat rencana hendak
    membunuhnya
    
    Tetapi semua rahasia itu bukan tidak diketahui oleh  Muhammad.
    Bahkan  ia  sudah  mengetahui  semua berita dan setiap rencana
    yang ditujukan kepadanya itu. Baik pada pihak Muslimin ataupun
    pihak  Yahudi,  dari  hari  ke hari, sedikit demi sedikit hati
    mereka sudah sarat oleh rasa kebencian. Satu sama lain tinggal
    lagi menunggu adanya bencana yang akan menimpa lawannya.
    
    Sampai  pada  waktu kaum Muslimin mendapat kemenangan di Badr,
    mereka masih merasa takut juga kepada penduduk Medinah. Mereka
    belum  berani  mengadakan serangan balasan apabila ada seorang
    Muslim yang diserang. Tatkala  mereka  sudah  kembali  membawa
    kemenangan  itu  seorang  yang  bernama  Salim b. 'Umair telah
    mengambil tindakan sendiri terhadap Abu 'Afak (dari Banu  'Amr
    b.  'Auf),  karena  orang  ini membuat sajak-sajak yang isinya
    menyerang Muhammad dan kaum  Muslimin.  Juga  orang  ini  yang
    telah membakar semangat golongannya supaya memerangi Muslimin.
    Sampai pada  waktu  peristiwa  Badr  selesai  ia  masih  terus
    menghasut orang.
    
    Suatu   malam   ketika  angin  sedang  bertiup  kencang  Salim
    mendatangi Abu 'Afak. Ia sedang  tidur  di  beranda  rumahnya.
    Oleh  Salim  ditancapkannya  pedangnya  ke arah hatinya hingga
    menembus sampai ke pelaminan. Demikian juga 'Ashma, bt. Marwan
    (dari  Banu  Umayya  b. Zaid). Wanita ini selalu memaki Islam,
    menyakiti hati dan mengerahkan orang  supaya  melawannya.  Hal
    ini  dilakukannya  terus  sampai pada waktu sesudah selesainya
    perang Badr. Pada suatu malam buta ia didatangi oleh 'Umair b.
    'Auf  yang masuk sampai ke dalam rumahnya. Ia dikelilingi oleh
    anak-anaknya yang sedang tidur, ada pula yang sedang  disusui.
    Sebenarnya  penglihatan  'Umair  lemah  sekali. Ia meraba-raba
    dengan  tangannya  dan  terpegang  olehnya  bayi  yang  sedang
    disusui  itu.  Dihalaunya  bayi itu dari sisi ibunya, kemudian
    dipusatkannya pedangnya ke dada  wanita  itu  sampai  menembus
    punggungnya.
    
    Bila   'Umair   kemudian  kembali  dari  tempat  Nabi  setelah
    menyampaikan berita itu, ia melihat anak-anaknya dan  beberapa
    orang   sedang  menguburkan  wanita  tersebut.  Mereka  datang
    menemuinya seraya bertanya:
    
    "Umair, kau yang membunuh wanita itu?"
    
    "Ya," jawabnya. "Jalankanlah  tipu-muslihatmu  itu  terhadapku
    dan  jangan  lagi  ditunda-tunda.  Aku bersumpah demi Dia Yang
    memegang  hidupku  kalau  kamu  semua  mengeluarkan  kata-kata
    seperti  wanita  itu,  akan kuhantam kamu dengan pedangku ini.
    Aku yang mati, atau kamu semua kubunuh."1
    
    Sikap 'Umair yang berani ini  telah  membawa  akibat  lahirnya
    Islam  di  tengah-tengah kabilah Banu Khatma itu. Suami Ashma'
    adalah dari kabilah ini juga. Dari golongan ini  yang  tadinya
    masuk  Islam  dengan  sembunyi-sembunyi, sekarang sudah berani
    mereka berterang-terang dan menggabungkan dia kedalam  barisan
    dan bersama-sama dengan kaum Muslimin lainnya.
    
    Kiranya cukup kalau kita tambahkan atas dua macam peristiwa di
    atas ini dengan  peristiwa  matinya  Ka'b  b.  Asyraf.  Ketika
    mendengar  matinya  beberapa orang pemuka-pemuka Mekah, dialah
    orangnya yang mengatakan. "Mereka itu bangsawan-bangsawan Arab
    dan   pemimpin-pemimpin.   Sungguh,   kalau   Muhammad  sampai
    mengalahkan mereka, maka lebih baik berkalang  tanah  daripada
    tinggal  di atas bumi." Dia pula orangnya yang telah berangkat
    ke Mekah - setelah  mendapat  kabar  yang  pasti  -mengerahkan
    orang  untuk  melawan  Muhammad,  menyanyikan  sajak-sajak dan
    menangisi mereka yang terkubur dalam perigi. Dia juga orangnya
    yang  kemudian  setelah  kembali  ke Medinah berusaha mencumbu
    wanita-wanita Islam. Orang  tahu  betapa  watak  dan  perangai
    orang  Arab  dalam  hal  ini,  betapa  mereka  menghargai arti
    kehormatan  ini.  Untuk  itu  semangat  mereka  bangkit.  Kaum
    Muslimin  begitu  marah.  Mereka sudah sepakat hendak membunuh
    Ka'b.  Beberapa  orang  dari  mereka  sudah  berkumpul.  Salah
    seorang  di  antara  mereka  mendatanginya sambil memancingnya
    dengan memburuk-burukkan Muhammad.
    
    "Kedatangan orang ini  kemari  membawa  bencana,"  kata  salah
    seorang.  "Membuat  orang-orang  Arab  saling  bermusuhan  dan
    berpecah-belah. Hubungan kerabat kita terputus, sanak-keluarga
    hilang dan orang melakukan perjalanan jauh jadi sukar."
    
    Setelah   saling   beramah-tamah  dengan  Ka'b,  maka  ia  dan
    teman-temannya   minta   uang   kepada   Ka'b   dengan   jalan
    menggadaikan  baju  besinya. Ka'bpun setuju asal nanti dibawa.
    Ketika ia sedang  berada  di  rumahnya  yang  agak  jauh  dari
    Medinah,  pada  waktu  menjelang  malam  terdengar  Abu Na'ila
    [salah  seorang  yang  berkomplot]  memanggilnya.  Ia   keluar
    menghampirinya,  sekalipun  sudah diperingatkan oleh isterinya
    jangan keluar rumah pada waktu malam begitu. Kedua  orang  itu
    terus  berjalan  hingga bertemu dengan teman-teman Abu Na'ila.
    Ka'b tenteram saja tidak  merasa  takut.  Mereka  bersama-sama
    berjalan  kaki  hingga  agak  jauh  dari  tempat-tinggal Ka'b,
    sambil terus bercakap-cakap.  Mereka  bercerita  tentang  diri
    mereka sendiri dan betapa mereka itu mengalami kesukaran. Ka'b
    merasa makin tenang.
    
    Sementara mereka sedang berjalan  itu  Abu  Na'ila  meletakkan
    tangannya  di  atas  kepala  Ka'b,  dan tangannya itu kemudian
    diciumnya.
    
    "Belum pernah aku mengalami malam seharum ini," katanya
    
    Setelah dilihatnya  Ka'b  tidak  menaruh  curiga  lagi  kepada
    mereka, kembali lagi Abu Na'ila meletakkan tangannya di rambut
    Ka'b, kemudian digenggamnya kedua  pelipis  orang  itu  seraya
    berkata:
    
    "Hantamlah musuh Tuhan ini!"
    
    Mereka  menghantamnya  dengan  pedang, dan saat itu ia menemui
    ajalnya.
    
    Kejadian ini membuat  pihak  Yahudi  bertambah  cemas.  Mereka
    semua merasa kuatir akan nasibnya sendiri. Tetapi sampai nyawa
    mereka melayangpun, mereka tidak juga  mau  berhenti  mengecam
    Muhammad  dan kaum Muslimin. Ada seorang wanita Arab datang ke
    pasar Yahudi Banu Qainuqa' dengan membawa perhiasan. Ia sedang
    duduk  menghadapi  tukang  emas.  Mereka  berusaha  supaya  ia
    memperlihatkan mukanya. Tapi  wanita  itu  menolak.  Tiba-tiba
    datang   seorang   Yahudi   dengan  diam-diam  dari  belakang.
    Disematkannya ujung baju wanita itu dengan  sebatang  penyemat
    ke  punggungnya,  dan  bila wanita itu berdiri, maka tampaklah
    auratnya.  Mereka  ramai-ramai  menertawakannya.  Wanita   itu
    menjerit-jerit.   Waktu  itu  juga  seorang  laki-laki  Muslim
    langsung menerkam tukang emas tersebut - seorang orang Yahudi,
    lalu   dibunuhnya.   Orang-orang   Yahudi   yang  lain  datang
    ramai-ramai mengikat laki-laki Muslim itu  lalu  mereka  bunuh
    juga.
    
    Sekarang keluarga Muslim ini minta bantuan kaum Muslimin dalam
    menghadapi  pihak  Yahudi,  yang  selanjutnya  sampai   timbul
    bencana besar antara mereka dengan pihak Yahudi Banu Qainuqa'.
    
    Kemudian  Muhammad  minta kepada mereka ini supaya jangan lagi
    mengganggu  kaum  Muslimin   dan   supaya   tetap   memelihara
    perjanjian  perdamaian dan ko-eksistensi yang sudah ada. Kalau
    tidak mereka akan mengalami nasib seperti Quraisy. Akan tetapi
    peringatan ini oleh mereka diremehkan. Malah mereka menjawab:
    
    "Muhammad,  jangan  kau  tertipu  karena  kau sudah berhadapan
    dengan suatu golongan yang tidak punya  pengetahuan  berperang
    sehingga engkau mendapat kesempatan mengalahkan mereka. Tetapi
    kalau sudah kami yang memerangi kau, niscaya akan kau ketahui,
    bahwa kami inilah orangnya."
    
    Jika  sudah  begitu,  maka  tak  ada  jalan lain kecuali harus
    memerangi  mereka  juga.  Kalau  tidak,  kaum   Muslimin   dan
    kedudukan  mereka di Medinah akan runtuh, dan selanjutnya akan
    menjadi bahan cerita  pihak  Quraisy,  sesudah  pihak  Quraisy
    sebelum itu menjadi bahan cerita orang-orang Arab.
    
    Kaum  Muslimin  sekarang  bertindak  dan mengepung orang-orang
    Yahudi Banu Qainuqa' berturut-turut selama limabelas  hari  di
    tempat  mereka  sendiri.  Tak ada orang yang dapat keluar dari
    mereka itu, juga tak ada orang  yang  dapat  masuk  membawakan
    makanan.  Tak ada jalan lain lagi mereka sekarang harus tunduk
    kepada undang-undang Muhammad, menyerah  kepada  ketentuannya.
    Lalu    mereka    menyerah.   Sesudah   bermusyawarah   dengan
    pemuka-pemuka  Muslimin,  Muhammad  menetapkan  akan  membunuh
    mereka itu semua.
    
    Akan  tetapi  lalu  datang  Abdullah b. Ubayy b. Salul - orang
    yang bersekutu baik dengan Yahudi maupun dengan Muslimin.
    
    "Muhammad,"  katanya.   "Hendaklah   berlaku   baik   terhadap
    pengikut-pengikutku."
    
    Nabi    tidak    segera   menjawab.   Lalu   diulangnya   lagi
    permintaannya.  Tetapi  Nabi  menolak.  Orang  itu  memasukkan
    tangannya  ke  saku  baju  besi Muhammad. Muhammad berubah air
    mukanya. Lalu katanya:
    
    "Lepaskan!" Ia marah. Kemarahannya  itu  tampak  terbayang  di
    wajahnya.  Kemudian  diulanginya  lagi  dengan nada suara yang
    masih membayangkan kemarahan. "Lepaskan! Celaka kau!"
    
    "Tidak akan kulepaskan  sebelum  kau  bersikap  baik  terhadap
    pengikut-pengikutku.  Empat  ratus  orang  tanpa baju besi dan
    tiga  ratus  orang  dengan  baju  besi  telah  merintangi  aku
    melakukan  perang  habis-habisan,  dan  kau babat mereka dalam
    satu hari! Sungguh aku kuatir akan timbul bencana."
    
    Sampai  pada  waktu  itu  Abdullah  adalah  orang  yang  masih
    mempunyai kekuasaan atas orang-orang musyrik dari kalangan Aus
    dan Khazraj, meskipun kekuasaan ini,  dengan  adanya  kekuatan
    kaum Muslimin telah menjadi lemah.
    
    Melihat  desakan  orang  itu  yang demikian rupa, Nabi kembali
    menjadi tenang. Apalagi setelah  'Ubada  bin'sh-Shamit  datang
    kepadanya  bicara seperti pembicaraan Ibn Ubayy. Ketika itu ia
    berpendapat akan memberikan belas kasihannya  kepada  Abdullah
    b.  Ubayy,  dan  kepada  orang-orang musyrik pengikut-pengikut
    Yahudi supaya dengan budi kebaikannya dan rasa kasihannya  itu
    mereka  akan  merasa  berhutang  budi  kepadanya. Akan tetapi,
    sebagai akibat perbuatan mereka sendiri  Banu  Qainuqa'  harus
    mengosongkan kota Medinah.
    
    Ibn  Ubayy  ingin  bicara sekali lagi dengan Muhammad mengenai
    keadaan mereka yang masih ingin  menetap  disana  itu.  Tetapi
    salah  seorang  dari  kalangan  Islam berhasil mencegah adanya
    pertemuan Ibn Ubayy dengan Muhammad.  Mereka  lalu  bertengkar
    sehingga  kepala Abdullah kena pukul. Ketika itu Banu Qainuqa'
    berkata: "Kami bersumpah tidak lagi akan tinggal di  kota  ini
    sesudah  kepala  Ibn  Ubayy  dipukul  sedang  kami tidak dapat
    membelanya."
    
    Dengan demikian, setelah mereka  tunduk  dan  menyerah  hendak
    meninggalkan Medinah, 'Ubada membawa mereka itu ke Wadi'l-Qura
    dengan meninggalkan perlengkapan senjata dan alat-alat  tukang
    emas  yang  mereka  pergunakan.  Di  tempat  ini  lama  mereka
    tinggal, dan dari sini barang-barang mereka semua mereka bawa.
    Mereka  menuju  ke arah utara sampai di Adhri'at di perbatasan
    Syam. Di tempat  inilah  mereka  menetap.  Atau  mungkin  juga
    mereka  tertarik  ingin  ke  sebelah  utara lagi ke Tanah yang
    Dijanjikan (Palestina) yang selalu menjadi idaman  orang-orang
    Yahudi.
    
    Kekuasaan  orang-orang  Yahudi di Medinah menjadi lemah sekali
    setelah Banu Qainuqa' meninggalkan kota ini. Sebahagian  besar
    orang-orang Yahudi yang disebut-sebut dari Medinah ini, mereka
    tinggal jauh di Khaibar dan  Wadi'l-Qura.  Hasil  inilah  yang
    menjadi  tujuan  Muhammad  dengan mengosongkan mereka itu. Ini
    adalah suatu langkah  politik  yang  sungguh  cemerlang  dalam
    memperlihatkan  kebijaksanaan dan pandangan yang jauh itu. Ini
    juga merupakan suatu pendahuluan yang tidak  bisa  tidak  akan
    mempunyai  pengaruh  politik  yang  kelak akan berjalan sesuai
    dengan  garis  yang  telah  ditentukan  oleh  Muhammad.  Dalam
    mempersatukan sesuatu kota yang paling berbahaya adalah adanya
    pertentangan golongan. Apabila sengketa golongan-golongan  ini
    harus  terjadi  juga,  maka  harus  pula  berakhir pada adanya
    kemenangan satu  golongan  atas  golongan  lainnya  yang  juga
    berarti akan berkesudahan dengan menguasainya.
    
    Ada beberapa penulis sejarah yang telah mengecam tindakan kaum
    Muslimin terhadap  orang-orang  Yahudi  itu,  dengan  anggapan
    bahwa  kisah  wanita  Islam  yang pergi kepada tukang emas itu
    akan mudah  saja  penyelesaiannya  selama  yang  terbunuh  itu
    seorang  dari  pihak Islam dan seorang pula dari pihak Yahudi.
    Sebenarnya  dapat  saja  kita  menolak  pendapat  ini   dengan
    mengatakan,  bahwa  terbunuhnya  seorang  Yahudi  dan  seorang
    Muslim itu belum dapat menghapus  coreng  penghinaan  terhadap
    kaum  Muslimin  yang disebabkan oleh pribadi wanita yang telah
    dipermainkan oleh orang Yahudi itu. Bagi orang Arab,  melebihi
    bangsa   manapun,  masalah  semacam  ini  dapat  mengakibatkan
    timbulnya huru-hara, dapat menimbulkan peperangan  antara  dua
    kabilah  atau  dua golongan selama bertahun-tahun hanya karena
    soal semacam itu saja. Dalam sejarah Arab contoh-contoh serupa
    itu  sudah cukup pula dikenal terutama oleh mereka yang pernah
    mempelajarinya
    
    Tetapi, disamping pertimbangan ini masih ada pertimbangan lain
    yang  lebih  penting lagi. Peristiwa seorang wanita yang telah
    menyebabkan terkurungnya Banu Qainuqa, dan  terusirnya  mereka
    dari  Medinah,  adalah sama seperti terbunuhnya putera mahkota
    Austria di Sarayevo dalam tahun 1914  yang  telah  menyebabkan
    pecahnya  Perang  Dunia  dan  melibatkan  seluruh benua Eropa.
    Soalnya hanyalah sepercik  api  yang  menyala,  yang  kemudian
    membakar  hati  kaum Muslimin dan Yahudi bersama-sama demikian
    rupa, sehingga akhirmya dapat menimbulkan letusan serta segala
    akibat yang timbul karenanya.
    
    Sebenarnya,  adanya  orang-orang  Yahudi, adanya orang musyrik
    dan orang-orang munafik di  Medinah,  di  samping  orang-orang
    Islam,  telah  memperkuat  timbulnya perpecahan itu. Dari segi
    politik, Medinah merupakan sebuah kawah yang tidak bisa  tidak
    pasti  akan  meletus.  Jadi,  terkepungnya  Banu  Qainuqa, dan
    dikeluarkannya  mereka  dari  Medinah  adalah  gejala  pertama
    kearah timbulnya letusan itu.
    
    
    Sudah  wajar  sekali  bilamana  penduduk  Medinah di luar kaum
    Muslimin menjadi kecut setelah Banu Qainuqa' dikeluarkan  dari
    kota  itu,  yang  dari  luar  tampak  aman  dan tenteram, tapi
    sebenarnya akan disusul kelak oleh timbulnya angin  badai  dan
    topan.  Keadaan  aman  dan  tenteram ini telah dirasakan orang
    selama sebulan, dan  seharusnya  akan  terus  demikian  selama
    beberapa bulan, kalau tidak karena Abu Sufyan yang sudah tidak
    tahan  lagi  tinggal  lama-lama  di  Mekah,  mendekam  dibawah
    telapak   kehinaan  kekalahannya  di  Badr,  tanpa  menanamkan
    kembali dalam pikiran orang-orang Arab di seluruh  Semenanjung
    itu,  bahwa  Quraisy  masih  kuat, masih bersemangat dan masih
    mampu berperang dan bertempur.
    
    Karena itu, ia lalu mengumpulkan dua ratus orang  -  ada  yang
    mengatakan  empatpuluh orang - dari penduduk bersama-sama dia.
    Apabila mereka sudah sampai di dekat Medinah,  menjelang  pagi
    mereka  berangkat  lagi  ke  sebuah daerah bernama 'Uraidz. Di
    tempat ini mereka  bertemu  dengan  seorang-orang  Anshar  dan
    seorang  teman sekerjanya di kebun mereka sendiri. Kedua orang
    itu mereka bunuh dan dua buah rumah serta sebatang pohon kurma
    di  'Uraidz  itu  mereka  bakar. Menurut Abu Sufyan, sumpahnya
    hendak memerangi Muhammad itu  sudah  terpenuhi.  Sekarang  ia
    kembali  melarikan  diri,  takut  akan  dikejar  oleh Nabi dan
    sahabat-sahabatnya.
    
    Muhammad minta beberapa orang sahabat. Dengan dipimpin sendiri
    mereka  berangkat  mengejarnya  hingga di Qarqarat'l-Kudr. Abu
    Sufyan dan rombongannya makin kencang melarikan  diri.  Mereka
    makin ketakutan. Bahan makanan bawaan mereka yang terdiri dari
    sawiq
    2
     mereka  lemparkan,  yang  kemudian  diambil  oleh  kaum
    Muslimin yang lalu di tempat tersebut.
    
    Setelah   melihat  bahwa  mereka  itu  terus  melarikan  diri,
    Muhammad dan sahabat-sahabatnya kemudian kembali  ke  Medinah.
    Larinya  Abu  Sufyan  itu  berbalik merupakan pukulan terhadap
    dirinya sendiri, sebab sebelum itu ia. mengira  bahwa  Quraisy
    akan  dapat  mengangkat  muka  lagi sesudah terjadinya bencana
    yang pernah dialami di Badr itu
    
    Karena sawiq yang dibuang oleh Quraisy itulah, maka  ekspedisi
    ini dinamai "Ekspedisi Sawiq."
    
    Berita  tentang  Muhammad  ini  kini  tersebar luas di seluruh
    kalangan Arab. Kabilah-kabilah yang jauh-jauh tetap  enak-enak
    di  tempat  mereka,  sedikit sekali memperhatikan keadaan kaum
    Muslimin, yang sampai pada waktu itu  -  masih  menjadi  orang
    yang  lemah,  masih mencari perlindungan di Medinah - sekarang
    mereka telah dapat menahan Quraisy,  dapat  mengeluarkan  Banu
    Qainuqa',  dapat  membuat  Abdullah b. Ubay jadi ketakutan dan
    dapat mengusir Abu Sufyan. Mereka  dapat  memperlihatkan  diri
    dengan suatu sikap yang tidak seperti biasa
    
    Sebaliknya,  kabilah-kabilah  yang  berdekatan  dengan Medinah
    mulai melihat apa yang  akan  mengancam  nasib  mereka  dengan
    adanya  kekuatan Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu. Demikian
    juga adanya perimbangan kekuatan ini dengan  kekuatan  Quraisy
    di  Mekah,  suatu  perimbangan  yang  akibat-akibatnya  sangat
    mereka takutkan. Soalnya ialah karena  jalan  pantai  ke  Syam
    adalah   satu-satunya   jalan  rata  yang  sudah  di  kenal  .
    Perdagangan Mekah melalui jalan ini dalam arti ekonomi membawa
    keuntungan  yang berarti juga bagi kabilah-kabilah itu. Antara
    Muhammad dengan kabilah-kabilah yang ada di perbatasan  pantai
    itu  sudah  ada perjanjian. Tetapi jalan ini sekarang terancam
    dan perjalanan  musim  panaspun  terancam  bahaya  pula,  yang
    mungkin  kelak  Quraisy  akan terpaksa meninggalkan perbatasan
    pantai itu. Apa pula nasib yang akan  menimpa  kabilah-kabilah
    ini apabila perdagangan Quraisy nanti jadi terputus? Bagaimana
    orang  dapat  membayangkan  mereka   akan   dapat   menanggung
    kesulitan hidup diatas daerah yang alamnya memang begitu sulit
    dan tandus? Jadi  sudah  sepatutnya  mereka  memikirkan  nasib
    mereka  itu  serta  apa  pula akibat yang mungkin akan menimpa
    karena situasi baru yang belum  pernah  mereka  kenal  sebelum
    Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya itu hijrah ke Medinah, sebab
    sebelum kemenangan Muslimin di Badr kehidupan  kabilah-kabilah
    itu   belum  pernah  mengalami  ancaman  seperti  yang  mereka
    bayangkan sekarang.
    
    Peristiwa perang Badr itu telah menimbulkan rasa  takut  dalam
    hati  kabilah-kabilah  itu.  Adakah mereka barangkali iri hati
    terhadap Medinah lalu akan menyerang kaum Muslimin,  atau  apa
    yang harus mereka lakukan?
    
    Karena  sudah ada berita yang sampai kepada Muhammad bahwa ada
    beberapa golongan dari Ghatafan dan Banu Sulaim yang bermaksud
    hendak  menyerang  kaum  Muslimin, maka ia segera berangkat ke
    Qarqarat'l-Kudr guna memotong jalan mereka. Di tempat  ini  ia
    melihat  jejak-jejak  binatang ternak tapi tak seorangpun yang
    ada di padang itu. Disuruhnya beberapa orang  sahabatnya  naik
    ke  atas  wadi  dan  dia sendiri menunggu di bawah. Ia bertemu
    dengan seorang anak bernama Yasar. Dari  pertanyaannya  kepada
    anak itu ia mengetahui bahwa rombongan itu naik ke bagian atas
    mata-air. Oleh kaum Muslimin ternak yang  ada  di  tempat  itu
    dikumpulkan  dan  dibagi-bagikan  antara sesama mereka sesudah
    seperlimanya diambil oleh Muhammad, seperti ditentukan menurut
    nas  Quran.  Konon  katanya  barang rampasan itu sebanyak iima
    ratus ekor  unta.  Sesudah  seperlima  dipisahkan  oleh  Nabi,
    sisanya dibagikan. Setiap orang mendapat bagian dua ekor unta.
    
    Juga  sudah  ada berita yang sampai kepada Muhammad, bahwa ada
    beberapa golongan dari Banu Tha'laba dan Banu Muharib  di  Dhu
    Amarr yang telah berkumpul. Mereka bersiap-siap akan melakukan
    serangan.  Nabi  s.a.w.  segera  berangkat  dengan  450  orang
    Muslimin.  Ia  bertemu  dengan  salah  seorang anggota kabilah
    Tha'laba ini, dan ketika  ditanyainya  tentang  rombongan  itu
    ditunjukkannya tempat mereka.
    
    "Muhammad,  kalau mereka mendengar keberangkatanmu ini, mereka
    lari ke puncak-puncak gunung," kata orang itu. "Saya bersedia
    berjalan bersamamu dan menunjukkan tempat-tempat persembunyian
    mereka."
    
    Tetapi orang-orang yang iri hati itu tatkala  mendengar  bahwa
    Muhammad  sudah  berada  dekat dari mereka, cepat-cepat mereka
    lari ke gunung-gunung.
    
    Selanjutnya sampai pula berita, bahwa sebuah  rombongan  besar
    dari  Banu  Sulaim  di  Bahran sudah siap-siap akan menyerang.
    Pagi-pagi sekali ia segera berangkat  dengan  300  orang,  dan
    satu  malam  sebelum  sampai  di  Bahran  dijumpainya  seorang
    laki-laki dari kabilah Banu  Sulaim.  Ketika  ditanyakan  oleh
    Muhammad  tentang  mereka itu, dikatakannya bahwa mereka telah
    cerai-berai dan sudah kembali pulang.
    
    Demikian jugalah halnya dengan orang-orang Arab Badwi,  mereka
    serba  ketakutan  kepada  Muhammad,  gelisah akan nasib mereka
    sendiri.  Begitu  terpikir  oleh  mereka   hendak   berkomplot
    terhadap  Muhammad,  hendak  berangkat memeranginya, tapi baru
    mendengar  saja  mereka,  bahwa  ia  sudah  berangkat   hendak
    menghadapi mereka, hati mereka sudah kecut ketakutan.
    
    Pada  waktu  inilah  pembunuhan  terhadap  Ka'b  b. Asyraf itu
    terjadi, seperti yang sudah kita kemukakan di atas. Sejak  itu
    orang-orang  Yahudi  merasa  ketakutan.  Mereka  tinggal dalam
    lingkungannya sendiri, tak  ada  yang  berani  keluar.  Mereka
    kuatir  akan  mengalami  nasib  seperti Ka'b. Lebih-lebih lagi
    ketakutan mereka, setelah Muhammad menghalalkan  darah  mereka
    sesudah  peristiwa  Banu  Qainuqa' yang sampai harus mengalami
    blokade itu.
    
    Oleh karena itu mereka lalu datang menemui Muhammad mengadukan
    hal-ihwal  mereka. Mereka mengatakan bahwa pembunuhan terhadap
    Ka'b itu  adalah  pembunuhan  gelap,  dia  tidak  berdosa  dan
    persoalannyapun  tidak  diberitahukan.  Tetapi jawabnya kepada
    mereka: Dia  sangat  mengganggu  kami,  mengejek  kami  dengan
    sajak.  Sekiranya  dia  tetap saja seperti yang lain-lain yang
    sepaham dengan dia, tentu dia tidak akan mengalami bencana.
    
    Setelah terjadi pembicaraan yang  cukup  lama  dengan  mereka,
    maka  dimintanya  mereka membuat sebuah perjanjian bersama dan
    supaya mereka dapat menghormati  isi  perjanjian  itu.  Tetapi
    orang-orang  Yahudi  sudah  merasa hina sendiri dan ketakutan,
    meskipun yang tersimpan dalam hati  mereka  terhadap  Muhammad
    akan tampak juga akibatnya kelak.
    
    Apa  yang  harus  dilakukan  Quraisy dengan perdagangannya itu
    setelah ternyata Muhammad kini menguasai jalan tersebut?
    
    Hidupnya Mekah dari perdagangan. Apabila  jalan  ke  arah  itu
    tidak  ada,  maka  ini  adalah  bahaya  yang tidak akan pernah
    dialami oleh kota lain. Sekarang Muhammad akan membuat blokade
    atas jalan itu, dan posisinya akan dihancurkan dari jiwa orang
    Arab.
    
    Dalam hal ini Shafwan b. Umayya berkata di hadapan orang-orang
    Quraisy:
    
    "Perdagangan  kita  sekarang  telah  dirusak oleh Muhammad dan
    pengikut-pengikutnya. Tidak tahu lagi kita apa yang harus kita
    perbuat  terhadap  pengikut-pengikutnya  itu, sementara mereka
    tidak pula mau meninggalkan pantai. Dan orang-orang  pantaipun
    sudah  pula mengadakan perjanjian perdamaian dengan mereka dan
    golongan awamnya juga sudah jadi pengikutnya Tidak tahu dimana
    kita  harus  tinggal.  Kalau  kita tinggal saja di tempat kita
    ini, berarti kita akan makan modal sendiri, dan ini tidak akan
    bisa  bertahan.  Hidup kita di Mekah ini hanya bergantung pada
    perdagangan;  musim  panas  ke  Syam  dan  musim   dingin   ke
    Abisinia."
    
    Aswad b. Abd'l-Muttalib menjawab:
    
    "Jalan ke pantai sudah dibelokkan. Ambil sajalah jalan Irak."
    
    Lalu  ditunjukkannya  kepada  mereka  itu Furat b. Hayyan dari
    kabilah Banu Bakr b. Wa'il supaya menjadi penunjuk jalan.
    
    "Teman-teman Muhammad tidak  pernah  menginjakkan  kakinya  ke
    jalan  Irak,"  kata Furat. "Jalan ini merupakan dataran tinggi
    dan padang pasir."
    
    Tetapi Shafwan tidak takut padang pasir. Selama perjalanan itu
    dalam  musim  dingin  tidak  seberapa  mereka membutuhkan air.
    Untuk itu Shafwan sudah  menyediakan  perak  dan  barang  lain
    seharga  100.000  dirham. Ketika Quraisy sedang sibuk mengatur
    perjalanan yang akan membawa  perdagangannya  itu,  Nuiaim  b.
    Mas'ud al-Asyja'i sedang berada di Mekah. Ia pulang kembali ke
    Medinah.  Apa  yang  dibicarakan  dan  diperbuat  Quraisy  itu
    meluncur  juga  dari  lidahnya dan sampai kepada salah seorang
    dari kalangan Islam. Orang  yang  belakangan  ini  cepat-cepat
    menyampaikan  berita  itu kepada Muhammad. Waktu itu juga Nabi
    menugaskan  Zaid  b.  Haritha  dengan  seratus  orang  pasukan
    berkendaraan.   Mereka  mencegat  perdagangan  itu  di  Qarda,
    (sebuah pangkalan air di Najd). Orang-orang Quraisy  itu  lari
    dan   kafilah   dagangnya  dikuasai  Muslimin.  Ini  merupakan
    rampasan berharga  yang  pertama  sekali  dikuasai  oleh  kaum
    Muslimin.
    
    Kemudian Zaid dan anak buahnya kembali. Setelah yang seperlima
    dipisahkan oleh Muhammad sisanya dibagikan kepada  yang  lain.
    Selanjutnya  Furat  b. Hayyan dibawa, dan untuk keselamatannya
    kepadanya   ditanyakan   untuk   masuk   Islam,   dan   inipun
    diterimanya.
    
    Sesudah  semua  ini  adakah  Muhammad  lalu  merasa puas bahwa
    keadaan sudah stabil? Atau sudah terpesona oleh hari itu  saja
    lalu  melupakan  hari  esoknya?  Ataukah  juga sudah terbayang
    olehnya,  bahwa  ketakutan  kabilah-kabilah  dan  diperolehnya
    rampasan  dari Quraisy sudah menunjukkan, bahwa perintah Allah
    dan perintah RasulNya sudah dapat diamankan dan tak perlu lagi
    dikuatirkan? Ataukah kepercayaannya akan pertolongan Tuhan itu
    berarti ia boleh berbuat sesuka hati, karena sudah  mengetahui
    bahwa  segala  persoalan  keputusannya berada di tangan Tuhan?
    Tidak! Memang benar, segala persoalan keputusannya  di  tangan
    Tuhan.  Tetapi orang tidak akan mendapat perubahan dalam hukum
    Tuhan itu. Tak ada jalan  lagi  orang  akan  membantah  adanya
    naluri  yang  sudah  ditanamkan  Tuhan  dalam dirinya. Quraisy
    sebagai pemimpin orang Arab, tidak mungkin mereka  akan  surut
    dari  tindakan membalas dendam. Kafilah Shafwan b. Umayya yang
    sudah dikuasai  itupun  akan  menambah  hasrat  mereka  hendak
    membalas   dendam,   akan   bertambah  keras  kehendak  mereka
    mengadakan serangan kembali.
    
    Dengan siasatnya yang sehat serta pandangannya yang  jauh  hal
    semacam  itu  oleh  Muhammad tidak akan terabaikan. Jadi sudah
    tentu ia harus menambah kecintaan kaum Muslimin kepadanya, dan
    mempererat   pertalian.   Kendatipun  Islam  sudah  memberikan
    kebulatan tekad  kepada  mereka  dan  membuat  mereka  seperti
    sebuah  bangunan yang kokoh, satu sama lain saling memperkuat,
    namun kebijaksanaan pimpinan terhadap mereka  itu  akan  lebih
    lagi menguatkan kerja-sama dan tekad mereka.
    
    Justeru karena kebijaksanaan pimpinan inilah hubungan Muhammad
    dengan mereka itu makin  erat.  Dalam  hubungan  ini  pula  ia
    melangsungkan   perkawinannya   dengan   Hafsha,  puteri  Umar
    ibn'l-Khattab, seperti juga sebelum itu dengan Aisyah,  puteri
    Abu  Bakr. Sebelum itu Hafsha adalah isteri Khunais - termasuk
    orang yang mula-mula dalam Islam - yang sudah meninggal  tujuh
    bulan lebih dulu sebelum perkawinannya dengan Muhammad. Dengan
    perkawinannya kepada Hafsha ini, kecintaan Umar  ibn'l-Khattab
    kepadanya  makin  besar Juga Fatimah, puterinya, dikawinkannya
    dengan  sepupunya,  Ali  (b.  Abi  Talib),  orang  yang  sejak
    kecilnya  sangat  cinta  dan  ikhlas  kepada Nabi. Oleh karena
    Ruqayya,  puterinya,  telah  berpulang  ke  rahmatullah,  maka
    sesudah  itu  Usman  b.  'Affan dikawinkannya kepada puterinya
    yang seorang lagi, Umm Kulthum.
    
    Dengan demikian, ia diperkuat  lagi  oleh  pertalian  keluarga
    semenda  dengan  Abu  Bakr, Umar, Usman dan Ali. Ini merupakan
    gabungan  empat  orang  kuat   dalam   Islam   yang   sekarang
    mendampinginya, bahkan yang terkuat. Dengan ini kekuatan dalam
    tubuh kaum Muslimin makin mendapat jaminan  lagi.  Di  samping
    itu  rampasan  perang yang mereka peroleh dalam peperangan itu
    menambah pula keberanian mereka bertempur, yang juga merupakan
    gabungan  antara berjuang di jalan Allah dan mendapat rampasan
    perang dari orang-orang musyrik.
    
    Dalam pada itu, berita-berita serta segala  persiapan  Quraisy
    selalu  diikuti dengan saksama dan sangat teliti sekali. Pihak
    Quraisy  sendiri  memang  sudah  mengadakan  persiapan  hendak
    menuntut  balas,  dan  membuka  jalan  perdagangannya ke Syam;
    supaya dari segi perdagangan dan segi  keagamaannya  kedudukan
    Mekah   jangan   sampai   meluncur   jatuh  tidak  lagi  dapat
    mempertahankan diri.
    
    Catatan kaki:
    
     1 Perlu dijelaskan disini   kalau dasar centa ini benar
       bahwa peristiwa itu bukanlah atas perintah Nabi, seperti
       ada orang mengira demikian. Tetapi mereka telah
       mengambil tindakan sendiri, seperti kata Haekal. Jiwa
       dan akhlak Nabi jauh lebih tinggi daripada akan
       melakukan kekerasan. Dalam peperanganpun melarang
       membunuh orang berusia lanjut, anak-anak, wanita,
       sekalipun yang ikut aktif. Peristiwa Hindun bt. 'Utba
       dalam perang Uhud, wanita Yahudi yang meracun Nabi dan
       penyair Abu 'Azza, adalah dari sekian banyak contoh.
       Malah kemudian mereka dimaafkan. Yang perlu kita ketahui
       juga, bahwa 'Umaõr b. 'Auf adalah satu kabilah dengan
       suami 'Ashma,' yakni dari Khatma, demikian juga Abu
       'Afak masih sekabilah dengan Salim, yakni dari Banu 'Amr
       b. 'Auf, dengan motif yang hampir sama (A).
    
     2 Sejenis tepung jelai atau gandum (A).
    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/BadrUhud2.html

     

     
    • wikki 2:42 pm on 24/08/2012 Permalink | Reply

      dimana mana setiap ada kata kata Muhammad tidak terlepas dari kata perang dan perempuan dan kekerasan dengan mengatas namakan allah..aneh….

      • SERBUIFF 2:29 am on 25/08/2012 Permalink | Reply

        perang untuk membela diri….muhammad mengankat harkat martabat perempuan…

        • wikki 3:18 pm on 25/08/2012 Permalink | Reply

          membela diri ????mengangkat martabat wanita ????? emang kemana allahnya ???? kenapa allahnya tidak membela muhammad..???? >>>kemudian membela harkat martabat wanita ???? ingat kah saudara pada kejadian ruyaty?? tahukah saudara apa penyebabnya hingga dihukum pancung/??? apa saudara masih mempertahankan mengangkat harkat martabat wanita ???ingat itu baru satu tuty yang diperkosa 9 orang di arab saudi malah dihukum pancung …apakah sdr masih mengelak????atau harus kubuka lagi//??? dimana pembelaanmu terhadap perempuan ketika hukuman ini berlangsung..???? mana quranmu yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita itu????? pasti diamlah kamu 1000 bahasa..

    • wikki 7:07 am on 25/08/2012 Permalink | Reply

      membela diri ????bukankah muhammad adalah nabi??? mengapa harus dia sendiri membela dirinya ..kemana allahnya …apakah allahnya cuma bisa nonton .dan mengurusi urusan biologis muhammad saja???? lihat nabi nabi yang lain atau musa salah satunya ….ketika musa dikejar oleh bangsa mesir musa tidak berperang..melawan mesir …rakyatnya aman aman saja….Tuhan yang berperang untuk mereka ..musa dilindungi..lalu muhammad yang ngaku nabi ini kenapa diperlakukan tidak adil… padahal nabi kesayangan pula ..sudah diambil dosanya waktu anak anak..oleh malaikat..lalu kenapa pada saat genting ketahuan lagi nge sex dengan mariyam oleh hafsah .ditempat tidur allah langsung menurunka pembatalan sumpah muhammad.???? tapi ketika diluar rumah allah tidak hadir melidungi …mana????

    • wikki 11:36 am on 25/08/2012 Permalink | Reply

      bau amis darah

  • SERBUIFF 1:42 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: PERANG KHANDAQ1 DAN BANU QURAIZA Muhammad Husain Haekal   

    PERANG KHANDAQ1 DAN BANU QURAIZA Muhammad Husain Haekal 

     

    PERANG KHANDAQ1 DAN BANU QURAIZA
    Muhammad Husain Haekal                                   (1/3)
    
       Huyayy b. Akhtab menghasut semua masyarakat Arab
       melawan Muslimin - Sepuluh ribu prajurit menuju Medinah
       - Salman al-Farisi mengusulkan penggalian parit sekitar
       kota - Quraisy dan Ghatafan mengepung kota - Banu
       Quraiza melanggar perjanjian dengan pihak Muslimin -
       Hilangnya kepercayaan Arab-Yahudi - Kabilah-kabilah
       Arab menarik diri dari Medinah - Pengepungan Banu
       Quraiza.
    
    SETELAH Medinah dikosongkan dari Banu Nadzir, kemudian setelah
    peristiwa   Badr   Terakhir  dan  sesudah  ekspedisi-ekspedisi
    Ghatafan  dan  Dumat'l-Jandal  berlalu,  tiba  waktunya   kaum
    Muslimin   sekarang  merasakan  hidup  yang  lebih  tenang  di
    Medinah. Mereka sudah dapat mengatur hidup, sudah tidak begitu
    banyak  mengalami kesulitan berkat adanya rampasan perang yang
    mereka peroleh dari  peperangan  selama  itu,  meskipun  dalam
    banyak  hal  kejadian  ini  telah membuat mereka lupa terhadap
    masalah-masalah pertanian dan  perdagangan.  Tetapi  disamping
    ketenangan   itu   Muhammad  selalu  waspada  terhadap  segala
    tipu-muslihat  dan   gerak-gerik   musuh.   Mata-mata   selalu
    disebarkan    ke   seluruh   pelosok   jazirah,   mengumpulkan
    berita-berita sekitar kegiatan  masyarakat  Arab  yang  hendak
    berkomplot  terhadap  dirinya. Dengan demikian ia selalu dalam
    siap-siaga, sehingga kaum Muslimin dapat selalu mempertahankan
    diri.
    
    Tidak   begitu  sulit  orang  menilai  betapa  perlunya  harus
    bersikap waspada dan berhati-hati selalu setelah kita  melihat
    adanya  segala  macam  tipu-muslihat  Quraisy  dan  yang bukan
    Quraisy terhadap kaum Muslimin, juga karena negeri-negeri masa
    itu  -  juga  sesudah  itu  sebagian  besar dalam perkembangan
    sejarahnya  masing-masing  mereka  itu  merupakan   sekumpulan
    republik-republik   kecil,   yang   satu   sama  lain  berdiri
    sendiri-sendiri.  Mereka  masing-masing   menggunakan   sistem
    organisasi  yang  lebih  dekat pada cara-cara kabilah. Hal ini
    memaksa mereka harus berlindung pada adat-lembaga dan  tradisi
    yang ada, yang tidak mudah dapat kita bayangkan seperti halnya
    pada bangsa-bangsa yang sudah teratur. Dalam hal ini  Muhammad
    pun  sebagai  orang Arab sangat waspada sekali mengingat nafsu
    hendak membalas dendam yang ada dalam naluri orang-orang  Arab
    itu besar sekali. Baik Quraisy maupun Yahudi Banu Qainuqa' dan
    Yahudi  Banu  Nadzir,  demikian  juga   kabilah-kabilah   Arab
    Ghatafan,  Hudhail  dan kabilah-kabilah yang berbatasan dengan
    Syam,   mereka   saling   menunggu,   bahwa    Muhammad    dan
    sahabat-sahabatnya  itu  akan  binasa.  Kalaupun  mereka  akan
    mendapat  kesempatan,  masing-masing   berharap   akan   dapat
    mengadakan  balas  dendam  terhadap  laki-laki  yang  sekarang
    datang mencerai-beraikan masyarakat  Arab  dengan  kepercayaan
    mereka itu. Laki-laki yang pergi keluar Mekah, mengungsi dalam
    keadaan tidak berdaya, tidak punya kekuatan, selain iman  yang
    telah  memenuhi jiwanya yang besar itu, dalam waktu lima tahun
    sekarang orang ini  sudah  kuat,  sudah  mempunyai  kemampuan,
    sehingga  kota-kota  dan  kabilah-kabilah  Arab  yang  terkuat
    sekalipun, merasa segan kepadanya.
    
    Orang-orang Yahudi ialah  musuh  Muhammad  yang  paling  tajam
    memperhatikan  ajaran-ajaran  dan  cara  berdakwahnya.  Dengan
    kemenangannya itu merekalah yang paling banyak memperhitungkan
    nasib  yang telah menimpa diri mereka. Mereka di negeri-negeri
    Arab sebagai penganjur-penganjur ajaran tauhid  (monotheisma).
    Mengenai penguasaan bidang ini mereka bersaingan sekali dengan
    pihak Kristen. Mereka selalu berharap akan  dapat  mengalahkan
    lawannya ini. Dan barangkali mereka benar juga mengingat bahwa
    orang-orang Yahudi ialah bangsa Semit yang pada dasarnya lebih
    condong pada pengertian monotheisma. Sementara ajaran trinitas
    Kristen suatu hal yang tidak mudah dapat dicernakan oleh  jiwa
    Semit.  Dan  sekarang  Muhammad, orang yang berasal dari pusat
    Arab dan dari pusat orang-orang  Semit  sendiri,  menganjurkan
    ajaran  tauhid  dengan cara yang sungguh kuat dan mempesonakan
    sekali, dapat menjelajahi dan merasuk  sampai  ke  lubuk  hati
    orang,  dan  mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih
    tinggi. Sekarang ia sudah begitu kuat, dapat mengeluarkan Banu
    Qainuqa' dari Medinah, mengusir Banu Nadzir dari daerah koloni
    mereka. Dapatkah mereka membiarkannya terus begitu, dan mereka
    sendiri  pergi  ke  Syam  atau pulang ke tanah air mereka yang
    pertama,  ke  Bait'l-Maqdis   (Yerusalem)   di   Negeri   yang
    Dijanjikan  - Ardz'l-Mi'ad - (Palestina), ataukah mereka harus
    berusaha menghasut orang-orang Arab itu supaya dapat  membalas
    dendam kepada Muhammad?
    
    Rencana  hendak  menghasut orang-orang Arab adalah yang paling
    terutama menguasai pikiran pemuka-pemuka  Banu  Nadzir.  Untuk
    melaksanakan  rencana itu, beberapa orang dari kalangan mereka
    pergi hendak menemui Quraisy di  Mekah.  Mereka  terdiri  dari
    Huyayy   b.   Akhtab.   Sallam   b.  Abi'l-Huqaiq  dan  Kinana
    bin'l-Huqaiq, bersama-sama dengan  beberapa  orang  dari  Banu
    Wa'il Hawadha b. Qais dan Abu 'Ammar.
    
    Ketika  oleh  pihak Mekah, Huyayy ditanya mengenai golongannya
    itu ia menjawab:
    
    "Mereka saya biarkan mundar-mandir ke Khaibar dan  ke  Medinah
    sampai  tuan-tuan  nanti datang ke tempat mereka dan berangkat
    bersama-sama menghadapi Muhammad dan sahabatsahabatnya."
    
    Ketika oleh mereka ditanya tentang Quraiza, ia menjawab:
    
    "Mereka tinggal di Medinah sekedar  mau  mengelabui  Muhammad.
    Kalau  tuan-tuan  sudah datang mereka akan bersama-sama dengan
    tuan-tuan."
    
    Pihak Quraisy jadi ragu-ragu  akan  maju,  atau  mundur  saja.
    Mereka   dengan  Muhammad  tidak  berselisih  apa-apa,  selain
    ajarannya tentang Tuhan. Bukan tidak mungkinkah bahwa dia juga
    yang benar, sebab makin hari ajarannya itu ternyata makin kuat
    dan tinggi juga?
    
    "Tuan-tuan  dari   golongan   Yahudi,"   kata   pihak-Quraisy.
    "Tuan-tuan   adalah   ahli  kitab  yang  mula-mula  dan  sudah
    mengetahui pula apa  yang  menjadi  pertentangan  antara  kami
    dengan  Muhammad.  Soalnya  sekarang: manakah yang lebih baik,
    agama kami atau agamanya."
    
    Pihak Yahudi menjawab:
    
    "Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan  lebih
    benar dari dia."
    
    Dalam hal ini firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan;
    
    "Tidakkah  engkau  perhatikan  orang-orang  yang  telah diberi
    sebahagian kitab? Mereka percaya kepada sihir dan berhala  dan
    mereka  berkata  kepada orang-orang kafir: 'Jalan mereka lebih
    benar dari orang yang beriman.'  Mereka  itulah  yang  dikutuk
    oleh  Tuhan.  Dan barangsiapa yang dikutuk Tuhan, maka baginya
    takkan ada penolong." (Qur'an, 4: 51-52)
    
    Dalam posisi orang-orang Yahudi menghadapi Quraisy ini  dengan
    sikap  lebih  mengutamakan  paganisma  mereka  daripada tauhid
    Muhammad, maka dalam  Tarikh'l-Yahudi  fi  Bilad'l-'Arab,  Dr.
    Israel  Wilfinson  menyebutkan:  "Seharusnya  mereka itu tidak
    boleh sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang begitu  kotor,
    dan   jangan   pula   berkata  dengan  terus-terang  di  depan
    pemuka-pemuka Quraisy, bahwa cara menyembah berhala itu  lebih
    baik  daripada  tauhid  seperti yang diajarkan Islam, meskipun
    hal  itu  akan  mengakibatkan  permintaan  mereka  tidak  akan
    dipenuhi.  Oleh  karena  orang-orang Israil sejak berabad-abad
    lamanya atas nama nenek-moyang dahulu kala  sebagai  pengemban
    panji  tauhid  (monotheisma)  diantara bangsa-bangsa di dunia,
    dan  telah  pula   mengalami   pelbagai   macam   penderitaan,
    pembunuhan  dan  penindasan  hanya  karena  iman mereka kepada
    Tuhan Yang Tunggal itu, yang mereka alami dalam berbagai zaman
    selama  dalam  perkembangan  sejarah,  maka  sudah  seharusnya
    mereka itu bersedia mengorbankan  hidup  mereka,  mengorbankan
    segala yang mereka cintai dalam menghadapi dan menaklukan kaum
    musyrik itu. Apalagi dengan minta  perlindungan  kepada  pihak
    penyembah  berhala,  itu  berarti  mereka telah memerangi diri
    sendiri serta  menentang  ajaran-ajaran  Taurat  yang  meminta
    mereka   menjauhi   penyembah-penyembah   berhala   dan  dalam
    menghadapi mereka supaya bersikap seperti menghadapi musuh.
    
    Huyayy b. Akhtab dan orang-orang Yahudi  yang  sepaham  dengan
    dia,  yang  telah  mengatakan  kepada  Quraisy bahwa paganisma
    mereka lebih  baik  daripada  tauhid  Muhammad  dengan  maksud
    supaya   mereka   sudi  memeranginya,  dan  yang  akan  mereka
    laksanakan setelah sekian  bulan  disiapkan,  tampaknya  tidak
    cukup  sampai di situ saja. Malah orang-orang Yahudi itu pergi
    lagi menemui kabilah Ghatafan2 yang terdiri dari Qais  'Ailan,
    Banu  Fazara,  Asyja'  Sulaim, Banu Sa'd dan Asad, serta semua
    pihak yang ingin menuntut balas kepada  Muslimin.  Mereka  ini
    aktif  sekali  mengerahkan  orang supaya menuntut balas dengan
    menyebutkan bahwa Quraisy juga ikut serta memerangi  Muhammad.
    Paganisma  Quraisy  mereka  puji dan mereka menjanjikan, bahwa
    mereka pasti akan mendapat kemenangan.
    
    Kelompok-kelompok

    3

      yang  sudah  diorganisasikan  oleh   pihak
    Yahudi  itu  kini  berangkat  hendak  memerangi  Muhammad  dan
    sahabat-sahabatnya. Dari pihak Quraisy yang dipimpin oleh  Abu
    Sufyan  sudah  disiapkan  4000 orang prajurit, tiga ratus ekor
    kuda dan 1500 orang dengan unta. Pimpinan brigade yang disusun
    di  Dar'n-Nadwa diserahkan kepada 'Uthman b. Talha. Ayah orang
    ini telah mati terbunuh dalam memimpin pasukan di  Uhud.  Banu
    Fazara  yang  dipimpin oleh 'Uyaina b. Hishn b. Hudhaifa telah
    siap dengan sejumlah pasukan besar dan 100 unta. Sedang Asyja'
    dan  Murra  masing-masing  membawa  400  prajurit. Pihak Murra
    dipimpin oleh Al-Harith b. 'Auf dan  dari  pihak  Asyja'  oleh
    Misiar   ibn  Rukhaila.  Menyusul  pula  Sulaim,  biang-keladi
    peristiwa Bi'r Ma'una, dengan  700  orang.  Mereka  itu  semua
    berkumpul,  yang  kemudian  datang  pula  Banu  Sa'd  dan Asad
    menggabungkan  diri.  Jumlah  mereka  kurang  lebih   semuanya
    menjadi  10.000  orang.  Semua  mereka  itu  berangkat  menuju
    Medinah dibawah pimpinan Abu Sufyan.
    
    Setelah mereka  sampai,  selama  dalam  perang,  pemuka-pemuka
    kabilah  itu  saling bergantian pimpinan, masing-masing sehari
    mendapat giliran.
    
    Berita keberangkatan mereka ini sampai  juga  kepada  Muhammad
    dan  kaum  Muslimin  di  Medinah.  Mereka  merasa  gentar. Ya,
    sekarang seluruh kabilah Arab  sudah  bersatu  sepakat  hendak
    menumpas   dan   memusnahkan   mereka,   sudah  datang  dengan
    perlengkapan dan jumlah manusia yang  besar,  suatu  hal  yang
    dalam  sejarah  peperangan  Arab  secara  keseluruhannya belum
    pernah  terjadi.  Apabila  dalam  perang  Uhud  Quraisy  telah
    mendapat   kemenangan   atas   mereka,  ketika  mereka  keluar
    menyongsong keluar Medinah, padahal baik  jumlah  perlengkapan
    maupun  jumlah  manusia  jauh di bawah pasukan sekutu ini, apa
    lagi  yang  dapat  dilakukan  kaum  Muslimin  sekarang   dalam
    menghadapi   jumlah  pasukan  yang  terdiri  dari  beribu-ribu
    rnanusia itu  -  barisan  berkuda,  unta,  persenjataan  serta
    perlengkapan lainnya?! Tidak ada jalan lain, hanya bertahan di
    Yathrib  yang  masih  perawan  ini,  seperti  dikatakan   oleh
    Abdullah b. Ubayy.
    
    Tetapi   cukup  hanya  bertahan  sajakah  menghadapi  kekuatan
    raksasa  itu?  Salman  al-Farisi  adalah  orang  yang   banyak
    mengetahui  seluk-beluk  peperangan,  yang  belum  dikenal  di
    daerah-daerah Arab. Ia menyarankan supaya di  sekitar  Medinah
    itu  digali parit dan keadaan kota diperkuat dari dalam. Saran
    ini segera dilaksanakan oleh kaum  Muslimin.  Ketika  menggali
    parit  itu  Nabi  a.s.  juga  dengan  tangannya  sendiri  ikut
    bekerja. Ia turut mengangkat tanah dan  sambil  terus  memberi
    semangat,  dengan  menganjurkan  kepada  mereka  supaya  terus
    melipat  gandakan  kegiatan.  Pihak  Muslimin  sudah   membawa
    alat-alat  yang  diperlukan,  terdiri  dari sekop, cangkul dan
    keranjang pengangkut  tanah  dari  tempat  orang-orang  Yahudi
    Quraiza yang masih berada di bawah pihak Islam. Dengan bekerja
    giat terus-menerus penggalian parit itu  selesai  dalam  waktu
    enam hari. Dalam pada itu dinding-dinding rumah yang menghadap
    ke arah  datangnya  musuh,  yang  jaraknya  dengan  parit  itu
    kira-kira dua farsakh, diperkuat pula. Rumah-rumah yang ada di
    belakang  parit  itu   dikosongkan.   Wanita   dan   anak-anak
    ditempatkan  dalam  rumah-rumah  yang  sudah diperkuat, dan di
    samping parit dari arah Medinah ditaruh pula  batu  supaya  di
    waktu perlu dapat dilemparkan sebagai senjata.
    
    Tatkala  pihak  Quraisy  dan  kelompok-kelompoknya  itu datang
    dengan harapan akan menemui Muhammad di Uhud, ternyata  tempat
    itu  kosong.  Mereka  meneruskan  perjalanan  ke Medinah; tapi
    mereka dikejutkan oleh adanya parit. Di  luar  dugaan  semula,
    mereka  heran sekali melihat jenis pertahanan yang masih asing
    bagi mereka itu. Dibawa  oleh  perasaan  jengkel,  mereka  pun
    menganggap  bahwa berlindung di balik parit semacam itu adalah
    suatu perbuatan pengecut yang belum pernah terjadi di kalangan
    masyarakat  Arab.  Pasukan  Quraisy  dan sekutu-sekutunya lalu
    bermarkas di Mujtama'l'-As-yal di  daerah  Ruma,  dan  pasukan
    Ghatafan  serta  pengikut-pengikutnya  dari Najd, bermarkas di
    Dhanab Naqama. Sedang Muhammad sekarang berangkat dengan  tiga
    ribu  orang  Muslimin,  dengan  membelakanyi  bukit  Sal'  dan
    dijadikannya parit itu sebagai batas dengan  pihak  musuh.  Di
    tempat inilah ia bermarkas dan memasang kemahnya yang berwarna
    merah.
    
    Pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya melihat,  bahwa
    tidak  mungkin  mereka  menerobos  parit  itu. Dengan demikian
    selama beberapa hari  mereka  hanya  saling  melemparkan  anak
    panah. Abu Sufyan sendiri dengan pengikutpengikutnya pun yakin
    bahwa akan  sia-sia  saja  mereka  lama-lama  menghadapi  kota
    Yathrib  dengan  paritnya  itu, karena tidak akan dapat mereka
    menerobosnya
    
    Pada waktu itu sedang  terjadi  musim  dingin  yang  luarbiasa
    disertai   angin   badai   yang   bertiup   kencang,  sehingga
    sewaktu-waktu  dikawatirkan  hujan  lebat  akan  turun.  Kalau
    orang-orang  Mekah  dan orang-orang Ghatafan dengan mudah saja
    dapat berlindung dalam rumah-rumah mereka  di  Mekah  atau  di
    Ghatafan,  maka  kemah-kemah  yang  mereka  pasang sekarang di
    depan kota Yathrib itu  sama-sekali  takkan  dapat  melindungi
    mereka.  Disamping  itu  tadinya  memang mereka mengharap akan
    memperoleh  kemenangan  secara  lebih   mudah,   tidak   perlu
    susah-payah  seperti  pada  waktu di Uhud. Mereka akan kembali
    pulang dengan menyanyikan lagu-lagu kemenangan serta menikmati
    adanya  pembagian  barang-barang  jarahan dan rampasan perang.
    Jadi apalagi kalau begitu yang  masih  menahan  Ghatafan  buat
    kembali  pulang?! Mereka ikut melibatkan diri dalam perang itu
    hanya karena pihak Yahudi  pernah  menjanjikan  mereka  dengan
    buah-buahan  hasil  pertanian  dan perkebunan Khaibar, apabila
    mereka memperoleh kemenangan, Tetapi sekarang  mereka  melihat
    untuk  memperoleh  kemenangan  itu tampaknya tidak mudah, atau
    setidak-tidaknya sudah diluar kenyataan.  Dalam  musim  dingin
    yang   begitu   hebat  rupanya  diperlukan  kerja  keras  yang
    luarbiasa yang akan membuat  mereka  lupa  segala  buah-buahan
    berikut kebun-kebunnya itu!
    
    Sebaliknya  pihak  Quraisy  yang  hendak menuntut balas karena
    peristiwa Badr dan kekalahan-kekalahan lain sesudah Badr, pada
    suatu waktu masih akan dapat mengejar dengan harapan parit itu
    tidak akan  selamanya  berada  dalam  genggaman  Muhammad  dan
    selama  pihak  Banu  Quraiza masih bersedia memberikan bantuan
    kepada penduduk Yathrib, yang  akan  memperpanjang  perlawanan
    mereka  sampai berbulan-bulan. Bukankah lebih baik pihak Ahzab
    itu kembali pulang saja? Ya! Akan tetapi mengumpulkan  kembali
    kelompok-kelompok  itu  nanti  buat  memerangi  Muhammad  lagi
    bukanlah soal yang mudah. Sebenarnya orang-orang  Yahudi  itu,
    terutama  Huyayy b. Akhtab sebagai pemimpin mereka, sekali itu
    telah berhasil mengumpulkan kabilah-kabilah itu untuk membalas
    dendam   golongannya   dan  golongan  Banu  Qainuqa'  terhadap
    Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Apabila kesempatan itu  sudah
    hilang,  maka  jangan  diharap  ia  akan kembali, dan bilamana
    Muhammad mendapat kemenangan  dengan  ditariknya  pihak  Ahzab
    itu, maka bahaya besar akan mengancam pihak Yahudi.
    
    Semua  itu  sudah  diperhitungkan  oleh  Huyayy  b. Akhtab. Ia
    kuatir  akan  akibatnya.  jalan  lain  tidak  ada.  Ia   harus
    mempertaruhkan  nasib  terakhir.  Kepada  pihak  Ahzab  itu ia
    membisikkan, bahwa ia  sudah  dapat  meyakinkan  Banu  Quraiza
    supaya  membatalkan  perjanjian  perdamaiannya dengan Muhammad
    dan pihak Muslimin, dan selanjutnya  akan  menggabungkan  diri
    dengan  mereka, dan bahwa begitu Banu Quraiza melaksanakan hal
    ini, maka dari suatu segi  terputuslah  semua  perbekalan  dan
    bala  bantuan  kepada  Muhammad itu, dan dari, segi lain jalan
    masuk ke Yathrib akan terbuka.  Quraisy  dan  Ghatafan  merasa
    gembira atas keterangan Huyayy itu. Huyayy sendiri cepat-cepat
    berangkat  hendak   menemui   Ka'b   b.   Asad,   orang   yang
    berkepentingan  dengan  adanya  perjanjian  Banu  Quraiza itu.
    Tetapi begitu mengetahui kedatangannya itu Ka'b sudah  menutup
    pintu  bentengnya,  dengan  perhitungan  bahwa pembelotan Banu
    Quraiza terhadap Muhammad dan membatalkan perjanjiannya secara
    sepihak   kemudian   menggabungkan   diri   dengan   musuhnya,
    adakalanya memang akan  menguntungkan  pihak  Yahudi  kalaupun
    pihak Muslimin yang dapat dihancurkan. Tetapi sebaliknya sudah
    seharusnya pula mereka akan habis samasekali bila pihak  Ahzab
    itu  yang  mengalami kekalahan dan kekuatan mereka hilang dari
    Medinah. Sungguhpun begitu Huyayy terus juga berusaha,  hingga
    akhirnya pintu benteng itu dibuka.
     
    "Ka'b,  sungguh  celaka,"  katanya kemudian. "Saya datang pada
    waktu yang tepat dan membawa  tenaga  yang  tepat  pula.  Saya
    datang  membawa  Quraisy  dan Ghatafan dengan pemimpinpemimpin
    dan pemuka-pemuka  mereka.  Mereka  sudah  berjanji  kepadaku,
    bahwa  mereka tidak akan beranjak sebelum dapat mengikis habis
    Muhammad dan kawan-kawannya itu."
    
    Tetapi Ka'b masih juga maju mundur. Disebutnya kejujuran serta
    kesetiaan  Muhammad  kepada  perjanjian  itu.  Ia  kuatir akan
    akibatnya atas apa yang diminta oleh Huyayy itu. Tetapi Huyayy
    masih  terus  menyebut-nyebut bencana yang dialami orang-orang
    Yahudi karena Muhammad itu, dan juga bencana yang akan  mereka
    alami sendiri nanti bilamana Ahzab tidak berhasil mengikisnya.
    Diuraikannya juga kekuatan pihak Ahzab itu serta  perlengkapan
    dan  jumlah  orangnya.  Yang  sekarang masih merintangi mereka
    untuk menumpas semua orang-orang Islam dalam sekejap mata itu,
    hanyalah parit itu saja. Sekarang Ka'b sudah mulai lunak.
    
    "Kalau pasukan Ahzab itu berbalik?" tanyanya kemudian. Di sini
    Huyayy memberikan jaminan, bahwa kalau  Quraisy  dan  Ghatafan
    sampai  kembali  dan tidak berhasil menghantam Muhammad ia pun
    akan tinggal dalam benteng itu  dan  akan  tetap  bersama-sama
    dalam  seperjuangan.  Dalam  hati  Ka'b  nafsu Yahudinya sudah
    mulai  bergerak-gerak.  Permintaan  Huyayy  itu   diterimanya,
    perjanjian   dengan   Muhammad   dan   kaum   Muslimin   mulai
    dilanggarnya dan ia sudah  keluar  dari  sikap  kenetralannya.
    
    Berita-berita  penggabungan  Quraiza  dengan  pihak  Ahzab itu
    sampai juga kepada  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya.  Mereka
    sangat  terkejut  sekali  dan  kuatir  juga  akan  akibat yang
    mungkin terjadi. Muhammad  segera  mengutus  Sa'd  b.  Mu'adh,
    pemimpin  Aus  dan  Sa'd b. 'Ubada, pemimpin Khazraj, disertai
    pula oleh Abdullah b.  Rawaha  dan  Khawat  b.  Jubair  dengan
    tujuan  supaya  mempelajari  duduk  perkara  yang  sebenarnya.
    Bilamana mereka kembali  pulang,  hendaknya  dapat  memberikan
    isyarat kalau memang hal itu benar, supaya jangan nanti sampai
    mematahkan semangat orang.
    
    Tetapi sesampainya para  utusan  itu  kesana,  mereka  melihat
    keadaan  Quraiza justeru lebih jahat lagi dari apa yang pernah
    mereka dengar semula. Diusahakan juga oleh utusan  itu  supaya
    mereka  mau  menghormati  perjanjian  yang  ada.  Tetapi  Ka'b
    berkata kepada mereka, supaya orang-orang Yahudi  Banu  Nadzir
    dikembalikan  ke  kampung  halaman  mereka. Ketika itu Said b.
    Mu'adh - yang juga bersahabat  baik  dengan  pihak  Quraiza  -
    mencoba meyakinkan supaya jangan sampai mereka mengalami nasib
    seperti yang pernah dialami oleh Banu Nadzir, atau yang  lebih
    parah   lagi   dari  itu.  Pihak  Yahudi  sekarang  mau  terus
    melancarkan serangan kepada Muhammad a.s.
    
    "Siapa Rasulullah itu!?" kata  Ka'b.  "Kami  dengar  Muhammad
    tidak  terikat  oleh  sesuatu persahabatan atau perjanjian apa
    pun!"
    
    Kedua belah pihak itu lalu saling adu mulut.
    
    Utusan-utusan Muhammad  pulang.  Mereka  melaporkan  apa  yang
    telah   mereka   saksikan.   Bencana   besar  kini  mengancam.
    Kekuatiran makin menjadi-jadi. Penduduk Medinah  kini  melihat
    pihak  Quraiza  telah  membukakan  jalan bagi Ahzab, yang akan
    memasuki kota dan membasmi mereka. Hal ini bukan hanya sekedar
    khayal  dan  ilusi  saja. Terbukti Banu Quraiza sekarang sudah
    memutuskan segala bantuan dan  bahan  makanan  kepada  mereka.
    Juga    terbukti    sekembalinya   Huyayy   b.   Akhtab   yang
    memberitahukan kepada mereka, bahwa  Quraiza  telah  tergabung
    dengan  pihak Quraisy dan Ghatafan - jiwa mereka sudah berubah
    dan mereka sudah siap-siap melakukan peperangan. Soalnya  lagi
    pihak  Quraiza  telah  memperpanjang waktu selama sepuluh hari
    lagi buat pihak Ahzab guna mengadakan  persiapan,  asal  Ahzab
    selama   sepuluh   hari  itu  benar-benar  mau  menyerbu  kaum
    Muslimin. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Mereka  telah
    menyusun  tiga  buah pasukan besar guna memerangi Nabi. Sebuah
    pasukan dibawah  pimpinan  Ibn'l-A'war  as-Sulami  didatangkan
    dari  jurusan  sebelah  atas  wadi, pasukan yang dipimpin oleh
    'Uyayna b. Hishn datang dari sebelah samping, dan pasukan yang
    dipimpin  oleh  Abu Sufyan ditempatkan di jurusan parit. Dalam
    peristiwa inilah ayat berikut ini turun:
    
    "Tatkala mereka datang kepadamu dari jurusan atas  dan  bawah,
    dan pandangan mata sudah jadi kabur, hati pun naik menyekat di
    kerongkongan (sangat gelisah), ketika  itu  kamu  berprasangka
    tentang  Tuhan,  prasangka  yang  salah  belaka.  Saat  itulah
    orang-orang yang beriman mendapat cobaan dan mereka  mengalami
    keguncangan  yang  hebat sekali. Dan ingat! ketika orang-orang
    munafik dan orang-orang yang  berpenyakit  dalam  hatinya  itu
    berkata:  Apa  yang  dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kami
    hanyalah tipu daya  belaka.  Juga  ketika  ada  satu  golongan
    diantara  mereka itu berkata: "Wahai penduduk Yathrib! Tak ada
    tempat buat kamu. Kembalilah kamu pulang."  Dan  ada  sebagian
    dari  mereka itu yang meminta ijin kepada Nabi seraya berkata:
    'Sesungguhnya rumah-rumah  kami  terbuka.'  Tetapi  sebenarnya
    tidak  terbuka.  Hanya  saja mereka itu ingin melarikan diri."
    (Qur'an, 33: 10-13)
    
    Tetapi buat  penduduk  Yathrib  masih  dapat  dimaafkan  kalau
    mereka   sampai   begitu  takut  dan  hati  mereka  terguncang
    karenanya. Mereka yang masih dapat dimaafkan  itu  ialah  yang
    berpendapat:   Dulu  Muhammad  menjanjikan  kami,  bahwa  kami
    mendapat  harta  kekayaan  Kisra  dan  Kaisar  Rumawi.  Tetapi
    sekarang  orang  sudah  merasa tidak aman lagi sekalipun hanya
    akan pergi ke kebun. Pandangan mata mereka yang jadi kabur pun
    dapat  dimaafkan.  Demikian  juga  mereka  yang  merasa sangat
    gelisah dalam ketakutan dapat juga  dimaafkan.  Bukankah  maut
    juga  yang  sekarang  sedang  menari-nari  di  depan  matanya,
    menjilat-jilat menyala keluar dari mata pedang yang di  tangan
    Quraisy  dan  Ghatafan,  menyusup-nyusup  kedalam hati sebagai
    ancaman, dan juga yang datang dari  rumah-rumah  Banu  Quraiza
    yang   berkhianat  itu?  Sungguh  celaka  orang-orang  Yahudi.
    Sungguh patut sekali kalau Muhammad mengikis habis  saja  Banu
    Nadzir  itu  daripada  hanya  sekedar  membiarkan mereka pergi
    dalam  keadaan  berkecukupan,  serta  membiarkan  Huyayy   cs.
    menghasut   masyarakat   dan   kabilah-kabilah   Arab   supaya
    menghantam kaum Muslimin. Ya,  sungguh  suatu  bencana  besar,
    suatu  ancaman  besar.  "Tak ada daya upaya kalau tidak dengan
    Allah juga."
    
    Dari segi  moril  pihak  Ahzab  sudah  merasa  begitu  tinggi,
    sehingga  ada  beberapa  orang ksatria dari Quraisy yang sudah
    berani maju kedepan, seperti 'Amr b. 'Abd Wudd, 'Ikrima b. Abi
    Jahl  dan Dzirar bin'l-Khattab. Mereka langsung menyerbu parit
    itu. Mereka menuju ke suatu bagian yang agak sempit. Dipacunya
    kuda  mereka  itu sehingga mereka dapat menyeberangi parit dan
    sampai di Sabkha yang terletak antara parit dengan bukit Sal'.
    Ketika  itu juga Ali b. Abi Talib keluar dengan beberapa orang
    dari  kalangan  Muslimin,  terus  cepat-cepat  merebut  sebuah
    rongga  dalam  parit  yang  telah diserbu oleh pasukan berkuda
    mereka. Ketika itu 'Amr b. 'Abd. Wudd memanggil-manggil:
    
    "Siapa berani bertanding?!"
    
    Setelah ajakannya itu disambut  oleh  Ali  b.  Abi  Talib,  ia
    berkata lagi dengan congkak sekali:
    
    "Oh kemenakanku ! Aku tidak ingin membunuhmu."
    
    "Tapi aku ingin membunuh kau," sahut Ali.
    
    Kemudian  duel itu terjadi, dan Ali berhasil membunuhnya. Saat
    itu  juga  pasukan  berkuda  pihak  Ahzab  lari   kucar-kacir,
    sehingga  mereka  terbentur  sekali lagi ke dalam parit sambil
    lari terus tanpa melihat kekanan-kiri lagi.
    
    Tatkala matahari sudah terbenam, ketika itu datang pula Naufal
    b.  Abdullah  bin'l-Mughira  dengan  menunggang kudanya hendak
    menyeberangi parit itu, tapi saat itu juga ia mendapat pukulan
    hebat  sehingga  ia  berikut  kudanya  itu  mati dan hancur di
    tempat tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan menyampaikan tawaran
    hendak  menebus  mayat  kawannya itu dengan seratus ekor unta,
    Tetapi itu oleh Nabi a.s. ditolak, seraya berkata:
    
    "Ambillah mayat itu. Barang yang kotor tebusannya kotor juga."
    
    Dengan cara yang berlebih-lebihan pihak Ahzab  sekarang  mulai
    lagi   hendak  mengobarkan  api  permusuhannya  dengan  maksud
    menakut-nakuti dan melemahkan jiwa kaum Muslimin.  Orang-orang
    Quraiza  yang bersemangat mulai turun dari benteng-benteng dan
    kubu-kubu mereka. Mereka memasuki rumah-rumah di Medinah  yang
    terdekat   pada   mereka.  Maksud  mereka  mau  menakut-nakuti
    penduduk.
    
    Pada waktu itu Shafia bt. Abd'l-Muttalib sedang  berada  dalam
    Fari', benteng Hassan b. Thabit. Juga Hassan ketika itu disana
    dengan kaum wanita dan anak-anak. Waktu itu ada seorang  orang
    Yahudi yang mundar-mandir sekeliling benteng itu.
    
    "Kaulihat bukan?" kata Shafia kepada Hassan, "Orang Yahudi itu
    mundar-mandir  sekeliling  benteng  kita.  Sungguh  aku  tidak
    mempercayainya.  Ia akan menunjukkan rahasia kita kepada pihak
    Yahudi. Sedang Rasulullah dan  sahabat-sahabat  sedang  sibuk.
    Turunlah kau dan bunuh orang itu."
    
    "Semoga  Tuhan  mengampunimu,  Shafia,"  jawab Hassan. "Engkau
    tahu, aku bukan orangnya akan melakukan itu."
    
    Mendengar itu Shafia langsung mengambil sebatang  tongkat.  Ia
    turun dari benteng itu dan orang Yahudi tadi dipukulnya Sampai
    ia menemui ajalnya.
    
    "Hassan, turunlah dan lucuti dia. Sayang dia laki-laki;  kalau
    tidak aku sendiri yang akan melakukannya."
    
    "Shafia, tidak perlu aku melucuti dia," jawab Hassan. Penduduk
    Medinah masih  dalam  ketakutan,  hati  mereka  masih  gelisah
    selalu.  Dalam  pada  itu yang selalu menjadi pikiran Muhammad
    ialah bagaimana caranya mencari jalan keluar. Harus ada  suatu
    taktik.   Dikirimnya   utusan  kepada  pihak  Ghatafan  dengan
    menjanjikan sepertiga hasil buah-buahan Medinah  untuk  mereka
    asal mereka mau pergi meninggalkan tempat itu.
    
    Pihak  Ghatafan  sendiri  sebenarnya  sudah mulai jemu. Mereka
    sudah memperlihatkan perasaan muak, karena begitu lama  mereka
    mengadakan  pengepungan  dengan segala jerih payah yang mereka
    hadapi selama itu. Soalnya hanyalah karena mau memenuhi ajakan
    Huyayy   b,   Akhtab   dan  orang-orang  Yahudi  yang  menjadi
    pengikutnya. Di samping itu, Nu'aim b. Mas'ud, dengan perintah
    Rasul  telah  pergi  hendak menemui pihak Quraiza, yang ketika
    itu belum mengetahui bahwa dia sudah masuk Islam.  Pada  zaman
    jahiliah   ia  bergaul  rapat  sekali  dengan  pihak  Quraiza.
    Diingatkannya kembali hubungan dan  persahabatan  mereka  masa
    dahulu  itu. Kemudian disebut-sebutnya juga bahwa mereka telah
    mendukung Quraisy  dan  Ghatafan  dalam  menghadapi  Muhammad,
    sedang  baik  Quraisy maupun Ghatafan mungkin tidak akan tahan
    lama tinggal di tempat  itu.  Kedua  kabilah  ini  tentu  akan
    berangkat  pulang,  dan  mereka  akan  ditinggalkan  sendirian
    menghadapi Muhammad yang tentunya nanti akan menghajar  mereka
    pula.  Oleh  karena itu dinasehatinya supaya mereka jangan mau
    ikut golongan itu  sebelum  mendapat  jaminan  beberapa  orang
    sebagai  sandera  dari  kedua  golongan  itu.  Dengan demikian
    Quraisy dan Ghatafan tidak akan meninggalkan  mereka.  Quraiza
    merasa puas dengan keterangan Nu'aim itu.
    
    Selanjutnya  ia  pergi lagi kepada Quraisy dengan membisikkan,
    bahwa sebenarnya pihak Quraiza  merasa  menyesal  sekali  atas
    tindakannya  melanggar  perjanjian  dengan  Muhammad dan bahwa
    mereka  sekarang  berusaha  hendak   mengambil   hatinya   dan
    mengadakan   tali   persahabatan   lagi  dengan  jalan  hendak
    menyerahkan   pemimpin-pemimpin   Quraisy   kepadanya   supaya
    dibunuh.  Oleh  karena  itu lalu disarankannya, bahwa bilamana
    nanti pihak  Yahudi  mengutus  orang  meminta  jaminan  berupa
    pemimpin-pemimpin  mereka, jangan dikabulkan. Seperti terhadap
    Quraisy, kemudian Nu'aim melakukan hal yang sama pula terhadap
    Ghatafan.  Keterangan  Nu'aim  ini  telah menimbulkan keraguan
    dalam hati Quraisy dan Ghatafan.
    
    Pemimpin-pemimpin mereka segera  berunding.  Abu  Sufyan  lalu
    mengutus  orang  menemui  Ka'b,  pemimpin  Banu Quraiza dengan
    pesan: "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat dan mengepung
    orang  itu. Menurut hemat kami besok kamu harus sudah menyerbu
    Muhammad dan kami dibelakangmu."
    
    Tetapi utusan Abu Sutyan itu kembali  dengan  membawa  jawaban
    pemimpin  Quraiza:  "Besok hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu
    kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun."
    
    Mendengar itu Abu Sufyan naik pitam. Benar  juga  kata  Nu'aim
    kalau  begitu. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan
    kepada pihak Quraiza: "Cari Sabtu4 lain saja sebagai pengganti
    Sabtu  besok,  sebab besok Muhammad harus sudah diserbu. Kalau
    kami sudah mulai menyerang Muhammad  sedang  kamu  tidak  ikut
    serta  dengan  kami,  maka  persekutuan kita dengan sendirinya
    bubar, dan kamulah yang akan kami  serbu  lebih  dulu  sebelum
    Muhammad."
    
    Pernyataan  Abu  Sufyan  itu oleh Quraiza tetap dijawab dengan
    mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari  Sabtu.  Ada
    golongan  mereka  yang  telah  mendapat kemurkaan Tuhan karena
    telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi  monyet
    dan  babi.  Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta
    sebagai sandera, supaya mereka  lebih  yakin  akan  perjuangan
    mereka itu.
    
    Mendengar  permintaan  semacam itu Abu Sufyan lebih yakin lagi
    akan keterangan yang  telah  diberikan  Nu'aim  itu.  Terpikir
    olehnya  sekarang  apa yang harus diperbuatnya. Ketika hal ini
    dibicarakan dengan pihak Ghatafan ternyata mereka  juga  masih
    maju-mundur hendak memerangi Muhammad. Mereka terpengaruh oleh
    janji yang pernah diberikan  kepada  mereka,  bahwa  sepertiga
    hasil  buah-buahan kota Medinah nanti untuk mereka, tapi janji
    tersebut belum ter]aksana karena masih mendapat tantangan dari
    Said  b.  Mu'adh  dan pemuka-pemuka Medinah, baik kalangan Aus
    dan Khazraj maupun dari sahabat-sahabat Rasulullah.
    
    Malam harinya angin topan  bertiup  kencang  sekali,  disertai
    oleh   hujan   yang   turun   dengan   lebatnya.  Bunyi  petir
    menderu-deru     diselingi      oleh      halilintar      yang
    sambung-menyambung.  Tiba-tiba angin topan itu bertiup kencang
    sekali dan kuali-kuali tempat mereka  masak  terbalik  belaka.
    Sekarang  timbul  rasa takut dalam hati. Terbayang oleh mereka
    bahwa  kaum  Muslimin  akan  mengambil  kesempatan  ini  untuk
    menyerang   dan  menghantam  mereka.  Ketika  itu  Tulaiha  b.
    Khuailid tampil seraya berteriak: "Muhammad  telah  mendahului
    menyerang kita. Selamatkan dirimu ! Selamatkan!"
    
    "Saudara-saudara dari Quraisy," kata Abu Sufyan. "Tidak layak
    lagi kita tinggal lama-lama di tempat ini. Pasukan  kita  yang
    terdiri  dari  kuda  dan unta sudah binasa, Banu Quraiza sudah
    tidak  menepati  janjinya  lagi  dengan  kita,   bahkan   kita
    mendengar  hal-hal  dari  mereka yang tidak menyenangkan hati.
    Ditambah lagi kita menghadapi angin yang begitu dahsyat.  Maka
    lebih baik pulang sajalah. Saya pun akan berangkat pulang."
    
    Ditengah-tengah  angin  yang  masih bertiup kencang, rombongan
    itu berangkat  dengan  membawa  perbekalan  seringan  mungkin,
    diikuti oleh Ghatafan dan kelompok-kelompok lainnya.
    
    Keesokan  harinya  sudah tidak seorang juga yang dijumpai oleh
    Muhammad di tempat itu. Ia pun lalu kembali pulang ke  Medinah
    bersama-sama   umat   Islam  yang  lain.  Mereka  bersama-sama
    menyatakan rasa syukur  yang  sedalam-dalamnya  kepada  Tuhan,
    karena   mereka  telah  terhindar  dari  segala  mara  bahaya,
    orang-orang  beriman   itu   tidak   sampai   terlibat   dalam
    pertempuran.
    
                                ***
    
    Setelah   pihak   Ahzab  berangkat  pulang,  Muhammad  kembali
    memikirkan keadaannya. Tuhan telah menyelamatkannya dari musuh
    yang  selama  ini mengancamnya. Tetapi sungguhpun begitu pihak
    Yahudi dapat saja mengulang  kembali  peristiwa  semacam  itu,
    dapat  saja  mereka  mencari  kesempatan lain, tidak lagi pada
    musim dingin yang begitu dahsyat seperti dalam tahun ini, yang
    telah merupakan bantuan Tuhan dalam menghancurkan pihak musuh.
    Disamping itu, kalaupun tidak karena Azhab  telah  pergi,  dan
    peristiwa   perpecahan  di  pihaknya  sendiri  telah  terjadi,
    niscaya  Banu  Quraiza  itu  sudah  siap-siap  pula  turun  ke
    Medinah,  akan  menghantam  dan  akan  memberikan segala macam
    bantuan dalam menghancurkan kaum Muslimin.
    
    Jadi, jangan membiarkan ekor ular yang  sudah  dipotong.  Atas
    perbuatannya  itu  Banu  Quraiza  harus dibasmi. Dalam hal ini
    Nabi a.s. memerintahkan supaya diserukan kepada segenap orang,
    yakni: Barangsiapa yang tetap setia, bersembahyang Asar supaya
    dilakukan   di   perkampungan   Banu   Quraiza.    Lalu    Ali
    diberangkatkan  lebih  dulu  dengan  membawa bendera ke tempat
    itu. Sungguhpun  pihak  Muslimin  sudah  begitu  payah  akibat
    pengepungan Quraisy dan Ghatafan yang cukup lama, namun mereka
    segera bergegas ke  medan  perang  lagi.  Mereka  yakin  bahwa
    mereka  akan  mendapat  kemenangan.  Memang  benar, bahwa Banu
    Quraiza  tinggal  dalam  benteng-benteng  yang  begitu   kukuh
    seperti    perbentengan   Banu   Nadzir,   tetapi   kendatipun
    benteng-benteng itu  dapat  melindungi  mereka,  namun  mereka
    tidak  akan  dapat tahan menghadapi pihak Muslimin. Persediaan
    bahan makanan kini berada di tangan penduduk Medinah,  setelah
    pihak  Ahzab  meninggalkan  tempat  tersebut. Oleh karena itu,
    pihak Muslimin  pun  dengan  perasaan  gembira  bergegas  pula
    berangkat di belakang Ali, menuju ke tempat Banu Quraiza.
    
    Ternyata  mereka  itu - juga Huyayy b. Akhtab dari Banu Nadzir
    ada di tempat itu - melemparkan kata-kata yang  tidak  senonoh
    dialamatkan   kepada   Muhammad.   Mereka  mendustakannya  dan
    memakinya serta mau mencemarkan nama baik  isterinya.  Setelah
    kekalahan pasukan Ahzab di Medinah, seolah mereka memang sudah
    merasakan apa yang akan terjadi terhadap diri mereka.
    
    Ketika  Rasul  kemudian  sampai  ke  tempat  itu  Ali   segera
    menemuinya   dan   dimintanya   supaya   jangan  ia  mendekati
    perbentengan Yahudi itu.
     
    "Kenapa?"  tanya  Muhammad.  "Rupanya  kau  mendengar   mereka
    memaki-maki aku."
     
    "Ya" jawab Ali.
     
    "Kalau  mereka  melihat  aku"  kata  Rasulullah, "tentu mereka
    tidak akan mengeluarkan kata-kata itu."
     
    Setelah   berada   dekat   dari   perbentengan   itu    mereka
    dipanggil-panggil:
     
    "Hai,  golongan  kera. Tuhan sudah menghinakan kamu bukan, dan
    sudah menurunkan murkaNya kepada kamu sekalian?!"
     
    "Abu'l-Qasim,"  kata  mereka.  "Tentu   engkau   bukan   tidak
    mengetahui."
     
    Sepanjang  hari  itu kaum Muslimin terus berdatangan ke tempat
    Banu  Quraiza,  sehingga  mereka  dapat  berkumpul  di   sana.
    Kemudian Muhammad memerintahkan supaya tempat itu dikepung.
     
    Pengepungan  demikian  itu terjadi selama duapuluh lima malam.
    Sementara itu terjadi  pula  beberapa  kali  bentrokan  dengan
    saling melempar anak panah dan batu. Selama dalam kepungan itu
    Banu Quraiza samasekali tidak  berani  keluar  dari  kubu-kubu
    mereka. Setelah terasa lelah dan yakin pula bahwa mereka tidak
    akan dapat tertolong dari bencana dan mereka pasti akan  jatuh
    ke  tangan  kaum  Muslimin  apabila  masa pengepungan berjalan
    lama,  maka  mereka  mengutus  orang   kepada   Rasul   dengan
    permintaan  "supaya  mengirimkan  Abu Lubaba kepada kami untuk
    kami mintai pendapatnya sehubungan dengan masalah  kami  ini."
    Sebenarnya  Abu  Lubaba ini golongan Aus yang termasuk sahabat
    baik mereka.
     
    Begitu mereka melihat kedatangan Abu Lubaba, mereka memberikan
    sambutan  yang  luarbiasa.  Kaum  wanita  dan anak-anak segera
    meraung pula, menyambutnya dengan ratap tangis. Ia merasa  iba
    sekali melihat mereka.
     
    "Abu  Lubaba,"  kata  mereka  kemudian. "Apa kita harus tunduk
    kepada keputusan Muhammad?"
     
    "Ya" jawabnya sambil memberi isyarat dengan tangan  kelehernya
    "Kalau tidak berarti potong leher."
     
    Beberapa buku sejarah Nabi mengatakan, bahwa Abu Lubaba merasa
    sangat menyesal sekali memberikan isyarat demikian itu.
     
    Setelah Abu  Lubaba  pergi,  Ka'b b. Asad  menyarankan  kepada
    mereka,  supaya mereka mau menerima agama Muhammad dan menjadi
    orang Islam. Mereka serta  harta-benda  dan  anak-anak  mereka
    akan  hidup  lebih  aman.  Tetapi saran itu ditolak oleh teman
    Ka'b: "Kami tidak akan meninggalkan ajaran Taurat tidak  akan
    menggantikannya dengan yang lain."
     
    Kemudian  disarankannya  lagi supaya kaum wanita dan anak-anak
    itu dibunuh  saja,  dan  mereka  boleh  melawan  Muhammad  dan
    sahabat-sahabatnya  dengan  pedang terhunus tanpa meninggalkan
    suatu beban di belakang. Biar nanti  Tuhan  menentukan,  kalah
    atau  menang  melawan Muhammad. Kalau mereka hancur, tidak ada
    lagi turunan nanti yang akan  dikuatirkan.  Sebaliknya,  kalau
    menang  mereka  akan  memperoleh  wanita-wanita  dan anak-anak
    lagi.
     
    "Kasihan kita membunuhi mereka. Apa artinya hidup tanpa mereka
    itu."
     
    "Kalau  begitu  tak  ada  jalan  lain kita harus tunduk kepada
    keputusan Muhammad. Kita sudah mendengar, apa sebenarnya  yang
    sedang  menunggu  kita."  Demikian  kata  Ka'b kemudian kepada
    mereka.
     
    Mereka sekarang berunding antara sesama mereka.
     
    "Nasib mereka tidak akan lebih buruk dari Banu  Nadzir,"  kata
    salah  seorang  dari mereka. "Wakil-wakil mereka dari kalangan
    Aus akan  membela.  Kalau  mereka  mengusulkan  supaya  mereka
    dibolehkan  pergi  ke Adhri'at di wilayah Syam, tentu terpaksa
    Muhammad mengabulkan."
     
    Banu  Quraiza  mengirimkan  utusan  kepada   Muhammad   dengan
    menyarankan   bahwa  mereka  akan  pergi  ke  Adhri'at  dengan
    meninggalkan harta-benda  mereka.  Tetapi  ternyata  usul  ini
    ditolak.  Mereka  harus tunduk kepada keputusan. Dalam hal ini
    mereka lalu mengirim orang kepada Aus dengan pesan:  Tuan-tuan
    hendaknya  dapat  membantu saudara-saudaramu ini; seperti yang
    pernah dilakukan oleh Khazraj terhadap saudara-saudaranya.
     
    Sebuah rombongan dari kalangan  Aus  segera  berangkat  hendak
    menemui Muhammad.
     
    "Ya  Rasulullah,"  kata  mereka  memulai, "dapatkah permintaan
    kawan-kawan  sepersekutuan   kami   itu   dikabulkan   seperti
    permintaan  kawan-kawan  sepersekutuan  Khazraj dulu yang juga
    sudah dikabulkan?"
     
    "Saudara-saudara dari  Aus,"  kata  Muhammad,  "Dapatkah  kamu
    menerima  kalau  kuminta  salah  seorang  dari  kamu menengahi
    persoalan dengan teman-teman sepersekutuanmu itu?"
     
    "Tentu sekali," jawab mereka.
     
    "Kalau begitu," katanya lagi, "katakan kepada  mereka  memilih
    siapa saja yang mereka kehendaki."
    
    Dalam  hal  ini pihak Yahudi lalu memilih Sa'd b. Mu'adh. Mata
    mereka  seolah-olah  sudah  tertutup  dari  nasib  yang  sudah
    ditentukan  bagi  mereka  itu, sehingga mereka samasekali lupa
    akan kedatangan Sa'd tatkala  pertama  kali  mereka  melanggar
    perjanjian,   lalu  diberi  peringatan,  juga  tatkala  mereka
    memaki-maki Muhammad di depannya serta mencerca kaum  Muslimin
    tidak pada tempatnya.
     
    Sa'd  lalu  membuat  persetujuan dengan kedua belah pihak itu.
    Masing-masing hendaknya dapat  menerima  keputusan  yang  akan
    diambilnya.  Setelah  persetujuan  demikian  diberikan, kepada
    Banu  Quraiza  diperintahkan  supaya  turun   dan   meletakkan
    senjata.  Keputusan  ini  mereka  laksanakan.  Seterusnya Sa'd
    memutuskan, supaya  mereka  yang  terjun  melakukan  kejahatan
    perang  dijatuhi  hukuman mati, harta-benda dibagi, wanita dan
    anak-anak supaya ditawan.
     
    Mendengar keputusan itu Muhammad berkata:
     
    "Demi Yang menguasai diriku.  Keputusanmu  itu  diterima  oleh
    Tuhan  dan  oleh  orang-orang  beriman,  dan  dengan  itu  aku
    diperintahkan."
    
    Sesudah  itu  ia  keluar   ke   sebuah   pasar   di   Medinah.
    Diperintahkannya  supaya  digali beberapa buah parit di tempat
    itu. Orang-orang Yahudi itu dibawa  dan  disana  leher  mereka
    dipenggal,  dan  didalam  parit-parit  itu  mereka dikuburkan.
    Sebenarnya Banu Quraiza tidak menduga  akan  menerima  hukuman
    demikian  dari  Said  b.  Mu'adh  teman  sepersekutuannya itu.
    Bahkan  tadinya  mereka  mengira  ia  akan  bertindak  seperti
    Abdullah  b.  Ubayy  terhadap  Banu Qainuqa.' Mungkin teringat
    oleh  Said,  bahwa  kalau  pihak  Ahzab  yang  menang   karena
    pengkhianatan  Banu  Quraiza  itu,  kaum  Muslimin  pasti akan
    dikikis habis, akan  dibunuh  dan  dianiaya.  Maka  balasannya
    seperti yang sedang mengancam kaum Muslimin sendiri.
     
    Keuletan  orang-orang Yalmudi menghadapi maut dapat kita lihat
    dalam percakapan Huyayy b. Akhtab  ini  ketika  ia  dihadapkan
    untuk  menjalani  hukuman  potong leher, Nabi telah menatapnya
    seraya berkata:
     
    "Huyayy, bukankah Tulman sudah membuat kau jadi hina?"
     
    "Setiap orang merasakan kematian," kata Huyayy. "Umurku  juga
    tidak  akan dapat kulampaui. Aku tidak akan menyalahkan diriku
    dalam memusuhimu ini."' Lalu ia menoleh  kepada  orang  banyak
    sambil   katanya   lagi:  "Saudara-saudara.  Tidak  apa  kita
    menjalani perintah Tuhan, yang telah mentakdirkan kepada  Banu
    Israil menghadapi perjuangan ini."
     
    Kemudian  juga  peristiwa  yang  terjadi dengan Zubair b. Bata
    dari Banu Quraiza. Ia pernah berjasa  kepada  Thabit  b.  Qais
    ketika  terjadi  perang  Bu'ath, sebab ia telah membebaskannya
    dari tawanan musuh.  Sekarang  Thabit  ingin  membalas  dengan
    tangannya  sendiri  budi  orang  itu,  setelah Sa'd ibn Mu'adh
    menjatuhkan   keputusannya   terhadap   orang-orang    Yahudi.
    Disampaikannya kepada Rasulullah tentang jasa Zubair kepadanya
    dulu dan ia  mempertaruhkan  diri  minta  persetujuannya  akan
    menyelamatkan    nyawa    Zubair.    Rasulullah    mengabulkan
    pernmintaannya itu. Tetapi  setelah  Zubair  mengetahui  usaha
    Thabit  itu  ia berkata: Orang yang sudah setua aku ini, tidak
    lagi ada isteri, tidak  lagi  ada  anak;  buat  apa  lagi  aku
    hidup?!"
     
    Sekali lagi Thabit mempertaruhkan diri minta supaya isteri dan
    anak-anaknya dibebaskan. Ini pun dikabulkan juga.  Selanjutnya
    dimintanya   supaya   hartanya  juga  diselamatkan.  Juga  ini
    dikabulkan.
     
    Setelah Zubair merasa puas tentang isteri, anak  dan  hartanya
    itu,  ia bertanya lagi tentang Ka'b b. Asad, tentang Huyayy b.
    Akhtab dan 'Azzal b. Samu'al serta  pemimpin-pemimpin  Quraiza
    yang  lain. Sesudah diketahuinya, bahwa mereka sudah menjalani
    hukuman mati, ia berkata:
     
    "Thabit, dengan budiku kepadamu itu aku minta, susulkanlah aku
    kepada  mereka.  Sesudah  mereka tidak ada, juga tidak berguna
    aku hidup lagi. Aku sudah tidak betah  hidup  lama-lama  lagi.
    Biarlah  aku  segera  bertemu dengan orang-orang yang kucintai
    itu!"
     
    Dengan demikian hukuman  potong  leher  dijalankan  juga  atas
    permintaannya sendiri.
     
    Pada  dasarnya  dalam  perang  itu  pihak  Muslimin tidak akan
    membunuh wanita atau anak-anak. Tetapi pada waktu  itu  mereka
    sampai  membunuh  seorang  wanita  juga  yang telah lebih dulu
    membunuh seorang  Muslim  dengan  mempergunakan  batu  giling.
    Dalam hal ini Aisyah pernah berkata:
     
    "Tentang  dia  sungguh  suatu  hal yang aneh tidak pernah akan
    saya lupakan.  Dia  seorang  orang  yang  periang  dan  banyak
    tertawa, padahal dia mengetahui akan dibunuh mati."
     
    Waktu  itu  ada  empat  orang  pihak  Yahudi yang masuk Islam.
    Mereka ini terhindar dari maut.
    
    Menurut hemat kami terbunuhnya  Banu  Quraiza  itu  berada  di
    tangan  Huyayy  b.  Akhtab,  meskipun  dia  sendiri juga turut
    terbunuh.  Dia  telah  melanggar  janji   yang   dibuat   oleh
    golongannya  sendiri,  oleh  Banu  Nadzir,  yang oleh Muhammad
    telah dikeluarkan dari Medinah dengan tiada seorang  pun  yang
    dibunuh, setelah keputusannya itu mereka terima. Tetapi dengan
    tindakannya menghasut pihak  Quraisy  dan  Ghatafan,  kemudian
    menyusun  masyarakat  dan  kabilah-kabilah  Arab  semua supaya
    memerangi Muhammad, hal ini telah memperbesar rasa  permusuhan
    antara  golongan  Yahudi dengan kaum Muslimin, sehingga mereka
    itu berkeyakinan, bahwa kaum Israil itu tidak akan merasa puas
    sebelum  dapat mengikis habis Muhammad dan sahabat-sahabatnya.
    Dia juga lagi yang kemudian mengajak  Banu  Quraiza  melanggar
    perjanjian  dan  meninggalkan  sikap  kenetralannya. Sekiranya
    Banu Quraiza tetap bertahan,  tentu  mereka  takkan  mengalami
    nasib  seburuk  itu.  Dia juga yang kemudian datang ke benteng
    Banu Quraiza - setelah  kepergian  pihak  Ahzab  dan  mengajak
    mereka  melawan  kaum  Muslimin.  Sekiranya dari semula mereka
    sudah bersedia pula menerima keputusan Muhammad serta mengakui
    kesalahannya   yang  telah  melanggar  janjinya  sendiri  itu,
    pertumpahan darah dan pemotongan leher niscaya takkan terjadi.
    Akan  tetapi,  permusuhan  itu sudah begitu berakar dalam jiwa
    Huyayy dan kemudian menular pula  ke  dalam  hati  orang-orang
    Quraiza,   sehingga  Sa'd  b.  Mu'adh  sendiri  sebagai  kawan
    sepersekutuan mereka yakin bahwa kalau mereka dibiarkan hidup,
    keadaan tidak akan pernah jadi tenteram. Mereka akan menghasut
    lagi golongan  Ahzab,  akan  mengerahkan  kabilah-kabilah  dan
    orang-orang  Arab supaya memerangi Muslimin, dan akan mengikis
    sampai  ke  akar-akarnya  kalau  mereka   dapat   mengalahkan.
    Keputusan  yang telah diambilnya dengan begitu keras, hanyalah
    karena terdorong oleh sikap hendak mempertahankan diri, dengan
    pertimbangan  bahwa  adanya  atau lenyapnya orang-orang Yahudi
    itu berarti hidup atau matinya kaum Muslimin.
     
    Kaum wanita, anak-anak serta  harta-benda  Banu  Quraiza  oleh
    Nabi   di   bagi-bagikan   kepada   kaum   Muslimin,   setelah
    seperlimanya dikeluarkan, Setiap seorang dari pasukan  berkuda
    mendapat dua pucuk panah, untuk kudanya sepucuk panah.
     
    Prajurit  yang  berjalan  kaki  mendapat sepucuk panah. Jumlah
    kuda dalam peristiwa Quraiza itu sebanyak tigapuluh enam ekor.
     
    Setelah itu, Sa'd b. Zaid kemudian mengirimkan tawanan-tawanan
    Banu  Quraiza  itu ke Najd. Dengan demikian dibelinya beberapa
    ekor kuda dan senjata untuk lebih memperkuat  angkatan  perang
    Muslimin.
     
    Raihana  adalah  salah  seorang tawanan Banu Quraiza. Ia jatuh
    menjadi bagian Muhammad. Kepadanya ditawarkan  kalau-kalau  ia
    bersedia  menjadi orang Islam. Tetapi ia tetap bertahan dengan
    agama Yahudinya. Juga ditawarkan kepadanya kalau-kalau ia  mau
    di  kawini.  Tetapi  dia  menjawab: "Biar sajalah saya dibawah
    tuan. Ini akan lebih ringan buat saya, juga buat tuan."
     
    Barangkali  juga,  melekatnya  ia  kepada  agama  Yahudi   dan
    penolakannya   akan   dikawin,   berpangkal   pada   fanatisma
    kegolongan, serta  sisa-sisa  kebencian  yang  masih  tertanam
    dalam hatinya terhadap kaum Muslimin dan terhadap Nabi. Tetapi
    tidak ada orang yang bicara tentang kecantikan Raihana seperti
    yang  pernah  disebut-sebut  orang  tentang  Zainab bt. Jahsy,
    sekalipun ada juga yang menyebutkan  bahwa  dia  juga  cantik.
    Buku-buku  sejarah dalam hal ini berbeda-beda pendapat: Adakah
    ia juga menggunakan tabir seperti terhadap isteri-isteri Nabi,
    atau  masih seperti wanita-wanita Arab umumnya pada waktu itu,
    yang memang tidak menggunakan tutup muka.  Sampai  pada  waktu
    Raihana wafat di tempat Nabi, ia tetap sebagai miliknya.
     
    Adanya  serbuan  Ahzab  serta  hukuman  yang telah di jatuhkan
    kepada Banu Quraiza, telah memperkuat  kedudukan  Muslimin  di
    Medinah.  Orang-orang  golongan Munafik sudah samasekali tidak
    bersuara lagi. Semua masyarakat dan kabilah-kabi]ah Arab sudah
    mulai   bicara   tentang   kekuatan  dan  kekuasaan  Muslimin,
    disamping posisi dan kewibawaan Muhammad yang ada. Akan tetapi
    ajaran  itu  bukan  hanya  buat  Medinah  saja, meiainkan buat
    seluruh dunia. Jadi Nabi dan  sahabat-sahabatnya  masih  harus
    terus  meratakan jalan dalam menjalankan perintah Allah, dalam
    mengajak  orang  menganut  agama  yang  benar,  dengan   terus
    membendung  setiap  usaha yang hendak melanggarnya. Dan memang
    inilah yang mereka lakukan.
     
    Catatan kaki:
     
     1 Khandaq berarti parit. Dalam terjemahan seterusnya
       sering dipakai kata parit (A).
       
     2 Ghatafan merupakan sekumpulan kabilah-kabilah, yang
       terkenal diantaranya kabilah 'Abs dan Dhubyan yang
       terlibat dalam perang Dahis, dan Dhubyan ini bercabang
       lagi menjadi 'Ailan, Fazara, Murra, Asyja', Sulaim dan
       lain-lain (A).
       
     3 Aslinya Al-Ahzab, kelompok-kelompok atau puak-puak.
       Di sini berarti persekutuan atau gabungan kekuatan
       angkatan perang kabilah-kabilah Arab di sekitar Mekah
       dan Medinah serta golongan Yahudi, yang bersama-sama
       hendak menghancurkan kaum Muslimin di Medinah. Dalam
       terjemahan selanjutnya lebih banyak dipergunakan kata
       Ahzab (A).
       
     4 Yakni Hari Sabat, hari besar agama Yahudi (A)
    
    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Khandaq2.html
    

     

     
    • wikki 5:06 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

      inilah asli tulisan bohong tidak menunjuk referensi dari kitab yang sah……………..

      • SERBUIFF 12:29 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        lu baca nih daftar pustaka haekal

        BIBLIOGRAFI
        Muhammad Husain Haekal

        Akhbar Makka, Abu’l-Walid Muhammad b. ‘Abdullah b. Ahmad
        Al-Azraqi [Brockhaus, Leipzig]

        Asbab’l-Nuzul, Abu’l-Hasan ‘Ali b. Ahmad Al-Wahidi an-Nisaburi
        dengan anotasi An-Nasikh wal Mansukh oleh Abu’l-Qasim
        Hibatullah b. Salama Abu’n-Nashr [Hindia, 1315 H.]

        Al-Ashnam, Ibn’l-Kalbi [Dar’l-Kutub’l-Mishriya]

        Al-Bidaya wan-Nihaya fit-Tarikh, Ibn Kathir ad-Damsyiqi
        [As-Sa’ada]

        Da’irat’l-Ma’arif al-Qarn’l-‘Isyrin, Muhammad Farid Wajdi.

        Fat-h’l ‘Arab li Mishr (The Arab Conquest of Egypt), A.J.
        Butler, terjemahan Muhammad Farid Abu Hadid
        [Dar’l’Kutub’l-Mishriya]

        Fi’l-Adab’l-Jahill, Dr. Taha Husain

        Al-Islam bi A’lam Bait’lah’l-Haram, Qutub’d-Din Nahrawani
        [Brockhaus, Leipzig]

        Al-Islam’sh-Shahih, Muhammad Is’af an-Nasyasyibi

        Al-Islam wan-Nashraniya, Syaikh Muhammad ‘Abduh [Al-Manar]

        Al-Islam wat-Tajdid fi Mishr (Islam and Modernism in Egypt.
        London, 1933), Charles Clarence Adams

        Kitab-kitab Hadis.

        Al-Maghazi, Abu ‘Abdullah Muhammad b- ‘Umar al-Waqid;.
        [Kalkutta, 1855 M. ]

        Al-Mawahib ‘l-Laduniyabi’l-Manh’l-Muhammadija, Ahmad b.
        Muhammad b. Abi Bakr al-Khatib al-Qastallani [Syahin]

        Miftah Kunuz’s-Sunna (Concordance, a handbook of early
        Muhammadan tradition) A.J. Wensinck, terjemahan
        Muhammad Fu’ad ‘Abd’l-Baqi [Mesir]

        Muhammad al-Matthal’l-Kamil, Muhammad Ahmad Jad’l-Maula

        An-Nasikh wal-Mansukh fi’l Qur’an’l-Karim, Abu Ja’far
        an-Nahhas [Sa’ada]

        Qishash’l-Anbiya, Syaikh ‘Abd’l-Wahhab an-Najjar

        Al-Qur’an’l-Karim

        Ar-Rihlat’l-Hijaziya, Muhammad Labib-al-Batatuni

        Sirat Sayyidina Muhammad Rasulillah, terkenal dengan nama
        Sirat Ibn Hisyam, Abu Muhammad ‘Abd’l-Malik b. Hisyam,
        ed. H.F. Wustenfeld [Gottingen, 1855]

        Asy-Syifa’, Qadzl ‘Iyadz [Manuskrip pada perpustakaan Ja’far
        Wali]

        At-Tabaqat’l-Kubra, Muhammad b. Sa’d, Sekretaris Al-Waqidi.
        [Brill, Leiden, ed. Edward Sachau (et al. 1904 – 1921)]

        Tafshil Ayat’l-Qur’an’l-Hakim (Le Coran, analyse),
        Jules La Baume disusun dalam bahasa Arab
        oleh Muhammad Fu’ad ‘Abd’l-Baqi

        Tatsir’l-Fatiha wa Musykilat’l-Qur’an,
        Syaikh Muhammad ‘Abduh

        Tafsir at-Tabari : Jami’ ‘l-Bayan fi Tafsir’l-Qur’an, Abu
        Ja’far Muhammad b. Ja’far at-Tabari [Bulaq, 1329 H.]

        Tarikh’l-Rusul Wa’l-Muluk, Abu Ja’far Muhammad at-Tabari
        [Brill, Leiden] ed. Barth dan Noldeke

        Al-Wahy’l-Muhammadi, Muhammad Rasyid Ridza dari Al-Manar

        Al-Yahud fi Bilad’l-‘Arab, Dr. Israel Wilfinson

        Zad’l-Ma’ad fi Huda Khair’l-‘Ibad, Syamsuddin Abu
        Abd’llah ad-Damsyiqi, dikenal dengan nama
        Ibn’l-Qayyim al-Jauzi [Mesir, 1324 H.]

        Ali, Syed Ameer, The Spirit of Islam.

        Carlyle, Thomas. Heroes and Hero Worship (On Heroes,
        Heroworship and the Heroic in History).

        Dermenghem, Emile, La Vie de Mahomet.

        Dictionnaire Larousse, s.v. “Mahomet.”

        Encyclopaedia Britannica, s.v. “Mahomet.”

        Goba, Khaled. The Prophet of the Desert.

        Historian’s History of the World.

        Irving, Washington. Life of Mahomed

        Lammens, Henri, L’Islam, Croyances et Institutions.

        Margoliouth, D.G. Mohammad and the Rise of Islam.

        Muir, Sir William, Life of Mohammad.

        Perceval, Causin de, Essai sur l’Histoire des Arabes.

        Schure, Edouard, Les Crands Inities.

        ———————————————
        S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

        oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
        diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

        Penerbit PUSTAKA JAYA
        Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
        Cetakan Kelima, 1980

        http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Pustaka.html

    • wikki 3:38 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      coba cari konsekwensi yang harur dipatuhi apabila melanggar perjanjian.. adakah..??? jadi sdr jangan mengada ada …lalu siapa yang hadir dari pihak banu qanuika .nadir…quraisa .pada saat dibuat perjanjian…kesepakatan ….dasar muhammad memang pemalas tapi ingi menguasai harta jahudi.banyak istri ..yah banyak tuntutan dangan mengatas namakan allah…

      • STEFANUS LIM 4:51 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        HUKUMAN PENGKHIANAT, YAHUDI BANI NADIR, KURAIZHA MUPUN BANI QAINUQA SUDAH SEPANTASNYA MEREKA TERIMA. TERAKHIR DALAM PERNG KHANDAQ MEREKA MEMBAWA PASUKAN BERSEKUTU.WAJAR MEREK DIPENGGAL HARTA DIRMPAS.
        @ATAR BINTI APRILIA.
        HA HA HA SI JANGKIR NGUTIP 2 AYAT.

        MATIUS DAN KISAH PARA RASUL AJA SALAH2 BEDA SEPERTI LANGIT DAN BUMI KARENA BUKAN DARI TUHAN TAPI DARI HANTU, HAHAHA.
        KISAH YUDAS MATI GANTUNG DIRI DI MATIUS SEDANGKAN DIKISAH PAR RASUL BUATAN PAULUS YUDAS JATUH PERUT TERBELAH USUS KELUAR,APA MUNGKIN????
        PERTANYAANNYA MANA YANG BENAR???
        NGGA MUNGKIN DUA2NYA BENAR.
        ATAU SALAH SATU BOONG.
        ATAU DUA2NYA BOONG,
        NGGA MUNGKIN DUA2NYA BENAR.
        NAH PENULIS KAYAK MATIUS DAN PAULUS GINI MASIH ANDA SEMBAH HA HA AH SUNGGUH BODOH SEKALI.

        BAHAYA BUNG BERACUN HA HAHA MEMBAWA ANDA KE NERAKA KEKAL ABADI.
        MAU LU DIBAKAR DIJADIKAN KAYU BAKAR???MIKIR BUNG MIKIR.SETAN PEMBUAT AYAT PALSU ADA DKAT ANDA. HA HA HA.

        @ONANY BINTI JANGKRIK ALIAS TEDIHOK
        ANDA BODOH DIBANDING PENDETA ANDA DR YAHYA WALONI.HA HA HA.

        BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
        IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
        AGAMA ANDA SUDAH KADALUARSA IBARAT SK LAMA DIGANTI DENGAN SK BARU.
        SK LAMA NGGA LAKU DIHADAPAN ALLAH. ALLAH MAU YANG BARU.YAITU AGAMA ISLAM.

        BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
        IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
        IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

        BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
        IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
        IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

        BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
        IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
        IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

        ANDA AKAN DIMASUKKAN KE NERAKA.
        ALLAH HANYA MENGAKUI AGAMA ISLAM YANG DIREDHOI ALLAH.
        YAITU MENYEMBAH ALLAH SERTA MENGAKUI NABI MUHAMAD UTUSAN ALLAH.

        BAHKAN NABI ISA AS AKAN MENGENYAHKAN ANDA, HUH TAK TAHU MALU.DIA UNTUK AGAMA MASA LALU UNTUK BANI ISRAIL.
        BUKAN UNTUK ANDA YANG INDON, HA HA HA
        CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN,
        KASIHAN NAK ISTRI DIBAWA KE NERAKA.
        DASAR BOODOH, BIN GOBLOK ALIAS TOLOL HA HA AHA.

    • wikki 5:49 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      copas sdr sudah terlalu banyak …tak berarti…………..

      • SERBUIFF 7:19 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        tak berarti bagi orang yg sengaja membutakan mata hatinya dari kebenaran islam….

      • ungke 3:25 pm on 21/08/2012 Permalink | Reply

        Masalahnya mas serbuiff , justru saya tidak dapat menemukan kebenaran dalam islam kalau kalau buka mata apalagi hati, kecuali kalau kita membutahkan mata , hati dan otak kita seperti anda

        • SERBUIFF 7:09 am on 22/08/2012 Permalink | Reply

          TIDAK BISA MENEMUKAN KEBENARAN DALAM ISLAM,… YAH ITU BUKAN MASALAH SAYA ITU MASALAH ANDA,,,..ISLAM AJARANNYA PENUH DG KEBENARAN HANYA ORANG TOLOL YG TIDAK MAU MASUK ISLAM…..

          • wikki 6:56 pm on 22/08/2012 Permalink | Reply

            sipa juga yang mau masuk neraka ??? (Q 19:71)

            • SERBUIFF 11:29 pm on 22/08/2012 Permalink | Reply

              • wikki 2:18 am on 23/08/2012 Permalink | Reply

                itukan versi orang orang yang sengaja memelintirkan makna sesunguhnya

                • SERBUIFF 4:02 am on 23/08/2012 Permalink | Reply

                  nggak ada yg diplintir bung…

                  • wikki 7:55 am on 23/08/2012 Permalink | Reply

                    artiya tak ada seorangpun..melainkan mendatangi neraka…….takada kecuali…tak ada derat ringan amal dan dosa semua tak ada kecuali

                    • SERBUIFF 6:30 am on 24/08/2012 Permalink | Reply

                      Baca ini

                      19. Maryam

                      67. Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?
                      19. Maryam

                      68. Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut

                      19. Maryam

                      69. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
                      19. Maryam

                      70. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.

                      19. Maryam

                      71. Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

                      19. Maryam

                      72. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.

                      Keterangan :

                      di ayat 67 jelas dikatakan manusia bukan kaum muslim saja, …semua manusia….
                      kemudian di ayat 69 dari manusia tsb di seleksi lagi mereka2 yg sangat durhaka, yg nggak durhaka tidak akan dipilih…..

                      diayat 71 ada tertulis mendatangi, memang benar semua manusia akan mendatangi neraka, mendatangi bukan berarti semua masuk kedalam neraka, karena nanti ada yg masuk kedalam neraka, ada yg tidak masuk kedalam neraka yaitu mereka yg selamat menjalani jembatan shirath…

                      lalu diayat 72 Allah menegaskan bahwa orang2 bertaqwa akan diselamatkan dan dilindungi dari api neraka sedang orang zalim masuk dalam neraka ……..

    • wikki 5:16 pm on 21/08/2012 Permalink | Reply

      sdr serbu iff bisakah sdr membuktikan bahwa muhammad tidak membunuh,..??? bisakah sdr membuktikan bahwa muhammad tidak berzinah..??? bisakah sdr membuktikan bahwa muhammad tidak memerkosa??? bisakah sdr membuktikan bahwa muhammad tidak menyembah dewa atau patung??? bisakah sdr membuktikan bahwa muhammad tidak merampok???? bisakah sdr membuktikan dan meyakinkan bahwa muhammad tidak pedhophilia…???? bisakah sdr membuktikan bahwa quran itu adalah murni kata kata allah,,,???? siapakah yang bisa membuktikan bahwa muhammad tidak bersalah..??? mengapa seorang nabi bisa kena guna guna ..atau sihir..apakah sihir bisa mempengaruhi seorang nabi/????saya rasa ini saja dulu pertanaanku sementara …dari hal hal diatas saya bisa membuktikan melalui referensi kitab kitab yang sah ..dan hadith hadith ysng sah bahwa segala kejahatan itu pernah dilakukan muhammad….bagai mana dengan sdr muslimer/???

    • Mohammad 1:09 am on 22/08/2012 Permalink | Reply

      Gw islam. . Heran gw liat si habib ama serbuiff . . Overacting.. Merasa paling suci. Merasa dirinya kayak nabi , rasul, wali.. Kerjanya cari sensasi kayak artis. Paling ngerti alquran. Lu inget aja diatas langit ada langit.. Agama urusan Tuhan bukan urusan ente.. Jangan sok suci lah.. Lu hina2 yesus kristen sama aja lu hina nabi Isa.. Belajar dulu arti Islam di mesir n arab bertahun2 .. Gaul dong dgn arab2 disono..

      • SERBUIFF 7:19 am on 22/08/2012 Permalink | Reply

        >>>>>wah ada satu lagi nih murid paulus sang pendusta ….ngaku2 islam, lu bukan islam bung…….
        >>>>saya tidak overacting.. saya tidak merasa paling suci. saya tidak merasa dirinya kayak nabi , rasul, wali.. Kerja saya bukan cari sensasi kayak artis.

        Agama urusan Tuhan bukan urusan ente.. ..>>>>>> agama islam yg diturunkan oleh Alla wajib dibela bung

        Jangan sok suci lah.. >>>>>aku nggka sok suci kok

        Lu hina2 yesus kristen sama aja lu hina nabi Isa.. >>>>>>> gue nggak ada menghina yesus justru orang kristen yg menghinanya dg menjadikannya sebagai tuhan

        Belajar dulu arti Islam di mesir n arab bertahun2 .. Gaul dong dgn arab2 disono..>>>>>>nggak perlu tuh……

    • wikki 4:56 am on 22/08/2012 Permalink | Reply

      terima kasih saya angkat topi untukmu ..ternyata hati sdr jauh lebih mulia dari orng orang ang menamakan dirinya serbu iff dll …terima kasih G.B.U

    • wikki 11:25 am on 22/08/2012 Permalink | Reply

      saya memang lagi coment dengan mohammad…. bukan serbu iff.

  • SERBUIFF 1:24 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: TEKS PERJANJIAN DENGAN ORANG ORANG YAHUDI   

    TEKS PERJANJIAN DENGAN ORANG ORANG YAHUDI 

    TEKS PERJANJIAN DENGAN ORANG ORANG YAHUDI

    Ibnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuat perjanjian antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Dalam perjanjian tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memerangi orang orang Yahudi, membuat perjanjian dengan mereka, mengakui agama dan harta mereka dan membuat persyaratan bagi mereka. Teks perjanjian adalah sebagai berikut:

    B i s m i I I a h i r r a h m a a n i r r a h i m

    ini adalah tulisan dari Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam untuk kaum Mukminin dan kaum Muslimin dari Quraisy dan Yatsrib, orang orang yang bergabung dengan mereka dan berjuang bersama mereka. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu dan berbeda dengan manusia yang lain. Kaum Muhajitin dari Quraisy tetap dalam tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, mereka membayar diyat (ganti rugi pembunuhan, atau pencideraan) kepada sebagian yanq lain, menebus tawanan mereka dengan cara yang baik dan adil kepada kaum Mukminin. Bani Auf tetap dalam tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain seperti dulu dan setiap kelompok menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil kepada kaum Mukminin. Bani Saidah tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat seperti sebelumnya, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil kepada manusia.  Bani Al Harts tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil kepada manusia. Bani An Najjar tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain, setiap kelompok dari mereka menebus tawanan dengan cara yang baik dan adil kepada manusia. Bani Amr bin Auf tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain seperti sebelumnya, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik, adil kepada manusia. Bani Al Aus tetap berada pada tradisi mereka yang diperbolehkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain seperti sebelumnya, setiap kelompok dari mereka menebus tawanamya dengan cara yang baik dan adil kepada manusia. Kaum Mukminin tidak boleh menelantarkan mufrah (orang yang mempunyai hutang banyak dan mempunyai tanggungan keluarga yang banyak) dan mereka, harus memberinya uang untuk penebusan tawanan atau pernbayaran diyat dengan cara yang baik. Orang Mukmiin tidak boleh bersekutu dengan mantan budak orang Mukmin tanpa melibatkan rnantan pemilik budak tersebut. Sesungguhnya kaum Mukminin yang bertakwa itu bersatu dalam menghadapi orang yang berbuat aniaya terhadap mereka atau orang yang menginginkan kedzaliman besar, atau dosa, atau permusuhan, atau kerusakan terhadap kaum Mukminin. Orang Mukmin tidak boleh membunuh orang Mukmin yang membunuh orang kafir dan orang Mukmin tidak boleh membantu orang kafir dalam menghadapi orang Mukmin. Sesmgguhnya tapggungan Allah itu satu. Orang yang terlemah di antara mereka diberi perlindungan dan sesungguhnya orang orang Mukminin adalah pendukung bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara orang Yahudi mengikuti kami, ia berhak mendapatkan pertolongan, kebersamaan, mereka, tidak didzalimi dan mereka tidak boleh dikalahkan. Sesungguhnya perdamaian kaum Mukminin itu satu; orang Mukmin tidak boleh berdamai dengan selain orang Mukrnin dalam perang di jalan Allah kecuali atas dasar persamaan dan keadilan di antara mereka. Semua pasukan yang berperang bersama kami itu dating secara bergantian. Sesungguhnya sebagian kaum Mukminin dibunuh karena mereka membunuh sebagian kaum Mukminin yang lain. Sesungguhnya kaum Mukminin yang bertakwa berada pada petunjuk yang paling baik dan paling lurus. Sesungguhnya orang musyrik tidak boleh melindungi harta orang Quraisy atau jiwa mereka dan tidak boleh pindah kepadanya untuk menghadapi orang Mukmin. Barangsiapa membunuh orang Mukrnin tanpa dosa dan bukti, ia dibunuh karenanya terkecuali jika keluarga korban memaafkannya. Sesungguhnya kaum Mukminin bersatu dalam menghadapinya dan mereka harus menegakkan hukum terhadap orang tersebut. Sesungguhnya orang Mukmin yang beriman kepada isi perjanjian ini, beriman kepada Allah dan beriman kepada Hari Akhir haram membela. pelaku bid’ah dan melindunginya. Barangsiapa membela pelaku bid’ah atau melindunginya, ia mendapatkan kutukan Allah dan murka Nya pada Hari Kiamat. Tebusan tidak boleh diambil daripadanya. Jika kalian berselisih dalam salah satu persoalan, tempat kembalinya ialah Allah Azza wa Jalla dan Muhammad Shallahu Alahi wa Sallam. Sesungguhnya orang orang Yahudi juga terkena kewajiban pendanaan jika mereka sama sama diperangi musuh. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Auf satu urnat bersama kaum Mukminin. Bagi orang orang Yahudi agama mereka dan bagi kaum Mukminin agama mereka. Budak budak mereka dan jiwa mereka (terlindungi), kecuali orang yang berbuat dzalim dan berbuat dosa, ia tidak menghancurkan siapa siapa selain dirinya sendiri dan keluarganya. Sesungguhnya orang orang Yahudi Bani An Najjar merniliki hak yang sama dengan orang orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang orang Yahudi  Bani Al Harits mempunyai hak yang sama derigan orang orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang orang Yahudi Bani Saidah mempunyai hak yang sama derigan hak orang orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Jusyam memiliki hak yang sama dengan orang orang Bani Auf. Sesungguhnya orang orang    Yahudi Bani Al Aus memiliki hak yang sarna demgan hak orang orang    Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya orang orang Yahudi Bani Tsalabah memiliki hak yang sama demgan hak orang orang Yahudi Bani Auf, kecuali orang yang berbuat dzahm dan berbuat dosa, ia tidak menghancurkan siapa  siapa selain dirinya sendiri dan keluarganya. Sesungguhnya Jafnah, salah satu kabilah darl Tsa’labah sama seperti mereka. Sesungguhnya orang orang Yahudi Bani As Suthaibah mempunyai hak yang sama dengan hak orang orang Yahudi Bani Auf. Sesungguhnya kebalkan itu seyogyanya menghalangi seseorang dari keburukan. Sesungguhnya budak orang orang Tsalabah sama seperti mereka. Sesungguhnya keluarga, orang orang Yahudi sama seperti mereka. Seorang pun dari orang orang Yahudi tidak boleh keluar dari Madinah kecuali atas izin Muhammad Shallallahu Alahi wa Saffam. Barangsiapa membunuh, ia membunuh dirinya sendiri dan keluarganya, kecuali orang yang didzalimi, sesungguhnya Allah hendak menolak kedzaliman dan dirinya. Sesungguhnya orang orang Yahudi terkena kewajiban pembiayaan (infak) dan kaum Muslimin juga terkena kewajiban pembiayaan (infak), serta mereka semua berkewajiban memberikan pembelaan terhadap siapa saja yang memerangi orang orang yang terikat demgan perjanjian ini. Nasihat dan kebaikan harus dijalankan di tengah tengah mereka. Seseorang tidak boleh berbuat Jahat terhadap sekutunya dan pembelaan (pertolongan) harus dibenkan kepada orang gang dicizalimi. Sesungguhnya orang  orang Yahudi wajib bennfak bersama kaum Mukminin jika mereka diperangi musuh. Sesungguhnya Yatsrib haram bagi orang yang berada dalam pedanjian ini. Sesungguhnya tetangga itu seperti jiwa; !a tidak boleh diganggu dan tidak boleh disakiti. Sesungguhnya kehormatan itu tidak boleh dilanggar kecuali atas izin pemiliknya. Jika pada orang orang yang berada dalam perjanjian ini terhadap kasus atau konflik yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan, maka tempat kembalinya ialah kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya Allah sangat mampu menjaga perjanjian ini. Sesungguhnya orang orang Quraisy tidak boleh dilindungi begitu juga orang-orang yang menolong mereka. Sesungguhnya orang orang yang terikat demgan perjanjian ini berkewajiban memberikan pertolongan (pembelaan) melawan siapa saia yang bermaksud menyerang Yatsrib. Jika mereka diajak berdamai dan bersahabat, mereka harus berdamai dan bersahabat. Jika mereka diajak kepada hal tersebut, mereka mempunyai hak atas kaum Mukminin kecuah terhadap orang orang yang memerangi agama. Setiap manusia mempunyai bagian terhadap mereka sendiri seperti sebelumnya. Sesungguhnya orangorang Yahudi Al Aus; budak budak mereka dan jiwa mereka mempunyai hak yang sama dengan orang orang yang berada dalam perjanjian ini, termasuk berbuat baik kepada orang orang yang berada. dalam perjanjian ini. Sesungguhnya kebaikan itu berbeda dengan keburukan. Jika seseorang mengeerjakan sesuatu, itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah membenarkan isi perjanjian ini dan meridhainya. Barangsiapa keluar dari Madinah, ia aman. Barangsiapa menetap di Madinah, ia aman, kecuali orang yang berbuat dzalim dan berbuat dosa. Sesungguhnya Allah melindungi orang berbuat baik dan orang yang bertakwa, serta Muhammad adalah Rasullah (utusan Allah) Shallallahu Alaihi wa Sallam

     

    Ref : Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam al Muafiri (Ibnu Hisyam)

    http://rumahislam.com/nabi-dan-rasul/116-muhammad-saw/354-teks-perjanjian-nabi-saw-dengan-yahudi.html

    =======================

    Sunday, June 20th, 2010 | Posted by mufias

    PERJANJIAN DENGAN YAHUDI

    Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah, dan Baginda yakin dengan kekemasan struktur masyarakat baru Islam, dengan tertegaknya kesatuan akidah, politik dan sistem di kalangan umat Islam, Baginda mengalih pandangan untuk menyusun hubungannya dengan golongan “bukan Islam”, tujuan Baginda ialah untuk mewujudkan keamanan, kesejahteraan, kemuliaan dan kebaikan kepada manusia sejagat, di samping menyusun semula daerah al-Madinah dalam satu keharmonian hidup yang tulin, ke arahnya Baginda menggariskan peraturan-peraturan yang bersifat anjal dan toleransi yang belum pernah dinikmati oleh dunia, yang penuh dengan sikap kefanatikan dan ego.

    Golongan bukan Islam yang mendampingi Madinah diketika itu ialah golongan Yahudi, sepertimana yang telah kita perkatakan terlebih dahulu, mereka meskipun memendam perseteruan terhadap Islam, namun setakat ini mereka belum lagi memperlihatkan sebarang penentangan atau permusuhan, justeru itu Rasulullah memeteraikan perjanjian dengan mereka dengan memberi kemerdekaan penuh dalam soal agama dan kewangan. Rasulullah langsung tidak mengambil tindakan politik untuk berseteru, menghalau atau merampas harta-harta mereka. Perjanjian yang dimeteraikan itu adalah di antara kandungan perjanjian kaum muslimin sesama mereka, yang telah pun kita perkatakan.

    BUTIRAN PERJANJIAN

    1. Bahawa kaum Yahudi dari banu Auf adalah satu umat bersama orang-orang mukmin, mereka bebas dengan agama mereka sendiri, dan orang-orang Islam dengan agama mereka, begitu juga orang-orang yang bersekutu dengan mereka, termasuk juga diri mereka sendiri, perkara ini juga untuk bukan Yahudi Banu Auf sahaja.

    2. Bahawa orang-orang Yahudi hendaklah membiayai negara seperti mana orang-orang Islam juga hendaklah membiayai negara.

    3. Maka hendaklah mereka sama-sama tolong menolong menentang sesiapa jua yang memerangi orang-orang yang menganggotai piagam ini.

    4. Maka hendaklah mereka saling nasihat menasihati, saling membuat kebajikan dan bukan dosa.

    5. Mana-mana orang tidaklah boleh dianggap bersalah kerana kesalahan yang dilakukan oleh sekutunya.

    6. Dan pertolongan hendaklah diberi kepada orang yang kena zalim.

    7. Bahawa orang-orang Yahudi hendaklah bersepakat dengan orang-orang mukmin selama mana mereka tidak berada dalam keadaan perang.

    8. Bahawa Kota Yathrib adalah terpelihara sepenuhnya tidak boleh dicerobohi oleh mana-mana pihak yang menganggotai piagam ini.

    9. Bahawa apa juga kemungkaran (bunuh) atau apa juga pertelingkahan di antara sesama peserta piagam ini sekiranya di khuatiri membawa kepada bencana maka hendaklah dirujuk kepada hukum Allah dan kepada penyelesaian oleh Muhammad Rasulullah (s.a.w).

    10. Bahawa tidaklah boleh di beri perlindungan kepada Quraisy (musuh) begitu juga tidak boleh di beri perlindungan kepada orang-orang yang membantunya.

    11. Bahawa hendaklah ada janji bantu-membantu mempertahankan kota Yathrib daripada mana-mana pihak yang mencerobohinya. Setiap pihak adalah berkewajipan mengambil bahagian masing-masing tentang satu-satu perdamaian.

    12. Bahawa piagam ini tidak boleh di pakai bagi melindungi orang-orang zalim dan yang bersalah.

    Dengan termeterainya perjanjian ini maka Madinah dan persekitarannya menjadi sebuah negara yang aman dan damai. Ibu negerinya adalah al-Madinah, pemimpinnya adalah Rasulullah (s.a.w.), kata-kata pemutus dan kekuasaan yang tertinggi adalah kaum muslimin. Dengan itu maka al-Madinah menjadi sebuah ibu negara Islam dengan erti kata yang sebenarnya. Dan untuk memperluaskan daerah keamanan dan kesejahteraan ini di masa hadapan, maka Rasulullah mengadakan perjanjian dengan qabilah-qabilah yang lain berdasarkan keadaan dan suasana, sepertimana yang diperkatakan nanti.

    http://dakwah.info/seerah-nabawiyah/perjanjian-dengan-yahudi/

     
    • wikki 11:01 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

      masalahnya perjanjian ini dibuat oleh sepihak.

    • SERBUIFF 11:50 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

      sepihak bagaimana wong semua terlibat dan setuju kok …….. tujuan utama piagam madinah untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah.

      Piagam Madinah (Bahasa Arab: صحیفة المدینه, shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) pada tahun 622.[1][2] Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah.

      http://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Madinah

    • wikki 4:33 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

      Sejarahwan Muslim Pakistan dan ahli tafsir Qur’an dan pencetus ide kebangkitan Islam, Maududi, mengisahkan sebagai berikut: “Beberapa lama setelah penjatuhan hukuman (pengusiran suku Qainuqa’ dan pembunuhan sejumlah penyair Yahudi), orang-orang Yahudi terus dicekam rasa ketakutan dan mereka tidak berani lagi bertindak. Namun kemudian di bulan Shawaal, tahun ketiga Hijrah, kaum Quraish dengan persiapan yang matang membalas dendam atas kekalahan mereka di Badr terhadap Medinah, dan orang-orang Yahudi melihat hanya ada beberapa ribu orang yang berperang dengan Nabi Suci (saw) melawan tiga ribu orang Quraish, dan malah 300 orang munafik melarikan diri kembali ke Medinah. Pengikut Abdullah ibn Ubayy, kepala suku Khazraj adalah yang pertama-tama melanggar persetujuan perdamaian dengan menolak bergabung dengan Nabi Suci membela kota tersebut walaupun mereka terikat perjanjian untuk melakukannya.”

      Sangatlah menakjubkan bahwa kaum Muslim berpikir bahwa orang-orang Yahudi terikat perjanjian untuk membantu Muhammad bertarung dalam perang agama melawan orang-orang Mekah, walaupun dia teah mengusir salah satu suku mereka (Yahudi) dan telah membunuh kepala suku mereka dan dua penyair mereka. Perang antara Muhammad dan orang-orang Quraish tidak ada hubungannya dengan orang Yahudi, dan dengan membunuh orang-orang Yahudi dan mengusir Banu Qainuqa’, Muhammd telah melanggar perjanjian perdamaian dengan mereka. Dan masih juga, untuk membenarkan kelakukan bejadnya, pembela Islam menyalahkan orang Yahudi dengan menuduh mereka melanggar perjanjian.

      Muhammad sekarang sedang mencari alasan untuk mengusir Banu Nadir. Mereka memiliki tanah pertanian terbaik di Yathrib dan taman-taman penuh pohon kurma dan mempekerjakan banyak orang Arab. Karena itu beberapa Muslim, yang berkat jasa Muhammad telah menjadi bandit ulung, membunuh dua orang dari Banu Kalb. Suku ini telah menandatangani perjanjian damai dengan Muhammad, di mana pengikut-pengikut Muhammad tidak boleh merampok atau membunuh mereka dan sebagai gantinya akan mendapat dukungan dari mereka. Para pembunuh itu mengira korban mereka adalah dari suku lain. Seperti yang digariskan tradisi, Muhammad harus membayar ganti rugi uang darah atas pertumpahan darah ini. Walaupun telah diperkaya dengan harta rampokan dari Banu Qainuqa’, sang Nabi pergi menghadap Banu Nadir dan meminta mereka turut membantu membayar uang darah itu sebagai bagian dari perjanjian damai. Ini adalah permintaan yang keterlaluan dan Muhammad mengharap Banu Nadir akan menolak, dan itu akan memberi dia alasan untuk memperlakukan mereka sebagaimana dia telah memperlakukan Banu Qainuqa’. Namun Banu Nadir terlalu takut untuk menolak permintaan tidak adil itu. Mereka setuju untuk membantu dan bubar untuk mengumpulkan uang. Muhammad dan teman-temannya duduk di bawah dinding, menunggu. Ini bukanlah apa yang direncanakan Muhammad. Dia telah datang membawa permintaan yang sangat tidak adil dengan harapan akan menerima reaksi negatif dan karenanya dapat melaksanakan rencana busuknya. Sekarang dia harus membuat strategi baru.

      Tiba-tiba dia mendapat “inspirasi” baru. Dia berdiri dan tanpa mengucap sepatah katapun kepada para pengikutnya, dia meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah. Ketika para pengikutnya menanyainya kemudian, dia berkata bahwa malaikat Jibril memberitahu dia bahwa orang-orang Yahudi bersekongkol untuk menjatuhkan batu ke kepalanya dari atas dinding di mana mereka sedang duduk. Dengan alasan ini dia mulai menyiapkan serangannya atas Banu Nadir.

      Tidak ada satupun pengikut Muhammad yang melihat orang memanjat dinding itu atau mendengar rencana pengancaman jiwa mereka. Namun orang-orang ini yang telah banyak mendapat keuntungan keuangan dengan mengikuti dia, percaya apa saja yang dikatakannya, tidak punya alasan ataupun kehendak untuk meragukan apa yang dikatakannya.

      Orang berakal yang mana saja bisa melihat kemustahilan cerita Muhammad. Jika Banu Nadir benar-benar mau dan berani membunuhnya, mereka tidak perlu memanjat dinding untuk menjatuhkan batu. Muhammad hanyalah didampingi segelintir pengikutnya, Abu Bakr, Omar, Ali dan mungkin satu atau dua lainnya lagi. Sangatlah mudah untuk membunuh mereka semua, jika memang ini yang mereka kehendaki. Tuduhan ini jelas-jelas palsu.

      Nabi yang percaya bahwa Allah itu khairul maakereen (penipu paling ulung), (Q.3:54) sendirinya adalah orang yang licik. Cerita tentang Jibril memberitahu dia tentang rencana orang Yahudi untuk mencabut nyawanya sama kredibelnya seperti cerita tentang kunjungannya ke neraka dan surga. Namun para pengikutnya yang gampang dibodohi itu percaya padanya dan sangat marah mendengar dongeng karangannya itu. Bersamanya merekapun maju menumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa.

      Maududi menutup ceritanya dengan berkata: “Sekarang tidak ada alasan untuk memberi mereka kemurahan hati lagi. Nabi suci segera memberi mereka ultimatum bahwa pengkhianatan terencana mereka terhadapnya telah diketahuinya; dan karena itu mereka harus meninggalkan Medinah dalam sepuluh hari. Jika mereka terdapati masih tinggal di tempat tinggal mereka, mereka akan dibunuh dengan pedang.” Maududi memberi contoh yang sempurna akan logika Muslim dengan menceritakan dongeng pengkhianatan Muhammad seakan-akan itu hal yang alami dan semestinya orang bertindak.

      Abdullah bin Ubayy berusaha keras membantu Banu Nadir, tetapi saat itu pengaruhnya terlalu lemah dan pengikut-pengikut Muhammad telah terbutakan oleh iman mereka. Mereka tidak mengizinkan bin Ubayy memasuki tenda Muhammad dan malahan menyerangnya dan melukai wajahnya dengan pedang.

      Setelah beberapa hari, Banu Nadir berunding untuk meninggalkan semua harta benda mereka bagi Muhammad dan meninggalkan kota. Beberapa di antara mereka pergi ke Suriah dan yang lainnya pergi ke Khaibar dan beberapa tahun kemudian dibunuh ketika Muhammad mengincar kekayaan kaum Yahudi di sana.

      Walaupun Muhammad membiarkan orang-orang ini pergi, rencananya yang pertama adalah untuk membantai mereka. Berikut ini adalah kutipan dari Sirat (Sejarah hidup Muhammad) yang membuat hal ini sangat jelas:

      Mengenai Banu al-Nadir, Surat al Mujadila diturunkan di mana dikisahkan bagaimana Allah membalas dendam pada mereka dan memberi Rasulnya kekuasaan atas mereka dan bagaimana Dia memperlakukan mereka. Allah berkata: “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pad saat pengusiran kali yang pertama. ….Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka,” yang merupakan balas dendam dari Allah. “Benar-benar Allah mengazab mereka di duniaini, yaitu dengan pedang, dan di akhirat neraka jahanam.”[1]

      Dalam pengepungan ini Muhammad memerintahkan penebangan dan pembakaran pohon-pohon milik Banu Nadir. Kekejian ini tidak pernah dilakukan bahkan oleh orang-orang primitif Arab. Yang perlu dilakukannya untuk membenarkan kekejiannya ini hanyalah membuat teman khayalannya menyetujui apa yang telah dia lakukan. Ini sangat mudah dilakukan jika Allah tunduk pada kehendakmu

      Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (Q. 59: 5)

      Sangat mudah membayangkan mengapa di lingkungan kering kerontang padang pasir, para penghuni padang pasir menganggap penebangan pohon dan peracunan sumur sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan juga melanggar perjanjian perdamaian dan adat lokal.

      Seorang cendekiawan Muslim, Al-Mubarkpouri, berkata: “Rasul Allah (saw) menyita senjata mereka, tanah, rumah dan harta kekayaan mereka. Di antara rampasan itu dia berhasil menyita 50 baju pelindung, 50 helmet dan 340 pedang. Rampasan ini semuanya milik Nabi semata, karena tidak ada perang yang terlibat dalam penyitaannya. Dia membagikan rampasan itu sesuai kehendaknya di antara para Muhajirin dan dua orang miskin Ansar, Abu Dujana dan Suhail bin Haneef. Rasul Allah menghabiskan sebagian dari harta ini untuk keluarganya untuk kehidupan mereka sepanjang tahun. Sisanya digunakan untuk melengkapi tentara Muslim dengan senjata bagi perang-perang berikutnya dalam jalan Allah. Hampir semua ayat dalam surat al Hashr mengambarkan pengusiran kaum Yahudi dan menyingkapkan kelakuan memalukan kaum munafik. Ayat-ayat itu mewujudkan peraturan berkenaan dengan harta rampasan. Dalam surat ini, Allah yang maha kuasa memuji para Muhajirin dan Ansar. Surat ini juga menunjukkan kehalalan menebang dan membakar lahan musuh dan pohon-pohon untuk tujuan militer. Tindakan ini tidak bisa dianggap sebagai perusakan asalkan dilakukan dalam jalan Allah.”

      Seperti halnya Maududi, Mubarakpouri juga menunjukkan ketidak adanya hati nurani dan etika yang menjadi ciri khas ummah. Muslim melakukan apa yang nabi mereka lakukan. Mereka menganggap membakar dan merajah harta orang-orang non Muslim sebagai tindakan halal dalam perang, karena itu disetujui dan dilakukan sendiri oleh Muhammad. Berdasarkan tindakan Muhammad, dapat disimpulkan bahwa kekejaman dalam Islam, dengan sangat disayangkan, bukanlah penyimpangan dari Islam yang sejati. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan adalah praktek Islam. Tidak ada yang melampaui batas dalam memajukan agama Allah.

      Anehnya, surat al-Hashrs diakhiri dengan menyuruh muslim bertakwa kepada Tuhan, yang membuatnya jelas bahwa ketakwaan bagi Muslim mempunyai arti yang sangat lain. Pembela Islam berkata bahwa moralitas jaman sekarang tidak boleh dipakai untuk menilai Muhammad yang hidup 1400 tahun yang lalu. Ironisnya, mereka menggunakan moralitas itu sebagai standar dan mencoba memaksakannya pada semua manusia setiap waktu.

      Seorang muslim menulis padaku, “Semua tulisan ini menjadi problematik bagi banyak orang karena pandangan mereka tentang apa yang benar secara moral dan apa yang salah secara moral. Sumber penyakit ini adalah mentalitas orang Kristen yang “memberi pipi lainnya” dan “penebusan penderitaan oleh Kristus” yang kedua-duanya telah menjadi penyakit dalam akal orang Eropa selama berabad-abad.”

      Aku tidak percaya moralitas dan etika adalah penyakit. Keduanya berasal dari hati nurani manusia dan merupakan prinsip2 Hukum Emas (Golden Rule). Kita tahu bedanya yang benar dan yang salah ketika kita mempertimbangkan bagaimana kita mau diperlakukan orang lain.

      ——————————————————————————–

      [1] Ibn Ishaq irat, p. 438

      • SERBUIFF 12:38 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        mereka melanggar perjanjian, ya mereka harus terima konsekwensinya….

    • wikki 3:05 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      Mereka melanggar perjanjian yang tidak diketahui orang jahudi …dan sengaja dicari kesalahan dengan fitnah ..oh muhammad ….malas banget ente gawe masakan.gawe ngewe terus sapoe poean.

      • SERBUIFF 3:51 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        kelihatan lu nggak tahu pokok masalah……lihat :

        Sebelum Rasulullah n berhijrah ke Madinah, sudah ada tiga kabilah besar bangsa Yahudi yang menetap di negeri tersebut. Mereka adalah Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.

        Masing-masing kabilah ini mempunyai sekutu dari kalangan penduduk asli Madinah yaitu Aus dan Khazraj.

        Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir bersekutu dengan Khazraj,

        sedang-kan Bani Quraizhah menjadi sekutu Aus.

        http://asysyariah.com/perang-bani-nadhir.html

    • wikki 4:00 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      coba sdr lihat siapa yang hadir dai pihak banu qanuiqa …banu nadr ..banu quraiza pada saat dibuat perjanjian yang katanya disepakati… lalu apa konsekwensi yang harus dilaksanakan bila terjadi pelanggaran poin demi poin..adakah peringatan sewaktu terjadi pelanggaran …??????

    • STEFANUS LIM 5:13 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      YAHUIDI PEMBERONTAK ISTILAH AL KITAB “PEMBUNUH”NABI ISA AS, MEREKA JELAS2 PENGKHIANAT.
      KETIGANYA(BANI QINUQA, BANI NADIR, QURAIZA) PATUT DIHUKUM SERTA DIUSIR. PADA PERANG KHNDAQ JELAS MEREKA BERKHIANAT MENYERANG DARI BELKANG SEHINGGA HARUS DIHUKUM PENGGAL., SERTA DIRAMPAS HARTA

      @ATAR BINTI APRILIA.
      HA HA HA SI JANGKIR NGUTIP 2 AYAT.

      MATIUS DAN KISAH PARA RASUL AJA SALAH2 BEDA SEPERTI LANGIT DAN BUMI KARENA BUKAN DARI TUHAN TAPI DARI HANTU, HAHAHA.
      KISAH YUDAS MATI GANTUNG DIRI DI MATIUS SEDANGKAN DIKISAH PAR RASUL BUATAN PAULUS YUDAS JATUH PERUT TERBELAH USUS KELUAR,APA MUNGKIN????
      PERTANYAANNYA MANA YANG BENAR???
      NGGA MUNGKIN DUA2NYA BENAR.
      ATAU SALAH SATU BOONG.
      ATAU DUA2NYA BOONG,
      NGGA MUNGKIN DUA2NYA BENAR.
      NAH PENULIS KAYAK MATIUS DAN PAULUS GINI MASIH ANDA SEMBAH HA HA AH SUNGGUH BODOH SEKALI.

      BAHAYA BUNG BERACUN HA HAHA MEMBAWA ANDA KE NERAKA KEKAL ABADI.
      MAU LU DIBAKAR DIJADIKAN KAYU BAKAR???MIKIR BUNG MIKIR.SETAN PEMBUAT AYAT PALSU ADA DKAT ANDA. HA HA HA.

      @ONANY BINTI JANGKRIK ALIAS TEDIHOK
      ANDA BODOH DIBANDING PENDETA ANDA DR YAHYA WALONI.HA HA HA.

      BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
      IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
      AGAMA ANDA SUDAH KADALUARSA IBARAT SK LAMA DIGANTI DENGAN SK BARU.
      SK LAMA NGGA LAKU DIHADAPAN ALLAH. ALLAH MAU YANG BARU.YAITU AGAMA ISLAM.

      BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
      IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
      IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

      BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
      IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
      IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

      BIAR ANDA KUTIP AYAT INJIL ASLI,
      IBADAH YANG ASLI NGIKUT CARA NABI ISA SAMPAII BONGKOK,
      IBADAH ANDA TIDAK DITERIMA

      ANDA AKAN DIMASUKKAN KE NERAKA.
      ALLAH HANYA MENGAKUI AGAMA ISLAM YANG DIREDHOI ALLAH.
      YAITU MENYEMBAH ALLAH SERTA MENGAKUI NABI MUHAMAD UTUSAN ALLAH.

      BAHKAN NABI ISA AS AKAN MENGENYAHKAN ANDA, HUH TAK TAHU MALU.DIA UNTUK AGAMA MASA LALU UNTUK BANI ISRAIL.
      BUKAN UNTUK ANDA YANG INDON, HA HA HA
      CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN,
      KASIHAN NAK ISTRI DIBAWA KE NERAKA.
      DASAR BOODOH, BIN GOBLOK ALIAS TOLOL HA HA AHA.

    • wikki 5:47 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      pertanyaanku diatas belum satupun muslim menjawab….

      • ungke 7:21 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        Biasa mereka lagi cari bahan untuk taqiya lagi, kebohongan satu di tutupi dengan kebohongan yang lain, kan kalo sering kan akan kelihatan seperti kebenaran

        • SERBUIFF 8:47 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

          tidak ada kebohongan dalam ajaran islam……..pertanyaan apa ? pertanyaan tkw yg di hongkong dan tuhan dalam kandungan aja sampai sekarang lu nggak bisa jawab …

      • SERBUIFF 7:21 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        pertanyaan apa ? pertanyaan tkw yg di hongkong dan tuhan dalam kandungan aja sampai sekarang lu nggak bisa jawab …

    • wikki 9:45 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      ngibul………………….

    • wikki 12:01 pm on 21/08/2012 Permalink | Reply

      Jika Muhammad memang adalah Nabi yang dijanjikan sejak dia masih kecil, mengapa
      dia lalu menyembah, bersholat, dan mengorbankan hewan kurban pada patung Al-Uzza,
      dewi pagan yang juga adalah putri dari Allâh? Mari baca tulisan Ibn Ishaq di Sirat Rasul
      Allâh: [11]
      [11] Ibn Ishaq, Sirat Rasul Allâh, hal.165
      Muhammad berkata ‘Aku baru datang dari kota Al-Taf dan bertemu Zaid bin Amro,
      seorang Hanif senior, di bukit yang tak jauh dari Mekah. Aku membawa bekal makan
      siangku, yang termasuk potongan² daging domba yang telah dikorbankan di
      hadapan patung² kami; aku tawarkan sebagian daging itu pada Zaid sambil berkata:
      ‘Makanlah sebagian dari makanan ini, paman.’ Zaid bertanya pada Muhammad, ‘Apakah
      ini daging yang dikorbankan pada patung²mu?’ Muhammad menjawab: ‘YA!’ Zaid
      menjawab: ‘Aku tidak mau makan daging itu. Aku tidak membutuhkannya.’ Zaid lalu
      mulai mengritik patung² dan para pemujanya, termasuk Muhammad, yang berkata
      patung² itu tidak bermanfaat atau mencelakai siapapun.Pengulangan kisah² para Nabi Yahudi, yang terkadang bertentangan isinya satu sama
      lain, dilakukan agar Qur’an tampak semakin rumit dan pembaca jadi semakin bingung.
      Muhammad juga menyusun pernyataan yang dapat berarti banyak; dan pernyataan itu
      tidak lazim dalam bahasa Arab. Contohnya:
      ‘Mereka yang dia sebut sebagai istri²nya!’ – kalimat ini digunakannya untuk menutupi
      jumlah istri Muhammad yang sebenarnya.
      ‘Bagi mereka yang hatinya (baru² ini) berdamai (dengan kebenaran)’ – kalimat ini (Q
      9:60) digunakan Muhammad untuk memberi uang bagi suku bangsanya yakni Quraish.
      ‘Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar’ – kalimat ini (Q
      24:11) sebenarnya ditujukan bagi Abdullah bin Abi Salul, yang adalah salah satu ketua
      suku yang berwibawa. Dia mempermasalahkan perserongan yang dilakukan Aisyah dan
      memberitakan ke mana² dan membesar-besarkannya. Muhammad menghukum orang²
      yang lemah, tapi dia takut pada pemimpin suku seperti Abdullah dan karenanya dia
      menggunakan kalimat yang mengaburkan siapa yang sebenarnya dia bicarakan, agar tak
      tampak langsung menyerang AbdullahDalam Qur’annya, Muhammad menyatakan ‘lafalkan Qur’an secara perlahan, dan alunan
      yang teratur.’ [14] Muhammad memerintahkan pelafalan ini untuk membangkitkan rasa
      khidmat saat mendengarkan Qur’an. Itulah sebabnya terdapat kesamaan yang besar
      antara cara Muslim membaca Qur’an dengan cara umat Hindu membaca kitab suci Veda.
      [14] Qur’an, Sura 73, Al-Muzzammil, Yang Terselubung, ayat ke 4.Perbedaan versi² Qur’an diantara para juru tulis Muhammad akhirnya mengakibatkan
      pertikaian antara mereka semasa hidup Muhammad. Begini kisahnya. Umar bin Khattab,
      sang kalifah kedua, berkata:
      ‘Semasa hidup Muhammad, aku mendengar Hisham bin Hakim membaca Sura Forkkan
      dan aku bertanya padanya ‘siapa yang mengajarmu ayat² ini?’ Jawab Hisham,
      ‘Muhammad.’[15] ‘Kau pendusta,’ aku berkata padanya karena Muhammad mengajarkan
      padaku ayat² lain. Maka aku bawa dia menghadap Muhammad dan aku baca Sura
      tersebut sebagaimana yang kuketahui. Muhammad menjawab, ‘Kau benar.’ Lalu Hisham
      membacakan Sura versi miliknya, dan Muhammad berkata, ‘Kau benar.’
      [15] Sahih Al Bukhari, Al Bukhari, bab Tobatnya para Pemberontak, nomer 6936.
      Salah satu juru tulis Qur’an Muhammad yang bernama Ibn Masud berkata:
      ‘Aku mendengar orang membaca sebuah ayat ketika Muhammad membaca ayat yang
      sama dengan cara yang berbeda. Maka aku menghadap Muhammad untuk memberitahu
      dia tentang hal ini dan dia mengatakan padaku – baik kau maupun dia melafalkan dengan
      benar dan tidak usah bertikai.’[16]
      [16] Sahih Al Bukhari, Al Bukhari, bab Perkataan Nabi, nomer 3476.
      Sudah jelas bahwa Muhammad telah siap dengan berbagai alasan bagi kontradiksi
      tersebut. Para ulama Muslim biasa mengatakan pertikaian terutama terjadi karena
      perbedaan dialek sebab Qur’an diajarkan dalam 7 dialek Baduy yang berbeda. Jika kau
      membaca kedua hadis di atas dengan seksama, telah jelas dinyatakan bahwa Muhammad
      sendiri membaca Qur’an di hadapan para jurutulisnya, dan mereka mendengar kata² yang
      diucapkannya, dan lalu membaca dengan aksen milik Muhammad. Jadi kata² Qur’an
      tidak ditulis dengan menggunakan aksen yang dimiliki sang jurutulis. Perbedaan aksen
      akan mengakibatkan pengucapan yang sedikit berbeda. Perbedaan kecil seperti ini tidak
      akan membuat Umar sedemikian marah sehingga menuduh Hisham sebagai pendusta dan
      membawanya menghadap Muhammad.
      Keterangan hadis selanjutnya menyatakan bahwa Ibn Masud merasa Muhammad tidak
      suka dengan pertanyaan seperti itu. Kata Ibn Masud,
      ‘Aku melihat wajahnya menyiratkan agar aku tidak mengajukan pertanyaan itu lagi, tulis
      saja apa yang kukatakan dalam Qur’an milikmu dan jangan peduli dengan apa yang
      ditulis atau dikatakan dalam Qur’an mereka, kalian semua benar.’
      Hal ini menjelaskan mengapa Muhammad tidak mau mengumpulkan Qur’an ke dalam
      satu buku.Semua agama boleh dikritik, kecuali Islam. Dalam Islam, tidak ada tempat bagi
      toleransi. Mengapa sih kok Islam itu takut sekali dikritik? Semua agama telah
      mengalami kritik dan agama² tersebut ternyata tidak jadi lenyap tuh.
      Muhammad dan para Muslim sejati tahu sekali akan penjelasan rinci di buku ini, dan
      bahwa Islam dibangun melalui penipuan dan dusta. Muhammad berkata:
      ‘Satu²nya hal yang kutakuti akan negaraku adalah para ahli, jika saja mereka nantinya
      menyeleweng.’
      Kata ‘negara’ adalah dunia Arab dan tidak semua Muslim, karena Muhammad tidak
      merasa takut akan Muslim non-Arab. Muhammad hanya takut akan para ahli Islam
      Arab, tapi tidak khawatir akan para Muslim Arab kriminal, pencuri, atau
      pemabuk. Hal ini karena para ahli Islam Arab sangat mengerti mentalitas Arab
      Baduy dan sangat menguasai bahasa Arab. Muhammad tahu bahwa orang² seperti
      ini bisa mempelajari perkataannya dan tindakannya dan akhirnya mengerti bahwa
      aturan dan nilai² Islam berdasarkan kekerasan dan pembunuhan, seperti cara yang
      dilakukan Muhammad untuk menguasai masyarakat Baduy. Inilah sebabnya
      mengapa Muhammad tidak mengijinkan siapapun mengritik dirinya. Dia tahu
      bahwa fondasi Islam sangat lemah, sehingga satu orang Arab kritis saja bisa
      mengakibatkan berakhirnya Islam.

  • SERBUIFF 9:24 am on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Pertempuran Khandaq   

    Pertempuran Khandaq 

    Pertempuran Khandaq

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Pertempuran Khandaq
    Bagian dari Perang antara MuslimQuraish
    Tanggal 31 Maret – April 627 Masehi[1] (5 Syawal Hijriah)[2]
    Lokasi Perbatasan sekitar Medina
    Hasil Kegagalan pengepungan; kemenangan Islam secara telak
    Pihak yang terlibat
    Muslim Konfederasi including

    Komandan
    Muhammad Abu Sufyan
    Kekuatan
    3,000[3] 10,000[3]
    Korban
    Sedikit korban jiwa Banyak jatuh korban
    [sembunyikan]

    l • b • s
    Pertempuran Muhammad

    Ghazwah (Turun langsung dalam pertempuran)
    Penyergapan kafilah – Waddan – Safwan – Buwat – Dul Ashir – Badar – Pengusiran Bani Qaynuqa – Asyirah – Sawiq – Bani Sulaim – Bahran – Al-Kidr – Hamra’ al-Asad – Uhud – Dzi Amr – Dzatu al-Riqa` – Dumatul Jandal – Khandaq – Bani Quraizhah – Bani Mustaliq – Bani Lahyan – Al-Gabah – Fathu Makkah – Khaybar – Hunayn – Tha’if – Tabuk – Eid – Zakat – Thi Amr – Ghatfan – Bahran – Al-Asad – Badru Ukhra – Bani Nadhir – Thi Qerd – Hudaybiyyah – Awtas – Hawazan

    Sirya (Pertempuran atas perintahnya)
    Qirdah – Mu’tah – Dzatu as-Salasil – Yarmuk – Pengepungan Nakhla – Penyergapan Najd – Penyergapan Al-Is – Invasi al-Khabt – Ekspedisi Batn Edam – Ekspedisi Qatan

    Pertempuran Khandaq (Arab:غزوة الخندق) juga dikenal sebagai Pertempuran Al-Ahzab, Pertempuran Konfederasi, dan Pengepungan Madinah terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi, pengepungan Madinah ini dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy makkah dan yahudi bani Nadir (al-ahzaab). Pengepungan Medinah dimulai pada 31 Maret, 627 H dan berakhir setelah 27 hari.[1]

    Daftar isi

    Etimologi

    Pertempuran ini dinamai Pertempuran Khandaq (Arab الخندق) karena parit yang digali oleh umat Islam dalam persiapan untuk pertempuran. Kalimat Khandaq kata adalah bentuk bahasa Arab dari bahasa Persia “kandak” (yang berarti “Itu yang telah digali”).

    Pertempuran juga disebut sebagai Pertempuran Konfederasi (bahasa Arab غزوة الاحزاب). Al-Qur’an menggunakan istilah sekutu (Arab الاحزاب) dalam surah Al-Ahzab [Quran 33:9-32] untuk menunjukkan konfederasi Arab pagan dan Arab Yahudi terhadap Islam.

    Pertempuran

    Pengepungan adalah “pertempuran kecerdasan”, di mana para ahlik taktik Muslim mengatasi lawan-lawan mereka, sementara jatuh korban sangatlah sedikit. Upaya konfederasi untuk mengalahkan kaum Muslim gagal, dan kekuatan Islam menjadi berpengaruh di wilayah tersebut. Akibatnya, tentara Muslim mengepung sekitar Banu Qurayza, yang mengarah ke penyerahan tanpa syarat mereka. Kekalahan itu menyebabkan Mekah kehilangan perdagangan mereka dan sebagian besar adalah kehormatan harga diri mereka.

    Untuk melindungi Madinah dari serangan gabungan, maka dibuatlah parit sebagai strategi berperang untuk menghindari serbuan langsung dari pasukan Al-Ahzab Quraisy dan bani Nadir. Strategi pembuatan parit di sela sela daerah yang tidak terlindungi oleh pegunungan sebagai tempat perlindungan adalah strategi dari sahabat Rasulullah S.A.W bernama Salman al-Farisi yang berasal dari Persia, sehingga perang ini disebut dengan pertempuran parit/khandaq. Sejatinya strategi ini berasal dari Persia, yang dilakukan apabila mereka terkepung atau takut dengan keberadaan pasukan berkuda.

    Lalu digalilah parit di bagian utara Madinah selama sembilan/sepuluh hari. Pasukan gabungan datang dengan kekuatan 10.000 pasukan yang siap berperang. Pasukan gabungan membuat kemah di bagian utara Madinah, karena di tempat itu adalah tempat yang paling tepat untuk melakukan perang. Pada Pertempuran Khandaq, terjadi pengkhianatan dari kaum Yahudi Bani Qurayzhah atas kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya untuk mempertahankan kota Madinah, tetapi bani Quraizhah mengkhianati perjanjian itu.

    Setelah terjadi pengepungan selama satu bulan penuh Nua’im bin Mas’ud al-Asyja’i yang telah memeluk Islam tanpa sepengetahuan pasukan gabungan dengan keahliannya memecah belah pasukan gabungan. Lalu Allah S.W.T mengirimkan angin yang memporakporandakan kemah pasukan gabungan, memecahkan periuk-periuk mereka, dan memadamkan api mereka. Hingga akhirnya pasukan gabungan kembali ke rumah mereka dengan kegagalan menaklukan kota Madinah. Setelah peperangan itu, Rasulullah dan para sahabat berangkat menuju kediaman bani quraizah untuk mengadili mereka.

    Konfederasi

    Gambaran pertempuran

    Awal tahun 627, orang-orang Yahudi dari Bani Nadir bertemu dengan Quraisy Mekah Arab. Huyayy bin Akhtab, bersama dengan para pemimpin lainnya dari Khaybar, melakukan perjalanan untuk sumpah setia dengan Safwan di Mekah. Sebagian besar tentara Konfederasi dikumpulkan oleh pagan Quraish Mekah, yang dipimpin oleh Abu Sufyan, yang menerjunkan 4.000 prajurit, 300 penunggang kuda, dan 1.000-1.500 orang pada unta.

    Bani Nadir mulai meriahkan para perantau dari Najd. Mereka meminta Bani Ghatafan dengan membayar setengah dari hasil panen mereka. Rombongan kedua terbesar ini, menambahkan kekuatan sekitar 2.000 300 laki-laki berkuda yang dipimpin oleh Unaina bin Hasan Fazari. Bani Assad juga setuju untuk bergabung dengan mereka yang dipimpin oleh Tuleha Asadi.[4]. Dari Bani Sulaim, Nadir dijamin 700 pria, meskipun akan jauh lebih besar memiliki beberapa pemimpinnya tidak bersikap simpatik terhadap Islam. Para Bani Amir, yang memiliki perjanjian dengan Muhammad, menolak untuk bergabung [5].

    Suku-suku lain termasuk Bani Murrah dengan 400 orang dipimpin oleh Hars bin Auf Murri dari Bani Shuja dengan 700 laki-laki dipimpin oleh Sufyan bin Abd Syams. Secara total, kekuatan tentara Konfederasi, meskipun tidak disepakati oleh ulama, diperkirakan sekitar 10.000 laki-laki dengan enam ratus kuda. Pada akhir Maret 627 tentara yang dipimpin oleh Abu Sufyan berbaris menuju Madinah [3].

    Catatan

    1. ^ a b Watt, Muhammad at Medina, p. 36f.
    2. ^ [1]
    3. ^ a b c Rodinson,Muhammad:. Nabi Islam, hal 208
    4. ^ al-Halabi,al-Sirat al-Halbiyyah, hal 19
    5. ^ Lings,Muhammad:. Hidupnya berdasarkan sumber-sumber awal, hal 215f

    Referensi

    • Guillaume, Alfred, The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah. Oxford University Press, 1955. ISBN 0-1963-6033-1

    Pranala luar

     
    • wikki 11:03 am on 19/08/2012 Permalink | Reply

      Suku Yahudi terakhir yang menjadi korban kedendaman Muhammad adalah Banu Quraiza. Tidak lama setelah Perang Parit (Khandaq) selesai, orang-orang Mekah yang tidak tahan lagi terhadap serangan terus menerus Muhammad terhadap karavan mereka maju ke gerbang kota Medinah untuk menghukumnya. Atas ajuran seorang muslim Persia, mereka menggali parit di sekitar kota itu yang menyulitkan musuh-musuh Muhammad untuk memasuki kota, yang membuat mereka menarik diri. Muhammad menjadikan Banu Quraiza targetnya. Dia mengklaim bahwa malaikat Jibril mengunjunginya dan memintanya mencabut pedangnya dan menuju ke tempat tinggal Banu Quraiza dan memerangi mereka. “Jibril berkata bahwa dirinya dengan pasukan para malaikat akan pergi mengguncangkan pertahanan mereka dan menebarkan ketakutan di hati mereka,”[1] tulis Al-Mubarakpouri. Al-Mubarakpouri berkata lebih lanjut: “nabi Allah langsung memanggil si pengumandang azan dan memerintahkannya untuk mengumumkan perang baru terhadap Banu Quraiza.”[2]

      Sangatlah penting dalam mempelajari Islam untuk mengerti bahwa panggilan untuk solat adalah juga panggilan untuk berperang. Kerusuhan-kerusuhan dan penjarahan kaum muslim selalu dimulai di mesjid setelah mereka bersolat. Mereka paling bersemangat di bulan suci Ramadan dan pada hari Jumat. Dalam khotbah peringatan hari kelahiran Muhammad di tahun 1981, Ayatollah Khomeini berkata:

      Mehrab (Mesjid)) berarti tempat perang, tempat untuk bertempur. Di luar mehrab, perang harus berlangsung. Seperti halnya semua perang-perang dalam Islam berlangsung terus di luar mehrab. Nabi memiliki pedang untuk membunuh orang. Imam-Imam suci kita cukup militan. Mereka semua adalah pendekar perang. Merka biasa menyandang perang. Mereka biasa membunuh orang. Yang kita perlukan adalah seorang Kalifah yang akan memotong tangan, memenggal leher dan merajam orang, seperti halnya rasul Allah biasanya memotong tangan, memenggal leher dan merajam orang.[3]

      Muhammad mengepalai pasukan tentara yang terdiri dari tiga ribu tentara infantri dan tiga puluh tentara beruda dari kalangan orang Ansar dan Muhajirin. Banu Quraiza dituduh bersekongkol dengan orang-orang Quraish melawan kaum Muslim. Pada kenyataannya, sejarahwan-sejarahwan Muslim membantah tuduhan ini dan berkata bahwa orang-orang Mekah menarik diri tanpa berperang karena mereka tidak menerima dukungan dari Banu Quraiza.

      Ketika Muhammad mengumumkan niatnya, Ali, sepupunya yang merupakan pendukung utamnya, bersumpah tidak akan berhenti hingga dia berhasil menyerbu benteng mereka atau mati. Pengempungan ini berlangsung selama 25 hari. Akhirnya Banu Quraiza menyerah tanpa syarat. Muhammad memerintahkan kaum lelaki diikat tangannya dan kaum wanita dan anak-anak dikurung. Saat itulah suku Aws yang merupakan sekutu Banu Quraiza datang memohon Muhammad untuk berlembut hati terhadap mereka. Muhammad menyarankan agar Sa‘d bin Mu‘adh, seorang penjahat bengis di antara mereka yang telah terluka berat oleh panah untuk menjatuhkan hukuman terhadap orang-orang Yahudi itu. Sa’d dulunya adalah sekutu Banu Quraiza, tetapi sejak dia masuk Islam hatinya telah berubah melawan mereka. Dia juga menyalahkan mereka terhadap luka yang didapatnya ketika seorang Mekah melontarkan anak panah dalam Perang Parit. Muhammad tahu bagaimana perasaan Sa’d terhadap Banu Quraiza. Sa’d adalah bodyguard (pelindung)nya dan tidur di mesjid.

      Vonis Sa’d’s adalah “semua lelaki anggota suku yang bertubuh sempurna harus dibunuh, wanita dan anak-anak dijadikan tawanan dan harta mereka dibagi-bagikan di antara para pendekar Muslim.”

      Muhammad sangat senang mendengar vonis kejam itu dan berkata, “Sa‘d telah menghakimi berdasarkan Perintah Allah.”[4] Dia sering memakai nama Allah bagi keputusan-keputusannya sendiri. Kali ini dia memilih Sa’d untuk mewujudkan keinginannya.

      Al-Mubarakpouri menambahkan bahwa “Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu pantas mendapat hukuman itu karena pengkhianatan mereka terhadap Islam, dan sejumlah besar senjata yang mereka kumpulkan, yang terdiri dari seribu lima ratus pedang, dua ribu tombak, tiga ratus baju pelindung dan lima ratus perisai, yang semuanya jatuh ke tangan kaum Muslim.”

      Al-Mubarakpouri lupa menyebutkan bahwa Banu-Quraiza telah meminjamkan senjata-senjata dan juga cangkul-cangkul mereka kepada kaum Muslim sehingga mereka bisa mengali parit dan membela diri mereka. Muslim tidak akan pernah berterima kasih kepada orang-orang yang menolong mereka. Mereka akan menerima pertolonganmu dan akan menikammu dari belakang begitu mereka tidak memerlukan engkau lagi. Akan kita lihat di bab berikutnya psikologi dari penyakit ini.

      Sejarawan2 Muslim sangat cepat menjatuhkan tuduhan tak berdasar terhadap Banu Quraiza untuk membenarkan pembantaian mereka. Merka menuduh Banu Quraiza licik, penghasut, pengkhianat dan bersiasat melawan Islam. Namun tidak ada bukti spesifik tentang dosa-dosa itu yang menyebabkan mereka layak menerima hukuman seberat itu dan juga pembantaian total. Parit-parit digali di bazaar di Medinah dan sekitar 600 – 900 orang dipenggal kepalanya dan badan mereka dibuang ke parit-parit itu.

      Huyai Ibn Akhtab, kepala suku Banu Nadir yang anak perempuannya yang telah menikah, Safiya, diambil Muhammad sebagai jatah rampasan perangnya ketika dia menyerang Khaibar, termasuk di antara para tawanan itu. Dia dibawa menghadap si pemenang perang dengan tangannya diikat di belakang badannya. Dengan sangat beraninya dia menolak Muhammad dan lebih suka mati daripada menyerah kepada lelaki bengis itu. Dia diperintahkan untuk berlutut dan kepalanya dipenggal di tempat.

      Untuk menentukan siapa yang harus dibunuh, anak-anak muda diperiksa. Yang telah tumbuh bulu kelaminnya dikelompokkan dengan para lelaki dewasa dan dipenggal kepalanya. Atiyyah al-Quriaz, seorang Yahudi yang berhasil lolos dari pembantaian itu menceritakan kemudian: “Aku termasuk di antara tawanan Banu Quraiza. Mereka (para Muslim) memeriksa kami, dan mereka yang telah mulai tumbuh bulu kelaminnya dibunuh, dan yang belum tidak dibunuh. Aku termasuk yang belum tumbuh bulu kelamin.”[5]

      Muhammad membunuh dan mengusir beberapa suku Yahudi, termasuk di antaranya B. Qainuqa’, B. Nadir, B. Quraiza. B. Mustaliq. B. Jaun dan orang-orang Yahudi dari Khaibar. Di saat sekaratnya, dia memerintahkan para pengikutnya untuk membersihkan Semenanjung Arabia dari semua orang kafir,[6] perintah yang kemudian dilaksanakan oleh Omar, Kalifah kedua. Dia memusnahkan orang-orang Yahudi, Kristen dan pemuja berhala, memaksa mereka masuk Islam, minggat atau dibunuh.

      Sekarang, diperkaya dengan harta rampokan, Muhammad dapat lebih bermurah hati kepada orang-orang yang percaya padanya. Anas mengisahkan, “Orang-orang dulunya terbiasa memmberi beberapa dari kurma mereka kepada Nabi (sebagai hadiah), hingga dia menaklukkan Banu Quraiza dan Banu An-Nadir, saat mana dia mulai membayar balik kebaikan mereka.”[7]

      Ayat berikut dalam Qur’an berbicara tentang pembantaian Banu Quraiza dan menyetujui penyembelihan Muhammad terhadap kaum lelaki mereka dan menjadikan kaum wanita dan anak-anak sebagai tawanan.

      Dan dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (Q. 33: 26)

      • SERBUIFF 3:14 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply

        yah begitulah balasan yg setimpal bagi pare penghianat, musuh dalam selimut dan pelanggar perjanjian. Jika mereka berhasil mengalahkan muhammad dan kaum muslim, pasti mereka juga akan membunuh dan memengal muhammad dan kaum muslim, betul nggak ?…

    • wikki 3:44 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply

      tuduhan itu palsu taktahukah kamu bahwa sebenarnya muhammad sewaktu duduk sendiri mencoba memikirka cara alasan supaya bisa menghancurkan Banu Quraiza..banu nadr dll???apakah waktu itu muhammad sdr lihat dalam keadaan terancam???? sehingga harus memusnahkan ras …??alasan satu satunya hanya karena mereka banyak harta ,dan tidak mau mengikuti agama muhammad..baca dari sumber aslinya …

      • SERBUIFF 4:03 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply

        sudah pasti terancam karena mereka berniat memusnahkan nabi muhammad dan kaum muslim, … kaum yahudi adalah orang2 yg paling suka berhianat dan melanggar perjanjian, selain itu mereka selalu berusha menghancurkan nabi muhammad dan kaum muslimin, …,,,kenapa kau salahkan muhammad, harusnya kau salahkan mereka yg berkianat dan melanggar perjanjian

    • wikki 6:33 pm on 19/08/2012 Permalink | Reply

      tidak ada keadaan muhammad dalam keadaan terancam dari segi jumlah penduduk suku suku masih lebih banyak pasukan muhammad yang siap berjihad.. lagian mereka juga taat membayar jiyah kepada muhammad ..tetapi muhammad sengaja mencari alasan supaya bisa menjarah harta suku suku jahudi .kamu lihat pertama sebelum ke madinah tidak ada harta muhammad kemudian dirampas dari suku suku jahudi termasuk kebun kebun korma .tetapi setelah besar pengikutnya maka muhammad pun mulai memfitnah ..baca sejarah dari kitab bukari .tabari ..dan buku buku islam yang di akui janga karangan karangan baru .

      • SERBUIFF 1:56 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

        sudah melanggar perjanjian,sudah berkianat, sudah berniat perang dan mengepung dan siap membunuh muhammad dan kaum muslim ….itu apa namanya….apa balasan yg setimpal bagi mereka ?….

        • wikki 3:21 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

          ha.ha.ha…anda mulai membenar benarkan tindakan muahmmad lagi …nampaknya sdr belum membaca bukti bukti dari kitab yang otentik…nampaknya sdr hanya beropini sendiri

          • SERBUIFF 4:32 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

            kesalahan mereka banyak dan berat,…wajar muhammad mengambil tindkan seperti itu……jaman sekarang aja para penghianat bangsa sebagian besar dihukum mati…

    • SOE BODO 1:37 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

      Mengingatkan saya ketika dalam suatu kelas dibagi 2 kelompok,
      untuk melakukan penelitian yang sama dengan masing mengunakan dua alat yg sama..masing kelompok dibagi dalam jumlah yang sama dari segi kwalitas maupun kwantitas…hasil penelitian harus disampaikan baik lisan maupun tulisan yang diwakili masing2 kelompok secara bergantian….anehnya hasil akhirnya berbeda, biarpun berbeda masing kelompok mempertahan apa yang telah dilakukan adalah yakin dan benar…sehingga masing2 kelompok berharap dia yang paling benar dalam melakukan penelitiannya pada guru kami…karena bilau yang tahu persis jawabannya…beliau tersenyum sebelum memberikan ulasannya karena yang dilakukan oleh para muridnya metodenya sudah benar…hanya dengan sengaja menyediakan alat salah satunya rusak/penyimpangan… sehingga diharapkan para muridnya mengambil hikmahnya dari penelitian tersebut….ketika kita mengunakan alat yang tidak sempurna dalam meneliti sesuatu pasti hasilnya akan berbeda dari alat yang sempurna, bagaimana jadinya kalau dua kelompok murid ditanamkan kebencian satu sama lain …apakah kita punya pilihan ketika memulai penelitian… kalau tidak maka pilihan jawaban dan bertambah yakin dengan jawaban yang benar setelah disampiakan orang yang tahu akan kesalahan maupun kebenaran dari guru kita waktu itu…..dari cerita tersebut dimana kedudukan kita…beruntung lah kalau kita menjadi mendapat cerita dari sumber aslinya apalagi kenal dan mengetahui pelaku dari cerita tersebut…bukan memanfaat cerita untuk kepentingan yang lain untuk diri ..apalagi kepada orang yg tahu persis hikmah dari cerita tersebut.

      • wikki 3:22 am on 20/08/2012 Permalink | Reply

        sdri pasti tidak mengerti dengan inti masalah……..

  • SERBUIFF 9:20 am on 19/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Banu Nadhir   

    Banu Nadhir 

    Banu Nadhir

    Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

    Banu Nadhir @ Bani Nadir (Bahasa Arab: بنو النظير‎) merupakan segolongan puak daripada kaum Yahudi yang menetap di kawasan Lembah Hijaz berdekatan kota Madinah sehingga abad ke-7. Kawasan perkampungan mereka adalah terletak di Wadi Mudzaineb (terletak di tenggara kota suci Madinah Al Munawwarah. Jarak perkampungan itu terletak kira-kira 3.5 km dari Masjid Nabawi dan kira-kira 1 km dari Masjid Quba. Kini bekas tapak perkampungan itu sahaja masih tinggal tetapi masyarakat Yahudi Banu Nadhir sudah tiada.

    Sejarah

    Puak Banu Nadhir ini, pada awalnya terikat dengan perjanjian dengan kaum Muslimin Madinah, namun atas sikap mereka (Banu Nadhir) yang suka kepada permusuhan dan selalu mengingkari tali perjanjian mereka sudah beberapa kali cuba dan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW, tetapi kerja jahat mereka itu tidak berhasil dan menemui kegagalan.

    Akhirnya, atas perintah Allah, Nabi Muhammad SAW telah menghalau dan mengusir mereka dari bumi Madinah, dengan sabda Rasulullah SAW:

    “Keluarlah dari negeriku ini,dan janganlah engkau tinggal di dalamnya bersamaku, aku beri waktu sehingga sepuluh hari, jika masih ada yang terlihat di sini, maka ia akan dibunuh”. Tetapi kata-kata Rasulullah itu tidak diperendahkan sama sekali oleh puak Yahudi itu, selepas sepuluh hari mereka masih berdegil untuk keluar dari kota Madinah kerana percaya lasan pendudukan mereka di Kota Suci itu dipelihara oleh kaum Munafik.

    Maka, Allah SWT telah menurunkan ayat kesebelas dari Surah Al-Hasyr yang memerintahkan untuk puak Banu Nadhir itu diusir serta merta dan pengharaman Khamr (arak). Dengan demikian, Nabi dan para tentera Muslimin telah keluar dan sekaligus mengarahkan semua pihak Banu Nadhir yang ingkar untuk diusir keluar ke Khaibar dan Syam. Tanah Banu Nadhir kemudian dibahagi-bahagikan kepada pihak Muhajirin yang belum mempunyai tanah.

    Rujukan

    1. Buku Sejarah Madinah Munawwarah Bergambar, Penyunting Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Cetakan pertama 2005.
    2. Perihal Terkini Kota Suci Madinah Al Munawwarah.
     
    • wikki 9:57 am on 19/08/2012 Permalink | Reply

      Berikut ini adalah sejarah Safiyah Binti Huyai Ibn Akhtab, wanita Yahudi yang ditangkap ketika pasukan Muhammad menyerang Khaibar dan membawanya kepada Nabi sebagai bagian dari rampasan perang. Muhammad memberi perintah agar Kinana, suami yang masih muda dari Safiyah, dianiaya sampai mati agar ia (Kinana) mengaku dimana harta karun kota tersebut disimpan. Pada malam yang sama itu juga, Muhammad mengambil Safiyah dan dibawa ke ranjangnya dan menjadikan dia istrinya …

      Kisah ini dilaporkan secara detil oleh Tabari. Kisah ini juga dapat ditemukan dalam Sirat Ibn Ishaq . Yang berikut ini dilaporkan dalam buku dari Tabaqat yang disusun oleh Ibn Sa’d .

      Dua tahun sebelumnya Muhammad telah menebas kepala Huyai, ayahnya Safiyah, beserta 900 pria dari Bani Quraiza.

      Huyai Ibn Akhtab, ayah Safiyah, adalah pemimpin Bani Nadir , salah satu suku Yahudi dari Madinah. Para pengikut Muhammad telah membunuh sepasang suami istri Arab yang sebelumnya telah menandatangani traktat perdamaian dengan Muhammad. Nabi memutuskan untuk membayar uang darah pada keluarga korban yang salah dibunuh . Ia lalu pergi ke Bani Nadir untuk meminta kepada mereka agar membayarkan uang darah ini. Permintaan itu sangat aneh, sebab orang-orang Yahudi tak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan tersebut. Namun orang-orang Yahudi ini takut kepada Muhammad, karena Muhammad sebelumnya telah menghancurkan suku Yahudi yang lain, yaitu Bani Qainuqah dan oleh karena itu mereka takut hal ini akan terjadi juga kepada mereka.

      Orang-orang Yahudi selalu bersikap pengecut sampai hari ini dan mereka telah membayar harga atas sikap pengecut mereka. Kapankah mereka cukup belajar bahwa seseorang tak mungkin senang dengan gangster??? Kapankah mereka akan belajar bahwa mereka harus berperang melawan kelompok orang seperti itu?

      Para tua-tua bani Nadir akhirnya mengumpulkan uang yang diminta. Muhammad dan para sahabatnya duduk dibawah sebuah dinding-perteduhan dikawasan Yahudi sambil menanti. Namun, maksud Muhammad sebenarnya adalah untuk menghancurkan Yahudi dan mengambil semua harta yang mereka miliki, dan bukan sekedar uang darah untuk kejahatan dari pengikut-pengikutnya. Muhammad berharap Yahudi akan memprotes sehinggga ia justru dapat memakai ini sebagai alasan untuk menyerang mereka.

      Setelah duduk-duduk dan menantikan, ia tiba-tiba bangkit dan pergi tanpa mengatakan apa-apa kepada siapapun. Para pengikutnya melihat bahwa ia berjalan terus, maka mereka pun pergi juga. Akhirnya Muhammad mengatakan kepada mereka, bahwa ada malaikat Jibril yang memberitahukan kepadanya, bahwa orang-orang Yahudi sedang merencanakan untuk melemparinya dengan sebuah batu dari pada dinding-perteduhan dan ingin membunuhnya. [Kalau ada peringatan Jibril tentang rencana pembunuhan, mengapa para pengikutnya ditinggalkan diam-diam?]. Ini tentu saja sebuah kebohongan. Kalau Bani Nadir benar-benar ingin membunuhnya, mereka tidak perlu melemparkan batu padanya. Muhammad ada dalam tangan mereka ketika itu. Mereka itu justru takut, dan inilah yang harus mereka bayar dengan nyawa mereka kelak.

      Peperangan Muhammad

      Muhammad kemudian menyerang Bani Nadir dan memutuskan aliran air mereka. Ketika mereka menyerah, Muhammad berketetapan untuk membunuh mereka semua. Namun Abdullah Ibn Obay, seorang pemimpin tua Arab Median mengintervensi. Muhammad khawatir hal ini akan menyebabkan perpecahan diantara pengikutnya sehingga ia akhirnya memutuskan tidak membunuh Bani Nadir. Sebagai gantinya ia mengambil semua harta kekayaan dan propert i milik bani Nadir dan mengusir mereka.

      Maka Bani Nadir pun mengungsi ke Khaibar, yang merupakan benteng orang-orang Yahudi di sebelah Utara Madinah. Inilah yang membuat Safiyah tinggal di Khaibar dan menikahi Kinana, pemimpin muda dari kota tersebut. Akan tetapi, ayah Safiyah, Huyai, dipancung lehernya ketika Muhammad menyerang suku Yahudi yang terakhir di Madinah, yaitu Bani Quraiza.

      Khaibar

      Safiyah berumur 17 tahun dan sangat cantik. Ketika Muhammad menyerang Khaibar ia membunuh semua pria disana . Orang-orang tidak siap untuk berperang. Mereka diserang secara mendadak. Muhammad bukanlah seorang pahlawan perang terbuka, melainkan seorang teroris yang melakukan penyergapan . peperangannya disebut gazwah , yaitu Sergapan / penyerangan dadakan.

      Kinana

      Maka Muhammad pun menangkap Kinana dan menyiksa dia karena Muhammad ingin tahu dimana harta kekayaan kota tersebut disembunyikan. Ia menusukkan batangan besi yang panas pada mata Kinana dan membutakannya. Kinana adalah pemuda ksatria, ia tidak buka mulut.

      Seorang Yahudi lain (mungkin nenek moyang-nya Noam Chomsky dan George Soros) telah mengabarkan kepada Muhammad dimana ia dapat menemukan harta kekayaan tersebut. Orang-orang Yahudi selalu memberikan saham kepada para pengkhianat.

      Kinana mati dibawah penyiksaan Muhammad. Kemudian Muhammad menanyakan kepada orang-orangnya untuk membawakan kepadanya gadis yang paling cantik. Safiyah adalah yang tercantik berumur 17 tahun, istri dari Kinana. Bilal membawa Kinana dan sepupu perempuan Kinana menghadap Muhammad. Namun ketika sepupu perempuan Kinana ini melihat jenazah saudaranya terpotong-potong, ia pun menjadi histeris. Muhammad kemudian marah besar dan memerintahkan, “Bawa setan perempuan ini pergi dari saya”.

      Kemudian ia berkata kepada Bilal, “Apakah kamu memiliki perasaan manusiawi sehingga menjejerkan wanita-wanita di depan jenazah orang yang mereka cintai?” Wah! Betapa hebatnya sang Nabi yang penuh dengan belas-asih dan perasaan manusiawi!?

      Selanjutnya ia membawa Safiyah ke tendanya, sebab ia telah menjadi seorang janda. Muhammad mengasihaninya dan memutuskan untuk mengambil ia sebagai istrinya. Tentu saja [Muslim berkilah], fakta ia muda dan cantik tidak ada hubungannya dengan keputusan Nabi. Masih ada ratusan wanita lain yang juga telah menjadi janda pada hari tersebut.

      Berikut ini adalah periwayatan Tabaqat.

      “Safiyah dilahirkan di Medina. Ia berasal dari suku Yahudi Banu I-Nadir. Ketika suku ini diusir dari Madinah tahun 4 AH, Huyai adalah salah satu dari orang-orang yang menetap di wilayah subur Khaibar bersama Kinana Ibn al-Rabi ‘yang menikahi Safiyah sesaat sebelum Muslim menyerang Kh a ibar. Ia berumur 17 tahun. Sebelumnya ia adalah istri dari Sallam Ibn Mishkam yang menceraikannya. D isini lah, s atu mil dari Kh a ibar , Nabi menikahi Safiyah. Dia dipelihara dan dirawat untuk Nabi oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas Ibn Malik. Mereka menginap disana. Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda Nabi sepanjang malam. Pada saat subuh, Nabi yang melihat Abu Ayyub berjalan hilir mudik itupun bertanya apa maksudnya, dan ia menjawab: “Saya khawatir akan engkau karena perempuan muda itu. Engkau telah membunuh ayahnya, suaminya, dan banyak dari keluarganya, dan dia juga masih seorang kafir. Saya sungguh khawatir terjadi apa-apa karena dia. Nabipun mendoakan Abu Ayyub al-Anshari (Ibn Hisham, p.766). Safiyah telah meminta kepada Nabi untuk menunggu sampai ia telah lebih menjauh dari Khaibar. “Kenapa?” Tanya Nabi. “Saya mengkhawatirkan engkau karena orang-orang Yahudi yang masih dekat dengan Khaibar!”

      Alasan Safiyah menolak pendekatan seksual Muhammad tentu saja jelas bagi setiap orang yang berpikir. Saya percaya, praktis semua wanita memilih untuk berkabung ketimbang melompat ke dalam ranjang – bercengkerama dengan si pembunuh dari ayahnya, dan pembunuh suami dan banyak anggota keluarganya, pada hari yang sama.

      Tetapi kenyataannya Nabi Allah ini tak dapat menahan desakan nafsu seksualnya untuk satu hari saja dengan membiarkan perempuan muda ini untuk berkabung. Ini semua menggambarkan karakter moral Muhammad. Ia adalah seorang psikopat tanpa hati nurani dan empati.

      Untuk kelanjutan kisah ini kita tidak tahu persis apakah benar atau telah direkayasa oleh ahli sejarah Muslim yang ingin menghapus adanya kesan pemaksaan perkosaan. Tetapi ini adalah semua yang kita punyai, dan untuk menemukan kebenaran kita hanya bisa bergantung pada dokumen-dokumen yang terlihat bias (ter-plintir) ini, yang dilaporkan dan ditulis sepihak oleh orang-orang Muslim.

      Kisah selanjutnya menggambarkan Abu Ayyub yang mengkhawatirkan keselamatan Nabi, karena Nabi telah membunuh ayah, suami dan sejumlah anggota keluarga Safiyah. Hal ini logis. Tentu saja bodoh untuk tidur dengan seorang wanita dimana orang-orang yang dicintai oleh wanita tersebut baru dibunuhnya. Namun tampak bias alasan penolakan Safiyah terhadap pendekatan seksual Muhammad, tampak sekali kurang masuk akal. Ketika Muhammad membawa wanita muda ini ke dalam tendanya, ia telah membunuh banyak orang Yahudi, dan memperbudak orang-orang Yahudi lainnya.

      Jikalau masih ada orang Yahudi yang tertinggal, maka mereka mungkin lebih mengkhawatirkan hidup mereka sendiri ketimbang masalah Safiyah apakah ia diperkosa atau tidak. Lagipula wanita ini telah ada di dalam tenda sendirian dengan Muhammad, jadi bagaimana orang-orang Yahudi akan mengetahui kalau-kalau mereka melakukan hubungan seks? Alasan ini kedengarannya bodoh dan tampaknya dipaksakan oleh Muslim untuk mengklaim bahwa Safiyah-lah yang menginginkan hubungan seks dengan Muhammad, dan bila tidak, itu hanya karena Safiyah mengkhawatirkan keselamatan Nabi (jadi bukan karena ada unsur pemaksaan / perkosaan).

      Muslim adalah sekelompok orang bodoh tertentu yang mempercayai omong kosong yang paling konyol tanpa berpikir, namun saya percaya ada kelompok lain yang wajar menyadarinya sebagai sebuah kebohongan.

      Dikatakan lebih lanjut,

      “Hari berikutnya Walima (pesta pernikahan) diselenggarakan pada nama Nabi .. . ”

      Mohon dicatat bahwa penulis sejarah ini mengatakan, bahwa pernikahan terjadi satu hari setelah Muhammad sendirian dengan Safiyah dan melakukan hubungan seks dengan dia. Ini tidak mendatangkan persoalan kepada Nabi, karena ia telah mendapatkan wahyu Allah yang mengatakan bahwa tidur dengan wanita yang ditangkap dari peperangan adalah baik-baik saja tanpa usah menikahi mereka, sekalipun mereka telah bersuami tadinya.

      “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki …” (Surat 4:24)Ayat di atas menunjukkan bahwa Muhammad tidak berpendapat bahwa para budak memiliki hak-hak apapun. Ketika Muslim berkuasa, ini akan menjadi nasib bagi semua wanita non-Muslim. Muslim tidak dapat mengubah sedikitpun apa yang telah dikatakan atau dikerjakan oleh Muhammad. Dan ini telah dikonfirmasikan di tempat-tempat lainnya:

      1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

      2. (Yaitu) orang-orang yang khusyu ‘dalam sembahyangnya,

      3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,

      4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,

      5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

      6. kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak terceIa.

      7. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Surat 23:1-7).

      Marilah kita melanjutkan kisah Safiyah. Dikatakan,

      “Para istri Nabi lainnya menunjukkan cemburunya dengan melakukan pelecehan terhadap keyahudiannya. Namun Nabi selalu membelanya. Suatu kali Safiyah dilukai dengan olok-olokan dari istri-istri Nabi yang Arab itu secara melampaui batas. Maka iapun (Safiyah) mengeluhkan hal tersebut kepada Nabi yang merasa sangat mengasihinya. Ia menghiburnya. Ia membesarkan hatinya. Ia memberi pikiran logis kepadanya. Ia berkata: “Safiyah, bersikap teguh dan beranilah. Mereka tidak memiliki apapun yang melebihi engkau. Katakan kepada mereka: “Aku adalah anak putri Harun, keponakan Musa, dan istri dari Nabi Muhammad … ”

      Ketika ia dibawa bersama dengan para tahanan perang lainnya, Nabi berkata kepadanya,

      “Safiyah, ayahmu selalu membenci aku sampai Allah menetapkan keputusan terakhir.”

      Ia menjawab, “Tetapi Allah tidak menghukum seseorang atas dosa orang lain.”

      Hal ini (apa yang dikatakan Nabi) jelas berlawanan dengan perilaku Muhammad sendiri yang sudah menghancurkan seluruh Bani Qainuqa dengan alasan bahwa beberapa diantara mereka telah membunuh seorang Muslim ketika mereka membela dengan membalaskan kematian seorang Yahudi . Muhammad membinasakan seluruh anggota suku itu , ketika membalas kematian satu orang Muslim ! Padahal Muslim tersebut telah terlebih dahulu membunuh seorang Yahudi, namun itu tidak dianggap / diperhitungkan oleh Muhammad. Ia membutuhkan sebuah alasan demi mendapatkan harta-kekayaan mereka.

      Ini sungguh mengabaikan ayat yang mengatakan: ” bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain ” (Surat 53:38). Jadi jelas bukan Allah yang membuat hasil akhirnya. Maka tampak betapa orang yang satu ini mencuci tangannya terhadap kejahatannya sendiri. Ayah Safiyah dibunuh oleh Muhammad, bukan Allah [tetapi Muhammad memplintirkannya seolah Allah-lah yang memutuskan]. Jika Allah menginginkan membunuh seluruh orang-orang tersebut, Ia tentu telah melakukannya dengan cara-nnya sendiri. Allah tidak membutuhkan pembunuh bayaran (yang merampas harta) untuk melaksanakan kehendakNya.

      Dikatakan lebih lanjut,

      “Kemudian Nabi memberinya kebebasan untuk memilih apakah Safiyah mau tetap bergabung dengan kaumnya, ataukah menerima Islam dan masuk dalam hubungan pernikahan dengan dia”.

      Memberinya kebebasan? Kebebasan macam apakah itu?
      Muhammad telah membunuh suaminya dan semua anggota keluarganya. Kemanakah ia harus pergi sekarang? Melebur dengan orang-orang dari kaumnya? Orang-orang manakah itu? Orangnya praktis telah terbunuh dan wanita-wanitanya telah ditawan dan jadi budak.

      “Dia sangat pintar dan lembut hati dan berkata:” O Rasul Allah, aku telah harap akan Islam, dan aku telah menegaskan sebelum undanganmu. Kini ketika aku mendapat kehormatan berada dihadapanmu, dan diberi kebebasan untuk memilih antara kafir dan Islam, maka aku bersumpah demi Allah, bahwa Allah dan Rasul-Nya adalah lebih berharga kepadaku ketimbang kebebasan diriku dan bagaimana aku sebelumnya bergabung dengan kaumku. ”

      Apakah ini sebuah pengakuan, yaitu pengakuan yang jujur? Apakah ia bebas dan aman mengutarakan pikirannya? Ia ditawan oleh seorang pria yang telah menghabisi keluarganya. Sesungguhnya ini menunjukkan dengan jelas betapa ia tidak bebas berulah. Ia mungkin saja sangat pintar menyiasati sebuah dusta demi menyelamatkan dirinya, tetapi lebih mungkin lagi kisah ini telah dikarang untuk menceritakan sebuah dusta tersendiri!

      Ketika Safiyah menikah, ia masih sangat muda, dan menurut sebuah laporan ia hampir berumur 17 tahun dan berperawakan amat sangat cantik. Ada satu kali Aisyah berkata tentang kekurangannya (mencela), untuk mana Nabi berkata, “Engkau telah mengatakan sesuatu yang saat itu dimasukkan ke dalam laut, maka hal itu akan melebur bersama air laut itu (dan mengeruhkan airnya). “(Abu Dawud)

      Ia tidak hanya sangat dalam mencintai Nabi, tetapi juga sangat besar rasa hormatnya kepadanya sebagai Rasul Allah. Sebab ia telah mendengar apa yang dikatakan oleh ayah dan pamannya ketika mereka pergi ke Medinah. Ketika hijrah ke Medinah mereka datang bertemu dengan dia untuk mengetahui apakah dia benar Rasul Allah yang sejati seperti yang disampaikan oleh Alkitab. Ketika mereka pulang dan berbicara bersama malam itu, Safiyah ada ditempat tidurnya dan mendengar pembicaraan mereka. Salah satunya berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Ia menjawab, “Ia adalah Nabi yang sama yang dinubuatkan oleh Alkitab kita.” Lalu berkata yang lain, “Apa yang harus dilakukan?” Dan jawabannya adalah bahwa mereka harus melawannya dengan segala kekuatan. ”

      Kisah ini, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, apakah dapat dipercaya? Bagaimana kedua orang Yahudi biasa itu mengenal Muhammad sebagai nabi yang dinubuatkan oleh Kitab Suci, lalu (kok malah) memutuskan untuk melawannya dengan segala kekuatan mereka? (Semestinya bila mereka tahu itu nabi yang dikisahkan Musa, mereka justru akan mendukungnya!). Jadi semuanya adalah kontra logika. Hanya orang Muslim yang “tekor-intelektuil” yang akan percaya akan kisah nonsense ini.

      Dikatakan, dia sangat mencintai Muhammad yang adalah pembunuh ayah dan suaminya? Betapa naifnya Muslim dapat mempercayai periwayatan ini? Bagaimana seorang gadis muda cantik berumur 17 tahun dapat segera mencintai seorang tua bangka yang giginya ompong dan badannya berbau? Bacalah buku saya “Understanding Muhammad” untuk mengetahui betapa postur Muhammad cacat dan berbau. Kita curiga bahwa kata-kata tersebut berasal dari Safiyah, dan andaikata itu benar, orang akan mencium hal itu sebagai kebohongan Safiyah dalam usahanya untuk mencari keamanan diri. Kita hanya membutuhkan otak yang aktif untuk menemukan kebohongan Muslim.

      Mengapa seseorang sampai harus mati-matian melawan seseorang lainnya yang diketahuinya sebagai nabi yang dijanjikan dalam Alkitab? Dan dimana Muhammad dijanjikan dalam Alkitab? Apakah Muhammad disebut dalam Alkitab ? ( Is Muhammad mentioned in the Bible? ) Baca artikel ini untuk melihat dusta yang menyedihkan seperti itu. Muhammad tidak disebut di dalam Alkitab maupun di dalam kitab sakral manapun.

      “Maka Safiyah pun yakin akan kebenaran sang Nabi. Ia tak lelah-lelahnya mengurus dan merawat dia (Muhammad), serta memberikan semua kenyamanan yang dapat diupayakannya. Ini terlihat sejak ia menjadi bagian dalam kehidupannya (Muhammad) setelah jatuhnya Khaibar. ”

      Lihat betapa penulis menyangkal dirinya sendiri dalam satu halaman yang sama? Hanya beberapa baris sebelumnya kita membaca bahwa Safiyah ditawan dan dibawa kepada Muhammad sebagai tawanan, bukan atas kemauannya sendiri. Ia dibawa kepada Muhammad sebab ia muda dan cantik.

      “Nabi sedikit kecewa kepadanya karena ia pada awalnya (dalam perjalanan) telah menolak Nabi ketika ingin menggaulinya (hubungan se ks ). Pada perhentian perjalanan berikutnya, Nabi menggaulinya sampai sepanjang malam. Ketika ia (Safiyah) ditanyai oleh Umm Sulaim, “Apa yang engkau lihat pada diri Rasul Allah?” Ia berkata bahwa dia (Muhammad) sangat senang terhadapnya dan tidak tidur melainkan berbicara sepanjang nalam. Dia (Muhammad) bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menolak ketika aku mau menggaulimu pertama kalinya?” Ia menjawab, ‘Aku mengkhawatirkan engkau sebab tempatnya dekat dengan Yahudi’. “Hal ini meningkatkan nilaiku lebih lanjut dimatanya.” (Tabaqat)

      Bukhari juga telah mencatat beberapa Hadits yang menceritakan tentang invasi Khaibar dan bagaimana kisah Muhammad bertemu dengan Safiyah.

      Hadits ‘Abdul’ Aziz:

      Anas berkata, “Ketika Rasul Allah menginvasi Khaibar, kami melakukan shalat Subuh disana ketika hari masih gelap .. . Ketika ia memasuki kota, ia berseru, “Allahu Akbar! Khaibar diruntuhkan … Kami menaklukkan Khaibar, menawan tawanan, dan barang jarahan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Rasul Allah! Berilah aku seorang budak perempuan diantara tawanan ‘. Nabi berkata, ‘Pergi dan ambillah budak perempuan yang mana saja’. Iapun mengambil Safiya binti Huyai. (Tetapi) Seseorang datang kepada Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Engkau memberikan Safiya binti Huyai pada Dihya, padahal ia (Safiya) adalah perempuan paling terkemuka dari suku Quraiza dan An-Nadir dan ia hanya pantas untuk engkau saja ‘. Maka Nabi berkata, ‘Bawa ia (Dihya) bersama dia (Safiya)’. Maka keduanya menghadap dan ketika Nabi melihat Safiya, iapun berkata kepada Dihya, ‘Ambillah gadis budak mana saja dari para tawanan selain dia’. Anas menambahkan: Nabi membebaskan perbudakannya dan mengawininya. ” [Nabi menelan janji pertama, dan menggantikannya dengan janji kedua, ketika tersilau dan bernafsu dengan kecantikan Safiyah. Contoh moral surgawi!].

      Tsabit bertanya kepada Anas, “O Abu Hamza! Apa yang Nabi bayarkan kepadanya (Safiya) (sebagai mahar)? Ia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia (Muhammad) telah membebaskannya dari perbudakan dan kemudian mengawininya.” Anas menambahkan, “Ketika dalam perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk upacara perkawinan dan pada malamnya dia mengirimnya sebagai pengantin perempuan untuk Nabi”. ( Shahih Bukhari 1.367 )

      Mahar adalah “emas kawin” yang diperoleh pengantin perempuan dari pihak suaminya tatkala ia mengawininya. Muhammad tidak membayar mahar kepada Safiyah, sebab ia (Muhammad) harus membayarkan kepada dirinya sendiri untuk memerdekakan Safiyah. Kisah ini adalah luar biasa, sebab ini memberi pencerahan kepada kita tentang nilai-nilai moral dan etika dari Muhammad dan para pengikutnya yang keblinger. Muhammad adalah seorang psikopat. Namun Muslim tidak memiliki rasa malu. Muslim meng-idola-kan seorang psikopat dan menginginkan kita juga untuk menghormati mereka. Apakah ke-tolol-an ini layak atas sebuah kehormatan? Dengan mengikuti orang yang tidak waras semua orang akan bertindak tidak waras.

      Setiap orang yang terhormat atau orang normal jijik mendengar kisah semacam ini, namun Muhammad mengajarkan bahwa ia akan memperoleh 2 pahala dengan mengawini Safiyah. Satu adalah untuk memerdekakan seseorang yang sesungguhnya ia tawani sendiri , dan kedua adalah mengambilnya untuk menikahinya .

      “Abu Musa melaporkan bahwa Rasul Allah berkata pada seseorang yang memerdekakan seorang wanita budak, dan kemudian menikahinya, bahwa baginya tersedia 2 pahala.” ( Sahih Muslim Book 008, Number 3327 )

      [Sayangnya tidak disebutkan bahwa yang mengawininya adalah pembunuh ayah, suami, dan famili dari si wanita budak yang dikawini. Dan wanita budak tersebut adalah budak yang terjadi karena ulah dari yang akan mengawininya!]

      Tidakkah ini menjijikkan? Buanglah ke-tolol-an “yang terhormat” dan berkelit-kelit ini dan Sebutkanlah sifat-sifat hitam adalah hitam. Muslim adalah sekelompok moron. Bagaimana mungkin bisa demikian konyol?

      Diriwayatkan oleh Anas:

      Nabi melakukan sholat subuh dekat Khaibar tatkala hari masih gelap dan ia berkata, “Allahu Akbar” Khaibar dihancurkan, sebab ketika kami menghadapi bangsa (lawan yang diperangi), maka kejahatan akan menjadi pagi hari untuk mereka yang telah diperingati. ”

      Maka penduduk Khaibar lari keluar ke jalan-jalan. Sang Nabi telah membunuh pahlawan-pahlawan mereka, keturunan mereka, dan wanita yang ditawan sebagai tawanan. Safiyah adalah salah satu diantara tawanan. Dia pertama-tama diambil untuk menjadi milik Dahya Alkali, namun kemudian ia menjadi milik Nabi. Nabi memerdekakan dia sebagai maharnya. ( Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512 )

      Sumber: http://alisina.org/safiyah-the-jewish-wife-of-muhammad/

  • SERBUIFF 4:53 pm on 05/10/2011 Permalink | Reply
    Tags: Sedikit Orang Tahu...Masjid di Paris Bantu Sembunyikan Yahudi Saat Holocaust   

    Sedikit Orang Tahu…Masjid di Paris Bantu Sembunyikan Yahudi Saat Holocaust 

    Sedikit Orang Tahu…Masjid di Paris Bantu Sembunyikan Yahudi Saat Holocaust

    Selasa, 04 Oktober 2011 14:13 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, PARIS — Cerita tentang Holocaust tak pernah selesai digali. Kaum Yahudi menganggap, itulah saat kelam sejarah mereka: diburu Nazi dan dikirim ke kamp konsentrasi untuk mati pelan-pelan atau dibunuh.

    Di Prancis, Holocaust punya kisah tersendiri. Yang sedikit orang tahu, sebuah masjid di Paris ternyata turut membantu warga Yahudi bersembunyi, menyelamatkan diri dari incaran Nazi.

    Dalam film terbaru, Les Hommes Libres  (Free Men), cerita yang tak pernah ditemukan dalam buku teks ini fakta itu dibentangkan.

    Si Kaddour Benghabrit, pendiri dan pimpinan Grand Mosque of Paris lah yang menjadi inisiator penyelamatan itu. Tak hanya menyediakan tempat bagi beberapa keluarga Yahudi, mereka juga menyiapkan indentitas kamuflase bagi mereka. Dalam daftar penduduk, mereka tercantum sebagai Muslim untuk menghindari penangkapan dan deportasi.

    Terlihat sederhana, tapi tidak begitu pada kenyataannya. Tahun 1940, Prancis menjadi ‘rumah besar’ bagi komunitas asal Afrika Utara, termasuk kaum yahudi Sephardic. Mereka adalah Yahudi Arab yang masih memelihara tradisi Arab. Sama seperti Muslim, mereka juga mengharamkan babi dan bersunat bagi kaum pria.

    Masjid, kini lokasinya beberapa blok dari  Left Bank, menyediakan penampungan bagi mereka. Keluarga Yahudi ini dibebaskan untuk berlindung; takmnir masjid menyediakan makanan dan pakaian bagi mereka.

    Fakta inilah yang diangkat dalam film, berdasar cerita saksi mata yang masih hidup. “Film ini sungguh istimewa,” kata Benjamin Stora, ahli sejarah Afrika Utara yang juga konsultasn film ini. “Semua orang di Barat menyoroti bahwa Muslim bersahabat dengan Nazi, tapi fakta lain di Prancis, mereka adalah penolong bagi Yahudi.”

    Film ini disutradarai Ismaël Ferroukhi. Aktor gaek Prancis, Michael Lonsdale, berperan sebagai Benghabrit, pria kelahiran Aljazair yang bersama istrinya melindungi tamu-tamu Yahudi mereka.

    Mahmoud Shalaby, aktor Palestina yang tinggal di Israel, memerankan tokoh Salim — nama aslinya Simon — penyanyi Arab populer yang selamat dari Holocaust karena berpura-pura sebagai Muslim.

    Redaktur: Siwi Tri Puji B
    Sumber: New York Times
     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel