Updates from November, 2007 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 1:45 pm on 08/11/2007 Permalink | Reply
    Tags: Membumikan Al-Quran oleh Dr. M. Quraish Shihab   

    Membumikan Al-Quran oleh Dr. M. Quraish Shihab 

    Membumikan Al-Quran

    oleh Dr. M. Quraish ShihabIndeks Islam | Indeks Quraish Shihab | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
       
     
     

    MEMBUMIKAN AL-QURAN Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat Dr. M. Quraish Shihab Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996 Jln. Yodkali 16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038 mailto:mizan@ibm.net

    Indeks Islam | Indeks Quraish Shihab | Indeks Artikel | Tentang Penulis


    ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | AnggotaPlease direct any suggestion to Media Team

    Advertisements
     
    • sugeng 4:22 am on 21/11/2007 Permalink | Reply

      mohon bantuan kami tentang penjelasan metode lahir pemikiran bahwa jilbab tidak wajib bagi wanita muslimah menurut Dr, Quraish Shihab, sebisa mungkin jelas beserta dalil-dalilnya ?

    • alo 3:23 pm on 16/05/2009 Permalink | Reply

      apa kata ” membumikan ” ada kaitan dengan ilmu bumi?.
      kalau ada kaitan maka gue kepingin belajar

    • wikki 2:15 pm on 22/07/2012 Permalink | Reply

      Hampir semua orang-orang Muslim dari sejak kanak-kanak diajarkan
      untuk memegang anggapan bahwa Alkitab penuh kesalahan, tidak murni
      dan telah dirubah, sementara Alquran bebas dari kesalahan, tetap
      dipelihara dengan sempurna sejak dari jaman Muhammad. Tetapi melalui
      mempelajari sejarah naskah Alquran akan menunjukkan bahwa bukan Alkitab,
      tetapi Alquran yang telah dirubah. Hal ini adalah apa yang diwariskan oleh
      para penulis sejarah agama Islam kepada kita.
      Setelah pertempuran Aqraba pada tahun 632 M, semasa dari Kalifa Abu
      Bakar, banyak dari orang-orang Muslim yang mengetahui Alquran dengan
      hatinya telah dibunuh. Sebagai akibatnya, Umar B. Al-Khattab menyarankan
      kepada Abu Bakar suatu kebutuhan untuk menyusun Alquran dalan suatu
      standard teks. Abu Bakar kemudian memerintahkan penyusunan agar dibuat
      oleh Zaid Ibn Thabit dari tulisan-tulisan yang ditulis pada daun palem, batu dan
      juga dari orang-orang yang hafal isi Alquran diluar kepala yang masih tersisa.
      Ketika penyusunan sedang dilaksanakan, yang dijaga oleh Abu Bakar
      sampai dengan kematiannya. Penerusnya, Umar, kemudian memberikan
      pengawasan atas hal itu. Setelah itu, naskah Alquran yang sedang disusun
      tersebut menjadi barang yang dimiliki oleh Hafsa, salah satu janda dari
      Muhammad ( seorang anak perempuan dari Umar ) [ Lihat Mishkatul Massabih, ch.
      3 ] . Salah Satu teman nabi juga memiliki salinan naskah Alquran yang disusun
      mereka sendiri dan membuat naskah lain untuk digunakan di berbagai wilayah.
      Pada saat itu ada empat wilayah yang saling bersaing, yang masing-masing
      memakai teks Alquran yang berbeda-beda [ Di Kufa, salinan naskah dari Adullah Ibn
      massud yang digunakan. Yang dari Ubyy Ibn Ka’b adalah milik dari orang-orang Siria. Satu
      edisi oleh Migdad Ibn Amr beredar di wilayah Hims. Sementara yang dari Abu Musa Al-
      Ash’ari digunakan di Basra, Irak ]
      Selama pemerintahan dari Kalifa Uthman ( Kalifa Ketiga ), laporan-laporan
      yang sampai kepadanya menyatakan bahwa bagian yang berbeda ada di Siria,
      Armenia dan irak, orang-orang muslim disana mengahaflkan Alquran yang
      berbeda dengan cara hal ini dihafalkan oleh orang-orang Muslim Arab. Uthman
      segera mengirimkan salinan naskah dari milik kepunyaan Hafsa dan
      memerintahkan Zaid Ibn Thabit dan tiga orang lain, Abdullah Ibn Zubair, Said Ibn
      Al-As dan Abdullah Al-Rahman Ibn Harith B. Hisham untuk membuat salinan ari
      teks Alquran tersebut dan melakukan koreksi jika diperlukan. Ketika salinan
      sudah selesai, kita membaca bahwa Uthman melakukan tindakan yang keras
      dibandingkan memperhatikan dengan cermat terhadap salinan Alquran yang lain
      yang ada pada waktu itu :
      “ Uthman mengirimkan kepada setiap wilayah-wilayah Muslim satu salinan
      dari apa yang telah disalin dan memerintahkan bahwa semua materi lain
      yang berhubungan dengan Alquran, apakah ditulis dalam salinan-salinan
      yang tidak lengkap, seluruh salinan tersebut, harus dibakar. “ ( Sahih al-
      Bukhari Vol. 6 hal 479 ).
      Untuk menghapuskan berbagai perbedaan membaca dan kontradiksi,
      semua salinan lain yang ada kemudian dibakar, tetapi edisi dari Uthman sendiri
      tidak sempurna dan mengalami nasib yang sama. Ketika Marwan menjadi
      Gubernur dari Medina, dia memerintahkan naskah Hafsa untuk dihancurkan.
      Hanya kesimpulan yang dapat diterima seseorang dapat melakukan hal ini
      selama jamannya Uthman berkuasa, yaitu banyak kontradiksi dari teks Hafsa
      yang begitu nyata sehingga hal ini bisa dikatakan suatu penghancuran total
      daripada suatu revisi. Sejak itu sampai sekarang, kalimat-kalimat yang
      bertentangan dan ketidakakuratan sejarah timbul dalam teks Alquran.
      Deedats, Jommals dan juga mereka yang dipanggiil sheiks melanjutkan
      serangan mereka yang tanpa jaminan dan tanpa dasar terhadap Alkitab
      sementara fakta-fakta yang mengejutkan bahwa Kalifa Uthman membakar
      semua naskah yang berhubungan dengan Alquran sebagai bagian dari Hafsa,
      dan juga gubernur Marwan mengikuti contoh dari Uthman menghancurkan teks
      Hafsa dengan baik. Setiap orang walaupun dengan perhatian yang yang paling
      sedikit atas kebenaran akan mengakui bahwa teks yang sekarang telah diterima
      ( Textus Receptus ) dalam Alquran yang sekarang beredar adalah sangat jauh
      dari teks asli ( textus originalis ) ! Adalah bukan sesuatu yang liar apabila
      terlintas bahwa ketika Muhammad masih hidup pada saat kejadian-kejadian ini,
      dia akan menerima salah satu “wahyu” seperti yang biasa untuk menyokong
      pembakaran-pembakaran tersebut.
      Berlawanan dengan apa yang dipercaya oleh orang-orang Muslim, ada
      lebih banyak perbedaan selain hanya daripada bahasa diantara teks Uthman
      dan teks yang diperintahkan untuk di bakar. Dalam setiap kasus, ada perbedaanperbadaan
      kata-kata yang penting diantara kedua teks tersebut dan teks Uthman
      kemudian ditentukan ( dengan keinginan yang mendadak ) menjadi versi
      standard yang terakhir dari Alquran.
      Perbedaan-perbedaan ini adalah nyata berkenaan dengan naskah-naskah
      yang berbeda-beda dan tidak hanya berhubungan dengan bahasa yang khas
      atau istimewa seperti yang sering di katakana untuk menjamin. Dalam beberapa
      kasus ada kata-kata dan kalimat yang ditemukan dalam naskah-naskah kuno
      yang hilang jika dibandingkan dengan yag lain. Dalam contoh lain, perbedaan
      yang berkenaan dengan seluruh konsonan atau kalimat yang berbeda-beda
      untuk kata-kata tertentu. Tidak heran kalau kemudian kalifa Uthman
      memerintakan untuk membakar semua bagian yang ada yang berbeda sebagai
      pilihan yang paling baik [ Lihat Jeffery, Materials for the History of the Text of the Koran,
      pp. 24-114. Penulis menemukan mengenai usaha-usaha penting untuk mengumpulkan
      bukti-bukti yang murni dari berbagai sumber agama islam yang didokumentasikan dalam
      buku ini ].
      Bukti yang berlimpah ruah sampai hari ini, ayat-ayat itu, sesungguhnya
      seluruh kutipan telah hilang dari Alquran yang beredar hari ini. Sebagai contoh,
      Kalifah yang kedua, Khalif Umar, menetapkan dalam masa hidupnya bahwa
      ayat-ayat tertentu yang menetapkan untuk merajam ( melempari dengan batu )
      bagi mereka yang melakukan perzinahan merupakan apa yang dikatakan sendiri
      oleh Nabi Muhammad sebagai bagian dari Alquran :
      “ Allah mengirimkan Muhammad dan menurunkan firman kepadanya.
      Bagian dari apa yang diturunkan adalah kutipan mengenai hukum rajam.
      Kita membaca, mengajarkan dan memperhatikan hal tersebut. Rasul
      melaksanakan hukum rajam dan kita juga melaksanakannya setelah dia.
      Saya takut bahwa pada suatu saat akan datang orang-orang yang akan
      berkata bahwa mereka tidak menemukan hukum rajam dalah Kitab Allah
      dan dengan demikian akan tersesat dengan mengabaikan suatu
      peraturan yang mana Allah telah turunkan. Sesungguhnya, peraturan
      rajam dalam kitab Allah adalah suatu hukuman yang dikeluarkan kepada
      pria dan wanita yang telah menikah yang melakukan perzinahan. “ ( ibn
      Ishaq, Sirat Rasullah p. 684 )
      Ayat mengenai hukum rajam, tidak lagi ditemukan dalam Alquran, adalah
      bukti yang tidak dapat dipertentangkan bahwa Alquran yang ada sekarang
      adalah tidak sama seperti Alquran yang dikatakan oleh Muhammad.
      Apa yang tidak diketahui publik adalah Jihad memiliki banyak muka. Jihad
      tidak hanya pembunuhan manusia secara besar-besaran untuk Islam, tetapi juga
      satu cara yang sistimatis untuk menyembunyikan atas kebenaran dan
      menyebarluaskan kebohongan [ Catatan Arkeologis : Untuk mendukung pernyataan M.
      Ali : letak yang benar dari gunung Sinai telah ditemukan kira-kira dua dekade yang lalu
      oleh seorang arkeolog Ronn Wyatt. Sinai sekarang diketahui menjadi Jebel el-Lawz yang
      berada di semenanjung Arab. Adalah benar apa yang dikatakan Alkitab sejah dahulu { lihat
      Galatian 4 : 25 }. Bagaimanapun, pemerintah Arab Saudi mengelilingi lokasi gunung Sinai
      dengan pagar rantai dan menyembunyikan informasi yang ada, mungkin takut akan akibat
      yang menghancurkan dari penemuan yang akan menyangkut pada validitas dari agama
      Islam dan Alquran. Jika informasi pada lokasi tersebut dikeluarkan, hal ini akan
      mendiskreditkan pernyataan agama Islam bahwa Alkitab telah dirubah. Lokasi tersebut,
      benda-benda kuno yang ada disana { dan lokasi yang sama di Arabia seperti Rephidim },
      dengan tepat membuktikan apa yang digambarkan dalam Alkitab mengenai pengembaraan
      bangsa Israel di padang gurun. Lokasi tersebut membuktikan bahwa kebenaran Alkitab
      baik dari segi keakuratan dan kebenaran. { Video dari penemuan lokasi kuno tersebut dab
      banyak lagi yang lain tersedi di Wyatt Archeological Research, 713 Lamber Dr., Nashville,
      TN 37220} ]. Jika tidak, bagaimana dapat orang-orang Muslim dengan berani
      menyatakan ( walaupun bukti-bukti sejarah dengan jelas menyatakan
      berlawanan ) bahwa Alkitab telah dirubah, sementara Alquran tetap dijaga
      dengan sempurna dari sejak jaman Muhammad ?
      Kalian [ Ket. : Umat Muslim] tidak dapat mengatakan kepada saya bahwa
      para sarjana agama Islam yang tidak menyadari dari banyak kerusakan dalam
      Alquran atau juga dari berbagai kalifah yang telah melakukan hal itu terhadap
      Alquran [ M.O.A. Abdul, dalam bukunya yang berjudul Studies in Islamic Series, Vol. 3,
      pp. 19-20, cetakan pertama 1971, menyatakan bahwa peristiwa ini yang memyebabkan
      Kalifah Uthman untuk membakar naskah-naskah yang berhubungan dengan Alquran ].
      Kita sendiri tidak dengan cara apapun merasa heran dengan apa yang Alkitab
      katakan :
      “ Yang berkata dusta { propaganda ] dalam kemunafikan dengan
      menjadikan kebal hati nuraninya sendiri. “ ( I Timotius 4: 2 )
      Kebenaran yang jelas adalah bahwa Alquran telah dirubah melalui
      penyembunyian dan pembakaran, dan banyak dari kutipan-kutipan didalamnya
      telah dengan sengaja dibuang dan dirubah.

      • Stain Remover 4:06 pm on 22/07/2012 Permalink | Reply

        @wikki

        Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Rasullulah SAW

        Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan.

        Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

        Pada masa pemerintahan Abu Bakar

        Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat.

        Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar yang disimpan-nya hingga wafatnya.

        Kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.

        Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan

        Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur’an (qira’at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda.

        Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini.

        Bersamaan dengan standardisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam pada masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an.

        http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur'an

        Jadi Utsman hanya memperbanyak mushaf yang telah selesai pada masa Abu Bakar.

        Bibel yang sangat banyak dan penulisnya sampai sekarang tidak jelas :

        Perkiraan kurun waktu ditulisnya injil bervariasi. Berikut perkiraan kurun waktu yang diberikan oleh Raymond E. Brown, dalam buku-nya “An Introduction to the New Testament”, sebagai representasi atas konsensus umum para sarjana, pada tahun 1996:
        Markus: l.k. 68-73
        Matius: l.k. 70-100
        Lukas: l.k. 80-100
        Yohanes: 90-110

        Sedangkan, perkiraan kurun waktu yang diberikan dalam NIV Study Bible:

        Markus: l.k. tahun 50-an hingga awal 60-an, atau akhir 60-an
        Matius: l.k. tahun 50-70-an
        Lukas: l.k. tahun 59-63, atau tahun 70-an hingga 80-an
        Yohanes: l.k. tahun 85 hingga mendekati 100, atau tahun 50-an hingga 70

        Injil Apokrif

        Injil Tomas
        Injil Yudas
        Injil Filipus
        Injil Petrus
        Injil Maria Magdalena
        Injil Yakobus
        Injil Bartolomeus
        Injil Barnabas
        Injil Andreas
        Injil Nikodemus
        Injil Matias
        Injil Mesir
        Injil Ibrani
        Injil Nazaret
        Injil Ebionim (Ebionites)
        Injil Hawa
        Injil Kebenaran
        Injil Kesempurnaan
        Injil Empat Alam Surgawi (Four Heavenly Realms)
        Injil Dua Belas
        Injil Tujuh Puluh
        Injil Tadeus
        Injil Cerinthus
        Injil Basilides
        Injil Marsion
        Injil Appelles
        Injil Bardesanes
        Injil Mani
        Injil Hermes

        • wikki 4:57 pm on 22/07/2012 Permalink | Reply

          intinya bahwa ada quran yang lain yang dibakar dimusnahkan .pertanyaanya .1.bagaimana anda tahu bahwa quran yang sekarang adalah yang otentik ?2.apakah saudara masih mengaku bahwa quran dari dulu sampai sekarang tetap terjaga tidak mengalami perubahan? 3.lalu ketika muhammad meninggal ada beberapa ayat yang dimakan kambing bagaimana saudara menjelaskan ini? tolong dijawab

          • Stain Remover 3:23 pm on 23/07/2012 Permalink | Reply

            @wikki

            Para penghafal Al Qur’an apakah turut dimakan kambing ?. Para penghafal Al Qur’an-lah yang mampu membuat dan kemudian mencetak berjuta-juta lembar Al Qur’an.

            Bahkan Allah menganugerahkan kepada seorang anak balita yang belum mengenal baca tulis, bukan-kah itu sebagai tanda ?

            Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. ﴾Qs. Al Hijr : 9﴿


            Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. ﴾Qs. Al Waaqi’ah:77-79﴿

            • wikki 6:19 pm on 23/07/2012 Permalink | Reply

              sebelumnya kan ada lima quran yang berbeda kemudian dimusnahka empat .tinggallah satu.nah bagaimana anda tahu bahwa yang empat yang sudah dimusnahkan itu adalah tidak benar ??artinya bahwa yang tinggal sekarang kan quran hasil kesepakatan manusia….begitu.tidak ada berita bahwa ketiga ayat yangdimakan kambing tersebut ada yang menghapalnya.artinya gugurlah pernyataan(Qs. Al Hijr : 9) oke….

          • SERBUIFF 7:10 am on 25/07/2012 Permalink | Reply

            eh lu tolol ya al quran itu dihafal ribuan orang, ayat yg kurang atau lebih / salah, akan mudah diketahui

            • wikki 8:49 am on 25/07/2012 Permalink | Reply

              lalu mengapa harus dibakar yang empat lagi.???mengapa ada perbedaan quran sunni dan siyah. ada quran yang tidak memasukkan alfatiha tetapi di indonesia ada yang diawali dengan alfatiha.mana yang benar?

              • SERBUIFF 10:49 am on 25/07/2012 Permalink | Reply

                …….INI POSTINGAN LU …“ Uthman mengirimkan kepada setiap wilayah-wilayah Muslim satu salinan
                dari apa yang telah disalin dan memerintahkan bahwa semua materi lain
                yang berhubungan dengan Alquran, apakah ditulis dalam salinan-salinan
                yang tidak lengkap, seluruh salinan tersebut, harus dibakar. “ ( Sahih al-
                Bukhari Vol. 6 hal 479 )…####### COBA KAU TUNJUKKAN DARI MANA KAU DAPAT INI …MANA LINK HADIS BUKHARINYA ?..

                ..SYIAH ITU SESAT….MANA ADA NABI NGAJARKAN UNTUK MELAKNAT 3 SAHABAT NABI…….ALFATIHA ADALAH SURAT PEMBUKA / SURAT PERTAMA AL QURAN…..

      • SERBUIFF 7:14 am on 25/07/2012 Permalink | Reply

        kesimpulannya al quran terjaga kemurnianya dari dulu samapai kiamat nanti…

        • wikki 11:52 am on 25/07/2012 Permalink | Reply

          dari mana kau tahu syiah itu sesat kalau alfatiha surat pertama kapan itu diturunkan kemudian isinya yang ayat 6.itu tunjuki kami jalan yang lurus .yang bicara disini siapa??bagaimana kau tahu itu yang di baker tidak lengkap.

    • Stain Remover 5:40 pm on 25/07/2012 Permalink | Reply

      @wikki

      Manusia itu sering lupa sehingga selalu berbuat salah, kalimat itu adalah sebuah doa agar ditetapkan pada jalan lurus itu.

      Sebab agama yang dibawa Nabi Muhammad sudah berada di jalan lurus :

      Demi Al Quran yang penuh hikmah, Sesungguhnya kamu (Muhammad) salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) diatas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, ﴾Qs. Yaa Siin : 2-5﴿

      Masih jalan lurus saja nggak ada peningkatan rupanya :

      Sesungguhnya Allah, Tuhanku (Nabi Isa) dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus“.
      Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. ﴾Qs. Ali Imran:51-52 ﴿

      • wikki 5:47 pm on 25/07/2012 Permalink | Reply

        bukankah quran itu adalah katanya wahyu yang langsung dari allah.kalau demikian halnya berarti quran bukan wahyu dong…lalu kapn turunya alfatiha..???

        • Stain Remover 6:41 pm on 25/07/2012 Permalink | Reply

          Baca lagi :

          Surat Al-Fatihah yang merupakan surat pertama dalam Al Qur’an dan terdiri dari 7 ayat adalah masuk kelompok surat Makkiyyah, yakni surat yang diturunkan saat Nabi Muhammad di kota Mekah. Dinamakan Al-Fatihah, lantaran letaknya berada pada urutan pertama dari 114 surat dalam Al Qur’an.

          Para ulama bersepakat bahwa surat yang diturunkan lengkap ini merupakan intisari dari seluruh kandungan Al Qur’an yang kemudian dirinci oleh surat-surat sesudahnya. Surat Al-Fatihah adalah surat Makkiyyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Surat ini berada di urutan pertama dari surat-surat dalam Al-Qur’an dan terdiri dari tujuh ayat. Tema-tema besar Al Qur’an seperti masalah tauhid, keimanan, janji dan kabar gembira bagi orang beriman, ancaman dan peringatan bagi orang-orang kafir serta pelaku kejahatan, tentang ibadah, kisah orang-orang yang beruntung karena taat kepada Allah dan sengsara karena mengingkari-Nya, semua itu tercermin dalam ekstrak surat Al Fatihah.

    • Stain Remover 6:38 pm on 25/07/2012 Permalink | Reply

      @wikki

      apa itu wahyu ? baca dulu kalo belum ngerti !

      http://id.wikipedia.org/wiki/Wahyu

      • wikki 1:53 am on 26/07/2012 Permalink | Reply

        Keabsahan Surat Pertama
        Muslim awam umumnya merasa bahwa surat ini memang sudah selayaknya
        ditempatkan sebagai surat pertama sesuai dengan maknanya sebagai Surat
        Pembukaan (al-Fatihah), jadi, ya seharusnya ia merupakan surat awal Makkiyah!……………….Dinamai Surat Pertama tetapi bukan Surat yang
        diturunkan pertama! Itu sebabnya para pakar Islam hanya sanggup berspekulasi
        “sebaik-baiknya” bahwa surat ini termasuk surat Makkiyah, tetapi mau memahami
        bahwa ada pihak-pihak lain yang mengakuinya sebagai surat Madaniyah. (lihat
        pelbagai ensiklopedi Islam, atau Muqaddimah Terjemah Quran oleh Moh. Rifai). Ibn
        al-Hassar malahan telah memastikan bahwa komposisi surat-surat Quran adalah
        terdiri dari 20 surat Madaniyah dan 82 surat Makkiyah, dan menyisakan 12 surat
        yang dipertentangkan makki-madani-nya (!), dan salah satu diantara adalah surat
        al-Fatihah! (lihat al-Itqan I/ 44-45). Dalam mushaf versi Ibn Abbas (yang
        sebagian surat-suratnya tersusun secara kronologis) didapati Al-Fatihah
        ditempatkan dalam urutan surat ke-6, diantara surat 74 dan surat 111. Lebih
        kacau lagi karena ada pihak lain yang meyakini surat itu diturunkan di kedua
        tempat tersebut: Mekah maupun Medinah. Sedangkan sejumlah ulama kesohor
        termasuk Syeik Allamah Thabathaba’i malahan mengatakan surat istimewa itu telah
        diturunkan berulang-ulang, ya di Mekah, ya di Medinah …
        Orang-orang yang bernalar agaknya akan menafikannya dengan berkata:
        “Kalau begitu, tentu kasus ini menjadikan Jibril hampir tak ada kerjaan lain kecuali
        mengurusi Surat ajaib ini bolak-balik berulang-ulang!”
        Ini adalah kekeliruan menyusuli kekeliruan! Muslim lupa bertanya, “Siapakah yang
        memberi nama al-Fatihah dan siapa yang menempatkan surat tersebut?” Hanya
        apabila Allah yang memberi nama dan penempatan lewat wahyuNya, maka ia
        mempunyai legitimasi ilahi sebagai Pembuka Al-Quran yang sesungguhnya, dan
        bukan sempalan manusia seperti yang diperlihatkan diatas. Tetapi dimanapun
        dalam Quran, Muhammad tidak pernah diberi wahyu tentang nama judul bagi
        surat-surat-Nya, melainkan hanya disebut nama generiknya saja sebagai “sebuah
        surat“, atau “suatu surat” (Qs.2:23, 9:86, 24:1 dst). Surat-surat ini dalam sejarah
        awal Islam, oleh pelbagai pihak dirujuk dengan pelbagai nama yang beragam dan
        sebagiannya telah dibuang, dan baru kemudian hari secara atsar (dampak dari
        sebutan-sebutan umum) muncul pembakuan judul surat-surat yang mana
        membuktikan bahwa itu semua adalah penjudulan manusia. ..
        “Merupakan suatu hal yang pasti bahwa nama-nama yang diberikan kepada suratsurat
        itu bukanlah bagian dari Quran. Tidak jelas kapan munculnya nama-nama
        surat yang beragam itu…. sekitar pertengahan abad ke-8 dapat dipastikan bahwa
        nama-nama surat yang beragam itu telah memasyarakat” (Taufik A. Amal,
        Rekonstruksi Sejarah al-Quran, p.211-212).
        Penggugatan akan pewahyuan Surat Al-Fatihah ini didukung oleh segudang fakta
        historis, antara lain menyangkut hal-hal gamang yang menyelimuti dirinya:
        1. Surat al-Fatihah ini tidak mempunyai pijakan asal-usul dan sebab musabab
        pewahyuannya; ia yang sekalipun dianggap surat paling terhormat dan
        termulia, namun muncul begitu saja tanpa silsilah!
        2. Kosong-kronologi, bahkan tidak diketahui kapan ia diturunkan dan dimana.
        Bahkan tak ada indikasi ia diturunkan setelah (atau sebelum) ayat atau surat
        apa. Semuanya hanyalah hasil penempatan secara acak yang kehilangan
        referensi.
        3. Tidak memiliki legitimasi ilahi dalam tata-letaknya sebagai Ummul Kitab, al-
        Kafiyah, al-Asas dan sebagai Surat Pertama, sebab bukan Muhammad yang
        menetapkannya disana atas nama Allah! Hadis manakah yang ada mengatakan
        bahwa Nabi menetapkan urutan surat Al-Fatihah sebagai surat Pertama?
        Bahkan sahabat Nabi manakah yang sudah menuliskan atau membacakan
        Surat ini (sebagai wahyu) sebelum hijrah?
        4. Ternyata surat-1 ini (dan juga bersama surat 113 dan 114), tidak
        dimasukkan oleh Ibn Mas’ud dalam koleksi naskahnya (As Suyuti, al-
        Itqan, I:220-22). Padahal tidak ada keraguan bahwa Ibn Mas’ud adalah
        salah satu otoritas terbesar dalam al-Quran, dan tanpa tandingan untuk
        surat-surat Makkiyah! Ini akan kita kupas nanti.
        5. Konten wahyunya al-Fatihah adalah sebuah musibah, karena memperlihatkan
        suatu rangkaian wahyu yang dipersekutukan dengan non-wahyu !
        Menurut makna dan isi teksnya, al-Fatihah jelas bukan seruan doa dari Allah tetapi
        sebaliknya, seruan doa manusia kepada sosok Allah! Dan ini sudah menafikan dirinya
        sebagai kata-kata Allah yang termaktub dalam Lauhul Mahfudz. Namun menurut
        formatnya yang masuk dalam bagian Al-Quran, ia pastilah wahyu langsung ucapan
        Allah sebagaimana seluruh kalimat Quran yang adalah seruan Allah semata. Jadi
        bagaimanakah Muslim dapat memahaminya?
        Disini Allah tidak menyertakan kata tanda “Qul” [Katakan (hai Muhammad)….]
        kedalam surat ini, khususnya untuk ayat 5-7, yang memperlihatkan bahwa ia
        hanyalah sebentuk doa dari manusia, bukan tanda verbatim dari mulut Allah sendiri.
        Bukankah penandaan kata ini sudah dibakukan secara khusus dan sudah diserukan
        oleh Allah sendiri sebanyak 332 kali “Qul” diseluruh Quran? Maka mungkinkah Surat
        Terkemuka al-Fatimah ini justru akan dilalaikan Allah dari satu kata seruan “Qul”/
        “Katakan”? Padahal kata-seruan itu mutlak diperlukan demi menjaga agar
        FirmanNya jangan sampai dipersekutukan kedalam “firman manusia”.

  • SERBUIFF 9:11 am on 31/10/2007 Permalink | Reply
    Tags: 100 a ranking of the most influental person in history, ,   

    100 a ranking of the most influental person in history by michael h hart 

    the100.jpg

    BUKU INI MENEMPATKAN NABI MUHAMMAD DI RANKING NO 1

    1 MUHAMMAD 570-632 From the 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History by Michael H. Hart

    1 MUHAMMAD

    570-632

    From the 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History

    by Michael H. Hart

    My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular levels.

    Of humble origins, Muhammad founded and promulgated one of the world’s great religions, and became an immensely effective political leader. Today, thirteen centuries after his death, his influence is still powerful and pervasive.

    The majority of the persons in this book had the advantage of being born and raised in centers of civilization, highly cultured or politically pivotal nations. Muhammad, however, was born in the year 570, in the city of Mecca, in southern Arabia, at that time a backward area of the world, far from the centers of trade, art, and learning. Orphaned at age six, he was reared in modest surroundings. Islamic tradition tells us that he was illiterate. His economic position improved when, at age twenty-five, he married a wealthy widow. Nevertheless, as he approached forty, there was little outward indication that he was a remarkable person.

    Most Arabs at that time were pagans, who believed in many gods. There were, however, in Mecca, a small number of Jews and Christians; it was from them no doubt that Muhammad first learned of a single, omnipotent God who ruled the entire universe. When he was forty years old, Muhammad became convinced that this one true God (Allah) was speaking to him, and had chosen him to spread the true faith.

    For three years, Muhammad preached only to close friends and associates. Then, about 613, he began preaching in public. As he slowly gained converts, the Meccan authorities came to consider him a dangerous nuisance. In 622, fearing for his safety, Muhammad fled to Medina (a city some 200 miles north of Mecca), where he had been offered a position of considerable political power.

    This flight, called the Hegira, was the turning point of the Prophet’s life. In Mecca, he had had few followers. In Medina, he had many more, and he soon acquired an influence that made him a virtual dictator. During the next few years, while Muhammad s following grew rapidly, a series of battles were fought between Medina and Mecca. This was ended in 630 with Muhammad’s triumphant return to Mecca as conqueror. The remaining two and one-half years of his life witnessed the rapid conversion of the Arab tribes to the new religion. When Muhammad died, in 632, he was the effective ruler of all of southern Arabia.

    The Bedouin tribesmen of Arabia had a reputation as fierce warriors. But their number was small; and plagued by disunity and internecine warfare, they had been no match for the larger armies of the kingdoms in the settled agricultural areas to the north. However, unified by Muhammad for the first time in history, and inspired by their fervent belief in the one true God, these small Arab armies now embarked upon one of the most astonishing series of conquests in human history. To the northeast of Arabia lay the large Neo-Persian Empire of the Sassanids; to the northwest lay the Byzantine, or Eastern Roman Empire, centered in Constantinople. Numerically, the Arabs were no match for their opponents. On the field of battle, though, the inspired Arabs rapidly conquered all of Mesopotamia, Syria, and Palestine. By 642, Egypt had been wrested from the Byzantine Empire, while the Persian armies had been crushed at the key battles of Qadisiya in 637, and Nehavend in 642.

    But even these enormous conquests-which were made under the leadership of Muhammad’s close friends and immediate successors, Abu Bakr and ‘Umar ibn al-Khattab -did not mark the end of the Arab advance. By 711, the Arab armies had swept completely across North Africa to the Atlantic Ocean There they turned north and, crossing the Strait of Gibraltar, overwhelmed the Visigothic kingdom in Spain.

    For a while, it must have seemed that the Moslems would overwhelm all of Christian Europe. However, in 732, at the famous Battle of Tours, a Moslem army, which had advanced into the center of France, was at last defeated by the Franks. Nevertheless, in a scant century of fighting, these Bedouin tribesmen, inspired by the word of the Prophet, had carved out an empire stretching from the borders of India to the Atlantic Ocean-the largest empire that the world had yet seen. And everywhere that the armies conquered, large-scale conversion to the new faith eventually followed.

    Now, not all of these conquests proved permanent. The Persians, though they have remained faithful to the religion of the Prophet, have since regained their independence from the Arabs. And in Spain, more than seven centuries of warfare 5 finally resulted in the Christians reconquering the entire peninsula. However, Mesopotamia and Egypt, the two cradles of ancient civilization, have remained Arab, as has the entire coast of North Africa. The new religion, of course, continued to spread, in the intervening centuries, far beyond the borders of the original Moslem conquests. Currently it has tens of millions of adherents in Africa and Central Asia and even more in Pakistan and northern India, and in Indonesia. In Indonesia, the new faith has been a unifying factor. In the Indian subcontinent, however, the conflict between Moslems and Hindus is still a major obstacle to unity.

    How, then, is one to assess the overall impact of Muhammad on human history? Like all religions, Islam exerts an enormous influence upon the lives of its followers. It is for this reason that the founders of the world’s great religions all figure prominently in this book . Since there are roughly twice as many Christians as Moslems in the world, it may initially seem strange that Muhammad has been ranked higher than Jesus. There are two principal reasons for that decision. First, Muhammad played a far more important role in the development of Islam than Jesus did in the development of Christianity. Although Jesus was responsible for the main ethical and moral precepts of Christianity (insofar as these differed from Judaism), St. Paul was the main developer of Christian theology, its principal proselytizer, and the author of a large portion of the New Testament.

    Muhammad, however, was responsible for both the theology of Islam and its main ethical and moral principles. In addition, he played the key role in proselytizing the new faith, and in establishing the religious practices of Islam. Moreover, he is the author of the Moslem holy scriptures, the Koran, a collection of certain of Muhammad’s insights that he believed had been directly revealed to him by Allah. Most of these utterances were copied more or less faithfully during Muhammad’s lifetime and were collected together in authoritative form not long after his death. The Koran therefore, closely represents Muhammad’s ideas and teachings and to a considerable extent his exact words. No such detailed compilation of the teachings of Christ has survived. Since the Koran is at least as important to Moslems as the Bible is to Christians, the influence of Muhammed through the medium of the Koran has been enormous It is probable that the relative influence of Muhammad on Islam has been larger than the combined influence of Jesus Christ and St. Paul on Christianity. On the purely religious level, then, it seems likely that Muhammad has been as influential in human history as Jesus.

    Furthermore, Muhammad (unlike Jesus) was a secular as well as a religious leader. In fact, as the driving force behind the Arab conquests, he may well rank as the most influential political leader of all time.

    Of many important historical events, one might say that they were inevitable and would have occurred even without the particular political leader who guided them. For example, the South American colonies would probably have won their independence from Spain even if Simon Bolivar had never lived. But this cannot be said of the Arab conquests. Nothing similar had occurred before Muhammad, and there is no reason to believe that the conquests would have been achieved without him. The only comparable conquests in human history are those of the Mongols in the thirteenth century, which were primarily due to the influence of Genghis Khan. These conquests, however, though more extensive than those of the Arabs, did not prove permanent, and today the only areas occupied by the Mongols are those that they held prior to the time of Genghis Khan.

    It is far different with the conquests of the Arabs. From Iraq to Morocco, there extends a whole chain of Arab nations united not merely by their faith in Islam, but also by their Arabic language, history, and culture. The centrality of the Koran in the Moslem religion and the fact that it is written in Arabic have probably prevented the Arab language from breaking up into mutually unintelligible dialects, which might otherwise have occurred in the intervening thirteen centuries. Differences and divisions between these Arab states exist, of course, and they are considerable, but the partial disunity should not blind us to the important elements of unity that have continued to exist. For instance, neither Iran nor Indonesia, both oil-producing states and both Islamic in religion, joined in the oil embargo of the winter of 1973-74. It is no coincidence that all of the Arab states, and only the Arab states, participated in the embargo.

    We see, then, that the Arab conquests of the seventh century have continued to play an important role in human history, down to the present day. It is this unparalleled combination of secular and religious influence which I feel entitles Muhammad to be considered the most influential single figure in human history.

    http://www.jamaat.net/hart/thetop100.html

    http://isisbest.blogspot.com/2008/12/1-muhammad-570-632-from-100-ranking-of.html

     
    • peter 10:02 am on 31/10/2007 Permalink | Reply

      seorang ahlisejarah kaliber internasional dan non muslim saja mengakui kehebatan muhammad dalam merubah sebuah sejarah dunia dalam tempo yang singkat, hanya orang2 tolol seperti orang2 kafir di indonesia.faithfreedom yang menghinakan Nabi Muhammad sedemikian rendah.he,he,he.

    • Muhammad Fahmi Arsyad 4:56 am on 04/11/2007 Permalink | Reply

      Ini berarti Muhammad Saw adalah manusia yang tak mungkin lagi diragukan kebenarannya sebagai manusia kekasih Allah dan Manusia yang paling sempurna.
      Jadi kalau ada yang mengaku jadi nabi seperti ajaran Al-qiyadah atau sejenisnya, hanya orang tolol yang mau mengikutinya.

    • erzal 10:36 am on 05/11/2007 Permalink | Reply

      tepat ! betul 100 %, ……….yang pasti Muhammad adalah 100 % utusan Allah !

    • Delfi Gunardy 3:58 pm on 21/11/2008 Permalink | Reply

      sbhanallah

      memang nabi muhammad sudah tak diragukan lg sbg kekasih Allah

      malah saya akan heran sekali kalo buku ini tdk menempatkan rasullullah di urutan pertama

      semoga kita bisa mengikuti jejak nabi muhammad

      Amin

    • budi mulyono 1:46 pm on 21/12/2008 Permalink | Reply

      Muhammad SAW…is the best man in the world….

      sebagai teladan umat manusia sejagat

      orang asing aja macam michael h hart tau itu apalagi kita yang jelas-jelas

      mengaku orang islam dan umat muhammad

    • nacho 7:27 am on 22/12/2008 Permalink | Reply

      mau cepat terkenal dan banyak uang :

      jangan susah2 mau terkenal dan cari..uang..klik sana…klik sini..di internet..brwsing ampe mata pegel…saran saya :

      1.bikin buku yg menjelek-jelekan islam.( Referensi se abreg )

      2.bikin buku yg membagus-baguskan islam. (Referensi se gudang )

      dua saran saya itu cukup u/ mencari duit……tinggal pilih….no 1 atw no 2

      gampangnya cari duit…….dari kestupid tan ( pola pikir sok kritis ) islam……..hayoo..takbir….Eeeelehngeber…Eeeelehngeber…(nacho stupid but smart )

    • keyzia 2:35 am on 23/12/2008 Permalink | Reply

      yang pasti michael lebih hebat dari pada yg baca…

    • Arie 3:15 pm on 15/02/2009 Permalink | Reply

      Faith for freedom itu situs murni buatan orang2 Barat yg ingin memecah belah umat beragama dan memusnahkan Islam..

      Yang bodoh dua2 nya, yang bikin dan yang ikut nulis maupun menjawab pertanyaan2 yg ada disana.. Uda tau situs aneh bin ajaib eh masih dimasukkin juga, dijawab lagie..

      Orang2 kafir disana hanya berfikir dan menghina kulitnya saja.. Sedangkan Muslim, dan ilmuwan barat sudah merasakan dagingnya..

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel