Mencari Tuhan menemukan Allah 

daarut-tauhiid

[daarut-tauhiid] Genne Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah

Pakde_007
Wed, 14 Mar 2007 02:13:19 -0800

SUMBER : http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=5359_0_4_0_M

GENNE NETTO : MENCARI TUHAN MENEMUKAN ALLAH
Journey to Islam Oleh : Redaksi 18 Dec 2006 - 5:30 pm 

Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor
Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. 
Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. 
Hanya saja saya dianggap "gila". Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga 
dianggap "gila" oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena 
sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.) 
berikut penuturan beliau : 
Nama saya Genne Netto, sejak tahun 1995 saya telah menetap di Jakarta, 
Indonesia, dan pada saat saya bertemu dengan orang baru, mereka selalu 
penasaran tentang latar belakang saya. Mereka ingin tahu tentang bagaimana saya 
bisa belajar bahasa Indonesia dengan baik, pindah ke Indonesia dan akhirnya 
masuk Islam. Lewat bab ini, saya ingin menjelaskan latar belakang diri saya dan 
bagaimana caranya saya menjadi tertarik pada Islam. :foto

Masa kecil dan mencari tuhan
Saya lahir di kota Nelson, sebuah kota kecil di Pulau Selatan di Selandia Baru 
(New Zealand) pada tanggal 28 April, tahun 1970. Bapak dan ibu saya bertemu di 
Nelson, menikah dan mendapat tiga anak; saya nomor dua. Bapak berasal dari 
Birma (yang sekarang dinamakan Myanmar) dan setelah Perang Dunia II, kakek saya 
pindah ke Selandia Baru. 

Ibu lahir di Selandia Baru dan leluhurnya adalah orang Inggris dan Irlandia. 
Ibu dibesarkan di sebuah perternakan domba dan sapi di pulau selatan Selandia 
Baru. 

Pada usia kecil saya sudah merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya 
beragama Katolik dan Ibu saya berkulit putih tetapi saya masih merasa berbeda 
dengan orang lain. Kakak dan adik saya mendapatkan mata biru dan rambut coklat 
yang membuat mereka lebih mirip dengan orang berkulit putih yang lain. Tetapi 
mata saya berwarna coklat-hijau dan rambut saya hitam, dan hal itu memberi 
kesan bahwa saya bukan orang berkulit putih asli. Jadi, saya orang mana? Orang 
barat? Atau orang Asia? Saya sudah mulai merasa tidak betah dan oleh karena itu 
saya berfikir banyak tentang dunia dan siapa diri saya.

Saya membesar terus dan berfikir terus tentang berbagai macam hal, terutama 
tentang agama, dunia dan alam semesta. Seringkali saya melihat bintang dan 
dalam kesunyian larut malanm saya berfikir tentang luasnya alam semesta dan 
bagaimana diciptakan. Dari umur 9 tahun saya mulai membaca buku tentang agama 
dan topik serius yang lain. Saya ingin tahu segala-galanya: agama, dunia, 
budaya, sejarah, alam semesta. semuanya! Seingat saya, hanya saya yang tertarik 
pada dinosaurus pada usia itu. Teman-teman saya yang lain tidak mau tahu 
tentang dinosaurus karena saat itu film Jurassic Park belum muncul. Hanya saya 
yang sering membaca tentang topik serius seperti pembuatan piramida, agama 
Buddha dan Hindu, sejarah dunia, luasnya alam semesta dan sebagainya. 

Seperti anak kecil yang lain, saya juga diajarkan agama oleh orang tua saya, 
karena mereka sebelumnya juga diajarkan oleh orang tua mereka. Di dalam ajaran 
agama Katolik ada banyak hal yang membingungkan saya. Setiap saya bertanya 
tentang Tuhan dan agama Kristen, saya seringkali mendapat penjelasan yang tidak 
memuaskan. Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di mana ada Tuhan, 
Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya satu. Tuhan menjadi 
manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati, tetapi manusia itu 
adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang mengampuni dosa orang 
dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih dahulu. 

Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni? Apakah saya bisa 
mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa saya sudah bebas 
dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari akhirat dan Dia 
menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes dan menunjuk 
pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup bertanya 
"Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?" Siapa yang bisa menyelamatkan 
aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh Tuhan?

Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasan tentang 
semua hal yang membingungkan saya. Akhirnya jalan keluar menjadi jelas: saya 
harus bicara empat mata dengan Tuhan! Hanya Tuhan yang bisa menjawab semua 
pertanyaan saya. 

Pada suatu hari, saya menunggu sampai larut malam. Saya duduk di tempat tidur 
dan berdoa kepada Tuhan. Saya menyuruh Tuhan datang dan menampakkan diri kepada 
saya supaya saya bisa melihat-Nya dengan mata sendiri. Saya menyatakan bahwa 
saya siap percaya dan beriman kepada Tuhan kalau saya bisa melihatnya sekali 
saja dan mendapatkan jawaban yang benar dari semua pertanyaan saya. Kata orang, 
Tuhan bisa melakukan apa saja! Kalau benar, berarti Tuhan juga bisa muncul di 
kamar saya pada saat disuruh muncul. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh dan 
menatap jendela di kamar, menunggu cahaya Tuhan masuk dari luar. 

Saya menunggu lama sekali. Sepuluh minit. Lima belas minit. Mana Tuhan? Kata 
orang, Tuhan Maha Mendengar, berarti sudah pasti mendengarkan saya. Saya 
menunggu lagi. Melihat jendela terus. Menunggu lagi. Kenapa Tuhan belum datang? 
Barangkali Dia sibuk? Kena macet? Saya melihat jendela lagi. Setelah menunggu 
sekian lama dan benar-benar memberi kesempatan kepada Tuhan untuk muncul. 
Tetapi Tuhan ternyata sibuk pada malam itu dan Dia tidak hadir.

Hal itu membuat saya bingung. Bukannya saya sudah berjanji bahwa saya akan 
percaya kepada-Nya kalau Dia membuktikan bahwa Diri-Nya benar-benar ada? Kenapa 
Dia tidak mau menampakkan Diri kepada saya? Bagaimana saya bisa percaya kalau 
saya tidak bisa melihat-Nya? Saya menangis dan tidur. Besoknya saya berdoa lagi 
dengan doa yang sama. Hasilnya pun sama: Tuhan tidak datang dan saya menangis 
lagi. 

Ini merupakan contoh logika seorang anak kecil. Dalam pengertian seorang anak, 
apa yang tidak terlihat, tidak ada. Apalagi sesuatu yang begitu sulit 
didefinisikan seperti konsep "tuhan". Pada saat itu, terjerumus dalam 
kebingungan, saya memutuskan untuk tidak percaya kepada Tuhan dan menyatakan 
diri "ateis" (tidak percaya kepada tuhan mana saja). Saya memberitahu kepada 
Tuhan bahwa saya sudah tidak percaya kepada-Nya. Dan saya memberitahu Tuhan 
bahwa Dia memang tidak ada dan semua orang yang percaya kepadanya adalah orang 
bodoh saja yang hanya membuang waktunya. (Dalam kata lain, saya ngambek 
terhadap Tuhan.) Di dalam hati, saya berbicara kepada Tuhan dengan suara yang 
keras supaya Dia bisa mendengar dengan jelas pernyataan saya bahwa Tuhan tidak 
ada! 

Pada hari-hari yang berikut, saya memberi waktu kepada Tuhan untuk datang dan 
minta maaf karena tidak sempat datang dan menampakkan diri pada hari 
sebelumnya. Saya sudah membuat pernyataan yang jelas. Tuhan semestinya 
mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi tidak ada tanggapan 
dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu memang tidak ada. 
Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar doa saya dan 
menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri membuktikan 
bahwa Tuhan tidak ada!

Saya bersekolah terus dan sembunyikan kenyataan bahwa saya tidak percaya kepada 
Tuhan. Kalau ada yang menanyakan agama saya maka saya menjawab "Katolik" saja. 
Selama SD, SMP, dan SMA saya belajar terus tentang dunia tetapi sudah malas 
mempelajari agama secara serius, kecuali untuk mencari kekurangannya, karena 
saya menanggap agama itu sesuatu yang membuang waktu saja tanpa membawa hasil. 
Kebetulan, setelah lulus SMA, orang tua saya memutuskan untuk berpindah ke 
Australia. Kebetulan, saya memutuskan untuk ikut juga daripada tetap di 
Selandia Baru. 

Di Australia, saya berusaha untuk masuk kuliah Psikologi di Universitas 
Queensland pada tahun 1990. Saya mau menjadi seorang psikolog anak. Kebetulan, 
lamaran saya itu tidak diterima karena nilai masuk saya kurang tinggi. Sebagai 
pilihan kedua, saya ditawarkan kuliah Pelajaran Asia di Universitas Griffith. 
Di Australia, seorang siswa yang tidak diterima di fakultas pilihan pertamanya, 
akan ditawarkan fakultas atau universitas yang lain. Setelah satu tahun, dia 
bisa pindah kembali ke pilihan pertamanya asal nilainya bagus. Kebetulan, saya 
menerima tawaran untuk masuk Fakultas Pelajaran Asia dengan niat akan pindah ke 
Fakultas Psikologi setelah satu tahun. 

Kebetulan, di dalam Fakultas Pelajaran Asia pada tahun pertama semua siswa 
wajib mengambil mata kuliah Bahasa Asia. Ada pilihan Bahasa Jepang, Cina, 
Korea, dan Indonesia. Kebetulan, saya memilih Bahasa Indonesia karena 
sepertinya paling mudah dari yang lain. Saya hanya perlu mengikuti mata kuliah 
itu selama satu tahun saja jadi sebaiknya saya mengambil yang termudah. 
Kebetulan, dalam waktu enam bulan, nilai saya sangat baik, termasuk yang paling 
tinggi. 

Tiba-tiba kami diberitahu ada 3 beasiswa bagi siswa untuk kuliah di Indonesia 
selama 6 bulan. Saya tidak mengikuti seleksi karena berniat pindah fakultas 
pada akhir tahun. Tiga teman dipilih. Kebetulan, salah satunya tiba-tiba 
menyatakan ada halangan dan dia tidak bisa pergi ke Indonesia. Proses seleksi 
dibuka lagi. Ada seorang dosen yang memanggil saya dan bertanya kenapa tidak 
mengikuti seleksi dari pertama kali. Saya jelaskan niat saya untuk pindah 
fakultas pada akhir tahun pertama. 

Dia menyatakan "Gene, kemampuan kamu dalam bahasa Indonesia sudah kelihatan. 
Kenapa kamu tidak teruskan saja Pelajaran Asia. Dalam waktu 2 tahun kamu sudah 
selesai. Belum tentu kamu senang di bidang psikologi, tetapi sudah jelas bahwa 
kamu ada bakat bahasa. Coba dipikirkan kembali."

Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan pelajaran saya di Fakultas Pelajaran 
Asia itu dan mengikuti proses seleksi untuk beasiswa tersebut. Kebetulan, 
setelah proses selesai, saya dinyatakan menang dan akan diberangkatkan ke 
Indonesia pada tahun depan (1991). Sekarang saya menjadi lebih serius dalam 
pelajaran saya karena sekarang ada tujuan yang lebih jelas. 

Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor
.
Pada suatu hari diadakan acara barbeque (makanan panggang) untuk Klub 
Indonesia. Semua orang Indonesia di kampus diundang untuk bergaul dengan orang 
Australia yang belajar tentang Indonesia. Pada saat saya sedang makan, ada 
orang Indonesia yang datang dan kebetulan dia duduk di samping saya. Dia 
bertanya "Kamu Gene, ya?" Ternyata dia pernah dengar tentang saya dari seorang 
teman. "Apakah kamu pelajari agama Islam, Gene?" Saya jelaskan bahwa memang ada 
mata kuliah tentang semua agama di Asia termasuk agama Islam. "Apakah kamu juga 
tahu bahwa dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Tidak ada pendeta 
atau pastor yang boleh mengampuni dosa orang!"

Saya begitu kaget, saya berhenti makan dengan hotdog di tengah mulut. Saya 
suruh dia menjelaskan lebih mendalam lagi. Ini bukan sebuah kebetulan! Inilah 
sebuah jawaban yang telah saya cari selama 10 tahun. Di dalam Islam hanya Tuhan 
yang berhak mengampuni dosa. Apakah mungkin di dalam agama Islam ada logika dan 
ajaran yang bisa saya terima? Apakah mungkin ada agama yang benar di dunia ini? 
Dari semua kebetulan yang membawa saya ke titik itu, tiba-tiba semuanya terasa 
sebagai sesuatu yang terencana, dan sama sekali tidak terjadi secara tidak 
sengaja. Yang saya lihat adalah serangkaian kebetulan yang membawa saya ke 
kampus itu dan bahasa Indonesia. Tetapi dari pandangan orang yang percaya 
kepada Allah, tidak ada kebetulan sama sekali di dunia ini!

Masuk Islam

Dari saat itu saya mulai mempelajari dan menganalisa agama Islam secara 
mendalam. Saya mulai membaca buku dan mencari teman dari Indonesia yang 
beragama Islam. Secara pelan-pelan saya mempelajari Islam untuk mencaritahu 
apakah agama ini benar-benar masuk akal atau tidak.

Pada tahun 1991, saya dan dua teman kuliah menjalankan beasiswa untuk kuliah di 
Indonesia. Saya belajar di Universitas Atma Jaya di Jakarta dan kedua teman 
yang lain itu dikirim ke Salatiga dan Sulawesi. Pada saat saya di Atma Jaya 
(sebuah universitas Katolik), sebagian besar teman saya adalah orang Islam. 
Kenapa bisa begitu? Memang ada orang Islam yang kuliah di Atma Jaya, dan saya 
merasa sudah paham semua kekurangan yang ada di dalam agama Kristen, jadi saya 
tidak tertarik untuk bergaul dengan orang yang beragama Kristen. Saya lebih 
tertarik untuk menyaksikan agama Islam dan pengikutnya dan oleh karena itu saya 
menjadi lebih dekat dengan beberapa orang yang beragama Islam. Kalau ada teman 
yang melakukan sholat, saya duduk dan menonton orang itu dan memikirkan tentang 
apa yang dia lakukan dan kenapa.

Pada saat kembali ke Australia setelah 6 bulan di Jakarta, saya menjadi salah 
satu siswa yang bahasa Indonesianya paling lancar di kampus. Oleh karena itu, 
saya sering bergaul dengan orang Indonesia. Secara langsung dan tidak langsung 
saya pelajari agama Islam terus. Saya membaca buku dan berbicara dengan orang 
Indonesia di mana-mana. Setelah selesai kuliah Bachelor of Arts, saya mengambil 
kuliah tambahan selama satu tahun di fakultas pendidikan untuk menjadi guru 
bahasa. Pada saat yang sama saya mengikuti seleksi untuk beasiswa kedua, kali 
ini dari Perkumpulan Wakil Rektor Australia (Australian Vice Chancellors 
Committee). Beasiswa ini hanya untuk satu orang per bagian negara dan, kali 
ini, saya bebas memilih lokasi kuliah di Indonesia. 

Sekali lagi, saya terpilih, dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah satu tahun di 
Universitas Indonesia. Setelah selesai kuliah tambahan di Fakultas Pendidikan, 
Universitas Griffith, pada tahun 1994 saya berangkat sekali lagi ke Jakarta 
untuk belajar di Fakultas Sastra di UI. Selama satu tahun di UI, seperti waktu 
saya ada di Atma Jaya, saya bergaul terus dengan orang Islam. 

Pada bulan Februari, tahun 1995, saya duduk sendiri di lantai pada tengah malam 
dan menonton shalat Tarawih, tayangan langsung dari Mekah. Saya melihat sekitar 
3-4 juta orang melakukan gerakan yang sama, menghadap arah yang sama, mengikuti 
imam yang sama, berdoa dengan ucapan yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama. 
Saya berfikir: Mana ada hal seperti ini di negara barat? Orang yang berkumpul 
untuk pertandingan bola yang paling hebat di dunia cuma beberapa ratus ribu. 
Tidak pernah ada orang sebanyak ini berkumpul si suatu tempat untuk menonton 
bola, mengikuti suatu pertandingan, atau bahkan mendengarkan Paus bicara. Ini 
benar-benar luar biasa! Dan tidak ada tandingnya. 

Selama satu tahun itu saya teruskan pelajaran agama saya. Tidak secara formal 
atau serius, tetapi dengan memantau dan mencermati. Kalau ada ceramah agama di 
TV, dari Kyai Zainuddin MZ atau Kyai Anwar Sanusi dan sebagainya, maka saya 
mendengarkannya dan memikirkan maknanya. Dan secara pelan-pelan saya 
mendapatkan ilmu agama dari berbagai macam sumber. Pada akhir tahun 1995 itu 
saya sudah merasa sulit untuk menolak agama Islam lagi. 

Tidak ada yang bisa saya salahkan dalam ajaran agama Islam karena memang Islam 
didasarkan logika. Semua yang ada di dalam Islam mengandung logika kalau kita 
mau mencarinya. Apa boleh buat? Saya mengambil keputusan untuk masuk Islam. 
Akan tetapi, saya seharusnya kembali ke Australia dan mengajar di sekolah di 
sana. Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mempelajari agama Islam 
di sana? Ada masjid di mana? Dari mana saya bisa mendapatkan makanan yang 
halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama? 

Sepertinya saya akan sulit hidup sebagai orang Islam kalau harus hidup di luar 
negeri. Kalau saya mau menjadi orang Islam dengan benar maka saya harus menetap 
di Indonesia untuk belajar. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menetap di 
Indonesia dan masuk Islam. 

Saya kembali ke Australia dan pamit dengan orang tua. Saya memberitahu mereka 
bahwa saya mau kerja di Indonesia untuk beberapa waktu. Ibu berpesan: "Silahkan 
kembali ke Indonesia, tapi jangan masuk Islam, ya?" 

Dari pandangan orang barat, Islam tidak bagus jadi wajar kalau Ibu menyuruh 
saya untuk menjahui sesuatu yang dianggap buruk. Saya lupa kapan saat persisnya 
saya memberitahu orang tua bahwa saya sudah masuk Islam. Kalau tidak salah, 
saya sudah kembali ke Indonesia, mendapatkan pekerjaan, masuk Islam, dan sudah 
mulai sholat, sebelum saya memberitahu mereka. Tentu saja mereka menanggap 
bahwa saya kehilangan akal. Tetapi alhamdulillah, mereka masih berbuat baik 
kepada saya. 

  Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. 
Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. 
Hanya saja saya dianggap "gila". Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga 
dianggap "gila" oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena 
sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.) 

Sejak tahun 1995, saya telah menetap di Jakarta dan bekerja sebagai seorang 
guru bahasa Inggris. Saya belum ada niat untuk kembali hidup di tengah-tengah 
orang kafir. Saya berniat untuk menetap di sini terus (selama belum diusir) dan 
mempelajari agama Islam dengan sebaik-baiknya. Banyak orang asing menanggap 
saya aneh karena mau menetap di negara yang miskin, kotor, penuh dengan korupsi 
dan sebagainya. Mereka itu memiliki pandangan yang keliru. Komentar mereka 
benar, tetapi saya juga melihat masjid, orang yang sholat, adzan, Al Qur'an di 
rumah orang, makanan yang halal, anak-anak yang tidak mau bezina atau menjadi 
mabuk, dan banyak hal yang lain yang jauh lebih besar manfaatnya. Oleh karena 
itu, semua kekurangan yang disebut-sebut oleh orang kafir itu menjadi tidak 
bermakna dan kurang terasa. Keindahan Islam bisa menutupi semua kekurangan yang 
diciptakan oleh manusia di negara ini. 

Dan alhamdullilah, di sini saya mendapatkan teman-teman yang terbaik di dunia. 
Belum pernah saya mendapatkan teman seperti teman yang saya jumpai di sini. 
Bagi saya, persahabatan mereka adalah suatu hal yang sangat nikmat, apalagi 
saya harus tinggal di sini tanpa keluarga. Karena takut memalukan mereka, saya 
tidak akan sebutkan namanya. Semuanya memiliki kedudukan sebagai saudara di 
dalam hati saya. Mereka yang membantu saya sehari-hari untuk selalu ingat 
kepada Allah dan tidak menyimpang dari jalan yang benar. Mereka yang menjadi 
contoh konkret bagi saya tentang kehidupan seorang Muslim. Mereka yang 
menggantikan keluarga yang menganggap saya gila, karena teman-teman ini justru 
bangga dengan usaha saya untuk menjadi orang yang beriman. Sering ada orang 
bertanya "Kenapa kamu tidak pulang ke Australia dan berdakwa di sana?" 
Jawabannya adalah: belum tentu di sana ada orang yang mau mendengar kalau saya 
bicara, tetapi di sini, justru banyak yang tertarik karena jarang ada orang 
bule yang masuk Islam, menetap di sini dan bisa berbahasa Indonesia. (Secara 
kebetulan!) Saya juga tidak mau kembali ke sana karena dengan demikian, saya 
harus tinggalkan teman-teman saya di sini dan juga guru-guru agama saya. Semoga 
semua yang mereka lakukan untuk membantu saya belajar agama dibalas Allah swt. 
karena saya sama sekali tidak sangup menjadi orang baik tanpa bantuan terus 
dari mereka. 

Semoga sisanya dari buku ini adalah sesuatu yang menarik bagi anda yang 
membacanya. Semoga lewat tulisan ini, semua yang saya pahami sebagai seorang 
Muslim di Indonesia akan menjadi bahan pikiran untuk kita semua. Perjuangan 
saya dari luar negeri sampai masuk Islam dan menetap di sini adalah sebagian 
dari rencana Allah. Saya belum tahu kenapa Allah membawa saya ke Indonesia dan 
memberi saya kelancaran dalam bahasa Indonesia. Apakah semua itu hanya untuk 
diri saya sendiri? Atau apakah ada tujuan Allah yang lebih luas yang belum saya 
pahami? Apa yang Allah inginkan dari saya? Apa yang bisa saya lakukan untuk 
ummat Islam dan Allah sebagi balasan terhadap semua nikmat yang telah Allah 
berikan kepada saya? 

Barangkali, lewat buku ini, ada beberapa hamba Allah yang akan mulai memikirkan 
Islam dengan cara baru. Barangkali akan ada beberapa orang yang menjadi lebih 
dekat kepada Allah setelah membaca dan memahami pikiran saya. Saya bukan 
seorang ustadt. Saya bukan ahli agama. Yang bisa saya berikan kepada ummat 
Islam untuk membantu kita semua menjadi ummat teladan di dunia hanya sebatas 
komentar saja. Barangkali Allah memberikan saya kehidupan sampai sekarang 
supaya saya bisa bicara kepada anda lewat buku ini. Insya Allah ada tujuan 
Allah yang membawa hikmah buat ummat Islam lewat komentar saya ini. Saya juga 
mohon Allah mengangkat semua sifat sombong dan takkabur dari hati saya dan 
menjadikan saya seorang hamba Allah yang bermanfaat bagi Allah dan bermanfaat 
bagi ummat Islam. Amin amin ya robbal alamin. Semoga menjadi rahmat bagi kita 
semua (mualaf.com)

Beliau sekarang ini aktif dalam kegiatan "Pengajian Mualaf Bule di daerah 
Kuningan"

yang bersangkutan Mr. Genne Netto tinggal di Jakarta, saat ini telah menjadi 
anggota milist [EMAIL PROTECTED] bergabung dengan yang lainnya dalam membantu 
mualaf dan calon mualaf . Blogs ybs http://genenetto.blogspot.com 

Gene Netto

Age: 36 
Gender: male 
Industry: Education 
Occupation: English Teacher 
Location: Jakarta : Indonesia

Saat ini Gene Netto sedang membuat sebuah buku kisah perjalanannya hingga 
dirinya menerima Hidayah Islam. 

DAFTAR ISI

01. SAYA
02. INGIN MELIHAT TUHAN
03. KEBENARAN ISLAM
04. KEBETULAN
05. TUHAN TIDAK PUNYA NAMA
06. LEBIH DARI SATU TUHAN
07. BERDOA KEPADA TUHAN (WALAUPUN TIDAK PERCAYA)
08. PERUBAHAN DARI AGAMA SEBELUM ISLAM
09. MENGIKUTI YESUS
10. PENGIKUT YESUS, PENGIKUT MUHAMMAD 
11. PENEMBUSAN DOSA
12. AL KITAB BAHASA INDONESIA DARI MANA?
13. SELAMAT NATAL
14. AGAMA YANG MASUK AKAL 
15. KESATUAN DI DALAM ISLAM
16. MENUTUP AURAT
17. PAKAIAN
18. KENAPA KITA HARUS SHOLAT SETIAP HARI
19. ORANG YANG TIDAK SHOLAT TETAPI MENGAKU ISLAM
20. TINGGALKAN SHOLAT
21. PENDIDIKAN
22. SINETRON
23. ADAT DAN BUDAYA
24. SHOLAT JUMAT
25. KEBERSIHAN MASJID
26. TANDA DARI TUHAN
27. KEKUATAN UMMAT ISLAM
28. KALAU AKU JADI PRESIDEN
29. HOTEL
30. SYIRIK

SUMBER : http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=5359_0_4_0_M

  • [daarut-tauhiid] Genne Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah Pakde_007

  • Kirimkan email ke

Advertisements