Tagged: usa Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 1:33 am on 11/01/2011 Permalink | Reply
    Tags: AMERIKA, , sudan, usa   

    Ketika Amerika Dan Kaum Kristen Di Sudan Bekerja Sama 

    Ketika Amerika Dan Kaum Kristen Di Sudan Bekerja Sama

    Perusahaan  keamanan Amerika, “Blackwater” yang telah melakukan banyak kejahatan terhadap rakyat Irak, tampaknya sedang mencari jalan lain untuk menyebarkan racunnya, dimana hal itu sudah mulai muncul di Sudan Selatan, dengan mendapatkan kontrak persenjataan dan pelatihan keamanan dari pemerintah selatan, termasuk dukungan dari kaum Kristen Sudan Selatan.

    Dan yang patut diperhatikan bahwa tindakan ini terjadi di saat pemerintah AS memberlakukan embargo ekonomi terhadap Sudan, seolah-olah ini merupakan pengakuan eksplisit dari Amerika bahwa Sudan Selatan berbeda dari Utara. Sehingga ini menunjukkan dukungan yang jelas dan tegas terhadap upaya pemisahan.

    Pelanggaran terhadap embargo ekonomi yang dilakukan oleh Erik Prince pemilik “Blackwater” telah menjadi fokus utama investigasi oleh pemerintah federal terkait kegiatan “Blackwater” yang mencurigakan. Hanya saja penyelidikan itu tidak efektif terhadap kegiatan ini, termasuk ekspor ilegal dan pemberian suap.

    Dalam konteks ini, Erik Prince memiliki kontak dengan hubungan dekat dengan para pejabat senior di Gedung Putih dan CIA pada era George Bush. Dan pada saat berlangsung negosiasi pemerintahan Obama dengan “Blackwater” terkait denda jutaan dolar sebagai kompromi atas tuduhan pelanggarang yang dilakukan oleh perusahaan “Blackwater” terhadap kontrol ekspor AS di Sudan, Irak dan di tempat lainnya. Namun, meskipun demikian Prince bisa menyulap nama perusahaannya, dan menawarkannya dengan nama yang baru, yaitu “Xe Services” untuk menghindari tuduhan dan reputasi buruk yang telah melekat dengan namanya yang lama.

    Menjarah Sudan

    Menurut berbagai laporan media AS bahwa “Blackwater” berusaha mendirikan sebuah pijakan di Sudan Selatan untuk mengeksploitasi minyak dan sumber daya mineral, demikian menurut mantan dua pejabat senior di pemerintahan AS. Prince menawarkan kepada pemerintah Sudan Selatan paket kegiatan dan persiapan pertahanan yang akan dilakukan perusahaannya sebagai konpensasi atas komitmen pemerintah Sudan Selatan yang mengalokasikan setengah kekayaan mineral Sudan Selatan untuk kepentingan “Blackwater”. Sehingga hal ini akan menambah kekejaman yang dilakukan oleh perusahaannya di Irak, yang dikenal dengan ekstrimisme agama dan serangan sapu bersih terhadap Islam dan kaum Muslim, karena keberadaannya sebagai anggota gerakan evangelis, yang salah satu misi utamanya adalah genosida terhadap kaum Muslim.

    Oleh karena Prince cepat-cepat memasukkan perusahaannya ke Sudan Selatan, karena keinginannya untuk membantu Sudan Selatan yang mayoritas Kristen, berbeda dengan Sudan Utara yang mayoritas penduduknya Muslim.

    Selain itu juga, Bradford Phillips yang dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling kontroversial dalam “Blackwater” adalah seorang aktivis evangelis ekstremis yang sebelumnya bekerja di Kongres. Sedang sekarang ia menjalankan organisasi non profit yang berbasis di Virginia, yang mempromosikan program dengan nama “nasib orang Kristen di Sudan Selatan”. Dimana organisasi ini mengklaim bekerja untuk menolong orang Kristen di Sudan Selatan.

    Gerak Aktif Di Selatan

    Atas permintaan Erik Prince, Bradford Phillips bertemu dengan para pejabat Pemerintah Sudan Selatan. Phillips mengemban misi pelayanan perlindungan keamanan yang dikendalikan oleh “Blackwater”, dan menyediakan kondisi untuk mengadakan pertemuan antara Salva Kiir dan Erik Prince di Afrika dan Washington.

    Pada pertemuan Washington, orang yang memimpin promosi untuk layanan dan penjualan jasa “Blackwater” adalah seorang pria bernama Cofer Black, ia seorang mantan pejabat senior di “CIA” dan di Departemen Luar Negeri AS.

    Setelah negosiasi dengan kontrak awal dua juta dolar untuk pelatihan staf pengawal pribadi Jenderal Salva Kiir, “Blackwater” mengajukan kontrak senilai lebih dari seratus juta dolar untuk memperlengkapi dan melatih tentara Sudan Selatan. Dan untuk itu, menurut mantan pejabat AS “Blackwater” mendapat sebesar 50% dari kekayaan mineral potensial yang ada di Sudan Selatan.

    Selain cadangan minyak dan gas yang sudah diketahui umum, Sudan Selatan juga memiliki cadangan besar berupa emas, bijih besi dan berlian yang belum diekploitasi. Pejabat Amerika mengatakan: “Sebagian besar orang tidak tahu bahwa zat-zat ini ada di Sudan Selatan, tetapi “Blackwater” sangat mengetahuinya.”

    Sementara pelanggaran yang diduga dilakukan oleh “Blackwater” meliputi broker untuk memberikan layanan pertahanan tanpa lisensi yang bersertifikat pemerintah Amerika, pengisian telepon, satelit, dan peralatan e-mail untuk pejabat pemerintah Sudan Selatan, serta berusaha membuka rekening bersama dengan pemerintah Sudan Selatan di Bank di negara bagian Minnesota.

    Oleh karena itu, antusias “Blackwater” untuk bekerja di Sudan dalam upaya mengembangkan usahanya di luar Irak, khususnya setelah kebocoran informasi dan sejumlah laporan yang mengungkap kegiatan kotornya di Irak, dan pembunuhan empat penjaga keamanan milik perusahaan dalam penyergapan pada tahun 2006, juga karena percaya bahwa Afrika merupakan pasar baru yang menjanjikan (mediaumat.com, 13/7/2010).

    http://hizbut-tahrir.or.id/2010/07/13/ketika-amerika-dan-kaum-kristen-di-sudan-bekerja-sama/

    Advertisements
     
  • SERBUIFF 6:28 am on 23/10/2009 Permalink | Reply
    Tags: , , , Solusi untuk Menyembuhkan Penyakit Sosial, usa, Zaid Shakir: Islam   

    Zaid Shakir: Islam, Solusi untuk Menyembuhkan Penyakit Sosial 

    Nama Imam Zaid Shakir cukup populer di kalangan komunitas Muslim di AS. Ia bukan hanya dikenal sebagai juru dakwah, tapi juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan aktif menulis. Mendapat sebutan “imam” adalah hal yang luar biasa bagi Shakir mengingat perjalanan panjangnya sebelum akhirnya ia mengenal Islam dan menjadi seorang Muslim.

    Imam Zaid Shakir masuk Islam pada tahun 1977 ketika ia masih bertugas di dinas angkatan udara AS. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya dan meraih gelar BA di bidang hubungan internasional dan MA di bidang ilmu politik di AS.

    Shakir pergi ke Kairo, Mesir untuk belajar bahasa Arab. Sekembalinya ke AS, ia menjadi imam di Masjid Al-Islam di New Haven Connecticut dari tahun 1988 sampai 1994. Shakir kemudian pergi ke Maroko untuk melanjutkan studinya di Universitas Abi Noor, salah satu universitas Islam bergengsi di Suriah. Di universitas ini ia memperdalam bahasa Arab, hukum Islam, studi Al-Quran dan spiritualitas.

    Lulus Universitas tahun 2001, Shakir kembali ke Connecticut lalu pindah ke Hayward, California tahun 2003 untuk mengajar di Institut Zaytuna dan hingga hari ini, Zaid Shakir menjadi salah satu cendikiawan Muslim yang cukup disegani di AS.

    Ditanya soal ikhwal ia menjadi seorang muslim hampir 32 tahun yang lalu, Shakir mengatakan bahwa semua bermula dari pencariannya tentang hakekat hidup yang sebenarnya. Sejak usia remaja, ia sering bertanya pada dirinya sendiri apa makna hidup sebenarnya.

    Ketika itu, ia menyaksikan banyak hal negatif di lingkungannya mulai dari masalah alkohol, narkoba dan berbagai kasus sosial dan korban rumah tangga yang berantakan. Shakir memikirkan bagaimana ia bisa memberikan kontribusi untuk mengubah kondisi buruk di lingkungannya dan apa yang bisa dijadikan dasar untuk melakukan perubahan itu.

    Semua pertanyaan itu sampai pada puncaknya ketika Shakir mulai mempelajari berbagai agama. Karena lahir dari keluarga Kristen dan tumbuh di lingkungan masyarakat Kristen, ia lebih dulu mempelajari ajaran Kristen lebih mendalam bahkan sampai dibaptis.

    “Tapi kalau ada orang yang bertanya apa istimewanya pembaptisan dalam ajaran Katolik, saya tidak tahu jawabannya,” kata Imam Zaid Shakir mengenang masa ketika ia mempelajari ajaran Katolik.

    Dari situ, ia membaca banyak buku tentang kekristenan, bagaimana peran seorang Yesus, peran kaisar Romawi dalam perkembangan agama Kristen dan munculnya konsili Nicea. Tapi semakin ia belajar, ia makin ragu dengan ajaran Kristen karena menemukan banyak kontradiksi dalam ajaran dan sejarahnya.

    “Itulah yang menjadi perhatian saya ketika itu, bahwa agama Kristen bukan lagi agama yang diturunkan Tuhan untuk umat manusia tapi sudah berubah total menjadi agama buatan manusia,” ujar Shakir.

    Ia lalu beralih ke keyakinan-keyakinan reliji dari Timur. Tapi perlahan-lahan, Shakir malah cenderung ke arah atheisme dan komunisme. Ia bahkan sempat beranggapan bahwa komunisme lah yang paling tepat untuk memperbaiki masyarakat yang sakit.

    Kurang lebih setahun Shakir menganut keyakinan itu, sampai ia menyadari bahwa keberadaan Tuhan itu tetap penting. “Saya yakin bahwa harus ada Sang Pencipta yang menciptakan hal yang tidak ada menjadi ada, harus ada yang mengatur kehidupan ini,” pikir Shakir.

    Ia lalu belajar ajaran Kristen lagi, tapi ia merasa belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini. Shakir pun mempelajari agama Budha selama hampir dua tahun dan kerap melakukan meditasi. Saat memperdalam agama Budha itulah, Shakir mendapat sebuah buku tentang Islam berjudul “Islam in Focus”.

    Setelah membaca buku itu, Shakir merasa menemukan apa yang dicarinya selama ini. Jawaban atas pertanyaannya tentang siapa itu Tuhan, apa hubungan Tuhan dengan ciptaanNya dan sebagainya.

    “Semua pertanyaan itu berawal dari keinginan saya untuk mencari solusi untuk menyembuhkan berbagai penyakit sosial di masyarakat. Dan dalam Islam, saya menemukan tuntutan yang jelas untuk solusi itu. Itu artinya saya sudah menemukan apa yang saya cari, ketika saya mengenal Islam dan saya tidak akan pernah berpaling lagi dari Islam,” tukas Shakir.

    Menurutnya, hal yang paling membuatnya tertarik dengan agama Islam adalah gagasan tentang persaudaraan antar sesama manusia, sesama umat Islam di seluruh dunia meski banyak umat Islam yang menganut mazhab yang berbeda-beda.

    Shakir tidak pernah melupakan saat pertama ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia selalu menyebutnya sebagai pengalaman yang emosional. Shakir tak bisa menahan tangisnya saat mengucapkan syahadat dan hal itu masih sering terjadi jika ia menyaksikan orang yang bersyahadat untuk menjadi seorang Muslim.

    Setelah menjadi seorang Muslim, Shakir yang ketika itu masih bertugas di dinas angkatan udara AS mendapatkan dukungan dari rekan-rekannya yang mualaf. Meski komunitas Muslim sedikit, hubungan antar mereka sangat kuat.

    http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/zaid-shakir-perjalanan-panjang-dari-mualaf-menjadi-cendikiawan-muslim.htm

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel