Tagged: Syirik Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 4:05 am on 30/01/2011 Permalink | Reply
    Tags: BINTANG, BULAN, , MATAHARI, Syirik   

    6.76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ 6.77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ 6.78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ 6.79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. 

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An’aam 76
    فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76)
    Sesudah itu Allah swt. menjelaskan proses pengenalan Ibrahim a.s. secara terperinci. Mula pertama pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap bintang bintang yaitu pada saat bintang nampak bercahaya dan pada saat bintang itu tidak bercahaya, dilihatnya sebuah bintang yang bercahaya paling terang. 117)
    Maka timbullah pertanyaan dalam hatinya. Inikah Tuhanku? Pertanyaan ini adalah merupakan pengingkaran terhadap anggapan kaumnya, agar mereka tersentak untuk memperhatikan alasan-alasan pengingkaran yang akan dikemukakan.
    Akan tetapi setelah bintang itu tenggelam dan sirna dari pandangannya timbul keyakinan bahwa ia tidak senang kepada yang tenggelam dan menghilang apalagi dianggap sebagai Tuhan, ini sebagai alasan Nabi Ibrahim a.s. untuk mematahkan iktikad kaumnya bahwa semua yang mengalami perubahan itu tidak pantas dianggap sebagai Tuhan. Kesimpulan Ibrahim a.s. itu merupakan kesimpulan dari jalan pikiran yang benar dan sesuai dengan fitrah. Dan siapa s4a yang melakukan pengamatan serupa itu, niscaya akan berkesimpulan yang sama.

     

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An’aam 77
    فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)
    Seirama dengan ayat yang lalu Allah swt. menjelaskan pula pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap benda langit yang lebih terang cahayanya dan lebih besar kelihatannya yaitu bulan.
    Setelah Ibrahim a.s. melihat bulan tersembul di balik cakrawala dengan cahaya yang terang benderang itu yang terlihat ketika terbit, timbullah kesan dalam hatinya untuk mengatakan, “Inikah gerangan Tuhanku?” Perkataan Ibrahim a.s. serupa itu adalah pernyataan yang timbul secara naluri seperti juga kesan yang didapat oleh kaumnya yang sebenarnya adalah pernyataan untuk mengingkari kesan pertama yang menipu pandangan mata itu dan untuk membantah keyakinan kaumnya seperti pernyataannya dalam ayat yang lalu. Pengulangan berita dengan memberikan kenyataan yang lebih tandas adalah untuk menguatkan pernyataan yang telah lalu. Kemudian setelah bulan itu terbenam dari ufuk dan lenyap dari pengamatan, diapun memberikan pertanyaan agar diketahui oleh orang-orang musyrikin yang berada di sekitarnya.
    Ibrahim berkata, “Sebenarnyalah jika Tuhan tidak memberikan daku petunjuk kepada jalan yang benar untuk mengetahui dan meyakini keesaan-Nya, niscaya aku termasuk dalam golongan yang tersesat, yaitu orang-orang yang
    117) Yaitu planet Yupiter (Musytari) dan ada pula yang mengatakan planet Venus (Zuhrah) yang dianggap sebagai dewa oleh pemuja bintang yang bisa dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi kuno sedang kaum Ibrahim juga termasuk pemujanya.
    menyimpang dari kebenaran dan tidak mengikuti petunjuk Tuhan, serta menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Mereka itu lebih memperturutkan hawa nafsunya dari pada melakukan perbuatan yang diridai Allah. Sindiran ini adalah merupakan sindiran yang tandas bagi kaumnya yang tersesat dan sekaligus merupakan petunjuk bagi orang yang berpegang kepada agama dan wahyu. Sindiran yang bertahap ini adalah sebagai sindiran yang menentukan untuk mematahkan pendapat-pendapat kaumnya. Sindiran yang pertama lunak, kemudian diikuti dengan sindiran yang kedua yang tandas, adalah untuk menyanggah pikiran kaumnya secara halus agar mereka terbuka belenggu hatinya untuk memahami kebenaran yang sebenar-benarnya.

     

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An’aam 78
    فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78)
    Kemudian dari pada itu Allah swt. mengisahkan sindiran-Nya yang lebih tajam yaitu pengamatan Nabi Ibrahim a.s. terhadap matahari, benda langit yang paling cerah cahayanya menurut pandangan mata, yang merupakan rentetan ketiga dari pengamatan-pengamatan Ibrahim yang telah lalu, yaitu setelah Ibrahim a.s. melihat matahari tersebut terbit di ufuk diapun berkata, “Yang terlihat sekarang inilah Tuhanku” Ini lebih besar dari pada bintang-bintang dan bulan. Akan tetapi setelah matahari itu tenggelam dan sirna dari pandangan, beliaupun mengeluarkan peringatan, “Wahai kaumku! Sebenarnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”.
    Sindiran ini adalah sindiran yang paling tajam untuk membungkamkan kaumnya agar mereka tidak mengajukan alasan lagi buat mengingkari kebenaran yang dibawakan oleh Ibrahim a.s.

    Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An’aam 78
    فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78)
    (Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata, “Inilah) dhamir dalam Lafal ra-aa dimudzakarkan mengingat khabarnya mudzakkar (Tuhanku ini yang lebih besar.”) daripada bintang dan bulan (maka tatkala matahari itu tenggelam) hujah yang ia sampaikan kepada kaumnya itu cukup kuat dan tidak dapat dibantah lagi oleh mereka (dia berkata, “Hai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”) dari mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala dan benda-benda hawadits/baru yang masih membutuhkan kepada yang menciptakannya. Akhirnya kaumnya itu berkata kepadanya, “Lalu apakah yang engkau sembah?” Nabi Ibrahim menjawab:

     

    Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An’aam 79
    إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
    (“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku) aku menghadapkan diri dengan beribadah (kepada Tuhan yang telah menciptakan) yang telah mewujudkan (langit dan bumi) yaitu Allah swt. (dengan cenderung) meninggalkan semua agama untuk memeluk agama yang benar (dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan.”) Allah.

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An’aam 79
    إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
    Setelah Allah swt. mengisahkan kelepasan diri Nabi Ibrahim a.s. dari kemusyrikan kaumnya, Allah swt. mengisahkan pula kelanjutan dari pada kelepasan diri itu dengan menggambarkan sikap Ibrahim a.s dan akidah tauhidnya yang murni, yaitu Ibrahim a.s. menghadapkan dirinya dalam ibadah ibadahnya kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi.
    Dia pula yang menciptakan benda-benda langit yang terang benderang di angkasa raya dan yang menciptakan manusia seluruhnya, termasuk pemahat patung-patung yang beraneka ragam bentuknya.
    Ibrahim a.s. cenderung kepada agama tauhid dan menyatakan bahwa agama agama lainnya adalah batal dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang yang musyrik. Dia seorang yang berserah diri kepada Allah swt. semata.
    Firman Allah:

    وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
    Artinya:
    Dan siapakah yang lebih baik agamanya dan pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus.
    (Q.S An Nisa’: 125)
    Dan firman-Nya:

    وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
    Artinya:
    Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.
    (Q.S Luqman: 22)

     

    http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=4&SuratKe=6#76

     
    • wikki 11:30 am on 25/08/2012 Permalink | Reply

      apa ya nama kitabnya/??? apakah ia juga mengucapakan kalimat syahdath.darimana pula ibrahim kenal kata kata allah..apakah memang ..allah yang di sembah ibrahim??? atau ..ups ibrahim beda memang dengan Abraham..kirain tadi ganti nama

  • SERBUIFF 4:31 am on 25/12/2010 Permalink | Reply
    Tags: Dosa Terbesar dan Tak Terampuni, Syirik   

    Syirik, Dosa Terbesar dan Tak Terampuni 

    Syirik, Dosa Terbesar dan Tak Terampuni

    27 Juli 2009 pukul 13:12 · Disimpan dalam . LIHAT SELURUH ARTIKEL, 1. Mengenal Dosa-dosa Besar, 2. Bahaya Besar Syirik

    Syirik itu adalah perbuatan seseorang yang meyakini bahwa selain Allah ada yang mencipta, memberi rizqi, menghidupkan, mematikan, mengetahui perkara ghaib, mengatur alam. Syirik juga berarti beribadah kepada selain Allah, seperti ruku’, sujud, menyembelih, bernadzar, berdo’a, dan lainnya. Syirik menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam.
    [Definisi menurut Syaikh Muhammad bin Ali Al-Wushobiy-hafizhahullah, dalam Al-Qoul Al-Mufid (hal. 95), cet. Dar Ibnu Hazm]

     

    Intinya, syirik adalah engkau menjadikan sesuatu tandingan bagi Allah baik dalam perkara uluhiyyah, rububiyyah, nama, dan sifat-sifat-Nya.

    Syirik dalam perkara rububiyyah, seperti engkau meyakini bahwa ada pencipta, pemberi rizki, yang menurunkan hujan, menghidupkan dan mematikan selain Allah, mempercayai dukun alias paranormal.

    Syirik dalam perkara uluhiyyah (ibadah), seperti berdo’a kepada selain Allah, takut, cinta, berharap, bertawakkal kepada selain Allah, bernadzar, menyembelih untuk selain Allah baik itu malaikat, nabi, orang shalih, jin, bintang, pepohonan, bebatuan dan, pesta laut, meminta kesembuhan, berkah, keselamatan kepada wali-wali, lain-lain. Dari sini kita mengetahui kesalahan sebagian orang yang mendefenisikan syirik terbatas hanya pada menyembah kepada berhala saja.

    Syirik dalam nama dan sifat-sifat-Nya, seperti engkau meyakini bahwa ada selain Allah yang memiliki nama atau sifat-sifat yang khusus bagi Allah. Maka engkau telah berbuat syirik dalam nama dan sifat-sifat Allah.

    Sebagian masyarakat kita juga tersebar kesalahan dalam mendefenisikan syirik. Mereka menyatakan bahwa syirik adalah orang yang dengki dan iri. Iri dan dengki bukanlah syirik, tapi masalah akhlak, dan ‘hanya’ tergolong dosa besar, masih lebih kecil dari dosa syirik !!

    Bahaya-bahaya Syirik

    1. Syirik akan Menghancurkan Segala Amalan

    Banyak diantara kaum muslimin, karena jauhnya mereka dari ilmu dan agama mereka, sehingga mereka melakukan perbuatan kesyirikan yang mereka anggap sepele, bahkan memandangnya sebagai suatu perbuatan yang baik. Mereka tidak sadar bahwa syirik dapat menghapuskan segala amalan mereka.

    Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman – mengancam para pelaku kesyirikan :

    “Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka menyekutukan Allah niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS.Al-An’am : 88).

    “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi) sebelummu jika kamu baerbuat syirik niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS.Az-Zumar :65 )

    2. Syirik Akan Membuat Pelakunya Semakin Jauh dari Allah

    Para Pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa syirik akan membuat seseorang jauh dari Allah dengan sejauh-jauhnya. Bacalah firman Allah -Ta’ala-,

    “Dan barang siapa yang menyekutukan Allah maka seolah-olah ia jatuh dari langit kemudian ia disambar oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh”. (QS. Al-Hajj:31 )

    Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’diy-rahimahullah- berkata, “Barang siapa yang meninggalkan keimanan, maka ia ibarat sesuatu yang jatuh dari langit, besar kemungkinan ia mendapatkan penyakit, dan bala’; entah ia disambar burung, lalu ia tercabik-cabik berantakan. Demikian seorang yang berbuat kesyirikan, jika ia tak mau berpegang dengan keimanan, maka ia akan disambar oleh setan dari segala sisi, setan akan mencabik-cabiknya, dan akan menghilangkan agama dan dunianya”.[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal.538)]

    Orang yang berbuat syirik akan semakin tersesat hidupnya di dunia ini. Adakah kesesatan yang lebih besar daripada kesesatan seseorang yang menganggap dirinya sedang melakukan pendekatan kepada Allah, namun pada hakikatnya ia semakin terlempar jauh dari Allah. Dia mengharapkan derajatnya naik ke surga, padahal hakikatnya ia tengah turun ke jurang neraka yang paling bawa sebagai tempat kembali yang paling buruk?

    Allah-Subhanahu wa Ta’la- telah kabarkan,

    “Katakanlah (wahai Muhammad) apakah akan kami kabarkan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amalannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini. Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah perbuat sebaik-baiknya mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rob mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan (dengan Dia) maka terhapuslah amalan-amalan mereka dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat”. (QS. Al-Kahfi: 103-104).

    Allah -Subhanahu wa Ta’la- juga berfirman,

    “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am:122 ).

    3. Syirik Adalah Perbuatan Dosa yang Tidak Terampuni

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
    “Dan (ingatlah)ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya,”Hai anakku janganlah kamu menyekutukan Allah,sesungguhnya menyukutukan (Allah)adalah benar-benar kezholiman yang besar” (QS. Luqman:13 ).

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni selain dari dosa syirik itu bagi siapa yang dikehendakinya”. QS.An-Nisa : 48 & 116)

    Ayat ini menunjukkan betapa besarnya dosa syirik ini, hingga Allah -Ta’ala- tidak mau mengampuninya. Padahal Allah -Ta’ala- memiliki ampunan yang sangat luas, rahmat dan kasih sayang yang paling sempurna; amat mencintai hamba-hamba-Nya, melebihi cintanya seorang hamba kepada dirinya sendir!! Sekalipun demikian, Allah -Ta’ala- tidak akan mengampuni dosa pelaku kesyirikan. Kenapa? Karena mereka telah berbuat zholim kepada Allah. Mereka tinggal di bumi Allah,mereka makan dari rizki Allah; mereka hidup dengan nikmat-nikmat Allah; Semua fasilitas-fasilitas yang mereka butuhkan, semua itu datangnya dari sisi Allah. Namun mereka tidak mau beribadah hanya kepada Allah -Ta’ala- semata. Mereka justru beribadah, bersyukur dan meminta kepada mahluk yang tidak memiliki apapun, walaupun hanya seekor lalat.

    Sahabat Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

    “Aku bertanya kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab: “Kamu menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia yang telah mencipatakan kamu”. Aku berkata: “Itu memang dosa yang sangat besar lalu apa lagi? Beliau pun menjawab: “Kamu membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu”. Aku bertanya: “Lalu apa lagi?” beliau menjawab: “Kamu berzina dengan istri tetanggamu”. [HR.Al-Bukhariy (7560) dan Muslim (86)].

    Nash-nash ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik (menyekutukan Allah)

    4. Diharamkan Surga bagi Pelaku Kesyirikan

    “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya ialah neraka tidalah ada bagi orang-orang yang dholim itu seorang penolong pun”. (QS.Al-Maidah :72 ).

    Allah telah mengharamkan surga bagi setiap pelaku syirik; Allah –Subhanahu- enggan untuk menerima amalan seorang yang berbuat syirik; enggan menerima syafa’at atau menerima do’a mereka di akhirat; enggan menerima ma’af mereka”.

    Mengingat sedemikian gawatnya masalah syirik, maka kita berharap mudah-mudahan Allah berkenan melindungi kita dari perbuatan syirik, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan mematikan kita di atas tauhid.

    (Merujuk pada sumber asli Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 41 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.)

    http://kebunhidayah.wordpress.com/2009/07/27/syirik-dosa-terbesar-dan-tak-terampuni/

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel