Tagged: muhammad Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 10:50 am on 07/12/2009 Permalink | Reply
    Tags: muhammad, , Mukjizat Terbesar Nabi Muhammad saw   

    Mukjizat Terbesar Nabi Muhammad saw 

    Mukjizat Terbesar Nabi Muhammad saw

    April 1, 2009 · Disimpan dalam Opini ·

    Tagged , , , ,

    Oleh: H. Yasir Maqosid, Lc
    (Wakil Pengasuh Pon. Pes. Syafi’i Akrom Jenggot)

    al_quran1Setiap rasul yang diutus kepada umatnya memiliki mukjizat masing-masing. Ketika ilmu sihir digandrungi masyarakat pada masa Nabi Musa, maka Allah menganugrahkan mukjizat kepada nabi Musa berupa kemampuan untuk membelah lautan dan mengubah tongkat menjadi ular besar.
    Ketika ilmu kedokteran memiliki derajat tinggi pada masa Nabi Isa, maka Allah menganugrahkan mukjizat kepada Nabi Isa berupa kemampuan untuk menghidupkan kembali orang mati dan menyembuhkan orang buta.
    Ketika ilmu sastra dan syair menjadi idola di kalangan bangsa Arab pada masa Nabi Muhammad, maka Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Muhammad saw yaitu dengan menurunkan kitab suci Al-Qur`an.

    Al-Qur`an merupkan mukjizat terbesar yang dianugrahkan kepada Nabi Muhammad, karena keberadaannya yang tidak lenyap meskipun Rasulullah sudah wafat.
    Adapun sisi kemukjizatan Al-Qur`an antara lain:
    1. Redaksi Al-Qur`an mencakup keindahan bahasa (fashahah) dan retorika (balaghah)
    2. Al-Qur`an memiliki redaksi berbeda antara gaya bahasa bertutur dengan rima-rima dalam syair
    3. Memuat kisah-kisah umat terdahulu dan sejarah perjalanan hidup para nabi yang dikenal luas oleh kalangan Ahli Kitab. Padahal pembawa Al-Qur`an adalah Rasulullah saw yang ummi (buta huruf), tidak bisa menulis dan membaca.
    4. Al-Qur`an menginformasikan hal-hal yang ghaib dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa datang.
    5. Keshahihan (otentitas) Al-Qur`an senantiasa terjaga dan terpelihara sepanjang masa. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Aku (Allah) yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Aku pula yang benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
    Setelah mengetahui bahwa Al-Qur`an adalah mukjizat sepanjang masa, maka kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap Al-Qur`an adalah membacanya, mentadabburinya, dan mengamalkannya. Adapun keutamaan dari membaca dan mentadabburi Al-Qur`an sangat banyak sekali, antara lain:
    1- Memperoleh Pahala Berlipat Ganda

    Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Sedangkan kebaikan dibalas dengan sepuluh kali kelipatannya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi)

    2- Bersanding dengan Malaikat yang Mulia
    Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang mahir dalam Al-Qur’an bersama-sama dengan Malaikat yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan gagap dan dia kesulitan dalam membacanya, dia mendapat dua pahala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    3- Memperoleh Syafaat dari Al-Qur`an
    Abu Umamah Al-Bahili berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Bacalah Al-Qur`an. Karena pada Hari Kiamat ia akan datang memberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)
    4- Al-Qur`an adalah Hidangan Allah
    Abdullah bin Mas’ud mengatakan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur`an adalah hidangan Allah. Maka terimalah hidangan-Nya semampu kalian. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah tali Allah yang kuat, cahaya yang menerangi, obat yang bermanfa’at, menjaga orang yang berpegang kepadanya dan menyelamatkan orang yang mengikutinya. Ia (al-Qur’an) tidak melenceng sehingga di caci maki, tidak bengkok sehingga diluruskan, tidak akan pernah habis keajaibannya, tidak rusak dikarenakan oleh banyaknya bantahan—bacalah, sesungguhnya Allah—akan mengganjar kalian karena telah membacanya. Setiap huruf adalah sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim adalah satu huruf, akan tetapi (masing-masing) Alif, Lam, dan Mim (adalah satu huruf).” (HR Al-Hakim)
    5- Menuntun Jalan Menuju Surga
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Al-Qur`an akan menjadi sesuatu yang memberi syafaat dan syafaatnya diterima. Menjadi pejalan dan membenarkan. Barangsiapa yang meletakkan Al-Qur`an di hadapannya, maka Al-Qur`an akan menuntunnya ke surga; Dan barangsiapa yang meletakkan Al-Qur`an di belakang punggungnya, maka Al-Qur`an akan menggiringnya ke dalam neraka.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
    6- Menjadi Tombo Ati
    Seorang ulama mengatakan bahwa tombo ati (obat penyakit hati) ada lima: yaitu membaca Al-Qur`an sekaligus mentadabburinya, shalat tahajjud, dzikir di malam hari, perut yang lapar, dan bersahabat dengan orang-orang saleh.
    Selain keutamaan di atas, dengan mentradisikan membaca dan mentadabburi Al-Qur`an akan membentuk kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur`an. Hal tersebut merupakan salah satu cara agar kita bisa menteladani Rasulullah saw, karena akhlak beliau—sebagaimana dikatakan oleh Sayyidah Aisyah—adalah Al-Qur`an.

    http://syafiiakrom.wordpress.com/2009/04/01/mukjizat-terbesar-nabi-muhammad-saw/

    Advertisements
     
  • SERBUIFF 10:37 am on 07/12/2009 Permalink | Reply
    Tags: muhammad, , Mukjizat Muhammad   

    Mukjizat Muhammad 

    Mukjizat Muhammad

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Langsung ke: navigasi, cari

    Artikel ini adalah bagian dari seri
    Islam

    Allah-eser-green.png
    Rukun Islam
    Syahadat · Shalat · Puasa
    Zakat · Haji
    Rukun Iman
    Allah · Al-Qur’an · Malaikat
    Nabi · Hari Akhir
    Qada & Qadar
    Tokoh Islam
    Muhammad SAW
    Nabi & Rasul · Sahabat
    Ahlul Bait
    Kota Suci
    Mekkah ·Madinah · Yerusalem
    Najaf · Karbala · Kufah
    Kazimain · Mashhad ·Istanbul
    Hari Raya
    Hijrah · Idul Fitri · Idul Adha
    · Asyura · Ghadir Khum
    Arsitektur
    Masjid ·Menara ·Mihrab
    Ka’bah · Arsitektur Islam
    Jabatan Fungsional
    Khalifah ·Ulama ·Muadzin
    Imam·Mullah·Ayatullah · Mufti
    Teks & Hukum
    Al-Qur’an ·Hadist · Sunnah
    Fiqih · Fatwa · Syariat
    Manhaj
    Salafush Shalih
    Mazhab
    Sunni
    Hanafi ·Hambali
    Maliki ·Syafi’i
    Syi’ah
    Dua Belas Imam
    Ismailiyah·Zaidiyah
    Lain-lain
    Ibadi · Khawarij
    Murji’ah·Mu’taziliyah
    Lihat Pula
    Portal Islam
    Indeks mengenai Islam
    lihat • bicara • sunting

    Mukjizat Muhammad adalah kemampuan luar biasa yang dimiliki nabi Muhammad untuk membuktikan kenabiannya.[1] Dalam Islam, mukjizat terbesar Muhammad adalah Al-Qur’an. Selain itu, Muhammad juga diyakini pernah membelah bulan pada masa penyebaran Islam di Mekkah dan melakukan Isra dan Mi’raj dalam tidak sampai satu hari. Kemampuan lain yang dimiliki Muhammad adalah kecerdasannya mengenai ilmu ketuhanan. Hal ini tidak sebanding dengan dirinya yang ummi atau buta huruf. Walau begitu, umat Islam meyakini bahwa setiap hal dalam kehidupan Muhammad adalah mukjizat. Hal itu terbukti dari banyaknya kumpulan hadits yang diceritakan para sahabat mengenai berbagai mukjizat Muhammad.

    Daftar isi

    [sembunyikan]

    //

    [sunting] Mukjizat

    [sunting] Sebelum masa kenabian

    Tradisi Islam banyak menceritakan bahwa pada masa kelahiran dan masa sebelum kenabian, Muhammad sudah diliputi banyak mukjizat. Muhammad dilahirkan pada tanggal 22 April 570 di kalangan keluarga bangsawan Arab, Bani Hasyim. Ibnu Hisyam, dalam Sirah Nabawiyah menuliskan Muhammad memperoleh namanya dari mimpi ibunya,[2] Aminah binti Wahab ketika mengandungnya. Aminah memperoleh mimpi bahwa ia akan melahirkan “pemimpin umat”. Mimpi itu juga yang konon menyuruhnya mengucapkan, “Aku meletakkan dirinya dalam lindungan Yang Maha Esa dari segala kejahatan dan pendengki.” Kisah Aminah dan Abdul Muthalib juga menunjukkan bahwa sejak kecil Muhammad adalah anak yang luar biasa[3] Berikut ini adalah mukjizat yang terjadi pada saat kelahiran dan masa kecil Muhammad:

    • Aminah binti Wahab, ibu Muhammad pada saat mengandung Muhammad tidak pernah merasa lelah seperti wanita pada umumnya.
    • Saat melahirkan Muhammad, Aminah binti Wahab tidak merasa sakit seperti wanita sewajarnya.
    • Muhammad dilahirkan dalam keadaan sudah berkhitan.
    • Pada usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara dan pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing.
    • Halimah binti Abi-Dhua’ib, ibu susuan Muhammad dapat menyusui kembali setelah sebelumnya ia dinyatakan telah kering susunya.[4] Halimah dan suaminya pada awalnya menolak Muhammad karena yatim. Namun, karena alasan ia tidak ingin dicemooh Bani Sa’d, ia menerima Muhammad. Selama dengan Halimah, Muhammad hidup nomaden bersama Bani Sa’d di gurun Arab selama empat tahun.[5]
    • Abdul Muthalib, kakek Muhammad menuturkan bahwa berhala yang ada di Ka’bah tiba-tiba terjatuh dalam keadaan bersujud saat kelahiran Muhammad. Ia juga menuturkan bahwa ia mendengar dinding Ka’bah berbicara,[6] “Nabi yang dipilih telah lahir, yang akan menghancurkan orang-orang kafir, dan membersihkan dariku dari beberapa patung berhala ini, kemudian memerintahkan untuknya kepada Zat Yang Merajai Seluruh Alam Ini.”[7]
    • Dikisahkan saat Muhammad berusia empat tahun[8], ia pernah dibedah perutnya oleh dua orang berbaju putih yang terakhir diketahui sebagai malaikat. Peristiwa itu terjadi di ketika Muhammad sedang bermain dengan anak-anak Bani Sa’d dari suku Badui. Setelah kejadian itu, Muhammad dikembalikan oleh Halimah kepada Aminah.[9] Sirah Nabawiyyah, memberikan gambaran detai bahwa kedua orang itu, “membelah dadanya, mengambil jantungnya, dan membukanya untuk mengelurkan darah kotor darinya. Lalu mereka mencuci jantung dan dadanya dengan salju.”[10] Peristiwa seperti itu juga terulang 50 tahun kemudian saat Muhammad diisrakan ke Yerusalem lalu ke Sidratul Muntaha dari Mekkah.[11]
    • Dikisahkan pula pada masa kecil Muhammad, ia telah dibimbing oleh Allah. Hal itu mulai tampak setelah ibu dan kakeknya meninggal. Dikisahkan bahwa Muhammad pernah diajak untuk menghadiri pesta dalam tradisi Jahiliyah, namun dalam perjalanan ke pesta ia merasa lelah dan tidur di jalan sehingga ia tidak mengikuti pesta tersebut.[12]
    • Pendeta Bahira menuturkan bahwa ia melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Muhammad saat itu berusia 12 tahun sedang beristirahat di wilayah Bushra dari perjalannya untuk berdagang bersama Abu Thalib ke Syiria. Pendeta Bahira menceritakan bahwa kedatangan Muhammad saat itu diiringi dengan gumpalan awan yang menutupinya dari cahaya matahari. Ia juga sempat berdialog dengan Muhammad dan menyaksikan adanya sebuah “stempel kenabian” (tanda kenabian) di kulit punggungnya.[13]
    • Mukjizat lain adalah Muhammad pernah memperpendek perjalanan. Kisah ini terjadi saat pulang dari Syiria. Muhammad diperintahkan Maisarah membawakan suratnya kepada Khadijah saat perjalanan masih 7 hari dari Mekkah. Namun, Muhammad sudah sampai di rumah Khadijah tidak sampai satu hari. Dalam kitab as-Sab’iyyatun fi Mawadhil Bariyyat, Allah memerintahkan pada malaikat Jibril, Mikail, dan mendung untuk membantu Muhammad. Jibril diperintahkan untuk melipat tanah yang dilalui unta Muhammad dan menjaga sisi kanannya sedangkan Mikail diperintahkan menjaga di sisi kirinya dan mendung diperintahkan menaungi Muhammad.[14]

    [sunting] Pada masa kenabian

    [sunting] Kharisma

    • Tatapan mata yang menggetarkan Ghaurats bin Harits, yaitu seorang musuh yang sedang menghunus pedang kearah leher Muhammad.[15]
    • Menjadikan tangan Abu Jahal kaku.
    • Jin yang bernama Muhayr bin Habbar membantu dakwah Muhammad, kemudian jin itu diganti namanya menjadi Abdullah bin Abhar.

    [sunting] Menghilang dan menidurkan musuh

    • Menghilang saat akan dibunuh oleh utusan Amr bin at-Thufail dan Ibad bin Qays utusan dari Bani Amr pada tahun 9 Hijriah atau Tahun Utusan[16]
    • Menghilang saat akan dilempari batu oleh Ummu Jamil, bibi Muhammad ketika ia duduk di sekitar Ka’bah dengan Abu Bakar.[17]
    • Menghilang saat akan dibunuh Abu Jahal dimana saat itu ia sedang shalat.[18]
    • Menidurkan 10 pemuda Mekkah yang berencana membunuhnya dengan taburan pasir.

    [sunting] Binatang, tumbuhan, alam dan benda mati

    [sunting] Makanan dan minuman

    • Makanan yang di makan oleh Muhammad mengagungkan Nama Allah.[30]
    • Makanan sedikit yang bisa dimakan sebanyak 800 orang pada Perang Khandaq.[31]
    • Roti sedikit cukup untuk orang banyak.[32]
    • Sepotong hati kambing cukup untuk 130 orang.[33]
    • Makanan yang dimakan tidak berkurang justru bertambah tiga kali lipat.[34]
    • Menjadikan beras merah sebanyak setengah kwintal yang diberikan kepada orang Badui Arab tetap utuh tidak berkurang selama berhari-hari.[35]
    • Menjadikan minyak samin Ummu Malik tetap utuh tidak berkurang walau telah diberikan kepada Muhammad. [36]
    • Air memancar dari sela-sela jari.[37] Kemudian air itu untuk berwudhu 300 orang sahabat hanya dengan semangkuk air.[38][39]
    • Susu dan kencing unta bisa menyembuhkan penyakit atas ijin Allah.[40]

    [sunting] Mendo’akan dan menyembuhkan

    • Menyembuhkan betis Ibnu Al-Hakam yang terputus pada Perang Badar, kemudian Muhammad meniupnya, lalu sembuh seketika tanpa meresakan sakit sedikit pun.
    • Mata Qatadah terluka pada Perang Uhud, sehingga jatuh dari kelopaknya, kemudian oleh Muhammad mata tersebut dimasukkan kembali dan menjadi lebih indah dari sebelumnya.
    • Mendo’akan untuk menumbuhkan gigi salah seorang sahabatnya bernama Sabiqah yang rontok sewaktu perang.
    • Mendo’akan Anas bin Malik dengan banyak harta dan anak.[41]
    • Menyembuhkan daya ingat Abu Hurayrah yang pelupa.[42]
    • Menyembuhkan penyakit mata Ali bin Abi Thalib saat pemilihan pembawa bendera pemimpin dalam perang Khaibar.[43]
    • Menyembuhkan luka gigitan ular yang diderita Abu Bakar dengan ludahnya saat bersembunyi di Gua Tsur dari pengejaran penduduk Mekah.
    • Menyembuhkan tangan wanita yang lumpuh dengan tongkatnya.
    • Menyambung tangan Badui yang putus yang dipotongnya sendiri setelah menampar Muhammad.
    • Mendoakan supaya Kerajaan Kisra hancur, kemudian do’a tersebut dikabulkan.[44]
    • Mendoakan Ibnu Abbas menjadi orang yang faqih dalam agama Islam.[45]

    [sunting] Hal ghaib dan ramalan

    • Mengetahui siksa kubur dua orang dalam makam yang dilewatinya karena dua orang tersebut selalu shalat dalam keadaan kotor karena kencingnya selalu mengenai pakaian shalat.[46]
    • Mengetahui ada seorang Yahudi yang sedang disiksa dalam kuburnya.[47]
    • Meramalkan seorang istrinya ada yang akan menunggangi unta merah, dan disekitarnya ada banyak anjing yang menggonggong dan orang tewas. Hal itu terbukti pada Aisyah pada saat Perang Jamal di wilayah Hawwab yang mengalami kejadian yang diramalkan Muhammad. [48]
    • Meramalkan istrinya yang paling rajin bersedekah akan meninggal tidak lama setelahnya dan terbukti dengan meninggalnya Zainab yang dikenal rajin bersedekah tidak lama setelah kematian Muhammad[49]
    • Meramalkan Abdullah bin Abbas akan menjadi “bapak para khalifah” yang terbukti pada keturunah Abdullah bin Abbas yang menjadi raja-raja kekhalifahan Abbasiyah selama 500 tahun. [50]
    • Meramalkan umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan.[51]

    [sunting] Mukjizat terbesar

    [sunting] Lihat pula

    [sunting] Catatan kaki

    1. ^ Abu Zahra (1990)
    2. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 293. Makna dari nama Muhammad adalah “orang yang sering dipuji” atau “orang yang layak dipuji.”
    3. ^ Ramadan (2007). hal 34
    4. ^ Kauma (2000), hal 42
    5. ^ Ramadan (2007). hal 35
    6. ^ Kauma (2000), hal 43
    7. ^ Kauma (2000), hal 43
    8. ^ Menurut pendapat mayoritas pakar sejarah, saat itu Muhammad berusia empat atau lima tahun. Namun, Ibnu Ishaq berpendapat bahwa usia Muhammad saat itu adalah tiga tahun
    9. ^ Ramadan (2007). hal 42
    10. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 302.
    11. ^ Ramadan (2007). hal 43
    12. ^ Ramadan (2007). hal 46
    13. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 319 : Ibnu Hisyam dalam bukunya menuturkan bahwa “Stempel Kenabian” adalah tanda yang terdapat pada setiap nabi yang tertulis dalam kitab Pendeta Bahira
    14. ^ Kauma (2000), hal 90-91
    15. ^ Hadits riwayat Imam Bukhari.
    16. ^ Kauma (2000), hal 23-25
    17. ^ Ibid, hal 185-187
    18. ^ Ibid, hal 28
    19. ^ Hadits sahih Bukhari Juz 3 no 517.
    20. ^ Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: Ada dua orang sahabat Nabi saw meninggalkan Nabi saw. Ditengah malam yang gelap gulita keduanya berjalan dengan ada dua sinar yang menerangi perjalanan keduanya yang ada di depannya. Tatkala keduanya berpisah diperempatan jalan, masing-masing setiap orang ditemani sebuah sinar yang membimbing mereka pulang ke rumah.” (Sahih Bukhari juz 1 no 454).
    21. ^ Diriwayatkan oleh Ibn Umar: Rasulullah saw naik keatas mimbar dan berkotbah. Sedang Rasulullah saw berkotbah, Rasulullah saw mendengar mimbar itu menangis seperti tangisan anak kecil, sehingga seakan-akan mimbar itu mau pecah. Lalu Rasulullah saw turun dari mimbar dan merangkul mimbar itu sehingga tangisnya berkurang sampai mimbar itu diam sama sekali. Rasulullah saw berkata, “Mimbar itu menangis mendengar ayat-ayat Allah dibacakan diatasnya.” Sahih Bukhari juz 4 no 783.
    22. ^ Diriwayatkan oleh Jabir: Sewaktu Bapakku meninggal, ia masih mempunyai utang yang banyak. Kemudian, aku mendatangi Rasulullah saw untuk melaporkan kepada Beliau mengenai utang bapakku. Aku berkata kepada Rasulullah: Ya Rasulullah, bapakku telah meninggalkan banyak hutang. Aku sendiri sudah tidak mempunyai apa-apa lagi kecuali yang keluar dari pohon kurma. Akan tetapi pohon kurma itu sudah dua tahun tidak berbuah. Hal ini sengaja aku sampaikan kepada Rasulullah agar orang yang memiliki piutang tersebut tidak berbuat buruk kepadaku. Kemudian Rasulullah mengajakku pergi ke kebun kurma. Sesampainya disana beliau mengitari pohon kurmaku yang dilanjutkan dengan berdo’a. Setelah itu beliau duduk seraya berkata kepadaku, “Ambillah buahnya.” Mendengar perintah Rasulullah saw tersebut, aku langsung memanjat pohon kurma untuk memetik buahnya yang tiba-tiba berbuah. Buah kurma itu kupetik sampai cukup jumlahnya untuk menutupi utang bapakku, bahkan sampai lebih. Hadits sahih Bukhari Juz 4 no 780.
    23. ^ Ratapan batang pohon kurma kepada Rasulullah saw. dan tangisannya dengan suara keras yang bisa didengar seluruh orang yang berada di masjid beliau. Itu terjadi setelah Rasulullah saw. meninggalkannya. Sebelumnya Rasulullah saw. berkhutbah di atas batang tersebut sebagai mimbar beliau. Ketika beliau telah dibuatkan mimbar, dan tidak naik lagi ke atas batang kurma tersebut, batang tersebut meratap menangis dan rindu kepada Rasulullah saw. Suara tangisnya seperti tangis unta yang hamil sepuluh bulan. Batang pohon kurma tersebut tidak berhenti menangis hingga Rasulullah saw. datang padanya, dan meletakkan tangannya yang mulia di atasnya. Ia pun berhenti menangis.
    24. ^ Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah, “Sang nabi sering berdiri dekat sebuah pohon palem kurma. Ketika sebuah tempat duduk disediakan baginya, kami mendengar pohon itu menangis bagaikan unta betina hamil sampai sang nabi jongkok dan memeluk pohon itu. Hadits shahih riwayat Imam Bukhari vo.II no.41.
    25. ^ Dikisahkan oleh Ibnu Umar, “Sang nabi sering berkutbah sambil berdiri dekat batang pohon kurma. Ketika dia dibuatkan tempat duduk, dia lebih memilih duduk. Pohon kurma itu mulai menangis dan sang nabi menghampirinya, mengelusnya dengan tangannya (agar pohon itu berhenti menangis).Hadits shahih riwayat Imam Bukhari vo.IV no.783.
    26. ^ Kisahnya, orang Arab dusun mendekat kepada beliau, kemudian beliau bersabda kepada orang Arab Dusun tersebut, “Hai orang Arab dusun, engkau akan pergi ke mana?” Orang Arab dusun tersebut menjawab, “Pulang ke rumah.” Rasulullah saw. bersabda, “Apakah engkai ingin kebaikan?” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Kebaikan apa?” Rasulullah saw. bersabda, “Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Rasul-Nya.” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan?” Rasulullah saw.bersabda, “Pohon ini.” Beliau bersabda begitu sambil menunjuk ke arah salah satu pohon di tepi lembah. Kemudian pohon tersebut berjalan hingga berdiri di depan beliau. Beliau meminta pohon tersebut bersaksi hingga tiga kali, dan pohon tersebut pun bersaksi seperti sabda Rasulullah saw.
    27. ^ Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud katanya: Ketika Nabi s.a.w memasuki Mekah terdapat sebanyak tiga ratus enam puluh buah berhala di persekitaran Kaabah. Lalu Nabi s.a.w meruntuhkannya dengan menggunakan tongkat yang berada di tangannya seraya bersabda: Bermaksud: Telah datang kebenaran dan musnahlah kebatilan karena sesungguhnya kebatilan itu, adalah sesuatu yang pasti musnah. Bermaksud: Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan bermula dan tidak akan berulang. Ibnu Abu Umar menambah: Peristiwa itu terjadi pada masa pembukaan Kota Mekah. Sahih Bukhari, kitab Jihad.
    28. ^ Diriwayatkan oleh Anas: Pernah lama Madinah tidak turun hujan, sehingga terjadilah kekeringan yang bersangatan. Pada suatu hari Jumat ketika Rasulullah saw sedang berkotbah Jumat, lalu berdirilah seorang Badui dan berkata: “Ya Rasulullah, telah rusak harta benda dan lapar segenap keluarga, doakanlah kepada Allah agar diturunkan hujan atas kita. Berkata Anas: Mendengar permintaan badui tersebut, Rasulullah mengangkat kedua tangannya kelangit (berdo’a). Sedang langit ketika itu bersih, tidak ada awan sedikitpun. Tiba-tiba berdatanganlah awan tebal sebesar-besar gunung. Sebelum Rasulullah saw turun dari mimbarnya, hujan turun dengan selebat-lebatnya, sehingga Rasulullah saw sendiri kehujanan, air mengalir melalui jenggot Beliau. Hujan tidak berhenti sampai Jumat yang berikutnya, sehingga kota Madinah mengalami banjir besar, rumah-rumah sama terbenam. Maka datang Orang Badui berkata kepada Rasulullah saw, Ya Rasulullah, sudah tenggelam rumah-rumah, karam segala harta benda. Berdo’alah kepada Allah agar hujan diberhentikan diatas kota Madinah ini, agar hujan dialihkan ketempat yang lain yang masih kering. Rasulullah saw kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit berdo’a: Allahuma Hawaaliinaa Wa laa Alainaa (Artinya: Ya Allah turunkanlah hujan ditempat-tempat yang ada disekitar kami, jangan atas kami). Berkata Anas: Diwaktu berdo’a itu Rasulullah saw menunjuk dengan telunjuk beliau kepada awan-awan yang dilangit itu, seakan-akan Beliau mengisyaratkan daerah-daerah mana yang harus didatangi. Baru saja Rasulullah menunjuk begitu berhentilah hujan diatas kota Madinah. (Sahih Bukhari, juz 8 no 115).
    29. ^ Kisah dari Abu Hurayrah.
    30. ^ Diriwayatkan oleh Abdullah: “Sesungguhnya kami mendengar makanan yang dimakan Rasulullah saw mengagungkan nama Allah.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 779.
    31. ^ Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah katanya: Semasa parit Khandak digali, aku melihat keadaan Rasulullah s.a.w dalam keadaan sangat lapar. Maka akupun segera kembali ke rumahku dan bertanya kepada isteriku, apakah engkau mempunyai sesuatu (makanan)? Kerana aku melihat Rasulullah s.a.w tersangat lapar. Isteriku mengeluarkan sebuah beg yang berisi satu cupak gandum, dan kami mempunyai seekor anak kambing dan beberapa ekor ayam. Aku lalu menyembelihnya, manakala isteriku menumbuk gandum. Kami sama-sama selesai, kemudian aku memotong-motong anak kambing itu dan memasukkannya ke dalam kuali. Apabila aku hendak pergi memberitahu Rasulullah s.a.w, isteriku berpesan: Jangan engkau memalukanku kepada Rasulullah s.a.w dan orang-orang yang bersamanya. Aku kemudiannya menghampiri Rasulullah s.a.w dan berbisik kepada Baginda: Wahai Rasulullah! Kami telah menyembelih anak kambing kami dan isteriku pula menumbuk satu cupak gandum yang ada pada kami. Karena itu, kami menjemput baginda dan beberapa orang bersamamu. Tiba-tiba Rasulullah s.a.w berseru: Wahai ahli Khandak! Jabir telah membuat makanan untuk kamu. Maka kamu semua dipersilakan ke rumahnya. Rasulullah s.a.w kemudian bersabda kepadaku: Jangan engkau turunkan kualimu dan jangan engkau buat roti adonanmu sebelum aku datang. Aku pun datang bersama Rasulullah s.a.w mendahului orang lain. Aku menemui isteriku. Dia mendapatiku lalu berkata: Ini semua adalah karena kamu, aku berkata bahawa aku telah lakukan semua pesananmu itu. Isteriku mengeluarkan adonan roti tersebut, Rasulullah s.a.w meludahinya dan mendoakan keberkatannya. Kemudian Baginda menuju ke kuali kami lalu meludahinya dan mendoakan keberkatannya. Setelah itu Baginda bersabda: Sekarang panggillah pembuat roti untuk membantumu dan cedoklah dari kualimu, tapi jangan engkau turunkannya. Ternyata kaum muslimin yang datang adalah sebanyak seribu orang. Aku bersumpah demi Allah, mereka semua dapat memakannya sehingga kenyang dan pulang semuanya. Sementara itu kuali kami masih mendidih seperti sediakala. Demikian juga dengan adonan roti masih tetap seperti asalnya. Sebagaimana kata Ad-Dahhak: Masih tetap seperti asalnya. Sahih Bukhari, Muslim, kitab Minuman.
    32. ^ Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Abu Talhah telah berkata kepada Ummu Sulaim: Aku mendengar suara Rasulullah s.a.w begitu lemah. Tahulah aku baginda dalam keadaan lapar. Apakah engkau mempunyai sesuatu? Ummu Sulaim menjawab: Ya! Kemudiannya dia menghasilkan beberapa buku roti dari gandum dan setelah itu, mengambil kain tudungnya dan membungkus roti itu dengan separuh kain tudung, lalu disisipkan di bawah bajuku, sedangkan yang separuh lagi diselendangkan kepadaku. Selepas itu pula dia menyuruhku pergi ke tempat Rasulullah s.a.w. Akupun berangkat membawa roti yang dibungkus kain tudung itu. Aku mendapatkan Rasulullah s.a.w yang sedang duduk di dalam masjid bersama orang-ramai dan berada di sisi mereka. Rasulullah s.a.w bertanya: Abu Talhah yang mengutusmu? Aku menjawab: Ya, benar! Rasulullah s.a.w bertanya lagi: Untuk makanan? Aku menjawab: Ya! Rasulullah s.a.w bersabda kepada orang-ramai yang bersama baginda: Bangunlah kamu sekalian! Rasulullah s.a.w lalu berangkat diiringi para sahabat dan aku berjalan di antara mereka untuk segera memberitahu Abu Talhah. Maka Abu Talhah berkata: Wahai Ummu Sulaim! Rasulullah s.a.w telah datang bersama orang yang ramai, padahal kita tidak mempunyai makanan yang mencukupi untuk mereka. Dia menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu. Lalu Abu Talhah menjemput Rasulullah s.a.w dan Rasulullah s.a.w pun masuk bersamanya. Rasulullah s.a.w bersabda: Bawakan ke sini apa yang ada di sisimu wahai Ummu Sulaim! Ummu Sulaim terus membawa roti tersebut kepada baginda kemudian memerah bekas lemaknya untuk dijadikan lauk dimakan dengan roti. Kemudian Rasulullah s.a.w mendoakan makanan itu. Setelah itu baginda bersabda: Izinkan sepuluh orang masuk! Abu Talhah memanggil sepuluh orang Sahabat. Mereka makan sehingga kenyang kemudian keluar. Rasulullah s.a.w menyambung: Biarkan sepuluh orang lagi masuk. Sepuluh orang berikutnya pun masuk dan makan sehingga kenyang lalu keluar. Rasulullah s.a.w kemudian bersabda lagi: Suruhlah sepuluh orang lagi masuk. Demikian berlaku terus-menerus sehingga semua orang dapat makan hingga kenyang, padahal jumlah mereka adalah lebih kurang tujuh puluh atau delapan puluh orang. (Sahih Bukhari, Muslim, kitab Minuman).
    33. ^ Diriwayatkan daripada Abdul Rahman bin Abu Bakar katanya Kami dengan sejumlah seratus tiga puluh orang sedang bersama Nabi s.a.w. Nabi s.a.w bertanya: Adakah salah seorang di antara kamu mempunyai makanan? Didapati ada seorang yang mempunyai kira-kira satu gantang gandum atau seumpamanya, lalu diadunkannya. Kemudian datang seorang lelaki tinggi dan kusut rambutnya membawa kambing-kambing untuk dijual. Nabi s.a.w bertanya: Adakah ianya untuk dijual atau dihadiahkan? Lelaki itu menjawab: Tidak! Bahkan ianya untuk dijual! Maka dibeli daripadanya seekor kambing. Setelah disembelih, Rasulullah s.a.w memerintahkan supaya diambil hatinya untuk dipanggang. Dia (Abdul Rahman bin Abu Bakar) berkata: Demi Allah! Setiap seratus tiga puluh orang itu, kesemuanya mendapat sepotong hati kambing daripada Rasulullah s.a.w. Jika orang itu ada bersama, maka Rasulullah s.a.w memberikannya. Jika sebaliknya, Rasulullah s.a.w menyimpan untuknya. Makanan itu dibagikan kepada dua talam. Kami makan dari kedua talam itu sehingga kenyang. Lebihan yang terdapat pada kedua talam tersebut dibawa ke atas unta atau mungkin juga riwayatnya begitu. Hadits sahih Bukhari, Muslim, kitab Minuman.
    34. ^ Diriwayatkan daripada Abdul Rahman bin Abu Bakar katanya Mereka yang disebut Ashaab As-Suffah adalah orang-orang miskin. Rasulullah s.a.w pernah bersabda suatu ketika: Siapa mempunyai makanan untuk dua orang, dia hendaklah mengajak orang yang ketiga dan sesiapa mempunyai makanan untuk empat orang, dia hendaklah mengajak orang kelima, keenam atau seperti diriwayatkan dalam Hadis lain. Abu Bakar r.a datang dengan tiga orang. Nabi pula pergi dengan sepuluh orang dan Abu Bakar dengan tiga orang yaitu aku, ibu dan bapaku. Tetapi aku tidak pasti adakah dia berkata: Isteriku dan khadamku berada di antara rumah kami dan rumah Abu Bakar. Abdul Rahman berkata lagi: Abu Bakar makan malam bersama Nabi s.a.w dan terus berada di sana sehinggalah waktu Isyak. Selesai sembahyang, dia kembali ke tempat Nabi s.a.w lagi, sehinggalah Rasulullah s.a.w kelihatan mengantuk. Sesudah lewat malam, barulah dia pulang. Isterinya menyusulinya dengan pertanyaan: Apa yang menghalang dirimu untuk pulang menemui tetamumu? Abu Bakar berkata: Bukankah engkau telah menjamu mereka makan malam? Isterinya menjawab: Mereka tidak mau makan sebelum engkau pulang, padahal anak-anak sudah mempersilakan tetapi mereka tetap enggan. Akupun berundur untuk bersembunyi. Lalu terdengar Abu Bakar memanggil: Hai dungu! Diikuti dengan sumpah-serapah. Kemudian dia berkata kepada para tetamunya: Silakan makan! Barangkali makanan ini sudah tidak enak lagi. Kemudian dia bersumpah: Demi Allah, aku tidak akan makan makanan ini selamanya! Abdul Rahman meneruskan ceritanya: Demi Allah, kami tidak mengambil satupun kecuali sisanya bertambah lebih banyak lagi, sehinggalah apabila kami sudah merasa kenyang, makanan itu menjadi bertambah banyak daripada yang sedia ada. Abu Bakar memandangnya ternyata makanan itu tetap seperti sedia atau bahkan lebih banyak lagi. Dia berkata kepada isterinya: Wahai saudara perempuanku! Bani Firas apakah ini? Isterinya menjawab: Tidak! Demi cahaya mataku, sekarang ini makanan tersebut bertambah tiga kali ganda lebih banyak daripada sediakala. Lalu Abu Bakar makan dan berkata: Sumpahku tadi adalah dari syaitan. Dia makan satu suap, kemudian membawa makanan tersebut kepada Rasulullah s.a.w dan membiarkannya di sana hingga pagi hari. Pada waktu itu di antara kami (kaum muslimin) dengan suatu kaum akan dilangsungkan satu perjanjian. Apabila tiba waktunya, kamipun menjadikan dua belas orang sebagai ketua saksi, masing-masing mengepalai beberapa orang. Hanya Allah yang tahu berapa orangkah sebenarnya yang diutuskan bersama mereka. Cuma yang pastinya Rasulullah s.a.w memerintah agar dipanggilkan mereka kesemuanya. Lalu kesemuanya makan dari makanan yang dibawa oleh Abu Bakar atau sebagaimana yang diriwayatkan dalam riwayat yang lain. (Sahih Bukhari, Muslim, Kitab Minuman).
    35. ^ Hadits riwayat Muslim
    36. ^ Kauma (2000), hal 98 -102
    37. ^ Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Dalam pandangan kami mukjizat adalah anugerah Allah, tetapi dalam pandangan kalian mukjizat adalah peringatan. Suatu ketika kami menyertai Rasulullah saw dalam sebuah perjalanan dan kami nyaris kehabisan air. Nabi saw bersabda: “Bawalah kemari air yang tersisa!” orang-orang membawa kantung yang berisi sedikit air. Nabi saw memasukkan telapak tangannya kedalam kantung itu dan berkata, “Mendekatlah pada air yang diberkahi dan ini berkah dari Allah.” Aku melihat air memancar dari sela-sela jemari tangan Rasulullah saw.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 779).
    38. ^ Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Semangkuk air dibawa kehadapan Nabi saw di Al Zawra. Nabi saw memasukkan kedua telapak tangannya kedalam mangkok itu dan air memancar dari jari-jemarinya. Semua orang berwudhu dengan air itu. Qatadah berkata kepada Anas, “Berapa orang yang hadir pada waktu itu?” Anas menjawab, “Tiga ratus orang atau mendekati tiga ratus orang.” (Sahih Bukhari, juz 4 no 772). Lihat juga : (Sahih Bukhari juz 4 no 777) (Sahih Bukhari juz 1 no 340)
    39. ^ Hadits riwayat Muslim No.4224
    40. ^ Diriwayatkan daripada Anas bin Malik katanya: Sesungguhnya beberapa orang dari daerah Urainah datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah s.a.w mereka telah mengidap sakit perut yang agak serius. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda kepada mereka: Sekiranya kamu mau, keluarlah dan carilah unta sedekah, maka kamu minumlah susu dan air kencingnya. Lalu mereka meminumnya, dan ternyata mereka menjadi sehat. Kemudian mereka pergi kepada sekumpulan pengembala lalu mereka membunuh pengembala yang tidak berdosa itu dan mereka telah menjadi murtad (keluar dari Islam.) Mereka juga telah melarikan unta milik Rasulullah s.a.w, kemudian peristiwa itu diceritakan kepada Rasulullah s.a.w. Lalu baginda memerintahkan kepada para Sahabat agar menangkap mereka. Setelah ditangkap lalu mereka dihadapkan kepada baginda s.a.w. Maka Rasulullah s.a.w pun memotong tangan dan kaki serta mencungkil mata mereka. Kemudian baginda membiarkan mereka berada di al-Harrah (sebuah daerah di Madinah yang terkenal penuh dengan batu hitam) sehingga mereka meninggal dunia. (Sahih Bukhari, Muslim, kitab qishas dan diyat).
    41. ^ Diriwayatkan daripada Anas r.a daripada Ummu Sulaim katanya: Wahai Rasulullah! Aku menjadikan Anas sebagai khadammu, tolonglah berdoa untuknya. Rasulullah s.a.w pun berdoa: Ya Allah, banyakkanlah harta dan anaknya dan berkatilah apa yang diberikan kepadanya. Berkata Anas: “Demi Allah, harta bendaku memang banyak dan anak begitu juga anak dari anakku memang banyak sekali dan sekarang sudah berjumlah lebih dari 100 orang.Hadits sahih Bukhari, Muslim, kitab kelebihan para sahabat.
    42. ^ Abu Hurairah mengeluh kepada Rasulullah saw bahwa dia terlalu pelupa. Lalu Rasulullah saw membentangkan kainnya diatas tanah, lalu memegang-megang kainnya dengan tangan beliau. Abu Hurairah disuruh Rasulullah memeluk kain itu. Sejak itu Abu hurairah tidak pernah lupa-lupa lagi. Dan beliau terkenal paling banyak menghafal hadis. Hadits sahih Imam Bukhari dan Imam Muslim.
    43. ^ Rasulullah saw bersabda pada saat peristiwa penaklukkan Khaibar, “Esok hari aku (Nabi saw) akan memberikan bendera kepada seorang yang akan diberikan kemenangan oleh Allah swt melalui tangannya, sedang ia mencintai Allah dan Rasulnya, dan Allah dan Rasulnya mencintainya”. Maka semua orangpun menghabiskan malam mereka seraya bertanya-tanya didalam hati, kepada siapa diantara mereka akan diberi bendera itu. Hingga memasuki pagi harinya masing-masing mereka masih mengharapkannya. Kemudian Rasulullah saw bertanya: “Kemana Ali?” lalu ada yang mengatakan kepada beliau bahwa Ali sedang sakit kedua matanya. Lantas Rasulullah saw meniup kedua mata Ali seraya berdoa untuk kesembuhannya. Sehingga sembuhlah kedua mata Ali seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Lalu Rasulullah saw memberikan bendera itu kepadanya. Hadits sahih Bukhari.
    44. ^ Shahih Al-Bukhari dan Muslim.
    45. ^ Shahih Al-Bukhari dan Muslim.
    46. ^ Hadits riwayat Bukhari
    47. ^ Hadits riwayat Bukhari
    48. ^ Hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas.
    49. ^ Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah.
    50. ^ Hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas.
    51. ^ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Hadits riwayat At-Tirmidzi.
    52. ^ “Telah hampir saat (qiamat) dan telah terbelah bulan.” (Quran, 54:1). Berita tentang terbelahnya bulan pada jaman Nabi saw banyak diriwayatkan oleh para Shahabat, sehingga hadis tentang terbelahnya bulan adalah hadis Muthawatir. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud: “Pada masa hidup Nabi saw, bulan terbelah dua dan melihat ini Nabi saw bersabda: “Saksikanlah!” (Sahih Bukhari, juz 4 no 830). Diriwayatkan oleh Anas: “Ketika orang-orang Mekah meminta Rasulullah saw untuk menunjukkan mukjizat, maka Nabi menunjukkan bulan yang terbelah.” (Sahih Bukhari, juz 4 no 831). Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: “Bulan terbelah menjadi dua pada masa hidup Nabi saw.” (Sahih Bukhari, juz 4 no 832). Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Orang-orang Mekah meminta Nabi saw untuk menunjukkan sebuah mukjizat. Maka Beliau menunjukkan bulan yang terbelah menjadi dua bagian, sehingga gunung Hira’ itu dapat mereka lihat diantara dua belahannya.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 208). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Diwaktu kami bersama-sama Rasulullah saw di Mina, maka terbelah bulan, lalu sebelahnya berlindung dibelakang gunung, maka sabda Rasulullah saw: “Saksikanlah! ” Saksikanlah! ” (Sahih Bukhari, juz 5 no 209). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas: “Pada masa hidup Nabi saw bulan terbelah menjadi dua.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 210). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Bulan terbelah menjadi dua.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 211). Lihat juga di : (Sahih Bukhari, juz 6 no 350) (Sahih Bukhari, juz 6 no 387) (Sahih Bukhari, juz 6 no 388) (Sahih Bukhari, juz 6 no 389) (Sahih Bukhari, juz 6 no 390) (Sahih Bukhari, juz 6 no 391) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar juz 039 no 6721) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar juz 039 no 6724) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar, juz 039 no 6725) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar, juz 039 no 6726) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar juz 039 no 6728) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar juz 039 no 6729) (Hadits sahih Muslim, juz 039 no 6730).
    53. ^ Hadits riwayat Muslim No.5010, 5013, 5015

    [sunting] Referensi

     
  • SERBUIFF 5:39 am on 23/10/2009 Permalink | Reply
    Tags: damai, , muhammad, MUHAMMAD SAW: INISIATOR PERDAMAIAN, peace, perdamaian   

    MUHAMMAD SAW: INISIATOR PERDAMAIAN 

    MUHAMMAD SAW: INISIATOR PERDAMAIAN

    M. Syamsi Ali


    Umat Islam di seluruh penjuru dunia saat ini umumnya memperingati Maulid atau Kelahiran Rasulullah SAW. Terlepas dari perdebatan sisi hukum syariatnya, mempelajari dan menghayati kehidupan dan pengorbanan Rasulullah SAW adalah suatu keharusan dan, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan, menjadi kewajiban syara’ (agama) bagi setiap Muslim. Ada dua alasan pokok yang dapat dikemukakan:

    Pertama: Islam menghendaki “ketaatan” kepada Allah. Tanpa ketaatan kepada Allah, sesungguhnya tiada Islam. Untuk taat kepada Allah dibutukan “ketaatan” kepada Rasulullah. Berbagai ayat dalam Al Qur’an memerintahkan ketaatan kepadaNya, namun sekaligus memerintahkan ketaatan kepada RasulNya. Sebaliknya, bermaksiat kepada Allah dikaitkan langsung dengan kemaksiatan kepada RasulNya.

    Kedua: Rasulullah telah dijadikan, tidak saja sebagai “muballigh” (conveyer), namun sekaligus sebagai contoh tauladan “hidup” bagi seluruh pengikutnya. Ketauladanan menuntut sebuah komitmen untuk mengikut. Sedangkan untuk mengikut kepada seseorang atau sesuatu diperlukan pengetahuan tentangnya.

    Dengan demikian, dan sesuai dasar Ushul fiqh: “Maa laa yatimmu bihil waajibu illa bihii fahuwa wajibun” (sesuatu yang hanya dengannya suatu kewajiban menjadi terlaksana, maka ia menjadi wajib), maka mendalami sirah (sejarah hidup) Rasulullah adalah merupakan kewajiban yang tidak dapat ditawar. Hanya dengan mengetahui sirah Rasulullah SAW, kita mampu melakukan ketaatan yang benar serta mampu mengikuti jejak langkah kehidupan Rasulullah dalam kehidupan ini.

    Mispersepsi Mengenai Rasulullah SAW

    Tak disangkal bahwa mispersepsi (kesalah fahaman) mengenai Rasulullah banyak terjadi, yang boleh jadi karena beberapa factor, yang dapat disebutkan antara lain, karena memang kebodohan akan Islam dan Rasululullah SAW, manipulasi informasi yang sesungguhnya khususnya oleh media massa, dan juga lebih karena disebabkan oleh sikap dan perilaku dari pengikut Muhammad SAW yang masih jauh dari suri tauladan beliau.

    Salah satu kekeliruan faham yang sering kita temui adalah bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok yang keras, kaku, serta berwatak anti damai. Lebih jauh, watak ini ditafsirkan bahwa sesungguhnya Islam itu telah disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan mata pedang. Tapi betulkah bahwa Rasulullah SAW berwatak kasar serta anti damai perdamaian? Betulkah pula bahwa Islam telah disebarkan dengan kekuatan pedang?

    Mengawali respon kepada klaim tersebut di atas, ada baiknya dimulai dengan beberapa kutipan dari para tokoh dunia maupun cendekiawan yang justeru dari pihak agama lain:

    Mahatma Gandhi (The Young Indian, 1924):

    “I wanted to know the best of the life of one who holds today an undisputed sway over the hearts of millions of mankind. I became more than ever convinced that it was not the sword that won a place for Islam in those days in the scheme of life. It was the rigid simplicity, the utter self-effecement, his devotion to his friends and followers, his fearlessness and his absolute devotion and trust in his Lord. These and not the sword carried everything before them”

    Sir George Bernard Show (1936):

    “If any religion had the chance of ruling over England and Europe within the next hundred years, it could be Islam. I have always held the religion of Muhammad in high estimation because of its wonderful vitality. It is the only religion which appears to me to passes that assimilating capacity to the changing phase of existence which can make itself appeal to every age. I have studied him – the wonderful man and in my opinion far from being anti Christ, he must be called the savior of humanity”

    De Lacy O’Leary (1923):

    “History makes it clear, however, that the legend of fanatical Muslims sweeping through the world and forcing Islam at the point of swords upon conquered races is one of the most fantastically absurd myths that historians have repeated”.

    Demikian beberapa kesaksian non Muslim sekaligus tokoh terkenal tentang ketinggian budi dan kelembutan perilaku serta jauhnya Rasulullah SAW dari tuduhan kekerasan dan anti perdamaian. Pada intinya, banyak ahli yang sepakat bahwa Muhammad telah membawa ajaran yang damai serta telah disampaikan ke penjuru alam dengan pendekatan damai, jauh dari kekerasan dan pemaksaan seperti yang digambarkan selama ini. Bahkan tuduhan penyebaran Islam dengan memakai pendekatan kekerasan/pemaksaan, dinilai sebagai bentuk mitos yang sangat luar biasa.

    Memang dapat ditegaskan bahwa tidak ada dan tak akan ada suatu agama maupun sistim sosial lainnya yang akan mampu menyamai cara pendekatan Islam dan Rasulullah SAW dalam membangun dan memelihara perdamaian dan keadilan bagi umat manusia. Baik ditinjau dari sisi ajaran maupun sejarah, keduanya menunjukkan bahwa Islam dan RasululNya telah mampu, tidak saja menjadi simbol perdamaian tapi justeru menjadi inisiator dan pencipta perdamaian (peace maker). Beberapa alasan dapat dikemukakan untuk mendukung perntaan ini, al:

    Pertama: Fleksibilitas dalam Melakukan Perjanjian Damai

    Bukti pertama akan ketinggian komitmen Rasulullah dalam upaya perdamaian adalah kelapangan dada dan fleksibilitas beliau dalam menerima hasil-hasil pembicaraan damai, yang justeru oleh pertimbangan kebanyakan orang awam dianggap sebagai kekalahan. Tapi oleh Rasulullah, demi menghindari konflik dan peperangan, beliau menerimanya dengan visi dan tujuan yang lebih besar. Kebesaran visi menyadarkan beliau bahwa kemenangan justeru tidak selalu diraih lewat sebuah keberhasilan jangka pendek.

    Berikut dikutip sebagian dari sekian banyak persetujuan (perjanjian/treaties) yang belia telah lakukan bersama warga lain sepanjang sejarah hidup beliau:

    1. Jauh sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul Allah SWT, beliau telah menunjukkan diri sebagai juru damai bagi berbagai kelompok suku yang sering terlibat dalam peperangan itu. Salah satu yang dapat disebutkan, ketika “Hajar Aswad” (batu hitam) terjatuh dari tempat aslinya di sudut Ka’bah akibat banjir. Ketika itu, hampir saja terjadi pertumpahan darah karena semua suku merasa paling berhak untuk mengembalikan ke tempat aslinya, dipandang sebagai salah satu kehormatan dan prestise kesukuan bangsa Makkah.
      Muhammad SAW, yang ketika itu baru berumur belia, justeru keluar dengan ide yang cemerlang dan diterima oleh semua suku yang bersengketa. Beliau mengusulkan bahwa penentuan siapa yang berhak mengembalikan “hajar aswad” ke posisi semula ditentukan oleh siapa yang paling dini memasuki masjidil haram. Ternyata, dari sekian banyak pembesar Makkah yang berminat memasuki masjidil haram pertama kali, beliau jugalah yang melakukannya. Namun demikian, beliu menyadari bahwa kendati beliau berhak melakukan pengembalian hajar aswad, pasti akan timbul rasa “kurang enak” di kalangan para pembesar suku Makkah itu. Untuk itu, beliau menaruh “hajar aswad” dengan tangannya ke atas sebuah sorban, lalu semua kepala suku dipersilahkan untuk mengangkatnya secara bersama-sama dan diletakkan kembali ke posisi aslinya. Subhanallah!
      Tindakan cemerlang nan bijak tersebut telah menghindarkan pertumpahan darah, bahkan lebih jauh mengajarkan kebersamaan dan keinginan untuk mencapai kebaikan secara gotong royong. Keberhasilan Muhammad muda SAW tersebut merupakan cerminan watak asli yang damai serta memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan perdamaian di antara sesama manusia.
    2. Di awal hijrah Rasulullah, beliau menerima kedatangan utusan kafir Makkah di Madinah yang berakhir dengan beberapa kesepakatan. Salah satu isi kesepakatan tersebut bahwa “jikalau ada pengikut Muhammad SAW melarikan diri dari Madinah ke Makkah, yang bersangkutan tidak harus dikembalikan ke Madinah. Sebaliknya, jika ada pengikut Muhammad yang melarikan diri dari Makkah ke Madinah, yang bersangkutan harus dipulangkan ke Makkah”.
      Bagi pemikiran umum, persetujuan tersebut sangat tidak adil. Namun Rasulullah, dengan komitmen yang sangat tinggi untuk menghindari konflik dan membangun perdamaian, mau menerimanya.
    3. Perjanjian Hudaibiyah adalah salah satu perjanjian yang sangat popular dalam sejarah Islam. Salah satu isi perjanjian tersebut adalah bahwa Rasulullah tahun itu harus kembali ke Madinah, dan hanya boleh melakukan ibadah ke Makkah setahun kemudian. Selain itu, nama yang dipakai pada perjanjian tersebut tidak boleh menggunakan title “Rasulullah”, tapi memakai kebiasaan arab membaggakan nama bapaknya, yaitu Muhammad bin Abdullah.
      Bagi kebanyakan sahabat, isi perjanjian tersebut sangat melecehkan, bahkan dianggap kekalahan di pihak Rasulullah SAW. Umar bahkan meng-ekspresikan resistensinya kepada Rasulullah untuk tidak menerima persetujuan tersebut. Namun demikian, ternyata sang pecinta damai (peace loving man), Rasulullah SAW, tidak berkeberatan untuk menerima hasilnya.
    4. Perjanjian dengan delegasi Najran (Treaty of Najran) juga menjadi saksi sejarah kebesaran jiwa Rasulullah SAW serta komitmennya yang tinggi dalam upaya mewujudkan perdamaian. Pada tahun 10 Hijrah (631 M), beliau didatangi oleh 60 orang delegasi dari penduduk Kristen Najran, sebuah daerah yang terletak sekitar 450 mil sebelah selatan Madinah. Mereka diterima oleh Rasulullah di masjid Nabawi dan diperbolehkan untuk melakukan ibadah dalam masjid sesuai keyakinan dan tatacara agama mereka.
      Selama tiga hari tiga malam, mereka dan Rasulullah SAW melakukan dialog tentang “tabiat” Tuhan (nature of God) dan Isa a.s. Namun akhirnya mereka tetap pada pendirian mereka, dan menyatakan bahwa ajaran Muhammad SAW tidak akan bisa diterima karena bertentangan dengan ajaran Kristen yang mereka yakini.
      Kendati perbedaan teologis dengan mereka, Rasulullah SAW tetap melakukan persetujuan damai yang dikenal dengan “‘Ahd Najran” (Treaty of Najran). Perjanjian damai tersebut berisikan antara lain, bahwa “warga Kristen Najran mendapat keamanan Allah dan rasulNya, baik bagi kehidupan, agama, harta kekayaan mereka. Tidak akan ada intervensi dalam agama dan peribadatan mereka. Tak akan ada perubahan dalam hak-hak dan kelebihan bagi mereka. Tak akan ada pengrusakan bagi rumah ibadah atau symbol-simbol keagamaan lainnya. Jika ada di antara mereka yang mencari keadilan atas orang-orang Islam, maka keadilan akan ditegakkan di antara mereka”.
      Treaty atau berbagai perjanjian yang disebutkan di atas, menunjukkan komitmen yang luar biasa dari seorang rasul dan pemimpin, negarawan, politikus sekaligus diplomat ulung yang tiada bandingnya dalam sejarah. Yang mengagumkan dari semua itu, betapa visi beliau begitu jauh ke depan melihat kemaslahatan yang lebih besar diatas kepentingan jangka pendek. Komitmen Rasulullah SAW kepada kedamaian dan perdamaian menjadi karakter dasar dari semua ini.

    Kedua: Rasulullah Membuktikan Ajaran Islam yang Cinta Damai

    Rasulullah SAW adalah pembawa risalah yang agung. Sebagai pembawa risalah, tentu beliau dituntut untuk, tidak saja menyampaikan, tapi sekaligus mencontohkannya secara konkrit bagaimana pelaksanaanya. Untuk itu, jika kita kembali kepada ajaran-ajaran dasar Rasulullah SAW (al-Islam), akan didapati dengan mudah bahwa Islam memang mengajarkan dan mewujudkan kedamaian serta menjunjung tinggi perdamaian.

    Pengambilan nama bagi agama ini, yaitu Islam yang bersumber dari “salama” yang berarti selamat dan juga “silm dan salaam” (damai) menegaskan karakter dasar dari ajaran Islam itu sendiri. Berbagai aspek Islam kemudian, semuanya bermuara kepada aspek luhur ini, bahkan termasuk perintah berperang sekalipun, tidak lain bertujuan untuk menegakkan kedamaian dan keadilan. Sehingga tak satupun substasi agama Islam kecuali membawa kepada nilai-nilai kedamaian dan perdamaian.

    Shalat misalnya, adalah bentuk ibadah tertinggi dalam Islam. Shalat dimulai dengan takbir, yaitu menjunjung tinggi Asma Allah menhunjam erat ke dalam jiwa sang pelaku. Maka shalat adalah bentuk dzikir (mengingat Allah) tertinggi, yang dengannya seorang Muslim merasakan kedamaian bathin yang tak terhingga. Namun kedamaian jiwa tidak berakhir, tapi harus diteruskan dengan kedamaian yang lebih luas, yaitu kedamaian sosial. Untuk itu, shalat tak akan menjadi valid ketika tidak diakhiri dengan komitmen menyebarkan perdamaian kepada sesama. Salam yang diucapkan di akhir shalat adalah bentuk komitmen tertinggi dari seorang Muslim dalam mewujudkan perdamaian sosial.

    Demikian pentingnya “damai” dan “perdamaian” dalam pandangan Islam, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kamu tak akan masuk Syurga sehingga kamu saling mencintai. Hendakkah saya tnjukkan padamu sesuatu yang jika kamu melakukannya, niscaya kamu akan saling mencintai?” Sahabat menjawab: “Betul wahai Rasulullah”. Sabda beliau: “Tebarkan salam (damai) di antara kalian”.

    Menyebarkan salam menurut hadits tersebut tentu bukan hanya mengumbar kata-kata. Tapi yang terpenting, adanya komitmen kita untuk mewujudkan salam yang menyeluruh (comprehesive peace); salam (damai) secara individu danjuga damai secara sosial. Dimulai dengan kata, dihayati dalam jiwa dan dibuktikan dengan amalan nyata.

    Orang-orang beriman seperti inilah yang digelari “hamba-hamba Allah” (‘IbaadurRahmaan), yang jika berjalan di atas bumi ini, mereka rendah hati. Bahkan jika disapa secara jahil (uncivilized manner) oleh orang-orang bodoh, mereka tetap merespon dengan “Salaam” (in peaceful manner). Mereka tidak akan dan tidak perlu melakukan reaksi spontan yang terjatuh dari norma-norma damai. Mereka sadar, bahwa Islam sangat meninggikan reaksi positif yang dilandaskan kepada kemaslahatan besar serta senantiasa berbasiskan kedamaian.

    Ketiga: Al Qur’an Diturunkan dalam Suasana Damai

    Selain mengandung berbagai komitmen damai dan perdamaian, al Qur’an juga digambarkan diturunkan dalam sebuah malam yang penuh kedamaian. Di S. al Qadar disebutkan: “Dan para Malaikat turun ke bawah dan juga Ruh (jibril) atas perintah Tuhan mereka dengan (membawa) semua perintah. (Malam itu penuh dengan) “Salaam” atau kedamaian sehingga fajar telah tiba”.

    Gambaran turunnya Al Qur’an seperti ini tidak lain dimaksudkan bahwa ia datang dalam suasana yang sangat damai, dan sudah pasti ditujukan untuk menciptakan suasana damai yang abadi, sehingga masa yang ditunggu tiba, yaitu Kiamat. Kata-kata “salaam hiya hatta mahtla’il fajar” boleh jadi gambaran kedamaian abadi sehingga “fajar” kebesaran Ilahi tiba dalam bentuk al Qiyaamah tiba kelak.

    Keempat: Suasana Syurga Digambarkan penuh dengan “Kedamaian”

    Nama Syurga itu sendiri, salah satunya, adalah “Rumah Kedamaian” (Daarussalam). Allah menfirmankan: “Dan Bagi mereka “Darussalam / Rumah Kedamaian di sisi Tuhannya dan Allah adalah Wali bagi mereka atas apa yang mereka telah perbuat”.

    Di saat Allah ditemui oleh para hambaNya di Syurga kelak, mereka mengucapkan “Salaam” (Kedamaian). Allah berfirman: “Salam penghormatan kepada mereka di saat menjumpaiNya adalah “Salaam”, dan Allah menyediakan bagi mereka pahala yang besar”.

    Setiap kali Malaikat memasuki dan menjenguk mereka, para Malaikat mengucapkan “Salaam”: “Dan para malaikat masuk kepada mereka seraya berkata: Salaam (selamat/peace) atas kamu semua atas kesabarannya. Sungguh indah rumah abadi (Syurga)”.

    Kelima: Allah Menamakan diriNya serta Sumber Kedamaian (Salaam)

    Allah sendiri menamai diriNya dengan, salah satunya, as-Salaam (Yang Damai). “Dialah Allah, tiada tuhan selain Dia yang Menguasai, Yang Suci, Yang Damai…”. Bahkan Allah disebutkan oleh Rasulullah dalam salah satu sunnah dzikir sebagai “Sumber dan tempat kembali” kedamaian abadi, sebagaimana disebutkan dalam dzikir: “Allahumma Antas Salaam wa minKa as Salaam, fahayyinaa Rabbanaa bissalaam…..”.

    Keenam: Perintah Allah untuk Berbuat Baik (al-ihsan)

    Allah dalam Al Qur’an memerintahkan RasulNya untuk berbuat baik tanpa ada batasan dan diskriminasi: “Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat kepadamu”.

    Sebagian ulama menilai, perintah kepada Rasulullah ini adalah perintah yang sangat luar biasa. Bagaimana mungkin Rasulullah yang manusia biasa, dengan segala keterbatasan manusiawi seperti pertimbangan akal, perasaan, dll., akan mampu menyamai Allah dalam perbuatan baik (ihsan)? Untuk itu, tidak ada maksud lain dari ayat ini kecuali bahwa perbuatan baik dalam kacamata Islam tidak dibatasi oleh berbagai batasan manusia. Kiranya, perbuatan baik (ihsan) tidak dilakukan secara diskriminatif karena suku, golongan, warna kulit, tingkat sosial ekonomi, bahkan keyakinan agama sekalipun.

    Rasulullah SAW telah membuktikannya. Beliau bertetanggan dengan Yahudi, mengadakan perjanjian dengan kaum Kristiani, dan semua mengakui ketinggian “ihsan” (budi luhur) Rasulullah SAW. Maka sangat wajar, jika Allah sendiri yang memberikan pengakuan: “Sungguh tiada kuutus kamu kecuali sebagai rahmatan bagi seluruh jagad”. Bahkan lebih jauh: “Engkau adalah sosok yang berbudi luhur yang maha tinggi” (S. al Qalam).

    Rasa kasih dan sayang Rasulullah ini, tidak saja terbatas pada bangsa manusia apalagi kaum Muslim saja. Tapi juga telah dibuktikan terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah, bahkan kepada hewan sekalipun. Beliau menceritakan: “Suatu ketika, ada seorang lelaki yang sangat kehausan karena panas terik yang menggigit. Untuk menghapus rasa dahaga tersebut, sang lelaki menemukan sebuah sumur yang dalam. Beliau pun memasukinya dan minum sepuasnya, lalu memanjat ke atas. Sesampai di atas, beliau menemukan seekor anjing yang kehausan dan hampir mati darinya. Maka beliau sekali lagi memasuki sumur tersebut, mengisi sepatunya dengan air dan menggigitnya seraya memanjat dinding sumur ke atas. Sesampai di atas, belaiu memberikanya kepada sang anjing. Karena perbiatan baiknya kepada anjing ini, Allah mengampuni dosanya dan memasukkannya ke dalam Syurga” Para sahabat bertanya: “Adakah pahala yang didapatkan dari seekor hewan?” Belaiu menjawab: “Pada semua makhluk hiudp ada pahala kebaikan”.

    Bahkan suatu ketika, beliau menemukan sebuah saran semut dibakar. Beliau bertanya: “Siapa yang melakukan ini?” Para sahabat menjawab bahwa merekalah yang melakukannya. Beliau kemudian mengatakan: “Tidak ada yang berhak mempergunakan api untuk membakar kecuali Tuhan api itu sendiri”.

    Semua ini membuktikan bahwa “ihsan” (komitmen kebaikan) Rasulullah SAW adalah universal, tanpa ada diksriminasi, bahkan kepada hewan sekalipun. Jauh sebelum organisasi-organisasi hak-hak hewan (animal rights organizations) tumbuh di dunia barat, Islam dan RasulNya telah mengajarkan kasih sayang kepada hewan. Hadits lain mengisahkan: “Seorang wanita masuk neraka hanya karena mengikat seekor kucing tanpa memberikan makan, dan tidak juga membiarkannya mencari makannya”.

    Akhirnya, tuduhan klasik yang tidak berdasar terhadap Rasulullah masih dapatkah dipertahankan? Apakah tuduhan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang kaku, keras, serta anti damai masih dapat diterima? Saya yakin, dengan berbagai fakta sejarah dan merujuk kepada kenyataan ajaran Islam yang sedemikian agung, tak seorang manusia berakal pun yang akan menolak bahwa Muhammad, Rasulullah SAW, tidak saja merupakan simbol kedamaian dan perdamaian sejati, tapi telah menjadi “Peace Initiator” dan “Peace Maker” sepanjang sejarah manusia.

    New York,
    20 Mei 2002

    (Insya Alla akan bersambung…)

    http://media.isnet.org/isnet/Syamsi/Muhammad.html

     
  • SERBUIFF 2:28 am on 19/09/2009 Permalink | Reply
    Tags: akitab, muhammad, Nubuat, Nubuat Muhammad   

    Nubuat Muhammad 

    ahmad_dlm_pb03.htm
    ahmad_dlm_plama04.htm
    ahmad_dlm_plama02.htm
    ahmad_dlm_pb06.htm
    ahmad_dlm_pb11.htm
    ahmad_dlm_plama06.htm
    subindex_nubuatmuhammad.htm
    ahmad_dlm_plama01.htm
    ahmad_dlm_pb10.htm
    ahmad_dlm_plama05.htm
    ahmad_dlm_pb09.htm
    ahmad_dlm_pb08.htm
    ahmad_dlm_plama08.htm
    ahmad_dlm_plama03.htm
    ahmad_dlm_pb04.htm
    ahmad_dlm_pb02.htm
    ahmad_dlm_pb05.htm
    ahmad_dlm_plama07.htm
    ahmad_dlm_pb07.htm
    ahmad_dlm_pb01.htm

    http://islamic.xtgem.com/update26juni2008/nubuat_muhammad/

     
    • wikki 10:14 am on 15/08/2012 Permalink | Reply

      nih tips mendebat kafirun ala muslimer paling ampuh…Sebuah satire oleh; Ayesha Ahmed
      Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
      Saudara, meski kita hidup dinegara berpenduduk mayoritas muslim, namun tak dapat dipungkiri bahwa setiap hari kita harus bertemu dengan para kafir yang hidup disekitar kita. Sesekali para kafir ini mencoba mengkritik Islam dan nabi kita. Di sebuah negara Islam, dimana syariat Islam ditegakkan, jika terdapat seseorang yang mengkritik nabi, yang harus kita lakukan hanyalah meneriakkan dengan kencang apa yang ia katakan dan ia akan dimassa oleh orang-orang yang marah, karena berani mengkritik nabi junjungan kita.
      Dengan cepat pengkritik itu akan dibunuh, habis perkara. Namun di negeri ini, kita tidak memiliki kenikmatan tersebut. Insya Allah dalam waktu dekat ini, jika syariat Islam ditegakkan, kita tidak akan menghadapi masalah dari para kafir dalam keseharian kita. Namun, untuk sementara waktu sebelum masa itu tiba, berikut ini adalah sebuah pendekatan yang dapat digunakan semua muslim dan muslimah ketika menghadapi kafirun hama pengganggu. Insya Allah manusia-manusia hina itu akan pergi darimu.
      Sebuah pertanyaan yang populer adalah: “Mengapa Islam menyerukan kematian bagi kritikus Islam dan para murtadin (exmuslim)?” Tegaskan bahwa info mereka adalah salah. Katakan bahwa itu adalah fitnah!..
      Kemudian jika mereka menunjukkan data para kritikus dan para murtadin yang dibunuh oleh muslim, serta mengatakan bahwa “Islam disebarkan lewat pedang”, katakan jika hal itu adalah kebohongan besar yang disebarkan oleh Neo Yahudi, Kristen sayap kanan, dan kafir Hindu, lalu kutip Quran surat Al Baqarah ayat 256: “..tidak ada paksaan dalam Islam”.
      Jika kafirun mengutip fatwa jihad Bin Laden tahun 1998 yang juga ditandatangani oleh ulama-ulama top Islam yang menyerukan muslim untuk membunuh orang Amerika di manapun mereka berada, serta mengutip surat Imam Samudra yang mengajak para muslim untuk berjihad dan mati syahid menghabisi para kafir, katakan bahwa mereka (Bin Laden dan Imam Samudra) telah membajak agama Islam yang penuh damai, dan kemudian kutip ayat 5:32 “membunuh satu orang yang tidak berdosa adalah seperti membunuh semua manusia.”
      Jika kafirun memberikan respon dengan mengutip ayat-ayat kekerasan dalam Quran, tuduh mereka dengan mengatakan bahwa mereka mengutip ayat sepotong-sepotong di luar konteks hanya untuk mendukung konsep mereka.
      Jika ia kemudian mengutip seluruh ayat, ayat sebelum dan sesudahnya, ayat Mekah dan ayat Madinah, serta menegaskan bahwa keseluruhan ayat damai telah dibatalkan oleh ayat kekerasan, maka tuduhlah bahwa terjemahan Quran mereka adalah salah. Jika kafirun membawa 10 bahasa terjemahan berbeda, katakan bahwa arti yang benar hanya dapat dimengerti dalam bahasa Arab.
      Jika kafirun mengerti bahasa Arab dengan baik, maka paksa mereka bahwa ayat-ayat tersebut tidak dapat diartikan secara tersurat / literal, melainkan bahwa ayat-ayat tersebut memiliki makna-makna alegoris yang tersirat.
      Jika kafirun tidak mau menyerah, katakan bahwa anda tidak dapat mengerti ayat-ayat tersebut tanpa membaca terlebih dulu konteks ayat tersebut melalui hadits dan sirah.
      Jika kafirun membawa hadits dan sirah, dan mulai mengutip konteks / latar belakang dari ayat-ayat kekerasan dengan merujuk pada hadits yang menceritakan pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, dan pemusnahan suatu golongan bangsa oleh nabi, maka katakan bahwa “semua hadits dan sirah adalah palsu dan sesat, satu-satunya kebenaran hanyalah Quran”.
      Jika mereka menanyakan mengapa anda meragukan sejarah yang diriwayatkan oleh sarjana-sarjana muslim seperti Tabari, dan Ishaq, serta meragukan hadist mutawatir dari ahli hadist seperti Bukhari, katakan bahwa mereka (Tabari, Ishaq dan Bukhari) sebenarnya adalah Yahudi yang menyamar sebagai muslim.
      Lalu jika kafirun mengatakan bahwa Quran hanyalah buku karangan nabi dan meminta bukti atas kesucian Quran, maka rujuklah kepada sains dalam Quran dan buku yang ditulis oleh Dr Zakir Naik yang menunjukkan keajaiban sains dalam Quran.
      Jika kafirun mengatakan bahwa argumen Dr Zakir Naik telah dibuktikan salah oleh banyak ahli sains, dan Zakir Naik tak berani lagi menampakkan batang hidung karena terbongkar kebohongannya, maka katakan bahwa kekalahan Zakir Naik adalah rencana Allah untuk menunjukkan kebenaran Quran, Allah memiliki alasan untuk semua ini.
      Jika kafirun kembali menunjukkan banyak kesalahan dan kontradiksi dalam Quran, serta mengutip ayat-ayat yang bertentangan dengan sains, sehingga hal itu memperkuat argumen mereka bahwa Quran bukan berasal dari Allah, karena Tuhan tidak pernah salah, maka segera ganti topik pembicaraan dan tunjukkan balik kesalahan dalam agama lain dan kitab suci mereka.
      Jika kafirun masih meneruskan perdebatan, maka lakukan personal attacks, dan caci-maki dia dengan menyebutnya salibis rasis, pantat Yahudi, babi China, atau anjing Hindu.
      Jika itu tidak membuat kafirun frustrasi, maka tanyakan kepadanya berapa dia dibayar oleh Yahudi untuk mengotori Islam. Jika kafirun tersebut ternyata sangat keras kepala dan masih ingin untuk melanjutkan debat, maka kutuk dia, semisal dengan mengatakan: “Terbakarlah di neraka”, atau “kamu akan menyesal pada hari kiamat”, atau “Allah akan menyiksamu dalam kuburanmu”, dsb.
      Ketika semua cara di atas gagal, ancam dia dengan kekerasan fisik dan akhiri perdebatan dengan sikap triumphalist yang sok menang dan umumkan bahwa anda telah memenangkan perdebatan karena Quran adalah firman Allah. Umumkan kemenangan debat anda sebanyak mungkin di website-website, di pertemuan-pertemuan, dan katakan bahwa anda telah memenangkan perdebatan dengan mudah.
      Tentu saja, secara tersembunyi laporkan kafirun tersebut kepada pihak berwajib sebagai penghujat Islam agar dapat dipidanakan. Jika laporan anda ternyata tidak juga ditindaklanjuti, sampaikan identitas kafirun tersebut kepada muslim radikal agar Allah segera menghukum para kafirun itu;
      Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (QS 9:14)
      Allahu Akbar…Allahu Akbar, kedamaian hanya milik Allah semata.
      Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    • Cbd Store 9:50 am on 20/12/2018 Permalink | Reply

      Very nice blogs! I signed up on the mailing list last night and I was curious about how often be receiving Emails from you. This goes completely against almost everything I have heard so far but I’m going to try what you have suggested. I’ll let you know what happens. I’m continually browsingon the internet for tips that will help me.

    • ᵝᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ 3:54 pm on 26/12/2018 Permalink | Reply

      Nubuat Yesaya
      Yesαyα 65:3-4. Suku bαngsα yαng menyαkiti hαti-Ku…yαng duduk di kuburαn-kuburαn DAN bermαlαm di DALAM guα-guα…

      ❶. Nubuαt orαng yg nongkrong DI kuburαn kebukti:
      Dαri Aisyαh rα, berkαtα: Ϻυhαmmαd sering keluαr mαlαm berdoα duduk DI kuburαn. (HR.Muslim,1618)

      Dαri Ibnu Tαimiyyαh rα, berkαtα: Syαitαn mαngkαl DI kuburαn mengαjαrkαn sihir KEPADA orαng yαng duduk DI kuburαn pαdα mαlαm hαri. (Mαjmu Fαtαwα,19:41)

      Qs 2:102…syαitαn-syαitαn itulαh yαng…mengαjαrkαn sihir KEPADA mαnusiα…

      ❷. Nubuαt orαng yg nginep di DALAM guα kebukti:

      Dαri Aisyαh rα, berkαtα: Wαhyu pertαmα turun sααt Muhαmmαd menyendiri bermαlαm di DALAM guα hirα. (HR.Bukhαri,4572)

      Dαri Bilαl bin Hαrits rα, sαw bersαbdα: Aku tempαtkαn jin musyrik di DALAM guα-guα. (HR.Thαbrαni,1143)

      Bukti αkurαsinyα nubuαt di Alkitαb tulkαgαk…!!

  • SERBUIFF 8:26 am on 16/09/2009 Permalink | Reply
    Tags: aisyah, istri, , muhammad, pernikahan nabi muhammad, rasulullah, Umur Aishah r.a. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah, umur aisyah, usia aisyah   

    Umur Aishah r.a. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah 

    Umur Aishah r.a. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah

    Adaptasi dari terjemahan Bahasa Inggeris kertas kerja hasil kajian oleh Maulana Habibur Rahman Siddiqui Kandhalawi. Beberapa pindaan dari teks asal dibuat untuk tujuan menjelaskan fakta.

    Umur Aishah r.a. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah

    1. Pengenalan

    2. Penghargaan Kepada Penulis

    3. Mukaddimah

    Hujah Pertama – Bertentangan Dengan Fitrah Manusia

    Hujah Kedua – Bertentangan Dengan Akal Yang Waras

    Hujah Ketiga – Tiada Contoh Ditemui Di Negeri Arab Atau Di Negeri Panas

    Hujah Keempat- Riwayat Ini Bukan Hadis Rasulullah S.A.W.

    Hujah Kelima – Riwayat Ini Diriwayatkan Oleh Hisham Selepas Fikirannya Bercelaru

    Hujah Keenam – Hanya Perawi Iraq Yang Menukilkan Riwayat Ini

    Hujah Ketujuh – Aishah R.A Masih Ingat Ayat Al-Quran Yang Diturunkan Di Tahun Empat Kerasulan

    Hujah Kelapan – Aishah R.A Masih Ingat Dengan Jelas Peristiwa Hijrah Abu Bakar R.A. Ke Habshah

    Hujah Kesembilan – Aishah R.A. Mengelap Luka Dan Hingus Usamah Bin Zaid R.A. Yang Dikatakan Sebaya Dengannya

    Hujah Kesepuluh – Ummul Mu’minin R.A. Turut Serta Di Dalam Peperangan Badar

    Hujah Ke-11 – Aishah R.A. Menyertai Perang Uhud Sedangkan Kanak-Kanak Lelaki Berumur Empat Belas Tahun Tidak Dibenarkan Menyertai Perang

    Hujah Ke-12 – Aishah R.A. Lebih Muda 10 Tahun Dari Kakaknya Asma, Dan Semasa Peristiwa Hijrah Asma R.A. Berumur 27 Atau 28 Tahun

    Hujah Ke-13 – Ahli Sejarah At-Tabari Mengatakan Aishah R.A. Lahir Di Zaman Jahilliyah (Sebelum Kerasulan)

    Hujah Ke-14 – Aishah R.A. Adalah Antara Orang-Orang Yang Terawal Memeluk Islam

    Hujah Ke-15 – Abu Bakar R.A. Bercadang Mengahwinkan Aishah R.A. Sebelum Berhijrah Ke Habshah

    Hujah Ke-16 – Aishah R.A. Disebut Sebagai Gadis Dan Bukan Kanak-Kanak Semasa Dicadangkan Untuk Bernikah Dengan Rasulullah

    Hujah Ke-17 – Rasullulah Tidak Tinggal Bersama Aishah R.A. Kerana Masalah Mendapatkan Mahar, Bukan Kerana Umur Aishah Yang Terlalu Muda

    Hujah Ke-18 – Hadis Yang Mensyaratkan Mendapat Persetujuan Seorang Gadis Sebelum Dikahwinkan Memerlukan Gadis Tersebut Telah Cukup Umur

    Hujah Ke-19 – Kebolehan Luarbiasa Aishah R.A Mengingati Syair Yang Biasa Disebut Di Zaman Jahiliyah Membuktikan Beliau R.A. Lahir Di Zaman Jahiliyah

    Hujah Ke-20 – Kemahiran Dalam Sastera, Ilmu Salasilah Dan Sejarah Sebelum Islam

    Hujah Ke-21 – Keinginan Mendapatkan Anak Dan Naluri Keibuan Tidak Mungkin Timbul Dari Kanak-Kanak Bawah Umur

    Hujah Ke-22- Aishah R.A. Sebagai Ibu Angkat Kepada Bashar R.A. Yang Berumur Tujuh Tahun Selepas Perang Uhud

    Hujah Ke-23- Wujudkah Perkahwinan Gadis Bawah Umur Di Tanah Arab Dan Dalam Masyarakat Bertamadun?

    Hujah Ke-24 – Kesepakatan (Ijmak) Umat Dalam Amalan

    Perbahasan Tentang Usia Sebenar Khadijah R.A. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah S.A.W

    1. PENGENALAN

    Hazrat Allama Mohammad Habibur Rahman Kandhalwi (almarhum) dikenali sebagai salah seorang ulama yang unggul di India -Pakistan. Dalam satu masa yang sama, dia merupakan seorang hafiz dan qari, ulama yang terkemuka dalam bidang tafsir dan hadis, juga seorang penyusun dan pengarang kepada kajian akademik yang tinggi serta penterjemah bahan-bahan akademik dari Bahasa Arab ke Bahasa Urdu.

    Kertas kerja ringkas ini adalah berhubung dengan sesuatu isu yang sangat sensitif dan penting. Ia adalah mengenai umur Ummul Mu’minin Saiditina ‘Aishah Siddiq (r.a), semasa berkahwin dan mula tinggal bersama Rasullullah s.a.w. Isu ini menjadi perbahasan berlarutan di antara ulamak dan penyelidik sejak dahulu. Tuan Allama telah mengemukakan idea baru dalam isu ini dan telah menyelesaikan masalah yang penting dan selalu dipertikaikan ini, dan telah berjaya menentukan ‘umur’ sebenar Saidatina ‘Aishah (r.a) berpandukan kepada Ilmu Rijal dan pernyataan para sahabat r.a., ahli hadis dan ahli tafsir, termasuklah pernyataan mutlak oleh Ummul Mu’minin r.a. sendiri.

    Adalah penting untuk kebaikan ummah buku ini yang asalnya di dalam bahasa Urdu, diterbitkan dalam Bahasa Inggeris (dan juga Bahasa Melayu). Dengan rahmat Allah, kami telah mencapai objektif ini dengan jayanya. Usaha ini dan juga khidmat-khidmat agama Almarhum Allama Habibur Rahman Kandhalwi adalah layak mendapat setinggi-tinggi penghargaan dan penghormatan. Semoga Allah taala memberi ganjaran yang tidak terhingga kerana khidmatnya yang tidak pernah mengenal penat dan lelah ini. Aamin!

    Akhir kata, saya ingin merakamkan ucapan tahniah kepada En. Nigar Erfaney, seorang wartawan dan juga penulis berpengalaman, yang telah mengalihbahasa kertas kerja yang rumit dari Bahasa Urdu ke dalam Bahasa Inggeris yang ringkas dan jelas, tanpa menghiraukan kesakitan dan kesulitannya yang berpanjangan.

    Shafaat Ahmed

    Al-Rahman Publishing Trust (Regd)

    Nazimabad, Karachi (PC-74600)

    Pakistan.

    9 Dis 1997

    2. PENGHARGAAN KEPADA PENULIS

    Ini adalah kertas kerja bertajuk “Umer-e-Aishah” (Umur ‘Aishah), yang asalnya ditulis dalam Bahasa Urdu dan telah diterjemah dalam Bahasa Inggeris (yang kemudiannnya diterjemah ke dalam Bahasa Melayu pula). Ia adalah tentang umur Saidatina ‘Aishah r.a, anak perempuan Saidina Abu Bakar r.a dan isteri kedua Nabi Muhammad s.a.w, ketika berkahwin dengan Rasullullah s.a.w. Buku ini mengupas tiga persoalan penting iaitu : (1) Bilakah beliau dilahirkan? (2) Berapakah umur beliau semasa bekahwin? (3) Bilakah beliau mula tinggal bersama suaminya s.a.w? Tujuan kertas kerja ini ialah untuk menolak daayah dan propaganda tidak berasas yang dipelopori oleh golongan munafik dan Syiah. Dengan berbekalkan sedikit pengetahuan, saya telah menterjemahkan karangan yang berharga ini atas permintaan peneraju “Al-Rahman Publishing Trust” (Karachi, Pakistan). Sungguhpun ianya adalah tugas yang berat namun kecintaan saya terhadap Ummul Mu’minin r.a. telah memberikan peransang dan kekuatan kepada saya. “Al-Rahman Publishing Trust” yang merupakan sebuah institusi sukarela yang bekerja untuk Islam, seharusnya mendapat pujian yang tinggi kerana mengendalikan amanah penting ini.

    Penulis telah mengenalpasti beberapa agenda propaganda oleh puak Syiah, berdasarkan kepada riwayat Hisham seperti berikut:

    1- Saidatina ‘Aishah r.a. telah berkahwin dengan Nabi Muhammad s.a.w. ketika berumur enam tahun dan mereka mulai tinggal bersama semasa umurnya sembilan tahun, iaitu selepas Hijrah ke Madinah; dan beliau membawa bersama-sama anak patungnya ke rumah suaminya (Nabi s.a.w.).

    2- Saidatina Khadijah r.a. berkahwin dengan Nabi Muhammad s.a.w. pada ketika umurnya 40 tahun.

    3- Saidatina Fatimah r.a., anak perempuan Nabi s.a.w telah berkahwin dengan Saidina Ali r.a. sewaktu berumur sembilan tahun, di Madinah selepas Hijrah.

    Allama Habibur Rahman Kandhalwi telah menolak sekeras-kerasnya pernyataan di atas dengan mengatakannya adalah tidak berasas dan merupakan suatu pengkhianatan. Beliau seterusnya mengatakan bahawa pernyataan tersebut merupakan konspirasi orang Syiah untuk mencemarkan kehormatan Nabi s.a.w., (yang telah diketahui umum semenjak dari Zaman Jahiliyyah). Tidak syak lagi, hasil kajian oleh Allama Habibur Rahman Kandhalwi ini telah menyedarkan Dunia Islam. Ianya unik dan mempunyai nilai akademik yang tinggi. Meskipun ia adalah sebuah kertas kerja yang ringkas, namun ianya lengkap dan tepat. Beliau telah mengemukakan 24 hujah yang kukuh untuk menyokong pendapatnya. Beliau berhujah berdasarkan al-Qur’an, hadis-hadis dan tafsir atau kata-kata sahabat, termasuklah semua pendapat berhubung dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, khususnya dalam bahagian pertama buku ini iaitu daripada hujah pertama hingga hujah kesebelas. Dalam bahagian kedua, daripada hujah ke dua belas sehingga hujah ke dua puluh empat, Allama telah berhujah berdasarkan fakta sejarah, sosiologi, saikologi, seksologi dan statistik. Beliau berjaya membuktikan bahawa cerita yang disebarkan adalah tidak berasas dan direka-reka, dengan tujuan untuk menjatuhkan keperibadian tinggi Nabi s.a.w., isterinya yang soleh iaitu ‘Aishah r.a., dan mereka yang terkemuka dalam Islam, dengan niat jahat dan kempen kotor yang didalangi oleh golongan munafik dan Syiah.

    Allama Habibur Rahman Kandhalwi telah didorong oleh kekuatan Iman dan pemahaman yang mendalam orang yang beriman. Beliau telah menyampaikan hujah dan pendapatnya dengan tepat. Pengetahuannya tentang ilmu mantik, sains perubatan, saikologi terutamanya saikologi wanita berkahwin, minatnya kepada prosa dan puisi, dan juga statistik dengan kemahirannya menganalisa fakta-fakta dan perangkaan sepatutnya mendapat sanjungan tinggi. Beliau juga mempunyai kemahiran sebagai seorang guru dalam merumuskan keputusan sebagai seorang pakar statistik.

    Dengan izin dan kurnia Allah s.w.t., penulis telah menyelesaikan kekeliruan yang dicipta oleh golongan Syiah di dalam buku-buku yang telah ditulis pada 13 abad yang lalu. Beliau telah membuktikan bahawa:

    (1) Saidatina ‘Aishah r.a. telah berkahwin pada usia yang sesuai iaitu 16 tahun (bukannya enam tahun), dan mula tinggal bersama suaminya s.a.w. ketika umurnya 19 tahun (bukannya sembilan tahun) selepas peristiwa Hijrah ke Madinah.

    (2) Umur Saidatina Khadijah r.a. adalah 25 tahun (bukannya 40 tahun) semasa beliau mengahwini Nabi Muhammad s.a.w. yang mana pada ketika itu juga turut berumur 25 tahun. Khadijah r.a. bukanlah seorang wanita yang tua semasa berkahwin dengan Rasullullah s.a.w., malah kedua-duanya adalah sebaya. Nabi s.a.w. telah melalui zaman mudanya bersama dengan seorang wanita sebaya di mana mereka memperoleh empat orang anak perempuan dan tiga orang anak lelaki. Mereka saling menyayangi dan menghormati satu sama lain, dan menikmati kebahagiaan hidup bersama.

    (3) Anak perempuan Nabi s.a.w., Saidatina Fatimah r.a. telah dilahirkan di Mekah sebelum Nabi dilantik sebagai rasul, dan telah berkahwin dengan Saidina Ali r.a. di Madinah pada usia yang sesuai iaitu 19 tahun (bukannya sembilan tahun).

    Beliau telah berjaya membuktikan bahawa Muhammad s.a.w., rasul terakhir, adalah manusia yang paling agung di alam semesta ini dan juga pembimbing serta guru yang terhebat di kalangan umat manusia, tidak mengahwini seorang wanita tua demi kekayaan, juga tidak mengahwini gadis bawah umur (yang berumur sembilan tahun). Baginda ialah seorang yang tinggi adabnya dan bertamadun dan hidup dalam masyarakat yang bertamadun, di mana perkahwinan di bawah umur adalah sesuatu yang hina. Jadi, bagaimana mungkin baginda s.a.w. mengahwini seorang kanak-kanak yanh masih mentah ? Dan juga beliau berjaya membuktikan bahawa tiada perbezaan umur di antara baginda dan Saidatina Khadijah r.a., sorang janda muda, yang mana menunjukkan bahawa baginda melepasi masa mudanya bersama dengann seorang wanita yang sama padan iaitu seorang bangsawan yang telah mendapat gelaran ‘Wanita Suci’ semasa Zaman Jahiliyah di Mekah.

    Penulis juga telah menjelaskan mengapa orang-orang munafik dan Syiah terus menerus mengganggu Islam dan orang-orang Islam. Jelasnya mereka mahu menghalang Islam dari disebarkan dan mahu mencampakkan keraguan orang Islam terhadap Nabi s.a.w., Ummul Mu’minin r.a., dan juga pengikut-pengikut Islam yang mulia. Juga mereka ingin menyediakan alasan rapuh kepada orang bukan Islam supaya menolak Islam. Semoga Allah menimpakan laknat ke atas penipu-penipu itu. Orang-orang munafik dan Syiah telah melampaui batas apabila menyebarkan fitnah bahawa Nabi s.a.w. telah mengahwini seorang janda tua yang kaya untuk mengambil kesempatan ke atas harta kekayaannya. Tidak hairanlah masyarakat Kristian di Eropah dan Amerika, mempersendakan Islam dan nabinya dengan menyindir : “Jika kamu tidak ingin papa, kahwinilah seorang janda kaya.”

    Penulis juga mendedahkan bagaimana puak Munafik dan golongan Syiah telah memutarbelitkan fakta mengenai Nabi Muhammad s.a.w., isteri pertama, isteri kedua dan anak perempuannya, Saidatina Fatimah r.a. Mereka menggugurkan angka sepuluh daripada 19 (tahun), menjadikan ianya 9 (tahun) daripada umur sebenar Saidatina Fatimah r.a. dan Saidatina ‘Aishah r.a. (yang mana kedua-keduanya sama usia), dan melancarkan dakyah bahawa kedua-duanya berkahwin pada usia sembilan tahun. Yakni, Saidina Ali r.a. mengahwini Saidatina Fatimah r.a. semasa umurnya sembilan tahun, dan Nabi Muhammad s.a.w. telah mengahwini Saidatina ‘Aishah r.a. semasa usianya sembilan tahun. Apakah tujuannya? Puak munafik dan Syiah mahu menunjukkan bahawa umat Islam adalah kaum bangsawan yang penuh nafsu yang berjuang untuk bangsa Arab sahaja (untuk mewujudkan keamanan, perpaduan dan kuasa untuk bangsa Arab sahaja di mana berabad-abad lamanya sebelum ini telah berperang sesama mereka dengan sia-sia);iaitu mereka itu telah berjuang demi ‘perkauman’ dan bukannya untuk segenap umat manusia; dengan ini menenggelamkan mesej Islam yang sebenar iaitu untuk manusia sejagat dan menyeluruh, untuk setiap zaman dan seluruh negara.

    Manusia-manusia munafik ini, telah hidup bersama Rasullullah s.a.w. di Madinah. Allah telah membongkar tentang keadaan, niat dan kegiatan-kegiatan orang Munafik ini di dalam Surah Al-Baqarah. Sejak daripada waktu itu mereka tidak mensia-siakan setiap peluang untuk menghalang Islam dan orang-orang Islam. Mereka terus mengganggu, dan mengukuhkan kedudukan mereka di abad kedua Islam. Mereka telah mencampuradukkan fakta sejarah dan adat resam dengan pembohongan. Dengan berlalunya masa, mereka berjaya mencampur-adukkan pernyataan yang benar dan palsu.

    Kepalsuan dan pembohongan ini kekal selama berabad disebabkan oleh faktor-faktor berikut:

    Pertama sekali, keadaan geografi di abad Pertengahan telah terbukti menguntungkan puak munafik dan para pendusta itu. Kehidupan pada ketika itu adalah ringkas dan terbatas kepada sesuatu masyarakat tertentu. Manusia mengembara apabila benar-benar perlu. Masyarakat pada ketika itu hidup berjauhan dan berasingan dan tidak banyak berhubung.

    Meskipun begitu, ilmu pengetahuan terus berkembang dalam setiap aspek, terutama pengetahuan tentang agama. Seni kaligrafi (khat) telah berkembang pesat, tetapi proses percetakan belum dicipta lagi. Seseorang yang menulis buku mati tanpa mencetak dan menyebarkannya. Apabila masa berlalu, manusia-manusia jahat yang menyedari nilai ilmiah penulisan tersebut mula menokok tambah ke dalam buku-buku tersebut perkara-perkara baru berdasarkan khabar angin, cerita dusta dan rekaan. Kesannya, tulisan-tulisan dan buku-buku palsu banyak tersebar di dalam masyarakat. Amalan ini telah berlanjutan dan terus-menerus berlaku sehingga ke Abad Pertengahan.

    Keduanya, keadaan sosio-agama yang mempengaruhi keadaan sosial dan politik. Orang-orang bukan Arab seperti Yaman, Mesir, Turki, Parsi dan India yang telah menerima Islam, mula berpindah ke Kufah. Mereka tidak dapat memahami Islam dan masyarakat Islam dengan benar. Mereka tertarik dan condong kepada polisi pemerintah (yang menyeleweng daripada ajaran sebenar) menyebabkan wujudnya perbezaan yang bersifat agama-politik. Beransur-ansur mereka menjadi golongan yang tersendiri, dengan menunjukkan perbezaan yang ketara dalam semua aspek kehidupan dan kepercayaan. Ini merupakan perpecahan yang besar di dalam Islam. Pengikut kepada golongan baru ini dipanggil ‘Sabaites’, dengan Hasan Bin Sabah sebagai ketuanya. Kemudiannya mereka telah dikenali sebagai “Syi’ah” oleh tokoh-tokoh pemikir Islam, terutamanya golongan ahli Sunnah. Syiah adalah bercanggah dengan Islam. Puak-puak Syiah ini sentiasa berusaha keras untuk meyelinapkan masuk penipuan dan tambahan palsu ke dalam ajaran Islam dan seterusnya dianggap ‘benar’ oleh orang-orang Islam.

    Yang ketiganya, Ulama Ahli Sunnah telah gagal melihat peristiwa ini secara rasional dan menganggap apa saja yang berlaku ke atas keluarga nabi sebagai sesuatu yang khusus dan istimewa; tanpa menganalisa secara logik untuk membezakan mana yang benar dan dan mana yang palsu, bahkan ramai di kalangan mereka (yang terperangkap dengan daayah golongan munafik dan Syiah) menerima cerita-cerita palsu ini sebagai ‘benar’ dan seterusnya menyebarkannya di dalam ucapan dan penulisan mereka. Akibatnya golongan awam ahli sunnah, dengan tanpa sedar, telah mengiktiraf perkara-perkara karut yang dicipta oleh golongan Syiah dan ianya kekal hingga ke hari ini.

    Bagaimanapun, terdapat ramai juga Ulama’ Sunni dan orang awam Sunni yang tahu untuk membezakan antara yang benar dan yang palsu. Mereka dengan lantangnya menentang cerita-cerita karut yang dicipta oleh golongan Syiah ini samada dalam ceramah atau tulisan mereka. Meskipun mereka tidak berdaya menghapuskan pembohongan yang beracun ini sepenuhnya, mereka telah berjaya menyediakan panduan yang jelas untuk generasi akan datang.

    Keempat, telah termaktub dalam sejarah bahawa para pendeta Yahudi telah meminda ayat-ayat suci Taurat dan Injil. Mereka juga telah cuba untuk meminda al-Qur’an yang mulia tetapi gagal oleh kerana Al-Quran merupakan Ayat-ayat Suci yang datang daripada Allah yang Maha Kuasa dan Allah S.W.T. sendiri yang bertanggungjawab untuk melindunginya. Namun begitu, mereka telah berjaya menambah cerita-cerita Israiliyat di dalam tafsir-tafsir al-Qur’an. Mereka juga telah berjaya menyebarkan cerita-cerita dan pemikiran karut dan salah tentang adat resam, budaya dan sejarah Islam. Mereka telah menyebabkan sebahagian besar di kalangan orang awam Islam terpesong dari jalan lurus seperti yang dikehendaki oleh Allah taala sebaliknya mengikut ajaran Syiah dalam kepercayaan dan amalan tanpa mereka sedari.

    Akhirnya, adalah perlu untuk kita mengenalpasti siapa sebenarnya orang-orang munafik dan Syiah ini, supaya kita tidak berprasangka buruk terhadap penulis-penulis dahulu, samada mereka di kalangan ahli hadis dan tafsir, perawi atau penyusun, ulama ataupun ahli sejarah, atau pun penulis secara umumnya. Mereka adalah Muslim yang baik dan telah meninggalkan warisan yang berharga. Mereka telah meninggalkan kepada kita khazanah ilmu dan penulisan yang amat bernilai. Jadi, sekarang adalah tugas kita untuk menggunakannya sebaik mungkin. Amatlah perlu untuk kita mencari kaedah untuk mengesan dan menilai hasil tulisan mereka untuk membersihkannya dari unsur-unsur palsu dan bohong dan juga cerita-cerita Israliyat. Ini bukanlah suatu perkara baru kepada kita (orang-orang Islam) kerana kita telahpun melakukannya seawal dua abad yang pertama dahulu dalam menilai ketulinan hadis. Kajian dan analisis ini akan membantu membersihkan kotoran daripada tubuh Islam yang bersih ini. Kita juga hendaklah sentiasa ingat bahawa apa-apa perbezaan pendapat di antara kita hanyalah kerana Allah. Dan juga, kita tidak patut melemahkan semangat dan memalukan seseorang tanpa apa-apa keperluan.

    Allama Habibur Rahman Siddiqui Kandhlawi telah menunjukkan cara yang praktikal melalui buku kecilnya ini, bagaimana cara yang wajar dan bijak untuk membersihkan hasil-hasil penulisan kita daripada cerita-cerita karut Syiah. Ia merupakan satu sumbangan yang besar daripada Tuan Allama kepada aqidah, sejarah dan adat resam kita.

    3. MUKADDIMAH

    Semenjak daripada alam persekolahan, kita telah membaca dan mendengar bahawa Rasullulah s.a.w. mengahwini ‘Aishah, anak perempuan Abu Bakar r.a., pada ketika beliau r.a. baru berumur enam tahun dan mereka mula hidup bersama ketika Aishah berumur sembilan tahun. Riwayat ini terdapat dalam kitab-kitab hadis dan para ulama telah menjelaskan bahawa Tanah Arab adalah sebuah tempat yang cuacanya panas, oleh itu kanak-kanak perempuan di sana meningkat baligh pada usia sebegini.

    Bila kami datang ke Karachi dan menetap di sana kami menemui orang-orang yang berpendidikan barat, yang secara terbuka mencabar bahawa hadis ini bertentangan dengan akal. Kami berasa penat untuk mempertahankan hadis ini. Kami telah melihat beberapa orang yang merasakan masyarakat Inggeris lebih baik berbanding Islam dengan hanya berpandukan hadis ini. Sesetengahnya mencemuh Islam, sementara setengah yang lainnya mentertawakan hadis tersebut. Melalui cara yang lebih sopan, sebahagian mereka mengatakan bahawa ‘sejarah adalah lebih tepat’ dan hadis ini direka oleh orang-orang Parsi. Ada juga sesetengah mereka yang lebih berani dengan mengatakan: ” Minta maaf tuan. Bukhari telah ditipu, tugas tuan yang sebenar sekarang ialah membetulkan fakta ini”

    Inilah sikap mereka yang berpendidikan barat dan pemikiran sebegini tersebar luas sehingga ada yang sanggup mengatakan, “Tuan, nafsu ada batasnya, adalah tidak munasabah melampiaskan nafsu dengan kanak-kanak berumur sembilan tahun”. Semoga Allah melindungi kita dari keceluparan ini.

    Kita semua adalah orang Islam. Inilah yang kami dengar dan kami cuba mencari jalan untuk menyelesaikannya. Dalam usaha mencari jawapan kepada permasalahan ini, kami mempelajari sejarah, ilmu salasilah, jarh wa taadil, ilal hadis, biografi perawi dan ugama Syi’ah. Dari kajian ini, kami dapati bahawa penipuan terbesar dalam Sejarah Islam dilakukan oleh golongan Syiah. Mereka mengelabui pembohongan ini atas nama sejarah. Kami akan membentangkan bukti pembohongan ini di helaian-helaian yang akan datang, insyaAllah.

    Kami menyelidiki usul hadis, biografi perawi, illat hadis dan hadis-hadis palsu dan kami dapati ulama hadis telah membina benteng yang amat kukuh untuk menyekat kebanjiran ini sehingga golongan ahli sunnah sendiri tidak suka untuk melihatnya. Ulama-ulama hadis telah menggariskan prinsip-prinsip dan asas yang cukup berharga untuk kita menilai dan mengasingkan setiap yang benar dan yang palsu.

    Imam Bukhari telah membina benteng yang sangat besar untuk menyekat kebanjiran fahaman Syiah. Motif utama kritikan terhadap kitab Sahih Bukhari ialah untuk menyokong gerakan Syiah. Di sebalik kritikan-kritikan tersebut, kepercayaan kita terhadap Sahih Bukhari semakin bertambah. Sayangnya tidak ramai orang awam faham hakikat ini, disebabkan dua faktor berikut:

    Pertamanya, pada waktu itu, ketika cerita-cerita palsu membanjiri dari segenap penjuru, Imam Bukhari telah berusaha sedaya-upaya untuk menghapuskan pembohongan dengan penuh minat dan gigih; dan usaha ikhlasnya itu tidak dapat ditandingi sesiapapun sehingga hari ini. Bagaimanapun, beliau adalah makhluk biasa dan sebagai seorang manusia, tidak dapat mengelak daripada melakukan silap dan salah. Dan dengan melakukan satu kesilapan itu tidaklah sampai dihukum gantung. Lagipun, kesilapan tidak boleh dianggap sebagai suatu jenayah kerana jenayah adalah suatu perbuatan yang disertai dengan niat dan dan dilakukan dengan sengaja. Dengan kesilapan kecil yang tidak disengajakan Imam Bukhari tidaklah boleh dituduh sebagai penjenayah!

    Keduanya, Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis melalui perantaraan para perawi dan sebagaimana kita maklum perawi-perawi ini bukan maksum. Ramai perawi yang dianggap ‘thiqah’ (terpercaya) oleh Imam Bukhari tetapi tidak dianggap ‘thiqah’ oleh orang lain. Ianya tidak boleh dianggap sebagai jenayah atau sesat.

    Dalam keadaan ini, kami akan menilai semula riwayat ini dan di sini kami persembahkan kepada pembaca setelah meneliti semua fakta yang ada. Dalam kajian ini, kami tidak menyebelahi mana-mana individu atau kumpulan tertentu.

    Di antara hasil kajian terpenting dalam tajuk ini setakat ini ialah buku bertajuk “Umur Aishah” yang ditulis oleh Hakim Niaz Ahmed. Namun begitu, karangan tersebut mengandungi terlalu banyak perbincangan yang bersifat teknikal, menyebabkan ia sukar difahami oleh pelajar seperti kita.

    Kami tidak bercadang untuk menulis sebuah buku atas tajuk ini dan juga kami tidak mempunyai cukup masa untuk itu. Kami hanya ingin mencurahkan idea-idea yang diperolehi semasa kajian itu dalam bentuk nota ringkas.

    Timbul satu persoalan sama ada mencapai baligh pada usia sebegini hanya berlaku kepada Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a seorang sahaja, ataupun ianya adalah suatu yang lazim di Semenanjung Arab. Semua negara yang iklimnya sama atau yang berhampiran dengan Arab, iaitu wilayah-wilayah yang terdapat di negara Afrika seperti Libya, Tunisia, Sudan, Moroko dan wilayah Asia yang terletak di zon khatulistiwa ataupun yang hampir dengan wilayah ini, sebagaimana wilayah Multan, Sukkur, Sibi dan Jacobabad, terkenal dengan cuaca panasnya. Berdasarkan kepada kriteria ini, kanak-kanak perempuan di situ sepatutnya telah baligh sewaktu berumur sepuluh atau sebelas tahun; dan di Pakistan hampir 200,000 atau 400,000 kes atau setidak-tidaknya 2,000 atau 4,000 kes sepatutnya telah berlaku. Di Semenanjung Arab pula pasti tidak terkira banyaknya kes seperti ini sepatutnya berlaku. Jikalau tidak ada catatan dalam sejarah tentang peristiwa seperti ini, anda boleh melihat sendiri tanah Arab yang ada pada hari ini kerana Tanah Arab masih berada di tempat yang sama. Mekah dan Madinah masih berada di lokasi yang sama dan dalam keadaan yang sama. Tempat-tempat ini tidak berganjak sedikit pun. Sehingga hari ini, iklim di Semenanjung Arab adalah sama sebagaimana seribu lima ratus tahun dahulu. Hingga ke hari ini cuaca panas di Mekah memang di ketahui umum. Saya ingin beritahu bahawa saya telah merasai musim panas di Mekah pada bulan Mac (waktu di mana ia tidak begitu panas di Asia dan Afrika).

    Berbanding zaman dahulu, peralatan komunikasi kini mudah dan banyak. Beratus-ratus ribu orang Pakistan bekerja di Tanah Arab, dan ramai daripada ahli keluarga mereka tinggal bersama mereka di sana. Namun sehingga hari ini, tiada sesiapa pun yang telah mengejutkan kita dengan cerita kanak-kanak perempuan telah mencapai umur baligh bila sampai di sana. Juga, sampai hari ini tiada orang Pakistan yang berjumpa dengan kami dan mengatakan; “Tuan! Saya telah tinggal bersama-sam a isteri dan anak-anak saya di Arab Saudi, dan kesan daripada iklimnya, anak-anak saya sudah boleh berkahwin, walaupun usianya baru sembilan tahun. Tuan! Sekarang kami yakin dengan sepenuh hati bahawa Ummul Mu’minin telah mula hidup bersama suaminya ketika beliau berumur sembilan tahun.”

    Apapun yang akan kami tulis di sini bukanlah bermakna kami menolak hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tetapi matlamat kami ialah untuk memberi jawapan kepada musuh-musuh Islam yang telah mencalitkan lumpur ke tubuh mulia Rasullulah s.a.w. Adalah jelas bahawa kesucian Rasulullah s.a.w. adalah sesuatu yang lebih utama daripada perawi-perawi ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’. Tanpa mengakui kemuliaan Nabi Muhammad s.a.w., tidak bermakna iman dan Islam seseorang. Dan kita tidak diwajibkan untuk menerima semua perawi-perawi ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’ dan tidak menjejaskan iman sekiranya kita mempertikaikan (dengan adil) peribadi perawi-perawi tersebut.

    Sebagai seorang Muslim, kita yakin bahawa peribadi Rasulullah s.a.w. adalah adalah sangat tinggi dan mulia bahkan lebih tinggi daripada yang kita gambarkan. Jika terdapat sebarang riwayat yang boleh menjatuhkan maruah atau martabat mana-mana Nabi pun, maka kita hendaklah mencampakkan sahaja riwayat tersebut.

    Perkataan ini bukannya daripada kami. Ulama-ulama hadis telah menggunakan istilah ‘campakkan riwayat ini’ berulangkali dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka melafazkannya setiap kali melihat kesilapan atau kecacatan walaupun yang amat kecil di dalam suatu riwayat.

    Di sini Nabi s.a.w. telah digambarkan sebagai seorang yang sangat bernafsu kepada seks. Demi kemuliaan nabi s.a.w beratus ribu riwayat sebegini hendaklah dicampakkan termasuklah riwayat oleh Hisham bin Urwah ini. Kita korbankan kesemua riwayat ini untuk memelihara kemuliaan Nabi s.a.w.

    Ulama hadis telah menjelaskan bahawa sebarang hadis yang berlawanan dengan akal yang sihat dan pengalaman adalah hadis ‘maudhu’ (rekaan). Malah, Ibn Jauzi telah mengatakan sehingga, sekiranya sesuatu riwayat didapati bercanggah dengan ‘hikmah’ (kebijaksanaan), pasti ianya riwayat ‘maudhu’; dan perbincangan atau penilaian tentang perawi riwayat tersebut adalah sia-sia. Ulama hadis telah menggunapakai kaedah ini dalam banyak kes.

    Kita juga faham penilaian ulama hadis samada benar atau dustanya seseorang perawi, adalah berdasarkan ‘zann’ (sangkaan yang kuat). Ini kerana, ada kemungkinan bahawa seorang yang kita anggap sebagai benar, mungkin hakikatnya dia adalah seorang pendusta dan mungkin seseorang yang dianggap pendusta adalah sebenarnya bukan pendusta. Tidak semestinya setiap pendusta akan sentiasa berbohong dan setiap orang yang benar akan sentiasa berkata benar.

    Para muhaddis akan menghukumkan samada seseorang perawi itu benar, dapat dipercayai atau baik berdasarkan kepada penampilannya atau persaksian daripada orang lain. Ini merupakan ‘zann’(andaian mereka yang kuat), namun kemungkinan tetap ada bahwa dia bukan seorang yang benar dan mungkin dia hanya berpura-pura berkelakuan baik dan warak. Dan sesiapa yang didakwa sebagai pendusta, mungkin dia difitnah oleh musuhnya padahal sebenarnya beliau bukanlah seorang pendusta.

    Berdasarkan kepada alasan inilah, kadang-kadang ‘penilaian’ di kalangan para ulama hadis terhadap seseorang perawi berbeza. Sebagai contoh, dalam kes Abdur Razak bin Hamam, sesetengah ulama hadis telah mengatakan bahawa beliau adalah seorang yang ‘thiqah’ (boleh dipercayai). Yahya bin Main bagaimanapun mengatakan beliau adalah seorang Syiah. Imam Ahmad bin Hanbal pula mengatakan beliau (Abdur Razak) tidak mempunyai apa-apa masalah. Yazid bin Zaree’a mengatakan bahawa beliau ialah seorang Syiah Rafidhah, dan beliau mengatakan, “Demi Allah dia adalah lebih dusta daripada Waqidi”

    Bagi kita, kesemua ulama hadis ini amat terhormat dan sangat mulia. Mereka mengeluarkan pendapat berdasarkan kepada pengalaman dan pengamatan masing-masing. Adalah menjadi tanggungjawab kita pula untuk membuat keputusan dengan memilih hanya satu sahaja daripada pendapat yang berbagai itu.

    Para ulama hadis ini tidak mempunyai alat atau perkakas yang memberi tahu yang mana benar dan yang mana salah. Jikalau ada, sudah tentu tidak akan wujud perbezaan pendapat di kalangan mereka. Dan, kita sendiri pun tidak memiliki peralatan itu, malahan tiada peralatan seperti itu yang telah tercipta sehingga ke hari ini; suatu alat yang mana dapat membezakan kebenaran dan penipuan yang dilakukan oleh seseorang yang telah mati!

    Jelas daripada perbincangan ini, bila seorang Muhaddis mengatakan bahawa hadis ini adalah benar ataupun hadis itu adalah tidak benar, beliau hanyalah mengemukakan pendapatnya; dan tidak semestinya pendapatnya tepat. Walaupun seseorang ulama hadis memberi pendapat yang salah, kita tidak boleh mengatakannya sebagai pembohong kerana dia tidak berniat melakukan pendustaan tetapi memberi pendapatnya berdasarkan maklumat yang ada padanya.

    Dalam hal ini, adalah mungkin bahawa seseorang menerima pendapat Imam Ahmad, sementara yang lainnya yang menolak riwayat oleh perawi ini (Abdur Razak bin Hamman), bersetuju dengan pendapat muhaddis yang lain.

    Perbincangan ini telah menjelaskan kaedah ‘apabila muhaddisin menerima sesuatu hadis adalah sahih, itu adalah pendapat dan pandangan (zann) mereka’. Jika ada seseorang berpendapat sesuatu hadis adalah tepat dan sempurna sebagaimana al-Quran yang mulia, dan seorang lagi berpendapat sebaliknya, kedua-keduanya, pada pendapat kami adalah salah. Apa yang dipanggil ‘ishque’ (cinta) ’ ialah suatu kekacauan fikiran. Perbezaannya hanyalah, seseorang cenderung untuk mempercayai semua perkara adalah benar, sedangkan yang seorang lagi memiliki kecenderungan untuk mendustakannya. Ada yang sentiasa menerima apa saja yang diutarakan oleh muhaddis dan ada yang sentiasa memusuhi mereka. Ada orang yang mendewa-dewakan orang terdahulu manakala sebahagian lagi tidak suka dikaitkan dengan orang dahulu.

    Dalam kedua-dua keadaan ini, semuanya dikatakan ‘cinta’ (kecenderungan), dan menurut penyair Mirza Ghalib, Penyair Agung Urdu:

    ‘Apa yang orang panggil cinta itu ialah keadaan minda yang meracau’

    Kita semua tahu tiada yang maksum kecuali nabi-nabi a.s. Orang yang beriman pun tidak terkecuali daripada melakukan kesilapan atau terlupa. Tanggapan yang mengatakan Imam Bukhari dan Imam Muslim atau mana-mana perawi thiqah tidak melakukan kesilapan atau tidak mungkin terlupa adalah serangan keatas ‘kemaksuman’ nabi s.a.w. Konsep ‘maksum’ pada seseorang selain daripada nabi-nabi a.s. hanya terdapat dalam ajaran Syiah, bila mereka mengatakan Imam Dua Belas sebagai maksum. Ironinya, saudara-saudara kita ahli sunnah menyediakan beratus ribu individu maksum tanpa mereka sedari!

    Dengan alasan inilah para ulama hadis menghukumkan beberapa hadis yang diriwayatkan oleh perawi thiqah sebagai mungkar.Di dalam kitab rijal kita boleh menemui contoh yang tidak terkira banyaknya. Ibnu al-Madini mengatakan tiga riwayat oleh Imam Malik adalah mungkar. Ahmad bin Hanbal telah mengatakan Sufyan bin Uyainah meriwayatkan lebih daripada 30 hadith mungkar. Ibn Hazm telah mengatakan riwayat tentang ‘mi’raj’ yang diriwayatkan Bukhari sebagai ‘mungkar’.

    Ummul Mu’minin Aishah r.a. telah mengkritik beberapa riwayat yang diceritakan oleh para Sahabat r.a. dan berkata, “Saya tidak mengatakan bahawa mereka berdusta, tetapi seringkali telinga tersilap dengar”. Di dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’, terdapat beberapa riwayat sebegini. Ini menunjukkan bahawa kadang-kadang suatu riwayat mungkin salah walaupun diriwayatkan oleh perawi yang paling thiqah.

    Keadaan ini berlaku kerana kadang-kadang seorang perawi itu tidak mendengar sesuatu percakapan dengan sepenuhnya. Kadang-kadang pula perawi itu tersalah dalam memahami maksud sebenar sesuatu ucapan. Adakalanya dia terlupa perkataan yang didengarinya. Ummul Mu’minin r.a. juga ada mengatakan seorang perawi mungkin silap mendengar sesuatu percakapan. Contohnya, perkataan sebenar yang diucapkan ialah “sembilan belas”, tetapi perawi itu hanya mendengar perkataan “sembilan”.

    Sedangkan para sahabat r.a. yang mulia pun tidak terlepas daripada berbuat silap, meskipun dia Saidina Umar r.a., Abu Hurairah r.a., dan Ibn Umar r.a. atau tabiin Urwah bin Azzubair dan anak lelakinya Hisham. Dengan mengatakan ‘sahabatpun boleh melakukan kesilapan’ tiada sesiapa mengatakan bahawa Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. sebagai seorang anti-hadis. Begitulah sekiranya bila kita mengatakan seorang perawi mungkin melakukan kesilapan kita tidak boleh dikatakan sebagai orang yang menolak hadis kerana ‘menolak hadis’ dan ‘mendedahkan kesilapan’ adalah dua perkara yang berbeza. D

    Hujah Pertama – Bertentangan Dengan Fitrah Manusia

    Riwayat ini bertentangan dengan pengalaman dan fitrah manusia. Adalah mustahil ia dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan ia sebenarnya tidak pernah berlaku. Jika peristiwa sedemikian pernah terjadi, maka musuh-musuh Islam dan juga musuh-musuh Nabi Muhammad s.a.w. pada waktu itu sudah tentu telah mengambil kesempatan untuk mempermainkan dan menghina baginda s.a.w. Dan, apabila tiada apa-apa serangan terhadap peribadi Rasulullah s.a.w. oleh musuh-musuh Islam pada masa itu, ianya membuktikan bahawa peristiwa tersebut tidak pernah berlaku. Sekiranya tidak, ianya adalah peluang keemasan kepada musuh Islam untuk menyerang Islam dan rasulnya.

    Tidak syak lagi riwayat ini adalah tidak benar. Sumber utama riwayat ini ialah Hisham dan perawi-perawi yang menukilkan darinya; oleh itu keraguan berkisar hanya sekitar Hisham.

    Hujah Kedua – Bertentangan Dengan Akal Yang Waras

    Suatu riwayat yang bertentangan dengan akal adalah palsu dan dongeng. Ibnu Jauzi, salah satu nama besar dalam lapangan pengkritikan hadis, ialah orang yang bertanggungjawab memperkenalkan prinsip ini. Riwayat oleh Hisham ini adalah bercanggah dengan akal dan akal yang waras tidak dapat menerimanya. Apa sudah jadi dengan kewarasan dan kebijaksanaan kita ? Amat aneh bila kita dapati tidak ramai cendiakawan yang samada menolak atau meragui riwayat ini.

    Hujah Ketiga – Tiada Contoh Ditemui Di Negeri Arab Atau Di Negeri-Negeri Panas

    Sehingga hari ini tidak ditemui kes seperti ini di Semenanjung Arab dan negara-negara beriklim panas yang lain. Jika sekiranya ia menjadi amalan masyarakat ini nescaya kita akan dapati wujud beribu-ribu contoh seumpamanya dalam catatan sejarah..

    Sebaliknya, sekiranya peristiwa begini berlaku pada hari ini, ianya akan menjadi berita sensasi, contohnya, seorang lelaki gila merogol seorang kanak-kanak perempuan berumur sembilan tahun…dan orang yang melakukan perbuatan sedemikian digelar sebagai orang gila.

    Ulama kita dan para pencinta Nabi s.a.w. tidak menunjukkan keberanian untuk menyangkal riwayat ini dan yang sedihnya sebahagian daripada mereka tidak dapat menjadi contoh kepada ummah bila mereka sendiri mengahwinkan anak dara sunti mereka yang berumur sembilan tahun, atas nama sunnah dan berbangga kerana menghidupkan sunnah !! Kami adalah ‘orang bodoh’ dan berdosa. Ulama sepatutnya menunjukkan contoh yang praktikal supaya kami dapat mengikuti contoh tersebut.

    Mungkin anda tidak akan percaya bahawa ulama kita pada suatu ketika dahulu telah menolak penemuan saintifik yang bertentangan dengan pendapat mereka, malah sebaliknya tidak mengiktiraf hasil kajian saintifik tersebut. Contoh klasik ialah, ramai daripada mereka yang berpendapat matahari mengelilingi bumi, tetapi apabila kajian saintifik mengatakan sebaliknya mereka berkeras dengan pendapat mereka. Dalam bahasa yang mudah mereka berkata, ‘ Saya tidak akan menerimanya dalam apa pun keadaan’.

    Beginilah sikap mereka dalam hal ini, iaitu, tentang umur Aishah r.a. semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.

    Dengan hanya berkata “kami tidak menerima fakta sejarah”, tidak memberi apa-apa makna kepada ummah.

    Berkenaan ‘sejarah’, di satu pihak mereka mendakwa bahawa mereka tidak menerima ‘sejarah’, tetapi pada masa yang sama mereka melaung-laungkan cerita “Yazid yang jahat’ dari mimbar-mimbar khutbah (walaupun ianya cerita sejarah yang direka). Bahkan cerita berkenaan Karbala telah diulas oleh ulama kita lebih hebat daripada ahli sejarah.

    Kami akan menyentuh tentang aspek sejarah di bahagian kedua kertas ini. Buat masa ini kami akan membentangkan hujah berdasarkan hadis, usul hadis, biografi perawi (ilmu rijal) dan illal hadis kerana ulama kita mengiktiraf ilmu-ilmu ini. Adalah tujuan kami untuk menarik perhatian mereka dalam aspek ini.

    Hujah Keempat- Riwayat Ini Bukan Hadis Rasulullah S.A.W.

    Kami telah mengkaji dengan terperinci hadis yang diriwayatkan oleh Hisham. Untuk kajian ini, kami telah mengumpulkan bukti-bukti daripada kitab-kitab ‘Saheh Bukhari’, ‘Saheh Muslim’, ‘Sunan Abu Daud’, ‘Jami’ Tirmizi’, ‘Sunan Ibnu Majah’, ‘Sunan Darimi’ dan ‘Musnad Humaidi’. Selepas menelaah kitab-kitab tersebut, sesuatu kemusykilan telah timbul. Sebahagian perawi mengatakan riwayat tersebut sebagai kata-kata Aishah r.a., sedangkan setengah yang lain mengatakannya sebagai kata-kata Urwah r.a. Yang pastinya, ia bukan kata-kata Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Ia sama ada kata-kata ‘Aishah r.a. ataupun kata-kata Urwah r.a. yang merupakan seorang ‘tabiin’ iaitu anak kepada seorang sahabat (Zubair bin Awwam r.a) dan juga anak kepada kakak Aishah r.a sendiri (Asma binti Abu Bakar r.a). Jika riwayat ini adalah kata-kata Urwah, ia tidak mempunyai apa-apa nilai dalam syariah. Dan, kita juga tahu bahawa apabila berlaku perbezaan pendapat sama ada suatu riwayat itu ‘Muttasil’ (bersambung) ataupun ‘Mauquf’ (terputus), ulama hadis pada amnya akan mengatakan ianya sebagai ‘Mauquf’ (terputus). Berdasarkan prinsip ini, bolehlah disimpulkan bahwa riwayat ini adalah cerita sejarah oleh Urwah (dan bukannya hadis); dan tidak berdosa untuk menolak kata-kata Urwah.

    Riwayat ini akan tetap dianggap cerita sejarah sehingga ulama membuktikan sebaliknya (iaitu riwayat ini ‘muttasil’(bersambung)).

    Hujah Kelima – Riwayat Ini Diriwayatkan Oleh Hisham Selepas Fikirannya Bercelaru

    Urwah menceritakan riwayat ini kepada anaknya Hisham. Pada pandangan kami, segala kekeliruan dalam riwayat ini adalah berpunca daripada Hisham. Adalah penting untuk diketahui bahawa dengan hanya menjadi perawi dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’ tidak bermakna perawi tersebut sempurna dan tidak melakukan sebarang kesilapan. Kami telah menghabiskan masa bertahun-tahun lamanya mengkaji biografi perawi dan kami dapati ada dua zaman dalam kehidupan Hisham iaitu zaman Madani (semasa di Madinah) dan zaman Iraqi (semasa di Iraq).

    Zaman Madaninya ialah sehingga tahun 131 H. Dalam tempoh ini di antara muridnya yang paling penting ialah Imam Malik. Imam Malik telah meriwayatkan beberapa hadis daripada Hisham di dalam kitabnya ‘Muwatta’, tetapi riwayat perkahwinan Ummul Mukminin Aishah r.a. dengan Rasulullah s.a.w tidak ditemui dalam kitab Imam Malik tersebut.

    Imam Abu Hanifah r.a. juga merupakan anak muridnya dalam tempoh tersebut, dan beliau juga tidak pernah meriwayatkan cerita ini.

    Zaman kedua Hisham bermula selepas tahun 131 H. Adalah tidak diragukan bahawa Hisham adalah seorang perawi ‘thiqah’ (boleh dipercayai) sehinggalah tahun 131 H, dan Hisham merupakan sumber asas (madar) kepada banyak hadis yang diriwayatkan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. Kemudian suatu yang malang berlaku. Pada tahun 131 H Hisham berhutang sebanyak seratus ribu dirham untuk melangsungkan perkahwinan anak perempuannya, dengan harapan mendapat wang daripada Khalifah yang sedang berkuasa untuk menjelaskan hutangnya. Namun apa yang terjadi adalah diluar jangkaan Hisham di mana pemerintahan Bani Umaiyyah berpindah tangan kepada Bani Abbas. Hisham tiba di Baghdad dengan penuh harapan, dan telah menghulurkan tangannya meminta duit daripada Khalifah Mansur (Khalifah Abbasiyah).

    Pada mulanya, Khalifah mencelanya tetapi selepas didesak Khalifah Mansur telah memberinya sepuluh ribu dirham. Kejadian ini merupakan kejutan pertama ke atas fikirannya, dan akibatnya beliau mula menjadi ‘tidak tetap’ dalam meriwayatkan hadis-hadis. Dia mula meriwayatkan hadis yang beliau mengaku didengar daripada ayahnya (Urwah) tetapi sebenarnya beliau tidak pernah mendengar hadis tersebut..

    Dengan harapan mendapat pinjaman tambahan daripada Khalifah beliau kembali ke Baghdad dan berjaya mendapat sedikit wang. Selepas membayar sebahagian hutangnya, sekali lagi beliau datang ke Baghdad dan kemudiannya menetap di sana sehingga meninggal dunia

    Beliau meninggal dunia di Baghdad pada tahun 146 H. Semua kekacauan dalam riwayat-riwayatnya berlaku semasa berada di tanah Iraq. Seolah-olahnya, apabila beliau tiba di Iraq, ingatannya telah bertukar dan telah mengalami perubahan yang besar.

    Ya’aqub bin Abi Shaibah mengatakan bahawa sebelum pindah ke Iraq tiada riwayat Hisham yang ditolak, tetapi apabila beliau pergi ke Iraq beliau telah menceritakan banyak riwayat yang disandarkan kepada ayahnya Urwah yang tidak disukai oleh penduduk Madinah. Seperkara lagi, semasa tinggal di Madinah, Hisham hanya menceritakan hadis yang didengari daripada ayahnya. Tetapi semasa di Iraq, dia mula menceritakan hadis yang didengari daripada orang lain. Oleh itu, riwayat Hisham yang dinukilkan oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai. (Tahzib-ul-Tahzib, m/s 48, jilid 11)

    Semoga Allah merahmati Ibn Hajar, yang mendapat ilham daripada Ya’aqub bin Abi Shaibah dengan mengatakan bahawa ‘riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai’. Di antara riwayat tersebut ialah riwayat ‘Saidatina Aishah r.a. hidup bersama suaminya (Nabi s.a.w.) semasa berumur sembilan tahun dan telah berkahwin sewaktu usianya enam tahun. Juga cerita berkenaan Rasulullah s.a.w. terkena sihir. Cerita mengenai ‘Aishah r.a. ‘bemain dengan anak patung’ juga telah diriwayatkn oleh orang Iraq daripada Hisham.

    Sekalung penghargaan untuk Ya’aqub bin Abi Shaibah dan Hafiz Ibn Hajar kerana mengatakan: “Riwayat-riwayat yang dibawa oleh orang Iraq tidak boleh dipercayai”. Mereka tidak mengecualikan riwayat-riwayat dalam ‘Saheh Bukhari’ dan ‘Saheh Muslim’ daripada prinsip ini. Oleh sebab itu, kita hendaklah bersungguh-sungguh mengenalpasti dan mencari hadis-hadis yang telah diriwayatkan oleh orang Iraq daripada Hisham. Jika kita mengisytiharkan kesemua hadis tersebut sebagai yang ‘tidak boleh dipercayai’, ulama kita tidak boleh membantah kemudiannya kerana prinsip ini telah diberi oleh ulama salaf yang terdahulu. Kami mendoakan kepada mereka yang baik ini yang (dengan mengemukakan prinsip ini), telah melindungi Rasulullah s.a.w. daripada serangan- orang-orang Iraq.

    Hafiz az-Zahabi telah menulis tentang Hisham: “terjadi perubahan dalam ingatannya di akhir usianya, dan Abul Hasan bin Al-Qattan mendakwa bahawa beliau keliru dalam meriwayatkan hadis bila di akhir usianya” Hafiz Uqaili telah menulis dengan lebih jauh lagi: “dia telah nyanyuk di tahun-tahun terakhir kehidupannya”.

    Di dalam ‘Mizan al-I’tidal’, Hafiz az-Zahabi menulis bahawa ingatan Hisham yang kuat di waktu mudanya, tidak kekal di usia tuanya. Dan di Iraq, dia tidak dapat meriwayatkan hadis dengan baik dan tepat (‘Mizan al-I’tidal, Jilid IV)

    Imam Malik, salah seorang anak murid Hisham, telah meriwayatkan beberapa riwayat Hisham di dalam ‘Muwatta’nya di masa beliau menganggap riwayat Hisham adalah muktamad di dalam semua perkara. Beliau juga tidak bersetuju dengan Hisham semasa beliau (Hisham) tinggal di Iraq. Beliau menolak riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang-orang Iraq. Ibn Hajar mengatakan, “ Penduduk Madinah menolak riwayat Hisham yang diceritakan oleh orang-orang Iraq”

    Angka “sembilan tahun” ini telah menghantui pemikiran Hisham sehingga dia mengaku berkahwin dengan isterinya semasa isterinya berumur sembilan tahun. Az- Zahabi telah menceritakan peristiwa ini sebagaimana berikut: “Fatimah binti Al-Munzir adalah sebelas tahun lebih tua dari suaminya, Hisham. Sekiranya dia datang ke rumah Hisham untuk tinggal bersamanya semasa berumur sembilan tahun beliau perlu menunggu dua tahun sebelum ibu Hisham melahirkannya dan sebelum kelahirannya, Hisham tidak membenarkan orang lain melihat isterinya. Kami belum pernah menyaksikan perkara se ajaib ini”. Az-Zahabi kemudian menerangkan bahawa Fatimah tinggal bersama suaminya ketika berumur sekitar 28- 29 tahun. Dalam erti kata lain, Hisham telah menggugurkan angka ‘20’ dari angka ’29’. Dengan cara yang sama, dalam hal Ummul Mukminin r.a. angka ‘9’ timbul selepas menggugurkan ‘10’ daripada angka ‘19’.

    Menurut Hafiz Ibn Hajar, Hisham pernah mengaku bahawa isterinya tiga belas tahun lebih tua daripadanya…kami sedar bahawa iklim Iraq telah merosakkan fikiran ramai orang baik-baik

    Hujah Keenam – Hanya Perawi Iraq Yang Menukilkan Riwayat Ini

    Kami agak tekejut apabila mendapati bahawa kesemua perawi tentang ‘Umur Aishah’ adalah orang Iraq yang samada dari Kufah ataupun Basrah. Riwayat ini tidak pernah dinukilkan oleh mana-mana perawi Madinah, Mekah, Syam, mahupun Mesir. Tiada perawi bukan Iraq yang meriwayatkan kisah ini, sebabnya cerita ini dikeluarkan oleh Hisham semasa beliau tinggal di Iraq.

    Perawi-perawi berikut telah menyalin kisah ini daripada Hisham:

    1. Sufyan bin Said Al-Thawri Al-Kufi

    2. Sufyan bin ‘Ainia Al-Kufi

    3. Ali bin Mas’her Al-Kufi

    4. Abu Muawiyah Al-Farid Al-Kufi

    5. Waki bin Bakar Al-Kufi

    6. Yunus bin Bakar Al-Kufi

    7. Abu Salmah Al-Kufi

    8. Hammad bin Zaid Al-Kufi

    9. Abdah bin Sulaiman Al-Kufi

    Sembilan orang tersebut berasal daripada Kufah. Manakala perawi dari Basrah pula adalah :

    1. Hammad bin Salamah Al-Basri

    2. Jafar bin Sulaiman Al-Basri

    3. Hammad bin Said Basri

    4. Wahab bin Khalid Basri

    Inilah mereka yang telah meriwayatkan kisah ini daripada Hisham. Semasa beliau tiba di Iraq pada tahun 131 H, beliau berumur 71 tahun. Adalah tidak masuk akal beliau tidak dapat mencari orang untuk meriwayatkan kisah ini sehinggalah beliau berumur 71 tahun.

    Dalam hal ini, riwayat ini tidak terlepas dari dua keadaan, iaitu, sama ada orang Iraq yang merekanya dan mengatakan Hisham sebagai sumbernya, ataupun iklim Iraq telah mempengaruhi Hisham dengan teruk menyebabkan dia tidak sedar akan ‘dirinya’, bahawa dia membawa isterinya Fatimah binti Al-Munzir untuk tinggal bersama ketika umur isterinya sembilan tahun, iaitu empat tahun sebelum kelahirannya sendiri.! Setelah tiba di Iraq, tahap kebijaksanaan dan kesedaran mentalnya telah merosot hingga ke tahap ini..

    Kami mengagumi Hisham, dan nasihat semasa beliau tinggal di Madinah masih lagi segar dalam ingatan kami. Anda juga patut mengingatinya, bak kata pepatah Parsi yang masyhur, “sesuatu yang disimpan pasti ada gunanya suatu hari nanti”. Nasihatnya yang satu ini amat berguna. Katanya:

    “Apabila seorang Iraq meriwayatkan seribu hadis, kamu patut mencampakkan sembilan ratus sembilan puluh daripadanya ke tanah, dan berasa sangsi terhadap sepuluh yang masih tinggal.”

    Jika kita berpandukan kepada nasihat Hisham ini, banyak masalah yang akan terjawab dengan sendirinya.

    Selain daripada itu, kita juga patut memberi perhatian kepada prinsip ulama hadis yang dinukilkan oleh Baihaqi dari Abdur-Rahman bin al-Mahdi:

    “Apabila kami meriwayatkan hadis mengenai ‘halal dan haram’ dan ‘perintah dan larangan’, kami menilai dengan ketat sanad-sanad dan mengkritik perawi-perawinya, akan tetapi apabila kami meriwayatkan tentang faza’il (keutamaan), pahala dan azab, kami mempermudahkan tentang sanad dan berlembut tentang syarat-syarat perawi.” (Fatehul- Ghaith, ms 120)

    Abdur Rahman bin al-Mahdi merupakan guru kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Beliau adalah salah seorang tokoh penting dalam ilmu rijal (biografi perawi). Bagi pihak ulama hadis, beliau mengatakan muhaddisin menilai sanad dengan ketat bila menilai hadis berkenaan halal dan haram dan juga tentang ‘perintah’ dan ‘larangan’. Bagi hadis yang tidak berkaitan dengan halal dan haram serta perintah dan larangan (seperti ‘fazail’ (keutamaan), sirah dsb) ulama hadis bersikap mudah tentang peribadi perawi dan mengabaikan kesilapan dan kelemahan mereka. Sebagai contoh, ulama hadis tidak melakukan kajian terperinci dan menyeluruh ke atas riwayat yang berkenaan dengan Fazaiel (Kelebihan) sama ada ia berkaitan dengan perwatakan atau amalannya seseorang, balasan azab terhadap sebarang perbuatan maksiat, ataupun peristiwa daripada sejarah. Mungkin ini adalah sebabnya mengapa ulama hadis tidak merasakan perlu untuk membincangkan dengan teliti riwayat yang berkenaan umur sebenar Saidatina ‘Aishah (semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.) Besar kemungkinan, Imam Bukhari memegang prinsip yang sama iaitu tidak ketat dalam menilai riwayat seperti ini, yang mana kemudiannya menjadi ‘fitnah’ kepada kita semua.

    Satu lagi prinsip hadis ialah jika ingatan seseorang perawi menjadi lemah, maka riwayat yang disalin oleh para muridnya ketika itu adalah ditolak. Hafiz Ibn Hajar menda

    Hujah Kelapan – Aishah R.A Masih Ingat Dengan Jelas Peristiwa Hijrah Abu Bakar R.A. Ke Habshah

    Di dalam ‘Saheh Bukhari’, ada satu riwayat telah dinukilkan oleh Zuhri dari Urwah daripada Ummul Mu’minin r.a. Riwayat ini tidak pernah disebut oleh orang Iraq tetapi diriwayatkan oleh dua orang perawi Mesir, seorang perawi Sham dan dua orang perawi Madinah.

    Urwah bin Az Zubair meriwayatkan dari A’ishah Ummul Mukminin katanya, “Semenjak saya sedar dan mengerti, saya melihat ibubapa saya telah pun berugama Islam. Tidak berlalu satu hari pun melainkan Rasulullah saw akan datang kepada kami sama ada di sebelah pagi atau petang”.

    Bila orang-orang Islam diganggu oleh orang-orang kafir, Abu Bakar telah keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah ke bumi Habsyah. Bila beliau sampai ke Birku al-Ghimad beliau bertemu dengan Ibnu ad Dughunnah, ketua kabilah Qarah. Ibnu ad-Dughunnah bertanya, “Engkau hendak ke mana Abu Bakar?”. Abu Bakar menjawab, “Kaumku telah mengeluarkanku. Kerana itu aku akan mengembara di muka bumi agar dapat beribadat kepada tuhanku”. Ibnu ad Dughunnah berkata, “Sesungguhnya orang-orang sepertimu tidak boleh keluar dan tidak patut dikeluarkan (dari sesebuah negeri) kerana engkau berusaha untuk orang-orang yang tidak berharta. Engkau menghubungkan pertalian keluarga, engkau menanggung beban masyarakat, menjadi tuan rumah kepada tetamu dan membantu masyarakat ketika ditimpa bencana alam. Aku akan melindungimu. Pulanglah dan beribadatlah kepada tuhan di negerimu.”

    Maka pulanglah Abu Bakar bersama Ibnu Ad Dughunnah. Pada petangnya Ibnu ad Dughunnah mengunjungi orang-orang bangsawan Quraisy. Beliau bersuara kepada mereka, “Sesungguhnya orang seperti Abu Bakar tidak boleh keluar dan dikeluarkan. Adakah kamu patut mengeluarkan seorang yang berusaha untuk orang yang tidak berharta, menjalin silaturrahim, menanggung beban kesusahan orang lain, menjadi tuan rumah kepada tetamu dan menolong masyarakat ketika bencana?”. Perlindungan Ibnu Ad Dughunnah tidak ditolak oleh orang-orang Quraisy. Mereka berkata kepada Ibnu ad Dughunnah, “Suruhlah Abu Bakar menyembah tuhannya di dalam rumahnya. Ikut sukanya untuk membaca apa saja yang dia mahu asalkan dia tidak mengganggu kami dengan bacaannya dan jangan pula dia membaca dengan suara yang nyaring kerana kami bimbang perempuan-perempuan kami dan anak-anak kami akan terpesonanya dengannya”.

    Ibnu ad Dughunnah meminta dari Abu Bakar apa yang diutarakan oleh orang-orang Quraisy itu. Sampai beberapa lama Abu Bakar memenuhi syarat-syarat yang dikemukakan oleh orang-orang Quraisy itu. Beliau menyembah Tuhan di rumahnya dan tidak menyaringkan bacaannya di dalam sembahyang. Beliau juga tidak membaca al Quran di luar rumahnya.

    Kemudian timbul satu fikiran kepada Abu Bakar untuk membina masjid di halaman rumahnya. Beliau pun membina masjid dan bersembahyang di dalam masjid itu dan mula membaca al Quran menyebabkan perempuan-perempuan orang-orang musyrikin dan anak-anak mereka mula mengerumuninya dengan rasa kagum terhadapnya di samping melihat tingkah lakunya. Abu Bakar adalah seorang yang mudah menangis. Beliau tidak dapat menahan air mata apabila membaca al Quran. Keadaan ini menggemparkan kalangan bangsawan dan musyrikin Quraisy.

    Mereka pun mengutuskan orang kepada Ibnu ad-Dughunnah untuk bertemu dengan mereka. Setelah Ibnu Ad-Dughunnah datang, mereka pun berkata kepada Ibnu ad-Dughunnah, “Sesungguhnya kami telah memberi perlindungan kepada Abu Bakar atas permintaanmu dengan syarat dia menyembah tuhannya di dalam rumahnya sahaja. Sekarang dia telah pun melanggar syarat itu. Dia telah membina sebuah masjid di hadapan rumahnya dan menunaikan pula sembahyang dan membaca al Quran di dalam masjid yang dibinanya itu. Kami bimbang isteri-isteri dan anak-anak kami akan terpesona dengannya. Oleh itu tegahlah dia dari berbuat begitu. Kalau dia bersetuju untuk menyembah tuhannya di dalam rumahnya sahaja maka baiklah tetapi jika dia enggan melainkan tetap mahu mengerjakannya sembahyangnya secara terbuka dan membaca al Quran dengan suara yang nyaring, maka mintalah dengannya supaya dikembalikannya kepadamu jaminan keamanan yang telah diberikan olehmu kepadanya kerana tidaklah kami suka mengkhianati perlindungan yang diberikan olehmu itu dan tidak pula kami boleh menerima Abu Bakar bersembahyang dan membaca al Quran secara terbuka seperti itu”.

    Ibnu ad Dughunnah pun pergi menemui Abu Bakar. Dia berkata, “Engkau telah pun tahu syarat yang telah ku berikan untuk melindungimu. Jadi samada engkau akan mematuhi syarat itu atau engkau kembalikan kepadaku jaminan keamananku. Aku tidak suka orang-orang Arab mendengar cerita bahawa jaminan keamanan yang telah kuberikan kepada seseorang telah disia-siakan”.

    Mendengar kata-kata Ibnu Ad Dughunnah, Abu Bakar berkata, “Kalau begitu aku akan kembalikan kepadamu jaminan keamananmu dan aku berpuas hati dengan perlindungan Allah swt”.

    (Bukhari, Jilid I, m/s 553)

    Di dalam hadis ini, Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. menghuraikan pemerhatiannya tentang keadaan daripada tempoh mula kerasulan sehingga peristiwa hijrah ke Habshah dalam dua ayat iaitu “ Sejak saya mengerti dan faham keadaan sekeliling saya dapati keluarga saya telah memeluk Islam” dan “Saya melihat Nabi Muhammad s.a.w. datang ke rumah kami setiap hari pada pagi dan petang”.

    Di bahagian pertama hadis ini Ummul Mu’minin r.a. telah menceritakan pemerhatiannya di dalam dua ayat, iaitu “Sejak saya mengerti dan faham keadaan sekeliling, saya telah melihat keadaan ini”. Dan di bahagian kedua iaitu selepas balighnya, Ummul Mu’minin r.a. menyatakannya sebagai zaman persengketaan. Iaitu zaman yang menyebabkan sahabat-sahabat utama di awal Islam berhijrah ke Habshah. ‘Aishah r.a. kemudiannya telah menceritakan secara terperinci peristiwa penghijrahan ayahnya, Abu Bakar r.a ke Habshah.

    Bahagian ketiga daripada hadis ini yang tidak kami nukilkan di sini ialah hijrah ke Madinah.

    Ada dua riwayat tentang peristiwa Hijrah ke Madinah. Pertamanya, “Nabi s.a.w. keluar dari rumah Abu Bakar” di mana Aishah r.a. menyatakan dia diberitahu oleh Amir bin Fahirah (bekas hamba Abu Bakar r.a. dan temannya semasa Hijrah). Keduanya, peristiwa Suraqah di mana beliau r.a. menyatakan diberitahu oleh Suraqa kepadanya. Dengan kata lain, sejak daripada Ummul Mu’minin r.a. boleh berfikir, Abu Bakar r.a. dan Ummu Rumman r.a. telah memeluk Islam. Dan juga, sejak beliau faham keadaan sekelilingnya, beliau melihat Rasulullah s.a.w. sentiasa melawat rumah mereka setiap hari pada waktu pagi dan petang.

    Di dalam hadis ini Aishah r.a. telah mendakwa secara jelas bahawa beliau r.a. telah faham keadaan sekelilingnya pada ketika nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul dan menyaksikan semua peristiwa yang berlaku dalam tempoh tersebut. Namun ulama kita telah mentakwilkan bahawa oleh sebab riwayat Hisham menyatakan ‘Aishah r.a. berusia sembilan tahun semasa mula hidup bersama Rasulullah s.a.w., Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah mendengar cerita-cerita ini daripada orang lain.

    Ummul Mu’minin r.a. berkata bahawa “apabila saya telah faham keadaan sekeliling, saya telah melihat perkara yang berlaku” Ulama kita mengatakan bahawa beliau belum lagi dilahirkan! Ringkasnya, boleh dikatakan, Ummul Mu’minin telah melihat peristiwa tersebut lima atau enam tahun sebelum kelahirannya. Kami menyerahkan kepada anda untuk membuat keputusan siapakah yang benar.

    Keseluruhan perbincangan ini membuktikan bahawa sewaktu nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul Ummul Mu’minin r.a. merupakan seorang kanak-kanak yang telah mengerti keadaan sekelilingnya iaitu berumur sekurang-kurangnya lima hingga enam tahun. Dengan kata lain, seorang kanak-kanak yang sudah boleh mengingati siapa yang datang dan keluar dari rumahnya dan faham bahawa apa yang ibu bapanya lakukan adalah bercanggah dengan penduduk Mekah. Ini adalah peringkat usia seorang kanak-kanak di mana mempunyai naluri ingin tahu dan berfikir mengapa dan bagaimana sesuatu perkara berlaku.

    Kesimpulan dari perbincangan ini ialah, anda hendaklah mengaku, berdasarkan hadis ini, bahawa Ummul Mu’minin r.a. sudah tentu sekurang-kurangnya berumur antara lima hingga enam tahun pada sewaktu perlantikan nabi s.a.w. sebagai rasul. Oleh itu, pengiraan ringkas menunjukkan umur beliau r.a. adalah sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun semasa mula tinggal dengan Rasulullah s.a.w.

    Dan sekaligus ia membuktikan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. dan Saidatina Fatimah r.a. adalah sebaya. Dengan itu, terpulanglah kepada anda samada untuk menerima riwayat Hisham (dengan menolak dua hadis di dalam kitab Bukhari di atas) atau mengakui kesilapan Hisham.

    Hujah Kesembilan – Aishah R.A. Mengelap Luka Dan Hingus Usamah Bin Zaid R.A. Yang Dikatakan Sebaya Dengannya

    Saidatina Aishah r.a. menceritakan bahawa Usamah telah jatuh tergelincir di bendul pintu dan luka di mukanya. Rasulullah s.a.w. berkata kepada saya, “Bersihkan kotoran itu daripada Usamah.” Saya terasa jijik bila melihat Usamah mula menjilat darahnya untuk membersihkan mukanya.

    Dalam riwayat Ibn Majah, “Hingus keluar dari hidung Usamah. Nabi s.a.w. menyuruh saya bangkit dan membersihkan hidung Usamah. Saya berasa jijik, lalu Nabi s.a.w. sendiri yang bangun dan membersihkan hidungnya.”

    Di dalam riwayat Tirmizi ada pula disebut bahawa Nabi s.a.w. hendak membersihkan hidung Usamah. Kemudian Ummul Mu’minin r.a. meminta izin untuk membersihkan hidungnya (Usamah). Nabi s.a.w. kemudian berkata, “Wahai ‘Aishah! Sayangilah Usamah, kerana saya juga menyayangi Usamah.” (Tirmizi: Jilid II, m/s 246)

    Juga, Baihaqi menerusi Sha’abi, daripada Ummul Mu’minin r.a. katanya “Rasulullah s.a.w. meminta saya bangun dan membasuh muka Usamah. Saya memberitahunya saya tidak tahu membersihkan muka kanak-kanak kerana saya tidak mempunyai anak. Tolonglah pegang dia dan basuh mukanya. Nabi s.a.w. memegang Usamah dan membasuh mukanya”. Dan baginda berkata, “Dia (Usamah) telah memudahkan kita kerana dia bukan seorang kanak-kanak perempuan. Jika dia seorang kanak-kanak perempuan, saya akan menghiaskannya dengan perhiasan-perhiasan dan akan berbelanja banyak untuknya.”

    Imam Ahmad, melalui Baihaqi, telah meriwayatkan daripada ‘Aishah r.a. bahawa Usamah jatuh tergelincir di atas bendul pintu. Mukanya telah luka. Nabi Muhammad s.a.w. telah mengelap dan membersihkannya, dan Baginda s.a.w. berkata, “Wahai Usamah! Jikalau kamu seorang kanak-kanak perempuan, pastinya saya akan memakaikan dan menghiasi kamu dengan perhiasan. Saya akan berbelanja besar untuk mu.”

    Sekali lagi, perhatikan semua riwayat ini. Anda akan dapati bahawa Usamah bin Zaid r.a adalah seorang kanak-kanak yang jauh lebih muda daripada Ummul Mu’minin r.a.. Ada masanya dia r.a. tercedera atau hidungnya berhingus. Adakalanya Ummul Mu’minin r.a. mengangkat dan membersihkannya dan kadang-kadang Rasulullah s.a.w. yang melakukannya. Adakalanya Ummul Mu’minin r.a. berasa jijik, dan pernah suatu kali beliau meminta maaf dengan berkata, “Saya tidak mempunyai anak, jadi saya tidak mempunyai pengalaman membasuh muka kanak-kanak.”

    Pertama sekali, perkataan ‘saya tidak mempunyai anak’ tidak mungkin keluar daripada mulut seorang kanak-kanak perempuan berusia sembilan atau sepuluh tahun. Perkataan ini hanya boleh diucapkan oleh seorang wanita yang umurnya sesuai untuk mendapat anak.

    Yang keduanya, ini jelas menunjukkan bahawa Usamah adalah jauh lebih muda dari Ummul Mu’minin r.a. Jika Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. adalah sebaya atau lebih muda daripada Usamah, Rasulullah s.a.w. tidak mungkin akan menyuruh ‘Aishah r.a. untuk membersihkan darah dan hidungnya (Usamah). Arahan begitu selalunya diberi kepada seseorang yang lebih tua daripada kanak-kanak tersebut. Tidak pernah berlaku dalam sejarah seorang kanak-kanak berusia lapan tahun disuruh untuk melayan atau merawat seorang kanak-kanak berusia sepuluh tahun !!

    Para ulama mengatakan, ‘dari Riwayat Hisham, Ummul Mu’minin berusia 18 tahun semasa kewafatan nabi ’. Dengan itu, adalah perlu untuk mengetahui berapakah usia Usamah di waktu kewafatan Rasulullah s.a.w.

    Imam Zahabi telah menulis di dalam bukunya ‘Siyar A’lam al-Nubala’ bahawa Usamah berusia 18 tahun pada waktu itu.

    Sesuatu yang menarik untuk diperhatikan di sini ialah seorang kanak-kanak perempuan telah membersihkan hidung seorang kanak-kanak lelaki yang sebaya dengannya!

    Waliuddin Al-Khatib, penulis ‘Mishkat’, menulis di dalam bab ‘Al-Ikmal fi Asma’ al-Rijal’

    “Apabila Nabi Muhammad s.a.w. wafat, Usamah berumur 20 tahun.” (‘Mishkat’, m/s 585)

    Telah disepakati oleh ulama hadis dan ahli sejarah bahawa sebelum kewafatannya, Rasululullah menyusun satu pasukan tentera untuk menyerang tentera Rom dan menakluki Syria untuk menebus kekalahan dalam Perang Mu’tah. Usamah r.a merupakan panglima angkatan tentera ini, dan sahabat besar seperti Saidina Umar r.a. telah diperintahkan untuk berperang di bawah arahannya. Pada ketika itu, beliau berumur dua puluh tahun, menurut Waliuddin Al-Khatib, dan sembilan belas tahun menurut Hafiz Ibn Kathir:

    “Semasa Rasulullah s.a.w. wafat, Usamah berumur 19 tahun.” (Al-Bidayah-wan-Nihayah, Jilid 8, m/s 67)

    Setelah dibaia’kan, Saidina Abu Bakar r.a. menyempurnakan tugasan ini dengan menghantar tentera Usamah, yang mana dengan izin Allah S.W.T. telah kembali dengan kemenangan.

    Usamah r.a. telah dilahirkan pada tahun ke-3 kerasulan. Dan kejadian di mana beliau cedera terjatuh di muka pintu rumahnya, atau hidungnya berhingus, atau Nabi Muhammad s.a.w. membasuh mukanya ataupun Baginda s.a.w. menyuruh Ummul Mu’minin r.a. supaya membasuh atau membersih mukanya dan sebagainya, adalah kerana Usamah pada masa itu ialah seorang kanak-kanak kecil. Dan juga, permintaan supaya Ummul Mu’minin merawat Usamah adalah kerana Ummul Mu’minin adalah lebih tua daripada Usamah. Jika Usamah r.a. adalah lebih muda daripada Ummul Mu’minin r.a. dan usianya (Usamah) sekitar 19-20 tahun di waktu kewafatan Nabi s.a.w., umur Ummul Mu’minin r.a.sepatutnya sekurang-kurangnya lima tahun lebih tua (daripada Usamah), dengan itu barulah arahan mengenai membersihkan darah dan hidung itu sesuai.

    Hujah Kesepuluh – Ummul Mu’minin R.A. Turut Serta Di Dalam Peperangan Badar

    Di dalam ‘Saheh’nya Imam Muslim melalui Urwah bin Zubair, telah meriwayatkan daripada Saidatina ‘Aishah r.a. bahawa beliau (Saidatina ‘Aishah r.a.) berkata Nabi Muhammad s.a.w. mara ke medan pertempuran Badar dan semasa tiba di Harratul Wabrah, seorang lelaki yang terkenal dengan kegagahan dan keberanian datang kepadanya. Para Sahabat r.a. teramat gembira melihat kedatangan lelaki tersebut. Beliau berkata kepada Nabi Muhammad s.a.w., “Saya telah datang kepadamu dengan tujuan untuk menyertai peperangan, dan saya ingin menanggung kesukaran ini bersama kamu.” Baginda s.a.w bertanya, “ Adakah kamu beriman kepada Allah dan Nabi-Nya?” Pemuda itu menjawab, “Tidak”. Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Pergi, baliklah. Saya tidak memerlukan sebarang bantuan daripada seorang musyrik.”

    Ummul Mu’minin r.a. berkata bahawa pemuda tersebut pun berlalu dari situ. Tetapi apabila mereka sampai di Shajarah, orang yang sama telah datang semula. Baginda s.a.w. sekali lagi menanyakan soalan yang sama iaitu sama ada beliau beriman kepada Allah dan Nabi-Nya. Sekali lagi pemuda itu menjawab tidak. Kemudian Rasulullah s.a.w. telah berkata bahawa baginda s.a.w tidak memerlukan sebarang pertolongan daripada seorang musyrik. Maka pemuda itu pun sekali lagi berlalu pergi.

    Ummul Mu’minin r.a. menceritakan bahawa apabila mereka tiba di sebuah tempat bernama Baida’, pemuda yang sama muncul kembali. Sekali lagi Nabi Muhammad s.a.w. bertanyakan soalan yang serupa, “Adakah kamu beriman kepada Allah dan Nabi-Nya?” Pemuda tersebut mengiyakannya. Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Bagus! Kamu boleh turut serta.” (‘Sahih Muslim’, Jilid II, m/s 118)

    Bagaimanapun pensyarah-pensyarah hadis telah mentakwilkan bahawa perkataan ‘kami’ yang digunakan oleh Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah bermaksud ‘para sahabat ’ r.a. dan beliau (‘Aishah r.a.) sendiri sebenarnya tidak termasuk dalam ungkapan ‘kami’ itu. Dan Ummul Mu’minin r.a. mungkin telah pergi hingga ke Baida’ untuk mengucapkan selamat jalan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

    Namun, kami tidak dapat menerima takwilan ini. Daripada hadis imam Muslim ini, kami membuat kesimpulan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah turut serta dalam peperangan Badar, dan ‘Aishah r.a. adalah satu-satunya wanita yang menyertai peperangan Badar. Ahli-ahli sejarah dan para penulis sirah Nabi Muhammad s.a.w. yang mengatakan bahawa Baginda s.a.w. mula tinggal bersama ‘Aishah r.a. di bulan Syawal, tahun ke-2 H mungkin dipengaruhi golongan Syiah. Yang tepatnya, Ummul Mu’minin r.a. telah mulai hidup bersama Baginda s.a.w. pada bulan Syawal, tahun pertama selepas hijrah, dan hadis Muslim di atas adalah benar.

    Di samping membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. turut serta dalam Peperangan Badar dan hidup bersama Nabi s.a.w. mulai bulan Syawal di tahun pertama hijrah, hadis ini juga membuktikan bahawa ‘Aishah r.a. telah hidup bersama Rasulullah s.a.w. selama sepuluh tahun. Dakwaan ahli sejarah yang mengatakannya sembilan tahun ataupun Riwayat Hisham yang menyatakan tempoh sembilan tahun, adalah salah.

    Apabila Saidina Umar r.a. telah memperuntukkan sejumlah elaun untuk para Sahabat r.a. sewaktu beliau menjadi Khalifah, beliau telah memberikan elaun yang lebih kepada mereka yang telah menyertai Perang Badar, berbanding dengan mereka yang tidak menyertai Peperangan Badar. Dan, apabila elaun untuk isteri-isteri Rasulullah s.a.w dibahagikan, jumlah elaun Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. adalah yang tertinggi yang mana menurut ahli sejarah disebabkan beliau adalah isteri yang paling disayangi oleh Rasulullah s.a.w. Alasan ini mungkin juga benar. Akan tetapi, sebabnya yang sebenar pada pandangan kami ialah beliau (‘Aishah r.a.) telah turut serta di dalam Perang Badar, dan isteri yang lain tidak memiliki kelebihan ini, malah tiada wanita lain di muka bumi ini yang memiliki penghormatan ini.

    Semoga Allah S.W.T. melimpahkan rahmat-Nya ke atas Imam Muslim yang telah menyampaikan riwayat ini dengan sanad yang paling sahih sehingga tiada perawinya dipertikaikan. Beliau telah membuktikan Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. turut serta di dalam Peperangan Badar, dan menjalani kehidupan sebagai isteri kepada Nabi s.a.w. pada tahun 1 (selepas hijrah), dan terus kekal sebagai isteri Nabi s.a.w. selama sepuluh tahun (sehingga kewafatannya) ; maka tempoh selama sembilan tahun. sebagaimana yang disebut di dalam Riwayat Hisham, adalah tidak benar.

    Semoga Allah mengurniakan kesejahteraan terhadap Imam Muslim di dalam taman-taman syurga, kerana dengan meriwayatkan peristiwa ini telah membuktikan Ummul Mu’minin r.a. tidaklah bermain dengan anak patung tetapi bermain dengan pedang; bahkan beliau telah dibesarkan di bawah bayang-bayang pedang. Ini merupakan sifat semulajadinya, kerana seorang kanak-kanak yang senantiasa melihat permainan pedang, tidak bermain dengan anak patung. Bermain dengan anak patung adalah kebiasaan orang Ajami (Iran), bukannya permainan orang Arab. Para Perawi Iraq ini mahu mengatakan Ummul Mu’minin Aishah r.a. suka bermain dengan anak patung sebagaimana kegemaran wanita-wanita di sana. Berkemungkinan, tujuan mereka ialah ingin mengatakan ‘bagaimanana mungkin seorang kanak-kanak perempuan yang menghabiskan masanya dengan bermain anak patung dapat memahami maksud al-Qur’an dan Sunnah’.

    Riwayat ini juga telah membuktikan bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. bukanlah seorang kanak-kanak berumur sembilan tahun ketika itu. Jika beliau adalah seorang kanak-kanak berusia sembilan tahun, apakah tujuannya untuk pergi ke medan perang? Ini kerana, tugas wanita yang berada di medan perang ialah untuk berperang dan memberikan khidmat ketenteraan. Aspek ini akan dijelaskan dalam halaman-halaman seterusnya.

    Di dalam Peperangan Badar, sudah termasyhur bahawa bendera yang disediakan pada hari itu, adalah diperbuat daripada kain tudung yang digunakan oleh wanita Islam untuk menutup kepala dan badan. Sekiranya peristiwa ini benar-benar terjadi, ia merupakan bukti yang lebih kukuh, bahawa Ummul Mu’minin r.a. mulai hidup bersama Rasulullah pada tahun pertama Hijrah dan beliau (‘Aishah) menyertai Peperangan Badar. Ini kerana, adalah tidak masuk akal untuk mengambil kain tudung kanak-kanak perempuan yang belum berkahwin lagi. Begitu juga agak sukar dipercayai bahawa Baginda s.a.w. membawa kain tudung seorang pengantin baru dan mara ke medan Badar, dan ia juga tidak mungkin bahawa beliau (Saidatina ‘Aishah) pergi hingga ke Baida’ semata-mata untuk mengucapkan selamat jalan kepada Rasulullah s.a.w., dan telah meninggalkan kain tudungnya di sana. Ini bukan sebuah kisah cinta !!

    Yang sebetulnya, keadaan peperangan yang datang secara mengejut menyebabkan kesukaran untuk mendapatkan kain bendera. Kemungkinannya, tidak terdapat kain di dalam khemah untuk dijadikan bendera. Kemudiannya Ummul Mu’minin r.a. memberikan kain tudungnya dan meletakkan sehelai kain sapu tangan di atas kepalanya dan beliau r.a. telah bersedia untuk berperang. Namun perawi-perawi Iraq menggambarkannya sebagai sebuah kisah cinta yang romantik!!

    Juga perhatikan bahawa bendera-bendera tersebut telah disediakan di tempat yang bernama ‘Rawja’ yang jauhnya 40 batu dari Madinah.

    Sehelai bendera telah dibuat untuk orang Ansar dan yang sehelai lagi untuk Muhajirin. Bendera Muhajirin telah diberi kepada Mus’ab bin Umair r.a., akan tetapi Waqidi (seorang perawi Syiah) berkata ia telah diberi kepada Saidina Ali r.a. Riwayat ini, kemudiannya telah dikutip oleh ulama ahli sunnah yang menganggap setiap riwayat perlu dikutip untuk memenuhi kewajipan agama. Maka timbullah cerita sehelai bendera telah diberi kepada Mus’ab r.a. dan sehelai lagi diberi kepada Ali r.a. Kemudian daripada itu ahli-ahli sejarah Syiah telah memotong nama Mus’ab r.a. dan memasyhurkan nama Ali r.a. sebagai satu-satunya pembawa bendera.

    Pada hari ini ‘sejarah’ yang kita miliki, adalah sejarah yang diputarbelit dan diselewengkan. Semua kaki dan tangannya sudahpun dipotong oleh pembohong-pembohong Syiah. Untuk menyambungkan kembali tangan dan kakinya yang dipotong ini hanya mungkin apabila kita mendapatkan ‘anggota’ yang sebenar.

    Kebanyakan orang sibuk untuk mengorek dan menggali sejarah. Kita geledah di mana-mana untuk mencari ‘anggota-anggota’ yang hilang itu. Walaupun kita menjumpai anggota-anggota ini kita sebenarnya tidak dapat memastikan bahawa ianya bukan organ palsu. Malah adalah dibimbangi kita mungkin kehilangan tubuh yang sedia pincang ini setelah mendapat anggota yang kononnya ‘asli’ tetapi pada hakikanya adalah palsu.

    Sebagai contoh, pada awal abad ini, jenazah, yang dikatakan milik Saidina Huzaifah dan Saidina Jabir bin Abdullah telah ditemui. Menurut ahli sejarah dan ulama hadis, Jabir r.a. telah dikebumikan di perkuburan Baqi’ di Madinah. Mungkin kubur palsu ini, yang siap dengan ukiran, telah di bina pada zaman

    Hujah Ke-11 – Aishah R.A. Menyertai Perang Uhud Sedangkan Kanak-Kanak Lelaki Berumur Empat Belas Tahun Tidak Dibenarkan Menyertai Perang

    Peperangan Uhud adalah satu peperangan di mana Nabi Muhammad s.a.w. telah tercedera parah. Menurut Hadis Bukhari, hanya dua orang sahabat yang tinggal bersamanya iaitu Sa’ad bin Abi-Waqas dan Talhah bin Ubaidullah r.a. Sebahagian sahabat kebingungan, sebahagiannya berjuang bersendirian dan terputus hubungan dengan yang lain. Sebahagian yang lain pula telah memanjat bukit untuk menyelamatkan nyawa; dan telah tersebar dengan luas kabar angin bahawa Nabi Muhammad s.a.w. telah syahid.

    Pada hari itu, Abu Talhah Ansari r.a. iaitu ayah tiri Anas r.a., telah mempertahankan Nabi s.a.w. dengan sepenuh jiwa dan tenaganya. Beliau berkali-kali merayu kepada Rasulullah s.a.w. sambil berkata, “Saya korbankan ibubapa ku demi keselamatanmu! Jangan tinggalkan tempatmu kerana saya takut anda akan dipanah”.

    Inilah satu-satunya peperangan semasa hayat Rasulullah s.a.w. di mana orang Islam telah ditewaskan dan seramai 70 orang sahabat r.a. telah syahid. Dan, barangkali tiada seorang pun yang tidak mendapat kecederaan. Beberapa orang wanita juga turut serta dalam pertempuran ini.

    Sebelum kami mengulas dengan lebih lanjut tentang siapakah wanita yang turut serta dalam peperangan ini, dan apakah tanggungjawab mereka, perlu dijelaskan bahawa Rasulullah s.a.w. menyedari akan bahaya yang akan dihadapi. Itulah sebabnya mengapa Baginda s.a.w. tidak membenarkan kanak-kanak lelaki yang berumur 14 tahun ke bawah untuk mengambil bahagian dalam peperangan ini. Di kalangan kanak-kanak bawah umur ini termasuklah Samrah bin Jundub, Bara’ bin Azib, Anas bin Malik, Zaid bin Thabith dan Abdullah bin Umar r.a.. Ibn Umar r.a. tidak dibenarkan menyertai Perang Uhud kerana beliau berumur 14 tahun ketika itu dan peperangan pertama yang disertainya ialah Perang Ahzab atau dikenali dengan nama Perang Khandak. Oleh itu, had umur untuk menyertai satu-satu peperangan ialah 15 tahun. Angka ini amat penting sehingga sesetengah ahli feqah, dengan berdasarkan riwayat Ibn Umar ini, telah menetapkan had kematangan (baligh) adalah sekurang-kurangnya 15 tahun.

    Sekarang perhatikan sekiranya Rasulullah s.a.w. hanya membenarkan mereka yang berumur 15 tahun ke atas untuk mengambil bahagian dalam peperangan, bagaimana mungkin seorang kanak-kanak perempuan bawah umur dibenarkan untuk turut serta dalam peperangan?

    Perlu diingat bahawa wanita yang mengambil bahagian di dalam peperangan mempunyai pelbagai tanggungjawab seperti mengangkat dan merawat mujahidin yang tercedera di medan pertempuran, memberi minum kepada mujahidin yang tercedera, bahkan mengangkat senjata bila diperlukan. Adalah jelas bahawa tidak semua wanita mampu melakukan tugas-tugas ini. Bagaimana mungkin tanggungjawab sebegitu penting diserahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan yang baru berusia sembilan atau sepuluh tahun?

    Seorang wanita mampu melaksanakan tugas yang sebegitu penting sekiranya dia memiliki kemahiran dalam teknik bertempur, dan boleh mempertahankan dirinya sendiri apabila perlu, dan yang utamanya dia mestilah mempunyai keberanian untuk menyertai pertempuran apabila diperlukan.

    Dengan mempertimbangkan hal ini dengan cermat, kita terpaksa mengakui bahawa tanggungjawab seperti itu tidak boleh diserahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan bawah umur. Sekiranya, pemuda yang berusia 14 tahun tidak dibenarkan untuk mengambil bahagian di dalam pertempuran, kaum wanita yang ingin menyertai peperangan mestilah seorang yang cukup matang dan berpengalaman yang faham akan risiko yang bakal ditanggung.

    Di antara wanita yang pernah berperang bersama Rasulullah s.a.w. ialah :

    1. Ummu Ammarah r.a. :

    Di antara wanita yang telah menyertai peperangan Uhud ialah Ummu Ammarah r.a. yang turut melindungi Rasulullah s.a.w.. Pada hari itu, beliau mendapat 13 luka dan Nabi s.a.w. sendiri telah membalut lukanya sambil berdiri.

    Ummu Ammarah r.a. berhadapan dengan Ibn Qamayyah yang melemparkan batu kepada Rasulullah s.a.w. Beliau (Ummu Ammarah r.a.) menyerang menggunakan sebatang kayu (sedangkan Ibn Qamayyah bersenjatakan sebilah pedang), mengakibatkan Ibn Qamayyah jatuh tersungkur dan pecah kepalanya.

    Beliau r.a. juga telah menyertai Peperangan Yamamah menentang Musailamah al-Kazzab dan telah berjuang dengan sepenuh hati dan telah mendapat 12 luka sehingga menyebabkan tangannya tidak boleh digunakan.

    2. Ummu Sulaim r.a. :

    Ibn Sa’ad telah meriwayatkan bahawa Ummu Sulaim r.a. membawa bersamanya pisau belati pada hari Peperangan Uhud.

    Anas r.a. telah menceritakan bahawa Ummu Sulaim r.a. membawa pisau belati bersamanya sewaktu Pertempuran Hunain. Abu Talhah r.a. mengadu kepada nabi s.a.w., “Wahai Rasulullah., ini Ummu Sulaim dan beliau membawa pisau belati bersamanya”. Mendengarkan kata-kata itu, Ummu Sulaim r.a. berkata, “Wahai Rasulullah., saya menyimpan pisau ini kerana jika ada orang kafir datang mendekati saya, saya akan menikam perutnya”. (Tabaqat Ibn Sa’ad, Jilid VIII, m/s 425)

    Wanita yang tidak menyertai pertempuran secara langsung juga turut dilengkapi dengan senjata.

    Keterangan ini jelas menunjukkan bahwa menyertai peperangan bukanlah tugas seorang kanak-kanak bawah umur. Ummu Sulaim r.a., ibu kepada Anas r.a., adalah seorang wanita yang dewasa dan berpengalaman. Beliau telah mengambil bahagian dalam beberapa peperangan bersama Nabi Muhammad s.a.w.

    3. Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. :

    Kami telah membuktikan bahawa Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. telah menyertai Peperangan Badar sebagai wanita dewasa dan bukan sebagai kanak-kanak bawah umur. Beliau r.a. juga telah mengambil bahagian di dalam Pertempuran Uhud bersama-sama dengan Ummu Sulaim r.a.

    Anas r.a. mengatakan bahawa beliau telah melihat ‘Aishah binti Abu Bakar r.a. dan Ummu Sulaim r.a. menyinsingkan kaki seluar mereka dan sebahagian daripada buku lali mereka telah terlihat olehnya (Anas r.a.). Kedua-dua mereka bertugas mengangkat gereba air dan memberi minum kepada tentera Islam. Mereka berulang-alik mengisi air dan memberi minum kepada Mujahidin. (Bukhari, Jilid I, m/s 403)

    Tugas menyediakan air adalah proses yang berterusan di medan perang. Tugas ini hanya boleh dilakukan oleh wanita yang bersenjata dan berpengalaman, dan bukan seorang gadis mentah berumur sepuluh tahun. Sedangkan untuk mengangkat gereba air pun suatu tugas yang berat untuknya (sekiranya beliau r.a. berumur sepuluh tahun pada masa itu) bagaimana mungkin beliau sama-sama memikul tanggungjawab bersama Ummu Sulaim r.a., seorang wanita dewasa? Berganding bahu dengan Ummu Sulaim r.a. itu sendiri membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. sekali-kali bukan seorang kanak-kanak di bawah umur pada masa itu. Dan juga, apabila diakui bahawa kanak-kanak lelaki yang berumur 14 tahun tidak dibenarkan menyertai peperangan, bagaimana mungkin Ummul Mu’minin r.a. yang berumur 10 tahun dibebankan dengan tugas berat ini.

    Saudara, perbincangan di atas adalah dari sudut hadis. Sekarang mari kita bincangkan tajuk ini dari aspek sejarah, yang mana akan terus menyokong pendapat bahawa Ummul Mu’minin tidak berumur enam tahun semasa beliau r.a. mengahwini Rasulullah s.a.w.

    Hujah Ke-12 – Aishah R.A. Lebih Muda 10 Tahun Dari Kakaknya Asma, Dan Semasa Peristiwa Hijrah Asma R.A. Berumur 27 Atau 28 Tahun

    Ahli hadis dan ahli sejarah sepakat bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. adalah sepuluh tahun lebih muda daripada kakaknya Asma’ r.a., dan Asma’ r.a. meninggal dunia sewaktu berumur 100 tahun pada tahun 73 H. Ini menunjukkan Asma’ r.a. berusia 27 atau 28 tahun semasa peristiwa Hijrah. Apabila sepuluh tahun ditolak daripada 28, umur Ummul Mu’minin r.a. menjadi 18 tahun ketika peristiwa Hijrah, dan jika ‘Aishah r.a. mula hidup bersama-sama Rasulullah s.a.w. pada tahun 1 H umurnya ialah 19 tahun, dan sekiranya mereka tinggal bersama pada tahun 2 H umurnya menjadi 20 tahun.

    Wali al-Din bin Al-Khatib menulis di dalam bukunya ‘Al-Ikmal fi Asma’ al-Rijal’ sebagaimana berikut: “Asma’ r.a. adalah ibu kepada Abdullah bin Zubair. Beliau memeluk Islam di awal permulaan Islam di Mekah. Diriwayatkan beliau merupakan orang ke lapan belas memeluk Islam. Beliau sepuluh tahun tua daripada adiknya, ‘Aishah. Dia meninggal dunia sepuluh hari selepas kematian anak lelakinya. Ada juga pendapat mengatakan bahawa selepas 20 hari Ibn Zubair diturunkan daripada gantungan, beliau (Asma’ r.a.) genap umurnya 100 tahun, dan perstiwa ini berlaku di Mekah pada tahun 73 H” (Mishkat, m/s 556)

    Hafiz Ibn Hajar menulis di dalam ‘Taqrib-ul-Tahzib’:

    “Asma r.a. hidup selama 100 tahun dan meninggal dunia pada tahun 73 atau 74 H.” (Taqrib-ul-Tahzib, m/s 565)

    Hafiz Ibn Kathir menulis di dalam kitab sejarahnya yang terkenal, ‘Al-Bidayah-wa al-Nihayah’: “Adik kepada Asma’ ialah ‘Aishah r.a., ayahnya ialah Abu Bakar As-Siddiq r.a., datuknya ialah Abu Qahafah r.a., anak lelakinya ialah Abdullah r.a., dan suaminya ialah Zubair r.a., dan kesemuanya adalah merupakan sahabat r.a.”

    Asma’ r.a., bersama-sama anaknya Abdullah dan suaminya, menyertai Perang Yarmuk. Beliau lebih tua sepuluh tahun dari adiknya ‘Aishah r.a.

    Beliau menyaksikan pembunuhan anaknya, Abdullah bin Az-Zubair r.a., yang menyedihkan beberapa hari sebelum kematiannya (pada tahun 73 H). Setelah lima hari kejadian ini berlaku, menurut sesetengah pendapat mengatakan ‘selepas sepuluh hari’ sementara pendapat yang lainnya pula mengatakan ‘setelah lebih daripada 20 hari’, dan beberapa pendapat lagi mengatakan ‘selepas 100 hari’, Asma’ r.a. meninggal dunia. Suatu yang dimaklumi semua bahawa beliau berumur 100 tahun semasa kematiannya. Tiada satupun giginya tanggal malah tidak ada sebarang kekurangan pada ingatannya. (Al-Bidayah-wan-Nihayah Jilid VIII, m/s 346)

    Begitu juga az-Zahabi telah menulis di dalam bukunya ‘Siyar -A’lam al-Nubala’. Beliau mengatakan:

    “Asma’ r.a. binti Abu Bakar r.a. adalah lebih kurang sepuluh tahun lebih tua daripada ‘Aishah r.a.” (Siyar-A’lam Al-Nubala, Jilid II, m/s 208)

    Abdur Rahman bin Abi Zinad mengatakan bahawa Asma’ r.a. adalah sepuluh tahun lebih tua daripada ‘Aishah r.a.. Urwah juga mengatakan bahawa Asma’ r.a. wafat semasa berumur 100 tahun.(Siyar- A’lam Al-Nubala, Jilid II, m/s 213)

    Hafiz az-Zahabi, Hafiz Ibn Kathir dan Wali al-Din Al-Khatib adalah dikenal sebagai ulama hadis. Tokoh-tokoh ini juga adalah ahli sejarah dan ulama hadis (muhaddis) yang terkenal dalam ilmu Rijal (biografi perawi). Mereka mengatakan Ummul Mu’minin Aishah r.a.ialah sepuluh tahun lebih muda dari Asma’ r.a. Berdasarkan fakta bahwa umur Asma’ adalah 100 tahun semasa meninggal dunia, kita dapati umur Ummul Mu’minin ialah 16 tahun semasa berkahwin dan 19 tahun semasa mula hidup bersama dengan Rasulullah s.a.w. r.a. Sekali lagi dibuktikan bahawa angka ‘10’ telah digugurkan oleh Hisham di dalam riwayatnya, dan beliau telah tersalah bila menyebut hanya satu angka iaitu ‘6’ dan perkara yang serupa bila menyebut angka ‘9’. Sekiranya riwayat Hisham adalah benar umur Asma’ r.a. menjadi kurang sebanyak sepuluh tahun.

    Hujah Ke-13 – Ahli Sejarah At-Tabari Mengatakan Aishah R.A. Lahir Di Zaman Jahilliyah (Sebelum Kerasulan)

    Ahli sejarah Muhammad bin Jareer al-Tabari, menceritakan tentang keluarga Saidina Abu Bakar r.a. sebagaimana berikut:

    “Abu Bakar r.a. telah berkahwin sebanyak dua kali semasa zaman Jahiliyah. Pertama dengan Qatilah dan memperolehi Abdullah dan Asma’ r.a., dan kedua dengan Ummu Rumman r.a., yang daripadanya ‘Aishah r.a. dan Abdur-Rahman r.a. telah dilahirkan”. Kemudian beliau menyebut:

    “Empat orang anak ini telah dilahirkan oleh dua orang isteri sebagaimana dinyatakan di atas. Kesemuanya telah dilahirkan pada zaman Jahiliyah”. (Tarikh Tabari, Jilid IV, m/s 50)

    Ingat bahawa kaum Shiah mengatakan umur Aishah ialah enam tahun bila mengahwini Rasulullah s.a.w. Al-Tabari sendiri merupakan seorang Syi’ah tulin tetapi beliau mengesahkan bahawa Ummul Mu’minin r.a. dilahirkan pada zaman Jahiliyah. Hampir setiap Muslim tahu bahawa zaman sebelum daripada Kerasulan dipanggil sebagai ‘zaman Jahiliyah’. Jika Ummul mu’minin r.a. telah dilahirkan meskipun beberapa bulan sebelum Kerasulan, usianya ialah 15 tahun pada waktu beliau mula tinggal bersama Rasulullah s.a.w. Dan juga, kami telah membuktikan sebelum ini bahawa Ummul Mu’minin r.a. telah dilahirkan sekurang-kurangnya lima tahun sebelum Kerasulan. Dengan ini, telah pasti bahawa Ummul Mu’minin r.a. mula hidup bersama Rasulullah s.a.w. ketika berusia 19 tahun. Bagaimanapun, mungkin juga usianya lebih tua daripada sembilan belas tahun tetapi adalah mustahil beliau lebih muda dari itu.

    Pada pandangan kami, semua tipu helah ini adalah ciptaan orang-orang Kufah. Ini adalah kerana mereka mendakwa Fatimah r.a. dilahirkan lima tahun selepas kerasulan dan beliau berkahwin semasa berumur sembilan tahun Dicatitkan di dalam ‘Tu’fatul Awam’ iaitu buku fiqah mereka, bahawa seorang gadis sepatutnya dikahwinkan setelah usianya mencecah sembilan tahun. Dengan itu, orang Kufah, dengan niat untuk menyembunyikan muslihat jahat mereka telah memalsukan fakta tentang usia Ummul Mu’minin r.a. Bila ahli sunnah dengan lantang menolak penipuan orang Syiah ini, mereka akan menjawab, “ Bagaimana kamu boleh menolak fakta ini sedangkan kamu menerima yang Fatimah berkahwin semasa berumur sembilan tahun!”

    Sekiranya kita berpegang bahawa perbezaan umur di antara Aishah r.a. dan Asma’ r.a ialah sepuluh tahun, maka umur Asma’ ialah 14 tahun semasa nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul. Dengan fakta ini Ummul M’minin r.a. sudah pasti dilahirkan sebelum kerasulan. Ini bermakna, bahawa Ummul Mu’minin r.a. dan Saidatina Fatimah r.a. adalah hampir sebaya. Perbezaan umur sebanyak sepuluh tahun di antara kedua-duanya hanyalah rekaan orang Kufah.

    Hujah Ke-14 – Aishah R.A. Adalah Antara Orang-Orang Yang Terawal Memeluk Islam

    Ibn Hisham, seorang ahli sejarah, telah menyenaraikan nama mereka yang beriman di dalam bukunya ‘As-Seerat’ di bawah tajuk “As-Sabiqun al-Awwalun” (Orang-orang Yang Terawal dan Terkemuka). Beliau meletakkan Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. di tempat yang teratas, diikuti lelaki, wanita dan kanak-kanak mengikut turutan. Beliau menulis:

    “Selepas Saidatina Khadijah r.a., Usman Ibn Affan, Zubair bin Al-Awwam, Abdur-Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqas dan Talhah bin Ubaidullah (termasuk Zaid, Ali dan Abu Bakar) r.a. Ini adalah sekumpulan lapan orang yang telah memeluk Islam melalui seruan Abu Bakar r.a. yang terlebih dahulu memeluk Islam. Kemudiannya Abu Ubaidah bin Al-Jarah memeluk Islam diikuti oleh Abu Salamah bin Abdul Asad dan Arqam bin Abi Al-Arqam (yang mana rumahnya terletak di atas Bukit Safa yang digunakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. meyebarkan Islam secara rahsia).

    Setelah orang Islam berjumlah 40 orang, mereka telah keluar berdakwah secara terang-terangan. Hasil daripada usaha tersebut, mereka ini telah menerima Islam, Uthman bin Maz’un beserta adiknya Qadamah dan Abdullah, Ubaidah bin Al-Harith, Sa’id bin Zaid dan isterinya Fatimah (adik perempuan Umar bin Al-Khattab), Asma’ binti Abu Bakar r.a. dan ‘Aishah binti Abu Bakar r.a., kedua-duanya masih kecil, dan Khabab bin Al-Arth. (Ibn Hisham, Jilid I, m/s 65)

    Dari senarai Ibnu Hisham, Asma’ dan Aishah r.a. berada di tempat ke sembilan belas dan ke dua puluh. Aishah r.a. telah memeluk Islam lama terlebih dahulu sebelum Saidina Umar r.a., iaitu pada tahun nabi s.a.w. dilantik menjadi rasul. Kini, jika kita hendak menerima riwayat Hisham, Ummul Mu’minin r.a. telah memeluk Islam empat tahun sebelum kelahirannya. Oh, amat menakjubkan!

    Ibn Ishaq juga menyenaraikan dengan turutan, sahabat-sahabat r.a. yang telah memeluk Islam pada awal permulaannya. Dia menyebut nama sembilan sahabat r.a. yang telah memeluk Islam di peringkat permulaan. Ibn Ishaq berkata, “Kemudian Abu Ubaidah r.a. telah memeluk Islam, selepasnya Abu Salamah r.a., dan Arqam bin Abi Al-Arqam, dan Uthman bin Maz’un, dan Ubaidah bin Al-Harith, dan Sa’id bin Zaid beserta isterinya Fatimah (binti Al-Khattab), dan Asma’ binti Abu Bakr dan ‘Aishah binti Abu Bakar r.a. memeluk Islam dan beliau masih kecil ketika itu. (As-Seerat-un-Nabawiyyah, Jilid I, m/s 452)

    Di sini, Ibn Ishaq telah meninggalkan nama dua adik-beradik kepada Maz’un r.a., iaitu Qadamah dan Abdullah, meletakkan nama Asma’ dan ‘Aishah pada kedudukan yang ke-17 dan 18; dan sekiranya dua nama tadi dimasukkan maka Ummul Mu’minin Saidatina ‘Aishah r.a. jatuh di tempat yang ke-20.

    Senarai yang sama telah dikeluarkan oleh Ibn Suhaili dalam kitabnya yang terkenal iaitu ‘Kitab-Al-Raudh Al-A’yif’

    Keterangan di atas menjelaskan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah di kalangan Orang-orang Yang Terawal Beriman, dan beliau telah menyatakan keimanannya pada tahun pertama Kerasulan. Meskipun beliau seorang gadis kecil, yang pastinya, beliau sudah faham tentang makna Islam dan Iman. Kemungkinan besar beliau telah dilahirkan lima tahun sebelum kerasulan dan beliau berumur enam tahun semasa menerima Islam.

    Penulis ‘Hayat Sayyid -ul-Arab’ meletakkan Waraqah bin Naufal sebagai orang yang pertama sekali memeluk Islam. Ia telah disokong oleh Hafiz Balqinin dan Hafiz Iraqi. Ibn Mandah, Ibn Hajar, Tabari, al-Baghawi, Ibn Qan’iah dan Ibn al-Sakan juga telah menyatakan Waraqah adalah salah seorang di antara sahabat r.a.

    Selepas daripada Waraqah, Khadijah r.a. ialah Orang Yang Terawal Beriman. Kemudian selepasnya ialah Abu Bakar r.a. di kalangan lelaki dewasa, Ali r.a. di kalangan kanak-kanak, Za’id bin Harithah r.a. di kalangan hamba sahaya. Kemudiannya Ummu Aiman, dan Ummu Rumman isteri Abu Bakar r.a., kemudian Ummu Khair ibu kepada Abu Bakar, selepas itu Asma’ r.a. anak perempuan Abu Bakar. Dan telah diakui di kalangan ahli sejarah bahawa ‘Aishah dan Asma’ telah memeluk Islam bersama-sama. Dengan ini, Ummul Mu’minin Aishah berada di tempat yang kesepuluh.

    Ibn Sa’ad menceritakan bahawa wanita pertama yang memeluk Islam ialah Khadijah r.a. Selepasnya ialah Ummul Fazal r.a. iaitu isteri kepada Abbas. Kemudiannya ialah Asma’ anak perempuan Abu Bakar dan ‘Aishah. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan sebagaimanan turutan ini.

    Akan tetapi amat dikesali bahawa mereka yang terpengaruh dengan riwayat Hisham, telah menulis sesuatu yang bercanggah dengan kenyataan iaitu bahawa Ummul Mu’minin r.a. belum lagi dilahirkan pada masa itu! Kami amat terkejut bahawa Shibli tidak memasukkan langsung seorang pun ahli keluarga Abu Bakar di dalam senarai Orang Yang Terawal Beriman di dalam bukunya ‘Siratun Nabi, Jilid I’. Beliau telah menggugurkan nama Ummu Rumman, Ummul Khair, Asma’ dan ‘Aishah r.a. daripada senarai ini. Beliau bukan sahaja melakukan kesilapan di segi sejarah, tetapi melakukan kesilapan besar bila tidak menyebut mana-mana wanita kecuali Khadijah. Bahkan, beliau tidak menyebut nama puteri-puteri Rasulullah s.a.w. Seperti dijangkakan beliau tidak dapat melupakan Ali!

    Hakim Abdur Rauf Danapuri telah menulis di dalam bukunya ‘As’hah-ul-Sa’yer’ sebagai jawapan kepada tulisan Shibli dalam ‘Siratun Nabi’, di mana beliau telah memberikan satu senarai panjang mereka Yang Terawal Beriman. Di dalam senarai ini, beliau telah meletakkan nama Saidatina Asma’ di kedudukan yang ke-16 dan nama Ummul Mu’minin ‘Aishah di tempat yang ke-17. Namun begitu, disebabkan oleh Riwayat Hisham yang menghantui fikirannya, beliau menulis nota kaki sebagaimana berikut:

    “Riwayat Bukhari dan Muslim menyebut bahawa apabila Nabi Muhammad s.a.w. mengahwini beliau (‘Aishah), umurnya enam tahun; dan dalam riwayat yang lain beliau berusia tujuh tahun, dan apabila mereka mula tinggal bersama, beliau berusia sembilan tahun. Ibn Sa’ad menulis bahawa Rasulullah s.a.w. dan isterinya ‘Aishah r.a. mulai tinggal bersama di bulan Syawal pada tahun pertama Hijrah”.

    Beliau (‘Aishah r.a.) telah dilahirkan selepas empat atau lima tahun Kerasulan. Bagaimanapun, telah difahamkan beliau adalah salah seorang di antara Orang-orang Terawal Beriman. Ini bermakna, beliau adalah seorang Muslim sejak daripada awal kebangkitan Islam. (Abdur-Rauf Danapuri, ‘As’hah-ul-Sa’yer’, m/s 64)

    Hakim Rauf telah menunjukkan rasa tidak senangnya mengapa Ummul Mu’minin r.a. telah disenaraikan bersama-sama Orang-orang Terawal Beriman, kerana beliau r.a. masih belum dilahirkan ketika itu. Ini kerana, sebagaimana telah dibuktikan melalui riwayat oleh Imam Bukahri dan Muslim (dari Hisham), bahawa beliau (‘Aishah r.a.) dilahirkan selepas empat atau lima tahun Kerasulan. Hakim Rauf mengatakan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang Muslim semenjak dilahirkan. Kita hairan mengapa Hakim Rauf tidak memasukkan Zainab dan Ruqayyah r.a., anak perempuan nabi s.a.w. di dalam senarai ini.

    Ramai orang telah terkeliru disebabkan riwayat Hisham sehingga ke hari ini sebagaimana yang telah dibincangkan di awal tulisan ini. Riwayat Hisham telah menutup pemikiran sehingga hadis dan riwayat lain tidak dipedulikan. Mereka tidak dapat menerima yang lain kecuali yang satu ini dan mata mereka masih lagi tertutup sehingga hari ini.

    Hujah Ke-15 – Abu Bakar R.A. Bercadang Mengahwinkan Aishah R.A. Sebelum Berhijrah Ke Habshah

    Ahli sejarah mendakwa Ummul Mu’minin r.a telah ditunangkan dengan Jabir bin Mut’im sebelum Rasulullah s.a.w. mengahwini beliau.

    Ibn Sa’ad telah meriwayatkan daripada Ibn Abbas bahawa sewaktu Rasulullah s.a.w. menyampaikan hajatnya kepada Abu Bakar r.a. untuk mengahwini ‘Aishah r.a., beliau (Abu Bakar) meminta tangguh daripadanya s.a.w., “Wahai Rasulullah! Saya telah berjanji dengan Mut’im bin ‘Adi bin Nawfal untuk mengahwinkan ‘Aishah dengan anaknya Jabir. Berikan saya sedikit masa supaya saya dapat meleraikan ikatan janji ini daripadanya.” Kemudiannya Abu Bakar r.a. telah membebaskan dirinya daripada Mut’im dan anak lelakinya. Selepas daripada itu, beliau mengahwinkan anak perempuannya dengan Rasulullah s.a.w.

    Ibn Sa’ad r.a. telah menukilkan satu riwayat yang lain, melalui Abdullah bin Numeer, daripada Abdullah bin Abi Mulaikah sebagaimana berikut:

    “Rasulullah s.a.w. telah menyampaikan hajatnya kepada Abu Bakar untuk mengahwini ‘Aishah. Abu Bakar telah meminta tangguh, “Wahai Rasulullah! Saya telah memberikan ‘Aishah kepada anak lelaki Mut’im bin ‘Adi, Jabir. Tolong berikan saya sedikit tempoh supaya saya dapat membebaskannya. Jabir telah membebaskan ‘Aishah, dan Rasulullah pun mengahwini beliau (‘Aishah).” (Tabaqat Ibn Sa’ad, Jilid VIII, m/s 58)

    Perhatikan baik-baik bahawa rundingan telah dibuat dengan Mut’im bin Adi untuk mengahwinkan Ummul Mu’minin r.a. dengan anak lelakinya Jabir (bin Mut’in bin Adi)

    Semoga Allah mengampuni Shibli kerana terkeliru dengan mengatakan bahawa ‘Aishah r.a. telah ditunangkan dengan anak lelaki Jabir bin Mut’im (bukannya dengan Jabir) sebelum daripada Rasulullah mengahwininya. (Siratun Nabi, m/s 405)

    ‘Aishah sebenarnya ditunangkan kepada Jabir, dan bukannya kepada anak lelaki Jabir kerana beliau belum berkahwin pada ketika itu. Shibli telah melakukan kesilapan, dan kesilapan ini telah disalin oleh penulis-penulis kemudiannya.

    Almarhum Syed Sulaiman Nadvi menulis di dalam bukunya:

    “Akan tetapi sebelum ini ‘Aishah telah ditunangkan kepada anak lelaki Jabir bin Mut’im, maka adalah perlu untuk bertanya kepadanya (Jabir) terlebih dahulu.” (Seerah ‘Aishah, m/s 15)

    Niaz Fatehpuri menulis; “Saidatina ‘Aishah telah ditunangkan kepada anak lelaki Jabir bin Mut’im hingga ke waktu itu, jadi Saidina Abu Bakar telah bertanya kepada Jabir. (Sahabiyyat, m/s 36)

    Almarhum Maulana Said Akbaradi, iaitu seorang penyelidik terkemuka, menulis; “ Beliau (Abu Bakar) berkata bahawa dia telah berjanji dengan Jabir bin Mut’im. Tetapi apabila Jabir bin Mut’im diminta untuk memutuskannya, beliau menolak.” (Seerat-us-Siddiq, m/s 16)

    Adalah jelas bahawa kesemua penulis yang hebat ini telah mengakui bahawa perhubungan Ummul Mu’minin r.a. telahpun diputuskan, akan tetapi mereka semua tidak mengetahui kepada siapa sebenarnya beliau r.a. telah ditunangkan. Mereka telah menyalin bulat-bulat pernyataan Shibli itu, dan mereka telah mempertunangkan ‘Aishah bukan dengan Jabir tetapi kepada anak lelaki Jabir yang tidak pernah wujud sampai ke hari ini. Nampaknya, tiada siapa pernah merujuk kepada kitab “Ibnu Sa’ad”. Mereka menjumpai riwayat ini di dalam “Siratun Nabi’ dan tanpa usul periksa menyalin cerita ini di dalam tulisan mereka. Kami tidak menyalahkan penulis-penulis ini tetapi cukup untuk kami katakan kekeliruan ini sebagai “Kesilapan Menyalin”.

    Ahli sejarah Muhammad bin Jareer Tabari telah menulis tentang peristiwa ini dengan terperinci sebagaimana berikut:

    “Apabila Abu Bakar As-Siddiq r.a. berasa amat terganggu dengan penindasan yang dilakukan oleh orang kafir, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Habshah. Beliau terfikir untuk mengahwinkan anaknya Aishah sebelum meninggalkan Mekah.

    Abu Bakar pun pergi berjumpa Mut’im. Isteri Mut’im juga ada bersamanya. Apabila Abu Bakar menyatakan niatnya, isteri Mut’im memberitahu Abu Bakar bahawa jika mereka mengahwinkan anak lelaki mereka dengan anak perempuan Abu Bakar, sudah tentu Abu Bakar dan anaknya akan membuatkan anak mereka, Jabir, keluar daripada agama asalnya untuk memeluk agama Islam.

    Sambil melihat ke arah Mut’im, Abu Bakar berkata, “Apa yang dicakapkan oleh isteri kamu ?” (bermaksud, bagaimana beliau menolak lamaran ini?). Mut’im telah menjawab bahawa apa yang dikatakan oleh isterinya adalah betul. “Kami menganggap kamu dan anak perempuan kamu adalah sama (iaitu berdakwah kepada Islam). Mendengarkan ini, Abu Bakar pun beredar dari situ. (Tabari, Jilid I, m/s 493)

    Riwayat oleh Tabari ini telah mendedahkan beberapa perkara seperti berikut:

    1. Hubungan yang dimaksudkan ialah dengan Jabir, bukannya dengan anak lelaki Jabir.

    2. Apabila Saidina Abu Bakar r.a bercadang untuk berhijrah ke Habshah, Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang gadis remaja ataupun hampir dewasa. Inilah sebabnya mengapa Saidina Abu Bakar memikirkan tentang anak perempuannya sebelum berhijrah ke Habshah.

    Menurut riwayat Hisham, Ummul Mu’minin r.a. belum lagi dilahirkan, dan jika beliau telah dilahirkan pun, beliau mungkin baru berusia dua atau empat bulan. Bolehkah kita katakan Ummul Mu’minin r.a.. berkahwin pada usia 2-4 bulan?

    Kita hairan, Mut’in tidak pernah mengatakan “Wahai Abu Bakar! Baguslah, kamu mempunyai seorang bayi perempuan, dia akan menjadi isteri anak saya.” Tidak, perkataan seperti ini tidak pernah diucapkan.

    3. Ini juga membuktikan bahawa ‘Aishah r.a., sebagaimana ayahnya, Abu Bakar telah terkenal dalam mendaawahkan Islam. Mut’im bimbang bahawa anak perempuan Abu Bakar akan mendaawah anak lelakinya memeluk Islam oleh itu adalah lebih baik untuk menghalang perkahwinan itu. Ini satu lagi bukti bahawa beliau (‘Aishah) telah remaja dan mampu berdaawah kepada Islam.

    4. Logiknya, seorang ayah hanya akan mula memikirkan mengenai perkahwinan anaknya apabila anaknya melewati usia remaja. Dalam keadaan ini, kita akan terfikir bahawa umurnya sekurang-kurangnya 15 tahun pada ketika itu. Berdasarkan andaian ini, usianya ialah 25 tahun pada ketika beliau mula tinggal bersama suaminya s.a.w. Adalah tidak berasas untuk menetapkan usia yang lebih muda dari itu.

    Hujah Ke-16 – Aishah R.A. Disebut Sebagai ‘Gadis’ Dan Bukan ‘Kanak-Kanak’ Semasa Dicadangkan Untuk Bernikah Dengan Rasulullah

    Juga merupakan satu fakta sejarah bahawa Khaulah binti Hakim telah memberi cadangan kepada Rasulullah s.a.w. untuk mengahwini ‘Aishah r.a. dan Saudah r.a.. Khaulah bt Hakim adalah isteri kepada Uthman bin Maz’un, dan Uthman bin Maz’un adalah adik susuan Baginda s.a.w. Dalam hubungan ini, Khaulah adalah isteri kepada adik sesusuan Nabi s.a.w.

    Khaulah telah berkata, “Wahai Rasulullah! Mengapa anda tidak mahu berkahwin?” Khaulah mengusulkan demikian setelah kematian Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. Lalu Baginda s.a.w. bertanya, “Dengan siapa saya patut berkahwin?” Khaulah r.a. menjawab, “Dengan seorang gadis atau janda” Baginda s.a.w. berkata, “Siapakah gadis itu, dan siapa pula janda itu?” Khaulah menjawab, “Dia adalah anak perempuan orang yang paling kau sayangi di atas muka bumi ini, Abu Bakar, iaitu Aishah, dan janda itu pula ialah Saudah binti Zam’ah.” Lalu Baginda s.a.w. berkata, “Baiklah, beritahu tentang saya kepada kedua-duanya, dan tunggu.”

    Hafiz Ibn Kathir telah menukilkan riwayat ini dengan panjang lebar dengan merujuk kepada ‘al-Baihaqi’ dan ‘Musnad Ahmad’. Kedua-dua kitab tersebut bukanlah buku sejarah, tetapi kitab hadis dan Ibn Kathir tidak meminda atau mengulas riwayat-riwayat ini. Oleh itu, perbahasan ini bukanlah dalil sejarah, akan tetapi dalil hadis.

    Dalam Bahasa Arab, perkataan ‘Jari`ah’ biasa digunakan untuk gadis kecil yang belum baligh, sementara perkataan ‘Bakra’ digunakan untuk seorang anak dara. Perkataan ini tidak diucapkan untuk seorang anak kecil berusia lapan atau sembilan tahun; tetapi ia digunakan untuk anak dara yang telah baligh. Sepertimana Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda, “Persetujuan hendaklah diperolehi daripada ‘bakra’ (anak dara) (dalam hal nikah), dan diamnya adalah persetujuannya.” (SahehMuslim)

    Perkataan ‘bakra’ dalam Bahasa Arab adalah lawan kepada perkataan ‘thayb’. ‘Thayb’ ialah wanita

    berkahwin yang kematian suami atau yang telah bercerai, yang mana dalam Bahasa Urdu disebut sebagai ‘au`rat’(dan dalam bahasa Melayu disebut ‘janda’ atau ‘balu’). Jika anda tidak mempercayainya, cubalah panggil seorang anak dara dengan sebutan ‘au`rat’, dan lihat apa yang akan terjadi!

    Itulah sebabnya satu lagi ayat di dalam hadis ini ialah:

    “Dan, seorang ‘thayb’(janda atau balu) lebih berhak ke atas dirinya berbanding dengan wali ”. (Saheh Muslim)

    Perkataan ‘thayb’ ini digunakan sebagai lawan kepada perkataan ‘bakra’. Di dalam Riwayat daripada ‘Musnad Ahmad’ dan ‘Baihaqi’, Khaulah r.a. mengucapkan; “ada seorang ‘bakra’(gadis atau anak dara) dan ada seorang ‘thayb’(janda)”. Perkataan ‘bakra’ (gadis) ini adalah suatu bukti bahawa ‘Aishah ialah seorang anak dara yang melepasi usia remaja. Jika Aishah r.a. adalah seorang kanak-kanak perempuan berusia enam tahun, maka Khaulah r.a. tentunya akan mengucapkan perkataan “ada seorang ‘jari’at’ (kanak-kanak perempuan) dan seorang ‘thayb’(janda)”. Beliau tidak mungkin berdusta dengan sebegitu jelas. Beliau juga bukanlah seorang ‘ajami’ (bukan Arab), iaitu seseorang yang tidak fasih berbahasa Arab. Beliau tidak mungkin melakukan kesilapan sebodoh ini.

    Telah menjadi suatu kebiasaan bagi Nabi Muhammad s.a.w. untuk melawat rumah Abu Bakar setiap hari di waktu pagi dan petang, sepertimana yang diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam hal ini, mungkinkah Nabi s.a.w. tidak menyedari bahawa apa yang Khaulah beritahu sebagai ‘seorang anak dara’ hanyalah seorang kanak-kanak perempuan yang baru berusia enam tahun? Jikalau benar sedemikian sudah tentu baginda s.a.w. akan berkata:

    “Wahai Khaulah!Adik iparku! Adakah kamu berfikir dengan betul ? Kamu telah mencadangkan kepada saya seorang kanak-kanak perempuan dengan mengatakan beliau seorang gadis. Saya biasa melihatnya setiap pagi dan petang”.

    Adalah jelas perkara yang sedemikian tidak pernah berlaku. Bahkan, apabila Khaulah menyampaikan hasrat Rasulullah kepada Abu Bakar r.a., beliau (Abu Bakar) menjawab bahawa beliau telah berjanji untuk mengahwinkan Aishah dengan anak Mut’im, dan meminta tempoh untuk menyelesaikan perkara tersebut dengan sebaik mungkin. Abu Bakar tidak pernah mengatakan Aishah r.a. masih lagi kanak-kanak kecil.

    Peristiwa ini adalah bukti bahawa Saidatina ‘Aishah bukan lagi seorang kanak-kanak di waktu itu. Sekiranya tidak, Abu Bakar r.a. dan Khaulah binti Hakim r.a. mungkin dianggap sebagai orang kurang siuman, dan kemungkinan juga kemuliaan Nabi s.a.w. akan diperlekehkan. (Semoga Allah melindungi kita dari semua ini!)

    Khaulah mencadangkan seorang anak dara kepada Rasulullah s.a.w. Bapanya, Abu Bakar r.a. dan Rasulullah s.a.w. tidak menolak bila mendengar cadangan ini. Jikalau perkahwinan ini telah berlaku sewaktu Ummul Mu’minin r.a. baru berusia enam tahun, maka Nabi Muhammad s.a.w. dan Islam kemungkinannya telah menjadi bahan ejekan dan cemuhan kaum musyrikin di Mekah. Dan, tidak boleh dibayangkan tokoh-tokoh yang bijaksana sebagaimana nabi s.a.w. dan Abu Bakar r.a. melakukan kesilapan sedemikian rupa sehingga menjadi sasaran dan buah mulut orang ramai.

    Sebelum daripada ini kami adalah salah seorang yang mempercayai bahawa Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah hidup bersama Rasulullah s.a.w. sejak umurnya sembilan tahun, dan kami menerima riwayat ‘Bukhari’ dan ‘Muslim’. Akan tetapi apabila kami, dengan mengosongkan fikiran, membaca buku-buku hadis dan sejarah, dan buku-buku rijal (biografi perawi), kami membuat kesimpulan bahawa selama ini kami seolah-olah katak yang berada di dalam telaga. Namun, kini kami telah sampai ke peringkat di mana sungai Furat dan Dajlah, bahkan Teluk Farsi, tidak lagi mengepung kami. Sekarang doa kami hanyalah supaya Ulama kami turut keluar daripada tempurung kejahilan dan tipudaya, dan kemudian lihatlah berapa banyak manakah sungai yang mengalir di Pakistan ini.

    Hujah Ke-17 – Rasullulah Tidak Tinggal Bersama Aishah R.A. Kerana Masalah Mendapatkan Mahar, Bukan Kerana Umur Aishah Yang Terlalu Muda

    Ibn Saad di dalam “Tabaqat”, menukilkan dari Amra binti Abdur Rahman bahawa beliau telah bertanya kepada Ummul Mu’minin r.a., “Bilakah Rasulullah mula tinggal bersama dengan anda?” Beliau (‘Aishah r.a.) menjawab, “Apabila Rasulullah s.a.w. berhijrah ke Madinah, baginda telah meninggalkan saya dan anak perempuannya di Mekah. Setelah tiba di Madinah, baginda telah menghantar Zaid bin Harithah r.a. untuk membawa kami (ke Madinah), dan juga menghantar pembantunya Abu Raf’a r.a. bersamanya (Zaid), dan telah memberi kepada Zaid dua ekor unta dan 500 Dirham. Baginda s.a.w. mendapat duit ini daripada Abu Bakar r.a., dan duit ini telah diberi kepada Zaid bin Harithah untuk tujuan mereka membeli barang-barang keperluan dan lebih banyak unta, jika diperlukan.

    Abu Bakar r.a. menghantar Abdullah bin Ariqit Al-dili bersama dengan dua orang ini, dan telah memberikan dua atau tiga ekor unta (kepada Al-dili). Beliau (Abu Bakar r.a.) telah menulis kepada anaknya Abdullah dan menyuruhnya menyiapkan keluarganya untuk berhijrah. Emak saya Ummu Rumman r.a. dan isteri Zubair, Asma’ r.a. dan saya keluar bersama-sama. Apabila kami telah tiba di Qadid, Zaid bin Harithah membeli tiga ekor unta dengan harga 500 Dirham, dan kami mulai bertolak bersama-sama. Di dalam perjalanan kami berjumpa Talhah bin Ubaidullah yang telah keluar dengan niat untuk berhijrah dan beliau mahu menyertai rombongan keluarga kami berhijrah ke Madinah.

    Zaid bin Harithah r.a. meneruskan perjalanan ke Madinah dengan membawa bersama Abu Raf’a, Fatimah, Ummu Kalthum dan Saudah bin Zam’ah r.a. Zaid juga telah membawa bersama isterinya Ummu Aiman dan anak lelakinya Usamah r.a. Manakala Abdullah bin Abu Bakar membawa ibunya Ummu Rumman r.a. dan kedua-dua adik perempuannya. Apabila kami sampai ke tempat bernama Baidh yang terletak berhampiran dengan Mina, unta saya telah ketakutan dan lari. Ketika itu saya berada di dalam mehfah, ibu saya telah menangis, “Oh! Anak ku. Oh! Pengantin ku”. Kemudian mereka menemui unta kami yang turun dari gaung. Allah yang Maha Kuasa telah memeliharanya.

    Apabila kami tiba di Madinah, saya tinggal bersama dengan keluarga Abu Bakar r.a. (ayah saya), sementara keluarga Rasulullah s.a.w. telah tinggal di rumah berdekatan dengan masjid. Baginda s.a.w. pada masa itu sibuk membina masjid. Kami telah tinggal untuk beberapa hari di rumah Abu Bakar.

    Kemudian Abu Bakar r.a. telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Sekarang apakah halangan kepada tuan untuk tinggal bersama dengan isteri tuan?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Maskahwin ialah halangannya.” Kemudian Abu Bakar r.a memberi kepada baginda s.a.w. 12 Ukyah dan beberapa Nash (lebih kurang 500 Dirham atau lebih sedikit). Rasululah s.a.w. kemudiannya telah menghantar wang tersebut kepada kami sebagai mahar perkahwinan. Selepas itu saya telah datang ke rumah ini untuk tinggal bersamanya, di tempat saya tinggal sekarang ini. Di rumah inilah Rasulullah s.a.w. wafat. Dan, Rasulullah telah membina sebuah pintu yang menghala ke masjid yang terletak di hadapan rumah saya. Dan, Rasulullah juga telah hidup bersama Saudah r.a. di sebuah rumah di anjung masjid, bersebelahan dengan rumah saya. (“Tabaqat Ibn Sa’ad”, Jilid VIII, m/s 68)

    Meskipun perawi riwayat ini adalah Waqidi, seorang pendusta, tetapi tidak semestinya dia akan berdusta setiap masa. Ada masanya dia akan bercakap benar. Sekali lagi, tidak sebagaimana Shibli, sesetengah pakar hadis cuba untuk membuktikan bahawa beliau (Waqidi) adalah ‘thiqah’. Kami telah menyalin riwayatnya di sini disebabkan oleh apa yang kami petik di atas menyokong riwayat ini. Bayangkan, akhirnya sesuatu yang benar telah keluar dari mulut seorang pendusta!

    Tujuan kami hanya untuk menunjukkan jika sekiranya Ummul Mu’minin baru sahaja berusia lapan tahun selepas berhijrah ke Madinah. tidak mungkin sekali-kali Abu Bakar akan meminta Rasulullah s.a.w. untuk tinggal bersama Aishah r.a. Dalam perkataan lain, seolah-olah beliau berkata: “Berapa lama saya patut membiarkan anak perempuan saya tingal di rumah saya? Dan Rasulullah s.a.w tidak akan sekali-kali menjawab ‘Maskahwinnya adalah penghalangnya’. Abu Bakar r.a. tidak suka anak perempuannya tinggal di rumahnya. Jadi beliau menghantar wang hantaran perkahwinan, dan kemudian baginda s.a.w. telah mengadakan majlis perkahwinannya dengan Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a.”. Ini telah membuktikan bahawa tiada sebarang halangan mengapa Rasulullah tidak membawa isterinya r.a. tinggal bersamanya melainkan kerana tiada maskahwin.

    Hujah Ke-18 – Hadis Yang Mensyaratkan Mendapat Persetujuan Seorang Gadis Sebelum Dikahwinkan Memerlukan Gadis Tersebut Telah Cukup Umur

    Ibn Abbas meriwayatkan yang Rasulullah s.aw. bersabda:,

    “seorang janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya, dan persetujuan mestilah diperolehi daripada seorang anak dara, dan diamnya adalah menunjukkan persetujuannya (Muslim, jilid 1, m/s 455)

    Namun di dalam beberapa riwayat, disebutkan “Anak dara mestilah diminta pandangan darinya”.

    Di dalam hadith riwayat Abu Hurairah r.a., nabi s.a.w. bersabda;

    “ Janganlah kamu mengahwinkan janda sebelum meminta pandangan darinya dan janganlah kamu mengahwinkan anak dara sebelum meminta persetujuan” (Muslim, Jilid I, m/s 455)

    Berdasarkan hadis-hadis ini, kerelaan seorang anak dara (yang belum berkahwin) ialah satu syarat asas bagi perkahwinannya; dan jika gadis itu di bawah umur, tidak timbul soalan mengenai kerelaannya. Ia disebabkan beliau tidak mengetahui tujuan perkahwinan itu sendiri. Dengan itu ulama fiqah menyelesaikan masalah ini dengan memutuskan bahawa wali boleh menjalankan pernikahan seorang kanak-kanak bagi pihak kanak-kanak tersebut. Ulama fiqah berdalilkan riwayat Hisham kerana tiada riwayat lain berkenaan perkara ini. Oleh kerana riwayat ini terbukti salah, maka perkahwinan kanak-kanak belum baligh juga adalah salah.

    Hujah Ke-19 – Kebolehan Luarbiasa Aishah R.A Mengingati Syair Yang Biasa Di Sebut Di Zaman Jahiliyah Membuktikan Beliau R.A. Lahir Di Zaman Jahiliyah

    Telah tercatat dalam buku hadis dan sejarah bahawa apabila Muhajirin berhijrah ke Madinah, ramai di kalangannya jatuh sakit, termasuklah Abu Bakar As-Siddiq r.a.yang mengalami demam kuat.

    Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah menjaga ayahnya sepanjang ayahnya jatuh sakit. (Tabaqat Ibn Sa’ad, Jilid III, m/s 43)

    Iklim di Madinah tidak sesuai dengan sahabat Muhajirin untuk beberapa ketika. Mereka jatuh sakit berulangkali, hinggakan Nabi Muhammad s.a.w. telah berdoa sebagaimana berikut:

    “Ya Allah! Jadikanlah Madinah mengasihi kami sebagaimana Mekah mengasihi kami, malah lebih lagi. Sesuaikanlah iklimnya kepada kami. Berkatilah kami dengan udara dan permukaan bumi. Alihkan demamnya ke arah Jahfah”

    (Hadis riwayat Bukahri dan Muslim)

    Riwayat ini juga diceritakan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. dan dinukilkan oleh Hisham dari ayahnya Urwah. Dan, terdapat riwayat lain oleh Hisham yang diriwayatkan oleh Imam Malik yang disebutkan di dalam ‘Bukhari’ Jilid II, m/s 848.

    Aishah r.a. berkata bahawa Madinah adalah suatu tempat di mana bersarangnya penyakit-penyakit dan wabak-wabak. Penduduknya senantiasa menderita penyakit demam. Saidina Abu Bakr r.a., hambanya ‘Amir r.a. bin Faheerah dan Bilal r.a. telah terlantar sakit di dalam sebuah rumah. Dengan keizinan daripada Rasulullah s.a.w., beliau (‘Aishah r.a.) pergi untuk merawat mereka. Pada masa itu, perintah mengenai pemakaian purdah belum lagi diturunkan. Kesemua mereka sedang terbaring dengan keadaan separuh sedar disebabkan demam yang kuat. Beliau (‘Aishah r.a.) menyambung, ‘Saya menuju ke arah Abu Bakar r.a. dan berkata kepadanya, “Ayah! Bagaimana keadaan kamu?” beliau (Abu Bakar) menjawab:

    “Setiap manusia menghabiskan waktunya di kalangan sanak-saudaranya, dan kematian itu adalah lebih hampir daripada tali kasutnya.”

    Aishah r.a. berkata bahawa ayahnya tidak mengetahui apa yang telah diucapkannya (disebabkan oleh fikirannya terganggu oleh demam). Kemudiannya saya pergi kepada ‘Amir r.a., dan bertanya, “Amir! Apa khabar?” beliau (‘Amir) berkata:

    “Saya telah merasai keperitan maut sebelum datang kematian, kerana seorang penakut akan mati dicucuk hidungnya. Semua orang berjuang dengan kekuatannya, seperti mana sehelai kain menyelamatkan kulit manusia daripada sinarannya.”

    Saidatina ‘Aishah r.a. berkata lagi, “Saya fikir beliau juga tidak mengerti apa yang telah diucapkannya.”

    Telah menjadi tabiat Bilal apabila beliau menghidap demam, beliau selalunya berbaring di halaman rumah, dan menangis dengan sekuat-kuat hatinya. Pada ketika itu, beliau sedang memperdengarkan bait-bait berikut:

    “Alangkah baiknya, jika aku melalui malam di lembah di mana rumput liar dan belalang akan berada di sekeliling ku. Dan jika aku turun pada suatu hari mengambil air di Majnah dan alangkah baiknya kalau aku nampak sha’mmah dan tufail”

    Di dalam riwayat ‘Bukhari’ tidak disebut mengenai ‘Amir bin Fareehah, tetapi Imam Ahmad di dalam ‘Musnad’nya telah meriwayatkan tentang ‘Amir daripada Abdullah bin Urwah.

    Perhatikan riwayat ini dengan cermat. Ummu Rumman r.a. dan Asma’ r.a. juga berada di dalam rumah itu. Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. dipertanggungjawabkan menjaga orang-orang sakit. Adakah munasabah tanggungjawab penting seperti itu diamanahkan kepada seorang kanak-kanak perempuan berusia lapan tahun sedangkan pada masa yang sama terdapat wanita lain yang lebih tua di dalam rumah itu? Tugas merawat dan menjaga ini munasabah jika Ummul Mu’minin r.a. sendiri sudah cukup matang dan tahu tanggungjawabnya. Tugas melayan orang sakit sebagaimana yang telah digambarkan di dalam Tabaqat Ibn Sa’ad, adalah tidak masuk akal untuk kanak-kanak di usia 8 atau 9 tahun.

    ‘Aishah r.a. mengatakan bahawa beliau menceritakan keadaan ayahnya, ‘Amir bin Fareehah dan Bilal r.a., dengan menyebut bait-bait ini kepada Rasulullah s.a.w.:

    “Mereka ini berjalan terhuyung-hayang. Mereka menjadi kurang waras disebabkan oleh demam yang amat kuat.”

    Keseluruhan peristiwa ini membuktikan bahawa Ummul Mu’minin r.a. telahpun menjadi seorang surirumah pada tahun 1 H. Bayangkan dia meminta izin suaminya untuk melawat dan merawat orang sakit. Bayangkan bagaimana sekembalinya, beliau r.a. telah mengulang kesemua bait-bait yang didengarinya, dan memberitahu suaminya s.a.w. bahawa mereka ini melafazkan bait-bait ini di dalam keadaan demam kuat dan dalam keadaan tidak sedar.

    Kesemua perkara ini adalah amat payah untuk dilakukan dan difahami oleh seorang kanak-kanak perempuan berumur sembilan tahun. Ini adalah urusan orang dewasa. Mengingati dan menghafal syair-syair adalah mungkin, hanya apabila Ummul Mu’minin r.a. telah melalui sebahagian daripada usianya di dalam persekitaran begitu. Walaubagaimanapun, jika kita menerima bahawa beliau hidup bersama suami (Rasulullah) sewaktu berusia sembilan tahun dan beliau dilahirkan setelah tahun kelima Kerasulan, tidak wujud persekitaran rumah yang sedemikian kerana pada masa itu rumah mereka dipenuhi dengan bacaan al-Quran dan bukannya syair. Bila dan di mana beliau (‘Aishah) belajar syair ini? Jawapan mudahnya ialah: ‘beliau telah dilahirkan sebelum Zaman Kerasulan, mindanya telah terdidik dengan kesusasteraan sebagaimana penduduk Mekah yang lain’. Kita akan membincangkan hal ini dengan lebih lanjut di halaman yang selanjutnya.

    Hujah Ke-20 – Kemahiran Dalam Sastera, Ilmu Salasilah Dan Sejarah Sebelum Islam

    Waliuddin Al-Khateeb, penulis Mishkath menulis:

    “Saidatina ‘Aishah r.a. merupakan seorang wanita yang faqih, alim, fasih, dan fazilah. Beliau paling banyak meriwayatkan hadis daripada Rasulullah s.a.w. Beliau r.a. sangat mahir dalam sejarah peperangan dan syair-syair Arab (sebelum kedatangan Islam).”(‘Mishkat’, m/s 612)

    Anak saudaranya Urwah r.a. menjelaskan bahawa beliau tidak pernah menjumpai seseorang yang lebih mahir daripada Saidatina ‘Aishah r.a. di dalam bidang tafsir al-Qur’an, ilmu Fara’id, hukum halal-haram, hukum fiqah, syair, perubatan, sejarah Arab dan ilmu salasilah. (‘Al-Bidayah wan-Nihayah’, Jilid VIII, m/s 92)

    ‘Ata bin Abi Rabah mengatakan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah seorang ahli fiqah yang paling hebat, seorang ulama’ yang paling tinggi pengetahuannya dan seorang pemikir yang paling tinggi tahap pemikirannya. (‘Al-Bidayah wan-Nihayah’, Jilid VIII, m/s 92)

    Abu Musa Ashaari r.a. berkata “Apabila kami, para sahabat mengalami kesulitan dalam memahami hadis nabi, kami akan mendapat penyelesaian yang mudah daripada beliau” (‘Tirmizi’, ‘Al-Bidayah wan-Nihayah)

    Abul Zinad menceritakan bahawa beliau belum pernah melihat seorang lelaki yang lebih mahir dalam syair berbanding Urwah. Beliau telah bertanya kepada Urwah, “Bagaimana anda boleh menjadi seorang yang sangat hebat dalam syair?” Urwah telah menjawab bahawa beliau mewarisinya daripada ibu saudaranya Aishah r.a.; dan menambah, apabila berlaku sebarang peristiwa, beliau (‘Aishah r.a.) akan melafazkan secara spontan serangkap syair yang menggambarkan keadaan itu.

    Musa bin Talhah menceritakan bahawa beliau tidak pernah menemui seseorang yang lebih petah berbicara dari Aishah r.a. Urwah r.a. berkata bahawa beliau pernah bertanya kepada Ummul Mu’minin r.a., “Wahai ibu saudaraku! Saya tidak hairan bagaimana anda menjadi seorang yang faqih, kerana anda adalah isteri kepada Rasulullah s.a.w. dan anak perempuan kepada Abu Bakar r.a. Saya juga tidak hairan kerana anda dapat mengingat syair dan mahir tentang sejarah kerana anda adalah anak kepada Abu Bakar, orang yang paling alim. Akan tetapi saya hairan dengan pengetahuan anda yang mendalam dalam perubatan, daripada manakah anda mempelajarinya?” Ummul Mu’minin r.a. menepuk bahu Urwah dan berkata, “Wahai Urwah! Rasulullah s.a.w. menderita sakit di hari-hari terakhir kehidupannya, dan ramai utusan yang datang melihatnya dari setiap ceruk, dan mereka mecadangkan ubat-ubatan untuknya s.a.w, dan saya memberikan ubat kepadanya menurut cadangan-cadangan tersebut.

    Untuk mencapai kecekapan di dalam kesusateraan Arab, syair, ilmu salasilah dan sejarah Arab, memerlukan masa yang lama dan seorang pelajar hendaklah cukup berumur untuk memahami dan mengingati ilmu tersebut. Dan kita tahu bahawa ilmu salasilah dan sejarah Arab adalah topik yang membosankan.

    Berdasarkan riwayat Hisham, beliau (‘Aishah) masih lagi seorang kanak-kanak berumur lapan tahun, semasa berlakunya peristiwa Hijrah. Abu Bakar r.a., meninggalkan keluarganya di Mekah dan berhijrah ke Madinah. Selepas beberapa bulan, beliau membawa ahli keluarganya (melalui sahabatnya). Beliau membawa ahli keluarganya datang ke Madinah, dan Saidatina ‘Aishah mulai tinggal bersama suaminya Rasulullah setelah beberapa hari tiba di Madinah. Dalam tempoh yang sebegitu singkat beliau tidak akan mendapat sebarang peluang untuk menimba ilmu dan pengalaman daripada ayahnya.

    Di Madinah, aktiviti Rasulullah s.a.w. adalah amat berbeza berbanding semasa berada di Mekah. Di sini baginda mengajarkan al-Qur’an, solat dan puasa, dan menyebarkan Islam ke wilayah-wilayah.luar. Persekitaran ini tiada kaitan langsung dengan ilmu salasilah, ilmu sejarah dan syair. Saidatina ‘Aishah tidak mungkin dapat mencapai kemahiran dengan memahami dan menyesuaikan syair-syair melainkan beliau telah melalui masa yang agak panjang untuk memerhati dan mempelajari syair. Beliau telah menghafal rangkap-rangkap syair Arab yang terbaik yang akan diungkapkan bersesuaian dengan keadaan. Beliau juga telah memahami dengan mendalam rangkap-rangkap prosa. Hadis yang dinyatakan oleh Ummu Zar’i, yang diriwayatkan dalam ‘Muslim’, merupakan karya agung sasteranya.

    Dengan itu, boleh disimpulkan bahawa Ummul Mu’minin r.a. adalah merupakan seorang wanita yang dewasa sebelum perkahwinannya. Beliau telah memperolehi kemahiran ini samada dengan belajar atau memerhati ayahnya. Disebabkan oleh daya ingatan dan kebijaksanaannya yang luar biasa, beliau telah mencapai kecemerlangan di dalam ilmu salasilah Arab, juga kemahiran yang tinggi di dalam syair dan sejarah.

    Saidatina ‘Aishah r.a. berkata: “Suatu hari, Rasulullah sedang membaiki kasutnya dan saya memerhatikannya. Dengan melemparkan pandangannya ke arah saya, baginda s.a.w. bertanya, “Kenapa? Kamu merenung saya dengan begitu tekun.” Saya menjawab, “Saya melihat kesepadanan rangkap syair oleh Abu Bakr al-Hazli pada diri kamu. Jika beliau masih hidup, beliau tidak akan menemui orang lain yang lebih sesuai untuk rangkap syairnya.” Baginda s.a.w. bertanya kepada saya apakah rangkap tersebut. Kemudian Ummul Mu’minin r.a. berkata:

    “Sesuatu yang tidak ada padanya kekejian, dan daripada kekotoran pemerah susu dan daripada setiap penyakit yang berjangkit, (dan) apabila kamu melihat kepada garis-garis di wajahnya, (kamu akan melihat) ia bercahaya, sebagaimana pipi yang terang bercahaya.”

    Mendengarkan rangkap ini, Rasulullah s.a.w. amat gembira, sambil menggeleng-geleng kepalanya, baginda bersabda, “Ia amat menyenangkan saya, syair ini tepat pada tempatnya”

    Ini bermakna bahawa Ummul Mu’minin r.a. bukanlah sekadar seorang wanita alim yang kaku bahkan Rasulullah s.a.w. sendiri juga bukanlah seorang yang hambar dan membosanknan.

    Sewaktu adiknya Abdur Rahman meninggal dunia, beliau (‘Aishah r.a.) dengan spontan mengungkapkan bait-bait ini:

    “Kita berdua adalah diibaratkan seperti dua orang pengiring raja Jazimah. Untuk suatu tempoh yang lama, sangat lama mereka bersahabat hinggakan orang berkata bahawa tidak mungkin mereka akan berpisah. Namun apabila kami berpisah, meskipun saya dan Tuan telah bersama dalam tempoh yang lama, tetapi rasanya kami tidak pernah tinggal bersama walaupun satu malam.”

    Ungkapan-ungkapan Ummul Mu’minin r.a tentang syair, sejarah dan salasilah yang ditemui di dalam kitab-kitab hadis, sejarah dan kesusateraan boleh dirumuskan bahawa beliau adalah seorang ahli hadis, ahli feqah, ahli tafsir al-Quran, ahli sejarah dan pakar salasilah yang terhebat di zamannya.

    Dengan tujuan untuk menenggelamkan ketokohan Aishah r.a. dalam bidang keilmuan dan kesusasteraan, orang-orang Syiah mencipta cerita kononnya Ummul Mu’minin suka bermain dengan anak patung dan anak patung ini menjadi sebahagian penting dari hidupnya. Bahkan apabila Rasulullah s.a.w. kembali daripada Perang Tabuk, baginda s.a.w. melihat anak patung yang dihiasi di suatu sudut rumahnya, meskipun setelah sembilan tahun menjadi isteri Rasulullah s.a.w!! Dalam erti kata lain, beliau (‘Aishah) tidak melakukan sebarang kerja, melainkan berterusan bermain dengan anak patungnya, walaupun setelah menjadi salah seorang daripada ahli keluarga Nabi s.a.w.

    Sedangkan, fakta sebenarnya ialah setelah menjadi isteri Nabi s.a.w., Ummul Mu’minin r.a. telah pun mencapai tahap kemuncak di bidang keilmuan di mana beliau mampu meletakkan prinsip-prinsip asas hukum fiqah dan hadis yang diakui dan diguna pakai oleh sahabat-sahabat r.a.

    Contohnya, Ummul Mu’minin memperkenalkan satu prinsip iaitu suatu yang bercanggah dengan al-Quran tidak sekali-kali akan diterima, sama ada ia ditakwil atau sememangnya yang ditolak.

    Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas perhatikan riwayat tentang orang kafir yang telah terbunuh di dalam Perang Badar. Rasulullah s.a.w. mencampakkan mayat mereka ke dalam satu lubang dan sambil berdiri di tepi lubang tersebut baginda mengucapkan, “Adakah kamu dapati apa yang dijanjikan oleh tuhanmu benar.” Lalu para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Adakah kamu bercakap dengan orang yang telah mati? Baginda kemudiannya menjawab: “Kamu tidak akan mendengar lebih daripada mereka, cuma mereka tidak dapat menjawab.” Mendengarkan ini Ummul Mu’minin r.a. berkata, “ Rasulullah tidak pernah mengucapkan perkara tersebut, sebaliknya baginda telah mengucapkan: “Kini mereka tahu sesungguhnya apa yang aku cakapkan adalah benar ”. Baginda s.a.w. tidak mungkin melafazkan kata-kata sebagaimana riwayat di atas, kerana Allah Yang Maha Esa telah berkata: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat membuatkan orang yang telah mati mendengar.” (Bukhari Jilid I, m/s 183)

    Suatu contoh lagi ialah apabila hampir meninggal dunia Saidina Umar r.a. telah mengucapkan hadis Nabi ini: “Sesungguhnya, mayat akan diazab dengan ratapan daripada ahli keluarganya.” Mendengarkan ini, Saidatina ‘Aishah r.a. berkata: “Semoga Allah yang Maha Kuasa mencucuri rahmat kepada Umar r.a. Rasulullah s.a.w. tidak pernah mengucapkan hadis ini, yakni bahawa Allah S.W.T. memberi azab terhadap orang Mu’min disebabkan oleh ratapan daripada ahli keluarganya, sebaliknya Rasulullah s.a.w. telah mengucapkan bahawa Allah S.W.T. akan melipatgandakan azab terhadap orang kafir lantaran ratapan oleh ahli keluarganya. Dan al-Qur’an itu adalah mencukupi bagi kamu, dan seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.”

    Di dalam riwayat yang lain beliau (‘Aishah) menjelaskan, “Apa yang sebenarnya berlaku ialah seorang perempuan Yahudi telah meninggal dunia, dan ahli keluarganya telah meratapi kematiannya. Dengan menujukan kepada mereka, Rasulullah s.a.w. telah mengucapkan: “Mereka ini sedang meratapi kematian beliau, sedangkan beliau diazab di dalam kuburnya.” (Bukhari, Jilid I, m/s 172,/ ‘Muslim’, Jilid I, m/s 303)

    Teguran yang diberikan oleh Ummul Mu’minin r.a. dalam dua peristiwa ini, mengasaskan prinsip-prinsip fiqah dan hadis sebagaimana berikut :

    1- Bila makna sesuatu hadis bercanggah dengan al-Quran, walau betapa tinggi kedudukan sanadnya, ianya adalah tertolak. Prinsip ini digunakan oleh fiqah mazhab Hanafi.

    2– Walau setinggi manapun kedudukan seseorang perawi, sesuatu hadis tetap tidak akan diterima sekiranya dia meriwayatkan sesuatu yang bercanggah dengan al-Quran. Tiada siapa akan mencapai kedudukan seumpama Saidina Umar r.a. dan Saidina Abdullah bin Umar r.a. Apabila Ummul Mu’minin r.a. mengutamakan ‘prinsip’ bila berdepan dengan ‘peribadi’ perawi, suatu prinsip lain diperkenalkan iaitu, ‘ bila sahaja seorang perawi dibandingkan dengan satu prinsip maka perawi itu akan ditolak dan prinsip itulah yang akan diterima pakai.

    3- Apabila seseorang mengatakan sesuatu yang bercanggah dengan al-Quran atau prinsip ini, beliau dianggap telah tersalah faham atau tidak dapat mengingati peristiwa tersebut dengan tepat ataupun mungkin beliau tidak dapat memahami kedudukan sebenar peristiwa itu.

    4- Sesungguhnya al-Quran itu adalah mencukupi untuk perkara berkenaan Kaedah dan Rukun keimanan. Oleh itu kita tidak perlu menyokong riwayat tersebut.

    5- Sayugia diingat, siapakah Saidina Umar r.a. ini. Sedangkan peribadi agung seperti Saidina Umar r.a. tidak boleh diterima sekiranya riwayatnya bercanggah dengan al-Quran. Lalu, bagaimana mungkin kita bertaqlid buta kepada seseorang yang berjuta kali lebih rendah daripada Umar r.a.. Sekiranya telah jelas terdapat kecacatan dalam di dalam sesuatu riwayat maka riwayat tersebut hendaklah ditolak.

    Apabila Saidina Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan hadis di atas, Ummul Mu’minin r.a. berkata: “Semoga Allah mengampuni segala dosa Abu Abdur-Rahman. Beliau tidak berdusta. Akan tetapi mungkin beliau terlupa atau tersilap.” (‘Muslim’, Jilid I, m/s 303)

    Dari ungkapan ini, Ummul Mu’minin r.a. mengasaskan satu lagi prinsip, iaitu;

    6- Walau bagaimana jujur dan terpercayanya seseorang perawi, meskipun dia adalah seorang daripada sahabat yang adil yang sememangnya tidak pernah berdusta, mereka mungkin melakukan kesilapan iaitu samada ia terlupa atau kurang memahami maksud sebenar. Tiada seorang pun yang terkecuali daripada kesilapan seperti itu.

    Oleh itu tidak semestinya setiap riwayat perawi yang thiqah adalah tepat. Boleh jadi beliau tersilap dalam merawikan atau dia tidak mendengar percakapan dengan lengkap.

    Apabila kemungkinan seperti itu berlaku di kalangan sahabat r.a., untuk menganggap bahawa Hisham terselamat dan bebas daripada kekurangan atau kecacatan, adalah sama seperti mencela kesucian dan kebenaran Nabi s.a.w. dan juga suatu serangan terhadap kehormatan sahabat r.a. Ulama hadis menamakan riwayat sedemikian sebagai riwayat ‘mungkar’ (yang disangkal). Oleh kerana itu, masyhur di kalangan mereka istilah seperti mungkarat Sufyan Uyainah, Hammad ibn Salamah dan Sharik bin Abdullah Al-Madani.

    Berdasarkan alasan ini ulama hadis dan juga ahli feqah bersepakat bahawa setiap manusia, secara semulajadi, mempunyai mempunyai sifat pelupa dan melakukan kesilapan. Ada kemungkinan seorang sahabat r.a. melakukan kesilapan dalam memindahkan lafaz, ataupun telah tersilap dalam memahami maksudnya yang sebenar, atau mungkin juga beliau tidak menyaksikan keseluruhan peristiwa yang berlaku dan membuat kesimpulan yang salah. Ataupun mungkin telah mendengar sebahagian daripada percakapan dan mengeluarkan pendapat berdasarkan pertimbangannya sendiri. Mungkin juga beliau telah terkeliru bila menyaksikan hanya sebahagian daripada sesuatu peristiwa. Apabila kita menimbangkan kemungkinan kecacatan ini dalam riwayat sahabat kita sepatutnya perlu lebih berhati-hati sebelum menerima riwayat dari perawi bukan sahabat. Dan sekiranya sebarang kelemahan ditemui di dalam mana-mana riwayat, maka kita perlu lebih berhati-hati sebelum menerima riwayat tersebut. Dengan itu setinggi manapun sanad sesuatu hadis ianya tetap dikatakan ‘zanni’ (sangkaan kuat) dan setiap peringkat tidak terlepas dari ‘zann’. Bezanya di dalam hadis mutawatir tahap ‘zann’ (keraguan) adalah paling sedikit berbanding hadis ahad. Di dalam riwayat Hisham ini kita dapati ada ‘keraguan” di setiap peringkat perawi.

    Jikalau bilangan perawi lebih sedikit di dalam sesuatu sanad maka semakin berkuranglah ‘zann’ (keraguan) nya. Itulah sebabnya mengapa ulama hadis akan mengelaskan sesebuah hadis yang mempunyai bilangan dan peringkat perawi yang sedikit, sebagai ‘Alee’ (yang lebih tinggi)’, sementara sebuah hadis yang mempunyai bilangan dan peringkat perawi yang banyak, sebagai ‘Safil’ (tahap yang lebih rendah).

    Sebagai contohnya, Imam Bukhari menukilkan sebuah riwayat melalui sanad ini:

    “Al-Humaidi menceritakan bahawa Sufyan berkata kepadanya, daripada al-Zuhri, daripada Urwah, daripada ‘Aishah…” Di dalam ‘sanad’ ini, terdapat lima orang perawi yang menghubungkan antara Rasulullah s.a.w. dan Bukhari. Berlainan dengan riwayat yang kedua yang telah disampaikan melalui cara ini:

    “Abu ‘Asim menceritakan bahawa Ad-Duhak berkata kepadanya, daripada Salamah bin Al-Akwa’…” Di dalam sanad ini hanya terdapat tiga orang perawi. Tahap keraguan di dalam riwayat ini adalah kurang berbanding dengan riwayat pertama. Riwayat kedua dikatakan ‘alee’ manakala riwayat kedua dikatakan ‘safil’. Riwayat yang kedua adalah salah satu dari ‘thulathiyyat’ Imam Bukhari(iaitu yang mempunyai sanad yang paling sedikit, iaitu tiga orang perawi) dalam saheh Bukhari. Di dalam Bukhari hanya terdapat 23 thulathiyyat; riwayat yang lain adalah lebih rendah tarafnya daripada 23 riwayat ini. Dengan menggunakan asas yang sama, bahawa riwayat-riwayat Bukhari yang mempunyai empat peringkat perawi di dalam sanadnya, akan menjadi ‘alee’ jika dibandingkan dengan riwayat yang mempunyai lima peringkat perawi di dalam sanadnya.

    Bila Imam Abu Hanifah r.a. dan Imam Malik r.a. menukilkan mana-mana riwayat, kadangkala terdapat dua atau tiga orang perawi di dalam sanadnya. Terutama dalam riwayat Imam Abu Hanifah di mana ada riwayat yang hanya mempunyai seorang perawi iaitu sahabat r.a.. Kesemua riwayat oleh mereka ini akan menjadi ‘alee’ daripada Bukhari. Malahan, Riwayat Bukhari yang paling ‘alee’ (tinggi) pun adalah ‘safil’ (rendah) berbanding riwayat Abu Hanifah dan Imam Malik.

    Ummul Mu’minin ‘Aishah r.a. telah meletakkan satu kaedah asas fiqah dan hadis yang penting. Peribadi agung Ummul Mu’minin r.a. telah membezakan dengan jelasnya di antara al-Quran dan as-Sunnah, dan beliau telah menjelaskan bahawa ‘zann’ iaitu sesuatu yang mempunyai keraguan tidak boleh mengatasi yang ‘mutlak’. Di dalam Islam, hanya ‘Kalam Allah’ iaitu al-Qur’an, yang dijamin ‘tepat dan sempurna ’ sementara hadith Nabi s.a.w adalah ‘zann’ (yang mempunyai keraguan) kerana ianya diriwayatkan oleh manusia dan ‘kekurangan’ adalah sifat semulajadinya. Tidak pernah wujud manusia yang tidak mempunyai kelemahan ini.

    Hadis oleh Fatimah binti Qais adalah satu contoh lain, di mana beliau menyatakan bahawa seorang wanita yang diceraikan tidak akan sekali-kali akan mendapat rumah untuk tinggal, mahupun sebarang nafkah. Amirul Mu’minin Saidina Umar r.a. telah menolak ‘hadis’ ini sambil memberi peringatan bahawa kita tidak boleh mengingkari Kitab Allah hanya dengan berdasarkan kata-kata seseorang. Kami telah menghuraikan peristiwa ini di dalam buku kami yang terdahulu yang bertajuk ‘Usul-e-Fiqah’ dan di dalam sebuah buku baru yang berjudul ‘Isal-e-Sawab Qur’an ki Nazer mein’. Di sini kami hanya ingin menukilkan kata-kata yang diucapkan oleh Ummul Mu’minin r.a. berkenaan ‘hadis’ Fatimah binti Qais tersebut:

    “ Tidak ada kebaikan bagi Fatimah menyebutkan hadis ini (‘Saheh Bukhari’, Jillid I, m/s 485 / Jilid II, m/s 803).

    Satu lagi riwayat pula dinyatakan begini:

    “Adapun beliau tidak mendapat apa-apa kebaikan dengan menyebutkannya.” (‘Saheh Bukhari’, Jilid II, m/s 802 / ‘Muslim’, Jilid I, m/s 485)

    Qasim bin Muhammad berkata Ummul Mu’minin berkata kepada Fatimah binti Qais, “Tidakkkah kamu takut kepada Allah?” (Saheh Bukhari, Jilid I, m/s 803).

    Jika kami ingin mengumpulkan riwayat-riwayat yang disanggah oleh Umul Mu’minin tentunya kami akan dapat menghasilkan sebuah buku. Tunggulah buku kami “Sirah Aisha” yang akan membincangkan perkara ini dengan terperinci.

    (Nota: Allama Habibur Rahman Siddiqui Kandhalwi tidak dapat menyempurnakan bukunya, ‘Sirah ‘Aishah’ disebabkan oleh sakitnya yang panjang dan berterusan)

    Kami memang mengakui bahawa Hisham adalah seorang perawi ‘thiqah”. Beliau adalah salah seorang perawi dalam “Saheh Bukhari”. Beliau adalah seorang yang boleh dipercayai, seolah-olah turun daripada langit di dalam bentuk yang suci. Namun kami katakan bahawa Hisham yang kami hormati ini telah terlupa angka “sepuluh” ketika daya ingatannya lemah. Dan, hakikatnya apa yang dinyatakan oleh Hisham adalah tidak benar. Ianya tidak benar kerana adalah tidak masuk akal Ummul Mu’minin menguasai bidang kesusateraan, ilmu salasilah, sejarah dan pidato semasa berumur sembilan tahun. Dan, jika ianya mungkin, bantulah kami sekurang-kurangnya menguasai Bahasa Inggeris supaya kami dapat membidas kembali tulisan-tulisan beracun seumpama ini di dalam bahasa ini.

    Kami telah membaca buku ‘Sirah ‘Aishah’ karya Syed Sulaiman Nadwi. Beliau telah menulis secara ringkas tentang perkahwinan Aishah pada mukasurat 225 di dalam buku tersebut. Di situ, beliau juga telah menyatakan usia Aishah r.a.. adalah sembilan tahun semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.. Sudah tentu kami amat kesal dengan kenyataan ini dan kami mengambil masa lima puluh tahun untuk membetulkan fakta ini.

    naik atas

    Hujah Ke-21 – Keinginan Mendapatkan Anak Dan Naluri Keibuan Tidak Mungkin Timbul Dari Kanak-Kanak Bawah Umur

    Adalah suatu naluri semulajadi seorang wanita dewasa yang telah berkahwin berkeinginan untuk mendapatkan anak. Ia adalah suatu perasaan semulajadi yang mana tiada seorang pun menafikannya. Dan perasaan ini, yang disebut sebagai ‘naluri keibuan’, tidak mungkin timbul di dalam jiwa seorang kanak-kanak perempuan kecil, sebagaimana seorang kanak-kanak lelaki di bawah umur tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang bapa.

    Adalah suatu kebiasaan di Tanah Arab, bahawa bila sahaja seseorang menjadi bapa, beliau akan mengambil ‘kunniyah’(nama timangan) sempena nama anaknya yang dikasihi. ‘Kunniyah’ ini seringkali diambil daripada nama anak lelaki sulung, sebagaimana Abu Talib, namanya yang sebenar ialah Abd Manaf dan Talib adalah anak lelakinya. Abul Qasim adalah kunniyah Rasulullah s.a.w. sempena nama anak lelaki sulungnya yang bernama Qasim. Abul Hassan adalah kunniyah Saidina Ali r.a., yang diambil daripada nama anak lelaki sulungnya, Hassan r.a.

    Dengan cara yang sama, apabila seseorang wanita telah mendapat anak setelah perkahwinan, beliau akan menggunakan kunniyah berdasarkan nama anaknya dan akan dikenali dengan nama timangan ini. Dengan berpandukan kepada kunniyah, orang akan mengetahui bahawa beliau adalah seorang ibu kepada anaknya. Contohnya seperti Ummu Habibah r.a., Ummu Salamah’ r.a., dan Ummu Sulaim r.a.

    Kunniyah ini akan mengukuhkan lagi kedudukan seseorang di dalam masyarakatnya. Apabila beliau dipanggil dengan menggunakan kunniyah, akan timbul suatu perasaan bahawa beliau adalah seorang ayah kepada anaknya, dan dengan menjadi seorang ayah, tanggungjawab kebapaan dipikul olehnya. Dengan cara yang sama, apabila disebutkan seseorang wanita disebut ‘ibu kepada….’, maka wanita ini akan dapat merasai dirinya adalah seorang ibu, dan ini akan memuaskan naluri keibuannya.

    Bahkan, setiap perempuan yang telah berkahwin akan mengimpikan untuk mendapat anak setelah beberapa ketika berkahwin. Malah, wanita yang tiada anak seringkali mengambil anak angkat daripada keluarga lain untuk mememuaskan naluri keibuannya bila anak angkat memanggilnya dengan panggilan ‘ibu’. Dan, keinginan seperti ini tidak mungkin timbul di hati seorang kanak-kanak perempuan yang masih mentah.

    Aishah r.a. tidak mempunyai anak kandung, namun pada suatu hari di bawah tekanan naluri semulajadinya, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! Kesemua isterimu yang lain telah mengambil kunniyah daripada nama anak lelaki mereka. Bagaimana saya boleh gunakan satu kunniyah?” Lalu Baginda s.a.w. menjawab, “Ambillah kunniyah daripada nama Abdullah, anak lelakimu.” (Abu Daud & Ibn Majah)

    Abdullah adalah merujuk kepada Abdullah bin Zubair (anak saudara lelakinya). Jadi kunniyah bagi Ummul Mu’minin r.a. adalah Ummu Abdullah (r.a.). (Sunan Abu Daud m/s 679 & Ibn Majah (terjemahan Jilid II, m/s 416 dan Tabaqat, Jilid VIII, merujuk kepada “Perbincangan mengenai ‘Aishah.”)

    Syed Sulaiman Nadwi menulis: Abdullah bermaksud Abdullah bin Zubair iaitu anak saudara Aishah r.a. dan anak lelaki kakaknya Asma’ r.a.. Beliau adalah anak lelaki Islam yang pertama selepas Hijrah. Aishah r.a. mengambilnya sebagai anak angkatnya dan menyayangi beliau dengan sepenuh hati. Abdullah r.a. juga mengasihi Aishah r.a. melebihi ibu kandungnya sendiri. Selain Abdullah, Aishah r.a. telah membesarkan ramai lagi kanak-kanak lain (Muwatta’ Kitab-uz-Zakat).

    Masruq bin Al-Ajda’, Umarah binti ‘Aishah, ‘Aishah binti Talhah, ‘Amarah binti Abdur-Rahman (Ansariyah), Asma’ binti Abdur-Rahman bin Abu Bakar, Urwah bin Az-Zubair, Qasim bin Muhammad dan saudara lelakinya, dan Abdullah bin Yazid adalah mereka yang telah dibesarkan oleh Saidatina ‘Aishah r.a. Beliau (‘Aishah) juga telah membesarkan anak-anak perempuan Muhammad bin Abu Bakar dan mengaturkan perkahwinan mereka. (Sirah Aishah, m/s 182)

    Saidatina ‘Aishah r.a. telah mengambil anak saudaranya menjadi anak angkatnya. Dengan sebab ini, Saidatina Asma’ r.a. tidak mengambil kunniyah berdasarkan nama anak lelakinya itu. Dan juga, oleh kerana Ummul Mu’minin r.a. telah biasa memanggil Abdullah sebagai anaknya semenjak awal, maka Rasulullah s.a.w. mencadangkan kepadanya untuk mengambil kunniyah berdasarkan nama anak saudaranya itu. Dengan cara ini, naluri keibuannya, yang menjadi impian setiap wanita muda, akan dapat dipenuhi. Hal ini sendiri adalah satu hujah bahawa beliau telah dewasa pada ketika itu, dan Abdullah, sekiranya menurut riwayat Hisham, hanyalah lapan tahun lebih muda daripadanya. Dalam keadaan ini, Abdullah lebih sesuai dipanggil sebagai ‘adik’, tetapi tidak mungkin dipanggil sebagai ‘anak’. Peristiwa ini membuktikan bahawa Aishah r.a. adalah seorang wanita yang matang semasa perkahwinannya. Dan, beliau, sebagaimana wanita lain mempunyai naluri semulajadi untuk mempunyai anak. Itu adalah sebabnya mengapa beliau menganggap anak saudaranya sebagai anaknya, dan selaku seorang wanita yang tiada anak, beliau membesarkan ramai kanak-kanak perempuan untuk memenuhi naluri perasaan kasih dan keibuannya.

    Hujah Ke-22- Aishah R.A. Sebagai Ibu Angkat Kepada Bashar R.A. Yang Berumur Tujuh Tahun Selepas Perang Uhud

    Terdapat satu riwayat daripada Bashar bin ‘Aqrabah bahawa ayahnya telah mati syahid di dalam Peperangan Uhud, dan beliau sedang menangis apabila secara tiba-tiba Rasulullah s.a.w. datang kepadanya dan berkata: “Adakah kamu tidak suka jika saya menjadi ayah kamu dan ‘Aishah sebagai ibumu?”

    Adakah ungkapan “…..Aishah sebagai ibumu.” sesuai diucapkan untuk seorang kanak-kanak perempuan berumur sepuluh tahun?

    Bukankah ianya sesuatu yang mustahil untuk perkataan-perkataan ini diungkapkan oleh Rasulullah s.a.w, melainkan Ummul Mu’minin ‘Aishah pada ketika itu bukan kanak-kanak di bawah umur.

    Bashar adalah seorang kanak-kanak yang berusia 6 atau 7 tahun. Dalam erti kata lain, seorang kanak-kanak perempuan yang berusia sepuluh tahun menjadi ibu angkat kepada seorang kanak-kanak lelaki berusia tujuh tahun!! Ia akan menjadi gurauan yang tidak masuk akal!.

    Pada pandangan kami, umur Ummul Mu’minin r.a., sekurang-kurangnya adalah dua puluh satu tahun semasa berlakunya Perang Uhud.

    Hujah Ke-23- Wujudkah Perkahwinan Gadis Bawah Umur Di Tanah Arab Dan Dalam Masyarakat Bertamadun?

    Satu lagi persoalan timbul iaitu adakah perkahwinan gadis bawah umur menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat Arab, khususnya di zaman Rasulullah s.a.w.

    Apabila kami meneliti sejarah Arab, kami tidak menemui sebarang contoh seumpama ini sebelum dan selepas kedatangan Islam. Bahkan, di zaman Rasulullah s.a.w., semua gadis berkahwin setelah mencapai usia dewasa. Malah, seorang ibu yang terhormat tidak sekali-kali akan bersetuju untuk mengahwinkan anak gadisnya yang baru baligh, kerana gadis itu masih lagi mentah untuk memahami tanggungjawab dalam perkahwinan. Contohnya, mungkin dia gagal menjalankan tanggungjawab bagaimana untuk membesarkan dan menjaga anaknya dengan baik. Dalam masyarakat yang bertamadun seoran gadis akan berkahwin bila cukup matang. Tahap kematangan biasanya dicapai bila seorang gadis berusia lapan belas tahun ke atas, sebagaimana kata-kata Imam Abu Hanifah bahawa umur baligh ialah lapan belas tahun. Dan, kami berpendapat gadis yang baligh (secara fizikal) pada usia 13-14 tahun, tidak akan matang di segi pemikiran sehingga berumur 18 tahun. Dalam erti kata lain, sifat keanak-anakannya tidak akan hilang semasa tempoh remaja.

    Ini adalah sebabnya mengapa Rasulullah s.a.w. mengaturkan perkahwinan anak-anak gadisnya hanya setelah mereka mencapai usia matang. Oleh sebab peristiwa sebelum hijrah tidak direkodkan dengan lenngkap di dalam sejarah, maka kami tidak dapat pastikan berkenaan usia anak perempuan baginda yang telah berkahwin di Mekah. Akan tetapi, baginda s.a.w. telah mengaturkan perkahwinan dua orang anak gadisnya selepas Hijrah, dan kedua-duanya telah berkahwin di usia yang cukup matang.

    PERKAHWINAN SAIDATINA FATIMAH R.A.

    Upacara perkahwinan Saidaitina Fatimah r.a., menurut sebilangan ahli sejarah, telah berlangsung pada bulan Syawal tahun kedua Hijrah; dan menurut beberapa penulis yang lainnya ia berlangsung di bulan Muharam tahun ketiga Hijrah. Berapakah usianya yang sebenar pada waktu itu? Ulama hadis dan juga ahli sejarah bersetuju bahawa Saidatina Fatimah r.a. telah dilahirkan pada masa orang-orang kafir membina semula bangunan Ka’abah. Pada waktu itu umur Rasulullah s.a.w. adalah 35 tahun, dalam erti kata lain, Fatimah dilahirkan lima tahun sebelum Kerasulan. Dengan ini, pada masa berlangsungnya Hijrah ke Madinah, usia Saidatina Fatimah adalah lapan belas tahun dan pada waktu perkahwinannya, Fatimah berusia 21 tahun.

    Hafiz Ibn Hajar menulis bahawa Saidatina Fatimah r.a. adalah lima tahun lebih tua daripada Saidatina ‘Aishah r.a.(Al-Asabah, Jilid IV, m/s 377)

    Namun, di waktu yang lain, beliau menyokong kuat pendapat bahawa majlis perkahwinan Ummul Mu’minin r.a. berlangsung semasa berusia sembilan tahun. Sekarang, jika kita mempertimbangkan fakta bahawa ‘Aishah r.a. adalah lima tahun lebih muda daripada Fatimah r.a., dan Fatimah telah dilahirkan lima tahun sebelum Kerasulan, ini bermakna bahawa Ummul Mu’minin dilahirkan pada tahun baginda s.a.w. diangkat menjadi rasul. Dengan itu, usia Ummul Mu’minin r.a. menjadi lima belas tahun pada masa beliau mula hidup bersama Rasulullah s.a.w. Bagaimanakah ia boleh menjadi sembilan tahun?

    Puak Syiah pula mendakwa bahawa Fatimah r.a. telah dilahirkan lima tahun selepas Kerasulan, dan oleh itu usianya semasa perkahwinan adalah 8 atau 9 tahun. Bahkan, berdasarkan alasan ini, pendapat fiqah mereka ialah: kanak-kanak perempuan mencapai sembilan tahun hendaklah dikahwinkan. Pada pandangan kami, puak Syiah sengaja mengadakan cerita tentang umur Ummul Mu’minin r.a. dalam usaha untuk menyembunyikan cerita yang direka oleh mereka sendiri. Dan, ahli Sunnah tanpa berfikir panjang, turut menyebarkan pemikiran mereka ini dengan menyebarkan riwayat seperti ini. Kesannya, apabila ahli Sunnah menerima riwayat yang Ummul Mu’minin berkahwin semasa berusia sembilan tahun orang Syiah akan mengejek sambil berkata : Tuan! Bagaimana seorang kanak-kanak perempuan yang hanya menghabiskan masanya dengan bermain anak patung, dapat memahami agama ini ?

    PERKAHWINAN SAIDATINA UMMU KALTHUM R.A.

    Selepas kematian Ruqayyah r.a., Ummu Kalthum r.a. telah berkahwin dengan Saidina Uthman ibn Affan r.a. di bulan Rabi’ul Awal tahun ketiga Hijrah. Sekiranya Ummu Kalthum adalah lebih muda daripada Fatimah r.a., maka umurnya sembilan belas tahun dan jika Ummu Kalthum lebih tua, sebagimana yang dikatakan oleh ahli sejarah secara umumnya, maka usianya (Ummu Kalthum) tidak akan kurang daripada 23 tahun, dan beliau adalah seorang perawan di usia itu.

    Alangkah ajaibnya ! Rasulullah s.a.w. mengatur perkahwinan anak perempuannya pada masa mereka berumur melebihi 20 tahun, sebagaimana perkahwinan gadis di zaman moden. Namun apabila baginda s.a.w. sendiri berkahwin, beliau memilih seorang kanak-kanak perempuan yang berusia sembilan tahun. Apakah perasaan anak perempuan baginda s.a.w. untuk memanggil Aishah r.a. sebagai ibu?

    PERKAHWINAN SAIDATINA ASMA’ R.A.

    Asma’ r.a. ialah kakak ‘Aishah r.a., yang usianya sepuluh tahun lebih tua daripadanya (‘Aishah r.a.). Beliau telah berkahwin dengan Zubair r.a. beberapa bulan sebelum peristiwa Hijrah ke Madinah. Beliau sedang mengandung pada waktu berlakunya Hijrah. Pada masa itu beliau berusia 27 tahun dan semasa perkahwinannya, beliau berusia 25 tahun. Ini bermakna bahawa Saidina Abu Bakar r.a. memelihara anak perempuan sulungnya (Asma’ r.a.) selama 26 tahun, dan anak perempuannya yang terkemudian (‘Aishah r.a.) adalah sangat membebankannya sehinggakan beliau (Abu Bakar r.a.) menguruskan perkahwinannya meskipun baru berusia sembilan tahun!

    Kami perhatikan di zaman moden ini, rata-rata pengantin perempuan berumur lebih 18 tahun. Oleh itu, mengapakah kisah ini hanya dikhususkan kepada Ummul Mu’minin r.a.? Apakah muslihat yang ada di sebaliknya?

    Alangkah baiknya sekiranya ada sesiapa yang mampu untuk mendedahkannya!

    Kami yakin segala kekalutan ini berpunca dari sikap permusuhan puak Syiah terhadap Ummu Mu’minin Saidatina Aishah r.a.

    Hujah Ke-24 – Kesepakatan (Ijmak) Umat Dalam Menolak Amalan Kahwin Bawah Umur

    Riwayat Hisham yang keliru ini sentiasa bercanggah dengan amalan umat Islam. Sehingga hari ini, tiada siapapun yang beramal menurut riwayat ini, malah tiada seorang pun yang menawarkan anak perempuan yang berusia sembilan tahun untuk tujuan ini; dan, tiada seorang pun kanak-kanak di usia mentah begitu yang telah diterima untuk dijadikan sebagai isteri.

    Kesimpulannya, riwayat ini hanya berlegar di atas lidah manusia. Dalam erti kata lain, riwayat ini tidak diterimapakai oleh sesiapa pun dari segi amalan.

    Tetapi, kita bukanlah dari jenis orang yang suka membantah. Oleh itu kita mempercayai riwayat ini secara lisannya, tetapi kita (dan juga masyarakat Islam seluruh dunia) enggan mengamalkannya.

    Perbahasan Tentang Usia Sebenar Khadijah R.A. Semasa Berkahwin Dengan Rasulullah S.A.W.

    Dikatakan bahawa Ummul Mu’minin Saidatina Khadijah r.a. berumur 40 tahun ketika beliau berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Ia adalah suatu riwayat yang yang tidak berasas tetapi telah disebarkan sebegitu rupa dan digarap seolah-olah sebahagian daripada ugama. Ini adalah percubaan untuk membuktikan bahawa Rasulullah s.a.w. telah melalui zaman mudanya bersama-sama dengan seorang wanita tua. Dalam usia lanjut, beliau r.a telah melahirkan empat orang anak perempuan iaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalthum dan Fatimah r.a.; dan tiga orang anak lelaki yang dinamakan Qasim, Tayyab and Tahir. Menurut sesetengahnya pula, beliau r.a. telah melahirkan empat orang anak lelaki; ada seorang yang bernama Abdullah, sedangkan setengah yang lainnya pula menyatakan bahawa yang sebenarnya Abdullah telah dipanggil sebagai Tayyab dan Tahir.

    Saidatina Khadijah r.a. telah berkahwin sebanyak dua kali sebelum berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Perkahwinan pertamanya adalah dengan Abu Halah Hind bin Banash bin Zararah. Daripadanya, beliau telah mendapat seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Nama anak lelakinya ialah Hind dan anak perempuannya bernama Halah. Setelah kematian Abu Halah, Khadijah r.a. berkahwin dengan Atiq bin ‘Aid Makhzumi. Daripadanya dia mendapat seorang anak perempuan yang juga bernama Hind. Inilah sebabnya mengapa Saidatina Khadijah r.a. mendapat kunniyah sebagai Ummu Hind. Anak lelaki Saidatina Khadijah, Hind, telah memeluk Islam. (Seerat-un-Nabi, Jilid II, m/s 402).

    Di sini, timbul satu persoalan, iaitu Saidatina Khadijah r.a. telah melahirkan empat orang anak sahaja di usia mudanya, namun semasa usia tuanya beliau telah melahirkan tujuh atau lapan orang anak, yang mana ia agak bertentangan dengan logik akal. Sebabnya, menurut Sains Perubatan, seorang wanita menjadi tidak subur untuk melahirkan anak, biasanya apabila melewati usia 45 tahun. Bagaimana pula boleh dipercayai bahawa lapan orang anak telah dilahirkan setelah melepasi usia 40 tahun?

    Pihak Orientalis dan musuh-musuh Islam telah memberi perhatian khusus terhadap riwayat ini, kerana peristiwa ini jelas bertentangan dengan akal. Dengan mendedahkan peristiwa seperti ini, mereka mengambil kesempatan untuk mencemuh Islam.

    Namun begitu, ulama kita sebaliknya menganggap kejadian ini sebagai ‘satu mukjizat’ Rasulullah s.a.w. Tambahan lagi mereka menganggap inilah keistimewaan nabi s.a.w. kerana sanggup mengahwini wanita yang tua sedangkan baginda s.a.w. sendiri muda belia.

    Di pihak yang lain golongan Syiah mendakwa adalah tidak mungkin melahirkan sebegitu ramai anak di usia tua. Oleh itu, Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kalthum tidak diiktiraf sebagai anak nabi s.a.w.

    Golongan Syiah mengatakan bahawa umur Khadijah r.a. ialah 40 tahun semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Meskipun mereka amat mahir bermain dengan angka, mereka telah melakukan kesilapan bodoh bila mendakwa bahawa Fatimah r.a. dilahirkan lima tahun selepas kenabian. Dalam hal ini, Khadijah sudah berumur 60 tahun semasa melahirkan Fatimah r.a.. Dengan ini tidak mungkin Ruqayyah dan Kalthum adalah anak kepada Khadijah kerana mereka adalah lebih muda dari Fatimah.

    Kita akan membuktikan bahawa empat orang anak perempuan ini adalah dilahirkan oleh Saidatina Khadijah r.a. dari Rasulullah s.a.w. Tetapi sebelum itu orang Syiah perlu membuktikan bahawa seorang wanita yang berusia 60 tahun boleh melahirkan anak. Dan apabila mereka membuktikannya, mereka mesti juga membuktikan bahawa Fatimah r.a. adalah anak kepada Khadijah r.a.

    Sebenarnya terdapat perbezaan pendapat tentang usia sebenar Khadijah r.a bila berkahwin dengan Rasulullah s.a.w. Ada yang berkata umurnya 40 tahun. Ada yang berpendapat usianya 35 tahun. Yang lain pula mengatakan 30 tahun, dan sesetengah pula mengatakan 27 tahun, manakala ada pula yang menyatakan bahawa usianya 25 tahun. Ahli-ahli sejarah Syiah sependapat mengatakan umurnya 40 tahun, dan mereka menolak pendapat lain. Dan mereka riuh rendah menyebarkan pendapat ‘40 tahun’ ini seolah-olah pandangan lain tidak pernah wujud. Ulama kita dan ahli-ahli sejarah yang terkemudian juga terpengaruh dengan daayah ini dan menyangkakan bahawa pendapat golongan Syiah inilah yang ‘tepat’.

    Hafiz Ibn Kathir menulis:

    “Baihaqi telah memetik daripada Hakim iaitu apabila Rasulullah mengahwini Khadijah r.a., baginda s.a.w. adalah berumur dua puluh lima tahun dan Saidatina Khadijah r.a. berumur tiga puluh lima tahun, dan ada pendapat lain mengatakan usianya dua puluh lima tahun.” (al-Bidayah, Jilid II, m/s 295)

    Dengan lain perkataan, Baihaqi dan Hakim menyatakan bahawa Saidatina Khadijah r.a. berusia tiga puluh lima tahun pada waktu itu. Bersama-sama dengan itu, mereka juga turut mengatakan bahawa ada pendapat bahawa beliau r.a. berusia dua puluh lima tahun.

    Di tempat lain, Hafiz Ibn Kathir mengatakan usia Saidatina Khadijah r.a. pada masa kewafatannya, sebagaimana berikut: “Usia Saidatina Khadijah mencapai 65 tahun. Satu pendapat mengatakan beliau meninggal pada usia 50 tahun. Dan pendapat ini (iaitu 50 tahun) adalah yang benar.” (al-Bidayah wan Nihayah, Jilid II, m/s 294)

    Ulama Hadis dan ahli sejarah bersetuju bahawa Saidatina Khadijah r.a. menjalani hidup sebagai isteri Rasulullah s.a.w. selama 25 tahun dan beliau r.a. meninggal dunia pada tahun ke-10 Kerasulan. Hafiz Ibn Kathir berkata; ‘pendapat yang benar adalah usianya mencecah 50 tahun’ telah membuktikan bahawa usia Saidatina Khadijah pada masa perkahwinannya ialah 25 tahun. Dan juga, Hafiz Ibn Kathir juga telah membuktikan bahawa ‘maklumat’ yang diterima pada hari ini (iaitu umur Khadijah r.a. 40 semasa berkahwin dengan Rasulullah s.a.w.) adalah salah dan tidak benar sama sekali..

    Meskipun dengan fakta yang sebegini jelas, kita masih mempercayai (dan terperangkap) dalam berita yang lebih merupakan khabar angin semata-mata.

    Apabila kami mengkaji ‘Al-Bidayah wan-Nihayah’ yang ditulis oleh Ibn Kathir, barulah kami menyedari akan kesilapan kami. Semoga Allah yang Maha Kuasa mengampuni kami, kerana kami adalah mangsa kepada suatu salah faham yang besar. Moga Allah yang Berkuasa mengurniakan kepada kita semua kefahaman akan Kebenaran.

    Wallahua’lam

    Aamin! Ya Rabbal Aalamin

    BIBLIOGRAFI

    Rujukan Akademik dan Buku Sumber

    1. Bukhari, Muhammad Ismail Al-Bukhari: Sahih Bukhari.

    2. Muslim, Muslim Bin Al-Hajjaj at-Taheeri: Sahih Muslim.

    3. Sulaiman bin Ash’ath: Sunan Abi Daud.

    4. An-Nasaie, Ahmad bin Shuaib An-Nasaie: Sunan Nasaie.

    5. Tirmidhi, Mohammad bin Essa Tirmidhi: Jama’a Tirmidhi.

    6. Ibn Majah, Mohammad bin Abdullah bin Yazid bin Majah: Sunan Ibn Majah.

    7. Al-Darimi, Abu Abdur-Rahman Abdullah bin Abdur-Rahman Al-Darimi: Sunan Darimi.

    8. Al-Hamidi, Abdullah bin Az-Zubair Al-Hamidi: Musnad Hamidi.

    9. Hafiz Ibn Hajar: Tahzib-ul-Tahzib.

    10. Aqueeli: Kitab-ul-Sanafa.

    11. Hafiz Zahabi: Mizan-ul-‘Atedal.

    12. Abdur-Rahman bin Abi Hatim Maruzi: Al-Jarah-wal-Ta’dil.

    13. Hafiz Sakhawi: Fateh-ul-Ghaith.

    14. Ibn Sa’ad: Tabaqat.

    15. Waliuddin Al-Khatib: Al-Kamal fi Asma-ur-Rajal.

    16. Hafiz Ibn Katheer: Al-Bidayah-wan-Nihayah.

    17. Hafiz Ibn Hajar: Taqrib-ul-Tahzib.

    18. Tabari, Muhammad bin Jareer Tabari: Tarikh Tabari.

    19. Hafiz Zahabi: Siyar-ul-A’lam An-Nubula.

    20. Ibn Hisham: As-Seerat.

    21. Hafiz Ibn Katheer: As-Seerat-un-Nabawiyyah.

    22. Hayat Syed-ul-Arab.

    23. Abdur-Rauf Danapuri: As’hah-ul-Sa’yer.

    24. Shibli: Seerat-un-Nabi.

    25. Niaz Fatehpuri: Sahabiyyat.

    26. Said Ahmad, Akberabadi Maulana: Seerat-us-Siddiq.

    27. Imam Ahmad: Al-Masnad.

    28. Sulaiman Nadvi, Syed: Seerah ‘Aishah.

    29. Hafiz Ibn Hajar: Al-Asabah fi Ahwal-us-Sahabah.

    30. Hakim Niaz Ahmad: ‘Ao‘mer ‘Aishah.

    http://www.darulkautsar.net/article.php?page=1&ArticleID=562

     
    • erzal 7:20 am on 19/09/2009 Permalink | Reply

      Age of Aishah

    • muhammad nabi pembohong 3:06 pm on 02/11/2009 Permalink | Reply

      Dasar pembohong! Anda berbohong supaya agama anda kelihatan benar. Itukah yang diajarkan oleh nabi “pembohong” muhammad?

    • erzal 3:30 am on 03/11/2009 Permalink | Reply

      yah begitulah orang2 kafir tolol yg doyan bohong, main tuduh islam bohong padahal agama ente kristen paling bohong dan paling sesat sedunia…

    • Hitaxoki 10:51 am on 05/01/2011 Permalink | Reply

      Halo, Bos 😀
      Bagus deh ada blog semacam ini, yang bisa membuat perdebatan tentang Islam makin profesional. Blog ini akan lebih bagus kalo formatnya tertata rapi dan kamu gak cuma copas dari artikel Malaysia.
      Tapi sebaliknya, kalau blog ini cuma copas tanpa tambahan pemikiran kritis dari penmbuatnya, blog ini akan menambah daftar Muslim kurang berpendidikan yang berusaha mendebat IFF.

      Terima kasih. 🙂

    • chachachichi 7:45 am on 25/05/2011 Permalink | Reply

      ummat kristen cuma ngoceh aja,buktiin dulu kebenaran kristen baru blagu,maaf mas,saya cuma pingin tau hadits dan kitabnya yang menerangkan tentang umur siti aisyah waktu kawin dngan RASULULLAH SAW.langsung kirim ke email jg tidak apap apa mas,terima kasih

    • niyazmandi،tiraxtur،barsa،gol 5:34 pm on 07/11/2011 Permalink | Reply

      I couldnt agree with you more!!!

    • CIKK 5:09 am on 10/11/2011 Permalink | Reply

      IBRANI 10

      TB10) Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
      BS(10) Yesus Kristus sudah melakukan apa yang dikehendaki Allah dan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban. Dengan persembahan itu, yang dilakukan-Nya hanya sekali saja untuk selama-lamanya, kita semua dibersihkan dari dosa.
      10) And in accordance with this will [of God], we have been made holy (consecrated and sanctified) through the offering made once for all of the body of Jesus Christ (the Anointed One).
      KRISTEN KATOLIK DAN SELURUH MANIUSIA DIBOHONGI YAHUDI.
      JESUS SUDAH JELAS2 DIBUNUH LALU MATINYA DIBILANG UNTUK NEBUS DOSA.
      KRISTEN KATOLIK MANUT SAJA DASAR BODOH.
      AJARAN YANG BENAR TIAP MANUSIA NANGGUNG DOSANYA SENDIRI.

    • CIKK 5:11 am on 10/11/2011 Permalink | Reply

      BUNG SERBU IFF ADA NGGA BUAT BLOK PAKE BAHASA INGGRIS. KALO ADA APA YA?KALO BELUM BUAT DONG YANG KAYAK GINI.BIAR KRISTEN KATOLIK DUNIA KITA KASIH PENCERAHAN

    • xbox live points ,xbox live points generator ,xbox live points 7:10 am on 25/11/2011 Permalink | Reply

      I do not disagree with this writing!!

    • slamet widodo 7:30 am on 21/04/2012 Permalink | Reply

      Survey membuktikan energi banyak terbuang untuk membela ego yang dibungkus dalam sistem kepercayaan ya Islam, Kristen dan Yahudi (padahal teks sucinya tak lebih dari cerita rakyat). Ajaran samin sepertinya menjadi pelabuhan hatiku karena menganggap semua agama baik dan saudara

    • wikki 6:50 am on 26/07/2012 Permalink | Reply

      Memikirkan syahwat dari seorang lelaki tua terhadap kanak-kanak adalah hal yang sangat mengganggu. Istilah satu-satunya untuk hal ini adalah pedofilia – salah satu kejahatan paling kotor yang bisa dibayangkan.

      Semua manusia dan hewan pada dasarnya melindungi anak-anak. Tangisan minta tolong dari anak-anak – setiap anak, termasuk dari spesies yang berbeda – akan membuat hati binatang melunak.

      Para pedofil termasuk orang-orang yang paling rusak, sebab mereka menafikan kepercayaan anak-anak.

      Sangat sulit melihat kenyataan bahwa Nabi Islam, seorang yang praktis disembah dan dijadikan teladan oleh semiliar jiwa-jiwa dalam kegelapan, ternyata adalah seorang pedofil yang menjijikkan.

      Muhammad mengawini Aisha tatkala ia baru berumur 6 tahun, dan menyetubuhinya (baca “memperkosanya”) disaat ia berumur 9. Dan dia sendiri 54 tahun.

      Kenyataan adalah terang benderang, sebab hal ini dilaporkan oleh Aisha sendiri dalam lusinan Hadis, dan tidak ada Muslim yang mempertanyakan hal tersebut sampai akhir-akhir ini dimana orang baru mulai mengernyitkan bulu matanya.

      Harap dicatat bahwa sikap orang-orang Muslim selama ini tidak ada yang merasa malu terhadap kenyataan bahwa nabi mereka adalah seorang pedofil. Soalnya, mereka sendiri juga telah mempraktekkan tindakan yang tercela ini selama rentang waktu seribuan tahun lebih, dan bahkan juga sedang mempraktekkannya sampai sekarang! Mereka hanya rikuh ketika dunia mempertanyakan hal ini kepada mereka. Namun bukti-bukti telah melimpah ruah.

      Sahih Muslim, buku 008, no.3310:
      Aisha (ra) melaporkan: Rasul Allah (saw) mengawini saya ketika saya berumur 6 tahun, dan saya masuk ke rumahnya saat saya berumur 9 tahun.

      Sahih Bukhari, vol.7, buku 62, no.64:
      Diriwayatkan Aisha: bahwa Nabi mengawininya ketika ia berumur 6 tahun dan ia (Muhammad) menggenapkan nikahnya tatkala ia berumur 9 tahun, lalu tinggal bersama-sama dengannya untuk 9 tahun (yaitu, hingga wafatnya).

      Sahih Bukhari, vol.7, buku 62, no.65:
      Diriwayatkan Aisha: bahwa Nabi mengawininya ketika ia berumur 6 tahun dan ia (Muhammad) menggenapkan nikahnya tatkala ia berumur 9 tahun. Hisham berkata: Saya telah diberitahu bahwa Aisha tinggal bersama-sama dengan Nabi selama 9 tahun (yaitu, hingga wafatnya). Apa yang engkau ketahui tentang Quran (hafal)’

      Sahih Bukhari, vol.7, buku 62, no 88:
      Diriwayatkan ‘Ursa: Nabi menuliskan (kontrak perkawinan) dengan Aisha tatkala ia berumur 6 tahun dan menggenapi nikahnya dengan dia ketika ia berusia 9 tahun dan ia tinggal bersama dengan beliau selama 9 tahun (sampai ajalnya).

      Sebagian Muslim berkata bahwa Abu Bakr-lah yang mendekati Muhammad dan meminta beliau untuk menikahi puterinya. Tentu ini tidak betul.

      Sahih Bukhari 7.18:
      Diriwayatkan ‘Ursa: Nabi meminta kepada Abu Bakr untuk menikahi Aisha. Abu Bakr berkata, “Tetapi sayakan saudaramu”. Nabi berkata, “ Engkau memang saudaraku dalam agama Allah dan Kitab-Nya, tetapi dia (Aisha) dibolehkan oleh hukum untuk kunikahi”.

      Bangsa Arab adalah primitif. Namun mereka mempunyai kode etik yang mereka junjung tinggi. Misalnya, sekalipun mereka katakanlah berperang sepanjang tahun, namun pada bulan-bulan suci tertentu mereka meniadakan permusuhan.

      Mereka juga menganggap Mekah sebagai kota suci dan tidak melakukan perang terhadap kota tersebut.

      Istri dari anak angkat juga dianggap sebagai menantu perempuan yang tidak boleh dinikahi. Juga merupakan istiadat bahwa teman-teman dekat membuat persekutuan persaudaraan dan ini mengikat sesama mereka sebagai saudara sungguhan. Namun Sang Nabi menyingkirkan setiap aturan ini manakala aturan tersebut menghalangi minat dan kepentingan-kepentingannya.

      Abu Bakr dan Muhammad telah bersumpah satu terhadap lainnya sebagai saudara. Jadi sesuai dengan adat mereka, Aisha adalah keponakan Muhammad. Namun hal ini tidak menghentikan dia untuk melamar kepada ayah dari anak gadis itu, bahkan ketika anak tersebut masih berumur 6 tahun!

      Jeleknya, Nabi yang bermoral ganda itu memakai alasan yang sama untuk menolak seorang perempuan yang tidak disukainya,

      Sahih Bukhari V7, B62, N37:
      Diriwayatkan oleh Ibn Abbas: Dikatakan kepada Nabi, “Apakah engkau tidak mau menikahi puteri Hamza?” Ia berkata, “Dia itu keponakan angkatku (puteri sesama saudara)”.

      Hamza adalah paman (separuh paman) dari Muhammad. Dalam Islam, menikahi keponakan pertama diperbolehkan. Muhammad menolak menikahi anak perempuan Hamza bukan atas dasar bahwa Hamza adalah pamannya, melainkan dengan alasan bahwa Hamza adalah saudara angkatnya. Abu Bakr juga adalah saudara angkat dari Muhammad.

      Jadi apanya yang berbeda? Bedanya bukan pada alasan mulut Nabi, tetapi karena Aisha adalah gadis kecil manis sedangkan puteri Hamza lebih tua dan kalah cantik.

      Moral-ganda dari Muhammad lebih jauh menjadi bukti nyata lanjutan dari hadis ini,

      Diriwayatkan Aisha, Ummul Mu’minin:

      Nabi (saw) berkata: Apa yang diharamkan oleh alasan hubungan darah adalah juga diharamkan oleh alasan hubungan (persaudaraan) angkat.

      Dalam Hadis berikut, Nabi yang mengangkat dirinya sendiri telah mengaku kepada Aisha, bahwa ia telah memimpikan dirinya (Aisha),

      Sahih Bukhari 9.140:

      Diriwayatkan Aisha: Rasul Allah berkata kepadaku, “Engkau telah diperlihatkan kepadaku dua kali (dalam mimpiku) sebelum aku menikahimu. Aku melihat seorang malaikat membawamu dalam sepotong kain sutera, dan aku berkata kepadanya,”Singkapkan (dia)”, dan benar itu adalah engkau. Aku berkata (pada diriku), “Bila ini dari Allah, maka hal itu harus terjadi.

      Apakah Muhammad betul-betul bermimpi demikian ataukah ia berbohong, itu bukanlah hal yang mau dipersoalkan disini. Mimpi hanyalah ungkapan-ungkapan dari bawah sadar kita sendiri dan bukan pesan-pesan dari alam dunia roh. Ini menunjukkan bahwa Aisha pasti masih dalam keadaan bayi yang diusung oleh malaikat pada saat Muhammad telah menggairahi dirinya.

      Ada banyak Hadis yang secara eksplisit mengungkapkan umur Aisha pada waktu nikahnya.

      Sahih Bukhari 5.236.
      Diriwayatkan oleh ayah Hisham:
      Khadijah wafat 3 tahun sebelum Nabi hijrah ke Medina. Ia (Muhammad) tinggal disana sekira 2 tahunan lalu menikahi Aisha gadis yang berumur 6 tahun, dan beliau berhubungan (suami-istri) ketika ia berumur 9 tahun.

      Sahih Bukhari 5.234.

      Diriwayatkan Aisha:

      Nabi melamar saya ketika saya berumur 6 (tahun). Kami pergi ke Medina dan tinggal dirumahnya Bani-al-Harith bin Khazraj. Kemudian saya sakit dan rambutku rontok. Kemudian rambutku tumbuh (kembali) dan ibuku, Um Ruman, datang menghampiriku ketika saya sedang bermain ayunan dengan beberapa teman-teman puteriku. Dia (ibu) memanggilku dan saya datang kepadanya, tanpa tahu apa yang hendak dilakukannya terhadapku. Dia menarik tanganku dan menempatkan diriku dipintu rumah. Nafasku terengah-engah jadinya, dan ketika nafas kembali biasa, ia mengambil air dan menyekakan muka dan kepalaku. Kemudian ia membawa saya masuk ke rumah. Disitu saya melihat beberapa perempuan Ansari yang berkata, “Selamat dan berkat Allah”. Maka iapun menyerahkan saya kepada mereka dan merekapun mempersiapkan saya (untuk menikah). Diluar sangkaan, Rasul Allah datang kepada saya pada siangnya lalu ibuku menyerahkan saya kepadanya, dan saat itu aku adalah gadis dengan umur 9 tahun.

      Sunan Abu Dawud, Buku 41, Nomor 4915, juga No.4916 dan 4917
      Diriwayatkan Aisha, Ummul Mu’minin:

      Rasul Allah (saw) menikahi saya tatkala saya berumur 7 atau 6. Ketika kami sampai di Medina, beberapa perempuan datang. (versi Bishr: Umm Ruman datang kepada saya ketika saya sedang main ayunan.

      Mereka mengambil saya, mempersiapkan saya dan menghiasi saya. Lalu saya dibawa kepada Rasul Allah (saw), dan dia menyetubuhi saya ketika saya berumur 9. Dia menghentikan saya di pintu, dan saya tertawa terbahak.

      Dalam Hadis diatas kita membaca bahwa Aisha sedang bermain ayunan, ketika ia hendak dibawa ke rumah Muhammad, yang mana membuktikan tidak adanya kesalahan bahwa ia betul masih seorang anak kecil.

      Aisha begitu kecil sehingga ia tidak mempunyai pengetahuan tentang perkawinan dan seks ketika Muhammad menghampirinya secara mengagetkan.

      Sahih Bukhari, vol.7, buku 62, no. 90

      Diriwayatkan oleh Aisha:

      “Ketika Nabi menikahi saya, ibu saya datang pada saya dan membawa saya masuk ke rumah (rumah Sang Nabi) dan tidak suatupun yang mengagetkan saya kecuali datangnya Rasul Allah menghampiri saya di pagi hari. Ini pastilah suatu hal yang sangat mengagetkan!”

      Hadis berikut ini mendemonstrasikan bahwa ia hanyalah seorang anak kecil yang sedang bermain dengan boneka-bonekanya.

      Perhatikan apa yang ditulis oleh penafsir dalam tanda kurung (ia adalah gadis kecil, belum mencapai umur pubertas).

      Sahih Bukhari, vol.8, buku 73, no. 151

      Diriwayatkan oleh Aisha:

      “Saya biasa bermain dengan boneka-boneka di tengah kehadiran Nabi, dan gadis-gadis temanku juga biasa bermain dengan saya.

      Ketika Rasul Allah masuk seperti biasanya (tempat tinggal saya), mereka (teman-teman saya) biasanya menyembunyikan diri mereka, namun Nabi memanggil mereka untuk bergabung dan bermain dengan saya.

      (Bermain dengan boneka-boneka dan barang-barang yang sejenis adalah terlarang, tetapi itu diizinkan untuk Aisha pada waktu itu, karena ia masih seorang gadis kecil, belum mencapai umur pubertas). (Fateh-al-Bari hlm 143, vol.13)

      Sahih Muslim, buku 008, no. 3311

      “Aisha (ra) melaporkan bahwa Rasul Allah (saw) mengawininya ketika ia berumur 7 tahun, dan ia dibawa ke rumahnya sebagai mempelai wanita ketika ia berumur 9 tahun, dan boneka-bonekanya menyertainya; dan ketika beliau (Nabi Suci) meninggal, ia (Aisha) berumur 18 tahun.”

      Muhammad meninggal ketika berumur 63 tahun. Dengan demikian ia tentu telah mengawini Aisha ketika berumur 51 tahun dan menghampirinya tatkala berumur 54 tahun (karena mereka hidup bersama serumah selama 9 tahun).

      Muhammad mempunyai banyak istri dan selir, namun tidak satupun diantara mereka yang dicintainya. Gadis-gadis muda ini hanyalah mainan seksnya. Yang sungguh-sungguh dicintai Muhammad adalah Khadijah. Jikalau Anda ingin mengetahui alasannya, maka Anda harus membaca buku saya: UNDERSTANDING MUHAMMAD: PSYCHOBIOGRAPHY OF ALLAH’S PROPHET (sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya: Mengenal Muhammad, Sebuah Psychobiography dari Nabi Allah)

      Hubungan Muhammad dan Khadijah bukan berdasarkan cinta, melainkan saling ketergantungan.Kedua individu ini saling membutuhkan dan kedua-duanya manusia-sakit

      • Stain Remover 4:15 pm on 26/07/2012 Permalink | Reply

        @wikki
        lagi-lagi tidak melihat dari kepercayaan-nya sendiri, bahwa ibunya tuhan yang abg kawin dengan duda yang telah jadi fosil :

        Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Matius 7:5)

        …Mary, then twelve to fourteen years of age. Joseph, who was at the time ninety years old, went up to Jerusalem among the candidates; a miracle manifested the choice God had made of Joseph…

        http://www.newadvent.org/cathen/08504a.htm

        • camar 5:20 pm on 27/07/2012 Permalink | Reply

          itu sudah basi kawan tapi setidak tidaknya dia tidak pedhofilia.tidak membunuh tidak merampok tidak memerkosa.tidak jahat.lihat nabimu hanya seputar wahyu bagian bawah perut diatas lutut itu itu saja wahyunya bahkan sampai sorga yang berisi 72 bidadari yang perawan setiap hari

        • Stain Remover 2:54 pm on 28/07/2012 Permalink | Reply

          @camar

          masa sih ibunya Tuhan jadi korban pedofil, mending masih muda ini sudah tuan renta dan duda pula…hehehe

          Dan tidak ada situs “kristen” yang membantah hal tersebut, bahkan dipraktekkan oleh pendeta Jeff yang menyatakan bahwa tindakan-nya adalah benar dan memang dalam bibel sendiri tidak ada batasan umur untuk itu :

          Jeffs divonis bersalah telah menikahi dua gadis ingusan dengan dalih ‘pernikahan rohani’ di pusat sekte Yearning for Zion (YFZ) Ranch di Texas pada 2008. Salah satu korban saat itu baru berusia 15 tahun.

          Pria berusia 55 tahun tersebut juga terbukti melakukan hubungan seks dengan anak-anak berusia 12 dan 14 tahun di Texas, Amerika Serikat (AS).

          Bukti lain adalah hasil temuan seorang ahli forensik. Menurutnya, hampir seluruh DNA Jeffs ditemukan di dalam tubuh seorang anak, bayi dari seorang ibu berusia 15 tahun.
          Pengadilan Kamis (4/8/2011) itu berlangsung cukup cepat.

          Hakim hanya membutuhkan waktu tiga jam untuk menentukan vonis bersalah terhadap pendeta penganut paham poligami ini. Pemimpin spiritual gereja fundamentalis Jesus Christ of Latter Day Saints (Gereja Fundamentalis Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir) ini dihadapkan pada ancaman penjara 119 tahun.

          Tanpa didampingi pengacara selama persidangan, dalam pembelaannya, Jeffs berkukuh bahwa praktik poligaminya adalah legal secara spiritual. Dia bahkan balik mengancam pihak pengadilan yang meneruskan kasusnya.

          http://globalkhilafah.blogspot.com/2011/08/zinahi-bocah-ingusan-nabi-gereja-yesus.html

          • camar 5:44 pm on 28/07/2012 Permalink | Reply

            yang kita bicarakan adala seorang nabi yang tega mengawini seorang perempuan yang umurnya masih 6 tahun dan pada saat usia 9 tahun dibawa ke ranjang nya apa anak ini sudah mengerti dengan yang terjadi ????padahal dia masih bermain main denga bonekanya tiba tiba diseret ke tempat tidur..coba bayangkan adik atau anak anda diperlakukan seperti itu apakah saudara rela //???.diatas saudara memelintir ke seorang pendeta ..ingat itu tidak tetulis dalam kitab. apakah dengan meberi tahukan kelakuan pendeta itu maka kelakuan nabi kita ini akan dibenarkan????

      • SERBUIFF 11:34 pm on 26/07/2012 Permalink | Reply

        TULISAN SAMPAH LAGI NIH…

        • camar 3:25 am on 28/07/2012 Permalink | Reply

          buktikan kalau pernyataan diatas tidak pernah terjadi.

          • Stain Remover 3:01 pm on 28/07/2012 Permalink | Reply

            @camar

            Kamu perhatikan ya, biar jelas :

            Aisyah adalah satu-satunya istri Muhammad yang masih gadis pada saat dinikahi. Aisyah dinikahkan pada tahun 620 M. Akad nikah diadakan di Mekkah sebelum Hijrah, tetapi setelah wafatnya Khadijah dan setelah Muhammad menikah dengan Saudah. Upacara dilakukan oleh ayahnya Abu Bakar dengan maskawin 400 dirham.

            Yang dibold adalah petunjuk untuk mengetahui kebenaran usia Aisyah :

            Menurut Tabari, keempat anak Abu Bakar (termasuk Aisyah) dilahirkan oleh istrinya pada zaman Jahiliyah, artinya sebelum 610 M. Apabila Aisyah dinikahkan sebelum 620 M, maka ia dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai suami-istri dengan Muhammad dalam umur di atas 13 tahun.

            Menurut Abd alRahman bin Abi Zannad: “Asmah 10 tahun lebih tua dari Aisyah.” Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Asmah hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah.

            Apabila Asmah meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal dalam tahun 73 atau 74 Hijriyah, maka Asma berumur 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah, sehingga Aisyah berumur (27 atau 28) – 10 = 17 atau 18 tahun pada waktu Hijrah.

            Itu berarti Aisyah mulai hidup berumah tangga dengan Muhammad pada waktu berumur 19 atau 20 tahun.

            • camar 6:05 pm on 28/07/2012 Permalink | Reply

              Sahih Muslim, buku 008, no.3310:
              Aisha (ra) melaporkan: Rasul Allah (saw) mengawini saya ketika saya berumur 6 tahun, dan saya masuk ke rumahnya saat saya berumur 9 tahun.

              Sahih Bukhari, vol.7, buku 62, no.64:
              Diriwayatkan Aisha: bahwa Nabi mengawininya ketika ia berumur 6 tahun dan ia (Muhammad) menggenapkan nikahnya tatkala ia berumur 9 tahun, lalu tinggal bersama-sama dengannya untuk 9 tahun (yaitu, hingga wafatnya).

              Sahih Bukhari, vol.7, buku 62, no.65:
              Diriwayatkan Aisha: bahwa Nabi mengawininya ketika ia berumur 6 tahun dan ia (Muhammad) menggenapkan nikahnya tatkala ia berumur 9 tahun. Hisham berkata: Saya telah diberitahu bahwa Aisha tinggal bersama-sama dengan Nabi selama 9 tahun (yaitu, hingga wafatnya). Apa yang engkau ketahui tentang Quran (hafal)’

              Sahih Bukhari, vol.7, buku 62, no 88:
              Diriwayatkan ‘Ursa: Nabi menuliskan (kontrak perkawinan) dengan Aisha tatkala ia berumur 6 tahun dan menggenapi nikahnya dengan dia ketika ia berusia 9 tahun dan ia tinggal bersama dengan beliau selama 9 tahun (sampai ajalnya).

              Sebagian Muslim berkata bahwa Abu Bakr-lah yang mendekati Muhammad dan meminta beliau untuk menikahi puterinya. Tentu ini tidak betul.

              Sahih Bukhari 7.18:
              Diriwayatkan ‘Ursa: Nabi meminta kepada Abu Bakr untuk menikahi Aisha. Abu Bakr berkata, “Tetapi sayakan saudaramu”. Nabi berkata, “ Engkau memang saudaraku dalam agama Allah dan Kitab-Nya, tetapi dia (Aisha) dibolehkan oleh hukum untuk kunikahi”.Diriwayatkan Aisha: Rasul Allah berkata kepadaku, “Engkau telah diperlihatkan kepadaku dua kali (dalam mimpiku) sebelum aku menikahimu. Aku melihat seorang malaikat membawamu dalam sepotong kain sutera, dan aku berkata kepadanya,”Singkapkan (dia)”, dan benar itu adalah engkau. Aku berkata (pada diriku), “Bila ini dari Allah, maka hal itu harus terjadi.Sahih Bukhari 5.236.
              Diriwayatkan oleh ayah Hisham:
              Khadijah wafat 3 tahun sebelum Nabi hijrah ke Medina. Ia (Muhammad) tinggal disana sekira 2 tahunan lalu menikahi Aisha gadis yang berumur 6 tahun, dan beliau berhubungan (suami-istri) ketika ia berumur 9 tahun.

              Sahih Bukhari 5.234.

              Diriwayatkan Aisha:

              Nabi melamar saya ketika saya berumur 6 (tahun). Kami pergi ke Medina dan tinggal dirumahnya Bani-al-Harith bin Khazraj. Kemudian saya sakit dan rambutku rontok. Kemudian rambutku tumbuh (kembali) dan ibuku, Um Ruman, datang menghampiriku ketika saya sedang bermain ayunan dengan beberapa teman-teman puteriku. Dia (ibu) memanggilku dan saya datang kepadanya, tanpa tahu apa yang hendak dilakukannya terhadapku. Dia menarik tanganku dan menempatkan diriku dipintu rumah. Nafasku terengah-engah jadinya, dan ketika nafas kembali biasa, ia mengambil air dan menyekakan muka dan kepalaku. Kemudian ia membawa saya masuk ke rumah. Disitu saya melihat beberapa perempuan Ansari yang berkata, “Selamat dan berkat Allah”. Maka iapun menyerahkan saya kepada mereka dan merekapun mempersiapkan saya (untuk menikah). Diluar sangkaan, Rasul Allah datang kepada saya pada siangnya lalu ibuku menyerahkan saya kepadanya, dan saat itu aku adalah gadis dengan umur 9 tahun.

              Sunan Abu Dawud, Buku 41, Nomor 4915, juga No.4916 dan 4917
              Diriwayatkan Aisha, Ummul Mu’minin:

              Rasul Allah (saw) menikahi saya tatkala saya berumur 7 atau 6. Ketika kami sampai di Medina, beberapa perempuan datang. (versi Bishr: Umm Ruman datang kepada saya ketika saya sedang main ayunan.Mereka mengambil saya, mempersiapkan saya dan menghiasi saya. Lalu saya dibawa kepada Rasul Allah (saw), dan dia menyetubuhi saya ketika saya berumur 9. Dia menghentikan saya di pintu, dan saya tertawa terbahak.

              Dalam Hadis diatas kita membaca bahwa Aisha sedang bermain ayunan, ketika ia hendak dibawa ke rumah Muhammad, yang mana membuktikan tidak adanya kesalahan bahwa ia betul masih seorang anak kecil.

              Aisha begitu kecil sehingga ia tidak mempunyai pengetahuan tentang perkawinan dan seks ketika Muhammad menghampirinya secara mengagetkan.

              Sahih Bukhari, vol.7, buku 62, no. 90

              Diriwayatkan oleh Aisha:

              “Ketika Nabi menikahi saya, ibu saya datang pada saya dan membawa saya masuk ke rumah (rumah Sang Nabi) dan tidak suatupun yang mengagetkan saya kecuali datangnya Rasul Allah menghampiri saya di pagi hari. Ini pastilah suatu hal yang sangat mengagetkan!”

              Hadis berikut ini mendemonstrasikan bahwa ia hanyalah seorang anak kecil yang sedang bermain dengan boneka-bonekanya.

              Perhatikan apa yang ditulis oleh penafsir dalam tanda kurung (ia adalah gadis kecil, belum mencapai umur pubertas).

              Sahih Bukhari, vol.8, buku 73, no. 151

              Diriwayatkan oleh Aisha:

              “Saya biasa bermain dengan boneka-boneka di tengah kehadiran Nabi, dan gadis-gadis temanku juga biasa bermain dengan saya.

              Ketika Rasul Allah masuk seperti biasanya (tempat tinggal saya), mereka (teman-teman saya) biasanya menyembunyikan diri mereka, namun Nabi memanggil mereka untuk bergabung dan bermain dengan saya.

              (Bermain dengan boneka-boneka dan barang-barang yang sejenis adalah terlarang, tetapi itu diizinkan untuk Aisha pada waktu itu, karena ia masih seorang gadis kecil, belum mencapai umur pubertas). (Fateh-al-Bari hlm 143, vol.13)

              Sahih Muslim, buku 008, no. 3311

              “Aisha (ra) melaporkan bahwa Rasul Allah (saw) mengawininya ketika ia berumur 7 tahun, dan ia dibawa ke rumahnya sebagai mempelai wanita ketika ia berumur 9 tahun, dan boneka-bonekanya menyertainya; dan ketika beliau (Nabi Suci) meninggal, ia (Aisha) berumur 18 tahun.”

              Muhammad meninggal ketika berumur 63 tahun. Dengan demikian ia tentu telah mengawini Aisha ketika berumur 51 tahun dan menghampirinya tatkala berumur 54 tahun (karena mereka hidup bersama serumah selama 9 tahun).

              Muhammad mempunyai banyak istri dan selir, namun tidak satupun diantara mereka yang dicintainya. Gadis-gadis muda ini hanyalah mainan seksnya. Yang sungguh-sungguh dicintai Muhammad adalah Khadijah. Jikalau Anda ingin mengetahui alasannya, maka Anda harus membaca buku saya: UNDERSTANDING MUHAMMAD: PSYCHOBIOGRAPHY OF ALLAH’S PROPHET (sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya: Mengenal Muhammad, Sebuah Psychobiography dari Nabi Allah)Khadijah meninggal bulan Desember 619 M, 2 tahun sebelum Hijrah. Tatkala itu Muhammad berumur 51 tahun. Kemudian Muhammad mengawini Aisha dan membawanya ke ranjang 3 tahun sesudahnya.

              Muslim tidak malu terhadap kenyataan, bahwa Nabi mereka adalah seorang PEDOFIL, tetapi sebaliknya merasa rikuh bila ada beberapa Muslim diantaranya yang mengklaim bahwa Aisha lebih tua, katakanlah 16 atau 18 tahun, ketika menikahi Muhammad. Klaim ini tidak benar. Aisha berkata bahwa selama yang dapat dia ingat kedua orangtuanya adalah selalu Muslim.

              Sahih Bukhari, vol.5, buku 58, no.245
              Diriwayatkan Aisha:
              (Istri Nabi) saya tak pernah ingat orang-tuaku ada percaya pada agama manapun kecuali agama yang benar (yaitu Islam).

              Jadi jikalau Aisha berumur lebih tua, maka dia pasti akan ingat agama dari orangtuanya sebelum mereka menjadi Muslim.

              Sekarang orang masih akan mengklaim bahwa semua Hadis ini adalah bohong. Muslim bebas mengatakan apapun yang mereka inginkan. Tetapi kebenaran adalah jelas ibarat matahari bagi mereka yang mempunyai mata untuk melihatnya.Apa perlunya begitu banyak Muslim-taat yang justru mengarang banyak Hadis palsu tentang umur Aisha, demi membuat Nabi mereka tampak seperti pedofil? Hadis-hadis semacam ini tidak dapat dipungkiri.Orang-orang Kristen percaya kelahiran Kristus adalah mujizat, dan orang-orang Yahudi percaya bahwa Musa menyibakkan Laut Merah. Semua orang yang percaya ingin mendengar kisah-kisah mujizat tentang Nabi mereka bahkan sekalipun hal itu tidak benar. Namun tidak ada seorangpun yang akan merancang kebohongan untuk menggambarkan Nabi nya sebagai seorang yang jahad. Jadi jikalau kisah-kisah jahat demikian telah diceritakan banyak orang dari kalangan sendiri, maka kisah itu pastilah benar.Situs Islamonline.com menerangkan: “Perlu diperhatikan bahwa di daerah yang berhawa panas, maka adalah normal bagi seorang gadis cilik mendapatkan kedewasaannya pada umur yang masih sangat muda.” Lalu membenarkan bahwa pernikahan Muhammad adalah untuk mempererat persekutuan politik dengan orangtua gadis beserta suku-suku nya. Ini adalah nonsense yang membodohi.
              Bukankah Muhammad menikahi Safiyah setelah ia memenggal kepala ayah Safiyah, menyiksa hingga mati suaminya (Kinana) dan membantai seluruh sukunya?

              Bukankah Muhammad menikahi Juwariyah setelah menyerang orang-orangnya, membunuh secara massal para lelakinya, dan merampok kekayaan mereka dan mengambil perempuan-perempuan serta anak-anak sebagai budak?

              Bukankah dia juga mengambil Rayhana, gadis Yahudi umur 15 tahun dari bani Quraiza setelah membantai semua laki-laki termasuk anak-anak laki-laki yang telah mencapai pubertas? Jadi dengan siapakah Muhammad hendak membuat persekutuan?Ini semua menunjukkan bahwa pada zaman tersebut angka-angka tidak berarti banyak. Lebih mungkin bahwa orang-orang membuat kesalahan terhadap tanggal dan tahun dari peristiwa-peristiwa tertentu. Laporan-laporan tentang usia muda Aisha adalah konsisten dengan kisah-kisah kanak-kanaknya, seperti bermain-main dengan bonekanya, ayunannya, teman-teman ciliknya bersembunyi ketika Muhammad memasuki ruangan, Nabi bermain-main dengan dia, ketidak-tahuannya tentang seks dan “kekagetannya” ketika Muhammad menghampirinya. Semua ini menegaskan bahwa dia adalah gadis cilik.

              • Stain Remover 4:01 pm on 29/07/2012 Permalink | Reply

                @camar

                dibaca dong neng yang diatas…

                • camar 11:28 am on 30/07/2012 Permalink | Reply

                  Sahih Muslim, buku 008, no. 3311

                  “Aisha (ra) melaporkan bahwa Rasul Allah (saw) mengawininya ketika ia berumur 7 tahun, dan ia dibawa ke rumahnya sebagai mempelai wanita ketika ia berumur 9 tahun, dan boneka-bonekanya menyertainya; dan ketika beliau (Nabi Suci) meninggal, ia (Aisha) berumur 18 tahun.”

                  Muhammad meninggal ketika berumur 63 tahun. Dengan demikian ia tentu telah mengawini Aisha ketika berumur 51 tahun dan menghampirinya tatkala berumur 54 tahun (karena mereka hidup bersama serumah selama 9 tahun).

                  • Stain Remover 5:06 pm on 30/07/2012 Permalink | Reply

                    @camar

                    Yang diatas dibaca dulu mengenai kronologisnya…

    • camar 11:45 am on 31/07/2012 Permalink | Reply

      masih menyangkal ini bukti bukti ini diambil dari tulisan para penulis yangsahih..malu ya mengaku nggak usah malu aku akan rahasiakan…..

    • Stain Remover 4:43 pm on 31/07/2012 Permalink | Reply

      @camar

      Kamu sudah baca tulisan diatas tidak yang telah membantahnya, belum. Kalau ibu tuhan yang ABG dan kemudian kawin dengan fosil manusia (kakek tua renta yang duda dan telah berusia 90 tahun) tidak ada sumber lain yang bisa membantahnya.

      • wikki 5:33 pm on 25/08/2012 Permalink | Reply

        muhammad meninggal pada saat aisyah beumur 18 tahun pernikahan aisyah berlangsung selama 9 tahun berarti aisyah menikah pada umur 9 tahun

    • tarwi wulur 8:50 pm on 03/01/2013 Permalink | Reply

      artinya banyak hadits yang memberikan informasi yang berbeda, dan bgtu banyak pilihan, maka otomatis kita tdk bisa menentukan mana yang paling benar,,
      kesimpulannya..1. gnakan pilihan hadits yang masuk logika, karena dalam islam agama adlh akal. 2. kalau tdak tau seluk beluk islam jangan sok tau….

    • luk sosial 6:54 am on 04/01/2013 Permalink | Reply

      Bukan cuma Hadits saja yg banyak perbedaan dan rancuh, quran juga demikian .Justru kalau pake AKAL SEHAT maka akan kelihatan sekali HOAX dalam quran dan hadits , kecuali kalau anda pake “AKAL TIDAK SEHAT” baru akan cocok.

      • melly 6:36 am on 11/04/2013 Permalink | Reply

        lha bibelmu juga jelas hoax…cocok buat dongeng anak2 menjelang tidur (kebagusan kali buat dongeng, mestinya buat ganjel pintu aja)
        dan pengikutnya ho oh aja….macam kamu. kadang aku heran kok bisa idiotnya ya pengikutnya bibile ini macam kambing di rumah aku.

    • STEFANUS LIM 12:15 pm on 06/01/2013 Permalink | Reply

      YESUS NYEMBAH TUHAN YAHUDI DI TEMBOK RATAPAN.

      http://www.google.com/search?q=PAUS+DI+DEPAN+TEMBOK+RATAPAN&sugexp=chrome,mod%3D14&um=1&ie=UTF-8&hl=en&tbm=isch&source=og&sa=N&tab=wi&ei=gGrpUL2XLMyakgWnpYGYDA&biw=1366&bih=668&sei=hWrpUOGAKsPRkQXtvIGYAw

      PAUS DITANYA YESUS KETIKA DIA NYEMBAH YAHWEH TUHAN YAHUDI DI TEMBOK RATAPAN.
      YESUS:” HAI PAUS NGAPAIN NYEMBAH YAHWEH TUHAN YAHUDI APA SUDAH BOSAN NYEMBAH AKU DITIANG SALIB?”
      PAUS:”MAAF TUAN YESUS, ANDA KAN ANAK JADI AKU PIKIR SEBAIKNYA AKU NYEMBAH BAPAK SAJA.”
      YESUS:’LHO KAGAK BISA BEGITU’.
      PAUS:”MEMANGNYA KENAPA”
      YESUS”HEI AKU KAN MATI UNTUK KAMU, UNTUK NEBUS DOSA KAMU TAHU NGGA, JADI KAMU HARUS NYEMBAH AKU?’
      PAUS:TUAN YESUS.KALO AKU NYEMBAH BAPAK KAMU ITUKAN PERINTAH KAMU SENDIRI.YANG SURUH HANYA NYEMBAH DIA., KALO AKU NYEMBAH KAMU ITUKAN BUKAN KATA KAMU ITUKAN KATA ORANG2 YANG BUNUH KAMU.BETUL NGGA??
      YESUS:’BETUL, PINTER JUGA KAMU YAH., HANYA ORANG TOLOL NYEMBAH AKU.

    • luk sosial 4:48 pm on 06/01/2013 Permalink | Reply

      Kenapa saudara SL… sudah kehabisan bahan ka untuk membelah kebohongan quran??? sudahlah anda tidak bisa terus menerus menutupi sesuatu yang busuk. pasti akan tercium juga

      • melly 6:38 am on 11/04/2013 Permalink | Reply

        ya mungkin akan tercium jika sudah ketahuan busuknya. lha bibelmu itu sudah jelas2 tercium dan terlihat dg mata busuknya kok masih aja diembat dan dipercaya, itu apa gak kebablasan bodohnya kalian?

      • melly 6:40 am on 11/04/2013 Permalink | Reply

        luk…luk…opo kamu itu lukkk…bisanya cuma menghujat agama orang, agamamu dewe dihujat juga gak sanggup kau bela. kau bela juga jawabannya macam orang sakit jiwa gak nyambung blasssssssssss……

    • lim bho tak 7:05 am on 08/01/2013 Permalink | Reply

      yesus ngga makan babi umatnya makan babi, artinya mereka kafir sama sabda yesusnya.buah sabda malah dihina lagi setelah jadi kotoran mereka kencingi lagi,padahal pajoh babi dilarang , makanya pendeta2 pinter seperti yahya waloni masuk islam.jadi makan babi ajaran siapa?setan?ha ha ha

    • lim bho tak 10:39 am on 11/04/2013 Permalink | Reply

      @Prof Doktor Stepenth Cong.
      jujurlah

      Anda tahu bahwa orang sekaliber einstein tetap tak bisa lari dari hukum Allah.
      orang 2 islam telah menemukan hukum ketetapan massa dan lainnya dalam Quran

      S U R A T A L – A H Z A B

      33:62. Sebagai sunah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.

      S U R A T A L – F A T H

      48:23. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu.

      yang tidak dan perubahan dan pergantian dalam sunnatullah. air mendidih 100 derajat celsius, manusia tak bisa jadi kera , kera tak bisa jadi manusia (kecuali kalau Allah kehendaki)

      kristen katholik (barat)malah dibodohkan darwin dengan teori kera.

      jauh sebelum orang2 barat yang masih bau pesing serta gigi kuning.karena orang2 islam telah bersiwak hingga gigi mereka bersih dan kuat serta wangi badan dan pakaian untuk sholat menghadap Allah, karena begitulah ajaran Allah yang dibawa nabi Muhammad sangat bersih lahir dan batin.

      dalam al kitab kristen tuhan malah disuguhi bakaran lemak busuk isi perut bab dibakar dioles kemenyan.
      mana yang anda pilih sebagai tuhan??

      tuhannya orang islam atau tuhannya kristen katholik yahudi yahweh yang hina dina itu(kesukaan tuhan di imamat)

      sungguh mengherankan kristen katholik tetap dalam kebodohan dan ketololan sampai sekarang mereka menuhankan paulus pendusta dengan jalan mengikuti kata2 dustanya dikitab roma yang menghapus taurat, semua pada makan babi dan tidak sunat.

      bisakah anda membantah bahwa kristen katholik adalah penyembah paulus sebenarnya?

      anda bukan menyembah Allah seperti yang di perintahkan yesus ?sampai2 karena bebalnya bani israil pemberontak mereka menyembah setan.

      di matius yesus malah mendakwah iblis untuk hanya menyembah Allah.anda kok kafir sama yesus anda.kenapa anda ikuti kata2 paulus pendusta???

      coba jawab mana intelekual anda??jawab dengan al kitab bukan dengan kata2 bersayap.ok.

    • luk sosial 5:08 am on 18/04/2013 Permalink | Reply

      jauh sebelum orang2 barat yang masih bau pesing serta gigi kuning.karena orang2 islam telah bersiwak hingga gigi mereka bersih dan kuat serta wangi badan dan pakaian untuk sholat menghadap Allah, “karena begitulah ajaran Allah yang dibawa nabi Muhammad sangat bersih lahir dan batin.”
      seking bersihnya si mohammad sampe tidak sadar dan tidak mencium kalo ada bangkai binatang yang sudah berhari hari dibawah kolong ranjangnya, mungkin seking kebanyakan ML kali ya

      • melly 1:21 am on 19/04/2013 Permalink | Reply

        cuihh….komentar gak bermutu, gak intelek sama sekali. keliatan kualitas berdebat mu cukup memalukan kalangan kristen.

        • luk sosial 10:31 am on 19/04/2013 Permalink | Reply

          Kamu nda tau ka ada cerita seperti itu…makanya baca quran dan hadist itu dipahami artinya, jangan suara aja dikencangin tapi nda tau artinya…atau kalo kamu cukup intelek coba kau debat di forum murtadin FFI, biar orang banyak yang nilai seberapa intelek kamu ..jangan cuma jago kandang

          • melly 8:12 am on 22/04/2013 Permalink | Reply

            iya gak tahu luk , trus hubungannya apa’an yah antara islam mengajarkan kebersihan lahir dan batin dengan “seking bersihnya si mohammad sampe tidak sadar dan tidak mencium kalo ada bangkai binatang yang sudah berhari hari dibawah kolong ranjangnya, mungkin seking kebanyakan ML kali ya”

            logikanya kalo ngajarin bersih lahir batin masa ada bangkai binatang tidak tercium baunya, orang yang suka kebersihan jangakan bau bangkai, ada debu aja sudah risih. makin lama makin meracau macam abis nyimeng aja kau itu.

            • LIM BHO TAK 4:10 am on 27/04/2013 Permalink | Reply

              TOLOL BIN BODOH ALIAS OTAK KELEDAI BIN BLEGUK
              XIXIXIXIXI

              KRUUUUUK KRUUUUK KRUUUK KRUUK
              KRUUUUUK KRUUUUK KRUUUK KRUUUUK KRUUUK KRUUK KRUUK KRUUK KRUUUUUK KRUUUUK KRUUUK KRUUK
              KRUUUUUK KRUUUUK KRUUUK KRUUUUK KRUUUK KRUUK KRUUK KRUUK

              LHO MASIH BELUM TAU???ATAU MEMANG BUDEK???

              AGAMA UDAH DIAMBIL ALIH DARI ANGGUR ASAM DIBERIKAN PADA BANGSA ARAB
              DASAR MIRIS TOLOL

              YESAYA 5

              (7) Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran. (7) Sebab kebun anggur TUHAN Yang Mahakuasa adalah umat Israel, dan orang-orang Yehuda adalah pohon anggur yang ditanam-Nya. Dari mereka Ia mengharapkan keadilan, tetapi hanya ada kelaliman. Ia harapkan mereka menegakkan kebenaran, tetapi hanya ada jeritan minta keadilan.

              SEBAB KEJAHATAN ISRAIL AGAMA DIBERIKAN PADA BANGSA ARAB KETURUNAN NABI IBRAHIM (PARAN)

              HABAKKUK 3
              3) Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. Sela. Keagungan-Nya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepada-Nya.

              HANYA ISLAM BANGSA ARAB MENJELAJAH DUNIA.

              HABAKKUK 3

              12) Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak bangsa-bangsa.

              TAK ADA BANGSA ISRAIL MENJELAJAH DUNIA MEREKA SEMUA TERJAJAH.
              AYAT INI UNTUK BANGSA ARAB(ISLAM)

            • luk sosial 3:03 am on 28/04/2013 Permalink | Reply

              Syukurla kalo kamu masih bisa pake logika yang diberikan Tuhan pada kamu, berarti kamu belum islam kaffa, untuk cerita bangkai di bawah kolong t4 tidur muhammad silahkan anda cari sendiri di hadist hitung hitung biar belajar agama sendiri juga, tapi pasti kamu akan bilang hadist itu dhoiff atau palsu dan tidak bisa dipercaya,seperti muslim pada umumnya, itu hak anda mau percaya atau tidak tapi hal positif, paling tidak andah mau belajar kritis dan mau mencari tau, bukan membeo apa yang dikatakan ustad

            • luk sosial 3:24 pm on 01/05/2013 Permalink | Reply

              udah ketemu tidak cerita soal bangkai di bawah kolong ranjang nabi elo ??

            • luk sosial 3:32 pm on 02/05/2013 Permalink | Reply

              ayo mbak melly…monggo di jawab, uda ketemu belum ceritanya ??? masa kafir yang harus kasi tau juga, kan malu ama atheis,Budhis dll

    • LIM BHO TAK 1:03 pm on 18/04/2013 Permalink | Reply

      olik Says:

      April 18, 2013 at 12:32 pm
      COBA RENUNGIN…. bacalah lukas 13:31-33

      APAKAH MUNGKIN TUHAN SEPERTI INI ” Tuhan ketakutan,,”” ?????? Pada saat Yesus ingin di bunuh oleh Herodes ,,, beliau ketakutan dan berkata ..::”” Aku harus meneruskan perjalananku, sebab tidaklah semestinya seorang “NABI ” dibunuh kalau tidak di Yerusalem.” (lukas:13:31-33) Teks ini menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang Nabi dan sedang ketakutan yang ingin keluar daerah Yerusallem..

      ===================================
      @LIK YANG PINTER SMPAI SEKARANG POSTINGAN INI TAK BISA DIJAWAB PROF STEPENTH KONG DKK
      MATIUS BUAL ATAU LUKAS BUAL ATAU KEDUANYA BUAL

      ITULAH KEBODOHAN DAN KETOLOLAN PENYEMBAH YESUS.

      HERODES SUDAH MAMPUS WAKTU YESUS KECIL DI MATIUS 2 :15

      NAH DI LUKAS HERODES HIDUP LAGI, BAHKAN MAU BUNUH YESUS,
      HA HA HA HA SAMPAI YESUS KETAKUTAN SAMA ORANG YANG SUDAH MATI.
      HA HA HA YESUS TAKUUUUUUUT. SAMA ORANG MATI.

      HERODES SUDAH MAMPUS DI MATIUS KOK ADA AYAT LUKAS BILANG HERODES MASIH HIDUP

      AYO SIAPA YANG BUAL LAKAS ATAU MATIUS????
      PIKIR BAIK2 MAKANYA BACA JANGAN MAKAN DOGMA TERUS DI GEREJA CUMA DENGAN DOGMA BUALAN, LALU DENGAN BUALAN ITU ANAK ISTRI ANDA ANDA JERUMUSKAN KE NERAKA
      KEJAM SEKALI KALIAN.
      KEJAM DAN BODOH.
      XIXIXIXI

      INILAH AYAT2 BUALAN MATIUS BUAL ATAU LUKAS BUAL
      TOLONG PROF KONG JAWAB MANA YANG BENAR?

      MATIUS 2 (HERODES SUDAH MAMPUS WAKTU YESUS KECIL)

      13) Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”
      (14) Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,
      (15) dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”

      LUKAS 13 (HERODES MASIH HIDUP WAKTU YESUS JEJAKA TINGTING)

      (31) Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.
      (32) Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.
      (33) Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.

    • luk sosial 5:04 am on 05/05/2013 Permalink | Reply

      Hoi Mba Melly ..Sudah Murtad ka ? .. Sudah mulai coba pakai logika yang diberi Tuhan ya ?..
      Selamat memasuki kehidupan yang merdeka dan bebas dari aturan syariah gila ciptaan nabi gila dari arab.

    • melly 1:29 am on 06/05/2013 Permalink | Reply

      males luk, ngeladeni kamu yg super gila.

      • luk sosial 5:52 am on 06/05/2013 Permalink | Reply

        Malas apa nda ada jawaban lagi ?? …ngomong2 sudah ketemu belum cerita bangkai di bawah kolong ranjang nabi palsu yang katanya bersih lahir batin ?

    • melly 2:29 am on 16/05/2013 Permalink | Reply

      kamu itu gak ada pertanyaan yg lebih bermutu tah?!?!? aku gak tertarik dengan cerita bangkai2 mu itu, wes jelas gak ada hubungannya dengan konteks kebersihan. lha lapo aku mesti cari2 ceritanya. buang2 waktu. kamu mau pake itu buat nyerang muhammad yo terserah. nek menurutku gak masuk akal bahan yg kamu pakai buat argumen. hehhhh….

    • luk sosial 12:58 pm on 18/05/2013 Permalink | Reply

      Masih banyak pertanyaan saya…tapi yang itu saja dulu dijawab…biar anda tidak pusing ..soalnya kebiasaan muslim kalo debat suka melebar kemana mana biar sesuatu yang tidak bisa dijawab jadi terabaiakan..itu suda siri ciri muslim

  • SERBUIFF 8:04 am on 12/09/2009 Permalink | Reply
    Tags: , ISTRI-ISTRI NABI MUHAMMAD, muhammad, PERNIKAHAN MUHAMMAD   

    ISTRI-ISTRI NABI MUHAMMAD 

    Pernikahan Muhammad

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Langsung ke: navigasi, cari

    Bagian dari artikel tentang
    Nabi Islam Muhammad



    Ibu-ibu dari orang-orang yang beriman (Arab: أمهات المؤمنين) adalah istilah Islam yang merupakan penyebutan kehormatan bagi istri-istri dari Nabi Muhammad. Muslim menggunakan istilah tersebut sebelum atau sesudah nama istri beliau. Istilah ini diambil dari ayat Quran, Surah Al-Ahzab ayat 6.

    Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka…

    Nabi Muhammad seringkali disebutkan menikah dengan 11 orang perempuan. Terdapat anggapan bahwa ia menikah dengan dua orang perempuan lainnya, tetapi diceraikannya sebelum mereka sempat bersama-sama.[rujukan?]

    Daftar isi

    [sembunyikan]

    // <![CDATA[//

    [sunting] Khadijah binti Khuwailid

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Khadijah binti Khuwailid

    Ia merupakan isteri Nabi Muhammad yang pertama. Sebelum menikah dengan Nabi, ia pernah menjadi isteri dari Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik dan telah melahirkan empat orang anak, dua dengan suaminya yang bernama Atiq, yaitu Abdullah dan Jariyah, dan dua dengan suaminya Abu Halah yaitu Hindun dan Zainab.

    Berbagai riwayat memaparkan bahwa saat Muhammad s.a.w. menikah dengan Khadijah, umur Khadijah berusia 40 tahun sedangkan Nabi hanya berumur 25 tahun. Tetapi menurut Ibnu Katsir, seorang tokoh dalam bidang tafsir, hadis dan sejarah, mereka menikah dalam usia yang sebaya. Nabi Muhammad s.a.w. bersama dengannya sebagai suami isteri selama 25 tahun yaitu 15 tahun sebelum menerima wahyu pertama dan 10 tahun setelahnya hingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Khadijah wafat saat ia berusia 50 tahun.

    Ia merupakan isteri nabi Muhammad s.a.w. yang tidak pernah dimadu, karena semua isterinya yang dimadu dinikahi setelah wafatnya Khadijah. Di samping itu, semua anak Nabi kecuali Ibrahim adalah anak kandung Khadijah.

    Maskawin dari nabi Muhammad s.a.w. sebanyak 20 bakrah dan upacara perkawinan diadakan oleh ayahnya Khuwailid. Riwayat lain menyatakan, upacara itu dilakukan oleh saudaranya Amr bin Khuwailid.

    Pernikahannya dengan Khadijah menghasilkan keturunan hanya enam orang, yaitu: Al Qosim, Zainab, Rukayah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Abdullah.

    Al Qosim mendapat julukan Abul Qosim, sedangkan Abdullah mempunyai julukan at Thoyib at Thohir yang berarti “Yang Bagus dan Lagi Suci”.

    [sunting] Saudah binti Zam’ah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Saudah binti Zam’ah

    Nabi menikah dengan Saudah setelah wafatnya Khadijah dalam bulan itu juga.

    Saudah adalah seorang janda tua. Suami pertamanya ialah al-Sakran bin Amr. Saudah dan suaminya al-Sakran adalah di antara mereka yang pernah berhijrah ke Habsyah. Saat suaminya meninggal dunia setelah pulang dari Habsyah, maka Rasulullah telah mengambilnya menjadi isteri untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penghargaan yang tinggi kepada suaminya.

    Acara pernikahan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Maskawinnya ialah 400 dirham. ???

    [sunting] Aisyah binti Abu Bakar

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Aisyah binti Abu Bakar

    Akad nikah diadakan di Mekkah sebelum Hijrah, tetapi setelah wafatnya Khadijah dan setelah nabi Muhammad menikah dengan Saudah. Ketika itu Aisyah berumur 6 tahun. Rasulullah tidak bersama dengannya sebagai suami isteri melainkan setelah berhijrah ke Madinah. Ketika itu, Aisyah berumur 9 tahun sementara nabi Muhammad berumur 53 tahun.

    Aisyah adalah satu-satunya isteri rasulullah yang masih gadis pada saat dinikahi. Saat itu Aisyah berumur 9. Upacara dilakukan oleh ayahnya Abu Bakar dengan maskawin 400 dirham.

    lebih jauh dapat dibaca di: https://erzal.wordpress.com/category/pernikahan-nabi-muhammad-dengan-siti-aisyah/

    [sunting] Hafshah binti Umar bin al-Khattab

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Hafshah binti Umar

    Hafsah seorang janda. Suami pertamanya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia saat Perang Badar. Ayahnya Umar meminta Abu Bakar menikah dengan Hafsah, tetapi Abu Bakar tidak menyatakan persetujuan apapun dan Umar mengadu kepada nabi Muhammad.

    Kemudia rasulullah mengambil Hafsah sebagai isteri.

    [sunting] Ummu Salamah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ummu Salamah

    Salamah seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya syahid dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut syahid pula dalam perang itu lalu nabi Muhammad melamarnya. Mulanya lamaran ditolak karena menyadari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.

    Lamaran kali kedua nabi Muhammad diterimanya dengan maskawin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.

    [sunting] Ummu Habibah binti Abu Sufyan

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ummu Habibah

    Ummu Habibah seorang janda. Suami pertamanya Ubaidillah bin Jahsyin al-Asadiy. Ummu Habibah dan suaminya Ubaidullah pernah berhijrah ke Habsyah. Ubaidullah meninggal dunia ketika di rantau dan Ummu Habibah yang berada di Habsyah kehilangan tempat bergantung.

    Melalui al Najashi, nabi Muhammad melamar Ummu Habibah dan upacara pernikahan dilakukan oleh Khalid bin Said al-As dengan maskawin 400 dirham, dibayar oleh al Najashi bagi pihak nabi.

    [sunting] Juwairiyah (Barrah) binti Harits

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Juwairiyah binti Harits

    Ayah Juwairiyah ialah ketua kelompok Bani Mustaliq yang telah mengumpulkan bala tentaranya untuk memerangi nabi Muhammad dalam Perang al-Muraisi’.

    Setelah Bani al-Mustaliq tewas dan Barrah ditawan oleh Tsabit bin Qais bin al-Syammas al-Ansariy. Tsabit hendak dimukatabah dengan 9 tahil emas, dan Barrah pun mengadu kepada nabi.

    Rasulullah bersedia membayar mukatabah tersebut, kemudian menikahinya.

    [sunting] Shafiyah binti Huyay

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Shafiyah binti Huyay

    Shafiyah anak dari Huyay, ketua suku Bani Nadhir, yaitu salah satu Bani Israel yang berdiam di sekitar Madinah. Dalam Perang Khaibar, Shafiyah dan suaminya Kinanah bin al-Rabi telah tertawan. Dalam satu perundingan setelah dibebaskan, Safiyah memilih untuk menjadi isteri nabi Muhammad.

    [sunting] Zainab binti Jahsy

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Zainab binti Jahsy

    Zainab merupakan isteri Zaid bin Haritsah, yang pernah menjadi budak dan kemudian menjadi anak angkat nabi Muhammad s.a.w. setelah dia dimerdekakan.

    Hubungan suami isteri antara Zainah dan Zaid tidak bahagia karena Zainab dari keturunan mulia, tidak mudah patuh dan tidak setaraf dengan Zaid. Zaid telah menceraikannya walaupun telah dinasihati oleh nabi Muhammad s.a.w. .

    Upacara pernikahan dilakukan oleh Abbas bin Abdul-Muththalib dengan maskawin 400 dirham, dibayar bagi pihak nabi Muhammad s.a.w.

    [sunting] Zainab binti Khuzaimah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Zainab binti Khuzaimah

    Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia sewaktu nabi Muhammad s.a.w. masih hidup.

    [sunting] Maria al-Qibtiyyah

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Maria al-Qibtiyyah

    Mariah al-Qibthiyah ialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dari Mesir. Ia seorang mantan budak Nabi yang telah dinikahi dan satu-satunya pula yang dengannya Nabi memperoleh anak selain Khadijah yakni Ibrahim namun sayangnya meninggal dalam usia 4 tahun.

    [sunting] Referensi

    • Profesor Madya Dr. Ishak Mohd. Rejab, Rasulullah Sebagai Ketua Keluarga, Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia, 1988.

    ====================================================

    Isteri-isteri Nabi Muhammad s.a.w.

    Dari Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas.

    Lompat ke: pandu arah, gelintar

    Nabi Muhammad s.a.w. pernah berkahwin dengan 13 orang perempuan. Sebelas daripadanya pernah bersama dengan Baginda sebagai suami isteri, manakala dua daripadanya diceraikan sebelum mereka bersama.

    1. Khadijah bt. Khuwailid al-Asadiyah r.a
    2. Saudah bt. Zam’ah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a
    3. Aisyah bt Abi Bakr r.a
    4. Hafsah bt. Umar bin al-Khattab r.a
    5. Ummu Salamah Hindun bt. Abi Umaiyah r.a
    6. Ummu Habibah Ramlah bt. Abi sufian r.a
    7. Juwairiyah ( Barrah ) bt. Harith
    8. Safiyah bt. Huyay
    9. Zainab bt. Jansyin
    10. Asma’ bt. al-Nu’man al-Kindiyah
    11. Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah
    12. Zainab bin Khuzaimah
    13. Maria al-Qibtiyyah (Maria The Copt)

    Isi kandungan

    [sorok]

    // <![CDATA[//

    [sunting] Khadijah bt. Khuwailid al-Asadiyah r.a

    Beliau adalah merupakan isteri nabi Muhammad s.a.w. yang pertama. Sebelum berkahwin dengan baginda, beliau pernah menjadi isteri kepada Atiq bin Abid dan Abi Halah bin Malik dan telah mempunyai empat anak, dua dengan suaminya yang bernama Atiq, iaitu Abdullah dan Jariyah, dan dua dengan suaminya Abu Halah iaitu Hindun dan Zainab.

    Banyak kisah memaparkan bahawa sewaktu nabi Muhammad s.a.w. bernikah dengan Khadijah, umur Khadijah berusia 40 tahun sedangkan nabi Muhammad s.a.w. hanya berumur 25 tahun. Tetapi menurut Ibnu Kathir, seorang tokoh dalam bidang tafsir, hadis dan sejarah, mereka berkahwin dalam usia yang sebaya. Nabi Muhammad s.a.w. bersama dengannya sebagai suami isteri selama 25 tahun iaitu 15 tahun sebelum bithah dan 10 tahun selepasnya iaitu sehingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah. Khadijah wafat semasa beliau berusia 50 tahun.

    Beliau merupakan isteri nabi Muhammad s.a.w. yang tidak pernah dimadukan kerana kesemua isterinya yang dimadukan adalah berlaku selepas daripada wafatnya Khadijah. Di samping itu, kesemua anak baginda kecuali Ibrahim adalah kandungannya.

    Mas kahwin daripada nabi Muhammad s.a.w. sebanyak 20 bakrah dan upacara perkahwinan diadakan oleh ayahnya Khuwailid. Riwayat lain menyatakan, upacara itu dilakukan oleh saudaranya Amr bin Khuwailid.

    [sunting] Anak-anak Rasulullah bersama Khadijah

    Diriwayatkan bahawa anak perempuan Nabi Muhammad SAW iaitu Fatimah Az-Zaharah telah berkahwin dengan Khalifah Saidina Ali bin Abi Talib.

    Kesemua ketiga – tiga anak lelaki Rasullullah telah meninggal dunia sejak kecil lagi.Tujuan Allah SWT mencabut semua nyawa anak lelaki Nabi adalah bagi mengelakkan supaya tiada lagi wujud Nabi dan Rasul yang baru sesudah Nabi Muhammad,hal ini kerana Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir diutuskan Allah sesudah Nabi Isa diatas muka bumi ini.Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul bagi seluruh umat alam buana dan semesta sehinggalah ke Hari kiamat.

    [sunting] Saudah bt. Zam’ah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a

    Nabi Muhammad s.a.w. berkahwin dengan Saudah setelah wafatnya Khadijah 3 tahun. Saudah adalah seorang janda tua. Suami pertamanya ialah al-Sakran bin Amr. Saudah dan suaminya al-Sakran adalah di antara mereka yang pernah berhijrah ke Habsyah. Apabila suaminya meninggal dunia setelah pulang dari Habsyah, maka nabi Muhammad s.a.w. telah mengambilnya menjadi isteri untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penilaian yang tinggi kepada suaminya.

    Acara perkahwinan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Mas kahwinnya ialah 400 dirham.

    [sunting] Aishah bt Abu Bakar

    Akad nikah diadakan di Mekah sebelum Hijrah, tetapi setelah wafatnya Khadijah dan setelah nabi Muhammad s.a.w. berkahwin dengan Saudah. Ketika itu Aisyah berumur 16 tahun. Rasulullah tidak bersama dengannya sebagai suami isteri melainkan setelah berhijrah ke Madinah. Ketika itu, Aisyah berumur 19 tahun sementara nabi Muhammad s.a.w. berumur 53 tahun.Umur Aisyah dan kekeliruan akibat dari perpecahan dalam Islam akibat fitnah syi’ah yang membenci Ummmul Mukminin

    Aisyah adalah isteri nabi Muhammad s.a.w. yang tunggal yang dikahwininya semasa gadis. Upacara dilakukan oleh ayahnya Abu Bakar dengan mas kahwin 400 dirham.

    [sunting] Hafsah bt. Umar bin al-Khattab r.a

    Hafsah seorang janda. Suami pertamanya Khunais bin Hudhafah al-Sahmiy yang meninggal dunia selepas Perang Badar. Bapanya Umar mempelawa Abu Bakar berkahwin dengan Hafsah, tetapi Abu Bakar tidak menyatakan sebarang persetujuan dan Umar mengadu kepada nabi Muhammad s.a.w.. Lalu baginda mengambil Hafsah sebagai isteri.

    [sunting] Ummu Salamah Hindun bt. Abi Umaiyah r.a

    Salamah seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya terkorban dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut terkorban dalam perang itu lalu nabi Muhammad s.a.w. melamarnya. Mulanya lamaran ditolak kerana menyedari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.

    Lamaran kali kedua nabi Muhammad s.a.w. diterimanya dengan mas kahwin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.

    [sunting] Ummu Habibah Ramlah bt. Abi sufian r.a

    Ummu Habibah seorang janda. Suami pertamanya Ubaidullah bin Jahsyin al-Asadiy. Ummu Habibah dan suaminya Ubaidullah pernah berhijrah ke Habsyah. Ubaidullah meninggal dunia ketika di rantau dan Ummu Habibah yang berada di Habsyah kehilangan tempat bergantung.

    Melalui al Najashi, nabi Muhammad s.a.w. melamar Ummu Habibah dan upacara perkahwinan dilakukan oleh Khalid bin Said al-As dengan mas kahwin 400 dirham, dibayar oleh al Najashi bagi pihak nabi.

    [sunting] Juwairiyah ( Barrah ) bt. Harith

    Ayah Juwairiyah ialah ketua puak Bani al-Mustaliq yang telah mengumpulkan bala tenteranya untuk memerangi nabi Muhammad s.a.w. dalam Perang al-Muraisi’. Bani al-Mustaliq telah tewas dan Barrah telah ditawan oleh Thabit bin Qais bin al-Syammas al-Ansariy. Thabit mahu dia dimukatabah dengan 9 tahil emas Barrah mengadu kepada nabi. Baginda sedia membayar mukatabah tersebut dan seterusnya mengahwininya.

    [sunting] Safiyah bt. Huyay

    Safiyah anak kepada Huyay, ketua puak Bani Quraizah iaitu dari keturunan Nabi Harun a.s. Dalam Perang Khaibar, suaminya seorang Yahudi telah ditawan dan Safiyah telah ditawan. Dalam satu rundingan setelah dibebaskan, Safiyah telah memilih untuk menjadi isteri nabi Muhammad s.a.w.. Safiyyah meriwayatkan 10 hadis dan meninggal dunia dalam bulan Ramadhan tahun ke-50H (ada yang mengatakan 52H). Dia dikebumikan di al Baqi’.

    [sunting] Zainab bt. Jahsyin

    Zainab merupakan isteri kepada Zaid ibn Harithah, yang pernah menjadi hamba dan kemudian menjadi anak angkat nabi Muhammad s.a.w. setelah dia dimerdekakan.

    Hubungan suami isteri antara Zainab dan Zaid tidak bahagia kerana Zainab dari keturunan mulia, tidak mudah patuh dan tidak setaraf dengan Zaid. Zaid telah menceraikannya walaupun telah dinasihati oleh nabi Muhammad s.a.w. .

    Upacara perkahwinan dilakukan oleh al-Abbas bin Abd al-Muttalib dengan mas kahwin 400 dirham, dibayar bagi pihak nabi Muhammad s.a.w.

    [sunting] Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah

    Nabi Muhammad s.a.w. berkahwin dengan Umrah ketika Umrah baru sahaja memeluk agama Islam. Umrah telah diceraikan dan dipulangkan kepada keluarganya.

    [sunting] Zainab bt Khuzaimah

    Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia sewaktu nabi Muhammad s.a.w. masih hidup.

    [sunting] Maria al-Qibtiyyah

    Maria al-Qibtiyyah, English;(Maria The Copt) merupakan salah seorang isteri kepada Muhammad Rasulullah.

    [sunting] Rujukan

    • Profesor Madya Dr. Ishak Mohd. Rejab, ‘Rasulullah Sebagai Ketua Keluarga’, Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia, 1988.
    • Dipetik dari buku soal jawab berkaitan Rasullulah oleh Hj Ahmad bin Haji Awang.

    [sunting] Pautan luar

    =========================================

    Muhammad’s wives

    From Wikipedia, the free encyclopedia

    Jump to: navigation, search

    Part of a series on Islam

    Umm-al-Momineen
    Wives of Muhammad
    Khadijah bint Khuwaylid

    Sawda bint Zama

    Aisha bint Abi Bakr

    Hafsa bint Umar

    Zaynab bint Khuzayma

    Hind bint Abi Umayya

    Zaynab bint Jahsh

    Juwayriya bint al-Harith

    Ramlah bint Abi-Sufyan

    Rayhana bint Amr

    Safiyya bint Huyayy

    Maymuna bint al-Harith

    Maria al-Qibtiyya

    Muhammad’s wives were the eleven women married to the Islamic prophet Muhammad. Muslims refer to them as Mothers of the Believers (Arabic: Ummu l-Mu’minīn). Muslims use the term prominently before or after referring to them as a sign of respect. The term is derived from the Qur’anic verse [Qur’an 33:6]

    The Prophet is closer to the believers than their selves, and his wives are (as) their mothers.[1]

    Muhammad’s life is traditionally delineated as two epochs: pre-hijra (emigration) in Mecca, a city in northern Arabia, from the year 570 to 622, and post-hijra in Medina, from 622 until his death in 632. All but two of his marriages were contracted after the Hijra (migration to Medina). The verse’s interpretation mandated that Muslims were forbidden to marry Muhammad’s widows and should regard them as they would their own mothers.

    Contents

    [hide]

    // <![CDATA[//

    [edit] History

    A series of articles on


    Prophet of Islam
    Muhammad


    Life
    Companions · wives · Family tree · In Mecca · In Medina · Conquest of Mecca · The Farewell Sermon · Succession


    Career
    Diplomacy · Family · Wives · Military leadership


    Succession
    Farewell Pilgrimage · Ghadir Khumm · Pen and paper · Saqifah · General bay’ah


    Interactions with
    Slaves · Jews · Christians


    Perspectives
    Muslim (Poetic and Mawlid) · Medieval Christian · Historicity · Criticism · Depictions

    v d e

    During his life Muhammad married eleven or thirteen women depending upon the differing accounts of who were his wives.

    In Arabian culture, marriage was generally contracted in accordance with the larger needs of the tribe and was based on the need to form alliances within the tribe and with other tribes. Virginity at the time of marriage was emphasized as a tribal honor.[2] Watt states that all of Muhammad’s marriages had the political aspect of strengthening friendly relationships and were based on the Arabian custom.[3] Esposito points out that some of Muhammad’s marriages were aimed at providing a livelihood for widows.[4] Francis Edwards Peters says that it is hard to make generalizations about Muhammad’s marriages: many of them were political, some compassionate, and some perhaps affairs of the heart.[5]

    [edit] Khadijah bint Khuwaylid

    At age 25, Muhammad wed his employer, the 40 year old merchant Khadijah. The marriage, his first, would be both happy and monogamous; Muhammad would rely on Khadijah in many ways, until her death 25 years later.[6][7][8] They had two sons, Qasim and Abd-Allah (nicknamed al Tahir and al Tayyib), and four daughters –Zainab, Ruqaiya, Umm Kulthum and Fatimah. There is a dispute over the paternity of Khadijah’s daughters, as Shia scholars view them as the product of previous marriages.[9] During their marriage, Khadija purchased the slave Zayd ibn Harithah at Muhammad’s request -who then adopted the young man as his son.[10]

    [edit] Al-Hijrah

    The death of Khadija left Muhammad lonely, and, before he left for Medina, it was suggested to him that he marry Sawda bint Zama, who had suffered many hardships after she became a Muslim. Muhammad married her in Shawwal, when she was about 55 years old, in the tenth year of Prophethood, after the death of Khadijah. Prior to that, she was married to a paternal cousin of hers called As-Sakran bin ‘Amr. At about the same period, Aisha (daughter of his close friend Abu Bakr) was betrothed to Muhammad.[11] Aisha was initially betrothed to Jubayr ibn Mut’im, a Muslim whose father, though pagan, was friendly to the Muslims. When Khawla bint Hakim suggested that Muhammad marry Aisha after the death of Muhammad’s first wife (Khadijah bint Khuwaylid), the previous agreement regarding marriage of Aisha with ibn Mut’im was put aside by common consent.[11]

    As life became unbearable for him, Muhammad migrated to Medina. Because of Meccan attempts at his life Muhammad traveled only with Abu Bakr and the rest of his family traveled in stages. His wife Sawda and his daughters Fatimah and Umm Kulthum traveled with Zayd ibn Harithah, while his other wife Aisha travelled with her brother ‘Abd ar-Rahman ibn Abi Bakr. Regarding his other daughters: Zainab’s husband prevented her from migrating, and Ruqayyah was with her husband Uthman Ibn Affan in Abyssinia and migrated much later.[12]

    Aisha was six or seven years old when betrothed to Muhammad. She stayed in her parents’ home until the age of nine, when the marriage was consummated in Medina.[13][11][14][15] Both Aisha and Sawda, his two wives, were given apartments adjoined to the Al-Masjid al-Nabawi mosque.[12] Muhammad wished to divorce Sawda, who offered to give her turn of Muhammad’s conjugal visit to Aisha to prevent this, and the incident is referred to in the Qur’an 4:127.[16]

    [edit] War with Mecca

    During the Muslim war with Mecca, many men were killed leaving behind widows and orphans. Hafsa bint Umar, daughter of Umar (‘Umar bin Al-Khattab), was widowed at battle of Badr when her husband Khunais ibn Hudhaifa was killed in action. Muhammad married her in 3 A.H./625 C.E.[17] Zaynab bint Khuzayma was also widowed at the battle of Badr. She was the wife of ‘Ubaydah b. al-Hārith,[18] a faithful Muslim and from the tribe of al-Muttalib, for which Muhammad had special responsibility.[19] When her husband died, Muhammad aiming to provide for her, married her 4 A.H. She was nicknamed Umm Al-Masakeen (roughly translates as the mother of the poor), because of her kindness and charity.[20]

    Close to Aisha’s age, both Hafsa and Zaynab were welcomed into the household. Sawda, who was much older, extended her motherly benevolence to the younger women. Aisha and Hafsa had a lasting relationship. As for Zaynab, however, she fell ill and passed away eight months after her marriage.[21][22][23]

    The death of Zaynab coincided with the that of Abu Salamah, a devoted Muslim, as a result of his wounds from the Battle of Uhud.[22] Abu Salamah’s widow, Umm Salama Hind bint Abi Umayya also a devoted Muslim, had none but her young children. Her plight reportedly saddened the Muslims, and after her iddah some Muslims proposed marriage to her; but she declined. When Muhammad proposed her marriage, she was reluctant for three reasons: she claimed to suffer from jealousy and pointed out the prospect of an unsuccessful marriage, her old age, and her young family that needed support. But Muhammad replied that he would pray to God to free her from jealousy, that he too was of old age, and that her family was like his family[citation needed]. She married Muhammad.[24] In 626, Raihanah bint Zaid, entered Muhammad’s household as a widow, as her husband had been executed along with the men of Banu Qurayza. The sources regarding his status differ, but she eventually converted to Islam and was married by Muhammad.[25]

    [edit] Internal dissension

    After Muhammad’s final battle against his Meccan enemies, he diverted his attention to stopping the Banu Mustaliq‘s raid on Medina. During this skirmish, Medinan dissidents, begrudging Muhammad’s influence, attempted to attack him in the more sensitive areas of his life, including his marriage to Zaynab bint Jahsh,[26] and an incident in which Aisha left her camp to search her lost necklace, and returned with a Companion of Muhammad.[27]

    [edit] Zaynab bint Jahsh

    Zaynab bint Jahsh was Muhammad’s cousin, being the daughter of one of his father’s sisters.[11] In Medina, Muhammad arranged Zaynab’s marriage, a widow, to Zayd ibn Harithah. Zaynab disapproved of the marriage and her brothers rejected it, because according to Ibn Sa’d, she was of aristocratic lineage and Zayd was a former slave.[28][29] Muhammad, however, was determined to establish the legitimacy and right to equal treatment of the adopted, Caesar E. Farah states.[30] Watt however states that it is not clear why Zaynab was unwilling to marry Zayd as Zayd was held in a high place in Muhammad’s esteem. Watt discusses the following two possibilities: being an ambitious woman, she was already hoping to marry Muhammad; and the other she may have been wanting to marry someone of whom Muhammad disapproved for political reason. In any case, Watt says, it is almost certain that she was working for marriage with Muhammad before the end of 626.[31] According to Maududi, the Qur’anic verse 33:36 was revealed,[32] thus Zaynab acquiesced and married Zayd. Zaynab’s marriage was unharmonious, and eventually became unbearable.[28]

    According to Ibn Sa’d and Tabari, after the marriage, Muhammad went to pay Zayd a visit, but instead found Zaynab, scantily clad, and fell in love with her.[28][33] Zaynab told Zayd about this, and Zayd offered to divorce her, but Muhammad told him to keep her.[11] The story laid much stress on Zaynab’s perceived beauty and Muhammad’s supposedly disturbed set of mind.[34] William Montgomery Watt doubts the accuracy of this portion of the narrative, since it does not occur in the earliest source, and that it is unlikely that Muhammad was attracted since Zaynab (after Khadija) was the most elderly woman Muhammad married. He thinks that even if there is a basis of fact underlying the narrative, it is suspect to exaggeration in the course of transmission as the later Muslims liked to maintain that there was no celibacy and monkery in Islam.[29] Nomani considers this story to be a rumor.[35] Rodinson disagrees with Watt arguing that the story is stressed in the traditional texts and that it would not have aroused any adverse comment or criticism.[36]

    The marriage seemed incestuous to Muhammad’s contemporaries because Muhammad was marrying the former wife of his adopted son, and the adopted sons were counted the same as a biological son.[11] According to Watt, this “conception of incest was bound up with old practices belonging to a lower, communalistic level of familial institutions where a child’s paternity was not definitely known; and this lower level was in process being eliminated by Islam.”[37] Muhammad’s decision to marry Zaynab was an attempt to break the hold of pre-Islamic ideas over men’s conduct in society.[citation needed] Initially, however, he was reluctant to marry Zaynab, fearing public opinion. The Qur’an, however, indicated that this marriage was a duty imposed upon him by God. Thus Muhammad, confident that he was strong enough to face public opinion, proceeded to reject these taboos.[38] When Zaynab’s waiting period was complete, Muhammad married her.[39] A prominent faction who held influence in the civic atmosphere in Medina, called “Hypocrites” in the Islamic tradition,[40] criticized the marriage as incestuous.[11] They spread rumors in an attempt to divide the Muslim community, as part of a strategy of attacking Muhammad through his wives.[40] However, the marriage was justified by verse 33:37 of the Qur’an,[11] which implied that treating adopted sons as real sons was objectionable, and that there should now be a complete break with the past.[11] According to Ibn Kathir, the verses were a “divine rejection” of the Hypocrites’ objections.[40] According to Rodinson, doubters argued the verses were in exact conflict with social taboos and favored Muhammad too much. The delivery of these verses, thus, did not end the dissent.[34]

    [edit] Necklace incident

    Aisha had accompanied Muhammad on his skirmish with the Banu Mustaliq. On the way back, Aisha lost her wedding necklace (a treasured possession), and Muhammad required the army to stop so that it could be found. Many in the army were indignant over the requirement, and the incident proved to be an embarrassment. The necklace was found, but during the same journey, Aisha lost it again. This time, she quietly slipped out in search for it, but by the time she recovered it, the caravan had moved on. She was eventually taken home by Safw’an bin Mu’attal.[41]

    Rumors spread that something untoward had occurred although there were no witnesses to this.[27] Disputes arose, and the community was split into factions. Meanwhile, Aisha had been ill, and unaware of the stories. At first Muhammad himself was unsure of what to believe, but eventually trusted Aisha’s protestations of innocence.[41] Eventually verses were revealed, establishing her innocence, and condemning the slanders and the libel. Although the episode was uneasy for both Muhammad and Aisha, in the end it reinforced their mutual love and trust.[42]

    [edit] Reconciliation

    One of the captives from the skirmish with the Banu Mustaliq was Juwayriya bint al-Harith, who was the daughter of the tribe’s chieftain. When made captive, Juwayriya went to Muhammad requesting that she, as the daughter of the lord of the Mustaliq, be released. Meanwhile her father approached Muhammad with ransom to secure her release, but her captor refused to ransom her. Muhammad then offered to marry her, and she accepted.[43] When it became known that tribes persons of Mustaliq were kinsmen of the prophet of Islam through marriage, the Muslims began releasing their captives.[44] Thus, Muhammad’s marriage resulted in the freedom of nearly one hundred families from captivity.[45]

    In the same year, Muhammad signed a peace treaty with his Meccan enemies, the Quraysh, effectively ending the state of war between the two parties. He soon married the daughter of the Quraysh leader, Abu Sufyan ibn Harb, aimed at further reconciling his opponent.[46] He sent a proposal for marriage to Ramlah bint Abi-Sufyan who was in Abyssinia at the time, when he learned her husband had died. She had previously converted to Islam (in Mecca) against her father’s will. After her migration to Abyssinia her husband had apostated to Christianity, and although she remained a steadfast Muslim, perhaps Muhammad feared that she too may apostate.[47] Muhammad dispatched ‘Amr bin Omaiyah Ad-Damri with a letter to the Negus (king), asking him for Umm Habibah’s hand — that was in Muharram, in the seventh year of Al-Hijra.

    In 629, after the Battle of Khaybar, Muhammad freed Safiyya bint Huyayy a noblewoman[48] of the defeated Jewish tribe Banu Nadir, from her captor Dihya and proposed marriage. Safiyya accepted. Scholars believe that Muhammad married Safiyya as part of reconciliation with the Jewish tribe and as a gesture of goodwill.[49][50] Safiyyah had been previously married to Kinana ibn al-Rabi, a commander who was executed, and before that to the poet Salaam ibn Mas̲h̲kam, who had divorced her.[48] [51] He then convinced Safiyya to convert to Islam and marry him.[52] Upon entering Muhammad’s household, Safiyya became friends with Aisha and Hafsa, and also offered gifts to Fatima. But when Muhammad’s other wives spoke ill of Safiyya’s Jewish descent, Muhammad intervened, pointing out to everyone that Safiyya’s “husband is Muhammad, father is Aaron, and uncle is Moses”, a reference to revered Islamic prophets.[53]

    As part of the agreement of Hudaybiyah, Muhammad visited Mecca for the lesser pilgrimage. There Barra bint al-Harith proposed marriage to him.[54] Muhammad accepted, and thus married Barra, the sister-in-law of Abbas, a long time ally of his. By marrying her Muhammad also established kinship ties with the Makhzum, his previously fierce opponents.[55] As the Meccans didn’t allow him to stay any longer, Muhammad left the city, taking Barra with him. He called her “Maymuna” meaning blessed, as his marriage to her had also marked the first time in seven years when he could enter his hometown Mecca.[54]

    Maria al-Qibtiyya was an Egyptian Coptic Christian slave, sent as a gift to Muhammad from Muqawqis, a Byzantine official.[56] She then served as Muhammad’s concubine, and some historians further state that he married her. Regardless, she bore him a son, Ibrahim ibn Muhammad, who died in infancy. She is thus regarded as a Mother of Believers.

    [edit] Muhammad’s widows

    The extent of Muhammad’s property at the time of his death is unclear. Although Quran [2.180] clearly addresses issues of inheritance, Abu Bakr, the new leader of the Muslim ummah, refused to divide Muhammad’s property among his widows and heirs, saying that he had heard Muhammad say:

    We (Prophets) do not have any heirs; what we leave behind is (to be given in) charity.[57]

    Muhammad’s widow Hafsa played a role in the collection of the first Qur’anic manuscript. After Abu Bakr had collected the copy, he gave it to Hafsa, who preserved it until Uthman took it, copied it and distributed it in Muslim lands.[58]

    Some of Muhammad’s widows were active politically in the Islamic state after Muhammad’s death. Safiyya, for example, aided the caliph Uthman during his siege.[53] During the first fitna, some wives also took sides. Umm Salama, for example, sided with Ali, and sent her son Umar for help.[59] The last of Muhammad’s wives, Umm Salama lived to hear about the tragedy of Karabala in 680, dying the same year.[59]

    [edit] Family life

    Muhammad and his family lived in small apartments adjacent the mosque at Medina. Each of these were six to seven spans wide and ten spans long. The height of the ceiling was that of an average man standing. The blankets were used as curtains to screen the doors.[60]

    Muhammad helped out with the housework, such sewing clothes, and repairing shoes. He would usually do this for long periods of time, stopping only for prayers. Muhammad had accustomed his wives to dialogue; he listened to their advice, and the wives debated and even argued with him. Muhammad’s wives distinguished his role as a prophet from his role as a husband. He did not allow his wives to use his status as a prophet to obtain special treatment in public.[61]

    [edit] See also

    [edit] Notes

    1. ^ Aleem, Shamim (2007). “12. Mothers of Believers”. Prophet Muhammad(s) and His Family. AuthorHouse. p. 85. ISBN 9781434323576.
    2. ^ Amira Sonbol, Rise of Islam: 6th to 9th century, Encyclopedia of Women and Islamic Cultures
    3. ^ Watt (1956), p.287
    4. ^ Esposito (1998), pp. 16–8.
    5. ^ F. E. Peters (2003), p.84
    6. ^ Esposito (1998), p.18
    7. ^ Bullough (1998), p. 119
    8. ^ Reeves (2003), p. 46
    9. ^ Muhammad al-Tijani in his The Shi’a: The Real Followers of the Sunnah on Al-Islam.org note 274
    10. ^ Muhammad Husayn Haykal. The Life of Muhammad: “From Marriage to Prophethood.” Translated by Isma’il Razi A. al-Faruqi
    11. ^ a b c d e f g h i Watt, “Aisha bint Abu Bakr”, Encyclopaedia of Islam Online
    12. ^ a b Nomani (1970), pg. 257-9
    13. ^ Barlas (2002), p.125-126
    14. ^ Sahih al-Bukhari 5:58:234, 5:58:236, 7:62:64 7:62:65,7:62:88, Sahih Muslim 8:3309, 8:3310,8:3311,Sunnan Abu Dawud 41:4915, 41:4917
    15. ^ Tabari, Volume 9, Page 131; Tabari, Volume 7, Page 7
    16. ^ Vacca, “Sawda bint Zama ibn Qayyis ibn Abd Shams”, Encyclopaedia of Islam
    17. ^ Nomani (1970), pg. 360
    18. ^ Watt(1956), pg.393
    19. ^ Watt(1956), pg.287
    20. ^ Lings (1983), p. 201
    21. ^ Lings (1983), p. 165
    22. ^ a b Lings (1983), p. 206
    23. ^ Nomani (1970), pg. 345
    24. ^ Umm Salamah. Courtesy of ISL Software. University of Southern California.
    25. ^ al-Baghdadi, Ibn Sa’d. Tabaqat. vol VIII, pg. 92–3.
    26. ^ Watt (1956), 330-1
    27. ^ a b Denise A. Spellberg, Aisha bint Abī Bakr, Encyclopedia of the Qur’an
    28. ^ a b c Freyer Stowasser (1996), p. 88, Oxford University Press
    29. ^ a b Watt (1974), page 158.
    30. ^ Caesar E. Farah, Islam: Beliefs and Observances, p.69
    31. ^ Watt (1974), page 157-158.
    32. ^ Maududi (1967), vol. 4, p. 108
    33. ^ Fishbein, Michael (February 1997). The History Al-Tabari: The Victory of Islam. State University of New York Press. pp. 2–3. ISBN 978-0791431504. “Zaynab had dressed in haste when she was told “the Messenger of God is at the door.” She jumped up in haste and excited the admiration of the Messenger of God, so that he turned away murmuring something that could scarcely be understood. However, he did say overtly: “Glory be to God the Almighty! Glory be to God, who causes the hearts to turn!””
    34. ^ a b Rodinson, page 207.
    35. ^ Nomani (1970). Sirat al-Nabi.
    36. ^ Rodinson, page 207.
    37. ^ William Montgomery Watt (1974), p.233
    38. ^ Watt(1956), p.330-1
    39. ^ Watt, page 156.
    40. ^ a b c Freyer Stowasser (1996), p. 89
    41. ^ a b Peterson (2007), page 169-71
    42. ^ Ramadan (2007), p. 121
    43. ^ Rodinson, page 196.
    44. ^ Lings (1983), pg. 241-2
    45. ^ Nomani, pg. 365-6
    46. ^ Watt (1961), p. 195
    47. ^ Umm Habibah: Ramlah Bin Abi Sufyan. IslamOnline.
    48. ^ a b Al-Shati’, 1971, 171
    49. ^ Nomani(1970) p. 424.
    50. ^ Watt (1964) p. 195
    51. ^ V. Vacca, Safiyya bt. Huyayy b. Ak̲htab, Encyclopedia of Islam
    52. ^ Rodinson (1971), p. 254.
    53. ^ a b Al-Shati’, 1971, 178-181
    54. ^ a b Al-Shati’, 1971, 222-224
    55. ^ Ramadan (2007), p. 1701
    56. ^ A. Guillaume (1955), p. 653
    57. ^ The Book of Jihad and Expedition (Kitab Al-Jihad wa’l-Siyar)“. USC-MSA Compendium of Muslim Texts,. University of Southern California. pp. Chapter 16, Book 019, Number 4351. http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/019.smt.html#019.4351. Retrieved 2007-10-05.
    58. ^ Al-Shati’, 1971, p. 110
    59. ^ a b Al-Shati’, 1971, p. 135
    60. ^ Numani, p. 259-60
    61. ^ Ramadan (2007), p. 168-9

    [edit] References

    [edit] Encyclopedias

    [edit] External links

     
  • SERBUIFF 7:06 am on 12/09/2009 Permalink | Reply
    Tags: istri muhamad, muhammad, Perkawinan Rasulullah   

    Perkawinan Rasulullah 

    Perkawinan Rasulullah

    Pembunuhan karakter melalui isu seksual, adalah hal yang biasa dilakukan baik Yahudi maupun Kristen, kita bisa melihatnya dalam Bibel yang berisi Taurat dan Injil. Para nabi seringkali digambarkan melakukan hal-hal yang tidak pantas, seperti incest, mengambil istri orang lain, bahkan Yesus sendiri mereka gambarkan dekat dengan pelacur, bahkan sebagian mereka menuduh Yesus melacur -satu tuduhan yang membuat umat Muslim ikut merasa sakit-. Maka tidak heran jika mereka berusaha membunuh karakter nabi Muhammad seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian mereka terhadap nabi dari mereka sendiri.

    Masalah istri-istri Nabi seringkali dijadikan sasaran hujatan, dengan meninggalkan fakta-fakta dibalik perkawinan tersebut. Oleh sebab itu dalam tulisan ini kami mencoba menelusuri sejarah Rasulullah yang berkenaan dengan latar belakang perkawinannya, maka kita mendapatkan hikmah dibalik perkawinan beliau.

    Perkawinan pertama Rasulullah dengan seorang janda berumur 40 tahun, yaitu Siti Khadijah, yang berlangsung hingga tahun sepuluh kenabian atau tiga tahun menjelang hijrah. 44 Pernikahan tersebut berlangsung selama 25 th. sebab beliau menikah usia 25 th, dan menjadi utusan Allah ketika berusia 40 th..

    Sepeninggal Khadijah Rasulullah ditawari oleh Khaulah binti Hakim untuk menikahi salah satu dari dua orang wanita, satu perawan (Aisyah), dan satu lagi janda (Saudah), dan Rasulullah menikahi Saudah,45 seorang janda berbadan gemuk. 46 -tanpa bermaksud mengecilkan penampilan fisik istri seorang Nabi ini- kedua perkawinan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah bukan type pengumbar hawa nafsu sebagaimana yang dituduhkan oleh Robert Morey. Lebih dari itu, bahwa Saudah memiliki anak banyak yang membutuhkan pelindung,47 menurut hemat kami, alasan ini merupakan hikmah mendasar dibalik perkawinan beliau dengan Saudah.

    Perkawinan ketiga, dengan Aisyah binti Abu Bakar. Pinangan Rasulullah atas Aisyah telah menyelamatkan Abu Bakar dari dilema antara menikahkan putrinya dengan seorang kafir atau mengingkari janjinya kepada Muth’im bin Ady orang tua dari pemuda kafir tersebut yang telah dijanjikan untuk menikahi putrinya. Sungguh beruntung bahwa yang terjadi justru istri Muth’im bin `Ady tidak menghendaki anaknya menikahi Aisyah karena tidak menginginkan anaknya masuk agama baru yang dibawa Nabi, maka pinangan Rasulullah pun diterima.48 Hal itu terjadi pada tahun yang sama -sepuluh kenabian-, namun baru berkumpul pada saat di Madinah -tiga tahun kemudian-. Kebanyakan hadits menyebutkan bahwa pertemuan Aisyah dengan Rasulullah di Madinah saat usia Aisyah 9 th, walaupun ada yang mengatakan berusia 11 th, Zainal Arifin Abbas -penulis “Peri hidup Muhammad Rasulullah Saw”- menyebut usia Aisyah waktu itu antara 12-14 th. Perhitungan usia yang ditulis oleh H. Zainal Arifin Abbas, berdasarkan analisa atas hadits tentang penawaran Khaulah binti Hakim, bahwa penawaran itu terjadl pada th. 10 kenabian, dan Abu Bakar tidak bisa langsung menerima pinangan karena telah menunangkan putrinya dengan putra Muthim bin Ady. Logikanya saat itu usia Aisyah adalah minimal 10 th, karena tidak mungkin Abu Bakar menunangkan putrinya dengan Djubeir bin Muth’im yang berada di front terdepan dari para penentang Rasul sementara beliau menjadi tangan kanan Rasulullah, maka kemungkinan pertunangan tersebut terjadi sebelum Islam (sebelum kenabian), sebab adat seperti itu sudah ada. Hal ini dikuatkan dengan pandangan Arab saat itu yang memandang usia gadis yang pantas untuk menikah adalah antara 11-12 th.49 Menurut perhitungan ini, maka saat pertemuan di Madinah, usia Aisyah antara 14-15 th. Tentang umur Aisyah banyak penulis yang berbeda pendapat, dari usia 9 hingga 15 th.

    Sensitifitas modern kadang merasa risih dengan hal ini, tapi hal ini terjadi pada satu komunitas yang memandang usia 9-15 th, adalah usia terendah bagi seorang anak perempuan untuk dikawini, itupun 14 abad yang lalu. Hingga akhir-akhir inipun beberapa komunitas masih memberlakukan adat pernikahan dini. Namun demikian pernikahan anak usia dini adalah lebih baik ketimbang merebaknya pergaulan bebas yang membuat anak usia tersebut sudah tidak ada yang perawan, walaupun secara resmi mereka menikah pada usia 28 ke atas. Toh kenyataannya usia 28 sebagai patokan perkawinan di beberapa negara maju hanya berdasarkan faktor psikologis dan masalah karir serta emansipasi, namun diluar formalitas itu kebejatan seksual merebak dimana-mana pada tingkat yang paling fulgar. Perbandingannya jika ada komunitas (manapun) yang mengawinkan putrinya pada usia dini di Amerika anak usia yang sama sudah tidak perawan lagi. Perbedaan dalam agama, yang satu formal, yang satu lagi zina. Perzinaan sejak dini akan dibawa hingga masa perkawinan, maka akibatnya penyelewengan suami atau istri adalah hal biasa, dan ajaran Yesus yang tidak mengizinkan perceraian menjadi lelucon belaka.

    Kembali kepada sejarah Rasul, pada tahun ketiga Hijriah, Putri Umar bin Khattab, Hafshah binti Umar ditinggal mati suaminya Khunais bin Khudzafah setelah perang Badar. Seperti layaknya seorang ayah Umar berusaha mencarikan suami bagi putrinya yang masih berumur 18 th. agar terbebas dari kemurungan yang dideritanya. Upaya selama 6 bulan atau lebih belum menghasilkan apa-apa, hingga pada masanya, ia menawarkan anaknya kepada sahabat Abu Bakar, namun Abu Bakar hanya menjawab dengan diam. Umar lantas menemui `Utsman, namun sahabat ini hanya menjawab: “belum berhasrat menikah saat itu”. Kejengkelan Umar terhadap dua orang sahabat terdekatnya disampaikan kepada Rasulullah, dan beliau menjawab: “Hafshah akan menikah dengan yang lebih baik dari Utsman, dan Utsman akan menikah dengan yang lebih baik dari Hafshah”. Umar tidak pernah menyangka bahwa Rasulullah akan menikahi putrinya, hingga ia bersorak kegirangan mengumumkan kepada para sahabatnya, yang kemudian disambut oleh Abu Bakar juga Utsman. Dan seperti dikatakan oleh Nabi, maka Utsman akhirnya menikah dengan putri beliau; Umi Kultsum.50

    Jika kita kembali lagi, pada tahun 1 H. Rasulullah menikahi Aisyah, pada tahun 2 H. Rasulullah menikahkan putrinya Fathimah dengan sahabat Ali bin Abi Thalib, dan pada tahun 3 H. Rasul menikahi Hafshah binti Umar dan menikahkan putrinya Umi Kultsum dengan `Utsman bin Affan. Tidak cukup sampai disini, anak angkatnya Zaid bin Haritsah dinikahkan dengan sepupunya sendiri yaitu Zainab binti Jahsy, serta perkawinan antara warga imigran (muhajirin) dan penduduk Madinah (Anshor). Dari sini kita dapat melihat bahwa perkawinan-perkawinan tersebut nampaknya dilatar belakangi upaya memperkuat barisan dikalangan para sahabat, apalagi bahwa tahun-tahun tersebut adalah awal pembinaan sebuah komunitas baru berdasar Tauhid, maka sangat wajar jika perkawinan menjadi salah satu jalan demi terwujudnya harapan tersebut.

    Perkawinan kelima juga dengan seorang janda yaitu Zainab binti Khuzaimah al-Hilaliyah. Sebelumnya telah menikah dengan At-Thufail bin al-Harits bin Abdil Muththolib yang kemudian menceraikannya, lantas dinikahi oleh saudaranya `Ubaidah bin al-Harits yang kemudian meninggal pada perang Badar. Sepeninggalnya Rasulullah menikahi Zainab pada tahun 4 H. Ia dikenal dengan sebutan Ummul Masakin (Ibu orang­orang miskin), karena kedekatan dan kasih sayangnya terhadap orang-orang miskin. Pernikahannya tidak berlangsung lama sebab dua atau tiga bulan setelah perkawinannya ia meninggal.51

    Pada tahun yang sama, Rasulullah mengawini seorang  janda lain yaitu Ummi Salmah yang nama aslinya Hindun binti Umayyah bin al-Mughirah, sebelumnya dipinang oleh Abu Bakar dan Umar, namun ia tidak berkenan. Bahkan ketika Rasulullah meminangnya, ia menjawab bahwa ia minder karena sudah berumur dan memiliki banyak anak. Hal ini dapat dimaklumi sebab dikalangan istri-istri Rasulullah terdapat Aishah yang masih muda dan cantik. Mendengar jawaban ini Rasulullah menjawab: `Jika engkau berumur, maka aku lebih tua darimu, soal minder biarlah Allah yang menghilangkannya dari dirimu, adapun masalah tanggungan keluarga (anak-anak) serahkan kepada Allah dan Rasulnya”.52

    Dalam pembentukan komunitas baru yang menjadikan keluarga dan perkawinan sebagai salah satu instrumennya, maka perhatian terhadap janda dan anak-anak yang ditinggal ayah mereka yang syahid akibat peperangan adalah suatu yang sudah semestinya, apalagi kesempatan mendapatkan kebutuhan sehari­hari ditanah yang gersang tidaklah semudah yang dibayangkan, tidak heran jika ada yang menjual manusia dipasar budak demi mencukupi kehidupan sehari-hari. Langkah Rasulullah yang juga diikuti para sahabatnya untuk memperhatikan para janda dan anak-anaknya, tampak dalam beberapa perkawinan yang kita sebutkan di atas, begitu juga dengan apa yang akan kami bahas berikut ini.

    Pada th. 5 H. (th. 18 masa kenabian) Rasulullah menikahi, Zainab binti Jakhsy, setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah. Seperti yang telah kita bahas pada kajian tentang perbudakan, bahwa Zaid yang diangkat anak oleh Rasulullah pada masa sebelum kenabian, dinikahkan dengan kerabat Rasulullah Zainab yang tentu saja memiliki nasab tinggi dikalangan Quraisy-dari pihak ibu Zainab adalah sepupuh nabi atau cucu Abdul Mutholib-. Pada masa itu masalah nasab (keturunan) sangatlah diperhatikan oleh masyarakat Arab. Pencapaian ketinggian derajat nasab seringkali diupayakan melalui perkawinan, maka tidak heran jika satu orang bisa memiliki istri banyak, bukan sekedar karena mereka suka, tapi para istri memiliki kepentingan sendiri dengan pernikahan tersebut, termasuk untuk masalah nasab, apalagi bahwa penghormatan kepada wanita pada masa itu amatlah rendah. Fenomena tersebut tldaklah aneh saat itu, karena bangsa lain juga memiliki adat yang tidak jauh berbeda. Bahkan hingga saat ini masalah keturunan sangat diperhatikan, terlepas dari pandangan yang melatar-belakangnya: apakah karena status sosial, kekayaan, atau kebangsawanan; dikalangan muslim sebagian memandang nasab berdasarkan kesalehan beragama. Kembali pada masalah perkawinan Zainab, Rasulullah yang ingin merombak adat tersebut, demi tujuan pokok menyamakan umat manusia dihadapan Allah (tauhid), mencoba mempertemukan antara bangsawan dan budak (walaupun sudah diangkat anak), rupanya hal itu belum mampu meruntuhkan rasa kebangsawanan Zainab hingga perkawinan tersebut gagal. Namun demikian tanggungjawab Rasulullah menghendaki beliau untuk menikahinya. Lain dari pada itu bahwa pernikahan tersebut atas perintah langsung dari Allah, sebab sebelumnya setiap kali Zaid mengadu kepada Rasulullah atas sikap Zainab, Rasulullah menasehatinya agar mempertahankan perkawinannya serta takut kepada Allah.53 Dengan begitu, tidak hanya masalah tanggung jawab Rasulullah mengembalikan Zainab yang merasa martabatnya telah terendahkan, namun menjadi panutan hukum bahwa anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung, maka istri yang telah diceraikannya boleh dinikahi bapak angkatnya. Namun sebaliknya wanita yang diceraikan oleh seseorang tidak boleh dikawini anaknya. Tentang hukum perkawinan bukan tempatnya untuk kita bahas di sini.

    Menurut Ibnu Ishaq, seorang dari sejarawan awal Muslim, Pada tahun ke 6 H. terjadi peperangan antara kaum Muslim dengan kaun Yahudi Bani Mushthaliq. Akibat peperangan ini, sebagaimana hukum peperangan yang berlaku saat itu, mereka yang kalah menjadi tawanan dan budak bagi pemenang. Diantara mereka yang tertawan adalah Juwairiyah binti al-Harits, seorang putri dari al-Harits bin Abi Dlorror pemimpin Bani Mushtholiq. Sebagai putri seorang terpandang Juwairiyah tidak rela dirinya dijadikan budak, maka ia berniat menebus kepada Tsabit bin Qois yang kebetulan saat pembagian harta rampasan mendapat dirinya. Karena tidak memiliki harta lagi, maka ia pergi menghadap Rasulullah agar dibantu melunasi tebusan tersebut.54 Rasulullah yang telah mengajarkan kepada para sahabatnya agar mendidik budak dan kalau bisa memerdekakan dan menikahinya (lihat bahasan tentang perbudakan), memberikan contoh dengan memerdekakan Juwairiyah dan menawarkan pinangannya, ternyata Juwairiyah mengiyakan. Dengan persetujuan Juwairiyah ini maka Rasulullah menikahinya, dan dengan pernikahan tersebut para sahabat mengembalikan harta rampasan perang, sekaligus memerdekakan ± 100 keluarga. Ibnu Ishaq mengomentari: “Saya tidak pernah melihat keberkahan seseorang atas kaumnya melebihi Juwairiyah”.55

    Pada tahun ketujuh H, terjadi perang Khaibar. Pada saat penyerbuan ke benteng al-Qomush milik bani Nadlir, pemimpin benteng ini yaitu Kinanah bin Rabi’ suami Shofiyah binti Hay terbunuh. Dan istrinya juga istri-istri bani Nadlir yang lain menjadi tawanan. Dan seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah terhadap bani Mushtholiq, maka Rasulullah menikahi Shofiyah. Menurut keterangan Shofiyah sendiri, yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq bahwa sebelum kejadian ini ia telah bermimpi melihat bulan jatuh di kamarnya. Ketika mimpi tersebut diceritakan kepada suaminya, ia malah mendapat tamparan dan dampratan, “Itu berarti engkau menginginkan raja Hijaz Muhammad”, kata suaminya.56 Tentang apakah harta dikembalikan dan tawanan dibebaskan dengan perkawinan ini, tidak kami dapatkan keterangan yang jelas, namun diceritakan bahwa mahar perkawinan tersebut adalah pembebasan Shofiyyah. 57 Walaupun masih muda, usia 17 th, tapi sebelumnya Shofiyah telah menikah dua kali, dengan Salam bin Misykarn kemudian dengan Kinanah bin Rabi’. 58

    Dari dua perkawinan di atas, dapat kita lihat bahwa upaya pembebasan perbudakan -akibat peperangan- lebih menonjol ketimbang masalah lainnya. Disisi lain dua pernikahan ini semakin mengokohkan kedudukan Muslim dalam rangka pembentukan komunitas bersama yang tidak saling bermusuhan. Selanjutnya, bahwa melihat usia Shofiyah yang masih 17 th. dan sudah menikah dua kali, setidaknya menunjukkan bahwa selain masyarakat Arab, komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar juga memiliki adat mengawinkan seorang wanita sejak masih dini.

    Pada saat kedudukan kaum Muslimin di Madinah mulai menguat di jazirah Arab, Rasulullah mengirimkan utusan ke Habasyah (Etiopia) memanggil para emigran Muslim yang hijrah ke Habasyah pada masa awal kenabian (periode Makkah). Diantara para emigran tersebut terdapat Ummu Habibah yang menjadi janda karena tidak ingin berkumpul dengan suaminya yang murtad, yaitu Abdullah bin Jahsy. Ummu Habibah yang tidak memiliki tempat kembali, tidak mungkin ke keluarganya di Makkah sebab ia hijrah ke Habasyah karena masuk Islam dan lari dari keluarganya, sedang di Madinah ia tidak tahu harus ke mana. Beruntung bahwa surat Rasulullah yang memanggil mereka melalui Raja Najasyi, disertai pinangan terhadap Ummu Habibah. Pinangan tersebut bahkan diwakili oleh Najasyi sediri dan memberikan mahar sebesar 400 dirham. Adapun yang menikahkan adalah Kholid bin Sa’id bin ‘Ash. Rombongan yang dipimpin Oleh Ja’far bin Abi Thalib ini datang bersamaan dengan kepulangan Rasulullah dari perang Khaibar.59

    Pada tahun ketujuh Hijriah ini juga, utusan Rasulullah ke Iskandariah-Mesir telah datang dengan membawa hadiah dua orang budak dari Mesir, yang pertama bernama Maria binti Syam’un dan Sirin. Yang pertama dinikahi oleh Rasulullah dan yang kedua diberikan kepada Hassan bin Tsabit.60 Seperti yang telah kita bahas sebelum ini, bahwa Rasulullah yang mengajarkan agar para budak dididik kemudian dibebaskan dan dinikahi, dicontohkan sekali lagi oleh Rasulullah. Maria al­Qibthiah yang menjadi budak di Iskandariah, kini menjadi istri seorang pemimpin besar di tanah Hijaz. Ia bahkan telah memberikan keturunan yang diberi nama Rasulullah seperti nama kakeknya “Ibrahim”, walaupun tidak berusia panjang. Rasulullah menyatakan : “Ia telah dimerdekakan oleh anaknya”. 61

    Para istri nabi -termasuk yang sebelumnya menjadi budak-, mendapat penghormatan yang tinggi dikalangan para sahabat dan umat Muslim, maka tidak mengherankan jika banyak wanita yang ingin dinikahi oleh nabi. Salah satu dari mereka adalah Maimunah yang dalam al-Qur’an disebut “Seorang wanita mu’min yang menyerahkan dirinya kepada nabi”.62 Penawaran itu dilakukan oleh Maimunah melalui saudaranya Ummul Fadl, kemudian Ummul Fadl menyerahkan masalah ini kepada suaminya yaitu Abbas bin Abdil Muththolib (paman nabi). Maka `Abbas menikahkan Maimunah kepada Rasulullah dan memberikan mahar kepada Maimunah atas nama Nabi sebesar 400 dirham. Pernikahan ini terjadi pada akhir tahun ke 7 H. tepatnya pada bulan Dzul-Qo’dah.63 Selain Maimunah masih banyak wanita lain yang ingin dinikahi oleh Nabi, tapi beliau menolak. Jika dilihat dari seluruh pernikahan nabi seperti yang telah kita bahas, maka penolakan nabi tersebut agaknya lebih dilandaskan pada sisi kemanfaatan dan kemaslahatan, baik bagi umat maupun bagi wanita itu sendiri. Hal ini sekaligus menampik tuduhan bahwa perkawinan Rasulullah dilandaskan pada kepentingan pemuasan seksual.

    Dalam tuduhannya Robert Morey menyatakan :

    Para wanita pemuja Muhammad juga menawarkan diri mereka sebagai penghuni harem Muhammad.64

    Ia kemudian menyitir sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari sebagai berikut:

    Seorang wanita menghadap pada nabi Allah sambil berkata, “Wahai Rasul Allah! Saya ingin menyerahkan diri saya untukmu” (Hadits III/505A).65

    Hadits yang disitir oleh Robert Morey ini sebenarnya belum selesai, artinya dipotong. Padahal hadits ini selengkapnya berbunyi seperti berikut ini :

    …dari Sahal bin Sa’ad, ia rnengatakan : seorang wanita menghadap kepada Rasulullah sambil berkata : “Wahai Rasulullah saya menyerahkan diri saya kepadamu”. Kemudian seseorang berkata: “Nikahkan aku dengannya”. Berkata (Rasulullah): “Kami telah meniikahkanmu dengan hafalan al-Qur’an yang engkau miliki “. (HR. Bukhari).66

    Hadits ini ditulis Imam Bukhari untuk masalah hukum perwakilan dalam masalah pernikahan. Hadits yang sama dari Sahal bin Sa’ad tentang kasus yang sama ditulis Imam Bukhari sebanyak 12 kali dalam kitabnya. Kecuali hadits di atas, hadits­hadits lain tersebut ditulis selengkapnya oleh Imam Bukhari, maksudnya percakapan lebih lengkap dalam kejadian tersebut, yang intinya bahwa Nabi tidak berkepentingan untuk menikahi wanita tersebut, dan salah satu sahabat meminta Nabi untuk menikahkan wanita tersebut dengan dirinya, karena si lelaki tersebut tidak memiliki mahar berupa harta maka ia ditanya apa memiliki hafalan surat-surat al-Qur’an, dan surat yang ia hafal itu ia dinikahkan oleh nabi.

    Semua hadits yang menerangkan kejadian adanya seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada nabi, maksudnya menawarkan untuk dinikahi. Salah seorang dari mereka yang diterima oleh Nabi adalah Maimunah, adik dari istri paman nabi sendiri. Robert Morey tampaknya sengaja memaknai hadits-hadits dengan kata-kata fulgar layaknya sebuah harem yang digambarkannya seperti rumah pelacuran. Kesengajaan ini tampak jelas ketika memotong hadits yang disitirnya. Maha benar Allah yang mengabarkan kepada kita melalui al-Qur’an, bahwa para ahli kitab seperti Robert Morey selalu menutupi kebenaran yang ia ketahui.

    Tentang jumlah istri, di mana sebagian menyebut 9, sebagian menyebut 11, tidak bisa di artikan bahwa sisa hitungan dari sembilan adalah partner seksual, seperti yang dituduhkan oleh Robert Morey67 Perhitungan sembilan karena tidak memasukkan Shofiyah dan Juwairiyah -keduanya adalah rampasan perang sebelum dinikahi-, serta Maria yang sebelumnya adalah budak. Sedang hitungan 11 tidak memasukkan Maria al-Qibthiyah yang memang sebelumnya adalah budak dari Iskandaria, itulah sebabnya banyak penulis klasik yang menyebutnya ummul walad (ibu dari anak), walaupun Rasulullah sendiri menyatakan “ia dlmerdekakan oleh anaknya” artinya Maria yang telah memberikan keturunan bagi Rasulullah telah dimerdekakan oleh beliau. Jumlah seluruhnya yang pernah ditulis dalam kitab-kitab sejarah menurut hitungan kami sebanyak 12 orang.

    Pandangan seseorang terhadap sesuatu seringkali dipengaruhi oleh latar belakang budayanya. Pandangan negatif masyarakat barat terhadap Nabi, terlepas dari apa yang dihembuskan oleh Gereja sejak berabat-abat lalu, juga dipengaruhi oleh latar belakang budayanya. Dengan latar belakang kehidupan yang sangat bebas dalam pergaulan antar jenis yang bahkan kebablasan antar sejenis, akan mudah menuduh nabi-nabi mereka sendiri melakukan incest dan melacur, dan tentunya akan lebih mudah berpandangan miring terhadap seseorang yang beristri hingga sembilan lebih Namun tidak demikian bagi masyarakat yang masih menjaga kesucian hubungan antar lawan jenis. Apalagi jika ternyata kebanyakan dari para Istri tersebut adalah janda dan cuma satu yang gadis. Akal sehat pasti mengatakan ada sesuatu niat mulia dibalik perkawinan itu, tapi akal bejat akan menyayangkan kenapa tidak memilih seluruhnya perawan. Maka tidak heran jika hujatan terhadap nabi jarang keluar dari masyarakat timur. Hal ini dapat dimaklumi sebab ditimur memang gudangnya etika dan pemikiran religius yang dapat membentengi kerusakan moral. Maka jika Gereja timur ikut-ikutan menghujat para nabi-nabi, pastilah akibat pengaruh dari kiblat modern mereka.

    NOTES

    37. Zainal Arifin Abas, Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw., Firma Rahmat, Medan, th. 1952, II A hal. 482-492.

    38. Ibid, 497

    39. Openhani, jilid II: 302, dalam Zainal Arifin Abas, Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw , Firma Rahmat, Medan, th. 1952, II A hal. 520.

    40. Ibid, 520. Lihat juga Abqariyyatu Muhammad -terjemah Indonesia “Kejeniusan Muhammad”…..

    41.  Tarekh al Yahudi fi bilad al-Arab, hal. “j”, dalam Zainal Arifin Abas, Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw., Firma Rahmat, Medan, th. 1952, II A hal. 501.

    42. Lihat QS. Al-Qoshosh: 14-15; bandingkan (Taurat/Perj. lama) Keluaran 2: 11-12.

    43. Majalah Modus, Edisi 2, hal. 26.

    44. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Daar al-Manar, Kairo, 1999, Jilid I, hal. 378.

    45. Imam Ahmad.

    46. Imam Muslim, I/592.

    47. Tarikh Thobari, III/175, dalam Bint asy-Syathi’, Tarajum Sayyidat Bait an-Nubuwwah, Daar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cet. III, th. 1982, hal.

    48. Imam Ahmad, Ibid.

    49. Zainal Arifin Abbas, Peri Hidup Muhammad Rasulullah Saw, Penerbit Fa. Rahmat, Medan, Cet. IV, th. 1966. Jilid II, hal. 99-103.
    50. Bint asy-Syati’, 301-303. Al-Bukhari, VI/158-159. Masnad Imam Ahmad, masnad Abu Bakar. Sunan an-Nasa’i al-Kubra, kitab an­nikah, bab `ardlu ar-rajuli ibnatahu.

    51. Sirah Ibnu Ishak, dalam Bint asy-Syathi’, hal. 309-310. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah IV/ 92.

    52. As-Samthu ats-tsmin 89, al-Mukhbir 85, al-Isti’ab, al-Ishobah, `Uyun al-Atsar 2/304, dalam Aishah Bint asy-Syathi’, hal. 325.

    53. QS. Al-Ahzab, 38-40.

    54. Ibnu Katsir, A1 Bidayah wa-an Nihayah, Daar al-Kutub al­Ilmiyah, Beirut, Cet. I, th. 1985, vol. IV, hal. 161. Ibnu Hisyam, as­Sirah an-Nabawiyah, vol. III, hal. 190. Bint asy-Syathi’, 357-358.

    55. Ibid.

    56. Ibnu Katsir, Ibid, IV/198, Ibnu Hisyam III/227.
    57. Al-Bukhari, VI/148.

    58. Bint asy-Syathi’ 364.

    59. Ibnu Hisyam, III/498. Bint asy-Syathi’,…
    60. Ibnu Katsir, IV/271-272.

    61. Sunan Ibnu Majah, Kitab al-`Itqi.

    62. QS. AI-Ahzab: 50.

    63. Ibnu Katsir, IV/233.

    64. Robert Morey, op. cit., ha1213.

    65. Ibid.

    66. Al-Bukhari, III/87.

    67. Robert Morey, op. cit., ha1212

    sumber :

    Buku
    Islam Dihujat

    Menjawab buku The Islamic Invasion karya Robert Morey
    Oleh Hj Irena Handono, muallaf mantan biarawati.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel