Tagged: jihad Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 12:32 am on 23/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: jihad   

    Jihad 

    Jihad

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

    Jihad ( جهاد ) adalah berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syariat Islam.[1]

    Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi.

    Daftar isi

    Pelaksanaan Jihad

    Pelaksanaan Jihad dapat dirumuskan sebagai berikut:

    • Pada konteks diri pribadi – berusaha membersihkan pikiran dari pengaruh-pengaruh ajaran selain Allah dengan perjuangan spiritual di dalam diri, mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
    • Komunitas – Berusaha agar Din pada masyarakat sekitar maupun keluarga tetap tegak dengan dakwah dan membersihkan mereka dari kemusyrikan.
    • Kedaulatan – Berusaha menjaga eksistensi kedaulatan dari serangan luar, maupun pengkhianatan dari dalam agar ketertiban dan ketenangan beribadah pada rakyat di daulah tersebut tetap terjaga termasuk di dalamnya pelaksanaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jihad ini hanya berlaku pada daulah yang menggunakan Din Islam secara menyeluruh (Kaffah).

    Jihad dan perang

    Arti kata Jihad sering disalahpahami oleh yang tidak mengenal prinsip-prinsip Din Islam sebagai ‘perang suci’ (holy war); istilah untuk perang adalah Qital, bukan Jihad.

    Jihad dalam bentuk perang dilaksanakan jika terjadi fitnah yang membahayakan eksistensi ummat (antara lain berupa serangan-serangan dari luar).

    Pada dasar kata arti jihad adalah “berjuang” atau “ber-usaha dengan keras” , namun bukan harus berarti “perang dalam makna “fisik” . jika sekarang jihad lebih sering diartikan sebagai “perjuangan untuk agama”, itu tidak harus berarti perjuangan fisik .

    jika meng-arti-kan jihad hanya sebagai peperangan fisik dan extern, untuk membela agama, akan sangat ber-bahaya , sebab akan mudah di-manfaat-kan dan rentan terhadap fitnah .

    jika meng-artikan Jihad sebagai “perjuangan membela agama” , maka lebih tepat bahwa ber-Jihad adalah : “perjuangan menegakkan syariat Islam” . Sehingga berjihad harus -lah dilakukan setiap saat , 24 jam sehari , sepanjang tahun , seumur hidup .

    Jihad bisa ber-arti ber-juang “Menyampaikan atau menjelaskan kepada orang lain kebenaran Ilahi Atau bisa ber-jihad dalam diri kita sendiri” , Bisa saja ber-jihad adalah : “Memaksakan diri untuk bangun pagi dan salat Subuh , walau masih mengantuk dan dingin dan memaksakan orang lain untuk salat subuh dengan menyetel TOA mesjid dan memperdengarkan salat subuh.” dlsbl.

    Saat ini kerangka berfikir masyarakat tentang pengertian jihad hanyalah sebatas mengurusi syiar – syiar ibadah saja. Seperti halnya mempermasalahkan banyak orang yang tidak salat, padahal hal ini tidak murni dilakukan oleh prinsip seseorang, namun perlulah disadari bahwa setiap poin – poin syariat bukan sebatas harus dilakukan oleh perorangan tetapi oleh seluruh lapisan Islam di Jagad Raya. Karena perilaku seseorang terdapat pada nilai – nilai prosesi pembinaan terkait kelembagaan yang mengelola masyarakat. Dengan kata lain, sebetulnya kemerosotan moral masyarakat terbentuk oleh adanya sistem pemerintahan di dalam negeri yang sangat kuat berpengaruh pada setiap aspek kehidupan masyarakat. Contoh, kesenjangan ekonomi. Ekonomi adalah salah satu sektor yang dikuasai oleh pemerintahan. Hal ini mampu menyebabkan kerusakan pshychologis masyarakat jika sistem yang dijalankan adalah hasil buatan manusia yang sudah tentu tidak mampu mengatur semesta alam.

    Hal di atas menyimpulkan bahwa Jihad harus mengkerucut pada penegakan Dien Islam di dunia. Sesuai dengan apa yang diajarkan oleh seorang tokoh revolusioner Islam, yakni Baginda Rosulullah Muhammad SAW. Juga berdasarkan Undang – Undang Allah yaitu Kitab Suci Al- Qur’an mengatakan bahwa ” Allah mengutus RosulNya ( Muhammad ) dengan membawa petunjuk ( Al-Qur’an ) dan agama ( Dien/Sistem ) yang benar ( Islam ) untuk dimenangkannya di atas segala agama ( Dien/Sistem ), walaupun kaum musyrikin( Segolongan orang beridentitaskan Islam namun tidak mengakui syariat Islam bahkan secara halus memerangi Islam dengan Rezimnya, Contoh Idiologi Pancasila ) tidak menyukai.

    Etika perang Muhammad

    Semasa kepemimpinan Muhammad dan Khulafaur Rasyidin antara lain diriwayatkan bahwa Abu Bakar sebelum mengirim pasukan untuk berperang melawan pasukan Romawi, memberikan pesan pada pasukannya , yang kemudian menjadi etika dasar dalam perang yaitu:

    • Jangan berkhianat.
    • Jangan berlebih-lebihan.
    • Jangan ingkar janji.
    • Jangan mencincang mayat.
    • Jangan membunuh anak kecil, orang tua renta, wanita.
    • Jangan membakar pohon, menebang atau menyembelih binatang ternak kecuali untuk dimakan.
    • Jangan mengusik orang-orang Ahli Kitab yang sedang beribadah.

    Jihad dan terorisme

    Terorisme tidak bisa dikategorikan sebagai Jihad; Jihad dalam bentuk perang harus jelas pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam peperangan, seperti halnya perang yang dilakukan Nabi Muhammad yang mewakili Madinah melawan Makkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama dipicu oleh kezaliman kaum Quraisy yang melanggar hak hidup kaum Muslimin yang berada di Makkah (termasuk perampasan harta kekayaan kaum Muslimin serta pengusiran).

    Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !”.(QS 4:75)

    Perang yang mengatasnamakan penegakan Islam namun tidak mengikuti Sunnah Rasul tidak bisa disebut Jihad. Sunnah Rasul untuk penegakkan Islam bermula dari dakwah tanpa kekerasan!, bukan dalam bentuk terorisme, hijrah ke wilayah yang aman dan menerima dakwah Rasul, kemudian mengaktualisasikan suatu masyarakat Islami (Ummah) yang bertujuan menegakkan Kekuasaan Allah di muka bumi.

    “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah<-islam), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

    Pranala luar

    Advertisements
     
    • wikki 3:12 am on 23/08/2012 Permalink | Reply

      jihad .atau perang..tetap saja hasilnya penderitaan bagi orang yang lemah ..tetap ada korban..

      • SERBUIFF 3:28 am on 23/08/2012 Permalink | Reply

        justru kalau nggak ada jihad kaum muslimin akan semakin ditindas oleh orang2 kafir yg zalim

        • wikki 3:51 am on 23/08/2012 Permalink | Reply

          mau perang mau jihad itu urusan kamu bila penting pergi sono ke palestina ….berani ndak…???

  • SERBUIFF 4:04 am on 31/01/2011 Permalink | Reply
    Tags: jihad, Jihad Beda dengan Terorisme!!!, Nasihat Kepada Teroris: Ketahuilah, TERRORISME   

    Nasihat Kepada Teroris: Ketahuilah, Jihad Beda dengan Terorisme!!! 

    Nasihat Kepada Teroris: Ketahuilah, Jihad Beda dengan Terorisme!!!

    بسم الله الرحمن الرحيم


    Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita mengadukan segala fitnah dan ujian yang mendera. Akibat ulah sekolompok anak muda yang hanya bermodalkan semangat belaka dalam beragama, namun tanpa disertai kajian ilmu syar’i yang mendalam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bimbingan para ulama, kini ummat Islam secara umum dan Ahlus Sunnah (orang-orang yang komitmen dengan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) secara khusus harus menanggung akibatnya berupa celaan dan citra negatif sebagai pendukung terorisme.

    Aksi-aksi terorisme yang sejatinya sangat ditentang oleh syari’at Islam yang mulia ini justru dianggap sebagai bagian dari jihad di jalan Allah sehingga pelakunya digelari sebagai mujahid, apabila ia mati menjadi syahid, pengantin surga, calon suami bidadari…!?

    Demi Allah, akal dan agama mana yang mengajarkan terorisme itu jihad…?! Akal dan agama mana yang mengajarkan buang bom di sembarang tempat itu amal saleh…?!

    Maka berikut ini kami akan menunjukkan beberapa penyimpangan terorisme dari syari’at Islam dan menjelaskan beberapa hukum jihad syar’i yang diselisihi para Teroris. Penjelasan ini insya Allah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta keterangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah para pengikut generasi salaf (generasi sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).

    Pelanggaran-pelanggaran hukum Jihad Islami yang dilakukan Teroris:

    Pelanggaran Pertama: Tidak memenuhi syarat-syarat Jihad dalam syari’at Islam

    Jihad melawan orang kafir terbagi dua bentuk: Pertama, jihad difa’ (defensif, membela diri). Kedua, jihad tholab (ofensif, memulai penyerangan lebih dulu). Adapun yang dilakukan oleh para Teroris tidak diragukan lagi adalah jihad ofensif sebab jelas sekali mereka yang lebih dahulu menyerang.

    Dalam jihad defensif, ketika ummat Islam diserang oleh musuh maka kewajiban mereka untuk membela diri tanpa ada syarat-syarat jihad yang harus dipenuhi (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah, hal. 532 dan Al-Fatawa Al-Kubrô, 4/608).

    Akan tetapi, untuk ketegori jihad ofensif terdapat syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum melakukan jihad tersebut. Di sinilah salah satu perbedaan mendasar antara jihad dan terorisme. Bahwa jihad terikat dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala dalam syari’at-Nya, sedangkan terorisme justru menerjang aturan-aturan tersebut. Maka inilah syarat-syarat jihad ofensif kepada orang-orang kafir yang dijelaskan para ulama:

    Syarat Pertama: Jihad tersebut dipimpin oleh seorang kepala negara

    Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

    “Siapa yang taat kepadaku maka sungguh ia telah taat kepada Allah dan siapa yang bermaksiat terhadapku maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Dan siapa yang taat kepada pemimpin maka sungguh ia telah taat kepadaku dan siapa yang bermaksiat kepada pemimpin maka sungguh ia telah bermaksiat kepadaku. Dan sesungguhnya seorang pemimpin adalah tameng, dilakukan peperangan di belakangnya dan dijadikan sebagai pelindung.” [HR. Al-Bukhari, no. 2957 (konteks di atas milik Al-Bukhary), Muslim, no. 1835, 1841, Abu Daud, no. 2757 dan An-Nasai, 7/155]

    Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dan makna “dilakukan peperangan di belakangnya”, yaitu dilakukan peperangan bersamanya melawan orang-orang kafir, Al-Bughôt (para pembangkang terhadap penguasa), kaum khawarij, dan seluruh pengekor kerusakan dan kezaliman.” (Syarah Muslim, 12/230)

    Syarat Kedua: Jihad tersebut harus didukung dengan kekuatan yang cukup untuk menghadapi musuh

    Sehingga apabila kaum muslimin belum memiliki kekuatan yang cukup dalam menghadapi musuh, maka gugurlah kewajiban tersebut dan yang tersisa hanyalah kewajiban untuk mempersiapkan kekuatan.

    Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menegaskan:

    وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُون

    “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan (juga) musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (Al-Anfâl : 60)

    Di antara dalil akan gugurnya kewajiban jihad bila tidak ada kemampuan, adalah hadits An-Nawwâs bin Sam’ân radhiyallâhu‘anhu tentang kisah Nabi ‘Isâ ‘alaissalâm membunuh Dajjal…, kemudian disebutkan keluarnya Ya`jûj dan Ma`jûj,

    …فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ، إِذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيْسَى: إِنِّيْ قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَاداً لِيْ لَا يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ، فَحَرِّزْ عِبَادِيْ إِلَى الطُّوْرِ وَيَبْعَثُ اللَّهُ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ …

    “…Dan tatkala (Nabi ‘Isâ) dalam keadaan demikian maka Allah mewahyukan kepada (Nabi) ‘Isâ, “Sesungguhnya Aku akan mengeluarkan sekelompok hamba yang tiada tangan (baca: kekuatan) bagi seorangpun untuk memerangi mereka, maka bawalah hamba-hamba-Ku berlindung ke (bukit) Thûr.” Kemudian, Allah mengeluarkan Ya`jûj dan Ma`jûj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi….” (HR. Muslim, no. 2937 dan Ibnu Majah, no. 4075)

    Perhatikan hadits ini, tatkala kekuatan Nabi ‘Isâ ‘alaissalâm dan kaum muslimin yang bersama beliau waktu itu lemah untuk menghadapi Ya`jûj dan Ma`jûj, maka Allah tidak memerintah mereka untuk mengobarkan peperangan dan menegakkan jihad, bahkan mereka diperintah untuk berlindung ke bukit Thûr.

    Demikian pula, ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat masih lemah di Makkah, Allah Ta’ala melarang kaum Muslimin untuk berjihad, padahal ketika itu kaum Muslimin mendapatkan berbagai macam bentuk kezhaliman dari orang-orang kafir.

    Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata, “Dan beliau (Nabi shollallâhu ‘alaihi wa sallam) diperintah untuk menahan (tangan) dari memerangi orang-orang kafir karena ketidakmampuan beliau dan kaum muslimin untuk menegakkan hal tersebut. Tatkala beliau hijrah ke Madinah dan mempunyai orang-orang yang menguatkan beliau, maka beliaupun diizinkan untuk berjihad.” (Al-Jawâb Ash-Shohîh, 1/237)

    Syarat Ketiga: Jihad tersebut dilakukan oleh kaum muslimin yang memiliki wilayah kekuasaan

    Perkara ini tampak jelas dari sejarah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bahwa beliau diizinkan berjihad oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika telah terbentuknya satu kepemimpinan dengan Madinah sebagai wilayahnya dan beliau sendiri sebagai pimpinannya.

    Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Awal disyariatkannya jihad adalah setelah hijrahnya Nabi shollallahu‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam ke Madinah menurut kesepakatan para ulama.” (Fathul Bari, 6/4-5 dan Nailul Authar, 7/246-247).

    Demikianlah syarat-syarat jihad dalam syari’at Islam. Adapun dari sisi akal sehat bahwa tujuan jihad adalah untuk meninggikan agama Allah Ta’ala sehingga Islam menjadi terhormat dan berwibawa di hadapan musuh, hal ini tidak akan tercapai apabila tidak dipersiapkan dengan matang dengan suatu kekuatan, persiapan dan pengaturan yang baik. Maka ketika syarat-syarat di atas tidak terpenuhi, sebagaimana dalam aksi-aksi terorisme, hasilnya justru bukan membuat Islam menjadi tinggi, malah memperburuk citra Islam, sebagaimana yang kita saksikan saat ini.

    Pelanggaran Kedua: Memerangi orang kafir sebelum didakwahi dan ditawarkan apakah memilih Islam, membayar jizyah atau perang

    Pelanggaran ini menunjukkan kurangnya semangat para Teroris untuk mengusahakan hidayah kepada manusia dan semakin jauh dari tujuan jihad itu sendiri, padahal hakikat jihad hanyalah sarana untuk menegakkan dakwah kepada Allah Ta’ala. Ini juga merupakan bukti betapa jauhnya mereka dari pemahaman yang benar tentang jihad, sebagaimana tuntunan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada para mujahid yang sebenarnya, yaitu para sahabat radhiyallahu‘anhum. Dalam hadits Buraidah radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata:

    “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa âlihi wa salllam apabila beliau mengangkat amir/pimpinan pasukan beliau memberikan wasiat khusus untuknya supaya bertakwa kepada Allah dan (wasiat pada) orang-orang yang bersamanya dengan kebaikan. Kemudian, beliau berkata, “Berperanglah kalian di jalan Allah dengan nama Allah, bunuhlah siapa yang kafir kepada Allah, berperanglah kalian dan jangan mencuri harta rampasan perang dan janganlah mengkhianati janji dan janganlah melakukan tamtsîl (mencincang atau merusak mayat) dan janganlah membunuh anak kecil dan apabila engkau berjumpa dengan musuhmu dari kaum musyrikin dakwailah mereka kepada tiga perkara, apa saja yang mereka jawab dari tiga perkara itu maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka ; serulah mereka kepada Islam apabila mereka menerima maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah jizyah (upeti) dari mereka dan apabila mereka memberi maka terimalah dari mereka dan tahanlah (tangan) terhadap mereka, apabila mereka menolak maka mintalah pertolongan kepada Allah kemudian perangi mereka”. (HR. Muslim, no. 1731, Abu Dâud, no. 2613, At-Tirmidzi, no. 1412, 1621, An-Nasâ`i dalam As-Sunan Al-Kubrô, no. 8586, 8680, 8765, 8782 dan Ibnu Mâjah, no. 2857, 2858)

    Pelanggaran Ketiga: Membunuh orang muslim dengan sengaja

    Kami katakan bahwa mereka sengaja membunuh orang muslim yang tentu sangat mungkin berada di lokasi pengeboman karena jelas sekali bahwa negeri ini adalah negeri mayoritas muslim. Dan mereka sadar betul di sini bukan medan jihad seperti di Palestina dan Afganistan, bahkan mereka tahu dengan pasti kemungkinan besar akan ada korban muslim yang meninggal.

    Tidakkah mereka mengetahui adab Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebelum menyerang musuh di suatu daerah?! Disebutkan dalam hadits Anas bin Mâlik radhiyallâhu‘anhu:

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا غَزَا بِنَا قَوْمًا لَمْ يَكُنْ يَغْزُوْ بِنَا حَتَّى يُصْبِحَ وَيَنْظُرَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ

    “Sesungguhnya Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam apabila bersama kami untuk memerangi suatu kaum, beliau tidak melakukan perang tersebut hingga waktu pagi, kemudian beliau menunggu, apabila beliau mendengar adzan maka beliau menahan diri dari mereka dan apabila beliau tidak mendengar adzan maka beliau menyerang mereka secara tiba-tiba. ”(HR. Al-Bukhâri, no. 610, 2943, Muslim, no. 382, Abu Daud, no. 2634, dan At-Tirmidzi, no. 1622)

    Tidakkah mereka mengetahui betapa terhormatnya seorang muslim itu di sisi Allah Ta’ala?! Tidakkah mereka mengetahui betapa besar kemarahan Allah Ta’ala atas pembunuh seorang muslim?!

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

    “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (An-Nisâ`: 93)

    Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan:

    لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

    “Sungguh sirnanya dunia lebih ringan di sisi Allah dari membunuh (jiwa) seorang muslim.” (Hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma riwayat At-Tirmidzi, no. 1399, An-Nasa`i, 7/ 82, Al-Bazzar, no. 2393, Ibnu Abi ‘ashim dalam Az-Zuhd, no. 137, Al-Baihaqy, 8/22, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 7/270 dan Al-Khathib, 5/296. Dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany rahimahullah dalam Ghayatul Maram, no. 439)

    Pelanggaran Keempat: Membunuh orang kafir tanpa pandang bulu

    Inilah salah satu pelanggaran Teroris dalam berjihad yang menunjukkan pemahaman mereka yang sangat dangkal tentang hukum-hukum agama dan penjelasan para ulama. Ketahuilah, para ulama dari masa ke masa telah menjelaskan bahwa tidak semua orang kafir yang boleh untuk dibunuh, maka pahamilah jenis-jenis orang kafir berikut ini:

    Pertama: kafir harbiy, yaitu orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Inilah orang kafir yang boleh untuk dibunuh.

    Kedua: kafir dzimmy, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri kaum muslimin, tunduk dengan aturan-aturan yang ada dan membayar jizyah (sebagaimana dalam hadits Buraidah di atas), maka tidak boleh dibunuh.

    Ketiga: kafir mu’ahad, yaitu orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling berperang, selama ia tidak melanggar perjanjian tersebut maka tidak boleh dibunuh.

    Keempat: kafir musta’man, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin, maka tidak boleh bagi kaum muslimin yang lainnya untuk membunuh orang kafir jenis ini. Dan termasuk dalam kategori ini adalah para pengunjung suatu negara yang diberi izin masuk (visa) oleh pemerintah kaum muslimin untuk memasuki wilayahnya.

    Banyak dalil yang melarang pembunuhan ketiga jenis orang kafir di atas, bahkan terdapat ancaman yang keras dalam sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam:

    مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

    “Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”. (HR. Al-Bukhari, no. 3166, 6914, An-Nasa`i, 8/25 dan Ibnu Majah, no. 2686)

    Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berpendapat bahwa kata mu’ahad dalam hadits di atas mempunyai cakupan yang lebih luas. Beliau berkata, “Dan yang diinginkan dengan (mu’ahad) adalah setiap yang mempunyai perjanjian dengan kaum muslimin, baik dengan akad jizyah (kafir dzimmy), perjanjian dari penguasa (kafir mu’ahad), atau jaminan keamanan dari seorang muslim (kafir musta’man).” (Fathul Bary, 12/259)

    (Disarikan dari buku Meraih Kemuliaan melalui Jihad Bukan Kenistaan, karya Al-Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah. Semua dalil, takhrij hadits dan perkataan ulama di atas dikutip melalui perantara buku tersebut, jazallahu muallifahu khairon).

    http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/03/105/

     
    • wura wari 7:28 am on 04/02/2011 Permalink | Reply

      Aku dukung anda 1 juta kali..memang,jihad gak boleh dgn cara meneror kaum sipil.bahkan mazhab malik mlarang panah beracun dalam prang,krena membuat pnderitaan yg g perlu pada musuh.

    • yanuar_undip_loves_Syaikh_usamah_cause_Alloh 12:27 am on 09/02/2011 Permalink | Reply

      Ini mah Mur’jiah statement

    • Bukan Teroris 8:50 pm on 30/03/2011 Permalink | Reply

      Assalamualaikum.
      Bismillah.
      Sy sebenarnya juga sangat setuju dengan pendapat yg antum kemukakan di atas.dan akhirny dapat di simpulkan[dari artikel ini] bahwa ikhwan2 muslim yg melakukan aksi2 pembalasan terhadap kebiadapan yahudi,amerika dan antek2nya adalah teroris.

      Sebenarnya sy pribadi tidak se7 100% dg tindakan pr ikhwan muslim yg bisa di bilang agak kebablasan.tapi alangkah baikny stempel teroris antum cabut dari mereka.

    • Bukan Teroris 8:58 pm on 30/03/2011 Permalink | Reply

      Mari sejenak kita bahas siapa Teroris dan apa Terorisme

      Di sini ana tidak akan
      mengulas arti terorisme,
      sebab pengertiannya yang
      ada dibuku-buku pedoman
      kuliah, jurnal ilmiah dan
      wikipedia hanyalah ungkapan-ungkapan indah
      diatas kertas saja. Yang
      akan saya soroti adalah
      kenyataan/fakta-fakta
      terkait aksi terorisme dan
      siapakah yang disebut teroris.

      Mari kita ingat-ingat
      kembali daftar ‘ pelaku teror’ di Indonesia, maka tentu yang akan muncul
      dipikiran kita mereka
      adalah orang Islam semua
      dan aksi jihad yang
      mereka lakukan adalah
      ‘ aksi teror/terorisme’ . Mulai dari Amrozi, Imam
      Samudera, Noordin M Top,
      DR. Azhari, hingga Ibrohim
      yang dibantai dalam
      drama kolosal
      penangkapan teroris di Temanggung. (Semoga
      Alloh menerima mereka
      semua sebagai syuhada’ disisi-Nya)

      Semua nama yang tertera
      di atas adalah orang
      Islam, bahkan aktivis
      Islam, dan aksi jihad yang
      mereka lakukan adalah
      terorisme. Namun mengapa aktivitas mereka
      disebut sebagai terorisme
      dan mereka dibombardir
      stempel teroris? Ini yang
      menjadi persoalannya.

      Kita sama-sama tahu, dulu
      ada Tibo Cs yang
      dieksekusi mati dengan
      kasus konflik di Poso. Tapi
      dia dkk tidak di cap
      teroris.Kita juga sama- sama tahu, di Papua ada
      OPM (Organisasi Papua
      Merdeka) yang berjuang
      menjadikan Papua sebagai
      Negara Merdeka, terpisah
      dengan Indonesia. Tapi mereka tidak di cap
      sebagai organisasi teroris. Kita juga sama-sama
      tahu, di Maluku ada
      gerakan RMS (Republik
      Maluku Selatan) yang
      telah memiliki bendera
      negara yang dicita- citakannya yakni negara
      Republik Maluku Selatan.
      Tapi toh mereka tidak
      disebut sebagai gerakan
      teroris.

      Kita juga masih ingat
      dengan Gerakan Aceh
      Merdeka (GAM) diujung
      barat daya Indonesia itu,
      tapi mereka lagi-lagi tidak
      dicap sebagai kelompok teroris. Kenapa yang dicap teroris
      hanyalah mereka yang
      melakukan sesuatu atas
      nama jihad fii sabilillah
      dan bercita-cita
      mendirikan syari’ at/ hukum Islam dibumi
      Indonesia?

    • Bukan Teroris 12:30 am on 31/03/2011 Permalink | Reply

      Komando “ War On Terrorism”

      Supaya hal di atas menjadi
      jelas, maka mari kita
      kembali mengingat
      rekaman sejarah dunia di
      penghujung 2001. Setelah
      serangan mematikan di WTC dan Pentagon pada
      bulan September, Amerika
      kalang kabut. Hingga
      Presiden Amerika saat itu,
      George W Bush, dalam
      konferensi persnya pada hari Minggu 16 September
      2001 (sebagaimana dilansir
      BBC) menyatakan,
      “ This Crusade, this war on
      terrorism, is going to take
      a long time.” Artinya: Ini adalah Perang Salib, ini
      adalah perang melawan
      terorisme, perang ini akan
      memakan waktu yang
      lama.

      Anda tidak salah baca,
      saat itu Presiden Bush
      mengumumkan Perang
      Melawan Terorisme,
      Perang Salib! Sehingga
      sebagai kepala gerbong kereta salib dia dengan
      lantang mengatakan,
      “ Bersama kami, atau bersama mereka..!” Amerika hanya memberi 2
      pilihan: bersama Amerika
      untuk memerangi
      terorisme atau bersama
      teroris yang akan
      diperangi Amerika dan sekutu-sekutu
      internasionalnya.

      Inilah Amerika, fir ’ aun abad ini, sebagai
      komandan perang
      melawan terorisme.
      Pemimpinnya dengan jelas
      dan tegas dihadapan dunia
      mengatakan bahwa perang melawan terorisme
      adalah perang salib!

      Maka kalau Perang
      Melawan Terorisme
      adalah Perang Salib, tak
      perlu heran bila yang
      disebut terorisme adalah
      aksi-aksi jihad fii sabilillah dan para teroris
      adalah pejuang-pejuang
      islam (baca: mujahidin).

      Hati-hati Menyebut
      Mujahid sebagai Teroris

      Kini, setelah menyadari
      bahwa hakikat dari
      Perang Melawan
      Terorisme adalah Perang
      Salib, di mana dunia telah
      terbelah menjadi dua kubu:

      1) Kubu Salib /
      Koalisi Kafir dan

      2) Kubu
      Islam / Koalisi Mu’ minin, maka berhati-hatilah
      menyebut-nyebut para
      mujahid sebagai teroris.
      Sebab tindakan ini dapat
      mengeluarkan seseorang
      dari Islam!

      Kita bisa menjadi murtad
      hanya dengan menghina
      pejuang-pejuang Islam
      sebagai teroris. Karena
      dengan menyebut pejuang-
      pejuang Islam sebagai teroris, berarti kita telah
      berdiri di barisan salib
      yang memerangi barisan
      mu’ minin. Dengan menyebut pejuang-
      pejuang Islam sebagai
      teroris, berarti kita telah
      memerangi dan meneror
      orang beriman melalui
      lisan.

      Alloh Subhanahu wa
      Ta’ ala berfirman: “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
      menjadikan orang-orang
      Yahudi dan Nasrani
      menjadi aulia (mu);
      sebahagian mereka adalah
      aulia bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di
      antara kamu mengambil
      mereka menjadi wali,
      maka sesungguhnya orang
      itu termasuk golongan
      mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi
      petunjuk kepada orang-
      orang yang zholim.” (QS. Al Maa’ idah [5] : 51)

      (Aulia adalah bentuk jamak dari kata wali, sedangkan arti kata wali
      adalah pemimpin,
      penolong, pembantu,
      kawan akrab, sahabat dan
      semisalnya). Wallohu a’ lam bish showab.

      eramuslim.com

    • R.Haryanto 1:25 am on 03/06/2011 Permalink | Reply

      Bagaimana dengan pembantaian massal dimasa tahun1965
      sampai th1970 ??
      Bukankah pembantain ini BANYAK dilakukan sama umat yang menyatakan diri ORANG ISLAM lebih jelasnya pembantaian banyak dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya PEMUDA ANSOR?
      Juga orang2 yang DENDAM sama pemerintah, yang kemauannya tidak dikabulkan ( seperti DI TII ).
      Yang sadisnya lagi, kalau orang tuanya YANG BERSALAH ,anak,cucu keturunannya juga sudah di vonis bersalah, bahkan yang belum lahirpun sudah dianggap bersalah.
      INGATKAH motto pemeritah SUHARTO, KOMUNISME harus dibasmi sampai ke AKAR AKARNYA.
      Apa ada dalam Islam, jikalau orang tuanya BERBUAT SALAH, ANAK2,CUCUNYA HARUS dibunuh.
      Dlm ISLAM menyebutkan manusia hanya di hisab dengan PERBUATANNYA MASING2 ??? tidak ada lebih tidak ada kurang.
      Pada waktu itu PEMUDA ANSOR,DI TII yang dendam,PEMERINTAH,dan AMERICA ,AMERICA,AMERICA,bercomplot bersatu membantai ribuan orang2 ,laki2,permpuan,anak2,dan banyak yang tidak bersalah. (BANGSA INDONESIA ).
      APAKAH ADA DLM AYAT QUR’AN YANG MEMERINTAHKAN PEMBANTAIAN MASSAL????
      syariat menyatakan :MEMBUNUH HUKUMNYA DIBUNUH ???
      Jadi sangat betul kalau kalian menganggap AMERICA ITU
      TERORIST, DAN AMERICA BERCOMPLOT DENGAN TERORIST INDONESIA yaitu orang terorist sekarang ini.
      Jadi didak usah berbelit belitlah.

      Saya orang Islam, dan insha Allah saya menjalankan Islam.
      Saya ada kenalan di Sydney yang pernah memenggal 15 orang yang waktu itu dia anggap PKI ,di MALANG jawa timur pada tahun 66.
      Dengan bangganya manusia ini menceritakan pengalaman pembantaiannya keorang2, dan hanya satu penyesalannya sekarang, orang yang dia bantai itu sebagian bukan PKI.
      Auzubillah mindzalik.

      Janganlah kamu merusak,menganiaya, membunuh apa2
      yang ada didunia ini ,karna semua itu CIPTAANKU.

      Jadi kalau saya lihat sekarang TERORIST di INDONESIA justru CIPTAAN AMERICA atau ZIONIST untuk bikin kacau Islam terbesar di Dunia, BERJIHAD BERSAMA AMERICA bukan MENENTANG AMERICA.
      Wawlallhu a’lam bish showab

    • Srigala Sendirian 1:25 pm on 18/08/2011 Permalink | Reply

      Iman Tanpa Tauhid adalah Dusta!!!
      Jayalah ISLAM Mampuslah Tirani Thoghut!!! 🙂

  • SERBUIFF 1:56 am on 02/11/2010 Permalink | Reply
    Tags: HART RAMPASAN, jihad   

    Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.(QS. 48:20) / Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 8:69) 

    Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.(QS. 48:20)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Fath 20
    وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْ وَلِتَكُونَ آيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (20)
    Allah SWT menjanjikan kemenangan dan harta rampasan yang banyak yang akan diperoleh kaum Muslimin dari orang-orang kafir secara berangsur-angsur pada masa yang akan datang. Dalam pada itu, Allah SWT akan segera memberikan kemenangan dan harta rampasan pada Perang Khaibar nanti. Allah SWT juga menjamin dan mencegah orang-orang Yahudi yang ada di Madinah mengganggu dan merusak harta kaum Muslimin sewaktu mereka pergi ke Mekah dan ke Khaibar agar mereka bersyukur, dan untuk membuktikan kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul yang diutus Allah kepada manusia. Allah SWT membantu dan menolong kaum Muslimin dari ancaman dan serangan musuh-musuh mereka baik mereka ketahui datangnya atau tidak mereka ketahui, walaupun jumlah mereka sedikit. Allah SWT membimbing kaum Muslimin menempuh jalan yang lurus dan yang diridai Nya.
    Menurut Ibnu Jarir, yang dimaksud dengan perkataan: “Allah menahan tangan manusia yang akan membinasakan Rasulullah dan kaum Muslimin” ialah keinginan dan usaha penduduk Khaibar dan kabilah-kabilah yang lain yang telah bersekutu dengan mereka, tetapi dalam hati mereka masih terdapat rasa dengki dan sakit hati. Kabilah yang bersekutu dengan penduduk Khaibar itu ialah kabilah Arab dan Gatafan.

    ==========================================

    Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 8:69)
    ::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

    Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anfaal 69
    فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (69)
    Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya, maka dengan sifat mulia ini Allah mengampuni dan tidak menimpakan siksaan kepada kaum Muslimin, bahkan memberikan hak kepada mereka untuk memakan dan memiliki harta rampasan yang didapat dalam peperangan termasuk uang tebusan itu sebagaimana tersebut dalam ayat berikut ini. Diriwayatkan bahwa: “Pada mulanya kaum Muslimin tidak mau mempergunakan harta tebusan yang dibayar oleh kaum musyrikin, karena takut akan tersalah lagi apabila belum ada wahyu yang mengizinkan mereka memanfaatkannya, maka turunlah ayat ini.” Ini adalah suatu bukti lagi bagi mereka atas rahmat dan kasih sayang Allah kepada mereka. Sesudah mereka melakukan kesalahan, mereka diampuni dan dibebaskan dari siksaan atas kesalahan itu, kemudian diizinkan pula memakan dan memiliki hasil dari tindakan salah itu, yaitu uang tebusan yang mereka terima dari para tawanan itu adalah halal dan baik bukan seperti daging babi dan bangkai. Kemudian Allah menyuruh mereka agar selalu bertakwa kepada-Nya dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, karena Dialan Yang Maha Pengampun dan Penyayang.

     
  • SERBUIFF 2:23 am on 12/11/2007 Permalink | Reply
    Tags: Bukan Sekadar Perang, jihad   

    Jihad, Bukan Sekadar Perang 

    aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa6.jpgCenter For Moderate Muslim Indonesia

    [ ID | ARAB | EN ]

    Jihad, Bukan Sekadar Perang

    17-October-2006

    Hampir dipastikan, istilah “jihad” merupakan salah satu konsep Islam yang sering disalahpahami, baik oleh kaum Muslim maupun pengamat Barat, yang umumnya mengartikan jihad dengan perang. Aksi kekerasan yang berpijak pada konsep jihad merupakan bentuk penyempitan makna jihad. Dalam aksi kekerasan seperti pemboman, selain telah mendistorsi makna jihad juga menimbulkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai syariat—seperti terbunuhnya wanita dan anak-anak. Kalangan “muslim radikal” lebih banyak memaknai jihad dengan perang dan segala bentuk kekerasan. Padahal, jihad memiliki makna yang luas, mencakup seluruh aktivitas yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

    Makna Jihad
    Secara bahasa, kata jihad terambil dari kata “jahd” yang berarti “letih/sukar”, karena jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Ada juga yang berpendapat kata jihad berasal dari kata “juhd” yang berarti “kemampuan”, karena jihad menuntut kemampuan dan harus dilakukan sebesar kemampuan (Shihab, 1996: 501). Maududi mendefiniskan jihad sebagai mempertaruhkan hidup seseorang dan segala sesuatu yang dimilikinya untuk melenyapkan penguasaan manusia atas manusia dan menegakkan pemerintah yang tegak di atas syariat Islam. Dalam hukum Islam, jihad adalah segala bentuk maksimal untuk penerapan ajaran Islam dan pemberantasan kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat dengan tujuan mencapai rida Allah Swt.

    Dalam pengertian luas, jihad mencakup seluruh ibadah yang bersifat lahir dan batin dan cara mencapai tujuan yang tidak kenal putus asa, menyerah, kelesuan, dan pamrih, baik melalui perjuangan fisik, emosi, harta benda, tenaga, maupun ilmu pengetahuan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. selama peroide Mekah dan Madinah. Selain jihad dalam pengertian umum, ada pengertian khusus mengenai jihad, yaitu memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam dan makna inilah yang sering dipakai oleh sebagian umat Islam dalam memahami jihad.

    Kesalahan memahami jihad yang hanya dimaknai semata-mata perjuangan fisik disebabkan oleh tiga hal. Pertama, pengertian jihad secara khusus banyak dibahas dalam kitab-kitab fikih klasik senantiasa dikaitkan dengan peperangan, pertempuran, dan ekspedisi militer. Hal ini membuat kesan, ketika kaum Muslim membaca kitab fikih klasik, jihad hanya semata-mata bermakna perang atau perjuangan fisik, tidak lebih dari itu. Kedua, kata jihad dalam Al-Quran muncul pada saat-saat perjuangan fisik/perang selama periode Madinah, di tengah berkecamuknya peperangan kaum Muslim membela keberlangsungan hidupnya dari serangan kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya. Hal ini menorehkan pemahaman bahwa jihad sangat terkait dengan perang. Ketiga, terjemahan yang kurang tepat terhadap kata anfus dalam surat Al-Anfal ayat 72 yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS Al-Anfal [7]: 72).
    Kata anfus yang diterjemahkan dengan “jiwa”, menurut Quraish Shihab tidak tepat dalam konteks jihad. Makna yang tepat dari kata anfus dalam konteks jihad adalah totalitas manusia, sehingga kata nafs (kata tunggal dari anfus) mencakup nyawa, emosi, pengetahuan, tenaga, dan pikiran.

    Kesalahan yang sama juga dialami oleh para pengamat Barat yang sering mengidentikkan jihad dengan “holy war” atau perang suci. Jihad yang didefinisikan sebagai perang melawan orang kafir tidak berarti sebagai perang yang dilancarkan semata-mata karena motif agama. Secara historis, jihad lebih sering dilakukan atas dasar politik, seperti perluasan wilayah Islam atau pembelaan diri kaum Muslim terhadap serangan dari luar. Oleh sebab itu, “holy war” adalah terjemahan keliru dari jihad. “Holy war” dalam tradisi Kristen bertujuan mengkristenkan orang yang belum memeluk agama Kristen, sedangkan dalam Islam jihad tidak pernah bertujuan mengislamkan orang non-Islam.

    Fakta sejarah menunjukkan bahwa ketika kaum Muslim menaklukkan sebuah negeri; rakyat negeri itu diberi pilihan masuk Islam atau membayar jizyah (semacam pajak) atas jasa kaum Muslim yang melindungi mereka. Pemaksaan agama Islam dengan ancaman tidak dikenal dalam sejarah Islam. Sama halnya dengan penyebaran Islam di Nusantara yang dilakukan oleh Wali Songo menggunakan jalur budaya, tidak menggunakan jalan peperangan.

    Munawar Chalil dalam buku Kelengapan Tarikh Nabi Muhammad Saw. mengutip pendapat Muhammad Abduh, Ibnul-Qayyim dalam Zaad Al-Ma’ad, dan Syeikh Thanthawi Jauhari, menyatakan bahwa orang-orang kurang mengerti, menyangka bahwa jihad itu tidak lain adalah berperang dengan kafir. Sebenarnya tidak begitu. Jihad itu mengandung arti, maksud, dan tujuan yang luas. Memajukan pertanian, ekonomi, membangun negara, serta meningkatkan budi pekerti umat termasuk jihad yang tidak kalah pentingnya ketimbang berperang.

    Bentuk-bentuk Jihad
    Menurut Ar-Raghib Al-Isfahani—sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab—jihad terdiri dari tiga macam, yaitu: (a) menghadapi musuh yang nyata, yaitu mereka yang secara jelas-jelas memerangi umat Islam, seperti kaum Quraisy yang mengerahkan segenap kemampuannya untuk memangkas keberlangsungan komunitas umat Islam, (b) menghadapi setan, dilakukan dengan cara tidak terpengaruh segala bujuk rayunya yang menyuruh manusia membangkang kepada Allah Swt., dan (c) melawan hawa nafsu, inilah jihad terbesar dan paling sulit. Nafsu yang ada pada tiap diri manusia selalu mendorong pemiliknya untuk melanggar perintah-perintah Allah Swt., dengan tetap setia menjalankan perintah-Nya, berarti umat Islam berjihad melawan hawa nafsu.

    Menurut Ibnu Qayyaim, dilihat dari segi pelaksanaannya, jihad dibagi menjadi tiga bentuk:
    Pertama, jihad muthlaq; perang melawan musuh dalam medan pertempuran. Jihad dalam bentuk perang ini mempunyai persyaratan tertentu, di antaranya perang harus bersifat defensif, untuk menghilangkan kekacauan serta mewujudkan keadilan dan kebajikan. Perang tidak dibenarkan bila dilakukan untuk memaksakan ajaran Islam kepada orang non-Islam, untuk tujuan perbudakan, penjajahan, dan perampasan harta kekayaan. Juga tidak dibenarkan membunuh orang yang tidak terlibat dalam peperangan tersebut, seperti wanita, anak kecil, dan orang-orang tua.

    Kedua, jihad hujjah; jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi kuat. Jihad dalam bentuk ini memerlukan seseorang yang punya kemampuan ilmiah tinggi yang bersumber dari Al-Quran dan sunnah-sunnah Nabi serta mampu berijtihad.

    Ketiga, jihad ‘amm; jihad yang mencakup segala aspek kehidupan, baik bersifat moral maupun bersifat material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain di tengah-tengah masyarakat. Jihad seperti ini dapat dilakukan dengan pengorbanan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini juga bersifat berkesinambungan, tanpa dibatasi oleh lingkup ruang dan waktu, dan bisa dilakukan terhadap musuh yang nyata, setan atau hawa nafsu.

    Jihad melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling besar. Perang Badar, perang terbesar dan yang sangat menentukan bagi keberlangsungan komunitas Muslim. Kemenang kaum Muslim dalam Perang Badar, dengan jumlah yang sedikit melawan musuh yang berjumlah sangat banyak, memang dahsyat. Akan tetapi Nabi Muhammad Saw. mengatakan bahwa Perang Badar adalah perang kecil dan perang besar adalah perang melawan hawa nafsu. “Kita kembali dari jihad terkecil menuju jihad terbesar, yakni jihad melawan hawa nafsu.”
    Dengan demikian, musuh nyata yang harus dihadapi dengan jihad adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan yang kini banyak menimpa kaum Muslim sebagai akibat dari keserakahan orang-orang yang tidak bisa berjihad melawan hawa nafsunya.CMM.

    Komentar Anda

    Tulis Komentar





     
  • SERBUIFF 1:56 am on 12/11/2007 Permalink | Reply
    Tags: , jihad   

    hukum perang dalam islam,jihad. 

    aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa10.jpgaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa8.jpg

    Web Gambar Grup Direktori
      Pencarian Khusus
    Preferensi
    Telusuri:
    Web Urutan 1120 dari sekitar 101,000 hasil penelusuran untuk hukum perang dalam islam,jihad. (0.11 detik)

    Jihad « Isyihadu bi ana Muslimin

    Jihad dan Hukum Perang dalam Islam. Posted by islamiyah in Jihad. comments closed. Jihad berarti perjuangan atas nama Allah SWT. Jihad tidak selalu berarti
    islamiyah.wordpress.com/category/jihad/ – 27k – TembolokHalaman sejenis

    KESALAHAN SEBAGIAN PENDAPAT TENTANG JIHAD « tomySmile

    Ada yang berkata bahwa jihad dalam Islam adalah untuk membela diri saja. Sebagian berkata bahwa hukum jihad tetap berlaku, tetapi tidak boleh
    tomysmile.wordpress.com/2006/01/05/kesalahan-sebagian-pendapat-tentang-jihad/ – 25k – TembolokHalaman sejenis

    almanhaj.or.id – Defenisi Jihad Dan Hukum Jihad

    Jihad dalam Islam merupakan seutama-utama amal. Bila kalian diminta untuk maju perang, maka majulah!” [17] Hukum jihad adalah fardhu kifayah [18] dengan
    http://www.almanhaj.or.id/content/2178/slash/0 – 39k – TembolokHalaman sejenis

    Republika Online – http://www.republika.co.id

    Bahkan, persoalan jihad (dan gagasan etika perang dan damai secara umum) telah Dengan munculnya tradisi hukum, penelusuran etis dalam kesarjanaan Islam
    http://www.republika.co.id/…/cetak_detail.asp?mid=5&id=122561&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=291 – 36k – TembolokHalaman sejenis

    Media Indonesia Online

    Dalam mengupas jihad, Carole tidak sekadar menampilkannya dalam kerangka penulisan hukum Islam (fikih). Dia mengombinasikan konsep jihad dalam berbagai
    http://www.media-indonesia.com/resensi/details.asp?id=344 – 52k – TembolokHalaman sejenis

    Bunga Rampai Artikel Islam

    “Konsep Jihad Bukanlah Perang“. oleh Dr. Tariq Ramadan*. Indeks Islam Dalam Islam, kita harus memajukan pendidikan yang setara untuk laki-laki dan
    media.isnet.org/islam/Etc/Jihad.html – 16k – TembolokHalaman sejenis

    Jihad, Bukan Sekadar Perang

    Dalam hukum Islam, jihad adalah segala bentuk maksimal untuk penerapan ajaran Islam dan Jihad dalam bentuk perang ini mempunyai persyaratan tertentu,
    http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A2947_0_3_0_M – 14k – TembolokHalaman sejenis

    Jihad Dalam Islam – Kristen

    Kendati dalam Islam jihad diartikan perang, tapi tetap menjunjung tinggi akhlak ….. dan pertanyaannya : “Jadi siapa sih yang menggenapi hukum Taurat ?
    forum-arsip1.swaramuslim.net/threads.php?id=3783_0_25_0_C – 73k – TembolokHalaman sejenis

    Hubungan Sipil Dan Militer Dalam Pemerintahan Islam « HAYATUL ISLAM

    Dalam beberapa hal, hukum bagi sipil dan militer sama. Kedua-duanya sama-sama dibebani hukum Islam. Sebagai contoh kewajiban Jihad adalah kewajiban seluruh
    hayatulislam.wordpress.com/2007/01/29/hubungan-sipil-dan-militer-dalam-pemerintahan-islam/ – 23k – TembolokHalaman sejenis

    sobat-azzam : Opini edisi C (Konsep Jihad dalam Islam)

    Dr. Tariq Ramadan: “Konsep Jihad Bukanlah Perang” SEOLAH sedang mengajar di depan Islam tertentu mengakibatkan orang Barat menerapkan hukum secara bias
    http://www.mail-archive.com/sobat-azzam@yahoogroups.com/msg00423.html – 18k – TembolokHalaman sejenis

    Halaman Hasil Penelusuran: Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Berikutnya

    Cari di dalam hasil | Perangkat Bahasa | Tips Penelusuran


    Beranda GoogleProgram PeriklananSerba-serbi Google

    ©2007 Google

     
    • Eka 4:53 am on 12/05/2009 Permalink | Reply

      assalamu’alaykum..

      teruskan dakwah ini..semoga menjadi pencerahan bagi kita semua..
      namun ada satu hal yang perlu kita jaga tentang hukum hukum itu sendiri..
      saya melihat seiring waktu,hukum bisa tergoyahkan secara praktek di lapangan..

      tanpa kita sadari media secara perlahan sengaja atau tak sengaja telah menggoyahkan beberapa hukum yang telah ditetapkan dalam islam..
      pengaruh media bukan mustahil pada suatu masa akan membuat hukum hukum itu melenceng dan secara tidak langsung didikte oleh ideologi counter islam…

      sebagai contoh..masa masa ini hukum poligami yang jelas jelas halal,bukan tidak mungkin menjadi haram secara praktek..

      demikian halnya masalah jihad fi sabilillah(dalam hal ini khususnya perang)..jangan bilang mustahil kalau suatu masa secara praktek hukumnya bisa menjadi haram..

      ini semua terjadi karna kita sendiri kadang kurang adil dalam memberi pejelasan terhadap suatu masalah..ditambah dengan munculnya konotasi negatif dari media terhadap persoalan persoalan tertentu..termasuk poligami dan jihad..

      semua jenis jihad adalah amalan yang utama..
      tidak perlu kita angkat salah satu jenis jihad yg mampu kita lakukan lalu merendahkan jenis jihad lain yang belum bisa kita laksanakan….baik itu jihad berperang,menuntut ilmu,dakwah, atau bahkan “hanya” sekedar membantu nenek nenek menyeberang ( bahkan ada yg memasukkan ini kedalam jenis jihad)..

      bagi kita yang masih mampu berjihad secara dakwah lisan marilah terus menegakkan kebenaran lewat tulisan dan ucapan yg mencerahkan..

      tapi jangan pula kita merendahkan mereka yang benar benar mampu untuk mengutamakan berjihad perang di tanah tanah dimana saudara muslim dihina dinakan.
      toh mereka yg ikut berperang disana tidak pernah menganggap kita disini sebagai mukminin lemah pelaksana jihad yg lemah..

      cukuplah kita jalankan peran kita masing masing sesuai kadar kemampuan kita..

      komentar saya hanyalah sebuah kemirisan hati,bahwa telah banyak orang orang muslim disekitar kita yg terpengaruh menggelincirkan pemahaman terhadap jihad..
      bahkan sampai menggunjing para mujahid yang ikhlas mengorbankan jiwa raganya..padahal para mujahid itu sendiri tidak pernah merugikan mereka yg menggunjing itu..
      mereka semata mata berperang lillahi taala karna diberi kemampuan yg lebih oleh allah..

      demikian halnya mereka yg mampu berpoligami,janganlah kita menggunjing mereka karna pastinya allah telah memberikan kemampuan lebih untuk menjalankannya..

      mari kita pelihara hukum hukum itu tetap pada tempatnya..
      senatiasa bersyukur dan berdoalah kita diberi kemampuan yang lebih dari hari ini dalam menjaga tegaknya panji panji islam..

      wallahu alam..

      wassalam..

      • erzal 5:19 am on 12/05/2009 Permalink | Reply

        assalamualaikum wr wb…terima kasih banyak untuk eka atas komentarnya yg cukup menarik …..

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel