Updates from November, 2007 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 1:19 pm on 11/11/2007 Permalink | Reply
    Tags: PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD DENGAN SITI AISYAH   

    PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD DENGAN SITI AISYAH 

    Pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Aisyah

    Author

    Post

    hamba

    14 Jul 05 – 3:07 pm
    Total Topics: 27
    Total Posts: 0
    Totall Reply 0

    hamba's avatar

    Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya, ” Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?” Saya terdiam. Dia melanjutkan,” Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya,” Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya. Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.

    Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti .

    Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah thd orang tua dan suami tua tersebut.

    Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur dibawah 18 tahun , dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

    Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya thd Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

    Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

    BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER

    Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya,Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.
    Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

    Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

    Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

    Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

    KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

    KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

    pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
    610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam
    613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
    615 M: Hijrah ke Abyssinia.
    616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
    620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
    622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
    623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

    BUKTI #2: MEMINANG

    Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

    Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

    Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).

    Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

    KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

    BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

    Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

    Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

    KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

    BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

    Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).

    Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

    Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

    Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

    Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

    Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

    Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

    Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

    kesimpulan: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

    BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

    Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

    Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.

    Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

    Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

    KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

    BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

    Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

    Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih
    suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

    Kesimpulan: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

    BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

    Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

    Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”.
    Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

    Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

    BUKTI #8. Text Qur’an

    Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

    Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

    Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

    Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

    Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

    Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

    AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.

    Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

    BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

    Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

    Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

    Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

    Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

    kesimpulan: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

    SUMMARY:

    Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

    Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di
    Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

    Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

    sumber :
    The Ancient Myth Exposed
    By T.O. Shanavas , di Michigan.
    © 2001 Minaret
    from The Minaret Source: http://www.iiie.net/

    Diterjemahkan oleh : C_P

    Total Reply 0 | Read 585 hits | Beritahu Teman | Print | Reply this Entry

    Home War Siyasah E-Book Foto Galery Islam Fakta Hikayat | Chatting
    Active  Forum Arsip1 Arsip-0

    Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta’ala
    TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
    untuk kemaslahatan ummat syukur Alhamdulillah sumber dari swaramuslim dicantumkan

    Questions & suggestion or problems regarding this web site should be directed to webmaster

    Copyright © Sep 2002 – swaramuslim – power with Pmachine All right reserved

    in association with Muslim Netters Association

    best viewed with IE Resoluton 1024 X 768

     
    • arya 5:43 am on 27/05/2008 Permalink | Reply

      Subhanallah..mudah2an anda tetap istiqomah dalam membela Islam amin..

    • erzal 3:42 am on 28/05/2008 Permalink | Reply

      Comment »

      1.

      Subhanallah..mudah2an anda tetap istiqomah dalam membela Islam amin..

      Comment by arya — May 27, 2008 @ 5:43 am | Edit This…………AMIN YA RABBAL ALAMIN

    • Ses Joko 5:18 am on 11/09/2009 Permalink | Reply

      Subhanallah,
      Mas..tolong dibela juga tulisan2 dibawah ini dong. Nabi Muhammad kan tauladan paling sempurna utk kita umat manusia, jadi kelakuannya pantas untuk kita teladani. Dibawah ini kisah pernikahan sang nabi dengan Istri2nya. Mohon dibela karena sepertinya tulisan ini sangat mendiskreditkan sang nabi. Kita tidak usah mencari siapa penulisnya, tapi yg perlu kita nilai adalah kebenaran tentang tulisan ini, karena sumbernya dari orang2 muslim sendiri.

      Terus terang saya ga mau ikut ajaran karena asal2an tapi saya ingin belajar bener2…tolong dijelaskan, cari pembelaannya.

      ISTRI – ISTRI SANG NABI MUHAMMAD SAW

      1. Khadijah bint Khuwailid

      [23] Ini tentu masuk akal, tetapi juga mengingat akan kemiskinannya. Empat orang anak perempuan lahir dari pernikahan pertamanya dengan Khadijah.[24] Ahli sejarah Muslim lain yang melaporkan fakta tersebut juga menyepakati bahwa Khawlah, anak perempuan Hakim Al-Silmiya bertanya kepada Muhammad: “Apakah engkau ingin menikahi seorang perawan atau seorang bukan perawan?” Khawlah mengatakan kepadanya: “Seorang perawan adalah Aisyah dan seorang bukan perawan adalah Sawda bint Zam’a; ambillah siapapun yang engkau inginkan.” Sang nabi menjawab, “Saya akan menikahi keduanya. Katakan kepada mereka.” Khawlah melakukannya dan Muhammad menikahi keduanya.[25]

      Istri pertama Muhammad adalah Khadijah, anak dari Khuwailid. Dia adalah wanita yang cukup dikenal di Mekah, janda kaya yang mewarisi kekayannya dari suaminya. Ketika dinikahi Muhammad, umurnya 40-an dan Muhammad berumur 25 tahunan. Alasan pernikahan mereka cukup jelas. Muhammad miskin, dan pamannya, Abu Talib, menjadi walinya setelah kematian kakeknya, lebih miskin. Dengan alasan ini, Muhammad tidak dapat menikah, walaupun dia terlambat 5 tahunan dari lazimnya orang yang menikah pada umur 20 tahun. Pernikahan Muhammad dengan Khadijah dilakukan dengan mediasi dari Naufal, paman dari Khadijah dengan beberapa persyaratan pra-nikah termasuk menikah di dalam gereja. Pamannya, Abu Talib, sepakat terhadap persyaratan-persyaratan tersebut dan mengatakan “Terpujilah Allah yang mengambil kesusahaan kita dan menghilangkan kekhawatiran kita.” maksudnya bebas dari kemiskinan!

      Ketika saya memasuki SMA, guru-guru agama selalu mengatakan bahwa Muhammad menikah dengan banyak wanita, untuk menguatkan Islam, untuk memperkayanya dengan darah suku yang baru dan untuk menguatkan hubungan antara kaum Muslim. Sangat jelas bagi saya dan murid lainnya bahwa guru-guru itu berbohong; dan asal bunyi saja! Mereka hanya mengulang apa yang dikatakan pendahulu-pendahulu mereka. Namun, kita mempelajari (dan akan diperlihatkan disini) bahwa tidak ada satupun pernikahan Muhammad yang sesuai dengan kesaksian guru-guru itu. Bahkan sebaliknya, semua pernikahan itu didasarkan pada keinginan pribadi dan hanya untuk memenuhi nafsunya, entah itu untuk uang, sebagaimana dengan Khadijah atau untuk kepuasan birahi seks. Apakah karakter demikian pantas disebut nabi besar?!!!

      Dr. Aisha Abdul Rahman (dikenal dengan nama bint Al-Shati’) mengatakan dalam bukunya, The Wives of the Prophet (Istri-Istri Sang Nabi): “Muhammad menemukan di dalam Khadijah, belas kasih seorang ibu yang tidak dia dapatkan pada masa kecilnya.”

      2. Aisyah bint Abu Bakar

      Semua ahli sejarah Muslim sepakat bahwa Muhammad langsung menikah setelah kematian Khadijah.

      Pengarang-pengarang lainnya agaknya telah membuat suatu kesalahan disini. Kenyataannya, Khawlah tidak menyebutkan Aisyah, melainkan mengatakan: “anak perempuan dari kawanmu Abu Bakar,” yang merujuk kepada anak perempuannya yang paling tua, Asma’ umur 18 tahun, dan bukan Aisyah. Tidak logis bagi Khawlah untuk merujuk kepada Aisyah yang baru berumur 6 tahun.

      Tetapi Muhammad sendiri yang memilih untuk menikahi Aisyah yang berumur enam tahun daripada Asma’, kakak perempuannya!

      Muhammad menikahi Aisyah ketika dia berumur 6 tahun, namun dia tidak melakukan hubungan badan dengannya hingga dia berumur 9. Dimanakah ada aturan moral di dunia ini yang mengizinkan seorang anak perempuan berumur 6 tahun untuk menikahi seorang laki-laki yang berumur lebih dari 50 tahun? Jika sesuatu seperti ini terjadi dalam sebuah masyarakat dengan hukum yang beradab, orang tersebut – bila ia waras – akan dilempar ke dalam penjara. Saya berharap cerita tersebut tidak benar, namun sayangnya, semua referensi Islam memastikan keaslian dan kebenarannya! Bagaimana Allah bisa sedemikian masa-bodo dan tidak adilnya, mengingat ulama Muslim membenarkannya: “Allah memilih dan menuntun dia dalam pernikahan – pernikahan tersebut?”

      Kita membutuhkan sebuah jawaban yang datang dari hati nurani dan datang dari Kebenaran, bukan dari fanatisme buta, ketakutan dan harga diri.

      *[Wahyu yang berkata “Aku hanya manusia biasa seperti kamu”, kembali diuji ketika Muhammad meninggal dan sekaligus menjadikan semua istrinya janda yang tidak boleh menikah lagi.]

      Tatkala itu Aisyah baru berumur sekitar 18 tahun. Namun, janda muda ini, diharamkan untuk menikah lagi. Mantan Istri-istri sang nabi tidak diizinkan untuk menikah atau berpacaran lagi, sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Mengapa Allah melakukan ini? Adakah keadilan dan kasih sayang di dalam perintah itu? Saya tak tahu lagi bagaimana melanjutkan diskusi tentang nasib Aisyah, yang masa kanak-kanaknya sudah dikorbankan, dan kini masa janda mudanya masih dicekal!

      [Kita teringat satu tantangan dalam website “ex-Muslim” Faith Freedom International, yang berkata: “Saya bersumpah akan kembali ke Islam jika ada Muslim di situs ini yang merelakan puteri mereka yang berumur 9 tahun untuk berbagi ranjang dengan saya sesuai dengan apa yang dicontohkan (sunnah) oleh Muhammad.]

      3. Zainab bint Jahsy

      Pernikahan ketiga Muhammad adalah sebuah tragedi moral terbesar, yang hanya berisi nafsu seks dan birahi belaka. Selagi Anda membaca, coba tanyakan pada diri Anda sendiri, “Dimanakah pertalian dan penguatan suku dalam sebuah perkawinan ini?” “Adakah hubungan antara pernikahan ini dengan kenabian?”

      Khadijah, istri pertama dari Muhammad, membeli seorang budak bernama Zayd Ibn Haritha yang kemudian diberikannya sebagai hadiah kepada suaminya, untuk menjadi pelayannya. Namun setelah Muhammad mendapat panggilan kenabian, dia membebaskan Zayd dan mengadopsinya sebagai anak di muka umum, dimana dia berkata, “Zayd adalah anakku, saya mewarisinya dan dia mewarisiku.” Setelah itu, dia kemudian dikenal dengan sebutan “Zayd, anak dari Muhammad.” Singkat cerita, akhirnya, Zainab menikahi Zayd atas desakan Muhammad. Namun yang terjadi kemudian sangatlah aneh, mengejutkan dan menjijikkan.

      Suatu hari Muhammad pergi untuk mengunjungi anak angkatnya, Zayd. Ketika dia memasuki rumah Zayd, dia sedang tidak ada di rumah. Muhammad melihat Zainab setengah telanjang dibalik tirai ketika dia sedang berpakaian. Muhammad menginginkannya, namun dia takut untuk masuk. Sebelum dia pergi, dia berkata kepadanya., “Terpujilah Allah yang dapat merubah hati seseorang.” Zainab senang dan kemudian memberitahukan kunjungan tersebut dan pernyataan Muhammad pada suaminya. Zayd langsung menemui Muhammad dan bertanya: “Apakah engkau menginginkan aku menceraikannya untukmu?” Muhammad menjawab: “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Pada awalnya merupakan sikap yang masih mulia dari Muhammad. Namun, yang terisi dalam hati dan jiwa Muhammad sangat berbeda dengan apa yang dikatakan mulutnya, karena dia benar-benar menginginkannya sebagaimana yang dicatat oleh Al-Zamkhashri: “Penampilan luar dari Muhammad berbeda dengan apa yang ada di dalamnya..”

      Al-Qur’an menyatakan kepada kita bahwa Muhammad jatuh cinta dan menginginkan Zainab menjadi istrinya. Tetapi dia ragu terhadap perkataan orang tentang dirinya, mengambil istri dari anak angkatnya. Namun Allahnya Muhammad mendatanginya untuk memarahinya atas keragu-raguannya. Anehnya, justru Allah yang menginginkan wanita itu untuk meninggalkan suaminya dan melanggar semua norma moralitas, agar Muhammad bisa mendapatkannya. Ini jelas terlihat dalam Al-Qur’an:

      “Dan, ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zayd telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya, Kami kawinkan kamu dengan dia…”

      Waktu tidak berlangsung lama antara Surat 33:36 (ketika Allah lewat Muhammad meyakinkan Zayd sebagai laki-laki mukmin untuk tetap dalam pernikahan yang dia walikan) dan Surat 33:37, dimana Allah berbalik memerintahkan Zayd untuk meninggalkan Zainab sehingga sang nabi itu dapat menikahinya. Apa yang mengakibatkan Allahnya sang nabi itu untuk merubah pikirannya? Apakah tuhan itu sebuah mainan di tangan Muhammad, sehingga sebuat ayat baru akan turun untuk meniadakan ayat yang datang sebelumnya?

      *[Sungguh aneh, bahwa tuhannya Muhammad tidak merekonsiliasikan dan tidak mampu menolong kelangsungan keluarga Zayd-Zainab. Dan Muhammad tidak tampak membantu mendoakan pemulihan keluarga ini lewat kuasa Tuhan. Sebaliknya, Allah yang satu ini – seperti manusia saja – hanya merasa perlu buru-buru menggantikan kehancuran rumah tangga tersebut (yang adalah keluarga dari anak angkatnya Rasul Allah) dengan menetapkan perkawinan yang baru untuk Muhammad?]

      Macam apakah tuhannya yang satu ini?

      Dalam bukunya, The Life of Muhammad, Dr. Haykal menolak cerita tentang Zayd dan Zainab ini. Dia mendeskripsikannya sebagai sesuatu yang memalukan dan dia menuduh kaum misionaris dan peneliti Barat mengada-adakannya untuk menjatuhkan Islam dan nabinya. Ketika saya masih seorang Muslim, saya berharap Dr. Haykal benar dan semua cerita merendahkan terhadap Muhammad memang kebohongan belaka. Namun, kita harus menatap fakta pahitnya dan membaca jawaban Dr. bint Al-Shati’, seorang ulama Muslim yang cukup terkenal, yang menyatakan kebenaran apa adanya:

      “Cerita tentang Muhammad, sang Rasul, yang mengagumi Zainab … dan bagaimana dia meninggalkan rumah Zainab dengan berkata, “Terpujilah Allah yang merubah hati seseorang”, diceritakan kepada kita oleh pendahulu-pendahulu yang baik seperti Imam Al-Tabari dalam buku sejarahnya dan oleh Abu Ja’far Ibn Habib Al-Nabeh dan yang dikasihi Al-Tabari, dan tetangga Allah, Al-Zamkhashri. Orang-orang tersebut mengkisahkan cerita ini sebelum dunia mendengarkan Perang Salib, penginjilan, dan misionaris Barat. … Mengapa kita harus menyangkal bahwa sang Rasul adalah manusia yang melihat Zainab dan mengaguminya… Muhammad tidak pernah menyatakan dirinya sempurna, tanpa nafsu manusia. Sebagaimana dia bergairah ketika melihat Aisyah daripada istri-istrinya yang lain, dia mengatakan, “Allah, jangan salahkan aku karena tidak memiliki apa yang engkau miliki (kemampuan menahan diri).”

      Semua kisah diatas adalah fakta, dibenarkan oleh para tokoh Muslim, bukan rekayasa misionaris Barat seperti dituduhkan oleh Haykal.

      *[Bahkan pihak Muslim pulalah yang ingin menyembunyikannya atau – seperti halnya Ibn Kathir – menghapusnya dari khazanah Islam karena dianggap tidak sehat, “kami ingin menghapus beberapa halaman dari kisah tersebut, sebab tidak sehat, dan kami tidak akan sebut lagi”. (Ibn. Kathir, Tafsir, vol.3, p.491)]

      Apakah seharusnya kita masing-masing memiliki tuhan dan “jibril” kita sendiri-sendiri agar kita dapat melakukan apa yang kita mau, dan menolak apa yang tidak kita inginkan, dengan berkedok bahwa tuhan yang memerintahkannya lewat “jibril” demi membenarkan tindakan kita?

      Mari kita bandingan hal ini dengan kehidupan Raja Daud, “Nabi Daud” bagi kaum Muslim. Daud bernafsu atas istri orang lain. Namun betapapun dia disayangi oleh Tuhan, Tuhan tidak membiarkan perselingkuhan tersebut terjadi begitu saja hanya karena Daud adalah seorang nabi dan seorang raja. Sebaliknya, Tuhan menegur dan menghukumnya dengan keras. Ancaman Tuhan berkumandang di seluruh Israel (!) saat Dia berkata kepada Daud: “Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan menambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.” (2 Samuel 12:10).

      Daud menjawab dengan ratapan:

      “Kasihanilah aku, ya Tuhan, menurut kasih setiaMu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku…. Jadikanlah hatiku tahir, ya Tuhan, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:3-5, 12)

      Dengan kata lain, Tuhan adalah Tuhan yang suci dan murni yang tidak berkompromi dan berkonsesi dengan dosa. Kesuciannya untuk dosa siapapun, baik itu Daud maupun Muhammad. Tuhan yang Sejati menghukum dosa dan tidak malah memberinya hadiah! Sebaliknya Muhammad melakukan apa saja yang ia mau dan itu absah saja.

      Zainab sendiri menjelaskan:

      “Setelah bercerai, langsung dan lihatlah, Rasul Allah memasuki rumah saya saat saya sedang tidak berjilbab dan saya bertanya kepadanya, “Apakah akan seperti ini tanpa wali atau saksi?” Dia menjawab kepada saya, “Allah adalah walinya dan “jibril” adalah saksinya.”

      Akibat dari pernyataannya, Zainab menyombongkan diri di depan istri-istri Muhammad lainnya dengan mengatakan: “Ayah-ayahmu yang memberikan kamu dalam pernikahan, namun untuk saya, surgalah yang memberikan saya dalam pernikahan dengan Rasul Allah.”

      Namun agar Muhammad bisa keluar dari issue sah tidaknya ia mengawini Zainab, kembali “jibril” siap sedia menurunkan ayat dari tuhannya, menyatakan bahwa dia tidak bukan mengadopsi Zayd seperti yang umum maksudkan. Sehingga, khusus menikahi Zainab sesungguhnya sah: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

      Ulama terpandang mencatat dalam bukunya, Al-Sira Al-Halabia: “Jika Muhammad bernafsu atas wanita yang sudah menikah, menjadi keharusan bagi suaminya untuk menceraikannya untuk dia (Muhammad).

      [Sedangkan ada seorang Nabi lain yang justru mengatakan dalam otoritas dan kekudusanNya: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”. (Mat.5:27-28)]

      Jadi dimanakah alasan-alasan yang dilemparkan para ulama bahwa pernikahan Muhammad hanya semata untuk menguatkan hubungan Islam antar suku? Dimanakah aspek “demi kepentingan Islam”nya?

      4. Safiyah bint Huyay

      Pernikahan Muhammad ke-4 adalah dengan Safiyah, anak perempuan dari Huyay, seorang Yahudi. Pada waktu itu adalah tahun ke-7 Hijrah,

      Setelah serangan tersebut, Dihya Al-Kalbi, meminta kepada Muhammad atas beberapa tawanan wanita. Muhammad mengatakan: “Pergilah dan ambillah siapapun yang sesuai denganmu.” Dihya mengambil Safiyah, namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama karena salah seorang anak buah mengatakan kepada Muhammad: “Wahai, Rasul Allah, apakah engkau memberikan Safiyah kepada Dihya? Hanya engkaulah yang berhak mendapatkannya.” Muhammad mengatakan: “Bawa Dihya dan Safiyah kemari.”

      Ketika mereka datang kehadapannya dan dia melihat Safiyah yang cantik, dia berkata kepada Dihya, “Pergi dan ambillah wanita lain.” Dia kemudian memerintahkan pembantu perempuannya untuk menyiapkan Safiyah, sehingga dia dapat bersetubuh dengannya pada malam yang sama. Umm Salamah mendiskripsikan Safiyah demikian: “Saya tidak pernah melihat dalam hidup saya wanita yang lebih cantik dari Safiyah.”

      Ketika Muhammad menikahinya, Safiyah baru berumur 17 tahun, dan masih dalam bulan pertama pernikahannya dengan Kinana. Muhammad berumur enam puluh dua tahun. Dan tiga tahun kemudian Safiyah menjadi seorang janda untuk kedua kalinya, pada saat Muhammad meninggal. Namun, beda dengan janda sebelumnya, kali ini dia tidak diperbolehkan untuk menikah lagi. (Beginikah model perkawinan yang di sunnah-kan Nabinya?) Dan Muslim masih juga mengimani bahwa sang nabi menikahi banyak wanita – sekalipun itu di bawah umur – adalah untuk memperkuat ikatan Islam atau karena nabi berbelas kasihan kepada mereka? Namun pandangan saya sekarang jadi jelas dan saya lebih mengerti, ketika diperhadapkan dengan pernikahan Khadijah, Aisyah, Zainab, dan Safiyah.

      5. Juwairiyyah bint Al-Haris

      Pernikahan yang ke-5 adalah dengan Juwairiyyah bint Al-Haris. Juwairiyyah berumur 20 tahun ketika Muhammad pada usia 59 menikahinya. (Ju

      wairiyyah dinikahi satu tahun sebelum Safiyah). Aisyah, yang katanya dikenal sebagai “Ibu Orang Beriman” mengkisahkan” ceritanya:

      “Ketika Rasul Allah (Muhammad) membagi-bagi tawanan dari anak-anak Mustaliq, Juwairiyyah diberikan kepada Thabit bin Qais.

      Di manakah pertalian antara kaum Muslim dalam masing-masing pernikahan, terutama pernikahannya dengan seorang Yahudi? Apakah karena belas kasihan sehingga dia (Muhammad) menikahi bani asing, padahal dia telah menyogok Thabit dengan uang supaya dia membiarkannya sendiri? Ini adalah pertanyaan yang saya ajukan kepada kaum Muslim.

      6. Umm Salamah

      Pernikahan keenam dari Muhammad adalah dengan wanita cantik lainnya yang bernama Umm Salamah. Lagi-lagi Aisyah, korban pertama dari sang nabi besar, mengatakan: “Ketika Rasul Allah menikahi Umm Salamah, saya terpuruk dalam kesedihan besar saat dia membicarakan kecantikannya, namun ketika saya melihatnya, saya melihat apa yang dia gambarkan.”

      Umm Salamah adalah anak perempuan dari saudara perempuan ‘Utsman bin Affan (khalifah yang ketiga). Ketika Muhammad pertama kali melihatnya di rumah ‘Utsman, dia lalu mengingininya. Dua puluh empat jam kemudian, nabi memerintahkan suaminya, Ghassan bin Mughira untuk membawa bendera di depan pada pertempuran berikutnya. Dia mela-kukannya dan dia tewas dalam pertempuran itu. Keesokan harinya, sang nabi besar itu menikahi Umm Salamah. Begitulah cara dia menjadi istrinya.

      Aneh memang kehidupan dari sang nabi ini. Sungguh teramat ganjil bilamana semua itu atas perintah Allah demi agama yang diturunkannya! Dan terlebih ganjil lagi bilamana banyak ulama Muslim mengatakan itu adalah belas-kasihan sang Nabi kepada para janda perempuan!

      Tuhan macam apa yang tidak mempunyai pekerjaan lain selain dari memastikan kehidupan seks sang nabi terpuaskan? Tuhan macam apa yang akan memastikan seorang suami dibunuh, atau seorang wanita diceraikan agar sang nabi dapat mendapatkan wanita yang dia inginkan? Tuhan saya Yang Maha Benar berada di atas hal-hal ini dan merataplah mereka ketika mereka berdiri di hadapan Tuhan Yang Sejati pada Hari Penghakiman. Apakah umat Muslim pernah memikirkan dengan jujur mengapa kekerasan terjadi dalam lingkaran-lingkaran Islam, yang diyakini sebagai agama pembawa damai dan rahmat bagi alam sejagat ini?

      7. Sawdah bin Zam’ah

      Ini adalah kisah mengenai pernikahan Muhammad dengan Sawdah bin Zam’ah. Dia adalah satu-satunya istri Muhammad yang tidak cantik. Namun, banyak ahli Muslim menggambarkannya sebagai seseorang yang baik hati dan sangat cantik di dalam.

      Ketika Khadijah meninggal, Khawlah bint Hakim mendatangi Muhammad dan dia bertanya kepadanya, “Apakah engkau menginginkan seorang perawan atau janda?” Dia (Muhammad) meminta kedua-duanya. Yang perawan adalah anak perempuan Bakar dan yang bukan perawan adalah Sawdah. Namun dia terkejut setelah mengetahui, pada malam pernikahannya bahwa Sawdah tidak cantik. Muhammad marah dan memarahi Khawlah karena memperkenalkannya dengan dia. Ibn Hajar Asqalani menulis: “Khawlah, guna memperbaiki kesalahannya, menawarkan dirinya kepada dia (Muhammad), dan dia tinggal bersamanya sebagai suami dan istri, dan itu hanya terjadi dua bulan setelah pernikahannya dengan Sawdah.”

      [38] [39] [40]

      Dr. bint Al-Shati’ mengatakan dalam bukunya:

      “Ketika suatu malam dengan Sawdah (dimana dia akan tidur dengannya), sang nabi memberitahunya tentang keputusannya untuk menceraikannya. Dia sangat terkejut mendengar berita itu dan dia merasa seolah-olah dinding-dinding sedang menimpanya. Dia memohon kepadanya, “Tolong, simpan aku, Wahai Rasul Allah.” Dia menjawabnya, “Dengan satu syarat, bahwa kamu memberikan jatah malam-malammu kepada Aisyah.” Daripada menghabiskan malam-malam tersebut dengan Sawdah, dia menghabiskannya dengan Aisyah ditambah dengan malam-malam lain yang sudah dijatahkan baginya. Sawdah sepakat, sambil mengatakan, “Mulai sekarang, saya tidak akan mengingini apa yang diinginkan oleh seorang wanita, karena saya memberikan jatah malam saya kepada Aisyah.” Akibatnya, Muhammad menyimpannya sebagai seorang istri, tetapi tidak lagi mengunjunginya.”

      Hanya dialah istri Muhammad yang tidak cantik secara fisik. Namun, ia adalah yang paling cantik dalam karakter dan moral. Tetapi bagi sang nabi soal karakter, moralitas dan kecantikan jiwa sama sekali tidak disyaratkan. Dia malah mengancam akan menceraikannya, jika dia tidak setuju untuk memberikan jatah malamnya kepada Aisyah. Sawdah yang teramat malang…

      8. Umm Habibah (Ramlah) bint Abu-Sufyan

      Umm Habibah sebelumnya menikah dengan Ubayd-Allah bin Jahsh. Ubayd-Allah adalah anak dari bibi Muhammad sendiri, dan sekaligus adalah saudara kandung dari Zainab yang dikawini Muhammad seminggu sebelumnya, dan apa yang terjadi dalam acara perkawinan tersebut? Ternyata ia menantang Muhammad dengan berkata kepadanya: “Engkau bukanlah seorang nabi ataupun seorang Rasul Allah. Berhentilah mengatakan demikian. Saya mengimani Al-Masih karena Dia adalah Kebenaran, tetapi engkau adalah orang yang mementingkan diri sendiri.” Ubayd dipaksa untuk pergi dan Muhammad menikahi isterinya. Pada waktu itu, Umm Habibah adalah seorang wanita cantik, berusia dua puluh tiga tahun.

      9. Maryam Qibtiyah (Maria, Kristen Mesir)

      [41]

      Kisah Muhammad dengan Maria orang Mesir agak berbeda. Amro bin Al-Aaz membawa sebuah surat dari Muhmmad kepada Al-Muqawqis, penguasa Mesir, dan memerintahkan untuk memeluk Islam. Mengetahui kelemahan Muhammad, agar tidak beresiko, dia memberikannya hadiah berupa dua orang saudara perempuannya yang sangat cantik. Jika bukan karena sebuah ayat Al-Quran yang turun sebelumnya yang melarang menikahi dua orang saudara perempuan, Muhammad mungkin akan melakukannya. Walaupun demikian, dia hampir melanggar ayat Allah itu, dan menikahi mereka berdua, jika bukan karena nasihat ayah mertuanya, Umar, yang menegurnya. Muhammad puas dengan Maria, mengunjunginya dan menghabiskan banyak waktu siang dan malam dengannya tanpa bosan-bosan.

      Satu kali Maria ingin bertemu dengan Muhammad, jadi dia pergi untuk menemuinya di rumah istrinya, Hafsah, puteri dari Umar, yang sedang tidak ada di rumah pada waktu itu. Tetapi ketika Hafsah tiba-tiba pulang, dia menemukan Muhammad sedang berhubungan intim dengan Maria di tempat tidurnya sendiri! Dia berkata kepada Muhammad:

      “Di dalam rumahku dan di atas tempat tidurku dan pada hari yang ditentukan untukku…” Nabi, yang menerima pewahyuan Allah berkata: “Rahasiakanlah dan jangan katakan siapapun. Jangan katakan kepada Aisyah (karena ia sangat takut terhadap Aisyah). Dia menambahkan: “Saya tidak akan menyentuh Maria lagi. Dan saya nyatakan kepadamu dan ayahmu serta ayah Aisyah, bahwa mereka akan memimpin bangsaku setelah aku. Saya tinggalkan hal itu kepada mereka”. Tetapi Hafsah memberitahu Aisyah dan Muhammad menceraikan Hafsah.

      Ketika kabar mengenai perceraian tersebut terdengar oleh Umar, ayah Hafsah, dia menjadi sangat marah dan nyaris meninggalkan Islam. Ketika Muhammad mendengar reaksi Umar, dia mengambil kembali Hafsah dengan sebuah perintah dari “jibril”yang berkata kepadanya: “Hafsah akan menjadi istrimu pada hari pengangkatan.”

      Dalam surat 66:4-5, Allahnya Muhammad memberitahu istri-istri sang nabi:

      “Jika kalian berdua (merujuk kepada Aisyah dan Hafsah) bertobat kepadanya, hatimu memang demikian keinginannya; namun jika kalian saling mendukung melawannya, sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan jibril dan (semua) orang benar diantara mereka yang beriman dan lebih dari itu, para malaikat akan mendukungnya. Jikapun, bila diinginkannya sang nabi untuk menceraikan kamu semua, Allah akan memberikan kepadanya (Muhammad) sebagai gantinya, pendamping-pendamping yang lebih baik darimu.”

      Tidakkah itu semua menunjukkan bahwa Muhammad memiliki tuhan yang mendukungnya secara kebablasan?

      *[Coba bayangkan sejenak, untuk menyelesaikan love affair dan kecemburuan akibat ulah Muhammad sendiri, Allah sampai mengerahkan diriNya serta “jibril” dan seluruh umat beriman untuk membela sang nabi, dalam menentang dua wanita tak berdaya, Aisyah dan Hafsah, dengan memberikan ancaman dan ultimatum yang mematikan masa depan mereka.]

      Allah berkata: “Jika kamu tidak berhenti menentang rasul Allah, Aku, Tuhannya, akan membuatnya menceraikanmu dan menikahi istri-istri lebih baik darimu.” Apakah Sang Pencipta dari alam semesta ini benar-benar tidak mempunyai pekerjaan yang lebih layak daripada mengurus langsung permasalahan yang amat sepele?

      *[Dimanakah hikmat yang telah Allah berikan kepada setiap orang, apalagi kepada nabiNya, untuk private problem solving masing-masing?]

      Saya yakini bahwa tuhan dengan kwalitas seperti itu pastilah bukan Tuhan, kecuali jebakan yang saling menipu daya dari atas ke bawah.

      Terdapat banyak keganjilan mengenai kehidupan seorang nabi. Tetapi yang lebih ganjil lagi jika melihat umat Muslim yang membaca dan melihat realitas kehidupan Muhammad, namun tetap berjalan di belakang orang tersebut! Mengapa? Saya sudah ungkapkan mengenai “ketakutan terhadap yang menakutkan” yang menguasai dunia (pikiran) Islam. Dalam kenyataannya, banyak orang Muslim mengetahui betul sejarah hidup Muhammad; tetapi terperangkap dalam rethorika, intimidasi, teror dan ketakutan yang menguasai mereka. Kematian adalah hukuman bagi mereka yang meninggalkan Islam.

      [46] Sejarah telah menceritakan kepada kita bahwa Abu Bakar memerintahkan sepuluh ribu orang dibunuh dalam tiga hari karena mereka memilih meninggalkan Islam.

      10. Maimunah bint al-Haris

      Maimunah mengakhiri bab (topik kawin-mawin) kita yang amat sangat melecehi dan menyakitkan wanita. Saya mengkisahkan kepada Anda, cerita dari Maimunah untuk memperjelas sebuah unsur penting: Muhammad melarang banyak hal untuk orang lain, tetapi dia mengizinkannya untuk dirinya sendiri. Kaum Muslim mengetahui bahwa selama musim haji (Al-Hajj) pernikahan dilarang46a, namun Muhammad justru menikahi Maimunah bint al-Haris pada saat musim haji. Maimunah sedang berada di atas untanya, tetapi ketika dia melihat sang nabi, dia menjatuhkan dirinya dihadapannya dan berkata kepadanya bahwa unta dan semua yang di atasnya adalah milik nabi. Muhammad masih sempat mengingatkan dia bahwa mereka tengah dalam musim haji, namun Maimunah menjawab bahwa dia tidak ingin menunggu.

      Apakah mungkin untuk Muhammad untuk menahan diri hingga akhirnya musim haji? Pengalaman masa lalunya membuktikan dua hal: dia tidak dapat menolak kecantikan wanita dan sebuah solusi selalu tersedia untuknya. Sorenya pada hari yang sama, sang nabi berkata kepadanya, “Sebuah ayat diturunkan kepadaku”:

      ”… dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min … supaya tidak menjadi kesempitan bagimu…”

      Sehingga Al-Abbas, paman nabi meresmikan, walau ia pernah mengomentari bahwa Muhammad sedang dalam pakaian Haji.

      Terlepas bahwa Muhammad memiliki banyak istri, Rasul Allah ini lagi-lagi tidak dapat menunggu berakhirnya masa datang bulan istri-istrinya. Dia memasuki mereka pada saat mereka sedang datang bulan, walaupun hal demikian diharamkan dalam Surat Al-Baqara.

      “Jika salah satu dari kita sedang datang bulan, Rasul Allah memerintahkannya untuk datang kepadanya (Muhammad) untuk berhubungan intim, pada saat dia (istrinya) sedang berada dalam puncak datang bulannya.”

      Maimunah berkata: ”Rasul Allah biasa melakukan hubungan intim denganku ketika aku sedang datang bulan.” Umm Salamah mengatakan hal yang sama.

      Bagaimana bisa sang nabi itu dapat melakukan semua hal yang terlarang dalam agama Islam yang disiarkannya? Sangat jelas, kehidupan, tindakan dan perilakunya tidak pernah sesuai dengan model yang Tuhan perintahkan dalam ajaran-ajaran suciNya. Bagaimana mungkin para ulama berseru agar umat Muslim meneladani hidup sang Nabi?! Semoga umat Muslim dapat menggunakan kekuatan penalaran mereka untuk keluar dari bondage yang menjeratnya!

      • erzal 8:13 am on 12/09/2009 Permalink | Reply

        Tulisan mereka itu tulisan sampah yg bertujuan menjatuhkan citra Nabi Muhammad,…tentang istri2 nabi bisa dilihat disini :

        https://erzal.wordpress.com/2009/09/12/istri-istri-nabi-muhammad/

        dan disini : https://erzal.wordpress.com/2009/09/12/perkawinan-rasulullah/

        mari kita kaum muslimin sama2 membela Islam dan Nabi Muhammad dimana dan kapanpun kita berada….

        • hasan tiro 2:58 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

          menurut gw itu benar kok mas, buat yang mau referensi dan sumbernya bisa baca ttg muhammad, berikut :
          1. The Truth about Muhammad (Penulis Robert Spencer)
          2. Living by the Point of My Spear (Penulis Zaki Ameen)
          3. Setelah membaca ada baiknya anda menyiapkan Hadist dan semua referensi yang diperlukan untuk melihat buktinya yang well-documented.

          selamat mengembara kebenaran.

          • SERBUIFF 11:00 pm on 20/08/2012 Permalink | Reply

            pake jurus paulus,…..pake nama hasan tiro,..seolah2 islam ….lu mah kristen bung….dasar gerombolan pendusta…

            • wikki 5:38 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

              Muhammad meninggal ketika berumur 63 tahun. Dengan demikian ia tentu telah mengawini Aisha ketika berumur 51 tahun dan menghampirinya tatkala berumur 54 tahun (karena mereka hidup bersama serumah selama 9 tahun).pada saat muhammad meninggal aisyah berumur 18 thn

    • erzal 7:18 am on 19/09/2009 Permalink | Reply

      Age of Aishah

    • Rho-V 8:53 am on 22/09/2010 Permalink | Reply

      kesucian Nabi Muhammad SAW tidak akan ternodai oleh orang2 yang memfitnah beliau tidak ada yg tahu alasan Nabi menikahi istrinya kecuali Allah dan Rasul sendiri yang kita bisa ambil adalah hikmah dari pernikahan tersebut hikmah dari pernikahan beliau dg Khadijah kuat dan bertahannya dakwah islam dimasa awal dari Aisyah diriwayatkan banyak hadist shahih yang menjadi hujah & sumber hukum islam dari Zainab berbedanya hukum syariat tentang anak kandung & angkat & bnyk hkmh lainya yg tdk bisa saya sebutkan

    • imanuddin87 12:28 pm on 23/09/2010 Permalink | Reply

      Orang yang mengatakan bahwa poligami itu sama dengan selingkuh, maka secara tidak langsung ia menuduh bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam itu juga selingkuh, bahkan para nabi dan rasul juga selingkuh. Nabi-nabi yang diakui oleh umat Yahudi dan Kristiani, dan termaktub di dalam kitab suci mereka –walau telah ditahrif / diubah-ubah- juga melakukan poligami. Nabi Ibrahim (Abraham) ’alaihi Salam, memiliki beberapa orang isteri, diantaranya adalah : Sarah (Sara) yang melahirkan Ishaq (Isaac) –kakek buyut bangsa Israil- dan Hajar (Hagar) yang melahirkan Ismail (Ishmael) –kakek buyut bangsa Arab- ’alaihimus Salam.

      Nabi Ya’qub (Jacob) ’alaihi Salam dikisahkan juga memiliki dua orang isteri kakak adik puteri dari saudara ibunya, yang bernama Lia (Liya) dan Rahil (Rachel) [catatan : mengumpulkan dua orang saudara (adik kakak) dalam satu pernikahan dahulu diperbolehkan lalu dilarang pada zaman Rasulullah oleh al-Qur’an]. Demikian pula dengan Nabi Dawud (David) dan puteranya Nabi Sulaiman (Solomon) ’alaihima Salam yang memiliki banyak isteri dan budak wanita.

      Lantas, apakah mereka semua ini dikatakan telah melakukan selingkuh, manusia yang ’gila wanita’, hipersex, atau tuduhan-tuduhan keji lainnya? Na’udzu billahi min dzaalik. Semua umat beragama pasti faham dan yakin, bahwa para Nabi itu ma’shum (infallible/terjaga dari dosa) dan menuduh keburukan pada salah satu Nabi berimplikasi pada kekafiran… Tidakkah mereka juga mengetahui bahwa Nabi Dawud itu adalah seorang Nabi yang paling banyak beribadah kepada Alloh, bahkan beliau adalah orang yang paling sering melaksanakan puasa. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari dan sunnah ini pun akhirnya dikenal di dalam Islam dengan mana Puasa Dawud. Apakah mungkin orang yang sibuk dengan ibadah dan banyak puasanya dikatakan sebagai manusia ’haus seks’ –wal’iyadzubillah-? Bahkan bisa jadi orang-orang yang menghujat itulah yang sebenarnya haus seks sehingga ia menuduh untuk menyembunyikan sifat buruknya ini.

    • imanuddin87 12:33 pm on 23/09/2010 Permalink | Reply

      Tidak ada manusia terbaik di muka bumi ini selain Rasullullah dan tidak ada manusia teradil di muka bumi ini selain Nabi yang mulia ‘alaihi ash-Sholatu was Salam. Beliau adalah qudwah (tauladan) bagi umat manusia yang tiada sesuatu keluar dari lisan dan perilaku beliau melainkan adalah wahyu yang diwahyukan kepada beliau.

      Kaum kuffar orientalis dan pembebeknya dari kalangan liberalis sosialis feminis mencela beliau dengan celaan yang jelek dan buruk. Mereka mencela Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebagai manusia biasa yang memiliki syahwat besar dan kelainan orientasi seksual –ma’adzallah-; semua celaan dan hujatan keji ini berangkat dari hasad, kedengkian dan kebodohan mereka terhadap figur yang mulia ini dan sejarah beliau.

      Bagi siapa yang menelaah sejarah dan perikehidupan beliau, niscaya akan mendapatkan bahwa apa yang beliau lakukan adalah bebas dari tuduhan-tuduhan kaum kuffar yang dengki itu, sebagaimana bebasnya darah serigala dari baju Yusuf ‘alaihis Salam. Bagi mereka yang menggunakan kaca mata obyektivitas dan keadilan, niscaya mereka akan mendapatkan bahwa pernikahan Nabi itu adalah pernikahan yang berangkat dari upaya untuk ta`liful Qulub (melunakkan hati), tatyibun Nufus (mengobati jiwa), tamhidul ardh lid da’wah (membuka jalan dakwah), munashoroh (menolong/membantu) dan yang terakhir adalah tathbiqu haqqohu ath-thabi’i (memenuhi hak beliau sebagai tabiat/fithrah manusia), karena beliau adalah manusia biasa dan bukanlah seorang malaikat yang tidak berhasrat.

      Kami telah menyebutkan di awal pembahasan bahwa menikah merupakan sunnah para Nabi dan tabiat mendasar manusia. Bahkan Isa (Jesus) dan Yahya (John The Baptist) yang diklaim kaum Kristiani tidak menikah, tetap tidak menunjukkan akan adanya larangan menikah dan poligami baik di dalam empat injil (gospels) maupun di dalam bible, dan mereka pun tidak akan mampu menunjukkannya, walau menurut keyakinan kami kitab injil tersebut telah ditahrif (diubah-ubah).

      Kita lihat, isteri pertama Rasulullah adalah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha, seorang janda Abu Hala Hind bin Nabbasy at-Tamimi, lalu ketika Abu Hala meninggal, Sayyidah Khadijah menikah dengan ‘Atiq bin ‘Abid al-Makhzumi. Rasulullah menikahi beliau pada usia 25 tahun sedangkan Sayyidah Khadijah berusia 40 tahun. Perhatikanlah wahai kaum yang berakal, Rasulullah selama 25 tahun masa lajangnya, yang dikenal dengan orang yang jujur, amanah dan menjaga diri beliau dari keburukan, tidak pernah berhubungan dengan wanita dan wanita pertama yang beliau nikahi adalah Khadijah. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah

      seorang yang gila wanita dan syahwatnya besar –ma’adzallah, semoga Alloh melaknat kaum yang berkata demikian- niscaya beliau akan menikahi wanita-wanita pada usia remaja dimana kaumnya saat itu telah terbiasa dengan pernikahan poligami tidak terbatas dan menikah pada usia muda. Perkawinan pertama Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah berlangsung hingga tahun sepuluh kenabian atau tiga tahun menjelang hijrah.

      Sepeninggal Khadijah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditawari oleh Khaulah binti Hakim untuk menikahi salah satu dari dua orang wanita, satu perawan (Aisyah), dan satu lagi janda (Saudah), dan lihatlah!!! Rasulullah lebih memilih menikahi Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anhu, seorang janda dari Kasron bin ‘Amru bin ‘Abdi asy-Syams yang merupakan sepupunya sendiri. Sayyidah Saudah ini berbadan gemuk dan berkulit hitam –Allohumma, kami tidak bermaksud sedikitpun mencela penampilan fisik Sayyidah Saudah, dimana beliau adalah diantara wanita terbaik dan ahli surga, ibu kami kaum mukminin-. Rasulullah mau menikahi Sayyidah Saudah yang jauh lebih tua dan seorang janda yang memiliki anak banyak. Apabila Rasulullah menikahi wanita hanya untuk mengumbar syahwat, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak akan menikahi Sayyidah Saudah radhiyallahu ‘anha.

      Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar adalah isteri ketiga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Pinangan Rasulullah atas Aisyah telah menyelamatkan Abu Bakar dari dilema antara menikahkan putrinya dengan seorang kafir atau mengingkari janjinya kepada Muth’im bin ‘Adi orang tua dari pemuda kafir tersebut yang telah dijanjikan untuk menikahi putrinya. Sungguh beruntung bahwa yang terjadi justru istri Muth’im bin ‘Adi tidak menghendaki anaknya menikahi Aisyah karena tidak menginginkan anaknya masuk agama baru yang dibawa Nabi, maka pinangan Rasulullah pun diterima. Hal itu terjadi pada tahun yang sama -sepuluh kenabian-, namun baru berkumpul pada saat di Madinah tiga tahun kemudian-. Sejarah mencatat perbedaan pendapat tahun berapa Sayyidah ‘Aisyah dinikahi dan digauli, mulai usia 9-15 tahun. Namun suatu hal yang perlu dicatat, pernikahan dini usia muda ketika wanita telah mencapai baligh, bukanlah suatu penyakit pedofili atau kelainan seksual –ma’adzalloh-, namun ini kembali ke kultur adat dan budaya setempat. Kaum Quraisy telah terbiasa menikahkan puteri mereka yang berusia belia, terutama kepada orang yang mereka hormati.

      Sensitifitas modern kadang merasa risih dengan hal ini, tapi hal ini terjadi pada satu komunitas yang memandang usia 9-15 th, adalah usia terendah bagi seorang anak perempuan untuk dikawini, itupun 14 abad yang lalu. Hingga akhir-akhir inipun beberapa komunitas masih memberlakukan adat pernikahan dini. Namun demikian pernikahan anak usia dini adalah lebih baik ketimbang merebaknya pergaulan bebas yang membuat anak usia tersebut sudah tidak ada yang perawan, walaupun secara resmi mereka menikah pada usia 28 ke atas. Toh kenyataannya usia 28 sebagai patokan perkawinan di beberapa negara maju hanya berdasarkan faktor psikologis dan masalah karir serta emansipasi, namun diluar formalitas itu kebejatan seksual merebak dimana-mana pada tingkat yang paling vulgar. Perbandingannya jika ada komunitas (manapun) yang mengawinkan putrinya pada usia dini di Amerika anak usia yang sama sudah tidak perawan lagi. Perbedaan dalam agama, yang satu formal, yang satu lagi zina. Perzinaan sejak dini akan dibawa hingga masa perkawinan, maka akibatnya penyelewengan suami atau istri adalah hal biasa, dan ajaran Yesus yang tidak mengizinkan perceraian menjadi lelucon belaka. [Irene Handono, Menjawab Buku “The Islamic Invasion”, versi CHM download dari http://www.pakdenono.com]

      Isteri keempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah Hafshah binti ‘Umar bin Khaththab, janda dari Khunais bin Hudzafah as-Sahmi yang masuk Islam dan berhijrah ke Madinah bersamaan dengan Sayyidah Hafshoh. Beliau radhiyallahu ‘anhu syahid di perang Uhud. Ketika selesai masa ‘iddah-nya, ‘Umar menawarkan puterinya kepada Sahabat agung Abu Bakr namun Abu Bakr diam tidak meresponnya, sehingga marahlah ‘Umar. Lalu beliau datang ke Sahabat agung ‘Utsman bin ‘Affan dan menawarkan puterinya kepadanya, namun ‘Utsman tidak menyetujuinya sehingga murkalah ‘Umar. Melihat hal ini, Abu Bakr mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan mengadu kepada beliau, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sendiri yang melamar Hafshoh dan menikahinya sebagai penghormatan dan pemuliaan kepada ‘Umar sebagaimana Rasulullah menikahi ‘Aisyah sebagai penghormatan kepada Abu Bakr. Setelah itu Abu Bakr pun berkata kepada ‘Umar bahwa beliau diam tidak mau menjawab permintaan ‘Umar karena Abu Bakr pernah mendengar bahwa Rasulullah menyebut-nyebutnya…

      Demikianlah pernikahan nabi dengan para isteri sahabat-sahabat yang mulia ini radhaiyallahu ‘anhum ajma’in, dan beliau tidaklah menikahi mereka melainkan diantaranya adalah sebagai penghormatan dan pemuliaan kepada Abu Bakr dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Siapakah gerangan yang tidak menginginkan puterinya dinikahi oleh manusia terbaik dan teragung sepanjang masa? Siapakah gerangan yang tidak ingin dinikahi oleh manusia terbaik dan teragung sepanjang zaman?

      Sayyidah Zainab binti Khuzaimah yang digelari Ummu Masakin (Ibunya kaum miskin) radhiyallahu ‘anhu adalah isteri kelima Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Beliau adalah janda dari Thufail bin al-Harits bin ‘Abdul Muthollib yang menceraikannya, lalu dinikahi oleh sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ‘Ubaidah bin al-Harits yang juga saudara mantan suaminya, dan beliau syahid pada perang Badar meninggalkan seorang isteri yang menjadi janda tidak ada lagi yang melindunginya. Maha Besar Alloh, apakah menjaga dan menikahi janda sahabat dan sepupu Nabi yang syahid merupakan suatu bentuk kelainan seksual dan gila wanita?!! Apakah suatu bentuk mengikat jalinan silaturrahim kepada keluarga sahabat dan syahid dengan memberikan hak-hak pemeliharaan dan perlindungan atasnya adalah suatu keburukan?!! Dimanakah gerangan akal kaum yang berakal?!! Allohumma, Sayyidah Zainab pun meninggal beberapa bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Semoga Alloh meridhainya dan menjadikannya bidadari surga.

      Isteri berikut Nabi yang mulia adalah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhu yang nama asli beliau adalah Hindun bintu Suhail bin al-Mughiroh yang seorang janda dari Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abdul Asad al-Makhzumi radhiyallahu ‘anhu yang syahid di dalam peperangan Sariyah Qothn setelah sebelum sebelumnya beliau terluka para dalam peperangan uhud. Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu meninggalkan isteri dan anak yang banyak. Setelah masa iddah berlalu, Sayyidah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dipinang oleh Abu Bakr dan ‘Umar namun beliau menolaknya. Demikian pula ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meminangnya, beliau juga menolak. Alasan penolakan beliau adalah karena beliau adalah wanita yang sudah tua, banyak anak dan pencemburu. Mendengar ini, Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menjawab :

      أما ما ذكرت من غيرتك فيذهبها الله .. وأما ما ذكرت من سنك فأنا أكبر منك سنا … وأما ما ذكرت من أيتامك فعلى الله وعلى رسوله

      “Adapun mengenai sifat pencemburumu semoga Alloh menghilangkannya, mengenai umurmu yang sudah tua maka aku sendiri lebih tua darimua, dan adapun mengenai anak-anakmu yang yatim maka itu tanggungan Alloh dan Rasul-Nya.”
      Dalam pembentukan komunitas baru yang menjadikan keluarga dan perkawinan sebagai salah satu instrumennya, maka perhatian terhadap janda dan anak-anak yang ditinggal ayah mereka yang syahid akibat peperangan adalah suatu yang sudah semestinya, apalagi kesempatan mendapatkan kebutuhan sehari-­hari di tanah yang gersang tidaklah semudah yang dibayangkan, tidak heran jika ada yang menjual manusia dipasar budak demi mencukupi kehidupan sehari-hari. Langkah Rasulullah yang juga diikuti para sahabatnya untuk memperhatikan para janda dan anak-anaknya, tampak dalam beberapa perkawinan yang kita sebutkan di atas. [Irene Handono, op.cit]

      Adapun mengenai isteri beliau, Ummu Habibah Romlah bintu Abi Sufyan bin Harb radhiyallahu ‘anha, ada sebuah kisah yang perlu dijelaskan tentang latar belakang pernikahannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Ummu Habibah adalah isteri ‘Ubaidillah bin Jahsyi bin Khuzaimah, yang turut berhijrah dengan isterinya ke Habasyah (Abesinia) pada hijrah kedua. Namun terjadi fitnah dimana ‘Ubaidillah suami Ummu Habibah murtad keluar dari Islam –wal’iyadzubillah- sedangkan Ummu Habibah tetap kokoh di atas keislamannya. Beliau (Ummu Habibah) tidak dapat kembali ke Makkah dikarenakan ayahanda beliau, Abu Sufyan adalah termasuk pembesar Quraisy yang senantiasa berupaya mencederai Nabi dan para sahabat beliau. Seandainya Ummu Habibah kembali ke Makkah, akan membahayakan agama dan keadaannya. Oleh karena itu haruslah memuliakan dan membebaskan Ummu Habibah dari suaminya yang telah murtad kemudian mati di Habasyah.

      Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengirim surat kepada Najasyi (Negus) Raja Habasyah yang telah masuk Islam, memintanya untuk menjaga Ummu Habibah. Setelah hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ke Madinah, Najasyi mengirimkan Ummu Habibah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan penuh penghormatan. Ketika Abu Sufyan mendengar bahwa puterinya dinikahi oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam, begitu riang dan gembiranya dirinya dan mengakui bahwa Muhammad adalah menantu terbaiknya yang pernah ia miliki, walaupun ia memusuhi Muhammad dan agamanya… [Thobaqot Ibnu Sa’d, juz VIII, hal. 109 dst.; melalui Zaujaat Laa ‘Ayisqoot, op.cit.].

      Wahai kaum yang berakal, apakah menyelamatkan seorang wanita yang tengah bertahan mempertahankan aqidahnya dengan menikahinya, menjaganya dan melindunginya dari suaminya yang murtad dan bapaknya yang masih musyrik saat itu merupakan tindakan gila wanita dan bersyahwat besar??!!! Na’udzubillah!! Pergunakanlah akal anda wahai kaum…

      Pada tahun ke-5 H. Rasulullah menikahi, Zainab binti Jahsy, setelah diceraikan oleh Zaid bin Haritsah yang diangkat anak oleh Rasulullah pada masa sebelum kenabian, dan dinikahkan dengan kerabat Rasulullah Zainab yang tentu saja memiliki nasab tinggi di kalangan Quraisy [dari pihak ibu Zainab adalah sepupuh nabi atau cucu Abdul Mutholib]. Pada masa itu masalah nasab (keturunan) sangatlah diperhatikan oleh masyarakat Arab. Pencapaian ketinggian derajat nasab seringkali diupayakan melalui perkawinan, maka tidak heran jika satu orang bisa memiliki istri banyak, bukan sekedar karena mereka suka, tapi para istri memiliki kepentingan sendiri dengan pernikahan tersebut, termasuk untuk masalah nasab, apalagi bahwa penghormatan kepada wanita pada masa itu amatlah rendah. Fenomena tersebut tldaklah aneh saat itu, karena bangsa lain juga memiliki adat yang tidak jauh berbeda. Bahkan hingga saat ini masalah keturunan sangat diperhatikan, terlepas dari pandangan yang melatar-belakangnya: apakah karena status sosial, kekayaan, atau kebangsawanan; di kalangan muslim sebagian memandang nasab berdasarkan kesalehan beragama.

      Kembali pada masalah perkawinan Sayyidah Zainab radhiyallahu ‘anha, Rasulullah yang ingin merombak adat tersebut, demi tujuan pokok menyamakan umat manusia di hadapan Allah (tauhid), mencoba mempertemukan antara bangsawan dan mantan budak (walaupun sudah diangkat anak), rupanya hal itu belum mampu meruntuhkan rasa kebangsawanan Zainab hingga perkawinan tersebut gagal.

      Namun demikian tanggung jawab Rasulullah menghendaki beliau untuk menikahinya. Lain dari pada itu bahwa pernikahan tersebut atas perintah langsung dari Allah, sebab sebelumnya setiap kali Zaid mengadu kepada Rasulullah atas sikap Zainab, Rasulullah menasehatinya agar mempertahankan perkawinannya serta takut kepada Allah. Dengan begitu, tidak hanya masalah tanggung jawab Rasulullah mengembalikan Zainab yang merasa martabatnya telah terendahkan, namun menjadi panutan hukum bahwa anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung, maka istri yang telah diceraikannya boleh dinikahi bapak angkatnya. Namun sebaliknya wanita yang diceraikan oleh seseorang tidak boleh dikawini anaknya. [Irene Handono, op.cit.]

      Menurut Ibnu Ishaq, seorang dari sejarawan awal Muslim, Pada tahun ke 6 H. terjadi peperangan antara kaum Muslim dengan kaun Yahudi Bani Mushthaliq. Akibat peperangan ini, sebagaimana hukum peperangan yang berlaku saat itu, mereka yang kalah menjadi tawanan dan budak bagi pemenang. Diantara mereka yang tertawan adalah Juwairiyah binti al-Harits, seorang putri dari al-Harits bin Abi Dlorror pemimpin Bani Mushtholiq. Sebagai putri seorang terpandang Juwairiyah tidak rela dirinya dijadikan budak, maka ia berniat menebus kepada Tsabit bin Qois yang kebetulan saat pembagian harta rampasan mendapat dirinya. Karena tidak memiliki harta lagi, maka ia pergi menghadap Rasulullah agar dibantu melunasi tebusan tersebut. Rasulullah yang telah mengajarkan kepada para sahabatnya agar mendidik budak dan kalau bisa memerdekakan dan menikahinya (lihat bahasan tentang perbudakan), memberikan contoh dengan memerdekakan Juwairiyah dan menawarkan pinangannya, ternyata Juwairiyah mengiyakan. Dengan persetujuan Juwairiyah ini maka Rasulullah menikahinya, dan dengan pernikahan tersebut para sahabat mengembalikan harta rampasan perang, sekaligus memerdekakan ± 100 keluarga. Ibnu Ishaq mengomentari: “Saya tidak pernah melihat keberkahan seseorang atas kaumnya melebihi Juwairiyah”. [Ibid]

      Pada tahun ketujuh H, terjadi perang Khaibar. Pada saat penyerbuan ke benteng al-Qomush milik bani Nadlir, pemimpin benteng ini yaitu Kinanah bin Rabi’ suami Shofiyah binti Hay terbunuh. Dan istrinya juga istri-istri bani Nadlir yang lain menjadi tawanan. Dan seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah terhadap bani Mushtholiq, maka Rasulullah menikahi Shofiyah. Menurut keterangan Shofiyah sendiri, yang diceritakan oleh Ibnu Ishaq bahwa sebelum kejadian ini ia telah bermimpi melihat bulan jatuh di kamarnya. Ketika mimpi tersebut diceritakan kepada suaminya, ia malah mendapat tamparan dan dampratan, “Itu berarti engkau menginginkan raja Hijaz Muhammad”, kata suaminya. Tentang apakah harta dikembalikan dan tawanan dibebaskan dengan perkawinan ini, tidak kami dapatkan keterangan yang jelas, namun diceritakan bahwa mahar perkawinan tersebut adalah pembebasan Shofiyyah. Walaupun masih muda, usia 17 th, tapi sebelumnya Shofiyah telah menikah dua kali, dengan Salam bin Misykarn kemudian dengan Kinanah bin Rabi’. [ibid].

      Dari dua perkawinan di atas, dapat kita lihat bahwa upaya pembebasan perbudakan -akibat peperangan- lebih menonjol ketimbang masalah lainnya. Di sisi lain dua pernikahan ini semakin mengokohkan kedudukan Muslim dalam rangka pembentukan komunitas bersama yang tidak saling bermusuhan. Selanjutnya, bahwa melihat usia Shofiyah yang masih 17 th. dan sudah menikah dua kali, setidaknya menunjukkan bahwa selain masyarakat Arab, komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar juga memiliki adat mengawinkan seorang wanita sejak masih dini. [ibid].

      Pada tahun ketujuh Hijriah ini juga, utusan Rasulullah ke Iskandariah-Mesir telah datang dengan membawa hadiah dua orang budak dari Mesir, yang pertama bernama Maria binti Syam’un dan Sirin. Yang pertama dinikahi oleh Rasulullah dan yang kedua diberikan kepada Hassan bin Tsabit. Seperti yang telah kita bahas sebelum ini, bahwa Rasulullah yang mengajarkan agar para budak dididik kemudian dibebaskan dan dinikahi, dicontohkan sekali lagi oleh Rasulullah. Maria al­Qibthiah yang menjadi budak di Iskandariah, kini menjadi istri seorang pemimpin besar di tanah Hijaz. Ia bahkan telah memberikan keturunan yang diberi nama Rasulullah seperti nama kakeknya “Ibrahim”, walaupun tidak berusia panjang. Rasulullah menyatakan : “Ia telah dimerdekakan oleh anaknya”. [ibid].

      Para istri nabi -termasuk yang sebelumnya menjadi budak-, mendapat penghormatan yang tinggi dikalangan para sahabat dan umat Muslim, maka tidak mengherankan jika banyak wanita yang ingin dinikahi oleh nabi. Salah satu dari mereka adalah Maimunah yang dalam al-Qur’an disebut “Seorang wanita mu’min yang menyerahkan dirinya kepada nabi”. Penawaran itu dilakukan oleh Maimunah melalui saudaranya Ummul Fadl, kemudian Ummul Fadl menyerahkan masalah ini kepada suaminya yaitu Abbas bin Abdil Muththolib (paman nabi). Maka `Abbas menikahkan Maimunah kepada Rasulullah dan memberikan mahar kepada Maimunah atas nama Nabi sebesar 400 dirham. Pernikahan ini terjadi pada akhir tahun ke 7 H. tepatnya pada bulan Dzul-Qo’dah. Selain Maimunah masih banyak wanita lain yang ingin dinikahi oleh Nabi, tapi beliau menolak. Jika dilihat dari seluruh pernikahan nabi seperti yang telah kita bahas, maka penolakan nabi tersebut agaknya lebih dilandaskan pada sisi kemanfaatan dan kemaslahatan, baik bagi umat maupun bagi wanita itu sendiri. Hal ini sekaligus menampik tuduhan bahwa perkawinan Rasulullah dilandaskan pada kepentingan pemuasan seksual. [ibid].

      Fahamkah kaum penghujat tersebut dengan sejarah Nabi ini?!! Ataukah mereka hanya mengandalkan subyektivitas yang berangkat dari hasad, dengki dan kebodohan belaka?!! Fa’tabiru Ya Ulil Albaab.

    • imanuddin87 12:46 pm on 23/09/2010 Permalink | Reply

      Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah thd orang tua dan suami tua tersebut.

      Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur dibawah 18 tahun , dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi-oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

      Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya thd Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

      Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

      BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER

      Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya,Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.
      Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

      Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

      Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah dikasih tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- `asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

      Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

      KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

      KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

      pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
      610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam
      613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
      615 M: Hijrah ke Abyssinia.
      616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
      620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
      622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
      623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

      BUKTI #2: MEMINANG

      Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

      Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

      Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).

      Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

      KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

      BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

      Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

      Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

      KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

      BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

      Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).

      Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

      Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

      Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

      Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

      Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

      Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

      Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

      kesimpulan: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

      BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

      Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

      Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr.

      Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.”

      Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud

      KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

      BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

      Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

      Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih
      suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

      Kesimpulan: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

      BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

      Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya ttg identitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

      Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”.
      Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

      Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

      BUKTI #8. Text Qur’an

      Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

      Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid doaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

      Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

      Disini, ayat Qur’an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

      Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

      Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

      AbuBakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.

      Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

      BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

      Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

      Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

      Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

      Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

      kesimpulan: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

      SUMMARY:

      Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernha keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

      Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di
      Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karean adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

      Oleh karean itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.

    • chachachichi 7:29 am on 25/05/2011 Permalink | Reply

      assalamu’alaikum,langsung saja,saya hanya ingin tau hadits dan kitab yang menjelaskan nabi SAW MENIKAHI SITI AISYAH waktu umur 7thn itu,atas kebaikannya saya ucapkan terima kasih banyak.
      agama saya islam tulen mulai dari kakek buyut saya.m.mughits.

    • Hampir mualaf 9:52 pm on 16/07/2011 Permalink | Reply

      Banyak Hadis yg menyatakan itu.Artinya berwibawa dlm nuansa islam,Sumbernya literaturnya hadis2 islam.Yang pasti bukan Yahudi dan AS yg mengatakan itu.

    • Webworker 7:34 am on 04/02/2012 Permalink | Reply

      I know this site offers quality based posts and other data, is there any other web site which gives such data in quality?

    • CIKK 4:04 am on 10/02/2012 Permalink | Reply

      TUHAN(HANTU) SUKA KEMENYAN DI AL KITAB.

      this is it ramuan ala tuhan(hantu) di al kitab

      mana bener dan mana mulia, pikir bagi yang berotak.

      Al Quran
      22:37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan)
      Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

      KITA BACA BAIK2 APA KATA AL KITAB DIBAWAH INI

      ayat ini menyebabkan orang2 kembali ke islam

      (1) Apabila seseorang hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian kepada TUHAN, hendaklah persembahannya itu tepung yang terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan ke atasnya

      apa korban sajiannya(untuk tuhan/hantu)?
      (3) Kemudian dari korban keselamatan itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai korban api-apian bagi TUHAN,
      14) Kemudian dari kambing itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai persembahannya berupa korban api-apian bagi TUHAN
      16) Imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan. Segala lemak adalah kepunyaan TUHAN

      xi xi xi santapan tuhan, anda mau coba bung fajar???
      muaaal ngga???lemak isi perut dibakar pake menyan???
      this is it ramuan ala tuhan(hantu) di al kitab

      jadi bung masihkan anda nongkrong di kristen katolik yahudi???kalau sudah begini, kembalilah ke islam ajarannya mulia.

      CIKK Says:

      February 9, 2012 at 9:24 am

      KALAU MANUSIA BERAKAL JELAS PILIH ISLAM KARENA ALLAH MEMANDANG HATI.
      TERBUKTI AYAT DIATAS MENUNJUKKAN BAHWA KORBAN DINILAI ATAS DASAR TAQWA.

      DI AL KITAB TUHAN KOK IKUT MAKAN.ARTINYA YANG MAKAN ITU MAKHUK. PAKE PILIH2 LAGI.
      HUA HA HA HA..KALO UMATNYA BILANG , BODOH BENER TUHAN NIH, AMBIL DAH LEMAK TUH SEKALIAN IIIIISI PERUTNYA, YANG PENTING GUE SIKAT PAHA.HE HE HE.

      nonon Says:

      February 9, 2012 at 9:26 am

      metul bung cikk, makhluk tidak layak dijadikan tuhan dan disembah, kalau yang kayak gini nih suka menyan, pasti yang disembah tuh tuyul. xi xi xi al kitab nyuruh nyembah tuyul.

      ISLAM JALAN YANG LURUS.KEMBALI KE ISLAM JANGAN MATI SEBELUM MENJADI ISLAM

    • wikki 5:56 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

      Bisa dilihat bukan, bagaimana Muslim berdoa kepada ZAT, bukan Roh yg hidup, melainkan benda mati (kabaah–>hajar aswad)

      QS 10:3 Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,
      kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan
      memberi syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya. (Zat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu,
      maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? llah = Benda MatI
      Warawiy’an Rasullullah shallahu alaihi wasalam anhu qala : ( al’hajar yaminullah fi ?ardhi famin masihah masaha yad’ullah ) (10).
      := Diriwayatkan dari Rasulullah SAW, dan ia berkata: ( Hajar aswad adalah tangan kanan Allah dibumi, sungguh tanganNya yang memberikan pengampunan ) (10
      Waqala Rasullullah (shallahu alaihi ): (alhajar yaminullah fi ?ardhi yasafaha bihi ?abda’ha) (11).?
      := Dan sabda Rasulullah SAW: ( Hajar aswad adalah tangan kanan Allah di bumi, berjabat tangan dengan hamba-hamba-Nya) (11).
      :Waqala Rasullullah (shallahu alaihi ): (alhajar yaminullah fi ?ardhi famin masaha yad’ullah al hajar faqad bai’atullah in la yasyah) (12).?
      := Dan sabda Rasulullah SAW: ( Hajar aswad adalah tangan kanan Allah di bumi, sungguh di atas tangan-Nya sang Hajar aswad, berjanji setialah kepada Allah dan janganlah tidak mematuhi-Nya) (12).
      Nabi Muhammad SAW nan agung berkata, “Lakukan Tawaf di Ka’bah dan gosokkan tanganmu di ujung Ka’bah di mana terdapat Hajr Aswad – Batu Hitam, karena INILAH TANGAN KANAN ALLAH di bumiNya yang digunakanNya untuk berjabatan tangan dengan ciptaanNya
      Sabda-sabda yang mengatakan ”Hajar aswad adalah tangan Allah di bumi” membuat umat mencium Hajar Aswad sebagai tangan Allah, sebagaimana manusia mencium tangan manusia lain yang memiliki kedudukan lebih tinggi.
      : 😀 i-sunnah-kan dalam kitab “Nubdzah min Asraril Hajj”, bahwa saat mencium, dan sejajar Hajar Aswad, doa yang di panjatkan adalah untuk Allah swt semata.
      : 😀 OA SAAT MENCIUM HAJAR ASWAD

      :Bismillâhir Rahmânir Rahîm
      :Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad
      :
      :Allâhumma amânatî addaytuhâ, wamitsâqî ta’ahadtuhu litasyhadalî bilmuwâfâti. Allâhumma tashdîqan bikitâbika wa ’alâ sunnati nabiyyika shalawâtka ‘alayhi wa âlihi. Asyhadu allâilâha illallâhu wahdahu lâ syarîkalah, wa anna Muham-madan ‘abduhu warasûluh, amantu billâhi wa kafartu biljibti waththâghûti wallâta wal ’uzzâ wa `ibâdatisy syaythâni wa `ibâdati kulli niddin yud’â min dûnillâh.
      :
      :Allâhumma ilayka basathtu yadî, wa fimâ ‘indaka ‘azhumat raghbatî, faqbal subhatî waghfirlî warhamnî. Allâhumma innî a’ûdzubika minal kufri walfaqri wa mawâqifil khizyi fiddun-yâ wal âkhirah.
      :
      := Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
      :Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
      :
      :Ya Allah, telah kutunaikan amanatku dan kupenuhi janjiku agar Kau saksikan aku sebagai orang yang memenuhi janji. Ya Allah, aku membenarkan kitab-Mu dan sunnah Nabi-Mu (semoga shalawat-Mu tercurahkan padanya dan keluarganya). Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Mu dan rasul-Mu. Aku mempercayai Allah, dan mengingkari berhala dan thaghut, Lata dan ‘Uzza, dan mengingkari segala bentuk pengabdian kepada setan dan semua sesembahan selain Allah.
      :
      :Ya Allah, kepada-Mu kuulurkan tanganku, dan pada apa yang ada di sisi-Mu kuarahkan keinginanku yang besar. Ya Allah, terimalah tasbihku, ampuni aku dan sayangi daku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran, dan dari segala perbuatan yang hina di dunia dan akhirat.
      ::D OA SAAT SEJAJAR DENGAN HAJAR ASWAD
      :Bismillâhir Rahmânir Rahîm
      :Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad
      :
      :Asyhadu allâilâha illallâh wahdahu lâ syarîka lah, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasûluh, amantu billâhi, wa kafartu biljibti wath thâghûti wallâta wal ’uzzâ wa bi’ibâdatisy syaythâni wa bi’ibâdati kulli niddin yud’â min dûnillâh.
      :
      := Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
      :Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
      :
      :Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa, Tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Aku beriman kepada Allah, dan mengingkari berhala dan thaghut, Lata dan ‘Uzza, mengingkari segala bentuk pengabdian kepada setan dan seluruh sesembahan selain Allah.

      :Hajar Aswad mempunyai makna serupa dengan Allah swt, karena saat mencium Hajar Aswad dan berposisi sejajar dengan Hajar Aswad hanya nama Allah swt yang disebutkan.
      3. MAKNA KATA ???? QIBLAH YANG DISAMARKAN.
      :
      :Umat Islam yang menjalankan Rukun Islam menunaikan sholat lima waktu dalam sehari dengan menghadap qiblah adalah syarat sahnya shalat, dengan demikian tidak sah shalat tanpa menghadap qiblah.
      :
      :Karena ke-tidak tahu-an umat memaknai kata – qiblah, sebagai arah menghadap dalam shalat.
      :
      :Sesungguhnya kata qiblah, memiliki makna CIUMAN. Berkaitan dengan sunnah Rasulullah mencium Hajar Aswad.
      : 😀 alam setiap shalat, umat dimaksudkan mencium tangan Allah di bumi, yaitu Hajar Aswad.
      :
      :Berikut ini saya berikan fakta linguistic mengenai kata ???? – qiblah.
      :Terjemahan : Memberi penghormatan dengan bibir, sebagai tanda sayang, takzim, tunduk, pengampunan dan lain-lain.
      :
      :Ritual “CIUMAN” terhadap berhala ini merupakan ritual yang diwariskan dari ajaran syirik pagan Arab, sebagai tanda kepatuhan, tunduknya terhadap berhala yang mereka sembah. Dan ritual ini diabadikan dalam kewajiban menegakan rukun Islam yaitu bershalat menghadap “qiblah” dan ber “hajj”.Salah satu Rukun Islam menunaikan adalah mendirikan sholat lima waktu dalam sehari dengan menghadap qiblah sebagai syarat sahnya shalat.
      :
      :Karena ke-tidak tahu-an umat memaknai kata ???? – qiblah, sebagai arah menghadap dalam shalat.
      :
      :Sesungguhnya kata qiblah, memiliki makna CIUMAN. Berkaitan dengan sunnah Rasulullah mencium Hajar Aswad.
      :
      :Sehingga dalam setiap shalat, dimaksudkan mencium tangan Allah di bumi, yaitu Hajar Aswad.
      :
      :Ritual “CIUMAN” terhadap berhala ini merupakan ritual yang diwariskan dari ajaran syirik pagan Arab, sebagai tanda kepatuhan, tunduknya terhadap berhala yang mereka sembah. Dan ritual ini diabadikan dalam kewajiban menegakan rukun Islam yaitu bershalat menghadap “qiblah” dan ber “hajj”.
      :
      :Ciuman sebagai tanda kepatuhan, tunduk ini tercermin pada hadist-hadits di bawah ini :
      :
      :Hadits Sahih HR Bukhari.
      :“Dari Ummu Aban binti al-Warra’ bin Zarra’ dari kakeknya radliyallahu ‘anhum; dan kakeknya merupakan salah satu delegasi Abdul Qais (yang mendatangi Nabi). Kakeknya Ummu Aban berkata: Saat kita sampai di Madinah, kami berlarian dari kendaraan kita untuk mencium kedua tangan dan kaki Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”.aku tak mau menyembah hajar aswad

      • SERBUIFF 7:18 am on 21/08/2012 Permalink | Reply

        masalah hajar aswat sudah jelas, jangan lu ulang2 lagi, bosen aku….udah kehabisan topik ya….

  • SERBUIFF 7:08 am on 09/11/2007 Permalink | Reply
    Tags: Mencari Tuhan menemukan Allah   

    Mencari Tuhan menemukan Allah 

    daarut-tauhiid

    [daarut-tauhiid] Genne Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah

    Pakde_007
    Wed, 14 Mar 2007 02:13:19 -0800

    SUMBER : http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=5359_0_4_0_M
    
    GENNE NETTO : MENCARI TUHAN MENEMUKAN ALLAH
    Journey to Islam Oleh : Redaksi 18 Dec 2006 - 5:30 pm 
    
    Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor
    Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. 
    Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. 
    Hanya saja saya dianggap "gila". Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga 
    dianggap "gila" oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena 
    sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.) 
    berikut penuturan beliau : 
    Nama saya Genne Netto, sejak tahun 1995 saya telah menetap di Jakarta, 
    Indonesia, dan pada saat saya bertemu dengan orang baru, mereka selalu 
    penasaran tentang latar belakang saya. Mereka ingin tahu tentang bagaimana saya 
    bisa belajar bahasa Indonesia dengan baik, pindah ke Indonesia dan akhirnya 
    masuk Islam. Lewat bab ini, saya ingin menjelaskan latar belakang diri saya dan 
    bagaimana caranya saya menjadi tertarik pada Islam. :foto
    
    Masa kecil dan mencari tuhan
    Saya lahir di kota Nelson, sebuah kota kecil di Pulau Selatan di Selandia Baru 
    (New Zealand) pada tanggal 28 April, tahun 1970. Bapak dan ibu saya bertemu di 
    Nelson, menikah dan mendapat tiga anak; saya nomor dua. Bapak berasal dari 
    Birma (yang sekarang dinamakan Myanmar) dan setelah Perang Dunia II, kakek saya 
    pindah ke Selandia Baru. 
    
    Ibu lahir di Selandia Baru dan leluhurnya adalah orang Inggris dan Irlandia. 
    Ibu dibesarkan di sebuah perternakan domba dan sapi di pulau selatan Selandia 
    Baru. 
    
    Pada usia kecil saya sudah merasa kurang betah di Selandia Baru. Keluarga saya 
    beragama Katolik dan Ibu saya berkulit putih tetapi saya masih merasa berbeda 
    dengan orang lain. Kakak dan adik saya mendapatkan mata biru dan rambut coklat 
    yang membuat mereka lebih mirip dengan orang berkulit putih yang lain. Tetapi 
    mata saya berwarna coklat-hijau dan rambut saya hitam, dan hal itu memberi 
    kesan bahwa saya bukan orang berkulit putih asli. Jadi, saya orang mana? Orang 
    barat? Atau orang Asia? Saya sudah mulai merasa tidak betah dan oleh karena itu 
    saya berfikir banyak tentang dunia dan siapa diri saya.
    
    Saya membesar terus dan berfikir terus tentang berbagai macam hal, terutama 
    tentang agama, dunia dan alam semesta. Seringkali saya melihat bintang dan 
    dalam kesunyian larut malanm saya berfikir tentang luasnya alam semesta dan 
    bagaimana diciptakan. Dari umur 9 tahun saya mulai membaca buku tentang agama 
    dan topik serius yang lain. Saya ingin tahu segala-galanya: agama, dunia, 
    budaya, sejarah, alam semesta. semuanya! Seingat saya, hanya saya yang tertarik 
    pada dinosaurus pada usia itu. Teman-teman saya yang lain tidak mau tahu 
    tentang dinosaurus karena saat itu film Jurassic Park belum muncul. Hanya saya 
    yang sering membaca tentang topik serius seperti pembuatan piramida, agama 
    Buddha dan Hindu, sejarah dunia, luasnya alam semesta dan sebagainya. 
    
    Seperti anak kecil yang lain, saya juga diajarkan agama oleh orang tua saya, 
    karena mereka sebelumnya juga diajarkan oleh orang tua mereka. Di dalam ajaran 
    agama Katolik ada banyak hal yang membingungkan saya. Setiap saya bertanya 
    tentang Tuhan dan agama Kristen, saya seringkali mendapat penjelasan yang tidak 
    memuaskan. Saya menjadi bingung dengan konsep Trinitas, di mana ada Tuhan, 
    Yesus, dan Roh Kudus, dan semuanya Tuhan tetapi Tuhan hanya satu. Tuhan menjadi 
    manusia, dan manusia itu mati, tetapi Tuhan tidak bisa mati, tetapi manusia itu 
    adalah Tuhan. Saya menjadi bingung dengan pastor yang mengampuni dosa orang 
    dengan mudah sekali tanpa bicara kepada Tuhan terlebih dahulu. 
    
    Bagaimana kalau pastor salah dan dosa saya belum diampuni? Apakah saya bisa 
    mendapatkan bukti tertulis dari Tuhan yang menyatakan bahwa saya sudah bebas 
    dari dosa? Bagaimana kalau saya bertemu dengan Tuhan di hari akhirat dan Dia 
    menyatakan bahwa dosa saya belum diampuni? Kalau saya berprotes dan menunjuk 
    pastor yang meyakinkan saya bahwa tidak ada dosa lagi, Tuhan cukup bertanya 
    "Siapa menyuruh kamu percaya pada omongan dia?" Siapa yang bisa menyelamatkan 
    aku kalau pastor keliru dan dosa aku tetap ada dan dihitung oleh Tuhan?
    
    Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasan tentang 
    semua hal yang membingungkan saya. Akhirnya jalan keluar menjadi jelas: saya 
    harus bicara empat mata dengan Tuhan! Hanya Tuhan yang bisa menjawab semua 
    pertanyaan saya. 
    
    Pada suatu hari, saya menunggu sampai larut malam. Saya duduk di tempat tidur 
    dan berdoa kepada Tuhan. Saya menyuruh Tuhan datang dan menampakkan diri kepada 
    saya supaya saya bisa melihat-Nya dengan mata sendiri. Saya menyatakan bahwa 
    saya siap percaya dan beriman kepada Tuhan kalau saya bisa melihatnya sekali 
    saja dan mendapatkan jawaban yang benar dari semua pertanyaan saya. Kata orang, 
    Tuhan bisa melakukan apa saja! Kalau benar, berarti Tuhan juga bisa muncul di 
    kamar saya pada saat disuruh muncul. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh dan 
    menatap jendela di kamar, menunggu cahaya Tuhan masuk dari luar. 
    
    Saya menunggu lama sekali. Sepuluh minit. Lima belas minit. Mana Tuhan? Kata 
    orang, Tuhan Maha Mendengar, berarti sudah pasti mendengarkan saya. Saya 
    menunggu lagi. Melihat jendela terus. Menunggu lagi. Kenapa Tuhan belum datang? 
    Barangkali Dia sibuk? Kena macet? Saya melihat jendela lagi. Setelah menunggu 
    sekian lama dan benar-benar memberi kesempatan kepada Tuhan untuk muncul. 
    Tetapi Tuhan ternyata sibuk pada malam itu dan Dia tidak hadir.
    
    Hal itu membuat saya bingung. Bukannya saya sudah berjanji bahwa saya akan 
    percaya kepada-Nya kalau Dia membuktikan bahwa Diri-Nya benar-benar ada? Kenapa 
    Dia tidak mau menampakkan Diri kepada saya? Bagaimana saya bisa percaya kalau 
    saya tidak bisa melihat-Nya? Saya menangis dan tidur. Besoknya saya berdoa lagi 
    dengan doa yang sama. Hasilnya pun sama: Tuhan tidak datang dan saya menangis 
    lagi. 
    
    Ini merupakan contoh logika seorang anak kecil. Dalam pengertian seorang anak, 
    apa yang tidak terlihat, tidak ada. Apalagi sesuatu yang begitu sulit 
    didefinisikan seperti konsep "tuhan". Pada saat itu, terjerumus dalam 
    kebingungan, saya memutuskan untuk tidak percaya kepada Tuhan dan menyatakan 
    diri "ateis" (tidak percaya kepada tuhan mana saja). Saya memberitahu kepada 
    Tuhan bahwa saya sudah tidak percaya kepada-Nya. Dan saya memberitahu Tuhan 
    bahwa Dia memang tidak ada dan semua orang yang percaya kepadanya adalah orang 
    bodoh saja yang hanya membuang waktunya. (Dalam kata lain, saya ngambek 
    terhadap Tuhan.) Di dalam hati, saya berbicara kepada Tuhan dengan suara yang 
    keras supaya Dia bisa mendengar dengan jelas pernyataan saya bahwa Tuhan tidak 
    ada! 
    
    Pada hari-hari yang berikut, saya memberi waktu kepada Tuhan untuk datang dan 
    minta maaf karena tidak sempat datang dan menampakkan diri pada hari 
    sebelumnya. Saya sudah membuat pernyataan yang jelas. Tuhan semestinya 
    mendengar pernyataan saya itu dan memberi tanggapan. Tetapi tidak ada tanggapan 
    dari Tuhan. Akhirnya saya mencapai kesimpulan bahwa Tuhan itu memang tidak ada. 
    Sudah terbukti. Kalau ada Tuhan, Dia pasti akan mendengar doa saya dan 
    menampakkan diri. Kenyataan bahwa Tuhan tidak menampakkan diri membuktikan 
    bahwa Tuhan tidak ada!
    
    Saya bersekolah terus dan sembunyikan kenyataan bahwa saya tidak percaya kepada 
    Tuhan. Kalau ada yang menanyakan agama saya maka saya menjawab "Katolik" saja. 
    Selama SD, SMP, dan SMA saya belajar terus tentang dunia tetapi sudah malas 
    mempelajari agama secara serius, kecuali untuk mencari kekurangannya, karena 
    saya menanggap agama itu sesuatu yang membuang waktu saja tanpa membawa hasil. 
    Kebetulan, setelah lulus SMA, orang tua saya memutuskan untuk berpindah ke 
    Australia. Kebetulan, saya memutuskan untuk ikut juga daripada tetap di 
    Selandia Baru. 
    
    Di Australia, saya berusaha untuk masuk kuliah Psikologi di Universitas 
    Queensland pada tahun 1990. Saya mau menjadi seorang psikolog anak. Kebetulan, 
    lamaran saya itu tidak diterima karena nilai masuk saya kurang tinggi. Sebagai 
    pilihan kedua, saya ditawarkan kuliah Pelajaran Asia di Universitas Griffith. 
    Di Australia, seorang siswa yang tidak diterima di fakultas pilihan pertamanya, 
    akan ditawarkan fakultas atau universitas yang lain. Setelah satu tahun, dia 
    bisa pindah kembali ke pilihan pertamanya asal nilainya bagus. Kebetulan, saya 
    menerima tawaran untuk masuk Fakultas Pelajaran Asia dengan niat akan pindah ke 
    Fakultas Psikologi setelah satu tahun. 
    
    Kebetulan, di dalam Fakultas Pelajaran Asia pada tahun pertama semua siswa 
    wajib mengambil mata kuliah Bahasa Asia. Ada pilihan Bahasa Jepang, Cina, 
    Korea, dan Indonesia. Kebetulan, saya memilih Bahasa Indonesia karena 
    sepertinya paling mudah dari yang lain. Saya hanya perlu mengikuti mata kuliah 
    itu selama satu tahun saja jadi sebaiknya saya mengambil yang termudah. 
    Kebetulan, dalam waktu enam bulan, nilai saya sangat baik, termasuk yang paling 
    tinggi. 
    
    Tiba-tiba kami diberitahu ada 3 beasiswa bagi siswa untuk kuliah di Indonesia 
    selama 6 bulan. Saya tidak mengikuti seleksi karena berniat pindah fakultas 
    pada akhir tahun. Tiga teman dipilih. Kebetulan, salah satunya tiba-tiba 
    menyatakan ada halangan dan dia tidak bisa pergi ke Indonesia. Proses seleksi 
    dibuka lagi. Ada seorang dosen yang memanggil saya dan bertanya kenapa tidak 
    mengikuti seleksi dari pertama kali. Saya jelaskan niat saya untuk pindah 
    fakultas pada akhir tahun pertama. 
    
    Dia menyatakan "Gene, kemampuan kamu dalam bahasa Indonesia sudah kelihatan. 
    Kenapa kamu tidak teruskan saja Pelajaran Asia. Dalam waktu 2 tahun kamu sudah 
    selesai. Belum tentu kamu senang di bidang psikologi, tetapi sudah jelas bahwa 
    kamu ada bakat bahasa. Coba dipikirkan kembali."
    
    Akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan pelajaran saya di Fakultas Pelajaran 
    Asia itu dan mengikuti proses seleksi untuk beasiswa tersebut. Kebetulan, 
    setelah proses selesai, saya dinyatakan menang dan akan diberangkatkan ke 
    Indonesia pada tahun depan (1991). Sekarang saya menjadi lebih serius dalam 
    pelajaran saya karena sekarang ada tujuan yang lebih jelas. 
    
    Dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa, bukan Pendeta atau Pastor
    .
    Pada suatu hari diadakan acara barbeque (makanan panggang) untuk Klub 
    Indonesia. Semua orang Indonesia di kampus diundang untuk bergaul dengan orang 
    Australia yang belajar tentang Indonesia. Pada saat saya sedang makan, ada 
    orang Indonesia yang datang dan kebetulan dia duduk di samping saya. Dia 
    bertanya "Kamu Gene, ya?" Ternyata dia pernah dengar tentang saya dari seorang 
    teman. "Apakah kamu pelajari agama Islam, Gene?" Saya jelaskan bahwa memang ada 
    mata kuliah tentang semua agama di Asia termasuk agama Islam. "Apakah kamu juga 
    tahu bahwa dalam Islam hanya Tuhan yang bisa mengampuni dosa? Tidak ada pendeta 
    atau pastor yang boleh mengampuni dosa orang!"
    
    Saya begitu kaget, saya berhenti makan dengan hotdog di tengah mulut. Saya 
    suruh dia menjelaskan lebih mendalam lagi. Ini bukan sebuah kebetulan! Inilah 
    sebuah jawaban yang telah saya cari selama 10 tahun. Di dalam Islam hanya Tuhan 
    yang berhak mengampuni dosa. Apakah mungkin di dalam agama Islam ada logika dan 
    ajaran yang bisa saya terima? Apakah mungkin ada agama yang benar di dunia ini? 
    Dari semua kebetulan yang membawa saya ke titik itu, tiba-tiba semuanya terasa 
    sebagai sesuatu yang terencana, dan sama sekali tidak terjadi secara tidak 
    sengaja. Yang saya lihat adalah serangkaian kebetulan yang membawa saya ke 
    kampus itu dan bahasa Indonesia. Tetapi dari pandangan orang yang percaya 
    kepada Allah, tidak ada kebetulan sama sekali di dunia ini!
    
    Masuk Islam
    
    Dari saat itu saya mulai mempelajari dan menganalisa agama Islam secara 
    mendalam. Saya mulai membaca buku dan mencari teman dari Indonesia yang 
    beragama Islam. Secara pelan-pelan saya mempelajari Islam untuk mencaritahu 
    apakah agama ini benar-benar masuk akal atau tidak.
    
    Pada tahun 1991, saya dan dua teman kuliah menjalankan beasiswa untuk kuliah di 
    Indonesia. Saya belajar di Universitas Atma Jaya di Jakarta dan kedua teman 
    yang lain itu dikirim ke Salatiga dan Sulawesi. Pada saat saya di Atma Jaya 
    (sebuah universitas Katolik), sebagian besar teman saya adalah orang Islam. 
    Kenapa bisa begitu? Memang ada orang Islam yang kuliah di Atma Jaya, dan saya 
    merasa sudah paham semua kekurangan yang ada di dalam agama Kristen, jadi saya 
    tidak tertarik untuk bergaul dengan orang yang beragama Kristen. Saya lebih 
    tertarik untuk menyaksikan agama Islam dan pengikutnya dan oleh karena itu saya 
    menjadi lebih dekat dengan beberapa orang yang beragama Islam. Kalau ada teman 
    yang melakukan sholat, saya duduk dan menonton orang itu dan memikirkan tentang 
    apa yang dia lakukan dan kenapa.
    
    Pada saat kembali ke Australia setelah 6 bulan di Jakarta, saya menjadi salah 
    satu siswa yang bahasa Indonesianya paling lancar di kampus. Oleh karena itu, 
    saya sering bergaul dengan orang Indonesia. Secara langsung dan tidak langsung 
    saya pelajari agama Islam terus. Saya membaca buku dan berbicara dengan orang 
    Indonesia di mana-mana. Setelah selesai kuliah Bachelor of Arts, saya mengambil 
    kuliah tambahan selama satu tahun di fakultas pendidikan untuk menjadi guru 
    bahasa. Pada saat yang sama saya mengikuti seleksi untuk beasiswa kedua, kali 
    ini dari Perkumpulan Wakil Rektor Australia (Australian Vice Chancellors 
    Committee). Beasiswa ini hanya untuk satu orang per bagian negara dan, kali 
    ini, saya bebas memilih lokasi kuliah di Indonesia. 
    
    Sekali lagi, saya terpilih, dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah satu tahun di 
    Universitas Indonesia. Setelah selesai kuliah tambahan di Fakultas Pendidikan, 
    Universitas Griffith, pada tahun 1994 saya berangkat sekali lagi ke Jakarta 
    untuk belajar di Fakultas Sastra di UI. Selama satu tahun di UI, seperti waktu 
    saya ada di Atma Jaya, saya bergaul terus dengan orang Islam. 
    
    Pada bulan Februari, tahun 1995, saya duduk sendiri di lantai pada tengah malam 
    dan menonton shalat Tarawih, tayangan langsung dari Mekah. Saya melihat sekitar 
    3-4 juta orang melakukan gerakan yang sama, menghadap arah yang sama, mengikuti 
    imam yang sama, berdoa dengan ucapan yang sama, berdoa kepada Tuhan yang sama. 
    Saya berfikir: Mana ada hal seperti ini di negara barat? Orang yang berkumpul 
    untuk pertandingan bola yang paling hebat di dunia cuma beberapa ratus ribu. 
    Tidak pernah ada orang sebanyak ini berkumpul si suatu tempat untuk menonton 
    bola, mengikuti suatu pertandingan, atau bahkan mendengarkan Paus bicara. Ini 
    benar-benar luar biasa! Dan tidak ada tandingnya. 
    
    Selama satu tahun itu saya teruskan pelajaran agama saya. Tidak secara formal 
    atau serius, tetapi dengan memantau dan mencermati. Kalau ada ceramah agama di 
    TV, dari Kyai Zainuddin MZ atau Kyai Anwar Sanusi dan sebagainya, maka saya 
    mendengarkannya dan memikirkan maknanya. Dan secara pelan-pelan saya 
    mendapatkan ilmu agama dari berbagai macam sumber. Pada akhir tahun 1995 itu 
    saya sudah merasa sulit untuk menolak agama Islam lagi. 
    
    Tidak ada yang bisa saya salahkan dalam ajaran agama Islam karena memang Islam 
    didasarkan logika. Semua yang ada di dalam Islam mengandung logika kalau kita 
    mau mencarinya. Apa boleh buat? Saya mengambil keputusan untuk masuk Islam. 
    Akan tetapi, saya seharusnya kembali ke Australia dan mengajar di sekolah di 
    sana. Saya mulai berfikir tentang bagaimana saya bisa mempelajari agama Islam 
    di sana? Ada masjid di mana? Dari mana saya bisa mendapatkan makanan yang 
    halal? Dari mana saya bisa mendapatkan guru agama? 
    
    Sepertinya saya akan sulit hidup sebagai orang Islam kalau harus hidup di luar 
    negeri. Kalau saya mau menjadi orang Islam dengan benar maka saya harus menetap 
    di Indonesia untuk belajar. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menetap di 
    Indonesia dan masuk Islam. 
    
    Saya kembali ke Australia dan pamit dengan orang tua. Saya memberitahu mereka 
    bahwa saya mau kerja di Indonesia untuk beberapa waktu. Ibu berpesan: "Silahkan 
    kembali ke Indonesia, tapi jangan masuk Islam, ya?" 
    
    Dari pandangan orang barat, Islam tidak bagus jadi wajar kalau Ibu menyuruh 
    saya untuk menjahui sesuatu yang dianggap buruk. Saya lupa kapan saat persisnya 
    saya memberitahu orang tua bahwa saya sudah masuk Islam. Kalau tidak salah, 
    saya sudah kembali ke Indonesia, mendapatkan pekerjaan, masuk Islam, dan sudah 
    mulai sholat, sebelum saya memberitahu mereka. Tentu saja mereka menanggap 
    bahwa saya kehilangan akal. Tetapi alhamdulillah, mereka masih berbuat baik 
    kepada saya. 
    
      Saya tidak diusir, tidak dimusuhi dan tidak dikeluarkan dari keluarga saya. 
    Keluarga juga tidak pernah menyatakan kata buruk tentang Islam di depan saya. 
    Hanya saja saya dianggap "gila". Tidak apa apa. Nabi Muhammad (s.a.w.) juga 
    dianggap "gila" oleh kaum Quraisy jadi saya tidak boleh sakit hati karena 
    sebenarnya enak kalau bisa masuk kategori yang sama dengan Nabi (s.a.w.) 
    
    Sejak tahun 1995, saya telah menetap di Jakarta dan bekerja sebagai seorang 
    guru bahasa Inggris. Saya belum ada niat untuk kembali hidup di tengah-tengah 
    orang kafir. Saya berniat untuk menetap di sini terus (selama belum diusir) dan 
    mempelajari agama Islam dengan sebaik-baiknya. Banyak orang asing menanggap 
    saya aneh karena mau menetap di negara yang miskin, kotor, penuh dengan korupsi 
    dan sebagainya. Mereka itu memiliki pandangan yang keliru. Komentar mereka 
    benar, tetapi saya juga melihat masjid, orang yang sholat, adzan, Al Qur'an di 
    rumah orang, makanan yang halal, anak-anak yang tidak mau bezina atau menjadi 
    mabuk, dan banyak hal yang lain yang jauh lebih besar manfaatnya. Oleh karena 
    itu, semua kekurangan yang disebut-sebut oleh orang kafir itu menjadi tidak 
    bermakna dan kurang terasa. Keindahan Islam bisa menutupi semua kekurangan yang 
    diciptakan oleh manusia di negara ini. 
    
    Dan alhamdullilah, di sini saya mendapatkan teman-teman yang terbaik di dunia. 
    Belum pernah saya mendapatkan teman seperti teman yang saya jumpai di sini. 
    Bagi saya, persahabatan mereka adalah suatu hal yang sangat nikmat, apalagi 
    saya harus tinggal di sini tanpa keluarga. Karena takut memalukan mereka, saya 
    tidak akan sebutkan namanya. Semuanya memiliki kedudukan sebagai saudara di 
    dalam hati saya. Mereka yang membantu saya sehari-hari untuk selalu ingat 
    kepada Allah dan tidak menyimpang dari jalan yang benar. Mereka yang menjadi 
    contoh konkret bagi saya tentang kehidupan seorang Muslim. Mereka yang 
    menggantikan keluarga yang menganggap saya gila, karena teman-teman ini justru 
    bangga dengan usaha saya untuk menjadi orang yang beriman. Sering ada orang 
    bertanya "Kenapa kamu tidak pulang ke Australia dan berdakwa di sana?" 
    Jawabannya adalah: belum tentu di sana ada orang yang mau mendengar kalau saya 
    bicara, tetapi di sini, justru banyak yang tertarik karena jarang ada orang 
    bule yang masuk Islam, menetap di sini dan bisa berbahasa Indonesia. (Secara 
    kebetulan!) Saya juga tidak mau kembali ke sana karena dengan demikian, saya 
    harus tinggalkan teman-teman saya di sini dan juga guru-guru agama saya. Semoga 
    semua yang mereka lakukan untuk membantu saya belajar agama dibalas Allah swt. 
    karena saya sama sekali tidak sangup menjadi orang baik tanpa bantuan terus 
    dari mereka. 
    
    Semoga sisanya dari buku ini adalah sesuatu yang menarik bagi anda yang 
    membacanya. Semoga lewat tulisan ini, semua yang saya pahami sebagai seorang 
    Muslim di Indonesia akan menjadi bahan pikiran untuk kita semua. Perjuangan 
    saya dari luar negeri sampai masuk Islam dan menetap di sini adalah sebagian 
    dari rencana Allah. Saya belum tahu kenapa Allah membawa saya ke Indonesia dan 
    memberi saya kelancaran dalam bahasa Indonesia. Apakah semua itu hanya untuk 
    diri saya sendiri? Atau apakah ada tujuan Allah yang lebih luas yang belum saya 
    pahami? Apa yang Allah inginkan dari saya? Apa yang bisa saya lakukan untuk 
    ummat Islam dan Allah sebagi balasan terhadap semua nikmat yang telah Allah 
    berikan kepada saya? 
    
    Barangkali, lewat buku ini, ada beberapa hamba Allah yang akan mulai memikirkan 
    Islam dengan cara baru. Barangkali akan ada beberapa orang yang menjadi lebih 
    dekat kepada Allah setelah membaca dan memahami pikiran saya. Saya bukan 
    seorang ustadt. Saya bukan ahli agama. Yang bisa saya berikan kepada ummat 
    Islam untuk membantu kita semua menjadi ummat teladan di dunia hanya sebatas 
    komentar saja. Barangkali Allah memberikan saya kehidupan sampai sekarang 
    supaya saya bisa bicara kepada anda lewat buku ini. Insya Allah ada tujuan 
    Allah yang membawa hikmah buat ummat Islam lewat komentar saya ini. Saya juga 
    mohon Allah mengangkat semua sifat sombong dan takkabur dari hati saya dan 
    menjadikan saya seorang hamba Allah yang bermanfaat bagi Allah dan bermanfaat 
    bagi ummat Islam. Amin amin ya robbal alamin. Semoga menjadi rahmat bagi kita 
    semua (mualaf.com)
    
    Beliau sekarang ini aktif dalam kegiatan "Pengajian Mualaf Bule di daerah 
    Kuningan"
    
    yang bersangkutan Mr. Genne Netto tinggal di Jakarta, saat ini telah menjadi 
    anggota milist [EMAIL PROTECTED] bergabung dengan yang lainnya dalam membantu 
    mualaf dan calon mualaf . Blogs ybs http://genenetto.blogspot.com 
    
    Gene Netto
    
    Age: 36 
    Gender: male 
    Industry: Education 
    Occupation: English Teacher 
    Location: Jakarta : Indonesia
    
    Saat ini Gene Netto sedang membuat sebuah buku kisah perjalanannya hingga 
    dirinya menerima Hidayah Islam. 
    
    DAFTAR ISI
    
    01. SAYA
    02. INGIN MELIHAT TUHAN
    03. KEBENARAN ISLAM
    04. KEBETULAN
    05. TUHAN TIDAK PUNYA NAMA
    06. LEBIH DARI SATU TUHAN
    07. BERDOA KEPADA TUHAN (WALAUPUN TIDAK PERCAYA)
    08. PERUBAHAN DARI AGAMA SEBELUM ISLAM
    09. MENGIKUTI YESUS
    10. PENGIKUT YESUS, PENGIKUT MUHAMMAD 
    11. PENEMBUSAN DOSA
    12. AL KITAB BAHASA INDONESIA DARI MANA?
    13. SELAMAT NATAL
    14. AGAMA YANG MASUK AKAL 
    15. KESATUAN DI DALAM ISLAM
    16. MENUTUP AURAT
    17. PAKAIAN
    18. KENAPA KITA HARUS SHOLAT SETIAP HARI
    19. ORANG YANG TIDAK SHOLAT TETAPI MENGAKU ISLAM
    20. TINGGALKAN SHOLAT
    21. PENDIDIKAN
    22. SINETRON
    23. ADAT DAN BUDAYA
    24. SHOLAT JUMAT
    25. KEBERSIHAN MASJID
    26. TANDA DARI TUHAN
    27. KEKUATAN UMMAT ISLAM
    28. KALAU AKU JADI PRESIDEN
    29. HOTEL
    30. SYIRIK
    
    SUMBER : http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=5359_0_4_0_M

    • [daarut-tauhiid] Genne Netto : Mencari Tuhan menemukan Allah Pakde_007

    • Kirimkan email ke

     
    • Yessica 8:26 am on 23/11/2007 Permalink | Reply

      menurut saya, anda memang betul2 orang yang perlu dikasihani. Tuhan memberkati anda.

      GBU

    • erzal 11:05 am on 23/11/2007 Permalink | Reply

      menurut saya, anda memang betul2 orang yang perlu dikasihani. Tuhan memberkati anda.

      GBU

      Comment by Yessica — November 23, 2007 @ 8:26 am

      ……….saya kan sudah bilang sebutkan dulu apa agama anda sebelum nanggapi saya…apa yg anda katakan saya tidak jelas maksudnya……saya tidak perlu dikasihani….mungkin anda sebaliknya yg perlu dikasihani….. ok ? my link : http://agamaislam.multiply.com

      • camar 2:13 pm on 02/08/2012 Permalink | Reply

        MENGAPA MUHAMAD

        MEMPUNYAI BANYAK ISTRI ?

        Versi Juni 2006

        Kata Pengantar1

        Para Istri Muhamad1

        1. Khadija/Khadijah

        2. Sauda/Sawda binti Zam’a/Zam’ah

        3. Aisha

        Budak Aisha

        Aisha dan Perang Unta

        4. ‘Umm Salama

        5. Hafsa/Hafsah

        6. Zainab/Zaynab binti Jahsh

        7. Juwairiya/yya/yah

        8. Omm/Umm Habiba

        9. Safiya/Safiyya/Saffiya

        10. Maimunah /Maymuna binti Harith

        11. Fatima/Fatema/Fatimah

        Fatima, orang yang berbeda, anak Muhamad

        12. Hend/Hind

        13. Sana binti Asma’ / al-Nashat

        14. Zainab/Zaynab binti Khozayma/Khuzaima

        15. Habla?

        16. Janda Asma’ binti Noman

        17. Maria (orang Kristen)

        18. Rayhana/Raihana/Rayhanah binti Zaid/Zayd

        19. Janda Omm/Umm Sharik / Ghaziyyah binti Jabir

        20. Maymunah / Maimunah

        21. Zainab ketiga?

        22. Khawla / Khawlah binti al-Hudayl

        23. Janda Mulaykah binti Dawud

        24. Janda al-Shanba’ binti ‘Amr

        25. Janda al-‘Aliyyah

        26. Janda ‘Amrah binti Yazid

        27. Janda yang tak bernama

        28. Qutaylah binti Qays (telah meninggal)

        29. Sana binti Sofyan

        30. Sharaf binti Khalifah

        31. Para Perempuan dari Anak buah Muhamad

        Mohamad tidak pernah menikah!

        Gagalnya Rencana Pernikahan

        Kata Pengantar

        Orang islam akan mengatakan pada anda bahwa seorang lelaki muslim dapat mempunyai istri hingga empat orang dalam satu waktu, dan itu berdasar pada Sura 4:3. Dengan tegas apa yang ada dalam Sura bukanlah kebenaran yang lengkap, sebagai seorang Islam ternyata juga dapat memiliki selir atau gundik sampai jumlah yang tak terbatas dan melakukan hubungan seksual dengan” para perempuan kepunyaan dari tangan kanan mereka” (Sura 23:5-6; 33:50,52; 4:24; Sura 70:29-30).

        Bagaimanapun juga, walaupun, Muhamd telah menyatakan sebuah ayat dalam Qur’an (Sura 33:50) yang membuat pengecualian yaitu untuk satu orang: hanya bagi dirinya sendiri. Mengapa begitu?

        Aisha mengucapkan kpd muhammad (dengan nada sinis) “Sepertinya bagi saya terlihat bahwa Tuhanmu segera untuk memuaskan keinginanmu.” Sahih Muslim vol.2 buku 8 no.3453-3454 hal.748-749.

        Dilain hal, seorang muslim mengatakan pada saya bahwa setiap pernikahan yang ada hanya untuk tujuan kemanusiaan atau kekerabatan. Aisha dan beberapa istri adalah anak perempuan dari para penguasa yang hebat yang Muhamad sangat butuhkan untuk mendukungnya. Dan yang lain seperti para janda, “dijaga” oleh Muhamad setelah suami mereka meninggal. Saya bertanya, seakan-akan tidak percaya, apakah memang agama Islam megajarkan bahwa setiap pernikahan hanya untuk perkara yang seperti ini? Ketika ia mengatakan”ya”, lalu saya bertanya lagi, ”bagaimana tentang Safiyah dan Zainab binti Jahsh? Ketika ia tidak sadar tentang itu, orang Islam lainnya (seperti juga non Muslim) mungkin bukan keduanya. Sebagai keakuratan dari sumber dan informasi yang saya dapat, ini semua datang dari Qur’an sendiri atau otorisasi Hadits dari Islam Sunni.
        Para Istri Muhamad

        Dibawah ini adalah nama istri-istri dari Muhamad yang ditulis oleh cendikiawan Islam Ali Dashti. Ia mungkin menulis banyak berdasar pada daftar yang paling terdahulu dari Sejarah al-Tabari vol .9 hal.126-241. Hal itu disebutkan bahwa cendikiawan dan Hadist tidak sepenuhnya setuju dengan para istrinya Muhamad. Contohnya beberapa Hadist (bukan Bukhari atau Sahih Muslim) menyebutkan ada sepasang istri yang ia ceraikan, namun hal ini tidak ditunjukkan disini. Oleh karena itu, daftar dari Ali Dashti ini, yang mungkin tidak sepenuhnya menyetujui tentang kelengkapan, menunjukkan banyaknya istri dari Muhamad. Berikut ini adalah bukti dari Hadist, Ali Dashti yang independent, pada hubungan ini.

        Khadija/Khadijah binti Khuwailid/Khywaylid – meninggal pertama
        Saudah/Sauda binti Zam’a
        ‘Aisha/Aesha/’A’ishah –usia 8 sampai 9 tahun, sebagai istri kedua.
        Omm/’Umm Salama/Salamah
        Hafsa/Hafsah
        Zaynab/Zainab dari Jahsh
        Jowayriya/Juwairiyya binti Harith
        Omm Habiba
        Safiya/Safiyya binti Huyai/Huyayy bint Akhtab
        Maymuna/Maimuna dari Hareth
        Fatima/Fatema/Fatimah
        Hend/Hind
        Asma dari Saba
        Zaynab dari Khozayma
        Habla (?)
        Asma dari Noman / binti al-Nu’man

        Selir/Gundik;

        17. Maria orang Kristen

        18. Rayhana/Raihana/Rayhanah binti Zayd/Zaid

        Dalam Hubungan yang tidak jelas;

        19. Omm Sharik

        20. Maymuna/Maimuna (budak perempuan)

        21. Zaynab/Zainab ketiga (bukan Zaynab dari Khozayma)

        22. Khawla / Khawlah

        *Ali Dashti melewatkan sedikitnya sembilan istri lagi.

        Muhamad menikahi 15 perempuan dan melakukan hubungan pernikahan dengan 13 perempuan. (al-Tabari vol.9 hal.126-127)

        Bukhari vol.1 Buku 5 bag.25 no.282 hal.172-173 mengatakan bahwa [dalam satu ketika] Muhamad bisa mempunyai sembilan istri.

        Berikut ini adalah penggambaran singkat tentang Hadist dan sejarah Islam awal yang mengatakan istri-istri dari Muhamad.

        1. Khadija/Khadijah

        (dilapalkan ka-DI-ja) binti Khuwailid/Khuwaylid Sahih Muslim vol.4 buku 29 no.5971-5972 hal.1297 meninggal tiga tahun sebelum Aisha menikah dengan Muhamad. Dia disebutkan dalam Bukhari vol.5 buku 58 no.164,165 hal.103.

        Nama Lengkap dari istri pertama Muhamad adalah Kadijah, anak perempuan dari Khuwaylid bin Asad bin. ‘Abd al-‘Uzza bin Qusayy. al-Tabari vol.39 hal.3

        Muhammed baru berumur 20 tahun ketika ia menikah dengan Khadijah, seorang janda. al-Tabari vol.9 hal.127.

        ‘Aisha mengatakan bahwa Khadija membawa Muhamad untuk menjadi orang Kristen yang biasa membaca Injil dalam bahasa Arab. Bukhari vol.4 buku 55 bag.17 no.605 hal.395

        A’isha cemburu pada Khadijah. “Pada hal itu, Nabi teringat cara ketika Khadijah saat memohon izin, dan membuatnya sedih. Ia katakan, ‘O Auwloh Hala!’ Maka aku [Aisha] cemburu dan berkata, “apa yang membuat kamu teringat pada seorang perempuan tua diantara perempuan Quraish yang mana seorang perempuan tua (dengan giginya yang ompong) dengan getah merah yang telah meninggal bertahun-tahun lalu, dan ditempat yang manakah Auwloh memberikanmu seseorang yang lebih baik darinya?” Bukhari vol.5 buku 58 no.168 hal.105

        2. Sauda/Sawda binti Zam’a/Zam’ah

        Sahih Muslim vol.2 buku 8 no.3451 hal.747; Bukhari vol.3 buku 34 bag.4 no.269 hal.154; vol.3 no.853 hal.29; Sahih Muslim vol.2 buku 7 no.2958 hal.651; Sahih Muslim vol.2 pada catatan kaki 1918 hal.748 mengatakan bahwa mungkin Aisha telah dinikahi Muhamad sebelum Sauda, tapi Aisha tidak dapat memasuki rumah Muhamad sampai Sauda juga dinikahi oleh Muhamad.

        Terdapat ketidaksetujuan tentang apakah Muhamad melakukan hubungan pernikahan dengan Saudah atau Aisha nantinya, namun al-Tabari vol.9 hal.128-129 mengatakan itu adalah Saudah.

        Mantan suami Saudah, al-Sakran bin. ‘Amr bin. ‘Abd Shams menjadi seorang Krsiten di Abyssinia dan meninggal disana. al-Tabari vol.9 hal.128

        Secara fisik Aisha menyebut Saudah “nyonya berlemak banyak”. Bukhari vol.6 buku 60 bag.241 no.318 hal.300

        Ketika Saudah merasa dirinya sudah tua, ia takut jikalau Muhamad menceraikannya, maka ia memberi penggantinya yaitu Aisha. Abu Dawud vol.2 no.2130 hal.572

        Sauda juga disebutkan dalam al-Tabari vol.39 hal.169.

        3. Aisha

        Aisha adalah anak perempuan dari Abubakar. Ibunya bernama Umi Ruman sesuai dengan al-Tabari vol.9 hal.129. Ia menikah dengan Muhamad ketika ia berumur enam tahun, namun ia dibawa ke rumah Muhamad ketika ia berusia sembilan tahun. Bukhari vol.7 buku 62 bag.60 no.88 hal.65; Sahih Muslim vol.2 buku 8 no.3309,3310,3311 hal.715,716

        Bantahan terhadap pernikahan ini menjadi penting untuk alasan politik, yang mana Abu Bakar menjadi orang pertama yang pindah ke Islam.

        Istri Muhamad ini disebutkan dalam beberapa buku, termasuk Sahih Muslim vol.1 buku 4 no.1694 hal.372; Abu Dawud vol.1 no.1176 hal.305; vol.1 no.1268 hal.335; vol.1 no.1330 hal.350; Abu Dawud vol.1 no.1336 hal.351; vol.1 no.1419 hal.373; vol.2 no.2382 hal.654.

        Aisha sedang bermain dengan bonekanya ketika Muhamad datang. Sahih Muslim vol.4 buku 29 no.5981 hal.1299

        Aisha masih berumur enam tahun (atau tujuh tahun) ketika ia menikah, lalu di-umur sembilan tahun ia sudah melakukan hubungan suami-istri. al-Tabari vol.9 hal.130,131

        Aisha baru berusia enam tahun ketika menikah, dan ketika usianya sembilan tahun barulah ia dibawa ke rumah Muhamad. Ibn-i-Majah vol.3 no.1876 hal.133

        Aisha menikah diusia tujuh tahun, dan ia tinggal dengan Muhamad ketika berumur sembilan tahun, lalu ia meninggal diusia delapan belas tahun. (belum sah) Ibn-i-Majah vol.3 no.1877 hal.134

        Penjelasan yang rasional mengenai mengapa Muhamad menikahi seorang gadis kecil dijelaskan dalam Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1859 hal.715. Yang mana dikatakan bahwa “Itu adalah situasi pengecualian dimana Hadrat Aisha menikah dengan Nabi… Poin kedua yang dijelaskan bahwa Islam tidak mempunyai batasan usia untuk pubertas dalam keragaman suatu negara ataupun ras yang lebih disebabkan iklim, keturunan, fisik, dan kondisi sosial.” Mereka juga menyebutkan dukungan dari laporan sebuah majalah yang tidak mempunyai reputasi, Kinsey, yang dalam laporannya bertuliskan Sexual Behaviour in the Human Female.

        Muhammed sendiri sesekali pernah dengan sengaja memukul Aisha “di dada yang mana membuat saya sakit”, menurut Sahih Muslim vol.2 buku 4 bag.352 no.2127 hal.462.

        Terdapat suatu ketidak setujuan juga. Suatu kejadian, dimulai dengan ketika Aisha sakit, lalu Muhamad pergi dari istri-istrinya selama satu bulan (29 hari) Ibn-i-Majah vol.3 no.2060 hal.241. Ibn-i-Majah vol.3 no.2063 hal.243. Ini adalah pernyataan Sura 50:1.
        Budak dari Aisha

        Aisha mempunyai sedikitnya satu orang pembantu yang bertugas memasak masakan untuknya selama masa pengutusan dari Banu’l Muntafiq. Abu Dawud vol.1 no.142 hal.34

        Aisha mempunyai seorang budak laki-laki seorang Islam yang kemudian ia menamakannya Abu Yunus. Sunan Nasa’i vol.1 no.475 hal.340

        Aisha mempunyai seorang budak perempuan. Abu Dawud vol.1 no.371 hal.96

        Barirah adalah budak perempunan dari Aisha, yang mana kemudian ia dibebaskan. Abu Dawud vol.2 no.2223 dan catatan kaki1548 hal.601

        Aisha juga adalah seorang yang cepat marah, ia memukul tangan seorang pembantunya dan bahkan memecahkan mangkuk yang berisi makanan yang dikirim untuk Muhamad, karena yang mengirim adalah istrinya yang lain. Abu Dawud vol.2 no.3560-3561 hal.1011

        Aisha mempunyai suara yang keras dan lantang. al-Tabari vol.17 hal.65

        Aisha dengan senonoh membebaskan para budaknya dengan tujuan pembatalan janji. “ Ia [Ibn Az-Subair] mengirimkannya [‘Aisha] sepuluh budak yang ia bebaskan kemudian sebagai kompensasi atau penebusan perjanjianya. Aisha membebaskan akhirnya terus membebaskan para budaknya sampai sekitar empat puluh budak ia bebaskan dengan tujuan yang sama. Ia katakan ‘saya harap saya dapat mengatakan apa yang saya lakukan seperti dalam masalah janji saya yang saya tidak penuhi ketika saya membuatnya, dengan tujuan saya dapat melakukannya dengan mudah’ “ (1)

        catatan kaki (1) mengatakan, “ Aisha tidak mengatakan apa yang ia lakukan karena ia tidak dapat menjaga janjinya, ini mengapa ia membebaskan banyak budak dengan tujuan agar ia merasa adanya ketentraman dan kepuasan atas permintaan maafnya.” Bukhari vol.4 buku 56 bag.2 no.708 hal.465.

        Berapa banyak budak yang Aisha miliki? Atau berapa banyak uang yang ia miliki untuk membeli sekitar empat puluh budak tersebut? Hadist tidak mengatakan hal tersebut. Hanya ada dua hal yang saya temukan yaitu:

        1) Para istri Muhamad dapat memerintah sekitar sepuluh budak. Ibn-i-Majah vol.3 no.1771 hal.67.

        2) Seperlima dari rampasan hasil perang menjadi harta kekayaan orang Islam, dan Muhamad mempunyai jatah untuk ia dan juga istri-istrinya. Sahih Muslim vol.2 no.2347,2348; vol.2 catatan kaki 1463 hal.519; Bukhari vol.4 buku 51 bag.80 no.153 hal.99; vol.6 buku 60 bag.297 no.407 hal.379

        Aisha dan Perang Unta

        Aisha adalah orang pertama yang mendukung perihal pembunuhan terhadap Utman. Ia menyatakan bahwa Utman telah menjadi orang kafir dan tidak berkepercayaan lagi. Namun, setelah pembunuhan Utman dilakukan ia justru mengubah pemikirannya dan ingin menghukum orang-orang yang telah membunuh Utman. Orang Islam memanggilnya untuk melakukan hal tersebut. al-Tabari vol.17 hal.52-53

        Setelah ini, Mu’awiyah menunjuk Muhamad bin Abu Bakar untuk dieksekusi dengan alasan pembunuhan Utman, dan lalu tubuhnya ditaruh diatas keledai yang kemudian dibakar pada tahun 38 A.H. Aisha sangat berduka atas saudaranya itu, ia pun memanjatkan doa khusus untuknya. al-Tabari vol.17 hal.158

        4. Umi Salama

        Umi Salama binti Abi Umayyah (membicarakan hal yang intim dengan rasulAuwloh) Sahih Muslim vol.2 no.2455 p.540

        Umi Salama mempunyai nama asli Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah bin ‘Abdauwloh bin ‘Umar bin Makhzum. al-Tabari vol.9; hal.133; vol.39 hal.175.

        Umi Salama (tidak dikatakan menjadi seorang istri ) Sahih Muslim vol.2 no.2992 hal.656; vol.2 no.3445 hal.746; istri Bukhari vol.4 buku 53 bag.4 no.333 hal.216; Bukhari vol.7 buku 62 bag.34 no.56 hal.40. Ibn-i-Majah vol.2 no.1634 hal.473; Abu Dawud vol.1 no.383 hal.99. Muhammad menikahi Umi Salama, seorang janda Abu Salama (meninggal tahun 4 A.H. di Abyssinia). Al-Tabari vol.39 hal.175. Umi Salama meninggal pada tahun 59 H. ketika ia berumur 84 tahun. Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1218 hal.435. Umi Salama sedang hamil ketika Muhamad menikahinya dan anak perempuannya itu diberi nama Zainab binti Abu Salama (Sahih Muslim vol.2 no. 3539-3544 hal.776-777. (Ini adalah gadis yang sama sebagai Zainab binti Umi Salama)

        Istri Muhamad yang ini juga disebutkan dalam Abu Dawud vol.1 no.274 hal.68; vol.3 no.4742 hal.1332; vol.2 no.2382 hal.654; Sunan Nasa’i vol.1 no.240 hal.228; Ibn-i-Majah vol.3 no.1779 hal.72; al-Tabari vol.17 hal.207; al-Tabari vol.39 hal.80

        Umi Salama sudah mempunyai seorang anak laki-laki sebelum ia menikah dengan Muhamad. Namun anaknya itu telah pergi dengan Aisha, al-Zubayr, dan Talhah. Dalam al-Tabari vol.17 hal.42

        Teman Umi Salama adalah Naban (= Abu Yahya) dan Ma’in bin Ujay (=Abu Qudamah al-Tabari vol.39 hal.320

        5. Hafsa/Hafsah

        Anak perempuan dari Umar bin Khatab disebutkan dalam Sahih Muslim vol.2 no.2642 hal.576; vol.2 no.2833 hal.625; vol.2 no.3497 hal.761; Abu Dawud vol.2 no.2448 hal.675; vol.3 no.5027 hal.1402. Ia adalah anak perempuan Umar bin al-Khatab. Ia masih berusia 18 tahun ketika menjadi janda Kunais dan menikah dengan Muhamad pada tahun 625 A.D. Ia lahir pada tahun 607 A.D dan meninggal sekitar tahun 647/648, 661/662, atau tahun 665 A.D. Ia juga disebutkan sebagai istri Muhamad dalam Ibn-i-Majah vol.3 no.2086 hal.258

        Setelah suami Hafsa meninggal karena tertembak di Uhud, ayah Hafsa berpikir untuk menikahi Hafsa dengan Utman, namun Utman menolaknya karena ia tahu Muhamad menginginkan Hafsa untuk menjadi istrinya. Mereka menikah tahun 3 A.H. Hafsa lebih tua empat tahun dibanding dengan Aisha. Sunan Nasa’i vol.1 #32 hal.117. Oleh karena itu Muhamad tidak menikahinya hanya untuk memenuhi kebutuhan Hafsa. Muhamad lebih suka menikahi seseorang yang sebelumnya telah menjadi istri orang lain.

        Konflik: ‘Umar mengatakan pada Hafsa untuk tidak menggangu Aisha yang sangat bangga akan kecantikannya dan Muhamad pun mencintainya. Bukhari vol.7 buku 62 bag.106 no.145 hal.108. Hafsa mengatakan pada Aisha “Saya tidak pernah mendapat perlakuan yang baik darimu!” Bukhari vol.9 buku 92 bag.5 no.406 hal.299-300

        Umar mengatakan Muhamad menceraikan Hafsa (membatalkan perceraian) lalu membawanya kembali. Abu Dawud vol.2 no.2276 hal.619. Menurut Ibn Ishaq, Mohammad menceraikan Hafsa tapi membawanya kembali. al-Tabari vol.9 catatan kaki 884 hal.131.

        “Yahya … dari Malik dari Muhamad ibn Abdul ar-Rahman…yang mana ia dengar bahwa Hafsa…membunuh salah satu budak perempuannya yang hendak membunuhnya menggunakan ilmu sihir. Ia adalah seorang mudabara. Hafsa menyuruh seseorang untuk membunuhnya, dan iapun dibunuh” Muwatta Malik 42.19.14

        Hafsa, istri Muhamad, meninggal ketika ia berusia 60 tahun. al-Tabari vol.39 hal.174

        6. Zainab binti Jahsh

        Sahih Muslim vol.2 no.2347 hal.519; vol.2 no.3330 hal.723,724; vol.2 no.3332 hal.725; vol.2 no.3494 hal.760. Bukhari vol.3 buku 33 bag.6 no.249 hal.138; vol.3 no.829 hal.512; vol.4 no.6883 hal.1493; Nama asli Zaynab adalah “Barrah”, tapi Muhamad menggantinya menjadi Zaynab. Bukhari vol.8 buku 72 bag.108 no.212 hal.137; Abu Dawud vol.3 no.4935 hal.1377-1378. Abu Dawud vol.1 no.1498 mengatakan nama Juwairyiha biasanya Barrah.

        Sura 33:36-38 dalam Qur’an mengatakan” ini tidak untuk orang percaya lainnya, laki-laki atau perempuan, ketika Tuhan dan utusanNya memutuskan sesuatu, untuk membuat pilihan dalam suatu hubungan. Siapapun yang tidakj patuh pada Auwloh dan utusanNya dibuat hilang dan menjadi kesalahan yang besar. Ketika anda mengatakan padanya yang mana Auwloh telah memberkatinya dan anda menyukainya ‘Jagailah istrimu untuk dirimu sendiri, dan takutlah pada Auwloh’ dan anda sedang bersembunyi dalam diri anda akan apa yang Auwloh harus tunjukkan, takut pada sesama, dan Auwloh mempunyai hak yang lebih baik untuk anda untuk takut padanya. Maka ketika Zaid menyelesaikan apa yang ia inginkan darinya, lalu kita akan memberinya untuk dinikahi, maka tidak akan ada kesalahan pada orang percaya, menyentuh istri dari anak laki-laki yang diadopsi, ketika mereka menyempurnakan apa yang akan mereka lakukan terhadapnya, dan perintah Auwloh harus ditunjukkan. Tidak ada pada nabi, menyentuh apa yang Auwloh telah tahbiskan untuknya.”

        Zainab binti Jahsh menikah dengan anak adopsi laki-laki Muhamad, sampai Muhamad berbicara mengenai Sura yang mengatakan bahwa ia harus bercerai dengan suaminya atau anak laki-lakinya itu dan menikah dengannya. Zainab “telah mengatakan lebih dulu sebelum para istri nabi, dan menyatakan bahwa Auwloh menikahi saya (melalui Nabinya) di Surga” Bukhari vol.9 buku 93 bag.22 no.517 hal.382. Juga vol.9 buku 92 bag.22 no.516,518 hal.381-383; al-Tabari vol.9 hal.133. Dilain hal, dalam Qur’an yang ada di Surga yang tak diciptkan itu, pernikahan Zainab telah disebutkan.

        Zainab anak Jahsh mempunyai saudara laki-laki yang telah meninggal sebelum ia ada. Abu Dawud vol.2 no.2292 hal.624

        Suatu peryataan dugaan bahwa Zaid menceraikan istrinya Zainab hanya karena Muhamad akan menikahinya.. al-Tabari vol.39 hal.180-182

        Zainab binti Jahsh meninggal pada usia 53 tahun. al-Tabari vol.39 hal.182

        Zainab (tak diberinama) Sahih Muslim vol.2 no.2641,2642 hal.575,576.

        Zainab binti Jahsh seharusnya tidak perlu bingung dengan Zainab yang merupakan istri Abu Sa’id al-Khudri. Ibn-i-Majah vol.3 no.2031 hal.223

        Zainab [secara verbal] menyakiti A’ishah, maka Muhamad mengatakan pada Aisha untuk mencerca balik. “…RasulAuwloh (semoga damai menyertainya) datang padaku [Aisha] ketika Zainab anak Jahsh sedang bersama dengan kita. Ia mulai menggunakan tangannya untuk melakukan sesuatu, Aku mengerti memberinya suatu tanda padanya sampai saya membuatnya mengerti padanya. Maka ia berhenti. Zainab datang dan mengina Aisha. Ia mencegahnya tetapi ia tidak menghentikannya. Lalu ia (Nabi) datang dan berkata pada Aisha : caci maki dia. Lalu ia mencacimaki Zainab dan menguasainya. Zainab lalu pergi ke Ali dan berkata: Aisha telah menghina saya dan melakukan (ini dan itu) Fatimah pun datang (pada Nabi) dan berkata padanya: ia adalah anak kesayangan bapamu, Tuhan dari Ka’abah! Ia kemudian kembali lagi dan mengatakan pada mereka : saya mengatakan padanya beberapa hal, dan ia mengatakan padanya beberapa hal pula. Lalu Ali datang pada Nabi (semoga damai menyertainya) dan berbicara dengannya tentang itu” Abu Dawud vol.3 no.4880 hal.1364-1365

        Dalam Alkitab Maleakhi vol.12 no.16 dikatakan bahwa Tuhan benci pada perceraian.

        7. Juwairiya

        Juwairiya binti Harith/al-Harith adalah seorang budak tahanan. Bukhari vol.3 buku 46 bag.13 no.717 hal.431-432. Sahih Muslim vol.2 no.2349 hal.520 mengatakan bahwa Muhamad menyerang bangsa Bani Mustaliq tanpa peringatan ketika mereka sedang melakukan pekerjaan dipeternakannya. Juwairiya adalah anak perempuan dari seorang tukang masak. Sahih Muslim vol.3 no.4292 hal.942 dan Abu Dawud vol.2 no.227 hal.728 dan al-Tabari vol.39 hal.182-183 juga mengatakan Juwairiya ditangkap dalam penyerangan terhadap bangsa Banu Mustaliq. Ia telah menikah dengan Musafi bin Safwan, yang telah dibunuh dalam perang.

        Istri Muhamad Juwairiya dulunya bernama Barrah. Abu Dawud vol.1 no.1498 hal.392. namun, Bukhari vol.8 buku 72 bag.107 no.212 hal.137; Abu Dawud vol.3 no.4935 hal.1377-1378 mengatakan dulunya nama Zainab juga Barrah.

        Juwayriya binti al-Harith bin Abi Birar bin Habib, cucu laki-laki yang hebat Jadhimah al-Mustaliq dari kelompok Khuza, dirampas ketika orang Islam menyerang bangsa al-Mustaliq. Suaminya, Musafi bin Safwan Dhu al-Shuir bin Abi Asrb bin Malik bin Jadhimah dibunuh saat itu. Ia menjadi tawanan perang yang setuju untuk menikah dengan Muhamad. al-Tabari vol.39 hal.182-183; al-Tabari vol.9 hal.133.

        Juwayriyya ditangkap dalam perang al-Muraysi [melawan bangsa Banu Mustaliq]. al-Tabari vol.39 hal.183

        Juwayriyya menikah dengan Muhamad ketika berusia 20 tahun. al-Tabari vol.39 hal.184

        8. Ummi Habiba

        Ummi Habiba adalah anak perempuan Abu Sufyan al-Tabari vol.9 hal.133; Sahih Muslim vol.2 no.3413 hal.739; vol.2 no.2963 hal.652; Sahih Muslim vol.2 no.1581 hal.352; vol.2 no.3539 hal.776 Ibn-i-Majah vol.5 no.3974 hal.302; al-Tabari vol.17 hal.88

        Ummi Habiba berusia 23 tahun lebih muda dari Muhamad. Sunan Nasa’i vol.1 #60 hal.127

        Ummi Habiba dan suami pertamanya Ubaydauwloh adalah orang Islam yang pergi ke Abyssinia. ’Ubaydauwloh pindah ke agama Kristen. al-Tabari vol.39 hal.177

        Menyebutkan Zainab binti Jahsh. al-Tabari vol.39 hal.180-182

        Ummi Habiba, istri Muhamad tidak perlu dipusingkan dengan perempuan lain yang juga bernama Ummi Habiba. Ia adalah anak perempuan Jashs, istri Abd al-Rahman dan saudara ipar Mohammad, karena Zainab anak Jahsh adalah istrinya. Abu Dawud vol.1 no.288 hal.73

        9. Safiya/ Saffiya

        Safiya binti Huyai/Huyayy adalah seorang budak tahanan yang Muhamad nikahi setelah memnghabisi nyawa ayah, saudara laki-laki, suami dan orang-orang Khaibar, menurut Bukhari vol.2 buku 14 bag.5 no.68 hal.35; vol.4 buku 52 bag.74 no.143 hal.92; vol.4 buku 52 bag.168 no.280 hal.175 dan al-Tabari vol.39 hal.185.

        Suami Safiyah bernama Sallam bin Mishkam bin al-Hakam bin Harithah bin al-Khazraj bin Ka’b bin Khazraj. al-Tabari vol.9 hal.134-135.

        Safiyyah dipanggil Safi, pada pembagian rampasan pertama, yang mana menjadi milik Muhamad. Abu Dawud vol.2 no.2988 hal.848; Abu Dawud vol.2 no.2985-2989 dan catatan kaki 2406 hal.846-849

        Safiyya dibelikan oleh Muhamad tujuh orang budak. Ibn-i-Majah vol.3 no.2272 hal.357. Ia baru berusia 17 tahun ketika Muhamad menikahinya. al-Tabari vol.39 hal.184

        Mohammad merasa senang terhadap Safiyya. “Jika Safiyyah tidak berduka, saya akan meninggalkannya saja sampai burung-burung dan binatang busa memakannya dan ia akan dibangkitkan lagi dalam kepercayaannya.” Abu Dawud vol.2 no.3130-3131 hal.893

        Secara fisik, Saffiya itu pendek. Abu Dawud vol.3 no.4857 hal.1359

        Ada konflik diantara para istri tersebut. Zainab tidak mau menyewakan untanya pada Saffiya ketika Muhamad menyuruhnya. Zainab menyebut Saffiya ”orang Yahudi” Abu Dawud vol.3 no.4588 hal.1293

        Mohammad mempunyai sembilan istri dalam satu waktu yang bersamaan, termasuk Saffiya binti Huyayy, dan kemudian ia tidak memberikannya “giliran”. Sahih Muslim vol.2 no.3455-3456 hal.749

        Istri Muhamad ini juga disebutkan dalam Sahih Muslim vol.2 no.3325; vol.2 no.2783 hal.605; vol.2 no.3118 hal.678; vol.2 no.3497 hal.761; Bukhari vol.3 buku 33 bag.8-13 no.251-255 hal.139-143; vol.2 buku 21 bag.22 no.255 hal.143; Ibn-i-Majah vol.3 no.1779 hal.72; Abu Dawud vol.2 no.2464 hal.681; al-Tabari vol.39 hal.169

        Safiya binti Abi ‘Ubaid istri Muhamad dalam Bukhari vol.4 buku 52 bag.136 no.244 hal.151 mungkin orang yang sama juga.

        10. Maimuna binti Harith

        Sahih Muslim vol.1 no.1671,1674,1675 hal.368-369; vol.2 no.1672 hal.369.

        Mohammad menikahi Maymuna binti Al-Harith pada tahun 7 A.H. ketika Muhamad sedang dalam suatu ritual suci menuju kota suci Mekah. al-Tabari vol.8 hal.136; al-Tabari vol.9 hal.135

        Maymuna telah bercerai sebelumnya, dan telah menjadi janda sebelum menikah dengan Muhamad. al-Tabari vol.39 hal.185. Maymuna berusia 80/81 tahun ketika meninggal. al-Tabari vol.39 hal.186

        Maimuna berusia 30 tahun ketika Muhamad berusia 53 tahun menikahinya. Muhamad meninggal empat tahun kemudian. Sunan Nasa’i vol.1 #43 hal.120

        Maimuna, istri Muhamad, mengintip Muhamad Bukhari vol.1 buku 5 bag.22 no.279 hal.170-171. Orang yang diintip ketika mereka mandi atau pergi ke kamar mandi. Tak ada yang salah, lagipula ia adalah istrinya.

        Ata bin Yasar adalah seorang teman Maemunah. al-Tabari vol.39 p.317

        Budak-budak: Budak-budak perempuan yang dibebaskan oleh Maymunah diberikan seekor domba, yang nantinya akan mati. Ibn-i-Majah vol.5 no.3610 hal.93

        Istri Muhamad yang ini juga disebutkan dalam: Ibn-i-Majah vol.3 no.2408 hal.435; Sunan Nasa’i vol.1 no.809 hal.492; vol.2 no.1124 hal.108; Abu Dawud vol.1 no.1351 hal.356; vol.1 no.1359,1360,1362 hal.357; Sunan Nasa’i vol.1 no.243 hal.229.

        11. Fatima/ Fatimah

        Fatima telah disebutkan oleh Ali Dashti. al-Tabari vol.9 hal.39 menyatakan bahwa Muhamad menikahi Fatimah binti al-Dahhak bin Sufyan (juga disebut al-Kilabiyyah).dalam waktu yang singkat

        Mohammad menikahi Fatimah binti Shurayh. al-Tabari vol.9 hal.139. Ini adalah hal yang agak aneh, jika Shuray dan al-Dahhak adalah dua orang yang berbeda, membuat dua orang Fatima, atau mungkin mereka menmberikan nama alternatif karena ayah yang sama.

        Menyebutkan Fatimah bin al-Dahhabi, Alya binti Zahyah, Sana binti Sufyan al-Tabari vol.39 hal.186

        Mohammad melakukan hubungan pernikahannya dengan “the Kilabiyyah”. Ini bisa mengarah pada Fatimah binti al-Dahhak bin Sufyan atau ‘Aliyah binti Zabyan bin ‘Amr bin ‘Awf atau Sana binti Sufyan bin ‘Awf. al-Tabari vol.39 hal.187

        Fatima, orang yang berbeda, anak perempuan Muhamad

        Berikut ini mungkin adalah istri Muhamad, tapi bisa juga anak perempuan Muhamad. Dalam masa penyerangan Mekah, Fatima telah mengintip dengan Muhamad. Ibn-i-Majah vol.1 no.465 hal.255 dan Sunan Nasa’i vol.1 no.228 hal.224; vol.1 no.417 hal.307

        Seorang Fatima mengintip Muhamad ketika ia sedang mandi dalam Bukhari vol.1 buku 5 bag.22 no.278 hal.170-171. Namun, Muhamad sedang mandi ketika ia diintipi oleh anak perempuannya Fatima dalam Bukhari vol.4 buku 53 bag.29 no.396 hal.263. Fatima adalah anak perempuan Muhamad dan juga istri dari Ali dalam Bukhari vol.3 buku 34 bag.29 no.302 hal.171; Bukhari vol.4 buku 53 bag.1 no.325 hal.208.

        Mohammad tidak menginginkan Ali untuk menikahi orang lain kecuali anak perempuannya Fatima. Ibn-i-Majah vol.3 no.1998-1999 hal.202-204. Namun, Ali mempunyai seorang budak tawanan, anak perempuan dari Rab’iah, yang membosankan, anaknya itu bernama Umi Ruqayyah. al-Tabari vol.11 hal.66.

        Menginginkan seorang budak: Ketika Muhamad memberikan banyak budak untuk Aisha, Fatima berpikir ia telah membuat keputusan yang buruk. Anak perempuan Muhamad, Fatima mengajukan pertanyaan pada Muhamad tentang pekerjaannya yang berat mengasah batu dan meminta untuk dibelikan budak. Muhamad tidak memberikannya yang ia minta, namun ia memberikan sesuatu yang lebih baik. Ia mengatakan pada Fatima untuk memuja Auwloh sebanyak 33 kali, bersukacita pada Auwloh sebanyak 34 kali, dan Auwloh menjadi 34 kali paling hebat. Abu Dawud vol.3 no.5044-5045 hal.1405

        12. Hend/Hind

        Hend/Hind yang sebelumnya menikah dengan Abu Sufyan, yang mana adalah orang yang sangat pelit. Menurut Sahih Muslim vol.3 no.4251-4254 hal.928-929.

        13. Sana binti Asma’ / al-Nashat

        Mohammad menikahi al-Nashat binti Rifa’ah dari bangsa Banu Kilab bin Rabi’ah, yang merupakan bagian dari persekutuan Qurayzah. Beberapa orang menyebutnya Sana binti Asma’ bin al-Salt al-Sulamiyyah; ketika yang lain menyapa Sana binti Asma’ bin al-Salt dari bangsa Banu Harm. However, ia meninggal sebelum melkaukan hubungan pernikahan dengan Muhamad. Ia juga dipanggil Sana. al-Tabari vol.9 hal.135-136. al-Tabari vol.39 hal.166 mengatakan hal yang sama tentang Sana binti al-Salt.

        14. Zainab/Zaynab binti Khozayma/Khuzaima

        Zainab yang ini adalah keturunan bangsa Banu Hilal. Ia bercerai dari seorang lelaki Islam bernama Tufayl, dan menikahi saudara laki-lakinya ‘Ubaydah, yang dibunuh di Badar. Lalu ia menikah dengan Muhamad. Ia lahir tahun 595 A.D dan meninggal 626 A.D diusia 31 tahun. Lihat al-Tabari vol.7 hal.150 catatan kaki 215,216 dan al-Tabari vol.39 hal.163-164 untuk info yang lebih lengkap.

        al-Tabari vol.9 hal.138 juga mengatakan ia meninggal ketika Muhamad masih hidup.

        Mohammad menikahi Zainab binti Khuzaima, tetapi ia meninggal sebelum Muhamad menikahinya. Sunan Nasa’i vol.1 #64 hal.129

        15. Habla?

        Habla ada dalam daftar Ali Dashti, tapi saya ada kesulitan dan tidak dapat menceritakannya lebih lanjut secara bebas.

        16. Janda Asma’ binti Noman

        Asma binti Noman, atau Asma binti al-Nu’man bin Abi Al-Jawn, dari bangsa Kindah, telah menikah dengan Muhamad, namun ia tidak pernah melakukan hubungan pernikahan dengannya. al-Tabari vol.10 hal.185 dan catatan kaki 1131 hal.185.

        Anak perempuan dari Al Jahal ini dinikahi oleh Muhamad hanya dalam waktu yang sangat singkat. Bukhari vol.7 buku 63 no.181 hal.131,132

        Dilain hal, al-Tabari vol.10 hal.190 mengatakan bahwa Al-Nu’man al-Jahal menawarkan anak perempuannya pada Muhamad, tetapi Muhamad menolaknya. Mungkin “menolak” berarti Muhamad menceraikannya sebelum ia tidur dengannya.

        Mohammad menikahi Asma binti al-Nu’man bin al-Aswad bin Sharhil. Namun, ia menderita penyakit kusta, lalu Muhamad memberikan ia uang dan menceraikannya. al-Tabari vol.9 hal.137. Mengapa ia lakukan itu pada orang yang ia cintai?

        Asma binti al-Nu’man adalah janda ketika Muhamad menikah lagi. Baik Hafsa atau Aisha menipunya dengan mengatakan padanya bahwa Muhamad akan bahagia jika ia mendapatkan kebahagiaan dalam Auwloh dari Muhamad. al-Tabari vol.39 hal.188-190

        Cerita singkat tentang ‘Asma binti Nu’man dalam al-Tabari vol.39 hal.190.

        Mohammad menceraikan seorang perempuan, karena ia menganggap perempuan tersebut telah mengambil keslamatan dalam Tuhan dari Muhamad. Ia menceraikan Asma juga karena ia menderita penyakit kusta. Ada beberapa gabungan nama yang mana ada dalam peristiwa ini yaitu dalam al-Tabari vol.39 hal.187.

        17. Maria seorang Kristen

        Maria adalah istri (selir) sesuai dengan al-Tabari vol.9 hal.141; Sahih Muslim vol.4 catatan kaki 2835. hal.1351; Maria yang seorang Kristen melahirkan anak laki-laki, Ibrahin dari Muhamad dalam al-Tabari vol.9 hal.39. Ia meninggal ketika berusia dua tahun. Perwakilan Islam Hatib bin Abi Balta’ah kembali dari al-Muqawqis [Mesir] dengan Maria (seorang Kristen), adiknya Sirin, seorang bagal perempuan, berpakaian rapih, dan seorang sida-sida. Hatib mengajak mereka untuk menjadi pemeluk agama Islam, dan mereka pun pindah agama (sesuai Tabari). Maria sangat cantik dan Muhamad mengirim Sirin pada Hasan bin Thabit. Sirin dan Hasan adalah orangtua dari Abdul al-Rahman bin Hassan. al-Tabari vol.8 hal.66,131.

        Seorang Islam mungkin mengatakan bahwa Muhamad menikahinya karena ia adalah bagai sebuah hadiah dari Mesir, tapi adiknya juga merupakan pemberian, dan ia tidak menikahi Sirin. Maria adalah pemberian dari pemerintah Aleksandria. al-Tabari vol.39 hal.193

        Hal ini dinyatakan bahwa Maria menjadi seorang Islam, tetapi Muhamad tetap menjadikannya sebagai budak tidak seperti istri selayaknya. al-Tabari vol.39 hal.194

        Mohamad “melakukan hubungan seksual dengannya oleh karena kekuasaannya” al-Tabari vol.39 hal.194. Catatan kaki 845 menjelaskan, “Ini adalah, Maria disuruh memakai kerudung seperti yang dilakukan oleh istri-istri nabi, namun ia tidak menikahinya”.

        Maria meninggal tahun 637/638 A.D. al-Tabari vol.39 p.22

        18. Rayhana binti Zaid

        Rayhana adalah seorang Yahudi budak dari bangsa Quraiz. Muhamad menawarkannya untuk menjadi istrinya sebagai ganti setelah ia menjadi budak, namun ia menolak dan tetap menjadi seorang Yahudi hal ini sesuai dengan al-Tabari vol.8 hal.39. Lihat juga al-Tabari vol.9 hal.137,141. Namun, sumber dalam al-Tabari vol.39 hal.164-165 mengatakan Muhamad membebaskannya lalu menikahinya.

        Mohammad mempunyai dua orang selir; Maria binti Sham’un (seorang Kristen) dan Rayhana binti Zaid al-Quraiz dari Banu al-Nadir. al-Tabari vol.9 hal.141. Maria adalah seorang walid dari Muhamad sesuai dengan al-Tabari vol.13 hal.58.

        19. Janda Umi Sharik / Ghaziyyah binti Jabir

        Umi Sharik adalah orang yang sama dengan Ghaziyyah binti Jabir dalam al-Tabari vol.9 hal.139. Ia disebut” Umi Sharik” karena adalah seorang ibu dari seorang anak laki-laki bernama Sharik dari pernikahan sebelumnya.

        “Ketika Nabi bertemu dengannya, saat itu ia sudah terlihat tua, dan ia pun menceraikannya” al-Tabari vol.9 hal.139. Namun catatan kaki 922 mengatakan Ibn Sa’d dalam Tabaqat, 8 hal.110-112 “memberikan sebuah cerita yang berbeda dan menjadikannya dalam daftar orang-orang yang diinginkan oleh Nabi namun tidak dinikahinya. Itu adalah dia yang memberikan dirinya untuk Muhamad dan dalam ayat Qur’an 33:50 mengacu padanya”.

        20. Maimuna

        Maimuna adalah seorang perempuan yang menawarkan dirinya kepada Muhamad, sesuai dengan Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1919. Orang ini mungkin adalah Maimuna yang sama dengan yang di no.10 atau orang yang berbeda. Yang menikah pada tanggal 7 Hijriah.

        Seorang perempuan yang tak dikenal mengatakan ia menyerahkan dirinya pada Muhamad sebagai seorang istri. Muhamad tidak mau menerimanya, tapi memberikannya pada orang Islam yang miskin. Yang dapat dilakukan oleh orang miskin itu sebagai hadiah yaitu memberikan sebuah benda kenangan sebuah Sura dari Qur’an. Muwatta’ Malik 28.3.8

        21. Zainab ketiga?

        Ali Dashti mencatat tentang istri yang ini, namun saya tidak menemukan bukti yang kuat tentang ini.

        22.Khawlah binti al-Hudayl

        Hal ini mengatakan bahwa Muhamad menikahi Khawlah bint al-Hudayl. al-Tabari vol.9 hal.139. Ia adalah istri Muhamad menurut al-Tabari vol.39 hal.166

        23. Janda Mulaykah binti Dawud

        Muhamad menikahi (secara tertulis) Mulaykah binti Dawud al-Laythiyyah, tetapi ketika ia mengatakan bahwa Muhamad adalah orang yang membunuh ayahnya, maka meminta perlindungan Auwloh dari Muhamad, dan Muhamad menjauh darinya. al-Tabari vol.8 hal.189. Hal yang sama juga dikatakan oleh Mulaykah binti Ka’b (yang sepertinya adalah orang yang sama) dalam al-Tabari vol.39 hal.165

        Mulaykah binti Ka’b menikah dengan Muhamad dalam waktu yang singkat saja. Karena Aisha mengatakannya kalau ia telah menikah dengan seseorang yang telah membunuh suaminya. Ia pun mencari perlindungan pada Tuhan dari Muhamad, dan Muhamad pun menceraikannya. al-Tabari vol.39 hal.165

        24. Janda al-Shanba’ binti ‘Amr

        Mohamad menikahi al-Shanba’ binti ‘Amr al-Ghifariyyah; orang-orangnya adalah dari perkumpulan Banu Quraiz. Ketika Ibrahim meninggal. Perempuan itu mengatakan jika ia adalah seorang nabi yang sesungguhnya, maka seharusnya anak laki-lakinya itu tidak akan mati. Muhamad menceraikannya sebelum melakukan hubungan pernikahan dengannya. al-Tabari vol.9 hal.136

        25. Janda al-‘Aliyyah

        Mohamad tinggal sebentar dengan Aliyyah binti Zabyan bin ‘Amr bin ‘Awf bin Ka’b, lalu menceraikannya. al-Tabari vol.39 hal.188

        Muhamad menikahi al-‘Aliyyah, namun menceraikannya, ia meninggal ketika Muhamad masih hidup. al-Tabari vol.9 hal.138.

        26. Janda ‘Amrah binti Yazid

        Muhamad menceraikan ‘Amrah binti Yazid karena ia menderita penyakit kusta. al-Tabari vol.39 hal.188

        Mohamad menikahi ‘Amrah binti Yazid (tak disebutkan tentang perceraian) al-Tabari vol.9 hal.139.

        Mohamad bercerai dengan ‘Amra. Ibn-i-Majah vol.3 no.2054 hal.233 vol.3 no.2030 hal.226 (daif [lemah], bukan Sahih)

        Muhamad menceraikan seorang perempuan karena perempuan itu menderita kusta. al-Tabari vol.39 hal.187

        27. Janda yang tak bernama

        Mohamad menceraikan seorang perempuan yang tak dikenal karena ia mengintip ketika orang-orang meninggalkan mesjid. al-Tabari vol.39 hal.187

        28. Qutaylah binti Qays (telah meninggal)

        Muhamad menikahi Qutaylah binti Qays tetapi ia meningal sebelum melakukan hubungan pernikahan. Jika ingin tahu juga, dalam buku ini dikatakan bahwa ia dan saudara laki-lakinya telah murtad dari Islam. Maka, ia murtad setelah menikah dan sebelum kematiannya mungkin? al-Tabari vol.9 hal.138-139.

        29. Sana binti Sufyan

        Menyebutkan pernikahan singkat Muhamad dengan Sana bint Sufyan. al-Tabari vol.39 hal.188

        30. Sharaf binti Khalifah

        Muhamad menikahi Sharaf bint Khalifah, adik perempuan dari Dihyah bin Lhalifah al-Kalbi, tetapi ia meninggal lebih dulu dibanding Muhamad. al-Tabari vol.9 hal.138

        31. Para perempuan dari anak buah Muhamad

        “…Selain seksualitas, kecuali dengan orang-orang yang ingin mengikut pada mereka dalam ikatan pernikahan, atau (para budak) yang dipelihara oleh anak buahnya – sehingga mereka bebas dari hukuman,” Sura 23:5-6. Lihat juga Sura 4:24

        “Ia (Muhamad) menjawab,’sembunyikan masalah privasimu kecuali dari istri dan dari budak-budak perempuan itu.”’ Abu Dawud vol.3 no.4006 hal.1123

        Abu Dawud vol.3 no.4443-4445 hal.1244 menunjukkan bahwa melakukan hubungan seksual dengan seorang budak perempuan adalah hal yang sah, namun sang tuan akan dipukul jika melakukan hubungan seksual dengan budak perempuan istrinya.

        Seperti layaknya orang-orang kaya dari Arab, Muhamad sepertinya juga melakukan hal yang sama yang mana juga membutuhkan banyak budak perempuan. Lihat Bukhari vol.7 buku 64 bag.6 no.274 hal.210.

        Salma adalah salah seorang budak perempuan yang dimiliki. Abu Dawud vol.3 no.3849 hal.1084

        Maimuna adalah salah seorang budak perempuan Muhamad yang dibebaskan. Ibn-i-Majah vol.3 no.2531 hal.514; Abu Dawud vol.1 no.457 hal.118

        Muhamad pernah pada waktu yang singkat mempunyai selir “yang sangat cantik” sebelum ia memberikannya pada Mahmiyah bin Jaz’ al-Zubaydi. al-Tabari vol.8 hal.151

        Salah satu budak perempuan Muhamad yang tinggal dirumahnya melakukan hubungan seksual diluar nikah dengan orang lain. Hal ini “orang lain” tersebut yang merupakan masalahnya. Abu Dawud vol.3 no.4458 hal.1249

        Mohamad memanggil seorang budak perempuan kulit hitam untuk datang padanya dan bersembunyi dari Abu Dharr dibelakang korden ketika ia sedang mandi. Abu Dawud vol.1 no.332 hal.87

        Menyebutkan Umi Ayman (=Barokah), seorang langganan (budak) Nabi. al-Tabari vol.39 hal.287

        Mohamad sebenarnya mempunyai rasa humor juga. Umi Aiman, pelanggan Muhamad (seperti: budak yang dapat menemaninya selama semalam). Menurut al-Husayn … Umi Aiman: [Satu] malam Nabi bangun dan pipis disudut tempat bejana. Selama semalam saya bangun itu, dan saya haus, saya meminum sesuatu yang ada di dalam bejana itu, tanpa memerhatikannya. Ketika Nabi bangun di pagi hari ia berkata’ Oh Umi Aima, tolong ambilkan bejana yang ada dipojok itu dan buang isinya.’ Saya berkata ‘Ya Tuhan, saya telah meminumnya.’ Nabi tertawa sampai giginya terlihat, kemudian ia berkata ’setelah ini kamu tidak akan menderita sakit perut itu’” al-Tabari vol.39 hal.199

        Secara garis besar, Abu Dawud vol.3 no.4443-4445 hal.1244 mengajarkan bahwa melakukan hubungan seks dengan seorang budak perempuan milik tuannya sendiri itu sah-sah saja, tetapi tuannya tersebut akan dipukuli jika melakukan hubungan seks dengan budak perempuan milik istrinya.

        Tetapi, melakukan hubungan seks dengan seorang budak perempuan dari istrinya itu biasa saja, jika budak perempuan itu sah untuknya. Perlu dicatat, bahwa ia tidak pernah menikah dengan budak perempuan. Ibn-i-Majah vol.4 no.2551 hal.12

        Mohamad tidak pernah menikah dengan siapapun!

        Aisha merasa cemburu pada setiap perempuan yang ingin menawarkan dirinya pada Muhamad (sebagai istri). Sahih Muslim vol.2 no.3453 hal.748. Tetapi itu adalah sah jika ada perempuan yang menawarkan dirinya pada Muhamad. Ibn-i-Majah vol.3 no.2000-2001 hal.304-305

        Beberapa orang berpikiran bahwa Muhamad menikah dengan al-Ashath, tetapi al-Tabari mengatakan bahwa itu salah menurut al-Tabari vol.39 hal.190i. (Secara keseluruhan, al-Tabari melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan mencoba selalu berhubungan dengan para perempuan Muhamad)

        Gagalnya Rencana Pernikahan

        Mohamad meminta Ghaziyyah untuk menikah dengannya karena kecantikkannya, tapi ia menolaknya. Tabari menyatakan ia adalah orang yang tidak setia namun belum ada bukti. al-Tabari vol.9 hal.136. Tidak ada bukti tentang apakah ia tidak setia dan Muhamad tampak tidak peduli dengan tidak menghukumnya, atau setidaknya ketika ia melakukan kesalahan maka Muhamad menghukumnya.

        Laila menepuk bahu Muhamad dari belakang dan memintanya untuk menikahinya. Muhamad menerima. Orangnya Laila mengatakan,”Apa yang telah anda lakukan! Anda adalah perempuan terhormat, tapi ia adalah lelaki hidung belang. Menjauhlah darinya.’ Ia menemui Muhamad lagi dan memintanya untuk menggagalkan pernikahan itu dan ia menurutinya” al-Tabari vol.9 hal.139

        Dari al-Tabari vol.9 hal.140-141, Mohamad merencanakan pernikahan itu, namun berakhir dengan tidak adanya pernikahan:

        1) Umi Hani’ binti Abi Talib [Hind] karena ia mengatakan ia sudah mempunyai anak.

        2) Duba’ah binti ‘Amir tetapi ia terlalu tua.

        3) Dilaporkan ia berencana menikah dengan Saffiyah binti Bashshamah, seorang budak. Ia diijinkan untuk memilih antara Muhamad dan suaminya, dan ia memilih suaminya.

        4) Umi Habiba binti al-‘Abbas tetapi karena al-‘Abbas adalah saudara laki-laki angkatnya, maka Muhamad membatalkannya.

        5) Jamrah binti Al-Harith. Ayahnya salah menduga jikalau ia sedang menderita sesuatu. Ketika ia datang, ia melihat keadaannya bahwa ia telah menderita penyakit kusta.

        Hal ini tidak konsisten dimana UmiHani’ menjadi seorang Islam sebelum atau setelah Muhamad memintanya menikahi dengannya. al-Tabari vol.39 hal.197 dan catatan kaki 857 hal.197

        Read more: http://islamexpose.blogspot.com/2008/08/mengapa-muhammad-hobi-kawin.html#ixzz22OkLdaKW

      • sadarlah 5:55 pm on 12/04/2015 Permalink | Reply

        Salam kasih dalam Yesus kristus,

        Anda mengatakan “Tidak ada yang bisa saya salahkan dalam ajaran agama Islam karena memang Islam didasarkan logika”

        pertanyaan saya :

        Logika apa yang anda pakai, tentang kejadian isra miraj muhammad, dari masjidil haram ke mesjidil laqsa, padahal waktu itu mesjidil aqsa di yerusalem belum ada ?

        Logika apa yang anda pakai, anda mempercayai mengenai konsep surga islam yang masih menyakini di surga ada persetubuhan antara laki-laki dan wanita ?

        Logika apa yang anda pakai anda mempercayai, bilamana seseorang mengaku nabi atas pernyataan dirinya sendiri dan tanpa bisa membuktikan kenabiannya bilamana orang lain minta bukti?

        logika apa yang anda pakai, anda mempercayai, setelah 13 tahun kemudian baru muhammad menyatakan bahwa makhluk yang menjadi perantara “wahyu” kepadanya adalah jibril.?

        Logika apa yang anda pakai bahwa anda mempercayai batu hajar asward datang dari surga seperti yang di katakan muhammad?

        Logika apa yang anda pakai, anda mempercayai tentang kejadian kelahiran Yesus Kristus yang terdapat di quran adalah adopsi dari injil bidah kristiani ?

        Logika apa yang anda pakai, bahwa anda mempercayai Abraham menbangun kabah, padahal tidak ada catatan sejarah tentang Abraham ke mekkah ?

        Apakah anda mempercayai, tanya jawab sbb yang adalah klaim sepihak :
        Mengapaa anda percaya quran wahyu tuhan, jawabannya karena kata muhammad,
        Mengapa anda percaya apa yang di katakan muhammad, jawabannya karena kata quran

        Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berdasarkan logika atas dasar logika yang anda maksudkan.

    • Pearle Walentoski 7:28 am on 07/01/2017 Permalink | Reply

      Artikel yang menarik dan informatif… terima kasih, gan..

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel