SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

BAB 2 SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

18

  1. A.   PENDAHULUAN

 

Dalam Bab 1 kita telah mendapatkan gambaran mengenai cakupan

ajaran Islam yang meliputi seluruh aspek hidup manusia. Kita juga

telah membahas bahwa walaupun di zaman Nabi SAW belum ada

institusi bank, tetapi ajaran Islam sudah memberikan prinsip-prinsip

dan filosofi dasar yang harus dijadikan pedoman dalam aktifitas

perdagangan dan perekonomian. Karena itu, dalam menghadapi

masalah muamalah kontemporer yang harus dilakukan hanyalah

mengidentifikasi prinsip-prinsip dan filosofi dasar ajaran Islam dalam

bidang ekonomi, dan kemudian mengidentifkasi semua hal yang

dilarang. Setelah kedua hal ini dilakukan, maka kita dapat melakukan

inovasi dan kreativitas (ijtihad) seluas-luasnya untuk memecahkan

segala persoalan muamalah kontemporer, termasuk persoalan

perbankan.

gambar 2.1.

Namun, sebelum “proses ijtihad” dalam persoalan perbankan ini

kita lakukan, kita sebaiknya meneliti terlebih dahulu apakah persoalan

perbankan ini benar-benar merupakan suatu persoalan yang baru bagi

umat Islam atau bukan. Apakah konsep “bank” merupakan konsep

yang asing dalam sejarah perekonomian umat Islam? Pertanyaan ini

Apakah Perbankan Syariah merupakan konsep yang baru? Ya Mulai dari nol

Tidak Lebih mudah

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

19

amat penting untuk dijawab karena akan menentukan langkah kita

selanjutnya. Bila konsep bank adalah konsep yang baru bagi umat

Islam, maka kita harus memulai langkah ijtihad kita dari nol. Namun,

bila konsep bank bukan konsep yang baru, artinya umat Islam sudah

mengenal bahkan mempraktekkan fungsi-fungsi perbankan dalam

kehidupan perekonomiannya, maka proses ijtihad yang harus kita

lakukan tentunya akan menjadi lebih mudah. Bab ini akan

memberikan jawaban atas pertanyaan di atas, dengan menelusuri

secara singkat praktek-praktek perbankan yang dilakukan oleh umat

muslim sepanjang sejarah.

 

B. PRAKTEK PERBANKAN DI ZAMAN NABI SAW DAN SAHABAT

Perbankan adalah satu lembaga yang

melaksanakan tiga fungsi utama, yaitu

menerima simpanan uang, meminjamkan

uang, dan memberikan jasa pengiriman

uang. Di dalam sejarah perekonomian

kaum muslimin, pembiayaan yang dilakukan

dengan akad yang sesuai syariah

telah menjadi bagian dari tradisi umat

Islam sejak jaman Rasulullah saw.

Praktek-praktek seperti menerima titipan harta, meninjamkan uang

untuk keperluan konsumsi dan untuk keperluan bisnis, serta

melakukan pengiriman uang, telah lazim dilakukan sejak zaman

Rasulullah. Dengan demikian, fungsi-fungsi utama perbankan modern

yaitu menerima deposit, menyalurkan dana, dan melakukan transfer

dana telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat

Islam, bahkan sejak zaman Rasulullah.

Rasulullah SAW yang dikenal dengan julukan al-Amin, dipercaya

oleh masyarakat Mekah menerima simpanan harta, sehingga pada saat

terakhir sebelum Rasul hijrah ke Madinah, beliau meminta Sayidina Ali

ra untuk mengembalikan semua titipan itu kepada yang memilikinya.1

Dalam konsep ini, yang dititipi tidak dapat memanfaatkan harta titipan

tersebut.

 

1 Sami Hamoud, Islamic Banking, Arabian Information Ltd, London, 1985

 

Bank:

Lembaga yang melaksanakan

3 fungsi utama:

1. menerima simpanan uang

2. meminjamkan uang

3. memberikan jasa

pengiriman uang

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

20

Seorang sahabat Rasulullah, Zubair bin al Awwam, memilih tidak

menerima titipan harta. Beliau lebih suka menerimanya dalam bentuk

pinjaman. Tindakan Zubair ini menimbulkan implikasi yang berbeda:

pertama, dengan mengambil uang itu sebagai pinjaman, beliau

mempunyai hak untuk memanfaatkannya; kedua, karena bentuknya

pinjaman, maka ia berkewajiban mengambalikannya utuh.2

Sahabat lain, Ibnu Abbas tercatat melakukan pengiriman uang ke

Kufah. Juga tercatat Abdullah bin Zubair di Mekah juga melakukan

pengiriman uang ke adiknya Misab bin Zubair yang tinggal di Irak.3

Penggunaan cek juga telah dikenal luas sejalan dengan

meningkatnya perdagangan antara negeri Syam dengan Yaman, yang

paling tidak berlangsung dua kali setahun. Bahkan di jaman Umar bin

Khattab ra, beliau menggunakan cek untuk membayar tunjangan

kepada mereka yang berhak. Dengan cek ini kemudian mereka

mengambil gandum di Baitul Mal yang ketika itu diimpor dari Mesir.4

Pemberian modal untuk modal kerja berbasis bagi hasil, seperti

mudharabah, musyarakah, muzara’ah, musaqah, telah dikenal sejak

awal diantara kaum Muhajirin dan kaum Anshar.5

Jelaslah bahwa ada individu-individu yang telah melaksanakan

fungsi perbankan di zaman Rasulullah SAW, meskipun individu

tersebut tidak melaksanakan seluruh fungsi perbankan. Ada sahabat

yang melaksanakan fungsi menerima titipan harta, ada sahabat yang

melaksanakan fungsi pinjam-meminjam uang, ada yang melaksanakan

fungsi pengiriman uang, dan ada pula yang memberikan modal kerja.

 

2 Sudin Haron, Prinsip dan Operasi Perbankan Islam, Berita Publishing Sdn Bhd, Kuala

Lumpur, 1996

3 Sudin Haron, ibid

4 Kadim Sadr, “Money and Monetary Policies in Early Islam”, Essay on Iqtisad, Nur Copr.,

Silver Spring, 1989

5 Kadim Sadr, ibid

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

21

Beberapa istilah perbankan modern bahkan berasal dari khazanah

ilmu fiqih, seperti istilah kredit (Inggris: credit; Romawi: credo) yang

diambil dari istilah qard. Credit dalam bahasa Inggris berarti

meminjamkan uang; credo berarti kepercayaan; sedangkan qard

dalam fiqih berarti meminjamkan uang atas dasar kepercayaan.

Begitu pula istilah cek (Inggris: check; Perancis: cheque) yang diambil

dari istilah saq (suquq). Suquq dalam bahasa Arab berarti pasar,

sedangkan cek adalah alat bayar yang biasa digunakan di pasar.

 

C. PRAKTEK PERBANKAN DI ZAMAN BANI UMAYYAH DAN

BANI ABASIAH

Jelas saja institusi bank tidak dikenal dalam kosa kata fikih Islam,

karena memang institusi ini tidak dikenal oleh masyarakat Islam di

masa Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, maupun Bani

Abbasiyah. Namun fungsi-fungsi perbankan yaitu menerima deposit,

menyalurkan dana, dan transfer dana telah lazim dilakukan, tentunya

dengan akad yang sesuai syariah.

Di jaman Rasulullah saw fungsi-fungsi tersebut dilakukan oleh

perorangan, dan biasanya satu orang hanya melakukan satu fungsi

saja.

Baru kemudian, di jaman Bani Abbasiyah, ketiga fungsi perbankan

dilakukan oleh satu individu. Fungsi-fungsi perbankan yang dilakukan

oleh satu individu, dalam sejarah Islam telah dikenal sejak zaman

Fungsi-fungsi Bank sudah dipraktekkan oleh para sahabat di

zaman Nabi SAW:

1. Menerima Simpanan Uang

2. Memberikan Pembiayaan

3. Jasa Transfer Uang

Biasanya satu orang hanya melakukan satu fungsi saja.

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

22

Abbasiyah6. Perbankan mulai berkembang pesat ketika beredar

banyak jenis mata uang pada zaman itu sehingga perlu keahlian

khusus untuk membedakan antara satu mata uang dengan mata uang

lainnya. Ini diperlukan karena setiap mata uang mempunyai

kandungan logam mulia yang berlainan sehingga mempunyai nilai

yang berbeda pula. Orang yang mempunyai keahlian khusus ini

disebut naqid, sarraf, dan jihbiz. Hal ini merupakan cikal-bakal praktek

penukaran mata uang (money changer).

Istilah jihbiz mulai dikenal sejak zaman Muawiyah (661-680M)

yang sebenarnya dipinjam dari bahasa Persia, kahbad atau kihbud.

Pada masa pemerintahan Sasanid, istilah ini dipergunakan untuk orang

yang ditugaskan mengumpulkan pajak tanah.

Peranan banker pada zaman Abbasiyah mulai populer pada

pemerintahan Muqtadir (908-932M). Saat itu, hampir setiap wazir

mempunyai bankir sendiri. Misalnya, Ibnu Furat menunjuk Harun ibnu

Imran dan Joseph ibnu wahab sebagai bankirnya. Lalu Ibnu Abi Isa

menunjuk Ali ibn Isa, Hamid ibnu Wahab menunjuk Ibrahim ibn

Yuhana, bahkan Abdullah al-Baridi mempunyai tiga orang bankir

sekaligus: dua Yahudi dan satu Kristen.

 

6 Adiwarman Karim, “Bankir Yahudi pada Zaman Abbasiyah”, Ekonomi Islam Suatu

Kajian Kontemporer, Gema Insani Press, Jakarta, 2001

 

Jihbiz vs. Bank: Persamaan dan Perbedaan

Persamaan:

Jihbiz & Bank sama-sama melakukan fungsi-fungsi berikut ini:

• To accept deposits

• To channel financing

• To transfer money

Perbedaan:

• Jihbiz dikelola oleh individu

• Bank dikelola oleh institusi

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

23

Kemajuan praktek perbankan pada zaman itu ditandai dengan

beredarnya saq (cek) dengan luas sebagai media pembayaran.

Bahkan, peranan bankir telah meliputi tiga aspek, yakni menerima

deposit, menyalurkannya, dan mentransfer uang. Dalam hal yang

terakhir ini, uang dapat ditransfer dari satu negeri ke negeri lainnya

tanpa perlu memindahkan fisik uang tersebut. Para money changer

yang telah mendirikan kantor-kantor di banyak negeri telah memulai

penggunaan cek sebagai media transfer uang dan kegiatan

pembayaran lainnya. Dalam sejarah perbankan Islam, adalah Sayf al-

Dawlah al-Hamdani yang tercatat sebagai orang pertama yang

menerbitkan cek untuk keperluan kliring antara Baghdad (Irak) dan

Aleppo (Spanyol sekarang).7

 

D. PRAKTEK PERBANKAN DI EROPA

Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan yang dilakukan oleh

perorangan jihbiz kemudian dilakukan oleh institusi yang saat ini

dikenal sebagai institusi bank. Ketika bangsa Eropa mulai menjalankan

praktek perbankan, persoalan mulai timbul karena transaksi yang

dilakukan menggunakan instrumen bunga yang dalam pandangan fikih

adalah riba, dan oleh karenanya haram. Transaksi berbasis bunga ini

semakin merebak ketika Raja Henry VIII pada tahun 1545

membolehkan bunga (interest) meskipun tetap mengharamkan riba

(usury) dengan syarat bunganya tidak boleh berlipat ganda

(excessive). Ketika Raja Henry VIII wafat, ia digantikan oleh Raja

Edward VI yang membatalkan kebolehan bunga uang. Ini tidak

berlangsung lama. Ketika wafat, ia digantikan oleh Ratu Elizabeth I

yang kembali membolehkan bunga uang.8

Selanjutnya, bangsa Eropa mulai bangkit dari keterbelakangannya

dan mengalami renaissance. Penjelajahan dan penjajahan mulai

dilakukan ke seluruh penjuru dunia, sehingga kegiatan perekonomian

 

7 Sudin Haron, Islamic Banking: Rules and Regulations, Pelanduk Publications, Petaling

Jaya, 1997, h. 2. Lihat dalam Sami Hassan Homoud, Progress of Islamic Banking: The

Aspirations and the Realities. Islamic Economic Studies, Vol. 2 No. 1, December, 1994,

71-80.

8 Adiwarman Karim, “Ketika Riba Menjadi Bunga”, ibid.

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

24

dunia mulai didominasi oleh bangsa-bangsa Eropa. Pada saat yang

sama, peradaban muslim mengalami kemerosotan dan negara-negara

muslim satu per satu jatuh ke dalam cengkeraman penjajahan bangsabangsa

Eropa. Akibatnya, institusi-institusi perekonomian umat muslim

runtuh dan digantikan oleh institusi ekonomi bangsa Eropa.

Keadaan ini berlangsung terus sampai zaman modern kini. Karena

itu, institusi perbankan yang ada sekarang di mayoritas negara-negara

muslim merupakan warisan dari bangsa Eropa, yang notabene berbasis

bunga.

 

E. PERBANKAN SYARIAH MODERN

Selanjutnya, karena bunga ini secara fikih dikategorikan sebagai

riba (dan karenanya haram), maka mulai timbul usaha-usaha di

sejumlah negara muslim untuk mendirikan lembaga alternatif terhadap

bank yang ribawi ini. Hal ini terjadi terutama setelah bangsa-bangsa

muslim mendapatkan kemerdekaannya dari penjajahan bangsa-bangsa

Eropa. Usaha modern pertama untuk mendirikan bank tanpa bunga

pertama kali dilakukan di Malaysia pada pertengahan tahun 40-an,

namun usaha ini tidak sukses.9 Selanjutnya, eksperimen lainnya

dilakukan di Pakistan pada akhir tahun 50-an, di mana suatu lembaga

perkreditan tanpa bunga didirikan di pedesaan negara itu.10

Namun demikian, eksperimen pendirian bank syariah yang paling

sukses dan inovatif di masa modern ini dilakukan di Mesir pada tahun

1963, dengan berdirinya Mit Ghamr Local Saving Bank. Bank ini

mendapat sambutan yang cukup hangat di Mesir, terutama dari

kalangan petani dan masyarakat pedesaan. Jumlah deposan bank ini

meningkat luar biasa dari 17,560 di tahun pertama (1963/1964)

menjadi 251,152 pada 1966/1967. Jumlah tabungan pun meningkat

drastis dari LE40,944 di akhir tahun pertama (1963/1964) menjadi

LE1,828,375 di akhir periode 1966/1967. Namun sayang, karena

terjadi kekacauan politik di Mesir maka Mit Ghamr mulai mengalami

kemunduran, sehingga operasionalnya diambil alih oleh National Bank

 

9 Haron, op.cit. h. 3.

10 Ibid, h. 3. Lihat dalam Rodney Wilson, Banking and Finance in the Arab Middle East,

Surrey (England), MacMillan Publisher Ltd, 1983.

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

25

of Egypt dan bank sentral Mesir pada 1967. Pengambilalihan ini

menyebabkan prinsip nirbunga pada Mit Ghamr mulai ditinggalkan,

sehingga bank ini kembali beroperasi berdasarkan bunga. Pada 1971

akhirnya konsep nir-bunga kembali dibangkitkan pada masa rezim

Sadat melalui pendirian Nasser Social Bank. Tujuan bank ini adalah

untuk menjalankan kembali bisnis yang berdasarkan konsep yang telah

dipraktekkan oleh Mit Ghamr.11

Kesuksesan Mit Ghamr ini memberi inspirasi bagi umat muslim di

seluruh dunia, sehingga timbullah kesadaran bahwa prinsip-prinsip

Islam ternyata masih dapat diaplikasikan dalam bisnis modern. Ketika

OKI akhirnya terbentuk, serangkaian konferensi internasional mulai

dilangsungkan, di mana salah satu agenda ekonominya adalah

pendirian bank Islam. Akhirnya terbentuklah Islamic Development

Bank (IDB) pada bulan Oktober 1975 yang beranggotakan 22 negara

Islam pendiri. Bank ini menyediakan bantuan finansial untuk

pembangunan negara-negara anggotanya, membantu mereka untuk

mendirikan bank Islam di negaranya masing-masing, dan memainkan

peranan penting dalam penelitian ilmu ekonomi, perbankan dan

keuangan Islam. Kini, bank yang berpusat di Jeddah-Arab Saudi itu

telah memiliki lebih dari 43 negara anggota.

Pada perkembangan selanjutnya di era 70-an, usaha-usaha untuk

mendirikan bank Islam mulai menyebar ke banyak negara. Beberapa

negara seperti Pakistan, Iran dan Sudan, bahkan mengubah seluruh

sistem keuangan di negara itu menjadi sistem nir-bunga, sehingga

semua lembaga keuangan di negara tersebut beroperasi tanpa

menggunakan bunga. Di negara Islam lainnya seperti Malaysia dan

Indonesia, bank nir-bunga beroperasi berdampingan dengan bankbank

konvensional.

Kini, perbankan syariah telah mengalami perkembangan yang

cukup pesat dan menyebar ke banyak negara, bahkan ke negaranegara

Barat. The Islamic Bank International of Denmark tercatat

sebagai bank syariah pertama yang beroperasi di Eropa, yakni pada

 

11 Ibid, p. 3-4.

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

26

tahun 1983 di Denmark.12 Kini, bank-bank besar dari negara-negara

Barat seperti Citibank, ANZ Bank, Chase Manhattan Bank dan Jardine

Fleming telah pula membuka Islamic window agar dapat memberikan

jasa-jasa perbankan yang sesuai dengan syariat Islam.

Gambar 2.2 di bawah ini memberikan peta singkat evolusi kegiatan

perbankan yang dipraktekkan oleh masyarakat muslim sepanjang

sejarah. Jadi dari segi proses evolusi, embrio kegiatan perbankan

dalam masyarakat Islam dilakukan oleh seorang individu untuk satu

fungsi perbankan. Kemudian berkembang profesi jihbiz, yaitu seorang

individu melakukan ketiga fungsi perbankan. Lalu kegiatan tersebut

diadopsi oleh masyarakat Eropa abad pertengahan, dan pengelolaannya

dilakukan oleh institusi, namun kegiatannya mulai dilakukan

dengan basis bunga. Karena mundurnya peradaban umat muslim dan

penjajahan bangsa-bangsa Barat terhadap negara-negara muslim,

maka evolusi praktek perbankan yang sesuai syariah sempat terhenti

beberapa abad. Baru pada abad 20 ketika bangsa muslim mulai

merdeka, terbentuklah bank syariah modern di sejumlah negara dan

insya Allah akan terus mengalami perkembangan.

 

12 Mr. Erik Trolle-Schultz, How the First Islamic Bank was Established in Europe, dalam

Islamic Banking and Finance, Butterworths Editorial Staff, London, 1986. h. 43-52.

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

27

gambar 2.2.

 

F. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA

Di Indonesia, bank syariah yang pertama didirikan pada tahun

1992 adalah Bank Muamalat. Walaupun perkembangannya agak

terlambat bila dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya,

perbankan syariah di Indonesia akan terus berkembang. Bila pada

tahun 1992-1998 hanya ada satu unit bank syariah di Indonesia, maka

pada 1999 jumlahnya bertambah menjadi tiga unit. Pada tahun 2000,

bank syariah maupun bank konvensional yang membuka unit usaha

syariah telah meningkat menjadi 6 unit. Sedangkan jumlah BPRS

(Bank Perkreditan Rakyat Syariah) sudah mencapai 86 unit dan masih

akan bertambah. Di tahun-tahun mendatang, jumlah bank syariah ini

2. jihbiz,

seorang individu melakukan ketiga fungsi perbankan

1. individu,

(Nabi/sahabat) melakukan satu fungsi perbankan

3. bank,

sebuah institusi melakukan ketiga fungsi

perbankan (diadopsi oleh masyarakat Eropa

abad pertengahan, namun kegiatannya mulai

dilakukan dengan basis bunga).

4. bank syariah modern,

institusi yang melakukan ketiga fungsi perbankan,

dengan berlandaskan syariah Islam.

Evolusi kegiatan perbankan dalam

masyarakat Islam:

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

28

akan terus meningkat seiring dengan masuknya pemain-pemain baru,

bertambahnya jumlah kantor cabang bank syariah yang sudah ada,

maupun dengan dibukanya Islamic window di bank-bank konvensional.

Dari sebuah riset yang dilakukan oleh Karim Business Consulting,

diproyeksikan bahwa total aset bank syariah di Indonesia akan tumbuh

sebesar 2850% selama 8 tahun, atau rata-rata tumbuh 356.25 % tiap

tahunnya. Sebuah pertumbuhan aset yang sangat mengesankan.

Tumbuh kembangnya aset bank syariah ini dikarenakan adanya

kepastian di sisi regulasi serta berkembangnya pemikiran masyarakat

tentang keberadaan bank syariah.

The Growth of Sharia Banks’ Asset

27,468,797.00

80,841,345.00

0.00

10,000,000.00

20,000,000.00

30,000,000.00

40,000,000.00

50,000,000.00

60,000,000.00

70,000,000.00

80,000,000.00

90,000,000.00

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2005

2010

in billion rupiah

Sumber: Karim Business Consulting, 2002.

gambar 2.3.

Perkembangan perbankan syariah ini tentunya juga harus

didukung oleh sumber daya insani yang memadai, baik dari segi

kualitas maupun kuantitasnya. Namun realitas yang ada menunjukkan

bahwa masih banyak sumber daya insani yang selama ini terlibat di

institusi syariah tidak memiliki pengalaman akademis maupun praktis

dalam Islamic Banking. Tentunya kondisi ini cukup signifikan

mempengaruhi produktifitas dan profesionalisme perbankan syariah itu

sendiri. Dan inilah memang yang harus mendapatkan perhatian dari

kita semua, yakni mencetak sumber daya insani yang mampu

 

BAB 2, SEJARAH PERBANKAN SYARIAH

29

mengamalkan ekonomi syariah di semua lini. Karena sistem yang baik

tidak mungkin dapat berjalan bila tidak didukung oleh sumber daya

insani yang baik pula.

Kesimpulan

Setelah kita menelusuri secara singkat sejarah praktek perbankan

yang dilakukan oleh umat muslim, maka kita dapat mengambil

kesimpulan bahwa meskipun kosa kata fikih Islam tidak mengenal kata

“Bank”, namun sesungguhnya bukti-bukti sejarah menyatakan bahwa

fungsi-fungsi perbankan modern telah dipraktekkan oleh umat muslim,

bahkan sejak zaman nabi Muhammad saw. Praktek-praktek fungsi

perbankan ini tentunya berkembang secara berangsur-angsur dan

mengalami kemajuan dan kemunduran di masa-masa tertentu, seiring

dengan naik-turunnya peradaban umat muslim. Dengan demikian,

dapat dikatakan bahwa konsep bank bukanlah suatu konsep yang

asing bagi umat muslim, sehingga proses ijtihad untuk merumuskan

konsep bank modern yang sesuai dengan syariah tidak perlu dimulai

dari nol. Jadi, upaya ijtihad yang dilakukan insya Allah akan menjadi

lebih mudah.

Advertisements