Isra’ dan Mi’raj

 

http://www.darulfatwa.org.au

SALAM REDAKSI

 

Para  pembaca  al  huda  yang  budiman,  di

antara mukjizat besar yang diberikan Allah kepada

Nabi  Muhammad  shallallahu  ‘alayhi  wasallam

adalah Isra’ dan Mi’raj, sebuah peristiwa luar biasa

yang  terjadi  sepanjang  sejarah  peradaban

manusia, peristiwa nyata yang telah terjadi dan kita

wajib mempercayainya.

Tepatnya  tanggal  27  Rajab,  atas  perintah

Allah  ta’ala  Malaikat  Jibril  datang  dengan

membawa kendaraan yang disebut dengan Buraq.

Kendaraan yang mempunyai kecepatan yang luar

biasa; sejauh mata Buraq memandang sejauh itu

pulalah  Buraq  melangkah.  Dengan  tanpa

meninggalkan jejak sang malaikat membuka atap

rumah  tempat  Rasulullah  tidur,  perlahan-lahan

Jibril membangunkan Rasulullah dan mengajaknya

keluar untuk menyaksikan tanda-tanda kekuasaan

Allah,  baik  yang  berada  di  bumi  maupun  yang

berada di langit. Dari masjid al Haram Rasulullah

memulai  perjalanannya (Isra’)  dengan  melewati

beberapa  tempat  bersejarah  hingga  akhirnya

beliau sampai di masjid al Aqsha, di masjid inilah

Rasulullah dipertemukan dengan semua para nabi

dan  melakukan  shalat  dua  raka’at  dengan  para

nabi dan sekaligus menjadi imam mereka, ini juga

merupakan  dalil  bahwa  Nabi  Muhammad  adalah

nabi yang termulia di antara para nabi.

Setelah  Isra’,  Rasulullah  yang  ditemani

Malaikat  Jibril melanjutkan  perjalanannya  menuju

Sidrat  al Muntaha.  Perjalanan  ini disebut  dengan

Mi’raj; perjalanan yang dimulai dari masjid al Aqsha

hingga ke atas sidrat al Muntaha, ke atas langit ke

tujuh.

Hanya  dalam  waktu  sepertiga  malam  saja

Rasulullah sudah kembali ke tempat tidurnya dari

perjalanan  Isra’  dan  Mi’rajnya.  Sungguh

menakjubkan, namun itulah bukti kekuasaan Allah

yang sempurna dan tidak ada bandingannya dan

inilah  yang  disebut  dengan  Mukjizat;  bukti

kebenaran  akan  kenabian  dan  kerasulan

Muhammad  Shallallahu ‘alayhi Wasallam.

Lebih  jelasnya  tentang  hikmah isra’  dan

mi’raj, mari kita baca ulasan ringkas al Huda kali

ini. Semoga kita mendapat ilmu yang bermanfaat

amin ya Rabbal ‘alamin.

 

 

 

 

 

 

http://www.darulfatwa.org.au

Dars

 

ﻢﻴﺣﺮﻟﺍ ﻦﲪﺮﻟﺍ ﷲﺍ ﻢﺴﺑ

 

)    ﺪﺠﺴﳌﺍ  ﱃﺇ  ﻡﺍﺮﳊﺍ  ﺪﺠﺴﳌﺍ  ﻦﻣ  ﻼﻴﻟ  ﻩﺪﺒﻌﺑ  ﻯﺮﺳﺃ  ﻱﺬﻟﺍ  ﻦﺤﺒﺳ

ﲑﺼﺒﻟﺍ ﻊﻴﻤﺴﻟﺍ ﻮﻫ ﻪﻧﺇ ﺎﻨﺗﺎﻳﺁ ﻦﻣ ﻪﻳﺮﻨﻟ ﻪﻟﻮﺣ ﺎﻨﻛﺭﺎﺑ ﻱﺬﻟﺍ ﻰﺼﻗﻷﺍ (

)  ﺀﺍﺮﺳﻹﺍ ﺓﺭﻮﺳ  : 1 (

 

Maknanya  :  “Maha  suci  Allah  yang  telah

memperjalankan  hamba-Nya  pada  suatu  malam

dari masjid al Haram menuju masjid al Aqsha yang

telah  kami  berkahi  sekelilingnya  agar  kami

perlihatkan  kepadanya  sebagian  tanda-tanda

(kekuasaan) kami”  (Q.S. al Isra’ : 1)

 

Tafsir ayat :

 

Dalam Bahasa Arab as-Sabhu maknanya at-Taba’ud;  jauh.  Jadi  perkataan  ﷲﺍ  ﺢﺒﺳ ﱃﺎﻌﺗ

“bertasbihlah  kepada  Allah  ta’ala”  maknanya

adalah  jauhkan  dan  sucikan  Allah  dari  hal-hal

yang  tidak  layak  bagi-Nya,  yaitu  menyerupai

makhluk dan segala sifatnya; seperti bentuk lathif

(yang  tidak  dapat  dipegang  oleh  tangan  seperti

cahaya,  kegelapan,  roh,  angin  dan  lainnya)

maupun  benda katsif  (yang  dapat  dipegang  oleh

tangan  seperti  manusia,  pohon,  batu,  air  dan

lainnya)  maupun  sifat-sifat  keduanya;  seperti

berwarna,  bergerak,  diam,  berukuran  (baik  yang

besar  maupun  yang  kecil),  menetap  pada  suatu

arah atau tempat. Hal ini mengingat bahwa Allah

mensucikan  Dzat-Nya  dari  sifat-sifat  ciptaan-Nya

dalam firman-Nya :

)    ﺊﺷ ﻪﻠﺜﻤﻛ ﺲﻴﻟ (    )  ﻯﺭﻮﺸﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ : 11 (

Maka seandainya Dia berupa bentuk, baik bentuk

besar  atau  kecil  niscaya  banyak  makhluk  yang

menyerupai-Nya.

Makna bi ‘abdihi ( ﻩﺪﺒﻌﺑ ) adalah hamba-Nya

yaitu  Nabi  Muhammad  shallallahu  ‘alayhi

wasallam.  Diriwayatkan  bahwa  ketika  Nabi

Muhammad telah sampai pada derajat yang tinggi

dan  tingkatan  yang  luhur  dalam  peristiwa Mi’raj,

Allah  menyampaikan  wahyu  kepadanya  yang

maknanya:  “Wahai  Muhammad  dengan  apa  Aku

memuliakanmu  ?”,  Nabi  menjawab  :  “Dengan

penisbatan  (penyandaran)  diriku  kepada-Mu

dengan  sifat  penghambaan  (‘ubudiyyah)”.

Kemudian  turunlah  firman-Nya:  “Subhanalladzi

asra  bi  ‘abdihi…”.  Maknanya:  penyebutan

Rasulullah dengan dinisbatkan kepada Allah dalam

“‘abdihi”;  hamba-Nya  merupakan  puncak

 

http://www.darulfatwa.org.au

pemuliaan terhadap Rasulullah mengingat hamba-hamba  Allah  banyak,  mengapa  beliau  secara

khusus disebutkan dalam ayat ini sebagai hamba-Nya?,  ini  menunjukkan  bahwa  Rasulullah

dikhususkan dengan kemuliaan yang paling agung.

Firman-Nya lailan  ( ﻼﻴـﻟ  )  dibaca nashab

sebagai zharaf (keterangan waktu). Jika dikatakan:

“Mengapa disertakan penyebutan malam ?”, maka

jawabnya  adalah  penyebutan  lailan  sebagai

penguat  yang  menunjukkan  waktu  atau  masa

terjadi peristiwa Isra’ itu yang sangat  singkat dan

sebentar  saja,  yaitu  hanya  dalam  waktu  kurang

dari sepertiga malam saja. Sebab Nabi mengalami

peristiwa  tersebut  hanya  sebagian  waktu  malam

saja  dari  Makkah  menuju  Syam.  Al  Masjid  al

Haram  adalah  masjid  di  Makkah.  Dinamakan

demikian  karena  kehormatannya  yakni

kemuliaannya atas seluruh masjid-masjid yang ada

di bumi ini, dengan memiliki hukum-hukum tertentu

yang  tidak  berlaku  bagi  masjid  lainnya.  Seperti

berlipat gandanya pahala amal yang dikerjakan di

sana,  sebagaimana  tersebut  dalam  beberapa

hadits yang shahih seperti misalnya: sekali shalat

di sana sebanding dengan seratus ribu kali shalat

di selainnya (selain Masjid an-Nabawi dan Masjid

al Aqsha), sedangkan shalat di masjid an-Nabawi

sebanding  dengan  seribu  kali  shalat  di  masjid

lainnya  dan  sekali  shalat  di  masjid al  Aqsha

sebanding dengan lima ratus kali shalat di masjid

lainnya.  Al  Masjid  al  Aqsha dinamakan  demikian

karena jaraknya yang jauh (dari Masjid al Haram).

Firman Allah :   (    ﻪﻟﻮﺣ ﺎﻨﻛﺭﺎﺑ ﻱﺬﻟﺍ )

Maknanya  :  “Yang  telah  Kami  berkati

sekelilingnya”,  Dikatakan  demikian  karena  al

Masjid al Aqsha adalah tempat menetap para nabi

dan  tempat  turunnya  malaikat.  Karena  itulah

Nabiyyullah Ibrahim ‘alayhissalam menyatakan :

)    ﰊﺭ ﱃﺇ ﺐﻫﺍﺫ ﱐﺇ  (    )  ﺕﺎﻓﺎﺼﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ  : 99 (

Maknanya  :  “Sesungguhnya  aku  pergi  menuju

negeri  (daratan  syam)  yang  Allah  memberiku

petunjuk  agar  aku  ke  sana  (supaya  mendapat

ketenangan  dalam  berdakwah  dan  beribadah

kepada Allah) “.  (Q.S. ash-shaffat : 99)

Nabi Ibrahim mengetahui hal ini dengan wahyu dari

Allah  kepadanya  bahwa  Syam  (sekarang

Palestina,  Yordania,  Syiria  dan  Lebanon)

merupakan  negeri  tempat  turunnya  rahmat.

Kebanyakan wahyu turun di Syam, demikian juga

para nabi kebanyakan di sana. Palestina (daerah

Syam yang paling inti) juga tidak berada di bawah

kekuasaan  Namrud  sehingga  beliau  dapat

beribadah  kepada  Allah  di  sana  tanpa  diganggu

atau disakiti, maka beliau berpindah dari negerinya

 

http://www.darulfatwa.org.au

(Iraq)  menuju  palestina.  Kemudian  setelah

beberapa  waktu  beliau  meninggalkan Surriyyah

(budak  perempuan  yang  digauli  tuannya)-nya,

Hajar dan anaknya Isma’il berada di Makkah. Nabi

Ibrahim berdoa kepada Allah ta’ala agar penduduk

Makkah  dikaruniai  rizki  berupa  buah-buahan  dan

Allah  mengabulkan  doanya.  Oleh  sebab  Makkah

merupakan tanah gurun yang tidak ada tanaman,

maka  Allah  memerintahkan  Malaikat  Jibril  untuk

memindahkan  gunung  Tha’if  dari  daratan  Syam

menuju  Makkah  dan  malaikat  Jibrilpun

memindahkan dan meletakkan gunung tersebut di

sana. Di gunung ini tumbuh buah anggur dari jenis

yang terbaik demikian juga buah delima dan lain-lain,  udaranya  sangat  sejuk  sehingga  penduduk

makkah  memilihnya  menjadi  Mushthaf  (lokasi

pelesir  di  musim  panas).  Demikian  penuturan  al

Azraqi  dalam  bukunya Akhbar  Makkah,  sebuah

buku yang sarat dengan faedah.

Firman Allah :   ( ﺎﻨﺗﺎﻳﺁ ﻦﻣ ﻪﻳﺮﻨﻟ )

Maknanya  :  “Agar  Kami  (Allah)  perlihatkan

kepadanya  (Muhammad)  pada  malam  tersebut

berbagai keajaiban  dan tanda yang menunjukkan

akan kekuasaan Kami (Allah)”.

Perjalanan  Isra’  dimulai  dari  al  Masjid  al  Haram

setelah  terlebih  dahulu  dada  beliau  dibelah  dan

dicuci hatinya untuk dipenuhi dengan hikmah dan

keimanan,  agar  beliau  siap  untuk  menyaksikan

keajaiban-keajaiban  ciptaan  Allah  dengan  hati

yang kuat. Pada saat itu beliau berada di Makkah,

Jibril  datang  pada  malam  hari  dengan  membuka

atap  rumah  tanpa  menjatuhkan  debu,  batu  atau

yang lainnya. Saat itu beliau sedang  tidur antara

pamannya, Hamzah dan sepupunya Ja’far ibn Abu

Thalib.  Mereka  semua  sedang  berada  di  rumah

putri  Abu  Thalib,  Ummu  Hani’  binti  Abu  Thalib,

saudara  perempuan  Ali  ibn  Abu  Thalib  di  suatu

perkampungan  yang  bernama  Ajyad.  Jibril

membangunkan Nabi kemudian pergi bersamanya

menuju al Masjid al Haram. Bersama Malaikat Jibril

beliau  berangkat  dengan Buraq;  seekor  binatang

surga yang bentuknya lebih besar dari keledai dan

lebih kecil dari kuda yang mampu melompat sejauh

pandangannya.  Di  tengah  perjalanan  Isra’  ini

Rasulullah  melewati  beberapa  tempat  dan  kota

bersejarah, antara lain kota Yatsrib (Madinah), kota

Madyan  (kota  Nabi  Syu’aib),  bukit  Thur  Sina’

(tempat  Nabi  Musa  mendapat  wahyu  dari  Allah),

dan Bayt  Lahm  (tempat  Nabi  Isa  dilahirkan).  Di

tiap-tiap tempat ini Jibril selalu meminta Rasulullah

untuk  turun  dan  melakukan  shalat  dua  raka’at

(H.R.  al  Bayhaqi).  Hal  ini  merupakan  salah  satu

dari  sekian  banyak  dalil  tentang  dibolehkannya

“tabarruk”  (meminta  berkah  dari  Allah)  dengan

lantaran atsar  (peninggalan)  para  nabi.  Setelah

 

http://www.darulfatwa.org.au

Rasulullah sampai di Bayt al Maqdis (al Masjid al

Aqsha),  Rasulullah  bersama  para nabi mulai dari

Nabi  Adam  hingga  Nabi  Isa  melakukan  shalat

berjama’ah  dan  beliau  bertindak  sebagai  imam.

Allah mempertemukan beliau dengan para nabi di

sana sebagai penghormatan kepada beliau. Allah

membangkitkan  semua  nabi  yang  sebelumnya

telah wafat kecuali  Nabi Isa  karena beliau masih

hidup  di  langit  hingga  sekarang.  Kemudian  Allah

ta’ala  menambahkan  kemuliaan  untuk  Nabi-Nya

Muhammad  dengan  mengangkat  delapan  nabi

yaitu Nabi Adam, Isa, Yahya, Idris, Harun, Musa,

dan  Ibrahim  ke  langit  dan  mereka  menyambut

Rasulullah di sana.

 

Keajaiban-keajaiban Isra’

 

Di  antara  keajaiban  ciptaan  Allah  yang

disaksikan Rasulullah ketika Isra’ adalah :

1.  Dunia,  Rasulullah  melihatnya  dalam  bentuk

seorang  wanita  tua  yang  renta.  Hal  ini

menggambarkan bahwa dunia dengan segala

bentuk  dan  isinya  yang  menggairahkan  akan

lenyap dan fana, sebagaimana seorang wanita

yang  ketika  mudanya  sangat  cantik  dan

menawan,  akan  hilang  kecantikannya  ketika

sudah tua.

2.  Iblis,  Rasulullah  melihat  seseorang  yang

berada di pinggir jalan, dialah Iblis yang pada

mulanya  beriman  kepada Allah kemudian  dia

kafir  karena  menentang-Nya.  Dia  termasuk

dari  golongan  Jin,  bukan  malaikat    (Q.S.  al

kahfi : 50). Iblis tidak berani berbicara kepada

Rasulullah  atau  berbuat  jelek  terhadapnya

dikarenakan kemuliaan dan keagungan beliau.

3.  Para Mujahid di jalan Allah, Rasulullah melihat

sekelompok kaum yang menanam dan menuai

hasilnya  dalam  tempo  2  hari.  Jibril  berkata

kepada  Rasulullah  : “Merekalah  orang-orang

yang berjuang di jalan Allah”.

4.  Para penceramah pembawa fitnah, Rasulullah

melihat  mereka  memotong  lidah  dan  bibir

mereka dengan gunting dari api.

 

Isra’ Bukanlah Mimpi

 

Telah  menjadi  ijma’  (konsensus)  para

ulama salaf,  khalaf,  ahli  hadits,  ahli  kalam,  ahli

tafsir  dan  ahli  fiqh  bahwa  Rasulullah  di-isra’-kan

dengan  jasad  dan  ruhnya  serta  dalam  keadaan

sadar (bukan mimpi). Inilah pendapat yang benar

menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah, sebagaimana

dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Anas ibn Malik,

Umar  ibn  Khattab,  Hudzaifah,  Imam  Ahmad  ibn

Hanbal,  Imam  ath-Thabari  dan  yang  lainnya.

 

http://www.darulfatwa.org.au

Andaikata  peristiwa  Isra’  tersebut  hanyalah

sekedar  mimpi,  maka  orang-orang  kafir  Quraisy

tidak  akan  menentangnya  dan  peristiwa  Isra’

tersebut  tidak  akan  menjadi  salah  satu  mukjizat

Rasulullah yang terbesar.

Mi’raj

 

Kemukjizatan Mi’raj  telah dinash  secara

jelas  dalam  hadits  shahih,  seperti  yang

diriwayatkan  Imam  Muslim.  Adapun  dalam  al

Qur’an  tidak  ada  nash  yang  menyebutkan  lafazh

“Mi’raj”.  Namun  ada  ayat  yang  menjelaskan

kejadian tersebut. Firman Allah ta’ala:

)    ﻯﺮﺧﺃ ﺔﻟﺰﻧ ﻩﺁﺭ ﺪﻘﻟﻭ $   ﻰﻬﺘﻨﳌﺍ ﺓﺭﺪﺳ ﺪﻨﻋ   (  ) ﻢﺠﻨﻟﺍ  : 13 – 14 (

Maknanya : “Dan sungguh beliau (Rasulullah) telah

melihat Jibril untuk yang kedua kalinya di Sidrat al

Muntaha” (Q.S. an-Najm : 13-14)

Mi’raj  adalah  perjalanan  yang  dimulai  dari

Masjid  al  Aqsha  hingga  ke  atas  langit  ke  tujuh

dengan  menaiki  tangga  yang  terpaut  di  antara

langit dan bumi, dengan anak tangga yang terbuat

dari  emas  dan perak.  Kisah Mi’raj  ini  secara

terperinci  diriwayatkan  dalam  hadits  yang  shahih

riwayat  Imam  Muslim.  Disebutkan  dalam  hadits

tersebut  bahwa  ketika  Rasulullah  bersama  Jibril

sampai pada langit yang pertama, dibukalah pintu

langit  tersebut  setelah  terjadi  percakapan  antara

Jibril dan penjaga pintu. Hal ini terjadi setiap kali

Rasulullah  dan  Jibril  hendak  memasuki  tiap-tiap

langit  yang  tujuh.  Di  langit  pertama,  Rasulullah

bertemu  dengan  Nabi  Adam,  di  langit  kedua

bertemu dengan Nabi Isa, di langit ketiga bertemu

dengan  Nabi  Yusuf,  di  langit  keempat  bertemu

dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu dengan

Nabi Harun, di langit keenam bertemu dengan Nabi

Musa,  di  langit  ketujuh  bertemu  dengan  Nabi

Ibrahim shallallahu ‘alayhim  wasallam.

 

Keajaiban-keajaiban Mi’raj

 

Ketika  Rasulullah  berada  di  suatu  tempat

yang berada di atas (suatu tempat yang lebih tinggi

dari langit ke tujuh), beliau diperlihatkan oleh Allah

beberapa keajaiban ciptaan-Nya. Antara lain :

1.  al Bait al Ma’mur, yaitu rumah yang dimuliakan,

yang  berada  di  langit  ke  tujuh.  Setiap  hari

70.000  malaikat  masuk  ke  dalamnya  lalu

keluar dan tidak akan pernah kembali lagi dan

seterusnya.

2.  Sidrat  al  Muntaha,  yaitu  sebuah  pohon  yang

amat  besar  dan  indah,  tak  seorangpun  dari

makhluk yang dapat menyifatinya.

3.  Surga,  yaitu  tempat  kenikmatan  yang

disediakan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya

yang  beriman.  Surga  berada  di  atas  langit

 

http://www.darulfatwa.org.au

yang ke tujuh dan sekarang sudah ada. Firman

Allah ta’ala :

)    ﲔﻘﺘﻤﻠﻟ ﺕﺪﻋﺃ (       )  ﻥﺍﺮﻤﻋ ﻝﺍﺀ ﺓﺭﻮﺳ  : 133 (

Maknanya  :  “Telah  disediakan  (surga)  bagi

orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S. Ali Imran :

133)

Di  dalam  surga  Rasulullah  juga  melihat  al

Wildan  al  Mukhalladun,  yaitu  makhluk  yang

diciptakan  Allah  untuk  melayani  penduduk

surga.  Mereka  bukan  Malaikat,  Jin,  atau

Manusia, mereka juga tidak punya bapak atau

ibu. Rasulullah juga melihat para bidadari. Jibril

meminta  Rasulullah  untuk  mengucap  salam

kepada  mereka,  dan  mereka  menjawab  :

“Kami adalah wanita yang baik budi pekerti lagi

rupawan.  Kami  adalah  istri  orang-orang  yang

mulia”.

4.  ‘Arsy,  yaitu  makhluk  Allah  yang  paling  besar

bentuknya  (H.R.  Ibn  Hibban)  dan  makhluk

kedua yang diciptakan Allah setelah air (Q.S.

Hud : 7). Imam al Bayhaqi mengatakan : “Para

ahli  tafsir  menyatakan  bahwa  ‘arsy  adalah

benda  berbentuk  sarir  (ranjang)  yang

diciptakan  oleh  Allah.  Allah  memerintahkan

para  malaikat  untuk  menjunjungnya  dan

menjadikannya sebagai tempat ibadah mereka

dengan  mengelilinginya  dan

mengagungkannya  sebagaimana  Ia

menciptakan  ka’bah  di  bumi  ini  dan

memerintahkan manusia untuk mengelilinginya

ketika thawaf  dan menghadap ke arahnya di

saat shalat” (lihat al Asma’ wa ash-shifat, hlm.

497). ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena

Allah  tidak  membutuhkan  tempat.    Sayyidina

‘Ali berkata :

” ﺍﺭﺎﻬﻇﺇ ﺵﺮﻌﻟﺍ ﻖﻠﺧ ﷲﺍ ﻥﺇ   ﻪﺗﺍﺬﻟ ﺎﻧﺎﻜﻣ ﻩﺬﺨﺘﻳ ﱂﻭ ﻪﺗﺭﺪﻘﻟ   ”  ﻩﺍﻭﺭ

ﻕﺮﻔﻟﺍ ﲔﺑ ﻕﺮﻔﻟﺍ ﰲ ﻱﺩﺍﺪﻐﺒﻟﺍ ﺭﻮﺼﻨﻣ ﻮﺑﺃ

Maknanya:”Sesungguhnya  Allah  menciptakan

‘arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, dan

tidak  menjadikannya  tempat  bagi  Dzat-Nya”.

(Riwayat  Abu Manshur al  Baghdadi dalam al

farq bayna al firaq, hlm : 333)

 

Kembalinya Rasulullah dari Mi’raj

 

Sebagian  ulama’  mengatakan  :  perjalanan

Isra’  dan Mi’raj  hingga  kembalinya  Rasulullah  ke

Makkah di tempuh dalam tempo sepertiga malam.

Setelah  itu  Rasulullah  mengabarkan  kejadian

tersebut  kepada  kaum  kafir  Quraisy,  namun

mereka tidak percaya. Lalu mereka datang kepada

Abu  Bakr  ash-Shiddiq  untuk  menyatakan  hal  itu,

dan beliau membenarkan cerita Rasulullah seraya

mengatakan:  “Aku  mempercayainya  ketika  ia

 

http://www.darulfatwa.org.au

mengabarkan  berita  langit,  mengapa  aku  tidak

mempercayainya mengenai berita bumi ?”.

Orang-orang kafir dengan dipimpin oleh Abu

Jahal  mendatangi  Rasulullah  untuk  minta

penjelasan  tentang  sifat  dan  bentuk al  Masjid  al

Aqsha,  karena  mereka  mengetahui  bahwa

Rasulullah tidak pernah pergi ke sana sebelumnya.

Setelah Rasulullah menjelaskan secara mendetail,

di  antara  mereka  yang  pernah  pergi  ke  sana

berkata  :  “Demi  Tuhan,  apa  yang  diterangkan

Muhammad adalah benar”.

 

Hukum orang yang mengingkari Isra’ dan  Mi’raj

 

Peristiwa Isra’  dan Mi’raj  merupakan  salah

satu  mukjizat  terbesar  yang  dikaruniakan  Allah

kepada  Rasulullah.  Peristiwa Isra’  ini  disebutkan

dalilnya  dalam  al  Qur’an  (surat  al  Isra’  :1)  dan

hadits  shahih.  Karenanya  wajib  beriman  bahwa

nabi  Muhammad  shallahu  ‘alayhi  wasallam

diperjalankan  oleh  Allah  pada  malam  hari  dari

Makkah ke Masjid al Aqsha dalam keadaan sadar,

terjaga,  dengan  roh  dan  jasad.  Inilah  yang

dikatakan oleh seluruh ulama’ salaf dan khalaf dari

kalangan  Ahlussunnah  Wal  Jama’ah.  Di  antara

para sahabat yang menyatakan hal ini antara lain;

Ibn  Abbas,  Jabir,  Anas,  Umar,  Hudzaifah,  dan

lainnya.  Para  ulama’  menyatakan  :  “orang  yang

menginkari  peristiwa  Isra’  berarti  telah

mendustakan  al  Qur’an  dan  barang  siapa  yang

mendustakan  al  Qur’an  maka  ia  jatuh  dalam

kekufuran”.

Sedangkan  peristiwa Mi’raj  disebut  dengan

jelas  dalam  hadits-hadits  yang  shahih  dan

disinggung  dalam  al  Qur’an  meski  tidak  secara

eksplisit  (surat  an-Najm  (53):  13-15)  dan  masih

memungkinkan adanya penafsiran lain (ta’wil) dari

zhahir  ayat  tersebut.  Namun  demikian  barang

siapa  yang  memahami  bahwa Sidrat  al  Muntaha

yang  disebut  dalam  ayat-ayat  tersebut  berada  di

langit,  lalu  mengingkari  peristiwa Mi’raj  maka  ia

jatuh dalam kekufuran. Jika ia tidak mengerti dan

tidak memahami demikian terhadap tafsiran ayat-ayat tersebut maka ia tidaklah kufur.

 

Apakah Tujuan Isra’ dan Mi’raj  ?

 

Tujuan  dan  hikmah  yang  sebenarnya  dari

Isra’ dan Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah dan

memperlihatkan  kepadanya  beberapa  keajaiban

ciptaan  Allah  sesuai  dengan  firman  Allah  dalam

surat al Isra’: 1 di atas :

)   ﺎﻨﺗﺎـﻳﺁ ﻦﻣ ﻪـﻳﺮـﻨﻟ   (

Maknanya: “Agar kami memperlihatkan kepadanya

sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami”.

 

http://www.darulfatwa.org.au

serta  mengagungkan  beliau  sebagai  Nabi  akhir

zaman dan sebaik-baik  nabi  di antara para  nabi,

sekaligus  sebagai  penguat  hati  beliau  dalam

menghadapi  tantangan  dan  cobaan  yang

dilontarkan  oleh  orang  kafir  Quraisy  terlebih

setelah  ditinggal  mati  oleh  paman  beliau  Abu

Thalib dan isteri beliau Khadijah.

Dari  sini  kita  dapat  mengambil  kesimpulan

bahwa tujuan dari Isra’ dan Mi’raj bukanlah bahwa

Allah ada di arah atas, lalu Nabi naik ke atas untuk

bertemu  dengan-Nya.  Karena  Allah  ada  tanpa

tempat  dan  arah,  dan  tempat  adalah  makhluk

sedangkan  Allah  tidak  membutuhkan  kepada

makhluk-Nya. Allah ta’ala berfirman :

)   ﲔﳌﺎﻌﻟﺍ ﻦﻋ ﲏﻏ ﷲﺍ ﻥﺈﻓ   (     )  ﻥﺍﺮﻤﻋ ﻝﺁ ﺓﺭﻮﺳ  : 97 (

Maknanya : “Maka sesungguhnya Allah maha kaya

(tidak membutuhkan) dari alam semesta”.  (Q.S. Al

Imran : 97)

Allah tidak disifati dengan salah satu sifat makhluk-Nya seperti berada di tempat, arah atas, di bawah

dan lain-lain. Juga perkataan Imam ath-Thahawi :

”  ﺕﺎﻋﺪﺘﺒﳌﺍ ﺮﺋﺎﺴﻛ ﺖﺴﻟﺍ ﺕﺎﻬﳉﺍ ﻪﻳﻮﲢ ﻻ ”

“Allah  tidak  diliputi  oleh  salah  satu  arah  penjuru

maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,

kiri,  depan,  belakang),  tidak  seperti  makhluk-Nya

yang  diliputi  oleh  enam  arah  penjuru  tersebut”

(lihat  al  ‘Aqidah  ath-Thahawiyyah  karya  al  Imam

Abu Ja’far ath-Thahawi)

Hal  ini  merupakan  ijma’  ulama  Islam

seluruhnya, maka barang siapa yang berkeyakinan

bahwa Allah  bertempat  dan  berarah  di  atas atau

semua arah maka ia telah jatuh pada kekufuran.

 

Wahyu yang diterima Rasulullah pada saat Isra’

dan Mi’raj

 

Dalam hadits shahih yang sangat panjang

riwayat  Imam  Muslim,  Rasulullah  menjelaskan

mengenai peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Dalam hadits

tersebut diriwayatkan bahwa ketika Nabi berada di

atas Sidratul  Muntaha beliau  mendengar  kalam

Allah di antaranya berisi kewajiban sholat 50 kali

dalam  sehari  semalam  bagi  umatnya.  Kemudian

terjadilah dialog dengan Nabi Musa ‘alayhissalam

yang menganjurkan agar Nabi meminta keringanan

kepada Allah dan akhirnya diwajibkan bagi ummat

Islam  hanya  lima  kali  sholat  dalam  sehari

semalam.  Namun  nilai  sekali  sholat  tersebut

sebanding  dengan  sepuluh  kali  sholat  sehingga

lima kali sholat sebanding dengan lima puluh kali

sholat.

Adapun  proses  penerimaan  wahyu

tersebut  adalah  bahwa  Nabi  mendengar  kalam

Allah  yang Dzati,  bukan berupa  huruf,  suara dan

 

http://www.darulfatwa.org.au

bahasa  sebab  kalam-Nya  azali  (ada  tanpa

permulaan).  Pada  malam  yang  mulia  dan  penuh

berkah itu Allah membuka hijab dari Rasulullah; hal

yang dapat menghalanginya dari mendengar kalam

Allah yang azali.  Allah memperdengarkan  kalam-Nya  dengan  Qudrah-Nya  pada  saat  Rasulullah

berada di suatu tempat di atas Sidratul Muntaha ;

suatu  tempat  yang  tidak  pernah  dikotori  dengan

perbuatan  maksiat  dan  bukan  tempat  di  mana

Allah berada seperti dugaan sebagian orang sebab

Allah ada tanpa tempat.

 

Kisah-kisah tidak berdasar

 

1.  Tidak  boleh  berkeyakinan  bahwa  pada  saat

Mi’raj  Allah  mendekat  kepada  Rasulullah

sehingga  jarak  antara  keduanya  adalah  dua

hasta  atau  lebih  dekat  lagi  seperti  anggapan

sebagian  orang.  Yang  benar  adalah  bahwa

yang  mendekat  kepada  Rasulullah  adalah

Jibril,  bukan  Allah  (baca  tafsir  surat  an-Najm

(53)  :  8-9)  sebagaimana  yang  diriwayatkan

oleh Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya

dari  as-Sayyidah  ‘Aisyah radliyallahu  ‘anha.

Karenanya  buku  yang  berjudul  Mi’raj  Ibnu

Abbas dan Tanwir  al  Miqbas  min  tafsir  Ibn

Abbas  (yang  memuat  beberapa  hal  yang

menyalahi  syara’)  mesti  dijauhi.  Kedua  buku

tersebut  bukanlah  karya  Ibnu  Abbas,

melainkan  ada  sebagian  orang  yang  dengan

tanpa  didukung  dalil  dan  bukti  yang  kuat

menyandarkan kepadanya.

2.    Kisah  yang  menyatakan  bahwa  ketika  Jibril

telah  sampai  pada  suatu  tempat  setelah

Sidratul  Muntaha    kemudian  berkata  kepada

Nabi  :  “Di  sinilah  seorang  kawan  berpisah

dengan  kawan  yang  sangat  dicintainya,

seandainya  aku  terus  naik  (ke  atas)  niscaya

aku  akan  terbakar”.  Ini  adalah  cerita  dusta

yang tidak berdasar sama sekali.

3.  Kisah  yang  mengatakan  bahwa  ketika

Rasulullah  pada  saat  Mi’raj  telah  sampai  ke

atas  langit  ke  tujuh  di  suatu  tempat  dimana

beliau mendengar kalam Allah ta’ala dan beliau

berkata : at-Tahiyyatu lillah, lalu dijawab oleh

Allah : as-Salamu ‘alayka  ayyuha an-Nabiyyu

Warahmatullahi  Wabarakatuh.  Riwayat  ini

meskipun  tertulis  dalam  beberapa  kitab

tentang  peristiwa  Isra’  dan  Mi’raj  dan

disampaikan  oleh  beberapa  orang  dalam

ceramah-ceramah  peringatan  Isra’  dan Mi’raj

adalah kisah yang tidak Sahih (benar) karena

pada  malam Isra’  Mi’raj  shighat  atau lafazh

Tahiyyat belum disyari’atkan.  Hanya sebagian

rawi-rawi  pendusta  saja  yang  meriwayatkan

kisah tersebut. Kisah dusta ini telah menyebar

 

http://www.darulfatwa.org.au

di  banyak  kalangan  kaum  muslimin  maka

harus dijelaskan hal yang sebenarnya. Riwayat

tentang  bacaan Tasyahhud    atau Tahiyyat

yang benar adalah sebagai berikut:

Pada  awalnya  sebagian  sahabat  Rasulullah

sebelum  disyari’atkan  Shighat  Tasyahhud,

mereka mengucapkan dzikir atau bacaan :

” ﻞﻴﺋﺎﻜﻴﻣ ﻰﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍ ، ﻞﻳﱪﺟ ﻰﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍ ، ﷲﺍ ﻰﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍ   ”

Lalu Rasulullah melarang mereka mengatakan

itu dan beliau mengatakan :

”  ﻡﻼﺴﻟﺍ ﻮﻫ ﷲﺍ ﻥﺇ ”

Maknanya : “Allah itu adalah as-Salam –yang

suci  dari  segala  kekurangan-  (jadi  jangan

katakan : as-Salam ‘ala Allah)”.

Kemudian  Rasulullah  mengajarkan  kepada

mereka untuk mengatakan :

” ﲪﺭﻭ ﱯﻨﻟﺍ ﺎﻬﻳﺃ ﻚﻴﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍ  ﻪﺗﺎﻛﺮﺑﻭ ﷲﺍ ﺔ ”

 

Mukjizat Isra’ dan Mi’raj selain penuh dengan

hikmah dan pelajaran  juga merupakan  ujian bagi

keimanan  kita  akan  kekuasaan  Allah  ta’ala.

Apakah kita termasuk orang yang beriman dengan

sebenarnya  atau  justru  mendustakan  peristiwa

Isra’  dan Mi’raj  Nabi ini  dengan dalih filsafat dan

logika, Wallahu A’lam wa Ahkam.

 

 

AT-TIJARAH AR-RABIHAH

Perdagangan yang menguntungkan

 

“Hai  orang-orang  yang  beriman,  sukakah  kamu

Aku  tunjukkan  suatu  perniagaan  yang  dapat

menyelamatkan  kamu  dari  adzab  yang  pedih  ?.

(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya

dan  berjihad  di  jalan  Allah  dengan  harta  dan

jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu

mengetahuinya”    (Q.S. ash-Shaff : 10-11)

 

Seri III

MAKNA SYAHADAT PERTAMA

ﷲﺍ ﻪﻈﻔﺣ ﻱﺭﺮﳍﺍ ﺪﻤﳏ ﻦﺑ ﷲﺍ ﺪﺒﻋ ﺙﺪﶈﺍ ﺔﻣﻼﻌﻟﺍ ﻝﺎﻗ :

”  ﻪﻴﻓ ﺕﻮﺒﺜﻟﺍﻭ ﻡﻼﺳﻹﺍ ﻦﻳﺩ ﰲ ﻝﻮﺧﺪﻟﺍ ﲔﻔﻠﻜﳌﺍ ﺔﻓﺎﻛ ﻰﻠﻋ ﺐﳚ

ﻡﺎﻜﺣﻷﺍ  ﻦﻣ  ﻪﻴﻠﻋ  ﻡﺰﻟ  ﺎﻣ  ﻡﺍﺰـﺘﻟﺍﻭ  ﻡﺍﻭﺪﻟﺍ  ﻰﻠﻋ  . ﻪﻤﻠﻋ  ﺐﳚ  ﺎﻤﻤﻓ

ﺓﻼﺼﻟﺍ ﻲﻔﻓ ﻻﺇﻭ ﺍﺮﻓﺎﻛ ﻥﺎﻛ ﻥﺇ ﻝﺎﳊﺍ ﰲ ﻪﺑ ﻖﻄﻨﻟﺍﻭ ﺎﻘﻠﻄﻣ ﻩﺩﺎﻘﺘﻋﺍﻭ  :

ﺎﳘﻭ ﻥﺎﺗﺩﺎﻬﺸﻟﺍ :

ﺃ ﺪﻬﺷﺃ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺍﺪﻤﳏ ﻥﺃ ﺪﻬﺷﺃﻭ ﷲﺍ ﻻﺇ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻥ .

ﺩﻮﺒﻌﻣ ﻻ ﻥﺃ ﻑﺮﺘﻋﺃﻭ ﺪﻘﺘﻋﺃﻭ ﻢﻠﻋﺃ ﷲﺍ ﻻﺇ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻥﺃ ﺪﻬﺷﺃ ﲎﻌﻣﻭ

ﻖﻟﺎﳋﺍ ﻢﺋﺍﺪﻟﺍ ﻡﻮﻴﻘﻟﺍ ﻲﳊﺍ ﱘﺪﻘﻟﺍ ﻝﻭﻷﺍ ﺪﺣﻷﺍ ﺪﺣﺍﻮﻟﺍ ﻱﺃ ﷲﺍ ﻻﺇ ﻖﲝ

 

http://www.darulfatwa.org.au

ﻦﻜﻳ ﱂ ﺄﺸﻳ ﱂ ﺎﻣﻭ ﻥﺎﻛ ﷲﺍ ﺀﺎﺷ ﺎﻣ ،ﺪﻳﺮﻳ ﺎﳌ ﻝﺎﻌﻔﻟﺍ ﺮﻳﺪﻘﻟﺍ ﱂﺎﻌﻟﺍ ﻕﺯﺍﺮﻟﺍ

ﻝﻮﺣ ﻻ ﻱﺬﻟﺍ    ﻦﻋ ﻩﺰـﻨﳌﺍ ﻪﺑ ﻖﻴﻠﻳ ﻝﺎﻤﻛ ﻞﻜﺑ ﻑﻮﺻﻮﳌﺍ ،ﻪﺑ ﻻﺇ ﺓﻮﻗ ﻻﻭ

ﺮـﻴﺼﺒﻟﺍ ﻊﻴﻤﺴﻟﺍ ﻮﻫﻭ ﺊﺷ ﻪﻠﺜﻤﻛ ﺲﻴﻟ ،ﻪﻘﺣ ﰲ ﺺﻘﻧ ﻞﻛ  .  ﱘﺪﻘﻟﺍ ﻮﻬﻓ

) ﱄﺯﻷﺍ  ﻱﺃ  (   ﺙﺩﺎﺣ  ﻩﺍﻮﺳ  ﺎﻣﻭ ) ﻕﻮﻠﳐ  ﻱﺃ  (  ﻩﺍﻮﺳ  ﺎﻣﻭ  ﻖﻟﺎﳋﺍ  ﻮﻫﻭ

ﻕﻮﻠﳐ  .   ﻥﺎﻴﻋﻷﺍ  ﻦﻣ  ﺩﻮﺟﻮﻟﺍ  ﰲ  ﻞﺧﺩ  ﺙﺩﺎﺣ  ﻞﻜﻓ ) ﻡﺎﺴﺟﻷﺍ  ﻱﺃ  (

ﻦﻣﻭ  ،ﺵﺮﻌﻟﺍ  ﱃﺇ  ﺓﺭﺬﻟﺍ  ﻦﻣ  ﻝﺎﻤﻋﻷﺍﻭ  ،ﻥﻮﻜﺳﻭ  ﺩﺎﺒﻌﻠﻟ  ﺔﻛﺮﺣ  ﻞﻛ

ﷲﺍ ﻖﻠﲞ ﻮﻬﻓ ﺮﻃﺍﻮﳋﺍﻭ ﺎﻳﺍﻮﻨﻟﺍﻭ  .  ﻻﻭ ﺔﻌﻴﺒﻃ ﻻ ،ﷲﺍ ﻯﻮﺳ ﺪﺣﺃ ﻪﻘﻠﳜ ﱂ

ﱄﺯﻷﺍ ﻪﻤﻠﻋﻭ ﻩﺮﻳﺪﻘﺘﺑ ،ﻪﺗﺭﺪﻗﻭ ﷲﺍ ﺔﺌﻴﺸﲟ ﺩﻮﺟﻮﻟﺍ ﰲ ﻪﻟﻮﺧﺩ ﻞﺑ ﺔﻠﻋ

ﱃﺎﻌﺗ ﷲﺍ ﻝﻮﻘﻟ  : ) ﺊﺷ ﻞﻛ ﻖﻠﺧﻭ (    ﻼﻓ ﺩﻮﺟﻮﻟﺍ ﱃﺇ ﻡﺪﻌﻟﺍ ﻦﻣ ﻪﺛﺪﺣﺃ ﻱﺃ

ﺗ ﷲﺍ ﻝﺎﻗ ،ﷲﺍ ﺮـﻴﻐﻟ ﲎﻌﳌﺍ ﺍﺬ ﻖﻠﺧ ﱃﺎﻌ  : ) ﷲﺍ ﺮـﻴﻏ ﻖﻟﺎﺧ ﻦﻣ ﻞﻫ (   .

ﻲﻔﺴﻨﻟﺍ  ﻝﺎﻗ ” :  ﺏﺮﻀﻟﺎﻓ  ،ﻩﺮﺴﻜﻓ  ﺮﺠﲝ  ﺎﺟﺎﺟﺯ  ﻥﺎﺴﻧﺇ  ﺏﺮﺿ  ﺍﺫﺈﻓ

ﻖﻠﳋﺍ ﺎﻣﺃﻭ ﺐﺴﻜﻟﺍ ﻻﺇ ﺪﺒﻌﻠﻟ ﺲﻴﻠﻓ ،ﱃﺎﻌﺗ ﷲﺍ ﻖﻠﲞ ﺭﺎﺴﻜﻧﻻﺍﻭ ﺮﺴﻜﻟﺍﻭ

ﷲﺍ  ﺮـﻴﻐﻟ  ﺲﻴﻠﻓ  . ﱃﺎﻌﺗ  ﷲﺍ  ﻝﺎﻗ  :   )  ﺎﻣ  ﺎﻬﻴﻠﻋﻭ  ﺖﺒﺴﻛ  ﺎﻣ  ﺎﳍ

ﺖﺒﺴﺘﻛﺍ (  .”  ﻦﻳﺎﺒﻣ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻪﻧﻷ ﻪﺗﺎﻔﺻ ﺮﺋﺎﺴﻛ ﱘﺪﻗ ﻪﻣﻼﻛﻭ )  ﺮـﻴﻏ ﻱﺃ

ﻪﺑﺎﺸﻣ  (  ﱃﺎﻌﺗﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ،ﻝﺎﻌﻓﻷﺍﻭ ﺕﺎﻔﺼﻟﺍﻭ ﺕﺍﺬﻟﺍ ﰲ ﺕﺎﻗﻮﻠﺨﳌﺍ ﻊﻴﻤﳉ

) ﷲﺍ ﻩﺰـﻨﺗ ﻱﺃ  (  ﻥﻮﳌﺎﻈﻟﺍ ﻝﻮﻘﻳ ﺎﻤﻋ ) ﻥﻭﺮﻓﺎﻜﻟﺍ ﻱﺃ  ( ﺍﺮـﻴﺒﻛ ﺍﻮﻠﻋ .

“Wajib  bagi  semua  mukallaf  untuk  memeluk

agama  Islam,  meyakininya  untuk  selamanya  dan

melaksanakan  segala  hukum-hukum  yang  diwajibkan

atasnya. Di antara hal yang wajib diketahui dan diyakini

secara  mutlak,  dan  wajib  diucapkan  seketika  jika

memang  dia  (mukallaf)  kafir,  atau  jika  tidak  (ia  bukan

seorang  kafir)  maka  wajib  mengucapkannya  dalam

shalat, adalah dua kalimat syahadat:

ﹶﺃ ﺷ ﻬ ﺪ   ﹶﺃ ﹾﻥ   ﹶﻻ   ﻪﻟﺇ   ﱠﻻﺇ   ُﷲﺍ    ﻭ ﹶﺃ ﺷ ﻬ ﺪ   ﹶﺃ ﱠﹼ ﻥ   ﻣ ﺤ ﻤ ﺪ ﺭ ﺍ ﺳ ﻮ ﹸﻝ   ِﷲﺍ     r

Makna    ﷲﺍ ﻻﺇ ﻪـﻟﺇ ﻻ ﻥﺃ ﺪﻬـﺷﺃ : aku mengetahui, meyakini

dan mengakui (dengan ucapan) bahwa tidak ada yang

disembah dengan hak (benar) kecuali Allah, yang Esa,

tiada sekutu bagi-Nya, tidak terbagi-bagi,

1

tidak bermula,

tidak  didahului  dengan  ketiadaan,  Maha  Hidup,  tidak

membutuhkan kepada yang  lain,  tidak  berakhir,  Maha

Pencipta,  Pemberi  rizki,  Maha  mengetahui,  Maha

Kuasa,  yang  mudah  bagi-Nya  melakukan  segala  apa

yang Ia kehendaki. Segala apa yang Ia kehendaki terjadi

dan  segala  apa  yang  tidak  Ia  kehendaki  tidak  akan

terjadi. Tidak ada daya untuk menjauhi perbuatan dosa

kecuali  dengan  pemeliharaan-Nya,  dan  tidak  ada

kekuatan  untuk  berbuat  ta’at  kepada-Nya  kecuali

dengan  pertolongan-Nya.  Allah  memiliki  segala  sifat

kesempurnaan yang layak bagi-Nya dan Maha Suci dari

segala kekurangan bagi-Nya.

Allah  tidak  menyerupai  sesuatupun  dari

makhluk-Nya  dan  tidak  ada  sesuatupun  dari

makhluk-Nya  yang  menyerupai-Nya,  Dia  Maha

1

Karena  Dia  bukan jism;  benda.  Ini  adalah  makna

Ahad menurut sebagian ulama.

 

http://www.darulfatwa.org.au

Mendengar dan Maha Melihat.

2

Hanya Allah yang

tidak  memiliki  permulaan (Qadim),  segala  sesuatu

selain-Nya memiliki  permulaan (Hadits-baharu).  Dia-lah

sang  Pencipta,  segala  sesuatu  selain-Nya  adalah

ciptaan-Nya  (makhluk).  Segala  yang  ada  (masuk  ke

dalam  wujud),  benda

3

dan  perbuatannya,  mulai  dari

(benda yang terkecil) dzarrah hingga (benda  terbesar)

‘Arsy, segala gerakan  manusia  dan  diamnya,  niat dan

lintasan  fikirannya;  semuanya  itu  (ada)  dengan

penciptaan Allah, tidak ada yang menciptakannya selain

Allah, bukan thabi’ah (yang menciptakannya) dan bukan

pula ‘Illah.

4

Akan tetapi segala sesuatu tersebut masuk

pada  keberadaan  (ada)  dengan  kehendak  Allah  dan

kekuasaan-Nya,  dengan  ketentuan dan ilmu-Nya  yang

azali (yang tidak bermula), sebagaimana firman Allah:

]    ٍﺀﻰﺷ ﱠﻞﹸﻛ ﻖﹶﻠﺧﻭ [    )  ﻥﺎﻗﺮﻔﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ : 2 (

Maknanya : “Dan Allah menciptakan segala sesuatu”

(Q.S. al Furqan: 2)

Artinya  Allah  mengadakannya  dari  tidak  ada

menjadi ada. Makna (Khalaqa) demikian ini tidak layak

bagi siapapun kecuali hanya bagi Allah. Allah berfirman:

2

Pendengaran  Allah  tidak  seperti  pendengaran

makhluk, penglihatan Allah tidak seperti penglihatan makhluk.

3

Benda  yang  dimaksud  di  sini  bukan  benda  padat,

tetapi A’yan  atau Ajsam; segala sesuatu yang memiliki bentuk

dan ukuran, termasuk manusia.

4

Thabi’ah adalah ‘adah ;  kebiasaan.  Kebiasaan  api

adalah  membakar.  ‘Illah  adalah  sebab.  Api  adalah  sebab

terjadinya pembakaran.

] ﷲﺍ ﺮﻴﹶﻏ ﹴﻖﻟﺎﺧ ﻦﻣ ﹾﻞﻫ [     )  ﺮﻃﺎﻓ ﺓﺭﻮﺳ :   3 (

Maknanya: “Tidak ada pencipta selain Allah”  (Q.S.

Fathir: 3)

An-Nasafi berkata: “Apabila seseorang melempar

kaca  dengan  batu  hingga  pecah,  maka  lemparan,

hantaman batu  dan  pecahnya  kaca  semuanya  adalah

ciptaan Allah.  Jadi seorang hamba hanyalah melakukan

kasb.

5

Adapun  penciptaan  hanya  milik  Allah,  Allah

berfirman:

]   ﺖﺒﺴﺘﹾﻛﺍ ﺎﻣ ﺎﻬﻴﹶﻠﻋﻭ ﺖﺒﺴﹶﻛ ﺎﻣ ﹶﺎﹶﳍ   [     ) ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ    : 286 (

Maknanya: “Bagi  setiap  jiwa  (balasan  baik  dari)

kebaikan yang ia lakukan dengan kasabnya dan atas

setiap  jiwa  (balasan  buruk  atas)  keburukan  yang  ia

lakukan”  (Q.S. al Baqarah: 286)

Kalam  Allah  Qadim  (tidak  bermula)

6

seperti

seluruh  sifat-sifat-Nya.  Karena  Allah  tidak  menyerupai

semua makhluk-Nya, baik pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya

dan  perbuatan-Nya.    Allah  Maha  Suci  dari  apa  yang

dikatakan  orang-orang  zhalim  (orang  kafir)  dengan

kesucian yang agung.

5

Kasb  adalah  apabila  seorang  hamba  mengarahkan

niat  dan  kehendaknya  untuk  melakukan  suatu  perbuatan  dan

pada  saat  itulah  Allah  menciptakan  dan  menampakkan

perbuatan tersebut

.

6

Kalam  Allah  yang  dimaksud  di  sini  adalah  Kalam

Allah  yang  merupakan  sifat  Dzat-Nya.  Karena  sifat  kalam  ini

qadim  berarti  pasti  bukan  huruf,  suara  dan  bahasa  karena

semua itu baharu, makhluk.

 

http://www.darulfatwa.org.au

Nasehat syekh Abdullah al-Harari

 

Tebar keyakinan, Perjuangkan kebenaran

dengan jiwa dan harta !

 

Rasulullah  shallallahu  ‘alayhi  wasallam

bersabda:

” ﻴﻜﻟﺍ ﺕﻮﳌﺍ ﺪﻌﺑ ﺎﳌ ﻞﻤﻋﻭ ﻪﺴﻔﻧ ﻥﺍﺩ ﻦﻣ ﺲ   ”

 

Maknanya:  “Orang  yang  pintar  adalah  yang

mampu  menundukkan  hawa  nafsunya  dan

melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat

baginya setelah mati”.

Maksudnya orang yang berakal adalah orang

yang mampu mengalahkan dan mengekang hawa

nafsunya untuk melakukan amal yang bermanfaat

untuk  akhiratnya,  sementara  orang  yang  bodoh

adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya

serta  berangan-angan  memperoleh  derajat  yang

tinggi  dari Allah.

Kita  semua  dihadapkan  kepada jihad  dengan

lisan,  ini  membutuhkan  kesungguhan  dan

pengorbanan  baik  tenaga  maupun  harta.  kita

melelahkan  badan  dengan  kegiatan-kegiatan  dan

perjalanan-perjalanan  untuk  menanggulangi  dan

mengcounter  kesesatan  baik  dalam  aqidah

maupun  hukum,  dan  menginfakkan  harta  kita,

janganlah bersikap pelit untuk berinfak hanya untuk

selalu menikmati makan yang enak, tempat tinggal

yang mewah dan kendaraan yang lux (Tana”um).

Allah ta’ala menjadikan para nabi dan wali-Nya

tidak  suka  berfoya-foya  meskipun  mereka

mempunyai  harta  yang  melimpah,  mereka  tidak

pernah  menggunakan  kenikmatan  yang  diberikan

oleh Allah untuk berfoya-foya, tapi kenikmatan itu

mereka pergunakan untuk amal kebaikan, mereka

inilah  yang  seharusnya  kita  jadikan  contoh,  agar

kita  mendapatkan  pertolongan  dari  Allah  dan

memperoleh derajat yang tinggi. Mudah-mudahan

Allah memudahkan segala usaha kita ini.

 

http://darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Al-Isra_wal_Mi%5Eraj.pdf