Pemurtadan Dengan Hamilisasi

Jumat, 07 September 2007

Pemurtadan Dengan Hamilisasi

“…Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya…” (Qs. Al-Baqarah 221).

Kisah nyata ini harus menjadi perhatian serius bagi siapapun yang memiliki anak, saudara atau famili gadis remaja. Jangan sampai gadis-gadis muslimah salah pergaulan dan tertipu oleh bujuk rayu pria non Islam. Bila tidak waspada, kasus pemurtadan melalui tipuan dan hamilisasi di Palembang ini bisa terulang kembali. Keteledoran sedikit saja bisa berujung murtad di tangan orang model Ucok ini.
Ucok –bukan nama sebenarnya– adalah seorang calon pendeta warga jalan Abi Hasan Kenten, Palembang. Wajahnya memang belagak (ganteng), berkulit putih, badannya atletis cok bodyguard. Tapi hatinya busuk, terutama bila mendekati gadis muslimah yang hendak dimurtadkan. Salah satu korbannya adalah Ayu –bukan nama sebenarnya– gadis SMA yang tinggal di Tanjung Siapi-api, Palembang. Kecantikan dan keluguan Ayulah yang membuat Ucok begitu bernafsu untuk mendekatinya. Ayu adalah satu-satunya anak wanita dari tiga bersaudara, ayahnya adalah sopir truk berusia 50 tahun.

Dengan memperkenalkan diri sebagai seorang Muslim, pria Batak yang mengaku berprofesi sebagai dokter ini pun mulai sering datang apel ke rumah Ayu, terutama pada hari libur dan malam minggu. Kata-katanya yang manis, sikapnya yang sopan, dan penampilannya yang ramah, membuat Ayu dan keluarganya benar-benar simpati kepada Ucok. Setelah menyimpulkan bahwa Ucok adalah seorang yang shaleh, rajin ibadah, setia dan penuh tanggung jawab, maka kedua orang tua Ayu welcome terhadap Ucok.

Makin muluslah perangkap “cinta buaya” Ucok. Sejak itu ia mulai sering menginap di rumah Ayu saat apel di malam minggu, dengan alasan kemalaman lah, suasana hujan lah, takut masuk angin lah, motor mogoklah, dst. Ucok memang pandai cari-cari alasan supaya bisa menginap. Dari seringnya menginap inilah tragedi bermula.

Setahun kemudian Ayu berbadan dua. Ketika kehamilannya berusia 2 bulan, kedua orang tua Ayu menuntut tanggungjawab kepada Ucok. Maka suatu hari Ucok melamar si Ayu, didampingi oleh pamannya. Ucok yang merasa dalam posisi tidak dirugikan, dengan lantang menyatakan siap menikahi si Ayu kapan saja asal menikah di gereja dengan tata cara Kristen.

Blaarrrrrr……. Bak disambar geledek di siang bolong, ayah Ayu kaget luar biasa. Ia baru tahu kalau Ucok yang disangka remaja masjid itu ternyata aktivis Kristen. Di tengah kebingungan dan kekagetannya, ia berkata, “Sekarang terserah Ayu saja. Mau pilih Islam atau Ucok?” ucapnya dengan agak marah.

Sebagai wanita yang masih labil, Ayu kehilangan kesadaran agama. Yang terpikir hanyalah isi kandungannya itu. Baginya, yang penting ada orang yang mau mengakui keberadaan sang janin sebagai anak kandungnya. Maka ia lebih memilih Ucok daripada Islam.

Kekagetan orang tua Ayu semakin menjadi. Dengan terpaksa ia merelakan sang Ayu dinikahi secara Kristen di gereja. Sebelum pulang, Ucok yang sudah merasa menang, berani sesumbar, “Untuk dapatkan wanita yang dicintai, harus dengan cara menipu.” Sejak itu, Ayu semakin sering tinggal di rumah Ucok daripada di rumah orang tuanya, padahal belum resmi menikah.

Berita pemurtadan metode hamilisasi ini pun terdengar oleh Tim FAKTA Sumsel. Agustiawarman SH SIP, ketua FAKTA yang baru, menggodok kasus ini dan menugaskan tim khusus yang terdiri dari 7 orang.

Esoknya tim berkoordinasi dengan keluarga Ayu. Agus menjelaskan kepada kedua orang tua Ayu tentang langkah strategis yang harus dilakukan untuk menyelamatkan akidah Ayu. Kedua orang tua Ayu menangisi dan menyadari kesalahannya selama ini. Mereka ikhlas menerima Ayu kembali ke dalam keluarga, apapun keadaannya, asalkan tetap Islam.

Selanjutnya FAKTA berkoordinasi dengan ketua RT dan remaja masjid di sekitar rumah Ucok. Pukul 10 pagi mereka bersama-sama mendatangi rumah Ucok untuk memulangkan Ayu ke rumah orang tuanya. Dengan bijak Pak RT menanyakan keberadaan Ayu di rumah Kristen tersebut. “Karena Ucok dengan Ayu belum menikah, maka Ayu adalah tamu di rumah itu. Jika masih tinggal serumah, berarti mereka kumpul kebo. Sebagai tamu, harus lapor RT selama 1 x 24 jam,” jelasnya.

Tak mau kalah, Ucok membela diri sembari menyalahkan Ayu. “Ini bukan salah kami, tapi salah Ayu sendiri. Saya sudah bilang sama Ayu, tapi dia tidak mau,” jawabnya ngeyel.

“Jangan macam-macam ya, pakai ngaku-ngaku Islam untuk menipu!” balas Ustadz Legawan Isa, penasihat FAKTA Sumsel.

“Cok, benar nggak, kau mengaku beragama Islam ketika mendekati Ayu?” tanya Agus. “Ya!” jawab ucok sembari menganggukkan kepala.

Karena duduk persoalannya sudah jelas, maka disetujuilah kesepakatan bersama di atas kertas segel yang isinya: Pertama, jika Ayu datang ke rumah Ucok harus diusir. Kedua, jika Ucok melarikan Ayu, maka rumah Ucok akan dibakar dan orang tua Ucok jadi jaminan. Ketiga, menyampaikan kesepakatan itu kepada polisi.

Pertemuan ditutup dengan statemen seorang remaja masjid yang masih tetangga Ucok, “Kalu dio ngelanggar janji dan macem-macem, kami siap mbereske.” Remaja masjid ini geram terhadap kelakuan Ucok yang sudah sering gonta-ganti pacar dan sudah menghamili beberapa gadis sebelumnya.

Esok harinya, di rumah orang tuanya, Ayu dinasihati oleh Tim FAKTA Sumsel, dengan pembinaan khusus. Dijelaskan oleh Ustadz Legawan bahwa kasus pemurtadan dengan strtegi hamilisasi ini sudah sering terjadi. Dengan metode komparatif, dijelaskan bahwa Yesus hanya manusia biasa yang dipilih Allah sebagai nabi. Seumur hidupnya Yesus tidak pernah jadi Tuhan dan dia belum pernah meminta kepada muridnya untuk diibadahi sebagai Tuhan. Satu-satunya ayat doktrin ketuhanan Trinitas yang diimani oleh umat Kristen adalah ayat palsu (I Yohanes 5:7-8).

Kepalsuan Alkitab, kitab suci Kristiani juga dibeberkan secara ilmiah. Di dalamnya terdapat ayat-ayat mustahil, pornografi, pelecehan tuhan, dan ratusan ayat kontradiktif. Bukti-bukti konkretnya sudah dibukukan dalam buku Dokumen Pemalsuan Alkitab: Menyambut Kristenisasi Berwajah Islam yang diterbitkan oleh FAKTA dan buku Indeks Kesalahan Alkitab terbitan Jemparing Jakarta.

Alangkah ruginya jadi orang kafir, karena orang kafir adalah makhluk yang paling buruk di dunia dan nanti akan kekal di neraka jahanam (Qs. Al-Bayyinah 6). Betapa bahagianya jadi orang Islam, karena Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah (Qs. Ali Imran 19).

Terakhir, dijelaskannya makna Islam, makna syahadatain dan hal-yang yang membatalkan keislaman. Ayu yang sempat murtad beberapa bulan, kini menyadari kesalahannya. Air mata penyesalannya mengalir deras tak terbendung, ketika disyahadatkan ulang. Seluruh keluarga menangis terharu. Selesai sudah satu persoalan, tapi persoalan janin yang dikandungnya belum tuntas. Siapa yang akan menjadi ayahnya kelak? Thoyib, seorang remaja masjid menjawab, “Saya siap mengasuhnya dari lahir hingga dewasa. Demi akidah, Saya ikhlas menikahi Ayu bila ia sudah melahirkan, asal dia benar-benar taubat kembali pada Islam.”

Kasus-kasus yang menimpa Ayu itu banyak terjadi di berbagai tempat. Sayangnya, tak banyak pahlawan akidah seperti Thoyib, pria pemberani yang rela mengorbankan egonya untuk Islam.

Diposkan oleh di 22:40

http://timfakta.blogspot.com/2007/09/pemurtadan-dengan-hamilisasi.html