Hukum Memperingati Isra Mi’raj

Hukum Memperingati Isra Mi’raj

Posted on 1 Juli 2011
1 Vote

Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saat ini marak peringatan Isra Mi’raj, termasuk jamaah masjid di kampung saya di Mertoyudan, Magelang. Biaya yang direncanakan bahkan cukup besar bagi masjid kampung di tempat saya, Rp 7 juta lebih. Padahal, di sekitar masjid masih banyak warga miskin yang perlu bantuan. Bagaimanakah sebaiknya memperingati Isra Mi’raj itu? Apakah ada landasan tuntunannya, Al-Quran dan Hadis. Terima kasih atas jawaban dan solusinya.

Hamba Allah, Magelang.

Jawaban :

Pada intinya, Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan umatnya untuk memperingati peristiwa Isra dan Mi’raj, hari kelahiran Rasul, maupun lainnya. Namun, mayoritas umat Islam memperingati peristiwa itu. Dalam Al-Quran, peristiwa Isra dan Mi’raj diabadikan dalam surah al-Isra [17] ayat 1.

Memang, harus diakui, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya memperingati Isra dan Mi’raj itu, termasuk peringatan hari kelahiran Rasul SAW ( Maulid Nabi ). Ada ulama yang secara tegas menyatakan, perbuatan tersebut adalah bid’ah karena Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan sahabat dan umatnya untuk melakukan hal itu. Para ulama menyebutkan bahwa mengadakan segala sesuatu yang baru dalam Islam — sebagaimana hadis Rasul SAW — maka hukumnya bid’ah dan bid’ah itu sesat. Pendapat ini di antaranya dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah serta Syekh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, Mufti Arab Saudi, dalam kitabnya al-Tahdzir min al-Bida’.

Sementara itu, ada pula ulama yang berpendapat hukum memperingati Isra Mi’raj itu mubah atau boleh karena tujuannya atau niatnya adalah untuk mengenang kembali peristiwa tersebut dan mengambil hikmah serta teladan darinya, sekaligus kesempatan memperingati Isra dan Mi’raj itu juga digunakan untuk silaturahim dan mengenalkan anak-anak dengan Islam.

Menurut kelompok ini, karena niatnya baik, insya Allah memperingati Isra Mi’raj itu akan menghasilkan sesuatu yang baik. Dan segala sesuatu itu bergantung pada niatnya. “Sesungguhnya setiap amal perbuatan bergantung pada niatnya.” ( Muslim 1907, Abu Daud 2201, Tirmidzi 1647, an-Nasa’i 1/58-60, 6/158, dan Ibnu Majah 4227 ).

Mengenai peringatan itu yang menghabiskan biaya jutaan rupiah namun di sekelilingnya masih ada orang miskin, yang terbaik adalah mendahulukan membantu fakir miskin. Sebab, membantu fakir miskin itu diperintahkan oleh Allah dan Rasul SAW. Orang yang tidak mau membantu fakir miskin ( dhuafa ) dalam Alquran disebut sebagai pendusta agama ( QS Al-Ma’un [107] : 1-7 ). Tentu akan lebih baik lagi jika memang bermaksud melaksanakan peringatan Isra Mi’raj bertujuan mengumpulkan dana untuk membantu fakir miskin itu. Dan acara itu hendaknya dijauhkan dari hal-hal yang mengandung bid’ah, serta tidak selalu pada 27 Rajab, sebab ulama berbeda pendapat. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 1 Juli 2011 / 29 Rajab 1432

http://jalmilaip.wordpress.com/2011/07/01/hukum-memperingati-isra-miraj/