Tiga Tahun Lalu Saat Mendengar Adzan, Tiba-tiba Lieslie Carter Menangis Begitu Saja

Tiga Tahun Lalu Saat Mendengar Adzan, Tiba-tiba Lieslie Carter Menangis Begitu Saja

Kamis, 27 Oktober 2011 03:13 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Leslie Carter kini bekerja di pusat kebudayaan Islam di departemen erempuan sebagai koordinator wanita. Wanita asal Irlandia ini sudah tiga tahun menjadi Muslim. Ia berpindah agama dari Kristen. “

Sayabangga dilahirkan sebagai orang Irlandia. Saya juga bangga menjadi seorang muslim,” tuturnya.

Sekilas mengenai kehidupan sipil di Irlandia, semua urusan agama dipisahkan dengan urusan yang lain. Saat pusat budaya Islam diIrlandia dibangun pada 1996, ia melihat pusat budaya itu sebagaisesuatu yang sangat menakjubkan.

Pusat perkumpulan orang Islam yang didanai oleh yayasan Al-Maktoum d Dubai ini dibangun dengan arsitektur dan interior khas Irlandia. “Sebuah hal yang menakjubkan melihat pusat kebudayaan Islam terbesardan satu-satunya di Eropa didirikan di Irlandia,” ujarnya.

Ia telah menikah dan memiliki seorang anak berusia lima tahun. Saat menikah dulu, Leslie masih menganut Kristen. Suaminya seorang Muslim.

Walaupun berbeda agama, sepasang suami istri ini tidak pernah cek cok soal agama dalam kehidupan rumah tangganya. “Saya pergi ke gereja, dia pergi ke masjid. Saya merayakan natal, dia merayakan Idul Fitri. Kami saling menghormati,” ujarnya.

Hidup bersama dengan seorang muslim, membuatnya merasakan banyak kemiripan antara Islam dan Kristen. “Masing-masing kami mempercayai nabi, malaikat. Kami sama-sama tidak boleh mencuri, tak boleh membunuh,” ujarnya.

Yang berbeda adalah soal pengakuan trinitas. Kristen yang selama ini ia kenal adalah agama yang paling dekat dengan Islam. Lieslie pun sebenarnya telah memiliki banyak pertanyaan tentang kekristenanya selama masih remaja. Ia selalu merasa tidak nyaman ketika harus melakukan pengakuan dosa.

Ia risih harus menceritakan kepada pastor atas semua dosa-dosanya. Ia berpikir dosa adalah antara manusia dan Tuhan. Perlahan, ia mulai menjauh dari Kristen. Ia mulai membaca tentang Islam.

Alami Fase Cepat

Tiga tahun lalu, tanpa direncanakan, Lieslie memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Suatu hari, kebetulan ia akan pergi ke pasar. Ia pergi bersama sang suami yang hendak pergi ke kantor. Ia juga merencanakan untuk mengunjungi salah seorang kenalannya yang juga satu kantor dengan sang suami.

Saat ada adzan, suami pergi untuk shalat. Tiba-tiba saja ia menangis. Rasanya seperti ada sesuatu. “Ada semacam cahaya di dalam hati. Dan aku tahu akau tak mungkin meninggalkan masjid itu tanpa mengikrarkan keislaman saya,” katanya.

Sebenarnya, ia memang merencanakan untuk pindah keyakinan dari Kristen menjadi Islam. Tapi ia tak pernah menyangka proses ‘berislamnya’terjadi hanya dalam waktu tiga tahun saja. “Aku mengira mungkin akan berpindah agama dalam waktu 10 tahun atau entah ” katanya.

Sejak memeluk Islam, ia mengaku belum mengenakan jilbab sepanjang waktu. Ia hanya memakai pakaian yang biasa dibeli di toko. Tapi, ia tak pernah memakai baju ketat. “Bahkan sebelum bertemu dengan calon suami saya atau sebelum saya memeluk Islam sekalipun,” katanya.

Putri sulung Lieslie, kini berusia lima tahun. Dia sering menonton TV. Jika melihat wanita dengan pakaian mini di layar, ia akan berteriak “haram!” dan segera mengganti saluran TV.

“Ia masih berumur limatahun, tapi tak suka memakai rok diatas lutut. Ia suka memakai rok panjang,” katanya. Lieslie senang karena putrinya sudah memiliki polapikir yang baik sejak masih kecil.

Islam di Irlandia

Di dekat tempat tinggal lieslie, ia sering mendengar banyak orang yang berkomentar negatif tentang Islam. Ia menganggap orang yang sering memberikan komentar negatif soal muslim karena tidak memiliki rasa hormat, pendidikan dan moral yang baik.

Sementara itu, ia melihat kehidupan muslim di Irlandia sebagai suatu hal yang menarik. Banayak orang yang berbondong-bondong masuk Islam. Irlandia bukanlah negara dengan penduduk besar, tapi sekitar 23.000 warganya kini telah menjadi muslim. “Berarti ada sesuatu di dalam Islam,” ujarnya.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: Dwi Murdianingsih/YouTube