hukum islam

hukum islam

April 8th, 2010 • RelatedFiled Under
Filed Under: Umum

Jinayat dan Hudud yang dikenal juga dengan istilah hukum perdata Islam pada saat ini sudah banyak ditinggalkan oleh negara-negara Islam, yang penduduknya mayoritas penduduknya beragama islam seperti indonesia. Padahal ancaman Allah SWT sangat berat bagi mereka yang tidak berhukum dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya QS. Al-Maidah (5):47-51.
Hukum pidana yang diterapkan oleh banyak negara islam dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam termasuk Indonesia masih menganut hukum warisan dari kolonial. Berbagai krisis moral dan maksiat yang melanda bangsa indonesia, seharusnya tidak terjadi, apabila syariat Islam tersebut ditegakkan, karena bentuk aturan dari aturan Allah SWT itu memberikan sangsi yang adil bagi yang melakukan pelanggaran hukum yang berkaitan dengan masalah kriminal dan asusila. Contoh adanya hukum potong tangan, qishash, rajam dan lain-lain.
Dengan semangat menghukum yang tegas, kendati tidak meninggalkan pengusutan yang mendetail sebelum menjatuhkan vonis, penerapan hukum islam sangat efektif menekan tindak kriminalitas dan asusila. Mengingat hukuman yang sangat tegas, seseorang akan berfikir seribu kali sebelum melakukan kejahatan. Selain itu juga dapat menimbulkan efek jera sehingga meniadakan niat seseorang untuk melanggar hukum. Dan apabila keadila sudah diterapkan, niscaya akan membawa kemaslahatan bersama sekaligus tercapai kehidupan masyarakat yang penuh ketentraman lahir dan batin.

a. JINAYAT
1.PENGERTIAN JINAYAT
JINAYAT adalah “nama bagi sesuatu yang dilakukan oleh seseorang menyangkut suatu kejahatan yang ia perbuat.” Adapun pengertian istilah adalah : “perbuatan yang diharamkan oleh syara’ terbatas pada tindakan kejahatan yang berkenaan dengan jiwa (nyawa) dan anggota tubuh manusia (membunuh, melukai, memukul, memotong anggota tubuh dan menghilangkan manfaat badan, misalnya menghilangkan salah satu panca indera).”
2.PELANGGARAN HUKUM JINAYAH
a) Larangan Membunuh
Membunuh orang adalah dosa besar karena kejinya perbuatan itu. Salah satu upaya menjaga keselamatan dan ketentraman umum, Allah SWT yang Maha Adil memberikan balasan yang layak (setimpal) dengan kesalahan yang besar itu, yaitu hukuman yang berat di dunia atau dimasukan ke dalam neraka di akherat nanti. Sebagaimana dijelaskan dalam QS.An-Nisa (4) : 93.
Ayat diatas menjelaskan hukuman yang akan di terima pembunuh di akherat kelak. Sedang hukuman di dunia dikenakan hukum qishash sebagaimana firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 178.
• Hak bagi yang membunuh
Bagi yang membunuh tergantung tiga macam hak :
(a) Hak Allah SWT, apabila dia bertaubat dan menyerahkn diri pada ahli waris (keluarga yang di bunuh ).
(b) Hak ahli waris, mereka melakukan qishash atau mengampuninya dengan membayar diyat ( denda ) atau tidak.
(c) Hak yang di bunuh, nanti akan di ganti oleh Allah dengan kebaikan di akhirat bila beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
• Pengertian
Membunuh ialah menghilangkan nyawa seseorang baik dengan sengaja ataupun tidak sengaja, dengan alat mematikan atau tidak mematikan. (QS. Al-Baqarah (2) : 179 dan QS Al-Maidah (5) : 32 ). Allah SWT mengutuk dan murka serta menyediakan siksa yang berat yaitu “neraka jahanam “ (QS. An-nisa (4) : 93).
• Bahaya Membunuh
Membunuh adalah perbuatan yang membahayakan ketentraman dan ketenangan hidup manusia. Islam menetapkan hukuman yang begitu berat guna meemelihara keselamatan jiwa manusia dan menjaga ketentraman hidup masyarakat.
• Macam-macam Pembunuhan dan sangsinya

  • Pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja yaitu suatu pembunuhan yang sudah direncanakan, dengan memakai alat senjata yang biasanya mematikan. Hukuman bagi pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja yaitu qishash, artinya si pembunuh di hukum mati, kecuali pihak keluarga korban memaafkan dengan cara membayar diyat (denda) berat secara tunai kepada keluarga terbunuh berupa unta 100 ekor atau berupa uang seharga unta tersebut (QS.Al-Baqarah (2) : 178 dan QS Al-Maidah (5) :45).
  • Pembunuhan seperti di sengaja,yaitu terbunuhnya seseorang tanpa sengaja, dilakukan oleh seorang mukallaf dengan alat yang biasanya tidak mematikan. Hukumannya diwajibkan membayar diyat (denda) berat berupa 100 ekor unta atau uang seharga unta tersebut kepada keluarga terbunuh, dan dibayar kontan seketika itu juga.
  • Pembunuhan tidak sengaja, yaitu pembunuhan karena kesalahan semata tanpa direncanakan dan tidak ada maksut membunuh sama sekali. Hukuman nya wajib membayar diyat (denda) ringan kepada keluarga yang dibunuh berupa 100 ekor unta atau uang seharga unta itu dan dibayar secara berangsur-angsur selama tiga tahun juga memerdekakan budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut (QS. An-Nisa (4): 92).

b) Larangan melukai
Melukai atau menghilangkan anggota badan atau menghilangkan manfaat badan misalnya misalnya menghilangkan salah satu panca indra, maka berlaku hukum qishash sebagaiman firman Allah SWT (QS. Al-Maidah (5) :45). Ketentuan qishash sama dengan ketentuan membunuh orang.

B. HUDUD
1. Pengertian Hudud
Hudud adalah bentuk jama’ dari kata “Had” yang berarti “ batasan ketentuan yang ditetapkan Allah SWT dalam Al-Quran”. Hudud adalah hukuman tertentu yang diwajibkan atas orang yang melanggar larangan-larangan tertentu.
2. Pelanggaran Hukum Hudud
a). Larangan berzina dan Hukumannya
Zina adalah bertemunya kelamin pria dan wanita di luar pernikahan layaknya sebagai suami istri.
Orang berzina ada dua macam :
• Pezina “muhson”, yaitu orang yang sudah baliqh, berakal, merdeka, sudah pernah bercampur dengan jalan yang sah (nikah). Hukuman terhadap muhsan adalah rajam (di lontar dengan batu yang sederhana sampai mati).
• Pezina yang tidak muhson (yang tidak mencukupi syarat-syarat di atas) yaitu gadis dengan bujang. Hukuman terhadap mereka adalah didera seratus kali dan diasingkan ke luar daerah selama satu tahun.
b).Larangan menuduh orang berzina
menuduh orang berbuat zina termasuk dosa besar, dan mewajibkan hukuman dera. Orang merdeks didera delapan puluh kali, sedangkan hamba empat puluh kali dera. Firman Allah SWT QS. An-Nur (24) : 4.
Syarat tuduhan yang mewajibkan dera 80 kali yaitu :
1) Orang yang menuduh itu sudah baliqh, berakal, dan bukan ibu, bapak, atau nenek dan seterusnya dari yang dituduh.
2) Orang yang dituduh adalah orang islam, sudah baligh, berakal, merdeka, dan terpelihara ( orang baik ).
Gugurnya hukum yang dera menuduh
Hukum tuduhan dari yang menuduh gugur dengan tiga jalan :
1) Mengemukakan saksi empat orang, menerangkan bahwa yang tertuduh itu betul-betul berzina ( QS. An-Nur (24) : 4)
2) Dimaafkan oleh yang tertuduh.
3) Orang yang menuduh istrinya berzina dapat terlepas dari hukuman dengan jalan li’an (QS. An-Nur (24) :6-7)
c). Larangan Mencuri dan Hukumannya
Mencuri ialah mengambil harta orang lain dengan jalan diam-diam diambil dari tempat penyimpanannya yang layak. Mencuri adalah bagian dari dosa besar, orang yang mencuri wajib dihukum yaitu potong tangannya. Apabila ia mencuri untuk yang pertama kalinya maka potong tangan kanannya ( dari pergelangan telapak tangan ). Bila mencuri kedua kali, dipotong kaki kirinya ( dari ruas tumit ), jika mencuri yang ketiga dipotong tangannya yang kiri, dan yang keempat dipotong kakinya yang kanan. Kalau dia masih juga mencuri, di penjarakan sampai ia bertaubat.
Syarat hukum potong tangan :
1) Pencuri tersebut sudah baligh, berakal, dan melakukan pencurian itu dengan kehendaknya. Anak-anak, orang gila, dan orang yang dipaksa orang lain tidak dipotong tangannya.
2) Barang yang dicuri itu sedikitnya sampai satu nisab (kira-kira seberat 93,6 gram emas)
3) Barang tersebut diambil dari tempat simpanannya yang sesuai.
4) Barang tersebut jelas-jelas bukan milik pencuri baik sebagian atau seluruhnya.
5) Pencuri itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau diam-diam (QS. Al-Maidah (5) : 38-39).
Apabila seseorang terbukti mencuri dengan ada saksi atau mengaku sendiri, selain tangannya wajib dipotong, ia pun wajib mengembalikan harta yang dicurinya itu, atau menggantinya kalau barang itu tidak ada lagi ditangannya.
d) Hukuman bagi perampok
Merampok adalah mengambil harta orang lain dengan kekerasan atau ancaman senjata dan kadang-kadang disertai pembunuhan terhadap korbannya.
Perampokan ada lima macam :
1) Jika merampas harta dan membunuh korbannya, balasannya dihukum mati lalu disalib (dijemur).
2) Jika hanya membunuh korbannya, tetapi hartanya tidak diambil, hukumannya hanya wajib dibunuh saja.
3) Jika hanya mengambil hartanya saja, tanpa membunuh korbannya, hukumannya dipotong tangannya yang kanan dan kakinya yang kiri.
4) Perampok menakuti-nakuti saja, tidak membunuh atau tidak mengambil harta benda. Hukumannya hendaknya diberi hukuman penjara atau hukuman lainnya yang dapat menjadi pelajaran kepadanya, agar ia jangan mengulangi perbuatannya yang tidak baik (QS. Al-Maidah {5} :33).
Apabila seorang perampok telah benar-benar bertaubat sebelim ia tertangkap, gugurlah baginya hukum yang tertentu dengan sifat perampok.
e). Larangan meminum minuman keras (khamar) dan Hukumannya
Khamar atau minuman keras adalah minuaman beralkohol. Menurut syara’ khamar adalah segala macam minuman yang memabukkan, baik yang dibuat dari anggur maupun lainnya. Tiap-tiap minuman yang memabukkan, diminum banyak ataupun sedikit tetap haram, walaupun yang sedikit itu tidak memabukkan.
Bukan saja minuman, tetapi suatu makanan atau segala sesuatu yang dapat menghilangkan akal, seperti narkoba, hukumnya juga haram karena termasuk dalam arti memabukkan yang dapat menghilangkan akal sehat, padahal akal itu sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan, maka agama mewajibkan untuk memelihara dengan sebaik-baiknya.
B. Hikmah Hukum Jinayat dan Hudud
Keadilan merupakan kunci hukum Islam, Islam sangat menhormati hak-hak individu yang diperoleh dari jalan yang benar (menurut) tuntunan Allah SWT. Hukum Hudud dan Jinayat jika dipahami secara utuh dan komprehensip, nyatalah bahwa hukum Islam membawa prinsip keadilan dan penghormatan kepada hak-hak pribadi dan lingkungan masyarakat.
Sejarah dan fakta menunjukan bahwa negara-negara yang menerapkan hukum Islam (misalnya Arab Saudi, Pakistan dan Iran) dilihat dari kwantitas dan kualitas, kejahatannya sangat minim sekali. Dibandinkan dengan negara Barat yang katanya sangat menghargai HAM, ternyata kejahatannya merajalela, nilai-nilai keluarga berantakan dan masih banyak lagi nilai-nilai yang masih baik dimasyarakat, hilang bagai ditelan bumi.

d. Perilaku Menghindari Perbuatan Jahat (Jinayat & Hudud)
1) Menghargai dan menghormati hak orang lain, karena setiap pribadi menginginkan ketentraman dan kebahagiaan dalam hidupnya.
2) Keadilan adalah kunci hukum Islam. Sehingga setiap kejahatan yang menimpa orang lain, harus dibalas setimpal dan sebanding dengan kejahatan yang dilakukan.
3) Nyawa adalah hak Allah SWT, maka tidak seorang pun diperkenankan mencabutnya, baik dengan dalih pribadi, keluarga atau alasan apa pun kecuali yang dibenarkan agama.
4) Sangat berhati-hati dalam menempuh hidup ini, terutama yang berkaitan dengan hak orang lain. Karena boleh jadi kita bisa lepas dari pengadilan dunia, tetapi makhamah Ilahi Rabbi kita tidak bisa mengelak.
5) Banyak memahami hukum Islam, karena di samping kita jadi mengerti makna dibalik hukum itu, kita pun kan memiliki rambu-rambu dalam menjalani kehidupan yang fana ini.

3. Rangkuman
Krisis moral dan maksiat dengan segala bentuknya yang melanda bangsa Indonesia, seharusnya tidak harus terjadi apabila syariat Islam dapat diamalkan oleh semua umat Islam. Namun realitas yang ada, keberagaman yang ada belum mencerminkan sebagai seorang yang beragama, agama hanya terbatas pada ritual, kering tanpa penghayatan, tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari, sehingga agama kehilangan makna dalam merubah kepribadian seorang dan tatanan yang tidak mencerminkan nilai-nilai agama.
Sementara itu, muncul image dan citra yang buruk yang melingkupi nilai-nilai keislaman di mata sebagian umat Islam, apalagi umat lain. Khususnya dalam memandang hukum perdata (Hudud) dan hukum pidana (Jinayat). Sehingga timbul kesan, Islam itu sadis dan kejam. Islam tidak menjunjung nilai HAM, bahkan timbul tuduhan nilai Islam tidak mampu diterapkan dalam kehidupan modern. Misalnya, dalam menghukum orang berzina, mencuri dan membunuh.
Padahal jika ditinjau secara mendalam, sangsi yang berat tersebut bertujuan hanya demi menegakan keadilan dan menjunjung harkat dan martabat kehidupan. Untuk menerapkan sangsi tersebut, ada proses dan pentahapan serta prosedur yang harus dilalui. Sehingga, misalnya tidak boleh sembarangan orang membunuh, dan sangsinya sangat berat bagi siapa saja yang membunuh tanpa alasan yang benar. Begitu juga bentuk kejahatan yang lain. Hal ini bisa kita perbandingkan negara yang menerapkan huku barat dan hukum Islam, lebih aman mana dan jumlah kejahatan lebih banyak mana? Jawabannya : Pasti negara islam yang lebih aman dan sedikit kejahatannya.

Bookmark and Share

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/hukum-islam-2/