Timoty John Winter: Mengagumi Kebesaran Islam

Timoty John Winter: Mengagumi Kebesaran Islam

Senin, 16 Agustus 2010, 11:29 WIB

Smaller Reset Larger
Timoty John Winter: Mengagumi Kebesaran Islam

Timothy John Winter

JAKARTA–”Islam adalah agama yang besar dan senantiasa menghadirkan peradaban besar.” Demikian dikatakan Timothy John Winter, seorang dosen studi Islam pada Fakultas Teologi di Universitas Cambridge, Inggris, dalam sebuah wawancara dengan John Cleary, reporter radio ABC, Inggris, pada musim dingin, April 2004.

Menurut Timothy, peradaban besar yang dihasilkan Islam menyebar dari Timur Tengah ke berbagai penjuru dunia. ”Lihatlah Alhambra di Spanyol, Taj Mahal di India, dan lainnya. Semuanya merupakan salah satu peradaban Islam dalam dunia arsitektur,” ujarnya.

Tim menjelaskan, Islam memiliki beragam tradisi yang berbeda-beda antara satu negara dan negara lainnya, termasuk dalam memberikan pujian untuk Allah dan Nabi Muhammad SAW. Misalnya, kata dia, tradisi Islam di Afrika berbeda dengan tradisi Islam di Turki, Uzbekistan, Melayu, Bosnia, dan lainnya. Namun, kata dia, semua itu menggambarkan satu peradaban. ”Islam bersumber dari satu dan beragam tradisi itu untuk satu tujuan, yakni Allah. Mereka semua menghadapkan diri ke satu tempat saat berdoa dan sujud, yakni ke arah Makkah yang menjadi kiblat semua umat Islam di seluruh dunia,” paparnya.

Itulah yang mengawali perkenalan Tim Winter menjadi seorang Muslim. Ia bercerita, beberapa tahun tinggal di Kairo, ia menyaksikan kebiasaan masyarakat Kairo yang selalu mendengarkan radio. Hampir 24 jam, kata Tim, mereka mendengar radio. Pada kesempatan lain, mereka melakukan rutinitas sesuai dengan agama yang mereka yakini. Mereka shalat dan mendengar Alquran. ”Dari sinilah, saya mulai memahami kebiasaan orang Islam, yang menurut saya, itu adalah sesuatu yang logis dan benar,” terangnya.

Dari kebiasaan itu, lanjutnya, mulailah timbul keinginan Tim untuk mempelajari agama yang dianut mayoritas penduduk Mesir. Dia juga mencoba membandingkan ajaran agama Islam dengan ajaran yang telah dianutnya ketika itu, yakni Katolik. ”Lama-kelamaan, saya merasa ada sesuatu yang berbeda antara yang saya pelajari dalam agama saya dan keyakinan masyarakat itu,” terang penyuka musik Turki ini.

Sesuatu yang berbeda itu, lanjut Tim, adalah masalah keyakinan keagamaan. ”Dalam agama yang saya anut sebelumnya, kami mengenal adanya Tritunggal (Tuhan Bapak, Anak, dan Roh Kudus). Dari sini, saya menyadari, mengapa Kristus merelakan dirinya untuk menebus dosa-dosa yang diperbuat orang lain kalau hanya untuk menyelamatkan masyarakatnya ketika itu.”

Padahal, lanjut Tim, semua manusia itu dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Mereka tidak berdosa. Lalu, mengapa ada orang yang harus merelakan dirinya untuk menjadi ‘penebus dosa’ itu. ”Jika memang demikian kebenarannya, jahat benar Tuhan itu sampai harus anaknya yang menjadi penebus dosa orang lain,” tegasnya.

Dari sinilah, kata Tim, dia semakin menyadari bahwa ada ‘kekeliruan’ yang disengaja. ”Saya menjadi seorang Muslim bukan karena ajakan. Tapi, saya berpikir dan melakukan introspeksi. Saya tidak ingin sekadar menjadi pengikut. Saya harus membuktikannya dan mencari kebenarannya sebab saya diberikan akal untuk berpikir,” tegasnya lagi.

Menurut Tim, penjelasan Alquran tentang Yesus jauh lebih akurat dan dapat dipercaya, termasuk tentang dosa asal. ”Bagi saya, Yesus hanyalah seorang guru dalam agama Yahudi, yang membawa membawa pesan kedamaian dari Allah untuk umat manusia, sebagaimana tertulis dalam Al-Kitab Ibrani,” terangnya.

Saat disinggung mengenai sejumlah oknum umat Islam yang melakukan tindakan kekerasan dan terorisme, Tim menyatakan bahwa tindakan kekerasan tak hanya dilakukan oleh umat Islam, tetapi juga bisa dilakukan oleh oknum umat agama lain. ”Kita juga bisa menyaksikan, bagaimana di Pentagon, antara kelompok yang satu dan kelompok lainnya dalam agama yang sama melakukan sikap yang berbeda dalam melihat kekerasan dan pelakunya,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Tim, kekerasan biasanya timbul dan dilakukan oleh suatu kelompok tertentu karena mereka merasa terdesak dan karena harga diri mereka diinjak-injak. ”Bila kita semua mau menyadari dan melihat akar masalah yang sesungguhnya, tentu sikap kekerasan yang muncul karena ada latar belakangnya,” ujar pemilik nama Muslim, Syekh Abdal Hakim Murad ini.

Tim menegaskan, Islam dan seluruh agama apa pun di dunia ini tak mengajarkan umatnya untuk bertindak anarkis. Apalagi sampai melakukan tindakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. ”Islam itu agama yang damai dan tak pernah mengajarkan kekerasan,” tegasnya.

Biodata

Nama            : Timothy John Winter
Nama Muslim : Abdal Hakim Murad
Lahir             : London, 1960
Pekerjaan      : Dosen Studi Islam di Universitas Cambridge
Jabatan         : Secretary of the Muslim Academic Trust and Islamic Scholar (London)

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/08/16/130331-timoty-john-winter-mengagumi-kebesaran-islam

======================================================================================

Timoty John Winter: Admire the greatness of Islam

Monday, August 16, 2010, 11:29 AM
Larger Smaller Reset
Timoty John Winter: Admire the greatness of Islam

Timothy John Winter

JAKARTA -”Islam is great religions and great civilizations is always present.”Said Timothy John Winter, a professor of Islamic studies at the Faculty of Theology at the University of Cambridge, England, in an interview with John Cleary, a reporter for ABC radio, UK in winter, April 2004.

According to Timothy, which produced the great civilizations of the Middle East Islam spread to various parts of the world. ”Look at the Alhambra in Spain, the Taj Mahal in India, and others. Everything is one of the Islamic civilization in the world of architecture,”he said.

Tim explains, Islam has a variety of traditions that vary from one country and other countries, including in giving praise to Allah and the Prophet Muhammad. For example, he said, the Islamic tradition in Africa is different from the Islamic tradition in Turkey, Uzbekistan, Malaysian, Bosnian, and others. However, he said, it illustrates one of civilization. Islam”and comes from a diverse tradition for one purpose, namely God. They all expose themselves to one place while praying and prostrating towards Mecca which is the Qiblah of all Muslims around the world,”he said.

That’s what started the introduction of Tim Winter became a Muslim. He recalled, several years living in Cairo, he witnessed the public habit of always listening to radio Cairo. Almost 24 hours, the team said, they heard on the radio. On another occasion, they perform a routine in accordance with their religious beliefs. They pray and hear the Koran. ”From Here, I began to understand the customs of Islam, which in my opinion, it is something that is logical and true,”he explained.

From habit, he continued, began to arise a desire to study religion Team adopted the majority of Egyptians. He also tried to compare the religious teachings of Islam with the teachings that have been adopted at that time, ie Catholic. ”Over time, I felt there was something different between what I learned in my religion and beliefs that society,”the light of this Turkish music enthusiasts.

Something different, continued Tim, is a matter of religious belief. ”In a religion that I profess before, we recognize the existence of the Trinity (God the Father, Son and Holy Spirit). From here, I realized, why Christ gave up himself to atone for the sins done to others if only to save their society at the time.”

In fact, more teams, all men were born in the holy state of (nature). They are not innocent. Then, why anyone should give up himself to be a ‘sin’ is. ”If this is so true, true evil God is to be his son who became the sin of others,”he asserted.

From here, says Tim, he was increasingly aware that there are ‘mistakes’ are deliberate. ”I became a Muslim not because of an invitation. But, I thought and introspection. I do not want more than just a follower. I have to prove it and find the truth because I was given reason to think,”he asserted again.

According to Tim, the Qur’an about Jesus’ explanation is far more accurate and reliable, including about original sin. ”For me, Jesus was a teacher in the Jewish religion, which brought a message of peace from God to mankind, as written in the Book, Hebrew,”he explained.

As mentioned on a number of individual Muslims who commit acts of violence and terrorism, the team stated that violence was not only done by Muslims, but can also be done by unscrupulous people of other faiths. ”We can also see, how in the Pentagon, between one group and other groups within the same religion make a different attitude in view of violence and the perpetrators,”he said.

In fact, go team, the violence usually occurs and is performed by a particular group because they feel pressured and therefore their dignity trampled upon. ”If we all want to realize and see the real root problem, of course the attitude of violence that arise because of his background,”said the owner of a Muslim, Sheikh Abdal Hakim Murad was.

The team emphasized that the entire religion of Islam and nothing in this world can not teach people to act in an anarchist. Moreover, to perform actions that result in loss of life of others. ”Islam is religion of peace and never teaches violence,”he asserted.

Bios

Name: Timothy John Winter
Muslim Name: Abdal Hakim Murad
Born: London, 1960
Occupation: Lecturer of Islamic Studies at Cambridge University
Position: Secretary of the Muslim Academic Trust and Islamic Scholar (London)

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/10/08/16/130331-timoty-john-winter-mengagumi-kebesaran-islam