Tafsir Al-Baqarah ayat 4. Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu ( wahai Muhammad ) dan apa yang telah diturunkan sebelum ( kenabian ) engkau serta mereka yakin tentang adanya hari akhir. – Qs. 2 al-Baqarah : 4

// <!– // Bookmark and Share

Tafsir Al-Baqarah ayat 4

Katagori : Tafsir Quran/Hadist

Terjemahan : Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu ( wahai Muhammad ) dan apa yang telah diturunkan sebelum ( kenabian ) engkau serta mereka yakin tentang adanya hari akhir. – Qs. 2 al-Baqarah : 4

Ayat ini dimulai dengan kata :

Terjemahan : Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu

Kata mu atau ilayka pada ayat diatas tentu merujuk kepada orang yang menyampaikan atau membacakan ayat ini awalnya, yaitu Rasulullah Muhammad Saw, dan apa yang diturunkan kepada beliau tidak lain adalah wahyu dari Allah.

Banyak ayat yang menjelaskannya tetapi kita ambil satu saja darinya :

Terjemahan : al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai kepadanya. – Qs. 6 al-An’am : 19

Kamu dalam ayat ini merujuk kepada umat dimasa Rasul membacakan ayat tersebut, yaitu diantaranya adalah para keluarga dan sahabat beliau, kemudian orang yang sampai kepadanya artinya ya termasuk kita-kita sekarang ini yang hidup dan mendengar serta meyakini ajaran beliau yang bersumber dari Allah yang Maha Perkasa dan Esa melalui forum Milis_Iqra.

Firman Allah disebut dengan al-Qur’an yang artinya bacaan.
Dan ini adalah sebuah indikasi kuat untuk ditafsirkan sebagai adanya perintah wajib belajar bagi manusia sehingga terlepas dari belenggu kebodohan.

Dari banyak membaca kita jadi lebih banyak tahu tentang segala hal, wawasan kita berkembang dan berimplikasi terhadap obyektifitas dan keilmiahan berpikir serta berargumentasi.

Islam jelas merupakan ajaran yang terbuka dan siap untuk berkonfrontasi dengan semua pembuktian terhadapnya.

Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. -Qs. 21 al-Anbiyaa’ :7

Tidak ada yang lebih jelas lagi dari ayat diatas tersebut selain mengartikannya sebagai sebuah desakan dan motivasi terhadap manusia dalam hal belajar, mengadakan penyelidikan, explorasi, penganalisaan, melakukan study banding, bersikap kritis dan sebagainya sehingga kelak terbukti bahwa semua klaim wahyu yang diturunkan kepada Muhammad adalah murni sebagai suatu kebenaran.

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya itulah yang benar dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. -Qs. 22 al-Hajj : 54

Berpuluh tahun pemerintah Republik Indonesia mencanangkan wajib belajar 9 tahun, pemberantasan buta aksara,ditambah oleh program-program serupa dari badan PBB bahkan baru-baru ini juga diserukan oleh Media Nusantara Citra melalui dutanya Tantowi Yahya ( lihat iklan harian Sindo di RCTI, GlobalTV dan lainnya ). Yang semua itu pada hakekatnya adalah pengulangan dari perintah Allah didalam wahyu-Nya kepada Muhammad sekitar 15 abad yang lampau.

Saat seseorang, setelah melakukan Iqra, melakukan analisa, penyelidikan dan sejenisnya diatas kemudian menemukan apa yang disebut sebagai kebenaran ilahiah sejati namun dia menutup dirinya dari kebenaran tersebut maka itulah orang yang zalim, itulah orang yang keras hatinya, buta matanya, pekak telinganya dari seruan-seruan Allah.

Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa menerimanya, maka itu bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (menolaknya), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). -Qs. 6 al-An’aam : 104

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. -Qs. 7 al-A’raaf :179

Kecerdasan bukan didapat secara cuma-cuma atau tanpa proses, untuk menjadi seorang dosen, seorang dokter, seorang “tukang” insinyur, seorang sarjana komputer dan seterusnya, kita harus mengawalinya dari TK ( sekarang malah dari Playgroups ) kemudian lanjut ke SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, belum lagi ditambah proses belajar dalam jangka waktu tertentu lainnya yang intinya tidaklah bisa diperoleh dengan instan.

Semua ada tahapan, belajarpun tidak bisa hanya bermodalkan satu atau dua buku dan tidak bisa pula dengan satu atau dua kali membaca saja, harus ada kesenambungan, kontinyuitas atau juga pengulangan-pengulangan agar mengantarkan kepada pemahaman.

Ini juga salah satu hikmah dari turunnya al-Qur’an secara periodik :

Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya secara berangsur-angsur -Qs. 76 al-Insaan : 23

Dan sungguh, didalam al-Qur’an ini telah Kami ulang-ulangi agar mereka selalu ingat – Qs. 17 al-Israa : 41

Sekali lagi, itulah maka beriman kepada al-Qur’an secara kontekstual tidak bersifat statis, ia tidak juga memaksakan kehendaknya tanpa menuntut sebuah kesadaran yang dibarengi pembuktian.; Berbeda dengan doktrin-doktrin iman diluar Islam yang lebih menyandarkan diri mereka kepada hal yang tidak jelas, iman tanpa dasar, iman hanya bermodalkan perasaan, iman hanya bermodalkan pengalaman namun tidak mendasarkan iman kepada ilmu dan rasionalitas universal secara ilmiah.

Islam melalui ajaran al-Qur’an, begitu membenci rasa taklid atau ikut-ikutan tanpa orang itu sendiri mengerti kenapa dia harus ikut atau kenapa dia harus melakukannya.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. – Qs. 17 al-Israa : 36

Sedemikian luasnya makna dari kata Iman didalam Islam, dan begitu luhur dan agungnya ayat :

Seperti kata Imam Ali : Berbahagialah anda yang mencari kebenaran dan mendapatkannya … serta kasihan wahai anda yang telah mencari kebenaran tetapi membutakan diri setelah mendapatkannya …

Mengulang kata-kata Sayyid Quthub dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’annya :

Ajaran ilahi tidak memusuhi kreativitas manusia, tetapi ia justru memberi inspirasi terhadap kreasi ini dan mengarahkannya kepada yang benar, dan mendorongnya untuk menempati posisinya sebagai khalifah dimuka bumi, suatu posisi yang diberikan Allah kepadanya, dikuasakan-Nya mereka terhadapnya, dan diberi-Nya kemampuan dan potensi untuk menunaikan tugas-tugasnya, ditundukkan-Nya alam dengan undang-undangnya sehingga dapat menunjang perwujudan tugasnya, dan diatur-Nya penciptaan manusia dengan penciptaan alam sehingga mereka dapat menguasai kehidupan, kerja dan kreasi.

Ayat selanjutnya dalam al-Baqarah ayat 4 adalah :

Terjemahan : dan apa yang telah diturunkan sebelum engkau …

Syahdan Allah tidak pernah lupa kepada manusia disegenap jamannya demi meluruskan mereka dari kesalahan, membenarkan sikap mental mereka yang telah melenceng dari nilai-nilai kebenaran dan hal-hal yang positip.

Allah sesuai ajaran Islam, tidak lalai dari hamba-hambaNya, Tuhan tidak pernah mengambil jarak dengan manusia sehingga mengharuskan Dia pada akhirnya harus melakukan semua kekonyolan sinting sebagaimana yang didongengkan oleh ajaran-ajaran diluar Islam dengan pengorbanan darah, pengorbanan anak dan semacamnya sebagai penebus ( yang lucunya malah dibalikkan menjadi bentuk doktrin kasih Tuhan ). Na’udzubillah min Dzalik.

Allah berfirman :

Tiap-tiap umat memiliki Rasul … -Qs. 10 Yuunus : 47

Allah tidak menginginkan seseorang menjadi jahat yang dengan kejahatannya itu bisa membuat seseorang berjarak dengan Tuhan, bukti bahwa Dia sudah mengutus banyak Nabi dan Rasul-Nya, sudah mengutus para mujahid-mujahid yang memberikan pencerahan disetiap jaman dan tempat sebagai jalan (sebab-akibat) orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan kejahatan.

Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. -Qs. al-Baqarah 2:276

Akan halnya seorang penjahat tetap menjadi penjahat, seorang penzinah tetap menjadi penzinah, seorang pengkhianat tetap menjadi pengkhianat itu bukan karena Allah mentakdirkan dirinya harus seperti itu, sebab sekali lagi ini adalah akibat dari sebab yang dia lakukan sendiri :

Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. -Qs. ali Imran 3:117

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. -Qs. an-Nisa’ 4:40

Olehnya maka ayat :

Menjadi sebuah kesaksian bahwa dimasa sebelum kenabian Muhammad Saw, Allah melalui para Rasul-Nya telah menurunkan ajaran dan syariat yang menuntun manusia kepada kebenaran.

Ada begitu banyak jumlah Nabi dan Rasul yang diutus sebelum Muhammad, mulai dari yang namanya ada dan dicantumkan dalam al-Qur’an atau juga yang tidak, tetapi yang pasti bahwa : setiap umat memiliki Rasul.

Dan ada Rasul-rasul yang sungguh telah Kami ceritakan mereka padamu dulunya, dan ada pula Rasul-rasul yang tidak Kami ceritakan mereka kepadamu -Qs. 4 an-Nisaa : 164

Dan keberadaan ajaran maupun syariat adalah sebuah konsekwensi logis yang timbul dari adanya utusan-utusan Allah tersebut sebelumnya.; Untuk itu maka umat Islam dituntut untuk mengucapkan kesaksiannya :

Katakanlah : ” Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh ( Muslim ) kepada-Nya”. -Qs. 2 al-Baqarah: 136

Inilah sebuah sikap yang luhur, menepis jauh-jauh kebanggaan kesukuan maupun kedaerahan, sabda Rasulullah Saw :

Nabi-nabi itu adalah bersaudara yang bukan satu ibu, ibunya bermacam-macam, namun agamanya satu.
Riwayat Al-Saikhan dan Abu Daud

Lalu keberimanan seperti apa bagi umat Islam terhadap ajaran para Nabi dan Rasul sebelumnya ?
Jawabnya tidak lain dari menyatakan kesaksian sebagaimana disampaikan diatas ( surah 2 al-Baqarah ayat 136 ).

Apakah kita boleh masih mempercayai dalam artian mengimani kitab-kitab agama lain yang diklaim sebagai salah satu kitab atau ajaran para Nabi dan Rasul terdahulu ?
Jawabnya adalah :

Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan menjadi korektor ( ujian ) terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. -Qs. al-Ma’idah 5:48

Artinya apa ?
Kita bisa jadi tidak hendak menolak semua klaim kebenaran yang hendak disampaikan oleh agama-agama lain dengan kitab-kitab sucinya yang juga disandarkan sebagai wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul Islam sebelumnya akan tetapi al-Qur’an memberikan peringatan bahwa hendaklah terhadapnya benar-benar diterapkan filter ataupun penyaringan yang jujur, yaitu berdasarkan wahyu yang terakhir diturunkan kepada Nabi-Nya yang terakhir, yaitu Muhammad Saw dengan al-Qur’annya.

Hal ini penting mengingat semua ajaran Tuhan sebelum ini, seiring dengan berjalannya sang waktu telah banyak mengalami distorsi ataupun perubahan-perubahan dari sejak awal turunnya.

Saat Allah dalam an-Nisaa’ ayat 164 yang diperkuat oleh surah Yuunus ayat 47 bercerita bahwa Dia sudah mengirimkan banyak sekali utusan-utusan disetiap umat disepanjang sejarah manusia sebelum periode kenabian Muhammad, maka kita bisa mengasumsikan bahwa nun jauh disatu masa, di Palembang, di Betawi, di Aceh, di Bengkulu, di Kalimantan, Di Jambi dan sebagainya yang mana daerah-daerah itu memiliki komunitas manusia Bani Adam maka pasti juga pernah diturunkan seorang Nabi maupun Rasul kepadanya.

Hanya sekarang pertanyaannya ….
Mana ajaran-ajaran asli mereka itu ?
Jawabnya adalah tidak ada lagi … atau katakanlah hampir tidak ada lagi, semuanya sudah mengalami distorsi atau pengubahan disana-sini sehingga ajaran-ajaran ilahiah kepada mereka malah berbalik menjadi ajaran-ajaran yang penuh kemusryikan, penuh kesyirikan.

Sebagai salah satu bukti, saya ingat pernah membaca pengalaman pengembaraan almarhum Ahmad Deedat ke Afrika Selatan ditengah masyarakat Zulu, disana ia menemukan kaum yang menyebut Tuhan mereka dengan nama uMVELINQANGI, lalu di India menurut beliau ada juga yang menyembah Tuhan bernama PRAMATMA, Bangsa Aborigin di Australia Selatan memanggil Tuhannya dengan istilah ATMATU dan semua Tuhan-tuhan tersebut berdasarkan penyelidikan Ahmad Deedat tidak mencerminkan sistem polytheisme, artinya itu adalah konsep Tauhid atau monotheismenya masing-masing kaum (Lihat : Ahmed Deedat, Allah dalam dalam Yahudi, Masehi, Islam, terj.H. Salim Basyarahil, H. Mul Renreng, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 1994, hal. 21-28)

Bukti lain yang teramat jelas adalah seputar otentisitas kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menjadi pegangan umat Yahudi dan umat Kristiani dewasa ini, dimana kedua umat ini masih meyakini bahwa baik Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru merupakan kedua kitab asli dari Tuhan yang disampaikan kepada Musa dan Isa alaihissalam ( atau dalam dunia Kristiani disebut juga dengan nama Yesus ).

Perjanjian Lama sendiri yang dikenal sekarang ini, secara historis sama sekali tidak bisa diketahui identitas penulisnya, orang hanya bisa menduga-duga saja dan menganggapnya sebagai fragmen sejarah yang direkam oleh para penulisnya berdasarkan bimbingan wahyu atau sekurang-kurangnya oleh Roh Kudus, dan sebagian dari mereka juga meyakini bahwa beberapa kitab dalam Perjanjian Lama adalah hasil penulisan dari Musa ‘alaihissalam. Yang mana pendapat terakhir ini ternyata sudah banyak di-ingkari oleh para sarjana Bible sendiri.

Adapun kitab Perjanjian Baru yang terdiri dari 4 Injil karangan Markus, Lukas, Matius dan Yohanes berikut surat-surat kiriman dan kesaksian Yohanes yang disebut sebagai kitab Wahyu bukanlah pula Injil yang telah diturunkan dan diajarkan oleh Nabi Isa ‘alaihissalam sebagaimana yang dimaksud oleh al-Qur’an.

Kitab Perjanjian Baru, khususnya 4 Injil, penulisan dan keberadaannya lebih banyak sama dari sisi historisnya seperti kitab-kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu merupakan fragmen sejarah yang ditulis oleh para penulis yang berbeda atas apa yang mereka ketahui seputar ajaran Nabi Isa dan hal-hal yang menyangkut perjalanan misi dakwah beliau ditengah Bani Israel. Sementara Injil dari Isa ‘alaihissalam sendiri tidak dapat diketahui secara pasti keberadaannya, termasuk apakah sudah musnah dalam perjalanan sejarah ataukah ada dalam puluhan atau ratusan kitab-kitab yang disebut juga sebagai Injil-Injil Apokripa alias yang terlarang dan tidak diakui keabsahannya oleh pihak gereja.

Akan tetapi, lepas dari masalah diatas, umat Islam meyakini bahwa baik Taurat maupun Injil, keduanya sudah tidak lagi menjadi kebutuhan dalam hal penetapan hukum dan permasalahan keagamaan yang ada, sebab al-Qur’an yang dipercaya selaku wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad Saw telah memberikan ketetapan-ketetapan hukum menyangkut masalah-masalah ritual ibadah maupun sosial kemasyarakatan diantara manusia. Tentang apakah nantinya pihak-pihak dari Yahudi atau Kristiani mengakui maupun menolaknya akhirnya menjadi sebuah konsekwensi logis dari sikap keberagamaan mereka tentang keimanan masing-masing. Tidaklah mungkin umat Yahudi mempercayai dogma Kristiani mengenai kenabian Isa al-Masih dan tidaklah mungkin pula umat Kristiani mempercayai dogma Islam mengenai kenabian Muhammad Saw.

Bangsa Yahudi menanggapi klaim-klaim yang terdapat dalam ajaran-ajaran al-Masih maupun yang ada didalam kitab Perjanjian Baru sebagai sebuah kebohongan besar yang disangkut-pautkan dengan berbagai cerita dan nubuat dalam kitab Perjanjian Lama, oleh karena itu dalam sejarah kita melihat mereka menolak pengakuan Isa al-Masih sebagai Rasul Allah dan puncak dari semua penolakan itu dengan melakukan pengejaran dan penyaliban Isa al-Masih dengan bantuan tentara Romawi.

Tidak berbeda dengan umat Yahudi, maka umat Kristianipun akan menanggapi klaim-klaim yang terdapat dalam ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad sebagai sebuah kebohongan yang disangkut-pautkan dengan cerita-cerita dan nubuat dalam kitab Perjanjian baru, sehingga bagi mereka, al-Qur’an dan Muhammad tidak layak diterima dalam posisi mereka sebagai wahyu dan Rasul dari Tuhan.

Umat Islam sendiri, sesuai dengan nash-nash yang mereka jumpai, secara defenitif menerima dan mengakui bahwa pada setiap jamannya, Allah senantiasa mengirimkan para utusan-Nya ditengah umat manusia, termasuklah dua diantaranya Musa dan Isa yang diutus bagi Bangsa Israel. Akibat logis darinya, maka semua klaim yang terdapat dalam kedua kitab, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, selama isinya tidak ada yang berlawanan dengan kitab al-Qur’an yang dipercaya sebagai wahyu yang menggenapi semua wahyu-wahyu sebelumnya, maka selama itupula al-Qur’an tidak mempermasalahkannya, namun sebaliknya, hal-hal yang memiliki perlawanan-perlawanan dalam tekstual al-Qur’an maka menjadi tertolakkan kebenarannya dengan argumentasi logis bahwa isinya sudah terdistorsi oleh perjalanan waktu. Hal inilah yang membuat al-Qur’an mengakui dirinya sebagai korektor dari isi kitab-kitab yang tersebar ditengah masyarakat sesuai isi dari surah al-Maaidah ayat 48 diatas.

Bagi kalangan Yahudi dan Kristiani, pernyataan al-Qur’an ini tentu saja dianggap terlalu mengada-ada dan dirasa menggelikan, namun kenyataan bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kesejarahan penulisannya masih patut untuk dipertanyakan dan begitupula dengan kebenaran semua isinya ( terutama yang menyangkut hal-hal yang bersifat metafisika dan akurasi data setiap jaman yang disampaikan dalam setiap kitab) membuat argumentasi al-Qur’an harusnya menjadi bahan pertimbangan logis bagi para pencari kebenaran.

Bahwa tidak tertutup kemungkinan semua atau sebagian dari data-data yang ada didalamnya merupakan rekayasa maupun hasil manipulasi selain kemungkinan unsur distorsi antara kenyataan dengan legenda yang keabsahannya tidak jelas dalam penulisan kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagaimana hal ini pun terjadi dalam dunia Islam menyangkut otorisasi Sunnah dan Hadis Rasul.

Orang tidak perlu menjadi seorang sejarawan ulung misalnya untuk bisa melihat seberapa jauh kebenaran klaim dari al-Qur’an terhadap kedua kitab yang dipercayai oleh umat-umat diatas. sebab dari sisi penterjemahan dari satu bahasa kebahasa yang lain saja dan bahkan dari satu tahun ketahun berikutnya terkadang terjadi penambahan maupun penghilangan kata yang berimplikasi terjadinya perbedaan arti dan pemahaman dalam ayat-ayat yang diklaim sebagai wahyu.

Beberapa bukti misalnya bisa dilakukan sendiri dengan membandingkan terjemahan Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru edisi Indonesia dari tahun ketahun dan dari edisi yang satu keedisi yang lain, perbandingan kemudian bisa ditingkatkan dengan kitab-kitab berbahasa Indonesia dengan kitab-kitab yang sama dalam berbagai bahasa dan versi bahasa Inggris misalnya, seperti KJV, NISV, Douay, NKJV, ASV dan lain sebagainya.

Dalam kesempatan ini, akan saya kasih satu contoh dalam kitab Perjanjian baru, yaitu dari Injil karangan Markus pasal 9 ayat 29 yang bisa anda cek pula dari software e-Sword ( http://www.e-sword.net ), perhatikan yang saya beri tanda garis bawah dan tanda merah :

(ASV)
And he said unto them, This kind can come out by nothing, save by prayer.
(BBE)
And he said to them, Nothing will make this sort come out but prayer.
(DRB)
And he said to them: This kind can go out by nothing, but by prayer and fasting.
(ITB)
Jawab-nya kepada mereka: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”
(KJV+) And2532 he said2036 unto them,846 This5124 kind1085 can1410 come forth1831 by1722 nothing,3762 but1508 by1722 prayer4335 and2532 fasting.3521
(KJVA) And he said unto them, This kind can come forth by nothing, but by prayer and fasting.

(SVD) فَقَالَ لَهُمْ: «هَذَا الْجِنْسُ لاَ يُمْكِنُ أَنْ يَخْرُجَ بِشَيْءٍ إلاَّ بِالصَّلاَةِ وَالصَّوْمِ».

(The Scriptures ’98) And He said to them, “It is impossible for this kind to come out except through prayer and fasting.”

Tampak disana, beberapa terjemahan menyebutkan berdoa saja (prayer) tetapi dibeberapa terjemahan lain ada penambahan prayer and fasting atau berdoa dan berpuasa atau dalam kitab berbahasa Arabnya ditulis “Bissholati Wassaumi”.; Perbedaan ini pasti salah satunya ada yang dikurangi atau salah satunya pasti ada yang ditambahkan., Dan perbedaan ini mungkin dianggap enteng oleh sejumlah kalangan, tetapi lepas dari berbagai argumentasi yang nantinya mereka berikan, tetap saja bukti ini membuat argumentasi yang diberikan oleh kalangan Islam terhadap validitas kitab-kitab yang ada diluar al-Qur’an sebagai sesuatu yang patut dipertanyakan, akhirnya justru menjadi benar dengan sendirinya.;

Perjalanan panjang sejarah manusia memang sering membuat nilai-nilai kebenaran wahyu yang ada menjadi terdistorsi, apalagi bila didalam sejarahnya, umat-umat yang terkait dengan turunnya wahyu itu terlibat didalam berbagai pertempuran dan konflik kepentingan nafsu pribadi. Sekali lagi, inilah namanya kausalitas, sebagaimana inipun bisa saja terjadi terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah yang dipercaya oleh umat Islam. Tetapi beruntung bahwa umat Islam disatu sisi, tetap menjaga originalitas wahyu-wahyu Tuhan dalam bentuk hafalan lisan yang selalu diulang-ulang dalam setiap ibadah mereka perharinya dan munculnya orang-orang yang sengaja menarik dirinya sebagai hafidz wahyu ilahi dari jaman kejamannya sehingga kejadian-kejadian yang timbul pada wahyu-wahyu sebelumnya bisa dihindari dan praktis pula, semua usaha pemalsuan, pendistorsian dalam bentuk apapun kedalamnya lebih cepat diketahui.

Kita tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa jika yang dimaksud sebagai originalitas wahyu itu terletak pada tulisannya, maka sejarah membuktikan bahwa penulisan al-Qur’an mengalami perubahan demi perubahan dalam menuju kesempurnaan tata bahasa yang ada pada peradaban manusia khususnya pada bahasa Arab, dimana huruf Arab mengalami perkembangan (ber-evolusi) dari sebelum ada tanda baca menjadi ada tanda bacanya, dari sebelum ada ditulis batas pemberhentian pembacaan menjadi ada batasnya dan seterusnya, misalnya, kata Ya’lamu dalam huruf Arab gundul, bisa dibaca Yu’limu, Yu’allimu, Yu’lamu maupun Yu’allamu yang membuatnya bisa berbeda arti. Karenanya yang dimaksud sebagai wahyu yang terjaga adalah isi, pesan keilmuan dan dan cara membaca dari al-Qur’an itu sendiri.

Menyangkut isi adalah tidak adanya perubahan dalam lafas, misalnya dari Allah melalui Jibril terus ke Muhammad dan dari Muhammad keumatnya perkataan : “Yaa Ayyuhannas” maka “Yaa Ayyuhannas” itulah yang tetap dilafashkan dan “Yaa Ayyuhannas” itu juga yang dihafalkan dan “Yaa Ayyuhannas” itupula yang dikonversi dalam bentuk tulisan sejak jaman kenabian sampai jaman sekarang ini, tidak malah diubah dari “Yaa Ayyuhannas” menjadi “Yaa Ayyunal-Insan” meskipun keduanya memiliki arti yang serupa, atau dari kata ” Minal Jinnati Wannas ” diubah menjadi ” Minannas wal Jinni ” meskipun sekali lagi keduanya tidak berbeda dari sisi arti.

Menyangkut pesan keilmuan misalnya tidak diubah ayat-ayat singkat yang ada pada beberapa awal surah ( Fawatihus Shuwar ) seperti Alif-Lam-Mim, Alif-Lam-Ro, Tho-Ha dan lain-lainnya, meskipun sebagaimana menjadi kepercayaan disebagian kalangan umat Islam bahwa ayat-ayat ini dianggap hanya Allah saja yang tahu, akan tetapi karena kuatnya niat untuk melestarikan dan menjaga originalitas wahyu, maka sekalipun mereka tidak mengerti, tetap saja dicantumkan sebagaimana ayat-ayat tersebut turun dan mendapatkan petunjuk peletakannya dari Nabi Muhammad.

Kemudian cara membaca, sangat ditekankan tidak ada perbedaan dari sisi lafasz atau pengucapan suatu ayat didalam al-Qur”an, sebab sekalipun dalam bahasa Arab, orang-orang Arab sendiri terkadang memiliki cara pengucapan (dialektika) yang berbeda satu dengan yang lain, samalah misalnya kalau di-Indonesia ini beda orang Medan dengan orang diluarnya untuk penyebutan beberapa kalimat yang sama dalam bahasa Indonesia tetapi lafalnya bisa berbeda, seperti pengucapan kata ” celakalah kau “, orang Medan akan menyebut huru “e” sesudah “c” dan sebelum “l” seperti kita mengucapkan kata setan, tetapi orang diluarnya akan menyebut kata itu seperti kita menyebut kata celana yang mana, salah satunya karena faktor inilah akhirnya membuat Khalifah Usman bin Affan melakukan keseragaman mushaf al-Qur’an dimasa pemerintahan beliau sehingga tidak ada kekeliruan cara membaca yang bisa membawa kepada perpecahan dikemudian hari terhadap al-Qur’an dengan mengambil dialek suku Quraisy sebagaimana dialek itu juga yang dipakai oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya dalam membaca wahyu tersebut.

Dengan demikian, itulah yang dimaksudkan bahwa wahyu al-Qur’an selamat dari semua kedistorsian manusia dan perjalanan masa semenjak turunnya kepada Rasul sampai kepada kita sekarang ini, Dus, dalam dunia Sunnahpun, meski nasibnya tidak seberuntung al-Qur’an dalam hal penjagaan originalitasnya, tetapi setidaknya umat Islam memiliki ilmu-ilmu dan standar-standar baku untuk menentukan dan menyaring apakah suatu sunnah atau hadis memang bisa diterima sebagai teladan dan petunjuk dari Rasul atau bukan disamping adanya beberapa jemaah juga yang secara ketat menjaga sunnah ataupun hadis berdasar nasab Rasul.

Hal yang sama tidak dilakukan oleh umat-umat lain diluar Islam terhadap apa yang diklaimkan mereka sebagai wahyu dan tradisi, khususnya dari masa dimana tokoh-tokoh penerima wahyu dan penyampai ajaran itu masih hidup atau sekurang-kurangnya dari satu generasi sesudahnya, sehingga jadilah kitab-kitab itu memiliki kontradiksi-kontradiksi yang sulit dijawab oleh pemeluknya bahkan oleh para pemuka agama mereka masing-masing, contohnya ya seperti kasus Markus pasal 9 ayat 29 diatas.

Lebih jauh secara obyektif dan ilmiah, kita bisa melihat secara lebih dalam dan detil lagi seputar pengubahan-pengubahan dalam kitab Perjanjian Baru didalam buku berjudul Misquoting Jesus ( Kesalahan penyalinan dalam kitab suci perjanjian baru : Kisah dibalik siapa yang mengubah alkitab dan apa alasannya ) karya Bart D. Ehrman terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama 2006.

Dimana didalam buku ini begitu banyak bukti empiris yang sangat tidak bisa dibantah lagi bila isi-isi dari kitab perjanjian baru yang ada sekarang sudah banyak mengalami perubahan, mulai dari penambahan, pengurangan sampai kesalahan penterjemahannya ( secara sengaja atau tidak sengaja ).

Beberapa contoh diungkapkan dalam buku ini adalah tentang kisah Yesus yang diuji oleh orang-orang Yahudi menyangkut status wanita yang telah berzina dalam Yohanes pasal 7 ayat 53 sampai pasal 8 ayat 11 dan juga dua belas ayat terakhir dari Markus sama sekali tidak ditemui dalam manuskripnya yang paling tua ( bukan manuskrip asli, sebab naskah-naskah asli Perjanjian Baru sampai hari ini tidak pernah ada lagi, disisi lain penggunaan kata-kata naskah asli pun yang merujuk kepada Bible menurut Bart D. Ehrman ditengah dunia kritik naskah masih menjadi perdebatan hangat ), hal yang sama juga terjadi pada kasus 1 Yohanes pasal 5 ayat 7 sampai 8 yang menceritakan secara vulgar mengenai Tritunggal pada dasarnya tidak memiliki rujukan dari manuskrip aslinya berbahasa Vulgata Latin yang menjadi acuan penterjemahan.

Bart D. Ehrman menyajikan fakta yang ada secara obyektif dan berimbang, misalnya dia juga mengutip keberatan-keberatan beberapa pihak atas kritik naskah yang dilakukan terhadap kitab suci umat Kristiani itu dan mengembalikannya kepada tradisi Rasuli ( yang dalam hal ini adalah Gereja Katolik Roma ) yang secara tidak langsung juga membuktikan bahwa kitab-kitab dalam Perjanjian Baru memang tidak di-ingkari sudah banyak mengalami distorsi oleh manusia.

Bagaimanapun, seperti yang ditulis oleh Bart D. Ehrman sendiri, bahwa kitab-kitab yang disebut Injil ( baik itu yang kanon ataupun apokrip ) ditulis berdasarkan cerita-cerita lisan yang berkembang dimasyarakat waktu itu mengenai pribadi Yesus.

Kristen Protestan dengan reformasi Sola Scripturanya telah menolak 7 kitab dalam yang ada didalam Bible dengan dasar bahwa ke-7 nya adalah kitab-kitab palsu (mengenai 7 kitab ini bisa anda link pada web site “Noncanonical Homepage” dengan alamat http://wesley.nnc.edu/noncanon.htm atau juga http://www.tparents.org/Lib-Bib-Rsv.htm)

Tahun 1707, John Mill seorang cendikiawan kehormatan dari Queens College, Oxford menerbitkan sebuah edisi Perjanjian Baru berdasarkan sekitar seratus manuskrip bahasa Yunani yang berbeda satu dengan lain dan juga membuat sebuah aparatus kritik ( daftar perbedaan ) lengkap dengan hasil penelitian beliau seputar tulisan-tulisan para bapa gereja perdana untuk melihat bagaimana mereka mengutip naskah-naskah itu.; Mill disana telah memaparkan bahwa ada tiga puluh ribu ( baca : 30.000 ) perbedaan diantara bukti-bukti yang masih ada dimana manuskrip-manuskrip, kutipan-kutipan bapa gereja, serta versi-versi yang mengandung bagian-bagian yang berbeda untuk bagian-bagian Perjanjian Baru.

Fakta yang dikemukakan oleh John Mill ini cukup menyadarkan umat Kristen yang terlena oleh penerbitan ulang terus menerus Textus Receptus (T.R) dan masih menganggap bahwa T.R. berisi Perjanjian Baru bahasa Yunani yang asli.; Sekarang status naskah asli sudah terbuka lebar untuk diperdebatkan, jika kata-kata asli dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani tidak diketahui, bagaimana mungkin doktrin dan ajaran Kristen yang benar bisa ditentukan ? ( Misquoting Jesus halaman 86 ).

Atas dasar itu juga maka Daniel Whitby, seorang teolog Protestan konservatif pada tahun 1710 menerbitkan catatan penafsiran Perjanjian Baru yang disertai apendiks seratus halaman berisi keterangan yang terperinci mengenai perbedaan yang ditampilkan dalam Aparatus Mill. Disatu sisi lainnya, Daniel Whitby sendiri tidak menolak akan adanya kesalahan penyalinan naskah Perjanjian Baru.

Selanjutnya pada tahun 1716, Richard Bentley mengirimkan surat kepada uskup agung Wake tentang rencananya untuk membuat Perjanjian Baru edisi baru dengan mengambil terjemahan seotentik mungkin dari manuskrip yang ada pada masa Konsili Nicea ( awal abad ke-4 ), salah satu kesimpulan Bentley untuk membuat Perjanjian Baru yang baru adalah :

Dengan mengambil 2000 kesalahan dari Vulgata milik Paus dan jumlah kesalahan yang sama dari edisi Stephen milik Paus Protestan ( yaitu edisi Stephanus -T.R. ), saya bisa mulai membuat edisi yang berisi kedua edisi tersebut dalam dua kolom tanpa menggunakan buku apapun yang berusia dibawal 900 tahun, yang kata demi katanya akan sama… sehingga hanya dua ratus ( baca: 200 ) dari ribuan bagian itu yang perlu ditimbangkan …

Artinya, Bentley mengurangi 30000 perbedaan John Mill menjadi 200 perbedaan …!
Tetapi sayang bahwa rencana Bentley ini tidak terwujudkan sampai kematiannya. ( Ringkasan Misquoting Jesus, Bab 3 halaman 70 s/d 115 )

Lebih ekstrim lagi, sekte kesaksian Yehovah seperti yang dikutip oleh Deedat dari majalah Awake 08 September 1957 secara transparan menyatakan bahwa didalam Bible sekarang terdapat 50.000 kesalahan atau manipulasi. ( Lihat Bab IV halaman 341 dari The Choise, Dialog Islam-Kristen oleh Ahmed Deedat terjemahan Dr. Setiawan Budi Utomo terbitan XXII juni 1995 oleh al-Kautsar ).

Tradisi lisan sendiri menurut saya sangat perlu untuk kita kritisi, sebab sebagaimana contoh nyata telah diajarkan oleh salah satu iklan deterjen ditelevisi :
Katakanlah ada ibu A berkata kepada ibu B : “Suruh dengan Jeruk nipis”, lalu kata itu beredar dari Ibu B ke Ibu C dan seterusnya sampai pada Ibu yang ke X, lalu tanpa disadari kalimat itu berubah menjadi : “Surf dengan jeruk nipis”.

Itulah kiranya salah satu alasan Nabi Muhammad Saw yang langsung menunjuk sejumlah sahabatnya sebagai juru tulis wahyu ketika ayat al-Qur’an diturunkan, setidaknya, manipulasi teks sebagaimana yang terjadi didunia Kristen bisa dihindari.

Janganlah kamu tulis sesuatu yang kamu terima dariku selain al-Qur’an. Siapa yang menuliskan apa yang ia terima dariku selain al-Qur’an hendaklah dihapusnya. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak apa-apa. Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia menduduki tempatnya dineraka – Hadist riwayat Muslim

akhirul kalam, penjelasan panjang lebar ini untuk bisa menjadi sebuah pemahaman tentang makna dari ayat :

Terjemahan : dan ( beriman ) kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau … didalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 4.

Cukuplah kita saat ini mengakui bahwa memang sebelum turun wahyu al-Qur’an, maka Allah telah menurunkan wahyu-wahyuNya juga kepada para Nabi dan Rasul disetiap jaman dan umat, namun sesuai dengan sifat kedaerahannya yang masih terbatas dan juga distorsi yang terjadi disana-sini maka turunnya al-Qur’an menjadi sebuah kitab suci yang lebih layak dijadikan acuan pedoman hidup dan korektor semua wahyu Allah sebelumya yang terdistorsi itu.

Apa saja ayat yang kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. -Qs. 2 al-Baqarah: 106

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi jalan hidupmu. -Qs. al-Ma’idah 5:3

Kajian berikutnya adalah bagian terakhir dari ayat 4 surah al-Baqarah :

Terjemahan : serta mereka yakin tentang adanya hari akhir. – Qs. 2 al-Baqarah : 4

InsyaAllah bersambung …
Palembang, 2008

ARMANSYAH
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa Al-Masih”,
“Jejak Nabi Palsu” dan “Ramalan Imam Mahdi”
———————————————————————

http://armansyah.swaramuslim.com/more.php?id=47_0_1_0_M