Kemusyrikan dan Kemaksiatan Mengundang Bencana Alam

Kemusyrikan dan Kemaksiatan Mengundang Bencana Alam

PostDateIconTuesday, 20 October 2009 14:44 | PostAuthorIconWritten by Jaka | PDF Print E-mail

alt

Dr. Abdul Manan, MM.
(Ketua Umum DPP Hidayatullah)

Selama 5 tahun pemerintahan Presiden SBY, musibah yang berupa bencana alam datang silih berganti seeprti antri. Tsunami, banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran hutan dan sebagainya. Bahkan tercatat lebih dari 450 bencana alam selama pemerintahan SBY.

Jika kita beranggapan terjadinya musibah terus menerus ini dikarenakan SBY menjadi presiden, maka bisa menjadi syirik, naudzu billah min dzalik. Sebab SBY sebagai manusia biasa dan mahluk sangatlah lemah (dhoif) dan tidak mampu berbuat apa-apa serta tidak mampu mencegah datangnya bencana. Hanya  Allah SWT saja yang mampu mendatangkan dan mencegah terjadinya bencana alam, sebab bencana alam adalah salah satu mahluk ciptaan Nya dan akan selalu tunduk pada kehendaknya.

Tetapi pemerintahan SBY yang penuh dengan kemaksiyatan, klenik dan syirik termasuk mengkeramatkan angka 9 serta melindungi aliran sesat seperti Ahmadiyah, inilah yang mendatangkan murka dari Allah SWT. Kalau Allah sudah murka dan menurunkan balak atau bencana, maka tidak ada satupun kekuatan yang mampu menghalanginya. Inilah yang terjadi selama 5 tahun pemerintahan SBY. Apakah 5 tahun pemerintahan SBY periode kedua nanti, bencana alam juga akan kembali beruntun mendatangi negeri ini, wallahu a’lam. Karena hanya Allah yang mengetahui kapan terjadi musibah dan kapan tidak. Tidak ada satupun mahluk yang mengetahui rahasia Allah SWT itu.

Berikut ini wawancara Tanloid Suara Islam dengan Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Abdul Manan MM, seputar terjadinya bencana alam yang terus menerus terjadi di negeri yang mayoritas rakyatnya umat Islam ini.

Mengapa di Indonesia terjadi bencana alam secara beruntun. Apakah ini merupakan peringatan, musibah, azab atau bagaimana ?

Masalah bencana hanya Allah SWT yang tahu dan itu rahasia Allah. Seperti dalam Al Qur’an disebutkan berapa banyak kota dan desa yang dihabiskan Allah melalui bencana alam. Sedangkan Musibah dapat juga berupa peringatan dimana bisa positif atau negatif tergantung yang menanggapi. Positif bagi orang beriman dan negatif bagi orang tidak beriman, itu sudah otomatis. Selain itu sudah proses alam, ibarat alam ini tubuh ada yang sakit dan ada yang sehat,  juga proses regenerasi manusianya.

Bisa juga dikatakan musibah, sebagaimana dalam Al Qur’an surat  At Taubah ayat 51, dimana disebutkan tidak akan terjadi musibah kecuali sudah termaktub dalam kitab lauhul mahfudz. Berarti Allah sudah memplaning terhadap nasib atau ketentuan implementasi karya Nya. Tetapi mengapa terjadi musibah, bisa karena banyaknya kemaksiyatan, penduduknya dholim, kafir dan sebagainya, dan itu sudah menjadi hukum kausalitas sebab akibat.

Bagaimana sikap kita menanggapinya, harus positif thinking. Bagi orang beriman harus positif thinking, ada apa dibalik itu, apa maunya Allah. Jika kita positif thinking, maka dimensinya adalah dimensi sosial, dimana yang tidak terkena musibah harus menolong yang terkena musibah sebagai amal individu dan kolektif, sesudah itu ekonomi harus diperbaiki semuanya. Sedangkan bagi yang meninggal dunia, menurut hukum Islam yang beriman mati syahid. Seperti peringatan Allah dalam surat Al Anfal, dimana disebutkan musibah itu tidak hanya dikhususkan pada orang yang dholim saja tetapi yang beriman juga terkena. Disini nanti akan berlaku hukum rahman rahim Allah, dimana yang mukmin akan mendapat mati syahid, sedangkan yang kafir dan dholim, Allah yang maha tahu.

Banyaknya kemaksiyatan di masyarakat seperti perzinahan, pembunuhan, perampokan, korupsi dan sebagainya, apa dapat mengundang datangnya bencana alam ?

Ya ! itu termasuk hukum kausalitas sebab akibat. Dalam konteks kenegaraan, Indonesia bukan negara Islam tetapi negara sekuler sehingga semua ditampung. Karena hukum positif di negara ini, maksiyat dan korupsi masih berlaku. Tetapi dalam ranah hukum Indonesia, korupsi yang kelewat batas tidak ada hukum qishash, Musibah terjadi karena perilaku umat manusia sendiri, seperti disebutkan dalam Al Qur’an.  Jadi kita berfikir positif sehingga ada manfaatnya untuk yang hidup. Apa dengan datangnya musibah, kita tetap meneruskan perilaku kita selama ini dengan kedholiman secara politik dan ekonomi dengan terjadinya gap atau kesenjangan di masyarakat.

Perilaku umat manusia di bumi sudah menghabiskan aset ekonomi dunia ini. Hutan digunduli, gunung dipangkas  untuk diambil sebagai semen sehingga semuanya habis. Inilah yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan alam. Kalau orang beriman mengatakan karena itu ulah umat manusia, tetapi kalau orang kafir mengatakan karena hukum alam.

Apakah terjadinya bencana alam seperti sekarang ini karena umat Islam kurang melakukan amar makruf nahi mungkar ?

Kalau amar makruf  banyak orang senang, tetapi nahi mungkar susah karena Indonesia bukan negara Islam. Kalau negara Islam sudah jelas, hukum hudud dan rajam ditegakkan. Kriminal terkecil di dunia terjadi di Arab Saudi. Tetapi karena Indonesia negara sekuler, maka kriminalitas tidak bisa dibasmi. Kriminalitas adalah  perbuatan manusia yang tidak beriman, itulah persoalannya.

Ormas Islam ada yang beramar makruf saja, tetapi ada juga yang nahi mungkar saja. Bagaimana cara untuk mensinergikan keduanya ?

Ada tiga penyebabnya. Pertama, umat Islam krisis kepemimpinan dimana tidak ada khilafah dan imamah serta tidak adanya umatan wahidah. Kedua, krisis konsep; Ketiga, tidak ada markas atau pusat komando yang menjelaskan kepada seluruh umat manusia mengenai untuk apa misi Islam diturunkan di dunia. Tetapi saya yakin nanti pasti akan muncul khilafah, imamah dan umatan wahidah.

Adapun kriteria khilafah, imamah dan umatan wahidah ada pada surat As Sajdah ayat 24, yakni ada seorang pemimpin yang mendirect kepada seluruh umat atau dikatakan sebagai Iman Mahdi. Kedua, seorang pemimpin yang konsisten dan yakin dengan ayat Allah. Kalau tidak ada pemimpin, maka seperti dikatakan Nabi, umat Islam seperti buih yang dimainkan ombak di lautan atau hidangan yang diperebutkan binatang buas. Sekarang AS dan sekutunya sudah mengepung dunia Islam. Juga Isyu terorisme yang merupakan  produk negara-negara kafir, kesemuanya itu sudah terjadi di depan mata.

Sepertinya tingkat keimanan umat Islam Indonesia sudah lumayan, terbukti jamaah haji sampai waiting list. Bagaimana hubungannya dengan kemaksiyatan yang mengundang bencana atau balak ?

Apakah orang sebelum ibadah haji dan sesudah haji aktif di masjid untuk sholat lima waktu. Memang selama ini jumlah masjid bertambah tetapi kosong terus, sehingga volume jamaah tidak berkembang. Masalah haji bisa karena faktor gelar haji atau faktor kemampuan secara finansial.

Apakah datangnya bencana alam merupakan azab dari Allah SWT?

Dalam banyak ayat itu merupakan azab atau siksaan dari Allah SWT.  Fitnah atau ujian tidak hanya menimpa orang kafir saja, tetapi orang beriman juga terkena dampaknya. Mengapa orang mukmin juga terkena, karena tidak memberi peringatan atau memberi peringatan tetapi tidak digubruis, seperti amar makruf nahi mungkar.

Adapun yang memberi peringatan secara ekonomi adalah marginal dan secara politik tidak memiliki kekuasaan. Mereka tidak digubris oleh pejabat  dan orang kaya, sebab manusia sekarang mengukur kekuatan diri dari materi. Makanya isyu pilkada dan pilpres, semuanya itu standarnya fulus, seolah-olah tanpa fulus akan mampus.

Mengapa umat terdahulu yang kafir dan maksiyat seperti umat Nabi Nuh dan Nabi Luth langsung terkenan azab, tetapi mengapa umat sekarang masih tertunda azabnya ?

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, orang tua yang sudah bebas dari kewajiban syar’i maka doanya masih dikabulkan. Kedua, orang yang terdholimi maka doanya juga dikabulkan. Ketiga, anak kecil yang tidak berdosa akan dilindungi Allah. Ini yang menolak balak, kalau tidak sudah habis semua. Para pakar gempa bumi mengatakan tidak ada satupun yang mengetahui terjadinya gempa bumi, itu semua rahasia Allah.

Pada awal pemerintahan Presiden SBY terjadi tsunami besar di Aceh, sedangkan pada akhir pemerintrahan SBY terjadi tsunami kecil di Situ Gintung Tangerang. Apakah memang pemerintahan ini dholim sehingga diazab Allah ?

Saya tidak bisa menetapkan pemerintahan ini dholim, kafir atau mukmin.  Tetapi yang jelas, negara ini bukan negara Islam. Saya tidak bisa berpendapat dalam hal ini. Pertanyaannya, jika bukan SBY yang naik, apa bencana tidak terjadi. Saya kira itu hanya sentimen politik seperti dalam bukunya Ridwan Saidi “Bencana Bersama SBY”, saya netral dalam hal ini. Kita harus berfikir positif dan netral. Apa memang pada zaman Suharto dan Habibie tidak ada bencana, semuanya ada bencana. Memang dalam pemerintahan SBY ini, mayoritas gempa bumi terjadi, jadi memang sudah takdirnya SBY. Seharusnya ada ulama yang memberitahu SBY untuk mengevaluasi diri, seperti dalam istighotsah. Kalau ada yang mengadakan ruwatan itu jelas syirik, MUI harus mengeluarkan fatwa mengenai ruwatan yang syirik ini. Kita dudukkan perkara ini dengan standar akidah dan akhlak serta syariah, sehingga akal ini terkontrol.

Jadi datangnya bencana bertubi-tubi ini bukan karena SBY jadi presiden ?

Bencana terjadi bukan karena SBY jadi presiden, itu namanya mendiskreditkan seseorang bahkan bisa menjadi syirik. Masak bencana karena SBY. Kalau begitu, kenapa SBY lahir ke dunia. Perkiraan seperti itu perlu diluruskan sehingga kita tidak menciptakan konflik yang berkepanjangan.  Kalau memang betul-betul seharusnya ada seorang ulama yang memberitahu SBY. Perlu kita evalusi dan istighfar sebagai seorang pemimpin, sehingga tidak perlu dikaitkan bencana karena SBY, apa memang dia sebagai tumbal ? Saya tidak mau berbicara karena kebetulan memang tidak ada dalam aqidah. Menang tsunami Aceh terjadi ketika SBY menjadi presdien, itu namanya musibah. Semuanya itu rencana Allah, hanya Allah yang tahu rahasia gempa bumi dan bencana alam. Kita tidak bisa memprediksi datangnya bencana alam, tetapi bencana alam bisa dieliminir dengan doa.

Apa karena Presiden SBY memang sudah keterlaluan kesyirikannya dengan mengkeramatkan angka 9 sehingga bencana alam terus datang bertubi-tubi ?

Keramat atau tidak keramat itu hanya statemen pribadinya. Bahkan dalam salah satu ayat Al Qur’an disebutkan angka 19. Bismillah juga memiliki 19 huruf. Rahasia atau kekuatan angka 19 hanya Allah yang tahu. Kalau mengkeramatkan angka 9 jelas syirik. Seperti kesaktian pancasila juga syirik, apanya yang sakti !

Apa praktek kesyirikan di negara ini yang menyebabkan murka Allah ?

Syirik jelas salah satu menyebab kemurkaan Allah, ini perlu diluruskan, Persoalan aqidah memang yang paling berat. Mendakwahkan aqidah Islam kepada semua umat manusia itu yang paling berat, karena akan terjadi pro dan kontra serta konflik yang berkepanjangan. Abu Jahal menjadi kafir karena tidak mau menerima ajarah aqidah Islam yang benar. Sehingga perlu dialog yang sehat dan iman tidak boleh dipaksakan. Kita hanya menyampaikan kebenaran Islam saja.

Penerapan syariat Islam seperti di Aceh menghadapi tantangan luar biasa. Apakah bencana yang beruntun ini terjadi karena negara kita tidak menerapkan syariat Islam ?

Tidak juga ! Setelah tinjauan idologis atau aqidah, kemudian tinjauan alam. Letak geografis Indonesia diapit dua benua benar dan tiga lempeng besar samudera. Secara logika pasti sering terjadi gempa bumi dan sudah merupakan resonansi alam. Itu ada hubungan secara ideologis atau aqidah antara manusia dengan Allah, karena alam ini milik Allah sedangkan manusia tidak mau beriman kepada Allah.

Manusia harus membebaskan golongan mustadhafin atau tertindas, sehingga kita memiliki akses yang sehat secara ekonomi, sehingga keadilan wajib ditegakkan. Membicarakan hukum Islam baru preambul dan belum ditegakkan secara benar. Belum ada kontrol secara benar, tetapi itu ide yang bagus. Penentangan terhadap pelaksanaan hukum Islam di Aceh adalah intervensi dari orang yang tidak beriman.

Bagaimana untuk mengindari azab Allah terhadap bangsa ini ?

Perlu adanya istighotsah atau istighfar kepada Allah dengan memperbaiki keimanan bangsa Indonesia, termasuk diri dan rumah tangganya. Secara politik, kita tidak mungkin merubah Pancasila, sebab itu berarti revolusi. Ormas Islam seperti Hidayatullah hanya mendidik anak bangsa agar menjadi baik akhlaknya. Sedangkan munculnya terorisme tidak akan menyelesaikan masalah malah menyudutkan umat Islam Indonesia.

Bagaimana nasehat anda sebagai pemimpin ormas Islam yang besar kepada Presiden SBY, sehingga diharapkan agar Allah SWT menghindarkan negara ini dari berbagai macam musibah ?

Presiden SBY harus menginstruksikan kepada umat Islam agar memperbaiki keimanannya dengan melaksanakan syariat Islam secara individu dan rumah tangganya dan RUU Anti Pornografi harus segera disahkan menjadi UU. Saya kira kita belum perlu melaksanakan syariat Islam, itu cita-cita terlalu tinggi. Lebih baik mengimplementasikan terlebih dahulu UU Anti Pornografi di masyarakat. Jika itu mampu dilaksanakan, maka sudah bagus sekali dan diharapkan mampu menolak atau mengeliminir azab Allah.

Presiden SBY harus menginstruksikan umat Islam yang mayoritas di negara ini agar menerapkan ajaran Islam secara total (kaffah). Para wanita muslimah harus berjilbab dan ketika terdengar adzan, maka semua laki-laki harus segera pergi ke masjid untuk menjalankan sholat lima waktu. Jika mampu, itu sudah bagus sekali. Kemudian masalah ekonomi seperti keadilan dan pemerataan pendapatan, harus benar-benar ditegakkan di masyarakat, sehingga mampu mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.
(Abdul Halim)

Ulama Sekaligus Ekonom

Tidak diragukan lagi, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Abdul Manan MM adalah seorang ulama sekaligus ekonom. Pasalnya, tokoh kelahiran Gresik, Jawa Timur, 12 Agustus 1955 ini selain alumnus Strata-3 Ilmu Ekonomi Universitas Borobudur Jakarta, juga pernah belajar Tafsir Al Qur’an selama 2 tahun pada seorang syekh di Masjidil Haram Makkah.

Tugas berat selalu menghadang Abdul Manan, sebab saat ini mendapat amanah untuk memimpin Hidayatullah, Ormas Islam terbesar ketiga setelah NU dan Muhammadiyah dengan jumlah anggota 12 juta orang yang ber KTA. Selain itu Hidayatullah juga memiliki ribuan sekolah dan pondok pesantren yang tersebar di 32 propinsi, 287 kabupaten atau kota serta 2000 kecamatan di seluruh Indonesia.

Ormas Islam Hidayatullah yang didirikan almarhum Ustad Abdullah Said tahun 1974 lalu di Balikpapan Kalimantan Barat, saat ini sebagai pemimpin tertinggi (Iman) dijabat Ustad Abdurrahman Muhammad yang menggantikan Ustad Abdullah Said dengan masa jabatan seumur hidup. Sedangkan Dr  Abdul Manan MM menjabat sebagai pemimpin eksekutif dan bisa diganti setiap lima tahun sekali.

Selain memiliki ribuan pesantren dan sekolah sejak TK hingga SMA, Hidayatullah juga memiliki tiga PT di Jakarta, Surabaya dan Balikpapan serta rumah sakit seperti di Yogyakarta. Untuk kegiatan sehari-hari dijalankan di Jakarta, sedangkan pusatnya berada di Balikpapan, Kalimantan Barat.   (*)

http://www.suara-islam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=185:kemusyrikan-dan-kemaksiatan-mengundang-bencana-alam&catid=60:wawancara&Itemid=66