Orang-orang Yahudi berkata: `Uzair itu putera Allah` dan orang Nasrani berkata: `Al Masih itu putera Allah`. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?(QS. 9:30)

30 Orang-orang Yahudi berkata: `Uzair itu putera Allah` dan orang Nasrani berkata: `Al Masih itu putera Allah`. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?(QS. 9:30)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 30
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30)
Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan keyakinan ahli kitab yang salah, baik orang-orang Yahudi atau pun orang-orang Nasrani. Mereka berkeyakinan bahwa “Uzair itu putra Allah”. Kepercayaan ini bertentangan sekali dengan pengertian iman yang sebenarnya kepada Allah. Karena iman yang benar ialah bahwa Allah itu esa, tunggal, tidak beranak, tidak berbapak dan tidak bersekutu dengan apa dan siapa pun. Dia Maha Sempurna, Maha Kuasa dan tidak ada satu pun yang menyerupai dan menyamai-Nya.
Uzair adalah seorang tukang tenung bangsa Yahudi, penduduk negeri Babylon, hidup di sekitar tahun 457 sebelum Masehi. Dia seorang pengarang ulung, pendiri suatu perhimpunan besar, dan rajin mengumpulkan naskah-naskah Kitab Suci dari berbagai daerah. Dialah yang memasukkan huruf-huruf Kaldaniyah sebagai pengganti huruf-huruf Ibrani kuno. Dia juga yang menulis hal-hal yang mengenai peredaran matahari, menyusun kembali kitab-kitab bermutu yang telah hancur binasa. Semasa hidupnya dianggap orang sebagai masa kesuburan agama Yahudi karena dialah penyair syariat Taurat yang terkemuka, menghidupkan syariat itu kembali sesudah sekian lama dilupakan orang. Oleh karena kaum Yahudi menganggapnya sebagai seorang suci yang lebih dekat kepada Allah bahkan sebagian dari mereka yang fanatik menganggap dan memanggilnya dengan “anak Allah”. Meskipun hanya sebagian dari kaum Yahudi yang berkepercayaan demikian tetapi dapat dianggap bahwa kepercayaan itu adalah kepercayaan mereka seluruhnya karena ucapan yang salah itu tidak dibantah dan diingkari oleh golongan yang lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
Artinya:
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.
(Q.S. Al-Anfal: 25)
Demikian juga halnya kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih. Mereka beriktikad bahwa Isa itu anak Allah. Kepercayaan ini pun sangat bertentangan dengan iman kepada Allah swt. Sekalipun pada mulanya kata-kata “Isa itu anak Allah” hanyalah merupakan ucapan nenek moyang mereka yang bermaksud bahwa dia itu adalah seorang yang mulia, dikasihi Allah dan terhormat, dan bukanlah ucapan itu berarti anak Allah sebenarnya. Tetapi lambat laun, terutama ketika kepercayaan agama Hindu menyusup masuk ke dalam kaum Nasrani dan kedua agama itu berdampingan rapat, bahu-membahu, tertanamlah di dalam hati mereka kepercayaan bahwa Isa Al-Masih itu adalah benar-benar anak Allah. Kemudian setelah berlalu beberapa waktu lamanya, timbullah perubahan baru di dalam kepercayaan mereka, bahwa arti anak Allah dan Allah juga Roh Kudus (ruh suci) yang kemudian dikenal dengan “Bapak, anak dan ruh suci”.
Menurut keyakinan mereka, tiga oknum tersebut yaitu “Anak Allah, Allah dan Ruh Suci” pada hakikatnya hanya satu. Ajaran Gereja ini sudah menjadi ketetapan di dalam agama Nasrani, tiga abad sepeninggal Isa Al-Masih dan murid-muridnya. Meskipun kepercayaan ini ditentang oleh sebagian dari mereka yang tidak sedikit jumlahnya, tetapi gereja-gereja Katholik, Ortodoks dan Protestan tetap pada pendiriannya. Bahkan orang-orang yang tidak membenarkan kepercayaan yang salah itu, dianggap tidak lagi termasuk kaum Nasrani dan telah murtad dari agamanya.
Mengatakan Isa Al-Masih anak Allah dan meyakini bahwa tiga oknum suci itu adalah hakikat Tuhan Yang Maha Esa, tidak dibenarkan oleh Allah swt. dan tidak dapat diterima oleh akal yang sehat dan belum ada satu juga agama Nabi-nabi sebelum itu menganut kepercayaan demikian. Allah swt. menandaskan bahwa ucapan mereka seperti itu adalah bohong, tidak mempunyai hakikat kebenaran sedikit juga dan tidak ada satu dalil dan bukti yang nyata dapat menguatkannya. Sejalan dengan ini Allah swt. berfirman:

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا
Artinya:
Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.
(Q.S. Al-Kahfi: 5)
Di dalam kitab-kitab perjanjian baru sendiri tidak terdapat keterangan yang menyatakan bahwa Isa Al-Masih itu anak Allah. Sesungguhnya mereka sudah sesat jauh dari yang sebenarnya. Mereka meniru-niru ucapan orang-orang kafir sebelumnya, seperti orang-orang musyrik bangsa Arab yang mengatakan “Malaikat-malaikat itu adalah putri-putri Allah”.
Sejarah mencatat bahwa kepercayaan “Tuhan beranak, Tuhan menjelma dalam tiga oknum berhakikat satu” adalah kepercayaan kaum Brahma dan Budha di India, kepercayaan bangsa-bangsa Jepang, Persia, Mesir, Yunani dan Romawi zaman dahulu. Keadaan orang-orang Yahudi dan orang Nasrani mempercayai bahwa Allah swt. itu beranak, belum pernah ada seorang pun dari bangsa Arab yang mengetahuinya, begitu pula orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan baru dengan turunnya Alquran diketahui. Ini adalah salah satu mukjizat Alquran.
Allah swt. mengutuk mereka karena mereka belum mau menginsafi dan menyadari kekeliruan dan kesesatannya. Meskipun Rasul-rasul Allah telah menjelaskan bahwa Allah itu Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, namun mereka tidak mau kembali ke akidah tauhid, bahkan tetap bertahan pada iktikadnya yang keliru, yaitu menganggap bahwa Uzair dan Isa Al-Masih adalah anak Allah, padahal keduanya itu adalah manusia-manusia hamba-Nya seperti juga manusia-manusia lain, sekalipun diakui bahwa keduanya itu adalah manusia yang saleh, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mulia dan dihormati sebagaimana firman Allah:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ
Artinya:
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak.” Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan.
(Q.S. Al-Anbiya’: 26)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 30
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30)
(Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Almasih itu) yakni Nabi Isa (adalah putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka tanpa ada sandaran dalil yang mendukung perkataannya itu, bahkan (mereka meniru-niru) perkataan mereka itu meniru (perkataan orang-orang kafir yang terdahulu) dari kalangan nenek moyang mereka, karena menuruti tradisi mereka. (Semoga mereka dilaknat) dikutuk (oleh Allah, bagaimana) mengapa (mereka sampai berpaling) maksudnya bagaimana mereka sampai berani berpaling dari kebenaran, padahal dalilnya sudah jelas dan gamblang.

http://alquranonline.co.cc/