Martin Lings Sang Sufi, Penyair, dan Cendekiawan

Martin Lings Sang Sufi, Penyair, dan Cendekiawan

martin lings

Buku berjudul Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, sungguh luar biasa. Dengan keahlian yang seolah tak tertandingi, Martin Lings menghadirkan pada kita riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dengan narasi dan detil mengagumkan. Buku tersebut, oleh banyak kalangan dinilai sebagai salah satu buku biografi Rasul terbaik yang pernah diterbitkan. Hanya seorang berkemampuan istimewalah yang dapat menghasilkan buku sedemikian menyentuh.

Melalui karya-karyanya, semisal terjemahan teks Islam, puisi, seni, dan filsafat, dapatlah diketahui kualitas keilmuannya. Sering disejajarkan dengan Titus Burckhardt, Rene Guenon, Fritjhof Schuon, eksistensi Lings identik dengan seorang sufi yang gigih dalam menyebarkan Islam di Barat.

Namun di luar itu semua, hal yang paling berkesan dari Lings adalah keterkaitan karya dengan jiwa ihsan (keindahan dan kecemerlangan) yang dimilikinya. Ini pada akhirnya, membuat dia akan selalu menganggap bahwa nilai estetis dari sebuah tulisan bagaikan artefak keimanan.

Tepat tanggal 12 Mei 2005 lalu, Martin Lings, menghembuskan nafas terakhir dalam usia 96 tahun. Umat Islam di seluruh dunia pun berkabung atas wafatnya penyair sufi modern terkemuka ini.

Lings (Abu Bakr Siraj Ad-Din) lahir di Burnage, Lancashire, tanggal 24 Januari 1909. Meski begitu, dia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Amerika Serikat, mengikuti ayahnya. Kembali ke Inggris, dia bersekolah di Clifton College, Bristol. Setelah itu, Lings melanjutkan pendidikan di Magdalen College, Oxford, belajar literatur Inggris dan memperoleh gelar BA tahun 1932. Tahun 1935, dia pergi ke Lithuania, menjadi pengajar studi Anglo-Saxon dan Inggris Tengah di Universitas Kaunas.

Tahun 1940, Lings datang ke Mesir mengunjungi seorang temannya yang kebetulan mengajar di Universitas Kairo. Akan tetapi, pada saat kunjungannya itu, sang teman meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Lings ditawari untuk mengisi posisi temannya sebagai pengajar. Dia menerima tawaran tersebut.

Lings pun mulai mempelajari Islam. Setelah banyak berhubungan dengan ajaran Sufi Shadlhiliyya, dia berketetapan hati untuk masuk Islam.

Pada saat yang sama, Lings juga dekat dengan seorang filosof mistis asal Prancis, Rene Guenon, yang juga sudah memeluk Islam. Dia lantas menjadi asisten pribadi serta penasehat spiritual Guenon.

Terjun ke dunia seni
Tahun 1944 menjadi tahun bersejarah bagi Lings. Pertama, dia menikah dengan Lesley Smalley, keduanya lantas tinggal di sebuah kamp pengungsi di dekat piramid. Kedua, tahun itulah awal kiprahnya di bidang seni, dengan memproduksi sandiwara “Shakespeare”. Para pemainnya tak lain adalah para muridnya.

Ia memang senang mempelajari karya-karya pujangga itu. Ketertarikannya pada karya-karya Shakespeare lantas membawanya, sekitar 40 tahun kemudian, membuat buku berjudul The Secret Of Shakespeare: His Greatest Plays Seen In The Light Of Sacred Art.

Lings mungkin sudah memutuskan untuk tinggal selamanya di Mesir, namun situasi politik mengubah segalanya. Revolusi anti-Inggris oleh kaum Nasionalis pimpinan Abdul Naser, pecah, dan seluruh staf universitas berbangsaan Inggris terpaksa diungsikan.

Kembali ke London tahun 1952, tanpa punya pekerjaan, Lings memutuskan untuk melanjutkan studi. Sementara Lesley yang berprofesi sebagai psikoterapis, bekerja sesuai bidangnya itu.

Setelah berhasil memperoleh gelar BA pada jurusan studi Arab, dia juga memperoleh gelar PhD dari School of Oriental and African Studies (SOAS) untuk tesisnya tentang seorang sufi terkenal asal Aljazair, Ahmad Al-Alawi. Itu sekaligus menjadi basis dari salah satu bukunya yang terkenal berjudul A Sufi Saint of the Twentieth Century.

Kemudian tahun 1955, dia bekerja sebagai asisten Penjaga Naskah-naskah dan Buku-buku Ketimuran pada British Museum. Pekerjaan itu dilakoninya hingga dua dekade. Tahun 1973, Lings merangkap kerja di British Library, di mana dia memfokuskan perhatiannya terhadap kaligrafi Quran. Beberapa tahun kemudian, dia mempublikasikan karya klasiknya pada subyek yang sama; The Qur’anic Art Of Calligraphy And Illumination, bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Dunia Islam tahun 1976.

Sejak itu, Lings pun mulai menulis secara teratur. Karya-karyanya, selain Sufism dan buku-buku lainnya, meliputi juga artikel mengenai tasawuf pada terbitan Cambridge University, Religion in the Middle East, The Eleventh Hour: The Spiritual Crisis of the Modern World in the Light of Tradition and Prophecy, dan banyak artikel untuk jurnal kuartalan, Studies in Comparative Religion. Jurnal itu turut andil dalam memperluas cakrawala dunia Barat dalam memahami ketinggian Islam.

Namun, dari semua itu, salah satu karyanya yang paling menonjol adalah buku berjudul Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources (1983), yang dia dedikasikan untuk pemimpin Pakistan, Zia ul-Haq.

Ditulis dari perspektif seorang cendekiawan-sejarahwan yang juga mempraktekkan Islam dalam keseharian, buku tersebut cepat terkenal dan menjadi bacaan wajib mengenai kehidupan Nabi Muhammad. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa serta memperoleh sejumlah penghargaan dari dunia Islam.

Profesor Hamid Dabashi dari Columbia University, mengungkapkan kekagumannya. “Ketika membaca buku Muhammad karya Lings, kita akan bisa merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah syair. Lings adalah cendekiawan-penyair,” katanya.

Komitmennya dalam Islam terbawa sepanjang hayat. Bahkan 10 hari sebelum meninggal dunia, Lings masih sempat menjadi pembicara di depan 3 ribu pengunjung pada acara Maulid Nabi Muhammad, bertajuk ‘Bersatu untuk Sang Nabi’ yang diadakan di Wembley. Dan Lings mengatakan, itu adalah pertama kalinya dia berbicara mengenai makna kehidupan Nabi Muhammad dalam waktu 40 tahun.

  • dari republika.co.id

muhammad
Testimoni :
“Setelah membaca sedikit (belum tuntas) buku yang berjudul Muhammad : Kisah hidup nabi berdasarkan sumber klasik, karangan beliau, saya merasakan gaya bahasa yang berbeda dari sebuah biografi. Semua dituangkan dengan detail dari berbagai sumber. Silsilah dijelaskan mulai dari ibrahim sampai anak cucu nabi. Semoga karya beliau barokah. “

Oktober 25, 2007
Kategori: Profil . . Penulis: Rahmat D. Djatmiko

http://deje.wordpress.com/2007/10/25/martin-lings-sang-sufi-penyair-dan-cendekiawan/

======================================================

Martin Lings

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

Martin Lings (Abu Bakr Siraj Ad-Din) (January 24, 1909May 12, 2005) was an English Sufi Muslim writer and scholar, a student and follower of Frithjof Schuon[1], and Shakespearean scholar.

Lings was born in Burnage, Manchester in 1909 to a Protestant family. The young Lings gained an introduction to travelling at a young age, spending significant time in the United States due to his father’s employment.

Lings attended Clifton College and went on to Magdalen College, Oxford (BA (Oxon) English Language and Literature). At Magdalen he was a student of C. S. Lewis, who would become a close friend of his. After graduating from Oxford Lings went to Vytautas Magnus University, in Lithuania, where he taught Anglo-Saxon and Middle English.

For Lings himself, however, the most important event that occurred while he was at Oxford was his discovery of the writings of the René Guénon, a French metaphysician and Muslim convert and those of Frithjof Schuon, a German spiritual authority, metaphysician and Perennialist. In 1938 Lings went to Basle to make Schuon’s acquaintance and he remained Frithjof Schuon‘s disciple and expositor for the rest of his life.

In 1939 Lings went to Cairo, Egypt in order to visit a friend of his who was an assistant of René Guénon. Not long after arriving in Cairo, his friend died and Lings began studying and learned Arabic.

Cairo became his home for over a decade; he became an English teacher at the University of Cairo and produced Shakespeare plays annually. Lings married Lesley Smalley in 1944 and lived with her in a village near the pyramids. Despite having settled comfortably in Egypt, Lings was forced to leave in 1952 after anti-British disturbances.

Upon returning to the United Kingdom he continued his education, earning a BA in Arabic and a PhD from the School of Oriental and African Studies (University of London). His doctoral thesis became a well-received book on Algerian Sufi Ahmad al-Alawi (see Sufi studies). After completing his doctorate, Lings worked at the British Museum and later British Library, overseeing eastern manuscripts and other textual works, rising to the position of Keeper of Oriental Printed Books and Manuscripts 1970-73. He was also a frequent contributor to the journal, Studies in Comparative Religion.

A writer throughout this period, Lings’ output increased in the last quarter of his life. While his thesis work on Ahmad al-Alawi had been well-regarded, his most famous work was a biography of Muhammad, written in 1983, which earned him acclaim in the Muslim world and prizes from the governments of Pakistan and Egypt. His work was hailed as the “best biography of the prophet in English” at the National Seerat Conference in Islamabad.[2] He also continued travelling extensively, although he made his home in Kent. He died in 2005.

In addition to his writings on Sufism, Lings was a Shakespeare scholar. His contribution to Shakespeare scholarship was to point out the deeper esoteric meanings found in Shakespeare’s plays, and the spirituality of Shakespeare himself. More recent editions of Lings’s books on Shakespeare include a Foreword by HRH The Prince of Wales. Just before his death he gave an interview on this topic, which was posthumously made into the film Shakespeare’s Spirituality: A Perspective. An Interview With Dr. Martin Lings[3].

Contents

[hide]

//

[edit] Books

[edit] See also

[edit] External links

[edit] References

  1. ^ Islamic scholar concerned with spiritual crisis
  2. ^ Muhammad : His Life Based on the Earliest Sources by Martin Lings
Advertisements