MUHAMMAD SAW: INISIATOR PERDAMAIAN

MUHAMMAD SAW: INISIATOR PERDAMAIAN

M. Syamsi Ali


Umat Islam di seluruh penjuru dunia saat ini umumnya memperingati Maulid atau Kelahiran Rasulullah SAW. Terlepas dari perdebatan sisi hukum syariatnya, mempelajari dan menghayati kehidupan dan pengorbanan Rasulullah SAW adalah suatu keharusan dan, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan, menjadi kewajiban syara’ (agama) bagi setiap Muslim. Ada dua alasan pokok yang dapat dikemukakan:

Pertama: Islam menghendaki “ketaatan” kepada Allah. Tanpa ketaatan kepada Allah, sesungguhnya tiada Islam. Untuk taat kepada Allah dibutukan “ketaatan” kepada Rasulullah. Berbagai ayat dalam Al Qur’an memerintahkan ketaatan kepadaNya, namun sekaligus memerintahkan ketaatan kepada RasulNya. Sebaliknya, bermaksiat kepada Allah dikaitkan langsung dengan kemaksiatan kepada RasulNya.

Kedua: Rasulullah telah dijadikan, tidak saja sebagai “muballigh” (conveyer), namun sekaligus sebagai contoh tauladan “hidup” bagi seluruh pengikutnya. Ketauladanan menuntut sebuah komitmen untuk mengikut. Sedangkan untuk mengikut kepada seseorang atau sesuatu diperlukan pengetahuan tentangnya.

Dengan demikian, dan sesuai dasar Ushul fiqh: “Maa laa yatimmu bihil waajibu illa bihii fahuwa wajibun” (sesuatu yang hanya dengannya suatu kewajiban menjadi terlaksana, maka ia menjadi wajib), maka mendalami sirah (sejarah hidup) Rasulullah adalah merupakan kewajiban yang tidak dapat ditawar. Hanya dengan mengetahui sirah Rasulullah SAW, kita mampu melakukan ketaatan yang benar serta mampu mengikuti jejak langkah kehidupan Rasulullah dalam kehidupan ini.

Mispersepsi Mengenai Rasulullah SAW

Tak disangkal bahwa mispersepsi (kesalah fahaman) mengenai Rasulullah banyak terjadi, yang boleh jadi karena beberapa factor, yang dapat disebutkan antara lain, karena memang kebodohan akan Islam dan Rasululullah SAW, manipulasi informasi yang sesungguhnya khususnya oleh media massa, dan juga lebih karena disebabkan oleh sikap dan perilaku dari pengikut Muhammad SAW yang masih jauh dari suri tauladan beliau.

Salah satu kekeliruan faham yang sering kita temui adalah bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok yang keras, kaku, serta berwatak anti damai. Lebih jauh, watak ini ditafsirkan bahwa sesungguhnya Islam itu telah disebarkan ke seluruh penjuru dunia dengan mata pedang. Tapi betulkah bahwa Rasulullah SAW berwatak kasar serta anti damai perdamaian? Betulkah pula bahwa Islam telah disebarkan dengan kekuatan pedang?

Mengawali respon kepada klaim tersebut di atas, ada baiknya dimulai dengan beberapa kutipan dari para tokoh dunia maupun cendekiawan yang justeru dari pihak agama lain:

Mahatma Gandhi (The Young Indian, 1924):

“I wanted to know the best of the life of one who holds today an undisputed sway over the hearts of millions of mankind. I became more than ever convinced that it was not the sword that won a place for Islam in those days in the scheme of life. It was the rigid simplicity, the utter self-effecement, his devotion to his friends and followers, his fearlessness and his absolute devotion and trust in his Lord. These and not the sword carried everything before them”

Sir George Bernard Show (1936):

“If any religion had the chance of ruling over England and Europe within the next hundred years, it could be Islam. I have always held the religion of Muhammad in high estimation because of its wonderful vitality. It is the only religion which appears to me to passes that assimilating capacity to the changing phase of existence which can make itself appeal to every age. I have studied him – the wonderful man and in my opinion far from being anti Christ, he must be called the savior of humanity”

De Lacy O’Leary (1923):

“History makes it clear, however, that the legend of fanatical Muslims sweeping through the world and forcing Islam at the point of swords upon conquered races is one of the most fantastically absurd myths that historians have repeated”.

Demikian beberapa kesaksian non Muslim sekaligus tokoh terkenal tentang ketinggian budi dan kelembutan perilaku serta jauhnya Rasulullah SAW dari tuduhan kekerasan dan anti perdamaian. Pada intinya, banyak ahli yang sepakat bahwa Muhammad telah membawa ajaran yang damai serta telah disampaikan ke penjuru alam dengan pendekatan damai, jauh dari kekerasan dan pemaksaan seperti yang digambarkan selama ini. Bahkan tuduhan penyebaran Islam dengan memakai pendekatan kekerasan/pemaksaan, dinilai sebagai bentuk mitos yang sangat luar biasa.

Memang dapat ditegaskan bahwa tidak ada dan tak akan ada suatu agama maupun sistim sosial lainnya yang akan mampu menyamai cara pendekatan Islam dan Rasulullah SAW dalam membangun dan memelihara perdamaian dan keadilan bagi umat manusia. Baik ditinjau dari sisi ajaran maupun sejarah, keduanya menunjukkan bahwa Islam dan RasululNya telah mampu, tidak saja menjadi simbol perdamaian tapi justeru menjadi inisiator dan pencipta perdamaian (peace maker). Beberapa alasan dapat dikemukakan untuk mendukung perntaan ini, al:

Pertama: Fleksibilitas dalam Melakukan Perjanjian Damai

Bukti pertama akan ketinggian komitmen Rasulullah dalam upaya perdamaian adalah kelapangan dada dan fleksibilitas beliau dalam menerima hasil-hasil pembicaraan damai, yang justeru oleh pertimbangan kebanyakan orang awam dianggap sebagai kekalahan. Tapi oleh Rasulullah, demi menghindari konflik dan peperangan, beliau menerimanya dengan visi dan tujuan yang lebih besar. Kebesaran visi menyadarkan beliau bahwa kemenangan justeru tidak selalu diraih lewat sebuah keberhasilan jangka pendek.

Berikut dikutip sebagian dari sekian banyak persetujuan (perjanjian/treaties) yang belia telah lakukan bersama warga lain sepanjang sejarah hidup beliau:

  1. Jauh sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul Allah SWT, beliau telah menunjukkan diri sebagai juru damai bagi berbagai kelompok suku yang sering terlibat dalam peperangan itu. Salah satu yang dapat disebutkan, ketika “Hajar Aswad” (batu hitam) terjatuh dari tempat aslinya di sudut Ka’bah akibat banjir. Ketika itu, hampir saja terjadi pertumpahan darah karena semua suku merasa paling berhak untuk mengembalikan ke tempat aslinya, dipandang sebagai salah satu kehormatan dan prestise kesukuan bangsa Makkah.
    Muhammad SAW, yang ketika itu baru berumur belia, justeru keluar dengan ide yang cemerlang dan diterima oleh semua suku yang bersengketa. Beliau mengusulkan bahwa penentuan siapa yang berhak mengembalikan “hajar aswad” ke posisi semula ditentukan oleh siapa yang paling dini memasuki masjidil haram. Ternyata, dari sekian banyak pembesar Makkah yang berminat memasuki masjidil haram pertama kali, beliau jugalah yang melakukannya. Namun demikian, beliu menyadari bahwa kendati beliau berhak melakukan pengembalian hajar aswad, pasti akan timbul rasa “kurang enak” di kalangan para pembesar suku Makkah itu. Untuk itu, beliau menaruh “hajar aswad” dengan tangannya ke atas sebuah sorban, lalu semua kepala suku dipersilahkan untuk mengangkatnya secara bersama-sama dan diletakkan kembali ke posisi aslinya. Subhanallah!
    Tindakan cemerlang nan bijak tersebut telah menghindarkan pertumpahan darah, bahkan lebih jauh mengajarkan kebersamaan dan keinginan untuk mencapai kebaikan secara gotong royong. Keberhasilan Muhammad muda SAW tersebut merupakan cerminan watak asli yang damai serta memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan perdamaian di antara sesama manusia.
  2. Di awal hijrah Rasulullah, beliau menerima kedatangan utusan kafir Makkah di Madinah yang berakhir dengan beberapa kesepakatan. Salah satu isi kesepakatan tersebut bahwa “jikalau ada pengikut Muhammad SAW melarikan diri dari Madinah ke Makkah, yang bersangkutan tidak harus dikembalikan ke Madinah. Sebaliknya, jika ada pengikut Muhammad yang melarikan diri dari Makkah ke Madinah, yang bersangkutan harus dipulangkan ke Makkah”.
    Bagi pemikiran umum, persetujuan tersebut sangat tidak adil. Namun Rasulullah, dengan komitmen yang sangat tinggi untuk menghindari konflik dan membangun perdamaian, mau menerimanya.
  3. Perjanjian Hudaibiyah adalah salah satu perjanjian yang sangat popular dalam sejarah Islam. Salah satu isi perjanjian tersebut adalah bahwa Rasulullah tahun itu harus kembali ke Madinah, dan hanya boleh melakukan ibadah ke Makkah setahun kemudian. Selain itu, nama yang dipakai pada perjanjian tersebut tidak boleh menggunakan title “Rasulullah”, tapi memakai kebiasaan arab membaggakan nama bapaknya, yaitu Muhammad bin Abdullah.
    Bagi kebanyakan sahabat, isi perjanjian tersebut sangat melecehkan, bahkan dianggap kekalahan di pihak Rasulullah SAW. Umar bahkan meng-ekspresikan resistensinya kepada Rasulullah untuk tidak menerima persetujuan tersebut. Namun demikian, ternyata sang pecinta damai (peace loving man), Rasulullah SAW, tidak berkeberatan untuk menerima hasilnya.
  4. Perjanjian dengan delegasi Najran (Treaty of Najran) juga menjadi saksi sejarah kebesaran jiwa Rasulullah SAW serta komitmennya yang tinggi dalam upaya mewujudkan perdamaian. Pada tahun 10 Hijrah (631 M), beliau didatangi oleh 60 orang delegasi dari penduduk Kristen Najran, sebuah daerah yang terletak sekitar 450 mil sebelah selatan Madinah. Mereka diterima oleh Rasulullah di masjid Nabawi dan diperbolehkan untuk melakukan ibadah dalam masjid sesuai keyakinan dan tatacara agama mereka.
    Selama tiga hari tiga malam, mereka dan Rasulullah SAW melakukan dialog tentang “tabiat” Tuhan (nature of God) dan Isa a.s. Namun akhirnya mereka tetap pada pendirian mereka, dan menyatakan bahwa ajaran Muhammad SAW tidak akan bisa diterima karena bertentangan dengan ajaran Kristen yang mereka yakini.
    Kendati perbedaan teologis dengan mereka, Rasulullah SAW tetap melakukan persetujuan damai yang dikenal dengan “‘Ahd Najran” (Treaty of Najran). Perjanjian damai tersebut berisikan antara lain, bahwa “warga Kristen Najran mendapat keamanan Allah dan rasulNya, baik bagi kehidupan, agama, harta kekayaan mereka. Tidak akan ada intervensi dalam agama dan peribadatan mereka. Tak akan ada perubahan dalam hak-hak dan kelebihan bagi mereka. Tak akan ada pengrusakan bagi rumah ibadah atau symbol-simbol keagamaan lainnya. Jika ada di antara mereka yang mencari keadilan atas orang-orang Islam, maka keadilan akan ditegakkan di antara mereka”.
    Treaty atau berbagai perjanjian yang disebutkan di atas, menunjukkan komitmen yang luar biasa dari seorang rasul dan pemimpin, negarawan, politikus sekaligus diplomat ulung yang tiada bandingnya dalam sejarah. Yang mengagumkan dari semua itu, betapa visi beliau begitu jauh ke depan melihat kemaslahatan yang lebih besar diatas kepentingan jangka pendek. Komitmen Rasulullah SAW kepada kedamaian dan perdamaian menjadi karakter dasar dari semua ini.

Kedua: Rasulullah Membuktikan Ajaran Islam yang Cinta Damai

Rasulullah SAW adalah pembawa risalah yang agung. Sebagai pembawa risalah, tentu beliau dituntut untuk, tidak saja menyampaikan, tapi sekaligus mencontohkannya secara konkrit bagaimana pelaksanaanya. Untuk itu, jika kita kembali kepada ajaran-ajaran dasar Rasulullah SAW (al-Islam), akan didapati dengan mudah bahwa Islam memang mengajarkan dan mewujudkan kedamaian serta menjunjung tinggi perdamaian.

Pengambilan nama bagi agama ini, yaitu Islam yang bersumber dari “salama” yang berarti selamat dan juga “silm dan salaam” (damai) menegaskan karakter dasar dari ajaran Islam itu sendiri. Berbagai aspek Islam kemudian, semuanya bermuara kepada aspek luhur ini, bahkan termasuk perintah berperang sekalipun, tidak lain bertujuan untuk menegakkan kedamaian dan keadilan. Sehingga tak satupun substasi agama Islam kecuali membawa kepada nilai-nilai kedamaian dan perdamaian.

Shalat misalnya, adalah bentuk ibadah tertinggi dalam Islam. Shalat dimulai dengan takbir, yaitu menjunjung tinggi Asma Allah menhunjam erat ke dalam jiwa sang pelaku. Maka shalat adalah bentuk dzikir (mengingat Allah) tertinggi, yang dengannya seorang Muslim merasakan kedamaian bathin yang tak terhingga. Namun kedamaian jiwa tidak berakhir, tapi harus diteruskan dengan kedamaian yang lebih luas, yaitu kedamaian sosial. Untuk itu, shalat tak akan menjadi valid ketika tidak diakhiri dengan komitmen menyebarkan perdamaian kepada sesama. Salam yang diucapkan di akhir shalat adalah bentuk komitmen tertinggi dari seorang Muslim dalam mewujudkan perdamaian sosial.

Demikian pentingnya “damai” dan “perdamaian” dalam pandangan Islam, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kamu tak akan masuk Syurga sehingga kamu saling mencintai. Hendakkah saya tnjukkan padamu sesuatu yang jika kamu melakukannya, niscaya kamu akan saling mencintai?” Sahabat menjawab: “Betul wahai Rasulullah”. Sabda beliau: “Tebarkan salam (damai) di antara kalian”.

Menyebarkan salam menurut hadits tersebut tentu bukan hanya mengumbar kata-kata. Tapi yang terpenting, adanya komitmen kita untuk mewujudkan salam yang menyeluruh (comprehesive peace); salam (damai) secara individu danjuga damai secara sosial. Dimulai dengan kata, dihayati dalam jiwa dan dibuktikan dengan amalan nyata.

Orang-orang beriman seperti inilah yang digelari “hamba-hamba Allah” (‘IbaadurRahmaan), yang jika berjalan di atas bumi ini, mereka rendah hati. Bahkan jika disapa secara jahil (uncivilized manner) oleh orang-orang bodoh, mereka tetap merespon dengan “Salaam” (in peaceful manner). Mereka tidak akan dan tidak perlu melakukan reaksi spontan yang terjatuh dari norma-norma damai. Mereka sadar, bahwa Islam sangat meninggikan reaksi positif yang dilandaskan kepada kemaslahatan besar serta senantiasa berbasiskan kedamaian.

Ketiga: Al Qur’an Diturunkan dalam Suasana Damai

Selain mengandung berbagai komitmen damai dan perdamaian, al Qur’an juga digambarkan diturunkan dalam sebuah malam yang penuh kedamaian. Di S. al Qadar disebutkan: “Dan para Malaikat turun ke bawah dan juga Ruh (jibril) atas perintah Tuhan mereka dengan (membawa) semua perintah. (Malam itu penuh dengan) “Salaam” atau kedamaian sehingga fajar telah tiba”.

Gambaran turunnya Al Qur’an seperti ini tidak lain dimaksudkan bahwa ia datang dalam suasana yang sangat damai, dan sudah pasti ditujukan untuk menciptakan suasana damai yang abadi, sehingga masa yang ditunggu tiba, yaitu Kiamat. Kata-kata “salaam hiya hatta mahtla’il fajar” boleh jadi gambaran kedamaian abadi sehingga “fajar” kebesaran Ilahi tiba dalam bentuk al Qiyaamah tiba kelak.

Keempat: Suasana Syurga Digambarkan penuh dengan “Kedamaian”

Nama Syurga itu sendiri, salah satunya, adalah “Rumah Kedamaian” (Daarussalam). Allah menfirmankan: “Dan Bagi mereka “Darussalam / Rumah Kedamaian di sisi Tuhannya dan Allah adalah Wali bagi mereka atas apa yang mereka telah perbuat”.

Di saat Allah ditemui oleh para hambaNya di Syurga kelak, mereka mengucapkan “Salaam” (Kedamaian). Allah berfirman: “Salam penghormatan kepada mereka di saat menjumpaiNya adalah “Salaam”, dan Allah menyediakan bagi mereka pahala yang besar”.

Setiap kali Malaikat memasuki dan menjenguk mereka, para Malaikat mengucapkan “Salaam”: “Dan para malaikat masuk kepada mereka seraya berkata: Salaam (selamat/peace) atas kamu semua atas kesabarannya. Sungguh indah rumah abadi (Syurga)”.

Kelima: Allah Menamakan diriNya serta Sumber Kedamaian (Salaam)

Allah sendiri menamai diriNya dengan, salah satunya, as-Salaam (Yang Damai). “Dialah Allah, tiada tuhan selain Dia yang Menguasai, Yang Suci, Yang Damai…”. Bahkan Allah disebutkan oleh Rasulullah dalam salah satu sunnah dzikir sebagai “Sumber dan tempat kembali” kedamaian abadi, sebagaimana disebutkan dalam dzikir: “Allahumma Antas Salaam wa minKa as Salaam, fahayyinaa Rabbanaa bissalaam…..”.

Keenam: Perintah Allah untuk Berbuat Baik (al-ihsan)

Allah dalam Al Qur’an memerintahkan RasulNya untuk berbuat baik tanpa ada batasan dan diskriminasi: “Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat kepadamu”.

Sebagian ulama menilai, perintah kepada Rasulullah ini adalah perintah yang sangat luar biasa. Bagaimana mungkin Rasulullah yang manusia biasa, dengan segala keterbatasan manusiawi seperti pertimbangan akal, perasaan, dll., akan mampu menyamai Allah dalam perbuatan baik (ihsan)? Untuk itu, tidak ada maksud lain dari ayat ini kecuali bahwa perbuatan baik dalam kacamata Islam tidak dibatasi oleh berbagai batasan manusia. Kiranya, perbuatan baik (ihsan) tidak dilakukan secara diskriminatif karena suku, golongan, warna kulit, tingkat sosial ekonomi, bahkan keyakinan agama sekalipun.

Rasulullah SAW telah membuktikannya. Beliau bertetanggan dengan Yahudi, mengadakan perjanjian dengan kaum Kristiani, dan semua mengakui ketinggian “ihsan” (budi luhur) Rasulullah SAW. Maka sangat wajar, jika Allah sendiri yang memberikan pengakuan: “Sungguh tiada kuutus kamu kecuali sebagai rahmatan bagi seluruh jagad”. Bahkan lebih jauh: “Engkau adalah sosok yang berbudi luhur yang maha tinggi” (S. al Qalam).

Rasa kasih dan sayang Rasulullah ini, tidak saja terbatas pada bangsa manusia apalagi kaum Muslim saja. Tapi juga telah dibuktikan terhadap seluruh makhluk ciptaan Allah, bahkan kepada hewan sekalipun. Beliau menceritakan: “Suatu ketika, ada seorang lelaki yang sangat kehausan karena panas terik yang menggigit. Untuk menghapus rasa dahaga tersebut, sang lelaki menemukan sebuah sumur yang dalam. Beliau pun memasukinya dan minum sepuasnya, lalu memanjat ke atas. Sesampai di atas, beliau menemukan seekor anjing yang kehausan dan hampir mati darinya. Maka beliau sekali lagi memasuki sumur tersebut, mengisi sepatunya dengan air dan menggigitnya seraya memanjat dinding sumur ke atas. Sesampai di atas, belaiu memberikanya kepada sang anjing. Karena perbiatan baiknya kepada anjing ini, Allah mengampuni dosanya dan memasukkannya ke dalam Syurga” Para sahabat bertanya: “Adakah pahala yang didapatkan dari seekor hewan?” Belaiu menjawab: “Pada semua makhluk hiudp ada pahala kebaikan”.

Bahkan suatu ketika, beliau menemukan sebuah saran semut dibakar. Beliau bertanya: “Siapa yang melakukan ini?” Para sahabat menjawab bahwa merekalah yang melakukannya. Beliau kemudian mengatakan: “Tidak ada yang berhak mempergunakan api untuk membakar kecuali Tuhan api itu sendiri”.

Semua ini membuktikan bahwa “ihsan” (komitmen kebaikan) Rasulullah SAW adalah universal, tanpa ada diksriminasi, bahkan kepada hewan sekalipun. Jauh sebelum organisasi-organisasi hak-hak hewan (animal rights organizations) tumbuh di dunia barat, Islam dan RasulNya telah mengajarkan kasih sayang kepada hewan. Hadits lain mengisahkan: “Seorang wanita masuk neraka hanya karena mengikat seekor kucing tanpa memberikan makan, dan tidak juga membiarkannya mencari makannya”.

Akhirnya, tuduhan klasik yang tidak berdasar terhadap Rasulullah masih dapatkah dipertahankan? Apakah tuduhan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang kaku, keras, serta anti damai masih dapat diterima? Saya yakin, dengan berbagai fakta sejarah dan merujuk kepada kenyataan ajaran Islam yang sedemikian agung, tak seorang manusia berakal pun yang akan menolak bahwa Muhammad, Rasulullah SAW, tidak saja merupakan simbol kedamaian dan perdamaian sejati, tapi telah menjadi “Peace Initiator” dan “Peace Maker” sepanjang sejarah manusia.

New York,
20 Mei 2002

(Insya Alla akan bersambung…)

http://media.isnet.org/isnet/Syamsi/Muhammad.html