Timbangan amal dan dosa di akhirat

6 Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya,(QS. 101:6)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qaari’ah 6 – 7

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7)

Dalam ayat-ayat ini Allah menjelaskan ganjaran bagi orang-orang yang banyak melakukan amal kebaikan, yaitu bila amal orang-orang yang saleh itu ditimbang dan timbangannya berat karena banyaknya mengerjakan amal-amal saleh. Ganjaran bagi orang-orang ini adalah kesenangan yang abadi di surga. Mereka hidup di dalamnya penuh dengan kebahagiaan, kenikmatan dan kepuasan. Kita wajib mempercayai adanya mizan (neraca) yang tersebut pada ayat ini dan dalam firman-Nya: /7 ونضع الموازين القسط ليوم القيامة \ n Artinya: Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat. (Q.S. Al Anbiya’: 47).

7 maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.(QS. 101:7) :

8 Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya,(QS. 101:8)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qaari’ah 8 – 9 وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) Dalam ayat ini Ia menyatakan pula nasib orang-orang jahat yaitu bila amal orang-orang jahat itu ditimbang dan timbangannya itu ringan karena banyak mengerjakan kejahatan dan sedikit mengerjakan kebaikan di dunia maka mereka akan ditempatkan dalam neraka Hawiyah tempat penyiksaan orang-orang jahat, tempat hidup sengsara; suatu tempat yang mereka dijerumuskan ke dalamnya.

9 maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.(QS. 101:9)

10 Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?(QS. 101:10)

11 (Yaitu) api yang sangat panas.(QS. 101:11)

=============================

Tafsir Suroh Al-Mu’minun ayat 101- 105
 

                                                                           

                                                         


(101) فَإِذا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَساءَلُونَ
Apabila telah ditiup serunai sangkakala itu, samasekali tak ada hubungan keturunan di
antara mereka lagi ketika itu, dan tidak pula akan sempat tanya bertanya.


(102) فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوازينُهُ فَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ َ

Barangsiapa yang -berat tim­bangannya, itulah orang yang akan beroleh kejayaan.


(103) وَ مَنْ خَفَّتْ مَوازينُهُ فَأُولئِكَ الَّذينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ في‏ جَهَنَّمَ خالِدُونَ َ

Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, itulah orang yang telah merugikan din sendiri, kekal dalam neraka jahannam.


(104) تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَ هُمْ فيها كالِحُونَ َ

Akan dihangusi wajah mereka oleh nyala api dan kekal mereka di dalamnya.


(105) أَلَمْ تَكُنْ آياتي‏ تُتْلى‏ عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِها تُكَذِّبُونَ َ

Bukankah sudah dibacakan kepada kamu ayat-ayatKu, namun kamu mendustakan jua.


Kelanjutan Sesudah Alam Barzakh

Entah berapalah lamanya manusia dalam alam 13arzakh itu, tidaklah dapat kita mengukurnya dengan ukuran jangka waktu kita sekatang ini. Karena kita masih hidup dalam daerah cakrawala bumi, dalam hubungannya dengan mata hari dan bulan. Sehari semalam bumi, kita hitung 24 jam dia mengedari matahari sekali edar. Jumlah 30 atau 31 hari menurut perhitungan itu adalah sebulan dan 12 bulannya jadi setahun. ltulah tahun Syamsiyah (matahari). Edaran bulan mengelilingi bumi dijadikan dasar perhitungan tahun bulan (Qamariyah), yaitu di antara 29 dengan 30 hari. Oleh karena itulah perhitungan yang kita ketahui, segala sesuatu kita ukurlah dengan itu.

Kita tidak memakai perhitungan garis edar bintang Mars.sebagai satelit matahari.Kita pun tidak menghitung dengan bintang-bintang Neptunus,Uranus,Mercurius dan lain­lain.Di sana lain pula hitungannya.Apatah lagi di alam Barzakh.

Dalam suatu waktu yang kita tidak mengetahuinya akan ditiuplah serunai sangkakala, serunai kebangkitan, maka dibangunkanlah manusia daripada Hidup Barzakh itu untuk pindah kepada Hidup Mahsyar (berkumpul) satu demi satu amal dan perbuatannya semasa hidupnya. Sebelum giliran tiba setiap orang mengingat clan merenung kembali keadaan dirinya:

يُنَبَّؤُا الْإِنْسانُ يَوْمَئِذٍ بِما قَدَّمَ وَ أَخَّرَ
“Bahkan manusia dapat merenung sendiri apa yang ada dalam dirinya.” (al-Qiyamah: 13)

Laksana seorang pesakitan yang akan dihadapkan ke muka hakim, hati kecil telah merasa’ bahwa hukumnya akan jatuh, karena awak memang ber­salah. Tidak ada Feorang manusia pun yang bersih daripada kesalahan. Ber debar jantung, gelisah fikir, karena hal-ihwal yang dilalui di zaman lampau. Sedangkan yang kecil lagi teringat, apatah lagi yang besar.

Dijelaskan lagi di ayat 101 itu bahwa perhubungan keturunan tidaklah dapat menolong lagi, kekeluargaan tak dapat membela. Anak Nabi Nuh tidak­lah dapat melindungkan din kepada kebesaran ayahnya. Isteri Nabi Luth tidak lah dapat bergantumg kepa,da kelebihan suaminya. Abu Lahab tidaklah dapat dilindungi oleh anak saudaranya Nabi Muhammad s.a.w. Sedangkan Nabi lagi demikian dengan keluarganya, apatah lagi manusia yang seperti kita ini. Sebab semua orang telah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

وَ صاحِبَتِهِ وَ بَنيهِ وَ أُمِّهِ وَ أَبيهِ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخيهِ
لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنيهِ
“Pada hari itu larilah orang dari saudara kandungnya, dari ibunya, dari ayahnya, dari isterinya dan anaknya. Karena setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri. ”
(`Abasa: 34-37)

Dikumpulkanlah seluruh insani, dilakukanlah pertimbangan yang amat teliti. Adakah dia banyak berbuat baik atau yang jahatlah yang banyak. Titik ter­akhir dari cita hidup adalah hendak menjadi orang baik, tetapi kenyataan yang ada di kiri kanan menyebabkan un:uk menuju cita yang baik itu menghendaki perjuangan. Perjuangan dengan musuh-musuh yang dalam istilah al-Quran disebut: “Syaitan, Hawanafsu dan Dunia”. Perjuangan itu tidaklah henti-henti­nya selama nyawa ada dalam badan dan akal fikiran masih aktif bekerja. Orang yang terhenti perjuangannya hanyalah orang yang tidak berakal lagi se­umpama orang gila. Atau orang yang telah habis janji hidupnya. Mati.

Timbangan diri menjadi berat di kala itu, apabila lebih banyak kebaikan dikerjakan semasa hidup. Dan timbangan diri menjadi ringan kalau kebaikan pun ringan. Berat nilai insan ditentukan oleh berat timbangan amalnya. Sebab itulah Imam Syafi’i berkata: “Tidak ada manusia yang semata-mata jahat, dan tidak pula semata-mata baik. Ukuran hanya pada banyaknya manusia berbuat baik, sehingga timbangan dirinya jadi berat.”

Kerugian memperturutkan hawanafsu di kala hidup sendiri pun telah mulai dirasakan. Itulah yang dikatakan tekanan batin. Persediaan usia manusia tidak­lah pernah ditambah dari apa yang telah disukatkan, bermula, melainkan setiap saat setiap kurang. Bertambah lanjut usia bertambah sempit daerah untuk me­nanamkan yang baik. Kerugian ini dirasakan terus sampai ke alam akhirat. Orang yang perbuatan jahatnya lebih banyak, pertimbangan terlalu disiplin, pemeriksaan amat teliti, hanya untuk membuktikan ringan nilai din, alangkah malangnya.

Itulah hati penyesalan, tetapi sesal yang tak dapat ditebus lagi. Jika dia akan dimasukkan ke dalam neraka, tidak lain yang diterimanya itu daripada keadilan Ilahi. Kalau dia menyesal, tempat menimpakan sesal hanya­lah diri sendiri, mengapa waktu terluang dibuang-buang. Maka salah satu di antara azab-azab dalam neraka itu ialah sesal kesal.

Apa sekarang yang diresah-gelisahkan, yang disesal-kesalkan? Kepada siapa kesalahan harus ditimpakan kalau bukan kepada diri sendiri? Dijelaskan dalam ayat 105.

أَلَمْ تَكُنْ آياتي‏ تُتْلى‏ عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِها تُكَذِّبُونَ
`Bukankah telah dibacakan kepada kamu ayat-ayatKu. Namun kamu mendustakan jua.”

Apalagi yang kurang dari Kami? Kami anugerahkan kepada kamu ke­hidupan dan Kami beri kamu akal fikiran, sehingga dengan akal mumi itu kamu dapat memilih yang baik dan menjauhi yang buruk. Tidak Kami cukupkan hingga itu saja, bahkan Kami utus pula Utusan-utusan dan Rasul-rasul Kami, membawakan wahyu dari Kami, menunjukkan jalan lurus yang mesti kamu tempuh agar kamu selamat, agar masyarakatmu beroleh kebahagiaan.

Apa lagi yang kurang dari Kami?
Kami terangkan bahaya yang akan menimpa kamu jika ajaran ini tidak kamu acuhkan, namun kamu tidak mau percaya juga, bahkan kamu dustakan juga. Maka jika sekarang ini begini nasib yang menimpa diri kamu, kepada siapakah kesalahan itu harus kamu timpakan? Maka nasib yang kamu derita sekarang ini adalah hal yang wajar, karena dia adalah pilihanmu sendiri.


01   02   03   04   05   06   07   08   09  10   11  12  13  14  15   16  17  18  19  20  21


http://kongaji.tripod.com/myfile/al-Muminun-ayat-101-105.htm