Updates from February, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 3:07 am on 17/02/2012 Permalink | Reply
    Tags: Mualaf Melinda Baily : Ragu Soal Trinitas   

    Mualaf Melinda Baily : Ragu Soal Trinitas 

        

    Mualaf Melinda Baily (1): Bermula dari Islamnya Sang Kakak

    Melinda Baily

    Mualaf Melinda Baily (1): Bermula dari Islamnya Sang Kakak

    Selasa, 13 Desember 2011 00:00 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, SOUTH CAROLINA – Melinda Baily baru tiga tahun memeluk Islam. Lahir dari ayah berdarah Polandia dan ibu berdarah Italia, kehidupan keluarganya benar-benar didedikasikan untuk Kristen.

    Perkenalannya dengan Islam, tak lepas dari sang kakak. “Kakakku memiliki hubungan serius dengan pria Muslim,” ujar dia seperti dikutip onislam.net.

    Sang kakak terlebih dulu mempelajari Islam. Awalnya, dalam keluarga Melinda tak satu pun yang mengenal Islam. Kehadiran calon kakak ipar disambut baik oleh keluarga. Kakaknya mulai ‘meraba-raba’ untuk belajar tentang cara pandang calon suaminya itu.

    Keinginan sang kakak untuk belajar Islam tak terbendung lagi. “Dia ingin membuat keputusan tentang agama apa yang ingin mereka ajarkan kepada anaknya. Dia tak ingin memperkenalkan anak-anaknya dengan agama yang ia sendiri tidak yakin,” kata wanita yang tinggal di Carolina Selatan ini.

    Sang kakak akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam setelah belajar selama dua tahun. Kakaknya mengatakan pada anggota keluarga bahwa ia tak lagi bisa menerima ajaran Trinitas yang selama ini dianut. Berislamnya kakak Melinda, pada mulanya dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan.

    Bagaimana tidak, begitu banyak kesalahpahaman yang bisa terjadi karena masalah agama. Banyak perubahan besar yang terjadi pada diri sang kakak. Mulai dari cara pandang, cara berpakaian, cara berpikir dan semuanya. “Sungguh, saat itu aku benar-benar tidak tertarik pada Islam. Sangat menakutkan untuk melihat kakak banyak mengalami perubahan,” kenang Melinda.

    Mualaf Melinda Baily (2): Mencari Agama Sendiri

    Selasa, 13 Desember 2011 06:00 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, SOUTH CAROLINA – Masuknya sang kakak menjadi seorang Muslim, cukup menyebabkan keluarganya tak lagi pergi ke gereja. Namun, mereka mengaku masih memercayai ajaran Trinitas.

    Sejak saat itu, banyak hal yang bertentangan dalam keluarga karena adanya perbedaan agama. Orang tuanya mengatakan satu hal, kakaknya mengatakan hal yang lain. Bosan dengan perdebatan, Melinda memutuskan untuk mencari sendiri keyakinannya saat hendak masuk ke sekolah tinggi.

    “Jadi, aku benar-benar ingin belajar sendiri dan memutuskan apa yang kuyakini. Bukan hanya menerima agama yang kubawa sejak lahir,” ujar dia. Ia sangat yakin, apa pun hasil pencariannya akan membuatnya semakin mantap dalam beragama. Entah itu makin mantap menjadi seorang Kristen, atau bahkan justru masuk Islam.

    Melinda sudah bertekad untuk ‘mencari kebenaran agama’, namun ternyata kehidupannya sebagai remaja jauh lebih menggairahkan dibandingkan keinginannya untuk belajar. “Ternyata aku tidak pernah benar-benar memiliki dorongan untuk melakukannya, karena aku sibuk melakukan banyak hal sebagai remaja,” tuturnya.

    Tak berselang lama, sang kakak yang sudah berkeluarga, memutuskan untuk pisah rumah. Setiap kali datang berkunjung, Melinda selalu merasa kakaknya datang dengan karakter yang lebih religius dari sebelumnya. “Sungguh sangat menakutkan melihat perubahan itu. Lalu kakak mengenalkan aku dengan seorang pria Muslim,” ungkap Melinda.

    Ia kemudian menjalin hubungan dengan pria itu. Namun, sebelum hubungan itu berlanjut serius, keduanya memutuskan untuk tidak melihat satu sama lain. Melinda ingin melakukan ‘meditasi’ untuk melakukan pencarian agama sebelum memutuskan untuk memiliki hubungan yang lebih serius dengan seseorang.

    Melinda mulai melakukan pencarian. Baginya, satu rumah tangga harus memiliki agama yang sama. Itu adalah masalah prinsip yang tak bisa ditawar lagi. Pencarian agama ini yang menjadi langkah penting untuk menentukan apakah hubungan dengan pria itu lanjut atau putus. “Pernikahan lintas agama adalah suatu hal yang sulit. Aku benar-benar ingin meneliti agama sebelum akau memutuskan agama yang akan aku anut,” kata dia.

    Hal pertama yang ia pelajari tentang Islam, yaitu hak tentang perempuan. Banyak rumor yang ia dengar tentang hak perempuan. Ia pikir perempuan dipaksa harus menutup seluruh badannya, harus selalu di belakang laki-laki. Opini itu yang selama ini ada di benaknya, karena seperti itulah yang digembar-gemborkan di media.

    Alangkah terkejutnya Melinda ketika mengatahui bahwa ternyata banyak hak yang diberikan kepada perempuan. Misalnya, seorang wanita memiliki hak untuk memiliki kekayaan dan bisnis sendiri. Ia juga baru tahu bahwa perempuan bertanggungjawab terhadap uang sendiri dan boleh melakukan sesuatu tanpa pengaruh laki-laki. “Aku juga terkejut bahwa perempuan ternyata memiliki hak waris,” ujarnya.

    Mualaf Melinda Baily (3): Ragu Soal Trinitas

    Selasa, 13 Desember 2011 09:00 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, SOUTH CAROLINA – Berbicara soal hak perempuan, Melinda mulai setuju dengan beberapa hal yang ada dalam Islam. Poin awal ini yang semakin membuatnya tertarik untuk mempelajari Islam.

    Melinda lalu mencari tahu apa yang sebenarnya disembah oleh umat Islam. Awalnya, ia berpikir Muslim menyembah Muhammad, tidak percaya pada Yesus dan tidak percaya pada Tuhan. “Ketika aku meneliti, ternyata mereka percaya pada Yesus (Isa), mereka percaya pada Tuhan, tapi mereka tidak percaya pada Trinitas.”

    Saat mempelajari Islam, ia melihat banyak hal yang mirip antara Islam dan Kristen. Beberapa kisah dalam Alquran semakin memudahkannya dalam belajar. Melinda juga banyak mengetahui cerita tentang Abraham (Ibrahim), Musa dan Nuh dan begitu banyak hal yang persis sama, kecuali soal Trinitas.

    Melinda lalu mempelajari posisi Muhammad dalam Islam. Ia lalu tahu bahwa Muslim tidak menyembah Nabi Muhammad. “Muhammad adalah seorang nabi yang memerintahkan untuk menyembah satu Tuhan,” kata dia.

    Satu hal umum yang merupakan perdebatan besar antara Muslim dan Kristen adalah sudut pandang Islam bahwa menyembah Yesus sebagai Tuhan dianggap menyekutukan Allah. Ia kemudian mempelajari pandangan Islam tentang Yesus. “Secara pribadi, pada saat itu aku menyadari bahwa Trinitas benar-benar tidak masuk akal bagiku,” kata dia.

    Namun, hal itu belum memuaskan dirinya. Banyak poin yang ia pelajari dalam Kristen, seperti Yesus adalah anak Tuhan, dan bahwa dia adalah Tuhan. Ia membandingkan dengan apa yang dikatakan umat Muslim bahwa Yesus adalah nabi dan tak pernah minta untuk disembah.

    Saat konsep Trinitas sudah ia yakini kesalahannya, Melinda tak serta merta menyatakan masuk Islam. Satu hal yang menghalanginya masuk Islam adalah anggapan bahwa dirinya takkan diterima secara sosial jika menjadi Muslim. “Itu karena kesombongan kita sendiri dan prasangka. Kadang kita tidak bisa menerima seseorang dari ras yang berbeda, dari warna yang berbeda atau dari negara dan budaya yang berbeda,” ujarnya.

    Namun, Melinda sadar dan segera memantapkan hatinya untuk memeluk Islam dan menikah. Ia teringat saat pertama kali akan menikah dan berpindah agama. “Sulit sekali menjelaskan pada keluarga besar yang sebagaian besar Katholik dan sebagian Kristen,” kata dia.

    Ia juga mengatakan sangat sulit berada dalam suatu negara dengan kondisi minoritas, namun begitu banyak prasangka. “Alhamdulillah, kini saya Muslim. Sudah menikah dan mulai menjalankan ajaran agama Islam,” tegas Melinda.

    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/12/22/lw3juy-mualaf-melinda-baily-3-ragu-soal-trinitas

     
    • emy 1:45 am on 19/03/2012 Permalink | Reply

      ragu = 50/50
      Orang yang mendua hati tidak akan perna tenang dan akan terhukum dengan sendirinya.

    • BORA 7:01 am on 20/03/2012 Permalink | Reply

      Bagaimana tidak ragu kalau keimanan dirubah menjadi logika.

    • Stefanus Lim 6:16 am on 22/03/2012 Permalink | Reply

      bukti nyata bahwa agama kristen katolik tidak bisa diterima kita2 yang berakal sehat.ajarannya hanya untuk orang2 bodoh serta tidak peduli pada negeri akhirat.makanya kewajiban muslim untuk mengingatkannya.sebagaimana nabi2 terdahulu diuutus untuk hanya menyembah Allah

    • Istik 9:51 pm on 23/04/2012 Permalink | Reply

      Islam memang agama yg sgt sempurna. Bagaimana tdk,! Islam selalu mengajarkan dari hal sekecil apapun agar kita terhindar dari hal2 yg buruk.

  • SERBUIFF 9:15 am on 25/11/2011 Permalink | Reply
    Tags: Lopez Casanova Pernah Mengkristenkan Ribuan Orang dalam Sepekan, Sebelum Berislam   

    Sebelum Berislam, Lopez Casanova Pernah Mengkristenkan Ribuan Orang dalam Sepekan 

    epublika Sebelum Berislam, Lopez Casanova Pernah Mengkristenkan Ribuan<br />
Orang dalam Sepekan” width=”333″ height=”217″ /></p>
<div>Lopez Casanova</div>
<div>
<h3>TERKAIT :</h3>
<div><a href=Oh Asli Inggris? Jadi Muslim karena Jatuh Cinta dengan Pria Arab? Bagi Isra Sungguh Pandangan Dangkal

Sebelum Berislam, Lopez Casanova Pernah Mengkristenkan Ribuan Orang dalam Sepekan

Selasa, 15 November 2011 11:49 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA – Melissa Lopez Casanova lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat. Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orang tuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukkan di sekolah khusus untuk mempelajari Alkitab.

Namun, Allah memberinya hidayah. Dalam perjalanan mempelajari Alkitab, Lopez malah menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai agama terakhirnya.

“Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang religius yang memungkinkanku mempelajari Alkitab. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,“ ujarnya.

Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. “Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.“

Lalu, bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?

meski Lopez tumbuh dalam keluarga yang religius, di California, Amerika Serikatia bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa. “Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini dan aku pun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama mana pun,” ujarnya.

Menurut dia, Kristen nondenominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa, “Jika kamu percaya Kristus, kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apa pun denominasi yang membedakan kita.“

Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. “Aku tidak mengetahui seberapa lama Alkitab telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”

Namun jauh di lubuk hatinya,  Lopez selalu meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan.

Ia pertama kali mendengar nama “Allah“ dari pengajarnya di sekolah Alkitab. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.“ Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.

Kuliah di jurusan bisnis internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.

“Temanku beralasan, negara mana pun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,“ katanya.

Saat itu, pada 2006, Lopez mendengar kata “Alquran“ untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.

Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan temanteman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.

Lopez pun mencoba berpuasa, bukan karena tertarik menjadi Muslim, melainkan semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itu pun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.

Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping compact disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.“ Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.

 

Mengkristenkan 55 ribu orang dalam sepekan

Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.

Sepulang dari Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim,” katanya.

Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.

Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, tetapi ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang memercayai Trinitas.

“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,“ kata Lopez.

Ia sempat berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.

Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi serta keti ganya dapat diusut asal muasalnya ingga bertemu dalam silsilah sejarah yang sama.

“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,“ kata Lopez.

Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.“
Perasaan ‘aneh’ saat mendengar ayat Alquran

Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan menggunakan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.

“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya, aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,“ kata Lopez.

Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.

“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen,” katanya.

Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya. Lopez akhirnya memutuskan untuk mengenal jauh tentang Islam. Namun, hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari, namun jauh dari-Mu.“

Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil saat menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah membuktikan pilihan yang salah. Namun, ia tiba di tujuan dengan selamat, dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.

Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan,” katanya.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Devi Anggraini
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/11/15/luoqpv-sebelum-berislam-lopez-casanova-pernah-mengkristenkan-ribuan-orang-dalam-sepekan
 
  • SERBUIFF 3:32 am on 27/10/2011 Permalink | Reply
    Tags: Tiba-tiba Lieslie Carter Menangis Begitu Saja, Tiga Tahun Lalu Saat Mendengar Adzan   

    Tiga Tahun Lalu Saat Mendengar Adzan, Tiba-tiba Lieslie Carter Menangis Begitu Saja 

    YouTube (screnshot)/Republika.co.id

    Tiga Tahun Lalu Saat Mendengar Adzan, Tiba-tiba Lieslie Carter Menangis Begitu Saja

    Leslie Carter, mualaf asal Irlandia

    TERKAIT :

    Tiga Tahun Lalu Saat Mendengar Adzan, Tiba-tiba Lieslie Carter Menangis Begitu Saja

    Kamis, 27 Oktober 2011 03:13 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, Leslie Carter kini bekerja di pusat kebudayaan Islam di departemen erempuan sebagai koordinator wanita. Wanita asal Irlandia ini sudah tiga tahun menjadi Muslim. Ia berpindah agama dari Kristen. “

    Sayabangga dilahirkan sebagai orang Irlandia. Saya juga bangga menjadi seorang muslim,” tuturnya.

    Sekilas mengenai kehidupan sipil di Irlandia, semua urusan agama dipisahkan dengan urusan yang lain. Saat pusat budaya Islam diIrlandia dibangun pada 1996, ia melihat pusat budaya itu sebagaisesuatu yang sangat menakjubkan.

    Pusat perkumpulan orang Islam yang didanai oleh yayasan Al-Maktoum d Dubai ini dibangun dengan arsitektur dan interior khas Irlandia. “Sebuah hal yang menakjubkan melihat pusat kebudayaan Islam terbesardan satu-satunya di Eropa didirikan di Irlandia,” ujarnya.

    Ia telah menikah dan memiliki seorang anak berusia lima tahun. Saat menikah dulu, Leslie masih menganut Kristen. Suaminya seorang Muslim.

    Walaupun berbeda agama, sepasang suami istri ini tidak pernah cek cok soal agama dalam kehidupan rumah tangganya. “Saya pergi ke gereja, dia pergi ke masjid. Saya merayakan natal, dia merayakan Idul Fitri. Kami saling menghormati,” ujarnya.

    Hidup bersama dengan seorang muslim, membuatnya merasakan banyak kemiripan antara Islam dan Kristen. “Masing-masing kami mempercayai nabi, malaikat. Kami sama-sama tidak boleh mencuri, tak boleh membunuh,” ujarnya.

    Yang berbeda adalah soal pengakuan trinitas. Kristen yang selama ini ia kenal adalah agama yang paling dekat dengan Islam. Lieslie pun sebenarnya telah memiliki banyak pertanyaan tentang kekristenanya selama masih remaja. Ia selalu merasa tidak nyaman ketika harus melakukan pengakuan dosa.

    Ia risih harus menceritakan kepada pastor atas semua dosa-dosanya. Ia berpikir dosa adalah antara manusia dan Tuhan. Perlahan, ia mulai menjauh dari Kristen. Ia mulai membaca tentang Islam.

    Alami Fase Cepat

    Tiga tahun lalu, tanpa direncanakan, Lieslie memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Suatu hari, kebetulan ia akan pergi ke pasar. Ia pergi bersama sang suami yang hendak pergi ke kantor. Ia juga merencanakan untuk mengunjungi salah seorang kenalannya yang juga satu kantor dengan sang suami.

    Saat ada adzan, suami pergi untuk shalat. Tiba-tiba saja ia menangis. Rasanya seperti ada sesuatu. “Ada semacam cahaya di dalam hati. Dan aku tahu akau tak mungkin meninggalkan masjid itu tanpa mengikrarkan keislaman saya,” katanya.

    Sebenarnya, ia memang merencanakan untuk pindah keyakinan dari Kristen menjadi Islam. Tapi ia tak pernah menyangka proses ‘berislamnya’terjadi hanya dalam waktu tiga tahun saja. “Aku mengira mungkin akan berpindah agama dalam waktu 10 tahun atau entah ” katanya.

    Sejak memeluk Islam, ia mengaku belum mengenakan jilbab sepanjang waktu. Ia hanya memakai pakaian yang biasa dibeli di toko. Tapi, ia tak pernah memakai baju ketat. “Bahkan sebelum bertemu dengan calon suami saya atau sebelum saya memeluk Islam sekalipun,” katanya.

    Putri sulung Lieslie, kini berusia lima tahun. Dia sering menonton TV. Jika melihat wanita dengan pakaian mini di layar, ia akan berteriak “haram!” dan segera mengganti saluran TV.

    “Ia masih berumur limatahun, tapi tak suka memakai rok diatas lutut. Ia suka memakai rok panjang,” katanya. Lieslie senang karena putrinya sudah memiliki polapikir yang baik sejak masih kecil.

    Islam di Irlandia

    Di dekat tempat tinggal lieslie, ia sering mendengar banyak orang yang berkomentar negatif tentang Islam. Ia menganggap orang yang sering memberikan komentar negatif soal muslim karena tidak memiliki rasa hormat, pendidikan dan moral yang baik.

    Sementara itu, ia melihat kehidupan muslim di Irlandia sebagai suatu hal yang menarik. Banayak orang yang berbondong-bondong masuk Islam. Irlandia bukanlah negara dengan penduduk besar, tapi sekitar 23.000 warganya kini telah menjadi muslim. “Berarti ada sesuatu di dalam Islam,” ujarnya.

    Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
    Reporter: Dwi Murdianingsih/YouTube
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/10/27/ltow71-tiga-tahun-lalu-saat-mendengar-adzan-tibatiba-lieslie-carter-menangis-begitu-saja
     
  • SERBUIFF 10:09 am on 24/10/2011 Permalink | Reply
    Tags: Glyn Memutuskan Bersyahadat, Setelah Membaca Alquran Dua Kali dan Lakukan Pencarian   

    Setelah Membaca Alquran Dua Kali dan Lakukan Pencarian, Glyn Memutuskan Bersyahadat 

       
    Screenshot YouTube/Republika.co.id

    Setelah Membaca Alquran Dua Kali dan Lakukan Pencarian, Glyn Memutuskan Bersyahadat

    Glyn Maclean

    TERKAIT :

    Setelah Membaca Alquran Dua Kali dan Lakukan Pencarian, Glyn Memutuskan Bersyahadat

    Senin, 24 Oktober 2011 08:46 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, Glyn Maclean menjadi muslim dengan jalan yang berbeda dari mualaf lain. Ketika itu tahun 1970, sedang era musim perang dingin. Kehancuran massal seperti tinggal menunggu waktu akibat ancaman bom nuklir. Isu komunisme juga menjadi bahasan. Hal ini hampir melanda di seluruh dunia termasuk Selandia Baru.

    Di tahun 1990an, saat isu komunisme sedikit mereda, ia mendapatkan informasi mengenai Islam sebagai penyeimbang. “Di sekolah, dulu kami mempelajari revolusi Cina. Kita bisa mengakses Marx, Linen, tapi tak ada informasi tentang Islam yang bisa diakses,” ujarnya. Ia hanya mendapatkan Islam hanya sebagai sebuah informasi tapi tak  bisa mempelajarinya. Cukup sulit untuk mendapatkan informasi mengenai Islam saat itu.

    Ia mengambul keputusan untuk mempelajari Islam langsung dari sumbernya. Ia kemudian mulai membaca Alquran. Sayang, ia belum berhasil mendapatkan terjemahannya.

    Tak ada satu pun perpusatakaaan atau toko buku yang bisa menyediakan terjemahan Alquran untuknya. Ia sempat mengingat di salah satu tempat di Jalan Daniel, New Town terdapat Pusat Studi Islam Wellington. Ia yakin orang disana pasti bisa meminjamkannya.

    Tapi ia merasa ragu untuk mendatangi tempat itu. “Aku tak tahu bagaimana harus bersikap. Aku tahu bagaiamana bersikap ketika berada di gereja atau pemakaman. Tapi aku sama sekali tak tahu bagaimana bersikap dengan komunitas muslim,” katanya. Ia mengurungkan niat itu, lalu memesan terjemahan Alquran melalui amazon.net.

    Ia benar-benar terkejut ketika membaca Alquran. Baginya, seperti membaca semua cerita yang dulu pernah diceritakan ketika masih anak-anak. Ada Adam, Ibrahim, Hud, Isa dan Maria. “Semua hal yang menjadi nilai-nilai pendidikan agama ketika aku masih kecil,” ujarnya.

    Alquran seperti menjawab semua kekhawatirannya tentang semua yang pernah saya ia pelajari di gereja dan sekolah Minggu. Ia menemukan fakta bahwa Yesus (Isa ) adalah manusia biasa. Namun ia seorang nabi yang luar biasa, dan sama sekali berbeda dengan konsep trinitas yang selama ini ia pahami.

    Campur aduk perasaan Glyn ketika membaca Alquran. Ia merasa terkejut sekaligus malu. Ia malu karena ketidaktahuannya. “Kenyataan bahwa kami ternyata berbicara pada Tuhan yang sama. Saya terus membaca sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa apa yang saya baca adalah kebenaran,” ungkapnya. Ia tak bisa menjelaskan dengan kata-kata apa yang ia rasakan. “Saya merasakan kebenaran dalam arti yang paling dalam,” begitu
    komentarnya.

    Ia mengulang membaca Alquran. Setelah membaca yang kedua kalinya, ia memutuskan untuk melakukan cukup banyak penelitian melalui internet bagaimana menjadi seorang muslim. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana perilaku umum umat muslim.

    Ia mulai mencari tahu bagaimana Islam. Sempat ia menamukan artikel dalam bahasa Arab yang sama sekali tak ie ketahui artinya. Tapi apa pun itu ia berkeyakinan tak perlu terburu-buru untuk memutuskan masuk Islam.

    “Masuk Islam harus benar-benar sesuai dengan keyakinan dan kemantapan hati,” ujarnya. Akhirnya, setelah mendapatkan banyak informasi dan juga kemantapan tersebut, Glyn memutuskan masuk Islam pada Oktober 2000.

    Baca kisah pengalaman Glyn seusai memeluk Islam di sini

    Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/10/24/ltjrlv-setelah-membaca-alquran-dua-kali-dan-lakukan-pencarian-glyn-memutuskan-bersyahadat
     
  • SERBUIFF 3:15 am on 21/10/2011 Permalink | Reply
    Tags: Tuhan Bisa Mati? Mendengar Itu Abdur Raheem Green Serasa Ditinju Mike Tyson di Wajah   

    Tuhan Bisa Mati? Mendengar Itu Abdur Raheem Green Serasa Ditinju Mike Tyson di Wajah 

    Abdur Raheem Green

    TERKAIT :

    Raphael: Apapun Masa Lalu Saya, Alhamdulillah Saya Kini Islam
    Masuk Islam, Pasangan Asal Filipina Menikah Ulang Secara Islam
    Pencarian, Pertemanan, Senyum Tulus Orang Asing Jadikan Mustafa Davis Muslim dalam Tiga Hari
    Vanni, ‘Anak Band’ Filipina yang Jatuh Hati pada Islam
    Kisah Ibu dan Anak yang Sama-sama Mencari ‘Tuhan’ dan Menemukannya dalam Islam

    Tuhan Bisa Mati? Mendengar Itu Abdur Raheem Green Serasa Ditinju Mike Tyson di Wajah

    Kamis, 20 Oktober 2011 06:05 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, ika bertanya kepada Anthony Vatswaf Galvin Green bagaimana rasanya menjadi seorang muslim, ia akan menjawab seperti menemukan cahaya dalam kegelapan. “Bayangkan jika terjebak di sebuah bangunan yang penuh rintangan meja, kursi, tapi gelap tak bisa melihat apapun,” ujarnhya Tapi tiba-tiba saja menemukan jalan keluar dan ia mengaku mencari jalan keluar itu dengan susah payah.

    Menemukan jalan itu seperti membuka pintu, lalu menemukan cahaya terang, dan semuanya kemudian terlihat jelas. Ia rela menemukan pintu keluar itu meski harus membenturkan dirinya ke tembok. “Bisa merasakan perbedaan hidup dan mati. Islam membawa kedamaian dan ketentraman,”kesannya.

    Lahir dari ibu penganut Katolik Roma yang taat dan ayah seorang agnostik, Anthony dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma yang taat.  Ayahnya seorang administrator kolonilal kerajaan Inggris. Kini, kerajaan yang terbentang begitu luasnya lebih dari sepertiga permukaan bumi itu telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah beberapa pulau di Falklands. Begitu banyak hal yang berubah, termasuk Antony, bahkan namanya kini berubah mnejadi Abdur raheem Green.

    “Semua itu pelajaran dari Allah. Ia memberitahu kita dalam Alquran untuk berjalan di bumi dan melihat konsekuensinya”, katanya.

    Rasa bersalah dari sang ibu yang menikah dengan seorang agnostik, membuat ibu Anthony berambisi menjadikannya menjadi seorang penganut Katolik Roma yang taat. Anthony (10) dan sang adik, Duncan (8) disekolahkan di asrama biara. Setiap hari ia hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara.

    “Seharusnya ibu juga menikah dengan seorang Katholik, tapi karena ibu menikah dengan ayah yang agnostik, ia merasa menjadi seorang penganut Katolik yang buruk. Maka, ia ingin menjadikanku seorang Katolik yang taat,” ujarnya. Sang ibu menganggap dengan bersekolah di asrama akan membuat Anthony menjadi penganut Katolik yang taat.

    Saat Anthony berumur sembilan tahun, sang ibu mengajarinya sebuah doa yang biasa diucapkan oleh umat Katholik. Doa itu dimulai dengan kalimat “Salam maria, ibu Tuhan”. Namun, kalimat itu membuat Anthony sangat tidak nyama.  Bahkan dalam usianya yang baru sembilan tahun, kalimat itu seperti pukulan pertama, mendengar ibu berkata salam maria ibu Allah

    “Aku kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana Tuhan bisa memiliki ibu?,” katanya. Ia berpikir Tuhan seharusnya tanpa awal dan tanpa akhir. Bagaimana bisa Tuhan memiliki seorang ibu? Anthony kecil kemudian mengambil kesimpulan “jika Maria adalah ibu Tuhan, maka pasti Maria menjadi Tuhan lebih baik daripada Yesus”.

    Belum lagi soal pelajaran di sekolahnya yang semakin membuatnya galau. Di sekolah, dalam satu kali setahun selalu ada pengakuan dosa kepada pastor. “Kamu harus mengakui semua dosa, jika tidak maka pengakuan dosa-dosamu tidak akan diampuni,” begitu kata pastur.

    Ia mulai berpikir kritis, bagaimana mungkin mengakui dosa kepada seorang pastor. Apalagi menagakui dosa terhadap orang-orang yang notabene tinggal bersama dalam satu asrama. “Dengan kata lain mereka yang bertanggung jawab dari kita?,” begitu pikirnya. Ia mengasumsikan pengakuian ini sebagai adalah konspirasi besar dalam rangka untuk mengontrol orang dengan modus mengakui dosa.

    “Mengapa saya harus pergi ke Anda untuk mengakui dosa-dosa saya? Mengapa saya tidak bisa meminta Tuhan untuk mengampuni saya?”, katanya kepada pastor. Pastor itu menjawab bisa saja meminta ampun secara langsung kepada Tuhan, tapi tak ada jaminan Tuhan mendengan pengampunan dosanya.

    Ia merasakan keimanannya semakin  ‘ada dalam masalah’. Pikirannya mulai liar, ia bahkan memiliki ide “Tuhan menjadi manusia”.

    Masyarakat barat selalu berpikir jika ingin bahagia dan menikmati hidup, maka hanya ada satu jalan yaitu memiliki banyak uang. Dengan uang dapat membeli mobil bagus dan TV, pergi ke bioskop dan bisa membeli semua hal yang dibutuhkan untuk hidup. Pada kenyataannya Anthony sama sekali tidak merasakan hal itu.

    Pikirannya mulai terbuka. Ia sering bertanya mengapa harus sekolah di asrama, jauh dari siapapun dan dimanapun. Saat berusia sebelas tahun, sang ayah dipindah tugaskan ke Mesir. Ayahnya menjadi General Manager Barclays Bank di Kairo. Hampir selama sepuluh tahun, ia selalu menghabiskan waktu liburan di Mesir. Sekolah di London, dan liburan di Mesir.

    Ia mulai jatuh cinta pada Mesir. Saat kembali ke sekolah seusai liburan, ia bertanya untuk apa kembali ke asrama Yorkshire Moor, ia merasa tak menyukai tempat itu. “Saya mulai bertanya pada diri sendiri mengapa saya ada, apa tujuan hidup saya,hidup ini untuk apa? Apa itu cinta?”.

    Ia pun mulai mempertanyakan hakikat hidup. ia menjawab sendiri pertanyaannya. “Aku sekolah disini dalam rangka belajar untuk mendapatkan hasil yang terbaik, agar bisa pergi ke universitas yang baik. Setelah itu dapat gelar, dapat pekerjaan yang membuat saya punya banyak uang. Jadi, kalau saya punya anak, bisa mengirim anak ke sekolah yang mahal,” begitu pikirnya. Tapi ia masih menanyakan untuk apa semua itu, ia tak yakin apa yang dipikirkannya adalah alasan untuk hidup yang sebenarnya.

    Ia lantas mulai mencari jawaban, memulai pecarian. Pencarian itu barangkali bisa ditemukan melalui agama lain yang mungkin bisa memberikan  pemahaman tentang tujuan hidup.

    Sepuluh tahun waktu yang di ia habiskan di Mesir. Ada satu masa saat ia berumur 19 tahun berbincang tentang Islam dengan seseorang. Ia memang meragukan Katholik sebagai agamanya. Tapi saat itu siapapun yang mempertanyakan agamanya itu, ia akan tetap membela keimanannya. Ia merasakan ini sebagai sebuah paradoks yang aneh.

    “Aku berbincang dnegan orang itu selama 40 menit. Pemuda itu memintaku menjawab beberapa pertanyaan darinya,” katanya.

    Si Pemuda menanyakan “apakah kau mempercayai Yesus?”, Anthoni menjawab “ya”. Pemuda itu kemudian bertanya lagi, “apakah kamu percaya Yesus mati disalib”, Anthoni kembali menjawab “ya”.

    Sebuah pukulan telak, seperti mendapatkan tinju dari Mike Tyson ketika mendnegar si pemuda mengatakan “jadi kamu percaya Tuhan mati?”.

    Seketika Anthony terperangah, menyadari sebuah ironi. Sambil mengakui kebodohan dirinya, ia menjawab, “tentu saja saya tidak percaya Tuhan mati. Manusia tidak bisa membunuh Tuhan,” kata Anthony.

    “Saya lalu berpikir itu sebagai suatu hal yang menarik,” ujarnya.

    Lupakan Agama, Lebih Baik Cari Uang

    Ternyata ada satu masa pula dalam hidupnya ketika Anthony tak ingin berpikir lagi tentang agama. “Saya merokok dan minum kopi, tapi pertemuan dengan pemuda di Mesir menjadi titik balik dalam kehidupan saya,” katanya.

    Sebelumnya saya tak pernah bermimpi bahkan memikirkan tentang Islam. Saya mulai berkata pada diri sendiri untuk melupakan soal agama, soal spiritualitas. “saya berpikir mungkin tak ada lagi kebahagiaan selain menjadi kaya,” ujarnya. Anthony kemudian bercita-cita bisa naik kapal pesiar atau pesawat jet pribadi agar bisa bahagia.

    Ia berpikir bagaimana menghasilkan uang tapi hanya sedikit usaha. “Siapa yg ingin mengabiskan banyak waktu untuk bekerja?” pikirnya. Ia mengingat orang Inggris yang memiliki banyak uang tapi mereka bekerja terlalu keras, bahkan sampai terjadi revolusi industri. Orang Amerikapun harus berjuang keras untuk menjadi kaya. Orang Jepang pun dikenal sebagai penggila kerja.

    “Kemudian saya berfikir tentang orang Arab. Mereka duduk di atas unta dan berteriak ‘Allahu Akbar’, tapi mereka kaya,” ujarnya.

    Anthony mengira pasti ada sesautu disana. Ia lantas bertanya-tanya apa yang menjadi agama mereka dan kitab suci mereka.

    Membaca Alquran

    Alquran! Ya, Anthoni merasakan ketertarikan luar biasa untuk membeli Alquran. Ia mengambil terjemahannya. “Aku tak ingin mencari kebenaran. Aku hanya ingin tahu apa isi kitab suci ini,” katanya.

    Anthony adalah pembaca yang cukup cepat. Ia membaca Alquran saat berada di kereta api.

    Seketika itu pula ia menyimpulkan dan berkata pada diri sendiri, “Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, maka ini dia bukunya.”

    Ia menyakini Alquran itu berasal dari Allah. Ketika menyadari itu ia mulai bergerak lebih jauh, tak hanya membaca Alquran saja, tapi untuk mengamalkannya juga. “Sama saja seperti kita melihat apel yang terlihat harum, kita tak akan pernah tahu rasanya kalau tidak mencicipinya,” katanya.

    Tertarik dengan pengamalan Alqurlan ia pun mulai mencoba untuk shalat meski saat itu ia belum resmi mengucap syahadat. Tak tahu bagaimana cara shalat, ia mengingat-ingat bagaimana seseorang yang pernah ia temui di Mesir melakukan shalat. “Saya mengingat seorang lelaki shalat dengan cara yang lebih indah dibandingan saya ketika masih menjadi Katholik,” katanya.

    Suatu hari Anthony pergi ke toko buku yang kebetulan berada di dalam masjid. Toko itu memiliki koleksi buku tentang Muhammad dan tata cara shalat. Seorang pria menanyakan apakah ia seorang Muslim. Anthony lantas menjawab, “Apakah saya Muslim, apa yang ia maksud dengan itu? Saya bilang “Ya saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusannya.”

    “Ah, bila demikian, anda Muslim. Ini waktunya shalat, mari kita shalat,” ajak si lelaki itu.

    Anthony kebetulan datang ke toko buku itu saat hari Jumat. Ia yang tak paham gerakan shalat hanya berusaha shalat dengan gerakan yang ia tahu saja. Masih salah disana-sini. “Setelah itu orang-orang mengelilingi saya dan mengajarkan saya cara shalat yang benar.” Ia merasakan seperti berada di awan. “Rasanya Fantastis.”

    Namun butuh dua tahun lagi sebelum akhirnya ia resmi bersyahadat dan menjadi Muslim. Terlepas dari kenyataan ia kini telah masuk Islam, ia mengaku menyesal telah menyia-nyiakan waktu dua tahun sebelum menjalani Islam dengan baik.

    “Aku tahu kebenaran tapi tak segera menjalankannya. Itu adalah kondisi yang buruk. Jika kita tidak tahu, maka tidak dikenai dosa. Tapi masalahnya saya tahu apa yang benar,” katanya. Setelah itu ia tak pernah menoleh ke belakang. Kini ia mengaku belajar banyak dari pengalaman itu untuk ber-Islam dengan lebih baik.

    Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
    Reporter: Dwi Murdianingsih
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/10/20/ltc5h1-tuhan-bisa-mati-mendengar-itu-abdur-raheem-green-serasa-ditinju-mike-tyson-di-wajah
     
  • SERBUIFF 2:50 am on 19/10/2011 Permalink | Reply
    Tags: Alhamdulillah Saya Kini Islam, Raphael: Apapun Masa Lalu Saya   

    Raphael: Apapun Masa Lalu Saya, Alhamdulillah Saya Kini Islam 

    Raphael: Apapun Masa Lalu Saya, Alhamdulillah Saya Kini Islam

    Raphael

    TERKAIT :

    Masuk Islam, Pasangan Asal Filipina Menikah Ulang Secara Islam
    Pencarian, Pertemanan, Senyum Tulus Orang Asing Jadikan Mustafa Davis Muslim dalam Tiga Hari
    Vanni, ‘Anak Band’ Filipina yang Jatuh Hati pada Islam
    Kisah Ibu dan Anak yang Sama-sama Mencari ‘Tuhan’ dan Menemukannya dalam Islam
    Pembinaan Mualaf Via Digital Rentan Disalahpahami

    Raphael: Apapun Masa Lalu Saya, Alhamdulillah Saya Kini

    Islam

    Rabu, 19 Oktober 2011 01:11 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, Raphael, seorang warga negara Amerika Serikat menyadari betul setiap hal yang terjadi pada manusia sudah ditentukan oleh Allah. Semua itu sudah tertulis rapi, ketika malaikat meniupkan ruh ke dalam rahim seorang ibu ketika usia kandungannya mencapai 120 hari. Ia bersyukur, terlepas dari agama apa pun yang pernah ia anut di masa lalu, kini ia menjadi seorang muslim. Alhamdulillah.

    Ia mengaku jatuh cinta dengan Alquran, apalagi dengan surat An-nasr.  “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr: 1-3)

    Alquran menurut dia adalah buku terbaik yang pernah ada. “Buku itu perlu dibaca untuk keselamatan umat manusia. Membaca Alquran sama saja dengan mencari tahu apa kehendak Tuhan,” ujarnya.

    Perlu perjalanan spiritul yang cukup panjang baginya sampai bisa menikmati nikmat Islam. Ia mengatakan Islam adalah satu-satunya agama yang tak perlu didebat. “Semuanya diterima dengan rasa keimanan,” ujarnya.

    Setelah memutuskan untuk memluk Islam, ia mengaku menerima apa yang diberikan Allah. Ia berharap  bisa melakukan yang terbaik dalam menjalani agama Islam.

    Berasal dari sebuah keluarga yang taat dengan agama Yehuwa di kota kecil Lubbock, Texas barat, ia lahir di lingkungan yang sangat religius. Banyak gereja di kota itu. Disana dikenal pula sebagai pusat studi alkitab. Ia dibaptis dan dibesarkan menjadi seorang penganut agama Katolik sampai berumur enam tahun.

    Ketika ia berumur enam tahun, beberapa tamu berkunjung ke rumahnya untuk mencari kakeknya. Tak lama kemudian, sebuah pusat studi injil berdiri di lingkungan mereka.

    Setelah itu, Raphael beserta seluruh keluarganya menjadi saksi dari jemaat Yehuwa. Ia mengaku begitu banyak pengetahuan tentang Injil. Ia heran, semakin ia mengenal injil ia justru semakin merasa banyak yang ‘tercemar’ di kitab suci itu. “Sat itu saya berpikir terlalau banyak yang rancu dalam Injil,” ujarnya.

    Namun, ia selalu menganggap apa yang berasal dari Tuhan semuanya murni. Seperti halnya Taurat yang diberikan kepada kaum Yahudi, ia pun merasa Injil memang diberikan Tuhan kepada umat Nasrani.

    Hidup di lingkungan yang taat, membuat Raphael yang sudah dibaptis berganti menjadi penganut Yehuwa pada usia 13 tahun. Sejak saat itu, ia sudah berambisi untuk mengabdikan dirinya kepad Tuhan.

    Ia semakin dalam memperlajari Injil hingga di usia 16 tahun, ia sudah mendapatkan kehormatan untuk meberikan ceramah di hadapan para jemaat. Ia mulai berbicara di depan banyak orang sejak saat itu.

    Menjelang usia 20 tahun, ia sudah memiliki jemaat sendiri. Ia harus berperan sebagai pendeta yang mengayomi para jemaatnya.

    Ia termasuk salah seorang yang cukup mengakar dan tahu luar dalam ajaraan Yehuwa. Ia menyadari betul jamaat ini berbeda dari jemaat lain. Di negara barat, jemaat ini dipandang sebagai jamaat yang cukup ekstrem dan fundamental.

    Dalam agama Yehuwa, diajarkan semuanya buruk kecuali penganut Yehuwa. Saksi-saksi Yehuwa dianggap sebagi satu-satunya yang mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Di tahun 1979, ia memutuskan untuk meninggalkan agama Yehuwa. Ia tak bisa lagi mempercayai ajaran agama yang ia anut.

    Ia memutuskan untuk meninggalkan agama Yehuwa pada tahun 1979 dan tak akan kembali. Keluar dari Yehuwa ia merasa seperti orang tanpa agama. Tapi ia bersyukur, ia bukanlah manusia tanpa Tuhan.

    Sejak saat itu ia mulai melakukan pencarian agama lebih intens. Ia bahkan kembali ke Katholik  selama tiga bulan. Namun, Rafael mengaku tak bisa membohongi diri sendiri bahwa agama itu tidak sesuai dengan kata hatinya.

    Lima tahun lalu, ia pernah berkesempatan bertemu dengan seorang Muslim. Ia melihat orang Muslim selalu tenang dan bahagia. Mereka sempat berbincang tentang Islam. Namun, ia mengatakan kepada orang yang baru dijumpainya bahwa tak pernah terpikir untuk menjadi seorang muslim.

    Ia justru berniat menjadi seorang Kristen. Ia berpikir ia keluar dari Yehuwa barangkali karena Tuhan menginginkannya sebagai seorang Kristen.

    Ia pun mulai mempelajari Alkitab pada malam hari. Selama beberapa hari, ia melahap habis bacaan mengenai perjanjian baru, mengulang perjanjian lama, kitab kejadian dan semuanya.

    Saat ia membaca mengenai kisah nabi, ia tiba-tiba mengingat perjumpaannya dengan seorang Muslim yang sempat mengenalkannya pada Islam, Alquran dan Allah.

    Ia mulai membuka pikiran. Ia tak ingin lagi berpikir seperti Yehuwa yang menganggap hanya ajarannya yang selalu benar. Ia mencari tahu kebenaran ‘teman barunya’ itu. Ia mulai meraba-raba tentang Islam. “Ada 1,2 milyar orang yang beragama Islam”. Ia kemudian memutuskan untuk meilhat Alquran dan mempelajarinya.

    Ia mulai membaca Alquran. Seluruhnya ia baca, ia terkagum-kagum dengan Alquran yang baginya semua yang tertulis di situ masuk akal. Ia mengambil Alquran dan bergumam pada Alkitab, “Aku tahu semua ini saling berhubungan satu sama lain”. Ia justru mengerti Alkitab setelah membaca dari Alquran.

    Ia mengambil kesimpulan, barangkali ia memang menjadi penganut Kristen yang baik setelah membaca Alquran. “Tuhan menjadikan saya seorang Kristen yang baik” ia lantas mempelajari Alquran.

    Terus menerus mempelajari Alquran, ia merasakan kitab milik umat Islam ini lebih sederhana. “Alquran lebih menarik untuk hati dan akal saya”, ujarnya.

    Lambat laun, ia mulai menyadari, seperti halnya Injil, Alkitab pun sudah tak murni lagi, banyak yang tercemar disana. Ia meninggalkan Alkitab dan membaca Alquran.

    Tak puas hanya membaca Alquran, ia memutuskan untuk segera menemui orang-orang Islam untuk langsung melihat kedaaan mereka. Ia kemudian mendatangi masjid. Setelah mencari info, ia manuju masjid di Kalifornia Selatan. Ia sempat galau dan ragu untuk memasuki tempat ibadah itu. Sempat berkeliling, ia tak kunjung menemukan tempat parkir bagi kendaraannya. Ia bergumam dalam hati bahwa ia hanya ia akan masuk kalau ada tempat parkir.

    Saat tepat berada di depan masjid, sebuah mobil keluar. Kegalauannya semakin memuncak. Ragu-ragu, ia berpikir “anda membuat situasi semakin sulit”. Kini ia tak punya pilihan lain kecuali harus memasuki masjid dan menglihat orang-orang Islam di dalam. “Saya merasa gugup pergi ke masjid untuk pertama kalinya”, ujarnya.

    Ia mulai berjalan ke pintu masuk masjid. Ada ada seorang keturunan Arab dengan jenggot lebat sedang berjaga.  Si penjaga masjid mempersilakan Raphael untuk berkeliling.

    Ia sampai di sisi lain masjid, ia melihat beberapa pria sedang berdoa. Sadar kehadirannya cukup mendapat perhatian, Raphael berujar “saya hanya melihat saja”. Saat sudah selesai shalat, Raphael lantas berbaur dengan orang-orang itu.

    Mereka mengucapkan salam sapaan “Asalamualaikum”, sebuah bahasa yang asing. Raphael tak mengerti apa yang mereka ucapkan.

    Melihat raut kebingungan di wajah Rafael, seorang lelaki datang menghampiri. “Anda baru kan?”, kata lelaki yang bernama Umar itu.

    “Ya, ini pertama kalinya saya ke masjid”, kata Raphael. Umar lantas mengajak rafael berkeliling, menuju tempat wudhu laki-laki.

    “Apa itu voodoo”, tanya Raphael. Umar menjelaskan apa yang sedang dilakukannya bernama wudhu bukan voodoo. Ia mengajari rafael melakukan wudhu dan begaimana wudhu bisa menyucikan.

    Terkesan dengan wudhu, ia memutuskan untuk berdoa seperti orang Islam. Ketika menjadi Kristen, ia hanya berdoa dengan berlutut saja. Ia menemukan sesuatu yang unik ketika berdoa sambil ruku dan sujud.

    “Tuhan menciptakan alam dengan segenap isinya mengapa saya tidak bersujud kepadanya? apakah saya sombong?”, ujarnya.

    kini Raphael selalu mengingat dan memuja Alquran, “Kita telah memiliki buku paling indah yang pernah diciptakan Tuhan untuk penyelamatan manusia untuk hidup dalam kedamaian, Alquran,” ujarnya. Baginya itu adalah kitab yang perlu dibaca sepanjang masa untuk mencari tahu tujuan hidup di muka bumi.

    Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
    Reporter: Dwi Murdianingsih
    Sumber: YouTube
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/10/18/lt9mh5-raphael-apapun-masa-lalu-saya-alhamdulillah-saya-kini-islam
     
  • SERBUIFF 2:54 am on 30/09/2011 Permalink | Reply
    Tags: Penyair dan Mualaf Michael Wolfe Peringati Kematian Istri dengan Ceramah Umum tentang Islam   

    Penyair dan Mualaf Michael Wolfe Peringati Kematian Istri dengan Ceramah Umum tentang Islam 

    Penyair dan Mualaf Michael Wolfe Peringati Kematian Istri dengan Ceramah Umum tentang Islam

    Michael Wolfe

    Penyair dan Mualaf Michael Wolfe Peringati Kematian Istri dengan Ceramah Umum tentang Islam

    Rabu, 28 September 2011 07:40 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, KOCHVILLE — islam adalah agama yang penuh kedamaian, begitu penulis dan penyair Amerika Serikat, Michael Wolfe menyatakan. Ia yang juga seorang mualaf menyatakan, luhurnya agama Islam disimbolkan dalam seluruh ritual haji.

    Wolfe menyatakan hal itu dalam ceramah umumnya di The Malcolm Field Theatre for Performing Arts dan di Curtiss Hall di Saginaw Valley State University. Ia mendedikasikan ceramah umumnya ini untuk memperingati kematian istrinya, Raana Akbar.

    Menurutnya, banyak publik Amerika Serikat yang masih salah paham memandang Islam. “Inilah tugas setiap Muslim untuk menyampaikan apa yang sebenar-benarnya tentang Islam pada sahabat mereka, para tetangga mereka,” katanya.

    “Semua orang disambut dalam Islam,” katanya. “Kami membuka pintu dialog dengan siapa saja.”

    Wolfe, yang memeluk Islam beberapa tahun sebelumnya, adalah salah satu pendiri organisasi nirlaba Unity Productions Foundation. Tujuan organisasi ini adalah meluruskan kesalahpahaman tentang Islam dan membangun saling pengertian antara Muslim dengan penganut agama lain. Ia telah menghasilkan beberapa buku tentang Islam, antara lain, The Hadj dan One Thousand Roads to Mecca, serta beberapa film dokumenter.

    Istrinya, Dr Raana W Akbar, adalah seorang pakar alergi. Dia meninggal tahun 2009 setelah berjuang lama melawan penyakit kanker yang dideritanya.

    Redaktur: Siwi Tri Puji B
    Sumber: M Live
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/09/28/ls7j7v-penyair-dan-mualaf-michael-wolfe-peringati-kematian-istri-dengan-ceramah-umum-tentang-islam
     
  • c
    Compose new post
    j
    Next post/Next comment
    k
    Previous post/Previous comment
    r
    Reply
    e
    Edit
    o
    Show/Hide comments
    t
    Go to top
    l
    Go to login
    h
    Show/Hide help
    shift + esc
    Cancel