Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 9:42 am on 27/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Mengenal penghuni 7 tingkatan langit   

    Mengenal penghuni 7 tingkatan langit 

    Isra Miraj merupakan peristiwa besar yang dialami oleh nabi Muhammad SAW. Wajib hukumnya untuk Muslimin mengimani dan meyakini sebagai suatu kebenaran dari Allah SWT. Pada peristiwa itu Nabi Muhammad SAW bertemu Allah SWT, dan mendapat perintah menjalankan salat 5 waktu sehari.

    Dalam perjalanan bertemu Sang Pencipta, Rasullulah ditemani malaikat Jibril dengan mengendarai Buraaq. Yaitu hewan putih panjang, berbadan besar melebihi keledai dan bersayap. Sekali melangkah, Buraaq bisa menempuh perjalanan sejuah mata memandang dalam sekejap.

    Rasullulah SAW melewati 7 langit dan bertemu dengan para penghuni di setiap tingkatan. Kabar ini dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan imam Muslim dari Anas bin Malik.

    1. Ketika mencapai langit tingkat pertama, Rasullulah SAW bertemu dengan manusia sekaligus wali Allah SWT pertama di muka bumi, Nabi Adam AS. Saat bertemu nabi Adam, Rasullulah sempat bertegur sapa sebelum akhirnya meninggalkan dan melanjutkan perjalanannya.

    Nabi Adam membekali rasullulah dengan doa, supaya rasullulah SAW selalu diberi kebaikan pada setiap urusan yang dihadapinya. Sambil mengucapkan salam, rasullulah meninggalkan langit pertama untuk menuju langit kedua.

    2. Sesampainya di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Seperti halnya di langit pertama, rasullulah disapa dengan ramah oleh kedua nabi pendahulunya. Sewaktu akan meninggalkan langit kedua, Nabi Isa dan Yahya juga mendoakan kebaikan kepada rasullulah. Kemudian rasullulah bersama Malaikat Jibril terbang lagi menuju langit ketiga.

    3. Tidak disangka, di langit ketiga, rasullulah bertemu dengan Nabi Yusuf, manusia tertampan yang pernah diciptakan Allah SWT di bumi. Dalam pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan sebagian dari ketampanan wajahnya kepada Nabi Muhammad. Dan juga di akhir pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan doa kebaikan kepada nabi terakhir itu.

    4. Setelah berpisah dengan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan dan sampailah dia ke langit keempat. Pada tingkatan ini, rasullulah bertemu Nabi Idris. Yaitu manusia pertama yang mengenal tulisan, dan nabi yang berdakwah kepada bani Qabil dan Memphis di Mesir untuk beriman kepada Allah SWT.

    Seperti pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Idris memberikan doa kepada Nabi Muhammad supaya diberi kebaikan pada setiap urusan yang dilakukannya.

    5. Sesampainya di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun. Yaitu nabi yang mendampingi saudaranya, Nabi Musa berdakwah mengajak Raja Firaun yang menyebut dirinya tuhan dan kaum Bani Israil untuk beriman kepada Allah SWT.

    Harun terkenal sebagai nabi yang memiliki kepandaian berbicara dan meyakinkan orang. Di langit kelima, Nabi Harun mendoakan Nabi Muhammad senantiasa selalu mendapat kebaikan pada setiap perbuatannya. Setelah bertemu, kemudian Nabi Muhammad melanjutkan perjalanannya ke langit keenam.

    6. Pada langit keenam, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Musa. Yaitu nabi yang memiliki jasa besar dalam membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan menuntunnya menuju kebenaran Illahi. Nabi Musa juga terkenal dengan sifatnya yang penyabar dan penyayang selama menghadapi kolot dan bebalnya perilaku Bani Israil.

    Selama bertemu dengan Muhammad, Nabi Musa menyambut layaknya kedua sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Penuh kehangatan dan keakraban. Sebelum Nabi Muhammad pamit meninggalkan langit keenam, Nabi Musa melepasnya dengan doa kebaikan.

    7. Tibalah Nabi Muhammad ke langit ketujuh. Di langit ini, Nabi Muhammad bertemu dengan sahabat Allah SWT, bapaknya para nabi, Ibrahim AS.

    Sewaktu bertemu, Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’muur, yaitu suatu tempat yang disediakan Allah SWT kepada para malaikatnya. Setiap harinya, tidak kurang dari 70 ribu malaikat masuk ke dalam.

    Kemudian Nabi Ibrahim mengajak Muhammad untuk pergi ke Sidratul Muntaha sebelum bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah wajib salat. Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon yang menandai akhir dari batas langit ke tujuh. Masih dalam hadits yang sama, rasullulah SAW menceritakan bentuk fisik dari Sidratul Muntaha, yaitu berdaun lebar seperti telinga gajah dan buahnya yang menyerupai tempayan besar.

    Namun ciri fisik Sidratul Muntaha berubah ketika Allah SWT datang. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak bisa berkata-kata menggambarkan keindahan pohon Sidratul Muntaha. Pada kepecayaan agama lain, Sidratul Muntaha juga diartikan sebagai pohon kehidupan.

    Di Sidratul Muntaha inilah Nabi Muhammad berdialog dengan Allah SWT, untuk menerima perintah wajib salat lima waktu dalam sehari.

    http://m.merdeka.com/ramadan/mengenal-penghuni-7-tingkatan-langit.html

     
    • fantasy 1:31 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

      surganya umm hanni memang indah sampai ke langit ketujuh hik….hik…hik….tidakkah sdr muslim tahu bahwa tak pernah ada lepas dari pelukan mamad seorng pun perempuan kecuali sudah tua???? apalagi umm hanni yang nota bene mantan pacarnya sudah janda pula ..????? tapi supaya nggak ketahuan..terpaksa ngarang kenikmatan langit ketujuh maklum kan sampai kesiangan…..orang juga yang dengar pada ketawa ..tapi abu bakar yang merasa sudah kepalang tanggung dibohongi terpaksa mengaku sajalah sudah tanggung dibohongi walaupun dalam hatinya menjerit ….

      • tonwsh 11:54 pm on 15/06/2013 Permalink | Reply

        Bebatilan BIBLE dan sudah terlau banyak dijumpai ERROR didalamnya, tapi kalian sangat BEBAL ngotot gak mau berpikir logis, coba anda bayangkan BIBLE ini telah diselidiki oleh para AHLI BIBLE sendiri ( Bible schollars ) dan setelah dicermati dan diselidiki, ternyata PERKATAAN YESUS yang ada didalam BIBLE tsb hanya TIDAK LEBIH dari 18 persen, jadi sisa isi Bible yaitu 82 persent adalah para TANGAN JAIL dari pejabat GEREJA kalian sendiri yang menulis ……… TING TONG !
        Gak percaya ????? lihat disisi : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20121119015525AAVLxO3

    • ungke 1:38 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

      “Isra Miraj merupakan peristiwa besar yang dialami oleh nabi Muhammad SAW. Wajib hukumnya untuk Muslimin mengimani dan meyakini sebagai suatu kebenaran dari Allah SWT.” buat orang yang sudah tidak menggunakan otaknya memang wajib di percaya, tapi bagi yang berpikiran kritis dan logis wajib mempertanyakan kebenaran cerita itu.

      • SERBUIFF 12:46 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        aku tanya kau, adam dan hawa dulu di sorga , trus ada di bumi…bagaiman cara Allah memperjalankan mereka ke bumi ?…jawab ya….

        • wikki 1:45 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

          apa hubunganya adam dan hawa dengan isra mi.raj diranjang umm hanni??? emang sorga di ranjang ummhanni???

          • fantasy 4:14 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            hubungan adam dengan periistiwa isra mi raj jelas berhubungan karena adam dan hawa adalah saksi ketika muhammad main kuda kudaan dengan umm hanni sampai kelangit ketujuh…jadi umm hanni kan dijadikan buraq…yang mula mula malu malu ..tapi di suruh jibril supaya dak malu ..begitooooo

            • SERBUIFF 7:25 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

              lu kan nggak percaya peristiwa isra miraj ……aku tanya kau, adam dan hawa dulu di sorga , trus ada di bumi…bagaiman cara Allah memperjalankan mereka ke bumi ?…jawab ya……

          • SERBUIFF 7:25 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            lu kan nggak percaya peristiwa isra miraj ….aku tanya kau, adam dan hawa dulu di sorga , trus ada di bumi…bagaiman cara Allah memperjalankan mereka ke bumi ?…jawab ya….

            • fantasy 7:59 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

              ah modal copas aje loe tuh lihat postingan loe berurut

    • wikki 3:33 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

      wajib memang mengimani isra mi raj karena tanggung sudah di bohongi sama muhammad …menunggangi buraq yang nggak jelas atau menunggangi umm hanni ??? di langit pertama bertemu dengan nabi adam membekali pula dengan doa??? apa i ya dilangit masih perlu doa??? apa muhammad ndak bawa bekal doa sehingga harus dibekali lagi…macam dongeng ya??? bodohnya gak berani mempertanyakan ….dst dst sebodoh itukah muslim tidak mempertanyakan hal sepele ini???? hoi … lim dimana kamu bikin otakmu????

      • SERBUIFF 11:53 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

        isra miraj adalah peristiwa yg benar adanya….memperjalankan muhammad dalam isra miraj adalah hal yg sangat mudah bagi Allah……

    • wikki 12:49 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      mudah lah orang otaknya otak keledai mudah saja dibohongi sama simamad daripada ketahuan lagi nunggangi umm hanni sampai kelangit ketujuhnya lebih baik ngaku naik buraq ….

    • fantasy 3:17 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      ape emang yang bisa diperbuat oleh allah yang konon cuma tangan kananya yang tinggal di sudut kabbah… itupun sudah dipodoli sama orang iraq selam 20 tahun .dan tak ada yang bisa diperbuat oleh tangan kanan allah itu..kecuali dalam hal menurunkan wahyu terhadap syahwatnya muhammad tidak ada sama sekali.. baca semua quran dimana tertulis pernah turun melindungi seperti yang dilakukan Tuhan terhadap musa??? mana bukti allahnya muhammad ????.bersumpah lagidengan Tuhan yang mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari ..mengaku sama sama maha kuasa…???? apaan tuh allah..tidak konsisten lagi seenaknya membatalkan wahyu yang terdahulu ..apa sebelum menurunkan tidak pikir dulu???? maka terjadi batal membatalkan ..yang katanya menggantikan ayat yang lebih baik.??? allah apaan tuh..???

    • soebodo 4:04 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Produk ilmu kasih yang tidak didalami dan lengkap hasilnya kebencian dan fitnah semata. suatu ilmu yang lengkap dan sempurna kalau didalami akan mengalami apa yang diceritakan. beruntunglah bagi temen2 yang berpedoman akan kebenaran yang asli. sehingga kalau anda diberi kesempatan akan mengalami sendiri apa yang diceritakan tersebut diatas. bukan kebingungan dalam mencari kebenaran dengan menyalahkan bahkan menfitnah.

      • camar 5:10 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        sempurna ilmu itu apabila ilmu itu didukung oleh bukti dan saksi ..sdri saya tanya apa bukti peristiwa isra mi raj itu pernah terjadi ??? kemudian siapa saksi yang menyaksikan pristiwa itu terjadi??? apakah dari dalil diatas sdri tidak bertanya tentang kebenaran??? apakah lantaran muhammad yang bicara lantas sdri langsung bisa percaya begitu saja??? pemahaman yangseperti itu adalah ilmu yang omong kosong….

        • soebodo 5:43 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

          Pertanyaan yang bagus. .kami berlima disaat waktu dan tempat bersamaan menyaksikan apa yang digambarkan diatas sama persis.bagi kami berlima membuktikan akan kebenaran… kalau kita mau bersungguh2 akan masih banyak kebenaran yang didapat…mudah2an kita masih diberi kesempatan.

          • camar 5:50 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            apakah loe mencoba mengatakan usia loe sudah lebih 1400tahun???

    • fantasy 4:59 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      kalau memang kejadian peristiwa isra mi raj itu benar terjadi seperti cerita di atas
      1 mungkinkah umm hanni yang katanya sampai kesiangan bangun tidak ada yang menyaksikan kepulanganya??
      2… mengapa harus kembali lagi kerumah umm hanni bukankah lebih bagus pulang kerumah muhammad ????padahal kan kecepatan dari buraq tersebut adalah sekali langkah kecepatanya sejauh mata memandang..
      3 .adakah bekas jejak kaki buraq tersebut di mana dia hinggap???
      4..bahkan sahabat nabi pun susah mempercayainya pada waktu itu..
      sebenarnya masih banyak hal yang tidak bisa dibuktikan dalam hal peristiwa ini tapi karena abu bakar terrlanjur sudah pernah menerima kebohongan muhammad maka .kepalang tanggung diapun terpaksa pura pura percaya..

    • soebodo 5:05 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Bagi kami bukan sekedar cerita/prasangka lagi…kalau anda memahami apa yang saya sampaikan diatas.

      • camar 5:13 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        maksud sdri bahwa sdri .mencoba mengatakan bahwa sdri pernah mengalami dan ikut terlibat dalam peristiwa itu??? begitukah???kamu bisa terima itu tapi bagi kami yang sangat kritis itu adalah kebohongan yang besar…

        • soebodo 5:51 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

          Bagi kami berlima adalah pemberian/kesempatan untuk membutikan. apa yang saya ceritakan karena mengalami secara bersama-sama . kebohongan kalau suatu cerita tidak mengalami sendiri malah menceritakan sesuatu yang tidak dialami dan membuat cerita sendiri (fitnah).

          • camar 5:59 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            kalau emang usia loe lebih 1400 tahun kenapa loe tidak beri muhamad tips umur panjang kayak loe…tega banget loe ya mebiarka nabi loe mati sementara loe hidup enak enakan

          • wikki 6:58 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            hei nenek tertua didunia …aku panggil apa ya …hus nih wanita tertua didunia apa kini jawabmu ??? apakah kamu sudah mengumumkan kemurtadtanmu???

            • soebodo 8:49 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

              Kami berlima bervariasi usia dan gender ..apa yang kita dapatkhan meyakinkan kita akan teori kebenaran bila dilaksanakan dengan benar akan membuktikan kebenaran…dan itu bisa anda buktikan sendiri bukan hanya yakin akan sesuatu dari toeri saja…ketika didebat yang sama paham terhadap teori anda larinya keiman yang tidk dibutktikan sendiri…pengalaman bersama teman2 dengan berbeda keyakinan juga pernah saya posting…. dan apa yang terjadi dia malah bisa ketemu yang diyakini selama ini dan disuruh untuk menyempurnakan dengan mengikuti langkah kami…apa yang terjadi juga kami bersama teman2 turut menyaksikan.

              • wikki 8:58 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

                kalaupun beda usia kan cuma yah dua atau tiga tahunan kan dengan muhammad ..tapi bukan berati muhammad berkata jujur karena saudari padahal ikut menyaksikan …cuma muhammad bohong dengan mengatakan dia cuma dengan jibril dan buraq sudah kita maklum bahwa dia lagi bertaqiya gua percaya sama loe sekali lagi gua percaya sama loe… dan tidak percaya sama omongan muhammad … cuma umurloe sekarang pasti diatas 1450 tahunan lebih kuranglah iakan???

    • camar 6:22 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      cuma yang sangat ganjil menurut gua muhammad mengatakan bahwayang naik buraq itu hanya muhammad dengan jibril yang berangkat tiba tiba sekarang loe ngaku turut menyaksikan ..mana yang benar loe ato muhammad…??????berati muhammad pendusta ya…nggak mengakui kehadiran loe…

      • SERBUIFF 7:26 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        ………lu kan nggak percaya peristiwa isra miraj ….aku tanya kau, adam dan hawa dulu di sorga , trus ada di bumi…bagaiman cara Allah memperjalankan mereka ke bumi ?…jawab ya….

    • fantasy 6:36 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      aku tahu sdri Soe bodo bahwa kamu sekarang sudah murtad karna tidak mengakui nabimu yang bicara bahwa kamu dengan sengaja telah mengaku kalau muhmmad itu berbohong …padahal kan jelas kamu ikut pada peristiwa isra mi raj ternyata muhamad cuma ngaku sendiri dengan jibril naik buraq berati kan muhammad bohong sementara kamukan tidak mau fitnah ….emang muhammad suka bohong ya.. mangkanya ada istilah taqiyah….udah jangan nangis…ntar dibeliin balon yang gede lagi….. pada hal kan kamu lebih tahu ….dari penulis penulis hadis itu…..

    • SERBUIFF 7:22 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      apa yg lu maksud dg umm hanni ?

      • fantasy 7:55 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        loe baca ngga sih postingan loe loe bilang umm hanni :<<<<>>>>>hindun putrinya abu talib yang bernama panggilan umm hani .itu postingan loe..ape loe enggak baca ape??? berati loe cuma modal copas aja tanpa menyimak ape yang loe copas…..pantesan .ibret kate jaka sembung bawa golok nggak nyambung goblok…

    • ungke 7:32 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Na tul kan quran dan hadish cuman di hapal doang !! umm hanni aja nda tau, sini gua beri tau lu, ummhanni itu anak si Mami maimuna germo di lokalisasi dolly surabaya sono.

    • wikki 9:41 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      e serbuiff kalo lo mau copas baca dulu supaya lo jangan nanya lagi…masa lo yang copas tapi apa yang lo copas enggak tau….ummhani. orang cilodong lewat purwakarta dikitlah kesono..agak masuk dikit sebelah kiri dari cikampek nah tanya situ mana rumah umm hani..putrinya bu talib mantanya muhammad. gitu …o alah

      • SERBUIFF 10:19 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        loh emang dia kenapa ?..wong dia nggak ada apa2 dg muhammad, dulu kan dia mau dilamar muhammad karena suaminya kabur waktu penaklukan mekkah, tapi dia menolak karena dia merasa tidak mampu menjadi istri muhammad yg butuh tanggung jawab yg lebih besar, karena dia ingin fokus membesarkan ke dua anaknya.

    • wikki 10:42 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      nah baru nyambung dikitjadi jangan tanya lagi siapa hindun anaknya abu talib ato yamg disebut umm hani .nah sepertinya lo sudah mulai ingat…nah dam cerita ini memang enggak mungkinlah muhammad cerita tentang asmara mereka ..terpaksa semua dibaratkan naik ke langit sampai langit ketujuh ..sangkin nikmatnya malah sampai kesiangan lagi bangunya ….jadi itulah sebenarnya peristiwa isra mi raj itu faham…..????

    • soebodo 11:46 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Teruskan SERBUIFF sampaikan kebenaran yang anda ketahui dengan benar, kita semua tahu sifat dengki/ iri/ pembohong…adalah sifat yang dimiliki siapa…biarkan saja pembaca akan bisa menilai siapa yang mempunyai sifat demikian…mari KITA SEMUA belajar menjauhi dari sifat-sifat demikian …agar yang disampaikan kebenaran atas bimbingan NYA…bukan nafsu kita semata…Amien.

    • wikki 11:53 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      eh nenek umur 1400tahun sebenarnya lu yang pantas untuk bicara karena lu seumur dengan muhammad.. jadi saran saya ungkapkan semua kisah muhammad .karena semua hadis dan cerita yang lin lu saksikan semua .. jadi ketahuan nanti adis itu palsu….seperti katamu semua peristiwa isra miraj kamu saksikan sejak diranjang umm hani.brsama 5 orang nah mulailah cerita….

      • soebodo 12:18 pm on 28/08/2012 Permalink | Reply

        Cucuku yang nakal …apa yang saya dapatkan untuk membuktikan/menyaksikan apa yang saya yakini…saya tidak meyakini minum bisa ular tetap sehat…secara logika …apalagi melaksanakan apakah membuktikan…membuktikan kebenaran ketika kita sudah meninggal dan menyesali tidak mengakui kebenaran dikala hidup.

    • wikki 12:46 pm on 28/08/2012 Permalink | Reply

      nenek umur 1400tahun sudah berapa banyak kecing unta yang nenek minum???itu rahasia umur pajang ya???? kenapa muhammad suka berbohong/???

  • SERBUIFF 9:21 am on 27/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Sejarah Hidup Muhammad : DARI PEMBATALAN PIAGAM SAMPAI KEPADA ISRA'   

    Sejarah Hidup Muhammad : DARI PEMBATALAN PIAGAM SAMPAI KEPADA ISRA' 

    Terasing seorang diri, ia pergi ke Ta’if,2 dengan tiada orang
    yang mengetahuinya. Ia pergi ingin mendapatkan dukungan dan
    suaka dari Thaqif terhadap masyarakatnya sendiri, dengan
    harapan merekapun akan dapat menerima Islam. Tetapi ternyata
    mereka juga menolaknya secara kejam sekali. Kalaupun sudah
    begitu, ia masih mengharapkan mereka jangan memberitahukan
    kedatangannya minta pertolongan itu, supaya jangan ia disoraki
    oleh masyarakatnya sendiri. Tetapi permintaannya itupun tidak
    didengar. Bahkan mereka menghasut orang-orang pandir agar
    bersorak-sorai dan memakinya.

    Ia pergi lagi dari sana, berlindung pada sebuah kebun
    kepunyaan ‘Utba dan Syaiba anak-anak Rabi’a. Orang-orang yang
    pandir itu kembali pulang. Ia lalu duduk di bawah naungan
    pohon anggur. Ketika itu keluarga Rabi’a sedang
    memperhatikannya dan melihat pula kemalangan yang dideritanya.
    Sesudah agak reda, ia mengangkat kepala menengadah ke atas, ia
    hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat
    mengharukan:

    “Allahumma yang Allah, kepadaMu juga aku mengadukan
    kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di
    hadapan manusia. O Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang.
    Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku.
    Kepada siapa hendak Kauserahkan daku? Kepada orang yang
    jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang
    akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku,
    aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang
    Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang
    menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan bagi
    dunia dan akhirat – daripada kemurkaanMu yang akan Kautimpakan
    kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan
    pada-Mu. Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau juga.”3

    Dalam memperhatikan keadaan itu hati kedua orang anak Rabi’a
    itu merasa tersentak. Mereka merasa iba dan kasihan melihat
    nasib buruk yang dialaminya itu. Budak mereka, seorang
    beragama Nasrani bernama ‘Addas, diutus kepadanya membawakan
    buah anggur dari kebun itu. Sambil meletakkan tangan di atas
    buah-buahan itu Muhammad berkata: “Bismillah!” Lalu buah itu
    dimakannya.

    ‘Addas memandangnya keheranan.

    “Kata-kata ini tak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini,”
    kata ‘Addas.

    Lalu Muhammad menanyakan negeri asal dan agama orang itu.
    Setelah diketahui bahwa orang tersebut beragama Nasrani dari
    Nineveh, katanya:

    “Dari negeri orang baik-baik, Yunus anak Matta.”

    “Dari mana tuan kenal nama Yunus anak Matta!” tanya ‘Addas.

    “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku juga Nabi,” jawab
    Muhammad.

    Saat itu ‘Addas lalu membungkuk mencium kepala, tangan dan
    kaki Muhammad. Sudah tentu kejadian ini menimbulkan keheranan
    keluarga Rabi’a yang melihatnya. Sungguhpun begitu mereka
    tidak sampai akan meninggalkan kepercayaan mereka. Dan tatkala
    ‘Addas sudah kembali mereka berkata:

    “‘Addas, jangan sampai orang itu memalingkan kau dari agamamu,
    yang masih lebih baik daripada agamanya.”

    Gangguan orang yang pernah dialami Muhammad seolah dapat
    meringankan perbuatan buruk yang dilakukan Thaqif itu,
    meskipun mereka tetap kaku tidak mau mengikutinya. Keadaan itu
    sudah diketahui pula oleh Quraisy sehingga gangguan mereka
    kepada Muhammad makin menjadi-jadi. Tetapi hal ini tidak
    mengurangi kemauan Muhammad menyampaikan dakwah Islam. Kepada
    kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, itu ia memperkenalkan
    diri, mengajak mereka mengenal arti kebenaran.
    Diberitahukannya kepada mereka, bahwa ia adalah Nabi yang
    diutus, dan dimintanya mereka mempercayainya.

    Namun sungguhpun begitu, Abu Lahab pamannya tidak
    membiarkannya, bahkan dibuntutinya ke mana ia pergi.
    Dihasutnya orang supaya jangan mau mendengarkan.

    Muhammad sendiri tidak cukup hanya memperkenalkan diri kepada
    kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah di Mekah saja, bahkan
    ia mendatangi Banu Kinda4 ke rumah-rumah mereka, mendatangi
    Banu Kalb,5 juga ke rumah-rumah mereka, Banu Hanifa6 dan Banu
    ‘Amir bin Sha’sha’a.7 Tapi tak seorangpun dari mereka yang mau
    mendengarkan. Banu Hanifa bahkan menolak dengan cara yang
    buruk sekali. Sedang Banu ‘Amir menunjukkan ambisinya, bahwa
    kalau Muhammad mendapat kemenangan, maka sebagai penggantinya,
    segala persoalan nanti harus berada di tangan mereka. Tetapi
    setelah dijawab, bahwa masalah itu berada di tangan Tuhan,
    merekapun lalu membuang muka dan menolaknya seperti yang
    lain-lain.

    Adakah kegigihan kabilah-kabilah yang mengadakan oposisi
    terhadap Muhammad itu karena sebab-sebab yang sama seperti
    yang dilakukan oleh Quraisy? Kita sudah melihat, bahwa Banu
    ‘Amir ini mempunyai ambisi ingin memegang kekuasaan bila
    bersama-sama mereka nanti ia mendapat kemenangan. Sebaliknya
    kabilah Thaqif pandangannya lain lagi. Ta’if di samping
    sebagai tempat musim panas bagi penduduk Mekah karena udaranya
    yang sejuk dan buah anggurnya yang manis-manis, juga kota ini
    merupakan pusat tempat penyembahan Lat. Ke tempat itu orang
    berziarah dan menyembah berhala. Kalau Thaqif ini sampai
    menjadi pengikut Muhammad, maka kedudukan Lat akan hilang.
    Permusuhan mereka dengan Quraisypun akan timbul, yang sudah
    tentu akibatnya akan mempengaruhi perekonomian mereka pada
    musim dingin. Begitu juga halnya dengan yang lain, setiap
    kabilah mempunyai penyakit sendiri yang disebabkan oleh
    keadaan perekonomian setempat. Dalam menentang Islam itu,
    pengaruh ini lebih besar terhadap mereka daripada pengaruh
    kepercayaan mereka dan kepercayaan nenek-moyang mereka,
    termasuk penyembahan berhala-berhala.

    Makin besar oposisi yang dilakukan kabilah-kabilah itu,
    Muhammad makin mau menyendiri. Makin gigih pihak Quraisy
    melakukan gangguan kepada sahabat-sahabatnya, makin pula ia
    merasakan pedihnya.

    Masa berkabung terhadap Khadijah itupun sudah pula berlalu.
    Terpikir olehnya akan beristeri, kalau-kalau isterinya itu
    kelak akan dapat juga menghiburnya, dapat mengobati luka dalam
    hatinya, seperti dilakukan Khadijah dulu. Tetapi dalam hal ini
    ia melihat pertaliannya dengan orang-orang Islam yang
    mula-mula itu harus makin dekat dan perlu dipererat lagi. Itu
    sebabnya ia segera melamar puteri Abu Bakr, Aisyah. Oleh
    karena waktu itu ia masih gadis kecil yang baru berusia tujuh
    tahun, maka yang sudah dilangsungkan baru akad nikah, sedang
    perkawinan berlangsung dua tahun kemudian, ketika usianya
    mencapai sembilan tahun.

    Sementara itu ia kawin pula dengan Sauda, seorang janda yang
    suaminya pernah ikut mengungsi ke Abisinia dan kemudian
    meninggal setelah kembali ke Mekah. Saya rasa pembacapun akan
    dapat menangkap arti kedua ikatan ini. Arti pertalian
    perkawinan dan semenda yang dilakukan oleh Muhammad itu, nanti
    akan lebih jelas.

    Pada masa itulah Isra’ dan Mi’raj terjadi. Malam itu Muhammad
    sedang berada di rumah saudara sepupunya, Hindun puteri Abu
    Talib yang mendapat nama panggilan Umm Hani’. Ketika itu
    Hindun mengatakan:

    “Malam itu Rasulullah bermalam di rumah saya. Selesai salat
    akhir malam, ia tidur dan kamipun tidur. Pada waktu sebelum
    fajar Rasulullah sudah membangunkan kami. Sesudah melakukan
    ibadat pagi bersama-sama kami, ia berkata: ‘Umm Hani’, saya
    sudah salat akhir malam bersama kamu sekalian seperti yang
    kaulihat di lembah ini. Kemudian saya ke Bait’l-Maqdis
    (Yerusalem) dan bersembahyang di sana. Sekarang saya
    sembahyang siang bersama-sama kamu seperti kaulihat.”

    Kataku: “Rasulullah, janganlah menceritakan ini kepada orang
    lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!”

    “Tapi harus saya ceritakan kepada mereka,” jawabnya.

    Orang yang mengatakan, bahwa Isra’ dan Mi’raj Muhammad
    ‘alaihissalam dengan ruh itu berpegang kepada keterangan Umm
    Hani’ ini, dan juga kepada yang pernah dikatakan oleh Aisyah:
    “Jasad Rasulullah s.a.w. tidak hilang, tetapi Allah menjadikan
    isra’8 itu dengan ruhnya.” Juga Mu’awiya b. Abi Sufyan ketika
    ditanya tentang isra’ Rasul menyatakan: Itu adalah mimpi yang
    benar dari Tuhan. Di samping semua itu orang berpegang kepada
    firman Tuhan: “Tidak lain mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu
    adalah sebagai ujian bagi manusia.” (Qur’an, 17:60)

    Sebaliknya orang yang berpendapat, bahwa isra’ dari Mekah ke
    Bait’l-Maqdis itu dengan jasad, landasannya ialah apa yang
    pernah dikatakan oleh Muhammad, bahwa dalam isra’ itu ia
    berada di pedalaman, seperti yang akan disebutkan ceritanya
    nanti. Sedang mi’raj ke langit adalah dengan ruh. Disamping
    mereka itu ada lagi pendapat bahwa isra’ dan mi’raj itu
    keduanya dengan jasad. Polemik sekitar perbedaan pendapat ini
    di kalangan ahli-ahli iImu kalam banyak sekali dan ribuan pula
    tulisan-tulisan sudah dikemukakan orang. Sekitar arti isra’
    ini kami sendiri sudah mempunyai pendapat yang ingin kami
    kemukakan juga. Kita belum mengetahui, sudah adakah orang yang
    mengemukakannya sebelum kita, atau belum. Tetapi, sebelum
    pendapat ini kita kemukakan – dan supaya dapat kita kemukakan

    • perlu sekali kita menyampaikan kisah isra, dan mi’raj ini

    seperti yang terdapat dalam buku-buku sejarah hidup Nabi.

    Dengan indah sekali Dermenghem melukiskan kisah ini yang
    disarikannya dari pelbagai buku sejarah hidup Nabi, yang
    terjemahannya sebagai berikut:

    “Pada tengah malam yang sunyi dan hening, burung-burung
    malampun diam membisu, binatang-binatang buas sudah berdiam
    diri, gemercik air dan siulan angin juga sudah tak terdengar
    lagi, ketika itu Muhammad terbangun oleh suara yang
    memanggilnya: “Hai orang yang sedang tidur, bangunlah!” Dan
    bila ia bangun, dihadapannya sudah berdiri Malaikat Jibril
    dengan wajah yang putih berseri dan berkilauan seperti salju,
    melepaskan rambutnya yang pirang terurai, dengan mengenakan
    pakaian berumbaikan mutiara dan emas. Dan dari sekelilingnya
    sayap-sayap yang beraneka warna bergeleparan. Tangannya
    memegang seekor hewan yang ajaib, yaitu buraq yang bersayap
    seperti sayap garuda. Hewan itu membungkuk di hadapan Rasul,
    dan Rasulpun naik.

    “Maka meluncurlah buraq itu seperti anak panah membubung di
    atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju arah
    ke utara. Dalam perjalanan itu ia ditemani oleh malaikat. Lalu
    berhenti di gunung Sinai di tempat Tuhan berbicara dengan
    Musa. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa
    dilahirkan. Sesudah itu kemudian meluncur di udara.

    “Sementara itu ada suara-suara misterius mencoba menghentikan
    Nabi, orang yang begitu ikhlas menjalankan risalahnya. Ia
    melihat, bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menghentikan hewan
    itu di mana saja dikehendakiNya.

    “Seterusnya mereka sampai ke Bait’l-Maqdis. Muhammad
    mengikatkan hewan kendaraannya itu. Di puing-puing kuil
    Sulaiman ia bersembahyang bersama-sama Ibrahim, Musa dan Isa.
    Kemudian dibawakan tangga, yang lalu dipancangkan diatas batu
    Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit.

    “Langit pertama terbuat dari perak murni dengan
    bintang-bintang yang digantungkan dengan rantai-rantai emas.
    Tiap langit itu dijaga oleh malaikat, supaya jangan ada
    setan-setan yang bisa naik ke atas atau akan ada jin yang akan
    mendengarkan rahasia-rahasia langit. Di langit inilah Muhammad
    memberi hormat kepada Adam. Di tempat ini pula semua makhluk
    memuja dan memuji Tuhan. Pada keenam langit berikutnya
    Muhammad bertemu dengan Nuh, Harun, Musa, Ibrahim, Daud,
    Sulaiman, Idris, Yahya dan Isa. Juga di tempat itu ia melihat
    Malaikat maut Izrail, yang karena besarnya jarak antara kedua
    matanya adalah sejauh tujuh ribu hari perjalanan. Dan karena
    kekuasaanNya, maka yang berada di bawah perintahnya adalah
    seratus ribu kelompok. Ia sedang mencatat nama-nama mereka
    yang lahir dan mereka yang mati, dalam sebuah buku besar. Ia
    melihat juga Malaikat Airmata, yang menangis karena dosa-dosa
    orang, Malaikat Dendam yang berwajah tembaga yang menguasai
    anasir api dan sedang duduk di atas singgasana dari nyala api.
    Dan dilihatnya juga ada malaikat yang besar luar biasa, separo
    dari api dan separo lagi dari salju, dikelilingi oleh
    malaikat-malaikat yang merupakan kelompok yang tiada hentinya
    menyebut-nyebut nama Tuhan: O Tuhan, Engkau telah menyatukan
    salju dengan api, telah menyatukan semua hambaMu setia menurut
    ketentuan Mu.

    “Langit ketujuh adalah tempat orang-orang yang adil, dengan
    malaikat yang lebih besar dari bumi ini seluruhnya. Ia
    mempunyai tujuhpuluh ribu kepala, tiap kepala tujuhpuluh ribu
    mulut, tiap mulut tujuhpuluh ribu lidah, tiap lidah dapat
    berbicara dalam tujuh puluh ribu bahasa, tiap bahasa dengan
    tujuhpuluh ribu dialek. Semua itu memuja dan memuji serta
    mengkuduskan Tuhan.

    “Sementara ia sedang merenungkan makhluk-makhluk ajaib itu,
    tiba-tiba ia membubung lagi sampai di Sidrat’l-Muntaha yang
    terletak di sebelah kanan ‘Arsy, menaungi berjuta-juta ruh
    malaikat. Sesudah melangkah, tidak sampai sekejap matapun ia
    sudah menyeberangi lautan-lautan yang begitu luas dan
    daerah-daerah cahaya yang terang-benderang, lalu bagian yang
    gelap gulita disertai berjuta juta tabir kegelapan, api, air,
    udara dan angkasa. Tiap macam dipisahkan oleh jarak 500 tahun
    perjalanan. Ia melintasi tabir-tabir keindahan, kesempurnaan,
    rahasia, keagungan dan kesatuan. Dibalik itu terdapat
    tujuhpuluh ribu kelompok malaikat yang bersujud tidak bergerak
    dan tidak pula diperkenankan meninggalkan tempat.

    “Kemudian terasa lagi ia membubung ke atas ke tempat Yang Maha
    Tinggi. Terpesona sekali ia. Tiba-tiba bumi dan langit menjadi
    satu, hampir-hampir tak dapat lagi ia melihatnya, seolah-olah
    sudah hilang tertelan. Keduanya tampak hanya sebesar
    biji-bijian di tengah-tengah ladang yang membentang luas.

    “Begitu seharusnya manusia itu, di hadapan Raja semesta alam.

    “Kemudian lagi ia sudah berada di hadapan ‘Arsy, sudah dekat
    sekali. Ia sudah dapat melihat Tuhan dengan persepsinya, dan
    melihat segalanya yang tidak dapat dilukiskan dengan lidah, di
    luar jangkauan otak manusia akan dapat menangkapnya. Maha
    Agung Tuhan mengulurkan sebelah tanganNya di dada Muhammad dan
    yang sebelah lagi di bahunya. Ketika itu Nabi merasakan
    kesejukan di tulang punggungnya. Kemudian rasa tenang, damai,
    lalu fana ke dalam Diri Tuhan yang terasa membawa kenikmatan.

    “Sesudah berbicara… Tuhan memerintahkan hambaNya itu supaya
    setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Begitu
    Muhammad kembali turun dari langit, ia bertemu dengan Musa.
    Musa berkata kepadanya:

    “Bagaimana kauharapkan pengikut-pengikutmu akan dapat
    melakukan salat limapuluh kali tiap hari? Sebelum engkau aku
    sudah punya pengalaman, sudah kucoba terhadap anak-anak Israil
    sejauh yang dapat kulakukan. Percayalah dan kembali kepada
    Tuhan, minta supaya dikurangi jumlah sembahyang itu.

    “Muhammadpun kembali. Jumlah sembahyang juga lalu dikurangi
    menjadi empatpuluh. Tetapi Musa menganggap itu masih di luar
    kemampuan orang. Disuruhnya lagi Nabi penggantinya itu
    berkali-kali kembali kepada Tuhan sehingga berakhir dengan
    ketentuan yang lima kali.

    “Sekarang Jibril membawa Nabi mengunjungi surga yang sudah
    disediakan sesudah hari kebangkitan, bagi mereka yang teguh
    iman. Kemudian Muhammad kembali dengan tangga itu ke bumi.
    Buraqpun dilepaskan. Lalu ia kembali dari Bait’l-Maqdis ke
    Mekah naik hewan bersayap.”

    Demikian cerita Dermenghem tentang Isra’ dan Mi’raj. Kitapun
    dapat melihat, apa yang diceritakannya itu memang tersebar
    luas dalam buku-buku sejarah hidup Nabi, sekalipun akan kita
    lihat juga bahwa semua itu berbeda-beda. Di sana-sini dilebihi
    atau dikurangi.

    Salah satu contoh misalnya cerita Ibn Hisyam melalui ucapan
    Nabi ‘alaihissalam sesudah berjumpa dengan Adam di langit
    pertama, ketika mengatakan: “Kemudian kulihat orang-orang
    bermoncong seperti moncong unta, tangan mereka memegang
    segumpal api seperti batu-batu, lalu dilemparkan ke dalam
    mulut mereka dan keluar dari dubur. Aku bertanya: “Siapa
    mereka itu, Jibril?”. “Mereka yang memakan harta anak-anak
    yatim secara tidak sah,” jawab Jibril. Kemudian kulihat
    orang-orang dengan perut yang belum pernah kulihat dengan cara
    keluarga Fir’aun menyeberangi mereka seperti unta yang kena
    penyakit dalam kepalanya, ketika dibawa ke dalam api. Mereka
    diinjak-injak tak dapat beranjak dari tempat mereka. Aku
    bertanya: “Siapa mereka itu, Jibril?”. “Mereka itu
    tukang-tukang riba,” jawabnya. Kemudian kulihat orang-orang,
    di hadapan mereka ada daging yang gemuk dan baik, di samping
    ada daging yang buruk dan busuk. Mereka makan daging yang
    buruk dan busuk itu dan meninggalkan yang gemuk dan baik. Aku
    bertanya: “Siapakah mereka itu, Jibril”? “Mereka orang-orang
    yang meninggalkan wanita yang dihalalkan Tuhan dan mencari
    wanita yang diharamkan,” jawabnya. Kemudian aku melihat
    wanita-wanita yang digantungkan pada buah dadanya. Lalu aku
    bertanya: “Siapa mereka itu, Jibril?” “Mereka itu wanita yang
    memasukkan laki-laki lain bukan dari keluarga mereka …”
    Kemudian aku dibawa ke surga. Di sana kulihat seorang budak
    perempuan, bibirnya merah. Kutanya dia: “Kepunyaan siapa
    engkau?”-Aku tertarik sekali waktu kulihat. “Aku kepunyaan
    Zaid ibn Haritha,” jawabnya. Maka Rasulullah s.a.w. lalu
    memberi selamat kepada Zaid ibn Haritha.”

    Selain dari buku Ibn Hisyam ini, dalam buku-buku sejarah hidup
    Nabi yang lain dan dalam buku-buku tafsir orang akan melihat
    bermacam-macam hal lagi di samping itu. Sudah menjadi hak
    setiap penulis sejarah bila akan bertanya-tanya, sampai di
    mana benar ketelitian dan penyelidikan yang mereka adakan
    dalam hal ini semua; mana yang boleh dijadikan pegangan
    (askripsi) sampai kepada Nabi sesuai dengan pegangan yang
    sahih (otentik), dan mana pula yang hanya berupa buah khayal
    orang-orang tasauf dan sebangsanya.

    Kalau di sini tidak cukup ruangan untuk mengadakan ketentuan
    atau penyelidikan dalam bidang tersebut, dan kalau bukan pula
    di sini tempatnya untuk menyatakan apakah isra’ dan mi’raj itu
    keduanya dengan jasad, ataukah mi’raj dengan ruh dan isra’
    dengan jasad, ataukah isra’ dan mi’raj itu semuanya dengan ruh

    • maka sudah tentu bahwa tiap pendapat itu akan ada dasarnya

    pada ahli-ahli ilmu kalam dan tak ada salahnya, kalau atas
    pendapat-pendapat itu orang menyatakan pendiriannya sendiri,
    yang akan berbeda pula satu dari yang lain.

    Jadi barangsiapa yang mau menyatakan pendapatnya, bahwa isra’
    dan mi’raj itu keduanya dengan ruh, maka dasarnya adalah
    seperti yang kita kemukakan tadi dan sudah berulang-ulang pula
    disebutkan dalam Qur’an dan diucapkan Rasul.

    “Sungguh aku ini manusia seperti kamu juga yang diberikan
    wahyu kepadaku. Tetapi Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa,”
    (Qur’an. 18: 110)

    dan bahwa satu-satunya mujizat Muhammad ialah Qur’an, dan

    “Bahwasanya Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang
    mempersekutukanNya, tetapi Dia mengampuni segala dosa selain
    (syirik) itu, siapa saja yang dikehendakiNya.” (Qur’an, 4:48)

    Orang yang berpendapat demikian ini -sebenarnya melebihi yang
    lain- ia akan bertanya, apa sebenarnya arti isra’ dan mi’raj
    itu. Di sinilah letak pendapat yang ingin kita kemukakan. Kita
    belum mengetahui, sudah adakah orang mengemukakan hal ini
    sebelum kita, atau belum.

    Isra’ dan mi’raj ini dalam hidup kerohanian Muhammad mempunyai
    arti yang tinggi dan agung sekali, suatu arti yang lebih besar
    dari yang biasa mereka lukiskan itu, yang kadang tidak sedikit
    dikacau dan dirusak oleh imajinasi ahli-ahli ilmu kalam yang
    subur itu. Jiwa yang sungguh kuat itu, tatkala terjadi isra’
    dan mi’raj, telah dipersatukan oleh kesatuan wujud ini, yang
    sudah sampai pada puncak kesempurnaannya. Pada saat itu tak
    ada sesuatu tabir ruang dan waktu atau sesuatu yang dapat
    mengalangi intelek dan jiwa Muhammad, yang akan membuat
    penilaian kita tentang hidup ini menjadi nisbi, terbatas oleh
    kekuatan-kekuatan kita yang sensasional, yang dapat diarahkan
    menurut akal pikiran. Pada saat itu semua batas jadi hanyut di
    depan hati nurani Muhammad. Seluruh alam semesta ini sudah
    bersatu ke dalam jiwanya, yang lalu disadarinya, sejak dari
    awal yang azali sampai pada akhir yang abadi -sejak dunia
    mulai berkembang sampai ke akhir zaman. Digambarkannya dalam
    perkembangan kesunyian dirinya dalam mencapai kesempurnaan
    itu, dengan jalan kebaikan dan keindahan dan kebenaran, dalam
    mengatasi dan mengalahkan segala kejahatan, kekurangan,
    keburukan dan kebatilan, dengan karunia dan ampunan Tuhan
    juga. Orang tidak akan mencapai keluhuran demikian itu, kalau
    tidak dengan suatu kekuatan yang berada di atas kodrat manusia
    yang pernah dikenalnya.

    Apabila sesudah itu kemudian datang orang-orang yang menjadi
    pengikut Muhammad yang tidak sanggup mengikuti jejak
    pikirannya yang begitu tinggi, dengan kesadaran yang begitu
    kuat tentang kesatuan alam, kesempurnaan serta perjuangannya
    mencapai kesempurnaan itu, maka hal ini tidak mengherankan dan
    bukan pula aib tentunya. Orang-orang yang piawai dan jenial
    memang bertingkat-tingkat. Dalam kita mencapai kebenaran
    inipun selalu terbentur pada batas-batas ini; tenaga kita
    sudah tidak mampu mengatasinya.

    Apabila kita mau menyebutkan sebagai contoh -dengan sedikit
    perbedaan tentunya, sehubungan dengan apa yang kita hadapi
    sekarang ini- cerita orang-orang buta yang ingin mengetahui
    gajah itu apa, maka salah seorang dari mereka itu akan
    berkata, bahwa gajah itu ialah seutas tali yang panjang, sebab
    kebetulan yang terpegang adalah buntutnya; yang seorang lagi
    berkata, bahwa gajah itu sebatang pohon, sebab kebetulan yang
    dijumpainya adalah kakinya; yang ketiga berkata, bahwa gajah
    itu runcing seperti anak panah, sebab kebetulan yang
    dijumpainya adalah taringnya; yang keempat berkata, bahwa
    gajah itu bulat panjang dan bengkok, banyak bergerak-gerak,
    sebab kebetulan yang dipegangnya adalah belalainya.

    Contoh ini sebenarnya masih sejalan dengan gambaran yang
    terbayang ketika orang yang tidak buta itu melihat gajah untuk
    pertama kalinya. Boleh juga kiranya kita mengambil
    perbandingan antara persepsi (kesadaran) Muhammad menangkap
    esensi kesatuan alam ini serta penggambarannya kedalam
    isra’dan mi’raj yang berhubungan dengan waktu pertama sejak
    sebelum Adam sampai pada akhir hari kebangkitan dan yang akan
    menghilangkan pula kesudahan ruang ini, ketika ia melihat
    dengan mata batin dari Sidrat’l Muntaha ke alam semesta ini,
    yang ada sekarang di hadapannya dan sudah seperti kabut
    -dengan persepsi (kesadaran) kebanyakan orang yang dapat
    menangkap arti isra’-mi’raj itu. Tatkala itu ia berhadapan
    dengan bagian-bagian yang tidak termasuk kesatuan alam, sedang
    hidupnya hanya seperti partikel-partikel tubuh, bahkan seperti
    partikel-partikel yang melekat pada tubuh itu dengan
    susunannya yang tidak terpengaruh karenanya. Dari mana pula
    partikel-partikel daripada hidup tubuh itu, dari denyutan
    jantungnya, pancaran jiwanya, pikirannya yang penuh dengan
    enersi yang tak kenal batas; sebab, dari wujud hidup itulah ia
    berhubungan dengan segala kehidupan alam ini.

    Isra’ dengan ruh dalam pengertiannya adalah seperti isra’ dan
    mi’raj juga yang semuanya dengan ruh. Ini adalah begitu luhur,
    begitu indah dan agung. Ia merupakan suatu gambaran yang kuat
    sekali dalam arti kesatuan rohani sejak dari awal yang azali
    sampai pada akhir yang abadi. Ini adalah suatu pendakian ke
    atas Gunung Sinai, tatkala Tuhan berbicara dengan Musa, dan ke
    Bethlehem, tempat Isa dilahirkan. Pertemuan rohani demikian
    ini sudah mengandung selawat bagi Muhammad, Isa, Musa dan
    Ibrahim, suatu manifestasi yang kuat sekali dalam arti
    kesatuan hidup agama sebagai suatu sendi kesatuan alam dalam
    edarannya yang terus-menerus menuju kepada kesempurnaan.

    Ilmu pengetahuan pada masa kita sekarang ini mengakui isra’
    dengan ruh dan mengakui pula mi’raj dengan ruh. Apabila
    tenaga-tenaga yang bersih itu bertemu, maka sinar yang
    benarpun akan memancar. Dalam bentuk tertentu sama pula halnya
    dengan tenaga-tenaga alam ini, yang telah membukakan jalan
    kepada Marconi ketika ia menemukan suatu arus listrik tertentu
    dari kapalnya yang sedang berlabuh di Venesia. Dengan suatu
    kekuatan gelombang ether arus listrik itu telah dapat
    menerangi kota Sydney di Australia.

    IImu pengetahuan zaman kita sekarang ini membenarkan pula
    teori telepati serta pengetahuan lain yang bersangkutan dengan
    itu. Demikian juga transmisi suara di atas gelombang ether
    dengan radio, telephotography (facsimile transmisi) dan
    teleprinter lainnya, suatu hal yang tadinya masih dianggap
    suatu pekerjaan khayal belaka. Tenaga-tenaga yang masih
    tersimpan dalam alam semesta ini setiap hari masih selalu
    memperlihatkan yang baru kepada alam kita. Apabila jiwa sudah
    mencapai kekuatan dan kemampuan yang begitu tinggi seperti
    yang sudah dicapai oleh jiwa Muhammad itu, lalu Allah
    memperjalankan dia pada suatu malam dari Masjid’l-Haram ke
    al-Masjid’l-Aqsha, yang disekelilingnya sudah diberi berkah
    guna memperlihatkan tanda-tanda kebesaranNya, maka itupun oleh
    ilmu pengetahuan dapat pula dibenarkan. Arti semua ini ialah
    pengertian-pengertian yang begitu kuat dan luhur, begitu indah
    dan agung, dan telah pula membayangkan kesatuan rohani dan
    kesatuan alam semesta ini begitu jelas dan tegas dalam jiwa
    Muhammad. Orang akan dapat memahami arti semua ini apabila ia
    dapat berusaha menempatkan diri lebih tinggi dari bayangan
    hidup yang singkat ini. Ia berusaha mencapai esensi kebenaran
    tertinggi itu guna memahami kedudukannya yang sebenarnya dan
    kedudukan alam ini seluruhnya.

    Orang-orang Arab penduduk Mekah tidak dapat memahami semua
    pengertian ini. Itulah pula sebabnya, tatkala soal isra’ itu
    oleh Muhammad disampaikan kepada mereka, merekapun lalu
    menanggapinya dari bentuk materi – mungkin atau tidaknya isra’
    itu. Apa yang dikatakannya itu kemudian menimbulkan kesangsian
    juga pada beberapa orang pengikutnya, pada orang-orang yang
    tadinya sudah percaya. Mereka banyak yang mengatakan: Masalah
    ini sudah jelas. Perjalanan kafilah yang terus-meneruspun
    antara Mekah-Syam memakan waktu sebulan pergi dan sebulan
    pulang. Mana boleh jadi Muhammad hanya satu malam saja
    pergi-pulang ke Mekah?!

    Tidak sedikit mereka yang sudah Islam itu kemudian berbalik
    murtad. Mereka yang masih menyangsikan hal ini lalu mendatangi
    Abu Bakr dan keterangan yang diberikan Muhammad itu dijadikan
    bahan pembicaraan.

    “Kalian berdusta,” kata Abu Bakr.

    “Sungguh,” kata mereka. “Dia di mesjid sedang bicara dengan
    orang banyak.”

    “Dan kalaupun itu yang dikatakannya,” kata Abu Bakr lagi,
    “tentu dia bicara yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku,
    bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu
    malam atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu
    herankan.”

    Abu Bakr lalu mendatangi Nabi dan mendengarkan ia melukiskan
    Bait’l-Maqdis. Abu Bakr sudah pernah berkunjung ke kota itu.

    Selesai Nabi melukiskan keadaan mesjidnya, Abu Bakr berkata:

    “Rasulullah, saya percaya.”

    Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakr dengan “AshShiddiq.”9

    Alasan mereka yang berpendapat bahwa isra’ itu dengan jasad
    ialah karena ketika Quraisy mendengar tentang kejadian Suraqa
    mereka menanyakannya dan mereka yang sudah beriman juga
    menanyakan tentang peristiwa yang luar biasa itu. Mereka
    memang belum pernah mendengar hal semacam itu. Lalu
    diceritakannya tentang adanya kafilah yang pernah dilaluinya
    di tengah jalan. Ketika ada seekor unta dari kafilah tersesat,
    dialah yang menunjukkan. Pernah ia minum dari sebuah kafilah
    lain dan sesudah minum lalu ditutupnya bejana itu. Pihak
    Quraisy menanyakan hal tersebut. Kedua kafilah itupun
    membenarkan apa yang telah diceritakan Muhammad itu.

    Saya kira, kalau dalam hal ini orang bertanya kepada mereka
    yang berpendapat tentang isra’ dengan ruh itu, tentu mereka
    tidak akan merasa heran sesudah ternyata ilmu masa kita
    sekarang ini dapat mengetahui mungkinnya hypnotisma
    menceritakan hal-hal yang terjadi di tempat-tempat yang jauh.
    Apalagi dengan ruh yang dapat menghimpun kehidupan rohani
    dalam seluruh alam ini. Dengan tenaga yang diberikan Tuhan
    kepadanya ia dapat mengadakan komunikasi dengan rahasia hidup
    ini dari awal alam azali sampai pada akhirnya yang abadi.

    Catatan kaki:

    1 Biasanya tempat ini dinamai ‘Syi’b Abi Talib’ (A).

    2 At-Ta’if sebuah kota dan pusat musim panas dengan
    ketinggian 1520 m, dari permukaan laut, lebih kurang 60
    km timur laut Mekah (A).

    3 Doa ini dikenal dengan nama “Doa Ta’if” (A).

    4 Sebuah Kabilah Arab dari bagian Selatan (A).

    5 Kabilah Arab yang berdekatan dengah Suria (A).

    6 Kabilah Arab di dekat Irak (A).

    7 Kabilah Arab yang terpencar-pencar (A).

    8 Asra, sura dan isra’, harfiah berarti “perjalanan
    malam hari” (LA). ‘Araja berarti naik atau memanjat.
    Mi’raj harfiah tangga (N) (A).

    9 Yang tulus hati, yang sangat jujur (A).

    ———————————————
    S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980

    Seri PUSTAKA ISLAM No.1

    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Piagam3.html

     
    • fantasy 1:21 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

      sdr lihat itu cerita loe sendiri baca mulai dari atas cape kayak pedagang asongan muhammad menawarkan agamanya nggak laku laku terahir kasihan orang melihat muhammad .terus dalam dialog muhammad mengaku ngaku seorang nabi…ngak malu kalau seorang itu adalah seorang nabi nggak perlu ngaku ngaku…..orang akan tahu seorang itu nabi dari perbuatanya bukan musti ngaku ngaku seperti mamad ini.. hoi..aku seorang nabiiiii. hormati aku …. maka orang akan keawa dan mengatakan orang itu gila…

    • humanoid 2:22 pm on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Lalu Muhammad menanyakan negeri asal
      dan agama orang itu.
      Setelah diketahui bahwa orang tersebut
      beragama Nasrani dari
      Nineveh, katanya:
      “Dari negeri orang baik-baik, Yunus anak
      Matta.”
      “Dari mana tuan kenal nama Yunus anak
      Matta!” tanya ‘Addas.
      “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku
      juga Nabi,” jawab
      Muhammad.

      NGAKU NABI NI YEE…. wkwkwkkk…
      Jd teringat sm imam aliran sesat yg ngaku nabi di Indonesia ni… astojimmm…

    • wikki 2:37 pm on 28/08/2012 Permalink | Reply

      aku juga cuma cuma jamaahku belum ada………enak loh jadi nabi… dihormati…bisa gonta ganti pasangan tunggu nanti kalau sudah ada jamaahku pasti kumasukkan mereka kesurga yang banyak bidadarinya pokoke lebih seratusan gitu lebih cantik dari bidadarinya muhammad …syaratnya dikit yang penting pintar nyolong . merampok membunuh .aku bikin nanti nama surahnya surah …sapi jantan ..kan sapi betina sudah ada yang pakai..jadi kreatif sikitlah….sapi madura ..cocok nggak yah……

    • sodron 4:26 am on 05/09/2012 Permalink | Reply

      nabi Muhammad LEBIH mulia Di bandingkan yesus,nabi muhamad isrok mi,rad Di sambut buraq (kuda bersayap) binatang yg sangat indah.sedangkan yesus isroq mi,rad naik keledai betina hasil curian .Dan sebelum naik keledainya Di sadomi duluan.xixixixixi…..

    • camar 8:55 am on 07/09/2012 Permalink | Reply

      kisah seputar isra mi raj…
      Setelah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan di Taif, Muhammad berusaha untuk kembali lagi ke Mekah. Melalui pertolongan budaknya, Zaid, ia diberi perlindungan oleh Mutim bin Idi, pimpinan Nofal, klan dari Quraish. Keesokan harinya, Mutim dengan anak dan ponakannya dengan bersenjata mendatangi lapangan umum Kabah dan mengumumkan bahwa Muhammad sejak saat itu berada dibawah perlindungannya. Muhammad sangat gembira, tapi tampaknya dia menahan diri untuk segera menyebarkan agamanya kepada kaum Quaish, dia hanya berdakwah pada para peziarah haji yang datang ke kabah untuk melakukan ritual berhalanya.

      Selama periode ini. disaat Muhammad mempertahankan perannya agar tidak menyolok di mata musuh2nya di Mekah, dikatakan bahwa dia, karena alasan tidak jelas, tidur semalaman dirumah sepupunya, Umm Hani.

      Umm Hani adalah anak perempuan Abu Thalib. Umm Hani kemungkinan besar adalah “cinta lama Muhammad”. Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad pernah melamar Umm Hani, namun hal ini ditolak mentah2 oleh Abu Thalib, alasannya saat itu Muhammad adalah pemuda yang papa dan miskin. Karena hubungan keduanya tidak direstui Abu Thalib, akhirnya Umm Hani menikah dengan Hubairah, seorang laki2 yang beragama Nosrania (Nasrani).

      Pada pagi berikutnya, orang2 ingin tahu dimanakah dia malam kemarin. Beberapa orang rupanya telah mengetahui bahwa sore sebelumnya ia memasuki rumah Umm Hani. Dia tidak mungkin mengaku bahwa ia telah “tidur” bersama seorang wanita yang sedang sendirian, karena itu akan menghancurkan kariernya sebagai seorang nabi. Muhammad akhirnya mengarang cerita, dia mengatakan bahwa pada malam itu ia dituntun Jibril untuk melakukan perjalanan dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dari sana ia naik kesorga dan bertemu Allah. Karena perjalanan ini tidak mengikut sertakan manusia lain, oleh karenanya tidak ada manusia lain yang bisa menjadi saksi akan kejadian mukjijat ini, maka ini mencegah orang2 meminta saksi mata untuk membuktikan pernyataannya tersebut.

      Mendengar penjelasan Muhammad tersebut, kebanyakan dari mereka mengatakan, ‘Demi Allah, ini jelas sebuah kebohongan! Sebuah karavan saja memerlukan waktu satu bulan untuk mencapai Syria dan satu bulan lagi untuk kembali. Bagaimana Muhammad bisa melakukan perjalanan pulang-pergi dari Mekah ke Yerusalem dalam satu malam ?’

      Ibn Ishaq mengatakan; “Setelah mendengar cerita ini banyak orang yang dulunya bergabung dengan Islam menjadi murtad dan meninggalkan Islam.”

      Sebagian lagi menemui Abu Bakar, yang rupanya belum mengetahui hal ini dan berkata, “Apa pendapatmu tentang temanmu itu? Dia mengaku telah pergi ke Yerusalem semalam, sholat disana lalu kembali lagi ke Mekah!” Abu Bakar menuduh orang2 yang bertanya kepadanya ini berbohong, Muhammad tidak akan berkata begitu, tapi mereka meyakinkan dia, bahwa Muhammad sekarang sedang berada di mesjid, menjelaskan tuduhan orang2 terhadapnya. Abu Bakar tertegun dan lalu berkata, “jika dia bilang begitu, maka itu benar. Kenapa heran? Dia pernah bilang berkomunikasi dengan Allah, dari langit kebumi, wahyu datang padanya siang atau malam, dan saya percaya dia. Itu jauh lebih luar biasa dari apa yang kau ceritakan sekarang!” (Ibn Ishaq, Sirah Rasul Allah, p 183)

      Logikanya sangat sempurna. Pada dasarnya apa yang Abu Bakar katakan adalah bahwa sekali kamu telah melepaskan akal sehatmu dan percaya pada kemustahilan, kamu bisa percaya apa saja. Sekali saja kau biarkan dirimu dibodohi, maka kau harus siap untuk dibodohi selamanya karena tidak ada batas bagi kebodohan. Berapa banyak orang yang akan membiarkan kakek berumur 50 tahun seperti Muhammad, mengawini anak perempuannya yang berumur 6 tahun? Tapi Abu Bakar melakukan itu. Ini membutuhkan kebodohan yang luar biasa. Kebodohan yang hanya mungkin ada dalam sebuah kepercayaan buta.

      Kita juga harus ingat bahwa Abu Bakar, telah menghabiskan semua kekayaannya bagi Muhammad dan tujuannya. Orang ini telah banyak berkorban bagi Muhammad. Pada tahap ini, dia tidak punya pilihan lain kecuali ikut saja pada apa yang dikatakan Muhammad. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengubur dalam2 logikanya dan secara membuta mengikuti apa saja yang dikatakan dan diperbuat Muhammad.

      Abu Bakar begitu kesulitan mempercayai kisah kenaikan Muhammad ke surga, tapi pada a

      Setelah gagal meyakinkan sebagian orang atas kenaikannya kesurga tersebut. Mari kita lihat bagaimana Muhammad mengembangkan kebohongan Isra Miraj ini dikemudian hari.

      Terdapat berbagai versi tentang dongeng Muhammad ini. Ibn Ishaq (p182) menyusun tradisi2 yang berasal dari sahabat-sahabatnya, khususnya istrinya, Aisha. Menurut riwayat, Muhammad melaporkan:

      “Ketika saya, Jibril datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya bangun namun tidak melihat apa-apa dan merebah kembali. Untuk kedua kalinya ia datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya tidak melihat apa2 dan merebah kembali. Ia datang kepada saya untuk ketiga kalinya dan membangunkan saya dgn kakinya. Saya bangun dan ia memegang tangan saya dan saya berdiri disebelahnya. Ia membawa saya keluar, dan disitulah ada seekor hewan putih, setengah keledai, dengan sayap2 disisinya yang mempercepat gerakkan kakinya …. Ia menaikkan saya padanya. Lalu ia pergi keluar dengan saya, dan terus dekat dengan saya. Ketika saya mencoba menaikinya, ia [hewan itu] malu-malu. Jibril meletakkan tangannya pada bulu tengkuknya dan mengatakan, Apakah kau tidak malu, wahai Buraq, untuk bertingkah seperti ini ? Demi Allâh, tidak ada yang lebih terhormat bagi Allâh daripada Muhammad menaikimu. Hewan itu begitu malu sampai ia berkeringat dan berdiri sehingga saya bisa menaikinya.”

      Sang periwayat kemudian mengatakan: “Nabi dan Jibril berangkat dari Masjid Haram, sampai mereka tiba di Masjid Aqsa di Yerusalem. Disana ia berjumpa dengan nabi2 terdahulu seperti Adam, Ibraham, Musa dan Yesus. Muhammad kemudian membimbing mereka dan menjadi imam utama dalam sholat.

      Setelah sholat selesai, malaikat Jibril membuka hati Muhammad untuk kedua kali dan membersihkannya dari segala dosa yang telah dia kumpulkan sejak pencucian pertama ketika dia berumur lima tahun. Setelah itu sebuah tangga dipasang, menghubungkan Masjid Aqsa dengan ketujuh surga dilangit. Dengan Buraq, hewan setengah kuda dan setengah keledai, berkepala manusia dan sayap burung rajawali, ia mengunjungi tingkatan2 di Surga.

      Setelah menuntaskan urusan saya di Yerusalem, sebuah anak tangga yang paling indah yang pernah saya lihat dibawa kepada saya. Itu tangga yang dipandangi orang yang hampir mati saat kematian menjemputnya. Rekan saya menaikinya, sampai kami tiba di salah satu gerbang surga yang disebut dengan Gerbang Para Penjaga. Malaikat bernama Ismail bertanggung jawab atasnya dan ia membawahi 12.000 malaikat, yang masing2 membawahi 12.000 malaikat.’

      Ketika Jibril membawa saya masuk, Ismail bertanya siapa saya dan ketika Jibril mengatakan bahwa saya Muhammad, ia bertanya apakah saya diberikan sebuah misi, atau dipanggil, dan setelah diyakinkan Jibril, ia mengucapkan selamat jalan.

      Saya melihat malaikat kematian, Azrail, yang tubuhnya begitu besar sampai mata2nya berjarak 70.000 hari perjalanan berbaris (Sekitar 10 kali lebih besar dari jarak antara Bulan dan Bumi). Ia memiliki 100.000 batalyon malaikat dan melewatkan waktunya dengan menulis dalam sebuah buku raksasa nama2 mereka yang mati atau dilahirkan.

      Saya juga melihat malaikat air mata yang menangis bagi dosa2 dunia; Malaikat Pembalas dengan wajah yang besar yang tertutup oleh bisul2 yang menguasai api dan duduk dalam singgasana berapi; dan satu lagi malaikat raksasa yang tubuhnya terdiri dari setengah salju dan setengah api.

      Semua malaikat yang menemui saya ketika saya memasuki suga paling bawah tersenyum dan mengucapkan selamat jalan, kecuali salah satu dari mereka yang tidak tersenyum atau menunjukkan ekspresi gembira seperti malaikat lainnya. Dan ketika saya tanya alasannya pada Jibril, ia mengatakan bahwa malaikat tersebut tidak tersenyum karena ia adalah Malik, Penjaga Pintu Neraka.

      Ketika saya memasuki surga paling bawah, saya melihat seseorang duduk disana, dengan jiwa2 orang yang melewatinya. Dalam menjawab pertanyaan saya, Jibril mengatakan bahwa ini ayah kami, Adam, sedang memeriksa jiwa2 keturunannya. Jiwa orang beriman meningkatkan kegembiraannya, sementara jiwa seorang kafir meningkatkan kejijikannya. Lalu saya melihat orang2 dengan bibir seperti onta. Dalam tangan2 mereka terdapat kepingan2 api, seperti batu, yang mereka gunakan untuk dimasukkan dalam mulut mereka dan kemudian keluar dari bokong mereka. Saya diberitabu bahwai mereka ini adalah orang yang berdosa karena memakan harta anak yatim piatu. Lalu saya melihat orang2 seperti keluarga Firaun, dengan perut2 yang belum pernah saya lihat, dan melewati mereka adalah onta2 yang gila karena kehausan ketika mereka dibuang ke neraka, menginjak mereka karena mereka tidak dapat mengelak. Mereka adalah para lintah darat.

      Lalu saya dibawa ke surga kedua, dan disitu ada dua saudara sepupu dari garis ibu, Isa, putera Mariam dan Yohanes, putera Zakariah. Lalu saya ke surga ketiga dan disitu ada seseoarng yang wajahnya seperti bulan purnama. Itu saudara saya, Yusuf, putera Yakub. Lalu ke surga keempat, disana ada seorang bernama Idris (Henokh). Lalu ke surga kelima dan disana ada lelaki dengan rambut putih dan jenggot panjang, belum pernah saya melihat lelaki yang lebih rupawan darinya. Ia adalah yang paling dikasihi rakyatnya, Harun, putera ‘Imran.

      Lalu ke surga keenam, dan disana ada lelaki berwarna kulit gelap dengan hidung berbentuk kait, spt kaum Shanu’a. Ini saudara saya, Musa, putera ‘Imran. Lalu ke surga ketujuh, dan disana ada seseorang duduk di singgasana pada gerbang rumah mewah, Surga. Setiap hari, 70.000 malaikat masuk dan tidak kembali sebelum hari kiamat. Belum pernah saya melihat orang lebih mirip dengan saya. Ini ayah saya, Ibrahim. Dalam surga ketujuh dimana jiwa2 orang2 baik tinggal terdapat malaikat yang lebih besar dari seluruh dunia dengan 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 mulut dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah dan setiap lidah berbicara dalam 70.000 bahasa dan tidak habis2nya menyanyikan pujian kepada Sang Maha Kuasa.

      Satu versi mengatakan, Ketika Jibril mengantar Muhammad ke setiap tingkatan surga dan meminta ijin masuk, Jibril harus memberitahu para penjaga siapa yang ia bawa dan apakah tamunya itu menerima sebuah misi atau ia telah dipanggil, dan para penjaga gerbang akan menjawab ‘Allah memberikannya kehidupan, kakak dan sahabat!’ dan membiarkan mereka lewat sampai mereka mencapai langit ketujuh dan ia dituntun menuju Sidratul Muntaha, yang dibatasi oleh pohon khuldi, disana Muhammad bertemu dengan Allah. Disana ditetapkan kewajiban lima puluh kali solat per hari bagi pengikutnya. Saat ia kembali, ia bertemu Musa dan inilah yang terjadi:

      Pada saat saya kembali, saya berjumpa dengan Musa dan sungguh ia temanmu yang paling baik! Ia bertanya berapa solat yang diwajibkan pada saya dan ketika saya mengatakan lima puluh, ia mengatakan, ‘Doa adalah sesuatu yang memberatkan dan pengikutmu adalah orang-orang lemah, jadi kembalilah kepada Tuhanmu dan minta padaNya untuk mengurangi jumlah solatnya bagi dirimu dan komunitasmu.’ Saya melakukannya dan Ia mewajibkan sepuluh solat. Sekali lagi saya berpapasan dengan Musa dan ia sekali lagi mengatakan hal yang sama, dan begitulah seterusnya sampai hanya ditetapkan lima solat bagi seluruh hari dan malam. Musa kembali memberikan saya nasehat yang sama. Saya menjawab bahwa saya sudah kembali kepada Tuhan saya dan bertanya padaNya untuk mengurangi jumlahnya sampai saya malu dan saya tidak akan melakukannya lagi. Barang siapa yang melakukan doa dalam iman, imannya akan dihadiahi dengan limapuluh solat.

      Demikianlah cerita Muhammad yang ia karang2 dikemudian hari untuk menyakinkan para pengikut fanatiknya mengenai kebohongan Isra Miraj tersebut.

      Orang memang cenderung percaya kebohongan apa saja, selama kebohongan itu diberi cap “mistis” dan “spiritual”,

      Muhammad memang memilki daya khayal yang luar biasa. Muhammad bukanlah orang yang biasa menggunakan kiasan atau personifikasi dalam menyatakan sesuatu. Lihatlah bagaimana Muhammad bercerita tentang malaikat yang ukurannya lebih besar dari bumi ini. Malaikat yang memiliki 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 wajah. (Total wajah yg dimilikinya adalah : 4.900.000.000) Setiap wajah memiliki 70.000 mulut (Total mulut: 343.000.000.000.000) Setiap mulut memiliki 70.000 lidah (Total lidah: 24.010.000.000.000.000.000) Setiap lidah mampu berbicara dalam 70.000 bahasa (Total bahasa yang mampu digunakannya : 1,680,700,000,000,000,000,000,000), Dan kesemuanya itu diciptakan Allah untuk satu tujuan, yaitu memuja dia.

      Mengapa Allah merasa perlu menciptakan mahluk monster seperti itu hanya agar mahluk itu bisa memuja2nya tanpa akhir dalam berbagai bahasa pula? Bukankah itu gila? Allah adalah perwujudan ego Muhammad dan segala yang ia inginkan. Psikologi Allah merefleksikan psikologi Muhammad. Sebagai seorang narsisis, ia memiliki kehausan besar agar dipuja, begitu pula tuhannya yang tidak lain hanyalah perwujudan dirinya.

      TERLALU BANYAK KEBOHONGAN DAN KEJANGGALAN DALAM PERISTIWA ISRA MIRAJ INI.

      Para pakar Muslim, yang telah termakan tipu daya Muhammad, sampai jungkir balik untuk mempertahankan dongeng ini agar nampak kredibel. Mereka mati2an berusaha membela kebohongan ini agar nampak sebagai suatu kebenaran.

      Para pengritik mempertanyakan moralitas dan tujuan keberadaan Muhammad, seorang pria yang baru beberapa waktu ditinggal mati istrinya, ditengah malam, dirumah seorang wanita yang tinggal seorang diri. Juga keputusan Allah untuk mengundangnya kesurga dari rumah seorang wanita yang bukan muhrimnya, bukan dari rumahnya sendiri.

      Beberapa pakar muslim mengatakan bahwa peristiwa Isra Miraj ini adalah peristiwa dialam roh, bukan di alam fisik (jasad) sesungguhnya. Namun secara logika argumen ini juga terbantahkan. Motif utama Muhammad menceritakan kisah ini adalah untuk menghindar dari tuduhan orang2 bahwa semalam ia secara fisik berada di rumah Umm Hani. Oleh karenanya ia mengatakan bahwa secara fisik, ia telah pergi ke Yerusalem dan ke surga, bukan tidur berduaan dengan Umm Hani. Ayat Quran tentang Isra Miraj juga membuktikan ini;

      Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 17:01)

      Kata2 “Bi’abdihi” (hambaNya) ini dapat dipakai untuk memberikan sanggahan atas orang2 yang berpendapat bahwa perjalanan malam Muhammad ini hanya terjadi dengan rohnya saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata2 “abd” (hamba) itu dipakai untuk roh beserta jasadnya sekaligus, bukan untuk roh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang mengatakan roh itu sebagai “abd” atau jasad yang tidak ber-roh sebagai ‘abd.

      Pertentangan berikutnya adalah mengenai singgahnya Muhammad ke Masjid Al Aqsa. Menurut sejarah peristiwa Muhammad naik kesorga ini terjadi di sekitar tahun 621 M. Namun sejarah mencatat bahwa pada tahun tersebut tidak ada satu bangunan pun yang berdiri dibekas Kuil Sulaiman (Salamo), karena bangsa Romawi telah menghancurkan dan membumi ratakan seluruh bangunan dikomples kuil ini pada tahun 70 M. Diatas bekas kuil ini kemudian di bangun Kuil Yupiter oleh bangsa Romawi. Kemudian kerajaan Byzantium menghancurkan Kuil Yupiter, dan setelah penaklukan Byzantium oleh islam maka dibangunlah The Dome of the Rock diatasnya pada tahun 691M. Mesjid Al-Aqsa baru dibangun dikompleks tersebut oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dinasti Umayyad di tahun 710M.

      Bagaimana mungkin Muhammad pada tahun 621 M mengatakan bahwa ia pergi ke Masjid Al Aqsa, padahal masjid itu baru berdiri 710 M, atau 89 tahun kemudian.

      MUNGKINKAH KISAH ISRA MIRAJ INI HANYALAH DONGENG YANG DICIPTAKAN MUSLIM SETELAH KEMATIAN MUHAMMAD?

      Hal aneh lain seputar Isra Miraj, adalah tentang pembangunan Masjidil Haram dan Al Aqsa. Muhammad bercerita demikian mengenai kedua masjid tersebut;

      Dikisahkan oleh Abu Dhaar: Aku bertanya, “Ya Rasulullah! Masjid manakah yang dibangun pertama kali? Beliau menjawab, “Masjidil Haram” Aku bertanya, “Selanjutnya?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsa”. Kemudian aku bertanya, “Berapakah selisih pembangunan keduanya?” Rasulullah menjawab, “Empat puluh (tahun)”,….. (Hadis Bukhari 55:636)
      Benarkah perkataan Muhammad tersebut? Menurut Islam Masjidil Haram dibangun oleh Ibrahim pada 2000 SM, sedangkan Masjidil Aqsa dibangun pada tahun 710 M, maka kalkulasi yang benar terdapat selisih 2710 tahun. Muhammad mengatakan 40 tahun. Apakah 40 = 2710 ?

      Di dongeng Isra Miraj ini Allah setuju dengan Muhammad untuk mewajibkan sholat lima waktu. Namun anehnya ternyata Allah lupa mencatatkan jumlah sholat ini didalam Quran. Ataukah mungkin Allah sudah memerintahkan pada Jibril, namun Jibril lupa mengatakannya pada Muhammad.

      • ungke 3:10 pm on 16/10/2012 Permalink | Reply

        Sepi pengunjung ni… mungkin karena ketahuan Bohongnya si Mr. Moh… kali ya.

      • ungke 5:03 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

        Aneh …Katanya sholat adalah tiang agama islam(soko guru) tapi kok hal sepenting itu malah tidak tertulis di quran, justru aulloh malah sibuk menuliskan berapa jumlah istri yang ideal, bagaimana orang berhubungan intim, apa yang harus dilakukan istri istri muhamad, masalah minum madu (Cerita maria) dan banyak hal hal sepeleh dan pribadi yang tidak perlu di tulis

    • Soebodo 1:18 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Biarkan anjing menggongong khalifah tetap berlalu …

    • ungke 4:52 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Mas Soebodo ..
      Coba sekali ini saja anda jawab dengan Intelek &logis dan dengan bukti yang sahih tulisan mas Wikki diatas, supaya kami tahu anda ini bukan cuma asal ngomong saja seperti selama ini,

    • Soebodo 9:20 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Anda nggak memerlukan jawaban dari saya….akan percuma kalau kalau anda masih punya nalar yg demikian banyak jawaban bagus dari temen dan dalam …. kalau anda mampu tanya saja sama YESUS agar jelas. buktikan senidiri kalau anda mampu berkomunikasi. bukan hanya cerita dari cerita bg kami tidak membutikan apa2(kalau paham) tingkatkan kualitas diri bukan hanya ilmiah ….rohaniah

    • ungke 11:36 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Sekarang saya benar-benar yakin kalau anda itu memang cuma modal mbacot tidak berbobot, terima kasih untuk jawaban anda.

    • soebodo 11:35 pm on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Diatas sebenarnya ada kalimat dalam sekali … tergantung kedalam rohani anda . kecuali dimatikan dengan mengisi dengan mencari kesalahan(padahal nggak paham) jangankan kepinteran ungke/wiki/camar x 1000 …manusia sedunia dikumpulin untuk membahas tidaklah ada artinya ( dah gamblang…) apalagi pembenaran diperoleh dari menyalahkan2 pihak laenya (janggal …. saya gambarkan KECAP biar jelas KECAP NO 1 bagi yang sudah merasakan dan tahu barangnya dengan jelas…apalagi ada yang menawarkan kecap laen tapi dia sendiri belum merasakan rasanya kecap apalagi memegang. hanya dari brosur saja dan kita tahu kwalitas kecap laen karena sudah merasakan

    • ungke 2:32 pm on 29/10/2012 Permalink | Reply

      “Diatas sebenarnya ada kalimat dalam sekali ” seking dalamnya sampe anda sendiri tidak bisa jelasin, sudahlah soebodo kalo nda tau apa apa mending anda ikut baca saja. jangan semakin memperlihatkan isi kepala anda.

    • soebodo 2:03 am on 30/10/2012 Permalink | Reply

      kalau mo jelasin lom sampe sana malah bengong…belajar berjalan dulu …. temen2 laen sudah pd pinter berlari … kok malah berkoar-koar bikin argumen lagi….apakah menununjukan inteleknya malah cetek bagi kami.

  • SERBUIFF 9:03 am on 07/01/2010 Permalink | Reply
    Tags: isra mi raj   

    ISRA’ MI’RAJ oleh Muhammad Husain Haekal 

    BAGIAN KEDELAPAN: DARI PEMBATALAN PIAGAM SAMPAI KEPADA ISRA'
    Muhammad Husain Haekal                                   (2/3)
     
    Terasing  seorang diri, ia pergi ke Ta'if,2 dengan tiada orang
    yang mengetahuinya. Ia pergi ingin  mendapatkan  dukungan  dan
    suaka  dari  Thaqif  terhadap  masyarakatnya  sendiri,  dengan
    harapan merekapun akan dapat menerima Islam.  Tetapi  ternyata
    mereka  juga  menolaknya  secara  kejam sekali. Kalaupun sudah
    begitu, ia masih  mengharapkan  mereka  jangan  memberitahukan
    kedatangannya minta pertolongan itu, supaya jangan ia disoraki
    oleh masyarakatnya sendiri. Tetapi permintaannya itupun  tidak
    didengar.  Bahkan  mereka  menghasut  orang-orang  pandir agar
    bersorak-sorai dan memakinya.
     
    Ia  pergi  lagi  dari  sana,  berlindung  pada  sebuah   kebun
    kepunyaan  'Utba dan Syaiba anak-anak Rabi'a. Orang-orang yang
    pandir itu kembali pulang. Ia  lalu  duduk  di  bawah  naungan
    pohon    anggur.    Ketika    itu   keluarga   Rabi'a   sedang
    memperhatikannya dan melihat pula kemalangan yang dideritanya.
    Sesudah agak reda, ia mengangkat kepala menengadah ke atas, ia
    hanyut dalam suatu  doa  yang  berisi  pengaduan  yang  sangat
    mengharukan:
     
    "Allahumma   yang   Allah,   kepadaMu   juga   aku  mengadukan
    kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta  kehinaan  diriku  di
    hadapan  manusia.  O  Tuhan  Maha  Pengasih,  Maha  Penyayang.
    Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku.
    Kepada  siapa  hendak  Kauserahkan  daku?  Kepada  orang  yang
    jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada  musuh  yang
    akan  menguasai  diriku?  Asalkan Engkau tidak murka kepadaku,
    aku  tidak  peduli,  sebab  sungguh   luas   kenikmatan   yang
    Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang
    menyinari kegelapan, dan karenanya  membawakan  kebaikan  bagi
    dunia dan akhirat - daripada kemurkaanMu yang akan Kautimpakan
    kepadaku.  Engkaulah  yang  berhak  menegur  hingga   berkenan
    pada-Mu. Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau juga."3
     
    Dalam  memperhatikan  keadaan itu hati kedua orang anak Rabi'a
    itu merasa tersentak. Mereka merasa iba  dan  kasihan  melihat
    nasib   buruk  yang  dialaminya  itu.  Budak  mereka,  seorang
    beragama Nasrani bernama 'Addas, diutus  kepadanya  membawakan
    buah  anggur  dari kebun itu. Sambil meletakkan tangan di atas
    buah-buahan itu Muhammad berkata: "Bismillah!" Lalu  buah  itu
    dimakannya.
     
    'Addas memandangnya keheranan.
     
    "Kata-kata ini tak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini,"
    kata 'Addas.
     
    Lalu Muhammad menanyakan negeri  asal  dan  agama  orang  itu.
    Setelah  diketahui  bahwa orang tersebut beragama Nasrani dari
    Nineveh, katanya:
     
    "Dari negeri orang baik-baik, Yunus anak Matta."
     
    "Dari mana tuan kenal nama Yunus anak Matta!" tanya 'Addas.
     
    "Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku  juga  Nabi,"  jawab
    Muhammad.
     
    Saat  itu  'Addas  lalu  membungkuk mencium kepala, tangan dan
    kaki Muhammad. Sudah tentu kejadian ini menimbulkan  keheranan
    keluarga  Rabi'a  yang  melihatnya.  Sungguhpun  begitu mereka
    tidak sampai akan meninggalkan kepercayaan mereka. Dan tatkala
    'Addas sudah kembali mereka berkata:
     
    "'Addas, jangan sampai orang itu memalingkan kau dari agamamu,
    yang masih lebih baik daripada agamanya."
     
    Gangguan orang  yang  pernah  dialami  Muhammad  seolah  dapat
    meringankan   perbuatan   buruk  yang  dilakukan  Thaqif  itu,
    meskipun mereka tetap kaku tidak mau mengikutinya. Keadaan itu
    sudah  diketahui  pula  oleh  Quraisy sehingga gangguan mereka
    kepada Muhammad  makin  menjadi-jadi.  Tetapi  hal  ini  tidak
    mengurangi  kemauan Muhammad menyampaikan dakwah Islam. Kepada
    kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, itu ia  memperkenalkan
    diri,     mengajak    mereka    mengenal    arti    kebenaran.
    Diberitahukannya kepada mereka,  bahwa  ia  adalah  Nabi  yang
    diutus, dan dimintanya mereka mempercayainya.
     
    Namun    sungguhpun   begitu,   Abu   Lahab   pamannya   tidak
    membiarkannya,  bahkan  dibuntutinya   ke   mana   ia   pergi.
    Dihasutnya orang supaya jangan mau mendengarkan.
     
    Muhammad  sendiri tidak cukup hanya memperkenalkan diri kepada
    kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah di Mekah  saja,  bahkan
    ia  mendatangi  Banu  Kinda4 ke rumah-rumah mereka, mendatangi
    Banu Kalb,5 juga ke rumah-rumah mereka, Banu Hanifa6 dan  Banu
    'Amir bin Sha'sha'a.7 Tapi tak seorangpun dari mereka yang mau
    mendengarkan. Banu Hanifa  bahkan  menolak  dengan  cara  yang
    buruk  sekali.  Sedang Banu 'Amir menunjukkan ambisinya, bahwa
    kalau Muhammad mendapat kemenangan, maka sebagai penggantinya,
    segala  persoalan  nanti harus berada di tangan mereka. Tetapi
    setelah dijawab, bahwa masalah itu  berada  di  tangan  Tuhan,
    merekapun  lalu  membuang  muka  dan  menolaknya  seperti yang
    lain-lain.
     
    Adakah  kegigihan  kabilah-kabilah  yang  mengadakan   oposisi
    terhadap  Muhammad  itu  karena  sebab-sebab yang sama seperti
    yang dilakukan oleh Quraisy? Kita sudah  melihat,  bahwa  Banu
    'Amir  ini  mempunyai  ambisi  ingin  memegang  kekuasaan bila
    bersama-sama mereka nanti ia mendapat  kemenangan.  Sebaliknya
    kabilah  Thaqif  pandangannya  lain  lagi.  Ta'if  di  samping
    sebagai tempat musim panas bagi penduduk Mekah karena udaranya
    yang  sejuk dan buah anggurnya yang manis-manis, juga kota ini
    merupakan pusat tempat penyembahan Lat. Ke  tempat  itu  orang
    berziarah  dan  menyembah  berhala.  Kalau  Thaqif  ini sampai
    menjadi pengikut Muhammad, maka  kedudukan  Lat  akan  hilang.
    Permusuhan  mereka  dengan  Quraisypun akan timbul, yang sudah
    tentu akibatnya akan  mempengaruhi  perekonomian  mereka  pada
    musim  dingin.  Begitu  juga  halnya  dengan yang lain, setiap
    kabilah  mempunyai  penyakit  sendiri  yang  disebabkan   oleh
    keadaan  perekonomian  setempat.  Dalam  menentang  Islam itu,
    pengaruh ini lebih besar  terhadap  mereka  daripada  pengaruh
    kepercayaan   mereka   dan  kepercayaan  nenek-moyang  mereka,
    termasuk penyembahan berhala-berhala.
     
    Makin  besar  oposisi  yang  dilakukan  kabilah-kabilah   itu,
    Muhammad  makin  mau  menyendiri.  Makin  gigih  pihak Quraisy
    melakukan gangguan kepada sahabat-sahabatnya,  makin  pula  ia
    merasakan pedihnya.
    
    Masa  berkabung  terhadap  Khadijah itupun sudah pula berlalu.
    Terpikir olehnya akan  beristeri,  kalau-kalau  isterinya  itu
    kelak akan dapat juga menghiburnya, dapat mengobati luka dalam
    hatinya, seperti dilakukan Khadijah dulu. Tetapi dalam hal ini
    ia   melihat   pertaliannya   dengan  orang-orang  Islam  yang
    mula-mula itu harus makin dekat dan perlu dipererat lagi.  Itu
    sebabnya  ia  segera  melamar  puteri  Abu  Bakr, Aisyah. Oleh
    karena waktu itu ia masih gadis kecil yang baru berusia  tujuh
    tahun,  maka  yang sudah dilangsungkan baru akad nikah, sedang
    perkawinan berlangsung  dua  tahun  kemudian,  ketika  usianya
    mencapai sembilan tahun.
    
    Sementara  itu  ia kawin pula dengan Sauda, seorang janda yang
    suaminya  pernah  ikut  mengungsi  ke  Abisinia  dan  kemudian
    meninggal  setelah kembali ke Mekah. Saya rasa pembacapun akan
    dapat  menangkap  arti  kedua  ikatan  ini.   Arti   pertalian
    perkawinan dan semenda yang dilakukan oleh Muhammad itu, nanti
    akan lebih jelas.
    
    Pada masa itulah Isra' dan Mi'raj terjadi. Malam itu  Muhammad
    sedang  berada  di  rumah saudara sepupunya, Hindun puteri Abu
    Talib yang mendapat  nama  panggilan  Umm  Hani'.  Ketika  itu
    Hindun mengatakan:
    
    "Malam  itu  Rasulullah  bermalam di rumah saya. Selesai salat
    akhir malam, ia tidur dan kamipun tidur.  Pada  waktu  sebelum
    fajar  Rasulullah  sudah  membangunkan kami. Sesudah melakukan
    ibadat pagi bersama-sama kami, ia berkata:  'Umm  Hani',  saya
    sudah  salat  akhir  malam  bersama kamu sekalian seperti yang
    kaulihat  di  lembah  ini.  Kemudian  saya  ke   Bait'l-Maqdis
    (Yerusalem)   dan   bersembahyang   di   sana.  Sekarang  saya
    sembahyang siang bersama-sama kamu seperti kaulihat."
    
    Kataku: "Rasulullah, janganlah menceritakan ini  kepada  orang
    lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!"
    
    "Tapi harus saya ceritakan kepada mereka," jawabnya.
    
    Orang   yang  mengatakan,  bahwa  Isra'  dan  Mi'raj  Muhammad
    'alaihissalam dengan ruh itu berpegang kepada  keterangan  Umm
    Hani'  ini, dan juga kepada yang pernah dikatakan oleh Aisyah:
    "Jasad Rasulullah s.a.w. tidak hilang, tetapi Allah menjadikan
    isra'8  itu dengan ruhnya." Juga Mu'awiya b. Abi Sufyan ketika
    ditanya tentang isra' Rasul menyatakan: Itu adalah mimpi  yang
    benar  dari Tuhan. Di samping semua itu orang berpegang kepada
    firman Tuhan: "Tidak lain mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu
    adalah sebagai ujian bagi manusia." (Qur'an, 17:60)
    
    Sebaliknya  orang  yang berpendapat, bahwa isra' dari Mekah ke
    Bait'l-Maqdis itu dengan jasad,  landasannya  ialah  apa  yang
    pernah  dikatakan  oleh  Muhammad,  bahwa  dalam  isra' itu ia
    berada di pedalaman, seperti yang  akan  disebutkan  ceritanya
    nanti.  Sedang  mi'raj  ke langit adalah dengan ruh. Disamping
    mereka itu ada  lagi  pendapat  bahwa  isra'  dan  mi'raj  itu
    keduanya  dengan jasad. Polemik sekitar perbedaan pendapat ini
    di kalangan ahli-ahli iImu kalam banyak sekali dan ribuan pula
    tulisan-tulisan  sudah  dikemukakan  orang. Sekitar arti isra'
    ini kami sendiri sudah  mempunyai  pendapat  yang  ingin  kami
    kemukakan juga. Kita belum mengetahui, sudah adakah orang yang
    mengemukakannya sebelum  kita,  atau  belum.  Tetapi,  sebelum
    pendapat  ini kita kemukakan - dan supaya dapat kita kemukakan
    - perlu sekali kita menyampaikan kisah isra,  dan  mi'raj  ini
    seperti yang terdapat dalam buku-buku sejarah hidup Nabi.
    
    Dengan  indah  sekali  Dermenghem  melukiskan  kisah  ini yang
    disarikannya dari  pelbagai  buku  sejarah  hidup  Nabi,  yang
    terjemahannya sebagai berikut:
    
    "Pada  tengah  malam  yang  sunyi  dan  hening,  burung-burung
    malampun diam membisu, binatang-binatang  buas  sudah  berdiam
    diri,  gemercik  air dan siulan angin juga sudah tak terdengar
    lagi,  ketika  itu  Muhammad   terbangun   oleh   suara   yang
    memanggilnya:  "Hai  orang  yang sedang tidur, bangunlah!" Dan
    bila ia bangun, dihadapannya  sudah  berdiri  Malaikat  Jibril
    dengan  wajah yang putih berseri dan berkilauan seperti salju,
    melepaskan rambutnya yang pirang  terurai,  dengan  mengenakan
    pakaian  berumbaikan  mutiara dan emas. Dan dari sekelilingnya
    sayap-sayap  yang  beraneka  warna   bergeleparan.   Tangannya
    memegang  seekor  hewan  yang ajaib, yaitu buraq yang bersayap
    seperti sayap garuda. Hewan itu membungkuk di  hadapan  Rasul,
    dan Rasulpun naik.
    
    "Maka  meluncurlah  buraq  itu seperti anak panah membubung di
    atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju  arah
    ke utara. Dalam perjalanan itu ia ditemani oleh malaikat. Lalu
    berhenti di gunung Sinai  di  tempat  Tuhan  berbicara  dengan
    Musa.   Kemudian   berhenti   lagi  di  Bethlehem  tempat  Isa
    dilahirkan. Sesudah itu kemudian meluncur di udara.
    
    "Sementara itu ada suara-suara misterius mencoba  menghentikan
    Nabi,  orang  yang  begitu  ikhlas  menjalankan risalahnya. Ia
    melihat, bahwa hanya Tuhanlah yang  dapat  menghentikan  hewan
    itu di mana saja dikehendakiNya.
    
    "Seterusnya   mereka   sampai   ke   Bait'l-Maqdis.   Muhammad
    mengikatkan  hewan  kendaraannya  itu.  Di  puing-puing   kuil
    Sulaiman  ia bersembahyang bersama-sama Ibrahim, Musa dan Isa.
    Kemudian dibawakan tangga, yang lalu dipancangkan diatas  batu
    Ya'qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit.
     
    "Langit    pertama    terbuat    dari   perak   murni   dengan
    bintang-bintang yang digantungkan dengan  rantai-rantai  emas.
    Tiap  langit  itu  dijaga  oleh  malaikat,  supaya  jangan ada
    setan-setan yang bisa naik ke atas atau akan ada jin yang akan
    mendengarkan rahasia-rahasia langit. Di langit inilah Muhammad
    memberi hormat kepada Adam. Di tempat ini pula  semua  makhluk
    memuja   dan  memuji  Tuhan.  Pada  keenam  langit  berikutnya
    Muhammad bertemu  dengan  Nuh,  Harun,  Musa,  Ibrahim,  Daud,
    Sulaiman,  Idris, Yahya dan Isa. Juga di tempat itu ia melihat
    Malaikat maut Izrail, yang karena besarnya jarak antara  kedua
    matanya  adalah  sejauh tujuh ribu hari perjalanan. Dan karena
    kekuasaanNya, maka yang berada  di  bawah  perintahnya  adalah
    seratus  ribu  kelompok.  Ia  sedang mencatat nama-nama mereka
    yang lahir dan mereka yang mati, dalam sebuah buku  besar.  Ia
    melihat  juga Malaikat Airmata, yang menangis karena dosa-dosa
    orang, Malaikat Dendam yang berwajah  tembaga  yang  menguasai
    anasir api dan sedang duduk di atas singgasana dari nyala api.
    Dan dilihatnya juga ada malaikat yang besar luar biasa, separo
    dari   api  dan  separo  lagi  dari  salju,  dikelilingi  oleh
    malaikat-malaikat yang merupakan kelompok yang tiada  hentinya
    menyebut-nyebut  nama  Tuhan: O Tuhan, Engkau telah menyatukan
    salju dengan api, telah menyatukan semua hambaMu setia menurut
    ketentuan Mu.
     
    "Langit  ketujuh  adalah  tempat orang-orang yang adil, dengan
    malaikat  yang  lebih  besar  dari  bumi  ini  seluruhnya.  Ia
    mempunyai  tujuhpuluh ribu kepala, tiap kepala tujuhpuluh ribu
    mulut, tiap mulut tujuhpuluh  ribu  lidah,  tiap  lidah  dapat
    berbicara  dalam  tujuh  puluh ribu bahasa, tiap bahasa dengan
    tujuhpuluh ribu dialek. Semua  itu  memuja  dan  memuji  serta
    mengkuduskan Tuhan.
     
    "Sementara  ia  sedang  merenungkan makhluk-makhluk ajaib itu,
    tiba-tiba ia membubung lagi sampai  di  Sidrat'l-Muntaha  yang
    terletak  di  sebelah  kanan  'Arsy, menaungi berjuta-juta ruh
    malaikat. Sesudah melangkah, tidak sampai sekejap  matapun  ia
    sudah   menyeberangi   lautan-lautan   yang  begitu  luas  dan
    daerah-daerah cahaya yang terang-benderang, lalu  bagian  yang
    gelap  gulita disertai berjuta juta tabir kegelapan, api, air,
    udara dan angkasa. Tiap macam dipisahkan oleh jarak 500  tahun
    perjalanan.  Ia melintasi tabir-tabir keindahan, kesempurnaan,
    rahasia,  keagungan  dan  kesatuan.   Dibalik   itu   terdapat
    tujuhpuluh ribu kelompok malaikat yang bersujud tidak bergerak
    dan tidak pula diperkenankan meninggalkan tempat.
     
    "Kemudian terasa lagi ia membubung ke atas ke tempat Yang Maha
    Tinggi. Terpesona sekali ia. Tiba-tiba bumi dan langit menjadi
    satu, hampir-hampir tak dapat lagi ia melihatnya,  seolah-olah
    sudah   hilang   tertelan.   Keduanya   tampak  hanya  sebesar
    biji-bijian di tengah-tengah ladang yang membentang luas.
     
    "Begitu seharusnya manusia itu, di hadapan Raja semesta alam.
     
    "Kemudian lagi ia sudah berada di hadapan 'Arsy,  sudah  dekat
    sekali.  Ia  sudah dapat melihat Tuhan dengan persepsinya, dan
    melihat segalanya yang tidak dapat dilukiskan dengan lidah, di
    luar  jangkauan  otak  manusia  akan  dapat menangkapnya. Maha
    Agung Tuhan mengulurkan sebelah tanganNya di dada Muhammad dan
    yang  sebelah  lagi  di  bahunya.  Ketika  itu  Nabi merasakan
    kesejukan di tulang punggungnya. Kemudian rasa tenang,  damai,
    lalu fana ke dalam Diri Tuhan yang terasa membawa kenikmatan.
     
    "Sesudah  berbicara... Tuhan memerintahkan hambaNya itu supaya
    setiap Muslim setiap hari sembahyang  limapuluh  kali.  Begitu
    Muhammad  kembali  turun  dari langit, ia bertemu dengan Musa.
    Musa berkata kepadanya:
     
    "Bagaimana   kauharapkan   pengikut-pengikutmu   akan    dapat
    melakukan  salat  limapuluh kali tiap hari? Sebelum engkau aku
    sudah punya pengalaman, sudah kucoba terhadap anak-anak Israil
    sejauh  yang  dapat  kulakukan.  Percayalah dan kembali kepada
    Tuhan, minta supaya dikurangi jumlah sembahyang itu.
     
    "Muhammadpun kembali. Jumlah sembahyang  juga  lalu  dikurangi
    menjadi  empatpuluh.  Tetapi Musa menganggap itu masih di luar
    kemampuan  orang.  Disuruhnya  lagi  Nabi   penggantinya   itu
    berkali-kali  kembali  kepada  Tuhan  sehingga berakhir dengan
    ketentuan yang lima kali.
     
    "Sekarang Jibril membawa Nabi  mengunjungi  surga  yang  sudah
    disediakan  sesudah  hari  kebangkitan, bagi mereka yang teguh
    iman. Kemudian Muhammad kembali dengan  tangga  itu  ke  bumi.
    Buraqpun  dilepaskan.  Lalu  ia  kembali dari Bait'l-Maqdis ke
    Mekah naik hewan bersayap."
                                        (bersambung ke bagian 3/3)
     
    ---------------------------------------------
    S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
     
    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
     
    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980
    
    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Piagam2.html#169a
    
    Seri PUSTAKA ISLAM No.1
    
    ================================================================
    
    BAGIAN KEDELAPAN: DARI PEMBATALAN PIAGAM SAMPAI KEPADA ISRA'
    Muhammad Husain Haekal                                   (3/3)
     
    Demikian cerita Dermenghem tentang Isra' dan  Mi'raj.  Kitapun
    dapat  melihat,  apa  yang  diceritakannya itu memang tersebar
    luas dalam buku-buku sejarah hidup Nabi, sekalipun  akan  kita
    lihat juga bahwa semua itu berbeda-beda. Di sana-sini dilebihi
    atau dikurangi.
     
    Salah satu contoh misalnya cerita Ibn  Hisyam  melalui  ucapan
    Nabi  'alaihissalam  sesudah  berjumpa  dengan  Adam di langit
    pertama,  ketika  mengatakan:  "Kemudian  kulihat  orang-orang
    bermoncong   seperti  moncong  unta,  tangan  mereka  memegang
    segumpal api seperti  batu-batu,  lalu  dilemparkan  ke  dalam
    mulut  mereka  dan  keluar  dari  dubur.  Aku bertanya: "Siapa
    mereka itu, Jibril?".  "Mereka yang  memakan  harta  anak-anak
    yatim  secara  tidak  sah,"  jawab  Jibril.  Kemudian  kulihat
    orang-orang dengan perut yang belum pernah kulihat dengan cara
    keluarga  Fir'aun  menyeberangi  mereka seperti unta yang kena
    penyakit dalam kepalanya, ketika dibawa ke dalam  api.  Mereka
    diinjak-injak  tak  dapat  beranjak  dari  tempat  mereka. Aku
    bertanya:   "Siapa   mereka   itu,   Jibril?".   "Mereka   itu
    tukang-tukang  riba,"  jawabnya. Kemudian kulihat orang-orang,
    di hadapan mereka ada daging yang gemuk dan baik,  di  samping
    ada  daging  yang  buruk  dan  busuk. Mereka makan daging yang
    buruk dan busuk itu dan meninggalkan yang gemuk dan baik.  Aku
    bertanya:  "Siapakah  mereka itu, Jibril"? "Mereka orang-orang
    yang meninggalkan wanita yang  dihalalkan  Tuhan  dan  mencari
    wanita   yang  diharamkan,"  jawabnya.  Kemudian  aku  melihat
    wanita-wanita yang digantungkan pada buah  dadanya.  Lalu  aku
    bertanya:  "Siapa mereka itu, Jibril?" "Mereka itu wanita yang
    memasukkan laki-laki lain  bukan  dari  keluarga  mereka  ..."
    Kemudian  aku  dibawa  ke surga. Di sana kulihat seorang budak
    perempuan,  bibirnya  merah.  Kutanya  dia:  "Kepunyaan  siapa
    engkau?"-Aku  tertarik  sekali  waktu  kulihat. "Aku kepunyaan
    Zaid ibn  Haritha,"  jawabnya.  Maka  Rasulullah  s.a.w.  lalu
    memberi selamat kepada Zaid ibn Haritha."
     
    Selain dari buku Ibn Hisyam ini, dalam buku-buku sejarah hidup
    Nabi yang lain dan dalam buku-buku tafsir orang  akan  melihat
    bermacam-macam  hal  lagi  di  samping  itu. Sudah menjadi hak
    setiap penulis sejarah bila  akan  bertanya-tanya,  sampai  di
    mana  benar  ketelitian  dan  penyelidikan  yang mereka adakan
    dalam hal  ini  semua;  mana  yang  boleh  dijadikan  pegangan
    (askripsi)  sampai  kepada  Nabi  sesuai  dengan pegangan yang
    sahih (otentik), dan mana pula yang hanya berupa  buah  khayal
    orang-orang tasauf dan sebangsanya.
     
    Kalau  di  sini tidak cukup ruangan untuk mengadakan ketentuan
    atau penyelidikan dalam bidang tersebut, dan kalau bukan  pula
    di sini tempatnya untuk menyatakan apakah isra' dan mi'raj itu
    keduanya dengan jasad, ataukah mi'raj  dengan  ruh  dan  isra'
    dengan jasad, ataukah isra' dan mi'raj itu semuanya dengan ruh
    - maka sudah tentu bahwa tiap pendapat itu akan  ada  dasarnya
    pada  ahli-ahli  ilmu  kalam  dan tak ada salahnya, kalau atas
    pendapat-pendapat itu orang menyatakan  pendiriannya  sendiri,
    yang akan berbeda pula satu dari yang lain.
     
    Jadi  barangsiapa yang mau menyatakan pendapatnya, bahwa isra'
    dan mi'raj itu  keduanya  dengan  ruh,  maka  dasarnya  adalah
    seperti yang kita kemukakan tadi dan sudah berulang-ulang pula
    disebutkan dalam Qur'an dan diucapkan Rasul.
     
    "Sungguh aku ini manusia  seperti  kamu  juga  yang  diberikan
    wahyu   kepadaku.  Tetapi  Tuhanmu  adalah  Tuhan  Yang  Esa,"
    (Qur'an. 18: 110)
     
    dan bahwa satu-satunya mujizat Muhammad ialah Qur'an, dan
     
    "Bahwasanya  Allah  tidak  akan  mengampuni  dosa  orang  yang
    mempersekutukanNya,  tetapi  Dia mengampuni segala dosa selain
    (syirik) itu, siapa saja yang dikehendakiNya." (Qur'an, 4:48)
     
    Orang yang berpendapat demikian ini -sebenarnya melebihi  yang
    lain-  ia  akan bertanya, apa sebenarnya arti isra' dan mi'raj
    itu. Di sinilah letak pendapat yang ingin kita kemukakan. Kita
    belum  mengetahui,  sudah  adakah  orang  mengemukakan hal ini
    sebelum kita, atau belum.
     
    Isra' dan mi'raj ini dalam hidup kerohanian Muhammad mempunyai
    arti yang tinggi dan agung sekali, suatu arti yang lebih besar
    dari yang biasa mereka lukiskan itu, yang kadang tidak sedikit
    dikacau  dan  dirusak oleh imajinasi ahli-ahli ilmu kalam yang
    subur itu. Jiwa yang sungguh kuat itu, tatkala  terjadi  isra'
    dan  mi'raj,  telah dipersatukan oleh kesatuan wujud ini, yang
    sudah sampai pada puncak kesempurnaannya. Pada  saat  itu  tak
    ada  sesuatu  tabir  ruang  dan  waktu atau sesuatu yang dapat
    mengalangi  intelek  dan  jiwa  Muhammad,  yang  akan  membuat
    penilaian  kita tentang hidup ini menjadi nisbi, terbatas oleh
    kekuatan-kekuatan kita yang sensasional, yang dapat  diarahkan
    menurut akal pikiran. Pada saat itu semua batas jadi hanyut di
    depan hati nurani Muhammad. Seluruh  alam  semesta  ini  sudah
    bersatu  ke  dalam  jiwanya, yang lalu disadarinya, sejak dari
    awal yang azali sampai pada  akhir  yang  abadi  -sejak  dunia
    mulai  berkembang  sampai ke akhir zaman. Digambarkannya dalam
    perkembangan kesunyian  dirinya  dalam  mencapai  kesempurnaan
    itu,  dengan jalan kebaikan dan keindahan dan kebenaran, dalam
    mengatasi  dan  mengalahkan  segala   kejahatan,   kekurangan,
    keburukan  dan  kebatilan,  dengan  karunia  dan ampunan Tuhan
    juga. Orang tidak akan mencapai keluhuran demikian itu,  kalau
    tidak dengan suatu kekuatan yang berada di atas kodrat manusia
    yang pernah dikenalnya.
     
    Apabila sesudah itu kemudian datang orang-orang  yang  menjadi
    pengikut   Muhammad   yang   tidak   sanggup  mengikuti  jejak
    pikirannya yang begitu tinggi, dengan  kesadaran  yang  begitu
    kuat  tentang  kesatuan alam, kesempurnaan serta perjuangannya
    mencapai kesempurnaan itu, maka hal ini tidak mengherankan dan
    bukan  pula  aib  tentunya. Orang-orang yang piawai dan jenial
    memang  bertingkat-tingkat.  Dalam  kita  mencapai   kebenaran
    inipun  selalu  terbentur  pada  batas-batas  ini; tenaga kita
    sudah tidak mampu mengatasinya.
     
    Apabila kita mau menyebutkan sebagai  contoh  -dengan  sedikit
    perbedaan  tentunya,  sehubungan  dengan  apa yang kita hadapi
    sekarang ini- cerita orang-orang buta  yang  ingin  mengetahui
    gajah  itu  apa,  maka  salah  seorang  dari  mereka  itu akan
    berkata, bahwa gajah itu ialah seutas tali yang panjang, sebab
    kebetulan  yang  terpegang adalah buntutnya; yang seorang lagi
    berkata, bahwa gajah itu sebatang pohon, sebab kebetulan  yang
    dijumpainya  adalah  kakinya; yang ketiga berkata, bahwa gajah
    itu  runcing  seperti  anak  panah,   sebab   kebetulan   yang
    dijumpainya  adalah  taringnya;  yang  keempat  berkata, bahwa
    gajah itu bulat panjang dan  bengkok,  banyak  bergerak-gerak,
    sebab kebetulan yang dipegangnya adalah belalainya.
     
    Contoh  ini  sebenarnya  masih  sejalan  dengan  gambaran yang
    terbayang ketika orang yang tidak buta itu melihat gajah untuk
    pertama   kalinya.   Boleh   juga   kiranya   kita   mengambil
    perbandingan antara persepsi  (kesadaran)  Muhammad  menangkap
    esensi   kesatuan   alam  ini  serta  penggambarannya  kedalam
    isra'dan mi'raj yang berhubungan dengan  waktu  pertama  sejak
    sebelum  Adam sampai pada akhir hari kebangkitan dan yang akan
    menghilangkan pula kesudahan  ruang  ini,  ketika  ia  melihat
    dengan  mata  batin dari Sidrat'l Muntaha ke alam semesta ini,
    yang ada  sekarang  di  hadapannya  dan  sudah  seperti  kabut
    -dengan  persepsi  (kesadaran)  kebanyakan  orang  yang  dapat
    menangkap arti isra'-mi'raj itu.  Tatkala  itu  ia  berhadapan
    dengan bagian-bagian yang tidak termasuk kesatuan alam, sedang
    hidupnya hanya seperti partikel-partikel tubuh, bahkan seperti
    partikel-partikel   yang   melekat   pada   tubuh  itu  dengan
    susunannya yang tidak terpengaruh karenanya.  Dari  mana  pula
    partikel-partikel  daripada  hidup  tubuh  itu,  dari denyutan
    jantungnya, pancaran jiwanya,  pikirannya  yang  penuh  dengan
    enersi yang tak kenal batas; sebab, dari wujud hidup itulah ia
    berhubungan dengan segala kehidupan alam ini.
     
    Isra' dengan ruh dalam pengertiannya adalah seperti isra'  dan
    mi'raj juga yang semuanya dengan ruh. Ini adalah begitu luhur,
    begitu indah dan agung. Ia merupakan suatu gambaran yang  kuat
    sekali  dalam  arti kesatuan rohani sejak dari awal yang azali
    sampai pada akhir yang abadi. Ini adalah  suatu  pendakian  ke
    atas Gunung Sinai, tatkala Tuhan berbicara dengan Musa, dan ke
    Bethlehem, tempat Isa dilahirkan.  Pertemuan  rohani  demikian
    ini  sudah  mengandung  selawat  bagi  Muhammad, Isa, Musa dan
    Ibrahim,  suatu  manifestasi  yang  kuat  sekali  dalam   arti
    kesatuan  hidup  agama sebagai suatu sendi kesatuan alam dalam
    edarannya yang terus-menerus menuju kepada kesempurnaan.
     
    Ilmu pengetahuan pada masa kita sekarang  ini  mengakui  isra'
    dengan  ruh  dan  mengakui  pula  mi'raj  dengan  ruh. Apabila
    tenaga-tenaga  yang  bersih  itu  bertemu,  maka  sinar   yang
    benarpun akan memancar. Dalam bentuk tertentu sama pula halnya
    dengan tenaga-tenaga alam ini,  yang  telah  membukakan  jalan
    kepada Marconi ketika ia menemukan suatu arus listrik tertentu
    dari kapalnya yang sedang berlabuh di  Venesia.  Dengan  suatu
    kekuatan   gelombang   ether  arus  listrik  itu  telah  dapat
    menerangi kota Sydney di Australia.
     
    IImu pengetahuan zaman  kita  sekarang  ini  membenarkan  pula
    teori telepati serta pengetahuan lain yang bersangkutan dengan
    itu. Demikian juga transmisi suara  di  atas  gelombang  ether
    dengan   radio,   telephotography  (facsimile  transmisi)  dan
    teleprinter lainnya, suatu hal  yang  tadinya  masih  dianggap
    suatu   pekerjaan  khayal  belaka.  Tenaga-tenaga  yang  masih
    tersimpan dalam alam semesta  ini  setiap  hari  masih  selalu
    memperlihatkan  yang baru kepada alam kita. Apabila jiwa sudah
    mencapai kekuatan dan kemampuan  yang  begitu  tinggi  seperti
    yang   sudah  dicapai  oleh  jiwa  Muhammad  itu,  lalu  Allah
    memperjalankan dia pada suatu  malam  dari  Masjid'l-Haram  ke
    al-Masjid'l-Aqsha,  yang  disekelilingnya  sudah diberi berkah
    guna memperlihatkan tanda-tanda kebesaranNya, maka itupun oleh
    ilmu  pengetahuan  dapat pula dibenarkan. Arti semua ini ialah
    pengertian-pengertian yang begitu kuat dan luhur, begitu indah
    dan  agung,  dan  telah  pula membayangkan kesatuan rohani dan
    kesatuan alam semesta ini begitu jelas dan  tegas  dalam  jiwa
    Muhammad.  Orang akan dapat memahami arti semua ini apabila ia
    dapat berusaha menempatkan diri  lebih  tinggi  dari  bayangan
    hidup  yang singkat ini. Ia berusaha mencapai esensi kebenaran
    tertinggi itu guna memahami kedudukannya yang  sebenarnya  dan
    kedudukan alam ini seluruhnya.
     
    Orang-orang  Arab  penduduk  Mekah  tidak dapat memahami semua
    pengertian ini. Itulah pula sebabnya, tatkala soal  isra'  itu
    oleh   Muhammad  disampaikan  kepada  mereka,  merekapun  lalu
    menanggapinya dari bentuk materi - mungkin atau tidaknya isra'
    itu. Apa yang dikatakannya itu kemudian menimbulkan kesangsian
    juga pada beberapa orang pengikutnya,  pada  orang-orang  yang
    tadinya  sudah percaya. Mereka banyak yang mengatakan: Masalah
    ini sudah  jelas.  Perjalanan  kafilah  yang  terus-meneruspun
    antara  Mekah-Syam  memakan  waktu  sebulan  pergi dan sebulan
    pulang.  Mana  boleh  jadi  Muhammad  hanya  satu  malam  saja
    pergi-pulang ke Mekah?!
     
    Tidak  sedikit  mereka  yang sudah Islam itu kemudian berbalik
    murtad. Mereka yang masih menyangsikan hal ini lalu mendatangi
    Abu  Bakr dan keterangan yang diberikan Muhammad itu dijadikan
    bahan pembicaraan.
     
    "Kalian berdusta," kata Abu Bakr.
     
    "Sungguh," kata mereka.  "Dia di mesjid sedang  bicara  dengan
    orang banyak."
     
    "Dan  kalaupun  itu  yang  dikatakannya,"  kata Abu Bakr lagi,
    "tentu dia bicara yang sebenarnya.  Dia  mengatakan  kepadaku,
    bahwa  ada  berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu
    malam atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari  yang  kamu
    herankan."
     
    Abu  Bakr  lalu mendatangi Nabi dan mendengarkan ia melukiskan
    Bait'l-Maqdis. Abu Bakr sudah pernah berkunjung ke kota itu.
     
    Selesai Nabi melukiskan keadaan mesjidnya, Abu Bakr berkata:
     
    "Rasulullah, saya percaya."
     
    Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakr dengan "AshShiddiq."9
     
    Alasan mereka yang berpendapat bahwa isra'  itu  dengan  jasad
    ialah  karena ketika Quraisy mendengar tentang kejadian Suraqa
    mereka  menanyakannya  dan  mereka  yang  sudah  beriman  juga
    menanyakan  tentang  peristiwa  yang  luar  biasa  itu. Mereka
    memang  belum  pernah  mendengar   hal   semacam   itu.   Lalu
    diceritakannya  tentang  adanya kafilah yang pernah dilaluinya
    di tengah jalan. Ketika ada seekor unta dari kafilah tersesat,
    dialah  yang  menunjukkan. Pernah ia minum dari sebuah kafilah
    lain dan sesudah  minum  lalu  ditutupnya  bejana  itu.  Pihak
    Quraisy   menanyakan   hal   tersebut.  Kedua  kafilah  itupun
    membenarkan apa yang telah diceritakan Muhammad itu.
     
    Saya kira, kalau dalam hal ini orang  bertanya  kepada  mereka
    yang  berpendapat  tentang  isra' dengan ruh itu, tentu mereka
    tidak akan  merasa  heran  sesudah  ternyata  ilmu  masa  kita
    sekarang    ini   dapat   mengetahui   mungkinnya   hypnotisma
    menceritakan hal-hal yang terjadi di tempat-tempat yang  jauh.
    Apalagi  dengan  ruh  yang  dapat  menghimpun kehidupan rohani
    dalam seluruh alam ini. Dengan  tenaga  yang  diberikan  Tuhan
    kepadanya  ia dapat mengadakan komunikasi dengan rahasia hidup
    ini dari awal alam azali sampai pada akhirnya yang abadi.
     
    Catatan kaki:
     
     1 Biasanya tempat ini dinamai 'Syi'b Abi Talib' (A).
    
     2 At-Ta'if sebuah kota dan pusat musim panas dengan
       ketinggian 1520 m, dari permukaan laut, lebih kurang 60
       km timur laut Mekah (A).
    
     3 Doa ini dikenal dengan nama "Doa Ta'if" (A).
    
     4 Sebuah Kabilah Arab dari bagian Selatan (A).
    
     5 Kabilah Arab yang berdekatan dengah Suria (A).
    
     6 Kabilah Arab di dekat Irak (A).
    
     7 Kabilah Arab yang terpencar-pencar (A).
    
     8 Asra, sura dan isra', harfiah berarti "perjalanan
       malam hari" (LA). 'Araja berarti naik atau memanjat.
       Mi'raj harfiah tangga (N) (A).
    
    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Piagam3.html
    
     9 Yang tulus hati, yang sangat jujur (A).
    
    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Piagam3.html
     
  • SERBUIFF 7:17 am on 12/09/2009 Permalink | Reply
    Tags: isra mi'raj, langit, Tidak Berarti Tujuh Lapis, Tujuh Langit   

    Tujuh Langit, Tidak Berarti Tujuh Lapis 

    Tujuh Langit, Tidak Berarti Tujuh Lapis

    T. Djamaluddin
    (Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung)


    Menarik menyimak argumentasi para peminat astronomi tentang makna sab’a samaawaat (tujuh langit). Namun ada kesan pemaksaan fenomena astronomis untuk dicocokkan dengan eksistensi lapisan-lapisan langit.

    Di kalangan mufasirin lama pernah juga berkembang penafsiran lapisan-lapisan langit itu berdasarkan konsep geosentris. Bulan pada langit pertama, kemudian disusul Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada langit ke dua sampai ke tujuh.

    Konsep geosentris tersebut yang dipadukan dengan astrologi (suatu hal yang tidak terpisahkan dengan astronomi pada masa itu) sejak sebelum zaman Islam telah dikenal dan melahirkan konsep tujuh hari dalam sepekan. Benda-benda langit itu dianggap mempengaruhi kehidupan manusia dari jam ke jam secara bergantian dari yang terjauh ke yang terdekat.

    Bukanlah suatu kebetulan 1 Januari tahun 1 ditetapkan sebagai hari Sabtu (Saturday — hari Saturnus — atau Doyobi dalam bahasa Jepang yang secara jelas menyebut nama hari dengan nama benda langitnya). Pada jam 00.00 itu Saturnus yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Bila diurut selama 24 jam, pada jam 00.00 berikutnya jatuh pada matahari. Jadilah hari berikutnya sebagai hari matahari (Sunday, Nichyobi). Dan seterusnya.

    Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi hari Bulan (Monday, getsuyobi, Senin), hari Mars (Kayobi, Selasa), hari Merkurius (Suiyobi, Rabu), hari Jupiter (Mokuyobi, Kamis), dan hari Venus (Kinyobi, Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

    Pemahaman tentang tujuh langit sebagai tujuh lapis langit dalam konsep keislaman mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

    Secara sekilas kisah mi’raj di dalam hadits shahih sebagai berikut: Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

    Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.

    Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.

    Lapisan Langit?

    Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak dikenal dalam astronomi.

    Ada yang berpendapat lapisan itu ada dengan berdalil pada QS 67:3 dan 71:15 sab’a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag menyebutkan “tujuh langit berlapis-lapis” atau “tujuh langit bertingkat-tingkat”. Walaupun demikian, itu tidak bermakna tujuh lapis langit. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi (berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dan lain-lain) bermakna bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.

    “Bertingkat-tingkat” berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.

    Lalu apa makna tujuh langit bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah “tak berhingga” dalam suatu pendekatan limit, yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya yang lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula, makna ungkapan “tujuh” dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

    Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Tujuh lautan bukan berarti jumlah eksak, karena dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya.

    Sama halnya dalam Q. S. 9:80: “…Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun….” Jelas, ungkapan “tujuh puluh” bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka bila kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.

    Jadi, ‘tujuh langit’ semestinya difahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

    Lalu apa makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi’raj Rasulullah SAW? Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha juga dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj adalah langit ghaib.

    Dalam kisah mi’raj itu peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha dan lainnya bahwa pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang- bintang, tetapi langit ghaib.


    T. Djamaluddin adalah peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung.

    Indeks artikel kelompok ini | Tentang Pengarang | Disclaimer

    http://media.isnet.org/isnet/Djamal/langitdl.html

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel