Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • SERBUIFF 9:42 am on 27/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Mengenal penghuni 7 tingkatan langit   

    Mengenal penghuni 7 tingkatan langit 

    Isra Miraj merupakan peristiwa besar yang dialami oleh nabi Muhammad SAW. Wajib hukumnya untuk Muslimin mengimani dan meyakini sebagai suatu kebenaran dari Allah SWT. Pada peristiwa itu Nabi Muhammad SAW bertemu Allah SWT, dan mendapat perintah menjalankan salat 5 waktu sehari.

    Dalam perjalanan bertemu Sang Pencipta, Rasullulah ditemani malaikat Jibril dengan mengendarai Buraaq. Yaitu hewan putih panjang, berbadan besar melebihi keledai dan bersayap. Sekali melangkah, Buraaq bisa menempuh perjalanan sejuah mata memandang dalam sekejap.

    Rasullulah SAW melewati 7 langit dan bertemu dengan para penghuni di setiap tingkatan. Kabar ini dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan imam Muslim dari Anas bin Malik.

    1. Ketika mencapai langit tingkat pertama, Rasullulah SAW bertemu dengan manusia sekaligus wali Allah SWT pertama di muka bumi, Nabi Adam AS. Saat bertemu nabi Adam, Rasullulah sempat bertegur sapa sebelum akhirnya meninggalkan dan melanjutkan perjalanannya.

    Nabi Adam membekali rasullulah dengan doa, supaya rasullulah SAW selalu diberi kebaikan pada setiap urusan yang dihadapinya. Sambil mengucapkan salam, rasullulah meninggalkan langit pertama untuk menuju langit kedua.

    2. Sesampainya di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Seperti halnya di langit pertama, rasullulah disapa dengan ramah oleh kedua nabi pendahulunya. Sewaktu akan meninggalkan langit kedua, Nabi Isa dan Yahya juga mendoakan kebaikan kepada rasullulah. Kemudian rasullulah bersama Malaikat Jibril terbang lagi menuju langit ketiga.

    3. Tidak disangka, di langit ketiga, rasullulah bertemu dengan Nabi Yusuf, manusia tertampan yang pernah diciptakan Allah SWT di bumi. Dalam pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan sebagian dari ketampanan wajahnya kepada Nabi Muhammad. Dan juga di akhir pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan doa kebaikan kepada nabi terakhir itu.

    4. Setelah berpisah dengan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan dan sampailah dia ke langit keempat. Pada tingkatan ini, rasullulah bertemu Nabi Idris. Yaitu manusia pertama yang mengenal tulisan, dan nabi yang berdakwah kepada bani Qabil dan Memphis di Mesir untuk beriman kepada Allah SWT.

    Seperti pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Idris memberikan doa kepada Nabi Muhammad supaya diberi kebaikan pada setiap urusan yang dilakukannya.

    5. Sesampainya di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun. Yaitu nabi yang mendampingi saudaranya, Nabi Musa berdakwah mengajak Raja Firaun yang menyebut dirinya tuhan dan kaum Bani Israil untuk beriman kepada Allah SWT.

    Harun terkenal sebagai nabi yang memiliki kepandaian berbicara dan meyakinkan orang. Di langit kelima, Nabi Harun mendoakan Nabi Muhammad senantiasa selalu mendapat kebaikan pada setiap perbuatannya. Setelah bertemu, kemudian Nabi Muhammad melanjutkan perjalanannya ke langit keenam.

    6. Pada langit keenam, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Musa. Yaitu nabi yang memiliki jasa besar dalam membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan menuntunnya menuju kebenaran Illahi. Nabi Musa juga terkenal dengan sifatnya yang penyabar dan penyayang selama menghadapi kolot dan bebalnya perilaku Bani Israil.

    Selama bertemu dengan Muhammad, Nabi Musa menyambut layaknya kedua sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Penuh kehangatan dan keakraban. Sebelum Nabi Muhammad pamit meninggalkan langit keenam, Nabi Musa melepasnya dengan doa kebaikan.

    7. Tibalah Nabi Muhammad ke langit ketujuh. Di langit ini, Nabi Muhammad bertemu dengan sahabat Allah SWT, bapaknya para nabi, Ibrahim AS.

    Sewaktu bertemu, Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’muur, yaitu suatu tempat yang disediakan Allah SWT kepada para malaikatnya. Setiap harinya, tidak kurang dari 70 ribu malaikat masuk ke dalam.

    Kemudian Nabi Ibrahim mengajak Muhammad untuk pergi ke Sidratul Muntaha sebelum bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah wajib salat. Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon yang menandai akhir dari batas langit ke tujuh. Masih dalam hadits yang sama, rasullulah SAW menceritakan bentuk fisik dari Sidratul Muntaha, yaitu berdaun lebar seperti telinga gajah dan buahnya yang menyerupai tempayan besar.

    Namun ciri fisik Sidratul Muntaha berubah ketika Allah SWT datang. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak bisa berkata-kata menggambarkan keindahan pohon Sidratul Muntaha. Pada kepecayaan agama lain, Sidratul Muntaha juga diartikan sebagai pohon kehidupan.

    Di Sidratul Muntaha inilah Nabi Muhammad berdialog dengan Allah SWT, untuk menerima perintah wajib salat lima waktu dalam sehari.

    http://m.merdeka.com/ramadan/mengenal-penghuni-7-tingkatan-langit.html

     
    • fantasy 1:31 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

      surganya umm hanni memang indah sampai ke langit ketujuh hik….hik…hik….tidakkah sdr muslim tahu bahwa tak pernah ada lepas dari pelukan mamad seorng pun perempuan kecuali sudah tua???? apalagi umm hanni yang nota bene mantan pacarnya sudah janda pula ..????? tapi supaya nggak ketahuan..terpaksa ngarang kenikmatan langit ketujuh maklum kan sampai kesiangan…..orang juga yang dengar pada ketawa ..tapi abu bakar yang merasa sudah kepalang tanggung dibohongi terpaksa mengaku sajalah sudah tanggung dibohongi walaupun dalam hatinya menjerit ….

      • tonwsh 11:54 pm on 15/06/2013 Permalink | Reply

        Bebatilan BIBLE dan sudah terlau banyak dijumpai ERROR didalamnya, tapi kalian sangat BEBAL ngotot gak mau berpikir logis, coba anda bayangkan BIBLE ini telah diselidiki oleh para AHLI BIBLE sendiri ( Bible schollars ) dan setelah dicermati dan diselidiki, ternyata PERKATAAN YESUS yang ada didalam BIBLE tsb hanya TIDAK LEBIH dari 18 persen, jadi sisa isi Bible yaitu 82 persent adalah para TANGAN JAIL dari pejabat GEREJA kalian sendiri yang menulis ……… TING TONG !
        Gak percaya ????? lihat disisi : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20121119015525AAVLxO3

    • ungke 1:38 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

      “Isra Miraj merupakan peristiwa besar yang dialami oleh nabi Muhammad SAW. Wajib hukumnya untuk Muslimin mengimani dan meyakini sebagai suatu kebenaran dari Allah SWT.” buat orang yang sudah tidak menggunakan otaknya memang wajib di percaya, tapi bagi yang berpikiran kritis dan logis wajib mempertanyakan kebenaran cerita itu.

      • SERBUIFF 12:46 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        aku tanya kau, adam dan hawa dulu di sorga , trus ada di bumi…bagaiman cara Allah memperjalankan mereka ke bumi ?…jawab ya….

        • wikki 1:45 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

          apa hubunganya adam dan hawa dengan isra mi.raj diranjang umm hanni??? emang sorga di ranjang ummhanni???

          • fantasy 4:14 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            hubungan adam dengan periistiwa isra mi raj jelas berhubungan karena adam dan hawa adalah saksi ketika muhammad main kuda kudaan dengan umm hanni sampai kelangit ketujuh…jadi umm hanni kan dijadikan buraq…yang mula mula malu malu ..tapi di suruh jibril supaya dak malu ..begitooooo

            • SERBUIFF 7:25 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

              lu kan nggak percaya peristiwa isra miraj ……aku tanya kau, adam dan hawa dulu di sorga , trus ada di bumi…bagaiman cara Allah memperjalankan mereka ke bumi ?…jawab ya……

          • SERBUIFF 7:25 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            lu kan nggak percaya peristiwa isra miraj ….aku tanya kau, adam dan hawa dulu di sorga , trus ada di bumi…bagaiman cara Allah memperjalankan mereka ke bumi ?…jawab ya….

            • fantasy 7:59 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

              ah modal copas aje loe tuh lihat postingan loe berurut

    • wikki 3:33 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

      wajib memang mengimani isra mi raj karena tanggung sudah di bohongi sama muhammad …menunggangi buraq yang nggak jelas atau menunggangi umm hanni ??? di langit pertama bertemu dengan nabi adam membekali pula dengan doa??? apa i ya dilangit masih perlu doa??? apa muhammad ndak bawa bekal doa sehingga harus dibekali lagi…macam dongeng ya??? bodohnya gak berani mempertanyakan ….dst dst sebodoh itukah muslim tidak mempertanyakan hal sepele ini???? hoi … lim dimana kamu bikin otakmu????

      • SERBUIFF 11:53 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

        isra miraj adalah peristiwa yg benar adanya….memperjalankan muhammad dalam isra miraj adalah hal yg sangat mudah bagi Allah……

    • wikki 12:49 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      mudah lah orang otaknya otak keledai mudah saja dibohongi sama simamad daripada ketahuan lagi nunggangi umm hanni sampai kelangit ketujuhnya lebih baik ngaku naik buraq ….

    • fantasy 3:17 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      ape emang yang bisa diperbuat oleh allah yang konon cuma tangan kananya yang tinggal di sudut kabbah… itupun sudah dipodoli sama orang iraq selam 20 tahun .dan tak ada yang bisa diperbuat oleh tangan kanan allah itu..kecuali dalam hal menurunkan wahyu terhadap syahwatnya muhammad tidak ada sama sekali.. baca semua quran dimana tertulis pernah turun melindungi seperti yang dilakukan Tuhan terhadap musa??? mana bukti allahnya muhammad ????.bersumpah lagidengan Tuhan yang mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari ..mengaku sama sama maha kuasa…???? apaan tuh allah..tidak konsisten lagi seenaknya membatalkan wahyu yang terdahulu ..apa sebelum menurunkan tidak pikir dulu???? maka terjadi batal membatalkan ..yang katanya menggantikan ayat yang lebih baik.??? allah apaan tuh..???

    • soebodo 4:04 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Produk ilmu kasih yang tidak didalami dan lengkap hasilnya kebencian dan fitnah semata. suatu ilmu yang lengkap dan sempurna kalau didalami akan mengalami apa yang diceritakan. beruntunglah bagi temen2 yang berpedoman akan kebenaran yang asli. sehingga kalau anda diberi kesempatan akan mengalami sendiri apa yang diceritakan tersebut diatas. bukan kebingungan dalam mencari kebenaran dengan menyalahkan bahkan menfitnah.

      • camar 5:10 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        sempurna ilmu itu apabila ilmu itu didukung oleh bukti dan saksi ..sdri saya tanya apa bukti peristiwa isra mi raj itu pernah terjadi ??? kemudian siapa saksi yang menyaksikan pristiwa itu terjadi??? apakah dari dalil diatas sdri tidak bertanya tentang kebenaran??? apakah lantaran muhammad yang bicara lantas sdri langsung bisa percaya begitu saja??? pemahaman yangseperti itu adalah ilmu yang omong kosong….

        • soebodo 5:43 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

          Pertanyaan yang bagus. .kami berlima disaat waktu dan tempat bersamaan menyaksikan apa yang digambarkan diatas sama persis.bagi kami berlima membuktikan akan kebenaran… kalau kita mau bersungguh2 akan masih banyak kebenaran yang didapat…mudah2an kita masih diberi kesempatan.

          • camar 5:50 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            apakah loe mencoba mengatakan usia loe sudah lebih 1400tahun???

    • fantasy 4:59 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      kalau memang kejadian peristiwa isra mi raj itu benar terjadi seperti cerita di atas
      1 mungkinkah umm hanni yang katanya sampai kesiangan bangun tidak ada yang menyaksikan kepulanganya??
      2… mengapa harus kembali lagi kerumah umm hanni bukankah lebih bagus pulang kerumah muhammad ????padahal kan kecepatan dari buraq tersebut adalah sekali langkah kecepatanya sejauh mata memandang..
      3 .adakah bekas jejak kaki buraq tersebut di mana dia hinggap???
      4..bahkan sahabat nabi pun susah mempercayainya pada waktu itu..
      sebenarnya masih banyak hal yang tidak bisa dibuktikan dalam hal peristiwa ini tapi karena abu bakar terrlanjur sudah pernah menerima kebohongan muhammad maka .kepalang tanggung diapun terpaksa pura pura percaya..

    • soebodo 5:05 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Bagi kami bukan sekedar cerita/prasangka lagi…kalau anda memahami apa yang saya sampaikan diatas.

      • camar 5:13 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        maksud sdri bahwa sdri .mencoba mengatakan bahwa sdri pernah mengalami dan ikut terlibat dalam peristiwa itu??? begitukah???kamu bisa terima itu tapi bagi kami yang sangat kritis itu adalah kebohongan yang besar…

        • soebodo 5:51 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

          Bagi kami berlima adalah pemberian/kesempatan untuk membutikan. apa yang saya ceritakan karena mengalami secara bersama-sama . kebohongan kalau suatu cerita tidak mengalami sendiri malah menceritakan sesuatu yang tidak dialami dan membuat cerita sendiri (fitnah).

          • camar 5:59 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            kalau emang usia loe lebih 1400 tahun kenapa loe tidak beri muhamad tips umur panjang kayak loe…tega banget loe ya mebiarka nabi loe mati sementara loe hidup enak enakan

          • wikki 6:58 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

            hei nenek tertua didunia …aku panggil apa ya …hus nih wanita tertua didunia apa kini jawabmu ??? apakah kamu sudah mengumumkan kemurtadtanmu???

            • soebodo 8:49 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

              Kami berlima bervariasi usia dan gender ..apa yang kita dapatkhan meyakinkan kita akan teori kebenaran bila dilaksanakan dengan benar akan membuktikan kebenaran…dan itu bisa anda buktikan sendiri bukan hanya yakin akan sesuatu dari toeri saja…ketika didebat yang sama paham terhadap teori anda larinya keiman yang tidk dibutktikan sendiri…pengalaman bersama teman2 dengan berbeda keyakinan juga pernah saya posting…. dan apa yang terjadi dia malah bisa ketemu yang diyakini selama ini dan disuruh untuk menyempurnakan dengan mengikuti langkah kami…apa yang terjadi juga kami bersama teman2 turut menyaksikan.

              • wikki 8:58 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

                kalaupun beda usia kan cuma yah dua atau tiga tahunan kan dengan muhammad ..tapi bukan berati muhammad berkata jujur karena saudari padahal ikut menyaksikan …cuma muhammad bohong dengan mengatakan dia cuma dengan jibril dan buraq sudah kita maklum bahwa dia lagi bertaqiya gua percaya sama loe sekali lagi gua percaya sama loe… dan tidak percaya sama omongan muhammad … cuma umurloe sekarang pasti diatas 1450 tahunan lebih kuranglah iakan???

    • camar 6:22 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      cuma yang sangat ganjil menurut gua muhammad mengatakan bahwayang naik buraq itu hanya muhammad dengan jibril yang berangkat tiba tiba sekarang loe ngaku turut menyaksikan ..mana yang benar loe ato muhammad…??????berati muhammad pendusta ya…nggak mengakui kehadiran loe…

      • SERBUIFF 7:26 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        ………lu kan nggak percaya peristiwa isra miraj ….aku tanya kau, adam dan hawa dulu di sorga , trus ada di bumi…bagaiman cara Allah memperjalankan mereka ke bumi ?…jawab ya….

    • fantasy 6:36 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      aku tahu sdri Soe bodo bahwa kamu sekarang sudah murtad karna tidak mengakui nabimu yang bicara bahwa kamu dengan sengaja telah mengaku kalau muhmmad itu berbohong …padahal kan jelas kamu ikut pada peristiwa isra mi raj ternyata muhamad cuma ngaku sendiri dengan jibril naik buraq berati kan muhammad bohong sementara kamukan tidak mau fitnah ….emang muhammad suka bohong ya.. mangkanya ada istilah taqiyah….udah jangan nangis…ntar dibeliin balon yang gede lagi….. pada hal kan kamu lebih tahu ….dari penulis penulis hadis itu…..

    • SERBUIFF 7:22 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      apa yg lu maksud dg umm hanni ?

      • fantasy 7:55 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        loe baca ngga sih postingan loe loe bilang umm hanni :<<<<>>>>>hindun putrinya abu talib yang bernama panggilan umm hani .itu postingan loe..ape loe enggak baca ape??? berati loe cuma modal copas aja tanpa menyimak ape yang loe copas…..pantesan .ibret kate jaka sembung bawa golok nggak nyambung goblok…

    • ungke 7:32 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Na tul kan quran dan hadish cuman di hapal doang !! umm hanni aja nda tau, sini gua beri tau lu, ummhanni itu anak si Mami maimuna germo di lokalisasi dolly surabaya sono.

    • wikki 9:41 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      e serbuiff kalo lo mau copas baca dulu supaya lo jangan nanya lagi…masa lo yang copas tapi apa yang lo copas enggak tau….ummhani. orang cilodong lewat purwakarta dikitlah kesono..agak masuk dikit sebelah kiri dari cikampek nah tanya situ mana rumah umm hani..putrinya bu talib mantanya muhammad. gitu …o alah

      • SERBUIFF 10:19 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

        loh emang dia kenapa ?..wong dia nggak ada apa2 dg muhammad, dulu kan dia mau dilamar muhammad karena suaminya kabur waktu penaklukan mekkah, tapi dia menolak karena dia merasa tidak mampu menjadi istri muhammad yg butuh tanggung jawab yg lebih besar, karena dia ingin fokus membesarkan ke dua anaknya.

    • wikki 10:42 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      nah baru nyambung dikitjadi jangan tanya lagi siapa hindun anaknya abu talib ato yamg disebut umm hani .nah sepertinya lo sudah mulai ingat…nah dam cerita ini memang enggak mungkinlah muhammad cerita tentang asmara mereka ..terpaksa semua dibaratkan naik ke langit sampai langit ketujuh ..sangkin nikmatnya malah sampai kesiangan lagi bangunya ….jadi itulah sebenarnya peristiwa isra mi raj itu faham…..????

    • soebodo 11:46 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Teruskan SERBUIFF sampaikan kebenaran yang anda ketahui dengan benar, kita semua tahu sifat dengki/ iri/ pembohong…adalah sifat yang dimiliki siapa…biarkan saja pembaca akan bisa menilai siapa yang mempunyai sifat demikian…mari KITA SEMUA belajar menjauhi dari sifat-sifat demikian …agar yang disampaikan kebenaran atas bimbingan NYA…bukan nafsu kita semata…Amien.

    • wikki 11:53 am on 28/08/2012 Permalink | Reply

      eh nenek umur 1400tahun sebenarnya lu yang pantas untuk bicara karena lu seumur dengan muhammad.. jadi saran saya ungkapkan semua kisah muhammad .karena semua hadis dan cerita yang lin lu saksikan semua .. jadi ketahuan nanti adis itu palsu….seperti katamu semua peristiwa isra miraj kamu saksikan sejak diranjang umm hani.brsama 5 orang nah mulailah cerita….

      • soebodo 12:18 pm on 28/08/2012 Permalink | Reply

        Cucuku yang nakal …apa yang saya dapatkan untuk membuktikan/menyaksikan apa yang saya yakini…saya tidak meyakini minum bisa ular tetap sehat…secara logika …apalagi melaksanakan apakah membuktikan…membuktikan kebenaran ketika kita sudah meninggal dan menyesali tidak mengakui kebenaran dikala hidup.

    • wikki 12:46 pm on 28/08/2012 Permalink | Reply

      nenek umur 1400tahun sudah berapa banyak kecing unta yang nenek minum???itu rahasia umur pajang ya???? kenapa muhammad suka berbohong/???

  • SERBUIFF 9:21 am on 27/08/2012 Permalink | Reply
    Tags: Sejarah Hidup Muhammad : DARI PEMBATALAN PIAGAM SAMPAI KEPADA ISRA'   

    Sejarah Hidup Muhammad : DARI PEMBATALAN PIAGAM SAMPAI KEPADA ISRA' 

    Terasing seorang diri, ia pergi ke Ta’if,2 dengan tiada orang
    yang mengetahuinya. Ia pergi ingin mendapatkan dukungan dan
    suaka dari Thaqif terhadap masyarakatnya sendiri, dengan
    harapan merekapun akan dapat menerima Islam. Tetapi ternyata
    mereka juga menolaknya secara kejam sekali. Kalaupun sudah
    begitu, ia masih mengharapkan mereka jangan memberitahukan
    kedatangannya minta pertolongan itu, supaya jangan ia disoraki
    oleh masyarakatnya sendiri. Tetapi permintaannya itupun tidak
    didengar. Bahkan mereka menghasut orang-orang pandir agar
    bersorak-sorai dan memakinya.

    Ia pergi lagi dari sana, berlindung pada sebuah kebun
    kepunyaan ‘Utba dan Syaiba anak-anak Rabi’a. Orang-orang yang
    pandir itu kembali pulang. Ia lalu duduk di bawah naungan
    pohon anggur. Ketika itu keluarga Rabi’a sedang
    memperhatikannya dan melihat pula kemalangan yang dideritanya.
    Sesudah agak reda, ia mengangkat kepala menengadah ke atas, ia
    hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat
    mengharukan:

    “Allahumma yang Allah, kepadaMu juga aku mengadukan
    kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di
    hadapan manusia. O Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang.
    Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku.
    Kepada siapa hendak Kauserahkan daku? Kepada orang yang
    jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang
    akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku,
    aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang
    Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang
    menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan bagi
    dunia dan akhirat – daripada kemurkaanMu yang akan Kautimpakan
    kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan
    pada-Mu. Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau juga.”3

    Dalam memperhatikan keadaan itu hati kedua orang anak Rabi’a
    itu merasa tersentak. Mereka merasa iba dan kasihan melihat
    nasib buruk yang dialaminya itu. Budak mereka, seorang
    beragama Nasrani bernama ‘Addas, diutus kepadanya membawakan
    buah anggur dari kebun itu. Sambil meletakkan tangan di atas
    buah-buahan itu Muhammad berkata: “Bismillah!” Lalu buah itu
    dimakannya.

    ‘Addas memandangnya keheranan.

    “Kata-kata ini tak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini,”
    kata ‘Addas.

    Lalu Muhammad menanyakan negeri asal dan agama orang itu.
    Setelah diketahui bahwa orang tersebut beragama Nasrani dari
    Nineveh, katanya:

    “Dari negeri orang baik-baik, Yunus anak Matta.”

    “Dari mana tuan kenal nama Yunus anak Matta!” tanya ‘Addas.

    “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku juga Nabi,” jawab
    Muhammad.

    Saat itu ‘Addas lalu membungkuk mencium kepala, tangan dan
    kaki Muhammad. Sudah tentu kejadian ini menimbulkan keheranan
    keluarga Rabi’a yang melihatnya. Sungguhpun begitu mereka
    tidak sampai akan meninggalkan kepercayaan mereka. Dan tatkala
    ‘Addas sudah kembali mereka berkata:

    “‘Addas, jangan sampai orang itu memalingkan kau dari agamamu,
    yang masih lebih baik daripada agamanya.”

    Gangguan orang yang pernah dialami Muhammad seolah dapat
    meringankan perbuatan buruk yang dilakukan Thaqif itu,
    meskipun mereka tetap kaku tidak mau mengikutinya. Keadaan itu
    sudah diketahui pula oleh Quraisy sehingga gangguan mereka
    kepada Muhammad makin menjadi-jadi. Tetapi hal ini tidak
    mengurangi kemauan Muhammad menyampaikan dakwah Islam. Kepada
    kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, itu ia memperkenalkan
    diri, mengajak mereka mengenal arti kebenaran.
    Diberitahukannya kepada mereka, bahwa ia adalah Nabi yang
    diutus, dan dimintanya mereka mempercayainya.

    Namun sungguhpun begitu, Abu Lahab pamannya tidak
    membiarkannya, bahkan dibuntutinya ke mana ia pergi.
    Dihasutnya orang supaya jangan mau mendengarkan.

    Muhammad sendiri tidak cukup hanya memperkenalkan diri kepada
    kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah di Mekah saja, bahkan
    ia mendatangi Banu Kinda4 ke rumah-rumah mereka, mendatangi
    Banu Kalb,5 juga ke rumah-rumah mereka, Banu Hanifa6 dan Banu
    ‘Amir bin Sha’sha’a.7 Tapi tak seorangpun dari mereka yang mau
    mendengarkan. Banu Hanifa bahkan menolak dengan cara yang
    buruk sekali. Sedang Banu ‘Amir menunjukkan ambisinya, bahwa
    kalau Muhammad mendapat kemenangan, maka sebagai penggantinya,
    segala persoalan nanti harus berada di tangan mereka. Tetapi
    setelah dijawab, bahwa masalah itu berada di tangan Tuhan,
    merekapun lalu membuang muka dan menolaknya seperti yang
    lain-lain.

    Adakah kegigihan kabilah-kabilah yang mengadakan oposisi
    terhadap Muhammad itu karena sebab-sebab yang sama seperti
    yang dilakukan oleh Quraisy? Kita sudah melihat, bahwa Banu
    ‘Amir ini mempunyai ambisi ingin memegang kekuasaan bila
    bersama-sama mereka nanti ia mendapat kemenangan. Sebaliknya
    kabilah Thaqif pandangannya lain lagi. Ta’if di samping
    sebagai tempat musim panas bagi penduduk Mekah karena udaranya
    yang sejuk dan buah anggurnya yang manis-manis, juga kota ini
    merupakan pusat tempat penyembahan Lat. Ke tempat itu orang
    berziarah dan menyembah berhala. Kalau Thaqif ini sampai
    menjadi pengikut Muhammad, maka kedudukan Lat akan hilang.
    Permusuhan mereka dengan Quraisypun akan timbul, yang sudah
    tentu akibatnya akan mempengaruhi perekonomian mereka pada
    musim dingin. Begitu juga halnya dengan yang lain, setiap
    kabilah mempunyai penyakit sendiri yang disebabkan oleh
    keadaan perekonomian setempat. Dalam menentang Islam itu,
    pengaruh ini lebih besar terhadap mereka daripada pengaruh
    kepercayaan mereka dan kepercayaan nenek-moyang mereka,
    termasuk penyembahan berhala-berhala.

    Makin besar oposisi yang dilakukan kabilah-kabilah itu,
    Muhammad makin mau menyendiri. Makin gigih pihak Quraisy
    melakukan gangguan kepada sahabat-sahabatnya, makin pula ia
    merasakan pedihnya.

    Masa berkabung terhadap Khadijah itupun sudah pula berlalu.
    Terpikir olehnya akan beristeri, kalau-kalau isterinya itu
    kelak akan dapat juga menghiburnya, dapat mengobati luka dalam
    hatinya, seperti dilakukan Khadijah dulu. Tetapi dalam hal ini
    ia melihat pertaliannya dengan orang-orang Islam yang
    mula-mula itu harus makin dekat dan perlu dipererat lagi. Itu
    sebabnya ia segera melamar puteri Abu Bakr, Aisyah. Oleh
    karena waktu itu ia masih gadis kecil yang baru berusia tujuh
    tahun, maka yang sudah dilangsungkan baru akad nikah, sedang
    perkawinan berlangsung dua tahun kemudian, ketika usianya
    mencapai sembilan tahun.

    Sementara itu ia kawin pula dengan Sauda, seorang janda yang
    suaminya pernah ikut mengungsi ke Abisinia dan kemudian
    meninggal setelah kembali ke Mekah. Saya rasa pembacapun akan
    dapat menangkap arti kedua ikatan ini. Arti pertalian
    perkawinan dan semenda yang dilakukan oleh Muhammad itu, nanti
    akan lebih jelas.

    Pada masa itulah Isra’ dan Mi’raj terjadi. Malam itu Muhammad
    sedang berada di rumah saudara sepupunya, Hindun puteri Abu
    Talib yang mendapat nama panggilan Umm Hani’. Ketika itu
    Hindun mengatakan:

    “Malam itu Rasulullah bermalam di rumah saya. Selesai salat
    akhir malam, ia tidur dan kamipun tidur. Pada waktu sebelum
    fajar Rasulullah sudah membangunkan kami. Sesudah melakukan
    ibadat pagi bersama-sama kami, ia berkata: ‘Umm Hani’, saya
    sudah salat akhir malam bersama kamu sekalian seperti yang
    kaulihat di lembah ini. Kemudian saya ke Bait’l-Maqdis
    (Yerusalem) dan bersembahyang di sana. Sekarang saya
    sembahyang siang bersama-sama kamu seperti kaulihat.”

    Kataku: “Rasulullah, janganlah menceritakan ini kepada orang
    lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!”

    “Tapi harus saya ceritakan kepada mereka,” jawabnya.

    Orang yang mengatakan, bahwa Isra’ dan Mi’raj Muhammad
    ‘alaihissalam dengan ruh itu berpegang kepada keterangan Umm
    Hani’ ini, dan juga kepada yang pernah dikatakan oleh Aisyah:
    “Jasad Rasulullah s.a.w. tidak hilang, tetapi Allah menjadikan
    isra’8 itu dengan ruhnya.” Juga Mu’awiya b. Abi Sufyan ketika
    ditanya tentang isra’ Rasul menyatakan: Itu adalah mimpi yang
    benar dari Tuhan. Di samping semua itu orang berpegang kepada
    firman Tuhan: “Tidak lain mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu
    adalah sebagai ujian bagi manusia.” (Qur’an, 17:60)

    Sebaliknya orang yang berpendapat, bahwa isra’ dari Mekah ke
    Bait’l-Maqdis itu dengan jasad, landasannya ialah apa yang
    pernah dikatakan oleh Muhammad, bahwa dalam isra’ itu ia
    berada di pedalaman, seperti yang akan disebutkan ceritanya
    nanti. Sedang mi’raj ke langit adalah dengan ruh. Disamping
    mereka itu ada lagi pendapat bahwa isra’ dan mi’raj itu
    keduanya dengan jasad. Polemik sekitar perbedaan pendapat ini
    di kalangan ahli-ahli iImu kalam banyak sekali dan ribuan pula
    tulisan-tulisan sudah dikemukakan orang. Sekitar arti isra’
    ini kami sendiri sudah mempunyai pendapat yang ingin kami
    kemukakan juga. Kita belum mengetahui, sudah adakah orang yang
    mengemukakannya sebelum kita, atau belum. Tetapi, sebelum
    pendapat ini kita kemukakan – dan supaya dapat kita kemukakan

    • perlu sekali kita menyampaikan kisah isra, dan mi’raj ini

    seperti yang terdapat dalam buku-buku sejarah hidup Nabi.

    Dengan indah sekali Dermenghem melukiskan kisah ini yang
    disarikannya dari pelbagai buku sejarah hidup Nabi, yang
    terjemahannya sebagai berikut:

    “Pada tengah malam yang sunyi dan hening, burung-burung
    malampun diam membisu, binatang-binatang buas sudah berdiam
    diri, gemercik air dan siulan angin juga sudah tak terdengar
    lagi, ketika itu Muhammad terbangun oleh suara yang
    memanggilnya: “Hai orang yang sedang tidur, bangunlah!” Dan
    bila ia bangun, dihadapannya sudah berdiri Malaikat Jibril
    dengan wajah yang putih berseri dan berkilauan seperti salju,
    melepaskan rambutnya yang pirang terurai, dengan mengenakan
    pakaian berumbaikan mutiara dan emas. Dan dari sekelilingnya
    sayap-sayap yang beraneka warna bergeleparan. Tangannya
    memegang seekor hewan yang ajaib, yaitu buraq yang bersayap
    seperti sayap garuda. Hewan itu membungkuk di hadapan Rasul,
    dan Rasulpun naik.

    “Maka meluncurlah buraq itu seperti anak panah membubung di
    atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju arah
    ke utara. Dalam perjalanan itu ia ditemani oleh malaikat. Lalu
    berhenti di gunung Sinai di tempat Tuhan berbicara dengan
    Musa. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa
    dilahirkan. Sesudah itu kemudian meluncur di udara.

    “Sementara itu ada suara-suara misterius mencoba menghentikan
    Nabi, orang yang begitu ikhlas menjalankan risalahnya. Ia
    melihat, bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menghentikan hewan
    itu di mana saja dikehendakiNya.

    “Seterusnya mereka sampai ke Bait’l-Maqdis. Muhammad
    mengikatkan hewan kendaraannya itu. Di puing-puing kuil
    Sulaiman ia bersembahyang bersama-sama Ibrahim, Musa dan Isa.
    Kemudian dibawakan tangga, yang lalu dipancangkan diatas batu
    Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit.

    “Langit pertama terbuat dari perak murni dengan
    bintang-bintang yang digantungkan dengan rantai-rantai emas.
    Tiap langit itu dijaga oleh malaikat, supaya jangan ada
    setan-setan yang bisa naik ke atas atau akan ada jin yang akan
    mendengarkan rahasia-rahasia langit. Di langit inilah Muhammad
    memberi hormat kepada Adam. Di tempat ini pula semua makhluk
    memuja dan memuji Tuhan. Pada keenam langit berikutnya
    Muhammad bertemu dengan Nuh, Harun, Musa, Ibrahim, Daud,
    Sulaiman, Idris, Yahya dan Isa. Juga di tempat itu ia melihat
    Malaikat maut Izrail, yang karena besarnya jarak antara kedua
    matanya adalah sejauh tujuh ribu hari perjalanan. Dan karena
    kekuasaanNya, maka yang berada di bawah perintahnya adalah
    seratus ribu kelompok. Ia sedang mencatat nama-nama mereka
    yang lahir dan mereka yang mati, dalam sebuah buku besar. Ia
    melihat juga Malaikat Airmata, yang menangis karena dosa-dosa
    orang, Malaikat Dendam yang berwajah tembaga yang menguasai
    anasir api dan sedang duduk di atas singgasana dari nyala api.
    Dan dilihatnya juga ada malaikat yang besar luar biasa, separo
    dari api dan separo lagi dari salju, dikelilingi oleh
    malaikat-malaikat yang merupakan kelompok yang tiada hentinya
    menyebut-nyebut nama Tuhan: O Tuhan, Engkau telah menyatukan
    salju dengan api, telah menyatukan semua hambaMu setia menurut
    ketentuan Mu.

    “Langit ketujuh adalah tempat orang-orang yang adil, dengan
    malaikat yang lebih besar dari bumi ini seluruhnya. Ia
    mempunyai tujuhpuluh ribu kepala, tiap kepala tujuhpuluh ribu
    mulut, tiap mulut tujuhpuluh ribu lidah, tiap lidah dapat
    berbicara dalam tujuh puluh ribu bahasa, tiap bahasa dengan
    tujuhpuluh ribu dialek. Semua itu memuja dan memuji serta
    mengkuduskan Tuhan.

    “Sementara ia sedang merenungkan makhluk-makhluk ajaib itu,
    tiba-tiba ia membubung lagi sampai di Sidrat’l-Muntaha yang
    terletak di sebelah kanan ‘Arsy, menaungi berjuta-juta ruh
    malaikat. Sesudah melangkah, tidak sampai sekejap matapun ia
    sudah menyeberangi lautan-lautan yang begitu luas dan
    daerah-daerah cahaya yang terang-benderang, lalu bagian yang
    gelap gulita disertai berjuta juta tabir kegelapan, api, air,
    udara dan angkasa. Tiap macam dipisahkan oleh jarak 500 tahun
    perjalanan. Ia melintasi tabir-tabir keindahan, kesempurnaan,
    rahasia, keagungan dan kesatuan. Dibalik itu terdapat
    tujuhpuluh ribu kelompok malaikat yang bersujud tidak bergerak
    dan tidak pula diperkenankan meninggalkan tempat.

    “Kemudian terasa lagi ia membubung ke atas ke tempat Yang Maha
    Tinggi. Terpesona sekali ia. Tiba-tiba bumi dan langit menjadi
    satu, hampir-hampir tak dapat lagi ia melihatnya, seolah-olah
    sudah hilang tertelan. Keduanya tampak hanya sebesar
    biji-bijian di tengah-tengah ladang yang membentang luas.

    “Begitu seharusnya manusia itu, di hadapan Raja semesta alam.

    “Kemudian lagi ia sudah berada di hadapan ‘Arsy, sudah dekat
    sekali. Ia sudah dapat melihat Tuhan dengan persepsinya, dan
    melihat segalanya yang tidak dapat dilukiskan dengan lidah, di
    luar jangkauan otak manusia akan dapat menangkapnya. Maha
    Agung Tuhan mengulurkan sebelah tanganNya di dada Muhammad dan
    yang sebelah lagi di bahunya. Ketika itu Nabi merasakan
    kesejukan di tulang punggungnya. Kemudian rasa tenang, damai,
    lalu fana ke dalam Diri Tuhan yang terasa membawa kenikmatan.

    “Sesudah berbicara… Tuhan memerintahkan hambaNya itu supaya
    setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Begitu
    Muhammad kembali turun dari langit, ia bertemu dengan Musa.
    Musa berkata kepadanya:

    “Bagaimana kauharapkan pengikut-pengikutmu akan dapat
    melakukan salat limapuluh kali tiap hari? Sebelum engkau aku
    sudah punya pengalaman, sudah kucoba terhadap anak-anak Israil
    sejauh yang dapat kulakukan. Percayalah dan kembali kepada
    Tuhan, minta supaya dikurangi jumlah sembahyang itu.

    “Muhammadpun kembali. Jumlah sembahyang juga lalu dikurangi
    menjadi empatpuluh. Tetapi Musa menganggap itu masih di luar
    kemampuan orang. Disuruhnya lagi Nabi penggantinya itu
    berkali-kali kembali kepada Tuhan sehingga berakhir dengan
    ketentuan yang lima kali.

    “Sekarang Jibril membawa Nabi mengunjungi surga yang sudah
    disediakan sesudah hari kebangkitan, bagi mereka yang teguh
    iman. Kemudian Muhammad kembali dengan tangga itu ke bumi.
    Buraqpun dilepaskan. Lalu ia kembali dari Bait’l-Maqdis ke
    Mekah naik hewan bersayap.”

    Demikian cerita Dermenghem tentang Isra’ dan Mi’raj. Kitapun
    dapat melihat, apa yang diceritakannya itu memang tersebar
    luas dalam buku-buku sejarah hidup Nabi, sekalipun akan kita
    lihat juga bahwa semua itu berbeda-beda. Di sana-sini dilebihi
    atau dikurangi.

    Salah satu contoh misalnya cerita Ibn Hisyam melalui ucapan
    Nabi ‘alaihissalam sesudah berjumpa dengan Adam di langit
    pertama, ketika mengatakan: “Kemudian kulihat orang-orang
    bermoncong seperti moncong unta, tangan mereka memegang
    segumpal api seperti batu-batu, lalu dilemparkan ke dalam
    mulut mereka dan keluar dari dubur. Aku bertanya: “Siapa
    mereka itu, Jibril?”. “Mereka yang memakan harta anak-anak
    yatim secara tidak sah,” jawab Jibril. Kemudian kulihat
    orang-orang dengan perut yang belum pernah kulihat dengan cara
    keluarga Fir’aun menyeberangi mereka seperti unta yang kena
    penyakit dalam kepalanya, ketika dibawa ke dalam api. Mereka
    diinjak-injak tak dapat beranjak dari tempat mereka. Aku
    bertanya: “Siapa mereka itu, Jibril?”. “Mereka itu
    tukang-tukang riba,” jawabnya. Kemudian kulihat orang-orang,
    di hadapan mereka ada daging yang gemuk dan baik, di samping
    ada daging yang buruk dan busuk. Mereka makan daging yang
    buruk dan busuk itu dan meninggalkan yang gemuk dan baik. Aku
    bertanya: “Siapakah mereka itu, Jibril”? “Mereka orang-orang
    yang meninggalkan wanita yang dihalalkan Tuhan dan mencari
    wanita yang diharamkan,” jawabnya. Kemudian aku melihat
    wanita-wanita yang digantungkan pada buah dadanya. Lalu aku
    bertanya: “Siapa mereka itu, Jibril?” “Mereka itu wanita yang
    memasukkan laki-laki lain bukan dari keluarga mereka …”
    Kemudian aku dibawa ke surga. Di sana kulihat seorang budak
    perempuan, bibirnya merah. Kutanya dia: “Kepunyaan siapa
    engkau?”-Aku tertarik sekali waktu kulihat. “Aku kepunyaan
    Zaid ibn Haritha,” jawabnya. Maka Rasulullah s.a.w. lalu
    memberi selamat kepada Zaid ibn Haritha.”

    Selain dari buku Ibn Hisyam ini, dalam buku-buku sejarah hidup
    Nabi yang lain dan dalam buku-buku tafsir orang akan melihat
    bermacam-macam hal lagi di samping itu. Sudah menjadi hak
    setiap penulis sejarah bila akan bertanya-tanya, sampai di
    mana benar ketelitian dan penyelidikan yang mereka adakan
    dalam hal ini semua; mana yang boleh dijadikan pegangan
    (askripsi) sampai kepada Nabi sesuai dengan pegangan yang
    sahih (otentik), dan mana pula yang hanya berupa buah khayal
    orang-orang tasauf dan sebangsanya.

    Kalau di sini tidak cukup ruangan untuk mengadakan ketentuan
    atau penyelidikan dalam bidang tersebut, dan kalau bukan pula
    di sini tempatnya untuk menyatakan apakah isra’ dan mi’raj itu
    keduanya dengan jasad, ataukah mi’raj dengan ruh dan isra’
    dengan jasad, ataukah isra’ dan mi’raj itu semuanya dengan ruh

    • maka sudah tentu bahwa tiap pendapat itu akan ada dasarnya

    pada ahli-ahli ilmu kalam dan tak ada salahnya, kalau atas
    pendapat-pendapat itu orang menyatakan pendiriannya sendiri,
    yang akan berbeda pula satu dari yang lain.

    Jadi barangsiapa yang mau menyatakan pendapatnya, bahwa isra’
    dan mi’raj itu keduanya dengan ruh, maka dasarnya adalah
    seperti yang kita kemukakan tadi dan sudah berulang-ulang pula
    disebutkan dalam Qur’an dan diucapkan Rasul.

    “Sungguh aku ini manusia seperti kamu juga yang diberikan
    wahyu kepadaku. Tetapi Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa,”
    (Qur’an. 18: 110)

    dan bahwa satu-satunya mujizat Muhammad ialah Qur’an, dan

    “Bahwasanya Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang
    mempersekutukanNya, tetapi Dia mengampuni segala dosa selain
    (syirik) itu, siapa saja yang dikehendakiNya.” (Qur’an, 4:48)

    Orang yang berpendapat demikian ini -sebenarnya melebihi yang
    lain- ia akan bertanya, apa sebenarnya arti isra’ dan mi’raj
    itu. Di sinilah letak pendapat yang ingin kita kemukakan. Kita
    belum mengetahui, sudah adakah orang mengemukakan hal ini
    sebelum kita, atau belum.

    Isra’ dan mi’raj ini dalam hidup kerohanian Muhammad mempunyai
    arti yang tinggi dan agung sekali, suatu arti yang lebih besar
    dari yang biasa mereka lukiskan itu, yang kadang tidak sedikit
    dikacau dan dirusak oleh imajinasi ahli-ahli ilmu kalam yang
    subur itu. Jiwa yang sungguh kuat itu, tatkala terjadi isra’
    dan mi’raj, telah dipersatukan oleh kesatuan wujud ini, yang
    sudah sampai pada puncak kesempurnaannya. Pada saat itu tak
    ada sesuatu tabir ruang dan waktu atau sesuatu yang dapat
    mengalangi intelek dan jiwa Muhammad, yang akan membuat
    penilaian kita tentang hidup ini menjadi nisbi, terbatas oleh
    kekuatan-kekuatan kita yang sensasional, yang dapat diarahkan
    menurut akal pikiran. Pada saat itu semua batas jadi hanyut di
    depan hati nurani Muhammad. Seluruh alam semesta ini sudah
    bersatu ke dalam jiwanya, yang lalu disadarinya, sejak dari
    awal yang azali sampai pada akhir yang abadi -sejak dunia
    mulai berkembang sampai ke akhir zaman. Digambarkannya dalam
    perkembangan kesunyian dirinya dalam mencapai kesempurnaan
    itu, dengan jalan kebaikan dan keindahan dan kebenaran, dalam
    mengatasi dan mengalahkan segala kejahatan, kekurangan,
    keburukan dan kebatilan, dengan karunia dan ampunan Tuhan
    juga. Orang tidak akan mencapai keluhuran demikian itu, kalau
    tidak dengan suatu kekuatan yang berada di atas kodrat manusia
    yang pernah dikenalnya.

    Apabila sesudah itu kemudian datang orang-orang yang menjadi
    pengikut Muhammad yang tidak sanggup mengikuti jejak
    pikirannya yang begitu tinggi, dengan kesadaran yang begitu
    kuat tentang kesatuan alam, kesempurnaan serta perjuangannya
    mencapai kesempurnaan itu, maka hal ini tidak mengherankan dan
    bukan pula aib tentunya. Orang-orang yang piawai dan jenial
    memang bertingkat-tingkat. Dalam kita mencapai kebenaran
    inipun selalu terbentur pada batas-batas ini; tenaga kita
    sudah tidak mampu mengatasinya.

    Apabila kita mau menyebutkan sebagai contoh -dengan sedikit
    perbedaan tentunya, sehubungan dengan apa yang kita hadapi
    sekarang ini- cerita orang-orang buta yang ingin mengetahui
    gajah itu apa, maka salah seorang dari mereka itu akan
    berkata, bahwa gajah itu ialah seutas tali yang panjang, sebab
    kebetulan yang terpegang adalah buntutnya; yang seorang lagi
    berkata, bahwa gajah itu sebatang pohon, sebab kebetulan yang
    dijumpainya adalah kakinya; yang ketiga berkata, bahwa gajah
    itu runcing seperti anak panah, sebab kebetulan yang
    dijumpainya adalah taringnya; yang keempat berkata, bahwa
    gajah itu bulat panjang dan bengkok, banyak bergerak-gerak,
    sebab kebetulan yang dipegangnya adalah belalainya.

    Contoh ini sebenarnya masih sejalan dengan gambaran yang
    terbayang ketika orang yang tidak buta itu melihat gajah untuk
    pertama kalinya. Boleh juga kiranya kita mengambil
    perbandingan antara persepsi (kesadaran) Muhammad menangkap
    esensi kesatuan alam ini serta penggambarannya kedalam
    isra’dan mi’raj yang berhubungan dengan waktu pertama sejak
    sebelum Adam sampai pada akhir hari kebangkitan dan yang akan
    menghilangkan pula kesudahan ruang ini, ketika ia melihat
    dengan mata batin dari Sidrat’l Muntaha ke alam semesta ini,
    yang ada sekarang di hadapannya dan sudah seperti kabut
    -dengan persepsi (kesadaran) kebanyakan orang yang dapat
    menangkap arti isra’-mi’raj itu. Tatkala itu ia berhadapan
    dengan bagian-bagian yang tidak termasuk kesatuan alam, sedang
    hidupnya hanya seperti partikel-partikel tubuh, bahkan seperti
    partikel-partikel yang melekat pada tubuh itu dengan
    susunannya yang tidak terpengaruh karenanya. Dari mana pula
    partikel-partikel daripada hidup tubuh itu, dari denyutan
    jantungnya, pancaran jiwanya, pikirannya yang penuh dengan
    enersi yang tak kenal batas; sebab, dari wujud hidup itulah ia
    berhubungan dengan segala kehidupan alam ini.

    Isra’ dengan ruh dalam pengertiannya adalah seperti isra’ dan
    mi’raj juga yang semuanya dengan ruh. Ini adalah begitu luhur,
    begitu indah dan agung. Ia merupakan suatu gambaran yang kuat
    sekali dalam arti kesatuan rohani sejak dari awal yang azali
    sampai pada akhir yang abadi. Ini adalah suatu pendakian ke
    atas Gunung Sinai, tatkala Tuhan berbicara dengan Musa, dan ke
    Bethlehem, tempat Isa dilahirkan. Pertemuan rohani demikian
    ini sudah mengandung selawat bagi Muhammad, Isa, Musa dan
    Ibrahim, suatu manifestasi yang kuat sekali dalam arti
    kesatuan hidup agama sebagai suatu sendi kesatuan alam dalam
    edarannya yang terus-menerus menuju kepada kesempurnaan.

    Ilmu pengetahuan pada masa kita sekarang ini mengakui isra’
    dengan ruh dan mengakui pula mi’raj dengan ruh. Apabila
    tenaga-tenaga yang bersih itu bertemu, maka sinar yang
    benarpun akan memancar. Dalam bentuk tertentu sama pula halnya
    dengan tenaga-tenaga alam ini, yang telah membukakan jalan
    kepada Marconi ketika ia menemukan suatu arus listrik tertentu
    dari kapalnya yang sedang berlabuh di Venesia. Dengan suatu
    kekuatan gelombang ether arus listrik itu telah dapat
    menerangi kota Sydney di Australia.

    IImu pengetahuan zaman kita sekarang ini membenarkan pula
    teori telepati serta pengetahuan lain yang bersangkutan dengan
    itu. Demikian juga transmisi suara di atas gelombang ether
    dengan radio, telephotography (facsimile transmisi) dan
    teleprinter lainnya, suatu hal yang tadinya masih dianggap
    suatu pekerjaan khayal belaka. Tenaga-tenaga yang masih
    tersimpan dalam alam semesta ini setiap hari masih selalu
    memperlihatkan yang baru kepada alam kita. Apabila jiwa sudah
    mencapai kekuatan dan kemampuan yang begitu tinggi seperti
    yang sudah dicapai oleh jiwa Muhammad itu, lalu Allah
    memperjalankan dia pada suatu malam dari Masjid’l-Haram ke
    al-Masjid’l-Aqsha, yang disekelilingnya sudah diberi berkah
    guna memperlihatkan tanda-tanda kebesaranNya, maka itupun oleh
    ilmu pengetahuan dapat pula dibenarkan. Arti semua ini ialah
    pengertian-pengertian yang begitu kuat dan luhur, begitu indah
    dan agung, dan telah pula membayangkan kesatuan rohani dan
    kesatuan alam semesta ini begitu jelas dan tegas dalam jiwa
    Muhammad. Orang akan dapat memahami arti semua ini apabila ia
    dapat berusaha menempatkan diri lebih tinggi dari bayangan
    hidup yang singkat ini. Ia berusaha mencapai esensi kebenaran
    tertinggi itu guna memahami kedudukannya yang sebenarnya dan
    kedudukan alam ini seluruhnya.

    Orang-orang Arab penduduk Mekah tidak dapat memahami semua
    pengertian ini. Itulah pula sebabnya, tatkala soal isra’ itu
    oleh Muhammad disampaikan kepada mereka, merekapun lalu
    menanggapinya dari bentuk materi – mungkin atau tidaknya isra’
    itu. Apa yang dikatakannya itu kemudian menimbulkan kesangsian
    juga pada beberapa orang pengikutnya, pada orang-orang yang
    tadinya sudah percaya. Mereka banyak yang mengatakan: Masalah
    ini sudah jelas. Perjalanan kafilah yang terus-meneruspun
    antara Mekah-Syam memakan waktu sebulan pergi dan sebulan
    pulang. Mana boleh jadi Muhammad hanya satu malam saja
    pergi-pulang ke Mekah?!

    Tidak sedikit mereka yang sudah Islam itu kemudian berbalik
    murtad. Mereka yang masih menyangsikan hal ini lalu mendatangi
    Abu Bakr dan keterangan yang diberikan Muhammad itu dijadikan
    bahan pembicaraan.

    “Kalian berdusta,” kata Abu Bakr.

    “Sungguh,” kata mereka. “Dia di mesjid sedang bicara dengan
    orang banyak.”

    “Dan kalaupun itu yang dikatakannya,” kata Abu Bakr lagi,
    “tentu dia bicara yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku,
    bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu
    malam atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu
    herankan.”

    Abu Bakr lalu mendatangi Nabi dan mendengarkan ia melukiskan
    Bait’l-Maqdis. Abu Bakr sudah pernah berkunjung ke kota itu.

    Selesai Nabi melukiskan keadaan mesjidnya, Abu Bakr berkata:

    “Rasulullah, saya percaya.”

    Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakr dengan “AshShiddiq.”9

    Alasan mereka yang berpendapat bahwa isra’ itu dengan jasad
    ialah karena ketika Quraisy mendengar tentang kejadian Suraqa
    mereka menanyakannya dan mereka yang sudah beriman juga
    menanyakan tentang peristiwa yang luar biasa itu. Mereka
    memang belum pernah mendengar hal semacam itu. Lalu
    diceritakannya tentang adanya kafilah yang pernah dilaluinya
    di tengah jalan. Ketika ada seekor unta dari kafilah tersesat,
    dialah yang menunjukkan. Pernah ia minum dari sebuah kafilah
    lain dan sesudah minum lalu ditutupnya bejana itu. Pihak
    Quraisy menanyakan hal tersebut. Kedua kafilah itupun
    membenarkan apa yang telah diceritakan Muhammad itu.

    Saya kira, kalau dalam hal ini orang bertanya kepada mereka
    yang berpendapat tentang isra’ dengan ruh itu, tentu mereka
    tidak akan merasa heran sesudah ternyata ilmu masa kita
    sekarang ini dapat mengetahui mungkinnya hypnotisma
    menceritakan hal-hal yang terjadi di tempat-tempat yang jauh.
    Apalagi dengan ruh yang dapat menghimpun kehidupan rohani
    dalam seluruh alam ini. Dengan tenaga yang diberikan Tuhan
    kepadanya ia dapat mengadakan komunikasi dengan rahasia hidup
    ini dari awal alam azali sampai pada akhirnya yang abadi.

    Catatan kaki:

    1 Biasanya tempat ini dinamai ‘Syi’b Abi Talib’ (A).

    2 At-Ta’if sebuah kota dan pusat musim panas dengan
    ketinggian 1520 m, dari permukaan laut, lebih kurang 60
    km timur laut Mekah (A).

    3 Doa ini dikenal dengan nama “Doa Ta’if” (A).

    4 Sebuah Kabilah Arab dari bagian Selatan (A).

    5 Kabilah Arab yang berdekatan dengah Suria (A).

    6 Kabilah Arab di dekat Irak (A).

    7 Kabilah Arab yang terpencar-pencar (A).

    8 Asra, sura dan isra’, harfiah berarti “perjalanan
    malam hari” (LA). ‘Araja berarti naik atau memanjat.
    Mi’raj harfiah tangga (N) (A).

    9 Yang tulus hati, yang sangat jujur (A).

    ———————————————
    S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

    oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
    diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

    Penerbit PUSTAKA JAYA
    Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
    Cetakan Kelima, 1980

    Seri PUSTAKA ISLAM No.1

    http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Piagam3.html

     
    • fantasy 1:21 pm on 27/08/2012 Permalink | Reply

      sdr lihat itu cerita loe sendiri baca mulai dari atas cape kayak pedagang asongan muhammad menawarkan agamanya nggak laku laku terahir kasihan orang melihat muhammad .terus dalam dialog muhammad mengaku ngaku seorang nabi…ngak malu kalau seorang itu adalah seorang nabi nggak perlu ngaku ngaku…..orang akan tahu seorang itu nabi dari perbuatanya bukan musti ngaku ngaku seperti mamad ini.. hoi..aku seorang nabiiiii. hormati aku …. maka orang akan keawa dan mengatakan orang itu gila…

    • humanoid 2:22 pm on 28/08/2012 Permalink | Reply

      Lalu Muhammad menanyakan negeri asal
      dan agama orang itu.
      Setelah diketahui bahwa orang tersebut
      beragama Nasrani dari
      Nineveh, katanya:
      “Dari negeri orang baik-baik, Yunus anak
      Matta.”
      “Dari mana tuan kenal nama Yunus anak
      Matta!” tanya ‘Addas.
      “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku
      juga Nabi,” jawab
      Muhammad.

      NGAKU NABI NI YEE…. wkwkwkkk…
      Jd teringat sm imam aliran sesat yg ngaku nabi di Indonesia ni… astojimmm…

    • wikki 2:37 pm on 28/08/2012 Permalink | Reply

      aku juga cuma cuma jamaahku belum ada………enak loh jadi nabi… dihormati…bisa gonta ganti pasangan tunggu nanti kalau sudah ada jamaahku pasti kumasukkan mereka kesurga yang banyak bidadarinya pokoke lebih seratusan gitu lebih cantik dari bidadarinya muhammad …syaratnya dikit yang penting pintar nyolong . merampok membunuh .aku bikin nanti nama surahnya surah …sapi jantan ..kan sapi betina sudah ada yang pakai..jadi kreatif sikitlah….sapi madura ..cocok nggak yah……

    • sodron 4:26 am on 05/09/2012 Permalink | Reply

      nabi Muhammad LEBIH mulia Di bandingkan yesus,nabi muhamad isrok mi,rad Di sambut buraq (kuda bersayap) binatang yg sangat indah.sedangkan yesus isroq mi,rad naik keledai betina hasil curian .Dan sebelum naik keledainya Di sadomi duluan.xixixixixi…..

    • camar 8:55 am on 07/09/2012 Permalink | Reply

      kisah seputar isra mi raj…
      Setelah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan di Taif, Muhammad berusaha untuk kembali lagi ke Mekah. Melalui pertolongan budaknya, Zaid, ia diberi perlindungan oleh Mutim bin Idi, pimpinan Nofal, klan dari Quraish. Keesokan harinya, Mutim dengan anak dan ponakannya dengan bersenjata mendatangi lapangan umum Kabah dan mengumumkan bahwa Muhammad sejak saat itu berada dibawah perlindungannya. Muhammad sangat gembira, tapi tampaknya dia menahan diri untuk segera menyebarkan agamanya kepada kaum Quaish, dia hanya berdakwah pada para peziarah haji yang datang ke kabah untuk melakukan ritual berhalanya.

      Selama periode ini. disaat Muhammad mempertahankan perannya agar tidak menyolok di mata musuh2nya di Mekah, dikatakan bahwa dia, karena alasan tidak jelas, tidur semalaman dirumah sepupunya, Umm Hani.

      Umm Hani adalah anak perempuan Abu Thalib. Umm Hani kemungkinan besar adalah “cinta lama Muhammad”. Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad pernah melamar Umm Hani, namun hal ini ditolak mentah2 oleh Abu Thalib, alasannya saat itu Muhammad adalah pemuda yang papa dan miskin. Karena hubungan keduanya tidak direstui Abu Thalib, akhirnya Umm Hani menikah dengan Hubairah, seorang laki2 yang beragama Nosrania (Nasrani).

      Pada pagi berikutnya, orang2 ingin tahu dimanakah dia malam kemarin. Beberapa orang rupanya telah mengetahui bahwa sore sebelumnya ia memasuki rumah Umm Hani. Dia tidak mungkin mengaku bahwa ia telah “tidur” bersama seorang wanita yang sedang sendirian, karena itu akan menghancurkan kariernya sebagai seorang nabi. Muhammad akhirnya mengarang cerita, dia mengatakan bahwa pada malam itu ia dituntun Jibril untuk melakukan perjalanan dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dari sana ia naik kesorga dan bertemu Allah. Karena perjalanan ini tidak mengikut sertakan manusia lain, oleh karenanya tidak ada manusia lain yang bisa menjadi saksi akan kejadian mukjijat ini, maka ini mencegah orang2 meminta saksi mata untuk membuktikan pernyataannya tersebut.

      Mendengar penjelasan Muhammad tersebut, kebanyakan dari mereka mengatakan, ‘Demi Allah, ini jelas sebuah kebohongan! Sebuah karavan saja memerlukan waktu satu bulan untuk mencapai Syria dan satu bulan lagi untuk kembali. Bagaimana Muhammad bisa melakukan perjalanan pulang-pergi dari Mekah ke Yerusalem dalam satu malam ?’

      Ibn Ishaq mengatakan; “Setelah mendengar cerita ini banyak orang yang dulunya bergabung dengan Islam menjadi murtad dan meninggalkan Islam.”

      Sebagian lagi menemui Abu Bakar, yang rupanya belum mengetahui hal ini dan berkata, “Apa pendapatmu tentang temanmu itu? Dia mengaku telah pergi ke Yerusalem semalam, sholat disana lalu kembali lagi ke Mekah!” Abu Bakar menuduh orang2 yang bertanya kepadanya ini berbohong, Muhammad tidak akan berkata begitu, tapi mereka meyakinkan dia, bahwa Muhammad sekarang sedang berada di mesjid, menjelaskan tuduhan orang2 terhadapnya. Abu Bakar tertegun dan lalu berkata, “jika dia bilang begitu, maka itu benar. Kenapa heran? Dia pernah bilang berkomunikasi dengan Allah, dari langit kebumi, wahyu datang padanya siang atau malam, dan saya percaya dia. Itu jauh lebih luar biasa dari apa yang kau ceritakan sekarang!” (Ibn Ishaq, Sirah Rasul Allah, p 183)

      Logikanya sangat sempurna. Pada dasarnya apa yang Abu Bakar katakan adalah bahwa sekali kamu telah melepaskan akal sehatmu dan percaya pada kemustahilan, kamu bisa percaya apa saja. Sekali saja kau biarkan dirimu dibodohi, maka kau harus siap untuk dibodohi selamanya karena tidak ada batas bagi kebodohan. Berapa banyak orang yang akan membiarkan kakek berumur 50 tahun seperti Muhammad, mengawini anak perempuannya yang berumur 6 tahun? Tapi Abu Bakar melakukan itu. Ini membutuhkan kebodohan yang luar biasa. Kebodohan yang hanya mungkin ada dalam sebuah kepercayaan buta.

      Kita juga harus ingat bahwa Abu Bakar, telah menghabiskan semua kekayaannya bagi Muhammad dan tujuannya. Orang ini telah banyak berkorban bagi Muhammad. Pada tahap ini, dia tidak punya pilihan lain kecuali ikut saja pada apa yang dikatakan Muhammad. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengubur dalam2 logikanya dan secara membuta mengikuti apa saja yang dikatakan dan diperbuat Muhammad.

      Abu Bakar begitu kesulitan mempercayai kisah kenaikan Muhammad ke surga, tapi pada a

      Setelah gagal meyakinkan sebagian orang atas kenaikannya kesurga tersebut. Mari kita lihat bagaimana Muhammad mengembangkan kebohongan Isra Miraj ini dikemudian hari.

      Terdapat berbagai versi tentang dongeng Muhammad ini. Ibn Ishaq (p182) menyusun tradisi2 yang berasal dari sahabat-sahabatnya, khususnya istrinya, Aisha. Menurut riwayat, Muhammad melaporkan:

      “Ketika saya, Jibril datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya bangun namun tidak melihat apa-apa dan merebah kembali. Untuk kedua kalinya ia datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya tidak melihat apa2 dan merebah kembali. Ia datang kepada saya untuk ketiga kalinya dan membangunkan saya dgn kakinya. Saya bangun dan ia memegang tangan saya dan saya berdiri disebelahnya. Ia membawa saya keluar, dan disitulah ada seekor hewan putih, setengah keledai, dengan sayap2 disisinya yang mempercepat gerakkan kakinya …. Ia menaikkan saya padanya. Lalu ia pergi keluar dengan saya, dan terus dekat dengan saya. Ketika saya mencoba menaikinya, ia [hewan itu] malu-malu. Jibril meletakkan tangannya pada bulu tengkuknya dan mengatakan, Apakah kau tidak malu, wahai Buraq, untuk bertingkah seperti ini ? Demi Allâh, tidak ada yang lebih terhormat bagi Allâh daripada Muhammad menaikimu. Hewan itu begitu malu sampai ia berkeringat dan berdiri sehingga saya bisa menaikinya.”

      Sang periwayat kemudian mengatakan: “Nabi dan Jibril berangkat dari Masjid Haram, sampai mereka tiba di Masjid Aqsa di Yerusalem. Disana ia berjumpa dengan nabi2 terdahulu seperti Adam, Ibraham, Musa dan Yesus. Muhammad kemudian membimbing mereka dan menjadi imam utama dalam sholat.

      Setelah sholat selesai, malaikat Jibril membuka hati Muhammad untuk kedua kali dan membersihkannya dari segala dosa yang telah dia kumpulkan sejak pencucian pertama ketika dia berumur lima tahun. Setelah itu sebuah tangga dipasang, menghubungkan Masjid Aqsa dengan ketujuh surga dilangit. Dengan Buraq, hewan setengah kuda dan setengah keledai, berkepala manusia dan sayap burung rajawali, ia mengunjungi tingkatan2 di Surga.

      Setelah menuntaskan urusan saya di Yerusalem, sebuah anak tangga yang paling indah yang pernah saya lihat dibawa kepada saya. Itu tangga yang dipandangi orang yang hampir mati saat kematian menjemputnya. Rekan saya menaikinya, sampai kami tiba di salah satu gerbang surga yang disebut dengan Gerbang Para Penjaga. Malaikat bernama Ismail bertanggung jawab atasnya dan ia membawahi 12.000 malaikat, yang masing2 membawahi 12.000 malaikat.’

      Ketika Jibril membawa saya masuk, Ismail bertanya siapa saya dan ketika Jibril mengatakan bahwa saya Muhammad, ia bertanya apakah saya diberikan sebuah misi, atau dipanggil, dan setelah diyakinkan Jibril, ia mengucapkan selamat jalan.

      Saya melihat malaikat kematian, Azrail, yang tubuhnya begitu besar sampai mata2nya berjarak 70.000 hari perjalanan berbaris (Sekitar 10 kali lebih besar dari jarak antara Bulan dan Bumi). Ia memiliki 100.000 batalyon malaikat dan melewatkan waktunya dengan menulis dalam sebuah buku raksasa nama2 mereka yang mati atau dilahirkan.

      Saya juga melihat malaikat air mata yang menangis bagi dosa2 dunia; Malaikat Pembalas dengan wajah yang besar yang tertutup oleh bisul2 yang menguasai api dan duduk dalam singgasana berapi; dan satu lagi malaikat raksasa yang tubuhnya terdiri dari setengah salju dan setengah api.

      Semua malaikat yang menemui saya ketika saya memasuki suga paling bawah tersenyum dan mengucapkan selamat jalan, kecuali salah satu dari mereka yang tidak tersenyum atau menunjukkan ekspresi gembira seperti malaikat lainnya. Dan ketika saya tanya alasannya pada Jibril, ia mengatakan bahwa malaikat tersebut tidak tersenyum karena ia adalah Malik, Penjaga Pintu Neraka.

      Ketika saya memasuki surga paling bawah, saya melihat seseorang duduk disana, dengan jiwa2 orang yang melewatinya. Dalam menjawab pertanyaan saya, Jibril mengatakan bahwa ini ayah kami, Adam, sedang memeriksa jiwa2 keturunannya. Jiwa orang beriman meningkatkan kegembiraannya, sementara jiwa seorang kafir meningkatkan kejijikannya. Lalu saya melihat orang2 dengan bibir seperti onta. Dalam tangan2 mereka terdapat kepingan2 api, seperti batu, yang mereka gunakan untuk dimasukkan dalam mulut mereka dan kemudian keluar dari bokong mereka. Saya diberitabu bahwai mereka ini adalah orang yang berdosa karena memakan harta anak yatim piatu. Lalu saya melihat orang2 seperti keluarga Firaun, dengan perut2 yang belum pernah saya lihat, dan melewati mereka adalah onta2 yang gila karena kehausan ketika mereka dibuang ke neraka, menginjak mereka karena mereka tidak dapat mengelak. Mereka adalah para lintah darat.

      Lalu saya dibawa ke surga kedua, dan disitu ada dua saudara sepupu dari garis ibu, Isa, putera Mariam dan Yohanes, putera Zakariah. Lalu saya ke surga ketiga dan disitu ada seseoarng yang wajahnya seperti bulan purnama. Itu saudara saya, Yusuf, putera Yakub. Lalu ke surga keempat, disana ada seorang bernama Idris (Henokh). Lalu ke surga kelima dan disana ada lelaki dengan rambut putih dan jenggot panjang, belum pernah saya melihat lelaki yang lebih rupawan darinya. Ia adalah yang paling dikasihi rakyatnya, Harun, putera ‘Imran.

      Lalu ke surga keenam, dan disana ada lelaki berwarna kulit gelap dengan hidung berbentuk kait, spt kaum Shanu’a. Ini saudara saya, Musa, putera ‘Imran. Lalu ke surga ketujuh, dan disana ada seseorang duduk di singgasana pada gerbang rumah mewah, Surga. Setiap hari, 70.000 malaikat masuk dan tidak kembali sebelum hari kiamat. Belum pernah saya melihat orang lebih mirip dengan saya. Ini ayah saya, Ibrahim. Dalam surga ketujuh dimana jiwa2 orang2 baik tinggal terdapat malaikat yang lebih besar dari seluruh dunia dengan 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 mulut dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah dan setiap lidah berbicara dalam 70.000 bahasa dan tidak habis2nya menyanyikan pujian kepada Sang Maha Kuasa.

      Satu versi mengatakan, Ketika Jibril mengantar Muhammad ke setiap tingkatan surga dan meminta ijin masuk, Jibril harus memberitahu para penjaga siapa yang ia bawa dan apakah tamunya itu menerima sebuah misi atau ia telah dipanggil, dan para penjaga gerbang akan menjawab ‘Allah memberikannya kehidupan, kakak dan sahabat!’ dan membiarkan mereka lewat sampai mereka mencapai langit ketujuh dan ia dituntun menuju Sidratul Muntaha, yang dibatasi oleh pohon khuldi, disana Muhammad bertemu dengan Allah. Disana ditetapkan kewajiban lima puluh kali solat per hari bagi pengikutnya. Saat ia kembali, ia bertemu Musa dan inilah yang terjadi:

      Pada saat saya kembali, saya berjumpa dengan Musa dan sungguh ia temanmu yang paling baik! Ia bertanya berapa solat yang diwajibkan pada saya dan ketika saya mengatakan lima puluh, ia mengatakan, ‘Doa adalah sesuatu yang memberatkan dan pengikutmu adalah orang-orang lemah, jadi kembalilah kepada Tuhanmu dan minta padaNya untuk mengurangi jumlah solatnya bagi dirimu dan komunitasmu.’ Saya melakukannya dan Ia mewajibkan sepuluh solat. Sekali lagi saya berpapasan dengan Musa dan ia sekali lagi mengatakan hal yang sama, dan begitulah seterusnya sampai hanya ditetapkan lima solat bagi seluruh hari dan malam. Musa kembali memberikan saya nasehat yang sama. Saya menjawab bahwa saya sudah kembali kepada Tuhan saya dan bertanya padaNya untuk mengurangi jumlahnya sampai saya malu dan saya tidak akan melakukannya lagi. Barang siapa yang melakukan doa dalam iman, imannya akan dihadiahi dengan limapuluh solat.

      Demikianlah cerita Muhammad yang ia karang2 dikemudian hari untuk menyakinkan para pengikut fanatiknya mengenai kebohongan Isra Miraj tersebut.

      Orang memang cenderung percaya kebohongan apa saja, selama kebohongan itu diberi cap “mistis” dan “spiritual”,

      Muhammad memang memilki daya khayal yang luar biasa. Muhammad bukanlah orang yang biasa menggunakan kiasan atau personifikasi dalam menyatakan sesuatu. Lihatlah bagaimana Muhammad bercerita tentang malaikat yang ukurannya lebih besar dari bumi ini. Malaikat yang memiliki 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 wajah. (Total wajah yg dimilikinya adalah : 4.900.000.000) Setiap wajah memiliki 70.000 mulut (Total mulut: 343.000.000.000.000) Setiap mulut memiliki 70.000 lidah (Total lidah: 24.010.000.000.000.000.000) Setiap lidah mampu berbicara dalam 70.000 bahasa (Total bahasa yang mampu digunakannya : 1,680,700,000,000,000,000,000,000), Dan kesemuanya itu diciptakan Allah untuk satu tujuan, yaitu memuja dia.

      Mengapa Allah merasa perlu menciptakan mahluk monster seperti itu hanya agar mahluk itu bisa memuja2nya tanpa akhir dalam berbagai bahasa pula? Bukankah itu gila? Allah adalah perwujudan ego Muhammad dan segala yang ia inginkan. Psikologi Allah merefleksikan psikologi Muhammad. Sebagai seorang narsisis, ia memiliki kehausan besar agar dipuja, begitu pula tuhannya yang tidak lain hanyalah perwujudan dirinya.

      TERLALU BANYAK KEBOHONGAN DAN KEJANGGALAN DALAM PERISTIWA ISRA MIRAJ INI.

      Para pakar Muslim, yang telah termakan tipu daya Muhammad, sampai jungkir balik untuk mempertahankan dongeng ini agar nampak kredibel. Mereka mati2an berusaha membela kebohongan ini agar nampak sebagai suatu kebenaran.

      Para pengritik mempertanyakan moralitas dan tujuan keberadaan Muhammad, seorang pria yang baru beberapa waktu ditinggal mati istrinya, ditengah malam, dirumah seorang wanita yang tinggal seorang diri. Juga keputusan Allah untuk mengundangnya kesurga dari rumah seorang wanita yang bukan muhrimnya, bukan dari rumahnya sendiri.

      Beberapa pakar muslim mengatakan bahwa peristiwa Isra Miraj ini adalah peristiwa dialam roh, bukan di alam fisik (jasad) sesungguhnya. Namun secara logika argumen ini juga terbantahkan. Motif utama Muhammad menceritakan kisah ini adalah untuk menghindar dari tuduhan orang2 bahwa semalam ia secara fisik berada di rumah Umm Hani. Oleh karenanya ia mengatakan bahwa secara fisik, ia telah pergi ke Yerusalem dan ke surga, bukan tidur berduaan dengan Umm Hani. Ayat Quran tentang Isra Miraj juga membuktikan ini;

      Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 17:01)

      Kata2 “Bi’abdihi” (hambaNya) ini dapat dipakai untuk memberikan sanggahan atas orang2 yang berpendapat bahwa perjalanan malam Muhammad ini hanya terjadi dengan rohnya saja tanpa dengan jasadnya, sebab kata2 “abd” (hamba) itu dipakai untuk roh beserta jasadnya sekaligus, bukan untuk roh saja atau jasad saja, sehingga tidak ada orang yang mengatakan roh itu sebagai “abd” atau jasad yang tidak ber-roh sebagai ‘abd.

      Pertentangan berikutnya adalah mengenai singgahnya Muhammad ke Masjid Al Aqsa. Menurut sejarah peristiwa Muhammad naik kesorga ini terjadi di sekitar tahun 621 M. Namun sejarah mencatat bahwa pada tahun tersebut tidak ada satu bangunan pun yang berdiri dibekas Kuil Sulaiman (Salamo), karena bangsa Romawi telah menghancurkan dan membumi ratakan seluruh bangunan dikomples kuil ini pada tahun 70 M. Diatas bekas kuil ini kemudian di bangun Kuil Yupiter oleh bangsa Romawi. Kemudian kerajaan Byzantium menghancurkan Kuil Yupiter, dan setelah penaklukan Byzantium oleh islam maka dibangunlah The Dome of the Rock diatasnya pada tahun 691M. Mesjid Al-Aqsa baru dibangun dikompleks tersebut oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dinasti Umayyad di tahun 710M.

      Bagaimana mungkin Muhammad pada tahun 621 M mengatakan bahwa ia pergi ke Masjid Al Aqsa, padahal masjid itu baru berdiri 710 M, atau 89 tahun kemudian.

      MUNGKINKAH KISAH ISRA MIRAJ INI HANYALAH DONGENG YANG DICIPTAKAN MUSLIM SETELAH KEMATIAN MUHAMMAD?

      Hal aneh lain seputar Isra Miraj, adalah tentang pembangunan Masjidil Haram dan Al Aqsa. Muhammad bercerita demikian mengenai kedua masjid tersebut;

      Dikisahkan oleh Abu Dhaar: Aku bertanya, “Ya Rasulullah! Masjid manakah yang dibangun pertama kali? Beliau menjawab, “Masjidil Haram” Aku bertanya, “Selanjutnya?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsa”. Kemudian aku bertanya, “Berapakah selisih pembangunan keduanya?” Rasulullah menjawab, “Empat puluh (tahun)”,….. (Hadis Bukhari 55:636)
      Benarkah perkataan Muhammad tersebut? Menurut Islam Masjidil Haram dibangun oleh Ibrahim pada 2000 SM, sedangkan Masjidil Aqsa dibangun pada tahun 710 M, maka kalkulasi yang benar terdapat selisih 2710 tahun. Muhammad mengatakan 40 tahun. Apakah 40 = 2710 ?

      Di dongeng Isra Miraj ini Allah setuju dengan Muhammad untuk mewajibkan sholat lima waktu. Namun anehnya ternyata Allah lupa mencatatkan jumlah sholat ini didalam Quran. Ataukah mungkin Allah sudah memerintahkan pada Jibril, namun Jibril lupa mengatakannya pada Muhammad.

      • ungke 3:10 pm on 16/10/2012 Permalink | Reply

        Sepi pengunjung ni… mungkin karena ketahuan Bohongnya si Mr. Moh… kali ya.

      • ungke 5:03 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

        Aneh …Katanya sholat adalah tiang agama islam(soko guru) tapi kok hal sepenting itu malah tidak tertulis di quran, justru aulloh malah sibuk menuliskan berapa jumlah istri yang ideal, bagaimana orang berhubungan intim, apa yang harus dilakukan istri istri muhamad, masalah minum madu (Cerita maria) dan banyak hal hal sepeleh dan pribadi yang tidak perlu di tulis

    • Soebodo 1:18 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Biarkan anjing menggongong khalifah tetap berlalu …

    • ungke 4:52 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Mas Soebodo ..
      Coba sekali ini saja anda jawab dengan Intelek &logis dan dengan bukti yang sahih tulisan mas Wikki diatas, supaya kami tahu anda ini bukan cuma asal ngomong saja seperti selama ini,

    • Soebodo 9:20 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Anda nggak memerlukan jawaban dari saya….akan percuma kalau kalau anda masih punya nalar yg demikian banyak jawaban bagus dari temen dan dalam …. kalau anda mampu tanya saja sama YESUS agar jelas. buktikan senidiri kalau anda mampu berkomunikasi. bukan hanya cerita dari cerita bg kami tidak membutikan apa2(kalau paham) tingkatkan kualitas diri bukan hanya ilmiah ….rohaniah

    • ungke 11:36 am on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Sekarang saya benar-benar yakin kalau anda itu memang cuma modal mbacot tidak berbobot, terima kasih untuk jawaban anda.

    • soebodo 11:35 pm on 17/10/2012 Permalink | Reply

      Diatas sebenarnya ada kalimat dalam sekali … tergantung kedalam rohani anda . kecuali dimatikan dengan mengisi dengan mencari kesalahan(padahal nggak paham) jangankan kepinteran ungke/wiki/camar x 1000 …manusia sedunia dikumpulin untuk membahas tidaklah ada artinya ( dah gamblang…) apalagi pembenaran diperoleh dari menyalahkan2 pihak laenya (janggal …. saya gambarkan KECAP biar jelas KECAP NO 1 bagi yang sudah merasakan dan tahu barangnya dengan jelas…apalagi ada yang menawarkan kecap laen tapi dia sendiri belum merasakan rasanya kecap apalagi memegang. hanya dari brosur saja dan kita tahu kwalitas kecap laen karena sudah merasakan

    • ungke 2:32 pm on 29/10/2012 Permalink | Reply

      “Diatas sebenarnya ada kalimat dalam sekali ” seking dalamnya sampe anda sendiri tidak bisa jelasin, sudahlah soebodo kalo nda tau apa apa mending anda ikut baca saja. jangan semakin memperlihatkan isi kepala anda.

    • soebodo 2:03 am on 30/10/2012 Permalink | Reply

      kalau mo jelasin lom sampe sana malah bengong…belajar berjalan dulu …. temen2 laen sudah pd pinter berlari … kok malah berkoar-koar bikin argumen lagi….apakah menununjukan inteleknya malah cetek bagi kami.

  • SERBUIFF 11:14 am on 23/04/2012 Permalink | Reply
    Tags:   

    Isra’ dan Mi’raj 

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    SALAM REDAKSI

     

    Para  pembaca  al  huda  yang  budiman,  di

    antara mukjizat besar yang diberikan Allah kepada

    Nabi  Muhammad  shallallahu  ‘alayhi  wasallam

    adalah Isra’ dan Mi’raj, sebuah peristiwa luar biasa

    yang  terjadi  sepanjang  sejarah  peradaban

    manusia, peristiwa nyata yang telah terjadi dan kita

    wajib mempercayainya.

    Tepatnya  tanggal  27  Rajab,  atas  perintah

    Allah  ta’ala  Malaikat  Jibril  datang  dengan

    membawa kendaraan yang disebut dengan Buraq.

    Kendaraan yang mempunyai kecepatan yang luar

    biasa; sejauh mata Buraq memandang sejauh itu

    pulalah  Buraq  melangkah.  Dengan  tanpa

    meninggalkan jejak sang malaikat membuka atap

    rumah  tempat  Rasulullah  tidur,  perlahan-lahan

    Jibril membangunkan Rasulullah dan mengajaknya

    keluar untuk menyaksikan tanda-tanda kekuasaan

    Allah,  baik  yang  berada  di  bumi  maupun  yang

    berada di langit. Dari masjid al Haram Rasulullah

    memulai  perjalanannya (Isra’)  dengan  melewati

    beberapa  tempat  bersejarah  hingga  akhirnya

    beliau sampai di masjid al Aqsha, di masjid inilah

    Rasulullah dipertemukan dengan semua para nabi

    dan  melakukan  shalat  dua  raka’at  dengan  para

    nabi dan sekaligus menjadi imam mereka, ini juga

    merupakan  dalil  bahwa  Nabi  Muhammad  adalah

    nabi yang termulia di antara para nabi.

    Setelah  Isra’,  Rasulullah  yang  ditemani

    Malaikat  Jibril melanjutkan  perjalanannya  menuju

    Sidrat  al Muntaha.  Perjalanan  ini disebut  dengan

    Mi’raj; perjalanan yang dimulai dari masjid al Aqsha

    hingga ke atas sidrat al Muntaha, ke atas langit ke

    tujuh.

    Hanya  dalam  waktu  sepertiga  malam  saja

    Rasulullah sudah kembali ke tempat tidurnya dari

    perjalanan  Isra’  dan  Mi’rajnya.  Sungguh

    menakjubkan, namun itulah bukti kekuasaan Allah

    yang sempurna dan tidak ada bandingannya dan

    inilah  yang  disebut  dengan  Mukjizat;  bukti

    kebenaran  akan  kenabian  dan  kerasulan

    Muhammad  Shallallahu ‘alayhi Wasallam.

    Lebih  jelasnya  tentang  hikmah isra’  dan

    mi’raj, mari kita baca ulasan ringkas al Huda kali

    ini. Semoga kita mendapat ilmu yang bermanfaat

    amin ya Rabbal ‘alamin.

     

     

     

     

     

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    Dars

     

    ﻢﻴﺣﺮﻟﺍ ﻦﲪﺮﻟﺍ ﷲﺍ ﻢﺴﺑ

     

    )    ﺪﺠﺴﳌﺍ  ﱃﺇ  ﻡﺍﺮﳊﺍ  ﺪﺠﺴﳌﺍ  ﻦﻣ  ﻼﻴﻟ  ﻩﺪﺒﻌﺑ  ﻯﺮﺳﺃ  ﻱﺬﻟﺍ  ﻦﺤﺒﺳ

    ﲑﺼﺒﻟﺍ ﻊﻴﻤﺴﻟﺍ ﻮﻫ ﻪﻧﺇ ﺎﻨﺗﺎﻳﺁ ﻦﻣ ﻪﻳﺮﻨﻟ ﻪﻟﻮﺣ ﺎﻨﻛﺭﺎﺑ ﻱﺬﻟﺍ ﻰﺼﻗﻷﺍ (

    )  ﺀﺍﺮﺳﻹﺍ ﺓﺭﻮﺳ  : 1 (

     

    Maknanya  :  “Maha  suci  Allah  yang  telah

    memperjalankan  hamba-Nya  pada  suatu  malam

    dari masjid al Haram menuju masjid al Aqsha yang

    telah  kami  berkahi  sekelilingnya  agar  kami

    perlihatkan  kepadanya  sebagian  tanda-tanda

    (kekuasaan) kami”  (Q.S. al Isra’ : 1)

     

    Tafsir ayat :

     

    Dalam Bahasa Arab as-Sabhu maknanya at-Taba’ud;  jauh.  Jadi  perkataan  ﷲﺍ  ﺢﺒﺳ ﱃﺎﻌﺗ

    “bertasbihlah  kepada  Allah  ta’ala”  maknanya

    adalah  jauhkan  dan  sucikan  Allah  dari  hal-hal

    yang  tidak  layak  bagi-Nya,  yaitu  menyerupai

    makhluk dan segala sifatnya; seperti bentuk lathif

    (yang  tidak  dapat  dipegang  oleh  tangan  seperti

    cahaya,  kegelapan,  roh,  angin  dan  lainnya)

    maupun  benda katsif  (yang  dapat  dipegang  oleh

    tangan  seperti  manusia,  pohon,  batu,  air  dan

    lainnya)  maupun  sifat-sifat  keduanya;  seperti

    berwarna,  bergerak,  diam,  berukuran  (baik  yang

    besar  maupun  yang  kecil),  menetap  pada  suatu

    arah atau tempat. Hal ini mengingat bahwa Allah

    mensucikan  Dzat-Nya  dari  sifat-sifat  ciptaan-Nya

    dalam firman-Nya :

    )    ﺊﺷ ﻪﻠﺜﻤﻛ ﺲﻴﻟ (    )  ﻯﺭﻮﺸﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ : 11 (

    Maka seandainya Dia berupa bentuk, baik bentuk

    besar  atau  kecil  niscaya  banyak  makhluk  yang

    menyerupai-Nya.

    Makna bi ‘abdihi ( ﻩﺪﺒﻌﺑ ) adalah hamba-Nya

    yaitu  Nabi  Muhammad  shallallahu  ‘alayhi

    wasallam.  Diriwayatkan  bahwa  ketika  Nabi

    Muhammad telah sampai pada derajat yang tinggi

    dan  tingkatan  yang  luhur  dalam  peristiwa Mi’raj,

    Allah  menyampaikan  wahyu  kepadanya  yang

    maknanya:  “Wahai  Muhammad  dengan  apa  Aku

    memuliakanmu  ?”,  Nabi  menjawab  :  “Dengan

    penisbatan  (penyandaran)  diriku  kepada-Mu

    dengan  sifat  penghambaan  (‘ubudiyyah)”.

    Kemudian  turunlah  firman-Nya:  “Subhanalladzi

    asra  bi  ‘abdihi…”.  Maknanya:  penyebutan

    Rasulullah dengan dinisbatkan kepada Allah dalam

    “‘abdihi”;  hamba-Nya  merupakan  puncak

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    pemuliaan terhadap Rasulullah mengingat hamba-hamba  Allah  banyak,  mengapa  beliau  secara

    khusus disebutkan dalam ayat ini sebagai hamba-Nya?,  ini  menunjukkan  bahwa  Rasulullah

    dikhususkan dengan kemuliaan yang paling agung.

    Firman-Nya lailan  ( ﻼﻴـﻟ  )  dibaca nashab

    sebagai zharaf (keterangan waktu). Jika dikatakan:

    “Mengapa disertakan penyebutan malam ?”, maka

    jawabnya  adalah  penyebutan  lailan  sebagai

    penguat  yang  menunjukkan  waktu  atau  masa

    terjadi peristiwa Isra’ itu yang sangat  singkat dan

    sebentar  saja,  yaitu  hanya  dalam  waktu  kurang

    dari sepertiga malam saja. Sebab Nabi mengalami

    peristiwa  tersebut  hanya  sebagian  waktu  malam

    saja  dari  Makkah  menuju  Syam.  Al  Masjid  al

    Haram  adalah  masjid  di  Makkah.  Dinamakan

    demikian  karena  kehormatannya  yakni

    kemuliaannya atas seluruh masjid-masjid yang ada

    di bumi ini, dengan memiliki hukum-hukum tertentu

    yang  tidak  berlaku  bagi  masjid  lainnya.  Seperti

    berlipat gandanya pahala amal yang dikerjakan di

    sana,  sebagaimana  tersebut  dalam  beberapa

    hadits yang shahih seperti misalnya: sekali shalat

    di sana sebanding dengan seratus ribu kali shalat

    di selainnya (selain Masjid an-Nabawi dan Masjid

    al Aqsha), sedangkan shalat di masjid an-Nabawi

    sebanding  dengan  seribu  kali  shalat  di  masjid

    lainnya  dan  sekali  shalat  di  masjid al  Aqsha

    sebanding dengan lima ratus kali shalat di masjid

    lainnya.  Al  Masjid  al  Aqsha dinamakan  demikian

    karena jaraknya yang jauh (dari Masjid al Haram).

    Firman Allah :   (    ﻪﻟﻮﺣ ﺎﻨﻛﺭﺎﺑ ﻱﺬﻟﺍ )

    Maknanya  :  “Yang  telah  Kami  berkati

    sekelilingnya”,  Dikatakan  demikian  karena  al

    Masjid al Aqsha adalah tempat menetap para nabi

    dan  tempat  turunnya  malaikat.  Karena  itulah

    Nabiyyullah Ibrahim ‘alayhissalam menyatakan :

    )    ﰊﺭ ﱃﺇ ﺐﻫﺍﺫ ﱐﺇ  (    )  ﺕﺎﻓﺎﺼﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ  : 99 (

    Maknanya  :  “Sesungguhnya  aku  pergi  menuju

    negeri  (daratan  syam)  yang  Allah  memberiku

    petunjuk  agar  aku  ke  sana  (supaya  mendapat

    ketenangan  dalam  berdakwah  dan  beribadah

    kepada Allah) “.  (Q.S. ash-shaffat : 99)

    Nabi Ibrahim mengetahui hal ini dengan wahyu dari

    Allah  kepadanya  bahwa  Syam  (sekarang

    Palestina,  Yordania,  Syiria  dan  Lebanon)

    merupakan  negeri  tempat  turunnya  rahmat.

    Kebanyakan wahyu turun di Syam, demikian juga

    para nabi kebanyakan di sana. Palestina (daerah

    Syam yang paling inti) juga tidak berada di bawah

    kekuasaan  Namrud  sehingga  beliau  dapat

    beribadah  kepada  Allah  di  sana  tanpa  diganggu

    atau disakiti, maka beliau berpindah dari negerinya

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    (Iraq)  menuju  palestina.  Kemudian  setelah

    beberapa  waktu  beliau  meninggalkan Surriyyah

    (budak  perempuan  yang  digauli  tuannya)-nya,

    Hajar dan anaknya Isma’il berada di Makkah. Nabi

    Ibrahim berdoa kepada Allah ta’ala agar penduduk

    Makkah  dikaruniai  rizki  berupa  buah-buahan  dan

    Allah  mengabulkan  doanya.  Oleh  sebab  Makkah

    merupakan tanah gurun yang tidak ada tanaman,

    maka  Allah  memerintahkan  Malaikat  Jibril  untuk

    memindahkan  gunung  Tha’if  dari  daratan  Syam

    menuju  Makkah  dan  malaikat  Jibrilpun

    memindahkan dan meletakkan gunung tersebut di

    sana. Di gunung ini tumbuh buah anggur dari jenis

    yang terbaik demikian juga buah delima dan lain-lain,  udaranya  sangat  sejuk  sehingga  penduduk

    makkah  memilihnya  menjadi  Mushthaf  (lokasi

    pelesir  di  musim  panas).  Demikian  penuturan  al

    Azraqi  dalam  bukunya Akhbar  Makkah,  sebuah

    buku yang sarat dengan faedah.

    Firman Allah :   ( ﺎﻨﺗﺎﻳﺁ ﻦﻣ ﻪﻳﺮﻨﻟ )

    Maknanya  :  “Agar  Kami  (Allah)  perlihatkan

    kepadanya  (Muhammad)  pada  malam  tersebut

    berbagai keajaiban  dan tanda yang menunjukkan

    akan kekuasaan Kami (Allah)”.

    Perjalanan  Isra’  dimulai  dari  al  Masjid  al  Haram

    setelah  terlebih  dahulu  dada  beliau  dibelah  dan

    dicuci hatinya untuk dipenuhi dengan hikmah dan

    keimanan,  agar  beliau  siap  untuk  menyaksikan

    keajaiban-keajaiban  ciptaan  Allah  dengan  hati

    yang kuat. Pada saat itu beliau berada di Makkah,

    Jibril  datang  pada  malam  hari  dengan  membuka

    atap  rumah  tanpa  menjatuhkan  debu,  batu  atau

    yang lainnya. Saat itu beliau sedang  tidur antara

    pamannya, Hamzah dan sepupunya Ja’far ibn Abu

    Thalib.  Mereka  semua  sedang  berada  di  rumah

    putri  Abu  Thalib,  Ummu  Hani’  binti  Abu  Thalib,

    saudara  perempuan  Ali  ibn  Abu  Thalib  di  suatu

    perkampungan  yang  bernama  Ajyad.  Jibril

    membangunkan Nabi kemudian pergi bersamanya

    menuju al Masjid al Haram. Bersama Malaikat Jibril

    beliau  berangkat  dengan Buraq;  seekor  binatang

    surga yang bentuknya lebih besar dari keledai dan

    lebih kecil dari kuda yang mampu melompat sejauh

    pandangannya.  Di  tengah  perjalanan  Isra’  ini

    Rasulullah  melewati  beberapa  tempat  dan  kota

    bersejarah, antara lain kota Yatsrib (Madinah), kota

    Madyan  (kota  Nabi  Syu’aib),  bukit  Thur  Sina’

    (tempat  Nabi  Musa  mendapat  wahyu  dari  Allah),

    dan Bayt  Lahm  (tempat  Nabi  Isa  dilahirkan).  Di

    tiap-tiap tempat ini Jibril selalu meminta Rasulullah

    untuk  turun  dan  melakukan  shalat  dua  raka’at

    (H.R.  al  Bayhaqi).  Hal  ini  merupakan  salah  satu

    dari  sekian  banyak  dalil  tentang  dibolehkannya

    “tabarruk”  (meminta  berkah  dari  Allah)  dengan

    lantaran atsar  (peninggalan)  para  nabi.  Setelah

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    Rasulullah sampai di Bayt al Maqdis (al Masjid al

    Aqsha),  Rasulullah  bersama  para nabi mulai dari

    Nabi  Adam  hingga  Nabi  Isa  melakukan  shalat

    berjama’ah  dan  beliau  bertindak  sebagai  imam.

    Allah mempertemukan beliau dengan para nabi di

    sana sebagai penghormatan kepada beliau. Allah

    membangkitkan  semua  nabi  yang  sebelumnya

    telah wafat kecuali  Nabi Isa  karena beliau masih

    hidup  di  langit  hingga  sekarang.  Kemudian  Allah

    ta’ala  menambahkan  kemuliaan  untuk  Nabi-Nya

    Muhammad  dengan  mengangkat  delapan  nabi

    yaitu Nabi Adam, Isa, Yahya, Idris, Harun, Musa,

    dan  Ibrahim  ke  langit  dan  mereka  menyambut

    Rasulullah di sana.

     

    Keajaiban-keajaiban Isra’

     

    Di  antara  keajaiban  ciptaan  Allah  yang

    disaksikan Rasulullah ketika Isra’ adalah :

    1.  Dunia,  Rasulullah  melihatnya  dalam  bentuk

    seorang  wanita  tua  yang  renta.  Hal  ini

    menggambarkan bahwa dunia dengan segala

    bentuk  dan  isinya  yang  menggairahkan  akan

    lenyap dan fana, sebagaimana seorang wanita

    yang  ketika  mudanya  sangat  cantik  dan

    menawan,  akan  hilang  kecantikannya  ketika

    sudah tua.

    2.  Iblis,  Rasulullah  melihat  seseorang  yang

    berada di pinggir jalan, dialah Iblis yang pada

    mulanya  beriman  kepada Allah kemudian  dia

    kafir  karena  menentang-Nya.  Dia  termasuk

    dari  golongan  Jin,  bukan  malaikat    (Q.S.  al

    kahfi : 50). Iblis tidak berani berbicara kepada

    Rasulullah  atau  berbuat  jelek  terhadapnya

    dikarenakan kemuliaan dan keagungan beliau.

    3.  Para Mujahid di jalan Allah, Rasulullah melihat

    sekelompok kaum yang menanam dan menuai

    hasilnya  dalam  tempo  2  hari.  Jibril  berkata

    kepada  Rasulullah  : “Merekalah  orang-orang

    yang berjuang di jalan Allah”.

    4.  Para penceramah pembawa fitnah, Rasulullah

    melihat  mereka  memotong  lidah  dan  bibir

    mereka dengan gunting dari api.

     

    Isra’ Bukanlah Mimpi

     

    Telah  menjadi  ijma’  (konsensus)  para

    ulama salaf,  khalaf,  ahli  hadits,  ahli  kalam,  ahli

    tafsir  dan  ahli  fiqh  bahwa  Rasulullah  di-isra’-kan

    dengan  jasad  dan  ruhnya  serta  dalam  keadaan

    sadar (bukan mimpi). Inilah pendapat yang benar

    menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah, sebagaimana

    dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Anas ibn Malik,

    Umar  ibn  Khattab,  Hudzaifah,  Imam  Ahmad  ibn

    Hanbal,  Imam  ath-Thabari  dan  yang  lainnya.

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    Andaikata  peristiwa  Isra’  tersebut  hanyalah

    sekedar  mimpi,  maka  orang-orang  kafir  Quraisy

    tidak  akan  menentangnya  dan  peristiwa  Isra’

    tersebut  tidak  akan  menjadi  salah  satu  mukjizat

    Rasulullah yang terbesar.

    Mi’raj

     

    Kemukjizatan Mi’raj  telah dinash  secara

    jelas  dalam  hadits  shahih,  seperti  yang

    diriwayatkan  Imam  Muslim.  Adapun  dalam  al

    Qur’an  tidak  ada  nash  yang  menyebutkan  lafazh

    “Mi’raj”.  Namun  ada  ayat  yang  menjelaskan

    kejadian tersebut. Firman Allah ta’ala:

    )    ﻯﺮﺧﺃ ﺔﻟﺰﻧ ﻩﺁﺭ ﺪﻘﻟﻭ $   ﻰﻬﺘﻨﳌﺍ ﺓﺭﺪﺳ ﺪﻨﻋ   (  ) ﻢﺠﻨﻟﺍ  : 13 – 14 (

    Maknanya : “Dan sungguh beliau (Rasulullah) telah

    melihat Jibril untuk yang kedua kalinya di Sidrat al

    Muntaha” (Q.S. an-Najm : 13-14)

    Mi’raj  adalah  perjalanan  yang  dimulai  dari

    Masjid  al  Aqsha  hingga  ke  atas  langit  ke  tujuh

    dengan  menaiki  tangga  yang  terpaut  di  antara

    langit dan bumi, dengan anak tangga yang terbuat

    dari  emas  dan perak.  Kisah Mi’raj  ini  secara

    terperinci  diriwayatkan  dalam  hadits  yang  shahih

    riwayat  Imam  Muslim.  Disebutkan  dalam  hadits

    tersebut  bahwa  ketika  Rasulullah  bersama  Jibril

    sampai pada langit yang pertama, dibukalah pintu

    langit  tersebut  setelah  terjadi  percakapan  antara

    Jibril dan penjaga pintu. Hal ini terjadi setiap kali

    Rasulullah  dan  Jibril  hendak  memasuki  tiap-tiap

    langit  yang  tujuh.  Di  langit  pertama,  Rasulullah

    bertemu  dengan  Nabi  Adam,  di  langit  kedua

    bertemu dengan Nabi Isa, di langit ketiga bertemu

    dengan  Nabi  Yusuf,  di  langit  keempat  bertemu

    dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu dengan

    Nabi Harun, di langit keenam bertemu dengan Nabi

    Musa,  di  langit  ketujuh  bertemu  dengan  Nabi

    Ibrahim shallallahu ‘alayhim  wasallam.

     

    Keajaiban-keajaiban Mi’raj

     

    Ketika  Rasulullah  berada  di  suatu  tempat

    yang berada di atas (suatu tempat yang lebih tinggi

    dari langit ke tujuh), beliau diperlihatkan oleh Allah

    beberapa keajaiban ciptaan-Nya. Antara lain :

    1.  al Bait al Ma’mur, yaitu rumah yang dimuliakan,

    yang  berada  di  langit  ke  tujuh.  Setiap  hari

    70.000  malaikat  masuk  ke  dalamnya  lalu

    keluar dan tidak akan pernah kembali lagi dan

    seterusnya.

    2.  Sidrat  al  Muntaha,  yaitu  sebuah  pohon  yang

    amat  besar  dan  indah,  tak  seorangpun  dari

    makhluk yang dapat menyifatinya.

    3.  Surga,  yaitu  tempat  kenikmatan  yang

    disediakan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya

    yang  beriman.  Surga  berada  di  atas  langit

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    yang ke tujuh dan sekarang sudah ada. Firman

    Allah ta’ala :

    )    ﲔﻘﺘﻤﻠﻟ ﺕﺪﻋﺃ (       )  ﻥﺍﺮﻤﻋ ﻝﺍﺀ ﺓﺭﻮﺳ  : 133 (

    Maknanya  :  “Telah  disediakan  (surga)  bagi

    orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S. Ali Imran :

    133)

    Di  dalam  surga  Rasulullah  juga  melihat  al

    Wildan  al  Mukhalladun,  yaitu  makhluk  yang

    diciptakan  Allah  untuk  melayani  penduduk

    surga.  Mereka  bukan  Malaikat,  Jin,  atau

    Manusia, mereka juga tidak punya bapak atau

    ibu. Rasulullah juga melihat para bidadari. Jibril

    meminta  Rasulullah  untuk  mengucap  salam

    kepada  mereka,  dan  mereka  menjawab  :

    “Kami adalah wanita yang baik budi pekerti lagi

    rupawan.  Kami  adalah  istri  orang-orang  yang

    mulia”.

    4.  ‘Arsy,  yaitu  makhluk  Allah  yang  paling  besar

    bentuknya  (H.R.  Ibn  Hibban)  dan  makhluk

    kedua yang diciptakan Allah setelah air (Q.S.

    Hud : 7). Imam al Bayhaqi mengatakan : “Para

    ahli  tafsir  menyatakan  bahwa  ‘arsy  adalah

    benda  berbentuk  sarir  (ranjang)  yang

    diciptakan  oleh  Allah.  Allah  memerintahkan

    para  malaikat  untuk  menjunjungnya  dan

    menjadikannya sebagai tempat ibadah mereka

    dengan  mengelilinginya  dan

    mengagungkannya  sebagaimana  Ia

    menciptakan  ka’bah  di  bumi  ini  dan

    memerintahkan manusia untuk mengelilinginya

    ketika thawaf  dan menghadap ke arahnya di

    saat shalat” (lihat al Asma’ wa ash-shifat, hlm.

    497). ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena

    Allah  tidak  membutuhkan  tempat.    Sayyidina

    ‘Ali berkata :

    ” ﺍﺭﺎﻬﻇﺇ ﺵﺮﻌﻟﺍ ﻖﻠﺧ ﷲﺍ ﻥﺇ   ﻪﺗﺍﺬﻟ ﺎﻧﺎﻜﻣ ﻩﺬﺨﺘﻳ ﱂﻭ ﻪﺗﺭﺪﻘﻟ   ”  ﻩﺍﻭﺭ

    ﻕﺮﻔﻟﺍ ﲔﺑ ﻕﺮﻔﻟﺍ ﰲ ﻱﺩﺍﺪﻐﺒﻟﺍ ﺭﻮﺼﻨﻣ ﻮﺑﺃ

    Maknanya:”Sesungguhnya  Allah  menciptakan

    ‘arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, dan

    tidak  menjadikannya  tempat  bagi  Dzat-Nya”.

    (Riwayat  Abu Manshur al  Baghdadi dalam al

    farq bayna al firaq, hlm : 333)

     

    Kembalinya Rasulullah dari Mi’raj

     

    Sebagian  ulama’  mengatakan  :  perjalanan

    Isra’  dan Mi’raj  hingga  kembalinya  Rasulullah  ke

    Makkah di tempuh dalam tempo sepertiga malam.

    Setelah  itu  Rasulullah  mengabarkan  kejadian

    tersebut  kepada  kaum  kafir  Quraisy,  namun

    mereka tidak percaya. Lalu mereka datang kepada

    Abu  Bakr  ash-Shiddiq  untuk  menyatakan  hal  itu,

    dan beliau membenarkan cerita Rasulullah seraya

    mengatakan:  “Aku  mempercayainya  ketika  ia

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    mengabarkan  berita  langit,  mengapa  aku  tidak

    mempercayainya mengenai berita bumi ?”.

    Orang-orang kafir dengan dipimpin oleh Abu

    Jahal  mendatangi  Rasulullah  untuk  minta

    penjelasan  tentang  sifat  dan  bentuk al  Masjid  al

    Aqsha,  karena  mereka  mengetahui  bahwa

    Rasulullah tidak pernah pergi ke sana sebelumnya.

    Setelah Rasulullah menjelaskan secara mendetail,

    di  antara  mereka  yang  pernah  pergi  ke  sana

    berkata  :  “Demi  Tuhan,  apa  yang  diterangkan

    Muhammad adalah benar”.

     

    Hukum orang yang mengingkari Isra’ dan  Mi’raj

     

    Peristiwa Isra’  dan Mi’raj  merupakan  salah

    satu  mukjizat  terbesar  yang  dikaruniakan  Allah

    kepada  Rasulullah.  Peristiwa Isra’  ini  disebutkan

    dalilnya  dalam  al  Qur’an  (surat  al  Isra’  :1)  dan

    hadits  shahih.  Karenanya  wajib  beriman  bahwa

    nabi  Muhammad  shallahu  ‘alayhi  wasallam

    diperjalankan  oleh  Allah  pada  malam  hari  dari

    Makkah ke Masjid al Aqsha dalam keadaan sadar,

    terjaga,  dengan  roh  dan  jasad.  Inilah  yang

    dikatakan oleh seluruh ulama’ salaf dan khalaf dari

    kalangan  Ahlussunnah  Wal  Jama’ah.  Di  antara

    para sahabat yang menyatakan hal ini antara lain;

    Ibn  Abbas,  Jabir,  Anas,  Umar,  Hudzaifah,  dan

    lainnya.  Para  ulama’  menyatakan  :  “orang  yang

    menginkari  peristiwa  Isra’  berarti  telah

    mendustakan  al  Qur’an  dan  barang  siapa  yang

    mendustakan  al  Qur’an  maka  ia  jatuh  dalam

    kekufuran”.

    Sedangkan  peristiwa Mi’raj  disebut  dengan

    jelas  dalam  hadits-hadits  yang  shahih  dan

    disinggung  dalam  al  Qur’an  meski  tidak  secara

    eksplisit  (surat  an-Najm  (53):  13-15)  dan  masih

    memungkinkan adanya penafsiran lain (ta’wil) dari

    zhahir  ayat  tersebut.  Namun  demikian  barang

    siapa  yang  memahami  bahwa Sidrat  al  Muntaha

    yang  disebut  dalam  ayat-ayat  tersebut  berada  di

    langit,  lalu  mengingkari  peristiwa Mi’raj  maka  ia

    jatuh dalam kekufuran. Jika ia tidak mengerti dan

    tidak memahami demikian terhadap tafsiran ayat-ayat tersebut maka ia tidaklah kufur.

     

    Apakah Tujuan Isra’ dan Mi’raj  ?

     

    Tujuan  dan  hikmah  yang  sebenarnya  dari

    Isra’ dan Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah dan

    memperlihatkan  kepadanya  beberapa  keajaiban

    ciptaan  Allah  sesuai  dengan  firman  Allah  dalam

    surat al Isra’: 1 di atas :

    )   ﺎﻨﺗﺎـﻳﺁ ﻦﻣ ﻪـﻳﺮـﻨﻟ   (

    Maknanya: “Agar kami memperlihatkan kepadanya

    sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami”.

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    serta  mengagungkan  beliau  sebagai  Nabi  akhir

    zaman dan sebaik-baik  nabi  di antara para  nabi,

    sekaligus  sebagai  penguat  hati  beliau  dalam

    menghadapi  tantangan  dan  cobaan  yang

    dilontarkan  oleh  orang  kafir  Quraisy  terlebih

    setelah  ditinggal  mati  oleh  paman  beliau  Abu

    Thalib dan isteri beliau Khadijah.

    Dari  sini  kita  dapat  mengambil  kesimpulan

    bahwa tujuan dari Isra’ dan Mi’raj bukanlah bahwa

    Allah ada di arah atas, lalu Nabi naik ke atas untuk

    bertemu  dengan-Nya.  Karena  Allah  ada  tanpa

    tempat  dan  arah,  dan  tempat  adalah  makhluk

    sedangkan  Allah  tidak  membutuhkan  kepada

    makhluk-Nya. Allah ta’ala berfirman :

    )   ﲔﳌﺎﻌﻟﺍ ﻦﻋ ﲏﻏ ﷲﺍ ﻥﺈﻓ   (     )  ﻥﺍﺮﻤﻋ ﻝﺁ ﺓﺭﻮﺳ  : 97 (

    Maknanya : “Maka sesungguhnya Allah maha kaya

    (tidak membutuhkan) dari alam semesta”.  (Q.S. Al

    Imran : 97)

    Allah tidak disifati dengan salah satu sifat makhluk-Nya seperti berada di tempat, arah atas, di bawah

    dan lain-lain. Juga perkataan Imam ath-Thahawi :

    ”  ﺕﺎﻋﺪﺘﺒﳌﺍ ﺮﺋﺎﺴﻛ ﺖﺴﻟﺍ ﺕﺎﻬﳉﺍ ﻪﻳﻮﲢ ﻻ “

    “Allah  tidak  diliputi  oleh  salah  satu  arah  penjuru

    maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,

    kiri,  depan,  belakang),  tidak  seperti  makhluk-Nya

    yang  diliputi  oleh  enam  arah  penjuru  tersebut”

    (lihat  al  ‘Aqidah  ath-Thahawiyyah  karya  al  Imam

    Abu Ja’far ath-Thahawi)

    Hal  ini  merupakan  ijma’  ulama  Islam

    seluruhnya, maka barang siapa yang berkeyakinan

    bahwa Allah  bertempat  dan  berarah  di  atas atau

    semua arah maka ia telah jatuh pada kekufuran.

     

    Wahyu yang diterima Rasulullah pada saat Isra’

    dan Mi’raj

     

    Dalam hadits shahih yang sangat panjang

    riwayat  Imam  Muslim,  Rasulullah  menjelaskan

    mengenai peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Dalam hadits

    tersebut diriwayatkan bahwa ketika Nabi berada di

    atas Sidratul  Muntaha beliau  mendengar  kalam

    Allah di antaranya berisi kewajiban sholat 50 kali

    dalam  sehari  semalam  bagi  umatnya.  Kemudian

    terjadilah dialog dengan Nabi Musa ‘alayhissalam

    yang menganjurkan agar Nabi meminta keringanan

    kepada Allah dan akhirnya diwajibkan bagi ummat

    Islam  hanya  lima  kali  sholat  dalam  sehari

    semalam.  Namun  nilai  sekali  sholat  tersebut

    sebanding  dengan  sepuluh  kali  sholat  sehingga

    lima kali sholat sebanding dengan lima puluh kali

    sholat.

    Adapun  proses  penerimaan  wahyu

    tersebut  adalah  bahwa  Nabi  mendengar  kalam

    Allah  yang Dzati,  bukan berupa  huruf,  suara dan

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    bahasa  sebab  kalam-Nya  azali  (ada  tanpa

    permulaan).  Pada  malam  yang  mulia  dan  penuh

    berkah itu Allah membuka hijab dari Rasulullah; hal

    yang dapat menghalanginya dari mendengar kalam

    Allah yang azali.  Allah memperdengarkan  kalam-Nya  dengan  Qudrah-Nya  pada  saat  Rasulullah

    berada di suatu tempat di atas Sidratul Muntaha ;

    suatu  tempat  yang  tidak  pernah  dikotori  dengan

    perbuatan  maksiat  dan  bukan  tempat  di  mana

    Allah berada seperti dugaan sebagian orang sebab

    Allah ada tanpa tempat.

     

    Kisah-kisah tidak berdasar

     

    1.  Tidak  boleh  berkeyakinan  bahwa  pada  saat

    Mi’raj  Allah  mendekat  kepada  Rasulullah

    sehingga  jarak  antara  keduanya  adalah  dua

    hasta  atau  lebih  dekat  lagi  seperti  anggapan

    sebagian  orang.  Yang  benar  adalah  bahwa

    yang  mendekat  kepada  Rasulullah  adalah

    Jibril,  bukan  Allah  (baca  tafsir  surat  an-Najm

    (53)  :  8-9)  sebagaimana  yang  diriwayatkan

    oleh Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya

    dari  as-Sayyidah  ‘Aisyah radliyallahu  ‘anha.

    Karenanya  buku  yang  berjudul  Mi’raj  Ibnu

    Abbas dan Tanwir  al  Miqbas  min  tafsir  Ibn

    Abbas  (yang  memuat  beberapa  hal  yang

    menyalahi  syara’)  mesti  dijauhi.  Kedua  buku

    tersebut  bukanlah  karya  Ibnu  Abbas,

    melainkan  ada  sebagian  orang  yang  dengan

    tanpa  didukung  dalil  dan  bukti  yang  kuat

    menyandarkan kepadanya.

    2.    Kisah  yang  menyatakan  bahwa  ketika  Jibril

    telah  sampai  pada  suatu  tempat  setelah

    Sidratul  Muntaha    kemudian  berkata  kepada

    Nabi  :  “Di  sinilah  seorang  kawan  berpisah

    dengan  kawan  yang  sangat  dicintainya,

    seandainya  aku  terus  naik  (ke  atas)  niscaya

    aku  akan  terbakar”.  Ini  adalah  cerita  dusta

    yang tidak berdasar sama sekali.

    3.  Kisah  yang  mengatakan  bahwa  ketika

    Rasulullah  pada  saat  Mi’raj  telah  sampai  ke

    atas  langit  ke  tujuh  di  suatu  tempat  dimana

    beliau mendengar kalam Allah ta’ala dan beliau

    berkata : at-Tahiyyatu lillah, lalu dijawab oleh

    Allah : as-Salamu ‘alayka  ayyuha an-Nabiyyu

    Warahmatullahi  Wabarakatuh.  Riwayat  ini

    meskipun  tertulis  dalam  beberapa  kitab

    tentang  peristiwa  Isra’  dan  Mi’raj  dan

    disampaikan  oleh  beberapa  orang  dalam

    ceramah-ceramah  peringatan  Isra’  dan Mi’raj

    adalah kisah yang tidak Sahih (benar) karena

    pada  malam Isra’  Mi’raj  shighat  atau lafazh

    Tahiyyat belum disyari’atkan.  Hanya sebagian

    rawi-rawi  pendusta  saja  yang  meriwayatkan

    kisah tersebut. Kisah dusta ini telah menyebar

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    di  banyak  kalangan  kaum  muslimin  maka

    harus dijelaskan hal yang sebenarnya. Riwayat

    tentang  bacaan Tasyahhud    atau Tahiyyat

    yang benar adalah sebagai berikut:

    Pada  awalnya  sebagian  sahabat  Rasulullah

    sebelum  disyari’atkan  Shighat  Tasyahhud,

    mereka mengucapkan dzikir atau bacaan :

    ” ﻞﻴﺋﺎﻜﻴﻣ ﻰﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍ ، ﻞﻳﱪﺟ ﻰﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍ ، ﷲﺍ ﻰﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍ   “

    Lalu Rasulullah melarang mereka mengatakan

    itu dan beliau mengatakan :

    ”  ﻡﻼﺴﻟﺍ ﻮﻫ ﷲﺍ ﻥﺇ “

    Maknanya : “Allah itu adalah as-Salam –yang

    suci  dari  segala  kekurangan-  (jadi  jangan

    katakan : as-Salam ‘ala Allah)”.

    Kemudian  Rasulullah  mengajarkan  kepada

    mereka untuk mengatakan :

    ” ﲪﺭﻭ ﱯﻨﻟﺍ ﺎﻬﻳﺃ ﻚﻴﻠﻋ ﻡﻼﺴﻟﺍ  ﻪﺗﺎﻛﺮﺑﻭ ﷲﺍ ﺔ “

     

    Mukjizat Isra’ dan Mi’raj selain penuh dengan

    hikmah dan pelajaran  juga merupakan  ujian bagi

    keimanan  kita  akan  kekuasaan  Allah  ta’ala.

    Apakah kita termasuk orang yang beriman dengan

    sebenarnya  atau  justru  mendustakan  peristiwa

    Isra’  dan Mi’raj  Nabi ini  dengan dalih filsafat dan

    logika, Wallahu A’lam wa Ahkam.

     

     

    AT-TIJARAH AR-RABIHAH

    Perdagangan yang menguntungkan

     

    “Hai  orang-orang  yang  beriman,  sukakah  kamu

    Aku  tunjukkan  suatu  perniagaan  yang  dapat

    menyelamatkan  kamu  dari  adzab  yang  pedih  ?.

    (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya

    dan  berjihad  di  jalan  Allah  dengan  harta  dan

    jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu

    mengetahuinya”    (Q.S. ash-Shaff : 10-11)

     

    Seri III

    MAKNA SYAHADAT PERTAMA

    ﷲﺍ ﻪﻈﻔﺣ ﻱﺭﺮﳍﺍ ﺪﻤﳏ ﻦﺑ ﷲﺍ ﺪﺒﻋ ﺙﺪﶈﺍ ﺔﻣﻼﻌﻟﺍ ﻝﺎﻗ :

    ”  ﻪﻴﻓ ﺕﻮﺒﺜﻟﺍﻭ ﻡﻼﺳﻹﺍ ﻦﻳﺩ ﰲ ﻝﻮﺧﺪﻟﺍ ﲔﻔﻠﻜﳌﺍ ﺔﻓﺎﻛ ﻰﻠﻋ ﺐﳚ

    ﻡﺎﻜﺣﻷﺍ  ﻦﻣ  ﻪﻴﻠﻋ  ﻡﺰﻟ  ﺎﻣ  ﻡﺍﺰـﺘﻟﺍﻭ  ﻡﺍﻭﺪﻟﺍ  ﻰﻠﻋ  . ﻪﻤﻠﻋ  ﺐﳚ  ﺎﻤﻤﻓ

    ﺓﻼﺼﻟﺍ ﻲﻔﻓ ﻻﺇﻭ ﺍﺮﻓﺎﻛ ﻥﺎﻛ ﻥﺇ ﻝﺎﳊﺍ ﰲ ﻪﺑ ﻖﻄﻨﻟﺍﻭ ﺎﻘﻠﻄﻣ ﻩﺩﺎﻘﺘﻋﺍﻭ  :

    ﺎﳘﻭ ﻥﺎﺗﺩﺎﻬﺸﻟﺍ :

    ﺃ ﺪﻬﺷﺃ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﺍﺪﻤﳏ ﻥﺃ ﺪﻬﺷﺃﻭ ﷲﺍ ﻻﺇ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻥ .

    ﺩﻮﺒﻌﻣ ﻻ ﻥﺃ ﻑﺮﺘﻋﺃﻭ ﺪﻘﺘﻋﺃﻭ ﻢﻠﻋﺃ ﷲﺍ ﻻﺇ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻥﺃ ﺪﻬﺷﺃ ﲎﻌﻣﻭ

    ﻖﻟﺎﳋﺍ ﻢﺋﺍﺪﻟﺍ ﻡﻮﻴﻘﻟﺍ ﻲﳊﺍ ﱘﺪﻘﻟﺍ ﻝﻭﻷﺍ ﺪﺣﻷﺍ ﺪﺣﺍﻮﻟﺍ ﻱﺃ ﷲﺍ ﻻﺇ ﻖﲝ

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    ﻦﻜﻳ ﱂ ﺄﺸﻳ ﱂ ﺎﻣﻭ ﻥﺎﻛ ﷲﺍ ﺀﺎﺷ ﺎﻣ ،ﺪﻳﺮﻳ ﺎﳌ ﻝﺎﻌﻔﻟﺍ ﺮﻳﺪﻘﻟﺍ ﱂﺎﻌﻟﺍ ﻕﺯﺍﺮﻟﺍ

    ﻝﻮﺣ ﻻ ﻱﺬﻟﺍ    ﻦﻋ ﻩﺰـﻨﳌﺍ ﻪﺑ ﻖﻴﻠﻳ ﻝﺎﻤﻛ ﻞﻜﺑ ﻑﻮﺻﻮﳌﺍ ،ﻪﺑ ﻻﺇ ﺓﻮﻗ ﻻﻭ

    ﺮـﻴﺼﺒﻟﺍ ﻊﻴﻤﺴﻟﺍ ﻮﻫﻭ ﺊﺷ ﻪﻠﺜﻤﻛ ﺲﻴﻟ ،ﻪﻘﺣ ﰲ ﺺﻘﻧ ﻞﻛ  .  ﱘﺪﻘﻟﺍ ﻮﻬﻓ

    ) ﱄﺯﻷﺍ  ﻱﺃ  (   ﺙﺩﺎﺣ  ﻩﺍﻮﺳ  ﺎﻣﻭ ) ﻕﻮﻠﳐ  ﻱﺃ  (  ﻩﺍﻮﺳ  ﺎﻣﻭ  ﻖﻟﺎﳋﺍ  ﻮﻫﻭ

    ﻕﻮﻠﳐ  .   ﻥﺎﻴﻋﻷﺍ  ﻦﻣ  ﺩﻮﺟﻮﻟﺍ  ﰲ  ﻞﺧﺩ  ﺙﺩﺎﺣ  ﻞﻜﻓ ) ﻡﺎﺴﺟﻷﺍ  ﻱﺃ  (

    ﻦﻣﻭ  ،ﺵﺮﻌﻟﺍ  ﱃﺇ  ﺓﺭﺬﻟﺍ  ﻦﻣ  ﻝﺎﻤﻋﻷﺍﻭ  ،ﻥﻮﻜﺳﻭ  ﺩﺎﺒﻌﻠﻟ  ﺔﻛﺮﺣ  ﻞﻛ

    ﷲﺍ ﻖﻠﲞ ﻮﻬﻓ ﺮﻃﺍﻮﳋﺍﻭ ﺎﻳﺍﻮﻨﻟﺍﻭ  .  ﻻﻭ ﺔﻌﻴﺒﻃ ﻻ ،ﷲﺍ ﻯﻮﺳ ﺪﺣﺃ ﻪﻘﻠﳜ ﱂ

    ﱄﺯﻷﺍ ﻪﻤﻠﻋﻭ ﻩﺮﻳﺪﻘﺘﺑ ،ﻪﺗﺭﺪﻗﻭ ﷲﺍ ﺔﺌﻴﺸﲟ ﺩﻮﺟﻮﻟﺍ ﰲ ﻪﻟﻮﺧﺩ ﻞﺑ ﺔﻠﻋ

    ﱃﺎﻌﺗ ﷲﺍ ﻝﻮﻘﻟ  : ) ﺊﺷ ﻞﻛ ﻖﻠﺧﻭ (    ﻼﻓ ﺩﻮﺟﻮﻟﺍ ﱃﺇ ﻡﺪﻌﻟﺍ ﻦﻣ ﻪﺛﺪﺣﺃ ﻱﺃ

    ﺗ ﷲﺍ ﻝﺎﻗ ،ﷲﺍ ﺮـﻴﻐﻟ ﲎﻌﳌﺍ ﺍﺬ ﻖﻠﺧ ﱃﺎﻌ  : ) ﷲﺍ ﺮـﻴﻏ ﻖﻟﺎﺧ ﻦﻣ ﻞﻫ (   .

    ﻲﻔﺴﻨﻟﺍ  ﻝﺎﻗ ” :  ﺏﺮﻀﻟﺎﻓ  ،ﻩﺮﺴﻜﻓ  ﺮﺠﲝ  ﺎﺟﺎﺟﺯ  ﻥﺎﺴﻧﺇ  ﺏﺮﺿ  ﺍﺫﺈﻓ

    ﻖﻠﳋﺍ ﺎﻣﺃﻭ ﺐﺴﻜﻟﺍ ﻻﺇ ﺪﺒﻌﻠﻟ ﺲﻴﻠﻓ ،ﱃﺎﻌﺗ ﷲﺍ ﻖﻠﲞ ﺭﺎﺴﻜﻧﻻﺍﻭ ﺮﺴﻜﻟﺍﻭ

    ﷲﺍ  ﺮـﻴﻐﻟ  ﺲﻴﻠﻓ  . ﱃﺎﻌﺗ  ﷲﺍ  ﻝﺎﻗ  :   )  ﺎﻣ  ﺎﻬﻴﻠﻋﻭ  ﺖﺒﺴﻛ  ﺎﻣ  ﺎﳍ

    ﺖﺒﺴﺘﻛﺍ (  .”  ﻦﻳﺎﺒﻣ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻪﻧﻷ ﻪﺗﺎﻔﺻ ﺮﺋﺎﺴﻛ ﱘﺪﻗ ﻪﻣﻼﻛﻭ )  ﺮـﻴﻏ ﻱﺃ

    ﻪﺑﺎﺸﻣ  (  ﱃﺎﻌﺗﻭ ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ،ﻝﺎﻌﻓﻷﺍﻭ ﺕﺎﻔﺼﻟﺍﻭ ﺕﺍﺬﻟﺍ ﰲ ﺕﺎﻗﻮﻠﺨﳌﺍ ﻊﻴﻤﳉ

    ) ﷲﺍ ﻩﺰـﻨﺗ ﻱﺃ  (  ﻥﻮﳌﺎﻈﻟﺍ ﻝﻮﻘﻳ ﺎﻤﻋ ) ﻥﻭﺮﻓﺎﻜﻟﺍ ﻱﺃ  ( ﺍﺮـﻴﺒﻛ ﺍﻮﻠﻋ .

    “Wajib  bagi  semua  mukallaf  untuk  memeluk

    agama  Islam,  meyakininya  untuk  selamanya  dan

    melaksanakan  segala  hukum-hukum  yang  diwajibkan

    atasnya. Di antara hal yang wajib diketahui dan diyakini

    secara  mutlak,  dan  wajib  diucapkan  seketika  jika

    memang  dia  (mukallaf)  kafir,  atau  jika  tidak  (ia  bukan

    seorang  kafir)  maka  wajib  mengucapkannya  dalam

    shalat, adalah dua kalimat syahadat:

    ﹶﺃ ﺷ ﻬ ﺪ   ﹶﺃ ﹾﻥ   ﹶﻻ   ﻪﻟﺇ   ﱠﻻﺇ   ُﷲﺍ    ﻭ ﹶﺃ ﺷ ﻬ ﺪ   ﹶﺃ ﱠﹼ ﻥ   ﻣ ﺤ ﻤ ﺪ ﺭ ﺍ ﺳ ﻮ ﹸﻝ   ِﷲﺍ     r

    Makna    ﷲﺍ ﻻﺇ ﻪـﻟﺇ ﻻ ﻥﺃ ﺪﻬـﺷﺃ : aku mengetahui, meyakini

    dan mengakui (dengan ucapan) bahwa tidak ada yang

    disembah dengan hak (benar) kecuali Allah, yang Esa,

    tiada sekutu bagi-Nya, tidak terbagi-bagi,

    1

    tidak bermula,

    tidak  didahului  dengan  ketiadaan,  Maha  Hidup,  tidak

    membutuhkan kepada yang  lain,  tidak  berakhir,  Maha

    Pencipta,  Pemberi  rizki,  Maha  mengetahui,  Maha

    Kuasa,  yang  mudah  bagi-Nya  melakukan  segala  apa

    yang Ia kehendaki. Segala apa yang Ia kehendaki terjadi

    dan  segala  apa  yang  tidak  Ia  kehendaki  tidak  akan

    terjadi. Tidak ada daya untuk menjauhi perbuatan dosa

    kecuali  dengan  pemeliharaan-Nya,  dan  tidak  ada

    kekuatan  untuk  berbuat  ta’at  kepada-Nya  kecuali

    dengan  pertolongan-Nya.  Allah  memiliki  segala  sifat

    kesempurnaan yang layak bagi-Nya dan Maha Suci dari

    segala kekurangan bagi-Nya.

    Allah  tidak  menyerupai  sesuatupun  dari

    makhluk-Nya  dan  tidak  ada  sesuatupun  dari

    makhluk-Nya  yang  menyerupai-Nya,  Dia  Maha

    1

    Karena  Dia  bukan jism;  benda.  Ini  adalah  makna

    Ahad menurut sebagian ulama.

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    Mendengar dan Maha Melihat.

    2

    Hanya Allah yang

    tidak  memiliki  permulaan (Qadim),  segala  sesuatu

    selain-Nya memiliki  permulaan (Hadits-baharu).  Dia-lah

    sang  Pencipta,  segala  sesuatu  selain-Nya  adalah

    ciptaan-Nya  (makhluk).  Segala  yang  ada  (masuk  ke

    dalam  wujud),  benda

    3

    dan  perbuatannya,  mulai  dari

    (benda yang terkecil) dzarrah hingga (benda  terbesar)

    ‘Arsy, segala gerakan  manusia  dan  diamnya,  niat dan

    lintasan  fikirannya;  semuanya  itu  (ada)  dengan

    penciptaan Allah, tidak ada yang menciptakannya selain

    Allah, bukan thabi’ah (yang menciptakannya) dan bukan

    pula ‘Illah.

    4

    Akan tetapi segala sesuatu tersebut masuk

    pada  keberadaan  (ada)  dengan  kehendak  Allah  dan

    kekuasaan-Nya,  dengan  ketentuan dan ilmu-Nya  yang

    azali (yang tidak bermula), sebagaimana firman Allah:

    ]    ٍﺀﻰﺷ ﱠﻞﹸﻛ ﻖﹶﻠﺧﻭ [    )  ﻥﺎﻗﺮﻔﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ : 2 (

    Maknanya : "Dan Allah menciptakan segala sesuatu"

    (Q.S. al Furqan: 2)

    Artinya  Allah  mengadakannya  dari  tidak  ada

    menjadi ada. Makna (Khalaqa) demikian ini tidak layak

    bagi siapapun kecuali hanya bagi Allah. Allah berfirman:

    2

    Pendengaran  Allah  tidak  seperti  pendengaran

    makhluk, penglihatan Allah tidak seperti penglihatan makhluk.

    3

    Benda  yang  dimaksud  di  sini  bukan  benda  padat,

    tetapi A'yan  atau Ajsam; segala sesuatu yang memiliki bentuk

    dan ukuran, termasuk manusia.

    4

    Thabi'ah adalah 'adah ;  kebiasaan.  Kebiasaan  api

    adalah  membakar.  'Illah  adalah  sebab.  Api  adalah  sebab

    terjadinya pembakaran.

    ] ﷲﺍ ﺮﻴﹶﻏ ﹴﻖﻟﺎﺧ ﻦﻣ ﹾﻞﻫ [     )  ﺮﻃﺎﻓ ﺓﺭﻮﺳ :   3 (

    Maknanya: "Tidak ada pencipta selain Allah"  (Q.S.

    Fathir: 3)

    An-Nasafi berkata: "Apabila seseorang melempar

    kaca  dengan  batu  hingga  pecah,  maka  lemparan,

    hantaman batu  dan  pecahnya  kaca  semuanya  adalah

    ciptaan Allah.  Jadi seorang hamba hanyalah melakukan

    kasb.

    5

    Adapun  penciptaan  hanya  milik  Allah,  Allah

    berfirman:

    ]   ﺖﺒﺴﺘﹾﻛﺍ ﺎﻣ ﺎﻬﻴﹶﻠﻋﻭ ﺖﺒﺴﹶﻛ ﺎﻣ ﹶﺎﹶﳍ   [     ) ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ    : 286 (

    Maknanya: “Bagi  setiap  jiwa  (balasan  baik  dari)

    kebaikan yang ia lakukan dengan kasabnya dan atas

    setiap  jiwa  (balasan  buruk  atas)  keburukan  yang  ia

    lakukan”  (Q.S. al Baqarah: 286)

    Kalam  Allah  Qadim  (tidak  bermula)

    6

    seperti

    seluruh  sifat-sifat-Nya.  Karena  Allah  tidak  menyerupai

    semua makhluk-Nya, baik pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya

    dan  perbuatan-Nya.    Allah  Maha  Suci  dari  apa  yang

    dikatakan  orang-orang  zhalim  (orang  kafir)  dengan

    kesucian yang agung.

    5

    Kasb  adalah  apabila  seorang  hamba  mengarahkan

    niat  dan  kehendaknya  untuk  melakukan  suatu  perbuatan  dan

    pada  saat  itulah  Allah  menciptakan  dan  menampakkan

    perbuatan tersebut

    .

    6

    Kalam  Allah  yang  dimaksud  di  sini  adalah  Kalam

    Allah  yang  merupakan  sifat  Dzat-Nya.  Karena  sifat  kalam  ini

    qadim  berarti  pasti  bukan  huruf,  suara  dan  bahasa  karena

    semua itu baharu, makhluk.

     

    http://www.darulfatwa.org.au

    Nasehat syekh Abdullah al-Harari

     

    Tebar keyakinan, Perjuangkan kebenaran

    dengan jiwa dan harta !

     

    Rasulullah  shallallahu  ‘alayhi  wasallam

    bersabda:

    ” ﻴﻜﻟﺍ ﺕﻮﳌﺍ ﺪﻌﺑ ﺎﳌ ﻞﻤﻋﻭ ﻪﺴﻔﻧ ﻥﺍﺩ ﻦﻣ ﺲ   “

     

    Maknanya:  “Orang  yang  pintar  adalah  yang

    mampu  menundukkan  hawa  nafsunya  dan

    melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat

    baginya setelah mati”.

    Maksudnya orang yang berakal adalah orang

    yang mampu mengalahkan dan mengekang hawa

    nafsunya untuk melakukan amal yang bermanfaat

    untuk  akhiratnya,  sementara  orang  yang  bodoh

    adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya

    serta  berangan-angan  memperoleh  derajat  yang

    tinggi  dari Allah.

    Kita  semua  dihadapkan  kepada jihad  dengan

    lisan,  ini  membutuhkan  kesungguhan  dan

    pengorbanan  baik  tenaga  maupun  harta.  kita

    melelahkan  badan  dengan  kegiatan-kegiatan  dan

    perjalanan-perjalanan  untuk  menanggulangi  dan

    mengcounter  kesesatan  baik  dalam  aqidah

    maupun  hukum,  dan  menginfakkan  harta  kita,

    janganlah bersikap pelit untuk berinfak hanya untuk

    selalu menikmati makan yang enak, tempat tinggal

    yang mewah dan kendaraan yang lux (Tana”um).

    Allah ta’ala menjadikan para nabi dan wali-Nya

    tidak  suka  berfoya-foya  meskipun  mereka

    mempunyai  harta  yang  melimpah,  mereka  tidak

    pernah  menggunakan  kenikmatan  yang  diberikan

    oleh Allah untuk berfoya-foya, tapi kenikmatan itu

    mereka pergunakan untuk amal kebaikan, mereka

    inilah  yang  seharusnya  kita  jadikan  contoh,  agar

    kita  mendapatkan  pertolongan  dari  Allah  dan

    memperoleh derajat yang tinggi. Mudah-mudahan

    Allah memudahkan segala usaha kita ini.

     

    http://darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Al-Isra_wal_Mi%5Eraj.pdf

     
  • SERBUIFF 8:56 am on 07/01/2010 Permalink | Reply
    Tags:   

    Makna Isra’ dan Mi’rajoleh Dr. M. Quraish Shihab

    Perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Quran disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa ‘ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang.

    Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad saw. tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.

    Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar AlShiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya.” Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.

    Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.

    Tujuh bagian pertama Al-Quran membahas pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi-pribadi yang secara kolektif membentuk umat.

    Dalam bagian kedelapan sampai keempat belas, Al-Quran menekankan pembangunan manusia seutuhnya serta pembangunan masyarakat dan konsolidasinya. Tema bagian kelima belas mencapai klimaksnya dan tergambar pada pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. Dan karena itu, peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan awal bagian ini, dan berkelanjutan hingga bagian kedua puluh satu, di mana kisah para rasul diuraikan dari sisi pandangan tersebut. Kemudian, masalah perkembangan ruhani manusia secara orang per orang diuraikan lebih lanjut sampai bagian ketiga puluh, dengan penjelasan tentang hubungan perkembangan tersebut dengan kehidupan masyarakat secara timbal-balik.

    Kemudian, kalau kita melihat cakupan lebih kecil, maka ilmuwan-ilmuwan Al-Quran, sebagaimana ilmuwan-ilmuwan pelbagai disiplin ilmu, menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya.204 Sedangkan inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut, seperti dikatakan oleh Al-Biqai’i.205 Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra’ adalah surat yang dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti lebah.

    Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaibannya itu bukan hanya terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya, juga tidak hanya terletak pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor “ratu”. Lebah yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, karena rasa “malu” yang dimiliki dan dipeliharanya, telah menjadikannya enggan untuk mengadakan hubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, keajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa dan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch.

    Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya, manusia mukmin, menurut Rasul, adalah “bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu.”

    Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita melontarkan pandangan kepada ayat pertama surat pengantar tersebut. Di sini Allah berfirman: Telah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). Oleh sebab itu janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya.

    Dunia belum kiamat, mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang? Al-Quran menyatakan “telah datang ketetapan Allah,” mengapa dinyatakan-Nya juga “jangan meminta agar disegerakan datangnya”? Ini untuk memberi isyarat sekaligus pengantar bahwa Tuhan tidak mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu. Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat kepadanya, sebab adalah Dia yang menguasai masa. Karenanya Dia tidak membutuhkan batasan untuk mewujudkan sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalam surat pengantar ini dengan kalimat: Maka perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kami menghendakinya, Kami hanya menyatakan kepadanya “kun” (jadilah), maka jadilah ia (QS 16:40).

    Di sini terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa.

    Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.

    Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. “Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru,” kata David Hume. “Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar,” kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. “Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B,” demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.

    Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali “a summary o f statistical averages” (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan “kebetulan” dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh “superior reasoning power” (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, “Al-’Aziz Al-’Alim”, Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu dengan firman-Nya: Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) (QS 16:49-50).

    Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra’ ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.

    Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, dalam surat Isra’ sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS 16:8); Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS 16:74); dan Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya: Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).

    Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: “Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun.” Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa “pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia.”

    Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara “ilmiah” menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra’ dan Mi’raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.

    Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: “Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu.” Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: “Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya.” Dan itu pulalah sebabnya mengapa “oleh-oleh” yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.

    Kita percaya kepada Isra’ dan Mi’raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.

    Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah berfirman: Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan. (QS 16:127-128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

    Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra’ dan Mi ‘raj terjadi, tetapi mengapa Isra’ dan Mi ‘raj.

    Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan sampai bagian kelima belas, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra’-kan ini, yaitu Muhammad saw., serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra’), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.

    Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.

    Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya.

    Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: “Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut.” Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.

    Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra’ dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga (QS 16:26).

    Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah: Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS 17:16).

    Ditekankan dalam surat ini bahwa “Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara setan” (QS 17:27).

    Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).

    Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra’ ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya (QS 17: 110).

    Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan “jalan tengah” itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat seluruhnya. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah:

    Katakanlah wahai Muhammad, “Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing.” Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS 17:84).

    Akhirnya, sebelum uraian ini disudahi, ada baiknya dibacakan ayat terakhir dalam surat yang menceritakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini: Katakanlah wahai Muhammad: “Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan).” Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud (QS 17: 107).

    Itulah sebagian kecil dari petunjuk dan kesan yang dapat kami pahami, masing-masing dari surat pengantar uraian peristiwa Isra ; yakni surat Al-Nahl, dan surat Al-Isra’ sendiri. Khusus dalam pemahaman tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas Yang Mahaagung, Tuhan Yang Mahaesa di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memujaNya sekaligus mengabdi kepada-Nya.

    Catatan kaki

    204 Lihat bukunya, Asrar Tartib Al-Qur’an.

    205 Lihat dalam pengantar untuk bukunya, Nazhm Al-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa Al-Suwar.

    Silakan kunjungi: penjelasan Isra’ Mi’raj melalui cerita sufi.

    http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Isra.html

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel