1.400 Orang Masuk Islam di Qatar Setiap Tahun

1.400 Orang Masuk Islam di Qatar Setiap Tahun

14/10/2009 | 24 Syawal 1430 H | Hits: 351

Oleh: Tim dakwatuna.com


Kirim Print

dakwatuna.com – DOHA, Perkembangan jumlah pemeluk Islam terus menunjukkan tanda yang positif. Laporan Pusat Kebudayaan Islam Qatar tahun ini menunjukkan adanya 1.400 umat beragama lain yang masuk Islam di wilayah tersebut. Menurut laporan itu, para mualaf yang masuk Islam di Qatar berasal dari 20 kewarganegaraan dan agama yang berbeda.

Seperti dilaporkan situs Gulf News, alasan mereka memilih masuk Islam itu sangat beragam. Sebagian masuk Islam karena menikah dengan orang Islam, dan sebagian lainnya jadi mualaf setelah membaca buku-buku Islam, dan pergaulan.

Seorang ekspatriat asal Rusia, Aisha, (51 tahun) mengungkapkan, dirinya masuk Islam setelah membaca buku-buku tentang Islam di Qatar. Sebelumnya, dia menjadi pemeluk agama Kristen. Sedangkan Sally, warga Lebanon, mengaku masuk Islam karena pernikahan. Sedangkan Goerge yang kini berubah nama menjadi Abdullah, mengaku memeluk Islam setelah mendapat penjelasan dari rekan kerjanya.

Pusat Kebudayaan Islam Qatar memang memiliki program yang dijalankan secara intensif untuk mengenalkan Islam kepada semua kalangan. Sebagian program di antaranya beruba kursus bahasa Arab, kursus kaligrafi dan seni Islam, serta kajian megenai hukum-hukum Islam. Program ini terbuka untuk kalangan Muslim maupun non-Muslim dari berbagai bangsa.

Perkembangan Islam yang menggembirakan juga terjadi di Malaysia. Menurut laporan Departemen Pengembangan Islam Malaysia, hingga September tahun ini, lembaga tersebut sudah membantu 759 orang yang masuk Islam. Angka ini lebih besar dibanding tahun lalu yang hanya 597 orang masuk Islam dalam setahun.

Wakil Kepala Departemen Pengembangan Islam Malaysia, Zainal Abidin Jaafar, mengaku yakin, hingga akhir tahun ini, lembaganya bisa membantu sampai 1.000 orang yang hendak berpindah agama ke Islam. Sebagain bantuan, pihaknya juga memberikan insentif atau zakat kepada para muallaf yang baru bersyahadat -merka bagian dari ashnaf 8-

“Selama ini, hanya dua persen muallaf yang kemudian kembali ke agama asalnya setelah masuk Islam,” kata dia, seperti dikuti kantor berita Bernama. irf/rep

http://www.dakwatuna.com/2009/1-400-orang-masuk-islam-di-qatar-setiap-tahun/

 

Jerald F Dirks Temui Kenikmatan dan Disiplin dalam Islam

Jerald F Dirks Temui Kenikmatan dan Disiplin dalam Islam

21/7/2009 | 29 Rajab 1430 H | Hits: 2.098

Oleh: Tim dakwatuna.com


Kirim Print

Jerald F Dirks (msaku.com)Jerald F Dirks (msaku.com)

dakwatuna.com – Jerald F Dirks, sebelumnya ialah seorang pendeta yang dinobatkan sebagai Ketua Dewan Gereja Metodis Kini peraih gelar Bachelor of Arts (BA) dan Master of Divinity (M Div) dari Universitas Harvard, serta pemegang gelar Master of Arts (MA) dan Doctor of Psychology (Psy D) dari Universtas Denver, Amerika Serikat, menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.

Dibesarkan di tengah lingkungan masyarakat penganut kepercayaan Kristen Metodis, membuat Jerald kecil terbiasa dengan suara dentingan lonceng yang kerap mengalun dari sebuah bangunan tua Gereja Kristen Metodis yang berjarak hanya dua blok dari rumahnya. Bunyi lonceng yang bergema setiap Minggu pagi ini menjadi tanda bagi seluruh anggota keluarganya agar segera menghadiri kebaktian yang diadakan di gereja.

Tidak hanya dalam urusan kebaktian saja, tetapi juga dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak Gereja Kristen Metodis, seluruh anggota keluarga ini turut terlibat secara aktif. Karenanya tak mengherankan jika sejak usia kanak-kanak Jerald sudah diikutsertakan dalam kegiatan yang diadakan oleh pihak gereja. Salah satunya adalah mengikuti sekolah khusus selama dua pekan yang diadakan oleh pihak gereja setiap bulan Juni. Selama mengikuti sekolah khusus ini, para peserta mendapat pengajaran mengenai Bibel.

”Secara rutin saya mengikuti sekolah khusus ini hingga memasuki tahun kedelapan, selain kebaktian Minggu pagi dan sekolah Minggu yang diadakan setiap akhir pekan,” ungkap muallaf kelahiran Kansas tahun 1950 ini. Diantara para peserta sekolah khusus ini, Jerald termasuk yang paling menonjol. Tidak pernah sekalipun ia absen dari kelas. Dan dalam hal menghafal ayat-ayat dalam Bibel, ia kerap mendapatkan penghargaan.

Keikutsertaan Jerald dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas Gereja Metodis terus berlanjut hingga ia memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Diantaranya ia terlibat secara aktif dalam organisasi kepemudaan Kristen Metodis. Dia juga kerap mengisi khotbah dalam acara kebaktian Minggu yang khusus diadakan bagi kalangan anak muda seusianya.

Dalam perjalanannya, khotbah yang ia sampaikan ternyata menarik minat komunitas Kristen Metodis di tempat lain. Ia pun kemudian diminta untuk memberikan khotbah di gereja lain, panti jompo, dan dihadapan organisasi-organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan Gereja Metodis. Sejak saat itu Jerald bercita-cita ingin menjadi seorang pendeta kelak.

Ketika diterima di Universitas Harvard, Jerald tidak mensia-siakan kesempatan demi mewujudkan cita-citanya itu. Ia mendaftar pada kelas perbandingan agama yang diajar oleh Wilfred Cantwell Smith untuk dua semester. Di kelas perbandingan agama ini Jerald mengambil bidang keahlian khusus agama Islam.

Namun, selama mengikuti kelas ini Jerald justru lebih tertarik untuk mempelajari agama Budha dan Hindu. Dibandingkan dengan Islam, menurut dia, kedua ajaran agama ini tidak ada kemiripan sama sekali dengan keyakinan yang ia anut selama ini.

Akan tetapi untuk memenuhi tuntutan standar kelulusan akademik, Jerald diharuskan untuk membuat makalah mengenai konsep wahyu dalam Alquran. Ia mulai membaca berbagai literatur buku mengenai Islam, yang sebagian besar justru ditulis oleh para penulis non-muslim. Ia juga membaca dua Alquran terjemahan bahasa Inggris dalam versi yang berbeda.

Diluar dugaannya buku-buku tersebutlah yang di kemudian hari justru membimbingnya ke kondisi seperti saat ini. Makalah tersebut membuat pihak Harvard memberikan penghargaan Hollis Scholar kepada Jerald. Sebuah penghargaan tertinggi bagi para mahasiswa jurusan Teologi Universitas Harvard yang dinilai berprestasi.

Untuk mewujudkan cita-citanya, bahkan Jerald rela mengisi liburan musim panasnya dengan bekerja sebagai seorang pendeta cilik di sebuah Gereja Metodis terbesar di negeri Paman Sam tersebut. Pada musim panas itu pula ia mendapatkan sertifikat untuk menjadi seorang pengkhotbah dari pihak Gereja Metodis Amerika.

Setelah lulus dari Harvard College di tahun 1971, Jerald langsung mendaftar di Harvard Divinity School atau sejenis sekolah tinggi teologi atas beasiswa dari Gereja Metodis Amerika. Selama menempuh pendidikan di bidang teologi, Jerald juga mengikuti program magang sebagai di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston.

Ia lulus dari sekolah tinggi ini tahun 1974 dan mendapatkan gelar Master di bidang teologi. Selepas meraih gelar master teologi, ia sempat menghabiskan liburan musim panasnya dengan menjadi pendeta pada dua Gereja Metodis Amerika yang berada di pinggiran Kansas.

Aktivitasnya sebagai seorang pendeta tidak hanya terbatas di lingkungan gereja saja. Ia mulai merambah ke cakupan yang lebih luas, mulai dari lingkungan sekolah, perkantoran, hingga pesan-pesan ajaran Kristen Metodis ia juga gencar sampaikan kepada para pasien yang datang ke tempat praktiknya sebagai seorang dokter ahli kejiwaan.

Meninggalkan aktivitas gereja

Namun, berbagai upaya dakwah ini dinilainya tidak memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat di sekitar ia tinggal. Ia justru menyaksikan terjadinya penurunan moralitas di tengah-tengah kehidupann beragama masyarakat Amerika. Bahkan kondisi serupa juga terjadi di lingkungan gereja.

”Dua dari tiga pasangan di Amerika selalu berakhir dengan perceraian, aksi kekerasan meningkat di lingkungan sekolah dan di jalanan, tidak ada lagi rasa tanggung jawab dan disiplin di kalangan anak muda. Bahkan yang lebih mencengangkan diantara para pemuka Kristen ada yang terlibat dalam skandal seks dan keuangan. Masyarakat Amerika seakan-akan sedang menuju kepada kehancuran moral,” paparnya.

Melihat kenyataan seperti ini, Jerald mengambil keputusan untuk menyendiri dan tidak lagi menjalani aktivitasnya memberikan pelayanan dan khotbah kepada para jemaat. Sebagai gantinya ia memutuskan untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan penelitian yang dilakukan oleh sang istri. Penelitian mengenai sejarah kuda Arab ini membuat ia dan istrinya melakukan banyak kontak dengan warga Amerika keturunan Muslim Arab . Salah satunya adalah dengan Jamal.

Babak pergaulan dengan Arab Muslim

Pertemuan Jerald dengan pria Arab-Amerika ini pertama kali terjadi pada musim panas tahun 1991. Dari awalnya sekedar berhubungan melalui sambungan telepon, kemudian berlanjut pada saat Jamal berkunjung ke rumah Jerald. Pada kunjungan kali pertama ini, Jamal menawarkan jasa untuk menterjemahkan berbagai literatur dari bahasa Arab ke Inggris yang disambut baik oleh Jerald dan istrinya.

Ketika waktu shalat ashar tiba, sang tamu kemudian meminta izin agar diperbolehkan menggunakan kamar mandi dan meminjam selembar koran untuk digunakan sebagai alas shalat. Apa yang diminta oleh tamunya itu diambilkan oleh Jerald, kendati dalam hati kecilnya ia berharap bisa meminjamkan sesuatu yang lebih baik dari sekedar lembaran surat kabar sebagai alas shalat. Untuk kali pertama ia melihat gerakan shalat dalam agama Islam.

Aktivitas shalat ashar itu terus ia lihat manakala Jamal dan istrinya berkunjung ke rumah mereka seminggu sekali. Dan, hal itu membuat Jerald terkesima. ”Selama berada di rumah kami, tidak pernah sekalipun ia memberikan komentar mengenai agama yang kami anut. Begitu juga ia tidak pernah menyampaikan ajaran agama yang diyakininya kepada kami. Yang dia lakukan hanya memberikan contoh nyata yang amat sederhana, seperti berbicara dengan suara serendah mungkin jika ada diantara kami yang bertanya mengenai agamanya. Ini yang membuat kami kagum,” ungkapnya.

Dari perkenalannya dengan Jamal dan keluarganya, justru Jerald mendapat banyak pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Sang tamu telah menunjukkan kepadanya sebuah pelajaran disiplin melalui shalat yang dilaksanakannya. Selain pelajaran moral dan etika yang diperlihatkan Jamal dalam urusan bisnis dan sosialnya serta cara Jamal berkomunikasi dengan kedua anaknya. ”Begitu juga yang dilakukan oleh istrinya menjadi contoh bagi istriku.”

Tidak hanya itu, dari kunjungan tersebut Jerald juga mendapatkan pengetahuan seputar dunia Arab dan Islam. Dari Jamal, ia bisa mengetahui tentang sejarah Arab dan peradaban Islam, sosok Nabi Muhammad, serta ayat-ayat Alquran berikut makna yang terkandung di dalamnya. Setidaknya Jerald meminta waktu kurang lebih 30 menit kepada tamunya untuk berbicara mengenai segala aspek seputar Islam. Dari situ, diakui Jerald, dirinya mulai mengenal apa dan bagaimana itu Islam.

Kemudian oleh Jamal, Jerald sekeluarga diperkenalkan kepada keluarga Arab lainnya di masyarakat Muslim setempat. Diantaranya keluarga Wa el dan keluarga Khalid. Dan secara kontinyu, ia melakukan interaksi sehari-hari dengan komunitas keluarga Arab Amerika ini. Dari interaksi tersebut, Jerald mendapatkan sesuatu ajaran dalam Islam yang selama ini tidak ia temui manakalan berinteraksi dengan komunitas masyarakat Kristen, yakni rasa persaudaraan dan toleransi.

Baru di awal Desember 1992, sebuah pertanyaan mengganjal timbul dalam pikirannya, ”Dirinya adalah seorang pemeluk Kristen Metodis, tapi kenapa dalam keseharian justru bergaul dan berinteraksi dengan komunitas masyarakat Muslim Arab?.” Sebuah komunitas masyarakat yang menurutnya menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, serta mengedepankan sikap saling menghargai baik terhadap pasangan masing-masing, anggota keluarga maupun sesama. Sebuah kondisi yang pada masa sekarang hampir tidak ia temukan dalam masyarakat Amerika.

Serangkaian Kejadian Tak Terduga

Untuk menjawab keraguannya itu, Jerald memutuskan untuk mempelajari lebih dalam ajaran Islam melalui kitab suci Alquran. Dalam perjalanannya mempelajari Aquran, sang pendeta ini justru menemukan nilai-nilai yang sesuai dengan hati kecilnya yang selama ini tidak ia temukan dalam doktrin ajaran Kristen yang dianutnya.

Kendati demikian, hal tersebut tidak lantas membuatnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia merasa belum siap untuk melepaskan identitas yang dikenakan selama hampir 43 tahun lamanya dan berganti identitas baru sebagai seorang muslim.

Begitu pun ketika ia bersama sang istri memutuskan untuk mengunjungi kawasan Timur Tengah di awal tahun 1993. Ketika itu, ia seorang diri makan di sebuah restoran yang hanya menyajikan makanan Arab setempat. Sang pemilik restoran, Mahmoud, kala itu memergoki dirinya tengah membaca sebuah Alquran terjemahan bahasa Inggris. Tanpa berkata sepatah kata pun, Mahmoud melontarkan senyum ke arah Jerald.

Kejadian tak terduga lagi-lagi menghampirinya. Istri Mahmoud, Iman, yang merupakan seorang Muslim Amerika, mendatangi mejanya sambil membawakan menu yang ia pesan. Kepadanya Iman berkomentar bahwa buku yang ia baca adalah sebuah Alquran. Tidak hanya itu, Iman juga bertanya apakah Jerald seorang muslim sama seperti dirinya. Pertanyaan tersebut lantas ia jawab dengan satu kata: Tidak.

Namun ketika Imam menghampiri mejanya untuk menyerahkan bukti tagihan, tanpa disadari Jerald melontarkan kalimat permintaan maaf atas sikapnya, seraya berkata: ”Saya takut untuk menjawab pertanyaan Anda tadi. Namun jika Anda bertanya kepada saya apakah saya percaya bahwa Tuhan itu hanya satu, maka jawaban saya adalah ya. Jika Anda bertanya apakah saya percaya bahwa Muhammad adalah salah satu utusan Tuhan, maka jawaban saya akan sama, iya.” Mendengar jawaban tersebut, Iman hanya berkata: ”Tidak masalah, mungkin bagi sebagian orang butuh waktu lama dibandingkan yang lain.”

Ikut berpuasa dan shalat

Ketika memasuki minggu kelima masa liburannya di Timur Tengah atau bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Maret tahun 1993, untuk kali pertama Jerald dan istrinya menikmati suasana lain dari ibadah orang Muslim. Demi menghormati masyarakat sekitar, ia dan istri ikut serta berpuasa. Bahkan pada saat itu, Jerald juga mulai ikut-ikutan melaksanakan shalat lima waktu bersama-sama para temannya yang Muslim dan kenalan barunya yang berasal dari Timur Tengah.

Bersamaan dengan akan berakhirnya masa liburannya menjelajah kawasan Timur Tengah, hidayah tersebut akhirnya datang. Peristiwa penting dalam hidup Jerald ini terjadi manakala ia diajak seorang teman untuk mengunjungi Amman, ibukota Yordania.

Pada saat ia melintas di sebuah jalan di pusat ibukota, tiba-tiba seseorag lelaki tua datang menghampirinya seraya mengucapkan, Salam Alaikum dan mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, serta melontarkan pertanyaan apakah iaseorang Muslim?. Sapaan salam dalam ajaran Islam itu membuatnya kaget. Di sisi lain, karena kendala bahasa, ia bingung harus menjelaskan dengan cara apa ke orang tua tersebut bahwa ia bukan seorang Muslim. Terlebih lagi teman yang bersamanya juga tidak mengerti bahasa Arab.

Mengikrarkan Keislaman

Saat itu Jerald merasa dirinya tengah terjebak dalam situasi yang sulit diungkapkan. Pilihan yang ada dihadapannya saat itu hanya dua, yakni berkata N’am yang artinya iya atau berkata La yang berarti tidak. Hanya ia yang bisa menentukan pilihan tersebut, sekarang atau tidak sama sekali.

Setelah berpikir agak lama dan memohon petunjuk dari Allah, Jerald pun menjawabnya dengan perkataan N’am. Sejak peristiwa tersebut, ia resmi menyatakan diri masuk Islam. Beruntung hidayah tersebut juga datang lepada istrinya di saat bersamaan. Sang istri yang kala itu berusia 33 tahun juga menyatakan diri sebagai seorang Muslimah.

Bahkan tidak lama berselang setelah kepulangannya ke Amerika, salah seorang tetangganya yang juga merupakan seorang pendeta mendatangi kediamannya dan menyatakan ketertarikannya tehadap ajaran Islam. Dihadapannya, tetangganya yang telah berhenti menjadi pendeta Metodis ini pun berikrar masuk Islam.

Kini hari-hari Jerald dihabiskan untuk kegiatan menulis dan memberikan ceramah tentang Islam dan hubungan antara Islam dan Kristen. Bahkan ia juga kerap diundang sebagai bintang tamu dalam program Islam di televisi di banyak negara.

Salah satu hasil karyanya yang menjadi best seller adalah “The Cross and the Crescent: An Interfaith Dialogue between Christianity and Islam”. Selain itu ia juga menulis lebih dari 60 artikel tentang ilmu perilaku, dan lebih dari 150 artikel tentang kuda Arab dan sejarahnya.  (RoL/dia/berbagai sumber)

 

==================================================

 

Jerald F. Dirks

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

Jerald F. Dirks
Islamic Author
Full name Jerald F. Dirks

Dr. Jerald F. Dirks (born 1950, Kansas) is a former ordained Methodist minister, Muslim convert and popular author of several books on Islam and Christianity.

Contents

[hide]

//

[edit] Education

Dr. Dirks enrolled at Harvard College as a philosophy major in 1967. He was named a Hollis Scholar, signifying that he was a top pre-theology students in the college. He worked as a youth minister at a fairly large United Methodist Church during his freshman and sophomore years. He graduated in 1971 and was admitted to the Harvard Divinity School thereafter, from where he graduated with a Master’s degree in Divinity. During his seminary education, he also completed a two-year externship program as a hospital chaplain at Peter Bent Brigham Hospital in Boston.[1] He also holds a Doctorate in Psychology from the University of Denver.

[edit] His Works

He has published several works on Islam and Christianity in recent years. These include:

[edit] External links

[edit] See also

[edit] Notes

Misquoting Jesus: Kesalahan Penyalinan dalam Perjanjian Baru

 

Misquoting Jesus: Kesalahan Penyalinan dalam Perjanjian Baru

 

Oleh: Bert D. Ehrman

ISBN : 9792223673
Rilis : 2006
Halaman : 0p
Penerbit : Gramedia
Bahasa : Indonesia

Kalau selama ini Anda sangat meyakini Kitab Suci sebagai Wahyu Allah, atau lebih ekstrem lagi diberikan oleh Allah, dan mendasarkan seluruh iman Anda pada Kitab Suci, buku ini akan membuat Anda lebih kritis terhadap Kitab Suci dan bisa jadi mampu menggoyahkan keyakinan Anda yang sudah mengakar bertahun-tahun. Kalau Anda orang Kristen, Anda harus bersiap diri untuk banyak hal tak terduga, yang jauh di luar bayangan dan keyakinan Anda. Namun demikian, Anda wajib membaca buku ini untuk lebih mematangkan dan mendewasakan iman Anda. Pada tahun 1707, John Mill, mengumpulkan sekitar 100 manuskrip Perjanjian Baru berbahasa Yunani dari berbagai wilayah. Dari hasil kerja kerasnya selama 30 tahun, para pembaca akan terkaget-kaget melihat sedikitnya 30.000 perbedaan yang telah Mill temukan. Dan kritik keras pun sebenarnya telah dilontarkan sejak abad kedua oleh Celsus, yang dicap kafir, yang menyatakan bahwa orang Kristen mengubah-ubah naskah sekehendak hati, seperti orang mabuk yang baru pulang dari lomba minum. Pada tahun 1689, Richard Simon menerbitkan hasil studinya atas tradisi naskah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam buku berjudul Sejarah Kritik Naskah Perjanjian Baru, yang antara lain menyatakan: apakah mungkin… kalau Allah memberikan kepada umat-Nya Buku-buku sebagai Aturan untuk melayani Dia, tetapi Dia pada saat yang sama membiarkan naskah yang pertama dan asli dari Buku-buku itu hilang sejak awal berdirinya Agama Kristen? Karena di zaman berdiri dan berkembangnya agama Kristen belum ada mesin cetak untuk memproduksi sebuah naskah, maka setiap orang atau komunitas kristiani yang membutuhkannya melakukan penyalinan. Salinan demi salinan Kitab Suci menimbulkan perbedaan, sebagian barangkali tidak disengaja, tapi sebagian besar dilakukan dengan sengaja, dengan motivasi dan tujuan tertentu. Perdebatan mengenai keotentikan naskah kitab suci memang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun, dan dalam buku ini Bart Ehrman akan menunjukkan kepada kita siapa-siapa yang mengubah teks-teks (mengubah kata, kalimat, bahkan menambahkan atau mengurangi sebuah cerita) Kitab Suci; contoh bagian-bagian mana yang telah diubah; dan mengapa mereka melakukan pengubahan itu. Pertanyaannya: kalau Kitab Suci diubah-ubah oleh banyak tangan, dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, dari satu wilayah ke wilayah lain, apakah kata-kata yang tertulis di dalamnya sungguh-sungguh merupakan Sabda Allah? Kalau bukan, lantas bagaimana iman kita yang selama ini didasarkan pada Kitab Suci? Hasil studi dan temuannya dipaparkan dengan sangat gamblang, dengan bahasa yang mudah kita cerna, sekalipun kita masih awam dalam studi kitab suci.

http://www.bookoopedia.com/daftar-buku/pid-1572/misquoting-jesus-kesalahan-penyalinan-dalam-perjanjian-baru.html

======================================================

 

Misquoting Jesus

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why
Misquoting Jesus.jpg
Author Bart D. Ehrman
Language English
Genre(s) Religion
Publisher HarperCollins
Publication date 2005
Pages 256
ISBN 978-0-06-073817-4
OCLC Number 59011567
Dewey Decimal 225.4/86 22
LC Classification BS2325 .E45 2005
Preceded by Truth and Fiction in The Da Vinci Code: A Historian Reveals What We Really Know about Jesus, Mary Magdalene, and Constantine (2004)
Followed by The Lost Gospel of Judas Iscariot: A New Look at Betrayer and Betrayed (2006)

Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why is a book by Bart D. Ehrman, a New Testament scholar at University of North Carolina at Chapel Hill.[1] The book introduces lay readers to the field of textual criticism of the Bible. Ehrman provides an overview of the 5,700 known New Testament manuscript fragments, from which scholars have cataloged 200,000 differences.[2] When ancient manuscripts differ from each other, such as whether they include the Comma Johanneum, textual critics use clues to conclude which version is the original. Ehrman discusses many textual variations that resulted from intentional or accidental manuscript changes during the scriptorium era. The book, which made it to the New York Times Best Seller list, is available in hardcover and paperback[3].

Contents

[hide]

//

[edit] Summary

Ehrman recounts his personal experience with the study of the Bible and textual criticism. He summarizes the history of textual criticism, from the works of Desiderius Erasmus to the present. The book describes an early Christian environment in which the books that would later compose the New Testament were copied by hand, mostly by Christian amateurs. Ehrman concludes that various early scribes altered the New Testament texts in order to deemphasize the role of women in the early church, to unify and harmonize the different portrayals of Jesus in the four gospels, and to oppose certain heresies (such as Adoptionism). Ehrman contends that certain widely-held Christian beliefs, such about the divinity of Jesus, are associated not with the original words of scripture but with these later alterations.

[edit] Reviews and reception

Alex Beam, of the Boston Globe, wrote that the book is “a series of dramatic revelations for the ignorant (the very definition of a hardcover best-seller, I’d say), Ehrman notes that there have been a lot of changes to the Bible in the past 2,000 years. I don’t want to come between Mr. Ehrman and his payday, but this point has been made much more eloquently by … others.”[4]

Doug Brown of Powell’s Books wrote: “the biblical literalists might better spend their energy keeping folks away from Ehrman … For believer or atheist, I recommend Misquoting Jesus to anyone with an interest in where this ancient anthology that has helped shape our culture came from.”[5] The Dallas Morning News wrote: “Whichever side you sit on regarding Biblical inerrancy, this is a rewarding read.”[6] Columbus Dispatch wrote that the book gives readers a good introduction to textual criticism.[7] Tim Callahan of Skeptic wrote that the book “throws into high relief the problems faced by those trying to establish just what Jesus actually said.”[8] American Library Association writes “To assess how ignorant or theologically manipulative scribes may have changed the biblical text, modern scholars have developed procedures for comparing diverging texts. And in language accessible to nonspecialists, Ehrman explains these procedures and their results. He further explains why textual criticism has frequently sparked intense controversy, especially among scripture-alone Protestants.”[9] Charles Seymour of the Wayland Baptist University in Plainview, TX wrote: “Ehrman convincingly argues that even some generally received passages are late additions, which is particularly interesting in the case of those verses with import for doctrinal issues such as women’s ordination or the Atonement.”[10] Neely Tucker of The Washington Post wrote that the book is “an exploration into how the 27 books of the New Testament came to be cobbled together, a history rich with ecclesiastical politics, incompetent scribes and the difficulties of rendering oral traditions into a written text.”[11]

Daniel B. Wallace, in review of Misquoting Jesus says the book “comes up short on genuine substance about his primary contention. Scholars bear a sacred duty not to alarm lay readers on issues that they have little understanding of. Unfortunately, the average layperson will leave this book with far greater doubts about the wording and teachings of the NT than any textual critic would ever entertain.”[12] Wallace also says Ehrman is selective in his use of evidence and ignores the views of scholars that disagree with him and he avoids giving his readers enough information so they can fully understand the issues and make up their own minds.[13]; Wallace concludes, however:

“I grieve for what has happened to an acquaintance of mine, a man I have known and admired—and continue to admire—for over a quarter of a century. It gives me no joy to put forth this review. But from where I sit, it seems that Bart’s black and white mentality as a fundamentalist has hardly been affected as he slogged through the years and trials of life and learning, even when he came out on the other side of the theological spectrum. He still sees things without sufficient nuancing, he overstates his case, and he is entrenched in the security that his own views are right. Bart Ehrman is one of the most brilliant and creative textual critics I’ve ever known, and yet his biases are so strong that, at times, he cannot even acknowledge them.”[14]

Craig Blomberg, a conservative evangelical at Denver Seminary in Colorado, wrote that “Most of Misquoting Jesus is actually a very readable, accurate distillation of many of the most important facts about the nature and history of textual criticism, presented in a lively and interesting narrative that will keep scholarly and lay interest alike.”[15] Blomberg also wrote that Ehrman “has rejected his evangelicalism and whether he is writing on the history of the transmission of the biblical text, focusing on all the changes that scribes made over the centuries, or on the so-called ‘lost gospels’ and ‘lost Christianities,’ trying to rehabilitate our appreciation for Gnosticism, it is clear that he has an axe to grind.”[15]

[edit] References

  1. ^ Interview with Bart Ehrman, Publishers Weekly, January 25, 2006.
  2. ^ Book Review. Neely Tucker. “The Book of Bart.” The Washington Post, 2006.
  3. ^ Publisher’s website. HarperCollins.com.
  4. ^Book review: The new profits of Christianity“. Boston Globe. Apr 12, 2006. http://www.boston.com/ae/books/articles/2006/04/12/the_new_profits_of_christianity/. Retrieved 2009-04-06.
  5. ^Book review: The Bible Delusion“. Powell’s Books. July 14th, 2007. http://www.powells.com/review/2007_07_14. Retrieved 2009-04-06.
  6. ^Book review: Some ask: Are Bible texts authentic? Are stories true?“. Dallas Morning News. Apr 16, 2006. http://docs.newsbank.com/g/GooglePM/DM/lib00375,1110AFD8AA3D89A0.html. Retrieved 2009-04-06.
  7. ^Book review: Novel tells Jesus’ story in fresh way“. Columbus Dispatch. Dec 16, 2005. http://results.factiva.com/index/index.aspx?ref=CLMB000020051216e1cg0000a. Retrieved 2009-04-06.
  8. ^Word of the Lord?“. Skeptic (U.S. magazine). Jan 1, 2006. http://www.accessmylibrary.com/premium/0286/0286-29011880.html. Retrieved 2009-04-06.
  9. ^Ehrman, Bart D. Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the…“. Booklist. Nov 15, 2005. http://www.accessmylibrary.com/premium/0286/0286-11892691.html. Retrieved 2009-04-06.
  10. ^Ehrman, Bart D. Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the…“. Library Journal. 2005. http://www.accessmylibrary.com/premium/0286/0286-17094344.html. Retrieved 2009-04-06.
  11. ^The Book of Bart“. The Washington Post. March 5, 2006. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/03/04/AR2006030401369.html. Retrieved 2009-04-06.
  12. ^ http://www.bible.org/page.php?page_id=3452
  13. ^ http://www.bible.org/page.php?page_id=4000
  14. ^ http://www.bible.org/page.php?page_id=4000
  15. ^ a bBook review: Misquoting Jesus“. Denver Seminary. March 5, 2006. http://www.denverseminary.edu/article/misquoting-jesus-the-story-behind-who-changed-the-bible-and-why/. Retrieved 2009-04-06.

[edit] External links

======================================================

Bart D. Ehrman

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search

Bart D. Ehrman
New Testament Studies
Full name Bart D. Ehrman
Born ca. 1955
School/tradition Evangelical Christian -> New Testament textual critic -> agnostic
Main interests New Testament authentication, Historical Jesus, Lost Gospels, Early Christian writings
Notable ideas Textual errors in the New Testament.

Bart D. Ehrman is an American New Testament scholar and textual critic of early Christianity. He is the James A. Gray Distinguished Professor and Chair of the Department of Religious Studies at the University of North Carolina at Chapel Hill. He has written about how the original New Testament texts were frequently altered by scribes for a variety of reasons, and argues that these alterations affect the interpretation of the texts.

Ehrman writes about the early Christians, using the term “proto-orthodox” to describe the Christian traditions that would later be defined as orthodox.[1] He describes first- and second-century Christians as not yet having a unified, orthodox tradition.[1]

As a textual critic, Ehrman examines various versions of a text in order to determine what the text originally said.[1] For instance, various ancient manuscripts have different endings for the gospel of Mark (see Mark 16).[1] Ehrman concludes (as many scholars have in the past) that the text originally ended at verse 16:9 and that none of the endings were original.[1] One method Ehrman uses for helping him analyze text is to look for changes that favor the agenda of the scribes who copied the texts.[1] If one version of a New Testament text makes the gospels seem more similar, downplays the role of women, softens statements that are hard to take, or opposes beliefs outside the proto-orthodox sphere, Ehrman says that such versions are more likely to represent deliberate changes on the part of scribes and not to be original.[1]

Contents

[hide]

// <![CDATA[//

[edit] Career

Ehrman began studying the Bible and its original languages at the Moody Bible Institute and is a 1978 graduate of Wheaton College in Illinois. He received his Ph.D and M.Div. from Princeton Theological Seminary, where he studied under Bruce Metzger. He currently serves as the chairman of the Department of Religious Studies at the University of North Carolina at Chapel Hill. He was the President of the Southeast Region of the Society of Biblical Literature, and worked closely as an editor on a number of the Society’s publications. Currently, he co-edits the series New Testament Tools and Studies.

Much of Ehrman’s writing has concentrated on various aspects of Walter Bauer’s thesis that Christianity was always diversified or at odds with itself. Ehrman is often considered a pioneer in connecting the history of the early church to textual variants within biblical manuscripts and in coining such terms as “Proto-orthodox Christianity.”[2] In his writings, Ehrman has turned around textual criticism. From the time of the Church Fathers, it was those denounced as heretics (Marcion, for example) who were charged with tampering with the biblical manuscripts. Ehrman theorizes that it was more often the Orthodox that “corrupted” the manuscripts, altering the text to promote particular viewpoints.

Ehrman became an Evangelical Christian as a teen. His desire to understand the original words of the Bible led him to the study of ancient languages and to textual criticism, to which he attributes the inspiration for an ongoing critical exploration of the basis of his own religious beliefs, which in turn gradually led to the questioning of his faith in the Bible as the inerrant, unchanging word of God. He now considers himself an agnostic.[3][4] Nevertheless, Ehrman has kept ongoing dialogue with evangelicals. In March 2006, he joined theologian William Lane Craig in public debate on the question “Is There Historical Evidence for the Resurrection of Jesus?” on the campus of the College of the Holy Cross.[5] In April 2008, Ehrman and evangelical New Testament scholar Daniel B. Wallace participated in a public dialogue on the textual reliability of the New Testament.[6] In January 2009, Dr. Ehrman debated Dr. James White, Director of Alpha and Omega Ministries, an Evangelical Reformed Baptist scholar on “Did the Bible Mis-Quote Jesus?.

He has authored or contributed to more than twenty books. In 2006 and 2009 he appeared on The Colbert Report, as well as The Daily Show, to promote his books Misquoting Jesus, and Jesus, Interrupted (respectively). In 2007, he gave a speech at Stanford University in which he discussed the textual inconsistencies of the New Testament, and also took questions from the audience. He has also made several guest appearances on National Public Radio (NPR) including the show Fresh Air in February 2008 to discuss his book God’s Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question—Why We Suffer and in March 2009 to discuss his book Jesus, Interrupted: Revealing the Hidden Contradictions in the Bible (and Why We Don’t Know About Them).

Professional awards received include the Students’ Undergraduate Teaching Award, The Ruth and Philip Hettleman Prize for Artistic and Scholarly Achievement, and The Bowman and Gordon Gray Award for Excellence in Teaching.

[edit] Works

Ehrman is the author of more than twenty books including three New York Times bestsellers (Misquoting Jesus, God’s Problem, and Jesus, Interrupted). Much of his work is on textual criticism and the New Testament. His first book was Didymus the Blind and the Text of the Gospels (1987) followed by several books published by the Oxford University Press, including The Orthodox Corruption of Scripture, and a new edition and translation of the The Apostolic Fathers in the Loeb Classical Library series published by Harvard University Press. His most recent book Jesus, Interrupted was published in March 2009 and discusses contradictions in the Bible.

His 2005 best-selling book Misquoting Jesus is about textual discrepancies in the Bible.[1] Alex Beam, of the Boston Globe, wrote the book is “a series of dramatic revelations for the ignorant (the very definition of a hardcover best-seller, I’d say), Ehrman notes that there have been a lot of changes to the Bible in the past 2,000 years. I don’t want to come between Mr. Ehrman and his payday, but this point has been made much more eloquently by … others.”[7] The Columbus Dispatch wrote the book gives readers a good introduction to textual criticism.[8] Tim Callahan of Skeptic wrote the book “throws into high relief the problems faced by those trying to establish just what Jesus actually said.”[9] American Library Association writes “To assess how ignorant or theologically manipulative scribes may have changed the biblical text, modern scholars have developed procedures for comparing diverging texts. And in language accessible to nonspecialists, Ehrman explains these procedures and their results. He further explains why textual criticism has frequently sparked intense controversy, especially among scripture-alone Protestants.”[10] Charles Seymour of the Wayland Baptist University in Plainview, TX wrote “Ehrman convincingly argues that even some generally received passages are late additions, which is particularly interesting in the case of those verses with import for doctrinal issues such as women’s ordination or the Atonement.”[11] Neely Tucker of The Washington Post wrote the book is “an exploration into how the 27 books of the New Testament came to be cobbled together, a history rich with ecclesiastical politics, incompetent scribes and the difficulties of rendering oral traditions into a written text.”[12]

Scholars who believe in Bible inerrancy have been critical of the book’s thesis. Daniel B. Wallace, Executive Director of the Center for the Study of New Testament Manuscripts, wrote, “Unfortunately, as careful a scholar as Ehrman is, his treatment of major theological changes in the text of the New Testament tends to fall under one of two criticisms: Either his textual decisions are wrong, or his interpretation is wrong.” Wallace also wrote, “One almost gets the impression that he is encouraging the Chicken Littles in the Christian community to panic at data that they are simply not prepared to wrestle with.”[13][14] Wallace also wrote that “Most of the book (chs. 1–4) is basically a popular introduction to the field, and a very good one at that.”[15] Craig Blomberg, a conservative evangelical at Denver Seminary in Colorado, wrote that “Most of Misquoting Jesus is actually a very readable, accurate distillation of many of the most important facts about the nature and history of textual criticism, presented in a lively and interesting narrative that will keep scholarly and lay interest alike.”[16] On his blog, Ben Witherington III criticized the book’s research writing “It is not sufficient to reply that Bart is writing for a popular audience and thus we would not expect much scholarly discussion even in the footnotes. Even in a work of this sort, we would expect some good up to date bibliography for those disposed to do further study, not merely copious cross-references to one’s other popular level books.”[17]

In 2009 Ehrman published Jesus, Interrupted. According to Rich Barlow, of the Boston Globe, the book is a critical approach to the Bible to understand its early origins.[18]

[edit] Major themes of his works and useful terminology

Two major themes run throughout nearly all of his books and lectures. First is the desire to analyze the historicity of claims made by ancient texts used in the creation of the New Testament, as well as many books left out of the Christian canon, and subject them to a series of criteria. Second is the desire to reveal the thousands of differences and changes in the texts some people take to be the inerrant and literal “Word of God,” who it was that changed the originals (none of which have survived), and what motivations or theological benefit could lie behind such changes being made.

[edit] Historicity of New Testament tradition

The first major theme in his books and lectures is to analyze the historical accuracy of ancient religious texts used in the creation of the New Testament. Ehrman subjects them to a series of specific criteria. The criteria are as follows:

  1. Criterion of independent attestation – the more sources that mention an event, the more likely it is to be historically accurate. Multiple witnesses are better than one witness. This is akin to corroborating evidence in modern trials.[19] It is worth noting here that since Matthew and Luke took many stories from Mark, those instances cannot be considered independently attested. It is also worth noting that just because an event or saying is found only in one source, that alone is not evidence that it is historically inaccurate. This criterion will, however, assist in determining where the information is on a spectrum of more or less likely to be authentic.
  2. Criterion of dissimilarity – the more a witness or source makes claims counter to their vested interests, the more that testimony is likely to be true.[20] This criterion is the most controversial of the three, and does not always properly apply to ancient sources, but is valuable nonetheless as one of the tools to evaluate historical reliability. In short, if a supposed saying or deed of Jesus seems to go against or does not support the supposed agenda of its record’s author, then it is considered more likely to be historically accurate.
  3. Criterion of contextual credibility – states that “the sayings, deeds, and experiences of Jesus must be plausibly situated in the historical context of first-century Palestine to be trusted as reliable.”[20] Whereas the first two criteria serve to place a tradition on a spectrum of more or less historically reliable, this criterion is used exclusively to argue against the historicity of a tradition.

[edit] What changes were made, by whom, and why?

A second major theme that runs through his more recent works is the analysis of why such biblical variations are there. The vast majority of the hundreds of thousands of differences are due to the mistakes of scribes;[21] these have little or no effect on the meaning of the passages or core tenets of Christian dogma. Ehrman argues however that some changes could not have been mistakes, but were purposeful alterations by early church writers to support their interpretation of Christianity.

Two key examples illustrate the critical nature of the variations. According to Ehrman, two of the most striking additions occur in the last 12 verses of the Gospel of Mark, and in 1 John 5:7-8, known as the Comma Johanneum.

Ehrman points out that the last 12 verses of the Gospel of Mark are not found in the earliest manuscripts,[21] an omission which is noted in the New International Version (a translation used by many Evangelicals),[22] and argues that these verses were added on to the original text many years later.[21]

In the King James Version of the First Epistle of John 5:7-8 there is a passage often taken as an explicit reference to the doctrine of the Trinity. Ehrman points out that this section does not appear in any Greek manuscript before the 9th century.[21]

[edit] Views on Biblical inerrancy

In an interview with the BBC, Ehrman said:

I think that there is no doubt that the Bible is filled with human error. Both the copies that we have which are changed by scribes, there is nobody who can doubt this. All you need to do is take two manuscripts and compare them with one another and they’re different: hundreds, maybe thousands of places.

When asked if the Bible is the Word of God, his usual answer is by asking: “Which bible? Is it the Bible that you buy in your local bookstore? Is it the Bible found in manuscripts? If in manuscripts, which manuscripts?”[23]

[edit] Personal life

Dr. Ehrman grew up in Lawrence, Kansas and attended Lawrence High School, where he was on the state champion debate team in 1973. He is married to Sarah Beckwith, Marcello Lotti Professor of English at Duke University, and has two children, a daughter, Kelly, and a son, Derek. He lives in Durham, North Carolina.

[edit] Bibliography

  • Didymus the Blind and the Text of the Gospels (The New Testament in the Greek Fathers; No. 1). Society of Biblical Literature. 1987. ISBN 1-55540-084-1.
  • The Text of the New Testament in Contemporary Research: Essays on the Status Quaestionis. Wm. B. Eerdmans Publishing Company. 1995. ISBN 0-80284-824-9.
  • The Orthodox Corruption of Scripture: The Effect of Early Christological Controversies on the Text of the New Testament. Oxford University Press, USA. 1996. ISBN 0-19-510279-7.
  • After the New Testament: A Reader in Early Christianity. Oxford University Press, USA. 1998. ISBN 0-19-511445-0.
  • Jesus: Apocalyptic Prophet of the New Millennium. Oxford University Press, USA. 1999. ISBN 0-19-512474-X.
  • Lost Scriptures: Books that Did Not Make It into the New Testament. Oxford University Press, USA. 2003. ISBN 0-19-514182-2.
  • The New Testament and Other Early Christian Writings: A Reader. Oxford University Press, USA. 2003. ISBN 0-19-515464-9.
  • The Apostolic Fathers: Volume I. I Clement. II Clement. Ignatius. Polycarp. Didache. Harvard University Press. 2003. ISBN 0-674-99607-0.
  • The Apostolic Fathers: Volume II. Epistle of Barnabas. Papias and Quadratus. Epistle to Diognetus. The Shepherd of Hermas. Harvard University Press. 2003. ISBN 0-674-99608-9.
  • Ehrman, Bart; Jacobs, Andrew S. (2003). Christianity in Late Antiquity, 300-450 C.E.: A Reader. Oxford University Press, USA. ISBN 0-19-515461-4.
  • The New Testament: A Historical Introduction to the Early Christian Writings. Oxford University Press, USA. 2003. ISBN 0-19-515462-2.
  • Lost Christianities: The Battles for Scripture and the Faiths We Never Knew. Oxford University Press, USA. 2003. ISBN 0-19-514183-0.
  • A Brief Introduction to the New Testament. Oxford University Press, USA. 2004. ISBN 0-19-516123-8.
  • Truth and Fiction in The Da Vinci Code: A Historian Reveals What We Really Know about Jesus, Mary Magdalene, and Constantine. Oxford University Press, USA. 2004. ISBN 0-19-518140-9.
  • Metzger, Bruce M.; Ehrman, Bart (2005). The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. Oxford University Press, USA. ISBN 0-19-516667-1.
  • Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why. HarperSanFrancisco. 2005. ISBN 0-06-073817-0.
  • Peter, Paul, and Mary Magdalene: The Followers of Jesus in History and Legend. Oxford University Press, USA. 2006. ISBN 0-19-530013-0.
  • The Lost Gospel of Judas Iscariot: A New Look at Betrayer and Betrayed. Oxford University Press, USA. 2006. ISBN 0-19-531460-3.
  • God’s Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question – Why We Suffer. HarperCollins, USA. 2008. ISBN 0-06-117397-5.
  • Jesus, Interrupted: Revealing the Hidden Contradictions in the Bible (And Why We Don’t Know About Them). HarperCollins, USA. 2009. ISBN 0-06-117393-2.

[edit] References

  1. ^ a b c d e f g Ehrman, Bart D.. Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why. HarperCollins, 2005. ISBN 978-0-06-073817-4
  2. ^The Book of Bart“. The Washington Post. March 5, 2006. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/03/04/AR2006030401369.html. Retrieved 2009-04-06.
  3. ^Q&A: Bart Ehrman: Misquoting Jesus“. http://www.publishersweekly.com/article/CA6301707.html. Retrieved 2007-05-31.
  4. ^ “In the church of his youth in Lawrence [Kansas], with nearly every pew at capacity last week, Bart D. Ehrman, chairman of the department of religious studies at the University of North Carolina at Chapel Hill, announced that he was an agnostic. He joked that atheists think agnostics are wimpy atheists and that agnostics think atheists are arrogant agnostics.” “Agnostic’s questions have biblical answers,” Vern Barnet, Kansas City Star, 23 April 2008
  5. ^ Is There Historical Evidence for the Resurrection of Jesus? From the website for The Holy Cross Center for Religion, Ethics and Culture.
  6. ^ Scholars to debate Bible, faith Nolan, Bruce. The Times-Picayune. 2008-03-30. Accessed: 2008-03-30 Reference archived at WebCite)
  7. ^Book review: The new profits of Christianity“. Boston Globe. Apr 12, 2006. http://www.boston.com/ae/books/articles/2006/04/12/the_new_profits_of_christianity/. Retrieved 2009-04-06.
  8. ^Book review: Novel tells Jesus’ story in fresh way“. Columbus Dispatch. Dec 16, 2005. http://results.factiva.com/index/index.aspx?ref=CLMB000020051216e1cg0000a. Retrieved 2009-04-06.
  9. ^Word of the Lord?“. Skeptic (U.S. magazine). Jan 1, 2006. http://www.accessmylibrary.com/premium/0286/0286-29011880.html. Retrieved 2009-04-06.
  10. ^Ehrman, Bart D. Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the…“. Booklist. Nov 15, 2005. http://www.accessmylibrary.com/premium/0286/0286-11892691.html. Retrieved 2009-04-06.
  11. ^Ehrman, Bart D. Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the…“. Library Journal. 2005. http://www.accessmylibrary.com/premium/0286/0286-17094344.html. Retrieved 2009-04-06.
  12. ^The Book of Bart“. The Washington Post. March 5, 2006. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/03/04/AR2006030401369.html. Retrieved 2009-04-06.
  13. ^ http://benwitherington.blogspot.com/2006/03/misanalyzing-text-criticism-bart.html
  14. ^ Wallace, Daniel B, “The Gospel According to Bart: A Review Article of Misquoting Jesus by Bart Ehrman,” Journal of the Evangelical Theological Society, June 2006 (also available at Bible.org)
  15. ^ http://www.bible.org/page.php?page_id=4000
  16. ^Book review: Misquoting Jesus“. Denver Seminary. March 5, 2006. http://www.denverseminary.edu/article/misquoting-jesus-the-story-behind-who-changed-the-bible-and-why/. Retrieved 2009-04-06.
  17. ^ Ben Witherington, “Bart Interrupted: a detailed Analysis of ‘Jesus Interrupted’ Part One”
  18. ^Book review: Turning a critical eye to the Bible“. Boston Globe. May 6, 2009. http://www.boston.com/ae/books/articles/2009/05/06/turning_a_critical_eye_to_the_bible/. Retrieved 2009-04-06.
  19. ^ Ehrman, Bart (2002) “The Historical Jesus” Lecture 9. The Teaching Company Lectures.
  20. ^ a b Ehrman, Bart (2002) “The Historical Jesus” Lecture 10. The Teaching Company Lectures.
  21. ^ a b c d “The Book of Bart.” Tucker, Neely. The Washington Post, 2006. Profile of Bart Ehrman, focusing on his personal beliefs and how he came to be an agnostic. Accessed: 2008-04-01
  22. ^ Barker, Kenneth L. (1991). The NIV: The Making of a Contemporary Translation. Zondervan. ISBN 978-0310241812. http://www.ibs.org/niv/mct/.  (The footnoting system is described in Chapter 2.)
  23. ^ BBC Radio 4 programme “The Oldest Bible”

[edit] External links

Appearances & Interviews:

SIAPA BILANG YESUS MATI DITIANG SALIB….??

Sebenarnya pertanyaan : ?..benarkah Yesus mati di tiang salib??….telah menjadi pertanyaan yang selalu menyelinap kedalam akal para kristanis diseluruh dunia.

Cerita mengenai penyaliban, hanya ada di kitab yang diklaim sebagai kitab suci oleh umat Kristen. Bukkti-bukti sejarah tidak menunjukkan adanya kematian itu.

Mari kita review apa kata injil :

Lihat Yohannes 20: 11 – 17
(11) Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, (12) dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. (13) Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” (14) Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. (15) Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” (16) Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. (17) Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”.

Sampai disini, cerita dari injil jelas menyatakan bahwa Yesus belum mati.

Mari kita telusuri cerita ini selanjutnya :
Yohanes 20 : 19:20
(19) Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (20) Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.

image
Yesus menunjukkan tangan dan lambungnya. Kenapa tangan dan lambung ?. Karena tangan itulah yg dipakukan ke tiang salib dan lambungnya yang ditusuk dengan tombak oleh tentara Romawi. (Ini pun, dengan asumsi, cerita penyaliban itu, benar adanya).

Sampai disini……, Yesus juga belum mati……..!!!.

Dan yang perlu dicatat, meskipun kita semua tahu, bahwa Yesus, dipanggil Tuhan oleh murid-muridnya setelah bangkit dari kubur. Kita juga perlu menggaris bawahi kata-kata ?bangkit dari kubur? ini, karena kata-kata itu adalah kata-kata yang didramatisir sedemikian rupa oleh para penulis injil. Padahal sebenarnya, Yesus berada dalam masa penyembuhan dari luka-lukanya.

Kemana Calon Tuhan itu Menghilang selama 18 tahun?.?
Jadi ketika Yesus lahir, menginjak masa kanak-kanak dan remaja dia ?belum menjadi Tuhan? . Dia hanyalah seorang anak manusia biasa, yg lahir dari seorang perwan.

Tapi, kita perlu merasa kasihan kepada umat Kristen, karena mereka tidak tahu kemana ?calon Tuhan mereka? pergi dari usia 12 sampai 30 tahun. Tidak ada satupun orang Kristen yang tahu kemana calon Tuhan mereka menghilang selama 18 tahun. Tapi, menurut saya, bisa saja mereka benar-benar tidak tahu, tetapi mungkin juga mereka pura-pura tidak tahu. Sebab kalau mereka mau bertanya, mencari informasi kemana saja calon Tuhan mereka menghilang selama 18 tahun, maka mereka akan menemukan informasi tersebut. Tuhan telah menciptakan dunia ini begitu luas.

Apalagi kalau mereka, para Kristianis tersebut, mencari informasi sampai ke Tibet sana. Ke-biara-biara para Lama (pendeta Tibet) diantara puncak-puncak pegunungan tertinggi didunia. Mereka akan mengetahui dimana dan apa saja kerja calon Tuhan mereka.

Atau setidak-tidaknya, para Kristianis, dapat bertanya kepada Nicolai Notovich, seorang pengembara Rusia yang telah sampai ke salah satu biara terjauh diujung langit, yaitu dibiara Hemis, sekitar 20 mil sebelah tenggara Leh, di Tibet. Dibiara tersebut terdapat 84.000 (empat puluh enam ribu) gulungan naskah kuno, yang masih dipelihara. Diantara puluhan ribu gulungan tersebut terdapat cerita mengenai Yesus. Pendeta di biara Hemis, menceritakan kepada pengembara Rusia ini, bahwa naskah mengenai Yesus dibawa ke Tibet dari India dan Nepal. Naskah aslinya ditulis dalam bahasa Pali dan disimpan di Lhasa, ibukota Tibet. Salinan dalam bahasa Tibet nya disimpan di biara Hemis ini.

Naskah tersebut menceritakan pada ayat ke-5 bagian ke-4, menceritakan hal berikut ini :

Tidak lama setelah itu, seorang anak yang molek dilahirkan dinegeri Israel. Tuhan sendiri langsung berbicara kepada anak ini, menerangkan kurang berartinya lahiriyah, dan mulianya rohani.
Kedua orang tua anak itu miskin, dan termasuk keluarga yang terhormat karena kesalehan mereka dan mereka telah lupa akan keturunan yang mulia dibumi, me-MahaSuci-kan Sang Pencipta dan memberkahi mereka yang malang, yaitu agar mereka dianugerahi.

Anak yang diberkahi, yang kepadanya mereka berikan nama Isa, mulai membicarakan ke Esa an dan ke Tauhid an Ilahi sejak masa kanak-kanak. Ia memperingatkan orang-orang yang sesat untuk bertobat dan membersihkan dosa-dosa mereka.

Ketika Isa mencapai usia 13 tahun, yang pada usia itu bangsa Israel biasanya memungut isteri, ada yang menginginkan Isa untuk menjadi menantunya, karena diskusi-diskusinya yang menggunggah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan karena kemasyhurannya yang sudah tersebar luas.

Ingat, Anda sedang membaca naskah kuno berbahsa Tibet, milik biara Hemis di Leh, ibu kota Ladakh, Tibet. Kita kembali sejenak ke pada naskah injil, yang menceritakan bahwa pada umur 12 tahun Yesus (= Isa), menggemparkan Bait Allah dengan diskusinya dengan para Rahib di Bait Allah tersebut. Setelah itu, Injil diam seribu bahasa mengenai Yesus, sampai muncul lagi di usia sekitar 30 tahun.

Sekarang kita lanjutkan cerita naskah di biara Hemis :

Pada waktu itu juga Isa secara rahasia telah menghilang dari rumah orang tuanya. Dia meninggalkan Yerusalem, bergabung dengan para pedangan menuju Sind. Dia berniat untuk menyempurnakan dirinya mencari pengertian mengenai Ilahi dan mempelajari hukum-hukum Budha.

Lha,….???. Misteri menghilangnya calon Tuhan umat Kristiani ini ternyata dapat dilacak di Tibet sana….!!!.
Naskah tersebut selanjutnya menceritakan bahwa:

Yesus, setelah menetap beberapa lama di Sind, melanjutkan perjalanan Ainjab. Masyarakat Ainjab yang menyembah Tuhan Jaina, memohon kepadanya, agar sudi menetap dengan mereka. Tapi Isa tetap melanjutkan perjalannya ke Jagannath di negeri Orissa, dimana tinggal Viaya-Krisnha.
Disini, Yesus diterima dengan suka cita oleh para pendeta Brahma, dan mengajaknya untuk membeca kitab Weda. Yesus berada di sekitar Jagannath, Rajagriba dan Benares, selama 6 tahun. Dia amat termasyhur dikalangan masyarakat, termasuk dikalangan kaum Waisya dan Sudra. Yesus, mempunyai musuh pertamanya dari kalangan Brahma, karena beliau mengajarkan persamaan derajat diantara umat manusia, suatu hal yg sangat ditentang oleh kaum Brahma.

Nah, para kristianis di seluruh dunia, saya anjurkan Anda belajar ke Tibet sana, untuk mengetahui kemana calon Tuhan Anda menghilang selama 18 tahun.

Kemana Yesus setelah Bangkit dari Kubur….?
Umat Kristen sangat percaya (dengan taklid buta) bahwa setelah memperlihatkan diri kepada para muridnya, Yesus diangkat ke sorga, lalu bersemayam disebelah kanan Allah. Kita tidak tahu, entah dari mana para penulis injil menyelipkan cerita dongeng ini.

Tapi sebenarnya apa yang terjadi????.

Yesus tidak mati?.., dia tetap hidup sampai usia tua dan mempunyai anak.

Setelah penampakan dirinya kepada murid-muridnya, Yesus masih menampakkan diri dibeberapa tempat dengan dalam rupa yang lain. Jangan salah menginterpretasikan kata-kata ?dengan rupa yang lain? ini, karena maksudnya dengan kata-kata tersebut bias saja benar-benar dalam bentuk atau penampilan yang lain, karena?.penyamaran?!!. Tidak ada pilihan lain bagi Yesus untuk menyelamatkan dirinya dari penangkapan musuh-musuhnya para Rabi Israel, kecuali menyamar dan mengungsi.

Beliau jelas belum mau mati. Masih ada tugas yang harus dikerjakannya, yaitu mencari domba-domba Israel yang tersesat….!!!.

Selama ini, para kristiani selalu menginterpretasikan, ?mencari domba-domba Israel yang tersesat?, dengan mengembalikan orang-orang Israel yang tersesat dari ajarat Taurat. Bukan itu saja….!!!. ?Domba-domba Israel yang tersesat benar-benar merupakan bagian bagsa Israel yang hilang. Bangsa Israel setelah ditaklukkan oleh Babilonia, diangkut ke Babilonia. Mereka menjadi budak dan budak anak-anak Nebukadnezar sampai kerajaan Persia berkuasa. (II Tawarikh- 36 : 20). Kitab Perjanjian Lama (PL) selanjutnya menceritakan bahwa akhirnya bangsa Israel ini dikembalikan ke Palestina. Tapi pertanyaannya disini adalah, apakah semua bangsa Israel yang kembali….?. Jawabannya ada dalam Kitab 2 Edras-13:29-30, yang menyatakan bahwa mereka yang tidak kembali melanjutkan pengembaraan ke Timur untuk kemudian menetap disuatu dareah yang diberi nama Asareth. Sayangnya umat Kristen dilarang membaca buku ini, karena buku termasuk buku non-kanonik. Sementara itu, buku-buku sejarah bangsa Kashmir dan Afganistan, selalu menulis bahwa bangsa Kashmir dan Afganisthan, berasal dari suku bangsa Israel. Dan lebih penting lagi adalah persamaan nama suku-suku diwilayah ini dengan nama nama yang terdapat dalam Al-Kitab. Sangat banyak…!!. Sekadar menyebut contoh, nama-nama suku di Kashmir dan Afganistan :
Suku bangsa Azri, dalam Alkitab : Azriel (1 Tawarich-5:24)
Suku bangsa Beroth, dalam Al-Kitab: Beeroth (2 Samuel 4:2)
Suku bangsa Caleb, dalam Al-Kitab : Caleb (1 Tawarikh-2:18)
Suku bangsa Dattu, dalam Al-Kitab: Dathan (Bilangan 16:1)
Suku bangsa Gabba, dalam Alkitab : Gabbai (Nehemiah 11:8)
Suku bangsa Hahput, dalam Al-Kitab : Hatipha (Nehemia-7:56)
Suku bangsa Iqqash, dalam Al-Kitab: Ikkesh (1 Tawarikh-11:28)
Suku bangsa Kanaz, Kunzru, dalam Al-Kitab: Kenaz (Hakim-hakim 3:9)

Dan masih sangat banyak persamaan nama ini, termasuk dengan di Pakistan.

Jadi, jejak suku-suku Israel yang hilang ini banyak sekali dapat ditemukan didaerah sekitar Kashmir dan Afganistan ini.

Dan…., kesinilah Yesus menghilang setelah sembuh dari luka-lukanya di tiang salib.

Banyak sekali bukti perjalan Yesus ke daerah ini direkam oleh ingatan masyarakat setempat. Rute perjalanan Yesus dari Yerusalem, adalah Damaskus, Nusyaibin, Kashan, Taxila (sekarang masuk wilayah Pakistan, tidak jauh dari perbatasan Kahsmir), Muree, Srinagar, Ashmuqam. Diwilayah-wilayah ini, Yesus di kenal dengan nama Yuz Asaf, yang artinya adalah ?Pemimpin penyembuh penyakit kusta?. Perjalanan itu dilakukan bersama ibunya Bunda Maria dan muridnya Thomas. Bunda Maria, karena tidak kuat menghadapi kesukaran dalam perjalanan, akhirnya meninggal di suatu tempat yang sekarang disebut Muree (kata ini berasal dari kata “Maria”), sekitar 30 mil dari Rawalpindi sekarang. Bunda tercinta ini, dikebumikan disuatu tempat yang dikenal dengan nama Pindi Point (Puncak Pindi), dan makamnya dinamakan Mai Mari da Asthan yang artinya tempat peristirahatan Bunda Maria.

Yesus melanjutkan perjalannya menuju Kashmir. Beliau masuk ke Kashmir melalui lembah yang sekarang dikenal sebagai Yusmarg (Padang Rumput Yesus). Daerah ini didiami oleh suku bangsa Yadu, keturunan dari 10 suku Israel. Dari sini, kearah Timur sampailah Aishmuqam, artinya Tempat Istirahat Yesus. Menurut buku Tarikh-i-Kashmir, yang ditulis dalam bahasa Persia, didapatkan cerita sebagai berikut :

Raja Gopananda kemudian memulai aktifitasnya di Lembah Kashmir….dst…dst…..
Dimasa periode itu Yusa Asaf tiba dari Palestina dan mulai mengaku dirinya Nabi di Lembah Kashmir. Dia melaksanakan tugas nya siang dan malam dan dia sangat tawakal dan suci.
Dia menyampaikan firman-firman Tuhan kepada rakyat Kashmir. Banyak sekalai orang yang insyaf dan menjadi pengikutnya. Raja memohon kepadanya untuk memimpin orang-orang Hindu ke jalan yang benar.

Baca juga catatan didalam buku kuno : Bhavisya Mahapurana, yang ditulis dalam bahasa Sanskerta pada tahun 3191, pada zaman Laukika (115 M), diceritakan bahwa pada suatu waktu Raja Shalewahin berjalan-jalan dipegunungan Voyen, dekat Srinagar, melihat seseorang yang berpakainan lain dari pada yang lain, berbaju putih dan berwajah simpatik. Dalam ayat 17-32, kita diberitahu bahwa diantara Raja dengan orang tersebut terjadi dialog sebagai berikut :

Raja Salewahin bertanya kepadanya, siapkah gerangan dia…?. Dia menjawab dengan lemah lembut : ? Saya yang dikenal dengan anak Tuhan yang lahir dari seorang perawan?. Sang Raja merasa terpesona dengan jawaban ini, kemudian orang itu melanjutkan : ?Saya mengajarkan agama bangsa Amalekit dan mengikuti prinsip-prinsip kebenaran sejati?. Sang raja bertanya kepadanya mengenai agamanya, orang itu menjawab : ? Wahai raja, saya menyeru dari negeri yang amat jauh, dimana kebenaran tidak bisa tinggal lama dan kejahatan sudah merajalela tanpa batas. Saya muncul di negeri bangsa Amalekit sebagai Masih. Melalui sayalah orang-orang berdosa dan orang-orang bersalah menderita, dan saya juga menderita ditangan-tangan mereka….?.
Selanjutnya diceritakan, bahwa Yesus akhirnya menikah dengan eorang perempuan desa yang cantik jelita, bernama Mirjan (atau Marjon), dan mempunyai keturunan. Salah seorang keturunan Yesus yang masih dapat dijumpai sampai sekarang adalah seseorang yang bernama Sahibzada Baharat Saleem, yang tinggal di kota Srinagar. Yesus atau didaerah Kahsmir, dikenal dengan nama Yus Asaf, akhirnya meninggal di Kashmir, dimakamkan di distrik Khanyar, dipusat ibukota Kashmir, Srinagar.

Jadi….?
Kepercayaan dogmatis penebusan dosa ditiang salib, adalah rekaan para murtadin ajaran Yesus. Yesus atau yang kita kenal dengan Isa Al-Masih, tidak mati ditiang salib. Tetapi beliau mengembara jauh ke Timur, seperti yang dilakukannya ketika muda selama 18 tahun dari umur 12 sampai 30 tahun.

Yesus tidak mati?!!!. Doktrin Penebusan Dosa ditiang Salib gugur?.!!!.

Cerita ini saya sadur dari buku :
Yesus Wafat di Kashmir
Karangan: Andreas Faber Kaiser
Diterbitkan pertama kali oleh : Gordon Cremonnesi, Ltd, 1977, di Great Britania.

image

image

image

image

image

image

image

image

 

Totall Reply 2784 | Read 1910 hits | Beritahu Teman | Print | Reply this Entry
http://forum-arsip1.swaramuslim.net/more.php?id=3712_0_21_1296_M

Dosa-dosa Besar/Haram yang Harus Dijauhi

Dosa-dosa Besar/Haram yang Harus Dijauhi

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” [Ar Ra’d:35]

 

Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang takwa. Yaitu orang yang mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Oleh karena itu hendaklah kita mempelajari apa saja larangan atau hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT agar kita tahu dan tidak mengerjakannya.

 

Pertama-tama kita harus tahu bahwa dosa itu adalah hal-hal yang membuat kita gelisah/tidak tenang dan malu jika diketahui orang lain:

 

Dari Nawas bin Sam’an ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah segala sesuatu yang menggelisahkan perasaanmu dan yang engkau tidak suka bila dilihat orang lain.” (HR. Muslim)

 

Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra dia berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku berkata,” Ya.” Beliau bersabda, “Bertanyalah kepada hatimu. Kebajikan adalah apa yang menjadikan tenang jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa yang menggelisahkan jiwa dan menimbulkan keraguan dalam hati, meskipun orang-orang terus membenarkanmu.” (Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darimi)

 

Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai (Allah). (HR. Aththusi)

 

Syirik Dosa yang Terbesar dan Tidak Diampuni Allah SWT

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:116]

 

Contoh Syirik adalah menyembah adanya Tuhan lain selain Allah seperti Tuhan Yesus, Roh Kudus, Dewa Matahari, Brahma, Syiwa, Wisnu, dan sebagainya.

 

Yang sering dilakukan ummat Islam adalah syirik kecil seperti pergi ke Dukun atau Orang ”Pintar”, memakai jimat (cincin, kalung, dsb), mempercayai ramalan, dan sebagainya.

 

Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu (lalu mempercayainya) maka shalatnya selama empat puluh malam tidak akan diterima. (HR. Muslim)

 

Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad Saw. (Abu Dawud)

 

Sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik. (HR. Ibnu Majah)

 

Barangsiapa membatalkan maksud keperluannya karena ramalan mujur-sial maka dia telah bersyirik kepada Allah. Para sahabat bertanya, “Apakah penebusannya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: “Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tiada kesialan kecuali yang Engkau timpakan dan tidak ada ilah (tuhan / yang disembah) kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)

 

Durhaka kepada Ibu dan Bapak (Orang Tua)

Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, “Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?” Nabi Saw menjawab, “Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq’alaih)

 

Aku beritahukan yang terbesar dari dosa-dosa besar. (Rasulullah Saw mengulangnya hingga tiga kali). Pertama, mempersekutukan Allah. Kedua, durhaka terhadap orang tua, dan ketiga, bersaksi palsu atau berucap palsu. (Ketika itu beliau sedang berbaring kemudian duduk dan mengulangi ucapannya tiga kali, sedang kami mengharap beliau berhenti mengucapkannya). (Mutafaq’alaih)

 

Tidak Mengerjakan Shalat

Tidak mengerjakan shalat adalah dosa besar. Demikian pula meninggalkan kewajiban lainnya dalam rukun Islam seperti puasa, zakat dan Haji (bagi yang mampu).

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak mengerjakan shalat” [Al Muddatstsir:42-43]

Membunuh Manusia yang Tidak Berdosa

 

Orang yang membunuh manusia secara zhalim (tidak dalam rangka beladiri) dihukum qishash (bunuh) [Al Israa’:33].

 

”Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [An Nisaa’:93]

 

Bunuh Diri

 

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [An Nisaa’:29]

 

Berzina, dan Murtad

 

Dari ‘Aisyah Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali salah satu dari tiga hal: Orang yang telah kawin yang berzina, ia dirajam; orang yang membunuh orang Islam dengan sengaja, ia dibunuh; dan orang yang keluar dari agama Islam lalu memerangi Allah dan Rasul-Nya, ia dibunuh atau disalib atau dibuang jauh dari negerinya.” [Abu Dawud dan Nasa'i]

 

Riba (Mengambil Bunga)

 

Sering ada rentenir atau Bank yang menggunakan bunga berlipat ganda hingga akhirnya orang yang tidak mampu membayar kehilangan rumah karena disita.

 

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [Al Baqarah:275]

 

Mengapa negeri kita sering dilanda bencana? Mungkin karena zina dan riba sudah merajalela di negeri ini.

 

Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al Hakim)

 

Menyerupai Lawan Jenis, Berzina dengan Hewan, dan Homoseks

 

Sering di TV pemain pria berpakaian perempuan untuk memancing tawa, padahal itu dosa. Laki-laki tidak boleh berdandan dan berpakaian seperti wanita, demikian pula sebaliknya.

 

Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah. Para sahabat lalu bertanya, “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Beliau lalu menjawab, “Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang yang homoseks. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

 

Mengurangi Takaran atau Timbangan Ketika Berdagang

 

Sering pedagang sengaja mengurangi takaran atau timbangan ketika berdagang agar cepat untung. Padahal ini hanya membuat orang jadi kapok membeli di tempatnya lagi karena sudah ditipu. Selain itu ini adalah dosa dengan neraka Sijjiin sebagai balasannya.

 

Dari Ibnu Abbas dikemukakan bahwa ketika Rasulullah saw. sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk yang paling curang dalam takaran dan timbangan. Maka Allah menurunkan ayat ini (S.83:1,2,3) sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang. Setelah ayat ini turun orang-orang Madinah termasuk orang yang jujur dalam menimbang dan menakar.

(An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

 

”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” [Al Muthoffifiin:1-3]

 

Menyembunyikan cacat barang atau barang palsu sama dengan di atas.

 

Minum Khamar / Minuman Keras, Berjudi, dan Memberi Sajen

 

Banyak orang Islam yang minum bir dan minuman beralkohol padahal itu haram.

 

Tiap minuman yang memabukkan adalah haram (baik sedikit maupun banyak). (HR. Ahmad)

 

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:90]

 

Mencuri

 

Korupsi, Mencuri, Copet atau merampok itu adalah mengambil hak orang lain dan haram hukumnya. Dalam Islam hukumnya potong tangan agar mereka jera. Kalau cuma penjara, maka kejahatan itu merajalela karena di penjara justru mereka dapat teman/network yang lebih luas.

 

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al Maa-idah:38]

 

Jangan Membakar Makhluk Allah

 

Pernah kita baca ada masyarakat yang membakar pencuri karena marah. Padahal Allah melarang kita menghukum dengan siksaan Allah.

 

Jangan menyiksa dengan siksaan Allah (artinya: menyiksa dengan api). (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

 

Tidak Mau Berjihad

 

”…mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.” [At Taubah:81]

 

Surat At Taubah ayat 44-50 dan 81-95 menyatakan bahwa orang yang tidak mau berjihad sebagai orang kafir dan munafik yang tidak boleh disholati jika meninggal.

 

”Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan jenazah seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri mendoakan di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” [At Taubah:84]

 

Saat ini ada kelompok yang mencerca para mujahidin dan melarang ummat Islam berjihad dengan berbagai alasan. Untuk itu, ayat-ayat Al Qur’an di atas bisa jadi pedoman bagi kita agar tidak tersesat.

 

Tidak Mau Menjalankan Hukum Allah

 

Saat ini banyak ummat Islam yang tidak mau menjalankan hukum Allah. Mereka lebih suka memakai hukum yang dibuat kaum Yahudi dan Nasrani dari Barat.

 

”…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” [Al Maa’idah:47]

 

Mengkafirkan Sesama Muslim

 

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)

 

Berdusta

 

”Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Mumtahanah:12]

 

Mendapat/Membaca Informasi dari orang Fasik/Kafir tanpa Memeriksa

 

Sering orang Islam mendapatkan informasi dari media massa orang yang fasik ata kafir tanpa tabayyuun/memeriksa berita sehingga akhirnya ummat Islam menganggap Islam itu keras, Muslim adalah teroris, MUI lembaga yang tidak kredibel, dan sebagainya.

 

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al Hujuraat:6]

Oleh karena itu ummat Islam hendaknya mencerna hati-hati berita dari kelompok kafir/Yahudi/Liberal seperti dari CNN, Fox, BBC, dan sebagainya agar tidak termakan fitnah bahwa pejuang kemerdekaan Palestina adalah teroris sementara negara Israel yang banyak membantai ummat Islam justru baik.

 

Carilah berita dari Media Islam seperti TV Al Jazeera, Hidayatullah.com, Eramuslim.com, dan sebagainya.

 

Berperang/Tawuran terhadap Sesama Muslim

 

Ummat Islam itu bersaudara. Sayangnya ternyata banyak peperangan/tawuran terhadap sesama Muslim. Iraq menyerang Iran, kemudian Iraq juga menyerang Kuwait dan Arab Saudi yang dibalas Arab Saudi dengan mengundang tentara kafir AS ke negaranya.

 

Di Indonesia pun sering terjadi tawuran sesama Muslim yang tak jarang memakan korban jiwa. Baik antar warga seperti warga Matraman, Otista Raya, Manggarai, atau pun anak-anak SMP, SMA, atau Universitas. Aneh jika mereka takut berjihad ke Palestina melawan penjajah Yahudi tapi begitu berani ”berperang” sampai mati terhadap sesama Muslim lewat tawuran.

 

”Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” [Al Hujuraat;9]

 

Meniru Orang Kafir

 

Karena pengaruh film Holywood atau Sinetron TV, banyak remaja Islam yang meniru tingkah laku orang-orang kafir dari pacaran di malam Minggu, mengumbar aurat, hingga berzina.

 

Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Abu Dawud)

 

Merendahkan dan Menghina Sesama Muslim

 

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Al Hujuraat:11]

Buruk Sangka dan Menggunjing

 

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Hujuraat:12]

 

Menghambur-hamburkan Uang atau Boros

 

Allah melarang ummat Islam hidup boros dengan menghabiskan uang untuk hal yang tidak bermanfaat atau berlebihan seperti membeli barang terlampau mewah dan banyak, merokok, membakar petasan, dan sebagainya. Orang yang boros adalah saudara setan, begitu firman Allah SWT.

 

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

 

Bermegah-megahan

 

Sering orang bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya sehingga lalai dari beribadah kepada Allah SWT.

 

Dari Ibnu Buraidah dikemukakan bahwa ayat 102:1-2 turun berkenaan dengan dua qabilah Anshar. Bani Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya dengan saling bertanya: “Apakah kalian mempunyai pahlawan yang segagah dan secekatan si Anu?” Mereka menyombongkan diri pula dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka mengajak pula pergi ke kubur untuk menyombongkan kepahlawanan dari golongannya yang sudah gugur, dengan menunjukkan kuburannya. Ayat ini (S.102:1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megah sehingga terlalaikan ibadahnya kepada Allah. (Ibnu Abi Hatim)

 

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” [At Takatsuur:1-3]

 

Mengumbar Aurat

 

Nabi SAW bersabda: ”Ada dua golongan dari penghuni neraka yang aku tidak sampai melihat mereka yaitu suatu kaum yang menyandang pecut seperti ekor sapi (yang) dipakai untuk memukuli orang-orang dan wanita-wanita berpakaian mini, telanjang. Mereka melenggang bergoyang. Rambutnya ibarat punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga atau mencium harumnya surga yang sebenarnya dapat dirasakan dari jarak sekian sekian. (HR. Muslim)

 

Memutus Silaturrahim / Hubungan Kekeluargaan

 

Orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. (Mutafaq’alaih)

 

Mengangkat Orang Kafir sebagai Wali, Pemimpin atau Pelindung

 

Kadang ada orang Islam yang memilih orang kafir dalam Pemilu sebagai pemimpin atau sebagai guru/pelindung bagi anak-anaknya, padahal masih ada orang Islam yang bisa dipercaya. Dalam An Nisaa’ ayat144 Allah akan menyiksa orang yang berbuat itu:

 

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?” [An Nisaa’:144]

 

Kencing Tidak Dibasuh Air dan Tukang Adu Domba

 

Banyak pria yang kencing di jalan dan tidak membasuh kemaluannya dengan air (minimal 3x). Padahal itu akan mendapat siksa kubur. Begitu pula orang yang suka mengadu domba.

 

Ibnu Abbas berkata, “Nabi Muhammad saw. melewati salah satu dinding dari dinding-dinding Madinah atau Mekah, lalu beliau mendengar dua orang manusia yang sedang disiksa dalam kuburnya. Nabi Muhammad saw lalu bersabda,’ Sesungguhnya, mereka benar-benar sedang disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar.’ Beliau kemudian bersabda, ‘Yang seorang tidak bersuci dalam kencing dan yang lain berjalan ke sana ke mari dengan menebar fitnah (mengadu domba / memprovokasi).’ Beliau kemudian meminta diambilkan pelepah korma yang basah, lalu dibelah menjadi dua, dan beliau letakkan pada masing-masing kuburan itu satu belahan. Lalu dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, mengapakah engkau berbuat ini?’ Beliau bersabda, ‘Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua belah pelepah itu belum kering.’” [HR Bukhari]

 

Selain hal di atas dilarang pula berbagai penyakit hati seperti Sombong, Riya, Kikir, Dengki, dan sebagainya.

 

(Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” [Al Mu’miin

 

”Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” [Al Anfaal:47]

 

”Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (royal) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” [Al Israa’:29]

 

” dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” [Al Falaq:5]

 

Itulah daftar perbuatan dosa yang diharamkan Allah SWT semoga kita terhindar dari itu semua. Jika ada dosa tersebut yang kita perbuat, semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk menghentikannya serta bertobat kepada Allah SWT.

 

Dari Anas bin Malik ra dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi,

 

“..Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [An-Nuur:31)

 

“ Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az-Zumar:53]

 

Media Islam – Belajar Islam sesuai Al Qur’an dan Hadits

www.media-islam.or.id

http://media-islam.or.id/2009/02/01/dosa-dosa-besarharam-yang-harus-dijauhi/

Mr. Jacques Yves Costeau, oceanografer Prancis merasakan kebesaran Allah saat menyelam

oceanografer Prancis merasakan kebesaran Allah saat menyelam

Jika anda penggemar acara televisi ‘Discovery’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, seorang oceanografer (ahli kelautan) dan ahli selam terkemuka dari Prancis. Sepanjang hidupnya orang tua ini menyelami berbagai samudra disegala sisi dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia.
Pada suatu hari, ketika sedang melakukan eksplorasi bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak tercampur / tidak melebur dengan air laut yang asin disekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membrane yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin ditengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halunisasi atau khayalan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil tersebut. Profesor itu teringat pada ayat Al Qur’an tentang bertemunya dua lautan (surat Ar Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan terusan suez. Ayat itu berbunyi “Marajal Bahraini yaltaqiyan, bainahuma barzakhun laa yabghiyaan….” Artinya “Dia biarkan dua lautan bertemu, diantara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus”. Kemudian dibacakan surat Al Furqon ayat 53 “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang satu lagi asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya dilautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup diabad ketujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil dikedalaman samudera.
Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sungguh-sungguh kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika ia pun memeluk Islam. Allahu Akbar……….!!! Oceanografer handal tersebut mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha benar Allah pencipta setiap fenomena alam.
Percikan Iman, No.4 Th.II April 2001
http://odcunsyiah.blogspot.com/2009/04/oceanografer-prancis-merasakan.html

Prof Dr Maurice Bucaille dari Perancis Masuk Islam Gara-gara Mumi Firaun

Prof Dr Maurice Bucaille dari Perancis Masuk Islam Gara-gara Mumi Firaun

Menampilkan satu-satunya kiriman.
Kiriman 1
Asep Awalluddin menulispada 22 Juli 2009 jam 16:01
Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran

Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran.

Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.

Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.

Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.

Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.

Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.

Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.

Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?

Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.

Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.

Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.

Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.

Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.

Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.

Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”

Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.

Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.

Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.

Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.

Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.

Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan. Sumber: Republika

http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=77898111614&topic=17771&post=156624

Jamilah Kolocotronis Menemukan Kebenaran dalam Islam

Jamilah Kolocotronis Menemukan Kebenaran dalam Islam

Jumaah, 23 Oktober 2009 ku osolihin

1 Nilai

Quantcast

// <![CDATA[// Saat sedang mencari kesalahan dan ketidakkonsistenan dalam Alquran, dia justru terkesan dengan surat Al-An’am.

Jalan berliku harus dilalui Jamilah Kolocotronis sebelum menjadi seorang Muslimah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan mengikrarkan dua kalimat syahadat justru ketika sedang menempuh pendidikan demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pendeta. Berawal pada tahun 1976. Keinginannya begitu kuat untuk menjadi seorang pendeta. Saat itu, dia masih berkuliah di sebuah universitas negeri.

Jamilah lalu mendatangi seorang pastor di sebuah gereja Lutheran. Ia sampaikan apa yang menjadi harapannya, bahkan bersedia membantu apa saja di gereja. Sang pastor menyanggupi dan meminta Jamilah mewakilinya pada acara piknik untuk para mahasiswa baru dari negara lain.

Dalam acara ini, untuk pertama kalinya, Jamilah bertemu dengan seorang Muslim. Namanya Abdul Mun’im Jitmoud yang berasal dari Thailand. ”Ia punya senyum yang manis dan sangat sopan. Saat kami berbincang-bincang, ia sering kali menyebut kata Allah,” kenang Muslimah yang memiliki nama lahir Linda Kay Kolocotronis ini.

Jamilah mengaku agak aneh saat mendengar Mun’im menyebut nama Tuhan. Karena, sejak kecil, ia diajarkan bahwa orang di luar agamanya bakal masuk neraka. Tak ayal, Jamilah merasa bahwa Mun’im adalah golongan orang yang akan masuk neraka meski Mun’im percaya pada Tuhan dan berperilaku baik.

Dia lantas bertekad untuk mengajak Mun’im mengikuti keyakinannya. Jamilah mengundang Mun’im ke gereja. Tapi, betapa malu hatinya ketika melihat Mun’im datang dengan membawa Alquran. Usai kebaktian, Jamilah dan Mun’im berbincang panjang tentang Islam dan Alquran.

Padahal, selama ini, setiap mendengar istilah ‘Muslim’, dia memahaminya dengan hal-hal yang negatif. Kala itu, sejak era tahun 1960-an, warga kulit putih di Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa warga Muslim kulit hitam ingin menyingkirkan warga kulit putih.

Selama dua tahun, Jamilah tetap menjalin kontak dengan Mun’im (yang kini menjadi suaminya). Lewat aktivitasnya di sebuah klub internasional, Jamilah juga bertemu dengan beberapa Muslim lainnya.

Jamilah tetap berusaha melakukan kegiatan misionarisnya untuk membawa mereka beralih akidah. Dia masih memendam hasrat menjadi pendeta meski waktu itu, di era 70-an, gereja-gereja belum bisa menerima perempuan di sekolah seminari.

Waktu terus berjalan, kebijakan pun berubah. Setelah menyelesaikan studinya di Truman State University pada Mei 1978, sebuah seminari Lutheran yang berada di Chicago, School of Theology, bersedia menerimanya sebagai siswa.

Tapi, hanya satu semester Jamilah bersemangat belajar. Jamilah sangat kecewa dengan kenyataan bahwa di sekolah itu tidak lebih sebagai tempat untuk bersosialisasi di mana pesta-pesta digelar dan minum-minuman keras sudah menjadi hal yang biasa.

Jamilah akhirnya memutuskan pulang ke rumah. Ia ingin lebih meluangkan waktu untuk mencari kebenaran agama. Tak lama kemudian, Jamilah diterima bekerja sebagai sekretaris di daerah pinggiran St Louis, tak jauh dari rumahnya.

Mencari kesalahan Alquran
Hingga suatu hari, Jamilah masuk ke sebuah toko buku dan menemukan Alquran di sana. Jamilah tertarik untuk membelinya karena ia ingin mencari kelemahan dalam Alquran.

Jamilah berpikir, sebagai orang yang bergelar sarjana di bidang filsafat dan agama serta pernah mengenyam pendidikan di seminari, pastilah mudah baginya menemukan kelemahan-kelemahan Alquran. Dengan ‘bekal’ itu, ia berharap bisa meyakinkan teman-teman Muslimnya bahwa mereka salah.

Dia segera mencari-cari kesalahan serta ketidakkonsistenan ayat-ayat dalam Alquran. Tapi, hasilnya nihil.”Saya justru terkesan saat membaca surat al-An’am ayat 73. Untuk pertama kalinya, saya ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam,” ujar perempuan kelahiran St Louis, Missouri, tahun 1956 ini.

Jamilah memutuskan kembali ke universitasnya dulu, mengambil gelar master di bidang filsafat dan agama. Di saat yang sama, selain mengunjungi kebaktian, Jamilah juga kerap datang ke masjid, terutama ketika shalat Jumat.

Walau hatinya mulai tersentuh cahaya Islam, Jamilah mengaku belum siap menjadi seorang Muslimah. Masih banyak ganjalan pertanyaan memenuhi kepalanya. Dan, Jamilah terus melanjutkan pencariannya tentang agama.

Selama kurun waktu dua tahun masa pencarian, selain mempelajari Islam, Jamilah juga mempelajari berbagai agama lainnya, termasuk Zoroaster, Hindu, Buddha, Baha’i, dan agama yang dianut oleh etnis Cina. ”Saya cuma ingin menemukan kebenaran,” kata Jamilah.

Mengucap dua kalimat syahadat
Namun, Jamilah lebih merasakan kedekatan pada Islam. Satu pertanyaan yang masih mengganggu pikirannya, mengapa orang Islam harus berwudhu sebelum shalat?

Ia menganggap itu tidak logis karena manusia seharusnya bisa mengakses dirinya pada Tuhan kapan saja. Namun, pertanyaan yang mengganggu itu akhirnya terjawab dan Jamilah bisa menerima jawabannya.

Akhirnya, malam itu, Jamilah membulatkan tekad untuk menerima Islam sebagai agamanya. Ia pergi ke sebuah masjid kecil dekat universitas. Peristiwa terpenting dalam hidupnya ini terjadi pada musim panas 1980, bersamaan dengan tibanya bulan Ramadhan.

Tepat pada malam ke-19 di bulan Ramadhan, Jamilah mengucapkan dua kalimat syahadat yang disaksikan sejumlah pengunjung masjid. ”Butuh beberapa hari untuk beradaptasi, tapi saya sudah merasakan kedamaian. Saya melakukan pencarian begitu lama dan sekarang saya menemukan tempat yang damai,” papar ibu dari enam orang putra ini.

Pada awalnya, setelah menjadi Muslimah, Jamilah menyembunyikan keislamannya dari teman-teman di kampus, bahkan keluarganya. Bercerita kepada keluarganya bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim bukan persoalan gampang buat Jamilah.

Begitu pula ketika ingin mengenakan jilbab. Tapi, jalan berliku dan berat itu berhasil dilaluinya. Kini, Jamilah sudah berjilbab dan menjadi kepala sekolah di Salam School, Milwaukee. dia/berbagai sumber


Pendidik, Penulis, dan Ibu Enam Anak

Komunitas Muslim di Amerika Serikat mengenal Jamilah Kolocotronis sebagai seorang Muslimah dengan segudang aktivitas. Di tengah kesibukan mengurus enam putranya, Jamilah masih sempat mengajar paruh waktu.

Ia mengajar mata pelajaran ilmu-ilmu sosial di sebuah sekolah Islam sesuai dengan gelar master dan doktoral di bidang pendidikan ilmu sosial yang ia peroleh dari Ball State University.

Dalam memberikan materi pelajaran kepada para muridnya, Jamilah kerap menggunakan pendekatan secara Islam. Ketika peristiwa 11 September 2001 terjadi, Jamilah sedang mengajar dalam kelas. Sebagai seorang pendidik, ia pun memberikan penjelasan kepada murid-muridnya yang duduk di bangku sekolah menengah mengenai tragedi yang terjadi di New York.

Jamilah juga aktif dalam kegiatan menulis. Menjadi seorang penulis memang merupakan impiannya ketika ia memutuskan pensiun dari dunia pendidikan. Karena itu, ia selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk menulis.

Sejumlah novel sudah dia hasilkan, di antaranya Innocent People, Echoes, Rebounding, Turbulence, Ripples , dan  Silence . Novel pertamanya,  Innocent People , menceritakan kehidupan keluarga Muslim Amerika sesudah peristiwa 9/11. Seperti novel pertamanya, semua novel yang ditulis Jamilah bertemakan kehidupan Muslim Amerika dan tantangan-tantangan yang mereka hadapi.

Karya lain Jamilah yang sudah dipublikasikan adalah tulisan disertasi doktoralnya sebagai buku nonfiksi dengan judul  Jihad Islam . Karya ini mengulas prinsip-prinsip dan praktik jihad militer. Ia pun rajin menulis puisi dan sejumlah catatan kecil di blog pribadinya.

Di samping hobi menulis, Jamilah juga menyukai dunia  travelling . Ia pernah tinggal di enam negara berbeda dan sudah menjelajahi seluruh wilayah di Amerika Serikat.

Ia juga pernah mengunjungi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, terlebih karena suaminya berasal dari Thailand. Saat ini, Jamilah beserta keluarganya menetap di Lexington, Kentucky, Amerika Serikat.  dia/berbagai sumber [republika]

Dimuat dina Kisah Mualaf | Tag , , , |

http://osolihin.wordpress.com/2009/10/23/jamilah-kolocotronis-menemukan-kebenaran-dalam-islam/

Seorang Profesor Asal Prancis Masuk Islam di Arab Saudi

Seorang Profesor Asal Prancis Masuk Islam di Arab Saudi Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Fani
Tuesday, 14 April 2009

ImageAlislamu.com — Seorang profesor dan dokter specialis penyakit jiwa asal Prancis, Prof. Dr. Roland Dar Denis, mengumumkan keislamannya di sela-sela keikutsertaannya pada acara Konferensi Internasional ketiga yang diadakan oleh Pangeran Sultan bin Salman bin Abdul Aziz di Arab Saudi, sebagaimana diberitakan oleh situs Islammemo, Selasa (14/4).

Masuk Islamnya Prof. Dr. Roland disambut dengan senang hati oleh Pangeran Sultan bin Salman. Dalam sambutannya itu, pangeran mengenalkan sedikit tentang ajaran Islam kepada Prof. Dr. Roland. Ia menjelaskan, Islam adalah agama fitrah dan petunjuk serta membawa keselamatan bagi hambanya yang shaleh. Selain itu, Islam juga memberikan kedudukan yang mulia bagi hambanya yang bertaqwa.

“Sesungguhnya Islam adalah agama fitrah dan petunjuk. Kami sebagai kaum muslimin merasakan kebahagiaan dan ketentraman dalam Islam, Islam juga memerintahkan kepada perkara-perkara yang mulia. Islam adalah risalah yang nyata bagi kaum muslimin dan di dalamnya diajarkan jihad yang nyata, jihad dalam ilmu, beramal, dan memberi manfaat bagi manusia lainnya,” katanya.

Setelah mendapat sambutan yang cukup baik dari Sultan, Dr. Roland mengucapkan kalimat syukur kepada Allah karena Ia telah memudahkannya untuk masuk ke dalam agama Islam yang benar. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Sultan yang telah memperhatikannya dan mengajarkan sedikit tentang ajaran Islam.

Tak lama setelah acara Konferensi Internasional selesai, Prof. Dr. Roland bergegas melakukan ibadah umrah di Makkah untuk yang pertama kalinya setelah ia masuk Islam. (ism/fani)

http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2916&Itemid=38

Dr. Antonius S Kumanireng : Apakah Yesus datang utk menebus dosa-dosa manusia ?

Dr. Antonius S Kumanireng : Apakah Yesus datang utk menebus dosa-dosa manusia ?

E-mail Print PDF

Kisah Mualaf Kisah Rohaniawan/Budayawan

Saturday, 04 March 2006 05:10

Nama saya Antonius Sina Kumanireng, kerap disapa Anton Sina. Saya anak kedua dari lima bersaudara yang lahir di tengah-tengah keluarga penganut Kristen Katolik yang masih sangat ketat mengamalkan ajaran agama. Ayah saya, Kumanireng, salah seorang pastor sekaligus anggota DPRD Tk. II Kab. Ende, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tempat kelahiran saya mayoritas penduduknya beragama Kristen, termasuk seluruh keluarga saya.

Sejak kecil, saya telah dipersiapkan menjadi calon pendeta yang diharapkan menjadi penyebar agama di kampung halaman. Karena itu, saya pun sejak kecil bekerja sebagai tukang pukul lonceng gereja. Meskipun ayah saya terbilang penganut Kristen yang ketat, namun sejak kecil saya sering memberontak terhadap keluarga dan para pastor.

Saya kerap melemparkan pertanyaan kepada para pendeta, meskipun mereka sering memberikan jawaban yang tidak memuaskan. Dan kekecewaan itu, saya terus mencari kebenaran lewat gereja. Suatu ketika saya ikut kebaktian di gereja. Tba-tiba hati saya yang gundah menjadi tenang. Tapi, ketika keluar dari gereja hati saya kembali bimbang dan kacau. Bahkan, menyebabkan saya bertengkar dengan saudara saya di rumah. Maklum, keluarga saya termasuk keluarga yang kacau.

Saya sendiri tak paham betul, apa sesungguhnya yang menyebabkan keluarga saya berantakan. Padahal, tiap hari keluar-masuk gereja. Saya sendiri bahkan terlibat minum-minuman keras. Hati saya terus bertambah kacau. Akhirnya, saya mencari kebenaran di luar rumah.

Suatu ketika, saya ditawari pastor untuk belajar ke Roma, Italia, atas beasiswa dari Belanda. Saya menolak tawaran itu dengan alasan ingin belajar di negeri sendiri. Saya terus mencari kebenaran karena keluarga saya telah berantakan. Saya membuka Alkitab Injil, lalu saya temukan Matius 26:20-25 yang berbunyi, “Yesus datang untuk menebus dosa-dosa manusia. “

Saya terus membaca dan mengkaji, kesimpulan saya bahwa Yesus sendiri tak mau mati menebus dosa manusia. Sementara itu, saya terus mengkaji ayat-ayat Injil yang selalu menimbulkan pertentangan antara ayat satu dan lainnya. Berkat ketekunan mempelajari sejarah dan pergaulan saya dengan teman teman muslim serta setiap akan memakan babi saya muntah, maka saya bertambah yakin untuk tidak makan daging babi.

Masuk Islam

Semua itu rupanya petunjuk langsung dan Allah agar saya segera kembali ke agama yang sejati. Saya masuk Islam, dan kemudian saya ganti nama menjadi Abdul Salam. Semua keluarga termasuk ayah tak setuju, bahkan menjauhi saya.

Saya terus belajar tentang Islam. Saya pun mempelajari tasawuf. Akhirya, cita-cita saya terwujud mempelajari tasawuf setelah saya masuk Perguruan Isbatulyah yang mengajarkan kepada saya soal syariat dan makrifat Islam. Orang yang paling berjasa terhadap diri saya dalam mempelajari Islam adalah almarhum Usman Effendi Nitiprajitna. Saya terus mempelajari ilmu kebatinan dari guru saya itu.

Alhamdulillah, saya telah menjadi seorang muslim, kendati saya disingkirkan dari seluruh keluarga. Alhasil, saya menanti seluruh keluarga saya agar mau terbuka dan bertanya kepada saya mengapa saya memilih masuk agama Islam. Namun, sampai kind, tak ada yang mau menemui saya.

Saya siap menjelaskan semuanya. Saya bangga masuk Islam karena Islam mengajarkan umatnya untuk tolong menolong. Meskipun istri saya masih tetap beragama Kristen, namun saya tetap melaksanakan shalat. Antara tahun 1970-1973, saya mendapat beasiswa untuk belajar ke Universitas Yokohama Jepang. Alhamdulillah, ke yakinan saya justru semakin kokoh setelah saya bergaul dengan orang-orang Jepang. Padahal, dulunya, saya termasuk peminum berat alkohol. Tapi, sesudah menjadi muslim, saya pun meninggalkan kebiasaan buruk itu.

Setelah berhasil menyelesaikan studi di Jepang dengan gelar doktor kimia, saya mendapat tawaran kerja dari ITB dan beberapa perusahaan besar di Tanah Air. Namun, saya lebih senang memilih Universitas Hasanuddin Makassar, karena PTN itulah yang pertama kali menawarkan aku mengajar.

Bersyukur

Oh ya, saya mempunyai tiga orang anak. Namanya Yuliana, Elizabeth, dan Isa. Saya memberikan kebebasan kepada anak-anak saya untuk memilih agama yang mereka anggap paling benar. Anak saya yang bungsu berkata kepada saya, ia tak akan masuk Islam apa pun yang terjadi. Setelah melewati waktu cukup panjang dalam memberikan pemahaman yang benar tentang Islam, akhirnya Yuliana dan Elizabeth mau mengikuti jejak saya, masuk Islam.

Saya bangga dan bersyukur kepada Allah Walaupun saya tak pernah memaksa anak-anak masuk Islam, tapi karena kesadaran sendiri, mereka akhirnya masuk Islam. Si bungsu yang keras dan benci terhadap agama Islam pun tiba-tiba berubah sikap dan mau masuk Islam. Alangkah bahagianya had saya. Semua anak-anak saya telah memilih jalan yang benar.

Semangat beragama dan kecintaan saya kepada Islam bertambah dalam. Apalagi berkat bantuan Prof-Dr. H. Nasir Nessa yang memberikan kesempatan kepada saya menunaikan ibadah haji. Berbagai kemudahan saya dapatkan di Tanah Suci. Antara lain, saya dapat dengan mudah mencium Hajar Aswad. Tak lupa, saya pun mendoakan seluruh keluarga saya agar dibukakan pintu hatinya menerima kebenaran Islam.

Kecewa

Setelah bertahun tahun melakukan pendalaman terhadap Islam, akhirnya-saya menemukan kebenaran yang hakiki (sejati) itu di dalam Islam. Namun, saya sempat kecewa setelah masuk Islam. Saya melihat umat Islam menganut agamanya semata-mata karena faktor keturunan, sehingga wujud pengamalannya masih minus. Islam semata-mata hanya simbol, tanpa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya benar-benar kecewa dan tak menyangka kalau umat Islam ternyata masih banyak yang tidak memahami ajaran agamanya secara benar.

Kekecewaan itu muncul, barangkali lantaran saya yang mualaf ini terlalu berharap banyak dari umat Islam. Ternyata, semua harapan itu sirna. Banyak umat Islam tak menghargai agamanya. Padahal, saya sebelum masuk Islam bertahun-tahun mengembara, berguru dari satu tempat ke tempat lain, demi membuktikan kebenaran yang ada di dalam Islam. Mengapa umat Islam sendiri tak bangga terhadap agamanya? Bukankah Islam agama suci? tapi akhirnya saya sadar bahwa itu semua kembali kepada pribadi masing-masing, yang jelek hanya sebagian kecil, masih banyak pribadi-pribadi ummat Islam yang patut dicontoh dan jadi panutan karena pada dasarnya Islam adalah agama yang Suci dan hakiki.

Akhirnya saya benar-benar bersyukur betapa nikmatnya hidup dalam panji Islam yang penuh rahmat dan hidayah Allah SWT. Saya pun bersyukur karena setiap menjelang Lebaran, saya bersama tiga orang anak saya bersama-sama melakukan shalat Idul Fitri di Lapangan Karebosi, Makassar. Padahal, sebelum mereka masuk Islam, saya terkadang merasa sunyi, karena merayakan Hari Raya suci ini seorang diri.

Kini, saya mengabdi di Universitas Hasanuddin Makassar sebagai dosen yang tiap hari bergaul di tengah mahasiswa dan sesekali berdialog tentang Islam. Saya bangga dapat mengabdi di sebuah almamater yang sangat menghargai pendapat orang lain.

Oleh Bachtiar AK dan Silahuddin B/Albaz dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com

http://www.mualaf.com/kisah-a-pengalaman/muallaf-rohaniawan/273-dr-antonius-s-kumanireng–apakah-yesus-datang-utk-menebus-dosa-dosa-manusia-